The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini membahas perihal tentang dunia nutrisi ruminansia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by politekniklinggaofficial, 2022-12-29 02:58:25

Dasar Nutrisi Ruminansia

Buku ini membahas perihal tentang dunia nutrisi ruminansia

Keywords: #ebook #PTB

NB = I – (U + F), dimana,
NB = Nitrogen Balance
I = konsumsi nitrogen(intake)
U = nitrogen yang terdapat dalam urine
F = nitrogen yang terdapat dalam feses.

Neraca N bisa bernilai positif (+), nol (0) dan negatif (-). Apabila
neraca N bernilai positif, maka kehidupan ternak mengalami pertumbuhan
berupa jaringan baru atau peletakan protein dalam jaringan. Apabila
bernilai nol, maka sistim berada dalam keseimbangan, artinya nitrogen
yang dikonsumsi hanya cukup untuk kebutuhan hidup pokok, tetapi
apabila neraca N bernilai negatif berarti terjadi kehilangan N jaringan
melalui proses katabolisme, sebagai akibat dari N ransum yang tidak
mencukupi untuk kebutuhan hidup pokok ternak yang bersangkutan.

Retensi N pada akhirnya juga ditentukan oleh proses pencernaan
dalam organ pasca rumen. Nilai hayati atau Biological value (BV)
protein sangat beragam, dan nilai ini ditentukan oleh berapa banyak
protein (asam amino) yang diserap dapat digunakan oleh tubuh.
Faktor yang menentukan nilai guna ( Biological value ) N adalah:

1. Pertumbuhan mikroorganisme rumen
2. Penyerapan amonia oleh mikroba rumen
3. Kualitas protein makanan
Dalam memilih protein bagi ruminansia, minimal harus didasarkan pada:
1. Protein tersebut sanggup mendukung pertumbuhan mikroba

rumen secara maksimal
2. Tahan tergadap degradasi didalam rumen
3. Bernilai hayati ( Biological value ) yang tinggi

C. Pengukuran Kecernaan Melalui Metoda Indikator
Daya cerna zat makanan (ransum) dapat pula diukur bila dalam

ransum tersebut terdapat senyawa indikator yang sama sekali tidak
dapat dicerna didalam rumen. Cara ini dikenal dengan metoda indikator
(indicator method). Apabila kadar indikator dalam ransum dan dalam
feses diketahui perbandingannya, maka dapat diperkirakan daya cerna
ransum dengan rumus :

87Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Kecernaan Zat Makanan = If / Zf – Im/ Zm x 100
If / Zf
If = Indikator dalam feces
Zf = zat makanan dalam feses
Im = indicator dalam makanan
Zm = zat makanan dalam ransum

Dalam percobaan pengukuran indikator, biasanya sering digunakan
indikator alami seperti lignin dan silika (SiO2).

D. Pengukuran Kecernaan Hijauan Pada Padang Penggembalaan

Cara mengukur daya cerna hijauan / rumput pada padang
pangonan/penggembalaan, adalah cukup sukar walaupun menggunakan
indikator alami seperti lignin atau kromogen. Kesukaran utama
menggunakan lignin adalah ketidakmampuan peneliti untuk memilih
cuplikan rumput yang mengandung kadar lignin yang sesuai dengan yang
dimakan ternak. Biasanya ternak lebih selektif dan akan memilih hijauan
yang kadar ligninnya rendah, proteinnya tinggi serta serat kasarnya
rendah dibandingkan dengan cuplikan / sampel yang diambil dengan
memotong rumput tersebut. Dengan metoda indikator (lignin), prosedur
penentuan kecernaan hijauan/rumput dapat diperpendek dengan
perhitungan sebagai berikut :

Kecernaan = 100 x % If - % Ir

% If

dimana, If : Indikator dalam feses

Ir : Indikator dalam rumput

E. Metoda Penentuan Kecernaan secara In-vitro

Metoda In-vitro adalah percobaan penentuan kecernaan pakan
ternak ruminansia yang dilakukan di laboratorium mirip percobaan
kecernaan yang terjadi pada rumen ternak ruminansia. Metoda In-vitro
dilakukan untuk menghemat waktu, materi, tenaga dan biaya yang
dikeluarkan oleh peneliti. Dalam penelitian in-vitro dapat ditentukan
berbagai parameter seperti Kecernaan Bahan Kering ( KCBK), Kecernaan
Bahan Organik (KCBO), Kecernaan Protein (KCP), Produksi Gas, Produksi

88 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

total VFA ( Volatil Fatty Acid ), nilai pH, Jumlah mikroba, atau produksi
VFA partial ( asetat, propionat dan butirat ).

Teknik Percobaan in vitro dua tahap (Tilley and Terry, 1963) yaitu:

Tahap pertama adalah fermentasi bahan ransum/sampel halus yang
diteliti, dengan inokulum rumen serta buffer (saliva buatan ) selama 48
jam dalam kondisi an-aerob yang menirukan pencernaan dalam rumen.

Tahap kedua adalah sampel pada tahap pertama setelah selesai
diinkubasikan tadi, diasamkan dengan HCl sampai pH 2, kemudian
dicerna dengan asam pepsin selama 24 jam menirukan pencernaan pasca-
rumen. Sisa yang tidak larut selama proses ini disaring, dikeringkan dan
dibakar untuk mendapatkan berat abunya, dan berat yang hilang dalam
pembakaran ini adalah berat bahan organik sehingga akhirnya dapat
dihitung kecernaan bahan organik (KCBO) bahan sebagai berikut:

% KCBO = BO dalam bahan makanan - BO dalam sisa x 100

BO dalam bahan makanan
Dari berbagai penelitian, ternyata koefisien cerna yang didapatkan
secara in- vivo 1-2 % lebih rendah dari nilai kecernaan yang didapatkan
pada penelitian in-vitro.

Nilai perhitungan kecernaan in-vitro biasanya lebih besar dari nilai
yang sebenarnya disebabkan karena:

1. Adanya produksi gas methan yang berasal dari karbohidrat dalam
makanan dan adanya gas yang hilang melalui eruktasi di mulut.

2. Terdapatnya bahan-bahan yang berasal dari tubuh di dalam feses
sehingga zat makanan yang terdapat dalam feses tidak seluruhnya
berasal dari makanan.

3. Sebagian dari bahan yang terdapat di dalam feses ini adalah berupa
enzim yang disekresikan ke dalam saluran pencernaan dan tidak
diabsorbsi kembali

4. Adanya hasil kikisan atau runtuhan sel yang berasal dari dinding
saluran pencernaan.

Oleh sebab itu data yang diperoleh dalam percobaan kecernaan
tersebut dikatakan apparent digestion coefisient (koefisien cerna semu)
sedangkan true degestibility adalah jumlah zat makanan metabolik
sudah dikurangi dengan zat makanan yang dikeluarkan dalam urin.

89Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Kecernaan Protein in-vitro

Teknik multi enzim oleh Hsu dkk (1997) telah menemukan bahwa
pH suspensi protein pada menit ke 10 setelah dihidrolisis oleh larutan
multienzim ( campuran tripsin, khimotripsin dan peptidase ), mempunyai
korelasi dengan daya cerna protein yang ditentukan secara biologis
melalui penggunaan tikus dengan metoda sebagai berikut:

1. Siapkan sampel 1 gr dicampur dengan 50 mg pepsin dalam 1 ml
HCl 0.01 N

2. Campuran diaduk dalam shaker pada suhu 370C selama 48 jam,
disentrifuse pada kecepatan 20.000 rpm selama 5 menit pada suhu
50C.

3. Setelah supernatannya dipisahkan, residu disuspensikan kembali
dalam 10 ml aquades dan 10 ml buffer Na fosfat 0.1N, pada pH 8.0
dan ditambah dengan 5 mg tripsin

4. Campuran diaduk dalam shaker pada suhu 230C selama 16 jam

5. Residu padatan dipisahkan melalui sentrifuse, dicuci sebanyak 5
kali dengan 30 ml aquades (untuk setiap kali cucian, supernatan
dipisahkan dengan sentrifuse seperti diatas)

6. Residu disaring melalui milipores filter (1.2 mikron), dikeringkan
dalam oven dan kadar nitrogennya ditentukan melaui metoda
Kjeldahl (analisis proksimat).

7. Kecernaan protein (KP) in-vitro dihitung dengan menggunakan
rumus:

KP (%) = N total dalam sampel – N dalam residu x 100

N total dalam sampel

Prosedur (Pepsin- Pankreatin)

Dalam suatu tabung sentrifuse, 250 mg sampel yang sudah
berbentuk tepung disuspensikan kedalam 15 ml HCl 0.1 N yang
mengandung 1.5 mg pepsin . Kemudian di aduk-aduk dalam sampel yang
diuji nilai koefisien korelasi yang tinggi (0.9), antara daya cerna in-vitro
dan in-vivo. Persamaan regresi yang diperoleh adalah :

Y = 210.464 – 18.103 X dimana,

Y = daya cerna protein, dan

X = pH suspensi sampel protein pada menit ke 10.

90 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Melalui metoda ini sampel protein dihidrolisis dengan campuran
multi enzim sehingga ion hidrogen akan dibebaskan, yang menyebabkan
penurunan pH suspensi . Nilai pada menit ke 10 dicatat untuk menghitung
daya cerna protein sampel, dengan menggunakan persamaan regresi
tersebut di atas.

Pereaksi yang digunakan :

1. Larutan HCl 0.1 N

2. Larutan NaOH 0.1 N

3. Larutan multienzim dalam air destilasi yaitu campuran 1.6 mg
tripsin,1.3 mg peptidase per ml. Buat larutan enzim secukupnya,
letakkan dalam ice bath , atur pH nya menjadi 8.0 dengan
menambahkan larutan NaOH atau HCl 0.1 N.

Prosedur :

1. Sampel digiling halus sampai lolos ayakan 80 mesh

2. Suspensikan sampel dalam air destilasi (glass distilled water)
sampai diperoleh konsentrasi 6.25 mg protein /ml

3. Sebanyak 50 ml suspensi sampel, ditaruh dalam gelas piala kecil,
kemudian diatur pHnya menjadi 8.0 dengan menambahkan HCl
atau NaOH 0.1 N.

4. Taruh sampel dalam penangas air bersuhu 370C dan diaduk
menggunakan magnetic stirer selama 5 menit.

5. Tambahkan 5 ml larutan multienzim (saat menambahkan
enzim dicatat sebagai waktu ke nol, pada saat mana stop watch
dihidupkan) kedalam suspensi sampel protein, sambil tetap diaduk
dalam penangas air 370C. Kemudian catat pH suspensi sampel pada
menit ke 10.

F. Penentuan Kecernaan Metoda In Sacco
Inkubasikan pakan pada waktu yang berbeda didalam retikulo-

rumen, dimana sampel bahan pakan dimasukkan kedalam kantong nylon
(nylon bag) yang menungkinkan pengukuran lansung hubungan antara
waktu dengan degradasi mikroorganisme rumen (teknik in sacco).
Metoda ini sebenarnya lebih banyak pengerjaannya di laboratorium.
Tetapi sebelumnya sampel yang akan dicari nilai kecernaannya

91Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

dimasukkan kedalam kantong nilon dan dicerna lansung di dalam rumen
pada waktu tertentu. Selanjutnya barulah dilakukan dilaboratorium.
Kantong nilon yang digunakan adalah khusus, sehingga bahan pakan
yang akan diuji tidak akan lolos dari pori-pori kantong nilon. Dapat juga
dikatakan percobaan ini dilakukan lansung pada ternak dan lanjutannya
di laboratorium. Untuk mengetahui degradasi pakan oleh mikroba rumen
pada waktu inkubasi t ( Y ), dapat digunakan persamaan ekponensial
Orskov ( 1979 ) dengan rumus sebagai berikut :

Y = a + b (1 – e-ct ) dimana,

Y : degradasi / Kecernaan pakan oleh mikroba rumen pada waktu t

( waktu inkubasi dalam jam ).

a : intercept extrapolasi kurva degradasi

b : asymptote eksponensial b ( 1 – e-ct ). Dicapai ketika t = ~

c : laju degradasi fraksi b

a + b : bahan pakan yang berpotensi didegradasi diberi simbol (a+b)
meliputi material yang dapat meninggalkan kantong nilon tanpa
degradasi.

