The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suradibudi, 2022-07-21 08:13:28

NASKAH Awan di Atas Rumah Bako

NASKAH Awan di Atas Rumah Bako

kepada Desti dan Dito sebab Dito tadi menyebut Awan
sudah berzina karena sudah pernah tidur di bengkel laki-laki
itu dan juga sering pergi berdua, bahkan minta tes perawan
Awan. Bagi kak Asti, zina hanya sebagai hubungan kelamin
laki-laki dan perempuan tanpa ikatan pernikahan yang
sah. Padahal zina tidak sebatas itu saja, menurut agama
Islam, mendekati saja sudah berdosa apalagi melakukanya,
sedangkan menurut kak Asti yang dilakukan Awan dengan
laki-laki itu bukanlah zina.

Berita kalau Awan tidur di bengkel laki-laki itu dibawa
Eti setelah mendengar cerita si Adi. Adi adalah mamak Awan
yang sedang ada masalah keluarga dengan adiknya, kak Asti.
Entah apa maksud Adi menceritakan aib kamanakannya ke
Eti. Kak Asti sepertinya marah dan kesal ke Eti yang sangat
getol sekali menjelek-jelekam Awan sehingga berimbas pula
ke Desti dan Dito pula tanpa bisa mengontrol perkataanya
yang akan menyakitkan hati Desti dan Dito.

“Anak dek tinggegh di rumah niniak nakal jadinyo (anak
(Awan) karena tinggal di rumah niniak menjadi nakal),” ucap
kak Asti ke Awan. Niniak adalah sebutan untuk nenek dari
pihak bapak, sedang dari pihak ibu disebut uwo.

Ditimpali pula ucapan ibunya oleh Awan, “Ba a kok Ama
tinggeghan awak di rumah niniak ko wokotu ketek dulu
(kenapa Ama tinggalkan saya di rumah niniak ini waktu saya
kecil dulu)?” tanya Awan ke ibunya.

Budiharto | 97

Desti dan Dito merasa perih hatinya, seperti luka diberi
garam dan asam mendengar perkataan mereka yang secara
tidak langsung kak Asti mengatakan Awan berperangai buruk
dan “jongkek” (binal) karena didikan Desti dan Dito, serta
Awan menyesali telah hidup bersama mereka. Memang
untuk kemewahan dunia Awan tidak dapat mereka sediakan.

“Kami minta maaf ka uda Sudi dan kak Asti jo kau Awan.
Kami indak pandai ma ajai Awan sahinggo Awan jadi nakal.
Sakali lai agiah kami maaf. Ka kau Awan, maafkan kami nan
lah salah manahan kau dulu di siko. Sakali lai maaf,” kata
Dito dengan lirih dan suara yang bergetar sebab dadanya
sesak menanggung emosi, sedih, kecewa, tak menyangka
mendengar kalimat itu dari orang dihormati, kak Asti, dan
Awan yang selalu disayangi dan bela serta lindungi dari
kebencian bako Awan. Keadaan ini persis seperti pepatah
Minangkabau “musajik nan ba buek, gereja juo nan sudah”.
Niat berbuat baik, yang buruk jua hasilnya.

Desti dan Dito semenjak malam itu dengan berat hati
merelakan “anak mereka” Awan pergi dari mereka. Setiap
teringat Awan Desti tanpa sadar menetes air matanya,
bahkan di mana saja bila melihat anak gadis seumuran dan
setinggi Awan Desti pun akan menangis. Dito pun begitu
pula. Sering Dito menggoda Desti jika Desti bindeng saat
bicara, “Ba a dek salemo (pilek)?”

Lalu Desti tertawa perih. Sulit mereka menjawab
pertanyaan orang tentang Awan sebab mereka tidak tahu
lagi kabar Awan.

98 | Awan di Atas Rumah Bako

Rasa cinta mereka ke Awan masih seperti sedia kala,
maka mereka tidak sanggup mendustainya terbukti mereka
masih menelepon saat berobat ke PEC, dan Awan karena
rasa cintanya pun datang. Dito mencium pipi Awan seketika
Awan mendekatinya, tidak dengan Desti yang sengaja
mengalihkan perhatian dengan tetap ngobrol dengan teman
yang bertemu di rumah sakit itu sambil menahan tangis
karena rasa haru bertemu lagi dengan anaknya.

