BALAI BAHASA PROVINSI JAWA TENGAH i
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2020
Perjumpaan yang Tak Biasa
Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
PERJUMPAAN YANG TAK BIASA
Karya Peserta Bimbingan Teknis Penulisan Kreatif
bagi Guru SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Kendal
Penanggung Jawab:
Dr. Ganjar Harimansyah
(Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah)
Penyunting:
Esti Apisari, S.Pd.
Desain Isi dan Sampul:
Tri Wahyuni, S.S.
Emma Maemunah, S.Pd., M.Hum.
Penerbit:
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA
BALAI BAHASA PROVINSI JAWA TENGAH
Jalan Elang Raya 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Faksimile 024-76744358
Posel: [email protected]
Laman: www.balaibahasajateng.kemendikbud.go.id
Cetakan Pertama, Desember 2020
xii + 194 hlm., 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-623-7358-30-5
Hak cipta dilindungi undang-undang. Sebagian atau seluruh buku
ini dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis
dari penerbit.
Isi tulisan (karangan) menjadi tanggung jawab penulis.
ii Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Prakata
Puji syukur kami persembahkan ke hadirat Allah SWT atas
rahmat dan karunia-Nya antologi esai dan cerpen hasil kegiatan
“Bimbingan Penulisan Kreatif (Esai dan Cerita Bermuatan Lokal)
bagi Guru SMA/SMK/MA Kabupaten Kendal” ini dapat ter-
selesaikan dengan baik. Antologi esai dan cerpen ini merupakan
salah satu wujud nyata pengembangan bahasa dan sastra yang
terus dilakukan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Pengem-
bangan bahasa dan sastra dalam rangka peningkatan budaya
literasi ini merupakan langkah Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
untuk membudayakan literasi di wilayah Jawa Tengah.
Kegiatan “Bimbingan Penulisan Kreatif (Esai dan Cerita Ber-
muatan Lokal) bagi Guru SMA/SMK/MA Kabupaten Kendal”
ini bertujuan untuk membangkitkan Kembali gairah menulis dan
berkarya, khususnya bagi para guru mata pelajaran Bahasa
Indonesia di tingkat SMA/SMK dan MA di Kabupaten Kendal,
Jawa Tengah. Kegiatan yang pada rencana awal dilaksanakan
selama lima kali pertemuan di Hotel Sae Inn, Kendal pada Maret
2020 ini sempat terhenti akibat wabah Covid-19. Kegiatan dilaku-
kan tiga kali pertemuan tatap muka pada 10, 11, dan 14 Maret
2020, kemudian dilanjutkan kembali melalui kanal Zoom Cloud
Meeting pada 18 dan 19 Mei 2020. Namun, hal tersebut tidak me-
ngurangi semangat para peserta untuk menyelesaikan penulisan
esai dan cerpen tersebut. Proses yang tidak sebentar membukti-
kan bahwa ada animo yang baik dan berpotensi menumbuhkan
semangat baru untuk berkarya dalam bingkai literasi. Naskah
Perjumpaan yang Tak Biasa iii
peserta kemudian melalui proses penyuntingan oleh penyunting
dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah sehingga pada akhirnya
dapat tersaji di hadapan pembaca yang budiman
Antologi ini tentu tidak akan pernah selesai tanpa bantuan
dari beberapa pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih kami
sampaikan kepada Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada kami
sehingga antologi cerpen dan esai kegiatan “Bimbingan Penulisan
Kreatif (Esai dan Cerita Bermuatan Lokal) bagi Guru SMA/SMK/
MA Kabupaten Kendal” ini dapat selesai dengan baik. Tidak lupa
ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi disampaikan ke-
pada para peserta, penyunting, dan para narasumber pada ke-
giatan ini.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk melaksana-
kan kegiatan dan Menyusun antologi ini. Segala kritik, pendapat,
sumbang saran, dan masukan dengan senang hati akan kami
terima demi perbaikan pada penerbitan antologi di masa men-
datang. Harapan kami, semoga antologi ini bermanfaat bagi para
pembaca dan memacu semangat untuk terus berkarya, berproses,
dan berliterasi.
Semarang, November 2020
Panitia kegiatan “Bimbingan Penulisan Kreatif (Esai dan
Cerita Bermuatan Lokal) bagi Guru SMA/SMK/MA
Kabupaten Kendal”
iv Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Testimoni Narasumber
Perjumpaan yangTak Biasa
Setia Naka Andrian
Ada perjumpaan yang tidak biasa, yang saya temukan saat
diharapkan dalam sebuah kerja penciptaan karya. Lebih tepatnya
sebuah kelas menulis yang di selenggarakan Balai Bahasa
Provinsi Jawa Tengah kala itu, yang diikuti oleh 20 guru se-Kabu-
paten Kendal. Di situ, saya berhadapan dengan berderet guru
Bahasa Indonesia dari berbagai sekolah di Kabupaten Kendal;
sebuah kota lahir dan kota tinggal saya hingga saat ini. Beberapa
kali perjumpaan, baik melalui pertemuan di luar jaringan (luring)
hingga di dalam jaringan (daring). Dari 20 guru tersebut meng-
hasilkan 20 karya, meski didapati seorang guru yang menggan-
deng seorang penulis untuk menyelesaikan cerita pendeknya
bersama.
Sejak awal, saat pembukaan kegiatan oleh Pak Tirto Suwondo,
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah kala itu, telah me-
nyampaikan bahwasanya selepas kelas penulisan yang diseleng-
garakan tersebut haruslah diakhiri dengan pembukuan karya.
Kepala Balai sudah menegaskan itu sejak dalam membuka ke-
giatan. Maka apa boleh buat, saat proses berlangsungnya pun saya
kerap menekankan kepada para guru (peserta) kelas menulis,
bahwa proses penulisan yang dikerjakan ini nantinya akan
berakhir menjadi sebuah buku.
Perjumpaan yang Tak Biasa v
Sehingga selepas itu, tak sedikit yang saya sampaikan terkait
upaya mengerjakan cerita pendek untuk sebuah buku, yang tentu
para guru harus bersungguh-sungguh dalam menuliskannya.
Paling tidak, cerita pendek yang dituliskannya adalah cerita
pendek yang benar-benar diciptakannya sendiri. Syukur-syukur
bila ternyata mampu menghadirkan warna lokal dalam cerita
pendek yang dituliskannya tersebut. Sebab awalnya, memang
kelas menulis (atau biasa disebut bengkel cerita oleh Balai Bahasa)
diarahkan untuk menggoda para guru agar mampu menciptakan
karya-karya yang berpijak pada nilai-nilai lokal di daerah tempat
tinggalnya, yakni di Kendal Jawa Tengah.
Namun kala itu, kepala Balai Bahasa pun memberikan
kelonggaran, bahwasanya tidak lagi menjadi keharusan. Para
guru boleh menulis cerita pendek apa saja. Tidak harus berpijak
pada nilai-nilai lokal tadi. Tentu saat proses berlangsung pun
saya sampaikan kembali sama persis dengan yang telah disampai-
kan oleh kepala Balai Bahasa sebelumnya. Namun ternyata, tidak
saya sangka, saat proses dan hingga berakhir kegiatan yang
mengharuskan para guru mengirimkan karya-karyanya, saya me-
nerima cerita-cerita yang tak biasa yang mereka tuliskan berdasar-
kan pijakan lokalitas. Sungguh begitu adanya.
Memang ini semua perjumpaan yang tak biasa. Bagaimana
tidak, sebenarnya sejak awal saya telah merasa cukup khawatir,
bagaimana jika nanti para guru tak sepenuhnya mampu menyele-
saikan cerita-ceritanya. Bagaimana nanti jika hanya beberapa
guru saja yang selesai menuliskan ceritanya. Ternyata semua itu
salah, semua peserta telah berhasil menciptakan dan berupaya
mengabadikan kisah-kisah yang dipungut menjadi keabadian
karya yang tak biasa.
Boleh dikatakan, saya awalnya juga merasa gemetar saat di-
hadapkan dengan para guru yang ternyata tak sedikit di antara
mereka adalah para guru senior yang sebelumnya sudah saya
kenal atau saya ketahui di Kendal ini. Namun saat kemudian
vi Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
berlangsung prosesnya, saya menjadi kian kehilangan gemetar-
gemetar yang sebelumnya saya rasakan tadi. Para guru sangat
antusias memukul huruf untuk cerita-cerita yang dikisahkannya.
Proses penciptaan buku saat-saat ini bisa dikatakan begitu
mudah. Namun tak bisa pula dikatakan seperti itu. Sebab bisa
dikatakan cukup sulit pula, jika buku itu dikerjakan dengan
serius, tulisan-tulisan yang diciptakannya dikerjakan dengan ke-
sungguhan pula. Dan kali ini, para guru telah sampai pada pintu
gerbang penerbitan buku yang diidam-idamkan itu.
Saya kira, ini sebuah capaian tersendiri. Paling tidak mereka
akan berdiri lebih tegak di antara guru-guru lain di sekitarnya.
Mereka yang setidaknya yang telah terlebih dahulu merampung-
kan cerita-ceritanya menjadi bangunan yang utuh, ketimbang di
luar sana tak sedikit didapati para guru yang tidak menuliskan
apa-apa, apalagi menulis cerita, apalagi menulis cerita yang ber-
pijak pada lokalitas yang dilakukan oleh 20 guru tersebut. Ya,
para guru yang telah merampungkan segenap proses dari pro-
gram bengkel penulisan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa
Provinsi Jawa Tengah.
Lokalitas dalam Cerita
Tak sederhana memang, saat kita dihadapkan pada kerja
penulisan cerita yang berpijak pada lokalitas. Tentu di sini men-
jadi jebakan-jebakan tersendiri bagi penulis, jika tidak berhati-
hati dalam menyibak penggalan-penggalan kisah yang ada men-
jadi bangunan tema yang menakjubkan untuk cerita yang se-
lanjutnya dituliskan. Paling tidak siapa saja harus berupaya agar
tidak tergoda untuk menuliskannya ulang dalam cerita pendek
yang dikerjakan.
Bagaimana patahan kisah-kisah itu menjadi bagian terpen-
ting dalam bangunan cerita yang diciptakan. Bagaimana kisah-
kisah yang dipungut itu menjadi pondasi yang kokoh dalam
bangunan cerita yang diciptakan. Jadi kembali lagi, ini kerja
Perjumpaan yang Tak Biasa vii
penciptaan. Ini kerja kreatif, yang tentu sudah sangat harus ber-
upaya untuk menciptakan yang lain.
Bisa jadi, runtuhkan saja bangunan dalam patahan-patahan
kisah yang dipungut itu. Lalu hancurkan sehancur-hancurnya.
Kemudian bangun kembali reruntuhan dan remukan-remukan
kisah yang telah diporak-porandakan tadi, menjadi sebuah ba-
ngunan kisah baru yang tentu masih tetap bernafas nilai-nilai
lokal atas kisah-kisah yang dipungut dari kampung halaman kita
tadi.
