sudah dan akan selalu mencintai suamiku. Imam hidupku saat
ini. Dan aku hanya ingin bahagia bersama keluargaku.
Ternyata rombongan tidak langsung menuju ke rumah dinas,
tetapi masuk ke rumah sakit. Tepatnya RSUD dr. Suwondo
Kendal yang berada di Jalan Laut Kendal. Aku tanyakan lagi pada
ajudan suamiku.
“Om, ada apa ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Rombongan
mau apa lagi?” kuberondong ajudan dengan pertanyaan karena
rasa ingin tahuku.
“Izin Ibu, Giat berikutnya memberikan bantuan bagi renovasi
ruangan khusus penderita leukemia bagi pasien RSUD Kendal,
tapi hanya sebentar saja, Ibu. “
“Mohon izin, Ibu akan turun atau tetap di dalam mobil?”
Aku tak menjawab dengan kata-kata. Hanya dengan meng-
angguk saja dan ajudan serta sopir sudah turun dari mobil me-
nyusul suamiku yang lebih dulu turun dan berkumpul dengan
rombongan. Kulihat dari jendela mobil acara sudah dipersiapkan
sehingga tak butuh waktu lama dan kulihat seremonial penyerah-
an bantuan yang berlangsung di halaman rumah sakit segera
dimulai. Dan tak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar se-
tengah jam saja acaranya sudah usai. Kulihat pejabat utama
Pemkab Kendal dan Muspida bersalaman sambil menyerahkan
bingkisan dan bantuan lainnya. Aku tertarik dengan sosok yang
mewakili RSUD Kendal dengan menggunakan jas putih dan
menerima bantuan itu. Rasanya aku pernah melihatnya. Aku ber-
usaha keras mengingatnya. Senyumnya, rasanya tak asing bagi-
ku. Padahal, seingatku, aku tak memiliki teman yang bekerja di
rumah sakit ini apalagi menjadi pejabat. Rasa penasaranku belum
terjawab dan buyar dengan sendirinya karena suara pintu mobil
dibuka dan suamiku serta ajudan dan sopirnya masuk mobil.
Aku tersenyum menyambut suamiku dan dibalas dengan senyum
manis olehnya.
“Maaf ya mama jadi menunggu.”
138 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Ndak apa-apa hanya sebentar kok.”
Lalu, aku jadi meriang. Aku perempuan yang patut ber-
bangga karena mendapatkan suami dan keluarga kecil yang
bahagia. Walaupun aku punya kenangan masa lalu yang sulit
aku lupakan namun tetap harus aku lupakan. Dan terkunci dalam
kalbuku.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 139
17.
Obong Puspa
Silvia Nor Farida
Langit yang ia lihat masih sama, dengan berbagai macam
corak kehidupan yang menghiasi mampu menambah
cerita juga menyimpan misteri. Namun, tanah yang dipijak kini
lain dan berbeda. Begitu pula kehidupan Anti sekarang. Baru
tiga bulan ini Anti pindah ke rumah suaminya yang berada di
sebuah desa dengan suasana, kebiasaan, bahkan tradisi yang jauh
berbeda dengannya. Anti harus banyak belajar dan menyesuaikan
diri dengan kebiasaan di sana agar dapat diterima baik oleh
keluarga suami.
Desa itu amatlah damai, sejuk, dengan hamparan sawah
yang membentang. Memang di sana mayoritas penduduknya
bertani. Setiap Minggu pagi Anti menyempatkan jalan-jalan se-
kitar rumah hanya untuk menghirup udara pagi yang segar dan
bertegur sapa dengan tetangga rumah.
Pagi itu dengan rutinitas seperti biasa, Anti pergi jalan-jalan
ditemani suaminya.
“Pagi, Mas Adi?” sapa salah satu warga yang berpapasan
dengannya.
“Pagi. Mau ke sawah, Pak?” balas suami Anti
“Iya, Mas. Mari,” pamit warga tersebut pada mereka berdua.
Sekadar bertegur sapa atau hanya melempar senyuman dapat
membuat hati tenteram dan menambah kerukunan. Sesampainya
140 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
di rumah, ibu mertuanya sedang mempersiapkan beberapa bahan
makanan.
“Untuk apa, Bu? Bahan makanan sebanyak ini, Ibu mau meng-
adakan hajatan?” tanya Anti pada ibu mertuanya.
“Ini untuk dibawa di acara obongan Pak Misan?” jelas ibu
pada Anti. Pak Misan adalah salah satu tetangga Anti. Pak Misan
baru meninggal sepekan yang lalu.
“Obongan? Maksudnya, Bu?” Anti mengernyitkan dahinya
yang menandakan ia tak paham apa yang disampaikan ibu.
“Udah, Nduk. Ayo temani Ibu untuk mengantarkan ini!” pinta
ibu tanpa menjelaskannya lebih lanjut. Anti mengikuti omongan
ibu.
Anti bersama ibunya menuju acara obongan di salah satu
rumah tetangganya. Sesampainya di sana, sudah banyak orang
yang hadir. Mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Suasananya sangatlah ramai. Menyerupai orang yang sedang
mengadakan hajatan. Ada yang bertugas memasak, menata tem-
pat, dan yang lainnya.
Begitu banyak prosesi pada acara itu. Anti mencoba untuk
memperhatikan setiap prosesi tersebut. Satu persatu prosesi
dilaksanakan. Anti masih mecoba memperhatikan dari salah satu
kursi yang memang sudah disediakan tuan rumah untuk para
tamunya. Meski demikian, Anti masih belum paham dengan
barbagai rangkaian acara tadi. Anti tak berani bertanya pada siapa
pun di sana. Para tetangga di sana seketika tertutup, tak seramah
biasanya. Apa mungkin karena ia orang baru, pikirnya.
Dalam perjalanan pulang, ia hanya terdiam, memikirkan
kembali acara yang barusan ia kunjungi. Anti pun sudah tidak
berani bertanya kembali pada ibunya. Toh, nantinya akan sama
saja, jawaban itu tak menyelesaikan rasa penasaran Anti.
Sesampainya di rumah, Anti duduk di samping sang suami
yang sedang asyik dengan telepon pintarnya. Ia menceritakan
Perjumpaan yang Tak Biasa 141
semua yang sudah ia lihat di rumah tetangganya tadi. Anti pun
kembali bertanya pada sang suami perihal upacara tersebut.
“Mas, obongan itu acara apa to?” tanya Anti pada sang suami
“Itu adat dan tradisinya orang sini,” singkat suami Anti men-
jelaskan, tapi matanya tetap fokus memperhatikan telepon pintar
yang digenggamnya.
“Lalu untuk apa tradisi itu?” tanyanya kembali
“Namanya tradisi, ya untuk menghormati leluhur atau se-
lamatan. Acaranya, ya seperti tadi yang kamu lihat di sana?” jelas
suami Anti tak ingin menjelaskan lebih.
“Tapi, selamatan kok ada prosesinya gitu, ya.” sambung Anti
“Sudahlah, tak usah kamu pikirkan sebegitunya Nduk!”
Lelaki berpostur tegap itu berlalu menghindari Anti karena dia
paham bahwa istrinya sulit menerima tradisi yang masih ber-
hubungan dengan mistis. Anti orang yang realistis, ia juga besar
dilingkungan yang jauh dengan hal semacam itu.
Hari berganti, dalam benaknya masih menyimpan penasar-
an, tetapi ia tak kunjung mendapatkan penjelasan dari siapa pun.
Akhirnya ia pun tak memedulikan lagi. Waktu menggerus rasa
penasarannya. Hingga ia lupa dengan sendirinya.
***
Sudah beberapa hari ini ibu mertua Anti sakit. Memang
mungkin penyakit orang tua. Tidak seperti biasanya, ibu kali ini
hanya bisa terdiam di kamarnya. Kakinya sakit jika berjalan. Anti
dan suami sudah memeriksakan ke dokter, namun diminta untuk
istirahat dan rawat jalan di rumah. Anti berusaha untuk menjadi
perawat pribadi ibu mertuanya dengan sangat baik. Tapi, Tuhan
berkehendak lain, Tuhan lebih sayang mertua Anti. Hingga tepat
hari Ahad di awal bulan Rajab ini mertua Anti meninggalkan
keluarga untuk selamanya. Itu pukulan berat bagi keluarga,
terlebih bagi suami Anti.
Semua kerabat dan tetangga mulai ramai berdatangan untuk
sekadar melayat dan berbelasungkawa. Semua orang berusaha
142 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
menghibur Anti dan suaminya, terutama Bude Ni dan Bude Sri,
kedua kakak dari mertua Anti.
Anti dan suami beserta kerabatnya mengantarkan jenazah
ibu mertua ke pemakaman, tempat peristirahatannya yang ter-
akhir. Sepulang dari pemakaman, Anti masih melanjutkan pe-
kerjaannya, ia tetap sibuk membereskan beberapa hal di rumah-
nya. Ia mengambil sapu dan pengki di sudut rumahnya. Ia kaget
melihat boneka yang tebuat dari kayu disandarkan pada sudut
dinding di rumahnya. Ia seketika memanggil suaminya.
“Mas Adi, boneka apa ini? Milik siapa?” tanya Anti dengan
sedikit berteriak.
“Ya, Nduk,” dengan tergesa, Adi menghampiri istrinya.
“Nanti Mas jelaskan,” jawab Adi sambil menggandeng tangan
Anti untuk diajak ke ruang keluarga. Ternyata di sana sudah ada
Bude Ni yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu.
“Bagaimana Adi, obongan untuk ibumu?” Bude Ni bertanya
pada suami Anti.
“Obongan untuk ibu? Maksudnya apa ya, Bude?” seketika
pertanyaan Anti tentang obongan yang dulu sudah mengendap
dalam pikiran kini muncul kembali.
“Anti belum dikasih tahu, to Di?” tanya Bude Ni pada suami
Anti.
“Belum, Bude,” jawab suami Anti pelan. Adi bingung harus
menjelaskan bagaimana kepada Anti, apakah Anti akan bisa
menerima hal seperti ini.
Bude Ni berusaha menjelaskan kepada Anti tentang obongan
yang memang sudah dilakukan oleh keluarganya turun temurun,
yang diadakan dengan tujuan selamatan, menghormati leluhur dan
agar tidak terjadi malapetaka pada keluarga yang ditinggalkan.
Obongan itu sendiri di adakan di hari ke tujuh pascameninggal.
“Lalu apa maksud dari boneka kayu di belakang rumah tadi,
apakah ada hubungannya juga?” spontan Anti menyela penjelas-
an dari Bude Ni.
Perjumpaan yang Tak Biasa 143
“Itu boneka sering kita sebut puspa, sebagai pengibaratan
ibumu, bahwa ibumu masih ada di sekeliling kita selama tujuh
hari ke depan. Kamu carikan pakaian yang paling disukai ibumu
semasa hidup, kemudian pakaikan pada boneka kayu itu. Mbah
Kirno nantinya akan membuatkan rumah-rumahan untuk tempat
puspa tinggal.” jelas Bude Ni.
“Mbah Kirno?” tanya Anti
“Iya, Mbah Kirno adalah sesepuh di desa ini,” penjelasan
Bude Ni pada Anti.
Anti semakin bingung, ia tak setuju dengan tradisi itu. Pikir-
nya itu semua tak masuk di akal dan nalar Anti.
“Apa itu, Bude?” tak seharusnya Bude melakukan itu. Ibu
sudah tenang di sisi Tuhan, tinggal kita doakan saja, kan Bude,”
kekeh Anti pada Bude Ni.
“Maksudmu apa, Anti? Itu diadakan demi keselamatan kita
semua. Keluarga yang ditinggalkan, khususnya kamu dengan
suamimu, Adi. Karena yang meninggal adalah ibumu,” sambung
Bude dengan nada kesal.
“Iya, Bude. Kami paham,” sela Adi menengahi istri dan bude-
nya itu. “Tapi, kami nggak ada uang jika harus menyiapkan ber-
bagai macam uborampe, bahkan harus menyembelih kerbau.”
Dalam tradisi obongan di masyarakat Adi tinggal, pihak
keluarga harus menyiapkan uborampe seperti halnya berbagai se-
saji dan menyembelih kerbau untuk selamatan dan dibagikan ke
tetangga sekelilingnya.
“Tapi itu salah satu syaratnya, Le. Kamu tidak mau, kan
keluargamu ini dapat malapetaka jika semua syaratnya tidak di-
lengkapi. Kamu cari caranya to, entah dengan utang atau bagai-
manalah, tapi yang jelas semua syaratnya terpenuhi!” saran Bude
pada Adi.
