86
pendahulunya di bawah Soekarno yang menginginkan
pemerintahan dipegang oleh golongan ningrat serta para
cendekiawan saja, akan tetapi PNI Pendidikan yang dipimpin
oleh Hatta ini menginginkan pemerintahan kerakyatan.
Apabila diperhatikan antara Partindo dan PNI Pendidikan
sangat berselisih paham. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh
tokoh-tokoh yang memegang peranan dalam partai tersebut.
Partindo dalam ini dikatakan sebagai partainya Sukarno yang
tokoh-tokohnya berasal dari golongan priyayi serta keluarga
bangsawan yang berpendidikan Hindia-Belanda. Di pihak lain,
PNI Pendidikan dikatakan sebagai partainya Hatta dan Syahrir
yang berasal dari golongan pegawai rendahan serta perangkat
desa yang berpendidikan barat serta berpaham sosialis
demokratis. Pada akhirnya dua partai yang mulanya berasal dari
satu induk tersebut selalu berbeda paham yang cukup
menghalangi terwujudnya persatuan nasional seperti yang
dicita-citakan seluruh bangsa Indonesia. Pada tahun 1934,
Pemerintah Kolonial Belanda memperburuk keadaan dengan
melarang Partindo, PNI Pendidikan, serta PSII melakukan
berbagai bentuk aktifitas termasuk di dalamnya melarang
penerbitan surat kabar-surat kabar yang merupakan alat
propaganda yang lumayan efektif.
Tindakan Pemerintah Kolonial Belanda tersebut tidak
hanya sebatas pelarangan berkegiatan, namun lebih parah lagi
hingga melakukan penangkapan serta pembuangan tokoh dari
masing-masing partai seperti Sukarno yang merupakan
pimpinan Partindo dibuang ke Flores, yang juga disusul oleh
Hatta serta Syahrir yang juga dibuang ke Boven Digul. Sebagai
akibat dari pembuangan tokoh-tokoh tersebut dari partainya,
mengakibatkan kedua partai tersebut baik Partindo maupun PNI
Pendidikan bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Memang
sangat disadari bahwa saat itu para tokoh yang menjadi
pemimpinlah yang menjadi otak untuk menggerakkan
87
organisasi. Ditangkapnya tokoh-tokoh tersebut maka terjadiah
krisis kepempinan. Namun demikian kaderisasi tetap terus
dilakukan sehingga usaha-usaha pembubaran organsasi
pergerakan yang diakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda
tidak dapat berjalan dengan mulus seperti yang diharapkan oleh
pemerintah.
Melihat hal yang demikian, Gubernur Jenderal de Jonge
mengambil sikap lebih tegas dengan mengikis habis gerakan
nasionalis yang ada terlebih yang non kooperatif. Para
pengurus-pengurus partai yang dinilai memiliki potensi untuk
menggerogoti kekuasaan Pemerintah Kolonal Belanda
ditangkap dan dibuang. Dengan harapan tidak akan ada lagi
orang-orang yang dapat melakukan propaganda-propaganda
yang akan sangat membahayakan Pemerintah Kolonial
Belanda.
M. Perhimpunan Indonesia
Berdirinya Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda
Diawali dari terbentuknya Indische Vereeniging (IV) atau
Perhimpunan Hindia pada tahun 1908 di Belanda, yakni
bersamaan waktunya dengan berdirinya Budi Utomo di
Indonesia serta memiliki satu kesamaan dalam prinsipnya yang
moderat. Pada awal terbentuknya, organisasi ini lebih bersifat
sosial, yakni tempat untuk saling berbagi serta tempat
bersosialisasi bagi pelajar Indonesia yang berada di negeri
Belanda. Namun setelah kedatangan Douwes Dekker, Cipto
Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat atau yang
lebih lazim disebut Tiga Serangkai karena terkena eksternisasi
oleh Pemerintah Kolonial Belanda, para pelajar di Belanda
mendapatkan pula konsep “Hindia Bebas” dari Belanda dan
pembentukan negara Hindia yang hanya boleh diperintah oleh
rakyatnya sendiri. (Poesponegoro & Notosusanto, 1984).)
88
Pada tahun 1917 Indische Vereeniging (IV) bergabung
dengan Chung Hwa Hui (Organisasi Mahasiswa Indonesia
China), Perhimpunan mahasiswa Indonesia-Eropa dan Belanda.
Dan akhirnya terbentuklah sebuah federasi dengan nama
Indonesische Verbond Van Studeerenden (Persatuan
Mahasiswa Indonesia). Namun yang lebih penting lagi adalah
adanya penyebutan yang berbeda dari Indische menjadi
Indonesische.
Perkembangan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda
Dengan berakhirnya Perang Dunia I, pemuda Indonesia
yang melanjutkan studi ke Belanda mengalami peningkatan
yang sangat hebat. Para pemuda tersebut kebanyakan
merupakan telah aktif sebelumnya di Indonesia, sehingga
memiliki keinginan yang sangat besar untuk mengembangkan
ilmunya untuk perjuangan nasionalisme Indonesia. Sebagai
contohnya adalah Sutomo yang merupakan salah satu pendiri
Budi Utomo, Moh. Hatta yang pernah menjadi ketua Jong
Sumatra. Mahasiswa-mahasiswa tersebut untuk selanjutnya
merupakan penggerak politik nasionalisme era 1920an.
Bagi pemuda Indonesia yang baru kali pertama belajar di
Belanda, akan merasakan satu hal yang sangat berbeda sekali
keadaannya seperti yang mereka rasakan di tanah air. Sebab di
Belanda tidak ada diskriminasi sosial, mereka semua sederajat.
Dengan wadah yang sudah terbentuk yakni Indische
Vereeniging, ditambah lagi semangat yang diberikan oleh
tokoh-tokoh Indische Partij serta tokoh-tokoh PKI, maka
Indische Vereeniging dengan sangat cepat tanggap terhadap
permasalahan masa depan politik Indonesia. Hal tersebut
terlihat pada tahun 1922 setelah terpilihnya pengurus baru yang
dengan semangatnya mengubah sifat, cita-cita serta kegiatan
perkumpulan. Pada tahun 1925 Indische Vereeniging
mengubah dirinya dari sebuah perkumpulan sosial menjadi
89
sebuah organisasi politik aktif. (Poesponegoro & Notosusanto,
1984).)
Januari 1923 ketika diadakan rapat umum, Iwa Kusuma
Sumantri selaku ketua baru memberikan penjelasan adanya tiga
asas pokok Indische Vereeniging yakni: (1) Indonesia ingin
menentukan nasibnya sendiri, (2) agar dapat menentukan
nasibnya sendiri bangsa Indonesia harus mengandalkan
kekuatan serta kemampuan sendiri, dan (3) dengan tujuan
melawan Belanda, maka bangsa Indonesia harus bersatu. Untuk
mencapai ketiga tujuan tersebut cara yang paling efektif adalah
dengan mempersatukan kelompok-kelompok yang ada di
Indonesia. (Poesponegoro & Notosusanto, 1984).)
Dan pada raopat umum tahun berikutnya tahun 1924,
disepakati bahwa nama Indische Vereeniging diubah menjadi
Indonesische Vereeniging. Dengan nama tersebut bukan lagi
menyebutkan sebagai orang Hindia Belanda melainkan sebagai
orang Indonesia. Bahkan majalah Hindia Putera diubah
menjadi Indonesia Merdeka. Ungkapan merdeka merupakan
tujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia dan dijadikan
sebagai semboyan perjuangan para pemuda Indonesia.
Indonesische Vereeniging merupakan organisasi
kepemudaan yang berskala nasional pertama di Asia yang
gerakannya sangat radikal. Sebagai bentuk keradikalannya
adalah tuntutan-tuntutan yang diajukan “Indonesia Merdeka
Sekarang”. Untuk memberikan tekanan kepada perubahan dan
propaganda yang lebih luas tentang tujuan serta ideologinya
yang baru, pada tahun 1924 Indonesische Vereeniging
menerbitkan booklet untuk memperingati 15 tahun berdirinya
organisasi tersebut. Sampulnya menggambarkan symbol
gerakan nasionalis, yaitu sebuah bendera merah putih yang
sedang berkibar dan kepala kerbau yang berada di tengahnya.
Hal itu menunjukkan keberanian organisasi ini untuk
90
menunjukkan keradikalannya kepada Pemerintah Kolonial
Belanda. (Poesponegoro & Notosusanto, 1984).)
Hubungan Perhimpunan Indonesia dengan Ideologi
Nasional
Mahasiswa Indonesia yang baru saja kembali dari negeri
Belanda merupakan elite baru di tanah air. Pengembangan cara
berpikir mereka tentang nasionalisme lebih luas, yakni dalam
artian bahwa yang mereka kembangkan adalah persepsi
nasionalisme Indonesia secara utuh bukannya sebagai orang
Jawa, Sunda, Minangkabau, dan lain-lainnya. Mereka sangat
menekankan pesatuan dan kesatuan di antara pemuda Indonesia
untuk mencapai suatu bangsa yang bersatu dan medeka serta
berdaulat.
Pada dasarnya ada empat buah pikiran pokok yang
dikembangkan oleh Indonesische Vereeniging dan menjadi
sebuah dasar-dasar gerakan nasionalismenya. Empat pikiran
tersebut adalah, (1) kesatuan nasional; untuk mencapai
kesatuan nasional perlu dikesampingkan perbedaan khas yang
bersifat kedaerahan dan membentuk suatu front kesatuan untuk
melawan Belanda untuk menciptakan suatu Negara kebangsaan
Indonesia yang bersatu dan merdeka, (2) Solidaritas; untuk
meningkatkan solidaritas perlu dihindarkan perbedaan antara
orang Indonesia sendiri dan menyadari besarnya kepentingan
anatara penjajah dengan bangsa yang terjajah, dan perlunya
kaum nasionalis mempertajam konflik ras kulit sawo matang
dan ras kulit matang,(3) non-kooperasi; penyadaran mengenai
kemerdekaaan yang tidak dapat diberikan secara cuma-cuma
oleh Belanda, tetapi kemerdekaan harus direbut oleh bangsa
Indonesia dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Oleh karena
itu tidak perlu mengindahkan dewan perwakilan yang didirikan
oleh pihak kolonial seperti Volksraad, (4) Swadaya; untuk
mencapai swadaya rakyat, perlu menolong dirinya sendiri
91
dengan mengandalkan kekuatan sendiri, mengembangkan suatu
alternative struktur nasional, sosio-ekonomi, politik, serta
hukum yang kuat dan berakar dalam masyarakat pribumi serta
sejajar dengan Pemerintah Kolonial Belanda. (Poesponegoro &
Notosusanto, 1984).)
