Kembali ke Tanah Timur
“Eeee minuman apa ini Vandam merah sekali
warnanya.”
“Ah Thobi pasti kau tau la minuman ini dulu kau suka
sekali.”
Aku pun mencoba minuman berwarna merah itu.
Memang minuman itu seperti tidak asing tetapi tetap saja aku
belum tahu minuman itu. Setelah ku coba ternyata minuman
itu adalah teh sarang semut.
“Vandam beta baru ingat minuman apa ini,Ini pasti
teh sarang semut. Beta sudah sangat lama tidak minum
minuman ini. Dulu beta paling suka minum ini dengan kue
sagu.”
“Nah tepat sekali Thobi biar beta ambilkan lagi
sesuatu di dalam.”
Vandam kembali masuk ke dalam dan kembali keluar
membawa sebuah sesuatu.
“ Thobi kalau ini pasti ko tidak lupa kan?”
“Pasti la ini kesukaan beta, kue sagu.”
“Ayo Thobi cepat dicoba selagi ini masih panas. Baru
tadi dimasak didalam.”
Aku pun mencoba kue sagu itu sambil dinikmati
dengan teh sarang semut, Nikmat sekali rasanya. Memang
sudah lama aku tidak makan kue sagu apalagi minum teh
sarang semut. Setelah menghabiskan kue sagu dan teh sarang
semut aku dan Vandam mulai berbincang bincang.
“Vandam bagaimana sekarang kamu bisa mengajar di
sekolah Pak Silas?”
“Begini Thobi jadi dulu karna aku selalu masuk
sekolah di sekolahnya pak Silas akhirnya Pak Silas memasukan
ku ke sekolah umum untuk melanjutkan sekolah dan setelah
lulus Pak Silas menarik ku untuk menghajar di sekolahnya.”
“Jadi saat ini ko hanya bekerja menjadi guru di sekolah
Pak Silas.”
“Tidak Lah Thobi beta juga mengurus kebun dan
beternak juga untuk menambah pemasukan. Gaji menjadi guru
tidak terlalu besar.”
“Hey ko tau tidak kalau nanti ada kegiatan Pepera.”
“Beta tau lah, Pak Silas selalu membicarakan itu di
sekolah. Nanti ada rapat pemungutan suara untuk menentukan
apakah Irian Barat akan bergabung dengan Indonesia atau
tidak.”
“Vandam, warga kampung yang lain sudah tau atau
belum mengenai Pepera.”
“Mereka sudah tahu, setelah sebagian tentara
Nedherland meninggalkan Irian Barat. TNI yang tiba langsung
memberitahu kalau indonesia akan sepenuhnya menjadi
bagian dari indonesia. Namun mereka bilang akan ada
pemungutan suara berdasarkan keputusan PBB juga.
Ternyata warga kampung sini telah mengetahui bahwa
akan dilaksanakan Pepera. Namun aku jadi bertanya tanya,
bila warga Fakfak telah mengetahui bahwa akan dilakukan
Kembali ke Tanah Timur
voting untuk menentukan nasib Papua, apakah rumor
mengenai rakyat Fakfak yang lebih pro terhadap Belanda itu
benar ? Aku pun bertanya kepada Vandam mengenai
mendapat warga Fakfak terhadap Pepera.
“Vandam menurut ko bagaimana tanggapan warga
Fakfak terhadap Pepera. Apakah bila dilakukan voting untuk
pepera mereka akan memilih untuk bergabung dengan
Indonesia atau malah bergabung dengan Belanda atau juga
berdiri sendiri sebagai negara baru.”
“Bagaimana ya Thobi, warga Fakfak tahu bahwa TNI
telah membebaskan Irian Barat dari tentara Nedherland.
Namun sebenarnya di daerah Fakfak keberadaan tentara
Nedherland tidak terlalu merugikan warga Fakfak tentara
Nedherland memaksa beberapa warga Fakfak untuk bekerja
di sana namun mereka tetap diberi upah yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jadi kemungkinan
sepertinya mereka akan memilih untuk bergabung dengan
Nedherland.”
