akhirnya berjodoh dengan anak kepala desa. Ada yang meman-
faatkannya untuk mempermudah mencari partner bisnisnya. Ada
pula yang digunakannya sebagai jalan mencari dukungan men-
jadi wakil rakyat.
“Putri,” kulihat Putri berada di antara mereka yang ikut dalam
antrean kontes tersebut. “Kamu mau ikut kontes ini juga ya?”
tanyaku.
“Iya. Putri coba ikut, Mas Guru,” katanya sambil memberi-
kan senyuman manis khas yang dimilikinya.
“Bagus. Semangat, ya. Mudah-mudahan tahun ini menang,”
kataku.
“Aamiin. Terima kasih, Mas Guru,” jawabnya.
Putri kukenal sebagai tetangga kontrakanku di Desa Boja ini.
Aku bukan orang asli Boja, aku hanya seorang pendatang yang
kebetulan ditugaskan di desa ini. Pada hasil rapat desa kali ini
mereka mempercayakan hajat kontes Nyai Dapu ini kepadaku.
Sebenarnya berat bagiku. Meskipun sudah tahun yang kelima
aku tinggal di desa ini, tetap saja aku harus hati-hati memper-
siapkan tradisi Syawalan di sini. Aku khawatir jika apa yang
dipersiapkan keluar dari jalur tradisi yang sudah turun temurun
sejak dulu.
Boja, desa yang tersembunyi. Terletak di antara daerah pantai
dan lereng gunung. Diapit oleh tiga kota besar. Bagian selatan
tampak Gunung Ungaran yang masuk wilayah Kabupaten
Semarang. Bagian timur laut desa ini adalah Kota Semarang,
sedangkan sebelah barat daya adalah Kabupaten Kendal.
Namun, untuk bisa sampai ke sini, tidak hanya sekadar me-
nyeberang perbatasan kota lalu sampai. Tidak. Dari pusat pe-
merintahan Kabupaten Kendal untuk bisa ke sini harus melewati
deretan hutan yang rimbun, seolah tak ada lagi kampung di ujung
sana. Dan ketika pengemudi terasa lelah, barulah keramaian Desa
Boja mulai tampak.
38 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Jika pengendara hendak ke desa ini dari arah Kota Semarang,
berjalanlah terus naik ke arah selatan, sampai pengendara mulai
menghirup udara segar, dan mulai dijumpainya persawahan. Di
situlah Desa Boja berada. Berjalan ke arah Boja, berjalanlah men-
jauh dari pantai Kendal dan Semarang, dan lebih mendekatlah
ke arah lereng Gunung Ungaran.
Tentang Putri, sebagai laki-laki normal dan single, aku tertarik
padanya. Tetapi aku belum memiliki keberanian untuk menyata-
kan isi hatiku padanya. Dengan rumah yang tak begitu jauh, aku
setiap hari melihatnya saat dia pergi kuliah dan langsung masuk
ke rumah saat pulang. Hampir tak ada kesempatanku untuk
berbincang dengannya. Hanya sekadar lempar salam dan senyum
tipis dari bibir kami masing-masing.
***
Sebulan lagi bulan Ramadan datang. Berarti sekitar dua bulan
lagi memasuki bulan Syawal. Hajat besar desa ini akan dilaksana-
kan pada bulan ini. Entah sudah berapa tahun lamanya desa ini
mengadakan hajat yang biasa disebut Syawalan. Biasanya tujuh
hari setelah Idulfitri, acara pesta arak-arakan dilaksanakan di desa
ini. Peserta arak-arakan berasal dari berbagai dusun di Kecamatan
Boja. Mereka akan berupaya tampil sebaik mungkin sebagai pres-
tise dusun mereka sendiri. Semakin baik penampilannya, se-
makin baik prestise dusun itu di hadapan masyarakat.
Beberapa hari menjelang kontes final, para kontestan ini telah
menjadi perbincangan warga. Ada warga yang menebak-nebak
siapa yang akan menjadi pemenangnya. Putri banyak disebut-
sebut orang akan menjadi pemenangnya. Tak hanya cantik, dia
memiliki teman yang cukup banyak sehingga kalau dihitung
popularitasnya, Putri lebih unggul dari yang lain.
Pagi ini para kontestan berkumpul di pendopo kecamatan.
Para juri, peserta, dan tak sedikit pula penonton berkumpul di
tempat itu. Modal peserta kontes tak hanya cantik, tapi memiliki
karakter yang kuat untuk memerankan tokoh Nyai Dapu. Sebagai
Perjumpaan yang Tak Biasa 39
salah satu juri, aku memberikan kesempatan kepada para kontes-
tan untuk menampilkan kemampuannya. Satu per satu para
peserta kontes maju ke atas panggung. Dengan penampilan yang
cantik-cantik dan baju yang indah-indah mereka memperkenal-
kan diri.
Putri melenggang di atas panggung dengan percaya diri.
Penampilannya bak seorang putri yang turun dari kahyangan.
Dia kenakan gaun merah panjang. Kain jarik motif batik parang
terlihat saat Putri melangkah. Di atas kepalanya terpasang mah-
kota berwarna kuning emas. Rambutnya disanggul ke atas rapi.
Penampilannya yang memang cantik semakin memesona. Semua
juri terpana termasuk diriku. Apalagi saat dia mampu menjawab
berbagai pertanyaan. Dewan juri pun semakin kagum. Kecerdas-
an Putri pun terlihat.
“Putri, coba ceritakan, nilai-nilai kehidupan yang telah di-
lakukan oleh Nyai Dapu dan hal tersebut masih relevan pada
saat ini?” tanya seorang juri.
“Pertama, Nyai Dapu telah membuat sebuah sungai untuk
irigasi, yang sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh warga
untuk pengairan sawah. Kedua, nilai-nilai religi keislaman yang
telah diajarkan oleh Nyai Dapu masih terus diamalkan oleh
warga. Ketiga, dia adalah seorang pejuang wanita. Usaha yang
dilakukannya terhadap kemanusiaan telah memotivasi para
kaum wanita zaman sekarang untuk berbuat banyak terhadap
masyarakat.“
Para penonton bertepuk tangan dengan jawaban Putri. Para
juri pun puas dengan jawabannya. Saat penilaian, Putri men-
dapatkan perolehan skor nilai tertinggi dibandingkan kontestan
yang lain. Terpilihlah putri menjadi pemenang utama Kontes
Nyai Dapu.
***
Sebagai pemenang utama pada Kontes Nyai Dapu, Putri
mulai menyesuaikan perannya. Jadwal kegiatannya mulai padat.
40 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Tak hanya sekadar berangkat kuliah kemudian pulang, tetapi
juga, Putri kini wajib untuk ikut aktif dalam kegiatan di masya-
rakat. Dia sering ditugaskan oleh para pejabat di desa ini me-
lakukan sosialisasi dalam banyak hal. Kalaupun bukan dia sendiri
yang melakukannya, paling tidak dia diminta untuk menemani
ibu pejabat di desa ini dalam kegiatan ibu-ibu desa seperti PKK,
posyandu, puskesmas, aktif dalam kegiatan karang taruna, dan
pendidikan Al-Qur’an. Seolah dia benar-benar menjadi sosok
Sang Nyai yang dia perankan itu. Dia menjelma menjadi Sang
Nyai yang hidup kembali pada zaman modern ini.
“Mas Guru, jadi nanti saya pakai baju ini?” tanyanya sambil
menunjukkan baju kirab.
Baju itu berwarna merah bagian kemeja, celana berwana
kuning, dan selendang berwarna putih. Warna ini memiliki filo-
sofi mengenai kemakmuran. Maka dalam hal kirab, memakai
pakaian pun tak bisa sembarangan.
“Iya, ini baju turun temurun. Buat ratu Boja. Dan tahun ini,
kamulah sang ratu itu. Kamu pasti cantik dengan baju ini.”
Seakan sadar bahwa aku sedang merayunya, dia tersipu.
Dipegangnya baju itu, lalu alis matanya seakan menyatu. Aku
segera menebak apa yang dipikirkannya.
“Kamu jangan khawatir, baju ini sudah dicuci kok.”
Dia terkekeh mendengar penjelasanku. Sebagai seorang ketua
panitia Syawalan, aku memiliki kesempatan untuk berbincang
dengan Putri dalam rangka persiapan acara ini. Aku memberikan
penjelasan padanya, menemaninya untuk melengkapi kebutuhan
karnaval, mempelajari sejarah, dan lain-lain.
Semakin lama rasa kagumku kepadanya semakin mendalam.
Namun, terkadang aku sendiri tak berdaya dengan kelemahanku.
Aku masih saja tak ada keberanian mengutarakan rasa cintaku
padanya. Aku hanya bisa menahan rasa cemburu manakala aku
melihat beberapa pria bertamu di rumahnya. Terutama ada satu
orang polisi yang begitu aktif mendekatinya. Secara perawakan
Perjumpaan yang Tak Biasa 41
aku kalah dengannya. Dia memiliki badan yang tinggi dan tegap,
sementara aku, …. Ah, aku mulai dihinggapi rasa tidak percaya
diri. Meskipun aku seorang guru, seorang akademisi, tiba-tiba
saja aku merasa menjadi orang paling bodoh saat aku jatuh cinta.
Aku kini seolah ikut merasakan apa yang dialami oleh Kyai
Dapu, suami dari Nyai Dapu. Ketika Nyai Dapu berhasil mem-
buat sebuah sungai untuk kemakmuran rakyat Boja, nama sang
istri menjadi lebih populer dibandingkan dengan suaminya. Kyai
Dapu merasa malu kemudian pergi meninggalkan istrinya me-
nuju ke sebuah desa di bagian barat Boja. Dia mendirikan pe-
santren di sana hingga akhir hayatnya.
***
Mataku mengawasi ke arah sekitar. Tangan-tangan para pe-
muda trampil merias gunungan buah dan sayur yang akan di-
bawa pada esok hari. Dan di sudut sana, Putri tampak sedang
berbincang dengan Pak Polisi. Polisi itu seakan mengambil ke-
sempatan untuk mengawal Putri dalam melakukan aktivitasnya.
“Hai, Pak Komandan, jaga sang putri ya,” demikian teriakan
salah satu aparat desa menggodanya.
“Sip,” ujar polisi itu sambil mengacungkan jempolnya. Orang
lain yang di sekitar pun ikut tertawa.
Keesokan paginya Putri didandani bak Nyai Dapu. Dia ter-
lihat begitu cantik dengan kostum yang telah disiapkan panitia.
Seekor kuda disediakan sebagai tunggangan Putri dalam kar-
naval tersebut. Kuda tersebut dituntun oleh dua orang polisi.
Namun, keduanya tidak mengenakan kostum polisi. Mereka
menggunakan baju Jawa, berperan sebagai Ki Wonobodro dan
Ki Wonosari, pengikut setia Nyai Dapu.
Kami berkumpul di lapangan yang telah ditentukan. Aneka
macam kostum berwarna-warni menambah semarak suasana
karnaval. Pasukan pengawal memakai baju jubah putih-putih
dengan peci warna putih. Tangan mereka memegang tasbih.
42 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Mereka berjalan tegap dengan dikomando oleh satu orang yang
memberi aba-aba. Tatapan mata mereka tegas ke depan.
Orang-orang dari tua, muda, besar, kecil, kaya, atau pun
miskin berjajar di pinggir jalan. Ada di antara mereka yang me-
makai payung untuk menangkis sorot matahari agar tak sampai
ke tubuhnya. Ada pula yang menggunakan topi di kepalanya.
Banyak pula yang berteduh di bawah pohon di pinggir jalan.
Ada juga yang melihat pasukan dari atas lantai dua.
Sesekali mereka berteriak bila ada yang mereka kenal. Se-
sekali mereka bertepuk tangan melihat atraksi yang ditampilkan.
Ada pula yang tertawa terbahak melihat peserta karnaval yang
berpenampilan lucu. Ada pula yang berdecak kagum melihat
kecantikan peserta karnaval yang dirias bak seorang putri. Semua-
nya nampak ceria menyaksikan warna-warni karnaval yang me-
lewati depan mata mereka.
Meski jarak tempuh perjalanan hanya sekitar lima kilometer,
perjalanan butuh waktu sekitar tiga jam baru sampai di garis finis.
Tentu saja, berjalan dalam pasukan karnaval tidaklah sama se-
perti saat berjalan sendiri. Macet, berhenti berjalan, menampilkan
atraksi, hal itu membuat perjalanan menjadi lambat. Pasukan
selesai berjalan di sebuah lapangan pula. Peserta karnaval yang
kulihat tidak secerah ketika mereka berada di lapangan pembe-
rangkatan tadi siang. Bedak putih di wajah telah bercampur
dengan debu dan keringat sehingga warna putihnya memudar
membentuk garis-garis yang menampakan warna asli kulit mereka.
