Mimpi Buruk Menjadi Nyata
kemudian kembali lagi ke Papua untuk menyerang dan
mengusir penjajah itu.” Jelas Pak Silas.
Suasana hening seketika. Semuanya terhanyut dalam
pikirannya. Sayangnya hari itu kami tidak bisa melanjutkan
pembelajaran karen Pak Silas harus mengurusi beberapa hal
yang sangat genting.
***
Aku pun berjalan pulang. Sepanjang jalan aku
merasakan deja vu. Dulu ketika aku duduk di pantai menunggu
Elly molo, aku pernah berpikir bahwa apakah mungkin semua
keindahan ini akan hilang dan direnggut orang begitu saja,
ternyata itu adalah bayangan menjadi nyata, aku masih tidak
percaya hal ini akan terjadi pada Fakfak, tanah kelahiranku ini.
Pilihan yang diberikan oleh Pak Silas membuatku
semakin resah. Peluang terbesar untuk mengembalikan tanah
Papua ada pada pilihan kedua, namun aku harus mengambil
risiko bahwa aku akan kehilangan segala yang ada pada diriku
selama ini. Tanah kelahiranku, rumahku, kampungku, dan hal-
hal lain yang menjadi bagian hidupku.
Aku masih tergolong anak kecil. Seharusnya anak kecil
tidak perlu berpikir sekritis ini. Anak kecil tugasnya hanyalah
belajar dan membantu orang tua. Adapun hal lain yang dapat
kami lakukan hanyalah bermain. Suratan takdir berkata lain,
aku harus menerima kenyataan bahwa mimpi burukku selama
ini akan menjadi nyata.
Dan itu benar. Mimpi buruk itu semakin nyata ketika
Pace sudah berada di rumah dan mengemasi barang – barang
kami. Mace sedang pergi dan menitipkan noken pada tetangga.
Aku sudah mengerti situasi apa yang terjadi. Pace pun
memintaku duduk dan mendengarkan penjelasannya. Pace
berkata bahwa keluarga kita harus pindah ke Yogyakarta
untuk mengungsikan diri. Di sanalah tempat satu- satunya yang
aman. Pace memmpunyai kerabat di sana bernama Yos
Sudarso. Pace harus mengambil pilihan ini karena Pace tidak
ingin kemungkinan buruk seperti penyerangan massal akan
terjadi. Pace ingin keluarganya selamat.
Mendengar penjelasan Pace membuat diriku
menangis, aku tidak bisa menerima hal ini. Pace pun
menenangkanku dan berkata bahwa semua akan baik – baik
saja, Pace juga berkata bahwa Pak Silas telah menghimbau
kepada seluruh warga kampung agar mau mengungsi ke pulau
lain. Namun tentunya itu semua akan kembali ke diri mereka
masing-masing. Mereka punya hak untuk memilih.
Aku pun bergegas untuk menemui Elly dan
mengajaknya untuk pergi bersamaku. Namun ia dan ayahnya
memilih untuk tinggal di Fakfak dan menerima apapun yang
akan terjadi pada mereka. Aku bersikeras memaksa dan
meyakinkan mereka agar mau ikut, namun hasilnya nihil.
Mereka tetap memilih untuk tinggal di Fakfak dan
memperjuangkan tanah Papua di sini. Aku pun menangis. Aku
tidak ingin berpisah dengan sahabatku. Namun Elly
menenangkanku dan berkata bahwa semua akan baik-baik aja,
Tuhan telah memberikan jalan yang terbaik kepada setiap
makhluk-Nya, dan inilah jalan yang harus ditempuh oleh kami,
kami harus berpisah demi memperjuangkan tujuan yang sama.
Elly berpesan agar aku menjaga diriku baik-baik di Yogyakarta
Mimpi Buruk Menjadi Nyata
sana dan tidak lupa untuk selalu mengirimkannya surat. Aku
pun berjanji untuk melakukannya dan aku juga memintanya
untuk melakukan hal serupa.
***
Malamnya, kami berangkat menggunakan perahu
untuk pergi ke pulau Jawa bersama dengan warga lain yang
hendak mengungsi juga. Keluarga Elly pun ikut mengantar
kami sampai ke pelabuhan. Kami pun saling berpamitan. Lalu
Elly memelukku dan berkata, “Engkau adalah sahabat terbaik
yang pernah kutemui, terimakasih banyak, jangan pernah
lupakan aku ya”, aku pun menangis dan mengatakan hal
serupa kepada Elly lalu Elly hanya menepuk-nepuk pundakku
sambil mengejekku cengeng. Aku pun menyeka air mataku lalu
kami pun tertawa bersama.
Kapal kami telah datang, aku pun harus pergi. Kami
saling berjabat tangan dengan semua orang kampung dan
saling mendoakan agar kami semua baik-baik saja. Kami pun
naik ke atas kapal. Aku segera menuju ke bagian geladak agar
dapat melambaikan tangan kepada Elly.
Dari geladak aku melihat senyuman Elly yang tulus itu.
Aku tidak pernah menyangka itu akan menjadi kali terakhir
aku melihat senyuman sahabatku itu. Aku tidak pernah
mendapat surat apapun dari Elly.Yang ada, aku mendapatkan
kabar buruk bahwa sehari setelah kepergianku ke pulau Jawa,
Fakfak, kampung kecilku, tanah tempat kelahiranku, tempat
tinggal semua orang yang kusayangi, dibumihanguskan oleh
pasukan biadab berkulit putih itu.
5
Hallo Yogyakarta
Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku di tanah
Jawa. Dan kini aku berada di Yogyakarta setelah melewati
perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan dari Papua.
Aku tak percaya bisa menginjakkan kaki di salah satu kota
terbesar Indonesia. Kota ini dijuluki sebagai Kota Pelajar, Kota
Budaya, Kota Wisata, Kota Seni, dan Kota Gudeg. Banyak
orang yang berkata bahwa Yogyakarta adalah kota yang sangat
istimewa. Kota Yogyakarta dulunya merupakan Ibu kota
negara Republik Indonesia.
Aku sangat senang sekali bisa berada di kota ini. Aku
berharap bisa segera bersekolah dan bertemu dengan teman-
teman baru. Meskipun sepertinya aku akan sedikit kesulitan
untuk berbaur dengan teman-teman baruku nanti. Aku masih
tidak bisa mempercayai bahwa aku harus kehilangan sahabat
terbaik dan tanah kelahiranku. Namun aku harus tegar. Aku
tidak boleh larut dalam kesedihan. Aku harus menjadi tegar
dan mau beradaptasi dengan liingkungan baruku ini.
Suasana Kota Yogyakarta sangat berbeda jauh dengan
tanah kelahiranku di Papua. Aku perlu menyesuaikan diri
kembali dengan suasana dan cuacanya. Aku perlu mencintai
Hallo Yogyakarta
tempat ini sama seperti tempat kelahiranku karena mulai saat
ini aku akan tinggal disini, di kota yang menurutku asing dan
berbeda jauh dengan Papua. Di sini suasananya sangat ramai
dan banyak sekali orang. Dan cara berbicara mereka pun
sangat berbeda denganku dan keluargaku ketika berada di
Papua. Mereka berbicara dengan lemah lembut dan tidak
berteriak seperti orang-orang Papua. Aku juga tidak paham
dengan bahasa Jawa. Untunglah Indonesia memiliki bahasa
persatuan yaitu bahasa Indonesia sehingga aku dan keluargaku
bisa berkomunikasi dengan orang Yogyakarta dengan baik.
Orang-orang di Yogyakarta sangat ramah-ramah.
Disini aku akan tinggal di dekat rumah kerabat
Orangtuaku yaitu Paman Yos Sudarso. Lingkungan tempat
tinggalku nanti akan dekat dengan sekolah agar aku tidak perlu
naik kendaraan umum untuk pergi ke sekolah. Orangtuaku
ternyata telah menyisihkan uang hasil molo dan noken yang
selama ini mereka simpan untuk keadaan genting. Dan kini
mereka menggunakannya membeli rumah yang dekat dengan
sekolah agar aku dapat melanjutkan pendidikanku.
Setelah cukup lama kami menunggu di pelabuhan,
kami pun dijemput oleh Paman Yos , karena aku berasal dari
Papua, aku akan memanggilnya bapatua yang artinya paman.
Akhirnya mereka pun sampai dan kami langsung
menghampirinya dan naik ke dalam mobilnya. Bapatua Yos
membantu kami memasukkan barang-barang kami ke dalam
mobil. Bapatua Yos merupakan seorang Laksamana madya
TNI. Sepertinya dia menjemput kami setelah pulang bekerja
karena Ia masih mengenakan seragamnya yang membuat Ia
terlihat sangat berwibawa dan sangat gagah.
"Bagaimana kabar kalian ?" Ia bertanya kepada kami.
Aku langsung menjawabnya, "Sa kurang baik bapatua
sa sudah pusing perjalanan berhari-hari dari Papua."
"Oh begitu rupanya , kalau begitu kau harus istirahat
setelah ini."
"Mengapa langsung istirahat bapatua? Sa belum makan
bapatua, ada baiknya bila kitorang makan sebelum
beristirahat."
