The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi by Parfait (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by destinnafid42759, 2021-11-28 21:31:49

Pulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi by Parfait (z-lib.org)

Pulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi by Parfait (z-lib.org)

Laut Arafuru

karena peluru-peluru kami tidak akan mungkin bisa mencapai
jarak lebih dari seratus meter.

Dalam keadaan yang tegang dan panik, aku dan
prajurit-prajurit lainnya hanya bisa berdoa menurut
kepercayaan masing-masing berharap tidak akan terjadi hal
yang buruk dari serangan kompeni ini.

13

Terbongkar

Di tengah kumpulan prajurit-prajurit yang sedang berdoa itu,

terlihat Leo sedang menundukkan kepalanya. Namun tidak
ada yang sadar dengan keberadaannya. Kebetulan saat kami
semua berdoa, akulah yang memimpinnya.

Ketika sedang memimpin doa, fokusku teralihkan
dengan keberadaan Leo yang bisa saja membuat dirinya
ketahuan oleh prajurit-prajurit lainnya. Doa – doa yang
kuucapkan tiba-tiba berhenti karena semua fokusku teralihkan
kepada Leonarda.

Semua prajurit yang tadinya memperhatikanku, kini
hanya terdiam melihatku kebingungan. Yang ada di benak
mereka, kenapa aku berhenti mengucapkan doa-doa. Suprapto
menarik garis lurus dari pandanganku.

Matanya pun mengikuti arah kemana pandanganku
tertuju. Dia sadar aku sedang memperhatikan salah satu
prajurit yang terlihat menundukkan kepalanya. Ya akhrinya
dia menyadari keberadaan prajurit yang tidak ia kenal
sebelumnya.

Saat Suprapto hendak menghampiri Leo, kapal
terguncang. Rupanya kapal kompeni melepaskan tembakkan
yang untungnya nyaris mengenai KRI Harimau yang kami

Terbongkar

naiki. Tembakkan itu hanya masuk ke dalam air di depan kapal
kami. Namun itu membuat adanya gelombang air yang
lumayan kuat sehingga kapal saja bisa terguncang.

Ada tiga kapal kompeni yang sudah siap melawan KRI.
Ketiganya dilengkapi senjata yang sangat mumpuni. Jika
dibandingkan dengan KRI, maka akan mengalami kekalahan
telak.

KRI tidak dilengkapi dengan persenjataan yang
mumpuni saat itu. KRI sendiri merupakan kapal yang dibeli
Indonesia dari Jerman pada tahun 1960.

Kami yang semula berusaha tenang untuk berdoa, kini
menjadi suasana yang cukup ribut. Untungnya karena
suasananya ribut seperti itu, Suprapto tidak jadi menghampiri
Leo. Suprapto sendiri sibuk berteriak putar balik ke KRI
Macan Kumbang.

Kebetulan awak kapal KRI Macan Kumbang juga
semuanya sedang berada di atas dek kapal. Teriakan Suprapto
ternyata bisa sampai ke KRI Macan Kumbang yang jaraknya
kurang lebih dua puluh meter dengan keadaan mesin kapal
yang masih menyala dengan bising.

Semua prajurit terlihat panik. Berbeda dengan
Leonarda, dia hanya satu-satunya orang yang bisa tenang
dalam keadaan seperti ini. Rekanku yang bernama Aji juga
melihat sosok Leonarda sebagai prajurit misterius yang tidak
dikenal. Aji pun menanyakannya kepadaku.

“Siapa dia? Mengapa saat berdoa tadi, kau tiba-tiba
berhenti karena sedang memperhatikan dia? Sebenarnya dia
itu siapa?”

Aku tidak menjawabnya karena aku pun bingung harus
menjawab apa. Jika aku mengatakan yang sebenarnya pun dia
tidak akan percaya kepadaku karena ini merupakkan operasi
rahasia yang orang yang tidak berwenang tidak akan tahu.

Tampaknya Aji kesal karena pertanyaannya tidak
mendapat tanggapan dariku. Dia pun kini menghampiri Leo di
depan Lorong ke bawah. Dia memegang lengan kiri atasnya
dengan keras dan sedikit diputar.

Melihat Aji memperlakukan itu kepada Leo, aku pun
membentaknya, “Woi! Apa yang kau lakukan hah?!”

Aji melepaskan pegangannya dari lengan Leo. Leo pun
langsung berlari pergi ke bawah. Aji yang masih kesal karena
pertanyaannya tidak ku tanggapi menjadi membentakku balik,
“Banyak cakap kau ini!”

Emosiku berhasil terpancing olehnya. Langsung ku
layangkan pukulan tinjuku kearah rahangnya. Aji pun langsung
jatuh karena sebuah pukulan dariku. Prajurit yang lainnya
dengan sigap berusaha memisahkan aku dengan Aji.

Saat suasa di atas dek kapal sedang runyam, terdengar
seruan dari radio. Suara itu adalah suara Paman Yos.

“Semuanya putar balik!”

Melihat rombongan KRI memutar haluan, kompeni
mengiranya sebagai bagian dari manuver Indonesia untuk

Terbongkar

mengelabui mereka. Mereka pun melepaskan tembakkan yang
kedua namun masih belum tepat sasaran. Hanya seperti
tembakkannya yang pertama.

Saat hendak putar balik, KRI Macan Tutul yang
dinaikki oleh tujuh puluh tujuh orang prajurit termasuk Paman
Yos dan Kolonel Sudomo itu mesinnya mendadak mati.
Sebagai pemimpin operasi ini, Paman Yos berpikir keras.

Mesin KRI Macan Tutul mati saat gerakan putar
haluannya baru setengahnya. Jadi seakan-akan KRI Macan
Tutul memasang badan agar KRI Harimau dan KRI Macan
Kumbang bisa selamat. KRI Macan Tutul berhadapan dengan
kapal perang kompeni bernama Karel Doorman yang
dilengkapi dengan persenjataan siap tempur.

Sial, pada tembakkan ketiga tepat mengenai badan dari
KRI Macan Tutul. KRI Macan Tutul pun terbakar dan
perahan karam. Pekikan “KOBARKAN SEMANGAT
PERTEMPURAN!” melengking dari saluran radio di KRI
Harimau dan KRI Macan Kumbang.

Melihat KRI Macan Tutul yang karam membuat hatiku
seakan terkoyak-koyak. Di dalamnya terdapat pamanku,
Yosaphat Soedarso. Sejak saat itu hatiku menjadi benar-benar
tercabik – cabik dan aku semakin membenci Belanda. Aku tak
akan bisa memaafkan mereka.

Dua KRI yang selamat akhirnya bisa benar-benar
bebas dari sergapan Belanda. Semua prajurit tampak
menyesali apa yang barusan terjadi di hadapan mata mereka

sendiri. Tidak ada satupun suara manusia yang terdengar saat
itu. Hanya suara mesin dan deburan gelombang air laut.

Semua prajurit pun satu persatu masuk ke ruang
istirahatnya di bawah. Aji menjadi yang pertama untuk turun
ke bawah karena tadi dia sempat menerima pukulanku yang
cukup keras.

Saat Aji sampai di bawah, dia heran kenapa sudah ada
prajurit lainnya yang sudah beristirahat. Padahal dia adalah
orang yang pertama turun. Dia tahu persis, karena dia duduk
tepat di samping Lorong menuju ke bawah. Tidak ada satupun
prajurit yang sudah melewatinya selama dia duduk disana.

Aji mendekati Leonarda yang sudah tertidur, “Hey
siapa kau?”

Leonarda yang masih setengah sadar pun langsung
berlari menjauhi Aji. Dia menuju ke dek atas. Aji yang masih
penasaran pun mengejarnya walau dia harus menahan sakit
akibat pukulanku tadi. Leonarda tidak sengaja menabrak
Suprapto yang masih bengong menyesali apa yang barusan
terjadi.

Topi Leonarda pun terlepas dan jatuh ke lantai.
Rambutnya pun menjadi terurai, dan menunjukkan kepada
semua prajurit bahwa dia adalah seorang wanita. Lalu aji yang
baru sampai, dan melihat orang yang barusan dikejarnya
adalah seorang wanita pun lantas membentak Leonarda.

Aku langsung menghampiri mereka dan
membangunkan Leonarda. “Jadi dia yang dari tadi kau
pikirkan hah, Thobias?” tanya Suprapto dengan sinis.

Terbongkar

Lagi-lagi aku tidak menanggapi mereka dan tetap berjalan
menuju ke ruang istirahat. Namun aku merasa ada sebuah
tangan yang menarik pundakku seakan memintaku untuk
berbalik arah. Benar saja, sebuah tinju melayang di depan
mataku.

Pukulan Aji tepat mengenai hidungku. Cairan merah
langsung keluar dari hidungku. “Apa kau yang telah
membocorkan operasi ini ke Belanda?” tanya Aji kepada
Leonarda.

“Apa kau gila? Aku ini orang Papua asli, aku tidak
mungkin membocorkan operasi ini kepada mereka.” Jelas Leo.

“Aku tidak mengenalmu, bagaimana bisa aku langsung
mempercayai omonganmu, hah? Sepertinya kau harus hilang
dari dunia ini agar tidak ada lagi rahais-rahasia yang kau
bocorkan!” gertak Aji.

