The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suradibudi, 2022-07-21 08:13:28

NASKAH Awan di Atas Rumah Bako

NASKAH Awan di Atas Rumah Bako

Awan di Atas Rumah Bako

Penulis:
Budiharto

Editor:
Ahmad Kindi
Tata Letak:
LovRinz Desk
Desain Sampul:
Ahmad Kindi

ISBN: 978-623-446-333-0
vi + 117 halaman;
14 x 20 cm

Copyright©Budiharto, 2022

LovRinz Publishing
Cetakan 1, Juni 2022
Hak cipta dilindungi undang-undang

Budiharto | iii

Daftar Isi 1
8
AWAN MAU MENIKAH 29
PULAI 56
DESTI JODOH DITO 85
AWAN TAMBATAN HATI MEREKA 103
AWAN DIPULANGKAN MEREKA 117
AWAN MENIKAH
Profil Penulis

AWAN MAU MENIKAH

Awan: “Yek... sudah tidur, Yek?”
Awan: “Yeek....”
Awan: “Yeeek ...!”
Dito terkejut. Ada apa? Siapa yang memanggilnya saat
dia tidur di depan TV yang menyala. Dito memang tidur di
depan TV beralaskan kasur tipis di atas karpet dan diberi
alas dari karet karena tidak bisa tidur di atas kasur.
Awan: “Yek... !”
Dito: “Hemmm....”
Setelah terkumpul kesadaranya baru Dito sadar kalau
yang memanggilnya si Awan. Seketika emosi Dito naik dan
menjawab dengan suara keras, “Apa...!”
“Aku akan ngomong dengan Yek.”
“Mau ngomong apa kau!” bentak Dito,
“Aku minta izin, Yek.”
“Mau apa kau?”

Budiharto | 1

“Awan ingin nikah.”

“Nikah aja kau?” jawab Dito dengan keras dan ketus

“Eee, kok gitu aja?” tanya Awan. “Ya.. sudahlah. Nanti
saja aku ngomong lagi.”

‘Kau’ adalah kata sapaan untuk anak atau orang
perempuan di Minangkabau dan untuk anak laki-laki atau
orang berjenis kelamin laki-laki dipanggil ‘Waang’.

Lalu Awan meninggalkan Dito sendiri dan berjalan ke
ruang tengah rumah tempat tinggal Dito untuk mengikuti
acara Mahobegh.

Mahobegh adalah rangkaian kegiatan menjelang
pernikahan seseorang di Minangkabau. Dalam kegiatan ini
keluarga Awan diwakili Mamak-mamak (paman Awan dari
saudara laki-laki ibunya) dan Etek (saudara perempuan
ibunya yang lebih muda) atau Ongah (saudara perempuan
ibunya yang lebih tua) datang ke rumah bako (keluarga
sekaum bapak Awan) untuk mengabari bako kalau Awan
sudah ada jodohnya dan akan membuat Etongan (membuat
kata sepakat antara keluarga calon mempelai pria dan wanita
tentang hajat mereka) dan meminta Bako untuk hadir saat
Etongan dibua nantinya.

Saat Etongan dibuat kelengkapan unsur keluarga
besar penting artinya sebab bila lengkap seperti penghulu
kaumnya ikut memimpin rombongan maka keluarga
bersangkutan punya hubungan baik dalam kaumnya begitu
juga dengan Mamak-mamak, Etek, Ongah, kakak, adik dan

2 | Awan di Atas Rumah Bako

tak ketinggalan Bako. Dengan Bako punya makna penting
karena berarti bapaknya pandai menjembatani keluarganya
dengan keluarga bapaknya.

Dito bangun lalu bergegas ke kamar tidur menutup pintu
karena dia enggan bicara dengan Awan, sekalian mengunci
pintu sebab biasanya Awan tidak segan-segan masuk ke
kamarnya seperti menjelang Ramadhan kemarin.

Dito sudah berpesan kepada Desti, istrinya. Kalau Awan
datang nanti bilang kalau Dito sudah tidur karena capek
baru pulang dari Padang. Tapi Awan dan adik serta ibunya
masuk ke kamar Dito untuk minta maaf supaya Ramadhan
nanti diterima Allah puasanya. Dengan sambil berbaring
Dito menyambut salam adik dan ibu Awan.

Terakhir Awan menyalami Dito dan mencium pipi Dito
lalu bergegas menyusul ibu dan adiknya sambil izin, “Aku
pulang dulu, Yek.”

Dito tidak bisa lagi tidur karena emosi. Sudah dicoba
posisi yang enak supaya bisa menyambung tidurnya tapi
tetap tidak bisa karena otaknya terus berpikir, ditambah
emosi yang membakar hatinya karena mendengar Awan
mau menikah. Sebenarnya Dito tahu kalau malam itu akan
ada orang datang ke rumah untuk mahobegh tapi tak
manyangka Awan juga akan datang karena biasanya yang
akan di-etong tetap di rumah. Dito tidak ikut dalam acara itu
karena Dito posisinya sebagai urang sumando di kaum Desti.
Urang sumando yaitu seorang laki-laki yang memperistri
perempuan suatu kaum di Minangkabau. Seluruh kaum itu

Budiharto | 3

akan memangilnya urang sumando, namun bila Dito punya
gelar kaum maka dia akan dipanggil gelarnya seperti Sutan
Malin Marajo atau lainya. Sebab di Minangkabau dahulu ada
pepatah “Ketek Banamo, Gadang Bagala”. Sungguh tidak
berharga seorang laki-laki Minangkabau yang dipanggil
namanya meski sudah tua. Maka selaku sumando Dito tidak
punya kepentingan dalam acara itu makanya dia menonton
acara TV dan tertidur.

Semenjak 10 tahun lalu Dito tidur di tempat yang datar
karena terapi untuk penyakitnya GBS Gulian-Barre Syndrome
saran dari tabib tempat dia berobat.

Malam itu mula dari kegalauan hati Dito. Dia seakan tidak
percaya anak kecil manisnya kini hendak menikah. Harusnya
dia bahagia jika malam itu malam 4 tahun mendatang,
saat Awan sudah bekerja dan telah membahagiakan kedua
orang tuanya beserta saudara-saudaranya. Kakak Awan
yang laki-laki telah tertutup kesempatannya jadi Sarjana
Pendidikan Teknik karena sudah lewat masa kuliah di
jurusanya. Sedangkan  kakak perempuannya Tifa tidak
kuliah setamat SMA. Adiknya baru masuk SMA, Tifa bekerja
dengan pedagang kaya asal Minangkabau. Desti dan Dito
berkeinginan Awan menjadi sarjana lalu bekerja sehingga
ada kebanggan di keluarganya, ada yang menjadi sarjana.
Dari keturunan Apak dan Umi selain Desti di tingkat cucu
baru satu orang yang mengenyam Pendidikan Tinggi
dan tamat, Wahdi. Bagi Desti dan Dito yang berprofesi
sebagai guru maka paham bahwa pendidikanlah yang akan

4 | Awan di Atas Rumah Bako

membuka wawasan sebagai sarana menghadapi persaingan
di masa ini. Tidak mudah usaha yang mereka upayakan
mendampingi Awan hingga kulian di UPI semester 6. Banyak
hambatan yang harus dirambah agar terang jalan yang mesti
ditempuh. Hambatan itu tidak dari luar namun dari keluarga
Desti sendiri.

Desti dipanggil ‘Ibu’ oleh banyak orang kampungnya
karena Desti seorang guru, yang pernah mengajar TK di
Masjid An Nur, sehingga banyak muridnya. Saat belajar
di TK anak-anak memanggil ‘Ibu’. Di luar sekolah pun bila
bertemu juga dipanggil demikian, dan orang tua murid ikut-
ikutan pula memanggil ‘Ibu’ untuk membiasakan anaknya
jika memanggil guru perempuan dengan panggilan ‘Ibu’.
Alhasil tua muda laki-laki dan perempuan memanggil Desti
dengan panggilan ‘Ibu’.

Yang diyakini Dito dan Desti kalau seorang perempuan
mempunyai kewajiban berbakti kepada orang tuanya
menjelang dinikahkan oleh bapaknya. Bedanya dengan
laki-laki wajib berbakti sepanjang hidupnya terhadap orang
tuanya. Kalau sekarang Awan belum tamat, Awan sudah
menikah, lantas kapan dia berbakti ke orang tuanya? Awan
harus taat dengan perintah suaminya. Kalau suaminya
melarang membantu orang tuanya maka Awan tidak
berdosa, demikian pula suaminya pun tidak berdosa. Namun
bila suaminya mengizinkan Awan membantu orang tuanya
mendapat pahala mereka berdua. Itu kalau mendapat suami
yang saleh.

Budiharto | 5

Di Minangkabau, seorang laki-laki bila sudah menikah
tinggal di rumah istrinya, tinggal bersama mertua dan
saudara perempuan lain si istri. Banyak  yang tetap masak
satu tungku, artinya mereka masak bersama-sama untuk
dimakan bersama. Bahan mentah  yang akan di masak
disediakan bersama. Bagi anggota keluarga yang pengertian
akan turut serta sesuai kemampuan sehingga menjadi
harmonis hubungan mereka, namun bila ada yang nakal
maka akan timbul permasalahan sebab tidak sama-sama
menanggung beban sama berat. Tatungkuik Samo Makan

Tanah, Tatilantang Samo Minum Ambun, Tarapuang
Samo Hanyuik, Tarandam Samo Basah, atau Ringan Samo
Dijinjiang, Barek Samo Dipikua. Hal seperti ini bisa berakibat
pecah sebuah keluarga. Bila banyak tungku dalam sebuah
rumah, artinya setiap kepala keluarga di rumah itu memasak
masing-masing juga akan timbul permasalahan. Masalah
akan timbul seperti berlomba-lomba masak yang mahal
sementara keuangan mereka belum tentu sama, maka bisa
saja berhutang demi harga diri. Sebaiknya, sebelum hanyut
diselamatkan. Artinya dibuat aturan yang ketat agar tidak
ada masalah dikemudian hari.

