Kajian FiskalRegional2025 Kanwil Direktorat Jenderal PerbendaharaanProvinsi Nusa Tenggara Barat TAHUNAN
KataPengantar Puji syukur saya panjatkan ke hadiratTuhan Yang Maha Esa atas segalalimpahan rahmat, kesehatan, sertakesempatan yang diberikan sehinggapenulisan karya ini dapat terselesaikandengan baik. Proses penyusunan dokumenini bukan hanya sekadar rangkaian kegiatanmenulis, tetapi juga perjalanan panjangyang melibatkan pengamatan,pembelajaran, dan perenungan terhadapberbagai hal yang relevan dengan temayang diangkat. Dalam prosesnya, penulis berusahamenyajikan isi yang tidak hanya informatifdan mudah dipahami, tetapi juga mampumemberikan nilai tambah bagi pembaca.Setiap gagasan, data, dan penjelasan yangtercantum di dalamnya disusun secara hatihati agar dapat menjadi referensi yangbermanfaat, baik bagi kalangan akademisi,praktisi, maupun masyarakat umum yangmemiliki perhatian terhadap isu-isu yangdibahas. Penulisan karya ini tentu tidak terlepasdari dukungan berbagai pihak. Motivasi,arahan, dan bantuan yang diberikan—baik RATIH HAPSARI KUSUMAWARDANI, S.Si., M.A., M.T.Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi NTBKajian Fiskal RegionalTahun 2025Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara Baratsecara langsung maupun tidak langsung—telah menjadi bagian penting yangmendorong penulis untuk menyelesaikankarya ini dengan sebaik-baiknya. Olehkarena itu, penulis menyampaikan rasaterima kasih yang sebesar-besarnyakepada semua pihak yang telahmemberikan kontribusi selama prosespenyusunan berlangsung. Penulis menyadari bahwa karya inimasih memiliki keterbatasan dan jauh darisempurna. Penulis menyadari bahwakarya ini masih memiliki keterbatasan danjauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritikserta saran yang membangun akansangat berarti bagi penyempurnaan dimasa mendatang. Harapan besar penulisadalah agar hasil karya ini dapatmemberikan manfaat nyata, membukawawasan, serta menjadi pijakan bagipengembangan pengetahuan dan diskusiyang lebih luas. Akhir kata, semoga karya ini dapatditerima dengan baik dan memberikankontribusi positif bagi setiap pembacayang menyempatkan diri untukmempelajarinya. Terima kasih.
Kajian Fiskal RegionalTahun 2025Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratAdi WidyandanaKepala Bidang PPA IIWisnu Agung NKepala Seksi PPA II AIndra WahyudiKepala Seksi PPA II BTri RusdiyantoKepala Seksi PPA II CShibghotullahSyubbanur RAnalis PerbendaharaanNegara Ahli PertamaDinda Pusparahmi SPenata LayananOperasional Tk. VWahyu Wulan SuciPengolah Data danInformasi Tk. IIIMaryantoPenata LayananOperasional Tk. IIMoh Almuwafiqi IPengolah Data danInformasi Tk. VMia SukmadewiPengolah Data danInformasi Tk. IVTimPenyusun
Kajian Fiskal RegionalTahun 2025Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratDaftar IsiKata PengantarDaftar IsiiiiiDaftar Tabel vDaftar Grafik viiiDashboard xiRingkasan Eksekutif xvBab I Sasaran Pembangunan dan Tantangan Daerah 11.1 Pendahuluan 11.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah 11.3 Keselarasan RPJMD dan RPJMN1.4 Capaian atas Keselarasan RPJMD dan RPJMN581.5 Tantangan Sasaran Pembangunan 9Bab II Analisis Ekonomi Regional 162.1 Analisis Indikator Ekonomi Makro 162.2 Analisis Indikator Kesejahteraan 222.3 Reviu Capaian Kinerja Makor Kesra Regional 30Bab III Analisis Fiskal Regional 343.1 Pelaksanan APBN Tingkat Provinsi 34
Kajian Fiskal RegionalTahun 2025Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara Barat3.2 Pelaksanaan APBD Tingkat Provinsi (Konsolidasian Pemda) 613.3 Pelaksanaan Anggaran Konsolidasian4.1 Pendahuluan88944.2 Gambaran Umum Harmonisasi KL/DAK Fisik di 945.1 Tema Mandatory: Implementasi Program Makan Bergizi Gratis 1115.2 Tema Pilihan : Kontribusi Ekonomi Industri Kecil 129 Menengah (IKM) Konveksi terhadap Penerimaan APBN diProvinsi Nusa Tenggara Barat5.3 Tema Strategis: Ketahanan Energi sebagai Fondasi Stabilitas 136Fiskal dan Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah 6.1 Kesimpulan 1406.2 Rekomendasi 143Bab IV Pengembangan Ekonomi Daerah: Harmonisasi 94Belanja K/L dan DAK Fisik Tingkat WilayahTingkat WilayahBab V Analisis Tematik 111140Bab VI Kesimpulan dan Rekomendasi
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratDaftar TabelTabel 1‑1 Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah ProvinsiNTB 3Tahun 2025Tabel 2‑1 Hasil Reviu Efektivitas Kebijakan Makro Ekonomi danKesejahteraan Provinsi NTB 30Tabel 3‑1 I-Account Realisasi APBN Provinsi NTB Tahun 2023-2025 34Tabel 3‑2 Pendapatan Negara dan Hibah Provinsi NTB Tahun 2023-2025 (miliar) 35Tabel 3‑3 Pendapatan Perpajakan Prov. NTB Tahun 2023-2025(miliar Rp) 36Tabel 3‑4 Penerimaan Negara Bukan Pajak Provinsi NTB Tahun 2023-2025 (miliar Rp) 39Tabel 3‑5 Belanja Negara Provinsi NTB Tahun 2023-2025 (miliar Rp) 41Tabel 3‑6 Belanja Pemerintah Pusat (BPP) Provinsi NTB Tahun 2023-2025 (miliar Rp). 42Tabel 3‑7 Realisasi Belanja 15 K/L Provinsi NTB Tahun 2023-2025(miliar Rp) 44Tabel 3‑8 Realisasi Belanja Pemerintah Berdasarkan Fungsi di Prov.NTB Tahun 2023-2025 (miliar Rp) 44Tabel 3‑9 Realisasi Belanja TKD Provinsi NTB Tahun 2023-2025(miliar Rp) 45Tabel 3‑10 Realisasi DAU Prov. NTB Tahun 2023-2025 (miliar Rp) 46Tabel 3‑11 Realisasi Dana Transfer Khusus (DTK) Provinsi NTB Tahun2023-2025 (miliar Rp) 48Tabel 3‑12 Realisasi Dana Desa Provinsi NTB Tahun 2023-2025(miliar Rp). 50Tabel 3‑13 Surplus/Defisit APBN di Provinsi NTB Tahun 2023-2025(miliar Rp) 50Tabel 3‑14 Daftar BLU di Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat 50 51Tabel 3‑15 Perbandingan dan Kontribusi PNBP Tahun 2024 dan 2025 51
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbTahun 2025 Provinsi Nusa Tenggara BaratTabel 3‑16 PNBP Satker di Wilayah Provinsi NTB Tahun 2023 s.d.2025.. 51 52Tabel 3‑17 Hasil Penilaian Maturity Rating Terakhir 53Tabel 3‑18 PNBP BLU Periode 2023 s.d. 2025 53Tabel 3‑19 Data Pendapatan dan Belanja dalam Laporan RealisasiAnggaran Tahun 2025 (unaudited) 54Tabel 3‑20 Daftar Debitur Penerusan Pinjaman SLA pada Kanwil DJPbProv. NTB Tahun 2025 58Tabel 3‑21 Penyaluran KUR per Skema Provinsi NTB Tahun 2023-2025 59Tabel 3‑22 Penyaluran KUR per Sektor Provinsi NTB Tahun 2023-2025 59Tabel 3‑23 I-Account APBD 2023 s.d. 2025 62Tabel 3‑24 Komposisi Komponen Pendapatan terhadap PendapatanDaerah 2023-2025 (miliar) 65Tabel 3‑26 Pertumbuhan Komponen PAD Prov. NTB 2023-2025(persen). 68Tabel 3‑27 Rasio Kapasitas Fiskal Daerah (KFD) NTB 2025. 69Tabel 3‑28 Realisasi Pendapatan Transfer Prov. NTB 2023-2025(persen) 71Tabel 3‑29 Pertumbuhan Pendapatan Transfer 2023-2025 (miliar) 72Tabel 3‑30 Realisasi Pendapatan Lain-Lain Pendapatan Daerah yangSah (miliar) 72 73Tabel 3‑31 Pagu Realisasi Belanja Daerah Prov. NTB 2023-2025(miliar) 74Tabel 3‑32 Persentase Mandatory Spending Belanja Pegawai danBelanja Modal Pemda 2025 (miliar) 76Tabel 3‑33 Realisasi Belanja Operasi 2023-2025 78Tabel 3‑34 Realisasi Belanja Modal 2023-2025. 79Tabel 3‑35 Realisasi Belanja Tak Terduga 2023-2025 80Tabel 3‑36 Realisasi Belanja Transfer 2023-2025 81Tabel 3‑37 Realisasi Surplus/Defisit 2023-2025 (miliar) 82
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbTahun 2025 Provinsi Nusa Tenggara BaratTabel 3‑38 Realisasi Pembiayaan Daerah APBD Konsolidasian 2023-2025 (miliar) 84Tabel 3‑39 Daftar Jumlah BLUD di Provinsi NTB Tahun 2025 85Tabel 3‑40 Laporan Keuangan Pusat dan Daerah Konsolidasian 2023s.d. 2025 88Tabel 3‑41 Pendapatan Konsolidasian 2023-2025 90Tabel 3‑42 Belanja Konsolidasian,%tase Kontribusi, dan Pertumbuhan(2023-2025) 91Tabel 3‑43 Pembiayaan Konsolidasian 2023-2025. 92Tabel 4‑1 Perbandingan Belanja K/L yang mendukung DAK Fisik. 95Tabel 4‑2 Alokasi Anggaran K/L Secara Umum 97Tabel 4‑3 Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Bidang DAK Fisik. 99Tabel 5‑1 Rata-rata Pertumbuhan PDRB Sektoral NTB (%) 118Tabel 5‑2 Distribusi PDRB Sektoral NTB (%). 119Tabel 5‑3 Perubahan Indikator Kesejahteraan Masyarakat NTB(Before–After MBG) 122Tabel 5‑4 Data dan Pertumbuhan IKM Konveksi NTB 2021–2025 132
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratDaftar Grafik16Tahun 2025Grafik 2‑1 PDRB di NTB dibandingkan Nasional Tahun 2021- 2025 (y-o-y) (dalammiliar)17 Grafik 2‑2 Distribusi dan Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha (%)18 Grafik 2‑3 Distribusi dan Pertumbuhan PDRB Berdasarkan PengeluaranGrafik 2‑4 Perkembangan Inflasi NTB Tahun 2024-2025 1923 Grafik 2‑5 Perbandingan IPM NTB dengan Nasional dari tahun 2021-202524 Grafik 2‑6 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin NTB Tahun 2015 s.d. 202526 Grafik 2‑7 Perkembangan Gini Ratio Nasional dan NTB Tahun 2021-202528 Grafik 2‑8 TPT NTB dan Nasional Tahun 2021-2025 dan Jumlah PengangguranGrafik 2‑9 Nilai Tukar Petani Provinsi NTB Tahun 2025 2935 Grafik 3‑1 Struktur dan Kinerja Pendapatan Negara APBN Prov. NTB 2023-2025Grafik 3‑2 Struktur Pajak Dalam Negeri dan Kinerja 2023-2025. 3737 Grafik 3‑3 Struktur Pajak Perdagangan Internasional dan Kinerja Tahun 2023-2025Grafik 3‑4 Tren Tax Rasio NTB dan Nasional 2023-2025 3838 Grafik 3‑5 Penerimaan dan Kontribusi Sektor Dominan Prov. NTB Tahun 202540 Grafik 3‑6 Realisasi PNBP Lainnya Provinsi NTB Tahun 2023-2025 (miliar Rp)43 Grafik 3‑7 Persentase Realisasi Anggaran per Jenis Belanja 2023-202546 Grafik 3‑8 Realisasi dan Kinerja TKD Regional Bali Nusra 2023-2024Grafik 3‑9 Realisasi dan Kinerja DAU Tahun 2023-2025 47
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbTahun 2025 Provinsi Nusa Tenggara Barat47 Grafik 3‑10 Realisasi dan Kinerja DBH Tahun 2023-2025 (miliar Rp)Grafik 3‑11 Realisasi dan Kinerja DAK Fisik 2023-2025 (miliar Rp) 48Grafik 3‑12 Realisasi dan Kinerja DAK Non Fisik 2023-2025 4955 Grafik 3‑13 Perkembangan Aset yang Berkaitan dengan Layanan KeempatSatker BLU (dalam Juta Rp)58 Grafik 3‑14 Jumlah Debitur dan Penyaluran Akad KUR Provinsi NTB 2023-2025(dalam miliar)Grafik 3‑15 Persentase Realisasi Anggaran per Jenis Belanja. 6163 Grafik 3‑16 Realisasi Pendapatan, Belanja dan Surplus/Defisit per Triwulanan2023-2025 (dalam miliar)Grafik 3‑17 Realisasi PAD Triwulanan 2023 s.d. 2025 (miliar). 6768 Grafik 3‑18 Tax Ratio Pajak Pusat dan Pajak Daerah terhadap PDRB (ADHB)2023-2025.Grafik 3‑19 Indeks Kemandirian Fiskal Provinsi NTB Triwulanan 2023-2025 70Grafik 3‑20 Realisasi Pendapatan Transfer Triwulanan (Miliar) 71Grafik 3‑21 Komposisi Belanja Daerah Per Triwulan 2025 7576 Grafik 3‑22 Mandatori Spending Belanja Pegawai dan Modal Th.2025Prov/Kab/kotaGrafik 3‑23 Realisasi Belanja Daerah Per Pemda 2025. 77Grafik 3‑24 Pertumbuhan Belanja Operasi 2023-2025. 79Grafik 3‑25 Pertumbuhan Belanja Modal 2023-2025 80Grafik 3‑26 Pertumbuhan Belanja Transfer 2023-2025 81Grafik 3‑27 Perkembangan BLUD Dilihat dari Pendapatan dan Belanja Modal 86Gedung/Bangunan serta Peralatan dan Mesin (miliar Rp)Grafik 3‑28 Kemandirian BLUD Tahun 2023-2025 86Grafik 3‑29 Belanja per Kapita di Provinsi NTB (2023-2025) 93
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbTahun 2025 Provinsi Nusa Tenggara Barat106 Grafik 4‑1 Perbandingan Pagu Belanja Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah(Dana Desa) pada Bidang Infrastruktur107 Grafik 4‑2 Perbandingan Pagu Belanja Pemerintah Pusat dan PemerintahDaerah (DAK Fisik) pada Bidang Pendidikan108 Grafik 4‑3 Perbandingan Pagu Belanja Pemerintah Pusat dan PemerintahDaerah (Dana Desa) untuk Penanganan Stunting133 Grafik 5‑1 Proyeksi Jumlah unit usaha IKM Konveksi
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratDASHBOARDMAKRO-FISKAL REGIONALTahun 2025
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV 2025 Laju Pertumbuhan PDRB PertanianPerkembangan Inflasi Provinsi NTBBawang MerahEmas PerhiasanTomatDaging Ayam Ras%EKSPOR-33,8%IMPORT-72,3%NTB12.49%Indeks Pembangunan Manusia (IPM) KetenagakerjaanUmur Harapan HidupTingkat Kemiskinan Rasio Gini11.38%0.328Perkembangan Ekspor - ImporProvinsi NTB (y-o-y)Laju inflasi Provinsi NTB sepanjangtahun 2025 menunjukkan trenmeningkat yang ditutup pada level3,01% di bulan Desember, dengankomoditas cabai rawit memberikan andilinflasi terbesar yakni 0,28%134.14PerdaganganIndikator Makroekonomi - KesejahteraanNasional5.39% Perekonomian Provinsi NTB pada Triwulan IV2025 menunjukkan tren pertumbuhanekspansif sebesar 12,49% (y-on-y),melampaui pertumbuhan nasional yangberada di level 5,39%.Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratSektor IndustriPengolahantumbuh signifikansebesar 137.78%didorong oleh hasilindustri pengolahanlogam dasar(smelter).Distribusi PDRB Triwulan IV 2025 (3 Sektor Terbesar)Pertambangan18.75 18.49 14.38% %Andil Inflasi %Cabai Rawit 0.280.170.120.100.07Januari - Desember 2025Neraca Perdagangan(Desember 2025) 599.132 ribu USDKinerja neraca perdagangan yang tetapmencatatkan surplus sebesar 599.132ribu USD. Ekspor didominasi olehBarang Galian/Tambang Non Migas;Perhiasan/Permata; Ikan dan Udangserta Daging dan Ikan OlahanIPM NTB meningkat ke 73,97%pada 2025 dengan kategori TinggiHarapan Lama SekolahRata-rata Lama SekolahPengeluaran per kapita72,6 tahun13.99 tahun8.21 tahunRp11.922.000Angkatan Kerja3.24juta orang30,36 ribu orangTingkat PengangguranTerbuka3.06%/ribu orang98.7210,92 ribu orangTingkat KemiskinanProv. NTB turunpada tahun 2025sebesaratau637.18ribu orangRasio GiniProv. NTB0.364Pedesaan Perkotaan0.3860.008 (yoy)Rasio Gini Prov. NTB turun pada September2025 sebesar 0.364. Rasio Gini padaperkotaan lebih tinggi dibanding pedesaanNilai Tukar PetaniNilai Tukar Nelayansecara y-o-y-0.002 (yoy)107.984.5 (mtm)125.35-0.57 (mtm)105.32Tahun 2025