Situasi yang tadinya sunyi, kini menjadi ramai kembali.
Semua prajurit mengelilingi aku dan Leonarda. Aku berusaha
untuk membela Leonarda dengan segala yang aku tahu dan
aku bisa.

“Sku sudah mengenalmu sejak Pendidikan di
AKABRI. Biarkan aku yang berbicara menjelaskan
keberadaan waita ini. Bukankah dengan demikian kau akan
percaya?” ucapku.

Aji yang sedang naik darah langsung mengangkat kerah
seragamku dan menantangku, “ya memang aku mengenalmu
sejak dulu, tapi aku bbelum pernah bertarung denganmu,
pecundang.”

Anehnya semua prajurit tidak ada yang berusaha
melerai aku dan Aji. Mungkin karena semua prajurit telah
termakan omongan Aji jadi mereka membiarkan aku dihajar
oleh Aji.

Kuda-kuda lalu kupasang untuk melawan Aji. Begitu
pun Aji dengan ilmu silat yang ia miliki. Saat kami mulai
meluncurkan pukulan dan tendangan pertama, tiba-tiba
Leonarda berada di tengah-tengah kami untuk melerai.

Namun tendanganku malah mengenai pelipisnya, dan
membuatku tidak melanjutkan pertarungan mealawan Aji.
Namun Aji tidak menganggap hal itu sebagai jeda dari
pertarungan kami. Aji lalu menyerangku sampai-sampai aku
tidak memiliki kesempatan untuk melawan.

Saat sedang dihujani pukulan oleh Aji, aku tidak
sengaja berteriak “Jan**k”. prajurit-prajurit yang ada disitu
mungkin tersinggung dengan ucapanku. Hal tersebut malah
seolah-olah menjadi pancingan mereka untuk bergabung
memukuliku.

Di saat itu pula aku kehilangan seluruh kesadaranku.
Saat sadar, aku sedang disirami air kencing oleh Aji dengan
keadaan badanku dan badan Leonarda diikat dengan tali
tambang seperti layaknya tawanan-twanan perang.

Leonarda dengan inisiatif berkata,”Aku adalah
Leonarda, aku bukanlah seperti apa yang kalian tuduhkan
kepadaku tadi. Aku ingin membela tanah kelahiranku sendiri.
Lagi pula aku tinggal di dekat pelabuhan dimana
keberangkatan KRI sore tadi terjadi. Aku tidak mendengar

Terbongkar

berita ini dari siapapun. Melainkan aku melihat banyak prajurit
tentara yang sedang bersiap untuk masuk ke dalam kapal. Dan
soal apa yang aku kenakan ini adalah peninggalan ayahku. Aku
bercita-cita ingin menjadi anggota tentara, namun aku tidak
lolos saat seleksi. Jadi tadi sore aku memutuskan secara nekat
untuk ikut ke dalam operasi ini. Aku juga sebelumnya tidak
mengetahui adanya operasi ini. namun karena tadi diadakan
APEL, maka aku jadi mengetahuinya,” jelas Leonarda.

Aji dengan prajurit yang lain masih bengong
mendengar penjelasan dari Leonarda. Aku berkata,“Dengar
tidak kau? Heh punya telinga tidak kau?!”

Ucapanku itu malah mendatangkan sebuah tendangan
kea rah bahu kananku. Kini badanku menjadi sakit semua
karena dikeroyok oleh beberapa manusia keras.

Melihat Aji menendangku, Leonarda berusaha
membelaku, “Jangan siksa dia! Kalau mau siksalah aku saja.”

Leonarda memintaku unntuk meminta maaf kepada
Aji dan prajurit lainnya atas apa yang telah dia lakukan.
Leonarda juga meminta Aji untuk meminta maaf kepadaku.

Aku dan Aji dengan kompak menjawab “tidak” dengan
bersamaan. Aji hanya melepaskan ikatanku dan Leonarda. Dia
juga mengambilkanku seragam gantinnya untukku pakai
karena yang tadi telah disiram air kencingnya.

Saat Aji memberikan bajunya kepadaku, lantas au
memeluknya dan meminta maaf kepadanya. Kami berdua lalu
bermaafan dan akan bertekad untuk melawan Belanda
bersama sampai titik darah penghabisan.

Pukul delapan pagi KRI Macan Kumbang dan KRI
Harimau pun akhirnya sampai kembali di pelabuhan. Orang-
orang yang ada di pelabuhan pun bertanya-tanya kemanakah
KRI Macan Tutul.

Dengan berat hati kami menjelaskan apa yang telah
terjadi.

14

Pertempuran di Tanah Fakfak

Operasi ilegal yang kami lakukan membuat kami semua harus

menerima sanksi dari Presiden. Namun, sanksi tersebut tidak
membuat kami goyah. Semangat untuk mengembalikan Papua
ke tanah nusantara tidak pernah padam.

Berbagai cara telah kami lakukan. Kegagalan dalam
operasi ilegal telah dilakukan, membuat pemerintah
mengubah jalan untuk merebut kembali Irian Barat dengan
cara diplomasi. Sayangnya, cara tersebut tidak berhasil juga.

Setelah beberapa kali gagal melalui diplomasi,akhirnya
pemerintah memutuskan untuk menyelesaikannya dengan
cara konfrontasi untuk membebaskan Irian Barat dari
Belanda. Mendengar kabar tersebut aku merasa terpanggil
untuk membebaskan tanah kelahiranku dari jajahan mereka
yang serakah akan kekayaan di sana. Segera bergegas
menghadap komandan untuk menanyakan perihal kabar yang
baru saja didengar tadi.

“Izin komandan,mengenai kabar yang turun dari pusat
apakah benar adanya? Honjuk ndan”

“Iya kabar itu benar Letnan,tapi saya belum menerima
perintah resmi dari Panglima pasukan mana yang akan dikirim
pemerintah untuk tugas pembebasan Irian nantinya” jawabnya.

“Siap komandan! Saya akan sangat bangga dan siap
apabila nantinya pasukan kita yang berangkat untuk operasi
ini,hati ini sudah tak dapat dibohongi lagi ndan ingin
membebaskan tanah kelahiran saya dari jajahan para Belanda
itu”

“Ya bagus Letnan memang itu yang kita perlukan saat
ini,yang pasti kita harus siap dan bertekad kuat untuk
membawa Irian Barat menjadi bagian dari NKRI” ucapnya.

Aku pasti akan bangga pada diriku sendiri jika aku ikut
serta dalam operasi itu. Itulah yang ada dalam otakku selama
aku menunggu perintah resmi yang dikeluarkan oleh panglima
nantinya. Segala persiapan akan disiapkan sebaik mungkin
dimulai dari fisik,mental,dan taktik perang akan kami siapkan
untuk membebaskan tanah kelahiranku.

Tetorett tetorett totett…

Apel malam tiba aku dan semua rekanku berkumpul
dilapang untuk melaksanakan apel malam pukul 22.00 WIB.
Berbeda dengan apel biasanya,kali ini aku benar benar
menantikan hal apa saja yang akan disampaikan pimpinanku
pada apel kali ini. Aku berharap pimpinanku akan membahas
tentang kabar yang tadi sore aku dengar dan tanykan padanya.

“Ya tidak banyak yang akan saya sampaikan maka
tolong perhatikan baik baik,pertama mungkin kalian sudah
menerima kabar mengenai keputusan pemerintah untuk
membebaskan Irian Barat melalui jalur konfrontasi yang
artinya kita harus siap apabila panglima besar nantinya
menunjuk kita untuk terjun dalam operasi tersebut. Maka dari

Pertempuran di Tanah Fakfak

itu saya himbau kepada seluruh pasukan untuk menyiapkan
mental dan fisik selama kita menunggu perintah resmi,”
ucapnya.

“Cukup jelas semuanya?”

“Siap jelas komandan!” jawab kita dengan penuh
semangat.

Selepas apel,aku langsung bergegas ke barak dan
beristirahat. Salah satu temanku Letnan Bambang
meyakinkanku bahwa dia akan berjuang mati matian
bersamaku dalam operasi itu jika benar pasukan kita yang akan
diterjunkan. Mendengar perkataannya semangatku semakin
menggebu gebu karena semua orang bertekad dan akan rela
mempertaruhkan nyawanya demi kebebasn tanah kelahiranku.

Satu keyakinanku bahwa apabila semua unsur bersatu
maka NKRI akan sangat kuat siapapun lawan yang dihadapi di
depan. Perbedaan yang dimiliki Indonesia adalah kekuatan
sesungguhnya yang sulit untuk ditaklukan oleh lawan. Negara
ini telah berhasil merdeka tanpa bantun persenjataan yang
canggih namun karena atas dasar keyakinan dan kesatuan.

Bung Karno merupakan sosok inspiratif bagi bangsa
ini,beliau berhasil membungkam dunia dengan ucapan dan
tindakannya yang sangat nasionalis. Apa yang telah dilakukan
oleh para pendahulu tentunya menjadi teladan bagi kami
selaku prajurit yang membentengi negeri ini dari segala
ancaman. Maka apapun resiko yang akan kami hadapi di depan
kami tidak akan pernah takut,lebih baik pulang nama dari pada
gagal di medan tugas.

