SK<18, PK<20
TDN = 2,79 + 1,17 PK + 1,74 LK – 0,295 SK + 0,81 BETN
SK<18, PK>20
TDN = 25,6 + 0,53 PK + 1,7 LK – 0,474 SK + 0,732 BETN
SK>18, PK<20
TDN = 70,6 + 0,259 PK + 1,01 LK – 0,76 SK + 0,091 BETN
SK>18, PK>20
TDN = 3,17 + 0,64 PK + 2,08 LK – 0,0675 SK + 0,94 BETN
Standar dengan sistem TDN ini dipakai banyak di Amerika, Australia dan
India.
8.1.5. Starch Equivalent (Martabat Pati )
Standar lain yang dipakai dalam penilaian energi bahan makanan
adalah martabat pati (Starch Equivalent = SE). Martabat pati adalah satuan
energi bahan makanan berdasarkan kemampuannya dalam membentuk
lemak tubuh dengan menggunakan pati murni sebagai pembanding.
Definisi martabat pati adalah sebagai berikut:
kkal pembentukan lemak tubuh/kg bahan makanan
MP = x 100
Kkal pembentukan lemak tubuh/kg pati murni
Jadi MP adalah nilai yang menyatakan berapa kemampuan suatu
bahan makanan jika dibandingkan dengan pati murni dalam menghasilkan
lemak tubuh. Suatu bahan makanan yang kandungan energinya bernilai MP
sama dengan 81%, ini berarti bahwa kemampuan bahan tersebut dalam
menghasilkan lemak tubuh hanya 81% kemampuan pati murni. Kemampuan
bahan makanan dalam membentuk lemak tubuh makin menurun bila kadar
serat kasar meningkat. Lemak bahan makanan tidak sama kemampuannya
dalam membentuk lemak tubuh, dan protein lebih kecil kemampuannya
membentuk lemak tubuh dibanding karbohidrat. Hubungan antara
perlemakan tubuh dengan zat-zat makanan tercerna adalah sebagai berikut:
MP = 0.94 Prt + x Lt + SKt + Beta-Nt – ySK
Nilai x = faktor konversi untuk lemak yang nilainya 2.41 untuk
kacang-kacangan, 2,12 untuk serelia dan 1.91 untuk hijuan. Nilai y =
faktor koreksi yang harus diperhitungkan untuk setiap SK bahan seperti
137Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
terlihat pada tabel dibawah ini. Kemampuan bahan makanan membentuk
lemak tubuh makin menurun bila kadar serat kasar ransum meningkat.
NILAI Y UNTUK BEBERAPA KADAR SK
Nilai SK (%) Nilai Y
6 0.29
6-8 0.34
8-10 0.38
10-12 0/43
12-14 0.48
14-16 0.53
>16 0.58
Penilaian atas dasar SE telah dirintis oleh Kuhn pada stasiun
percobaan Mockern di Jerman dan dilanjutkan oleh Kellner. Sistem ini
banyak dipergunakan di Eropa dan di Inggris. Selain data mengenai zat-
zat makanan tercerna dari suatu bahan makanan, juga diukur semua yang
hilang dari tubuh antara lain energi yang dipakai selama pencernaan.
Sistem SE ini mengasumsikan bahwa DE makanan yang tepat serat
kasarnya dipergunakan kurang efisien dibandingkan DE makanan
yang rendah serat kasarnya. Sistem ini hanya memberikan hasil yang
memuaskan untuk menduga pertumbuhan, tetapi tidak untuk hidup
pokok ataupun produksi susu.
Dari kedua sistem yang disebutkan belakangan ini, TDN ataupun
SE, masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan yang kalau
digabungkan merupakan paduan yang saling mengisi. atas dasar itulah
mungkin maka kedua sistem ini banyak dipakai dalam penyusunan
ransum ruminansia di Australia.
Standar yang dipakai untuk kebutuhan energi pada ternak sama
seperti pada bahan makanan, hanya saja energi neto dibedakan atas
energi neto untuk tambah bobot (NEg) dan energi neto untuk laktasi (NEl).
Pada dasarnya kebutuhan energi pada ternak ialah kebutuhan energi
untuk hidup pokok dan untuk produksi. Kebutuhan energi untuk hidup
pokok adalah energi yang diperlukan untuk memelihara kelestarian hidup
dan mempertahankan keutuhan alat-alat tubuh. kebutuhan untuk produksi
ialah energi diatas kebutuhan hidup pokok yang dapat dimanfaatkan
138 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
untuk proses-proses produksi yang meliputi pertumbuhan (pada hewan
muda) atau pemberntukan lemak (hewan dewasa), reproduksi, produksi
susu, produksi wol, produksi tenaga dan produksi telur (unggas). namun
demikian panda prinsipnya pemberian makanan panda tenak adalah untuk
memenuhi kedua macam kebutuhan tadi.
8.2. Kebutuhan energi Dan faktor yang Mempengaruhinya pada
Ruminansia
Kebutuhan energi dipengaruhi oleh besar tubuh, species,
kelamin, umur, tingkat pertumbuhan dan produksi aktivitas dan kondisi
lingkungan. Kebutuhan energi untuk hidup pokok berhubungan langsung
dengan besar tubuh metabolik. Kebutuhan energi untuk hidup pokok
selama 24 jam pada hewan homeotermik dapat digambarkan sebagai Em
= a x b W0.75 Kg. Nilai Em = kkal energi yang dibutuhan untuk hidup pokok;
a = factor aktivitas ; b = konstanta; W = bobot tubuh dan 0.75 = eksponen.
besarnya factor a berbeda-beda tergantung dari penggunaan perhitungan
itu, apakah dengan nilai ME atau DE sesuai dengan aktivitas yang terjadi
panda setiap dasar perhitungan. Pada perhitungan yang berdasarkan DE,
untuk herbivoro nilai a = 2 dan nilai b = 70. sehingga persamaan diatas
dapat dinyatakan dengan Em = 2 x 70 kal DE/hari.
Kebutuhan energi untuk hidup pokok domba adalah 119 kakal
DE/hari dan untuk pertumbuhan bobot adalah 138 (1 + 5.3 G) kkal DE/
Hari; nilai G = kg pertambahan bobot tiap hari. sedangkan panda kambing
kebutuhan energi untuk hidup pokok adalah 227.8 kJ DE/kg0.75 bobot
tubuh yang lebih kurang setara dengan 107 kkal DE / /hari
Perbedaan umur mempunyai pengaruh terhadap kebutuhan energi.
Jumlah energi per unit bobot tubuh yang diperlukan untuk pertumbuhan
akan berkurang sesuai dengan pertambahan umur. Aktivitas dan
kecepatan metabolisme lebih tinggi panda hewan muda dari pada yang
dewasa, sehingga untuk menunjang pertumbuhan yang cepat tersebut
diperlukan energi yang lebih tinggi. Semakin tinggi pertambahan bobot
badan semakin tinggi pula kebutuhan energinya
Aktivitas hewan juga mempengaruhi kebutuhan energy untuk
hidup pokok. Hewan yang merumput dilapangan membutuhkan energi
yang lebih banyak dari hewan yang dipelihara dalam kndang. Energi
yang dibutuhkan untuk berdiri saja 12x lebih tinggi dari pada berbaring ,
apalagi yang merumput di lapangan kebutuhan energinya akan bertambah
139Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
karena diperlukan tambahan energy untuk lokomosi dan aktifitas otot.
Selanjutnya ditambahkan, kebutuhan energi untuk hidup pokok domba
dengan bobot 50 kg yang merumput di lapangan adalah 1370 kkal DE/
hari, yang dipelihara di kandang 1150 kkal DE/ hari dan yang berada
dalam kalori metri (berbaring) sebanyak 1060 kkal DE/ hari. Kebutuhan
enrgi untuk hidup pokok sapi yang dilepas di lapangan akan meningkat
sebesar 15 % dari pada yang dipelihara di dalam kandang. Energy yang
dibutuhkan untuk hidup pokok kambing yang dilepas di lapangan lebih
tinggi dari pada kambing yang dipelihara di kandang: juga lebih tinggi
dari pada domba yang dilepas, karena kambing lebih banyak bergerak
(aktif). Akan tetapi energi untuk hidup pokok antara domba dan kambing
sama-sam dikandangkan diasumsikan sama (= 118 kkal DE/Wkg0. 75 ).
Sebagai mamalia, ruminansia termasuk hewan yang homeotrik.
Biasanya temperatur tubuh 70C diatas temperature lingkungan.temperatutr
ini ditentukan dengan mengukur suhu rectal (sekitar 390C), karean
temperature rectal tidak terlalu banyak dipengaruhi temperatur lingkungan
dibandingkan dengan alat tubuh lainnya. Jika temperature lingkungan lebih
tinggi atau lebih rendah dari suhu termonetral, maka energi untuk hidup
pokok akan berubah menurun atau meningkat). Hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut. Jika temperatur lingkungan cukup tinggi maka kelebihan
panas itu akan mengalir ke tubuh hewan atau setidak-tidaknya menghambat
aliran panas tubuh keluar. Sebaliknya bila temperatur lingkungan terlalu
rendah maka panas tubuh akan lebih banyak mengalir keluar, sehingga
proses pembentukan panas adlam tubuh (metabolisme) menjadi meningkat.
Dengan demikian dapat dikatkan bahw temperatur lingkungan yang agak
tinggi akan mengurangi kebutuhan energy dan sebaliknya temperature
rendah akanmeningkatkan kebutuhan energi. Kebutuhan hidup pokok
umumnya lebih tinggi pada musim dingin dari pada musim panas, kecuali
ternak bersangkutan ditempatkan dalam kandang yang hangat. Kebutuhan
energy akan bertambah 5-7 x setiap kenaikan 10f temperatur tubuh. Ini
terjadi disebababkan karena jika suhu udara naik maka kehilangan panas
melalui radiasi berkurang tetapi melalui konduksi dan komfeksi malah
makin mningkat. Perubahan temperatur linglungan ini erat juga hubungan
nya dengan metabolism lemak. Temperatur lingkungan yang rendah akan
meningkatkan lemak tubuh tanpa menaikkan perombakan protein. Itulah
mungkin sebabnya hewan yang hidup di daerah tropis umumnya lebih
langsing dari pada hewan di daerah dingin.
140 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Suplai energi pada ruminansia adalah melalui perombakan protein,
karbohidrat dan lemak makanan menjadi acetyl – Coa atau melalui
siklus TCA (Tricarboxylic acid) . Hanya sedikit karbohidrat yang dapat
diabsorpsi oleh saluran pencernaan sebagai glukosa, tetapi sebagian
besar karbohidrat makanan itu mengalami fermentasi dala rumen
menjadi asam-asam lemak atsiri (VFA) seperti asam asetat, propinat
dan butirat. VFA yang paling banyak terbentuk adalah asam asetat , bisa
mencapai 74% dan mnimal 34%. Dari percobaan dengan menggunakan
radio sotop 14C dapat diketahui bahwa C asam asetat adalah sumber C
asam lemak air susu dan asam lemak cadangaan lemak tubuh. Asam
propianat dapat menyediakan C untuk gliserol, laktosa, glikogen dan
fruktosa. Karbon asetat dan propinat dapat diinkorporasikan kedalam
asam amino non-esensial protein susu.
141Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
IX
CONTOH MODEL PENELITIAN
NUTRISI RUMINANSIA
9.1. Peningkatan Kualitas Nutrisi Bahan Pakan
Supplementasi Mineral Fosfor Pada Proses Fermentasi Pelepah
Sawit Untuk Menurunkan Kandungan Lignin
A. Latar Belakang
Pelepah sawit merupakan limbah kebun kelapa sawit yang tersedia
sepanjang waktu dalam jumlah besar dan sangat berpotensi dijadikan sebagai
pakan ternak alternatif (Jamarun et al, 2016; Zain et al., 2007). Luas areal
kebun sawit di Indonesia pada tahun 2015 mencapai ± 11.300.370 Ha dan
terus meningkat dengan pertambahan luas areal setiap tahun (BPS, 2015).
Setiap pohon kelapa sawit menghasilkan 22 pelepah per tahun (Diwyanto
et al., 2004) dengan rataan bobot pelepah per batang 7 kg (Sitompul, 2003)
atau setara dengan 20 ribu kg (22 pelepah x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar
setiap hektar per tahun. Total bahan kering (BK) pelepah tersedia sebesar
5.214 kg per hektar per tahun dengan kandungan BK sejumlah 26,06%.
Setiap pelepah menghasilkan daun kelapa sawit seberat 0,5 kg, sehingga
terdapat 658 kg daun per hektar per tahun (Mathius et al., 2004).
Pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan ternak masih sangat
terbatas karena pelepah sawit mengandung lignin yang tinggi yang
menyebabkan rendahnya kecernaan (Febrina, 2016; Zain et al., 2014).
Kecernaan bahan kering (KcBK) pelepah sawit sekitar 29,51% relatif
rendah dibandingkan dengan rumput alam yang mencapai 54% (Purba
et al., 1997). Lignoselulosa dan lignohemiselulosa merupakan komponen
utama pelepah sawit, terdiri dari lignin, selulosa dan hemiselulosa (Perez
et al., 2002). Selulosa sebagian besar berikatan dengan lignin membentuk
lignoselulosa yang tidak bisa dicerna. Penggunaan senyawa kimia untuk
mendegradasi lignoselulosa dapat menyebabkan pencemaran lingkungan
sehingga penelitian lebih banyak dititikberatkan pada penggunaan
mikrorganisme yang dapat mendegradasi lignin.
143Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Lignase merupakan enzim pemecah lignin, suatu enzim yang dapat
dihasilkan mikroorganisme yang memiliki sifat lignophilik (Hendritomo,
1995). Pemanfaatan mikroorganisme sebagai penghasil enzim ligninase
sangat dianjurkan karena lebih ramah lingkungan, merupakan
organisme hidup yang murah, mudah dikembangkan sehingga dapat
mengurangi penggunaan bahan kimia (Febrina, 2002). Mikroorganisme
lignoselulolitik dapat digunakan untuk memutus ikatan lignoselulosa dan
lignohemiselulosa sehingga komponen selulosa dan hemiselulosa dapat
dimanfaatkan secara optimum untuk pakan (Abramovits dan Mattoon,
1999).
Kapang Phanerochaete chrysosporium merupakan mikroorganisme
ligninolitik paling efisien (Crawford, 1981; Kirk, 1990; May et al., 1997).
Penggunaan P. chrysosporium pada fermentasi pelepah sawit diharapkan
dapat melepaskan selulosa dan hemiselulosa dari lignin dan dengan
terdegradasinya lignin diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan
penggunaannya sebagai pakan ternak.
Pertumbuhan P. chrysosporium dipengaruhi oleh ketersediaan
mineral dalam substrat diantaranya mineral Kalsium (Ca), Fosfor (P)
dan Mangan (Mn). Suplementasi mineral Ca dan Mn pada fermentasi
kulit buah kakao menggunakan P. chrysosporium mampu meningkatkan
pertumbuhan kapang dan aktifitas enzim ligninase (Suparjo, 2010).
Rahayu (2014) melaporkan fermentasi daun sawit menggunakan kapang
P. chrysosporium pada dosis mineral Ca 2000 ppm mampu menurunkan
kandungan lignin 26,79 %. Suplementasi mineral Mn pada pelepah sawit
100 ppm menurunkan kandungan lignin 29,8% (Mariani, 2014). Febrina
(2016) melaporkan terjadi penurunan kandungan lignin pada pelepah
sawit sebesar 25,77 % dengan penambahan 2000 ppm mineral Ca dan
150 ppm mineral Mn. Penambahan P dari berbagai sumber yang berbeda
pada fermentasi lumpur sawit menggunakan kapang Aspergillus niger
dapat membantu pertumbuhan miselia kapang (Pasaribu et al., 2003).
Berdasarkan informasi diatas, maka dilakukan penelitian dengan
judul “Efek Penambahan mineral P yang dikombinasi dengan
mineral Ca dan Mn pada pelepah sawit fermentasi dengan kapang
Phanerochaete chrysosporium terhadap kandungan fraksi serat dan
aktifitas enzim ligninase ”.
144 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
B. Perumusan Masalah
Apakah penambahan mineral P yang dikombinasikan dengan Ca
dan Mn pada proses fermentasi pelepah sawit menggunakan kapang P.
chrysosporium dapat menurunkan kandungan lignin dan meningkatkan
aktifitas enzim
C. Tujuan Penelitian
Menentukan dosis mineral P yang optimal dalam menurunkan
kandungan lignin dan meningkatkan aktifitas enzim ligninase, pada
proses fermentasi pelepah sawit menggunakan kapang P. chrysosporium
D. Hipotesis Penelitian
Penambahan mineral P 2000 ppm yang dikombinasikan dengan
Ca dan Mn pada proses fermentasi pelepah sawit menggunakan kapang
P. chrysosporium mampu meningkatkan aktifitas enzim ligninase,
menurunkan kandungan lignin
E. Materi Penelitian
a. Bahan
1) Daun dan pelepah sawit yang sudah digiling.
2) Kapang P. chrysosporium yang diperoleh dari Laboratorium
Mikrobiologi Fakultas Ilmu Hayati Institut Teknologi Bandung
(ITB).
3) Mineral P, Ca dan Mn yang berasal dari mineral KH₂PO4, CaSO₄.2H₂O
dan MnSO₄.2H₂O.
4) Mineral Brook
5) Medium biakan Potato Dextrose Agar (PDA) untuk peremajaan
kapang.
6) Zat-zat kimia untuk analisis aktifitas enzim ligninase, Proksimat,
Van Soest,
b. Alat
1). Alat untuk fermentasi seperti timbangan analitik, botol kaca
ukuran 500 ml, autoclave, blender, kotak untuk inkubasi, karet,
kapas, plastic, tabung fermentor, jarum oase, laminar flow, oven
listrik, Bunsen, aluminium foil dan gelas piala.
145Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
2). Seperangkat peralatan laboratorium untuk analisa aktifitas enzim
ligninase proksimat, Van Soest
F. Metode Penelitian
Metode yang di pakai dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 3 macam perlakuan level dosis mineral P dan 5 kali ulangan, di
mana perlakuannya adalah sebagai berikut :
A = mineral P 1000 ppm
B = mineral P 1500 ppm
C = mineral P 2000 ppm
Model matematis dari RAL untuk penelitian tahap 1 yang digunakan
sesuai dengan rancangan menurut Steel dan Torrie (1991) adalah sebagai
berikut :
Yij = µ + τi + Σij
Keterangan :
Yij = Hasil pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
µ = Nilai tengah umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i
Σij = Pengaruh sisa dari perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
Fermentasi berlangsung selama 20 hari berdasarkan Ardiansyah
(2014). Setiap perlakuan ditambahkan mineral Ca dan Mn. Dosis mineral
Ca dan Mn yang digunakan adalah Ca 2000 ppm dan Mn 150 ppm
berdasarkan Febrina (2016). Data di analisis menggunakan analisis
ragam (ANOVA) menurut Steel and Torrie (1991), sedangkan uji jarak
berganda duncan digunakan untuk mengetahui perbedaan nilai tengah
perlakuan pada selang kepercayaan 5% dan 1%.
G. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahapan meliputi : a)
persiapan bahan b) peremajaan kapang P. chrysosporium, c) pembuatan
inokulum, d) fermentasi pelepah sawit sesuai dengan perlakuan
146 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
a. Persiapan bahan
Bahan baku yang digunakan dalam proses fermentasi adalah
pelepah sawit yang terdiri dari daun dan dahan pelepah sawit. Pelepah
sawit yang digunakan kemudian dipotong-potong menggunakan Leaf
Chopper. Setelah itu pelepah sawit dijemur, digiling selanjutnya dianalisa
kandungan nutrisi bahannya. Kandungan nutrisi pelepah sawit sebelum
fermentasi disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Kandungan gizi pelepah sawit sebelum fermentasi
Kom- BK BO PK SK NDF ADF Selu- Hemi Lig-
posisi losa Selu- nin
Kimia losa
Kand- 83.96 94.23 3.64 49.80 89.98 73.21 41.35 16.78 30.63
ungan
Nutrisi
(%)
Sumber : Hasil analisa laboratorium nutrisi ruminansia fakultas
peternakan unand, 2016.
b. Peremajaan Kapang
Kapang P. chrysosporium ditumbuhkan pada media PDA pada suhu
30°C selama 7 hari. Media PDA ditimbang sebanyak 4gr lalu tambahkan
aquades 200 ml dimasukkan dalam gelas piala lalu dimasak hingga bening.
kemudian dimasukkan ke dalam testube dan ditutup dengan kapas dan
aluminium foil kemudian disterilkan dalam autoclave 121°C selama
20 menit. Setelah itu diangkat dan dimiringkan 200 dilaminar flow dan
disinari UV selama 5 menit. Selanjutnya diinokulasikan dengan kapang P.
chrysosporium dan diinkubasi pada suhu ruang selama 7 hari.
c. Pembuatan Inokulum P. chrysosporium
Pembuatan inokulum P. chrysosporium menggunakan substrat
pelepah sawit dan dedak. Perbandingan pelepah sawit dan dedak adalah
3 : 1. Campuran pelepah sawit dan dedak dimasukkan kedalam plastik
kaca dan ditambahkan larutan mineral brook. Setelah itu ditambahkan
aquades sehingga kadar air mencapai 65% dan disterilkan dengan
autoclave pada suhu 121°C selama 25 menit, kemudian didinginkan
hingga mencapai suhu kamar, hasil ini disebut dengan substrat steril.
147Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Kapang P. chrysosporium yang sudah tumbuh pada media PDA
sebanyak satu testube dipindahkan ke dalam botol selai dedak padi
dan campuran pelepah sawit yang sudah disterilkan, lalu diinkubasi
pada suhu kamar selama 7 hari, setelah kapang tumbuh optimal maka
inokulum siap digunakan untuk proses fermentasi pelepah sawit.
d. Fermentasi Pelepah Sawit Menggunakan P. chrysosporium
ditambah Mineral Perlakuan
Daun dan dahan dari pelepah sawit yang telah digiling kemudian
ditimbang dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya ditambah aquades
sehingga kadar airnya mencapai 65% (Suparjo et al., 2009) lalu
ditambahkan mineral P, Ca dan Mn sesuai perlakuan dan disterilkan
dalam autoclave pada suhu 121°C selama 25 menit, kemudian didinginkan
hingga mencapai suhu kamar. Setelah dingin pelepah sawit diinokulasi
dengan P. chrysosporium sebanyak 10% dari jumlah substrat (Crueger dan
Crueger, 1984), diaduk secara merata kemudian dipindahkan ke dalam
botol kaca, tutup dengan karet dan kain kassa lalu diinkubasi selama 20
hari. Setelah proses fermentasi selesai, produk fermentasi kemudian
ditimbang berat segarnya dan dikeringkan pada suhu 60°C selama 24 jam
kemudian dianalisis.
H. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Aktifitas Enzim Ligninase
Rataan aktifitas enzim laccase, LiP dan MnP dari fermentasi pelepah
sawit menggunakan P. chrysosporium disupplementasi mineral P yang
dikombinasi dengan Ca dan Mn disajikan pada Gambar 6.
Pada Gambar 6 terlihat bahwa aktifitas enzim Laccase, LiP dan
MnP tertinggi terdapat pada perlakuan C (P 2000 ppm) dan terendah
pada perlakuan A (P 1000 ppm). Aktifitas enzim Laccase, LiP dan MnP
meningkat seiring dengan meningkatnya penambahan dosis P 1000 ppm
ke 1500 ppm dan 2000 ppm. Hasil analisis keragaman menunjukkan
bahwa dosis P memberikan pengaruh nyata (P<0.05) meningkatkan
aktifitas enzim laccase dan LiP namun berbeda tidak nyata (P>0.05)
terhadap peningkatan aktifitas enzim MnP.
148 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Gambar 14. Pengaruh Penambahan Dosis Mineral P yang Dikombinasi
dengan Ca dan Mn pada fermentasi pelepah sawit menggunakan kapang
P. chrysosporium.
Tingginya aktifitas enzim Laccase, LiP dan MnP pada perlakuan C
disebabkan karena dosis P 2000 ppm yang dikombinasi dengan Ca 2000 ppm
dan Mn 150 ppm optimal memicu pertumbuhan dan perkembangan miselia
kapang. miselium ini terdiri dari kumpulan hifa- hifa yang memproduksi
enzim ligninase. Artinya jumlah miselium yang optimum akan memproduksi
enzim ligninase yang lebih banyak sehingga kandungan lignin pada
substrat pelepah sawit akan menurun. Miselia kapang akan menembus
jaringan substrat sehingga lebih banyak ligninase yang disekresikan. Jumlah
miselia kapang yang semakin banyak memungkinkan produksi enzim juga
akan semakin besar sehingga proses kerja kapang dalam mendegradasi
dinding sel akan semakin meningkat. Kassim et al. (1985) melaporkan
bahwa terdapat hubungan yang positif antara pertumbuhan jamur dan
produksi enzim. Febrina et al. (2016) menyatakan bahwa kombinasi mineral
yang optimal dapat menghasilkan enzim ligninase yang optimal juga untuk
melakukan perombakan dinding sel dalam proses fermentasi. Brown et al.
(1990) menambahkan bahwa keseimbangan konsentrasi Ca dan Mn dalam
media merupakan faktor penting dalam produksi enzim ligninase.
Peran P 2000 ppm sangat optimal dalam meningkatkan aktifitas
enzim ligninase. P merupakan mineral penting untuk proses metabolisme,
dibutuhkan oleh semua sel mikroba terutama untuk menjaga integritas
membran sel dan dinding sel, komponen dari asam nukleat dan
merupakan bagian dari molekul berenergi tinggi (ATP, ADP dan AMP)
(Komisarczuk dan Durand, 1991 ; Bravo et al., 2003).
149Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
2. Kandungan Fraksi Serat
Kandungan fraksi serat pelepah sawit hasil fermentasi menggunakan
kapang P. chrysosporium ditambah mineral P yang dikombinasi dengan
Ca dan Mn disajikan pada Tabel 12. Terjadi penurunan fraksi serat
pelepah sawit setelah proses fermentasi menggunakan kapang P.
chrysosporium ditambah mineral P yang dikombinasi dengan mineral Ca
dan Mn dibandingkan tanpa proses fermentasi, Kandungan NDF setelah
fermentasi turun sebesar 16,98-26,07%, ADF 15,08-20,98%, Selulosa
5,71-9,31%, Hemiselulosa 22,29-48,33% dan Lignin turun sebesar
24,33-40,08%. hal ini menunjukkan selama proses fermentasi terjadi
perombakan ikatan lignoselulosa dan lignohemiselulosa oleh kapang,
selanjutnya kapang dapat memanfaatkan isi sel untuk pertumbuhan dan
perkembangannya. Eriksson (1993) menyatakan selama pertumbuhannya,
kapang P. chrysosporium yang diinokulasikan pada batang kapas tidak
hanya mendegradasi lignin, tetapi juga mengkonsumsi selulosa dan
hemiselulosa sebagai sumber karbon. Fermentasi menggunakan kapang
mampu memperbaiki kandungan gizi dari bahan pakan berserat tinggi.
Terdapat peningkatan kandungan gizi dari serat sawit yang difermentasi
dengan Aspergilus niger (Jamarun, 2000 ; Jamarun et al., 2003).