APBN s.d. 31 Desember 2025 APBD s.d. 31 Desember 2025(48,48%) (18,82%) 13,61% 0,13% (9,70%)Tax Ratio Provinsi NTB Rasio Kapasitas Fiskal DaerahPerpajakanPNBPB. PegawaiB. BarangB. ModalB. BansosDBHDAK Fisik DAK NonFisikDana DesaHibahPADP. TransferP. Lain-LainB. ModalB. Tak terdugaTren Realisasi Belanja Harmonisasi Belanja K/L & DAK Fisik di Prov. NTB88,98%Pendapatan DaerahReal 23.801,05 M73,96%Belanja DaerahReal 20.591,15 MIndikator Kinerja Fiskal Regional Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara Barat111,02%Pendapatan Negara dan HibahReal 4.839,74 M95,11%Belanja Pemerintah PusatReal 7.660,76 M98,92%Transfer ke DaerahReal 19.762,24 MPendapatan Negara berhasil melebihi target,namun secara nominal turun 48,48%. Hal inidikarenakan sentralisasi pengakuan jenispajak tertentu dan transisi mekanismepelaporan Coretax.Masih perlunyaoptimalisasi PADmelalui perbaikanpemungutan danperluasan basispajak. RealisasiBelanja Daerahtercatat sebesar73,96% sehinggaperlu evaluasilebih lanjut.106,3%138,36%99,52%89,99%92,87%100%98,54%93,99%DAU99,60%99,26%DID100% 95,23%98,09%91,66%90,50%43,19%B. Operasi78,02%59,51%31,35%B. Transfer65,00%Kab/Kota KFD “Rendah”6Kab/Kota KFD “Sedang”3Kab/Kota KFD “Sangat Tinggi”Kab/Kota Kab/Kota 1 Kab/KotaRasio KFD Provinsi NTB0,598“Rendah”Tax Ratio Pajak Pusat dan Daerah menunjukkan tren fluktuatif dimana keduanya cenderung mengalami penurunan tajam di setiap awaltahun (Q1) dan mencapai puncaknya pada akhir tahun (Q4).Kab. Sumbawa Barat memiliki rasioKFD sangat tinggi didorong olehpenerimaan dari pertambanganPola penyerapan belanja (baik pusat maupun daerah)selalu terendah di kuartal pertama (Q1) dan mencapaipuncaknya di kuartal keempat (Q4) setiap tahunnya. Halini menunjukkan bahwa pelaksanaan anggaran sebagianbesar dilaksanakan pada Q4 pada tiap tahunnya.KementerianPendidikan Dasar danMenengahKementerianPekerjaan UmumKementerianKesehatan56,0%Real 17,18 MPagu 30,67 M92,6%Real 39,6 MPagu 42,78 M13,5%Real 1,32 MPagu 9,78 MPendidikanKesehatan dan KBAir MinumSanitasiPerumahan & PemukimanRealisasi 17,18 MPagu 30,67 MRealisasi 1,32 MPagu 9,78 MRealisasi 10,22 MPagu 10,22 MRealisasi 28,27 MPagu 31,31 MRealisasi 1,11 MPagu 1,25 MTahun 2025
Makan Bergizi Gratis (MBG)Industri Kecil Menengah (IKM) KonveksiTotal SPPG513Lainnya832Koefisien signifikan menunjukkan bahwa pelaksanaanMBG berasosiasi dengan penguatan momentumpertumbuhan ekonomi jangka menengahModel menjelaskan 93% variasi pertumbuhan ekonomi,menunjukkan validitas empiris yang kuat.Hasil estimasi ITS menggambarkan perubahan trenstruktural menuju ekonomi yang lebih ekspansif pascapelaksanaan MBG.Peningkatan tatakelola danpengawasan mutupanganPengendalian foodwaste melaluipenyesuaian porsimakananPengadaan lokalberbasis UMKMmelalui pengadaanbahan produksi lokalDesain ulang programsaat momentumkhusus sepertimonumen ramadhanDigitalisasi danpelibatan semuapihak melaluifeedback terstrukturJumlah IKM Konveksi di NTB Peredaran Usaha vs Penerimaan PajakKajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratAnalisis Tematik(Per 12 Desember 2025)73,2% /target 701 Realisasi Anggaran di Prov. NTBRp1.975,8 MPeringkat 5 Tertinggi NasionalTotal SPPG dan Penerima ManfaatTotal Penerima Manfaat1,41 juta 78,3% / target 1,8 jutaPeringkat 8 Tertinggi NasionalTotal Petugas SPPG 23.236OrangTotal Supplier SPPG 1.961SuplierKoperasi71 3,6% daritotal supplierBUMDes10 0,5% daritotal supplierUMKM1.048 53,4%Supplier 42,4% daritotal suplierDampak Terhadap Pertumbuhan PDRBAnalisis Interupted Time Series: EvaluasiDampak MBG terhadap Perekonomian Program MBG berasosiasi dengan perubahan struktural dalamdinamika pertumbuhan ekonomi regional. Meskipun tidakditemukan peningkatan pertumbuhan ekonomi secara langsung Rekomendasi dan SaranRata-rataPertumbuhan IKM61 IKMNamun,peningkatanperedaran usahapada tahun 2021-2024 tidak diikutidenganpeningkatanpenerimaan pajakpada sektortersebutProyeksi Jumlah IKM KonveksiDiproyeksikansektorkonveksi diNTB akanmencapaihamper 1.012unit usahapada tahun2030.Rata-rata KenaikanNilai ProduksiRp4,41Miliar per tahunRekomendasi dan SaranMemperluas akseskredit berbunga rendahmelalui skemapembiayaan produktif Pengembangan SDMberbasis Keterampilanmelalui kerjasama danpelatihanAkselerasi teknologidan digitalisasi gunameningkatkan dayasaingPenguatan KlasterIndustri Konveksi yangterintegrasi dengan rantaipasok local Pengembangan Pasar dan Branding Lokalmelalui promosi, integrasi dengan sektorpariwisata, e-commerce, dan berbasis budayalokal Tahun 2025
Perkembangan Indikator Ekonomi Makro dan Kesejahteraan Perekonomian Nusa Tenggara Barat Triwulan IV 2025 mencapai Rp52,04 triliun (harga berlaku) dengan pertumbuhan 12,49% (y-on-y) yang didorong akselerasi Industri Pengolahan sebesar 137,78%. Struktur ekonomi masih didominasi Industri Pengolahan sebesar 76,37%,mencerminkan fokus hilirisasi sumber daya daerah, sementara ekspor barang dan jasa menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan kenaikan 103,11% (y-on-y). Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,49% (c-to-c), mengindikasikan daya beli masyarakat yang relatif terjaga di tengah inflasi Desember 2025 sebesar 3,01% (y-on-y) yang terkendali dalam kisaran sasaran. Inflasi terutama dipicu kenaikan harga emas, pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 17,76%, serta tekanan dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,83%. Indeks Pembangunan Manusia NTB tahun 2025 mencapai 73,97 (kategori tinggi), meningkat dari 70,86 pada 2021, ditopang kenaikan harapan hidup menjadi 72,60 tahun, ratarata lama sekolah 8,21 tahun, dan pengeluaran riil per kapita naik 2,72%. Tingkat kemiskinan turun menjadi 11,38% (637,18 ribu jiwa), menurun 0,53 poin (y-on-y) berkat pertumbuhan ekonomi inklusif, peningkatan produksi padi, kenaikan NTP, serta efektivitas bantuan sosial dan operasi pasar. Ketimpangan pendapatan yang diukur melalui Gini Ratio sebesar 0,364 termasuk kategori rendah, meskipun ketimpangan perkotaan (0,386) masih lebih tinggi daripada perdesaan (0,328). Kondisi ketenagakerjaan menunjukkan TPT sebesar 3,05% dengan TPAK 76,50%, namun pekerja informal masih dominan sebesar 66,55% dan pengangguran tertinggi pada lulusan SMK mengindikasikan ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri. Nilai Tukar Petani Desember 2025 naik 4,50% menjadi 134,14 didorong kenaikan HPP gabah/jagung dan lonjakan produksi padi serta jagung, sedangkan Nilai Tukar Nelayan turun 0,57% menjadi 107,98 akibat kenaikan biaya hidup lebih tinggi daripada harga hasil tangkapan. Secara keseluruhan, indikator makro ekonomi NTB Triwulan IV 2025 menunjukkan tren pemulihan yang kuat dengan pertumbuhan double-digit, stabilitas harga, dan perbaikan kesejahteraan, namun tantangan pada kualitas lapangan kerja, formalisasi usaha, danpemerataan pembangunan antarwilayah masih memerlukan perhatian kebijakan ke depan. Perkembangan Fiskal Regional Kinerja fiskal Provinsi Nusa Tenggara Barat periode 2023-2025 menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Pada tingkat APBN, realisasi pendapatan negara di NTB tercatat Rp7.554,16 miliar (103,41%) pada 2023, meningkat menjadi Rp9.393,21 miliar (92,63%) pada 2024, kemudian turun menjadi Rp4.839,74 miliar (111,02%) pada 2025 akibat dampak kebijakan pemusatan administrasi perpajakan (PMK 81/2024) dan larangan ekspor konsentrat mineral. Belanja negara relatif stabil di kisaran Rp26-28 triliun dengan serapan di atas 97%, didominasi Transfer ke Daerah sebesar Rp19.762,24 miliar pada 2025, sehingga defisit APBN melebar menjadi Rp22.583,26 miliar pada 2025.
Pada tingkat APBD konsolidasian, realisasi Pendapatan Daerah tahun 2025 mencapaiRp23.647,81 miliar (88% dari pagu), dengan komposisi PAD Rp5.421,70 miliar (94%) dan Pendapatan Transfer Rp17.944,63 miliar (89%). Realisasi Belanja Daerah sebesar Rp20.437,92 miliar (74,98%), terdiri dari Belanja Operasi Rp16.397,26 miliar (80,49%) dan Belanja Modal Rp2.151,16 miliar (63,57%). Struktur belanja menunjukkan ketidakseimbangan mandatory spending: belanja pegawai mencapai 44,27% (melebihi batas maksimal 30%), sedangkan belanja modal hanya 10,11% (jauh di bawah target minimal 40%). Kondisi inimenghasilkan surplus APBD sebesar Rp3.209,90 miliar dan SILPA Rp3.986,55 miliar pada 2025, yang lebih mencerminkan fenomena under-spending daripada efisiensi struktural. Secara konsolidasian (pusat-daerah), pendapatan tercatat Rp10.294,68 miliar (kontraksi 41,36% yoy) dan belanja Rp29.757,68 miliar (turun 12,69% yoy), sehingga defisit fiskal melebar menjadi Rp19.463,00 miliar pada 2025. Indeks Kemandirian Fiskal (IKF)Provinsi NTB masih berada pada kategori \"Belum Mandiri\" dengan nilai 0,24, sementara ratarata rasio kapasitas fiskal daerah sebesar 0,598 (kategori rendah). Pengelolaan BLU pusat dan daerah menunjukkan tren peningkatan pendapatan agregat, namun tingkat kemandirian finansial bervariasi antara 0,41-0,88, dengan rata-rata maturity rating tata kelola masih pada level 2-3 dari skala 5. Secara keseluruhan, keberlanjutan fiskal NTB memerlukan penguatan basis penerimaan, optimalisasi aset, dan efisiensi belanja produktif agar defisit terkendali dan belanja infrastruktur dapat ditingkatkan sesuai target. Pengembangan Ekonomi Regional Harmonisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik di Provinsi NTB tahun 2025 sebagai strategi mempercepat pembangunan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Sinergi fiskal ini mencakup lima bidang prioritas yaitu Pendidikan, Kesehatan dan KB, Air Minum, Sanitasi, serta Perumahan dan Permukiman yang melibatkan Kementerian Pendidikan, Kesehatan, dan PUPR. Realisasi belanja harmonisasi K/L sebesar Rp58,10 miliar atau mencapai 69,81% dari pagu Rp83,23 miliar, sedangkan DAK Fisik sebesar Rp634,16 miliar atau mencapai 94,26% dari pagu Rp672,76 miliar, dengan catatan realisasi bidang Kesehatan yang rendah akibat pemblokiran anggaran. Pelaksanaan harmonisasi menghadapi tantangan berupa perbedaan perencanaan anggaran, keterlambatan regulasi, kendala pengadaan barang dan jasa, serta keterbatasan kompetensi sumber daya manusia. Koordinasi ini menjadi pilar penting dalam mewujudkan pelayanan publik yang optimal dan kesinambungan fiskal sesuai mandat Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD). Analisis Tematik Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) berasosiasi dengan perubahan struktural dalam dinamika pertumbuhan ekonomi regional Provinsi Nusa Tenggara Barat. Meskipun tidak ditemukan peningkatan level pertumbuhan ekonomi secara langsung dalam periode awal implementasi, hasil estimasi menunjukkan adanya penguatan tren pertumbuhan ekonomi secara bertahap setelah implementasi program. Dampak ekonomi dari MBG lebih bersifat dinamis dan struktural, yaitu melalui perbaikan trajektori pertumbuhan ekonomi regional, daripada melalui peningkatan pertumbuhan agregat secara instan. Analisis tren Industri Kecil Menengah (IKM) konveksi NTB menunjukkan pertumbuhan struktural yang konsisten dengan penambahan rata-rata 61unit usaha per tahun dan proyeksi mencapai 1.012 unit pada 2030. Sektor konveksi ini berpotensi besar mendorong industrialisasi ringan dan penyerapan tenaga kerja, meski masih menghadapi kendala akses
permodalan, adopsi teknologi, dan kualitas sumber daya manusia yang memerlukan intervensi kebijakan terintegrasi. Ketahanan energi memiliki tiga implikasi fiskal utama. Pertama, dari sisi belanja pemerintah, investasi infrastruktur kelistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL 2025-2034 akan mendorong multiplier effect terhadap sektor konstruksi dan industri lokal. Kedua, dari sisi penerimaan, peningkatan konsumsi listrik sejalan dengan ekspansi basis ekonomi formal dan pertumbuhan sektor industri dan jasa. Ketiga, dari sisi stabilitas, keandalan pasokan listrik meminimalkan risiko gangguan produksi dan menurunkan economic loss akibat blackout, khususnya pada kawasan strategis seperti Mandalika, Gili, dan Tambora.
