The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sastra Lisan _ Kearifan Lokal di Era Global dan Digital

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E-Library IKIP Saraswati, 2024-01-22 21:56:55

Sastra Lisan Kearifan Lokal di Era Global dan Digital

Sastra Lisan _ Kearifan Lokal di Era Global dan Digital

I Nyoman Suaka 140 pelanggaran berat baik dulu maupun sekarang. Semua orang akan melawan tindakan kasar dan biadab itu. Namun sangat disayangkan, cerita Tuwung Kuning tidak banyak membela nasib kaum wanita. Hanya tokoh bidadari, dewi penyelamat yang turun dari kahyangan membantu mengatasi kemelut itu. Ia menerbangkan Tuwung Kuning dan seketika itu menggantikan dengan batang pisang yang menyerupai tubuh Tuwung Kuning. Pada akhirnya yang tewas itu bukan Tuwung Kuning, tetapi batang pisang. I Pudak merasakan sudah berhasil menghabisi nyawa anaknya. Ia baru sadar ketika ayamnya mati karena makan batang pisang yang mengandung racun. Tokoh bidadari juga tidak berkata apa-apa tentang perbuatan I Pudak. Ia tidak berkomunikasi langsung atas tindakan sewenang-wenang itu. Dengan demikian, I Pudak tidak mendapat pelajaran berharga untuk tidak berbuat jahat. Ia sering melakukan kekerasan dengan ancaman, teror, dan kekerasan fisik. Tokoh Tuwung Kuning sendiri setelah datang dari sorga bertemu dengan ayahnya, langsung memberikan maaf kepada ayahnya. Dalam dunia realitas hal ini tidak masuk akal, sebab pasti banyak orang yang akan mengutuk perbuatan I Pudak. Masyarakat akan membenci tindakan I Pudak, semestinya ia harus dihukum berat sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya. Cerita rakyat Tuwung Kuning berupa karya fiksi tidak bisa dilepaskan dari fakta atau realitas. Dalam analisis ini cerita Tuwung Kuning memiliki kaitan dengan kehidupan seroang penjudi atau bebotoh di dunia nyata. Walaupun tidak persis sama dengan cerita Tuwung Kuning, tetapi sudah diketahui oleh masyarakat luas bahwa berjudi itu menyengsarakan seperti kisah I Pudak dan keluarganya. Akan tetapi, dalam cerita Tuwung Kuning tidak secara lengkap dan utuh menyinggung feminisme. Hanya sebagian saja menyangkut nasib tokoh wanita yang lemah dan tertindas.


141 Kondisi tersebut dapat dipahami karena cerita rakyat merupakan karya sastra lama yang keberadaannya tidak bisa dilacak. Pengarangnya tidak jelas, merupakan karya milik bersama. Waktu cerita ini ditulis juga tidak diketahui. Namun sampai saat sekarang cerita ini masih hidup dan berkembang baik secara lisan (didongengkan) maupun dalam bentuk tulisan di buku-buku. Beberapa penulis buku yang sudah menyalin cerita Tuwung Kuning adalah Gusti Ngurah Bagus, I Nengah Tinggen, I Dewa Gde Alit Udayana (2009), Made Swastika (2011). Beberapa buku dan tulisan itu ada yang menggunakan bahasa daerah Bali dan bahasa Indonesia. Bahkan untuk menjangkau semua lapisan masyarakat, bahan cerita Tuwung Kuning juga sudah didigital dalam bentuk VCD. Kenyataan ini membuktikan bahwa cerita Tuwung Kuning masih mendapat apresiasi dari masyarakat sampai saat sekarang. Cerita Rakyat diproduksi ke dalam bentuk digital. (Sumber : Dokumen Penulis)


