The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sastra Lisan _ Kearifan Lokal di Era Global dan Digital

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E-Library IKIP Saraswati, 2024-01-22 21:56:55

Sastra Lisan Kearifan Lokal di Era Global dan Digital

Sastra Lisan _ Kearifan Lokal di Era Global dan Digital

SASTRA LISAN Kearifan Lokal di Era Global dan Digital


SASTRA LISAN KEARIFAN LOKAL DI ERA GLOBAL DAN DIGITAL I NYOMAN SUAKA CAKRA PRESS 2018


ii SASTRA LISAN Kearifan Lokal di Era Global dan Digital Penulis I Nyoman Suaka Pracetak Slamat Trisila Penerbit CAKRA PRESS Jalan Diponegoro No. 256 Denpasar, Bali 80114 Ponsel: 081239937772 Email: [email protected] Cetakan I : 2018 ISBN 978-602-9320-75-6


iii KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur dipanjatkan ke hadapan Tuhan Yang Mahakuasa karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya, buku ini bisa diwujudkan. Buku ini diberi judul, Sastra Lisan : Kearifan Lokal di Era Global dan Digital. Sastra lisan sebagai karya sastra klasik, yang dulu dinikmati melalui tradisi kelisanan, di era globalisasi ini melalui teknologi digital. Sastra lisan seperti mitos, legenda, fabel dan dongeng lainnya merupakan khazanah kebudayaan bangsa, yang diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya tak benda (Intangiable Cultural Heritage). Dalam konvensi Unesco, 16 Oktober 2003, tradisi lisan yang merupakan bagian dari Intangiable Heritage Cultural termasuk warisan budaya yang diutamakan untuk dipertahankan dan dijaga. Sastra lisan sebagai karya budaya kreatif bukan sekadar mitos, dongeng, legenda, tetapi dalam ranah ini mengandung sistem nilai, sosial, etos kerja, pengetahuan, tradisi, sejarah lokal, dan termasuk seni. Kandungan nilai-nilai budaya ini hampir tergusur di tengah-tengah masyarakat karena tradisi mendongeng diambang kepunahan. Generasi muda juga mulai kurang tertarik dengan hal-hal yang bernuansa tradisi, dikalahkan dengan teknologi komunikasi yang serba instan dan digital sebagai ciri era global. Kekhawatiran punahnya tradisi, dan rendahnya minat generasi muda terhadap sastra lisan mendorong penulis untuk menyusun buku ini. Sastra lisan yang tersebar di berbagai daerah sebagai kearifan lokal perlu digali kembali, disesuaikan dengan konteks kekinian. Maka dari itu tidak berlebihan kalau bermacam dongeng, legenda dan mitos menjadi insprirasi bagi pelaku industri kreatif untuk berinovasi dalam kemasan budaya pop. Tidak terhitung lagi jumlah karya-karya seni film, teater, kartun dan animasi yang mengangkat cerita-cerita rakyat, sebagai wahana pelestarian budaya bangsa.


iv Terwujudnya buku ini berkat dorongan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materiil. Terutama pihak pemberi dana, Kementerian Riset dan Teknologi, Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) yang telah mendanai penerbitan buku ini melalui hibah penelitian multi tahun (2015-2017) dalam program hibah produk terapan. Maka dari itu pada kesempatan yang baik ini, izinkan penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kemenristek Dikti. 2. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah VIII Denpasar 3. Ketua Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Tabanan 4. Rektor IKIP Saraswati 5. Tim Monev Eksternal dan Internal Hibah Penelitian 6. Ketua Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat IKIP Saraswati 7. Teman-teman sejawat, dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, staf administrasi, dan para mahasiswa IKIP Saraswati. Sebagian besar isi buku ini merupakan kompilasi dari beberapa makalah yang penulis sajikan pada seminar baik tingkat nasional maupun internasional, seperti di Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Malang, Universitas Hasanudin Makasar, Universitas Udayana Denpasar, Unnversitas Dwijendra, dan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Kesempatan tersebut merupakan tuntutan dari hibah penelitian yang mewajibkan penulis menghasilkan produk luaran berupa publikasi ilmiah dalam seminar dan prosiding. Setelah dipresentasikan, penulis banyak mendapat masukan dan saran-saran dari peserta seminar yang kemudian direvisi sehingga lahir buku ini. Penulis menyadari buku ini banyak cacat celanya. Hal ini semata-mata karena keterbatasan kemampuan yang ada pada


v diri penulis. Saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan buku ini di masa yang akan datang. Semoga buku ini dapat diterima oleh pembaca sebagai wujud kepedulian kita pada kesusastraan Indonesia klasik khususnya dan kebudayaan Indonesia pada umumnya. Tabanan, Desember 2018 Penulis


vi DAFTAR ISI Kata Pengantar ...................................................................................... Daftar Isi ................................................................................................... Glosarium ................................................................................................ BAGIAN I PENDAHULUAN ............................................................. Sastra Lisan dan Tradisi Lisan.................................................... Kearifan Lokal ........................................................................................ Global dan Digital ................................................................................. Perlindungan Anak .............................................................................. BAGIAN II PENGEMBANGAN SASTRA LISAN ........................ Tradisi Oral ke Audiovisual ......................................................... Pergeseran Tradisi ............................................................................... Media Alternatif .................................................................................... Tayagan Televisi .................................................................................... Dilema Cerita Sang Kancil ................................................................. Legenda Lutung Kasarung ................................................................ Film Boneka Si Unyil ........................................................................... Sastra Lisan Era Globalisasi ......................................................... Teknologi Informasi ............................................................................ Pengembangan Sastra Lisan ............................................................ Model Bermain Peran ......................................................................... Model Storey Teling dan Storey Reading ..................................... BAGIAN III PELESTARIAN SASTRA LISAN .............................. Dekonstruksi Sastra Lisan Model Pasraman ..................... Sastra Tutur ............................................................................................ Dekonstruksi .......................................................................................... Pasraman Desa Pakraman ................................................................ iii vi viii 1 2 5 10 16 19 20 20 25 29 31 35 37 40 40 41 43 47 55 56 56 58 60


vii Sastra lisan dan Pendidikan Multikultural ......................... Multikulturalisme ................................................................................. Gagasan Multikultural ........................................................................ Sastra Lisan Daerah ............................................................................ Sastra Indonesia Modern .................................................................. BAGIAN IV SASTRA LISAN DAN RITUAL ................................. Tradisi Ritual Nyepi di Sawah .................................................... Hari Raya Nyepi ..................................................................................... Tinjauan Pustaka .................................................................................. Mitos Dewi Seri di Jawa dan Bali ................................................... Penanda, Petanda, dan Penandaan ............................................... Aktualisasi Nilai Budaya .................................................................... Tafsir Mitos Letusan Gunung Merapi ..................................... Tradisi Lisan di Lereng Gunung ..................................................... Konsep Kosmologi ............................................................................... Sistem Kepercayaan.............................................................................. Pengetahuan Lokal .............................................................................. BAGIAN 5 IMPLEMENTASI KAJIAN SASTRA LISAN............ Kajian Intrinsik dan Citra Perempuan dalam Cerita Rakyat Tuwung Kuning ................................................................... Ringkasan Cerita Tuwung Kuning ................................................ Pendekatan Struktural ....................................................................... Unsur Intrinsik ...................................................................................... Kritik Sastra Feminisme ................................................................... Daftar Pustaka ....................................................................................... Indeks ........................................................................................................ Tentang Penulis ..................................................................................... 65 66 69 72 77 85 86 86 88 91 93 97 99 99 101 103 106 109 110 110 112 115 135 143 147 150


viii GLOSARIUM Anonim : karya sastra yang tidak diketahui nama dan identitas penulisnya. Umumnya dalam karya sastra lama Alur (plot) : jalan cerita dalam karya prosa, hubungan peristiwa dalam suatu cerita yang didasarkan atas sebab akibat. Citra : pencitraan, mengorbankan substansi dan makna. Budaya massa: kebudayaan yang diciptakan untuk massa yang luas, sehingga cenderung dilihat sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera massal dan rendah Budaya populer: teks-teks publik yang umum dan tersebar luas. Makna dan praktik-praktik yang dihasilkan oleh khalayak populer. Dekonstruksi : model analisis dengan cara membongkar oposisi biner dalam rangka memberi kedudukan yang seimbang antara pusat nonpusat. Digital : kata, gambar dan grafis yang mendeskripsikan dalam bentuk numerik melalui piranti komputer. Dongeng : merupakan bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan dan oleh masyarakat dianggap suatu hal yang tidak benar-benar terjadi Elite : kelompok penentu, seperti elite politik, elite brokrasi, dan elite ekonomi. Ekspresi : signifikasi pikiran dan perasaan Estetika : ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk menilai masalah-masalah yang berkaitan dengan keindahan. Fabel : cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Bersifat fiksi atau khayalan belaka.


ix Fakta : kenyataan yang sesungguhnya (objektif). Feminisme : perjuangan untuk mewujudkan hak-hak kaum perempuan agar sejajar dengan laki-laki. Fiksi : cerita yang seolah-olah dibuat, sebagai cerita yang artifisial seperti cerpen, novel dan drama. Folklor : merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai kebudayaan, meliputi legenda, dongeng, tahyul, nyayian rakyat, pepatah, kesenian rakyat dalam budaya tertentu. Gaya bahasa : unsur karya sastra sebagai akibat cara penyusunan bahasa yang menimbulkan aspek keindahan. Global : secara umum dan keseluruhan Globalisasi : meningkatkan hubungan-hubungan global multiarah di bidang ekonomi, sosial, kultural, politik di seluruh dunia. Hermeneutika: metode penafsiran teks, disejajarkan dengan metode interpretasi untuk mendapatkan pemahaman. Hiperealitas : melampui realitas, pengalaman yang dihasilkan melalui proses simulasi, sehingga kenyataan yang dilihat seolah-olah lebih nyata dari kenyataan yang sesungguhnya. Imajinasi : kemampuan untuk membayangkan segala sesuatu yang belum ada dan belum terjadi. Imajinasi didasarkan atas kenyataan. Kajian Budaya: model penelitian terhadap aspek-aspek kebudayaan dalam kerangka multidisplin, dengan memanfaatkan teori-teori postruturalisme. Karakteriasi (perwatakan) : cara melukiskan tokoh dalam cerita baik secara sosiologis, psikologis, fisiologis. Karya sastra : hasil kreativitas pengarang, baik lisan maupun tulisan. Kearifan lokal : cara orang bersikap dan bertindak dalam menanggapi perubahan dalam lingkungan fisik dan budaya. Kreativitas : membangkitkan energi yang stagnasi. Salah satu unsur terpenting proses kreatif pengarang dapat


x menciptakan karya. Legenda : cerita rakyat yang dianggap oleh masyarakat yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Multikulturalisme: keberagaman adat istiadat, agama, bahasa, ras sebagai ciri-ciri yang positif, bukan negatif. Majas : persamaan atau kiasan seperti perbandingan, pertautan, pertentangan dalam bahasa. Narasi : bentuk atau pola dan struktur yang menyusun konstruksi penceritaan. Novel : salah satu bentuk karya sasta yang dinilai paling tepat untuk mempresentasikan kehidupan manusia. Overkonsumsi: konsumsi secara berlebihan, yang melampui nilai guna benda. Penanda : citraan atau kesan dari sesuatu yang bersifat verbal atau visual. Petanda : konsep abstrak atau makna yang dihasilkan oleh tanda. Pluralisme : komunitas dengan keragaman budaya. Semiotika : ilmu tanda, perkembangan lebih lanjut dari strukturalisme. Simbol :tanda atau lambang untuk menunjuk sesuatu yang lain. Simulasi : proses penciptaan bentuk-bentuk nyata melalui model-model sehingga mampu dibuat yang supernatural, ilusi, fantasi, khayali menjadi tampak nyata. Strukturalisme: teori dengan konsep penting yaitu unsur-unsur antarhubungan, totalitas. Objek dianggap otonom lepas dari masyarakat di luarnya. Sorot balik : aspek gaya bercerita akibat perubahan urutan kronologis cerita. Teks : merupakan sinonim dari wacana. Teks digunakan dalam sastra, sedangkan wacana dalam linguistik dan masyarakat pada umumnya.