Sederhananya begini, yang barangkali ini sudah sempat saya
sampaikan saat belajar kelompok bersama para guru dalam beng-
kel penulisan kala itu di Hotel Sae Inn Kendal. Hancur-leburkan
saja sebuah meja jati. Pukul dan remukkan dengan palu dan alat
lainnya. Saat sudah remuk tak karuan, maka rangkailah kembali
patahan-patahan kayu tadi menjadi sebuah meja yang kita ingin-
kan.
Tentu dari situ, kita masih dapat merasakan bagaimana aroma
kayu yang sama, bagaimana pula mengenai kegunaan/fungsi
sebuah meja yang sama seperti meja semula. Namun kita akan
melihat sebuah bangunan meja yang beda dan penuh kebaruan
sesuai denga napa yang kita imajinasikan serta kita idam-idam-
kan dalam kerja penciptaan.
Begitulah setidaknya yang saya maksudkan dan yang ter-
bayangkan, mengenai bagaimana kerja sebuah cerita yang ber-
pijak pada lokalitas yang ada. Meski sungguh, dikatakan berhasil
atau tidaknya, tetap saja yang dikerjakan para guru bagi saya
telah mengarah ke situ. Setidaknya mereka telah memulai untuk
berupaya meriwayatkan berbagai kisah yang ditawarkan dalam
cerita-cerita yang terkumpulkan dalam buku ini.
Bagi saya itu sudah sangatlah lebih dari cukup. Sebab mereka
telah memulainya dengan begitu maksimal. Upaya memerdeka-
kan gagasan-gagasan yang diserap dari berbagai kisah dan peris-
tiwa di sekitar pun kian nampak dalam cerita yang diciptakan.
viii Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Meski ya itu tadi, tetap saja mereka masih kerap terjebak untuk
sekadar mengisahkan ulang patahan-patahan peristiwa yang
ditangkap itu.
Bolehlah saya tuliskan judul-judul cerita yang ditulis oleh
para guru tersebut. Di antaranya Tulang Bawang (Abdul Basyid),
Khayal Kemangi (Achit), Anak Kongsi (Asep Yudhi), Kisah Api dan
Air (B. Yudiyanto), Di Sana Ada Cinta (Eva Silviana Futhika),
Menyapu Jejak Suparti (Desi Wiramurti), Apa Aku Boleh Rindu (Defi
Purwanti), Kontes Nyai Dapu (Dini Lestari), Kotekan (Azis Eko
Wahyu), Kembang Hitam Bersemi (Kristianti Hastuty), Meranti Me-
rantau (Mellati Kusumaning Hapsari), Pandansari (Aslam Kussatyo
dan Wahyu Purwanti), Sayap Ayam Dimakan Perawan (Dhiyah
Endarwati), Nisan Batu (Evika Abidin), Kekuncen Kekasih (Rita
Nuraeni), See Laa Yuuut (Rokhimatul Aminin), Obong Puspa (Silvia
Nor Farida), Surga di Balik Paseban (Ratna Febri), Watu Lumpang
(Sulus Umar), dan Pesta Purnama (Wiwid Kris Widayani).
Dari beberapa judul cerita yang ada tersebut, setidaknya telah
menampakkan, paling sederhananya lokalitas pada bangunan
latar yang dihingpai oleh para tokoh yang dihadirkan. Selain itu,
bagaimana berbagai perangai manusia yang ditawarkan dalam
tokoh-tokoh yang dihadirkan. Bagaimana kampung-kampung
digarap dan bermekaran menjadi dunia baru yang menakjubkan.
Bagaimana segala persoalan menjadi jalinan cerita yang cukup
memikat. Segala itu digerakkan dalam berbagai peristiwa yang
cukup matang dalam bangunan-bangunan konflik yang disuguh-
kan.
Dari situlah setidaknya menjadi kekuatan tersendiri dari para
guru yang telah begitu rupa menganggit patahan-patahan kisah
yang diserap menjadi bangunan cerita-cerita yang patut disebar
kepada khalayak. Paling tidak, kepada murid-murid mereka.
Segal aitu menjadi bukti bahwasanya guru mereka juga tidak
Perjumpaan yang Tak Biasa ix
hanya menyuruh siswanya untuk menulis cerita semata. Namun
telah mampu menciptakan cerita pula!
***
Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal sejak 4
Februari 1989. Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang. Menulis puisi,
cerita pendek, esai, dan resensi buku/film yang dimuat di ber-
bagai media dan dibukukan serta terdokumentasikan di
setianakaandrian.com. Dapat disapa melalui berbagai sosial media
dan nomor ponsel (telepon/WA): 085641010277.
x Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Daftar Isi
Prakata .............................................................................................. iii
Testimoni Narasumber Perjumpaan yang Tak Biasa .................. v
Daftar Isi ............................................................................................ xi
1. Tulang Bawang
Abdul Basyid ................................................................................ 1
2. Khayal Kemangi
Achit ............................................................................................ 8
3. Anak Kongsi
Asep Yudhi Kristanto ................................................................. 15
4. Kisah Api dan Air
B. Yudiyanto .............................................................................. 22
5. Kotekan
Aziss Eko Wulan Santoso ........................................................... 30
6. Kontes Nyai Dapu
Dini Lestari ................................................................................ 37
7. Menyapu Jejak Suparti
Desi Wiramurti .......................................................................... 47
8. Di Sana Ada Cinta
Eva Silviana Futikha .................................................................. 60
Perjumpaan yang Tak Biasa xi
9. Apa Aku Boleh Rindu?
Defi Purwanti ............................................................................ 68
10. Meranti Merantau
Mellati Kusumaning Hapsari ..................................................... 75
11. Kembang Hitam Bersemi
Kristanti Hastuty ....................................................................... 82
12. Pandansari (Cerita Rakyat “Asal-Usul Kedhung
Pengilon”)
Aslam Kussatyo dan Wahyu Purwanti ....................................... 89
13. Sayap Ayam Dimakan Perawan
Dhiyah Endarwati .................................................................... 100
14. Nisan Batu
Evika Abidin ............................................................................ 108
15. Seee Laaa Yuuut!
Rokhimatul Aminin ................................................................. 119
16. Kekuncen Kekasih
Rita Nuraeni ............................................................................ 129
17. Obong Puspa
Silvia Nor Farida ..................................................................... 140
18. Surga di Balik Paseban
Ratna Febri .............................................................................. 150
19. Watu Lumpang dan Perawan Tua
Sulus Umar Sahal .................................................................... 162
20. Pesta Purnama
Wiwid Kris Widayani .............................................................. 175
xii Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
1.
Tulang Bawang
Abdul Basyid
Assholatu khoirum minan naum…
ssholatu khoirum minan naum…
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
Pagi dingin menyelimuti Desa Daropono. Desa yang berada
di pinggir hutan jati itu. Tampak langit membiru dihiasi awan
mendung berkejaran menutupi semburat mentari. Angin hem-
buskan kesegaran di sela-sela kerindangan pepohonan jati. Para
peladang tengah sibuk mempersiapkan keperluannya meladang
hari ini. Di tengah kesibukan warga Darupono tersirat suasana
desa, damai, dan kekeluargaan.
Selain itu, tampak pula langgar tua terawat rapi di pinggir
jalan desa. Langgar yang merupakan hasil jerih payah warga
Darupono sebagai tempat mendekatkan diri dengan Sang Khalik.
Bahkan, langgar itu selalu diramaikan oleh anak-anak untuk
mengaji qiro’ati dan fasholatan di sore hari bawah bimbingan
Paklik Sokib.
Paklik Sokib adalah sosok panutan di desa tersebut. Dia
adalah kiai kampung dan juga mursid toriqot. Dalam keseharian-
nya selalu bersahaja dan ringan hati. Kesederhanaan dan keikhlas-
an Paklik Sokib turut membawa harum desa tersebut. Ketika Gus
Perjumpaan yang Tak Biasa 1
Dur masih sugeng, beliau pernah singgah ke tempatnya hanya
sekadar untuk makan siang dan ngobrol tentang membangun
negeri yang baldatun thoyibatun wa robbun ghofur .
Berita tentang karisma Paklik Sokib ternyata cukup menyita
perhatian orang. Baik sekadar untuk minta barokah, ijazah doa,
hingga diskusi soal agama dan negara. Salah satu orang yang
penasaran akan kemampuannya adalah kemenakan sendiri,
yakni Surono. Surono adalah anak bungsu dari anak pamannya
yang tinggal di Jakarta. Dia kini menyandang gelar sebagai ustaz
muda karena baru saja menamatkan kuliah agama di Jakarta.
Singkat cerita, Surono pun pergi ke desa Darupono untuk
silaturrahim dengan keluarganya sekaligus bermaksud mengun-
jungi pakliknya yang terkenal itu. Maklumlah sudah hampir lima
tahun ini Surono tidak bertemu pakliknya itu.
“Assalamu alaikum,” ucap Surono.
“Wa alaikum salam!” jawab kiai kampung tersebut.
“Bagaimana kabarnya, Paklik? Apakah Paklik sehat-sehat
saja? Oh, ya Paklik! Maksud kedatanganku selain untuk silaturrahim
juga sekaligus ingin tahu apakah tradisi selamatan di situs Tulang
Bawang di Desa Darupono sampai sekarang masih?” tanya Surono
penuh harap.
Mendengar salam dan maksud kedatangan dari kemenakan-
nya, kiai kampung yang rambutnya mulai memutih itu tidak
terkejut bahkan senang. Dia menatap kemenakannya dari kursi
ruang tamu, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan penuh
keakraban.
“Bagaimana kabar bapak ibumu di Jakarta? Apakah mereka
sehat sehat saja?” tanya balik Paklik Sokib sambil mempersilah-
kan duduk kemenakannya itu.
Tak lama kemudian kedua kerabat yang berbeda usia ter-
sebut terlibat basa basi yang akrab. Keduanya saling bertanya
tentang kesehatan dan keselamatannya. Di sela-sela basa-basinya
itu, Paklik Sokib sedikit mulai menyinggung tentang tradisi
2 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
selamatan di situs Tulang Bawang yang sering dilakukan oleh
masyarakat Darupono. Surono mencoba menyimak penjelasan
itu penuh saksama dan terkadang dia menarik nafas sambil
mengangguk-anggukkan kepala.
Di saat menyimak penjelasan tentang tradisi selamatan di
situs Tulang Bawang, Paklik Sokib pun melontarkan pertanyaan
kepada Surono, namun dia tak menyadarinya. Lalu….
“Maaf! Apakah Paklik bertanya kepadaku?” sergah Surono.
“Ya! Kepada siapa lagi. Kan hanya kamu yang ada di situ!”
“Bukankah dirimu penasaran tentang tradisi selamatan
tersebut! Apalagi setelah dirimu menyandang gelar ustaz, maka
tujuanmu ke sini bukan sekadar silaturrahim, pasti ada maksud
lain. Betul, kan?” tanya Paklik Sokib sambil menikmati sedotan
kretek.
“Ah … Paklik, tahu aja!” jawab Surono sambil menyimpan
keheranannya.
