The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lakeishapenerbit, 2022-10-09 23:56:17

Nilai-Nilai Kejuangan

Nilai-Nilai Kejuangan

NILAI-NILAI
KEJUANGAN

i

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Pasal 1:
1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan

prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa
mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.
Pasal 9:
2. Pencipta atau Pengarang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 memiliki
hak ekonomi untuk melakukan a. Penerbitan Ciptaan; b. Penggandaan Ciptaan
dalam segala bentuknya; c. Penerjemahan Ciptaan; d. Pengadaptasian,
pengaransemen, atau pentransformasian Ciptaan; e. Pendistribusian Ciptaan atau
salinan; f. Pertunjukan Ciptaan; g. Pengumuman Ciptaan; h. Komunikasi Ciptaan;
dan i. Penyewaan Ciptaan.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100. 000. 000, 00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang
Hak C ipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp500. 000. 000, 00 (lima ratus juta rupiah).

ii

Andriyanto, M.Pd.
Drs. Muslikh, M.Pd.
Fauzi Rahman, S.Pd., M.Pd.
Ira Pramudawardhani, M.Pd.
I Made Ratih Rosanawati, M.Pd.
Ageng Sanjaya, S.Pd., M.Pd.

NILAI-NILAI
KEJUANGAN

Penerbit Lakeisha
2022

iii

NILAI-NILAI KEJUANGAN

Penulis:
Andriyanto, M.Pd.
Drs. Muslikh, M.Pd.
Fauzi Rahman, S.Pd., M.Pd.
Ira Pramudawardhani, M.Pd.
I Made Ratih Rosanawati, M.Pd.
Ageng Sanjaya, S.Pd., M.Pd.

Editor: Fauzi Rachman, M.Pd.
Layout: Yusuf Deni Kristanto, S.Pd.
Desain Cover: Tim Lakeisha
Cetak I Oktober 2022
15 cm × 23 cm, 192 Halaman
ISBN: 978-623-420-130-7

Diterbitkan oleh Penerbit Lakeisha
(Anggota IKAPI No.181/JTE/2019)

Redaksi
Srikaton, RT 003, RW 001, Pucangmiliran,
Tulung, Klaten, Jawa Tengah
Hp. 08989880852, Email: [email protected]
Website: www.penerbitlakeisha.com

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan
dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit

iv

PRAKATA

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT. Akhirnya buku berjudul
Nilai-Nilai Kejuangan ini bisa terselesaikan dengan baik. Melihat
kajian tema nilai-nilai kejuangan masih sangat minim ditemukan
dalam bentuk buku. Hal itulah yang menyebabkan Penulis tertarik untuk
menyusun buku dalam kajian nilai-nilai kejuangan.

Dunia Pendidikan mempunyai peranan yang sangat mendasar dalam
membentuk karakter bangsa seperti pemahaman bahwa, arti kampus
adalah “Mendidik para pejuang dan diharapkan setelah selesai akan menjadi
pejuang-pejuang pendidik (pendidikan dan pengetahuan) di bangsa ini.
Tidak ada bangsa yang dapat melarikan diri dari sejarahnya masing-masing.
Begitu juga dengan sejarah bangsa Indonesia yang merupakan peninggalan
perjuangan bangsa dan menjadi nilai karakter bangsa yang terus akan
tertanam dalam hati rakyat Indonesia. Lembaga pendidikan tidak hanya
berkewajiban meningkatkan mutu akademis, tetapi juga bertanggung jawab
dalam membentuk karakter bangsa. Mutu akademis dan pembentukan
karakter yang baik merupakan dua hal yang harus dikombinasikan sebagai
sebuah solusi tantangan dalam masa globalisasi. Buku ini adalah upaya
untuk memperbaiki apa yang menjadi hambatan dalam pemahaman nilai-
nilai kejuangan bangsa dan karakter bangsa Indonesia. Dalam rangka ikut
berpartisipasi pada ranah literasi dengan memperkenalkan nilai kejuangan
dan nilai karakter bangsa Indonesia pada pendidik, mahasiswa, peserta
didik dan masyarakat secaraumum.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan sehingga terwujudlah buku ini. Selama proses
penulisan buku ini, telah banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Tentu saja

v

Penulis (Andriyanto) mengucapkan terima kasih kepada Nita Dewi
Angraini, S.Pd., Lakeisha Diandra Andriyanto, Akhsara Kiandra
Andriyanto yang senantiasa bisa memberikan motivasi untuk tidak lelah
dalam berkarya. Hanya kepada Allah penulis berharap semoga buku ini
menjadi suatu amal yang bermanfaat bagi masyarakat. Penulis menyadari
bahwa pembahasan dalam buku ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Kritik dan saran kami butuhkan guna penyempurnaan
buku ini kedepannya. Salam literasi

Sukoharjo, Oktober 2022
Penulis

vi

DAFTAR ISI

PRAKATA ................................................................................................... v
DAFTAR ISI............................................................................................... vii

BAGIAN PERTAMA PROLOG ................................................................... 1
BAGIAN KEDUA NILAI-NILAI KEJUANGAN BANGSA........................ 6

A. Nilai Kejuangan......................................................................................... 6
B. Pengertian Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai 45 ............................................ 9
C. Pengertian Sejarah dan Bangsa ................................................................ 11
D. Nilai-nilai Kejuangan Bangsa Indonesia ............................................... 15
E. Nilai dan Prinsip yang Diwariskan......................................................... 20
F. Hakikat Mempelajari Perjuangan Bangsa.............................................. 23
G. Ringkasan ................................................................................................ 26
BAGIAN KETIGA MEMBANGUN KARAKTER KEBANGSAAN .............. 27
A. Pengertian Membangun Karakter........................................................... 31
B. Faktor-faktor yang Membangun Karakter ............................................. 33
C. Karakter Bangsa dalam Pancasila .......................................................... 35
D. Ringkasan ................................................................................................ 41
BAGIAN KEEMPAT WAWASAN KEBANGSAAN DAN KETAHANAN
NASIONAL BANGSA INDONESIA ........................................................... 43
A. Wawasan Kebangsaan............................................................................. 43
B. Pembelaan Negara................................................................................... 45

vii

C. Ketahanan Nasional .................................................................................. 46
D. Ringkasan ................................................................................................ 53
BAGIAN KELIMA SEJARAH PERJUANGAN INTEGRASI
KEBANGSAAN ......................................................................................... 54
A. Masa Kedaulatan Nusantara ................................................................... 54
B. Pengaruh Islam dalam Proses Integrasi Bangsa .................................... 61
C. Masa Pergerakan Nasional danKebangsaan ......................................... 69
D. Masa Pendudukan Jepang diIndonesia.................................................. 75
E. Ringkasan ................................................................................................ 79
BAGIAN KEENAM PERJUANGAN SEKITAR MASA PROKLAMASI
DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN ............................................. 81
A. Perjuangan Masa Proklamasi.................................................................. 81
B. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan ......................................... 89
C. Penanggulangan Gangguan Keamanan Dalam Negeri ......................... 95
D. Masa Pemerintahan Orde Baru............................................................... 96
E. Ringkasan .............................................................................................. 102
BAGIAN KETUJUH PERJUANGAN MASAREFORMASI ....................... 104
A. Awal Masa Reformasi........................................................................... 104
B. Masa Kepemimpinan Presiden B.J.Habibie ........................................ 106
C. Masa Kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid ......................... 111
D. Dinamika Kehidupan Bernegara MasaReformasi .............................. 115
E. Ringkasan .............................................................................................. 117
BAGIAN KEDELAPAN KISAH KETELADANAN
PARA PAHLAWAN ................................................................................ 118
A. Menghargai Jasa Pahlawan..................................................................... 118
B. Pahlawan Indonesia................................................................................ 119
C. Ringkasan .............................................................................................. 135
BAGIAN KESEMBILAN TANTANGAN BANGSA INDONESIA............ 137
A. Tantangan Bangsa Indonesia ................................................................ 137
B. Tantangan dalam Kehidupan Politik .................................................... 141
C. Tantangan dalam Arus Globalisasi....................................................... 145
D. Tantangan dalam Permasalahan Kemiskinan ...................................... 152
E. Tantangan dalam Otonomi Daerah ...................................................... 157
F. Tantangan dalam Permasalahan Korupsi............................................ 159
G. Ringkasan ............................................................................................... 164

viii

BAGIAN KESEPULUH NILAI KEJUANGAN PEMUDA DALAM
MENGISI KEMERDEKAAN DI MASA GLOBALISASI............................... 165

A. Perjuangan Pemuda dalam SejarahIndonesia ..................................... 165
B. Perjuangan Pemuda dalam Mengisi Kemerdekaan ............................ 169
C. Nilai Kejuangan Pemuda dalam Globalisasi....................................... 183
D. Ringkasan .............................................................................................. 187
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 188
BIODATA PENULIS ............................................................................... 193

ix

x

BAGIAN PERTAMA
PROLOG

Buku berjudul Nilai-Nilai Kejuangan Sebagai Warisan Karakter
Bangsa ini terdiri dari 10 bagian, yaitu 1) Pendahuluan, 2) Nilai-
Nilai Kejuangan Bangsa, 3) Membangun Karakter Kebangsaan, 4)
Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia, 5)
Sejarah Perjuangan Integrasi Kebangsaan, Masa Kedaulatan Nusantara
Sampai Pergerakan Nasional Indonesia, 6) Perjuangan Masa Sekitar
Proklamasi dan Mempertahankan Kemerdekaan, 7) Perjuangan Masa
Reformasi, 8) Kisah Keteladan Para Pahlawan, 9) Tantangan Bangsa
Indonesia pada Masa Sekarang, 10) Nilai Kejuangan Pemuda dalam Mengisi
Kemerdekaan di MasaGlobalisasi.

Sukarno tokoh besar bangsa Indonesia pernah berpesan dalam
menyikapi sejarah bangsa yaitu “Jangan mewarisi abu tetapi warisilah
apinya”. Diharapkan dalam memaknai peristiwa sejarah bangsa Indonesia
tidak sekadar mewarisi abu atau bukti atau fisiknya saja, tetapi mewarisi
api yang dalam artian adalah jiwa, semangat dan nilai dari peristiwa sejarah
tersebut. Kita juga harus bangga dengan hasil kebudayaan nenek moyang
kita. Bangunan monumental yang sudah dibangun pada peradaban
Nusantara seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Dua bangunan
monumental tersebut minimal bisa membuka mata kita bersama. Tidak
mungkin bangunan semegah itu tanpa kebudayaan, peradaban, dan
persatuan yang baik. Alangkah hebatnya bangsa kita saat melihat warisan-
warisan bangunan yang begitu indah, apalagi jika kita menempatkan
bangunan itu pada masa pembangunannya.

Dalam peradaban dunia khususnya di Asia Tenggara, bangunan Boro-

NILAI-NILAI KEJUANGAN 1

budur dan Prambanan sebagai artefak yang sangat berharga dan tidak
banyak yang bisa menandinginya. Oleh sebab itu, kita harus mewarisi jiwa
semangat dan nilai sejarah yang ada dalam monumen-monumen bersejarah
bangsa Indonesia tersebut.

Pembangunan Candi Prambanan dan Candi Borobudur sedikitnya
telah menampar ilmu pengetahuan bangsa kita. Sekarang mungkin kita
bisa membangun jalan tol, gedung bertingkat, membuat pesawat, membuat
teknologi lainnya, akan tetapi belum ada yang menggantikan monumen
sejarah bangsa kita yaitu Prambanan dan Borobudur. Pembangunan jalan
tol, bangunan bertingkat, pembuatan pesawat banyak negara yang sudah
bisa membuatnya. Tetapi pembuatan bangunan Candi Prambanan dan
Borobudur tersebut pastinya membutuhkan perancangan, pelaksanaan,
pengaturan dan kerja sama satu sama lain. Pembuatannya membutuhkan
ilmu pengetahuan seperti arsitek, ilmu bumi, ilmu pertukangan, pemahat
relief, sastrawan, tenaga manusia lainnya yang cukup andal dan pada waktu
itu tidak semua negara dan peradaban bisa melakukan itu.

