Mengulik Matematika Asyik | i
Mengulik Matematika Asyik
Penulis: Didin Irawati
ISBN: 978-623-217-799-4
Editor: Adrianus Yudi Aryanto
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2019
vi, 98 hlm, 21 x 29,7 cm
Cetakan Pertama, Juli 2019
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka Media Guru
Anggota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Kata Pengantar
S egala puji bagi Allah. Tuhan seru sekalian alam, dan hanya atas limpahan rahmad dan
hidayah‐Nya semata sehingga penulis mampu menyelesaikan buku yang berjudul
“Mengulik Matematika Asyik”. Rasa terima kasih yang setinggi‐tingginya saya
haturkan kepada keluarga saya dan para pembimbing yang telah membantu dalam
menyelesaikan buku ini.
Pelajaran matematika bukan pelajaran yang sulit asalkan setiap tahapan mampu
dikuasai oleh siswa. Pembelajaran matematika diajarkan secara bertingkat dan
berkelanjutan. Pemberian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan
dilakukan secara terus‐menerus. Artinya, dalam mempelajari matematika harus secara
berulang melalui latihan‐latihan soal.
Semua orang butuh keterampilan berhitung. Contoh berhitung sederhana seperti
menghitung uang kembalian dalam kehidupan sehari‐hari. Sayangnya, hal ini kurang disadari
oleh sebagian siswa. Penggunaan angka yang sejatinya simbol untuk mengukur hasil malah
dihindari. Perlu dicamkan, kebutuhan berhitung memang tidak perlu ahli, namun setidaknya
mampu melakukannya dengan tepat dan cepat. Apalagi jika kelak nanti siswa itu bercita‐cita
menjadi seoaran pebisnis. Maka perlu keahlian berhitung agar tidak mengalami kerugian.
Buku ini berisi tentang cara mengajar matematika yang menyenangkan yang dilakukan
penulis selama mengajar di SDN Genaharjo II Semanding. Hal ini tidak hanya membuat siswa
senang matematika tetapi juga bisa memahami matematika dengan mudah. Konsep dasar
matematika tetap diajarkan kepada siswa kemudian dilanjutkan dengan cara cara yang
cepat dan mudah dipahami siswa. Dengan menggunakan metode penyajian materi yang
sistematis, ringkas, jelas sehingga mudah dipahami siswa. Siswa tidak lagi menganggap
bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit. Semua itu penulis tuangkan ke dalam
buku ini.
Dalam buku ini disajikan metode‐metode pembelajaran, pendekatan, media
pembelajaran dan trik‐trik cepat dan tepat untuk mengerjakan matematika yang mudah
dipahami siswa. Dengan trik‐trik cepat tersebut akan memudahkan siswa dalam
mengerjakan soal‐soal matematika sehingga siswa tidak beranggapan bahwa matematika
itu sulit. Apabila pelajaran matematika itu jadi mudah maka pelajaran lain pun jadi mudah
dipahami karena induk dari pelajaran adalah matematika.
Penulis menyadari bahwa buku ini masih terdapat kekurangan kekurangan, baik ditinjau
dari kuantitas sumber literatur, keluasan ruang lingkup, atau aspek lainnya. Penulis berharap
kritik dan saran pembaca untuk mengarah pada perbaikan buku ini di masa‐masa yang akan
datang. Akhirnyanya, penulis berharap semoga buku ini dapat menjadi pemicu bagi
pembaca yang ingin berpartisipasi dalam peningkatan wawasan keilmuan di bidang
pendidikan. Melalui berbagai aktivitas penelitian dan pengkajian terhadap ilmu pendidikan,
keguruan atau pengajaran diharapkan kita dapat memberikan kontribusi kepada
Mengulik Matematika Asyik | iii
peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, serta mutu pendidikan di tempat kita
mengabdikan ilmu dan dedikasi kita masing‐masing. Aamiin.
Tuban, 27 Juli 2019
Penulis
iv | Didin Irawati
Daftar Isi
Kata Pengantar ............................................................................................................................. iii
Daftar Isi .........................................................................................................................................v
Bab I Persiapan Pembelajaran ....................................................................................................... 1
A. Problematika di Dalam Kelas ......................................................................................... 1
B. Problematika Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran ........................................... 2
C. Problematika Dalam Berinteraksi ................................................................................. 3
Bab II Permasalahan Pendidikan Matematika ............................................................................. 5
A. Permasalahan Pendidikan Matematika dan Upaya Pemecahannya ........................... 5
B. Prinsip Ingat dan Lupa dalam Pembelajaran ................................................................. 7
C. Bagaimana Strategi‐strategi Memori Dapat Diajarkan ................................................ 11
Bab III Pendekatan Dalam Proses ............................................................................................... 13
Pembelajaran Matematika .......................................................................................................... 13
A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD ............................................................... 13
B. Langkah‐Langkah Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar ................................ 14
C. Teori Pembelajaran Matematika .................................................................................. 15
D. Metode Pembelajaran .................................................................................................. 16
E. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) ................. 21
Bab IV Perkalian dan Pembagian................................................................................................. 27
Bab V Operasi Hitung Pecahan .................................................................................................... 35
A. Menentukan tanda lebih besar > dan lebih kecil < atau sama dengan = .................. 46
B. Menyederhanakan Pecahan........................................................................................ 47
C. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan ................................................................... 47
D. Perkalian dan Pembagian Pecahan ............................................................................. 48
E. Pembagian Pecahan adalah Perkalian Terbalik.......................................................... 49
F. Pengurutan Bilangan Campuran Pecahan, Desimal dan Prosen .................................. 50
Bab VI Kecepatan, Debit, dan Skala ............................................................................................ 51
A. Kecepatan ..................................................................................................................... 51
B. Debit ............................................................................................................................. 69
C. Skala .............................................................................................................................. 71
Bab VII Bangun Ruang ................................................................................................................. 73
A. Kartu Domino Geometri ............................................................................................... 77
B. Rumus Bangun Ruang Kubus ...................................................................................... 78
Mengulik Matematika Asyik | v
Bab VIII Statistika Pengolahan Data ........................................................................................... 91
A. Statistika Modus .......................................................................................................... 91
B. Statistik Media .............................................................................................................. 91
C. Menyajikan Data ke Dalam Bentuk Diagram Lingkaran ............................................. 93
Daftar Pustaka ............................................................................................................................. 96
Profil Penulis ................................................................................................................................ 97
vi | Didin Irawati
Bab I
Persiapan Pembelajaran
P ada setiap kegiatan pembelajaran, seorang guru harus membuat Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam RPP tersebut berisi tentang:
1. Tujuan pembelajaran
2. Kompetensi dasar dan indikator
3. Materi pembelajaran
4. Metode pembelajaran
- Pendekatan
- Model pembelajaran
- Metode
5. Media pembelajaran
6. Sumber belajar
7. Langkah‐langkah pembelajaran
8. Penilaian hasil belajar
9. Instrumen penilaian hasil belajar
Persiapan yang dilakukan oleh seorang guru sangat berpengaruh pada proses Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM). Semakin bagus persiapan yang dibuat semakin bagus pula proses
KBM berlangsung. Dalam buku ini akan dibahas tentang problematika metode, media
pembelajaran, langkah‐langkah pembelajaran yang mudah dipahami siswa dan lain‐lain.
A. Problematika di Dalam Kelas
Menjadi guru merupakan profesi yang harus dari lubuk hati yang paing dalam. Profesi ini
jelas sangat istimewa, tidak sembarang orang bisa menggeluti profesi tanpa tanda jasa ini.
Profesi ini mengantarkan anak yang ternyata tidak tahu apa‐apa menjadi tahu. Guru
dikategorikan sebagai induk dari segala profesi. Mengapa demikian? Karena tanpa adanya
guru, tidak akan ada profesi‐profesi lainnya. Bahkan tanpa adanya guru, presiden pun tidak
akan ada. Guru merupakan profesi yang membutuhkan kreativitas, inovasi, dan
pengembangan. Profesi mulia ini dituntut untuk bisa mendidik dan membimbing siswa agar
memiliki segudang permasalahan seperti kondisi siswa yang kurang baik, siswa yang sulit
dalam belajar, suasana belajar yang kurang menyenangkan dan masih banyak lagi
permasalahan di kelas yang dihadapi guru. Namun demikian, setiap permasalahan pasti ada
solusinya, guru harus bisa keluar dari segala macam permasalahan yang ada.
Pengelolaan kelas terkadang menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh guru dalam
pembelajaran. Apa itu pengelolaan kelas? Pengelolaan kelas ialah suatu usaha yang
dilakukan oleh guru untuk menciptakan, memelihara, dan mengembangkan iklim belajar
yang kondusif dan menyenangkan. Suasana kelas yang kondusif akan dapat mengantarkan
Mengulik Matematika Asyik | 1
siswanya pada prestasi akademik maupun nonakademik. Bagaimana suasana kelas yang
kondusif? Ada beberapa ciri‐ciri kelas yang kondusif, yaitu:
1. Tenang
2. Dinamis
3. Tertib
4. Saing menghargai saling mendorong
5. Kreativitas tinggi
6. Persaudaraan yang kuat
7. Berinteraksi dengan baik
8. Bersaing sehat untuk kemajuan.
Sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai
dengan baik.
Adapun permasalahan yang terjadi di dalam pengelolaan kelas itu dikarenakan adanya
berbagai macam karakteristik atau tingkah laku yang bervariasi dari siswa, ada yang mudah
diatur dan ada pula yang sulit diatur. Sungguh Tuhan menciptakan manusia dengan
keberagaman karakteristik dan watak yang berbeda‐beda.
Apabila guru mampu mengelola kelasnya dengan baik, maka tidaklah sulit bagi guru
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Guru hendaknya dapat
mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua siswa dalam
rangka menerima materi pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan
menunjang jalannya interaksi antara guru dan siswa. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola
dengan baik akan menghambat kegiatan pembelajaran.
Guru harus mampu membawa siswa hingga ia terhanyut dalam suasana menyenangkan
yang dibawakan guru. Jika siswa bisa merasa senang, maka secara otomatis kelaspun
menjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan.
B. Problematika Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah suatu cara atau teknik Anda dalam mengajar. Ada
beberapa metode pembelajaran yang umumnya digunakan guru dalam pembelajaran, di
antaranya sebagai berikut:
a. Metode ceramah
Metode ini tergolong metode konvensional yang terkesan judul. Dalam metode ini,
guru lebih banyak berbicara dibandingkan siswa. Karena peran guru dalam metode ini
adalah mentransfer ilmu pengetahuan ke para siswa. Ketika metode ini berdiri sendiri
tanpa adanya penggabungan dengan metode lain, siswa akan merasa bosan,
mengantuk, atau bisa jadi ia malah bersenda gurau dengan temannya.
b. Metode demonstrasi
Metode ini berjalan dengan cara siswa mendemonstrasikan cara kerja suatu proses,
prinsip, dan sebagainya. Dalam metode ini, guru tidak hanya bicara atau ceramah saja.
Tetapi pembelajaran menjadi dua arah, karena siswa pun ikut berperan aktif di dalam
kelas.
c. Metode simulasi
2 | Didin Irawati
Metode ini tergolong sangat menarik, biasanya siswa sangat antusias. Metode simulasi
ialah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan cara memainkan peran‐peran
tertentu yang bukan sesungguhnya.
d. Metode tanya jawab berantai
Metode ini membuat siswa dipacu untuk berpikir. Proses metode ini ialah guru
memanggil seorang siswa untuk mengemukakan pendapat/bertanya.
e. Metode diskusi
Metode ini bertujuan untuk membuat para siswa bertukar pikiran dalam pembelajaran.
Caranya yaitu dengan guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas dengan teman di
dekatnya secara berpasangan.
C. Problematika Dalam Berinteraksi
Hubungan guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar merupakan faktor yang
sangat menentukan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai.
Jika hubungannya baik, maka akan terjadi suatu ikatan batin antara guru dengan siswa
dalam mengajar. Akibatnya, siswa pun sangat senang jika dekat dengan gurunya. Perlu
diketahui bahwa nilai yang baik itu bukan hanya dinilai dengan satuan angka, melainkan
Anda harus melihat dari segi tingkah laku, karakter siswa, hubungan siswa dengan siswa
serta hubungan siswa dengan guru dan sebaliknya. Dapat dikatakan, sebaik‐baiknya
penyampaian materi pelajaran yang diberikan guru, serta betapa sempurnanya metode
yang digunakan, namun jika hubungan guru dengan siswa tidak harmonis, maka dapat
menciptakan suatu hasil yang tidak diinginkan, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran pun
tidak tercapai, prestasi belajar siswa pun rendah.
Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar, salah satunya disebabkan
kurangnya hubungan komunikasi antara guru dengan siswa. Adanya hambatan‐hambatan
tertentu, misalnya kadang‐kadang masih ada sikap otoriter dari guru, sikap tertutup dari
guru, siswa yang pasif, dan latar belakang guru itu sendiri maupun para siswanya.
Lalu bagaimana solusinya? Salah satu cara untuk mengatasinya adalah guru perlu
adanya sikap aktif dari guru kepada siswa dan juga harus bersikap ramah, sebaiknya siswa
juga harus bersikap sopan. Masing‐masing perlu mengetahui latar belakang, baik guru
maupun siswa.
Tugas guru adalah bagaimana harus mendesain agar menciptakan proses belajar
mengajar yang lebih optimal dan menyenangkan. Guru seharusnya dapat mengembangkan
interaksi belajar mengajar yang lebih dimanis untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang
lebih dinamis untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Bentuk‐bentuk kegiatan belajar selain melalui pengajaran di depan kelas, perlu
diperhatikan bentuk‐bentuk belajar yang lain. Guru dapat menanya keadaan siswa dan
sebaliknya siswa, mengajukan berbagai persoalan‐persoalan dan masalah yang sedang
dihadapi di kelas ataupun di rumah. Maka akan terjadi suatu proses interaksi stimulus
respon, ini akan sangat membantu keberhasilan belajar siswa. “Maksudnya berhasil itu
bagaimana?” Berhasil dalam artian tidak hanya sekedar tahu atau mendapatkan nilai bagus
dalam ujian, tetapi soal sikap, mental dan tingkah laku pun menjadi tolok ukur juga.
Mengulik Matematika Asyik | 3
Dari beberapa uraian di atas dapat dipahami, bahwa ketika guru kurang berinteraksi
dengan murid secara rutin akan menyebabkan proses belajar mengajar menjadi kurang
lancar, dan menyebabkan anak didik merasa ada jarak dengan guru. Sehingga siswa segan
untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Kunci keberhasilan guru adalah ketika memiliki rasa sayang terhadap siswa dan siswa
memiliki perasaan itu juga. Terkadang merasa berat akan hal tersebut, terlebih jika Anda
berpikir bahwa mereka bukan anak kandung Anda. Terkadang timbul pertanyaan di pikiran,
“untuk apa saya menyayanginya?” “Anak kandung bukan?” “Saudara juga bukan?”
Pemikiran dan perasaan semacam ini harus dijauhi bagi kita yang berprofesi sebagai guru.
Pemikiran semacam ini akan membawa kita pada kegagalan dalam hal mendidik dan
membimbing siswa.
4 | Didin Irawati
Bab II
Permasalahan Pendidikan Matematika
A. Permasalahan Pendidikan Matematika dan Upaya Pemecahannya
Mengajar adalah suatu kegiatan seni. Selain kompetensi standar, seorang pengajar
harus melibatkan proses intuisi, imaginasi, ekspresi, dan improvisasi dalam mengelola
proses pembelajaran. Intuisi yang dimiliki seseorang adalah suatu bisikan kalbu yang
datangnya dari dalam diri orang tersebut, yang akan memberikan petunjuk bahwa sesuatu
adalah baik (benar) atau buruk (salah) untuk dilakukan. Intuisi juga merupakan suatu
petunjuk bagi seseorang dalam menemukan ide atau gagasan abstrak yang berada di luar
kemampuan rasionalnya. Hal ini, sudah dibuktikan dengan banyaknya para ahli matematika
(matematikawan) yang sudah mengerahkan segala kekuatan dan daya pikirnya untuk
memecahkan suatu permasalahan matematika, ketika ia masih menghadapi kesulitan, maka
ia akan melibatkan intuisinya dalam menemukan ide atau gagasan atau strategi pemecahan
masalah tertentu.
Sampai saat ini, upaya mengembangkan pendekatan dari strategi pembelajaran banyak
dilakukan. Upaya inovasi tersebut secara formal dilakukan oleh para peneliti dan para ahli
pendidikan matematika. Walaupun demikian, peran para guru sebagai ujung tombak
pengelolaan proses pembelajaran matematika di kelas sangat diperlukan. Harus diakui
bahwa, walaupun tidak formal dan terkesan apa adanya, tidak sedikit para guru melaukan
berbagai upaya inovasi pembelajaran. Upaya ini biasanya dilakukan oleh para guru yang
memiliki minat besar dan komitmen yang tinggi untuk memajukan pembelajaran
matematika. Dengan modal pengalaman yang dimiliki selama ia menjadi guru, para guru dari
kelompok ini dapat memunculkan berbagai strategi pembelajaran. Tidak sedikit pula hasil
inovasi mereka yang memberikan hasil yang sukup efektif. Mereka adalah aset yang harus
digali potensinya melalui berbagai adu prestasi.
Selain kekuatan atau potensi yang dimiliki, dalam matematika juga ada masalah dalam
pembelajaran matematika. Masalah tersebut dapat datang dari karakteristik matematika,
medianya, atau faktor perkembangan intelektual siswa, atau kompetensi gurunya. Berikut
ini uraian secara terperinci tentang permasalahan‐permasalahan penting dalam
pembelajaran matematika.
1. Permasalahan yang bersumber dari karakteristik matematika
Sebagaimana yang telah disinggung, bahwa dari karakteristik yang ada pada
matematika, dapat memunculkan potensi maupun permasalahan. Keabstrakan
matematika, selain menjadikan matematika sebagai ilmu pengetahuan yang dapat
memasuki ke berbagai ilmu pengetahuan dan bidang kehidupan, dalam proses
pengajarannya membutuhkan energi yang cukup besar untuk dapat menanamkan
objek‐objek abstrak pada struktur kognitif siswa. Sifat hirarkis materi kajiannya, di
samping menjadikan matematika sebagai ilmu yang terstruktur dengan baik dan
Mengulik Matematika Asyik | 5
sistematis, kehirarkisan ini juga bisa menimbulkan permasalahan tertentu. Jika siswa
tidak siap dengan pengetahuan prasyarat atau pengetahuan pendahulu dari suatu
materi yang akan diajarkan, maka siswa tidak akan dapat menangkap konsep‐konsep,
prinsip‐prinsip, maupun prosedur matematika dengan baik.
Terkait dengan simbol‐simbol, jika siswa tidak memiliki pemahaman yang cukup
memadahi tentang arti simbol‐simbol, maka siswa mungkin dapat mengalami kesalahan
tertentu. Sebagai contoh, ketika guru mengajarkan kepada siswa bahwa 2(a+b) = 2a +
2b, kemudian siswa membuat simpulan bahwa (a+b)2 = a2 + b2, maka apa yang dilakukan
siswa tersebut merupakan kesalahan analogi (mis‐analogy). Ketika guru menjelaskan
bagaimana seharusnya yang benar, siswa baru memahaminya. Guru harus selalu
mengantipasi kemungkinan‐kemungkinan kesalahan atau kesulitan siswa dalam proses
pembelajaran matematika.
2. Permasalahan yang bersumber dari media
Obyek kajian geometri dalam matematika dapat berupa objek 1 dimensi, objek 2
dimensi, objek 3 dimensi atau untuk tingkat‐tingkat tinggi dipelajari pula geometri
untuk objek yang lebih dari 3 dimensi (multidimensi). Sehingga, perlu menyediakan
peragaan yang cocok. Baik melibatkan benda‐benda yang realistik maupun berupa alat
peraga. Jika objek 3 dimensi ditampilkan dalam media 2 dimensi tentunya untuk siswa
dengan tahap perkembangan mental rendah, akan menimbulkan kesulitan tersendiri.
Apabila bangun‐bangun ruang ditampilkan dalam media dimensi dua (gambar di
atas kertas), akan menimbulkan beberapa permasalahan, seperti:
a. Mengapa rusuk kerucut pada gambar itu dikatakan hanya satu?
b. Mengapa sisi‐sisi balok yang ada di gambar dikatakan semuanya berbentuk persegi
panjang? Padahal ada yang tampak seperti jajar genjang?
Beberapa kasus tersebut merupakan permasalahan dalam pembelajaran.
Sehingga perlu dipikirkan alternatif (penggunaan media yang telah representatif.
Masalah lain terkait dengan penggunaan media adalah bahwa, matematika bukan
hanya mempelajari suatu produk, tetapi juga mempelajari prosedur atau sesuatu
yang bersifat proses. Salah satu topik matematika yang melibatkan proses adalah
materi kajian tentang Transformasi. Dalam pembelajarannya harus ditunjukkan
proses terjadinya hasil (posisi akhir) atau bayangan dari suatu titik atau bangun yang
ditransformasikan.
3. Permasalahan yang bersumber dari bahasa
Di samping permasalahan yang ditimbulkan oleh penggunaan media, dapat pula
permasalahan pembelajaran matematika bersumber dari bahasa. Termasuk
permasalahan dalam ketegori ini adalah, permasalahan simbol, permasalahan
penggunaan huruf, maupun permasalahan penggunaan kata.
Burner sangat merekomendasikan keaktifan siswa dalam belajar matematika yang
melibatkan objek‐objek nyata sebagai pendukung proses pembelajaran (misalnya
laboratorium matematika).
6 | Didin Irawati
Dalam pembelajaran matematika, menurut pandangan Burner, siswa melalui 3
tahap berpikir, yaitu:
a. Tahap Enaktif
Pada tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam kegiatan memanipulasi
objek‐objek nyata yang akan diamati sifat‐sifat atau pola‐pola matematisnya.
b. Tahap Ikonik
Pada tahap ikonik, aktivitas yang dilakukan oleh siswa berkaitan dengan objek‐
objek mental yang telah terbentuk dari hasil memanipulasi objek‐objek nyata.
c. Tahap Simbolik
Pada tahap simbolik siswa sudah tidak memerlukan lagi objek‐objek konkret
untuk dimanipulasi, karena pada tahap ini siswa sudah mampu memanipulasi
simbol‐simbol yang menyatakan konsep‐konsep yang telah dimiliki sebagai hasil
pada tahap‐tahap sebelumnya. Siswa yang taraf berpikirnya pada tahap ini sudah
mampu menggunakan notasi metematika tanpa bergantung kepada objek‐objek
nyata.
B. Prinsip Ingat dan Lupa dalam Pembelajaran
Kita perlu untuk memahami mengapa suatu informasi baru mudah ditransfer ke memori
jangka panjang, mengapa informasi yang telah lama berada dalam memori jangka panjang
tetapi karena lama tidak pernah dipanggil ke memori jangka pendek, informasi itu gagal
diingat. Mengapa kepada teori pemrosesan informasi tersebut diharapkan para guru
matematika atau mahasiswa calon guru matematika dapat mengembangkan secara
membangun pengetahuan siswa. Permasalahan tersebut antara lain, mengapa seseorang
bisa ingat atau lupa, faktor‐faktor apa saja yang mempengaruhi daya ingat, dan latihan apa
saja yang diperlukan agar siswa dapat lebih mudah mengingat atau menyimpan suatu
informasi.
Untuk membantu pembaca dalam mengaitkan teori pemrosesan informasi dengan
permasalahan tersebut, akan diuraikan beberapa faktor yang dapat menyebabkan
seseorang lupa atau gagal menyimpan informasi. Faktor tersebut antara lain: (1)
interferensi; (2) hambatan atau kemudahan, dan (3) efek pertama dan terakhir (Postman
dan Underwood, 1973).
a. Intererensi
Intererensi adalah suatu proses yang terjadi ketika seseorang sulit mengingat
kembali informasi tertentu karena bercampur atau terdesak oleh adanya informasi lain
yang baru saja diterima. Misalnya, seorang guru meminta dua kelompok siswa untuk
menghafalkan rumus diameter, keliling, dan luas lingkaran. Beberapa saat kemudian,
guru meminta siswa kelompok pertama untuk mengulang atau memikirkan kembali
rumus‐rumus pada lingkaran tersebut, sementara kepada kelompok siswa kedua guru
meminta agar mereka melanjutkan menghafalkan rumus‐rumus volume bangun ruang.
