The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perjumpaan yang Tak Biasa Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal (Esti Apisari, S.Pd.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hnfaamalia20, 2022-10-20 04:37:44

Perjumpaan yang Tak Biasa Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal

Perjumpaan yang Tak Biasa Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal (Esti Apisari, S.Pd.)

Aku bersyukur dengan apa yang terjadi. Tanpa campur
tangan Gusti Allah tidak mungkin semua impianku ini kuraih.
Suamiku, akhirnya bintang yang tinggi dapat kugapai. Kini,
kembang hitam telah bersemi.

***

88 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


12.
Pandansari

(Cerita Rakyat “Asal-Usul Kedhung Pengilon”)

Aslam Kussatyo dan Wahyu Purwanti

Tiba-tiba suasana hening menyelimuti ruangan. Jawaban
Pandansari sungguh mengejutkan rombongan para
utusan. Tak terkecuali bagi Bagus Wuragil. Untuk sesaat, pemuda
tampan itu menyurutkan tubuhnya beberapa jengkal. Dahinya
mengernyit tanda bingung. Sungguh, jawaban perempuan itu
akan menempatkan dirinya dalam kesulitan. Spontan ia melirik
para utusan yang lain. Tanpa dikomando, belasan pasang mata
itu pun saling melirikkan mata dalam tatapan ketakmengertian.
Semua tampak menahan napas karena perasaan yang ‘entah’,
antara bingung, takut dan malu berkecamuk bersamaan.
Tanpa beban, mata Sri Pandansari memandangi satu persatu
rombongan utusan yang memenuhi pendapa. Namun, saat mata
indah itu sampai pada sosok Wuragil. Dalam hitungan detik pupil
matanya melebar. Bersamaan dengan itu, bibirnya yang indah
tiba-tiba tipis mengembang. Apalagi saat dilihatnya Wuragil
tampak kecipuhan, sinar matanya justru tampak makin menggoda.
“Mengapa kalian diam? Apa kurang jelas jawabanku?” Ter-
dengar suara Pandansari memecah keheningan. Mata indah perem-
puan aduhai itu memandang penuh makna ke arah Wuragil.

Perjumpaan yang Tak Biasa 89


Sekejap kemudian mata bening itu melirik nakal ke arah hadirin.
Tak satu orang pun mampu menanggapi.

“Tapi bukan ini tujuan kami datang kemari, Pandansari,”
jawab Wuragil memberanikan diri memecah kebuntuan sambil
menundukkan wajah. Ia sama sekali tidak pernah menyangka
Pandansari akan menyampaikan segamblang itu. Secara lang-
sung di hadapan para utusan lamaran lagi!

Getaran suara Wuragil menyiratkan gejolak batin yang sangat
asing. Guratan wajahnya menunjukkan kebingungan luar biasa.
Tampak jelas bahwa ia sedang berpikir keras. Sungguh, Wuragil
tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila ia menyam-
paikan hal ini kepada Denowo, kakak seperguruannya. Bahkan
untuk berucap pun, tentu mulutnya tak akan mampu. Ia paham
benar tabiat Denowo.

“Mudah sekali, Ragil. Kamu sampaikan saja apa yang ku-
katakan kepada Kakang Denowo. Persis sama! Beres, kan?” sergah
Pandansari dengan suara lantang tanpa beban.

“Tapi ….” Wuragil berusaha memotong pembicaraan perem-
puan cantik yang juga kakak seperguruannya itu.

“Kamu takut? Dengar Wuragil, selama di padepokan kita
diajarkan oleh guru untuk saling menjaga. Aku selalu mematuhi
ajaran Bapa Guru. Tapi aku tidak bisa mengkhianati gejolak batin-
ku terhadapmu. Aku yakin kamu juga tahu itu!” ujar Pandansari
lembut namun penuh wibawa.

“Tapi keadaan saat ini berbeda, Putri. Aku tidak bisa!”
“Kamu tidak bisa menerima cintaku? Atau jangan-jangan me-
nurutmu tidak pantas bila seorang perempuan menyampaikan rasa
cintanya kepada lelaki pujaannya dalam situasi yang seperti ini?!”
“Bukan begitu maksudku! Tapi bagaimana dengan Kakang
Denowo ….” Wuragil tidak mampu melanjutkan ucapannya.
“Tentang Kakang Denowo, kita hadapi bersama-sama.
Sekarang tidak ada yang perlu ditutup-tutupi agar kita tidak ke-
cewa sepanjang usia.”

90 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


Tampak raut gusar dan kebingungan di wajah Wuragil. Sekujur
tubuhnya dibasahi oleh keringat. Ia tak menyangka akhirnya justru
akan begini. Semua orang tercekat mendengar pernyataan
Pandansari. Namun, tak lama salah seorang utusan angkat bicara.

“Maaf, Nimas Pandansari. Apa yang terjadi di antara kalian,
semua tidak ada hubungannya dengan kami. Tapi, kami harap,
apa pun keputusan yang Nimas ambil, jangan sampai mengor-
bankan kami yang datang ini. Kami yakin, Raden Denowo akan
sangat marah kepada kami apalagi kepada kalian berdua. Bahkan,
Dukuh Ploso Kuning ini pasti akan menjadi karang abang, Nimas”
Sigar Gilang, salah satu utusan kepercayaan Denowo, berucap
ragu. Suaranya parau hampir tak terdengar.

Seluruh utusan yang ada terkejut melihat keberanian Sigar
Gilang menyampaikan pendapat. Keberanian lelaki paruh baya
itu ternyata mampu membangkitkan keberanian teman-teman-
nya walaupun hanya sekadar dalam bentuk mengiyakan pen-
dapat. Itu pun karena mereka bersuara bersama-sama. Sebab nyata-
nya setelah itu semua terdiam kembali. Tak ada seorang pun yang
berani berbicara lagi. Keberanian itu ternyata hanya berlangsung
beberapa menit. Masing-masing kembali dicekam kebingungan.

Dalam kebekuan itu selintas Wuragil tiba-tiba ingat kembali
pesan Denowo. Ia diminta melamarkan Pandansari untuk diri-
nya. Sejak awal ia memang sudah ragu. Tapi, mengingat perangai
Denowo yang kasar dan selalu ingin menang sendiri, sama sekali
ia tak berani menentangnya. Itulah sebabnya ia minta didampingi
Sigar Gilang, orang kepercayaan Denowo. Ia melihat, Sigar Gilang
adalah orang tua yang bijak dan tidak sekasar kakak seperguru-
annya itu. Bahkan, dalam beberapa hal Sigar Gilang mampu me-
ngendalikan sesembahannya.

Wuragil sebenarnya sudah membayangkan penolakan ini
akan terjadi. Sebab, selama di padepokan, ia melihat Pandansari
sering menghindari kakak seperguruan mereka itu. Bahkan, sering
kali ketika Raden Sambong, guru mereka, meminta keduanya

Perjumpaan yang Tak Biasa 91


melaksanakan tugas ke luar padepokan berdua, Pandansari selalu
menolaknya dengan halus. Dengan berbagai cara, perempuan
itu mengelak dan lebih memilih bertugas dengan dirinya. Hal
itu disadari betul oleh Denowo.

“Mengapa Pandansari selalu menolak bertugas dengan aku,
Wuragil?”

“Maaf, aku tidak tahu, Kakang. Sebaiknya Kakang bertanya
langsung saja kepadanya agar lebih jelas.”

Namun, tampaknya saran itu tak pernah berani Denowo
sampaikan langsung kepada Pandansari. Mungkin karena pada
akhirnya Denowo tahu bahwa Pandansari lebih dekat dengan
Wuragil. Tahun demi tahun persahabatan keduanya bukan hanya
sekadar sebagai teman seperguruan, tetapi tampaknya lebih dari
itu. Berkali-kali Denowo melihat keduanya berlatih olah kanu-
ragan berdua. Pernah pula Denowo menyaksikan mereka ber-
senda gurau di tepi sendang.

Hal ini tentu membuat hati Denowo terbakar api cemburu.
Ia merasa kedua adik seperguruannya telah menyepelekan dan
mempermainkan dirinya. Apalagi ketika dengan sengaja Denowo
melaporkan perilaku keduanya kepada sang guru, anehnya selalu
hanya ditanggapi dengan dingin. Seolah-olah Raden Sambong
tidak menganggapnya sebagai sebuah pelanggaran atau aib.
Pelan tapi pasti, perasaan iri berkembang menjadi bibit kebencian
dan dendam dalam benak Denowo terhadap kedua adik seper-
guruannya itu. Denowo berniat membalas dendam dan akan
membunuh keduanya, suatu saat nanti, setelah mereka keluar
dari padepokan.

Barangkali inilah saatnya! Ah, tiba-tiba merinding bulu kuduk
Wuragil. Ia tak mengira ternyata dendam itu masih ada di benak
Denowo. Ya, sekarang lah saat yang mungkin paling tepat bagi
Denowo untuk melaksanakan niatnya. Lamarannya ditolak oleh
Pandansari dan perempuan itu justru kemudian menjatuhkan
pilihan hati kepada dirinya.

92 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


“Bagaimana aku harus mengatakan ini semua kepada kakang
Denowo? Gusti, lalu apa yang harus kulakukan?” ucap Wuragil
dalam hati.

Di tengah kebekuan itu, tanpa diduga seorang pun, Watu
Gung yang duduk di baris paling belakang perlahan menyelinap
keluar dari pendapa. Tidak seorang pun menyadarinya karena
semua orang sedang terkesiap dengan jawaban Sri Pandansari
menanggapi lamaran junjungan mereka, Raden Denowo. Per-
lahan ia mengendap di antara pohon nagasari yang berjajar di
halaman. Matahari senja mambantu menyembunyikannya dari
pandangan orang lain. Pelan ia menuju tempat kuda-kuda yang
ditambatkan. Setelah merasa aman, ia mendekati kuda tunggang-
annya. Segera ia melompat ke punggung kuda. Dalam sekali
hentakan, kuda itu pun seketika berlari dengan kencang. Hanya
satu tujuan, padepokan Alas Roban!

“Sekarang pilihan ada pada dirimu, Nakmas. Kamu katakan
atau tidak hasil lamaran ini, kita pasti akan mati. Kami tidak mau
mati sia-sia. Kami akan melawan sekuat tenaga menghadapi ke-
marahan Raden Denowo. Saya sarankan kalian berdua untuk se-
gera meninggalkan Ploso Kuning. Kalian masih punya waktu
untuk menyelamatkan diri. Tinggalkan segera tempat ini, berlari-
lah ke arah timur!” Tiba-tiba terdengar suara Sigar Gilang penuh
wibawa. Entah mengapa, ia merasa harus menyelamatkan Sri
Pandansari dan Bagus Wuragil.

Seolah sebagai sebuah komando, ucapan Sigar Gilang itu
mengubah acara lamaran menjadi persiapan peperangan. Orang
tua itu segera memimpin anak buahnya bersiap menghadapi ke-
marahan junjungannya. Mereka segera kembali ke arah Alas
Roban untuk memapas kedatangan pasukan Raden Denowo di
tengah perjalanan. Paling tidak, perlawanan mereka akan sedikit
membantu pelarian Pandansari dan Wuragil ke arah timur.

***

Perjumpaan yang Tak Biasa 93


Malam berselimut aroma kematian. Tampak dua bayangan
manusia melangkah ringan tergesa di antara sintrum pepohonan.
Langkah mereka bagai dua ekor tupai yang bergerak dalam
lompatan-lompatan ringan meski penuh tenaga. Tak terasa telah
berkilometer mereka lalui. Sawah, tegalan, hingga memasuki
rimbunan hutan. Di tangan keduanya tergenggam bekal seada-
nya. Sengaja mereka tidak menunggang kuda di tengah malam
gelap itu agar tidak mudah diketahui keberadaan mereka oleh
lawan. Hanya berbekal ilmu batin yang telah digemblengkan
Pangeran Benowo, mereka menuju ke arah timur. Tanpa lelah,
tanpa putus asa.

Sementara jauh di arah barat, tampak semburat merah dengan
asap membubung ke langit. Dukuh Ploso Kuning telah menjadi
lautan api. Sejauh ini tidak terdengar lagi denting golok beradu.
Sudah jauh suara teriakan dan jerit tangis penduduk dukuh kecil
itu. Semuanya sudah tertinggal jauh di belakang.

Malam semakin larut. Kedua insan itu terus melangkah. Hingga
sampailah mereka di tepi sebuah sungai yang sangat lebar.
Rasanya tidak mungkin mereka menyeberangi sungai itu di
malam segelap ini. Maka mereka pun memutuskan untuk ber-
istirahat sejenak. Bagaimana pun mereka harus mengumpulkan
tenaga untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Apalagi tak se-
orang pun dapat menduga apa yang bakal terjadi. Setelah mem-
basuh wajah dengan air sungai mereka duduk bersila di bawah
sebatang pohon besar. Sambil tetap waspada keduanya duduk
bermeditasi.