Ucapan Bude Ni membuat Anti tak tahan. “Haruskah meng-
ada-adakan sampai berhutang seperti itu, Bude? tak seharusnya
kami sedang berduka dibebani dengan prosesi yang syaratnya
144 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
sebanyak itu?” Anti baru tahu sebegitu rumit dan banyaknya
persiapan yang harus dilakukan untuk acara tersebut, bahkan di
saat keluarganya kini sedang berduka.
“Kamu diam, Anti! Kamu orang baru di keluarga ini tak se-
pantasnya berbicara seperti itu. Bude nggak mau kena karmanya
karena kalian nggak mau melengkapi syaratnya itu.” Bude Ni
masih bersikukuh melakukan obongan dengan berbagai syarat
itu meskipun Adi merasa tak sanggup melengkapi salah satunya.
Anti terdiam. Ia tidak setuju dengan prosesi itu. Tapi, dia
tak patut bicara lebih di situ. Dia tak mau Bude Ni semakin emosi
dan marah jika dia terlalu banyak bicara.
“Baiklah, terserah kalian berdua, Bude nggak mau hanya
karena ini kita bertengkar, sementara tanah kubur ibumu masih
basah. Kalian pikirkan berdua,” terang Bude Ni sambil mening-
galkan Anti dan suaminya.
Suami Anti sebenarnya sependapat dengan Anti. Ia ingin lepas
dari tradisi yang menurutnya membelenggu keluarganya selama
ini.
Suasana rumah pasca ibu mertua Anti meninggal semakin
sepi. Meski terkadang masih ada beberapa orang datang untuk
sekadar mendoakan ibu. Puspa, si boneka yang dipasang di depan
rumah menambah suasana rumah jadi tak karuan apalagi jika
datang waktu malam.
Setelah perbincangan dengan Bude Ni mengenai obongan,
tak pernah lagi mereka membahasnya. Bude Ni pun juga tak
datang lagi untuk menanyakan kembali. Anti dan suaminya pikir
permasalahan itu selesai. Bude Ni sudah mau menerima keputus-
an suami Anti untuk tidak mengadakan obongan, pikir mereka.
Meskipun puspa itu masih tetap di tempatnya. Anti dan suaminya
tak berani menyingkirkan. Mereka membiarkan puspa di tempat-
nya entah sampai kapan.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 145
Hitungan kalender sudah menunjukkan tujuh hari setelah
mertua Anti meninggal. Anti dan suaminya berencana hanya
akan mengadakan doa bersama dengan para tetangga di se-
keliling rumah. Anti dan Adi mengadakan doa tujuh harian sang
ibu, hanya doa dan jajanan sekadarnya yang diberikan pada tamu
cukup itu, tak ada obongan. Namun, hanya sedikit tetangga yang
datang, bahkan Bude Ni dan keluarga besar Adi tak tampak di
sana. Wajar, mungkin mereka marah pada sepasang suami istri
itu.
Hidup Adi dan Anti harus tetap berjalan meskipun kali ini
berbeda tanpa ibunda Adi dan keluarga besarnya. Mereka merasa
dikucilkan dari keluarga, bahkan lingkungannya. Tapi, mereka
harus menjalani hidup ini kembali.
Adi dan Anti berangkat bekerja seperti hari-hari biasanya.
Hingga suatu sore menjelang malam Adi belum pulang. Biasanya
jam segitu Adi sudah sampai di rumah. Ada perasaan tak enak
pada hati Anti. Sebagai istri ia sepertinya punya firasat buruk
yang terjadi pada sang suami. Telepon Adi tak bisa dihubungi,
Anti tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menunggu di
rumah, hingga ia dapat kabar bahwa suaminya masuk rumah
sakit. Adi mengalami kecelakaan ketika ia perjalanan pulang. Adi
mengalami patah tulang kaki. Ia kini sulit berjalan hingga harus
mengajukan cuti pada kantornya sampai masa penyembuhan.
Kala itu Anti seolah sendiria. Ia harus merawat suaminya.
Di sisi lain, Anti harus bekerja. Ia sudah berusaha menghubungi
Bude Ni dan keluarga yang lain, namun tak ada respon dari me-
reka. Bahkan, tetangga dekat pun tak ada yang mau membantu-
nya.
“Apa ini karma bagi kita yang tak mau melakukan obongan
ya, Nduk?” tanya Adi pada Anti yang sedang menyuapinya.
“Jangan bilang seperti itu, Mas. Mungkin ini memang ujian
dari Tuhan buat kita.” Anti berusaha berpikir positif. Ia tak mau
menghubung-hubungkan sakitnya sang suami dengan tradisi itu.
146 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Tapi, aku takut kalau ini memang karma akibat kita tak
melaksakan tradisi itu. Aku takut di belakang ini ada petaka yang
lain.” Adi merasa khawatir akan nasib keluarganya.
Kekhawatiran Adi menambah pikiran bagi Anti. Kehidupan
mereka semakin memburuk. Adi pun tak kunjung membaik
hingga perusahaannya dengan terpaksa mencari penggantinya.
Adi dikeluarkan dari perusahaannya karena memang Adi tak
kunjung sembuh. Hal itu menambah terpuruknya suami istri itu.
Anti merasa sendirian. Ia seolah tak punya siapa-siapa sekarang.
Bude Ni dan saudara lain yang biasanya sering main ke rumah
kini tak ada satu pun yang datang hanya sekadar menjenguk
atau menanyakan kabar. Tetangga pun seolah tak peduli lagi.
Mereka seolah terasingkan dari keluarga dan lingkungannya
sendiri. Sepasang suami istri itu seolah telah murtad dari agama-
nya. Pantaskah sanksi ini mereka terima hanya karena tak se-
pendapat dengan lingkungannya, entahlah.
Tekanan-tekanan itu membuat Anti berpikir dia harus me-
nyelesaikan masalah ini. Bukan karena ia khawatir akan karma,
tapi lebih pada ia harus memperbaiki hubungan dengan keluarga
suaminya itu. Bahkan, dengan lingkungannya. Mungkin memang
ia dan Adi tak seharusnya memaksakan kehendak mereka pri-
badi. Ada beberapa hal yang harus mereka pikirkan kedepannya
untuk mengambil sebuah keputusan besar menyangkut tradisi
dan kepercayaan keluarganya.
Hingga suatu ketika Anti datang bertamu ke rumah Bude
Ni yang masih satu desa dengannya. Anti datang sendiri tanpa
ditemani suaminya. Anti meminta maaf dan menyampaikan se-
muanya pada Bude Ni. Ia tidak mau jika keluarganya beranta-
kan. Bude Ni pun menanggapi baik permintaan maaf Anti karena
tidak mau keluarganya hancur akibat masalah itu.
***
Pagi itu lain dari biasanya, rumah Anti terlihat ramai. Bude
Ni dan Bude Sri beserta kerabat lainnya mulai berdatangan.
Perjumpaan yang Tak Biasa 147
“Lho, Bude. Untuk apa Bude membawa semua perlengkapan
ini?” tanya Anti yang heran.
“Kamu lupa, kemaren lusa kamu datang ke Bude untuk
memperbaiki hubungan dengan keluarga besar Adi? Ini caranya,
kita lakukan sekarang,” jelas Bude Ni
“Tapi Bude ...,” Anti berusaha untuk menyela.
“Sudahlah semua sudah Bude urus dari boneka, kerbau se-
saji, sedekah, sampai ke obongan-nya, semua kerabat gotong
royong membantu. Kamu tinggal urus acara doa bersamanya
saja,” tukas Bude Ni pada pasangan suami istri itu.
“Bukan seperti ini maksud Anti,” jawab Anti pada Bude Ni.
“Lalu, bagaimana maksudmu, Anti?” sahut Bude Ni dengan
penuh emosi. “Bude akan memaafkan kalian dengan syarat
lakukan upacara ini.”
“Sudahlah, Nduk untuk Ibu, kasihan Ibu kalau kita berdebat
seperti ini terus,” dengan lirih Adi berusaha menenangkan istri-
nya.
Sepertinya Bude Ni salah paham, tapi sudahlah. Anti tak mau
ia dengan suaminya kembali terasing dengan keluarga dan ling-
kungannya. Anti sudah cukup lelah hidup tertekan tanpa keluarga
dan kerabat.
Sementara di luar rumah sudah ramai kerabat siap untuk
melaksanakan prosesi dari upacara tersebut, tetangga yang lain
menyaksikan sebagai wujud penghormatan akan upacara itu.
Seluruh keluarga dikumpulkan di halaman rumah, termasuk
Anti. Sebenarnya ia tak mau mengikutinya, tapi seluruh kerabat
membujuknya. Tak ada daya bagi Anti menolaknya. Terlihat sosok
tua dengan kepala menggunakan ikat dan pakaian kejawennya
seolah memimpin upacara tersebut. Anti baru menyadari mungkin
itu yang namanya Mbah Kirno sesepuh desa ini yang pernah
Bude ceritakan sebelumnya. Mbah Kirno memulai upacara dengan
doa-doa. Kemudian seluruh keluarga termasuk Anti dan suami-
nya mengikuti prosesi ngendhek-ngendheki. mereka semua beputar
148 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
mengelilingi kerbau sesaji dangan membawa semua aneka sesaji
dan puspa, sebanyak tujuh kali.
Prosesi dilanjutkan dengan Mbah Kirno menjual nasi gurih
yang harus dibeli oleh seluruh keluarga dan uang hasil pen-
jualannya yang berupa koin akan ikut dibakar nantinya. Prosesi
diakhiri dengan obongan, yakni membakar puspa dan seluruh
barang-barang kesayangan milik mertua Anti. Setelah semua
acara selesai, Anti beserta kerabatnya harus mengumpulkan abu
hasil bakarannya untuk kemudian dilabuhkan ke sungai yang
alirannya deras.
Dalam hatinya Anti tak ingin melakukan semua itu. Tapi,
apalah daya dia harus menghormati tradisi keluarga suaminya.
Ada banyak hati dan perasaan yang harus dia jaga. Agar semua
keluarga tak saling bertengkar dan berselisih paham. Biarlah ini
menjadi sebuah pembelajaran hidup untuk Anti bahwa setiap
tradisi yang ada membawa pesan masing-masing bagi setiap
pelaku dan pemilik tradisi itu sendiri, kita perlu menghargainya.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 149
18.
Surga di Balik Paseban
Ratna Febri
Tatapan mata tajam jauh memandang cakrawala langit
yang indah, biru, cerah. Tampak putih awan laksana
kapas yang menggumpal pada salah satu sudut suatu kampung
dari balik tirai berwarna biru. Kampung yang jauh dari daerah
pegunungan. Kampung yang berada di daerah pesisir laut.
Kampung yang sudah tidak bertetangga dengan kampung lain-
nya karena yang tampak hanya hamparan laut yang luas, biru
terbentang sepanjang kampung tersebut. Kampung yang kira-
kira berada pada jarak 12,7 kilometer atau bisa ditempuh kurang
lebih dua puluh empat menit dari pusat kota. Hampir rata-rata
kampung tersebut masih berupa lahan pekarangan dan juga
hamparan sawah luas yang masih nampak berwarna hijau karena
para petani belum memanen padi yang ditanamnya.
Pandangan yang selalu melirik ke sana ke mari yang berada
di sekitarnya. Tak luput sesekali sambil memegang gelas yang
tepat di hadapannya pada sebuah meja kecil penuh berisi dengan
air berwarna coklat. Keringat pun menetes membasahi badan dan
muka. Cuaca yang sangat terik. Jika berada di luar rumah mungkin
bisa membakar kulit. Ya, tepat di samping jendela yang tampak
sudah mulai pudar warna catnya. Pikiran yang entah pergi jalan-
jalan ke arah mana. Pertanyaan yang belum terpecahkan selalu
berkeliling di dalam benak.
150 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Ada rasa takut, rasa khawatir, bahkan terkadang masih ber-
pikir yang tidak-tidak. Hal ini dikarenakan aku terlahir di salah
satu keluarga yang posisinya masih sangat percaya akan hal-hal
magis. Keluargaku masih mempercayai adat-istiadat orang
zaman dulu. Namun kepercayaan kami sekeluarga, bahkan ling-
kungan kampungku pun masih sangatlah kental dan menghor-
mati serta menghargai keberadaan yang diwariskan dari para
leluhur kami.