Maka, siswa pada kelompok kedua akan sulit menuliskan kembali rumus‐rumus
lingkaran. Ini terjadi karena informasi rumus lingkaran tersebut didesak keluar oleh
informasi tentang rumus‐rumus pada bangun ruang.
Mengulik Matematika Asyik | 7
Implikasi prinsip ini dalam proses pembelajaran adalah, hendaknya para guru
matematika memberikan kesempatan yang cukup bagi siswa untuk memproses ulang
informasi yang baru diperolehnya dengan cara mengucapkan atau menuliskannya
kembali, memikirkan atau mengaitkannya dengan konsep lain yang relevan.
Kesempatan memproses kembali dapat diciptakan dengan memberikan pertanyaan‐
pertanyaan terkait dengan informasi tersebut. Apabila pembelajarannya menggunakan
seting kooperatif (kelompok belajar), maka guru dapat meminta tiap‐tiap kelompok
untuk mendiskusikan informasi baru tersebut dalam kelompok masing‐masing.
b. Hambatan dan Kemudahan
Sebagaimana telah diuraikan, bahwa seseorang berpeluang untuk gagal mengingat
kembali suatu informasi karena dihambat oleh munculnya informasi baru. Informasi
baru disini berperan sebagai hambatan. Hambatan ini disebut dengan hambatan
retroaktif. Hambatan ini terjadi karena informasi baru tersebut tidak ada keterkaitan
secara langsung atau tidak memperkuat informasi lama. Sebaliknya, jika informasi baru
tersebut sangat terkait dan mendukung informasi sebelumnya, maka informasi baru
tersebut bukan menjadi hambatan, tetapi menjadi kemudahan. Kemudahan ini disebut
dengan kemudahan retroaktif.
Dalam kejadian lain, seseorang siswa yang terbiasa melakukan operasi penjumlahan
pecahan dengan mengubah dalam bentuk desimal, akan lebih kesulitan belajar dengan
cara biasa (menyamakan penyebutnya) daripada siswa yang belum memiliki
pengetahuan menjumlahkan pecahan dengan mengubahnya dalam bentuk desimal.
Hambatan ini disebut dengan hambatan proaktif.
Perhatikan contoh berikut ini!
Tentukan nilai dari ½ + ¼ !
Cara A Cara B
½ = ½ x 10/10 = 5/10 = 0,5 ½ = ½ x 2/2 = 2/4
¼ = ¼ x 100/100 Jadi ½ + ¼ = 2/4 + ¼ = ¾
= 25/100 = 0,25
Jadi :
½ + ¼ = 0,5 + 0,25
= 0,75 = ¾
Siswa yang terbiasa menyelesaikan soal pecahan dengan cara A, akan lebih sulit
diajari menggunakan cara B daripada siswa yang belum dapat menjumlahkan pecahan
sama sekali. Karena siswa pada tahap ini masih belum dapat berpikir reasional logis. Ia
menganggap bahwa cara yang sudah dimilikinya itulah yang benar sementara cara
lainnya adalah salah.
8 | Didin Irawati
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis hambatan dan kemudahan
yaitu: (1) hambatan dan kemudahan retroaktif; (2) hambatan dan kemudahan proaktif.
Hambatan dan kemudahan retroaktif adalah hambatan yang terjadi apabila informasi
yang berikutnya mempengaruhi informasi yang terdahulu. Sedangkan hambatan dan
kemudahan proaktif adalah hambatan yang terjadi apabila informasi yang terdahulu
mempengaruhi informasi berikutnya.
Contoh hambatan retroaktif adalah ketika seorang anak belajar huruf b, dilanjutkan
dengan belajar huruf d. Maka pengetahuan tentang huruf b berinterferensi huruf d.
Sebagai contoh kemudahan retroatif adalah belajar untuk mengajar matematika
kepada teman sebaya membantu keterampilan matematika yang telah dipelajari
sebelumnya.
Untuk mengatasi hambatan retroaktif adalah dengan menggunakan prinsip, jika
seorang guru mengajar dua materi yang dapat membingungkan siswa sebaiknya tida
diajarkan secara berurutan tanpa jeda. Hambatan retroaktif juga dapat dihindari dengan
memberikan pemahaman konsep yang mendalam dan penuh makna (meaning full).
c. Efek Pertama dan terakhir
Ketika kita mendengar berbagai butir informasi yang saling lepas (tidak berkaitan),
butir informasi yang cenderung dapat kita ingat adalah yang pertama kita dengar atau
yang terakhir kita dengar. Terjadinya fenomena ini tidak lepas dari prinsip interferensi.
Pada fenomena ini interferensi memperkuat butir informasi yang muncul pertama atau
terakhir.
Dalam pembelajaran matematika, fenomena seperti ini sering kita jumpai. Ketika
guru menyisakan waktu sepuluh menit kepada siswanya untuk membaca dan
mengingat berbagai informasi tentang rumus‐rumus berkaitan dengan lingkaran dalam
dan lingkaran luar, siswa cenderung hanya mampu mengingat rumus‐rumus yang
disaikan paling awal. Banyaknya rumus‐rumus yang disajikan paling awal tersebut
mampu diingat siswa sesuai tingkat kecerdasan, pengetahuan awal, dan daya
konsentrasinya ketika membaca. Ada yang hanya mampu mengingat satu rumus
pertama saja, ada yang mampu mengingat dua rumus, dan sebagainya. Dapat pula
terjadi, siswa hanya mampu mengingat rumus‐rumus yang disaikan paling akhir.
Banyaknya rumus yang disajikan paling akhir yang mampu diingat siswa sesuai tingkat
kecerdasan dan saya konsentrasinya ketika membaca.
Menurut Zaenal Arifin, dua kecenderungan itu sulit terjadi secara bersama‐sama.
Artinya siswa sulit mengingat butir informasi paling awal sekaigus mengingat butir
informasi yang paling akhir. Ketika siswa mengingat butir informasi perhatikan pada
awal rangkaian informasi, kemudian berusaha mengalihkan perhatian kepada bagian
terakhir, maka ingatan terhadap butir informasi pertama terdorong oleh informasi
terakhir. Hal ini dapat diatasi dengan memilah‐milah butir informasi berdasarkan
hubungan kedekatan. Rumus‐rumus yang masih memiliki keterkaitan disajikan dalam
satu rangkaian. Rangkaian rumus yang disajikan pun tidak boleh terlalu panjang.
Sebaiknya 2 sampai 3 saja. Setelah rumus tersebut diproses dalam sistem memori dan
Mengulik Matematika Asyik | 9
berhasil ditransfer ke memori jangka panjang secara permanen, maka rumus‐rumus
lainnya boleh disajikan lagi atau diminta kepada siswa untuk mempelajari, memahami,
dan mengingatnya.
Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa, yang dimaksud dengan efek pertama
(Premacy effect) adalah kecenderungan seseorang lebih mudah mengingat butir
informasi yang muncul pada bagian awal suatu rangkaian atau daftar informasi dari
pada bagian butir informasi lainnya. Sedangkan efek terakhir (recency effect) adalah
kecenderungan informasi yang muncul pada bagian akhir dari suatu rangkaian atau
daftar informasi lebih mudah diingat seseorang dari pada butir informasi yang lain.
Berbagai Latihan Memori
Metode yang sering kita gunakan agar suatu informasi lebih mudah dipahami siswa
agar tidak lupa adalah dengan memasukkan informasi dari memori jangka pendek ke
dalam memori jangka panjang dengan cara mengulang‐ulang *researsal). Di samping
metode tersebut ada latihan‐latihan yang harus dilakukan untuk membuat sempurna, di
antaranya adalah:
1) Latihan dengan sistem blok (massed practice) dan sistem terdistribusi (distribute
practice). Latihan dengan sistem blok adalah latihan sedikit demi sedikit setiap hari
selama satu periode waktu tertentu. Sedangkan latihan terdistribusi adalah teknik
di mana butir‐butir yang akan dipelajari diulang‐ulang pada interval waktu selama
suatu periode waktu yang terdistribusi.
2) Belajar sebagian dan menyeluruh. Terkadang masing‐masing siswa memiliki
metode belajar efektif yang berbeda‐beda bergantung minat, kesukaan, dan
kemampuan berpikirnya. Ada kalanya seorang siswa lebih memahami suatu
pelajaran ketika belajar bagian‐bagian dari suatu materi pelajaran. Namun, ada pula
siswa yang lebih cepat menerima sesuatu pelajaran secara keseluruhan (hole
learning) tanpa belajar sebaian (part learning).
3) Keotomatisan
Tidak semua hal yang tercantum dalam materi pelajaran memerlukan
perhatian secara sadar. Kadang kadang tanpa disadari kita bisa menguasai suatu
pelajaran karena sudah menjadi kebiasaan.
Sebagai contoh: ketika kaki kita terinjak oleh kaki teman kita dengan
otomatis mulut kita berteriak kesakitan. Padahal kaki kita yang terasa sait tapi
seluruh tubuh ikut merasakan sait karena seluruh saraf telah mengalirkan informasi
ke otak dan di dalam otak diproses kemudian tanpa sadar kita berteriak “Aduh”
atau “Auw!”.
4) Belajar Lebih (Over Learning)
Tidak sedikit metode yang kita lakukan agar tidak lupa terhadap suatu
informasi yang pernah masuk dalam sistem memori kita. Tetapi tidak dapat
dipungkiri bahwa rajin pangkal pandai, ketika seorang siswa tida mau belajar dan
hanya belajar sekai tentu apa yang akan dipelajari tida akan bertahan lama dalam
memori jangka panjang. Implikasi teori ini dalam pembelajaran matematika adalah
guru harus memberikan percerahan kepada siswa bahwa belajar matematika tidak
10 | Didin Irawati
bisa dilakukan secara sekilas atau sekali waktu saja, tetapi siswa harus menyediakan
waktu yang cukup untuk mencapai pengetyauan yang permanent dalam memori
jangka panjangnya atau dalam struktur kognitifnya.
Jika seorang siswa belajar dengan giat, pada awalnya mereka memahami
sesuatu materi pelajaran kemudian dipelajari terus‐menerus untuk lebih
memperkuat ikatan pengetahuan tersebut atau pengedepanan pengetahuan
mereka akan semakin mantap.
C. Bagaimana Strategi‐strategi Memori Dapat Diajarkan
Sering kali seorang siswa menerima informasi berupa fakta dan mereka dituntut untuk
mengingat seluruh informasi yang diterima sehingga dapat menjawab pertanyaan guru.
Materi‐materi faktual harus dipelajari secara efisien dan efektif. Materi faktual seperti
menghafalkan lambang‐lambang, nama‐nama atau istilah sebaiknya diajarkan secara efisien
dan efektif. Dengan demikian siswa masih memiliki waktu yang cukup untuk belajar secara
bermakna dan belajar cara berpikir seperti pemecahan masalah, konsep, kreatif, dan kritis.
Tetapi untuk materi‐materi yang bukan faktual seperti mempelajari prinsip‐prinsip atau
rumus‐rumus matematika, konsep‐konsep, harus diajarkan secara bermakna sebagai
contoh, ketika mengajarkan Teorema Pytagoras terhadap anak didiknya, sebaiknya guru
menyajikannya secara bermakna, tingkat kebermaknaan ini berbeda‐beda tergantung level
perkembangan mental siswa. Rumus keliling lingkaran bagi siswa SD dapat diajarkan secara
bermakna dengan memperjelas hubungan antara pengertian luas lingkaran, bilangan
konstan atau ketetapan lengkap dengan nilai pendekatannya, dengan jari‐jari atau diameter
lengkap dengan pengertiannya masing‐masing. Untuk siswa SD penyajiannya tidak harus
mencakup pemahaman dari mana rumus tersebut berasal. Bagi siswa SMP di samping harus
bermakna seperti penyajian di SD, pengajarannya harus diarahkan pada pemahaman
tentang asal‐usul rumus ini diperoleh.
Mengulik Matematika Asyik | 11
12 | Didin Irawati
Bab III
Pendekatan Dalam Proses
Pembelajaran Matematika
A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD
Dunia pendidikan sesungguhnya dipenuhi berbagai kebhinekaan. Sebab, tidak ada siswa
yang punya daya tangkap, daya serap, daya pikir dan daya kecerdasan yang sama antara
satu siswa dengan siswa lainnya dalam sebuah kelas atau sekolah. Untuk itu, cara mendidik
pun sesungguhnya berbeda‐beda tergantung tingkat kecerdasan masing‐masing siswa.