Sampai sekarang para ahli juga masih belum bisa menemukan beberapa
misteri pembuatan bangunan-bangunan suci tersebut. Bagaimana bisa
membentuk batu, menata dengan indahnya dan mengangkat sampai ke
puncak candi. Misteri tentang berapa kekayaan yang harus dihabiskan
untuk membangun Candi Prambanan dan Borobudur, bagaimanapun kita
yakin bahwa pembiayaan itu jika dibandingkan dengan biaya kehidupan
sekarang, juga masih belum bisa terbayangkan. Rasa hormat rakyat pada
masa tersebut kepada agama dan raja merupakan warisan nenek moyang
yang harus kita uri-uri bersama. Bagaimanapun, bangsa kita sekarang tanpa
rasa hormat yang tinggi dari rakyatnya juga akan sulit untuk membangun
dalam berbagai hal untuk bisa bersaing pada masa globalisasi ini.

Selanjutnya, kita bisa mengambil nilai saat perjuangan kemerdekaan
bangsa Indonesia yaitu saat perjuangan melawan Belanda dan Jepang.
Walaupun bangsa Indonesia cuma bermodal bambu runcing dan musuh
memegang senjata modern, tetapi rasa keberanian dan patriotisme waktu
itu mampu mengantar untuk memperoleh kemerdekaan. Kalau
menggunakan hitung-hitungan matematika pastinya kita akan kalah,
tetapi dengan semangat dan nilai kejuangan yang cukup tinggi kita bisa
mengatasi permasalahan tersebut. Rasa kesatuan, rasa kebangsaan, dan
nilai kejuangan merupakan bagian terpenting dalam proses Indonesia
merdeka. Mungkin nilai itu tidak terlihat kasat mata oleh generasi
sekarang, akan tetapi kita terus mencari tahu dan belajar tentang sejarah

2 NILAI-NILAI KEJUANGAN

bangsa sehingga kita bisa merasakan bagaimana sulitnya kehidupan masa
itu. Diharapkan setelah mengetahui tentang sejarah bangsa, kita bisa
menjadikannya modal untuk membentuk wawasan kebangsaan sehingga
bisa untuk mewujudkan ketahanan nasional sebagai modal pembangunan
bangsa Indonesia.

Generasi muda sekarang sebagian besar menganggap monumen-
monumen sejarah itu sebagai tempat tumpukan batu, bangunan kuno
yang hanya untuk swafoto. Mereka sudah cukup bahagia bisa berfoto di
tempat-tempat bersejarah tersebut. Mereka lupa untuk mengetahui
dahulu bagaimana nenek moyang kita membangun, berapa biaya, materi,
tenaga, bahkan nyawa yang harus dikorbankan untuk kepentingan
bersama. Minimal kita bisa membuka dari kacamata moral historis dengan
terus mewarisi nilai kejuangan dari para pendahulu bangsa kita. Sebagai
kekuatan untuk menyongsong kehidupan berbangsa di masa depan yang
semakin banyak dan berat oleh datangnya berbagai tantangan.

Buku ini menjelaskan tentang nilai-nilai perjuangan bangsa
Indonesia yang tercermin dalam proses sejarah sejak Indonesia masih
berdaulat dalam negara kepulauan seperti masa Kerajaan Sriwijaya dan
Majapahit. Masa Perlawanan daerah yang dipelopori oleh para pemimpin
agama dan raja lokal, dilanjutkan pada masa Pergerakan Nasional yang
menghantarkan pada peristiwa Sumpah Pemuda. Kedatangan bangsa
Jepang dijadikan momentum sebagai persiapan kemerdekaan Indonesia.
Masa proklamasi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia,
mengisi kemerdekaan sampai masa globalisasi. Dari proses sejarah tersebut
kita bisa mengambil nilai-nilai luhur yang patut kita warisi, baik dari
peristiwa sejarah maupun dari tokoh besar sejarah bangsa. Mempelajari
dan menerapkan perjuangan tokoh-tokoh bangsa di masa sekarang atau
masa globalisasi sebagai sebuah warisan luhur bangsa.

Ada beberapa fase bagaimana Indonesia bisa sampai seperti ini,
pertama fase berdaulat masa kerajaan kuno, kedua adalah fase perjuangan
kemerdekaan dari bangsa penjajah di negeri Indonesia, ketiga fase kita
menjadi negara yang merdeka dan berkedaulatan setelah diproklamasikan
Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dari Proklamasi
Kemerdekaan ini, kita dapat mengambil jiwa, semangat, dan nilai 45 yang
telah bisa menghantarkan Indonesia menjadi bangsa merdeka. Setiap
zaman akan menghasilkan pejuang-pejuang di masanya. Karena setiap
zaman juga mempunyai tantangan-tantangan yang berbeda. Proklamasi
kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk menghantarkan bangsa

NILAI-NILAI KEJUANGAN 3

Indonesia menuju ke gerbang kemakmuran, kecerdasan, keadilan sosial,
dan hidup bermartabat di dunia. Pada fase terakhir ini terdiri dari
proklamasi kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan mengisi
kemerdekaan. Pada masa mengisi kemerdekaan seperti sekarang adalah
perjuangan untuk membebaskan dari sifat kebodohan, kemiskinan,
penurunan kualitas karakter bangsa.

Pada zaman kedaulatan kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia
musuhnya jelas yaitu daerah yang tidak mau tunduk atau kerajaan yang
akan mengancam kedaulatan kekuasaan kerajaan Nusantara. Pada masa
penjajahan Eropa dan Jepang kita dapat dengan mudah membedakan
antara musuh dan mana kawan, dari bentuk fisik, bahasa, dan agamanya
sudah sangat berbeda sehingga di masa-masa itu kita lebih mudah untuk
mendeteksi musuh yang akan dihadapi. Kondisi berbeda dengan zaman
sekarang bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sangat kesulitan untuk
menemukan siapa musuh bersama kita.

Penduduk Indonesia tahun 2017 adalah 260 juta jiwa sehingga bisa
dijelaskan secara sederhana, bahwa dengan jumlah penduduk kita 260
juta berarti musuh kita juga sejumlah tersebut. Saat kita bangun tidur,
belajar, di sekolah, bekerja, beribadah, mengikuti upacara dan lain-lainnya,
musuh kita juga ikut dalam kegiatan itu. Musuh kita sekarang adalah diri
kita sendiri, yaitu sifat-sifat di dalamnya yang bisa menghambat kemajuan
bangsa kita untuk menjadi bangsa yang unggul dibandingkan dengan negara
lain. Sifat-sifat tersebut di antaranya sifat malas, masa bodoh, kebodohan,
tidak semangat belajar, tidak semangat bekerja, tidak semangat beribadah,
sifat kemiskinan karena tidak memiliki daya juang yang tinggi, anarkis,
tidak bangga dengan bangsa dan negara, sifat individu, sifat korupsi, tidak
kreatif, dan masih banyak sifat negatif yang lainnya.

Pada masa globalisasi yang semakin melanda dunia saat ini diperlukan
sebuah filter untuk menyaring pengaruh negatif dan positif dari dampak
yang dihasilkan. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat
secara global. Maka ketika liberalisme, materialisme, individualisme, dan
hedonisme dianggap baik, bisa memengaruhi pola pikir dari masyarakat
Indonesia dan bisa melunturkan nilai ketimuran dari bangsa kita yaitu
religius, gotong royong, musyawarah dan solidaritas bisa terkikis dengan
pengaruh globalisasi tersebut.

Buku ini sebagai sumbangsih kami sebagai pendidik dan akademisi
untuk membangun bangsa dengan sumbangan pemikiran yang terwujud
dalam sebuah pemikiran kecil kami. Semoga bisa menjadi bacaan yang

4 NILAI-NILAI KEJUANGAN

menginspirasirasa kejuangan di kalangan masyarakat umum, para pendidik,
para mahasiswa, para siswa, warga negara Indonesia, dan khususnya
generasi muda di bangsa ini. Karena dari generasi muda inilah sejarah
perjuangan bangsa Indonesia akan kita wariskan dan merekalah yang
selanjutnya akan meneruskan perjuangan untuk memberikan pemahaman
pentingnya mempelajari sejarah bangsa Indonesia dan mengambil nilai-
nilai kejuangannya yang dapat kita warisi bersama.

Harapan dan keutamaan dari buku ini adalah agar masyarakat
mempunyai wawasan kebangsaan tentang sejarah perjuangan bangsa dan
nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia, dapat menilai segala aktivitas
yang telah dilakukan oleh tokoh besar bangsa dalam upaya mencapai
kemerdekaan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Dengan
kemampuan yang dimiliki bangsa Indonesia dan pemuda sekarang mampu
untuk mewarisi nilai-nilai kejuangan dari tokoh-tokoh besar bangsa kita
dan nilai kejuangan dari peristiwa sejarah yang ada di Indonesia.
Diharapkan hal tersebut dapat dijadikan modal utama untuk membangun
negeri. Membangun karakter bangsa Indonesia yang tangguh dan berdaya
juang tinggi untuk menciptakan ketahanan nasional bagi bangsa Indonesia.
Bangsa yang besar pasti diisi oleh masyarakat dan warga negara dengan
seperangkat nilai kejuangan tinggi. Mustahil jika warga negaranya tidak
mempunyai nilai kejuangan tinggi mampu mengantarkan bangsanya untuk
menjadi negara yang kuat dan maju.

NILAI-NILAI KEJUANGAN 5

BAGIAN KEDUA
NILAI-NILAI KEJUANGAN

BANGSA

A. Nilai Kejuangan

Dari segi semantik nilai-nilai kejuangan terdiri dari dua istilah
yaitu “Nilai” dan “Kejuangan”. “Nilai” adalah konsep yang
berkenaan dengan sesuatu (Suhady, 2006: 47). Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2008, nilai berarti sifat-sifat (hal-hal)
yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Dengan demikian, nilai
merupakan sesuatu yang berharga, yang diapresiasi oleh manusia kerena
nilai tersebut berguna bagi kemanusiaan itu sendiri. Nilai dalam artian
tertentu ada di luar diri subjek, dan subjek sendiri bisa percaya, yakin, atau
memiliki kemantapan terhadap nilai-nilai yang diyakininya tersebut
(Kusuma, 2015: 176-177).

Schwartz (dalam Muthohar, 2009) mendefinisikan nilai sebagai berikut:
Value as desireable transituational goal, varying in importance, that serve as
guiding principles in the life of person or other social entity. Nilai adalah suatu
tujuan akhir yang diinginkan, memengaruhi tingkah laku, yang digunakan
sebagai prinsip atau panduan dalam hidup seseorang atau masyarakat. Bisa
dikatakan bahwa nilai-nilai pada hakikatnya merupakan sejumlah prinsip
yang dianggap berharga dan bernilai sehingga layak diperjuangkan dengan
penuh pengorbanan. Seseorang yang hanya memperjuangkan nilai-nilai
pribadi disebut individualis, namun jika seseorang memperjuangkan nilai-
nilai sosial disebut pejuang atau pahlawan (orang yang banyak pahalanya).
Nilai-nilai merupakan representasi kognitif dari persyaratan hidup manusia

6 NILAI-NILAI KEJUANGAN

dan dapat bergeser karenanya. Tiga tipe persyaratan itu menurut Schwartz
(dalam Mutohar, 2009), yaitu:

1. kebutuhan individu sebagai organisme,

2. persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi
interpersonal,

3. tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan
kelangsungan hidup kelompok.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin,
dan menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai bersumber
pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap maupun
perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem (sistem nilai) merupakan salah
satu wujud kebudayaan, di samping sistem sosial dan karya (Syarbaini,
2011: 33). Nilai adalah konsep abstrak mengenai suatu masalah dasar
berupa norma agama, budaya, dan moral bangsa yang sangat penting dalam
kehidupan dan memengaruhi tingkah laku (Dewan Harian Daerah, 2013:
10). Maka, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah kualitas yang melekat
pada suatu objek, sesuatu mengandung nilai apabila berguna, berharga,
untuk harkat dan martabatnya.