Memang sebagian besar orang-orang yang asli keturunan dari
kampungku atau bisa dikatakan bahwa dia asli penduduk pribumi,
istilahnya, sangatlah percaya akan hal-hal atau kekuatan-kekuatan
magis yang masih ada di zaman sekarang. Padahal hampir rata-
rata orang zaman sekarang, apalagi sudah termasuk era digitalisasi,
keberadaan hal-hal magis sudah hampir sedikit yang masih percaya.
Bahkan, ada pula yang sampai bilang dalam bahasa daerah kami
dengan istilah “zaman yah mene kok isih percaya karo kaya ngono,” dan
jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi ’pada zaman
sekarang masih percaya pada hal magis seperti itu’. Kalimat itulah
yang selalu terngiang dalam telingaku. Rata-rata orang yang bilang
semacam itu bukan orang asli dari kampungku. Dia orang
pendatang. Orang asli dari kampung jarang ngomong seperti itu.
Entah karena apa atau bagaimana dampak yang akan terjadi.
Istilahnya pamali. Bagi warga asli terkadang merasa ada yang beda
dengan orang-orang yang berada di daerah luar kampungku.
Apalagi sampai dewasa pun aku masih banyak penasaran akan hal
itu. Sampai saat ini belum terpecahkan keingintahuanku akan
keanehan-keanehan serta perbedaan-perbedaan yang ada di
kampung halamanku. Konon katanya, kampungku termasuk
wilayah yang memiliki sejarah tersendiri yang sangat berpengaruh
terhadap keberadaan kabupaten yang kini kutempati.
Waktu itu masih menunjukkan pukul 12.00 siang. Sinar
mentari pun masih terasa panas menyengat kulitku. Awal mula
cerita aku ingin sekali pergi ke salon untuk memotong rambut.
Perjumpaan yang Tak Biasa 151
Rambutku sudah cukup panjang dan aku tidak terbiasa sehingga
merasa kurang nyaman..
Namun, ketika aku ingin pergi salon dalam hati berkata,
“Kalau aku berangkat sendiri, sepi dong. Tidak ada teman yang
diajak untuk ngobrol selama perjalanan dan juga nanti di sana
seperti orang hilang,” sehingga waktu itu aku memutuskan untuk
mengajak kakak perempuan sepupuku.
Tak menunggu lama kemudian, aku pun bergegas pergi ke
rumah kakak sepupuku. Sesampainya di sana, masih di teras
rumah, aku berteriak “Kak, ayo anterin aku ke salon!”
“Tumben siang-siang gini mau ngajak ke salon.”
“Ah, gimana? Mau nggak?”
“Nanti aja kalau udah agak redup.”
Dengan sedikit menunjukkan rasa kecewa, aku pun merajuk
dan cemberut sambil duduk di bangku yang berada tepat di
sebelahku.
“Ya, kok nanti? Sekarang saja, ayo!” dengan nada sedikit me-
maksa.
Mendengar aku terus menerus ngedumel yang tidak jelas
untuk merayu supaya kakakku mau mengantarkan ke salon, tiba-
tiba terdengar suara dari dalam rumah, “Ngapain ke salon, kayak
tidak ada waktu lain saja! Udah, kalau mau ke salon jangan sekarang,
tapi nanti nunggu kalau sudah tanggal 11 Asuro!”
Suara itu ternyata pamanku yang ngomong dengan maksud
untuk melarangku pergi. Aku menjawab ucapan larangan tadi
karena merasa sekarang ada waktu sedikit longgar dari aktivitas
keseharianku.
“Ngapain harus nunggu sampai tanggal 11, memangnya kalau
sekarang nggak boleh?”
“Pamali,” timpal pamanku.
Akhirnya pun aku sampai merengek supaya diizinkan untuk
potong rambut. Tak mengurungkan niatku untuk pergi ke salon,
berbagai usaha kulakukan supaya mendapat izin.
152 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Lebih baik jaga diri daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan,” sambung pamanku sekali lagi.
Namun, usaha itu gagal dengan percuma. Aku dan kakakku
tidak berani membantah lagi jika alasannya adat yang ada di
kampung. Sudah kebiasaan yang ditanamkan dari sejak masih
kecil dalam keluarga besarku tidak boleh membantah kepada
orang tua. Jadi, jika sekali membantah saja secara langsung dalam
diri akan merasa bersalah. Alhasil aku pun mengurungkan niatku
pada hari itu juga untuk pergi ke salon meskipun ada rasa kecewa
yang berkecamuk di dalam benak pikiranku.
“Ya sudah, besok-besok saja, Kak. Nggak usah hari ini. Mau
pergi pun juga nggak boleh. Daripada kita kena omelan orang
tua kalau ngebantah.”
“Iya, Na. Besok saja perginya sesuai apa yang dikatakan ayah.
Kita nunggu kalau sudah tanggal 11.”
Aku akhirnya duduk bersila di teras rumah sembari me-
nopangkan siku tangan ke kaki sebelah kanan. Pikiran terus
menerus memikirkan apa yang sudah diucapkan oleh paman.
Dalam hatiku berkata “Apa iya harus nunggu tanggal 11 dulu
baru boleh potong rambut? Kalau sekarang takut jika terjadi
sesuatu yang tidak kita inginkan.”
Pertanyaan demi pertanyaan kini semakin bertambah. Apa-
lagi sedari beberapa waktu sebelumnya yang masih penasaran
mengapa selalu ada perbedaan dengan kampung orang lain. Hari
ini juga, lagi-lagi karena adat dan kebiasaan yang sudah ada dari
dulu. Kini bahkan potong rambut pun di bulan Asuro tidak di-
perbolehkan. Jika ingin memotong rambut, kita harus menunggu
tanggal 11 Asuro terlebih dulu.
“Ngapain bengong, kamu?”
Seakan pundakku ada yang memegang dari belakang. Bayang-
an yang ada dalam pikiran kini sirnalah sudah karena aku merasa
kaget.
“Hmmm.”
Perjumpaan yang Tak Biasa 153
“Sudah nggak usah sedih seperti itu.”
“Tapi?”
“Kan besok juga masih bisa untuk potong rambut.”
“Kalau sekarang pas nggak ada acara, jadi bisa pergi.”
“Tadi kan juga sudah diingatkan.”
Namun pertanyaan demi pertanyaan masih muncul kembali
dalam pikiran.
“Tidak hanya masalah potong rambut saja yang harus kamu
tahu. Asal kamu tahu saja jika masih bulan Asuro sebelum tanggal
11, kamu juga tidak diperkenankan menjemur kasur. Itu juga
pamali,” suara itu kembali membuyarkan pikiranku seketika juga.
Aku masih kaget mendengar perkataan barusan yang aku dengar.
“Lho, memangnya mengapa?”
Wajahku yang awalnya biasa-biasa saja kini menjadi tambah
bengong. Kakak sepupuku juga demikian.
“Intinya, ya tidak boleh. Itu sudah dari dulu. Sudah menjadi
kebiasaan orang kampung sini seperti itu.”
Aku semakin tambah penasaran. Akhirnya aku memberani-
kan diri untuk bertanya lebih dalam lagi tentang kejadian-kejadian
yang pernah aku dengar. Daripada rasa penasaranku semakin
banyak dan pertanyaan demi pertanyaan semakin bertumpuk
dalam pikiranku.
“Paman, katanya beberapa waktu yang lalu pernah ya kejadi-
an aneh di kampung kita?”
“Ngomong apa kamu?”
“Kemarin-kemarin aku pernah dengar gitu.”
“Memangnya kamu dengar kabar seperti apa?”
“Kemarin waktu aku nonton pertunjukan kesenian barong-
an.”
“Iya, memangnya apa yang terjadi?”
“Katanya selepas aku pulang lebih dulu tak lama kemudian
ada anak yang pergi nonton pertunjukkan barongan itu juga, anak
tersebut hilang.”
154 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Terus apa yang jadi penasaran?”
“Apakah benar dia ada di Kemangi?”ucapku kembali dengan
sangat antusias karena merasa penasaran dengan keganjilan-
keganjilan yang pernah terjadi di kampung halamanku.
“Iya, ada anak yang hilang. Itu memang benar, tapi dia di
sana atau tidak, belum diketahui keberadaannya karena pihak
keluarga masih mencari informasi dari juru kunci yang ada di
sana,” tandas pamanku.
Rasa penasaranku semakin memuncak untuk mengetahui
lebih dalam lagi akan hal itu. Konon semasa aku masih kecil pun
sering kejadian orang yang hilang tanpa ada penyebab yang jelas.
Jadi, hilang secara tiba-tiba saja.
“Yang terpenting adalah niat kita baik, jangan sekali-kali
memiliki niat yang jahat kepada orang lain.”
“Lho, berarti kejadian-kejadian seperti itu apakah pernah
ada?”
“Memang dari dulu sering terjadi. Tidak hanya di kampung
kita saja, tetapi di kampung tetangga yang masih satu kecamatan
sampai sekarang masih sering terjadi.”
“Udah, nggak usah tanya yang aneh-aneh. Yang terpenting
kalian jangan sekali-kali punya niat jahat. Udah, gitu saja.”
Nasihat-nasihat seperti itu yang hampir setiap hari diucap-
kan paman untuk mengingatkan aku dan juga kakakku jika kita
sedang kumpul. Aku dan kakakku sedari tadi hanya bisa melongo
mendengarkan ucapan pamanku. Aku yang awalnya masih
menyimpan rasa kecewa karena dilarang pergi ke salon menjadi
hilang seketika rasa kecewa tersebut. Namun, di sisi lain aku juga
masih penasaran dari jawaban yang sudah disampaikan paman.
Aku merasa masih banyak pertanyaan. Waktu tak terasa ternyata
sudah sore. Mentari hampir pergi ke singgasananya. Hari juga
mulai gelap. Semua tersihir dengan perkataan paman meskipun
yang telah disampaikan masih penuh dengan misteri. Oleh
karena keasyikan bercengkerama, waktu seakan berjalan dengan
Perjumpaan yang Tak Biasa 155
cepat. Kami pun pada akhirnya beranjak dari tempat duduk
masing-masing.
Hingga pada suatu ketika, karena penasaran, aku mencari
informasi dari beberapa tetangga yang dianggap sudah lebih
paham tentang keyakinan orang-orang kampungku. Alhasil ber-
temulah aku dengan salah satu pemangku yang ada di kampang-
ku. Sebut saja beliau bernama Pak Mul. Beliau adalah salah satu
orang yang memang usianya masih sekitar empat puluh tahunan
dan masih dianggap muda oleh masyarakat sekitar. Namun, di
sisi lain beliau juga paham akan hal-hal yang menurutku di luar
nalar. Mencari waktu yang pas dan longgar, pergilah aku ke
rumah Pak Mul yang tak jauh dari rumahku untuk bertanya lebih
dalam tentang kejadian-kejadian yang selama ini pernah terjadi.
Bahkan, bisa dikatakan kejadian tersebut sering terjadi dan
dialami beberapa orang selama ini. Kejadian itu tidak hanya
menimpa warga kampungku saja, melainkan lebih banyak para
pendatang. Bahkan, orang yang belum pernah menginjakkan
kakinya di kampungku itu bisa hilang. Aneh memang jika dipikir
secara logika, tetapi itulah yang terjadi.
“Pak Mul, aku tuh penasaran dengan yang ada di kampung
kita. Kira-kira apa yang terjadi sebenarnya?”
“Kamu itu bingung tentang apa?”
“Ya, begini. Kemarin ada anak yang hilang. Yang benar saja,
nonton kesenian barongan saja, malah anaknya ikut hilang se-
layaknya orang yang kesurupan. Hilang yang merasuki, ikut
hilang juga dia. Sebenarnya hal-hal aneh seperti itu apa masih
ada kaitannya dengan daerah Kemangi?”
“Iya, itu memang masih berkaitan.”
Tak berselang lama kemudian Pak Mul banyak bercerita.
Cerita yang selama ini ingin kuketahui. Cerita yang membuatku
masih penasaran. Rasa yang timbul juga sangat menggebu-gebu
untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah lagi
kisah-kisah tentang daerah Kemangi yangmembuat banyak orang
156 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
merasa takut. Banyak orang masih mengaitkan ke hal-hal aneh
yang menurut mereka ganjil dalam kehidupan selama ini.
Duduklah aku di sebelah kolam yang berada di samping
rumah sambil mendengarkan Pak Mul bercerita ke sana ke mari.