Namun, yang terjadi selama ini adalah keseragaman tata cara pendidikan di setiap sekolah,
seakan‐akan semua siswa punya karakteristik yang seragam. Padahal, karakteristik setiap
siswa itu amat berbeda, sehingga cara mengajarnya pun menjadi beragam.
Dalam mengajar hendaknya guru mampu mengasumsikan materi dan menyampaikan
informasi dengan menggunakan berbagai cara agar setiap anak dapat menyerap dan
memahami untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan. Agar proses belajar dapat
berjalan dengan semestinya dan agar murid dapat memperoleh hasil belajar yang baik,
seyogianya guru mengetahui karakteristik siswa.
Pendekatan atau model pembelajaran tradisional cenderung berasumsi bahwa siswa
memiliki kebutuhan yang sama dan belajar dengan cara yang sama pada waktu yang sama,
dalam ruang kelas yang tenang, dengan kegiatan materi pelajaran yang terstruktur secara
ketat dan didominasi oleh guru. Padahal, pendekatan atau pembelajaran tradisional rasanya
sukar untuk mencapai tujuan pendidikan.
Model pembelajaran tradisional yang sekarang banyak diterapkan, cenderung kurang
memperhatikan kelangsungan pengalaman siswa yang diperoleh dalam kehidupan
keluarganya. Hal seperti ini bertentangan dengan karakter usia sekolah dasar. Siswa sekolah
dasar masih mendambakan berlangsungnya pengalaman di lingkungan keluarga dapat
dialami pula di sekolah.
Selain itu, pengalaman mereka yang masih bersifat global menuntut diterapkannya
model pembelajaran yang relevan dengan karakteristik mereka (Briggs dan Fotter, 1990:
Rachman, 1999). Karakteristik siswa‐siswa sekolah dasar adalah senang melakukan kegiatan
manipulatif, ingin serba konkret, dan terpadu. Sumantri dalam buku Materi Pokok MKDK
menyebutkan bahwa:
1. Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain.
2. Karakteristik yang kedua dari anak usia SD adalah senang bergerak, orang dewasa
dapat duduk berjam‐jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama
sekitar 30 menit.
3. Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam
kelompok.
Mengulik Matematika Asyik | 13
4. Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau
melakukan/memeragakan sesuatu secara langsung.
Anak usia SD pada umumnya berada pada tahap berpikir operasional konkret namun
tidak menutup kemungkinan mereka masih berada pada tahap pre‐operasi. Sedangkan pada
setiap tahapan ada ciri‐cirinya sesuai umur kesiapannya. Misalnya, bila anak berada pada
tahap pre‐operasi maka mereka belum memahami hukum‐hukum kekekalan sehingga bila
diajarkan konsep penjumlahan besar kemungkinan mereka tidak akan mengerti. Siswa yang
berada pada tahap operasi konkret memahami hukum kekekalan, tetapi ia belum bisa
berpikir secara deduktif sehingga pembuktian dalil dalil matematika tidak akan dimengerti
oleh mereka. Hanya anak‐anak yang berada pada tahapan operasi formal yang bisa berpikir
secara deduktif.
Memperhatikan karakteristik siswa seperti itu, maka pendekatan atau model
pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi siswa sekolah dasar adalah model‐model
pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan pribadi (Joyce dan Weil, 1992)
atau model interaksi dan transaksi. Pendekatan pembelajaran yang dapat dikembangkan
berdasarkan prinsip‐prinsip tersebut di atas diidentifikasi sebagai berikut.
Pertama‐tama libatkan siswa secara aktif dalam belajar, didasarkan pada perbedaan
individu, kaitkan teori dengan praktik. Kembangkan komunikasi dan kerja sama dalam
belajar. Tingkatkan keberanian siswa dalam mengambil risiko dan belajar dari kesalahan.
Tingkatkan pembelajaran sambil berbuat dan bermain dan sesuaikan pelajaran dengan taraf
perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasional konkretnya.
Penyajian bahan atau pokok‐pokok bahasan yang diberikan kepada anak‐anak usia
sekolah dasar hendaknya didasarkan pada prinsip dari mudah ke sukar, dari sederhana ke
rumit, dari yang bersifat konkret ke abstrak, menekankan pada lingkungan yang paling
dekat dengan anak sampai pada lingkungan kemasyarakatan yang lebih luas.
B. Langkah‐Langkah Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Merujuk pada berbagai pendapat para ahli matematika SD dalam mengembangkan
kreativitas dan kompetensi siswa, maka guru hendaknya dapat menyajikan pembelajaran
yang efektif dan efisien, sesuai dengan kurikulum dan pola pikir siswa. Dalam mengajarkan
matematika, guru harus memahami bahwa kemampuan setiap siswa berbeda‐beda, serta
tidak semua siswa menyenangi mata pelajaran matematika.
Konsep‐konsep pada kurikulum matematika SD dapat dibagi menjadi tiga kelompok
besar, yaitu penanaman konsep dasar (penanaman konsep), pemahaman konsep, dan
pembinaan keterampilan. Memang, tujuan akhir pembelajaran matematika di SD ini yaitu
agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan
sehari‐hari. Akan tetapi, untuk menuju tahap keterampilan tersebut harus melalui langkah‐
langkah benar yang sesuai dengan kemampuan dan lingkungan siswa. Berikut ini adalah
pemaparan pembelajaran yang ditekankan pada konsep‐konsep matematika.
1. Penanaman Konsep Dasar (Penanaman Konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep baru
matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Ketika dapat
mengetahui konsep ini dari isi kurikulum, yang dicirikan dengan kata “mengenal”.
14 | Didin Irawati
Pembelajaran penanaman konsep dasar merupakan jembatan yang harus dapat
menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep baru
matematika yang abstrak. Dalam kegiatan pembelajaran konsep dasar ini, media atau
alat peraga diharapkan dapat digunakan untuk membantu kemampuan pola pikir siswa.
2. Pemahaman Konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang
bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman konsep
terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran
penanaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran
pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan
lanjutan dari pemahaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman konsep
dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, di semester atau kelas
sebelumnya.
3. Pembinaan Keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan
pemahaman konsep. Pembelajaran pembinaan keterampilan bertujuan agar siswa lebih
terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti halnya pada
pemahaman konsep, pembinaan keterampilan juga terdiri atas dua pengertian.
Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dan
pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran
pembinaan keterampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih
merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah
disampaikan pada pertemuan sebelumnya, di semester atau kelas sebelumnya.
C. Teori Pembelajaran Matematika
Dalam pembelajaran matematika di tingkat SD, diharapkan terjadi reinvention
(penemuan kembali). Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian
secara informal dalam pembelajaran di kelas. Walaupun penemuan tersebut sederhana dan
bukan hal baru bagi orang yang telah mengetahui sebelumnya, tetapi bagi siswa SD
penemuan tersebut merupakan sesuatu hal yang baru.
Bruner (Ruseffendi, 1991) dalam metode penemuannya mengungkapkan bahwa dalam
pembelajaran matematika, siswa harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang
diperlukannya. ‘Menemukan’ di sini terutama adalah ‘menemukan lagi’ (discovery), atau
dapat juga menemukan yang sama sekali baru (inventation). Oleh karena itu, kepada siswa
materi disajikan bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya.
Dalam pembelajaran ini, guru harus lebih banyak berperan sebagai pembibing dibandingkan
sebagai pemberi tahu.
Tujuan dari metode penemuan adalah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu
cara yang dapat melatih berbagai kemampuan intelektual siswa, merangsang keingintahuan
dan memotivasi kemampuan mereka. Adapun tujuan mengajar hanya dapat diuraikan
secara garis besar, dan dapat dicapai dengan cara yang tidak perlu sama bagi setiap siswa.
Pada pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara pengalaman belajar
siswa sebelumnya dengan konsep yang akan diajarkan. Hal ini sesuai dengan “pembelajaran
spiral”, sebagai konsekuensi dalil Bruner. Dalam matematika, setiap konsep berkaitan
Mengulik Matematika Asyik | 15
dengan konsep lain, dan suatu konsep menjadi prasyarat bagi konsep yang lain. Oleh karena
itu, siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan keterkaitan tersebut.
Berdasarkan dimensi keterkaitan antarkonsep dalam teori belajar Ausubel, ‘belajar’
dapat diklasifikasikan dalam dua dimensi. Pertama, berhubungan dengan cara informasi
atau konsep pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penerimaan atau penemuan.
Kedua, menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur
kognitif yang telah ada (telah dimiliki dan diingat siswa tersebut).
Siswa harus dapat menghubungkan apa yang telah dimiliki dalam struktur berpikirnya
yang berupa konsep matematika, dengan permasalahan yang dihadapi. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Suparno (1997) tentang belajar bermakna, yaitu “…kegiatan siswa
menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan berupa konsep‐konsep
yang telah dimilikinya”. Akan tetapi, siswa dapat juga hanya mencoba‐coba menghafalkan
informasi baru tersebut, tanpa menghubungkan pada konsep‐konsep yang telah ada dalam
struktur kognitifnya. Hal ini terjadi belajar hafalan.
Ruseffendi (1991) membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna.
Pada belajar menghafal, siswa dapat belajar dengan menghafalkan apa yang sudah
diperolehnya. Sedangkan belajar bermakna adalah belajar memahami apa yang sudah
diperolehnya, dan dikaitkan dengan keadaan lain sehingga apa yang ia pelajari akan lebih
dimengerti. Adapun Suparno (1997) menyatakan bahwa belajar bermakna terjadi apabila
siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka
dalam setiap penyelesaian masalah.
Selain belajar penemuan dan belajar bermakna, pada pembelajaran matematika harus
terjadi pula belajar secara “konstruktivisme” Piaget. Dalam konstruktivisme, konstruksi
pengetahuan dilakukan sendiri oleh siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan
menciptakan iklim yang kondusif.
D. Metode Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah
laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Pembelajaran adalah proses
pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan
dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan
belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan
disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan,
kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain‐lain. Jadi, pembelajaran
adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan
belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
Dalam proses pembelajaran matematika, pengetahuan tentang lambang sigma yang
disampaikan oleh guru dengan metode ceramah (telling) kepada siswa dapat diserap oleh
sebagian siswa, bagi sebagian siswa lainnya informasi tersebut begitu cepat berlalu atau
terlupakan. Siswa yang dapat menyerap informasi tersebut dapat dengan tepat menuliskan
lambang sigma lengkap dengan pengertiannya. Ada pula yang hanya mampu menuliskan
16 | Didin Irawati
lambang sigma tanpa memahami pengertian dari sigma tersebut. Berbagai kemungkinan
terkait dengan daya tangkap seseorang terhadap informasi yang diterima oleh pancaindra
memunculkan pemikiran pada ahli psikologi terkait memori. Salah satu hasil kajian para ahli
psikologi tersebut adalah teori pemrosesan informasi. Teori ini mengkaji tentang
keterkaitan antara memori dan proses belajar seseorang.
Sebagian informasi yang kita tangkap begitu saja terlupakan dalam waktu yang tidak
terlalu lama. Contohnya adalah ketika guru matematika menjelaskan sejumlah istilah yang
menunjuk kepada bagian‐bagian dari suatu lingkaran, sebagian dari unsur‐unsur lingkaran
tersebut dapat diingat dengan baik, tetapi ada unsur‐unsur lingkaran yang dengan mudah
terlupakan. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi daya ingat seseorang terhadap
informasi yang telah diterima oleh pancaindra.
Dalam buku ini akan menggunakan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching
and Learning (CTL) dengan mengambil prinsip‐prinsip (komponen utama) CTL yang ke lima
yaitu pemodelan/demonstrasi seperti yang tertulis dalam buku Arifin : 123.
Komponen pembelajaran kontekstual selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya di
dalam sebuah pembelajaran keterangan atau pengetahuan tertentu terdapat sebuah model
yang bisa ditiru, yang pada dasarnya membahas atau mendemonstrasikan sebuah gagasan
yang dipikirkan guru maupun siswa, misalnya “bagaimana cara belajar”. Dalam hal ini guru
bukanlah satu‐satunya model pembelajaran di kelas, karena model pembelajaran bisa
dilakukan oleh siswa bahkan orang atau benda yang masih ada kaitannya dengan
pembelajaran di kelas, sehingga apa yang dimodelkan tadi dapat menjadikan suatu acuan
pencapaian kompetensi bagi siswa.