***

Pagi hari pun telah tiba semua pasukan diapelkan
untuk persipan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk hari itu.

“Selamat pagii!” sapa komandan.

Kami serentak menjawab, “Pagi pagi pagi luar
biasaaa…”

Tak banyak yang disampaikan oleh komandan,beliau
hanya berpesan untuk mempersiapkan diri apabila suatu saat
pasukan kami dikirim untuk operasi pembebasan Irian. Aku
sebagai danton atau komandan pleton langsung mengarahkan
pasukanku untuk segera berlatih bersama mulai dari
fisik,mental dan taktik perang yang pernah kami pelajari
sebelumnya.

Setiap hari kami berlatih untuk mematangkan strategi
yang telah disusun untuk operasi di Irian. Hingga satu hari aku
menyadari bahwa aku lupa mengirim surat untuk Leonarda
untuk sekedar memberinya kabar. Saat komandan
memberikan kami semua jatah berlibur sehari,aku langsung
bergegas untuk menemui Leonardo. Aku harus menyampaikan
rencana pemerintah yang akan mengambil tindakan
konfrontasi untuk membebaskan Irian yang artinya aku
memiliki peluang besar untuk ikut di dalamnya. Dari kejauhan
dia nampaknya sudah melihatku,namun tatapan dia berbeda
dari biasanya.

Aku pun menyapanya, “Hai ! apa kabar? Loh kamu
kenapa menatap aku begitu?”

Pertempuran di Tanah Fakfak

“Aku cemas mendengar kabar pemerintah yang akan
melakukan konfrontasi.”

“Jadi kamu sudah tahu? Iya, kemarin komandan sudah
menyampaikan bahwa pleton ku memiliki peluang besar untuk
ikut operasi itu.”

“Tapi kamu tak perlu khawatir perihal hal itu,pletonku
sudah siap menghadapinya dan berjanji akan pulang dengan
kemenangan,” Jelasku.

Leonarda berkata, “Tetap saja aku cemas,aku ingin
mendapingimu disana.”

***

Sekembalinya aku ke markas, komandan langsung
meminta semua pleton dikumpulkan. Nampaknya komandan
akan segera menyampaikan putusan dari panglima perihal
siapa yang akan turun dalam operasi ini.

“Melalui surat putusan yang ditandatangani presiden
dan panglima, maka pleton 1-4 diperintahkan untuk ikut serta
dalam operasi Trikora dalam rangka pembebasan Irian Barat
bersama-sama dengankekuatan TNI yang lainnya,” ujar
komandan kepada semua anggota.

“Saya berpesan kepada seluruh anggota untuk
bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas ini dan
berangkat dengan yakin dan pulang membawa kemenangan
bagi bangsa ini, kalian adalah orang-orang terpilih yang
memiliki kesempatan menjadi pahlawan bangsa yang akan
selalu dikenang,” tambahnya.

Tentu mendengar kabar ini hatiku sangat terpanggil
dan sangat siap untuk turun dalam operasi ini. Kami
direncanakan berangkat ke Irian dengan menggunakan jalur
udara dini hari nanti pukul 02.00 WIB dari Pangkalan Udara
TNI AU Adisutjipto dan ditargetkan terjun di daerah Fakfak.
Namun sebelumnya kami semua diizinkan untuk mengabari
keluarga perihal tugas yang akan kami emban ini. Aku kembali
menemui Leonarda.

“Aku izin pergi sementara untuk bertugas,kamu harus
menjaga dirimu baik-baik,” kataku.

“Aku akan ikut denganmu”

“Tidak,kamu tidak bisa ikut,ingat kejadian saat
rahasiamu terbongkar di kapal perang tempo dulu,aku tidak
ingin kejadian itu terulang kembali.”

“Pokonya aku akan ikut bagaiman pun
caranya,sekarang kamu pergilah tak usah ada dihadapanku.”

Aku kembali ke markas dan menyiapkan segala
perlengkapan dan kebutuhan yang aku butuhkan selama
bertugas nanti. Aku melihat salah satu anggotaku yang
bernama Rudi sedikit cemas dengan tugas ini.

“Rudi kenapa kau? Takut?” tanyaku

“Siap tidak danton!”

“Lalu mengapa raut wajahmu seperti ketakutan dan
cemas begitu”

Pertempuran di Tanah Fakfak

“Siap izin danton,saya cemas meninggalkan istri saya
yang sedang mengandung,saya takut tak dapat kembali dan tak
dapat melihat anak saya”

“Kau harus percaya pada Tuhan, Rud.Tuhan pasti
memberkati kita,lagi pula kau mau pergi kemanapun kalo
dalam peluru itu ada namamu maka peluru itu akan
menghantammu,jadi percayakanlah semuanya pada Tuhan”

“Siap danton,” jawabnya sedikit lebih tenang.

“Perlu kau camkan juga bahwa kau disini di percaya
oleh negara untuk menjadi pahlawan. Maka berjuanglah walau
nyawa kau taruhannya”.

“Siap danton!”

Penugasan ini berarti tugas resmi pertama bagiku
sebagai seorang perwira. Aku tak ingin mengecewakan orang-
orang yang telah percaya pada kami. Sesuai dengan apa yang
dikatakan Presiden Soekarno bahwa misi ini adalah upaya
untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Selain itu, aku juga ingin membalas kekalahan operasi
sebelumnya yang membuat pamanku Yos Sudarso gugur di
dalamnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB, semua
pasukan di apelkan dan kami sekaligus memanjatkan do’a pada
Tuhan Yang Maha Esa agar di beri keselamatan dan
kelancaran dalam melaksanakan misi trikora ini. Pesawat yang
akan membawa kami adalah pesawat yang dapat menampung
banyak orang. Semua prajurit telah siap dengan pakaian

tempur lengkap dengan parasut untuk melaksanakan
penerjunan di langit Fakfak pukul 04.00 WIB nanti.

“Izin danton,danton terlihat seperti Rambo” ungkap
salah satu anggotaku saat akan menuju landasan.

“Rambo macam apa bisa saja kau ni le” jawabku.

“Siap salah danton!”

Masuklah kami ke dalam pesawat. Operasi Trikora ini
menurunkan sekitar 16.000 pasukan yang terdiri dari tiga
matra TNI yaitu TNI-AD yang akan menyisir lewat darat, TNI-
AU yang akan membantu melalui jalur udara, dan TNI-AL
yang akan membantu melalui jalur laut. Pesawat kami pun take
off tepat pada pukul 02.00 WIB. Selagi mempersiapkan diri
aku terus berdoa selama penerbangan menuju Fakfak.

Fakfak adalah daerah pertama yang akan kami ambil
alih dari Belanda. Kami akan mengincar titik terlamahnya
terlebih dahulu sebelum menguasai pangkalan militer belanda
yang ada di Fakfak. Sementara untuk jet tempur akan
dikerahkan bila mana pasukanku kewalahan menghadapi
pasukan Belanda.

Pilot memberitahu bahwa dalam 30 menit ke depan
pesawat akan tiba di langit Fakfak. Kami diminta untuk
bersiap-siap dan mengecek kembali semua kesiapan. Kembali
aku melihat Rudi kembali cemas.

“Rudi kalo kau cemas dan ragu lebih baik kau kembali
ke jogja dan tak usah kau menjadi tentara!” ucapku padanya
kesal.

Pertempuran di Tanah Fakfak

“Siap tidak danton”

“Tidak apa? Tidak mau berkorban demi Negara?”

“Siap salah danton”

“Sudah. Kau tak perlu takut,kita disini semua mesti
sama-sama berjuang. Anggap tugas ini sebagai tugas terakhir
kalian maka lakukan segala hal yang terbaik untuk tugas ini
biar pun nyawa kalian yang menjadi bayarannya,” ucapku pada
semua anggotaku dengan yakin.

“Siap danton!”

Pintu pesawat pun mulai terbuka. Hembusan angina
kencang sangat terasa dan membuat suasana menjadi
mencekam. Satu per satu kami keluar dari pesawat dan mulai
menggunakan parasut kami. Penerjunan pertama berhasil
dilakukan. Setibanya di darat kami langsung berkumpul di satu
titik dan mengecek kelengkapan personil. Dengan suara yang
sangat kecil aku mengecek kelengkapan pletonku. Setelah di
cek semua anggotaku terhitung lengkap. Kemudian kami mulai
bergerak menuju ke sebelah barat untuk mencari celah masuk
ke camp dari pasukan Belanda.

Aku membagi pletonku menjadi tiga regu. Regu
pertama bertugas untuk menjaga base di titik aman dan
melaporkan keadaan dari jauh. Regu kedua berisikan tim
medis yang akan meng-cover regu ketiga. Regu ketiga adalah
regu yang akan langsung kontak dengan musuh yang di
dalamnya aku sendiri yang akan memimpin. Untuk regu
pertama di beri kode elang,regu kedua di beri kode macan, dan
regu ketiga di beri kode singa.

“Elang masuk, keadaan aman singa langsung
lumpuhkan,” komandoku.

“Baik kami mulai bergerak”

Kami langsung menyerang pasukan belanda yang
sedang tertidur di pos 1 mereka. Di tembakkan peluru kepada
mereka yang sedang dalam kondisi tidak siap membuat kami
regu singa dengan mudah melumpuhkan musuh di pos 1.