Para mahasiswa terpengaruh oleh berbagai aliran
intelektual yang berkembang di Eropa terutama ajaran-ajaran
Marxis, Leninis, serta sosialis sebagai upaya untuk
mengembangkan ideologi. Namun demikian paham-paham
tersebut hanya sebatas penyemangat atau pendorong perjuangan
ras, yakni orang Indonesia berkulit sawo matang melawan
Belanda yang berkulit putih. Namun ternyata doktrin Marxis
(perjuangan antar kelas) tidak cocok dengan situasi Indonesia
karena dalam amsyarakat Indonesia tidak sedang ada konflik
antar kelas, melainkan konflik antara bangsa yang terjajah
dengan bangsa penjajah. Dengan demikian, pergerakan
dipusatkan pada penentuan nasib sendiri oleh bangsa Indonesia
dengan semangat nasionalisme demi kemerdekaan Indonesia
yang berdaulat.
Perhimpunan Indonesia dan Politik
Mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda secara
langsung maupun tidak langsung telah menjalin hubungan-
hubungan diplomatis dengan orang-orang asing yang menaruh
simpati atas perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia.
Indonesische Vereeniging menjadi lebih berani melakukan
manufer-manufer politiknya dengan sikap-sikap yang
cenderung radikal. Bahkan Indonesische Vereeniging yang ada
di Belanda menyatakan sangat kecewa kepada Perhimpunan
Indonesia yang ada di tanah air karena tidak pernah berhasil
melakukan aksi hanya karena kegagalan konsentrasi radikal
akibat sikap anggota Volksraad yang berada di bawah bayang-
bayang Pemerintah Kolonial Belanda. Akibatnya terjadi
92
perpecahan-perpecahan kekuatan disebabkan banyaknya
organisasi yang lebih menonjolkan kekhasan organisasinya
tersebut dibandingkan mengutamakan persatuan bersama
sebagai sesama bangsa Indonesia.
Mahasiswa yang pulang ke tanah air langsung diwajibkan
untuk bergabung dalam organisasi-organisasi politik yang ada
di tanah air dengan harapan akan memberikan pandangan baru
akan sepek terjang yang harus dilakukan dalam perpolitikan
Indonesia. Sudjadi dan Iskaq masuk ke dalam Budi Utomo,
Sukiman ke Sarekat Islam, merupakan contoh infiltrasi yang
dilakukan Indonesische Vereeniging terhadap pergerakan di
tanah air. Melalui rencana-rencana tersebut, diharapkan seluruh
pergerakan yang dilakukan di Indonesia yang nasionalis bisa
lebih radikal tetapi tetap bertanggung jawab berdasarkan garis
ideologi Indonesische Vereeniging. (Utomo, 1995;
Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia
semakin gencar melakukan propaganda dengan
menyebarluaskan informasi-informasi terkini perihal persiapan
kemerdekaan serta berbagai hal yang berkenaan dengan
perjuangan bangsa Indonesia. Dengan demikian, distribusi serta
pengiriman buku-buku, majalah-majalah, serta surat kabar
terbitan Perhimpunan Indonesia menjamur ke seluruh wilayah
Indonesia.
Dan untuk memperlancar pergerakan di tanah air,
Perhimpunan mempercayakan seorang anggota PI agar dapat
mengatur segala hal yang berkenaan dengan pergerakan di
tanah air. Maka ditunjuklah Sudjadi yang merupakan orang
kepercayaan dari Hatta. Tugas utamanya adalah memperlancar
sirkulasi serta distribusi Indonesia Merdeka agar dapat
tersebarluaskan dengan baik. Dalam hal ini Hatta memberikan
peranan penting kepada Sudjadi agar membentuk pergerakan
nasionalis baru. Akan tetapi tidak seperti yang diharapkan,
93
karena Sudjadi gagal. Hal tersebut terlihat dari kenyataan yang
ada bahwa para alumni PI di negeri Belanda sepulangnya dari
negeri Belanda tidak dapat terkoordidnir dengan baik. Satu-
satunya orang yang patut untuk disalahkan adalah Sudjadi.
Kebanyakan dari alumni PI setelah setibanya di tanah air hanya
memikirkan kariernya masing-masing atau dengan kata lain
melenceng dari kesepakatan bersama.
Hatta pada April 1926 berinisiatif untuk membekukan
Perhimpunan Indonesia karena sudah tidak efektif lagi. Sebagai
penggantinya, Hatta mengusulkan pembentukan sebuah partai
baru dengan nama National Indonesische Volks Partij (Partai
Rakyat Nasional Indonesia). Meskipun demikian, bukan berarti
bahwa Perhimpunan Indonesia dengan segala cita-citanya telah
dimatikan, namun lebih cenderung sebagai wadah baru dalam
malaksanakan pergerakan nasional karena wadah yang lama
dirasakan kurang begitu berfungsi sesuai yang diharapkan.
(Utomo, 1995; Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
Di sisi lain, PKI melakukan pemberontakan terhadap
pemrintah kolonial Belanda di Jawa Barat pada bulan
Nopember 1926 dan di Pantai Barat Sumatra pada bulan
Januari 1927 yang hasilnya sangat mengecewakan bagi bangsa
Indonesia. Hal tersebut berdampak negatif bagi pergerakan
yang dilakukan oleh golongan nasionalis. Namun demikian,
golongan nasionalis tetap bersemangat melakukan pergerakan
demi tercapainya tujuan Indonesia Merdeka. Pada bulan April
1927 tepatnya di kediaman Sukarno, golongan nasionalis
mengadakan pertemuan untuk membahas perkembangan politik
di Indonesia dan dicapai kesepakatan untuk mengadakan
Kongres nasional. Pada tanggal 4 Juli 1927 terlaksanalah
Kongres dengan keputusan pembentukan Perserikatan
Nasional Indonesia (PNI). Dan PNI ini mendapat sambutan
yang sangat bagus sekali dari masyarakat sehingga dalam
waktu yang sangat singkat dapat mem\nanamkan pengaruhnya.
94
PNI ini denga terang-terangan terjun ke dalam bidang politik
dengan dasar non-kooperatif, seperti yang dilakukan oleh
Perhimpunan Indonesia sebagai organisasi pendahulunya.
(Utomo, 1995; Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
Dengan semakin berkembangnya PNI di Indonesia,
Pemerintah Kolonial Belanda khawatir dengan keadaan yang
demikian. Sebagai langkah awal yang dimbil oleh Pemerintah
Kolonial Belanda adalah dengan melakukan pengawasan-
pengawasan kepada mahasiswa-mahasiswa yang belajar di
Belanda karena dianggap sebagai otak dari pergerakan yang ada
di Indonesia. Sebagai puncaknya pada tanggal 10 Juni 1927,
diadakan penggeledahan di penginapan Hatta, Sudardjo,
Supomo, serta Abdul Madjid di Den Haag, dan juga di
penginapan Darsono, Mohammad Jusuf, Ali Sastroamijoyo dan
Soelaeman di Leiden. Dari penggeledahan tersebut, semuanya
dinyatakan bersalah dan ditangkap pada tanggal 27 September
1927 dan pada Maret 1928 semuanya diajukan ke pengadilan.
Tokoh-tokoh Indonesische Vereeniging (Perhimpunan
Indonesia) tersebut dituduh telah menghasut rakyat untuk
menggunakan tindak kekerasan untuk menggulingkan
Pemerintah Kolonial Belanda. Namun oleh Hatta pernyataan
tersebut disangkal, bahwa PI menganjurkan rakyat melakukan
kekerasan untuk menggulingkan pemerintah agar memperoleh
kemerdekaan, namun hanya sekedar membicarakan
kemungkinan-kemungkinan terjadinya kekerasan, kecuali bila
Pemerintah Belanda menunjukkan iktikad baik akan sikapnya
terhadap kemerdekaan Indonesia.
Dari pembelaan-pembelaan yang diberikan oleh
Perhimpunan Indonesia tersebut, akhirnya tokoh-tokoh
Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia dibebaskan
karena dinilai tidak ada sangkut pautnya dengan
pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Untuk merayakan
kebebasan mereka diadakan rapat umum yang diselenggarakan
95
oleh Liga Melawan Imperialisme dan Penindasan Kolonial
Cabang Belanda yang menceritakan pengalaman mereka serta
menghimbau kepada seluruh simpatisan PI agar tetap
bersemangat serta terus mendukung pergerakan yang di
lakukan oleh nasionalis Indonesia.
Selama kurun waktu lima tahun antara 1922 hingga 1927,
Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia telah
menunjukkan keberhasilan yang tidak bisa dipandang remeh.
Sebab dalam waktu yang sangat singkat tersebut PI dapat
mengendalikan suhu pergerakan nasional Indonesia. Peranan
yang dapat kita lihat bersama dari Indonesische Vereeniging
anatara lain sebagai berikut, (a) Indonesische Vereeniging
merupakan organisasi pendobrak system kolonial yang
bercokol di tanah air sehingga psikologis bagsa Indonesia mulai
tegugah dari keterpurukan, (b) Dengan ideologinya yang
sekuler, Indonesische Vereeniging mendorong semangat
nasionalisme yang revolusioner, (c) Indonesische Vereeniging
berperan sebagai pemersatu organisasi-organisasi pergerakan
yang ada di Indonesia, (d) Indonesische Vereeniging
merupakan pencetus kata “Indonesia” yang menunjukkan jati
diri kebangsaan nasional yang mengubah pandangan-
pandangan kedaerahan, dan (e) Indonesische Vereeniging
adalah organisasi pergerakan nasional yang bisa dikatakan
sebagai organisasi kebangsaan paling orisinil dalam
mengembangkan ideologi nasional Indonesia Merdeka.
(Utomo, 1995; Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
96
MENGASOSIASI & MENGOMUNIKASIKAN
1. Buat peta konsep tentang salah satu organisasi pergerakan
nasional.
2. Dari peta konsep tersebut apa makna yang dapat diteladani
untuk kehidupan di saat ini.
3. Peta Konsep dapat dibuat secara manual atau menggunakan
perangkat
Berikut adalah contoh peta konsep yang dapat kalian buat
tentang organisasi pergerakan nasional.
LATIHAN BAB 3
A. Pilihan Ganda
Pilih satu jawaban yang paling tepat!
1. Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan nasional
yang didirikan oleh mahasiswa STOVIA. Pada mulanya
organisasi ini didirikan dengan tujuan ….