G. METODA ANALISIS FRAKSI SERAT (VAN SOEST) DAN PENENTUAN
KARAKTERISTIK CAIRAN RUMEN

Pakan utama ternak ruminansia adalah hijauan yang mengandung
fraksi serat yang tinggi terutama sellulosa dan hemisellulosa. Pada analisa
secara proksimat kandungan serat hanya ditentukan dengan penentuan
kadar serat kasar dan tidak dapat memisahkan antara kadar sellulosa dan
hemi sellulosa. Oleh sebab itu untuk analisa bahan pakan hijauan lebih
banyak digunakan analisa serat yang lebih dikenal dengan analisa Van
Soest. Pada analisa Van Soest sudah dapat dipisahkan kandungan Isi cell
(cell content), dinding sell/cell wall (NDF), ADF, Sellulosa, Hemisellulosa,
lignin dan silika (acid insoluble ash). Dibawah ini dijelaskan prosedur
kerja dari beberapa analisa Van Soest tersebut :

1. Neutral Deterjent Fiber (NDF).

Masukkan 1 gr sampel bahan makanan (a) yang telah digiling
halus ke dalam gelas piala 500 ml dan tambahkan 100 ml larutan neutral
detergent solution (NDS). Setelah itu panaskan (ekstraksi) dengan
pemanas listrik selama 1 jam yang dihitung dari mulai saat mendidih.

92 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Hasil ekstraksi disaring dengan menggunakan kertas saring yang
diketahui beratnya (b) gram dengan bantuan pompa vakum. Residu
hasil penyaringan dibilas dengan air panas beberapa kali dan terakhir
dengan aseton, selanjutnya dikeringkan dalam oven 1350C selama 2
jam, didinginkan dalam desikator dan ditimbang beratnya (c) gram.
Persentase NDF dihitung dengan persamaan :

% NDF = c – b X 100

a

2. Acid Detergent Fiber (ADF)

Ambil 1 gram sampel (a) masukkan ke dalam gelas piala, kemudian
ditambahkan 100 ml acid detergent solution (ADS). Bahan sampel
diekstraksi selama 1 jam, kemudian disaring dengan kertas saring
yang telah diketahui beratnya (b) gram dengan bantuan pompa vakum.
Residu hasil penyaringan dicuci dengan air panas beberapa kali dan
akhirnya dicuci dengan aseton. Dinginkan dalam desikator dan kemudian
ditimbang beratnya (c) gram. Nilai ADF dihitung dengan rumus:

% ADF = c - b X 100%

a

3. Sellulosa

Analisis ini merupakan kelanjutan dari analisis ADF, selanjutnya
ditambahkan H2SO4 72 % secukupnya ke dalam sampel ADF sehingga
residu terendam dengan baik. Setiap setengah jam diaduk agar resapan
merata keseluruh sampel. Setelah 3 jam sisa asam dalam residu dicuci
dengan air panas, sehingga tidak lagi mengandung asam, kemudian dicuci
dengan aseton 25 ml. Residu dikeringkan dalam oven 1350C selama 2
jam, lalu didinginkan dalam desikator dan ditimbang beratnya (c) gram.
Akhirnya bahan tersebut dibakar dalam tanur pada suhu 6000C selama 3
jam, kemudian didinginkan dan dihitung beratnya (d) gram Persentase
sellulosa dihitung dengan rumus:

% sellulosa = c – d X 100%

a

4. Hemisellulosa

Persentase hemisellulosa dihitung dari selisih antara NDF dan ADF

93Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

H. PENGUKURAN PARAMETER KARAKTERISTIK CAIRAN RUMEN
1. Penentuan Kadar VFA ( Volatil Fatty Acid) cairan rumen
Pengukuran kadar VFA cairan rumen in-vitro dilakukan melalui
teknik destilasi uap ( General laboratory, 1966 ) dengan prosedur se-
bagai berikut :

 Supernatan dari tabung in-vitro di pipet sebanyak 5 ml dan
dimasukkan kedalam gelas erlemeyer, ditambahkan 1 ml H2SO4. 15
% dan kemudian ditutup rapat.

 Dilakukan destilasi dan hasilnya ditampung dengan gelas erlemeyer
250 ml yang sudah di isi dengan 5 ml NaOH. 0.5 N.

 Proses destilasi dihentikan setelah volume hasil destilasi mencapai
jumlah 200 ml.

 Teteskan 3 tetes indikator phenolphtaline (pp).
 Titrasi dengan HCl 0.5 N sampai terjadinya perubahan warna dari

ungu menjadi bening.
 Hitung Total VFA dengan rumus :
VFA (mM) = (a-b) x N. HCl x 1.000/5 dimana,
a : ml N.HCl titrasi blanko.
b : ml titrasi blanko
2. Menghitung konsentrasi VFA total dan Parsial
 Tambahkan 30 g sulfosalisic ( untuk mengendapkan protein ).
 Kocok dengan stirer, kemudian sentrifuse pada kecepatan 3.000

rpm selama 20 menit.
 Saring pada pori 0.22 mm.
 Ambil supernatannya sebanyak 2 ml dan suntikkan kedalam GLC

( Gas liquied chromatography ) dan larutan sampel akan terbawa
oleh gas carrier, nitrogen.
 Reaksinya akan terekam dalam bentuk chromatogram dan
hitunglah luasnya untuk masing-masing VFA ( Volatile fatty acids )
atau asam lemak terbang total atau parsial ( asetat, propionat dan
butirat ) melalui rumus :

94 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Produksi VFA total = Luas area VFA total sampel x 100 mg/100 ml

Luas area VFA total standar

Produksi VFA parsial = Luas area VFA parsial sampel x 100 mg/100 ml

Luas area VFA parsial standar

3. Pengukuran Derajat Keasaman ( pH ) cairan rumen in-vitro.

 pH di ukur segera setelah masing-masing periode inkubasi selesai (
umpama setiap 24 jam )

 Gunakan pH meter yang sudah di standarisasi dengan larutan
buffer antara pH 7 dan pH 14.

 Nilai dari pH meter pada pengukuran cairan rumen in-vitro adalah
tingkat keasaman dari cairan rumen.

4. Pengukuran NH3 dari cairan rumen in-vitro

 Pengukuran nilai NH3 cairan rumen dilakukan menurut prosedur
Conway dan O’Malley (1942) dengan menggunakan Cawan Conway.

 Bahan yang diperlukan selain cairan rumen in-vitro adalah asam

borat ( H2BO3), NaOH 40 % dan indikator campuran methylen blue
dan methylen red.

 Prosedur kerja adalah dengan meneteskan sampel cairan rumen
sebanyak 1 ml ke bagian sisi kanan dari cawan conway dan 2 ml
NaOH 40 % ke bagian sisi kiri cawan conway.

 Teteskan 1 ml H2BO3 ke bagian tengah cawan conway.
 Teteskan indikator campuran pada H2BO3
 Tutup cawan dengan penutupnya, olesi vaselin pada bagian pinggir

cawan dan simpan selama 24 jam.

 Titrasi dengan HCl 0.01 N sampai warna nya berubah menjadi hijau
kemerahan.

 Hitung Konsentrasi NH3 dengan menggunakan rumus :

NH3 ( mg % ) = ml titrasi x HCl x 17 x 100

ml sampel

95Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

5. Penghitungan jumlah bakteri rumen in-vitro.

1. Pelaksanaan pengenceran media sebagai berikut :

 Siapkan cairan rumen hasil in-vitro.

 Lakukan sterilisasi ruangan filter dengan sinar ultra violet dan
alkohol.

 Siapkan gas CO2
 Buat larutan pengencer sebanyak 7 tabung ( tabung 1 – 7 ) masing-

masing 100 ml.

 Masukkan 0.5 ml cairan rumen in-vitro kedalam tabung 1 sambil
dialiri gas CO2.

 Ambil lagi 0.5 ml cairan rumen tabung 1 dan masukkan kedalam
tabung 2 sambil terus dilakukan seperti tersebut diatas sampai
akhirnya ke tabung 7.

2. Pelaksanaan penanaman bakteri sebagai berikut :

 Siapkan tabung media agar yang telah berisi media sebanyak 100
ml, letakkan pada water bath ( 500 C ) agar media mencair.

 Masukkan 0.5 cairan dari tabung pengencer nomor 7 kedalam
tabung media agar yg sudah mencair.

 Tutup tabung dengan rapat ( penutup karet ) dan letakkan diatas
roler sampai membeku lagi dan rata.

 Inkubasikan dalam inkubator selama 4 – 5 hari

 Hitung jumlah koloni bakteri yang terlihat pada dinding tabung (
berupa titik-titik berwarna putih susu ) dengan perhitungan :

Jumlah koloni bakteri rumen = jumlah koloni pada tabung x 2 x 107

Keterangan :

Komposisi larutan pengencer :

 Larutan mineral I : 3.75 ml

 Larutan mineral II : 3.75 ml

 Reazurin 0.1 % sol. : 0.10 ml

 Air destilasi : 87.15 ml

 Na2CO3 8 % sol. : 5.00 ml
 L.ascorbic acid 25 % sol. : 0.20 ml

96 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

 L.cystein HCl.H2O : 0.05 g
Komposisi Media agar.

 Larutan mineral I : 7.50 ml

 Larutan mineral II : 7.50 ml

 Reazurin 0.1 % sol. : 0.10 ml

 Air destilasi : 50.00 ml

 Bacto agar : 2.00 ml

 Juice rumen : 40.00 ml

 Glukosa : 0.05 g

 Sellobiosa : 0.05 g

 Cystein HCl.H2O : 0.05 g
 Na2CO3 8 % sol : 5.00 g

I. FATOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECERNAAN

1.Komposisi kimia makanan/ransum

Kecernaan erat hubungannya dengan komposisi kimia bahan
pakan, karena komposisi kimia atau persentase serat kasar dalam bahan
pakan atau ransum perlu dipertimbangkan. Bahan pakan yang serat
kasarnya rendah dan proporsi/persentasenya tidak jauh berbeda, maka
variasi daya cernanya juga kecil seperti jagung, beras, gandum. Hijauan
yang komposisi kimianya tidak tetap/bervariasi dan mempunyai dinding
tanaman yang sukar dicerna apalagi jika mengandung lignin yang tinggi,
maka variasi kecernaannya cukup tinggi. Setiap perbedaan/peningkatan
1% serat kasar dalam tanaman, akan menyebabkan penurunan kecernaan
bahan organik sebesar 0.7 – 1.0 unit pada ternak ruminansia.

a. Daya cerna semu protein kasar

Kecernaan sangat tergantung pada % protein kasar dalam bahan
pakan. Apabila pakan mengandung 6 % protein , dan protein ini hanya
50% dapat dicerna maka :

Daya cerna semu PKnya adalah = (6 - 3) X 100% = 50%

6

Pada sapi terdapat protein kasar 50 % x 6.25 g = 3 gr protein/100 gr
BK yang dikonsumsi.

97Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

b Lemak ransum

Kebanyakan ransum ternak ruminansia kadar lemaknya rendah,
dan pengaruhnya pada pemberian pakan secara praktis sangat kecil.
Kandungan lemak ransum yang tinggi akan mengganggu terhadap
kecernaan zat-zat makanan lainnya.

c. Komposisi ransum

Daya cerna ransum tidak selalu sama dengan rata-rata kecernaan
komposisi bahan-bahan penyusunnya, apabila ditentukan secara
sendiri-sendiri. Setiap bahan pakan mungkin mempengaruhi daya
cerna bahan pakan lainnya, hal inilah yang disebut efek asosiasi.
Daya cerna suatu bahan pakan tergantung pada keserasian zat-zat
makanan yang terkandung didalamnya, misalnya bila dalam suatu
ransum tidak terdapat suatu zat yang diperlukan untuk pertumbuhan
mikroorganisme, maka daya cerna ransum tersebut akan berkurang.

d. Penyajian ransum

Pemotongan, penggilingan dan pemasakan bahan ransum akan
mempengaruhi daya cerna. Biji yang tidak diremukkan atau tidak digiling
akan keluar dalam feses dalam bentuk aslinya atau tidak dicerna, sehingga
mengurangi daya cerna keseluruhan makanan. Pemotongan dapat
mengurangi pemilihan bagian-bagian yang mudah dicerna oleh ternak,
sehingga akan mengurangi daya cerna secara keseluruhan. Wafering
(hijauan diproses menjadi balok kecil seperti wafer) tidak mempengaruhi
daya cerna, sedangkan penggilingan yang halus dapat menurunkan
daya cerna sampai 20%. Apabila bahan yang digiling dijadikan pellet
mengakibatkan daya cerna tidak berubah namun berperan dalam
mengurangi debu dan meningkatkan konsumsi ransum. Perlakuan dengan
bahan kimia NaOH pada hijauan, penggilingan atau dijadikan pellet, akan
memperbesar daya cerna pada hijauan/jerami yang mengandung serat
kasar yang tinggi. Pemanasan beberapa suplemen protein asal tumbuhan,
dapat memperbaiki daya cerna karena pemanasan dapat merusak
inhibitor enzim yang terdapat dalam bahan tersebut, tetapi pemanasan
yang terlalu lama juga akan mengakibatkan penurunan daya cerna bahan.

e. Faktor ternak

Bahan makanan yang mengandung serat kasar, lebih baik kecernaannya
oleh ternak ruminansia. Ternak Sapi mencerna lebih baik bahan pakan
yang rendah kualitasnya dibandingkan dengan ternak kambing atau
domba.