Desti adalah mande atau ande atau induak bako (ibu)
bagi Awan. Sebaliknya Awan adalah “anak” bagi Desti.
Sebab di Minangkabau yang punya kamanakan hanyalah
laki-laki dari anak saudara perempuannya (Namah dan Ibo
adalah kamanakan dari uda As, uda Sudi, Saf dan Rian dan
mereka mamak bagi Namah dan Ibo), namun dari saudara
laki-lakinya disebut “anak” sebab anak dari saudara laki-laki
tadi adalah sedarah dengannya. Seperti uda As, Rian, dan Saf
adalah “bapak” bagi Awan dan tidak bisa menikah dengan
anak-anak bapaknya (uda As, Rian, dan Saf) yang laki-laki,
jelas sekali kedekatan hubungan mereka, tapi kenapa bisa
timbul rasa benci terhadap Awan. Lain halnya anak-anak uda
As, uda Sudi, Saf dan Rian boleh menikah dengan Namah
dan Ibo. Namah anak Eti juga anak bagi Desti, dan Desti
adalah mande atau ande atau induak (Ibu) bagi Namah.

Seperti biasa Desti selalu memberi sedikit uang untuk
Awan saat berpisah. Awan, karena rasa sayang dan cinta ke
Desti dan Dito membuatnya manja. Dia yakin setiap yang
dia minta pasti didapatinya. Setiap akan lebaran maka Desti

Budiharto | 99

membelikan baju. Saat seperti ini biasanya Awan menangis
karena beda selera di antara mereka, Awan sukanya celana
dan baju yang ketat beda dengan Desti dan Dito yang ingin
anaknya menggunakan pakaian syar’i. Jika Desti menolak
membelikan baju yang mahal maka ia akan minta ke Dito, dan
Dito mengabulkan, Desti pun menggerutu. Dito sangat sedih
sekali sebab Awan minta namun tidak bisa mengabulkan
lantaran sepatu Adidas itu mahal bagi Dito, Rp. 1.500.000,
Adidas KW yang terbelikan pada akhirnya. Hingga kini masih
terasa kesedihan Dito itu. Kalau Awan selalu seperti itu,
kalau beli baju dan lainnya selalu yang mahal dan bermerek,
semua keinginannya harus terkabul tidak bisa tidak. Waktu
itu pernah belanja ke Ramayana di Bukittinggi, ada baju yang
dia suka tapi harganya mahal, Desti tidak mau membelikan
karena takut tidak cukup uangnya karena masih banyak
yang belum dibeli. Awan tetap mau beli walaupun sudah
disampaikan uang tidak cukup untuk itu. Karena Desti tidak
tega melihat anaknya tak terpenuhi keinginannya akhirnya
dibelikan juga. Desti beli baju juga tapi harganya tidak
seberapa, begitulah wujud rasa cinta seorang Desti kepada
anaknya.

Bertemu di belakang uda Sudi dan kak Asti terus
berlangsung hingga operasi mata Dito ke 8 kali. Dito
sangat kecewa ke Awan yang tidak mau membantu Desti
mengerjakan pekerjaan Desti yang butuh kemampuan
komputer. Buat Desti susah sebab kurang terampil,
tentunya mudah bagi Awan. Dito terasa pilu hati Desti

100 | Awan di Atas Rumah Bako

karena anak yang selalu dibanggakan ke orang-orang yang
pintar komputer dan selalu juara kelas ternyata tidak datang
membantunya. Desti tidak memperlihatkan kesedihanya
itu. Awan datang ke rumah Dito dan Desti sebab ditelepon
Desti.

“Beko puku sapuluah, kau tolongan mamasangan ubek
mato Iyek, muah!” suruh Desti.

“Jadih, bu,” jawab Awan.

“Jan lo, lai (jangan pula lagi)! Lai bisa ambo surang
nyeh!” ungkap Dito.

Dito menolak walau memang susah memasang obat
tetes matanya sebab mata yang dioperasi sebelah kanan,
sedangkan mata kirinya juga pernah dioperasi yang
membuat penglihatanya menurun. Memasang obat tetes
mata harus membuka perban terlebih dahulu. Sering obat
tidak jatuh di bola mata, maklum tak jelas lagi. Kemudian
memasang perban, inipun Dito tidak tepat memasang
kembali, membuat sebagian mata terbuka. Dito yakin Allah
pasti akan memberi cara untuknya memasang obat mata itu.
Dito tidak tahu reaksi Awan waktu itu karena tidak tampak
jelas wajah Awan. Dito sangat sedih sikap Awan yang tega
mengabaikan permintaan Desti yang begitu menyayanginya
dari kecil sampai-sampai mau menentang keluarganya
sendiri. Ini Dito lakukan untuk menunjukan rasa kecewa
terhadap Awan.