Tabel 12. Rataan Kandungan Fraksi Serat Pelepah Sawit Hasil
Fermentasi
Perlakuan
Parameter A B C
NDF (%) 74.70a 73.79a 66.52b
ADF (%) 62.17 60.75 57.85
Selulosa (%) 38.99 37.63 37.50
Hemiselulosa (%) 12.53 13.04 8.67
21.62a 18.35b
Lignin (%) 23.18a
Ratio lignin selu- 1.69 1.77 2.08
losa
Keterangan : superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
pengaruh perlakuan berbeda nyata (P<0.05)
Kandungan lignin PSF sebelum fermentasi cukup tinggi yaitu 30,63
%. Setelah difermentasi dengan P. chrysosporium terjadi penurunan
(P>0.05) berkisar 18,35 – 23,18 %. Terdapat tren penurunan kandungan
150 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
lignin PSF dengan penambahan dosis P yang dikombinasi dengan mineral
Ca dan Mn. Penurunan kandungan lignin terbesar terjadi pada perlakuan C
dengan persentase penurunan 40,08%. Terjadinya penurunan kandungan
lignin yang terbesar pada perlakuan ini disebabkan karena aktivitas enzim
ligninase berupa LiP, MnP dan laccase optimal pada dosis ini (Gambar 6).
Gupte et al. (2007) menyatakan bahwa kapang P. chrysosporium mampu
menurunkan kandungan lignin sebesar 20,5% pada hari ke-10 inkubasi
dan menunjukkan aktivitas enzim yang maksimum dalam mendegradasi
lignin. Sementara Nelson dan Suparjo (2011) menyatakan bahwa fase
pertumbuhan stasioner kapang P. chrysosporium terjadi pada fermentasi
10 hari dimana enzim yang dihasilkan lebih banyak. Produksi enzim
yang lebih banyak dapat membuat kapang memiliki kemampuan lebih
besar untuk mendegradasi lignin. Terjadi penurunan kandungan lignin
sebesar 63,9% dari fermentasi Olive pomace oleh P. chrysosporium pada
20 hari fermentasi dan 46,44 % pada lama fermentasi 10 hari (Haddadin
et al., 2009). Penurunan ini diduga terkait dengan ketersedian nutrien
hasil perombakan komponen lignoselulosa untuk pertumbuhan kapang
itu sendiri. Perubahan kandungan lignin pada substrat terjadi karena
perombakan struktur lignin menjadi komponen yang lebih sederhana
(Nelson dan Suparjo, 2011). Zeng et al. (2010) menyatakan bahwa selama
proses biokonversi limbah pertanian oleh kapang P. chrysosporium
ditemukan dua puncak produksi enzim pendegradasi lignin yaitu pada
hari ke-10 dan hari ke-21. Terjadi beberapa puncak produksi enzim
ligninolitik selama fermentasi serutan kayu oleh P. chrysosporium (Couto
et al., 2001).
Potensi kapang pelapuk putih dalam mendegradasi lignin sangat
bervariasi tergantung pada strain, tipe fermentasi dan periode inkubasi
(Dinis et al., 2009). P.chrysosporium mampu mendegradasi lignoselulosa
secara selektif (Tuommelo et al., 2002) yaitu mendegradasi komponen
lignin terlebih dahulu diikuti dengan komponen selulosa. Hal ini bisa
terlihat dari rasio selulosa lignin yang terdapat pada Tabel 12. Berdasarkan
hasil perhitungan rasio selulosa lignin dapat terlihat bahwa lignin
terdegradasi lebih banyak dibandingkan dengan selulosa. Perolehan
rasio selulosa lignin sejalan dengan proses penurunan lignin dan selulosa
yang terjadi selama proses fermentasi. Perlakuan C menunjukkan rasio
selulosa lignin tertinggi sebesar 2,08. Hal ini membuktikan bahwa P.
chrysosporium memang lebih efektif dalam mendegradasi lignin. P.
151Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
chrysosporium digambarkan sebagai penghasil enzim ligninase yang
sesungguhnya untuk mendegradasi lignin karena memiliki nilai potensial
reduksi oksidasi yang tinggi (Martinez, 2002).
9.2. Uji Kecernaan In Vitro
Kecernaan In Vitro Pucuk Tebu Dengan Menggunakan Kapang
Pleurotus Ostreatus Dan Aspergillus Oryzae
A. Latar Belakang
Pucuk tebu merupakan hasil ikutan tanaman perkebunan yang
sangat potensial dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena jumlahnya
yang banyak, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia serta
pemanfaatannya belum optimal. Menurut Direktorat Jendral Perkebunan
(2019), pada tahun 2019 luas lahan perkebunan tebu di Indonesia adalah
453.238 Ha, dengan produksi mencapai 2.450.000 ton. Sebagai penghasil
gula merah tebu, provinsi Sumatera Barat memiliki lahan perkebunan
tebu pada tahun 2019 seluas 7.305 Ha, dengan produksi 10.825 ton
menghasilkan 30% pucuk tebu. Hasil analisa laboratorium menunjukkan
kandungan gizi pucuk tebu adalah BK 85,97%., BO 80,79%., PK 6,18%.,
LK 1,52%., SK 28,78%., ADF 52,32%., Selulosa 33,69%., Lignin 15,46%.,
NDF 77,10%., dan Hemiselulosa 24,78% (Laboratorium Bioteknologi
dan Teknologi Industri Pangan Fakultas Peternakan Universitas Andalas
2020).
Pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan sangat terbatas karena
tingginya kandungan lignin yang menyebabkan kecernaan pucuk tebu
menjadi rendah. Tingginya kandungan lignin merupakan faktor pembatas
dalam pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan ternak ruminansia, karena
dapat menurunkan konsumsi dan kecernaan.
Fermentasi dengan menggunakan kapang Pleurotus ostreatus
dan kapang Aspergillus oryzae merupakan langkah strategis dalam
memperbaiki kualitas pucuk tebu dan meningkatkan kecernaan. Pucuk
tebu yang difermentasi dengan jenis kapang yang berbeda pada penelitian
ini juga dilihat pengaruh waktu inkubasi dalam proses delignifikasi. Anita
et al (2011) menyatakan fermentasi bagas dengan kapang Pleurotus
ostreatus selama 28 hari memberikan hasil terbaik yaitu degradasi lignin
(17,95%).
152 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Fermentasi pucuk tebu dengan jenis dan persentase kapang yang
berbeda dan lama waktu fermentasi tentu akan memberikan pengaruh
yang bervariasi terhadap nilai kecernaan pada ternak ruminansia, namun
sampai sejauh mana pengaruhnya belum diketahui secara pasti. Untuk
membuktikan sampai sejauh mana pengaruh terhadap nilai kecernaan
pucuk tebu tersebut, maka perlu dilakukan penelitian secara mendalam
pada ternak ruminansia secara In-vitro.
Berdasarkan kondisi tersebut, untuk meningkatkan kecernaan
dan pemanfaatan hasil ikutan pertanian dan perkebunan bisa dilakukan
dengan maksimal untuk ketersediaan pakan ternak ruminansia, maka
dilakukan penelitian dengan judul “Kecernaan Pucuk Tebu dengan
Menggunakan Kapang Pleurotus ostreatus dan Aspergillus oryzae
pada Waktu Fermentasi yang Berbeda”.
B. Perumusan Masalah
Mencari jenis kapang (Pleurotus ostreatus dan Aspergillus
oryzae) dengan waktu fermentasi terbaik terhadap kecernaan nutrient,
karakteristik cairan rumen pucuk tebu secara In-vitro.
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui jenis kapang (Pleurotus ostreatus dan Aspergillus
oryzae) dengan waktu fermentasi yang berbeda terbaik kecernaan
nutrient, karakteristik cairan rumen pucuk tebu secara In-vitro.
D. Manfaat Penelitian
Memberikan informasi tentang pemanfaatan kapang Pleurotus
ostreatus dan Aspergillus oryzae untuk meningkatkan kualitas pucuk tebu
sebagai bahan pakan ternak ruminansia.
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah pucuk tebu yang difermentasi
dengan kapang Pleurotus ostreatus selama 28 hari memberikan hasil
terbaik terhadap delignifikasi, aktivitas enzim ligninolitik, kecernaan
nutrient dan karakteristik cairan rumen secara In-vitro.
153Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
F. Rancangan Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian In-vitro
adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 kombinasi perlakuan
dan 3 kelompok (pengambilan cairan rumen) sebagai ulangan.
Perlakuan yang terbaik pucuk tebu fermentasi pada penelitian
tahap pertama, yaitu :
A : Pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus
selama 21 hari
B : Pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus
selama 28 hari
C : Pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Aspergillus oryzae
selama 21 hari
D : Pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Aspergillus oryzae
selama 28 hari
1. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Kering (BK)
Kecernaan bahan kering merupakan salah satu indikator untuk
menentukan kualitas pakan. Rataan pengaruh jenis kapang dan lama
fermentasi terhadap kecernaan bahan kering (KCBK) pucuk tebu
fermentasi secara in vitro dapat dilhat pada tabel 13.
Tabel 13. Rataan kecernaan bahan kering pucuk tebu fermentasi (%)
Perlakuan Rataan
A 33,57±1,83
B 34.16±1,11
C 32,71±0,45
D 33,09±0,29
SE 0,76
SE : Standar Error
Hasil penelitian kandungan kecernaan BK pucuk tebu fermentasi
disajikan dalam tabel 10. Berdasarkan hasil analisis ragam kecernaan,
yang terdapat pada lampiran 5 bahwa perlakuan memberikan pengaruh
yang berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan BK pucuk tebu
fermentasi. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa kecernaan bahan
kering pucuk tebu fermentasi dengan kapang yang berbeda dengan lama
fermentasi yang berbeda menggunakan cairan rumen kambing adalah
154 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
sama. Kecernaan bahan kering yang tidak berbeda diduga dipengaruhi
jumlah sampel. Selain itu dipengaruhi oleh komposisi kimia pakan yang
tidak berbeda jauh setiap perlakuan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Anggorodi (1994) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai
kecernaan bahan kering adalah tingkat proporsi bahan, komposisi kimia,
dan tingkat protein. Meski demikian secara empiric terjadi peningkatan
nilai rataan kecernaan BK. Kecernaan BK pucuk tebu fermentasi memiliki
rataan tertinggi pada perlakuan B yaitu pucuk tebu yang difermentasi
dengan kapang Pleurotus ostreatus selama 28 hari (34,16) dibandingkan
dengan perlakuan A (33,57), D (33,09), dan C (32,71). Adanya peningkatan
kecernaan BK dari masing-masing perlakuan disebabkan oleh aktivitas
enzim yang dihasilkan oleh kapang dalam mencerna komponen bahan
kering. Sesuai dengan pendapat Routa et al (2015) bahwa peningkatan
kecernaan BK sabut kelapa muda dari masing-masing dosis disebabkan
oleh akumulasi enzim yang dihasilkan oleh jamur tiram putih.
Tidak berbeda nyatanya kecernaan BK juga disebabkan karena
rendahya dosis inokulum yang diberikan terhadap perlakuan. Sesuai
dengan pernyataan Suharwono et al. (2012) bahwa penggunaan inoculum
yang meningkat mengakibatkan semakin bertambahnya pembentukan
miselium, sehingga kebutuhan energinya pun semakin banyak. Energi
tersebut diperoleh dari perombakan sumber karbon terutama selulosa,
hemiselulosa, dan lignin yang berasal dari substrat.
Berdasarkan hasil kecernaan bahan kering pada keseluruhan
perlakuan dapat diketahui bahwa pucuk tebu fermetasi dengan berbagai
kapang dan dengan lama waktu yang berbeda tersebut memiliki nilai
kecernaan bahan kering yang rendah. Menurut sutardi (1980) nilai
kecernaan bahan kering dalam batas normal berkisar antara 50-60%. Hal
ini diduga karena komposisi pakan tidak banyak mengalami perubahan
yaitu senyawa yang dicerna seperti serat kasar tidak banyak mengalami
perombakan selama proses ensilase sehingga kandungannya hanya
sedikit yang berkurang. Hidrolisis dinding sel tanaman oleh bakteri asam
laktat terjadi selama proses ensilase berlangsung. Prinsip pembuatan
silase adalah fermentasi hijauan oleh mikroorganisme yang banyak
mengasilkan asalam laktat. Hanafi (2008) menyatakan bahwa fermentasi
merupakan proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia,
dan biologis sehingga bahan dari struktur kompleks menjadi sederhana
sehingga daya cerna lebih efisien.
155Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan kapang dan
lama fermentasi yang berbeda pada pucuk tebu tidak berpengaruh nyata
(P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering diantara perlakuan.
Hasil kecernaan bahan kering tertinggi pada pucuk tebu yang
difermentasi dengan kapang Pleurotus ostratus selama 28 hari yaitu
34,16% ternyata memiliki nilai yang lebih tinngi dibandingkan dengan
nilai kecernaan bahan kering perlakuan lainnya. Muhtaruddin (2007)
menyatakan bahwa pucuk tebu yang disilase dengan penambahan 3%
tetes tebu selama 15 hari memiliki nilai kecernaan bahan kering sebesar
39,33%. Hal tersebut mengakibatkan pengolahan dengan pembuatan
pakan lengkap dan pengawetan pucuk tebu dapat menghasilkan produk
dengan nilai kecernaan bahan kering yang lebih tinggi.
2. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Organik (BO)
Bahan organik merupakan komponen dari bahan kering sehingga
faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kecernaan BO akan
mempengaruhi tinggi rendahnya kecernaan BO dalam suatu pakan.