“Aku dulu juga pernah muda seperti kamu. Berbagai tempat
di nusantara ini sudah aku kunjungi. Bahkan, tidak sedikit para
kiai yang aku sowani meski hanya sekadar minta doa atau ijazah.
Malahan aku dulu dicap santri mbalelo oleh kiaiku. Tapi untuk
urusan prinsip atau ideologi, aku sedikit pemberani bahkan cen-
derung harga mati jika perlu kita sedikit kurang ajar agar ideal-
isme kita didengar. Urusan keluarga atau pribadi nomor ke sekian
kalinya, yang penting eksistensi diri kita dihargai.”
Mendengar ucapan lelaki tua paruh baya itu, Surono semakin
mantap kalau orang tersebut bisa diajak berdiskusi tentang tradisi
masyarakat Desa Darupono.
Sejurus kemudian, ustaz muda itu pun dipersilakan menyam-
paikan keganjilannya tentang tradisi selamatan di situs Tulang
Bawang. Surono pun menyampaikan beberapa alasan tentang
sedikit kekurangsetujuan dengan kebiasaan warga Darupono.
Salah satunya dari aspek agama atau masa. Yang katanya ini kan
zaman milenial, tapi mengapa warga Darupono masih ngugemi
Perjumpaan yang Tak Biasa 3
tradisi tersebut? Apakah mereka tidak takut ditegur oleh Yang
Mahakuasa?” tanya Surono.
“Oh begitu!” jawab Paklik Sokib. Dik Rono, Allah mencipta-
kan orang berbangsa-bangsa, bersuku-suku tujuannya agar saling
mengenal. Bukan untuk saling menghakimi sebagaimana yang
ramai di medsos. Dan ini yang perlu kamu pahami, salah satu di
antaranya adalah tradisi selamatan di situs Tulang Bawang. Situs
Tulang Bawang merupakan tempat istimewa bagi warga Desa
Darupono. Seperti hal Monas bagi masyarakat Jakarta. Lalu di
mana istimewanya situs Tulang Bawang itu bagi warga Darupono?
tanya Paklik Sokib.”
“Dik Rono! Perlu kamu ketahui bahwa menurut sesepuh
desa, situs Tulang Bawang merupakan tempat persinggahan dari
seorang tokoh agama bernama Kiai Tulang Bawang. Bagi masya-
rakat Darupono, Kiai Tulang Bawang merupakan sosok yang ber-
jasa pada masa itu.”
Saat itu, kata Paklik Sokib, warga Darupono tengah dilanda
kesulitan air untuk mengairi sawah atau keperluan sehari-hari.
Kesulitan itu lalu dilaporkan warga kepada kiai tersebut. Tak
lama kemudian sang kiai pun berdoa bermunajat kepada Tuhan.
Tempat yang dipilih untuk berdoa adalah tempat yang sangat
rimbun dan berada di pinggir Sungai Blorong. Tempat itu sekarang
terkenal sebagai situs Tulang Bawang.
Tidak menunggu lama, doa Kiai Tulang Bawang pun di-
kabulkan oleh Yang Mahakuasa. Desa Darupono akhirnya tidak
lagi kesulitan air hingga sekarang ini. Sebagai wujud rasa syukur
atas anugrah Yang Mahakuasa serta sebagai rasa terima kasih
kepada Kiai Tulang Bawang, tempat itu dianggap keramat oleh
warga Desa Darupono.
Kemudian warga Darupono pun beranggapan jika ingin doa-
nya didengar dan keinginannya dikabulkan Allah, berdoalah di
tempat itu. Begitu pula jika warga Darupono ingin punya hajatan
alangkah baiknya melakukan selamatan terlebih dahulu di situs
4 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Tulang Bawang sebagai penghormatan terhadap sesepuh desa
tersebut. Sekaligus untuk menghindari sesuatu hal yang tidak
diinginkan.
“Dik Rono, dulu sekitar lima belas tahun lalu ketika orang
tuamu belum merantau ke Jakarta ada mandor alas punya hajatan
yakni mengkhitankan anaknya yang ketiga. Di hajatan itu ada
tanggapan wayang orang. Berbagai keperluan sudah disiapkan,
sound system, tratak, panggung, dan penerangan. Namun, semua
berantakan karena hujan angin sepanjang hari. Ditambah lagi
listrik di desa itu pun padam. Anehnya diesel yang disewa saat
itu juga tidak bisa berfungsi. Akibatnya, suasana gelap. Warga
pun enggan menghadiri undangan mandor alas,” ujar Paklik
Sokib kepada kemenakannya itu, “Menurut keyakinan sesepuh
desa waktu itu, penyebab utama berantakannya pesta khitanan
putra mandor alas karena si mandor alas tidak melaksanakan
selamatan di situs Tulang Bawang yang merupakan tradisi lelu-
hur di Desa Darupono. Dan yang perlu Dik Rono ketahui, dalam
selamatan itu tidak ada satu kata pun yang memuji dan memuja
selain kepada Allah dan rasulnya. Tidak ada kata menyebut Nyi
Alas Jati, atau Kiai Loreng Saketi sebagai wasilah-nya. Masyarakat
Darupono paham sekali jika yang patut dipuja dan disembah
hanya Allah semata. Lalu di mana kesalahannya tradisi selamatan
di situs Tulang Bawang tersebut, Dik Rono?” tanya Paklik Sokib
dengan penuh antusias.
Sejenak Surono pun diam. Dia tidak tahu apa yang harus
disampaikan. Karena dalam selamatan tersebut tidak ada niatan
sedikit pun untuk menyekutukan Yang Mahakuasa. Selamatan
pada prinsipnya refleksi dari rasa terima kasih dari makhluk ke-
pada Yang Mahakuasa atas anugerah keselamatan dan kesehatan
yang diberikan. Kalaupun selamatan dilaksanakan sebelum hajat-
an pada dasarnya adalah permohonan doa agar pelaksanaan hajat
yang direncakan jauh-jauh hari bisa sukses. Itu saja!
Perjumpaan yang Tak Biasa 5
Di saat lamunan menyimpulkan makna selamatan terbesit
kata-kata yang mengganjal pikiran Surono yaitu kata harus
dilaksanakan di situs Tulang Bawang
Lalu sesaat kemudian ….
“Paklik! Ada satu pertanyaan yang harus dijawab, yakni ada-
nya pernyataan dari warga Desa Darupono bahwa selamatan se-
belum hajatan harus dilaksanakan di tempat situs Tulang Bawang.
Terus terang kata harus dilaksanakan di situs Tulang Bawang itu
mengusik pikiran saya. Mengapa muncul ada kata–kata harus
dilaksakan? Jika dicermati kata-kata tersebut seakan-akan menge-
biri tempat lain yang baik untuk berdoa seperti rumah atau langgar?
Betul kan, Paklik?” tanya Surono.
“Tepat sekali, ternyata dirimu bisa menangkap persoalan yang
sebenarnya juga menjadi pemikiranku! Perlu diketahui, memang
ada sebagian orang yang menjadikan situs Tulang Bawang
sebagai tempat semedi atau sekadar menyepi mencari nomor
buntut. Ini banyak dilakukan oleh orang–orang di luar Darupono.
Mereka sengaja datang ke sana terutama pada malam Jumat
Kliwon atau Selasa Kliwon,” jawab Paklik Sokib, “Mengenai kata
harus dilaksanakan inilah PR-ku selaku sesepuh desa. Sudah aku
sampaikan berulang kali di jam’iyah tahlil atau manaqib bahwa
berdoa tidak harus berada di situs Tulang Bawang. Selain sangat
merepotkan yang punya hajat, tempat tersebut juga sempit dan
bersebelahan dengan Sungai Blorong. Ketika musim penghujan,
tempat tersebut rawan banjir dan banyak ular. Dan ini sangat mem-
bahayakan bagi peserta doa. Namun demikian, warga Darupono
sampai sekarang juga belum bergeming mengenai usulanku.
Katanya mereka khawatir, kejadian lima belas tahun lalu akan
menimpa bagi yang punya hajat.”
Tak terasa waktu pun terus berlalu. Jam dinding sudah ber-
detak dua belas kali, dan itu pertanda jika sebentar lagi memasuki
waktu salat zuhur. Seirama dengan ini muncul Bulik Sokib dari
ruang tengah menawarkan makan siang kepada kemenakannya
6 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
itu. Katanya makan siang sudah siap di meja makan. Silakan
diskusi dilanjutkan di meja makan sembari menikmati sayur
lodeh dan tempe goreng. Serta merta keduanya pun menuju meja
makan.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 7
2.
Khayal Kemangi
Achit
Megah gemerlap bak purnama, sendu silap mendengar
namanya. Gaung merambah ke mana-mana, yang tak
terlihat pun seakan dekat dan menatapnya. Gagah laksana ben-
teng yang tak tergempur.
Lelaki sekeren aku berjalan sediri tanpa teman. Melangkah
sampai di tempat itu demi menjawab penasaran. Tempat yang
asri dengan berbagai selentingan. Sejarah heboh tepatnya di
kawasan Kangkung, memang sih, tempatnya di pinggir pantai
yang biasanya dikelilingi tambak. Tetapi di sini berbeda. Hampar-
an sawah yang hijau dan kanan kiri masih banyak pohon yang
lebat. Telisik masyarakat sekitar pun sering membicarakan ten-
tang kejadian aneh. Wilayah pantura memang cenderung panas,
sepanas cerita di Makam Kemangi.
Kaki ini membawaku menyusuri pantai utara bernama Muara
Kencan hingga akhirnya tiba di Desa Jungsemi Kecamatan Kang-
kung. Sengaja aku berhenti di pemakaman umum dan terme-
nung. Dalam hatiku bergumam, “Mana makam yang angker itu?
Apakah benar ini? Makam yang konon merupakan benteng
Kerajaan Mataram yang kesohor itu?”
Aku membayangkan sejarah waktu lalu. Sejarah yang men-
jadi asal mula terjadinya Kendal. Kabupaten dengan kota kecil
8 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
di wilayah pantura. Aku amati makam tua ini, aku tatap pohon
besar nan rindang di dalamnya. Sesekali angin menyapaku. Sejuk,
berbeda dengan panasnya pantura. Seakan aku tidak percaya jika
tempat ini termasuk pantura. Sesekali aku keliling gerbang
makam.
“Mas dari mana? Mengapa sampai di sini?” Tiba-tiba aku
dikejutkan kedatangan seorang bapak. Wajahnya sudah mulai
keriput, rambutnya memutih di beberapa sudut bagian kepala-
nya. Dari mana munculnya tadi, aku pun silap tidak melihatnya.
Sontak aku kaget mendengar pertanyaannya. Langsung ku-
jawab saja, “Dari Semarang, Pak, saya seorang pengelana yang
penasaran tentang misteri Makam Kemangi,” jawabku tergopoh-
gopoh.
Heran, bingung, matanya menatapku tajam. Sepertinya dia
terusik dengan kedatanganku yang tanpa salam atau pun permisi.
