menindihi tubuhku sendiri. Dan ... Aku pun tersadar dari ping-
sanku!!!
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Ndhuk. Minumlah ini,
mungkin hanya air putih, tapi semoga bisa membuatmu segar
kembali,” kata Pak Ranu.
“Apa yang terjadi, Pak?” tanyaku.
“Tidak apa-apa. Kamu tadi pingsan. Syukurlah sekarang
sudah sadar,” jawab Pak Ranu. Aku terdiam sambil menatap
sekeliling.
“Apa ini?” Ternyata aku menggenggam gelang tasbih. “Bukan-
kah ini gelang koukah, seperti yang dipakai Mas Damar?” tanyaku
dalam hati.
Aku masih duduk dan terdiam lagi. Perlahan otakku ber-
usaha mencerna semua yang terjadi. Dan kesadaranku tidak be-
rapa lama mulai membulat ....
“Kamu mau ke mana? Kamu masih lemah.” Pak Ranu me-
nahan badanku untuk bangun.
“Saya harus bertanggung jawab atas kekhilafan saya, Pak.
Saya harus bisa membantu mengatasi insiden ini. Tak adil rasanya
bila saya membiarkan Mas Damar mengambil tanggung jawab
kami sendirian.”
Sementara, di depan panel ....
“Bagaimana, Damar?” tanya Pak Waskito.
Aku beranjak dan berjalan ke tempat kerjaku.
“Eh Ganes, kamu sudah sadar?” sapa mandorku.
“Alhamdulillah, Bapak.”
“Syukurlah, sini bantu Damar,” perintah Pak Waskito sambil
menepi agar aku bisa berdiri bersebelahan dengan Mas Damar.
Dan duo favorit di boiler yoshimine ini pun beraksi bersama
mengatasi situasi yang sangat sulit. Sangat genting. Kami memang
operator andalan di pabrik ini. Karena keahlian kami inilah,
pabrik bersikukuh mempertahankanku, khususnya, di posisi ini.
Posisi unik bagi seorang wanita sepertiku. Mungkin aku adalah
188 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
operator boiler yoshimine pertama di Indonesia. Dan aku pun
membuktikan bahwa aku bisa.
“Kamu sudah baikan, Nes?” tanya Mas Damar lirih. Mungkin
agar tidak terdengar orang-orang yang ada di ruangan kami ini.
Pandangan mata kami bertemu dan aku hanya tersenyum ke-
padanya.
“Air screw bahan bakar kita stop dulu, Nes, biar api mengecil.
Secara otomatis, pressure kan jadi menurun sendiri,” jelas Mas
Damar.
“Oke, Mas. Pressure mulai menurun. Aku tambahkan air yang
banyak sambil di-blowdown,” imbuhku.
Masih banyak hal yang harus kami lakukan agar tungku
raksasa itu tidak menjadi petaka bagi kami semua.
“Bagaimana, Mar?” tanya Pak Waskito ke sebelah Mas Damar.
“Sudah teratasi, Pak. Alhamdulillah sekarang aman,” jawab
Mas Damar sambil menoleh kepadaku. Sikap tangannya me-
ngepal, dan kusambut dengan kepalan tanganku. Kami memang
kerap melakukan itu sebagai tanda kekompakan kami.
“Sekarang boiler aman berarti. Syukurlah, tak bisa kubayang-
kan kalau tadi sampai meledak ....”
Belum selesai Pak Waskito menyelesaikan kata-katanya, tiba-
tiba pintu ruangan kami terbuka.
“Selamat malam, Bapak,” sapa Damar kepada seseorang.
“Malam, Pak,” sapa Pak Waskito juga.
“Malam, Bapak,” aku menyapa juga.
Tampak Pak Ranu dan Anung keluar dari control room ini.