1 BAGIAN I PENDAHULUAN


2 SASTRA LISAN DAN TRADISI LISAN S astra lisan dalam kesusastraan Indonesia memiliki sebutan lain seperti sastra lama, sastra tradisional atau sastra rakyat. Sastra lama atau sastra tradisional seringkali dipertentangkan dengan sastra baru atau sastra modern. Sastra lisan merupakan karya sastra yang beredar di masyarakat yang diwariskan secara turun temurun dalam bentuk cerita lisan. Pembicaraan tentang sastra lisan tidak bisa dilepaskan dari tradisi lisan dan folklor. Akibat disampaikan secara lisan dan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya akan mempengaruhi munculnya teks cerita yang bervariasi di masyarakat. Banyak orang yang tertarik mengiventarisasi dan meneneliti sastra lisan untuk menggali keagungan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Sutarto (2011:1) menyebutkan, sejatinya sastra lisan dan beberapa bentuk tradisi lisan atau foklklor lisan memiliki sejarah yang panjang jauh lebih panjang dari sastra tulisnya. Produk-produk kebudayaan dan peradaban lisan ini bukan hanya telah mewarnai dunia batin dan kehidupan sosial serta spiritual pemiliknya, melainkan juga telah masuk ke dalam wilayah politik kelas tinggi. Pernyataan yang mengagetkan ini dibuktikan Sutarto dalam bukunya yang berjudul, Mulut Bersambut: Sastra Lisan dan Folklor Lisan sebagai Instrumen Politik pada Era Soekarno dan Soeharto (2011). Menurut Taum (dalam Andalas dan Sulistyorini, 2017 :12- 13), ada lima ciri utama sastra lisan yang berpengaruh terhadap proses penelitian. Ciri utama tersebut adalah: 1. Sastra lisan adalah seluruh wacana sastra yang bernilai sastra, memenuhi kulitas sebagai karya sastra yang memiliki kaidah-kaidah estetik dan puitik tersendiri dengan sifat dan sarana-sarana kesusastraan.


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 3 2. Sastra lisan hadir dalam berbagai bahasa daerah di Nusantara yang didukung dengan adat istiadat, tradisi dan kesenian. Perekaman, pencatatan, dan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia perlu dilakukan agar sastra daerah terdokumentasikan dan dapat dipahami oleh masyarakat luas. 3. Sastra lisan selalu hadir dalam versi dan varian yang berbeda-beda. Hal ini akibat cara pewarisannya dilakukan secara lisan. Namun bentuk dasar sastra lisan relatif tetap, terutama teks-teks sastra lisan yang memiliki ciri sakral. 4. Sastra lisan bertahan secara tradisional dan disebarkan dalam betuk standar/relatif tetap dalam waktu yang cukup lama, paling kurang dua generasi. Sastra lisan pun masih mempunyai fungsi atau kegunaan bersama di masyarakat. 5. Sastra lisan memiliki konvensi dan puitiknya sendiri. Dalam ilmu sastra modern, peranan konvesi dalam perwujudan sastra dan karya sastra sangat ditekankan. Tradisi lisan yang meliputi sastra lisan adalah berbagai ilmu pengetahuan dan adat kebiasaan yang secara turun temurun disampakan secara lisan. Ruang lingkupnya tidak hanya berisi cerita rakyat, fabel, mite, dan legenda, tetapi menyimpan sistem adat, aturan, nilai-nilai, pengobatan, dan permainan rakyat. Tradisi lisan juga diartikan sebagai segala wacana yang diucapkan meliputi yang lisan dan tulisan atau juga dikatakan sebagai sistem wacana yang bukan aksara (Pudentia, 1998:vii). Dananjaya (1998:54) menyatakan bahwa istilah tradisi lisan adalah sinonim dari folklor lisan, sedangkan Brunvand dalam Sudikan (2013:200-201) menyebutkan bentuk-bentuk folklor antara lain. 1. Tutur rakyat (folkspeech) seperti logat, julukan, jabatan tradisional dan gelar kebangsawanan. 2. Ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah, pemeo. 3. Pertanyaan tradisional seperti teka-teki.


I Nyoman Suaka 4 4. Puisi rakyat seperti pantun, gurindam, dan syair. 5. Cerita prosa rakyat sepeti mite, legenda dan dongeng. Folklor sebagian lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran antara unsur lisan dan unsur bukan lisan sepeti kepercayaan rakyat. Menurut generasi modern, kepercayaan rakyat ini sering disebut tahyul. Isinya berupa pernyataan yang berisfat lisan ditambah dengan gerak isyarat yang dianggap mempunyai makna gaib. Kepercayaan terhadap benda yang dianggap berkhasiat untuk melindungi atau membawa rejeki, seperti batu permata, keris atau barang-barang pusaka, juga termasuk folklor sebagian lisan. Kata foklor merupakan pengindonesiaan dari kata folklore, sebah kata majemuk yang berasal dari dua kata folk dan lore (Dananjaya, 1983:53). Folk memiliki arti yang sama dengan kolektif, sedangkan lore adalah tradisi folk. Menurut Dundes (1965:2) adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal yang memiliki persamaan itu itu adalah, warna kulit , mata pencaharian, bahasa , taraf pendidikan dan agama. Namun yang penting lagi adalah, mereka memiki satu tradisi, yaki kebudayaan yang mereka warisi terun temrurun, sedikitnya dua generasi yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Untuk membedakan dengan kebudayaan, menurut Dananjaya (1984:2) folklor memiliki beberapa ciri pengenal, yaitu : 1. Penyebaran dan pewarisannya bersifat lisan. 2. Bersifat tradisional. 3. Ada dalam versi-versi bahkan varian yang berbeda. 4. Bersifat anonim. 5. Biasanya memiliki rumus atau berpola. 6. Mempunyai kegunaan (fungsi) dalam kehhidupan bersama kolektifnya. 7. Bersifat pralogis. 8. Milik bersama (kolektif).


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 5 9. Bersifat polos dan lugu. Hasil-hasil kajian sastra lisan dan tradisi lisan oleh para pakar di negara-negara Barat dan juga Indonesia membuktikan bahwa tradisi lisan tersebut mengandung kearifan lokal, pengetahuan lokal dan local genius sesuai dengan latar tradisi tersebut. Nilai-nilai lokal itu justru bukan saja menempel pada hal-hal yang bersifat tradisional, tetapi masih relevan dibahas dalam era mileneal seperti saat sekarang. Dengan demikian, perlu disinggung batasan kearifan lokal, pengetahuan lokal dan local genius. Kearifan Lokal Terdapat tiga istilah yang sering digunakan secara tumpang tindih yaitu kearifan lokal, pengetahuan lokal, dan kecerdasan setempat (local genius). Istilah pengetahuan tradisional, menurut Sudikan (2013:202-203) adalah segala sesuatu yang terkait dengan bentuk-bentuk tradisional, baik itu suatu kegiatan ataupun suatu hasil karya yang biasanya didasarkan pada suatu kebudayaan tertentu. Sardjono (2004:28-29) menyatakan, pengetahuan tradisional adalah pengetahuan yang dimiliki atau dikuasai dan digunakan oleh suatu komunitas, masyarakat atau suku bangsa tertentu yang bersifat turun temuru dan terus berkembang sesuai dengan perubahan lingkungan. Mundarjito (1986:40) menjelaskan secara implisit hakikat lokal genius yaitu: 1. Mampu bertahan terhadap budaya luar. 2. Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar. 3. Memiliki kemampuan mengintegrasi unsur-unsur budaya luar ke dalam budaya asli. 4. Mempunyai kemampuan mengendalikan. 5. Mampu memberikan arah dan perkembangan budaya. Sedyawati (1986:186-187) membedakan dua pengertian local genius, yaitu.


I Nyoman Suaka 6 1. Segala nilai, konsep, dan teknologi yang telah dimiliki suatu bangsa sebelum mendapat pengaruh asing. 2. Daya yang dimiliki satu bangsa untuk menyerap, menafsirkan, mengubah dan mencipta sepanjang terjadinya pengaruh asing. Sedangan kearifan lokal adalah sikap, pandangan dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya yang memberikan kepada komunitas itu daya tahan daya tumbuh di dalam wilayah dimana komunitas itu berada. Kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis politis, historis, dan situasional yang bersifat lokal (Saini dalam Permana, 2010:1). Kearifan lokal dimaknai kepandaian dan strategi-strategi pegelolaan alam semesta yang berwajah manusia dan menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala alam serta keteledoran manusia (Wahono, dkk. 2004:vii). Kearifan lokal juga diartikan sebagai pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam mejawab berbagai masalah dalam pemenuhan kehidupan mereka. Sistem pemenuhan kebutuhan mereka meliputi seluruh unsur kehidupan, agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa, dan komunikasi serta kesenian. Mereka mempunyai pemahaman, program, kegiatan, pelaksanaan terkait untuk mempertahankan, memperbaiki dan mengembangkan unsur kebutuhan dan cara pemenuhannya, dengan memperhatikan sumber daya manusia dan sumber daya alam sekitarnya (Depsos, 2006). Hadi (2006) menyatakan bahwa pada dasarnya dalam setiap komunitas masyarakat memiliki kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal terdapat pada setiap komunitas masyarakat tradisional sekalipun terdapat suatu proses menjadi pintar dan berpengatahuan. Hal itu terkait dengan adanya keinginan agar dapat mempertahankan dan melangsungkan kehidupan,