Senyum kulemparkan, mewakili maaf yang tidak sempat aku
ucapkan. Aku hanya bisa menunduk bergumam semoga saja
beliau tidak marah. Alhamdulillah bapak tersebut akhirnya me-
nurunkan alisnya, yang memandangiku dengan tajam. Respon-
nya membaik walau aku asing baginya. Aku mengulurkan tangan
menjabat tangan bapak di hadapanku ini. Bapak pun menyebut-
kan namanya Saturi.
“Kata orang, saya, Kiai Saturi, juru kunci makam ini,” tegas-
nya.
Berarti aku tidak salah berhenti dan inikah misteri yang aku
cari. Pikiranku mulai berfantasi mengejar hal yang tidak pasti
seakan timbul tenggelam. Hussshhh, rasanya merinding tidak
karuan sampai melayang atau entah bagaimana pokoknya tak
tergambarkan. Kuberanikan saja untuk memperkenalkan diri.
“Saya Andi Setiawan, Pak,” jawabku sambil tersenyum.
Kemudian aku bertanya di mana letak Makam Kemangi?
Pak Saturi menjawab dengan tenangnya. “Ini Mas!” Jarinya
menunjuk ke makam di depannya.
Perjumpaan yang Tak Biasa 9
Pak Saturi mengajakku duduk di seberang jalan dari gapura
besar ini. Ada bekas fondasi yang tidak utuh lagi. Tatapan Pak
Saturi seakan menanyakan penasaranya terhadap diriku. Aku
menjelaskan, di tempat aku menimba ilmu banyak teman dari
kota ini yang sering bercerita tentang makam tua mistis yang
bernama Makam Kemangi.
Kemudian Pak Saturi tersenyum melihatku. “Kamu berani
sekali, anak muda!” Dia mengucap itu sambil mengelus pundak-
ku.
“Bagaimana tidak, Pak, ini tuntutan dari sebuah instansi
tempatku bekerja.”
Penjelasanku bisa dia terima. Sampai akhirnya Pak Saturi
membuka ceritanya.
***
Berbagai macam hal mistis dan ganjil banyak ditemukan di
sini, yaitu di Petilasan Kemuning. Hal ini yang membuat pasang-
an suami istri dari desa lain penasaran. Sampai penasarannya,
pasangan suami istri ini akan membuktikan sendiri keangkeran
Makam Kemangi. Mereka belum tahu lokasi makam itu, tetapi tetap
bersemangat untuk mencari lokasi tersebut walaupun banyak
warga yang heran ketika ditanya. Dia sesekali bertanya kepada
warga sekitar. Sontak saja orang-orang yang mereka tanyai kaget
bukan kepalang. Mereka menjawab dengan kata-kata saja dan
tidak berani menunjukan jari atas arah lokasi tersebut.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan atas arahan warga.
Seratus meter sebelum jalan mengarah makam tersebut mereka
bertemu dengan tiga anak kecil. Anak kecil tersebut menanyakan
apakah mereka akan ke Kuburan Kemangi? Sontak saja mereka
menjawab iya. Pada akhirnya tiga anak tersebut mengantar pa-
sangan suami istri ini ke Kuburan Kemangi. Setelah sampai di
makam, mereka menoleh ke belakang untuk mengucapkan terima
kasih, tetapi sangat mengagetkan dan yang membuat mereka
merinding ketiga anak tadi menghilang tak berbekas.
10 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Banyak keganjilan di sana. Sering sekali anak kecil hilang
kemudian ditemukan berada di tengah sawah sekitar Kuburan
Kemangi. Anak-anak tadi bercerita bahwa mereka berada di se-
buah kota yang bangunannya indah banget.
***
Satu lagi cerita. Dulu ada seorang sopir dealer mobil yang
akan mengantarkan pesanan mobil ke Desa Kemangi. Seorang
yang pesan juga warga yang pernah tinggal di kampung kami.
Mobil diantarkan. Beberapa hari setelahnya, dealer mengirim
utusan mencari si sopir ke kampung kami. Karena setelah meng-
antar mobil, sopir dealer belum kembali ke kantor. Lalu dealer
mencari informasi ke alamat yang dituju.
Ternyata setelah bertanya ke sana-sini, utusan itu ditunjuk-
kan rumah kepala desa, lurah di kampung kami. Surat pesanan
diberikan. Terkejut Pak Lurah membaca nama yang tertera. Pe-
mesan mobil tersebut anaknya.
“Ini tidak mungkin!” kata Pak Lurah. “ Mas, pasti kamu salah
tulis nama,” Pak Lurah melanjutkan.
Utusan dealer kebingungan.
“Bagaimana bisa salah. Mobil juga sudah dikirim,” jelasnya.
“Tapi Mas, tapi …,” penjelasan Pak Lurah terhenti.
Kepalanya menggeleng-geleng penuh rasa heran dan cemas.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada sopir kami, Pak.” Utusan
dealer memaksa Pak Lurah.
Tatapan mata Pak lurah berkaca-kaca.
“Anakku itu sudah meninggal beberapa tahun lalu, kok
pesan mobil? Mas ini ada-ada saja!” lanjut Pak Lurah sambil me-
mandangnya seakan menggunakan modus baru untuk menipu.
“Ini bukan di TV Pak. Kami benar-benar kehilangan sopir
kami yang mengantarkan mobil pesanan anak Bapak.” Kalimat
utusan dealer dengan nada memelas dan penuh ketakutan. “Apa
mungkin di desa ini ada nama yang sama?” lanjut utusan itu.
Semua bingung dan gelisah.
Perjumpaan yang Tak Biasa 11
“Kemangi ini nama makam Mas, bukan nama desa kami,”
Pak Lurah menegaskan. Utusan dealer semakin bingung men-
dengarkan kalimat-kalimat Pak Lurah yang tidak masuk akal.
Mobil baru dikirim ke makam. Seakan batinnya menanyakan peri-
hal kejiwaan temannya, si sopir yang hilang.
***
Bulu kudukku semakin merinding mendengar cerita Pak
Saturi. Aku ambil sebatang rokok. Sisanya yang masih rapi di
dalam bungkus aku sodorkan ke Pak Saturi. Kuhela napas pan-
jang. Pak Saturi mengangkat tangan. Berarti Pak Saturi tidak ingin
merokok bersamaku. Ternyata aku salah. Dari saku Pak Saturi
mengeluarkan tembakau, cengkih, dan sigaret. Setelah asap rokok
berkepul di antara kami. Pak Saturi melanjutkan ceritanya.
Pak Saturi ini seperti pemain lakon. Dia sangat pandai me-
nirukan dan ahli mendongeng. Membuat aku semakin antusias
pada ceritanya.
***
“Sudah Mas, nanti saya carikan solusi. Semampu kami akan
bantu Mas dan teman Mas yang hilang.”
Santai sekali tutur Pak Lurah. Seakan ini bukan yang pertama.
Pak Lurah memanggil saya dan mengumpulkan masyarakat.
Pak Lurah menanyakan apa saya bisa membantu utusan
dealer itu? Setelah didiskusikan dengan tokoh masyarakat Pak
Lurah menyiapkan acara adat, uba-rampe (perlengkapan) dan
pesyaratan upacara pun disiapkan. Kami meminta pada pengu-
asa Makam Kemangi ini dengan adat kejawen. Kami lafalkan
mantra dan doa. Bagi yang tidak percaya ini sangat di luar nalar
manusia. Tapi anehnya beberapa lama sopir tersebut kembali ke
alam nyata/alam manusia. Tiba-tiba muncul dari balik jalan itu.
Sopir sedikit linglung. Bingung, mengapa banyak orang. Dia
berasa di alam yang sama. Sering bertemu juga sama utusan dealer
yang menjadi temannya bekerja. Mengapa temannya mencari.
Sebelum muncul di alam nyata kembali sopir itu juga sedang
12 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
ngobrol dan bersantai dengan temannya. Sopir pun menegaskan
dia sedang jalan mencari makan dan melihat kerumunan orang,
yaitu kami dan sopir pun tidak merasa hilang. Karena dia juga
berinteraksi layaknya alam normal.
“Kowe kuwi ilang wis seminggu (kamu itu hilang sudah se-
minggu).” Tegas utusan dealer. Sopir kembali menegaskan bahwa
dia ngobrol sama utrusan dealer. Mengapa dia bisa menyatakan
tidak bertemu seminggu. Setelah saya jelaskan kejadiannya, sopir
itu tercengang. Sebelumnya dia sebenarnya berada di alam yang
berbeda yaitu alam gaib. Alam yang tidak kasat mata manusia.
Sopir saya beri minum air putih. Sopir menyatakan segala ke-
adaan jauh lebih mewah dan enak. Teman-temannya juga sama
dengan teman-temanya sekarang.
***
Pak Saturi membuatku termenung. Aku mencoba menjadi
sopir dengan segala daya khayalku. Belum tuntas khayalku jalan-
jalan.
“Tidak hanya itu, Mas! Masih banyak kejadian lain yang
mestinya harus dipahami anak muda sepertimu,” lanjut Pak
Saturi, “Dahulu Mas, sebelum menjadi kuburan.”
Pak Saturi melanjutkan dengan cerita sejarah. Semasa peme-
rintahan Sultan Agung tempat tersebut merupakan lokasi per-
temuan antartokoh. Para tokoh ini rapat untuk mengatur strategi
yang tujukan untuk penyerangan ke Batavia.
Sesaat setelah membuat keputusan untuk berperang me-
lawan Belanda di Batavia, Sultan Agung memimpin dan me-
manggil semua para pembesar seperti tumenggung, adipati, dan
tokoh-tokoh dalam Kerajaan Mataram. Rapat dan masukan dari
para adipati menghasilkan keputusan final yaitu perang melawan
Belanda harus dilaksanakan.
Pimpinan perang pun diputuskan, juga panglima perangnya,
yaitu Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal, dan Gubernur
Pesisir Laut Jawa. Bahurekso mengambil keputusan bahwa segala
Perjumpaan yang Tak Biasa 13
macam persiapan pertempuran melawan Belanda tidak dilak-
sanakan di pendapa kabupaten, tetapi di suatu tempat yang dekat
dengan pantai.
Peserta rapat pun sepakat untuk merahasiakan tempat per-
temuan tersebut. Akhirnya, hasil kesepakatan tersebut memilih
lokasi di tengah hutan. Berada di bawah pohon nan rimbun yang
saat ini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai pohon kemangi.
“Itu pohonnya.”
Jari Pak Saturi menunjuk ke pohon rimbun yang nampak
sudah tua dalam pemakaman. Pemakaman yang dikelilingi sawah
ladang yang hijau dan luas.
Tempat ini masih berbentuk hutan belukar dengan sejuk udara
pantai. Penjagaan ketat oleh banyak prajurit karena merupakan
benteng dan markas bagi Kerajaan Mataram. Pasukan terbaik dan
pilihan semua disuplai dan difokuskan di area ini.
