- Silo dibuat pada tempat yang agak tinggi, agar tidak mudah
tergenang air di musim hujan. Silo tanah dapat dibuat berbagai
ukuran seperti lebar 1 meter, panjang 2 meter dan dalam 1 meter.
- Dibuat dekat kandang sehingga memudahkan untuk pemberiannya
pada ternak.
Bahan-bahan yang digunakan.
- 1.000 kg Jerami padi kering udara
- 60 kg urea
- 400 liter air
Cara Pengerjaannya :
1. Pada dasar silo tanah dihamparkan plastik. Plastik juga dapat
diletakkan pada sisi-sisinya tapi yang penting adalah pada dasar
dari silo tersebut, agar cairan urea tidak langsung meresap ke
dalam tanah. Ujung-ujung plastik dibiar-kan berada diatas tanah
dan diganjal dengan batu.
2. Jerami dimasukan ke dalam lubang di atas plastik sedikit demi
sedikit dan disusun melintang semua agar mudah dipadatkan.
Untuk memadatkan jerarni tersebut dapat diinjak-injak.
3. Jerami disirami dengan larutan urea secara merata.
4. Setelah selesal penyiraman dengan larutan urea, bagian plastik yang
berada : diluar silo di lipat hingga menutupi seluruh permukaan
jerami. Selesai penutupan permukaan, lalu lobang di timbun
dengan tanah di atasnya.
5. Silo tanah dibiarkan untuk proses amoniasi, kira-kira satu bulan.
6. Setelah satu bulan, silo sudah bisa dibongkar dan jerami disimpan
di bawah atap atau tempat penyimpanan yang teduh. Setelah silo
dibongkar, dapat dipakai lagi untuk pembuatan amoniasi jerami
berikutnya.
B. Pakan Konsentrat
Pakan konsentrat disebut juga pakan penguat adalah bahan pakan
atau campuran dari beberapa bahan pakan yang mengandung zat-zat
makanan utama (protein atau karbohidrat) dalam jumlah yang tinggi,
dan kandungan serat kasarnya kurang dari 18 persen. Pakan konsentrat
37Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
mengandung kadar air yang rendah.. Sifat umum pakan konsentrat
adalah kandungan total digestiblel nutrien (TDN) yang tinggi, protein
atau karbohidrat yang yang tinggi, serta juga mineral dan vitamin yang
tinggi. Pakan konsentrat terdiri atas : bahan-bahan butiran, umbi-umbian,
hasil ikutan pengolahan pangan nabati, dan hasil ikutan pengolahan
pangan hewani. Umumnya pakan konsentrat diberikan untuk ternak
monogastrik dan sebagain kecil untuk pakan ternak ruminansia, terutama
diberikan pada masa-masa produksi terutama pada ternak perah atau
ternak potong yang dikandangkan ( fattening ) atau pada ternak padang
penggembalaan dengan kondisi pastura yang jelek.
Pakan konsentrat nabati
Pakan konsentrat nabati merupakan sumber energi utama
untuk ternak non ruminansia disamping juga sebagai sumber protein.
Pakan konsentrat nabati diklasifikasikan sebagai “sumber protein”
jika kandungan protein kasarnya lebih besar dari 20 persen dengan
kandungan serat kasarnya kecil atau sama dengan 18 persen.
Pakan konsentrat nabati sumber energi
Yang termasuk kelompok ini adalah : pakan butir-butiran serealia,
umbi-umbian, gula, minyak nabati, dan hasil ikutan pabrik pengolahan
pangan dan beberapa jenis lainnya . Jenis butiran serealia yang terma-
suk pakan konsentrat nabati adalah : jagung, sorgum, gandum, oat, dan
lain-lain. Umumnya butiran serealia ini juga dikonsumsi oleh manusia,
bahkan menjadi bahan makanan utama, sehingga penggunaannya jarang
diberikan pada ternak atau dengan jumlah yang terbatas. Pada ternak
monogastrik penggunaan jagung sangat diperlukan sebagai sumber en-
ergi, protein dan vitamin, sedangkan pada ternak ruminansia hnya diber-
ikan pada ternak sapi perah pada periode laktasi.
Beberapa jenis umbi-umbian yang merupakan sumber energi ada-
lah : ubi kayu ( gaplek), ubi jalar, kentang, gadung, bengkuang dan lain-lain.
Umbi-umbian umumnya kaya akan pati (karbohidrat) sumber energy, tetapi
kandungan proteinnya rendah. Empelur batang sagu juga sering diberikan
pada ternak kuda dan sapi, sebab kaya karbohidrat sebagai sumber energi.
Minyak nabati yang biasa digunakan sebagai sumber energi adalah
minyak kelapa, minyak sawit, minyak kedelai, dan lain-lain, namun jarang
diberikan pada ternak ruminansia. Minyak kadang-kadang diberikan
38 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
pada ternak ruminansia dalam jumlah sedikit, untuk meningkatkan
palatabilitas ransum.
Hasil ikutan pengolahan pangan nabati yang digunakan sebagai
sumber energi adalah dalam bentuk : onggok (ampas pembuatan
tepung tapioka), dedak padi, dedak gandum, dan lain-lain. Dedak padi
merupakan hasil ikutan pada penggilingan padi, kaya akan energi dan
vitamin B. Dedak padi terdiri atas dedak halus, dedak kasar, bekatul, dan
menir.
Pakan konsentrat nabati sumber protein
Pakan konsentrat nabati sumber protein adalah jenis kacang-
kacangan seperti kacang kedele, kacang hijau, kacang tanah, kacang
buncis, dan hasil ikutan pabrik pengolahan pangan seperti bungkil
kedele, bungkil kacang tanah, dan lain-lain. Kacang-kacangan dan bungkil
dari kacang-kacangan dikategorikan sebagai sumber protein, karena
kandungan protein kasarnya lebih besar dari 20 persen serta kandungan
serat kasarnya kurang dari 18 persen. Bungkil biasanya mengandung
kadar lemak yang lebih rendah dari pada butiran/kacangnya.
Pakan konsentrat hewani
Pakan konsentrat hewani umumnya merupakan sumber utama
protein, sumber mineral atau vitamin seperti tepung daging, tepung
tulang, tepung darah, tepung bulu, tepung ikan, bubuk susu skim, whey
dan kepala susu, dan lain-lain. Umumnya pakan konsentrat hewani
diberikan pada ternak monogastrik dan jarang diberikan pada ternak
ruminansia.
Pakan lain
Pakan lain yang termasuk kelompok ini adalah bahan pakan yang
tidak tergolong hijauan dan tidak pula tergolong konsentrat. Bahan
pakan yang dinyatakan tidak tergolong konsentrat ini adalah karena :
1. Kandungan protein atau karbohidratnya rendah, 2. Kandungan serat
kasarnya tinggi, besar dari 18 persen. Beberapa contoh dari kelompok
ini adalah ampas tahu, ampas sagu, ampas kecap, bostel beer, molasses,
tepung kepala udang, tepung kulit udang, biji kapas, biji karet, biji kapuk,
dan lain-lain. Jenis bahan pakan ini juga jarang diberikan pada ternak
ruminansia.
39Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
C. Kualitas Pakan Dan Faktor Pembatasnya
Pakan Hijauan
Faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan spesies-spesies
rumput dan leguminosa untuk ditanam pada padang penggembalaan
adalah : 1). produksi, 2). palatabilitas, 3).nilai gizi dan 4). adaptasi
terhadap keadaan tanah dan iklim setempat.
1). Produksi
Produksi atau atau hasil rumput/hijauan ditentukan oleh : :
a. Persistensi (daya tahan) tanaman, yaitu kemampuan tanaman
untuk bertahan hidup dan berkembang biak secara vegetatif.
b. Agresivitas (daya saing) tanaman, yaitu kemampuan tanaman
dalam memenangkan persaingan dengan spesies-spesies tanaman
lain yang tumbuh bersama.
c. Kemampuan tumbuh kembali (regrowth) setelah injakan oleh
ternak atau penggembalaan yang berat.
d. Daya tahan terhadap kekeringan dan udara dingin.
e. Kemampuan produksi musiman
f. Kemampuan untuk menghasilkan biji yang banyak yang dapat
tumbuh baik dan dapat di kembang biakkan secara vegetative.
g. Kesuburan tanah.
h. Iklim yang sesuai
2). Palatabilitas
Palatabilitas pakan atau kesukaan bagi ternak adalah hasil
keseluruhan faktor-faktor yang menentukan, sampai tingkat mana suatu
makanan menarik atau disukai oleh ternak. Palatabilitas dapat dianggap
sebagai penghubung antara rumput dengan hewan yang merumput.
Karena bersifat relatif, palatabilitas dipengaruhi oleh banyak faktor
antara lain kesehatan hewan, fase pertumbuhan tanaman, zat toksik yang
terdapat pada tanaman, bau, warna tanaman, kadar air atau kesempatan
memilih tanaman yang lain, dan tatalaksana serta pemupukan tanaman.
Umumnya ternak ruminansia lebih menyukai rumput segar dan
rumput varietas lokal, walaupun nilai gizi rumput lokal tersebut lebih
40 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
rendah. Palatabilitas dapat diuji dalam suatu penelitian sistem prasmanan,
yang terdiri atas kelompok-kelompok petak yang ditanami dengan
berbagai spesies hijauan yang berbeda. Ternak diberikan kebebasan
untuk merumput menurut seleranya di petak-petak tersebut. Waktu
yang dihabiskan ditiap-tiap petak atau jumlah hijauan yang direnggut
pada setiap petak, memberikan indeks palatabilitas relatif dari tiap-tiap
spesies rumput. Para ahli telah membuktikan bahwa umur tanaman,
intensitas penggembalan, kecepatan pemulihan ( grass recovery),
ketahanan terhadap kekeringan, spesies-spesies yang tumbuh bersama
di dalam penanaman campuran, makanan yang diberikan sebelumnya,
jenis ternak dan spesies hewan, umumnya mempengaruhi palatabilitas.
3). Nilai Gizi.
Nilai gizi hijauan didasari pada komposisi kimia dan daya cernanya.
Selain itu, pendugaan atas angka perbandingan daun dan batang/ranting
adalah penting dan dapat dipakai untuk menduga nilai gizi hijauan
tersebut secara praktis. Hal ini karena nilai gizi daun lebih tinggi daripada
batang. Nilai gizi hijauan juga dipengaruhi oleh fase pertumbuhan pada
saat pemotongan atau grazing serta managemen pemeliharaan dan
pemupukan. Pemupukan dengan urea dapat meningkatkan kandungan
nitrogen hijauan, mempercepat pertumbuhan, serta meningkatkan
protein hijauan. Kandungan bahan kering rumput di daerah tropika
lebih tinggi dari pada rumput-rumput di daerah beriklim sedang, namun
dengan kandungan gizi yang lebih rendah. Nilai Gizi hijauan biasanya di
ukur melalui analisis Van Soest ( analisa serat ) yang melipuiu kandungan
neutral detergen fiber, acid detergen fiber, sellulosa, lignin, Silika atau
acid insoluble ash.
Pakan Konsentrat.
Penentuan nilai gizi pakan konsentrat didasari pada komposisi
kimia dan daya cerna dari pakan konsentrat tersebut terutama kandungan
air, energi, protein, mineral dan vitamin yang diperoleh melalui metode
analisis proksimat. Penentuan kadar air penting bagi pakan konsentrat
terutama untuk penyimpanannya agar tidak cepat busuk dan berjamur.
Persentase kadar abu menyatakan persentase jumlah zat-zat an-organik
( total mineral) yang dikandung pakan tersebut. Nilai gizi yang dianalisa
umumnya adalah kandungan air, nitrogen, lemak, bahan ekstrak yang
tidak mengandung nitrogen (BETN), kadar abu, mineral dan vitamin.
41Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Faktor pembatas dalam penggunaan pakan konsentrat adalah adanya zat
anti nutrisi (toksik) yang terkandung didalam pakan tersebut, sehingga
membatasi jumlah pemakaiannnya/ penggunaanya dalam ransum.
