Pulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi
Oleh Parfait
Kelas XII IPA 5 SMA Negeri 2 Cimahi
Jl. Sriwijaya IX No.45 A, Cimahi, Jawa Barat, 40524
Perancang Awal : Fahrani, Paquita, Ardiva, Ilmawan, Tri
Penulis : Fahrani, Paquita, Ardiva, Ilmawan, Tri
Penyunting naskah : Fahrani
Cover dan Ilustrasi : Giovani
Hak cipta dilindungi Undang – Undang
Diterbitkan oleh : Rumah Temen
Jln. Taman Gajah Mada, Cimahi Tengah, Kota Cimahi
Telp : 0815 6396 0934
154 hlm; 21 cm
Persembahan
Kami berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada
pembimbing kami Ibu Yuyun Sri Idaningsih, M.Pd. Tanpa
bimbingan, arahan, serta semangat dari beliau kami tidak dapat
menyelesaikan novel ini dengan sebaik – baiknya.
Kata Pengantar
Puji dan Syukur selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa karena limpahan rahmat dan karunia-Nya kam mampu
menyelesaikan novel dengan judul Pulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Novel
ini diangkat dari peristiwa sejarah pada tahun 1945 – 1963 yaitu
pembebasan Irian Barat. Dimana pada kala itu Irian Barat masih dikuasai
oleh Belanda, dan pemerintah Indonesia berjuang untuk merebutnya
kembali.
Di dalam menulis novel ini, kami sadar bahwa kami tidak akan
bisa menyelesaikannya tanpa ada bantuan dari berbagai pihak. Ucapan
terima kasih kami ucapkan kepada guru Bahasa Indonesia kami yaitu Ibu
Yuyun Sri Idaningsih, M.Pd. yang telah membantu kami dalam
penyusunan buku novel sejarah ini baik dalam ilmu dasar sebuah novel
sejarah, struktur dan kaidah kaidah yang terkandung dalam sebuah novel
sejarah sehingga kami dapat menyusun novel ini dengan sebaik – baiknya.
Besar harapan kami bahwa buku ini dapat meningkatkan minat
membaca sebuah novel yang mengandung unsur sejarah. Walaupun di
dalam novel ini tidak semua cerita atau peristiwa dalam novel ini kami
tampilkan sesuai kenyataannya. Namun yang terpenting adalah kita dapat
mengambil hikmah dari apa yang telah kita baca.
Sebagai pelajar yang masih berada dalam proses pembelajaran,
kami sadar bahwa novel yang kami buat masih belum pantas disebut
sebagai sebuah karya yang sempurna. Kami sadar tulisan kami masih
banyak memiliki kesalahan, baik dari tata bahasa maupun teknik
penulisan itu sendiri. Maka dari itu kritik, komentar, dan saran sangat
kami butuhkan sebagai bahan evaluasi untuk dapat menciptakan karya
yang lebih baik lagi
Cimahi, 26 Februari 2020
i
Daftar Isi
Kata Pengantar ............................................................................i
Daftar Isi.....................................................................................ii
Bab 1 Cerita Tentang Fakfak.......................................................1
Bab 2 Ular Pembawa Petaka .....................................................24
Bab 3 Sekolah Papua Harapan..................................................37
Bab 4 Mimpi Buruk Menjadi Nyata ...........................................42
Bab 5 Hallo Yogyakarta .............................................................48
Bab 6 Tiket Menuju Masa Depan ..............................................55
Bab 7 Rindu Pulang ..................................................................64
Bab 8 Rencana..........................................................................74
Bab 9 Keterpaksaan..................................................................78
Bab 10 Kecemasan....................................................................81
Bab 11 Perkenalan....................................................................88
Bab 12 Laut Arafuru .................................................................93
Bab 13 Terbongkar ...................................................................96
Bab 14 Pertempuran di Tanah Fakfak .....................................105
Bab 15 Misi Terakhir...............................................................127
Bab 16 Kembali ke Tanah Timur .............................................132
ii
1
Cerita Tentang Fakfak
Aku selalu ingin menjadi bagian dari Indonesia.
Indonesia. Tanah yang diberkati Tuhan akan
kekayaannya. Negeri yang terdiri atas pulau – pulau yang
membentang dari ujung barat hingga ujung timur. Disatukan
oleh lautan jernih yang juga menyimpan banyak kekayaan.
Begitulah Indonesia. Sungguh indah bukan ? Tetapi
menurutku itu belum cukup untuk membuat negeri ini terliha
Tanah Papua masih berada di bawah kekuasaan
Belanda. Itulah yang membuat Indonesia seperti tanaman
muda yang belum tumbuh menjadi tanaman sejati, terasa
belum lengkap jika Papua belum termasuk ke dalamnya. Itulah
tugas kami, anak bangsa, untuk mengusir bangsa asing yang
berkuasa atas tanah kami. Semangat saja tidak cukup.
Perjuangan fisik pun tidak cukup. Kami anak bangsa harus mau
menimba ilmu pengetahuan. Harus tahan akan lelahnya
belajar. Sebab ilmu pengetahuan adalah kunci segalanya.
Begitulah kata – kata yang diucapkan oleh Pak Silas
hari ini.
Kata – kata yang membuatku termenung memikirkan
bahwa semua keindahan yang kulihat sekarang ini masih
berada di genggaman pihak yang salah.
Ah kenapa aku harus pusing – pusing memikirkannya.
Itu kan hanya secuil motivasi dari guruku agar membuatku
semangat belajar.
Namun, ada sedikit hal yang mengganggu pikiranku.
Mengapa harus tanah Papua ini yang masih dikuasai ? Apakah
sesulit itu melepaskan tanah ini ? Aku pikir, tanah Papua sama
saja dengan tempat lain. Dekat dengan laut. Banyak hutannya.
Banyak masyarakatnya. Lalu, apa yang membuat tanah ini
sangat istimewa sehingga mereka tidak mau angkat kaki dari
negeri kami ?
Aku pun terdiam.
Mungkin, inilah tujuanku disekolahkan.
Agar aku dapat menemukan apa yang sebenarnya
diincar oleh bangsa asing itu.
Agar aku tahu bagaimana cara untuk membuat mereka
pergi dan tidak akan pernah lagi menduduki tanah kelahiranku
ini.
***
Namaku Thobias Mote.
Umurku tujuh tahun. Teman – temanku biasa
memanggilku Thobi. Badanku tidak terlalu tinggi, tidak juga
terlalu pendek, sama seperti anak – anak seusiaku pada
Cerita Tentang Fakfak
umumnya. Warna kulitku gelap. Tentu saja gelap. Aku
keturunan asli Papua.
Pace1ku adalah orang asli Fakfak2, namanya Marthen.
Ia berperawakan tinggi tegap dengan rambut ikal hitam pekat.
Sedangkan Mace3ku berasal dari Wamena4. Ia bernama Marisi.
Maceku ini sangatlah cantik. Rambutnya panjang
bergelombang. Ia memiliki sifat yang sangat penyayang.
Pace dan Mace bertemu di Pasar Wouma, salah satu
pasar yang ada di Wamena. Saat itu Pace sedang menawarkan
hasil molo5nya ke salah satu pelanggan setianya. Di sana ia
bertemu dengan Mace. Kisah yang panjang hingga mereka pun
menikah. Mereka memutuskan untuk tinggal di Kampung
Kokas, kampung asal Paceku di Fakfak. Di sanalah aku lahir
dan dibesarkan.
Beberapa hari yang lalu Pace memasukanku ke sekolah
dasar baru di daerah kami yang bernama Sekolah Papua
Harapan. Tentu saja aku mau masuk sana setelah perdebatan
yang panjang.
Semua itu berawal dari kedatangan seorang pria
setengah baya yang datang ke rumah kami. Pria itu berbadan
tegap. Rambutnya hampir sama seperti Pace, sedikit ikal
namun terlihat lebih rapi. Mungkin saja beliau baru
memangkasnya. Ia memilki kumis yang sedikit lebat. Matanya
sayu, namun tatapannya sangatlah mendalam. Menurutku ia
1 Ayah
2 Salah satu kabupaten yang terletak di Papua bagian selatan
3 Ibu
4 Salah satu kota terbesar yang terletak di Papua bagian tengah
5 menangkap ikan dengan cara menyelam
adalah orang yang ramah. Semenjak masuk rumah kami
sampai mengobrol pun, ia tidak pernah melunturkan
senyuman di wajahnya.
Nama pria itu adalah Silas Papare. Pace
memperkenalkan Pak Silas kepadaku dan Mace, ia
menceritakan bahwa Pak Silas ini adalah sahabat Pace. Pantas
saja sejak awal Pak Silas datang Paceku terlihat sangat
gembira. Seperti kawan lama yang berjumpa kembali.
Setelah duduk sebentar dan berbasa-basi, aku pun izin
ke dapur.
Aku malas ikut campur pembicaraan bapak – bapak.
Meskipun percakapan mereka terdengar seru, lama kelamaan
aku bosan juga. Lebih baik aku membantu Mace membuat
noken6.
“Lah, katorang tra7 ikut cerita?” tanya Maceku.
Aku pun mencari alasan. “Aduh, Mace, katong mo
bikin noken.”
“Alasan Katong ni. Katong tra suka bacarita,” kata
Maceku seolah – olah tingkah lakuku sudah menjelaskan
semuanya.
“Ish Mace ni, sa kan nak baik, biar Mace tra matawana8
sa ke sini buat bantu Mace,” Jawabku sambil merayu Mace.