Budiharto | 101

Rasa kecewa semakin lama semakin menumpuk,
namun tidak bisa melepaskan rasa cinta dan sayangnya ke
Awan. Dito berusaha sekuat tenaga mendustai cinta dan
sayangnya ke Awan bahkan dengan cara menghapus Awan
dari doanya, yang selalu terucap dibibirnya setelah salat dan
saat menjelang buka puasa terlebih sewaktu Awan ujian UN
di SMK, SNMPTN, SBMPTN, PAS, dan lainya. Karena sering
diucapkan namanya di doa Dito, susah menghilangkannya.
Sudah bisa menghapus namun setiap itu pula teringat,
belum bisa melupakan atau tidak akan bisa. bagi Dito yang
terasa hingga kini kecewa. Apakah itu suatu kesalahan dan
dosa?

102 | Awan di Atas Rumah Bako

AWAN MENIKAH

Sabtu terakhir tahun ini 25 Desember, Dito akan operasi
mata yang ke sepuluh kalinya. 4 bulan setelah serangan
stroke ringan pertama kali, 3 setengah tahun yang lalu Dito
berobat mata karena sudah susah melihat. Dito berobat ke
praktik dokter mata dan disarankan operasi katarak. Seperti
umumnya orang akan takut bila akan dioperasi, apalagi
mata, lama mempertimbangkan. Namun akhirnya Dito pun
memutuskan berobat di RSUD Batusangka. Benar saja,
Dokter merujuk ke RSKM Padang Eye Center karena bukan
hanya katarak saja tapi ada masalah lain yang tak tampak,
tertutup oleh katarak, itulah kenapa minus ditingkatkan tapi
matanya tetap kurang jelas juga penglihatanya.

Di RSKM Padang Eye Center Dito ditangani dr. Heksan.
Harus dioperasi katarak dulu agar dapat melihat lebih ke
dalam lagi.

Ternyata Dito menderita ablasio retina yang
menyebabkan penglihatan matanya sebelah kiri terganggu
oleh seperti lapisan yang menghalangi pandanganya. Dito
seperti melihat di balik kaca yang kotor akibat debu yang

Budiharto | 103

melekat lalu diikat air lalu mengering. Sebelumnya Dito
melihat ada bintik-bintik hitam melayang-layang, dan
terkadang saat melihat ke sisi yang redup seperti melihat
kilat. Alhamdulilah operasi vitrex berhasil memasukan
minyak silikon ke dalam matanya setelah retina yang lepas
disambung. Minyak silikon berguna untuk membentuk
bulatan mata kembali.

Satu minggu berlalu, perban dibuka dan mata Dito bisa
melihat lebih jelas dan bersih. Dilanjutkan dengan operasi
katarak matanya yang sebelah kanan. Setelah melalui
operasi dan pengobatan Dito bisa melihat jauh lebih bersih.
Sangat gembira sekali hati Dito sebab dia sudah tidak butuh
kacamata minus lagi namun yang plus. Untuk melihat tulisan
running text di layar TV Dito mampu membaca dari jarak 6
meter.

Allah berkehendak lain. Sepekan setelahnya Dito merasa
penglihatanya ada yang menghalangi. Di saat kontrol mata
kiri Dito menyampaikan keluhan itu, ternyata mata kananya
juga lepas retinanya, maka harus dioperasi vitrex juga.

