4.5 Mengolah dan menyajikan teks cerita narasi sejarah tentang nilai-nilai
perkembangan kerajaan Islam di Indonesia secara mandiri dalam bahasa
Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
3.2 Menguraikan isi teks penjelasan (eksplanasi) ilmiah tentang penyebab
perubahan dan sifat benda, hantaran panas, energi listrik dan
perubahannya, serta tata surya dengan bantuan guru dan teman dalam
bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata
baku
3.3 Menguraikan isi teks pidato persuasif tentang cinta tanah air dan sistem
pemerintahan serta layanan masyarakat daerah dengan bantuan guru dan
teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan
memilah kosakata baku
4.2 Menyajikan teks penjelasan (eksplanasi) ilmiah tentang penyebab
perubahan dan sifat benda, hantaran panas, energi listrik dan
perubahannya, serta tata surya secara mandiri dalam bahasa Indonesia
lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku
Berikut beberapa hal yang harus dipersiapakan sebelum melaksanakan
kegiatan pembelajaran teks fiksi di Sekolah Dasar.
a. Analisis materi pelajaran dan analisis kompetensi dasar
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, perencanaan yang harus
dilakukan adalah menganalisis materi pelajaran yang akan disampaikan. Materi
tersebut harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD) di Sekolah Dasar. Dari KD
tersebut dapat diketahui keterampilan yang harus dimiliki siswa seperti
menyebutkan, menjelaskan, menguraikan, dsb, serta materi inti yang harus
diberikan kepada siswa. Berikut contoh kompetensi dasar (KD) tentang ragam
teks di sekolah Dasar.
Tabel 15. Kompetensi Dasar Ragam Teks di Sekolah Dasar
KD
4.1 Mengamati dan menirukan teks deskriptif tentang anggota tubuh dan
pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam
secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi
dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian
Berdasarkan tabel kompetensi dasar (KD) 4.1 sekolah dasar, dapat diketahui
bahwa materi inti kompetensi dasar (KD) tersebut adalah teks deskriptif.
Sementara kompetensi yang diukur adalah mengamati dan menirukan.
45
Tabel 16. Kompetensi Dasar Kompetensi Dasar Ragam Teks dan Materi Inti
KD Materi Inti Kompetensi Yang
Diukur
4.1 Mengamati dan 1. Teks deskriptif Mengamati dan
menirukan teks tentang anggota menirukan
deskriptif tentang tubuh dan panca
anggota tubuh dan indra.
pancaindra, wujud dan
sifat benda, serta 2. Teks deskriptif
peristiwa siang dan tentang wujud dan
malam secara mandiri sifat benda.
dalam bahasa Indonesia
lisan dan tulis yang 3. Teks deskriptif
dapat diisi dengan tentang peristiwa
kosakata bahasa daerah siang dan malam.
untuk membantu
penyajian
Setelah kompetensi dasar (KD) dipahami dengan baik, selanjutnya perlu
pengetahuan dan keterampilan mengembangkan kompetensi dasar (KD) menjadi
indikator. Indikator adalah tingkah laku operasional yang menjadi tSaudara
tercapainya kompetensi dasar (KD). Berdasarkan tingkat urgensi, kontinuitas,
relevansi, dan keterpakaian, indikator dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu
indikator kunci, indikator pendukung atau indikator prasyarat, dan indikator
pengayaan (Tri Priyatni, 2019).
a. Indikator kunci
Indikator kunci adalah indikator yang sangat memenuhi kriteria UKRK
(Urgensi, Keterkaitan, Relevansi, Keterpakaian). Kompetensi yang dituntut adalah
kompetensi minimal yang terdapat pada KD. Memiliki sasaran untuk mengukur
ketercapaian stSaudarar minimal dari KD. Dinyatakan secara tertulis dalam
pengembangan RPP dan harus teraktualisasi dalam pelaksanaan proses
pembelajaran. sehingga kompetensi minimal yang harus dikuasai peserta didik
tercapai berdasarkan tuntutan KD mata pelajaran.
b. Indikator pendukung
Indikator pendukung adalah indikator yang membantu peserta didik
memahami indikator kunci. Indiktor pendukung dinamakan juga indikator
46
prasyarat yang berarti kompetensi yang sebelumnya telah dipelajari peserta didik,
berkaitan dengan indikator kunci yang dipelajari.
c. Indikator pengayaan
Indikator pengayaan mempunyai tuntutan kompetensi yang melebihi dari
tuntutan kompetensi dari stSaudarar minimal KD. Tidak selalu harus ada.
Dirumuskan apabila potensi peserta didik memiliki kompetensi yang lebih tinggi
dan perlu peningkatan yang baik dari stSaudarar minimal KD.
Penentuan indikator tersebut baiknya harus runtut dari keterampilan dasar
hingga keterampilan kompleks (lihat taksonomi Blooms). Berikut contoh
indikator dari kelas IV KD 3.1 dan 4.1.
Tabel 17. Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar Kelas IV
KD : KD:
3.1. Mencermati gagasan pokok dan 4.1 Menata informasi yang didapat
gagasan pendukung yang diperoleh dari teks berdasarkan keterhubung
dari teks lisan, tulis, atau visual an antargagasan ke dalam kerangka
tulisan
IPK Pendukung IPK Pendukung
3.1.1 Menentukan kalimat utama 4.1.1 Menyajikan informasi yang
dari teks tulis. didapat dari teks berdasarkan
3.1.2 Menentukan kalimat utama keterhubungan antargagasan
dalam bentuk peta pikiran
dari teks visual.
IPK Kunci IPK Kunci
3.1.3 Mengidentifikasi gagasan 4.1.2 Mengkontruksi informasi
pokok yang diperoleh dari teks yang didapat dari teks
tulis. berdasarkan keterhubungan
3.1.4 Mengidentifikasi gagasan antargagasan ke dalam
pokok yang diperoleh dari kerangka tulisan (P4)
visual.
3.1.5 Mengidentifikasi gagasan
pendukung yang diperoleh dari
teks tulis.
3.1.6 Mengidentifikasi gagasan
pendukung yang diperoleh dari
teks visual.
IPK Pengayaan IPK Pengayaan
3.1.7 Menemukan gagasan pokok 4.1.3 Menuliskan kembali
yang diperoleh dari teks visual. informasi yang didapat dari
3.1.8 Memilih gagasan pendukung teks visual berdasarkan
yang diperoleh dari teks visual. gagasan pokok dan
pendukung.
47
b. Menentukan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah pengembangan Indikator Capaian Kompetensi
(IPK) yang telah dirumuskan. Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur. Rumusan
tujuan pembelajaran memuat unsur audien (peserta didik), behavior/perilaku yang
hendak dicapai, condition, dalam kondisi bagaimana perilaku itu dicapai, dan
degree yaitu tingkat kemampuan yang diinginkan untuk dicapai. Keempat aspek
tersebut sering disingkat ABCD (Tri Priyatni, 2019). Berikut contoh rumusan
tujuan pembelajaran kompetensi dasar (KD) 4.1 di kelas IV
Tabel 17. Tujuan Pembelajaran
KD Indikator Tujuan Pembelajaran
3.1. Mencermati 3.1.1 Menentukan 3.1.1.1. Melalui kegiatan
gagasan kalimat utama membaca paragraf (
pokok dan dari teks tulis. kondisi) siswa
gagasan (audience) dapat
pendukung 3.1.2 Menentukan menentukan kalimat
yang kalimat utama utama teks tulis (
diperoleh dari teks visual. kompetensi yang akan
dari teks diukur) dengan
lisan, tulis, benar.( degree)
atau visual
c. Menentukan pendekatan dan metode pembelajaran
Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam perencanakan pembelajaran
adalah pendekatan dan metode pembelajaran. Pendekatan yang dipilih hendaklah
pendekatan yang dapat mengakomodasi karakteristik siswa yang beragam. Baik
karakteristik kepribadian, maupun perbedaan gaya belajar. Salah satu pendekatan
yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik,
konstruktivisme, whole language, komunikatif, dan lain sebagainya. Sementara
itu, metode yang digunakan hendaknya bervariasi agar siswa tidak merasa bosan
dan dapat meningkatkan keaktifan siswa. Seperti metode diskusi, tanya jawab,
praktik, pengamatan, penugasan, dan lain sebagainya. Metode-metode tersebut
dapat dipilih satu atau dua metode yang sesuai dengan kompetensi dasar (KD).
Metode yang dirancang adalah metode yang dinyatakan secara eksplisit atau
disimpulkan dari kegiatan pembelajaran. Metode yang dipilih harus tercermin
pada langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dirancang.
48
Contoh: Metode: Saintifik dan Penemuan (Discovery)
Kegiatan Inti
Langkah-langkah Pembelajaran Keterangan
Peserta didik mengamati video teks deskriptif Mengamati
tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan
sifat benda, serta peristiwa siang dan malam Menanya/mengajukan
Peserta didik menanyakan butir-butir penting masalah (discovery)
terkait isi video teks deskriptif tentang anggota
tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta Mencoba/merumuskan
peristiwa siang dan malam hipotesis/jawaban
sementara (discovery)
Peserta didik mencoba menjawab pertanyaan
tentang isi video teks deskriptif tentang anggota Menalar/mengumpulk
tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta an data untuk
peristiwa siang dan malam membuktikan
Melalui diskusi kelompok, peserta didik kebenaran (discovery)
mendiskusikan isi video teks deskriptif tentang Menalar/mengumpulk
anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat an data untuk
benda, serta peristiwa siang dan malam membuktikan
kebenaran (discovery)
Peserta didik menyampaikan hasil diskusi
kelompok dalam diskusi kelas (Sumber: Priyatni, 2019)
Peserta didik memberi tanggapan baik berupa
pertanyaan, sanggahan atau dukungan secara
santun.
Penguatan dari pendidik.
Peserta didik menarik kesimpulan dan merevisi
temuannya tentang isi dongeng
d. Menentukan Media Pembelajaran
Media adalah alat bantu proses pembelajaran untuk mempermudah
penyampaian materi pelajaran. Media dapat berupa video/film, rekaman, audio,
model, chart, gambar, dan sebagainya (Tri Priyatni, 2019)
e. Menentukan sumber belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk
kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta
lingkungan fisik, alam, social, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan
pada kompetensi dasar, serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
dan indicator pencapaian kompetensi. Sumber belajar dapat berupa buku siswa,
buku referensi, majalah, Koran, situs internet, lingkungan sekitar, narasumber, dsb
(Tri Priyatni, 2019).
49
f. Langkah-langkah pembelajaran
Langkah-langkah pembelajaran terdiri dari kegiatan pembuka, kegiatan inti,
dan kegiatan penutup. Kegiatan pembuka hendaknya dimulai dengan kegiatan
pembelajaran yang ramah dan hangat. Hal tersebut dapat dicapai dengan
mengucapkan salam pembuka, berdoa dengan dipimin oleh siswa, serta
menanyakan kabar siswa. Kehangatan yang terbangun dapat menumbuhkan
percaya diri dan merasa bahwa dirinya dianggapo ada.
Siswa hendaknya disiapkan secara fisik dan psikis agar benar-benar siap
mengahdapi pembelajaran. Jangan dulu memulai pembelajarn disaat keadaan
siswa belum siap. Untuk mengecek kesiapan siswa dari segi pengetahuan dapat
dilakukan dengan cara melakukan apersepsi atau mengecek pengetahuan siswa
mengenai materi prasyarat atau pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran
sebelumnya.
Selanjutnya siswa harus mengetahui bahwa tujuan serta proses
pembelajaran yang akan dilakukan. Sehingga siswa memiliki gambaran tentang
apa yang harus ia dapatkan dan gambaran tentang proses poembelajaram yang
akan dilakukan. Dengan demikian siswa tidak merasa kaget (shock) dan akan
merasa senang karena ia mengetahui proses pembelajaran yang akan dilakukan
dari awal hingga akhir pembelajaran.
Kegiatan inti. Yang terpenting dari kegaitan ini adalah bagaimana
pembelajaran berpusat kepada siswa (student centered). Guru hanya menjadi
fasilitator dan guider yang mengarahkan proses pembelajaran siswa. Gunakanlah
model pembelajaran dan langkah-langkah pendekatan yang sesuai agar kegiatan
inti terstruktur. Dalam pembelajaran teks narasi sejarah misalnya, guru jangan
terfokus untuk memberikan materi dengan cara ceramah dari awal sampai akhir.
Gunakan lembar kerja siswa (LKS) agar siswa dapat menemukan sendiri
pengetahuannya. Konsep tentang teks narasi dapat disjaikan dalam LKS. Yang
harus diperhatikan LKS adalah lembar bimbingan bukan lembar persoalan.
Kegiatan penutup. Sebelum mengakhiri pembelajaran baiknya guru
mengecek pemahaman siswa apakah tujuan pembelajaran hari itu tercapai atau
tidak. Pengecekan bisa dilakukan secara klasikal dengan kegiatan tanya jawab
hingga siswa mendapatkan kesimpulan secara utuh hasil pembelajaran tersebut.