Beberapa zat anti nutrisi yang dikandung oleh berbagai pakan konsentrat
adalah mimosin, linamarin, asam sianida, gossypol, anti tripsin, tannin,
dan lain-lain. Mimosin biasanya terdapat pada daun dan biji petai cina,
linamarin pada daun dan umbi ubi kayu dan gossypol pada bungkil biji
kapuk. Anti tripsin ditemui pada biji kedele mentah, dan tannin banyak
dijumpai pada berbagai pakan seperti biji alpukat, sorgum, biji duren, biji
karet, hijauan, dan lain.
D. Peran Bahan Pakan
Secara umum peran bahan pakan bagi ternak ruminansia adalah
sebagai sumber energi, sumber protein, sumber mineral dan vitamin
Sebagai Sumber energi
Termasuk dalam golongan pakan sebagai sumber energi adalah
semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang
dari 20 persen, dan kandungan serat kasarnya kurang dari 18 persen.
Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dapat dibedakan
menjadi empat kelompok, yaitu: (1). Kelompok serealia/biji-bijian seperti
jagung, gandum, dan sorgum, (2). Kelompok hasil sampingan serealia
(limbah penggilingan) seperti dedak, (3). Kelompok umbi-umbian
seperti ketela rambat dan ketela pohon dan (4). Kelompok hijauan yang
terdiri dari beberapa macam rumput seperti rumput lapangan, rumput
potongan,dan leguminosa/.
Sebagai Sumber protein
Golongan bahan pakan yang termasuk kelompok ini meliputi semua
bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein 20 persen atau
lebih yang umumnya berasal dari hewan atau sebagian tanaman. Golongan
ini dibedakan lagi menjadi 2 kelompok yaitu : (1). Kelompok hijauan, yang
terdiri dari daun-daunan muda dan daun leguminosa seperti daun ubi
kayu, daun lamtoro, daun turi, daun gamal dan bungkil sisa pengolahan
hasil tanaman. (2). Kelompok bahan pakan yang dihasilkan dari hewan
seperti tepung ikan, tepung darah, tepung daging dan sebagainya.
42 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Sebagai Sumber Mineral dan Vitamin
Hampir semua bahan pakan, baik yang berasal dari tanaman maupun
hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi
yang sangat bervariasi, tergantung pada tingkat pemanenan, umur,
pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan
batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi
dan penyimpanan terhadap bahan pakan, juga akan mempengaruhi
kandungan vitamin dan mineralnya. Bahan-bahan pakan sebagai sumber
vitamin dan mineral sudah banyak dijual di pasaran bebas yang dikemas
khusus dalam rupa bahan olahan yang siap untuk digunakan sebagai
campuran pakan, seperti premix, cattle mix. kapur, tepung tulang,
belerang dan beberapa sumber mineral lainnya.
43Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
E. Beberapa zat anti nutrisi pada bahan pakan ternak ruminansia.
Zat anti nutrisi atau toksik pada beberapa bahan pakan ternak
ruminansia dapat mempengaruhi produktivitas dan kesehatan ternak
tersebut. Beberapa zat anti nutrisi tersebut adalah :
Asam sianida (HCN)
Asam sianida umumnya terdapat pada rumput padangan seperti
rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria, dan rumput brachiaria.
Selain itu juga terdapat pada beberapa jenis leguminosa seperti gamal
dan daun singkong. Kandungan HCN pada rumput padangan, leguminosa
atau daun singkong sangat bervariasi. Berdasarkan kandungan HCNnya
bahan pakan dapat dibagi menjadi 5 kelompok yaitu :
a) < 250 ppm : rendah sekali dan tidak berbahaya
b) 250 – 500 ppm : rendah dan tidak berbahaya
c) 500 – 750 ppm : sedang, namun sudah diragukan
d) 750 – 1200 ppm : tinggi dan berbahaya
e) > 1200 ppm : sangat tinggi dan sangat berbahaya
Level toksik HCN pada ternak ruminansia adalah 2.2 mg/kg berat
badan pada sapi dan 2.4 mg / kg berat badan pada kambing dan domba.
Kandungan HCN pada bahan pakan / ransum tidak selalu berbahaya
bagi ternak ruminansia, sebab HCN dapat berikatan dengan gula dan
membentuk dhurin atau glukosida yang tidak toksik. Namun didalam
rumen bisa saja dhurin yang telah terbentuk dipecah lagi menjadi HCN
dan glukosa. Secara umum keracunan HCN pada ternak sangat tergantung
pada :
a) Kandungan HCN dalam ransum
b) Jumlah ransum yang diberikan, dan
c) Kondisi ternak.
Pengaruh HCN pada ternak ruminansia dapat dieleminir dengan
penambahan mineral Sulfur (S), sebab Sulfur akan mengurangi
pengaruh racun HCN melalui reaksi detoksifikasi dengan bantuan enzim
rhodanase. HCN yang terbentuk akan dikeluarkan melalui urine. Selain
itu penambahan vitamin B12 juga akan mengurangi toksisitas HCN dengan
cara mengubah HCN melalui jalur cyanocobalamine. Amygdalin adalah
44 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
suatu glukosida dari benzaldehid cyanohidrin ( mandelonitrile) yang bila
terhidrolisa akan menghasilkan glukosa, benzaldehid dan HCN.
Asam Nitrat ( HNO3 )
Asam nitrat terdapat pada semua pakan dengan kandungan NO3
nya sangat tergantung pada kadar NO2 dan NO3 yang terdapat di dalam
tanah. Asam nitrat ini terdapat terutama pada daun tanaman makanan
ternak, sedangkan pada bagian batangnya, kandungan asam nitrat ini
rendah. Kandungan 2 % asam nitrat pada pada tanaman makanan terna,
termasuk level yang membahayakan bagi ternak ruminansia. Batas
keracunan atau toksisitas asam nitrat pada ternak ruminansia adalah 1
g NO3/kg berat badan. Keracunan asam nitrat pada ternak ruminansia
adalah disebabkan terjadinya penimbunan NO3 di dalam rumen. Di dalam
rumen NO3 yang tertimbun akan dipecah oleh mikroorganisme rumen
dmaernajhadaikNanO2mdeanngmikaastuOkkkseigdeanla(mOa2l)irsaenhdinagragha.mNeOn2iymabnugltkearndadpeafitsdiei ndsailaOm2.
Defisiensi O2 inilah yang menimbulkan keracunan pada ternak.
Asam Oksalat
Asam oksalat merupakan senyawa asam organik sederhana yang
banyak terdapat dalam tanaman, termasuk didalam tanaman makanan
ternak. Asam oksalat di hasilkan melalui proses mretabolisme dalam
tanaman. Dengan demikian hampir semua tanaman mengandung asam
oksalat yang kadarnya tergantung pada kadar fisiologis tanaman. Asam
oksalat banyak terdapat pada bagian daun. Salah satu jenis hjauan pakan
ternak yang mengandung asam oksalat tinggi adalah rumput setaria sp.
Asam oksalat pada tanaman dapat dikelompokkan menjadi 2 macam.
a) Asam oksalat yang larut dalam air.
- Banyak terdapat di daun
- Berbentuk garam seperti Na-oksalat, K-oksalat, ataupun NH4-
oksalat
- Mudah di absorbsi dan masuk kedalam peredaran darah.
Akibatnya Na-oksalat diubah menjadi Ca-oksalat sehingga akan
terjadi defisiensi kalsium (Ca) di dalam darah. Keadaan inilah yang
dapat menimbulkan keracunan pada ternak ruminansia.
45Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
b) Asam oksalat yang tidak larut dalam air.
- Lebih banyak terdapat pada batang tanaman
- Berbentuk garam oksalat
- Mudah menguap dan tidak mudah diabsorpsi
Asam oksalat pada tanaman dapat meracuni, menghambat
pertumbuhan, merusak organ-organ tubuh ternak dan bahkan
menimbulkan kematian pada ternak ruminansia.
Gosipol
Gosipol dengan rumus kimia C30H30O8 adalah padatan berbentuk
hablur kuning dengan bobot molekul 518.5 dan pada umumnya banyak
terdapat pada bagian biji seperti pada biji kapas, biji kapuk ataupun biji
okra. Selain itu juga terdapat pada bagian lain dari tanaman seperti pada
batang, daun, benang sari dan kulit akar.
Gosipol yang terdapat pada biji kapas terdapat dua macam, yaitu :
a) Gosipol bebas yang bersifat racun, dan
b) Gosipol terikat yang tidak berbahaya ( misalnya berikatan dengan
senyawa FeSO4 ).
Gosipol memiliki gugus fungsional yang reaktif terhadap senyawa-
senyawa didalam tubuh ternak, terutama yang memiliki gugus amina
dan ion besi sehingga mengganggu reaksi biokimia tubuh. Gejala yang
ditimbulkan akibat keracunan gosipol antara lain menurunnya nafsu
makan, menurunnya bobot badan, menurunnya kadar Hb darah, atau
berkurangnya sel-sel darah merah di dalam tubuh. Racun gosipol dapat
dihilangkan dengan jalan ekstraksi dengan isopropanol.
Mimosin
Mimosin terutama terdapat tanaman leucaena leucocephala ( lamtoro
atau petai cina ) terutama pada bagian daun dan biji. Di beberapa
negara termasuk Indonesia, mimosin ternyata tidak menimbulkan
gangguan kesehatan ataupun keracunan pada ternak ruminansia.
Mimosin dapat dirombak oleh mikroorganisme rumen ternak
ruminansia menjadi 3-hydroxy-4 (IH) pyridone (DHP). Didalam daun
lamtoro segar, terdapat suatu enzim yang mampu merombak mimosin
menjadi DHP. DHP pada umumnya mempunyai derajat keracunan
46 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
yang lebih rendah dibandingkan dengan mimosin. Walaupun mimosin
tidak menimbulkan efek keracunan pada ternak ruminansia, namun
pemberian yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu
lama, dikhawatirkan akan menimbulkan keracunan atau gangguan
kesehatan. Oleh karena itu disarankan agar pemberian lamtoro
atau petai cina pada ternak ruminansia, dicampur dengan rumput
atau hijauan lainnya. Pemberian lamtoro dalam campuran hijauan
sebaiknya tidak lebih dari 40 persen.
Coumarin
Coumarin merupakan zat yang rasanya pahit, terdapat pada tanaman
terutama pada bagian daun dan batang. Tanaman Glirisidia maculata
atau gamal adalah salah satu tanaman pakan ternak ruminansia
yang banyak mengandung coumarin. Sebenarnya coumarin tidak
akan menimbulkan efek keracunan pada ternak ruminansia, kecuali
kalau sudah berubah menjadi hidroksi coumarin atau di coumarin.
Timbulnya efek keracunan ini karena terjadi defisiensi protrombin
dalam darah sehingga darah sukar membeku. Akibatnya timbul
pendarahan, bahkan kematian pada ternak.
Saponin
Saponin adalah glikosida yang terdapat pada berbagai varietas tanaman.
Saponin berasa pahit, yang mengakibatkan terjadinya hemolysis
dari sel-sel darah merah. Saponin sangat beracun bagi ternak-ternak
didaerah beriklim dingin. Saponin banyak terdapat pada tanaman pakan
ternak alfalfa ( Medicago sativa L ), dimana pada hidrolisa lengkap akan
menghasilkan sapogenin. Saponin dalam tanaman alfalfa adalah dalam
bentuk medicagenin acid 3-B-O-triglucoside.
Alkaloid
Alkaloid merupakan karbohidrat dengan sedikit unsur nitrogen.
Alkaloid umumnya terdapat pada ubi-ubian. Derajat keracunannya
tergantung pada macam alkaloidnya, konsentrasi, maupun daya
tahan masing-masing ternak. Pada domba, misalnya, terdapat
mikroorganisme rumen yang dapat merusak alkaloid sehingga jarang
menimbulkan efek keracunan. Keracunan alkaloid dapat dihindari
dengan cara memasak pakan tersebut dahulu sebelum diberikan pada
ternak.
47Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tannin
Tannin terdapat pada hijauan makanan ternak seperti kaliandra,
sorgum, ubi, dan kacang-kacangan. Tannin dapat menimbulkan
penurunan palatabilitas dan penurunan kecernaan protein. Sekitar 0.3
% tannin yang terkandung dalam ransum ternak ruminansia, sudah
menghambat pemecahan protein didalam rumen.
Lignin.
Semua tanaman termasuk hijauan pakan ternak ruminansia
mengandung lignin. Zat lignin terutama terdapat pada bagian batang
dan akar. Lignin bukanlah karbohidrat, tetapi termasuk dalam
kelompok serat kasar yang sukar sekali atau tidak dapat dicerna. Oleh
karena itu, pemberian pakan yang mengandung lignin tinggi dapat
menimbulkan masaalah pada ternak ruminansia.
48 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
IV
KEBUTUHAN PAKAN DAN PENYUSUNAN
RANSUM TERNAK RUMINANSIA
Pakan adalah campuran dari beberapa bahan yang disusun sedemikian
rupa dengan komposisi tertentu, dan siap disajikan pada ternak sesuai
dengan kebutuhannya dalam waktu tertentu. Pakan yang baik adalah
pakan yang mengandung zat-zat gizi dalam komposisi seimbang sesuai
dengan kebutuhan ternak. Biaya pakan hampir 60-70% dari total biaya
produksi suatu usaha peternakan. Untuk itu guna mendapatkan efisiensi
pakan yang tinggi beberapa faktor yang harus dipenuhi oleh pakan /
ransum ternak ruminansia adalah :
1) Pemberian ransum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
pokok dan produksi pada setiap ekor ternak ruminansia
2) Ransum harus disusun seimbang
3) Ransum harus palatable atau disukai oleh ternak
4) Ransum dicampur atau disusun dari berbagai macam bahan pakan
5) Ransum harus mengandung mineral yang cukup
6) Ransum seharusnya dapat merangsang kegiatan mikroba rumen
7) Ransum seharusnya mengandung bahan pakan serat yang cukup.
8) Hindari perubahan ransum secara tiba-tiba
9) WaktTu pemberian ransum harus teratur
10) Bahan pakan harus murah harganya
Pada prinsipnya pemberian pakan pada ternak harus
memperhitugkan efisiensi biologis maupun ekonomis. Produksi susu
yang tinggi maupun pertumbuhan dagimg dan wol yang cepat, belum
tentu secara ekonomis paling penguntungkan. Sebaliknya pemberian
pakan yang paling ekonomis dalam jangka waktu tertentu, mungkin
dapat mengurangi kemampuan produksi ternak, yang akhirnya justru
secara ekonomis tidak menguntungkan atau bahkan merugikan.
49Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Secara garis besarnya penyusunan ransum ternak adalah dengan
cara meramu berbagai bahan pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan
ternak sesuai dengan produksi yang diinginkan. Cara penyusunan
ransum umumnya berdasarkan Nutrient Requirements of Dairy Cattle
(sapi perah), Nutrient Requirements of Beef Cattle (sapi potong) atau
domba (sheep) yang dikeluarkan oleh National Research Council (NRC),
National Academy of Sciences, Washington D.C, USA, walaupun secara
normatif belum tentu sesuai dengan kebutuhan ternak yang di pelihara
di daerah tropis.
Tabel kebutuhan untuk sapi penggemukan pedet dan betina muda,
sapi bibit pedaging serta sapi betina dan pejantan pedaging (beef cattle)
dapat dilihat pada lampiran 3, 4 dan 5.
Kebutuhan sapi perah terhadap zat-zat gizi baik untuk hidup
pokok dan pertumbuhan dapat dilihat pada lampiran 6, sedangkan
kebutuhan untuk sapi perah laktasi dan sapi perah bunting dapat dilihat
dalam lampiran 7. Tingkat kebutuhan tersebut cukup untuk mencegah
kekurangan zat gizi dan untuk memberikan laju pertumbuhan yang baik,
reproduksi dan produksi susu yang tinggi.
Dalam penyusunan ransum ternak ruminansia, hal yang perlu
diperhatikan selain kebutuhan energi, protein, juga perlu diperhatikan
kebutuhan terhadap mineral (terutama Ca dan P) serta vitamin (terutama
Vitamin A dan D). Kebutuhan energi dinyatakan dalam energi dapat
dicerna (digestible energy, DE), energy metabolis (metabolizable energy,
ME), net energy untuk hidup pokok, net energi untuk pertumbuhan (gain)
dan net energi untuk laktasi, dan total digestible nutrients (TDN). TDN
tetap dipakai karena lebih lengkapnya data TDN pada bahan pakan yang
tersedia. Untuk memberikan gambaran perbandingan antara efisiensi
untuk produksi susu dan untuk pembentukan lemak tubuh, ilustrasi
dibawah ini dapat menjelaskannya (gambar 2).
Dari gambar. 2 diatas tampak bahwa jenis ransum yang paling
baik untuk suatu proses sintesis, akan berbeda dengan proses yang lain.
Kebutuhan maupun kandungan energi bagi ternak didasarkan pada DE
atau ME. DE maupun ME dihitung dari TDN bahan makanan.
50 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
% C 2 (propionate) dalam cairan rumen
Gambar. 2. Perbandingan antara efisiensi untuk produksi susu dan
pembentukan lemak tubuh
Secara ilmiah penggunaan NE adalah yang paling tepat. Dalam
penggunaan NE sebagai ukuran energi lebih dikenal. Sistem pertama
yang biasa dikenal dengan sistem klasik, dimana kebutuhan dinyatakan
berdasarkan fungsi faal khusus,, misalnya energy netto untuk hidup pokok
(NEm) dan energy netto untuk pertambahan bobot (NEgain). NEm adalah
nilai energy netto dari makanan untuk hidup pokok hewan yang tidak
laktasi, sedangkan NEgain adalah nilai energi netto dari makanan untuk
pertambahan bobot badan ternak yang tidak laktasi. Pada sistem yang
kedua, kebutuhan energy netto untuk berbagai fungsi faal disetarakan
dengan suatu persamaan regresi terhadap kebutuhan untuk produksi
susu. NElaetating cows adalah nilai energy netto dari makanan untuk hidup
pokok, kebuntingan dan produksi susu.
Kebutuhan protein dinyatakan dalam protein dapat dicerna dan
protein kasar. Jumlah tersebut akan mencukupi untuk laju pertumbuhan
sesuai dengan persyaratan yang dianjurkan asalkan energi dan kebutuhan
zat lain terpenuhi.
Komposisi asam amino tidaklah begitu penting pada ternak
ruminansia, karena adanya kemampuan mikroba di rumen dan retikum
untuk membentuk asam-asam amino dan protein yang dibutuhkan dari
sumber-sumber ransum berprotein rendah atau dari bahan nitrogen
bukan protein.
51Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Kebutuhan Sapi Perah Dan Cara Penyusunan Ransum
Penyusunan ransum sapi perah selain memperhatikan ketersediaan
energi dan protein, juga harus mempertimbangkan kebutuhan mineral.
Mineral yang dibutuhkan oleh sapi perah yaitu kalsium (Ca), Porfor
(P), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), belerang (S), yodium
(I), khlor (Cl), besi (Fe), tembaga (Cu), kobalt (Co), mangan (Mn), seng
(Zn), selenium (se), dan molybdenum (Mo). Kalsium (Ca) dan Posfor
(P) adalah dua mineral utama yang selalu dikenal sebagai mineral kritis
dalam pakan sapi perah ( lihat kebutuhannya pada lampiran 6 dan 7 ).
Kebutuhan minimum akan Ca diperkirakan 0,1 persen dari bahan kering
ransum untuk sapi dara yang sedang tumbu, dan 0.7 % untuk sapi laktasi.
Yang juga penting diperhatikan adalah perbandingan antara kalsium dan
posfor. Untuk perbandingan ini tak begitu kritis dan dapat berkisar dari
1:1 sampai 7 : 1. Perbandingan 2 : 1 adalah yang paling dianjurkan. Unsur
utama lainnya yang biasa ditambahkan dalam ransum ternak ruminansia
adalah natrium (Na) dalam bentuk garam dapur yang biasanya diberikan
sebanyak 0,5 persen dari bahan kering ransum.
Dalam keadaan normal umumnya ternak ruminansia sudah
mendapatkan cukup vitamin yang dibutuhkan dari makanannya. Bahkan
vitamin B kompleks dan vitamin K dapat dibentuk oleh mikroba rumen,
dan vitamin C dapat dibentuk di dalam jaringan-jaringan tubuh ternak.
Yang perlu diperhatikan kebutuhan terhadap vitamin A adalah untuk
betina induk dan pejantan pedaging ( beef cattle) seperti terlihat pada
lampiran 5 dan kebutuhan akan vitamin A dan D untuk sapi perah pada
periode laktasi dan bunting ( lihat lampiran 6 dan 7 ). Pemberian vitamin
A atau precursor vitamin A masih diragukan untuk dapat dipenuhi
pada ternak ruminansia jika hijauan yang diberikan berkualitas rendah
atau dalam jumlah terbatas. Kekhawatiran akan kekurangan vitamin D
dapat juga terjadi jika ternak kurang mendapat sinar matahari, atau
kurang mendapat hay yang dikeringkan dengan sinar matahari. Tabel 5.
dibawah ini memperlihatkan contoh kebutuhan sapi betina yang sedang
bertumbuh terhadap bahan kering, total digestible nutrient (TDN) dan
protein kasar (PK) ransum, sedangkan pada tabel. 6. memperlihatkan
kebutuhan sapi laktasi terhadap bahan kering ransum. Tabel.7. adalah
contoh untuk kebutuhan hidup pokok sapi laktasi dan sapi bunting umur 2
bulan terakhir terhadap energi dan protein, dan Tabel. 8. Memperlihatkan
contoh kebutuhan energi dan protein untuk produksi susu sapi laktasi.
52 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel 5. Kebutuhan sapi betina yang sedang bertumbuh terhadap
bahan kering, TDN dan protein ransum.
Umur Bobot Bahan % BK TDN Protein
kering /bobot (kg) (kg)
(bulan ) badan (kg)
(kg) badan 0.559 – 0.669
12 - 18 180 - 275 Umur 1 – 3 tahun 0.669 - 0.859
18 - 24 275 - 362 0.859 – 0.946
24 - 30 362 - 412 4.9 – 7.2 2.6 2.94 – 3.98 0.946 – 0.986
30 - 36 412 -435 7.2 - 8.3 2.3 3.98 – 4.89
8.3 – 8.6 2.1 4.89 - 5.39
8.6 – 8.7 2.0 5.39 - 5.62
Tabel 6. Kebutuhan sapi laktasi terhadap bahan kering ransum (%)
Bobot badan (kg) Produksi Susu (kg)
10 15 20
300 2.70 3.15 3.60
350 2.60 3.00 3.40
400 2.50 2.90 3.30
450 2.40 2.80 3.20
500 2.30 2.70 3.10
Tabel.7. Kebutuhan hidup pokok sapi laktasi dan sapi bunting 2 bulan
terakhir terhadap energi dan protein.
Bobot badan Sapi laktasi Sapi bunting 2 bulan terakhir
300 TDN(kg) PK (kg) TDN (kg) PK (kg)
350
400 2.54 0.294 3.30 0.559
450
500 2.85 0.330 3.70 0.627
3.15 0.365 4.10 0.694
3.44 0.399 4.47 0.758
3.72 0.432 4.84 0.821
53Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel. 8. Kebutuhan untuk produksi air susu sapi laktasi akan energi
dan protein
Produksi air susu (kg 4% FCM ) TDN (kg) PK (kg)
5 1.63 0.435
10 3.26 0.870
15 4.89 1.30
20 6.52 1.74
25 8.15 2.18
Jenis ransum sapi perah.