A. menyusun strategi untuk melawan pemerintah kolonial
Belanda melalui parlemen
97
B. membela håk-hak rakyat pribumi, khususnya dalam
mendapatkan kesejahteraan ekonomi
C. menyatukan kemajemukan bangsa Indonesia dalam
bingkai negara Indonesia yang merdeka
D. menggalang dana untük membantu biaya pendidikan
atau memberikan beasiswa bagi rakyat Indonesia yg
tidak mampu untuk menempuh pendidikan.
E. memperjuangkan hak-hak buruh pribumi yang bekerja
di pabrik-pabrik milik pemerintah dan swasta
2. Berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908
menandai perjuangan bangsa Indonesia memasuki masa
kebangkitan nasional yang memiliki arti penting,yaitu... .
A. kesadaran untuk memperjuangkan nasib bangsa yang
mengalami penjajahan
B. sebagian besar golongan bangsawan memelopori
perubahan strategi perjuangan
C. upaya memajukan sistem pendidikan,irigasi,dan
kependudukan bangsa Indonesia
D. perjuangan bersenjata mengusir penjajah Belanda yang
telah lama berada di Indonesia
E. Menolak penempatan golongan bumi putra dalam strata
terendah dalam lapisan sosial masyarakat kolonial
3. Berdirinya Sarikat Islam di Solo pada tahun 1911 didorong
oleh keinginan untuk ... .
A. memajukan agama dan memperkuat diri menghadapi
pedagang Cina
B. membina persatuan umat Islam dan pedagang Islam
C. memajukan pengajaran dan menaikan derajat umat
D. memperbaiki penyimpangan terhadap ajaran Islam
E. mengembangkan jiwa dagang para anggota
98
4. Salah satu tindakan PI dalam upaya memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia adalah... .
A. mengikuti liga anti imperialisme dan kolonialisme di
Brussel dan Paris
B. mendaftarkan Indonesia sebagai anggota Liga Bangsa-
Bangsa
C. menuntut ratu Belanda agar Indonesia merdeka dari
Belanda
D. mengajukan petisi agar Indonesia memiliki parlemen
sendiri
E. membentuk pemerintahan bayangan Indonesia di
Jenewa
5. Perhatikan pernyataan di bawah ini :
(1) Berani memberikan kritik terhadap penindasan
pemerintah kolonial Belanda yang menyengsarakan
rakyat
(2) Kepemimpinan Soekarno yang karismatik dan pandai
menyampaikan orasi
(3) Sikap PNI yang non koperatif atau tidak mau bekerja
sama dengan Belanda
(4) Turut menempatkan wakil wakilnya dalam volksraad (
dewan rakyat )
(5) Mendukung pemberian status dominion terhadap
Hindia-Belanda
Faktor-Faktor yang mendorong Partai Nasional Indonesia
berkembang pesat di tunjukan oleh nomor.....
A. 1, 2, 3
B. 1, 3, 5
C. 2, 3, 4
D. 2, 4, 5
E. 3, 4, 5
99
B. Uraian
Jawablah pertanyaan di bawah ini!
1. Mengapa berdirinya Budi Utomo ditetapkan sebagai
penanda Kebangkitan nasional Indonesia?
2. Mengapa pada masa pergerakan nasional muncul
organisasi-organisasi pergerakan?
3. Apa arti penting berdirinya Sarekat Islam pada masa
pergerakan nasional?
4. Mengapa pemerintah Hindia Belanda menganggap kegiatan
Indiche Partaj merugikan pemerintah Hindia Belanda?
5. Apa peran dan arti penting organisasi kepemudaan dalam
periode pergerakan nasional?
100
BAB 4 BAB 4
TOKOTHO-TKOOKHOH-TPOERKGOEHRAPKEARNGNEARSAIOKNAANL
NASIONAL
MENGAMATI
Coba kalian perhatikan foto pahlawan nasional di bawah ini
101
MENANYA
Foto di atas merupakan tokoh penting di masa pergerakan
nasional. Tahukan kalian siapa tokoh tersebut? Apa yang dapat
kalian selidiki lebih lanjut tentang tokoh tersebut? Buatlah dalam
bentuk pertanyaan.
MENGUMPULKAN INFORMASI
Baca uraian di bawah ini untuk menjawab keingintahuan kalian
tentang tokoh-tokoh di masa pergerakan nasional.
99
A. R. A. Kartini (1879-1904)
1. Biografi Singkat
R.A Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di
Kota Jepara. Nama lengkap Kartini adalah Raden Ajeng
Kartini Djoko Adhiningrat. Mengenai sejarah R.A Kartini
dan kisah hidup Kartini, ia lahir ditengah-tengah keluarga
bangsawan oleh karena itu ia memperoleh gelar R.A (Raden
Ajeng) didepan namanya. Gelar itu sendiri (Raden Ajeng)
dipergunakan oleh Kartini sebelum ia menikah, jika sudah
menikah maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan
adalah R.A (Raden Ayu) menurut tradisi Jawa.
Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari
Pangeran Ario Tjondonegoro IV, seorang bangsawan yang
menjabat sebagai bupati Jepara. Beliau ini merupakan
kakek dari R.A Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat
merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu
sebagai bupati Jepara. Ibunya Kartini yang bernama M.A.
Ngasirah, beliau ini merupakan anak seorang kiai atau guru
agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini
merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa garis keturunan
ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit. M.A. Ngasih
102
sendiri bukan keturunan bangsawan melainkan hanya rakyat
biasa saja. Oleh karena itu peraturan kolonial Belanda
ketika itu mengharuskan seorang bupati harus menikah
dengan bangsawan juga.
Hingga akhirnya ayah Kartini kemudian
mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng
Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan
langsung dari Raja Madura ketika itu. Dalam biografi R.A.
Kartini, diketahui ia memiliki saudara berjumlah 10 orang
yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tiri. Beliau
sendiri merupakan anak kelima, namun merupakan anak
perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai seorang
bangsawan, ia juga berhak memperoleh pendidikan.
Gambar 15 Profil Singkat RA Kartini
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
2. Perjuangan / Kontribusi Tokoh
Pada era politik etis juga ditandai dengan
munculnya pembahasan pemikiran dikalangan priyai.
103
Kartini yang merupakan putri dari bupati Jepara menjadi
pusat perhatian karena kepiawainya dala hal menulis,
termasuk menulis surat bagi para kaum etis di Belanda,
salah satunya adalah sahabatnya Ny. R.M. Abendanon.
Selain bersurat, karena kemampuannya dalam memahami
bahasa Belanda, ia juga sering menerbitkan artikel. Salah
satu artikelnya adalah Van een Vergeten Uithoekje (dari
pojok yang dilupakan). Tulisan ini mengangkat tentang para
ukir kayu yang akan kehilangan profesinya karena
kebijakan pemangkasan pegawai yang akan dilaksanakan
oleh Belanda.
Diawal abad ke-20, para priyayi menuangkan ide
gagasannya melalui pers (media cetak). Isu yang diangkat
tertentu saja mengenai nasib para bumiputera yang kian
tertindas dari adanya kolonialisme. Namun demikian kaum
bumiputera belum memiliki kantor pers tersendiri. Diawal
abad 20 barulah orang-orang Indonesia dan orang Tionghoa
yang menjadi penerbit. Namun kesempatan tersebut
dipergunakan oleh masyarakat bumiputera untuk menimba
magang ditempat tersebut. Pada pertengahan abad ke-20
barulah penerbit bumiputera pertama muncul, R.M.
Tirtoadisuryo mendirikan sendiri penerbitan surat kabar.
Tidak hanya Tirto ada juga tokoh lain seperti F.F.J
Pangemanan, dan R.M. Tumenggung Kusuma Utaya.
Mereka mengambil peran dalam redaktur Ilmoe Tani, Kabar
Perniagaan, dan Perwati dan Prijaji.
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Semasa hidupnya, opini Kartini seringkali ditentang
oleh masyarakat di sekitarnya karena saat itu banyak yang
menganggap tidak sesuai dengan norma yang ada. Namun
Kartini tetap menyuarakan pendapatnya dan memiliki
104
keyakinan bahwa seorang perempuan harus berani, belajar
dan terus mengejar cita-cita yang dimilikinya. Sifat berani
dan tegas inilah yang membuatnya terus berani
menyuarakan segala pendapat untuk kepentingan bersama.
Sebagai seseorang yang berada di lingkungan
bangsawan tidak serta-merta membuat Kartini suka dengan
kehidupan yang mewah. Sebaliknya sebagai orang yang
mampu, ia menyadari dengan perilakunya dengan
kesederhanaan dan kerendahan hatinya. Pun saat ia
melangsungkan pernikahannya, Kartini memiliki untuk
tidak mengadakan pesta dan tidak memakan pakaian
pengantin.
RA Kartini selalu menekankan bahwa perempuan
harus setara dengan laki-laki, khususnya dalam bidang
pendidikan. Hal tersebut juga membuktikan bahwa Kartini
peduli dan perhatian dengan lingkungan yang ada di
sekitarnya. Apa yang bisa kita tiru dan teladai? Kita bisa
mengikutinya dengan hal-hal yang kecil saja seperti
bersedekah dengan orang yang kurang mampu ataupun hal
kecil lainnya yang dapat membuat lingkungan sekitarmu
lebih bahagia.
Kartini dikenal akan sosok kecerdasan yang
dimilikinya dan semangat belajar yang sangat tinggi.
Kartini muda juga senang sekali membaca buku untuk
menambah wawasannya. Di usia 12 tahun Kartini berhenti
bersekolah, saat berhenti sekolah ia tetap belajar dan terus
berusaha untuk memberikan manfaat dan pengaruh positif
orang-orang disekitarnya. Kartini juga membaca melalui
kotak bacaan langganan ayahnya yang berisikan buku,
koran, dan majalah baik itu dari dalam maupun luar negeri.
Sosial, politik dan sastra merupakan bacaan yang paling
sering ia baca semasa itu.
105
B. R.M. Tirto Adi Suryo
1. Biografi Tokoh
R. M. Tirto Adi Surya adalah seorang tokoh pers
dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga
sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan
nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S. Tuan
T.A.S. adalah induk jurnalis bumiputera di ini tanah Jawa.
Tajam sekali beliau punya pena. Banyak pembesar yang
kena kritiknya jadi muntah darah dan sebagian besar
memperbaiki kelakuannya yang kurang senonoh," tulis
Mas Marcodikromo dalam artikel bertajuk “Mangkat" yang
dimuat surat kabar Djawi Hisworo edisi 13 Desember
1918.