Untuk memantapkan pengukuran hasil belajar, baiknya dilakukan kegiatan
evaluasi baik tes atau nontes.
50
Contoh: : PORPE (predict, organize, rehearse, practice, evaluate)
Strategi
Kegiatan Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Pembelajaran Waktu
1. Guru mengucapkan salam
Kegiatan 2. Mengajak semua siswa berdo’a menurut 15
pembuka menit
agama dan keyakinan masing-masing,
Kegiatan Inti dengan dipimpin oleh salah satu siswa. 150
3. Guru mengecek kehadiran siswa. menit
4. Guru melakukan apersepsi (menanyakan
tentang materi pelajaran yang telah
dipelajari pada pertemuan sebelumnya).
5. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi dasar yang akan dicapai .
6. Menjelaskan manfaat dan langkah-langkah
pembelajaran.
7. Guru memberi motivasi belajar peserta
didik secara kontekstual sesuai manfaat
dan aplikasi materi ajar dalam
kehidupan sehari-hari.
8. Siswa dibagi ke dalam kelompok yang
jumlah anggotanya 2-3 orang.
9. Setiap siswa dalam kelompok mendapat
lembar kerja siswa.
10. Setiap siswa mendapatkan teks deskriptif
tentang anggota tubuh dan pancaindra,
wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang
dan malam yang ada dalam LKS.
11. Siswa mengamati penjelasan guru
mengenai strategi dan petunjuk dalam
kegiatan membaca dan mengisi lembar
kerja siswa (LKS).
12. Siswa mengerjakan LKS sesuai dengan
petunjuk yang telah disampaikan guru.
51
Predict (10 menit)
13. Siswa membaca sekilas teks deskriptif
tentang anggota tubuh dan pancaindra,
wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang
dan malam.
14. Siswa menyusun prediksi dari teks
deskriptif tentang anggota tubuh dan
pancaindra, wujud dan sifat benda, serta
peristiwa siang dan malam dengan cara
menyusun 3 pertanyaan yang berkaitan
dengan isi teks.
Organize (30 menit)
15. Siswa membaca kembali teks deskriptif
tentang anggota tubuh dan pancaindra,
wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang
dan malam dengan teliti.
16. Siswa menuliskan ide pokok tiap paragraf
pada bagan peta konsep yang telah
disediakan pada lembar kerja siswa.
17. Siswa menuliskan simpulan dari teks yang
telah dibaca.
Rehearse (10 menit)
18. Siswa membaca secara berulang atau
menghafalkan ide pokok yang telah ditulis
pada peta konsep.
Practice (25 Menit)
19. Siswa menjawab pertanyaan prediksi yang
telah dibuat pada tahap predict.
20. Siswa menceritakan kembali isi teks yang
telah dibaca dengan cara menuliskannya
pada lembar kerja siswa .
Evaluate (5 menit)
21. Siswa menukar hasil karyanya dengan
pasangannya.
22. Siswa dengan pasangannya mengevaluasi
hasil kerja dengan menggunakan panduan
checklist yang diberikan oleh guru.
23. Siswa membuat 3 pertanyaan untuk
wawancara mengenai teks deskriptif
tentang anggota tubuh dan pancaindra,
wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang
dan malam pada lembar kerja siswa.
24. Siswa melakukan kegiatan wawancara
dengan pasangannya.
52
Kegiatan 25. Siswa menuliskan laporan hasil wawancara
Penutup pada lembar yang telah disediakan.
26. Siswa mengkomunikasikan hasil kerjanya
mengenai laporan mewawancarai teman.
27. Guru memberikan apresiasi dan penguatan
terhadap hasil kerja siswa.
28. Siswa bersama guru melakukan tanya
jawab mengenai teks deskriptif tentang
anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan
sifat benda, serta peristiwa siang dan
malam.
29. Siswa mengamati lingkungan sekitar dan
melakukan tanya jawab mengenai anggota
tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat
benda, serta peristiwa siang dan malam.
30. Siswa mencari informasi tambahan yang
dibutuhkan mengenai anggota tubuh dan
pancaindra, wujud dan sifat benda, serta
peristiwa siang dan malam dalam teks yang
terdapat dalam LKS.
31. Siswa menuliskan 3 contoh anggota tubuh
dan pancaindra, wujud dan sifat benda,
serta peristiwa siang dan malam dalam
kehidupan sehari-hari.
32. Guru memberikan apresiasi dan penguatan
mengenai perubahan energi yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari
33. Siswa bersama guru melakukan refleksi
terhadap kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan.
34. Siswa dibimbing oleh guru menyimpulkan
pembelajaran.
35. Guru memberikan simpulan akhir
pembelajaran.
36. Siswa diberikan lembar evaluasi individu.
37. Guru memberikan tindak lanjut .
38. Guru menyampaikan inti pembelajaran
yang akan dilaksanakan pada pertemuan
selanjutnya .
39. Mengajak semua siswa berdo’a menurut
agama dan keyakinan masing-masing untuk
mengakhiri kegiatan pembelajaran.
40. Guru mengucapkan salam penutup.
53
g. Penilaian
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi,
penilaian diri, penilaian teman sejawat (peer evaluation) oleh peserta didik, dan
jurnal. Instrument yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian
antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang
disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatn pendidik.
Penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan dengan menilai kompetensi
pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Instrument tes tulis berupa
soal pilihan gSaudara, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan
uraian. Instrument uraian dilengkapi pedoman penskoran. Instrument tes lisan
berupa daftar pertanyaan. Instrument penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau
proyek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik
tugas. Penilaian pengetahuan dalam pembelajaran teks fiksi perlu diintegrasikan
dengan keterampilan berbahasa sehingga tidak teoretis (Tri Priyatni, 2019).
Contoh/ ilustrasi dalam pembelajaran mendongeng atau bercerita untuk
pengembangan bahasa lisan siswa, maka penilaian harus diintegrasikan dengan
penilaian menyimak, membaca dan menulis.
2. Tugas Terstruktur
Selamat, Saudara telah sampai pada akhir pembelajaran di KB- 1. Untuk
memastikan penguasaan Saudara terhadap materi yang telah dipelajari, silahkan
Saudara selesaikantugas terstruktur berikut.
54
Bacalah teks di bawah ini!
Indahnya Persahabatan
Irma adalah murid yang saat ini sedang mengenyam pendidikan
di bangku SD. Selain menjadi murid, ia juga menjual kue di kantin
sekolah demi mengurangi beban orang tua membiayai pendidikannya.
Berlatar belakang keluarga yang perekonomian rendah tidak
menyurutkan niat Irma untuk bersekolah. Suatu hari di tanggal 12
April, tiba-tiba Irma tidak masuk sekolah.
Setelah lebih dari seminggu Irma tidak datang ke sekolah,
teman-teman pun mendatangi rumahnya. Teman-temannya
mendapatkan berita dari tetangga bahwa sekarang Irma menjual kue di
terminal. Ia harus menjajakan kuenya di sana untuk membayar iuran
SPP bulan lalu.
Saat ini orang tua Irma sedang tidak mempunyai uang dan uang
yang telah Irma kumpulkan diserahkan kepada orang tuanya.
Mengetahui hal yang menimpa Irma tersebut, akhirnya teman-teman
sekelas berinisiatif menemui Irma di terminal. Mereka mencari di mana
keberadaan Irma dan membeli kuenya hingga habis terjual selama satu
minggu berturut-turut.
(dimodifikasi dari: https://made-blog.com)
Setelah Saudara membaca teks di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini.
a. Termasuk ke dalam jenis teks yang mana bacaan di atas?
b. Analisislah struktur teks tersebut!
2. Perhatikan kompetensi dasar ragam teks berikut, kemudian rumuskan
indikator, tujuan pembelajaran, bahan ajar, sumber belajar, media, dan metode
pembelajaran kompetensi dasar tersebut
KD
4.2 Memperagakan teks cerita narasi sederhana tentang kegiatan dan
bermain di lingkungan secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan
dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk
membantu penyajian
55
E. Forum Diskusi
Untuk menambah penguasaan materi modul, Saudara dipersilakan memberi
pendapat mengenai topik diskusi di bawah ini!
Sebagai seorang guru, apakah Saudara pernah mengalami kesulitan dalam
mengajarkan teks eksplanasi dan deskripsi di SD kelas tinggi? Bagaimanakah
solusi yang Saudara lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?
F. Rangkuman
Selamat, Saudara telah sampai pada akhir pembelajaran di KB-1. Untuk
menambah penguasaan Saudara terhadap materi yang telah dipelajari, silakan
Saudara baca rangkuman berikut.
Ragam teks adalah macam-macam atau jenis-jenis teks.Ragam teks terdiri
dari teks faktual, teks tanggapan, teks cerita, dan teks normatif. Teks faktual
adalah teks yang berisi suatu kejadian yang bersifat nyata, benar-benar terjadi,
tetapi tidak terikat dengan waktu. Dengan kata lain, suatu kejadian yang faktual
bisa terjadi di masa lalu ataupun masa sekarang. Teks faktual dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu teks deskripsi dan teks prosedur/arahan.
Teks tanggapan adalah teks yang berisi sambutan terhadap ucapan (kritik,
komentar, dan sebagainya) dan apa yang diterima oleh pancaindra, bayangan
dalam angan-angan. Teks tanggapan dibedakan menjadi dua buah teks, yaitu teks
eksposisi dan teks ekplanasi.
Teks cerita adalah teks yang menuturkan bagaimana terjadinya suatu hal,
peristiwa, kejadian, perbuatan, pengalaman, dan sebagainya. Teks cerita terdiri
dari teks cerita ulang, naratif, anekdot, dan kesimpulan.
Satuan bahasa pembentuk teks terdiri dari kalimat dan paragraf.Kalimat
adalah satuan gramatikal yang disusun oleh konstituen dasar dan intonasi final.
Konstituen dasar itu dapat berupa klausa, frase, maupun kata.Paragraf dapat
diartikan sebagai satuan gagasan di dalam bagian suatu wacana, yang dibentuk
oleh kalimat-kalimat yang saling berhubungan dalam mengusung satu kesatuan
pokok pembahasan. Dengan demikian, paragraf merupakan satuan bahasa yang
lebih besar daripada kalimat
56
G. Tes Formatif
Selamat, Saudara telah sampai pada akhir pembelajaran di Kegiatan Belajar
1. Untuk memastikan penguasaan Saudara terhadap materi yang telah dipelajari,
silakan Saudara menyelesaikan Tes Formatif berikut. Selamat Bekerja.
1. Bacalah teks di bawah ini!
Kemiskinan
Kemiskinan adalah tingkat masyarakat dengan pendapatan yang
rendah. Dengan pendapatan yang rendah masyarakat tidak mempu
untuk mencukupi kebutuhan pokok seperti makan, minum, pakaian,
tempat berlindung, dan pendidikan.
Biasaya masyarakat miskin cenderung bertempat tinggal
dibantaran kali, bawah jembatan, dan tempat-tempat yang justru bukan
tempat layak mendirikan bangunan. Terkadang justru mereka
membangun tempat tinggal di atas tanah milik negara.
Kemiskinan tidak hnaya menjadi fenomena yang terjadi di
Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena yang terjadi hampir di seluruh
dunia. Banyak negara berkembang yang juga memiliki permasalah yang
sama tentang kemiskinan seperti negara Indonesia.
Teks di atas termasuk ke dalam jenis teks..............
A. Teks Deskripsi
B. Teks Eksposisi
C. Teks Eksplanasi
D. Teks Narasi
E. Teks prosedur
2. Bacalah penggalan teks di bawah ini!
Gempa Bumi
Gempa bumi merupakan getaran atau goncangan yang terjadi
karena pergeseran atau pergerakan lapisan batu bumi yang berasal dari
dasar permukaan bumi. Peristiwa alam ini sering terjadi di daerah yang
berada dekat gunung berapi atau gunung yang masih aktif dan di daerah
yang dikelilingi lautan yang sangat luas.
Gempa bumi terjadi karena pergesaran atau gerakan lapisan
dasar bumi dan letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Selain itu,
gempa bumi terjadi begitu cepat dengan dampak yang sangat besar bagi
lingkungan sekitarnya.Getaran gempa bumi yang sangat besar dan
merambat ke segala arah sehingga dapat meratakan bangunan dan
menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan penyebab terjadinya, gempa
bumi dapat digolongkkan menjadi dua jenis, yaitu gempa vulkanik dan
gempa tektonik.
57
2. Teks di atas adalah teks eksplanasi yang memiliki karakteristik.........
A. Isinya memuat fakta
B. Muatannya didasarkan pada pendapat / opini
C. Adanya langkah prosedur
D. Memuat unsur kekonyolan
E. Muatannya didasarkan pada fakta
3. Bacalah penggalan teks di bawah ini!
“Bioteknologi adalah istilah yang berasal dari bahasa latin yang
terdiri atas kata bio yang berarti “hidup” dan teknos yang berarti
“teknologi” serta logos yang berarti “ilmu.” Selanjutnya
bioteknologi diartikan sebagai kajian ilmu terapan yang konsen
terhadap rangkaian proses biologis dalam rangka menghasilkan
barang dan jasa yang menerapkan prinsip sains. Perkembangan
bioteknologi tak hanya didasarkan pada cabang keimuan biologi
saja, namun juga pada disiplin ilmu terapan lainnya semisal biologi
molekuler, komputer, biokimia, genetika, kimia, mikrobiologis,
matematika, dan lain sebagainya.”