Beberapa contoh praktik permodelan di kelas antara lain: (1) guru olah raga memberi
contoh berenang gaya kupu‐kupu; (2) guru geografi menunjukkan peta dalam penentuan
sebuah wilayah; (3) guru biologi mendemonstrasikan penggunaan termometer suhu badan;
(4) guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita pada harian Jawa Pos, dan sebagainya,
sebagai model pembuatan berita.
Salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru dalam mengajar yakni kemampuannya
untuk mengajar secara bervariasi, sehingga murid‐murid dengan karakteristik yang berbeda‐
beda dapat mengikuti pelajaran dengan sebaik‐baiknya.
Sebuah pepatah Cina kuno yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa,
bunyinya :
Saya mendengar, maka saya lupa,
Saya melihat, maka saya ingat,
Saya melakukan, maka saya memahami,
Pepatah tersebut sejalan dengan modalitas yang telah dikemukakan yaitu bahwa murid
mempunyai gaya belajar yang berbeda‐beda: visual, auditorial atau kinestetis. Agar murid‐
murid memperoleh hasil belajar dengan baik, gaya belajarnya harus sesuai dengan gaya guru
dalam mengajar.
Siswa Sekolah Dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13
tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase operasional konkret. Kemampuan yang
Mengulik Matematika Asyik | 17
tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan
kaidah‐kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret.
Dari usia perkembangan kognitif, siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang
dapat ditangkap oleh pancaindra. Dalam pembelajaran matematika yang abstrak, siswa
memerlukan alat bantu berupa media, dan alat peraga yang dapat memperjelas apa yang
akan disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa.
Proses pembelajaran pada fase konkret dapat melalui tahapan konkret, semikonkret,
semiabstrak, dan selanjutnya abstrak.
Dalam matematika, setiap konsep yang abstrak yang baru dipahami siswa perlu segera
diberi penguatan, agar mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa, sehingga akan
melekat dalam pola pikir dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan
adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hafalan atau
mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa.
Kebanyakan proses belajar pada manusia, khususnya belajar di sekolah melibatkan
upaya agar siswa mengerti informasi yang disampaikan kepada siswa. Dengan demikian,
informasi itu tertata rapi dan dalam urutan yang teratur. Sedangkan informasi yang lama
dapat digunakan untuk mengasimilasi informasi atau pengetahuan yang baru.
Kita memiliki keterbatasan dalam menghafal informasi yang tak bermakna (meaning
full). Sementara itu, informasi yang bermakna jauh lebih mudah bagi kita mengingatnya atau
menahannya dalam struktur kognitif. Hafalan yang paling banyak diatasi dengan strategi
nimanik (metode untuk membantu memori) yang melibatkan penambahan makna buatan
kepada susunan atau hubungan kata sembarang dengan maksud untuk memanfaatkan
keuntungan berupa kemudahan yang jauh lebih baik dalam mengingat suatu informasi
bermakna.
Salah satu tugas guru yang paling penting adalah menjadikan informasi bermakna bagi
siswa dengan cara mempresentasikan informasi itu secara jelas dan terorganisasikan
dengan baik, dengan cara menghubungkan informasi itu dengan informasi yang telah ada di
dalam benak siswa, dan menyakinkan bahwa siswa telah benar‐benar memahami konsep
yang diajarkan dan dapat menerapkan konsep itu ke situasi yang baru.
Belajar hafalan versus belajar bermakna
Terkait pendekatan belajar hafalan dan belajar bermakna, Ausubel (1963)
mengemukakan perbedaan antara belajar hafalan dengan belajar bermakna sebagai berikut.
- Belajar hafalan mengacu pada transfer secara langsung informasi dalam struktur
kognitif seseorang tanpa dikaitkan dengan informasi atau pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya. Contoh yang paling mudah adalah seseorang yang hanya
menghafalkan lafal lagu berbahasa Inggris padahal ia tidak mengerti apa artinya. Sudah
tentu informasi tentang lafal lagu ini ditransfer begitu saja dalam memori jangka
panjang tanpa harus dikaitkan dengan pengetahuan sebelumnya. Menghafal fakta‐
fakta atau konsep‐konsep seperti, tabel perkalian, simbol‐simbol kimia untuk unsur‐
unsur, kata‐kata dalam bahasa asing, atau nama tulang dan otot dalam tubuh manusia
adalah contoh belajar hafalan. Contoh lainnya seperti, simbol kimia untuk emas adalah
Au.
18 | Didin Irawati
- Belajar bermakna menghubungkan informasi atau konsep yang telah dimiliki siswa.
Sebagai contoh, perak dan daya hantar listrik. Perak dapat menghantarkan listrik
dengan baik. Hal ini dapat dinyatakan dalam bahasa yang berbeda seperti, perak dapat
menghantarkan listrik dengan sangat baik. Dalam pembelajaran matematika belajar
secara bermakna dapat kita jumpai ketika guru mengajarkan rumus keliling lingkaran
dengan mengemukakan sebuah fakta bahwa bilangan phi (e) adalah perbandingan
antara keliling lingkaran dengan diameternya. Lebih baik lagi jika fakta ini dieksplorasi
sendiri oleh siswa melalui kegiatan aksi (action), yaitu dengan mengukur keliling dan
diameter semua benda‐benda nyata yang berbentuk lingkaran, kemudian
membandingkan antara keliling dan diameternya untuk masing‐masing benda
berbentuk lingkaran tersebut. Maka siswa akan menemukan sebuah fakta bahwa
kelilingnya bila dibagi dengan diameternya menghasilkan suatu bilangan yang sama,
yaitu bilangan phi (). Sehingga hubungan antara, diameter (d), dan kelilingnya (K) n
dapat dinyatakan dengan K = .d ( = 3,14 = 22/7 pembulatan).
Dari hasil studi teoretis sejak tahun 2005 serta studi pengembangan yang dilakukannya,
Zaenal Arifin menemukan bahwa pembelajaran matematika hendaknya diawali dengan
menghadirkan situasi permasalahan realistis atau fenomena alam maupun sosial yang
membuka peluang bagi siswa untuk melakukan tindakan (action), baik secara fisik (physical
action) maupun mental (mental action). Selanjutnya, siswa didorong berpikir reflektif
terhadap fenomena maupun tindakan yang sedang atau telah dilakukan, dan
mengkomunikasikan hasil refleksinya dalam aktivitas interaksi (interaction). Dari hasil aksi,
refleksi ataupun interaksi tersebut siswa diharapkan dapat melakukan formalisasi
(formalization) hingga menuju pada pemahaman matematika formal. Selanjutnya siswa
diharapkan dapat menemukan hubungan antar pengetahuan baru dengan pengetahuan
yang telah dimiliki sebelumnya maupun dengan pengetahuan yang akan dipelajari pada level
berikutnya, serta hubungannya dengan permasalahan sehari‐hari atau permasalahan nyata
(realitic problem) melalui aktivitas interkoneksi (interconnection). Hasil yang diperoleh pada
aktivitas interkoneksi harus mendukung siswa untuk melakukan representasi oleh siswa
melalui aktivitas narasi (narration).
Hal ini relevan dengan teori pemrosesan informasi, bahwa dengan melakukan
representasi sebagai bentuk mental (mental form), informasi baru tersebut dapat lebih kuat
terpancang dalam memori. Representasi ini berupa kata atau kalimat, tindakan (actions)
hasil belajar; gambaran (images) maupun pendapat atau ide abstrak (Matin, 1994:261).
Secara ringkas teori Arifin, menyarankan 6 tahap dalam proses pembelajaran matematika,
meliputi: (1) Aksi (action); (2) Refleksi (reflection); (3) Interaksi (Interaction); (4) Formalisasi
(formalization); (5) Interkoneksi (interconnection); dan (6) Narasi (narration).
Pendekatan Matematika Realistik
Banyak hal menjadi perhatian serius bagi para peneliti maupun pengamat pendidikan
matematika, baik pada level lokal, nasional, maupun level internasional. Dari berbagai isu
kajian tersebut dapat diidentifikasi issu‐issu utama pendekatan pembelajaran matematika
Mengulik Matematika Asyik | 19
pada level global (internasional) adalah Realistic Mathematics Education (RME). Istilah ini
diadaptasi di Indonesia dengan nama Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
Proses pembelajaran matematika yang berlangsung di kelas secara umum ditentukan
oleh peranan guru dan siswa sebagai individu yang terlibat langsung. Maka dalam kajian
tentang psikologi pembelajaran matematika selalu mempertimbangkan dua faktor ini. Salah
satu pendekatan yang dikembangkan berdasarkan peran guru dan kondisi, kebutuhan serta
pengalaman sehari‐hari siswa adalah pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).
Pendekatan ini cukup relevan karena mengajarkan matematika seharusnya fokus kepada
apa yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari‐harinya.
1. Falsafah Pendekatan RME
Pendekatan Mtematika Realistik pada dasarnya menganut paham konstruktivisme
dalam konsep maupun implementasinya. Hal ini terlihat dari falsafah, prinsip‐prinsip
dasar, dan karakteristik yang dijadikan acuan kurikulum matematika dengan
pendekatan RME. Falsafah dasar pendekatan ini adalah bahwa “matematika adalah
aktivitas manusia”. Falsafah ini memberikan arah bagi perubahan paradigma
pembelajaran matematika, dari mengajarkan matematika “siap pakai” (matematika
formal) secara langsung menjadi pembelajaran yang menekankan aktivitas manusia
dalam membangun pengetahuan matematika.
2. Prinsip dan Karakteristik RME
Adapun prinsip dasar pendekatan RME adalah: (1) Prinsip reinvention dan progresive
mathematization; (2) Didactical Fenomenology; dan Self‐development model. Ketiga
prinsip dasar tersebut selanjutnya mewarnai 5 (lima) karakteristik RME, yaitu: (1)
matematika didominasi oleh masalah kontekstual, yang bersumber dari dua tujuan,
yaitu melayani sumber pengetahuan dan melayani penerapan pengetahuan
matematika, (2) perhatian ditekankan kepada pengembangan model‐model, situasi,
skema, dan simbol‐simbol matematika; (3) kontribusi (sumbangan) para siswa agar
pembelajaran berjalan secara produktif dan konstruktif; (4) bersifat interaktif; dan (5)
terjadinya “interwinning” (membuat jalinan) antartopik.
3. Keunggulan dan Fokus RME
Desain pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik memiliki dua
keunggulan, yaitu: (1) Menuntun siswa dari situasi realistik (konkrit) atau nyata melalui
proses matematisasi horisontal. Kondisi ini distimulus oleh permasalahan‐permasalahan
kontekstual, dan (2) Dunia nyata dijadikan sebagai titik tolak proses pembelajaran atau
pengembangan konsep; maupun objek‐objek matematika formal.
Dalam pandangan Freudenthal pembelajaran matematika hendaknya memberikan
fokus kepada beberapa hal, antara lain: (1) lebih mengutamakan pembimbingan kepada
siswa untuk menggunakan kesempatan menemukan kembali (reinvention) matematika
dan membawanya kembali dalam kehidupan mereka (Gravemenjer, 1994; Van den
Kooij, 1998); (2) jenis matematika apa yang bermanfaat bagi siswa dan harus dipelajari,
(3) fenomena aktual mana yang mampu menghadirkan peluang bagi siswa untuk
20 | Didin Irawati
membangun pengetahuan dan pemahaman matematika yang dimaksud; (4) bagaimana
mengondisikan agar siswa dapat berinteraksi dengan fenomena aktual tersebut, dan
(5) bagaimana mengidentifikasi problem dan situasi problem yang dapat memberikan
peluang bagi siswa untuk membangun konsep dan strategi matematika (Heuvel &
Panhul‐zen, 2003).