"Hahaha tentu saja Thobias , kita akan makan dulu. "
Mace langsung mencubitku sambil berkata, "Heh thobi
bagaimana lah ko ni , kitorang belum sampai rumah , ko sudah
minta makana. Mana sopan santun katorang."
"Maafkan sa , bapatua."
"Tidak apa-apa, kebetulan saya juga belum makan dari
siang , kalau begitu kita mampir dulu ke rumah makan."
Kami pun berhenti di salah satu rumah makan. Disana
terdapat banyak sekali makanan. Aku sampai bingung untuk
memilih makanan apa yang akan ku makan karena biasanya
setiap hari kami makan ikan hasil tangkapan saja.
"Ayo Thobi diambil makananya jangan malu-malu ,
bukankah tadi kau bilang kau sangat lapar karena sudah
melalui perjalanan yang jauh dari Papua."
"Sebentar bapatua, disini sangat banyak makanan sa
jadi bingung memilih apa?"
Hallo Yogyakarta
"Kalau begitu cobalah gudeg ini , ini adalah makanan
khas dari Yogyakarta."
Aku pun mengambil nasi dengan gudeg ditambah
dengan ikan goreng. Saat aku mencoba gudeg itu rasanya
sangat enak. Aku belum pernah mencoba memakan masakan
ini sebelumnya, dan jika aku tahu bahwa ada makanan se-enak
ini dari dulu, aku mungkin sudah menyuruh mace untuk
memasaknya.
Setelah selesai makan, kami pun melanjutkan
perjalanan pulang. Di sepanjang perjalanan aku melihat
pemandangan indah suasana kota Yogyakarta. Lagi-lagi aku
membandingkannya dengan Papua. Di kota Yogyakarta
terlihat bahwa suasana nya sudah lebih maju dan modern
dibandingkan dengan Papua. Disini sudah banyak transportasi
dan bangunan yang lebih modern. Memang bila dipikir-pikir,
Papua sudah tertinggal jauh dengan kota Yogyakarta. Di sini
juga susah banyak kaum-kaum yang terpelajar karena
banyaknya sekolah yang didirikan di kota ini sudah memiliki
pengajar yang lebih berpengalaman dibandingkan dengan
pengajar yang ada di Papua. Itulah sebabnya pace dan mace
memutuskan untuk pindah ke kota Yogyakarta ini. Disamping
menyelamatkan diri dari kekacauan yang dibuat oleh Belanda.
Aku berjanji pada diriku setelah aku menamatkan sekolahku
disini , aku akan membangun tanah Papua menjadi lebih baik
dan lebih maju.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kami
pun akhirnya sampai di rumah baru kami. Ketika kami turun
dari mobil, kami langsung disambut dengan baik oleh istri dari
Bapatua Yos. Rumahku terletak tepat disebelah rumah
keluarga bapatua yos. Aku langsung masuk ke dalam rumahku
dengan maksud untuk membereskannya karena rumah ini pasti
kotor dan belum rapih karena tidak berpenghuni. Namun
betapa terkejutnya aku begitu melihat keadaan isi rumah yang
sudah sangat rapih dan dilengkapi dengan perabotan rumah
yang bagus-bagus. Pace kebingungan mengapa ada barang-
barang sebagus ini didalam rumah karena uang yang pace
titipkan pada bapatua yos hanya cukup untuk membeli rumah
ini saja dan tidak mungkin cukup untuk membeli semua
barang-barang ini. Pace pun menanyakan kepada Bapatua Yos
"Yos , darimana semua barang-barang ini?uang yang
aku berikan kepada ko tidak mungkin cukup untuk membeli
semua barang-barang ini ? Apakah ini ko yang membelinya ?"
"Iya aku dan istriku yang membelikan semua barang-
barang ini. Kami sangat senang begitu mendengar kabar bahwa
kalian akan tinggal disini. Jadi kami memutuskan untuk
membelikan perabotan seadanya untuk keluarga kalian
sebagai bentuk ucapan selamat datang kami kepada kalian."
"Ko seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini ,
kami jadi merasa tidak enak pada kalian. Begini saja, nanti
kami akan mengganti uang yang kalian pakai untuk membeli
semua barang-barang ini."
"Tidak perlu seperti itu, kami ikhlas memberikan
semua barang-barang ini kepada kalian. Ini juga merupakan
salah satu bentuk terimakasih ku kepada keluarga kalian
karena kalian sudah tinggal disini. Jadi mulai sekarang istriku
Hallo Yogyakarta
tidak akan sendirian dan kesepian bila aku sedang bertugas
diluar kota."
"Terimakasih banyak kalian sudah memberikan kepada
kami barang-barang ini."
"Sama-sama , maaf barang-barang yang aku berikan
hanya seadanya seperti ini."
"Ini lebih dari cukup bagi kitorang."
"Syukurlah kalau begitu aku jadi senang
mendengaranya, kalau ada perlu apa-apa kalian tidak perlu
sungkan untuk meminta tolong kepada kami. Mulai saat ini
kita adalah keluarga."
Bapatua yos memang orang yang sangat baik dan
dermawan. Aku sangat senang bisa tinggal berdekatan dengan
keluarga mereka karena jika kami membutuhkan bantuan
mereka pasti akan menolong kita. Begitupun sebaliknya, jika
keluarga mereka yang sedang membutuhkan bantuan, kami
akan siap menolong nya.
Malam hari pun telah tiba. Suasana malam hari di
yogyakarta benar-benar berbeda dengan malam di Papua. Di
papua , aku harua melewati malam yang gelap gulita karena
tidak semua rumah disana memiliki lampu. Sedangkan di
Yogyakarta ini setiap rumah sudah menggunakan lampu
sehingga aku tidak akan melewati malam yang gelap gulita.
Hari pertama di Yogyakarta menyimpan kesan yang
nyaris sempurna untukku. Setelah makan malam, aku pun
memutuskan untuk beristirahat dan tidur karena telah
melewati perjalanan panjang dari Papua menuju ke kota
Yogyakarta ini. Aku pun memejamkan mataku dan tertidur
dengan lelap.
6
Tiket Menuju Masa Depan
Pagi yang cerah di Yogyakarta, ini merupakan hari keduaku
berada disini. Aku keluar rumah untuk menyegarkan badan
dan menatap ke sekitar. Aku melihat banyak orang yang sudah
hilir mudik mengerjakan pekerjaan mereka. Ada yang pergi
untuk bertani, ada yang akan pergi ke ladang untuk berkebun,
ada yang mebawa hewan hewan ternak mereka untuk dibawa
ke padang rumput dan ada pula beberapa yang berpakaian
tentara seperti Bapatua Yos. Setiap mereka bertemu mereka
saling tersenyum dan bertegur sapa. Sungguh kota Yogyakarta
ini sangat indah dan menawan dikelilingi oleh orang-orang
yang baik hati dan juga ramah.
Setelah berdiam diri sejenak, aku pun dipanggil oleh
Mace.
"Hey thobias sedang apa ko diluar sana masuklah
kemari, ayo sarapan bersama"
"Baik Mace".
Aku pun masuk ke dalam rumah dan didalam sudah
ada Bapatua Yos dan istrinya yang sedang menaruh makanan
di meja makan. Setelah makanan siap kami pun makan
bersama sambil bercengkrama.
"Thobias, hari ini kita akan mencari sekolah untuk
katorang , kitorang ditemani Bapatua Yos supaya tau mana
sekolah yang bagus untuk ko" kata Mace.
"Ya benar sekali Thobias , tapi Bapatua akan
mencarikan sekolah yang dekat sini saja karena kau kan baru
disini dan belum terlalu mengetahui kota ini. Maka dari itu
Bapatua akan carikan kau sekolah di sekitar sini supaya kau
berjalan kaki dan tidak perlu naik kendaraaan umum untuk ke
sekolah. Nanti kalau kau sudah menginjak SMA barulah kau
boleh memilih sekolah yang agak jauh dari rumah", jelas
Bapatua Yos.
Aku pun menganggukkan kepala pertanda setuju
dengan keputusan Bapatua.
Setelah selesai makan, kami pun bersiap untuk pergi
mencari sekolah untukku. Aku sangat tidak sabar melihat
sekolah baruku, bertemu dengan banyak teman-teman baru
dan juga bertemu dengan guru-guru yang baru. Setelah
beberapa menit berjalan kaki dari rumah, Bapatua
menunjukkan sebuah sekolah dan menawarkannnya padaku.
Saat aku melihat sekolah ini, aku melihat bangunannya yang
sangat bagus dan cukup luas. Tidak seperti sekolahku yang
berada di Papua, sekolah ini memiliki bangunan yamg lebih
modern dan bagus. Aku pun akhirnya memutuskan untuk
mencoba melihat lihat bagaimana suasana didalamnya.