Banyak hal yang beliau sampaikan dengan nada suara yang
sedikit kurang jelas. Nada suara ciri khas dari Pak Mul yang se-
dikit berbeda dengan orang lain. Serak namun terdengar merdu.
“Sebenarnya Kemangi merupakan Paseban.”
“Paseban?”
Istilah yang jarang kudengar. Bahkan kosakata baru. Kata
yang janggal, kata yang asing, dan baru aku jumpai selama ini.
Aku pun semakin bertambah penasaran dengan apa yang be-
rikutnya akan disampaikan Pak Mul.
“Paseban para tokoh Kerajaan Mataram. Itu bukan tempat
yang aneh. Itu juga bukan tempat yang megah. Bukan berupa
bangunan, bukan juga berupa aula. Tak lain dan tak bukan adalah
sebuah hutan belantara yang masih jarang dijamah oleh orang.
Tempat para tokoh Kerajaan Mataram untuk bermusyawarah.
Tempat untuk berkumpul. Tempat untuk membuat stragegi
dalam melawan Belanda. Tempat itu memiliki sejarah tersendiri
untuk daerah ini.”
Panjang lebar Pak Mul bercerita tentang Paseban itu. Tempat
yang masih berupa hutan belantara dan di sana terdapat pula
makam yang dianggap keramat. Selain itu, terdapat pula pohon-
pohon besar. Hutan belantara yang masih banyak semak belukar
yang terdapat di pesisir pantai. Makam yang dianggap keramat
itulah yang menjadikan warga sekitar percaya bahwa daerah itu
mistis. Bahkan, karena hal-hal ganjil yang sering terjadi banyak
warga yang menganggapnya menjadi salah satu tempat yang
angker. Hal ini karena warga sekitar percaya bahwa di sana ada
kampung yang tak mampu dilihat oleh mata telanjang. Hanya
orang-orang yang memiliki kelebihan tertentu yang mampu
melihatnya.
Perjumpaan yang Tak Biasa 157
Seolah ada kehidupan tersendiri, ada kampung yang terdapat
di Paseban tersebut. Aktivitas yang terjadi di kampung itu juga
tak jauh berbeda dengan aktivitas masyarakat pada umumnya.
Semacam beda kampung tetapi terpisahkan antarjarak pandang
yang terbatas.
“Dulu juga pernah terjadi ada yang memesan sepeda motor
dan meminta mengantarkannya pada waktu yang telah disepaka-
ti. Sedangkan, pihak dari dealer motor yang mengantarnya datang
tidak sesuai kesepakatan. Alhasil, orang tersebut tidak pernah
sampai dengan yang akan dituju. Selain itu, pernah terjadi juga
mobil gandeng yang secara tiba-tiba sudah berada di tengah
hamparan sawah. Bahkan, bus rombongan para peziarah juga
pernah tersesat sampai di tengah hamparan sawah juga. Padahal,
secara logika jalan untuk menuju ke Paseban tidak bisa dilalui
mobil atau bus besar. Anda juga tahu sendiri jalan untuk menuju
ke sana hanya bisa dilalui oleh motor dan mobil-mobil kecil saja.
Mobil-mobil besar tidak bisa melewati jalan terbut.”
Celotehku yang nyerocos memotong pembicaraan Pak Mul.
Semakin bersemangat aku mencari tahu hal-hal aneh. Memang
hal-hal semacam itu masih sering terjadi di kampungku. Bahkan,
setiap ada kegiatan pasar malam di pasar kampung, banyak pula
yang berdatangan untuk meramaikan, dan itu bukan manusia
seperti kita. Itu hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang me-
miliki kemampuan lebih. Namun, jika yang melihat itu orang
awam, maka yang tampak hanyalah manusia seperti pada umum-
nya. Tak hanya itu, salah satu warga kampung juga pernah ada
yang hilang ketika sedang berangkat ke sawah. Setiap ada orang
yang hilang di kampung, pasti ujungnya dikaitkan dengan
Paseban itu. Setiap ada orang yang hilang, juru kunci Paseban
selalu mengatakan “Ada orang baru”. Konon katanya jika ada
orang baru, ketika orang itu diberi makan dan minum oleh warga
kampung Paseban, dia tak akan pernah kembali lagi ke dunia
158 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
manusia sebenarnya. Jadi, di dalam Paseban terdapat kampung
yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Keanehan demi keanehan yang terjadi menjadikan kam-
pungku mistis. Warga sekampungku juga sudah terbiasa dengan
kehidupan kami yang berdampingan dengan makhluk yang tak
kasat mata itu.
“Percaya saja kita berdampingan,” terang Pak Mul.
“Iya.”
“Kemarin ada orang yang tidak percaya, pulang dari tempat
kerjanya. Dia, tercebur ke dalam sungai. Padahal, sungainya
berada pada jarak yang lumayan jauh,” imbuh Pak Mul.
Selepas dari rumah Pak Mul aku pun mendapat pencerahan
tentang perihal tersebut. Keesokan harinya aku memberanikan
diri ke Paseban. Di sana aku temui pemakaman umum yang tak
berbeda dengan yang lainnya. Hanya, tepat di berada tengah
makam terdapat pohon besar, pohon Kepuh.
“Itu pohon tempat istana, hati tulus, bersih, dan kita percaya,”
terang juru kunci.
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan yang baru ku-
dengar. Lokasinya tak jauh dari rumah-rumah. Warga sekitar juga
biasa-biasa saja ketika mendengar kejadian yang janggal bagi
mereka. Hal ini karena mereka percaya. Nyaman, damai, dan
tenang. Semilir angin yang menyibak kerudungku seakan mem-
bisikkan bahwa aku harus percaya akan hal ini. Hal yang ter-
kadang membuatku penuh rasa penasaran. Hal yang membuatku
ingin mengetahui akan hal-hal yang aneh. Janggal tapi benar-
benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari di kampungku. Hal
yang di luar logika manusia. Masih banyak manusia-manusia
yang kurang percaya akan kejadian itu.
Aku tak hanya berhenti di pemakaman yang dianggap kera-
mat saja. Aku terus menyusuri jalan yang tepat berada di samping
pemakaman itu. Iya, berjalan dan terus berjalan. Langkah kaki
menelusuri jalan yang sudah dicor. Samping kanan kiri masih
Perjumpaan yang Tak Biasa 159
berupa lahan persawahan. Tak menjenuhkan mataku untuk me-
mandang keindahannya. Tak terasa ternyata aku sampai di ujung
jalan yang terdapat gapura sederhana, terbuat dari bambu dan
bertuliskan “Pantai Indah Kemangi”.
Hamparan pasir berwarna hitam disertai ombak yang tenang
membuatku terpesona akan keindahannya. Ditambah lagi ter-
dapat karang yang besar membuatku takjub melihatnya. Tak me-
nyangka ternyata di balik tempat yang angker terdapat keindahan
yang begitu mengagumkan. Bahkan sampah satu pun juga tak
tampak di pantai ini.
“Ngapain, Mbak?”
“Ini, Pak. Cuma mau jalan-jalan saja.”
“Kok sendiri?”
“Kan nggak apa-apa tah, Pak. Deket-deket sini saja kok.”
“Bapak ngapain di sini?”
“Biasa kalau lagi nganggur ya saya ke sini, itung-itung sekalian
refreshing. Selain dekat dengan rumah, masuk ke lokasi ini juga
tidak dipungut biaya alias gratis. Itu anak dan istri saya juga ikut.
Lagi pada asyik main pasir di tepi pantai.”
Sambil bercengkerama sesekali pandangan bapak itu tertuju
ke arah pantai melihat anak dan istrinya yang masih di sana.
Aku pun kemudian pergi ke tepi pantai untuk menikmati ombak.
Ombak membasahi kakiku. Semilir angin menjadikan cuaca tak
terasa panas lagi.
Tampak beberapa orang sedang duduk di gazebo yang ber-
gaya klasik. Bersenda gurau, tertawa riang seakan tak memiliki
beban. Terlihat pula anak-anak berseragam pramuka sedang ber-
main outbound di bawah pohon-pohon cemara yang berdiri ber-
jajar di tepi pantai. Langkah kakiku terus berjalan menyusuri tepi-
an pantai yang masih alami ini. “Indah. Ya, indah sekali pantai
ini,” gumamku dalam hati. Pantai yang baru saja diresmikan oleh
bupati. Jalan yang sudah diperbaiki kini sudah tak belubang
ataupun menggenang lumpur di sana-sini. Pantai yang masih
160 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
jarang diketahui orang akan keberadaannya. Hanya orang-orang
kampung terdekat yang mengetahuinya. Keindahan yang alami
untuk ditawarkan dapat menyejukkan mata sejauh mata meman-
dang. Biru dan hijau. Terhirup udara segar. Ya, inilah keindahan
alami yang belum tersentuh tangan-tangan jahil yang tidak
bertanggung jawab.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 161
19.
Watu Lumpang dan
Perawan Tua
Sulus Umar Sahal
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku
hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak
ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku di-
perintahkan. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim.”
***
Mimpi itu hadir lagi. Untuk ke sekian kali mengusik tidur
Warto Suroyo yang memang sudah tidak nyenyak sedari awal.
Mimpi yang sama setiap kali dia meletakkan kepalanya di atas
bantal. Mimpi yang dapat dipastikan hadir mengiringi para
peronda malam memukul tiang sentheng dua kali. Pertanda
malam itu sudah menunjukkan waktu pukul dua.
Lelaki dalam mimpi itu juga ikut hadir lagi. Pesan yang dia
bawa juga masih sama. Lelaki itu selalu menampakkan dirinya
dalam perwujudan yang tidak jauh berbeda. Dia memakai jubah
panjang, bahkan saking panjangnya sampai menutupi mata kaki.
Di kepalanya terikat erat iket yang khas ala sesepuh Jawa dan
berterompah dengan tali melilit bagian bawah kakinya. Jenggot-
nya panjang menggantung didominasi warna putih senada
warna ikat kepala dan jubahnya. Lelaki itu memperkenalkan
dirinya sebagai Wisang Kala.
162 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Warto Suroyo hanya ingat, lelaki itu muncul dari sebuah
batu. Batu yang berbentuk persegi itu bagian atas lebih lebar dari
bagian bawahnya. Kira-kira tiga jengkal orang dewasa. Bagian
sudutnya tidak runcing melainkan membundar. Pada bagian tengah
ada sebuah cekungan berbentuk setengah lingkaran berdiameter
lima puluh sentimeteran. Warnanya hitam keabu-abuan mirip
warna batu nisan yang sudah kusam dimakan usia. Bagian bawah
batu itu setengah tertanam di dalam tanah seolah telah menyatu
dengan bumi. Masyarakat menyebutnya sebagai Punden Watu
Lumpang.
Ketika lelaki itu datang dan pergi selalu didahului kepulan
asap pekat. Seperti awan wedhus gembel milik Mbah Marijan.
Bergulung-gulung mengepul keluar dari cekungan tengah-tengah
batu itu. Kemudian memendar ke segala penjuru sampai kemudian
berubah wujud menjadi sang lelaki. Senyum khas selalu ter-
sungging di bibirnya sebelum dia menyampaikan pesannya.
“Hahahaha ... bagaimana Warto, apa sudah kau pikirkan?”
“Ingat! Anakmu hanya sebatang kara dan sekarang sudah
berumur tiga puluh tahun.”
“Kau tahu Warto apa artinya itu?”
“Sebentar lagi, seluruh warga dusun ini akan mencibirmu,
memandangmu dengan sebelah mata karena kau tidak mampu
mengawinkan anak perawanmu.”
Warto Suroyo bergeming. Hanya dadanya saja yang kem-
bang kempis tak beraturan menahan segala rasa yang menyesak
di dada. Malu, takut, khawatir, dan entah apa lagi rasa yang hadir.
Terbayang di hati dan pikirannya anak perawan satu-satunya
yang dia miliki.
“Sudahlah Warto, bawa kemari Anakmu. Sediakan sesaji
untukku maka anakmu akan segera kuberikan jodohnya.”
“Ayolah Warto, sebelum kala meninggalkanmu.”
“hhhhhh...”
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 163
Bisa dipastikan, setelah mimpi itu hadir, kejadian selanjutnya
adalah Warto Suroyo duduk termangu di sudut pekarangan
belakang rumahnya. Pekarangan yang cukup luas untuk ukuran
rumah di dusunnya. Beberapa patung berperawakan perut buncit
terpaku di sudut pekarangan. Ditemani payung kertas berwarna
mencolok di sampingnya. Sementara, pagar keliling bata merah
berlumut setia menjaga perbatasan layaknya prajurit jaga berbaris
rapi. Seni arsitekturnya mengarahkan ingatan kepada diorama
yang lekat pada sebuah candi kuno.