Bau tubuh mereka tidak lagi seharum waktu mereka berangkat
tadi siang. Warna keceriaan saat awal berubah menjadi warna-
warna kelelahan para peserta karnaval.
***
“Suksesnya acara ini tidak lepas dari kerja sama para panitia
kegiatan yang dikomandani oleh Mas Guru yang telah men-
curahkan pikiran, tenaga, waktu untuk kegiatan ini,” Pak Camat
memberikan sambutannya di acara penutupan panitia Kontes
Perjumpaan yang Tak Biasa 43
Nyai Dapu. “Sekali lagi saya ucapkan selamat. Tradisi ini bukan
hanya sekadar pesta bagi warga Boja, tapi mengandung arti lebih.
Figur Nyai Dapu yang terpilih di tahun ini, Mbak Putri juga
sukses memainkan perannya dengan baik. Harapannya keteladan-
an karakter Nyai Dapu bisa diteladani oleh generasi muda.
Seorang tokoh wanita yang peduli lingkungan dan warga di sini.”
Aku cukup merasa lega dengan berakhirnya tugasku sebagai
ketua panitia Kontes Nyai Dapu di tahun ini. Kepuasan para
pemangku jabatan dan kegembiraan warga menjadi kepuasanku
juga. Selain itu, prestise nama baikku di masyarakat juga semakin
meningkat meskipun masih kalah pamor dibandingkan dengan
Putri, figur Nyai Dapu. Aku hanya pemain di belakang layar.
Hanya orang yang berkepentinganlah yang mengenalku, tetapi
Putri adalah sosok di depan panggung yang perannya lebih
terlihat dari padaku.
Soal kedekatannya dengan Pak Polisi, aku semakin tahu diri
untuk tidak meraih cinta Putri. Pengawalan Pak Polisi kepada
Putri sudah kemanapun dan kapan pun. Semua orang tahu itu.
Aku semakin tak ada keberanian dan semakin tak percaya diri.
Meskipun begitu, untuk mengikhlaskan sepenuh hati pun, aku
tak kuasa. Seringkali aku diliputi oleh rasa cemburu bila melihat
mereka berdua di berbagai kesempatan. Bahkan pada saat Putri
sendiri terlihat di rumah, aku memilih menghindar. Ada keingin-
an untuk mendekat, tapi tertahan oleh rasa kecewa yang lebih
besar dari keinginannku itu. Hingga suatu saat, tak ingin tersiksa
oleh perasaan seperti itu terus-menerus, aku memutuskan pindah
kontrakan sekitar enam kilometer dari kontrakan lama.
***
Suatu senja yang cerah. Aku berkesempatan santai di teras.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu berat. Tidak ada pikiran yang
mengganggu. Aku membuka Wa-ku dan membaca pesan yang
belum sempat terbaca. Serta membalas pesan yang belum sempat
terbalas selama siang hari tadi.
44 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Seorang wanita yang lebih memilih kesuksesan karier,
biasanya kehidupan rumah tangganya juga tak sempurna, begitu
kan Pak Guru?” tanya Siska anak Pak Kepala Dusun melalui Wa.
Gadis ini sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa se-
perti itu. Meski belum lama kukenal, tiga bulan semenjak ke-
pindahanku ke Dusun Mertosari, dia sering mengajakku ber-
diskusi.
“Tidak juga! Tergantung, bagaimana wanita itu bisa mem-
perlakukan suaminya. Kadang meskipun perlakuan sang istri
sudah baik, tetapi ada suami yang tetap merasa tidak dihargai.
Kalau zaman sekarang kedudukan suami atau istri tidak terlalu
mencolok. Laki-laki dan perempuan zaman sekarang itu setara.
Beda dengan zaman Nyai Dapu. Meskipun Nyai Dapu sudah
memperlakukan suaminya dengan baik, tetap saja sang suami
memilih pergi darinya karena untuk harga diri laki-laki.”
Sementara aku menutup percakapanku dengan Siska kemudian
menyusuri Wa-Wa lain yang hendak dibaca. Terkadang Wa grup
sering kuabaikan, namun japri pasti kubaca. Aku terkejut ketika
ada Wa dari Putri. Rasa penasaran muncul untuk segera mem-
buka Wa.
“Pak Guru, apa kabar?” kubaca pesannya. Aku melihat tulis-
an online di wall Wa Putri. Ternyata dia sudah kirim pesan ini
sekitar dua jam yang lalu. Aku baru menyadarinya sekarang. Pasti
dia sudah menunggu balasanku dari tadi.
“Baik. Putri apa kabar?” jawabku singkat. Ini adalah sapa-
anku yang pertama kepadanya melalui Wa semenjak aku pamit
pindah dari desa itu. Perpisahan yang menyakitkan kala itu
karena pesan Wa pamitku tak dibalasnya hingga sekarang.
“Tidak cukup baik, Pak Guru,” kali ini dia langsung mem-
balasnya. Mungkin karena dia cukup lama menunggu balasan
Wa-ku.
“Lho kok tidak cukup baik, kenapa?” tanyaku.
“Karena lama tidak ketemu Pak Guru,” Balasnya lagi.
Perjumpaan yang Tak Biasa 45
Aku membalasnya dengan emoji tertawa. Tak ada beban
emosi apa pun di hatiku sehingga aku bisa ringan saja membalas
chat-nya.
“Bukankah sudah ada Pak Polisi yang siap mengawal Putri
ke mana pun?”
“Itu anggapanmu, kan Pak Guru, juga anggapan semua
orang. Tapi bagi Putri berbeda. Kalau ada waktu Putri ingin
ketemu Pak Guru. Bisa kan?”
Aku terdiam cukup lama untuk memikirkan jawaban apa
yang mesti kusampaikan padanya. Selama ini aku merasa se-
pertinya roh Nyai Dapu masuk ke dalam diri Putri dan roh suami-
nya, Ki Dapu Praja, masuk ke dalam diriku. Sehingga selama ini
aku tidak punya daya untuk ketemu dia. Posisi dia sebagai ratu
desa dengan pengawalan khusus dari seorang polisi. Aku apalah
dibandingkan dengan polisi itu dan popularitas Putri. Bahkan,
untuk menegur lewat hp atau Wa pun, aku tiada daya. Pada saat
aku baca Wa Putri ini, aku kembali punya keberanian untuk
menyapanya karena dia sendiri yang memulai.
Tetapi, kepedihan yang dulu, kecemburuan yang dulu
pernah ada, kini telah reda. Rasa cintaku padanya seolah telah
kikis. Aku tak lagi berdebar saat berbincang dengannya. Aku telah
punya pilihan yang lain. Pilihan, aku akan menemui undangan
Putri atau pun tidak sama sekali menemuinya? Aku memang
belum tahu pasti apa yang akan disampaikannya padaku. Yang
pasti, aku tidak lagi menempatkan Putri menjadi bagian yang
istimewa dalam hatiku.
Pada saat ini, aku baru menyadari perempuan yang benar-
benar kubutuhkan. Bukan perempuan sempurna yang populer
bagaikan seorang ratu. Tapi, perempuan sederhana, perempuan
yang mungkin saja bisa membuatku lebih berarti sebagai laki-
laki. Entah itu Putri, Siska, atau perempuan lain.
***
46 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
7.
Menyapu Jejak Suparti
Desi Wiramurti
Malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Terasa
dingin dan angin bertiup cukup kencang. Sudah
cukup lama hujan tidak membasahi alam. Gersang. Tak jauh
berbeda dengan hati Rusman, lelaki yang sedang menikmati
dinginnya angin malam di teras rumahnya sembari menikmati
secangkir kopi hitam. Sesekali, suara burung hantu menemani
Rusman menikmati kopi hitamnya yang sudah mulai dingin.
“Rus.” Beberapa orang yang melewati jalan depan rumahnya
menyapa Rusman.
“Ya,” Rusman membalas sapaan mereka dengan kalimat
singkat.
Malam sudah hampir larut. Rusman masuk ke dalam rumah.
Bukan untuk tidur. Tetapi, ia merebahkan diri di tikar lusuh yang
sudah berlubang di beberapa bagian. Jari-jarinya sibuk menekan-
nekan tombol ponsel. Tidak ada satu pesan pun yang ia terima
di ponselnya itu. Sama seperti di rumahnya itu yang tak ada
siapa-siapa selain dirinya sendiri.
Dinginnya malam tiba-tiba membangunkan Rusman. Ia lihat
jam dinding, ternyata masih dini hari. Ia memang tidak ingin
bangun terlambat. Pukul 05.30 ia harus sudah berkumpul dengan
Perjumpaan yang Tak Biasa 47
teman-teman kerjanya di poskamling, di tepi sawah tak jauh dari
rumahnya.
“Hei, Rus!” sapa temannya yang sudah datang lebih dulu.
Rusman datang sedikit lebih awal dari waktu yang ditentu-
kan. Namun, beberapa temannya sudah ada yang datang lebih
dahulu. Dengan pakaian yang terkesan apa adanya dan agak
kotor, mereka membawa sabit dan botol minum berukuran agak
besar. Sambil menunggu teman yang belum datang, mereka
menikmati sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang
sambil berbincang-bincang seputar pekerjaan yang akan mereka
lakukan. Sesekali terdengar kata-kata umpatan yang sudah biasa
mereka dengar dan ucapkan. Tak jauh dari tempat mereka ngo-
brol, sudah terparkir mobil pick up. Mobil yang akan mengangkut
mereka ke tempat mereka bekerja.
“Kurang siapa ini? Sudah komplit belum?” tanya salah satu
orang dengan suara yang sangat keras.
“Komplit,” jawab beberapa orang dengan suara keras pula.
Tak lama kemudian, mereka naik ke mobil pick up sambil
membawa barang-barang yang mereka gunakan untuk bekerja.
Rusman duduk lesehan di bagian tengah mobil. Mobil terasa agak
sesak karena ada sepuluh orang yang menaikinya. Mereka me-
nikmati perjalanan sambil bersenda gurau dan menikmati embus-
an angin kencang beraroma debu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya
mereka sampai di suatu jalan yang tak terlalu lebar. Di sisi kanan
kiri dipenuhi sawah dengan padinya yang menguning, yang
entah berapa hektar luasnya. Tanpa dikomando, Rusman dan
teman-temanya melompat dari mobil dan duduk berjejer di tepi
jalan, berkumpul dengan orang-orang yang sudah duduk terlebih
dahulu tiba di tempat itu. Selain pemilik sawah, banyak pula
wanita yang sudah tidak kelihatan muda dengan membawa
karung putih berukuran agak besar, selendang panjang, dan
potongan bambu pipih yang tak terlalu panjang. Caping lebar
48 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
juga menutupi kepala para wanita itu agar panas matahari tak
terlalu menyengat wajah mereka. Terlihat pula aneka makanan.
Ada sega kendil, gudangan, ikan asin, ayam balado, tahu, tempe.
Makanan untuk selamatan sebelum memanen padi.
Setelah berdoa bersama, mereka menyantap aneka makanan
yang sudah disiapkan oleh pemilik sawah. Rusman makan
dengan lahap. Ia memang belum sarapan dari rumah. Setelah
selesai menyantap aneka makanan, Rusman dan yang lain ber-
gegas berjalan menuju ke tengah persawahan. Rusman berjalan
menyusuri jalan kecil di sela-sela persawahan. Cukup jauh jarak
yang harus ditempuh untuk sampai di sawah tempatnya bekerja.
Bukan sawah miliknya, tetapi milik tetangga yang rumahnya
agak jauh dari tempat tinggalnya.
Mesin perontok padi sudah terlihat di sawah yang sudah
tidak terlihat tanaman padi. Hanya ada sisa-sisa batang padi yang
sudah dipanen. Rusman segera melakukan tugasnya sebagai
tukang derep, buruh memanen padi. Di musim kemarau ini
masuk ke masa panen padi. Rusman hanya seorang pekerja se-
rabutan. Saat musim panen padi, ia sering diminta tetangganya
untuk derep. Kadang ia juga bekerja sebagai buruh bangunan.
Sedikit demi sedikit, Rusman memotong batang padi dengan
sabit yang ia bawa. Matahari sudah tepat di atas kepala ketika
Rusman selesai memotong padi di sawah yang tergolong sangat
luas. Ia lalu merapat ke tempat mesin perontok padi berdiri.
Mesin tleser, begitu orang di desa itu menyebutnya. Desa kecil
yang ada di dekat pusat Kota Kendal, Jawa Tengah.
“Yu, kemarin katanya Pak Wandi meninggal, ya?” tanya se-
orang wanita yang sudah agak tua kepada wanita di sebelahnya.
“Ya. Padahal tidak sakit lho. Subuh saja masih ke masjid kok,”
jawab wanita di sebelahnya sambil merontokkan padi dengan
batang bambu yang sudah dipipihkan.