Begitu aku masuk ke dalamnya, aku merasa aku sangat
cocok untuk bersekolah disini. Suasananya sangat nyaman dan
murid-murid disini pun sangat ramah. Sekolah ini memiliki
fasilitas yang lengkap dan buku-buku yang lengkap di
Tiket Menuju Masa Depan
Perpustakaan. Aku sangat menyukai suasana disini, belum
masuk sekolah pun aku sudah bisa merasakan bagaimana
rasanya ketika bersekolah disini. Akhirnya akupun
memutuskan untuk bersekolah disini. Setelah beberapa menit
berkeliling, kami pun akhirnya menemui Kepala Sekolah dan
mengurus segala administrasinya. Kepala Sekolah dan guru-
guru disini pun sangat ramah kepada kami semua. Mereka
menyambut kami dengan penuh senyuman dan rasa hormat.
Tidak ada yang membeda-bedakan warna kulit, suku, maupun
ras. Aku menjadi semakin tidak sabar untuk bersekolah disini
dan berkenalan dengan teman-teman baruku nanti.
Setelah segala urusan disekolah selesai, Bapatua Yos
mengantarkanku untuk membeli keperluan sekolah seperti
seragam, sepatu, buku-buku, dan juga keperluan alat tulis
lainnya. Aku sangat bersemangat sekali karena ini adalah
pertama kalinya aku akan bersekolah di sekolah yang resmi
dan menggunakan seragam. Saat aku bersekolah di Papua aku
tidak memakai seragam karena disana tidak semua orang
mampu untuk membelinya jadi pada saat bersekolah di Papua,
Aku sekolah menggunakan pakaian seadanya.
Kami pun pergi ke Pusat Kota untuk membeli
keperluan sekolahku. Sesampainya di Pusat Kota, aku melihat
banyak sekali orang-orang yang berjualan. Banyak pula anak-
anak kecil yang bermain di Alun-Alun Kota. Mereka semua
hidup dalam damai tanpa adanya ancaman dari Belanda
seperti yang sedang terjadi di Papua. Setelah beberapa saat
melihat sekitar, mataku tertuju pada sebuah toko yang menjual
banyak keperluan sekolah dan di sebelahnya terdapat sebuah
toko yang menjual seragam. Aku pun langsung mengajak Mace
dan Bapatua Yos ke tempat itu. Toko pertama yang aku
kunjungi adalah toko seragam sekolah, penjualnya sangat
ramah kepada kami saat kami mendatangi toko itu. Lalu
Bapatua Yos menanyakan harga seragam kepada penjual
tersebut menggunakan bahasa Jawa. Aku tidak mengerti apa
yang sedang mereka bicarakan, namun sepertinya terlihat
bahwa mereka sedang melakukan tawar menawar harga.
Setelah aku menemukan baju yang pas dengan ukuran
badanku, Mace pun membayar seragam tersebut. Selesai
membeli seragam, kami langsung masuk ke toko alat tulis,
Bapatua Yos membantuku memilihkan alat tulis yang bagus
untukku dan membayarkannya untukku.
"Yos , tidak perlulah ko membelikannya, biarkan aku
saja yang membayarnya," kata Mace.
"Tidak apa-apa , ini hadiah dariku untuk Thobias
sebagai hari pertamanya bersekolah."
"Terimakasih banyak Yos, kau sudah banyak
membantu kami."
"Bagaimana Thobi, apakah ada lagi yang kau perlukan
untuk sekolahmu besok?"
"Sudah Bapatua , sa rasa ini semua sudah cukup untuk
keperluas sekolahku."
Kami pun pulang ke rumah setelah membeli semua
keperluan untuk sekolahku besok.
Tiket Menuju Masa Depan
Keesokan harinya, Aku bangun pagi-pagi sekali. Ini
adalah hari pertamaku masuk sekolah. Aku sangat
bersemangat dan tidak sabar untuk bertemu dengan guru-guru
dan kawan-kawan ku nanti. Setelah selesai sarapan bersama,
aku pun berpamitan kepada Pace dan Mace untuk berangkat
ke sekolah. Aku pun pergi ke sekolah dengan sangat bangga
dan perasaan yang amat sangat senang. Tidak terasa, aku pun
sampai di depan gerbang sekolahku. Terpapar dengan jelas
nama sekolah ku yaitu SMP BHINEKA TUNGGAL IKA
YOGYAKARTA. Pak Silas telah membuatkanku ijazah
karena aku telah bersekolah selama enam tahun, sehingga aku
bisa meneruskan penddikanku di SMP.
Aku pun langsung masuk ke ruang guru untuk
menemui Wali Kelasku.
Bel pun berbunyi, aku bersama Wali Kelas ku langsung
masuk ke dalam kelas. Sesampainya di kelas, semua murid-
murid menatapku , aku menjadi sedikit gugup. Wali Kelas ku
pun mulai memperkenalkanku
"Selamat pagi anak-anak semua, hari ini kalian
kehadiran teman baru, dia adalah saudara kita yang berasal
dari Papua. Silahkan nak perkenalkan namamu." Guru ku
menyuruhku untuk memperkenalkan diri.
Aku agak gugup ketika dipersilahkan untuk
memperkenalkan diri karena ini adalah pertama kalinya aku
berbicara dihadapan mereka.
"Hallo teman-teman namaku Thobias, Thobias
Mote.Aku berasal dari Fakfak, Papua. Semoga kita semua
dapat menjadi teman baik."
Mereka tersenyum kepadaku, itu membuat perasaanku
sedikit lega. Wali Kelas ku mempersilahkanku untuk duduk.
Mataku langsung tertuju pada sebuah bangku kosong
disebelah laki-laki berkacamata. Aku pun langsung duduk
disebelahnya. Aku berkenalan dengannya. Namanya adalah
Rahman. Dan disekolah inilah pendidikan SMP ku di mulai,
semakih hari aku semakin mendapat banyak teman-teman
yang baik kepadaku dan juga semakin hari, semakin banyak
ilmu-ilmu dan pengalaman berharga yang aku dapatkan dari
sekolah ini. Ternyata sekolah disini, tidak semudah ketika aku
bersekolah di Papua , disini banyak sekali teman-temanku yang
sangat pandai sehingga aku harus mengikuti pelajaran dengan
serius dan tidak boleh bermalas-malasan karena jika aku
malas, maka aku akan tertinggal pelajaran sekolah.
Beruntungnya aku memiliki teman-teman yang sangat baik
karena jika ada pelajaran yang kurang aku pahami, mereka
dengan senang hati akan mengajarkannnya kepadaku.
Sungguh mereka teman seperjuangan yang baik hati.
***
Tidak terasa kini sudah 3 tahun lamanya aku
bersekolah di SMP Bhineka Tunggal Ika, hari ini aku akan
menempuh ujian untuk masuk ke sekolah dengan jenjang lebih
tinggi yaitu Sekolah Menengah Atas. Berbagai persiapan sudah
aku lakukan. Aku sudah merasakan banyak pahit dan manisnya
Tiket Menuju Masa Depan
ketika belajar di SMP dan kini aku sedang mempersiapkan diri
untuk menempuh ke jenjang yang lebih tinggi, tiket menuju ke
masa depan ku sudah di depan mata, tinggal aku yang berusaha
untuk mendapatkannya. Aku meminta restu kepada Pace dan
Mace sebelum berangkat ujian agar ujianku dilancarkan dan
aku bisa mendapatkan nilai yang memuaskan.
Aku pun berangkat ke sekolah untuk melaksanakan
ujian. Sebelum ujian, tidak lupa aku berdoa. Ujian pun selesai
dilaksanakan, aku tinggal menunggu hasilnya.
Setelah beberapa minggu lamanya aku menunggu,
akhirnya hasil ujian ku pun keluar. Aku sangat bahagia karena
hasil ujian ku sangat memuaskan sehingga aku bisa bersekolah
di SMA yang favorit di Yogyakarta. Pace dan Mace pun sangat
bangga terhadap diriku karena aku bisa menyesuaikan diri
dengan pembelajaran di Yogyakarta.
Tahun ajaran baru pun dimulai, aku memutuskan
bersekolah di SMA Proklamasi 1945. Bersekolah disini
merupakan suatu kebanggaan untukku karena tidak semua
siswa bisa masuk ke sini dikarenakan persaingan yang ketat.
Hanya murid-murid yang mempunyai potensi yang besar yang
bisa masuk ke kesekolah ini dan aku bangga bisa menjadi salah
satu bagian dari mereka.
Kini tiket menuju masa depan semakin dekat dan
sudah di depan mata. Di masa SMA pikiranku sudah semakin
matang dan dewasa. Aku sudah mulai memikirkan tentang
masa depan ku. Aku sudah mulai memikirkan setelah lulus
SMA nanti aku akan meneruskan kemana.
Hari demi hari aku lalui di SMA Proklamasi 1945 ini.
Kini wawasanku semakin luas dan bertambah banyak.
Pengetahuanku mengenai Indonesia semakin banyak. Aku jadi
teringat akan tanah kelahiranku yaitu Papua. Dalam hatiku
semakin berkobar semangat untuk merebut kembali Papua
dari Belanda.
Aku semakin ingin menjadikan Papua adalah bagian
dari Indonesia.
Dengan segala keindahan dan kebudayaannya , aku
sangat yakin jika Papua akan menjadi pelengkap bagi negara
Indonesia ini. Pikiranku semakin terfokus akan hal tersebut
seiring berjalannya waktu. Sehingga aku memutuskan jika
nanti aku sudah lulus SMA aku ingin menjadi seperti Bapatua
Yos Sudarso.