1. Ransum anak sapi periode menyusu atau baru lahir ( 1 hari – 4
bulan )
Ransum anak sapi perah pada periode menyusu yang terbaik adalah
pemberian air susu induknya. Jika kebutuhan anak sapi dinyatakan
dalam jumlah air susu yang diperlukan, pada periode ini anak sapi
diberi air susu sekitar 10 persen dari bobot badan untuk anak sapi jenis
frisiend holstein (FH), dan 12 persen dari bobot badan untuk anak sapi
Peranakan FH. Kebutuhan itu lebih kurang setara dengan 4 – 8 liter air
susu atau rata-rata 6 liter air susu perhari. Sebagian kebutuhan air susu
dapat diganti dengan ransum pengganti air susu (milk replacer). Tabel. 9.
memperlihatkan pemberian ransum anak sapi periode menyusui.
Contoh susunan bahan pengganti air susu (milk replacer) :
a. 10 persen tepung susu skim
b. 10 persen bungkil kedele
c. 10 persen bungkil kacang tanah
d. 70 persen tepung tapioka
Semua bahan diatas dicampur dengan air hangat secukupya sehingga
berbentuk bubur encer.
54 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel. 9. Pemberian ransum anak sapi periode menyusui
Umur (minggu) Air susu (liter) Milk replacer (kg) Air(liter)
0–2 3.5 - -
2–4 3.5 0.1 0.5
4–6 4 0.3 1
6–8 3.5 0.5 2
8 – 10 3 0.8 3
10 – 12 2.5 1 4
12 - 14 2 1.25 5
14 - 16 1 1.5 6
2. Ransum anak sapi umur 4 – 12 bulan
Setelah umur 4 bulan, anak sapi diberi konsentrat yang kandungan
proteinnya 18 persen. Konsentrat ini dinamakan calf starter. Calf starter
diberikan bersamaan dengan rumput. Calf starter dapat dibuat dari 24
persen bungkil kedelai, 26 persen bungkil kelapa, 25 persen dedak halus
dan 25 persen onggok. Tabel. 10 memperlihatkan pemberian makanan
anak sapi umur 4 – 12 bulan.
Tabel.10. Pemberian makanan anak sapi umur 4 – 12 bulan
Umur (bulan) Rumput (kg) Calf starter (kg)
4–6 1–2 1–2
6–8 3–5 1–2
8 – 10 6–9 1–2
1–2
10 – 12 10 – 15
3. Ransum sapi dara
Setelah umur sapi 1 tahun hingga dewasa, diberikan ransum
pertumbuhan untuk sapi dara ( feed grower) yang kandungan proteinnya
sekitar 15 persen.
Contoh menyusun ransum sapi perah
1. Susunlah ransum sapi betina dara dengan bobot badan 250 kg .
Ransum terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan
50 : 50. Sumber hijauan adalah rumput gajah sedangkan sumber
konsentrat adalah dedak dan bungkil kelapa.
55Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Jawab.
1. Kebutuhan bahan kering untuk sapi betina dara dengan bobot
badan 250 kg adalah 2.6 % dari bobot badan (BB) yaitu 2.6 % x 250
kg = 6.500 kg
2. Kebutuhan TDN ransum 55 % x 6.5 kg = 3.575 kg
3. Kebutuhan protein ransun 10 % x 6.5 kg = 0.650 kg
Bahan kering hijauan rumput gajah = 0.5 x 6.5 kg = 3.250
Bahan kering konsentrat = 6.5 – 3.250 = 3.250
TDN hijauan = 3.25 x 52.4/100 = 1.703
TDN konsentrat = 3.575 - 1.703 = 1.872
TDN konsentrat = TDN konsentrat/ bahan kering konsentrat
= 1.872/3.250 x 100 % = 57.6%
Sumber konsentrat terdiri dari dedak dan bungkil kelapa
Dedak yang dibutuhkan = 21.1 / 31.4 x 100 % x 3.25 kg = 2.18 kg
Bungkil kelapa yang dibutuhkan = 10.3/31.4 x 100% x 3.25 kg =1.07 kg
Susunan ransum dalam bahan kering (BK) adalah :
Rumput gajah = 3.25 kg
Dedak = 2.18 kg
Bungkil kelapa = 1.07 kg
Dalam bentuk segar adalah :
Rumput gajah = 3.25 x 100/25.2 = 13.0 kg
Dedak = 2.18 x 100/87.7 = 2.5 kg
Bungkil kelapa = 1.07 x 100/93.02 = 1.2 kg
56 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
2. Susunlah ransum sapi betina dengan bobot badan 300 kg. Ransum
terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 50 : 50.
Hijauan terdiri dari rumput alam dan daun jagung. Konsentrat
terdiri dari ampas tahu dan ampas kelapa.
Jawab.
1. Kebutuhan bahan kering untuk sapi betina dara dengan bobot
badan 300
kg adalah 2.3 % dari BB yaitu 2.3 % x 300 kg = 6.900 kg
2. Kebutuhan TDN ransum = 59 % x 6.9 kg = 4.071 kg
3 Kebutuhan protein ransun 10 % x 6.9 kg = 0.690 kg
Bahan kering hijauan = 0.5 x 6.9 kg = 3.45 kg
Rumput alam = 0.8 x 3.45 kg = 2.76 kg
Daun jagung = 0.2 x 3.45 kg = 0.69 kg
TDN hijauan
Rumput alam = 2.76 x 56.2/100 = 1.57 kg
Daun jagung = 0.69 x 60/100 = 0.41 kg
Total TDN hijauan 1.98 kg
Bahan kering konsentrat = 6.9 – 3.45 = 3.45
TDN konsentrat = 4.071 - 1.98 = 2.091
Kualitas TDN konsentrat = 2.091/3.45 x 100 % = 61%
Sumber konsentrat terdiri dari ampas tahu dan ampas kelapa
57Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Ampas tahu yang dibutuhkan = 11.01 / 27.91 x 100% x 3.45 = 1.36 kg
Ampas kelapa yang dibutuhkan = 16.9/27.91 x 100% x 3.45 =2.08 kg
Jadi susunan BK ransum sapi ( BK) adalah :
Rumput alam = 2.76 kg
Daun jagung = 0.69 kg
Ampas tahu = 1.36 kg
Ampas kelapa = 2.08 kg
Dalam bentuk segar adalah :
Rumput alam = 2.76 x 100/24.4 = 11.5 kg
Daun jagung = 0.69 x 100/21.0 = 3.3 kg
Ampas tahu = 1.36 x 100/35.14 = 3.9 kg
Ampas kelapa = 2.08 x 100/64.96 = 3.2 kg
3. Susunlah ransum sapi betina dengan bobot badan 200 kg yang
terdiri dari 60 % hijauan dan 40 % konsentrat. Hijauan terdiri dari
rumput gajah dan jerami dengan perbandingan 80 : 20. konsentrat
terdiri dari dedak dan bungkil kelapa.
Jawab.
1. Kebutuhan bahan kering untuk sapi betina dara dengan bobot
badan 200 kg adalah 2.6 % dari bobot badan yaitu
2.6 % x 200 kg = 5.20 kg
2. Kebutuhan TDN ransum 55 % x 5.2 kg = 2.86 kg
3. Kebutuhan protein ransun 10 % x 5.2 kg = 0.52 kg
Bahan kering hijauan = 0.6 x 5.2 kg = 3.12 kg
Rumput gajah = 0.8 x 3.12 kg = 2.45 kg
Jerami padi = 0.2 x 3.12 kg = 0.67 kg
Bahan kering konsentrat = 5.20 – 3.12 = 2.04 kg
TDN hijauan
Rumput gajah = 2.45 x 52.4/100 = 1.28
Jerami padi = 0.67 x 43.2/100 = 0 29
1.57
58 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
TDN konsentrat = 2.86 - 1.57 = 1.29
Kualitas TDN konsentrat 1.29/2.04 x 100 % = 63%
Sumber konsentrat terdiri dari dedak dan bungkil kelapa
Bungkil kelapa yang dibutuhkan = 4.9 / 20.6 x 100% x 3.45 = 0.83 kg
Dedak yang dibutuhkan = 15.7/20.6 x 100% x 3.45 =2.62 kg
Jadi susunan BK ransum sapi tersebut :
Rumput gajah = 2.45 kg
Jerami padi = 0.67 kg
Dedak = 2.62 kg
Bungkil kelapa = 0.83 kg
Dalam bentuk segar komposisi ransum :
Rumput gajah = 2.45 x 100/25.2 = 10 kg
Jerami padi = 0.67 x 100/88.61 = 1 kg
Dedak = 2.62 x 100/64.96 = 4 kg
Bungkil kelapa = 0.83 x 100/93.02 = 1 kg
4. Ransum sapi laktasi
1. Susunlah ransum sapi laktasi yang bobot badannya 500 kg.
Produksi air susu 20 kg/hari dengan kadar lemak 3.5 %. Diberi
ransum dengan komposisi hijauan dan konsentrat 50 : 50 . Hijauan
terdiri dari rumput alam dan daun jagung dengan perbandingan
60 : 40. Konsentrat terdiri dari dedak dan bungkil kelapa.
59Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Jawab.
a. Produksi air susu 20 kg/hari dengan lemak 3.5%
Produksi susu 4 % FCM (lemak) = ( 0.4 x 20 ) + 15 (3.5/100) x 20
= 18.5 kg
b. Kebutuhan BK untuk bobot badan 500 kg prod. Susu 15 kg = 2.7 %
Kebutuhan BK untuk bobot badan 500 kg prod. Susu 20 kg = 3.1 %
Selisih 3.1 – 2.7 = 0.40
Kebutuhan BK untuk produksi susu 18.5 kg =
(18.5 – 15)/ (20 – 15) x 0.4 = 0. 28 %
Jadi kebutuhan BK untuk produksi susu 18.5 kg =
2.7 + 0.28 = 2.98%
Kebutuhan BK adalah 500 x 2.98% = 14.9 kg.
Kebutuhan BK untuk bobot badan 500 kg prod. Susu 15 kg = 2.7 %
Kebutuhan BK untuk bobot badan 500 kg prod. Susu 20 kg = 3.1 %
Selisih 3.1 – 2.7 = 0.40
Kebutuhan BK untuk produksi susu 18.5 kg = (18.5 – 15)/
(20 – 15) x 0.4 = 0. 28 %
Jadi total kebutuhan BK untuk produksi susu 18.5 kg = 2.7 + 0.28
= 2.98 % dari bobot badan
Kebutuhan BK adalah 500 x 2.98% = 14.9 kg.
Kebutuhan TDN untuk hidup pokok = 3.72 kg
Kebutuhan TDN untuk prod. Susu 15 kg = 4.89 kg
Kebutuhan BK untuk prod. Susu 20 kg = 6.52 kg
Selisih 6.52 – 4.89 = 1.66
Kebutuhan TDN untuk produksi susu 18.5 kg =
(18.5 – 15)/ (20 – 15) x 1.66 = 1.162 kg
Jadi total kebutuhan TDN untuk produksi susu 18.5 kg = 3.72 +
4.89 + 1.162 = 9.772 kg
60 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
c. Kebutuhan PK untuk hidup pokok = 0.432
Kebutuhan PK prod. Susu 15 kg = 1.30 kg
Kebutuhan PK prod. Susu 20 kg = 1.74 kg
Selisih 1.74 – 1.34 = 0.44
Kebutuhan PK untuk produksi susu 18.5 kg =
(18.5 – 15)/ (20 – 15) x 0.44 = 0. 308 kg
Jadi total kebutuhan PK untuk produksi susu 18.5 kg =
0.432 + 1.30 + 0.308 = 2.04 kg
Kebutuhan bahan kering : 14. 9 kg
Dari hijauan 0.5 x 14.9 = 7.45 kg
Dari konsentrat 0.5 x 14.9 = 7.45 kg
Bahan kering dari hijauan
Rumput alam 0.6 x 7.45 kg = 4.47 kg
Daun jagung 0.4 x 7.45 kg = 2.98 kg
TDN dari hijauan
Rumput alam 4.47 x 56.7/100 = 2.51
Daun jagung 2.98 x 60/100 = 1.79
4.30
TDN konsentrat = 9.772 - 4.30 = 5.472
Kualitas TDN konsentrat = 5.472/7.45 = 73%
61Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Bungkil kelapa yang dibutuhkan = 5.1 / 10.8 x 100% x 7.45 = 3.52 kg
Dedak yang dibutuhkan = 5.7/10.8 x 100% x 7.45 = 3.93 kg
Jadi susunan ransum sapi dalam bahan kering adalah :
Rumput alam = 4.47 kg
Daun jagung = 2.98 kg
Dedak = 3.93 kg
bungkil kelapa = 3.52 kg
Susunan ransum dalam bentuk segar:
Rumput alam = 4.47 kg x 100/24.4 = 18 kg
Daun jagung = 2.98 kg x 100/ 21 = 14 kg
Dedak = 3.93 kg x 100/87.7 = 4.5 kg
bungkil kelapa = 3.52 kg x 100/93.02 = 3.8 kg
2. Susunlah ransum sapi perah 450 kg dengan produksi susu 15 liter.
Perbandingan hijauan dan konsentrat 50 ; 50. Sumber hijuan
rumput gajah, daun jagung dan jerami padi dengan perbandingan
70 : 15:15. Konsentrat terdiri dari ampas tahu dan dedak.