Dito tetap saja mengajar dengan mengendarai
Vario meski sebelah matanya tertutup perban, karena
memikirkan siswanya dan motivasi yang datang dari dua
kamanakannya serta Awan. Dito bertekad harus mengajar
supaya tetap bisa menerima gaji untuk menafkahi Desti dan
Awan serta kamanakannya Ismail dan Ishaq. Do’a selalu
terucap selama proses operasi sebab Dito minta dibius lokal
saja sehingga tetap sadar. Dito berdoa untuk keberhasilan

104 | Awan di Atas Rumah Bako

operasi buat tetap bisa menafkahi Desti, Awan, Ismail dan
Ishaq, serta pergi mengajar dengan motor hingga operasi ke
tujuh kalinya. Tapi yang ke 8 dan 9 kali tidak lagi menyebut
nama Awan karena hatinya iba namun tidak membenci
tapi kecewa berat, entahlah apa nama perasaanya itu. Dito
tidak bisa lagi naik motor mengajar sebab semakin buruk
penglihatanya, dia takut kecelakaan. Dito pergi mengajar
membawa supir sendiri menyetir Toyota Agya. Cukup besar
biaya yang harus dikeluarkan Dito tapi dia harus mengajar.
Untuk meringankan biaya Dito membuat kesepakatan
dengan teman tim mengajarnya saat harus menjelaskan
materi baru ke salah satu group maka Dito datang sedangkan
saat praktik temannya yang mengawasi dan Dito mengajar
di rumah, mengajar secara daring. Bagi siswa yang belajar di
rumah menggunakan fasilitas Google Meet.

Setelah rasa percaya dirinya tumbuh kembali Dito
mengajar dengan naik travel. Dito dijemput dan diantar
hingga ke workshop tempat dia mengajar, sedang pulang-
nya dijemput dan diantar hingga rumah. Masih besar
biayanya dibanding naik motor yang hanya butuh Pertamax
2 liter saja. Bagi Dito tidak mengapa sebab yang pertama
merupakan kewajiban dan keyakinan bahwa Allah akan
mengganti jauh lebih besar lagi kelak. Entah kapan namun
Dito yakin bersama kesulitan Allah memberi kemampuan
untuk menyelesaikannya, dan jika ikhlas Allah akan
membalasnya kelak. Bagi Dito yang dia keluarkan adalah
investasi akhirat kelak, Aamiin..

Budiharto | 105

Operasi ke-8 rencananya untuk mengevakuasi minyak
silikon di mata kanan. Ternyata, selama operasi, retina
Dito kembali lepas. Dokter Heksan memutuskan untuk
mengangkat minyak silikon yang lama lalu menggantinya
dengan yang baru. 13 bulan beikutnya penglihatan Dito yang
kanan menjadi kabur kembali setelah diperiksa ternyata lagi-
lagi lepas. Dokter Heksan bilang kalau ini akibat dari ablasio
karena minus tinggi, mau tak mau harus dioperasi untuk ke 9
kalinya. Alhamdulillah operasi lancer. Dito yakin keberhasilan
operasi yang cepat dan minim rasa sakit karena campur
tangan Allah. Dito selalu berzikir hasbunnallah wani’mal
wakil berulang-ulang dengan keyakinan tinggi bahwa Allah
sebaik-baik tempat baginya dan sebaik pelindung, dan
sebaik-baik penolong. Dia pun tak lupa bersedekah subuh.
Mudah-mudahan Allah juga akan memudahkan operasinya
yang ke 10 kali ini untuk evakuasi minyak silikon mata kirinya,
menenangkan jiwanya, menghilangkan rasa takut, cemas,
menghilangkan rasa sakit, mensukseskan operasi tentunya
mengembalikan penglihatanya sehingga dia bisa mandiri
lagi agar bisa beribadah, belajar, mengajar dengan motor.

12 tahun yang lalu Dito pernah sakit vertigo yang
mengharuskan dia dirawat di RSUD Batusangka dan dirujuk
ke RSUP dr. M. Djamil Padang dan setahun berikutnya Dito
sakit GBS juga harus dirawat di RSSN Bukittinggi selama
22 hari. Dito melanjutkan pengobatan alternatif, dia tetap
mengajar diantar Ris yang tukang ojek dengan bayaran Rp.
75.000 sekali mengajar. Akibat dari penyakit itu Dito tidak
bisa berjalan segesit dahulu lagi.

106 | Awan di Atas Rumah Bako

Setahun setelah serangan stroke pertama, Dito yang
tengah mengajar sambil marah-marah ke siswa yang tidak
juga menyelesaikan tugas, Dito merasa bagian kanan
badannya tidak nyaman dan terasa pusing. Dia minta tolong
rekan sesama guru untuk membawanya ke RSSN Bukittinggi.
Dia kembali harus dirawat di sana selama 5 hari.