Ternyata Irian Barat belum siap untuk voting one man
one vote karena ditakutkan hasil yang didapat ternyata tidak
sesuai denga yang diharapkan. Terutama sekarang ada
gerakan organisasi di Irian Barat yang menyerukan untuk Irian
Barat berdiri sendiri. Hal ini membuat ku semakin cemas,
apakah Irian Barat bisa kembali ke pangkuan Indonesia tau
bergabung dengan Belanda. Setelah mengetahui tentang ini
aku terus memikirkannya. Hal apa yang harus aku lakukan agar
Irian Barat kembali ke pangkuan Indonesia. Aku benar benar
bingung dengan kenyataan ini jadi aku bertanya pada Vandam
mengenai hal apa yang harus dilakukan.
“Vandam saat ini beta sangat terkejut mengetahui
bahwa sebagian warga Irian Barat belum mau bergabung
dengan Indonesia. Bagaimana menurutmu Vandam apa yang
harus aku lakukan?” kataku.
Vandam pun menjawab, “Saat ini memang banyak
orang yang justru menunggu kedatangan orang orang
Nedherland karena pekerjaan mereka berasal dari orang orang
Nedherland. Namun kita harus memberi pengertian bahwa
orang orang Nedherland itu hanya memperbudak kita dan
pasti tidak akan memberi perlakuan yang sama dengan orang
Nedherland asli. Sedangkan Indonesia yang memang bangsa
kita ini terus berupaya untuk membuat Irian Barat merdeka
dari orang orang Nedherland.
“Ko benar Vandam kita harus membuat warga Fakfak
paham bahwa memang seharusnya mereka bergabung dengan
bangsa mereka indonesia. Ko mau tidak membantu beta untuk
meyakinkan warga bahwa Irian Barat harus bergabung dengan
Indonesia ?” pintaku
Vandam pun menyanggupinya, “Tentu saja Thobi beta
akan bantu.”
Setelah selesai membicarakan perihal ini aku
memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Missael. Sebelum
aku pergi aku berpamitan dengan Vandam terlebih dahulu.
Namun aku mengingat bahwa sepertinya Missael lebih
mendukung Belanda karena pekerjaannya berasal dari orang
Kembali ke Tanah Timur
orang Belanda. Dia juga lumayan berpengaruh karena dia
memiliki jabatan yang lebih tinggi dibanding orang Irian lain di
pertambangan. Jadi aku mengajak Vandam yang teman
Missael juga untuk membujuknya.
“Vandam terima kasih ya sudah mau berbincang
bincang dengan beta. Sekarang beta hendak pergi ke rumah
Missael, apakah ko mau ikut kesana untuk membujuk Misael
mendukung rencanakita? Mengingat Missael cukup
terpandang oleh orang orang yang bekerja di pertambangan,”
bujukku.
“Ayo Thobi pastilah beta mau ikut ayo berangkat,”
jawab Vandam.
***
Aku dan Vandam pun berangkat ke rumah Missael
untuk membujuknya mendukung rencana kamu. Kebetulan
Missael ada didepan rumahnya, lagi lagi sedang mengurus
tanaman tanamannya. Aku dan Vandam pun dengan segera
menghampiri Missael.
“Missael ini aku Thobi, beta datang bersama
Vandam.”
“Hey Thobi dan Vandam beta tak mengira kalian
berdua akan datang bersama. Ayo kemari masuk dulu.”
Kami pun masuk dan duduk di bangku teras rumahnya.
Missael pun masuk ke dalam rumahnya dan kembali dengan
membawa kopi. Missael pun duduk dan menanyakan
bagaimana kami bisa datang bersama.
“Ey kenapa kalian berdua bisa datang kesini bersama
bagaimana ceritanya ?” tanya Missael.
“Jadi begini Missael, tadi beta sebelum kesini pergi
dulu ke rumahnya Vandam dahulu. Itu sebabnya beta bisa
datang kesini bersama Vandam. Tapi begini Missael
sebenarnya beta dan Vandam berdua datang kesini ada hal
yang ingin dibicarakan.” Kataku.
Aku dan Vandam pun memberitahu Missael mengenai
apa yang ingin dibicarakan. Aku dan Vandam menyampaikan
mengenai persoalan yang sebelumnya aku bicarakan dengan
Vandam yaitu banyak masyarakat terutama di daerah Fakfak
yang belum menginginkan Irian Barat bergabung dengan
Indonesia. Missael terlihat benar benar menyimak apa yang
aku dan Vandam sampaikan kepadanya.
Setelah aku dan Vandam selesai menyampaikan
tentang persoalan ini Missael terlihat sedang berpikir keras.