Di bawah atap sebuah gazebo pikirannya menerawang. Ber-
kecamuk antara iya dan tidak terjalin tebal tipis, timbul dan teng-
gelam seperti ukiran klasik yang menghias gazebo itu. Antara
percaya dan tidak dengan pesan yang disampaikan Wisang Kala
lewat mimpinya. Mimpi yang mengusik hidupnya. Keluarganya.
Putri semata wayangnya.
Matanya nanar menatap ke sebuah arah. Arah yang sama
pula dengan datangnya mimpi itu. Kalau ditelusuri arah itu akan
sampai pada sebuah batu, ya Watu Lumpang. Sebuah batu yang
dikeramatkan oleh warga dusun. Banyak orang datang membawa
sesaji ke sana. Di sana-sini terlihat kembang warna-warni yang
sudah layu dan sebatang dupa yang hampir habis terbakar api.
Tanpa disadari Warto Suroyo, di sebelahnya sudah duduk
seorang wanita yang menemaninya selama ini. Wanita berparas
cantik khas Jawa. Selalu memakai kebaya dan bersanggul me-
nunjukkan dia adalah wanita terhormat dan berada. Sudah empat
puluh tujuh tahun wanita itu menemaninya. Sejak dia putuskan
menerima pinangan Warto Suroyo kala itu. Wanita itu bernama
Karsih. Isterinya tercinta.
Wanita itu datang tanpa suara. Hanya suara selopnya yang
sedikit bergesek dengan tanah pekarangan itu. Tangannya yang
lembut mengusap pundak Warto Suroyo. Pundak yang masih
kelihatan kekar meskipun telah dimakan usia. Ada hawa yang
luar biasa ketika tangan itu dengan pelan mengusap pundaknya.
164 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Hawa yang begitu damai mengusir segala kecamuk di pikiran
Warto Suroyo.
“Bapak mimpi lagi ya?” tanya Karsih, “Dan mimpinya masih
sama?”
“Iya Bu, laki-laki itu datang lagi,” Suara Warto agak parau
menjawab pertanyaan isterinya.
“Sejak kita terakhir kali mbancaki anak kita satu-satunya, aku
selalu mimpi didatangi laki-laki tua itu,” lanjut Warto.
“Aku ingat Pak, waktu itu Selasa Kliwon, kita mbancaki
Ningsih tepat di hari wetonnya pada saat Ningsih berumur tiga
puluh tahun,” suara Karsih mencoba mengingat waktu itu, “Dan
malamnya Bapak mimpi bertemu laki-laki tua itu untuk pertama
kalinya.”
“Benar Bu, laki-laki itu mengatakan bahwa jodoh Ningsih
ada di tangannya. Dia memintaku membawa Ningsih ketempat-
nya, membawa sesaji dan sedekah, maka Ningsih akan diper-
temukan dengan jodohnya,” kenang Warto.
“Sudahlah Pak, itu kan hanya mimpi tidak usah terlalu di-
pikirkan. Anak kita kan seorang perempuan yang cantik, pintar
lagi, pasti nanti pada waktunya akan menemukan jodohnya,”
timpal Karsih, “Mungkin belum waktunya, Pak.”
“Tapi, sampai kapan, Bu? Aku sudah mulai tak tahan dengan
tatapan mata warga sini Bu, seolah-olah mereka menelanjangi
martabatku Bu! Aku takut mimpi itu benar.”
“Mimpi itu lagi, mimpi itu lagi, sudahlah Pak!”
“Tapi Bu, ini mimpi ke sebelasku, dan pesannya sama. Aku
hanya takut apa yang dikatakannya benar. Aku takut anakku
menjadi perawan tua dan orang-orang mengucilkannya.”
“Anak kita sudah tidak remaja lagi Bu, sudah tiga puluh
tahun. Apa Ibu tidak malu punya anak perawan tua? Bagaimana
dengan harga diriku di mata masyarakat?” terusnya, “Aku malu
Bu, malu.”
“Lalu kita harus bagaimana, Pak?”
Perjumpaan yang Tak Biasa 165
“Aku sudah pernah mencoba membujuknya Bu, tapi Ningsih
bersikukuh tidak mau.”
“Nah, Bapak kan tahu sendiri. Ningsih itu punya pendirian
yang sulit digoyahkan seperti bapaknya. Kalau dia sudah berke-
yakinan maka akan dia pegang dengan sepenuh hati.”
“Pokoknya aku tidak mau tahu, Bu. Ningsih harus aku bawa
ke Punden Watu Lumpang. Akan aku berikan sesaji di sana biar
jodoh Ningsih segera ketemu. Aku yakin kalau kita sudah mem-
berikan sesaji di sana nasib anak kita akan segera berubah.”
“Sekarang giliran Ibu yang membujuk Ningsih anak kita agar
dia mau menuruti apa yang bapak inginkan!” perintah Warto,
“Pokoknya harus!”
“Baiklah, Pak, akan Ibu coba untuk membujuknya,” jawab
Karsih, “Yang penting Bapak harus bersabar menghadapi anak
kita satu-satunya. Jangan sampai Bapak berbuat kasar pada
Ningsih. Ibu tidak mau kehilangan dia Pak!”
Karsih pun pergi. Suaminya sendirian melanjutkan meresapi
mimpi-mimpinya itu. Mimpi yang menghantui hari-harinya.
***
Sementara itu, di sebuah kamar yang terletak bersebelahan
dengan kamar utama, seorang gadis baru saja masuk setelah
mengambil air wudu. Kamarnya cukup lebar. Di bagian tepi
kanan, berseberangan dengan pintu, diletakkan ranjang kayu ber-
ukir dengan kasur kapuk di atasnya. Kasur itu berselimut seprai
cantik berwarna dominan coklat muda. Motifnya khas batik tulis
buatan tangan. Tangan-tangan terampil warga dusun itu. Maklum
saja, dusun itu memang terkenal dengan pengrajin batik tulisnya.
Tepat di atas ranjang menggantung kelambu bersulam bunga
kecil-kecil dengan warna dominan senada dengan seprainya.
Keempat sudutnya diikatkan pada tiang penyangga kelambu
yang mirip dengan tombak berujung tumpul.
Di sebelah ranjang kayu ada sebuah meja berbentuk kotak
di satu sisinya dan membundar di sisinya yang lain. Ukirannya
166 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
masih menggunakan motif yang sama dengan ranjangnya. Di
atas meja terdapat sebuah vas bunga dari tanah liat sederhana,
namun unik. Warnanya kemerahan disaput goresan warna hitam
tak beraturan bekas panasnya api yang membakar. Di sebelahnya
sebuah cawan juga dari tanah liat. Di dalam cawan itu tampak
bekas ramuan berwarna kuning. Entah ramuan apa itu yang jelas
bisa dipastikan digunakan setiap hari. Di sekitar cawan berte-
baran bunga melati yang masih segar. Di sebelahnya lagi sebuah
tatakan kecil terbuat dari kayu berukir untuk menempatkan kitab
suci. Bentuknya menyilang satu sama lain seperti huruf X dan
dapat dilipat. Tepat di atas vas bunga menggantung lukisan tangan
dengan teknik arsir wajah seorang gadis. Gadis penguasa kamar
itu, anak tunggal dari Warto Suroyo dan Karsih. Ningsih nama-
nya.
Digelarnya sebuah sajadah produksi Turki bergambar bangun-
an Ka’bah menyudut ke arah barat. Tepat di atas sajadah menem-
pel di dinding sebuah kaligrafi berbentuk orang duduk tahiyat.
Terlihat jari telunjuknya menunjuk ke depan sebagai persaksian
tiada Tuhan selain Allah. Dikenakannya mukena warna putih
polos tanpa hiasan warna-warni. Hanya di bagian tepinya ada
sedikit sulaman tetapi tidak mencolok. Ditatanya rapi mukena
itu dan dipastikan tidak ada sedikit pun rambut yang terlihat
keluar.
Diangkatnya kedua tangan sebagai sebuah pertanda bahwa
dia sedang memulai sembahyang. Ningsih mengheningkan hati
dan pikirannya untuk menghadap Yang Mahakuasa. Pelan tapi
pasti, perasaan khusyuk mulai menyusup melalui pori-pori.
Mengalir mengikuti aliran darah, terpompa oleh degup jantung.
Dug, dug, dug, sangat berirama. Matanya berkaca-kaca. Air mata-
nya menggelayut menanti waktu untuk mengalirkannya. Bukan
kesedihan yang membuat air matanya itu mengalir tetapi per-
paduan rasa syahdu dan rindu kepada yang memiliki waktu.
Tempat segala mengadu.
Perjumpaan yang Tak Biasa 167
Gerakan demi gerakan dia lalui dengan tanpa ragu. Layaknya
gerakan senam ritmis tetapi lebih maknawi. Lebih berarti bagi
tubuh dan rohani. Tiba di gerakan terakhir dia duduk tasyahud.
Kemudian dia palingkan wajah ke kanan dan ke kiri sambil
mengucapkan salam. Tanda sembahyangnya sudah berakhir.
Diraihnya sebuah tasbih dari untaian biji kayu bulat kecil ber-
warna coklat. Dipilinnya satu persatu biji-biji itu sambil mulutnya
melafalkan puja-puji untuk Tuhannya. Di akhir puja-pujinya, dia
angkat tangannya kembali untuk berdoa. Melangitkan segala
gundah dan nelangsa. Setelah beberapa lama berdoa dia usapkan
kedua tangan ke muka sebagai penutup doa.
“Ya Allah, kabulkanlah doa hamba-Mu ini. Aamiin.”
Di depan pintu ternyata dari tadi Karsih memperhatikan gerak-
gerik anaknya di dalam kamar. Dia mengintip dari celah pintu
yang memang tidak tertutup rapat. Hawa khusyuk yang di-
pancarkan Ningsih mengalir meresap juga ke tubuh Karsih. Air
matanya ikut mengalir ketika melihat kekhusyukan anaknya itu.
Di dalam hatinya ikut mengaminkan apa yang diinginkan oleh
anaknya itu. Sejenak seakan waktu berhenti membuat dia me-
nunda niat untuk mengetuk pintu. Padahal, sebenarnya dia ingin
menemui Ningsih sesuai permintaan sang suami. Baru kemudian
setelah melihat anaknya mengakhiri ritualnya dia memberanikan
diri untuk masuk ke dalam kamar. Dia dorong pelan-pelan daun
pintu agar tidak mengejutkan anaknya.
“Ndhuk Ningsih, sembahyangmu sudah selesai Ndhuk?”
Sambil bertanya Karsih masuk kamar Ningsih dan duduk di tepi
ranjang.
“Sudah Ibu,” jawab Ningsih sambil melepaskan mukenanya.
“Sini Ndhuk duduk dekat Ibu,” minta Karsih kepada anaknya
sambil menepuk-nepuk pinggiran ranjang di sebelahnya.
“Ada apa Bu, kok kelihatan serius sekali?” tanya Ningsih sam-
bil beranjak mendekati ibunya.
168 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Ah biasa saja kok Ndhuk. Ibu hanya ingin tahu keadaanmu
saja.”
“Aku baik-baik saja, kok Bu. Apa yang Ibu khawatirkan?”
“Apakah kamu bahagia, Ndhuk?” Apakah Kamu tidak me-
rasakan ada yang kurang pada dirimu?”
“Aku bahagia, Bu, bahkan sangat bahagia. Dan aku merasa
Bapak dan Ibu memenuhi semua yang aku inginkan. Aku ber-
terima kasih kepada Tuhan karena telah dijadikan anak dari
Bapak dan Ibu.”
“Bukan itu yang ibu maksud Ndhuk. Umurmu sudah tiga
puluh tahun, lho!”
“Iya aku tahu, lantas kenapa dengan umurku yang tiga puluh
tahun, Bu?”
“Apakah kamu tidak ingin seperti teman-teman sebayamu?
Mereka semua sudah menikah, bahkan ada yang sudah menikah
sepuluh tahun lalu. Rata-rata mereka sudah beranak dua sampai
tiga, apa kamu tidak ingin seperti itu.”
“Ibu, jodoh, rezeki, umur, itu sudah ada yang mengatur.
Semua sudah tertulis di atas sana, Ibu tidak perlu khawatir,” kilah
Ningsih.