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 7 sehingga warga komunitas masyarakat akan secara spontan memikirkan cara-cara untuk melakukan atau menciptakan sesuatu. Dalam proses tersebut suatu penemuan yang sangat berharga dapat terjadi tanpa disengaja. Mereka menemukan bahwa suatu jenis tanaman tertentu dapat menghasilkan buah yang dapat digunakan dalam pengobatan tertentu, atau daun tertentu dapat menyebabkan sakit perut sedangkan daun lain mengobati demam, akar-akaran tertentu dapat menyembuhkan luka. Pengembangan suatu sistem pengetahuan dan teknologi yang asli tersebut itulah disebut kearifan lokal. Kearifan lokal dipandang sangat bernilai dan mempunyai manfaat tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Sistem tersebut dikembangkan karena adanya kebutuhan untuk menghayati, mempertahakan, melangsungkan hidup sesuai dengan situasi dan kondisi, kemampuan dan tata nilai yang dihayati di dalam masyarakat yang bersangkutan. Kearifan lokal selanjutnya menjadi bagian dari cara hidup yang mereka hadapi. Berkat kearifan lokal mereka dapat melangsungkan kehidupannya, bahkan dapat berkembang secara berkelajutan (Hadi, 2006). Menuut Idrus (2008), kearifan lokal dipandang lahir dan bekembang dari generasi ke generasi seolah-olah bertahan dan berkembang dengan sendirinya. Tidak ada ilmu dan teknologi yang mendasari lahirnya kearifan lokal, bahkan tidak ada pendidikan dan pelatihan untuk meneruskannya. Sejatinya manusia menciptakan budaya dan lingkungan fisik dan biologisnya. Kebiasaan-kebiasaan, praktik, dan tradisi diwariskan dari generasi ke generasi. Pada gilirannya kelompok atau masyarakat tersebut tidak menyadari dari mana asal warisan kebijaksanaan tersebut. Generasi berikutnya terkondisikan menerima kebenaran itu tentang nilai, pantangan, kehidupan, dan standar perilaku. Konsep kearifan lokal atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah lama berkembang sebagai hasil dari proses hubungan timbal balik antara masyara-


I Nyoman Suaka 8 kat dengan lingkungannya (Marzali dalam Sudikan, 2013:2016). Menurut Sutarto (2010), kearifan lokal yang terkandung dalam produk budaya, terkait dengan lima kegiatan kebudayaan yakni. 1. Sebagai bangsa yang religius, kearifan lokal terkait dengan sikap serta perilaku dalam berkomunikasi dengan sang pencipta, Tuhan Yang Mahaesa. 2. Terkait dengan diri sendiri, yakni bagaimana menata diri dan mengendalikan diri agar dapat menerima dan diterima oleh pribadi-pribadi lain di luar diri kita. 3. Bagaimana bergaul atau berkomunikasi dengan masyarakat luas karena kita menjadi bagian darinya. Dalam hal ini kearifan lokal terkait dengan rasa keadilan, tolerasi, dan empati yang bermuara pada bagaimana menyenangkan perasaan orang lain agar orang lain menerima kita sebagai bagian yang penting dan dibutuhkan. 4. Sikap dan perilaku yang terkait dengan anggota keluarga dan kerabat kita yang lain. Kearifan lokal yang terkait dengan etos belajar atau etos bekerja dan mengantar kita kita menjadi insan yang kreatif dan produktif. 5. Kearifan lokal yang terkait dengan lingkungan akan membuat hidup kita aman dan nyaman karena lingkungan yang kita jaga dan pelihara akan memberi manfaat positif kepada kehidupan kita. Lima kegiatan kebudayaan yang dipaparkan Sutarto di atas, dalam konteks kebudayaan Bali tercermin dalam ungkapan Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana meliputi tiga unsur (parahyangan, pawongan, pelemahan) yang merupakan landasan filosofis dalam membuat, menetapkan, memecahkan setiap persoalan yang muncul pada masyarakat Bali. Orientasi pemecahan masalah pada konsep tersebut mengacu pada hubungan vertikal dan horizontal, yakni memiliki fondasi nilai agama, ketuhanan (parahyangan), hubungan harmonis antara manusia secara sosiologis (pawongan), dan keseimbangan kosmologi yang terkait dengan lingkungan (palemahan). Konsep Tri Hita Karana tersebut diakui sebagai kearifan lokal Bali yang


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 9 kini telah diadopsi dalam setiap perencanaan dan pembangunan di daerah ini. Masyarakat daerah lain di Nusantara sejak lama dalam kehidupannya berpedoman pada kearifan lokal setempat. Berdasarkan uraian Faisal dalam Sudikan (2013) kearifan lokal dalam istilah setempat terdapat di berbagai masyarakat, seperti: 1. Masyarakat Papua menganut kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku) Gunung Esrberg sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai bagian dari hidup manusia. Dengan demikian, pemanfaatkan sumber daya alam dilakukan secara hatihati. 2. Masyarakat Serawai, Bengkulu memiliki ungkapan celako kumali. Maksudnya, kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan tersebut, yaitu tata nilai tabu dalam berladang. 3. Masyarakat Dayak Kenyah, Kalimantan Timur terdapat tradisi tana’ ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi miik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan dilindungi oleh aturan adat. 4. Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat mengembangkan kearifan lingkungan dalam penataan ruang pemukiman dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan menetapkan massa bera, dan mereka mengenal tabu sehingga penggunaan teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan. 5. Masyarakat Kasepuhan Pancer Kamung Dukuh Jawa Barat. Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi lingkungan kecuali atas izin sesepuh adat. 6. Masyarakat Badui mempunyai kearifan lingkungan yang mendasari mitigasi bencana dalam bentuk pikukuh (ketentuan adat pokok) seperti gunung tidak boleh dihancurkan, sumber air tidak boleh dirusak (gunung nteu


I Nyoman Suaka 10 meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi yang begitu kuat menyebabkan hal-hal yang menyangkut tradisi mulai ditinggalkan. Pada saat ilmu pengetahuan modern belum bisa mengatasi permasalahanpermasaahan kehidupan, maka orang mulai menyadari manfaat pengetahuan lokal. Kearifan-kearipan lokal dalam masyarakat seperti yang disinggung di atas dapat dijadikan bahan renungan. Nilai-nilai keagungan kearifan lokal kini mulai digali untuk disinergikan dalam kehidupan modern, berpikir global bertindak lokal. Era Global dan Digital Dalam dekade awal masuknya teknologi televisi di masyarakat Amerika, Marshall McLuhan meramalkan dunia akan menjadi “global village” (desa global), dimana globalisasi adalah penyatuan budaya lewat media massa. Pernyataan ini kemudian dikritik Manual Castells tiga dekade kemudian, bukannya satu kampung global, yang seragam melainkan masyarakat dalam jaringan global yang saling terhubung, the networking society. Castells mencontohkan televisi sebagai media massa, dimana sebuah pesan yang sama secara sekaligus dipancarkan dari pengirim yang terpusat kepada pemirsa yang terdiri dari jutaan pemirsa (Tumenggung, 2005:9) Secara sederhana Webster (1994) menyebutkan, globalisasi berarti proses menjadi global. Ramalan McLuhan dengan perkampungan global dan Castells dengan jaringan global di tahun 1960-an, kini semakin menunjukkan kebenaran dalam era informasi. Acara televisi, informasi ilmu pengetahuan, produkproduk makanan, kecantikan, pakaian, kesehatan, dan gaya hidup. Dengan demikian, dunia semakin terhubung, baik dalam politik, ekonomi, budaya, dan gaya hidup (life style). Teknoogi jaringan makin berkembang pesat, sehingga globalisasi juga berarti akses data berlangsung dengan cepat lewat pesan singkat (short messages service) dan mesin pencari informasi di internet


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 11 seperti yahoo, geoogle, dan you tube. Budaya televisi dan internet telah menggantikan budaya baca sebagai representasi penemuan Gutenberg akan mesin cetak. Dalam posisi seperti ini muncul istilah galaksi Gutenberg digantikan dengan galaksi McLuhan. Bahkan penelitian Casstells menyebutkan bahwa televisi telah menjadi “jantung kebudayaan”(Tumenggung, 2005:12). Salah satu pakar media yang pertama yang bisa melihat dengan jelas keberatan cultural dari media elektronik adalah Mc Luhan. Profesor eksentrik dari Universtas Toronto ini dengan cepat disambut sebagai selebriti dan guru budaya tandingan pada tahun 1960-an karena perspektif yang kontroversial tentang teknologi dan kehidupan modern. Dia yakin bahwa media cetak menjauhkan manusia dari dunia dan sesamanya, sementara media elektronik membuat kita lebih saling tergantung dan menciptakan kembali dunia dalam gambaran sebuah perkampungan global (Fidler, 2003:146). Pengaruh alat-alat komunikasi dari radio, mesin cetak, televisi, hingga internet dan telepon selular terus diperdebatkan terutama isi pesan dari media tersebut. Teori komunikasi (Laswell, 1948) menyebutkan pengaruh media langsung menembak sasaran. Teori model peluru ini dalam perkembagannya menghasilkan model komunikasi massa akibat pengaruh psikologis televisi. Penganut teori ini percaya bahwa media massa seperti televisi dapat langsung mempengaruhi kelakuan pemirsa. Contohnya, beberapa pemerhati media menyebutkan, adegan-adegan kekerasan di televisi dan adegan dalam VCD porno sebagai penyebab meningkatknya angka kejahatan dan juga sebagai biang keladi pemerkosaan. Pengaruh yang signifikan dari teknologi media adalah ditemukannya “digitalisasi” data suatu usaha mengintegrasikan teknologi komputer dengan teknologi informasi, peluncuran satelit komunikasi, penemuan kabel fiber-optik yang memungkinkan beberapa pesan sekaligus berjalan melahirkan satu kabel kecil yang sama. Perkembangan ini, menurut Kushendrawati (2011:130) menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam


I Nyoman Suaka 12 bidang teknologi komunikasi melalui media massa. Pada akhirnya perkembangan ini akan menyebabkan munculnya sistem teknologi digital. Penemuan teknologi digital dalam bidang komunikasi memungkinkan manusia menciptakan segala kemungkinan, mencitpakan realitas yang berlebihan (hiperrealitas) yang paling canggih. Teknologi digital dalam bidang komunikasi bisa dilihat sebagai bentuk dari media massa. Dalam perkembangan yang begitu canggih, bentuk media massa ini, menurut Baudrilard (dalam Kushendrawati, 2009:131) bisa memanipulasi dan mengendalikan pesan. Hal ini terlihat dalam tayangan televisi, internet dan video games. Ketiga entitas ini paling mampu menciptakan simulasi, merekayasa realitas, menciptakan hiperrealitas. Tuntutan logika kapitalisme global telah memaksa terutama televisi dan internet, menciptakan semacam obat bius yang bisa membuat massa menjadi pasif. Pemunculan nilai, makna, dan tanda dalam jumlah yang sangat besar dengan daya atraktif yang hebat, mampu menciptakan suatu tatanan masyarakat yang konsumtif. Realitas sosial direkyasa oleh sejumlah besar pesan dan tanda terus-menerus disampaikan oleh media massa. Dengan logika yang sama, media massa menjadi mesin yang “tidak boleh berkedip”. Media massa harus terus-menerus, membuat simulasi dan menciptakan hiperealitas. Baudrillard dalam bukunya, Simulacra and Simulations menyatakan dengan kalimat yang retoris, kita hidup dalam dunia dimana terlalu banyak informasi, namun teralu sedikit makna. Di era kapitalisme global sekarang ini, peran media massa memang sangat besar dalam menciptakan massa yang pasif, dimana tidak ada polarisasi baik buruk, tidak ada sirkulasi makna dalam massa. Dalam situasi seperti ini yang ada hanyalah kekosongan dan efek implosi. Massa menerima dan terus-menerus menerima informasi. Akibat yang bisa ditimbulkan oleh kedangkalan (banalitas) informasi pada diri konsumen yang pasif adalah implosi, yaitu suatu proses kehancuran atau ledakan ke dalam. Proses kini, menurut Baudrillard (dalam Koesharwati, 2009:136)


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 13 berlangsung secara perlahan dan mengikuti garis sejarah yang linier. Istilah linier di sini diartikan sebagai suatu proses yang berlangsung terus. Walaupun secara perlahan, tidak ada yang bisa menghentikan proses ini. Hal tersebut tentu sangat mengkhhawatirkan, terlebih lagi pada dunia anak-anak yang terus-menerus dibombardir film kartun dan film animasi. Anak-anak tidak bisa memilih dan memilah atas tontonan tersebut. Seperti dikatakan Baudrillard, anak-anak tidak akan berkedip menyaksikan animasi-aimasi dari produk kapitalisme global. Mereka menjadi konsumen yang pasif, berbeda halnya dengan tradisi mendongeng di masyarakat tradisional. Dalam mendongeng diperlukan penutur dan pendengar. Bisa saja si anak bertanya, bahkan protes kalau ada alur atau tokoh cerita yang tidak dikehendaki si anak. McLuhan mengatakan bahwa teknologi informasi adalah “perpanjangan” sistem syaraf manusia. Semua serba komputerisasi dan otomatisasi. Objek dapat diproduksi dalam jumlah yang tak terhingga dengan cara yang canggih dan hasilnya sangat mengagumkan. Berbagai produk itu, menurut Baudrillard (dalam Kushendrawati , 2011:89) suatu realitas tidak saja dapat diproduksi, tetapi disimulasikan bahkan suatu fantasi pun dapat di ”simulasi”. Dengan demikian maka sangat wajar, cerita anakanak yang penuh dengan fantasi dapat dengan mudah disimulasi menjadi film kartun atau animasi. Baudrillard menggunakan istilah simulasi untuk menerangkan berbagai hubungan produksi, konsumsi, dan komunikasi dalam masyarakat konsumen yang hidup dalam serba overproduksi, overkonsumsi, dan overkomunikasi lain melalui media massa, terutama televisi, supermarket, industri hiburan, dan fashion. Dunia secara meyeluruh boleh dikatakan dapat dikonsumsi melalui acara-acara televisi. Dengan demikian simulasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat kapitalis global atau masyarakat pascaindustri atau masyarakat konsumen (Kushendrawati, 2011:89-90). Melalui produksi simulasi, model Baudrillard ini dihasilkan


I Nyoman Suaka 14 objek-objek yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dapat dilakukan dekonstruksi dan rekonstruksi ruang, seperti film Superman, Spiderman, Batman, dan Ultraman. Film-film animasi untuk anak-anak, seperti Doraemon, Popeye, Mighty Mouse, Tom and Jerry, Sinchan, Candy-candy, Sailoor Moon, Dragon Ball dan lain-lain juga sebagai produk simulasi. Film-fim ini sangat populer tidak saja diminati anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Film-film impor tersebut melekat di hati anak-anak di Indonesia, karena produksinya yang luar biasa dengan teknik yang mengagumkan. Tentu juga karena overkonsumsi dan overkomunikasi. Ditonton oleh anak berulang-ulang dan jangkauan permirsanya sangat luas karena tidak saja di satu stasiun televisi, tetapi juga di layar stasiun televisi yang lain. Tayangan televisi untuk anak-anak tidak bisa dipisahkan dengan film kartun. Jenis film ini sangat populer di lingkungan mereka. Menurut Ron Solby dari Universitas Harvard Amerika Serikat bahwa ada empat macam kekerasan televisi terhadap perkembangan kepribadian anak: 1. Dampak agresor, dimana sifat jahat dari anak semakin meningkat. 2. Dampak korban, dimana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Film kartun Doraemon, impor dari Jepang (Sumber:https://www.google.com/search?q=doraemon&safe=strict&source= lnms&tbm=isch&sa)


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 15 3. Dampak pemerhati, dimana anak menjadi semakin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. 4. Dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak melihat atau melakukan kekerasan dalam mengenai setiap persoalan (Al-Khudri, tth:23) Memperhatikan dampak-dampak tersebut di atas, sungguh amat mengerikan dan membuat kita terperanjat. Akan tetapi, hampir semua remaja dan orang tua sendiri tidak sadar akan bahaya tayangan televisi tersebut. Orang tua harus memanfaatkan televisi sebagai media informasi pendidikan, sehingga harus konskuen dengan hanya memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menyaksikan acara yang mendukug pendidikan. Acara-acara hiburan melalui fim-film kartun tidak boleh berlebihan hanya bersifat selingan (refresing). Menghadapi anak-anak memang kadang membuat orang tua serba salah. Di satu sisi orang tua bertindak keras, tanpa memberikan alasan, malahan anak akan menyalahkan orang tua. Di sisi lain, orang tua bersikap lunak terhadap anak dengan memanjakan untuk menonton televisi, juga akan bertambah buruk. Sepatutnya orang tua mendampingi anak-anak menonton siaran televisi. Namun, yang sering terjadi orang tua berebutan remote control TV dengan anaknya untuk menonton tayangan favoritnya. Kewajiban orang tua untuk mendampingi anak saat menonton televisi sangat jarang dipraktikkan. Tanpa disadari orang tua memaksa anak untuk menonton tayangan TV yang menyajikan siaran khusus dewasa. Dalam kondisi ini, diperlukan pemahaman bersama dalam menyiapkan dan mengemas siaran TV yang berkualitas dan mendidik oleh lembaga penyiaran. Juga diperlukan pemahaman orang tua terkait acara anak-anak dan membantu anak dalam memilih program yang sesuai. Di sisi lain peran pemerintah dan akademisi untuk melakukan literasi media terkait tayangan televisi yang ramah anak. Ketika Bill Clinton menjadi Presiden Amerika Serikat, ia merasakan keprihatinan akan bahaya dari program televisi. Presiden Clinton selanjutnya membantu orang tua supaya


I Nyoman Suaka 16 anaknya tak bisa membuka chanel tertentu pada jam tertentu (Wibowo, 2007:35). Clinton memprogramkan V-CIP agar generasi muda di Amerika Serikat terhindar dari indikasi tayangan seks dan kekerasan dalam program televisi. Pemerintah setempat juga khawatir, dampak program TV terutama seks dan kekerasan akan merusak mental generasi muda. Dampak buruk tersebut kini juga merambah ke belahan dunia lain, termasuk Indonesia negara yang baru berkembang. Bahaya dan peranan media perlu diketahui agar media tidak semata-mata menjadi alat propaganda gaya hidup santai dan konsumtif. Perlindungan Anak Bagi stasiun televisi di Indonesia dan lembaga penyiaran lainnya dalam memproduksi dan menayangkan sebuah program wajib berpedoman pada Undang-undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Dalam pasal 36 ayat 3 disebutkan bahwa isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khususnya, yaitu anak-anak dan remaja dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai isi siaran. Dalam pedoman perilaku penyiaran (P3) juga telah diberikan batas bagi lembaga penyiaran terkait perlindungan kepada anak. Pada pasal 14 ayat 1 disebutkan lembaga penyiaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada anak dengan menyiarkan program siaran pada waktu yang tepat, sesuai dengan penggolongan program siaran. Pada ayat 2 disebutkan bahwa lembaga penyiaran wajib memperhatikan kepentingan anak-anak dalam setiap aspek produksi siaran. Dalam standar program siaran (SPS) lembaga penyiaran juga telah diberikan pedoman dasar terkait penerapan perlidungan anak dan remaja, seperti pada pasal 15 ayat 1 disebutkan bahwa program siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak dan atau remaja. Pada ayat 2 disebutkan bahwa program siaran yang berisi muatan asusila


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 17 dan atau informasi tentang dugaan tindakan pidana asusila dilarang menampilkan anak-anak dan atau remaja. Satu lagi yang penting pada ayat 3, yang menyebutkan bahwa program siaran yang menampilkan anak-anak atau temaja dalam pristiwa dan penegakan hukum wajib disamarkan wajah dan identitas. Ketentuan yang ada sudah sangat jelas, namun masih menjadi kendala bahwa, penerapannnya dipandang belum maksimal. Penerapan perlindungan anak hingga saat ini belum menjadi perhatian serius di lembaga penyiaran. Dalam upaya perlindungan terhadap anak-anak diperlukan tayangan yang mendidik, informatif, dan menghibur. Tontonan bagi anak haruslah menjadi tuntunan. Menurut Muliarta (2016:31), tanpa adanya perspektif perlindungan anak dari pengelola lembaga penyiaran sangat tidak mungkin menghasilkan siaran yang ramah anak. Lembaga penyiaran juga memiliki tugas membangun kesadaran perlindungan anak melalui program siarannya. Program siaran tersebut dalam bentuk berita ataupun tayangan yang berperspektif perlindungan anak. Namun, kesadaran kolektif perlindungan anak akan berhasil dilakukan oleh lembaga penyiaran jika pengelola lembaga penyiaran telah memiliki perspektif yang sama tentang perlindungan anak. Selain lembaga penyiaran, juga tak kalah penting peran orang tua untuk mendampingi anaknya saat menonton tayangan televisi. Jadi, orang tua harus memberikan pengertian pada anaknya tentang apa yang ada di televisi. Tayangan televisi belum tentu dipahami secara baik oleh anak-anak, terlebih adegan tersebut merupakan trik-trik kamera. Tayangan televisi saat ini cukup beragam, dan lembaga penyiaran telah memberikan kode dalam siaran tersebut. Kode tersebut berupa R dalam lingkaran yang berarti tayangan khusus remaja atau tanda BO dalam lingkaran yang berarti ketika anak menonton tayangan tersebut perlu bimbingan orang tua. Akan tetapi, dengan alasan kesibukan, orang tua justru membiarkan anak menonton siaran televisi yang tidak sesuai dengan klasifikasi. Anak bahkan mendapat keleluasaan waktu untuk menonton siaran televisi berjam-jam.