142 Salah satu bentuk apresiasi cerita rakyat ini dalam konteks kekinian terkait dengan Undang-Undang RI No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Dalam bab 3 Passal 5 dnyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangganya dengan cara kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual atan penelantaran rumah tangga. Selanjutnya dalam bab 4 pasal 10 dinyatakan bahwa korban berhak mendapatkan perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, pengadilan, advokat, lembaga sosial dan pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pemerintah perlindungan dari pengadilan. Perlindungan itu dengan harapan mampu mereduksi kekerasan terhadap perempuan. Namun, dalam realitasnya penghapusan kekerasan dalam rumah tangga belum optimal. Mengingat cerita Tuwung Kuning sudah berumur ratusan tahun, dan kalau disesuaikan dengan kondisi zaman itu maka wajar cerita itu tidak mengungkapkan nilai-nilai perjuangan feminisme yang lengkap dan utuh. Jika dikaitkan dengan masa kekinian, cerita itu menjadi menarik dianalisis berdasarkan kritik sastra feminisme, karena menyangkut nasib tokoh wanita yang lemah ditindas oleh laki-laki seorang penjudi. Dengan demikian, cerita klasik ini tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Sebagai sebuah cerita rakyat, cerita Tuwung Kuning ini bisa disesuaikan dengan kondisi sekarang. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh penulis buku maupun penulis cerita untuk sinetron dan film. Untuk hal tersebut memerlukan inovasi dan kreativitas yang tinggi dari penulis cerita. Dengan demikian tokoh lemah dan tertindas dalam cerita Tuwung Kuning bisa bangkit untuk melawan kesewenangan dan ketidakadilan tersebut. Masyarakat akan mendapat pemahaman yang lengkap tentang pendekatan feminisme melalui karya sastra Tuwung Kuning dengan versi yang baru dan modern.


143 DAFTAR PUSTAKA Al-Khudri, Abu Said. tth. Syahwat Telvisi : Menggugat Tayangan Vulgar. Bandung: Mujahid Press. Achmadi, Anas. 2012. Sastra Lisan dan Psikologi. Surabaya: Unesa University Press. Amir, Adriyetti. 2013. Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. Artika, I Wayan. 2006. “Tuwung Kuning” dan “Men Brayut”: Kajian Kritis tentang Perempuan Bali dan KDRT.” Denpasar : Jurnal Kajian Budaya Pascasarjana Universitas Udayana, Vol. 3 No. 6. Juli. Barthes, Roland. 1981. Mithologies. New York : Grandha Publishing. Bernas, 7 Desember 1994, dan 26 November 1994. Chen, Milton. 1996. Anak- anak dan Televisi. Jakarta: Gramedia. Dako, Kasmuning. 2007. “Perjalanan Penganten: Simbol Evolusi Kebudayaan.” Dalam 26 Naskah Terbaik. Jakarta: Depdiknas. Dananjaya, James. 1984. Folklore Indonesia. Jakarta : Grafiti Pers. Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Emzir dan Saifur Rochman. 2015. Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra Wadah Pebelajaran dan Pengembangan Sastra. Yogyakarta: Ramadhan Press. Endraswara, Suwardi. 2013. Folklor Nusantara Hakikat, Bentuk dan Fungsi. Yogyakarta: Ombak. Esten, Mursal. Tradisi dan Modernitas dalam Sandiwara. Jakarta : ILDEP Intermasa. Esten, Mursal. 1988. Sastra Jalur Kedua. Bandung: Angkasa Fiske, John. 2006. Cultural and Comunications Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra. Geriya. I Wayan. 2000. Trasformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad ke21. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali Harjana, Andre. 2003. “Pendidikan Multikultural dalam Perspektyif Budaya.” Makalah pada Seminar Pendidikan Multikultural dan Hukum Adat dalam Perspektif Budaya. Departemen Kebudayaan