Itu terjadi kira-kira pada tahun 1628 dan 1629. Sultan Agung
beralasan bahwa Belanda yang sudah mendirikan benteng per-
dagangan harus ditundukkan. Mereka harus mengakui kekuasa-
an Mataram agar tidak serakah dalam berdagang. Di sinilah awal
pusat kekuatan baru Mataram dalam mengimbangi persaingan
dagang Belanda. Pada waktu itu Belanda banyak menguasai eko-
nomi dagang dari daerah Batavia yang akan melebarkan sayap-
nya ke daerah Jawa.
Dari itu semua Kerajaan Mataram serius dan fokus dalam
persiapan untuk penyerangan. Untuk itulah dipersiapkan puluh-
an ribu prajurit. Sebagai panglima perang, diangkatlah Tumenggung
Bahurekso yang berkedudukan di Kota Kendal ini.
“Mungkin itu yang Mas cari di sini. Mas bisa membaca cerita
sejarah Kendal.”
Pak Saturi menasehati. Rokok kami sudah berada di ujung.
“Ini hari keberuntungan saya bisa mendengarkan cerita
Bapak,” caraku mengucapakan terima kasih ke Pak Saturi.
***
14 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
3.
Anak Kongsi
Asep Yudhi Kristanto
Perahu kecil bersandar rapi di tepi kali. Sebagian yang lain
masih melaksanakan tugasnya di lautan utara Jawa.
Ombak kecil berkejaran serta hembusan angin membawa aroma
amis. Ya, aroma yang yang harus selalu dinikmati suka atau tidak
suka. Bendera negara dan aneka ragam parpol yang mulai lusuh
berkibaran di atas perahu. Dengung lalat terdengar jelas di sudut
jalan kecil yang sedikit becek karena lalu lalang perdagangan hasil
tangkapan nelayan.
Sebuah gardu kecil tak berdinding beratap anyaman bambu
menghadap ke kali. Di gardu itulah biasa para nelayan berceng-
kerama. Mereka bercerita tentang kondisi cuaca, hasil tangkapan,
dan segala pembahasan ada di tempat itu. Bahkan urusan politik,
ekonomi, masalah rumah tangga semua ada di sini. Ah, sekarang
majelis gibah sudah mulai bertransformasi ke kaum bapak-bapak.
Nelayan datang dan pulang silih berganti. Ya, biasanya ne-
layan yang baru pulang dari melaut langsung mulai perbincang-
annya.
“Ah mung sapetak,” gumam Sardi sambil menyalakan rokok-
nya lalu menyeruput kopi dengan gelas besarnya yang dipesan
di warung sebelah gardu. Anak-anak tidak pernah mau tahu
berapa hasil tangkapan bapaknya. Yang mereka tahu ketika ada
perahu nelayan pulang yang mereka lakukan adalah alang- alang.
Perjumpaan yang Tak Biasa 15
Kamu tidak tahu betapa nikmatnya makan sisa konsumsi
nelayan di pinggir kali, layaknya makan sup ikan di resto ter-
nama.
Saat pagi hari, anak-anak yang berusia kisaran enam hingga
dua belas tahun pergi ke sekolah. Setelah pulang sekolah, anak-
anak biasanya bekerja atas perintah orang tua mereka.
Anak-anak lelaki setelah pulang sekolah membantu orang
tua mereka bekerja, sedangkan anak perempuan biasanya men-
jaga adik mereka, mencuci, atau pun bermain di sekitar rumah.
Kegiatan itu hampir setiap hari mereka lakukan saat pulang
sekolah.
Kebanyakan anak nelayan di sini lebih memilih tidak me-
lanjutkan pendidikan. Mereka berpikir hal itu hanya membuang-
buang uang. Mereka lebih memilih mencari ikan untuk mendapat-
kan uang. Menyambung sekolah ke jenjang yang lebih tinggi rasa-
nya menjadi suatu hal yang asing bagi masyarakat pesisir ne-
layan.
Kebanyakan orang tua di desa ini menganggap bahwa takdir
mereka memanglah untuk berprofesi sebagai nelayan. Matahari
mulai condong ke barat. Sorotnya sudah tidak terlalu tajam. Perahu
nelayan yang tadinya sebagian masih di lautan sudah mulai ber-
datangan. Para isteri sudah berkumpul di pinggir kali menanti
suami pulang. Berharap cemas menanti hasil tangkapan para
suminya. Mereka adalah marketing terbaik perusahaan perkapal-
an suami.
Suara mesin perahu sudah mulai terdengar di kejahuan, me-
nandakan perahu para nelayan sudah mulai berdatangan untuk
pulang. Anak-anak usia belasan asik bermain. Ada yang berkejar-
an sambil sesekali menceburkan diri ke sungai dengan berbagai
gaya loncat yang indah layaknya atlet profesional.
Jauh sepanjang mata memandang, biru terhampar begitu
megah. Ombak menggulung di antara laju waktu yang terus ber-
adu cepat dengan kerasnya zaman. Sampan kecil bertenaga dayung
16 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
terombang-ambing mesra di antara gemulai air laut. Nelayan tua
bersenjata pukat hela dan pukat tarik atau terkenal dengan
sebutan cantrang begitu bersemangat mengunduh rezeki-Nya.
Pak Warno nama nelayan itu. Hanya di lautlah harapan dan
impian masyarakat pesisir seperti Pak Warno dan ribuan nelayan
kecil di daerah ini.
Namun, kehidupan tak begitu saja menyajikan kemudahan.
Siapa pun yang hidup, musuh-musuh kehidupan akan silih
berganti menguji dan menantang, bahkan dengan mentang-
mentang. Anggapan bahwa masyarakat pesisir hidup dengan ber-
kecukupan tidaklah sepenuhnya benar. Ya, benar. Berkecukupan
bagi mereka yang punya koneksi dengan perusahaan besar, teng-
kulak, atau makelar ikan. Sedangkan nelayannya?
Mereka hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Hidup
di pesisir adalah pilihan untuk berjuang dengan keras seperti karang
yang harus tahan gempuran zaman. Para nelayan kecil bukan hanya
bergelut dengan ombak pasang dan gempuran badai di tengah laut.
Namun, mereka harus berhadapan dengan jaringan korporasi
perusahaan penangkapan ikan, tengkulak besar, maling ikan dari
luar negeri dengan beking-beking dan cukong-cukong.
Tali tambang mulai dilempar ke tiang pertanda perahu sudah
siap bersandar. Deretan keranjang sudah berjejer untuk mengang-
kut ikan dari petak-petak perahu.
“Yon, bawa keranjang-keranjang itu ke sini,” pinta Warno pada
Yono, anaknya.
Ya, biasanya, mereka yang baru tiba dari melaut akan ber-
cerita tentang cuaca di tengah laut, ombak, angin, jaring, dan
hasil tangkapan ikan yang tak menguntungkan. Jauh dari harap-
an. Keluhan yang tak pernah jemu mereka lontarkan dan acap
berujung dengan harapan.
“Semoga besok pendapatan dapat melunasi utang tempo
hari,” harapnya sembari meletakkan bungkusan tembakau yang
di dalamnya dilapisi kulit jagung kering.
Perjumpaan yang Tak Biasa 17
“Kau di rumah. Jangan ke mana-mana. Ayah mau melaut.”
Laki-laki beruban itu mengenakan peci hitam. Sarung dililitkan
di lehernya. Mengambil jaring yang tergantung di samping rumah.
Tertegun Yono menyaksikan ayahnya yang tengah berdiri di
ambang pintu. Merapal mantra laki-laki itu. Berjalan dengan ting-
kah gagah mirip Sakera. Ia memanggul jaring, dan lekas kakinya
bergerak.
Matahari menampakkan sinarnya melalui celah jendela. Dari
jendela itu pula Yono sering merenung. Merenungkan cita-cita-
nya yang kini entah tak tahu ujungnya. Yono paham bagaimana
harus bersikap sebagai seorang anak yang harus membantu ayah-
nya. Yono seperti tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengurung-
kan niatnya belajar di perguruan tinggi. Ia harus menemani ayah-
nya pada masa tua seperti ini.
“Kalau kau kuliah, siapa yang bantu Ayah di sini? Lagian
tak perlu anak buruh nelayan sekolah tinggi-tinggi.”
“Ilmu itu ada di mana-mana. Kau bisa belajar dari alam.
Ayahmu ini tak pernah sekolah, tetapi Ayah tahu kapan waktu
yang tepat untuk melaut dan kapan ada bahaya di laut. Karena
Ayahmu ini belajar pada alam. Ayah juga tak ada biaya. Bantu
Ayah di sini itu lebih bermanfaat!” ujar ayah Yono.
Sedih hati Yono. Anak pesisir itu mengerti betapa sebenarnya
tak baik menuruti keinginannya sendiri, sementara sang ayah
tak kenal angin, tak kenal badai ia mengarungi laut, menerabas
segala bahaya. Bibirnya rekah, menakik senyum. Ayahnya mem-
balas, menabur senyum, rapuh, dan ragu-ragu.
“Masih ada jalan lain,” desis Yono sendirian sambil meng-
angsurkan sebilah kayu ke mulut tungku. Dari balik jendela Yono
melihat perahu-perahu mengarungi laut. Ayahnya berdiri di salah
satu perahu itu. Gelombang bergoyang agak pelan. Yono melepas
senyum tipis. Ditutup jendela yang terbuat dari kayu itu.
Yono menunggu ayahnya. Membaca beberapa buku lapuk
yang berderet di rak lemari. Ia menemukan dua judul buku Cara
18 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Mudah Membuat Ikan Kaleng, Melambungkan Harga Jual Ikan Laut.
Dari keseluruhan buku-buku lapuk yang telantar di rak lemari-
nya, Yono tertarik membaca dua judul buku tersebut.
Buku pertama mengupas bagaimana membuat ikan kaleng.
Selama ini ikan-ikan hasil tangkapan ayahnya dijual di bawah
standar, tidak sesuai dengan jerih payah yang ia lakukan. Yono
juga pernah menjumpai di sebuah toko makanan. Ia menemukan
ikan yang dikemas ke dalam sebuah kaleng. Mata Yono ter-
cengang begitu ia mengetahui harga satu kemasan kaleng setara
dengan harga satu kilogram ikan mentah. Lebih tidak percaya
lagi setelah ia tahu dalam satu kaleng berisi dua tiga potong ikan.
Buku kedua Melambungkan Harga Jual Ikan Laut memiliki
pembahasan yang hampir sama. Dalam buku ini dijelaskan teori
beserta tata cara bagaimana meningkatkan daya jual ikan laut.
Kedua buku tersebut jika dipikirkan berkaitan satu sama lain.
Keduanya berupaya meningkatkan perekonomian warga pesisir
melalui mata pencaharian mereka. Yono berpikir, alangkah lebih
bermanfaat dirinya jika mampu mengangkat perekonomian orang-
orang sekelilingnya.
Yono membolak-balik dua buku itu. Debu menempel di
kedua buku lapuk itu. Sampulnya sedikit buram dan beberapa
bagian kertasnya mengelupas. Untung bagian-bagian penting
yang ditulis si pengarang buku tersebut masih bisa dibaca dengan
baik.