Kata “juang” sebagai kata kerja berarti “laga, lawan, kelahi, perang
memperebutkan sesuatu dengan mengadu tenaga”. Berjuang adalah berlaga,
berkelahi, berperang dan berlawan (KBBI, 1989). Nilai kejuangan adalah
konsep yang berkenaan dengan sifat, mutu, keadaan tertentu yang berguna
bagi manusia dan kemanusiaan yang menyangkut perihal perang, kelahi,
lawan, dan laga. Kata nilai kejuangan dikenal terhadap konsepsi abstrak,
anutan, paham, dan pendorong yang menyebabkan orang dapat berperang,
berkelahi, berlawan dan berlaga, sehingga bermanfaat bagi dirinya untuk
menang (Suhady, 2006: 47-48). Sama halnya dengan mereka yang merasa
punya nilai kejuangan, pembela tanah air, nusa dan bangsa, disiplin
nasional, dan sebagainya.

Tidak ada metodologi yang jelas untuk menumbuhkembangkannya.
Bagaimana mungkin seseorang tiba-tiba bisa menjadi pejuang dan punya
disiplin nasional, tanpa dibina melalui pembiasaan, sehingga menjadikan
“habitual” dalam kehidupan sehari-hari (Adiwijoyo, 2000: 121-122).

Nilai kejuangan merupakan landasan, kekuatan, dan daya dorong
bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan mencapai tujuan

NILAI-NILAI KEJUANGAN 7

nasionalnya. Nilai kejuangan itu dikenal dengan nama jiwa, semangat, dan
nilai kejuangan 45 atau nilai kejuangan bangsa, merupakan perekat
wawasan Nusantara dan ketahanan Nasional dalam memperkokoh bangsa
dan negara Indonesia (Dewan Harian Daerah, 2013: 19). Ataupun rakyat
Jepang, yang mengembangkan heroisme, nilai juang dan patriotisme melalui
pembudayaan semangat Bushido (kerja sampai mati) bagi raja, bagi bangsa
dan negaranya (Adiwijoyo, 2000: 121).

Setiap periode sejarah perjuangan bangsa Indonesia, selalu lahir jiwa,
semangat, dan nilai-nilai kejuangannya sebagai kekuatan yang melandasi,
mendorong perjuangan bangsa melakukan perubahan secara gradual pada
aspek kehidupan politik, sosial budaya, ekonomi, dan hankam dalam
menciptakan kehidupan demokratis untuk mewujudkan kedaulatan rakyat.
Bagaimanapun, ada timbal balik yang serasi antara bangsa dan rakyat yaitu
bahwa rakyat yang telah memutuskan membentuk negara yang bernama
Indonesia. Oleh karena itu, keberadaan negara harusnya juga untuk
memikirkan rakyat secara keseluruhan.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia nilai kejuangan
dimaksudkan untuk menggambarkan daya dorong perlawanan dan
pendobrak yang mampu membawa bangsa ini untuk membebaskan
dirinya dari penjajahan. Nilai kejuangan ditanamkan kepada beberapa
generasi dalam upaya untuk mencapai kemerdekaan. Nilai kejuangan
seperti ini dimiliki oleh generasi pra 45 dan generasi 45. Sebutan generasi
1945 sangat mengemuka karena pada tahun 1945 inilah keberhasilan
kemerdekaan bangsa itu datang. Namun, tentu saja keberhasilan itu
bukan dibuat oleh generasi 45 belaka. Nilai perjuangan ini terwarisi
terus-menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya (Suhady, 2006:
48). Sebelum masa 1945, kita sudah dihantarkan disuguhi perjuangan-
perjuangan para pemuda dalam sejarah bangsa Indonesia seperti generasi
angkatan 1908 sebagai pelopor masa pergerakan nasional, dan angkatan
1928 saat semua pemuda berikrar dalam Sumpah Pemuda yang ingin
bersatu menjadi sebuah bangsa. Oleh karena itu, generasi pra 1945 yang
mewakili seluruh sifat, kadar, mutu konsepsi yang menggerakkan
perlagaan, perlawanan, dan peperangan yang diperoleh dari generasi
sebelumnya, kemudian berkulminasi pada saat menjelang memasuki
generasi 45. Jadi, generasi 45 mewarisi seluruh sifat dan mutu baik itu
dari generasi pra 45 yang menghasilkan kemerdekaan (Suhady, 2006: 48).

Sekarang semangat generasi 45 mulai berkurang, nilai kejuangan perlu
diwariskan hingga proses perkembangan dan pembangunan bangsa ini

8 NILAI-NILAI KEJUANGAN

berlangsung dengan lancar.

B. Pengertian Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai 45

Jiwa, semangat, dan nilai-nilai 45 sesungguhnya berkaitan sangat erat.
Malahan dapat dikatakan bahwa hal-hal tersebut dapat dibedakan, tetapi
tidak dapat dipisahkan dan harus dilihat sebagai sesuatu yang bulat dan
utuh (Dewan Harian Daerah, 2013: 10-12).

1. Jiwa

Secara umum, jiwa adalah sesuatu yang menjadi sumber kehidupan
dalam ruang lingkup makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Merupakan
keseluruhan keadaan batin manusia yang terdiri atas pengenalan (kognitif),
perasaan (afektif), kehendak (konasi), dan psikomotorik.

Jiwa 45 adalah sumber kehidupan bagi perjuangan bangsa yang
merupakan kekuatan batin dalam merebut, mempertahankan
kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat, dan mengisi kemerdekaan.

2. Semangat

Semangat adalah roh kehidupan yang memberi kekuatan dan dorongan
berkehendak, bekerja dan berjuang; baik yang datang dari dalam diri
(intrinsik) maupun dari luar (ekstinsik), dan terutama atas dasar ketakwaan.

Semangat 45 adalah dorongan dan perwujudan yang dinamis dari
jiwa 45 yang membangkitkan kemauan untuk berjuang merebut,
mempertahankan kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat, dan
mengisi kemerdekaan.

3. Nilai

Nilai adalah konsep abstrak mengenai suatu masalah dasar berupa
norma agama, budaya dan moral bangsa yang sangat penting dalam
kehidupan dan memengaruhi tingkah laku.

Nilai 45 adalah norma yang telah didapat dan disepakati sebagai
ukuran dari sifat/perbuatan dan dinyatakan dalam kualitas.

4. Angka 45

Angka 45 menunjukkan tahun yang merupakan puncak perjuangan
bangsa Indonesia dalam mengakomodasi etos kejuangan bangsa sehingga
dapat memproklamasikan kemerdekaan bangsa.

Angkatan 45 adalah generasi yang sempat mengalami, menyaksikan,
ikut aktif dan merasakan gelora perjuangan memproklamasikan dan

NILAI-NILAI KEJUANGAN 9

mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Potensi angkatan 45 identik dengan potensi kejuangan bangsa,
merupakan potensi spiritual yang mengandung jiwa, semangat, dan nilai-
nilai 45.

5. Jiwa, Semangat, dan Nilai 45

Jiwa, semangat dan nilai (45) adalah dasar, kekuatan, daya dorong, dan
moral perjuangan. Merupakan suatu rangkaian kata yang erat berkaitan,
dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dan harus diartikan sebagai
kesatuan yang bulat dan utuh.

6. Kekuatan Moral (Moral Force)

Kekuatan moral adalah kekuatan yang tidak nyata (imagine) berupa
kondisi mental dengan suatu kepahaman yang menyatu sebagai suatu
kekuatan yang mampu mengubah suatu keadaan.

7. Kebangsaan

Kebangsaan adalah kesadaran dan sikap sebagai kelompok bangsa yang
memiliki keterikatan sosio-kultural yang disepakati bersama. Kebangsaan
merupakan rasa cinta bangsa (nasionalisme) yang tidak terpisah dari rasa
cinta tanah air (patriotisme). Keduanya bersumber dari rasa cinta, mempunyai
solidaritas, rasa setia kawan terhadap nasib bangsa dan tanah air, merasa
sepenanggungan terhadap kelangsungan hidup bangsa dan tanah air.

8. Gerakan Nasional Kesadaran Kebangsaan

Gerakan nasional kesadaran kebangsaan adalah gerakan yang mampu
menumbuhkan pemahaman, sikap dan tekad yang seimbang, antisipatif,
dialogis terhadap lingkungan sosial budaya, lingkungan alam dan terhadap
diri sendiri melalui panduan sejarah dan nilai-nilai kejuangan bangsa
serta berbagai proyeksi mengenai masa depan kehidupan berbangsa dan
bernegara.

9. Watak dan Kepribadian Bangsa

Watak dan kepribadian bangsa sebagai bangsa pejuang adalah identitas
dan jati diri bangsa. Identitas dan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa
pejuang senantiasa dikaitkan dengan kebanggaan akan Proklamasi Agustus
1945, ideologi Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945. Nilai- nilai
kejuangannya tercantum dalam istilah jiwa, semangat, dan nilai-nilai 45.
Generasi angkatan 45 pada waktunya akan sirna secara alami, namun
jiwa, semangat, dan nilai-nilai (kejuangan) 45 akan tetap abadi sebagai
dasar kejuangan bangsa. Generasi muda Indonesia meskipun tidak terlibat

10 NILAI-NILAI KEJUANGAN

secara fisik dalam revolusi kemerdekaan, adalah saksi intelektual revolusi
Kemerdekaan Indonesia, tetap bangga, mensyukuri, dan mengembangkan
sikap positif terhadap perjuangan kemerdekaan serta sanggup memberikan
yang terbaik kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

10. Paradigma Nasional
Paradigma nasional adalah komitmen hidup berbangsa yang tercermin

dalam pikiran, perasaan, sikap, dan harapan, serta kesetiakawanan dan
tanggung jawab sosial yang dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Paradigma nasional adalah seperangkat kesepakatan nilai instrumental
yang menjabarkan kaidah-kaidah pelaksanaan kehidupan, yang berlaku
sebagai acuan, dan menuntun penyelenggaraan kehidupan nasional,
termasuk peraturan undang-undangnya. Wujud paradigma nasional
terlihat dalam nilai-nilai praktis setiap individu dan masyarakat Indonesia.

Penjelasan tersebut sesuai dengan syair lagu tema kebangsaan yang
diciptakan Kusbini yang berjudul “Bagimu Negeri” dari syair ini kita bisa
merasakan kekuatan batin dalam mencintai bangsa dan negeri ini.

Bagimu Negeri

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami berbakti

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami

Dapat disimpulkan bahwa jiwa 45 adalah sumber kehidupan bagi
perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan batin dalam merebut,
mempertahankan kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat, dan
mengisi kemerdekaan. Semangat 45 adalah dorongan dan perwujudan
yang dinamis dari jiwa 45 yang membangkitkan kemauan untuk berjuang
merebut, mempertahankan kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat,
dan mengisi kemerdekaan.

C. Pengertian Sejarah dan Bangsa
1. Pengertian Sejarah

Istilah history (sejarah) diambil dari kata historia dalam bahasa Yunani
yang berarti “informasi” atau “penelitian” yang ditujukan untuk memperoleh

NILAI-NILAI KEJUANGAN 11

kebenaran (Kochhar, 2008:1). Kata sejarah berasal dari “Syajarah” yakni
berasal dari bahasa Arab yang berarti pohon. Kata ini masuk ke Indonesia
sesudah terjadi akulturasi antara kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan
Islam. Selain itu, kata sejarah juga berasal dari bahasa Inggris yakni history
yang artinya masa lampau umat manusia (Tamburaka, 2002:2).

