The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suradibudi, 2022-07-21 08:13:28

NASKAH Awan di Atas Rumah Bako

NASKAH Awan di Atas Rumah Bako

“Besok? Minggu? Sekarang Sabtu. Besok?” mama kaget
dan bingung memikirkan bagaimana cara mempersiapkan
menyambut tamu tapi cuma semalam.

“Iya,” jawab Dito.

“Gila kamu! Bagaimana cara menyiapkan lauk-pauk
untuk menjamu tamu besok?” mama marah karena bingung,

“Ya, apa adanya sajalah!” ujar Dito.

Mama lalu berunding dengan amak dan mas Anto
tentang keluarga Desti yang akan datang besok. Lalu
mengambil sarung, ambil tutup kepala, terus keluar ke
warung di simpang DPR membeli segala sesuatu yang bisa
disediakan untuk besok, sambil singgah ke rumah mas Man
minta bantu menanti tamu besok sekaligus minta bantu ni
Jus istrinya masak. Sedangkan Dito dapat tugas ke rumah
pak Rin yang sudah dianggap sebagai mamak. Malam itu
mama dibantu Desti, Fifo dan amak masak yang bisa di
masak malam itu.

Hari minggu itu Dito membantu mempersiapkan
menyambut keluarga Desti sebelum menanti mereka di
perlintasan kereta api Aia Tawa. Kedatangan keluarga Desti
ke Padang disebut “Maminang”, melamar Dito untuk Desti
sekaligus menentukan waktu untuk “Timbang Tando” dan
“Baretong”. Seperti kebiasaan, tentu sebelum acara dimulai
didahului dengan makan hidangan yang dihidangkan. Dalam
acara itu intinya lamaran diterima sekaligus diputuskan
acara timbang tando dan baretong pada bulan November

Budiharto | 47

di rumah Desti. Keluarga Desti pulang setelah salat Zuhur
sedangkan Desti tidak ikut karena akan pulang besok
bersama Dito.

Dito bertanya ke mama saat Desti di dapur mengemasi
piring-piring kotor, mama bilang dia bingung kenapa
keluarga Desti minta cepat-cepat menikahkan Dito dan
Desti. Tadi mama tidak punya uang untuk persiapan. Dito
bilang kalau memang harus nikah cepat dia mau nikah
saja tidak pakai pesta dan belum berkumpul hingga dia
punya uang. Dito berjanji ke mama dia tetap akan berbakti
ke mama dan tetap membantu Fifo seperti janjinya dulu
bagaimanapun pahit hidup Dito dan Desti. Syukur mama
berterus terang tentang keadaan Dito sekeluarga dan apa
saja kewajiban Dito terhadap keluarganya. Kato bajawek,
dayuang basambuik, ternyata keluarga Desti berjanji akan
tetap mendorong Dito menjalankan kewajibanya sebagai
anak laki-laki yang bertanggungjawab terhadap keluarga
serta sabar menunggu hingga mereka berdua punya uang
untuk baralek. Bagi keluarga Desti yang penting syah
menurut Islam terlebih dahulu, baralek itu urusan dunia.

Amak mencoba mengajukan usulan ke mama supaya
meminta jemputan kepada keluarga Desti tapi dibantah
mama karena pertama dia tidak mau menjual anaknya.
pandangan mama “Bajapuik” sama halnya menjual anak ke
istrinya, yang kedua Desti pun sarjana seperti Dito. Dito PNS,
Desti punya kerja walau kontrak.

48 | Awan di Atas Rumah Bako

Di hari dan tanggal yang telah ditetapkan pada bulan
November Dito menunggu keluarganya di lapau tek Bayak
dekat pangguang Sigarungguang Batusangka, nanti
bersama-sama ke rumah Desti untuk timbang tando dan
baretong. Di atas minibus milik kantor mas Anto sudah ada
mama, pak Rin, amak, mas Man, om Sup, mas Anto dan Fifo.
Mobil meluncur melalui Jalan Sukarno Hatta terus lurus di
lampu merah Cindua Mato menyusuri aspal jalan Minang,
Simpuruik, Koto panjang sampai di kantor Desa MJ mobil
mengurangi kecepatan karena akan belok kiri arah ke Tigo
Batu dan berhenti 200 meter dari simpang Kubu.

Rombongan disambut dengan senang hati dan wajah
penuh senyum bahagia oleh keluarga Desti. Rombongan
dipersilahkan naik ke atas rumah. Di Minangkabau
menggunakan kata-kata ‘naik’ ketika mempersilahkan
sesorang untuk masuk rumah karena dahulu semua rumah
merupakan rumah panggung, sekalipun sebuah gubuk tetap
lantainya ditinggikan supaya binatang tidak bisa naik untuk
mengamankan penghuninya, sedangkan bagian bawah
lantai disebut ‘kandang’ yang biasanya memang dijadikan
kandang ternak.

Seperti biasa, jalan pasa nan dituruik, labuah jolong
nan ditampuah, apa yang sudah biasa dilakukan maka
rombongan dipersilahkan menyantap hidangan yang akan
dihamparkan di ruang tengah rumah. Tak lupa sipangka
mengatur duduk seluruh orang yang hadir, di antaranya

Budiharto | 49

tuan rumah, bako Desti, urang sumando di atas rumah dan
tentunya keluarga Dito. Sebab jika tidak di tempatkan pada
tempat yang pas maka sipangka akan dinilai tidak beradat.
Tamu dan bako biasanya diletakan di tengah, sipangka akan
menutup jalan keluar (tempat masuk tadi) sedangkan urang
sumando duduk di arah dekat dapur karena mereka yang
akan mengangkat hidangan ke tengah.

Tungganai, adalah seorang laki-laki atau mamak
kapalo suku nan dituoan dari suatu kaluarga atau kaum
nan sapasukuan dalam sistem adaik matrilineal di
Minangkabau, akan memeriksa posisi duduk. Setelah dinilai
sesuai kebiasaan maka dia akan menyuruh para sumando
untuk menghidangkan makanan yang akan disantap mulai
dari lauk-pauk, parabuang, nasi yang sudah diisikan ke
dalam piring, nasi tambuah, kabasuah (tempat cuci tangan
berisi air), dan air minum. Tungganai kembali memeriksa
hidangan apakah sudah lengkap dan pantas, seperti nasi
makan apakah sudah tersedia di hadapan setiap orang yang
hadir, ragam lauk apakah sudah sama macamnya setiap
orang? Nasi tambuah apakah sudah merata? Begitu juga
parabuang, minum dan lainya. Setelah semua sudah seperti
kebiasaan di sana maka perwakilan keluarga Dito bertanya
ke tuan rumah apakah mereka sudah bisa menyampaikan
maksud dan tujuan mereka datang dan seterusnya berjalan
dengan lancar.

50 | Awan di Atas Rumah Bako

Dalam acara baretong itu ditetapkan hari dan tanggal
pernikahan akan diadakan tanggal 13 di bulan Januari,
dan saat pernikan nanti ditentukan waktu untuk baralek.
Sementara itu mereka belum boleh berkumpul dan tidak
lupa mempertegas kepada kedua belah pihak bahwa
kedua pihak telah terikat batin sebagai keluarga besar dan
saling berjanji untuk mematuhi kesepahaman di antara
mereka, dan bila ada sesuatu yang tidak diputuskan saat
itu namun penting sehubungan pernikahan akan diadakan
pembicaraan namun tidak perlu bertemu cukup melalui
Dito dan Desti saja.

Mama dan amak sangat kecewa sekali sewaktu
keluarga Desti datang meminang, “Anak ambo baru tamat
kuliah, baru lulus CPNS belum sempat merasakan dan
menikmati gaji anaknya sudah mau menikah. Belum sempat
membahagiakan orang tua dan adiknya sudah dipinang
keluarga Desti,” itu yang berat sekali buat mama dan amak.
Keberatan sekali keluarga Dito untuk menerima pinangan
dari keluarga Desti.

Dengan telah dihasilkan kesepakatan, keluarga Dito
pulang setelah salat Zuhur. Dito numpang hingga di Data
rumah mak Ani. Dito sambil duduk sendirian di rumah
mak Ani mengingat yang terjadi sehari tadi dan membuat
simpulan bahwa sekarang dia akan berada pada fase
penting dalam hidup tiap manusia yaitu pernikahan, yang
pasti akan mengubah status yang semula perjaka berubah

Budiharto | 51

menjadi suami sudah barang tentu punya konsekuensi yang
harus dipikul seperti menafkahi, mendidik, melindungi,
mengayomi, membimbing Desti sehingga menjadi istri
sesuai tuntutan agama yang ia yakini yaitu Islam. Keadaan
yang harus dijalani secara paralel atau sekaligus yakni
menjalankan fungsi sebagai anak yang mesti berlaku sama
buat mama, selaku kakak bagi Fifo, selaku adik bagi dua
orang kakak, selaku minantu bagi mertua, selaku guru bagi
siswa, selaku manusia bagi lingkungan, banyak lagi yang
harus ia lakukan pada waktu yang bersamaan. Dia berpikir,
apa sanggup menjalankan seluruhnya?

Seperti biasa, dia yakin akan mampu karena dia orang
yang optimis. Tersenyum sendiri dia setelah menghitung
hari semenjak dia datang di posko SP3 hingga dipinang.
Singkat sekali, sekitar sebulan dan hingga baretong 1,5
bulan. Sungguh cepat sekali dibanding dia pacaran dengan
Nini sudah 4 tahun.

Dalam perjalan waktu mnenuju hari H, Dito menjalankan
profesinya sebagai guru sambil mengurus persyaratan
untuk nikah. Di awal Desember Dito dapat surat dari Kanwil
Depdikbud untuk mengambil SK CPNS ke Padang. Dengan
mengenakan celana hitam dan kemeja putih juga sepatu
hitam Dito berkumpul di sebuah ruangan. Sepertinya
ruang rapat yang berukuran sedang. Acara singkat berupa
penyampaian ucapan selamat atas pengangkatan para CPNS
dan pesan untuk menjalankan tugas dengan penuh dedikasi
kemudian dilanjutkan membagikan amplop yang berisi SK.

52 | Awan di Atas Rumah Bako

Tidak sabar Dito ingin mengetahui di mana dia di tempatkan,
bergegas membuka amplop dan membacanya. Tidak dibaca
seluruhnya, ia hanya mau melihat nama sekolah tempat
mengajar saja terlebih dahulu, dan terbacalah tulisan STM
Negeri Solok.