6 Tas tradisional masyarakat Papua yang terbuat dari serat kayu
7 Tidak
8 Begadang
Cerita Tentang Fakfak
Mace hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Sudah,sekarang katorang ambil benang saja.”
“Siap, laksanakan !” jawabku sambil cengar – cengir.
Aku pun mengambil benang yang Maceku suruh.Mace
pernah memberitahuku bahwa benang – benang ini berasal
dari serat kayu yang sudah diolah dan dipintal menjadi benang.
Serat kayu yang dipakai berasal dari kayu pohon manduam,
pohon nawa, atau pohon anggrek hutan. Pohon – pohon itu
banyak ditanam di belakang rumah kami. Biasanya Mace yang
mengambilnya, terkadang Pace pun sering membantu jika hari
itu Pace tidak mendapatkan hasil molo atau sudah
mendapatkan hasil molo yang banyak. Serat- serat kayu yang
didapatkan kemudian diolah oleh tetangga kami. Kami tidak
mempunyai alat pemintal serat kayu itu untuk menjadi benang,
jadi kami meminta bantuan tetangga kami untuk
melakukannya. Setelah itu, biasanya tetangga kami juga ikut
membantu mengayam noken.
Hampir semua perempuan yang ada di tanah Papua ini
dapat membuat noken. Menurut tradisi, noken ini menjadi
syarat agar perempuan bisa menikah. Noken dijadikan sebagai
tanda kedewasaan setiap perempuan yang ada di Papua ini.
Lucu kan tradisi yang ada di daerahku ini ? Tapi tidak
semua perempuan benar – benar ahli dalam membuat noken.
Ada yang hanya sekedar bisa mengayam noken menjadi bentuk
tas kecil. Ada juga yang bisa mengayamnya menjadi noken
yang berukuran besar yang bisa digunakan untuk membawa
barang yang berat , seperti kayu bakar, barang belanjaan, atau
hasil panen. Seperti Maceku ini. Mace bisa membuat noken
dalam berbagai ukuran. Bahkan anyaman yang dibuat Mace
pun sangatlah kuat sehingga noken – noken buatan Mace tahan
lama dan tidak mudah rusak. Selain itu, noken buatan Mace
juga motifnya sangatlah unik. Mace dapat membentuknya
menjadi berbagai noken yang berwarna-warni dengan motifnya
yang indah.Mace selalu menjual noken – noken buatannya ke
pasar. Bahkan setiap harinya Mace pun mendapat pesanan dari
teman- temannya yang bekerja di pelabuhan. Biasanya teman
– temannya itu menjualnya kepada pendatang baru yang
membawa banyak bawaan atau menjualnya kembali ke luar
pulau.
Mace memang sehebat itu, tetapi Mace tidak pernah
sombong. Ia suka berbagi ilmu menganyamnya kepada
tetangga – tetangga dekat kami. Menurut Mace, rezeki itu
tidak akan kemana, meskipun tetangganya sama – sama
menjual noken hasil dari yang Mace ajarkan, Mace tidak akan
kekurangan pelanggan nokennya, justru ilmu yang Mace
ajarkan itu akan membawa keberkahan tersendiri bagi Mace.
Laki – laki tentu saja tidak bisa membuat noken.
Apalagi diriku yang masih kecil ini. Paling Mace hanya
menyuruhku untuk mengambilkan ini itu. Seperti sekarang ini,
aku disuruh mengambilkan benang. Aku pun memberikan
benang itu pada Mace.
Sambil membantu Mace merapikan noken-noken yang
sudah jadi, aku pun bertanya pada Mace mengenai tamu Pace
yang bernama Pak Silas itu.
Cerita Tentang Fakfak
“Mace, dorang9 tu bikin apa ?” tanyaku kepada Mace.
Maceku menjawab sambil sibuk mengayam benang.
“Ah tra tau. Cerita saja dorang tu.”
Mungkin saja Mace sedang sibuk. Aku tahu, pasti
sebenarnya Mace tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Tapi mengapa Mace tidak mau memberitahuku ? Perasaanku
tidak enak. Ah sudahlah biarkan, semoga tidak ada apa apa.
Setelah beres membantu Mace membuat noken, kami pun
tidur.
Pagi hari keesokan harinya, Pace memintaku untuk
membantunya mempersiapkan alat-alat untuk molo. Aku pun
mengambil senapan molo dan akar yang biasa Pace simpan di
atas rumah kami. Hari ini aku akan membantu Pace untuk
menangkap ikan di Pulau Pisang. Rumah kami berada di
Fakfak bagian dalam, jadi butuh waktu sekitar 10 menit untuk
berjalan melewati hutan kecil agar sampai di pesisir pantai.
Di tengah perjalanan tiba – tiba Paceku bertanya
padaku, “Katorang10 mo tra sekola?”
Aku pun terkejut dan bertanya, “Sekola ? Apa tu
sekola ?”
Paceku hanya tersenyum lalu menceritakan hal – hal
yang ia ketahui mengenai sekolah. Pace berkata bahwa sekolah
adalah tempat kita untuk belajar. Di sana ada guru yang akan
mengajari kita banyak hal. Mulai dari bagaimana cara
9 Mereka
10 Kamu
membaca suatu tulisan, bagaimana cara menghitung, sampai
bagaimana cara melakukan molo yang benar agar kita tetap
kuat menyelam dan mendapatkan ikan yang banyak. Selain itu,
Pace juga menceritakan bahwa di sekolah, kita akan bertemu
banyak teman, setelah belajar kita dapat bermain dengan
teman sepuasnya. Bahkan biasanya guru – guru juga akan
memberikan permainan agar murid-muridnya tidak bosan.
Mendengarkan penjelasan Pace mengenai sekolah itu
apa, aku berpikir bahwa sekolah itu menyenangkan. Namun,
mengapa Pace bisa tahu sekolah itu seperti apa sampai apa saja
yang dilakukan di sekolah. Memangnya Pace pernah
bersekolah ? Setahuku di dekat sini tidak ada sekolah.
Melihat diriku yang hanya terdiam dan terlihat
bingung, sepertinya Pace tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Lalu Pace pun melanjutkan ceritanya. Cerita mengenai
bagaimana ia tahu sekolah.
Saat Pace seusiaku dulu, ia mempunyai tetangga
bernama Pak Drio. Keluarga Pak Drio ini sangat dekat dengan
keluarga Pace. Tete11, ayah dari Pace, sudah menganggap Pak
Drio ini sebagai adiknya sendiri. Pak Drio ini memang terkenal
sebagai orang terpandai di kampung Pace, ia adalah orang yang
memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
Setiap hari Pak Drio selalu mencari tanaman-tanaman
yang menurutnya memiliki bentuk yang berbeda dari tanaman
yang biasa diambil oleh orang-orang di kampungnya. Karena
tanaman yang beliau temukan rata – rata berukuran besar,
11 Kakek
Cerita Tentang Fakfak
maka ia biasanya mengambil tanaman yang masih muda.
Menurutnya tanaman yang masih muda memiliki ukuran yang
kecil,mudah dibawa, dan juga sudah memiliki bentuk yang
lengkap; sudah ada akar, batang, dan daun. Tanaman muda
yang sudah ia temukan itu kemudian diamati bentuk serta
ukuran daun, batang, dan akarnya. Setelah itu ia akan
menempelkan tanaman tersebut di atas kulit babi yang sudah
dikeringkan menggunakan getah pohon karet sebagai perekat.
Ia berkata bahwa suatu saat nanti ia akan membawa
tanaman-tanaman itu ke suatu tempat di mana ia dapat
mempelajari lebih lanjut mengenai kegunaan dari tanaman-
tanaman itu. Menurutnya, semua makhluk hidup ciptaan
Tuhan itu tidak ada yang sia-sia, masing-masing punya fungsi
sesuai dengan porsinya masing-masing dan kita harus
mempelajarinya agar tahu tujuan setiap makhluk itu
diciptakan.
Melihat tingkah lakunya yang seperti itu warga
kampung hanya membiarkannya. Adapun yang pernah
memberitahunya bahwa lebih baik ia menangkap ikan seperti
warga kampung yang lain, Pak Drio pasti akan membantah
dengan argumen-argumennya. Hal itulah yang membuat warga
tidak banyak berkomentar mengenai kebiasaan Pak Drio ini.
Untungnya beliau adalah orang yang baik hati. Jika
mendapatkan sesuatu, ia tidak ragu untuk membagikannya
kepada tetangganya. Selain itu beliau juga sering diminta
pendapat oleh warga kampung jika mereka memiliki masalah.
Pak Drio dengan senang hati akan mendengarkan ceritanya
dan memberikan solusi yang menurutnya akan memecahkan
permasalahan. Dan itu benar. Hampir setiap masalah yang ia
beri solusi dapat terpecahkan dengan baik. Hal itulah yang
membuat Pak Drio ini terkenal dengan kepandaiannya dan
disegani warga kampung.
Suatu hari, keinginannya untuk menimba ilmu pun
terwujud. Ia memutuskan untuk berlayar ke pulau Jawa untuk
belajar di sana. Sebelum berangkat, tentunya Pak Drio
berpamitan dengan keluarga Pace. Layaknya adik yang akan
pergi jauh, Tete pun merasa sangat sedih. Tete berpesan agar
sahabatnya itu menjaga diri dan dapat kembali pulang dengan
selamat.
Waktu yang cukup lama sampai akhirnya Pak Drio
kembali. Kebahagiaan menyelimuti seisi kampung karena
warganya kembali dengan selamat. Semua warga kampung
sangat gembira. Bahkan beberapa warga menarikan tari
selamat datang layaknya menyambut tamu kehormatan.