Gambar 16 Profil Singkat Tirto Adhi Suryo
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
106
2. Perjuangan / Kontribusi Tokoh
Tirto dikenal sebagai seorang jurnalis yang andal. Pada
tahun 1894-1895 (pada usia 14s/d15 tahun), R.M. Tirto
Adhi Soerjo sudah mengirimkan berbagai tulisan ke
sejumlah surat kabar terbitan Betawi. Pada tahun 1888-
1897, R.M. Tirto Adhi Soerjo mulai membantu Chabar
Hindia-Belanda. Selanjutnya ia membantu Pewarta Betawi
pada tahun 1884-1916. R.M. Tirto Adhi Soerjo kemudian
menjadi pembantu tetap Pewarta Priangan. Pada tahun
1903, R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan
melalui surat kabar yang dipimpinnya, Soenda Berita, pers
pribumi pertama, yang terbit di Cianjur, sehingga R.M.
Tirto Adhi Soerjo merupakan pionir pers pribumi. R.M.
Tirto Adhi Soerjo kemudian juga berjuang melalui surat
kabar Medan Prijaji, yang diterbitkannya dengan modal
sendiri, dikelola melalui NV pribumi pertama dan
merupakan surat kabar dengan visi nasional yang pertama
di Nusantara. Perjuangan R.M. Tirto Adhi Soerjo melalui
surat kabar membuatnya dibuang pemerintah kolonial
Belanda sebanyak dua kali yaitu ke Teluk Betung dan
Ambon. R.M. Tirto Adhi Soerjo juga berjuang melalui
Sarekat Dagang Islam, merupakan cikal bakal Sarekat
Islam.
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Ia mendirikan organisasi Sarekat Prijaji, 4 tahun
lebih awal dari Budi Utomo yang dianggap sebagai
organisasi pribumi pertama. Apa ada yang pernah
mendengar Sarekat Prijaji di buku pendidikan sejarah?
Saya yakin tidak ada. Ia jugalah yang mendirikan Sarekat
Dagang Islam bersama KH Samanhudi, namun namanya
tidak pernah juga dicantumkan.
107
Tetapi barangkali jasa terbesar Tirto adalah terbitnya
surat kabar Medan Prijaji. Surat kabar ini adalah yang
pertama menggunakan bahasa melayu serta seluruh
pekerjanya adalah orang pribumi asli. Medan Prijaji adalah
pionir pers di Indonesia. Medan Prijaji menyajikan berita-
berita yang secara keras mengkritik kebijakan serta
perlakuan kolonial kepada masyarakat pribumi. Bahkan
kadang menelanjangi secara lugas orang-orang pribumi
sendiri yang menjadi antek kolonial.
Tulisan-tulisannya di Medan Prijaji inilah yang
membuat Tirto memiliki banyak musuh di kalangan
kolonial Belanda dan antek-antek pribuminya. Gubernur
Jendral Idenburg ketika itu sampai memerintahkan
seseorang bernama Dr. Rinkes untuk mengamati dan
mengontrol gerak-gerik Tirto di Medan Prijaji. Beberapa
data tentang Tirto ini juga berasal dari tulisan Dr. Rinkes
tersebut. Tirto sengaja dihancurkan oleh Belanda karena
dia dianggap sebagai orang yang paling berbahaya di
Hindia Belanda kala itu. Inilah yang mungkin menjadi
sebab kenapa catatan-catatan tentang Tirto jarang
ditemukan.
Pihak Belanda saat itu tidak mau Tirto menjadi
inspirasi bagi para pribumi untuk maju dan terdidik
sehingga pada akhirnya mengancam keberadaan Belanda
di Hindia Belanda. Bahkan, ketika pada akhirnya ia wafat
pada Desember 1918, menurut catatan yang ditulis Mas
Marco, salah satu sahabatnya, Tirto hanya diantar oleh
segelintir orang saja ke pemakamannya di Mangga Dua.
Belanda sudah berhasil menghilangkan seorang RM Tirto
Adi Suryo. Hal ini diperparah dengan kebijakan Orde Baru
yang melarang peredaran buku-buku Pramoedya yang
menceritakan tentang Tirto. Barulah pada 1973,
pemerintah mengangkat Tirto sebagai Bapak Pers
108
Nasional. Setelah itu baru pada pemerintahan SBY di
tahun 2006 lah, Raden Mas Tirto Adi Suryo atau Minke
diangkat menjadi pahlawan nasional. Sebuah penghargaan
yang mungkin sudah sangat terlambat.
Bertepatan dengan diperingatinya Sumpah Pemuda
dan Hari Pahlawan, RM Tirto Adi Suryo adalah inspirasi
bagi seluruh anak muda Indonesia. Kegelisahannya akan
sesuatu yang dianggapnya salah serta perjuangannya (yang
terlupakan) melawan pemerintah Hindia Belanda secara
langsung dan tidak langsung membantu terwujudnya
Republik ini. Pramoedya Ananta Toer mungkin hanya
menulis roman sejarah, dan bukan sebuah biografi khusus
tentang Tirto. Namun Tetralogi Buru saya pikir adalah
awal bagi banyak orang untuk mengenal Tirto.
C. Douwes Dekker
1. Biografi Tokoh
Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir 8
Oktober 1879 di Pasuruan. Jawa timur la mempu nyai darah
campuran Belanda. Jerman, Perancis dan Jawa. Setelah
tamat dari HBS (SMA masa Belanda) ia bekerja di
perkebunan kopi di Malang la pernah menjadi sukarelawan
dalam Perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan.
Kemudian ia memimpin harian De Express. Pada tahun
1912 ia bersama Suwardi Suryaningrat dan dr. Cipto
Mangunkusumo mendirikan Indische Partij (IP) partai
politik per tama yang lahir di Indonesia.
Pada Tahun 1913 Setiabudi dibuang ke Belanda. ka
rena kegiatannya dalam Komite Bumiputera. Setelah lima
tahun dalam pembuangan ia kembali ke Indonesia dan
mendirikan perguruan kebangsaan "Ksatrian Institut" di
Bandung.
109
Setelah Indonesia merdeka dalam Kabinet Syahrir II
ia diangkat menjadi Men teri Negara dan penasehat delegasi
RI dalam perun dingan-perundingan dengan Belanda. Pada
saat Agresi Militer II ia ditangkap Belanda dan dipenjara.
Setiabudi meninggal dunia di Bandung 28 Agustus 1950
sebagai seorang muslim.
Gambar 17 Profil Singkat Danudirjo Setiabudi
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
2. Perjuangan /Kontribusi Tokoh
Permulaan Ernest Douwes Dekker menyebarkan
gagasan nasionalismenya adalah melalui pers. Pada tahun
1902 ketika ia kembali ke Hindia Belanda, ia ditawari
pekerjaan menjadi koresponden di Batavia oleh dua
pimpinan de Locomotief, Pieter Brooshooft dan Vierhout.
Mereka merasa tertarik dengan berbagai tulisan Ernest
Douwes Dekker tentang perjuangannya di perang Boer II di
Afrika Selatan dan pengasingannya di Srilanka.
110
Selama bekerja di de Locomotief Ernest Douwes
Dekker seringkali mengkritisi berbagai kebijakan
pemerintah Hindia Belanda seperti mengkritik politik etis
yang dianggap memecah belah penduduk bumiputera, indo
dan priyayi. Kritik itu kemudian dibalas dengan sindiran
oleh tokoh politik di Belanda yang menganggapnya sebagai
avonturir, oportunis dan penghianat. Setelah memiliki karier
yang cemerlang di de Locomotief, beliau kemudian pindah
di Soerabaia Handelsblad sebagai redaktur dan di
Bataviaasch Nieuwsblad sebagai korektor. Ketika bekerja
sebagai korektor di koran Bataviaasch Nieuwsblad, beliau
mulai berhubungan dengan pelajar STOVIA dan anggota
Budi Utomo yang merupakan penggemar koran tersebut.
Selama menjadi redaktur membuat Ernest Douwes
Dekker terkenal di antara kaum intelektual pribumi
terutama pelajar Stovia. Mereka sangat tertarik dengan
tulisan-tulisannya yang kritis dan radikal. Para pelajar
Stovia yang tertarik dengan pemikiran Ernest Douwes
Dekker sering mengunjungi rumah Ernest Douwes Dekker
yang tidak jauh dari sekolah mereka. Kunjungan mereka
pada akhirmya menimbulkan kedekatan di antara mereka.
Karena kedekatannya tersebut Ernest Douwes Dekker
sampai-sampai merelakan rumahnya di Kramat, Jakarta
untuk dijadikan rumah baca dan tempat perkumpulan
pelajar STOVIA dalam membahas masalah perjuangan dan
pergerakan.
Diceritakan dalam sumber yang lain, menurut
Tashadi dalam Dr. D.D Setiabudi (1984: 23) ketika jadi
wartawan Bataviasche Nieuwsblad di kota Betawi dan
tinggal di Jalan Kramat. Di masa-masa ini dia sudah kawin
dengan Clara Charlotte Deije. Rumahnya, menjadi tempat
nongkrong sekaligus perpustakaan bagi beberapa murid
School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau
111
Sekolah Dokter Jawa yang terletak di Kwitang. Lanjutnya,
“jiwa Budi Utomo itu sesungguhnya terlahir di tempat
kediaman Dr EFE Douwes Dekker di Kramat, Jakarta, yang
memancar dari tubuh Sutomo, Gunawan Mangunkusumo
dan kawan-kawannya pada tanggal 20 Mei 1908 (1984: 21).
Selain itu kedekatannya dengan beberapa pelajar
STOVIA yang memiliki pemikiran kritis seperti
Suryapranoto, Ki Cokrodirjo, Tjipto dan Gunawan
Mangoenkoesoemo dimanfaatkannya untuk mengajak
mereka bergabung di dalam koran Bataviasch Niuewsblad.
Ernest Douwes Dekker berharap dengan bergabungnya
pelajar STOVIA itu dapat membuat surat kabar itu menjadi
semakin radikal. Hubungan antara Ernest Douwes Dekker
dengan para pelajar STOVIA tidak hanya dimanfaatkan
oleh Ernest Douwes Dekker sendiri demi keberlangsungan
perjuangannya yang radikal, tetapi juga dimanfaatkan oleh
para pelajar STOVIA itu sendiri dengan membentuk
organisasi Budi Utomo. Berawal dari perkumpulan dan
masukan dari ide-ide Ernest Douwes Dekker ini lahir
sebuah gagasan tentang pendirian organisasi pribumi
pertama yaitu Budi Utomo.