I Nyoman Suaka 18 Di tengah kesibukan bekerja, para orang tua lebih merasa aman dan tenang jika anak duduk dengan manis di depan televisi dibandingkan main di luar rumah. Hal itulah, seperti yang dikatakan Suny (2005:93) yang mendasari para orang tua untuk menjadikan televisi sebagai baby syster bagi anak-anak mereka. Akan tetapi dengan menjadikan televisi sebagai baby syster itu justru timbul masalah baru. Baby syster bernama televisi itu akan mengajarkan banyak hal negatif kepada anak-anak. Memang dengan aktivitas menonton televisi itu anak-anak akan terhindar dari mara bahaya di luar, tetapi pada saat yang sama anak justru sedang belajar menjadi orang yang berbahaya dari kekerasan yang ditampilkan. Berdasarkan pantauan penulis, hal yang cukup fatal selama ini bagi orang tua adalah menempatkan televisi di ruang tidur. Kondisi ini menyebabkan anak sering ikut menonton apa yang ditonton orang tua, padahal siaran tersebut khsusus untuk kalangan dewasa. Bahkan juga terdapat kecenderungan orang tua membiarkan atau justru menaruh televisi di kamar tidur anak. Maka dalam hal ini perlu adanya ketegasan dari orang tua untuk membatasi anak-anaknya menonton televisi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa menonton televisi yang sehat maksimal hanya dua jam dalam sehari. Para praktisi penyiaran dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sejak tahun 2006 telah mendorong adanya gerakan menonton TV secara sehat. Gerakan ini menyerukan kepada masyarakat untuk tidak menonton televisi selama satu hari. Gerakan ini juga sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat bahwa informasi dan hiburan tidak hanya dapat diperoleh melalui televisi. Informasi dan pendidikan masih bisa didapatkan melalui membaca di perpustakaan atau membaca koran dan majalah. Seruan untuk mendapatkan informasi melalui buku atau membaca di perpustakaan, tampaknya kurang mendapat perhatian. Kondisi ini terkait dengan minat baca anak dan masyarakat tergolong rendah. Mereka lebih senang menonton televisi dibandingkan membaca buku.


19 BAGIAN II PENGEMBANGAN SASTRA LISAN


20 TRADISI ORAL KE AUDIOVISUAL Pergeseran Tradisi Di era globalisasi sekarang ini, tradisi oral (lisan) terdesak oleh tradisi tulisan. Bahkan tradisi tulisan juga mengalami nasib serupa, terdesak oleh tradisi visual, audiovisual, dan digital. Akibat pergeseran tradisi itu, minat baca dan tulis masyarakat Indonesia tergolong rendah. Maka dari itu, topik pelestarian sastra lisan di era digital dan global ini perlu mendapat perhatian, disesuaikan dengan kondisi yang bersifat kekinian. Sweeny (1987) dalam buku berjudul, A Full Hearing diterbitkan University of California Press menyebutkan banyak hal tentang pergeseran dari tradisi lisan ke tradisi tulisan. Cerita tidak lagi diterima oleh anak- anak secara lisan, tetapi melalui tulisan. Ada sesuatu yang hilang dalam pergeseran tradisi ini. Selain hilangnya figur pencerita di depan mata dan telinga, hilang pula stilized tertentu yang tidak didapat dalam tradisi tulisan. Lain halnya juga bila hal ini terjadi pada tradisi audio dan audiovisual. Bukan hanya hilangnya banyak ciri dan gaya kelisanan, melainkan juga yang lebih terasa adalah munculnya goncangan budaya (cultural shock) karena tiada lagi fungsi sosial, seperti yang dikandung dalam tradisi kelisanan. Anak- anak yang membaca buku cerita dan melihat tayangan TV itu tidak lagi berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan sesama audience maupun dengan tukang cerita yang dihadapinya. Komunikasi lisan yang hanya dimungkinkan dalam tradisi lisan tidak lagi didapatkannya (Sugihastuti, 2002:94-95). Selanjutnya Sweeny (dalam Sugihastuti, 2002:94) mengatakan, dalam era kemajuan teknologi komunikasi ini, makin panjang peranan media itu dalam pergeseran tradisi kelisanan. Komunikasi searah yang terjadi, antara pencerita dan pendengar-


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 21 pemirsa tidak lagi terjadi kontak langsung. Cerita yang tertayang lewat media elektronik itu dapat disebut sebagai secondary orality. Bagi penikmat tradisi kelisanan, misalnya, terjadi kerinduan akan tradisi kelisanan itu. Namun sangat disayangkan, siswa setingkat SMP, SMA, dan mahasiswa kini tidak merasakan kerinduan tradisi oral itu. Hal ini terjadi karena mereka pada waktu anak-anak jarang mendengarkan cerita dari orang tua. Mereka saat ini berada dalam tradisi digital. Tukang cerita dalam tradisi kelisanan jarang dijumpai sekarang. Anak-anak lebih asyik menonton tayangan TV daripada mendengarkan cerita orang tua yang dinilai kurang variatif. Masalahnya lagi, mereka lebih memilih TV. Melalui TV mereka tidak lagi menganggap perlu tukang cerita. Menurut Sugihastuti (2002:96), terjadinya pergeseran tradisi kelisanan ke tradisi tulisan, audio, dan audiovisual menandai bahwa anakanak mulai terdesak ke situasi yang individualistik. Adakah kelebihan dan kekurangannya? Jawabannya adalah bahwa setiap tradisi mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kelebihan dan kelemahan tayangan TV itulah, yang pada tulisan ini, menarik dibicarakan. Sejak kemajuan teknik cetak berkembang pesat pada abad ke-15 yang lalu, hasil cipta manusia berupa tulisan kian maju dan kompleks. Demikian juga, tradisi kelisanan pada anak itu bergeser ke tradisi tulisan. Buku dicetak untuk dikonsumsinya, termasuk cerita atau bacaan anak (untuk selanjutnya disebut sastra anak). Tidak terbilang lagi bahwa sastra anak sudah tercetak dan beredar di pasaran untuk mereka, sekalipun sebagian orang berpendapat bahwa kuantitas dan kualitasnya masih kurang. Mungkin keadaan ini terjadi di Indonesia, tetapi di negera-negara maju, hal itu terjadi sebaliknya. Kekurangan itu di atasi dengan, antara lain, menerjemahkan sastra anak dari mancanegara. Kondisi di Indonesia juga seperti itu, banyak dongeng terjemahan yang beredar di pasaran melalui cerita komik dengan harga yang sangat terjangkau.


I Nyoman Suaka 22 Jumlah sastra anak belakangan ini mulai meramaikan dunia perbukuan, tetapi muncul persoalan lain bahwa minat baca anak Indonesia tergolong rendah. Rendahnya minat baca ini belum teratasi, sudah ditambah lagi semaraknya tayangan TV. Anak- anak lebih terpuruk lagi ke kondisi yang lebih parah. Sebagian besar anak Indonesia lebih akrab dengan tayangan TV daripada dengan sastra anak, apalagi dengan sastra lisan. Dengan demikian, layak bila disebut bahwa kondisi sastra lisan sangat memperihatinkan, terdesak oleh tayangan TV dan media komunikasi lainnya seperti internet dan media sosial lainnya . Chen (1994) menulis The Smart Parent Guide to Kids’TV, yang sudah diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 1996 dengan judul Anak- anak dan Televisi: Buku Panduan Orang Tua Mendampingi Anak-Anak Menonton TV. Buku menarik ini mengupas banyak hal tentang orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka menonton TV. Orang tua adalah guru. Bila sampai pada masalah mendidik anak-anak, orang tua harus mengesampingkan semua perbedaan kategoris antara guru, pendidik, orang tua, wali, dan pengasuh anak. Setiap orang dewasa, dengan siapa seorang anak cukup banyak melewatkan waktu bersama, adalah seorang pendidik bagi anak itu. Mereka bertanggung jawab atas si anak memanfaatkan sumber daya yang paling berharga, yaitu waktunya. Setiap saat orang tua mengajar anak-anak mereka, setiap hari, dan entah baik atau buruk, mereka lebih berpengaruh terhadap anak-anak mereka daripada orang lain, termasuk guru. Sebuah mitos yang aneh telah terbentuk di seputar televisi dan pengaruh-pengaruhnya terhadap anak-anak. Beberapa mitos yang berkembang sebagai berikut (disarikan dari buku Serbaserbi Sastra Anak (1996) oleh Sugihastuti). 1. TV adalah medium pasif. Anak menjadi boneka mati di atas sofa. Faktanya, acara-acara televisi pendidikan (TPI sebelum menjadi MNC TV) dapat secara aktif melibatkan anak, baik secara fisik maupun intelektual. Kegiatan itu dapat dan seharusnya berkelanjutan, bahkan setelah acaranya sendiri


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 23 usai. Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa stasiun TPI, yang mementingkan tayangan pendidikan, malahan bersiaran pada sepanjang pagi ketika anak- anak suntuk di sekolah. 2. TV menghambat pertumbuhan otak yang sehat. TV mengganggu gelombang otak anak-anak. Fakta menunjukkan bahwa pola-pola gelombang otak selama menonton TV sangat serupa dengan kegiatan otak selama kegiatan-kegiatan lain. Berdasarkan sejumlah penelitian terlihat bahwa para orang tua harus lebih tenang sekarang setelah mengetahui bahwa keresahan mengenai terganggunya kecerdasan otak ternyata tidak berdasar sama sekali. Sebaliknya, seharusnya kita justru mengabdikan gelombang otak pada masalah-masalah yang lebih penting, yaitu apa dan seberapa banyak yang ditonton oleh anakanak. Celakanya, sebagian besar waktu anak di depan layar kaca dihabiskannya hanya sekadar untuk menghibur diri. 3. TV memperpendek rentang perhatian anak-anak. Fakta menunjukkan bahwa acara-acara TV pendidikan bisa benarbenar meningkatkan perhatian dan keterampilan kognitif anak-anak. Kenyataan di Indonesia memperlihatkan bahwa program TV yang dilihat anak-anak itu tidak sesuai dengan kebutuhannya, celakanya malah sebaliknya, yang seharusnya dihindari dilihatnya. 4. Jika anak menonton TV, ia akan menjadi murid yang bodoh. Fakta menunjukkan bahwa itu tergantung pada apa dan seberapa banyak yang ditonton si anak. Pelajar yang menonton TV secara moderat, khususnya TV pendidikan, dapat menjadi pelajar unggulan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa apa yang pada umumnya sudah diperkirakan: tingkat pemirsa TV sangat tinggi (35 jam atau lebih perminggu) menunjukkan korelasi negatif dengan prestasi akademik. Ini masuk akal karena anak-anak menonton TV secara berlebih-lebihan. Mereka tidak akan mempunyai banyak waktu untuk mengerjakan hal lain.