Hangat sekali suasana kampung saat itu.Meskipun hidup
sendirian Pak Drio tidak pernah merasa kesepian. Semua
warga selalu menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Tentu saja jika seseorang berpergian jauh pasti akan
memperoleh sesuatu di perjalanannya. Bukan hanya
pengalaman, tetapi juga barang-barang yang sekiranya tidak
ada di tempat asalnya. Begitu juga dengan Pak Drio. Ia
membawa banyak sekali barang. Tidak hanya oleh-oleh untuk
warga kampung, beliau juga membawa banyak sekali benda
yang berbentuk persegi yang tebal. Pak Drio membagikan
oleh-oleh yang ia bawa ke masing-masing tetangganya, ia juga
mengundang tetangganya agar datang ke rumahnya untuk
Cerita Tentang Fakfak
makan malam dan berdoa bersama sebagai wujud rasa syukur
atas kembalinya ia ke Fakfak dengan selamat dan sebagai
wujud rasa terimakasih karena telah merawat rumahnya
selama ia pergi.
Malam pun tiba. Semua warga kampung terlihat sangat
gembira akan makan malam yang akan mereka adakan. Masing
– masing keluarga membawa makanan yang mereka masak.
Ada yang membawa ikan kuah asam, ikan bakar colo, dan ikan
bungkus. Ikan – ikan tersebut adalah hasil tangkapan molo
mereka hari ini. Ikan yang diolah bumbu begitu saja tentunya
belum terasa nikmat jika belum ada sambal colo-colo dan
sambal dabu-dabu. Para Mace di Fakfak ini tidak akan pernah
ketinggalan untuk membuat sambal. Pastinya selalu ada
papeda yang menjadi makanan utama. Semuanya berdoa
bersama lalu setelah itu mereka makan malam.
Setelah makan, semua warga kampung pun mengobrol
bersama, semuanya saling menceritakan kejadian-kejadian
yang terjadi ketika Pak Drio pergi merantau. Begitu pula
sebaliknya. Pak Drio pun menceritakan pengalamannya di
pulau Jawa. Ia menceritakan bagaimana perjuangan hidup di
sana. Dimulai dari harus makan makanan yang tidak biasa ia
makan. Bahkan makanan utamanya yaitu papeda pun tidak
tersedia di sana. Makanan pokok yang tersedia hanyalah
nasi.Mau tak mau ia pun terpaksa memakannya. Ia pun tidak
bisa makan ikan sesuka hati seperti di Fakfak. Ia hanya makan
ikan seminggu sekali. Namun lama kelamaan ia menjadi
terbiasa juga.
Selain itu orang – orang di pulau Jawa tidak begitu
mengerti perkataan yang Pak Drio ucapkan karena adanya
perbedaan penggunaan bahasa dan logat bicara. Hal tersebut
membuat Pak Drio harus bersusah payah untuk belajar bahasa
Indonesia dan bahasa Belanda sedikit demi sedikit agar
mereka bisa paham.Tidak hanya itu, ia pun harus belajar
membaca dan menulis tulisan. Lama-kelamaan ia pun mulai
mahir menggunakan bahasa Indonesia dan dapat melewati hari
demi hari dengan baik di sana.
Sampai akhirnya tujuannya untuk merantau pun
mendapatkan titik terang. Ia bertemu dengan seorang guru
biologi. Ia menunjukkan tanaman-tanaman yang ia bawa dari
Papua. Guru biologi itu senang melihat antusiasme untuk
belajar tentang tumbuhan. Ketika tidak sedang mengajar, guru
biologi itu sangat baik dan dengan sabar mau mengajari Pak
Drio tentang hal-hal yang belum Pak Drio ketahui. Sikap Pak
Drio yang sangat haus akan ilmu pengetahuan ini membuat
guru biologinya tertarik. Ia pun memberi Pak Drio barang
berbentuk persegi panjang dan tebal yang bernama buku.
Buku itu berisi lembaran-lembaran kertas yang
bertuliskan ilmu-ilmu mengenai tumbuhan dan botani.
Tentunya Pak Drio mengerti apa yang dituliskan dalam buku
itu, karena Pak Drio sudah belajar membaca.Semakin banyak
yang ia baca, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di
benaknya.Guru biologinya pun membawanya ke ahli botani
yang ia kenal agar Pak Drio dapat menemukan jawaban atas
apa yang ia pertanyakan.
Cerita Tentang Fakfak
Setelah belajar cukup lama ia pun mendapat
kesimpulan bahwa dugaan Pak Drio selama ini benar.
Tanaman yang ia bawa ternyata memiliki banyak khasiat dan
kegunaan. Pak Drio berjanji akan menjelaskan khasiat setiap
tanaman dan bagaimana cara mengolahnya kepada warga yang
ada di kampungnya ketika ia pulang nanti.
Sampai akhirnya ia pun kembali ke tanah
kelahirannya. Ia akan melunasi janjinya dulu. Ia akan
memberitahu kepada warganya secara bertahap apa saja yang
sudah ia pelajari bagi siapapun yang ingin tahu. Pak Drio tidak
memaksa semua warganya untuk mendengarkan
penjelasannya karena Pak Drio tahu tidak semua warganya
menyukai hal mengenai botani.
Semua warga merasa kagum akan pencapaian dan
pengalaman yang dimiliki Pak Drio. Pak Drio dapat
membuktikan bahwa dengan kemauan yang tinggi, ketekunan
serta kerja keras, apapun yang kita impikan dapat tercapai. Hal
tersebut membuat semua warga termotivasi untuk bekerja
lebih keras dan lebih tekun lagi agar menjadi orang yang
berhasil seperti Pak Drio.
Setelah hari itu, hampir setiap sore sampai malam para
warga datang ke Rumah Pak Drio untuk mendengarkan
penjelasan Pak Drio mengenai tanaman-tanaman yang ada di
hutan dekat kampung kami. Mereka menyimak dengan baik
bagaimana cara mengolah tanaman-tanaman tersebut dengan
baik agar mendapatkan khasiat yang diinginkan. Tidak sedikit
pula yang meminta Pak Drio untuk mengajarkan mereka
bahasa Indonesia. Mereka sangat antusias untuk mempelajari
bahasa Indonesia . Menurut mereka bahasa Indonesia hampir
sama saja dengan bahasa Papua, namun hanya beda sedikit-
sedikit.
Warga yang ikut belajar di rumah Pak Drio tidak hanya
bapa-bapa dan ibu-ibu. Para orangtua pun membawa anak-
anak mereka karena di rumah tidak ada yang
menjaga.Termasuk Pace yang saat itu masih kecil. Tete selalu
membawa Pace kecil ke rumah Pak Drio ketika Tete mau
belajar dengan Pak Drio.Awalnya anak-anak hanya main-main
saja. Berlari kesana dan kemari di rumah Pak Drio. Bahkan
Pace pun ikut melihat buku-buku yang Pak Drio bawa.
Memang mereka tidak mengerti, namun di buku tersebut
terdapat gambar-gambar yang tentunya menarik perhatian
setiap anak-anak.
Memerhatikan hal tersebut membuat Pak Drio
berpikir bahwa pendidikan seharusnya diajarkan sejak dini
karena otak anak masih memproduksi sel-sel otak yang baru
yang membuat mereka mudah untuk mencerna ilmu yang
mereka dapat. Tapi tentu saja mengajarkan ilmu kepada
orangtua tidak kalah pentingnya. Sebab ilmu itu tidak
memandang usia.
Ketika semua orang sudah pulang, Pak Drio pun
meminta Tete untuk tinggal sejenak. Pak Drio pun
menyuguhkan kue balok dan kopi kepada Tete lalu
mengajaknya mengobrol di teras rumahnya. Pace kecil masih
berada di dalam rumah melihat gambar-gambar yang ada di
buku milik Pak Drio. Pak Drio pun menyampaikan
pendapatnya kepada Tete mengenai pembelajaran untuk anak-
Cerita Tentang Fakfak
anak yang ada di kampung. Tete pun setuju dengan pendapat
Pak Drio. Tete berpendapat mungkin lebih baik pembelajaran
untuk anak-anak dilakukan pagi hari saat para orang tua
sedang bekerja, belajarnya bisa di rumah Pak Drio atau di
rumah warga lain secara bergantian. Memang Pak Drio tidak
salah mengajak Tete untuk berdiskusi. Pak Drio dan Tete
selalu memiliki pemikiran yang sama dan selalu mendukung
apapun yang mereka lakukan jika sekiranya itu adalah hal yang
baik. Mereka pun memutuskan untuk membicarakan hal ini
kepada para warga esok hari ketika mereka datang lagi ke
rumah Pak Drio.
Malam hari keesokan harinya setelah selesai belajar,
Pak Drio meminta kepada semua warga untuk mengobrol
sebentar. Pak Drio pun menyampaikan maksudnya untuk
membuat sekolah kecil di rumahnya di mana para warga dapat
menitipkan anaknya pada Pak Drio di pagi hari ketika para
orangtua pergi bekerja. Tete pun ikut membantu Pak Drio
bicara. Tete menyampaikan bahwa daripada mereka sibuk
harus mengawasi anak mereka yang mereka tinggal di pesisir
sambil menangkap ikan, lebih baik anak mereka dititipkan saja
pada Pak Drio untuk belajar. Semua warga hanya terdiam dan
terlihat kebingungan akan apa yang akan mereka katakan.