Jawab
Kebutuhan bahan kering = 3% x 450 kg = 13.5 kg
Kebutuhan TDN untuk hidup pokok = 3.43 kg
Kebutuhan TDN untuk produksi susu 15 x 0.326 = 4.89 kg
Total kebutuhan TDN = 8.32 kg
Kebutuhan protein untuk hidup pokok = 0.398 kg
Kebutuhan protein untuk produksi susu 12 x 0.087 = 1.305 kg
Total kebutuhan protein = 1.703 kg
BK hijauan 0.5 x 13,5 = 6.75 kg
Dari rumput gajah 0.70 x 6.75 = 4.73 kg
Dari daun jagung 0.15 x 6.75 = 1.01 kg
Dari jerami 0.15 x 6.75 = 1.01 kg
62 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
TDN hijauan
Rumput gajah 4.73 x 52.4/100 = 2.48 kg
Daun jagung 1.01 x 60/100 = 0.61 kg
Jerami 1.01 x 43.2/100 = 0.44 kg
Total TDN hijauan = 3.53 kg
BK konsentrat 0.5 x 13.5 = 6.75 kg
TDN konsentrat 8.32 – 3.53 = 4.79 kg
Kualitas TDN konsentrat 4.79/6.75 x 100% = 71%
Konsentrat terdiri dari:
Ampas tahu yang dibutuhkan = 6.9/10 x 100% x 6.75 kg = 4.66kg
Dedak yang dibutuhkan = 3.1/10 x 100% x 6.75 = 2.09 kg
Jadi susunan bahan kering ransum sapi tersebut :
Rumput gajah = 4.73 kg
Daun jagung = 1.01 kg
Jerami = 1.01 kg
dedak = 4.66 kg
ampas tahu = 2.09 kg
Jadi susunan ransum sapi tersebut dalam bentuk segar:
Rumput gajah = 4.73 kg x 100/25.2 = 19.0 kg
Daun jagung = 1.01 kg x 100/21.0 = 5.0 kg
Jerami = 1.01 kg x 100/88.61 = 1.0 kg
dedak = 4.66 kg x 100/87.70 = 5.5 kg
ampas tahu = 2.09 kg x 100/35.14 = 6.0 kg
63Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Atau susunlah ransum yang terdiri dari rumput alam dan jerami
padi dengan perbandingan 70 : 30 , sedangkan konsentrat terdiri dari
bungkilk kelapa, dedak dan ampas kelapa.
Kebutuhan bahan kering hijauan 0.5 x 13.5 kg = 6.75 kg
Dari rumput alam 0.7 x 13.5 = 4.725
Dari jerami padi 0.3 x 6.75 = 2.025
TDN hijauan
Rumput alam 4.725 x 56.2/100 = 2.66 kg
Jerami 2.025 x 43.2/100 = 0.875 kg
Total TDN hijauan = 3.535 kg
Kebutuhan BK konsentrat = 0.5 x 13.5 = 6.750 kg
Kebutuhan TDN konsentrat = 8.32 – 3.535 = 4.785 kg
Kualitas TDN konsentrat = 4.785/6.75 x 100% = 71%
Bahan konsentrat terdiri dari bungkil kelapa, dedak dan ampas kelapa.
Perbandingan BK bungkil kelapa, dedak dan ampas kelapa =
9.3: 8.77 : 6.49 = 24.56
Bungkil kelapa yang dibutuhkan = 9.3/24.56 x 6.75 kg = 2.56 kg
Ampas kelapa yang dibutuhkan = 6.49/24.56 x 6.75 kg = 2.41 kg
Dedak yang dibutuhkan = 8.77/24.56 x 6.75 kg = 1.78 kg
Jadi susunan BK ransum sapi tersebut :
Rumput alam = 4.725 kg
Jerami = 2.025 kg
Bungkil kelapa = 2.56 kg
Ampas kelapa = 2.41 kg
Dedak = 1.78 kg
Susunan ransum dalam bentuk segar :
Rumput alam = 4.725 kg x 100/24.4 = 20 kg
Jerami = 2.025 kg x 100/88.61 = 2.3 kg
Bungkil kelapa = 2.56 kg x 100/93.02 = 2.75 kg
Ampas kelapa = 2.41 kg x 100/64.96 = 2.7 kg
Dedak = 1.78 kg x 100/87.7 = 2.7 kg
64 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Cara yang terbaru dalam penyusunan ransum adalah berdasarkan
pada 100% bahan kering ransum (moisture-free basis). Sebelumnya
didasarkan pada 90% bahan kering ransum, namun kemudian diketahui
sering menimbulkan kesalahan, terutama kalau bahan makanan yang
dipakai tidak mengandung tepat 90 % bahan kering. Oleh karena itu
kebutuhan akan zat makanan juga didasarkan pada 100% bahan kering.
Meskipun demikian hal ini masih memungkinkan untuk merubahnya ke
dalam bentuk yang tersedia (as-fed basis).
Dibawah ini diberikan suatu contoh penyusunan ransum dari
Nasional Research Council (NRC) yang diperhitungkan berdasarkan
energi netto sebagai berikut :
Sekelompok sapi laktasi yang berproduksi tinggi, diberi makan hay
alfalfa dan silase jagung sebagai sumber hijauan. Sedangkan campuran
konsentrat disusun dari: jagung giling, sorghum giling, tetes, bungkil
kedele, urea, garam dan dikalsium fosfat. Diketahui bahwa sapi yang
sedang laktasi berproduksi tinggi membutuhkan 160 gram protein dan
1,8 Mcal energi/kg BK ransum.
Sapi laktasi berproduksi tinggi membutuhkan ransum konsentrat
tinggi untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Jumlah konsentrat
yang tinggi jelas akan menurunkan serat kasar (SK) ransum secara
keseluruhan. Sedangkan kandungan serat kasar untuk sapi dewasa
minimal 13%. Ransum yang disusun dengan komposisi alfalfa hay 30%
dan silase jagung 40 % diharapkan dapat memenuhi jumlah kebutuhan
minimum serat kasar. Persentase bahan yang lain didasarkan pada
kebutuhan, palatabilitas dan harga pakan.
Berdasarkan hal diatas diputuskan untuk memakai biji sorghum
25%, tetes 3%, urea 0,6%, garam 0,5%, dan dikalsium fosfat 0,4%. Dua
bahan lain yaitu bungkil kedele (sebagai protein supplement) dan biji
jagung (sebagai sumber energi) hanya digunakan untuk menyempurnakan
imbangan protein dan energi. Untuk itu maka dihitung jumlah protein
dan energi yang tersedia dari bahan-bahan lain. Perhitungan nya adalah
sebagai berikut :
65Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Protein NE sapi Laktasi
(g/kg) (kal/kg)
Kebutuhan sapi berproduksi 160.0 1.800
Disediakan dari bahan lain 109.8 1.173
Harus disediakan dari bungkil 50.2 627
Persamaan dengan dua bilangan diatas dapat dipakai untuk
menentukan perbandingan bungkil kedele dan jagung yang dibutuhkan
guna memenuhi kebutuhan protein dan energi. Jika X = BK jagung dan Y =
BK bungkil kedele, maka perhitungannya sebagai berikut.
Jika 211 kg jagung dicampurkan dengan 56.6 kg bungkil kedele
maka campuran tersebut akan memberikan perbandingan energi dan
protein yang tinggi. Perbandingan ini dimaksudkan untuk melengkapi
ransum sapi perah laktasi tersebut. Dalam penyusuan ransum sapi laktasi
hanya satu nilai energi netto yang dipakai (NE ), maka nilai enegi untuk
laktasi yang digunakan adalah nilai energi netto dari bahan makanan
untuk hidup pokok, di tambah untuk gain dan untuk produksi susu.
Dalam penyusunan ransum untuk ternak yang tidak laktasi, misalnya
sapi dara hanya digunakan dua nilai energi yaitu NEm dan NEgain baik yang
dinyatakan dalam kebutuhan maupun dalam komposisi bahan makanan.
Berikut ini diberikan contoh penyusunan ransum untuk sapi dara
yang sedang bertumbuh dengan bobot badan 450 kg. Kalau ditentukan
bahwa komposisi ransum adalah alfalfa hay (80%) dan jagung (20%)
berapa kg campuran bahan harus diberikan .
66 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tidak terdapat perbedaan yang begitu menyolok dalam penyusunan
ransum sapi pedaging dengan sapi perah. Kebutuhan zat makanan utama
dinyatakan dalam per ekor per hari atau dalam bahan kering ransum .
Energy netto pada sapi potong hanya dipakai dalam penyusunan
ransum sapi yang sedang tumbuh dan sapi yang digemukkan. Untuk
induk sapi kebutuhan energi biasanya dinyatakan dalam ME dan TDN.
67Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
V
KONSUMSI RANSUM DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHINYA
Konsumsi Ransum
Tingkat konsumsi adalah jumlah pakan yang terkonsumsi oleh ternak
bila bahan pakan tersebut diberikan secara ad libitum. Pemberian pakan
pada ternak merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu usaha
peternakan guna memenuhi syarat minimal untuk kehidupan seekor
ternak secara normal. Bagaimanapun penampilan produksi ternak akan
dipengaruhi oleh ransum yang diberikan terutama dari jumlah zat-
zat makanan yang dicerna dan diserap oleh ternak. Zat-zat makanan
inilah yang akan menentukan penampilan produksi ternak tersebut.
Seandainya ternak mendapatkan zat makanan yang cukup untuk hidup
dan produksinya, baik dari segi kuantitas ataupun kualitas, maka ternak
tersebut akan memberikan produksi yang tinggi. Nilai Nutrisi yang kurang
merupakan penghambat utama dalam peningkatan produksi ternak dan
ini sering terjadi di di negara-negara yang sedang berkembang.
Konsumsi merupakan faktor penting, yang merupakan dasar dalam
penampilan produksi seekor ternak. Hal ini dikatakan penting karena
: (a). Dari segi ekonomis, biaya pakan untuk tujuan produksi penting
dioptimalkan guna menghasilkan produksi yang tinggi. (b). Dari segi
pengetahuan, tingkat konsumsi dapat menentukan jumlah zat makanan
yang memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi. (c). Makanan
yang berkualitas akan meningkatkan konsumsi ternak, (d).Ternak yang
mempunyai sifat dan kapasitas konsumsi rendah, produksinya relatif juga
akan rendah dan (e). Variabilitas kapasitas produksi dapat disebabkan
oleh makanan yang dikonsumsi.
69Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Pada berbagai spesies ternak terutama ternak Ruminansia, variabilitas
produksi dapat disebabkan oleh : konsumsi sekitar 60 persen, 25 persen
disebabkan faktor kecernaan dan 15 persen disebabkan oleh proses
perubahan hasil kecernaan menjadi hasil produksi ( Susu, daging dan wol ).
Ternak makan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terhadap
zat-zat makanan. Zat-zat makanan berfungsi untuk : (1). Memenuhi
kebutuhan hidup pokok , (2). Untuk pertumbuhan (daging dan wol), (3)
Untuk mempertahankan kebuntingan (reproduksi), (4). Memproduksi
air susu, dan (5). Menghasilkan tenaga pada ternak kerja/tarik.