BAB ISasaran Pembangunan danTantangan DaerahKajian Fiskal Regional Kanwil DJPbTahun 2025 Provinsi Nusa Tenggara Barat
1 BAB 1 SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH 1.1 Pendahuluan Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan. Dalam kerangka perencanaan pembangunan, pemerintah daerah berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai dokumen strategis yang memuat visi, misi, arah kebijakan, serta sasaran pembangunan yang ingin dicapai dalam periode lima tahunan. Sinergi antara perencanaan nasional dan daerah menjadi kunci untuk memastikan keterpaduan program, efektivitas alokasi anggaran, serta pencapaian target pembangunan secara optimal. Sasaran pembangunan daerah diselaraskan dengan prioritas nasional sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025–2029 dan dijabarkan lebih lanjut dalam RPJMD. Penjabaran tersebut mencakup rencana dan sasaran pembangunan daerah pada tahun berjalan sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), termasuk target-target kinerja yang akan didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan demikian, perencanaan tahunan menjadi instrumen operasional untuk memastikan ketercapaian sasaran strategis jangka menengah. Hakikat penyelenggaraan pemerintahan, baik di tingkat nasional maupun daerah, adalah menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara adil serta merata. Implementasi kebijakan fiskal di daerah menuntut adanya koordinasi, sinkronisasi, dan harmonisasi antara kebijakan fiskal pusat dan daerah. Sinergi tersebut diperlukan agar perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berjalan selaras, efektif, dan efisien. Efektivitas kebijakan fiskal dapat tercermin dari membaiknya indikator makroekonomi serta meningkatnya kualitas indikator kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, perumusan kebijakan fiskal yang tepat harus disertai dengan pemetaan yang komprehensif terhadap berbagai tantangan daerah yang dapat bersumber dari aspek ekonomi, kondisi sosial dan kependudukan, maupun karakteristik kewilayahan. Dengan memahami tantangan secara menyeluruh, intervensi fiskal melalui program-program prioritas dapat dirancang secara lebih tepat sasaran dan mampu menjawab kebutuhan riil daerah. Selain itu, kepala daerah dituntut memiliki kemampuan strategis dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan potensi unggulan daerah, sehingga kebijakan fiskal yang diambil tidak hanya responsif terhadap tantangan, tetapi juga selaras dengan keunggulan danpeluang pembangunan yang dimiliki daerah. Dengan memahami sasaran pembangunan secara komprehensif serta tantangan yang dihadapi, pemerintah daerah diharapkan mampu merumuskan kebijakan dan strategi yang lebih tepat sasaran, terukur, dan selaras dengan agenda pembangunan nasional. Pendekatan yang terintegrasi antara perencanaan, penganggaran, dan evaluasi kinerja menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.1.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2025 merupakan dokumen dalam masa transisi penyeragaman periode jangka waktu
2 pembangunan nasional dan daerah yakni Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2025-2045 dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2025-2045 yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 25 Tahun 2024 tentang RKPD Provinsi NTB Tahun 2025 pada masa transisi menuju Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2024. Setelah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur NTB hasil Pilkada Serentak 2024, dilakukan perubahan dan penyelarasan Perubahan RKPD NTB Tahun 2025 dalam Peraturan Gubernur Nomor 18 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 11 September 2025. Perubahan ini dilakukan untuk mengakomodasi dinamika transisi pemerintahan, menjaga kesinambungan program prioritas pembangunan, serta memberikan ruang adaptif bagi kepala daerah terpilih dalam menyusun arah kebijakan awal masa jabatan. Perubahan ini juga mempertimbangkan kebutuhan penyesuaian terhadap siklus perencanaan dan penganggaran, sinkronisasi dengan kebijakan pembangunan nasional dan daerah, serta evaluasi pelaksanaan RKPDtahun sebelumnya. Dinamika perubahan kebijakan nasional juga berdampak pada pelaksanaan anggaran daerah imbas adanya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun 2025 mengamanatkan pemerintah daerah untuk melakukan efisiensi belanja. Penyelarasan RKPD Tahun 2025 tetap menjaga kesinambungan terhadap tujuan yang telah ditetapkan dalam RKPD. Melalui integrasi ini arah kebijakan pembangunan tahun 2025 di NTB akan berjalan dalam kesinambungan yang kuat antara perencanaan jangka menengah dan realitas kepemimpinan baru. Tahun 2025 menjadi titik awal yang sangat penting bagi pembangunan Provinsi NTB. Selain menandai dimulainya pelaksanaan RPJMD 2025–2029, tahun ini juga menjadi awal kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB hasil Pilkada Serentak 2024. Artinya, arahpembangunan lima tahun ke depan mulai dijalankan bersamaan dengan hadirnya kepemimpinan baru yang membawa visi, semangat, dan prioritas pembangunan daerah. Berdasarkan RKPD Tahun 2025, tujuan pembangunan daerah Provinsi NTB tahun 2025 diarahkan untuk mendukung tercapainya indikator sasaran pembangunan nasional yang telah direncanakan pada dokumen Rancangan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025 sesuai tema pembangunan nasional tahun 2025 yaitu “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”. Selanjutnya melalui Perubahan RKPD Tahun 2025 Pemerintah Provinsi NTB menetapkan pendekatan strategis pembangunan jangka menengah melalui Triple Agenda pembangunan daerah sebagai arah utama dalam penetapan tujuan dan sasaran pembangunan daerah yang bersifat tematik, holistik, integratif, dan berbasis spasial, dengan fokus pada peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan daya saing daerah, serta keberlanjutan lingkungan dan sosial, sebagai berikut: a. Mengurangi kemiskinan dan ketimpangan menuju kemiskinan ekstrim nol. Pengentasan kemiskinan ditempatkan sebagai prioritas utama pembangunan. Fokus utama pada agenda ini adalah pemenuhan layanan dasar, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi, mengurangi kesenjangan dan ketimpangan, implementasi prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), pengurangan risiko bencana, peningkatan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, akses perlindungan sosial adaptif, ketahanan terhadap risiko dan kerentanan. b. Penguatan ketahanan pangan menuju NTB sebagai Lumbung Pangan Nasional. NTB diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian, peternakan, dan perikanan secara terpadu. Fokus utama pada agenda ini adalah peningkatan produksi dan produktivitas
3 sektor pertanian dan subsektornya, terwujudnya ekosistem industri pertanian dengan system agribisnis terintegrasi dari hulu ke hilir, peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian, penguatan kelembagaan dan kemitraan usaha tani dan nelayan, diversifikasi pangan lokal, infrastruktur dan logistik pangan, akses teknologi dan inovasi, regenerasi petani dan nelayan, ketahanan terhadap risiko dan krisis pangan. c. Pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan menuju NTB sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Fokus utama pada agenda ini adalah peningkatan kualitas dan daya saing destinasi wisata, aksesibilitas dan konektivitas, investasi pariwisata berkualitas, MICE, sport tourism kelas dunia, wisata petualangan, ekraf, pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, pariwisata berbasis masyarakat, melestarikan budaya dan kearifan lokal, kualitas SDM dan layanan wisata, digitalisasi dan promosi pariwisata global. Adapun sasaran pembangunan daerah untuk mencapai Tripel Agenda NTB Makmur Mendunia di atas yaitu: a. Daya saing sumber daya manusia meningkat b. Meningkatkan pendapatan perkapita menuju setara daerah maju c. Kemiskinan menurun menuju kemiskinan ekstrim nol dan ketimpangan menurun d. Kepemimpinan pemerintahan daerah semakin efektif meningkatkan inovasi dan daya saing daerah e. Intensitas bencana lingkungan dan emisi gas rumah kaca (GRK) menurun menuju Net Zero Emmision (NZE) Selanjutnya penetapan Indikator Makro Kesra merupakan instrumen untuk mengetahui kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. Data indikator makro ini dapat digunakan untukmembandingkan perkembangan ekonomi di masa mendatang, dengan mempertimbangkan faktor kunci keberhasilan dan kegagalan. Berikut ini indikator sasaran pembangunan daerah NTB: Tabel 1-1 Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Provinsi NTB No. Sasaran Makro Kesra Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 2025 2026 2027 2028 2029 1. Pertumbuhan Ekonomi 6,00 6,83 7,65 8,48 9,30 2. PDRB Per Kapita (Rp Juta) 35,80 40,33 44,85 49,38 53,90 3. Indeks Daya Saing Daerah 3,55 3,61 3,68 3,74 3,80 4. Inflasi 3-3,7 2,60-3,61 2,20-3,52 1,80-3,42 1,4-3,3 5. Kemiskinan 11,68-12,18 10,97-11,57 10,26-10,96 9,54-10,34 8,12-9,12 6. Pengangguran 2,19-2,79 2,11-2,75 2,04-2,71 1,96-2,67 1,81-2,59 7. Rasio Gini 0,369-0,373 0,358-0,359 0,347-0,349 0,335-0,338 0,324-0,328 8. Indeks Modal Manusia (IMM) 0,56 0,57 0,58 0,59 0,60 9. Penurunan Intensitas Emisi GRK 15,31 21,96 28,61 35,26 41,91
4 No. Sasaran Makro Kesra Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 2025 2026 2027 2028 2029 10. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Daerah 76,19 76,40 76,61 76,82 77,03 Sumber: RPJMD Provinsi NTB 2025-2029 Kebijakan keuangan daerah mencakup seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pencatatan, pelaporan, pertanggungjawaban, hingga pengawasan keuangan daerah. Keuangan daerah merupakan faktor kunci dalam perencanaan pembangunan sehingga analisis kondisi dan proyeksi keuangan sangat penting untuk menilai kemampuan pembiayaan pembangunan sesrta memperkuat fokus pada isu strategis. Pada tahun 2025 total anggaran bersumber dari APBD yang tersebar pada masingmasing Perangkat Daerah lingkup Provinsi NTB untuk mendukung program kegiatan dalam pencapaian rencana pembangunan daerah tahun 2025 yaitu sebesar Rp6.218.298.929.286 setelah dilakukan penyesuaian imbas adanya efisiensi anggaran sekitar 20,2 persen dari total alokasi semula. Sementara total alokasi dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tahun 2025 bersumber dari APBN sebesar Rp113.959.651.000 setelah adanya efisiensi dan refocusing anggaran. Dalam rangka penyesuaian terhadap dinamika ekonomi dan kebijakan nasional serta mempertimbangkan realisasi keuangan daerah hingga pertengahan tahun 2025, arah kebijakan keuangan daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat berdasarkan Perubahan RKPD 2025 difokuskan pada: 1. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Meningkatkan efektivitas pemungutan PAD melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah, termasuk digitalisasi sistem pelayanan pajak serta peningkatan kepatuhan wajib pajak. Sektor-sektor strategis seperti pariwisata, pertambangan rakyat, dan agro-maritim menjadi target peningkatan kontribusi. 2. Efisiensi dan Reprioritisasi Belanja Daerah Belanja daerah diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan penguatan pelayanan dasar, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. Pemerintah Provinsi melakukan penyesuaian dan pergeseran anggaran untuk memastikan efektivitas pencapaÌan program prioritas daerah, termasuk melalui refocusing belanja non-prioritas. 3. Penguatan Belanja Produktif dan Responsif Kebijakan belanja diarahkan untuk mempercepat transformasi ekonomi melalui dukunganterhadap: - Pengembangan infrastruktur konektivitas wilayah (khususnya kawasan agro-maritim) - Peningkatan kapasitas SDM dan pengurangan kesenjangan wilayah - Dukungan kepada UMKM dan ekonomi kreatif daerah 4. Pengendalian Defisit dan Peningkatan Keseimbangan Fiskal Mengendalikan defisit anggaran agar tetap dalam batas kemampuan fiskal daerah, serta mendorong penggunaan pembiayaan daerah (termasuk SILPA tahun sebelumnya) secara hati-hati dan terukur untuk mendukung belanja prioritas. 5. Pemanfaatan Skema Pembiayaan Alternatif
5 6. Menjelajahi potensi pendanaan alternatif seperti KPBU, kerja sama dengan BUMD/BUMDes, serta sinergi program dengan Pemerintah Pusat untuk mendukung pembiayaan infrastruktur dan program prioritas daerah secara berkelanjutan. Pada tahun 2025, total pendapatan daerah direncanakan sebesar Rp6,19 triliun, yangsebagian besar berasal dari pendapatan transfer, yakni mencapai Rp3,46 triliun atau sekitar 56% dari total pendapatan. Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercatat sebesar Rp2,51 triliun, menunjukkan kontribusi yang signifikan namun masih di bawah pendapatan transfer. Kebijakan fiskal daerah dirancang untuk mengakomodasi pertumbuhan belanjaseiring dengan meningkatnya kapasitas fiskal daerah. Namun demikian, keberlanjutan fiskal tetap harus dijaga melalui optimalisasi pendapatan asli daerah dan pengelolaan pembiayaan yang hati-hati, terutama mengingat ketergantungan yang masih tinggi terhadap transfer pusat dan risiko defisit yang dapat timbul jika realisasi pendapatan tidak sesuai target. Di sisi belanja, total belanja daerah tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp6,22 triliun, dengan mayoritas dialokasikan untuk belanja operasi (sekitar Rp4,69 triliun), yang mencakup belanja pegawai, barang dan jasa, serta hibah dan bantuan sosial. Belanja modal tercatat sebesar Rp571,45 miliar atau sekitar 9% dari total belanja. Untuk tahun 2026 dan 2030, belanja daerah diproyeksikan meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan, dengan estimasi mencapai hingga Rp6,34 triliun pada 2026 dan Rp7,69 triliun pada 2030. Kenaikan belanja operasi dan belanja modal menjadi indikator utama dari ekspansi pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur. Pembiayaan daerah diarahkan pada penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah Pembiayaan daerah meliputi penerimaan daerah dan pengeluaran daerah. Kebijakan penerimaan pembiayaan daerah timbul karena jumlah pengeluaran lebih besar daripada penerimaan sehingga terdapat defisit. Penerimaan pembiayaan daerah diarahkan pada pemanfaatan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun anggaran sebelumnya, sedangkan pengeluaran pembiayaan daerah dialokasikan untuk pembayaran Cicilan Pokok Utang yang Jatuh Tempo. Terdapat defisit anggaran sebesar Rp32,1 miliar pada tahun 2025 yang ditutup melalui pembiayaan netto dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SiLPA) sebesar Rp154,95 miliar. Di sisi lain, pengeluaran pembiayaan sebesar Rp122,8 miliar digunakan sepenuhnya untuk pembayaran cicilan pokok utang jatuh tempo1.3 Keselarasan RPJMN Dengan RPJMD RPJMD Provinsi NTB Tahun 2025–2029 disusun sebagai panduan utama bagi Pemerintah Provinsi NTB dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan jangka menengah. Dokumen ini menjadi rujukan dalam menentukan kebijakan, program, dan kegiatan agar berjalan terarah, terukur, dan konsisten. Penyusunannya juga memastikan bahwa pembangunan NTB tetap selaras dengan agenda nasional dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029, sekaligus mendukung pencapaian tujuan jangka panjang daerah sebagaimana tertuang dalam RPJPD Provinsi NTB 2025–2045. Dengan demikian, setiap langkah pembangunan yang diambil diharapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat NTB hari ini, sekaligus membangun fondasi yang kuat untuk masa depan.RPJMD NTB 2025-2029 memiliki Visi “Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur Mendunia” yang selanjutnya disebut sebagai Visi NTB Makmur Mendunia, diharapkan dapat mendukung pencapaian Visi Presiden periode 2025-2029 sebagaimana termuat di dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 Tentang Rencana