Para wanita itu memang sering melakukan pekerjaannya di
sawah dengan berbincang-bicang dan bersenda gurau bersama
Perjumpaan yang Tak Biasa 49
teman-temannya. Mereka datang dari beberapa desa untuk men-
datangi sawah-sawah yang sedang memanen padi untuk ngasak,
mengumpulkan padi sisa panen yang tertinggal atau jatuh ke
tanah.
Langit hampir gelap ketika Rusman selesai menaikkan
karung-karung besar berisi padi hasil panen hari ini ke mobil
pick up. Setelah menerima upah derep, Rusman dan dan teman-
temannya pulang ke rumah masing-masing dengan menaiki
mobil pick up seperti saat berangkat pagi tadi.
Azan magrib masih terdengar ketika Rusman memasuki
rumahnya. Ia segera menyalakan lampu rumahnya. Cahaya lampu
seketika menerangi wajah laki-laki yang berusia empat puluh
tahunan ini. Wajahnya yang hitam karena terbakar matahari
terlihat sangat lelah.
“Rus, nanti setelah magrib, kamu disuruh selamatan di rumah
Pak Sardi. Tingkeban anaknya,” kata tetangga belakang rumahnya
sambil sedikit berteriak di depan kamar mandi milik Rusman.
“Ya, Mak Mun, “ jawab Rusman dari dalam kamar mandi.
Walaupun lelah, Rusman tetap menghadiri selamatan ting-
keban di tetangganya. Dengan harapan selain mendapatkan ber-
kat, yaitu makanan yang dibawa pulang setelah selamatan, ia
juga berharap bisa mendapatkan bola yang ditukarkan dengan
seekor ayam yang masih hidup. Di desanya, wanita yang hamil
anak pertama, ketika kandungannya memasuki tujuh bulan maka
diadakan tingkeban untuk memohon keselamatan anak yang ada
di dalam kandungan.
Ketika Rusman sampai di rumah Pak Sardi, sudah banyak
orang yang datang, dan semuanya adalah laki-laki. Rusman
duduk bersila. Di hadapannya ada banyak berkat yang dibungkus
tas plastik. Ada mangkok berisi air, beberapa jenis bunga, dan
beberapa uang logam sebagai sesajen. Di halaman rumah Pak
Sardi, sudah berkumpul anak-anak dan ibu-ibu untuk ikut kebluk,
bagian dari acara tingkeban.
50 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Setelah selamatan selesai, acara kebluk dimulai. Calon ayah
dari sang bayi melempar kendi berisi air ke halaman rumah.
Kemudian melempar galar, alas dipan yang terbuat dari bambu
panjang yang dipipihkan sebagai alas untuk meletakkan kasur.
Lalu salah satu ritual yang ditunggu-tunggu adalah berebut
makanan dalam kalo, anyaman bambu yang bentuknya seperti
baskom yang dibawa oleh calon ayah tersebut. Ada sega golong,
gudangan, telur rebus, aneka lauk, jajanan pasar, bahkan kaca
kecil, jarum, dan benang juga ada di dalam kalo itu. Entah apa
makna dari adanya kaca, jarum, dan benang itu. Mungkin yang
lebih paham adalah embah, buyut atau nenek moyang terdahulu
yang menurunkan tradisi tingkeban ini ke anak cucunya.
Sebenarnya yang paling diincar dari isi kalo itu adalah ayam
panggang yang berukuran cukup besar. Rusman tidak ikut
merebut isi kalo karena ia lebih tertarik untuk mendapatkan bola.
Setelah Rusman meletakkan berkat di pojok teras rumah Pak
Sardi, ia menyingkap sarung yang dipakainya dan bersiap-siap
untuk menangkap bola karet kecil yang dilemparkan oleh sang
calon ayah ke udara. Namun Rusman tidak berhasil mendapat-
kan bola itu karena memang keadaannya cukup gelap. Ia pun
gagal mendapatkan seekor ayam hidup yang akan diperoleh
setelah menukarkan bola ke tuan rumah. Rusman bergegas
pulang ke rumah sambil menenteng berkat di tangan kanannya.
Sayup-sayup masih terdengar suara yang diucapkan secara
bersama-sama dengan keras.
“Laki-laki. Perempuan. Perempuan,” ucap orang-orang di
halaman rumah Pak Sardi.
Ritual terakhir dari tingkeban adalah sang calon ayah me-
lemparkan kalo ke udara sebanyak tiga kali. Apabila kalo jatuh
ke tanah dengan posisi tertutup, maka anaknya akan lahir laki-
laki. Jika kalo terbuka maka anaknya akan lahir perempuan. Dan
yang menentukan adalah posisi kalo yang dilempar paling ter-
Perjumpaan yang Tak Biasa 51
akhir. Begitulah cara orang-orang di desa itu “meramal” jenis
kelamin dari si calon bayi.
Sampai di rumah, Rusman langsung membuka berkat dan
menyantapnya karena memang perutnya sangat lapar. Seketika
ia teringat dengan Rini, putri semata wayangnya. Rini sangat
menyukai aneka makanan yang menjadi ciri khas di berkat
tingkeban. Ada kacang rebus, tebu, jambu, ketela, singkong, lepet,
ketupat, beberapa jenis talas yang dipotong agak kecil dan di-
bungkus dalam satu plastik.
***
Sudah lama Rini tidak serumah dengannya. Sekitar dua
setengah tahun yang lalu, ia memilih tinggal bersama budenya,
kakak ipar Rusman. Tepatnya sejak Rini masuk SMP. Rusman
tidak tahu pasti mengapa Rini lebih memilih tinggal dengan
budenya, bukan dengannya. Mungkin Rini merasa kesepian
tinggal di rumah ayahnya. Setiap hari Rusman bekerja serabutan
dari pagi sampai sore. Ketika di rumah pun ia dan Rini sangat
jarang berbincang-bincang. Mereka hanya berbicara seperlunya
saja. Dengan sifatnya yang kaku, Rusman kurang paham cara
menjalin kedekatan dengan anaknya itu. Rini pun tumbuh men-
jadi anak yang pendiam, pemalu, bahkan tertutup. Tidak seriang
dan selincah anak-anak seumurannya. Sementara, di rumah
budenya, ia tak terlalu kesepian karena di sana ada tiga kakak
sepupunya.
Beberapa bulan lagi Rini lulus SMP. Sebenarnya ada keingin-
an di hati Rusman untuk meminta anaknya kembali ke rumah-
nya. Ketika Rusman mencoba memejamkan matanya di malam
hari, ia sering merasa rindu dengan Rini. Walaupun tidak terlalu
akrab dengan anaknya sendiri, paling tidak ada seseorang yang
menjadi alasan Rusman untuk pulang ke rumah setelah seharian
bekerja. Ya, rumah yang terbilang bagus. Berdinding tembok dan
berlantai keramik. Walaupun dulu hanya rumah warisan dari
mertua Rusman yang hanya berdinding papan dan beralas tanah.
52 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Pak, besok disuruh rapat di sekolahku,” tiba-tiba terdengar
suara perempuan dari depan pintu kamar mandi rumah Rusman
sambil menyodorkan sebuah kertas buram yang dilipat.
Suara itu sedikit mengagetkan Rusman yang sedang mencuci
panci di kamar mandi yang sederhana itu. Ternyata Rini yang datang
dengan membawa surat undangan dari sekolahnya. Walaupun
tidak setiap hari, namun kadang-kadang Rini datang ke rumah
ayahnya untuk membantu ayahnya membersihkan rumah.
“Pukul berapa?” tanya Rusman dengan nada yang tidak ter-
lalu lembut.
“Sembilan,” jawab Rini dengan kalimat yang singkat.
Sebenarnyatidak adamasalah apapun antaraRusman dengan
anaknya. Tapi Rusman memang laki-laki yang kurang pandai
memuji, berbincang-bincang dengan hangat, bahkan kurang
humoris. Jadi, ia kurang dekat dengan anaknya sendiri. Walau-
pun sebenarnya ia sangat menyayangi anaknya.
Langit sudah mulai gelap ketika Rini pamit dengan ayahnya
untuk pulang ke rumah budenya. Beberapa burung nampak
terbang ke arah timur. Rumah Rusman nampak rapi setelah Rini
menyapu lantai dan merapikan beberapabarang di dalam rumah
itu. H ari ini Rusman pulang agak cepat karenasaw ah yag diderep
tidak terlalu luas. N amun rasa lelah tetap tak bisa menjauh dari
raut w ajah Rusman yang terbakar matahari.
“ Rus. Rus,” terdengar suara seorang laki-laki sambil menge-
tuk pintu Rusman.
Ternyata tetangga Rusman meminta secara mendadak agar
Rusman ikut derep di saw ahnya. Rusman mengiyakan perminta-
an tetangganya itu tanpa menghiraukan undangan rapat di
sekolah Rini. Karena baginya, bekerja dan mencari uang itu lebih
penting dari sekadar ikut rapat di sekolah anaknya.
H ari ini Rusman pulang sebelum azan magrib terdengar.
Beberapajam setelahnya, kakak ipar Rusman masuk kerumahnya
karena memang pintunya tidak tertutup.
Perjumpaan yang Tak Biasa 53
“Rus, lha tadi itu kan harusnya kamu rapat di sekolah Rini.
Kok tidak datang? Rininya sampai nangis itu,” kata kakak ipar
Rusman dengan nada agak kesal.
“Lha aku derep kok,” jawab Rusman dengan nada tak ber-
salah.
“Mbok kalau tidak bisa datang itu bilang, kok menyepelekan,”
kata kakak iparnya lagi dengan nada semakin meninggi.
Telinga Rusman terasa agak panas mendengar ucapan kakak
iparnya.
“Lha lebih penting kerjaanku, toh. Kalau aku tidak kerja, apa
sampean mau ngasih aku uang?” kali ini jawaban Rusman dengan
nada tinggi.
“Ya sudah, kalau memang kamu tidak mau mengurusi anak-
mu, biar ia aku yang ngurus. Kembalikan juga rumah ini. Ini kan
rumahnya Parti. Milik orang tuaku,” kata kakak iparnya dengan
penuh emosi sambil keluar meninggalkan rumah Rusman.
Mendengar kalimat terakhir dari kakak iparnya itu, seketika
Rusman merasa tubuhnya seperti terlempar ke dasar sumur yang
kering. Harga dirinya sebagai laki-laki, apalagi sebagai seorang
suami seperti dihempaskan ke dasar jurang penuh bebatuan.
Suparti. Tiba- tiba kepalanya mengingat nama itu. Entah di mana
ia sekarang. Mengapa tidak pulang. Apakah masih hidup atau
sudah mati. Apakah sedang bekerja atau sudah menikah lagi
dengan laki-laki lain. Apakah? Apakah? Mengapa? Mengapa?
Dulu pertanyaan itu setiap saat ada di kepalanya. Perlahan meng-
hilang. Namun, malam ini muncul kembali.
***
Rumah ini memang milik Suparti. Ia pula yang sudah “me-
nyulap” rumah yang dulunya seperti gubuk hingga menjadi
rumah bagus dengan dinding tembok dan lantai keramik. Sudah
beberapa kali Suparti pergi ke luar negeri sebagai TKW. Bahkan,
sejak sebelum ia menikah dengan Rusman. Rusman menikah
dengan Suparti setelah Suparti bercerai dengan suami pertama-
54 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
nya. Suparti adalah janda muda yang cantik. Tidak hanya cantik,
tapi ia juga tinggi dan manis. Hidungnya mancung, rambutnya
lurus panjang, kulitnya sawo matang. Tak heran jika Rusman
tak menolak untuk menikah dengannya. Suparti menikah dengan
suami pertamanya saat berumur tujuh belas tahun. Tak lama
umur pernikahannya. Ia lalu bercerai karena suami pertamanya
selingkuh dengan perempuan lain.
Pergi ke luar negeri sebagai TKW adalah salah satu bentuk
pelarian Suparti dari patah hatinya. Sampai akhirnya ia dekat
dengan Rusman, tetangganya sendiri yang hanya beda RT saja.
Sebenarnya mereka sudah saling kenal sejak kecil. Lalu kakak
Suparti menjodohkannya dengan Rusman, perjaka berkulit hitam
yang tak lebih tampan dari suami pertamanya. Suparti hanya
memiliki dua kakak perempuan saja yang masing-masing sudah
memiliki rumah tangga sendiri. Suparti sudah yatim piatu sebelum
menikah dengan Rusman. Dan ia menempati rumah peninggalan
orang tuanya seorang diri.
Setelah dua bulan menikah dengan Rusman, Suparti hamil
anak pertama. Kehamilannya cukup membuat Rusman repot.
Suparti lebih sering terbaring di kasur dan hanya sedikit makanan
yang masuk ke mulutnya. Tubuhnya baru benar-benar sehat se-
telah kehamilannya melewati usia tiga bulan.
Setelah sembilan bulan lebih lima hari menunggu, akhirnya
Suparti melahirkan bayi perempuan. Bayi itu mereka beri nama
Arini Putri Amalia. Setiap hari Suparti di rumah mengurus
bayinya. Ia sudah tidak lagi mengasuh anak mantan majikannya.