Bahan pakan yang dikonsumsi dapat berupa hijauan/makanan
kasar dan pakan konsentrat. Bahan pakan hijauan/makanan kasar
merupakan makanan utama pada ternak ruminansia yang terdiri dari
rumput dan leguminosa serta hasil industri atau limbah pertanian.
Bahan makanan kasar ini mengandung serat kasar yang tinggi. Jika serat
kasar terlalu tinggi dalam ransum, akan sulit dicerna seperti penggunaan
limbah pertanian. Tetapi sebaliknya jika ransum mengandung serat yang
terlalu rendah dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada ternak
ruminansia seperti bloat. Karena itu kebutuhan serat kasar dalam ransum
sapi perah dan sapi jantan dewasa minimal 15 persen.
Hijauan dapat diberikan pada ternak dalam keadaan segar ( fresh
roughage) ataupun dalam bentuk sudah difermentasi (silase) dan dalam
bentuk dikeringkan (hay). Tinggi rendahnya angka manfaat makanan
pakan hijauan tergantung pada beberapa faktor antara lain: (a).Umur
tanaman waktu dipotong (2). Kesuburan tanah, (3). Cara pemotongan/
penyimpanan dan (4). Cara penggembalaan / grazing.
Nilai gizi dan koefisien cerna hijauan umumnya tidak tetap.
Tanaman yang masih muda lebih banyak mengandung air dan sedikit
bahan keringnya, begitu sebaliknya untuk tanaman tua. Rumput sebagai
bahan pakan yang “sempurna/komplit” haruslah memnuhi 3 syarat yaitu:
(1). Mempunyai manfaat yang tinggi sebagai bahan pakan karena kualitas
dan kuantitasnya, (2). Mudah dicerna dan (3). Tersedia dalam keadaan
cukup atau berkesinambungan sepanjang masa.
Rumput memegang peranan penting dalam mencukupi kebutuhan
pakan bagi ternak karena rumput dapat diberikan dalam jumlah yang
besar, mudah didapatkan serta cukup mengandung zat-zat makanan yang
dibutuhkan.
70 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Hijauan seperti leguminosa dan jenis kacang-kacangan mendapat
tempat penting bagi petani sebagai pakan hijauan ternak ruminansia,
karena tingginya kandungan protein kasarnya serta kualitasnya yang
tinggi. Disamping itu kandungan Kalsium (Ca) dan Pospor (P) leguminosa
cukup tinggi dibandingkan dengan rumput. Pemberian legume biasanya
dibatasi untuk ternak ruminansia, paling banyak 50 persen dari
seluruh pakan hijauan yang diberikan, karena leguminosa umumnya
mengandung racun (alkaloid) yang dapat menimbulkan gangguan pada
sistim pencernaan.
Selain hijauan segar, dapat juga diberikan pada ternak ruminansia
hijauan kering (hay) dan jerami yang umumnya digunakan sebagai
persediaan pakan dimusim kemarau. Manfaat hijauan kering (hay) dan
jerami pada ternak sangat tergantung pada beberapa hal antara lain:
(a). Macam atau jenis hay atau jerami yang digunakan, (b). Waktu panen
tanaman yang dijadikan hay/jerami tersebut, (c). Cara mengeringkan
dan (d). Cara penyimpanan. Jerami yang sering diberikan pada ternak
ruminansia adalah : jerami padi, jerami jagung, jerami gandum, jerami
kacang tanah, jerami kacang kedelai, dan lain-lain.
Bahan pakan konsentrat mengandung serat kasar yang rendah,
mudah dicerna, mengandung protein yang tinggi. Umumnya konsentrat
yang diberikan pada ternak ruminansia adalah : dedak padi ,bungkil
kelapa, bungkil kacang tanah, jagung, bungkil kedele dan lainnya.
Dengan pemberian konsentrat pada ternak ruminansia diharapkan
kekurangan zat-zat makanan akan dapat dipenuhi atau dilengkapi oleh
pakan konsentrat. Sapi penggemukan dengan bobot badan 225-350 kg
yang mendapat pembatasan konsentrat, ternyata butuh waktu 71 hari
lebih lama, dibandingkan dengan ternak yang mendapatkan perlakuan
konsentrat penuh untuk mendapatkan bobot akhir.
Tujuan pemberian konsentrat pada ternak ruminansia adalah untuk
: (1). Ternak dapat dijual pada berat badan yang diinginkan terutama
pada ternak penggemukan (fattening), (2). Untuk memenuhi permintaan
konsumen terhadap kualitas karkas yang lebih lembut/lunak, (3). Untuk
pemamfaatan biji-bijian yang tidak digunakan manusia atau surplus
produksi biji-bijian pada lokasi tertentu.
71Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Ransum
1. Ternak.
Faktor fisiologis ternak tentang kebutuhan terhadap pakan untuk
hidup pokok dan produksi sesuai dengan kapasitas saluran pencernaan
ternak tersebut dan berhubungan erat dengan produksi, bobot badan,
besar tubuh, jenis kelamin, umur, genetik dan bangsa dari ternak tersebut.
Anak sapi yang sedang menyusui akan sedikit mengkonsumsi
bahan kering hijauan dibandingkan dengan anak sapi yang sudah disapih.
Sebagai contoh, konsumsi bahan kering anak sapi dari hijauan adalah 33
gr/BB0.75(BB0.75 = bobot badan metabolik). Apabila konsumsi air susu 36
gr/BB0.75,maka konsumsi bahan kering hijauan akan meningkat menjadi
101 gr/BB0.75. Kalau konsumsi air susu 6 gr/BB0.75, maka konsumsi bahan
kering hijauan dari anak sapi yang sedang menyusu tersebut adalah 60
gr/BB .0.75 Persamaan ini hanya berlaku untuk anak sapi yang menyusu
umur 5-10 hari.
Dinding sel ( cell wall ) tanaman merupakan faktor utama yang
mempengaruhi tingkat konsumsi pakan. Semakin banyak dinding sel
tanaman (dikenal dengan bahan pakan sulit dicerna atau NDF=neutral
detergent fiber) dalam ransum, maka konsumsi akan sedikit karena akan
memperlambat gerak laju digesta (digesta movement ) dalam rumen dan
dalam saluran pencernaan berikutnya.
Jenis kelamin ternak juga akan mempengaruhi konsumsi,
contohnya sapi dara dapat mengkonsumsi ransum 3 persen lebih tinggi
dibandingkan dengan sapi yang di kebiri yang diberi pakan yang sama
sampai mencapai fase pertumbuhan yang sama. Sapi dara yang diberi
pakan untuk mencapai bobot badan akhir yang sama akan mengkonsumsi
ransum 5 persen lebih banyak dibandingkan dengan sapi jantan dikebiri.
Faktor umur. Umur ternak juga erat hubungannya dengan bobot
badan. Umpamanya sapi yang berumur satu tahun dalam fase awal
periode penggemukan, akan mengkonsumsi ransum rata-rata 2 persen
lebih banyak dibandingkan dengan anak sapi pada bobot badan dan
kerangka badan yang sama namun dengan umur yang lebih tua.
Bangsa atau tipe ternak ruminansia juga berpengaruh terhadap
konsumsi ransum. Ternak perah akan mengkonsumsi ransum rata-rata
lebih tinggi 8 persen dibandingkan ternak pedaging.
72 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
2. Faktor makanan
Semakin baik nilai gizi suatu ransum akan meningkatkan konsumsi
energi netto sampai koefisien cerna mencapai 70 persen. Jika kecernaan
semakin tinggi (contoh pemberian hijauan saja), maka konsumsi akan
menurun, sedangkan konsumsi energi relatif akan tetap. Hubungan antara
tingkat konsumsi dan kecernaan mempunyai 3 kemungkinan yaitu :
a. Tidak ada hubungan
Tidak terdapat hubungan sama sekali antara konsumsi pakan dengan
kecernaan zat-zat makanan. Contoh bila ternak ruminansia diberi
pakan hijuan/silase yang mengandung zat-zat yang dapat menurunkan
tingkat konsumsi atau toksik.
b. Hubungan positif
Pada Ternak domba dan sapi konsumsi erat hubungannya dengan
kecernaan. Hal in dapat ditemukan dengan pemberian hijauan
yang sudah tua karena sifatnya yang sangat voluminous dan lambat
tercerna dibanding dengan bagian tanaman yang masih muda.
Pada sapi perah didapatkan hubungan yang positif terutama pada
hijauan tua yang kecernaannya dibawah 66 persen.
Penggilingan (grinding) dan menjadikan pelet (pelleting) juga
terdapat hubungannya dengan konsumsi, karena faktor-faktor
diatas dapat menurunkan volume dan gerak laju makanan (rate of
passage ) didalam rumen. Bahan pakan yang voluminous dengan
kecernaan yang rendah, akan mengurangi konsumsi karena ruang
yang tidak tersedia dalam saluran pencernaan (Rumen ) untuk
ditempati bahan pakan baru.
c. Hubungan negatif
Hubungan negatif antara konsumsi dan kecernaan dapat ditemui
pada pemberian bahan pakan berkualitas tinggi yang tidak banyak
mengandung serat. Dalam keadaan demikian yang berpengaruh
adalah kandungan energinya yang membatasi tingkat konsumsi.
Pada kondisi seperti ini serat mempunyai hubungan positif
dengan tingkat konsumsi, kenaikan serat akan menurunkan
tingkat kecernaan, dan ternak akan mengkonsumsi lebih banyak
agar dapat memenuhi kebutuhan energinya. Hal ini juga ada
hubungannya dengan kandungan bahan organik, glukosa dan zat
73Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
lain yang berhubungan dengan kontrol fisiologis dari nafsu makan.
Hubungan antara sifat fisik, komposisi makanan, kecernaan dan
tingkat konsumsi merupakan suatu hal yang kompleks.
Sifat bulki dari bahan pakan erat hubungannya dengan distensi
lambung. Semakin voluminous suatu bahan pakan, semakin cepat ternak
itu merasa kenyang, karena distensi lambung semakin cepat mencapai
tingkat yang menyebabkan ternak merasa kenyang.
Produksi volatil fatty acid (VFA) sebagai hasil fermentasi bahan
pakan dalam rumen, juga berpengaruh terhadap konsumsi, disini
yang menonjol adalah volume asam asetat dalam rumen serta tingkat
penyerapan propionat oleh hati.
Asetat dalam level fisiologis normal akan menekan tingkat
konsumsi. Produksi asam Propionat dan asam butirat juga berpengaruh
yang sama, tetapi dalam level yang tinggi atau fisiologis abnormal.
Pengaruh produksi asam asetat akan lebih besar pada ransum berkualitas
rendah, dibandingkan dengan ransum berkualitas tinggi, dimana proses
metabolisme asetat akan lebih cepat terjadi pada pemberian ransum
yang banyak, dibandingkan dengan pemberian ransum yang sedikit.
Kalau hasil akhir pencernaan tidak memenuhi kebutuhan produksi, maka
akan banyak energi asetat yang terbuang sebagai panas/heat. Konsumsi
akan menurun jika ketidak seimbangan tersebut terjadi di daerah tropis/
panas.
Propionat juga merangsang konsumsi pada level pemberian ransum
yang sedikit. Hal ini akan meningkatkan metabolisme yang menyebabkan
berkurangnya asetat dalam peredaran darah.
pH rumen secara tidak lansung juga akan mempengaruhi tingkat
konsumsi. Penggunaan calcium karbonat atau Ca(OH)2 yang meningkatkan
pH rumen dapat dipandang sebagai penghambat penyerapan asam lemak
terbang (VFA) kedalam darah, sehingga konsumsi akan meningkat.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dapat mempengaruhi sifat ternak yang juga
mempengaruhi tingkat konsumsi melalui mekanisme yang terdapat pada
faktor ternak dan faktor makanan. Faktor lingkungan dapat berpengaruh
lansung atau tidak lansung terhadap konsumsi. Faktor lingkungan yang
berpengaruh lansung pada konsumsi adalah temperatur, kelembaban dan
74 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
sinar matahari. Temperatur yang tinggi dapat menurunkan konsumsi
pada semua jenis sapi, akan tetapi jenis bos taurus ( temperate breed )
lebih banyak dipengaruhi temperatur dibanding kan dengan sapi jenis
bos indicus (tropical breed). Frisian Holstein (FH) dan Brown Swiss akan
menurun konsumsinya bila temperatur lingkungan 21.10 C - 26.70C.