Aku ingin menjadi seorang TNI.
Aku ingin berjuang untuk tanah kelahiranku yaitu
Papua. Aku akan memperjuangkannya agar Papua menjadi
bagian dari negara Indonesia.
***
Tiga tahun sudah kulewati masa SMA ku yang penuh
makna dan arti dalam hidupku. Ujian pun telah usai , tiket
menuju ke masa depan telah aku dapatkan. Sekarang aku
tinggal memilih kemanakah aku akan pergi dan melangkah.
Sekarang aku yang tinggal menentukan mau jadi apa
aku setelah ini. Beruntungnya aku , aku sudah memiliki tujuan
Tiket Menuju Masa Depan
setelah lulus SMA, aku akan menjadi seorang TNI. Berbeda
dengan teman-temanku yang bingung akan melanjutkan
pendidikan kemana, pada akhirnya mereka yang bingung pun
harus menuruti kemauan orang tua nya , bahkan tidak banyak
dari mereka yang setelah lulus SMA malah bekerja dan tidak
meneruskan pendidikannya.
Tapi semua itu tidak masalah karena setiap orang
berhak untuk memilih jalan mereka masing-masing.
Begitu pula dengan keputusanku yang sudah bulat
untuk menjadi seorang anggota TNI. Menjadi seorang TNI
bukanlah hal yang mudah , butuh perjuangan yang sangat
keras.
Hingga akhirnya aku bisa diterima di akademi ABRI
magelang. Aku sangat senang bisa diterima disana karena cita-
citaku untuk menjadi seorang anggota TNI semakin dekat dan
didepan mata.
Aku sudah mempunyai tiket menuju ke masa depan
untukku.
Aku berjanji akan berjuang sungguh - sungguh demi
mewujudkan cita - cita ku dan berjuang merebut kembali
Papua dari Belanda.
7
Rindu pulang
Malam yang hari yang dingin dan tenang,suasana yang cocok
untuk memikirkan banyak hal. Hari demi hari telah aku lewati
di magelang, tak terasa kini merupakan bulan terakhirku
menyelesaikan pendidikan ku sebagai anggota ABRI. Aku
ingin cepat-cepat lulus agar bisa menemui kembali keluargaku
di Yogyakarta, aku sangat merindukan mereka namun ada
rindu yang lebih memberontak dalam hatiku, yaitu aku sangat
merindukan kampung halamanku.
Ingin sekali rasanya aku berkunjung kesana dan
menemui orang orang yang aku sayangi dan cintai. Aku ingin
sekali kembali merasakan hangat nya udara pantai diiringi
dengan angin lembut yang berhembus bersama deburan
ombak. Gelak tawa anak-anak dari Fakfak terngiang di
telingaku. Aku sangat teringat saat-saat dahulu aku
menangkap ikan. Aku juga sangat teringat akan nasehat dari
Pace dan tak lupa omelan dari Mace yang tiada hentinya
bergentayangan di kepalaku. Aku sangat rindu itu semua.
Satu pertanyaan yang ada dalam benakku yaitu adalah
apakah aku bisa kembali merasakan kenikmatan itu lagi ?
Mungkinkah aku bisa pulang ke tanah kelahiran yang amat
sangat ku cintai yaitu tanah papua. Pasukan Belanda yang kini
semakin kuat dan ketat menjaga daerah papua membuatku
Rindu Pulang
merasa bahwa pergi ke tanah papua adalah suatu hal yang
mustahil karena orang-orang yang pergi ke sana hanya orang-
orang yang terpilih untuk berjuang mempertahankan Papua
dan rela mengorbakan jiwa,raga , tenaga ,pikiran , serta
meninggalkan orang-orang yang Ia cintai demi membebaskan
papua agar tetap menjadi bagian dari NKRI.Sungguh aku
sangat merindukankampung halamanku. Seandainya ada cara
bagiku untuk memijakkan kaki ku disana lagi, takkan ku buang
sia-sia kesempatan itu.
Malam semakin larut, tiba-tiba Ahmad
mengagetkanku
"Hey thobias sedang apa kau disini sendirian?"
"Ah kau ini mengagetkan aku saja, aku sedang rindu
kampung halamanku dan keluargaku, hampir setiap hari aku
rindu pada mereka, namun baru malam ini saja aku
memikirkan nya dengan larut dan serius karena kebetulan
suasana dan cuacanya yang sedang mendukungku untuk
melakukan itu."
Temanku hanya diam dan menatapku tanpa berkedip
seolah tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Matanya
terlihat penuh tanya dan kebingungan.
“Hey mengapa kau menatapku seperti itu ? Kau
membuatku takut. Sudahlah jangan menatapku seperti itu.”
“Apakah benar ini Thobias?”
“Apa maksudmu ? Memangnya Aku terlihat seperti
penyusup hah ?”
“Bukan begitu, Aku hanya merasa sangat terkejut
dengan apa yang kau katakan tadi, aku tidak percaya bahwa
Thobias yang keras kepala ini sangat berhati lembut dan
menyayangi keluarga , bahkan kampung halamanmu yang
sudah kau tinggalkan bertahun-tahun pun kau masih
mengingatnya. Luar biasa.”
“Kau selalu saja begitu, melebih-lebihkan suatu hal
yang sebenarnya wajar. Memangnya kau tidak pernah
merindukan keluargamu atau kampung halamanmu ?”
“Tentu saja aku merindukan mereka semua. Aku
merindukan ayah,ibu dan juga adik-adikku. Aku sangat
merindukan mereka semua. Aku rindu saat-saat bercengkrama
dengan mereka. Terutama dengan adikku. Dia selalu saja
bertengkar denganku setiap hari. Apapun kami ributkan, mulai
dari hal yang sepele hingga hal yang menyebabkan keributan
besar hingga ayah dan ibuku harus bertindak untuk melerai
pertengkaran kami. Dan sekarang sudah bertahun-tahun aku
tidak bertemu dengan mereka semua. Mustahil jika aku tidak
rindu pada mereka. Aku sangat merindukan mereka. Sama
seperti kau merindukan keluargamu.”
Aku menatap temanku dengan saksama. Terlihat pada
wajahnya bahwa ia sedang mengungkapkan perasaan yang
selama ini ia pendam dan baru sekarang ia
mengungkapkannya. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia pun
mengeluarkan air mata. Air mata yang mungkin selama ini
sudah ia bendung dan sekarang ia mengeluarkannya dengan
penuh rasa kerinduan pada keluarganya. Perasaan yang sama
dengan apa yang aku rasakan saat ini. Ternyata bukan hanya
Rindu Pulang
aku saja yang merindukan keluargaku. Dan sepertinya bukan
aku dan Ahmad saja tetapi rasa rindu seperti ini juga dirasakan
oleh yang lainnya hanya saja mereka tidak bisa
mengungkapkannya dan memilih untuk memendam
perasaanya.
Aku menepuk pundak temanku dan berusaha
menenangkannya.
“Hey sudah jangan menangis. Kita sebentar lagi akan
berjumpa dengan keluarga kita.”
Dia pun tersenyum kepadaku.
“Terimakasih Thobias, kau sudah memberikanku
kesempatan untuk mengungkapkan rasa rindu ini, karena
selama ini aku sangat malu untuk mengungkapkannya.”
“Sudah tidak perlu sungkan kepadaku. Aku senang
bisa mendengarkan kau bercerita.”
Kami pun tertawa dan menghabiskan waktu untuk
bercengkrama. Tak teras waktu sudah menunjukkan pukul 12
tepat tengah malam. Kami pun memutuskan untuk kembali ke
asrama, beristirahat dan mempersiapkan kembali untuk
kegiatan esok hari.
Pagi ini seperti biasa aku melakukan kegiatan rutinku
di asrama. Aku menatap ke sekitar dan melihat junior - junior
ku yang sedang bersusah payah berjuang untuk bisa masuk dan
belajar disini. Aku pun jadi teringat bagaimana susah dan
sulitnya Aku untuk dapat masuk kesini. Namun itu semua
sudah terlewati, kini aku tinggal menghitung hari hingga waktu
kelulusan tiba. Aku sangat tidak sabar untuk melihat wajah
kedua orangtuaku yang hadir di acara kelulusan dan
pelantikanku menjadi Letda.
Aku akan menikmati sisa waktu ku disini agar Aku bisa
menceritakannya kembali pengalamanku ini kepada anak-
anakku kelak. Tempat ini menjadi saksi bisu perjuanganku
dalam meraih cita-citaku.
Aku akan sangat merindukan tempat ini. Aku akan
mengingat setiap detik yang berharga atas perjuanganku disini.
Aku akan mengingat tempat ini sama seperti bagaimana aku
mengingat kampung halamanku, keluargaku , serta kerabat-
kerabatku.
***
Saat aku sedang membereskan mejaku , temanku
datang menghampiriku dan memberitahuku bahwa aku
mendapat telepon dari Ibuku. Aku sangat senang dan langsung
berlari menuju ke tempat telepon.
“Hallo Mace !!!”
“Hey thobias bagaimana kabar katorang di sana?”