98 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

f. Jumlah makanan
Peningkatan jumlah makanan yang dimakan akan mempercepat
laju makanan dalam alat pencernaan, sehingga akan mengurangi
daya cerna. Daya cerna tertinggi akan diperoleh pada pakan yang di
konsumsi lebih sedikit dari pada kebutuhan hidup pokok. Penambahan
jumlah makanan melebihi kebutuhan hidup pokok dapat mengurangi
daya cerna 1.0 – 2.0 persen.

99Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)



VII

PENCERNAAN DAN METABOLISME ZAT-ZAT PAKAN
PADA TERNAK RUMINANSIA

Pencernaan adalah serangkaian proses yang terjadi di dalam alat
pencernaan (tractus digestivus) ternak sampai memungkinkan terjadinya
penyerapan. Proses pencernaan tersebut merupakan suatu perubahan
fisik dan kimia yang dialami oleh bahan makanan dalam alat pencernaan.
Pencernaan pada ternak ruminansia merupakan proses yang sangat
komplek yang melibatkan interaksi dinamis antar pakan, populasi
mikroba dan ternak itu sendiri.

Berdasarkan perubahan yang terjadi pada bahan makanan dalam
alat pencernaan, proses pencernaan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
pencernaan mekanis, pencernaan fermentatif dan pencernaan hidrolitik.
Makanan yang masuk dalam mulut ternak ruminansia akan mengalami
proses pengunyahan/pemotongan secara mekanis sehingga membentuk
bolus. Dalam proses ini makanan akan bercampur dengan saliva, lalu
masuk ke dalam rumen melalui oesofagus untuk selanjutnya mengalami
proses pencernaan fermentatif. Di dalam rumen bolus-bolus tadi akan
dicerna oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Selama dalam
rumen makanan yang kasar akan dipecah lagi dimulut (ruminasi),
kemudian masuk lagi melalui reticulum, omasum dan abomasum. Hasil
fermentasi di rumen tadi tadi diserap oleh usus halus (proses pencernaan
hidrolitik) yang selanjutnya masuk dalam sistem peredaran darah

Saluran pencernaan pada ternak ruminansia dibagi atas 4 bagian
yaitu mulut, perut atau lambung, usus halus, dan organ pencernaan
bagian belakang. Perut atau lambung dibagi lagi jadi menjadi 4 bagian
yaitu reticulum, rumen, omasum dan abomasum. Reticulum dan rumen
tidak terpisah sempurna sehingga dipandang sebagai satu kesatuan yang
disebut reticulorumen. Dalam reticulorumen terdapat sejumlah mikroba
yang cukup banyak. Omasum fungsinya belum jelas, tetapi pada omasum
tersebut terjadi penyerapan air, amonia dan VFA dan diduga juga dapat
memproduksi VFA dan amonia. Abomasum fungsinya sama dengan perut
atau lambung pada ternak monogastrik.

101Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Tahapan proses pencernaan pada ternak ruminansia dibagi menjadi
dua bahagian yaitu 1) proses pencernaan yang terjadi dalam rumen
dan reticulum dan 2) dan proses pencernaan berikutnya yang terjadi di
saluran pencernaan pasca rumen ( usus halus dan usus besar ). Didalam
reticulorumen dan organ pencernaan bagian belakang, pencernaan
dibantu oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroba (pencernaan
fermentative), sedangkan di usus halus pencernaan dibantu oleh enzim
yang dihasilkan oleh usus halus dan pankreas (pencernaan enzymatis).

Rumen dan reticulum merupakan organ pencernaan yang terbesar,
volumenya 10 – 20 persen dari bobot ternak. Jumlah tersebut meliputi
lebih kurang 75 persen dari volume organ pencernaan ternak ruminansia.
Proses pencernaan didalam reticulorumen adalah pencernaan fermentatif
yang dibantu oleh mikroba yang jumlahnya cukup banyak. Pencernaan
fermentatif ini berjalan sangat intensif, kapasitasnya besar dan terjadi
sebelum usus halus (organ penyerapan utama). Hal ini memberi beberapa
keuntungan yaitu : (1) produk fermentasi dapat dialirkan ke usus dalam
bentuk yang mudah diserap, (2) Rumen dan retikulum dapat menampung
pakan dalam jumlah yang lebih banyak, (3) Di Rumen dan Retikulum
dapat terjadi pencernaan pakan berkadar serat kasar tinggi, (4) Mikroba
pada Rumen dan Retikulum dapat menggunakan Non Protein Nitrogen (
NPN ).

Didalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak
jumlahnya. Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu
bakteri, protozoa dan fungi. Kehadiran fungi dalam rumen diakui sangat
bermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni
pada jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus
dinding sel tanaman, sehingga pakan lebih akan lebih terbuka untuk
dicerna oleh enzim bakteri rumen. Bakteri merupakan mikroba rumen
yang paling banyak jenisnya dan lebih beragam macam substratnya.
Populasi bakteri dalam rumen berkisar antara 10 10 - 10 12 bakteri per
gram cairan rumen, sedangkan protozoa populasinya lebih sedikit yaitu
105- 106 per ml cairan rumen. Populasi mikroba yang banyak jumlahnya
tersebut sangat penting dalam proses pencernaan pakan serat.

Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat yang
didiaminya karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.
Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya

102 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

sebab mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis
bakteri rumen yang dilaporkan oleh Hungate (1966) adalah, (a) bakteri
pencerna selulosa (Bacteroides succinogenes, Ruminococcus flavafaciens,
Ruminococcus albus, Butyrivibrio fibrosolvens), (b) bakteri pencerna
hemiselulosa (Butyrivibrio fibrosolvens, Bacteroides ruminocola,
ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati (Bacteroides amylophilus,
streptococcus bovis, Succinimonasamylolytica), (d) bakteri pencerna gula
(Triponema bryantii, Lactobasilus ruminusj, dan (e) bakteri pencerna
protein (Clostridium sporogenes, Bacillus licheniformis).

Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu
: holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan
mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan oligotrichs yang
mempunyai silia sekitar mulutnya yang umumnya merombak karbohidrat
yang lebih sukar dicerna.

PENCERNAAN DAN METABOLISME KARBOHIDRAT

Karbohidrat merupakan komponen utama dalam ransum ternak
ruminansia. Jumlahnya mencapai 60 -75 persen dari total bahan kering
ransum. Dalam makanan kasar, sebagian besar karbohidrat terdapat
dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa, sedangkan dalam konsentrat
umumnya karbohidrat terdapat dalam bentuk pati. Karbohidrat
merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan mikroba rumen
dan ternak induk semang.

Karbohidrat dalam pakan dapat dikelompokkan menjadi
karbohidrat struktural (fraksi serat) dan karbohidrat non struktural
(fraksi yang mudah tersedia). Selulosa dan hemiselulosa termasuk dalam
karbohidrat fraksi struktural (fraksi serat) yang merupakan komponen
utama dari dinding sel tanaman. Sering Sellulosa dan Hemisellulosa ini
berikatan dengan lignin sehingga menjadi sulit dicerna oleh mikroba
rumen. Lignifikasi tanaman akan meningkat seiring dengan meningkatnya
umur tanaman. Untuk itu penggunaannya dalam ransum ternak
ruminansia memerlukan pengolahan terlebih dulu guna merenggangkan
ikatan lignoselulosa atau lignohemisellulosa sehingga lebih fermentabel
dalam rumen.

Selulosa adalah kelompok polisakarida yang mempunyai berat
molekul tinggi, berantai lurus dimana banyak terdapat dalam bentuk ikatan
1- 4 unit glukosa dan biasanya terdapat dalam bentuk kristal, sedangkan

103Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

hemiselulosa terdiri dari rantai lurus silosa dan sejumlah arabinosa, asam
uronat dan galaktosa. Ternak ruminansia mampu memanfaatkan selulosa
dan hemiselulosa ( karbohidrat struktural = fraksi serat) disebabkan oleh
adanya mikroorganisme dalam rumen yang membantu proses fermentasi,
sehingga karbohidrat struktural tersebut dirombak menjadi produk yang
dapat dicerna dan dapat diserap oleh usus halus. Kecernaan selulosa
dan hemiselulosa ( karbohidrat struktural ) dalam rumen biasanya lebih
rendah dibanding karbohidrat non struktural. Tapi ini sangat tergantung
pada beberapa faktor seperti sifat faktor fisik tanaman, pengolahan dan
frekuensi pemberian makanan. Kecernaan selulosa dan hemiselulosa
ini juga bisa dipengaruhi oleh suplai nutrien lain seperti nitrogen, asam
amino dan asam lemak berantai cabang yang penting untuk pertumbuhan
bakteri selulolitik.

Jalur Fermentsi Karbohidrat dalam Rumen

Proses pencernaan karbohidrat dalam rumen merupakan proses
yang komplek. Karbohidrat yang komplek (selulosa, hemiselulosa, pati
dan pectin) akan mengalami dua tahap pencernaan yaitu pencernaan
oleh enzim ekstraseluler dan enzim intraseluler mikroba. Tahap
pertama karbohidrat yang masuk rumen akan difermentasi oleh
enzim ektraseluler menghasilkan monomernya berupa oligosakarida,
disakarida dan gula sederhana. Tahap kedua monomer itu difermentasi/
metabolisme lebih lanjut oleh enzim intraseluler membentuk piruvat
melalui lintasan Embden-Meyerhoft dan pentosa fosfat. Piruvat adalah
produk intermedier yang segera dimetabolisasi menjadi produk akhir
berupa asam lemak berantai pendek yang sering disebut dengan Volatil
Fatty Acid ( VFA ) yang terdiri dari : asam asetat, asam propionat dan
asam butirat dan sejumlah kecil asam valerat. Secara skematis jalur
fermentasi karbohidrat dalam rumen dapat dilihat pada gambar 1.

Fermentasi Piruvat dalam Rumen

Piruvat yang dihasilkan dalam proses fermentasi karbohidrat
dalam rumen akan dimetabolisasi lebih lanjut menjadi produk-produk
seperti dibawah ini.

1. Produksi asam laktat

Laktat dalam rumen dibentuk dari piruvat melalui enzym NAD linked
laktat dehidrogenase. Piruvat + NADH2 → Laktat + NAD

104 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Fruktan Sukrosa Pati Selulosa Hemiselulosa Pektin

Maltosa Isomaltosa Selobiosa I

Fruktosa Glukosa Pentosa

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Glukosa-6-fosfat

Froktosa-6-fosfat II

Fruktosa-1- 6-difosfat

Piruvat
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Format Acetyl-CoA Laktat Oksaloacetat

Acetyl-fosphat Akrilyl-CoA Suksinat III

CO2 + H2 CO2 + H2 Butiril-CoA Propionil-CoA

Metan Asetat Butirat Propionat

Gambar 3. Skema Lintasan Utama Fermentasi Karbohidrat Menjadi VFA
dalam Rumen (Mc Donald, 1988)

Enzim ini ditemukan pada bakteri Selenomonas, Megasphaera lakto-
basilus, dan Streptokokus spp.