Dito senang karena di tempatkan di Sumatera Barat
namun gundah karena bukan di Padang atau Bukittinggi
sebab dia tidak tahu letak STM itu dan dia belum hafal
daerah Solok. Dia pikir jauh dari tempat yang dia hafal karena
dia pernah KKN di kabupaten Solok. Tanpa ada gambaran
medan Dito ke Solok untuk memenuhi kewajiban selaku
seorang guru CPNS. Dito selalu menerapkan pepatah “malu
batanyo, sasek dijalan”, dia tidak malu bertanya hingga
akhirnya bertemu STM Solok. Takjub dia melihat gedung
dengan arsitek khas Minangkabau berupa gonjong, ternyata
kantor TU dan di sana kepala STM berkantor serta para wakil
kepala. Dito menemui Kepala Sekolah untuk menyerahkan
SK CPNS sebagai tembusan. Kepala Sekolah memberi
selamat, namun menyesalkan karena jurusan Dito tidak
sesuai dengan jurusan atau saat itu disebut rumpun yakni
Elektronika. Kepala sekolah menyarankan Dito menghadap
ke Kabid Dikmenjur supaya bisa di tempatkan di STM yang
ada jurusan Listrik. Walaupun ada jurusanya tapi dia tetap
belum bisa mengajar karena saat itu sedang berlangsung
catur wulan II yang tidak bisa menggantikan atau memberi
jam mengajar maka tunggu berakhir dulu setelah itu baru
diatur jadwal baru catur wulan III, kira-kira dimulai bulan

Budiharto | 53

Maret. Karena belum ada jadwal maka Dito diizinkan
menunggu di rumah terlebih dahulu, jika tidak diizinkan
pindah ke sekolah lain yang ada jurusan Listrik maka Dito
disuruh mempersiapkan diri mengajar jurusan Elektronika.
Tak lupa Dito meminta izin karena akan menikah, karena
Dito menikah sebelum menjalankan tugas maka tidak perlu
mengurus surat izin menikah dari atasan.

Dito pulang setelah urusanya selesai. Dia berjalan
melintasi lapangan upacara menuju gerbang sekolah. Dia
menanti cukup lama angkot di depan gerbang, hingga
seorang laki-laki berpakaian rapi, mungkin seorang guru
bertanya mau ke mana dan dijawab mau ke terminal, laki-
laki itu tersenyum dan menjelaskan bahwa angkot tidak
melewati STM tapi di tempat Dito turun tadi. Dito sangat
bersyukur dan berterimakasih ke laki-laki itu karena jika
tidak diberitahu mungkin dia akan tersiksa kepanasan dan
tidak bisa pulang ke Padang. Sungguh pengalaman yang
menggelitik hati dan takkan pernah terlupakan Dito saat
pertama melapor ke STM Solok.

Keesokan harinya Dito ke Kanwil Depdikbud untuk
melaporkan hasil pertemuan dia dengan kepala STM Solok
bahwa di sana tidak ada jurusan Listrik dan mohon di
tempatkan STM di Padang karena kedua STM di sana ada
jurusan Listrik atau di STM Pariaman, sebab dia tahu kalau
di sana di tempatkan guru yang bersama Dito baru diangkat
sedangkan dia jurusan Elektronika maka akan sangat sesuai

54 | Awan di Atas Rumah Bako

bila dipertukarkan tempat tugas mereka menurut Dito, tapi
tidak menurut Kabid dan berpesan untuk menjalani saja dan
belajar materi Elektronika. Setelah sekian tahun Dito baru
bersyukur karena tidak jadi pindah karena beberapa alasan
maka dia tidak bisa beranjak dari rumah Desti. Tapi tetap
heran kalau Erwan dan Wulan ditolak berkasnya karena
jurusan mereka tidak dibutuhkan namun kenapa guru
yang diangkat di STM Pariaman bisa lolos padahal jurusan
Elektronika juga tidak dibutuhkan, selain jumlah yang lulus 4
orang sedangkan yang dibutuhkan hanya 1 orang. Entahlah.
Allah SWT tentu mengetahui jawabanya.

Budiharto | 55

AWAN TAMBATAN HATI MEREKA

Karena dianggap anak rantau maka Dito dipersilahkan
untuk bermalam di rumah Desti semalam menjelang
pernikahan keesokan harinya. Pagi-pagi sekali di tanggal 13
bulan Januari Dito berangkat ke Sigarungguang Batusangka
untuk menemui Eri teman kuliahnya yang diajak mengajar
di STM Sumaniak menggantikan jam mengajar Dito, karena
tentu cawu depan tidak bisa lagi penuh mengajar karena
sibuk di STM yang baru. Dito bercerita panjang lebar dengan
Eri sambil menanti rombongan keluarganya dari Padang. Eri
diajak untuk menemani Dito dalam acara pernikahannya
nanti.

Rombongan dari Padang menggunakan minibus kantor
mas Anto membawa mama, Fifo, mamak dan lainnya. Dito
dan Eri naik ke atas mobil dan mobil pun bergerak melintasi
Jalan Soekarno-Hatta lalu di perempatan Cindua Mato lurus
menuju ke Simpuruik, Koto Panjang, lalu melalui hamparan
sawah kiri dan kanan jalan sekitar 1 km hingga tiba di Nagari
Minangkabau. Rombongan keluarga Dito mampir sebentar
di rumah Desti untuk istirahat sambil Dito mengenakan jas

56 | Awan di Atas Rumah Bako

yang sudah dibawa mama dari Padang beserta singlet, kopiah
yang seluruhnya bukan milik Dito tapi milik mas Anto jas
abu-abu itu, sedangkan kopiah pembelian mama, demikian
juga dengan sepatu. Karena memang Dito sama sekali tidak
mempunyai simpanan untuk persiapan pernikahan ini,
bahkan mahar pernikahan berupa alat untuk salat dan al-
quran serta uang nikah juga ditanggung keluarganya.

Setelah semua dirasa lengkap maka mereka bergerak
menuju ke masjid An-Nur untuk salat Jumat dan nanti
dilanjutkan acara akad nikah. Dalam perjalanan ke masjid
Dito merasa ada yang tidak nyaman di pakaiannya, ternyata
celana yang dikenakan terasa sangat longgar karena pinggang
celana tersebut ukuran mas Anto, sedangkan Dito ukuran
pinggangnya lebih kecil tentu saja celana itu kedodoran.
Sebelum masuk ke masjid Dito menuju ke tempat berwudu
untuk berwudu sekalian mengencangkan ikat pinggang
supaya tidak kedodoran lagi.

Salat Jumat dimulai dengan mendengarkan khutbah
Jumat terlebih dahulu lalu dilanjutkan salat 2 rakaat.
Setelah salat Jumat selesai para undangan laki-laki maupun
perempuan membentuk posisi separuh dari masjid dengan
Dito dan Desti menghadapi angku kali dan ke mihrab,
sedangkan para undangan mengelilingi mereka beserta dua
orang saksi dan tidak lupa apak juga duduk di samping pak
angku kali. Apak, bapak Desti menjadi wali nikah. Angku
kali mulai mengawali acara pernikahan, tahap demi tahap
berlalu hingga acara ijab kabul yang sebelumnya Dito dan

Budiharto | 57

Desti dapat wejangan arahan cara membina keluarga yang
sakinah, mawaddah, wa rohmah karena Dito dan Desti
tidak melalui skrining sebelumnya, tahapan itu harus dilalui
pasangan-pasangan lainnya sebelum hari pernikahan.
Mereka tidak melaluinya karena angku kali adalah mertua
dari kakak sepupu Desti, sehingga angku kali agak sungkan
untuk melakukan tahapan ini. Ijab dan qabul terlaksana
dengan baik lalu dilanjutkan dengan penyerahan mahar
nikah sebagai tanda pemberian nafkah dari Dito ke Desti
untuk pertama kali, dengan harapan Desti akan senantiasa
melaksanakan salat lima waktu tanpa putus dan selalu
membaca al-quran sebagai pedoman hidup mereka berdua.
Kegiatan diakhiri dengan doa, alhamdulillah dengan
demikian maka resmilah Dito dan Desti sebagai pasangan
suami istri.

Rombongan kembali ke rumah Desti untuk mengikuti
acara syukuran, makan siang dan seperti biasa ditutup
dengan pembacaan doa dengan harapan pasangan baru
ini akan langgeng hingga maut memutuskan hubungan
mereka dan demikian pula hubungan kedua keluarga besar
dapat terjalin harmonis. Setelah acara selesai Dito meminta
izin kepada umi dan apak serta keluarga yang lain untuk
membawa Desti ke Padang barang beberapa hari.

Setelah beberapa hari di Padang Dito dan Desti pulang
ke Batusangka tepatnya di Nagari Minangkabau, namun
karena belum resmi dijemput secara adat maka Dito belum
diperkenankan langsung ke rumah Desti. Maka mereka

58 | Awan di Atas Rumah Bako

langsung ke posko SP3 di Pulai Sungayang. Kebetulan Erwan
dan Wulan hendak melaksanakan pernikahan otomatis 1
petak rumah guru yang biasanya digunakan tempat tinggal
bagi anggota perempuan sekarang tinggal Desti saja maka
Dito dan Desti bisa menginap di petakan itu. lebih kurang 1
minggu Dito dan Desti tinggal di tempat itu, setelah Erwan
dan Wulan kembali maka Dito harus tidur di petak sebelah
dengan hanya beralaskan tikar karena dipan hanya ada 3
yaitu untuk Erwan, Ucok dan Bur. Suatu hari datang saudara
sepupu Desti dan dia dapat cerita kalau Dito tidur di bawah
beralaskan tikar saja, maka cerita ini sampai ke telinga
keluarga Desti. Lalu Desti disuruh pulang ke rumah bersama
Dito namun harus pulang saat hari sudah gelap atau kalau
sudah tidak terlihat oleh orang banyak, kira-kira setelah salat
magrib. Maka Dito dan Desti selalu pulang setelah Magrib.

Dito belum dijemput secara adat untuk bisa tinggal di
rumah Desti. Di adat Minangkabau seorang laki-laki baru
diperbolehkan tidur di rumah perempuan atau istrinya
bila sudah dijemput secara adat. Biasanya penjemputan
dilakukan di saat prosesi baralek di mana si laki-laki yang
disebut marapulai akan dijemput oleh keluarga anak
daro untuk dipersandingkan di rumah anak daro. Dalam
penjemputan marapulai keluarga anak daro mengutus
beberapa orang laki-laki dan perempuan dengan membawa
hantaran sebagai tanda menjemput marapulai seperti siriah,
pakaian sapatagak (pakaian lengkap dari kepala hingga
kaki) serta payung, dan singgang ayam atau semacamnya
sebagai buah tangan. Banyak yang harus dibawa pada saat

Budiharto | 59

penjemputan tergantung dari Nagari serta kesepekatan
bersama masing-masing. Setelah marapulai diizinkan oleh
keluarganya untuk berangkat ke rumah anak daro ditemani
dengan pengiringnya bersama-sama ke rumah anak daro.
Di atas rumah anak daro, marapulai dijamu selanjutnya
diserahkan kepada silang nan bapangka karajo nan bapokok
untuk diperkenankan tinggal di rumah tersebut. Setelah
rangkaian acara tersebut selesai maka marapulai sudah
diizinkan tinggal di rumah tersebut dengan nama baru yang
biasa juga disebut dengan gala. Gala diberikan oleh keluarga
marapulai namun bukan gala seperti untuk penghulu suku
karena na ketek banamo gadang bagala. Setelah acara ini
maka marapulai tidak lagi dipanggil namanya oleh seluruh
keluarga anak daro namun dipanggil dengan gala yang telah
diberikan.