“Bagaimana ini, mengapa bisa terjadi situasi darurat? Tahu-
kah kalian, kita semua bisa mati kalau sampai itu terjadi! Satu
kecamatan mungkin akan rata dengan tanah kalau sampai boiler
ini meledak!” bentak Pak Hastanto. Beliau masinis jaga bagian
power plant.
“Alhamdulillah semua kembali normal, Pak,” bela Pak
Waskito.
Perjumpaan yang Tak Biasa 189
“Iya, sudah Bapak. Semua keadaan bisa teratasi. Tadi sempat
darurat sebentar dan Puji Tuhan kini sudah aman terkendali,”
kata Pak Hastanto lewat HT-nya. Tampaknya beliau sedang
melaporkan situasi terbaru kepada supervisor atau mungkin GM
di pabrik ini.
“Alhamdulillah, semua kembali normal. Tadi saya sempat ber-
pikir yang negatif, Pak,” kata Pak Syaron kepada Pak Hastanto.
Pak Syaron adalah masinis jaga bagian produksi.
Kemudian Pak Hastanto dan Pak Syaron pamit kembali ke
kantor besar. Dan Pak Waskito akan turun mengantarnya.
“Terus awasi mesinnya, jangan ditinggal ke mana-mana
minimal sampai satu jam ke depan. Semoga mesin aman begini
terus sampai pagi. Kalau sudah pagi, tanggung jawab kita
selesai,” pesan Pak Waskito sebelum keluar dari ruangan kami.
“Baik, Pak,” jawabku dan Mas Damar kompak.
Tampaknya keadaan darurat tadi sudah diketahui oleh pe-
tinggi dari perusahaan ini.
Kini, tinggal kami berdua di control room ini. Kami duduk
bersebelahan di kursi putar kami masing-masing.
“Kamu tadi kenapa, Nes?” tanya Mas Damar dengan posisi
badan menghadapku, “Kalau sedang tidak sehat lebih baik izin,
biar Pak Waskito mencarikan penggantinya. Kalau sedang kalut
teruslah beristigfar, agar kita terhindar dari godaan setan. Mem-
buat orang khawatir saja.” Kata-katanya lembut sekali.
“Tidak apa-apa kok,” jawabku lirih, “Ini gelang kamu ya, Mas.
Aku tidak tahu mengapa gelang itu ada di tanganku?”
“Sudahlah, itu untukmu. Dipakai di tangan kanan kamu saja.
Kalau sehabis salat bisa digunakan sebagai pengganti tasbih.
Kulihat kamu cuma pake jari tangan kalau berzikir.”
“Benar ini untukku?”
“Ya.”
“Terima kasih, Mas.”
190 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
“Sama-sama. Yang penting, jangan sampai terjadi lagi peristiwa
seperti tadi!”
Aku terdiam cukup lama. Aku tahu kalau Mas Damar meng-
amatiku terus.
“Mas, boleh aku tanya sesuatu?”
“Silakan,” jawabnya sambil kursinya didekatkan lagi dengan
kursiku, “Aku punya waktu dua puluh empat jam untuk selalu
mendengarkan kata-katamu.”
“Gombal, pacar Mas mau taruh di mana?” Suasana mulai
menghangat. Seperti biasanya.
“Aku sudah putus sebulan yang lalu,” jawabnya sambil ter-
senyum hambar.
“Boleh tahu kenapa?”
“Dia terlalu terbuka kalau berpakaian. Bukan tipe wanita
yang bisa diperkenalkan kepada orang tua menurutku.”
“Tapi nyatanya Mas suka.”
“Dulu, sekarang tidak lagi. Kini aku suka yang bisa menun-
dukkan pandangan laki-laki, sepertimu!”
Dan ketika aku menoleh kepadanya. Tatapan mata kami
bertemu lagi. Entah mengapa ada perasaan yang aneh di sini.