“Singa masuk,pos 1 clear”,ucapku dalam radio.

“Elang masuk, kami bergerak menuju pos”,ucap Rudi
sebagai pemimpin regu elang.

Pos 1 berhasil kami kuasai dengan baik. Aku meminta
kepada semua anggotaku agar tetap waspada walaupun pos ini
telah di kuasai. Maka dari itu aku mencoba untuk menyisir
kembali seluruh sudut area di pos 1 agar memastikan semuanya
telah aman.

“Regu elang dan regu macam tolong kendalikan situasi
di daerah vital pos 1, sementara saya dan regu singa akan
menyisir kembali semua area disini agar memastikan semuanya
dalam keadaan aman”, ucapku pada semuanya.

“Siap danton!”

Ketika aku dan reguku menyusuri area tersebut ada
satu suara pijakan kaki seseorang yang sedang melangkah.
Sontak kami semua langsung bersembunyi dan memantau
siapakah orang yang akan datang. Suara itu semakin dekat
membuat kami bersiap dengan senjata kami apabila sesuatu
terjadi.

Pertempuran di Tanah Fakfak

Aku memberi kode pada reguku apabila orang yang
datang tersebut adalah militer Belanda maka kode merahkan
adalah tembak target. Sedangkan jika yang datang adalah
warga Papua maka kode putihkan adalah mengamankannya
dan membawanya dalam keadaan selamat.

“Tuhan tolong lah aku, aku hanya ingin bertemu
dengannya dan membantunya, aku tak ingin tersesat seperti
ini,” ucap orang misterius tersebut.

Terlintas dalam pikiranku, “Aku seperti mengenal
suara ini, rasanya suara ini tak asing bagiku.”

Lanjutlah aku memberi kode putihkan untuk
mengamankannya karena aku yakin bahwa orang itu bukanlah
militer Belanda.

“Singa putihkan,” ucapku dengan pelan.

Benar ternyata orang itu adalah Leonarda yang diam-
diam ikut menyusup sebagai pasukan yang di tugaskan ke
Fakfak.

“Leo kenapa kau bisa ada di sini ?” tanyaku padanya.

“Sudah kubilang aku akan ikut berjuang bersamamu
bagaimanapun caranya.”

“Aku berangkat bersama pasukan gelombang kedua
dengan Lettu Aryo, namun aku terpisah dari mereka saat
penerjunan. Aku tersesat kesini,” jawabnya.

Aku benar-benar terkejut akan hadirnya Leonarda
disini. Dia benar-benar nekat untuk ikut bersamaku

memperjuangkan Irian Barat. Namun untungnya dia datang
disaat yang tepat setelah aku dan reguku berhasil
melumpuhkan militer Belanda di pos 1. Tuhan masih
memberkatimu Leo berterimakasihlah.

“Puji Tuhan kau datang saat semua sudah clear,
sekarang kau harus menempel pada kami, aku tak ingin terjadi
sesuatu pada kau, kau juga harus mengikuti semua yang aku
perintahkan demi kelancaran tugas ini oke?” ucapku pada Leo.

“Baik komandan”

Aku memutuskan untuk kembali ke pos vital dan
mencoba melaporkan bahwa pos 1 telah berhasil kami
lumpuhkan.

“Elang radio,” pintaku

Tono menghampiriku dan memberikan radio yang
menghubungkan ke pusat. Fungsinya adalah sebagai alat
komunikasi regu kami kepada pusat yang terus memantau dan
menunggu laporan dari kami.

“Izin melapor elang,macan, dan singa kondisi lengkap
dan pos 1 telah di lumpuhkan, selanjutnya kami akan
memantau terlebih dahulu pos 2,” ucapku dalam radio.

“Bagus lanjutkan dan tetap waspada”

“Siapp!”

Kami pun melanjutkan operasi menuju ke pos
selanjutnya. Pos 2 adalah pos yang mungkin akan sedikit sulit
kami lumpuhkan karena jumlah militer Belanda yang berada

Pertempuran di Tanah Fakfak

di situ sangatlah banyak. Bisa dibilang pos ini adalah pusat
militer Belanda di Fakfak. Namun apapun itu, demi
membebaskan tanah kelahiranku dan membalaskan dendamku
akan kematian Paman Yos Sudarso dalam pertempuran di
Laut Arafuru, aku bersumpah akan melibas habis mereka
walaupun secara jumlah kami kalah.

Namun jumlah bukanlah patokan untuk menjadi
pemenang tapi mental dan keyakinan yang akan membuat
kami menang dalam operasi ini. Semoga Tuhan lagi-lagi
memberkati usaha kami ini. Aku meminta untuk regu elang
menjaga dan mengendalikan situasi dari atas dan Leonarda
ikut bersama mereka. Sementara aku akan menyisir melalui
jalur belakang untuk langsung melumpuhkan semua target.
Sebelumya aku meminta Sersan Rudi untuk masuk melalui
jalur depan dan memancing pasukan Belanda untuk keluar.

Jika mereka sudah terpancing aku dan reguku singa
akan memborbardir mereka dari belakang.

“Rud, kau masuk lewat depan dan pancing mereka
untuk keluar, saya dan singa akan memborbardir mereka dari
belakang,” ucapku.

“Siap danton!”

“Baron kau siap siap selamatkan Rudi saat dia
memancing mereka keluar di dekat regu elang” pintaku lagi.

“Siap danton!”

Rudi mulai masuk dan mencoba memancing mereka
dengan sebuah granat kejut yang ia lempar. Sontak hal tersebut

membuat pasukan militer Belanda terkejut dan kocar kacir
menyiapkan senjata mereka untuk bergegas mengecek dari
mana datangnya ledakan itu.

“Singa 1 masuk target berhasil terpancing”, ucap
Sersan Rudi.

“Singa 2 bergerak”

Bergeraklah kami dari arah belakang dan menghujani
pasukan Belanda dengan ratusan peluru yang kami tembakkan.
Satu per satu dari mereka berjatuhan membuat semangat kami
semakin membara. Namun tak di sangka Leonarda justru
melepaskan diri dari regu macan dan tiba-tiba berada di
sebelahku dengan membawa sebuah paha ayam di
genggamannya sambil berteriak, “MERDEKAAAA!!!”

Aku terkejut dengan kehadirannya,namun aku tetap
focus pada pertempuran. Dengan inisiatif regu macan pun
akhirnya ikut turun dalam pertempuran karena mereka sudah
yakin bahwa seluruh pasukan Belanda berada di tengah.

“Baron lemparkan bom granat pada mereka!” pintaku.

“ARGHHH MERDEKAA!!” teriaknya sambil
melemparkan bom granat pada pasukan Belanda yang sangat
kewalahan menghadapi kami.

Bom granat tersebut berhasil melibas habis pasukan
Belanda. Lagi-lagi kami berhasil dalam pertempuran ini dan
pos 2 berhasil kami lumpuhkan. Seperti biasa aku kembali
mengecek kelengkapan personilku. Puji Tuhan semua
personilku lengkap dan masih dalam keadaan baik seratus

Pertempuran di Tanah Fakfak

persen semuanya. Kemudian aku mulai menyusuri area di pos
2 untuk memastikan bahwa pos 2 telah benar-benar clear.

“Singa kita lakukan penyisiran dan manfaat waktu
untuk regu macan serta elang untuk beristirahat sejenak”
ucapku.

“Siap danton!”, jawab mereka.

Bukan tanpa sebab, penyisiran ini akan sedikit
memakan waktu karena area di pos 2 ini cukup luas. Selain
luas, area ini juga sangat rimbun sehingga kami harus
meningkatkan kewaspadaan saat melakukan peyisiran.

“Sersan Baron dan Sersan Rudi ke arah barat saya dan
Sersan Yorsi akan kearah timur”

“Nanti pukul 6 pagi kita kembali berkumpul disini,”
ucapku pada regu singa.

“Siap danton!” jawab mereka.

Saat melewati daerah dekat sungai aku melihat seorang
militer Belanda baru selesai membersihkan badannya.
Nampaknya dia telah ditinggal oleh rekannya yang telah lebih
dulu kembali kearkas. Tanpa pikir panjang aku langsung
mengarahkan senjataku ke arah kepala militer Belanda
tersebut. Setelah terbidik langsung aku tembakkan ke arahnya.

Militer Belanda tersebut berhasil dilumpuhkan dan
aku kembali melanjutkan penyisiran. Sembari terus menyisir
area tersebut dalam hatiku aku selalu berbicara, “Akan ku
pulangkan kembali tanah kelahiranku ke pangkuan Ibu
Pertiwi.”

“Aku bersumpah akan melibas habis Belanda yang ada di
hadapanku entah itu perempuan sekalipun,” gumamku.

Memang cukup kejam apa yang aku inginkan, tapi jika
kembali ke masa lalu apa yang telah Belanda lakukan pada Ibu
Pertiwi jauh lebih kejam dibanding apa yang akan ku lakukan
sekarang pada mereka.

Penyisiran di area pos 2 telah selesai dan semua bisa
dipastikan telah aman terkendali. Kemudian aku melaporkan
situasi terkini kepada pimpinan pusat.