Rataan pengaruh kapang Pleurotus ostreatus dan kapang Aspergillus
oryzae dengan lama fermentasi yang berbeda terhadap kecernaan BO
pucuk tebu fermentasi dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Rataan Kecernaan Bahan Organik Pucuk Tebu Fermentasi (%)
Perlakuan Rataan
A 35,21±1,83
B 35,49±1,11
C 34,00±0,39
D 34,45±0,25
SE 0,75
SE : Standar Error
Hasil penelitian kandungan kecernaan BO pucuk tebu fermentasi
disajikan dalam tabel 11. Berdasarkan hasil analisis ragam kecernaan,
yang terdapat pada lampiran 6 bahwa perlakuan memberikan pengaruh
yang tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan BO. Kecernaan BO pucuk
tebu fermentasi memiliki hasil tertinggi pada sampel B yaitu pucuk tebu
yang difermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus selama 28 hari
(35,49%) dibandingkan dengan sampel A (35,21), D (34,45%), dan C
(34,00%). Hasil tersebut tergolong rendah karena bahan organic yang
dicerna oleh mikroba rumen secara In vitro sedikit. Rendahnya kecernaan
156 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
bahan organic pucuk tebu fermentasi menggunakan mikroorganisme
rumen kambing diduga karena rendahnya kandungan nutrisi yang
terkandung dalam perlakuan. Menurut Nurjanah (2015) hasil analisis
proksimat pucuk tebu adalah PK 9,22%, SK 49,19%, dan LK 2,44%.
Kecernaan bahan organik memiliki pola yang sama dengan kecernaan
bahan kering. Perlakuan B pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang
Pleurotusostreatusselama28harimemilikikandungankecernaanBOtertinggi
sebesar 35,49%, sedangkan perlakuan C yaitu pucuk tebu yang difermentasi
dengan kapang Aspergillus oryzae selama 21 hari memiliki kandungan
kecernaan BO terendah yaitu 34,00%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kecernaan bahan organik pada masing-masing perlakuan fermentasi pucuk
tebu berbanding lurus dengan kecernaan bahan kering yang dihasilkan.
Hal ini dikarenakan bahan organik merupakan bagian dari bahan kering,
sehinggan jika kecernaan bahan kering tinggi maka kecernnaan bahan
organic juga tinggi begitu juga sebaliknya. Sesuai dengan pernyataan Suardin
dkk (2014) bahwa tinnginya kecernaan bahan organik sejalan dengan
tingginya kecernaan bahan kering dan juga sebaliknya . Tillman dkk (1991)
juga menambahkan bahwa sebagian besar bahan organik merupakan bagian
dari bahan kering. Parakkasi (1999) juga menyatakan bahwa bahan kering
terdiri dari bahan organik dan anorganik maka kecernaan organik sangat
erat kaitannya dengan kecernaan bahan kering.
Kandungan kecernaan BO perlakuan B lebih tinggi dari perlakuan
lainnya. Peningkatan kecernaan diakibatkan oleh protein pada pucuk tebu
tertinggi 8,44%. Peningkatan kecernaan juga terjadi karena delignifikasi
akibat proses fermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus. Kecernaan
bahan kering pucuk tebu fermentai tidak memberikan pengaruh nyata
antara perlakuan dan memiliki nilai kecernaan yang rendah. Pucuk
tebu yang difermentasi dengan aras ammonia 8% selama 3 minggu
menghasilkan kecernaan BO sebesar 58,57% (Widiyanto, 2009).
Rendahnya kecernaan juga diakibatkan oleh laju aliran digesta yang
terjadi karena pengecilan ukuran partikel pakan terutama komponen
pakan yang lambat terfermentasi, yakni serat.
3. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Protein Kasar (PK)
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam
menentukan produktifitas ternak. Rataan pengaruh jenis kapang dan
lama fermentasi yang berbeda terhadap kecernaan protein kasar (PK)
pucuk tebu fermentasi secara in vitro dapat dilihat pada tabel 15.
157Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel 15. Rataan kecernaan protein kasar pucuk tebu fermentasi (%)
Perlakuan % Kecernaan PK
A 46,54b±1,21
B 57,90a±1,83
C 35,86d±1,93
D 42,16c±1,22
SE 0,98
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom menunjukkan
pengaruh berbeda nyata (P<0,05)
SE : Standar Error
Hasil penelitian kandungan kecernaan PK pucuk tebu fermentasi
disajikan dalam tabel 12. Berdasarkan hasil uji lanjut kecernaan, yang
terdapat pada lampiran 7 bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang
nyata (P<0,05) terhadap kecernaan PK. Uji lanjut Duncan menunjukkan
bahwa kecernaan PK pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang
Pleurotus ostreatus selama 28 hari berbeda nyata lebih tinggi (57,90%)
dibandingkan dengan perlakuan A (46,54%), D (42,16%), dan C (35,86%).
Dari tabel 11 terlihat bahwa kecernaan protein kasar cenderung meningkat
seiring dengan bertambahnya lama fermentasi dan berbedanya jenis
kapang. Hal ini seiring dengan pernyataan Melda et al. (2018) bahwa jenis
dan dosis kapang yang berbeda dengan lama fermentasi memberikan
interaksi terhadap kandungan protein bonggol pisang. Tingginya
kecernaan PK pada perlakuan B (pucuk tebu yang difermentasi dengan
kapang Pleurotus ostreatus selama 28 hari) disebabkan karena tingginya
kandungan PK perlakuan. Meningkatnya kecernaan Pk dipengaruhi
oleh meningkatnya kandungan PK pucuk fermentasi oleh bakteri asam
laktat. Pada proses fermentasi bakteri asam laktat akan memanfaatkan
karbohidrat yang terkandung pada substrat maupun kapang sebagai
energi bagi pertumbuhan bakteri pembentuk asam laktat sehingga
asam laktat yang dihasilkan bereaksi dengan ammonia atau NH3 (Migo
et al., 1993). Peningkatan kandungan PK disebabkan karena peningkatan
jumlah massa sel kapang. Shaba dan Baba (2012) menyatakan bahwa
kapang Pleurotus ostreatus juga mensekresikan enzim protease. Sekresi
enzim protease oleh kapang Pleurotus ostreatus juga berperan dalam
peningkatan kandungan protein pucuk tebu fermentasi sehingga absorbsi
asam-asam amino sebagai bentuk paling sederhana dari protein akan
158 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
lebih gampang diserap. sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2015)
bahwa kapang Phenrochaete chrysosporium meningkatkan kandungan
protein biomassa substrat fermentasi dengan mensekresikan enzim
ektraseluler.
Rendahnya kecernaan PK pada pucuk tebu yang difermentasi
dengan kapang Aspergillus oryzae selama 21 hari disebabkan karena
kapang Aspergillus oryzae dan lama fermentasi 21 hari belum dapat
mengoptimalkan pertumbuhan miselia kapang sehingga enzim yang
dihasilkan sedikit dan menyebabkan proses penurunan lignin tidak dapat
terjadi dengan baik.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan campuran
dari pucuk tebu dengan kapang (Pleurotus ostreatus dan Aspergillus
oryzae). Pucuk tebu tebu memiliki kandungan lignin yang tinggi.
Kualitas pak hijauan yang rendah ditandai dengan tingginya kandungan
lignoselulosa/lignohemiselulosa dan rendahnya kadar nitrogen (Walker
and Kohler, 1981). Akibatnya pakan tersebut menjadi sedikit dicerna,
rendah palatabilitas, dan pemanfaatan unsur hara yang buruk sehingga
tidak memenuhi kebutuhan nutrisi ternak ruminansia.
4. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Acid Detergent Fiber (ADF)
Rataan kecernaan ADF pucuk tebu fermentasi yang difermentasi
dengan masing-masing perlakuan dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 16. Rataan kecernaan ADF (%)
Perlakuan % Kecernaan ADF
A 34,42±1,24
B 37,03±1,22
C 34,39±0,89
D 34,78±0,64
SE 0,71
SE : Standar error
Hasil penelitian kandungan kecernaan ADF pucuk tebu fermentasi
disajikan dalam tabel 13. Berdasarkan hasil analisis ragam kecernaan,
yang terdapat pada lampiran 8 bahwa perlakuan memberikan pengaruh
yang berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan ADF. Kecernaan
ADF pucuk tebu fermentasi memiliki hasil tertinggi pada sampel B yaitu
pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus selama
159Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
28 hari (37,03) dibandingkan dengan sampel D (34,78), A (34,42), dan
C (34,39). Jenis kapang yang berbeda dan lama waktu fermentasi yang
berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap kecernaan ADF pucuk
tebu. Nilai kecernaan ADF pucuk tebu fermentasi tidak berbeda nyata
dikarenakan kandungan lignin pucuk tebu fermentasi yang hampir sama
(tabel 1). Sesuai dengan pendapat (Hambakodu et al., 2020) bahwa kadar
lignin memiliki korelasi negatif dengan kecernaan ADF. Semakin rendah
kadar lignin maka kecernaan semakin meningkat, karena lignin tidak
dapat dicerna oleh mikroba rumen dan dapat menurunkan kecernaan.
Perlakuan tidak memberikan pengaruh terhadap kecernaan ADF karena
kecernaan dari NDF yang hampir sama. Pada prinsipnya karakteristik
kecernaan ADF memiliki persamaan dengan kecernaan NDF, yang
membedakan nilai kecernaan terletak pada strusktur komplek penyusun
serta pelarutnya (Qadriyanti 2014). Disamping itu, waktu fermentasi
pucuk tebu yang relative singkat tidak akan mempengaruhi struktur dari
dinding sel seperti lignin selulosa dan hemiselulosa.
Lignin yang terkandung suatu bahan akan menurunkan tingkat
kecernaan dinding sel bahan seperti selulosa. Kandungan lignin yang
relative sama menyebabkan kecernaan yang relative sama pula. Berbeda
dengan penelitian yang dilakukan Barokah (2017) yang berhasil
menurunkan kandungan serat fermentasi pelepah kelapa sawit dengan
penambahan limbah biomassa legume indigofera.
Dalam penelitian ini tingkat kecernaan ADF lebih rendah
dibandingkan dengan kecernaan NDF, dikarenakan fraksi yang
terkandung dalam ADF lebih sulit dicerna oleh enzim mokroorganisme
rumen karena ikatan lignoselulosa masih cukup kuat sehingga dinding sel
masih terlindungi oleh lignin, hal ini menyebabkan enzim yang dihasilkan
oleh mikroorganisme memerlukan waktu yang lebih lama agar dapat
mencerna dinding sel pucuk tebu.
5. pH Pucuk Tebu Fermentasi
Rataan karakteristik cairan rumen secara In vitro pucuk tebu
fermentasi pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada table 17.
160 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel 17. Rataan Aktivitas karakteristik cairan rumen
Karakteristik Cairan Rumen
Perlakuan pH VFA (mM) NH3
(mg/100ml)
A
B 6,83,±0,05 106,67a±4,71 9,27c±0,12
C 6,86±0,04 111,67a±2,36 10,48d±0,40
D 6,98±0,11 86,67b±4,71 8,08b±0,35
SE 6,92±0,02 80,00b±8,16 7,08a±0,45
0,04 4,33 0,13
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan pengaruh berbeda nyata (P<0,05)
SE : merupakan standar error dari rata-rata.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa fermentasi dengan
kapang Pleurotus ostreatus dan kapang Aspergillus oryzae dengan lama
waktu yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap
nilai pH rumen. Berdasarkan penelitian nilai rata-rata pH pada kisaran
6,83-6,98. Nilai pH rumen dalam penelitian ini termasuk dalam kisaran
normal. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan rumen berada dalam
keadaan yang seimbang, sehingga proses fermentasi didalam rumen
dapat berjalan dengan baik. Nilai pH cairan rumen berperan mengatur
proses fermentasi diantaranya untuk menghasilkan VFA dan mendukung
pertumbuhan mikroba rumen.
Ternak ruminansia dapat mencerna ransum yang mengandung serat
kasar tinggi akibat adanya bakteri dan protozoa (Purbowati et al. 2014).
Peran protozoa dalam fermentasi rumen yaitu dengan cara mencerna pati
sehingga pH rumen dapat bertahan dalam keadaan seimbang. Nilai pH
cairan rumen yang normal berhubungan erat dengan VFA yang dihasilkan
(Usman, 2013). Nilai pH rumen dibawah normal menyebabkan turunnya
populasi mikroba didalam rumen sehingga aktivitas mikroba selulolotik
terhambat dan mempengaruhi VFA yang dihasilkan. pH rumen optimal
untuk proses selulolisis, proteolitis, dan deminasi pada kisaran pH
6-7 (Wajizah et al., 2015). Pencernaan pakan serat berlangsung secara
optimal pada kisaran pH 6,5-5,8, nilai pH yang turun dibawah 6,2 akan
mengganggu aktivitas bakteri selulolitik.
161Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Nilai pH penelitian lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian
Badariana et al. (2014) yaitu 6,77-6,80 pada suplementasi kulit buah
kopi pada ransum secara in vitro. Bakteri rumen telah berdaptasi untuk
hidup pada kondisi fisik rumen relative tetap yakni 5,5-7,0 dan dalam
keadaan anaerob (Purbowati et al., 2014). Perlakuan fermentasi dengan
kapang Pleurotus ostreatus dan kapang Aspergillus oryzae dengan lama
fermentasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pH
rumen, sehingga dengan jenis kapang dan lama waktu yang berbeda tidak
dikhawatirkan mengganggu keseimbangan lingkungan rumen dalam
proses fermentasi.
6. Kadar VFA (Volatile Fatty Acid) Pucuk Tebu Fermentasi
Hasil penelitian kandungan VFA pucuk tebu fermentasi secara
in vitro disajikan dalam tabel 17. Berdasarkan hasil uji lanjut, yang
terdapat pada lampiran 13 bahwa perlakuan memberikan pengaruh
yang nyata (P<0,05) terhadap kandungan VFA pucuk tebu fermentasi .
Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa aktivitas enzim pada perlakuan
B yaitu pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus
selama 28 hari berbeda nyata lebih tinggi (111,67) dibandingkan dengan
perlakuan A (106,67), C (86,67), dan D (80,00).