Dalam keadaan penyakit-penyakit yang dideritanya,
Dito susah payah menata hatinya untuk menerima semua
ini merupakan hukuman baginya dari Allah untuk bisa
sadar sekaligus menganggap ujian dari Allah untuk menjadi
hamba Allah yang beriman. Namun karena dirinya manusia
tetap ada pasang surut keimanannya. Akan tetapi dia selalu
berusaha mengembalikan ke posisi iman yang tinggi. Dito
meyakini sakitnya sekarang akan menghapuskan seluruh
dosa-dosanya. Namun terkadang dia merasa orang-orang di
sekelilingnya tidak mau tahu seberapa susahnya dia melihat,
berjalan, tidur dan sebagainya. Namun setelah itu dia sadari
bahwa ini harus dia terima dengan ikhlas untuk bekal kelak
hidup di kubur dan akhirat. Dia juga merasa menjadi beban
bagi orang-orang di sekitarnya. Setiap hatinya gundah dia
selalu berusaha menyemangati dirinya dengan memikirkan
Desti, Ismail dan Ishaq yang masih membutuhkanya.

Di saat jiwanya yang mudah labil, malam Senin datang
Awan beserta dua orang mamaknya dan uda Sudi serta kak
Asti. Dito jengah menerima mereka. Wan J, kakak dari kak
Asti, wan S, kakak sepasukuan kak Asti.

Budiharto | 107

Wan S memulai pembicaraan, “Baiko mah (begini), mas
Dito... kami datang ka mas Dito jo bu Desti karano Awan
anak mas Dito jo bu Desti ka manikah hari Jumat bisuak.
Baroleknyo hari Sabtu. Datang bisuak muah!”

“Awan ka manikah, ba a kok basabuikan ka ambo (Awan
akan menikah, kenapa kok dibicarakan ke saya)?” tanya Dito.

Wan J lalu mencolek tangan wan S yang duduk di
sampingnya sambil berkata, “Olah, pulang awak lai (sudah,
pulang kita lagi)!” Sepertinya mereka sudah menduga
akan terjadi masalah saat pertemuan ini. Wan S masih
bersabar dan sambil senyum yang dipaksakan melanjutkan
pembicaraan.

“Awan kan anak mas. Salamo ko tinggeh di siko (Selama
ini tinggal di sini),” ucap wan S.

Dito memotong penjelasan wan S, “Wan, duo tahun nan
lalu Awan ko lah kami pulangkan ka urangtuonyo, sabab
kami lah indak sanggup maajainyo salamo 19 tahun ko.”

Wan S kali ini yang memotong ucapan Dito, “Dek
(karena) itulah mako sabagai bapak Awan datang wakotu
manikah jo barolek suak!”

“Iyo.. Ba a pulo kecek urang, Mas sabagai bapaknyo
jo Kakak sabagai ibunyo indak tampak (Iya, apa pula kata
orang, Mas sebagai bapaknya dan Kakak sebagai ibunya
tidak tampak),” sambung kak Asti.

108 | Awan di Atas Rumah Bako

“Samanjak kami sarahkan baliak Awan ka kak Asti jo uda
Sudi, samanjak itu pulo indak ado kawajiban Awan untuak
manyabuik (menyampaikan) apo pun urusannyo ka kami.”
Ungkap Dito. “Kami lah kami ikhlasan sadonyo. Jadi indak
paralu pulo uwan-uwan baduo, kak Asti jo uda Sudi maraso
indak lomak (tidak enak) ka kami! Karano sayang kami ka
Awan indak parnah kami manyobuik-nyobuik inyo ka urang
lain. Kami kan manjawek tanyo urang bisuak kok ado nan
batanyo, lai minta izin Awan ka kami? Kami ka manjawek
‘lai’”.

Wan J semakin blingsatan menahan emosi ingin segera
pergi. Seperti biasa, uda Sudi yang berbadan besar tak bicara
apapun. Mereka tetap meminta Dito dan Desti datang.
Mereka tidak menjawab.

Setelah mereka minta izin pulang, Awan mendekati
Dito. Diambilnya tangan Dito untuk minta maaf.

“Yek, agiah awak maaf!” pinta Awan.

“Apo ka nan ka diagiah maaf? Apo salah kau?” ucap
Dito.

“Iyo... Agiah (beri) awak maaf, Yek,” pinta Awan lagi.