2. Pembentukan Asetil CoA
Asetil Coa yang diperlukan untuk berbagai reaksi selanjutnnya
dibentuk melalui beberapa reaksi yaitu:
a) Produksi acetyl CoA melalui pyruvate–ferredoxin oxidoreductase
Pyruvate + CoASH → 2-α-lactyl-TPP-CoA Enzyme → 2- Hydroxyethyl-
TPP-CoA + FD → Acetyl CoA + FDH2 + CO2
b) Produksi acetil CoA dan asam format melalui pyruvate-formate
lyase.
Pyruvate + CoASH →Acetyl CoA + Formate

105Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

c) Produksi acetyl CoA and formate melalui reduksi CO2
Pyruvate + CoASH → Acetyl CoA + CO2
CO2 + XH2 → Formate + X

3. Produksi VFA dalam Rumen

Produksi Asam Asetat

Terdapat dua jalur utama untuk produksi asam asetat.

a. Phosphotransacetylase dan asetat kinase

- Phosphotransacetylase : Asetil KoA + Pi → Asetil ~ P + CoASH

- Asetat kinase : Asetil ~ P + ADP → Asetat + ATP

b. Asetil KoA lyase diidentifikasi hanya terjadi pada anaerobik protozoa
- Asetil KoA + ADP + Pi → ATP + Asetat + CoASH

Secara keseluruhan jalur pembentukan asetat dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 4. Pembentukan Asam Asetat (Van Soest, 1994)

1. Produksi Butirat
Pembentukan butirat dalam rumen melalui 6 tahap reaksi.

a) Acetylacetyl CoA thiolase
2 Acetyl CoA → Acetylacetyl CoA + CoASH

b) β-hydroxybutyrate dehydrogenase
Acetylacetyl CoA + NADH2 → β-hydroxybutyrl-CoA + NAD

106 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

c) Enoyl-CoA dehydratase
β-hydroxybutyrl-CoA → Crotonyl CoA + H20

d) Butyrl CoA dehydrogenase
Crotonyl CoA + NADH2 → Butyrl CoA + NAD

e) Phosphate butyrl transferase
1) Butyrl CoA + Pi → Butyrl-P
f) Butyrate kinase

Butyrl∼P + ADP → Butyrate + ATP
Skema pembentukan asam butirat dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 5. Pembentukan Asam Butirat Dalam Rumen (Baldwin, and
Allison . 1983)

2. Produksi Asam Propionat
Asam Propionat dalam rumen dibentuk melalui dua jalur reaksi

yaitu jalur suksinat dan jalur akrilat ( Gambar 3.4 dan 3.5 )

107Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Gambar 6. Pembentukan propionate melalui jalur suksinat didalam
rumen (Baldwin, and Allison . 1983)

Gambar 7. Pembentukan propionat melalui jalur akrilat dalam rumen
(Baldwin, and Allison . 1983)

108 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Skema dari keseluruhan reaksi yang terjadi dalam rumen dalam
pembentukan VFA dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 8. Reaksi pembentukan VFA dalam rumen
(Baldwin, and Allison . 1983)

Pemanfaatan produk fermentasi Karbohidrat
Fermentasi karbohidrat dalam rumen untuk membentuk Volatil

Fatty Acid (VFA) atau asam lemak terbang menghasilkan kerangka karbon
(C) untuk sintesis sel mikroba dan membebaskan sejumlah energi dalam
bentuk Adenosin Tri Phospat (ATP), CO2 ( Carbon diokside) dan CH4
(gas methan). Energi dalam bentuk ATP digunakan untuk memenuhi
kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan mikroba rumen. Pertumbuhan

109Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

mikroba rumen proporsional terhadap jumlah ATP yang yang dihasilkan
dari katabolisme energi. Maksimum sintesis sel mikroba yang dihasilkan
dalam rumen mendekati 25 gram per mol ATP.

Proses fermentasi karbohidrat dalam rumen menghasilkan energi
dalam bentuk VFA mencapai 80 persen dan 20 persen merupakan energi
yang terbuang dalam bentuk produksi gas C02, CH4 dan energi dalam
bentuk ATP. Energi dalam bentuk ATP hanya 6.2 persen dari total energi
yang hilang . Hanya energi dalam bentuk ATP inilah yang digunakan oleh
mikroba rumen untuk pertumbuhannya, sedangkan VFA merupakan
by produk atau hasil sampingan dari aktivitas mikroba rumen. Dari
uraian ini jelas bahwa mikroba rumen memproduksi VFA bukan untuk
kepentingannya terutama tetapi sebagai “elektron sink” dalam menjaga
potensial redoks dalam rumen agar tetap layak bagi pertumbuhan
mikroba rumen.

Gas hasil fermentasi berupa CO2, H2 (hidrogen) dan CH4 (
Methan ) dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi. Pada ternak
kambing produksi gas CO2 sekitar 90 liter dan gas CH4 sekitar 30 liter
perhari. Stoikiometri reaksi fermentasi pakan karbohidrat dalam rumen
menghasilkan tiga produk utama dapat disederhanakan menjadi:

C6H1206 + 2H20 --------------- 2CH3COOH + 2C02 + 4H2

C6H1206 + 4H2 --------------- 2CH3CH2COOH+ 4H20

C6H1206 --------------- CH3(CH2)2COOH + 2C02 + 2H2

4H2 + C02 --------------- CH4+ 2H2O

Dari Stoikiometri reaksi tersebut diatas dapat dilihat bahwa

proses sintesis asam asetat dan asam butirat menghasilkan gas hidrogen.

Sebaliknya pada sintesis asam propionat gas H2 (hidrogen) digunakan.

Gas hidrogen dan CO2 merupakan prekursor utama sintesis gas metan

yang sesungguhnya tidak bermanfaat untuk ternak. Maka dari itu proses

fermentasi dalam rumen yang mengarah pada sintesis asam propionat

akan lebih menguntungkan karena produksi CH4 bisa ditekan dan akan

meningkatkan efsiensi penggunaan energi pakan.

Jumlah komponen utama VFA (asetat, propionat, dan butirat) yang

terbentuk dalam rumen serta proporsi relatifnya sangat bervariasi dan

dipengaruhi oleh faktor makanan seperti komposisi ransum, terutama
rasio antara hijauan dan konsentrat, bentuk fisik makanan, tingkat

110 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

konsumsi, frekuensi pemberian pakan dan tipe fermentasi sebagai
akibat perbedaan populasi mikroba yang berkembang sebagai pengaruh
langsung dari zat makanan yang diberikan. Menurut Forbes dan France
(1993) konsentrasi VFA total dalam cairan rumen umumnya berkisar
antara 70 - 130 mM. Nisbah asam asetat, asam propionat dan asam
butirat pada pakan dengan kandungan hijauan /serat yang tinggi adalah
70 : 20 :10. Tingginya konsentrasi asetat dalam cairan rumen sangat
erat kaitannya dengan tingginya proporsi hijauan atau pakan serat
yang dikonsumsi. Sebaliknya jika proporsi konsentrat dalam ransum
meningkat maka konsentrasi asam asetat akan turun dan konsentrasi
asam propionat akan meningkat namun proporsi asam asetat hampir
selalu lebih banyak. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ransum
dengan hijauan/pakan serat tinggi akan menghasilkan nisbah asetat :
propionat lebih tinggi dibanding ransum yang proporsi konsentratnya
tinggi.

VFA ( asetat, propionat, dan butirat) merupakan sumber energi
utama bagi ternak dan punya fungsi penting dalam metabolisme zat
makanan. Sumbangan energi yang berasal dari VFA ini dapat mencapai 60
– 80 persen dari kebutuhan energi ternak rumiansia. Sebahagian besar
VFA diserap langsung dari reticulorumen dan masuk kedalam aliran
darah, hanya 20 persen saja yang masuk ke omasum dan abomasum dan
diserap disini. Asam butirat dalam rumen sebelum diserap terlebih dulu
dirubah menjadi beta hidroksi butirat dan bersama dengan asam asetat
masuk kedalam peredaran darah dalam bentuk badan-badan keton
yang nantinya dalam jaringan tubuh digunakan sebagai sumber energi
dan untuk sintesis lemak tubuh. Asam propionat setelah masuk dalam
peredaran darah dibawa ke hati. Di hati asam ini diubah menjadi glukosa.
Sebagian glukosa disimpan di hati sebagai glikogen hati dan sebagian lagi
menjadi alfa gliserolfosfat untuk digunakan sebagai koenzim pereduksi
dalam sintesa lemak tubuh, sebagai sumber energi, dan dalam tubuh
disimpan sebagai glikogen otot.. Oleh sebab itu asam propionat disebut
juga asam yang bersifat glukogenik karena dapat dikatabolisme menjadi
glukosa atau sebagai sumber glukosa tubuh . Asam lemak glukogenik
dapat dipakai sebagai konstanta yang dinamakan sebagai non glukogenik
ratio (NGR) yang secara sederhana dirumuskan sebagai berikut:

111Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

NGR = (Asetat + Butirat + Valerat) / (Propionat + Valerat)

Nilai NGR ini berhubungan erat dengan produksi gas metan dalam
rumen. NGR tinggi akan menyebabkan produksi gas metan dalam rumen
juga tinggi.

Penyerapan Asam Lemak Terbang (VFA)

Asam Lemak Terbang atau VFA yang dihasilkan didalam rumen dan
merupakan sumber energi bagi ternak ruminansia, akan diserap sebagian
besar dalam retikulum (75 %) kemudian masuk kedalam darah. Sebagian
lagi akan diserap oleh abomasum dan omasum ( 20 % ) dan usus halus (
5 % ). Penyerapan VFA sangat dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi
VFA dalam cairan rumen dengan konsentrasi VFA yang terdapat di dalam
sel-sel epitel atau darah. Laju penyerapan VFA pada rumen meningkat
sejalan dengan penurunan pH cairan rumen dan Panjang pendeknya rantai
aton C dari VFA. Semakin panjang rantai aton C nya maka semakin cepat
laju absorbsinya, sehingga urutan absorbsinya adalah asam butirat, asam
propionat dan asam asetat. Asam butirat pada rumen akan diserap melalui
dinding rumen untuk masuk ke dalam darah guna dikonversi menjadi
β-hidroksibutirat, sedangkan asam propionat akan dikonversi menjadi
asam laktat. Hal ini terjadi karena peran enzim-enzim tertentu yang ada
di dalam sel-sel epitel rumen. β-hidroksibutirat dapat digunakan sebagai
sumber energi bagi sejumlah jaringan, seperti otot kerangka dan hati.

Produksi Gas Methan

Metan merupakan produk sampingan dalam proses fermentasi
karbohidrat/ gula secara an-aerob. Metan merupakan energi yang
terbuang. Bakteri Metanogen akan menggunakan H2 yang terbentuk dari
konversi asam piruvat menjadi asam asetat, untuk membentuk metan dan
juga dari dekomposisi format, atau metanol. Dalam pembentukan metan
oleh mikroorganisme, terlibat pula peran Asam Folat dan Vitamin B12.
Untuk mengurangi pembentukan metan disarankan :

1.  Menambahkan asam lemak tidak jenuh ke dalam ransum.

2. Menggunakan feed additive seperti choloform, chloral hidrat dan
garam tembaga.

Produksi gas (CH4, CO2 dan H2) yang berlebihan dari ternak akan
menimbulkan penyakit bloat.

112 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi VFA di dalam Rumen
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi VFA didalam Rumen

antara lain adalah :

1. Makanan serat (sumber hijauan) yang tinggi dalam ransum akan
memproduksi lebih banyak asam asetat dari pada asam propionat
sehingga lebih sesuai untuk ternak sapi perah guna menghasilkan
produksi susu dengan kadar lemak tinggi.

2. Makanan pati (biji-bijian/ konsentrat) yang tinggi dalam ransum
akan memproduksi lebih banyak propionat dan ini sesuai dengan
ternak untuk tujuan penghasil daging ( sapi potong ).

3. Rasio antara konsentrat dan hijauan pakan.
4. Bentuk fisik atau ukuran partikel pakan.
5. Jumlah intake atau konsumsi.

6. Frekuensi pemberian pakan.

7. Faktor lain yang mempengaruhi VFA adalah : volume cairan
rumen yang berhubungan dengan saliva dan laju aliran air di
dalam darah.

8. Konsentrasi VFA rumen diatur oleh keseimbangan antara
produksi dan penyerapan. Konsentrasi meningkat setelah makan,
sehingga akibatnya pH menurun.