Hakikatnya, sejarah adalah suatu ilmu yang mengkaji peristiwa yang
telah terjadi dalam lingkup ruang dan waktu sebagai penjelas untuk masa
kini. Oleh karena itu, bisa ditafsirkan pula bahwa pada dasarnya sejarah
merupakan dialog antara peristiwa masa lampau dan perkembangan ke
masa depan. Sejarah merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu
manusia sehingga manusia yang hidup sezaman atau sesudahnya dapat
berguru dan belajar dari pengalaman-pengalaman itu agar menjadi
manusia yang bijak. Manusia harus mampu mengambil nilai-nilai pelajaran
yang terkandung dalam sejarah untuk dijadikan sebagai pedoman hidup
dan inspirasi bagi semua tindakan yang diambilnya pada masa-masa
mendatang (Sjamsuddin, 2007: 285-286).

Sejarah kalau kita samakan dengan komponen dari bagian motor atau
mobil, adalah sama dengan komponen spion. Karena keberadaan spion
tentunya tidak untuk melihat ke belakang terus, tetapi tujuan utamanya
untuk mengamankan saat kita melihat ke depan. Seperti kalau kita mau belok
atau berhenti kita diwajibkan untuk melihat spion untuk mengetahui ada
sesuatu di belakang atau tidak. Itu sama fungsinya sejarah bagi kehidupan
bangsa kita. Kita melihat masa lalu bukan untuk masa lalu itu sendiri, tetapi
melihat sejarah masa lalu untuk kepentingan masa depan kita.

Berkaitan dengan hal ini Sartono menyampaikan bahwa sejarah menjadi
sumber inspirasi dan aspirasi generasi muda dengan pengungkapan model-
model tokoh sejarah pelbagai bidang. Maka dari itu, sejarah masih relevan
untuk dipakai menjadi perbendaharaan suri-tauladan, berkorban untuk
tanah air, berdedikasi tinggi dalam pengabdian, tanggung jawab sosial besar,
kewajiban serta keterlibatan penuh dalam hal-ihwal, bangsa dan tanah air,
mengutamakan “kepentingan umum”, tidak kenal jerih payah dalam usaha
untuk berprestasi, dan lain sebagainya (Kartodirdjo, 1993:254).

Sejarah memiliki berberapa manfaat bagi kehidupan manusia pada
masa sekarang. Wasino (2007: 10-14) menyebutkan bahwa paling tidak
ada beberapa guna sejarah bagi manusia yang mempelajarinya, yakni
edukatif (pendidikan), instruktif (memberikan pengajaran), inspiratif
(memberi ilham), dan rekreatif (memberikan kesenangan). Tatkala sejarah
menyadarkan kita tentang perbedaan-perbedaan, ia sebetulnya telah

12 NILAI-NILAI KEJUANGAN

mengajarkan toleransi dan kebebasan, ujar Francois Caron, profesor
sejarah di Universitas Sorbonne, Paris. Perbedaan (apalagi dalam bentuk
plural), itulah yang tidak diajarkan dalam pembelajaran sejarah 30 tahun
belakangan (Adam, 2007:1).

Dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah dialog antara peristiwa
masa lampau dan perkembangan ke masa depan. Sejarah merupakan
pengalaman-pengalaman masa lalu manusia, maka manusia yang hidup
sezaman atau sesudahnya dapat berguru dan belajar dari pengalaman-
pengalaman itu agar menjadi manusia yang bijak.

2. Pengertian Bangsa

Bangsa menurut Benedict Anderson merupakan sebuah artefak
budaya modern yang terkonstruksikan begitu saja oleh persinggungan
berbagai kekuatan dalam bentangan sejarah (Anderson, 2002:6). Bangsa
merupakan sesuatu yang dibayangkan karena tiap anggotanya yang
paling kecil tidak akan pernah saling mengenal atau bertatap muka
sekalipun dengan sebagian besar anggotanya yang lain (Anderson, 2002:
8). Mengenai pengertian bangsa, Budiyanto (dalam Suhady, 2006: 12-13)
mengemukakan pendapat-pendapat beberapa ahli tentang bangsa.

a. Ernest Renan (Prancis)

Bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup bersama
(hasrat bersatu) dengan perasaan setia kawan yang agung.

b. Otto Bauer (Jerman)

Bangsa adalah kelompok manusia yang mempunyai persamaan
karakter. Karakteristik tumbuh karena adanya persamaan nasib.

c. F. Ratzel (Jerman)

Bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul
karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya
(paham geopolitik).

d. Hans Kohn (Jerman)

Bangsa adalah buah hasil hidup manusia dalam sejarah. Suatu
bangsa merupakan golongan yang beraneka ragam dan tidak bisa
dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor
objektif tertentu yang membedakannya dengan bangsa lain. Faktor-
faktor itu berupa persamaan keturunan, wilayah, bahasa, adat istiadat,
kesamaan politik, perasaan, dan agama.

NILAI-NILAI KEJUANGAN 13

Bangsa timbul karena persatuan nasib. Menurut Ernest Renan,
syarat bangsa paling tidak harus dimulai dengan kehendak akan bersatu.
Renan menyitir, maka yang menjadi bangsa, yaitu satu gerombolan
manusia yang bersatu, atau yang merasa dirinya satu. Demikian juga
kiranya, mengapa kita menjadi satu bangsa Indonesia (Adiwijoyo,
2000: 59), karena: Pertama, akar terjadinya bangsa adalah kesamaan
dalam nasib dan musuh, yang dikumandangkan oleh Budi Utomo pada
1908. Nasib dan musuh yang sama itu adalah akar bangsa yang
menyatukan masyarakat Nusantara. Kedua, akar terjadinya bangsa
adalah adanya keinginan dan keberanian masyarakat untuk bersatu,
serta kemampuannya untuk mencetuskan keinginan pada Sumpah
Pemuda, 28 Oktober 1928. Ketiga, akar bangsa itu merupakan
campuran dari kedua pilihan tersebut, yakni berbangsa, diawali dari
Budi Utomo (1908), dan diimplementasikan 28 Oktober 1928.

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa definisi
bangsa adalah rakyat/penduduk yang telah mempunyai kesatuan tekad
untuk ingin hidup bersama, dan hasrat ingin bersatu yang dikarenakan
oleh persamaan karakter, persamaan nasib, dan karena proses sejarah
bersama. Maka, bangsa Indonesia terbentuk karena rasa kesatuan tekad
untuk ingin hidup bersama karena merasa senasib yaitu sama-sama dijajah
dan berjuang bersama dalam proses sejarah tersebut.

Dalam kehidupan suatu bangsa, kita harus menyadari adanya
keanekaragaman yang dilandasi oleh rasa persatuan dan kesatuan tanah
air, bahasa, dan cita-cita. Fredrich Hertz (dalam Suhady, 2006: 12-13),
mengemukakan bahwa setiap bangsa mempunyai 4 (empat) unsur aspirasi
sebagai berikut:

1. Keinginan untuk mencapai kesatuan nasional yang terdiri atas
kesatuan sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan, komunikasi,
dan solidaritas;

2. Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional
sepenuhnya, yaitu bebas dari dominasi dan campur tangan bangsa
asing terhadap urusan dalam negerinya;

3. Keinginan dalam kemandirian, keunggulan, individualitas, keaslian,
atau kekhasan. Misalnya, menjunjung tinggi bahasa nasional yang
mandiri;

4. Keinginan untuk menonjol (unggul) di antara bangsa-bangsa dalam
mengejar kehormatan, pengaruh, dan prestise.

14 NILAI-NILAI KEJUANGAN

Dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah dialog antara peristiwa
masa lampau dan perkembangan ke masa depan. Sejarah merupakan
pengalaman-pengalaman masa lalu manusia. Maka, manusia yang hidup
sezaman atau sesudahnya dapat berguru dan belajar dari pengalaman-
pengalaman itu agar menjadi manusia yang bijak. Pengertian bangsa adalah
rakyat/penduduk yang telah mempunyai kesatuan tekad untuk ingin hidup
bersama, dan hasrat ingin bersatu yang dikarenakan oleh persamaan
karakter, persamaan nasib dan karena proses sejarah bersama.

D. Nilai-nilai Kejuangan Bangsa Indonesia

Sesuai dengan apa yang telah diuraikan, jiwa, semangat, dan nilai-nilai
45 adalah jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia, yang
dapat dirinci menjadi nilai dasar dan nilai-nilai operasional sebagai berikut
(Dewan Harian Daerah, 2013: 12-13).

1. Nilai-nilai dasar

a. semua nilai yang terdapat dalam setiap sila Pancasila.

b. semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17
1945.

c. semua nilai yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1954 (UUD
45), baik dalam Pembukaan, Batang tubuh, maupun Penjelasan.

2. Nilai-nilai operasional

Nilai-nilai operasional adalah nilai-nilai yang lahir dan berkembang
dalam perjuangan bangsa Indonesia selama ini dan merupakan dasar
yang kokoh dan daya dorong mental spiritual yang kuat dalam setiap
tahap perjuangan bangsa seterusnya untuk mencapai Tujuan Nasional
Akhir, seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 45, serta untuk
mempertahankan dan mengamankan semua hasil yang tercapai dalam
perjuangan tersebut. Nilai-nilai operasional ini meliputi (Dewan Harian
Daerah. 2013: 13) hal-hal berikut.

a. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Jiwa dan Semangat Merdeka.
c. Nasionalisme.
d. Patriotisme.
e. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka.
f. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah.
g. Persatuan dan kesatuan.
h. Anti penjajah dan penjajahan.

NILAI-NILAI KEJUANGAN 15

i. Percaya kepada diri sendiri dan/atau percaya kepada kemampuan
sendiri.

j. Percaya pada hari depan yang gemilang dari bangsanya.
k. Idealisme kejuangan yang tinggi.
l. Berani, rela, dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan

negara.
m. Kepahlawanan.
n. Sepi ing pamrih rame ing gawe.
o. Kesetiakawanan, setia, senasib sepenanggunggan dan kebersamaan.
p. Disiplin yang tinggi.
q. Ulet dan tabah menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, dan

gangguan.

Penjelasan dan uraian dari nilai-nilai kejuangan adalah sebagai berikut.

1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau religius, yakni ketaatan
dan kepatuhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama
(aliran kepercayaan) yang dianut, termasuk dalam hal ini adalah sikap
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama (aliran kepercayaan) lain,
serta hidup rukun dan berdampingan.

2. Jiwa dan semangat merdeka yaitu jiwa yang sadar akan kemampuan
sendiri tanpa ketergantungan pada negara lain dan memiliki martabat
yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

3. Nasionalisme atau semangat kebangsaan, yakni sikap dan tindakan
yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan
pribadi atau individu dan golongan. Nasionalisme adalah satu paham
yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara dengan
mewujudkan satu konsep bersama untuk sekelompok manusia yang
mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan
kepentingan nasional. Nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan
negaranya dari ancaman baik dari dalam maupun dari luar.

4. Patriotisme adalah semangat cinta tanah air atau sikap seseorang
yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan
kemakmuran tanah airnya. Patriotisme adalah sikap yang berani,
pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara.
Patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat
kepahlawanan atau jiwa pahlawan, atau dalam bahasa Inggris “heroism”
dan “patriotism”. Pengorbanan ini dapat berupa pengorbanan harta
benda maupun jiwa raga.

16 NILAI-NILAI KEJUANGAN

5. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka adalah bagaimana rasa
harga diri bangsa Indonesia di depan bangsa-bangsa lain dengan segala
kemampuan yang kita miliki bersama. Harga diri adalah kesadaran
akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Harga diri
juga berarti kehormatan atau martabat atau harkat/nilai manusia.

6. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah atau nilai ketangguhan
adalah sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak mudah putus
asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan
kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan dalam
mencapai tujuan.

7. Persatuan dan kesatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh atau
tidak terpecah-belah. Persatuan dapat diartikan sebagai perkumpulan
dari berbagai komponen yang membentuk menjadi satu. Kesatuan
merupakan hasil perkumpulan tersebut yang telah menjadi satu dan
utuh. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan mengandung arti
bersatunya macam-macam kebhinnekaan bangsa Indonesia yang
beraneka ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi. Rasa
ingin bersatu padu demi terwujudnya satu bangsa. Berjuang dalam
satu kesatuan untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, dengan
bersatu kita menjadi kuat dan mampu melaksanakan tugas-tugas
yang berat sekalipun.