Grogi. Senang. Malu. Bercampur menjadi satu. Bukankah Mas
Damar rekan kerjaku? Sejak setahun mengenalnya, dia adalah
rekan kerja yang baik. Senior yang asyik dan mengayomi bawah-
annya. Sikapnya yang sok cuek terkadang membuat para staf
laboratorium yang kecentilan bila ketemu dengannya di parkiran
motor. Parasnya yang mirip dengan Ari Wibowo membuat kaum
hawa di pabrik ini tergila-gila padanya. Apalagi para ibu kantin.
Mesti selalu ada titipan jajanan khusus untuk Mas Damar bila
ada perwakilan dari grup kami pergi ke kantin untuk mengambil
jatah makan dan minum.
Tapi sikapnya kepadaku, sangat berbeda. Dia sangat lembut.
Perhatian. Tapi, kadang juga galak.
Perjumpaan yang Tak Biasa 191
“Ganes, selamat ulang tahun yang ke-23 ya, semoga panjang
umur, sehat selalu, dan tidak suka murung lagi,” ucap Mas Damar
sambil memberikan setangkai bunga mawar merah dari laci meja
kerjanya.
“Hah, Mas tahu hari ulang tahunku?” tanyaku.
“Iya dong. Maaf ya terlambat, karena aku mau mengucap-
kannya langsung waktu ketemu.”
“Gelang tadi adalah hadiah kecil dariku. Hadiah yang asli
kuberikan besok siang. Kamu besok siang ada acara tidak? Jalan,
yuk!”
“Jalan ke mana, Mas?”
“Maunya ke mana, ke pelaminan juga aku siap! Bukankah
nama Kaliha Damar Astono dan Kalinda Ganes Gantara sangat
serasi bila ditulis di undangan pernikahan? Pokoknya kujemput
habis zuhur di kos kamu. Nanti aku izin sama ibu kos barangkali
kita pulang agak malam. Oke? Tidak boleh ada alasan!”
Entah mengapa kepalaku langsung mengangguk pelan. Aku
tersenyum dan terdiam lagi. Oh, Mas Damar .... Bukankah engkau
tahu aku sedang menunggu? Bukankah engkau juga tahu aku
belum membuka hati? Tapi engkau begitu gigih mengubah
kesunyian menjadi gegap gempita. Mengisi kekosongan dengan
canda tawa. Mengobati kesepian hati. Lara dan duka. Menjadi-
kanmu penawar rindu penuh makna. Yang mampu melukis
langit fajar dengan semburat jingga.
Ketika fajar membalut rindu. Ketika sembilu berbisik ragu.
Karena sekian lama tak jua ada kabar untukku. Jantung seperti
berhenti berdetak. Bibir pun tak lagi bisa bersuara. Aku bungkus
kehilangan dan penantianku dengan nada yang sederhana. Yang
sebentar lagi semoga bisa kurangkai menjadi sebuah nada yang
indah. Nada yang sudah seribu lima ratus hari lalu belum ber-
syair. Semoga kini bisa menjelma kidung indah pengantar tidur-
mu. Sebentar lagi pagi akan segera tiba. Mataku justru semakin
membulat. Padahal, semalaman aku belum terpejam walau
192 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal
sekejap. Dalam kalbuku yang kini tak bernyawa, tapi juga tak
mati. Secercah harapan kulihat terbit di mata tajam itu. Meski
segumpal gundah masih menjamu di dada. Biarkan cinta memilih
jalannya. Bukankah cinta selalu punya cara. Dia mungkin akan
mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan masing-
masing bagian yang sempat hilang.
“Secangkir teh untuk Tuan Putri Ganes. Hangat dan manis,
seperti orangnya. Silakan,” rayu Mas Damar sambil membawa-
kan teh dan ciput ketan kesukaanku. Dan gombalan-gombalan-
nya pun mengalir terus seiring malam berganti pagi.
***
Perjumpaan yang Tak Biasa 193
194 Kumpulan Cerita Pendek Bermuatan Lokal