Dan lagi, Yono berpikir jauh. Laut membentuk gelombang,
mendesis-desis, menjilati pasir putih yang ditumbuhi rindang
cemara udang. Ia berpikir keras, mendalam, menjangkau sesuatu
yang rasa-rasanya hal ini tidak pernah dipikirkan oleh siapa pun.
Yono memikirkan nasib para nelayan di desanya. Mereka
bertarung habis-habisan. Namun, harga ikan tangkapannya jika
dibandingkan dengan ikan kaleng yang dijual di supermarket
sangat tidak wajar.
Perjumpaan yang Tak Biasa 19
Itulah mengapa Yono ingin merekalah yang membuat ikan
kaleng dari ikan-ikan hasil tangkapannya sendiri. Bagi Yono ini
akan lebih menguntungkan, setidaknya para nelayan tak lagi me-
ngeluh soal harga.
Yono bersikeras supaya mereka belajar cara membuat ikan
kaleng. Sesekali matanya rebah di atas perahu. Tangannya masih
menggenggam dua buku yang agak kocar-kacir kertasnya. Amis
ikan diterbangkan angin, menebar aroma yang kurang sedap.
Yono tersadar setelah ayahnya datang membawa berekor
ikan yang dijinjing di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya
memegang jaring yang disanggulkan ke bahunya. Matahari ber-
ada tepat di atas kepala. Yono meletakkan kedua bukunya,
kemudian menghampiri laki-laki berusia senja itu. Lelah wajah
ayahnya, matanya menyiratkan sesuatu yang sangat dalam, yang
sulit diartikan oleh Yono sendiri.
“Kalau saja ikan-ikan ini kita kemas dengan menarik, harga-
nya pasti jauh lebih mahal,” kata Yono. Tangannya meletakkan
ikan-ikan yang masih segar ke dalam keranjang.
“Dikemas bagaimana?” Ayahnya baru menyandarkan tubuh-
nya.
“Dikemas menjadi ikan kaleng, seperti yang ada di pasaran.
Harga sekalengnya setara dengan harga satu kilogram ikan mentah
yang kita jual. Padahal, per kalengnya isinya hanya dua tiga ekor,”
kata Yono. Dahi anak muda itu berkerut.
“Bagaimana kau menerapkannya?” tanya ayahnya. Ia men-
cecap kopi buatan Yono. Laki-laki itu menyukai kopi hitam
dengan sedikit gula sehingga rasa kopinya tidak terlalu manis
dan tidak terlalu pahit pula.
“Ini juga sedang Yono pikirkan. Buku ini tidak begitu rinci
menjelaskan teknik mengolahnya. Harus ada referensi lain, dan
perlu banyak belajar lagi dari yang lain,” jawab Yono. Ia meniup-
niup api dalam tungku supaya nyalanya membesar.
20 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Jadi kau harus kuliah begitu maksudmu?” suara ayahnya
yang sampai di telinga Yono terkesan tinggi nadanya.
“Yono tahu Ayah tidak bakal mengizinkan, dan Yono tahu
juga itu karena kondisi ekonomi. Tapi Yono akan cari cara lain
supaya bisa belajar dengan baik cara mengolah ikan kaleng. Nanti
orang-orang di sini akan kuajari caranya. Yono hanya tidak tega
kalau harga ikan mereka di bawah standar.”
“Itu cita-cita mulia karena sebaik-baiknya manusia adalah
yang bermanfaat bagi orang lain,” kata ayahnya. Ia berjalan masuk
ke dalam kamar.
Sesiang ini ia belum makan sama sekali, begitu juga dengan
ayahnya. Terdengar ombak dari utara. Yono kini tak berharap
lebih, kecuali tetap menjadi anak kongsi yang bermimpi kelak
bisa mengolah dan membuat ikan kaleng sendiri bersama orang-
orang pesisir.
Tak hanya itu berkat tangan dingin si Yono, ikan hasil tang-
kapan warga tidak hanya diolah menjadi kemasan dalam kaleng
saja, tetapi berbagai olahan dengan bahan dasar ikan pun berhasil
diproduksi. Kerupuk ikan, baso ikan, keripik kulit ikan, dan
banyak lagi olahan berbahan dasar ikan. Kini Yono bersama be-
berapa rekannya mendirikan usaha dagang yang diberi nama
Sumber Laut, dan hasil produksinya telah dijual di berbagai
wilayah.
Perjumpaan yang Tak Biasa 21
4.
Kisah Api dan Air
B. Yudiyanto
“Panas, panas, panas,” teriak anak kecil sambil memegangi
tangannya yang kesakitan. Ibunya yang berada tak jauh
darinya yang sedang memotong sayuran seketika kaget.
“Kenapa, Nak?” tanya ibunya cemas.
“Sakit, Bu. Panas,” sambil menunjukkan tangannya yang ter-
kena api kompor.
“Ibu kan sudah bilang, jangan main-main di dekat kompor,
nanti kena api,” sahut ibunya sambil melihat tangan anaknya yang
mulai memerah itu.
“Kenapa harus aku yang melukai anak kecil polos itu, kenapa
harus aku yang menyakitinya,” gumamku lirih. Apakah aku
memang harus bernasib seperti ini, selalu menimbulkan mala-
petaka bagi orang lain? Konon, kata orang, aku adalah simbol
kemarahan dan keangkaramurkaan serta keangkuhan. Seperti
halnya angkuhnya iblis yang tercipta dariku. Siapa sih yang suka
dengan sematan seperti itu? Tentu saja kita tidak suka. Orang
akan panik ketika melihatku tumbuh besar, melahap semua yang
aku lalui, membuat gerah, panas, dan menderita.
Konon, di akhirat pun aku adalah sesuatu yang tidak disukai
oleh manusia dan jin. Karena kelak aku akan menjadi alat pe-
nyiksa hamba Tuhan yang tidak taat dan tidak mau menyembah-
22 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Nya ketika di dunia. Ya, kelak aku akan membakar mereka di
neraka. Membakar kulit manusia, yang setelah mengelupas
kulitnya, akan digantikan dengan kulit yang baru lagi, menge-
lupas lagi dan diganti dengan kulit yang baru lagi, demikian
seterusnya hingga batas yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk-
nya. Bahkan, untuk selama-lamanya, kekal di dalamnya. Dan
ternyata jin pun, makhluk Tuhan yang konon diciptakan dariku,
kelak akan disiksa denganku jika mereka tidak taat kepada
Tuhannya.
Pernah terbesit dalam hati kecilku, kenapa Tuhan mencipta-
kan aku seperti ini. Diciptakan hanya untuk membuat orang lain
menderita dan sengsara. Bahkan, sejak di dunia hingga di akhirat.
Suatu kali aku berjalan menyusur pinggiran hutan, ya tentu-
nya membakar semua pepohonan yang aku lalui. Aku lihat di
pinggir hutan itu ada sebuah sungai yang sangat jernih airnya.
Mengalir tenang, mengalunkan suara yang merdu, melenakan,
membuat hati ini teduh, nyaman, dan tenang. Aku pernah men-
dengar dari mulut orang-orang bahwa air itu mempunyai man-
faat yang sangat luar biasa. Mereka mandi membersihkan badan
yang kotor dengan air, menghilangkan rasa dahaga bagi yang
meminumnya. Membersihkan pakaian kotor, dan yang tidak
kalah penting adalah bisa menghidupi semua makhluk Tuhan
yang bernama tanaman dan hewan.
Aku iri dengannya. Aku marah. Sempat dalam kemarahanku
aku mengumpat, “kenapa Engkau ciptakan aku seperti ini,
Tuhan! Hanya untuk membuat orang lain menderita, yang hanya
membuat orang lain sengsara karena ulahku. Kenapa Engkau
tidak ciptakan aku seperti air yang selalu memberikan manfaat
untuk orang lain! Kenapa, Tuhan? Kenapa?”
***
Sementara itu, di kota besar di musim penghujan ....
Air sedang menggenangi kota tersebut.
“Banjir-banjir,” teriak warga kota.
Perjumpaan yang Tak Biasa 23
Mereka sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah
mereka. Kasur, lemari, pakaian, televisi, dan barang-barang elek-
tronik lainnya.
“Banjir lagi banjir lagi,” gerutu seorang ibu paruh baya yang
sedang menggendong anak semata wayangnya sambil menge-
masi pakaian.
“Kenapa harus aku?” gerutu si air. Aku yang menyebabkan
semua ini, semua musibah ini, semua penderitaan ini. Penderita-
an yang harus ditanggung oleh manusia. Penderitaan yang
berlaku untuk semua makhluk, mulai dari orok hingga orang
tua renta, dari coro hingga kuda, dari lumut hingga pokok cen-
dana. Semua menderita karena aku.
Umat Nabi Nuh pun tidak luput dari target keganasanku,
bahkan anaknya sendiri, Kan’an telah menjadi korban kebiadab-
anku.
Demikian pula tsunami, bencana alam yang konon berasal
dari kata bahasa Jepang, tsu ‘pelabuhan’ dan nami ‘gelombang’ ini
juga tak lepas dari campur tanganku. Bencana yang sangat ditakuti
oleh penduduk yang ada di daerah pesisir. Yang telah menyapu
bersih Banda Aceh dan Palu di Indonesia, Chiba dan Miyazaki di
Jepang, dan beberapa daerah lain di belahan bumi ini.
Malam itu, masih di kota yang sama, selepas Isya aliran listrik
putus. Sekali lagi, ini juga karena ulahku. Lampu padam, keadaan
gelap gulita. Kulihat setitik cahaya yang berada di sudut jalan di
depanku. Kudekati pelan-pelan menuju arah cahaya itu. Tepat
di depan rumah seorang warga yang baru saja melepas lelah
membersihkan sisa-sisa banjir sambil bercengkrama dengan ang-
gota keluarganya. Mereka bercanda, saling melepas lelah dengan
tawanya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka
duduk melingkar mengitari sebatang lilin dengan cahayanya
yang hampir redup karena aku lihat ukurannya yang mulai pen-
dek, meleleh memenuhi tatakan dari tutup kaleng biskuit yang
mungkin dia ambil di jalan yang terhanyut dibawa aliran banjir.
24 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Yang menjadi fokus perhatianku bukanlah keluarga itu.
Akan tetapi, cahaya yang berasal dari lilin itu. Ya, cahaya yang
mulai redup. Kulanjutkan perjalananku, perjalanan panjang
menyusuri jalanan kota hingga ke sungai terdekat dan nantinya
akan bermuara ke laut lepas sana. Perlahan aku berjalan, sekali
lagi aku melihat sekerumunan orang sedang mengitari cahaya.
Cahaya yang lebih besar dari yang aku lihat tadi. Orang-orang
mengerumuni cahaya itu dengan menghadapkan telapak tangan-
nya ke arah cahaya tersebut. Sesekali mereka menggosok-gosok-
kan kedua telapak tangannya sambil menghembuskan napas dari
mulutnya ke arah telapak tangan mereka. Oh, ternyata mereka
sedang menghilangkan rasa dingin yang menyelimuti tubuh
mereka, mereka sedang menghangatkan tubuhnya yang mem-
beku karena ulahku.