Disamping konsumsi, temperatur lingkungan juga mempengaruhi
efisiensi penggunaan pakan. Pada temperatur dibawah optimum, efisiensi
penggunaan pakan akan menurun, karena ternak lebih banyak makan
guna mempertahankan temperatur tubuh yang normal. Sebaliknya
pada temperatur diatas optimum, ternak akan menurunkan tingkat
konsumsinya, guna mengurangi temperatur tubuh. Semua kondisi diatas
akan menurunkan produksi dan efisiensi penggunaan pakan.
Kelembaban dapat mempengaruhi metabolisme pengaturan temperatur
tubuh. Pengeluaran panas melalui keringat atau respirasi akan terjadi
lebih cepat pada daerah kering. Kelembaban lingkungan sangat penting
diperhatikan pada daerah tropis basah.
Sinar matahari juga mempengaruhi konsumsi, dimana tingkat penyer-
apan cahaya tergantung pada tipe kulit ternak, warna kulit terang, licin
atau mengkilap akan memantulkan cahaya lebih banyak dibandingkan
dengan kulit yang kasar atau gelap.
Cuaca berpengaruh terutama terhadap kadar air bahan pakan hijauan
yang tumbuh vertikal. Dari beberapa hasil penelitian, tingkat konsumsi
bahan pakan akan menurun pada musim hujan dan akan banyak pada
musim kemarau. Pengaruh cuaca terhadap kandungan zat-zat makanan
belum ada kesatuan pendapat. Tetapi ada pendapat bahwa hijauan lebih
nutrisious/bergizi pada musim hujan dibandingkan dengan musim
kemarau, protein kasar, dan BETN lebih tinggi dan berkorelasi negatif
dengan serat kasar yang lebih rendah.
MIKROBA RUMEN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Perbedaan ternak ruminansia dengan ternak non-ruminansia
/ monogastrik adalah pada kemampuan ternak ruminansia untuk
menggunakan atau mencerna serat kasar yang tinggi terutama sellulosa
dan hemisellulosa. Pada saluran pencernaan ternak ruminansia lambung
(stomach) nya terdiri atas 4 bagian ( compartment ) yaitu rumen,
retikulum, omasum dan abomasum sedangkan pada ternak monogastrik
75Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
lambungnya hanya satu bagian saja. Pada rumen dan retikulum terdapat
mikroba yang berperan penting membantu pencernaan serat kasar
tersebut. Hal itulah yang menyebabkan ternak ruminansia, pakan
utamanya tanaman/rumput karena rumput mengandung serat kasar
yang penting bagi mikroba rumen. Mekanisme perjalanan rumput pada
ternak ruminansia dimulai dari mulut kemudian masuk kebagain rumen
membentuk bolus, dimuntahkan kembali, dikunyah lagi dimulut, ditelan
lagi dan di didalam rumen/retikulum di fermentasi oleh mikroba rumen
sebelum masuk ke omasum, abomasum, usus dan dikeluarkan melalui
anus.
Mikroba yang terdapat didalam rumen terdiri atas 4 macam yaitu
: bakteri (mikroflora), protozoa ( mikrofauna ) dan fungi/jamur serta
bakteriophage atau virus. Yang paling banyak perannya dalam pencernaan
bahan pakan adalah 3 jenis yang pertama yaitu : bakteri, protozoa dan
fungi.
Bakteri Rumen.
Bakteri rumen umumnya berbentuk bulat (cocci). Umumnya
bakteri rumen bersifat an-aerob obligat dan hanya sebagian kecil saja
yang bersifat an-aerob fakultatif. Hampir separoh dari biomas rumen
merupakan bakteri, dan berperan besar dalam proses fermentasi.
Didalam rumen normal biasanya jumlah bakteri 15 – 80 x 1010 /ml cairan
rumen dan pada padang rumput yang bagus jumlah bakteri rumen dapat
mencapai 88 x 109/ml cairan rumen pada domba.
Klassifikasi bakteri rumen umumnya didasarkan pada substrat
yang digunakannya sebagai sumber energi utama yaitu :
a. Bakteri sellulolitik.
Bakteri ini punya kemampuan untuk menghasilkan enzim sellulase
yang berperan dalam menghidrolisis ikatan B 1,4 glukosida pada
sellulosa. Bakteri sellulolitik akan berkembang dengan baik didalam
rumen apabila makanan utama ternak berupa pakan yang kaya
sellulosa. Contoh bakteri sellulolitik adalah :
Cillobacterium cellulosolvens
Bacteriodes succinogenes
Ruminococcus albus
76 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Ruminococcus flavefaciens
b. Bakteri Hemosellulolitik.
Bakteri ini mencerna hemisellulosa yang merupakan struktur penting
dari dinding sel tanaman. Umumnya mikroba yang mampu mencerna
sellulosa juga dapat mencerna hemisellulosa, namun demikiaan ada
juga pengecualian yang hanya mampu mencerna satu macam serat.
Contoh bakteri hemisellulolitik adalah :
Bacteroides ruminicola
Butyrivibrio fibriosolvens
c. Bakteri Pengguna asam ( acid utylizer bacteria )
Bakteri jenis ini dapat menggunakan asam-asam organik seperti asam
laktat, suksinat, malat, asetat, fumarat, format dan asam oksalat. Jumlah
bakteri asam laktat akan meningkat pada pakan yang berasal dari
biji-bijian. Bakteri pencerna asam oksalat di rumen, beperan penting
pada pakan yang mengandung asam oksalat tinggi yang beracun bagi
ternak monogastrik, namun dapat dikonsumsi oleh ternak ruminansia.
Contoh bakteri ini adalah :
Selenomonas lactilytica.
Peptostreptococcus elsdenti
Propioni bacterium.
d. Bakteri amilolitik.
Bakteri ini menggunakan pati sebagai substrat fermentasinya. Bakteri
ini akan dominan didalam rumen apabila ransum ternak mengandung
pati yang tinggi seperti pakan butiran. Contoh bakteri ini adalah :
Bacteroides ruminicola
Bacteroides amylophilus
Streptococcus bovis.
Butyrifibrio fibrisolvens
e. Bakteri pengguna gula ( Sugar fermenter bacteria )
Umumnya semua bakteri pemecah polisacharida, disacharida dan
monosacharida termasuk pada golongan ini.
77Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
f. Bakteri Proteolitik
Bakteri proteolitik merupakan bakteri yang paling banyak terdapat
dalam saluran pencernaan ternak ruminansia. Beberapa spesies dari
bakteri ini menggunakan asam amino sebagai sumber energinya.
Contoh bakteri proteolitik adalah :
Bacterioides amilophylus
Clostridium sporogenes
Bacillus licheniformis
g. Bakteri penghasil methan ( Methanogenic bacteria ).
Bakteri ini mampu menghasilkan gas methan dari karbohidrat dan
asam organik. Hampir 25 % dari gas yang dihasilkan didalam rumen
adalah dalam bentuk gas methan. Contoh bakteri ini adalah :
Methanobacterium formicicum
Methanobacterium ruminantium
h. Bakteri Lipolitik
Bakteri ini menggunakan glicerol sebagai substratnya. Beberapa
spesies juga dapat menghidrolisa asam lemak tak jenuh dan sebagian
lagi dapat merombak asam lemak rantai panjang menjadi keton. Contoh
bakteri lipolitik ini adalah :
Anaerovibrio lipolytica
Selemonas ruminantium
i. Bakteri urolitik.
Bakteri urolitik merupakan bakteri utama yang bertanggung jawab
dalam recycling urea. Bakteri ini punya kemampuan memecah urea
pada dinding rumen menjadi CO2 dan amonia.
Protozoa Rumen
Protozoa merupakan massa yang besar dari mikroba rumen.
Perannya dalam proses metabolisme rumen tidak begitu jelas. Protozoa
mengandung 10 – 40 % N dari total nitrogen rumen. Protozoa merupakan
bakteri non-patogen dan bersifat an-aerob. Pada rumen normal dijumpai
protozoa sebanyak 105 – 106/ ml cairan rumen. Protozoa juga mampu
memfermentasi hampir seluruh komponen tanaman dalam rumen
78 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
seperti sellulosa, hemisellulosa, fruktan, pektin, pati, gula mudah larut
dan lemak. Protozoa secara umum aktif memangsa bakteri bahkan
kadang-kadang memangsa protozoa yang lebih kecil atau antar sesama
mereka dapat terjadi kanibalisme. Protozoa juga dengan cepat akan
menghidrolisis bermacam protein menghasilkan amonia dan amida serta
akan melepaskan asam-asam amino dan peptida. Dibandingkan dengan
bakteri, populasi protozoa didalam rumen sangat bervariasi dari 0 – 5 x
106 / ml cairan rumen. Namun umumnya terdapat di dalam rumen sekitar
0.2 – 2.0 x 106/ml cairan rumen.
Protozoa dapat diklassifikasikan atas dasar morpologinya karena
ukurannya yang cukup besar. Protozoa rumen diklassifikasikan pada 3
ordo yaitu :
a. Prostomatida
b. Trichostomatida
c. Entodiniomorphida
Ordo yang ke 3 Entodiniomorphida adalah yang terbanyak
dijumpai di dalam rumen. Ordo ini mempunyai 6 famili yaitu :
Ophryoscolecidae, Cyclophostiidae, Polydiniellidae, Dixtiidae, telanodniidae
dan Tryglodytellidae. Dari keenam family tersebut hanya famili
Ophryoscolecidae yang ditemukan pada rumen ternak ruminansia.
Walaupun klassifikasi protozoa seperti tersebut diatas, namun para ahli
nutrisi ruminansia mengklassifikasikan protozoa atas 2 kelompok saja
yaitu : Oligotricha dan Holotricha.
Oligotricha mempunyai ukuran sel lebih kecil dan hanya memiliki
cilia di sekitar prostoma (mulut). Jenis ini sedikit sekali menggunakan
guna yang larut ( water soluble carbohydrate ) sebagai pakannya
namun butir-butir pati merupakan pakan utamanya. Agak diragukan
bahwa protozoa mampu mencerna sellulosa, namun diketahui bahwa
protozoa memangsa bakteri dan bakteri inilah didalam tubuh protozoa
menghasilkan enzim sellulase yang akan merombak sellulosa yang
terdapat dalam tubuh protozoa tersebut. Jadi bukan protozoa yang
lansung merombak sellulosa. Bakteri sellulolitik sudah lama diketahui
dapat hidup bersama simbiosis dengan protozoa didalam selnya. Spesies
penting dari Oligotricha antara lain : Diplodinium dentatum, Eudiplodinium
bursa, Polypastron multivesiculatum dan Entodinium caudatum.
79Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Holotricha mempunyai ukuran sel lebih besar dengan cilia menutup
seluruh tubuhnya. Pergerakannya cepat, bentuknya oval dan terdapat
dalam jumlah yang banyak bila pakan utamanya banyak mengandung
karbohidrat mudah larut seperti glukosa, fruktosa, sukrosa dan pektin.
Beberapa spesies holotricha adalah : Isotricha intestinalis, isotricha
prostoma dan dasytricha rumiantium.
Jamur Rumen
Jamur di dalam rumen belum banyak menjadi perhatian para
peneliti nutrisi ruminansia. Sebagian menyebut ragi (yeast) dan kapang
(moulds) sebagai jamur dan dijumpai di dalam rumen, dan dinyatakan
bahwa kedua hewan tersebut hanya lewat atau singgah sebentar di
dalam rumen. Ini dibuktikan melalui berbagai penelitian menggunakan
simulator mirip kondisi rumen dan ternyata kedua hewan tersebut diatas
tidak bertumbuh, dan memang selama ini didalam riset menggunakan
rustek ( rumen simulator teknik ) secara in-vitro, para peneliti lebih
banyak meneliti mengenai bakteri rumen dari pada mengamati secara
total dan utuh apa sebenarnya yang terdapat di dalam rumen.