I Nyoman Suaka 144 dan Pariwisata. Depdiknas Bogor, 18-20 Desember 2003. Haryoto. 2007. “Potret Impotensi Agama dalam Novel Gadis Pantai.” Dalam 26 Naskah Terbaik. Jakarta: Depdiknas. Hasanuddin, WS dkk. 1999. Mitos dan Mitos Pengukuhan dalam Kaba Cindua mato. Jakarta : Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa. Jayanti, I Gusti Ngurah 2007. “Mbah Marijan Melawan Chris John,” dalam Jurnal Cultural Studies vol 4. No 8. Denpasar : Program Pascasarjana kajian Budaya. Kedaulatan, Rakyat, 10 Januari 1997 Kaler, I Gusti Ketut. 1994. Butir-butir Tercecer Tentang Adat Bali. Denpasar : CV Kayu Mas. Karsa, I Wayan. 2006. “Satua sebagai Media Pendidikan Agama Hindu pada Lingkungan Keluarga di Desa Sekardadi, Kecamatan Kintamani, Bangli,” Denpasar: Program Parcasarjana IHDN. Kayam, Umar. 1988. “Memahami Roman Indonesia Modern sebagai Pencerminan dan Ekspresi Masyarakat dan Budaya Indonesia: Suatu Refleksi,” dalam Mursal Esten (ed.). Teori dan kritik Susastra Indonesia yang Relevan. Bandung : Angkasa. Koentjaraningrat. 1999. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan. Kushendrawati, Selu Margaretha. 2011. Hiperealitas dan Ruang Publik Sebuah Analisis Cultural Ctudies. Jakarta: Penaku. Mahayana, Maman S. 2003. “Memahami Kebudayaan Etnis Melalui Kesusastraan Indonesia.” Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Poestaka, Fakultas Sastra Unud. Mahfud, Choirul. 2014. Pendidikan Multikultural. Yogjakarta : Pustaka Pelajar. Minsarwati, Wisnu. 2002. Mitos Merapi dan Kearifan Lokal. Yogjakarta: Kreasi Wacana. Martono, Nanang. 2015. “Pak Raden dan Kisah Multikulturalistik,” dalam http://nasional.sindonews.com Muliarta, I.N. 2014. Wajah Penyiaran Bali. Tabanan : Pustaka Ekspresi. Natawijaya, Suparman. 1980. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta : PT Intermasa. Novalina. 2004. “Nilai Tradisi dan Modernisasi dalam Novel Warisan karya Chairul Harun,” dalam Setangkai melati di Sayap Jibril. Jakarta : Depdiknas


Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 145 Paeni, Mukhlis. 2013. Folklore and Folklive. Makalah dalam Kongres Internasonal Folklore Asia, 7-9 Juni 2013 Yogyakarta. Peursen, van CA. 1997. Strategi Kebudyaan. Yogjakarta : Kanisius. Pilliang, Yasraf Amir. 2003. “Konsep Hetronomi sebagai Strategi Kultural Otonomi Daerah Perbandingan.” Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Poestaka, Denpasar: Fakultas Sastra Unud. Puji P. Farida. 2009. Mengenal Drama Teknik Menulis Naskah Drama. Yogyakarta : Citra Aji Prama. Purwanto, Harri. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Putra, I Nyoman Darma. 2008. Bali dalam Kuasa Politik. Denpasar: Arti Foundation. Republika, 24 Juni 1994 Rochman, Saifur. 2014. Dekonstruksi: Analisis dan Desain Penelitian. Yogyakarta: Ombak Sarumpaet, Riris K. 2003. “Struktur Bacaan Anak” dalam Teknik Menulis Cerita Anak, Ed. Sabrur R. Soenardi. Yogyakarta Pinkbook. Satoto, Soediro. 2012. Analisis Drama dan Teater 1. Yogyakarta: Ombak Setia, Putu. 2006. Bali yang Meradang. Denpasar : Pustaka Manikgeni. Siswiyanti, Frida dan Yuni Pratiwi. 2014. Teori Drama dan Pembelajarannya. Yogyakarta : Ombak Soecbhahman dan Syuropati, 2012. 17 Teori Sastra Kontemporer. Yogyakarta : Kreasi Wacana Suastika, I Made. 2012. Tradisi Sastra Lisan (Satua) di Bali Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna. Denpasar: Pustaka Larasan. Subagyo. R. 1989. Kepercayaan, Kebatinan, Kerochanianan Agama. Yogyakarta: Kanisius. Subyantoro. 2013. Pembelajaran Bercerita. Model Bercerita Untuk Meningkatkan Emosi dalam Bersastra. Yogyakarta: Ombak. Sudewa, I Ketut. 2013. “Folklore dalam Perspektif Pelestarian Lingkungan Hidup di Bali,” dalam Prosiding Folklore dan Folklife dalam Kehidupan Dunia Modern. Ed. Suwardi Endraswara. Yogajakrta : Ombak Sudikan, Setya Yuwana, 2013. “Kearifan Lokal dalam Tradisi Nusantara,” dalam Folklor Nusantara Hakikat, Bentuk dan Fungsi. Endraswara, Ed. Yogyakarta : Ombak.