4. Implementasi RME di Indonesia
Dari hasil penelitian‐penelitian di Indonesia, dapat dikemukakan bawa tradisi
mengajar guru‐guru Indonesia masih mengarah pada paradigma lama (mengajarkan
matematika formal secara langsung). Hal tersebut dikuatkan oleh temuan Amin
(2008:81), bahwa, (1) guru‐guru masih cenderung mengajar matematika secara
tradisional walaupun pada saat itu seharusnya mereka menerapkan pendekatan RME;
dan (2) siswa belum terbiasa dengan aktivitas belajar yang mengacu kepada prinsip‐
prinsip RME. Tidak jauh berbeda dengan temuan tersebut, Mustaqimah (dalam Asmin,
2003:10) menemukan bahwa: (1) siswa kesulitan menemukan secara mandiri
penyelesaian dari permasalahan realistik yang diberikan, dan (2) siswa memerlukan
waktu yang lama dalam menyelesaikan tugas realistik. Dari dulu hingga saat ini,
kecenderungan terhadap pengajaran tradisional tersebut masih belum beranjak secara
signifikan. Hal ini ditengarai oleh Suyitno (1988:7) bahwa dalam pengajaran
matematika, cara penyampaian guru cenderung monoton dan membosankan tanpa
variasi kreatif.
Dari uraian fakta tersebut dapat penulis kemukakan bahwa: (1) diperlukan watu
yang lama untuk mensosialisasikan dan membudayakan paradigma baru dalam
pembelajaran matematika; (2) diperlukan kajian lebih mendalam tentang hal‐hal terkait
dengan karakteristik siswa Indonesia dan lingkungan sosialnya; (3) diperlukan langkah
evaluasi yang komprehenshif terhadap program‐program pengembangan pengajaran
matematika yang telah, sedang dan akan dilaksanakan; dan (4) diperlukan gagasan‐
gagasan inovatif dalam rangka penyelesaian alternatif pembelajaran matematika yang
tepat untuk suatu topik tertentu.
Menurut pandangan penulis, hal penting yang dapat dimaknai dari pendekatan
Realistic Matematic Education adalah bahwa pada hakikatnya pembelajaran matematika
harus dimulai dari dunia informal (real world) menuju ke dunia formal dan matematika
formal yang telah terbentuk dalam pikiran siswa harus diupayakan untuk dikaitkan
kembali dengan dunia realita (real world). Sesuatu yang dianggap permasalahan
realistik dalam pendekatan ini, tidak harus sesuatu yang pernah dilihat secara langsung
atau yang benar‐benar telah dialami siswa, melainkan dapat berupa sesuatu yang dapat
diimajinasikan (dibayangkan) oleh siswa. Pendekatan ini lebih tepat diterapkan pada
tingkatan sekolah renda (SD atau SMP tingkat awal).
E. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
Ada lima strategi utama dalam CTL meliputi: (1) Relating, yang berarti bahwa belajar
harus dikaitkan dengan konteks dunia nyata (2) Experiencing, yang berarti ditekankan pada
Mengulik Matematika Asyik | 21
penggalian (explorating), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention); (3) Applying,
yang berarti pengetahuan harus diterapkan dalam konteks pemanfaatannya; (4)
Cooperating, yang berarti belajar melalui kerjasama dan komunikasi interpersonal; dan (5)
Transfering, yang berarti belajar harus melaui pemanfaatan pengetahuan dalam situasi atau
konteks yang baru.
Sedangkan peran guru dalam CTL antara lain: (1) mengkaji konsep dan kompetensi
dasar; (2) memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa, (3) mempelajari
lingkungan sekolah dan tempat karakteristik masyarakat di sekitar siswa; (4) merancang
pengajaran yang relevan dengan CTL; (5) teori atau ilmunya dengan konteks dunia nyata,
dan (6) melakukan penilaian terhadap pemahaman siswa.
Banyak hal menjadi perhatian serius bagi para peneliri maupun pengamat pendidikan,
baik pada level lokal, nasional, maupun level internasional. Dari berbagai issu kajian tersebut
dapat diidentifikasi isu‐isu penting terkait dengan pembelajaran. Salah satu isu utama
pendekatan pembelajaran pada level global (internasional) adalah CTL (Contextual Teaching
and Learning). Khusus untuk matematika CTL ini dikenal dengan istilah RME (Realistic
Mathematics Education) yang dikembangkan di Belanda, sedangkan CTL sendiri
dikembangkan oleh para ahli pendidikan di Amerika.
1. Prinsip‐prinsip (Komponen Utama) CTL
Pada dasarnya penerapan pembelajaran kontekstual diharapkan akan dapat
memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam rangka meningkatkan kualitas
pendidikan secara optimal bahkan maksimal di negara ini. Terdapat tujuh komponen
utama yang mendasari penerapan pembelajaran konstektual di kelas, yaitu: a)
konstruktivisme (constructivism); b) bertanya (questioning); c) menemukan (inquiry); d)
masyarakat belajar (learning community); e) pemodelan (modeling); f) refleksi
(reflection); dan g) penilaian sebenarnya (authentic assesment).
a. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran
kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang mana hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Di dalam
komponen ini, pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengonstruksi bukan
menerima pengetahuan.
b. Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari
pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran.
Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berfungsi untuk: (1)
menggali informasi, baik administrasi maupun akademis; (2) mengecek
pemahaman siswa; (3) memecahkan persoalan yang dihadapi; (4) membangkitkan
respon pada siswa; (5) mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa; (6)
mengetahui segala hal yang sudah diketahui; (7) memfokuskan perhatian siswa
pada sesuatu yang dikehendaki guru; (8) untuk membangkitkan lebih banyak lagi
pertanyaan dari siswa; dan (9) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
22 | Didin Irawati
Terdapat beberapa proposisi tentang pentingnya question dalam
pembelajaran, sebagai berikut:
a) Question sebagai strategi mengajar yang umum dan dapat diterapkan dalam
hal apa saja,
b) Teknik bertanya yang sistematis di dalam penggunaan dan pengembangan
dapat memperbaiki kualitas siswa dalam belajar,
c) Guru dapat menentukan tingkatan kognitif, efektif, tingkat awal pengetahuan
siswa untuk bidang‐bidang pelajaran secara profesional dengan cara
mengklasifikasi pertanyaan menurut sistem tertentu,
d) Ada berbagai jenis pilihan pertanyaan yang terbuka bagi guru untuk diajukan
kepada siswa.
c. Menemukan (Inquiry)
Inquiry merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar
di depan kelas dalam banyak konteks. Guru menggunakan teknik ini dengan tujuan
agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti sendiri
pemecahan masalah itu. Teknik ini dapat dilaksanakan dengan baik, jika
memerlukan kondisi yang fleksibel (bebas untuk berinteraksi) lingkungan yang
responsif, bebas dari tekanan dan dapat mempermudah siswa serta guru untuk
dapat memusatkan perhatian.
Di dalam teknik inquiry ini guru mempunyai peranan antara lain: (1) menstimulir
dan menantang siswa untuk berpikir; (2) memberikan fleksibilitas atau kebebasan
untuk berinisiatif serta bertindak; (3) memberikan dukungan untuk menemukan
sebuah penemuan oleh siswa; (4) menentukan diagnosa kesulitan‐kesulitan siswa
dan membantu mengatasinya; (5) mengidentifikasi dan menggunakan “teach able
moment” sebaik‐baiknya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Belajar dalam kelompok tetap lebih baik hasilnya dari pada belajar sendiri,
tetapi learning community bisa berjalan jika tidak ada pihak yang dominan dalam
komunikasi, maksudnya tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, di sini
semua pihak saling mendengar. Karena konsep learning community dapat terjadi
apabila adanya komunikasi dua arah artinya semua yang terlibat dalam komunikasi
pembelajaran akan saling belajar, hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama atau
sharting, dengan orang lain. Praktik learning community dapat terwujud dalam
bentuk: (1) bekerja dalam pasangan; (2) pembentukan kelompok kecil maupun
besar; (3) bekerja dengan kelas sederajat dan bekerja kelompok dengan kelas di
atasnya; (4) bekerja dengan masyarakat atau mendatangkan ahli ke kelas (tokoh,
dokter, pengurus organisasi, dan sebagainya.
Mengulik Matematika Asyik | 23
e. Pemodelan (Modeling)
Komponen pembelajaran kontekstual selanjutnya adalah pemodelan.
Maksudnya di dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan
tertentu terdapat sebuah model yang bisa ditiru, yang pada dasarnya membahas
atau mendemonstrasikan sebuah gagasan yang dipikirkan guru maupun siswa,
misalnya “bagaimana cara belajar”. Dalam hal ini guru bukanlah satu‐satunya
model pembelajaran di kelas, karena model pembelajaran bisa dilakukan oleh
siswa bahkan orang atau benda yang masih ada kaitannya dengan pembelajaran
di kelas, sehingga apa yang dimodelkan tadi dapat menjadikan suatu acuan
pencapaian kompetensi bai siswa.
Beberapa contoh praktik permodelan di kelas antara lain: (1) guru olah raga
memberi contoh berenang gaya kupu‐kupu; (2) guru geografi menunjukkan peta
dalam penentuan sebuah wilayah; (3) guru biologi mendemonstrasikan
penggunaan termometer suhu badan; (4) guru bahasa Indonesia menunjukkan
teks berita pada harian Jawa Pos, dan sebagainya, sebagai model pembuatan
berita.
f. Refleksi (Reflektion)
Refleksi merupakan langkah akhir dari belajar, karena pada dasarnya pada
komponen ini terdapat cara berpikir tentang apa yang baru kita pelajari atau
berpikir ke belakang tentang apa‐apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu.
Guru perlu melakukan refleksi pada akhir program pembelajaran, realisasinya
berupa: (1) pernyataan langsung tentang apa yang telah diperolehnya hari itu; (2)
catatan atau jurnal di buku siswa; (3) kesan dan saran siswa mengenai
pembelajaran pada hari itu; (4) diskusi, hasil karya dan cara‐cara lain yang
ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang
materi yang dipelajari.
g. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)
Komponen terakhir ini merupakan prosedur penilaian pada pembelajaran
kontekstual. Autentic Assesment mempunyai prinsip dan ciri‐ciri penilaian
autentik antara lain: (1) harus mengukur semua aspek pembelajaran mulai
proses, kinerja dan produk (2) dilaksanakan selama dan sesudah proses
pembelajaran berlangsung; (3) menggunakan berbagai cara dan sumber; (4) tes
hanya salah satu alat pengumpul data penilaian; (5) tugas harus mencerminkan
kehidupan nyata pada siswa; (6) penilaian harus menekankan kedalaman
pengetahuan dan keahlian siswa, bukan kuantitas atau keluasannya.
Pembelajaran kontekstual tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa,
tetapi juga apa yang akan dilakukan siswa. Penilaian itu mengutamakan
penilaian kuantitas hasil kerja siswa dalam menyelesaikan tugas. beberapa hal
yang menjadi dasar penilaian siswa, sebagai berikut : (1) kegiatan dan laporan
(hasil tes tulis); (2) pekerjaan rumah; (3) kuis, karya siswa, karya tulis dan
24 | Didin Irawati
prestenasi siswa; (4) demonstrasi, kelompok diskusi, laporan dan jurnal; (5)
wawancara; dan (6) portofolio.
2. Strategi Umum Pembelajaran Kontekstual
Dalam menerapkan pembelajaran kontekstual diperlukan beberapa strategi yang
tepat dalam pengajaran matematika. Center of Occupational Research and
Development (CORD) (dalam Nurhadi dan Senduk, 2003) menyampaikan lima strategi
yang dapat ditempuh para pendidik dalam menerapkan pembelajaran kontekstual. Lima
strategi tersebut disingkat dengan REACT, yang terdiri dari:
1. Relating : Dalam pembelajaran matematika, hendaknya pengetahuan matematika,
baik berupa konsep‐konsep, prinsip, skill, maupun fakta‐fakta harus dikaitkan
dengan konteks dunia nyatra atau konteks lingkungan sekitar siswa. Dengan kata
lain belajar matematika seharusnya dikaitkan dengan konteks pengalaman
kehidupan nyata siswa.
2. Experiencing : Belajar matematika hendanya ditekankan kepada penggalian atau
eksplorasi, penemuan (discovery), dan penciptaan (invention), ide‐ide, gagasan oleh
siswa secara mandiri.
3. Applying : Belajar pengetahuan matematika seharusnya dipresentasikan di dalam
konteks pemanfaatannya. Dengan kata lain setiap mengajarkan suatu pengetahuan
matematika kepada siswa, guru hendanya senantiasa berpikir tentang keterkaitan
pengetahuan yang diajarkannya tersebut dengan kehidupan nyata atau
pengalaman nyata sehari‐hari.