Kandungan VFA tertinggi terdapat pada perlakuan B berbeda
nyata terhadap perlakuan C dan perlakuan D, kemudian perlakuan
B tidak memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan A. Hal ini
menunjukkan bahwa jenis kapang yang berbeda memberikan pengaruh
terhadap kandungan VFA pucuk tebu fermentasi, sedangkan lama waktu
fermentasi tidak memberikan pengaruh terhadap kandungan VFA pucuk
tebu fermentasi.
Pada penelitian ini memiliki kandungan VFA berkisar 80-11,67
mM yang termasuk dalam kisaran optimal. Sesuai dengan pendapat
Sutardi (1980) bahwa konsentrasi VFA dengan kisaran optimum untuk
berlangsungnya sintesis protein mikroba yaitu sebesar 80-160 mM.
Tingginya kandungan VFA didalam rumen menunjukkan tingginya
kecernaan nutrient oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroba rumen.
Mc Donald et al. (2002) menyatakan bahwa karbohidrat pakan
dalam rumen mengalamai dua tahap pencernaan oleh enzim-enzim
yang dihasilkan oleh mikroba rumen. Tahap pertama adalah karbohidrat
mengalami hidrolisis menjadi monosakarida, seperti glukosa, fruktosa,
162 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
dan pentose. Selanjunya, gula sederhana tersebut dipecah menjadi asam
asetat, asam propionate, asam butirat, CO2, dan CH4. Proses ini disebut
juga gluconeogenesis yaitu diserapnya VFA ke dalam system peredaran
darah yang kemudian VFA diubah oleh hati menjadi gula darah. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Arora (1995) yang menyatakan
bahwa hasil pencernaan karbohidrat dalam rumen adalah VFA yang
merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat berupa asam asetat,
propionate, dan butirat serta gas CH4 dan CO2 sebagai hasil samping. VFA
merupakan sumber energy utama bagi ternak ruminansia melalui proses
gluconeogenesis yaitu diserapnya VFA (khususnya propionate) ke dalam
system peredaran darah yang kemudian diubah oleh hati menjadi gula
darah yang akan disuplay untuk memenuhi kebutuhan energy bagi ternak
ruminansia (Lehninger, 1982). Sutardi (1980) menambahkan bahwa VFA
dan ammonia merupakan bahan utama pembentukan protein.
7. NH3 Pucuk Tebu Fermentasi
Hasil penelitian NH3 pucuk tebu fermentasi disajikan dalam
tabel 17. Berdasarkan hasil uji lanjut, yang terdapat pada lampiran 14
bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap
NH3 secara in vitro. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa NH3 pada
perlakuan B yaitu pucuk tebu yang difermentasi dengan kapang Pleurotus
ostreatus selama 28 hari berbeda nyata lebih tinggi (10,48) dibandingkan
dengan perlakuan A (9,27), C (8,08), dan D (7,08). Hal ini dikarenakan
berpengaruhnya kecernaan protein kasar yang menyebabkan
berpengaruhnya kandungan NH3 pada cairan rumen secara In vitro.
Kecernaan protein kasar tertinggi sebelumnya pada perlakuan B dan
sama halnya dengan kandungan NH3.
Amonia merupakan salah satu produk dari aktivitas fermentasi dalam
rumen, yakni dari degradasi protein yang berasal dari pakan dan sumber
nitrogen yang cukup penting untuk sintesis mikroba rumen. Menurut
Haryanto (1994) tinggi rendahnya konsentrasi ammonia ditentukan oleh
tingkat protein pakan yang dikonsumsi, derajat degradabilitas, lamanya
pakan berada dalam rumen dan pH rumen. Kadar amonia cairan rumen
pada pucuk tebu masih dalam kisaran normal yaitu 7,08-10,48 mmol.
Sesuai dengan pendapat Sutardi (1977) bahwa kadar amonia yang
optimum didalam rumen adalah berkisar antara 4-12 mmol. Konsentrasi
NH3 berbanding lurus dengan jumlah mikroba yang ada dalam rumen.
163Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Amonia merupakan sumber nitrogen bagi mikroba rumen karena
amonia yang dibebaskan dalam rumen sebagian dimanfaatkan oleh
mikroba untuk sintesis protein mikroba (Arora, 1995). Konsentrasi NH3
yang tinggi dapat menunjukkan proses degradasi protein pakan lebih
ce[at dari pada proses pembentukan protein mikroba, sehingga ammonia
yang dihasilkan terakumulasi dalam rumen (Mc. Donald et al., 2002).
Proses fermentasi pakan didalam rumen menghasilkan VFA dan NH3,
serta gas-gas (CO2, H2, dan CH4) yang dikeluarkan dari rumen melalui proses
eruktasi (Arora, 1995). NH3 merupakan hasil metabolism protein dan nitrogen
bukan protein sebagai kerangka karbon sumber energi akan disintesa menjadi
protein mikroba. Sesuai dengan pendapat Hungate (1966) bahwa ammonia
dalam rumen adalah sumber nitrogen bagi mikroba dan bersama dengan
kerangka karbon sumber energi akan disintesa menjadi protein mikroba. Protein
pakan didalam rumen dipecah oleh mikroba menjadi peptida dan asam amino,
beberapa asam amino dipecah lebih lanjut menjadi amonia (Mc Donald et al.,
2002). Amonia diproduksi bersama dengan peptida dan asam amino yang akan
digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan protein mikroba. Apabila
pakan defisien atau protein sulit didegradasi, maka konsentrasi amonia dalam
rumen akan rendah dan pertumbuhan mikroba akan lambat.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pucuk tebu yang difermentasi
dengan kapang Pleurotus ostreatus selama 28 hari menghasilkan nilai
kecernaan yang lebih baik.
9.3. UJI KECERNAAN IN VIVO
Produktifitas ternak domba yang diberi ransum komplit berbasis
limbah kakao amoniasi yang disuplementasi dengan saccharomyces sp
dan mineral (fosfor dan sulfur)
Latar Belakang
Produktivitas dan pertumbuhan populasi ternak domba sangat
tergantung pada daya dukung dan ketersediaan pakan berkualitas.
Ketersediaan lahan penyediaan pakan berupa hijauan saat ini sangat
terbatas karena lahan tersebut banyak digunakan oleh masyarakat untuk
lahan perumahan, persawahan, areal industri dan perkebunan. Banyaknya
hasil ikutan pertanian/perkebunan yang mempunyai potensi sebagai
pakan pengganti rumput perlu dikaji pemanfaatannya, diantaranya
164 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
adalah limbah perkebunan kakao (pod dan daun kakao) yang sebagian
besarnya masih belum dimanfaatkan oleh petani.
Komposisi kimia pod dan daun kakao memiliki potensi untuk
dijadikan pakan alternatif bagi ternak ruminansia. Pod kakao mengandung
Bahan kering (BK) 14,5%, Protein kasar (PK) 9,15 %, Lemak kasar (LK)
1,25 % Serat kasar (SK) 32,7% dan Abu 15,4 % (Balai Penelitian Ternak
Ciawi,1997), Neutral Detergen Fiber (NDF) 66,26 %, Acid Detergen Fiber
(ADF) 65,12%, Selulosa 36,24%, Hemiselulosa 1,14%, Lignin 27,95%
dan Silika 0,17% (Amirroenas, 1990). Komposisi kimia dari daun kakao
terdiri dari BK 30,5%, BO 89,51%, PK 11,67 %, LK 3,23 %, ABU 10,49 %,
NDF 59,34 %, ADF 49,56 %, selulosa 28,34 %, hemiselulosa 9,79%, lignin
17,37%. (Labor Gizi Ruminansia Fakultas Peternakan Unand, 2012).
Daun dan pod kakao tergolong pakan serat yang bermutu rendah
karena mengandung lignin yang tinggi. Lignin merupakan senyawa
polimer yang berikatan dengan selulosa dan hemiselulosa pada jaringan
tanaman. Lignin menjadi penghalang hidrolisis selulosa, karena lignin
berperan sebagai pelindung selulosa terhadap serangan enzim pemecah
selulosa (Enari, 1983 ; Irawadi, 1990).
Salah satu teknik pengolahan yang bisa dilakukan untuk
melonggarkan ikatan lignoselulosa dan lignohemiselulosa pada
pakan serat adalah amoniasi. Zain (2005) melaporkan penggantian
rumput lapang dengan pod kakao amoniasi sampai 100% memberikan
pertambahan bobot badan (PBB) yang sama dengan rumput lapang pada
ransum ternak domba.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
terhadap daun dan pod kakao amoniasi dengan berbagai level kombinasi,
kombinasi 75 % daun dan 25 % pod kakao amoniasi memberikan
hasil yang sama dengan kombinasi 25 % daun dan 75 % pod terhadap
kecernaan fermentabilitas di dalam rumen (Rahman et al., 2013).
Penambahan Growth factor microba seperti Direct feed microbials (DFM)
dan mineral (fosfor dan sulfur) adalah alternatif yang bisa dilakukan
untuk meningkatkan kecernaan limbah kakao.
Direct feed microbials adalah mikroba yang sengaja ditambahkan
dalam ransum ternak. Salah satu DFM yang bisa digunakan adalah yeast
(Saccharomyces sp). Penambahan Saccharomyces sp dalam ransum
pada penelitian yang dilakukan oleh Paryad dan Rashidi (2009) mampu
meningkatkan kecernaan ternak kambing.
165Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Mineral fosfor (P) sering defisien dalam ransum ternak ruminansia
(Little, 1986). P dibutuhkan oleh semua sel mikroba terutama untuk
menjaga integritas dari membran sel dan dinding sel, komponen dari
asam nukleat dan bagian dari molekul berenergi tinggi seperti Adenosine
Three Phosphate (ATP), Adenosine Diphosphate (ADP) dan lain-lain
(Komisarczuk and Durand, 1991). Mineral sulfur (S) sangat diperlukan
oleh mikroba rumen untuk pembentukan asam amino mengandung sulfur.
Suplementasi mineral P dan S memberikan hasil yang positif terhadap
performan ternak sapi (Zain et al., 2010). Bastari (2014) melaporkan
kombinasi suplementasi 0,4 % fosfor dan 0,3 % sulfur terhadap daun dan
pod kakao amoniasi dapat meningkatkan kecernaan fraksi serat secara
in vitro (NDF, ADF, Selulosa dan Hemiselulosa). Selain itu, teknologi
ransum komplit merupakan salah satu teknik pembuatan pakan ternak
yang digunakan untuk meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian dan
limbah agroindustri sehingga lebih palatabel bagi ternak.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian mengenai
“ Produktivitas Ternak Domba yang diberi Ransum Komplit
Berbasis Limbah Kakao Amoniasi yang Disuplementasi dengan
Saccharomyces sp dan Mineral (Fosfor dan Sulfur) “.
9.2 Perumusan Masalah
1. Apakah dengan pemberian ransum komplit berbasis limbah kakao
amoniasi yang disuplementasi dengan Saccharomyces sp dan
mineral (fosfor dan sulfur ) dapat meningkatkan produktifitas
ternak domba.
2. Pada perlakuan mana dapat memberikan produktifitas ternak
domba terbaik ?
9.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas ternak
domba yang diberi ransum komplit berbasis limbah kakao amoniasi yang
disuplementasi dengan Saccharomyces sp dan mineral (fosfor dan sulfur) .
9.4 Manfaat
1. Penelitian ini diharapkan menyumbangkan informasi dalam upaya
menambah keanekaragaman bahan pakan ternak ruminansia
dengan memanfaatkan limbah perkebunan kakao.
166 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
2. Peternak dapat mengaplikasikan pemberian ransum komplit
berbasis Limbah kakao amoniasi yang disuplementasi dengan
Saccharomyces sp dan mineral (fosfor dan sulfur) sebagai bahan
pakan ternak ruminansia.
9.5 Hipotesis
Ransum komplit berbasis limbah kakao Amoniasi yang
disuplementasi dengan Saccharomyces sp dan mineral (fosfor dan sulfur)
dapat meningkatkan produktifitas ternak domba.
9.6 Materi Peneliti
9.6.1 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah 4 ekor domba jantan
lokal yang berumur 10-12 bulan dengan bobot badan 11- 14 Kg, ransum
( Limbah kakao dan konsentrat), Mineral P dan S yang dipakai untuk
suplementasi, Sacchcaromyces sp dan bahan-bahan laboratorium seperti
Aquades, H2SO4 , Receiver Solution (Brom eresol green 1% + metyl red 1%),
NaOH 40 %, Larutan ADS dan NDS, aseton dan zat zat kimia lainnya.
Ransum yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum
komplit yang susunan dan komposisinya dapat dilihat pada Tabel 18
dan 19. Pemberian pakan pada ternak dilakukan dengan menggunakan
ember yang diletakkan pada tempat pakan.
Tabel 18. Susunan Ransum Basal Penelitian (% BK)
Bahan Komposisi
Daun kakao amoniasi 30
Pod kakao amoniasi 10
15
Jagung 10
Bungkil kelapa 32
2
Dedak 1
Cattle Mix 100
NaCl
Total
167Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel 19. Komposisi Kimia dan TDN Ransum Basal Penelitian dengan BK
86,88%
KOMPOSISI KIMIA dan TDN (%BK)
BO 86,26
PK 12,78
SK 26,85
LK 4,78
Abu 13,74
NDF 49,37
ADF 36,17
17,15
Selulosa 13,2
Hemiselulosa 12,2
0,36
Lignin 0,20
Fosfor 63,33
Sulfur*
TDN**
Keterangan : Hasil Analisa Laboratorium Gizi Ruminansia Fakultas
Peternakan Unand,2014.
*Hasil Analisa Laboratorium P3IN Fakultas Pertanian Unand, 2014.
** Sumber perhitungan TDN : Hartadi et al. (1997).
9.6.2 Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang
metabolisme, timbangan ternak, peralatan pembuatan amoniasi
limbah kakao seperti ember, terpal, plastik kedap udara, dan peralatan
laboratorium seperti FOSS TecatorTM Digestor Auto, Tecator Scrrubber dan
FOSS KjeltecTM 8400 Analyzer Unit untuk analisa protein, Fibertec yang
dilengkapi dengan hot extraction dan cold extraction untuk analisa ADF,
Gelas piala , spatula, pipet tetes, timbangan analitik, pemanas listrik,
oven, tanur, desikator dan cawan Crusibel.