Dito masih ragu dengan kemampuan ekonomi keluarga
yang akan dibina Awan, sebab dia belum tamat. Walau
Dito percaya kalau Allah telah menyediakan rejeki setiap
makhluk-Nya. Namun yang dia khawatirkan hubungan
antara orang tuanya, akankah bisa harmonis saat bertemu
masalah perut.

6 | Awan di Atas Rumah Bako

Selain itu Dito dan Desti hafal betul bagaimana kebiasaan
Awan yang masih seperti anak-anak, belum bisa merawat
dirinya sendiri. Membersihkan kamarnya saja mesti disuruh
dulu, demikian pula mencuci bajunya malas-malasan. Dia 
suka pakai baju yang sama berulang-ulang sebab yang lain
kotor. Dito dan Desti ingin anaknya siap secara mental dan
ekonomi serta telah berbakti buat orang tua kandungnya,
bukan ke Desti dan Dito. Sebab mereka PNS, insyaAllah ada
uang pensiun untuk menopang hidupnya di hari tua mereka
nanti, barulah Awan menikah dengan siapa saja, tak peduli
pendidikan, pekerjaan. Rejeki Allah telah menyediakan,
tinggal mereka yang akan menemukanya dengan kerja keras
dan berdoa meminta kepada yang menyediakan rejeki itu,
yaitu Allah  Ar-Razzaq.

Budiharto | 7

PULAI

Di Kantor ASKES Jalan Joni Anwar, Padang Dito bertemu
Pak Das sekitar bulan Maret.

“Pak..! Bapak yang mengantar surat lamaran mengajar
ke STM Sumaniak, ya?” pak Das setengah ragu bertanya.

“Ya benar, Pak,” jawab Dito.
“Kami sudah menunggu-nunggu Bapak. Sekarang ada
jam untuk Bapak.”
“Baik, Pak,” sahut Dito kembali.
Dito tidak segera pergi ke Sumaniak untuk mengajar
tapi pergi ke Semarang, ke tempat Bakonya.
Dito berdarah Jawa dan Minang. Bapaknya dari
Semarang sedang Ibunya dari Batusangka, maka saudara
bapaknya di Semarang adalah Bakonya, menurut keluarga
ibunya.
Di Semarang Dito tinggal di rumah kakak bapaknya
untuk mencari pekerjaan setelah tamat dari IKIP Padang.
Sudah banyak lamaran yang dikirim dan antarkan seperti

8 | Awan di Atas Rumah Bako

ke STM Cipto Semarang Timur, ikut tes di Penerbit Pabelan,
Pabrik Tekstil Texmaco Kendal, dan pernah tes wawancara
di Dealer Suzuki Semarang, serta ikut training di konsultan
pendidikan menjadi sales papan tulis magnet, namun tak
satu pun yang menerima Dito. Tapi yang terakhir dia tidak
mau karena merasa ditipu, sebab saat pengantar training
disebut usaha mereka membimbing masyarakat untuk
mudah menyerap materi pelajaran di sekolah bukan menjual
papan tulis magnet.

Dito pergi ke Semarang karena ingin mewujudkan
janjinya pada adik perempuannya, Fifo, saat memangkunya
menunggu jasad papa mereka dari rumah istri kedua papa.
Mereka baru tahu papa beristri dua saat itu.

Dito berjanji akan membantu Fifo melanjutkan sekolah
hingga menjadi sarjana meski Dito baru kuliah tahun ke
tiga, dan sebagai pensiunan Papa mereka mewarisi gaji
pensiunan yang dapat mereka gunakan untuk menyambung
hidup. Dua kakak Dito dan Fifo sudah tamat Diploma 3 dan
kakak kedua membantu keuangan keluarga mereka, tapi
yang pertama tidak.

Kepergian Dito selain untuk mencari kerja tapi juga
didorong keluarganya pergi dari Padang supaya tidak lagi
berhubungan dengan Nini. Entah apa yang membuat
keluarga Dito melarang. Setelah 3 bulan di Semarang tidak
mendapatkan pekerjaan, ditambah rasa rindu kepada Nini,
Dito memutuskan pulang ke Padang saja. Sesampai di
Padang langsung saja keluarganya menyuruh ke Sumaniak
untuk mengajar.

Budiharto | 9

“Kepala sekolah STM Sumaniak kan menyuruh kamu
ke sana untuk mengajar.” Mama membuka pembicaraan.
“Besok kamu penuhi. Tanya lagi, mana tahu masih ada jam
mengajar untuk kamu!” seru mama dengan bahasa Jawa.
Karena papa Dito orang Jawa dan selalu menggunakan
bahasa Jawa, ditambah asrama tempat tinggal banyak
tentara dari Jawa yang didatangkan ke Sumatera Barat untuk
menumpas PRRI, maka Dito sekeluarga bisa berbahasa Jawa
meski yang kasar, sedang mama mereka juga bisa bahasa
Jawa halus.

Dito tidak menjawab karena kesal.

“Besok kamu bawa baju salin satu stel saja untuk ganti
kalau-kalau urusan kamu tidak selesai sehari besok.” Lanjut
mama. “Kamu bawa kunci rumah di belakang! Kalau makan
di warung saja, tidak usah minta ke bu Miah!”

Bu Miah kakak sepupu mama yang menunggui rumah
pusaka berbilik tiga karena nenek Dito 8 bersaudara lima
laki-laki dan 3 perempuan. Di Minangkabau yang boleh
tinggal di rumah hanya anak perempuan saja sedang anak
laki-laki harus tidur di Surau, maka bilik dibuat sebanyak
jumlah anak perempuan. Ibu dari bu Miah yang paling tua,
kemudian Uwo Ani, dan yang kecil nenek Dito. Bu Miah
dikenal pelit maka mama yakin bu Miah tak akan mau
menawari Dito makan. Maka mama menyuruh Dito makan
di warung saja.

“Kalau seminggu lagi saya ke sana bagaimana?” tanya
Dito.

10 | Awan di Atas Rumah Bako

“Kamu apa gak mikir sekarang bulan apa?” balas mama.
“Tanggal berapa? Sekarang sudah akhir bulan Juli. Itu
adikmu sudah mulai belajar. Nanti ada orang lain melamar,
hilang kesempatan kamu ngajar! Pokonya gak ada cerita,
besok kamu harus ke Sumaniak?” tegas mama.

Dito dengan kesal hati tapi tidak bisa ngomong lagi, takut
mama lebih marah lagi. Mama memang selalu mengatur
hidup anak-anaknya dari kecil sehingga mama hafal dan
paham watak anak-anaknya. Dito sangat percaya setiap
arahan mama dan papanya yang terbaik dan dia patuh saja
meski rindu belum lepas dengan Nini.

Pagi-pagi sekali Dito turun dari rumah menunggu ‘Cigak
Baruak’, angkutan umum yang tidak resmi, mobil pickup
yang diberi atap dan dipasangi bangku di samping kanan-
kiri bak mobil untuk duduk penumpang berhadap-hadapan.
Jika penuh penumpang boleh bergelantungan di belakang.
Tidak ada polisi yang menegur karena Cigak Baruak cuma
melayani dari simpang jalan raya ke Rawang dengan separuh
jalan tanah. Di Aia Tawa, Dito menunggu Bus Yanti, APD,
atau APB yang ke Batusangka pagi itu.

“Sangka... Sangka....Sangka... Batusangka.. Lubuak
Aluang, Sicincin, Kayu Tanam, Padang Panjang.....!!!!” teriak
stokar Bus APD.

Stokar adalah panggilan untuk kernet di Minangkabau,
ada juga menyebutnya ‘Cingkariak’. Bus APD melaju
perlahan-lahan sekali hingga batas kota, Dito mengeluarkan
Ardath dari sakunya lalu menyalai sebatang untuk menemani

Budiharto | 11

rasa bosan di atas bus yang maetek-etek (melaju sangat
lambat sekali). Setelah yakin tidak ada lagi penumpang yang
ke Batusangka atau ke Lubuak Aluang, Sicincin, Kayu Tanam,
dan Padang Panjang, barulah supir menekan pedal gas. Bus
setiap harinya sedikit membawa penumpang yang langsung
ke Batusangka maka mereka berharap penumpang jarak
dekat supaya setoran cukup ditambah untuk gaji supir dan
stokar. Bus terus melaju menyusuri jalan melalui Nagari
Pasa Usang, Lubuak Aluang, Sicincin, Kayu Tanam, Kandang
Ampek, batas Kabupaten Padang Pariaman - Tanah Datar,
bus melalui Lambah Anai dengan Aia Tajun (air terjun) di
sebelah kiri jalan.

Sangat indah pemandangan karena bus lewat di jembatan
kecil di atas saluran keluar air terjun terkadang. Saat hujan
lebat maka uap air yang jatuh kembali memantul ke atas lalu
dihembus angin akan menerpa muka kita dan terasa sejuk.
Sedangkan di atas jembatan melintang jembatan rel kereta
api yang menambah indah suasana di sana. Lanjut bus akan
mendaki ‘Pandakian Silaiang’ Yang terkenal berbahaya
karena tanjakannya yang tinggi, sempit, ditambah tikungan
ke kiri yang tajam tak jarang bus celaka karena tidak kuat
mendaki. Beruntung mesin tidak mati dan surut ke belakang
lalu masuk ke sungai yang dalam, maka di sana ada saja
pemuda-pemuda penjaja Paragede jaguang dan Pinukuik
(pergedel jagung dan kue serabi orang Minangkabau),
karena terasa enak, manis dan gurih parutan kelapa sangat
terasa maka tak kan tahan hanya makan pinukuik satu

12 | Awan di Atas Rumah Bako

saja pasti akan ketagihan. Sambil melompat ke atau dari
pintu bus dengan cekatan, mereka membawa dagangan di
dalam ‘tas asoi’ (kantong kresek) biasanya ada yang turun
persis di tikungan tajam itu dan membantu bus atau truk
yang akan menanjak dengan memberi tanda ke kendaraan
yang dari arah Padang Panjang untuk berhenti sebentar
sehingga bus atau truk yang panjang dan berat muatanya
bisa maksimal mengambil jalan sebelah kanan. Nanti pak
supir yang terbantu itu akan memberi uang ala kadarnya
tanpa tarif bahkan tidak dikasih pun tidak mengapa. Mereka
bukan seperti pak ogah yang membantu supir di kota untuk
berputar arah di jalur dua memaksa minta uang tapi mereka
memang sangat membantu kalau tidak ada mereka mungkin
banyak sekali bus dan truk yang celaka.