Fajar merekah. Semburat merah di cakrawala mulai meng-
ganti kegelapan. Embun masih membasahi sekujur bumi. Sementara
angin darat menggigilkan ranting dan daunan. Sri Pandansari
dan Bagus Wuragil baru saja akan beranjak ketika mereka melihat
sekelebat bayangan menyeberangi sungai hanya dengan pelepah
daun kelapa. Mereka akan segera bersiap melakukan sesuatu saat
hembusan angin lembut menerpa tubuh mereka. Disusul kemudian

94 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


sebuah suara halus menyejukkan yang sudah sangat mereka
kenali, menyebut nama mereka. Sontak mereka pun terkejut se-
raya menjura hormat.

“ Bapa Guru, salam hormat kami untuk Bapa!”
“Sri Pandansari dan kau, Bagus Wuragil. Berdirilah! Aku
sudah tahu semua yang terjadi. Itulah sebabnya mengapa aku
sudah kembali meskipun belum waktunya.”
“Maafkan saya, Bapa,” ucap Wuragil sambil menjura ber-
usaha mencium telapak kaki gurunya.
“Semua sudah terjadi. Yang terpenting harus kalian lakukan
sekarang adalah menyelamatkan diri kalian. Nah, Wuragil, kamu
laki-laki. Kamu lah yang harus menghadapi kemarahan Denowo.
Kalau kamu tetap ingin hidup, hadapi dan kalahkan ia!”
“Bagaimana saya bisa mengalahkan kakang Denowo, Guru?!”
Jawab Wuragil terbata-bata. Ia tahu persis ilmunya belum sehebat
Denowo. Maka sangat sulit kiranya untuk mengalahkan kakak
seperguruannya yang sudah menguasai banyak ilmu dari ber-
bagai guru.
“Jangan khawatir. Pegang dan bawalah keris bapa ini. Pakai-
lah sebagai piandel.”
Sambil berkata demikian, Raden Sambong menyerahkan
keris Jalak Pelengkang Kurungan andalannya kepada Bagus
Wuragil.
“Pesan Bapa, jangan sampai kau lupa. Keris ini harus kau arah-
kan tepat di dada kiri Denowo. Sementara itu, biarkan Pandan-
sari ke padepokan dulu bersamaku. Nah, Wuragil, berhati-hati-
lah. Semoga Tuhan melindungimu!”
Sambil berkata demikian, segera Raden Sambong berkelebat
meninggalkan Wuragil. Sementara itu Sri Pandansari segera meng-
ikuti gurunya kembali ke padepokan. Setelah menjura ke arah
perginya Raden Sambong, Bagus Wuragil atas petunjuk gurunya
itu segera menyeberangi sungai dan berjalan ke arah tenggara.
Namun, dengan piandel keris Jalak Pelengkang Kurungan di

Perjumpaan yang Tak Biasa 95


tangan, langkah Wuragil tak gentar sedikit pun. Hatinya nanar.
Langkahnya penuh keyakinan. Keraguan dan ketakutan tertinggal
entah di mana.

Matahari belum sepenggalah. Sinarnya tak lagi menyisakan
basah embun. Langkah Bagus Wuragil belum terlalu jauh keluar
dari sebuah perkampungan kecil. Tiba-tiba telinga Wuragil me-
nangkap suara beberapa langkah kuda berlari. Beberapa detik
kemudian terdengar pula namanya disebut dengan gelegar ke-
marahan dari kejauhan. Dalam beberapa kejap entah mengapa
hati Wuragil tiba-tiba berdesir. Tak berjarak lama, menyusul tiga
penunggang kuda tiba-tiba telah menghadang jalannya. Setelah
asap debu terbang diembus angin, barulah Wuragil dapat me-
mandang dengan jelas siapa yang datang. Denowo, kakak seper-
guruannya, didampingi Watu Gung dan Ganda Yaksa pengiring
setianya. Muka mereka trembesi. Tatapan mata mereka rajah api.

Sesaat tubuh Wuragil bergetar. Cuma sesaat. Karena selanjut-
nya otak dan hatinya telah teraliri darah dengan sempurna lagi.
Sementara, Denowo tampak terkejut dan kecewa karena yang
ditemuinya hanya Wuragil. Di mana Pandansari, pikirnya.

“Di mana calon isteriku Pandansari?” tanya Denowo kepada
Wuragil dengan suara kasar.

“Aku tidak tahu,” jawabnya singkat.
“Sudah berkhianat, jadi pembohong pula! Dasar manusia tak
tahu diuntung! Inilah saatnya kuhabisi nyawamu, manusia licik!
Hiaaaaat ...!”
Sebelum suaranya menghilang, tubuh Denowo sudah me-
lesat dari kudanya menerjang menuju adik seperguruannya. Ter-
jangan pertama ini hanya mengandalkan tangan kosong. Dalam
perkelahian tangan kosong, Wuragil dapat mengimbangi jurus-
jurus awal Denowo. Namun, pada jurus-jurus selanjutnya, ia me-
mang bukan tandingan kakak seperguruannya. Berkali-kali serang-
an Wuragil dengan mudah dipatahkan. Bahkan, tidak jarang tubuh-
nya keteter hingga pontang-panting. Tidak cuma itu, beberapa

96 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


pukulan Denowo telah berhasil mendarat di perut, rusuk, dan
punggung Wuragil. Namun, baru sesekali saja Wuragil dapat
membalas. Boleh dikatakan, perkelahian dua saudara seperguru-
an itu memang kurang berimbang. Denowo begitu menguasai
gelanggang, sedangkan adik seperguruannya sebaliknya.

Beberapa menit perkelahian itu berlalu. Kelihatannya seperti
ada kegamangan di benak Denowo untuk mengakhiri per-
kelahian dengan membunuh musuhnya. Ya, kalau saja Denowo
mau, rasanya akan dengan mudah ia membunuh Wuragil. Dari
tingkat olah kanuragan dan olah batin, Denowo memang di atas
Wuragil. Namun dalam perkelahian kali ini, agaknya ketinggian
ilmu itu tidak bertahan lama. Entah mengapa Denowo kelihatan
makin lamban bergerak. Walau baru beberapa menit berlangsung,
tubuh Denowo sudah basah kuyup dengan keringat. Seolah
tenaganya telah terserap habis layaknya dalam perkelahian ber-
hari-hari. Setiap serangan yang ia lakukan jadi mudah dipatahkan
oleh lawan karena kelambanan gerak. Ia kelihatan menang
meskipun sebenarnya kalah total.

Denowo kian putus asa. Daripada menanggung malu, segera
ia mencabut keris pusakanya. Ia langsung menyerang Wuragil
dengan jurus-jurus mematikan. Alih-alih mampu mengalahkan
lawan, ia bahkan kembali limbung kehabisan tenaga. Serangan-
nya jadi sangat mentah hingga mudah dipatahkan. Sungguh,
Denowo benar-benar tidak dapat memahami apa yang terjadi.
Hampir saja kepercayaan dirinya hilang. Hingga suatu saat, raha-
sia itu terkuak. Ketika ia kambali menyusun serangan selanjutnya,
Wuragil tampak cemas. Ia segera mengeluarkan keris andalan
gurunya.

Betapa terkejutnya Denowo melihat keris yang ada di tangan
Wuragil. Ia sangat mengenali keris itu. Ya, itu adalah keris pusaka
gurunya. Mengapa saat ini ada di tangan Wuragil? Bagaimana
bisa? Apakah Wuragil telah mencuri dari gurunya? Ah, pertanyaan-
pertanyaan yang tidak mampu ia pecahkan.

Perjumpaan yang Tak Biasa 97


Namun sebaliknya, kehadiran keris itu kini menjadi jawaban
mengapa ia kehabisan tenaga. Ya, karena pusaka gurunya me-
nempel di tubuh Wuragil, tenaga sekitar, apalagi yang bersifat
menyerang, akan tersedot energinya. Benar, keris itu memang
mempunyai daya kekuatan menyerap energi di sekitarnya yang
bermaksud menyerang.

Secepat kilat ia mengubah strategi perkelahiannya. Ia salur-
kan kekuatan tenaga dalamnya ke keris di tangannya. Sementara,
ia biarkan tubuhnya ringan bak penari. Pikirannya ia bebaskan
dari beban membunuh. Sungguh, strategi ini hanya bisa dilaku-
kan oleh orang dengan tataran ilmu cukup tinggi. Menyerang
seolah tanpa tenaga, namun pada gilirannya ia akan menangkis
atau menusuk dengan kekuatan penuh. Sekalipun energi Denowo
masih belum sebanding dengan energi pusaka milik gurunya,
paling tidak strategi ini mampu memompa sebagian kepercayaan
diri lelaki brangasan itu. Ia kembali bersemangat.

Matahari di pucuk pohonan. Udara panas kuat memanggang
seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Demikian pula asap
dan debu di sekitar arena perkelahian yang berlangsung makin
seru. Beberapa kali Wuragil berhasil mengelak dan menangkis.
Bahkan, beberapa kali pula ia berhasil menyerang. Dengan stra-
tegi barunya, Denowo beberapa kali mampu mengecoh lawan.
Tampak ia terdesak namun kemudian bisa menangkis dengan
kekuatan besar. Hal itu membuat serangan Wuragil sering ter-
patahkan. Bahkan dapat terbalas dengan hentakan atau pukulan
cukup kuat.

Matahari mulai condong ke barat. Kedua pendekar itu belum
juga menyelesaikan perkelahiannya. Hingga pada suatu kesem-
patan Wuragil memperoleh peluang yang sangat bagus untuk
menyerang. Secepat kilat ia hunus kembali keris piandel gurunya.
Dalam raungan hebat, ia melompat dengan posisi keris lurus
mendatar. Seolah cakar harimau yang mencengkeram, ia hun-
jamkan kuat-kuat keris itu ke dada Denowo yang sebelah kiri.

98 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


Teriakan Wuragil bagai suara raungan macan gembong. Hingga
pada sedetik sebelum ujung keris itu menusuk dadanya, Denowo
segera memapas tangan musuhnya. Dengan gerakan bak penari
ditangkisnya tangan itu dengan kekuatan luar biasa. Ternyata
benturan kedua tangan yang penuh tenaga dalam ditambah
pengaruh energi dari pusaka masing-masing dampaknya sung-
guh tak terbayangkan.

Rasa ngilu dan panas tiba-tiba menjalar di lengan kedua pen-
dekar itu. Tanpa sadar mulut mereka memekik kesakitan. Tubuh
mereka bergetar dahsyat hingga masing-masing terlempar tak
terkendali. Tumbang! Keadaan itu berlangsung beberapa saat.
Tanpa daya keduanya berusaha berdiri. Sempoyongan mereka
berusaha berdiri kembali tapi gagal. Mereka kembali terkapar.
Tanpa daya! Rasa panas itu menjalar sampai ke dada hingga te-
rasa mau pecah. Bahkan, sekujur tubuh mereka merasakan ngilu
yang luar biasa!

Keadaan itu membuat Wuragil tidak menyadari bahwa keris
Jalak Pelengkang Kurungan piandel gurunya itu kini sudah
terlepas dari genggaman tangannya dan terlempar entah ke mana.
Ternyata keris sakti itu terlempar jauh hingga masuk ke dalam
sebuah kedhung. Dan, keanehan pun terjadi! Begitu keris itu
menyentuh air yang ada dalam kedhung, mendadak terlihat
cahaya biru berkilauan menyinari daerah sekitarnya. Begitu
berkilaunya, sehingga air kedhung tampak bagai pengilon (cermin).
Maka, jadilah kedhung itu diberi nama Kedhung Pengilon.

Matahari lindap di perbukitan. Malam menjelang. Sinar biru
Kedhung Pengilon, memancar penuh pesona mistis.

***

Kendal, 2 Juni 2020

Perjumpaan yang Tak Biasa 99


13.

Sayap Ayam Dimakan Perawan

Dhiyah Endarwati

S eperti musim panen tahun-tahun sebelumnya. Jika
hasilnya sudah berada di rumah, aku merasa para
malaikat sedang menyambangi rumahku. Betapa tidak? Puluhan
karung jagung sudah siap aku jual. Aku merencanakan hendak
membeli beberapa barang sesampainya di pasar. Mungkin gelang
emas, baju baru, dan daging ayam. Apakah hasil panenku bisa
melunasi hutang pada tengkulak? Tiba-tiba tanya itu menyelinap
dalam benakku.
“Mak, Emak jadi jual jagung besok ini?”
Suara itu membuyarkan lamunanku.
“Bapak ikut atau tidak, Mak?” pertanyaan selanjutnya se-
belum aku menjawab.
Aku tatap wajahnya sambil menggeleng dan mengangguk.
Kini dia sudah menjadi perawan. Kulitnya kuning, hidungnya
sedikit mungil, selaras pipi bakpaonya. Sepertinya dia sangat
capek, terlihat dari rambut sebahunya yang acak-acakan. Seorang
anak petani jagung yang bermimpi menjadi polisi. Parasnya ayu
terlihat ketika dia sedang tersenyum. Kini dia sudah kelas XII
SMA. Belum lama dia menjadi bayiku. Kugendong dan kutimang
setiap hari. Kini tulang ini sudah berkeluh kesah. Memangku
pun sudah tidak mampu lama.