9. Puncak fermentasi : 4 jam setelah makan (jika hijauan
ditingkatkan), namun lebih cepat ( lebih dari 4 jam) jika
konsentrat ditingkatkan

10. pH rumen normal ( untuk pertumbuhan mikroba optimal ) : 6.0
- 7.0 ; yang dipertahankan oleh kapasitas saliva dan penyerapan
VFA.

11. Faktor-faktor yang juga mempengaruhi produksi VFA ini antara
lain adalah Konsentrasi VFA itu sendiri didalam rumen

Metabolisme VFA di dalam Jaringan Tubuh Ternak.
Volatil Fatty Acid ( VFA ) yang diserap dari retikulorumen melalui

jaringan, akan mengalami oksidasi dan perombakan menjadi energi ternak
melalui biosintesa lemak atau glukosa. Jumlah setiap VFA yang digunakan
tersebut berbeda-beda menurut jenisnya. 50 persen asam asetat

113Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

dioksidasi di jaringan tubuh sapi perah sedangkan 2/3 asam butirat dan
asam propionat akan mengalami oksidasi. Metabolisme asam propionat
dan butirat terjadi di hati, 6 persen asam asetat dimetabolisasikan di
jaringan perifer (otot dan adiposa) dan hanya 20 % yang di metabolis di
hati. Pada ternak laktasi asam asetat, digunakan untuk sintesis lemak air
susu diambing.

Proses Oxidasi VFA dan Penghasilan ATP
Asam Propionat sebagai sumber energi :
ada 2 jalur oksidasi yang dilalui oleh asam propiona yaitu :

1.  Oksidasi setelah propionat dikonversi menjadi glukosa melalui
Jalur Glukonegenesis. Disini di hasilkan 17 mol ATP/ mol asam
propionat

2.  Oksidasi langsung asam propionat dimana akan dihasilkan 18 mol
ATP/mol asam propionat.

Asam Butirat sebagai sumber energi :
Asam Butirat di konversi menjadi β-hidroksibutirat yang menghasilkan
2 mol ATP

Asam Asetat sebagai sumber energi :
Asetat + CoA + ATP ------- CH3CO-CoA (AsetilCoA) + PP + H2

(dihasilkan 10 mol ATP/ mol Asetat)

Disarnping scbagai sumber energy, asam lernak rantai cabang dari
VFA bersama-sama dengan N-anwn~a digunakan dalam sintesis protein,
sehingga VFA ini dapat dikatakan sebagai prekursor sintesis protein
mikroba.

Pencernaan Karbohidrat di dalam Usus Ruminansia
Karbohidrat tercerna ( pati, selulosa dan hemi selulosa) dan

polisakarida selluler dari mikroba yang lolos dari fermentasi rumen,
akan masuk ke dalam usus sebagai digesta, jumlahnya 10-20 % dari
karbohidrat yang dicerna. Jumlah selulosa atau pati yang tahan dari
degradasi rumen, dipengaruhi oleh pakan itu sendiri atau prosesing.
Misalnya pati dari jagung giling dapat dicerna 20 % nya di usus halus oleh
enzim yang sama dengan monogastrik. Pencernaan pati di usus halus
akan menghasilkan energi yang dapat digunakan oleh induk semang lebih

114 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

efisien daripada didegradasi oleh mikroba rumen, dimana akan hilang
sebagai CH4 atau panas. Selulosa, hemiselulosa dan pati yang lolos dari
usus halus difermentasi juga di dalam cecum menjadi VFA, CO2 dan CH4
dengan jalur yang sama dengan di dalam rumen. VFA yang terbentuk di
cecum ini (ruminan atau kuda) di serap masuk ke dalam sirkulasi darah
dan digunakan di jaringan, seperti yang terjadi di dalam rumen.

Metabolisme Glukosa Pada Ruminansia

Glukosa dicerna / difermentasi di retikulorumen. Glukoneogenesis
di hati (terutama) dan di ginjal sangat sedikit terjadi. Glukosa pada
ruminan adalah 40-60 % berasal dari propionat, 20 % berasal dari protein
(asam amino yang diserap melalui saluran pencernaan) dan sisanya 20 %
berasal dari VFA rantai cabang, asam laktat dan gliserol.

Fungsi Metabolis Glukosa pada Ruminansia.
Fungsi metabolisme Glukosa pada rumen berfungsi untuk :

1. Sumber utama energi di jaringan syaraf terutama di otak dan sel-
sel darah merah.

2. Untuk metabolisme otot dan produksi glikogen (persediaan energi
di otot dan di hati).

3. Pada ternak laktasi glukosa digunakan untuk prekursor utama dari
pembentukan laktosa dan gliserol (komponen lemak susu) dan
untuk suplai nutrisi pada janin. Kebutuhan glukosa akan meningkat
pada akhir kebuntingan.

4. Untuk pembentukan co enzym NADPH 

PENCERNAAN DAN METABOLISME PROTEIN DALAM RUMEN
Protein merupakan unsur yang sangat penting dalam tubuh karena

protein menjalankan sebagai besar fungsi-fungsi fisiologis tubuh. Dalam
tubuh, protein berperan sebagai:

a) Bahan pembangun dan pengganti tenunan atau jaringan tubuh
yang aus atau terpakai.

b) Bahan baku pembuatan hormon,enzim dan zat penangkal penyakit.

c) Mengatur lalu lintas cairan tubuh dan zat-zat terlarut di dalamnya
ke dalam atau keluar sel

d) Sebagai sumber energi.

115Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Protein diperoleh ternak dari makanan. Sebelum dimanfaatkan
ternak, protein makanan itu terlebih dahulu mengalami perubahan dalam
saluran pencernaan. Pada ternak ruminansia sebelum dimanfaatkan
protein akan melalui beberapa proses terlebih yaitu:

1. Mengalami fermentasi dalam reticulo rumen oleh mikroba rumen.

2. Mengalami pencernaan hidrolisis di dalam usus halus

3. Protein yang tidak dicerna akan dikeluarkan melalui feses.

Dalam memepelajari pencernaan dan metabolisme protein pada
ternak ruminansia ada beberapa istilah yang terlebih dahulu harus
dipahami sehingga proses pencernaan protein dalam tubuh ternak
ruminasia bisa dimengerti dengan jelas. Beberapa istilah tersebut adalah:

1. Protein Kasar (PK)
Adalah kadar protein yang didapatkan dengan cara menganalisa
kandungan nitrogen suatu bahan dengan metode Kjedhal. Kandungan
nitrogen yang didapatkan dikalikan dengan konstanta 6.25 dengan
anggapan semua protein bahan mengandung 16 % nitrogen. Padahal
itu tidak seluruhnya pengalian dengan konstanta ini benar. Ada
beberapa protein bahan yang mengandung lebih dari 16 % nitrogen.
Oleh sebab itu nilai ini disebut dengan protein kasar.

2. Soluble Protein ( protein mudah larut)
Soluble protein adalah fraksi protein kasar yang mudah larut dalam
larutan buffer, air dan cairan rumen. Sebagian fraksi protein dari
hijauan yang masih muda, silase, leguminosa dan biji-bijian merupakan
soluble protein. Soluble protein akan didegaradasi dengan cepat
didalam rumen menjadi NH3. Fraksi soluble protein mengandung
nitrogen non protein (NPN) dan sebagian true protein.

3. Nitrogen Non Protein (NPN)
NPN Adalah semua senyawa nitrogen yang tidak mempunyai struktur
yang komplek seperti protein. Yang termasuk senyawa NPN adalah
ammonia, peptide, asam amino bebas, amida, dan amina. Sebagian
besar soluble nitrogen yang terdapat pada silase, limbah pertanian
merupakan NPN. NPN sama halnya dengan soluble protein akan
didegaradasi dengan cepat didalam rumen.

116 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

4. Neutral detergent insoluble protein (NDIN)
Adalah fraksi protein yang tidak larut dalam larutan netral. Fraksi ini
didapatkan dari analisa protein kasar yang terdapat dalam NDF. NDIN
ini degradasinya lambat dalam rumen, karena berhubungan dengan
dinding sel. Sebagai besar NIDN lolos kepasca rumen dan bisa dicerna
diusus halus.

5. Acid detergent insoluble protein (ADIN)
Adalah fraksi protein yang tidak larut dalam larutan detergen asam.
Fraksi protein ini tidak bisa dicerna oleh enzim mikroba rumen
maupun enzim yang dihasilkan oleh usus halus. Oleh sebab itu fraksi
protein ini disebut juga dengan protein yang tidak bermanfaat. ADIN
ini ditentukan dengan cara menganalis kandungan protein kasar dari
residu ADF. Kandungan ADIN yang tinggi dari suatu bahan pakan
menunjukkan rendahnya kualitas protein dari bahan tersebut.

6. Ruminal undegraded protein (RUP)
Adalah fraksi protein pakan yang tidak didegradasi oleh mikroba
dalam rumen. Atau dengan kata lain fraksi protein yang tahan terhadap
pencernaan dalam rumen.

7. Protein mikroba
Adalah fraksi protein yang disintesis oleh mikroba didalam rumen.
Mikroba rumen menggunakan ammonia, asam amino dan peptide
untuk mensintesis protein tubuh mikroba itu sendiri. .

Degradasi protein dalam rumen
Protein yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia dalam rumen

akan mengalami 2 proses penting yaitu:

1. Hidrolisis ikatan peptida menghasilkan peptida dan asam amino

2. Deaminasi asam amino

Hydrolisis
Dalam rumen protein pakan akan mengalami hidrolisa menjadi

oligopeptida oleh enzim proteolitik yang dihasilkan oleh mikroba
rumen. Oligopeptida selanjutnya akan diubah menghasilkan peptida dan
asam amino yang bisa digunakan oleh sebagian mikroba rumen untuk
pertumbuhannya, terutama oleh Bacteroides ruminocola dimana bakteri

117Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

ini mempunyai sistem transpor untuk mengangkut asam amino ke dalam
tubuhnya. Bacteroides ruminocola bisa menggunakan 40 % peptida dalam
rumen sedangkan Butyrivibrio fibrosolvent menggunakan kurang dari 10
% untuk pertumbuhannya. Karena tidak semua peptida dan asam amino
yang terbentuk dalam rumen, digunakan oleh mikroba, dimana sebagian
akan mengalir ke usus halus.

Pemberian ransum yang berkualitas tinggi pada sapi perah, 30
persen dari NAN (non amonia nitrogen) yang masuk ke usus halus adalah
dalam bentuk peptida dan asam amino. Namun Sebagian besar dari
peptida dan asam amino akan mengalami deaminasi didalam rumen.

Deaminasi

Metabolisme asam amino selanjutnya adalah dari degradasi
protein oleh mikroba rumen. Asam amino akan mengalami katabolisame
(deaminasi) menghasilkan produk utama NH3. produk samping dari
deaminasi asam amino adalan VFA rantai cabang (iso valerat, iso butirat
dan n metilbutirat), yang sangat dibutuhkan oleh mikroba selulolitik
rumen untuk pertumbuhannya. Proses deaminasi asam amino menjadi
ammonia lebih cepat dari proteolisis, sehingga kadar asam amino bebas
dalam rumen selalu sedikit. Amonia yang dihasilkan dari deaminasi asam
amino akan digunakan oleh mikroba sebagai sumber nitrogen untuk
pembentukan protein tubuhnya. Sebagain besar mikroba rumen (82 %)
menggunakan ammonia untuk membentuk protein tubuhnya.

Tidak seluruh protein yang masuk dalam rumen didegradasi oleh
mikroba. Protein yang lolos dari degradasi dalam rumen bersama dengan
protein mikroba akan mengalir ke abomasum terus ke usus halus, dicerna
oleh enzim yang dihasilkan oleh usus dan pankreas dan diserap di usus
halus. Proses pencernaan dan metabolisme protein didalam rumen dapat
dilihat pada Gambar 3.7.