Dalam setiap perjuangannya mengembangkan
nasionalisme Ernest Douwes Dekker selalu mengobarkan
pentingnya kemerdekaan dan kemandirian Hindia Belanda.
Berbagai sarana, beliau gunakan untuk berjuang demi
kemerdekaan Hindia Belanda, antara lain melalui media
massa. Salah satu tulisannya mengenai kemerdekaan adalah
tulisannya yang berjudul “Hoe kan Holland he Spoedigst
Kolonial vierlizen” (Bagaimana Cara Belanda Kehilangan
Tanah Jajahannya) yang membuat gempar pemerintah
Hindia Belanda dan membuat belaiu dicap sebagai
penghianat. Namun meskipun begitu, artikel-artikelnya
yang radikal itu ternyata menginspirasi pemuda Hindia
112
Belanda dalam melakukan pergerakan. Salah satunya
adalah pelajar STOVIA yang kemudian mendirikan Budi
Utomo.
Dalam pertemuan dan diskusi dengan para pelajar
STOVIA itu Ernest Douwes Dekker memberikan sebuah
masukan tentang penting pers bagi keberlangsungan
organisasi pergerakan nasional. Maka ketika Budi Utomo
belum memiliki media surat kabar sebagai penyambung
aspirasi organisasinya dan alat propagandanya, Ernest
Douwes Dekker memperbolehkan anggota Budi Utomo
menggunakan Bataviasch Nieuwsblad sebagai media pers
dan alat propaganda sementara Budi Utomo. Ketika Budi
Utomo mengadakan kongres pertama Ernest Douwes
Dekker yang pada saat itu masih menjadi readaktur
Bataviasch Niuewsblad hadir dalam kongres itu dan
menulis sebuah artikel tentang kebangkitan nasional Jawa.
Beliau beranggapan bahwa pendirian Budi Utomo
merupakan sebuah gerakan kebangkitan pertama golongan
bumiputera dalam menghadapi tekanan pemerintah
kolonial.
Meskipun Ernest Douwes Dekker berperan penting
dalam organisasi itu tetapi beliau tidak diajak bergabung
dalam organisasi itu karena Ernest Douwes Dekker
bukanlah orang Jawa. Maka akhirnya, beliau membuat
organisasi pergerakan sendiri yaitu Indische Partij yang
sifatnya politis dan tidak terikat perbedaan ras ataupun
agama. Ernest Douwes Dekker kemudian mengajak Dokter
Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat
untuk bergabung. Ketika mencari dukungan dari
masyarakat Hindia Belanda, Ernest Douwes Dekker
melakukan kampanye dan kunjungan ke seluruh daerah
Jawa. Tapi setahun kemudian partai itu dibubarkan
pemerintah.
113
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Selain para pribumi yang menjadi tokoh pergerakan
perjuangan kemerdekaan Indonesia, ternyata ada pula
beberapa nama Belanda yang ikut berjuang demi meraih
kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Douwes
Dekker, yang memiliki nama lengkap Ernest Francois
Eugene Douwes Dekker. Dia lahir di Pasuruan, Jawa
Timur, 8 Oktober 1879. Dia memiliki darah campuran
Belanda, Prancis, Jerman dan Jawa.
Namun meski bukan penduduk Indonesia tulen, tapi
semangat nasionalismenya lebih menggelora daripada
penduduk bumiputra. Dalam pergerakan revolusi, Douwes
Dekker memiliki pemikiran dan gagasan yang melampaui
zaman. Dengan sifat kritis dan penuh keberanian, dia
mengkritisi kekejaman pemerintahan Hindia-Belanda dan
berani menolak diskriminasi. Hal inilah yang pada akhirnya
membuat pemerintah Belanda berang dan menganggap
Douwes Dekker sebagai agitator berbahaya.
Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar
Dewantara, Douwes Dekker mendirikan partai politik
pertama di Indonesia, bernama Indische Partij. Di mana
partai ini didirikan dengan tujuan untuk membangkitkan
rasa patriotisme orang Hindia untuk tanah yang
memberikan kehidupan, yang mendorong untuk
bekerjasama atas dasar persamaan hak politik nasional
untuk mengembangkan tanah air Hindia ini, dan untuk
mempersiapkan sebuah kehidupan bangsa yang merdeka
(Utomo, 1995; Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
Hadirnya partai ini meniupkan roh di awal masa
pergerakan dan merupakan pondasi penting bagi
nasionalisme Hindia. Douwes Dekker adalah sosok
114
organisator yang tidak pernah lelah berjuang. Dia
mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk
kemerdekaan Indonesia. Douwes Dekker yang ternyata
masih satu keturunan dengan Eduard Douwes Dekker—
penulis buku Max Havelaar yang memiliki nama pena
Multatuli—ini menyerukan ide pentingnya warga Hindia
menjadi satu bangsa, yang membangun kekuatan sendiri.
Dia sama sekali tidak gentar meski berkali-kali
keluar masuk penjara bahkan diasingkan untuk beberapa
waktu yang cukup lama. Memang sejak dia menunjukkan
sikap anti penjajah, Belanda sudah mengawasi dan
menganggap Douwes Dekker adalah salah satu tokoh yang
berbahaya, yang bisa mengkompori bumiputra untuk
melawan pemerintah Hindia-Belanda sewaktu-waktu. Oleh
karena itu ketika Douwes Dekker mendaftarkan perizinan
berdirinya partai Indische Partij, dengan tegas Beladan
menolaknya, karena partai itu dianggap berbahaya,
mengancam kemananan dan ketertiban umum.
Tapi bukan Douwes Dekker jika langsung
menyerah. Dengan kemampuannya jurnalistiknya, kerap
kali Douwes Dekker menantang pemerintah Hindia-
Belanda lewat tulisan-tulisan yang tajam, memojokkan dan
pedas di berbagai media. Dia mengkritisi politik etis yang
memecah belah penduduk pribumi, indo dan priyayi.
Akibat keberaniannya itu, Douwes Dekker di mata tokoh-
tokoh politik Belanda dianggap sebagai avonturir, oportunis
bahkan schoelje atau “si bangsat”. Di mana akibat dari
tulisannya yang kerap kali menggugat, dan mengecam
Belanda dan terus membangkitkan nasionalisme, dia
mendapat lima gugatan hukum.
Dia pernah menjalani hukuman penjara di beberapa
negara. Lalu bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki
Hajar Dewantara, Douwes Dekker dibuang ke Belanda.
115
Kemudian mereka memanfaatkan waktu ada untuk
melanjutkan sekolah. Selain itu Douwes Dekker juga
pernah dituduh menjadi kaki tangan Jepang dan ditahan di
Jakarta, kemudian dibawa ke Ngawi, Magelang dan Jawa
Timur. Di juga pernah diasingkan di Suriname. Namun
semua kejadian itu tetap tidak membuatnya gentar berjuang
meraih kemerdekaan Indonesia.
Ketika akhirnya dia kembali ke Indonesia, dia
kemudian memilih berjuang lewar jalur pendidikan. Dia
menjadi guru mengajar di Ksatrian Institut, sebuah sekolah
yang dia bangun bersama beberapa tokoh pentolan Indische
Partij. Dalam sekolah ini Douwes Dekker dengan serius
mengajarkan pentingnya bangsa merdeka dan mandiri. Hal
ini tentu saja membuat pemerintah Hindia-Belanda semakin
membenci Douwes Dekker.
Kiprah Douwes Dekker ini akhirnya memberi
inspirasi bagi para pejuang muda. Seperti Tjokroaminoto
dengan Serikat Islam, juga Sukarno dalam mendirikan
Partai Nasional Indonesia. Sebelum wafat Douwes Dekker
ini menjadi mualaf dan mengganti nama menjadi Danudirja
Setiabudi. Dia meninggal tanggal 28 Agustus 1950 karena
sakit. Sebuah buku yang patut dibaca dan diapresiasi.
Mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam
berjuang dan selalu mencintai Indonesia. Perjuangan Ernest
Douwes Dekker untuk mengembangkan nasionalisme demi
kemerdekaan Hindia Belanda menunjukkan bahwa
meskipun beliau seorang keturunan Indonesia-Eropa tetapi
memiliki kepedulian terhadap perjuangan di Hindia
Belanda. bahkan pemikiran dan semangatnya dalam
mewujudkan kemerdekaan Indonesia perlu dicontoh oleh
masyarakat Indonesia masa kini terutama generasi muda
untuk berjuang demi kepentingan bangsa. (Utomo, 1995;
Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
116
D. R.M. Soewardi Soerjoningrat
1. Biografi Tokoh
R.M. Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal
dengan nama Ki Hajar Dewantara, dilahirkan pada 2 Mei
1889 di Yogyakarta Setelah menamatkan ELS (Sekolah
Dasar Belanda), ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA
(Sekolah Dokter Bumi putera), tapi tidak sampai tamat
karena sakit. Karir jurnalistiknya dimulai di tahun 1912. la
kemudian menulis untuk berbagai surat kabar seperti
Sedyotomo. Midden Java. De Express dan Utusan Hindia
Karena tulisannya R.M. Suwardi pernah diasingkan ke
Negeri Belanda. Ia juga kemudian menjadi anggota redaksi
harian Kaum Muda yang terbit di Bandung, utusan Hindia
dan Cahaya Timur. Tulisan-tulisannya bernada
nasionalisme.
Setelah pulang dari pengasingan Ki Hajar
Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa pada 3 Juli
1929. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha
menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa anak didik.
Pemerintah Belanda merintanginya dengan mengeluarkan
Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932 Tapi Ki Hajar
Dewantara dengan gigih memper juangkan haknya,
sehingga ordonansi itu dapat dicabut. Setelah zaman
kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat
Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Beliau
meninggal dunia pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan
dimakamkan di sana.
117
Gambar 18 Profil Singkat Ki Hajar Dewantara
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
2. Perjuangan /Kontribusi Tokoh
R.M. Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar
Dewantara merupakan salah satu pendiri Indische Partij
(IP) atau Partai Hindia bersama dengan Cipto
Mangunkusumo dan Ernest François Eugène (E.F.E.)
Douwes Dekker (yang kemudian dikenal dengan
nama Danudirja Setiabudi). Ketiganya disebut dengan Tiga
Serangkai. Organisasi ini pada masanya bersifat radikal,
dan merupakan partai yang menuntut kemerdekaan total
Indonesia dari Belanda. Akibat perjuangannya ini ketiga
tokoh ini dibuang ke Belanda tahun 1913, sebelum
diperbolehkan untuk kembali pada 1919 ke Indonesia.