Peryataan di bawah ini yang sesuai dengan teks di atas adalah …
A. Bioteknologi adalah cabang dari keilmuan biologi
B. Bioteknologi diciptakan untuk mencari keuntungan
C. Bioteknologi adalah hasil penerapan teknologi terhadap prosesi biologii
D. Peristiwa biologi yang menjadi dasar adanya perkembangan bioteknolog
E. Perkembangan bioteknologi hanya didasarkan pada cabang keimuan
biologi.
4. Bacalah teks dibawah ini!
“Aku sangat senang sekali membaca buku. Terkadang karena keasyikan
membaca, aku tidak mendengar teman yang berbicara kepadaku. Oleh karena
itu aku dijuluki “si kutu buku”. Aku tidak marah dijuluki seperti itu. Kata ibu
kutu buku itu artinya orang yang sangat gemar membaca buku.”
Perbaikan yang tepat pada kalimat pertama paragraf di atas adalah…
A. Aku sangat senang membaca buku.
B. Saking asyiknya membaca aku sampai tidak fokus.
C. Aku dijuluki dengan nama “si kutu buku”
D. Kutu buku adalah orang yang sanfat gemar membaca buku.
58
Aku adalah orang yang sangat senang membaca.
5. Baca dan analisislah teks berikut!
Pendidikan
Pendidikan di Indonesia dewasa ini masih tertinggal cukup jauh
dengan pendidikan yang berada di negara-negara lain yang ada di
dunia.Bahkan Indonesia sendiri masih kalah dengan negara jiran kita,
yakni Malaysia dan Singapura dalam bidang pendidikan.Hal ini dapat
disaksikan dari banyaknya penduduk mereka yang memperoleh
pendidikan sampai ke perguruan tinggi.Sedangkan di Indonesia, jumlah
penduduk yang mendapatkan pendidikan saja masih jauh tertinggal
dengan negara lain, apalagi di daerah-daerah tertinggal seperti NTB,
NTT, Papua dan masih banyak lagi daerah lainnya.
Ketertinggalan pendidikan di daerah-daerah tersebut disebabkan
karena tidak meratanya pendidikan di Negara Indonesia. Pemerintah
hanya membangun fasilitas pendidikan di daerah perkotaan, terkhusus
pulau Jawa.Tidak hanya itu, terbatasnya jumlah guru yang ada di daerah
tersebut juga ikut menciptakan semakin jauhnya akses pendidikan yang
ada di daerah. Akhirnya, pendidikan Indonesia tidak merata serta
cenderung tertinggal, sehingga belum mampu untuk bersaing dengan
negara lain yang ada di dunia.
Analisislah teks tersebut kemudian tentukan karakteristik teks argumentasi yang
mana yang tergambar di dalam teks.
A. Bersifat fiksi
B. Bersifat fakta
C. Bersifat sebab akibat
D. Bersifat akibat sebab
E. Bersifat mempengaruhi
6. Bacalah teks di bawah ini!
Saat ini masih banyak dari guru dan orang tua murid yang tidak
sabar dalam mendidik peserta didiknya. Padahal, dalam mendidik anak
kesabaran sangatlah diperlukan. Seperti yang telah diutarakan oleh
salah satu filsuf legendaris Yunani yaitu Plato, bahwa pendidikan
merupakan proses yang panjang dan dijalani seumur hidup, yaitu mulai
manusia itu masih kecil hingga manusia beranjak dewasa.
Oleh sebab itu, sudah sepatutnya selaku guru dan orang tua murid
mendidik anaknya dengan sabar dan berorientasi pada proses. Supaya
nantinya anak dapat berkembang dengan baik dan dengan sewajarnya.
Dengan demikian pula potensi yang dimiliki anak juga dapat tumbuh
berkembang dengan baik dan alami.
59
Analisislah teks di atas , kemudian berdasar karakteristik yang tergambar, teks di
atas termasuk jenis pengembangan paragaraf...
A. Deskriptif
B. Argumentatif
C. Naratif
D. Persuasif
E. Eksposisi
7. Bacalah teks di bawah ini!
Malam ini indah sekali. Di langit, bintang – bintang berkelip – kelip
memancarkan cahaya temaram. Hawa dingin menusuk kulit. Sesekali
terdengar suara jangkrik, burung malam, dan kelelawar mengusik
sepinya malam. Angin berhembus pelan dan tenang.
Berdasarkan teks di atas, sebuah paragraf harus memiliki syarat tertentu yaitu...
A. Kelengkapan, kesatuan, dan kepaduan
B. Kelengkapan, persatuan, dan keadilan
C. Kelengkapan, kesantunan, dan kerancuan
D. Kepaduan, kesatuan, dan kesukaan
E. Kepaduan, kedantunan, dan keadilan
8. Bacalah teks di bawah ini!
Malam ini indah sekali. Di langit, bintang – bintang berkelip – kelip
memancarkan cahaya temaram. Hawa dingin menusuk kulit. Sesekali
terdengar suara jangkrik, burung malam, dan kelelawar mengusik sepinya
malam. Angin berhembus pelan dan tenang.
Teks di atas memiliki empat karakteristik yaitu.
1) Menuliskan atau Menggambarkan sesuatu.
2) Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan meliputi kesan
indera.
3) Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri.
60
4) Menjelaskan ciri-ciri objek seperti warna, ukuran, bentuk, dan keadaan suatu
objek secara terperinci
Karakteristik teks di atas termasuk ke dalam ciri pengembangan paragraf...
A. Deskriptif
B. Persuasif
C. Eskposisi
D. Eksplanasi
E. Narasi
9. Teks eksplanasi membahas berbagai fenomena, kecuali …
A. Fenomena alam
B. Fenomena sosial
C. Fenomena ekonomi kerakyatan
D. Fenomena kawin cerai artis
E. Fenomena pendidikan
10. Bacalah teks di bawah ini!
“Belakangan ini gempa bumi menjadi buah bibir di kalangan masyarakat
Indonesia. Sepanjang sejarah umat manusia, gempa selalu saja menimbulkan
kerugian baik materil ataupun korban jiwa. Tidak berlebihan rasanya jika
dikatakan bahwa fenomena gempa bumi adalah peristiwa yang berdampak
secara langsung kepada makhluk hidup tak terkecuali manusia. Hal tersebut
menjadikan gempa bumi sebagai salah satu bencana alam yang ditakuti oleh
setiap orang.”
Teks eksplanasi di atas termasuk ke dalam bagian …
A. Kronologis (urutan peristiwa)
B. Sebab
C. Pengenalan obyek
D. Simpulan
E. Akibat
61
H. Kunci jawaban
1. C
2. A
3. C
4. A
5. C
6. D
7. A
8. A
9. D
10. C
Keterangan bobot skor
a. Jika jawaban benar skor 10.
b. Jika jawaban salah/tidak dijawab skor 0.
c. Jumlah skor total adalah 100.
Skor = Skor perolehan x100
Skor maksimal
= 100 x 100
100
= 100
62
I. DAFTAR PUSTAKA
Insan. (2017). Menulis Paragraf Deskripsi. [Online]. Tersedia dari
https//www.kompasiana.com/kanginsan/551ale898331cc7d9de0d7/menulis-
paragraf-paragraf-deskriptif-dan-paragraf-contoh]
Mahsun, (2014). Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Rajawali
Pers.
Keraf, G. (2000). Diksi dan Gaya Bahasa.Jakarta: Rinneka Cipta.
Keraf, G (2001). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia
Kosasih & Hermawan. (2012). Bahasa Indonesia Berbasis Kepenulisan Karya
Ilmiah dan Jurnal. Bandung: Thursina.
Kosasih, E & Kurniawan, E. (2019).Jenis-jenis Teks: Fungsi, Struktur, dan
Kaidah Kebahasaan. Bandung: Yrama Media.
Kosasih.(2012). Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Yrama Widya.
Mitcell, D. (2003). Children’s Literature, an Invitation to the world. Boston:
Ablongman.
Nurgiyantoro (2014). Penilaian Pembelajaran Berbahasa Indonesia. Yogyakarta:
BFSE
Priyatni, E.T. (2019). Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum
2013. Jakarta: PT Bumi Aksara
Oktarisa, O. dkk. (2014). Pembelajaran Memahami Struktur dan Kaidah Teks
Anekdot Siswa Kelas X SMA. Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan
Pembelajaran). Universitas Lampung
Wiratno, T. (2014).“Jenis-jenis Teks.”Disajikan pada Kegiatan Peningkatan
Kompetensi Kurikulum 2013 bagi Tenaga Teknis Badan Bahasa dan
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, di Bogor.
Santosa, R. (2103). “Lokakarya Kurikulum Bahasa Indonesia 2013.” Materi
Pelatihan Kurikulum 2013 (power point), Diselenggarakan pada 23
Agustus 2013 di Jakarta oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Sergu dalam Jabatan. (2017). Buku Suplemen Pendidikan dan Latihan PLPG.
Bandung: UPI
63
Ulfa, N. (2018). Keterampilan Menulis Teks Deskripsi Bahasa Makasar melalui
Media Gambar Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bajeng Barat Kabupaten
Gowa. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia dari:
http://eprints.unm.ac.id/10387/1/ARTIKEL%20NURUL%20ULFA.pdf
[Online]. Tersedia dari https://thegorbalsa.com/contoh-cerpen-singkat.
[Online]. Tersedia dari https://notepam.com/contoh-paragraf-argumentasi
[Online]. Tersedia dari http://mondoggiesmusic.com/contoh-teks-berita
[Online]. Tersedia dari https://made-blog.com/contoh-teks-eksemplum/
[Online]. Tersedia dari
https://regional.kompas.com/read/2019/11/11/20441891/penyelidikan-kebakaran-
pasar-ngunut-tulungagung-butuh-waktu-1-minggu)
64
DAR 2/Profesional/027/1/2022
MODUL 1
BAHASA INDONESIA
KEGIATAN BELAJAR 2
STRUKTUR, FUNGSI DAN KAIDAH KEBAHASAAN TEKS FIKSI
Nama Penulis
Prof. Tatat Hartati, M.Ed., Ph.D.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISTEK DAN TEKNOLOGI
2022
65
KB 2
STRUKTUR, FUNGSI DAN KAIDAH KEBAHASAAN TEKS FIKSI
A. Pendahuluan
Pemahaman yang kuat terhadap pola dan variasi teks merupakan modal
budaya atau cultural capital bagi manusia. Pemahaman tentang struktur, fungsi,
dan kebahasaan teks fiksi dapat membantu menciptakan koneksi antara pembaca
dan penulis. Pembaca akan mampu membaca cepat, dan penulis akan mampu
mengantisipasi harapan pembaca ketika membaca tulisannya berdasarkan teks
sejenis yang sudah dibaca sebelumnya.
1. Deskripsi Singkat
Dalam KB 2, Saudara akan mempelajari struktur, fungsi, dan kaidah
kebahasaan teks fiksi. Modul ini disusun secara cermat sesuai dengan tujuan yang
harus dicapai dalam implementasi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa
Indonesia di sekolah dasar.
2. Relevansi
Materi yang disajikan relevan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang guru profesional ketika mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan
dalam rangka mencerdaskan generasi bangsa Indonesia.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal
10 ayat (1) menyatakan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional.” Kompetensi profesional guru, dimana
mengulas materi tentang struktur, fungsi, dan kaidah kebahasaan teks fiksisecara
luas dan mendalam yang mencakup penguasaan materi mata pelajaran bahasa
Indonesia di sekolah dasar. Tidak hanya menguasai materi, Saudara juga akan
mampu mengembangkan materi struktur, fungsi, dan kaidah kebahasaan teks fiksi
secara kreatif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar. Mengingat siswa
sekolah dasar memerlukan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
66
Dalam modul ini, Saudara akan belajar bagaimana memahami peserta didik
dengan karakter yang beragam dari segi perkembangan bahasa anak. Dari
pemahaman tersebut korelasinya adalah Saudara akan merancang perencanaan
pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia yang
sesuai dengan konteks struktur, fungsi, dan kaidah kebahasaan teks fiksi di
sekolah dasar.