Dito tidak melalui tahapan ini maka dipandang tidak
elok oleh masyarakat sekelilingnya jika tampak Dito sudah
tinggal di rumah itu. Konsekuensinya, setelah salat subuh
Dito dan Desti sudah harus turun dari rumah ke Pulai
untuk pergi mengajar ke STM Sumaniak sedangkan Desti
mengerjakan tugas sebagai anggota SP3. Dalam perjalanan
ternyata tampak etiket tidak baik dari Wulan dan Erwan
yang ingin menguasai petak yang diperuntukan bagi anggota
perempuan, sehingga diputuskan mereka Dito dan Desti
tinggal di rumah Desti saja walau Dito belum dijemput.

Seiring waktu orang sekeliling sudah tidak peduli lagi
dengan keberadaan Dito di atas rumah itu, entah anggapan
mereka saja atau memang orang sekeliling sudah tidak peduli

60 | Awan di Atas Rumah Bako

sebab umumnya di sekeliling rumah Desti adalah keluarga
besarnya sesuku. Mereka tinggal di kamar depan rumah
Desti. Lazimnya, jika seorang perempuan Minangkabau
menikah maka kamar paling depan itu diperuntukkan
bagi dia dan bila adik perempuan Desti menikah kamar
itu diserahkan ke adiknya sedang Desti dan Dito bergeser
ke kamar berikutnya, demikian pula umi dan apak harus
rela bergeser ke kamar arah belakang. Dito dan Desti
menggunakan dipan, selimut, dan lemari warisan atau yang
sudah ada, yang dibeli oleh umi karena mereka memang
tidak punya uang untuk membeli isi kamar. Di Minangkabau
biasanya laki-laki mengisi atau membeli perabot untuk
kamar pengantin. Tampaknya hal ini tidak dipermasalahkan
oleh keluarga Desti sebagai konsekuensi kesepakatan untuk
menikahkan mereka tanpa memikirkan baralek.

Karena merasa belum baralek maka mereka tidak
memikirkan punya anak, sebab takut nanti Desti hamil
tapi belum baralek. Namun setelah beberapa waktu
mereka tidak memikirkan tentang baralek lagi karena Dito
tidak suka dengan acara yang dihadiri banyak orang. Dia
merasa sepi di tengah keramaian, tampaknya Desti juga
tidak menyukai baralek dan sekarang mereka ingin punya
anak. Tetapi mereka belum juga diberi keturunan karena
itu mereka melihat anak-anak kecil sangat senang sekali
sehingga mereka mengambil, tepatnya bukan mengambil
tapi ingin membawa beberapa saat, anak uda As, Wahdi
namanya. Wahdi tinggal bersama mereka dan ikut dengan
Desti mengajar di TK, karena selain menjadi anggota SP3

Budiharto | 61

Desti juga mengabdi sebagai guru TK di masjid An-Nur.
Sementara itu mas Sum, kakak Dito, sedang repot dengan
pekerjaannya di Minas maka anaknya dititipkan ke Dito yaitu
Asmo. Asmo yang masih kecil susah memanggil Dito dengan
panggilan pak lek maka dia menyebut “yek”. Dari sanalah
Dito sering disebut atau dipanggil yek saja. Wahdi dan Asmo
sering dibawa Desti ke mana-mana. Karena mereka saling
merasa lebih memiliki Desti dan Dito maka mereka sering
bertengkar. Asmo tidak lama tinggal bersama Dito dan Desti
karena dijemput bapaknya.

Selanjutnya, pada tahun berikutnya lahir anak dari
kakak Desti yang kedua, uda Sudi, Tifa namanya yang sangat
lucu sebab kulitnya putih dan berbobot 4 Kg. Untuk ukuran
bayi cukup besar dan kelihatan sangat manis sekali. Dito
yang kepingin punya anak sering sekali mengunjungi Tifa di
rumah bidan tempat dia dilahirkan, bahkan setelah pulang
ke rumahnya pun sering dikunjungi. Pada saat Tifa pisah
menyusu, Tifa dibawa Desti dan Dito ke rumah mereka, tidur
berempat Desti, Dito, Asmo dan Tifa, Sedangkan Wahdi tidur
bersama umi. Di sini terjadi kecemburuan Wahdi terhadap
Tifa. Asmo dijemput bapaknya sedangkan Wahdi sudah
tamat TK dan kembali ke orang tuanya untuk melanjutkan
ke SD.

Dua tahun berikutnya lahir adik Tifa yang juga lahir
dengan bobot yang besar pula tapi tidak putih namun tetap
terlihat lucu dan manis sekali. Di saat umur Awan 1 tahun 8
bulan dia pisah menyusu dengan ibunya dan kembali Dito

62 | Awan di Atas Rumah Bako

dan Desti membawa Awan bersama mereka. Entah kenapa
rasanya sangat lekat sekali hati mereka dengan Awan ini.
Awan selalu dibawa Desti pergi mengajar TK An-Nur atau
pun ke SMK Jayatama. Desti usai program SP3 mengajar di
sekolah swasta SMK Jayatama. Dua tahun berikutnya Dito
berhenti mengajar di STM Sumaniak dan bergabung pula
di SMK Jayatama. Desti meletakkan Awan di atas meja saat
dia tertidur sedangkan Desti mengajar atau bergantian
dengan Dito mengawasi si Awan saat tidur. Sore hari usai
mengajar mereka naik mobil angkot dari Limo Kaum dan
berhenti di depan Pangguang Sigarungguang lalu mereka
turun dan berjalan di trotoar sepanjang Jalan Soekarno-
Hatta. Awan dilepas berjalan sendiri, tampak dia senang
sekali berlari-lari dengan rambut yang mengibas-ngibas
kiri dan kanan karena rambutnya tergerai mendahului
Desti atau Dito. Tidak jarang Desti atau Dito harus berlari
mengejar dia agar jangan sampai menabrak atau ditabrak
orang atau bahkan turun ke aspal. Begitu ceria sekali Awan
berlarian. Tidak jarang Desti atau Dito singgah di sate MS.
Awan yang masih kecil duduk sendirian tidak mau dipangku
sedang-kan matanya baru setinggi meja makan saat duduk.
Begitu kecilnya dia waktu itu. Awan tidak mau makan sate
disuapi, dia ingin makan sendiri tapi sate untuk dia tidak
diberi kuah karena sate di Batusangka kuahnya berwarna
kuning hampir orange dituang di atas ketupat dan daging
sate, biasanya pedas. Awan giginya tumbuh jarang sehingga
stiap makan daging sering menyelip daging di antara giginya
dan selalu minta tolong ke Desti untuk membersihkannya.

Budiharto | 63

Usai makan sate mereka kembali berjalan melewati batang
baringin besar dekat Kantor Pegadaian, terus saja melewati
SD, Gedung Nasional di sebelah kiri dan di kanan tampak
lapangan Cindua Mato dan POM Bensin. Lalu menyeberang
jalan hingga sampai di depan Bank Nagari, di dekat lampu
merah jalan arah ke Sungayang, di sana sudah ngetem
mobil angkutan pedesaan. Lalu mereka naik mobil paling
depan. Di saat inilah Awan mulai tidur sampai mobil
angkutan pedesaan berhenti di Simpang Kubu Batu. Awan
tidak mau lagi dibangunkan karena dia merasa capek
sekali katanya. Akibatnya, Dito atau Desti harus bergantian
menggendongnya sampai ke rumah. Awan mempunyai
badan yang montok, kulit sawo matang, rambut ikal panjang
dan di ujung-ujungnya berwarna agak kemerahan. Setiap
orang melihatnya pasti ingin memegang pipi atau lengannya
saat pakai baju you can see. Pokoknya setiap orang yang
melihat akan merasa gemas dan ingin menyentuhnya. Dia
berlari minta perlindungan setiap ada orang yang akan
menyentuhnya. Tingkahnya yang seperti ini yang membuat
orang selalu ingin menggodanya. Awan sangat dekat dengan
Desti dan Desti tidak mau meninggalkan dia di rumah.
Kenapa?

Bagi umi, Awan adalah cucu di ateh rumah urang.
Maksudnya, Awan cucu dari anak laki-lakinya yaitu uda Sudi.
Secara adat Minangkabau Awan milik keluarga besar ibunya,
kak Asti namanya. Serta hak warisan bagi Awan berasal dari
keluarga ibunya juga, bukan dari keluarga bapaknya. Maka
Awan tidak mendapat apa pun dari umi bahkan rasa dimiliki

64 | Awan di Atas Rumah Bako

pun tidak, atau pun perhatian. Awan hanya dapat perhatian
nanti saat dia akan menikah saja. Jika Awan dan kakak-
kakanya mendapat kesulitan atau masalah mereka hanya
mendapatkan rasa simpati saja dari umi, kalau pun dibantu
dengan uang itu hanya sekadarnya saja, tidak ada rasa wajib
membantu semaksimal mungkin sebab ada keluarga ibunya
yang wajib membantu mereka. Padahal dalam agama Islam
tidak pernah membedakan antara cucu dari anak laki-laki
atau perempuan. Dalam adat Minangkabau tidak pernah
membatasi kasih sayang atau bantuan kepada cucu di ateh
rumah urang walapun ada porsinya. Bagi umi, Awan adalah
anak pancegh. Anak pancegh adalah sebutan buat anak
dari anak laki-laki yang biasa juga disebut anak pisang oleh
orang Minangkabau Nagari lainnya. Anak pancegh hanya
mendapat perhatian dari bako saat ada acara adat, seperti
seorang anak laki-laki akan dikhitan. Maka saat kenduri,
bako akan datang ke rumah anak itu dan ditempatkan atau
duduk di tempat yang ditinggikan serta empuk. Di saat
pidato adat bako beserta Penghulunya diberi pasambahan
khusus. Setelah anak laki-laki itu beranjak dewasa maka dia
akan diperhatikan bako saat rangkaian acara baralek, dan
terakhir di saat dia meninggal dunia. Sedangkan seorang
perempuan akan mendapatkan perhatian dari bako di saat
akan menikah dan meninggal dunia.