I Nyoman Suaka 24 5. Jika anak menonton TV, ia tidak akan menjadi pembaca yang baik. TV dan buku adalah musuh bebuyutan. Fakta menunjukkan bahwa program-program anak-anak yang bermutu dapat benar-benar memotivasi anak- anak untuk membaca buku dan mencintai kegiatan mereka. Ada mitos yang mengherankan dan tersebar luas bahwa kegiatan menonton TV bertentangan dengan kegiatan membaca buku, dan bahwa anak- anak yang menyukai menonton TV tidak akan menjadi pembaca yang baik. Mitos ini terkait pada bias budaya lain yang lebih besar, yaitu suatu kesombongan intelektual, yang menunjukkan bahwa buku lebih tinggi daripada televisi. Berdasarkan kutipan di atas, muncul pertanyaan mitos atau fakta? Mitos-mitos anak menonton TV kini telah bergeser ke fakta. Anak-anak menonton TV secara berebihan sampai 3 atau 4 jam perhari. Jumlah ini jauh melebihi anjuran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang hanya 2 jam perhari. Menonton TV secara berlebihan menyebabkan anak malas belajar. Anak yang rutin menonton TV cenderung mengikuti pola hidup konsumtif dan berprilaku meniru tokoh favoritnya yang ada dalam tontonan. Belum lagi kebiasaan buruk saat menonton, anak sering mengonsumsi camilan. Camilan yang dikonsumsi cenderung camilan dari produk yang diiklankan di TV. Fakta buruk lainnya pada kesehatan mata anak. Hal ini diakibatkan jarak pandang menonton sering kali tidak sesuai dengan jarak pandang atau menonton secara sehat. Tayangan film kartun di Indonesia selama ini menjadi salah satu tayangan favorit bagi anak-anak. Bahkan tak jarang ada pendapat yang mengatakan kartun adalah tontonan bagi anak. Film kartun Tom and Jery selama ini identik dengan tontonan yang menghibur bagi anak-anak. Namun dalam beberapa adegan menampilkan aksi kekerasan di luar akal sehat. Dalam salah satu adegan, tokoh Jery yang dipukul berulangkali dan telah mati, kembali hidup. Begitu juga tokoh Tom yag terkena ledakan bom


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 25 bisa hidup kembali dalam waktu sekejap. Banyaknya adegan kekerasan dalam film Tom and Jery menyebabkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat melayangkan surat teguran tertulis kepada tiga televisi (Global TV, ANTV, dan RCTI). Dalam surat tertanggal 18 September 2014, KPI menilai tayangan film Tom and Jery mengandung unsur kekerasan. Tayangan tersebut juga dinilai melanggar perlindungan terhadap anak dan remaja (Muliarta, 2016,79). Media Alterntif Di sisi lain, kemajuan teknologi informasi membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan. Keunggulan yang ditawarkan bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga fasilitas multimedia yang dapat membuat pembelajaran lebih menarik, visual, dan interaktif. Dengan adanya perkembangan tersebut, maka proses pembelajaran tradisional konvensional yang terjadi dalam ruangan kelas pada era desentralisasi dan globalisasi ini pelan, namun pasti akan mengalami perubahan bentuk. Berbagai teknologi dan aplikasi tercipta dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Dalam konteks yang lebih luas, teknologi informasi merangkum semua aspek yang berhubungan dengan mesin komputer dan komunikasi serta teknik yang digunakan untuk menangkap, mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, mengantar dan mempersembahkan suatu bentuk informasi. Komputer yang mengendalikan semua bentuk ide dan informasi memainkan peranan yang sangat penting (Munir dalam Sa’ud, 2009:1983). Teknologi informasi dan komunikasi yang sangat memasyarakat adalah televisi. Hampir semua rumah tangga di Indonesia memiliki pesawat televisi. Jumlah stasiun televisi di tanah air terus meningkat, terutama stasiun televisi lokal. Menu siarannya sangat variatif dengan jam siaran dari pagi sampai larut malam bahkan banyak tv nasional yang bersiaran 24 jam


I Nyoman Suaka 26 penuh setiap hari. Kalau dicermati dengan seksama, menu-menu siaran tersebut sangat menarik untuk dijadikan sumber belajar. Akan tetapi, peluang tersebut jarang dimanfaatkan oleh para guru dan siswa padahal informasi yang ditayangkan di televisi dapat dijadikan bahan ajar, terutama dalam mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Permasalahan lain, seringkali televisi dinilai mengganggu aktivitas belajar para siswa. Dengan siaran yang menarik, para siswa akhirnya lupa akan tugas-tugas belajar karena lebih sering berada di depan televisi dibandingkan membaca buku dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya di rumah. Televisi membuat para siswa malas dan manja untuk belajar, apalagi menonton sinetron (sinema elektronika). Tayangan sinetron di televisi banyak mengambil latar percintaan di kalangan anak muda sebaya SMA. Penampilan para artis dan aktor yang cantik, tampan, gagah, kaya, pakai mobil mewah sangat digandrungi oleh anak-anak muda. Tayangan seperti ini dapat mempengaruhi sikap dan mental para siswa yang ingin hidup mewah tanpa bersusah payah seperti dalam sinetron. Walaupun demikian, di sisi lain sinetron seperti ini perlu diapresiasi oleh para guru, orang tua dan siswa untuk dijadikan bahan ajar dalam mendukug pembelajaran sastra Indonesia. Klapper dalam tulisannya mengenai The Social Effect of Man Communications, mengemukakan bahwa setiap manusia yang hidup di tengah-tengah masyarakat, lembaga-lembaga sosial adalah subjek berbagai pengaruh termasuk mass communications (pers, film, radio, televisi). Walaupun demikian, Klapper melaporkan hasil penelitiannya bahwa, media massa bukanlah agen f change dari pendapat dan sikap yang sudah ada pada auidence, terutama bila hal itu sudah berurat-akar. Oleh karena itu, Klapper menegaskan pendapatnya bahwa media massa tidak mempunyai begitu kekuatan untuk merubah dan membentuk pendapat dan sikap. Media massa pengaruhnya lebih bersifat memperkuat pendapat, padangan dan sikap yang sudah ada (Suhandang, 1973:105-107).


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 27 Menurut Jakob (1991:91), manusia makin dibebani oleh informasi yang diterimanya bertubi-tubi, baik disukai maupun tidak. Informasi datang terus-menerus tanpa sempat dipilih, apalagi diproses. Sebaiknya dia lebih sukar menyampaikan informasi kepada pihak lain atau orang ramai. Televisi menjadi pusat kehidupan keluarga dan informasi yang diterima hanya dapat dipilih sampai batas tertentu. Semua mata dan perhatian ditujukan ke arah TV dan penggunaan waktu ditentukan oleh acara TV. Birokrasi dapat mengatur acara TV, tetapi tidak berdaya terhadap ruahan pesan dari TV atau negara tetangga atau negara lain yang jauh. Daya khayal menjadi kurang berkembang, karena televisi memberi gambaran siap-suap. Pernyataan sedikit berbeda dari Klapper diungkapkan oleh Adhitama, penyiar senior TVRI, bahwa media massa umumnya termasuk media elektronik banyak mempengaruhi sikap dan tingkah laku masyarakat, lebih-lebih kalau jangkauan siaran itu demikan luas. Mutu kebudayaan dapat ditingkatkan atau sebaliknya dirusak olehnya (1983:303). Jameson pakar teori budaya populer menyebukan, televisi sebagai unsur penting dalam pembentukan budaya pascamodern. Era pascamodern ditandai, antara lain oleh membesarnya pengaruh teknologi terhadap dunia seni, termasuk sastra. Pada mulanya sastra hanya disampaikan secara oral, digeser oleh sastra media cetak. Kini sastra elektronik lewat televisi mulai meluas pengaruhnya dengan kehadiran antena parabola dan satelit komunikasi (Kompas Minggu, 30 Mei 1993). Dalam teori kritik aliran posmodernisme dikenal beberapa pendekatan yang dapat membantu anak didik menguasai dampak negatif tayangan TV yakni, reader oriented theory. Teori ini berangkat dari keyakinan bahwa sebuah karya fiksi tidak hanya dihidupkan oleh imajinasi dan penalaran pembaca. Sehubungan dengan hal tersebut, John Fiske (dalam Wardoyo) dalam bukunya, Television Culture menyarankan tiga tahap yang patut dilaksanakan dalam membaca teks yakni, dominant reading, appositional reading dan negotiated reading.


I Nyoman Suaka 28 Tahapan teori tersebut dapat dijadikan panduan untuk menonton tayangan sinetron adegan kekerasan dengan langkahlangkah sebagai berikut. Petama, anak-anak dapat dimita untuk menelaaah, mengapa tokoh utama dalam sinetron tersebut sampai tega melakukan tindakan kekerasan? Kedua, anak-anak dilatih untuk melawan film tersebut dengan mendiskusikan, betapa tidak sesuainya perilaku tokoh itu untuk diterapkan pada kehidupan nyata. Ketiga, kepada anak-anak ditanyakan, apakah mungkin kita berkompromi (negotiated) dengan perilaku tersebut? Televisi sebagai media pendidikan telah diakui secara luas oleh para pakar pendidikan karena televisi sebagai alat peraga dalam memperlancar proses pembelajaran. Natawijaya (1979:217) mengatakan, TV dapat digunakan sebagai sumber belajar dengan beberapa keuntungan: 1. TV merupakan alat yang dapat menarik perhatian anakanak. 2. Siaran TV umumnya sangat realistis terutama yang diambil dari kehidupan masyarakat dalam film. 3. Bersifat langsung dan banyak kejadian-kejadian mutakhir yang dapat disajikan. 4. TV dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Berangkat dari keuntungan-keuntungan tersebut dan tinjauan pusataka di atas, maka pembahasan dalam karya tulis ini akan difokuskan pada tayangan sinetron, sebab sinetron merupakan film televisi. Cerita sinetron tersebut merupakan karya sastra yang diaudiovisualkan yang sering mendapat tanggapan pro dan kontra di hati pemirsa. Pembelajaran sastra Indonesia kurang menarik karena bersifat kognitif. Di sisi lain, sinetron banyak mengambil latar cerita tentang kehidupan anakanak SMA/SMK sehingga menarik dijadikan bahan ajar utuk mendukung pembelajaran sastra Indonesia.


