Maka dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko merupakan suatu
peluang terjadinya kerugian atau kehancuran yang terjadi akibat dari kondisi
internal dan eksternal perusahaan. Lebih luas, risiko dapat diartikan sebagai
kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari
yang diinginkan sebagai akibat dari sulitnya memprediksi perubahan
lingkungan perusahaan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat
suatu jargon “high risk bring about high return”, artinya jika ingin
memperoleh hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada risiko yang lebih
besar pula. Contohnya dalam investasi saham, volatilitas atau pergerakan
naik-turun harga saham secara tajam akan membuka peluang untuk
memperoleh hasil yang lebih besar. Namun sebaliknya, jika harga bergerak ke
arah yang berlawanan, maka kerugian yang akan ditanggung sangat besar.
Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald Ebert, risiko adalah uncertainty
about future event. Adapun Joel G.Siegel dan Jae K.Sim mendefinisikan risiko
pada tiga hal :
1) Keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus dimana
hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh
pengambilan keputusan.
2) Variasi dalam keuntungan penjualan atau variabel keuangan lainnya.
3) Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja
operasi perusahaan atau posisi keuangan.
David K. Eiteman, Arthur I Stonehill dan Michael H. Moffet mengatakan
bahwa risiko dasar adalah the mismatching of interest rate bases for
associated assets and liabilities. Sehingga secara umum risiko dapat ditangkap
sebagai bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan
terjadi nantinya dengan keputusan yang diambil berdasarkan suatu
pertimbangan. Risiko (risk) adalah sama dengan ketidakpastian (uncertainty).
Sedangkan risiko investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya
perbedaan antara aktual return dan expected return, sehingga setiap investor
dalam mengambil keputusan investasi harus selalu berusaha meminimalisasi
berbagai risiko yang timbul, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Setiap perubahan kondisi ekonomi baik mikro maupun makro akan
mendorong investor untuk melakukan strategi yang harus diterapkan untuk
tetap memperoleh return.
327
2. Ruang Lingkup Manajemen Risiko
Setiap perusahaan tentu berhadapan dengan risiko ketidakpastian usaha.
Ketidakpastian dapat terjadi dalam beberapa hal dan disebabkan oleh beberapa
faktor. Misalnya, ketidakpastian harga akibat gangguan proses produksi atau
gangguan pada alur distribusi. Atau risiko produk/jasa tidak laku di pasar
akibat selera konsumen berubah. Atau risiko kerugian akibat musibah
kebakaran pabrik, atau bencana gempa bumi, badai, gunung api meletus, dan
banjir. Atau juga akibat kecelakaan. Contoh, tenggelamnya kapal pengangkut
barang yang merupakan rantai distribusi perusahaan. Atau akibat para
karyawan melakukan mogok kerja.
Berhadapan dengan ketidakpastian usaha seperti itu, maka manajemen
perusahaan, termasuk perusahaan daerah, harus menerapkan ‘manajemen
risiko’. Manajemen risiko meliputi, identifikasi risiko, analisis risiko dan
evaluasi risiko.
2.1 Identifikasi Risiko
1). Darmawi
Menurut Darmawi (2008) identifikasi risiko merupakan tahapan pertama
dalam proses manajemen risiko. Lebih lanjut Darmawi menjelaskan
identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus
menerus dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya risiko
atau kerugian terhadap kekayaan, hutang, dan personil perusahaan. Proses
identifikasi risiko ini mungkin adalah proses yang terpenting, karena dari
proses inilah, semua risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada suatu
proyek, harus diidentifikasi. Makanya Darmawi menjelaskan proses
identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, sehingga tidak
ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Dalam pelaksanaannya,
identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain :
a. Brainstorming Questionnaire,
b. Industry benchmarking,
c. Scenario analysis,
d. Risk assessment workshop,
e. Incident investigation,
f. Auditing,
328
g. Inspection,
h. Checklist
i. HAZOP (Hazard and Operability Studies).
Selain langkah-langkah diatas, pihak manajemen perusahaan dapat
mengidentifikasi risiko melalui langkah-langkah sebagai berikutnya :
a. Menyusun pengelompokan bisnis yang diperkirakan memiliki
kemungkinan akan mengalami kerugian.
b. Menyusun dan membuat daftar kerugian menurut peringkat kerugian
yang terjadi. Itu berarti, bisnis yang memiliki risiko terbesar yang menjadi
peringkat teratas, kemudian disusul dengan bisnis-bisnis dengan tingkat
risiko mencegah sampai dengan risiko terkecil.
c. Membagi kerugian bisnis berdasarkan klasifikasi risiko benda berwujud
dan tak berwujud, meliputi :
a) Risiko kerugian atas peralatan dan perlengkapan yang hilang atau
rusak.
b) Risiko kerugian penjualan barang dan jasa akibat mulai menurunnya
permintaan atas barang yang dimiliki perusahaan.
c) Risiko kerugian atas ketidakmampuan menyelesaikan hutang
maupun piutang.
d) Kerugian yang dialami karyawan perusahaan. Misalnya kematian,
sakit yang berkepanjangan, usia tua, sakit dan lain-lain.
2) Al Bahar dan Crandall
Menurut Al Bahar dan Crandall (1990), analisis risiko didefinisikan
sebagai sebuah proses yang menggabungkan ketidakpastian dalam bentuk
kuantitatif, menggunakan teori probabilitas, untuk mengevaluasi dampak
potensial suatu risiko.
Lebih lanjut Al Bahar dan Crandall berpendapat bahwa, yang dibutuhkan
adalah menentukan signifikasi atau dampak dari risiko tersebut, melalui suatu
analisis probabilitas, sebelum risiko-risiko tersebut dibawa memasuki tahapan
respon manajemen. Untuk mendukung tahapan tersebut maka langkah
pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data yang relevan
terhadap risiko yang akan dianalisis. Data-data tersebut dapat diperoleh dari
data historis perusahaan atau dari pengalaman proyek pada masa lalu. Jika data
329
historis tersebut kurang memadai, maka perusahaan daerah dapat melakukan
teknik identifikasi risiko yang lain.
Kemudian Al Bahar dan Crandall membaginya identifikasi risiko dengan
bersumber pada sudut pandang perusahaan developer properti, yakni :
a. Finansial dan Ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya
fluktuasi tingkat inflasi dan suku bunga, perubahan nilai tukar, kenaikan
upah pekerja, dan lain sebagainya.
b. Politik dan Lingkungan. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya
perubahan dalam hukum dan peraturan, perubahan politik, perang,
embargo, bencana alam, dan lain sebagainya.
c. Konstruksi. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya kecelakaan kerja,
pencurian, perubahan desain, dan sebagainya.
3) Loosemore, Raftery, Reilly dan Higgon
Loosemore menyatakan proses identifikasi semua risiko-risiko yang
mungkin terjadi pada suatu proyek dilakukan, diperlukan suatu tindak lanjut
untuk menganalisis risiko-risiko tersebut. Untuk melakukan proses evaluasi
tersebut, dibutuhkan suatu parameter yang jelas untuk dapat mengukur
dampak dari suatu risiko dengan tepat. Menurut Loosemore, Raftery, Reilly
dan Higgon (2006), beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti
pada tabel 15 dan tabel 16.
330
Tabel 10.1 : Parameter Probabilitas Risiko
Parameter Deskripsi
Jarang Terjadi Peristiwa yang hanya muncul pada
keadaan yang luar biasa
Agak Jarang Terjadi Peristiwa ini jarang terjadi
Sering terjadi Peristiwa ini pernah terjadi dan
mungkin terjadi lagi
Hampir pasti terjadi Peristiwa ini sering muncul pada
berbagai keadaan
Sumber : Loosemore, Reilly, Higgon (2006)
Risk Management in Projects (http://ilearning.com)
Tabel 10.2 : Konsekuensi Risiko
Parameter Deskripsi
Tidak Signifikan Tidak ada yang terluka: kerugian
finansial kecil
Kecil Pertolongan pertama : kerugian
finansial medium
Sedang Perlu perawatan medis : kerugian
finansial cukup besar
Sangat Signifikan Kematian: kerugian finansial sangat
besar
Sumber : Loosemore, Reilly, Higgon (2006)
Risk Management in Projects (http://ilearning.com)
331
2.2 Analisis Risiko
1). Pengertian Analisis Risiko
Secara sederhana, analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai
sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian
menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran, dan menyoroti
bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau
dikurangi. Analisis Risiko juga dipahami sebagai sebuah proses untuk
menentukan pengamanan macam apa yang cocok atau layak untuk sebuah
sistem atau lingkungan (ISO 1799, “An Introduction To Risk Analysis”, 2012).
Analisa risiko telah dimulai sejak awal tahun enampuluhan. Namun pada
era tersebut analisis risiko masih bersifat konvensional, karena saat itu
lingkungan sosial, pasar, kompleksitas analisis risiko, teknologi, sumber data,
dan tidak memadai serta belum dewasanya ilmu pengetahuan manusia yang
terlibat di dalamnya masih sangat terbatas.
Dewasa ini penggunaan teknik analisis risiko sudah sangat berkembang
karena kelengkapan berbagai unsur pendukung seperti sumber data dan
teknologi yang sangat canggih. Para evaluator investasi juga melakukan
berbagai modifikasi berdasarkan pengalaman dan dalam jangka untuk
menyesuaikan dengan karakteristik lingkungan yang berubah (Austin J.J and
C.F. Sirmans, 1982:62).
2) Bentuk-Bentuk Teknik Analisis Risiko
Dalam manajemen risiko dikenal beberapa bentuk teknis analisis risiko
sebagai berikut :
a. Analisis Risiko Kuantitatif dan Kualitatif
James W. Merritt, dalam A Method for Quantitative Risk Analysis,
menjelaskan bahwa Analisis Risiko Kuantitatif merupakan satu metode
analisis risiko yang mengenali pengendalian pengamanan apa dan bagaimana
yang seharusnya diterapkan serta besaran biaya untuk menerapkannya.
Sedangkan Analisis Risiko Kualitatif digunakan untuk meningkatkan
kesadaran atas masalah keamanan sistem informasi dan sikap dari sistem yang
sedang dianalisis tersebut.
332
Lebih lanjut, Meritt menerangkan bahwa dua metode tersebut dapat
dikombinasikan menjadi satu, yang kemudian dikenal sebagai metode hibrida
(hybrid method). Metode hibrida merupakan sebuah kombinasi dari dua
metode analisis risiko kuantitatif dan kualitatif, dan dapat digunakan untuk
menerapkan komponen-komponen yang memanfaatkan informasi yang
tersedia sekaligus memperkecil matriks yang terkumpul dan dihitung.
Sayangnya, metode ini kurang akurat numerik. Meskipun metode ini lebih
murah biayanya dibandingkan dengan metode analisis yang dilakukan secara
lengkap dan mendalam.
Menurut J. W. Meritt, terdapat beberapa hal atau langkah yang perlu
diperhatikan dalam menerapkan metode analisis risiko secara umum, yaitu
sebagai berikut :
1) Menentukan ruang lingkup (scope statement). Hal ini harus dipercayai
oleh semua kalangan pihak yang menaruh perhatian pada masalah. Dalam
menentukan ruang lingkup ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu
menentukan secara tepat apa yang harus dievaluasi, mengemukakan apa
jenis analisis risiko yang akan digunakan, dan mengajukan hasil yang
diharapkan.
2) Menetapkan Aset (asset pricing). Pada langkah kedua ini, semua sistem
informasi ditentukan secara spesifik kedalam ruang lingkup yang telah
dirancang, kemudian ditaksir ‘harga’ (price)-nya.
3) Risks and Threats. Risiko (risk) adalah sesuatu yang dapat menyebabkan
kerugian atau mengurangi nilai kegunaan operasional sistem. Sedangkan
ancaman (threats) adalah segala sesuatu yang harus dipertimbangkan
karena kemungkinannya yang dapat terjadi secara bebas di luar sistem
sehingga memunculkan satu risiko.
4) Menentukan koefisien dampak. Semua aset memiliki kerentanan yang
tidak sama terhadap suatu risiko. Oleh sebab itu perlu dicermati dan
diteliti sejauh mana sebuah aset dikenali sebagai hal yang rentan terhadap
sesuatu, serta perbandingannya dengan aset yang justru kebal sama sekali.