100 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


“Mak, besok beli daging ayam. Dimasak semur,” rengeknya.
Aku tersenyum, sambil kupeluk dia yang duduk di samping-
ku. Anak semata wayang kami ini memang sedikit manja. Manja
yang tidak kami manjakan berlebihan.
Pagi hari tiba. Aku berkemas ke pasar. Jagung kusetorkan
pada tengkulak yang sudah meminjamkan modal tanam se-
belumnya. Ditimbang dan dihitung tidak akan selisih sedikit pun.
Tengkulak bukan berarti membeli jagung kami di bawah harga.
Tengkulak meminjami para petani modal tanam. Ketika panen
tiba, petani tidak boleh menjual jagung ke pembeli lain. Ikatan
hutang itu membuat kami selalu terbantu. Bantuan modal tanam
dari pemerintah belum pernah sampai ke kampung kami.
Adapun pinjaman harus ada jaminannya. Jadi, kami terbiasa
berhubungan dengan tengkulak.
Perjalananku ditemani hawa sejuk pegunungan. Menyaksi-
kan sibuknya kota kecamatan dari pandanganku di pasar. Sambil
kuhitung-hitung uang yang kudapat dari menjual jagung tadi.
Pedagang-pedagang berusaha mencuri hati orang yang lewat
depan lapaknya. Lalu-lalang pembeli yang pura-pura sibuk
memilih, tetapi kadang hanya mengatakan maaf dan pergi.
Aku ikuti alur kesibukan itu menuju pedagang daging ayam
pesanan perawanku. Aku keluarkan uang tiga puluh ribu, kira-
kira dapat satu kilo daging ayam. Penjualnya juga tidak lupa
memberiku bonus berupa satu sayap ayam utuh. Setelah penjual
mengulurkan daging dalam kantong plastik berwarna hitam, aku
tidak lupa mengucapakan terima kasih, tersenyum, dan pergi.
Kembali aku buka dompet. Masih ada sisa, mungkin cukup
untuk membeli lima gram emas. Emas yang harganya melam-
bung tinggi ketika musim panen seperti ini. Dompet aku tutup
lagi. Aku tidak yakin. Aku pulang dulu saja. Mungkin suamiku
ada simpanan uang. Dari kerjanya di ladang orang lain di sela
mengerjakan ladang sendiri.

Perjumpaan yang Tak Biasa 101


Sesampainya di rumah, daging ayam aku masak. Masak semur,
pedas, manis. Aroma bumbu yang sedang kutumis jalan-jalan
ke hidung seisi rumahku. Rumah yang isinya aku sendiri. Anakku
belum pulang, masih di sekolah. Jam di dinding menunjuk angka
sebelas. Tiga jam lagi dia baru tiba di rumah. Daging ayam sudah
hampir matang. Aduh, ternyata kecap habis. Aku ambil uang
dua ribu kemudian pergi ke warung. Hampir matang hanya ting-
kat kematangannya belum maksimal. Jika ini kompetensi di Master
Chef Indonesia yang ditayangkan di RCTI pasti Chef Juna marah.
Api aku matikan terlebih dahulu.

“Mau ke mana Mak Tiwi?” tanya tetanggaku. Seorang janda
beranak satu yang belum lama bercerai. Perceraiannya akibat dari
ketidakcocokan mertua terhadap dirinya. Mungkin juga dampak
dari menikah muda karena pernikahannya dia dulu seusia anak-
ku sekarang.

“Ini mau ke warung,” jawabku.
Aku menatap tiga perempuan yang sedang bekerja sama
mencari kutu di rambut mereka.
“Mak Tiwi, walaupun sudah berumur masih terlihat segar,
wajahnya masih cantik.”
“Dan itu menurun ke Abita, ya.”
“Mungkin umur Mak Tiwi sudah kepala empat.”
Mereka secara bersahut-sahutan membicarakan aku dan
anakku. Aku terlalu terbiasa mendengar mereka memuji seperti
itu. Aku menganggapnya berlebihan. Tapi, karena biasa aku
dengar, ini tidak membuatku besar kepala. Aku hanya bisa ter-
senyum melewati mereka. Kemudian melanjutkan perjalananku
ke warung.
Setelah kecap aku dapatkan, aku segera pulang. Azan zuhur
pasti akan segera dikumandangkan. Suamiku tidak lama lagi
pulang dari ladang. Tadi pagi dia mengatakan mau memetik buah
pisang yang hampir masak pohon. Pesanan tetangga untuk hajat-
an. Membawa pulang pisangnya tentu berat, berjalan kaki cukup

102 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


jauh. Pasti perutnya sudah keroncongan lapar. Keringatnya ber-
cucuran di kulitnya yang hitam. Melihatnya selalu kasihan. Tulang-
tulang kuat sudah terbungkus kulit yang kini kendor. Pertanda
dia tidak lagi memiliki usia muda.

Sampai di rumah, kunyalakan kembali api untuk melanjut-
kan masak ayam semur tadi yang belum dikecapi. Setelah semua
matang, aku siapkan di meja makan. Seketika mataku terbelalak.
Suamiku telah duduk di kursi meja makan.

Masuknya kapan? Pastinya tidak melalui pintu dapur karena
aku tidak melihatnya.

“Mak, kamu bisa membantuku?” tanya suamiku mencairkan
suasana di meja makan ini, “Aku mau membawa pupuk untuk
tanaman pisang kita, tapi tidak kuat kubawa sendiri. Mungkin
kamu bisa bantu aku barang membawa sepertiga,” lanjut
suamiku.

Belum juga dia istirahat sudah terpikir pekerjaan selanjutnya.
“Iya, nanti aku bantu bawa,” jawabku.
Walaupun tidak mampu membawa banyak, aku pasti mampu
membawa sepertiga atau membawa seperempat bagian.
Sambil kusodorkan piring berisi nasi, “Bapak mau paha atau
dada?” tanyaku.
Seperti dugaanku pasti bapak akan menjawab dada. Seperti
biasanya apa pun rasa masakanku suamiku pasti memuji. Dia
selalu membuat aku seperti ahli masak lulusan Master Chef
Indonesia. Padahal, kadang masakanku asin. Malah pernah satu
hari rasanya pahit karena gosong. Begitu pun dia masih ter-
senyum sambil memujiku.
Sebelum mentari berada di sisi barat, kami berangkat mem-
bawa pupuk menuju kebun. Kulihat sambutan pohon pisang
yang sudah mulai menampakkan bunga warna merah. Beberapa
tanaman lain yang melambai membuat alam ini patut kami
syukuri.

Perjumpaan yang Tak Biasa 103


Hari ini memang raja sinar tidak malu-malu lagi. Bahkan,
hingga jarum jam menunjuk angka empat dia masih terlihat jelas.
Pasti Abita sudah pulang dan sudah makan semur ayam pesan-
annya. Aku tak sabar bertemu dan mendengar ceritanya hari ini
tentang teman-teman sekolahnya.

Dia juga tidak pernah lupa mendeskripsikan seluruh pelajar-
an yang didapat di sekolah. Guru pun tidak luput ditirukan dari
keisengan menceritakan yang terjadi di sekolah. Abita adalah
anugerah Tuhan yang luar biasa. Selama sekolah dari kecil hingga
sekarang dia pantas saya banggakan. Abita pernah menjuarai
lomba menulis cerita, lomba mendongeng, dan juga cerdas cermat
matematika. Abita juga selalu mendapatkan peringkat pertama
reguler.

Masuk rumah aku langsung menuju dapur karena kamar
mandi satu area dengan dapur. Aku melangkah pelan. Abita sedang
membaca buku di kamar. Aku tidak mau mengganggu karena
itu rutinitas dia mengisi sorenya. Musik terdengar dari luar
kamarnya. Di meja makan tudung saji sudah tidak seperti semula
saat aku tinggal tadi. Begitu aku buka.

“Abita! Abita! Abita!” teriakku.
“Brug …, brag….”
Abita mendengar karena musiknya tidak begitu keras. Abita
lari dengan wajah cemas.
Abita menatapku naik turun dengan heran. Mungkin pikir-
nya aku terjatuh atau sesuatu hal terjadi padaku.
“Ibu kenapa? Ibu tidak apa-apa kan?” Abita bertanya sambil
ngos-ngosan nafasnya. Kemungkinan dampak dari kaget karena
teriakanku.
Pikiranku melayang lepas dari permukaan. Apa aku yang
lupa menasehati atau meninggalkan pesan untuk Abita. Kursi
meja makan aku tarik. Kuhela napas panjang. Aku ingat-ingat
kembali kejadian-kejadian di sekitarku. Termasuk janda tadi.
Janda muda tetangga kami.

104 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


Dia waktu perawan susah dinasihati. Dia selalu membantah
dan melakukan segalanya menurut pemikiran orang modern.
Janda yang diceraikan suami karena selalu selisih paham dengan
mertuanya. Mungkin bila dia tidak melanggar nasihat ibunya
waktu perawan, pernikahannya bisa diselamatkan. Janda yang
jadi buah bibir ibu mertuanya karena selalu menjawab ketika
mertuanya menegur. Sepatah kata dari ibu mertua dia jawab
dengan kalimat panjang. Katanya!

Semua ini pasti ada hubungannya mengapa dulu nenek
Abita selalu mengutamakan makan bersama-sama. Tidak seperti
orang sekarang dengan waktu sekolah lebih lama sehingga siang
hari kami tidak bisa satu meja makan. Andai tadi aku bisa me-
nunggu Abita sehingga makan bersama, ini tidak terjadi. Banyak
buku yang telah Abita tuntaskan membaca. Tapi, bukan buku
adat dan aturan gadis dari nenek moyang kami.

Setiap hari selisih paham dengan orang lain itu tidak enak.
Tidak bisa kubayangkan jika selisih paham itu terjadi dengan
orang satu rumah. Segala pekerjaan yang dilakukan dikritisi.
Apalagi yang diperlakukan seperti itu adalah anakku Abita.
Pikiranku bergentayangan ke sepuluh tahun yang akan datang.
Kembali kutatapi mangkok yang berisi sisa semur ayam yang
belum habis.

Seperti bulan di antara terik mentari. Pucat pasi mengirim
sinar tanpa cahaya.

“Abita, anakku.” Kuelus dia yang duduk di kursi sampingku,
“Kamu sudah makan, nak?” Pelan tanyaku.

“Sudah Bu. Semur ayam ibu memang top markotop. Maaf,
ya Bu, Abita nambah-nambah,” semangat sekali dia menceritakan
itu. “Abita makan bagian paha, makan dada, dan nambah sayap,”
penjelasan Abita.

Kulemparkan senyum, berharap Abita tidak takut.
“Abita, dulu waktu ibu seusia kamu, nenek tidak pernah
melarang ibu memakan seluruh bagian pada tubuh ayam. Nenek

Perjumpaan yang Tak Biasa 105


hanya melarang ibu makan suwiwi. Sayap ayam yang dimasak
memang bumbunya bisa meresap karena dagingnya tidak terlalu
tebal,” aku mulai bersuara tentang nasihat nenek ke Abita.

“Kata nenek wanita itu wani ditata baik ibu maupun suami.
Begitu dengan sayap ayam pada bagian ujungnya yang kecil itu
namanya tlampik. Menurut nenek ketika bagian itu dimakan akan
ditolak mertua atau laki-laki,” lanjutku pelan, “Oleh sebab itu
Abita anak perawan dilarang makan sayap ayam bagian ujung
karena takut ditolak laki-laki. Jika pun diterima akan disia-siakan
mertua,” lanjutku.

Abita menatapku dengan ketakutan. Abita dengan polosnya
minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahanya.

“Ibu, maafkan Abita. Abita tidak tahu. Abita baru tahu sekarang,
perawan dilarang makan sayap ayam. Abita janji mulai hari ini
Abita tidak makan sayap ayam lagi,” kata Abita penuh penyesal-
an.

Kupeluk erat anak gadisku ini. Tudung saji, meja makan,
gemercik air dari kamar mandi seakan ikut terdiam. Sorot mata
Abita yang mulai meredup. Sesekali bekerling dan berkaca-kaca
seakan turut menyesal mengikuti pergerakan bibirku yang me-
nasihatinya. Mata itu pula yang membuatku tidak bisa berbicara
keras kepadanya. Mata yang selalu saja bisa meluluhkan lantak-
kan hatiku, juga hati bapaknya. Mata yang sudah minta maaf
dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulangi.