Umi tidak pernah mau peduli apakah Awan sudah
mandi, makan, minum, tidur atau yang lainnya. Hal ini yang
membuat Desti tidak mau meninggalkan Awan di rumah
karena pasti Awan akan terlantar. Ternyata bukan umi saja

Budiharto | 65

yang tidak memperhatikan Awan, adik perempuan Desti
pun tidak. Sewaktu Eti melahirkan anaknya yang pertama,
Awan masih tinggal bersama mereka. Di saat inilah bako
Awan bertambah rasa tidak senang dengan keberadaan dia
di rumah ini. Tak hanya umi dan Eti yang tidak berkenan
namun seluruh keluarga besar Desti menentang keberadaan
Awan. Tidak jarang Awan yang masih kecil diintimidasi
secara verbal. Hanya uda Sudi yang setuju. Uda As, Rian pun
tidak setuju, sedangkan Saf antara setuju dan tidak karena
di rantau. Di Islam hubungan da As, Saf, dan Rian dengan
Awan sangat dekat sekali sebab mereka di jalur keturunan
yang lurus bahkan mereka bisa menikahkan Awan bila da
Sudi berhalangan serta mereka akan masuk neraka jika
Awan berbuat dosa namun mereka biarkan.

Desti dan Dito menanggapi keadaan ini dengan rasa
heran karena Awan adalah keturunan keluarga mereka, tapi
kenapa mereka membenci Awan? Desti dan Dito tetap ingin
Awan bersama mereka sebab selain belum punya keturunan
juga rasa cinta dan kasih sayang mereka terhadap Awan
sudah mengakar di hati mereka. Mereka tidak sanggup jika
jauh dari Awan. Akhirnya mereka menetapkan hati untuk
tetap memelihara Awan meski berlawanan dengan keluarga
besar. Keteguhan hati mereka ini membuat keluarga besar
Desti menjadi-jadi mengintimidasi Awan.

“Awan, pulanglah kau ka rumah si Asti lai! Manga juo
kau di rumah Niniak (Awan, pulanglah kamu ke rumah Asti
lagi, mengapa kau masih tinggal di rumah nenek juga)?”

66 | Awan di Atas Rumah Bako

Lalu Awan menjawab dengan lugu, “Awak tingga di
rumah ibu awak.”

Yang mengintimidasi Awan bukan hanya keluarga
dekat Desti saja, tapi yang jauh pun begitu. Dito merasa
heran karena keluarganya di Padang tidak pernah merasa
cemburu kepada Awan sebab Awan bukan anak Dito dan
Desti namun keluarga Dito mengerti Kalau Dito dan Desti
menyayangi Awan dan ingin membesarkannya. Di keluarga
Dito tidak ada istilah cucu di ateh rumah orang atau pun
cucu di ateh rumah surang. Cucu dari anak-anaknya adalah
cucunya. Mas Sum beristri orang Jawa Timur namun anak-
anaknya tetap dapat perhatian penuh dari mama. Anak mas
Sum yang ketiga cacat, mama selalu ingin cucunya sehat,
dia terus mencari tempat untuk mengobati cucunya itu.
Meski uang untuk makan berkurang tapi dia tetap berusaha
mengobati cucunya. Sering mama kesulitan menggendong
cucunya itu sebab tingginya sudah hampir setinggi mama.
Begitu besar rasa cinta ke cucunya, Tiada rasa lelah dan
menyerah untuk mengobatinya.

Pernah suatu hari Desti pulang dari pasar membongkar
belanjaan di antara umi, Dito, dan Awan. Buah tangan sudah
dibuka dan dimakan bersama, lalu Desti bicara ke Awan,
“Awan, ko sarawa Hawai untuak kamu (Awan, ini celana
pendek untuk kamu),” sambil mendorong dua buah celana
pendek dua lembar ke Awan.

Awan karena yakin akan aman maka celana itu hanya
digeser ke arahnya saja sebab buah tangan tadi terasa enak.

Budiharto | 67

“Mokasih, Bu!” sambil tersenyum karena hatinya gembira
dibelikan celana baru, meski murah tapi dia tidak tahu, yang
penting baru.

Beberapa saat berikutnya tiba-tiba Desti bertanya
ke Awan, “Mano Hawai kau ciek lai, Wan? Duo holai Ibu
agiahan ka kau tadi. Tinggegh tadi gak a (Mana celana yang
Ibu belikan tadi satu lagi. Tinggal mungkin)?” heran Desti.

Dito tadi juga nampak dua lembar, “Iyo, duo!” ucap Dito.

“Iyo, duo tadi,” Awan heran.

“Nampak, Mi?” tanya Desti ke umi,

“Indak obeh (tidak tahu) Umi, do.”

Desti nampak di kain sarung umi terlihat menggelembung
seperti ada sesuatu di balik sarung itu. Lalu umi bergegas
berdiri masuk ke kamarnya sambil memegangi bagian yang
gembung tadi hingga sarungnya tertarik ke atas. Apakah di
dalam sarung umi yang dipegangi itu? Desti dan Dito heran
kenapa harus menyembunyikan celana untuk cucunya? Kalau
mau pasti akan dibelikan, dan begitu lihai menyembunyikan
celana di antara mereka yang duduk sangat dekat tidak
sampai 30 cm jarak antara mereka.

Umi dan Eti bisa bicara dengan nada rendah dengan
Awan bila ada yang akan diminta dari Dito dan Desti melalui
Awan dekat mereka, selebihnya tinggi nada bicaranya
apalagi tidak ada Desti dan Dito. Tidak ada kebaikan dari
Awan bagi mereka. Terang saja Dito merasa heran, kenapa

68 | Awan di Atas Rumah Bako

begitu benci keluarga Desti kepada Awan yang jelas-jelas
mengalir darah yang sama. Di saat Dito sakit dan dirawat di
rumah sakit selama dua puluh dua hari Awan dipulangkan
ke rumahnya. Setelah Dito pulang Awan takut kembali
tinggal bersama Dito dan Desti. Baru setelah guru Awan
menasihatinya barulah dia mau kembali.

Dito dan Desti merasakan kepedihan hati Awan, sebab
mereka tahu bagaimana keluarga Desti berlaku buruk
terhadap Awan. Mereka perlahan-lahan mengembalikan
rasa percaya diri Awan dan mereka tetap sayang dia. Desti
selalu membawa Awan ke mana saja baik acara guru-
guru TK atau saat Awan tidak ada kegiatan namun Desti
harus pergi, maka Awan akan dibawa termasuk ke SMK 1
Batusangka sehingga siapa yang dikenal Desti juga dikenal
Awan, dan Dito selalu bercerita ke kawan-kawannya kalau
dia punya anak yang bernama Awan, dan seluruh kawan
Dito menganggap Awan adalah anak Dito walau mereka
tahu bukan anak kandungnya.

Desti dan Dito berusaha sekuat tenaga menjadi orang
tua yang baik. Mereka berikan perhatian yang sangat
besar, seperti selalu menyediakan kebutuhan sandang,
pangan, pendidikan, dan kasih sayang. Semua kebutuhan
untuk sekolah dipenuhi, buku tulis, paket, tas, pensil, baju
seragam, termasuk meja belajar yang dilengkapi lemari baju
juga dibelikan saat Awan kelas satu SD. Dito dan Desti selalu
menasihati supaya Awan belajar dengan baik agar nanti bisa
menjadi sarjana lalu bekerja dan membahagiakan orang
tuanya da Sudi dan kak Asti.

Budiharto | 69

Selain menyuruh Awan mengaji di musala, Dito dan Desti
juga menyuruh Awan untuk les sempoa supaya terampil
dalam pelajaran Matematika. Selain itu tu Desti dan Dito
mengikutkan Awan dalam program asuransi pendidikan,
agar orang tuanya tetap merasa memiliki Awan juga, maka
angsuran per 3 bulan asuransi disuruh mereka membayar,
meski pada akhirnya separuh lebih masa pembayaran
dibayarkan Desti dan Dito. Sampai Awan diserahkan ke
orang tuanya belum pernah Desti dan Dito memaksa Awan
untuk mengerjakan pekerjaan seperti mencuci menyetrika
pakaian mereka, namun mereka mengajari Awan untuk
mengurus dirinya sendiri dan membantu mencuci piring
makan seisi rumah. Sebab bagi Desti dan Dito membesarkan
Awan bukan untuk membantu pekerjaan rumah tangga
namun untuk mendidik Awan menjadi anak yang pintar dan
mandiri.

Karena Desti dan Dito aktif di kegiatan sosial di masjid
maupun Nagari sering tampil bicara di muka orang banyak
maka Awan pun berani tampil di depan orang banyak. Dari
segi pendidikan, Desti dan Dito cukup bangga dengan Awan
karena juara 1, 2, atau 3 di kelasnya dan dia juga sering juara
MTQ atau cerdas cermat saat bulan Ramadan. Bagi orang
banyak Awan disepadankan dengan Desti sebab Awan
sama-sama sering tampil di depan orang banyak.

Setamat Awan dari SMP Dito ingin Awan masuk SMK
jurusan TKJ supaya gampang mencari pekerjaan kelak. Dito
mengurus segala sesuatunya untuk mendaftar ke SMK 1

70 | Awan di Atas Rumah Bako

Batusangka. Karena nilai Awan cukup tinggi maka SMA rayon
sekolah Awan berharap dia masuk ke SMA itu sedangkan
Dito dan Awan tidak ingin masuk ke sana, maka saat
mengurus surat pindah rayon kepala SMA sedikit bertengkar
dengan Dito sebab Kepala Sekolah itu mengancam tidak
akan menerima lagi Awan setelah mengeluarkan surat
pindah rayon bila Awan tidak diterima di SMK 1 Batusangka.
Karena banyak peminat jurusan TKJ maka calon siswa
harus diseleksi. Dito yakin Awan akan mampu menjawab
soal dan tidak ada rasa ragu, maka Dito tidak menemui
Kepala SMK 1 Batusangka walau mereka saling mengenal
baik dan Dito tidak mau Kepala Sekolah meluluskan Awan
karena pertemanan. Namun saat mendaftar, Kepala Sekolah
melihat Dito dan membawanya ke ruangan Kepala Sekolah.
Akhir cerita Dito minta kepada Kepala Sekolah agar tidak
meluluskan Awan karena pertemanan mereka.

Di hari pengumuman Dito dan Awan melihat hasil seleksi
ternyata Awan lulus dengan nilai tertinggi. Dito menemui
Kepala Sekolah dan bertanya kalau Awan lulus karena
kemampuan bukan karena diluluskan. Pak Safren menjawab
dia tidak tahu berapa nomor pendaftaran serta nama Awan.
Dito bersyukur sebab dia merasa berhasil, Awan memang
mampu untuk masuk ke jurusan TKJ.