5) Single loss expectancy atau ekspektasi kerugian tunggal. Pada poin ini,
Meritt menjelaskan bahwa aset-aset yang berbeda akan menanggapi
secara berbeda pula ancaman-ancaman yang diketahui.
6) Group evaluation atau evaluasi kelompok, yaitu langkah lanjutan yang
melibatkan sebuah kelompok pertemuan yang terdiri dari para pemangku
333
kepentingan terhadap sistem yang dianalisis (diteliti). Pertemuan ini harus
terdiri dari individu yang memiliki pengetahuan tentang komponen-
komponen yang beragam tersebut, tentang ancaman dan kerentanan dari
sistem serta pengelolaan dan tanggung jawab operasi untuk memberikan
bantuan dalam penentuan secara keseluruhan. Pada langkah ini lah
biasanya metode hibrida dalam analisis risiko dilakukan.
7) Melakukan kalkulasi (perhitungan) dan analisis. Terdapat dua macam
analisis. Pertama, across asset, yaitu analisis yang bertujuan untuk
menunjukkan aset-aset tertentu yang perlu mendapat perlindungan paling
utama. Kedua, across risk, yaitu analisis yang bertujuan untuk
menunjukkan ancaman apa dan bagaimana yang paling harus dijaga.
8) Controls atau pengendalian, yaitu segala hal yang kemudian diterapkan
untuk mencegah, mendeteksi, dan meredakan ancaman serta
memperbaiki sistem.
9) Melakukan analisis terhadap control atau pengendalian. Ada dua metode
yang dapat dilakukan dalam menganalisis aksi kontrol ini, yaitu cost and
benefit ratio dan risk or control.
b. Metodologi Analisis Risiko Eugene Tucker
Eugene Tucker, dalam Other Risk Analysis Methodologies, menjelaskan
bahwa terdapat banyak metode analisis risiko dan kerentanan. Bagi satuan
pengamanan profesional, merupakan satu keharusan baginya untuk
mengetahui dan menyadari perbedaan dasar dari metodologi-metodologi yang
ada tersebut. Secara lebih lanjut, Tucker menjabarkan beberapa metodologi
analisis risiko dan kerentanan, antara lain adalah Operational Risk
Management (ORM), CARVER+Shock, dan Vulnerability Self Assessment
Tool (VSAT).
Operational Risk Management (ORM) merupakan sebuah sistem
manajemen risiko berbasis teknis yang umumnya digunakan oleh lembaga
Administrasi Penerbangan Federal (Federal Aviation Administration) dan
militer untuk menguji keamanan dan risiko atas sistem yang ada. Perangkat
analisis ini dirancang untuk mengenali manfaat dan risiko cara kerja untuk
menentukan arah terbaik dari satu tindakan yang diambil dalam situasi
tertentu. Risiko yang diteliti itu dapat merupakan akibat dari proses yang tidak
334
memadai atau gagal, dari orang, dari sistemnya sendiri, maupun dari kejadian-
kejadian di luar sistem (bersifat eksternal).
Lembaga Administrasi Obat-Obatan dan Makanan atau Food and Drugs
Administration (FDA) merupakan salah satu contoh lembaga di Amerika
Serikat yang menggunakan metode ORM dalam mempertanggungjawabkan
keamanan satu produksi pengimporan, pergudangan (warehousing),
transportasi dan persebaran makanan (barang konsumsi) di negara tersebut.
Secara umum, seperti yang dilakukan oleh FDA, terdapat enam langkah dari
ORM, yaitu (1) mengenali bahaya (identify the hazards); (2) menakar atau
menilai risiko yang ada (assess the risk); (3) menganalisa ukuran pengendalian
risiko (analyze risk control measures); (4) membuat keputusan pengendalian
(make control decision); (5) menerapkan pengendalian risiko (implement risk
controls); dan (6) pengawasan dan peninjauan (supervise and review).
Sedangkan metodologi analisis risiko CARVER+Shock—satu mode
yang digunakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang
kemudian diadaptasi oleh beberapa lembaga lainnya, seperti Departemen
Pertanian Amerika Serikat (USDA), Food Safety and Inspection (FSIS), dan
Badan Keamanan Dalam Negeri Ketahanan Pangan dan Kesiapsiagaan
Darurat (OFSED)—merupakan sebuah perangkat yang lebih bersifat
memprioritaskan target ofensif untuk mengidentifikasi simpul-simpul kritis
yang cenderung rentan menjadi target dari serangan teroris, dan juga untuk
merancangkan ukuran pencegahan dalam mengurangi risiko. Cara ini,
sesungguhnya, memiliki hubungan dengan metodologi dalam ORM.
Metode CARVER+Shock mempertimbangkan dan membahas tujuh
faktor yang mempengaruhi daya tarik dari sebuah target (korban risiko), antara
lain :
1) Critically, yakni sejauh mana faktor kesehatan publik dampak
ekonomi mencapai intense penyerang atau pelaku (attacker). Faktor
ini mengajukan pertanyaan seberapa pentingnya sebuah target
sebagaimana ditentukan oleh dampak dari pengerjaan dan
pengrusakan.
2) Accessibility, yakni akses atau jalan masuk terhadap target. Faktor ini
mempertanyakan semudah apa sebuah target dapat disentuh, baik
335
melalui cara penyusupan (infiltrasi) maupun dengan menggunakan
alat atau senjata (weapons).
3) Recuperability, yaitu kemampuan sistem yang ada untuk
memulihkan diri dari sebuah serangan. Faktor ini mengusung
pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengganti
atau memperbaiki target setiap kali mendapat serangan (kerusakan)?
4) Vulnerability, yakni kerentanan atau kemudahan terjadinya serangan.
5) Effect, yakni jumlah kerugian langsung akibat terjadinya serangan.
6) Recognizability, yakni kemudahan dalam mengenali sebuah target.
7) Shock, yakni efek psikologis dari sebuah serangan.
Hasil dari analisis tentang ketujuh faktor tersebut menjadi rumusan dasar
bagi pengelolaan dalam membangun dan mengembangkan strategi
pengamanan. Sementara itu, Vulnerability Self Assessment Tool (VSAT)
merupakan metodologi sekaligus software yang digunakan untuk membangun
atau merancang sistem keamanan yang mampu melindungi target spesifik dari
aksi-aksi spesifik lawan (adversaries). Cara ini dianggap pula sebagai
metodologi kualitatif berbasis nilai kegunaan (asset-based). Tujuannya adalah
untuk menaksir kerentanan, mengembangkan prioritas berdasarkan biaya dan
kelayakan satu proses remediasi, dan menentukan solusi yang paling potensial
untuk kerentanan yang paling diprioritaskan. Software VSAT sendiri juga
memungkinkan bagi petugas pengamanannya untuk memodifikasi dan
merancang perlakuan tambahan (ancaman buatan) dan tindakan balasan
(countermeasure).
VSAT juga menggunakan sebuah garis penilaian dan analisis
penyempurnaan untuk menghitung Risk Reduction Units dari ‘tindakan
balasan yang ditentukan’ dalam proses analisis. Biaya dari modifikasi ini
kemudian dikalkulasi, dan hasilnya menjadi patokan untuk menentukan biaya
atau modal dalam melaksanakan rancangan pengamanan. Terdapat sebelas
langkah penilaian dalam metode VSAT, yaitu (1) mengidentifikasi aset; (2)
mengidentifikasi ancaman; (3) menentukan simpul yang rentan; (4) mengenali
keberadaan tindakan balasan (countermeasure); (5) menentukan tingkat
risiko; (6) menentukan kemungkinan terjadinya kesalahan atau kegagalan; (7)
menetapkan kerentanan; (8) menentukan kecocokan risiko; (9)
mengembangkan tindakan balasan (countermeasure) baru; (10)
336
memperagakan analisis biaya risiko; (11) mengembangkan sebuah
perencanaan yang berkelanjutan.
2.3 Evaluasi Risiko
Evaluasi (evaluation) adalah proses penilaian. Dalam perusahaan,
evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektivitas strategi
yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang
diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis
situasi program berikutnya (Duncan, Tom.(2005)).
3. Jenis-Jenis Risiko
Setiap perusahaan, tak terkecuali perusahaan daerah memiliki
kemungkinan untuk menghadapi risiko bisnis. Dalam buku ini saya membagi
risiko ke dalam beberapa kelompok risiko :
3.1 Risiko Usaha
Risiko usaha yang mungkin dihadapi oleh sebuah perusahaan yakni:
a. Risiko Produk
Dalam memproduksi barang bisa saja terjadi kesalahan dan kerusakan,
misalnya saja di bidang industri kopi yang memproduksi kopi, dalam jumlah
yang banyak untuk memenuhi permintaan pasar, maka perusahaan harus
menerapkan sistem otomatisasi pengerjaan agar menghasilkan produk yang
lebih banyak dan berkualitas. Prosesnya otomatisasi mengharuskan
perusahaan menggunakan mesin dalam proses produksi. Kadang dalam
prosesnya ada kerusakan dan kesalahan sehingga produk yang dihasilkan tidak
dapat memenuhi ekspektasi konsumen. Akibatnya ketika sampai di tangan
konsumen produk tersebut ada yang cacat, maka konsumen akan melakukan
komplain yang dapat merugikan perusahaan dan menimbulkan risiko kerugian
bagi perusahaan.
b. Risiko Sumber Daya Manusia
Risiko sumber daya manusia merupakan masalah yang kerap terjadi.
Masalah-masalah tersebut meliputi kondisi dan sikap karyawan seperti malas
bekerja, kurang bertanggung jawab, tidak jujur, dan masalah kesehatan
karyawan. Masalah-masalah tersebut akan merugikan perusahaan.
337
c. Risiko Keuangan
Risiko Keuangan berhubungan dengan ketidakpastian pendapatan usaha
risiko kerugian dalam jumlah yang besar. Risiko ini berkaitan erat dengan para
pesaing dan inovasi produk.
d. Risiko Lingkungan Alam
Risiko ini berkaitan erat dengan kerugian akibat dari bencana alam seperti
banjir, tanah longsor yang menyebabkan terputusnya jalur distribusi, hujan
yang berkepanjangan, musim kering dan hama penyakit yang berdampak pada
produk pertanian dan industri yang membutuhkan bahan baku dan distribusi
barang dan jasa. Selain itu, risiko lingkungan alam juga berkaitan dengan
kerusakan lingkungan akibat dari pembuangan limbah dll.
e. Risiko Teknologi
Risiko teknologi merupakan risiko kerugian yang berkaitan dengan
kerusakan mesin/teknologi. Atau kerugian yang terjadi karena perusahaan
harus menggantikan mesin produksi dengan teknologi yang baru karena
teknologi yang ada tidak berproduksi secara efisien lagi.
f. Risiko Kemitraan
Kemitraan adalah hubungan yuridis dari perjanjian sukarela antara
beberapa pihak baik secara lisan, maupun tertulis atau tersirat dari tindakan
pribadi sekutu bersangkutan. Risiko kemitraan merupakan risiko yang muncul
akibat kesalahan atau perbuatan melanggar perjanjian dari salah satu pihak
yang terlibat dalam sebuah kemitraan, dimana salah satu pihak memiliki
bagian yang lebih besar yang tidak sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
g. Risiko Pesaing
Risiko kerugian akibat pesaing. Risiko ini merupakan kerugian akibat dari
peningkatan kualitas pesaing. Biasanya perusahaan sejenis yang bersaing
untuk memperebutkan konsumen. Contoh : kopi Nescafe bersaing dengan
kopi Indocafe, kopi torabika dan lain-lain. Contoh lain, sepatu bermerek
Reebok, berkompetisi dengan sepatu bermerek Nike atau pun Adidas. Industri
cepat saji seperti Mc.Donald’s bersaing dengan Wendy’s, KFC. Industri
338
kendaraan bermotor roda dua seperti Honda bersaing dengan Yamaha, Suzuki,
Kawasaki, dan lain-lain.
h. Risiko Pelanggan
Risiko kerugian berkaitan dengan perubahan selera pelanggan yang terdiri
dari kelompok individu yang membayar uang untuk memperoleh barang/jasa
perusahaan. Pelanggan bisa terdiri dari individu maupun organisasi swasta
maupun pemerintah.
i. Risiko Pemasok
Risiko kerugian berkaitan perubahan perilaku pemasok yang merupakan
organisasi yang menyediakan sumber daya bagi organisasi lain. Biasanya
berkaitan dengan perubahan harga dan Jumlah pesanan.
j. Risiko Pembuat Peraturan (Regulators)
Risiko kerugian berkaitan dengan perubahan peraturan yang dibuat
pembuat aturan. Pembuat peraturan merupakan pihak pemerintah yang
mengendalikan, mengatur dan mempengaruhi kebijakan dan praktek sebuah
organisasi secara fair dan aman bagi semua pihak. Risiko kerugian jenis ini
biasanya berhubungan dengan perubahan peraturan di bidang perpajakan,
perubahan bahan bakar dan lain sebagainya yang berhubungan langsung
dengan perusahaan.