“Baik Mace , Mace bagaimana disana ?”
“Mace dan Pace baik disini , katorang jangan lupa jaga
kesehatan , sebentar lagi ko akan lulus dan di lantik.”
“Baik Mace , sa akan menjaga kesehatan selalu.”
“Mace dan Pace sangat rindu pada katorang.”
Rindu Pulang
“Sa pun rindu pada kalian , hampir setiap hari sa
memikirkan kalian.”
“Tenanglah.sebentar lagi kita kan bertemu.”
“Sudah dulu ya Mace , terimakasih sudah
meneleponku.”
“Sama sama , sampai berjumpa nanti. Mace sayang
pada katorang.”
“Sa pun sayang sekali pada Mace.”
Setelah telepon ditutup, rasa rinduku kepada mereka
semakin bertambah. Setelah mendengar suara Mace Aku jadi
tak sabar ingin segera bertemu dengannya dan memeluknya.
***
Berjumpa untuk berpisah.
Hari yang ditunggu-tunggu olehku akhirnya datang
juga. Hari ini merupakan hari yang bersejarah dalam
perjalanan hidupku. Ini adalah saat-saat dimana seorang
prajurit sejati akan mengucapkan sumpah yang disaksikan oleh
ratusan orang.
Aku tak menyangka bahwa aku akan lulus hari ini,
rasanya baru saja kemarin aku mendaftar ke akademi ABRI ini
dan sekarang kini aku sedang berdiri bersama teman-temanku
dan bersiap untuk mengucap sumpah yang sangat berarti bagi
kehidupan bangsa dan negara ini. Aku akan menjadi bagian
penting negara ini dan Aku sangat bangga akan hal itu. Aku
sangat bangga terhadap diriku sendiri. Aku sangat bersyukur
terhadap orangtuaku yang telah mendukungku hingga saat ini
tiba.
Acara pelantikan pun segera dimulai, aku dan para
prajurit lainnya bersiap mengucapkan sumpah. Semua prajurit
mengucapkan sumpah dengan suara yang sangat lantang dan
menggelegar. Kami semua mengucapkan dengan penuh
penghayatan dan juga rasa bangga terhadap diri masing-
masing karena sudah resmi menjadi bagian dari anggota ABRI.
"Demi Allah saya bersumpah / berjanji :
1. Bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Bahwa saya akan tunduk kepada hukum dan
memegang teguh disiplin keprajuritan.
3. Bahwa saya akan taat kepada atasan dengan tidak
membantah perintah atau putusan.
4. Bahwa saya akan menjalankan segala kewajiban
dengan penuh rasa tanggung jawab kepada Tentara
dan Negara Republik Indonesia.
5. Bahwa saya akan memegang segala rahasia Tentara
sekeras-kerasnya.”
Semuanya telah mengucapkan sumpah. Aku yakin
semua teman-teman seperjuanganku ini merasa sangat lega
dan juga bangga terhadap diri mereka masing-masing. Bahkan
ada beberapa dari kami yang mengeluarkan air mata
kebahagiaan. Segala perjuangan yang telah kami lewati di sini
akhirnya terbayar sudah. Perjuangan kami tidak sia-sia.
Rindu Pulang
Hari ini suasana bahagia terlihat sangat jelas
memenuhi seluruh isi ruangan tempat kelulusanku. Para
Orangtua yang menghadiri acara ini terlihat sangat bahagia
dan bangga terhadap putra putri mereka. Mereka menatap
anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Mereka yang merindukan keluarga mereka, kini mereka bisa
berjumpa dengannya kembali dan melepaskan kerinduannya.
Banyak Orangtua terutama para Ibu yang yang menjatuhkan
air matanya, menangis bahagia melihat anak-anaknya yang
sudah lulus dan resmi menjadi anggota ABRI.
Aku melihat Pace dan Mace dari kejauhan. Mereka
menghadiri acara kelulusanku dan menatapku dengan bangga.
Sesekali terlihat mereka tersenyum dengan indahnya. Aku
sangat bahagia hari ini. Namun aku tetap merasa ada yang
kurang, aku ingin melihat kampung halamanku yaitu tanah
Papua. Aku ingin ikut menyelamatkan tanah kelahiranku dan
menjadikannya bagian dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Setelah acara kelulusan dan pelantikan selesai, aku pun
membereskan barang-barangku yang berada di asrama dan
segera menemui Pace dan Mace. Aku memeluk mereka
dan melepaskan semua rasa kerinduanku terhadap mereka.
Akhirnya aku bisa berkumpup kembali bersama mereka
setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak berjumpa dengan
mereka demi menyelesaikan pendidikanku dan mengejar cita-
citaku. Mereka memelukku dengan sangat bangga hingga
akhirnya ma ce tak kuasa untuk menahan air mata bahagianya
melihatku yang kini sudah resmi ditetapkan menjadi anggota
ABRI. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakan
kembali kehangatan keluargaku.
Teman-temanku yang lain pun melakukan hal yang
sama dengan apa yang kulakukan. Mereka menemui keluarga
mereka yang hadir pada acara kelulusan. Mereka memeluk
keluarga mereka dan menangis di pelukannya. Sungguh aku
tidak akan pernah melupakan setiap detik pada saat-saat ini.
Saat mengharukan yang dipenuhi dengan tangisan
kebahagiaan yang memecah suasana seluruh penjuru ruangan.
Di setiap pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan.
Sebelum pulang ke Yogyakarta, aku pun berpamitan dengan
teman-teman seperjuanganku yang selama ini telah
menemaniku melewati suka dan duka perjalanan hidupku
selama aku bersekolah di akademi ABRI Magelang. Aku
memeluk mereka dan mengucapkan banyak terimakasih
kepada mereka karena mereka sudah memperlakukanku
dengan sangat baik. Aku mendoakan kepada mereka agar
mereka selalu diberikan kesehatan dan kesuksesan dimanapun
mereka akan ditempatkan untuk bekerja. Mereka pun
mendoakan hal yang sama kepadaku.
Kami pun berpelukkan untuk terakhir kalinya dan
mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak akan melupakan mereka semua. Aku tidak
akan melupakan saat-saat bercengkrama dengan mereka.
Mereka sudah seperti keluarga bagiku. Mereka selalu
menghiburku disaat aku dengan kesusahan. Mereka selalu
menolongku disaat aku benar-benar membutuhkan bantuan.
Berat rasanya untuk meninggalkan mereka. Namun kini kita
Rindu Pulang
harus berpisah dan melakukan tugas yang sebenarnya yaitu
mengabdikan diri kepada NKRI sebagai anggota ABRI.
“Hey thobias kau jaga diri baik-baik ya , jangan
melupakan kami semua. Dan jangan bersedih lagi karena kau
sekarang sudah bisa bertemu dengan keluargamu. Setiap
malam kau tidak perlu lagi merenung dan memikirkan
keluargamu. Kini kau sudah bisa melihat mereka setiap hari.
Dan jangan lupa bahwa sekarang kita sudah resmi menjadi
anggota ABRI, kau harus menjaga dan mengharumkan negara
ini. Kita sekarang memiliki tanggung jawab yang sangat besar.
Selamat berjuang kawanku. Semoga suatu saat kita dapat
dipertemukan kembali.”
“Kalian juga jaga diri kalian baik-baik. Jagalah
kesehatan kalian selama bertugas untuk bangsa ini. Aku
berharap aku bisa bertemu dengan kalian lagi suatu saat. Dan
aku harap kalian bisa melihat kampung halamanku di Papua
sana. Semoga kalian bisa mengunjunginya suatu saat nanti.
Aku sangat berterimakasih kepada kalian karena sudah mau
menjadi temanku. Terimakasih banyak. Selamat berjuang juga
untuk kalian semua kawan baikku.”
Sekiranya itulah percakapan terakhirku untuk terakhir
kalinya dengan salah satu teman terbaikku yaitu Ahmad.
Setelah itu kami pun pergi menuju ke tempat tujuan masing-
masing. Meninggalkan tempat ini dan membawa sejuta
kenangan yang tak akan pernah terlupakan.
8
Rencana
Aku pun tiba di Yogyakarta bersama Pace dan Mace. Kota ini
tidak banyak berubah semenjak aku tinggalkan beberapa tahun
lalu. Hanya saja rumahku yang berubah warna cat nya. Suasana
kota Yogyakarta masih nyaman sama seperti saat aku pertama
kali menginjakkan kakiku disini. Rinduku terhadap
Yogyakarta akhirnya terbayarkan namun tidak terhadap tanah
kelahiranku, Papua. Aku kembali bertanya - tanya , apakah
sekarang aku sudah bisa kesana dan berjuang di tanah Papua
agar bisa menjadi bagian dari NKRI.
Pagi yang cerah seperti biasanya di Yogyakarta, tidak
ada kejadian yang aneh pada pagi itu sampai Mace menyalakan
televisi dan muncul berita dimana - mana bahwa konflik
mengenai pembebasan irian barat semakin berada pada
puncaknya. Aku langsung pergi ke rumah Bapatua Yos ,
namun aku tidak mendapatinya berada di rumah. Dapat
dipastikan bahwa berita tadi adalah benar adanya dan
kemungkinan saat ini Bapatua Yos sedang mempersiapkan diri
untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda.