Dito dan Desti berpikir keras bagaimana sekolah Awan
tidak terkendala, sebab jika Awan ke sekolah naik angkutan
umum butuh biaya yang besar sedangkan jika mengendarai
motor Awan belum cukup umur untuk mengurus SIM C.

Budiharto | 71

Dari pertimbangan itu maka diputuskan Awan naik motor
ke sekolah dengan catatan dia harus berangkat pagi sekali
supaya tidak bertemu dengan polisi yang bertugas pagi hari.
Konsekuensinya harus ada tiga motor untuk Desti, Dito,
dan Awan sedangkan motor yang ada hanya dua. Mau tak
mau harus menambah motor satu lagi, yang motor baru
untuk Desti dan akhirnya Dito meminjam uang di koperasi
sekolah tempat dia mengajar. Setelah dapat pinjaman lalu
Dito membeli motor Vario 125cc, Desti yang memilih warna
merah. Dito ingin membeli motor yang berukuran kecil tapi
Desti tidak setuju sebab kalau motor kecil Dito tidak cocok
mengendarainya. Artinya Desti ingin motor baru untuk Dito
sedangkan dia cukup motor yang lama, Suzuki Hayate saja
dan untuk Awan Suzuki Spin. Untuk masalah kendaraan
Awan sudah selesai, tinggal persiapan untuk pakaian, tas,
sepatu, buku yang akan dipikirkan tapi uangnya sudah ada
dari gaji ke-13 Desti. Tinggal Awan perlu laptop, nah ini yang
belum ada uangnya. Tapi Dito sudah terbayang uang yang
akan diterima, yaitu gaji ke-13 dia.

Di waktu pencairan gaji ke 13 tiba Dito minta diantar
tukang ojek ke Solok sebab waktu itu hari hujan dan pulangnya
membawa uang, Dito takut nanti terjadi kecelakaan lalu
tidak jadi membeli laptop. Sepulang dari Solok Dito langsung
ke toko komputer untuk membeli laptop. Rasa senang sekali
sebab bisa menyediakan kebutuhan sekolah Awan. Rasa
syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebab apa yang
ia rencanakan diridai hingga terwujud.

72 | Awan di Atas Rumah Bako

Sampai di rumah Dito memanggil Awan dan Awan
terlihat senang sebab sudah ada laptop yang akan
membantu dalam belajar nanti. Ketika Awan sudah belajar
merakit komputer Dito mempersilahkan Awan membongkar
pasang CPU komputer lamanya supaya Awan cepat paham,
bahkan uang asuransi uang cair untuk masuk SMK dibelikan
untuk 1 set komputer baru dengan processor terbaru yang
belum dirakit, agar Awan dapat latihan merakit sendiri
bahkan install Windows dan software harus mengerjakan
sendiri. Yang selalu ditekankan oleh Dito ke Awan bahwa
dia harus memahami pelajaran sekarang kalau mau dapat
kerja nanti, kalau tidak berarti Awan bermimpi. Apa pun
untuk sekolahnya pasti disediakan, termasuk mikrotik yang
harganya sangat mahal. Sayang di Batusangka tidak ada
dan gurunya pun sudah tidak minta lagi, makanya tidak
jadi dibeli. Supaya informasi cepat didapat maka Dito pun
menyediakan router Wi-Fi ditambah antena 3G dengan
kartu Hallo untuk mengaksees internet, sebab jaringan
telepon tidak menjangkau rumah Dito. Dia menghabiskan
uang Rp. 2.000.000.

Dikelas X Awan ditunjuk menjadi Paskibra untuk
Kecamatan Tanjuang Ameh karena tinggi badan dan
kemampuan baris berbarisnya, dan di kelas XI di Batusangka
untuk kabupaten Tanah Datar. Bangga sekali Dito dan Desti.
Saat acara Paskibra beserta orang tua, mereka tidak mau ikut
serta. Biarlah uda Sudi dan kak Asti saja yang menghadirinya,
karena mereka memang tidak suka acara yang hingar
bingar. Dari hasil kerja Paskibra yang baik maka mereka

Budiharto | 73

dapat apresiasi libur ke Batam beberapa har. Desti dan Dito
bangga karena Awan berusaha dan dapat penghagaaan dari
usahanya.

Di awal semester 7 Awan prakerin. Dito khawatir sebab
ada kabar kalau Awan sudah kenal laki-laki. Keadaan ini
tentu membuat peluang Awan bertemu dengan laki-laki itu
terbuka lebar sebab Awan akan prakerin dari pagi hingga
sore, tempatnya di Sigarungguang. Tentunya tidak ada
guru yang akan mengawasi. Pembimbing di sana tentunya
juga ada pekerjaan dan tidak bisa mengawasi Awan. Setiap
pulang sekolah Dito selalu menoleh ke sana. Tak jarang
singgah sekadar memastikan Awan masuk atau tidak, atau
izin keluar. Kalau Awan ada, Dito lega dan terus pulang.
Pernah Awan izin pulang setelah istirahat siang, kontan
Dito menelepon Awan namun tidak diangkat. Lanjut Dito
menelepon Desti kalau-kalau tahu keberadaan Awan.
Ternyata Desti juga tidak tahu. Lalu Dito menelepon da
Sudi atau kak Asti, tetap tidak ada kepastian. Dito marah,
dan dengan ngebut pulang ke rumah. Sesampai di rumah
Dito membuka helm, sepatu, tas, dan jaket, terus pergi lagi
mencari Awan ke arah Batu Ambuang, terus ke Bendungan
Bukik Gombak, Pasa Batusangka, lalu ke Sumaniak. Letih
badanya karena belum istirahat setelah mengendarai motor
sepanjang 55 km selama 1,5 jam dari Solok. Dito putuskan
untuk menunggunya di rumah sambil terus berusaha
menelepon Awan terus serta Desi supaya cepat pulang
untuk mencari Awan. Sudah sore Awan pun pulang.

74 | Awan di Atas Rumah Bako

“Dari ma kamu?” tanya Dito.

“Dari magang nyeh!” jawab Awan.

“Panduto kau! Iyek dari sitan, kau indak masuak
sasudah Luhu (Zuhur), (Pembohong kau! Iyek dari sana
sudah bertanya tapi kau tidak ada), dari magang kau sobuik.
Uo lah panduto kau, yeeh...?” Dito marah.

“Dari ma kau tadi?” Desti ikut bertanya.

“Kapalo wak sakik... tu lolok (tidur) di rumah kawan
wak,” jawab Awan.

Cubitan Desti pun mendarat ke lengan Awan sambil
bilang, “Kau ulang bisuak liak, ibu bontian kau sakolah lai
(kau ulang besok Ibu berhentikan kamu sekolah)!”

Seperti kebiasaan Dito dengan orang tuanya dulu, kalau
sore sudah harus berada di rumah dan dilarang keluar lagi
untuk mandi, dan bersiap-siap salat Magrib, makan malam
terus belajar. Hal ini ditaati Awan. Barangkali karena sudah
kenal laki-laki maka Awan mencari kesempatan bertemu
dengan dia, tapi Dito yang logis tidak mau menuduh sebelum
ada bukti. Dipendam saja kemarahannya dulu.

Awan terus melanjutkan prakerin hingga selesai.
Semenjak kejadian itu Dito meningkatkan pengawasan,
setiap hari memastikan Awan ada di tempat prakerin. Setiap
pulang mengajar melalui danau Singkarak yang indah Dito
memperhatikan dengan matanya kalau-kalau ada Awan
di sepanjang danau, sebab di sana tempat yang nyaman

Budiharto | 75

untuk pacaran karena keindahan lokasi. Bersyukur jika tidak
bertemu Awan.

Saat di Ombilin ada pasangan naik motor mesra-
mesraan, maka Dito membuntuti perlahan di belakang
mereka untuk memastikan kalau itu bukan anaknya. Jika
perempuan itu menggunakan rok abu-abu maka Dito
memperhatikan lebih saksama, dan untuk memastikan
Dito mendahului sambil menoleh ke arah pasangan itu.
Bila belum yakin Dito berhenti dengan pura-pura minum
dari botol tupperware yang selalu tersedia di laci Vario.
Sambil minum matanya ke arah mereka. Karena pasti bukan
anaknya lalu dia menggeber motornya. Dito menjadi parno
setiap melihat pasangan muda-mudi di atas motor, maka
yang terbayang anaknya dan terus saja terpikirkan hingga
tidak terasa sudah sampai di Dobok. Dito beristigfar sebab
dari Singkarak hingga Dobok dia hanya memikirkan anaknya
saja dan bersyukur tidak kecelakaan tadi.

Dito yang guru Teknik Elektronika paham dengan
pelajaran Matematika, dan Fisika ditambah les bahasa
Inggris sewaktu sekolah dulu terasa gampang membimbing
pelajaran Awan dari SMP dan SMK. Tak luput pengawasan
Dito terhadap kemampuan pelajaran Awan. Intinya Dito
ingin sempurna menjadi orang tua agar tidak disalahkan
orang tua Awan serta orang-orang yang menentang
keberadaan Awan di rumah Bakonya tentunya disalahkan
Allah SWT sebagai wujud pertanggungjawaban keputusan
mereka memelihara Awan.

76 | Awan di Atas Rumah Bako

Hari itu Awan merasa cemas apakah dia lulus atau
tidak dari SMK. Desti dan Dito meyakinkan Awan, kalau
sudah berusaha dan berdoa maka insyaAllah lulus. Sudah
terdengar azan Zuhur dari Masjid An-Nur namun Awan
belum juga pulang. Dito cemas kalau-kalau Awan iidak lulus
dan dia takut pulang. Dito putuskan salat. Usai salat Dito
pergi ke pasar, dia pikir Awan mampir ke bengkel laki-laki
itu karena kata orang Awan pacaran dengan orang bengkel
dekat lampu merah itu. Saat melewati tidak tampak Awan
ataupun Suzuki Spin, terus saja Dito ke pasar. Habis satu
putaran dilanjutkan putaran berikutnya lalu kembali ke
arah pulang. Dengan perlahan-lahan lewat bengkel itu
Dito melihat seperti perempuan pakai baju putih abu-abu,
dia tidak jelas orang itu tapi perasaanya mengatakan itu
anaknya. Dito berhenti di seberang jalan bengkel itu sambil
melihat ke arah perempuan itu, lama dia berdiri sekitar
seperempat jam. Perempuan itu masuk ke dalam bengkel
lalu keluar sudah menyandang tas dan pakai helm lalu
berjalan ke belakang bengkel. Tak lama muncul naik motor
warna biru menyeberangi jalan dan berhenti dekat Dito.
Baru Dito yakin kalau itu Awan anaknya.

“Dari ma, Yek?” tanya Awan.

“Jalan kau dulu!” hardik Dito.

Sesampainya di rumah,

“Dari ma, Mas? Di ma suo jo Awan?” Desti penasaran.