Wajar saja Missael begitu karena ia sendiri membutuhkan
tambang milik belanda sebagai tempatnya bekerja. Setelah
Missael berpikir keras akhirnya ia melontarkan
pendapatnya.
“Emmm tapi Thobi saat ini banyak warga Fakfak yang
hidupnya bergantung pada tambang yang dikelola oleh orang
Nedherland dan beta sendiri juga membutuhkan tambang itu.
Ya beta tahu memang seharusnya kita bergabung dengan
Indonesia tapi saat ini banyak warga Fakfak yang lebih setuju
bergabung dengan Nedherland karena hal tadi .”
Kembali ke Tanah Timur
“Untuk masalah itu kita harus sedikit mengerti.
Bagaimanapun pemerintah Indonesia pasti akan berusaha
untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya,” kataku.
“Tapi bagaimana caranya, Thobi ?” tanya Missael.
“Jika Papua telah menjadi bagan dari Indonesia, maka
kau tetap dapat bekerja di pertambangan dan mendapatkan
upah yang jauh lebih besar. Tidakkah kau sadari ? Belanda
telah mengeruk kekayaan kita dan membawanya ke negerinya
itu. Lalu pa yang kita dapat ? Hanya sebagian kecil dari apa
yang mereka dapatkan. Selain itu, warga Fakfak masih bisa
berkebun atau beternak karna lahan di Fakfak masih luas. Jadi
tolong bantu kami Missael untuk membujuk warga Fakfak agar
memilih bergabung dengan Indonesia mengingat ko lumayan
terpandang di Fakfak. Jadi bagaimana Missael?”
“Baiklah Thobi beta akan membantumu.”
Setelah aku Vandam dan Missael selesai
membicarakan semuanya aku dan Vandam pulang kerumah
masing masing. Senang rasanya semua berjalan sesuai rencana,
sebenarnya mulai besok kami merencanakan untuk mulai
mensosialisasikan kepada warga Fakfak bahwa Irian Barat
harus bergabung dengan Indonesia.
***
Aku sampai di rumah dan ternyata Pak Silas telah
sampai lebih dahulu. Melihat Pak Silas ada di rumah, aku
dengan semangat menceritakan rencanaku kepadanya. Setelah
mendengar cerita ku Pak Silas benar benar mendukung
rencanaku. Pak Silas juga menyampaikan bahwa sebentar lagi
pelaksanaan Pepera akan dilaksanakan. Karena keadaan Irian
Barat yang belum stabil pemerintah khawatir bila dilakukan
one man one vote makan indonesia akan kalah. Oleh karena
itu pemerintah menerapkan sistem perwakilan setiap daerah
akan dipilih sekitar 1300 orang dari seluruh daerah Irian Barat.
Karena itu Pak Silas mendukung rencanaku karena dengan
keaktifan ku membantu pemerintah mengembalikan Irian
Barat ke dalam Indonesia aku akan dipilih sebagai salah satu
perwakilan dalam sidang Pepera.
Rencanaku berjalan dengan lancar.
Sebagian besar warga Fakfak telah mengerti
pentingnya Papua bergabung dengan Indonesia walaupun
masih ada sebagian orang yang belum setuju untuk bahwa Irian
Barat harus bergabung dengan Indonesia. Missael dan
Vandam benar benar berjasa dalam menjalankan rencana ini.
Missael memberi pengertian kepada warga yang dulunya
berkerja sebagai pekerja tambang di tambang milik belanda
dan mereka melanjutkannya ke keluarga mereka. Dan
Vandam menberi pengertian pada para siswa dan para kepala
suku. Dengan keberhasilan ini akhirnya aku bisa menjadi salah
satu perwakilan dari sidang Pepera.
Pepera sebentar lagi akan dilakukan aku dan Pak Silas
berangkat dari Fakfak ke Jayapura sebagai perwakilan dari
Fakfak. Kami pergi lebih awal ke Jayapura, tujuan nya adalah
agar kami tiba beberapa hari sebelum Pepera dilaksanakan.
Banyak hal yang harus disiapkan seblum mengikuti Pepera.
Sebagian perwakilan daerah melakukan pertemuan untuk
Kembali ke Tanah Timur
mencegah terjadi sesuatu yang tidak diharapakan Selama
Pepera berlangsung.