Lanjut, bus akan merayap di gerbang masuk kota
Padang Panjang, kita akan disambut oleh pemandangan
yang menakjubkan sebab kita harus melewati jembatan
yang terbentang di atas sungai yang mengalir air dengan
deras dan jernih sedangkan di atasnya kembali ada
jembatan rel kereta api yang panjang peninggalan Belanda
dengan berlatar belakang bukit hijau di kiri kanan jalan
dengan hawa yang sangat sejuk, sehingga pasti jika berhenti
enggan segera beranjak dari sana. Bus kembali merangkak
karena pendakian panjang berkelok-kelok harus dilewati
hingga sampai di pendakian Silaiang Kariang, terdapat
tempat singgah beristirahat bagi pengendara sepeda motor
atau mobil kecil karena tempatnya sempit. Di sana ada
gazebo yang dibuat PT. Semen Padang untuk memandang

Budiharto | 13

ke arah Kayu Tanam, Subhanallah, indahnya pemandangan
di bawah sana. Bus di simpang tiga Padang Panjang akan
berbelok ke kanan, jika terus menuju ke Bukittinggi. Bus
sudah bisa dikebut karena sudah datar. Hingga di Batipuah
bus berbelok ke kiri di simpang tiga Kubu Karambia, kalau ke
kanan menuju ke Solok. Bus mulai menurunkan persneling
karena mulai mendaki dan berkelok-kelok melewati nagari
Sabu Andaleh, Sikaladi, Pariangan, Simabua, Tabek, Sawah
Tangah, Supanjang, Cubadak, Batu Batikam, Limo Kaum

Di Simpang Manunggal bus APD berhenti.

“Yang ke pasar… yang ke pasar... yang ke pasar turun
di sini!” teriak stokar yang memberi tahu penumpang
yang mau langsung ke pasar Batusangka bisa turun di situ
kemudian naik Kopatra, angkutan umum berwarna kuning
trayek batas kota Batusangka – Jati, Pasar Batusangka.
Bus nanti berhenti di terminal bus Piliang, Dobok, kira-kira
2 km lagi. Sedang ke pasar Batusangka 3 km dari Simpang
Manunggal, maka lebih cepat naik Kopatra dari sana dari
pada ke Dobok dulu. Dito turun langsung disambut agen
tidak resmi Kopatra.

“Ke pasar, Da?” tanya agen.

“Ya,” jawab Dito singkat.

“Yang di ujung, Da!” seru agen.

Setelah penuh, agen lapor ke supir lalu menerima PC
dari supir, dan Kopatra melaju cepat karena sudah penuh.

14 | Awan di Atas Rumah Bako

Di dekat bioskop atau biasa disebut ‘Pangguang’ Dito
teriak, “Siko ciek!” (saya turun di sini atau kalau di kota
“Kiri...kiri...”) Dito turun lalu membayar ongkos.

Dito melihat ke Pangguang dan teringat cerita amak
(Dito memanggil neneknya dengan amak karena mama
memanggil demikian, jadi meniru meski panggilan untuk
nenek di Korong Panjang Sigarungguang untuk nenek
adalah ‘uwo’). Amak bercerita, papa pernah mengamuk ke
orang kadai yang menjual minuman di sebelah Pangguang
pasalnya papa yang berasal dari Jawa belum bisa bahasa
Minangkabau. Diajari kosa kata Minangkabau baru yaitu
“pan***”, orang kadai bilang itu artinya sapaan untuk orang
perempuan yang sudah tua. Saat pulang, saat naik ke rumah
amak yang berupa rumah panggung.

“Assalamul’aikum...” ucap papa.

“Wa’alaikumsalam...” jawab amak.

“Pan***, Mak!” kata papa.

Amak kaget, “Apa kata kamu?” tanya Amak. “Siapa yang
ngajari kamu?”

“Kata Amir kalau bertemu orang perempuan yang sudah
tua, sebut itu!”

“Jangan..! Itu kata-kata jorok. Jangan sebut lagi!” jelas
amak.

Papa bingung, lalu papa mencari mama di kamar lalu
bercerita ke mama. Paham papa dengan penjelasan mama,

Budiharto | 15

arti kata itu sebutan lain alat kelamin wanita. Bergegas papa
berdiri dengan muka merah padam, kalau bisa terbang dia
akan terbang ke markas tentara untuk mengambil senjata.
Tidak bisa ditahan papa dengan memegang senjata api
berlari ke kadai kopi sebelah Pangguang mencari Amir
yang sudah menyesatkanya, jaraknya kira-kira 100 meter
dari rumah. Orang-orang bingung dan heran ada tentara
mengamuk sambil membawa senjata berteriak-teriak
memanggil nama Amir. Ada orang yang mengabari Amir
kalau dia dicari tentara membawa senjata. Tak pelak Amir
lari tunggang langgang, hingga lima tahun kemudian baru
berani pulang karena dapat kabar papa sudah pindah ke
Bukittinggi.

Dito tidak heran dengan cerita amak, maksudnya
tempramennya yang tinggi sebab mas Cahyo keponakanya
di Semarang juga pernah cerita kalau papa pernah
‘mempurukkan’ atau membenamkan kepala temanya
yang iseng ke got sebelah rumahnya di Tirtoyoso gara-gara
mencemooh papa yang sedang dihukum kakaknya dilarang
keluar rumah. Mas Cahyo bercerita sambil menunjuk orang
yang dimaksud. Selain itu Dito pun pernah dapat cerita kalau
papa pernah menghardik komandannya yang orang Batak
saat tak sengaja menginjak kakak Dito yang pertama dengan
sepatu PDL-nya. Tidak kepalang hingga tidak terdengar suara
tangis si kecil yang tidak sengaja main di markas kompi.

“Hei...! Matamu mana? Lihat kaki anak saya kamu
injak?” teriak papa.

16 | Awan di Atas Rumah Bako

“Maaf... Maaf saya tidak lihat ada anak kau. Maaf...
maaf, Nak” berulang-ulang komandan minta maaf. Ternyata
walau tentara berbaju hijau yang terlihat sangar namun bila
ada anak kecil yang tersakiti akan luluh hatinya dan luntur
harga diri dan rela dihardik dan dipanggil “kamu” oleh
anggotanya.

Di tahun 80-an saat Datuak Rajo Sulaiman dikukuhkan
oleh keluarga kerajaan Minangkabau di Pagaruyuang kepada
Ir. H. Azwar Anas, orang-orang sibuk mulai dari pemerintah
Provinsi Sumatera Barat, Dati TK II Kabupaten Tanah Datar
hingga Desa, sebab acara Malewakan Gala (Mengumumkan
Gelar) merupakan hajat besar karena melibatkan pemerintah
pusat sebab akan kedatangan perantau agung dari Negeri
Sembilan Malaysia yang merupakan ‘Balahan’ separuh jiwa
dan raga urang Minangkabau yang merantau ke Malaysia.
Sangat ramai Batusangka, Pagaruyuang, pokoknya Tanah
Datar, sipil dan militer terlibat serta bergembira ria. Di
tengah kesibukan itu mobil salah satu pejabat karena
tergesa-gesa berputar arah di jalan S. Parman Batusangka,
tepat di depan sebuah rumah, tak sengaja menabrak
pagarnya. Sang pejabat bicara untuk menenangkan amak
yang marah pagarnya rusak dan berjanji akan mengganti
nanti setelah Alek Gadang (Pesta besar) usai. Tidak lupa dia
meninggalkan nama dan jabatan di Rumah Bagonjong di
Jalan Sudirman Padang (Kantor Gubernur). Ditunggu-tunggu
tidak juga datang orang yang berjanji, maka amak bertanya
ke kantor Bupati, ternyata mereka tidak tahu dan menyuruh
menemui sang pejabat ke Padang. Karena urusan yang

Budiharto | 17

bertele-tele amak lalu mengabari menantunya, papa Dito
yang sudah tinggal di Padang dan berdinas di Kodim 0312.
Dengan berpakaian dinas, karena masih jam dinas, papa
pergi ke kantor Gubernur menemui pejabat yang mobilnya
menabrak pagar rumahnya di Batusangka. Dengan sopan
papa menyampaikan maksud dan tujuan dia datang, dan..

“Bapak dekingan amak itu?” tanya sang pejabat.

“Maaf, Pak. Itu rumah saya. Saya yang membangun
dengan titik peluh dari saya baru jadi tentara. Jadi sekarang
karena situ yang menabrak dan janji mau mengganti
kerusakan, ayo sekarang ganti!” kata Papa dengan nada
tinggi yang merasa dilecehkan oleh sang pejabat.

“Maaf, Pak.. saya tidak tahu itu rumah Bapak. Baik, Pak..
saya akan ganti,” kata pejabat yang gugup.

“Jadi kalau bukan tentara yang punya, Bapak tidak mau
ganti? Jangan semena-mena, Pak!”

Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Minangkabau
karena papa sudah lancar berbahasa Minangkabau bahkan
tidak ada logat Jawa saat berbahasa Minangkabau. Akhirnya
disepakati ganti rugi, lalu kembali ke Kodim.

Dito tidak ke rumaah dulu tapi langsung berjalan
melewati pasar ke simpang empat Cindua Mato. Dito belok
ke kiri, kalau ke kanan ke Pagaruyuang sedang kalau lurus
ke Simpuruik, Koto Panjang, Minangkabau, Sungayang,
Tanjuang, Andaleh baruah bukik, terakhir Lintau, dan
berhenti dekat Gedung Nasional sebelum Hotel Yoherma

18 | Awan di Atas Rumah Bako

seberang kantor Agraria. Dito menunggu angkutan
pedesaan trayek ke Sumaniak yang berwarna biru muda,
lebih muda daripada angkutan pedesaan trayek ke Sungai
Tarab. Tanpa bertanya Dito menghentikan sebuah angkutan
pedesaan lalu naik. Sepanjang jalan Dito menoleh kiri kanan
memperhatikan suasana alam. Lepas dari simpang Si Jangek
terlihat persawahan yang menghijau di sisi kanan jalan hingga
di Pondok Flora, sedang sisi kiri juga terbentang hamparan
sawah yang menghijau berlatar belakang gunung Marapi.
Sebelum Pondok Flora terlihat ada simpang ke Sitakuak,
sawah dengan rumpun-rumpun padi yang berwarna hijau
terlihat jelas sekali karena tersiram sinar matahari pukul 10
pagi. Saat Dito menoleh ke kanan jalan, tampak simpang ke
Tigo Batu.

Sedang menghafal berapa banyak simpang jalan
yang dilewati semenjak naik angkutan pedesaan tadi Dito
terkejut karena supir angkutan pedesaan teriak, “Sungai
Tarab habis...!”

Dito tidak turun bersama penunpang yang lain tapi dia
heran kenapa mobil angkutan pedesaan ini malah memarkir
otonya di sebelah angkutan pedesaan lainya?

“Kan masih ke Sumaniak , Da?” tanya Dito ke supir.

“Ndak, Da. Sekarang hari Rabu, hari balai sekarang di
Sungai Tarab, jadi oto sampai di balai saja.”

“Ini kan oto ke Sumaniak ndak, Da?” tanya dito
penasaran,

Budiharto | 19

“Iya... tapi kini hari Rabu, sampai di Balai Sungai Tarab
saja. Kalau ke Sumaniak naik Uda Cigak Baruak. Di situ
otonya.” jelas supir ke Dito.

Dito terus turun dan berjalan menuju ke arah oto Cigak
Baruak yang ditunjukan supir angkutan pedesaan tadi.
Memang ramai sekali orang di Balai Sungai Tarab, umumnya
banyak yang berjalan dari dalam Balai, mungkin sudah
selesai berbelanja. Tidak ada agen, terpaksa Dito bertanya
ke orang yang sudah duduk di atas Cigak Baruak.

“Iko oto ka Sumaniak, Da?” tanya Dito.

“Iyo.” jawabnya singkat sambil menghadiahkan senyum.
Dito pun naik. Mesin mobil hidup pertanda akan berangkat
karena Cigak Baruak sudah penuh dan mesin mobil meraung
karena supir menambah gas sebab mobil harus mendaki
ke atas aspal jalan sambil belok kanan dan melaju. Kira-
kira sekali pindah persneling mobil melambat lalu belok ke
kanan tampak di sebelah kiri ada masjid Raya Sungai Tarab
dan setelah itu simpang ke kiri menuju Pasia Laweh, Koto
Tuo dan beberapa nagari lain di pinggang Gunuang Marapi.
Mobil belok kanan di simpang Bulakan, di situ tampak orang
keluar dari tempat pemandian Bulakan dengan menjunjung
kain cucian, sepertinya tempat itu tempat pemandian
umum. Setelah beberapa masa Dito baru tahu kalau
pemandian itu ramai didatangi untuk mandi bagi orang-
orang dari Sumaniak Ladang yang susah mendapatkan air
untuk MCK.

20 | Awan di Atas Rumah Bako

Di sepanjang jalan ke Sumaniak terlihat di kiri kanan
jalan banyak ladang masyarakat, ada yang ditanami padi,
jagung, kacang tanah, singkong dan banyak lagi serta ada
beberapa huller penggilingan padi hingga mobil Cigak
Baruak yang ditumpangi Dito berhenti di depan Balai Okok,
pasar mingguan yang hanya buka sekali dalam sepekan
yakni hari minggu. Dalam bahasa Sumaniak minggu bearti
‘Okok’ kemudian Dito membayar ongkos lalu berjalan arah
ke bawah Balai Okok melewati masjid Raya Sumaniak dan
belok ke arah kiri setelah Komplek SD menuju ke STM.
Dito naiki beberapa anak tangga untuk sampai di halaman
sekolah, menoleh ke kanan dan kiri mengamati bangunan
sekolah yang berupa bangunan semi permanen tapi tinggi
di bawah bata yang diplester, di atasnya sasak (anyaman
bambu) yang diplester sedang di atasnya dipasang jalinan
kawat.

Sejurus tampak papan berwarna biru bertuliskan
identitas STM Muhammadiyah Sumanik. Di Sumatera Barat
hingga kini dari zaman penjajahan Belanda menukar cara
penulisan dan pembacaan nama daerah seperti Sumaniak
menjadi Sumanik. Batusangka menjadi Batusangkar,
Limo Kaum menjadi Lima Kaum. Jika tidak mengubah arti
masih bisa diterima, namun kalau mengubah arti rasanya
menjadi lucu seperti Padang Laweh yang semula berarti
Padang yang Luas diubah menjadi Padang Lawas, sehingga
perubahan menjadi Padang Lawas bila diartikan menjadi
Padang yang Bekas. Tapi bagaimanapun seharusnya nama
daerah harus dikembalikan ke nama semestinya. Syukur

Budiharto | 21

Alhamdulillah sudah ada upaya beberapa daerah yang sudah
mengembalikan ke nama semula seperti nama Nagari dan
Kecamatan Lima Kaum menjadi Limo Kaum, Nagari Beringin
kembali menjadi Baringin.

Di ruang majelis guru Dito diterima Pak Jamaan yang
bertindak sebagai Wakil Kepala Sekolah yang menjelaskan
bahwa sekolah memang butuh guru untuk jurusan Listrik,
karena guru hanya tiga orang termasuk Pak Das dan dua
orang lagi yang PNS dan bertugas di STM negeri di Padang.
Dito mengajar pelajaran yang sebelumnya diajar Pak Das
dan Pak Sukarni.

Bagi Dito cukup banyak pelajaran yang akan diajar,
untuk guru baru yang hanya punya pengalaman mengajar
saat dia PLK di STM N Bukittinggi. Tapi karena didikan papa
maka tak ada istilah takut. Dengan kesadaran yang tinggi
Dito tidak malu bertanya ke guru-guru senior. Dito setelah
selesai berurusan minta izin untuk mempersiapkan segala
sesuatu, lagi pula karena baru akan mengajar Senin besok.
Dito langsung pulang ke Padang, tidak singgah dulu ke
rumah dekat Pangguang, belakang BRI.

Untuk mempersiapkan tempat Dito tinggal di rumah
belakang BRI, Dito ditemani amak untuk menunjukan segala
sesuatu selama tinggal di sana, termasuk bicara ke bu Miah.
Sebelum berangkat mama pesan kalau Dito baik-baik hidup
bertetangga dan jangan mengganggu anak gadis di sekeliling
rumah apalagi berpacaran, sebab umumnya tetangga
sekeliling keluarga sama-sama suku Korong Panjang. Di

22 | Awan di Atas Rumah Bako

Minangkabau tabu untuk pacaran bahkan nikah dalam suku
yang sama. Bila terjadi maka akan diusir dari Nagari dan
dibuang secara adat.

Tidak beberapa hari Dito betah di sana dan pada hari
jumat pulang saja ke Padang, pasalnya selama di sana dia
terganggu dengan tingkah bu Miah di sebelah kamarnya,
tidur bersama suaminya yang kesembilan. Suaminya
sudah tua pensiunan PNS polisi dengan mata yang sudah
rabun sekali serta tidak kuat lagi berdiri dan jalan lama,
ditambah telinga yang sudah pekak. Saat mereka bicara
harus berteriak-teriak, padahal Dito besok harus mengajar.
Akibatnya Dito tidak bisa tidur, suaranya jelas sekali
terdengar di balik dinding papan. Akhirnya Dito pindah ke
rumah mak Ani orang Sumaniak pedagang beras di pasar
yang dulu mengontrak rumah keluarga Dito di depan, di
Jalan S. Parman bersama amak.

Rumah mak Ani di Data, cukup terbantu Dito tinggal
di sana karena oto, angkutan pedesaan ke Sumaniak lewat
Data. Sebab terminal angkutan pedesaan berada sebelah
atas Data yaitu Guguak Katitiran. Guguak berarti gundukan
tanah yang tinggi sedangkan Katitiran adalah nama burung
perkutut dalam bahasa Minangkabau. Barangkali di sana
dahulu ada gundukan tanah yang tinggi dan terdapat banyak
burung perkutut.

Baru beberapa minggu mengajar ada lowongan dibuka
formasi PNS guru yang dibuka oleh Kanwil Depdikbud
Sumatera Barat, Dito dan teman-teman guru di STM

Budiharto | 23

Muhammadiyah Sumaniak yang belum PNS antusias
mencari informasi dan mempersiapkan diri untuk ikut tes
CPNS, apalagi untuk jurusan Pendidikan Teknik Elektro sudah
cukup lama tidak buka lowongan. Dito mendaftar di Dinas
Depdikbud kota Padang sebab dia ber-KTP kota Padang dan
di tanggal yang ditentukan menjalani tes di SMPN 1 Padang
dan esok harinya Dito kembali ke Batusangka.