Pool amonia dalam rumen tidak hanya disuplai oleh proses
degradasi protein pakan saja. Hampir 30 persen nitrogen dalam pakan
ternak ruminansia juga terdapat dalam bentuk senyawa organik
sederhana seperti asam amino, amida, dan amina atau senyawa anorganik
seperti nitrat, dan pada penggunaan pakan yang bermutu rendah,
urea sering ditambahkan. Semua senyawa tersebut di atas disebut juga
dengan Non Protein Nitrogen (NPN) yang dalam rumen akan mengalami
degradasi dengan cepat menghasilkan amonia. Amonia yang terbentuk

118 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

bersama dengan asam organik alfa keto akan membentuk asam amino
baru untuk sintesis protein mikroba. Bila kecepatan degradasi melebihi
kecepatan sintesis protein mikroba, akan terjadi akumulasi NH3 dalam
rumen. Amonia yang berlebih itu akan diserap oleh dinding rumen masuk
ke dalam aliran darah dibawa ke hati untuk diubah menjadi urea. Urea
yang terbentuk akan masuk ke aliran darah, sebagian akan difiltrasi oleh
ginjal dan dikeluarkan melalui urine dan sebagian lagi masuk kembali ke
rumen melalui dinding rumen dan saliva yang kemudian akan menjadi
sumber N lagi bagi sintesis protein mikroba Lebih dari 25 % nitrogen
protein pakan akan hilang melalui jalur ini. Karena protein merupakan
bahan pakan ternak ruminansia yang cukup mahal harganya, maka
perhatian untuk meminimalkan degradasi protein pakan dalam rumen
perlu di pertimbangkan.

Gambar 9. Proses pencernaan Protein dalam rumen (Allison, 1993)

119Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Degradasi protein dalam rumen merupakan multi proses yang
meliputi tingkat kelarutan, hidrolisis enzim ekstra selluler, deaminasi, dan
lamanya pakan dalam rumen. Jenis pakan juga mempengaruhi degradasi
protein dalam rumen. Pakan yang terdiri dari rumput segar yang tinggi
akan protein dan karbohidrat mudah larut, meningkatkan pertumbuhan
mikroba proteolitik sehingga aktivitas degradasi dalam rumen 9 kali
lebih besar dibandingkan pakan yang rendah proteinnya seperti hay.

Proses degradasi protein dan deaminasi asam amino dalam rumen
akan terus berlangsung walaupun telah terjadi akumulasi amonia yang
cukup tinggi. Proses degradasi ini tidak dapat dipandang sebagai suatu
proses yang menguntungkan ataupun merugikan, karena disatu sisi
proses degradasi diharapkan untuk memenuhi kebutuhan amonia dan
peptida untuk pertumbuhan mikroba rumen, sedang dilain sisi, protein
yang bermutu tinggi diharapkan tidak banyak mengalami degradasi
dalam rumen sehingga bisa menyumbangkan asam amino bagi hewan
induk semang. Untuk memperkecil degradasi protein pakan dalam rumen
dapat dilakukan dengan cara: 1) penambahan bahan kimia (formaldehyd,
asam tannin), 2) pemasakan (protein menggumpal sehingga kelarutannya
turun, 3) pembuatan pellet (meningkatkan rate of passage).

Dari gambar tersebut terlihat bahwa sumber protein bagi ternak
ruminansia berasal dari protein pakan yang lolos dari degradasi dalam
rumen dan dari protein mikroba. Untuk itu usaha memacu produksi
ternak melalui perbaikan nutrisi protein dapat dilakukan dengan cara
meningkatkan pemberian protein pakan yang tahan degradasi dalam
rumen dan memaksimalkan sintesis protein mikroba, sehingga pasokan
asam-asam amino untuk diserap di usus halus menjadi lebih banyak.

Penggunaan Amonia dan Sintesis protein Mikroba

Amonia adalah sumber nitrogen utama untuk sintesis protein
mikroba. Sekitar 82 % jenis mikroba rumen mampu menggunakan amonia
sebagai sumber nitrogen untuk sintesis protein tubuhnya, walaupun
ada sebagian kecil yang membutuhkan peptida dan asam amino. Maka
dari itu konsentrasinya dalam rumen merupakan suatu hal yang perlu
diperhatikan. Konsentrasi minimum NH3 yang diperlukan untuk sintesis
protein mikroba adalah 5 mg% atau setara dengan 3.74 mM. Optimum
konsentrasi NH3 yang diperlukan untuk perkembangan mikroba yang
lebih baik, sehingga kecernaan dari pakan serat yang rendah kecernaan dan

120 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

kandungan proteinnya, lebih tinggi yaitu 20 mg% atau setara dengan 14.29
mM. Disamping ammonia, sintesis protein mikroba juga membutuhkan
energi dan kerangka karbon dari karbohidrat. Sintesis Protein mikroba
dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan karbohidrat mudah
terpakai dalam ransum seperti pati, tetes, dll. Adanya karbohidrat
tersebut memungkinkan mikroba dapat menggunakan ammonia yang
lebih banyak untuk membentuk protein tubuhnya. Hal ini dikarenakan
incoporasi N amonia menjadi protein mikroba sangat tergantung pada
ketersediaan karbohidrat yang siap pakai ( soluble carbohydrate ) sebagai
sumber energi. Disamping karbohidrat siap pakai untuk sintesisi protein
mikroba juga diperlukan VFA yang cukup, sebagai sumber kerangka
karbon. Masing-masing mikroba membutuhkan kerangka karbon yang
berbeda untuk membentuk asam amino tubuhnya. Selain, NH3, sumber
energy, dan VFA sebagai kerangka karbon untuk sintesis protein mikroba
yang optimal, pada kondisi tertentu juga membutuhkan mineral Sulfur.
Ratio antara sulfur dan nitrogen yang ideal untuk sintesa protein mikroba
adalah 1:10. Proses sintesa protein mikroba dalam rumen dapat dilihat
pada gambar 3.8

Kadar amonia dalam rumen merupakan petunjuk antara proses
degradasi dan proses sintesis protein oleh mikroba rumen. Jika pakan
defisien akan protein atau proteinnya tahan degradasi, konsentrasi
amonia dalam rumen akan rendah dan pertumbuhan mikroba rumen
akan lambat yang menyebabkan turunnya kecernaan pakan.

Mikroba rumen memberikan sumbangan protein yang cukup
banyak untuk kebutuhan ternak ruminansia. Mikroba rumen mampu
mensuplai 40 – 80 % protein untuk mencukupi kebutuhan asam amino
ternak ruminansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 59 % dari
nitrogen bukan amonia yang masuk ke duodenum sapi perah berasal dari
protein mikroba rumen. Oleh karena itu usaha untuk mengoptimalkan
sintesis protein mikroba perlu menjadi perhatian dalam memenuhi
kebutuhan asam amino ternak ruminansia.

Protein mikroba mempunyai nilai gizi yang tinggi dan nilai biologis
yang hampir menyamai casein. Analisa asam amino menunjukkan
bahwa protein mikroba kaya akan cystin, metionin, arginin dan glutamate.
Protein protozoa lebih unggul disbanding protein bakteri karena
kandungan asam amino esensialnya yang lebih tinggi terutama lisin.

121Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

koefisien cerna protein protozoa (68-91 %) sedangkan bakteri hanya
55-80%. Nilai biologis protein protozoa 68-81% sedangkan bakteri 40-
60 %. Tetapi kandungan protein bakteri lebih tinggi (41.8%) dibanding
protein protozoa ( 26,5 %).

Gambar. 10. Penggunaan amonia dan karbohidrat untuk sintesa protein
mikroba (Baldwin, and M. J. Allison . 1983)

Protein Bypass
Protein by pass adalah protein yang berasal pakan yang tidak

mengalami fermentasi didalam rumen, tetapi langsung masuk ke
abomasum dan usus halus. Tingginya VFA dalam rumen akibat tingginya
energy dan rendahnya protein dapat menstimulir peningkatan protein
bypass dalam rumen. Protein bypass dalam rumen juga bisa dipengaruhi
oleh keseimbangan hormone ternak ruminansia, yang dapat memberi
petunjuk tingginya level hormone pertumbuhan dalam darah. Besar
kecilnya jumlah protein bypass tergantung pada beberapa faktor antara
lain:

1. Daya larut protein ransum, protein yang daya larutnya rendah maka
protein bypassnya tinggi.

122 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

2. Kualitas protein ransum, semakin tinggi kualitas protein maka
protein bypass akan lebih besar.

3. Frekuensi pemberian pakan, semakin sering pemberian makanan
maka protein bypass semakin tinggi.

4. Preparasi atau penyediaan makanan, baik secara fisik ataupun
kimia akan meningkatkan protein bypass misalnya memasukkan
pakan dalam kapsul, penambahan formaldehid atau tannin.

Pencernaan protein di usus halus

Protein yang masuk keusus halus berasal dari protein mikroba,
protein pakan yang lolos degradasi dalam rumen dan protein endogenus.
Protein yang berasal dari protein mikroba sekitar 30-100 %, dan yang
berasal dari protein yang lolos degaradasi didalam rumen sekitar 0-70%.
Pencernaan protein diabomasum dan usus halus ternak ruminansia
sama dengan ternak non ruminansia. Pencernaan protein di abomasum
dibantu oleh aktivitas enzim peptidase sedangkan diusus halus dibantu
oleh aktivitas enzim trypsin, chymotrypsin, and carboxypeptidase.

Proses pencernaan protein di abomasum dan usus halus
menghasilkan asam amino. Asam amino diserap oleh dinding usus halus.
Kemudian asam amino masuk ke vena porta dibawa ke hati. Di hati asam
amino ini akan disintesis menjadi protein. Selain itu asam amino juga akan
dibawa oleh darah ke jaringan tubuh yang membutuhkan untuk disintesa
menjadi protein jaringan, protein susu, protein fetus, untuk pertumbuhan
atau untuk pembentukan wool. Selain itu asam amino tersebut juga akan
dimetabolis menjadi sumber energi.

Aspek Protein Pada Ruminansia

Untuk meningkatkan protein makanan yang selamat dari degradasi
dalam rumen supaya ternak mendapat protein yang cukup, dapat
dilakukan dengan melindungi atau memproteksi protein pakan dengan
cara memasak, membungkus dengan kapsul atau dengan mempercepat
laju alir makanan ( rate of passage ) dengan cara meningkatkan konsumsi
air minum, menggiling bahan, dan membuat pakan dalam bentuk pellet.
Tetapi hal ini tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan karena bisa
saja proses ini bahkan menguragi kecernaan zat-zat makanan yang lain.



123Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Nilai protein makanan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi
oleh tingkat ketahanannya dari degradasi oleh mikroba rumen guna
menghasilkan ammonia. Derajat ketahanan protein bahan dari
degradasi oleh mikroba rumen sangat beragam (Tabel ..). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat ketahanan degradasi protein yang rendah
dalam rumen, mampu memberikan pertambahan bobot badan yang
lebih baik pada sapi perah muda. Berdasarkan hal tersbut makan syarat
ideal suatu bahan pakan sumber protein bagi ternak ruminansia adalah :

a. Mampu menghasilkan ammonia (NH3) yang cukup untuk
menunjang pertumbuhan miroba rumen yang optimal.

b. Mampu menyediakan protein yang lolos degradasi dalam rumen
untuk memenuhi kebutuhan protein bagi ternak induk semang.

c. Mempunyai nilai hayati (Biological Value = BV ) yang tinggi.

Mikroba rumen mampu mensintesis asam amino esensial maupun
non esensial dalam rumen, maka komposisi asam amino dari protein
pakan tidak terlalu penting artinya bagi ternak ruminansia. Oleh karena
itu dalam ransum ruminansia sebagai sumber ammonia sering digunakan
senyawa bukan protein (NPN). Penggunaan NPN dalam ransum harus
disertai dengan sumber energi yang mudah tersedia.

Asam amino dan peptida yang berasal dari pencernaan protein
mikroba atau protein pakan yang lolos degradasi dalam rumen, setelah
diserap oleh villi usus halus, akan dimetabolisme melalui dua jalur yaitu
anabolisme dan katabolisme. Pada proses anabolisme asam –asam
amino akan digunakan untuk sintesis protein, sedangkan pada proses
katabolisme, protein akan dirombak menjadi senyawa sederhana dan
urea. Sebagian urea ini akan kembali ke rumen melalui saliva atau dinding
rumen dan sebagaian lagi akan dikeluarkan melalui ginjal dalam bentuk
urine.

Efisiensi penggunaan protein pakan sangat ditentukan oleh
intensitas proses anabolisme dan katabolisme. Beberapa faktor yang
mempengaruhi proses anabolisme dan katabolisme protein adalah : 1).
Kecukupan asam-asam amino,2) kecukupan konsumsi energy, 3) Status
nutrisi dan fisiologis ternak, 4) pembentukan jaringan, 4) kontrol oleh
hormon. Aktivitas proses anabolisme dan katabolisme protein dalam
tubuh, bisa dipantau dengan mengukur neraca nitrogen atau retensi

124 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

nitrogen. Retensi nitrogen adalah selisih antara konsumsi nitrogen
dengan nitrogen yang dikeluarkan melalui feses dan urine.