Ternyata aku juga salah. Aku lupa menasihati anakku tentang
ini. Tidak semua kesalahan anak seluruhnya merupakan kesalah-
annya. Kadang juga karena kelalaian kita sebagai orang tua.

***

Catatan
1. Perawan: anak perempuan yang sudah patut kawin; anak

dara; gadis; belum pernah bersetubuh dengan laki-laki;
2. Suwiwi: sayap unggas;

106 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


3. Wani ditata: bisa diarahkan oleh orang tua, suami, dan mertua;
4. Tlampik: Ujung sayap pada unggas.

Perjumpaan yang Tak Biasa 107


14.

Nisan Batu

Evika Abidin

Kuhentikan kendaraanku di depan gapura yang tidak
terlalu besar pun tidak terlalu kecil. Gapura itu ber-
tuliskan “Jati Loka” pada kedua sisinya. Kemeja biru dongker
polos dan peci yang senada dengan celana kain warna hitam yang
kupakai sudah sedikit lusuh, tak serapi siang tadi. Kuparkirkan
motor bebek solo warna hitam keluaran tahun dua ribuan milik
sejuta umat itu, tepat setelah gadis ayu dengan kerudung dan
gamis hitam polos longgar dengan motif bordir berwarna kuning
emas di ujung lengannya ini turun dari jok belakang.
Dari sudut mataku aku bisa melihat dia bergeming. Tangan-
nya mencengkeram erat keranjang wangi yang sedari tadi di-
timangnya dengan sayang selama perjalanan. Ada kesedihan ter-
pancar dari sudut netra sayunya. Ada kecamuk hebat yang hanya
ingin dia nikmati sendiri tanpa mau berbagi. Cukup lama dia
bergelut dengan pikirannya. Kuhela napas panjang dan kualih-
kan perhatianku pada sawah yang menghijau di belakang kami.
Kuberanikan diri menepuk bahunya yang cukup lama terdiam
di depan gapura.
“Maaf Kang, saya ...,” dia terdiam tak melanjutkan kalimat-
nya, mengusap sudut matanya.
“Tidak apa,” aku tersenyum, mengerti dia merasa bersalah
karena telah mengabaikanku.

108 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


“Ayo masuk!” ucapnya berjalan mendahuluiku sembari
mengusap bulir bening masih tersisa.

Kami berjalan beriringan menuju bagian ujung pemakaman
yang berbatasan dengan sawah setelah mengucap salam di
gapura dan berhenti pada pusara yang berbeda dari pusara lain-
nya. Pusara dengan batu kali lebar bertulis dua nama. Dia ber-
jongkok mengecup batu nisan. Terisak dengan kepala disandar-
kan pada batu. Aku tahu luka itu luka lama. Luka yang menyapa
bak gelombang yang susul menyusul dan mampu menghancur-
kan pemecah ombak dan menyapu pantai kebahagiaan dalam
waktu singkat. Menjungkirbalikkan tatanan apik yang susah
payah disusun dalam sekejap saja.

Aku masih ingat dengan jelas cerita yang kudengar dari
Ratminah, saudara jauhku, empat tahun yang lalu tentang sa-
habatnya. Hari di mana seharusnya seorang gadis berparas ayu
yang baru saja dinyatakan lulus dengan rata-rata nilai sembilan
puluh tiga koma tujuh lima itu sedang sangat berbahagia. Hari
di mana dia seharusnya dapat merayakan euforia kelulusan
dengan aksi corat-coret baju putih abu-abu itu atau sekadar pergi
ke suatu tempat bersama kawan-kawannya. Hari di mana dia men-
dapatkan dua kabar yang sangat bertentangan dan harus diterima-
nya tanpa penolakan. Bagaimana tidak, jika di hari yang sama
ketika dia menerima pemberitahuan kelulusan dari sekolah, dia
juga harus menerima pemberitahuan ibu tercinta melalui penge-
ras suara dari masjid tempat dia biasa menunaikan ibadah.

Ratminah menceritakan bagaimana sahabatnya luruh ke
tanah tak jauh dari rumahnya begitu mendapati sebuah tenda
tunggal berwarna biru yang sudah sedikit lusuh dengan satu
bendera ukuran sedang berwarna kuning terikat di salah satu
tiang penyangganya sudah berdiri di halaman depan rumahnya.
Para tetangga dan beberapa kerabatnya mondar-mandir sibuk
mempersiapkan sesuatu dengan berpakaian serba gelap. Dia
paham semua kebahagiaan yang baru saja membuncahkan hati-

Perjumpaan yang Tak Biasa 109


nya harus ditelan kembali mentah-mentah berganti dengan pilu
yang menyesakkan kalbu. Layaknya detik waktu yang angkuh,
terus berlalu tanpa pernah mau sedikit pun menunggu. Mem-
buatnya mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa waktu
ibu tercinta menemaninya merajut asa hanya sampai pada hari
itu. Dia harus ikhlas menerima kenyataan bahwa hari kelulus-
annya adalah hari yang sama dengan hari kematian ibunya. Siang
itu, Selasa Kliwon pukul 13.30 sang ibu disemayamkan di per-
istirahatan terakhirnya dengan damai.

Seperti biasanya, rumah duka akan ramai dengan para te-
tangga dan kerabat yang datang membacakan tahlil selama tujuh
hari berturut-turut selepas isya. Namun, ada hal yang sedikit
berbeda, selama tujuh hari itu pula kerabat dan beberapa tetangga
secara bergantian akan berangkat berjaga di makam usai tahlilan
dan bersiap berperang dengan nyamuk yang sudah pasti me-
nargetkan mereka sebagai sasaran untuk memenuhi kebutuhan
gizi mereka hingga matahari menampakkan sinarnya dan me-
maksa langit kembali cerah. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin
dianggap sedikit tidak masuk akal, terlebih di zaman milenial
yang serba modern ini. Namun, itulah salah satu mitos yang ada
dan diyakini oleh sesepuh di daerahku. Bahwa setiap ada warga
yang meninggal tepat di hari anggara kasih, maka makamnya
harus dijaga selama empat puluh hari berturut-turut untuk meng-
hindari hal buruk yang tidak diinginkan. Pencurian tali pocong
atau bahkan pencurian jenazah untuk pesugihan atau tumbal
ilmu hitam dan mitos lainnya dalam adat keyakinan Jawa turut
menyertai mereka yang meninggal pada neptu weton tersebut.
Katakanlah itu adalah pemikiran yang kolot sarat dengan unsur
klenik dan kuno. Namun, mitos tetaplah mitos, bahkan para
cendekia saja terkadang harus terpaksa tunduk dan patuh ketika
para sepuh kukuh dengan apa yang diyakini oleh leluhurnya.

Ritual jagong makam memang masih berlangsung meski
kegiatan tahlilan sudah tidak dilaksanakan lagi pascatujuh hari

110 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


pemakaman. Namun, kegiatan tersebut dilaksanakan tidak genap
empat puluh hari sebagaimana yang diyakini oleh para tetua.
Pada hari ke dua puluh dua kegiatan jagong makam sudah tidak
dilaksanakan setelah melalui proses musyawarah yang cukup
panjang dan alot dengan para sesepuh. Awalnya para sesepuh
menolak dengan keras pendapat sebagian warga untuk meng-
hentikan hal tersebut karena belum genap empat puluh hari. Tapi,
sebagian bersikeras bahwa beberapa makam warga yang me-
ninggal di hari dan weton yang sama tetap aman walaupun tidak
dijaga genap empat puluh hari. Maka, dengan berat hati para
sesepuh setuju menghentikannya.

Hari-hari tetap berlanjut sebagaimana mestinya, tidak ada
lagi ritual jagong makam seperti sebelumnya. Awalnya tidak ada
hal ganjil yang terjadi, semua berjalan seperti seharusnya. Sampai
suatu pagi seorang warga yang hendak menyambangi sawahnya
yang berada di dekat pemakaman merasa aneh melihat rerumput-
an yang rubuh dengan bekas jejak roda yang tercetak samar di
sana. Tidak biasanya mobil parkir di sana. Kalau pun ada yang
lewat pagi ini tidak mungkin sampai mentok di ujung galengan,
pikirnya. Dia tidak begitu peduli dan melanjutkan langkahnya
menyusuri gili sawah.

Langkahnya kembali terhenti saat beberapa papan dengan
tanah merah sepanjang kurang lebih 60—75 sentimeter ber-
serakan di pinggir sawah yang baru saja disemainya, dan lebih
kaget lagi mendapati satu nisan yang masih baru tercerabut dari
tempatnya dan bertengger di tanah batas makam. Bapak bertubuh
tambun itu sedikit tercenung untuk sesaat. Dahinya berkerut
dengan ujung alis yang sedikit terangkat. Logikanya mulai me-
nerka apa yang baru saja terlihat di hadapannya pagi ini.

Berbekal rasa penasaran, sang bapak lantas naik ke tanah
batas makam untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak sampai satu menit, matanya yang bulat terlihat semakin
bulat sempurna. Dia ternganga tak percaya atas apa yang tersaji

Perjumpaan yang Tak Biasa 111


di hadapannya. Bapak paruh baya pemilik sawah itu hanya mampu
beristigfar berulang kali melihat pusara paling ujung tepat di
samping sawahnya itu tidak berbentuk dan kosong. Tak ada
jenazah berbungkus kafan di liang lahat yang belum genap satu
bulan itu. Seketika kakinya lemas, dengan tubuh bergetar dia
terduduk. Tenaganya hilang hingga dia tak kuat menopang tubuh
gembulnya.

Warga yang mulai berdatangan untuk bekerja di sawah me-
rasa heran melihat seseorang yang terduduk di pinggir makam
cukup lama. Mereka saling melempar pandang dan saling ber-
tanya melalui gestur dan isyarat tubuh mereka. Rasa penasaran
akhirnya membuat beberapa warga yang sudah siap mengerjakan
sawah mendekati bapak tersebut untuk mengetahui apa yang
terjadi.

“Astagfirullah!”
“Allahu Akbar!”
Suara lengkingan tahmid dan istigfar yang cukup lantang
membuat mereka yang ada di sekitar mendekat. Ramailah warga
menyebarkan berita tersebut. Tidak menunggu hitungan hari,
bahkan jam. Secepat angin kabar menggemparkan tentang ke-
jadian itu sudah tersebar seantero desa. Tidak butuh waktu lama
pihak keluarga mendatangi makam dan memastikan benar tidak-
nya liang lahat keluarga mereka kosong.
Seorang laki-laki usia pertengahan tiga puluhan dengan
celana training dan kaos lengan pendek lusuh lari tergopoh usai
memarkirkan kendaraannya ke arah kerumuman di ujung makam.
Langkahnya terhenti tiga pusara dari pusat kerumuman. Laki-
laki itu luruh. Dia terduduk dengan lutut menempel di tanah. Cukup
lama dia hanya mampu menatap nanar makam yang sudah porak-
poranda dengan liang lahat yang kosong. Tidak ada amarah yang
tersirat dalam sorot netra berbingkai alis tebal itu. Tatapannya
kosong. Tenggorokannya tercekat. Bibirnya terkatup rapat. Tidak
ada suara, tidak ada air mata. Tidak ada luapan emosi yang ber-

112 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


lebih. Dia hanya pasrah mendapati kenyataan jenazah sang istri
raib di hari ke-27 pemakamananya. Tidak ada yang bergerak dari
tempat untuk membantu laki-laki itu bangun atau sekadar ber-
komentar. Hening.

“Ini yang kutakutkan ketika kalian bersikeras meminta meng-
hentikan penjagaan sebelum genap empat puluh hari,” ucap seorang
lelaki tua berkaus putih dengan serban di pundak dan kupluk putih
kecil yang menutupi rambutnya yang memutih penuh.

Dia memandang satu per satu orang yang ada di sana dengan
pandangan yang sulit diartikan. Sorot netra tegasnya tak kalah
nanar. Semua bergeming. Tidak ada yang berani membantah,
pun tidak ada satu pun yang menyahut. Lelaki tua itu berbalik
menepuk pundak lelaki lebih muda yang berlutut di tanah pe-
kuburan dan terlihat linglung beberapa kali. Memegang pundak
itu cukup lama seolah menguatkan.

“Ikhlaskan Le, kau harus kuat. Kalau tidak, siapa yang akan
menguatkan anak itu,” ucapnya sebelum berlalu, memandang
dua gadis yang tengah berdiri di tengah gapura utama. Berjalan
dengan tenang meninggalkan pekuburan melalui sisi lain gapura
utama. Tak terasa bulir bening menetes di sudut matanya yang
tua, menerobos pertahanan yang sejak tadi dijaganya tanpa se-
orang pun mengetahui.