4. Cooperating : Belajar matematika seharusnya dilakukan melalui konteks komunikasi
interpersonal, komunikasi dengan fenomena alam atau sosial yang dikaji dalam
suatu interaksi sosial siswa dalam proses belajar mengajar, pelaksanaan tanggung
jawab bersama, dan sebagainya.
5. Transfering : Belajar matematika hendanya dilakukan melalui pemanfaatan
pengetahuan dalam situasi atau konteks baru di lingkungan kehidupan nyata siswa.
Mengulik Matematika Asyik | 25
26 | Didin Irawati
Bab IV
Perkalian dan Pembagian
S ebelum memulai pembelajaran matematika kelas lima guru memberikan soal
perkalian untuk menguji sejauh mana anak‐anak hafal perkalian. Setelah anak selesai
mengerjakan, dikoreksi bersama. Ternyata dari hasil tersebut diketahui bahwa masih
banyak siswa yang belum hafal perkalian 1 – 100. Maka guru perlu memberikan kesempatan
belajar perkalian untuk anak‐anak. Ada sembilan tahapan yang perlu dilakukan anak untuk
bisa menghafal perkalian 1 – 100. Berikut ini langkah langkahnya:
Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3
1 x 1 = 1 2 x 2 = 4 3 x 9 = 27
2 x 1 = 2 3 x 2 = 6 4 x 9 = 36
3 x 1 = 3 4 x 2 = 8 5 x 9 = 45
4 x 1 = 4 5 x 2 = 10 6 x 9 = 54
5 x 1 = 5 6 x 2 = 12 7 x 9 = 63
6 x 1 = 6 7 x 2 = 14 8 x 9 = 72
7 x 1 = 7 8 x 2 = 16 9 x 9 = 81
8 x 1 = 8 9 x 2 = 18
9 x 1 = 9
10 x 1 = 10
Tahap 4 Tahap 5 Tahap 6
3 x 5 = 15 3 x 3 = 9 4 x 3 = 12
4 x 5 = 20 4 x 4 = 16 6 x 3 = 18
5 x 5 = 25 6 x 6 = 36 7 x 3 = 21
6 x 5 = 30 7 x 7 = 49 8 x 3 = 24
7 x 5 = 35 8 x 8 = 64
8 x 5 = 40
Tahap 7 Tahap 8 Tahap 9
6 x 4 = 24 7 x 6 = 42 8 x 7 = 56
7 x 4 = 28 8 x 6 = 48
8 x 4 = 32
Mengulik Matematika Asyik | 27
Siswa diminta membentuk kelompok, setiap kelompok terdiri 4 orang. Siswa diberi dua
macam perkalian seperti di atas. Tabel yang satu ada jawaban dan tabel yang kosong untuk
menguji hafalan siswa. Semua siswa diberi waktu 15 menit untuk menghafal. Kemudian
siswa diuji oleh kelompok masing‐masing bergiliran menghafal. Pada saat salah satu siswa
menghafal maka siswa yang lain menyimak sambil memperkuat hafalan mereka. Apabila
siswa sudah hafal tahap 1 maka lanjut ke tahap 2 sampai tahap 9. Apabila ada tahapan yang
belum hafal tidak boleh naik ke tahap berikutnya. Begitu seterusnya dilakukan secara
bergiliran. Setiap siswa mempunyai kemampuan dan daya ingat yang berbeda‐beda.
TABEL HAFALAN SISWA
Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3
3x9=
1x1= 2x2= 4x9=
5x9=
2x1= 3x2= 6x9=
7x9=
3x1= 4x2= 8x9=
9x9=
4x1= 5x2=
5x1= 6x2=
6x1= 7x2=
7x1= 8x2=
8x1= 9x2=
9x1=
10 x 1 =
Tahap 4 Tahap 5 Tahap 6
3x5= 3x3= 4x3=
4x5= 4x4= 6x3=
5x5= 6x6= 7x3=
6x5= 7x7= 8x3=
7x5= 8x8=
8x5=
Tahap 7 Tahap 8 Tahap 9
6x4= 7x6= 8x7=
7x4= 8x6=
8x4=
Selain tahap demi tahap ada juga cara lain untuk memudahkan perkalian dengan cara
pendekatan/PDKT yaitu: 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12.
Contoh:
1. 8 x 9 = ….
Bilangan 8 untuk mendekati 10 yaitu 2
2 1
8 x 9 =
28 | Didin Irawati
Kemudian 2 x 1 = 2
2 1
8 x 9 = 2
Kemudian
9 – 2 = 7
Atau
8 – 1 = 7 maka bisa ditulis
2 1
8 x 9 = 72
2. 7 x 9 = ….
3 1
7 x 9 = 63 3 x 1
7 – 1 atau 9 – 3
3. 6 x 6 = ….
4 4
6 x 9 = 36 4 x 4 = 16 ditulis 6 nyimpan 1
6 – 4 + 1 = 3
4. 7 x 8 = ….
3 2
7 x 8 = 56 3 x 2
8 – 3 = 5 atau 7 – 2 = 5
+2 +3
5. 12 x 13 = 15 6 2 x 3 = 6
Karena bilangannya lebih dari 10
Maka dijumlahkan
12 + 5 = 15
13 + 2 = 15
Mengulik Matematika Asyik | 29
Untuk perkalian bilangan belasan ada juga cara lain.
12 14
13 x 16 x
15 6 2 x 3 224 4 x 6 = 24 ditulis 4 nyimpan 2
12 + 3 = 15 (14 + 6) + 2 = 22
15
17 x
25 5 5 x 7 + 3 = 25 nyimpan 3
15 + 7 + 3 = 25
Perkalian yang angka satuannya berjumlah 10
6 7
613 x
42 21 7 x 3 = 21
6 x (6 + 1) = 42
4 4
416 x
20 24 4 x 6 = 24
4 x (4 + 1) = 20
9 3
917 x
90 21 3 x 7 = 21
9 x (9 + 1) = 90
7 2
718 x
56 16 2 x 8 = 16
7 x (7 + 1) = 56
Operasi Perkalian
30 | Didin Irawati
1. Mengalikan bilangan kelipatan 10
Abaikan nolnya dan kalikan bilangan aslinya saja kemudian tambahkan nol di
belakangnya.
Contoh:
20 x 30 = 2 x 3 = 6 belakang tambah nol dua = 600
40 x 60 = 2400
30 x 1500 = 45000 (nol nya ada tiga, di kiri satu dan di kanan dua)
50 x 700 = 35000
300 x 800 = 240000 (nol ada 4, dua di kiri dan dua di kanan)
2. Perkalian istimewa belasan
a. 12 x 13 =
2 x 3 = 6 (satuan)
12 + 3 = 15 untuk depannya ratusan dan puluhan
Jadi 12 x 13 = 156
b. 12 x 14 =
2 x 4 = 8
12 + 4 = 16
Jadi 12 x 14 = 168
c. 14 x 15 =
4 x 5 = 20 ditulis 0 sisa 2
14 + 5 = 19 tambah sisa 2 = 21 jadi 14 x 15 = 210
3. Perkaian bilangan satuan satu
a. 21 x 31 =
Belakang 1 x 1 = 1
Tengah 2 + 3 = 5
Depan 2 x 3 = 6
Jadi 21 x 31 = 651
b. 41 x 51 =
Belakang 1 x 1 = 1
Tengah 4 + 5 = 9
Depan 4 x 5 = 20
Jadi 21 x 31 = 2091
Mengulik Matematika Asyik | 31
c. 71 x 91 =
Belakang 1 x 1 = 1
Tengah 7 + 9 = 16 ditulis 6 sisa 1
Depan 7 x 9 = 63 + 1 sisa = 64
Jadi 21 x 31 = 6461
4. Perkalian dengan angka 11
a. 15 x 11 = …
15 x 11 = 1 … 5 dan tengahnya diisi dengan jumlah kedua angkanya 1 + 5 = 6
Jadi 15 x 11 = 165
b. 27 x 11 = …
2 … 7 = 2 + 7 = 9 diletakkan di tengahnya
27 x 11 = 297
c. 123 x 11 = …
Depan dan belakang angka 1 dan menyisipkan jumlah angka yang ada
13 x 1 = 1 (1 + 2) (2 + 3) 3 jadi = 1353
d. 23454 x 11
24 x 1 = 2 (2 + 3) (3 + 4) (5 + 4) 4 = 25794
5. Perkalian dengan angka 9 ingat teman angka ketentuan (satuannya ditemankan)
(satuan – 1), (belasan – 2), (dua puluhan – 3), (tiga puluhan – 4) dst
a. 8 x 9 = …
(8 – 1) = 7 dan teman 8 adalah 2 jadi 8 x 9 = 72
b. 13 x 9 = …
(13 – 2) = 11 dan teman 3 adalah 7 jadi 13 x 9 = 117
c. 37 x 9 = …
(37 – 4) = 33 dan teman 7 adalah 3 jadi 37 x 9 = 333
d. 78 x 9 = …
(78 – 8) = 70 dan teman 8 adalah 2 jadi 78 x 9 = 702
e. 95 x 9 = …
(95 – 10) = 85 dan teman 5 adalah 5 jadi 95 x 9 = 855
f. 42 x 9 = …
(42 – 5) = 37 dan teman 2 adalah 8 jadi 42 x 9 = 378
32 | Didin Irawati
6. Perkalian Mendatar (perkalian dengan kecepatan olimpiade)
Perkalian bebas saat ini banyak ditemukan di dunia matematika karena kreativitas
siswa sangat berpengaruh terhadap kesukaan utak atik angka yang menimbulkan
gairah ingin tahunya lebih banyak. Perkalian ini pada dasarnya untuk menyingkat waktu
dan perkalian yang tidak menyimpan jadi perkaliannya ditulis apa adanya.
Contoh contoh perkalian dengan kecepatan:
a. 214 x 6 = 2 4 (hasil 4 x 6)
6 (hasil 1 x 6)
1 2 (hasil 2 x 6)
1 2 8 4
b. 38 x 7 = 21 56 dan sepannya satuan dijumlah 5 + 1 = 6 jadi 38 x 7 = 265
c. 75 x 5 = 35 25 dan depan satuan dijumlah 2 + 5 = 7 jadi 75 x 5 = 375
d. 23 x 12 = belakang 3 x 2 = 6
Tengah 3 x 1 = 3
Tengah 2 x 2 = 4
Depan 2 x 1 = 1
1 7 6 +
e. 37 x 24 = belakang 7 x 4 = 2 8
Tengah 7 x 2 = 1 4
Tengah 3 x 4 = 1 2
Depan 3 x 2 = 6
8 8 8 +
Operasi Pembagian Cara Mendatar
a. 531 : 3 = …
5 : 3 = 1 sisa 2
23 : 3 = 7 sisa 2
21 : 3 = 7 jadi 531 : 3 = 177
b. 5416 : 4 = …
5 : 4 = 1 sisa 1
14 : 4 = 3 sisa 2
21 : 4 = 5 sisa 1
16 : 4 = 4 jadi 5416 : 4 = 1354
c. 6510 : 5
Mengulik Matematika Asyik | 33
6 : 5 = 1 sisa 1
15 : 5 = 3
I : 5 karena tidak bisa dibagi 5 maka ditulis angka 0
10 : 5 = 2 jadi 6510 : 5 = 1302
d. 96 : 16 = dibagi menjadi 2 tahap 96 : (4 x 4) = atau 96 : 4 : 4 = bisa juga tahap lain 16 = 8 x
2
96 : 16 = = 96 : 4 : 4 tahap 1
96 : 4 =
9 : 4 = 2 sisa 1
16 : 4 = 4 Jadi 96 : 4 = 24 dan tahap 2 yaitu hasil tahap 1 dibagi yang kedua
24 : 4 = 6 Jadi 96 : 16 = 6
e. 525 : 21 = … (21 di tahap yaitu 3 x 7)
525 : 3 tahap 1
5 : 3 = 1 sisa 2
22 : 3 = 7 sisa 1
15 : 3 = 5 jadi 525 : 3 = 175, tahap 2
175 : 7 =
17 : 7 = 2 sisa 3
35 : 7 = 5 jadi 175 : 7 = 25
Jadi jawaban akhir 252 : 21 = 12
f. 945 : 35 = … (35 di tahap yaitu 5 x 7)
945 : 5 = 189, tahap 1
189 : 7 = 27
Jadi 945 : 35 = 27
g. 912 : 16 = … (16 ditahap yaitu 8 x 2)
912 : 8 = 114 tahap 1
114 : 2 = 57 jadi 912 : 16 = 57
h. 8950 : 25 = … (25 ditahap yaitu 5 x 5)
8950 : 5 = 1790 tahap 1
1790 : 5 = 358 jadi 8950 : 25 = 358
34 | Didin Irawati
Bab V
Operasi Hitung Pecahan
M ateri operasi hitung pecahan ini mempunyai tujuan pembelajaran sebagai berikut
:
1. Melakukan operasi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda
2. Melakukan operasi pengurangan pecahan dengan penyebut berbeda
3. Melakukan operasi perkalian pecahan dan desimal
4. Melakukan operasi pembagian pecahan dan desimal
5. Menyelesaikan masalah kehidupan sehari‐hari yang berkaitan dengan operasi hitung
pecahan.