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 29 Tayangan Televisi Kekhawatiran para orang tua dan guru tentang dampak negatif tayangan sinetron menjadi perhatian para pemegang kebijakan di bidang pendidikan. Beberapa instansi pemerintah seperti Kanwil Depdikbud pernah mengeluarkan instruksi untuk menghindari dampak buruk tayangan televisi. Menyimak pemberitaan media masa baik pusat maupun daerah, sekitar tahun 1986 banyak instansi yang mengeluarkan instruksi jam belajar. Kanwil Depdikbud Sumatera Barat pernah menyerukan agar orang tua berani mematikan pesawat televisi antara pukul 19.30 sampai pukul 21.30 setiap malam. Pada jam-jam seperti itulah biasanya paket tayangan TV swasta amat menarik sehingga memikat perhatian anak dan pelajar (Suaka, 2004:83). Lain di Sumatera Barat, lain pula di Lampung. Gubernur Lampung waktu itu langsung menginstruksikan kepada bawahannya dan masyarakat luas tentang JBA (Jam Belajar Anak). Instruksi tersebut berisi anjuran agar para orang tua dengan disiplin dapat mengarahkan, membimbing, dan mengawasi putra-putrinya untuk menggunakan waktu belajar dari pukul 19.30 sampai pukul 21.30 setiap malam. Hal ini dimaksudkan untuk memacu budaya belajar agar menjadi kebiasaan yang baku. Seruan Gubernur Lampung tertanggal 15 Juli 1996 ini bertujuan supaya ancaman yang mengganggu konsentrasi siswa belajar dapat dihindari dengan mematikan pesawat TV. Bagaimanakah hasilnya? Apakah orang tua seketika mematikan pesawat TV nya. Hasilnya kurang memuaskan. Instruksi Gubernur Lampung yang digodok berdasarkan usulan Kanwil Depdikbud kurang disosialisasikan ditengah-tengah masyarakat, sehingga tak bisa dilaksanakan oleh para orang tua. Mereka tetap saja memutar pesawatnya pada saat anak-anak seharusnya belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, di Provinsi Jawa Timur sempat muncul pendapat pro dan kontra dengan aturan mematikan TV pada jam belajar anak. Akan tetapi, dengan niat yang baik dan tujuan yang mulia demi peningkatan kualitas


I Nyoman Suaka 30 sumber daya manusia, Pemda setempat dikabarkan terus maju pantang mundur. Di Bali, tidak terdengar adanya instruksi seperti itu. Namun, Kakanwil Depdikbud waktu itu, Berata Subawa sudah sering menghimbau agar para orang tua mengasuh anakanaknya saat menonton acara televisi. Mana yang layak mereka tonton dan mana yang tidak pantas. Memperhatikan gebrakan para pejabat diatas, tentu sangat tidak diinginkan oleh para pengelola stasiun televisi. Sebab, mereka ingin menjaring pemirsa sebanyak-banyaknya dan seluas luasnya dengan menghadirkan mata acara yang menarik. Dalam bentuk iklan layanan masyarakat, salah satu stasiun televisi sering menghimbau agar orang tua mendampingi anak anaknya saat menonton. Iklan layanan tersebut kurang lebih berbunyi: ... Dampingi Putra-putri anda saat menonton televisi. Berilah penjelasan sehubungan dengan acara yang disaksikannya. Maksud baik dan bijak pengelola TV tersebut, patutnya dihargai oleh para orang tua. Bukan dengan jalan menekan tombol supaya TV mati, hanya untuk memenuhi instruksi pejabat. Banyak juga orang tua yang enggan dan malas menjelaskan tayangan TV, padahal putranya bertanya sehubungan acara yang ditontonya. Antar anak dan orang tua justru sering ribut dalam menentukan dan memilih acara karena memiliki kesenangan yang berbeda. Orang mau mengalah. Wujud kekalahan itu, terpaksa digantikan dengan membeli pesawat TV baru sehingga sekarang, banyak rumah tangga yang memiliki TV lebih dari satu. Terkait dengan keterlibatan orang tua saat anak menonton acara televisi, harian Kompas belum lama ini mengadakan survei tentang masalah tersebut. Dari 900 orang tua yang disurvei, ternyata 37,8 persen yang membiarkan anak-anaknya menonton, 27,4 persen kadang-kadang membiarkan anaknya menonton, dan 34,8 persen orang tua mengatur anaknya menonton. Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa anak-anaknya suka menonton TV baik film khusus anak-anak maupun film untuk orang dewasa. Apa yang ditontonnya itu tidak mudah lenyap dari ingatannya. Mulai dari hal-hal yang lucu sampai yang bersifat sadisitis dan


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 31 brutal. Berdasarkan hasil survei tersebut, peran orang tua perlu ditingkatkan lagi untuk mencegah dampak buruk tayangan “kotak ajaib” itu tidak saja sekadar menjelaskan tayangan itu, tetapi juga mendiskusikan bersama putra-putrinya. Misalnya, adegan kekerasan di TV. Diskusi dapat dilakukan dengan, pertama, anakanak dapat diminta untuk memperhatikan, mengapa tokoh utama dalam film tersebut sampai melakukan tindakan kekerasan. Kedua anak-anak dilatih untuk mendiskusikan dan melawan karakter tokoh tersebut, betapa tidak sesuainya perilaku tokoh tersebut dengan kehidupan nyata. Ketiga, kepada anak-anak ditanyakan, apakah mungkin kita menyetujui perilaku jahat seperti itu. Media televisi diharapkan mampu memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada anak-anak. Fungsi tuntunan yang bersifat mendidik ini, tidak bisa dicerna oleh anak-anak sehingga perlu didampingi oleh orang tua. Dengan demikian, tayangan televisi yang banyak digembar-gemborkan berdampak buruk terhadap anak-anak, ternyata di sisi lain banyak manfaat positifnya. Paling tidak, anak-anak akan bertambah pengetahuan dan wawasannya, bersikap lebih kritis berdaya apresiasi, dan fantasi. Semua itu merupakan sesuatu yang mahal nilainya bagi anak-anak untuk bekal menapaki masa depannya. Dilema Cerita Sang Kancil Masih sekitar tayangan televisi dan cerita anak, muncul pertanyaan: “adakah hubungan revolusi mental dengan cerita sang Kancil?” Jawabannya ada, kalau mengingat kembali debat calon wakil presiden (Cawapres) Sabtu, 28 Juni 2014 yang disiarkan di televisi dengan tema debat “Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Iptek”. Dalam sesi bertanya dan menjawab oleh masing-masing Cawapres muncul pertanyaan dari Cawapres nomor urut satu Hatta Rajasa kepada Jusuf Kalla. Kurang lebih pertanyaanya begini, “dalam visi dan misi capres nomor urut dua sering menyebut revolusi mental. Apa maksud revolusi mental itu?” kata Hatta Rajasa sembari menambahkan bahwa kata


I Nyoman Suaka 32 revolusi itu terkesan memberontak atau pembrontakan. Menjawab pertanyaan tersebut, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa revolusi itu jangan diartikan membrontak, tetapi gerakan cepat untuk merubah sikap dan mental. Gerakan cepat ini diperlukan mengingat banyaknya kasus korupsi di era Reformasi. Menurut Cawapres nomor urut dua ini, revolusi mental sebagai gerakan cepat dapat dilakukan melalui program pengembangan sumber daya manusia, terutama bidang pendidikan di sekolah. “Harus dilakukan perubahan cepat pada sikap mental dan karakter siswa,” ujar Jusuf Kalla yang mencoba mengaitkan jawabannya dengan topik debat. Walaupun dalam penampilan yang kurang prima karena kondisinya kurang sehat ketika itu, Jusuf Kalla menambahkan, perubahan sikap dan karakter tersebut tidak perlu masuk ke dalam mata pelajaran khusus budi pekerti, tetapi masuk dalam pelajaran sejarah, matematika, bahasa, seni dan lainnya. Mantan Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini kemudian memberi contoh, nilai-nilai perjuangan bisa dimasukkan ke pelajaran sejarah dan bahasa. Nilai-nilai kejujuran bisa dimasukkan ke pelajaran matematika. “Jangan sampai membuat angka-angka rekayasa dalam mengerjakan soal matematika,” tegas Jusuf Kalla. Tidak cukup sampai di sana, Cawapres ini juga tidak setuju dengan cerita Sang Kancil diajarkan dalam materi bahasa. “Cerita Kancil dihilangkan,” ujar Jusuf Kalla tanpa menguraikan lebih lanjut, mungkin karena terbatasnya waktu debat. Apa yang dimaksudkan Cawapres itu, menurut penulis adalah cerita Kancil yang licik dan penipu serta pembohong. Semua siswa, guru dan masyarakat tahu bahwa cerita Kancil itu adalah sebuah dongeng yang sangat terkenal dalam sastra lisan lisan Indonesia. Mendengar kata kancil identik dengan karaketer yang suka menipu. Sebagai layaknya sebuah karya sastra, cerita Kancil memiliki keunikan dan keistimewaan. Memang di awal-awal kisah Sang Kancil, tokoh binatang ini sering berbuat jahat kepada manusia,


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 33 binatang dan tumbuh-tumbuhan. Si Kancil adalah musuh petani karena sering mencuri ketimum di sawah atau ladang. Walaupun petani sudah memasang penakut dalam bentuk boneka (orangorangan), tetapi dasar Sang Kancil yang sangat cerdik, selalu berhasil mencuri. Oleh karena sering mencuri di tempat yang sama, Si Kancil tahu bahwa penakut itu bukan manusia yang sebenarnya. Dengan demikian setiap malam ia leluasa menggasak ketimun dan buah yang lainnya. Dalam petualangan berikutnya, Sang Kancil menghadapi tantangan. Ia akan menyeberangi sungai yang amat lebar dan dalam. Tidak mungkin ia melewati sungai itu. Maka dengan kecerdikannya, ia memanggil buaya-buaya penghuni sungai itu. Kancil berjanji akan memberikan makanan yang lezat untuk para buaya yang bersedia membantunya. Beberapa menit kemudian buaya-buaya berjejer membentuk jembatan untuk menyeberangkan Si Kancil. Setelah itu, langkah demi langkah Sang Kancil melompat dari satu punggung buaya ke punggung buaya lainnya, sambil menghitung jumlah buaya agar sesuai dengan jumlah makanan yang disiapkan. Begitu hitungan terakhir dan tepat di tepi sungai, kaki kancil digigit oleh buaya. Dengan kelicikannya, kepada buaya ia mengatakan bahwa yang digigit itu adalah akar pohon bukan kakinya. Akhirnya si kancil lepas dari mulut buaya dan lari dengan tidak merasa berdosa. Belum puas memperolok-olok, Sang Kancil lagi mengadu kecerdikannya. Kali ini ia berlomba dengan siput di sebuah sungai. Merasa kemampuannya sudah di atas angin, ia menantang siput untuk lomba lari dari sungai menuju pantai. Dalam pikirannya, pasti akan menang karena siput tidak bisa lari. Si siput awalnya menolak perlombaan itu karena merasa diri makhluk yang lemah dibandingkan Kancil. Akan tetapi, karena terus ditantang si siput akhirnya bersedia. Sehari sebelum perlombaan si siput mengumpulkan teman-temannya agar dalam perlombaan besok pagi harus kompak dan bersatu. Sepanjang sungai sampai ke pantai para siput menempati posisi untuk mengetahui kecepatan Sang Kancil.