Mitos “anggoro kasih” yang hampir pudar, kembali santer ter-
dengar dan menjadi topik trending hampir di setiap warung dan
tempat berkumpul warga. Tidak ada warga yang tidak heboh mem-
bicarakannya. Tidak peduli tua, muda, bahkan anak kecil sekali-
pun. Tidak hanya di desa sekitar, kabar menggemparkan tentang
hilangnya jasad wanita yang meninggal di hari Selasa Kliwon
pada hari ke-27 juga terdengar sampai kota kecamatan, bahkan
lebih luas lagi seiring semakin canggih dan berkembangan sarana
telekomunikasi. Ratminah berdecak sinis. Dia tak kuasa melihat
kondisi sahabat terbaiknya, Asih yang semakin hari semakin
memprihatinkan. Miris. Hatinya tercubit. Benar-benar sakit.

Perjumpaan yang Tak Biasa 113


Berita hilangnya jasad sang ibu mengundang banyak kontro-
versi. Satu setengah minggu pascakejadian menggemparkan itu,
Asih tak bersedia keluar rumah untuk alasan apa pun. Kematian
sang ibu sudah sangat membuatnya terpukul beberapa minggu.
Tentu saja hilangnya jasad itu membuatnya lebih terpuruk lagi.
Wajahnya yang ayu tampak layu. Pucat tak bercahaya. Bibir tipis
yang selalu berhias senyum itu kini terkatup. Asih terpuruk,
gairah hidupnya seakan menguap bersama lenyapnya jasad sang
ibu.

Upaya pencarian oleh pihak yang berwajib juga tak kunjung
membuahkan hasil. Polisi tidak bisa menyelidiki lebih jauh hanya
dengan bermodalkan keterangan jejak roda yang samar dan tanpa
saksi mata karena memang tidak ada atau bukti kuat lain seperti
rekaman kejadian dari seperti halnya kasus yang mungkin terjadi
di kota besar yang dilengkapi dengan kamera CCTV yang ter-
pasang. Tidak ada jejak atau informasi berarti yang menunjukkan
bukti yang mengarah pada titik terang tentang kasus ini. Kedua
belah pihak keluarga merasa tidak memiliki musuh atau terlibat
sengketa dengan pihak mana pun. Semua data yang diperoleh
tidak valid dan simpang siur. Nihil. Pihak kepolisian menutup
kasus ini dengan simpulan bahwa jenazah dimanfaatkan oleh
orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan yang
berbau klenik seperti halnya dalam mitos yang beredar. Adapun
motif pasti dan siapa pelakunya benar-benar tidak terungkap.
Hal tersebut pada akhirnya turut memperkuat kebenaran mitos
anggara kasih yang memang melingkupi sejak awal mencuatnya
kasus ini ke permukaan. Dengan berat hati keluarga menyerah
dan menerima kenyataan bahwa jasad anggota keluarganya hilang
tanpa mampu diketahui pasti kejelasannya.

Setelah melalui serangkaian musyawarah, liang lahat itu tidak
benar-benar kembali ditutup penuh dengan tanah. Hanya ditutup
kembali dengan papan dan sedikit tanah tipis di atasnya. Serta
dibatasi dengan tumpukan bata merah di sekelilingnya dengan

114 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


nisan yang tetap ditegakkan sebagaimana pusara pada umumnya
tepat di peringatan empat puluh hari kematian.

Hari-hari yang sendu terlewati. Asih sudah tak lagi meng-
urung diri, mulai mencoba menerima kenyataan pahit yang harus
ditelannya. Dia bersedia keluar dan mengantarkan kudapan
untuk kami yang membantu membenahi makam mendiang
ibunya dengan tetap didampingi Ratminah.

“Nduk, nanti kalau Bapak tidak ada, tolong makamkan Bapak
di makam ibumu, ya. Nisannya dari batu kali yang lebar jadi
kamu tidak perlu bingung kalau kamu rindu dan ingin mendoa-
kan kami,” ucap Bapak Asih pelan ketika kami sedang beristirahat
usai menguruk makam di jonggol di tepi jalan dekat makam.

“Bapak jangan berbicara seperti itu,” ucap Asih yang duduk
di dekat Minah terperanjat kemudian menunduk.

“Bapak tidak boleh ke mana pun. Asih dengan siapa nanti?”
lanjutnya dengan suara lirih tapi masih cukup terdengar di
telingaku. Ada getar kesedihan dalam suaranya.

“Nduk, cah ayu. Bapak tidak mungkin bisa terus menjagamu.
Kamu sudah besar dan pantas untuk menikah.”

Kami yang menikmati kudapan yang dibawakan Asih dan
Minah terdiam. Hanya berani saling melempar pandang satu
sama lain.

“Memangnya ada yang mau sama Asih?” tanyanya lirih masih
sambil menunduk.

“Itu Ahmadi lirak-lirik terus dari tadi,” jawab bapak Asih me-
nunjukku dengan dagunya.

Mendengar namaku disebut sontak aku mendongak tepat
saat Asih menoleh ke arahku. Netra kami saling bertemu, saling
bertanya tanpa kata seolah mencari sesuatu. Tanpa dikomando
semua yang ada di sana mengalihkan perhatian padaku. Tatapan
mereka tajam penuh rasa penasaran seolah menunggu responsku
yang masih berusaha mencerna.

Perjumpaan yang Tak Biasa 115


“Gimana Le, mau ndak, sama anak Bapak?” Ulang Bapak Asih
dengan senyum lebarnya. Ratminah terkikik geli, sementara Asih
melengos.

“Di, ditanya itu malah matung,” ucap Hardi yang ada di se-
belah kanan sambil menyenggolku yang masih terdiam dengan
lengannya.

“Lah kupret, malah kicep ini bocah!” seru Ramdan berdecak
kesal.

“Kalau Ahmadi tidak mau, Dik Asih buat Akang Sam saja
Pak. Yakin pasti bahagia dunia akhirat,” sambung Samsi dengan
penuh percaya diri sambil menegakkan kerah kaosnya yang lepek.

“Woi semprul, bahagia dari Hongkong?”
“Si Ratri mau kau ke manakan, Sam? Gadaikan ke pegadai-
an?”
“Bukannya bahagia, Asih malah bisa stres ngadepi itu perem-
puan satu”
“Lho itu kan kalau Dik Asih mau,” balas Samsi sembari me-
naikturunkan alisnya yang langsung mendapat sambutan kulit
kacang dari berbagai arah.
Suasana yang tadinya sepi berubah sedikit ramai gara-gara
respons ajaib dari Samsi yang kutahu untuk mencairkan suasana
yang mulai canggung.
“Jadi bagaimana ini, yakin ikhlas Le kalau Asih tak kasih ke
Samsi?” sambung Bapak Asih kembali menatapku.
“Saya mau saja Pak selama Dik Asih tidak keberatan me-
nunggu saya selesai pendidikan dan pengabdian dulu,” jawabku
pada akhirnya dengan nada dan ekspresi sedatar mungkin, ber-
usaha meredam perasaan yang campur aduk agar tak tampak ke
permukaan.
“Dik Asih mau nunggu saya sampai selesai?” Lanjutku enteng
membuat semua orang bersorak sementara Asih melotot men-
dengar jawabanku. Mengerucutkan bibirnya lucu. Menghentak-
kan kakinya kesal dan menyeret Ratminah yang masih terpingkal

116 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


menuju motor yang terparkir di dekat sawah. Ingin sekali kucubit
pipi gembulnya yang memerah. Sangat menggemaskan di mata-
ku saat itu.

Dua tahun berlalu sejak kejadian hari itu. Kudengar kabar
kecelakaan antara kapal nelayan dengan tongkang pada 23
September sekitar pukul 10.00 waktu setempat yang terjadi di
perairan utara Kendal dengan delapan korban tewas dari para
nelayan, termasuk Bapak Asih yang sempat dinyatakan hilang
selama dua hari pascakejadian. Saat itu Asih masih menjalani
program kerja magang di Jepang. Mewujudkan mimpinya men-
jejak bumi Sakura hingga tak bisa menghadiri pemakaman bapak-
nya secara langsung. Setali tiga uang dengan Asih. Aku pun sama
tak bisa menghadiri dan memberikan penghormatan terakhir saat
proses pemakaman beliau karena tidak mendapat izin keluar di
akhir masa pendidikan yang sedang kutempuh. Atas permintaan
Asih, sesuai amanat yang pernah disampaikan dulu, beliau di-
semayamkan di liang lahat mendiang ibunya dengan nisan batu
kali yang lebar bertuliskan nama keduanya sebagai penanda.
Sesuai dengan keinginan yang pernah beliau sampaikan secara
langsung di hadapan kami saat beristirahat di jonggol dekat
makam dulu.

Dan di sinilah dia sekarang. Di hari keduanya menginjakkan
kakinya di tanah ini. Di tempat cinta pertamanya bersemayam
dengan damai. Cukup lama Asih terisak menumpahkan segala
rindunya pada orang terkasihnya ini. Hatiku teriris mendengar
tangis pilunya. Cukup lama tanganku menggantung di udara.
Bimbang. Ragu. Tak tahu apa yang harus kulakukan untuk sedikit
menenangkannya. Ingin sekali kurengkuh jiwa rapuh itu dan
membawanya dalam dekapanku, tapi aku sadar tidak dalam
kapasitas yang memungkinkanku untuk melakukannya dengan
bebas. Aku masih tahu batasanku.

Aku bergeming di tempatku berpijak. Setelah menimbang
cukup lama, kuberanikan diriku. Kusejajarkan tinggi kami.

Perjumpaan yang Tak Biasa 117


“Kita doakan Bapak dan Ibu dulu, ya?” pintaku sembari
mengusap bahunya pelan mencoba menguatkan.

Kulihat dia mengangguk pelan, mengusap buliran air bening
yang membanjiri pipi pualamnya kemudian mengambil sesuatu
dari dalam saku gamis hitam yang dipakainya dan membuka
lembarannya. Kuangkat kedua tanganku sebatas dada dan me-
mulai dengan taawuz sebelum memimpin melantunkan bacaan
surat Yasin dan tahlil sementara Asih mengikutinya dengan
pandangan tak lepas dari lembar kitab kecil yang berada di
tangannya. Sudut bibirku terangkat mendapati Asih masih khu-
syuk dengan doa yang dipanjatkannya dalam hati ketika aku telah
selesai dengan rangkaian bacaan dan doa akhir yang kulantun-
kan. Kupandangi wajah sembab itu lama dalam diam.

“Dik, jadilah wanita tangguh yang selalu bersinar dan penuh
kasih. Seperti namamu, Dewi Kinar Asih”

Dia menoleh, menerbitkan sabit yang indah. Membuat sudut
bibirku kembali tertarik melihatnya. Kutatap ufuk barat yang
mulai menguning. Kubisikkan janjiku pada senja bahwa aku akan
menjadi penjaga sabit indah itu semampuku. Menjadi penawar
bagi setiap luka untuk jiwa rapuh di sampingku sekalipun aku
tak akan selalu bisa berada disampingnya setiap waktu.

***

Ujung Teluk Korowelang,
16 Maret 2020,

Evika Abi.

118 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


15.
Seee LaaaYuuut!

Rokhimatul Aminin

“Ayo ditarik! Seee laaa yuuut, tarik! Seee laaa yuuut, tarik!
Seee laaa yuuut, tarik!” Sambil menggenggam tambang
yang terikat di bagong.
Bagong tak bergerak sama sekali. Hanya gelombang yang
timbul. Rasa lelah tak menghalangi warga untuk dapat melolos-
kannya dari pusaran maut. Tampak di kejauhan berbondong-
bondong raksasa lautan menghampiri. Angin mulai mengusir
para warga dan ombak menunjukkan jalan pulang. Rasa kecewa
sangat tampak di raut muka para warga. Tak luput raut wajah
suamiku.
“Pak, bagong mana? Kok ndak ikut pulang?”
Terdengar langkah kaki diiringi percakapan fajar dari para
nelayan membuat aku sadar bahwa sang surya sudah mengintip
di balik jendela. Aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan
senjata tempur suamiku dengan harapan pulang membawa ikan
yang melimpah. Supaya dapur selalu ngepul tidak takut untuk
pergi ke warung. Caping berisikan sebungkus nasi, sebotol air
putih, dan tak lupa juga kaus lungsut yang menjadi seragam
andalan, aku masukkan ke dalam ember. Suamiku dengan ne-
layan yang lain menyiapkan bagong beserta perlengkapan lain-
nya agar tidak ada alat yang tertinggal.

Perjumpaan yang Tak Biasa 119


“Pak, ini caping dan embernya sudah siap!” teriakku dari
pintu belakang rumah.