Budiharto | 77

“Telepon da Sudi jo kak Asti!” suruh Dito ke Desti.
“Duduak kau di siko!” Dito memerintah Awan.

“Manga Awan, Mas?” Desti makin penasaran.

“Ko muncuang panduto (mulut pembohong),” sambil
Dito menampar mulut Awan.

“Dek a, Mas?” Desti mulai cemas.

“Awak mananti inyo di rumah, ondak tahu ba a hasil
pengumuman UN-nyo, eeee kironyo ka jantan tu daulu nyo
agiah tahu. Keceknyo indak bahubuangan jo paja tu lai. Awak
dek inyo indak ba bantu anak ambo, kironyo iko balasan ka
awak (Saya menanti di rumah ingin tahu pengumumuman
hasil UN-nya, ternyata ke laki-laki itu dahulu diberitahunya.
Katanya tidak berhubungan dengan laki-laki itu. Saya karena
dia tidak membantu anak (kakak), rupanya seperti ini
balasannya ke saya)?” Dito kian marah.

“Dek a kau, Wan? Lah bantuak itu kami ka kau, mode
itu balasan kau ka Iyek? Anak iyek indak co kau diparatian,
mode ko balasan kau? Buek malu jo kau (kenapa kau Wan?
Sudah seperti itu kami kepadamu, seperti itu balasan kamu
ke Iyek? Anak Iyek tidak seperti kamu diperhatikan, seperti
ini balasan darimu ? Membuat malu saja kamu)!” Desti ikut
marah.

“Kini kito pulangkan sajo inyo ka urang tuonyo liak.
Kok jo awak juo sadang inyo indak bisa diajai di jalan nan
elok, kok mambuek doso kito indak sato dihukum dek
Allah (Sekarang kita pulangkan saja Awan ke rumah orang

78 | Awan di Atas Rumah Bako

tuanya. Jika masih dengan kita, sedang dia tidak dididik ke
jalan yang benar, kalau dia berbuat dosa nantinya kita tidak
ikut dihukum oleh Allah),” jelas Dito ke Desti. Dia diam saja
karena masih kecewa berat.

Tak lama datanglah da Sudi dan kak Asti,
“Assalamualaikum....” ucapan salam dengan ceria kak Asti.

“Ba a, Wan? Lai lulus (Bagaimana Wan, apakah lulus)?”
tanya kak Asti.

“Duduaklah, Da... Kak!” ujar Dito.

Dito menjelaskan apa yang terjadi kepada da Sudi dan
kak Asti.

“Bara ambo sayang ka Awan? Tampak dek Uda jo Kakak,
ambo bantu sakadarnyo sajo ambo bantu anak Uda ambo,
balobiahan ka inyo. Kami balawanan jo sado urang nan
jojok ka inyo. Kiro bontuak iko inyo ka kami. Bontuak paja
tu nan mambantu sakolahnyo salamo ko sahinggo ka urang
tu doulu maagiah tahu basanyo inyo lulus. Antah apo nan
lah dipabuek dek urang ko salamo ko, indak obeh awak do.
Jadi dari pado sato manangguang doso karano parangainyo
sadang dek ambo sacaro pribadi indak ado hubungan darah
jo Awan ko, mako kami sarahkan baliak Awan ko ka Uda
jo Kakak, maafkan kami indak pandai maajai inyo (Betapa
sayangnya Saya kepada Awan yang tampak oleh Uda dan
Kakak. Saya bantu sekadarnya dan saya bantu anak kakak
saya. Saya lebihkan ke dia. Kami berlawanan dengan semua
orang yang tidak suka dengan Awan. Rupanya seperti ini dia

Budiharto | 79

ke kami. Seperti orang itu yang membantu biaya sekolahnya
selama ini, sehingga ke orang itu memberitahu kalau dia
sudah lulus. Entah apa yang telah mereka perbuat selama
kita tidak tahu. Jadi daripada kami ikut menanggung dosa
atas perangainya, sedangkan saya secara pribadi tidak ada
hubungan darah dengan Awan , maka kami serahkan Awan
kembali ke Uda dan Kakak).” Ungkap Dito.

“Ndeh.. mode ko anak kironyo? Lah bontuak itu sayang
Ibu jo Iyek ka anak tapi asiang parangai nan ba buek, malu
ama dek parangai anak mah! Agiah kami maaf mas jo akak
(Seperti ini rupanya anak kiranya? Sudah seperti itu sayang
Iyek dan Ibu ke anak tapi lain pula tingkah yang diperbuat.
Malu Ama karena tingkah laku anak ini! Maafkan kami Mas
dan Kakak),” kata kak Asti ke Desti dan Dito.

“Kini tinggakan STNK spin! Pulanglah kau jo Ama Apa
kau. Nan jonji kami manguliahan kau kan tatap kami tapek-i
(Sekarang tinggalkan STNK Spin! Pulanglah kau dengan Ama
dan Apa kau. Yang janji kami akan menguliahkan kau tetap
kami tepati),” ucap Dito.

Desti diam saja. Dito dan Desti melihat Awan dibantu
orang tuanya membawa sebagian barangnya dan sambil
menangis, “Agiah awak maaf, Yek... Bu... (Beri maaf saya,
Yek... Bu...).”

Mereka pulang bertiga, sedangkan Desti ke kamar dan
berbaring di tempat tidur. Sedang Dito duduk saja di kursi
tamu.

80 | Awan di Atas Rumah Bako

Beberapa saat kemudian Dito masuk ke kamar melihat
Desti, ternyata sedang tidur namun matanya basah dan
bengkak akibat lama menangis. Dibangunkan Desti lalu
mereka berbincang membahas tentang Awan. Desti
menyalahkam Dito yang menyuruh Awan pergi dan Dito pun
mengajukan alasanya pula. Yang ada di hati Desti, dia sedih
harus berpisah dengan Awan dan mengerti pula perasaan
Dito yang tidak ada hubungan darah tapi sayang sekali
dengan Awan namun balasan Awan seperti ini. Sungguh
berada di posisi yang sulit Desti namun yang bisa dilakukan
hanyalah menangis. Dito mencoba untuk memahami
perasaan Desti lalu dia putuskan untuk keluar dari kamar.

Dito sebenarnya juga tidak siap kalau berpisah dengan
Awan tapi hatinya terasa sangat pedih sekali karena perangai
Awan, sementara untuk Awan dia rela menomor duakan
anak kakaknya dan dia rela menentang mertua serta keluarga
istrinya yang membenci Awan, namun begitu balasanya.
Dito sudah berkomitmen kalau mereka menyayangi Awan
tidak akan menuntut balas apa pun kecuali pahala dari
Allah. Mereka tak kan menyebut-nyebut apa yang pernah
diberikan ke Awan, namun sebagai manusia ternyata tak
tahan untuk tidak bicara sepertu siang tadi. Desti hanya
keluar untuk menutup jendela rumah karena sudah senja
dan mengambilkan nasi untuk makan malam Dito kemudian
kembali masuk kamar menangis.

Keesokan hari kembali Dito dan Desti membicarakan
Awan. Dari pembicaraan itu membuat Dito jebol juga

Budiharto | 81

pertahanan perasaannya dan meledaklah tangisnya dan
mengakui kalau dia juga sayang sekali dengan Awan dan
tidak bisa hidup jauh dari anaknya yaitu Awan. Lalu mereka
menangis berdua, maka mereka saling mengetahui perasaan
masing-masing terhadap Awan. Mereka memutuskan untuk
ke rumah kak Asti untuk menjemput Awan kembali.

Malam harinya mereka berdua ke rumah kak Asti.
Tidak ada rasa malu atau pun sungkan meminta Awan
kembali tinggal bersama mereka, dan keluarga Awan pun
tidak merasa di atas angin untuk menekan Dito dan Desti.
Yang keluarga Awan pahami bahwa Desti dan Dito sayang
ke Awan. Mereka selanjutnya membicarakan kelanjutan
pendidikan Awan. Diputuskan kalau Awan akan mengikuti
seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kapan waktunya,
bagaimana pergi ke Padang, sementara jurusan apa yang
diambil akan dipertimbangkan terus hingga pengisian data
nantinya.

Saat seleksi Awan diantar Desti dan Dito ke SMA 7
Padang naik Toyota Agya milik mereka. Sebelum subuh
sudah berangkat supaya tepat waktu sampai di lokasi ujian.
Mereka salat subuh di masjid di Kubu Karambia. Desti dan
Dito memastikan ruang ujian Awan dan menunjukan WC
kalau ingin buang air, lalu mereka ke Rawang Panjang Dadok
Tuanggua Hitam menunggu selesai. Barang kali bukan nasib
Awan untuk kuliah di PTN tahun ini maka Awan tidak lulus,
selain itu juga Awan tidak mendengar arahan Desti dan Dito
memilih jurusan sesuai kemampuannya.

82 | Awan di Atas Rumah Bako

Sekembalinya dari Padang Awan, Desti, Dito serta uda
Sudi, dan kak Asti berdiskusi tentang kelanjutan pendidikan
Awan. Awan ingin kuliah di jurusan Manajemen di UBH.
Orang tuanya menyerah saja namun Desti dan Dito tidak
setuju, selain sarjana Manajemen sudah banyak dan banyak
yang menganggur dan juga uang kuliah yang mahal. Jelas
mereka tidak mampu. Belum lagi masalah kost di wilayah
Bypass sangat mahal. Akhirnya diputuskan Awan belum
kuliah tahun ini. Agar keluarga Desti tidak bertambah marah
maka Awan akan tinggal di rumahnya saja dan Desti serta
Dito membayar uang kuliah saja serta buku, laptop, namun 6
bulan menjelang seleksi tahun depan ikut bimbingan belajar.
Untuk kuliah tahun ini biayanya ada dari asuransi pendidikan
sebesar Rp. 14.000.000, namun tahun depan cair sebab
usia Awan masuk sekolah saat umur 6 tahun sedangkan
aturan asuransi harus sesuai dengan usia sekolah. Untuk
itu kembali Dito meminjam dari koperasi pegawai di tempat
dia mengajar. Kapan mereka butuh bantuan Awan seperti
membeli sesuatu ke warung, mereka menelepon Awan.

Enam bulan berikutnya saat Awan harus ikut bimbel,
Dito nengurus pendaftaran ke bimbel yang ada di
Batusangka. Ternyata program 6 bulan tidak ada, harus
ikut yang satu tahun tapi sudah berjalan. Dito putuskan
mengambilnya namun biayanya harus dibayar penuh. Dito
mohon keringanan sebab hanya ikut selama 6 bulan saja.
Lalu petugas pendaftaran diskusi dengan atasanya dan
akhirnya dapat juga potongan plus kelas khusus buat Awan
mengejar materi sebelumnya.