“Kau olah manantuan (sudah menentukan) pilihan kau.
Jalankan pilihan kau tu! Kami punyo pilihan, kami jalani
pilihan kami tu,” jelas Dito.

“Agiahlah inyo maaf, Mas!” ucap Desti.

“Datang Iyek bisuak, yo!” pinta Awan sambil menangis.

Budiharto | 109

Untuk pertanyaan itu Dito tidak menjawab tapi
menyuruh pulang sebab rombonganya sudah pulang. Itu
terakhir pertemuan mereka.

Dito merasakan kedatangan mereka tidak tulus untuk
meminta Dito dan Desti, mereka hanya menjalankan
kewajiban untuk memberi tahu Desti dan Dito yang mengasuh
Awan. Mereka akan malu jika Desti dan Dito tidak datang
saat pernikahan dan baralek, tentu orang banyak menduga
ada permasalahan di antara mereka. Tetapi dari pada terlalu
malu maka dipaksakan juga datang memberitahu sekaligus
meminta hadir. Kalau berniat baik tentu jauh hari sudah
diberitahu, sedangkan Awan akan menikah saja Dito baru
dikasih tahu saat memberi tahu bako menjelang baretong.
Barangkali menurut Dito keluarga Awan takut Dito akan arah
dan berusaha menggagalkan pernikahan. Ternyata Dito yang
logis menyimpulkan kalau sudah tidak ada rasa sayang cinta
Awan terhadap Dito dan Desti untuk apa dipertahankan
dan tak pernah berniat menggagalkan pernikahan Awan,
bercerita ke siapa pun tidak.

Apalagi 4 hari menjelang pernikahan baru mereka
memberitahu Desti dan Dito, maka bertambah yakin kalau
mereka hanya berbasa basi saja, jika orang banyak bertanya
mereka bisa menjawab kalau mereka sudah memberitahu
dan meminta hadir. Kalau keadaan seperti ini maka Desti dan
Ditolah yang akan dipersalahkan orang banyak sebab Desti
dan Dito tinggi hati, dan sekaligus tega anak yang diasuh
selama ini tidak dihadiri saat menikah. Begitulah kecerdikan

110 | Awan di Atas Rumah Bako

mereka, lebih tepatnya munafik. Sebab sebenarnya tidak
mengharapkan kehadiran Desti dan Dito namun di mulut
terucap, tentunya mereka mengumpulkan tenaga serta
perasaan yang ekstra agar mampu menahan malu dan
emosi menemui Desti dan Dito waktu itu. Dito dan Desti
hanya akan dijadikan penghapus malu bagi mereka tanpa
mempertimbangkan rasa pedih hati Desti dan Dito.

Desti berada di posisi sangat sulit sekali, sebab selain
rasa sayang ke Awan, kedudukannya sebagai bako, sebagai
adik uda Sudi, dan pandangan orang banyak. Apa jawaban
pertanyaan orang lain nantinya, apa kata keluarga Desti yang
nanti akan menjamu anak daro di rumah Desti tapi dia tidak
ada. Serta posisinya sebagai istri Dito, yang harus patuh ke
suaminya. Desti memilih diam saja.

Di hari Jumat itu Awan menikah. Entahlah apa yang
terjadi di rumahnya namun di rumah Dito orang-orang
sibuk mempersiapkan acara yang menjadi tanggung jawab
bako buat anak pancegh (anak pisang). Saf dari Pakanbaru
pulang bersama keluarganya. Uda As dan istri juga sibuk, tak
kalah sibuk Eti dan Rian pun sibuk. Mereka beraksi layaknya
bako dan orang yang sangat menyayangi Awan selama ini,
ikut sibuk pula orang-orang yang benci ke Awan. Mereka
sempurna sekali berlagak seperti orang tulus dan benar-
benar sayang Awan.

Seperti biasa Desti ke SMK 1 Tanjuang Baru untuk
mengajar, dia tetap berangkat mengajar walau ada acara
keluarga karena dedikasi terhadap tugas dan kewajiban.