“Izin singa masuk, pos 2 Fakfak berhasil di lumpuhkan
dan kami kuasai, kami akan melakukan pelumpuhan di pos
terakhir sesuai rencana,clear”

“Good job, lanjutkan dan tetap waspada”

“Siapp Komandan!”

Sebelum kami melanjutkan operasi menuju pos 3, kami
mencoba mengambil beberapa pucuk senjata canggih dari
Militer Belanda di pos 2. Di antaranya beberapa granat kejut,
bom granat, dan beberapa pucuk senjata. Tentunya senjata ini
akan kami gunakan untuk melumpuhkan pasukan Militer
Belanda di pos 3 yang merupakan pos terakhir mereka.

“Sersan Baron kau ambil beberapa bom granat yang
mereka punya”

“Siapp danton!”

“Sersan Rudi kau ambil granat kejut untuk memancing
mereka lagi di pos 3 nanti”

Pertempuran di Tanah Fakfak

“Siap danton!”

“Sersan Yorsi kau bawa 2 pucuk AK47 dan berikan
satu pada tim macan”

“Siap danton!”

Setelah semua siap kami melanjutkan perjalanan
menuju ke pos 3. Perjalanan menuju pos 3 akan di tempuh
selama 3 jam karena letaknya yang cukup jauh dari pos 2. Kala
itu waktu sudah menunjukkan pukul 06.23 WIT yang mana
artinya kami akan tiba di pos 3 sekitar pukul 9 pagi. Aku
memprediksi sepertinya jika kami memaksa masuk pada pagi
hari akan sangat beresiko karena pastinya pasukan Belanda
sedang dalam keadaan siaga.

Aku memutuskan kepada pletonku untuk beristirahat
terlebih dahulu sembari mencari tempat yang aman. Di
dapatlah tempat itu tepat berada di atas bukit sehingga kami
bisa memantau keadaan di pos 3 dari tempat kami.

“Untuk sekarang kita manfaatkan waktu untuk
beristirahat”

“Namun kalian jangan mengabaikan kewaspadaan dan
jangan terpisah demi keselamatan kita semua”

“Kita akan mulai bergerak ke bawah menuju pos 3
pukul 6 sore, mengerti semua?” tanyaku.

“Siap. paham danton!”, jawab mereka.

Di sela-sela tersebut aku mengajak Leonarda untuk
berbicara. Aku masih penasaran mengapa dia begitu keras

kepala untuk ikut dalam operasi ini. Karena sebetulnya aku
dan reguku sedang terancam bila mana ketauan membawa
personil tambahan seperti Leonarda.

Di tengah perbincanganku dengan Leonarda aku
sedikit terkejut dengan pernyataan dia yang mengatakan
bahwa dia melakukan ini karena dia ingin membalas
kebaikanku yang telah menolongnya saat pertempuran di Laut
Arafuru. Namun bukan hanya itu yang membuatku terkejut,
ternyata dia pun melakukan ini karena dia khawatir kepadaku
dan tak mau kehilanganku sebagai orang yang ia cintai.

“Apa benar kau mencintaiku, Leo? Aku merasa semua
ini hanya mimpi nampaknya” tanyaku padanya.

“Apa perlu aku tembakkan sebuah peluru ke arah
kepalamu agar kau sadar bahwa ini bukan mimpi?” dia
berbalik bertanya padaku.

Aku pun menyadari semuanya. Namun, aku tak mau
memikirkan hal itu terlebih dahulu, aku hanya ingin fokus
membebaskan tanah kelahiranku dari genggaman si biadab
Belanda.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku meminta
pletonku untuk bersiap-siap. Sebelumnya aku kembali
mengecek kelengkapan personilku. Semua sudah lengkap dan
dalam keadaan siap untuk menghadapi pertempuran yang
akan menjadi penentu. Berjalanlah kami dari atas bukit
menuju ke pos 3.

***

Pertempuran di Tanah Fakfak

Di perjalanan kami menemui beberapa ranjau, namun
karena kewaspadaan kami ranjau itu tidak berhasil
menghadang langkah kami untuk menuju pos 3. Kami lewati
semua halangan demi kebebasan Irian Barat dari genggaman
Belanda. Lagi-lagi aku menggunakan strategi yang telah kami
lakukan sebelumnya.

Regu elang akan tetap berjaga di atas dan bersiap turun
jika situasi dan kondisi telah di rasa aman dan dapat kita
kendalikan. Sementara regu singa akan kembali dibagi menjadi
2 dengan Sersan Rudi dan Sersan Baron kembali masuk
melalui depan dan memancing keluar target. Sedangkan aku
dan regu macan akan masuk melalui belakang dan akan
langsung membombardir pasukan Belanda dari belakang.

“Sersan Rudi dan Sersan Baron lakukan seperti yang
kalian lakukan saat melumpuhkan pos 2”

“Saya akan kembali masuk dari belakang dan langsung
memborbardir mereka”

“Sementara regu elang siap membantu jika situasi telah
aman”, ucapku pada semua personil.

“Sekali lagi saya ingin kita lakukan yang terbaik demi
bangsa Indonesia, jika pertempuran ini berhasil kita
menangkan maka Irian akan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,
Tuhan selalu memberkati. Komando!”

Di lemparkan kembali granat kejut tersebut oleh Rudi.
Namun sedikit aneh pasukan Belanda tidak terpancing keluar.
Tak lama setelah dilemparnya granat itu regu elang melapor.

“elang masuk, pasukan Belanda datang dari arah atas
tingkatkan kewaspadaan”, ucap Pratu Raka.

Tentu apa yang dikatakan oleh Pratu Raka membuat
posisi Sersan Baron dan Sersan Rudi terancam. Inisiatif aku
langsung meghampiri mereka dan bersembunyi bersamanya.
Tibalah segerombolan Pasukan Belanda. Mereka semua
berlari untuk mengecek markas mereka yang di dengar dari
jauh ada sebuah ledakan. Di saat mereka semua lengah, kami
langsung menembaki mereka satu per satu dengan
menggunakan peredam di senjata kami.

Dengan sedikit demi sedikit pasukan Belanda
berjatuhan membuat kami semakin yakin dengan kemenangan
yang akan berpihak pada kami. Mereka semua kesulitan
mencari kami yang bersembunyi dengan samara yang sangat
tidak terlihat.

“Waar kwam dit allemaal vandaan21?” teriak mereka
terlihat kebingungan.

Situasi ini membuat kami dengan tenang
melumpuhkan mereka. Regu elang pun ikut turun dalam
pertempuran karena situasi memang benar-benar dalam
kendali kami. Mata elangku melihat salah satu regu Belanda
mengeluarkan sebuah meriam untuk menembaki kami. Namun
sebelum itu terjadi aku langsung meminta Sersan Baron untuk
melempar bom granat ke arah mereka. Di lemparlah bom
granat tersebut dan boom berhasil menggagalkan usaha
pasukan Belanda tersebut.

21 darimana datangnya semua ini?

Pertempuran di Tanah Fakfak

Karena situasi pasukan Belanda yang semaki sulit,
kami langsung melemparkan kembali beberapa bom granat
untuk memborbardir mereka. Habis sudah semua pasukan
Belanda kami bombardier. Pos 3 kembali berhasil kami
lumpuhkan yang mana artinya kami menang dalam
pertempuran ini. Aku bangga terhadap semua personilku
karena telah berhasil dalam tugas ini.

Segera aku lakukan penyisiran kembali untuk sekali
lagi memastikan bahwa area pos terakhir ini telah berhasil
kami lumpuhkan tanpa menyisakan satu orang pun.
Penyuisiran kali ini kami lakukan secara bersama-sama. Setiap
sudut dari area ini kami sisir dan ternyata benar sudah tidak
ada sisa satu pun. Kami menang dan kami berhasil

Aku laporkan semuanya pada pusat.

“Izin lapor,singa masuk operasi Trikora di Fakfak telah
berhasil kami menangkan, kami menunggu perintah
selanjutnya”, ucapku.

“Kerja bagus, kalian telah menjadi pahlawan bagi
bangsa ini khususnya Irian, sekarang kalian kembali ke pos 1
dan helicopter kita akan segara tiba dalam 4 jam ke depan”

“Siap komandan! Komando!” Jawabku

Pertempuran ini berhasil kami taklukan. Kami berhasil
menjawab kepercayaan pimpinan besar untuk membawa
pulang Irian ke pangkuan Ibu Pertiwi. Sementara untuk aku
pribadi, aku berhasil membalaskan dendamku terhadap
mereka semua yang telah membunuh pamanku Yos Sudarso
dan membuat saudara-saudara ku terancam di Irian.

***

Setelah pertempuran ini berakhir. Semua dunia melirik
kemampuan militer Indonesia dan keseriusan Pemerintah
Indonesia mengenai pembebasan Irian Barat. Maka untuk
memutuskan semuanya akan dibicarakan dalam PEPERA.

15

Misi Terakhir

Operasi trikora telah usai. Perjuangan para pasukan TNI

termasuk aku dan leonarda yang telah mengerahkan seluruh
tenaga dan usaha dalam operasi tersebut telah kami
laksanakan. Dengan bantuan Rusia TNI mampu membuat
belanda kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk
menyerahkan pemerintahan Irian Barat kepada indonesia.