6 Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2025-2029 yaitu ”Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”. Untuk mencapai Visi NTB Makmur Mendunia ditetapkan tujuh Misi dengan sebutan SAPTA CITA, yang mendukung Misi RPJMN 2025-2029 dengan sebutan ASTA CITA. Berikut ini keselarasan antara keduanya: Sumber: RPJMD Provinsi NTB 2025-2029 Tahapan pelaksanaan RPJMD Provinsi NTB Tahun 2025-2029 - 2025: konsolidasi organisasi perangkat daerah dan peningkatan sumberdaya untuk bangkit bersama melakukan akselerasi pembangunan - 2026: akselerasi pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan penyiapan ekosistem industri Agromaritim dan pembangunan destinasi pariwisata berkualitas berkelanjutan. - 2027: pengutan upaya transformasi dalam pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan ekosistem industri Agromaritim dan destinasi pariwisata berkualitas berkelanjutan.- 2028: pemantapan upaya transformasi dalam pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan ekosistem industri Agromaritim dan destinasi pariwisata berkualitas berkelanjutan. - 2029: perwujudan fondasi transformasi dengan tingkat kemiskinan yang rendah, kemandirian pangan, terbangunnya ekosistem industri Agromaritim dan sektor pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif menjadi landasan yang kuat memasuki fase kedua pembangunan jangka panjang daerah. Sesuai amanat Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi NTB Tahun 2024-2044, strategi dan arah kebijakan kewilayahan ditepatkan menjadi 2 yaitu Pulau Lombok sebagai pulau kota berkelanjutan & tangguh berbasis sistem satu pulau penataan dan pemulihan satu pulau melalui pengaturan secara selektif bagi peruntukan terbangun dan memaksimalkan fungsi-fungsi konservasi kawasan lindung dengan fokus pengembangan wilayah yaitu konektivitas wilayah untuk pemerataan
7 konektivitas wilayah untuk pemerataan, pengurangan risiko bencana, pemulihan dan pelestarian kawasan lindung, pemanfaatan kegiatan budidaya di darat dan di laut secara efektif dan ramah lingkungan, koordinasi dan kerjasa antar wilayah dalam hal pembagian peran, pelibatan sektor-sektor informal yang sudah ada di dalam masyarakat dengan memperhatikan 4 hal utama yaitu revitalisasi sektor unggulan dan prioritas, akselerasi kawasan strategis, akselerasi pengembangan infrastruktur dan pemulihan, perlindungan kawasan lindung. Selanjutnya, strategi dan arah kebijakan yang kedua yaitu Pulau Sumbawa sebagai Zona Ekonomi Berkelanjutan (Sustainable Economic Zone) yang berbasis kawasan atau zona. Kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora (SAMOTA) dijadikan sebagai episentrum pembangunan Pulau Sumbawa yang didasarkan potensinya sebagai kawasan parisiwasata dan ekonomi maritim kelas dunia, lintasan jalur transnasional Banda AcehKupang, posisi strategis antara Bali, Lombok, Pulau Komodo, dan industri Agrominapolitan. Pembangunan kewilayahan Pulau Sumbawa juga memperhatikan kawasan industri, akselerasi kontribusi Lapangan Usaha Non-Tambang untuk LPE yang inklusif, berkualitas,dan berkelanjutan, serta pengembangan sektor-sektor ekonomi dan komoditas unggulan. Potensi yang dimiliki oleh wilayah Provinsi NTB berdasarkan RPJMN 2025-2029: - Provinsi NTB memiliki potensi berupa tanaman pangan berupa padi dengan produktivitas yang tinggi (Peringkat ke-8 Nasional dan ke-2 di Wilayah KTI). - NTB dan NTT merupakan produsen garam tertinggi ke-4 dan ke-5 nasional dengan produksi masing-masing mencapai 205.535 ton dan 22.983 ton pada tahun 2023. - NTB memiliki potensi sumber daya alam berupa pertambangan tembaga dan emas. Hal ini didukung dengan keberadaan Kawasan Industri (KI) Sumbawa Barat yang diharapkan mampu mendukung Indonesia sebagai economic powerhouse. Berdasarkan arahan RPJMN Tahun 2025-2029 sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 bahwa indikasi prioritas pembangunan nasional di Provinsi NTB mencakup rencana pembangunan kawasan pertumbuhan, rencana pembangunan kawasan komuditas unggulan, rencana pembangunan kawasan swasembada pangan air dan energi, rencana pembangunan kawasan afirmasi dan rencana pembangunan kawasan konservasi dan rawan bencana. Wilayah Bali-Nusa Tenggara diarahkan menjadi \"Superhub Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusantara Bertaraf Internasional\". Sejalan dengan arahan RPJMN tersebut, pada 3 November 2025, Pemerintah Provinsi Bali, NTB, dan NTT menghidupkan kembali spirit \"Sunda Kecil\" untuk memperkuat persaudaraan dan kolaborasi ekonomi dengan membentuk Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT (KR BNN) sebagai langkah strategis memperkuat sinergi pembangunan lintas daerah. Fokus kerja sama meliputi 5 sektor strategis: konektivitas transportasi, pariwisata, energi terbarukan, perdagangan/ekspor, dan integrasi pembangunan. Sinkronisasi ini bertujuan agar program dan proyek pembangunan tidak saling tumpang tindih atau kontradiktif, tetapi justru saling melengkapi untuk menciptakan sinergi dan kolaborasiantarprovinsi. Wilayah Nusa Tenggara memiliki potensi besar energi terbarukan yang memiliki radiasi matahari tertinggi di Indonesia serta kapasitas bendungan yang memungkinkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mikrohidro. Gubernur NTB mengusulkan pembangunan super grid yang menghubungkan ketiga provinsi untuk
8 mewujudkan suplai energi bersih bagi kawasan Bali-Nusra. Selain itu, NTB tengah menyiapkan proyek port-to-port bypass guna mempercepat arus logistik, mengembangkan pelabuhan dalam di Gili Mas sebagai pusat distribusi regional, dan memperluas jaringan penerbangan di Bandara Internasional Lombok sebagai mini hub Indonesia Timur. Pengembangan transportasi laut dan seaplane antar pulau kecil juga sedang dirancang untuk mendukung pariwisata dan distribusi barang. 1.4 Capaian Atas Keselarasan RPJMN Dengan RPJMD Tahun 2025 merupakan tahun pertama atas implementasi dari RPJMN dan RPJMD 2025-2029 sehingga program atas pelaksanaan kegiatan tahun 2025 merupakan awal dari kebijakan dan program yang termuat di dalam target RPJMN dan RPJMD 2025-2029. Atas hal tersebut, program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RKPD juga memperhatikan target maupun visi dan misi yang tertuang dalam RPJMN 2025 – 2029. Capaian atas target indikator kinerja sasaran pembangunan daerah dapat tercermin daricapaian indikator makro-kesra. Indikator makro daerah Provinsi NTB terdiri dari 6 (enam) indikator yaitu Pertumbuhan Ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Tingkat Kemiskinan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Ketimpangan Pendapatan (gini ratio), dan PDRB Per Kapita. Hal ini sejalan dengan sasaran pembangunan nasional yang tertuang dalam RPJMN 2025-2029 yaitu meningkatkan pendapatan per kapita menuju setara negara maju, kemiskinan menurun dan ketimpangan berkurang, serta daya saing SDM meningkat. Dalam beberapa tahun belakangan capaian pembangunan di Provinsi NTB menunjukkan tren positif dan mengalami kemajuan yang signifikan. Pada aspek ekonomi, pertumbuhan ekonomi terus mengalami kenaikan di sepanjang tahun 2025. Dimulai dari triwulan I yang mengalami koreksi 1,43 persen; triwulan II terkoreksi 0,83 persen; kemudian mengalami pemulihan positif pada triwulan III di angka 2,82 persen; dan menutup tahun 2025 dengan pertumbuhan 12,49 persen di triwulan IV menunjukkan tercapainya targetpertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan sebesar 6,00 persen. Kenaikan yang sangat signifikan ini dikarenakan adanya kontribusi besar dari kinerja industri pengolahan utamanya oleh industri logam dasar (smelter) yang mencerminkan peningkatan aktivitas hilirisasi dan nilai tambah regional. Sementara itu nilai PDRB per Kapita Provinsi NTB pada 2025 sebesar 33,67 Juta Rupiah menunjukkan adanya peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 32,28 JutaRupiah. Tren PDRB per Kapita di Provinsi NTB selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya selama lima tahun terakhir ini dengan kenaikan terbesar di 2024 yaitu sebesar 2,35 Juta Rupiah. Meski demikian, target PDRB per Kapita pada tahun 2025 masih belum melampaui target sebagaimana yang tertuang dalam RPJMD NTB 2025-2029 yaitu sebesar 35,80 Juta Rupiah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB tahun 2025 mengalami peningkatan tertinggi selama lima tahun terakhir, yakni di angka 73,97, meningkat 0,87 atau 1,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini menempatkan Pertumbuhan IPM NTB beradadi atas laju IPM Nasional dan di peringkat ketujuh nasional. Angka ini termasuk ke dalam kategori tinggi (70 ≤ IPM < 80). Peningkatan IPM pada tahun 2025 didorong oleh peningkatan pada semua indikator pembantuk IPM yaitu Umur Harapan Hidup saat lahir (meningkat 0,48persen), Harapan Lama Sekolah (meningkat 0,07 persen), Rata-Rata Lama Sekolah
9 (meningkat 4,32 persen), dan Pengeluaran per Kapita per tahun yang Disesuaikan (meningkat 2,72 persen). Pada indikator kemiskinan, jumlah dan presentase penduduk miskin di NTB cenderung mengalami penurunan selama lima tahun terakhir meskipun pada September 2022 dan Maret2023 sempat mengalami peningkatan. Pada Maret 2025 kemiskinan NTB berada pada angka 11,78 persen, dan pada September 2025 mengalami penurunan ke angka 11,38 persen. Disparitas kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan di NTB semakin besar dari tahun ke tahun. Dari angka kemiskinan NTB ini berhasil melampaui target presentase kemiskinan yang diproyeksikan pada RPJMD yaitu sebesar 11,68-12,18 persen. Hal ini menunjukkan capaiankinerja yang baik pada bidang kesejahteraan. Sejalan dengan sektor kesejahteraan, pada September 2025, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk NTB yang diukur oleh gini ratio adalah sebesar 0,364. Angka ini menurun 0,005 poin jika dibandingkan dengan gini ratio Maret 2025 yang sebesar 0,369 dan sama jika dibandingkan dengan gini ratio September 2024 yang sebesar 0,364. Secara umum, sejak September 2018 angka gini ratio mengalami fluktuasi sampai dengan September 2025. Fluktuasi gini ratio berkisar antara 0,36 sampai dengan 0,39. Kondisi ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut pemerataan pengeluaran di NTB tergolong cukup stabil. Jika dibandingkan dengan target angka gini ratio 2025 pada RPJMD NTB yaitu di angka 0,369-0,373, maka pada tahun 2025 capaian tersebut berhasil dilampaui sehingga berhasil menunjukkan kinerja yang baik. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) NTB di lima tahun terakhir mengalami tren yang fluktuatif. Pada Februari 2025 TPT berada pada angka 3,22 persen (turun 0,08 persen dari Februari tahun 2024); Agustus 2025 3,06 persen (naik 0,33 persen dari Agustus 2024); dan November 2025 pada angka 3,05 persen dengan jumlah pengangguran sebanyak 98,72 ribu orang. Peningkatan jumlah penduduk yang menganggur ini seiring dengan peningkatan jumlah Angkatan kerja pada November 2025 sebanyak 3,24 juta orang, naik 30,36 ribu disbanding Agustus 2025. Meski demikian, target capaian tingkat pengangguran di 2025 ada pada angka 2,19-2,79, sehingga kinerja capaian pada 2025 belum bisa melampaui target dan bahkan masih di angka yang jauh dari target. Hal ini menunjukkan masih perlunya penguatan program pengurangan angka pengangguran dengan cara penguatan sektor pelatihan tenga ahli dan pembukaan lapangan kerja pada sektor unggulan seperti pertanian dan pariwisata. Secara keseluruhan, kinerja pembangunan Provinsi NTB pada tahun 2025 menunjukkan capaian yang positif dan progresif sebagai tahun pertama implementasi RPJMN dan RPJMD 2025–2029. Capaian makroekonomi dan kesejahteraan NTB tahun 2025 mencerminkan kinerja yang baik, meskipun masih terdapat tantangan pada aspek ketenagakerjaan yang perlu menjadi perhatian ke depan1.5 Tantangan Sasaran Pembangunan 1.5.1. Tantangan Ekonomi Daerah 1.5.1.1. Tantangan Dalam Mengelola Potensi Sumber Daya Alam, Beserta Penciptaan Nilai Tambah Dari Pengolahan Sumber Daya Alam Tantangan utama NTB dalam mengelola potensi sumber daya alam sebenarnya bukan pada ketersediaannya, melainkan pada kemampuan mengolah dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya tersebut. Potensi agro-maritim NTB sangat besar, didukung wilayah laut yang luas dan posisi geografis yang strategis, serta komoditas unggulan seperti perikanan
10 tangkap, budidaya rumput laut, lobster, udang, garam rakyat, hingga ekowisata bahari di kawasan Gili, Mandalika, dan Pulau Moyo. Namun, keterbatasan industrialisasi dan hilirisasi menyebabkan sebagian besar produk masih dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati daerah lain. Di sisi lain, pengawasan dan pengelolaan sumber daya laut juga menghadapi tantangan seperti risiko eksploitasi berlebihan dan degradasi lingkungan. Selain itu, produktivitas sektor ekonomi NTB masih belum optimal akibat keterbatasan teknologi, kualitas SDM, akses pembiayaan, serta infrastruktur logistik yang belum merata. Banyak pelaku usaha masih menggunakan metode produksi tradisional dengan efisiensi rendah, sementara biaya distribusi yang tinggi menurunkan daya saing produk. Ketimpangan pusat pertumbuhan ekonomi antarwilayah—yang masih terkonsentrasi di sebagian wilayah Lombok—juga membuat pemanfaatan potensi di wilayah lain, khususnya di Pulau Sumbawa, belum berkembang maksimal. Secara keseluruhan, NTB perlu mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan hilirisasi, pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas SDM,dan pembangunan ekosistem industri agro-maritim yang berkelanjutan agar potensi besar yang dimiliki benar-benar memberi manfaat optimal bagi daerah. Pemerintah daerah perlu menjadi motor penggerak transformasi ekonomi dengan mempercepat hilirisasi komoditas unggulan serta mendorong tumbuhnya kawasan industri dan sentra pengolahan berbasis agro-maritim. Kemudahan investasi dan perizinan juga penting agar industri pengolahan dapat berkembang lebih cepat. Di saat yang sama, konektivitas antarwilayah harus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di wilayah tertentu. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan vokasi, pelatihan sesuai kebutuhan industri, dan sertifikasi tenaga kerja juga menjadi kunci agar masyarakat siap masuk ke sektor produktif. Selain itu, penguatan kelembagaan petani, nelayan, koperasi, dan UMKM perlu dilakukan agar pelaku lokal dapat naik kelas dalam rantai nilai. Semua upaya ini perlu didukung oleh pengembangan riset, inovasi produk, standardisasi mutu, dan penguatan branding produk unggulan agar daya saing ekonomi NTB semakin kuat di tingkat nasional maupun global. 1.5.1.2. Tantangan Dalam Menciptakan Iklim Dan Potensi Investasi Yang Kondusif Tantangan NTB dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif pada tahun 2025 dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, seperti perlambatan realisasi investasi, keterbatasan kapasitas fiskal daerah, iklim usaha yang belum sepenuhnya kompetitif, serta belum optimalnya keterlibatan UMKM dalam rantai pasok investasi besar. Proses perizinan yang masih memerlukan waktu, kesiapan lahan dan infrastruktur yang belum merata, sertadinamika ekonomi global turut memengaruhi minat investor. Di sisi lain, ruang fiskal yang terbatas membatasi kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan insentif dan infrastruktur pendukung. Investasi yang masuk pun masih didominasi sektor primer, sementara investasi berbasis hilirisasi, transfer teknologi, ekonomi hijau, dan penciptaanlapangan kerja berkualitas masih terbatas. Potensi ekonomi kreatif sebenarnya besar, namun belum didukung ekosistem pembinaan, pembiayaan, dan pemasaran yang kuat.Pemerintah daerah perlu mempercepat reformasi perizinan melalui digitalisasi dan penyederhanaan regulasi, menyiapkan infrastruktur dan lahan yang memadai, serta mengarahkan belanja daerah pada sektor ekonomi prioritas. Peningkatan kualitas SDM danpenguatan UMKM agar mampu masuk ke rantai pasok industri besar juga menjadi kunci. Selain itu, investasi perlu diarahkan pada sektor hilirisasi, industri pengolahan, dan ekonomi