Akhirnya untuk memecah keheningan Pak Drio pun
memperbolehkan mereka untuk memikirkannya terlebih
dahulu, namun jika ada yang berkenan bisa langsung
memberitahu Pak Drio setelah ini. Kemudian sebagian warga
pun pamit pulang. Tersisa Tete dan tetangganya satu lagi yang
rumahnya terletak di belakang rumah Tete. Bapak itu
menyetujui anaknya diikutsertakan dalam sekolah kecil ini.
Mendengar itu, Pak Drio dan Tete pun merasa senang dan
berterimakasih kepada Bapak itu. Tak lama Bapak itu pun
pamit pulang. Tentu saja Tete akan mengikutsertakan Pace
kecil ke dalam sekolah itu. Tete pun berpamitan dan
mengatakan bahwa besok ia akan membawa Pace kecil untuk
bersekolah. Pak Drio merasa sedikit lega, awalnya ia kira hanya
Tete yang akan mengikutsertakan anaknya, namun masih ada
satu yang lain, meskipun sedikit namun masih ada harapan,
pikirnya.
***
Matahari pun mulai memancarkan sinarnya. Hari baru
untuk Pace kecil di mana hari ini adalah hari pertama ia
sekolah. Nene12, ibunya Pace, menyiapkan sarapan untuk
mereka sarapan. Setelah sarapan mereka pun berdoa. Tete dan
Pace pun berpamitan kepada Nene lalu mereka pun berangkat.
Rumah Pak Drio terletak sekitar sepuluh meter dari
rumah Pace. Sesampainya di rumah Pak Drio terlihat ada kulit
babi yang sudah dikeringkan dan diikat pada sudut pintu
rumahnya yang bertuliskan sesuatu. Kata Tete tulisan itu
adalah “Sekolah Papua Harapan” yang berarti sekolah bagi
siapapun yang mau belajar. Saat masuk ke rumah Pak Drio
terlihat seorang anak laki-laki yang sedang duduk bersama
bapak-bapak yang kemarin malam berkata bahwa anaknya
akan ikut disekolahkan. Anak itu tentunya akan menjadi teman
Pace di sekolah.
12 Nenek
Cerita Tentang Fakfak
Mereka menunggu cukup lama karena barangkali
masih ada yang mau datang dan menitipkan anaknya untuk
bersekolah di rumah Pak Drio. Sayangnya, tak ada satupun
yang datang, lama kemudian, bapak-bapak memutuskan untuk
pergi menangkap ikan. Tete berkata ia akan menanyakan
kepada waga lainnya mengenai sekolah untuk anak ini selagi
Tete menangkap ikan.Tersisa Pak Drio, Pace, dan anak bapak
itu. Pak Drio pun memperkenalkan anak itu kepada Pace.
Nama anak itu adalah Silas Papare, ia biasa dipanggil Silas.
Itulah asal muasal Pace bertemu dengan Pak Silas di sekolah
kecil pertama yang ada di Fakfak.
Namun cerita Pace tidak berakhir di situ saja. Pace pun
melanjutkan kembali ceritanya.
Mungkin kalau dipikir mengajar dua anak kecil
bukanlah perkara yang sulit. Namun itu semua tidak semudah
ekpektasi. Silas tidak mau beranjak dari pintu semenjak
bapaknya pergi. Sedangkan Pace saat itu sangat aktif dan tidak
mau duduk diam, ia berlari kesana kemari. Menanggapi hal
tersebut Pak Drio pun membujuk anak-anak itu untuk mau
masuk dan duduk dengan tenang di dalam rumah. Tentu saja
ada hadiah jika mereka mau menurut. Mendengar kata hadiah
membuat hati kedua anak itu luluh. Mereka pun duduk dengan
tenang di ruang tamu Pak Drio.
Pak Drio tidak langsung memulai pembelajaran
dengan membaca dan menulis, Pak Drio mengajak anak-anak
untuk menceritakan hal apa saja yang mereka lakukan dimulai
dari bangun tidur sampai tidur kembali. Hal tersebut Pak Drio
lakukan sebagai pendekatan kepada murid nya dan
menumbuhkan keberanian dalam diri mereka untuk bercerita
di depan orang lain. Pak Drio pun memberi waktu untuk
berpikir sejenak. Kemudian mereka pun menceritakan apa saja
yang mereka lakukan setiap harinya, tentu saja masih
menggunakan bahasa anak kecil yang acak-acakan. Pak Drio
tidak mempedulikan bahasa yang mereka gunakan, terlepas
dari itu semua, dengan pendekatan yang Pak Drio lakukan ini
mereka dapat semakin akrab dan dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan barunya.
Setelah mereka bercerita, Pak Drio pun menceritakan
hal yang sama, kegiatan yang biasa ia lakukan sehari-hari. Di
samping itu, ia juga memberi sedikit motivasi kepada mereka
mengenai apa tujuan mereka harus tahu bagaimana cara
membaca dan menulis. Pilihan kata yang digunakan Pak Drio
sangatlah baik untuk dimengerti bagi mereka yang masih kecil.
Mendengar cerita Pak Drio membuat semangat mereka untuk
belajar tumbuh. Selain itu, mereka pun terlihat sangat
penasaran dan mendesak Pak Drio untuk segera mengajarkan
mereka membaca dan menulis.
Hari itu Pak Drio memperkenalkan kepada mereka
huruf-huruf alfabet dan macam-macam angka. Pak Drio baru
memperkenalkan huruf A, B, dan C serta angka 1,2, dan 3.
Mereka pun diajarkan bagaimana cara memegang pensil dan
cara menulisnya. Awalnya mereka tidak bisa mengikutinya dan
malah membuat pola yang tidak jelas karena tidak bisa
mengikuti, namun lama-kelamaan mereka dapat
melakukannya.
Cerita Tentang Fakfak
Sebagai imbalan karena telah menurut dan mau ikut
belajar, Pak Drio menghadiahkan mereka es kelapa. Tentunya
mereka sangat senang. Mereka pun meminum es kelapa
bersama sambil mengobrol. Pak Drio membiarkan mereka
mengobrol berdua, ia pun berjalan menuju pintu untuk melihat
ke arah luar dan terlihat Tete serta bapaknya Silas sedang
berjalan ke arah rumahnya.
Mereka sudah selesai menangkap ikan untuk hari ini.
Sebagian ikan yang mereka dapatkan mereka berikan kepada
Pak Drio. Tete pun bercerita bahwa tadi ia sudah menanyakan
kepada para warga perihal sekolah untuk anak ini, namun
mereka menolak karena mereka pikir anak-anaknya lebih baik
membantu mereka untuk molo atau membuat noken. Pak Drio
memaklumi hal yang Tete sampaikan. Memang tidaklah
mudah untuk memulai sesuatu pikir Pak Drio. Ia pun tetap
akan terus membuka Sekolah Papua Harapan ini selama kedua
muridnya masih mau belajar.Tete dan bapaknya Silas pun
setuju dan akan terus mendukung anak mereka untuk mau
bersekolah
Pembelajaran hari pertama dicukupkan sampai disitu
saja. Setelah bercengkrama mereka pun pulang ke rumahnya
masing-masing.
Di malam hari tentu saja pembelajaran untuk orangtua
mengenai tanaman daan cara menanam masih terus berlanjut,
meskipun ada beberapa yang bosan dan tidak ikut belajar lagi.
Pak Drio tidak pernah patah semangat. Ia terus berbagi ilmu
yang ia miliki kepada siapapun yang ingin belajar.
Hari demi hari berlangsung seperti itu terus menerus.
Sampai akhirnya Sekolah Papua Harapan ini memiliki sepuluh
murid. Murid-muridnya pun sudah mulai mahir membaca,
menulis, dan menghitung. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Di samping itu pembelajaran tidak hanya di dalam ruangan
saja. Ada kalanya Pak Drio mengajak muridnya untuk
berjalan-jalan dan mengeksplorasi secara langsung apa yang
mereka pelajari. Selain itu juga, Pak Drio mengajarkan mereka
bagaimana cara melakukan molo yang baik agar tetap selamat
dan mendapatkan ikan yang banyak. Pak Drio juga
mengajarkan bagaimana cara membuat noken yang kuat dan
tahan lama. Meskipun molo hanya dilakukan oleh laki-laki dan
membuat noken hanya dilakukan oleh perempuan, menurut
Pak Drio mempelajari hal tersebut tidaklah menyalahi aturan.
Itu merupakan ilmu yang bisa dipelajari oleh siapapun.
Sampai suatu hari Pak Drio mendapatkan surat dari
temannya yang ada di pulau Jawa untuk kembali ke sana
karena adanya suatu urusan. Tentu saja hal tersebut membuat
Sekolah Papua Harapan harus tutup untuk sementara. Pak
Drio meninggalkan beberapa buku di rumahnya.Barangkali
ada muridnya yang ingin membaca, mereka dapat
melakukannya kapan saja selagi Pak Drio pergi.
Sungguh sedih sekali hati para murid akan perginya
Pak Drio ke pulau Jawa. Begitu pula dengan Pace dan Silas saat
itu, yang merupakan murid pertama Pak Drio. Pak Drio pun
berpesan kepada mereka agar tetap mau belajar selama ia
pergi dan mau saling berbagi ilmu kepada siapapun yang ingin
belajar. Pace dan Silas pun menyanggupi hal itu.
Cerita Tentang Fakfak
Selama Pak Drio pergi, Pace dan Silas selalu
berkunjung ke rumah Pak Drio untuk membaca buku sambil
membersihkan rumahnya. Beberapa warga pun sering datang
untuk berkunjung baik untuk belajar ataupun untuk membantu
membereskan rumahnya.