“Ya, Bu. Taruh saja di depan pintu, nanti Bapak ambil.”
Tak lama bagong beranjak dari tempat istirahatnya untuk
mengantarkan suamiku beserta nelayan yang lain. Bagong men-
jadi tumpuan para nelayan untuk mengadu nasib di tengah laut-
an. Bergelut dengan ombak bercengkerama dengan jaring setiap
hari.
Pagi ini langit tampak sedikit muram tak menunjukan se-
nyumnya yang membuat para nelayan bahagia. Lambaian
tanganku ke arah bagong dan suami sebagai bentuk rasa se-
mangat. Ternyata suamiku telah membalasnya dengan senyum
dan anggukan kepala, yang seolah-olah mengatakan bahwa
dirinya akan baik-baik saja. Di balik lambaian tanganku terselip
rasa khawatir yang tak pernah menghampiri. Pandangan ini
enggan untuk beranjak sampai bagong tak terlihat lagi. Aku
kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan rutinitas
seorang istri nelayan.
Rumah yang bergelantungkan ikan asin, pakaian kotor, serta
sudut-sudut ruangan yang menggerak membuat aku harus
berolah raga setiap hari. Tak ada rasa menyesal sedikit pun di
hati ini setelah menikah dengannya. Aku sadar bahwa di lautlah
hidup kami bergantung. Hanya lautlah yang dapat mengubah
kehidupan kami.
Hari sudah mulai siang, tapi langit masih tampak murung.
Rasa cemas semakin mengelayut di hati. Berkali-kali aku ke
belakang rumah sambil memandang ke seluruh penjuru. Tiba-
tiba angin mulai meniupkan kedatangannya dari arah selatan
menuju utara dan langit semakin pekat. Tampak lampu disko di
antara pekatnya langit disertai suara gong yang sangat dahsyat.
Bergetar tubuh ini sembari berdoa agar suami dan bagong tidak
menjadi mangsanya.

120 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


“Ya Tuhan, langit-Mu tampak murka. Semoga suamiku,
bagong, beserta nelayan yang lainnya selamat tidak terkena
amarah-Mu. Amin!”

Mulai terdengar suara knalpot mesin dari kejauhan. Satu per
satu tampak perahu-perahu kecil yang menuju tempat istirahat-
nya, tetapi bagong tak terlihat di antara mereka membuat aku
semakin gelisah. Tubuh ini tak mau diam sebelum melihatnya
berenang di sungai. Aku tanyakan keberadaan bagong kepada
mereka yang masih di atas perahu, tak sabar menunggunya
sampai di darat.

“Pakde tadi berpapasan dengan bagong apa tidak?” teriakku
kepada salah satu nelayan yang masih di atas perahu.

“Maaf Nok, Tadi rombongan Pakde tidak melihanya. Coba
kau tanyakan kepada rombongan lain, siapa tahu mereka ada
yang melihat bagong,” teriaknya sambil merapikan jaring.

“Iya, Pakde. Terima kasih.”
Jantung ini semakin tak terkendali. Langkah kaki bak kepiting
yang terdorong ke bibir pantai. Tubuhku mulai tergoyah dengan
tetes hujan bercampur air mata. Tak peduli telapak kaki hanya
beralaskan kulit menyusuri pinggir sungai untuk mencari tahu
keadaannya.
“Pakde, tadi melihat bagong apa tidak?”
“Iya Nok, tadi Pakde melihat bagong dari kejauhan. Seperti-
nya bagong menepi jangkaran.”
“Alhamdulillah, kalau bagong sudah menepi. Terima kasih
Pakde informasinya.”
Dadaku seperti tersiram air es, yang tadinya terasa sangat
sesak panas sekarang terasa longgar adem mendengar jawaban
dari Pakde Darmo.
“Tadi ombak tiba-tiba sangat ganas sehingga suamimu ter-
pisah dari rombongan lain. Mungkin nanti kalau sudah reda rom-
bongan suamimu bisa pulang. Tenang saja Nok, suamimu pulang

Perjumpaan yang Tak Biasa 121


dengan ikan yang melimpah. Tunggulah di rumah, jangan panik
lagi,” ucap Pakde Darmo sambil mendekat ke arahku.

Rasa cemas belum semuanya luntur meskipun sudah men-
dengar pernyataan dari Pakde Darmo. Aku masih tetap duduk
di serambi sungai sampai bagong dan suamiku terlihat. Cemas,
sedih, dan senang bercampur menjadi satu karena bagong di-
penuhi dengan ikan. Tuhan telah mengabulkan doa kami supaya
dapur tetap bisa ngepul.

Sang surya sudah bersandar hampir mengeluarkan sinar
emasnya, tetapi bagong belum juga tampak di sungai. Angin dan
hujan sudah mulai mereda. Langit pun tak tampak murka. Aku
sandarkan tubuh ini di pinggir sungai bertemankan cemas. Sebiji
nasi dan seteguk air pun tak dapat aku telan sebelum melihat
suamiku pulang.

Terdengar suara langkah kaki dengan memanggil-manggil
namaku dari lorong samping rumah. Sontak aku beranjak dari
sandaran. Jantung ini mulai tak beraturan lagi iramanya. Terdiam
suara itu dengan napas terengah-engah setelah menatap tubuh
ini, tertunduk seolah-olah ada yang menggelantung di lehernya.
Aku semakin yakin kalau terjadi sesuatu dengan Bagong dan
suamiku. Bercucuran air mata yang tak dapat aku bendung lagi.

“Yu, Yu Rosidah! Yu Rosidah!”
“Ada apa, Kang! Kang Mus, Kang! Ada apa?”
Terdiam menatapku dengan napas terengah-engah seolah
matanya berbicara kalau terjadi sesuatu dengan bagong. Aku
goyah-goyah tubuh hitam kurus berambutkan pirang karena
terbakar panasnya pesisir pantai.
“Kang Man, perahunya, perahunya diterjang ombak. Semua
rombongan nelayan yang berada di perahunya terempas ke laut.”
Tubuh ini seperti tersambar petir di tengah badai, lemas
terdiam bagai kaki tak bertulang. Di dalam dada berteriak kepada
Tuhan, “Kenapa ini harus terjadi dengan suami hamba!!??”

122 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


Satu per satu berdatangan hingga aku berada di tengah ke-
rumunan dengan suara sahut-menyahut untuk menguatkan raga
yang tergeletak tak berdaya. Hanya air mata yang menjawab per-
tanyaan mereka.

***
Ombak yang bergoyang seirama dengan empasan angin telah
menggoyahkan bagong beserta seisinya. Teriakan para nelayan
di tengah badai tak membuat ombak untuk diam, malah semakin
ganas. Jangkar mulai mendarat untuk menahan amukan ombak.
Layar mulai ditutup agar tak menghalangi amukan angin. Para
nelayan sudah berada pada kendali masing-masing.
“Allahu Akbar, ya Allah, lindungilah kami, selamatkanlah
kami dari amukan lautan yang dasyat ini. Cepat turunkan jang-
karnya dan tutup layar yang di atas. Ayo cepat! Cepat!” teriak
Kang Man kepada anggota nelayan dengan memegang kendali
pengemudi.
“Siap Kang! Semuanya sudah beres. Kang, bagaimana ini
ombak dan anginnya tidak mereda malah semakin dahsyat,”
dengan bibir dan tubuh gemetar ucap salah satu nelayan.
“Yang penting mesin jangan sampai mati untuk menahan
terjangan ombak dan memompa air yang masuk. Jaga kestabilan
mesin dan tetap berdoa!” teriak Kang Man untuk meredam ke-
cemasan para nelayan. Sebenarnya di dalam hati berselimutkan
rasa takut yang luar biasa.
Kang Man tetap fokus mengendalikan kemudi berusaha me-
lawan ombak yang mengempas ke arahnya dengan jarak pan-
dang yang terbatas. Terlihat beberapa perahu juga sama-sama
berjuang melepaskan diri dari amukan badai. Ketika bagong mau
melewati batas aman perairan, tiba-tiba ombak besar dari sisi
kanan mendorongnya ke arah yang salah dan air menghempas
ke mesin. Mesin mendadak mati setelah terempas gelombang
ombak yang sangat dahsyat. Bagong mulai tak terkendali. Air
memenuhi tubuhnya. Kepanikan mulai terjadi. Para nelayan

Perjumpaan yang Tak Biasa 123


mengambil benda yang dapat membantunya tetap terapung di
tengah amukan badai. Para nelayan sudah tidak menghiraukan
teman-teman yang lain. Semuanya hanya memikirkan keselamat-
an masing-masing. Satu per satu nelayan melompat dari perahu
untuk menyelamatkan diri supaya tidak terseret bagong ke dasar
lautan. Ikan yang sudah terkumpul dengan susah payah kini
tercecer dalam sekejap, hanya hitungan detik. Kang Man terpisah
dengan nelayan yang lainnya, terombang-ambing hanya bisa
berdoa supaya badai ini cepat mereda dan tidak ada korban
dalam bencana ini. Berharap masih ada perahu yang melintas
untuk menolongnya.

Hampir kurang lebih satu jam tubuhnya tergoyahkan oleh
badai dan terombang-ambing di tengah lautan, melintaslah
perahu lain yang melihat para nelayan terapung dengan posisi
terpisah. Satu per satu perahu itu memungut seperti sampah yang
berserakan. Dengan kondisi lemas, kulit memutih, bibir membiru,
dan napas hanya tersisa di hidung. Rasa syukur tak henti-henti-
nya terdengar dari bibir biru yang gemetar. Tidak jauh dari tempat
bagong tenggelam, terlihat jeriken yang di atasnya terdapat orang
yang sudah tidak berdaya. Menujulah perahu nelayan itu untuk
memastikan apakah orang itu masih hidup atau sudah mening-
gal. Setelah mendekat ternyata orang tersebut adalah Kang Man,
tergolek tak berdaya hanya sisa napas yang terdapat di hidung.
Beberapa perahu nelayan telah menyelamatkan para korban.
Semuanya selamat meskipun dalam kondisi yang lemas.

“Alhamdulillah, semua nelayan yang dibawa Bagong selamat,
tidak ada korban jiwa. Ayo kita pulang. Kasihan yang di rumah
telah menunggu dengan cemas!” teriak salah satu nelayan yang
telah menyelamatkan para korban.

***
Dari kejauhan tampaklah sinar kecil yang berbondong-bondong
menuju daratan. Ternyata itu adalah perahu para nelayan yang
telah menyelamatkan rombongan perahu Kang Man.

124 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


“Nduk, Nduk Rosidah, lihatlah cahaya itu. Pasti rombongan
perahu nelayan yang telah menyelamatkan korban amukan badai
tadi,” ujar Pakde Darmo yang menunggu di pinggir sungai.

“Mana Pakde, mana? apakah suamiku selamat? Terus bagai-
mana dengan keadaan Bagong?” tanyaku dengan isak tangis.

“Sabar Nduk, sabar! Sebentar lagi kan sampai. Semoga semua
nelayan selamat termasuk suamimu, Man.”

Setelah beberapa menit sampailah para nelayan ke tepi sungai
dan menurunkan para korban satu per satu. Keluarga korban be-
serta warga saling membantu membawa korban ke puskesmas
terdekat untuk memberikan pertolongan pertama.

Aku lihat satu per satu korban yang telah diturunkan dari
perahu apakah itu suamiku atau bukan. Rasanya sudah tidak
sabar untuk melihat keadaan Kang Man. Dada ini semakin sesak
karena isak tangis setelah melihat tubuh hitamnya yang berubah
menjadi putih. Luluh lantak tubuh ini. Dipapah Pakde Darmo,
aku mengantarkannya ke puskesmas. Aku usap-usap tangannya
sedingin es, wajahnya yang pucat, bibirnya yang membiru mem-
buat aku semakin tak kuasa menahan air mata.

“Sudah jangan nangis terus nanti kamu sakit. Aku kan sudah
selamat dari amukan badai. Alhamdulillah kita bisa berkumpul
lagi.” Masih terbaring lemas sambil mengusap pipiku.

Selang beberapa hari semua kondisi para korban termasuk
Kang Man sudah membaik dan pulih. Kang Man mengajak semua
warga setempat untuk menjemput bagong yang masih terjebak
di tengah lautan meskipun cuaca belum sepenuhnya membaik.
Warga menyambut dengan hangat ajakan Kang Man. Aku mulai
mempersiapkan nasi dan minuman untuk bekal menjemput
bagong. Beberapa perahu nelayan sudah siap dengan meng-
angkut warga. Tambang dan pelampung pun tidak lupa untuk
dibawa. Wajah semangat terlihat dari wajah para warga. Aku
hanya bisa berdoa untuk keselamatan suamiku dan para warga.

Perjumpaan yang Tak Biasa 125


“Sabarlah Nak, sebentar lagi kau akan pulang, berkumpul
lagi dengan kami. kini semua warga berbondong-bondong untuk
menjemputmu,” bisikku dalam hati.

“Doakan Bapak, ya Bu. Semoga semua prosesnya lancar dan
bagong bisa pulang ke rumah,” ujar Kang Man sambil mengusap
rambutku.