11 berkelanjutan, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif agar pertumbuhan ekonomi NTB tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga lebih berkualitas, merata, dan berkelanjutan. 1.5.1.3. Tantangan Birokrasi Dan Pelayanan Perizinan Tantangan birokrasi dan pelayanan perizinan di NTB masih berkaitan dengan belum optimalnya digitalisasi layanan publik serta belum terintegrasinya data antar perangkat daerah. Meskipun sebagian layanan sudah berbasis elektronik, pelaksanaannya belum sepenuhnya efektif karena keterbatasan infrastruktur, integrasi sistem, dan kapasitas SDM. Beberapa proses masih berjalan semi manual dan berlapis, sehingga memperpanjang waktu penyelesaian perizinan. Selain itu, literasi digital masyarakat dan pelaku usaha yang belummerata, terutama di wilayah dengan akses internet terbatas, juga menjadi kendala dalam pemanfaatan layanan digital. Di sisi lain, pengelolaan data yang belum terintegrasi menyebabkan duplikasi dan perbedaan basis data antar instansi, sehingga pelaku usaha sering harus menyerahkan data yang sama ke berbagai lembaga. Kondisi ini tidak hanya menghambat pelayanan, tetapi juga memengaruhi kualitas perencanaan dan pengambilan kebijakan. Untuk itu, pemerintah daerah perlu mempercepat transformasi digital melalui penerapan sistem data terintegrasi berbasis prinsip satu data daerah, memperkuat standar dan keamanan sistem, sertameningkatkan kapasitas aparatur. Integrasi layanan perizinan secara digital dan pemanfaatan data untuk perencanaan berbasis bukti menjadi kunci untuk mewujudkan birokrasi yang lebih efisien, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. 1.5.1.4. Tantangan Dukungan Permodalan dan Infrastruktur Ekonomi Tantangan dukungan permodalan dan infrastruktur ekonomi di NTB terlihat cukup kontras antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Lombok relatif lebih maju karena berperan sebagai pusat pemerintahan, jasa, perdagangan, dan pariwisata, dengan dukungan infrastruktur yang lebih lengkap, akses lembaga keuangan yang lebih mudah, serta konektivitas transportasi yang lebih baik. Keberadaan kawasan pariwisata seperti Mandalika dan akses pelabuhan utama turut memperkuat ekosistem usaha di Lombok. Sementara itu, Sumbawa memiliki potensi sumber daya alam yang besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pertambangan, namun masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan, infrastruktur logistik, serta konektivitas transportasi dan fasilitas ekspor meskipun secara geografis posisi Sumbawa termasuk strategis. Akibatnya, banyak produk unggulan Sumbawa belum dapat diolah atau diekspor secara langsung dari wilayahnya. Tantangan utama ke depan adalah membangun keterhubungan ekonomi Lombok–Sumbawa agar keduanya saling melengkapi: Lombok sebagai pusat jasa, logistik, dan hilirisasi, serta Sumbawa sebagai basis produksi komoditas berorientasi ekspor. Untuk itu, pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur transportasi dan logistik antar pulau, mengembangkan kawasan industri dan sentra produksi sesuai potensi wilayah, serta mendorong kerja sama ekonomi antarwilayah. Penguatan UMKM, peningkatan kualitas SDM, dan pengembangan ekosistem industri agro-maritim yang berkelanjutan juga menjadi kunciagar pertumbuhan ekonomi NTB lebih merata dan berkelanjutan. 1.5.1.5. Tantangan Implementasi Teknologi Dalam Aktivitas Perkonomian
12 Tantangan penerapan teknologi dalam perekonomian NTB masih cukup besar karena digitalisasi dan pemanfaatan teknologi informasi belum berjalan optimal, terutama di sektor UMKM, pertanian, perikanan, dan perdagangan lokal. Banyak pelaku usaha masih menggunakan cara konvensional dalam pemasaran dan pencatatan keuangan, serta belum memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar atau meningkatkan efisiensi. Keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi teknologi, dan kemampuan adaptasi yang belum merata juga menjadi hambatan, sehingga produktivitas dan daya saing produk daerahmasih relatif rendah. Di sisi lain, industri berbasis potensi lokal juga belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah. Minimnya investasi teknologi, riset, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan turut memperlambat pengembangan industri yang lebih modern dan kompetitif. Untuk itu, pemerintah daerah perlu mempercepat transformasi digital melalui penguatan infrastruktur, pendampingan digitalisasi UMKM, peningkatan akses pembiayaan teknologi, serta mendorong investasi pada industri berbasis teknologi dan hilirisasi komoditas unggulan agar ekonomi NTB lebih produktif dan berdaya saing tinggi. 1.5.1.6. Tantangan Reformasi Struktural Tantangan reformasi struktural di NTB masih berkaitan dengan tata kelola pemerintahan, kualitas dan pemanfaatan data pembangunan, kapasitas kelembagaan desa, serta efektivitas regulasi layanan publik. Salah satu persoalan utama adalah belum optimalnya pemanfaatan data administrasi kependudukan untuk perencanaan dan penyaluran program secara tepat sasaran. Integrasi data antar instansi masih terbatas, ditambah rendahnya kepemilikan dokumen kependudukan oleh sebagian masyarakat, sehingga berdampak pada akses terhadap layanan publik, bantuan sosial, pembiayaan, dan pekerjaan formal. Di tingkat desa, tantangan juga terlihat pada kapasitas perencanaan dan pengelolaan keuangan yang belum merata, termasuk pengelolaan BUMDesa yang masih terbatas skala dan profesionalismenya. Akibatnya, pemanfaatan dana desa untuk mendorong ekonomi lokal belum sepenuhnya optimal. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah daerah perlu memperkuat tata kelola melalui peningkatan kapasitas aparatur, digitalisasi layanan, dan integrasi data. Di saat yang sama, penguatan kapasitas pemerintah desa dan pengembangan BUMDesa berbasis potensi unggulan dengan dukungan kemitraan dan akses pembiayaan menjadi langkah penting agar reformasi struktural benar-benar berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa.1.5.2. Tantangan Sosial Kependudukan 1.5.2.1. Struktur dan Jumlah Penduduk, Termasuk Kondisi Demografi Berdasarkan data terbaru BPS, jumlah penduduk NTB pada 2025 terus meningkat sejak Sensus 2020 yang mencatat sekitar 5,32 juta jiwa. Laju pertumbuhan yang relatif tinggi membuat kebutuhan layanan dasar, lapangan kerja, dan infrastruktur juga semakin besar. Struktur penduduk NTB saat ini didominasi usia produktif, yang berarti daerah ini sedang menikmati bonus demografi. Kondisi ini sebenarnya menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, asalkan kualitas SDM dan ketersediaan pekerjaan memadai. Basis angkatan kerja yang besar belum sepenuhnya terserap secara optimal, sementara kualitas pendidikan dan keterampilan masih perlu ditingkatkan. Sebaran penduduk juga belum merata, dengan sekitar 70% penduduk tinggal di Pulau Lombok, sedangkan Pulau
13 Sumbawa yang wilayahnya lebih luas dihuni lebih sedikit penduduk. Ketimpangan ini berdampak pada konsentrasi pembangunan dan tekanan kepadatan wilayah tertentu. Selain itu, pengelolaan bonus demografi belum optimal dan masih terdapat persoalan seperti perkawinan usia dini yang dapat memengaruhi kualitas SDM jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat perencanaan berbasis data demografi, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan, memperluas lapangan kerja, mengendalikan pertumbuhan penduduk, serta mendorong pemerataan pembangunan wilayah agar pertumbuhan penduduk benar-benar menjadi kekuatan bagi pembangunan NTB. 1.5.2.2. Kondisi Kualitas Sumber Daya Manusia (Prevalensi Stunting dan Kualitas Pendidikan) Kualitas sumber daya manusia di NTB masih menghadapi tantangan serius, terutama karena tingginya angka stunting dan belum meratanya kualitas pendidikan. Dari sisi kesehatan, stunting masih menjadi masalah utama akibat keterbatasan akses layanankesehatan, ketimpangan kesejahteraan, serta pola pengasuhan dan pemenuhan gizi yang belum optimal, khususnya di wilayah pedesaan. Dampaknya bukan hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga pada kemampuan belajar dan produktivitas mereka di masa depan. Di bidang pendidikan, tantangan terlihat dari rendahnya kemampuan literasi dan numerasi, terutama di jenjang SMA, SMK, dan SLB. Kualitas dan pemerataan guru masih belum optimal, termasuk keterbatasan guru pendamping di sekolah inklusif. Ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan juga memperlebar kesenjangan kualitas SDM. Selain itu, kondisi ekonomi sebagian keluarga membuat anak rentan putus sekolah atau masuk dunia kerja lebih dini. Secara umum, persoalan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan saling berkaitan dan memengaruhi kualitas SDM NTB. Oleh karena itu, perbaikannya perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari percepatan penurunan stunting, pemerataan layanan kesehatan dan perlindungan sosial, hingga peningkatan kualitas guru, sarana pendidikan, beasiswa, serta penguatan pendidikan vokasi. Pendataan yang akurat juga penting agar program intervensitepat sasaran dan benar-benar berdampak pada peningkatan daya saing daerah. 1.5.2.3. Karakteristik Masyarakat Karakteristik masyarakat NTB dipengaruhi oleh kondisi sosial, keamanan, kesiapsiagaan bencana, dan mobilitas penduduk. Secara umum situasi keamanan cukup kondusif, namun masih ada potensi gangguan ketertiban yang perlu ditangani lebih sistematis. Sistem deteksi dini konflik dan koordinasi antar pihak belum optimal, sehingga penanganan sering kali masih bersifat reaktif, bukan pencegahan. NTB juga termasuk wilayah rawan bencana seperti gempa, banjir, dan kekeringan. Namun, kesiapsiagaan masyarakat dan infrastruktur mitigasi masih terbatas. Edukasi kebencanaan dan kapasitas respons cepat perlu diperkuat agar dampak sosial dan ekonomi pascabencana bisa ditekan. Dari sisi mobilitas, minat transmigrasi relatif rendah. Pulau Lombok memiliki kepadatan penduduk tinggi dan aktivitas ekonomi lebih berkembang, sehingga mobilitas keluar daerah cenderung terbatas. Sementara itu, Pulau Sumbawa memiliki wilayah lebih luas dan potensi sumber daya besar, tetapi belum dimanfaatkan optimal karena keterbatasan infrastruktur danakses ekonomi. Perbedaan ini menunjukkan perlunya strategi pembangunan yang lebih spesifik, seperti mendorong pusat pertumbuhan baru di Sumbawa, meningkatkan konektivitas
14 antarwilayah, serta memperkuat ketahanan sosial dan kebencanaan untuk mendukung pemerataan pembangunan di NTB. 1.5.2.4. Struktur Mata Pencaharian Berdasarkan Kelompok Umur Struktur mata pencaharian penduduk NTB tahun 2025 menunjukkan partisipasi kerja yang cukup tinggi, dengan angkatan kerja sekitar 76 persen dan tingkat pengangguran terbuka sekitar 3 persen. Namun, tantangan utamanya bukan hanya soal jumlah yang bekerja, melainkan kualitas pekerjaan dan stabilitas pendapatan yang masih perlu ditingkatkan. Tenaga kerja terbesar berada pada kelompok usia produktif menengah, sementara usia muda masih menghadapi kesulitan transisi dari sekolah ke dunia kerja. Kesenjangan antara keterampilan lulusan dan kebutuhan industri membuat sebagian tenaga kerja muda terserap di sektor informal dengan produktivitas rendah. Di sisi lain, keterbatasan lapangan kerja formal mendorong banyak pekerja usia produktif bekerja di sektor primer tradisional, informal, atau menjadi pekerja migran. Bagi kelompok usia mendekati nonproduktif, banyak yang tetap bekerja di sektor informal atau usaha keluarga karena terbatasnya akses pekerjaan formal dan perlindungan jaminan sosial. Secara keseluruhan, meskipun NTB memiliki basis tenaga kerja yang besar,persoalan utama terletak pada ketidaksesuaian keterampilan, terbatasnya lapangan kerja berkualitas, dan dominasi sektor berproduktivitas rendah. Kondisi ini menjadi tantangan penting dalam memanfaatkan bonus demografi dan mendorong transformasi ekonomi NTB ke arah yang lebih bernilai tambah dan berkelanjutan. 1.5.3. Tantangan Lainnya 1.5.3.1. Pengelolaan Destinasi Pariwisata Secara Terpadu Pariwisata masih menjadi sektor strategis penggerak ekonomi NTB. Hingga Januari–Oktober 2025, jumlah kunjungan wisatawan tercatat sekitar 61 ribu orang, menunjukkan sektor ini tetap berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Namun, di balik potensinya, pariwisata NTB masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Dari sisi SDM dan kebudayaan, ketersediaan tenaga profesional masih terbatas dan belum semua objek pemajuan kebudayaan terdokumentasi dengan baik. Akibatnya,pengelolaan dan pemanfaatan potensi budaya sebagai daya tarik wisata belum optimal, padahal wisata modern menuntut integrasi antara alam, budaya, dan ekonomi kreatif. Masalah lain adalah konektivitas dan infrastruktur menuju destinasi, terutama di wilayah terpencil dan pulau-pulau kecil. Akses jalan, transportasi, serta tata kelola destinasi masih perlu diperkuat agar daya saing meningkat. Selain itu, isu lingkungan seperti abrasi pantai, kerusakan mangrove, dan terumbu karang juga menjadi ancaman bagi wisata bahari yang menjadi andalan NTB. Secara umum, tantangan pariwisata NTB bukan hanya soal meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memperbaiki kualitas pengelolaan, memperkuat SDM, meningkatkan aksesibilitas, dan memastikan keberlanjutan lingkungan. Ke depan, pengembangan pariwisata perlu diarahkan pada konsep quality tourism yang berkelanjutan, berbasis budaya lokal, dan terintegrasi dengan ekonomi kreatif agar memberi nilai tambah yang lebih besar bagi daerah.