Budiharto | 111

Biasanya dia singgah sebentar sebelum ke sekolah atau
lebih awal pulang jika ada acara keluarga namun juga harus
mengajar, kali ini tidak. Desti ke sekolah dengan beban
berat di otak dan dada, jiwa dan raganya sedang tidak
baik keadaanya. Sedang Dito memang tidak ada jadwal
ke mana-mana, dia berdiam diri saja dalam kamar. Dia
tidak menggunakan tablet dan HP, suara di nonaktifkan
supaya kalau ada yang telpon tidak bersuara sehingga
orang di rumah tidak tahu kalau dia ada. Pintu pun ditutup
dan dikunci. Terdengar suara di speaker Masjid An-Nur,
sepertinya acara pernikahan Awan segera dimulai.

Dito sedikit naik amarahnya, dia beri pengertian ke
dirinya sendiri agar tidak perlu peduli sebab anak yang dia
sayangi tidak menyayangi, yang tidak mau mendengarkan
arahannya. Tidak ada lagi suara terdengar dari arah masjid,
barang kali sound system rusak. Tapi baguslah, supaya Dito
tidak mendengar rangkaian acara yang mungkin membuat
hati Dito bertambah sedih.

Orang-orang di atas rumah sebenarnya tahu kalau Dito
ada, tapi tidak satu pun yang bertanya atau mengajaknya ke
masjid. Dito sangat paham kenapa begitu. Dito pun tidak
peduli lagi dengan sikap mereka. Dito, sekitar pukul 10
menelepon Desti untuk memastikan posisinya sebab Dito
sudah melarang untuk datang ke acara Awan. Ternyata Desti
sedang di sekolah mengawasi siswa gotong-royong. Dito
tidak menginginkan seperti ini namun Dito ingin membela
Desti dari sikap keluarga Awan dan keluarganya sendiri

112 | Awan di Atas Rumah Bako

yang tidak menghargainya dan menganggap Desti bodoh
serta menganggap pendapat Desti salah dan tidak penting
namun selalu menuntut banyak. Sikap baik Desti selalu
dimanfaatkan keluarganya. Terasa oleh Dito bagaimana
perasaan Desti. Bagi Dito menegakkan dan membela harga
diri keluarga adalah harga mati.

Pukul 11 Dito bersiap-siap ke masjid untuk salat Jumat.
Dito berjalan ke masjid sebab dia tidak berani lagi naik motor
karena matanya bertambah kabur. Salat sunat dua rakaat
tahyatul masjid lalu berzikir. Di dalam zikirnya terlintas
bayangan kalau anaknya Awan tadi di sini untuk dinikahi
laki-laki pilihanya. Seandainya tidak hari ini namun nanti
saat dia sudah mapan tentunya Dito bisa hadir, ikut serta
dalam kebahagian orang banyak. Demikian juga dengan
Desti ikut bersuka cita, tidak seperti sekarang. Air mata tidak
keluar namun hidungnya mulai sedikit tersumbat. Ingin dia
bercerita menyampaikan beban berat yang dia tanggung
saat ini di dalam dadanya, tapi ke siapa? Sudahlah, pikirnya.
Biarlah segmen ini berlalu. Jalani saja, pikirnya, menghibur
dirinya sendiri.

Dito jengah dengan hari ini, dan besok masih ada
kegiatan menyangkut pernikahan Awan di rumah Desti.
Sabtu baralek Awan, biasanya anak daro dibawa ke rumah
bako. Nah, ini yang dihindari Dito bertemu dengan Awan.
Syukur hari Sabtu mengajar ke Solok, tapi hanya 8 jam
pelajaran saja. Artinya hanya sampai 11.30 WIB lalu pulang,
tentunya paling-paling jam 14.00 sudah sampai di rumah.

Budiharto | 113

Di saat seperti ini biasanya anak daro dan marapulai tiba,
tapi Dito tidak ada pilihan lain. Pikirnya, jika bertepatan
waktunya maka nanti berdiam saja di kamar. Ternyata
sesampai di rumah tertutup jendela dan pintu. Entahlah
apa sebabnya, bergegas Dito mandi, salat dan makan lalu
masuk kamar dan mengunci pintu. Dito mencoba tidur tapi
tak juga terlelap. Bagaimana bisa sedang hati dan pikiranya
masih bergelayutan rasa kecewa ke Awan.

Sore hari Desti pulang, tak banyak percakapan antara
Desti dan Dito. Desti masih ada rasa marah ke Dito karena
dilarang ke pernikahan Awan dan ketakutan menentang
suami. Desti mencoba tetap bersikap manis ke Dito. Selepas
Magrib barulah Dito tahu dari Desti kalau tadi acaranya
pagi hari. Anak daro berpakaian suntiang di rumah Desti.
Entahlah halnya marapulai. Pantas saja Dito tidak bertemu
dengan rombongan anak daro. Tapi syukurlah Allah telah
mengatur dengan sebaik-baiknya, ini bukti Allah Maha Besar.