3. Petunjuk Belajar
Untuk membantu Saudara memahami modul ini perlu diperhatikan beberapa
petunjuk belajar berikut:
a. Bacalah dengan cermat uraian penting yang terdapat di dalam modul ini
sampai Saudara memahami secara tuntas tentang apa, untuk apa, dan
bagaimana mempelajari modul ini!
b. Pahamilah pengertian demi pengertian dari modul ini melalui pemahaman dan
pengalaman sendiri serta diskusikanlah dengan teman atau dosen pembimbing
Saudara!
c. Bacalah dan pelajarilah sumber-sumber lain yang relevan. Saudara dapat
menemukan bacaan dari berbagai sumber, termasuk internet!
d. Mantapkanlah pemahaman Saudara melalui pengerjaan tes formatif yang
tersedia dalam modul ini dengan baik. Kemudian, nilai sendiri tingkat
pencapaian Saudara dengan membandingkan jawaban yang telah Saudara buat
dengan kunci jawaban tes formatif yang terdapat di akhir modu!.
e. Diskusikanlah apa yang telah dipelajari, termasuk hal-hal yang dianggap masih
sulit, dengan teman-teman Saudara!
Selamat belajar. Semoga Saudara berhasil !
67
B. Capaian Pembelajaran
Pada bagian inti modul ini, akan diuraikan hal-hal yang terkait dengan (1)
capaian pembelajaran, (2) subcapaian pembelajaran, (3) uraian materi, dan (4) forum
diskusi.
Sesuai dengan isi Kurikulum PPG PGSD 2019, Capaian Pembelajaran Mata
Kegiatan (CPMK) ke-2 Pendalaman Materi Bidang Studi Bahasa Indonesia untuk KB-2
adalah menguasai struktur, fungsi, dan kaidah kebahasaan teks fiksi serta aplikasinya
dalam pembelajaran di SD.
C. Subcapaian Pembelajaran
Berdasarkan capaian pembelajaran di atas, dijabarkan subcapaian pembelajaran
berikut ini.
a. menganalisis teks fiksi;
b. menganalisi struktur, fungsi dan kaidah kebahasaan teks fiksi
c. merancang pembelajaran teks fiksi di sekolah dasar
D. Uraian Materi
Dalam KB 2, Saudara akan mempelajari materi teks fiksi yang mencakup
struktur, fungsi, kaidah kebahasaan teks fiksi, dan kompetensi dasar teks fiksi.
a. Teks Fiksi
Teks fiksi adalah teks yang berisi kisahan atau cerita yang dibuat
berdasarkan imajinasi pengarang (Kosasih dan Kurniawan, 2019). Imajinasi
pengarang tersebut diolah berdasarkan pengalaman, pandangan, tafsiran,
kecendekiaan, wawasan, dan penilaiannya terhadap berbagai peristiwa, baik
peristiwa nyata maupun peristiwa hasil rekaan (Rubin, 2008). Teks fiksi dinikmati
pembaca sebagai sarana hiburan. Berikut contoh teks fiksi.
68
Cici dan Serigala
Karya Lilik Choir
Sore itu tiga kelinci kecil, Cici, Pusi, dan Upi bermain bersama
di tempat lapang di hutan. Tiba-tiba Cici melihat sesuatu tergeletak
dalam bungkus plastik. “Hai teman-teman… lihatlah!” Cici berteriak
sambil menunjuk ke arah bungkusan plastik. “Wah…..makanan teman-
teman…,” teriak Upi.
“Asyik….sore ini kita makan enak…,” Pusi bersorak kegirangan. Cici
mengambil kue itu, membuka bungkusnya dan tercium aroma harum
dari kue itu. Tiba-tiba muncul niat liciknya.“Ah… pasti nikmat sekali
apalagi jika ku makan sendiri tanpa berbagi dengan mereka,”
gumamnya dalam hati.
“Teman-teman sepertinya kue ini bekal Pak Tukang Kayu yang sering
ke hutan ini, mungkin dia baru saja ke sini dan belum pergi terlalu jauh.
Bagaimana jika ku susul kan kue ini, bukankah menolong orang juga
perbuatan mulia?” Cici meyakinkan temannya.
Raut kecewa tergambar di wajah Upi dan Pusi. Mereka gagal
makan kue yang beraroma lezat itu. Cici berlari menjauhi temannya dan
memakan kue itu sendiri. Tiba-tiba…Bruuukk…!!
“Aaahgg….tolooooong…,” Cici menjerit keras. Seekor serigala muncul
dari balik semak dan langsung menerkam tubuh mungil Cici. Cici pun
menangis dan terus berteriak minta tolong. Cici memutar otak mencari
cara bagaimana agar ia bisa bebas dari cengkeraman serigala itu.
Akhirnya, ia mendapatkan ide. “Pak Serigala, aku punya dua teman
disana. Bagaimana jika mereka kujemput ke sini supaya kamu dapat
makan lebih banyak lagi?” Cici berusaha mengelabui Serigala itu.
“Baiklah, segera panggil mereka tapi aku harus ikut di beakangmu,”
jawab Serigala. “Pelan-pelan saja ya, supaya meraka tidak mendengar
langkah kakimu. Aku khawatir meraka akan lari ketakutan.”Cici pun
berlari ke arah teman-temannya yang ditinggalkan tadi. Sementara
Serigala mengikutinya dengan langkah pelan. Menyadari hal itu, Cici
berlari sekuat tenaga sambil sesekali memenggil temannya.
“Ups…..!”, kaki Cici tiba-tiba terasa ada yang menarik. Ia pun menjerit
dan bahkan tidak berani membuka mata.
“Jangan Pak Serigala…..Jangan makan aku, ampuni aku.” “Sst….., ini
aku Ci, bukalah matamu, ini Upi dan Pusi.” “Ayo cepat Ci…..” dengan
rasa kebersamaan mereka pun akhirnya selamat. Napas mereka
tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Cici menangis tersedu-sedu.
“Hik…hik….maafkan aku teman-teman, aku bersalah pada kalian. Aku
telah berbohong,” Cici akhirnya menceritakan kejadian yang
sebenarnya.
Temannya tidak marah apalagi membencinya. Cici pun berjanji
tidak akan mengulanginya lagi. “Sudahlah Cic, kami memaafkanmu,”
kata Pusi dengan bijak. “Terima kasih kawan, aku janji tidak akan
mengulanginya lagi” jawab Cici dengan tulus.
(Choir dalam Kosasih, 2019)
69
Bahasa tulisan teks fiksi bermakna denotatif, konotatif, asosiatif, ekspresif,
sugestif, dan plastis. Denotatif adalah makna sebenarnya atau makna yang sesuai
dengan pengertian yang dikandung oleh kata tersebut. Berikut contoh kata yang
mengandung makna denotatif. “ Dia adalah wanita cantik”. Kata cantik ini
diucapkan oleh seorang pria terhadap wanita yang berkulit putih, berhidung
mancung, mempunyai mata yang indah dan berambut hitam legam. “Nita sedang
tidur di dalam kamarnya” Kata tidur ini mengandung makna denotatif bahwa Nita
sedang beristirahat dengan memejamkan matanya (tidur).
Konotatif adalah bukan makna sebenarnya, mempunyai makna tautan..
Dengan kata lain, makna kias atau makna tambahan. Berikut contoh kata yang
mengandung makna konotatif.
Dialah bunga idamanku seorang (kekasih)
Kata bunga selain bermakna denotatif sebagai bagian tumbuhan yang akan
menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya. Bunga juga memiliki
makna sampingan (konotatif) akibat asosiasi terhadap barang lain seperti
tampak pada contoh berikut.
Ekspresif yaitu membayangkan suasana pribadi pengarang. Berikut contoh
kata yang mengandung makna ekspresif.
Wajahnya itu mengingatkanku pada rembulan yang mewujud purnama yang
selalu kulihat di malam ketiga belas ataupun di malam keempat belas.
Dari kutipan di atas, pembaca dapat membayangkan suasana pribadi
pengarang yang bahagia.
Sugestif bersifat mempengaruhi pembaca. Berikut contoh teks yang
mengandung makna sugestif.
Hari senin merupakan hari yang sangat melelahkan, karena suasana liburan
masih terasa saat rutinitas kembali. Jika pada umumnya hari senin adalah awal
semangat berutinitas namun hal itu tidak terjadi padaku. Berawal dari pagi hari
yang dimulai untuk mempersiapkan alat alat sekolah. Dilanjutkan dengan rutinitas
sekolah yang membuatku merasa masih ingin merasakan lebih lama liburan.
Rutinitas sekolahku selesai pada pukul 3 sore. Saat sesampainya dirumah aku
segera mandi dan makan sembari beristirahat sejenak. Istirahatpun tidak teralu
lama karena harus mengerjakan tugas tugas sekolah yang belum selesai aku
kerjakan (Amran & Rozak, 2003).
70
Paragraf diatas termasuk kedalam contoh teks yang mengandung makna
sugestif karena membujuk pembaca baik orang tua maupun anak-anak untuk
mengerjakan tugas dan rajin sekolah.Secara tidak langsung, tokoh Aku
mempengaruhi pembaca melalui pengalamannya, walaupun rutinitas hari senin
sangat banyak, tapi tokoh Aku tetap menyelesaikan tugas sekolahnya.
Plastis yaitu bersifat indah untuk menggugah perasaan pembaca. Berikut
contoh kata yang mengandung makna plastis.
Matahari menunjukkan senyumannya, awan-awan putih seakan menjadi
perhiasan langit biru yang membentang bagai gulungan kertas polos. Benar-benar
hari yang cerah. Cocok untuk menghabiskan waktu Minggu di luar bersama
keluarga, teman, kerabat, dan sejenisnya (Manulamarmar dalam Amran & Zaidan,
A, 2003).
Teks fiksi merupakan satu organisasi yang didukung oleh berbagai unsur
yang terjalin satu sama lain dan yang secara bersama-sama membangun cerita.
Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut.
1) Tema
Tema merupakan ide atau gagasan yang ingin disampaikan pengarang
dalam ceritanya. Menurut Stanton (2012), “Tema adalah aspek cerita yang sejajar
dengan ‘makna’ dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu
pengalaman begitu diingat. Kosasih (2008) berpendapat bahwa, “Tema banyak
dipengaruhi oleh kehidupan zamannya”.
Semi (2007) berpendapat bahwa, “Tema tidak lain dari suatu gagasan
sentral yang menjadi dasar penyusunan karagan dan sekaligus menjadi sasaran
dari karangan tersebut, dan tema itu mencakup persoalan tentang tujuan atau
amanat pengarang kepada pembaca”. Aminuddin (2014), “Menjelaskan untuk
memahami tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah, yaitu:
a) memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca;
b) memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang
dibaca;
c) memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam
prosa fiksi yang di baca;
71
d) memahami plot atau alur cerita dalan prosa fiksi yang dibaca;
e) menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan lainnya dan
disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa terpapar dalam suatu cerita;
f) menentukan sikap penngarang terhadap pokok-pokok pikiran yang
ditampilkannya;
g) mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak
dari satuan pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang
ditampilkan;
h) menafsirkan tema dalam cerita yang cibaca serta menyimpulkan dalam satu
dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan
pengarangnya.
Berikut contoh langkah-langkah menemukan tema.
Serigala dan Kelinci Langkah-langkah Menentukan
yang Keras Kepala Tema
Pada zaman dahulu, hiduplah seekor 1. Setting (latar) cerita “Serigala dan
serigala. Ia mempunyai kebun Kelinci yang Keras Kepala” yaitu
mentimun yang sekelilingnya di kebun mentimun milik serigala
dipagari duri. Hal itu dimaksudkan dan di dalam lubang tempat
agar manusia dan hewan-hewan lain tinggal kelinci dan ibunya.
tidak bias memasuki kebunnya. 2. Ada tiga tokoh dalam cerita
Tidak jauh dari kebun itu, terdapat “Serigala dan Kelinci yang Keras
seekor Kelinci kecil bersama ibunya Kepala”, yaituserigala, kelinci,
yang tinggal di sebuah lubang. dan ibu si kelinci.Kelinci bewatak
Kelinci ini selalu keluar dari keras kepala, serigala cerdik, ibu
lubangnya dan menunggu sampai si kelinci penyayang dan sabar.
serigala pergi meninggalkan lading 3. Serigala mempunyai kebun
untuk mencari ayam atau yang mentimun yang sekelilingnya
lainnya untuk dimakan. Setelah dipagari duri, tujuannya agar
merasa yakin serigala telah pergi, hewan-hewan lain tidak bisa
Kelinci keluar dari lubang, lalu memasuki kebunnya - kelinci
melompat dan masuk ke kebun melompat dan masuk ke kebun
dengan melewati bawah pagar duri. dengan melewati pagar duri, ia
Ia memakan mentimun dan memakan mentimun dan
memotongnya. Setelah itu, ia memotongnya - kelinci kembali
kembali ke lubang. Ibunya selalu ke lubang - ibunya mengingatkan
mengingatkannya agar waspada dari agar selalu waspada dari ancaman
serigala. Serigala melakukan –
ancaman serigala.