15 1.5.3.2. Produktivitas Tanaman Pangan Dan Komoditas Perkebunan Pembangunan sektor pertanian NTB masih menghadapi tantangan pada produktivitas dan kelembagaan petani. Meski produksi cukup besar—misalnya produksi padi tahun 2025 sekitar 1,7 juta ton GKG—hasilnya masih fluktuatif dan belum stabil. Produktivitas dipengaruhi oleh faktor cuaca, irigasi, kualitas benih, teknologi budidaya, hingga distribusi hasil panen. Selain itu, minimnya pengolahan dan hilirisasi membuat nilai tambah yang diterima petani masih rendah karena sebagian besar produk dijual dalam bentuk bahan mentah. Dari sisi kelembagaan, kelompok tani dan koperasi masih lemah dalam manajemen, akses pembiayaan, dan pemasaran. Posisi tawar petani dalam rantai pasok juga belum kuat, sehingga harga hasil panen sering tidak menguntungkan. Pemanfaatan teknologi pertanian modern pun belum merata. Secara fiskal dan pembangunan wilayah, kondisi ini berdampak pada masih terbatasnya kontribusi sektor pertanian terhadap penciptaan nilai tambah ekonomi daerah.Padahal, dengan basis komoditas pangan dan perkebunan yang besar, NTB memiliki peluang untuk mendorong industrialisasi berbasis pertanian, penguatan agroindustri, serta peningkatan ekspor komoditas olahan. Oleh karena itu, strategi ke depan perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas berbasis teknologi, penguatan kelembagaan ekonomi petani, pengembangan ekosistem hilirisasi pertanian, serta integrasi pertanian dengan sistem logistik dan industri pengolahan agar sektor pertanian dapat menjadi penggerak utama transformasi ekonomi daerah secara berkelanjutan. 1.5.3.3. Akses dan Kualitas Layanan Listrik Secara umum, capaian elektrifikasi di NTB menunjukkan kemajuan yang signifikan, tercermin dari hampir seluruh desa telah terjangkau jaringan listrik. Namun, secara analitik perlu dibedakan antara rasio desa berlistrik dan akses listrik rumah tangga yang andal. Tingginya rasio desa berlistrik belum sepenuhnya mencerminkan kualitas layanan, kontinuitas pasokan, maupun keamanan instalasi di tingkat rumah tangga, terutama di wilayah terpencil dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Disparitas antarwilayah juga cukup jelas. Pulau Lombok memiliki sistem kelistrikan yang relatif lebih stabil karena didukung kepadatan penduduk, infrastruktur yang lebih maju, serta variasi sumber pembangkit. Sebaliknya, Pulau Sumbawa menghadapi tantangan struktural berupa kondisi geografis, sebaran permukiman yang terpencar, dan karakter wilayah kepulauan serta 3T, yang meningkatkan biaya investasi jaringan dan menurunkan efisiensi distribusi energi. Dengan demikian, isu kelistrikan di NTB tidak lagi semata pada perluasan jaringan,tetapi bergeser pada peningkatan kualitas layanan, keandalan sistem, dan keberlanjutan pasokan. Strategi pembangunan energi perlu bersifat diferensiatif: Lombok berfokus pada penguatan kualitas dan stabilitas sistem, sementara Sumbawa membutuhkan percepatan pemerataan akses, penguatan pembangkit lokal, serta optimalisasi energi terbarukan. Pendekatan ini penting agar kebijakan kelistrikan tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga mendukung pemerataan pembangunan dan pengurangan kesenjangan wilayah.
Kajian Fiskal Regional Kanwil DJPbProvinsi Nusa Tenggara BaratBAB IIAnalisis Ekonomi RegionalTahun 2025
16 BAB 2 ANALISIS EKONOMI REGIONAL 2.1 Analisis Indikator Makro Ekonomi 2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah total nilai tambah bruto barang dan jasa akhir yang dihasilkan dari seluruh unit usaha di wilayah geografis tertentu (provinsi/kabupaten/kota) selama periode satu tahun. PDRB adalah indikator utama untuk mengukur kinerja ekonomi regional, struktur ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi. PDRB berfungsi untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, mengetahui pergeseran struktur ekonomi, dan dasar evaluasi pembangunan ekonomi. Perekonomian Nusa Tenggara Barat berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Triwulan IV 2025 mencapai Rp 52,04 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 30,07 triliun. Pada Triwulan IV 2025, perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan perkembangan yang positif dengan capaian pertumbuhan yang cukup kuat yaitu berada di angka 3,97 persen secara triwulanan(q-to-q), 12,49 persen secara tahunan (y-on-y), dan 3,22 persen secara kumulatif tahunan (cto-c). Pertumbuhan ini mencerminkan mulai pulih dan menguatnya aktivitas ekonomi di berbagai sektor, didukung oleh meningkatnya produksi, konsumsi, investasi, serta kinerjaperdagangan luar negeri. Grafik 2-1 PDRB di NTB dibandingkan Nasional Tahun 2021- 2025 (y-o-y) (dalam miliar) Sumber: BPS Provinsi NTB Analisis PDRB berdasarkan lapangan usaha dan pengeluaran memberikan gambaran komprehensif mengenai sumber pertumbuhan ekonomi serta dinamika struktur perekonomian NTB selama tahun 2025. 2.1.1.1 PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha:Berdasarkan lapangan usaha, perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 3,97 persen dibandingkan Triwulan III 2025 (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi tercatat pada Lapangan Usaha Pertambangan dan Rp30.06912.49%5.39%-4%-2%0%2%4%6%8%10%12%14%05000100001500020000250003000035000Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q42021 2022 2023 2024 2025NTB %NTB %NAS
17 Penggalian sebesar 25,32 persen, diikuti oleh Industri Pengolahan serta Jasa Keuangan dan Asuransi. Meskipun demikian, beberapa lapangan usaha seperti Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami kontraksi secara triwulanan sebesar 16,22 persen akibat faktor musiman dan fluktuasi produksi. Secara tahunan (y-on-y), ekonomi NTB tumbuh signifikan sebesar 12,49 persen, dengan seluruh lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan positif. Industri Pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan dengan laju yang sangat tinggi sebesar 137,78 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas hilirisasi dan pengolahan sumber daya. Sektor perdagangan, akomodasi dan makan minum, serta jasa keuangan juga menunjukkan kinerja yang solid. Secara kumulatif tahun 2025 (c-to-c), perekonomian NTB tumbuh sebesar 3,22 persen. Struktur PDRB masih didominasi oleh Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 76,37 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa perekonomian NTB bertumpu pada sektor primer dan perdagangan, dengan peran sektor industri dan jasa yang terus meningkat sebagai penopang transformasi ekonomi daerah. Grafik 2-2 Distribusi dan Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha (%) Sumber: BPS Provinsi NTB 2.1.1.2 PDRB Berdasarkan PengeluaranDari sisi pengeluaran, perekonomian NTB pada Triwulan IV 2025 tumbuh 3,97 persen secara q-to-q. Pertumbuhan tertinggi bersumber dari Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang meningkat sangat signifikan sebesar 64,09 persen, diikuti oleh Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dan Konsumsi Rumah Tangga. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya permintaan eksternal serta peran belanja pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Adapun Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (PKLNPRT) mengalami kontraksi sebesar 2,78 persen. Secara y-on-y, ekonomi NTB tumbuh sebesar 12,49 persen, dengan Ekspor Barang dan Jasa sebagai pendorong utama pertumbuhan sebesar 103,11 persen. Selain itu, Konsumsi Rumah Tangga tetap memberikan kontribusi yang stabil, menunjukkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga. Pembentukan Modal Tetap Bruto juga tumbuh positif, menandakan keberlanjutan aktivitas investasi di daerah. Adapun Komponen Impor Barang dan Jasa yang menjadi faktor pengurang mengalami peningkatan sebesar 27,34 persen.