***
Tak terasa tahun demi tahun pun berlalu, Pace dan
Silas sudah mulai beranjak dewasa. Mereka tidak lagi datang
ke rumah Pak Drio setiap pagi. Mereka mulai membantu orang
tua untuk menangkap ikan. Barulah malam harinya mereka ke
rumah Pak Drio untuk mengobrol bersama. Semua buku Pak
Drio sudah mereka baca dan pahami baik-baik. Banyak sekali
pertanyaan yang ingin mereka tanyakan kepada Pak Drio.
Namun sudah beberapa tahun ini Pak Drio tak kunjung datang.
Sampai suatu saat datang seorang lelaki setengah baya
datang untuk menemui Tete. Ia membawa tas selempang yang
tampaknya isinya lumayan banyak. Lelaki itu menyerahkan tas
itu kepada Tete dan mengucapkan beberapa kata. Mendengar
perkataan lelaki itu Tete hanya tertunduk diam. Tak lama
lelaki itu pun pergi.
Tete pun beranjak dan memberitahu warga kampung
untuk berkumpul di rumah Pak Drio saat itu juga. Perasaan
Pace saat itu mulai tidak enak. Pace pun mengajak Silas untuk
ikut bersama ke rumah Pak Drio.
Di rumah Pak Drio, Tete menyampaikan kabar duka
bahwa Pak Drio telah meninggal dunia saat perjalanan menuju
Fakfak. Pak Drio mengalami sakit malaria. Sebelum
meninggal, ia telah menyiapkan surat untuk semua warga
kampung. Mendengar berita tersebut membuat semua warga
terlihat sedih, beberapa di antaranya menangis seperti Pace
dan Silas. Mereka pun berdoa bersama untuk Pak Drio.
Setelah berdoa, surat yang ada di dalam tas itu
dibagikan. Setiap warga masing-masing mendapat surat yang
berisi ucapan terimakasih dan pesan untuk menjaga rumahnya.
Pak Drio berpesan bahwa rumahnya itu boleh dijadikan tempat
tinggal bagi pendatang baru atau siapapun yang ingin tinggal di
sana. Semua warga setuju untuk menjadikan rumah Pak Drio
sebagai tempat untuk mereka semua berkumpul dan
bermusyawarah. Pak Drio pun berpesan agar barang-barang
kepunyaannya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia
berpesan agar buku-buku yang ia punya tetap disimpan baik-
baik rak bambu yang ia buat untuk menyimpan buku-bukunya.
Khusus untuk Pace dan Silas, mereka berdua
mendapatkan kotak yang berisi surat untuk mereka masing-
masing, buku catatan Pak Drio, dan selembar kain yang
bertuliskan “Sekolah Papua Harapan”. Melihat kain itu
membuat Pace dan Silas kembali menangis. Pada surat mereka
tertulis ucapan terimakasih atas semangat belajar mereka,
pesan-pesan motivasi untuk mereka agar dapat menjadi anak
yang berguna bagi Fakfak, dan yang terakhir Pak Drio
berharap mereka mau melanjutkan studinya di pulau Jawa. Pak
Drio harap mereka dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya
di sana dan kembali ke Fakfak untuk membuka kembali
“Sekolah Papua Harapan” agar generasi muda berikutnya
tidak buta akan ilmu pengetahuan. Di dalam buku catatan Pak
Drio terdapat alamat-alamat yang dapat mereka tuju jika
Cerita Tentang Fakfak
mereka ingin melanjutkan studinya di pulau Jawa. Akhir kata
Pak Drio meminta maaf karena tidak bisa kembali dan
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ingin mereka
tanyakan.
Semenjak hati itu, Pace dan Silas menjadi sangat rajin
untuk menangkap ikan. Mereka bertekad untuk
mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari hasil molo
mereka agar mereka dapat pergi ke pulau Jawa.
***
Sungguh disayangkan cita-cita tidak sejalan dengan
restu orang tua. Pace tidak diizinkan oleh Tete dan Nene untuk
pergi ke pulau Jawa. Meskipun sudah membujuknya ratusan
kali, keputusan orang tuanya sudah bulat, Pace tidak bisa
membantah. Akhirnya hanya Silas saja yang pergi. Silas
berjanji ia akan kembali ke Fakfak untuk meneruskan mimpi
Pak Drio
Begitulah cerita Pace mengenai Fakfak pada saat Pace
masih kecil. Kemarin, Pak Silas datang untuk memenuhi
janjinya. Ia akan membuka kembali “Sekolah Papua Harapan”
dan yang diharapkan untuk menjadi murid pertamanya
tentulah aku, Thobi, anak dari Pace.
2
Ular Pembawa Petaka
Aku pun akhirnya tahu tujuan Pak Silas datang kemarin.
Terlebih dari itu, aku pun akhirnya tahu masa lalu Pace. Masa
lalu Fakfak yang selama ini terpendam.
Pantas saja terkadang Pace menggunakan bahasa yang
tidak aku ketahui ketika ia berinteraksi dengan warga sekitar.
Ternyata selama ini, Pace sering menggunakan bahasa
Indonesia. Bahasa nasional yang digunakan oleh orang-orang
di negeriku. Pace masih menggunakan bahasa Papua karena
Mace orang asli Wamena yang belum mempelajari bahasa
Indonesia. Mace pasti tahu kalau Pace bisa menggunakan
bahasa Indonesia dengan lancar. Namun kedua orangtuaku
ingin bahasa yang pertama kali didengar oleh anaknya adalah
bahasa Papua. Bukannya tidak bersifat nasionalis, namun
untuk mencintai bahasa ibu dan dapat menjunjung tanah
Papua ini sehingga nasionalisme itu akan tumbuh dengan
sendirinya. Maka dari itulah aku tidak mengerti bahasa
Indonesia.
Perasaanku campur aduk. Aku merasa sangat bingung.
Di satu sisi aku ingin mencoba sekolah. Namun di sisi lain, aku
ingin mendedikasikan diriku untuk menjadi nelayan saja
seperti Pace. Mengabdi kepada Fakfak, menjadi perantara
antara laut dan darat, menyalurkan kekayaan alamnya demi
Ular Pembawa Petaka
kesejahteraan Fakfak ini. Aku pun terdiam. Tidak mempunyai
jawaban.
Pace tentu saja yang paling mendorong aku untuk
bersekolah di Sekolah Papua Harapan itu. Kalau Mace
memberi kebebasan kepadaku untuk memilih. Hanya saja,
Mace berkata bahwa semua pekerjaan itu baik dan berguna,
baik molo maupun membuat noken, namun itu semua
membutuhkan sumber daya alam, mungkin kita pikir untuk
beberapa puluh tahun kedepan sumber daya itu masih ada,
suatu saat sumber daya itu bisa hilang, mungkin karena habis,
direnggut Tuhan, atau dihak milik oleh orang lain, tidak
pernah ada yang tahu; namun ada satu hal yang tidak akan
pernah habis, yaitu ilmu, ilmu akan ada bahkan sampai dunia
ini pun hancur.
Kata-kata Mace sangat menggetarkan hatiku. Apakah
ilmu sedahsyat itu ? Sampai meskipun dunia ini sirna ilmu itu
tetap ada. Aku sedikit ragu akan kata-kata Mace tadi. Namun
sebagian dari diriku meyakini bahwa hal itu benar. Aku
semakin bingung.
Aku pun meminta izin kepada Mace untuk main di
luar.
Sepanjang jalan aku hanya terdiam memikirkan jalan
yang terbaik yang harus aku pilih. Melihatku yang berjalan
sambil melamun membuat salah seorang perempuan
kampungku menghampiri diriku.
“Katorang kenapa murung begitu ?” tanya orang itu.
Aku pun hanya tertawa kecil. “Ah hahaha, tra apa.”
Perempuan itu pun berkata padaku, “Katorang
kewel13”
Aku hanya terdiam. Perempuan itu pun melanjutkan
bicaranya. “Tidak mungkin orang yang jalan sambil terdiam itu
tidak apa-apa. Tentulah ada sesuatu yang mengganggu pikiran
katorang.”
Aku pun terkejut dan terheran.“Nona bacarita bahasa
Indonesia?”
Dia hanya tersenyum. “Pace katorang pasti beri tahu
katorang cara bacarita bahasa Indonesia juga toh ?”
“Tra, Nona. Pace suruh sa ikut sekola punya Pak
Silas14,” Jawabku.
“Ka Silas sudah pulang toh?” tanya perempuan itu.
“Nona tau Pak Silas ?”
“Jelas. Ka Silas laken15 kecil Nona.”
“Nona ikut Sekola Harapan juga kah?16”
“Tra, Ade. Nona ni perempuan toh. Perempuan bikin
noken saja. Tak repot-repot sekolah seperti anak laki. Sekolah
sudah17, molo sudah. Nona tau Bahasa Indonesia karena anak
dua tu ajari nona saat Pak Drio pergi..”
13 berbohong
14 Kakak perempuan
15 Sahabat
16 Akhiran yang sering digunakan oleh sebagian orang Papua
17 Sering digunakan sebagai akhiran yang memiliki arti yang sama
dengan “lah” dalam bahasa Indonesia
Ular Pembawa Petaka
“Nona, belajar itu susah kah?”
“Tra tau Ade. Nona tra serius belajar bahasa
Indonesia. Nona rasa senang-senang saja.Seperti barmaeng18.
Tebak kata, coba bacarita, dari situ nona bisa.”
“Apa sekarang pun akan seperti itu, Nona ? Adek takut
juga bingung.”
“Tenang sudah. Silas tu orang baik pintar pula. Tra ia
bikin sekolah jadi sebosan tu. Pasti dorang tu bikin sekolah jadi
taman barmaeng menyenangkan.”