Sebelum melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan
penyebut berbeda, maka anak‐anak perlu diingatkan kembali tentang KPK yang pernah
mereka pelajari di kelas 4. Pembelajaran KPK ini biasanya sepaket dengan FPB. Guru
mengajak siswa untuk kembali mempelajari KPK dan FPB karena keduanya selalu keluar
pada saat ujian di kelas 6. Di kelas 4 anak‐anak mempelajari KPK dan FPB melalui pohon
faktor dan tabel. Di kelas 5 ini guru mengajak siswa belajar KPK dan FPB melalui permainan
dakon agar mereka bisa belajar sambil bermain. Guru menyiapkan alat peraga berupa
permainan dakon.
Berikut ini macam macam permainan dakon dan kegiatan yang dilakukan siswa. Alat
dan bahan untuk pembuatan dakon.
Alat : cuter, penggaris
Bahan : bola, benik, lem, biji bijian, peluru mainan, stereofoam
Permainan dakon ini bisa dilakukan berpasangan atau dua orang dan juga bisa dilakukan
tiga orang tergantung berapa banyak jumlah bilangan yang akan dicari KPK dan FBP‐nya.
Alat Peraga Dakon
Sumber : Pribadi
Mengulik Matematika Asyik | 35
Kegiatan siswa berpasangan
36 | Didin Irawati
Permainan Dakon dilakukan bertiga
Selain itu, ada trik‐trik lain yang lebih cepat untuk menemukan KPK dan FPB. Berikut ini
langkah‐langkah pembelajarannya.
Mengulik Matematika Asyik | 37
Faktor Persekutuan Terbesar dan Kelipatan Persekutuan Terkecil
Mengenal bilangan prima 27 bilangan prima dari 1 sampai dengan 100
Bilangan prima adalah bilangan yang habis dibagi dengan bilangan itu sendiri.
Bilangan Prima 1 – 100
2 3 5 7
11 13 17 19
23 29 31 37
41 43 47 53
57 59 61 67
71 73 79 83
89 91 97
Angka 1 tidak termasuk bilangan prima karena angka 1 adalah bilangan yang
dipergunakan membagi bilangan prima yang lain.
Dalam perkembangan dunia matematika cara mencari FPB dan KPK banyak metodenya,
dan buku di dunia memberikan kebebasan cara termudah untuk menyelesaikan persoalan
yang dicari dari sebuah soal matematika. Dunia pendidikan mengimbau untuk memberikan
kebebasan berpikir supaya anak siswa dan guru bisa kreatif dalam mengerjakan matematika
akhirnya bisa menyenangkan dan memudahkan guru dan siswa mempelajari FPB dan KPK.
Rumus FPB = bisa membagi soal, dalam soal cerita membahas masalah benda hisup atau
benda mati, contoh; binatang, gajah, kera, harimau, buah, mangga, nangka, rambutan,
warna, merah, putih, biru, seragam, baju, celana, jas, dasi, kelereng dan lain‐lain.
Rumus KPK = (angka 1 x angka 2) : FPB
Dalam soal cerita mempunyai ciri khas yaitu membahas soal WAKTU, misalnya ada kata
detik, menit, jam, hari, Senin, Selasa, Rabu, Minggu, bulan, Januari, Maret, Juni, tanggal,
tahun dan lain‐lain.
Metode 1
Faktor Persekutuan
Contoh :
1. Berapa FPB dan KPK dari 12 dan 18
Faktor dari 12 adalah 1, 2, 3, 4, , 12
Faktor dari 18 adalah 1, 2, 3, , 9, 18
Faktor yang sama paling besar adalah 6 makanya FPB = 6
KPK = (12 x 18) : 6 = 2 x 18 = 36 (gunakan penyederhanaan bilangan)
2. Berapa FPB dan KPK dari 6 dan 15
Faktor dari 6 adalah 1, 2, , 6
38 | Didin Irawati
Faktor dari 15 adalah 1, , 5, 15
FPB = 3 karena angka 3 adalah yang sama paling besar
KPK = (6 x 15) : 3 = 2 x 15 = 30
Metode 2
Selisih dan Selisih Berjenjang dalam mencari FPB
Selisih dua bilangan sampai bisa membagi dua angka soalnya.
1. Berapa FPB dan KPK dari 12 dan 18
Selisih 18 – 12 = 6 (FPB) karena selisih 6 ternyata bisa membagi 12 dan 18
KPK = (12 x 18) : 6 = 2 x 18 = 36
Hasilnya sama dengan metode pemfaktoran
2. Berapa FPB dan KPK dari 20 dan 24
Selisih 24 – 20 = 4 (FPB)
KPK = (20 x 24) : 4 = 20 x 6 = 120
3. Dua lampu menyala setiap 8 detik dan 12 detik, lama waktu yang diperlukan untuk bisa
menyala bersama adalah …
Ada kata detik berarti fokus mencari KPK!
Selisih = 12 – 8 = 4 (FPB)
KPK = (8 x 12) : 4 = 8 x 3 = 24 . lama waktu yang diperlukan untuk menyala bersama = 24
detik.
Metode 3
Selisih Berjenjang, selisihkan terus sampai bisa membagi soal
1. Berapa FPB dan KPK dari 10 dan 25
Selisih 25 – 10 = 15 (ternyata 15 tidak bisa membagi 25 dan 10 maka diselisihkan kembali)
Selisih jenjang 15 – 10 = 5 (FPB) karena 5 bisa membagi 10 dan 25
KPK = (1o x 25) : 5 = 2 x 25 = 50
2. Berapa FPB dan KPK dari 12 dan 20
Selisih 20 – 12 = 5 (bukan FPB)
Selisih jenjang = 12 – 8 = 4 (FPB)
KPK = (8 x 12) : 4 = 8 x 3 = 24
3. Sirine A berbunyi setiap 9 menit dan sirine B setiap 15 menit. Jika sirine berbunyi
pertama kali pada pukul 9.00, pada pukul berapa akan berbunyi bersama yang kedua
kalinya.
Selisih 15 – 9 = 6 (bukan FPB)
Selisih jenjang = 9 – 6 = 3 (FPB)
KPK = (9 x 15) : 3 = 9 x 5 = 45 menit
Pukul ; 9.00 + 45 menit jadi pukul 9.45 akan berbunyi bersama yang kedua kalinya.
Ada kata menit berarti soal fokus pada mencari KPK
Carilah FPB dan KPK bilangan‐bilangan di bawah ini.
8 dan 6
FPB = 8 – 6 = 2
Mengulik Matematika Asyik | 39
KPK = = 24
20 dan 15
FPB = 20 – 15 = 5
KPK = = 60
72 dan 96
FPB = 96 – 72 = 24
KPK = = 288
48 dan 32
FPB = 48 – 32 = 16
KPK = = 96
Metode 4
Sisa Hasil Bagi untuk menentukan FPB (angkanya jauh jaraknya)
Contoh mencari FPB dan KPK dengan sisa hasil bagi
1. Berapa FPB dan KPK dari 16 dan 120
120 : 16 = 7 sisa 8 (8 = FPB)
KPK = (16 x 120) : 8 = 2 x 120 = 240
2. Berapa FPB dan KPK dari 12 dan 54
54 : 12 = 4 sisa 6 (6 = FPB)
KPK = (12 x 54) : 6 = 2 x 54 = 108
3. Berapa FPB dan KPK dari 18 dan 27
27 : 18 = 1 sisa 9 (9 = FPB)
KPK = (18 x 27) : 9 = 2 x 27 = 54
Metode 5
Habis Dibagi
Contoh soal :
1. Berapa FPB dan KPK dari 15 dan 45
45 : 15 = 3 tidak sisa maka FPB = 15 dan KPK = 45
2. Berapa FPB dan KPK dari 14 dan 28
28 : 14 = 2 tidak bersisa maka 14 = FPB dan KPK = 28
40 | Didin Irawati
Metode 6
Memilih Salah Satu Faktor Perkalian dari Sebua Bilangan
Contoh soal :
1. Berapa FPB dan KPK dari 6 dan 9
6 9
2 x
FPB 18 KPK bisa dibalik yang difaktorkan adalah yang 9, hasilnya juga sama
2. Berapa FPB dan KPK dari 14 dan 35
14 35
FPB x = 70 KPK
2
3. Berapa FPB dan KPK dari 12 dan 20 Harus memilih faktor kalinya
Faktor 12 = 3 x 4 atau 2 x 6 (dari angka 2, 3, 4, 6 yang paing besar membagi 20 adalah
4 = FPB)
Jadi gunakan faktornya 3 x 4 bukan 2 x 6 untuk 12‐nya
12 20
FPB x 60 KPK
3
.
Metode 7
Pengetahuan yaitu Bilangan Prima
Apabila sebuah angka adalah bilangan prima yang tidak saing membagi maka FPB‐nya
adalah 1 dan KPK‐nya adalah hasil kali dari kedua bilangan tersebut.
Misalnya 3 dan 5, 7 dan 15, 11 dan 19, 23 dan 31 dan lain‐lainnya.
Apabila terjadi angka kembar maka FPB nya 11 misal 22 dan 55, 33 dan 77, 44 dan 99 dan
lain lain.
Pelajarilah dan kuasai metode mencari FPB dan KPK secara modern yang sering
dipergunakan dalam kejuaraan olimpiade sains dan Math baik tingkat nasional ataupun
internasional.
Pengetahuan Umum Ciri Angka yang Habis Dibagi
Angka Habis dibagi Ciri Khusus
1 Bilangan asli jika dibagi 1 adalah bilangan itu sendiri
2 Bilangan genap
Mengulik Matematika Asyik | 41
3 Jumlah angkanya habis dibagi 3
4 Dua angka terakhir habis dibagi 4
5 Bilangan bersatuan 0 atau 5
6 Bilangan itu genap dan jumlahnya habis dibagi 3
8 Tiga angka terakhir habis dibagi 8
9 Bilangan itu berjumlah 9
10 Apabila diberi + dan – bergantian jumlahnya 0
Pengetahuan Angka berjumlah 9 pasti habis sibagi 9, abaikan puluhan dan temankan
satuannya
1. 72 : 9 = teman 2 adalah 8 72 : 9 = 8
2. 36 : 9 = teman 6 adalah 4 36 : 9 = 4
3. 108 : 9 = teman 8 adalah 2 dan ratusannya 1 (buat puluhan), 108 : 9 = 12
4. 342 : 9 = teman 2 adalah 8 dan ratusannya 3 (buat puluhan) jadi 342 : 9 = 38
Metode 8
Tegak Lurus
Contoh : 1. Carilah KPK dan FPB dari 9, 12, dan 15
1) Carilah bilangan yang bisa digunakan membagi
9 3 12 15 ketiga angka itu yaitu 9, 12, dan 15, maka
3 1 4 5 bilangan yang bisa adalah 3. Tulislah angka 3 di
bawah pojok angka 9.
FPB = 3 93 12 15
KPK = Tegak x lurus 2) Carilah bilangan yang jika dikalikan 3 hasilnya 9,
= 3 x 3 x 4 x 5 yaitu 3 maka tuliskan angka 3 di bawah angka 9.
= 3 x 60 93 12 15
= 180 3
3) Carilah bilangan yang jika dikalikan 3 hasilnya 12,
yaitu 4, maka tuliskan angka 4 di bawah 12.
93 12 15
3 4
4) Carilah bilangan yang jika dikalikan 3 hasilnya 15,
42 | Didin Irawati