“Iya Pak. Ibu selalu berdoa untuk keselamatan semuanya.
Ibu juga sudah tidak sabar untuk melihat Bagong. Jemput dia
dan bawa pulang, ya Pak.”

***
Setelah kurang lebih dua jam menempuh perjalanan, rom-
bongan nelayan sampailah di mana bagong terperosok. Kang
Man dengan warga mengatur strategi untuk meloloskannya. Be-
berapa warga turun ke laut untuk mengikatkan tali dan pelam-
pung ke badan bagong. Beberapa warga lainnya menarik dengan
mesin perahu. Bagong tampak pasrah dengan kondisinya yang
sudah tidak utuh lagi.
“Ayo ditarik, seee laaa yuuut! Tarik! Seee laaa yuuut! Tarik! Seee
laaa yuuut! Tarik!” Sambil menggenggam tambang yang terikat
di bagong.
Bagong tak bergerak sama sekali. Hanya gelombang yang
timbul. Rasa lelah tak menghalangi warga untuk dapat melolos-
kannya dari pusaran maut. Berbagai upaya telah dilakukan, tetapi
hari ini tidak membuahkan hasil. Bagong masih dalam posisi
yang sama, tampak usang seakan-akan berteriak meminta tolong.
Menangis merintih kesakitan karena tubuhnya terendam lumpur
dan air.
“Ayo kita coba sekali lagi, pasti berhasil!” teriak Kang Man
kepada warga.
“Ya, Kang. Berbagai cara sudah kita lakukan tetapi Bagong
tak bergerak sama sekali,” sahut salah satu warga dari air.
“Coba kita tarik dulu dari sisi kiri, siapa tahu ada hasil.”
“O, baiklah. Kita coba sekali lagi dari sisi kiri.”

126 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


Kang Man berhasil meyakinkan warga untuk berusaha sekali
lagi meloloskan bagong dari pusaran maut.

“Seee laaa yuuut! Tarik! Seee laaa yuuut! Tarik! Seee laaa yuuut!
Tarik!” Teriakan semangat warga untuk meloloskan bagong.

Beberapa kali teriakan semangat dikumandangkan, tetapi
bagong tetap tidak bergerak sama sekali. Tampak di kejauhan
berbondong-bondong raksasa lautan menghampiri. Angin mulai
mengusir para warga dan ombak menunjukkan jalan pulang.
Rasa kecewa sangat tampak di raut muka para warga tak luput
raut wajah Kang Man.

Dalam perjalanan di perahu yang berbeda, warga sedang
membicarakan bagong karena menurut mereka terperosoknya
tidak wajar. Berkali-kali ditarik, didorong, muatan juga sudah
diambil, tetapi masih tetap tidak mau bergerak sama sekali.

“Pakde, sampean curiga apa tidak dengan kejadian tadi.
Masak bagong tidak bergerak sama sekali. Sampai ada tali yang
putus ketika menariknya.”

“Curiga bagaimana maksud kamu Mbon?”
“Kan tempat itu terkenal angker Pakde! Sudah banyak perahu
yang pernah terperosok di tempat itu. Kalau mau perahunya bisa
diambil, mereka datang tidak dengan tangan kosong.”
“Maksudmu kita harus membawa kepala kambing gitu mak-
sudmu. Tidak semua kejadian di tempat yang sama semuanya
dianggap aneh atau tidak wajar. Jelas-jelas kemarin perahu Man
terhempas ombak!” tegas Pakde Darmo kepada Ambon.
“Ya sudah kalau Pakde Darmo tidak percaya. Kan Aku bicara
apa adanya kalau sudah banyak perahu yang bisa lolos dengan
membawa sesaji.”

***
Sampailah semua rombongan di darat dengan muka lesu
dan lelah. Aku mendekat ke Kang Man dengan rasa penasaran
karena bagong tak tampak bersamanya. Kang Man langsung
mengajakku masuk ke dalam rumah dengan mata berkaca-kaca.

Perjumpaan yang Tak Biasa 127


Terdiam sambil memandang sudut rumah ruangan yang ber-
kerak.

“Aku telah gagal membawa bagong pulang, Bu. Aku tak
dapat menarik tubuhnya dari pusaran itu. Aku telah meninggal-
kannya di sana sendirian. Diterjang ombak, angin yang dapat
membuat keadaanya semakin memburuk. Maafkan Bapak, Bu,”
dengan mata yang bercucuran.

“Sabar, Pak. Sabar! Masih ada hari esok. Bapak tidak boleh
berputus asa seperti ini. Ibu yakin pasti Allah menunjukan jalan
lain untuk mengelurkan bagong dari pusaran itu. Ibu sangat
yakin, Pak, kalau bagong bisa pulang ke rumah.”

“Tapi para warga sudah capek, Bu. Mereka putus asa. Bapak
melihat sendiri bagaimana upaya mereka mengeluarkan bagong.
Bapak juga kasihan sama mereka.”

“Besok Ibu yang akan ngomong ke warga untuk meminta
bantuannya sekali lagi Pak. Siapa tahu besok bagong sudah bisa
digerakkan dari pusaran maut itu. Ibu sangat yakin! Bapak isti-
rahat saja, simpan tenaganya buat besok, ya Pak!”

***

Catatan
1. Seee laaa yuut adalah sorakan semangat sebagai bentuk gotong

royong warga pesisir khususnya warga Bandengan.
2. Pusaran maut adalah perairan laut Cangkring tempat banyak

perahu yang tenggelam di area tersebut; diyakini para
nelayan tempat itu masih ada kaitannya dengan jalur sungai
Blorong.
3. Bagong adalah sebuah perahu
4. Nok/Sinok adalah panggilan untuk anak perempuan yang
dianggap masih kecil.

128 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


16.
Kekuncen Kekasih

Rita Nuraeni

“Bunda ..., Bunda ..., Bunda di mana?”

“Kita pindah ke Jawa, Bunda, Ayah di mutasi Bunda! Doa
kita dikabulkan Bunda,” dengan penuh sukacita, sambil me-
nunjukan informasi mutasi yang dimuat di grup WhatsApp ke-
dinasannya.

Aku masih tercengang dan bingung dengan kabar gembira
tersebut. Benar bila kabar tersebut adalah jawaban atas doa-doa
kami sekeluarga selama bertahun-tahun ini. Kami merantau
bertahun-tahun di daerah terpencil di Indonesia bagian timur
sejak kami jadi pengantin baru hingga kini sudah ada dua buah
hati kami. Dan anak-anakku tak pernah tahu kampung halaman
ayah bundanya di tanah Jawa karena hampir dua puluh tahun
ini aku terlena menjadi pendamping suami yang tak pernah me-
manfaatkan cuti dan memang tak pernah ada cuti dari pekerja-
annya. Suamiku tipe suami yang tak bisa ditinggal oleh anak
istrinya apalagi berada di perantauan. Akan sulit baginya men-
dapatkan berbagai kebutuhan hidup sehari hari, dan suamiku
tak biasa jauh dari anak dan istrinya. Baginya keluarga adalah
hal terpenting dalam hidupnya sehingga keluarga harus utuh
dan senantiasa bersama. Termasuk saat ada libur, suamiku tak
pernah bisa jauh dari tempatnya bekerja. Sehingga tugasnya

Perjumpaan yang Tak Biasa 129


sebagai abdi negara tetap menjadi prioritas dan keluarga tetap
tak terpisahkan dari bagian hatinya.

“Alhamdulillah, ya Allah.”
Aku menyambut kegembiraan suamiku karena aku juga
sudah rindu tanah Jawa. Rindu keluarga besarku, rindu teman-
temanku, dan mungkin aku rindu dengan masa kecilku dulu.
Lalu kami pun sampaikan kabar gembira tersebut pada anak-
anak yang disambut dengan ceria dan rasa tak sabar untuk
kembali ke tanah Jawa.

***
Dinginnya Kota Mamasa, sebuah kota kecil di Sulawesi Barat
seolah menelanjangi kulitku. Perlahan meraba dan diam-diam
masuk melalui pori-pori. Menusuk tajam tulang-tulang. Kurasa
sebentar lagi hujan akan turun. Langit tampak garang menghitam.
Seolah tak sabar untuk segera menumpahkan air yang tak lagi
mampu untuk ditampung. Saat itu aku hanya sendiri, duduk
membeku bagaikan batu. Suamiku dan anak anak belum kembali
ke rumah. Di atas bangku panjang berwarna putih, aku merasa-
kan tamparan-tamparan angin yang meliuk kencang, mengibas-
kan rambut hitam panjangku. Malam ini benar-benar sepi. Tak
ada suara riuh kicauan burung atau nyanyian jangkrik. Juga tak
ada suara omelan yang biasanya berisik. Kutatap langit, masih
tetap angkuh, malah semakin kelam seperti memarahiku. Langit
gelap yang luas itu membekapku dalam kehampaan. Mencaciku
dalam pahit kekosongan. Awan-awan mulai berkumpul mem-
bentuk sebuah gumpal raksasa. Menjelma menjadi sebuah angin
dan lalu hujan menghantamku. Dalam gulungan awan-awan
yang mengerikan, membuatku terdiam, dan tak mengeluarkan
sepatah kata pun. Dalam diamku tiba tiba aku teringat masa lalu.
Masa lalu. Dua puluh tahun yang lalu. Di mana aku dengan-
nya tertawa bersenda gurau. Ah, terlalu banyak kenangan yang
kuingat, bagian masa lalu saat aku masih remaja. Namun, masih
teringat dengan jelas saat pertemuan sore itu. Tanggal dan

130 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


bulannya aku lupa tapi harinya aku masih ingat. Kamis Wage
atau malam Jumat Kliwon di saat banyak orang di desaku (Desa
Pekuncen) berkunjung ke tempat ini untuk memohon dan
berharap permohonannya dikabulkan Sang Penguasa. Mereka
masih melaksanakan ritual di tempat bersejarah ini.

Ritual yang biasanya disebut kliwonan bertujuan untuk
meminta berkah. Berbagai berkah bisa diperoleh masyarakat
dengan keyakinan bahwa hal-hal yang dilakukan disana me-
rupakan tradisi ngalap berkah dari Kanjeng Sunan Abinawa.
Mengawali ritual tersebut harus masuk ke area masjid dengan
menyucikan diri, berwudu, dan meminum air keramat dari
genthong putri.

Gentong itu sekarang ditanam di (serambi) masjid dan hanya
mulutnya yang kelihatan. Gentong itu diyakini sebagai satu
kesatuan dengan sumur yang ada di sebelah selatan masjid. Oleh
masyarakat, air sumur itu bisa sebagai sarana pengobatan dan
hal itu sudah banyak yang membuktikan. Caranya, air dari sumur
dimasukkan ke dalam genthong putri dan dari gentong itulah
diambil airnya. Sebelumnya harus bersuci terlebih dahulu, masuk
ke area masjid dengan melewati gapura. Saat akan memasuki
gapura, badan harus membungkuk. Gapura memang dibuat agar
posisi tubuh orang yang melewati membungkuk. Ini mempunyai
makna bahwa manusia harus mau tunduk dan mengerjakan
salat. Di makam inilah banyak orang berdoa membacakan
berbagai ayat Al-qur’an lalu bertahlil dan sangat yakin apa yang
mereka inginkan akan terkabulkan setelah mereka nanti pulang
dari sana. Ritual yang mereka lakukan pernah aku lakukan juga
dua puluh tahun yang lalu di tempat ini. Lalu, akupun teringat
masa laluku ….

“Lepas SMA nanti, aku mungkin tak bisa tinggal di kota ini
lagi, Dik. Aku harus ikut kakakku untuk melanjutkan studiku,”
ujarnya perlahan kala itu.

Perjumpaan yang Tak Biasa 131


Aku tak berani bertanya alasannya. Namun, pembicaraan
sore itu adalah obrolan terakhirku dengannya. Sejak itu tak
pernah ada lagi pertemuan apalagi obrolan antara aku dan dia.
Namun, malam ini setelah puluhan tahun berlalu tiba tiba aku
mengingatnya kembali.

Sejak saat itu aku melalui hari hariku dengan hati bercampur
sepi dan kesedihan. Aku berjalan sendirian di tengah-tengah
hidup yang gamang. Seperti malaikat yang kehilangan sayap dan
tak mampu lagi terbang. Aku mampu melalui masa sulit itu dan
melupakannya untuk beberapa waktu tentang dia, cinta pertama
cinta di masa laluku.