Dan setiap hari Rusman tak kenal lelah untuk bekerja, kerja se-
rabutan.
Cukup lama Suparti menjalani hidupnya di kampung, se-
telah kepulangannya dari Singapura, sebelum ia menikah dengan
Rusman. Hingga keinginannya untuk kembali bekerja ke luar
negeri tiba-tiba muncul kembali. Rusman pun mengizinkan
Suparti menjadi TKW walaupun usia Rini baru satu tahun.
Perjumpaan yang Tak Biasa 55
Rusman berharap kalau kehidupan keluarganya akan lebih baik
jika istrinya ke luar negeri. Toh hanya dua tahun saja kok, pikirnya
kala itu. Rini pun tumbuh tanpa kasih sayang dari ibunya.
Sebulan, dua bulan, satu tahun sudah terlewati sejak ke-
pergian Suparti ke Singapura. Sudah beberapa kali ia mengirim
surat, bahkan uang ke Rusman. Suparti juga meminta dikirimi
foro Rini yang diasuh oleh orang tua Rusman. Rini kembali ke
rumah Rusman saat kelas empat SD.
Kepergian Suparti ke luar negeri sudah hampir mendekati
dua tahun. Waktu yang cukup lama bagi Rusman. Dan cukup
lama pula Suparti tidak mengirim surat lagi pada Rusman, apa-
lagi uang. Ketika waktu sudah terlewat jauh dari dua tahun, juga
tak ada kabar dari Suparti. Kenapa? Ada apa? Dalam perasaaan
gundah dan bingung, Rusman sering bertanya-tanya pada diri-
nya sendiri. Terkadang sambil terbaring memandang genting kaca
atap rumahnya, tanpa ia sadari pipinya basah karena genangan
air di matanya.
“Suparti itu di mana ya, Rus?”
Pernah suatu ketika tetangga samping rumahnya bertanya
saat mereka sedang mengobrol di sore hari.
“Ah, tidak tahu. Nggak tak pikir,” jawab Rusman dengan nada
santai walau sebenarnya dalam hatinya seperti ada sengatan
listrik.
Pernah pula di hari lain, tetangganya itu berkata kalau Suparti
itu di Batam. Katanya ada tetangga satu kampung yang bertemu
Suparti di sana. Suparti mengatakan kalau ia sudah menikah lagi
dan membebaskan Rusman jika ingin menikah lagi dengan
perempuan lain. Dada Rusman terasa panas melebihi panasnya
musim kemarau. Dalam hati Rusman bertanya-tanya apakah se-
benarnya Suparti memang tidak pernah mencintainya.
Jiwa Rusman sudah terasa lelah. Hatinya sudah terlalu sakit.
Dan pikirannya sudah buntu untuk menemukan jawaban. Empat
belas tahun sudah Suparti menghilang tanpa jejak, seperti debu
56 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
kemarau tersapu tetesan musim hujan. Sepanjang tahun yang
sama pula Rini tak mengenal sosok ibunya. Sering ia bertanya-
tanya dalam hati siapa ibunya. Namun ia selalu tak berani untuk
menanyakan pada ayahnya. Sampai suatu hari Rusman merasa
seperti tersambar petir di siang hari
“Pak,” kata Rini pada ayahnya sambil menyodorkan sebuah
kertas yang terlipat.
Tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan dari ayahnya,
Rini berangkat sekolah. Rini sudah kembali tinggal bersama
Rusman sejak masuk SMA karena keinginannya sendiri.
“Pak, ibuku itu siapa?”
Hanya satu kalimat yang tertulis di kertas pemberian Rini
pagi tadi. Tapi kalimat itu cukup membuat tulang-tulang Rusman
terasa lemas seketika. Setelah bertahun-tahun memendam per-
tanyaan, akhirnya Rini memberanikan diri untuk bertanya walau-
pun hanya melalui sepucuk surat. Rusman akhirnya menyadari
kalau anaknya itu sudah besar. Dan suatu hal yang wajar kalau
ia menanyakan hal itu.
“Ibumu itu kerja di luar negeri, tapi tidak pernah pulang,”
kata Rusman pada Rini setelah anaknya itu pulang dari sekolah.
Rini hanya terdiam lalu masuk ke kamar. Di kamarnya yang
agak pengap, Rini terisak karena menahan tangisnya agar tak
terdengar ayahnya. Seketika muncul kerinduan yang sangat besar
kepada ibunya yang tak sempat ia kenali wajahnya. Bahkan di
rumahnya tak ada satu pun foto ibunya. Tapi ia hanya bisa me-
nahan rindunya tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa ber-
harap kalau suatu hari nanti ibunya pulang untuk menjawab satu
pertanyaan darinya, “Mengapa ibu tega meninggalkanku?”
***
Hari terus berlalu. Surat dari Rini selalu mengganggu pikiran
Rusman. Ada rasa sesak di dadanya. Namun, rasa sesak itu me-
nyadarkannya kalau selama ini ia kurang memperhatikan Rini.
Ia kurang memahami perasaan anaknya. Ia tidak merasakan
Perjumpaan yang Tak Biasa 57
kesepian dan kerinduan anaknya. Ia hanya menyibukkan diri
dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kepergian istrinya. Ia
selalu menghabiskan waktu untuk membunuh kekecewaannya
dengan bekerja tanpa kenal lelah. Ia tak menyadari kalau anaknya
jauh lebih membutuhkannya dibandingkan istrinya yang sudah
meninggalkannya.
Sedikit demi sedikit Rusman berusaha untuk lebih dekat
dengan Rini. Ia sering mengajak Rini berbicara walaupun
pembicaraan mereka tidak panjang.
“Anakku sudah besar. Ia sudah SMA,” kata Rusman dalam
hatinya kala memandang Rini yang sedang mengepel lantai
karena hujan tadi siang.
Ada kekhawatiran dalam diri Rusman kalau ia juga akan
ditinggalkan anak satu-satunya itu.
“Bagaimana kalau nanti lulus SMA, Rini bekerja di tempat
yang jauh. Tidak, saya tidak mau. Cukup Suparti saja yang me-
ninggalkanku. Tapi anakku jangan,” kata Rusman dalam hati.
Ada gejolak di hati Rusman. Rusman pun bertekad kalau ia
akan menjaga anaknya baik-baik karena hanya Rini yang ia miliki.
Rini harus sekolah sampai selesai agar ia nanti bisa mendapat
pekerjaan yang baik. Jangan sampai Rini menjadi TKW dan
meninggalkannya seperti Suparti. Rusman sadar kalau selama
ini ia sudah menyia-nyiakan waktu dengan terpuruk memikirkan
istrinya yang tak pernah kembali. Harusnya ia lebih memikirkan
anaknya yang setiap hari ada di sisinya, yang harus ia perjuang-
kan masa depannya.
Musim hujan sudah tiba. Seperti alam, hujan kali ini seperti
memberikan udara segar di hidup Rusman. Ada setitik harapan
dan sepotong semangat di hidup Rusman untuk melihat anaknya
lulus sekolah dan menjadi orang sukses. Ada segenggam ke-
kuatan di hati Rusman untuk menyapu jejak Suparti agar benar-
58 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
benar hilang dari hati dan pikirannya. Seperti hujan yang datang
untuk menghapus jejak debu musim kemarau yang panjang.
***
Kendal, 2020
Perjumpaan yang Tak Biasa 59
8.
Di Sana Ada Cinta
Eva Silviana Futikha
Bangku sekolah menengah atas merupakan kesan terindah
bagi Tika. Kebahagiaan ditemukan oleh Tika tatkala
mulai masuk di tahun ajaran awal. Dia memiliki keinginan untuk
melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri Kendal. Padahal, Tika
belum pernah mengetahui di mana letak sekolah tersebut dan
ada apa dengan kelebihan sekolah itu. Hanya dia mengikuti alur
hati nurani yang berbicara untuk mendaftar di salah satu sekolah
yang berada di tengah jantung Kota Kendal.
Saat pertama akan mendaftar, Tika berangkat dengan teman-
nya yang bernama Iriyanti. Mereka berdua sama sekali juga belum
pernah mengetahui alamat dari sebuah sekolah yang akan disam-
bangi itu. Bus jurusan Semarang–Limpung yang mengantarkan
mereka pagi itu.
“Pak, kami akan turun di MAN Kendal, tolong nanti berhenti
di MAN, ya, karena kami belum tahu tempatnya,” ujar Tika ke-
pada bapak kondektur bus.
“Kiri-kiri! MAN turun, alon, perawan dobel!” teriak bapak
kernet bus yang mereka tumpangi.
Tika dan Iriyanti turun dari bus.
Tika bilang ke bapak kernet, “Terima kasih, Pak.”
60 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Alhamdulillah akhirnya sampai juga Tika dan Iriyanti me-
napaki jalan kompleks Islamic Center menuju MAN Kendal,
idolanya. La haula walaa quwaata illa billah, ‘tiada daya dan upaya
kecuali atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala’.
Memperhatikan halaman sekolah, menikmati sudut ruangan
kelas, dan melihat semua calon siswa baru di madrasah itu,
membuat hati Tika semakin mantap dalam meyakini pilihan
memutuskan sekolah barunya. Dia langsung menuju tempat
pendaftaran sekolah, dilanjutkan tes sebagai syarat pendaftaran
yaitu membaca Al-Qur’an dan tes wawancara.
Sepekan kemudian informasi penerimaan siswa baru di-
umumkan. Tika menunggu dengan perasaan nano-nano dan terus
berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, serta teriring doa restu
kedua orang tua. Dengan melangkahkan kaki mendekati papan
pengumuman, sengaja Tika menerobos masuk di kerumunan
para calon siswa untuk melihat lebih dekat data nama siswa baru
yang diterima.
Allahu Akbar, alhamdulillah, hasbunallah wanikmal wakil,
nikmal maula wanikman nasir, cukuplah Allah sebagai tempat diri
bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya pe-
nolong kami. Nama Tika tertera dalam tulisan informasi di papan
pengumuman calon siswa baru Madrasah Aliyah Negeri Kendal.
Tika sangat bersyukur dengan takdir yang dia terima hari ini.
Akan tetapi, ada rasa bersalah dan penyesalan dalam lubuk hati-
nya ketika teman seperjuangan menghampiri dirinya.
“Tika … Tika …,” suara Iriyanti memanggil Tika dengan
nada parau.
Secara dekat Tika melihat air mata Iriyanti tidak bisa ter-
bendung dari kelopaknya. Air suci itu jatuh dan pecah.
“Tika, kayaknya tidak ada nama saya di papan pengumuman.
Pastinya saya tidak diterima di sekolah ini. Tika, saya sedih
karena kita akan berpisah. Nama kamu kan ada, namaku tidak
kutemukan,” curhat Iriyanti kepada Tika.
Perjumpaan yang Tak Biasa 61
Saat itu Tika hanya bisa memeluk dan mencoba sedikit
membantu meredakan kekecewaan Iriyanti. Dengan mengusap
air matanya, memeluk tubuhnya juga memotivasi dia untuk tetap
sabar dan semangat.
Tepat bulan Juli, tahun ajaran baru dimulai. Tika belum mem-
punyai teman baru. Dia berangkat sekolah dan memulai ber-
adaptasi dengan lingkungan barunya.
Kegiatan Masa Orientasi Siswa baru dilaksanakan selama
lima hari. Di acara inilah Tika mulai bertaaruf dengan kawan-
kawan, guru-guru, juga suasana barunya. Masih lugu dan malu-
malu Tika sebagai siswa baru. Masih Tika ingat, teman perdana-
nya dalam kegiatan MOS adalah sosok gadis manis, ramah, supel,
centil, dan tinggi semampai (tiga meter tidak sampai). Dia adalah
Nur Huda, berasal dari daerah Tersono, Batang. Yang pasti dia
sangat ringan tangan, penuh perhatian dan mau mengalah demi
kepentingan teman. Di kelas 1 G mereka ditakdirkan bisa ber-
sama, satu kelas. Di kelas berikutnya, yaitu saat kelas 2 dan 3
mereka berpisah. Tika mengambil jurusan IPS dan Huda masuk
kelas IPA. Sebenarnya Tika oleh wali kelasnya, Pak Azis Setiadi,
dimasukkan di Jurusan IPA. Akan tetapi, bukan Tika kalau hanya
karena masukan, saran, dan pilihan wali kelasnya, bisa goyahkan
prinsipnya. Dia tidak mau jika masuk dalam jurusan IPA hanya
sebagai pathok bawang. Dia tidak mau seperti teman-teman lainnya
yang memaksakan diri masuk jurusan IPA hanya karena me-
ngejar gengsi atau status. Dan alhamdulillah walaupun di jurusan
IPS, dia pernah mendapat peringkat rangking satu.