“Itu benar kah?”
“Tentu. Sudah, katorang ikut saja tu sekolah. Tra ada
yang sia-sia pasti berguna katorang tra akan tau kalau katorang
tra coba.”
Aku pun terdiam.
“Sudah katorang mo ke rumah laken katorang, kah ?
Nona mo berikan noken ni pada Nene.”
“Ah ya, Nona. Terimakasih,” jawabku.
Perempuan itu pun pergi. Apa yang dibicarakan
perempuan itu membuatku sedikit yakin bahwa kegiatan
belajar menyimpan kesan tersendiri bagi setiap orang di Fakfak
ini.
***
18 Bermain
“Katorang kemana saja, kah ? Lama sekali,” tanya
sahabatku yang cerewet itu.
“Tadi sa bicara19 sama Nona itu,” jawabku
“Ah katorang cari perhatian kah,” kata sahabatku
sambil menyikut tanganku.
Dia memanglah sahabatku yang paling cerewet. Ia
sangatlah jahil dan suka berguyon. Hal itulah yang membuatku
sangat dekat dengannya. Kami tidak pernah kehabisan topik
pembicaraan. Sahabatku itu bernama Elly. Ia merupakan salah
satu anak laki-laki yang ada di kampungku.Perawakannya kecil
dan warna kulitnya tentu saja gelap karena kami orang asli
Papua. Namun ia memiliki hidung yang lebih mancung dariku,
rambutnya tidak seikal rambutku, tetapi dia lebih pendek 2 cm
dariku.
Tiba- tiba ia menyentakku, “Heh katorang melamun
saja. Katorang mikir apa kah ?”
Aku pun menceritakan kedatangan Pak Silas dan
bagaimana Fakfak pada zaman dahulu. Elly tidak terlalu
memperhatikan ceritaku. Barangkali ada hal lain yang sedang
dipikirkannya.
“Katorang tadi bicara molo saja perlu belajar?
Hahahaha yang benar kah. Molo sudah mendarah daging, tra
perlu belajar kah. Laki di Papua ni pasti dapa molo di laut”,
kata Elly sedikit mengejek.
19 Mengobrol
Ular Pembawa Petaka
“Aku tra dapa molo,” jawabku dengan wajah sedikit
cemberut.
“Kau yakin kah ? Sa kira katorang sering diajak Pace
kau molo,”kata Elly sedikit merasa bersalah.
“Ya. Sa tra pernah diajak molo. Sa tunggu di pesisir
saja narik tali.”
Memang Paceku semenyebalkan itu. Ia tidak pernah
mengajaku molo. Setiap kali aku membujuknya agar aku dapat
ikut menyelam untuk menangkap ikan, Pace selalu saja berkata
belum saatnya aku molo dan Pace menganggap bahwa aku
masih terlalu kecil untuk itu. Coba Pace lihat Elly temanku ini.
Badannya lebih kecil dariku. Meskipun begitu, orang tuanya
tidak ragu untuk mengizinkannya menangkap ikan. Karena
mereka pikir molo adalah bagian dari diri mereka yamg tidak
bisa mereka lepaskan. Andai saja Pace pun berpikir demikian.
Aku pasti akan jauh lebih hebat daripada teman-temanku.
“Hey, katorang mo tra coba molo bersama katong ?”
tanya Elly
“Tra kah. Pace marah besar sa dapa tra makan 3 hari,”
jawabku.
Elly pun menyikutku. “Hahahaha katorang nii. Jadi
anak baik terus kah. Sekali-kali boleh membangkang.”
Aku hanya terdiam tanda menolak. Namun Elly malah
menarikku dan mengajakku ke pesisir.
***
Elly langsung mempersiapkan alat-alat yang ia
butuhkan untuk molo. Dengan gesit dan cekatan ia memasang
semua peralatannya. Semua yang ia lakukan sangatlah cepat
dan teliti.Ketika semuanya sudah siap, dia melirik ke arahku,
mengajakku untuk ikut bersamanya. Aku menggeleng-
gelengkan kepala. Bersikeras bahwa aku tidak akan pernah
masuk ke laut tanpa seizin Pace. Akhirnya ia pun pergi
sendirian.
Dari kejauhan aku melihat Elly mulai turun dari
perahunya dan mulai menyelam. Aku hanya menunggu di
pesisir sambil melihat keadaan sekitar. Aku pun terhanyut
dalam pikiranku. Aku berpikir apakah semua keindahan yang
aku lihat saat ini akan tetap abadi selamanya ? Bagaimana jika
ada seseorang yang mengambilnya ? Bagaimana nasib Pace ?
Pace tidak akan bisa molo lagi. Lalu bagaimana kami bisa
memenuhi kebutuhan hidup kami ? Ah, aku berpikir terlalu
jauh. Hal itu tentu saja tidak mungkin terjadi.
Terlalu larut dalam pikiran membuatku lupa akan
temanku, Elly, yang sedang menyelam itu. Sampai saat ini dia
belum saja menunjukkan batang hidungnya. Hebat sekali dia.
Dia bisa menyelam dalam waktu yang lama dan kuat untuk
menahan napas. Terpikirkan lagi olehku kapan aku bisa seperti
Elly, membantu Pace molo, menjadi lelaki Papua seutuhnya
yang mengeksplor kekayaan tanah timur ini demi
kesejahteraan bersama. Kenapa Pace tidak berpikiran sama
seperti orang tua Elly ? Bisakah Pace membuka sedikit saja
pikirannya agar mengizinkanku mencoba molo dan menjadi
Ular Pembawa Petaka
seperti dirinya ? Ketimbang harus ikut belajar yang bahkan
sampai sekarang belum terpikirkan olehku apa tujuan akhir
dari belajar itu sendiri. Ah, pikiranku semakin rumit.
Aku melihat ke arah laut, Elly melambaikan tangannya
dan mengangkat ikan hasil molonya. Dari jauh terlihat
senyuman lebar di wajahnya. Tanda yang menyiratkan bahwa
ia telah menunjukkan lelaki sejati turunan Fakfak tentu bisa
molo tanpa perlu belajar. Melihatnya yang seperti itu
membuatku semakin merasa bahwa belajar itu akan sia-sia.
Belajar hanya akan membuang waktuku yang seharusnya aku
pakai untuk menjadi jati diriku yang sebenarnya, yaitu menjadi
nelayan yang melakukan molo.
Elly pun naik ke perahunya dan kembali ke pesisir.
“Bagaimana kah ? Lihat katong dapa ikan besar !!
Hahahaha. Katorang wajib coba molo,” kata Elly seraya
menunjukkan hasil molonya itu.
Aku hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
Elly pun langsung menurunkan ikan hasil molonya dan
menghampiriku. “Hei katorang jangan marah kah ? Sa canda
saja, biar katorang mau ikut molo bersama katong.”
Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Tra apa, Elly. Sa
baik- baik saja.”
Sepertinya Elly mengerti apa yang dipikirkan olehku.
Lalu ia pun mengajakku untuk lebih dekat ke laut untuk
mencari kerang.
Sambil mencari kerang, Elly pun mencoba
menghiburku dengan guyonannya. Menceritakan hal konyol
yang pernah ia lakukan sampai dimarahi ibunya. Kami pun
tertawa bersama. Memang Elly selalu bisa mengubah mood ku
menjadi lebih baik. Perhatian kami teralihkan oleh benda yang
bergerak melata dan berwarna hitam putih. Kami tidak tahu
benda apakah itu, apakah hewan atau benda milik orang-orang
yang bekerja di pelabuhan.
Kami pun saling menatap.
Benar. Kami memutuskan untuk mengambil benda itu
dan membawanya pulang.
Ketika Elly memegang benda itu. Ia langsung berteriak
dan merintih kesakitan. Aku pun terkejut. Saat aku
menghampirinya, Elly pun tergeletak tak berdaya di samping
benda itu.
Aku sangat ketakutan. Aku tidak tahu harus
bagaimana. Kalaupun aku berteriak, tidak ada orang yang bisa
mendengar suaraku. Bapak-bapak tentunya sudah pergi molo
ke pulau pisang, dan ibu-ibu tentunya sedang ke pasar untuk
berjualan noken. Pagi hari begini tentu semua orang tidak ada
di rumah. Aku bingung harus melakukan apa. Aku tidak berani
menyentuh tubuh Elly. Akhirnya aku pun berlari.
***
Aku berlari sekuat tenaga menuju pemukiman warga.
Aku berteriak minta tolong. Beberapa orang keluar dari
rumahnya dan menanyakan ada hal apa yang membuatku
terlihat sangat panik. Aku pun meminta mereka untuk
Ular Pembawa Petaka
mengikutiku ke pesisir. Aku menceritakan semua yang terjadi
pada Elly. Tanpa banyak bertanya, mereka pun bergegas untuk
pergi ke pesisir bersamaku.
Sesampainya kami di pesisir, kami melihat tiga orang
sedang berkumpul mengelilingi Elly. Ternyata mereka adalah
ayah Elly, Pace, dan teman Pace. Pace melihat ke arahku. Aku
hanya bisa menunduk. Aku malu untuk melihat wajah Pace.
Mereka pun mengangkat Elly dan segera membawanya
ke pos kesehatan yang ada di daerah kami.
Aku sangat takut. Bagaimana keadaan Elly ? Apa Ia
akan baik-baik saja ? Bagaimana kalau hal buruk menimpa
dirinya ? Bagaimana kalau ia tidak bisa diselamatkan ? Aku
berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menyelamatkan Elly. Aku
benar-benar menyesal. Seharusnya dari awal,aku menolak
untuk pergi ke pesisir. Harusnya aku menolak keras, bukan
hanya pasrah dan mau saja ditarik oleh Elly. Pace pasti
sangatlah marah kepadaku. Begitu juga dengan ayah Elly.