Beberapa tahun terakhir ini pemerintah Indonesia
telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan Papua
kepada NKRI. Dari segi diplomasi, persiapan Indonesia yaitu
mendekati berbagai negara seperti Australia, India,
Rencana
Pakistan, Selandia Baru, Thailand, Jerman, Britania
Raya, dan Perancis agar tidak memberi dukungan kepada
Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda.
Sedangkan dari segi ekonomi, pada tanggal 27 Desember 1958,
presiden Soekarno mengeluarkan undang-undang nomor 86
tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di
Indonesia. Namun itu semua gagal diupayakan.
Hari ini tanggal 19 Desember tahun 1961, aku
berfirasat bahwa Presiden soekarno akan mengeluarkan
pengumuman yang sangat penting , pengumuman yang akan
menggemparkan catatan perjalan sejarah Indonesia. Dan
benar saja pada hari ini presiden Soekarno mengumumkan
pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta.
Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor
Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando
ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan
menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan
Papua bagian barat dengan Indonesia. Trikora memuat 3 isi
yaitu:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua
buatan Belanda.
2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, tanah
air Indonesia.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna
mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan
tanah air dan bangsa.
Disini menurutku, sangat terlihat jelas bahwa tujuan
trikora yaitu untuk mengembalikan Irian Barat ke Indonesia.
Dan isi trikora diatas juga mengandung tujuannya sekaligus.
Aku sangat terkejut mendengarnya sekaligus bercampur
dengan perasaan bersemangat. Tiba - tiba Bapatua Yos datang
ke rumah dan berpamitan untuk menjalankan sebuah tugas
negara. Aku semakin yakin bahwa Bapatua Yos akan
berpartisipasi dalam Operasi Trikora ini. Aku berpikir, apakah
mungkin ini adalah kesempatan untukku agar kembali kesana
dan berjuang untuk Papua. Aku semakin yakin , dan aku pun
memutuskan untuk ikut dengan Bapatua Yos. Aku meminta
izin pada Pace dan Mace, Namun aku tidak diberikan Izin.
"Katorang tidak boleh ikut dengan Bapatua ,
bagaimana bisa Mace membiarkanmu pergi padahal kira baru
saja bertemu beberapa hari, tidak Mace tidak akan
mengizinkan ko untuk ikut."
"Ayolah Mace , ini kesempatan ku untuk mewujudkan
impianku. Lagipula tujuan ku menjadi anggota TNI adalah
untuk membebaskan tanah kelahiranku dari bangsa berkulit
putih itu."
"Tidak bisa , ini bukan sekedar perang biasa, ko bisa
mati disana."
"Mace tolong lah aku , aku berjanji akan kembali
dengan selamat dan menemui Mace."
Setelah melalui perdebatan yang sangat panjang , Mace
akhirnya mengizinkanku untuk ikut dengan syarat aku harus
kembali lagi dalam keadaan selamat dan tanpa kekurangan
apapun. Setelah mendapat izin dari Mace , aku langsung
menemui Bapatua Yos tepat sebelum ia berangkat.
Rencana
"Baiklah kau boleh ikut thobi, asalkan kau tetap
waspada terhadap musuh dan orang - orang diatas kita," kata
Bapatua Yos
Seketika aku menjadi bingung dan berpikir bahwa ini
adalah sebuah operasi yang illegal dan belum mendapatkan
izin. Aku menjadi sedikit ragu , namun Bapatua Yos terlanjur
menarikku ke dalam mobil. Dan kami pun berangkat ke
pelabuhan untuk menaiki kapal yang akan kami gunakan untuk
melakukan operasi ini. Perasaanku menjadi semakin tidak
enak. Haruskah aku melanjutkan rencana ini atau kembali
pulang. Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana.
9
Keterpaksaan
H“ ey paman, apa kau gila? Tidak ada komando dari pusat.
Aku ragu kita Berjaya.”
“Diamlah! Turuti saja perkataanku. Naiklah sana, KRI
Harimau menunggumu”
“Aku tidak akan mengorbankan nyawaku demi operasi tanpa
ada yang bertanggung jawab”
“Bajingan! Mana semangat tentaramu! Pecundang!”
Aku saat itu bingung sekali, entah apa yang harus
kuperbuat. Aku tidak menyangka Bapatua Yos yang selama ini
kukenal seketika menjadi harimau ketika turun ke medang
pertempuran.Aku ingin pulang, tapi aku takut aku tak bisa
membela negara ini lagi karena harus gugur di operasi bodoh
ini. Namun, klakson KRI Harimau seakan memanggilku untuk
segera masuk ke dalamnya. Entah siapa yang membuatku
percaya, padahal seorang Yos Sudarso pun gagal merayuku.
Semua awak kapal sudah bersiap di dek untuk masuk
ke dalam. Lengkap dengan persejataannya, semua kawanku
terlihat gagah berani. Aku merasa malu karena sebagai tentara
tidaklah seharusnya aku takut akan kematian. Semua terlihat
baik-baik saja, sampai perhatianku tertuju pada salah seorang
Keterpaksaan
prajurit. Tingkahnya begitu aneh. Tidak seperti prajurit
lainnya. Badannya terlihat aneh, terutama di bagian dada dan
pinggulnya. Namun aku tidak ambil pusing, lanjut aku masuk
ke kapal dan merapikan barang-barangku di kamar.
Lima menit setelah semua awak kapal masuk, seluruh
KRI pun berangkat. Dipimpin oleh KRI Macan Tutul dan KRI
Harimau serta KRI Macan Kumbang berlayar di samping
kanan dan kirinya. Seharusnya dibelakang tiga KRI ini
terdapat KRI Singa. Dari radio di KRI yang kunaiki, terdengar
suara, “Kapal kami rusak, berjuanglah! Kami akan segera
menyusul!”
Paman Yos bicara melalui radio dan menyerukan tiga
KRI harus tetap berangkat dalam misi rahasia ini. Semangat
para prajurit lainnya membuat api semangatku berkobar
kembali. Kecuali dengan prajurit aneh yang kulihat di depan
dek kapal tadi. Dia membuatku penasaran.
Matahari mulai bersembunyi, kesunyian dan kegelapan
baru akan mulai terasa. Jam tujuh malam, kami para prajurit
berkumpul di tengah kapal untuk makan bersama. Hanya
makanan seadanya yang kami bekal dari Yogyakarta. Tidaklah
enak rasanya, namun bisa membuat kami kenyang.
Kebersamaan dengan para prajurit lainnya seperti menambah
cita rasa dari makanan buruk ini.
Dari awal kami berkumpul disini, mataku belum
menemukan prajurit aneh itu lagi. Aku semakin penasaran
siapakah dia sebenarnya. Setelah selesai makan bersama,
lantas kami kembali dikumpulkan di tengah kapal. Di bawah
komando Kolonel Sudomo, APEL malam pun dilaksanakan.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,
selamat malam! Terima kasih atas pengorbanan kalian demi
NKRI, kalian merelakan nyawa kalian demi operasi illegal ini,
namun kita harus optimis. Saya yakin kali ini pasti berhasil.”
Begitulah pidato singkat dari Kolonel Sudomo.
Setelah APEL malam selesai, kami diperintahkan
untuk berbagi tugas. Sebagian berjaga di atas kapal dan sebgian
istirahat. Setelah satu jam, kami akan bertukar posisi. Semua
prajurit lantas bersiap-siap atas perintah tersebut. Senangnya,
aku kebagian istirahat terlebih dahulu.
10
Kecemasan
Di dalam kamar perasaanku sangat gundah. Aku tidak bisa
tidur jika seperti itu. Tarik nafas yang Panjang, dan akhirnya
aku ingat cara para tentara tidur cepat. Pertama-tama aku
harus melemaskan semua otot di tubuhku, terutama di bagian
wajah. Aku menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya perlahan secara terus menerus. Lalu aku
membayangkan kalau aku sedang berada di tempat yang
semuanya berwarna hitam.
Sambal bernapas, aku mengucapkan, “Jangan pikirkan
apa-apa”. Ku lakukan itu terus menerus. Cara itu sangatlah
ampuh, dan aku berhasil tidur dalam tiga menit.
Ditengah malam yang sunyi tiba-tiba terdengar suara
rudal tembakan. Semua awak kapal yang sedang beristirahat
pun langsung terbangun dibuatnya.
“Semua awak kapal persiapkan diri kalian. Akan ada
pertumpahan darah sebentar lagi!” komando dari Kolonel
Sudomo.
Aku yang masih setengah sadar pun bersiap-siap dan
anehnya aku melihat seorang perempuan di dalam kapal.
Setahuku di kapal ini hanya berisi pria-pria yang siap perang.
Bagaimana bisa seorang perempuan masuk ke dalam kapal.
Lagi pula ini merupakan misi rahasia, pemerintah pun tidak
tahu akan operasi ini.
Perhatianku teralihkan dengan suara tembakan rudal
yang kedua kalinya. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik ke
atas untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Di depan
rombongan KRI aku melihat banyak kapal perang yang sudah
siap menghadang kedatangan kami. Kekhawatiran yang sejak
sore aku pikirkan akhirnya terjadi.