3.2 Risiko Murni (Pure Risk)
Risiko Murni merupakan suatu ketidakpastian terjadi, maka kejadian
tersebut pasti menimbulkan kerugian. Risiko murni dapat dikelompokkan
menjadi 3 (tiga) tipe risiko, yaitu :
a) Risiko aset fisik : risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik
suatu perusahaan/organisasi. Contoh : kebakaran, banjir, gempa, tsunami,
gunung meletus, dan lain-lain.
b) Risiko Karyawan : risiko yang disebabkan karena apa yang dialami oleh
karyawan yang bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Contoh,
kecelakaan kerja yang menyebabkan terganggunya aktivitas perusahaan.
c) Risiko Legal : risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau
kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Contoh : perselisihan
339
dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti penggantian
kerugian.
3.3 Risiko Spekulatif (Speculative Risk)
Risiko spekulatif merupakan ketidakpastian akan terjadinya untung atau
rugi. Risiko ini dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) tipe yaitu :
a) Risiko pasar : risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Contoh :
harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
b) Risiko kredit: risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi
kewajibannya kepada perusahaan. contoh : timbulnya kredit macet,
persentase piutang meningkat.
c) Risiko likuiditas : risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
kas. Contoh : kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu
membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual
aset yang dimilikinya.
d) Risiko operasional : risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional
yang tidak berjalan lancar. Contoh, terjadi kerusakan pada komputer
karena serangan virus.
3.4 Risiko Statis (Static Risk) :
Risiko statis merupakan ketidakpastian ataupun kerugian yang sifatnya
baik murni maupun spekulatif dan tidak berubah yang berada dalam
keseimbangan stabil. Contoh, ketidakpastian/kerugian usaha oleh karena suatu
unit usaha mengalami kerusakan tetap karena suatu musibah atau bencana.
3.5 Risiko Dinamis (Dynamic Risk) :
Risiko dinamis merupakan ketidakpastian usaha yang sifatnya murni
ataupun spekulatif timbul dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Contoh, urbanisasi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi,
internet dan media sosial.
3.6 Risiko Subyektif (Subjective Risk) :
Risiko subyektif merupakan ketidakpastian usaha yang berkaitan dengan
kondisi mental seseorang yang mengalami keragu-raguan dan kecemasan akan
terjadinya kejadian tertentu.
340
3.7 Risiko Objektif (Objective Risk) :
Risiko obyektif merupakan ketidakpastian usaha akibat probabilitas
penyimpangan aktual dari yang diharapkan sesuai dengan pengalaman.
3.8 Risiko Menurut Sumbernya
Menurut Eduardus Tandelilin, sumber-sumber risiko adalah :
a) Risiko Suku Bunga. Naik turunnya suku bunga perbankan akan
mempengaruhi keputusan publik dalam menetapkan keputusannya.
Jika suku bunga naik maka publik akan menyimpan dananya di bank
seperti dalam bentuk deposito, namun jika turun maka publik akan
menggunakan uangnya untuk membeli saham.
b) Risiko Pasar. Kondisi risiko pasar dapat dilihat pada saat fluktuasi
pasar, krisis moneter, dan resesi ekonomi.
c) Risiko Inflasi. Saat inflasi daya beli masyarakat turun, sedangkan
saat normal daya beli masyarakat naik.
d) Risiko Bisnis (Business Risk). Yaitu risiko yang dihadapi
perusahaan dalam menjalankan bisnis guna meraih keuntungan
kompetitif (competitive advantage) dan menambah nilai bagi para
shareholders atau pemegang saham.
Dari sisi perusahaan, secara garis besar risiko bisnis mencakup :
Keputusan bisnis (business decision) yang diambil oleh eksekutif
perusahaan, seperti keputusan investasi, keputusan pengembangan
produk, strategi pemasaran, dan pilihan bentuk struktur
organisasi/perusahaan.
Lingkungan bisnis (business environment), tempat perusahaan
menjalankan bisnisnya.
e) Risiko Finansial (Financial Risk) adalah risiko yang berkaitan dengan
kemungkinan mengalami kerugian ketika suatu pihak melakukan
aktivitas pasar uang (financial market). Sebagai misal, kerugian akibat
volatilitas pergerakan suku bunga tertentu, atau obligasi yang mengalami
pembatalan bayar (default).
f) Risiko Likuiditas (liquidity risk) yaitu risiko bank tidak memiliki uang
tunai atau aktiva jangka pendek yang dapat diuangkan segera dalam
341
jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan deposan atau debitur;
risiko ini terjadi sebagai akibat kegagalan pengelolaan antara sumber dana
dan penanaman dana (mismatch) atau kekurangan likuiditas/dana
(shortage) yang mengakibatkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban
keuangan mereka pada waktu yang telah ditetapkan.
g) Risiko Nilai Tukar atau Risiko Mata Uang adalah bentuk risiko yang
muncul karena perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang
yang lain. Dampak nilai tukar mirip dengan dampak suku bunga. Nilai
tukar dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dari sisi arus kas, aset,
maupun kewajiban. Perusahaan mengalami kerugian pada sisi aset dan
arus kas masuk bila mata uang asing melemah terhadap rupiah, ataupun
sebaliknya. Kondisi sebaliknya terjadi pada sisi kewajiban dan arus kas
keluar. Perusahaan mendapat keuntungan bila valuta asing melemah
terhadap Rupiah, dan sebaliknya.
Menurut Nonna Belle dalam Manajemen Risiko-Risiko Nilai Tukar (Bab
11) Risiko Nilai tukar terdiri dari tiga jenis risiko :
1) Risiko Transaksi merupakan potensi naik turunnya arus kas perusahaan
(berkaitan dengan valuta asing) akibat nilai tukar. Risiko transaksi nilai
tukar berlaku untuk :
Transaksi Masukan adalah transaksi yang menyebabkan masuknya
uang perusahaan. Contoh : penjualan & investasi sekuritas.
Transaksi Keluaran adalah transaksi yang menyebabkan perusahaan
berkewajiban membayar. Contoh: pembayaran impor bahan baku &
pembayaran kewajiban.
2) Risiko Akuntansi (Risiko Transaksi) merupakan potensi fluktuasi laba
perusahaan. Perusahaan yang bisa terkena risiko akuntansi ada dua
macam :
Perusahaan jenis pertama adalah mereka yang memiliki
pinjaman/aset dalam mata uang asing.
Perusahaan jenis kedua yang terkena risiko akuntansi adalah mereka
yang memiliki cabang/anak perusahaan di luar negeri.
4) Risiko Ekonomi. Risiko ekonomi merupakan potensi fluktuasi nilai
perusahaan atau kekayaan pemegang saham akibat perubahan nilai
342
tukar. Dengan kata lain, risiko ekonomi berkaitan dengan potensi
fluktuasi pada ekposur korporat. Eksposur korporat berupa nilai
perusahaan atau kekayaan pemegang saham. Bagi perusahaan yang
telah go public, eksposur korporat tercermin pada harga saham. Karena
harga saham merupakan objek yang perlu diukur, di monitor, dan
dikendalikan terhadap risiko dan objek tersebut mencerminkan kinerja
perusahaan secara keseluruhan. Nilai perusahaan atau harga saham
tergantung pada dua variabel : ekspektasi arus kas dan faktor diskon.
Perubahan nilai tukar bisa menyebabkan perubahan arus kas.
Dampak perubahan nilai tukar terhadap ekspektasi arus kas sangat
beragam, tergantung dari aktivitas perusahaan. Bagi perusahaan yang
menggunakan bahan baku impor dan pembayaran dalam $AS,
sedangkan penjualan produk hanya di dalam negeri dalam pembayaran
Rupiah, melemahnya Rupiah terhadap $AS berdampak sangat buruk.
Ini sudah terbukti selama krisis sejak pertengahan tahun 1997. Karena
beban pembayaran bahan baku impor meningkat, sedangkan nilai jual
tidak meningkat seperti naiknya biaya bahan baku tersebut.
Sebaliknya, menguatnya Rupiah terhadap $AS menguntungkan
pengguna bahan baku impor. Perusahaan dapat menghemat Rupiah
untuk membayar bahan baku sementara penjualan konstan, atau
bahkan meningkat. Akibatnya, ekspektasi keuntungan membaik dan
ekspektasi arus kas juga membaik. Berbeda bagi eksportir,
melemahnya Rupiah terhadap $AS justru menguntungkan perusahaan.
Dengan penjualan yang sama dalam $AS, pendapatan dalam Rupiah
meningkat. Akibatnya, ekspektasi keuntungan meningkat dan
ekspektasi arus kas juga meningkat. Demikian juga sebaliknya. Faktor
diskon mencerminkan tingkat risiko perusahaan. Semakin tinggi
persepsi mengenai tingkat risiko perusahaan, semakin tinggi juga
faktor diskon. Dampaknya, nilai perusahaan atau harga saham semakin
kecil. Melemahnya Rupiah cenderung menyebabkan faktor diskon
meningkat. Depresiasi Rupiah terjadi karena memburuknya kondisi
ekonomi, bahkan juga memburuknya kondisi politik dan
pemerintahan, keamanan, dan potensi ekonomi. Hal-hal tersebut
menyebabkan hilangnya daya tarik investasi karena investor takut.
Ketakutan tersebut kemudian tercermin dalam faktor diskon.
343
4) Risiko Negara (country risk) yaitu risiko yang timbul karena perubahan
ekonomi atau politik suatu negara yang berdampak pada negara lain yang
akan berhubungan dengan negara tersebut; misalnya, kekurangan
cadangan devisa suatu negara akan menyebabkan keterlambatan
pembayaran pinjaman kepada bank kreditur di negara lain.
3.9 Risiko Sistematis, Risiko Tidak Sistematis dan Risiko Total
a. Risiko Sistematis (Systematic Risk)
Risiko sistematis disebut juga dengan market risk atau risiko umum.
Risiko sistematis adalah risiko yang bisa didiversifikasikan atau risiko yang
sifatnya mempengaruhi secara menyeluruh. Contoh, krisis moneter pada tahun
1997 di Indonesia yang telah menyebabkan banyak sekali perusahaan yang
bangkrut dan meningkatnya angka pengangguran. Selain itu terjadi pula pada
tahun 2008 yaitu saat dunia dilanda krisis finansial yang salah satunya
disebabkan oleh kredit subprime mortgage di Amerika Serikat (tahun 2008)
yang sudah terlalu tinggi, dan ternyata tidak bisa diatasi lagi.
b. Risiko Tidak Sistematis (Unsystematic Risk)
Unsystematic Risk disebut juga dengan resiko spesifik atau risiko yang
dapat didiversifikasikan. Risiko yang tidak sistematis yaitu hanya membawa
dampak pada perusahaan yang terkait saja. Jika suatu perusahaan mengalami
unsystematic risk maka kemampuan untuk mengatasinya masih akan bisa
dilakukan, karena perusahaan bisa menerapkan berbagai strategi untuk
mengatasinya. Contohnya jika harga sekuritas perusahaan jatuh, maka
perusahaan menerapkan berbagai strategi investasi.
344
c. Risiko Total (Total Risk)
Total Risk adalah gabungan atau penjumlahan antara systematic risk dan
unsystematic risk.