“Janganlah engkau pergi ke kebun serigala melakukan pengintaian
72
mentimun, Annaku. Dengarkan untuk mengetahui siapa yang
nasihat ibu. Jangan kau pergi ke selalu memasuki kebunnya –
kebun itu. Jika serigala serigala bersembunyi di balik
pohon – kelinci masuk ke kebun
menangkapmu, ia akan dari bawah kawat berduri –
memakanmu,” kata ibunya. kelinci memakan mentimun –
serigala menyerang kelinci –
Sementara itu, setiap kali serigala
pulang, ia menemukan buah
mentimunnya telah dimakan dan serigala tidak berhasil menangkap
terpotong. Ia heran dan berpikir, kelinci – serigala mencari siasat
siapa gerangan yang masuk dari untuk menangkap dan menjebak
pagar dan memakan mentimunnya. kelinci –serigala mengumpulkan
Suatu hari serigala bermaksud getah pohon karet – getah karet
melakukan pengintaian untuk dijadikan sebuah patung yang
mengetahui siapa yang selalu mirip dengan kelinci dan
memasuki kebunnya. Ia bersembunyi diletakkan di tengah lading –
di balik pohon dan menunggu siapa kelinci menghampiri kelinci
gerangan yang datang. Tiba-tiba, buatan –kelinci teperangkap
seperti biasa, Kelinci kecil keluar dalam getah karet – serigala
dari lubangnya dan melompat- melemparkan kelinci kea rah duri
lompat, masuk dari bawah kawat – kelinci melompat masuk lubang
berduri. Setelah sampai di kebun, ia untuk menemui ibunya dengan
mulai memakan mentimun. kondisi bulu yang rontok.
Mengetahui hal itu, Serigala segera 4. Alur yang digunakan dalam cerita
menyerangnya. Ia berlari dengan “Serigala dan Kelinci yang Keras
cepat dan memasuki kebunnya. Kepala” adalah alur maju.
Namun demikian, Serigala tidak 5. Berdasarkan analisis pada nomor 1-
berhasil menangkap Kelinci kecil itu. 4, dapat disimpulkan bahwa tema
Kemudian Kelinci kecil masuk ke
lubangnya dan mendatangi ibunya “Serigala dan Kelinci yang Keras
Kepala” tentangkenakalan
dengan terengah-engah. seorang anak kelinci. Akibat
“Apa yang terjasi?” tanya ibunya. kenakalannya tersebut, si kelinci
mendapatkan akibatnya.
Lalu kelinci menceritakan apa yang
terjadi dengan serigala. “Bukankah
telah aku peringatkan jangan kau
pergi ke kebun itu?’ kata ibunya lagi.
Tetapi kelinci itu keras kepala dan
tidak pernah mendengar ucapan
ibunya. Setiap hari ia masih selalu
datang ke kebun itu di saat Serigala
pergi. Akhirnya, Serigala mencari
siasat untuk menjebak dan
menangkap Kelinci yang keras
kepala itu. Ia pergi dan
mengumpulkan getah dari pohon
karet yang ada di sekelilingnya.
Getah ini dijadikan sebuah patung
73
kelinci buatan yang mirip dengan
Kelinci keras kepala itu dan
melatakannya di tengah lading.
Ketika Kelinci keluar dari lubang
dan masuk dari pagar berduri seperti
biasanya, ia melihat ada yang
menyerupainya di tengah kebun. Ia
mengira itu kelinci lain. Kemudian
Kelinci Kecil menghampiri kelinci
buatan yang berdiri di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di kebun ini?
Apa yang kau inginkan? Kau kira
kau lebih kuat dari diriku? tanya
Kelinci Kecil kesal. Ia memukulnya
dengan tangan kanannya. Tangannya
menyentuh kelinci getah itu, dan
tentu saja ia tidak dapat
melepaskannya.
Kelinci buatan itu seolah
menggerakkan tangannya dan
menangkap tangan kanan Kelinci
Kecil sehingga ia tidak dapat
melapaskan tangannya.
“Ugh! Kau memegang tanganku?”
hardik Kelinci Kecil sambil
memukul dengan tangan kirinya.
Kelinci nakal itu berusaha
melepaskan tangannya. Ia bergerak
ke kiri dan ke kanan, tetapi tetap
tidak berhasil. Karena gerakannya
itu, kelinci getah menyentuh bulu
dan ekornya. Pada saat itu, keluarlah
Serigala dari balik pohon.
“Sekarang kau terkena tipuanku, aku
akan meninggalkanmu agar kau
tersiksa oleh getah ini,” kata serigala
sambil menyeringai puas.
“Aku senang seperti ini. Getah ini
tidak menyakitiku. Aku akan merasa
sakit jika kau lemparkan aku ke atas
duri itu,” kata Kelinci Kecil sambil
matanya mengerling kea rah duri
pagar.
“Baik, jika duri membuatmu sakit,
aku akan melemparkanmu ke sana,”
ujar Serigala kesal. Kemudian ia
74
menangkap Kelinci dan
melemparkannya ke arah duri.
Sebenarnya ucapan Kelinci tadi
hanya siasat saja, agar ia dapat
melepaskan diri dari getah itu. Ketika
Serigala melemparkannya ke duri, ia
segara melompat dan melompat, lalu
berlari jauh, masuk lubang untuk
menemui ibunya kembali.
Ketika sang ibu melihatnya, ia kaget
melihat bulu-bulu anaknya rontok,
kulitnya terkena getah, dan ekornya
terkelupas.
“Apa yang terjadi padamu? tanya
ibunya.
Kelinci menceritakan apa yang telah
dialaminya.
“Engkau pantas mendapatkan ini. Ini
adalah balasan bagi anak kelinci
yang keras kepala dan tidak mau
mematuhi nasihat ibunya.”
Sejak saat itu Kelinci tidak pernah
lagi ke kebun Serigala. (Abdul Majis
dalam Kosasih, 2019)
2) Perwatakan
Perwatakan adalah karakteristik dari tokoh dalam cerita (Budihastuti, 2015).
Penyampaian perwatakan tokoh tergantung pada pengarangnya. Ada yang sekali
saja gambaran itu ditampilkan, pembaca sudah merasakan adanya watak tokoh.
Namun tidak jarang pula pengarang melibatkan tokoh dalam kejadian-kejadian
tertentu untuk menggambarkan watak tokohnya. Pernyataan tersebut sejalan
dengan pendapat Kaufman dan Libby (2012) dan Al Alami (2016), “Bahwa
pengarang menyuguhkan perwatakan dengan berbagai macam kepribadian,
perspektif, peristiwa, hasil, dan realisasi. Tidak jarang juga gambaran perwatakan
dapat mencerminkan bagaimana kualitas teks fiksi, jika pengarang dapat
menciptakan tokoh dengan perwatakan menarik, pembaca tidak akan jenuh
membacanya. Pernyataan tersebut didukung oleh Shaw (2013), “Bahwa
perwatakan tokoh dirancang untuk melihat kualitas suatu cerpen. Dengan
memahami unsur perwatakaan, pembaca dapat mengindentifikasi dan menafsikan
tokoh-tokoh dalam teks fiksi. Berikut contoh perwatakan dalam teks fiksi.
75
Serigala dan Kelinci Tokoh dan Perwatakan
yang Keras Kepala
Pada zaman dahulu, hiduplah seekor Kelinci berwatak keras kepala
serigala. Ia mempunyai kebun
mentimun yang sekelilingnya dipagari Serigala berwatak cerdik
duri. Hal itu dimaksudkan agar Ibu si kelinci berwatak penyabar dan
manusia dan hewan-hewan lain tidak penyayang
bias memasuki kebunnya.
Tidak jauh dari kebun itu, terdapat
seekor Kelinci kecil bersama ibunya
yang tinggal di sebuah lubang. Kelinci
ini selalu keluar dari lubangnya dan
menunggu sampai serigala pergi
meninggalkan lading untuk mencari
ayam atau yang lainnya untuk
dimakan. Setelah merasa yakin serigala
telah pergi, Kelinci keluar dari lubang,
lalu melompat dan masuk ke kebun
dengan melewati bawah pagar duri. Ia
memakan mentimun dan
memotongnya. Setelah itu, ia kembali
ke lubang. Ibunya selalu
mengingatkannya agar waspada dari
ancaman serigala.
“Janganlah engkau pergi ke kebun
mentimun, Annaku. Dengarkan nasihat
ibu. Jangan kau pergi ke kebun itu. Jika
serigala menangkapmu, ia akan
memakanmu,” kata ibunya. Sementara
itu, setiap kali serigala pulang, ia
menemukan buah mentimunnya telah
dimakan dan terpotong. Ia heran dan
berpikir, siapa gerangan yang masuk
dari pagar dan memakan mentimunnya.
Suatu hari serigala bermaksud
melakukan pengintaian untuk
mengetahui siapa yang selalu
memasuki kebunnya. Ia bersembunyi
di balik pohon dan menunggu siapa
gerangan yang datang. Tiba-tiba,
seperti biasa, Kelinci kecil keluar dari
lubangnya dan melompat-lompat,
76
masuk dari bawah kawat berduri.
Setelah sampai di kebun, ia mulai
memakan mentimun.
Mengetahui hal itu, Serigala segera
menyerangnya. Ia berlari dengan cepat
dan memasuki kebunnya. Namun
demikian, Serigala tidak berhasil
menangkap Kelinci kecil itu.
Kemudian Kelinci kecil masuk ke
lubangnya dan mendatangi ibunya
dengan terengah-engah.
“Apa yang terjasi?” tanya ibunya. Lalu
kelinci menceritakan apa yang terjadi
dengan serigala. “Bukankah telah aku
peringatkan jangan kau pergi ke kebun
itu?’ kata ibunya lagi.
Tetapi kelinci itu keras kepala dan
tidak pernah mendengar ucapan
ibunya. Setiap hari ia masih selalu
datang ke kebun itu di saat Serigala
pergi. Akhirnya, Serigala mencari
siasat untuk menjebak dan menangkap
Kelinci yang keras kepala itu. Ia pergi
dan mengumpulkan getah dari pohon
karet yang ada di sekelilingnya. Getah
ini dijadikan sebuah patung kelinci
buatan yang mirip dengan Kelinci
keras kepala itu dan melatakannya di
tengah lading. Ketika Kelinci keluar
dari lubang dan masuk dari pagar
berduri seperti biasanya, ia melihat ada
yang menyerupainya di tengah kebun.
Ia mengira itu kelinci lain. Kemudian
Kelinci Kecil menghampiri kelinci
buatan yang berdiri di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di kebun ini?
Apa yang kau inginkan? Kau kira kau
lebih kuat dari diriku? tanya Kelinci
Kecil kesal. Ia memukulnya dengan
tangan kanannya. Tangannya
menyentuh kelinci getah itu, dan tentu
saja ia tidak dapat melepaskannya.
Kelinci buatan itu seolah
menggerakkan tangannya dan
menangkap tangan kanan Kelinci Kecil
sehingga ia tidak dapat melapaskan
77
tangannya.
“Ugh! Kau memegang tanganku?”
hardik Kelinci Kecil sambil memukul
dengan tangan kirinya. Kelinci nakal
itu berusaha melepaskan tangannya. Ia
bergerak ke kiri dan ke kanan, tetapi
tetap tidak berhasil. Karena gerakannya
itu, kelinci getah menyentuh bulu dan
ekornya. Pada saat itu, keluarlah
Serigala dari balik pohon.
“Sekarang kau terkena tipuanku, aku
akan meninggalkanmu agar kau
tersiksa oleh getah ini,” kata serigala
sambil menyeringai puas.
“Aku senang seperti ini. Getah ini tidak
menyakitiku. Aku akan merasa sakit
jika kau lemparkan aku ke atas duri
itu,” kata Kelinci Kecil sambil matanya
mengerling kea rah duri pagar.
“Baik, jika duri membuatmu sakit, aku
akan melemparkanmu ke sana,” ujar
Serigala kesal. Kemudian ia
menangkap Kelinci dan
melemparkannya ke arah duri.
Sebenarnya ucapan Kelinci tadi hanya
siasat saja, agar ia dapat melepaskan
diri dari getah itu. Ketika Serigala
melemparkannya ke duri, ia segara
melompat dan melompat, lalu berlari
jauh, masuk lubang untuk menemui
ibunya kembali.
Ketika sang ibu melihatnya, ia kaget
melihat bulu-bulu anaknya rontok,
kulitnya terkena getah, dan ekornya
terkelupas.
“Apa yang terjadi padamu? tanya
ibunya.
Kelinci menceritakan apa yang telah
dialaminya.
“Engkau pantas mendapatkan ini. Ini
adalah balasan bagi anak kelinci yang
keras kepala dan tidak mau mematuhi
nasihat ibunya.”
Sejak saat itu Kelinci tidak pernah lagi
ke kebun Serigala. (Abdul Majis dalam
Kosasih, 2019)
78
3) Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa dalam cerita yang terhubung secara kasual
(Stanton 2012). Alur tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada
keseluruhan cerita.Agar pengolahan ide dapat termatangkan dengan baik dan
menghasilkan alur yang mengalir, maka perlu dirancang struktur cerita dengan
berpedoman pada 5W + 1 H, yakni: who (siapa tokoh-tokohnya), what (konflik
apa yang disajikan agar cerita menarik), when (kapan berlangsungnya cerita itu),
where (dimana cerita itu terjadi), why (mengapa/apa motivasi para pelakunya
berbuat demikian), dan how (bagaimana meresolusi konflik yang ada) (Pranoto,
2015). Berikut contoh analisis alur.