Sebagai jurnalis dan penulis ulung, Ki Hajar
Dewantara melakukan kritik kepada Belanda dengan
menulis esai berjudul “Als ik een Nederlander was…”
(Seandainya saya seorang Belanda….). Esai tersebut adalah
bentuk kritik yang sangat tajam terhadap rencana
pemerintah kolonial untuk menyelenggarakan 100 tahun
kemerdekaan Belanda. Akibat esainya tersebut maka Ki
118
Hajar Dewantara kemudian dibuang ke Negeri Belanda
selama enam tahun (1913-1919). (Utomo, 1995;
Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
Ki Hajar Dewantara bergerak juga dalam bidang
pendidikan, dengan mendirikan Taman Siswa, sekolah yang
mengajarkan kebangsaan Indonesia. Ki Hajar Dewantoro
mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Pada 3 Juli 1922,
Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut
Tamansiswa atau perguruan Taman Siswa. Lembaga ini
bertujuan memberikan kesempatan dan hak pendidikan
yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang
dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda. Taman
Siswa menanamkan rasa kebangsaan pada anak didiknya.
Metode pendidikannya merupakan gabungan perspektif
Barat dengan budaya nasional. Meski demikian, Taman
Siswa tidak mengajarkan kurikulum pemerintah Hindia
Belanda.
Karena mengusung nasionalisme Indonesia itulah,
pemerintah kolonial Belanda berupaya merintangi Taman
Siswa dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1
Oktober 1932. Namun, Ki Hajar Dewantara gigih
memperjuangkan haknya hingga ordonansi itu dicabut.
Selain mengembangkan Taman Siswa, Ki Hajar tetap
menulis. Tema tulisannya kini tidak lagi politik, melainkan
bernuansa pendidikan dan kebudayaan berwawasan
kebangsaan. Tulisan-tulisan itu menjadi media Ki Hajar
dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi
bangsa Indonesia. Setelah Indonesia merdeka Ki Hajar
Dewantara diangkat oleh Presiden Soekarno dalam Kabinet
Presidensial (kabinet pertama Republik Indonesia), menjadi
Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama (saat itu
merupakan sebutan dari Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan)
119
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Meskipun keturunan bangsawan, Soewardi
Soerjaningrat tidak pernah menonjolkan gelar
kebangsawanan nya. Ia selalu menganggap dirinya rakyat
biasa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan
penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki
Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar
kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan
supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik
maupun jiwa.
Soewardi Soerjaningrat tidak sampai menamatkan
pelajarannya di STOVIA. Kemudian ia bekerja pada pabrik
gula bojong, purbalingga. Tidak lama kemudian ia pindah
dan bekerja diapotek Rathkamp di Jogjakarta. Sepertinya
pekerjaan jurnalistik lebih menarik dan lebih cocok dengan
jiwanya. Karnanya, ia memilih jurnalis dan membantu
beberapa surat kabar, seperti Sedyotomo (berbahasa jawa),
Midden java (berbahasa belanda), De Express (berbahasa
belanda), dan utusan india yang dipimpin H.O.S.
Cokroaminoto. Atas permintaan Douwes Dekker, suwardi
pindah kebandung, Dibandung ia memimpin surat kabar De
Express. Sejak berdirinya Budi Utomo (BO) tahun 1908, ia
aktif di saksi propaganda untuk menyosialisasikan dan
menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama
Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan
kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas
Gadjah Mada (UGM) ini mewariskan tiga ajaran yang
hingga kini masih terkenal, “Ing ngarsa sung tulodo, ing
madya mangun karsa dan tut wuri handayani.” Konsep ini
bermakna, “Di depan memberi teladan, di tengah memberi
120
semangat, dan di belakang memberi dorongan.” Konsep
tersebut masih relevan diterapkan dalam dunia pendidikan
nasional dewasa ini. Selain itu, ada juga konsep belajar tiga
dinding. Konsep ini mengacu pada bentuk ruang sekolah
yang rata-memiliki empat dinding. Ki Hajar menyarankan,
ruang kelas hanya dibangun dengan tiga sisi dinding;
sedangkan satu sisi lainnya terbuka. Filosofi ini
mencerminkan, seharusnya tidak ada batas atau jarak antara
dunia pendidikan di dalam kelas dengan realitas di luarnya.
Dengan kata lain, sekolah sebaiknya tidak hanya
mengajarkan teori, tetapi juga kemampuan lainnya.
Sehingga, anak tidak hanya pandai secara akademik, tetapi
juga mampu menerapkan ilmunya tersebut. Bentuk konsep
tiga dinding ini bisa diterjemahkan dengan berbagai
kegiatan tambahan di luar sekolah seperti outbond dan
karya wisata ke berbagai tempat. Tentu saja, kegiatan-
kegiatan tambahan itu dikemas dengan nilai-nilai edukatif.
E. Dr. Cipto Mangoenkoesoemo
1. Biografi Tokoh
Cipto Mangoenkoesoemo lahir pada tahun 1886 di
Pecangakan dekat Ambarawa. Setelah tamat STOVIA
(Sekolah Dokter Bumiputera). dr. Cipto bekerja sebagai
dokter pemerintah. Setahun kemudian ia dipindahkan ke
Demak. Pada tahun 1912 dr. Cipto menerima bintang Orde
Vim Oranie Nassau (kepahlawanan Belanda) atas jasa-
jasanya memberantas wabah pes di Kepanjen. Malang. Pada
tahun yang sama. bersama teman-temaimya iajuga
mendirikan lndiche Partij. Tahun 1913 ia dibuang ke
Negeri Belanda karena kegiatannya dianggap
membahayakan pemerintah. Tak lama kemudian ia kembali
ke Indonesia dan tetap menjalankan kegiatan politiknya.
121
Rumahnya di Bandung merupakan tempat berkumpul
tokoh-tokoh pergerakan nasional.
Karena ia giat berjuang dan melawan Belanda ia
dibuang lagi ke Banda Neira. Tiga belas tahun ia disana,
kemudian dipindahkan ke Makassar (Ujung Pandang
sekarang) selanjutnya ke Sukabumi dan terakhir di Jakarta.
Dr. Cipto Mangunkusumo meninggal dunia di Jakarta pada
6 Maret 1943 dan dimakamkan di Batu Ceper, Ambarawa.
Gambar 19 Profil Singkat dr Cipto Mangunkusumo
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
2. Perjuangan /Kontribusi Tokoh
Merupakan seorang dokter sekaligus tokoh
pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia juga dikenal sebagai
salah satu tokoh dari Tiga Serangkai bersama Ernest
Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Bersama kedua
tokoh tersebut, Cipto banyak menyebarluaskan ide
pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan
penjajahan Hindia Belanda. Cipto Mangunkusumo juga
122
merupakan tokoh dalam Indische Partij, organisasi politik
yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri.
Berbeda dengan kedua tokoh lain yang mengambil jalur
pendidikan, Cipto Mangunkusumo tetap berjalan di jalur
politik. Ia menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).
Cipto Mangunkusumo menyampaikan keresahannya
melalui tulisan di harian De Locomotief. De Locomotief
merupakan surat harian kolonial yang sangat berkembang
pada waktu itu. Tulisannya itu berisikan sebuah kritikan
serta pertentangan suatu kondisi masyarakat yang
dianggapnya tidak sehat. Cipto seringkali mengkritik
hubungan feodal maupun kolonial yang dianggapnya
sebagai sumber penderitaan rakyat. Karena tulisan tersebut,
Cipto sering mendapatkan teguran serta peringatan dari
pemerintah. Selain dalam bentuk tulisan, Cipto juga
melakukan protes lain dengan bertingkah melawan arus.
Seperti larangan memasuki societit atau kolam renang bagi
warga pribumi tidak ia lakukan.
Cipto Mangunkusumo masuk sebagai anggota
dalam Budi Utomo. Pada kongres pertama Budi Utomo di
Yogyakarta, jati diri politik Cipto semakin terlihat. Namun,
pada kongres tersebut terjadi perpecahan antara Cipto
dengan Radjiman Wedyoningrat, anggota Budi Utomo
lainnya. Akibat dari perselisihan itu, Cipto akhirnya
mengundurkan diri dari Budi Utomo. Karena menganggap
organisasi ini tidak mewakili aspirasinya. Setelah mundur
dari Budi Utomo, Cipto membuka praktik dokter di Solo.
Ia turut ambil peran dalam pemberantasan wabah pes di
Malang pada 1911. Berkat jasa itulah, Dokter Cipto
mendapat bintang emas, penghargaan dari pemerintah
kolonial Hindia Belanda. Meskipun demikian, Cipto tetap
bertahan dalam dunia politik. Perhatiannya kepada politik
pun semakin bertambah setelah dia bertemu dengan Ernest
123
Douwes Dekker (Danurdirdja Setiabudi) dan Soewardi
Soerjaningrat. Mereka kemudian disebut sebagai Tiga
Serangkai. Ketika tokoh tersebut mendirikan Indische Partij
pada 1912.
Pada November 1913, Belanda memperingati 100
tahun kemerdekaannya dari Prancis. Peringatan tersebut
diadakan secara besar-besaran di Hindia Belanda. Bagi
Cipto, perayaan tersebut menjadi sebuah penghinaan
terhadap rakyat bumi putera yang sedang dijajah. Cipto
bersama Suwardi kemudian mendirikan komite perayaan
100 tahun kemerdekaan Belanda dengan nama Komite
Bumi Putera. Komite ini merencanakan mengumpulkan
uang untuk mengirim telegram kepada Ratu Wilhelmina,
Ratu Belanda. Isi telegram tersebut adalah agar pasal
pembatasan kegiatan politik dan membentuk parlemen
dicabut.
Pada hari selanjutnya, Cipto menulis artikel yang
mendukung Ki Hadjar Dewantara untuk memboikot
perayaan kemerdekaan Belanda. Karena tulisan itu, Cipto
dan Ki Hadjar Dewantara dipenjarakan pada 30 Juli 1913.
Pada 18 Agustus 1913, keluar surat keputusan untuk
membuang Cipto bersama Ki Hadjar Dewantara dan Ernest
Douwes Dekker ke Belanda. Mereka dibuang karena
melakukan kegiatan propaganda anti Belanda dalam Komite
Bumi Putera. Selama masa pembuangan, ketiga tokoh ini
tetap melancarkan aksi politiknya. Mereka menerbitkan
majalah De Indier guna menyadarkan masyarakat Belanda
dan Indonesia yang berada di Belanda akan situasi tanah
jajahan. Mereka juga menerbitkan jurnal Indische
Vereeniging (perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia),
yaitu Hindia Poetra pada 1916. (Utomo, 1995;
Poesponegoro & Notosusanto, 1984).