Dito mengajar bersama temanya seangkatan kuliah beda
jurusan bernama Drs. Erwan. Erwan mampu menamatkan
kuliah tepat 4 tahun, itulah kenapa dia menggunakan gelar
Drs. sedang Dito S.Pd. Saat Dito wisuda keluar peraturan
baru tentang pemberian gelar orang yang tamat Perguruan
Tinggi dan Dito memang tamat setelah kuliah selama 5
tahun karena mata kuliah yang susah ditambah dosen-
dosen yang menjunjung tinggi kaidah penilaian yang biasa
disebut “Dosen Killer”.

Erwan yang berdarah Maninjau lahir di Aceh juga ikut
program Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3)
di tempatkan di Desa Taratak Indah. Dito diajak ke posko
mereka naik Honda Kijang milik Erwan lewat Simpang
Tali Aguang perbatasan Nagari Sumaniak - Sungayang
terus menyusuri jalan melewati MTsN Sungayang, MAN 1
Sungayang, SMP N 1 Sungayang hingga bertemu simpang
tiga lalu belok kanan arah ke Pasar Batusangka dan sampai
di Pulai desa Taratak Indah belok kiri menuju lapangan bola
kaki Pulai, sedang posko mereka terletak dekat gawang
sebelah utara lapangan. Posko berupa rumah dinas guru

24 | Awan di Atas Rumah Bako

berupa rumah kopel sebelah kiri untuk anggota wanita Desti
dan Wulan, sedang sebelahnya untuk anggota pria Erwan,
Bur, dan Ucok. Erwan menyuruh Dito masuk ke posko wanita
duduk di lantai karena tidak ada perabot hanya ada ‘lapiak’
atau tikar dan sebuah meja sederhana yang terbuat dari
kayu 4x6 dan di atasnya ditaruh tripleks.

“Des, sini! Nih, ada teman aku...” Erwan memanggil
seseorang.

Keluar seorang wanita dari bilik yang terbuat dari
tripleks sambil senyum.

“Nih kawan aku sama ngajar di STM,” Erwan melanjutkan.
“Dito, ini Des,kawan aku sama SP3.”

Dito menyodorkan tangan dan disambut Desti.

Desti duduk dan ikut berbincang sebentar dan kemudian
mohon diri masuk kembali ke bilik karena ada yang harus
dia selesaikan. Dito, masih mendengarkan penjelasan
Erwan tentang Desti yang berasal dari Nagari sebelah,
Nagari Sungayang. Tamat dari UNJA bla... bla... tapi Dito
hanya mengangguk-angguk saja karena pikirannya terpecah
mengingat senyum di wajah manis di balik jilbab tadi. Tak
lama Dito mohon izin pulang, diantar Erwan ke jalan Raya
Sungayang - Batusangka sebab Dito baru itu naik angkutan
pedesaan dari Sungayang, takut salah oto.

Sepanjang jalan pulang Dito terus teringat pertemuan
dengan Desti tadi. Dito menyusun semua informasi di
otaknya tentang Desti. Terasa singkat waktu dari Sungayang

Budiharto | 25

tahu-tahu sudah sampai saja di terminal angkutan pedesaan
Guguak Katitiran dan Dito berjalan keluar terminal lalu
belok kanan menapaki trotoar menurun ke Data. Tidak
lupa beli nasi bungkus untuk makan malam. Dito berjalan
perlahan-lahan saja karena dalam otaknya masih teringat
pengalamannya tadi, sesekali terlintas wajah Nini.

Esok hari Dito di STM bertemu Erwan dan terjadi
percakapan,

“Gimana teman aku Des kemarin? Cantik, kan?” tanya
Erwan.

Dito hanya tersenyum saja, Erwan lanjut bertanya,

“Ada pesan ndak?” tanya Erwan lagi.

“Kirim salam saja,” jawab Dito.

Seperti biasa, hari Sabtu sepulang mengajar, Dito pulang
ke Data minta izin ke da Nel anak mak Ani untuk pulang
ke Padang. Sesampai di rumah mama, Dito duduk di teras
rumah. Saat itu lewat Nini naik Honda. Di Minangkabau
sepeda motor apapun mereknya tetap disebut Honda.

Nini tidak pakai jilbab dan pakai rok pendek. Saat malam
setelah salat Magrib Dito main ke rumah Nini tidak masuk ke
rumah tapi ke warungnya yang sekaligus berfungsi sebagai
kios jahit bapaknya yang tukang jahit. Dito minta Nini untuk
pakai jilbab dan rok yang panjang saat keluar rumah.

Minggu sore Dito kembali ke Batusangka supaya Senin
pagi tidak terlambat mengajar, selain itu angkutan umum

26 | Awan di Atas Rumah Bako

susah ke Sumaniak setelah waktu anak sekolah berangkat
ke sekolah. Dito sudah terbiasa ke sekolah ataupun kuliah
tiba di sekolah atau kampus lebih awal supaya bisa tenang
jiwanya, dan ada slogan baginya lebih baik tidak datang
sama sekali dari pada terlambat. Dito merasa bimbang
memikirkan Desti, mau berkenalan lebih jauh tapi masih
ada Nini. Sesampainya di STM Erwan kembali menggoda
Dito dengan masalah Desti.

Saat kesempatan pulang ke Padang berikutnya Dito
kembali melihat Nini naik Honda dari arah rumahnya
dengan rok yang lebih pendek hingga separoh pahanya
terlihat, tentunya tanpa jilbab. Dito marah dalam hati, ingin
langsung menegur Nini. Dalam marahnya Dito ingat tentang
pandangan papa masalah seorang istri, istri milik suami maka
bagian penting perempuan hanya boleh dilihat oleh suami.
Maka papa melarang mama memakai rok di atas lutut dan
baju ‘Katebe’ atau baju tanpa lengan, karena papa saat itu
mengerti aurat perempuan apa saja. Seiring pertambahan
umur Dito mendengar pengajian di TV dan Masjid tentang
aurat maka mantap dalam pandangan hidupnya bahwa
perempuan wajib menutup auratnya dan hanya mahromnya
saja boleh melihat. Meski Nini berjilbab tapi hanya untuk
bepergian dan belum syar’i. Dari pertemuan dengan Desti
saat itu maka Dito membandingkan dengan Nini yang sama-
sama berjilbab, mudah-mudahan Desti tidak membuka
tutup kepalanya di luar rumah. Meski masih marah tapi Dito
memutuskan untuk tidak menemui Nini dan seperti biasa
hari minggu sore Dito kembali ke Batusangka.

Budiharto | 27

“Gimana, ada pesan untuk Des?” Erwan memulai
percakapan dengan Dito hari Senin pagi sebelum upacara
bendera. Dito hanya tersenyum saja dan meninggalkan
Erwan terus ke halaman sekolah tempat upacara, membantu
mengatur barisan siswa.

Di antara jam mengajar yang kosong Dito memutuskan
mengikuti saran Erwan berkirim pesan dengan menulis surat
akibat rasa kecewanya ke Nini dan sedikit mencari peluang.
Diambil kertas HVS dari TU dan minta amplop ke Nelna,
pegawai TU. Katanya amplop dinas yang ada. Dito ambil
saja, lalu mulai menulis surat yang sangat pendek sekali
cuma berisi salam dan menanyakan kabar saja lalu ditutup
salam dan tidak lupa tandatangan. Dimasukkan ke dalam
amplop kemudian di saat sepi diserahkan surat itu ke Erwan.

Surat menyurat terus berlangsung beberapa hari. Dito
mulai menulis surat yang isinya diarahkan ke perasaannya
terhadap Desti namun Desti tidak pernah memberi bayangan
perasaannya terhadap Dito, barangkali memang begitu
perempuan yang sudah dewasa pikirnya, mungkin Desti
tidak bisa memberi bayangan tentang perasaanya ke Dito
karena baru berkenalan dan belum tampak nilai lebih serta
jaminan hidup dari Dito karena baru sama-sama menjadi
pegawai honor. Tapi Dito pun tidak menaksir kata-kata yang
menutup peluangnya sehingga membuatnya bertambah
semangat untuk mendapatkan hati Desti.

28 | Awan di Atas Rumah Bako

DESTI JODOH DITO

Dengan sering datang ke posko SP3 di Pulai, ditambah
surat menyurat terus berlangsung maka Dito mulai
menyimpulkanadapeluangmendapatkanhatiDesti.Biasanya
Dito makan saat di posko disuguhkan Wulan karena tamu
Erwan dan Wulan yang sudah menjalin asmara semenjak
kuliah. Sekarang Desti, meski tidak sering sebab Dito makan
dulu sebelum ke sana. Dito sudah jarang pulang ke Padang
karena sudah ada Desti yang memenuhi kebutuhan batin
Dito walaupun masih saja mempertimbangkan perasaan
Nini kalau dia tahu Dito sudah berpaling karena kecewa.