Neraca nitrogen dalam tubuh bisa bernilai positif, nol atau negatif
.Bila Neraca nitrogen bernilai positif menunjukkan bahwa terjadi
pertambahan protein jaringan tubuh atau pembentukan jaringan baru,
Bila nilainya sama dengan nol hal tersebut berarti terjadi keseimbangan
antara proses anabolisme dan proaes katabolisme dalam tubuh, tetapi
apabila neraca nitrogen bernilai negative, ini berarti terjadi kehilangan
nitrogen dalam tubuh melalui proses katabolisme akibat konsumsi
nitrogen atau protein dari pakan tidak mencukupi untuk memenuhi
kebutuhan ternak.

PENCERNAAN LEMAK PADA RUMINANSIA

Lemak merupakan sumber energy penting dalam ransum ternak
ruminansia. Beberapa tahun terakhir ada kecendrungan menggunakan
suplementasi lemak untuk meningkatkan kandungan energy ransum.
Lemak adalah merupakan zat makanan yang biasanya terdapat dalam
jumlah kecil dalam makanan ternak (50 gram/kg BK). Pada pakan
ternak ruminansia, lemak terdapat dalam hijauan maupun konsentrat.
Kandungan lemak dalam hijauan pakan berkisar 3-10 % yang terdiri
dari glukolipid. Pakan hijauan dan biji-bijian umumnya berbentuk lemak
tidak jenuh. Lemak pada daun didominasi oleh asam linolenat, linoleat
dan oleat. Lemak dalam konsentrat (biji-bijian) kaya kandungan asam
linoleat. Untuk memenuhi kebutuhan ternak akan energi sering petani
menambahakan minyak dalam ransum. Lemak mengandung energi
yang tinggi dan merupakan sumber energi yang murah dibandingkan
zat makanan lain seperti karbohidrat. Sering dipertanyakan apakan
kualitas ransum atau kualitas produk yang dihasilkan (susu dan daging)
dipengaruhi oleh suplementasi lemak. Jawabannya sangat tergantung
pada jenis ternak dan tipe produksi. Hubungan lemak ransum dengan
lemak yang terdapat pada produk, berbeda antara ternak non ruminansia
dan ruminansia, juga antara ternak muda dan ternak dewasa.

Pencernaan Lemak Dalam Rumen

Lemak yang terdapat dalam rumen ternak ruminansia terdiri atas
lemak pakan (80,3 %), lemak ptotozoa (15,6 %) dan lemak bakteri
(4,3 %). Metabolisme lemak dalam rumen memiliki dampak yang besar

125Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

terhadap profil asam lemak yang tersedia untuk diserap dan digunakan
oleh jaringan tubuh ternak. Pencernaan lemak pada ternak ruminansia
dimulai didalam rumen. Lemak dalam rumen akan mengalamidua proses
penting yaitu hidrolisis dan biohidrogenasi (Gambar.3.9)

Hidrolisis (Lipolisis)

Pertama kali lemak dari pakan masuk ke dalam rumen maka
langkah awal dari metabolisme lemak adalah hidrolisis ikatan ester dari
triglicerida, phospholipid dan glikolipid. Hidrolisis dari lemak pakan
umumnya dilakukan oleh bakteri rumen, dan sangat sedikit sekali bukti
yang meninjukkan keterlibatan protozoa dan fungi dalam hidrolisis
lemak. Proses hidrolisis (lipolisis) lemak dalam rumen oleh lipase
mikroba rumen, akan menghasilkan asam lemak, gliserol dan galaktosa
yang siap dimetabilisme lebih lanjut oleh bakteri rumen. Asam lemak
tak jenuh (linoleat dan linolenat) akan dipisahkan dari kombinasi ester,
galaktosa dan gliserol dan akan difermentasi menjadi VFA. Bakteri yang
paling berperan dalam hidrolis lemak adalah Anaerovibrio lipolytica yang
menghidrolisis trigliserida dan Butyrivibrio fibrisolvens yang berperan
dalam menghidrolisis phospholipid dan glikolipid. Proses hidrolisis.
dalam rumen berlangsung cukup tinggi namun ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatannya seperti meningkatnya level lemak dalam
ransum maka hidrolisis menurun, pH rumen yang rendah dan ionophor
yang menghambat aktivitas dan pertumbuhan bakteri.

Hidrogenasi

Hidrogenasi terjadi pada asam lemak tak jenuh bebas yang
dilepaskan dalam proses hidrolisis lemak dalam rumen. Langkah
pertama dari proses biohidrogenasi ini adalah isomerisasi dari bentuk
cis menjadi bentuk trans. Hidrogenasi ini menyebabkan pengurangan
asam lemak tak jenuh dengan hasil akhir asam lemak jenuh (stearat
=C18). Hidrogenasi umumnya terjadi pada tingkat lebih lambat dari
lipolisis, namun asam lemak tak jenuh ganda sedikit yang hadir dalam
rumen.

Sebagian besar asam lemak esensial akan rusak oleh karena proses
biohidrogenasi, namun ternak tidak mengalami defisiensi. Sebagian kecil
asam lemak esensial yang lolos dari proses di dalam rumen, sudah dapat
memenuhi kebutuhan ternak.

126 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Lemak Pakan

Galaktocil Acil Triacil Gliserol
Gliserol

Lipolisis VFA
(propionat)

Asam lemak + Galaktosa
Gliserol

Linoleat Oleat Linolenat
18 : 2 18 :1 18 : 3

Stearat
18 : 0

Gambar 11. Proses hidrolisis dan biohidrogenasi Lemak dalam rumen

Kebanyakan lipid pada ruminan masuk ke duodenum sebagai
asam lemak bebas dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi.
Monogliserida adalah asam lemak yang dominan pada monogastrik. Pada
ruminan lemak mengalami hidrolisis di dalam rumen, sehingga sangat
sedikit terdapat pada ternak ruminan.

Sintesis Lemak oleh Bakteri Rumen

Mikroba rumen juga mampu mensintesis beberapa asam lemak
rantai panjang dari propionat dan asam lemak rantai cabang dari kerangka
karbon asam-asam amino valin, leusin dan isoleusin. Asam-asam lemak
tersebut akan diinkorporasikan ke dalam lemak susu dan lemak tubuh
ruminansia.

Penyerapan Lemak pada Ternak ruminansia

Asam lemak hasil hidrolisis yang berantai pendek ( < C12)
diserap oleh dinding rumen (Gambar 3.10). Asam lemak rantai panjang
masuk ke sel-sel epithelium dan diserap diusus halus. Di usus halus lemak
dihidrolisis menjadi monogliserida dan asam lemak bebas oleh enzim
lipase pankreas. Asam lemak rantai pendek diserap sel mukosa usus.
Monogliserida dan asam lemak tak larut membentuk misel untuk dapat

127Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

melewati dinding usus. Asam lemak C14 membentuk triasil gliserol
dalam sel epithelium usus. Triasil gleserol, fosfolipid dan kolesterol
membentuk kilomikron dan masuk ke peredaran darah untuk diedarkan
ke seluruh tubuh.

PENYERAPAN LEMAK PADA RUMINANSIA

RUMEN GLISEROL LEMAK
VFA ASAM LEMAK
C< 14
C >14

USUS As. lemak Gliserol As. Lemak
Monogliserida

C<14 C>14

Triasil gliserol

Pembuluh Limpe

PEMBULUH DARAH C <14 Gliserol kilomikron C< 14
VFA Monogliserida

Gambar 12. Penyerapan Lemak pada Ruminansia (Baldwin,

and Allison . 1983)

Ruminansia muda mempunyai kemampuan untuk mengkonversi
glukosa menjadi asam lemak, namun ketika rumen berfungsi, kemampuan
itu hilang dan asetat menjadi sumber karbon utama yang digunakan
untuk mensintesis asam-asam lemak. Asetat akan didifusi masuk ke
dalam darah dari rumen dan dikonversi di jaringan menjadi asetil-CoA,
dengan energi berasal dari hidrolisis ATP menjadi AMP. Jalur ini terjadi di
tempat penyimpanan lemak tubuh yaitu jaringan adiposa (di bawah kulit,
jantung dan ginjal). Konversi asetil-CoA menjadi asam-asam lemak rantai
panjang sama terjadinya antara ruminan dan monogastrik

128 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

GANGGUAN METABOLISME PADA TERNAK RUMINANSIA.
PERUT KEMBUNG (Tympani)
Kembung ada dua nama dengan penyebab yang berbeda:
a. Kembung - Bloat Feedlot

Kembung ini disebabkan oleh pemberian konsentrat yang sangat
berlebihan dari batas yang dibutuhkan, akibatnya lendir bakteri dan
gas pada rumen berlebihan.
b. Kembung - Bloat Pasture = Legume Bloat
Kembung ini disebabkan karena pemberian daun kacang-kacangan
yang masih muda, karena daun ini biasanya mengandung protein
terlarut (nitrogen) yang sangat tinggi dan saponin.
UREA TOXIC
Gejala Keracunan urea :
- 30 - 60 menit setelah makan.
- Salivasi terjadi 10 menit setelah makan.
- dyspnoe dan salivasi
– Kembung dengan pH > 7 dengan Menyepak perut
Gejala-gejala kembung perut
– Perut menjadi tegang
– Anus menonjol
– Nafas ngos-ngosan
– Lidah kebiruan
– Akhirnya terjadi kematian
Keracunan urea
– Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen. Pada ternak

ruminansia nitrogen dalam pakan dapat dirubah menjadi asam
amino dalam rumen, sehingga sering sekali urea digunakan sebagai
zat sumber protein.
– Pemberian urea harus dibatasi karena dapat menyebabkan
keracunan.

129Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

– Beberapa peneliti menganjurkan 1% dari konsentrat yang
diberikan.

– Pemberian urea jangan lebih dari 0,4 - 0,5 g/Kg BB. Untuk dosis
yang aman sebaiknya 0,05 % /Kg konsentrat. Ensminger (1997)

– Pemberian urea sebagai sumber Nitrogen (N) dalam pakan harus
diimbangi dengan pemberian bahan pakan sumber energi, selain itu
juga sumber mineral sulfur (S) dengan perbandingan (N:S=15: 1).

Penyakit yang disebabkan kelebihan energi

– Energi yang dibutuhkan oleh ternak dapat dipenuhi dari
karbohidrat dan lemak. Namun apabila lemak berlebihan dalam
pakan akan menghambat penyerapan zat nutrisi yang lain.

– Penyakit yang ada hubungannya dengan energi, antara lain :
Ketosis
Penyakit ini sering terjadi pada sapi saat 2 - 6 minggu setelah melahirkan
dengan pemberian pakan sebagai berikut :

• Pemberian konsentrat yang kurang
• Pemberian hijauan berkualitas rendah
• Pakan banyak mengandung lemak
• Pada kondisi ternak setelah melahirkan membutuhkan banyak

energi dan protein dengan pemberian pakan yang tersebut diatas
maka menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi rendah
(Hypoglicemia).

• Gejala yang terlihat apabila sapi terkena ketosisi yaitu:
• Produksi susu menurun sampai dengan 85 %
• Nasu makan tidak ada sehingga berat badan menjadi menurun
• Bau aseton dari urine, mulut, nafas dan susu yang merupakan gejala

khas

Pencegahan Ketosis

• Sapi setelah melahirkan harus diberi pakan dengan energi yang
tinggi dengan cukup pemberian konsentrat

• Pemberian hijauan berkualitas baik dengan jumlah yang cukup
• Pemberian propylene glycol (Sodium-propionat) 100 gram/gari

130 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

VIII

ENERGI DAN PENGUKURANNYA
PADA TERNAK RUMINANSIA

Dari sejak dulu hingga sekarang perhatian dunia terhadap energi
merupakan topik yang tidak habis-habisnya dibicarakan, baik itu berupa
bahan makanan diperlukan oleh manusia dan hewan, maupun berupa
bahan bakar yang diperlukan untuk menunjang kemajuan teknologi dan
industri.