Rumus Menghitung Total Risiko
Risiko (%)
Total risk = Risiko Sistematis + Risiko tidak sistematis
Risiko tidak sistematis (unsystematic risk)
Total Risk Risiko sistematis (systematic risk)
Gambar 10.1 : Systematic Risk, Unsystematic Risk dan Total Risk
Sumber : www.bankmandiri.co.id
Gambar : Systematic Risk, Unsystematic Risk and Total Risk
3.10 Risiko Siber (Cyber Risk)
‘Risiko Siber’ berarti setiap risiko kerugian finansial, gangguan atau
kerusakan pada reputasi organisasi yang ditimbulkan oleh kegagalan sistem
teknologi informasinya. Dewasa ini risiko siber menjadi sebuah masalah
serius di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal itu bisa mengganggu kinerja
dan reputasi organisasi ataupun perusahaan. Studi yang dilakukan di Amerika
Serikat menunjukkan bahwa manajemen risiko siber yang baik sangat
dipengaruhi oleh kuatnya sistem pengendalian internal secara preventif dan
detektif.
345
4. Penerapan Manajemen Risiko
Jika perusahaan daerah menetapkan risiko, maka haruslah diarahkan
menjadi bagian integral dalam sistem manajemen perusahaan/organisasi.
Penerapan manajemen risiko merupakan langkah yang harus dilakukan agar
secara berkelanjutan dan berkembang (continuous improvement). Penerapan
manajemen risiko dalam perusahaan daerah harus merupakan bagian dari
dengan proses pengambilan keputusan manajemen pada setiap tingkatan
dalam tubuh perusahaan daerah.
Perusahaan daerah menerapkan manajemen risiko sebagai sebuah metode
yang harus disusun secara logis dan sistematis dari seluruh rangkaian proses
kegiatan manajemen mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan maupun pengawasan terhadap fungsi-fungsi manajemen tersebut
dengan membuat standar penetapan konteks, identifikasi, analisa, evaluasi,
pengendalian serta komunikasi risiko.
Penerapannya dapat dilakukan pada semua tingkatan kegiatan, jabatan,
proyek, produk ataupun asset. Manajemen risiko harus merupakan alat
perusahaan agar dapat bermanfaat secara optimal pada fungsi-fungsi
manajemen tersebut. Meskipun prioritas utama dilakukan pada tahap
pelaksanaan maupun operasional kegiatan.
Penerapan Manajemen Risiko pada perusahaan daerah dapat dilakukan
dengan memahami beberapa hal di bawah ini :
a) Perhitungan Dampak Terhadap Risiko Kerugian
Menghitung dan meramal dampak suatu kejadian secara kualitatif atau
kuantitatif, misalnya risiko kerugian sumber daya manusia yakni sakit,
cedera, keadaan. Risiko kerugian pemasaran yang disebabkan bencana
alam seperti tanah longsor, jembatan rusak.
b) Perhitungan Biaya Penanganan Risiko
Menghitung jumlah biaya kerugian akibat dari pelaksanaan kegiatan baik
biaya langsung dan tidak langsung, meliputi waktu pekerjaan, akibat dari
kondisi tenaga kerja, gangguan, nama baik, kondisi politik dan kerugian-
kerugian lainnya.
346
c) Peristiwa dalam Periode Tertentu
Menghitung risiko akibat peristiwa (insiden) atau situasi, yang terjadi
pada tempat tertentu selama interval waktu tertentu.
d) Menganalisis Peristiwa yang akan terjadi
Biasanya perusahaan menerapkan dan membentuk suatu teknik
peramalan peristiwa menggambarkan rentangan kemungkinan risiko
kerugian dan rangkaian dampak yang bisa timbul dari proses suatu
peristiwa.
e) Analisis Statistik
Merupakan suatu analisa risiko kerugian yang menggunakan metode
statistik untuk menghitung kondisi logis dari berbagai penyebab-
penyebab yang akan terjadi yang dapat memberikan kontribusi
terhadap kejadian tertentu.
f) Jumlah Peristiwa
Menghitung risiko kerugian dalam angka dari peristiwa yang
dinyatakan sebagai jumlah peristiwa pada suatu waktu tertentu. Seperti
kemungkinan dan peluang kerugian yang akan timbul.
g) Bahaya (Hazard)
Menghitung nilai intrinsik yang melekat pada benda dan memiliki
potensi yang dapat menimbulkan kerugian.
h) Pengawasan
Pengawasan secara kritis atas proses pelaksanaan sebuah kegiatan,
tindakan, mengidentifikasi semua perubahan-perubahan yang
mungkin terjadi agar risiko dapat diketahui.
i) Probabilitas
Probabilitas dipakai sebagai alat uji kualitatif dari peluang atau
frekuensi. Semua kejadian yang spesifik, diukur menggunakan rasio
dari kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan
peristiwa atau outputnya. Untuk agar mudah mengetahuinya maka
347
digunakan angka 0 (nol) dan 1 (satu). 0 (nol) digunakan sebagai kode
untuk peristiwa atau hasil yang tidak mungkin dan 1 (satu)
menandakan peristiwa atau hasil yang mungkin terjadi dan bernilai
pasti.
j) Risiko Susulan
Merupakan risiko yang masih tersisa setelah pelaksanaan manajemen
risiko.
k) Risiko Hukum
Kemungkinan terjadinya sesuatu kejadian yang akan memiliki dampak
pada sasaran. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka alat ukurnya
adalah hukum sebab akibat. Untuk itu, maka variabel yang diukur
adalah probabilitas dan konsekuensi/dampaknya.
l) Penerimaan Risiko (acceptable risk)
Penerimaan dan pengakuan akan terjadinya dampak dari risiko dan
kemungkinan risiko tertentu akan terjadi.
m) Analisis Risiko
Analisa risiko merupakan penggunaan informasi yang diperoleh dalam
menentukan jumlah kejadian tertentu yang terjadi, serta besaran
jumlah konsekuensi tersebut.
n) Penilaian Risiko
Penilaian Risiko merupakan cara sistematis dalam melihat pelaksanaan
kerja, menganalisis dampak yang dapat menjadi buruk, kemudian
memutuskan metode untuk mengendalikan, mengurangi, mencegah
terjadinya kerugian, kerusakan, atau cedera di tempat kerja.
o) Penghindaran Risiko
Sebuah keputusan yang dilakukan perusahaan atau manajemen untuk
tidak terlibat dalam situasi risiko.
p) Pengendalian Risiko
348
Sebuah metode dari manajemen risiko yang dilakukan dengan
menerapkan berbagai kebijakan, standar, prosedur untuk
menghilangkan atau mengurangi risiko.
q) Evaluasi Risiko
Proses yang biasa digunakan untuk menentukan manajemen risiko
dengan membandingkan tingkat risiko terhadap standar yang telah
ditentukan, target tingkat risiko dan kriteria lainnya.
r) Identifikasi Risiko
Metode yang sistematis yang digunakan perusahaan dalam
menentukan apa yang akan terjadi, mengapa, bagaimana dan dimana
risiko akan terjadi.
s) Pemindahan Risiko (risk transfer)
Memindahkan suatu risiko kerugian dari suatu individu maupun
kelompok ke suatu organisasi melalui perangkat hukum,
perjanjian/kontrak, biasanya ke perusahaan asuransi.
5. Manajemen Risiko Pada Perusahaan Daerah
5.1 Tujuan
Adapun tujuan utama manajemen risiko dilaksanakan di perusahaan
daerah adalah untuk melindungi perusahaan daerah dari kerugian yang akan
dialami di masa yang akan datang. Seperti yang dikatakan para ahli bahwa
“Tindakan Manajemen risiko diambil oleh para praktisi untuk merespon
bermacam-macam risiko”. Responden melakukan dua macam tindakan
manajemen risiko yaitu mencegah dan memperbaiki. Tindakan mencegah
digunakan untuk mengurangi, menghindari, atau mentransfer risiko pada
tahap awal proyek konstruksi. Sedangkan tindakan memperbaiki adalah untuk
mengurangi efek-efek ketika risiko terjadi atau ketika risiko harus diambil
(Shen, 1997).
349
“Manajemen risiko adalah sebuah cara yang sistematis dalam memandang
sebuah risiko dan menentukan dengan tepat penanganan risiko tersebut. Ini
merupakan sebuah sarana untuk mengidentifikasi sumber dari risiko dan
ketidakpastian, dan memperkirakan dampak yang ditimbulkan dan
mengembangkan respon yang harus dilakukan untuk menanggapi risiko
(Uher, 1996)”. Sedangkan dalam pandangan saya tujuan manajemen risiko,
antara lain :
a) Mencegah perusahaan dari kerugian dalam proses pencapaian tujuan yang
telah dilaksanakan perusahaan.
b) Tindakan manajemen melalui metode-metode sistematis dan terukur
untuk mengurangi risiko kerugian, menciptakan efisiensi melalui
pengelolaan risiko untuk mencapai keunggulan bersaing.
5.2 Manfaat Manajemen Risiko bagi Perusahaan Daerah
Manfaat bagi perusahaan daerah adalah untuk mengantisipasi kerugian-
kerugian di masa yang akan datang akibat pengaruh eksternal dan internal
perusahaan. Saya juga mengutip apa yang dikatakan Moke dan Darmawi.
Menurut Moke (1996) penerapan manajemen risiko di perusahaan dapat
bermanfaat sebagai berikut :
a. Mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah yang rumit.
b. Memudahkan estimasi biaya.
c. Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang
dihasilkan dalam cara yang benar.
d. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi risiko
dan ketidakpastian dalam keadaan yang nyata.
e. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa
banyak informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.
f. Meningkatkan pendekatan sistematis dan logika untuk membuat
keputusan.
g. Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.
h. Memungkinkan analisis yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.
350
Menurut Darmawi, (2005:11) manfaat manajemen risiko yang diterapkan
pada perusahaan dapat dibagi dalam 5 (lima) kategori utama yaitu :
a. Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.
b. Manajemen Risiko menunjang secara langsung peningkatan laba.
c. Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.
d. Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya
perlindungan terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi
perusahaan itu.
e. Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena
kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang
dilindungi maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public
image.
Manfaat manajemen risiko dalam perusahaan sangat jelas, maka secara
implisit sudah terkandung di dalamnya satu atau lebih sasaran yang akan
dicapai manajemen risiko antara lain sebagai berikut ini (Darmawi, 2005:13).
a. Survival
b. Kedamaian pikiran
c. Memperkecil biaya
d. Menstabilkan pendapatan perusahaan.
e. Memperkecil atau meniadakan gangguan operasi perusahaan.
f. Melanjutkan pertumbuhan perusahaan
g. Merumuskan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap karyawan dan
masyarakat.
5.3 Hubungan Risiko dan Tingkat Pengembalian
1). Return Tingkat Pengembalian
Return atau pengembalian adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan,
individu dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan. Menurut
R. J. Shook, return merupakan laba investasi, baik melalui bunga atau
deviden. Beberapa pengertian return yang lain :
Return on Equity atau imbal hasil atas ekuitas merupakan pendapatan
bersih dibagi ekuitas pemegang saham.
351
Return of capital atau imbal hasil atas modal atau pembayaran kas yang
tidak kena pajak kepada pemegang saham yang mewakili imbal hasil
modal yang diinvestasikan dan bukan distribusi dividen. Investor
mengurangi biaya investasi dengan jumlah pembayaran.
Return on Investment atau imbal hasil investasi merupakan membagi
pendapatan sebelum pajak terhadap investasi untuk memperoleh angka
yang mencerminkan hubungan antara investasi dan laba.
Return on invested capital atau imbal hasil atas modal investasi
merupakan pendapatan bersih dan pengeluaran bunga perusahaan dibagi
total kapitalisasi perusahaan.
Return Realisasi merupakan return yang telah terjadi.
Return on network atau imbal hasil atas kekayaan bersih pemegang
saham yang dapat menentukan imbal hasilnya dengan membandingkan
laba bersih setelah pajak dengan kekayaan bersih.
Return on sales atau imbal hasil atas penjualannya merupakan alat untuk
menentukan efisiensi operasi perusahaan, seseorang dapat
membandingkan persentase penjualan bersihnya yang mencerminkan
laba sebelum pajak terhadap variabel yang sama dari periode sebelumnya.
Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh
oleh investor di masa mendatang.
Total return merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam
suatu periode tertentu.
Return realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-
return realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio
tersebut.
Return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari
return-return ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam
portofolio.
2). Hubungan Risiko dan Tingkat Pengembalian
Risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi,
dan individu dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun
keuntungan dalam suatu periode akuntansi.
1) Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah bersifat
linear.
352
2) Semakin tinggi risiko yang kita hadapi maka semakin tinggi tingkat
pengembalian.
3) Meningkatnya keputusan investasi melalui penempatan aset yang kita
alokasikan melalui keputusan investasi maka, semakin tinggi pula tingkat
risiko yang timbul dari keputusan investasi tersebut.
4) Kondisi linear hanya terjadi pada pasar yang bersifat normal.
Gambar 10.2. Hubungan Risiko dan Tingkat Pengembalian
Sumber : Farrel, James L. 1997 “Portfolio Management : Theory and Application”,
Mc.Graw- Hill, Singapore, hal. 11.
Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld, bahwa pada
kenyataannya, seorang investor yang netral terhadap risiko cenderung
mengambil posisi agresif maksimum. Ia akan membeli sebanyak mungkin aset
yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset yang
hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan kondisi paritas suku
bunga.
Adapun karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu :
1) Takut pada risiko (risk avoider). Pada karakteristik ini dimana sang
decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan yang diambilnya
bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang sifatnya
353
menghindari risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan.
Karakter pebisnis yang melakukan tindakan seperti ini disebut dengan
safety player.
2) Hati-hati pada risiko (risk indifference). Pada karakteristik ini sang
decision maker sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap segala
dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan
bisnis, mereka menyebut orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem
disebut sebagai tipe peragu.
3) Suka pada risiko (risk seeker atau risk lover). Karakteristik ini adalah
tipe yang begitu suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan spekulasi dan
itu pula yang membuat penganut karakteristik ini selalu saja ingin menjadi
pemimpin dan cenderung tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker
adalah mental yang dimiliki oleh pebisnis besar dan juga pemimpin besar.
Karakter ini yang paling mendominasi jika dilihat dari kedekatannya pada
risiko.
Utility Risk Avoider Risk Indefferece
Risk Seeker
Monetary Outcome
Gambar 10.3. Karakteristik Pengambilan Risiko
Sumber : www.mdp.ac.id
Keterangan : Dari gambar diatas, kita bisa memperhatikan bagaimana
perubahan dan pergerakan kurva pada tiga karakteristik dalam
mengambil keputusan. Terlihat risk seeker akan terus naik keatas,
sementara risk avoider akan terus bergerak turun kebawah dan Risk
Indifference bergerak statis.
354
5.4 Alternatif-Alternatif Menghindari Risiko
Untuk menghindari risiko yang timbul terhadap aktivitas investasi yang
dilakukan, setiap investor perlu melakukan alternatif-alternatif dalam
pengambilan keputusan. Alternatif keputusan yang diambil merupakan
alternatif yang dianggap paling realistis dan tidak akan menimbulkan masalah
nantinya. Tindakan seperti ini dianggap sebagai bagian strategi investasi.
Sebuah keputusan strategis akan menghasilkan nilai yang lebih besar bagi
perusahaan, apabila tidak lanjut dari keputusan strategis ini melibatkan secara
maksimal sumber daya yang ada untuk mengimplementasikannya. Artinya
risiko yang timbul merupakan konsekuensi dari keputusan tersebut. Jika risiko
sulit dihindari maka yang harus diusahakan adalah meminimalkan risiko itu.
5.5 Mengelola Risiko
Dalam aktivitas bisnis yang namanya risiko adalah pasti terjadi dan sulit
untuk dihindari sehingga bagi sebuah lembaga bisnis seperti perbankan sangat
penting untuk memikirkan bagaimana mengelola risiko tersebut. Dalam
mengelola risiko pada dasarnya ada empat cara yaitu :
a. Memperkecil risiko, dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan
yang mengandung risiko tinggi tapi membatasinya bahkan
meminimalisirnya agar risiko tersebut tidak menambah menjadi besar dan
diluar kontrol manajemen perusahaan.
b. Mengalihkan Risiko, dengan cara mengalihkan risiko yang kita terima
tersebut ke tempat lain seperti mengasuransikan bisnis guna menghindari
terjadinya risiko yang sifatnya tidak tentu waktunya.
c. Mengontrol risiko, dengan cara melakukan kebijakan mengantisipasi
terhadap timbulnya risiko sebelum terjadi, seperti memasang alarm
terhadap mobil, menempatkan satpam pada siang atau malam hari.
d. Pendanaan risiko, dengan cara menyediakan dana cadangan (reserve)
guna mengantisipasi timbulnya risiko dikemudian hari, seperti perubahan
terhadap nilai tukar dolar di pasar uang maka kebijakan sebuah bank
adalah harus memiliki dana cadangan dalam bentuk dolar.
355
5.6 Perhitungan Risiko
Sekedar Informasi risiko yang terkecil dalam manajemen
keuangan/investasi adalah obligasi (bond) yang dijual oleh pemerintah.
Sedangkan risiko yang tertinggi adalah saham yang dijual oleh perusahaan.
Ada model perhitungan risiko yang paling sering dipergunakan khususnya
dalam investasi, yaitu secara standar deviasi dan varian. Untuk melengkapi
perhitungan ini agar lebih komprehensif, terutama jika timbul suatu persoalan
seperti penyebaran return yang diharapkan sangat besar, maka dipergunakan
perhitungan tambahan dengan menggunakan coefficient of variation atau
risiko relatif.
Standar deviasi atau simpangan baku adalah suatu estimasi probabilitas
perbedaan return nyata dari return yang diharapkan.
Varian (nilai kuadrat dari standar deviasi) adalah ukuran penyerapan dari
penyebaran probabilitas. Hal ini merupakan pangkat dua deviasi standar.
Misalnya, bila standar deviasinya 20, maka variannya adalah 400.
Selisih pendapatan, biaya, dan keuntungan terhadap jumlah yang
direncanakan.
Varian dihitung pada pusat pertanggungjawaban, penganalisisan. Dan varian
yang tidak menguntungkan, diselidiki untuk mencari kemungkinan perbaikan.
Coefficient of variation (CV) merupakan perhitungan statistik untuk
menentukan penyebaran relatif atau risiko relatif.
Dari berbagai model perhitungan risiko investasi, maka standar deviasi dan
varian yang paling banyak digunakan.
Standar deviasi merupakan suatu estimasi probabilitas perbedaan return
nyata dan return yang diharapkan.
Varian (nilai kuadrat dari standar deviasi) adalah :
Dalam statistik, varian adalah ukuran penyerapan dari penyebaran
probabilitas. Hal ini merupakan pangkat dua deviasi standar. Misalnya,
bila standar deviasinya 20, maka variannya adalah 400.
Coefficient of variation (CV) = Standard deviation Expected Return
Selisih pendapatan, biaya, dan keuntungan terhadap jumlah yang
direncanakan. Varian dihitung pada pusat pertanggungjawaban,
penganalisisan. Dan varian yang tidak menguntungkan, diselidiki untuk
356
mencari kemungkinan perbaikan. Coefficient Of Variation adalah ukuran
penyebaran relatif atau risiko relatif.
Gambar 10.4. Konsep Manajemen Risiko SNI ISO 31000 Prinsip dan Pedoman
ISO 31000:2009 Relationships between the risk management principles,
framework and process
6. Asuransi Sebagai Pengalih Risiko
6.1 Pengertian
Dalam bahasa Belanda asuransi diartikan sebagai “verzekering” atau
“assurantie” yang memiliki makna sebagai pertanggungan, dan sebagai sarana
perlindungan (pertanggungan/pengalihan risiko) dalam kegiatan ekonomi
maupun dalam kegiatan bisnis. Pengalihan risiko yang dimaksudkan disini
adalah memberikan jaminan dan ganti rugi atas kerugian yang dialami setiap
individu atau lembaga bisnis maupun lembaga non bisnis.
Menurut Robert I. Mehr: Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi
risiko dengan menggabungkan sejumlah unit-unit yang berisiko agar
kerugian individu secara kolektif dapat diprediksi. Kerugian yang dapat
357
diprediksi tersebut kemudian dibagi dan didistribusikan secara
proporsional diantara semua unit-unit dalam gabungan tersebut.
Menurut Mark R. Greene: asuransi adalah institusi ekonomi yang
mengurangi risiko dengan menggabungkan dibawah satu manajemen dan
kelompok objek dalam suatu kondisi sehingga kerugian besar yang terjadi
yang diderita oleh suatu kelompok yang tadi dapat diprediksi dalam
lingkup yang lebih rinci.
Menurut C Arthur Williams Jr. Dan Richard M. Heins: Asuransi adalah
alat yang mana risiko dua orang atau lebih atau perusahaan-perusahaan
digabungkan melalui kontribusi premi yang pasti atau yang ditentukan
sebagai dana yang dipakai untuk membayar klaim.
Menurut UU RI No. 2 Tahun 1992: Asuransi adalah perjanjian antara dua
pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada
tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan
penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan. Atau, tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul
dari suatu peristiwa yang tidak pasti; atau memberikan suatu pembayaran
yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang
dipertanggungkan.
6.2 Jenis-Jenis Asuransi yang Dapat Bekerjasama Dengan Perusahaan
Daerah
Asuransi dapat menjadi pengalih risiko bagi perusahaan daerah. Untuk itu
perusahaan daerah perlu membangun kerja sama saling menguntungkan
dengan perusahaan asuransi. Ada beberapa jenis asuransi yang bisa
bekerjasama dengan perusahaan daerah.
1) Asuransi Kesehatan
Asuransi kesehatan merupakan jenis asuransi cukup dikenal oleh
masyarakat Indonesia. Umumnya Asuransi kesehatan berguna untuk
melindungi para karyawan dari masalah kesehatan karyawan dari suatu
penyakit serta menanggung biaya proses perawatan. Di Indonesia saat ini
terkenal dengan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan)
358
merupakan Badan Hukum Publik yang bertanggung jawab langsung kepada
Presiden dan memiliki tugas untuk menyelenggarakan jaminan Kesehatan
Nasional Bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk Pegawai Negeri Sipil,
Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan
beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya ataupun rakyat biasa. Selain
BPJS perusahaan daerah juga bisa bekerjasama dengan asuransi kesehatan
swasta. Umumnya penyakit tertanggung meliputi sakit tertanggung yang
ditanggung oleh perusahaan asuransi adalah cedera, cacat, sakit, hingga
kematian karena kecelakaan. Asuransi kesehatan juga dikenal bisa dibeli
untuk kepentingan tertanggung saja atau kepentingan orang ketiga.
2) Asuransi Kendaraan
Asuransi kendaraan merupakan salah satu asuransi yang paling populer di
Indonesia. Jenis Asuransi mobil melindungi tertanggung dari cedera atau
terhadap kerusakan kendaraan. Asuransi kendaraan juga membayar
kehilangan. Asuransi kendaraan merupakan produk asuransi umum.
3) Asuransi Properti
Asuransi properti merupakan asuransi yang melindungi diri pemilik
rumah/perusahaan dan aset milik perorangan atau perusahaan yang bisa
berupa rumah atau properti. Asuransi properti memberikan perlindungan
terhadap kehilangan atau kerusakan pada barang-barang tertentu milik pribadi
tertanggung. Selain itu, asuransi properti juga melindungi dan memberikan
keringanan bilamana rumah atau properti tertanggung mengalami musibah
seperti kebakaran.
4) Asuransi Bisnis
Asuransi bisnis merupakan layanan perlindungan dari kerusakan,
kehilangan, maupun kerugian dalam jumlah besar yang bisa terjadi pada bisnis
seseorang. Asuransi bisnis memberikan penggantian dari kerusakan yang
diakibatkan oleh kebakaran, ledakan, gempa bumi, petir, banjir, angin ribut,
hujan, tabrakan, hingga kerusuhan. Manfaat dari produk asuransi bisnis
meliputi perlindungan terhadap karyawan sebagai aset bisnis, perlindungan
investasi dan bisnis, asuransi jiwa menyeluruh untuk seluruh karyawan,
hingga paket perlindungan asuransi kesehatan bagi karyawan.