18 Secara kumulatif (c-to-c), pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 3,22 persen terutama didorong oleh Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,49 persen sebagai komponen utama PDRB dari sisi pengeluaran. Sedangkan komponen yang mengalami kontraksi adalah Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 10,82 persen. Adapun Komponen Impor Barang dan Jasa yang menjadi faktor pengurang mengalami kontraksi sedalam 11,66 persen. Secara keseluruhan, kinerja pengeluaran ini mencerminkan keseimbangan antara permintaan domestik dan aktivitas perdagangan luar negeri dalam menopang pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2025. Grafik 2-3 Distribusi dan Pertumbuhan PDRB Berdasarkan PengeluaranSumber: BPS Provinsi NTBFaktor utama yang mempengaruhi PDRB Provinsi NTB: a. Kinerja Industri Pengolahan Industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan PDRB, dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi dan kontribusi signifikan terhadap sumber pertumbuhan ekonomi, mencerminkan peningkatan aktivitas hilirisasi dan nilai tambah regional b. Perkembangan Pertambangan dan Penggalian Sektor ini masih menjadi penyumbang besar dalam struktur PDRB NTB. Fluktuasi produksidan ekspor hasil tambang sangat mempengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi daerah c. Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi rumah tangga merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam PDRB dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi tahunan, mencerminkan daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat d. Ekspor Barang dan Jasa Lonjakan ekspor memberikan dorongan kuat terhadap pertumbuhan PDRB, terutama padaperiode triwulanan dan tahunan, meskipun bersifat fluktuatif secara kumulatif e. Belanja Pemerintah dan Investasi (PMTB) Pengeluaran konsumsi pemerintah serta pembentukan modal tetap bruto berperan menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pembangunan infrastruktur serta layanan publik f. Sektor Perdagangan, Pertanian, dan Jasa Sektor-sektor ini berperan sebagai penopang ekonomi daerah secara berkelanjutan, terutama dalam menjaga lapangan kerja dan pemerataan aktivitas ekonomi antar wilayah. 2.1.2 Inflasi Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, yang menyebabkan daya beli uang menurun karena jumlah uang yang sama hanya bisa membeli lebih sedikit barang atau jasa. Ini merupakan indikasi
19 penurunan nilai mata uang dan biasanya diukur oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan membandingkan harga-harga rata-rata dari berbagai sektor. Inflasi, terutama dalam tingkat rendah dan stabil, berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dengan memicu konsumsi, meningkatkan produksi, dan mendorong investasi, bukan sekadar kenaikan harga. Inflasi juga menjadi indikator stabilitas ekonomi, membantu penyesuaian upah, danmengurangi pengangguran. Pada Desember 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 3,01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,26. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Mataram sebesar 3,21 persen dengan IHK sebesar 110,44 dan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 2,78 persen dengan IHK sebesar 109,98. Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sembilan indeks kelompok pengeluaran dari total sebelas indeks kelompok, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,83 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,84 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,89persen; kelompok kesehatan sebesar 1,75 persen; kelompok transportasi sebesar 0,68 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,99 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,79 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,63 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 17,76 persen. Sedangkan penurunan indeks kelompok pengeluaran terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,58 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,34 persen. Tingkat inflasi month to month (m-to-m) dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) Provinsi Nusa Tenggara Barat bulan Desember 2025 masing-masing sebesar 0,72 persen dan 3,01 persen.Faktor utama yang mempengaruhi Inflasi Provinsi Nusa Tenggara Barat:a. Kenaikan Harga Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Menjadi kontributor terbesar inflasi, dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas pangan strategis seperti cabai, bawang merah, ikan, minyak goreng, dan rokok, yang sensitif terhadap musim dan distribusi. b. Lonjakan Harga Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya Inflasi tinggi pada kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, Grafik 2-4 Perkembangan Inflasi NTB Tahun 2024-2025 Sumber: BPS Provinsi NTB3,01Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des2024 2025
20 yang mencerminkan dinamika harga global dan perilaku lindung nilai masyarakat. c. Peningkatan Biaya Pendidikan Kenaikan tarif pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dan jasa pendidikan lainnya, memberikan tekanan inflasi yang bersifat struktural dan berulang setiap tahun ajaran. d. Kenaikan Harga Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran Dipengaruhi oleh meningkatnya biaya bahan baku pangan, upah tenaga kerja, serta permintaan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan. e. Kenaikan Biaya Perumahan dan Pemeliharaan Rumah Tangga Dipicu oleh peningkatan biaya kontrak/sewa rumah, bahan bangunan, dan jasa perbaikan, sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan urbanisasi. f. Tekanan dari Kelompok Transportasi Berasal dari kenaikan harga kendaraan, bahan bakar, dan jasa pengiriman barang, meskipun sebagian tertahan oleh penurunan tarif angkutan penumpang. g. Faktor Musiman dan Permintaan Akhir Tahun Peningkatan konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun turut mendorong kenaikan harga pada berbagai komoditas konsumsi. 2.1.3 Analisis Indikator Makro Ekonomi Lainnya yang Relevan 2.1.3.1 Perkembangan Ekspor dan Impor Nusa Tenggara Barat Nilai ekspor pada Bulan Januari–Desember 2025 mencapai US$ 1697,15 juta atau turun 33,80 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Nilai ekspor Bulan Desember 2025 mencapai US$ 633,34 juta atau naik 368,28 persen dibanding ekspor Bulan Desember 2024. Kelompok komoditas ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada Bulan Desember 2025 adalah Barang Galian/Tambang Non Migas sebesar US$ 346.833.326 (54,76 persen), Perhiasan / Permata sebesar US$ 156.290.352 (24,68 persen), Tembaga sebesar US$ 126.893.592 (20,04 persen), Ikan dan Udang sebesar US$ 2.385.458 (0,38 persen), Daging dan Ikan Olahan sebesar US$ 573.212 (0,09 persen). Ekspor Bulan Desember 2025 yangterbesar ditujukan ke Korea Selatan (37,84 persen), Swiss (24,43 persen), India (10,26 persen), Tiongkok (9,03 persen), Jepang (8,76 persen) dan Lainnya (9,68 persen). Nilai impor pada Bulan Januari-Desember 2025 mencapai US$ 254,39 juta atau turun 72,32 persen dibanding periode yag sama tahun 2024. Nilai impor Bulan Desember 2025 mencapai US$ 34,21 juta atau turun 56,69 persen dibanding impor Bulan Desember 2024. Kelompok komoditas impor Provinsi NTB yang terbesar pada Bulan Desember 2025 adalah Karet dan Barang dari Karet sebesar US$ 27.003.501 (78,94 persen),Plastik dan Barang dari Plastik sebesar US$ 3.234.942 (9,46 persen), Mesin-mesin / Pesawat Mekanik sebesar US$ 1.777.454 (5,20 persen), Berbagai Produk Kimia sebesar US$ 1.038.443 (3,04 persen), Kendaraan dan Bagiannya sebesar US$ 521.124 (1,52 persen). Impor Bulan Desember 2025 yang terbesar berasal dari Jepang (73,22 persen), Thailand (9,65 persen), Tiongkok (8,72 persen), Amerika Serikat (3,75 persen), Singapura (3,46 persen) dan Lainnya (1,19 persen). Faktor utama yang mempengaruhi ekspor-impor Provinsi NTB:a. Struktur dan Ketergantungan Komoditas Unggulan Ekspor NTB sangat didominasi oleh komoditas pertambangan dan pengolahan mineral, khususnya tembaga, barang galian nonmigas, serta perhiasan/permata, sehingga fluktuasi produksi dan harga global komoditas tersebut sangat berpengaruh terhadap nilai ekspor
21 b. Ketergantungan dengan Negara Tertentu Perubahan permintaan dari negara mitra utama seperti Korea Selatan, Swiss, Tiongkok, India, dan Jepang berperan besar dalam dinamika ekspor NTB, baik dari sisi volumemaupun nilai transaksi. Begitupun juga dengan negara asal impor bergantung dengan dinamika perdagangan dan pasokan dari negara-negara asal. c. Harga Komoditas Global Kenaikan atau penurunan harga komoditas mineral dan logam dunia secara langsung memengaruhi nilai ekspor, meskipun volume pengiriman relatif stabil. d. Kapasitas Produksi dan Jadwal Pengapalan Pola produksi industri tambang dan pengolahan, termasuk waktu ekspor (shipment),menyebabkan fluktuasi bulanan yang cukup tajam pada nilai ekspor 2.1.3.2 Perkembangan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Pada Desember 2025, kinerja perhotelan dan transportasi di NTB menunjukkan perbaikan secara tahunan, meskipun secara bulanan terdapat beberapa fluktuasi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang tercatat 41,98 persen, naik dibandingNovember 2025 dan meningkat cukup signifikan dibanding Desember 2024. Sementara itu, TPK hotel nonbintang sebesar 26,33 persen, turun tipis dari bulan sebelumnya namun tetap lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Rata-rata Lama Menginap (RLM) di hotel bintang dan nonbintang masing-masing sebesar 1,80 hari dan 1,54 hari, sedikit menurun dibanding November 2025 tetapi lebih tinggi dibanding Desember 2024. Jumlah tamu hotel bintang mencapai 123.355 orang, didominasi wisatawan domestik (72,17 persen), sedangkan hotel nonbintang mencatat 112.828 tamu dengan proporsi tamu mancanegara yang relatif lebih besar (41,52 persen). Dari sisi kunjungan, wisman melalui Bandara Internasional Lombok (BIZAM) meningkat 15,32 persen dibanding November 2025, sementara wisatawan nusantara naik 7,37 persen. Pergerakan transportasi juga menunjukkan tren positif, dengan kenaikan penumpang datang melalui penerbangan domestik dan internasional, serta peningkatan signifikan pada arus bongkar barang di pelabuhan. Hal ini mencerminkan meningkatnyamobilitas orang dan aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun. 2.1.3.3 Luas Panen dan Produksi Padi dan Jagung Nusa Tenggara Barat Luas panen padi dan jagung memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap total produksi padi dan jagung, di mana peningkatan luas panen umumnya diikuti oleh kenaikan total produksi. Semakin besar luas area yang dipanen, semakin tinggi jumlah produksi yang dihasilkan, menjadikan luas panen faktor kunci, selain produktivitas per hektar (teknologi, pupuk, benih), dalam menentukan total hasil panen padi dan jagung.Luas panen padi pada 2025 mencapai 322,90 ribu hektare, mengalami kenaikan sebesar 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan luas panen padi di 2024 yangsebesar 281,72 ribu hektare. Produksi padi pada 2025 yaitu sebanyak 1,71 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 255,21 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan produksi padi di 2024 yang sebanyak 1,45 juta ton GKG. Produksi beras pada 2025 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 973,14 ribu ton, mengalami kenaikan sebanyak 145,36 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan produksi beras di 2024 yang sebanyak 827,79 ribu ton. Luas panen jagung pipilan pada 2025 mencapai 173,09 ribu hektare, mengalami penurunan sebesar 0,67 ribu hektare atau 0,39 persen dibandingkan luas panen pada 2024
22 yang sebesar 173,76 ribu hektare. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 sebanyak 1,18 juta ton, mengalami penurunan sebanyak 34,63 ribu ton atau 2,86 persen dibandingkan pada 2024 yang sebanyak 1,21 juta ton. Potensi luas panen jagung pipilan kering periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 80,93 ribu hektare, dengan potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sebanyak 0,56 juta ton. Kinerja produksi padi dan jagung sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama yang saling berkaitan. Kondisi iklim dan stabilitas curah hujan menjadi faktor mendasar karena menentukan keberlangsungan musim tanam, mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal, serta menekan risiko gagal panen. Selain itu, ketersediaan jaringan irigasi berperan penting dalam menjaga kestabilan luas panen, terutama untuk padi, karena daerah dengan irigasi yang memadai cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi cuaca dibandingkan lahan tadah hujan. Pola tanam dan alokasi lahan juga memengaruhi produksi, di mana petani biasanya menyesuaikan pilihan antara padi dan jagung berdasarkan ketersediaan air dan perkembangan harga komoditas di pasar. Dari sisi produktivitas, penggunaan benih unggul, pupuk, serta penerapan teknologi budidaya yang lebih baik mampu menjaga bahkan meningkatkan hasil panen meskipun luas lahan mengalami perubahan. Dukungan kebijakan pemerintah seperti subsidi pupuk, bantuan benih, dan pendampingan penyuluh turut memperkuat stabilitas produksi. Namun demikian, tantangan berupa alih fungsi lahan pertanian menjadi faktor pembatas, terutama bagi peningkatan luas panen padi, sehingga berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi ke depan. 2.2 Analisis Indikator Kesejahteraan 2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit untuk mengukur capaian pembangunan kualitas hidup manusia. Pada tahun 1990, United Nations Development Programme (UNDP) membangun indeks ini untuk menekankan pentingnyamanusia beserta sumber daya yang dimiliknya dalam pembangunan. Indeks ini terbentuk dari rata-rata ukur capaian tiga dimensi utama pembangunan manusia yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Pembangunan manusia di Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mengalami kemajuan. Sejak tahun 2021, status pembangunan manusia Indonesia sudah berada di level “tinggi”.Selama 2021–2025, IPM Provinsi NTB rata-rata meningkat sebesar 1,08 persen per tahun, dari 70,86 pada tahun 2021 menjadi 73,97 pada tahun 2025. Peningkatan IPM Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025 terjadi pada semua dimensi, baik umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Pertumbuhan IPM Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025 mengalami percepatan dari tahun sebelumnya. Seluruh dimensi pembentuk IPM mengalami peningkatan.
23 Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, bayi yang lahir pada tahun 2025 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 72,60 tahun, meningkat 0,35 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir pada tahun sebelumnya. Sumber data umur harapan hidup saat lahir menggunakan hasil Long Form SP2020 (SP2020-LF). Pada dimensi pengetahuan, Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk umur 7 tahun meningkat 0,01 tahun dibandingkan tahun sebelumnya, dari 13,98 menjadi 13,99 tahun, sedangkan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk umur 25 tahun ke atas meningkat 0,34 tahun, dari 7,87 tahun menjadi 8,21 tahun pada tahun 2025. Sumber data HLS dan RLS menggunakan hasil Susenas Maret. Dimensi standar hidup layak yang diukur berdasarkan rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun (yang disesuaikan) meningkat 316 ribu rupiah (2,72 persen) dibandingkan tahun sebelumnya. Sumber data pengeluaran riil per kapita per tahun menggunakan hasil Susenas Maret. Sejalan dengan pertumbuhan IPM Provinsi NTB pada tahun 2025, secara umum seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTB juga mengalami peningkatan capaian IPM. Wilayah yang mengalami peningkatan IPM terbesar pada tahun 2025 adalah Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Bima yaitu berturut-turut mencapai 1,44 persen dan 1,38 persen. Sedangkan wilayah yang mengalami peningkatan IPM yang terendah pada tahun 2025 yaitu Kota Bima, yaitu sebesar 0,63 persen. Faktor Utama yang mempengaruhi IPM Provinsi NTB a. Perbaikan Dimensi Pendidikan • Rata-rata Lama Sekolah naik signifikan (+0,34 tahun). • Efek belanja pendidikan dan peningkatan akses sekolah menengah. b. Peningkatan Standar Hidup Layak • Pengeluaran riil per kapita naik 2,72%, sejalan dengan Kenaikan upah buruh dan Pertumbuhan konsumsi rumah tangga (+4,18%) c. Perbaikan Dimensi Kesehatan• Harapan hidup naik menjadi 72,60 tahun. • Akses layanan kesehatan membaik seiring dukungan fiskal dan infrastruktur dasar. 2.2.2 Tingkat Kemiskinan Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan. Garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Grafik 2-5 Perbandingan IPM NTB dengan Nasional dari tahun 2021-2025Sumber: BPS Provinsi NTB 70,86 71,65 72,37 73,1 73,9773,16 73,77 74,39 75,0275,92021 2022 2023 2024 2025NTB Nasional
24 Grafik 2-6 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin NTB Tahun 2015 s.d. 2025Sumber: BPS Provinsi NTB Persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 11,38 persen, menurun 0,40 persen poin terhadap Maret 2025 dan menurun 0,53 persen poin terhadap September 2024. Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 637,18 ribu orang, menurun 17,39 ribu orang terhadap Maret 2025 dan menurun 21,42 ribu orang terhadap September 2024. Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2025 sebesar 11,70 persen,mengalami penurunan dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 12,02 persen. Sementara itu,persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2025 sebesar 11,02 persen, menurun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 11,51 persen. Dibanding Maret 2025, jumlah penduduk miskin September 2025 perkotaan mengalami penurunan sebanyak 3,74 ribu orang (dari 353,68 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 349,94 ribu orang pada September 2025). Sementara itu, pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin perdesaan menurun sebanyak 13,65 ribu orang (dari 300,89 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 287,24 ribu orang pada September 2025). Garis Kemiskinan pada September 2025 tercatat sebesar Rp575.856/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp436.593 (75,82 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp139.263 (24,18 persen). Pada September 2025, rata-rata rumah tangga miskin di Nusa Tenggara Barat memiliki 4,37 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp2.516.491/rumah tangga miskin/bulan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode Maret 2025 September 2025 antara lain adalah: a. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan PDRB NTB triwulan III-2025 tanpa sektor pertambangan sebesar 7,86 persen menunjukkan bahwa sektor-sektor non-tambang seperti pertanian, perdagangan, pariwisata, dan industri pengolahan mengalami kinerja pertumbuhan yang kuat. 735,3 731,94744,69751,23709,01658,6 654,57637,1814,14 13,83 13,6813,8212,9111,91 11,78 11,380246810121416580600620640660680700720740760Mar'21 Sep'21 Mar'22 Mar'23 Mar'24 Sep'24 Mar'25 Sep'25Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin NTBTahun 2021 s.d. 2025Jumlah Penduduk Miskin (Ribu Jiwa) Jumlah Penduduk Miskin (Persen)
25 b. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Meningkat Konsumsi masyarakat NTB tumbuh 4,51 persen (y-on-y), menopang pertumbuhan perekonomian NTB dan menggambarkan daya beli masyarakat tumbuh positif. c. Proporsi Pekerja Formal Meningkat Peningkatan proporsi pekerja formal menjadi 31,58 persen pada Agustus 2025, lebih t inggi dibandingkan Agustus 2024. d. Peningkatan Luas Panen dan Produksi Padi Total luas panen padi subround III (September- Desember 2025) meningkat signifikan sebesar 36,92 persen, dengan produksi padi mencapai 89,20 ribu ton (meningkat 43,37 persen). Sebesar 32,50 persen penduduk miskin (Maret 2025) bekerja di sektor pertanian sehingga kondisi ini berkontribusi pada perbaikan kesejahteraan petani. e. Nilai Tukar Petani (NTP) Meningkat Persentase perubahan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi NTB September 2025 dibandingkan Maret 2025 meningkat sebesar 0,53 poin persen. f. Penyaluran bantuan sosial menunjukkan kinerja yang cukup baik. Program Sembakoterealisasi sebesar 93,1 persen dari kuota, sementara PKH telah menjangkau 219.364 KPM dengan nilai bantuan mencapai Rp156,94 miliar. Program Yatim Piatu (YAPI) juga terealisasi meskipun masih belum optimal. Berbagai bantuan ini berperan sebagai bantalan (shock absorber) bagi rumah tangga miskin dan rentan, khususnya dalam menghadapi f luktuasi harga dan tekanan ekonomi. g. Penguatan intervensi sosial melalui peningkatan cakupan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mulai beroperasinya Sekolah Rakyat di beberapa kabupaten/kota menunjukkan adanya upaya jangka pendek dan jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. h. Program bedah rumah tidak layak huni yaitu Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebanyak 1.610 unit rumah pada periode September-Desember 2025 yang dilaksanakan kementerian PKP Nusa Tenggara I untuk penduduk. Program bedah rumahlainnya yaitu program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) dilaksanakan Pemprov NTB melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinas PKP) sebanyak 174 unit rumah dan program Bedah Rumah dari BAZNAS tahun 2025 untuk meningkatkan kualitas perumahan penduduk miskin. i. Operasi pasar murah yang digencarkan Pemda bersama Bulog turut membantu mengendalikan inflasi, sehingga daya beli masyarakat miskin tetap terjaga. 2.2.3 Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini)Tingkat ketimpangan distribusi pendapatan dalam suatu wilayah dapat diukur dengan menggunakan Gini Ratio, yang dihitung berdasarkan Kurva Lorenz. Koefisien Gini membandingkan distribusi kumulatif pengeluaran aktual terhadap distribusi pengeluaran yang merata dengan rentang 0 (pemerataan sempurna) hingga 1 (ketimpangan sempurna).Semakin tinggi nilai gini ratio berarti semakin tinggi tingkat ketimpangan. Selain itu, Bank Dunia mengklasifikasikan distribusi pengeluaran berdasarkan proporsi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah, yang dibagi menjadi kategori ketimpangan rendah (Gini Ratio < 0,35), ketimpangan sedang (0,35 – 0,45), dan ketimpangan tinggi (> 0,45). Gini Ratio merupakan salah satu indikator utama dalam menilai kesenjangan ekonomi di daerah dan menjadi fokus utama dalam kebijakan fiskal serta program pembangunan ekonomi inklusif.