Aku meminta kawanku untuk mengecek senjata pada
KRI Harimau ini. namun kawanku tidak menemukannya.
Ternyata kapal ini tidak dibekali persenjataan. Aku merasa
sudah tamat, dan kematian sudah berada di depanku.
Rudal ketiga ditembakkan mengarah KRI Harimau.
Sial, tembakkan itu tepat mengenai lambung kapal. Semua
prajurit mencoba untuk tidak panik. Dari radio, Paman Yos
menyerukan untuk menolong awak kapal KRI Harimau. KRI
Macan Tutul pun mendekat. Secara bergantian seluruh awak
kapal melompat sejauh kurang lebih tiga meter untuk bisa
sampia ke KRI Macan Tutul.
“Hey Suprapto, siapkah kau?” ujarku.
“Aku pasrahkan semuanya pada Tuhanku,” Jawab
Suprapto dengan yakin.
Selanjutnya merupakan giliranku untuk melompat
yang waktunya sangatlah bersamaan dengan ditembakkannya
rudal ke empat ke KRI Harimau. Hantaman keras itu
membuat lompatan sadis itu gagal. Beruntung seorang prajurit
Kecemasan
yang sudah terlebih dahulu melompat ke KRI Macan Tutul
dengan sigap memegang lenganku.
Saat bergelantungan, aku melihat wajah prajurit itu.
Dia bukanlah pria, dia wanita yang aku lihat tadi. Dasar tenaga
wanita, dia melepaskan pegangannya karena mungkin sudah
tidak kuat lagi. Aku jatuh ke laut dan seketika aku bangun dari
tidurku.
“Ada apa kau ini, Thobi?” tanya kawanku yang tadi
membangunkanku dengan berisik.
“Gila kau, kau membuatku tekejut,” jawabku dengan
kesal.
Perasaanku lega karena yang barusan terjadi hanyalah
ketakutanku yang terbawa mimpi. Sekarang giliranku untuk
berjaga di atas kapal. Udara disini sangatlah dingin. Seragamku
yang biasanya aku tidak suka karena bahannya panas, kini aku
menyukainya. Walaupun masih terasa dingin, seragamku
membantuku. Ditambah aku memeluk senjataku, dan itu
cukup membantu menghangatkan suhu tubuhku.
Aku berjaga di depan pintu tangga dari bawah. Entah
kenapa lampu dari Lorong tangga itu asalnya menyala, namun
setelah kuperhatikan, lorong itu gelap gulita. Semasa
pendidikanku di AKABRI, kawanku pernah bercerita tentang
penguasa laut selatan, yaitu Nyi Roro Kidul.
Konon katanya apabila ada orang yang menggunakan
baju berwarna hijau akan diculik oleh Nyi Roro Kidul untuk
dijadikan prajurit di kerajaan Pantai Selatan. Tepat sekali saat
itu aku sedang menggunakan seragam PDH-ku yang bercorak
loreng dengan warna hijau yang dominan.
“Tuhan, aku bersyukur telah menjadi prajurit dalam
kesatuan ABRI ini. Aku tidak mau menjadi prajurit di alam
lain. Aku senang disini, aku gembira. Tolong aku Tuhan,
tolong!” kataku memohon kepada Tuhan.
Rasanya campur aduk antara takut dengan kedinginan
ditambah pemandangan sekitar hanyalah laut yang gelap. Tiba-
tiba dari dalam Lorong yang gelap itu keluarlah sebuah lengan
dan perlahan ada kepala yang ikut muncul. Seperti sedang
mengintip sesuatu.
Kakiku bergetar dengan hebat, karena baru ini
pertama kali aku memiliki pengalaman dengan mahluk ghaib.
Namun sesuatu di dalam hatiku berkata untuk berani
menghadapi segala sesuatu karena aku adalah seorang prajurit
tentara. Lantas aku memberanikan diri untuk mendekati
Lorong tersebut.
Namun sesuatu itu masuk lagi ke dalam kegelapan.
Aku berpikir untuk menyumput. Kupilihlah cerobong asap
kapal untuk menutupiku.
Dan benar saja, sesuatu itu kembali muncul setelah aku
bersembunyi. Seseorang dengan perawakan yang tinggi
lengkap dengan atribut ABRI muncul. Ternyata yang muncul
dari dalam kegelapan adalah si prajurit aneh tadi. Aku masih
penasaran, siapa dia sebenarnya. Kubiarkan dia naik ke dek
kapal dan masih dalam pantauanku.
Kecemasan
Aku mengetahuinya.
“Hah...hah...hah...., Panas kali dalam kapal ini,” keluh
prajurit itu
Suara yang dia hasilkan bukanlah suara layaknya
seorang pria yang gagah. Melainkan suara itu seperti suara
perempuan. Namun aku tidak langsung menangkapnya basah-
basah. Kuperhatikan lagi tubuhnya dari atas sampai bawah.
Ketika sorot mataku sampai di daerah dada, aku heran.
Apakah ada pria yang memiliki payudara layaknya wanita?
Setelah sampai di daerah pinggul, aku semakin yakin bahwa
prajurit itu adalah seorang wanita.
Lalu aku keluar dari persembunyianku dan
menangkapnya dari belakang. Ku bawa dia ke belakang
cerobong asap kapal untuk diintrogasi. Saat ku bawa secara
paksa, dia memberikan perlawanan yang cukup kuat. Namun
dia tidak berteriak. Kalau dia berteriak maka sama saja dia
dengan bunuh diri bukan?
“Ampun bang, ampun! Maaf bang,” ucapnya dengan
suara wanita yang ia ubah menjadi sedikit berat agar
menyerupai suara pria.
“Heh siapa kau ini? kau bukanlah prajurit ABRI,
semua prajurit disini tidak ada yang aneh sepertimu! Tidak
usah menggunakan kumis itu pun aku tau kau wanita! Ku bawa
kau ke prajurit lain, biar habis kau dihajar mereka,” bentakku
dengan nada yang cukup keras.
“Jangan bang, ampun! Saya Cuma ingin ikut berjuang
membela Papua. Saya tak rela tanah saya diduduki para
kompeni bajingan itu. Tolong saya bang, saya janji tidak akan
menyusahkan abang. Apakah abang tega menyiksa seorang
wanita?” bujuk wanita itu.
“Ah yasudah, kuizinkan kau ikut. Tapi ingat! Aku tidak
bertanggung jawab atas keselamatanmu.”
“Siap bang!” ucap wanita itu dengan gagah.
Wanita itu pun lalu memulai sandiwaranya kembali.
Dia berlagak sedang berjaga di atas kapal bak seorang prajurit
sungguhan. Akhirnya aku lega, cerita tentang Nyi Roro Kidul
itu tidak datang kepadaku. Namun aku juga lupa menanyai
siapa nama wanita itu.
Kucari wanita itu di atas dek kapal. Nihil, aku tidak
menemukannya. Padahal baru saja aku melepaskannya.
Bahkan aku juga melihat dia berdiri berlagak sedang berjaga
dekat Lorong gelap tadi. Kemana perginya dia. Bingung aku
dibuatnya.
Suprapto yang melihatku sedang kebingungan
akhirnya menegurku, “Apa yang kau cari, Thobi?”
Diam dan tidak bercerita mungkin adalah yang terbaik
saat itu. Sebab wanita itu juga sudah mengamanahkanku untuk
tidak memberi tahu keberadaannya diantara para prajurit yang
lain. Lagi pula aku tidak tega jika dia menjadi bahan keroyokan
prajurit yang lain. Awaknya yang kecil tidak mungkin untuk
melawan para manusia bertubuh batu itu.
Kecemasan
“Ah tidak, aku hanya cemas terjadi sesuatu yang buruk
kepada rombongan gelap kita kali ini,” elakku.
“Cemas? Mengapa kawan? Mari sini duduk dan
bukalah mulutmu untuk memulai cerita,” ucap Suprapto. Sorot
matanya mengarah ke ubin dek kapal serta dagunya diangkat
seolah mengajakku untuk duduk dengannya disana.
Sial, aku harus berbohong kepadanya. Jika tidak,
nyawa wanita itulah yang menjadi taruhannya. Aku pun
memilih untuk berbohong untuk kebaikan bersama. Toh aku
jarang juga berbohong, jadi tak apalah kalau sesekali aku
berbohong.
“Kecemasanku tertuju pada para kompeni yang telah
mengetahui kita akan datang menyerang. Firasatku
mengatakan di Laut Arafuru akan menjadi terang. Serta
beberapa dari kita semua menjadi korban dalam peristiwa kali
ini,” ucapku membohongi Suprapto.
“Tenang saja, kita berada di bawah pimpinan Pak Yos
Sudarso. Beliau adalah orang yang ahli dalam urusan seperti
ini. aku yakin tidak ada sesuatu pun yang menjadi penghambat
operasi ini,” hibur Suprapto kepadaku.
Aku hanya mengangguk-angguk saja karena aku tidak
ingin ada kebohongan selanjutnya. Namun anehnya, apa yang
aku sampaikan kepada Suprapto itu menghantui isi kepala dan
hatiku. Kini aku benar-benar merasa cemas akan hal itu.