8. Anti penjajah dan penjajahan adalah rasa tidak mau menjajah dan
dijajah karena penjajah dan penjajahan bertentangan dengan rasa
kemanusiaan dan hak asasi manusia untuk bebas merdeka. Penjajah
adalah suatu negara yang merebut kedaulatan negara lain,
sedangkan penjajahan adalah suatu sistem ketika suatu negara
menguasai rakyat dan sumber daya negara lain. Sesuai dengan
Pembukaan UUD 45 yaitu sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak
segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan
peri-keadilan.

9. Percaya kepada diri sendiri dan/atau percaya kepada kekuatan dan
kemampuan sendiri merupakan salah satu aspek kepribadian yang
sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Warga
negara dan masyarakat yang percaya diri yakin atas kemampuan

NILAI-NILAI KEJUANGAN 17

mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan
ketika harapan tersebut tidak terwujud, sehingga tetap berpikir
positif dan dapat menerimanya.

10.Percaya pada hari depan yang gemilang dari bangsanya adalah rasa
optimisme bangsa dan warga negara dalam memandang masa depan
bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan baik dengan
segala tantangan dan kemampuan yang dimilikinya.

11.Idealisme kejuangan yang tinggi adalah hidup atau berusaha hidup
menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna bangsa
Indonesia dengan nilai kejuangan yang tinggi. Maka, sebuah konsep
tentang idealnya sebuah perjuangan yang dilandasi dengan
kemampuan dan kejuangan yang besar, berkualitas dan tinggi untuk
mencapai tujuan bangsa.

12.Berani, rela, dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan
negara adalah sikap perilaku yang menunjukkan rasa percaya diri,
keikhlasan yang besar dan tidak memiliki rasa takut khawatir dalam
menghadapi kesulitan hidup untuk berkorban demi nusa dan bangsa.

13.Kepahlawanan adalah kita sebagai warga negara yang telah berjasa
kepada bangsa dan negara, seseorang yang telah berkorban jiwa dan
raganya demi bangsa dan negara yang dilandasi rasa keikhlasan,
kejujuran, dan tanpa pamrih. Kata “pahlawan” berasal dari bahasa
Sanskerta phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya
menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara,
dan agama. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena
keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau
pejuang yang gagah berani. Kepahlawanan adalah tindakan seorang
pahlawan, yaitu suatu sikap yang dimiliki seseorang dan
menunjukkan jiwa atau sifat keberanian, keperkasaan, kegagahan,
dan kerelaan untuk berkorban dalam membela kebenaran dan
keadilan.

14.Sepi ing pamrih rame ing gawe adalah bekerja tanpa pamrih untuk
kepentingan bangsa tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Juga bisa
berarti sedikit mengharapkan imbalan, banyak bekerja. Ungkapan
tersebut mengandung arti yang menjunjung nilai luhur untuk tidak
selalu mendasarkan pekerjaan karena imbalannya. Sesuai dengan

18 NILAI-NILAI KEJUANGAN

pepatah “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan kepada dirimu,
tetapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada Negara”.

15.Kesetiakawanan, setia, senasib sepenanggunggan dan kebersamaan
adalah rasa kesetiakawanan dan senasib sepenanggunggan sebagai
sebuah bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan bersama,
mempertahankan kemerdekaan serta mengisi kemerdekaan dalam
kebersamaan sebagai warga negara; tekad untuk ingin hidup
bersama karena merasa senasib yaitu sama-sama dijajah dan
merasakan sakit dan berjuang bersama dalam proses sejarah
tersebut. Sejarah bangsa Indonesia yang panjang berada dalam
belenggu penjajahan. Kondisi ini telah melahirkan cita-cita yang
sama untuk merdeka sehingga merasa memiliki perasaan senasib,
kesetiakawanan, rasa setia dan kebersamaan untuk bebas dari
belenggu bangsa penjajah. Perasaan senasib sepenanggungan ketika
sama-sama hidup di alam penjajahan menjadikan mereka bersatu
padu, bangkit atau berjuang melawan penjajah tanpa melihat latar
belakang suku, agama, dan asal-usul etnis maupun bahasa.

16.Disiplin yang tinggi merupakan tindakan yang menunjukkan
perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan
yang berlaku. Disiplin membentuk kehidupan yang teratur dan
terorganisir dalam pola yang harmonis. Disiplin membuat waktu
yang dimiliki dapat dipergunakan secara produktif untuk
menjalankan semua kegiatan kehidupan dengan baik. Kegigihan,
ketekunan, dan keuletan adalah bagian terpenting dari disiplin diri.
Disiplin diri yang tinggi adalah dasar utama untuk membentuk
kehidupan masyarakat Indonesia yang profesional.

17.Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan,
hambatan dan gangguan adalah sikap dan perilaku pantang
menyerah atau tidak mudah putus asa ketika menghadapi berbagai
kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu
mengatasi kesulitan dalam mencapai tujuan.

Menurut Muthohar (2009) nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan
yang dapat mempersatukan bangsa ini terbagi menjadi dua.

1. Sebelum kemerdekaan nilai-nilai itu terangkum dalam istilah
merdeka. Merdeka ini dianggap amat bernilai tinggi dan menjadikan

NILAI-NILAI KEJUANGAN 19

wilayah jajahan Hindia Belanda bersatu padu. Menghilangkan sisi-sisi
perbedaan dan mengedepankan toleransi. Kata-kata merdeka begitu
dirindukan oleh semua pihak, mulai dari gerakan Budi Utomo, Sarekat
Islam, Sumpah Pemuda, dan perjuangan-perjuangan lokal yang lain.

2. Setelah merdeka dicarilah semua kepentingan suku-bangsa ini melalui
wakil-wakilnya dan semua sepakat untuk menjunjung tinggi kesamaan
nilai-nilai yang terangkum dalam istilah Pancasila (lima sila). Suatu
nilai dasar yang telah digali ini, diambil dari semua golongan yang ada
kemudian ditetapkan sebagai dasar kesepahaman untuk bergabung
dan menyatukan diri dalam suatu negara yaitu negara Indonesia.

Dari nilai-nilai kejuangan yang didasari rasa cinta ini muncul semangat
juang dan semangat kepahlawanan, yaitu rela berkorban, teguh, ulet, dan
percaya diri.

Kesimpulannya adalah nilai-nilai dasar kejuangan bangsa Indonesia
yaitu semua nilai yang terdapat dalam setiap sila Pancasila. Semua nilai
yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semua
nilai yang terdapat dalam UUD 45, baik dalam Pembukaan, Batang tubuh,
maupun Penjelasan. Nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia meliputi
religius, semangat merdeka, nasionalisme, patriotisme, rasa harga diri
sebagai bangsa yang merdeka, pantang mundur dan tidak kenal menyerah,
persatuan dan kesatuan, anti penjajah dan penjajahan, percaya diri dan
percaya pada hari depan yang gemilang dari bangsanya, idealisme kejuangan
tinggi, berani dan rela berkorban untuk tanah air, kepahlawanan, Sepi ing
pamrih rame ing gawe, kebersamaan dan senasib sepenanggungan, ulet,
tabah, dan disiplin.

E. Nilai dan Prinsip yang Diwariskan

Indonesia merupakan bangsa yang mempunyai peradaban kebudayaan
yang tinggi dan itu diakui oleh dunia terlihat dari diakuinya oleh PBB
sebagai organisasi terbesar di dunia. Seperti warisan cagar budaya dunia
dari Indonesia yaitu Kompleks Candi Borobudur (1991), Kompleks Candi
Prambanan (1991), Situs Prasejarah Sangiran (1996), dan Lanskap Budaya
Provinsi Bali: Sistem Subak (2012). Warisan karya budaya tidak benda di
antaranya wayang (2003), keris (2005), batik 2009), angklung (2010), tari
saman (2011), noken (2012), dan terakhir adalah pinisi (2017).

Pengakuan atas pinisi sebagai warisan dunia ditetapkan oleh UNESCO,

20 NILAI-NILAI KEJUANGAN

satu badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani
pendidikan, keilmuan dan kebudayaan dalam sidang ke-12 Komite Warisan
Budaya tidak Benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) di Pulau Jeju,
Korea Selatan, pada Kamis (7/12/2017). Semua itu menempatkan budaya
bangsa Indonesia sebagai warisan budaya dunia yang pantas untuk terus kita
ketahui dan pelajari. Kalau tanpa seni dan keilmuan tinggi tentu pinisi
tidak akan mampu mengarungi ganasnya lautan samudra dan
mengantarkan bangsa Indonesia (Sulawesi Selatan) ke berbagai pulau di
Nusantara maupun di negara lain pada tahun sebelum 1500-an.

Warisan sejarah bangsa Indonesia adalah sebuah bukti dari peradaban
yang berbentuk fisik maupun moral, peninggalan sejarah tersebut, bila dikaji
secara saksama, memiliki arti penting bagi masyarakat maupun kepentingan
bangsa untuk bisa memahami jati dirinya. Mengacu pada awal keberadaan
dari generasi ke generasi yang menunjukkan kepribadian dan nilai-nilai
moral. Nilai-nilai yang baik dari sebuah generasi wajib diwariskan ke
generasi berikutnya. Kita sebagai generasi sekarang juga mempunyai
kewajiban untuk meneruskan dan mewarisi. Bagaimanapun, nilai-nilai baik
tersebut merupakan kearifan setiap generasi.

Sama halnya dengan mereka yang merasa punya nilai kejuangan,
pembela tanah air, nusa dan bangsa, disiplin nasional, dan lain sebagainya.
Padahal tidak ada metodologi yang jelas untuk menumbuhkembangkannya.
Bagaimana mungkin seseorang tiba-tiba bisa menjadi pejuang dan punya
disiplin nasional, tanpa dibina melalui pembiasaan sehingga menjadikan
“habitual” dalam kehidupan sehari-hari (Adiwijoyo, 2000: 121-122).

Sejarah bangsa mempunyai peranan yang sangat strategis dalam rangka
pembentukan kepribadian bangsa atau nation character building. Sesuai
dengan pendapat dari Suyatno Kartodirdjo, tanpa mengetahui sejarahnya
suku bangsa tidak mungkin mengenal dan memiliki identitasnya, untuk itu
pengajaran sejarah berkedudukan sangat strategis dalam pendidikan
nasional sebagai soko guru dalam pembangunan bangsa (Kartodirdjo, 1989:
9) sehingga dalam proses pewarisan nilai kejuangan bangsa Indonesia tanpa
mengetahui sejarah bangsa adalah sebuah kemustahilan.

Walaupun lingkungan masyarakat Indonesia sejak tahun 1945 telah
mengalami kemajuan dan perkembangan seperti dalam bidang penerapan
teknologi modern dan pedekatan-pendekatan dalam pembangunan lain yang
lebih disempurnakan, sistem nilai yang melandasi pembangunan masyarakat
Indonesia sebagaimana yang diungkapkan dalam Pancasila dan UUD tahun

NILAI-NILAI KEJUANGAN 21

1945 tidak berubah dan tidak akan berubah. Pancasila sebagai falsafah
hidup, dasar negara, pandangan hidup, dan pedoman hidup bangsa menuntut
seluruh warga negara untuk bertindak berdasarkan pada Pancasila. Mulai
dari cara berpikir, sikap mental maupun tingkah laku mencerminkan
implementasi dan nilai-nilai luhur Pancasila. Kepatuhan dan ketaatan setiap
warga negara, lembaga negara, organisasi-organisasi kemasyarakatan dan
politik terhadap Pancasila tidak cukup hanya batin saja, tetapi perlu
penghayatan dan pengamalannya. Secara rinci nilai-nilai dan prinsip-
prinsip yang diwariskan dan telah mendapat kesepakatan seluruh rakyat
(Suhady, 2006: 52-53) sebagai berikut.

1. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai falsafah dan
pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia yang tercermin dalam
pembukaan UUD 1945.