Dan saat ini ….
Aku dan keluargaku sudah berada di tanah Jawa. Bahkan di
luar dugaanku kami kembali ke tanah kelahiranku, Kendal, kota
kecil di daerah pantai utara. Dan aku sungguh terpana pada saat
melihat kemajuan tanah kelahiranku dalam dua puluh tahun
terakhir ini. Bangunan pertokoan dan perkantoran yang lebih
bagus dibandingkan saat kutinggalkan. Jalan raya lebar dan
halus. Sudah ada angkutan dan bus ber-AC yang dapat dinikmati
walau dengan harga ekonomis oleh rakyat. Ada taman kota di
alun-alun yang dulu tak pernah ada.
Namun, aku merindukan angkutan tradisional yang dulu
sering sekali digunakan saat aku masih kecil jikalau hendak be-
pergian bersama dengan ibuku. Ya, dokar! Aku belum menemu-
kan dokar walaupun sudah hampir setengah bulan berada di
tanah kelahiranku ini. Dan, terakhir kudengar bila dokar sudah
tak boleh lagi lalu lalang masuk jalan utama. Kalaupun masih
ada hanya di pasar pasar tertentu dan jumlahnya pun sudah kalah
dengan jasa angkut online. Aku dapat kembali ke tanah kelahir-
anku mengikuti karier suamiku sebagai aparat negara pada posisi
yang sangat diinginkan oleh beberapa anggota di instansi suami-
ku. Dengan kehidupan serba berkecukupan dan hormat yang

132 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


kadang terlalu berlebihan. Senang, saking senangnya aku tak bisa
mengungkapkan perasaanku.

“Besok Kamis Wage ada acara kliwonan di Pekuncen, Bunda
mau ikut?”

Tawaran suamiku membuat aku bingung. Haruskah aku ikut
setelah sekian lama aku tak pernah ke sana dan setelah sekian
lama aku melupakannya, namun tak pernah bisa hilang dari
ingataku. Bahkan, kini muncul rasa ingin tahuku tentang kabar
terbaru darinya dan tentangnya. Sungguh rasa cintaku pada masa
lalu telah mengunci hati dan perasaanku. Seperti nama tempat
itu Pekuncen atau Kekuncen yang artinya terkunci.

Keesokan harinya, tepat hari Kamis Wage menurut kalender
Jawa, aku dan suami, beberapa teman dari kantor suamiku, be-
serta pasukan lengkap mengawal kami untuk Giat Sore ke Pekun-
cen. Saat akan keluar rumah dinas aku bertanya pada suamiku.

“Kok lengkap banget toh Pah, pakai pengawalan segala?”
aku bertanya dengan mimik heran karena begitu banyaknya
anggota yang siap mengikuti lengkap dengan pengawalannya.
Lalu suamiku hanya menjawab singkat dengan bibir tersenyum.

“Ini persiapan biasa lho Mah, namun kebetulan sore ini di
acara yang sama, akan ada Gubernur Jateng ke TKP jadi kita siap-
kan anggota agar masyarakat dan pejabat yang berkunjung nya-
man dan aman,” ujarnya sambil menarik tanganku mengisyarat-
kan agar aku segera masuk ke dalam mobil karena sudah di
tunggu banyak orang.

Sepanjang perjalanan menuju Pekuncen kulihat pemandang-
an yang luar biasa. Jujur aku harus mengakui sudah banyak sekali
perubahan secara fisik pada tanah kelahiranku ini. Hampir dua
puluh tahun lalu aku meninggalkan kampung halamanku. Dulu
saat kutinggalkan sepanjang jalan masih banyak pohon dan
kebun-kebun kosong. Berjejer gubuk-gubuk kecil yang hanya ber-
dinding bambu atau kayu dengan atap jerami dan bagian bawah-
nya masih tanah. Namun, saat ini mulai memasuki daerah

Perjumpaan yang Tak Biasa 133


Patebon dan masuk ke arah daerah Pegandon sepanjang jalan
kulihat sudah banyak rumah rumah bagus. Hampir semua rumah
sudah permanen dengan model rumah kekinian. Ada yang
minimalis dan maksimalis.

Aku pun melihat bangunan sekolah di sepanjang jalan sudah
nampak lebih bagus dengan cat meriah dan nampak bersih serta
pagar yang kokoh di depan gedungnya. Hal ini sungguh jauh
berbeda dengan saat aku sekolah dulu. Jangankan diberi pagar
yang kokoh seperti sekarang ini, atap kelasnya saja terkadang
masih bocor dan lantai kelasnya saja masih tanah sehingga saat
musim hujan semuanya akan kotor dan becek. Aku melewati
dua pasar. Dulu tak ada pasar di Patebon. Tapi, tadi kulihat sudah
ada pasar walaupun lebih kecil dibandingkan dengan pasar di
Pegandon. Aku melihat pasar Pegandon yang sudah semakin
tertata rapi. Bagian depan dan pinggiran jalan di sekitar pasar
sudah penuh dengan ruko yang bentuk dan warnanya beraneka
ragam. Jadi semakin semarak. Sudah banyak penjual makanan
yang kulihat sudah bukan makanan khas Desa Pegandon lagi.
Menu makanan Timur Tengah juga sudah ada yang menjual.
Sampai tingkat desa ada kebab Turki ada roti mariam. Warteg
pun sudah banyak sekali. Makanan khas bule juga sudah bisa
dinikmati masyarakat. Ada burger, hotdog, jasuke, teh thai, tahu
hot, dan masih banyak lagi berjejeran di antara makanan khas
Indonesia lainnya seperti martabak, kue bandung, tahu bakso,
aneka gorengan, dan yang khas dari Pegandon baru aku lihat di
bagian akhir deretan penjual makanan yaitu kerupuk rambak
(kerupuk yang dibuat dari kulit kerbau atau kulit sapi). Menyebut
nama kerupuk rambak hatiku bergetar. Ada apa dengan kerupuk
rambak? Aku teringat di antara banyaknya pengrajin itu ada salah
satu anak pemilik kerupuk rambak yang sampai saat ini belum
bisa aku lupakan dalam kalbuku.

Suatu ketika saat aku remaja aku pernah bersamanya bermain
di depan tumpukan kerupuk-kerupuk rambak yang sedang di-

134 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


jemur. Di antara terik matahari siang itu. Namun, tak terasa panas
olehku dan Win kekasihku. Cinta pertamaku yang tak pernah
hilang dari ingatanku bahkan sampai detik ini pun.

“Kerupuk rambaknya kenapa harus dijemur dan di bolak
balik, ya?” tanyaku pada Win siang itu yang masih asyik men-
jemur kerupuk rambak.

“Biar keringnya merata Dik,” jawabnya singkat sambil tangan-
nya terus saja bekerja membolak-balikkan kerupuk. Sementara,
aku tetap dibiarkan menunggunya sampai tugasnya menjemur
kerupuk selesai. Dia menatap ke arahku dan mulai tahu kalau
aku sudah agak bosan dengan proses menjemur.

“Ayo Dik, kita main sepeda saja dulu biar ndak bosan.”
Dikeluarkannya sepeda ontel milik bapaknya. Lalu dia meng-
ajakku bersepeda. Sungguh aku merasa nyaman dan senang
walau hanya diajak jalan-jalan di desa bersepeda ontel saja. Terik
matahari yang membakar kulitku siang itu tak terasa panas.
Bahkan, aku biarkan saja membakar kulitku seperti hatiku yang
kala itu terbakar panah asmara. Perjalanan dengan sepeda ontel
tak terasa sudah sampai bendungan Jewero. Kulihat ada jembatan
gantung besi yang menghubungkan dua kecamatan yaitu Pegan-
don dan Gemuh. Bendungan Jewero berada di Desa Triharjo,
masuk dalam wilayah Kecamatan Gemuh. Untuk mencapai
tempat ini tidaklah susah karena di sana sudah tersedia angkutan
umum dan kondisi jalan pun sudah beraspal mulus. Saat itu
banyak pengunjung hanya pejalan kaki dan yang menggunakan
sepeda ontel. Orang desa banyak menyebut Jewero. Bendungan
yang dibuat di zaman kolonial Belanda biasanya dikunjungi
masyarakat untuk rekreasi karena kala itu tidak dipungut biaya
sepeser pun alias gratis. Sesampainya di Bendungan Jewero, Win
dan aku berjalan melintasi jembatan besi yang berdiri kokoh.
Sambil melihat air di bawah jembatan dan melihat juga banyak-
nya anak kecil yang berusaha melihat dan menemukan ikan-ikan
kecil seperti nila atau wader di pinggiran bendungan tersebut.

Perjumpaan yang Tak Biasa 135


Mereka begitu asyik menikmati pemandangan alam tersebut dan
aku juga asyik menikmati kebersamaanku dengan Win walaupun
hanya berjalan di atas jembatan sambil menuntun sepeda ontel.
Tak terasa hari sudah siang kudengar sudah beduk zuhur. Lalu
perjalanan di Jewero kami akhiri dengan menaiki kembali sepeda
ontel. Sungguh menaiki sepeda ontel bersama kala itu menjadi
pengalaman yang tak terlupakan olehku.

Aku tersentak kala tangan suamiku memegang tanganku dan
menyadarkan lamunanku di masa lalu. Ternyata perjalanan ke
Pekuncen sudah hampir sampai. Tampak penjual kaki lima
memenuhi pinggiran jalan sebelum area masuk Masjid Pekuncen.
Banyak sekali orang datang dan lalu lalang. Namun, bunyi sirine
membuat mereka minggir seketika. Aku sebetulnya lebih bisa
menikmati kunjunganku di saat hanya menjadi masyarakat biasa
di masa lampau, yang kalau datang ke Pekuncen untuk berdoa
dan berjalan-jalan sambil melihat lihat barang barang yang di-
jajakan di pinggiran jalan tersebut daripada harus datang dengan
posisiku saat ini, yang ternyata kalau harus jujur, tidak nyaman
juga karena serba protokoler dan ketat pengawalan. Aku hanya
mampu senyum sana senyum sini. Namun, sebagai pejabat baru,
suamiku dan aku belum mengenali semua yang disalami dan
diajak senyum tersebut.

Memasuki Masjid Pekuncen, kulihat tak banyak yang ber-
ubah selain bagian pagar dan lantai masjidnya yang sudah lebih
bagus dibandingkan dulu. Masjidnya masih kokoh dan nuansa
ukiran Jawa masih melekat di dalamnya. Tradisi masyarakat yang
masih dilestarikan dan dijunjung tinggi, masih dengan urutan
yang sama seperti masa lalu. Masuk ke masjid dengan mengambil
air di tempat wudu dan menggunakan air yang berasal dari gen-
thong putri yang konon dapat membuat wajah lebih cerah dan
awet muda. Lalu masuk ke masjid dengan melewati lorong yang
mengharuskan aku, suamiku, dan rombongan lainnya membung-
kuk. Ini adalah salah satu bagian ritual yang aku sukai. Karena

136 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal


di sini dengan membungkukan badan jelas semua manusia yang
akan masuk dianggap sama tidak melihat pangkat, jabatan,
bahkan harta yang dimilikinya. Semuanya dengan posisi yang
sama seperti manusia bila akan menghadap Tuhan-Nya. Ada rasa
yang susah aku ungkapkan tatkala berdoa di dalam masjid. Doa-
doa dipanjatkan sesuai dengan keinginan kita sebagai insan yang
tak punya daya upaya kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta.
Rasa yang susah aku ungkapkan bukan tata cara aku berdoa atau
sikapku yang masih canggung kala itu. Namun, aku seperti
ditarik pada masa lalu karena tempat yang aku duduki sekarang
sama persis seperti dulu aku duduki hanya saja aku yang men-
dudukinya sudah berbeda dibanding dua puluhan tahun lalu.
Aku yang kini sudah menjadi wanita dewasa dengan memiliki
suami dan anak-anak yang sudah beranjak remaja. Dengan ke-
dudukan karier suami yang sedang menanjak dan aku tak mau
peristiwa dulu terjadi lagi karena di tempat ini setelah aku berdoa
aku di tinggalkan kekasihku. Tak pernah ada kabar berita dan
tak pernah bersua hingga kini. Aku dengan kehidupanku saat
ini hanya ingin keluargaku bahagia dan rumah tanggaku utuh
serta aku dapat mendampingi suamiku dalam menjalankan
tugasnya. Selesai berdoa, aku dan rombongan beranjak me-
ninggalkan pelataran Masjid Pekuncen. Kembali dengan menu-
runi anak tangga masjid. Di sebelahku suamiku, tak pernah bisa
jauh dari tanganku. Tatapan matanya selalu tertuju padaku walau-
pun di tengah kesibukannya menjalankan tugas dan mendam-
pingi para tamu sore itu. Rombongan meninggalkan Pekuncen
menuju kembali ke pusat kota. Dalam perjalanan pulang aku me-
rasa kenangan lamaku di masa lalu ikut tertinggal dengan tapak
langkahku tadi sore di Pekuncen. Aku berusaha melupakan masa
laluku. Aku tak ingin mengingatnya kembali. Aku sudah meng-
uburnya cukup lama dan cukup dalam. Aku tak mau kembali ke
masa lalu karena itu hanya bagian dari masa remajaku. Aku tak
mau memiliki beban rasa yang bisa menjadikanku berdosa. Aku

Perjumpaan yang Tak Biasa 137


Click to View FlipBook Version