Perkataan energi berasal dari kata “en” dan “ergon” yang dalam
bahasa Greek masing-masing mempunyai arti “dalam” dan “kerja”.
Gabungan dari kedua kata tersebut menjadi “energon” yang berarti
aktivitas. Dengan demikian energi dapat diartikan sebagai suatu tenaga
atau kekuatan yang memungkinkan terjadinya aktivitas. Kleiber (1961)
menyebutkan energi itu sebagai api dari kehidupan. Kematian adalah
akhir dari aktivitas,. Jadi energi itu mempunyai arti yang sangat penting
dalam kehidupan.

Energi diperlukan untuk kegiatan semua proses hidup, yang
mencakup pemeliharaan tekanan darah dan tonus otot, aksi jantung,
transmisi impulsa syaraf, transport ion melalui membrane, reabsorbsi
dalam ginjal, sintesa protein dan lemak, sekresi air susu, produksi wol
dan produksi telur. Energi diperlukan ternak untuk menjalankan fungsi-
fungsi tubuhnya, seperti kerja mekanik (aktivitas) otot, kerja kimia dalam
peredaran zat-zat di dalam sel, dan untuk sintesa katalis reaksi kimia
tubuh penting seperti enzim dan hormone.

Kebutuhan energi pada ternak dipenuhi dari makanan. Oleh
karena itu langkah pertama yang perlu diperhatikan untuk menyusun
ransum adalah untuk mencukupi keperluan zat-zat makanan ternak,
dan kedua adalah memilih bahan makanan yang akan dipakai untuk
dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Selain keseimbangan antara suplai
(makanan) dan permintaan (ternak) akan zat-zat makanan tersebut,
prioritas selanjutnya adalah energi

131Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

Khusus pada ternak ruminansia yang sebagian besar makanannya
terdiri atas hijauan dan pada umumnya mengandung serat kasar yang
tinggi dan berenergi neto rendah dibandingkan dengan bahan makanan
lainnya seperti butiran-butiran atau konsentrat, maka kandungan energi
ransumnya perlu mendapat perhatian yang sewajarnya.

Telah banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa makanan
berenergi rendah akan menimbulkan akibat yang merugikan pada ternak.
Suatu ransum yang telah cukup mengandung zat-zat makanan yang
diperlukan tetapi difisien akan energi, perombakan bagian-bagian tubuh
tertentu akan terjadi. Pembatasan energi makanan akan meningkatkan
katabolisme protein labil sebagai usaha tubuh untuk menutupi kebutuhan
energinya, sehingga defisiensi energi ini dapat menimbulkan “protein-
calorie-malnutrition” (PMC). Pada defisiensi energi yang berkelanjutan
akan terjadi kemunduran pertumbuhan, kehilangan jaringan, kelemahan
dan penurunan produksi. Tetapi sebaliknya, makanan berenergi tinggi
akan menyebabkan hasil yang positif bagi ternak. Dari beberapa percobaan
yang telah pernah dilakukan terlihat bahwa meningkatnya energi ransum
akan meningkatkan konsumsi makanan dan meningkatkan penggunaan
N-makanan, untuk sintesa dan peletakan protein dalam tubuh. Pemberian
makanan berenergi tinggi pada ternak domba akan menghasilkan kualitas
karkas dan jumlah lemak yang lebih tinggi serta daging yang lebih tinggi
serta daging yang lebih empuk dibandingkan dengan makanan berenergi
rendah. Energi makanan yang lebih tinggi akan menyebabkan pertumbuhan
yang lebih cepat serta produksi daging yang lebih tinggi.

8.1. Pembagaian Energi Pakan

Suplai energy makanan dinyatakan dalam energi bruto (gross
energy = GE), energy dapat dicerna (digestible energy = DE), energy
metabolis (metabolizable energy = ME) atau energy neto (net energy = NE).
satuan energi dinyatakan dalam erg, joule (J), kilo joule (KJ), mega joule
(MJ), kalori (kal), kilo kalori (Kkal), mega kalori (Mkal), therm dan BTU
(British Thermal Units). Satu kalori ialah jumlah panas yang diperlukan
untuk menaikkan temperature satu gram air dari 14,5 ke 15,5 0C, dan
ini setara dengan 4.1868 J. Dalam makanan ternak satuan yang paling
banyak dipakai ialah Mkal, tapi therm (1 Therm = 1 Mkal) juga dipakai
untuk menyatakan NE atau energi produktif dari suatu ransum. satu BTU
setara dengan 0,252 Kkal, yaitu panas yang diperlukan untuk menaikkan

132 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

suhu satu 1b air 10F. Selain dinyatakan dalam standar energi (GE hingga
NE), juga ada yang menggunakan standar lain yang pengukurannya tidak
langsung dikaitkan dengan energi yaitu berdasarkan jumlah zat-zat
makanan tercerna (total digestible nutrient = TDN) dan martabat pati
(Starch equivalent = SE).

Energi bruto ialah jumlah panas yang dihasilkan dari oksidasi
sempurna sesuatu bahan makanan. ini dapat diukur dengan menggunakan
calorimeter bom. Nilai GE makanan ini sebenarnya bukan kurang tepat untuk
menaksir suplai energi bagi ternak, karena sebagian dari padanya hilang
selama proses pencernaan dan metabolism yakni berupa energi feses, gas
metan, panas fermentasi, energi urin dan panas pembakaran dalam tubuh.

Tahapan proses yang dialami energi makanan sejak dikonsumsi
hingga dapat dimanfaatkan tubuh ternak dapat dilihat pada gambar 11

Gambar. 13. Bagian-bagian energi makanan pada ternak
(McDonald et al., 1975).

133Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

8.1.1.Energi Dapat Dicerna (Digestible energy, DE)

Energi dapat dicerna adalah selisih antara energi bruto dengan
energi yang tidak tercerna yang dikeluarkan dari tubuh melalui feses.
Selisih antara energi bruto (GE) dengan energi feses (FE) bukanlah
merupakan jumlah energi yang diserap dari rumen, karena sebagian
hilang berupa gas metan, CO2 dan panas, jadi masih merupakan energi
tercerna semu (apparent digestible energy). Jumlah energi feses
bervariasi tergantung pada tingkatan konsumsi dan kualitas makanan.
tingkat konsumsi makanan dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain
kualitas makanan, koefisien cerna makanan umur dan status fisiologis
ternak. Energi feses ini berkisar antara 10-70% dari GE makanan. Juga
ditambahkan bahwa makanan berkualitas rendah akan meningkatkan
energi feses, terlebih bila pemberiannya ditingkatkan. Energi feses ini
berkisar 20-60% GE makanan untuk makanan kasar saja, sedangkan
untuk konsentrat berkisar antara 15-35% GE.

Rumus dari Energi Dapat Dicerna (digestible energy; DE) adalah

(Kp x GEp) – (Ef x GEf)
DE = ------------------------------ Mcal/kg BK

Kp
Kp = konsumsi pakan (kg BK/hari),
GEp = GE pakan (Mcal atau MJ per kg BK),
Ef = ekskresi feces (kg BK/hari),
GEf = GE feces (Mcal atau MJ per kg BK).

8.1.2. Energi Metabolisme

Energi metabolism (ME) adalah energi tercerna dikurangi dengan
energi yang hilang berupa metan, panas fermentasi dan energi urin.
Jumlah energi yang hilang berupa metan yang terbentuk pada fermentasi
rumen berkisar antara 3-10% atau 5-12% dari GE makanan, sesuai
dengan tingkat konsumsi dan kualitas makanan. Pemberian makanan yang
tinggi koefisien cernanya menyebabkan 5% GE makanan hilang berupa
metan, tetapi untuk sebagian besar makanan yang umum diberikan pada
ruminansia, jumlah energi metan ini rata-rata 8%. Kehilangan energi

134 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

berupa metan sebesar 8% ini hanya terjadi pada tingkat pemberian
makanan yang lebih tinggi, jumlahnya akan turun menjadi 6-7% atau
sekitar 12% dari DE. Energi yang hilang bersama urin berada dalam
bentuk senyawa N sebagai urea, asam hipurik, creatinin dan allantoin dan
juga dalam senyawa bukan-N seperti asam glucuronik dan asam sitrat
yang jumlahnya berkisar antara 3-5% GE makanan. Panas pembakaran
urine (UE = kkal) berhubungan dengan persentase protein kasar (CP =
%) makanan yang dinyatakan dengan persamaan : UE = 1,6 + 0,25 CP.
Tetapi di atas hidup pokok tidak ada hubungan UE dengan N-urin. energi
yang hilang berupa panas fermentasi ini sering tidak diperhitungkan
sebagai energi yang hilang dari makanan karena pada akhirnya dapat
dimanfaatkan ternak berupa produk mikroba. Atas dasar itu maka
diperkirakan sekitar 20% dari DE semu hilang berupa metan dan urine.
Sehingga pada ruminansia nilai ME sering ditaksir dengan mengalikan
0,8 pada nilai DE. Perbandingan ME dan DE dipengaruhi oleh tingkat
konsumsi dan bersifat bahan makanan . makanan berkualitas rendah
akan menurunkan nilai ME . Panda tingkat konsumsi yang lebih banyak,
nilai ME dari jerami kedele yang digiling ataupun yang dijadikan pellet
akan meningkat. Rumus ME untuk ruminansia adalah sebagai berikut;

ME pakan ruminansia:
(KpxGEp))– (EfxGEf ) – (EuxGEu)– (EmxGem)

ME = -------------------------------------------------------------- Mcal/kg BK

Kp

Eu = ekskresi urine (kg BK/hari)

GEu = GE urine (MJ/kg BK)

Em = emisi metan (mol/hari)

GEm = GE metan (MJ/mol).

8.1.3. Energi neto (NE)
Energi neto (NE) adalah energi metabolis dikurang dengan energi

yang dipakai untuk pembakaran dalam proses metabolism. Panas
pembakaran ini terus dihasilkan oleh tubuh dan kemudian hilang melalui
radiasi, konduksi dan konveksi atau secara langsung melalui evaporasi.
panas pembakaran atau sering juga disebut dengan “heat increment”

135Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)

berkisar antara 10-40% GE makanan. Energi neto inilah merupakan
energi yang tersedia bagi keperluan seperti pemeliharaan tubuh dan
berbagai bentuk produksi. Oleh karena itu, NE adalah merupakan suatu
system yang ideal dari pengukuran kandungan energi makanan dan
kebutuhan energi bagi hewan untuk fungsi fisiologis tertentu. Namun
demikan berhubung pengukurannya memerlukan peralatan dan prosedur
yang rumit maka standar yang biasa dipakai panda ruminansia, babi atau
unggas adalah berdasarkan DE atau ME.

Disamping terminologi energi yang sudah dijelaskan diatas,
terdapat juga standar lain yang dipakai dalam penilaian energi makanan
yaitu TDN (total digestibel nutrient) dan martabat pati (Strach Equivalent
= SE).

8.1.4. Total Digestible Nutrien (TDN)

Sistem TDN banyak digunakan dulunya di Amerika Serikat. TDN
adalah merupakan jumlah persentase bahan organik tercerna (protein,
lemak dan karbohidrat) dari suatu bahan makanan, yang persentase
lemak tercerna lebih dulu dikalikan dengan 2.25 dan satuannya
dinyatakan dalam kg atau %. Rumus untuk menentukan nilai TDN suatu
bahan adalah sebagai berikut:

TDN (%) = % protein tercerna + % serat kasar tercerna + % BETN
tercerna + 2.25 x % lemak tercerna

Atau

TDN(%) = Bahan Organik tercerna + 1.25 lemak tercerna

Sistem TDN ini mengasumsikan yang relatif sama zat-zat makanan
tercerna dari semua bahan makanan dapat dipergunakan ternak
dengan keefisienan yang relatif sama, apakah itu untuk hidup pokok,
pertambahan bobot badan ataupun produksi susu. Satuan TDN pada
dasarnya menilai kandungan energi bahan makanan yang dapat dicerna.
Karena itu nilai TDN hampir sama dengan DE. Perbedaanya terletak
pada cara pengukurannya. Hubungan TDN dengan DE dapat dinyatakan
dengan persamaan berikut.

1 kg TDN diasumsikan sama dengan 4.4 Mkal DE atau 3.52 Mkal ME.

Nilai TDN suatu bahan pakan juga bisa diprediksi dari hasil analisa
proksimat dengan menggunakan beberapa rumus dibawah ini sesuai
kualitas pakan/bahan

136 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)


Click to View FlipBook Version