2. Lima sila dalam Pancasila yang masing-masing merupakan nilai-nilai
intrinsik yang abstrak-umum-universal tetap tidak berubah, terlepas
dari perubahan dan perkembangan zaman dan kelima-limanya
merupakan kesatuan bulat dengan susunan yang hierarchis pyramidal.

3. Nilai-nilai yang terkandung dalam pembukaan Undang-Undang Dasar
Tahun 1945.

a. Negara Kesatuan, negara yang melindungi dan meliputi segenap
bangsa Indonesia. Negara mengatasi segala paham golongan,
mengatasi segala paham perseorangan.

b. Tujuan negara, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia serta untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

c. Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar atas kerakyatan dan
permusyawaratan perwakilan.

d. Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.

e. Negara yang merdeka dan berdaulat.
f. Anti penjajahan, karena penjajahan tidak sesuai dengan peri-

kemanusiaan dan peri-keadilan.

Kesimpulannya, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diwariskan dan
telah mendapat kesepakatan seluruh rakyat adalah Proklamasi Kemer-

22 NILAI-NILAI KEJUANGAN

dekaan 17 Agustus 1945 sebagai penjelma falsafah dan pandangan hidup
seluruh bangsa Indonesia yang tercermin dalam pembukaan UUD 1945.
Lima sila dalam Pancasila yang masing-masing merupakan nilai-nilai
intrinsik yang abstrak-umum-universal tetap tidak berubah, terlepas dari
perubahan dan perkembangan zaman dan kelima-limanya merupakan
kesatuan bulat dengan susunan yang hierarchis pyramidal.

F. Hakikat Mempelajari Perjuangan Bangsa

Hakikat adalah intisari dan kenyataan sebenarnya. Hakikat dalam
mempelajari sejarah bangsa bisa terlihat dari keterkaitan sejarah
antargenerasi dalam proses kebangsaan Indonesia sehingga menimbulkan
sebuah pemahaman yang menyeluruh dan utuh dan tidak bisa memutus
hubungan sejarah antargenerasi. Nilai kejuangan dalam sejarah Indonesia,
adalah nilai kejuangan yang dimaksudkan untuk menggambarkan daya
dorong perlawanan dan pendobrak yang mampu membawa bangsa ini
untuk membebaskan dirinya dari penjajahan bangsa asing supaya kita
merdeka dan berdaulat. Hakikat mempelajari dan menghayati sejarah
perjuangan bangsa adalah upaya membangkitkan Kesadaran Nasional yang
mengandung arti peristiwa Nasional di masa lampau, situasi Nasional di
masa kini, dan aspirasi Nasional di masa mendatang (Suhady, 2006: 48-49).

Masa Lalu Kekinian Masa Depan

Sebagai guru & Menghayati, Sebagai, inspirasi
pelajaran penting dari mencontoh dan modal dan bekal
melaksakan nilai dalam menghadapi
sejarah perjuangan dinamika kehidupan
bangsa perjuangan dimasa yang akan
bangsa dengan datang dengan jiwa,
menyesuaikan semangat, dan nilai
kondisi sekarang

Gambar 1. Hakikat Mempelajari Perjuangan Bangsa.

Kita bisa melihat bagaimana keterkaitan antara masa lalu, sekarang, dan
masa depan. Masa lalu atau sejarah perjuangan bangsa akan terus menjadi
guru yang paling bijaksana untuk kehidupan masa sekarang. Generasi
sekarang harus menghayati, mencontoh, dan melaksanakan nilai perjuangan
bangsa sebagai sebuah kewajiban sebagai pewaris sejarah bangsa,
sedangkan sejarah perjuangan bangsa mempunyai peranan penting untuk
masa depan adalah sebagai inspirasi modal dan bekal dalam menghadapi
kehidupan yang akan datang.

NILAI-NILAI KEJUANGAN 23

Kemampuan pandang tiga dimensi harus dimiliki sehingga perjuangan
bangsa Indonesia membimbing kita dan dijadikan sebagai edukasi dan
inspirasi bagi perjuangan selanjutnya. Pada peristiwa nasional di masa
lampau, dari aspek politik, berkat perjuangan bangsa telah mampu berdaulat
dalam sebuah negara di tingkat nasional dan regional yaitu negara Sriwijaya
dan Majapahit. Dari aspek sosial ekonomi kita pernah mencapai martabat
bangsa yang penuh ketenteraman, kesejahteraan, kemakmuran sebagai
gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, mampu membuktikan
dalam pertanian, perdagangan, pelayanan dan sebagainya. Dari aspek
rohani kita telah menerapkan prinsip-prinsip toleransi hidup beragama
misalnya antara agama Hindu, Buddha, Islam, dan Nasrani. Dengan
kedatangan bangsa-bangsa Eropa Barat di Indonesia kehidupan bangsa
menjadi terpecah. Kita kehilangan kemerdekaan, baik bidang politik,
ekonomi, maupun sendi-sendi kemasyarakatan yang berakibat
penderitaan lahir danbatin.

Dalam sejarah bangsa kita sering kali mengalami penindasan dengan
berbagai bentuk. Rakyat pada awalnya mengadakan perlawanan dalam
wujud “perang lokal” yang dilakukan oleh raja dan pemimpin agama.
Berkat pengalaman sejarah perjuangan bangsa dalam mengusir penjajah
dan mengemban amanat penderitaan rakyat akhirnya mampu melandasi
timbulnya semangat untuk menjadi bangsa yang bersatu. Rakyat Indonesia
mempunyai semangat pengabdian, pengorbanan, sikap perkasa, gagah
berani, rela berkorban karena ada kesadaran dan rasa tanggung jawab
membela kebenaran, keadilan, dan kejujuran demi kebaktian terhadap
nusa dan bangsa yang tercinta.

Jiwa dan makna dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam mewu-
judkan membutuhkan proses yang cukup memakan waktu dan pengorbanan
yang cukup besar. Jiwa perjuangan bangsa merupakan penerus perjuangan
yang didahului dengan menghancurkan seluruh kekuatan imperialisme dan
kolonialisme di persada Nusantara berupa sifat mental yang mengandung
moral nasional yang luhur (Suhady, 2006: 50-51) sebagai berikut.

1. Jiwa merdeka, yaitu jiwa yang sadar akan kemampuan sendiri tanpa
ketergantungan pada negara lain dan memiliki martabat yang sejajar
dengan bangsa-bangsa lain.

2. Jiwa persatuan dan kesatuan, yaitu sadar akan pentingnya rasa
persatuan dan kesatuan bangsa.

3. Jiwa konsekuen tanpa pamrih dan sederhana, yaitu sadar untuk

24 NILAI-NILAI KEJUANGAN

membina prinsip-prinsip, berani berkorban serta wajar dan jujur dalam
bertindak.

4. Jiwa kokoh yang tidak kenal menyerah, sadar membela nilai-nilai
luhur, berinisiatif, dan tidak kenal menyerah.

5. Jiwa propatria, yaitu mempunyai rasa cinta yang besar terhadap tanah
air.

6. Jiwa kepeloporan dan kepemimpinan yaitu ikut aktif dalam berjuang
dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.

7. Jiwa keikhlasan berjuang, yaitu ikhlas dalam membela kepentingan
nasional.

Gambar 2. Alur Hakikat Perjuangan Bangsa.

Bagaimana generasi bangsa pastinya memiliki jiwa, semangat, dan
nilai kejuangan dalam diri setiap zaman, generasi tersebut pastinya
memiliki eksistensi pada kehidupan bernegara dan memiliki
permasalahan yang akan dihadapi. Pada saat permasalahan itu muncul
maka setiap generasi atau zaman merespons kondisi tersebut sehingga
menghasilkan solusi yang berwujud pengetahuan dan nilai kebangsaan.
Solusi dan wawasan kebangsaan tersebut mewujudkan ketahanan
nasional dan diwariskan kepada generasi berikutnya menjadi sejarah
bangsa Indonesia. Sejarah tersebut diteruskan generasi berikutnya dan
akan terus berulang dengan proses yang sama sehingga kehidupan
bangsa Indonesia tidak akan pernah berhenti dan setiap generasi ke
generasi berikutnya ada benang merah yang akan terus berhubungan.
Sebagaimana bisa dilihat dalam nilai kejuangan pada zaman sekarang
perjuangan adalah membebaskan dari kebodohan, kemiskinan,

NILAI-NILAI KEJUANGAN 25

penurunan kualitas karakter bangsa dan berbeda dengan kejuangan pada
masa penjajahan yang sudah berlalu.

Berdasarkan penjelasan, dapat disimpulkan bahwa hakikat
mempelajari perjuangan bangsa itu adalah sejarah bangsa Indonesia
sebagai sebuah benang merah yang saling berkaitan antargenerasi.
Situasi nasional saat ini pasti disebabkan oleh peristiwa nasional di masa
lampau dan bisa menjadi aspirasi nasional di masa yang akan datang
atau masa depan bangsa.

G. Ringkasan

Pengertian nilai kejuangan adalah konsep yang berkenaan dengan sifat,
mutu, keadaan tertentu yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan yang
menyangkut upaya tidak kenal lelah untuk tetap eksis secara bermartabat.
Nilai kejuangan dalam sejarah Indonesia, nilai kejuangan dimaksudkan
untuk menggambarkan daya dorong perlawanan dan pendobrak yang
mampu membawa bangsa ini untuk membebaskan dirinya dari penjajahan
bangsa asing. Nilai kejuangan pada zaman sekarang adalah perjuangan
pada membebaskan dari sifat kebodohan, kemiskinan, penurunan kualitas
karakter bangsa.

26 NILAI-NILAI KEJUANGAN

BAGIAN KETIGA
MEMBANGUN KARAKTER

KEBANGSAAN

Kebesaran suatu bangsa terlihat dengan kesuksesan dalam
mencapai tujuan kemajuan bangsa. Bukan hanya ditentukan oleh
dimilikinya sumber daya alam yang melimpah ruah, akan tetapi
sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Kita sudah
disuguhi bagaimana kebesaran Yunani juga disebabkan kondisi geografis,
yaitu tanah gersang dan panasnya kondisi alam. Keberadaan bahan
makanan gandum tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh
penduduk Yunani sehingga mengharuskan penduduk Yunani untuk
melakukan perjalanan dan perdagangan ke daerah lain yang jauh dari
tanah kelahirannya. Kondisi alam yang panas juga menyebabkan rasa
optimisme penduduk Yunani untuk mengembangkan kebudayaan dan
pelbagai hal sehingga memunculkan pemikir-pemikir besar seperti,
Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Negara Jepang menjadi negara yang tangguh dalam menghadapi gempa
bumi yang hampir setiap tahun melanda daerah tersebut. Masyarakat sangat
terbiasa dengan kondisi tersebut, bahkan karena setiap tahun mengalami
gempa, teknologi kegempaan dan teknologi dalam mengantisipasi sangat
maju dengan pesat sehingga kita bisa melihat saat Jepang terjadi gempa
dalam waktu singkat segera negara membangun dan keadaannya kembali
seperti semula. Kondisi tantangan alam dari penduduk Yunani dan Jepang
menyebabkan munculnya karakter bangsa yang optimis dalam menyikapi
permasalahan yang dihadapi tersebut.

NILAI-NILAI KEJUANGAN 27

Bangsa kita yang sangat melimpah seperti pepatah Jawa “Gemah
ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo” yang intinya bahwa Indonesia
mempunyai kekayaan yang melimpah dan keadaan yang tenteram. Lagu
Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu” bagaimana syairnya menyiratkan
dan menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia dengan hanya bermodal
“kail dan jala bisa untuk menghidupi” dirinya dan keluarga, karena di
syair tersebut juga menggambarkan bagaimana “ikan dan udang datang
menghampirimu”.