“Tapi Ndhuk, kamu juga harus memikirkan bapakmu, bagai-
mana pun juga bapakmu adalah orang yang terpandang di kam-
pung kita. Kamu harus memikirkan bagaimana harkat dan mar-
tabat bapakmu. Orang-orang akan memandang sebelah mata
karena dia tidak mampu menikahkan anak semata wayangnya.”.
“Aku harus bagaimana, Bu? Apakah aku harus mengobral diri-
ku di jalanan! Atau aku harus membuat sayembara seperti zaman
kerajaan dulu?”
“Bukan begitu Ndhuk,” jawab Karsih, “Apa kamu ingat dengan
mimpi bapakmu Ndhuk?”
“Mimpi yang mana, Bu? Apakah mimpi tentang laki-laki
itu?”
Perjumpaan yang Tak Biasa 169
“Iya Ndhuk mimpi tentang laki-laki itu. Bagaimana kalau kita
ikuti apa yang disarankan oleh laki-laki dalam mimpi bapakmu
itu, Ndhuk? Siapa tahu memang jodohmu harus lewat jalan itu.”
“Aku masih yakin dengan takdirku, Bu. Suatu saat Tuhan pasti
mengirimkan jodohku.”
“Iya, aku tahu dengan keyakinanmu itu, tapi apa salahnya
kita mencoba Ndhuk,” Karsih mencoba meyakinkan Ningsih,
“Namanya juga usaha.”
“Memang kita diwajibkan ikhtiar, Bu, tapi tidak dengan jalan
itu. Jalan yang bertentangan dengan keyakinanku.”
“Tapi Ndhuk ....”
“Pokoknya tidak, Bu. Aku lebih takut dan malu tidak dicintai
Tuhanku daripada tidak mendapat cinta di dunia,” tegas Ningsih.
“Baiklah Ndhuk, kalau itu maumu. Nanti akan Ibu sampaikan
kapada bapakmu,” pungkas Karsih.
***
Hari telah beranjak malam. Warto Suroyo sudah masuk ke
dalam kamar ditemani isterinya. Di pembaringan wajahnya me-
nengadah ke langit-langit. Pandangan matanya setengah kosong
setengah isi menandakan ada kegelisahan di hatinya. Ada ke-
takutan yang mengintai di balik kekekaran tubuhnya. Dia ingat
betul hari ini adalah Selasa Kliwon. Hari yang sama dengan weton
anak gadisnya yang berarti pula sama dengan hari di mana
mimpi-mimpi itu hadir.
“Ada apa Pak, kok keliahatan gelisah sekali,” tanya Karsih
yang merasakan kegelisahan suaminya.
“Iya Bu,” jawab Warto, “Ibu tahu ini hari apa?”
“Entahlah aku agak lupa, Pak.”
“Selasa Kliwon, Bu. Ibu tahu apa artinya? Laki-laki itu akan
hadir malam ini.”
“Sudahlah, Pak, tidak perlu terlalu dipikirkan, itu kan cuma
mimpi,” Karsih mencoba menenangkan suaminya, “Ayo tidur,
sudah malam.”
170 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
Setengah gelisah Warto mencoba memejamkan mata. Di-
tutupnya kelopak mata yang enggan menelangkup seakan ikut
merasakan kegelisahan yang empunya. Lambat tapi pasti, pikiran-
nya mulai kosong. Sukmanya sudah lari begitu saja tanpa ber-
pamitan, tapi dia belum tidur. Namun tiba-tiba ....
“Hahahaha. Warto, Warto ....”
Suara itu lagi. Warto sangat terkejut. Kenapa suara itu sudah
datang, padahal dia sadar betul kalau dia belum tidur. Lalu
kenapa dia sudah datang. Mimpikah dia, ataukah ini kenyataan.
Warto mengusap matanya berulang-ulang memastikan kalau dia
tidak sedang mimpi. Dicubit pipinya sekeras mungkin untuk
meyakinkan lagi. Ternyata dia tidak mimpi. Dia berusaha mem-
bangunkan isterinya yang sudah terlelap beberapa saat lalu tapi
badannya tidak bisa bergerak. Dia pun mencoba berteriak tapi
tidak satu patah kata pun yang bisa keluar dari mulut. Rasa takut
sekonyong-konyong memeluknya. Napasnya berpacu. Degup
jantungnya pun mulai mengencang tak beraturan. Keringat
dingin mulai membasahi tubuhnya.
“Warto ..., aku sudah memberimu kesempatan berulang kali,
tapi kamu tidak pernah menghiraukan aku. Apakah kamu tidak
percaya kepadaku?” tanya laki-laki yang selalu hadir dalam mimpi
Warto itu.
Tubuh Warto semakin bergetar. Dia mencoba menjawab per-
tanyaan itu, tapi tak punya daya apa pun. Yang bergerak hanya
warna hitam bola matanya naik turun ke samping kanan dan
kiri. Dia pasarah dengan apa yang terjadi.
“Ingat Warto ..., hari ini adalah Selasa Kliwon terakhir untuk-
mu. Aku tunggu kamu dan anakmu di tempatku. Kamu harus
membawa anakmu ke tempatku sebelum tengah malam nanti,”
ancam laki-laki itu, “Kalau tidak, aku akan mengambil nyawa-
nya.”
“Hahaha.” Lelaki itu tertawa kemudian pergi.
Perjumpaan yang Tak Biasa 171
Begitu suara itu menjauh, tubuh Warto seakan terbebas dari
belenggu. Tubuh yang tadi terasa berat kini terasa ringan se-
ringan-ringannya. Spontan dia bangkit dan membangunkan
isterinya. Dia goyang-goyangkan tubuh isterinya agar segera
bangun.
“Ada apa, Pak?” setengah kaget Karsih bangun.
“Laki-laki itu datang lagi, Bu.”
“Bapak mimpi lagi?”
“Tidak Bu, kali ini aku tidak mimpi. Laki-laki itu benar-benar
hadir, Bu. Dia ada di sini tadi,” jelas Warto lagi, “Ayo, Bu, sebelum
terlambat. Dia hanya memberi waktu sampai tengah malam ini
atau ....”
“Atau apa, Pak?” tanya Karsih lagi agak penasaran.
“Atau nyawa anak kita akan ...,” jawab Warto sambil bangkit
dari duduknya dan menarik tangan isterinya.
“Tunggu Pak … sabar!” Karsih mencoba menenangkan
suaminya.
Tanpa menghiraukan isterinya itu, Warto bergegas menuju
kamar anak perempuannya. Karsih mau tidak mau menyusul
suaminya yang telah lebih dulu menuju kamar anaknya. Tiga
langkah kemudian mereka sudah ada di depan pintu kamar anak-
nya yang memang bersebelahan. Tanpa menunggu lama Warto
langsung masuk ke kamar Ningsih.
“Ndhuk ..., bangun Ndhuk!” Warto berusaha membangunkan
anaknya.
“Sabar Pak, jangan keras-keras nanti Ningsih kaget,” cegah
Karsih, “Ndhuk ..., bangun Ndhuk!” kali ini dengan lembut Karsih
yang mencoba membangunkan Ningsih.
“Ada apa Pak, Bu, kok malam-malam kalian membangunkan
Ningsih?” tanya Ningsih dengan suara agak parau karena bangun
tidur.
“Ayo Ndhuk siap-siap. Kita akan ke Punden Watu Lumpang,”
jelas Warto.
172 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Untuk apa Pak?” tanya Ningsih, “Malam-malam begini,
lagi.”
“Kita akan memberikan sesaji di sana. Aku akan meminta
jodoh untukmu kepada Ki Wisang Kala.”
“Aku tidak mau, Pak, karena itu tidak sesuai dengan apa
yang kuyakini selama ini.”
“Ndhuk cobalah mengerti Ndhuk. Sekali ini saja kau turuti
permintaan bapakmu,” Karsih mencoba membujuk anaknya.
“Tidak Ibu, aku tidak mau.”
“Pokoknya kamu harus ikut Bapak malam ini!” Agak kasar
Warto mengajak Ningsih sambil menarik tangan anaknya itu.
“Tidak ... tidak … aku tidak mau, Pak!” teriak Ningsih sambil
menarik tangannya kuat kuat hingga terbebas dari genggaman
bapaknya. “Lebih baik aku mati dari pada harus dibenci oleh
Tuhan seumur hidupku, Pak. Tidak!!”
Tiba-tiba tubuh Ningsih melemas. Napasnya tersengal. Jantung-
nya pun berdegup pelan. Ningsih terjatuh lunglai. Untung saja
bapaknya sigap. Tubuh Ningsih yang sempoyongan segera di-
baringkan di tempat tidur. Di sisa-sisa napasnya Ningsih meng-
genggam tangan kedua orang tuanya. Mulutnya berbisik.
“Bapak, Ibu, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku
hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu
bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku
adalah termasuk orang-orang muslim,” bisik Ningsih, “Ningsih mohon
maaf kalau tidak bisa mewujudkan keinginan Bapak dan Ibu, dan kurang
berbakti kepada kalian.”
Selesai membisikkan kalimat itu tubuh Ningsih semakin me-
lemas. Badannya terasa amat dingin. Matanya mengatup rapat.
Sukmanya telah pergi menghadap Yang Mahakuasa yang amat
dirindukannya. Rupanya itu kalimat terakhir Ningsih.
Karsih yang melihat keadaan itu berteriak memanggil anak-
nya.
“Ningsih … Ningsih ... Ndhuk ,anakku!!”
Perjumpaan yang Tak Biasa 173
Namun, teriakan itu tak berbalas karena memang Ningsih
sudah pergi selama-lamanya. Karsih menangis sejadi-jadinya.
Separuh jiwanya hilang dibawa pergi anaknya. Warto pun hanya
bisa menyesali apa yang terjadi. Warto sontak berdiri menghadap
dinding yang ikut kaku dan dingin. Dia pukul keras-keras din-
ding itu.
“Hahahaha.”
“Warto ... Warto ....” Suara itu pergi menjauh dalam balutan
kematian.
***
174 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
20.
Pesta Purnama
Wiwid Kris Widayani
Lingsir wengi sliramu tumekeng sirna
Aja tangi nggonmu guling
Awas ja ngetara
Aku lagi bang winga-winga
Jin setan kang tak utusi
Dadya sebarang
Waja lelayu sebet
Sayup-sayup seperti kudengar nyanyian kidung malam itu,
“Kidung Rumeksa ing Wengi”. Kidung yang dulu kerap dinyanyi-
kan ibuku ketika menemaniku tidur. Kata Ibu, biar Gusti Allah
memberikan perlindungan kepadaku. Tapi kini, tak ada Ibu di
sisi. Bapak pun tiada. Pergi menyusul Ibu dengan tergesa-gesa.
“Ah, tidak ada yang spesial hari ini. Semuanya seakan lupa
kalau hari ini adalah hari ulang tahunku.”
Dengan malasnya, aku berjalan menapaki anak tangga yang
seakan tiada berujung ini. Semakin ke atas, suara nyanyian itu
semakin lirih terdengar. Tiba-tiba ingatanku terbang, jauh kembali
ke masa ketika aku masih duduk di bangku sekolah dulu. Masa
di mana aku masih bisa merasakan hangatnya kasih sayang orang
tua. Dan rasanya, Allah hanya menciptakan kebahagiaan saja di
dunia ini waktu itu.
Perjumpaan yang Tak Biasa 175
“Ganes,” panggil Bapak.
“Dalem, Bapak,” jawabku seketika.
“Sini Ndhuk, Bapak mau bicara sama kamu.”
“Nggih.”
“Kamu nanti kalau sudah sudah lulus SMA mau kuliah apa
mau nikah?”
“Nggih kuliah ta, Pak. Lha pripun?”
“Tidak mau menerima lamaran Mas Wisaka?”
“Sinok mau kuliah dulu Pak, silakan bila Mas Wisaka mau
menunggu. Kalau berjodoh pasti nanti akan ketemu.Leres, kan Pak?”
“Ya, Ndhuk.”
Pintu ruangan yang berada di ketinggian sekitar enam meter
di gedung ini pun kubuka dengan pelan. Dan sampailah aku di
ruang kerjaku. Dua temanku sudah di sana sedang stand by.
Kebetulan hari ini aku mendapat shift malam jadi semalaman
bakal terjaga sampai pagi. Tugasku hanya duduk dan mengamati
puluhan panel yang ada di control room ini.
Baru setengah jam lalu pergantian shift. Mataku rasanya enggan
bersahabat. Mengajak aku untuk berselancar di alam mimpi.