Pengumuman hasil tes CPNS kabarnya sudah keluar,
agar bisa melihatnya Dito menumpang Erwan pulang
sekalian akan melihat hasil tes bersama-sama di kantor
Kandepdikbud Kecamatan Sungayang yang letaknya di
Galanggang Tangah Sungayang. Sesampai di posko Dito
dan Desti naik angkutan pedesaan dari Pulai ke Galanggang
Tangah sedangkan Erwan bersama Wulan naik Honda
Kijang. Dito melihat dengan teliti nomor peserta ujianya di
Jurusan Listrik karena Pendidikan Teknik Elektro di IKIP jika
di STM mengajar di jurusan Listrik. Sungguh kecewa Dito
karena tidak menemukan nomor ujianya. Tapi dia heran,

Budiharto | 29

semula yang dibutuhkan guru jurusan Listrik hanya 1 orang
tapi kenapa yang lulus 4 orang dan pangkal nomor ujian
keempatnya sama, beda dengan nomor ujian Dito yang
Di awali angka 4. Lalu logika Dito bekerja dan ia putuskan
melihat ke jurusan lain, dengan teliti sekali mencari hingga
jarinya menunjuk ke jurusan Otomotif dan ternyata ada
nomor yang mirip dengan nomornya. Dilihat kembali kartu
peserta ujianya lalu menoleh kembali ke pengumuman
ternyata sama, diulang kembali melihat ke kartu ujian
kemudian menoleh lagi ke penguman, kira-kira tiga kali
diulang baru dia yakin kalau itu benar nomor ujianya yang
berarti dia lulus. Demikian pula Erwan dan Wulan, tapi tidak
Desti. Tak sabar Dito menunggu besok pulang ke Padang
untuk mengurus kelengkapan bahan untuk dilampirkan ke
dalam berkas syarat menjadi CPNS.

Keesokan harinya Dito pulang dan mengurus berkas
seperti mengurus Surat Keterangan Berkelakuan Baik di
Polsek Padang Utara, Surat Keterangan Bersih Diri di Korem
032 Wirabraja di Jalan Sudirman serta melegalisir ijazah di
Fakultasnya dulu. Dito sambil menanti tanggal menyerahkan
berkas ke Kanwil Depdikbud Sumatera Barat dengan kembali
ke Batusangka untuk mengajar.

Hari minggu itu Dito pagi-pagi sekali berangkat ke
pasar Batusangka ke Jalan Sukarno-Hatta, tepatnya di
samping KaBe Swalayan ke sebuah tempat rental komputer,
mengerjakan tugas dari sekolah. Kira-kira pukul 10 tengah
asyik mengetik menggunakan computer, Dito ditepuk

30 | Awan di Atas Rumah Bako

pundaknya oleh seseorang. Terkejut lalu menoleh, ternyata
mama dan mas Anto. Mama senyum.

“Kok gak pulang-pulang ke Padang? “Masih banyak
uang kamu? Sudah terima honor?” Mama memberondong
Dito dengan pertanyaan. Dito hanya tersenyum. Mereka
khawatir karena sudah beberapa minggu tidak pulang ke
Padang, Dari dulu, bagi mama dan papa, mereka harus
yakin keadaan anak-anaknya baru hati mereka tenang.
Jika pada waktu yang telah diatur ada anaknya tidak ada
di rumah maka pasti mereka cemas dan langsung mencari
sampai bertemu dan membawa pulang sambil diomeli serta
dihujani cubitan.

“Yah, sudah... Yuk makan, saya lapar! Makan yuk!” Ucap
mas Anto. Mas Anto memang suka makan. Dito menyimpan
file ketikan ke disket, mematikan komputer lalu membayar
sewa komputer dan menunjukkan tempat makan yang
menurut dia enak di kedai makan Ajo dekat los ikan, di
belakang los daging pasar Batusangka. Yang Dito sukai gulai
cancangnya, aromanya mengundang selera makan. Ternyata
benar saja, mas Anto ‘batambuah’ nambah nasi sampai 4
kali sedang mama seperti biasa sedikit saja makannya. Dito
berpikir keras, apa dia beritahu tentang Desti ke mama
dan mas Anto atau tidak, dan akhirnya dia putuskan untuk
memberitahu.

“Saya berteman dengan cewek, anggota SP3!” ungkap
Dito.

“Apa SP3?” tanya mas Anto.

Budiharto | 31

“Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan...!” jelas
Dito.

“Anak mana?” tanya mama.

“Minangkabau...!” jawab Dito.

“Sungayang?” mama ingin memastikan.

“Ya.” sahut Dito.

Kemudian banyak lagi pertanyaan tentang Desti.
Dengan narasi argumentasi Dito menjawab, dengan harapan
mas Anto dan mama tidak melarang karena saat itu yang
berpengaruh untuk mengambil keputusan dalam hidupnya
yaitu mama pertama, baru mas Anto dan Fifo. Dito punya
‘Mamak’, paman adik dari mama tapi tidak berperan
dan berpengaruh dalam kehidupan keluarga Dito karena
mamaknya tidak bisa menjalankan perannya sebab repot
mengurus diri dan keluarganya.

Dari percakapan selama makan itu Dito menyimpulkan
tidak ada keberatan dan larangan, maka dia beranikan dirinya
untuk minta izin membawa Desti ke rumah di Padang untuk
berkenalan. Ternyata mama dan mas Anto mengizinkan.
Sungguh senang hati Dito.

“Besok, waktu menyerahkan berkas CPNS, saya ajak
ke Padang.” Ungkap Dito. “Bersama si Wulan, supaya ada
temanya.”

Sesampai Mama di rumah, mama bercerita kepada
Fifo bahwa kakaknya Dito berkenalan dengan seorang

32 | Awan di Atas Rumah Bako

perempuan dari Minangkabau. Lalu Fifo berkata kalau mau
jadi kakak ipar saya ya harus dites dulu atau dilihat dulu baru
di setujui untuk melanjutkan hubungan dengan kakaknya.

Sebelum tanggal penyerahan berkas sambil membawa
Desti ke rumah, Dito memohon ke Erwan supaya mau
membawa serta Desti ke Padang. Nanti di Asrama Mahasiswa
Aceh di Tunggua Hitam akan dijemput dan bermalam di
rumah Dito. Erwan menyanggupi. Sehari sebelum hari
penyerahan berkas, siangnya mereka, Erwan, Wulan, dan
Desti berangkat ke Padang. Dua kali Dito menjemput Desti
ke Asrama Mahasiswa Aceh, yang pertama mereka belum
sampai yang kedua setelah Magrib pergi lagi dan ternyata
sudah sampai. Segera Dito antar ke rumah lewat Dadok,
memang lebih jauh dibanding lewat Jalan Bhakti. Ini supaya
jangan sampi kepergok Nini karena status mereka masih
pacaran.

Desti bercengkrama dengan keluarga Dito terutama Fifo
yang ingin menguji calon kakak iparnya, karena Dito dan Fifo
sangat dekat sebab mereka bertikai 12 tahun usia mereka.
Dari dalam kandungan Dito menyayangi Fifo. Sering Dito
tidur dengan mama sambil memegangi perut besar mama.
Begitu antusias Dito mengantar mama bersama papa ke
RST Padang sore itu saat persalinan di tanggal 26 Februari.
Dito dan papa berdiri serentak saat terdengar suara tangisan
bayi saat waktu azan Isya. Terucap Alhamdulillah di bibir
Dito. Bergegas Dito masuk ke ruang bersalin tapi ditahan
perawat. Saat tahu kapan mama dan Fifo pulang Dito

Budiharto | 33

membersihkan tempat tidur mama dan papa agar benar-
benar bersih tanpa debu, pokoknya steril agar adiknya bisa
tidur nyenyak dan sehat. Tercurah selalu perhatian Dito
untuk Fifo. Sementara itu Dito memeriksa kelengkapan
berkas yang akan diserahkan esok hari.

Paginya Dito berangkat ke Kanwil Depdikbud Sumatera
Barat di Jalan Sudirman, Padang. Sedangkan Desti tinggal
di rumah. Ternyata karena banyak yang akan menyerahkan
berkas maka dipindahkan tempatnya ke aula SMK N 6 Padang.
Cukup lama proses penyerahan berkas untuk penerbitan
SK CPNS, setelah Zuhur baru selesai karena sudah lengkap
sesuai ketentuan. Akan tetapi Erwan dan Wulan ditolak
bahan mereka sebab jurusan mereka Pendidikan Teknik
Mesin tidak dibutuhkan untuk STM di Sumatera Barat
melainkan Otomotif atau tidak ada formasi untuk jurusan
mereka. Tapi entah bagaimana ceritanya saat pendaftaran
diterima dan diberi nomor ujian oleh petugas sehingga bisa
mengikuti tes. Ternyata ada saudara Wulan yang bekerja di
kantor Depdikbud Payakumbuh yang paham celah-celah
agar bisa meloloskan mereka pada tahap pendaftaran.
Barangkali saudara mereka tidak memperhitungkan kalau
ada tahap melengkapi berkas, yang tentunya petugasnya
berbeda karena dikumpulkan di Padang atau kurang
koordinasi dengan orang dalam seperti saat meluluskan
mereka.

Erwan dan Wulan pulang dengan hati yang sangat
kecewa, tampak wajah bulat Wulan yang ‘temok’ tembem

34 | Awan di Atas Rumah Bako

dan gemuk bertambah bulat karena ‘mambuduik’
cemberut. Sama halnya Erwan yang bingung, marah, kesal,
berpikir keras, sehingga tampak jelas pada wajahnya yang
tegang. Dia keluar ruangan aula SMK N 6, saat itu masih
bernama SMKK, untuk menghisap sebatang Kansas untuk
menenangkan jiwa sambil berpikir mencari solusi agar
bahan mereka bisa diterima lalu dikirim Ke BKN. Toh di
Jakarta jika sudah diantarkan orang daerah berarti sudah
lengkap dan sesuai ketentuan tinggal membuat persetujuan
lalu menerbitkan SK. Akhirnya kami putuskan untuk pulang
ke Asrama Mahasiswa Aceh sedangkan Dito ke rumahnya
untuk menjemput Desti untuk pulang ke Sungayang bersama
Erwan dan Wulan. Dito tidak ikut bersama mereka. Sambil
mengantarkan ke Asrama Mahasiswa Aceh Dito bercerita
tentang keadaan di SMKK tadi supaya Desti paham mengapa
Erwan dan Wulan cemberut dan diam-diam saja nanti di
atas bus.