I Nyoman Suaka 34 Perlombaan lari dimulai, aba-aba start disepakati. Sambil lari, kancil bertanya, “Siput kau dimana?” saya di sini, kata Siput. Pertanyaan itu selalu diulang-ulang oleh kancil dan terus berlari. Setiap bertanya dengan pertanyaan yang sama, selalu siput menjawab sudah di depan dari poisisi kancil. Demikian seterusnya sampai si kancil tenaganya terkuras. Mendekati pantai ternyata siput sudah duluan di garis finish. Sang Kancil lemas tidak berdaya dikalahkan oleh siput yang lemah, namun bersatu dengan teman-temannya. Si siput aneh bin ajaib, tidak lari dalam perlombaan lari. Hanya mengatur strategi untuk mengalahkan kesombongan sang Kancil. Mengikuti alur dongeng tadi, makanya apa yang salah dari cerita Sang Kancil sehingga sampai tega Cawapres Jussuf Kalla ingin menghilangkan dari materi pelajaran bahasa dan sastra. Mungkin Cawapres nomor urut dua ini punya cerita Kancil versi lain. Kalau hanya memperhatikan sepenggal cerita mungkin pernyataan dalam debat itu dapat dimaklumi. Akan tetapi lihat konteks keseluruhan cerita. Di bagian akhir kancil sangat dipermalukan akibat ulah-ulah sebelumnya yang suka mencuri, licik, penipu, dan berbohong. Akibat perbuatannya itu, ia akhirnya dikalahkan oleh makhluk siput yang sebenarnya tidak punya kekuatan apa-apa dibandingkan kancil dan buaya. Inilah nilai karakter yang dapat diajarkan kepada siswa agar tidak suka menipu, sombong, dan licik. Di sini berlaku hukum karma. Sastra tidak mengajarkan secara normatif, tetapi sastra mampu memberi inspirasi. Dalam pembentukan karakter siswa, guru yang baik bukan mengajar, tetapi mampu memberi inspirasi kepada muridnya. Dalam tradisi sastra lisan di Nusantara, cerita kancil sebenarnya tidak hadir dalam bentuk dongeng saja. Tokoh kancil juga ada dalam nyanyian anak-anak sebagai permainan (dolanan) yakni belajar sambil bermain dan bernyanyi. Syairnya seperti di bawah ini,


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 35 Si Kancil anak nakal, suka mencuri mentimun, di ladangnya pak tani, tertangkap sudah pasti. Preteketek uwo, wo, wo, preteketek uwo, wo,wo. Preteketek uwo, wo, wo. Dalam dolanan ini si Kancil tertangkap, karena karma buruknya mencuri. Dengan demikian cerita si Kancil sebagai warisan leluhur ini layak untuk dilestarikan, jangan dihilangkan. Tradisi lisan Si Kancil baik berupa dongeng klasik maupun permainan tradisional di atas membuktikan bahwa akibat kesombongan, keangkuhan, keserakahan maka Si Kancil memerima akibatnya, tewas tak berdaya. Amanat yang disampaikan dalam kisah ini adalah anak-anak jangan meniru kelakuan sang Kancil yang mentalnya bobrok. Ternyata revolusi mental dalam kisah ini menarik dan menghibur tanpa perlu unjuk rasa dan demonstrasi. Anak-anak dapat mencontoh sang siput yang bergotongroyong, bekerja sama mengalahkan keangkuhan. Legenda Lutung Kasarung Memasuki dasawarsa ke-3 abad ke-20 karya sastra lisan khususnya cerita rakyat menemukan media tranformasi baru yang mutakhir. Ketika itu tahun 1926 lahir film Lutung Kasarung sebuah legenda asal Sunda Jawa Barat. Film ini diproduksi oleh perusahaan Java film Co pimpinan Heuveldrop, seorang berkebangsaan Belanda. Lutung Kasarung dapat dianggap sebagai film pertama yang diproduksi di Indonesia yang diperankan oleh aktor dan aktris pribumi. Alasan pemilihan cerita Lutung Kasarung untuk di filmkan karena diyakini sebagai cerita rakyat yang sangat populer di masyarakat Jawa Barat. Ketika divisualisasikan dalam gambar hidup, film ini sempat mengalami masalah. Pengambilan gambarnya menuai kritik dari para ulama dan tokoh–tokoh masyarakat Sunda. Para ulama


I Nyoman Suaka 36 keberatan mempertontonkan putri–putri Sunda bertelanjang separuh dada dalam busana adat tradisional ketika berakting. Menurut Mukhlis Paeni dalam Kongres International Folklore Asia 7-9 Juni 2013 di Yogyakarta, hampir saja pengambilan gambar Lutung Kasarung dihentikan. Akhirnya Bupati Bandung ketika itu, Wiranata Kusuma turun tangan. Bupati mendatangi satu persatu ulama dan tokoh masyarakat yang mengkritisi Lutung Kasarung. Bupati juga secara langsung menjadi sponsor film tersebut. Ia mengizinkan anak gadisnya dan mengerahkan putri–putri kerabatnya untuk bermain dalam film Lutung Kasarung. Belum cukup di situ saja, Bupati Bandung ini mengizinkan rumah dan aset-aset pribadinya sebagai lokasi shooting. “Andai sekarang masih ada pejabat seperti Wiranata Kusuma pastilah Industri film nasional kita maju seperti industri film di negeri lain,” ujar Paeni yang juga mantan anggota Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF). Film Lutung Kasarung (1926) sebenarnya adalah sebuah film bisu, karena teknologi perfilman kita dewasa itu belum secanggih film Hollywood. Akan tetapi semua percakapan tanpa Cerita Lutung Kasarung menyesuaikan zaman dari sastra lisan, tulisan (buku) dan ke film (Sumber https://atdikbudlondon.com/pelajar-indonesia/info-dan-layananatdikbud/peminjaman-inventaris-kebudayaan/katalog-buku-cerita-rakyatindonesia/buku-8-cover-cerita-rakyat-lutung-kasarung/


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 37 suara itu, subtansi, pesan, dan dialognya dapat di dengar bukan melalui indra pendengar penontonnya. Melalui perasaan dan hati nuraninya, semua ucapan dan percakapan tanpa suara itu itu adalah dialog abadi yang sudah terekam dalam kolektif memori masyarakat penontonnya (Paeni, 2013). Produser Heuveldrop tampaknya membiarkan para penonton berdialog sendiri melalui sastra rakyat yang dimiliki dalam ingatan tradisi lisannya. Sementara visualisasi gambar hidup yang dilihatnya secara faktual memberinya pembenaran terhadap cerita Lutung Kasarung sebagai sebuah prosa kehidupan. Lutung Kasarung dapat dianggap sebagai sebuah upaya awal mentransformasikan cerita rakyat melalui media visualisasi gambar. Upaya ini bukan tanpa hambatan, baik berupa subtansi visualisasi maupun teknis, karena ternyata Lutung Kasarung hanya bisa dinikmati oleh penonton Sunda, dan lutung kasarung pun tidak bisa ditayangkan di luar tanah Pasundan. Hambatan yang serius, karena bioskop bisu Lutung Kasarung membutuhkan Gambelan Sunda sebagai pengiring dan instrumen itu tidak bisa diperoleh di luar Jawa Barat. Dari segi bisnis tampaknya Lutung Kasarung tidak menghasilkan keuntungan karena untuk produksi selanjutnya sang produser terpaksa harus mencari dana tambahan. Film Boneka Si Unyil Era tahun 1980-an anak-anak Indonesia menyaksikan tayangan film boneka Si Unyil di layar TVRI setiap Minggu pagi. Kisah Si Unyil diciptakan oleh Pak Suyadi (alias Pak Raden, almarhum) alumnus seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) setelah mendapat inspirasi dari pertunjukkan wayang atau boneka kayu anak-anak di Prancis dinamai Guignol. Sampai saat ini Guignol masih digunakan sebagai hiburan anak-anak melalui pertunjukkan di Prancis, sedangan si Unyil di Indonesia, kini bergeser menjadi seorang narator dalam tayangan Laptop Si Unyil. Tayangan baru ini disiarkan salah satu televisi swasta, mirip seperti film dokumenter tentang kisah anak-anak di Indonesia.


I Nyoman Suaka 38 Walaupun tayangan program anak, beberapa episode kisah Si Unyil memiliki muatan ideologis dan politis tertentu. Ketika itu masa Orde Baru sedang berjaya, film boneka ini pun diproduksi oleh perusahaan film negara. Melalui Si Unyil, pemerintah turut menyosialisasikan program pemerintah seperti keluarga berencana, kesehatan, kerja bakti, siskamling, pendidikan dan lainlainnya. Waktu itu stasiun televisi di Indonesia masih terbatas jumlahnya. Tokoh-tokoh utama dalam Si Unyil sangat akrab dengan anak-anak, seperti Unyil, Pak Raden, Ucrit, Usro, dan Meilani (keturunan Tionghoa). Demikian juga tokoh Bu Bariah, si tukang gado-gado, Pak Ableh dan Pak Ogah si penjaga ronda, Pak Kades dan Pak Hansip yang mewakili pemerintahan desa. Karakter keragaman sosial dalam Si Unyil ini menunjukkan kisah tersebut ingin mengajarkan kepada anak-anak di era Orde Baru untuk menghargai perbedaan (multikultural). Perbedan kelas sosial adalah hal yang paling tampak dalam film ini, serta perbedaan suku bangsa (Martono, 2015). Pernyataan itu tercermin dalam kisah, bagimana Si Unyil menjalin hubungan pertemanan dengan orang Tionghoa (Meilani). Kisah ini merupakan suatu terobosan yang dibuat Pak Suyadi ketika itu masalah ras menjadi isu sensitif. Film Boneka Si Unyil dan Pak Raden produksi Perusahaan Film Negara. (Sumber : https://www.duniaku.net/2016/03/03/kisah-boneka-si-unyil-3d)


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 39 Kesuksesan TVRI saat itu, tidak terulang lagi saat RCTI dan TPI mencoba kembali menayangkan Si Unyil. Respon anak-anak kurang tertarik menonton film boneka ini, karena telah digantikan dengan film-film kartun impor yang tidak sesuai dengan lingkungan budaya anak-anak. Akan tetapi anak-anak sangat menggandrungi tayangan film impor tersebut, seperti Doraemon, Sailormoon, Sinchan, Naruoto, Upin dan Ipin, dan lain-lainnya. Boneka Pendukung film Si Unyil yang terkenal pada era Orde Baru. (Sumber :https://m.inilah.com/news/detail/2269127/ppfn-gandeng-animator-lokal-di-si-unyil-comeback


Click to View FlipBook Version