359
5) Asuransi Umum
General Insurance atau dikenal dengan asuransi umum merupakan
perlindungan terhadap risiko atas kerugian akibat kehilangan manfaat dan
tanggung jawab hukum pada pihak ketiga. Jaminan perlindungan asuransi
umum bersifat jangka pendek (biasanya sekitar satu tahun). Asuransi umum
dapat diklasifikasikan :
a. Social Insurance (Jaminan Sosial)
Jenis Asuransi jaminan sosial wajib dimiliki oleh setiap orang atau
penduduk dengan maksud agar setiap orang memiliki jaminan hari tua.
Rata-rata Pembayaran premi karyawan dilakukan dengan cara paksa,
contohnya pemotongan gaji karyawan setiapp bulan.
b. Voluntary Insurance (Asuransi Sukarela)
Asuransi sukarela digolongkan dalam 2 (Dua) jenis yakni Government
Insurance dan Commercial Insurance. Government Insurance merupakan
asuransi yang dijalankan oleh pemerintah, sementara commercial
insurance merupakan asuransi yang bertujuan memberikan perlindungan
pada individu atau keluarga serta perusahaan dari risiko akibat unexpected
events.
c. Asuransi Kredit
Asuransi kredit merupakan perlindungan terhadap risiko kegagalan
debitur dalam melunasi fasilitas kredit atau pinjaman tunai seperti modal
kerja, kredit perdagangan, dan lain-lain. Kredit ini berhubungan erat
dengan jasa perbankan. Manfaat asuransi kredit untuk melindungi bank
atau lembaga keuangan lainnya dari kemungkinan gagal bayar dana yang
dipinjamkan pada nasabah, dan selain itu membantu memberikan
pengarahan keamanan perkreditan.
d. Asuransi Kelautan
Asuransi kelautan merupakan asuransi khusus melindungi nasabah di
bidang kelautan untuk memastikan pengangkut pemilik kargo, serta risiko
yang mungkin terjadi seperti kerusakan kargo, kerusakan kapal, dan
melukai penumpang. Faktor-faktor yang mempengaruhi premi asuransi
angkutan laut meliputi barang yang diasuransikan, pengepakan barang,
risiko yang diasuransikan, pengangkutan dan perjalanan.
360
e. Asuransi Perjalanan
Asuransi perjalanan merupakan produk asuransi yang memproteksi
nasabah dalam jangka waktu pendek yakni selama tertanggung
melakukan perjalanan. Manfaat asuransi perjalanan melindungi pemilik
asuransi perjalanan dari kecelakaan yang menimpa pembeli premi,
santunan kecelakaan pribadi, tanggungan biaya pengobatan darurat,
pemulangan jenazah, evakuasi medis, hingga proteksi terhadap barang-
barang bawaan yang memiliki risiko hilang atau rusak.
6) Asuransi Pertanian
a. Pengertian
Menurut Mosher (1996), pertanian adalah suatu bentuk produksi yang
khas, yang didasarkan pada proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Petani
mengelola dan merangsang pertumbuhan tanaman dan hewan dalam suatu
usaha tani, dimana kegiatan produksi merupakan bisnis, sehingga pengeluaran
dan pendapatan sangat penting artinya. Sementara, menurut Van Aarsten
(1953), agriculture adalah digunakannya kegiatan manusia untuk memperoleh
hasil yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan atau hewan yang pada mulanya
dicapai dengan jalan sengaja menyempurnakan segala kemungkinan yang
telah diberikan oleh alam guna mengembangbiakan tumbuhan dan atau hewan
tersebut.
b. Sejarah Asuransi Pertanian
Berbagai bentuk asuransi pertanian telah ada sejak abad ke-17 di Eropa
barat. Pada akhir abad 19 dan awal abad ke-20 menyebar ke Amerika Serikat,
Kanada, dan Argentina. Sedangkan Program asuransi tanaman federal
Amerika Serikat di Kembangkan pada 1930. Skema serupa mulai berkembang
di Amerika Latin (misalnya, Brasil, Kosta Rika, Ekuador dan Meksiko) dan
Asia (India dan Filipina) dari 1950 hingga 1980-an (NRAC,2012).
361
c. Tujuan Asuransi Pertanian
Sektor Pertanian merupakan sektor ekonomi utama dan sumber
penghidupan penting dibanyak negara berkembang. Asuransi pertanian adalah
alat yang digunakan untuk mengurangi risiko yang terkait dengan peristiwa
alam yang merugikan (Nandi et al, 2013).
Strategi asuransi pertanian dapat memiliki tujuan komersial maupun
sosial. Program asuransi pertanian dengan tujuan sosial bertujuan untuk
menjamin tingkat keamanan ekonomi untuk semua produsen pertanian,
khususnya mereka yang terlibat dalam sebagian besar subsistem produksi
pertanian (World Bank, 2010). Menurut Departemen Keuangan (2010)
terdapat tiga tujuan asuransi pertanian di Indonesia, Yakni :
1) Untuk menstabilkan tingkat pendapatan petani melalui pengurangan
tingkat kerugian yang dialami petani karena kehilangan hasil;
2) Untuk merangsang petani mengadopsi teknologi usaha tani yang dapat
meningkatkan produksi dan efisiensi penggunaan sumberdaya;
3) Untuk mengurangi risiko yang dihadapi lembaga perkreditan pertanian
dan memperbaiki akses petani terhadap lembaga perkreditan.
d. Instrumen Asuransi Pertanian
Mekanisme pengalihan risiko alternatif tersedia melalui pasar keuangan
internasional dan domestik, dengan mengkonsolidasikan perbaikan asuransi
berbasis indeks cuaca. Bentuk yang paling banyak digunakan dari mekanisme
transfer risiko alternatif Catastrophic Bonds (CAT) yang biasanya disebut
obligasi bencana, yang dikembangkan pada pertengahan 1990-an. Obligasi
CAT adalah surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan asuransi,
perusahaan reasuransi atau melalui Special Purpose Vehicles Reasuransi
(SPRV). Ketika asuransi mengurangi risiko mereka dengan mendapatkan
reasuransi luar negeri, pemerintah dapat mengarungi perannya dalam
memberikan bantuan bencana. Ini adalah langkah besar untuk pasar asuransi
pertanian. Instrumen asuransi yang bermanfaat karena mereka menawarkan
perlindungan dalam hal pendapatan, output, dan kualitas dan tidak saling
eksklusif dari produk asuransi lain (Mitu, 2007).
362
Menurut Wenner dan Arias (2003) instrumen yang inovatif kebanyakan
telah difokuskan untuk mengatasi masalah asuransi pertanian seperti moral
hazard, biaya transaksi yang tinggi, dan informasi asimetris, tetapi yang paling
penting, telah mencoba untuk mengatasi masalah sistemik, terutama iklim.
Instrumen pasar yang telah dikembangkan untuk mengelola peristiwa
bencana adalah obligasi CAT. Obligasi ini memberikan kesempatan untuk
asuransi bencana seperti angin topan, banjir, gempa bumi, tornado, dan lain-
lain sedangkan instrumen pasar seperti opsi berbasis suhu memberikan
kesempatan manajemen risiko. Obligasi CAT adalah sebuah inovasi terbaru
yang memiliki potensi untuk membuat asuransi untuk bencana alam lebih
terjangkau dan lebih mudah diakses bahkan di negara-negara berkembang.
Obligasi CAT telah berhasil diterapkan di Amerika Serikat, Jepang, dan
sedang dianalisis untuk diimplementasikan di negara-negara berkembang.
Salah satu perusahaan di Amerika Serikat yang mengeluarkan obligasi CAT
adalah perusahaan Allianz.
e. Asuransi Pertanian sebagai Lembaga Manajemen Risiko
Usaha untuk mengatasi atau mengelola risiko dikenal sebagai manajemen
risiko. Kurniati (2003) dalam melaksanakan manajemen risiko, pada dasarnya
terdapat tiga langkah yang dapat dilakukan, yaitu : (a) Menemukan sumber
risiko; (b) Menilai dampaknya, baik terhadap perorangan maupun terhadap
kelompok atau organisasi, apabila terjadi suatu kerugian; dan (c) Memilih
teknik atau teknik-teknik yang paling berhasil guna menanggulangi risiko
tersebut.
Menurut Salim (2007:4) risiko adalah ketidaktentuan atau uncertainty
yang mungkin melahirkan kerugian atau (loss). Dengan adanya ketidaktentuan
ini bisa mendatangkan kerugan dalam asuransi. Ketidaktentuan dapat dibagi
menjadi tiga, yaitu :
1) Ketidaktentuan ekonomi (economic uncertainty), yaitu kejadian yang
timbul sebagai akibat dari perubahan sikap konsumen, terjadinya
perubahan harga, atau diperoleh penemuan baru, dan lain sebagainya.
2) Ketidaktentuan yang disebabkan oleh alam (uncertainty of nature)
misalnya kebakaran, badai, topan, banjir, dan lain-lain.
3) Ketidaktentuan yang disebabkan oleh perilaku manusia (human
uncertainty), umpama peperangan, pencurian, dan pembunuhan.
363
Menurut Epletimehin (2011) dua risiko utama yang menjadi perhatian sektor
pertanian yaitu disebabkan oleh potensi ketidakstabilan harga risiko produksi
yang dihasilkan dari ketidakpastian tentang tingkat produksi. Risiko harga
akibat liberalisasi perdagangan dan risiko produksi yang disebabkan oleh efek
perubahan iklim. Risiko pertanian tidak hanya mempengaruhi petani, tapi juga
mempengaruhi seluruh rantai nilai agribisnis. Setiap peserta sepanjang rantai
pasokan, dari pemerintah, lembaga keuangan, pemasok, distributor, pedagang,
prosesor dan konsumen akhir, yang memiliki risiko pertanian.
Tabel 10.3. Rantai Nilai Agribisnis dan Risiko
Pemerintah Kepentingan Risiko
Pemerintah Risiko Anggaran atau Stabilitas
Sosial
Lembaga Keuangan Risiko Kredit
Pemasok Volume Penjualan atau Peningkatan
Produk
Distributor Petani Volume Penjualan atau Peningkatan
Produk
Prosesor Risiko Produksi atau Risiko
Pendapatan Kurangnya Bahan Baku
atau Gangguan Usaha
Sumber : Iturrioz, Ramiro. 2009. Agricultural Insurance. The World Bank. Issue 12.
Tabel 16 menyatakan bahwa asuransi pertanian merupakan salah satu
strategi yang cukup layak diperhitungkan adalah sebagai suatu lembaga
manajemen risiko. Penerapan Asuransi merupakan suatu kebijakan yang dapat
meningkatkan pendapatan per kapita Indonesia.
7. Perusahaan Asuransi Yang Dapat Menjadi Pengalih Risiko
Perusahaan Daerah
7.1 PT. Asuransi Kresna Mitra Tbk
Salah satu perusahaan asuransi yang layak menjadi risiko perusahaan
daerah adalah PT. Kresna Insurance. Perusahaan ini saat berdirinya bernama
PT Asuransi Mitra Maparya Tbk (asuransi Mitra), didirikan pada tanggal 25
364
Juni 1956 sebagai PT Maskapai Asuransi Patriot (Patriot Insurance Society
Ltd), Dewan Komisaris Perusahaan terdiri dari Kamaruddin Zakariah sebagai
Komisaris Utama serta Renda Sarungallo dan Mohammad Nasrun sebagai
Komisaris. Sementara itu, Mohammad Arras ditunjuk sebagai Direktur dan
Alexander Hendrik Kaliey sebagai Direktur Muda. Pada tahun 1991,
perusahaan ini diakuisisi oleh Kalbe Group dan namanya berganti menjadi PT
Asuransi Mitra Maparya.