Aku dan Leonarda pun saling berpamitan. Meskipun
terasa berat, namun kisah kami harus terhenti di titik ini.
Leonarda memutuskan untuk kembali ke kampung
halamannya dan aku pergi ke Yogjakarta untuk menemui Pace
dan Mace ku.

Aku pulang dengan keadaan hati yang sangat senang.
Aku tidak sabar untuk kembali bertemu dengan Pace dan
Mace membawa kabar gembira bahwa aku telah berhasil
mengembalikan kampung halaman ku kepelukan indonesia.
Aku pulang bersama dengan TNI lain yang hendak kembali ke
Yogyakarta. Menggunakan kapal perang yang hendak
berlabuh di semarang lalu aku dan TNI lain melanjutkan
perjalanan ke Yogyakarta menggunakan mobil milik TNI juga.

Sesampainya dirumah aku mencium tangan Pace dan
Maceku dengan mata yang berkaca kaca. Seakan tidak percaya

bahwa aku telah berhasil mengembalikan kampung halamanku
kembali menjadi bagian dari indonesia. Dengan tatapan
bangga pace menepuk pundak ku dan berkata, "Selamat
anakku kamu telah mengembalikan kampung halaman kita
kepelukan NKRI".

Meskipun pada kenyataannya kami belum sepenuhnya
menang, masih ada Pepera yang menunggu kami, namun
pertemuan dengan keluarga dapat menjadi motivasi agar kami
dapat kembali menyelesaikan tahap selanjutnya

***

Aku sudah merencanakan untuk pulang ke Irian Barat
bersama dengan Pace dan Maceku. Namun saat itu Pace
sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Kami pun
memutuskan untuk menunda kepulangan kita ke Fakfak
sampai keadaanya pace membaik dan cukup kuat. Karena
perjalanan ke Fakfak bukanlah perjalanan yang dekat.

Beberapa hari berlalu dan keadaan Pace sudah cukup
baik untuk bisa pergi ke Fakfak. Kami pun mendiskusikan
melalui jalur apa kami akan pergi ke Fakfak. Aku
menyarankan untuk pergi ke Fakfak menggunakan pesawat.
Namun Mace lebih memilih menggunakan kapal laut
mengingat biaya untuk naik pesawat sangat mahal. Saat kami
berdiskusi terdengar suara telepon rumah yang berdering
memecahkan ketegangan. Aku beranjak dari tempat duduk ku
untuk mengangkat telpon itu.

Saat aku mengangkat telpon ternyata yang menelpon
adalah Pak Silas yang merupakan teman lama Pace sekaligus

Misi Terakhir

guruku dulu saat aku masih bersekolah di Fakfak. Segera aku
berikan telpon itu kepada Pace. Perbincangan antara Pacedan
Pak silas berlangsung cukup lama dan tersirat dalam wajah
Pace pembicaraan yang serius. Setelah sekitar tiga puluh menit
berlalu Pacepun menutup telepon. Aura serius masih terlihat
pada wajah Paceku.

Paceku pun duduk dan berkata kepadaku, "Thobias
saat ini kondisi Fakfak tidak kondusif. Pak Silas berkata bahwa
setelah Operasi Trikora akan dilakukan Penentuan Pendapat
Rakyat apakah Irian Barat ingin bergabung dengan Indonesia
atau Belanda atau ingin merdeka dan saat ini mayoritas
penduduk Fakfak lebih memilih untuk bergabung dengan
Belanda". Sebenarnya, aku sudah mengetahui bahwa akan ada
pepera ini. Namun saat mendengar penduduk Fakfak lebih
memilih untuk bergabung dengan Belanda, aku sangat terkejut
dan heran. Mengapa mereka mau bergabung dengan bangsa
yang telah membumihanguskan tanah dan leluhur mereka ?
Sepertinya mereka telah termakan pengaruh bangsa berkulit
itu.

Tanpa pikir panjang aku berkata pada Pace dan Mace
ku bahwa aku akan pergi ke Fakfak saat ini juga untuk
mengikuti Penentuan Pendapat Rakyat. Pace dan mace ku pun
terdiam dan terlihat sedang berpikir. Pace ku pun mengangkat
kepalanya dan berkata padaku bahwa aku boleh pergi ke ke
Fakfak tapi sebelum itu aku harus bertanya dulu mengenai
kondisi di Fakfak saat ini kepada Pak Silas.

Akupun menyiapkan rencana untuk pergi ke Fakfak.
Aku berencana pergi ke Fakfak menumpang pesawat di Pusat

Penerbangan Angkatan Darat atau Puspenerbad yang ada di
Yogyakarta. Kebetulan komandan yang menjabat disana
adalah teman dari paman ku almarhum Yosudarso yang
kebetulan juga waktu itu tergabung juga dalam oprasi Trikora.

Setelah merencanakan semuanya aku pun menelepon
Pak Silas untuk mendapatkan informasi mengenai apa saja
yang ada di sana. Melalui perbincanganku dengan Pak Silas di
telepon, aku mendapat informasi bahwa ia akan pergi menjadi
wakil delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York 15
agustus 1962. Untuk saat ini aku belum disarankan untuk pergi
ke Fakfak oleh Pak Silas. Pak Silas menyuruhku untuk
menunggu kabar darinya untuk pergi ke Fakfak. Ia menyuruh
ku untuk tinggal dulu di Yogyakarta dan bergabung dengan
Badan Perjuangan Irian yang ada di Yogyakarta.

***

Pak Silas menghubungi teman temannya yang
tergabung dalam Badan Perjuangan Irian untuk mengajak ku
ikut berkumpul dalam organisasi tersebut. Aku pun mulai
mengikuti kegiatan dari organisasi tersebut. Banyak yang aku
pelajari dari organisasi ini. Aku belajar mengenai politik dan
mendapat banyak informasi mengenai apa saja yang terjadi di
Irian Barat.

Sebenarnya Pak Silas sudah lama pulang dari New
York. Tetapi Pak Silas belum menyarankan aku untuk pergi ke
Fakfak. Karna Pak Silas memberitahu mengenai hasil dari
perjanjian New York. Bahwa Belanda telah menyerahkan Irian
Barat kepada Indonesia melalui PBB. Indonesia boleh
mengibarkan bendera indonesia pada 1 mei 1963 dan akan

Misi Terakhir

diadakan Penentuan Pendapat Rakyat atau (Pepera) yang
waktunya belum ditentukan.

Cukup lama aku menunggu kabar dari Pak Silas.
Untung saja aku masih aktif dalam organisasi yang membuat
ku tetep mengetahui kondisi terkini di Irian Barat. Namun rasa
menggebu-gebu untuk pergi kesana terus aku rasakan. Aku
setiap hari aku terus menunggu telpon dari Pak Silas. Hingga
akhirnya terdengar suara dering telepon.Tentu saja aku
berharap telpon itu berasal dari Pak Silasdan benar saja telpon
itu berasal dari Pak Silas.

Penantian ku selama ini untuk pergi ke Fakfak telah
berakhir. Akhirnya Pak Silas menyuruh ku untuk pergi ke
Fakfak. Menurut apa yang di sampaikan Pak Silas aku akan
pergi kesana bersama dengan kenalan Pak Silas. Untung saja
aku pergi dengan kenalan Pak Silas jadi aku tidak perlu
merencanakan perjalanan ku ke sana.

16

Kembali Ke Tanah Timur

Tanggal 8 desember 1965 aku dijemput teman Pak Silas untuk

berangkat ke Irian Barat. Perjalanannya menggunakan
pesawat dan dilanjutkan mobil ke pusat kota Jayapura. Aku
saat itu tinggal duduk karena semua kendaraan menuju kesana
telah diatur.

Aku sedikit terkejut ketika sampai disana. Dulu
memang aku pernah pergi ke Jayapura, tapi dulu kondisinya
benar benar berbeda dari sekarang.

Aku melihat ke sekeliling sepertinya Belanda benar
benar sudah membangun tempat ini. Jalanan yang dulu apa
adanya kini sudah mulus menggunakan aspal. Dan terlihat di
perjalanan menuju Jayapura bangunan-bangunan yang aku
yakin itu pasti buatan Belanda. Setelah sampai di Jayapura aku
disambut oleh Pak Silas. Saat ini Pak Silas sudah terlihat
seperti tokoh politik terkenal dengan banyaknya anggota dari
organisasinya.

***

Aku pun diajak Pak Silas masuk ke sebuah bangunan
yang menjadi tempat berkumpul kelompok pejuang politik
orang orang Irian Barat. Disana dibicarakan apa tujuan ku
sudah disuruh untuk datang ke Fakfak. Ternyata akan

Kembali ke Tanah Timur

dilakukan pemilihan anggota delegasi untuk Penentuan
Pendapat Rakyat (Pepera). Itu alasan Pak Silas menyuruh ku
untuk datang ke Irian Barat agar aku mendaftar menjadi
anggota delegasi Irian Barat. Tanggal pelaksanaan Pepera
belum ditentukan pastinya kapan namun Pepera sudah pasti
akan dilaksanakan.