Keesokanya kembali Dito ke Batusangka untuk mengajar
sembari menunggu SK-nya keluar. Dito malam itu diajak
Ucok anggota SP3 lainya ke rumah orang tua Desti membeli
telur itik untuk dieramkan. Mereka beternak itik kering
sebagai percontohan buat masyarakat. Dito mau saja karena
ingin tahu rumah Desti. Mereka bertemu umi, begitu Desti
memanggil ibunya dan bercerita sebagai basa-basi dari nama,
kegiatan, hingga hubungan pertemanan Dito dengan Desti.
Tak lupa Dito bercerita pertemuan Desti dengan keluarga
Dito. Cerita ini yang memulai babak berikutnya hubungan
percintaan Dito dan Desti. Ternyata Desti tidak meminta izin

Budiharto | 35

orang tuanya sesuai permintaan Dito sebelum menemui
keluarganya. Bagi Dito izin orang tua bagi perempuan
untuk pergi jauh adalah suatu keharusan sebab perempuan
mempunyai harkat dan harga diri yang tinggi. Bila norma
agama dilanggar maka tiada nilainya di mata Dito. Tapi
berbeda dengan pertimbangan Desti dari sudut adat dan
budaya di kampungnya yang melarang keras perempuan
pergi ke rumah laki-laki tanpa ada hubungan kekerabatan
dan status. Pandangan yang demikian tak ada dalam benak
Dito yang lama hidup di kota yang menggunakan acuan
agama dan norma universal saja. Selain itu adik sepupu Desti
pernah berkunjung ke posko SP3 dan bertemu Dito. Desti
memperkenalkan Dito dengan adiknya, kemudian adiknya
bercerita ke bapaknya yang sekaligus mamak Desti tentang
hubungan Dito dan Desti juga kepergian Desti ke Padang.

Tabu perempuan ke rumah laki-laki yang belum ada
hubungan. Maka bertanya mak Zai ke kakaknya, umi, ibu
Desti tentang cerita itu. Akhirnya diadakan pertemuan
keluarga membincangkan masalah ini sebelum orang
kampung tahu kalau anak kemenakan mereka sudah berlaku
sumbang dengan pergi ke rumah laki-laki tanpa hubungan
yang jelas. Lagi pula umur Desti sudah 26 tahun dan si laki-
laki sudah lulus CPNS sedang menunggu SK. Desti dengan
hati-hati bicara ke Dito,

“Dito mamak-mamak dan umi minta Dito ke rumah.”
Desti memulai pembicaraan. Dito kaget sekali. Cemas, takut,
bingung, karena salah apa yang sudah diperbuat ke Desti?

36 | Awan di Atas Rumah Bako

Dito walau hidup di kota tapi sering bergaul maka dia
paham ‘Alun takilek lah takalam, takilek ikan di lauik lah jaleh
jantan jo batinyo’ (Sebelum kena cahaya yang menyilaukam
matanya dia sudah duluan gelap penglihatanya, sekelebat
tampak ikan di laut maka sudah jelas jantan atau betinanya
ikan itu), sebab kalau sudah dipanggil para mamak dari
seorang perempuan pasti arahnya ke masalah hubungan
laki-laki perempuan yang sudah melanggar norma agama
dan adat atau sudah ke tingkat pembicaraan memperjelas
hubungan antara laki-laki dan perempuan. Padahal Dito
belum ada terpikirkan soal kawin dalam benaknya,

“Untuk apa?” tanya Dito penasaran.

“Masalah kita ke Padang,” jawab Desti.

“Ada masalah? Minta izin kan pergi waktu itu?” Dito
makin penasaran.

“Ndak... Kalau minta izin pasti dilarang, karna mereka
ndak kenal Dito,” jelas Desti.

Desti menyebut nama saat bicara dengan Dito sebab
sungkan jika menggunakan kata-kata ‘wa ang’ karena kata-
kata itu dipakai ke orang lali-laki yang lebih kecil atau sebaya
namun sudah akrab dari kecil oleh seorang perempuan ke
seorang laki-laki, demikian pula oleh seorang laki-laki-laki
kepada laki-laki lainya. Begitu pula dengan “Kau”, panggilan
kepada perempuan. Kini sudah bergeser penggunaan kata
wa ang yang sangat kasar jika dipakai bicara dengan orang
lain yang baru dikenal apalagi ke orang yang lebih tua.

Budiharto | 37

Penggunaan lainnya biasanya digunakan saat seseorang
sangat marah ke orang lain tanpa memandang usia orang
itu lagi. “Wa ang” yang berarti “kamu” tidak bisa digunakan
seperti “koe” di Jawa, “lu” di Betawi, “kau” di Batak untuk
bicara dengan siapa saja. Kata “wa ang” dan “kau” pun tidak
lagi digunakan berbicara dengan anak kecil lagi karena terasa
kasar dan selanjutnya diganti dengan menyebut nama anak
itu saja atau kata-kata “Anak, Nak” misal “Jaan Anak pacik
galeh tu, ndak!” (Jangan pegang gelas itu, ya!), padahal
hingga tahun 90-an masih digunakan “Jaan wa ang pacik
galeh tu, ndak!” Atau bila ada dua orang yang dahulunya
akrab namun saat salah satunya berhasil secara pendidikan
maupun ekonomi maka yang tidak bernasib baik akan
mengganti sebutan yang semula “Wa ang” ke temannya
dengan cukup menyebut nama temanya saja sebagai wujud
penghormatan sera penghargaan dan mana tahu ada yang
merembes dari temanya yang sukses itu. “Taganang sawah
di ateh, sawah di bawah kan lambok pulo” (Tergenang
sawah di atas, sawah di bawah akan dapat pula sedikit air.
Makmur seorang teman maka orang yang di dekatnya juga
akan dapat pula meski sedikit).

Dito merasa sangat bingung karena dia belum ada
berpikir ke arah berumahtangga, karena pertama dia belum
jelas penempatanya, yang kedua dia belum mewujudkan
janji ke Fifo karena saat itu baru kelas 2 SMP dan belum
sama sekali melaksanakan kewajiban seorang anak untuk
berbakti dan membalas jasa orang tua, ketiga dia sama sekali

38 | Awan di Atas Rumah Bako

tidak punya simpanan, dan ke empat hubunganya dengan
Nini belum putus. Seperti tidak punya daya tubuh Dito
benar-benar lemas karena nanti mama tentu akan kecewa,
demikian pula keluarga yang lain. Terbayang bagaimana
mama akan marah-marah dan akan menghalangi serta
melarang hubungan Dito dan Desti seperti kepada Nini.

“Kapan disuruh datang?” Tanya Dito.

“Sesudah salat Jumat besok,” jawab Desti.

“Jadih... ambo turuik bisuak! (Baik besok saya datang)”
ungkap Dito.

Menjelang hari Jumat Dito terus berpikir berbagai
kemungkinan pertanyaan untuk dia sekaligus jawaban
sehingga semua pihak senang. Pada intinya Dito mau
hubunganya dengan Desti tetap berjalan namun tanpa
ikatan pernikahan, paling tidak sampai dia benar-benar
mapan supaya bisa membiayai pernikahan dan resepsi
karena dia benar-benar tidak punya uang sama sekali.
Sedang sekarang saja dia masih disubsidi mama, walau
akan ada honor mengajar namun pasti tidak akan cukup.
Perhitungan honor guru di sekolah swasta adalah jumlah
jam mengajar 1 minggu dikali Rp. 6.500. Sebanyak itulah
yang diterima sebagai upah mengajar selama 1 bulan. Akan
tetapi dia tidak gentar, barangkali karena dia anak tentara
yang lama hidup di lingkungan asrama yang terasa keras.
Namun bagaimana pun selaku manusia dia tetap ada rasa
ciut.

Budiharto | 39

Dito sepulang mengajar pulang menumpang dengan
Erwan ke posko SP3 agar bisa berangkat bersama ke
rumah Desti setelah salat Jumat nanti. Dito dan Desti naik
angkutan pedesaan dari Pulai menuju ke rumah Desti. Dari
simpang Kubu mereka berjalan kaki sekitar 200 meter dan
berpapasan dengan mak Bas. Dia memberi isyarat ke Desti
untuk langsung saja ke rumah. Sepanjang jalan Dito terus
berpikir dengan keras mengingat-ingat strategi yang sudah
disusun sekaligus bagaimana menghadapi mamak-mamak
Desti yang marah karena sudah dibawa ke rumahnya tanpa
izin. Tanpa dia sadari ternyata sudah sampai di pintu masuk
rumah Desti.

“Assalamualaikum...” Dito mengucapkan salam dengan
suara tegas agar memberi kesan bahwa dia orang yang
pemberani bukan pengecut, apalagi penakut.

Dari dalam terdengar jawaban, “Waalaikumsalam...
Naiak... Naiaklah...!”

Di ruang tengah sudah duduk mak Ril, mak Bus, mak Nin
dan mak Zai mengelilingi hidangan sambil mempersilahkan
Dito duduk di tempat kosong yang disediakan untuknya.
Langsung dia menyalami satu persatu dan duduk bersila
dan tetap dengan perasaan kacau balau takut melakukan
kesalahan yang membuat dia malu atau salah.

“Lah..? Ril, basuahlah tangan! Tambuah nasi lai... Dito,
basuahlah tangan lai... tambuah nasi tu (Ril, cucilah tangan!
ambil nasi)!” ajak mak Bus untuk mulai menyantap hidangan
yang sudah terhampar di tengah-tengah mak Ril dan Dito.

40 | Awan di Atas Rumah Bako

“Jadih, wan. Yuk, Dito.. basuahlah tangan tu lai..!
Tambuah nasi tu!” mak Ril mempertegas ajakan untuk
makan.

“Muahlah, Wan Nin, Wan Zai, basuahlah tangan tu lai..!
Makan kito lu! (Yuk Wan Nin, Wan Zai basuhlah tangan...
makan dulu kita)” lanjut mak Ril.

Mak Nin dan mak Zai serempak, “Jadih...”