Budiharto | 83

Dari pengalaman sebelumnya maka Dito dan Desti
memberi penekanan terhadap masalah hubunganya dengan
laki-laki itu supaya tidak lagi berhubungan dan cukup belajar
saja hingga tamat lalu bekerja. Awan menyanggupinya di
hadapan orang tuanya. Singkat cerita Awan ikut Bimbel
dilanjutkan seleksi, namun barangkali memang bukan
nasibnya kulia di PTN lagi-lagi tidak lulus. Kembali mereka
musyawarah. Hasilnya Awan kuliah di jurusan Teknik
Informatika di UPI Padang.

84 | Awan di Atas Rumah Bako

AWAN DIPULANGKAN MEREKA

Awan mendaftar secara on-line ke UPI Padang, setelah
membayar uang seleksi. Awan ikut seleksi di kampus UPI
Lubuak Bagaluang. Desti dan Dito kembali mengantarnya
ikut seleksi. Awan dinyatakan lulus di jurusan Teknik
Informatika. Selanjutnya mereka membayar uang pangkal,
dan mencari tempat kost.

Awan dapat tempat kost yang tak jauh dari kampus.
Setelah dilihat Desti dan Dito, mereka setuju sebab
tempatnya bagus serta tidak leluasa laki-laki keluar masuk
ke tempat kost itu, itulah kenapa mereka merasa yakin Awan
aman di sana. Mereka sibuk bolak-balik mempersiapkan
perkakas di tempat kost Awan. Setelah dirasa cukup lalu
mereka meninggalkan Awan.

Seiring waktu Awan butuh laptop baru yang dapat
membantu perkuliahannya, tentunya dengan jurusan yang
diambilnya butuh laptop yang mempunyai spesifikasi yang
tinggi. Uang di rumah tidak ada untuk membeli laptop,
maka kembali Dito meminjam, kali ini ke Bank Nagari.
Setelah dihitung angsuran pinjaman sedang berjalan, jika

Budiharto | 85

Dito meminjam lagi sebanyak dan selama masa pinjaman
sekarang, ada selesih yang bisa dibawa pulang. Maka selisih
itulah yang dibelikan laptop baru untuk Awan. Akhirnya
jumlah uang itu cukup untuk membeli laptop yang bagus.
Lalu Dito memesan laptop ke Roni, teman Fifo. Di hari yang
ditentukan Dito dan Desti membeli laptop itu sambil Desti
ikut MGMP guru bahasa Indonesia Provinsi Sumatera Barat.
Setelah membeli laptop, Dito mengantarkan Desti ke ke Ulak
Karang untuk MGMP sedangkan Dito dengan kakak Awan
pergi ke tempat kost Awan di Lubuak Bagaluang. Ternyata
laptop itu terbaru dan spesifikasinya di atas milik kawan
Awan yang lain.

Satu semester telah berlalu ternyata Awan
mendapatkan rangking pertama di kelasnya. Sesuai
peraturan di UPI Padang, yang mendapatkan rangking 1 dan
2 akan dibebaskan membayar uang kuliah. Syukur ternyata
sampai semester enam awan mendapat ranking 1 atau 2.
Dari beasiswa, atau tepatnya hadiah pemuncak kelas, uang
kuliah yang diberikan untuk dia tersimpan. Uang kuliah yang
tersimpan boleh digunakan seperti untuk membeli buku,
sedangkan printer dibelikan oleh Desti dan Dito. Hingga
semester empat perjalanan kuliah dan keakraban Desti dan
Dito dengan Awan terasa mesra. Sering setiap ke Padang
Desti dan Dito selain singgah ke rumah Fifo juga mampir ke
tempat kost Awan. Saat Dito berobat ke rumah sakit Padang
Eye Center Awan ditelepon untuk datang ke rumah sakit itu
sekadar untuk bertemu dan makan malam bersama setelah
berobat selesai.

86 | Awan di Atas Rumah Bako

Dalam perjalanan Dito dan Desti dari Solok ke Padang
dua setengah tahun yang lalu dapat cerita dari Rian sambil
menyetir mobil mereka kalau Awan masih berhubungan
dengan laki-laki itu bahkan tidur di tempat usaha laki-laki
itu, ditambah Desti bercerita pula tentang kabar miring
perangai Awan. Marah bercampur dengan sedih membuat
Dito ingin bertemu Awan segera untuk memastikan kabar
ini. Diteleponlah Awan oleh Dito untuk menyuruh dia datang
bersama orang tuanya malam ini.

Di saat pertemuan malam itu, mereka selaku manusia
sangat kecewa dengan keputusan Awan lebih memilih laki-
laki itu dari pada mengikuti keinginan mereka. Setelah hidup
bersama dari dia berumur 18 bulan hingga 21 tahun, namun
apa daya mereka menyadari Awan bukan milik mereka.
Awan punya ibu dan bapak yang melahirkannya yang lebih
berhak atas dirinya. Meski mereka punya kesepakatan, apa
pun yang terjadi, sepahit apapun yang ditakdirkan Allah atas
hubungan mereka dan Awan tak akan menyebut-nyebut
agar tidak hilang pahala dan takkan menuntut balas atas
semua yang mereka curahkan. Tapi karena mereka manusia
tetap tidak bisa membendung dan menahan perih di hati
saat mengenang kisah sedih dan bahagia di mana masa
selama lebih kurang 19 tahun. Tak punya kuasa mereka atas
diri Awan, mereka punya impian yang indah untuk Awan
setelah selesai kuliah akan menghubungi orang-orang yang
bisa mencarikan pekerjaan untuk Awan. Setelah dapat
pekerjaan mereka akan mengarahkan Awan membantu

Budiharto | 87

orang tua kandungnya dan saudara-saudaranya lalu setelah
itu akan kembali meminjam ke Bank untuk acara pesta
pernikahan Awan.

Mereka tidak mempermasalahkan dengan siapa Awan
menjalin hubungan, yang mereka tidak setuju Awan pacaran
di saat masih kuliah yang pasti akan mengganggu dan
menghalangi keinginan mereka agar Awan menjadi Sarjana,
bekerja, membantu keluarganya terlebih dahulu. Sering
disampaikan kepadanya apa visi misi mereka tapi Awan
berkeputusan yang menyentak jiwa raga mereka, ditambah
ibu Awan menyokong. Rasa tak bertulang tubuh mereka
dan terasa yang ada di atas kursi tamu saat itu hanya daging
saja. Sesak di dalam dada mereka dan Desti pun tak kuasa
membendung air mata lalu mengalir ke pipinya serta suara
yang bergetar. Dito pun kasihan melihat istrinya begitu.

Di akhir pertemuan malam itu Desti dan Dito
menyampaikan mereka tak sanggup lagi mendidik Awan dan
menyerahkan sekali lagi ke uda Sudi dan kak Asti. Desti dan
Dito kembali menekankan bahwa janji mereka membayar
uang kuliahnya hingga semester 8 tetap akan dilakukan
dan tak akan menuntut balas karena tujuan awal mereka
mendidik Awan atas dasar cinta dan lillahi ta’ala. Namun
dengan pongahnya kak Asti berkata dia akan mengganti apa
yang pernah Desti dan Dito berikan dan menyuruh Awan
memelihara saat mereka tua renta nanti. Bagian kalimat ini
yang selalu terngiang oleh mereka setiap kali bicara tentang
Awan.

88 | Awan di Atas Rumah Bako

Laporan buruk tentang Awan sering mereka dengar dari
Eti yang sangat cemburu sebab dia punya anak perempuan
dua tahun lebih muda dari Awan, Namah namanya. Semula
Dito juga perhatian sekali kepada Namah, sering bila
Dito tidak mengajar dan ada di rumah maka Ditolah yang
menyuapi dia makan siang dengan lauk khusus untuk Dito
seperti dendeng, randang, kalio hati, cancang dan lainya.
Dito memilih makan dengan cabai atau kuah saja sedangkan
dagingnya untuk Namah. Jika di rumah bersama Eti dan
umi makan Namah tidak diperhatikan. Setelah makan,
Dito menyuruh tidur siang, hidup disiplin dan teratur ini
berlangsung hingga Namah kelas 6 SD. Di kelas 6 ini Namah
tidak lagi mau diatur, dia lebih suka bermain dari pada
menuruti kata-kata Dito. Akhirnya Dito putuskan untuk tidak
ikut memperhatikannya lagi, bahkan menyapa pun tidak
mau. Herannya Eti dan umi tidak peduli dengan kesalahan
Namah itu yang harusnya minta maaf kepada Dito,
bertambah tidak peduli Dito karena orang tua dan neneknya
yaitu umi tidak paham mana yang benar atau salah.

Terasa lucu dan sangat menggelikan hati Dito bila
Awan disebut cucu di ateh rumah urang tidak dipedulikan
sedangkan Namah cucu di ateh rumah awak pun tidak
diberikan pendidikan moral untuk menghargai orang tua.

Bagi mereka, Desti yang tidak punya anak semestinya
perhatian dan uang serta semua yang dimiliki harus dinikmati
anaknya dan mereka saja bukan untuk Awan. Padahal
untuk rasa keadilan Desti dan Dito, Namah pun dibelikan

Budiharto | 89

seperti apa yang dibelikan untuk Awan. Artinya Desti selalu
membeli dua, satu untuk Awan dan satu lagi untuk Namah.
Memang untuk hal tertentu memang dibiarkan Eti yang
membayar seperti asuransi pendidikan. Untuk kebutuhan
dapur sebagian besar ditanggung oleh Desti dan Dito. Eti
menyediakan beras, bagi Dito untuk kebersamaan mau
makan sama-sama sediki. Bagi dia, “hati gajah samo-samo
dimamah, hati tungau samo-samo dicacah”, dan demi
kebahagian bersama “tatungkuik samo makan tanah,

tatilantang samo minum ambun, tarapuang samo hanyuik,
tarandam samo basah”.

Eti bersuami namun sering bertengkar sehingga
ini menjadi alasan tidak punya uang untuk membantu
kebutuhan dapur, air, listrik, dan gas. Untuk ini sering Dito
dan Desti yang membayar. Eti bertani dan beternak itik. Dari
itu dia dapat uang, namun ditabung saja tanpa diketahui
suaminya agar bisa minta uang ke suaminya yang sering
tidak bekerja sehingga tidak bisa memberi nafkah. Jadi,
saat suaminya minta lauk tertentu selalu bilang tidak ada
uang sehingga suaminya harus makan apa yang ada saja.
Padahal Eti punya uang dari hasil penjualan padi dan telur
itik, uangnya disimpan umi.