Selain membicarakan rencana pemilihan anggota
delegasi Pepera, topik yang menjadi bahan perbincangan
adalah mengenai sebagian rakyat Irian Barat yang ingin
bergabung dengan Belanda, terutama Fakfak. Ada juga
sekelompok orang Irian yang memilih untuk Irian Barat
merdeka dan berdiri sendiri sebagai negara baru. Masalah ini
lah yang menimbulkan kekhawatiran saat nanti dilaksanakan
Pepera. Ditakutkan indonesia tidak berhasil memenangkan
Pepera yang akhirnya membuat Irian Barat lepas dari
indonesia.

Dari pembicaraan itu didapatkan bahwa masalahnya
adalah ada orang Irian Barat yang ingin merdeka sebagai
negara baru dan bergabung dengan Belanda. Terdapat
beberapa daerah yang dimana orang orangnya masih pro
belanda karena berbagai hal. Ada juga daerah yang menjadi
pusat pergerakan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kami memfokuskan langkah apa yang perlu dilakukan
agar masalah masalah ini bisa teratasi dan tidak menghambat
Irian Barat kembali ke indonesia.

***

Setelah acara selesai aku memutuskan untuk pergi ke
Fakfak bersama Pak Silas. Cukup lama perjalanan dari
Jayapura ke Fakfak. Di perjalanan aku sudah tidak sabar untuk
melihat kampung halamanku. Aku penasaran sudah seperti
apa kampungku dan juga bagaimana keadaan teman teman
dan sanak saudara ku disana. Apakah ada di antara mereka
yang selamat ? Aku benar benar sudah tidak sabar untuk
sampai disana.

Setelah perjalanan yang tidak sebentar akhirnya aku
sampai. Rasa lelah yang kurasakan begitu saja sirna setelah
rasa rindu ku terhadap kampung halaman terobati. Aku
melihat sekeliling kampung ku dan mengingat kondisinya saat
terakhir kali aku masih tinggal disini. Kampungku sudah
berbeda dari yang dulu terdapat banyak bangunan baru yang
belum pernah ada sebelumnya. Akses jalan dan penerangan
pun sudah dibuat di beberapa titik. Kampung ku sudah jauh
berkembang dari yang dulu.

Mungkin ini salah satu tujuan bangsa Belanda
membumihanguskan Fakfak, yaitu untuk mempermudah
proses pembangunan. Namun, kenangan manis akan masa
kecil di setiap sudut di kampung ini tidak akan pernah
kulupakan. Sekarang, kenangan itu justru membuatku semakin
bersedih dan merindukan sahabatku, Elly.

Selama di Fakfak aku tinggal di rumah baru Pak Silas.
Begitu sampai di rumah Pak Silas aku beristirahat memulihkan
tenaga setelah perjalanan panjang. Esok hari, aku berniat
untuk melihat-lihat kampung ku yang baru ini. Setelah

Kembali ke Tanah Timur

membereskan barang barang ku aku pun langsung beristirahat
di kamar.

***

Mentari terbit di ufuk timur, suara ayam khas tanah
timur telah berkokok, aku pun terbangun dari mimpiku dan
bersiap untuk menjalankan rencanaku.

Pagi itu setelah sarapan dengan keluarga Pak Silas, aku
ikut pergi dengan Pak Silas ke sekolah tempat dulu aku belajar.
Aku pergi ke sekolah itu bersama Pak Silas dengan berjalan
kaki karena jarak dari rumah Pak Silas ke sekolah tidak jauh.
Sesampainya di sekolah aku melihat banyak perubahan yang
lumayan signifikan. Bangunannya sudah lebih bagus dan
jumlah kelasnya lebih banyak.

Di sana aku melihat salah satu guru. Wajahnya tampak
familiar. Aku pun mengingatnya. Ia adalah salah satu teman
lamaku saat masih bersekolah di Sekolah Papua Harapan, ia
adalah Vandam. Tanpa pikir panjang aku langsung
menghampirinya. Aku sangat bersyukur ia selamat. Tangis
haru akan pertemuan yang tak terduga pecah seketika.
Terkesan berlebihan namun itul yang terjadi. Kami saling
berpelukan dan menangis. Tidak ada seorangpun di antara
kami yang menyangka bahwa hari ini akan datang. Saling
terpisah membuat kami menyangka bahwa salah seorang
diantara kami sudah termakan oleh waktu.

Aku pun menanyakan Elly. Raut muka Vandam telah
menjelaskan semuanya. Aku tidak bisa menahan tangis.

Sebenarnya aku berniat untuk berbincang lebih lama
dengannya namun dia harus mengajar. Aku pun membuat janji
untuk datang ke rumahnya nanti sore.

Setelah cukup puas melihat keadaan Sekolah Papua
Harapan yang baru, aku pun melanjutkan untuk berkeliling
kampung. Aku berniat untuk kembali berkeliling dan melihat
kembali sekitar. Barangkali aku bisa bertemu kembali dengan
orang yang kukenal.

Aku pun berjalan dan aku melihat seorang pria sedang
duduk bersantai di depan rumahnya.Aku berusaha melihatnya
dari jauh dengan teliti. Setelah dilihat-lihat ternyata pria itu
adalah temanku, Missael. Aku pun berjalan mendekat ke arah
rumah nya. Terlihat ia sedang menikmati secangkir kopi
diterasnya ditemani kue sagu sambil berduduk santai,
walaupun saat ini adalah waktunya orang orang pergi untuk
bekerja. Saat sudah mendekati terasnya aku pun memanggil
namanya dengan sedikit ragu.

“Hei, Missael !!,” sapaku.

Ia pun menoleh dengan wajah yang binggung melihat
ke arah ku. Ia mengerutkan dahi dan tatapan matanya dengan
tajam diarahkan kepada ku. Dari harapannya ia terlihat sedang
mengingat siapa orang yang memanggil namanya ini. Setelah
beberapa lama Missael akhirnya berhenti mengerutkan
dahinya dan raut wajahnya pun berubah. Raut wajahnya
berubah menjadi penuh semangat dan antusias.

“Ey kau, kau Thobias kan ?” tanya Missael

Kembali ke Tanah Timur

Aku hanya diam dan tersenyum, sungguh senang
rasanya teman lama ku yang sudah tidak bertemu 15 tahun
masih mengingat ku.

“Tentu saja ini Thobias.”

Missael pun menaruh kopinya dan berlari kearah ku
dan seketika memeluk ku dengan kuat .

“Hey kau Missael cukup, beta tidak bisa bernapas.”

“Oh maaf kan beta Thobi, beta hanya bersemangat
saja bisa bertemu teman lama.”

“Memang kau benar- benar Missael. Kau tak berubah
sedikitpun. Dari dulu badan dan tenaga mu tetap yang paling
besar dan kuat. Hahaha.”

“Hei Thobi sudah ayo masuk dulu biar beta siap kan
kopi.”

“Missael tak perlu kau repot repot beta sudah minum
kopi tadi pagi.”

“Ah sudah lah pokoknya sini Thobi duduk dulu, biar
beta bawakan segelas cangkir kopi spesial pasti kau akan suka.”

Aku pun duduk di teras rumahnya Missael langsung
pergi kedalam untuk menyiapkan kopi dan aku menunggu di
teras luar. Selama aku menunggu aku melihat sekeliling dan
menyadari di sekitar sini telah berubah dan jauh lebih berbeda
dari yang dulu. Dulu di daerah rumahnya kecil dan tidak ada
akses jalan untuk mobil .Sekarang sudah ada akses jalan untuk
mobil dan bentuk bangunan rumahnya sudah lebih modern

terutama milik Missael. Sesaat kemudian Missael datang
membawa kopi spesial buatannya. Aku pun mencoba kopi
spesialnya dan merasakan rasa kopinya berbeda dari biasanya.

“Hey Missael kenapa beta rasa ini kopi rasanya beda
dari kopi lainnya.”

“Tentu saja Thobi ini kopi bukan kopi biasa. Ini kopi
asalnya dari luar jadi beda rasanya.”

“Hah yang benar Missael, dari mana kamu bisa dapat
kopi dari luar negeri?”

“Beta Sekarang kerja dengan orang Nedherland di
pertambangan.”

“Wah, hebat sekali ,Missael ! Tapi bagaimana kamu
bisa bekerja dengan orang nedherland ?.”

“Habiskan dulu kopinya Thobias nanti beta baru
ceritakan.”

Akupun menghabiskan kopi yang disuguhkan oleh
Missael. Memang kopi ini benar benar berbeda dari kopi biasa
rasanya jauh lebih enak jelas bahwa ini kopi yang harganya
tidak murah. Memang dilihat dari rumahnya sekarang pasti
Missael telah memiliki keadaan ekonomi yang jauh lebih baik
dibanding dulu. Rumahnya kokoh dengan pilar dan tembok
tembok semen yang dicat berwarna putih, tentu rumah seperti
ini tidak bisa dimiliki hanya dengan berkebun dan berburu.
Setelah aku menghabiskan kopi ku aku pun langsung meminta
Missael untuk menceritakan bagaimana ia bisa bekerja dengan
orang Nedherland.

Kembali ke Tanah Timur

“Hey Missael sudah beta habis kan kopinya sekarang
ayo ceritakan bagaimana kamu bisa bekerja dengan orang
Nedherland.”

“Oke Thobias jadi begini ceritanya.”