Bagaimana jika karena peristiwa yang terjadi pada hari ini,
membuatku tidak bisa lagi bermain bahkan berteman dengan
Elly ? Aku sangat takut juga bingung. Aku pun hanya terdiam
dan terlarut dalam pikiran-pikiran negatif yang memenuhi
kepalaku.
Tak lama, Pak Silas pun datang. Ia menatap ke arahku
sejenak dan masuk ke dalam ruangan. Tampaknya raut
mukaku sudah menjelaskan apa yang sedang terjadi. Pak Silas
pun keluar dari ruangan dan berlari keluar. Tampaknya ia akan
mencari sesuatu. Dan dugaanku ternyata benar. Pak Silas
membawa kantung yang entah berisi apa. Aku kembali berdoa
semoga Tuhan memberikan kesembuhan kepada Elly dari apa
yang Pak Silas bawa.
Sekitar satu jam aku menunggu dan akhirnya semua
bapak-bapak keluar dengan raut muka yang tampak lega.
Melihat ekspresi mereka yang seperti itu membuatku juga lega.
Doaku sudah dikabulkan oleh Tuhan, pikirku. Tapi masalahku
tentu belum selesai. Mereka tentunya keluar untuk
menginterogasiku mengenai kronologis kejadian yang kami
alami di pesisir hari ini.
Pace pun memintaku untuk menjelaskan semuanya.
Aku menjelaskan semua kejadian di hari itu, mengapa Elly
sampai mengajakku ke pesisir dan molo. Semuanya aku
ceritakan. Meskipun sebenarnya aku sangat malu untuk
menceritakan masalah sekolah di depan Pak Silas, aku harus
tetap menceritakannya, aku tidak punya pilihan lain. Aku juga
meminta maaf atas kesalahanku kepada semua bapak-bapak
yang ada di sana, terutama Pace dan ayah Elly.
Mendengar apa ceritaku, bapak-bapak yang ada di
ruangan itu hanya terdiam, bahkan Pace ku pun terdiam.
Mungkin mereka mengerti sebab dan akibat kejadian yang
dialami kami dari cerita yang aku ceritakan.
Kami pun menunggu sampai Elly sadar. Sebenarnya
setelah aku selesai bercerita Pace menyuruhku pulang.
Meskipun ada rasa takut akan dimarahi oleh Pace, aku
bersikeras untuk menunggu Elly siuman. Aku merasa
bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Elly. Matahari
mulai tenggelam ke arah barat, Elly belum sadar juga. Ayah
Elly menyuruh kami pulang. Namun bapak – bapak memilih
Ular Pembawa Petaka
untuk pulang sebentar untuk membawa makanan dan kain lalu
kembali untuk menemani ayah Elly. Pace mengajakku pulang
namun aku tetap bersikukuh untuk menunggu sampai Elly
sadar. Pace pun tidak memaksaku dan pulang. Mungkin saja
Pace marah kepadaku.
Lalu ayah Elly pun mendekatiku dan berkata sesuatu
kepadaku. Pada awalnya aku sudah takut akan dimarahi, tetapi
ternyata ayah Elly malah mengelus-elus kepalaku. Beliau
mengucapkan terimakasih kepadaku karena telah berusaha
untuk menyelamatkan Elly dengan kembali ke kampung dan
memanggil orang kampung untuk datang dan menyelamatkan
Elly. Ia juga berterimakasih karena aku sudah berbicara
dengan jujur mengenai segala yang terjadi pada kami di hari
itu. Ia pun mengatakan bahwa aku ini anak yang hebat dan mau
menurut kepada orang tua untuk tidak ikut molo.
Mendengar semua perkataannya itu, tangisku pecah.
Aku kira ayah Elly akan memarahiku atau mungkin yang lebih
buruk lagi yaitu memakiku. Aku pun menangis sambil
meminta maaf kepada ayah Elly dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi. Ayah Elly tersenyum dan memaafkanku
sambil mengelus-elus punggungku. Ia pun berterimakasih
karena aku masih mau diam di sini untuk menunggu Elly sadar.
Katanya Pak Silas telah memberikannya ramuan herbal yang
akan menetralisir racun yang ada di tubuh Elly, jadi aku tidak
perlu terlalu khawatir. Racun yang dikatakan oleh ayah Elly
membuatku berpikir bahwa benda yang Elly pegang tadi
merupakan hewan yang sangat berbahaya. Tadinya aku mau
bertanya mengenai hewan apa yang sebenarnya meracuni
tubuh Elly. Namun karena mendengar suara Elly dari dalam
ruangan, kami pun bergegas menghampirinya.
Elly akhirnya siuman. Aku pun langsung memeluk Elly
dan mengucap syukur kepada Tuhan. Elly hanya tertawa
melihatku dan berkata bahwa benda asing itu telah
menggigitnya. Ia menunjukkan bekas gigitannya. Karena aku
orangnya sedikit penakut, aku malah mengalihkan
pembicaraan dan memarahinya yang telah nekat berlari
meninggalkannya dan langsung memegang benda itu. Ia
kembali tertawa dan berkata bahwa ia ingin menyombongkan
bahwa ia berani memegang benda itu kepada diriku yang
penakut ini dengan cara memegang benda itu, namun
sayangnya benda itu malah menggigitnya.
Bapak-bapak pun datang dengan membawa makanan
dan kain. Melihat Elly yang sudah siuman mengubah raut
muka mereka menjadi lebih cerah. Pace pun tak lama datang.
Kami pun memutuskan untuk makan bersama di pos kesehatan
itu. Di sela-sela menikmati hidangan, tentu mereka mengobrol
bersama.Mereka bercerita mengenai hasil molo mereka hari
ini, semuanya tertawa lepas mengenai kejadian konyol yang
dialami oleh salah seorang tetangga kami, tetapi di antara
semua topik obrolan, tidak ada satupun orang yang
menyinggung kejadian yang dialami oleh aku dan Elly, seolah
tidak ada hal yang terjadi pada kami. Mungkin itulah karakter
lelaki, mereka tidak ingin mengungkit luka lama, dan aku
bersyukur akan hal itu.
3
Sekolah Papua Harapan
Kami kembali ke rumah masing-masing di keesokan harinya.
Kami menginap semalam untuk menemani ayah Elly dan Elly
di sana. Awalnya, ayah Elly akan membawa Elly pulang saja
dan merawatnya di rumah. Namun, bapak- bapak melarangnya
dan menganjurkan agar Elly tinggal semalam untuk
mengantisipasi hal buruk yang mungkin saja terjadi. Ayah Elly
pun setuju. Melihat keadaan Elly yang sudah terlihat membaik
di keesokan harinya, semuanya pun memutuskan untuk
pualng. Begitupun dengan aku dan Pace.
Sepanjang jalan Pace tidak berbicara sepatah kata pun
kepadaku. Hatiku terasa tidak enak. Maksud hati ingin
memulai pembicaraan, namun takut akan dimarahi atau
bahkan tidak dihiraukan. Aku pun memilih untuk diam.
Sesampainya di rumah, Mace menyuruhku untuk
mandi dan makan. Ketika sedang makan, aku bertanya kepada
Mace apakah Mace tahu apa yang terjadi dan Mace berkata
bahwa Pace telah menceritakan segalanya. Mace berkata
bahwa Pace kecewa padaku karena tidak patuh akan nasihat
Pace yang tidak memperbolehkan diriku pergi ke pesisir
sendiri tanpa didampingi Pace, Mace berkata bahwa Pace
sangat khawatir hal buruk akan menimpa diriku jka aku nekat
pergi ke sana. Dugaan Pace benar, pada awalnya Pace kira
diriku telah hanyut termakan oleh laut dan hanya tersisa Elly
yang terkapar tak berdaya di pantai, namun setelah melihat
ular yang ada di sebelah Elly membuat Pace mengerti apa yang
sebenarnya terjadi, saat itu Pace masih kebingungan karena
kemungkinan aku hanyut masih mungkin bisa terjadi, Pace
mencari di mana aku berada, sampai akhirnya aku datang
dengan para penduduk desa, di situlah Pace baru merasa lega.
Mace pun menyuruhku untuk segera menghabiskan
makanan dan membersihkannya. Mace menyuruhku untuk
pergi menemui Pace dan meminta maaf kepadanya. Aku pun
menuruti apa yang diperintahkan oleh Mace.
Aku pun mendekati Pace yang sedang duduk sambil
membaca sesuatu. Aku duduk di sampingnya dan meminta
maaf kepada Pace atas apa yang aku lakukan kemarin. Pace
pun menurunkan buku bacaan dari pandangannya dan mulai
menatapku. Aku hanya diam dan tertunduk. Pace berkata
bahwa ia telah memaafkanku, Pace memintaku untuk berjanji
agar tidak melakukannya lagi dan aku pun menyanggupinya.
Pace pun meminta satu hal kepadaku. Pace memintaku
untuk bersekolah. Pace tidak ingin aku buta akan ilmu dan
tidak bisa menghadapi suatu permasalahan seperti kejadian
kemarin. Pace memberikan pengertian kepadaku bahwa
dengan bersekolah aku akan tahu bagaimana cara untuk
menangani orang yang terluka dan apa saja hal yang harus
dilakukan ketika menghadapi suatu permasalahan. Meskipun
pada akhirnya aku akan berakhir menjadi seorang nelayan,
tetapi setidaknya diriku telah dibekali ilmu yang bisa
membantuku dalam menghadapi berbagai macam persoalan
Sekolah Papua Harapan
hidup, karena nantinya aku akan menemukan permasalahan
hidup yang lebih rumit daripada yang aku alami saat ini. Jika
aku tidak mau menurutinya, maka Pace tidak akan pernah
peduli lagi kepadaku.