Alur cerita terdiri dari beberapa tahap.
a) Tahap pengenalan (Eksposition atau Orientasi)
Tahap pengenalan merupakan tahapan awal cerita yang digunakan untuk
mengenalkan tokoh, latar, situasi, waktu, dan lain sebagainya.
b) Tahap pemunculan konflik (Rising action)
Tahap pemunculan konflik merupakan tahap dimunculkannya masalah.
Tahap ini ditSaudarai dengan adanya ketegangan atau pertentangan antar tokoh.
c) Tahap konflik memuncak (Turning point atau Klimaks)
Tahap konflik memuncak atau biasa disebut klimaks merupakan tahap di
mana permasalahan atau ketegangan berada pada titik paling puncak.
d) Tahap konflik menurun (Antiklimaks)
Tahap konflik menurun atau biasa disebut antiklimaks merupakan tahap di
mana masalah mulai dapat diatasi dan ketegangan berangsur-angsur menghilang.
e) Tahap penyelesaian (Resolution)
Tahap penyelesaian merupakan tahap di mana konflik sudah terselesaikan.
Sudah tidak ada permasalahan maupun ketegangan antar tokohnya, karena telah
menemukan penyelesaiannya. (Pranoto 2015)
Secara umum, alur dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam. Pembagian
ini didasarkan pada urutan waktu atau kronologisnya.
79
1. Alur Maju
Alur maju atau bisa disebut progresif adalah sebuah alur yang klimaksnya
berada di akhir cerita. Rangkaian peristiwa dalam alur maju berawal dari masa
awal hingga masa akhir cerita dengan urutan waktu yang teratur dan beruntut.
Tahapan pada Alur maju adalah sebagai berikut.
Pengenalan → Muncul konflik → Klimaks → Antiklimaks → Penyelesaian
2. Alur Mundur
Alur mundur atau bisa disebut regresi adalah sebuah alur yang
menceritakan masa lampau yang menjadi klimaks di awal cerita. Rangkaian
peristiwa dalam alur mundur berawal dari masa lampau ke masa kini dengan
susunan waktu yang tidak sesuai dan tidak beruntut.
Tahapan pada Alur mundur adalah sebagai berikut.
Penyelesaian → Antiklimaks → Klimaks → Muncul konflik → Pengenalan
3. Alur Campuran
Alur campuran atau bisa disebut alur maju-mundur adalah alur yang diawali
dengan klimaks, kemudian menceritakan masa lampau, dan dilanjutkan hingga
tahap penyelesaian. Pada saat menceritakan masa lampau, tokoh dalam cerita
dikenalkan sehingga saat cerita satu belum selesai, kembali ke awal cerita untuk
memperkenalkan tokoh lainnya.Tahapan pada Alur campuran adalah sebagai
berikut. Klimaks → Muncul konflik → Pengenalan→ Antiklimaks →
Penyelesaian. (Pranoto 2015).
Berikut disajikan contoh analisi alur.
Impian
Rena hidup sebatang kara dengan neneknya di rumah reyot yang
berada di pinggir desa. Dia adalah anak yang pSaudarai sehingga para
guru di sekolahnya sangat menyanjungnya. Suatu hari dia telah lulus
SMA. Dia sangat ingin melanjutkan sekolahnya di kota. Karena
kepSaudaraiannya dia berhasil masuk lewat jalur beasiswa di PTN
ternama dikota terdekat. Neneknya yang sudah tua terpaksa dia
tinggal. Karena rumahnya yang berada di tepi desa, dia tidak memiliki
tetangga dekat.
Dia meminta izin kepada neneknya, namun neneknya tidak
memberinya izin. Rena sangat marah pada neneknya yang
menghalangi niatnya. Neneknya mencoba menjelaskan kepada Rena
80
alasannya, namun Rena tidak menggubrisnya. Nenek mencoba
merayu Rena, tapi Rena semakin merasa bahwa hidupnya tidak adil.
Selama beberapa hari Rena tidak berbicara pada neneknya. Rena
merencanakan kabur dari rumah untuk menggapai cita-citanya. Dia
tidak peduli lagi dengan neneknya yang dianggapnya telah
menghalangi impiannya. Setelah sampai di Kota dia merasa terbebas
dengan beban mengurus neneknya.
Sambil kuliah dia bekerja di rumah makan sebagai pelayan.
Suatu malam ketika dia pulang kerja dia melihat pengemis renta yang
masih menengadahkan tangannya. Dinginnya malam tidak membuat
pengemis tersebut terhentak untuk pulang. Rena teringat pada nenek
yang telah menjaganya saat kedua orang tuanya telah menghadap sang
pencipta. Dia merasa terbebena dan berdosa. Dia mulai kalut dengan
beribu macam pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Buat apa aku
meraih impianku, jika orang yang seharusnya paling bahagia atas
kesuksesanku menderita? Buat apa aku berada di puncak jika,
syurgaku tak merasakan kenikmatan? Bagaimana aku tersenyum, jika
yang terpenting di dunia ini merintih?
Setelah mematung cukup lama, Rena memutuskan untuk pulang
ke kampung halamannya malam itu juga. Dia sudah tidak sabar
bertemu neneknya. Sampailah ia di rumah reyot yang menjadi saksi
kedewasaanya. Di lihatnya nenek yang masih menata barang
dagangan yang diambil dari kebun tetangga, untuk dibawanya ke
pasar. Tak kuasa dia menahan tangisannya lagi. Dia sebut dengan
lantang sapaan tercinta, dan dia peluk tubuh keriput penuh peluh
tersebut. Rena berjanji akan selalu berada di dekat neneknya.
Akhirnya Rena tidak melanjutkan studinya di kota. Dia habiskan
waktunya untuk membantu mengajar anak-anak putus sekolah di
desanya. Hidupnya sekarang lebih tenang dan bahagia dari pada saat
dia menggapai impiannya tapi membuang muka terhadap apa yang
ada di sekitarnya.
Tahap Peristiwa
Gadis bernama Rena hidup dengan neneknya di rumah
Pengenalan
reyot, pinggiran desa
Muncul Rena telah lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliahnya di Kota.
konflik Rena mendapatkan beasiswa karena kecerdasannya.
Klimaks Rena meminta izin untuk meninggalkan desa dan tinggal di kota
untuk kuliah. Nenek Rena tidak mengizinkan sehingga membuat
81
Rena marah dan memutuskan untuk melarkan diri dari rumah.
Sepulang dari kerja sambilannya Rena melihat pengemis renta. Hal
Antiklimaks ini mengigatkannya dengan neneknya di Desa. Rena mulai berpikir
untuk apa studinya jika neneknya tetap menderita.
Rena memutuskan pulang untuk bertemu neneknya. Dia
Penyelesaian memutuskan keluar dari studinya, dan membantu anak-anak putus
sekolah di desanya agar tetap dapat belajar.
Berdasarkan tahapan pada alur cerita cerpen “Impian” tersebut, dapat disimpulkan
bahwa cerpen tersebut memiliki alur maju.
4) Latar
Latar merupakan salah satu unsur yang turut membangun isi dari sebuah
cerita. Sebuah cerita harus jelas tempat, ruang, dan suasana cerita itu berlangsung.
Latar adalah gambaran tentang tempat, waktu, dan suasana dialami oleh tokoh
(Siswanto, 2008). Latar dibagi menjadi: a) latar tempat, yakni lokasi terjadinya
peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, baik dapat dijumpai dalam
dunia nyata ataupun tempat tertentu yang tidak disebutkan secara jelas (pembaca
harus menebak sendiri); b) latar waktu, yakni kapan terjadinya peristiwa-peristiwa
yang diceritakan dalam cerpen; dan c) latar sosial, yakni hal-hal yang
berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat suatu tempat yang
diceritakan dalam cerpen, misalnya: kebiasaan hidup, adat-istiadat, tradisi,
pSaudarangan hidup, pola pikir dan bersikap Rahmanto (1988). Berikut contoh
latar dalam cerita “Serigala dan Kelinci yang Keras Kepala.”
Serigala dan Kelinci Latar
yang Keras Kepala
Pada zaman dahulu, hiduplah Latar tempat cerita “Serigala dan
Kelinci yang Keras Kepala”
seekor serigala. Ia mempunyai
berlangsung di kebun mentimun milik
kebun mentimun yang serigala dan di lubang tempat tinggal
sekelilingnya dipagari duri. Hal itu
82
imaksudkan agar manusia dan kelinci dan ibunya. Hal ini bias dilihat
hewan-hewan lain tidak bias dari kutipan berikut.
memasuki kebunnya. Tidak jauh dari kebun itu,
Tidak jauh dari kebun itu, terdapat terdapat seekor Kelinci kecil bersama
seekor Kelinci kecil bersama ibunya yang tinggal di sebuah lubang.
ibunya yang tinggal di sebuah Kelinci ini selalu keluar dari lubangnya
lubang. Kelinci ini selalu keluar dan menunggu sampai serigala pergi
dari lubangnya dan menunggu meninggalkan lading untuk mencari
sampai serigala pergi meninggalkan ayam atau yang lainnya untuk dimakan.
lading untuk mencari ayam atau Setelah merasa yakin serigala telah
yang lainnya untuk dimakan. pergi, Kelinci keluar dari lubang, lalu
Setelah merasa yakin serigala telah melompat dan masuk ke kebun dengan
pergi, Kelinci keluar dari lubang, melewati bawah pagar duri.
lalu melompat dan masuk ke kebun Cerita “Serigala dan Kelinci yang
dengan melewati bawah pagar duri. Keras Kepala” berlangsung dalam
Ia memakan mentimun dan waktu berhari-hari. Hal ini ditSaudarai
memotongnya. Setelah itu, ia oleh kata “suatu hari”, dan “setiap hari”.
kembali ke lubang. Ibunya selalu Suatu hari serigala bermaksud
mengingatkannya agar waspada melakukan pengintaian untuk
dari ancaman serigala. mengetahui siapa yang selalu memasuki
“Janganlah engkau pergi ke kebun kebunnya.
mentimun, Annaku. Dengarkan Setiap hari ia masih selalu
nasihat ibu. Jangan kau pergi ke datang ke kebun itu di saat Serigala
kebun itu. Jika serigala pergi.
menangkapmu, ia akan Cerita ini berlangsung di lingkungan
memakanmu,” kata ibunya. kehidupan serigala, kelinci, dan ibu si
Sementara itu, setiap kali serigala kelinci, yang bersaing untuk
pulang, ia menemukan buah mendapatkan makanan.
mentimunnya telah dimakan dan
terpotong. Ia heran dan berpikir,
siapa gerangan yang masuk dari
pagar dan memakan mentimunnya.
Suatu hari serigalabermaksud
melakukan pengintaian untuk
mengetahui siapa yang selalu
memasuki kebunnya. Ia
bersembunyi di balik pohon dan
menunggu siapa gerangan yang
datang. Tiba-tiba, seperti biasa,
Kelinci kecil keluar dari lubangnya
dan melompat-lompat, masuk dari
bawah kawat berduri. Setelah
sampai di kebun, ia mulai memakan
mentimun.
Mengetahui hal itu, Serigala segera
menyerangnya. Ia berlari dengan
83
cepat dan memasuki kebunnya.
Namun demikian, Serigala tidak
berhasil menangkap Kelinci kecil
itu. Kemudian Kelinci kecil masuk
ke lubangnya dan
mendatangi ibunya dengan
terengah-engah. “Apa yang
terjasi?” tanya ibunya. Lalu kelinci
menceritakan apa yang terjadi
dengan serigala. “Bukankah telah
aku peringatkan jangan kau pergi ke
kebun itu?’ kata ibunya lagi.
Tetapi kelinci itu keras kepala dan
tidak pernah mendengar ucapan
ibunya. Setiap hari ia masih selalu
datang ke kebun itu di saat Serigala
pergi. Akhirnya, Serigala mencari
siasat untuk menjebak dan
menangkap Kelinci yang keras
kepala itu. Ia pergi dan
mengumpulkan getah dari pohon
karet yang ada di sekelilingnya.
Getah ini dijadikan sebuah patung
kelinci buatan yang mirip dengan
Kelinci keras kepala itu dan
melatakannya di tengah lading.
Ketika Kelinci keluar dari lubang
dan masuk dari pagar berduri
seperti biasanya, ia melihat ada
yang menyerupainya di tengah
kebun. Ia mengira itu kelinci lain.
Kemudian Kelinci Kecil
menghampiri kelinci buatan yang
berdiri di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di kebun
ini? Apa yang kau inginkan? Kau
kira kau lebih kuat dari diriku?
tanya Kelinci Kecil kesal. Ia
memukulnya dengan tangan
kanannya. Tangannya menyentuh
kelinci getah itu, dan tentu saja ia
tidak dapat melepaskannya.
Kelinci buatan itu seolah
menggerakkan tangannya dan
menangkap tangan kanan Kelinci
Kecil sehingga ia tidak dapat
84
melapaskan tangannya.
“Ugh! Kau memegang tanganku?”
hardik Kelinci Kecil sambil
memukul dengan tangan kirinya.