Tanganku seperti sedang mengelus selimut tebal yang membelai
lembut kulitku kala tidur di kamar. Bisingnya suara mesin bak
merdunya nyanyian “Gelas-Gelas Kaca” Nia Daniati. Membuat
layar mata ini sudah meredup bahkan sebelum tombol power-
nya ditekan.
“Belum juga tengah malam, kok sudah ngantuk ta, Nes,” ejek
Mas Damar. Matanya itu selalu menatapku tajam. Seperti sedang
menguliti tubuhku mentah-mentah dan hendak dimakannya.
“Iya, maaf Mas. Aku tidak tahu mengapa hari ini rasanya
lemas sekali,” jawabku membela diri.
“Sana kalau mau tiduran sebentar di belakang panel, biar
aku yang jaga duluan!”
“Tidak. Mangga Mas duluan saja yang rehat. Kemarin Mas
juga bilang begitu. Tapi nyatanya, aku baru dibangunkan jam
176 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
lima pagi untuk salat subuh. Malam ini biar giliran aku yang
start nanti kalau tiba-tiba mesinnya rewel, Mas pasti kupanggil.
Bahaya, kan? Kata Pak Waskito, bisa-bisa satu kecamatan ludes
terbakar karena kecerobohan kita.”
“Bukan kecerobohan kita, tapi karena mata ngantukmu itu!
Ya sudah, aku yang rehat duluan berarti, kamu bagian jaga dua
jam, ya. Nanti jam satu malam tolong aku dibangunkan. Ingat,
kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk bangunkan
aku daripada risiko. Sekarang aku mau ngopi terus tidur! Kebetul-
an seharian tadi aku juga belum nyaur utang tidur yang semalam,”
seloroh Mas Damar sambil berlalu ke belakang panel untuk
membuat kopi.
“Wong mau tidur kok ngopi dulu to, Mas,” batinku.
Kami memang mempunyai persediaan kopi, teh celup, gula
pasir, kopi instan, dan beberapa jajanan. Setiap minggu ada satu
staf bagian power plant boiler yoshimine di antara kami yang giliran
membawa amunisi itu. Nanti kalau habis baru gantian staf yang
lain yang bertugas membawa.
Aku mendengar Mas Damar sedang berkelakar dengan Anung
di belakang panel. Tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan
sampai seseru itu. Aku coba melihat sebentar, ternyata mereka
sedang ngopi bareng sambil membahas staf bagian laboratorium
yang ngefans sama mereka.
“Curang, aku tidak diajak. Setidaknya bikinkan aku juga pasti
tidak kutolak, Nung!” kataku kepada Anung. Dan yang disebut
hanya tersenyum hambar.
Sesekali memang Anung atau Pak Ranu datang ke control
room ini untuk mendinginkan badan. Ngadem kata mereka.
Maklum tempat kerja mereka super panas karena harus stand by
di depan dapur untuk menjaga api agar tidak padam.
“Kalau bisa jangan minum kopi, Nes. Kamu itu punya mag.
Kopi itu sangat tidak bersahabat dengan gastritismu itu. Kalau
Perjumpaan yang Tak Biasa 177
kamu mau, biar Anung tak suruh buatkan teh anget untuk kamu,”
Mas Damar menjawab candaanku kepada Anung.
“Tidak, Mas. Terima kasih. Nanti gampang aku buat sendiri.”
Malam semakin sepi. Hanya ada suara mesin yang terdengar.
Tungku raksasa yang dioperasikan di gedung ini kelihatannya
aman-aman saja malam ini. Bersyukur sekali diberi kesempatan
bisa duduk di kursi ini. Kerjanya ringan, ruangannya dingin. Gaji-
nya juga lumayan. Seimbanglah dengan resiko dan tanggung
jawabnya.
Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Kamar mandi seluruh
karyawan di bagian boiler yoshimine ada di lantai bawah gedung
ini. Tempatnya di pojok, sepi lagi. Entah mengapa rasanya malas
sekali ke kamar mandi karena harus turun tangga, dan naik lagi
ke sini. Bukan karena takut hantu. Tapi, takut kalau aku jatuh
terpeleset waktu menuruni tangga besi karena posisiku lemas
akibat ngantuk. Tapi, kalau ditahan tidak baik juga untuk ke-
sehatan. Bingung, Sahabat!
“Rasanya enteng sekali menuruni tangga besi ini. Ah, aku
harus segera ke kamar kecil,” ucapku dalam hati.
Baru saja menuruni tangga dan sampai di lantai dasar tempat
keempat teman satu shift-ku mengisi molding, aku sudah men-
dapat pantauan dari satpam senior di pabrik ini, Eyang Sepuh.
“Nuwun sewu Eyang, numpang lewat, saya mau ke belakang.”
Eyang tersenyum tanda mengiyakan. Aku sedikit berlari ke
kamar mandi yang berada di pojok utara gedung ini, persis di
sebelah ruang besali.
Dari dulu di gedung inilah, dua kepala kerbau ditanamkan
di sisi kanan dan kiri bagian tangga ruang boiler. Tangga baru
saja kulewati. Dan setiap hari selalu kulewati. Upacara ini disebut
wiwitan. Wiwitan giling tiba, maksudnya tanda dimulainya proses
menggiling tebu menjadi gula. Diawali dengan upacara pemo-
tongan dua ekor kerbau, dagingnya dibagikan kepada para karya-
wan, dan bagian kepala tersebut diiring dengan seni barong
178 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
menuju ke sisi kanan dan kiri tangga ini. Iring-iringan diikuti
oleh seluruh karyawan dari jabatan tertinggi sampai tukang
bersih-bersih. Dari yang sudah berstatus karyawan tetap hingga
karyawan harian lepas. Semuanya harus ikut!
“Pak, mengapa kepala kerbaunya ditanam di ruang boiler,
tidak di ruang yang lain?” Pernah aku bertanya demikian kepada
mendiang Bapak semasa beliau masih hidup.
“Konon karena boiler merupakan jantung dari sebuah industri,”
jawab mendiang Bapak kala itu.
Kini aku paham mengapa Eyang Sepuh begitu disegani di
sini. Karena basecamp-nya tepat berada di tempat kepala kerbau
itu ditanam. So, he must be a leader here.
Setelah buang air kecil, rasanya aku malas untuk kembali ke
ruanganku. Di sini kelewat nyaman. Suasananya sangat syahdu
sehingga membuatku bisa merenung dan berkhayal dengan
bebas tanpa ada yang mengganggu. Aku pun duduk di depan
ruang besali. Kebetulan ada kursi besi panjang di sini.
Tak berapa lama, tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki yang
berjalan dengan sedikit diseret ....
Ternyata ada Pakde. Pak Kasiman nama aslinya. Beliau datang
menghampiriku. Teman-teman dan mantan bawahan Pakde
yang masih di sini biasa memanggilnya Pak Mandor Bungkuk.
“Mengapa di sini sendiri?” tanya Pakde.
“Baru dari belakang, Pakde. Pakde kok sendiri, di mana Mas
Jatmiko?”
“Dia lagi latihan mengoperasikan forklift.”
“Ya Allah, kenapa diizinkan?” batinku.
“Pakde tinggal dulu ya, mau ke kantor satpam,” pamit Pakde
Kasiman sambil berjalan tertatih-tatih dan ekspresi menahan
perih. Seperti biasanya.
“Mangga Pakde,” jawabku dengan sikap tangan mempersila-
kan.
Perjumpaan yang Tak Biasa 179
Entahlah, lama kelamaan memandangi Pakde Kasiman, aku
seperti melihat darah mengucur di sepanjang jahitan bagian
perutnya yang dulu robek karena kecelakaan itu. Tangan kirinya
pun tampak serius memegang bagian perutnya agar isinya tidak
tumpah keluar. Persis seperti poseku ketika sedang merayu perut-
ku bila magku kambuh.
Pakde Kasiman memang salah satu senior di pabrik ini.
Beliau dulu adalah salah satu mandor shift bagian produksi. Posisi
beliau setingkat di bawah mendiang Bapak. Hanya berbeda bagi-
an saja. Tiga tahun yang lalu, Bapak meninggal karena kecelakaan
kerja di pabrik ini. Bapak jatuh dari lantai empat, dua lantai di
atas ruang kerjaku. Dan sebagai apresiasi terhadap pengabdian-
nya kepada perusahaan, aku diizinkan bergabung di industri gula
ini. Kalau aku berminat tentunya. Dan kesempatan baik tidak
akan pernah datang dua kali, pikirku waktu itu. Benar tidak,
Sahabat?
Pakde Kasiman memang terkenal angkuh dan banyak gaya.
Makanya banyak yang kurang suka kepada beliau. Aku masih
ingat betul ketika aku baru bekerja beberapa hari di sini. Pakde
mengalami kecelakaan motor menabrak pal besi yang melintang
di pintu masuk pabrik ini. Persis di samping timur kantor satpam.
Waktu itu, badan Pakde terpental lumayan jauh sampai di bawah
pohon beringin seberang kantor satpam itu, dan langsung tak
sadarkan diri. Bagian dadanya terluka parah karena benturan
dengan pal besi. Darah segar tercecer di mana-mana. Pakde
Kasiman belum menyadari tentang sikap kasarnya kepada anak
buahnya itu. Apalagi sampai meminta maaf. Hampir sebulan
lamanya beliau koma di ruang ICU di rumah sakit terbaik yang
ada di provinsi ini, hingga akhirnya .... Ah, sudahlah!
Kini beliau gemar sekali berdiri di pintu gerbang membantu
meringankan tugas satpam jaga. Beliau kerap ikut membuka dan
menutup pal besi ketika waktu pergantian shift tiba. Beliau juga
suka membuka dan menutup pal besi kalau tiba-tiba ada demo
180 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
mau masuk ke pabrik. Seperti yang sedang kulihat sekarang ini.
Dan mungkin akan terlewat dari pandangan satpam jaga yang
berada di ujung depan sana.
“Pantas tadi tergopoh-gopoh mau ke pintu gerbang. Ternyata
ada tamu dari jauh yang mau datang,” bisikku. Lalu aku terse-
nyum membayangkan keanehan di sana, “Pasti satpam jaga
sedang bingung.”
Suasana sepi lagi. Hanya ada aku seorang. Ada beberapa orang
lewat dari ruang produksi, tapi tidak berbelok ke arah gudang.
Aku menarik napas panjang. Biar sesak di dada ini sedikit mereda.
“Pakde, Pakde. Bapak sudah pergi sebelum engkau. Bapak
jugalah yang konon dulu mengajak engkau kerja di sini waktu
engkau masih bujang. Tapi, mungkin engkau terlampau naif dan
maaf bila sedikit menyebut engkau orang yang tidak pernah tahu
balas budi kepada Bapak. Engkau malah memusuhi Bapak.” Lirih
sekali aku berbicara seorang diri.
“Tidak boleh mengungkit-ungkit hal baik yang pernah kita
lakukan kepada orang lain, Ndhuk. Biar Gusti Allah yang menilai-
nya,” kata Bapak yang tiba-tiba hadir di sebelah kananku.
“Bapak?”
“Selamat ulang tahun, Ganes. Sinok ayunya Bapak,” kata
Bapak sambil memelukku.
Tak terasa air mataku menetes.
“Semoga Sinok panjang umur dan sehat selalu,” sambung
Ibu yang juga datang dari sebelah kiri tempatku duduk. Dia
mencium kening dan kedua pipiku.
“Terima kasih Ibu, terima kasih Bapak. Ganes rindu sekali
pada kalian.”
Dan membeludaklah Bendungan Juwero di sini. Kututup
wajahku dengan kedua tanganku. Ketika aku membuka mata,
Bapak dan Ibu sudah tidak ada.
“Dari semalam kepikiran mereka. Eh kini mereka seakan datang
memberiku ucapan ulang tahun. Terima kasih, Allah.”
Perjumpaan yang Tak Biasa 181
Aku tak ingin ada orang yang mengetahui kalau aku me-
nangis. Aku pun mendongak agar air mataku tidak tumpah terus.
“Wah, ternyata malam ini malam purnama. Bulan, kamu itu
terlalu jahat kepadaku. Kamu tersenyum melihatku menangis
sendirian di tempat sepi ini. Kamu terlalu sempurna mengamati
hidupku yang sangat hampa ini.”
Malam yang dingin. Sepi dan sendiri menemani. Merayu
malam agar lekas berganti pagi. Namun, bagaimana bila malam
tak kunjung beranjak pergi? Apa engkau akan menyeretnya
keluar dari kenyamanannya? Bukankah malam juga butuh gelap?