26 Grafik 2-7 Perkembangan Gini Ratio Nasional dan NTB Tahun 2021-2025 Sumber: BPS Provinsi NTBPada September 2025, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Nusa Tenggara Barat yang diukur oleh gini ratio adalah sebesar 0,364. Angka ini menurun 0,005 poin jika dibandingkan dengan gini ratio Maret 2025 yang sebesar 0,369 dan sama jika dibandingkan dengan gini ratio September 2024 yang sebesar 0,364. Gini ratio di daerah perkotaan pada September 2025 tercatat sebesar 0,386, turun dibanding gini ratio Maret 2025 yang sebesar 0,397 dan gini ratio September 2024 yang sebesar 0,388. Gini ratio di daerah perdesaan pada September 2025 tercatat sebesar 0,328, naik dibanding gini ratio Maret 2025 dan September 2024 yang masing-masing sebesar 0,323 dan 0,320. Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 19,23 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada September 2025 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci berdasarkan daerah, di daerah perkotaan tercatat sebesar 18,50 persen, sedangkan di daerah perdesaan sebesar 20,51 persen. Ini menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan pengeluaran baik di perkotaan maupun perdesaan termasuk kategori ketimpangan rendah. Pada September 2025, provinsi dengan gini ratio tertinggi adalah Papua Selatan, yaitu sebesar 0,426. Sementara itu, provinsi dengan gini ratio terendah tercatat di Kepulauan Bangka Belitung, yaitu sebesar 0,214 (Tabel 2). Jika dibandingkan dengan gini ratio nasional yang sebesar 0,363; terdapat sembilan provinsi dengan angka gini ratio yang lebih tinggi, yaitu Papua Selatan (0,426), DKI Jakarta (0,423), Daerah Istimewa Yogyakarta (0,414), Papua (0,397), Jawa Barat (0,397), Kepulauan Riau (0,385), Papua Barat (0,383), Gorontalo (0,383), dan Nusa Tenggara Barat (0,364). Beberapa faktor utama yang mempengaruhi ketimpangan ekonomi (Gini Ratio): 1. Kesenjangan Perkotaan–PerdesaanKetimpangan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan karena perbedaan akses pekerjaan formal, pendapatan, dan aktivitas ekonomi bernilai tambah. 2. Struktur Distribusi PengeluaranPengeluaran masih terkonsentrasi pada kelompok 20 persen teratas, meskipun porsi 40 persen terbawah sudah berada pada kategori ketimpangan rendah. 3. Perbedaan Karakter Ekonomi Wilayah0,3810,3840,373 0,374 0,3750,3610,3640,3690,3640,3840,3810,3840,3810,3880,381 0,3790,3750,3630,3450,350,3550,360,3650,370,3750,380,3850,390,395Maret Sept Maret Sept Maret Maret Sept Maret Sept2021 2022 2023 2024 2025NTB INDONESIA
27 Perdesaan relatif lebih merata secara pengeluaran, namun tingkat kesejahteraannya masih rendah dan belum ditopang pendapatan tinggi. 4. Dominasi Sektor Informal dan MusimanKetergantungan pada sektor pertanian, pariwisata, dan usaha informal menyebabkan pendapatan rumah tangga berfluktuasi dan memengaruhi ketimpangan.5. Konsentrasi Manfaat Pertumbuhan EkonomiPertumbuhan ekonomi cenderung lebih cepat dinikmati kelompok menengah-atas dan wilayah perkotaan, sehingga menahan penurunan ketimpangan lebih lanjut. 2.2.4 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat PengangguranBekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalamseminggu terakhir. Untuk melihat struktur penduduk bekerja maka perlu diperhatikan karakteristiknya. Karakteristik penduduk bekerja akan disajikan berdasarkan lapangan usaha, status pekerjaan, pendidikan tertinggi yang ditamatkan, dan jumlah jam kerja selamaseminggu terakhir. Keadaan ketenagakerjaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada November 2025 menunjukkan perkembangan yang relatif stabil dengan sejumlah dinamika penting pada struktur pasar kerja. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah penduduk usia kerja mencapai 4,23 juta orang, meningkat dibandingkan Agustus 2025 seiring pertumbuhan penduduk. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja tercatat sebanyak 3,24 juta orang, sementara 994 ribu orang tergolong bukan angkatan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 76,50 persen, mengalami kenaikan 0,39 persen poin dibandingkan periode sebelumnya, yang mencerminkan meningkatnya keterlibatan penduduk usia kerja dalam aktivitas ekonomi. Jumlah penduduk yang bekerja pada November 2025 tercatat sebanyak 3,14 juta orang, bertambah 29,57 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Peningkatan penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi pada lapangan usaha konstruksi, diikuti oleh penyediaan akomodasi dan makan minum serta jasa lainnya. Struktur ketenagakerjaan NTB masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, disusul sektor perdaganganbesar dan eceran serta industri pengolahan. Kondisi ini menggambarkan peran signifikan sektor primer dan sektor jasa dalam menopang kesempatan kerja di daerah. Dilihat dari status pekerjaan, penduduk bekerja paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai. Proporsi pekerja formal mengalami peningkatan menjadi 33,45persen, sedangkan pekerja informal masih mendominasi dengan porsi 66,55 persen. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas kesempatan kerja, meskipun tantangan formalisasi tenaga kerja masih cukup besar. Dari sisi pendidikan, penduduk bekerja masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah, namun terjadi peningkatan proporsi tenaga kerja berpendidikan menengah kejuruan serta diploma dan universitas, yang mencerminkan perbaikan kualitas sumber daya manusia secara bertahap. Berdasarkan jam kerja, sebagian besar penduduk bekerja tergolong pekerja penuh, namun proporsi pekerja tidak penuh meningkat menjadi 44,52 persen. Peningkatan initerutama berasal dari bertambahnya pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya tantangan dalam penciptaan pekerjaan dengan jam kerja yang optimal dan berkelanjutan.
28 Grafik 2-8 TPT NTB dan Nasional Tahun 2021-2025 dan Jumlah PengangguranSumber: BPS Provinsi NTB Pengangguran adalah penduduk yang tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja/sudah siap berusaha tetapi belum mulai bekerja/berusaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putusasa). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB pada November 2025 tercatat sebesar 3,05 persen, menurun tipis dibandingkan Agustus 2025. TPT laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, dan TPT di wilayah perkotaan masih berada di atas perdesaan. Berdasarkan tingkat pendidikan, pengangguran tertinggi terdapat pada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan. Secara keseluruhan, kondisi ketenagakerjaan NTB menunjukkan perbaikan moderat, namun tetap memerlukan penguatan kualitas lapangan kerja, peningkatan produktivitas, serta perluasan kesempatan kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Faktor utama yang mempengaruhi Tingkat Pengangguran (TPT) a. Ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan pasar kerjaTingginya TPT pada lulusan SMK menunjukkan adanya mismatch antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha sehingga dibutuhkan pelatihan lanjutan untuk lulusan SMK agar keterampilan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. b. Dominasi sektor ekonomi tradisionalStruktur ekonomi yang masih bertumpu pada pertanian dan sektor informal membatasi penyerapan tenaga kerja berpendidikan menengah dan tinggi. c. Terbatasnya lapangan kerja formalPertumbuhan kesempatan kerja formal belum sebanding dengan pertambahan angkatan kerja, khususnya pencari kerja baru. d. Konsentrasi pencari kerja di wilayah perkotaanPersaingan kerja yang lebih ketat dan preferensi terhadap pekerjaan formal menyebabkan TPT perkotaan lebih tinggi dibanding perdesaan. 100,1587,01102,6397,93 98,723,973,013,922,893,732,83,32,733,22 3,06 3,056,266,495,83 5,865,45 5,324,82 4,91 4,76 4,85 4,7401234567020406080100120Feb Agst Feb Agst Feb Agst Feb Agst Feb Agst Nov2021 2022 2023 2024 2025Pengangguran (Ribu Orang) TPT NTB (%) TPT NAS (%)
29 e. Perbedaan karakteristik angkatan kerja menurut genderPartisipasi laki-laki yang lebih tinggi dalam pasar kerja menyebabkan TPT laki-laki relatif lebih besar dibanding perempuan. f. Masa transisi lulusan baru ke dunia kerjaAngkatan kerja baru membutuhkan waktu untuk memperoleh pekerjaan, sehingga sementara tercatat sebagai pengangguran terbuka. 2.2.5 Nilai Tukar Petani (NTP)Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. NTP Desember 2025 sebesar 134,14 atau naik 4,50 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 5,76 persen, lebih t inggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 1,21 persen. NTP bernilai di atas 100 untuk 5 (lima) subsektor, yaitu Subsektor Tanaman Pangan sebesar 125,53; Subsektor Hortikultura sebesar 255,85; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 102,59; Subsektor Peternakan sebesar 112,94; dan Subsektor Perikanan sebesar 106,82. Pada Desember 2025 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Provinsi NTB sebesar 1,85 persen yang disebabkan oleh kenaikan indeks pada kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau; kelompok Pakaian dan Alas Kaki; kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga; kelompokPerlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga; kelompok Kesehatan; kelompok Transportasi; kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan; serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi NTB Desember 2025 sebesar 139,66 atau naik 5,84 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. Grafik 2-9 Nilai Tukar Petani Provinsi NTB Tahun 2025Sumber: BPS Provinsi NTB 134,14100105110115120125130135140JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGUST SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGUST SEP OKT NOV DES2024 2025
30 Dari 38 provinsi, sebanyak 23 provinsi mengalami kenaikan NTP, sedangkan 15 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP. Peningkatan NTP tertinggi di 3 (tiga) provinsi yaitu Provinsi Gorontalo 5,60 persen, Provinsi Nusa Tenggara Barat 4,50 persen, dan Provinsi Jawa Timur 3,59 persen. Sedangkan penurunan NTP terdalam terjadi di Provinsi Sulawesi Utara yang turun 6,16 persen. Faktor utama yang mempengaruhi Nilai Tukar Petani (NTP) a. Kenaikan Harga Komoditas Pertanian Utama • Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah (Rp6.500/kg) dan jagung (Rp5.500/kg) sejak Februari 2025 meningkatkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It). • Lonjakan produksi padi (+55,43%) dan jagung (+43,88%) memperkuat posisi tawar petani di pasar. b. Inflasi yang Relatif Terkendali • Inflasi NTB Juni 2025 sebesar 2,51% (y-on-y), masih dalam rentang sasaran. • Kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) lebih rendah dibanding kenaikan It, sehingga NTP naik. 2.2.6 Nilai Tukar Nelayan (NTN)Pada bulan Desember 2025, nilai NTN sebesar 107,98 atau turun sebesar 0,57 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan It sebesar 0,40 persen, lebih rendah dari kenaikan Ib sebesar 0,97 persen. Kenaikan nilai It disebabkan oleh naiknya harga pada kelompok Penangkapan di Perairan Umum (khususnya komoditas Mas/Karper/Tombro) sebesar 0,12 persen dan kelompok Penangkapan di Laut (khususnya komoditas Tenggiri, Kuwe, Cakalang, Tongkol, Cumi-Cumi, Gurita, Udang Laut, Rumput Laut, Kembung, Baronang, Kakap, Kepiting Laut, Rajungan, Pari, Kerapu, Teripang) sebesar 0,40 persen. Sedangkan kenaikan nilai Ib disebabkan naiknya Indeks Konsumsi Rumah Tangga sebesar 1,68 persen dan Indeks BPPBM sebesar 0,33 persen. 2.3 Reviu Capaian Kinerja Makro Kesra Regional Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan target indikator makro ekonomi dan kesejahteraan rakyat tercantum dalam RPJMD 2025-2029 dan RKPD 2025. RPJMD ditetapkan dengan mempertimbangkan potensi, permasalahan, isu strategis, peluang pembangunan daerah dengan memperhatikan visi, misi dan arah pembangunan jangka menengah nasional. Reviu capaian makro kesra tahun 2025 di Provinsi NTB dilakukan dengan membandingkan target-target setiap variabel makro ekonomi dan pembangunan yang ditetapkan dalam RPJMD 2025-2029 dengan capaian pada periode tersebut. Target indikator makro ekonomi dan kesejahteraan ini sejalan dengan sasaran pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025-2029, yaitu meningkatkan pendapatan per kapita menuju setara negara maju, kepemimpinan dan pengaruh di dunia internasional meningkat, kemiskinan menurun dan ketimpangan berkurang, daya saing SDM meningkat, serta intensitas emisi GRK menurun menuju net zero emission.