124
Pada 1914, Cipto bergabung dengan Insulinde,
perkumpulan yang menggantikan Indische Partij. Di sana,
ia melancarkan aksi propaganda untuk Insulinde. Akibat
propaganda tersebut, jumlah anggota Insulinde pada 1915
yang mulanya berjumlah 1.009 meningkat menjadi 6.000
orang pada 1917. Pada Oktober 1919, anggota Insulinde
mencapai 40.000 orang. Kemudian, pada 18 Mei 1918,
pemerintah Hindia Belanda membentuk Volksraad (Dewan
Rakyat). Pembentukan Volksraad ini menjadi tempat bagi
Cipto untuk menyatakan kritiknya terhadap Volksraad yang
dianggap sebagai lembaga untuk mempertahankan
kekuasaan penjajah dengan kedok demokrasi. Pada 25
November 1919, Cipto berpidato di Volksraad. Dalam
pidatonya mengemukakan persoalan tentang
persekongkolan sunan dan residen dalam menipu rakyat.
Pidato tersebut membuat pemerintah Hindia
Belanda menganggap Cipto sebagai orang yang berbahaya.
Setelah itu, Dewan Hindia pada 15 Oktober 1920
mengusulkan untuk mengusir Cipto ke daerah yang tidak
berbahasa Jawa. Namun, pembuangan Cipto ke daerah
Jawa, Madura, Aceh, Palembang, Jambi, dan Kalimantan
Timur tetap saja membahayakan pemerintah. Oleh karena
itu, Dewan Hindia berdasarkan surat kepada Gubernur
Jenderal mengusulkan untuk mengusir Cipto ke Kepulauan
Timor. Pada tahun itu juga, Cipto dibuang dari daerah yang
berbahasa Jawa tetapi masih di Pulau Jawa, yaitu Bandung.
Di sana ia kembali membuka praktik dokter selama tiga
tahun. Ia juga bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih
muda, Soekarno. Pada 1923, mereka membentuk
Algemeene Studieclub atau klub kuliah umum. Pada 1927,
Algemeene Studieclub berubah nama menjadi Partai
Nasional Indonesia (PNI). (Utomo, 1995; Poesponegoro &
Notosusanto, 1984).
125
Pada masa pengasingan, penyakit asma Cipto
kambuh. Ketika Cipto diminta untuk menandatangani suatu
perjanjian bahwa dia dapat pulang ke Jawa dengan
melepaskan hak politiknya, namun Cipto menolak dengan
tegas. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih baik mati di
Banda daripada harus melepaskan hak politiknya. Cipto
kemudian dialihkan ke Makasar. Pada 1940, ia dipindahkan
ke Sukabumi. Cipto Mangunkusumo meninggal dunia pada
8 Maret 1943 akibat penyakit asma. Ia dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan Ambarawa.
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Cipto Mangunkusumo mengawali kariernya menjadi
seorang guru bahasa Melayu di sekolah dasar di Ambarawa.
Ia bersekolah di STOVIA atau Sekolah Kedokteran di
Batavia. Selama menempuh pendidikan di STOVIA, ia
diberi julukan oleh gurunya sebagai Een begaafd leerling
atau murid yang berbakat. Julukan tersebut diberikan pada
Cipto karena ia dikenal sebagai pribadi yang jujur,
berpikiran tajam, dan rajin. Berbeda dengan teman-
temannya, Cipto lebih suka menghadiri ceramah-ceramah,
baca buku, dan bermain catur.
Dimasa mudanya Cipto menghabiskan sebagian
besar waktunya untuk belajar ilmu kedokteran dengan
gigih. Beliau ingin ilmunya bermanfaat untuk membantu
sesama. Karena sering membantu masyarakat, ia dikenal
sebagai “Dokter Rakyat”. Bahkan, dr. Cipto
Mangunkusumo berperan penting dalam penanganan wabah
pes di kota Malang pada 1910 - 1911. Selain mendalami
ilmu kedokteran, dr. Cipto Mangunkusumo juga kritis
dalam memperjuangkan bangsa Indonesia agar bebas dari
kungkungan penjajah. Beliau melakukan perlawanan
126
melawan penjajah dengan membuat tulisan yang diterbitkan
di koran. Sejak kecil, beliau memanfaatkan waktunya untuk
belajar dengan tekun, kemudian saat sudah menjadi dokter
ilmunya digunakan untuk membantu sesama. Beliau juga
gigih memperjuangkan hak bangsa Indonesia melalui
berbagai organisasi dan mempertahankan ideologinya
dalam memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan ia
mengatakan bahwa dirinya lebih baik mati di Banda
daripada harus melepaskan hak politiknya.
F. Wahidin Soedirohoesodo
1. Biografi Tokoh
Wahidin Sudirohusodo lalur di Desa Mlati.
Yogyakarta 7 Januari 1852. Setelah menamatkan
Eropeesche Lagere School (SD Belanda), ia melanjutkan ke
"Sekolah Dokter Jawa" di Jakarta. Dr. Wahidin
Sudirohusodo mempunyai cita-cita untuk memajukan
pendidikan bangsanya. Anak-anak Indonesia banyak yang
memiliki otak yang cemerlang namun keadaan ekonomi
mereka sulit. mereka tak mampu bersekolah. Wahidin
merasakan benar keadaan ini. Ia mengadakan perjalanan
keliling Pulau Jawa mencari dana untuk beasiswa bagi
anak-anak yang cerdas. Untuk menampung cita-cita dr.
Wahidin. mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi
dengan nama Budi Utomo.
Pada 20 Mei 1908 Sutomo terpilih sebagai Ketua.
Organisasi ini diatur secara modern sehingga dapat
dikatakan sebagai pelopor Pergerakan Nasional di
Indonesia. Dr. Wahidin Sudirohusodo beristrikan seorang
wanita Betawi bemama Anna. Mereka mempunyai 2 orang
putera. Seorang benama Abdullah Subroto. pelukis terkenal
127
Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah. Dr. Wahidin
Sudirohusodo meninggal dunia26 Mei 1917 di Yogyakarta.
Gambar 20 Profil Singkat dr Wahidin Sudirohusodo
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
2. Perjuangan /Kontribusi Tokoh
Peran Dokter Wahidin Sudirohusodo ingin
mengubah cara berjuang rakyat Indonesia dari perjuangan
fisik kepada cara perjuangan melalui pendidikan dengan
mendirikan organisasi modern pertama di Indonesa
bernama Budi Utomo. Pemikiran tentang pentingnya
persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan negara
yang berdaulat tidak lepas dari pengaruh berdirinya
organisasi Budi Utomo. Budi Utomo berdiri pada tanggal
20 Mei 1908. Organisasi itu berdiri berdasarkan pemikiran
seorang lulusan sekolah dokter Jawa (STOVIA) bernama
dr. Wahidin Sudirohusodo. Dokter Wahidin Sudirohusodo
ingin mengubah cara berjuang rakyat Indonesia dari per-
juangan fisik kepada cara perjuangan melalui pendidikan.
Ide ini menarik perhatian seorang mahasiswa STOVIA
128
bernama Sutomo yang pada akhirnya mendirikan organisasi
modern pertama di Indonesa bernama Budi Utomo.
Kelahiran budi utomo memang diawali dari gagasan
Wahidin Sudirohusodo. la memikirkan bagaimana agar ada
sebuah wadah bagi pengajaran dan pembelajaran bagi
rakyat. Ide dr. Wahidin selanjutnya menarik seorang
mahasiswa School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten
(STOVIA), yaitu Sutomo. Hal tersebut sebagai awal
perkembangan menuju keharmonisan bagi masyarakat Jawa
dan Madura di Pulau Jawa. Akhirnya Sutomo mendirikan
sebuah organisasi yang bernama BU (Budi Utomo). Budi
Utomo merupakan organisasi modern pertama kali di
Indonesia yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Corak
baru yang diperkenalkan BU adalah kesadaran lokal yang
diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti
bahwa organisasi ini mempunyai pemimpin, ideologi yang
jelas, dan anggota. (Utomo, 1995; Poesponegoro &
Notosusanto, 1984).
Meskipun budi Utomo adalah rancangan dari
Wahidin, namun Budi Utomo melebihi dari ekspektasinya.
Budi Utomo tidak hanya untuk memajukan pelajaran,
namun juga untuk pertanian, pertukangan kayu, kulit dan
lain lain. Disamping itu memajukan kebudayaan Jawa serta
mempererat persahabatan penduduk.
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Wahidin dibesarkan dengan latar belakang rakyat
pada masa sistem tanam paksa sejak 1830. Tidak banyak
sekolah yang dibuka dan para masyarakat pribumi tidak
mampu mengenyam pendidikan. Meskipun terdapat sekolah
dari pemerintah Belanda namun karena kemiskinan banyak
orang cerdas yang tidak mampu bersekolah. Pada
129
perjalanannya ia berusaha menemui para pembesar dan
pegawai negeri dengan seizin asisten residen. Ia harus
memohon mohon agar ia dapat bertemu dan menyampaikan
aspirasinya tersebut. Perjalanannya keliling jawa tersebut ia
lakukan dengan biaya pribadi tanpa sepeserpun bantuan.
Hasil dari perjalanannya tersebut akhirnya berdirilah sebuah
badan Beasiswa yang kemudian oleh Wahidin diberi nama
"Darmo Woro". Pada awal berdirinya Darmo Woro sudah
harus mampu meringankan biaya pendidikan siswa yang
dianggap cerdas sedangkan dana belum tersedia. Wahidin
kemudian menjual empat bendi dan 18 ekor kuda., semua
demi cita-citanya mencerdaskan masyarakat.
Pada akhir tahun 1907 Wahidin mengadakan
propaganda di Jakarta. Dari propaganda tersebut muncullah
dua sosok yang memiliki ketertarikan dengan sepak terjang
Wahidin, merekalah Sutomo dan Suraji. Pada per-
kembangan selanjutnya yang kemudian dengan para pelajar
STOVIA mendirikan organisasi pergerakan pertama yaitu
Budi Utomo. Di tangan Sutomo dan Suraji, Budi utomo
menjadi besar dan melebihi ekspektasi dari Wahlidin. Budi
Utomo tidak hanya bergerak pada bidang pengajaran atau
pendidikan, namun juga bergerak di bidang ekonomi, sosial
dan politik. Organisasi ini mendapat sambutan yang positif
sebagai embrio kebangkitan nasional.
Perjuangan dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr.