168 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
9.7 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen dengan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) dengan
4 perlakuan ransum dan 4 periode sebagai ulangan. Perlakuan yang
diberikan selama penelitian ini adalah :
Perlakuan A : Ransum basal
Perlakuan B : A + suplementasi mineral P (0,4%) dan S (0,3%)
Perlakuan C : B+ 1% Saccharomyces sp
Perlakuan D : B+ 2% Saccharomyces sp
9.8 Prosedur Penelitian
9.3.1 Persiapan domba
Domba yang digunakan adalah domba lokal jantan umur 10-12 bulan
dengan bobot badan 11-14 kg sebanyak 4 ekor.
9.8.1 Penyiapan kandang
Kandang yang digunakan adalah kandang metabolik. Kandang
dibersihkan dan disuci hamakan dengan menggunakan kapur, kemudian
diberi penomoran kandang. Denah penempatan domba pada kandang
dan pemberian ransum perlakuan dapat dilihat pada tabel 20.
Tabel 20. Denah Penempatan Domba dan Pemberian Ransum Perlakuan
Periode 1 Domba 4
I D 23 C
AB
II C B A D
III A C D B
IV B D C A
Keterangan :
1-4 : Nomor kandang, masing masing domba
A,B,C,D : Ransum perlakuan
I-IV : Periode ulangan
169Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
9.8.2 Persiapan ransum
• Pembuatan Daun dan pod kakao amoniasi
Gambar 15. Skema Amoniasi Limbah Kakao
Daun dan Pod kakao amoniasi dibuat dengan menggunakan 5% urea
untuk daun kakao atau 5 kg urea untuk 100 kg bahan kering daun kakao
dan 6% urea atau 6 kg urea untuk 100 kg bahan kering pod kakao.
Daun dan pod kakao terlebih dulu dikeringkan. Urea yang digunakan
dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Perbandingan antara air yang
digunakan untuk melarutkan urea dengan bahan kering daun dan pod
kakao adalah 1:1. Urea yang telah dilarutkan dalam air disemprotkan
pada daun dan pod kakao secara merata. Daun dan pod kakao yang
telah tercampur dengan larutan urea dimasukkan ke dalam kantong
170 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
plastik sambil dipadatkan sehingga suasana anerob bisa tercapai.
Setelah itu kantong diikat dengan tali dan disimpan selama 21 hari.
Kantong dibuka setelah 21 hari, kemudian daun serta pod kakao
amoniasi dikeringkan di bawah sinar matahari. Daun dan pod kakao
digiling terlebih dahulu sebelum dibuat ransum komplit.
• Penentuan kadar Fosfor dan Sulfur
Mineral P diambil dari pupuk TSP (Ca (H2PO4)2) dengan kadar
P2O5 sebesar 44 %. Penentuan kadar P didasarkan pada bilangan
konvensi. Kadar P yang didapatkan sebesar 19 %. Jumlah P yang
disuplementasikan kedalam ransum adalah 0,4 % dari BK ransum
(Bastari, 2014). Mineral S diambil dari pupuk ZA (NH4)2SO4 dengan
kadar S sebesar 24 %. Jumlah S yang disuplementasikan kedalam
ransum adalah 0,3 % dari BK ransum (Bastari, 2014).
• Pembuatan ransum komplit
Bahan pakan yang digunakan adalah daun dan pod kakao amoniasi
yang sudah digiling menjadi tepung, dedak padi, bungkil kelapa,
jagung, Cattle Mix dan NaCl. Semua bahan tersebut dicampurkan
sampai homogen sesuai dengan komposisi ransum yang telah disusun.
9.9 Pelaksanaan penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan 2 cara yaitu di
kandang dan di laboratorium. Pelaksanaan dikandang dilakukan dengan
3 periode, yaitu :1) Periode adaptasi ; 2) Periode Pendahuluan ; 3) Periode
Kolekting.
9.10 Parameter Penelitian
Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah :
1. Konsumsi Bahan kering, Bahan organik dan Protein kasar
2 Kecernaan Bahan kering, Bahan organik, Protein kasar dan Serat
kasar
4 Pertambahan bobot badan harian (PBBH)
5. Effisiensi Ransum (%)
171Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
HASIL DARI PEMBAHASAN
Konsumsi Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein Kasar
Rataan pengaruh perlakuan terhadap konsumsi bahan kering ,
bahan organik dan protein kasar ransum pada penelitian dapat dilihat
pada Tabel 21.
Tabel 21. Rataan konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein
kasar ransum penelitian.
Konsumsi Bahan Konsumsi Bahan Konsumsi Pro-
Organik tein Kasar
Perlakuan Kering g/ekor/hari
g/ekor/hari 55,52a
A g/ekor/hari %BB 374,71a 63,57b
B 429,05b 73,00c
C 436,74a 2,72a 492,75c 70,64c
D 476,82c 1,26
SE 497,39b 3,09b 8,50
574,09c 3,44c
555,51c 3,32cb
10,60 0,03
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menun-
jukkan pengaruh berbeda sangat nyata ( P<0,01)
Berdasarkan analisa statistik menunjukkan bahwa perlakuan
memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi
bahan kering, bahan organik dan protein kasar. Berarti suplementasi
Saccharomyces sp dan mineral (P dan S) pada limbah kakao amoniasi
mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, bahan organik dan
protein kasar.
Pada penelitian ini konsumsi bahan kering domba berdasarkan
bobot badan melebihi dari standar NRC (1995) yaitu sebesar 2,7 - 3,3
%. Peningkatan konsumsi bahan kering ini mengindikasikan bahwa
kapasitas saluran pencernaan ternak percobaan masih mampu mencerna
dengan baik pakan yang diberikan. Menurut Pond et al. (1995) konsumsi
BK untuk semua ternak muda biasanya lebih besar perunit bobot badan
selama masa awal kehidupannya dibandingkan dengan periode-periode
selanjutnya. Hasil penelitian ini hampir sama dengan yang diperoleh
Nurhaita (2010) yang mendapatkan konsumsi bahan kering 2,8 - 3,13 %
BB dari suplementasi mineral fosfor dan sulfur dalam ransum berbasis
daun sawit teramoniasi, tetapi masih rendah dibandingkan dengan
persentase yang pernah dilaporkan lestari et al. (2003) bahwa kapasitas
saluran ternak domba mampu menampung dan mencerna bahan kering
pakan sampai 4,5 % dari bobot badannya.
Perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) pada penelitian ini
disebabkan peningkatan konsumsi akibat dari peningkatan kecernaan
oleh kombinasi suplementasi Saccharomyces sp dan mineral (P dan
S). Hal ini sesuai dengan pendapat Murni et al. (2012) bahwa tingkat
konsumsi dipengaruhi oleh nilai kecernaan pakan. Hasil penelitian ini
tidak sesuai dengan pendapat Tillman et al (1998) bahwa peningkatan
konsumsi dapat menurunkan kecernaan, terkait dengan laju alir pakan
dalam saluran pencernaan yang semakin cepat, akibatnya lama waktu
tinggal digesta dalam rumen berkurang sehingga proses pencernaan
tidak optimal.
Konsumsi juga dipengaruhi oleh tingkat kecernaan dan proses
fermentasi dalam rumen. Perlakuan C memberikan konsumsi BK tertinggi
dari perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan penambahan Saccharomyces
sp 1 % dan mineral (P dan S) mampu meningkatkan palatabilitas dan
kecernaan pakan sehingga terjadi pengosongan isi rumen lebih cepat
yang menyebabkan ternak mampu mengkonsumsi lebih banyak. Yoon
dan Stern (1995) menyatakan Saccharomyces sp di dalam rumen mampu
memanfaatkan oksigen sehingga menjamin kondisi anaerob bagi bakteri
rumen dan menstimulasi populasi bakteri rumen tertentu. Keadaan ini
diikuti meningkatnya pemanfaatan amonia dan asam laktat sehingga pH
rumen stabil. Kondisi anaerob dan pH rumen yang stabil memungkinkan
terjadinya sintesis protein mikroba yang lebih optimal sehingga populasi
bakteri rumen total meningkat dan kecernaan serat kasar meningkat.
Meningkatnya kecernaan serat kasar, secara otomatis juga meningkatkan
konsumsi dan suplai nutrien ke usus. Pada akhirnya akan meningkatkan
respon produksi secara keseluruhan. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Paryad dan Rashidi (2009) dimana kecernaan
ransum ternak kambing yang disuplementasi dengan Saccharomyces
sp lebih tinggi dibanding yang tidak disuplementasi. Dann et al. (2000)
melaporkan terjadi peningkatan konsumsi bahan kering ransum pada
sapi perah akibat penambahan yeast (Saccharomyces cerevisiae).
Tabel 6 memperlihatkan bahwa konsumsi bahan organik
memiliki korelasi positif dengan konsumsi bahan kering. Hasil rataan
173Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
konsumsi bahan organik berkisar antara 317,22 - 404,33 g/ekor/hari.
Hal ini disebabkan karena zat-zat yang terkandung dalam bahan organik
merupakan bagian dari bahan kering. Jumlah konsumsi bahan kering
akan berpengaruh terhadap konsumsi bahan organik, semakin meningkat
konsumsi bahan kering, maka konsumsi bahan organik juga meningkat
dan sebaliknya (Kamal, 1994). Tingkat konsumsi bahan organik sangat
dipengaruhi oleh komponen-komponen zat gizi yang termasuk ke dalam
bahan organik. Tillman et al.(1998) menyatakan bahwa komponen
proksimat yang termasuk dalam bahan organik adalah protein kasar, serat
kasar, lemak kasar dan BETN sedangkan bahan anorganik terdiri dari
abu. Konsumsi bahan organik secara langsung mempengaruhi konsumsi
protein kasar lemak kasar, serat kasar dan BETN.
Rataan konsumsi protein kasar pada penelitian ini berkisar 55,22
– 73,00 g/ ekor/ hari menunjukkan telah memenuhi estimasi standar
kecukupan kebutuhan PK berdasarkan bobot badan untuk mencapai
PBBH 100 g/ekor/hari yaitu 56-58 g/ekor/hari (Suparjo et al., 2011).
Dengan demikian konsumsi protein pada penelitian ini telah mencukupi
untuk kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan, karena konsumsi
protein berkaitan erat dengan pertambahan bobot badan ternak.
Arora (1995) menyatakan bahwa konsumsi pakan akan bertambah
jika diberikan pakan dengan daya cerna lebih tinggi dari pada pakan
dengan daya cerna yang rendah. Tingginya konsumsi bahan organik
dan konsumsi protein kasar pada perlakuan C dan D menunjukkan
bahwa kombinasi suplementasi Saccharomyces sp dan mineral (P
dan S) mampu meningkatkan daya cerna ransum. Hal ini disebabkan
koloni Saccharomyces sp mengalami pertumbuhan akibat adanya
tambahan mineral. Sesuai dengan pernyataan Ikram et al . (2005) yang
menyatakan pertumbuhan Saccharomyces sp dipengaruhi oleh adanya
penambahan nutrisi yaitu unsur C sebagai sumber carbon, unsur N yang
diperoleh dari penambahan urea, unsur S dari ZA, amonium dan pepton,
mineral dan vitamin.
Kecernaan Bahan Kering, Bahan Organik, Protein Kasar dan Serat
Kasar
Rataan pengaruh perlakuan terhadap kecernaan bahan kering,
bahan organik, protein kasar dan serat kasar ransum pada penelitian
dapat dilihat pada Tabel 22.
174 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Tabel 22. Rataan kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar
dan serat kasar ransum perlakuan
Perlakuan Kecernaan zat-zat Makanan (%)
A Bahan Kering Bahan Organik Protein kasar Serat Kasar
B 36,65a
C 43,01a 44,32 a 42,80a 44,80b
57,28c
52,68b 53,05b 52,60b
59,75c 62,78c 60,03c
D 58,26c 61,78c 57,11c 55,74c
SE 0,51 0,52 0,97 0,88
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menun-
jukkan pengaruh berbeda sangat nyata ( P<0,01)
Berdasarkan analisa statistik) menunjukkan bahwa perlakuan
memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap
kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein
kasar dan kecernaan serat kasar. Berarti suplementasi saccharomyces sp
dan mineral (P dan S) pada limbah kakao amoniasi mampu meningkatkan
kecernaan zat-zat makanan.
Penambahan mineral P dan S pada perlakuan B mampu
meningkatkan kecernaan. Pertumbuhan mikroba dan metabolisme dalam
rumen berjalan optimal karena P sebagai aktifator enzim dan reaksi yang
berhubungan dengan pembebasan energi untuk membentuk ATP (Sayuti,
1989). Karsil dan Russell (2001) menyatakan bahwa sintesis protein
mikroba akan terhambat bila tidak cukup tersedia mineral P. Mineral
S merupakan komponen penting bagi bakteri rumen untuk sintesis
protein mikroba, dimana kecernaan pakan serat sangat tergantung pada
enzim yang dihasilkan oleh mikroba tersebut. Semakin banyak populasi
mikroba terutama selulolitik maka enzim yang dihasilkan semakin
banyak. Menurut Komisarczuk dan Durand (1991) fungsi utama S adalah
menyokong pembentukan asam amino yang mengandung S dan sintesis
protein mikroba, disamping itu juga penting untuk sintesis beberapa
vitamin (thiamin dan biotin) serta koenzim. Peningkatan aktifitas mikroba
menyebabkan proses fermentasi dalam rumen akan berlangsung secara
optimal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kennedy
et al. (2000) yang mendapatkan bahwa suplementasi P dalam bentuk
fosfat secara In vitro mampu meningkatkan kecernaan NDF dari bagasse,
175Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
dan juga penelitian yang dilakukan oleh Zain et al. (2010) membuktikan
bahwa penambahan mineral S mampu meningkatkan kecernaan dari
jerami padi amoniasi. Mineral sulfur mampu meningkatkan populasi
fungi dalam rumen seperti yang dilaporkan oleh Gulati et al. (1985)
bahwa populasi fungi dalam rumen meningkat drastis pada ransum yang
disuplementasi sulfur. Peningkatan populasi ini juga diikuti peningkatan
kecernaan serat sebesar 16%. Penelitian Qi et al (1992) pada kambing
dengan 3 jenis ransum yang masing-masing mengandung sulfur 0.16,
0.26, 0.36% BK memperlihatkan kecernaan ADF yang meningkat.