Kelinci nakal itu berusaha
melepaskan tangannya. Ia bergerak
ke kiri dan ke kanan, tetapi tetap
tidak berhasil. Karena gerakannya
itu, kelinci getah menyentuh bulu
dan ekornya. Pada saat itu,
keluarlah Serigala dari balik pohon.
“Sekarang kau terkena tipuanku,
aku akan meninggalkanmu agar kau
tersiksa oleh getah ini,” kata
serigala sambil menyeringai puas.
“Aku senang seperti ini. Getah ini
tidak menyakitiku. Aku akan
merasa sakit jika kau lemparkan
aku ke atas duri itu,” kata Kelinci
Kecil sambil matanya mengerling
kea rah duri pagar.
“Baik, jika duri membuatmu sakit,
aku akan melemparkanmu ke
sana,” ujar Serigala kesal.
Kemudian ia menangkap Kelinci
dan melemparkannya ke arah duri.
Sebenarnya ucapan Kelinci tadi
hanya siasat saja, agar ia dapat
melepaskan diri dari getah itu.
Ketika Serigala melemparkannya
ke duri, ia segara melompat dan
melompat, lalu berlari jauh, masuk
lubang untuk menemui ibunya
kembali.
Ketika sang ibu melihatnya, ia
kaget melihat bulu-bulu anaknya
rontok, kulitnya terkena getah, dan
ekornya terkelupas.
“Apa yang terjadi padamu? tanya
ibunya.
Kelinci menceritakan apa yang
telah dialaminya.
“Engkau pantas mendapatkan ini.
Ini adalah balasan bagi anak kelinci
yang keras kepala dan tidak mau
mematuhi nasihat ibunya.”
85
Sejak saat itu Kelinci tidak pernah
lagi ke kebun Serigala. (Abdul
Majis dalam Kosasih, 2019)
5) Amanat
Amanat adalah nilai-nilai yang dititipkan penulis cerita kepada pembacanya
(Ismawati, 2013). Amanat adalah suatu pesan yang disampaikan oleh penulis
kepada pembaca melalui sebuah tulisan atau cerita. Amanat biasanya
mencerminkan pandangan hidup pengarang, pandangan mengenai nilai- nilai
kebenaran yang ingin disampaikan oleh pengarang. Berikut disajikan contoh
amanat.
Serigala dan Kelinci yang Keras Kepala
Pada zaman dahulu, hiduplah seekor serigala. Ia mempunyai
kebun mentimun yang sekelilingnya dipagari duri. Hal itu
dimaksudkan agar manusia dan hewan-hewan lain tidak bias
memasuki kebunnya.
Tidak jauh dari kebun itu, terdapat seekor Kelinci kecil bersama
ibunya yang tinggal di sebuah lubang. Kelinci ini selalu keluar dari
lubangnya dan menunggu sampai serigala pergi meninggalkan lading
untuk mencari ayam atau yang lainnya untuk dimakan. Setelah merasa
yakin serigala telah pergi, Kelinci keluar dari lubang, lalu melompat
dan masuk ke kebun dengan melewati bawah pagar duri. Ia memakan
mentimun dan memotongnya.
Setelah itu, ia kembali ke lubang. Ibunya selalu
mengingatkannya agar waspada dari ancaman serigala. “Janganlah
engkau pergi ke kebun mentimun, Anaku. Dengarkan nasihat ibu.
Jangan kau pergi ke kebun itu. Jika serigala menangkapmu, ia akan
memakanmu,” kata ibunya. Sementara itu, setiap kali serigala pulang,
ia menemukan buah mentimunnya telah dimakan dan terpotong. Ia
heran dan berpikir, siapa gerangan yang masuk dari pagar dan
memakan mentimunnya.
Suatu hari serigala bermaksud melakukan pengintaian untuk
mengetahui siapa yang selalu memasuki kebunnya. Ia bersembunyi di
balik pohon dan menunggu siapa gerangan yang datang. Tiba-tiba,
seperti biasa, Kelinci kecil keluar dari lubangnya dan melompat-
lompat, masuk dari bawah kawat berduri. Setelah sampai di kebun, ia
mulai memakan mentimun.
Mengetahui hal itu, Serigala segera menyerangnya. Ia berlari
dengan cepat dan memasuki kebunnya. Namun demikian, Serigala
tidak berhasil menangkap Kelinci kecil itu. Kemudian Kelinci kecil
86
masuk ke lubangnya dan mendatangi ibunya dengan terengah-
engah.“Apa yang terjasi?” tanya ibunya. Lalu kelinci menceritakan
apa yang terjadi dengan serigala. “Bukankah telah aku peringatkan
jangan kau pergi ke kebun itu?’ kata ibunya lagi. Tetapi kelinci itu
keras kepala dan tidak pernah mendengar ucapan ibunya. Setiap hari
ia masih selalu datang ke kebun itu di saat Serigala pergi. Akhirnya,
Serigala mencari siasat untuk menjebak dan menangkap Kelinci yang
keras kepala itu. Ia pergi dan mengumpulkan getah dari pohon karet
yang ada di sekelilingnya. Getah ini dijadikan sebuah patung kelinci
buatan yang mirip dengan Kelinci keras kepala itu dan melatakannya
di tengah lading. Ketika Kelinci keluar dari lubang dan masuk dari
pagar berduri seperti biasanya, ia melihat ada yang menyerupainya di
tengah kebun. Ia mengira itu kelinci lain. Kemudian Kelinci Kecil
menghampiri kelinci buatan yang berdiri di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di kebun ini? Apa yang kau inginkan?
Kau kira kau lebih kuat dari diriku? tanya Kelinci Kecil kesal. Ia
memukulnya dengan tangan kanannya. Tangannya menyentuh kelinci
getah itu, dan tentu saja ia tidak dapat melepaskannya.Kelinci buatan
itu seolah menggerakkan tangannya dan menangkap tangan kanan
Kelinci Kecil sehingga ia tidak dapat melapaskan tangannya. “Ugh!
Kau memegang tanganku?” hardik Kelinci Kecil sambil memukul
dengan tangan kirinya. Kelinci nakal itu berusaha melepaskan
tangannya. Ia bergerak ke kiri dan ke kanan, tetapi tetap tidak berhasil.
Karena gerakannya itu, kelinci getah menyentuh bulu dan ekornya.
Pada saat itu, keluarlah Serigala dari balik pohon. “Sekarang kau
terkena tipuanku, aku akan meninggalkanmu agar kau tersiksa oleh
getah ini,” kata serigala sambil menyeringai puas. “Aku senang seperti
ini. Getah ini tidak menyakitiku. Aku akan merasa sakit jika kau
lemparkan aku ke atas duri itu,” kata Kelinci Kecil sambil matanya
mengerling kea rah duri pagar. “Baik, jika duri membuatmu sakit, aku
akan melemparkanmu ke sana,” ujar Serigala kesal. Kemudian ia
menangkap Kelinci dan melemparkannya ke arah duri. Sebenarnya
ucapan Kelinci tadi hanya siasat saja, agar ia dapat melepaskan diri
dari getah itu. Ketika Serigala melemparkannya ke duri, ia segara
melompat dan melompat, lalu berlari jauh, masuk lubang untuk
menemui ibunya kembali. Ketika sang ibu melihatnya, ia kaget
melihat bulu-bulu anaknya rontok, kulitnya terkena getah, dan
ekornya terkelupas. “Apa yang terjadi padamu? tanya ibunya. Kelinci
menceritakan apa yang telah dialaminya. “Engkau pantas
mendapatkan ini. Ini adalah balasan bagi anak kelinci yang keras
kepala dan tidak mau mematuhi nasihat ibunya.” Sejak saat itu Kelinci
tidak pernah lagi ke kebun Serigala.
(Abdul Majis dalam Kosasih, 2019)
87
Amanat yang terkandung dalam cerita di atas adalah seorang anak harus
mendengarkan dan mematuhi nasihat orang tua. Amanat tersebut disampaikan
melalui tokoh kelinci. Dalam cerita di atas disampaikan bahwa jika seorang anak
tidak mematuhi nasihat orang tuanya, maka dia akan mendapatkan kerugian,
seperti yang dialami oleh kelinci.
Secara umum ada beberapa karakter yang dapar diambil dari teks cerita
fiksi, seperti karakter: jujur, mencintai lingkungan, peduli sesama, toleransi, cinta
tanah air, kerja keras, disiplin, persahabatan, dsb.
b. Struktur, Fungsi dan Kaidah Kebahasaan Teks Fiksi
Teks fiksi memiliki struktur sebagai berikut:
(1) Orientasi, berisi pengenalan tema, tokoh, dan latar.
Contoh:
Ini cerita tentang pamanku, Badi namanya. Ia seorang lurah di
desanya. Warga biasa memanggilnya dengan sebutan Pak Lurah saja.
Aku tidak tahu apakah mereka ingat nama asli pamanku. Tetapi aku
tahu mereka mengenal dekat, hormat, serta sayang pada beliau.
(2) Komplikasi, berisi cerita tentang masalah yang dialami tokoh utama. Pada
bagian ini peristiwa-peristiwa di luar nalar ini biasanya terjadi.
Contoh:
Bukan hanya memikirkan kesejahteraan warganya, pamanku
juga selalu bermusyawarah dengan warga sebelum menentukan
kebijakan. Aku ingat, pernah sekali waktu sekelompok investor datang
menemui paman. Mereka ingin membangun toko swalayan di desa.
Sebagai lurah, paman bisa saja langsung menyetujui. Tentu akan ada
imbalan yang tak sedikit untuknya. Tetapi paman justru
mengumpulkan warga untuk berdiskusi. Dikemukakannya dampak
positif dan negatif jika ada toko swalayan di desa mereka. Sebagian
besar warga tidak setuju karena khawatir akan mengalahkan usaha
kecil warga di warung dan pasar tradisional. Maka tanpa ragu paman
pun menolak rencana pembangunan toko swalayan tersebut.
(3) Resolusi, merupakan bagian penyelesaian dari masalah yang dialami tokoh.
Contoh: Aku yakin, banyak warga yang ingin dipimpin oleh lurah
seperti Pak Badi, pamanku. Seorang pemimpin yang memilih untuk
tidak menjulang tinggi di tengah kesederhanaan warganya. Seorang
88
pemimpin yang memilih untuk berjuang maju bersama warganya
(Kosasih, 2019)
Teks fiksi memiliki kaidah kebahasaan sebagai berikut:
a) Menggunakan kata-kata yang menyatakan urutan waktu.
b) Menggunakan kata kerja tindakan.
c) Menggunakan kata kerja yang menggambarkan sesuatu yang dipikirkan atau
dirasakan para tokohnya.
d) Menggunakan kata-kata yang menggambarkan keadaan atau sifat tokohnya.
e) Menggunakan dialog (Kosasih, 2019).
Judul Tabel 1 Contoh teks fiks
Orientasi
Komplikasi Hebatnya Dokter Kami
Resolusi Ia adalah Dokter Rana, seorang dokter muda yang sederhana
dan terampil. Ayahnya adalah mantan kepala desa kami yang
telah meninggal dunia. Dokter Rana baru kembali ke desa kami
dua tahun yang lalu, setelah sepuluh tahun lebih merantau ke
ibukota. Ia memperoleh beasiswa di Fakultas Kedokteran dan
setelah lulus ia praktik di Rumah Sakit Umum Kabupaten.
Semenjak ia pulang dan praktik di balai kesehatan desa, aku
sering mendengar perbincangan warga yang heran atas
keputusan Dokter Rana untuk kembali. Mereka bertanya-tanya,
bukankah penghasilan sebagai dokter di kota jauh lebih besar?
Pada ayahku, Dokter Rana bercerita bahwa cita-citanya
menjadi dokter dulu muncul karena melihat kesadaran hidup
sehat masyarakat desa yang sangat rendah. Sungai dipakai
untuk mandi cuci kakus lalu airnya dikonsumsi, hasil bumi dan
peternakan tidak dimanfaatkan untuk membentuk pola makan
sehat, karena warga lebih suka menjual seluruhnya ke kota, lalu
uangnya dipakai untuk membeli makanan instan.
Selama praktik di kota, Dokter Rana terbayang terus kondisi
desanya dan ia merasa bahwa seharusnya, ilmu yang
dimilikinya sebagai seorang dokter bisa bermanfaat untuk
kampung halamannya sendiri.
“Jadi Pak Andri, saya ini pulang untuk memenuhi niat saya
ketika menerima beasiswa, yaitu mensejahterakan warga desa
di mana saya lahir dan dibesarkan,” ujar Dokter Rana pada
Ayah.
Sejak pulang, Dokter Rana memang aktif membina para remaja
dan pasangan suami-isteri usia muda. Ia memberikan
penyuluhan tentang pentingnya mencuci tangan, memasak air,
pola makan sehat dan imunisasi. Baginya, generasi muda
89
adalah alat terbaik untuk menyampaikan misi meningkatkan
kesadaran hidup sehat masyarakat desa.