Masih ada satu acara lagi yang mengharuskan Awan
datang ke rumah Desti, yaitu manjalang (berkunjung ke rumah
setelah pesta). Dito pikir acara ini tidak dilangsungkan sebab
biasanya tiga hari setelah baralek namun sudah lebih tiga hari
belum juga datang. Menurut Dito keluarga Awan marah sebab
Desti dan Dito benar-benar tidak datang ke rangkaian acara di
rumah Awan bahkan di rumah Desti pun Desti dan Dito tidak
mau ikut serta, lalu untuk apa juga manjalang. Ini dugaan Dito.
Sore itu seperti biasa Dito olah raga ringan berjalan bolak-balik
di rumah saja. Terdengar ada perempuan mengucapkan salam

114 | Awan di Atas Rumah Bako

lalu membuka pintu. Dito menjawab salam lalu melihat ke
pintu yang terbuka, tampak bayangan perempuan. Dito yang
kabur matanya tidak bisa melihat jelas tapi dari gerak geriknya
Dito tahu kalau itu anaknya, Awan.

Sontak saja Dito mempercepat langkahnya sambil berkata
ke Desti untuk menjawab dia tidur jika nanti ditanya Awan.
Dito masuk kamar lalu mengunci pintu. Selang beberapa
menit terdengar Desti memanggil dan katanya Awan sudah
pergi. Cukup singkat saja mereka manjalang, barangkali
masih ada yang lain akan dijalang atau memang seperti itu
arahan dari keluarga mereka supaya jangan lama-lama. Tapi
entahlah, biarkan saja sebab sudah usai rangkaian acara yang
mengharuskan pertemuan Dito dengan Awan.

Dengan demikian telah resmi Awan pergi dari ikatan
cinta kasih dengan Dito dan Desti. Desti dan Dito harus bisa
menerima kenyataan kalau mereka bukan orang tua kandung
Awan yang punya kemampuan mengatur hidup Awan. Mereka
hanyalah sepasang suami istri yang tidak punya keturunan
yang bermodalkan cinta dan sayang terhadap Awan saja
mendidiknya dari kecil. Ini adalah kenyataan yang harus
mereka terima dengan lapang dada. Desti masih ada ikatan
darah dengan Awan sedang Dito hanya ikatan yang rapuh
berupa cinta dan kasih sayang saja, pantas juga tidak bisa
membuat Awan patuh dengan keinginannya. Terkubur sudah
dalam-dalam impian dan cita-citanya untuk Awan.

Bagi Dito tidak ada penyesalan hidup bersama Awan
selama ini, tidak luntur sayangnya ke Awan. Dia memilih

Budiharto | 115

mengakhiri hubungan kasih sayang dengan Awan sebab
kecewa. Barangkali terdengar aneh sikap Dito, tapi itulah yang
dia putuskan supaya dia tidak lebih terluka. Yang ditakutkan
Dito adalah murka Allah karena Dito dan Desti terluka hatinya,
walau tidak mendendam namun mereka takut jika Allah murka
kepada Awan, Dito tidak ingin Allah murka ke Awan. Dito geli
sendiri ketika merasa takut Allah murka sebab mereka, Desti
dan Dito bukanlah orang tua kandung Awan, mungkin Dito
“GR” saja atau Gede Rasa.

*Minangkabau, akhir dua ribu dua satu...

116 | Awan di Atas Rumah Bako

Profil Penulis

Penulis bernama Budiharto lahir di Bukitinggi tanggal
20 Mei 1969, anak ketiga dari pasangan M. Soeradi dan
Hilma Ramli Thaib Umar. Dia menamatkan SD 1982 di SDN
30 Padang. Melanjutkan ke SMPN 9 Padang tamat tahun
1985, dan melanjutkan ke SMA N 6 Padang tamat tahun
1988. Setelah itu tamat tahun 1993 di Pendidikan Teknik
Elektro di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan di
IKIP Padang. Hingga kini Dia Mengajar Teknik Elektronika di
SMKN 2 Solok.

Budiharto | 117


Click to View FlipBook Version