Nilai kecernaan protein mempunyai hubungan dengan kondisi
populasi bakteri cairan rumen terutama yang bersifat proteolitik.
Kemungkinan besar proporsi proteolitik dari masing-masing perlakuan juga
berbeda. Adanya kombinasi mineral P dan S dinilai mampu meningkatkan
aktifitas bakteri proteolitik yang cukup baik. Komisarczuk dan Durand
(1991) membuktikan bahwa suplementasi sulfur berpengaruh positif
terhadap aliran protein dari rumen dan nilai retensi nitrogen. Kombinasi
0,4 % P dan 0,3 % S yang disuplementasikan pada limbah kakao amoniasi
juga terbukti meningkatkan kecernaan BK,BO dan PK secara in vitro
(Yulhamedi, 2014). Suplementasi mineral P dan S ini sangat diperlukan,
karena bahan pakan asal limbah pertanian/perkebunan di Indonesia
defisien akan mineral penting tersebut dan suplementasinya memberikan
hasil yang positif terhadap performan ternak sapi (Zain et al., 2010).
Tabel 7 memperlihatkan kecernaan bahan organik meningkat
seiring dengan meningkatnya kecernaan bahan kering. Hal ini sesuai
dengan pendapat Tillman, et al., (1998), yang menyatakan bahwa pola dari
kecernaan bahan organik sejalan dengan kecernaan bahan kering, karena
sebagian besar dari bahan kering terdiri dari bahan organik dan yang
membedakannya adalah kandungan abu. Bahan organik didapatkan dari
selisih bahan kering dengan bahan an organik (abu). Kecernaan tertinggi
didapatkan pada perlakuan C dimana pada perlakuan ini limbah kakao
disuplementasi selain mineral S dan P juga ditambahkan Saccharomyces
sp 1 %. Saccharomyces sp mampu mengurangi produsi metan melalui
peningkatan kecernaan bahan organik (karbohidrat).
Karbohidrat merupakan komponen yang paling berpengaruh
diantara komponen bahan organik dalam penentuan kecernaan bahan
organik karena karbohidrat sebagai penghasil energi (Volatile fatty acid)
176 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
adalah komponen terbesar dalam pakan (Tillman et al., 1998). Clark et
al. (1992), melaporkan, bahwa campuran struktural dan nonstruktural
karbohidrat adalah umumnya sebagai sumber energi yang terbaik
untuk pertumbuhan bakteri karena pada proses fermentasi, karbohidrat
menghasilkan lebih banyak energi per unit berat daripada protein. Energi
berasal dari lemak makanan dapat dikonsumsi bakteri rumen, tetapi lemak
tidak cukup menyediaan energi untuk mesintesis protein mikroba mikroba
(Van Soest, 1982). Mekanisme pengurangan energi berupa metan oleh
Saccharomyces sp melalui peningkatan proporsi propionat. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian dari Lync dan Martin (2002) yang mendapatkan
hasil peningkatan produksi propionat sehingga menurunkan produksi
metan pada ransum yang disuplementasikan yeast.
Propionat merupakan VFA yang bersifat glukogenik karena dapat
dikatabolisme menjadi glukosa, sedangkan asetat dan butirat merupakan
VFA non glukogenik (ketogenik). Sistem fermentasi rumen yang mengarah
ke propionat akan menghasilkan nilai non glucogenic ratio ( NGR) yang
kecil. NGR adalah perbandingan antara asam lemak terbang yang bersifat
non-glukogenik dengan glukogenik. Nilai NGR berkorelasi positif dengan
produksi metan, artinya semakin tinggi nilai NGR semakin tinggi pula
produksi metan sehingga lebih sedikit VFA yang dihasilkan sebagai
sumber energi utama bagi ternak ruminansia dan semakin rendah
nilai NGR semakin rendah pula produksi metan sehingga lebih banyak
VFA yang dihasilkan sebagai sumber energi utama ternak ruminansia
dan untuk mensintesis protein mikroba (Jamarun dan Zain, 2013).
Rendahnya produksi metan akan meningkatkan nilai konversi heksosa,
karena semakin sedikit energi yang terbuang dalam bentuk metan. Hal ini
sesuai dengan pendapat Krehbiel et al. (2003) yang menyatakan bahwa
sistem fermentasi rumen yang mengarah kesintesis asam propionat akan
lebih menguntungkan karena energi yang terbuang sebagai gas metan
akan berkurang.
Perlakuan C menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dengan
perlakuan D yang disuplementasi dengan Saccharomyces sp 2 % dan
mineral (P dan S). Diduga pemberian 1 % saccharomyces sp dari BK
ransum sudah optimum untuk pertumbuhan mikroba rumen. Hal ini
disebabkan semakin banyak inokulum Saccharomyces sp ditambahkan
maka akan semakin banyak juga nutrisi yang dibutuhkan. Ketika nutrisi
tidak tercukupi maka Saccharomyces sp tidak dapat memperbanyak
177Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
selnya sehingga aktifitas metabolismenya terhambat dan Saccharomyses
sp mulai mengalami kematian. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Nurul et al. (2010) yang menemukan terjadi penurunan hasil
fermentasi kapang Aspergilus terreus dengan peningkatan dosis inokulum.
Keunggulan lain dari Saccharomyces sp ini yaitu kemampuannya
dalam menggunakan oksigen yang ada dalam rumen sehingga pH
rumen menjadi kondusif untuk pertumbuhan mikroba rumen terutama
bakteri selulolitik dan juga menghasilkan faktor pertumbuhan untuk
pertumbuhan mikroba dalam bentuk asam amino, asam organik dan
vitamin B yang dapat merangsang pertumbuhan bakteri selulolitik. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Paryad dan Rashidi (2009)
dimana kecernaan ransum ternak kambing yang disuplementasi dengan
Saccharomyces sp lebih tinggi dibanding yang tidak disuplementasi.
Peningkatan populasi bakteri pengguna asam laktat dicatat oleh
beberapa peneliti juga akibat dari penambahan Saccharomyces sehingga
menyebabkan konsentrasi asam laktat dalam rumen menurun sehingga
pH rumen bisa tetap dipertahankan pada kondisi netral (Erasmus,
1992). Kombinasi suplementasi mineral P dan S dengan Saccharomyces
sp mampu meningkatkan kecernaan disebabkan koloni Saccharomyces
sp mengalami pertumbuhan akibat adanya tambahan mineral. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ikram et al. (2005) yang
menyatakan pertumbuhan Saccharomyces sp dipengaruhi oleh adanya
penambahan nutrisi yaitu unsur C sebagai sumber carbon, unsur N yang
diperoleh dari penambahan urea, unsur S dari ZA, amonium dan pepton,
mineral dan vitamin.
Kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar dan serat
kasar yang meningkat pada perlakuan C dan D menggambarkan ransum ini
memiliki kualitas yang baik. Semakin tinggi angka kecernaan suatu bahan
pakan berarti bahan pakan tersebut berkualitas baik untuk dikonsumsi
ternak dan dimanfaatkan untuk proses metabolisme tubuhnya. Hal ini
dikarenakan pada umumnya pakan dengan kandungan zat makanan yang
dapat dicerna tinggi, maka akan tinggi pula nilai gizinya ( Suarti, 2001).
Ditambahkan Anggorodi (1994), nilai gizi makanan antara lain diukur
dari jumlah zat-zat makanan yang dicerna, sedangkan kualitas suatu
bahan makanan dicerminkan dari angka konsumsi bahan kering.
178 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan merupakan tolok ukur dalam mengetahui
tingkat pertumbuhan. Rataan pertambahan bobot badan masing-masing
ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 memperlihatkan
rataan PBB ternak percobaan berkisar antara 75 g – 130 g . PBB tertinggi
terdapat pada perlakuan C (130 g) dan yang terendah pada perlakuan
A (75 g). Berdasarkan analisa statistik (Lampiran 13) menunjukkan
bahwa perlakuan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01)
terhadap PBB. Berarti suplementasi Saccharomyces sp dan mineral (P
dan S) pada limbah kakao amoniasi mampu meningkatkan PBB.
Tabel 23. Rataan pertambahan bobot badan selama penelitian
Perlakuan Pertambahan Bobot Badan
(g/e/hr)
A 75,00a
B 100,00b
C 130,00c
D 125,00c
SE 2,89
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menun-
jukkan pengaruh berbeda sangat nyata ( P<0,01)
Pertambahan bobot badan domba lokal yang dipelihara pada
peternakan rakyat yang berkisar 30 gram/hari, namun melalui perbaikan
teknologi pakan PBB domba lokal mampu mencapai 57- 132 g/hari
(Prawoto et al., 2001). Pertambahan bobot badan ternak domba yang
diperoleh pada penelitian ini berkisar antara 75- 130 g/ekor hari.
Hasil ini lebih tinggi dari nilai PBB yang didapatkan Zain (2005) yang
menggunakan ransum berbasis pod kakao amoniasi yaitu 96–104 g/
ekor/hari kecuali perlakuan A dan hampir sama dengan hasil PBB yang
didapatkan oleh Kamalidin et al. (2013) yang menggunakan ransum
komplit berbasis pod kakao fermentasi pada ransum domba 128,57 g/
ekor/hari.
Konsumsi protein berkaitan erat dengan PBB. Protein digunakan
untuk pemenuhan hidup pokok, produksi dan reproduksi. Rataan
179Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
konsumsi protein selama penelitian berkisar 55,22- 73,00 g/ekor/hari.
Jumlah konsumsi protein ini telah memenuhi estimasi standar kecukupan
protein kasar berdasarkan bobot badan untuk mencapai PBB 100 gram/
hari, yaitu 56-58 g/ekor /hari pada penelitian suparjo et al. (2011) yang
memberikan pod kakao fermentasi pada kambing.
Pertambahan bobot badan meningkat sejalan dengan
meningkatnnya kecernaan. Perlakuan memberikan pertambahan bobot
badan yang lebih tinggi dibanding control. hal ini dikarenakan konsumsi
bahan kering yang lebih tinggi yang berdampak langsung pada konsumsi
bahan organik dan kecernaan zat-zat makanan. Perbedaan pertambahan
bobot badan berkaitan dengan kecernaan dan jumlah zat-zat makanan
yang dapat dicerna yang selanjutnya dimanfaatkan untuk pertumbuhan
jaringan tubuh. Pertumbuhan berkaitan dengan pakan yang dikonsumsi,
karena tingkat konsumsi secara langsung mempengaruhi pertumbuhan
otot terutama protein kasar dan energi ransum. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Anggorodi (1994) bahwa kekurangan zat makanan
memperlambat pertumbuhan dan memperlambat penimbunan lemak,
sedangkan makanan yang sempurna mempercepat laju keduanya.
Peningkatan PBB pada perlakuan C disebabkan suplementasi
mineral P dan S. Suplementasi ini mampu meningkatkan pertumbuhan
mikroba rumen terutama bakteri selulolitik. Mineral P dibutuhkan untuk
degradasi fraksi dinding sel dan kebutuhan bakteri selulolitik terhadap
mineral P ini lebih tinggi dibandingkan bakteri hemiselulolitik ataupun
amilolitik (Komisarczuk, et al., 1987, Zain et al., 2010). Mineral S sangat
diperlukan oleh mikroba rumen untuk pembentukan asam amino yang
mengandung sulfur. Menurut Komisarczuk dan Durand (1991) fungsi
utama S adalah menyokong pembentukan asam amino yang mengandung
S dan sintesis protein mikroba, disamping itu juga penting untuk sintesis
beberapa vitamin (thiamin dan biotin) serta koenzim. Karto (1999)
menambahkan bahwa proses-proses metabolisme yang menyangkut
pertumbuhan dan kenaikan bobot badan, aktifitas enzim maupun
hormon sangat ditentukan oleh tersedianya asam amino esensial
metionin. Metionin adalah asam amino mengandung S.
Peningkatan populasi mikroba oleh suplementasi mineral P dan
S ini menyebabkan meningkatnya kecernaan dan ketersediaan nutrient
untuk pertumbuhan menjadi meningkat sehingga pertambahan bobot
badan ternak juga meningkat. Hal ini sesuai dengan Martinez ( 1972)
180 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
bahwa penambahan berbagai mineral baik secara in vivo maupun in
vitro memberikan pengaruh yang positif pada aktivitas mikroba rumen.
Apabila terjadi status kekurangan mineral maka aktifitas fermentasi
mikroba dalam rumen tidak berlangsung secara optimal, hal ini akan
menyebabkan efisiensi penggunanan ransum rendah dan akhirnya akan
menurunkan pertumbuhan ternak.
Penambahan Saccharomyces sp pada perlakuan C dan D mampu
meningkatkan pertambahan bobot badan yang lebih baik lagi, walaupun
perlakuan C dan D memberikan pertambahan bobot badan yang tidak
nyata. Perlakuan C lebih tinggi pada perlakuan D. Hal ini terjadi karena
Saccharomyces sp mampu menstimulir pertumbuhan bakteri rumen
terutama bakteri selulolitik sehingga kecernaan dan konsumsi ransum
meningkat seperti yang dijelaskan oleh Callaway and Martin (1997)
bahwa meningkatnya konsumsi bahan kering dan bahan organik ransum
juga meningkatkan konsumsi zat makanan sehingga jumlah zat makanan
yang tersedia dalam tubuh ternak semakin bertambah dan akhirnya
akan menambah pertambahan bobot badan. Wallace et al. (1994) juga
menambahkan salah satu manfaat DFM pada ruminansia khususnya
pada ternak dewasa adalah meningkatkan produksi daging.