Aku pun menuruti perintah Pace. Tanpa perdebatan
ataupun pertimbangan lagi, aku pun menyanggupinya dan
mulai besok, aku akan memulai hari baruku di Sekolah Papua
Harapan.
***
Hari baru itu pun tiba. Pagi – pagi sekali Mace sudah
membangunkanku untuk bergegas mandi dan menyantap
sarapan. Hari ini Mace tampak bergembira sekali. Begitu pula
dengan Pace. Keduanya memancarkan senyuman pada
wajahnya. Mungkin mereka senang, akhirnya anak semata
wayangnya ini hendak bersekolah. Bahkan untuk menambah
semangat bersekolahku, Mace memasakkan makanan
kesukaanku. Mungkin terlihat berlebihan, namun beginilah
keluarga kecilku. Hal- hal sederhana dapat menjadi suatu hal
yang istimewa.
Kami pun berdoa bersama sebelum menyantap
hidangan pagi itu. Kami berdoa agar Pace diberi kemudahan
dalam molo, Mace dilancarkan dalam berjualan noken, dan
aku dapat bersekolah dengan baik hari ini. Setelah berdoa
kami pun makan bersama. Makan pagi itu terasa sangat
nikmat. Aku tidak akan pernah melupakan tiap detik dari
momen berharga yang aku alami di pagi ini.
Setelah sarapan, aku dan Pace pun berpamitan kepada
Mace. Kami pun berangkat menuju rumah Pak Silas.
Sepanjang perjalanan aku menatap Pace dan berpikir,
inilah yang dirasakan Pace ketika masih kecil, diantar oleh Tete
menuju rumah Pak Drio. Meski terlihat biasa saja, mungkin
jauh di lubuk hati kecilnya Pace merindukan masa-masa ini.
Terlebih lagi, ia merindukan gurunya, Pak Drio, yang telah
menjadikannya lelaki cerdas dan bijaksana sperti sekarang ini.
Kami pun sampai di rumah Pak Silas.
Aku terkejut. Ternyata sudah ada Elly dan ayahnya di
sana. Ayah Elly dan Pak Silas melihat ke arah kami dan
tersenyum. Elly melambai-lambaikan tangan kepadaku. Aku
pun berlari masuk ke rumah Pak Silas.
Ayah Elly memutuskan untuk menyekolahkan Elly
agar ia tidak ikut molo dengannya untuk sementara. Jika Elly
sudah membaik dan sudah sukses belajar dengan Pak Silas,
Elly boleh molo kembali. Perkataan ayahnya membuat Elly
sedikit cemberut. Melihat ekspresinya yang seperti itu
membuat kami tertawa. Setelah mengobrol cukup lama,
akhirnya ayah Elly dan Pace pun berangkat molo. Kami pun
memulai belajar.
Pak Silas ternyata tidak sekaku yang aku pikirkan. Ia
orang yang lumayan asyik juga. Ia berkata bahwa karena hri ini
hari pertama, maka ia tidak akan langsung memulai
pembelajaran, ia akan membuka hari pertama ini dengan
bercerita. Aku yang pertama diminta untuk menceritakan
tentang diriku. Aku menceritakan apa saja yang aku laukan
Sekolah Papua Harapan
setiap hari, rutinitasku, hobiku, dan lain-lain. Kemudian Elly
pun menceritakan hal yang serupa. Namun karena wataknya
yang suka berguyon, kami sering tertawa di sela-sela ceritanya.
Setelah kami semua meceritakan pengalaman kami, Pak Silas
memberi kami hadiah kue yang sangat enak. Kami pun
menyantap kue itu bersama-sama sambil mendengarkan cerita
Pak Silas.
Pak Silas memang benar-benar seseorang yang
berdedikasi tinggi. Ia telah memenuhi janjinya terhadap Pak
Drio. Sikap dan cara berbicaranya sama persis seperti Pace.
Pak Drio memanglah orang yang hebat. Ia bisa mendidik
muridnya menjadi sehebat dirinya. Dan aku yakin, aku akan
menjadi orang-orang hebat seperti mereka.
4
Mimpi Buruk Menjadi Nyata
Sudah enam tahun aku menghabiskan waktuku untuk belajar
di sekolah ini. Aku belajar banyak hal, tidak hanya belajar
berbahasa Indonesia, aku pun belajar bagaimana cara molo
yang benar. Semuanya seperti yang telah dijanjikan oleh Pace.
Ya. Aku mendapatkan semua pembelajaran itu.
Kami juga diajarkan mengenai apa saja yang harus
dilakukan dan dipersiapkan untuk molo dan bagaimana teknik
yang baik dan benar dalam molo. Aku pun akhirnya berani
turun ke laut dan mencoba molo. Selain itu juga Pak Drio
memberikan instruksi mengenai hal-hal apa saja yang menjadi
rintangan dan bahaya dari molo, bagaimana cara
menghadapinya dan cara menanganinya jika hal tersebut
terjadi. Akhirnya benda berwarna hitam putih yang menggigit
Elly enam tahun yang lalu merupakan seekor ular laut. Tidak
hanya ular laut, Pak Silas pun mengenalkan kepada kami
berbagai jenis tumbuhan dan hewan kepada kami. Sekarang,
kami sudah menjadi anak yang lebih pandai.
Murid Pak Silas tidak hanya aku dan Elly. Hari demi
hari dari awal aku dan Elly dimasukkan ke Sekolah Papua
Harapan, kami menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Hal tersebut mendorong para orang tua yang ada di kampung
Mimpi Buruk Menjadi Nyata
kami untuk menyekolahkan anaknya. Hal tersebut membuat
hampir semua orang di Fakfak ni lumayan fasih berbahasa
Indonesia. Namun tidak berarti kami meninggalkan bahasa
daerah kami. Bahasa daerah tetap kami gunakan beriringan
dengan Bahasa Indonesia.
Tidak seperti biasanya Pak Silas tampak sedikit
murung hari ini. Kami semua tidak tahu apa yang sedang ada
di pikirannya. Hingga akhirnya Pak Silas mulai berbicara
bahwa ia akan memberi tahu kenyataan pahit yang harus kami
semua ketahui. Semua murid mendengarkan Pak Silas dengan
saksama, bahkan kata-kata pembuka yang Pak Silas ucapkan
sudah cukup menarik perhatian semua murid untuk tidak
sedikitpun memalingkan perhatiannya pada pembelajaran hari
ini.
Pak Silas memberi tahu bahwa sebenarnya tanah
Papua yang kami pijak ini masih berada dalam genggaman
Belanda. Hanya saja, pihak Belanda masih beroperasi di Papua
pusat dan belum mengeksplor Papua pedalaman seperti
Fakfak ini. Kabar buruknya Pak Silas mendapat kabar bahwa
bangsa berkulit putih itu akan mulai menyebar ke seluruh
bagian Papua, termasuk Fakfak. Jika hal itu terjadi, maka
pihak Belanda akan memonopoli semua hasil kekayaan yang
ada di kampung kita. Para kepala keluarga hanya
diperbolehkan menjual hasil molonya kepada pihak Belanda
dan begitupun para ibu hanya bisa menjual kerajinan
nokennya ke pihak Belanda. Pemerintahan Belanda akan
kembali menjual barang tersebut dengan harga yang cukup
mahal dan kami terpaksa akan membelinya karena tidak ada
pasar lain. Hal itu tentu saja akan membuat kami mengalami
besar pasak daripada tiang. Selain itu anak-anak pun tidak
diizinkan bersekolah dan tidak ada yang boleh mendirikan
sekolah tanpa seizin pemerintah Belanda. Maka Sekolah
Papua Harapan ini tentu akan ditutup jika pihak Belanda
sudah sampai di wilayah ini.
Lalu aku pun bertanya, “Pak, mengapa harus tanah
Papua yang tidak dilepaskan oleh Belanda ? bukankah daerah
lain pun sama saja ?”
Pak Silas pun menjawabnya. “Tanah Papua ini adalah
tanah yang sangat istimewa. Kekayaan yang terkandung di
dalamnya sangatlah berlimpah, bisa menghidupi negara ini dari
generasi ke generasi. Para penjajah tidak memiliki hal itu di
negaranya. Mereka pun mencari cara bagaimana mereka dapat
memakmurkan negaranya yang dibatasi oleh kekurangan itu.
Dan mereka pun menemukan Indonesia, yang terdapat Papua
di dalamnya. Kurangnya pendidikan membuat masyarakat
Papua tidak mengerti bahwa mereka sedang dimanfaatkan.
Mereka hanya mendapatkan sebagian kecil hasil dari bumi
Papua ini. Sisanya semua kekayaan tanah timur ini dikeruk dan
dibawa bangsa Belanda ke negara mereka.
“Sekarang kita tidak punya pilihan. Kita belum
memiliki sarana yang memadai untuk mempertahankan tanah
Papua ini. Karena secara rasional, tenaga saja tidaklah cukup.
Sekarang, kita hanya memiliki dua pilihan, menetap di tanah
Papua ini, bekerja untuk bangsa berkulit putih itu demi
mempertahankan kampung halaman atau pindah ke tempat
yang lebih aman, mencari bantuan dan mengatur strategi