Perusahaan ini mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia
dengan kode emiten “ASMI” pada tanggal 16 Januari 2014, dengan
penerbitan 402.781.000 (empat ratus dua juta tujuh ratus delapan puluh satu
ribu) lembar saham. Saat ini, mayoritas saham Asuransi Mitra dimiliki oleh
masyarakat dengan kepemilikan saham sebesar 45%, dan PT Mega Inti Supra
dengan kepemilikan saham sebesar 34,81% serta PT Kresna Graha Investama
Tbk dengan kepemilikan saham sebesar 20,18%, dengan total modal
ditempatkan dan disetor senilai Rp. 140.775.150.000 (seratus empat puluh
milyar tujuh ratus tujuh puluh lima juta seratus lima puluh ribu rupiah).
Setelah go public PT Asuransi Mitra Tbk telah menyesuaikan Anggaran
Dasarnya sebagai pedoman struktur Perusahaan berdasarkan peraturan
Perundang-undangan yang berlaku di Pasar modal, khususnya terkait
perusahaan emiten. Perubahan terakhir Anggaran Dasar Asuransi Mitra
ditetapkan oleh Akta No. 16 tahun 2015. Sebagai perusahaan asuransi
kerugian, Asuransi Mitra selalu berusaha untuk menjadi mitra perlindungan
usaha yang terpercaya dan dapat diandalkan bagi para nasabahnya. Untuk
tujuan tersebut, Asuransi Mitra terus mengembangkan usahanya sebagai
perusahaan asuransi yang profesional, transparan akuntabel, dan taat pada
peraturan perundang-undang. Pada 15 Juni 2016, melalui pengesahan Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa, PT Asuransi Mitra Maparya Tbk
berganti nama dan logo Perusahaan menjadi PT Asuransi Kresna Mitra Tbk.
Jenis-jenis produk yang disediakan PT Asuransi Kresna Mitra Tbk adalah
sebagai berikut :
1) Asuransi Kendaraan Bermotor
Kendaraan bermotor, seperti aset berharga lainnya, harus dilindungi
terhadap kehilangan dan kerusakan, tetapi ada dimensi ekstra untuk
365
perlindungan kendaraan bermotor yang tidak boleh diabaikan. Jenis
perlindungannya :
Perlindungan Komprehensif-Kerusakan, Pencurian, Api dan Pihak
Ketiga
Perlindungan Target – Misalnya Pihak Ketiga saja; Kerusakan Total
Perluasan Perlindungan – RSMD, RSCC, Act Of God
2) Asuransi Kebakaran
Asuransi kebakaran meliputi kerusakan pada harta benda yang
dipertanggungkan terhadap api, petir, ledakan, atau pesawat jatuh.
3) Asuransi Kesehatan
Mitra Health adalah program Asuransi Kesehatan yang berisikan jaminan
perlindungan terhadap masalah kesehatan yang timbul akibat penyakit atau
cedera akibat kecelakaan yang menimpa karyawan. Jaminan tersebut bisa
berupa Rawat Inap di Rumah Sakit, Berobat Jalan, Perawatan Gigi,
Melahirkan dan sebagainya.
Asuransi Kresna juga memiliki Rumah Sakit Rekanan hampir di setiap
Provinsi di Indonesia dan memiliki fasilitas “24 Hour Hotline Service” yang
kami siapkan untuk membantu memberikan informasi kesehatan umumnya
berkaitan dengan perawatan di Rumah Sakit bagi Karyawan.
4) Asuransi Engineering
Asuransi pekerjaan Sipil dan Bangunan melindungi proyek mulai dari
tahap penandatanganan kontrak, sampai ke penyelesaian pekerjaan.
Perlindungan juga bisa memasukkan pabrik dan peralatan yang digunakan
dalam pekerjaan, serta kewajiban kepada Pihak ketiga yang timbul dari
pelaksanaan pekerjaan.
Erection All Risks
Asuransi Pemasangan Mesin dan Pengujian menyediakan perlindungan
dari saat mesin tiba di lokasi sampai serah terima setelah pengujian.
Perlindungan juga dapat diperluas untuk mencakup pabrik dan peralatan yang
digunakan untuk pemasangan, serta kewajiban terhadap Pihak Ketiga yang
timbul dari pemasangan mesin.
366
Contractor All Risks
Asuransi Semua Risiko Kontraktor mencakup kerusakan atau kerugian
terhadap benda yang diasuransikan selama masa konstruksi dan masa
pemeliharaan. Perlindungan akan diberikan juga untuk kewajiban pihak ketiga
selama masa konstruksi. Contoh : pembangunan jalan, jembatan, gedung, dan
lain-lain.
Machinery Breakdown
Asuransi Kerusakan Mesin, dirancang untuk memberikan perlindungan
terhadap kerugian fisik atau kerusakan yang tidak terduga dan tiba-tiba
terhadap mesin dari segala penyebab yang dapat diterima.
Mesin merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua unit
manufaktur dan industri yang terlibat dalam produksi barang-barang
industri / rumah tangga. Hal ini bisa terjadi terhadap perusahaan
industri besar atau usaha kecil dan menengah dimana
kecelakaan/kerusakan tak terduga menyebabkan berhentinya mesin
utama dapat mempengaruhi bisnis dan menyebabkan tekanan
keuangan untuk memperbaiki atau mengganti mesin yang rusak.
Asuransi Kerusakan Mesin menawarkan perlindungan untuk
organisasi Anda terhadap kecelakaan/peristiwa tak terduga yang
datang secara tiba-tiba.
5) Asuransi Pengangkutan Barang
Jika Anda mengirim barang melalui darat atau laut, ditawarkan
perlindungan Semua Risiko, atau terbatas, pada peralatan dan mesin, dari saat
meninggalkan tempat produksi hingga mencapai pabrik anda, atau setiap titik
diantara Jenis-Jenis Produk :
6) Asuransi Uang
Uang merupakan darah kehidupan bisnis dan kehilangannya, baik melalui
kecelakaan ataupun pencurian, menyebabkan pukulan serius terhadap
operasional sehari-hari. Uang sangat rentan saat dibawa dari satu tempat ke
tempat lain.
367
Asuransi Uang kami memberikan ganti rugi kepada tertanggung terhadap
hilangnya uang dari segala penyebab apapun, kecuali secara khusus telah
dikecualikan, dan sejalan dengan tindakan keamanan pencegahan yang normal
seperti ditentukan dalam polis Asuransi.
Asuransi Uang Dalam Perjalanan dapat diatur untuk memenuhi
kebutuhan spesifik Anda, termasuk perlidungan :
Uang untuk gaji dan upah, dari waktu itu meninggalkan bank, sampai
saat itu dibayarkan kepada karyawan.
Uang lainnya dalam perjalanan, dari waktu itu meninggalkan bank
sampai diterima di tempat anda
Uang dalam perjalanan ke bank, dari waktu itu meninggalkan premis
anda sampai dibayarkan ke bank
Uang yang disimpan di tempat anda, di ruang penyimpanan yang
terkunci aman
Uang di tempat anda dalam laci atau lemari terkunci.
Uang di tangan penagih, dari saat penagihan sampai dikirim langsung
ke bank, atau dikirim ke bank melalui tempat anda.
7) Asuransi Jaminan Pemilik Proyek
Asuransi Jaminan Pemilik Proyek adalah janji untuk membayar satu
pihak (Obligee) jumlah tertentu jika pihak kedua (Principal) gagal memenuhi
beberapa kewajiban, seperti memenuhi ketentuan kontrak. Asuransi Jaminan
Pemilik Proyek melindungi Obligee terhadap kerugian akibat kegagalan
kepala proyek untuk memenuhi kewajiban.
Di Asuransi Jaminan Pemilik Proyek, ketika Penjamin membayar
kerugian secara tunai kepada Obligee untuk setiap permintaan penyelesaian
klaim, Principal sesuai dengan Perjanjian Ganti Rugi akan mengembalikan
jumlah yang sama kepada Surety.
368
BAB XI
INVESTASI DAN KEMITRAAN
PERUSAHAAN NASIONAL DAN PERUSAHAAN DAERAH
Krisis ekonomi yang dialami beberapa negara di dunia, termasuk
Indonesia yang telah dibahas pada bab sebelumnya, telah mengakibatkan
kerapuhan struktur ekonomi dan bisnis, dan menimbulkan ketimpangan sosial
yang parah. Dalam konteks Indonesia ketimpangan sosial menjadi semakin
parah karena masyarakat atau pelaku bisnis lalai menerapkan tata kelola bisnis
sesuai dengan semangat sila kelima yakni Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Konsep tentang ‘keadilan sosial’ dicetuskan pertama kali oleh filsuf
Yunani, Plato, untuk membantah pendapat filsuf lainnya, Thrasymachus, yang
menyatakan bahwa keadilan merupakan segala sesuatu yang ditentukan oleh
si terkuat. Sementara, menurut plato ‘keadilan sosial’ ditentukan oleh empat
sifat baik : kebijakan keberanian, pantangan (atau keprihatinan), dan keadilan.
Penambahan kata sosial adalah untuk membedakan keadilan Sosial dengan
konsep keadilan dalam hukum. Sedangkan menurut Kamus Umum bahasa
Indonesia, ‘keadilan’ mempunyai arti sifat (perbuatan, perlakuan) yang tidak
berat sebelah (tidak memihak). Sedangkan ‘sosial’ berarti segala sesuatu yang
mengenai masyarakat, kemasyarakatan atau perkumpulan yang bersifat dan
bertujuan kemasyarakatan (bukan dagang atau politik). “Keadilan Sosial”
pada dasarnya tidak lain daripada keadilan. Sementara bunyi 33 ayat 4
menyinggung tentang ‘keadilan sosial’, yakni, perekonomian nasional
diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional.
Dalam bidang ekonomi, ‘keadilan’ merupakan suatu keadaan atau situasi
di mana setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya. Dengan
demikian, keadilan dalam bidang ekonomi berarti suatu perlakuan yang
menjamin agar setiap orang mendapatkan penghidupan yang layak sesuai
dengan potensi dan kebutuhan yang ada. Menurut Ibnu Taimiyah (661-728 H)
keadilan dalam bidang ekonomi adalah memberikan sesuatu kepada setiap
anggota masyarakat sesuai dengan haknya yang harus diperolehnya tanpa
369
diminta; tidak berat sebelah atau tidak memihak kepada salah satu pihak;
mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang
salah, bertindak jujur dan tetap menurut peraturan yang telah ditetapkan.
Oleh karena konsep ‘keadilan sosial’ sulit diterapkan dalam bisnis yang
cenderung mengejar keuntungan, makan ada dua cara untuk menyelesaikan
persoalan ini yakni, model investasi melalui kemitraan’ yang dapat menjadi
jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kemitraan dalam dunia
bisnis merupakan sebuah konsep yang dibuat untuk menciptakan keuntungan
antara usaha besar dengan usaha kecil dalam berbagai jenis usaha. Sedangkan
investasi merupakan penanaman sejumlah uang pada alat-alat produksi untuk
memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.
1. Konsep Investasi
Beberapa ahli mendefinisikan investasi sbb: Jones, Utama, Frensidy,
Ekaputra dan Budiman (2009:3) mendefinisikan investasi sebagai berikut :
“An investment can be defined as the commitment of fund to one or more assets
that will be held over some future time period. The field of investment,
therefore involves the study of the investment process. Investment is concerned
with the management of an investor’s wealth, which is the sun of current
income and the present value of all future income.”
Sementara itu menurut Martalena dan Malinda (2011:1), “Investasi
merupakan bentuk penundaan konsumsi masa sekarang untuk memperoleh
konsumsi di masa yang akan datang, dimana didalamnya terkandung unsur
risiko ketidakpastian sehingga dibutuhkan atas penundaan tersebut”. Investasi
dalam menanamkan modal merupakan sejumlah belanja pengeluaran modal
oleh perusahaan dalam membeli peralatan produksi untuk memproduksi
barang-barang dan jasa.
Investasi Modal Meliputi :
Pembelian berbagai jenis barang yaitu mesin-mesin dan peralatan
produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan
perusahaan.
Perbelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, kantor dan
lainnya.
370
Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah
dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun
perhitungan pendapatan nasional (Sukirno, 2000:106-107).
Catatan : saat ini Indonesia mengalami kenaikan status menjadi negara dengan
status investment grade yang dikeluarkan Lembaga Pemeringkat Internasional
Standard & Poor’s (S&P) Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo
mengatakan capaian tersebut merupakan buah koordinasi antara pemerintah,
BI, dan otoritas lain di sektor keuangan.