Akhirnya Pepera dilaksanakan juga. Pepera dihadiri
banyak sekali orang mulai dari perwakilan tiap daerah di Irian
Jaya, perwakilan pemerintah Indonesia dari Jakarta , hingga
perwakilan PBB dari Amerika. Sangat menegangkan rasanya
saat sidang ini dimulai tapi aku tetap yakin bahwa Indonesia
akan memenangkan sidang ini.
Di sidang ini diterapkan cara musyawarah dan bukan
voting karena cara musyawarah adalah budaya indonesia
dalam menentukan suatu keputusan. Setiap pendapat
disampaikan di sini dan dipertimbangkan bersama dan akan
diambil hasil terbaik yang tidak merugikan orang lain.
Banyak pendapat yang mendukung dan menentang
bergabungnya Irian Barat ke wilayah Indonesia. Semua
argumen dikeluarkan. Bukti-bukti yang menyatakan setuju
akan kembalinya Irian Barat ke nusantara membuktikan
bahwa sebagian masyarakat telah setuju. Tidak menerima akan
argumen pendukung tentu akan selalu ada dalam setiap
perdebatan. Bukti yang ada tidak bisa membuat opponent22
terus menangguhkan argumennya.
Keputusan sudah bulat. Irian Barat bergabung dengan
Indonesia. Hasil ini telah diakui oleh perwakilan PBB, maka
hasil sidang ini adalah sah.
***
22 lawan
Akhirnya impian dan tujuanku telah tercapai.
Kampung halamanku, tempat kelahiranku, tanah
Papua yang sangat kucintai kini telah kembali ke pangkaun
ibu pertiwi.
Semua perjuangan ini sudah terbayarkan. Semua orang
bersorak gembira mendengar hasil akhir ini dari perjuangan
ini.Perjuangan yang pelik dan pengorbanan yang besar dalam
memperjuangan Irian Barat telah terbayarkan.
Kini Ibu pertiwi bisa tersenyum lagi.
Tapi,
Perjuangan dan perjalanan belum usai.
Kita harus mempertahankan kesatuan NKRI dan
menjadikannya bangsa yang lebih baik lagi.
***
Tentang Penulis
PARFAIT adalah sebuah nama yang diambil dari nama-
nama anggota kelompok 3 kelas 12 IPA 5, yaitu Paquita, ARdiva,
Fahrani,Ilmawan, dan Tri. Adapun alasan kami memilih nama
tersebut karena kata parfait mudah untuk diingat. Di samping itu,
kami terinspirasi dari makanan penutup khas Perancis yang bernama
Parfait. Sebuah makanan penutup yang memiliki tampilan yang
menarik, penyajian yang khas, dan terdiri atas berbagai topping lezat
yang membuat parfait ini disukai oleh banyak orang. Begitupun
dengan novel ini. Kami berharap dengan penyajian sederhana yang
khas dan berbagai ide menarik setiap penulis yang membangun cerita
dalam novel ini dapat menjadikan novel ini menjadi suatu karya yang
disukai oleh banyak orang dan menyimpan kesan tersendiri baik bagi
pembaca maupun tim penulis.
Ardiva Galih Pradana
Ardiva Galih Pradana atau yang lebih akrab disapa dengan
panggilan Ipong adalah seorang pelajar dari SMA Negeri 2 Cimahi.
Dia lahir di Klaten tanggal 1 bulan 6 tahun 2002. Di kesehariannya,
banyak teman-temannya yang datang untuk mencurahkan isi hati
mereka. Maka dari sebagian cerita teman-temannya itu dia tuliskan
ke sebuah karya tulis. Bisa dibilang dia memiliki kepribadian yang
tertutup mengenai privasi dirinya, namun menjadi pribadi yang
terbuka apabila ada temannya yang datang untuk mencurahkan isi
hatinya.
Musik metal seakan menjadi teman dalam menjalani
kesehariannya. Kegemarannya adalah bermain musik. Instrumen
bass merupakan kesukaannya. Dia juga merupakan seorang anggota
dari grup musik yang cukup terkenal di Kota Cimahi. Kini dia masih
berjuang di bangku SMA untuk mencapai cita-citanya sebagai
seorang polisi.