Sebagai anak kepala desa, Dokter Rana sering mendengar
cerita almarhum ayahnya bahwa banyak warga takut berobat
karena tidak mampu membayar. Tak ingin hal ini terjadi, maka
diumumkannya kepada warga bahwa warga dapat membayar
jasanya dengan sampah. Ya, sampah! Sampah kering jenis apa
saja yang bisa didaur ulang. Botol plastik, botol kaca, koran
bekas, bahkan kemasan bekas, diterima oleh Dokter Rana. Cara
ini membuat warga aktif dan bijak mengelola sampah. Sungguh
kreatif dan cerdas cara Pak Dokter mendidik warga.
Seperti mendiang ayahnya, Dokter Rana menjadi sosok yang
dicintai warga desa. Ia menjadi teladan melalui dedikasi,
tanggung jawab, dan kerendah-hatiannya dalam menolong
warga. Apabila aku besar nanti, aku ingin seperti Dokter Rana.
Akan kukejar cita-citaku menjadi guru, dan aku akan kembali
untuk membangun kampung halamanku.
Menurut Kosasih (2019), teks fiksi terdiri atas cerita rakyat, cerita fantasi,
cerita pendek, cerita inspiratif, puisi rakyat, puisi baru, dan drama.
1) Cerita Rakyat
Cerita rakyat merupakan cerita yang berkembang di tengah-tengah
kehidupan masyarakat dan disampaikan secara turun-temurun. Selain sebagai
media hiburan, cerita rakyat berfungsi sebagai sarana pendidikan, menyampaikan
pesan-pesan moral. Cerita rakyat bersifat anonim atau tidak jelas
pengarangnya.Karena masyarakat pada waktu itu memiliki sifat gotong royong
yang sangat kuat.
Latar dan penokohan cerita rakyat bersifat khas, yakni lebih banyak
menggambarkan latar belakang atau kondisi kehidupan dan budaya masyarakat
tertentu. Misalnya, cerita Sangkuriang yang menggambarkan kehidupan
masyarakat setempat dengan nama tokoh dan tempat yang ada di daerah tempat
cerita itu berkembang (Sunda). Meskipun demikian, walaupun tema cerita
tersebut memiliki kemiripan dengan cerita dari daerah lain. Akan tetapi, dalam hal
penamaan tokoh dan latar, cerita tersebut menjadi identitas tersendiri bagi
masyarakat Sunda.
90
Secara garis besar, cerita rakyat terbagi menjadi beberapa jenis.
a) Mite, yakni cerita tentang suatu kepercayaan, misalnya tentang para dewa.
b) Sage, yakni cerita tentang kehidupan raja dan kepahlawanan.
c) Legenda, yakni cerita asal-usul suatu tempat, binatang, dan benda-benda
lainnya.
d) Fabel, yakni cerita yang bertokohkan binatang.
Selain itu, ada pula cerita yang berkaitan dengan adat-istiadat ataupun
kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Misalnya di daerah Sunda dikenal cerita
Si Kabayan, di daerah Minang, cerita Si Malinkundang.
Cerita rakyat memiliki struktur sebagai berikut.
a) Orientasi, berisi pengenalan tokoh ataupun latar cerita.
Contoh:
1. Dahulu hiduplah raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-
foya dan menindas rakyat miskin. Raja dan ratu ini mempunyai
putra dan putri yang baik hati. Sifat mereka sangat berbeda dengan
kedua orang tua mereka itu. Aji Lesmana dan Putri Rauna selalu
menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolng
rakyatnya yang memerlukan bantuan.
2. Konon dulu sekali, adaseorang saudagar yang kaya. Dia
mempunyai tiga orang putri. Ketiganya berparas cantik. Si Sulung
memiliki tubuh yang ramping. Karena itu dia senang sekali
memakai baju yang bagus-bagus. Putrinya yang kedua mempunyai
kulit yang halus dan lembut. Karena itu dia suka memakai
perhiasan yang indah-indah. Dia saying sekali kepada ayahnya.
b) Komplikasi, berisi cerita tentang masalah yang dialami tokoh utama.
Wujudnya dapat berupa konflik atau pertentangan dengan tokoh lain.
Contoh:
1. Masalahnya, Jiji terlalu tinggi untuk melakukan pekerjaan yang
ditawarkan padanya. Jiji terlalu tinggi untuk menjadi kondektur
bus. Ketika berdiri di dalam bus, ia harus menekuk leher dan itu
membuat lehernya sakit. Ia juga telalu tinggi untuk menjadi
supir truk. Lehernya terlalu panjang di ruang kemudi. Saat ia
tekuk, hidungnya menyentuh kemudi truk. “Hm, sepertinya, aku
hanya cocok untuk melakukan pekerjaan di luar ruangan. Ya,
ya,” gumam Jiji pada suatu pagi, sambil matanya menerawang
memperhatikan sekitarnya.
2. Sejak hari itu Damayanti hanya memikirkan Nala. Sampai ia
jatuh sakit. Dayang-dayangnya yang khawatir pergi menemui
Raja Bhima dan menceritakan yang terjadi. Setelah berpikir
91
keras, Raja Bhima mengundang seluruh raja untuk datang ke
istananya. Barangkali saja ada di antara mereka yang bias
menenangkan hati putrinya. Karena berita tentang kecantikan
Damayanti tiada tara, banyak raja yang ingin mengikuti kontes
itu.
c) Resolusi, menceritakan penyelesaian dari masalah yang dialami tokoh.
Contoh:
(1) Tetapi buaya tidak peduli. Dia tidak takut pada biri-biri itu. Dia naik
ke titian itu, membuka mulutnya besar-besar dan akan melahap si
Sulung. Si Sulung melompat, menerjang buaya dengan kukunya.
Kena mata buaya. Dia kesakitan. Lalu, ditanduknya perut buaya itu
oleh si Sulung. Luka dan berdarah. Buaya menjerit kesakitan, lalu
menjatuhkan dirinya ke air.
(2) Sebenarnya ucapan kelinci tadi hanya siasat saja, agar ia dapat
melepaskan diri dari getah itu. Ketika serigala melemparkannya ke
duri, ia segera melompat, lalu berlari jauh, masuk lubang untuk
menemui ibunya kembali. Ketika sang ibu melihatnya, ia kaget
melihat bulu-bulu anaknya rontok, kulitnya terkena getah, dan
ekornya terkelupas.
d) Evaluasi
Contoh:
“Engkau pantas mendapatkan ini. Ini adalah balasan bagi anak kelinci yang
keras kepala dan tidak mau mematuhi nasihat ibunya.”
e) Koda, berisi pesan moral terkait dengan cerita yang telah disampaikan.
Contoh:
Akhirnya, mulai saat itu Jiji dan Kus bekerja sama sebagai tukang
cat di kampung tersebut. Mereka tidak pernah kehabisan pekerjaan.
Di kampung-kampung lain pun mereka banyak ditawari pekerjaan.
Di mana pun mereka bekerja baik. Pekerjaan mereka selalu rapi dan
memuaskan sehingga banyak yang menggunakan jasa mereka. Hati
mereka senang dan gembira.
Teks cerita rakyat memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut.
a) Menggunakan kata-kata yang menyatakan urutan waktu, seperti pada suatu
ketika, pada zaman dahulu, kemudian, akhirnya.
b) Menggunakan kata kerja tindakan, seperti mengembara, menggigit,
menerjang, melompat, memanjat, memangsa.
c) Menggunakan kata kerja yang menggambarkan sesuatu yang dipikirkan atau
dirasakan para tokohnya. Misalnya, membisu, mengeluh, mengerang,
tertunduk lesu.
d) Menggunakan kata-kata yang menggambarkan keadaan atau sifat tokohnya,
92
seperti bingung, lapar, kurus, kuat, licik, sombong.
e) Menggunakan kata sSaudarang, sepeti si, sang pada jenis cerita fable.
f) Menggunakan sudut pandang tokoh ketiga. Pencerita tidak terlibat dalam
cerita yang disampaikannya.
g) Menggunakan dialog.
Contoh:
Seekor anak anjing bertana, “Mengapa kamu selalu berlari ke
sana-kemari dengan loncengmu?”“Ya aku bangga pada lonceng di
leherku. Tidak setiap anjing punya lonceng sepertiku.”
Pada suatu ketika anjing tua berkata kepada anjing berlonceng,
“Mengapa kamu selalu memamerkan diri dengan loncengmu?”“Ya,
karena tidak setiap anjing memiliki lonceng sepertiku.”
“Sebenarnya kamu harus malu pada loncengmu. Lonceng itu tidak
patut kamu banggakan. Bahkan, itu aib. Sebenarnya majikanmu
memberi lonceng itu agar orang berhati-hati dengan kehadiranmu.
Lonceng itu adalah pemberitahuan kepada semua orang agar hati-hati
dan waspada akan kedatanganmu karena kamu anjing yang tak tahu
aturan dan sering menggigit tumit orang,” kata anjing tua.
(Kosasih, 2019)
Judul Tabel 2 Contoh cerita rakyat
Orientasi
Serigala dan Kelinci yang Keras Kepala
Komplikasi
Pada zaman dahulu, hiduplah seekor serigala. Ia mempunyai
kebun mentimun yang sekelilingnya dipagari duri. Hal itu
dimaksudkan agar manusia dan hewan-hewan lain tidak bias
memasuki kebunnya.
Tidak jauh dari kebun itu, terdapat seekor Kelinci kecil bersama
ibunya yang tinggal di sebuah lubang. Kelinci ini selalu keluar
dari lubangnya dan menunggu sampai serigala pergi
meninggalkan lading untuk mencari ayam atau yang lainnya untuk
dimakan. Setelah merasa yakin serigala telah pergi, Kelinci keluar
dari lubang, lalu melompat dan masuk ke kebun dengan melewati
bawah pagar duri. Ia memakan mentimun dan memotongnya.
Setelah itu, ia kembali ke lubang. Ibunya selalu mengingatkannya
agar waspada dari ancaman serigala.
93
“Janganlah engkau pergi ke kebun mentimun, Annaku. Dengarkan
nasihat ibu. Jangan kau pergi ke kebun itu. Jika serigala
menangkapmu, ia akan memakanmu,” kata ibunya. Sementara itu,
setiap kali serigala pulang, ia menemukan buah mentimunnya
telah dimakan dan terpotong. Ia heran dan berpikir, siapa
gerangan yang masuk dari pagar dan memakan mentimunnya.
Suatu hari serigala bermaksud melakukan pengintaian untuk
mengetahui siapa yang selalu memasuki kebunnya. Ia
bersembunyi di balik pohon dan menunggu siapa gerangan yang
datang. Tiba-tiba, seperti biasa, Kelinci kecil keluar dari
lubangnya dan melompat-lompat, masuk dari bawah kawat
berduri. Setelah sampai di kebun, ia mulai memakan mentimun.
Mengetahui hal itu, Serigala segera menyerangnya. Ia berlari
dengan cepat dan memasuki kebunnya. Namun demikian, Serigala
tidak berhasil menangkap Kelinci kecil itu. Kemudian Kelinci
kecil masuk ke lubangnya dan mendatangi ibunya dengan
terengah-engah.
“Apa yang terjasi?” tanya ibunya. Lalu kelinci menceritakan apa
yang terjadi dengan serigala. “Bukankah telah aku peringatkan
jangan kau pergi ke kebun itu?’ kata ibunya lagi.
Tetapi kelinci itu keras kepala dan tidak pernah mendengar
ucapan ibunya. Setiap hari ia masih selalu datang ke kebun itu di
saat Serigala pergi. Akhirnya, Serigala mencari siasat untuk
menjebak dan menangkap Kelinci yang keras kepala itu. Ia pergi
dan mengumpulkan getah dari pohon karet yang ada di
sekelilingnya. Getah ini dijadikan sebuah patung kelinci buatan
yang mirip dengan Kelinci keras kepala itu dan melatakannya di
tengah lading. Ketika Kelinci keluar dari lubang dan masuk dari
pagar berduri seperti biasanya, ia melihat ada yang
menyerupainya di tengah kebun. Ia mengira itu kelinci lain.
Kemudian Kelinci Kecil menghampiri kelinci buatan yang berdiri
di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di kebun ini? Apa yang kau inginkan?
Kau kira kau lebih kuat dari diriku? tanya Kelinci Kecil kesal. Ia
memukulnya dengan tangan kanannya. Tangannya menyentuh
kelinci getah itu, dan tentu saja ia tidak dapat melepaskannya.
Kelinci buatan itu seolah menggerakkan tangannya dan
menangkap tangan kanan Kelinci Kecil sehingga ia tidak dapat
melapaskan tangannya.
“Ugh! Kau memegang tanganku?” hardik Kelinci Kecil sambil
memukul dengan tangan kirinya. Kelinci nakal itu berusaha
melepaskan tangannya. Ia bergerak ke kiri dan ke kanan, tetapi
tetap tidak berhasil. Karena gerakannya itu, kelinci getah
menyentuh bulu dan ekornya. Pada saat itu, keluarlah Serigala
dari balik pohon.
“Sekarang kau terkena tipuanku, aku akan meninggalkanmu agar
94