Keunggulan lain dari Saccharomyces sp ini adalah kemampuannya
mengurangi produsi metan melalui peningkatan kecernaan bahan
organik ( karbohidrat). Karbohidrat merupakan komponen yang paling
berpengaruh diantara komponen bahan organik dalam penentuan
kecernaan bahan organik karena karbohidrat sebagai penghasil energi
(Volatile fatty acid) adalah komponen terbesar dalam pakan (Tillman et
al., 1998). Clark et al. (1992), melaporkan, bahwa campuran struktural
dan nonstruktural karbohidrat adalah umumnya sebagai sumber energi
yang terbaik untuk pertumbuhan bakteri karena pada proses fermentasi,
karbohidrat menghasilkan lebih banyak energi per unit berat daripada
protein. Energi berasal dari lemak makanan dapat dikonsumsi bakteri
rumen, tetapi lemak tidak cukup menyediaan energi untuk mesintesis
protein mikroba mikroba (Van Soest, 1982). Mekanisme pengurangan
energi berupa metan oleh Saccharomyces sp melalui peningkatan
proporsi propionat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Lync
dan Martin (2002) yang mendapatkan hasil peningkatan produksi
propionat sehingga menurunkan produksi metan pada ransum yang
disuplementasikan yeast.
181Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Propionat merupakan VFA yang bersifat glukogenik karena dapat
dikatabolisme menjadi glukosa, sedangkan asetat dan butirat merupakan
VFA non glukogenik (ketogenik). Sistem fermentasi rumen yang
mengarah ke propionat akan menghasilkan nilai non glucogenic ratio
(NGR) yang kecil. NGR adalah perbandingan antara asam lemak terbang
yang bersifat non-glukogenik dengan glukogenik. Nilai NGR berkorelasi
positif dengan produksi metan, artinya semakin semakin rendah nilai
NGR senakin rendah pula produksi metan sehingga lebih banyak VFA yag
dihasilkan sebagai sumber energi utama ternak ruminansia dan untuk
mensintesis protein mikroba (Jamarun dan Zain, 2013). Rendahnya
produksi metan akan meningkatkan nilai konversi heksosa, karena
semakin sedikit energi yang terbuang dalam bentuk metan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Krehbiel et al. (2003) yang menyatakan bahwa sistem
fermentasi rumen yang mengarah kesintesis asam propionat akan lebih
menguntungkan karena energi yang terbuang sebagai gas metan akan
berkurang. Efisiensi energi inilah yang menjadikan bobot badan ternak
menjadi bertambah, dikarenakan energi dari protein termaksimalkan
untuk proses pertumbuhan ternak. Anggorodi (1994) menyatakan
Ternak membutuhkan protein untuk pertumbuhan, pengganti sel-sel
yang rusak/mati, poduksi dan kelebihan protein dalam tubuh disimpan
dalam urat daging dan plasma darah.
Efisiensi Ransum
Rataan efisiensi ransum masing- masing perlakuan dapat dilihat
pada Tabel 24.
Tabel 24. Rataan efisiensi ransum selama penelitian
Perlakuan Pertambahan Bobot Konsumsi Bah- Efisiensi Ransum (%)
Badan an Kering
g/ekor/hari g/ekor/hari
A 75,00 436,74 17,02a
B 100,00 497,39 20,53b
C 130,00 574,09 22,64c
D 125,00 555,51 22,52d
SE 2,89 10,60 0,34
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menun-
jukkan pengaruh berbeda sangat nyata ( P<0,01)
182 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Efisiensi ransum dipengaruhi oleh konsumsi bahan kering/hari
dan pertambahan bobot badan/hari. Dari tabel 9 diatas dapat dilihat
rataan efisiensi ransum berkisar antara 17 % – 22,65 % . Efisiensi ransum
tertinggi terdapat pada perlakuan C (22,64 %) dan yang terendah pada
perlakuan A (17,02 %). Berdasarkan analisa statistik (Lampiran 14)
menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh berbeda sangat
nyata (P<0,01) terhadap efisiensi ransum. Berarti suplementasi mineral P,S
dan Saccharomyces sp pada limbah kakao amoniasi mampu meningkatkan
efisiensi ransum. Setelah dilakukan uji lanjut DMRT pada efisiensi ransum
didapatkan Perlakuan C berbeda tidak nyata dengan perlakuan D, tetapi
berbeda sangat nyata dengan perlakuan A dan perlakuan B.
Efisiensi ransum merupakan nilai yang diperoleh dari pertambahan
bobot badan yang dihasilkan per unit bahan kering yang dikonsumsi.
Semakin besar nilai efisiensi ransum, hal ini menunjukkan ransum semakin
baik dan semakin efisien. Secara statistik terlihat bahwa efisiensi ransum
tertinggi pada ransum limbah kakao amoniasi yang disuplementasi
dengan Saccharomyces sp 1 % dan mineral (P dan S). Hal ini disebabkan
besarnya konsumsi BK ransum diimbangi juga dengan PBB harian. Hal ini
sejalan dengan pendapat Tillman et al. (1998) yang menyatakan bahwa
besarnya efisiensi ransum tergantung pada jumlah konsumsi bahan kering
yang mampu memberikan pertambahan bobot badan.
Meningkatnya konsumsi ransum pada perlakuan C karena
suplementasi mineral P dan S menyebabkan kecernaan meningkat,
sehingga terjadi pengosongan isi rumen lebih cepat dan menyebabkan
ternak mampu mengkonsumsi lebih cepat. Pertumbuhan mikroba
dan metabolisme dalam rumen berjalan optimal karena P merupakan
komponen penting bagi pertumbuhan mikroba terutama menjaga
integritas dari membran sel dan dinding sel, komponen dari asam
nukleat dan bagian dari molekul berenergi tinggi (ATP, ADP dan lain-lain)
(Komisarczuk and Durand, 1991). Mineral S juga merupakan komponen
penting bagi bakteri rumen untuk sintesis protein mikroba, dimana
kecernaan pakan serat sangat tergantung pada enzim yang dihasilkan
oleh mikroba tersebut. Menurut Komisarczuk dan Durand (1991) fungsi
utama S adalah menyokong pembentukan asam amino yang mengandung
S dan sintesis protein mikroba, disamping itu juga penting untuk sintesis
beberapa vitamin (thiamin dan biotin) serta koenzim. Penambahan
Saccharomyces sp 1 % juga mampu meningkatkan palatabilitas dan
kecernaan pakan sehingga terjadi pengosongan isi rumen lebih cepat
183Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
yang menyebabkan ternak mampu mengkonsumsi lebih banyak. Yoon
dan Stern (1995) menyatakan Saccharomyces sp di dalam rumen mampu
memanfaatkan oksigen sehingga menjamin kondisi anaerob bagi bakteri
rumen dan menstimulasi populasi bakteri rumen tertentu sehingga
meningkatkan kecernaan serat kasar, secara otomatis juga meningkatkan
konsumsi dan suplai nutrien ke usus. Pada akhirnya akan meningkatkan
respon produksi secara keseluruhan.
Suatu ransum akan lebih efisien digunakan apabila ransum tersebut
dikonsumsi dalam jumlah sedikit dan mampu memberikan PBB yang besar.
PBBpadaperlakuanCsebesar130g/ekor/harimerupakandampakkonsumsi
protein yang sudah mencukupi kebutuhan ternak untuk hidup pokok dan
pertumbuhan. Rataan konsumsi protein selama penelitian berkisar 55,22-
73,00 g/ekor/hari. Jumlah konsumsi protein ini telah memenuhi estimasi
standar kecukupan protein kasar berdasarkan bobot badan untuk mencapai
PBB 100 gram/ hari, yaitu 56-58 g/ekor /hari pada penelitian Suparjo et al.
(2011) yang memberikan pod kakao fermentasi pada kambing.
Efisiensi ransum B dan D juga berbeda sangat nyata dengan ransum
perlakuan A. hal ini dipengaruhi oleh adanya penambahan Saccharomyces
sp dan mineral (P dan S) pada ransum. Hasil yang berbeda yang didapat
dari penelitian ini dikarenakan jenis suplementasi yang berbeda-beda
pada perlakuan. Nilai efisiensi ransum pada penelitian ini lebih tinggi
dari penelitian Suparjo (2010) yang mendapatkan nilai efisiensi ransum
sebesar 18 % dari ransum berbasis pod kakao fermentasi yang diberikan
pada kambing. Efisiensi ransum pada ransum perlakuan limbah kakao
amoniasi yang disuplementasi dengan Saccharomyces sp dan mineral
(P dan S) pada penelitian ini lebih baik karena adanya suplementasi
Saccharomyces sp yang memperbaiki tingkat konsumsi dan kecernaan
zat-zat makanan sehingga pertumbuhan ternak lebih optimal.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa :
1. Penggunaanlimbahkakaoamoniasidalamransumternakruminansia
akan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap kecernaan dan
performa ternak bila disuplementasi dengan growth factor mikroba
rumen yaitu berupa Saccharomyces sp dan mineral (P dan S)
2. Penambahan Saccharomyces sp pada penelitian ini yang efektif
adalah 1% dari bahan kering ransum.
184 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
DAFTAR PUSTAKA
A.O.A.C. 1984. Official methods of analysis. 12th edition. Association of
Official Analytical Chemist. Washington, DC.
Abramovits, J. N and A.T. Mattoon. 1999. Paper Cuts. Recovering the
Paper Lanscape. World Watch Institute. Washington. D. C
Acker., D. 1971. Animal Science and Industries. 1971. Second Edition.
Printice Hall, Inc. Englewood, New Yersey. USA.
AFRC. 1995. Energy and Protein Requirements of Ruminants. CAB
International. Wallingford, UK.
Agricultural and Food Research Council (AFRC). Energy and Protein
Requirements of Ruminants; CAB International: Wallingford, UK,
1993
Allison and Leek . 1993. Rumen Microbiology and Fermentation. In Dukes
Physiology of Domestic Animals. http://www.google.com. Rumen
Microbiology and Fermentation, Animal Nutrition Handbook. P. 55
– 79.
Amirroenas, D.E. 1990. Mutu Ransum Berbentuk Pellet dengan Bahan Serat
Biomassa Pod Coklat (Theobroma cacao L) untuk Pertumbuhan
Sapi Perah Jantan (Thesis). Bogor: Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor.
Anggorodi, R., 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.
Anita, S. H., Hermiati, E., dan Laksana, R. P. B. 2011. “Pengaruh Perlakuan
Pendahuluan dengan Kultur Campuran Jamur Pelapuk Putih
Phanerochaete crysosporium, Pleurotus ostreatus dan Trametes
versicolor terhadap Kadar Lignin dan Selulosa Bagas”. Jurnal
Selulosa. UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial,
LIPI, Cibinong–Bogor. 1 (2): 81 –88.
Ardiansyah, H. 2014. Pengaruh Penggunaan Limbah Kelapa Sawit Sebagai
Pakan Kambing Peranakan Etawa (PE) Terhadap Konsumsi Ransum,
Produksi dan Kualitas Susu [Skripsi]. Padang. Fakultas Peternakan
Universitas Andalas.
Arora, S .P . 1995 . Pencernaan Mikroba pada Ruminansia Srigondo, B
(ed),Gajah Mada University Press.
185Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Penerjemah:
R. Murwani dan B. Srigandono. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik. 2015. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2015. BPS
Indonesia.
Balai Penelitian Ternak Ciawi (BPT). 1997. Rekomendasi Penggunaan
Kulit Kakao sebagai Pakan Alternatif.
Baldwin, R. L. and M. J. Allison. 1983. Rumen metabolism. J. Anim. Sci. 57:
461-77.
Ball, A., Oddy, V.H. and Thompson, J.M. 1997, ‘Nutritional manipulation of
body composition and efficiency in ruminants’, Recent Advances in
Animal Nutrition in Australia. Vol. 11, pp. 192-208.
Bastari, R. 2014. Evaluasi Kecernaan Fraksi Serat (NDF,ADF, Selulosa,
dan Hemiselulosa) Limbah Coklat Amoniasi dengan Penambahan
Mineral Fosfor dan Sulfur Secara In vitro. Skripsi. Fakultas
Peternakan Unand, Padang
Bath,.D. L, F. N. Dickinson, H. A. Tucker and .R. D. Appleman. 1978. Dairy
Cattle : Principles, Practices, Problems, Profits. Lea and Febiger.
Philadelpia, USA.
Bird, S.H., and R.A. Leng .1991. Role of Protozoa in relation to the Nutrition
of the Host Animal. In.Recent Advances on The Nutrition of
Herbivora ( Ed. Y.W. Ho, H.K. Wong, N. Abdullah, and Z. A. Tajuddin).
Malaysia Society of Animal Nutrition. Kuala Lumpur.
Bird, S.H., and R.A. Leng. 1984. Further studies on the effect of the presence
or absence of protozoa in the rumen in live weight gain and wool
growth in sheep. Brit. J. Nutr. 52: 607
Bravo, D., D. Sanvant., C. Bogaert and F. Meschy. 2003. Quantitative Aspects
of Phosporus Absortion in Ruminant. Reprods. Nutr. Dev. 43:271-
284. INRA. EDP. Sciences.
Brown, J.A., Glenn, J.K., Gold, M.H. 1990. Manganese Regulates Expression
of Manganese Peroxidase by Phanerochaete chrysosporium. J.
Bacteriol. 172; 3125-3130.
Callaway ,E.S. and S.A Martin. 1997. Effectt of Saccharomyces cerevisiae
186 Dasar Nutrisi Ruminansia (Edisi ke II)