Kolam Susu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalacukupmenghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Dari lagu tersebut, dapat digambarkan kehidupan bangsa kita sudah
disediakan oleh alam, dan itu bertolak belakang dengan kondisi pada
Yunani Kuno. Bangsa Indonesia seolah-olah tidak ada daya juang yang
bisa dimunculkan, karena bangun tidur semua sudah ada, air, ikan,
tanaman, semua tersedia dan dapat hidup di bumi persada kita. Tidak
ada badai dan topan yang kita temui sehingga dengan menghubungkan
syair lagu tersebut dengan kehidupan bangsa Indonesia, kita akan sulit
menemukan nilai kejuangan kalau hanya bermodal kekayaan sumber
daya alam. Seharusnya sumber daya alam yang melimpah ini sebagai
modal yang besar untuk terus bersaing dengan bangsa-bangsa yang ada
di dunia saat ini. Bukan sebaliknya semakin membuat kita malas
berjuang karena merasa semua sudah disediakan oleh alam Indonesia.

28 NILAI-NILAI KEJUANGAN

Bahkan, ada yang mengatakan bahwa “Bangsa yang besar dapat
dilihat dari kualitas/karakter bangsa (manusia) itu sendiri”. Dilihat dari
segi manajemen suatu organisasi, unsur manusia merupakan unsur yang
paling utama dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya seperti: uang
(money), metode kerja (method), mesin (machine), perlengkapan
(material), dan pasar (market), dikatakan demikian, karena tidak dapat
dipungkiri bahwa adanya daya guna, manfaat, dan peran unsur-unsur
tersebut, hanya dimungkinkan apabila unsur “manusia” mempunyai,
memiliki daya/kekuatan untuk memberdayakan berbagai unsur
dimaksud sehingga masing-masing unsur dapat memberi hasil, manfaat,
daya guna dan peran dalam manajemen tersebut (Suhady, 2006: 56).

Ketika bangsa Indonesia bersepakat untuk memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa
menyadari bahwa paling tidak ada tiga tantangan besar yang harus
dihadapi. Pertama, adalah mendirikan negara yang bersatu dan
berdaulat, kedua adalah membangun bangsa, dan ketiga adalah
membangun karakter. Ketiga hal tersebut secara jelas tampak dalam
konsep negara bangsa (nation-state) dan pembangunan karakter bangsa
(nation and character building). Pada implementasinya kemudian upaya
mendirikan negara relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan upaya
untuk membangun bangsa dan membangun karakter. Kedua hal terakhir
itu terbukti harus diupayakan terus-menerus, tidak boleh putus di
sepanjang sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia (Samani, 2016: 1).
Salah satu bapak pendiri bangsa, Bung Karno bahkan menegaskan
(Samani, 2016: 1): “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan
pembangunan karakter (character) karena character building inilah yang
akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya,
serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan maka
bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”.

Kepribadian adalah organisasi dinamis di dalam individu yang
terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan tingkah laku dan
pikirannya secara karakteristik dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungan. Watak/ karakter dan kepribadian adalah satu dan sama, tapi
dipandang dari segi yang berlainan. Jika hendak mengadakan penilaian
maka lebih tepat dipakai istilah “watak”. Temperamen adalah gejala
karakteristik yang bergantung pada faktor konstitusional dan karenanya
terutama berasal dari keturunan. Apabila dilihat dari peran warga negara,
maka tidak bisa jika tidak berkarakter (character). Warga negara atau

NILAI-NILAI KEJUANGAN 29

masyarakat diharapkan memiliki perilaku yang membangun yang
kondusif dalam mendukung cita-cita bangsa dan negara. Dengan
demikian, warga negara atau masyarakat dapat memainkan perannya
sebagai perekat persatuan dan kesatuan dalam berbagai segi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sesuai dengan pendapat Hasan (2010: 8) bahwa nilai-nilai yang
dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia memiliki empat
sumber autentik. Keempat nilai itu ialah agama, Pancasila, budaya, dan
tujuan pendidikan nasional. Keempat nilai tersebut saling berkelindan
dan menunjukkan hubungan erat. Artinya, keempat nilai tersebut tidak
berdiri secara terpisah. Pertama, agama. Masyarakat Indonesia memiliki
agama yang dapat dijadikan pedoman dalam berperilaku. Di dalam
agama, telah diatur tata kehidupan untuk mewujudkan keharmonisan.
Ketika seseorang telah menginternalisasi nilai-nilai keagamaan dalam
menghayati kehidupan, maka ia memiliki pedoman hidup yang akan
membawa pada keselamatan.

Kedua, Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak awal
masa kemerdekaannya tegak dengan asas-asas Pancasila. Artinya, nilai-
nilai Pancasila secara alamiah telah menjadi pengatur kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, muara pendidikan karakter
bangsa ialah mewujudkan generasi yang mampu menjadi warga negara
taat, memiliki kemampuan, kemauan, menerapkan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupannya sebagai warga negara. Ketiga, budaya. Budaya
memiliki peran penting dalam menentukan daya beda. Sementara itu,
budaya timur yang ada di Nusantara, baik berupa sopan santun, nilai
kearifan lokal, teramat penting dalam kehidupan bermasyarakat
mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya
dan karakter bangsa.

Keempat, tujuan pendidikan nasional. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional
yang harus menjadi pijakan dalam pengembangan pendidikan di
Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi

30 NILAI-NILAI KEJUANGAN

warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

A. Pengertian Membangun Karakter

Karakter adalah cara berpikir dan perilaku yang menjadi ciri khas
tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup
keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter
baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat
(Damayanti, 2014: 11). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008)
karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dengan yang lain. Screnko (1997) men-
definisikan karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan
membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas mental dari
seseorang, suatu kelompok, atau bangsa (dalam Samani, 2016: 42).

Dari segi bahasa, membangun karakter (character building) terdiri dari 2
(dua) kata yaitu: membangun (to build) dan karakter (character). Adapun arti
“membangun” bersifat memperbaiki, membina, mendirikan, mengadakan
sesuatu. “Karakter” adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau
budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dalam konteks
bahan ajar ini pengertian “membangun karakter” (character building) adalah
suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki,
dan/atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti),
insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah
laku yang baik berlandaskan nilai-nilai Pancasila (Suhady, 2006: 57).

Upaya membangun karakter akan menggambarkan hal-hal pokok
sebagai berikut (Suhady, 2006: 57).

1. Merupakan suatu proses yang terus-menerus dilakukan untuk
membentuk tabiat, watak, dan sifat-sifat kejiwaan yang berlandaskan
kepada semangat pengabdian dan kebersamaan.

2. Menyempurnakan karakter yang ada untuk terwujudnya karakter
yang diharapkan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan
pelaksanaan pembangunan.

3. Membina karakter yang ada sehingga menampilkan karakter yang
kondusif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
yang dilandasi dengan nilai-nilai falsafah bangsa yakni Pancasila.

Membangun karakter bangsa pada hakikatnya adalah agar sesuatu

NILAI-NILAI KEJUANGAN 31

bangsa atau masyarakat itu memiliki karakter sebagai berikut (Suhady,
2006: 58).

1. Adanya saling menghormati dan saling menghargai di antara sesama.

2. Adanya rasa kebersamaan dan tolong-menolong.

3. Adanya rasa persatuan dan kesatuan sebagai suatu bangsa.

4. Adanya rasa peduli dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

5. Adanya moral, akhlak yang dilandasi oleh nilai-nilaiagama.

6. Adanya perilakudan sifat-sifat kejiwaan yang saling menghormati dan
saling menguntungkan.

7. Adanya kelakuan dan tingkah laku yang senantiasa menggambarkan
nilai-nilai agama, nilai-nilai hukum, dan nilai-nilai budaya.

8. Sikap dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebangsaan.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka sifat karakter suatu bangsa/
masyarakat pada dasarnya dapat dikenali pada dua sifat (Suhady, 2006:
58- 59), yaitu:

1. Karakter yang bersifat positif, yakni suatu tabiat, watak yang
menunjukkan nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.

2. Karakter yang bersifat negatif, yakni tabiat, watak yang menunjukkan
nilai-nilai negatif terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Kementerian Pendidikan Nasional (dalam Suyadi, 2013:8-9)

merumuskan 18 nilai karakter yang akan ditanamkan dalam diri peserta
didik sebagai upaya membangun karakter bangsa yaitu religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin
tahu, semangat kebangsaan dan nasionalisme, cinta tanah air,
menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli
lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Dapat disimpulkan bahwa pengertian membangun karakter adalah
suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki,
dan/atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti),
insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara sehingga mewujudkan sikap, pemikiran, dan tingkah laku
yang baik.

32 NILAI-NILAI KEJUANGAN

B. Faktor-faktor yang Membangun Karakter

Karakter sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau
budi pekerti merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dapat dikatakan bahwa
karakter manusia Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara merupakan kunci yang sangat penting untuk mewujudkan
cita-cita perjuangan guna terwujudnya masyarakat adil dan makmur
berlandaskan Pancasila.

Dikatakan penting karena karakter mempunyai makna atau nilai
yang sangat mendasar untuk memengaruhi segenap pikiran, tindakan,
dan perbuatan setiap insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Nilai yang dimaksud antara lain (Suhady,
2006: 59): kejuangan, sopan santun, semangat, persatuan dan kesatuan,
kebersamaan atau gotong royong, kekeluargaan, kepedulian atau solider,
tanggung jawab.

Nilai-nilai tersebut tampaknya cenderung semakin tidak terasa
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Hal itu terlihat secara
jelas pada lemahnya moralitas masyarakat di negeri ini yang terjerat
dalam berbagai kasus seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang,
terkena narkoba, asusila, dan lain-lain yang mencerminkan tidak kuatnya
nilai-nilai tanggung jawab masyarakat.

Ironisnya lagi, maraknya pejabat yang korupsi, penyalahgunaan
narkoba, penyelewengan kebijakan, lebih mementingkan kepentingan
partai sehingga menyebabkan banyak energi yang dihabiskan dengan
sia- sia, padahal yang seharusnya bisa digunakan untuk-hal-hal yang
positif untuk memajukan bangsa Indonesia yang lebih unggul ke
depannya.

Kini, sangat sulit ditemukan figur teladan yang mampu menegakkan
sikap-sikap luhur. Faktanya, korupsi yang menggurita, kemunculan
mafia pangan, perselingkuhan yang dilakukan oleh kalangan terdidik,
dan kekerasan kepada pihak yang lebih inferior semakin marak terjadi.
Ironisnya, perbuatan tidak bermoral itu banyak dilakukan oleh pejabat
pemerintah dan insan yang mengenyam pendidikan tinggi (Budiharjo,
2015: 1).

Di dalam dunia internal pendidikan, maraknya jual beli ijazah palsu,
perilaku menyontek di kalangan remaja, guru yang memberikan
bocoransoal, orang tua yang gemar menyiksa anak-anaknya merupakan
fenomena gunung es di negeri ini. Padahal, seharusnya dunia pendidikan

NILAI-NILAI KEJUANGAN 33

steril dari berbagai bentuk penyimpangan moral. Negeri Indonesia yang
terkenal dengan budi pekerti luhur pun ternoda oleh kenyataan bahwa
mempertahankan sikap beradab secara kolektif dan massal sangat sulit
dilakukan.

Beberapa tahun lalu, marak para pemuda Indonesia yang bergabung
dalam kepemimpinan ISIS (Islamic State in Iraq dan Syiria) di Timur
Tengah untuk mendirikan negara khilafah dan ingin menggantikan
kedudukan Pancasila. Kondisi tersebut mencerminkan ketidakkukuhan
nilai-nilai kebangsaaan. Kebijakan dana desa yang diterapkan oleh
pemerintah yang menggelontorkan dana untuk pembangunan masing-
masing desa di penjuru Indonesia, juga beberapa terjadi ketidaksesuaian
penggunaannya. Seharusnya dana desa itu sebagai perangsang untuk
memunculkan kearifan lokal bangsa kita yaitu gotong royong dan
musyawarah (rembuk desa) tetapi itu tidak dilaksanakan. Rata-rata
pembangunan sekarang dikerjakan oleh tangan kedua atau melalui lelang
sehingga menyebabkan kegagalan memunculkan kearifan lokal gotong
royong dan musyawarah (rembuk desa). Kondisi tersebut mencerminkan
lunturnya nilai-nilai rasa gotong royong, kekeluargaan, dan tanggung
jawab.