Sekali lagi, bukan kerumunan orang itu yang menjadi fokus
perhatianku. Akan tetapi, cahaya yang mereka kerumuni itulah
yang menjadi fokus perhatianku. Ya, cahaya yang bisa memberi-
kan kehangatan di saat orang-orang kedinginan seperti yang baru
saja aku lihat.
“Api. Ya, api,” gerutuku. Kenapa harus api yang memberikan
manfaat untuk manusia, kenapa harus dia yang bisa memberikan
penerangan di gelapnya malam dengan cahayanya. Kenapa harus
dia yang memberikan kehangatan di saat orang-orang terbelenggu
dengan dinginnya hawa. “Kenapa bukan aku saja,” gerutuku.
***
Dini hari menjelang fajar ....
Aku telah sampai di sungai yang sebentar lagi akan sampai
di muara. Ya, kurang lebih satu kilometer lagi dari sini, di depan
itu adalah laut. Di sana aku akan bertemu dengan teman-teman-
ku, sesama air yang berasal dari sungai-sungai yang berbeda-
beda.
Di saat aku membayangkan itu semua, tiba-tiba konsentrasi-
ku buyar, aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Sesuatu
Perjumpaan yang Tak Biasa 25
yang tidak asing bagiku. Sesuatu yang pernah aku temui sebelum-
nya. Ya, baru tadi malam aku meninggalkan penglihatan tentang
dirinya. Jarak sungai ini dengan dirinya tidaklah jauh, kira-kira
lima meter. Perlahan aku berjalan menepi, aku dekati dia.
“Selamat pagi teman,” sapaku kepadanya.
“Selamat pagi,” dia menjawab dengan roman muka yang
penuh tanda tanya.
“Aku ..., aku …,” kataku dan dia hampir bersamaan.
“Oke, silakan kamu duluan yang bicara,” kataku kepada api
yang kelihatannya sangat ingin untuk segera mengungkapkan
unek-unek yang ada di dalam pikirannya.
“Ehm, wahai Air, temanku, aku sangat iri kepadamu,” dia
memulai pembicaraannya.
“Iri kenapa?” jawabku penasaran.
“Aku benci dengan diriku sendiri, aku benci, aku benci.”
“Ada apa denganmu, Api?” tanyaku bingung.
“Kenapa Tuhan menciptakan aku seperti ini, yang selalu
membuat orang lain menderita. Ya, menderita dan sengsara
karena ulahku,” jawabnya marah, “Aku yang membakar semua
ini, aku yang telah menghanguskan hutan ini. Aku yang telah
membuat semua orang dan hewan-hewan panik. Mereka me-
ngutukku, mereka menghujatku, sesak dada ini jika aku ingat
umpatan dan cacian mereka,” kata api dengan nada tinggi. “Aku
iri denganmu, Air”. Aku lihat kamu selalu memberikan kesejuk-
an, kedamaian kepada semua orang. Kamu selalu memberikan
manfaat yang banyak untuk semua makhluk Tuhan. Sedangkan,
aku apa? Hanya bisa membuat orang lain menderita. Membakar
semua yang kulalui, membuat sesak napas orang-orang, bahkan
membunuh mereka. Pernah aku mengutuk diriku sendiri dan
bahkan berdoa kepada Tuhan agar aku diciptakan sebagai diri-
mu,” sambung api yang sudah tampak kelelahan.
“Wahai Api, sebenarnya bukan hanya dirimu yang menyesal
dengan kondisi yang ada. Aku pun sebenarnya merasakan apa
26 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
yang kamu rasakan, aku juga iri kepadamu. Tadi malam aku
menyusuri jalan di tengah kota. Waktu itu aku baru saja me-
ngamuk, menerjang apa pun yang ada di depanku, membuat
segala yang aku lalui menjadi porak-poranda. Yah, aku telah
membuat kota itu hancur, dingin, dan kotor. Di tengah kedingin-
an dan suasana yang muram itu, aku melihat dari kejauhan
orang-orang berkumpul, saling bercanda, dan saling bercakap
ringan sambil mengerumuni sesuatu. Dan ternyata sesuatu itu
adalah api, ya api, seperti halnya dirimu ini. Aku tatap kejadian
itu dengan penuh takjub. Aku merasa iri dengannya. Dia bisa
memberikan kehangatan dan kedamaian bagi orang-orang yang
baru dilanda bencana itu. Memberikan secercah cahaya di ke-
gelapan malam yang kala itu listrik mati karena ulahku. Sedang-
kan aku …, aku membuat mereka sengsara dan menderita, mem-
buat mereka kedinginan yang diselimuti kegelapan dan ketakut-
an. Aku benar-benar merasa iri dengan semua ini, Api, iri dengan
dirimu,” jelasku sedih.
Wuuss ... wuuuuussss, sesuatu menyapa kami berdua. Hemm,
sejuk sekali. Hati ini menjadi tentram seketika, relaks, gumamku.
“Wahai teman-teman, maaf, aku tak sengaja menguping
pembicaraan kalian berdua barusan.”
Kutolehkan wajahku pada sesuatu yang menyapa itu.
“Oh, kamu angin, apa kabar?” tanyaku.
“Baik, teman,” sahutnya sumringah.
“Jadi, kamu sudah tahu pembicaraan kami berdua, Angin?”
tanyaku penasaran.
“Maafkan aku, teman. Tadi aku tidak sengaja mendengarnya,
tapi ... emmmm bolehkah aku memberikan sedikit saran untuk
kalian berdua?” jawab angin dengan wajah menyesal.
“Apa saranmu, Angin?” tanyaku penasaran.
“Tadi sebelum aku sampai di sini, aku melewati sebuah
masjid di pinggir kota itu. Saat itu aku mendengarkan ceramah
dari seorang kiai. Dia berkata kepada para jamaahnya bahwa kita
Perjumpaan yang Tak Biasa 27
sebagai makhluk Tuhan hendaklah selalu bersyukur dengan
semua nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Dan salah
satu bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan adalah
dengan menggunakan potensi yang ada pada diri kita. Selain itu
adalah dengan terus melaksanakan ketaatan atas semua perintah
yang Dia perintahkan, tentunya sesuai dengan kesanggupan
hamba-Nya. Nah, kita sebagai makhluk Tuhan tentunya juga
demikian adanya. Bencana alam yang ada ini tidak sepenuhnya
adalah kesalahan kita, bahkan kalau boleh dibilang kita tidak
mempunyai andil kesalahan sedikit pun di dalamnya.”
“Kok bisa,” tanya air menyela.
Angin melanjutkan penjelasannya, “Iya, tidak semua bencana
ini, baik banjir, kebakaran hutan, gempa bumi, dan yang lainnya
adalah akibat kesalahan kita. Sebagian besar bahkan hampir
seluruhnya bencana yang terjadi di bumi ini adalah akibat dari
ulah manusia. Ya manusia, makhluk Tuhan yang sangat rakus
itu. Mereka menebang pohon semaunya sendiri, menutup resap-
an air yang sebenarnya adalah jalan yang harus dilalui olehmu,
iya kan, Air? Membuang sampah sembarangan, membuang pun-
tung rokok sembarangan, dan lain-lain. Kita hanya melaksana-
kan perintah Tuhan untuk memberikan peringatan kepada
manusia-manusia yang zalim, serakah, dan melampaui batas itu.
Jadi, ketika kita diperintah oleh Tuhan untuk memberikan
peringatan kepada manusia berupa bencana sebenarnya itu
adalah bentuk ketaatan kita kepada Tuhan dan itu adalah salah
satu bentuk perwujudan ungkapan syukur kita kepada-Nya,
benar begitu, kan, teman-teman?”
Kudengarkan penjelasan angin itu dengan saksama, ku-
timbang-timbang, kurenungkan. Memang benar apa yang di-
katakan angin itu. Kita sebagai makhluk Tuhan haruslah senan-
tiasa bersyukur kepada-Nya.
“Terima kasih Angin, kamu telah memberikan pelajaran yang
sangat berharga untuk kami berdua,” kataku kepada angin yang
28 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
saat itu berlalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan kami
berdua.
Begitu pun denganku, aku berpamitan dengan api, melanjut-
kan perjalananku dengan penuh semangat menuju ke muara
yang telah ada di depan mataku, sebagai batas akhir kisahku di
daratan sekaligus sebagai titik awal kisahku mengarungi lautan
lepas sana. Entah kisah apa yang akan aku lalui nantinya.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 29
5.
Kotekan
Aziss Eko Wulan Santoso
Kakek tua dengan kumis tebal memakai ikat kepala hitam
menabuh kentongan sambil memimpin barisan. Setiap
langkahnya selalu diikuti. Kampung menghitam seperti tidak
terhuni. Tetabuhan kotekan awalnya terdengar dari gerombolan
yang kakek tua itu pimpin. Semakin lama tabuhan kotekan saling
menyahut. Tabuhan kotekan keras tetapi suaranya merdu dan
enak didengar di setiap rumah yang dilewati.
Ia hanya mengenakan kaus lengan panjang dan celana pendek
kolor berwarna hitam. Sebatang tongkat selalu di bawah untuk
membantu berjalan. Bebatuan diinjak tanpa alas kaki. Bebatuan
menusuk kakinya, memaksanya untuk berjalan tertatih-tatih.
Langkah kaki terhenti. Satu kampung ia kelilingi. Untuk
mengajak warga menabuh kotekan. Sambil berharap buto memun-
tahkan bulan yang dimakannya.
Warga pun memainkan alat musik tanpa berhenti dengan
irama yang sama harus berbunyi thok-thok-thek, thok-thok-gung.
Alat musik kotekan itu terdiri atas kentongan dan lesung.
Warga memainkan alat musik sambil memutari desa sambil
menyanyikan lagu “Lesung Jemengglung”.
Lesung jumengglung, sru imbal-imbalan
Lesung jumengglung, maneter mangungkung
30 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Ngumandhang ngebeki sajroning pradesan
Thok thok thek, thok thok gung
Thok thok thek, thok thek thok gung
Thok thok thek, thok thok gung
thok thok thek, thok thek thok gung
reff :
Lesung jumengglung, sru imbal-imbalan
Lesung jumengglung, maneter mangungkung
Ngumandhang ngebeki sajroning pradesan
Thok thok thek, thok thok gung
Thok thok thek, thok thek thok gung
Thok thok thek, thok thok gung
thok thok thek, thok thek thok gung
Kotekan menjadi kegiatan favorit di kampung. Dari anak kecil
sampai orang tua memainkan kotekan. Dari tempat satu ke tempat
yang lain terdengar suara kotekan. Mereka menari dan menyanyi-
kan lagu “Lesung Jemengglung”. Kotekan digelar ketika memasuki
bulan purnama dan setiap habis panen.
Kakek tua itu berhenti tepat di depan rumah sambil menatap
wajah saya. Seolah-olah ia mau mengajak saya untuk memainkan
kotekan sambil mengelilingi kampung.