Dia sudah tak tahan dengan teriknya mentari dan kotornya udara
di bumi. Malam juga butuh bulan. Karena dialah yang selalu me-
nemani dan menjadikannya berarti. Jadi, jangan minta malam
untuk segera berlalu. Sebab bumi juga butuh malam. Untuk me-
nyeimbangkan siang dan kesombongannya itu. Sebab bumi juga
rindu malam. Karena dengan hadirnya langit gelap, dia berharap
sang pujangga akan segera pulang. Menemui kekasihnya.
“Aku masih setia menunggumu di sini, Mas Saka. Mungkin
kini engkau masih bertugas di pedalaman Papua sana. Semoga
engkau sehat selalu, Mas. Lima tahun sejak engkau melamarku
dulu. Aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki mana pun.
Aku berusaha sekuat mungkin bertahan untukmu. Untuk men-
jaga janjiku. Sebenarnya sekarang aku sudah siap untuk menikah,
Mas. Aku tidak tahu lagi harus menyandarkan hidupku pada
siapa. Tapi engkau malah justru menghilang bak ditelan bumi.
Gusti, kawula kedah pripun?” Dan tangisku pun pecah kembali.
Dulu aku memang masih ragu menerima cinta Mas Wisaka
karena cintaku padanya masih semu. Aku masih belum yakin
kalau dia pria terbaik untukku. Terlebih lagi, aku masih ingin
sekolah setinggi mungkin agar bisa membanggakan kedua orang
tuaku.
“Tapi kini giliran aku yang bertanya padamu, Mas. Apakah
kamu masih mencintaiku? Apakah kamu masih menginginkanku
182 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
untuk menjadi pendampingmu? Kini aku bukan putri tunggal
staf di pabrik ini lagi, Mas. Kini aku wanita yang mandiri. Aku
sudah wisuda S-1 dengan biayaku sendiri, Mas. Kini aku sudah
bekerja dan jadi karyawan tetap.”
Setelah Bapak meninggal, aku dan Ibu memang harus keluar
dari rumah dinas Bapak. Kami mengontrak rumah sederhana.
Dan setahun setelah mendiang Bapak pergi, Ibu sakit-sakitan,
dan tak lama kemudian ibu pun pergi menyusul Bapak. Mereka
meninggalkan aku seorang diri.
“Kini aku sebatang kara di kota ini. Lekas pulang, Mas. Minimal
lekas kasih kabar,” sambungku sambil memandangi foto Mas
Wisaka yang ada di liontin kalungku. Kalung ini adalah hadiah
darinya ketika datang ke rumahku yang terakhir kalinya sebelum
bertugas. Air mataku pun tak henti-hentinya mengalir sambil
menggenggam kalung itu.
Ketika aku masih sibuk sesenggukan sambil bicara sendiri,
dari arah depan ada yang cekikikan datang. Ternyata Slamet.
Slamet dulu karyawan di lantai satu itu. Dia bertugas di bagian
pompa merangkap conveyor abu bakar. Bisa dibilang dia adalah
bawahanku. Dia memang terkenal perlente untuk ukuran seorang
yang bekerja menyapu dan mewadahi abu. Orangnya memang
resik. Rapi. Klimis. Orang yang penurut dan juga tidak pernah
marah. Itu menurutku. Tapi sayang, tangannya itu sedikit aneh.
Gerakan tangannya selalu tampak seperti sedang merapikan
rambutnya dengan mengusapnya ke belakang. Rambut sisi kanan
diusap ke belakang. Yang kiri juga demikian. Begitu terus. Heran,
kapan berhentinya?
“Hai, Met,” sapaku padanya.
“Hehe,” selalu dijawab dengan gurauan.
“Mau ke mana?”
“He ..., mau kumpul-kumpul,” jawabnya sambil cengenges-
an.
“Kumpul di mana?”
Perjumpaan yang Tak Biasa 183
“Hehe ... di sana. Di gedung itu,” jawabnya dengan gerakan
kepalanya saja yang menunjuk arah gudang. Sementara tangan-
nya tetap di posisi mengusap rambut.
“Oh, memang malam ini pada ngumpul ya?”
“Iya ..., lha itu, bulannya bundar,” jawabnya sambil tetap
cengengesan dan kepalanya saja yang mendongak.
“Jadi kalau bulannya bundar, semua ngumpul gitu?”
“Iya, lebih semangat. Lebih agresif. Kan terang,” jawab
Slamet tetap dengan logat Jawanya yang agak medhok.
Pantas saja dulu mendiang Bapak pernah melarangku agar
jangan keluar rumah saat bulan purnama. Nanti bisa kesurupan
katanya.
“Terus, kenapa itu diusap-usap terus rambutnya? Ditanya
malah cengengesan kerjanya!”
“Tidak tahu, ini kok ke depan terus,” jawabnya sambil meng-
usap bagian tengkuknya. Ekspresinya sedikit manyun. Kasihan
sebenarnya melihatnya.
“Oh, itu sih bukan rambutmu, Met. Itu memang kepalamu
yang terluka jadi rasanya tidak nyaman karena lukanya terbuka
dan terkena kerah bajumu itu,” jawabku lirih. Entah dia men-
dengarnya atau tidak. Kuperhatikan bagian belakang kepalanya.
Dan masyaallah, bekas lukanya dulu memang mengerikan. Bikin
mual saja, Met!
“Boleh tahu kenapa kok bisa gitu, Met?”
Slamet menjawabnya lirih. Lirih sekali. Dan dia pun akhirnya
berlalu pergi meninggalkanku. Sendiri. Lagi.
Oh, Slamet, Slamet .... Namanya saja yang slamet. Nasibnya
tidak. Hehe ....
Slamet pergi, dan aku pun sendiri lagi. Daripada ketemu
sama orang-orang yang aneh lagi, mending aku kembali bekerja.
Baru saja berdiri, tiba-tiba alarm emergency berbunyi. Keras
sekali. Bunyi alarm terdengar dari segala penjuru gedung boiler
yoshimine. Diikuti oleh gedung-gedung yang lainnya.
184 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Ada apa?” tanyaku dalam hati. Aku masih belum tersadar
betul.
Pesan terdengar dari pengeras suara yang mengimbau agar
semua karyawan keluar dari ruangan dengan tertib dan menuju
ke tempat yang aman. Pihak security bisa membantu mengkon-
disikan keadaan. Sementara staf bagian power plant diminta untuk
tetap tinggal di ruangan dan mengatasi keadaan darurat.
Allahu Akbar ... Allahu Akbar ....
Aku baru tersadar dan segera berlari secepat mungkin ke
arah ruanganku di atas sana. Meski mengenakan hijab, tak mem-
buat langkahku lambat. Namun, bunyi alarm itulah yang justru
membuatku panik. Aku berusaha menaiki tangga satu persatu
dengan cepat. Aku lihat beberapa teman satu shift-ku di lantai
atas sudah menuruni tangga mereka dan berhamburan untuk
mau keluar dari gedung tua ini. Padahal, mereka semestinya tetap
diminta tinggal di ruangan. Kenapa ikutan lari keluar?
“Mas Damar, kamu masih di ruangan, kan? Kamu pasti
mengantuk saat berjaga. Anung, Pak Ranu, semoga kalian ada
di control room menemani Mas Damar. Mengapa bisa terjadi
keadaan darurat dan tombol emergency ditekan?”
Langkah demi langkah kupercepat agar bisa mengejar waktu.
Agar tidak terjadi ledakan dahsyat. Jauh di seberang pintu ger-
bang sana. Tampak dua atau tiga orang justru malah berlari ke
arah gedung paling timur ini. Pasti mereka para masinis jaga.
Wah, para big boss datang. Pastilah situasi sangat darurat!
“Kutinggal ke belakang sebentar saja sudah begini, ya Allah.
Lindungilah kami semua.”
Kupercepat langkahku ke atas. Tangganya seakan bertambah
dua kali lipat jumlahnya.
“Sedikit lagi. Ayo sedikit lagi, Nes!”
Dan sampailah aku di lantai dua. Pintu control room pun
kubuka. Tampak Mas Damar dan Pak Waskito, mandor shift kami.
Mereka sedang serius di depan tombol panel. Kulihat Anung
Perjumpaan yang Tak Biasa 185
sedang mencoba mengguncang-guncangkan tubuh seseorang
yang tertidur di kursi depan panel. Tampaknya dia tidak tidur
melainkan pingsan. Anung berusaha mencari minyak kayu putih
di kotak P3K. Pak Ranu menciumkan minyak kayu putih itu di
hidung wanita itu. Anung tampak mencubiti pipi orang itu agar
mau bangun.
“Nung, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan,”
tegur Mas Damar.
Dan Anung hanya menyeringai tanda mengakui kesalahan.
Dari HT terdengar panggilan berseru terus-menerus, Yoshimine,
monitor! Yoshimine, monitor!
Mas Damar mengambil panggilan dari HT itu.
“Yoshimine dua, masuk!”
Dan percakapan lewat HT pun berlangsung terus. Dari per-
cakapan itu, jelas sekali Mas Damar sangat tertekan.
Aku berusaha memutar badan untuk tahu siapa yang ping-
san itu. Mereka berdua mau menggotongnya ke belakang panel.
“Pak Ranu, Anung, minta tolong bisa mengangkat Ganes ke
belakang panel. Dia harus sadar agar bisa membantu mengatasi
masalah ini.”
“Apa? Ganes?” tanyaku heran, “Bukankah aku di sini, Mas
Damar. Di belakangmu! Aku tidak pingsan. Aku hanya ke belakang
untuk buang air kecil dan duduk sebentar.”
“Ya Allah, apa yang terjadi? Ada apa denganku? Aku di sini.
Tapi ragaku tertidur.”
Aku terdiam sebentar, banyak hal yang mulai bisa kucerna
dan kubedakan! Kalau demikian, orang-orang yang kutemui di
bawah tadi ....
“Astaghfirullah,” ucapku lirih sambil menutup mulutku.
Kudengar Pak Ranu berusaha menyadarkanku sambil mem-
baca ayat kursi.
“Bangunlah, Ndhuk. Makanya kalau kerja jangan kosong
pikirannya, jadinya ya begini.”
186 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Tadi yang jaga siapa, situasinya bagaimana?” tanya Pak
Waskito.
“Sepertinya safety valve tidak berfungsi hingga pressure naik,
Pak,” jawab Mas Damar.
“Siapa yang jaga?” tanya Pak Waskito lagi.
Anung kemudian menghampiri Pak Waskito. “Ganes, Pak.
Baru saja kok, Pak. Saya dan Mas Damar baru ke belakang panel
untuk bikin kopi dan Ganes katanya yang mau jaga dulu. Itu
kopinya juga belum kami minum, Pak. Rencana setelah minum
kopi, saya baru mau menemani Ganes jaga di panel,” jawab
Anung. “Eh malah Ganes ketiduran di kursi, padahal situasinya
darurat. Jadi, Mas Damar langsung menekan tombol emergency,”
tambah Anung panjang lebar.
“Ganes tidak tidur, Pak. Dia mungkin pingsan karena saya
coba bangunkan tapi dia tidak bangun-bangun. Akhirnya saya
ambil alih,” bela Mas Damar.
“Iya, dia tidak tidur. Dia juga tidak pingsan. Dia cuma jalan-
jalan sebentar. Jiwanya belum kembali ke sini,” imbuh Pak Ranu,
“Mari kita berdoa semoga Allah memberikan kesadaran kepada-
nya. Kasihan dia. Anung kamu bisa di situ saja membantu Damar,”
kata Pak Ranu.
Perlahan-lahan aku berjalan ke belakang panel. Kulihat tubuh
mungil itu terbaring lemah. Pak Ranu tampak merapikan baju
seragam dan kerudungnya yang sedikit tersingkap sewaktu dia
digotong ke sini tadi.
Itu tubuhku. Ternyata itu aku. Lalu kuamati baik-baik tubuh-
ku yang tergolek di atas tikar kecil tempat kami melaksanakan
salat.
“Bahkan, dengan make up minimalis, aku justru terlihat manis,”
bisikku. Heran saja. Situasi seperti ini masih sempat memuji diri
sendiri.
Dan tiba-tiba, rasanya ada yang menarikku untuk memeluk
tubuhku sendiri. Tarikan itu begitu kuat hingga aku terdorong
Perjumpaan yang Tak Biasa 187