( Ardiva Galih Pradana )
Fahrani Meisya Rompis
Fahrani Meisya Rompis adalah salah seorang siswa kelas 12
di SMA Negeri 2 Cimahi. Ia sering disapa Ran atau Rani .Ia lahir di
Cimahi pada tanggal 14 Mei tahun 2002 Saat SMP, ia pernah
mendapatkan Juara I Lomba News Reading Tingkat SMP se-Jawa
Barat dalam acara TBSPC tahun 2016 . Hal tersebut membuatnya
ingin terus mengembangkan bakatnya dengan mengikuti
ekstrakurikuler ECC di SMA.
Tidak hanya berminat dalam mempelajari Bahasa Inggris, ia
juga tertarik dalam mempelajari ilmu pengetahuan alam. Senang
dalam mempelajari benda dan gerakannya membuat ia mengikuti
Olimpiade Sains Tingkat Kota untuk mata pelajaran fisika pada
tahun 2018.
Tentu saja mengembangkan kemampuan otak kiri tidaklah
cukup, otak kanan pun harus tetap diasah. Di waktu luang, ia sering
membaca novel bergenre fantasi dan mitologi. Selain membaca, ia
mencoba untuk menulis beberapa teks seperti artikel, editorial, dan
novel. Novel Pulang Ke Pangkuan Ibu Pertiwi merupakan novel
pertama yang digarap olehnya. Meskipun pada awalnya mengalami
kesulitan untuk memilih kata, namun dengan semangat dan prinsip
“Saya bisa jika saya berpikir saya bisa” membuatnya dapat
menyelesaikan novel ini.
( Fahrani Meisya Rompis )
Ilmawan Nurmahdiansyah
Ilmawan Nurmahdiansyah adalah seorang pelajar di SMA
Negeri 2 Cimahi. Dia akrap disapa dengan panggilan il. Dia lahir di
Cimahi,3 November 2001. Dia termasuk salah satu pelajar yang
gemar berolahraga. Bahkan dia pernah berprestasi dengan membawa
sekolahnya menjadi Juara 1 Ligamen Futsal pada tahun 2018.
Namun, karena ia menyadari bahwa dengan berolahraga saja
tidak cukup untuk membuatnya berkembang. Kemudian dia
mencoba untuk mengasah kemampuan menulisnya. Di antaranya dia
berhasil menulis beberapa tulisan seperti artikel, tajuk wacana, dan
bahkan saat ini ia sedang menggarap sebuah novel bersama
temannya.
( Ilmawan Nurmahdiansyah )
Paquita Sarah Amelia
Paquita Sarah Amelia atau kerap disapa dengan Pe, lahir di
Bandung pada tanggal 31 Maret 2002. Dia adalah salah satu siswi
kelas XII IPA 5 SMA Negeri 2 Cimahi. Di sekolah Ia aktif dalam
kegiatan ekstrakulikuler paduan suara karena Iamemiliki hobi
bernyanyi.
Dapat menyelesaikan novel ini adalah suatu kebanggaan
tersendiri baginya. Awalnya Ia merasa berat ketika diberikan tugas
membuat novel apalagi dengan unsur sejarah. Namun, dengan tekad
dan perjuangan yang kuat Ia pun dapat menyelesaikan novel ini. Ia
dapat mengambilbanyak pelajaran setelah menyusun novel ini.
Dalam hidupnya Ia memiliki prinsip “jangan lah pernah menyerah
ketika kita masih mampu untuk berusaha lagi”.
(Paquita Sarah Amelia )
Tri Agung Sandika
Tri Agung Sandika adalah pelajar di SMA Negeri 2 Cimahi.
Ia akrab dipanggil dengan banyak nama panggilan seperti: Tri,
Agung, Sandi, Emak, Aging dan masih banyak lagi. Ia bisa dibilang
sebagai pelajar yang sering memikirkan dan mengkritisi fenomena
yang terjadi di sekitarnya. Ia juga sering mengemukakan pendapatnya
mengenai fenomena yang terjadi ke pada taman-temannya. Ia lahir
di bandung tanggal 8 mei 2002. Ia sangat kritis mengenai hal hal yang
terjadi disekitarnya. Banyak hal yang ia kritisi karna menurutnya
tidak sesuai dangan yang seharusnya. Ia selalu memikirkan solusi
terhadap segala sesuatu yang menurutnya tidak benar. Karna itu
banyak temannya tang meminta pendapat dirinya mengenai masalah
yang dihadapi dan kini akhirnya ia memutuskan untuk menuangkan
seluruh ide pemikiran dan gagasannya pada sebuah novel yang
berjudul “Pulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi".
( Tri Agung Sandika )