“Jan baso-baso, Dito! Ambiaklah samba tu! (jangan
sungkan-sungkan, Dito! Ambil lauk-lauk itu!),” ucap mak
Nin.

“Iyo pak,” jawab Dito.

“Bukan Pak, tapi Mak Nin!” jelas mak Ril.

Para mamak pun memanggil Dito dengan menyebut
namanya saja, bukan “Wa ang”. Karena baru kenal dan
pendidikannya dan calon pegawai. Panggilan “Wan” berasal
dari kata “Tuan” yang berarti juga “Uda” sebagai panggilan
untuk laki-laki yang lebih tua. Di Minangkabau ada kebiasaan
“Batanyo lapeh arak, barundiang sasudah makan”.
Merundingkan segala sesuatu dilakukan setelah si tamu
yang datang menyantap makanan yang dihidangkan yang
berarti orang Minangkabau pandai mengambil hati orang
lain dengan memuaskan selera tamu dengan makanan yang
terkenal memanjakan lidah dengan makanan yang kaya
rempah dan diakui seluruh dunia kelezatanya. Barangkali
dengan menyenangkan perasaan tamu maka suasana
perundingan akan lebih santai sehingga tercapai niat

Budiharto | 41

baik. Ini adalah trik orang Minangkabau dalam berunding
menyelesaikan segala permasalahan.

Tengah menyantap hidangan, datang mak Bas. Dia duduk
saja tidak ikut makan karena sudah makan di rumah ibunya
barusan. Rupanya waktu berpapasan tadi dia ke rumah
ibunya, sebab sudah menjadi kebiasaan di Minangkabau jika
tinggal di rumah istri tak jauh dari rumah orang tua maka
laki-laki akan pulang ke rumah orang tua sekali seminggu
setelah salat Jumat untuk makan meski dengan samba lado
saja bisa batambuah berkali-kali karena entah kenapa nasi
dan masakan ibu selalu terasa sangat nikmat sekali. Selain
itu untuk memastikan keadaan rumah secara fisik dan batin
penghuni rumah apalagi ada adik perempuan yang sudah
punya suami dan anak, seorang laki-laki wajib menanyakan
“Urang sumando” (iparnya) apakah urang sumando betah?
Apakah adiknya pandai melayani makan minum suaminya?
Apakah adiknya sopan dan patuh ke suaminya? Apakah
“Kamanakan”nya (anak adiknya) salat, mengaji, tidak
melawan ke orang tua, ke nenek dan kakek? Rajin belajar?
Dan sebagainya. Jika ada masalah maka saat itulah waktunya
membereskan segala sesuatunya.

Dito belum mencuci tangan meski sudah menyelesaikan
makannya yang sedikit saja karena begitu pengajaran orang
tuanya, jika makan di tempat orang lain jangan banyak-
banyak dan jangan semua lauk diambil nanti dibilang
orang “Cangok” (rakus, kelaparan) serta tidak boleh cuci
tangan sebelum orang tua. Saat itu saling menunggu siapa
dulu yang cuci tangan karena adab tuan rumah menjamu

42 | Awan di Atas Rumah Bako

tamu pun tidak boleh mencuci tangan sebelum tamu. Tapi
biasanya sang tuan rumah “Sipangka” yang punya hajat
akan mempersilahkan tamu untuk mencuci tangan terlebih
dahulu, atau kalau mereka arif karena si tamu enggan
mendahului maka sipangka mendahului tapi sambil berkata
“Iko dek kapak lai tajam, capek rabah batang kayu, dulu
ambo mambasuah tangan yo! (Karena kapak yang tajam
makanya batang kayu cepat rebah, duluan saya cuci tangan
ya!)”

“Dito... hari ka hujan. Kanakaan lah parabuang tu
lai! (Dito... hari mau hujan, cepat pasang penyambung
atapnya!)” kata mak Bus sambil melihat ke Dito.

Dito terkejut. Dia lihat mak Bus tanganya men-jangkau
kue bolu di atas tadah. Ternyata “parabuang” adalah
ambiguitas kata yang berarti dua, bisa berarti “penyambung
atap”, juga “makanan kecil”. Ada perumpamaan kalau
setelah makan makanan utama ditutup dengan makanan
ringan sebagai penutup atau dessert. Sungguh pintar orang
Minangkabau bersilat lidah mempermainkan kata-kata.
Pantaslah dalam sejarah bangsa Indonesia banyak orang
Minangkabau yang sukses dalam perundingan dengan
bangsa maju seperti Belanda dan sekutunya.

“Jadih, mak!” jawab Dito.

Setelah selesai makan dan menghisap sebatang rokok
masing-masing sambil tanya jawab menggali informasi
tentang asal Nagari, tempat tinggal, jumlah saudara Dito,
dan lain-lain.

Budiharto | 43

“Ba a wan Bus, wan Nin, wan Zai, Bas? Lah bisa etongan
kito sabuik (bagaimana Wan Bus, Wan Nin, Wan Zai, Bas
sudah bisa kita mulai pembicaraan)?” tanya mak Ril ke tuan-
tuanya, sedang ke mak Bas disebut namanya saja karena
seusia, untuk memulai pembicaraan dengan Dito. Lalu para
mamak mengangguk tanda seutuju.

“Dito... kami mamak Desti meminta datang ke sini
karena Dito sudah mengenal kamanakan kami dan pula Desti
pun katanya sudah ke Padang untuk berkenalan dengan
keluarga Dito. Maka kami pun ingin berkenalan dengan
kawan kamanakan kami. Dito tak keberatan, kan?” mak Ril
memulai pembicaraan. Sungguh pandai mak Ril merangkai
kata-kata sehingga sampai di telinga, dan dicerna hati dan
otak Dito dengan nyaman.

“Tidak mak, saya tidak keberatan,” jawab Dito.

“Karena Desti dan Dito sudah saling kenal dan sudah
sama-sama dewasa,” ujar mak Ril. “Seperti kata orang-
orang tua kita “Indak ado malang samalang nan ko, indak

ado mujua samujua nan ko. Karajo elok rancak dipacapek,

nyampang kok tibo nan buruak. Karajo buruak rancak
dipalambek, kok katibo nan elok, (karena ikatan laki-laki
dengan perempuan secara resmi adalah perkara yang baik
maka sebaiknya disegerakan supaya jangan bertemu hal
yang buruk seperti terlihat ke mana-mana berduaan oleh
orang kampung sehingga keluarga masing-masing malu
digunjingkan oleh orang kampung atau nanti berbuat zina,
sedangkan niat buruk lebih baik ditunda barangkali tidak
jadi dikerjakan),” jelas mak Ril.

44 | Awan di Atas Rumah Bako

“Apa yang mamak sampaikan semua benar.” Sahut Dito.
“Akan tetapi, pertama kami baru saling kenal, kedua benar
saya sudah lulus jadi CPNS tapi belum tahu di mana akan
di tempatkan, ketiga saya punya tanggung jawab untuk
membantu orang tua dan menyekolahkan adik saya hingga
sarjana yang sekarang baru kelas 2 SMP, dan ke empat saya
tidak punya tabungan sama sekali karena sekarang saya
masih dibantu oleh mama dan kakak saya, kelima kakak
saya yang membantu saya belum menikah, lagi pula orang
tua saya belum tahu tentang ini,” Dito menyampaikan pokok
padangnya untuk meyakinkan mamak-mamak Desti.

“Alhamdulillah, ternyata kamanakan kami berkenalan
dengan laki-laki yang jujur dan saleh,” ujar mak Ril. “Semua
tentang kewajiban Dito ke orang tua dan ke adik kami jamin
tidak akan terhambat karena memang begitulah seharusnya
kita selaku laki-laki, harus bertanggung jawab penuh
terhadap keluarga,” tambah mak Ril.

“Kalau tentang tidak punya tabungan, tidak masalah
bagi kami karena uang bisa dicari dan kami tidak menuntut
kalau sekarang belum bisa menafkahi kamanakan kami,
yang penting kedamaian dalam keluarga. Soal makan kita
persamakan bersama,” mak Bus mempertegas komitmen
mereka.

“Kalau masalah baralek itu soal nanti, bisa saja nanti
waktu ada rezaki baru dilaksanakan. Yang penting ada ikatan
yang resmi secara agama utamanya dan negara berikutnya,”
ungkap mak Ril.

Budiharto | 45

“Tapi saya belum mengabari orang tua saya,” sahut Dito.

“Jadi begini, Dito. Supaya lebih akrabnya keluarga
kita, kapan Dito bisa menemani kami ke Padang untuk
bersilahturahmi dengan orang tua Dito? tanya mak Ril. “Hari
minggu besok, bisa?” mak Ril dengan halus mendesak Dito.

Dito terdiam sejenak memikirkan apa yang harus
dijawab. “Baiklah, Mak... Tapi besok saya pulang ke Padang
bersama Desti untuk bicara dengan keluarga saya,” pinta
Dito.

“Silahkan,” jawab mak Ril.

Setelah selesai pertemuan, Dito mohon pamit dan
berunding dengan Desti perihal pergi ke Padang.

Seusai mengajar hari sabtu itu Dito kembali menumpang
dengan Honda Kijang Erwan ke Pulai karena dari situ ke
Padang naik Bus. Sampai di Padang sudah Magrib, setelah
salat dan makan malam Dito bicara dengan mama tentang
rencana keluarga Desti akan datang bersilahturahmi.

“Ma, keluarga Desti mau ke sini bersilahturahmi.
Bagaimana?” tanya Dito dengan suara lembut.

“Nggak apa-apa. Kapan?” mama bertanya balik.

Dito lega sekali mama tidak marah, menolak atau pun
melarang.

“Kapan?” tanya mama lagi.

“Besok,” jawab Dito.

46 | Awan di Atas Rumah Bako


Click to View FlipBook Version