11
Perkenalan
Untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Suprapto, aku
berinisiatif untuk pergi ke toilet. Sepertinya aku handal untuk
menjadi seorang aktor. Buktinya Suprapto sedari tadi
mempercayaiku, padahal aku berbohong. Termasuk ke toilet
pun hanya merupakan alibiku. Tapi aku benar-benar pergi ke
toilet.
Entah mengapa saat melewati Lorong-lorong kapal,
kandung kemihku terasa penuh. Sudah dua kali aku
mewujudkan apa yang sebelumnya aku katakann.
Sial, terdengar suara air yang sedang diguyurkan ke
dalam lubang kloset. Aku pun menunggu di depan pintu toilet
sambal melipat kakiku karena sudah tak tahan untuk buang air.
Sekitar satu menit aku menunggu disana, akhirnya
seseorang itu keluar juga. Namun kaget aku dibuatnya. Orang
itu adalah wanita misterius itu. Rasanya antara senang dan juga
marah aku kepadanya. Maka kuminta dia untuk menunggu
sampai aku selesai buang air kecil dan keluar dari toilet.
Ternyata wanita ini adalah wanita yang bertanggung
jawab rupanya. Setelah selesai dari toilet, aku masih
menjumpainya di depan pintu toilet. Dari situ aku mulai
bertanya mengenai dirinnya bukan dengan nada seorang
Perkenalan
prajurit tentara, melainkan dengan nada lembut seorang suami
kepada istrinya.
“Eh maaf sebelumnya, boleh aku mengenal siapa
namamu?” kataku.
“Bisa baca tidak kau ini?” dengan nada membentak.
“Memang aneh ya kau ini, tadi saat kau terdesak, kau
bicara dengan baik-baik. Sekarang ketika kau sedang aman,
kau malah bersikap seperti ini kepadaku. Mau selamat tidak
kau ini?” balasku.
“Baiklah. Leonarda namaku” sambal menjulurkan
tangannya mengajakku untuk berjabat tangan.
“Letnan Dua Thobias” kataku.
Walau hanya berbincang-bincang beberapa menit saja,
namun itu sudah cukup untuk mengenalnya. Leonarda juga
merupakan orang asli Papua. Dia seorang wanita pemberani
yang nekat. Ternyata tujuannya ikut dengan rombongan
operasi ini yaitu untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah
kelahirannya dari jajahan kompeni.
Dilihat – lihat wajahnya ternyata lumayan manis juga.
Kutatap saja terus kedua bola matanya, sambal
menanggapi apa yang dia katakan kepadaku. Tak pernah aku
berbicara dengan wanita sedekat ini. Selama empat tahun
Pendidikanku di AKABRI, aku belum pernah mengalami hal
seperti ini disana.
Kita menjadi sedikit akrab ketika dia bilang, “Panggil
saja aku Leo”
“Sebenarnya aku bingung, kenapa Pak Yos Sudarso
mengadakan operasi berbahaya seperti ini? Bukankah kita
bergerak tanpa adanya perintah?” tanya Leo kepadaku
penasaran.
“Paman Yos juga merasakan apa yang kau rasakan.
Walaupun dia bukan orang Papua, namun dia tetap
memperjuangkan kemerdekaan Papua. Aku salut terhadap
semangat jiwa nasionalisme nya sangat tinggi,” jelasku.
“Tadi aku lihat di pelabuhan masih banyak prajurit
yang tidak ikut. Kau sendiri mengapa tidak menjadi bagian dari
prajurit yang tidak ikut?” tanyanya lagi.
“Aku juga sama sepertimu, aku juga orang Papua asli.
Aku ingin pulang ke rumah karena aku juga sudah lulus dari
AKABRI. Paman Yos merupakan kerabat ibuku. Aku
dititipkan ibuku kepadanya. Kebetulan ada operasi ini, sambil
menyelam minum air. Aku bisa pulang dan sekalian
memperjuangkan tanah kelahiranku,” ucapku.
Leo hanya tersenyum mendengar penjelasanku tadi.
Setelah kutanya, ternyata sejak kecil Leo memiliki cita-cita
untuk menjadi prajurit ABRI wanita. Dia terinspirasi dari
ayahnya yang merupakan seorang tentara.
Ayahnya dulu mendaftar sebagai prajurit tamtama.
Namun karena kegigihannya, dia bisa menjadi perwira tinggi
dua tahun yang lalu. Sekarang ayahnya sudah wafat karena
serangan jantung.
Perkenalan
Rupanya Leo merupakan wanita yang gagal sebanyak
tiga kali dalam mendaftar tentara. Padahal dia sudah
mempersiapkannya secara matang. Mungkin Tuhan
berkehendak lain. keikutsertaannya dalam operasi kali ini pun
salah satunya didasari oleh kegagalannya dulu untuk mengabdi
negara. Pada kesempatan kali ini lah dia bisa menjadi prajurit
tentara, walaupun abal-abal.
Aku bingung mengapa kabar tentang adanya operasi
ini bisa sampai ke telinga Leo. Maka kutanyalah Leo mengenai
hal tersebut.
“Ngomong-ngomong bagaimana bisa kau tahu tentang
operasi ini? padahal operasi ini sangatlah rahasia. Bahkan
pemerintah pun tidak tahu menahu soal operasi ini,” tanyaku.
“Itu tidak penting, tidak usah dibahas,” jawabnya
singkat.
Entah apa yang ku ucapkan telah menyinggungnya atau
tidak. Seketika dia pun pergi. Jika dipikir ulang, kata-kataku
sama sekali tidak berpemicu untuk membuat orang
tersinggung. Apapun itu, aku menjadi merasa bersalah
kepadanya.
Belum sempat mengeluarkan satu kata pun, dia telah
berlari pergi kearah Lorong gelap lainnya. Jika aku
mengejarnya, maka bisa saja terjadi kebisingan dan akhirnya
penyamaran Leo terkuak oleh prajurit yang lain.
Aku pun memutuskan untuk tidak mengejarnya. Akan
lebih baik jika aku kembali ke dek untuk berjaga.
Ah, aku bertemu Suprapto lagi. Namun untung
sekarang dia sudah lupa dengan pembahasan yang tadi.
Tambah parah, aku jadi kembali mengingat apa yang aku
khawatirkan sejak keberangkatan dari pelabuhan tadi.
12
Laut Arafuru
Keadaan langit terlihat mendung. Hal itu membuat
kekhawatiranku menjadi-jadi. Terlihat beberapa kali terlihat
kilat yang menyambar udara dan disusul dengan suara
gemuruh kilat yang membuatku kaget. Dalam satu menit saja
langit sudah menjadi terang dalam tiga kali. Kilatan itu cukup
untuk membuat sebagian dari Laut Arafuru menjadi terang
layaknya ada lampu petromak raksasa yang menyala disitu.
Aku akhirnya memilih untuk tidak memperdulikan
kilat dan suara-suaranya yang cukup menganggu. Aku hanya
berdiri melamun dengan senjata berada di tanganku seakan-
akan sudah siap bila ada sesuatu yang buruk terjadi.
Karena rasa kantukku yang hebat, secara tak sengaja
aku pun berada dalam posisi duduk sambil menyenderkan
badanku ke dinding. Kali ini aku benar-benar merasa
mengantuk dan lelah. Namun mataku terus berusaha untuk
tetap terbuka, walaupun sesekali mataku tertutup dan terbuka.
Ini karena tidurku yang tidak nyenyak tadi membuatku
kelelahan seperti ini. Beruntung waktu berjagaku tinggal
tersisa sepuluh menit lagi.
***
Formasi kapal masih sama seperti saat keberangkatan
tadi, dengan dipimpin oleh KRI Macan Tutul kami masih terus
menuju ke Papua. Pada pengelihatanku, suasana malam yang
gelap di Laut Arafuru tiba-tiba menjadi terang kembali.
Namun saat ku perhatikan, tidak ada kilat yang menyambar
dan juga tidak terdengar suara khas gemuruh.
Rasa kantukku seketika kalah telak dengan suasana
yang awalnya hanya mendung, kini menjadi ketegangan.
Rupayanya pasukan kompeni sudah mengetahui operasi ini.
Berarti sejak sebelum keberangkatan firasat buruk ku
ini memang benar datangnya dari Tuhan. Rasa kekhawatiran
itu berubah menjadi kenyataan yang sangat mengerikan.
Walaupun aku seorang tentara yang memang sudah
seharusnya berada dalam kondisi seperti ini, tetap saja tentara
pun manusia yang punya perasaan.
Pada 15 Januari 1962, laut yang tadinya gelap menjadi
terang karena flare20 yang ditembakkan oleh konpeni. Benar
saja operasi ini ketahuan.
Paman Yos menyerukkan untuk tetap semangat
melawan dan menerobos serangan dari kompeni. Maka semua
KRI terus tetap maju tanpa rasa takut.
Sejauh mata memandang hanya terlihat kapal kecil
yang sebenarnya adalah kapal raksasa kompeni. Senjata yang
kami pegang tidak berguna untuk melawan para kompeni
20 cerawat