Dalam perjalanan waktu yang dilalui oleh Tika, semua akti-
vitas kegiatan sekolah selama kelas satu naik kelas dua terasa
datar-datar dan biasa saja. Apa yang dia bayangkan untuk men-
dapat keistimewaan selama sekolah di madrasah aliyah belum
dicapai. Prestasi Tika rata-rata. Paras wajah Tika tidak begitu
memesona sehingga banyak yang belum mengenalnya. Di kelas
tiga dia memutuskan untuk kos di sekitar sekolah karena ada
62 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
tambahan jam mata pelajaran pada pukul 06.00 pagi. Tika kos
bersama Nur Huda. Ibu kosnya bernama Bu Lardiyanto. Biaya
kos per bulan saat itu hanya dua puluh lima ribu rupiah. Tika
sudah mendapat kos yang layak, bersih, dan lengkap sarana
prasarananya.
Tempat kos itu tidak hanya untuk pelajar, tetapi lebih banyak
dihuni pekerja. Qadarullah Tika satu kos dengan bapak guru
MAN. Namun, guru laki-laki itu tidak mengajar di kelasnya
karena mengampu mata pelajaran Elektronika. Sementara itu,
Tika mengambil jurusan Tata Busana. Sebenarnya Tika merasa
canggung karena satu kos dengan guru di sekolahnya.
Hari demi hari dilalui Tika dengan rasa canggung dan malu
ketika sering berpapasan dengan bapak gurunya. Seorang guru
pastinya memiliki kharisma sosok yang berwibawa dan harus
dihormati. Tika semakin belum bisa menemukan kenyamanan hati-
nya. Apalagi saat itu Tika sedang dilanda cinta monyet dengan
siswa di sekolah negeri Kendal juga. Tika sangat khawatir jika
gurunya mengetahui kisahnya.
Bagi Tika ini masalah serius. Tika pun memberi pesan kepada
teman istimewanya agar jangan sampai datang ke kos. Bagai-
manapun juga ini jangan pernah tercium Bapak Guru. Jika ke-
tahuan, pastinya Tika sangat malu. Walaupun sebenarnya Tika
juga tidak serius dengannya. Hanya sebatas pada status agar se-
suai dengan tren masa SMA.
Pada suatu hari Tika sangat kaget saat Bapak Guru menyapa-
nya, “Tika, dapat salam dari anak STM.”
Saat itu Tika langsung syok. Mukanya memerah dan lang-
sung salah tingkah.
Sambil berjalan pelan dia membalas ledekan gurunya, “Ah
Bapak, apaan sih, siapa? Tika tidak punya teman di STM.”
Dalam hati Tika sadar betul jika gurunya pasti sudah men-
dapat gosip ini. Dia terpaksa berbohong untuk menutupi rasa
malunya.
Perjumpaan yang Tak Biasa 63
Bapak Guru kembali meledek Tika, “Sudah santai aja, ndak
papa kok dekat dengan teman istimewa, sudah SMA, wajar.”
Tika semakin pucat dan lunglai dengan sindiran yang bagi-
nya sangat memekakkan telinga. Dia sangatlah malu dengan
semua ini.
Hari berganti pekan, dan pekan berganti bulan. Tika semakin
memahami karakter gurunya tersebut. Ternyata pribadinya santai,
enjoy, humoris, baik hati, ringan membantu, suka memberi, dan
yang pasti low profile sehingga Tika merasa nyaman. Akan tetapi,
Tika harus menutupi segala rasa kagumnya pada sang guru.
Menurutnya ini cinta terlarang. Gurunya masih lajang, ganteng,
dan pasti pintar. Dari mata pelajaran yang diampu, pastilah guru-
nya itu menguasai ilmu eksak. Berbeda dengan dirinya yang
kewalahan jika berurusan dengan angka.
Pernah juga Bapak Guru menyapa Tika dan Huda, “Ayo
siapa yang jurusan IPA, sini belajar dengan saya, tapi yang jurus-
an IPS belajar sendiri ya.”
Saat itu Tika sedih dan kecewa. Begini, ya, nasib anak IPS
selalu mendapat perlakuan tidak semulia anak IPA. Tapi sekali
lagi Tika tidak bisa merasa marah dengan Bapak Guru karena
disampaikan dengan bercanda. Jadi, Tika malah cenderung me-
rasa lebih nyaman. Tanda-tanda jatuh cintanya mulai tampak lagi.
Mendekati Ujian Nasional, Tika dan Huda sangat serius
mempersiapkan belajar dengan baik. namun anehnya, mereka
berdua sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk melanjut-
kan kuliah di universitas negeri. Tika berencana melanjutkan ke
Universitas Muhammadiyah Surakarta, sedangkan Huda me-
miliki keinganan melanjutkan kuliahnya di Universitas Ahmad
Dahlan Yogyakarta.
Tika dan Huda sempat berdiskusi dengan Bapak Guru
mengenai program studi lanjutan. Tak disangka Bapak Guru ber-
cerita jika dua adiknya semua kuliah di UMS. Tika merasa bahwa
antara dirinya dan Bapak Guru memiliki pandangan yang sama.
64 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Akhirnya Bapak Guru menawarkan diri menemani Tika
mendaftar di UMS dengan alasan sekalian mau menengok adik–
adiknya. Gayung bersambut. Tika dengan senang hati menerima
tawaran Bapak Guru. Setelah ujian nasional, Tika bersama Bapak
Guru pergi ke Surakarta untuk mendaftar di UMS. Di Perjalanan
menuju Surakarta keduanya begitu canggung. Bapak Guru sangat
halus budi pekertinya dan berwibawa. Akhlaknya sangat santun.
Setelah sampai di UMS mereka bertemu dengan dua adik
Bapak Guru, laki-laki dan perempuan. Adik laki-laki bernama
Yanuardin jurusan Teknik Otomotif, dan adiknya yang perem-
puan bernama Ayu jurusan Manajemen Ekonomi. Mereka bertiga
adalah saudara sekandung yang sudah lama ditinggal pergi oleh
orang tuanya. Ayah mereka meninggal saat Bapak Guru masih
kuliah dan ibunya meninggal saat Bapak Guru mulai mengabdi
menjadi pegawai negeri sipil di Kota Kendal. Secara otomatis
dia menggantikan posisi orang tua bagi adik–adiknya. Men-
dengar cerita itu, semakin simpatilah Tika dengan Bapak Guru.
Rasa tanggung jawab sebagai kakak sangat diutamakan oleh
Bapak Guru.
Setelah bertemu dengan saudaranya, Bapak Guru meminta
adiknya untuk diantarkan ke pendaftaran calon mahasiswa baru
untuk jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan
dan Pendidikan, sesuai pilihan Tika.
Dalam perjalanan pulang, mereka berdua sama-sama me-
mendam perasaan yang berbeda, tetapi Bapak Guru tetap men-
jaga marwahnya. Memang watak asli Bapak Guru pendiam, pe-
malu, dan sangat hati-hati dalam bersikap. Tika pun sangat lugu,
tetapi sebenarnya hatinya merasakan kekaguman yang luar biasa
terhadap sosok Bapak Guru. Dia bertahan untuk tetap menjaga
sikap supaya apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan tidak
diketahui oleh Bapak Guru.
Setelah sampai di Kota Kendal, Bapak Guru mengantar
pulang dengan naik sepeda motor ke rumah Tika di Weleri. Saat
Perjumpaan yang Tak Biasa 65
perjalanan itu Bapak Guru mulai memberanikan diri untuk
berjanji. Dia mengatakan bahwa setelah tes dan pengumuman
diterima di UMS, Bapak Guru akan mengajak jalan-jalan. Tika
tersenyum dan raut muka bahagia terpancar merona di wajahnya.
Dia mengganguk dan berkata siap. Dia seakan lupa memiliki
teman dekat siswa STM. Setelah sampai di Weleri, Bapak Guru
memasrahkan Tika kepada orang tuanya. Itu sebagai wujud
tanggung jawabnya telah mengantar Tika mendaftar di kampus
UMS. Setelah itu Bapak Guru segera berpamitan pulang kembali
ke Kendal.
Setelah perjalanan bersama ke Surakarta mereka berdua se-
makin intensif berkomunikasi. Singkat cerita, Tika lulus dari
MAN Kendal dan diterima di UMS. Masih berlanjut kisah
asmaranya dengan Bapak Guru yang alhamdulillah sudah me-
nyatakan ingin hidup bersama menuju jenjang pernikahan. Tika
bingung, histeris, bahagia, dan ruwet. Karena Tika masih ada
janji dengan orang lain, Bapak Guru berkata, “Janganlah Tika
memutusnya, biarlah berjalan apa adanya. Nanti dia pun akan
tahu dengan sendirinya. Mungkin dengan sikap Tika yang ber-
beda padanya.”
Pendapat Bapak Guru Tika tampung dan dengarkan dengan
alasan tidak menyakiti perasaan orang lain. Akan tetapi, bagi Tika
ini masalah besar. Tidak mungkin dia bisa menjalani kisah seperti
ini. Dia tidak boleh memutuskan hubungannya dengan kekasih
sebelumnya, padahal sudah tidak ada perasaan lagi. Hatinya
lebih condong pada Bapak Guru.
Maka Tika menulis surat dengan bolpoin warna merah yang
ditujukan kepada siswa STM itu. Tika memutuskan hubungan
cinta dengan alasan ingin berkonsentrasi kuliah. Alasan yang
sangat bisa ditebak kebohongannya karena si dia juga sudah sangat
memahami jika Tika ada hubungan khusus dengan Bapak Guru.
Setelah surat itu sampai ke si dia, ada kabar bahwa dia sakit
dan ingin bertemu Tika. Tapi saat itu Tika sudah takut jika ber-
66 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
temu dengannya. Tika memutuskan untuk tidak menemuinya.
Tak peduli dikatakan sebagai orang yang sombong dan egois
karena memang ini menjadi alur cerita perjuangan cintanya.
Dan alhamdulillah di semester satu, Bapak Guru melamar
Tika. Tetapi mereka belum langsung ke jenjang pernikahan karena
Bapak Guru masih harus menyelesaikan tanggung jawabnya
untuk membiayai kuliah dua adiknya. Setelah kuliah adiknya
selesai, tepat saat Tika semester enam, Bapak Guru dan Tika
memutuskan untuk menikah. Namun, Tika mengajukan syarat
untuk menunda kehamilan selama masih kuliah. Tika hanya
berharap dengan pernikahan hubungannya menjadi halal dan
lebih nyaman. Alhamdulillah atas izin Allah dan restu dari orang
tua, tepat 7 Juli 2004, Tika dan Bapak Guru menikah. Momen
khusyuk ijab kabul di rumah mempelai putri dan resepsi per-
nikahan sebagai wujud tanda syukur di gelar di Rumah Makan
Sendang Wungu Gringsing. Sang pengantin penuh dengan ke-
bahagiaan dan senyum menyambut para tamu yang hadir. Doa
restu dilantunkan dengan mengucapkan barokallohu laka wa
baaraka ‘alaika wa jamaa’a bainakuma fill khoir, ‘Semoga Allah mem-
berikan keberkahan padamu, memberi keberkahan atasmu. Dan
semoa Dia mengumpulkan di antara kalian berdua dalam ke-
baikan’. Aamiin yaa mujib as saa’iliin.
Perjumpaan yang Tak Biasa 67
9.
Apa Aku Boleh Rindu?
Defi Purwanti
Arloji di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul
enam. Masih pagi, tapi aku sudah berada di tempat ini.
Meja, kursi, tumpukan kertas, dan beberapa buku masih ter-
selimuti cahaya lampu berwarna kuning keemasan. Belum ada
rekan kerja yang datang. Entah mengapa, hari ini tiba-tiba saja
aku ingin berangkat lebih pagi dari biasanya. Teringat kemarin
ada seorang anak laki-laki di kelasku yang menatapku begitu
dalam. Seperti ada yang ingin ia ceritakan, tapi tak cukup nyali.
Rasa penasaran menggelayut di pikiranku, ingin segera ku-
tanyakan apa yang terjadi padanya. Siswa di sekolahku memang
banyak yang tidak tinggal dengan orang tuanya. Beberapa di
antara mereka ada yang hanya tinggal dengan kakek, nenek,
paman, atau kakak saja di rumah. Ada yang orang tuanya bekerja
di luar kota atau bahkan di luar negeri. Begitulah kehidupan
siswa-siswaku di sini.
Beberapa bulan lalu saat penerimaan rapor semester satu,
aku bertemu dengan banyak wali murid. Namun sayangnya,
sebagian besar dari mereka bukan ayah atau ibunya yang datang.
“Mangga, Pak, mau ambilrapor atas nama siapa?”sapaku ramah.
“Nggih, Bu. Saya kakeknya Ikhsan. Nuwun sewu, bagaimana
cucu saya kalau di sekolah, Bu?” tanyanya perlahan.