Dito sangat sayang dengan Awan dan Namah, dia terasa
bahagia sekali saat pulang sekolah dalam keadaan letih
mendapati senyuman mereka ditambah lahir anak Eti yang
kedua, lima tahun setelah Namah, laki-laki. Ibo namanya.
Dito yang sayang dengan anak-anak, ikut bahagia sekali

90 | Awan di Atas Rumah Bako

sebab ia merasa nanti ada anak yang bisa diajak main bola
kaki atau bergulat, pokoknya olah raga laki-lakilah. Ibo
tumbuh lucu dan gagah, yang menambah menjadi penawar
letih dari perjalanan jauh dari Solok selain Awan dan
Namah. Baru pandai berjalan saja Dito sudah membelikan
Ibo mobil remote control saat Idul Fitri, sedang Ibo belum
mengerti dan takut saat mobil itu berjalan sendiri apa lagi
kalau diarahkan ke dia, dia takut sambil naik ke kursi.

Rasa sayang Dito bertambah ke Ibo saat Dito sakit GBS
yang menyebabkan dia lumpuh dan harus terbaring. Ibo-
lah yang membantu mengambilkan minum, pispot setelah
pulang skolah TK. Saat mama Dito sakit yang akhirnya
meninggal dunia Dito berpisah dengan Ibo sekitar dua
minggu. Dito merasa rindu sangat. Saat pulang ternyata Ibo
tidak ada di rumah, dia dibawa bapaknya ke rumah neneknya
karena sedang merajuk dengan Eti. Dito pergi ke sana
menjemput Ibo. Dito membeli kamera DSLR, dia membawa
serta Ibo belajar menggunakan kamera itu. Sering mereka
pergi berdua mengambil gambar berdua. Tidak itu saja, Ibo
juga diajari mikrokontroler Arduino membuat alarm maling
menggunakan PIR, juga diajari mengendarai mobil Toyota
Agya, Dito ingin Ibo bisa pula. Ibo dibawa ke mana-mana
oleh Dito dan Desti, untuk masalah makan dan pakaian
dipuaskan, termasuk masalah pendidikan.

Saat kelas 7 SMP Dito memberikan fasilitas belajar Ibo
dengan membeli tablet beserta asesorisnya. Handphone
sebagai modem, pulsa untuk membeli paket internet, serta

Budiharto | 91

paket belajar on-line Ruang Guru sehingga habis sekitar 3
juta rupiah. Selain itu selalu dibimbing cara belajar yang
efektif menggunakan metode mind map, dicarikan soal
di internet untuk menguji ketuntasan belajarnya hingga
nilainya bagus hingga semester dua. Di awal kelas 8, fasilitas
Ibo ditambah berupa active speaker seharga 350.000 agar
suara guru di Ruang Guru terdengar jelas. Ternyata Ibo tidak
berkenan karena nanti ketahuan kalau selama ini jika Dito
tidak ada di sampingnya duduk maka main game on-line.
Marahlah Dito sebab untuk main game Ibo sudah dibelikan
Play Station, dan untuk ke mana-mana sudah dibelikan
sepeda. Sekarang, waktunya belajar justru dia malah main
game. Dito memberitahu Eti namun sekali lagi ini pun bukan
merupakan kesalahan dan tidak menyuruh meminta maaf.

Dito heran sangat, saat tidak diperhatikan anak-anaknya,
Eti marah. Saat anaknya melakukan kesalahan dia tidak
memarahi anaknya. Sebenarnya maunya apa? Hal ini juga
dilaporkan ke Rian. Rian adalah mamak (paman) Ibo yang
harus mengajari Ibo sebagai kamanakan, apalagi Ibo sudah
tidak tinggal bersama bapaknya yang sudah bercerai. Rian
tidak malah mengajari justru menyalahkan bapak Ibo dan
sekolah Ibo. Bapak Ibo disalahkan karena sifat jelek turun
dari bapaknya sedangkan sekolah tidak mengajari akhlak
dengan baik. Lalu, sudahkah dia menjalankan perannya
sebagai mamak? Di Minangkabau berlaku anak dipangku,
kamanakan dibimbiang. Dito juga melaporkan ke Saf tapi
tidak ada tanggapan.

92 | Awan di Atas Rumah Bako

Sering Dito menyarankan ke laki-laki di rumah itu untuk
menyelesaikan masalah Eti dan suaminya supaya kamanakan
mereka dididik dan dibiayai bapaknya, akan tetapi mereka
tidak mau karena mereka hanya mendengar cerita dari
Eti saja lalu menyimpulkan suami Eti yang salah dan tidak
perlu diperbaiki lagi sebab Eti sudah tidak mau lagi bersama
suaminya. Tapi mereka pun enggan mendidik kamanakan-
kamanakan mereka apalagi membantu keuangan. Tumo

disubarang tampak, sadang Gajah di palupuak mato indak
tampak. Karena rasa sayang Dito maka dia tidak menyerah,
tetap dia laporkan dan memohon untuk mengajari hingga
Rian berkata “Mas Bud, indak ado hubuangan darah jo anak
tu, mako padian sajo lah lai!”

Dito akhirnya menghentikan usahanya dan hanya
melihat saja tingkah mereka. Setelah resmi bercerai dan
suami Eti beristri baru dia tidak lagi memberi uang anak-
anaknya, walau dulu pun jarang, itu pun sedikit saja,
bertambah salah dia di mata mereka.

Rian laki-laki di rumah itu yang paling getol memberi
laporan tentang Awan. Bagi dia tidak ada sisi baik Awan.
sebenarnya Awan enggan untuk membeli bensin motornya
ke bengkel Rian namun karena bensin itu nanti Desti yang
membayar terpaksa juga ke sana. Pernah ban motor Suzuki
Spin sudah botak maka harus ditukar, Desti menyuruh
menukar di bengkel Rian. Ironinya, ban yang kualitas baik
diminta namun yang jelek dipasangkan dengan harga ban
yang bagus, hanya karena benci ke Awan. Sering Awan

Budiharto | 93

disuruh menunggui bengkel Rian dengan nada yang tidak
mengenakkan dan tidak mendengarkan keberatan Awan
dan sering ditinggal lama. Karena kesalnya tampak di wajah
Awan, ini juga dilaporkan ke Dito kalau Awan pemalas dan
tidak mau membantu orang lain, padahal saat itu Awan
harus kembali cepat untuk membantu cuci piring. Banyak
lagi cerita miring tentang Awan dari Rian, namun karena
Dito tidak pernah melihat sendiri ditambah rasa percaya ke
Awan maka ia abaikan saja. Dan sering Dito menyuruh Rian
untuk menasihati Awan kalau dianggap punya salah sebab
Awan adalah anaknya juga karena dia bisa menikahkan
Awan bila uda Sudi berhalangan. Akan tetapi hatinya tidak
tergetar, dalam pikiranya Namah-lah yang berhak atas diri
Desti karena garis kekerabatan. Naudzubillah min dzalik.

Da As tidak melapor tapi sering intimidasi verbal
dilontarkan ke Awan,

“Kau poi dari siko, Wan! Adiak tinggegh di siko lai (Kau
pergi dari sini, Wan! Adik (anak da As) tinggal di sini lagi).”
ucap da As.

“Indak, awak do!” jawab Awan.

“Apak mambaok Honda ibu tu lai! namouh kau sajo
mamakai?” ujar da As.

“Iko Honda iyek, indak Honda ibu ko mah,” jawab Awan
lagi.

“Ba a obeh kau?” tanya da As.

94 | Awan di Atas Rumah Bako

“Di STNK namo iyek,” Awan tak kalah sengit melawan
pak tuonya itu. Tidak sekali dua kali uda As berbicara
seperti itu. Sama dengan Rian, dia tidak menyadari kalau
Awan-lah keturunanya bukan Namah. Untuk intimidasi
seperti itu Awan sudah tidak peduli, hingga barangkali itu
pula yang membuat hati Awan keras dalam pendiriannya.
Pernah saat belum TK namun selalu dibawa mengajar oleh
Desti Awan meminta sendiri ke ibu Ketua Yayasan karena
dia belum juga dipanggil ke depan menerima bantuan
seragam TK, sebab dia merasa siswa juga padahal dia hanya
anak bawang saja. Dengan tertawa para pengurus Yayasan
melihat keberaniannya. Untung masih ada seragam itu.
Awan tersenyum bahagia dan minta dipasangkan baju itu.
Karena masih pendek badannya, terpaksa baju itu diangkat
ke atas dan diikat agar tidak terinjak kakinya.

Eti tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan Awan, tidak
pandang bulu tempatnya. Sebagai petani maka Eti sering
berhubungan dengan banyak orang saat bertanam padi
ataupun menyiang padi. Eti bercerita kalau Dito dan Desti
lebih menyayangi Awan, Namah tidak pernah dapat apa-
apa, padahal Eti repot karena harus bangun subuh untuk
menanak nasi dan harus turun rumah saat gelap itu untuk
mengambil cabai rawit guna bahan memasak lauk makan
pagi Awan. Padahal dia tidak pernah bangun pagi karena
Awan sudah dibangunkan untuk mencuci piring dan
membantu Desti masak. Desti, Dito, Awan, dan anak Eti
makan nasi kemarin, nanti setelah orang-orang berangkat

Budiharto | 95

sekolah baru dia bangun dan menanak nasi. Anak dan
suaminya tidak pernah di masakkan pagi-pagi hari.

Cerita ini akhirnya sampai juga ke telinga kak Asti yang
juga dapat di sawah karena dia juga petani. Kak Asti merasa
sakit hatinya mengingat nasib anaknya di rumah bakonya
tidak diterima baik oleh orang di rumah itu, selain Dito dan
Desti bahkan umi selaku mertuanya pernah bilang ke dia
kalau umi tidak mendapat manfaat dari Desti sebagai orang
tua selama menjadi PNS. Uang Desti hanya untuk Awan saja.
Perkataan umi ini juga didengar Dito saat Rian menikah, tak
sengaja Dito berdiri dekat jendela ruang tengah tapi tidak
terlihat oleh mereka. .

Akibat dari Desti dan Dito sangat menyayangi Awan
maka timbul rasa benci kepada mereka terutama sekali
kepada Dito selaku urang sumando di ateh rumah Desti.
Keberadaan urang sumando di rumah istrinya diibaratkan
dengan “abu di ateh tunggua” yang tidak punya daya rekat
sehingga dengan hembusan angin lembut saja sudah bisa
lenyap. Apalagi Dito tidak punya anak dari Desti, maksudnya
posisi Dito sangat lemah, sama seperti Awan mudah saja
didepak dari rumah itu seperti nasib suami Eti. Suami Eti
tidak didepak terang-terangan namun dengan cara yang
elegan.

Situasi inilah yang membuat sesak dada Desti sehingga
sulit dia membendung emosinya hingga terdengar suara
bergetar dan lepas jua tangisnya. Dito menyabarkan Desti.
Kak Asti pulang dengan rasa benci, tampak di mukanya

96 | Awan di Atas Rumah Bako


Click to View FlipBook Version