Konflik antar-etnis, suku, agama juga memakan banyak korban
harta maupun jiwa. Selain konflik agama dan etnis tersebut, juga
ditemukan konflik politik yang bersifat regional (daerah), yakni adanya
suatu kelompok kekuatan politik di daerah yang ingin memisahkan diri
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti di Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam, yang ditandai dengan adanya Gerakan Aceh Merdeka
(GAM). Di Papua juga terjadi hal serupa yang ditandai dengan adanya
gerakan secara terorganisir dari Organisasi Papua Merdeka (OPM),
sedangkan di Maluku ada gerakan RMS (Republik Maluku Selatan).

Bentrok antarsiswa sekolah dan mahasiswa yang juga tidak sedikit
merenggut nyawa di antara sesama mereka dan sudah merembes
terhadap kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Wawasan
kebangsaan tampaknya sudah tidak menjiwai watak masyarakat kita
yang selama ini disebut sebagai masyarakat yang penuh toleransi, saling
menghormati di dalam kemajemukan masing-masing dan hidup secara
bergotong royong.

Kini, segenap elemen bangsa perlu berbenah dan berperan sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing. Kehidupan yang harmonis,
tenteram, tenang, dan damai merupakan harapan bersama. Hal itu hanya

34 NILAI-NILAI KEJUANGAN

dapat terwujud melalui pembentukan karakter yang luhur, yakni sesuai
dengan kearifan sila-sila Pancasila. Betapapun degradasi moral telah
menjajah ketenteraman bangsa, harapan untuk senantiasa keluar dari
krisis moral harus terus dijaga bersama. Salah satu upaya
mengembalikan citra luhur bangsa ialah melalui pendidikan karakter
(Budiharjo, 2015: 2).

Mengingat karakter suatu masyarakat, bangsa, dan negara
mempunyai nilai dan makna yang sangat strategis, faktor-faktor yang
perlu dan senantiasa diperhatikan antara lain ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya, agama, normatif (hukum dan peraturan perundangan),
pendidikan, lingkungan, kepemimpinan (Suhady, 2006: 61).

Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang perlu dan senantiasa
diperhatikan adalah ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama,
hukum dan perundangan, pendidikan, lingkungan, kepemimpinan.
Semuanya bisa berjalan secara menyeluruh dan mendalam dengan
pemahaman yang utuh dari bangsa kita. Tidak mungkin sebuah usaha
pembangunan karakter bangsa disebabkan oleh monofactor sehingga
bisa mengetahui keterkaitan antara faktor yang satu dengan faktor yang
lain.

C. Karakter Bangsa dalam Pancasila

1. Pandangan tentang Pancasila

a. Pendapat Sukarno

Berikut kutipan dari pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945
(Sunoto, 2000: 52).

“Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak
pikiran telah dikemukakan, macam-macam, tetapi alangkah benarnya
perkataan dr. Soekiman perkataan Ki Bagus Hadikoesoemo, bahwa kita harus
mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencari
persetujuan philosophiche grondslag mencari satu “Weltanschauung” yang kita
semua setuju. Saya katakan setuju! Yang Ki Hajar Dewantara setujui, yang
saudara Sanusi setujui, yang saudara Abikoesno setujui,yang saudaraLim Koen
Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin ini bukan
compromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang bersama-sama
setujui. Apakah itu? Pertama-tama, saudara-saudara, yang bertanya: apakah
kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk
mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan
yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

NILAI-NILAI KEJUANGAN 35

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang
bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang
dinamakan kaum Islam, semua telah mufakat bahwa bukan negara yang
demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara
“semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan,
baik golongan yang kaya, tetapi “semua buat semua”.

Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka yang
selalu mendengung di dalam saya punya jiwa bukan saya di dalam beberapa
hari ini dalam sidang Dokuritsy Zyumbi ini, akan tetapi sejak pertama, yang
baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan. Kita
mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia.

Kemudian mengenai sila-sila berikutnya dikatakan sebagai berikut.

Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah filosofish principe yang nomor dua,
yang saya usulkan kepada tuan-tuan yang boleh saya namakan
“Internasiolisme”. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya
bermaksud kosmopolitisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang
mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada
Inggris, tidak ada Amerika dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam
buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup
dalam taman sarinya Internasionalisme. Jadi dua hal ini, saudara- saudara
prinsip 1 dan prinsip 2, yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan
sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar
perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara
untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun
golongan kaya.”

Selanjutnya dasar yang telah diusulkan tersebut diberi nama
Pancasila.

Hal ini ditegaskan di dalam kalimat berikut (Sunoto, 2000: 52):

“Saudara-saudara! Dasar-dasar Negara telah saya usulkan Lima Bilangan- nya.
Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma
berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang pada simbolik.
Simbolik angka lima. Hukum Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan.
Kita mempunyai pancaindra. Apalagi yang lima bilangannya? (seorang yang
hadir Pandawa Lima). Pandawapun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip,
kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula
bilangannya.

36 NILAI-NILAI KEJUANGAN

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk
seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Panca-Sila. Sila artinya asas atau
dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal
dan abadi. (tepuk tangan riuh). Berhubung dengan itu sebagai yang diusulkan
oleh pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel,
peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya isinya Indonesia Merdeka yang
kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Panca-Sila. Sebagaimana
dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus weltanschauung kita. Entah
saudara-saudara, itulah harus weltanschauung kita. Entah saudara-saudara
mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945
sekarang ini untuk weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis
Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia. Untuk kebangsaan yang hidup di dalam
peri-kemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk
ketuhanan.

Panca-Sila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh
tahun. Tetapi saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada
saudara-saudara.”

Dari kutipan tersebut tersirat dan tersurat makna Pancasila tidak
timbul begitu saja atau pernyataan secara spontan, akan tetapi hasil
perenungan jiwa yang dalam.

b. Pendapat Suharto

Pada upacara Pembukaan Penataran Calon Penatar Pegawai Republik
Indonesia Suharto mengatakan sebagai berikut (Sunoto, 2000: 56).

“Sungguh, bangsa kita harus menyatakan terima kasih yang tidak
terhingga dan hormat setinggi-tingginya kepada pendahulu- pendahulunya
kita, pendiri-pendiri Republik ini, karena dengan semangat persatuan dan
tanggung jawab sejarah yang tinggi, mereka telah dapat mengungkapkan
kembali pikiran-pikiran dan cita-cita yang terdalam inilah yang terungkap
dalam Pancasila, yang kemudian kita jadikan dasar falsafah negara kita,
menjadi ideologi bangsa kita. Pancasila adalah landasan moral dan politik
Negara Republik Indonesia. Dengan keluasan wawasan, ketajaman
pandangan dan kebijaksanaan yang matang, pendahulu-pendahulu kita
telah mampu merangkai dengan padat mutiara cita-cita yang tumbuh dan
berkembang dalam sejarah dan kebudayaan kita sendiri, yang menjiwai dan
menyemangati pergerakan dan perjuangan kemerdekaan kita, dalam
Pancasila tadi.

Dilihat dari sudut kemasyarakatan dan kenegaraan, maka Pancasila
menampilkan kembali semangat kekeluargaan yang menjadi ciri dan corak
utama kebudayaan bangsa kita. Dilihat dari kandungan cita- citanya, maka

NILAI-NILAI KEJUANGAN 37

Pancasila merupakan jawaban ideologis bangsa kita terhadap berbagai
falsafah dan ideologi lain yang berkembang di dunia ini, yang tidak urung
juga datang ke tengah-tengah masyarakat”

2. Karakter Berlandaskan Falsafah Pancasila

Para pendiri Republik ini telah merumuskan secara jelas dan tuntas apa
yang sesungguhnya menjadi pandangan hidup bangsa kita, yakni Pancasila.
Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat, pandangan hidup bangsa Indonesia
dan dasar negara. Di samping itu, Pancasila sekaligus adalah tujuan hidup
bangsa Indonesia. Pancasila merupakan pandangan hidup, kesadaran dan
cita-cita moral yang meliputi kejiwaan dan watak yang sudah berurat/
berakar di dalam kebudayaan bangsa Indonesia (Gunandjar, 2013:8).

Pancasila adalah wujud karakter bangsa Indonesia, bangsa yang
berketuhanan YME, bangsa yang berkemanusiaan, yang adil dan
beradab, bangsa yang mengedepankan persatuan, bangsa yang selalu
mengedepankan musyawarah untuk mufakat, dan bangsa yang menjunjung
tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Pancasila harus ditanamkan
dalam jiwa-jiwa anak bangsa melalui proses pendidikan di semua lapisan
masyarakat. Pancasila harus dihadirkan kembali dalam setiap nurani anak
bangsa dan Pancasila harus tercermin dalam setiap perilaku anak bangsa
(Gunandjar, 2013: 13). Sesuai dengan pendapat Samani mengenai karakter
dalam Pancasila (Samani, 2016: 22-24).
a. Bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa

Berketuhanan Yang Maha Esa merupakan bentuk kesadaran dan
perilaku iman dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi
bangsa Indonesia. Dalam kaitan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa,
manusia Indonesia adalah manusia yang taat menjalankan kewajiban
agamanya masing-masing, berlaku sabar atas segala ketentuan-Nya, ikhlas
dalam beramal, tawakal, dan senantiasa bersyukur atas apa pun yang
dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dalam hubungan antar-manusia, karakter
ini dicerminkan antara lain dengan saling menghormati, bekerja sama, dan
kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya, tidak
memaksakan agama dan kepercayaannya kepada orang lain, juga tidak
melecehkan kepercayaan agama seseorang (Samani, 2016: 22).

38 NILAI-NILAI KEJUANGAN

b. Bangsa yang Menjunjung Tinggi Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab

Diwujudkan dalam perilaku hormat-menghormati dalam
masyarakat sehingga timbul suasana kewargaan (civic) yang saling
bertanggung jawab, juga adanya saling menghormati antarwarga bangsa
sehingga timbul keyakinan dan perilaku sebagai warga yang baik, adil
dan beradab dan pada gilirannya karakter citizenship (perilaku sebagai
warga negara yang baik) ini akan memunculkan perasaan hormat dari
bangsa lain/ karakter kemanusiaan tercermin dalam pengakuan atas
kesamaan derajat, hak dan kewajiban, saling mengasihi, tenggang rasa,
peduli, tidak semena-mena terhadap orang lain, gemar melakukan
kegiatan kemanusiaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, berani
membela kebenaran dan keadilan, merasakan dirinya sebagai bagian
dari seluruh warga bangsa dan umat manusia (Samani, 2016: 22-23).

c. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Memiliki komitmen dan perilaku yang selalu mengutamakan
persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok,
dan golongan. Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap
menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa
di atas kepentingan pribadi atau golongan, suka bergotong-royong dengan
siapa saja saudara sebangsa, rela berkorban untuk kepentingan bangsa
dan negara, bangga sebagai bangsa Indonesia yang bertanah air Indonesia
serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia, memajukan pergaulan demi
persatuan dan kesatuan bangsa, cinta tanah air dan negara Indonesia yang
ber-Bhinneka Tunggal Ika (Samani, 2016: 23).

d. Bangsa yang Demokratris dan Menjunjung Tinggi Hukum dan
Hak Asasi Manusia

Bangsa ini merupakan bangsa yang demokratis yang tercermin dari
sikap dan perilakunya yang senantiasa dilandasi nilai dan semangat
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, menghormati pendapat orang lain.
Hikmat kebijaksanaan mengandung arti tidak adanya tirani mayoritas
(majority tyranny) atau sebaliknya juga tidak ada tirani minoritas
(minority tyranny). Tidak ada yang memaksakan kehendak atas nama
mayoritas, atau selalu berharap adanya toleransi (walau salah dan

NILAI-NILAI KEJUANGAN 39


Click to View FlipBook Version