Memang ditemukan sel kembara yang dianggap selama ini sebagai
flagellata, yang hidup di dalam cairan rumen sampai mereka menemukan
partikel tanaman yang akan digunakannya sebagai media untuk tumbuh.
Siklus kehidupan jamur an-aerobik rumen ini belum banyak diteliti,
namun ditemui pada rumen ternak yang ransum basalnya banyak
mengandung serat kasar yang tinggi, seperti jerami. Ini menunjukkan
bahwa jamur rumen mempunyai peranan dalam pencernaan serat kasar.
Salah satu ciri khas jamur rumen adalah kebutuhannya pada kondisi
absolut an-aerobik (strictly an-aerobic) untuk pertumbuhannya. Siklus
hidup jamur rumen hanya 24–30 jam, menunjukkan bahwa jamur
rumen kehidupannya sangat tergantung pada bahan yang sukar dicerna.
Beberapa spesies dari jamur rumen pada rumen ternak ruminansia
adalah : Caecomyces communis, Piromyces communis, Neocallimastix
frontalis dan Anaeromyces yang ditemukan dalam rumen ternak domba.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mikroba rumen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan mikroba di dalam
rumen adalah : Suhu rumen, komposisi gas dalam rumen, tekanan
osmotik dan ionik dalam rumen, keasaman (pH), zat nutrisi yang tersedia,
80 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
keluar masuknya aliran digesta ke dan dari rumen serta faktor-faktor lain
seperti defaunasi, individu ternak dan kompetisi makanan .
Suhu yang normal untuk pertumbuhan mikroba didalam rumen
adalah 39 – 410C. Suhu diatas atau dibawah dari batasan tersebut akan
mempengaruhi aktivitas mikroba rumen.
Keasaman (pH) yang normal di dalam rumen adalah 6.0 – 7.0.
Protozoa adalah hewan yang sangat sensitif terhadap perubahan pH dan
akan mati jika pH di bawah 5.5.
Komposisi gas didalam rumen akan mempengaruhi kehidupan
mikroba rumen. Komposisi gas di dalam rumen adalah: CO2 : 63 %,
CH4 : 27 %, N2 : 7 % dan H2S serta H2 sekitar 3 % serta sedikit O2 yang
masuk kedalam rumen disaat menelan makanan. Karena kondisi an-
aerob didalam rumen sangat penting, maka produksi CO2 pada proses
fermentasi sangat menentukan terciptanya kondisi anaerob. Meskipun
kadar nitrogen didalam rumen sangat rendah, beberapa jenis bakteri
memerlukan unsur nitrogen untuk pertumbuhannya. Sumber utama
nitrogen untuk bakteri rumen adalah amonia ( NH3 ), peptida dan asam
amino yang berasal dari makanan.
Bakteri rumen biasanya lebih tahan hidup terhadap perubahan
tekanan osmotik dibandingkan dengan protozoa. Hal ini disebabkan
kemampuan bakteri untuk mempertahankan konsentrasi beberapa ion
yang terdapat didalam selnya.
Komposisi ransum sangat menentukan hasil akhir fermentasi
dan laju pengenceran ( dilution rate ) cairan rumen. Bakteri sellulolitik
dominan didalam rumen jika ransum basal banyak mengandung serat
kasar yang tinggi, dan sebaliknya protozoa akan berkurang jumlahnya.
Pemberian bahan antibiotika di dalam ransum akan menurunkan
populasi bakteri, namun pemberian bahan defaunasi seperti tannin dan
saponin dapat menurunkan populasi protozoa di dalam rumen.
81Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
VI
PENENTUAN KECERNAAN PADA TERNAK
RUMINANSIA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHINYA
Daya cerna atau koofisien cerna adalah bagian zat makanan yang tidak
dieksresikan dalam feses yang dinyatakan dalam persentase. Istilah daya
cerna sama dengan kecernaan sedangkan pencernaan adalah rangkaian
proses yang terjadi dalam alat pencernaan sampai memungkinkan
terjadinyapenyerapan.Penyerapansangat dibutuhkanuntukmemperoleh
gambaran tentang kandungan digestible energi (DE) atau total digestible
nutrien (TDN) bahan pakan/ransum, karena untuk pemberian pakan
pada ternak, perlu diketahui terlebih dahulu kandungan energinya dalam
bentuk DE atau TDN.
Penentuan daya cerna diperlukan untuk : 1. Mendapatkan gambaran
kasar tentang nilai bahan makanan, karena yang pakan yang dapat
dicernalah yang akan diserap oleh ternak, 2. Menentukan pengeluaran zat
makanan dalam bentuk feses yang merupakan kehilangan pakan terbesar
yang jumlahnya sangat bervariasi, 3. Mengukur nilai energi bahan pakan
yang dinyatakan dengan martabat pati (MP),TDN, metabolisme energi
(ME), dan net energi (NE), yang kesemuanya membutuhkan angka
koefisien cerna, dan ke 4. Mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi
berhubungannya erat dengan daya cerna atau kecernaaan pakan.
Penentuan kecernaan pada ternak ruminansia.
Penentuan kecernaan pada ternak ruminansia dapat dilakukan dengan
berbagai cara antara lain in vivo, in vitro dan in-sacco dengan penjelasan
sebagai berikut :
A. Metoda in-vivo (koleksi total)
Metoda ini dilakukan dengan menggunakan lansung ternak
percobaan. Penentuan kecernaan in- vivo membutuhkan ternak, makanan,
tenaga kerja dan biaya yang banyak. Dengan metoda koleksi total ini,
kecernaan didapatkan dengan mencatat makanan yang dikonsumsi dan
feses yang dikeluarkan setiap harinya. Dalam penelitian in-vivo sebaiknya
83Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
jangan menggunakan satu ekor ternak saja, karena adanya variabilitas
antar ternak, dan biasanya ternak jantan lebih disukai untuk penelitian
ini, karena ternak jantan dalam pelaksanaannya lebih mudah dilakukan
pemisahan feses dan urinnya. Selama percobaan kecernaan, ternak yang
digunakan selalu ditempatkan berada dalam kandang khusus ( metabolic
pen ) yang dipasang kantong/harnes untuk mengumpulkan feses dan
botol penampung urin. Untuk pengukuran daya cerna dengan metoda in-
vivo terdapat dua periode yaitu:
I. Periode pendahuluan
Dilakukan selama 7 – 10 hari bahkan ada yang melakukan periode ini
sampai 15 hari dengan alasan waktu paruhnya 3 hari maka:
a. 3 hari pertama pengaruh makanan sebelumnya masih tinggal 50%
dan pengaruh makanan yang dicobakan baru 50%.
b. 3 hari kedua pengaruh makanan sebelumnya masih tinggal 25%
dan pengaruh makanan yang dicobakan baru 75%.
c. 3 hari ketiga pengaruh makanan sebelumnya masih tinggal 12.5%
dan pengaruh makanan yang dicobakan sudah mencapai 87.5%.
d. 3 hari keempat pengaruh makanan sebelumnya masih tinggal
3.125 % dan pengaruh makanan baru sudah mencapai 96.875%.
Pengaruh makanan lama yang tinggal 3.125 % sudah dapat
diabaikan sehingga dapat dianggap hampir 100 % kecernaan makanan
tersebut adalah pengaruh makanan baru.
Tujuan periode pendahuluan adalah: (1). Untuk membiasakan
ternak dengan ransum yang dicobakan serta untuk penyesuaian dengan
lingkungan sekitarnya dan ke (2). Untuk menghilangkan pengaruh sisa
makanan sebelumnya .
II. Periode koleksi selama 5 – 7 hari
Dalam periode koleksi ini seluruh sisa makanan dan feses
dikumpulkan, ditimbang dan dicatat setiap hari. Setelah dikumpulkan,
diambil masing-masing nya 5%, lalu dikeringkan dan digabungkan
selama periode koleksi dan selanjutnya dianalisis di laboratorium.
Akhirnya dapat dihitung kecernaan zat makanan ransum dengan
menghitung selisih jumlah ransum yang dikonsumsi dengan tinja
yang dikeluarkan, dimana keduanya sudah dianalisis di laboratorium
komposisi zat makanannya.
84 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Dapat kita lihat contoh dibawah ini:
Konsumsi bahan kering ransum = 3.541 kg
Jumlah bahan kering tinja = 1.138 kg
Maka kecernaan bahan kering (BK) adalah : konsumsi – eksresi
----------------------- X 100%
konsumsi
= 3.541 – 1.138
----------------- X 100%
3.541
= 67.86%
Begitu juga untuk menghitung kecernaan zat makanan lainnya
seperti kecernaan protein kasar (PKdd), serat kasar (SK), lemak (L) dan
bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) maka dapat ditentukan dengan
perkalian persentase kecernaan di atas dengan kandungan zat makanan
dalam ransumnya.
Dengan diketahuinya persentase zat-zat makanan dapat dicerna
dari suatu bahan (ransum) akhirnya dapat ditentukan TDN (Total
digestible Nutrient) dengan rumus :
TDN = % PK dd + % SK dd + % BETN dd + 2.25 (% Ldd) dimana,
PK dd : Protein kasar dapat dicerna
SK dd : Serat kasar dapat dicerna
BETN dd : Bahan ekstrak tanpa nitrogen dapat dicerna dan
L dd : Lemak dapat dicerna
Dalam standar makanan yang modern kecernaan dapat dinyatakan
dalam energi dapat dicerna (DE = digestible energi) dan energi
metabolisme (ME=Metabolizable energi) . DE dan ME dapat dihitung dari
TDN dengan rumus:
DE = 0.04409 X TDN
ME = 0.82 DE
NEm = 1.115 – 0.8971 ME + 0.6507 ME2- 0.102 ME3+ 0.005725 ME4
NEg = - 3.325 + 3.178ME – 0.8646 ME2 + 0.1275 ME3-0.00678 ME4
NEl = - 0.12 + 0.0245 TDN (%) dimana,
85Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
DE : Digestible energi
ME : Metabolizable energi
NEm : netto energy untuk maintenance
NEg : netto energy untuk gain
NEl : netto energy untuk lactation
Melalui hasil analisis proksimat juga dapat diperkirakan total
digestible nutrien (TDN) ransum pada sapi melalui persamaan regresi
sebagai berikut :
% TDN = -54.572 + 6.769 SK – 51.083 (L) + 1.851 (BETN) – 0.334 PK –
0.049 (SK)2 + 3.384 (L)2 – 0.086 (SK)(BETN) + 0.0687 (L)
(BETN) + 0.942 (L)(PK) – 0.112 (L)2(PK).
Dimana :
SK : Serat kasar
L : Lemak
BETN : Bahan ekstrak tanpa nitrogen
PK : Protein kasar
Contoh : Hasil analisis proksimat rumput gajah segar yang diberikan
pada ternak sapi potong adalah PK : 9.6 %, SK : 32.7 %, L : 1.9 % dan
BETN : 45.2 % dari bahan kering. Hitunglah berapa % TDN rumput gajah
tersebut :
% TDN = -54.572 + 6.769 SK – 51.083 (L) + 1.851 (BETN) – 0.334
PK – 0.049 (SK)2 + 3.384 (L)2 – 0.086 (SK)(BETN) + 0.0687
(L)(BETN)+ 0.942 (L)(PK) – 0.112 (L)2(PK).
% TDN = -54.572 + 6.769 x 32.7 – 51.083 (1.9) + 1.851 (45.2)
–0.334 (9.6) – 0.049 (32.7)2 + 3.384 (1.9)2 – 0.086 (32.7)
(45.2) + 0.0687 (1.9)(45.2) + 0.942 (1.9)(9.6) – 0.112
(1.9)2(9.6) 55.2
B. Pengukuran Retensi Nitrogen (Neraca N)
Retensi nitrogen merupakan bagian protein makanan yang
tertinggal didalam tubuh, merupakan selisih antara jumlah protein (N)
yang dikonsumsi dengan yang dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
feses dan urine. Retensi Nitrogen ( Nitrogen Balance) dapat dirumuskan
dengan persamaan :
86 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)