68 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Hampir separuh kelas yang datang adalah kakek dan nenek
dari siswaku. Kutatap salah seorang kakek yang duduk di bangku
kedua sebelah pintu masuk. Celana kain yang hitamnya sudah
pudar, dipadu dengan kemeja batik panjang lusuh yang bagian
lengannya dilipat dua atau tiga lipatan. Dilengkapi dengan peci
hitam yang agak miring. Kulihat telapak kaki dan tangannya
kapalan. Sepertinya kakek tua itu bekerja keras setiap hari. Tak
berbeda jauh dengan kakek yang sedang duduk di hadapanku
saat ini. Dalam perbincangan singkat, aku bertanya kepadanya,
mengapa beliau yang datang? Bukan ayah atau ibu Ikhsan.
Rupanya Ikhsan dan kedua adiknya sejak kecil tinggal bersama
kakek dan neneknya. Ayah dan ibunya bercerai sejak Ikhsan
berusia lima tahun. Sejak ia masih TK. Ia dan dua adiknya bahkan
belum begitu paham arti perceraian. Ayahnya merantau ke luar
Jawa, ibunya pun begitu, katanya pergi ke Jakarta. Namun, hingga
Ikhsan duduk di kelas sepuluh, tidak ada kabar apa pun dari
orang tua mereka. Jangankan nafkah, sekadar kabar masih hidup
pun tidak pernah diberikan. Kakek dan neneknya bekerja keras
banting tulang untuk menghidupi tiga cucunya. Ironis. Masa tua
yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan tenang dan tanpa
beban ternyata hanyalah sebuah angan. Bagaimana tidak, dulu
kakek dan nenek sudah bekerja dan bersusah payah membesar-
kan orang tua Ikhsan. Dan sampai saat ini pun, mereka masih
bekerja keras untuk cucu-cucu yang sekarang menggantungkan
hidup pada mereka. Ironis.
***
“Alfi, tumben kamu sudah sampai di sekolah sepagi ini?”
tanyaku pada salah seorang siswa.
“Iya Bu, saya mau mengerjakan PR yang tidak bisa saya
kerjakan di rumah karena kuota internet saya habis,” jawabnya
sambil meringis.
Dunia pendidikan sekarang memang sudah jauh berbeda
dengan zamanku dulu. Hampir semua siswa sekarang meng-
Perjumpaan yang Tak Biasa 69
gunakan gawai untuk menunjang aktivitas mereka. Ketergan-
tungan siswa zaman now pada gawai dan koneksi internet sudah
tidak bisa dipungkiri. Karena hampir semua mata pelajaran
memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut.
Hari ini, aku masuk di kelas X-A pada jam pertama. Ke-
betulan kelas ini adalah kelas perwalianku. Ada 36 siswa yang
selalu kupantau bagaimana kehidupannya sehari-hari. Satu per
satu kupandangi wajah mereka pagi ini. Wajah-wajah dengan
penuh harap agar kelak mereka bisa menjadi manusia yang
bermanfaat. Kubuka pelajaran seperti biasa, diawali dengan
berdoa lalu tadarus bersama. Setelah itu, aku selalu mengawali
KBM dengan cerita-cerita ringan untuk memantik motivasi siswa.
Mereka akan merasa sangat tertarik dan antusias saat aku men-
ceritakan pengalaman hidupku hingga saat ini. Tidak sedikit di
antara mereka, yang kadang menyampaikan cletukan “lanjut lagi
ceritanya Bu, saya suka kalau Bu Guru cerita”. Ya iyalah kalian
pasti merasa bahagia, dibanding harus buka buku paket lalu
mengerjakan soal. Begitu seterusnya ketika pelajaran Bahasa
Indonesia berlangsung.
Aku memang sengaja tidak terlalu menekankan pada pem-
belajaran akademik yang menurutku sedikit kaku. Aku lebih suka
jika siswaku memiliki kecakapan hidup yang jauh lebih ber-
manfaat dalam kehidupan nyata. Tak perlu nilai jauh di atas KKM
jika akhlaknya tak baik. Cukuplah dengan nilai pas-pasan, tapi
itu adalah hasil kejujuran. Menjadi pribadi yang santun, rajin
ibadah, peduli pada sesama, hormat pada yang lebih tua. Begitu-
lah yang kuharapkan dari mereka semua.
Di sela pelajaran berlangsung aku terpaku pada salah seorang
siswa yang duduk di barisan belakang. Ialah yang tempo hari
melihatku. Seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Ia
nampak tidak berkonsentrasi pada pelajaran. Seperti ada sesuatu
yang sedang ia pikirkan. Di antara anak-anak yang lain, anak ini
memang yang paling santun. Cara berpakaiannya rapi. Tutur
70 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
katanya juga halus. Namun di balik penampilannya itu ternyata
ia menyimpan segudang kisah yang entah harus ia ceritakan
kepada siapa. Aku memanggil dan menyuruhnya untuk maju
menghadapku. Kutanyakan padanya, apa yang sedang ia pikir-
kan? Banyak Bu, jawabnya. Setelah itu aku mengajaknya keluar
kelas untuk menuju perpustakaan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di perpustakaan.
Suasana perpustakaan pagi ini lumayan sepi, belum terlalu ramai.
Ku pikir ini adalah tempat yang tepat untuk mendengarkan
ceritanya. Tanpa ia harus merasa malu disaksikan oleh teman-
temannya. Mula-mula aku mengatakan padanya bahwa akhir-
akhir ini ada yang berbeda. Aku bisa merasakan sesuatu yang
tidak biasanya pada siswa-siswaku. Sepuluh tahun mengajar tentu
aku sudah berhadapan dengan berbagai macam karakter siswa.
Menurutku setiap anak itu unik. Mereka memiliki kekhasan
dalam diri yang tidak mungkin bisa sama persis dengan yang
lainnya. Bahkan, pada anak kembar sekalipun. Di sekolah aku
dikenal sebagai guru yang mudah berbaur dengan siswa. Mung-
kin karena pembawaanku yang kadang sering menyelipkan hal-
hal lucu dalam setiap pelajaran yang kusampaikan. Beberapa dari
siswa juga menyebutku sebagai Miss Inspiring. Walau menurutku
ini masih terlalu berlebihan.
Namanya Hanan, seorang anak yang nasibnya tidak jauh
berbeda dengan Ikhsan. Selama ini ia hanya tinggal bersama
neneknya di sebuah desa yang jaraknya sepuluh kilometer dari
sekolah. Ia anak yang pendiam. Tidak mau bicara jika tidak
ditanya terlebih dulu. Rasa penasaranku muncul, ingin segera
tahu sebenarnya apa yang sedang ia alami. Dan tak berapa lama
ia bercerita kepadaku. Baru kutahu ternyata selama ini ia berang-
kat sekolah dengan menebeng motor teman sekampungnya. Ia
tak pernah datang terlambat ke sekolah. Selalu pagi dan tidak
pernah membolos. Semangatnya untuk menuntut ilmu begitu
tinggi. Cita-citanya hanya satu, ingin membahagiakan neneknya.
Perjumpaan yang Tak Biasa 71
Iya, neneknya. Nenek yang selama ini merawatnya seorang diri
tanpa bantuan siapa pun. Orang tua Hanan berpisah sejak ia
berusia tiga tahun. Ia anak tunggal. Tidak punya kakak atau pun
adik. Bapak ibunya pergi entah ke mana. Berita terakhir yang ia
dapat dari tetangga, bapaknya bekerja di Kalimantan sedangkan
ibunya bekerja di Jakarta.
Selama ini Hanan hanya tinggal bersama neneknya. Semua
kebutuhan Hanan dicukupi oleh neneknya. Sedikit dibantu oleh
paman dan bibinya. Masyarakat di daerahku memang sebagian
besar seperti itu. Banyak yang pergi merantau untuk bekerja ke
luar kota, luar Jawa, bahkan luar negeri. Bahkan, tak jarang pula
ada warga yang merantau hingga puluhan tahun. Pulang hanya
sebentar lalu berangkat lagi. Negara yang paling banyak dituju
adalah Korea, disusul Taiwan, Arab Saudi, Malaysia, Singapura,
dan Brunei. Masyarakat sekitar menyebut orang rantau dengan
“wong doyan duit ombo” atau artinya orang yang suka mencari
uang dengan nilai yang besar. Jika tujuan mereka adalah untuk
menyejahterakan keluarga itu tak jadi masalah.
Namun jika kasusnya seperti Hanan, beda cerita. Orang
tuanya pergi merantau karena dilatarbelakangi masalah rumah
tangga. Tentu saja hal ini sangat berdampak pada perkembangan
psikologisnya. Selama ini ternyata Hanan sangat merindukan
sosok orang tuanya. Ia ingin berkumpul layaknya keluarga lain.
Ada ayah ibunya di rumah yang menyaksikan tumbuh kembang-
nya. Kalaupun tidak bisa berkumpul setiap waktu, setidaknya
Hanan berharap orang tuanya tidak melupakannya begitu saja.
Hanya sekadar berkabar pun tidak pernah. Hanan sangat rindu.
Dulu waktu ia masih kecil, ia belum terlalu merasa kesepian
karena ada banyak teman sepermainan di kampung. Namun, se-
iring berjalannya waktu, Hanan sangat kehilangan sosok orang
tuanya. Ia jadi sering melamun akhir-akhir ini. Jika di sekolah ia
sedikit terhibur saat bersama teman-temannya. Sibuk mengerja-
kan tugas. Aktif berkegiatan. Tetapi, sangat sesak dan sakit rasa-
72 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
nya saat ia kembali ke rumah. Memandangi wajah neneknya yang
sudah renta. Sunyi. Sepi seketika menyeruak ke seluruh ruang
di hatinya.
“Saya rindu bapak dan ibu saya Bu,” ucapnya memelas,
“Kapan saya bisa merasakan punya keluarga utuh seperti teman-
teman saya yang lainnya. Saya selalu merasa kesepian setiap saya
di rumah. Saya tidak punya semangat. Saya sedih kenapa ini harus
terjadi pada diri saya. Seandainya saya punya saudara kandung,
saya mungkin tidak akan merasa terlalu kesepian seperti saat
ini. Apa yang harus saya lakukan Bu?” rentetnya panjang. Ia lalu
menghela napas panjang sembari menunduk dan hampir me-
nangis.
Dalam batin saya, ternyata seorang anak laki-laki juga me-
miliki perasaan yang sama seperti anak perempuan. Saya pikir
hanya anak perempuan saja yang perasa, sedangkan anak laki-
laki cenderung cuek dan tidak mau tahu. Ternyata pemikiran
saya salah. Seorang anak laki-laki yang ada di hadapan saya saat
ini merasakan sakit batin yang luar biasa. Keinginannya seder-
hana. Berkumpul dengan orang tuanya. Namun, kenyataannya
tidak bisa. Ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun.
Dengan neneknya? Ia tak mau menambah beban pikiran. Dengan
temannya? Ia merasa malu. Mungkin tidak semua teman bisa
merasakan apa yang dialaminya. Ia hanya memendam perasaan
ini bertahun-tahun. Hingga kini ia duduk di bangku sekolah
menengah atas. Tak terasa air mata saya menetes, merasakan be-
tapa pilunya perasaannya selama ini. Saya membayangkan jika
hal ini terjadi pada anak-anak saya, betapa berdosanya saya, telah
menzalimi mereka. Seharusnya hal seperti ini bisa menjadi pem-
belajaran bagi para orang tua. Betapa keegoisan orang tua ber-
dampak panjang pada kehidupan anak. Tidak sedikit pula, banyak
anak di luar sana yang mengalami nasib serupa, banyak yang
terjerumus pada pergaulan yang tidak sehat. Tentu saja kita tidak
boleh serta merta menyalahkan anak atas kejadian ini. Setiap
Perjumpaan yang Tak Biasa 73
peristiwa yang terjadi tentu beralasan. Tidak akan ada asap jika
tak ada api.
74 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
10.
Meranti Merantau
Mellati Kusumaning Hapsari
Dinding UKS terasa bergetar siang itu. Pramesti menangis
sejadi-jadinya di pangkuanku. Aku hanya bisa meng-
gerakkan telapak tanganku, mengusap punggung Pramesti.
Demamnya mencapai 39 derajat, mukanya merah padam. Badan-
nya terlihat lemah lunglai. Menurut pengakuannya, dia belum
makan sedari malam. Tapi, bukan itu yang menyebabkan tangis-
nya. Ada cerita berbalut luka yang diungkapkannya dengan se-
senggukan.
“Mengapa harus aku, Bu?” terasa menggetarkan hati.
Sekali lagi aku tidak tahu harus berkata apa. Nasihat bijak
sepertinya tidak begitu berguna saat itu. Kembali aku mengusap
punggungnya meskipun sebenarnya aku ingin segera memeluk
Pramesti.