2. Konsep Kemitraan
Kemitraan dilihat dari perspektif etimologis diadaptasi dari kata
partnership, dan berasal dari akar kata partner. Partner dapat diterjemahkan
“pasangan, jodoh, sekutu, atau kampanyon”. Makna partnership yang
diterjemahkan menjadi persekutuan atau perkongsian. Bertolak dari sini maka
kemitraan dapat dimaknai sebagai bentuk persekutuan antara dua pihak atau
lebih yang membentuk suatu ikatan kerjasama atas dasar kesepakatan dan rasa
saling membutuhkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas di
suatu bidang usaha tertentu, atau tujuan tertentu, sehingga dapat memperoleh
hasil yang baik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata ‘mitra’ adalah teman,
kawan kerja, rekan. Sementara kemitraan artinya perihal berhubungan atau
jalinan kerjasama sebagai mitra. Hafsah menjelaskan pengertian kemitraan
adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam
jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling
membutuhkan dan saling membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis
maka keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan
diantara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Hal demikian sesuai
dengan pendapat Ian Linton yang mengatakan bahwa Kemitraan adalah
sebuah cara melakukan bisnis di mana pemasok dan pelanggan berniaga satu
sama lain untuk mencapai tujuan bisnis bersama.
Menurut Anwar dalam Hafsah, pembangunan ekonomi dengan pola
kemitraan dapat dianggap sebagai usaha yang paling menguntungkan
(maximum social benefit), terutama ditinjau dari pencapaian tujuan
pembangunan jangka panjang. Hal ini didasari oleh perwujudan cita-cita pola
371
kemitraan untuk melaksanakan sistem perekonomian gotong royong antara
mitra yang kuat dari segi permodalan, pasar, dan kemampuan teknologi
bersama petani golongan lemah yang tidak berpengalaman. Tujuannya adalah
meningkatkan produktivitas usaha dan kesejahteraan atas dasar kepentingan
bersama.
Secara ekonomi, ‘kemitraan’ didefinisikan sebagai :
1) Esensi Kemitraan terletak pada kontribusi bersama, baik berupa
tenaga (labour) maupun benda (property) atau keduanya untuk tujuan
kegiatan ekonomi. Pengendalian kegiatan dilakukan bersama dimana
pembagian keuntungan dan kerugian distribusi di antara dua pihak
yang bermitra. (Burns, 1996 dalam Badan Agribisnis Departemen
Pertanian, 1998);
2) “Partnership atau Alliance” adalah suatu asosiasi yang terdiri dari dua
orang atau usaha yang sama-sama memiliki sebuah perusahaan
dengan tujuan untuk mencari laba. (Winardi, 1971 dalam Agribisnis
Departemen Pertanian, 1998);
3) Kemitraan adalah suatu persekutuan dari dua orang atau lebih sebagai
pemilik bersama yang menjalankan suatu bisnis mencari keuntungan.
(Spencer, 1977 dalam Badan Agribisnis Departemen Pertanian,
1998).
4) Suatu kemitraan adalah suatu perusahaan dengan sejumlah pemilik
uang menikmati bersama keuntungan-keuntungan dari perusahaan
dan masing-masing menanggung liabilitas yang tidak terbatas atas
undang-undang perusahaan. (McEachern, 1988 dalam Badan
Agribisnis Departemen Pertanian, 1998).
Beberapa ahli mengartikan ‘kemitraan’ sebagai jalinan kerjasama usaha
yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha
menengah atau besar (Perusahaan mitra) disertai dengan pembinaan dan
pengembangan oleh pengusaha besar dengan memperhatikan prinsip saling
menguntungkan (Sutawi, dalam Yuliani, 2004:11). Sedangkan Wie (1992:3)
mengatakan ‘kemitraan’ merupakan kerjasama usaha antara perusahaan besar
atau menengah yang bergerak di sektor produksi barang-barang maupun di
sektor jasa dan industri kecil berdasarkan atas asas saling membutuhkan,
saling memperkuat, dan saling menguntungkan.
372
Dibidang pertanian ‘kemitraan’ merupakan salah satu instrumen kerja
sama yang mengacu pada terciptanya suasana keseimbangan, keselarasan, dan
keterampilan yang didasari saling percaya antara perusahaan mitra dan
kelompok melalui perwujudan sinergi kemitraan, yaitu terwujudnya hubungan
yang saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memperkuat
(Martodireso dkk, 2001:12). Kemitraan juga diartikan sebagai suatu strategi
bisnis yang dilakukan oleh kedua belah pihak atau lebih dalam jangka waktu
tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling
membutuhkan dan saling membesarkan. (Hafsah, 2000:43).
Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 menyatakan, ‘Kemitraan’ adalah
kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar
dengan memperhatikan prinsip paling memerlukan, saling memperkuat, dan
saling menguntungkan. Konsep tersebut diperkuat pada peraturan pemerintah
No. 44 tahun 1997 yang menerangkan bahwa bentuk kemitraan yang ideal
adalah saling memperkuat, saling menguntungkan, dan saling menghidupi
(Sumardjono dkk, 2004:16-17).
Sementara Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah Pasal 1 Ayat 13 mengatakan bahwa yang
dimaksud dengan ‘Kemitraan’ adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik
langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan,
mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan Usaha Besar.
Berbagai definisi di atas belum memberikan pemahaman secara lengkap
tentang ‘kemitraan’. Hal tersebut disebabkan karena para pakar mempunyai
titik fokus yang berbeda dalam memberikan definisi tentang kemitraan. Keint
L. Fletcher dan Kamus Besar Bahasa Indonesia memandang ‘Kemitraan’
sebagai suatu jalinan kerjasama usaha untuk tujuan memperoleh keuntungan.
Berbeda dengan Muhammad Jafar Hafsah dan Ian Linton yang memandang
‘Kemitraan’ sebagai suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau
lebih, dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Dari
berbagai pendapat yang beragam, disimpulkan bahwa ‘kemitraan’ merupakan
jalinan kerjasama usaha yang merupakan strategi bisnis yang dilakukan antara
dua pihak atau lebih dengan prinsip saling membutuhkan, saling memperbesar
dan saling menguntungkan. Hubungan kerjasama tersebut tersirat adanya satu
pembinaan dan pengembangan, hal ini dapat terlihat karena pada dasarnya
373
masing-masing pihak pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan, justru
dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing pihak akan saling
melengkapi dalam arti pihak yang satu akan mengisi dengan cara melakukan
pembinaan terhadap kelemahan yang lain dan sebaliknya.
1.2 Prinsip-Prinsip Kemitraan dalam Dunia Bisnis
Kemitraan memiliki prinsip-prinsip dalam pelaksanaannya. Wibisono
merumuskan tiga prinsip penting dalam kemitraan, yaitu : 1. Kesetaraan atau
keseimbangan (equity). Pendekatannya bukan top down atau bottom up,
bukan juga berdasarkan kekuasaan semata, namun hubungan yang saling
menghormati, saling menghargai dan saling percaya. Untuk menghindari
antagonisme perlu dibangun rasa saling percaya. Kesetaraan meliputi adanya
penghargaan, kewajiban, dan ikatan. 2. Transparansi. Transparansi diperlukan
untuk menghindari rasa saling curiga antar mitra kerja. Meliputi transparansi
pengelolaan informasi dan transparansi pengelolaan keuangan. 3. Saling
menguntungkan. Suatu kemitraan harus membawa manfaat bagi semua pihak
yang terlibat.
3. Tujuan dan Manfaat Kemitraan bagi Perusahaan Daerah
Pada dasarnya maksud dan tujuan dari kemitraan adalah “win-win
solution partnership”. Kesadaran dan saling menguntungkan disini tidak
berarti para partisipan dalam kemitraan tersebut harus memiliki kemampuan
dan kekuatan yang sama, tetapi yang lebih dipentingkan adalah adanya posisi
tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing. Berdasarkan pendekatan
cultural, kemitraan bertujuan agar mitra usaha dapat mengadopsi nilai-nilai
baru dalam berusaha seperti perluasan wawasan, prakarsa, kreativitas, berani
mengambil risiko, etos kerja, kemampuan aspek-aspek manajerial, bekerja
atas dasar perencanaan, dan berwawasan ke depan. Dalam kondisi yang ideal,
tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih konkrit
adalah : a). Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat; b).
Meningkatkan nilai tambah bagi pelaku kemitraan; c). Meningkatkan dan
pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil; d) Meningkatkan pertumbuhan
ekonomi pedesaan, wilayah dan nasional; e). Memperluas lapangan kerja; f).
Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
374
Menurut Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, kecil
dan Menengah pasal 11 tercantum bahwa tujuan program kemitraan yaitu:
a) Mewujudkan kemitraan antar usaha Mikro, Kecil dan Menengah;
b) Mewujudkan kemitraan antar Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha
Besar;
c) Mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam
pelaksanaan transaksi usaha antara Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;
d) Mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam
pelaksanaan transaksi usaha antar Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan
Usaha Besar;
e) Mengembangkan kerjasama untuk meningkatkan posisi tawar Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah;
f) Mendorong terbentuknya struktur pasar yang menjamin tumbuhnya
persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen.
g) Mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan pasar oleh orang
perorangan atau kelompok tertentu yang merugikan Usaha Mikro, Kecil
dan Menengah.
Kemitraan ditujukan untuk meningkatkan kinerja serta keuntungan bagi
kedua belah pihak. Selain itu, kemitraan juga bertujuan untuk kesinambungan
usaha, meningkatkan kualitas sumber daya kelompok mitra, peningkatan skala
usaha serta menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan kelompok usaha
mandiri (Sumardjo, 2004).
Sedangkan Martodireso dan Widada (2001 : 30) mendefinisikan tujuan
kemitraan usaha untuk meningkatkan pendapatan, kesinambungan usaha,
kuantitas produksi, kualitas produksi, meningkatkan kualitas kelompok mitra,
peningkatan usaha dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan
kemampuan usaha kelompok mitra mandiri.
Hakim dalam Eka (2014) membagi tujuan dari kemitraan sebagai berikut :
a. Tujuan Aspek Ekonomi. Dalam kondisi yang ideal, tujuan utama yang
ingin dicapai dalam melakukan kemitraan yaitu :
Meningkatkan usaha tani kecil dan masyarakat;
Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan;
375
Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha
kecil;
Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan
nasional;
Memperluas kesempatan kerja;
Meningkatkan ketahanan ekonomi sosial.
b. Tujuan dari Aspek sosial dan budaya. Sebagai wujud tanggung jawab
sosial dari pengusaha besar dapat diwujudkan melalui pemberian
pembinaan dan pembimbingan kepada pengusaha kecil dapat tumbuh dan
berkembang sebagai komponen ekonomi yang tangguh dan mandiri.
Selain itu berkembangnya kemitraan diharapkan dapat menciptakan
pemerataan pendapatan dan mencegah kesenjangan sosial. Dari segi
pendekatan kultural, tujuan kemitraan adalah agar mitra usaha dapat menerima
dan mengadopsi nilai-nilai baru dalam berusaha seperti perluasan wawasan,
prakarsa dan kreativitas, berani mengambil risiko, etos kerja, kemampuan
aspek-aspek manajerial, bekerja atas dasar perencanaan dan berwawasan ke
depan.
c. Tujuan dari Aspek Teknologi. Usaha kecil mempunyai skala usaha
yang kecil baik dari sisi modal, penggunaan tenaga kerja dan orientasi
pasar. Selain itu, usaha juga bersifat pribadi atau perorangan sehingga
kemampuan untuk mengadopsi teknologi dan menerapkan teknologi baru
cenderung rendah. Dengan demikian, diharapkan dengan adanya
kemitraan, pengusaha besar dapat membina dan membimbing petani
untuk mengembangkan kemampuan teknologi produksi sehingga dapat
meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha.
d. Tujuan dari aspek Manajemen. Pengusaha kecil selain memiliki tingkat
teknologi yang rendah juga memiliki pemahaman manajemen usaha yang
rendah. Dengan kemitraan usaha diharapkan pengusaha besar dapat
membina pengusaha kecil untuk membenahi manajemen, meningkatkan
kualitas sumberdaya manusia dan memantapkan organisasi usaha.
376