Soetomo adalah berusaha membangkitkan kesadaran
masyarakat Indonesia kala itu terhadap pentingnya
persatuan dan kesatuan bangsa tanpa perlu mempermasalah-
kan perbedaan agama dan suku. Keberadaan Budi Utomo
telah menumbuhkan semangat dan menandai terjadinya
kebangkitan bangsa secara nasional. Sementara kebangkitan
pemuda Indonesia, ditandai dengan peristiwa Sumpah
Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
130
G. Dr. Soetomo
1. Biografi Tokoh
Sutomo yang sebelumnya bernama Subroto
dilahirkan pada 30 Juli 1888 di desa Ngepeh, Jawa Timur.
la lulusan STOVIA (sekolah dokter Bumiputera) di Jakarta.
Sutomo dan teman-temannya sering bertukar pikiran
tentang kondisi rakyat yang menderita akibat penjajahan
Belanda. Mereka kemudian mendirikan Budi Utomo dan
Sutomo ditunjuk sebagai ketuanya. Tahun 1911 ia bertugas
di Semarang. kemudian pindah ke Tuban lalu ke Lubuk
Pakam (Sumatera Utara) dan terakhir ke Malang.Di sini ia
berhasil memberantas wabah pes Tahun 1919 ia sekolah ke
Negeri Belanda di sana ia menjadi anggota lndische
Vereniging yang kemudian menjadi Perhimpunan
Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan
Indonesische Studies Club (ISC) tahun 1924. Tahun 1931
ISC berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia
(PBI). Tahun 1935 Budi Utomo bergabung dengan PBI
dengan nama Parindra. Dr. Sutomo meninggal dunia di
surabaya 30 Mei 1938 dan dimakamkan di sana.
Gambar 21 Profil Singkat dr Soetomo
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
131
2. Perjuangan /Kontribusi Tokoh
Dr. Soetomo, orang pertama yang mengubah metode
perlawanan itu menjadi gerakan lebih modern. Yaitu
melalui pembentukan organisasi yang membangkitkan
semangat rakyat untuk merdeka. Melalui organisasi Budi
Utomo yang didirikannya, ia menularkan gagasan
memerdekakan tanah air. Melihat kesengsaraan rakyat di
sekelilingnya, nuraninya terketuk. Tahun 1907, ia
mendukung gagas an Dokter Wahidin Sudirohusodo untuk
membentuk organisasi pelajar. Akhirnya, tanggal 20 Mei
1908, terbentuklah Budi Utomo di Jakarta dengan Soetomo
sebagai Ketuanya. Peran Budi Utomo sangat besar untuk
menumbuhkan organisasi-organisasi serupa yang
semangatnya justru lebih progresif. Organisasi ini menjadi
perkumpulan pertama yang disusun secara modern untuk
menuju Indonesia merdeka.
Setelah dinamika politik pergerakan pada dekade
1910-an dan 1920an, tercetuslah Sumpah Pemuda 1928
yang semakin mengoordinasikan langkah-langkah politik
menuju kemerdekaan. Ternyata, metode ini jauh lebih
efektif daripada perlawanan bersenjata yang sporadik dan
hanya berjangkauan lokal. Meski di pandang kurang
progresif, dan cenderung memilih garis kooperatif terhadap
Belanda, jasa Dr. Soetomo tetaplah besar.
Metode yang dipilihnyalah yang kemudian memberi
hasil nyata bagi kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya,
tanggal berdirinya Budi Utomo dijadikan sebagai Hari
Kebangkitan Nasional. Dr. Soetomo sempat belajar di
Belanda, lantas menjadi pengajar sekolah kedokteran di
Surabaya dan tetap aktif di kalangan pergerakan. Meskipun
budi Utomo adalah rancangan dari Wahidin, namun Budi
Utomo melebihi dari ekspektasinya. Budi Utomo tidak
132
hanya untuk memajukan pelajaran, namun juga untuk
pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain lain. Disamping
itu memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat
persahabatan penduduk.
Setelah masuknya golongan tua Budi utomo tidak
lagi tajam, pergerakannya cenderung melambat. Sutomo
merasa kecewa dengan hal tersebut. Setelah ia lulus dari
STOVÍA ia kemudian melanjutkan pendidikannya di
Belanda. la bergabung dengan Indische Vereeniging atau
perhimpnan Indonesia dan ia sempat menjadi ketua
perhimpunan di tahun 1920-1921. Setelah mendapat gelar
dokter ia kemudian ditempatkan di Tuban, Malang, Blora
dan Baturaja. Sebagai dokter yang memahami kesengsaraan
rakyat, ia memberikan bantuan kesehatan cuma-cuma. la
membebaskan tarif bagi para masyarakat tidak mampu. la
tidak menentukan tarif, masyarakat boleh membayar
semampunya. Sekembalinya dari Belanda ia kemudian
mendirikan sebuah organisasi yaitu Indisische Studie club
(ISC). Tujuan dari ISC adalah mempelajari dan
memperhatikan kebutuhan rakyat. la direkrut oleh
pemerintah Belanda sebagai anggota dewan kota, Namun
kemudian ia mengundurkan diri dikarenakan kebijakan
pemerintah Belanda sangat timpang dan tidak
menyengsarakan rakyat.
3. Nilai Keteladanan Yang Dimiliki Tokoh
Pendiri Budi Utomo sekaligus ketua dari organisasi
tersebut terkenal sebagai seorang dokter yang dermawan
dan juga aktif dalam politik. Sutomo sebenarnya memiliki
nama asli Subroto. Namun, untuk bisa masuk ke sekolah
Belanda, namanya berubah menjadi Sutomo. Ayahnya,
Raden Suwaji adalah seorang priyayi pegawai pangreh yang
133
maju dan modern. Sutomo termasuk orang beruntung,
karena dibesarkan dalam keluarga yang terhormat,
berkecukupan, dan cukup di manja. Pengaruh religius juga
mengalir deras dalam diri Sutomo. Kakeknya bernama R
Ng Singawijaya atau KH Abdurrakhman dan neneknya
menuntut Sutomo kecil agar taat beragama, beribadah,
memiliki perasaan damai, berani, dan kokoh pendirian. Di
usia enam tahun, Sutomo diboyong ke Madiun bersama ke
dua orangtuanya. Di sana Sutomo masuk ke Sekolah
Rendah Belanda di Bangil.
Selesai pendidikan di Sekolah Rendah Belanda,
Sutomo dihadapkan pada dua pilihan. Ayahnya, Raden
Suwaji ingin Sutomo masuk School tot Opleiding van
Indische Aartsen (STOVIA) sebagai dokter. Sedangkan
sang kakek menginginkannya menjadi pangreh praja. Hal
tersebut cukup menyita pikirannya, namun hati kecilnya
memiliki kedokteran. Karena baginya, pekerjaan pangreh
praja hanya disuruh-suruh Belanda. Akhirnya melalui
perenungan panjang, Sutomo dengan tegas menolak jabatan
pangreh praja. Pada usia 15 tahun, Sutomo ke Batavia dan
resmi menjadi siswa STOVIA pada 10 Januari 1903. Di
sekolah kedokteran ini, Sutomo terkenal sebagai siswa
paling nakal, berani, malas belajar, suka menyontek dan
mencari masalah. Hal ini berdampak pada kehidupan sosial
maupun pelajarannya di STOVIA menjadi cukup
berantakan.
Menjelang tahun ketiga pendidikannya, Sutomo
berubah drastis. Dirinya menjadi begitu serius dalam
belajar. Bahkan perilakunya menunjukkan banyak
perubahan. Bahkan, di salah satu mata pelajaran Aljabar
dirinya bisa menyelesaikan soal dengan sempurna. Padahal
tidak ada satupun teman kelasnya yang bisa menjawab.
Perubahan tersebut semakin meningkat setelah dirinya
134
mengetahui bahwa sanga ayah meninggal dunia pada 28
Juli 1907. Hal tersebut mngubah cara hidup Sutomo.
Sutomo berubah menjadi siswa pendiam, dan sangat
perhatian dengan teman-temannya. Jiwa sosial dan
kepeduliannya terhadap negara juga mulai tumbuh.
Pada tahun 1908, bersama rekan-rekannya Sutomo
mendirikan Budi Utomo. Hal tersebut menjadi tonggak
pergerakan politik Sutomo melawan pemerintah Hindia
Belanda. Diawali Organisasi Budi Utomo Meski sibuk
dengan organisasi, Sutomo bisa menyelesaikan
pendidikannya pada 1911. Dirinya mulai bertugas di
Semarang, Tuban, Sumatera Timur, dan beberapa kota
lainnya. Dengan berkeliling daerah membuat Sutomo
semakin sedih melihat kondisi rakyat Indonesia. Jiwanya
panas dan hatinya terluka melihat bangsanya sengsara
karena Belanda. Akhirnya Sutomo memilih untuk
mendermakan hidupnya membantu kesehatan masyarakat.
Imbasnya Sutomo sedikit renggang dengan kegiatan
organisasinya.
Sutomo mempersunting seorang janda yang bekerja
sebagai suster bernama Everdina Bruring. Tentu saja,
perpaduan dua orang beda bangsa dan bermusuhan ini
mengundang polemik. Meski berdarah Belanda, Everdina
tidak pernah menghalangi Sutomo melawan politik kolonial
bangsanya. Bahkan tak jarang Everdina membantu Sutomo
menyusun strategi melawan Belanda. Mereka pun menikah
pada tahun 1917. Pada wafatnya Everdina pada 17 Februari
1934, Sutomo tidak pernah berniat sedikitpun untuk
menikah lagi. Sutomo wafat pada 30 Mei 1938 karena
kondisi kesehatan yang terus menurun. Untuk mengenang
jasanya, Sutomo dimakamkan di Gedung Nasional Bubutan,
Surabaya. Serta diberi gelar Pahlawan.
135
H. Mohammad Yamin
1. Biografi Tokoh
Mohammad Yamin merupakan pelopor Sumpah
Pemuda sekaligus “ Pencipta imaji keindonesiaan “ yang
mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia. Mohammad
Yamin juga dikenal sebagai sastrawan, sejarawan,
budayawan, politikus, dan ahli hukum yang dihormati
sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Gambar 22 Profil Singkat Mohammad Yamin
Sumber: https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/
Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. dilahirkan di
Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat pada tanggal 24
Agustus 1903. Ia merupakan putra dari pasangan Usman
Baginda Khatib dan Siti Saadah yang masing masing
berasal dari Sawahlunto dan Padang Panjang. Ayahnya
memiliki enam belas anak dari lima istri, yang hampir
keseluruhannya menjadi intelektual yang berpengaruh.
Saudara-saudara Muhammad Yamin antara lain,