Gadis ini memang terasa lain untukku. Dari ratusan siswa
perempuan yang kuajar, dia menduduki peringkat pertama di
hatiku di antara siswa yang lain. Wajahnya yang selalu ceria,
langkahnya yang tidak biasa, diimbangi dengan keenceran otak-
nya. Secara fisik dia tidak terlalu tinggi, tidak teramat cantik, tetapi
senyumnya manis menawan. Rambutnya terurai khas anak-anak
pada masanya.
“Apa yang akan Ibu lakukan jika ada di posisiku, Bu?”
Perjumpaan yang Tak Biasa 75
Kutarik napas panjangku sambil berharap jawabanku sedikit
meredakan tangisnya.
“Pram, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang hidup
tanpa cobaan.”
Ah, tetap saja kata-kata bijak yang keluar dari mulutku. Entah
aku tidak punya nasihat lain atau karena memang hatiku serasa
nasi rames, campur aduk.
“Sabar dan tetap jalani hidupmu seperti biasa,” hiburku se-
olah-olah aku tahu beban berat yang sedang dipikirkan Pramesti.
“Tapi, Bu ...,” tangisnya pecah kembali.
Aku semakin tidak bisa membendung air mataku. Kubangun-
kan Pramesti dari pangkuanku. Kupeluk erat Pramesti. Kami
hanyut dalam kesedihan luar biasa.
Cerita Pramesti memenuhi pikiran dan hatiku. Baru kali ini
aku benar-benar menderita hati bukan karena masalahku sendiri.
Ya, seorang Pramesti, gadis yang selalu membuat kelas terasa
hidup. Pernah suatu hari dalam dua jam pembelajaran, dia mem-
buat ulah. Ketika itu kelas ramai dan aku sedikit emosi karena
semua siswa tidak sedikit pun mau aku nasihati.
“Kalau masih tak mau diam mendengarkan penjelasan Ibu,
silakan salah satu dari kalian maju menggantikan Ibu.”
Kalimat itu salah satu andalanku menenangkan kelas. Tidak
semua siswa punya rasa percaya diri untuk berdiri dan berbicara
di depan kelas. Semua diam.
“Contohlah Saras, yang selalu diam dan memerhatikan pen-
jelasan Ibu.”
Jika sedang emosi aku memang sering tanpa sadar memban-
dingkan siswa satu dengan yang lain. Emosiku terjeda oleh bunyi
bel istirahat. Tanpa kalimat permisi, aku langsung keluar kelas.
Diikuti semua siswa yang saling berbisik. Ya, aku yakin pasti
mereka membicarakan guru galaknya. Aku.
Emosiku sedikit berkurang. Lima belas menit waktu istirahat,
kugunakan untuk sedikit merenung. Aku kurang bersabar. Tiga
76 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
tahun di sini aku baru dapat sedikit mengurangi kadar ketidak-
sabaranku.
Aku sudah berdiri kembali di depan kelas. Tapi, kali ini lain.
Semua diam. Tangan di atas meja. Menunduk. Aku penasaran.
Dan rasa penasaranku terjawab ketika mataku tak sengaja tersan-
dung penampakan di dada salah seorang siswa. Tertulis nama
SARAS di atas kertas dan tertempel menumpuk pada name tag
semua siswa. Laki-laki dan perempuan.
Aku bingung. Untuk tertawa terpingkal-pingkal aku masih
gengsi karena baru saja marah pada mereka.
“Maksudnya apa?” tanyaku spontan pada Pramesti yang me-
mang duduk tepat di depanku.
“Bukannya Ibu menyuruh kami mencontoh Saras?” jawaban
polos dari Pramesti mampu membuat hatiku mencair tidak, mem-
beku penuh emosi pun tidak.
Ah, betapa kalian mudah sekali menyadarkan aku. Ya, mem-
bandingkan bukan solusi menasihati anak. Mereka terusik ketika
aku membandingkan mereka dengan Saras. Dan, Pramesti adalah
otak dari bentuk protes teman sekelasnya.
Pada sebuah acara yang mengundang orang tua siswa. Pernah
aku sekali bertemu dengan ibunya Pramesti. Sosok ibu yang ter-
lihat tegar dari guratan senyum simpulnya. Sosok ibu yang dari
sekilas pertemuanku, seperti langit dan bumi dengan Pramesti.
Amat sangat jauh berbeda. Di lain kesempatan lagi, aku bertemu
ayah Pramesti. Oh, ternyata Pramesti mirip ayahnya.
Pernah mendengar cerita dari salah seorang teman, Pramesti
adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya se-
orang perempuan. Meranti namanya. Meranti tidak di rumah,
seperti kebanyakan perempuan muda lain di kecamatan ini. Ke-
inginannya merantau karena ingin memperbaiki ekonomi keluarga.
Termasuk membiayai sekolah adik-adiknya, terutama Pramesti.
Memang kecamatan di Kendal bagian atas ini sudah teramat biasa
ketika seorang perempuan yang sudah berkeluarga maupun
Perjumpaan yang Tak Biasa 77
belum, menjadi tulang punggung keluarga. Seperti sebagian besar
latar belakang siswaku, sudah tidak asing ketika dalam berbagai
kondisi siswa beralasan tidak tinggal bersama orang tua karena
sang ibu menjadi pahlawan devisa.
Pada kesempatan lain saat tanpa sengaja kulihat Pramesti
membayar SPP di bagian administrasi, iseng kutanya.
“Wih banyak uangmu, Pram. Ibu disiplin banget, ya soal
administrasi sekolah?”
“Ini transferan Mbak Ranti, Bu.”
“Salutlah sama Mbak Rantimu, merantaunya sukses dan
Pramesti yang kecipratan,” selorohku.
“Yuhuuuu, Bu ...,” balas Pramesti sambil berlalu melambaikan
tangan padaku.
Pernah suatu ketika dia bercerita. Kakaknya, Meranti, adalah
orang yang berbeda dengannya. Meranti adalah perempuan lem-
but yang banyak berkorban untuk keluarga. Bahkan, di usianya yang
menginjak kepala empat, Meranti belum berkeluarga karena masih
ingin membiayai adik-adiknya. Dia tidak pernah sekali pun me-
ngeluh. Dia selalu menuruti permintaan Pramesti. Dari beli buku,
uang jajan, sampai beli bedak pun Pramesti dapat jatah dari Meranti.
Tapi, sayang sekali, Pramesti sekali pun belum pernah ber-
temu Meranti. Pramesti pernah mendapat cerita dari budenya
bahwa Meranti sudah merantau sejak Pramesti masih umur
empat puluh hari. Dan sejak saat itu tidak pernah pulang. Hanya
sesekali menelepon dan tidak bicara banyak. Tapi, Pramesti ter-
amat yakin bahwa Meranti seorang kakak yang penyayang. Memang
seperti sudah menjadi tradisi, gadis-gadis belia di desa Pramesti
pergi merantau untuk membantu perekonomian keluarganya.
Dan benar saja, Meranti memang teramat sangat membantu ke-
berlangsungan ekonomi keluarga.
Pramesti beruntung berada dalam keluarga yang utuh. Se-
orang ibu yang begitu tegar. Seorang ayah yang pekerja keras.
Dua seorang kakak yang begitu peduli dengannya.
78 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Ayahnya yang seorang supir truk seorang yang penuh kasih
meskipun jarang bicara dengannya tentang kasih sayang itu.
Tentu dia teramat bangga punya anak-anak yang tidak banyak
tingkah.
Saat aku tiba-tiba tersadar dari lamunanku, Pramesti masih
saja menangis meskipun sudah agak terkendali. Di sorot matanya
terlihat kesedihan luar biasa. Dia berusaha bangkit dari pelukan-
ku. Kepalanya disandarkan di dinding. Tatapannya kosong ke
arah beberapa pohon pisang di belakang ruang UKS.
Aku benar-benar tak tega. Ah, haruskah aku menggodanya
seperti ketika dia merajuk menceritakan gebetannya sekitar se-
bulan lalu. Ya, gadis manja yang kukenal tiba-tiba berubah men-
jadi gadis murung tanpa aku tahu sebabnya. Sepelik inikah
masalah Pramesti hingga tidak butuh waktu lama untuk meng-
ubah dia dari gadis ceria menjadi gadis cengeng seperti ini.
Bel sekolah berbunyi, memberi tanda bahwa waktu istirahat
kedua telah tiba. Kubisikkan ke Pramesti bahwa aku pamit ke
musala dulu untuk salat zuhur. Tanpa respons lisan, Pramesti tiba-
tiba menarik tanganku. Panas tangannya membuatku semakin
tak tega.
“Bu, aku juga mau salat,” katanya pelan.
Tanpa berucap, kugandeng tangannya. Kubimbing melangkah
ke musala.
Salat jamaah telai usai. Kulirik Pramesti masih khusuk me-
nunduk. Tangannya ditengadahkan dan hampir menempel di
wajahnya. Air matanya terus mengalir. Satu per satu jamaah salat
zuhur meninggalkan musala karena bel tanda masuk kelas sudah
berbunyi. Masih ada waktu satu jam kosong untuk menemani
Pramesti.
Tiba-tiba. Bruk.
Pramesti menjatuhkan badannya di pangkuanku. Samar-samar
kudengar dia sesenggukan menyebut nama kakaknya, Meranti.
Perjumpaan yang Tak Biasa 79
Ada apa dengan Meranti? Bisikku dalam hati. Belum sampai
hati melontarkan kalimat tanya itu kepada Pramesti. Karena
masih ragu, aku belum berani bertanya.
Kubangunkan Pramesti. Matanya seperti sudah tidak bisa
terbuka karena terlalu lama menangis. Terlalu sembab dan me-
merah. Dia masih lunglai, menunduk dengan mukena masih me-
nutupi badannya.
“Ada apa dengan Mbak Merantimu?” tanyaku.
“Bukan mbak Bu,” pekiknya lirih
“Maksudmu? Bukan mbakmu Meranti yang kau pikirkan?”
Dia mengangguk.
Aku makin bingung. Tak mengerti arti anggukannya. Apa-
kah mengiyakan bahwa Meranti yang dia pikirkan atau menye-
tujui bukan Meranti yang menjadi alasanya menangis.
“Dia ibuku, Bu,” meskipun lirih aku mendengar jelas yang
dia ucapkan. Jarak wajahnya dengan wajahku tidak lebih dari dua
puluh sentimeter.
Aku makin tak mengerti.
Beribu tanya seketika mencengkeram kepalaku. Aku masih
tidak bisa berkata-kata.
“Mbak Meranti itu ibuku, Bu,” kalimatnya diakhiri dengan
telapak tangan yang dia lekatkan erat menutupi wajah. Tangisnya
pecah.
Aku menerjemahkan secara kilat kalimat Pramesti terakhir.
Dengan dada yang berdegup kencang karena terkejut, kucoba
membuka tangannya.
“Maksudmu, Mbak Meranti itu bukan kakakmu tapi ibu yang
melahirkanmu? Begitu maksudmu?” tanyaku menahan tangis.
Dia mengangguk pelan sambil terus menangis.
Siang itu kusadari betul bahwa Pramesti dan aku hanya ter-
ikat hubungan seorang guru dan siswa. Tapi, perasaanku ter-
hadapnya seperti aku telah mengenal dia begitu lama. Siang itu
dia ceritakan semua apa yang membuatnya terasa jatuh bertubi-
80 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
tubi. Berawal dari cerita budenya bahwa Meranti itu adalah
ibunya. Bahwa ibu yang sekarang dia kenal sebagai ibunya adalah
neneknya. Sedangkan, ayahnya yang sekarang memang benar-
benar ayahnya. Ya, Meranti adalah anak perempuan yang harus
menerima kenyataan pahit ketika dia mengandung anak dari
ayah tirinya, suami dari ibunya. Dan karena menjadi aib keluarga,
Meranti belia pergi merantau dengan meninggalkan Pramesti
bersama ayah kandungnya serta nenek sekaligus ibu tirinya.
Kakiku lemas. Tak sanggup berdiri. Kupeluk erat Pramesti.
Kami menangis sejadi-jadinya. Mungkin kalimat nasihatku untuk
saat ini akan percuma. Pramesti butuh pelukan untuk menguat-
kan. Cerita Pramesti akan menjadi salah satu lembar halaman
dalam hidupku. Tak akan kulupakan kisah pahit hidupnya.
Aku terkejut ketika ponselku berbunyi. Lamunanku tentang
kejadian delapan tahun lalu terlalu khusuk. Semakin terkejut,
seperti ada sebuah penyambung perasaan, ada messenger dari
Pramesti.
“Assalamualaikum Bu, apa kabar? Aku bulan depan akan me-
nikah Bu. Doakan ya Bu. Aku sudah bertemu dengan ibuku Bu,
Mbak Ranti.”
Bersama dengan pesan itu dia kirimkan sebuah foto dengan
keterangan, calon suamiku. Wajahnya tak asing, samar-samar
kuingat dia siswaku juga. Ya, gebetan Pramesti yang dulu pernah
diceritannya padaku. Kutahu lelaki itu anak yang baik. Anak dari
keluarga berada. Hatiku lega Pramesti berjodoh dengannya.