Dulu kakek tua itu pernah menjadi lurah di kampung saya.
Namun, ia menyudahinya karena usianya sudah tua. Setelah
tidak menjadi lurah ia dipercaya menjadi juru kunci di kampung
saya. Ia tinggal satu rumah dengan istri dan satu orang anak.
Sebenarnya ia memiliki dua anak, tetapi anaknya yang nomor
dua merantau ke ibu kota untuk mencari rezeki.
Saya ingin ikut kakek tua itu berkeliling kampung menabuh
alat musik kotekan. Tetapi saya merasa was-was karena tidak di-
izinkan orang tua. Saya takut kalau orang tua marah. Saya ke-
sayangan. Mau apa pun tidak selalu diperbolehkan. Ke mana-
Perjumpaan yang Tak Biasa 31
mana harus didampingi oleh orang tua, padahal saya sudah
besar.
Ibu selalu menyuapi dan selalu membuatkan susu buat saya.
Saya disuruh di rumah sambil menonton tv dan selalu dibelikan
mainan robot-robotan seperti anak kecil saja. Mungkin supaya
betah di rumah. Sampai-sampai teman saya memanggil saya anak
mami.
Saya harus nekat mengikuti kakek itu. Dengan jalan pelan-
pelan lewat jendela saya keluar rumah dengan perasaan was-
was takut ketahuan oleh orang tua saya. Saya tahu bagaimana
caranya untuk membuka jendela dan tahu persis sebelah mana
yang tidak diketahui oleh orang tua saat saya keluar rumah.
Suara thok-thok-thek, thok-thok-gung masuk di dalam telinga.
Sebentar lagi sampai di sini. Saya berjalan pelan-pelan untuk ikut
gerombolan kakek itu memainkan kotekan. Sambil memendam
rasa cemas. Dalam hati berkata semoga orang tua saya tidak
mengetahui saya ikut gerombolan orang memainkan kotekan.
Saya diberi kentongan sama kakek tua sambil dibimbing
dalam memainkan alat musik itu. Baru pertama ini saya memain-
kan alat musik kotekan. Perasaan pun senang sekali. Biasanya
cuma di rumah menonton tv sambil mainan robot-robotan.
Bulan memudarkan warna hitam. Warga pun bersorak-
sorak. Saya cuma terdiam bingung sambil melihat warga bersorak-
sorak. Baru pertama ini saya berada di kerumunan warga.
Setelah buto memuntahkan bulan, kakek tua menabuh ken-
tongan dengan tujuan memanggil semua masyarakat di kampung
untuk menuju ke rumahnya. Semua masyarakat pergi ke rumah
kakek sambil membawa tumpeng. Kemudian kakek tua itu me-
mimpin acara bancakan karena buto sudah memuntahkan bulan.
Setelah kakek tua itu selesai memimpin acara bancakan semua
warga yang hadir disuruh makan tumpeng sampai habis. Saya
hanya melihat dan berada di belakang lemari sambil berharap
orang tua saya tidak datang ke acara bancakan. Karena keber-
32 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
samaan ini, mereka sampai lupa waktu. Hari pun sudah pagi.
Semua warga pulang ke rumahnya masing-masing.
“Nak, bangun, Nak,” ia membangunkanku.
Ternyata saya tertidur di belakang lemari.
“Nak, ayo sarapan dulu setelah itu saya antarkan pulang?”
Saya menggeleng-gelengkan kepala.
“Kenapa, Nak? Tidak mau?”
“Takut, Kek.”
“Takut kenapa?”
“Dimarahin sama orang tua saya.”
“Ayo Nak sarapan dulu, Nak.”
Saya diberi sarapan singkong rebus dan air teh pahit. Baru
pertama ini saya makan singkong rebus.
Saya tiup-tiup dulu singkong rebusnya sebelum saya makan
karena masih mengeluarkan asap. Satu gigitan masuk ke dalam
mulut saya. Rasanya nikmat sekali. Baru pertama ini saya me-
nikmati kelezatan singkong rebus.
“Bagaimana rasanya, Nak?”
“Enak, Kakek,” kataku sedikit malu sambil mengabil satu
singkong lagi. Kakek melihat saya dan sedikit tersenyum.
“Setelah makan singkong, tehnya diminum, Nak.”
Saya menganggukkan kepala. Satu seruputan saya memejam-
kan mata.
“Kenapa, Nak?”
“Tehnya pahit, Kek.”
“Gini caranya minum teh supaya nikmat. Sebelum minum
teh silahkan gigit dulu gula jawanya, setelah itu minum tehnya.”
Saya mencoba saran yang diberikan itu. Nikmat sekali.
“Dihabiskan singkong rebus dan tehnya, Nak.”
“Iya, Kakek.”
Sambil menikmati hidangan itu kakek menceritakan sejarah
terjadinya gerhana bulan dan matahari. Dulu nenek moyang orang
Jawa sering bercerita bahwa gerhana terjadi karena matahari atau
Perjumpaan yang Tak Biasa 33
bulan sedang dimakan raksasa alias buto. Kisahnya bermula saat
para dewa akan membagi air penghidupan atau tirta amerta.
Namun karena tirta amerta terbatas, pimpinan dewa membagi
rata secara antre.
Karena cuma terbatas maka memberinya waton rata (asal
rata). Oleh pimpinan dewa disiapkan tempat untuk ngantri para
dewa, lalu meminumkannya menggunakan daun beringin. Di-
sendok terus dimasukkan ke mulut dewa. Khasiatnya, para dewa
tidak akan mati.
Pembagian tirta amerta ini pun diketahui buto. Karena ingin
meminum tirta amerta itu, buto pun mengubah wujud aslinya
dengan menyamar seperti para dewa agar tak ketahuan. Namun,
setelah antre dan mendapat giliran minum, dewa matahari, Bethara
Surya, memergokinya.
Tapi terlanjur sudah sampai mulut. Baru sampai segitu lang-
sung dipanah lehernya oleh Bethara Surya.
Usai dipanah Bethara Surya, tubuh buto terbagi dua. Badan-
nya jatuh ke bumi lalu menjadi lesung dan kepalanya melayang
di angkasa. Namun, kepala buto masih terus hidup karena sudah
meminum tirta amerta.
Buto pun berjanji akan membalas dendam dengan memakan
matahari dan bulan. Saat hari pembalasan tiba, buto memakan
matahari atau bulan dengan amarahnya. Saat matahari atau bulan
ditelan buto itulah fenomena gerhana terjadi, lalu warga mem-
bunyikan kentongan dan lesung yang merupakan badan buto agar
melepaskan matahari atau bulan yang ditelannya.
Saat gelap (karena gerhana) mereka memukul lesung dan ber-
teriak, hoooi buto itu aja diuntal, lepehen (raksasa, itu jangan di-
telan, muntahkan) dan sambil menyanyikan lagu “Lesung Jemeng-
glung”. Karena leher buto hanya sebersar itu, tubuhnya jatuh di
bumi. Akhirnya lepaslah matahari atau bulannya. Oleh karena
itu, kalau ada gerhana bulan atau matahari, warga di sini selalu
memainkan kotekan.
34 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Saya mendengarkan cerita kakek sambil menikmati singkong
rebus dan secangkir teh hangat.
“Nak, sebagai generasi muda, kamu harus melestarikan
tradisi kotekan peninggalan nenek moyang kita.”
“Iya, Kakek. Tapi saya belum begitu bisa memainkan alat
musik kotekan, Kek?”
“Sini ikut Kakek.”
Saya mengikuti langkah kaki kakek itu. Ia mengajakku ke
kebun yang banyak tanaman bambu.
“Kita mau ngapain, Kek?”
“Saya akan mengajari kamu bikin kentongan. Selain bisa me-
mainkan alat musik kentongan, kamu harus bisa mebuat alat
musiknya.”
Kakek dengan rasa sabar membimbing membuat kentongan.
Tangan yang semula halus menjadi kasar tidak saya hiraukan
lagi. Suatu kebanggaan bisa membuat satu kentongan. Akan tetapi,
kentongan yang saya buat tidak sebagus buatan kakek.
Setelah kentongan jadi, saya diajari memainkannya. Bagai-
mana cara memukul kentongan yang benar, nada dan tempo yang
pas. Kakek juga mengajari saya menyanyikan lagu “Lesung
Jemengglung”.
Tidak terasa matahari sudah di atas kepala. Kakek meng-
ajakku pulang. Setelah sampai rumahnya, kakek menawarkan
mau mengantar saya pulang.
“Nak tak anterin pulang, ya?”
Saya diam, tidak mau menjawab pertanyaan dari kakek.
“Kenapa diam, Nak?”
“Takut, Kek.”
“Takut Kenapa, Nak, takut dimarahin orang tua kamu, Nak?
Tidak usah takut Nak, kan kakek yang anterin pulang. Tidak
bakalan marah orang tua kamu.”
“Saya mau di rumah Kakek saja. Saya betah di rumah Kakek.”
Perjumpaan yang Tak Biasa 35
Tiba-tiba orang tua saya datang ke rumah kakek. Saya lang-
sung lari ke dalam rumah kakek sambil menangis. Kakek meng-
hampiri. Ia menuntun saya ke luar rumah.
“Nak, jangan nangis, orang tua kamu tidak akan marah.”
Saya sambil melihat orang tua saya. Orang tua saya terse-
nyum dan tangisan saya terhenti oleh senyuman mereka. Kemudian
yang saya dapatkan pelukan hangat dari orang tua.
***
36 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
6.
Kontes Nyai Dapu
Dini Lestari
Bila ada seorang wanita hebat yang pernah hidup di zaman
Walisongo, dia adalah Nyai Dapu. Nama asli sebenarnya
adalah Ni Pandan Sari. Dia merupakan adik kandung dari Ki
Ageng Pandanaran, bupati Semarang yang pertama. Dia memilih
tinggal di Desa Boja, Kendal hingga akhir hayatnya.
***
Beberapa hari yang lalu sebuah pengumuman keluar dari
kecamatan. Dicari seorang putri untuk dijadikan figur Nyai Dapu.
Pencarian figur Nyai Dapu seperti ini sudah setiap tahun di-
selenggarakan di desa ini. Puncaknya adalah saat Syawalan, ada
arak-arakan Nyai Dapu yang berhenti di makam tokoh wanita
ini.
Menjadi yang terpilih pada kontes Nyai Dapu adalah ke-
banggaan tersendiri bagi para gadis remaja. Wanita yang terpilih
menjadi figur Nyai Dapu akan dirias dan diarak keliling desa
naik kuda pada saat Syawalan. Dia akan menjadi Queen of the Year
di desa ini. Pemenang kontes, selain mendapatkan hadiah, juga
dapat meningkatkan popularitasnya di desa. Selanjutnya, dia bisa
mendapatkan kemudahan untuk memperoleh apa pun yang di-
inginkannya. Seperti halnya para wanita yang terpilih pada pe-
milihan Nyai Dapu pada tahun-tahun sebelumnya. Ada yang
Perjumpaan yang Tak Biasa 37