Missael pun bercerita tentang bagaimana ia bisa
bekerja dengan orang Nedherland. Ia mengatakan bahwa
Belanda itu sudah cukup lama ada di Irian Barat dan mereka
membangun beberapa tambang besar di sini. Orang orang
Belanda itu mempekerjakan orang-orang di fakfak untuk
bekerja di situ.

Banyak orang yang meninggalkan pekerjaan awal
mereka seperti berkebun dan memburu dan lebih memilih
untuk bekerja di tambang yang dibuat oleh orang Belanda.
Orang yang dipekerjakan di tambang ini sebagian besar
menjadi pekerja kasar dan sebagian kecilnya mendapat posisi
yang lebih baik. Dalam tambang milik Belanda ini Missael
mendapat posisi yang lebih baik dari orang lain itu yang
membuat ia bisa memiliki rumah yang bagus ini.

Namun saat ini Missael sedang sedikit khawatir karena
Belanda saat ini telah mulai menghentikan aktivitas di tambang
karena setelah Operasi Trikora tentara belanda mula sedikit
demi sedikit meninggalkan Irian Barat. Missael takut bila
Belanda benar benar meninggalkan meninggalkan Irian Barat
dan tidak melanjutkan tambangnya. Missael takut bila itu
terjadi ia hari harus kembali ke pekerjaan awalnya berkebun
dan berburu. Tak kusangka bahwa kehadiran Belanda ternyata
membantu para warga untuk memiliki pekerjaan yang lebih
banyak menghasilkan uang. Padahal sebelumnya aku mengira

bahwa Belanda hanya merugikan warga yang ada di sini selama
mereka menetap di Irian Barat.

Akupun menanyakan kepada Missael tentang
bagaimana dampak keberadaan orang orang Belanda di Irian
Barat.

“Hei Missael jadi menurut mu apakan keberadaan
orang Nedherland disini merugikan warga daerah ini.”

“Hmm bagaimana ya Thobi, sebenarnya keberadaan
orang orang nedherland itu tidak selalu merugikan kita warga
yang ada disini. Justru kehadiran mereka membuat kehidupan
di daerah ini lebih baik. Walaupun mereka banyak mengambil
lahan kita bercocok tanam tetapi mereka mempekerjakan
orang orang yang tidak bisa bercocok tanam di tempat
pertambangan mereka. Merekapun membangun desa lebih
baik dengan membuat akses air dan akses jalan yang
memudahkan kita disini,” jelas Missael.

Mendengar kata kayaknya sepertinya Missael merasa
diuntungkan dengan adanya Belanda disini dan orang orang
disini juga sepertinya diuntungkan karena sepertinya orang
orang yang berkebun dan berburu sudah lebih sedikit.lahan
lahan yang biasanya digunakan untuk berkebun sekarang
sudah tidak ada.

Akupun menanyakan kepada Missael apa yang saat ini
ia kerjakan mengingat tambang saat ini sedang tidak
beroperasi.

“Missael saat ini tambang tidak bekerja kan? Lalu
sekarang apa yang kamu kerjakan.”

Kembali ke Tanah Timur

“Tidak ada Thobias saat ini beta hanya diam saja
dirumah, orang orang lain juga sepertinya menunggu tambang
beroperasi kembali. Tapi kami tidak tau kapan tambang akan
kembali beroperasi. Kami takut tambang tidak akan beroperasi
lagi.”

“Tapi Missael kenapa kamu tidak kembali berkebun
atau beternak seperti dulu?”

“Hmmm entahlah Thobi beta sudah terbiasa dengan
pekerjaan di tambang yang lebih mudah dan menguntungkan.
Mungkin beta akan kembali berkebun atau beternak namun
beta tetap berharap untuk kembali bekerja di tambang.”

Setelah berbicara panjang dengan Missael, tak terasa
hari sudah sore. Langit sudah mulai berwarna oranye akupun
memutuskan untuk segera pulang sebelum hari mulai gelap.
Sebelum pulang aku berpamitan kepada Missael dan berjanji
bahwa nanti aku akan kembali ke Rumahnya.

***

Aku pun pulang dengan berjalan kaki melewati jalan
perkampungan yang kini sudah beraspal. Tak semua jalan
beraspal hanya jalan jalan utama yang dilalui oleh mobil yang
menuju ke tambang. Berjalan menyusuri kampung halaman
yang masih banyak pohon pohon dan tanaman belukar dengan
kantin yang keorenan membuat hati sangat tenang. Namun bila
langit sudah berubah menjadi gelap rasa tenang ini berubah
menjadi rasa takut, karna itu aku bergegas agar sampai rumah
dengan cepat.

Akhirnya aku sampai dirumah, Pak Silas sudah sampai rumah
lebih dahulu.

Aku bertanya pada Pak Silas apakan besok ada acara
yang perlu aku hadiri, “Pak apakah besok ada acara yang perlu
aku hadiri?”

“Tidak ada Thobi, saat ini belum ada lagi acara rapat
atau sebagainya,” jawab Pak Silas

“Lalu Pak, kapan akan ada informasi mengenai
Pepera.”

“ Oh kalu soal itu nanti Pace akan kabari untuk saat ini
belum ada acara yang perlu dihadiri.”

Ternyata besok belum ada acara yang perlu aku hadiri
jadi besok aku bisa pergi lagi untuk menemui teman ku
Vandam. Besok adalah hari minggu pasti ia ada dirumah
karena sekolah libur di hari minggu. Aku juga akan pergi lagi
kerumah Missael untuk memenuhi janjiku. Hari ini aku pergi
seharian dan saat ini tubuh ku terasa lumayan lelah dan
sepertinya butuh istirahat akupun segera bersiap untuk
beristirahat agar besok aku bisa pergi menemui Vandam dan
Missael.

***

Hari ini aku terbangun tepat waktu, saat ini masih pagi
hari dan udara masih sejuk dan segar. Aku bersiap untuk pergi
kerumah Vandam dan Missael. Hari ini aku lumayan
bersemangat karena banyak hal yang ingin aku bicarakan
dengan Vandam dan masih ada yang ingin aku bicarakan juga

Kembali ke Tanah Timur

dengan Missael. Aku bersiap cukup lama karna Pak Silas
mengajak ku untuk menemaninya minum kopi sebentar dan
membicarakan mengenai Pepera.

“Thobi jadi begini sebenarnya Pepera itu diundur
karena saat ini kondisi Irian Barat masih belum sepenuhnya
mendukung Indonesia. Ditakutkan indonesia nanti akan kalah
dari sidang Pepera dan Irian Barat lepas dari Indonesia.”

“Tapi Pak memang ada kondisi apa yang membuat
Irian Barat belum mendukung Indonesia.”

“Saat ini pergerakan para pemberontak semakin
terang terangan, ditakutkan rakyat Irian Barat akan
terpengaruh dan memilih untuk merdeka sendiri dan bukan
masuk kedalam Indonesia. Saat ini pihak TNI sedang berupaya
untuk mengendalikan pergerakan mereka dan menimpanya.”

Pak Silas tidak terlalu banyak bicara, ia hanya
menyampaikan intinya saja. Sepertinya Pak Silas tahu kalau
aku memiliki urusan lain dan Pak Silas juga memiliki urusan
yang harus diurus. Setelah menghabiskan kopi Pak Silas dan
aku pun bergegas pergi ke tujuan masing masing. Aku pergi ke
arah rumah Vandam sedangkan Pak Silas pergi ke kota. Aku
memutuskan untuk pergi ke rumah Vandam dahulu karena
kemarin Aku tidak sempat untuk berbicara banyak dengannya.

Setelah Pak Silas berangkat lebih duku aku pun
berangkat juga. Saat ini masih pagi dan udara masih segar
terasa sangat segar rasanya berjalan menyusuri kampung ku
ini. Tak terasa aku telah sampai di rumah Vandam. Rumahnya
tidak jauh berbeda dari yang dulu hanya ada sedikit renovasi.

Berbeda dengan rumah Missael yang benar benar berbeda dan
membuat ku kaget. Didepan rumah Vandam terlihat ia sedang
berada diluar rumahnya. Sepertinya ia sedang mengurus
tanaman tanaman di depan rumahnya. Memang dari dulu
ayahnya memang suka mengurus tanaman terutama tanaman
sayur sayuran. Aku pun memanggil Vandam yang sedang asik
dengan tanamanya.

“Hey Vandam, memangnya hobinya masih sama saja
seperti Bapa kau ya.”

“Oh Thobi ko datang pagi sekali, beta masih mengurus
tanaman pagi pagi begini. Beta dan bapak memang paling suka
mengurus tanaman dari dulu kan?”

“Hebat Vandam ko memang tidak berubah dari dulu.”

“Sudah sudah ayo masuk dulu, beta akan siapkan
minum.”

“Tak perlu repot repot la Vandam, ini tanaman ko
bagaimana Tidak ko lanjut?”

“Sudah tanaman nanti saja diurus, sekarang ko masuk
dulu. Ko mau didalam atau diluar?”

“Diluar saja la udara masih segar.”

Aku pun masuk ke teras rumahnya dan duduk di kursi
teras depan rumahnya. Vandam masuk kedalam menyiapkan
minum dan kembali membawa minuman yang sepertinya tidak
asing.


Click to View FlipBook Version