Kuusap bulir-bulir air mata yang menetes dari mataku. Ter-
iring doa untuk Pramestiku. Semoga pernikahannya menjadi obat
untuk jalan hidupnya yang teramat pahit.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 81
11.
Kembang Hitam Bersemi
Kristanti Hastuty
Bulan Juli ini di kampungku, Tambakrejo, para warganya
menanti datangnya musim petik bunga cengkeh. Kala
Juni tiba, beberapa petani bahkan sudah mulai ada yang mema-
nen cengkehnya. Aku pun sudah mempersiapkan datangnya
musim panen dengan mulai membuat atau membeli bambu
untuk dijadikan tangga guna memanjat pepohonan cengkeh yang
menjulang hingga dua puluh meter itu.
Buat aku yang berstatus janda dengan empat anak di usia
dua puluh lima tahun, pekerjaan mempersiapkan panen ini se-
dikit berat. Di antara anak-anakku yang mungkin bisa sedikit
membantu cuma si sulung, Suryo yang berusia delapan tahun.
Adik-adiknya yang masing-masing berselisih satu tahun hanya
mengenal kata bermain-main saja saat diajak ke kebun belakang
rumahku.
Kebun itu peninggalan mendiang suamiku yang meninggal
lima tahun lalu karena terserang malaria. Usai disuntik seorang
mantri kesehatan, badannya kejang-kejang dan mengalami demam.
Nyawanya kemudian dijemput malaikat Izrail tepat saat azan
Magrib berkumandang.
Awalnya aku hanya bisa menangis hingga tahlilan tujuh
harinya. Sambil meneteki Ragil, teringat kegigihan suamiku dan
tekadnya ingin mengantar buah hati kami hingga menjadi sarjana.
82 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Oh, aku sadar itu amanah dari pria yang telah menafkahiku se-
lama ini yang harus diwujudkan.
“Bu, aku ngeringin kembang di halaman Pakde Warto, ya,”
ujar Suryo meminta izinku.
“Jangan lupa diambil sebelum ngaji sore, Sur,” jawabku dari
dalam rumah.
Panen raya bunga cengkeh di kawasan Tambakrejo umum-
nya antara bulan Juni hingga September. Awal panen musim
ini pun harga bunga cengkeh di Tambakrejo sekitar Rp25 ribu
per kilogram basah. Tapi, mungkin aku tidak bisa berbuat banyak
tahun ini karena setahun terakhir ribuan pohon cengkeh yang telah
berumur rata-rata di atas tiga puluh tahun terpaksa dirobohkan.
Banyak pohon yang mati dengan kondisi daun yang me-
ngering lalu berguguran dan meranggas. Masih simpang siur apa
yang menjadi penyebab meranggasnya pepohonan cengkeh di
sembilan desa ini. Di antara tiga puluh pohon cengkeh kami,
tersisa dua puluh pohon yang masih sehat-sehat saja.
“Ibunya Suryo, Anda mau jual kapan itu kembangnya,” tanya
Pak Udin, pengepul cengkeh langganan.
“Nunggu tiga hari lagi Pak, masih kurang kering.”
“Ya sudah, tak tunggu, ya. Aku mau ngumpulin ke kota hari
Minggunya.”
“Ya Pak, semoga bisa cepat,” jawabku.
Kegiatanku sebenarnya bukan hanya menunggu bunga-
bunga cengkeh itu mekar, lalu memprosesnya hingga mengering.
Aku juga menjadi guru ngaji bagi puluhan anak desa di surau
sederhana Tambakrejo. Tapi, ritual bersama pepohonan cengkeh
ini seperti menahbiskan cintaku untuk menjaga peninggalan suami
buat anak-anaknya. Panen tahun ini keluarga kami masih bisa ber-
syukur bisa mendapatkan sekitar dua ton bunga cengkeh kering.
Entah di musim panen berikutnya. Mudah-mudahan sama dengan
tahun ini. Pengambilan daun secara terus-menerus juga dituding
menyebabkan sistem kekebalan tanaman menjadi berkurang se-
Perjumpaan yang Tak Biasa 83
hingga berbagai jenis hama dan penyakit mudah menyerang.
Lantaran kandungan minyak dalam dedaunan cengkeh yang
antiseptik serta menghambat pertumbuhan jamur, bakteri mau-
pun virus sudah jauh berkurang.
Hal lain yang kutakutkan tiba. Akibat makin jarangnya pepo-
honan cengkeh, terjadi penjarahan cengkeh di mana-mana, ter-
utama dilakukan oleh orang-orang dari luar Tambakrejo. Sampai
ada penjarahan secara massal dengan mengangkut hasil penge-
ringan kami dengan truk. Sungguh tak punya hati.
Para penjarah kebanyakan mengambil dengan memotong
ranting dan pohon cengkeh. Padahal, untuk menanam pohon
cengkeh hingga siap petik memerlukan waktu bertahun-tahun
lamanya.
Setiap malam pun pekerjaanku bertambah dengan berganti-
an begadang menjaga kebun. Kresek ... skk ... bunyi itu terdengar
kian mendekat dari arah belakang kebun. Aku, Suryo, dan Pakde
Warto dalam sikap siaga penuh. Kami bersama bersigap menuju
sumber suara. Tampak sekelebat tiga orang berbaju hitam men-
dekati pepohonan cengkeh.
“Siapa itu? Tolong mengaku saja!” teriak Pakde Warto meng-
hentikan aksi ketiga tamu tak dikenal.
“Kami minta sedikit rezeki dari cengkehmu, ya,” jawab salah
satu di antara mereka.
“Minta rezeki itu ke Gusti Allah. Caranya, ya usaha,” sahut
Pakde Warto.
Jarak antara Pakde Warto dan ketiga orang tadi sekitar lima
puluh meter. Mereka tetap saling berteriak untuk berkomunikasi.
Ada sebuah jarak untuk menyerang maupun diserang. Kali ini
aku merasa tertarik buat nimbrung menginterogasi tetamu yang
kepergok masuk kebunku.
“Kalian semua memang benar-benar butuh?” tanyaku.
“Iyaaa,” mereka menyahut secara bersamaan.
84 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Besok pagi saya butuh kalian bertiga untuk membersihkan
kebun, memulungi dedaunannya buat dijual. Bagaimana?”
Ketiga bayangan lelaki itu saling menoleh satu sama lain dan
kian mendekatiku yang masih merasakan dingin menggigil di
sekujur tanganku. Rasa takut itu kian menjadi sebab Pakde Warto
mengangkat sabitnya karena ketiga lelaki tadi kian mendekat
tanpa menjawab.
“Maafkan kami, Bu, Pak, yang sudah masuk kebun tanpa
izin karena kami bingung mau ngasih makan anak istri dengan
apa. Pohon-pohon cengkeh kami sudah tumbang,” jawab salah
satu dari pria tadi yang terlihat paling tua.
“Aduh kami yang deg-degan seperti ketemu maling beneran,
lho,” jawabku untuk mencairkan suasana.
“Kami siap membantu ibu mulai besok kalau begitu.”
Ketiga orang tadi benar-benar menepati janjinya. Mereka
berasal dari kecamatan sebelah Tambakrejo yang berjarak sekitar
lima kilometer. Sengaja aku memberikan jatah dedaunan ceng-
keh. Kuingat-ingat karena masih bisa digunakan sebagai minyak
asiri. Meski hasil penjualan daun tidak sebesar penjualan bunga
dan tangkai, ketiga pria yang kini menjadi pekerja setiaku itu
sangat bersyukur bisa kembali menafkahi keluarganya.
***
Pagi saat aku di kebun cengkeh tiba-tiba muncul sesosok laki-
laki yang aku kenal beberapa tahun yang lalu.
“Lastri, masih ingat aku?” dia menyapaku.
Kuamati wajahnya sambil kuingat-ingat di mana pernah
bertemu. Setelah melihat tahi lalat di ujung bibir baru kuingat.
Samsul, ya Samsul teman satu kelas waktu kelas dua SMP.
“Samsul, kamu Samsul, kan?”
“Iya,” jawabnya.
“Sekarang di mana Sul?”
“Di Jakarta.”
“Wah, sekarang sukses kamu ya.”
Perjumpaan yang Tak Biasa 85
“Iya, alhamdulillah. Sekarang bagaimana kabarmu Las?”
“Ya masih begini-begini saja Sam, ngurus kebun peninggalan
almarhum suami.”
Begitulah awal pertemuanku dengan Samsul. Sejak itu dia
sering menemuiku, datang ke rumah dengan membawa oleh-
oleh, mungkin untuk mengambil hati anak-anakku. Karena se-
pertinya dia menaruh hati padaku. Aku bingung apa yang harus
aku lakukan. Di satu sisi aku ingin menikah lagi, ingin bahagia
seperti yang lain karena memang aku masih muda. Di sisi lain
ingat pesan suami bahwa aku harus mengantarkan anak-anak
untuk jadi sarjana. Aku takut amanah suamiku tak dapat kujalan-
kan. Aku takut hal buruk terjadi pada keluargaku. Walau sebenar-
nya terselip rasa cinta di relung hati, entah kapan rasa itu hadir.
Aku terhenyak, seperti terbangun dari mimpi. Kucubit lenganku,
sakit. Samsul, laki-laki yang pernah singgah di hatiku. Sebenarnya
banyak laki-laki yang masih mengharapkan aku untuk dijadikan
istri walaupun istri kedua, ketiga, atau hanya istri simpanan. Dari
orang biasa sampai orang kaya raya, bahkan sampai yang ber-
darah biru. Setiap menatap wajah anak-anakku terbayang wajah
bapaknya. Teduh, penuh cinta kasih terhadap keluarga. Seperti-
nya tak akan pernah kutemukan laki-laki seperti suamiku. Sebenar-
nya aku merasa risih dengan sebutan janda, apalagi aku masih
muda. Sebutan itu seakan melekat erat pada diriku. Apa yang ku-
rasakan saat ini tak sebanding dengan cita-cita yang harus kuraih.
Amanat mendiang suami yang selalu terngiang-ngiang di kuping-
ku. “Lastri, jika aku pergi nanti tolong titip anak-anak, aku ingin
mereka jadi sarjana, jadi orang pinter dan hidupnya berguna bagi
orang banyak.” Aku tak akan mengecewakan suamiku. Aku
harus bisa mengemban amanatnya dengan baik.
Aku harus mengubur dalam-dalam anganku untuk bersuami
lagi. Cinta, hasrat, seakan semu. Yang ada di benakku hanya masa
depan anak-anak dan kebun cengkeh peninggalan suamiku yang
86 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
harus aku rawat dengan penuh cinta. Yah.. cinta yang nyata bukan
cinta semu penutup asa.
Gusti Allah, aku ingin anak-anakku jadi sarjana. Aku ingin
suamiku bangga dan bahagia di sana. Melihat Si Lastri istrinya
wong ndeso petani kebun cengkeh yang bisa menjadikan anak-
anaknya berhasil meraih pendidikan tinggi. Jadi sarjana, impian
orang tuanya yang belum terlaksana.
Satu-satunya peninggalan suamiku yang bisa diharapkan,
ya hanya kebun cengkeh itu. Warisan yang sangat berarti. Rasa
cinta dan sayangku pada suami tercurah untuk kebun cengkeh-
ku.
Cintaku pada pepohonan cengkeh rupanya tak bersyarat.
Menghidupi aku dan keempat anakku. Begitu pula istri serta
anak-anak para pria yang membantuku sepanjang tahun. Rupa-
nya simbiosis mutualisme antarmakhluk ini mengembuskan ruh
kehidupan yang subur bagi tanaman berkayu keras tersebut. Dari
tahun ke tahun hasil panen raya kami bisa lima kali lipat, seperti
terbangkit dari krisis hampir dua dekade lalu tadi.
“Bu, skripsiku rampung. Siap-siap ke Semarang ya, Bu, ikut
wisudaku,” ungkap Suryo saat pulang ke Tambakrejo.
“Alhamdulillah, Sur, semoga lancar sampai benar-benar
lulus langsung dapat kerja nanti,” begitulah doaku buat si sulung
yang tak pernah mengeluh saat kuperintah di kebun itu.
Tinggal tiga anakku lagi yang masih mengenyam bangku
kuliah. Tak lama lagi aku beserta ketiga pekerjaku pun bakal
menunaikan ibadah rukun Islam kelima ke tanah suci. Kuncup-
kuncup bunga cengkeh pagi itu masih menyembulkan warna
hijau segar. Pertanda harapan panen raya kembali tiba. Doaku
dalam syukur buat ayah anak-anakku yang melimpahkan kasih
sayangnya dari balik rimbun pepohonan cengkeh untuk memberi
kehangatan hubungan dengan sesama pula.
“Matur nuwun, Gusti Allah,” hanya itu yang keluar dari
bibirku.
Perjumpaan yang Tak Biasa 87