I Nyoman Suaka 146 Sugihastuti. 1996. Serba-Serbi Cerita Anak- Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sugihastuti, 2002. Teori dan Apresiasi Sastra. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. Sukadi, A.M. 2002. “Bagaimana Mengajarkan Bercerita dan Mengarang di Kelas Rendah,” dalam Fasilitator: Wahana Informasi dan Komunikasi Pendidikan Taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar, Edisi 4. Suny, M. Muhsin. 2005. Musuh Berwajah Ramah Mewaspadai Pengaruh Negatif Televisi. Bandung : Media Qalbu. Supajar, Damarjati. 1988. “Prinsip Alasan Secukupnya dalam Naskah Pembukaan UUD 1945.” Lap. Penelitian Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Suparta, Mundzier. 2008. Islamic Multicultural Education. Jakarta: Al Ghazali. Sura. I Gede. Ed. 2014. Rangkuman Materi Ajar Pasraman Tingkat Dasar. Biro Kesra Setda Provinsi Bali Sutarto, Ayu. 2011. Mulut Bersambut : Sastra Lisan dan Folklor Lisan sebagai Instrumen Politik pada Era Soekarno dan Soeharto. Surabaya : Kompyawisda. Sweeney, Amin. 1987. A Full Hearing. California: University of California Press. Triwardani, Reni dan Obed Bima Wicandra. 2007. “Kajian Kritis Praktek Anak Menonton Film Kartun di Televisi dalam Aktivitas Keseharian di Banyuwangi,” dalam Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol 9 No. 1 Januari . Tumenggung, Adeline M. 2005. Laba-laba Media (Hidup dalam Galaksi Media). Jakarta:Lembaga Studi Pers dan Pembangunan. Udayana, I Dewa Gede Alit. 2010. Pesan-pesan Kebijaksanaan Bali Klasik dalam Dongeng, Lagu, Syair dan Pertanda Alam. Denpasar: Pustaka Bali Post. Undang-undang RI No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Wibowo, Fred. 2007. Kebudayaan Menggugat. Yogyakarta : Pinus Book Publisher. Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminisme Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta : Ombak.


147 INDEKS A Adriyetti Amir 41 Ahmadi 40, 41 Ahmad Tohari 76, 79 Ajip Rosidi 76, 78 Ambon 69 Amerika 10, 14, 15, 16, 56, 68, 70, 82 Anglin 43 Ani Sekarningsih 82 ANTV 25, 63 Arif 71 B Baduy 9 Bali 8, 30, 40, 41, 55, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 67, 72, 73, 74, 76, 81, 87, 91, 92, 93, 95, 96, 97, 118, 138, 140, 143, 144, 145, 146 Bandung 36, 37, 143, 144, 146 Banyuwangi 72, 146 Barthes, R. 87, 89, 90, 93, 143 Baudrillard, J. 12, 13 Bengkulu 9 Betawi 40, 69 Bhineka Tunggal Ika 65, 70 Blora 81 Bryan Fay 75 budaya populer 27, 41 budaya visual 40 C Carrol 47 Cerita Tuwung Kuning 110 Chairul Arun 76, 77 Chen, M. 22, 143 Clinton, B. 15, 16 D Dananjaya, J. 3, 4, 143 Dayak Kenyah 9 desa pakraman 59, 60, 61, 62, 64 Dundes 4 E Eropa 68, 107 F Fiske, J. 27, 143 Flood 50 folklor 2, 3, 4 G Garcia 68 Geriya 59, 143 globalisasi iii, 10, 20, 25, 60 Global TV 25 Gunung Lawu 99, 100 Gunung Merapi 99, 100, 101, 102, 103, 104, 105, 107, 108 H Hadi 6, 7 Haryoto 79, 80, 144 Hasannudin 88 Hindu iv, 61, 63, 69, 72, 73, 86, 87, 92, 98, 101, 138, 144 hiperrealitas 12 I Idrus 7 Indonesia 2, 3, 5, 14, 16, 18, 20,


148 21, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 32, 35, 36, 37, 38, 40, 41, 42, 50, 56, 58, 59, 65, 66, 67, 68, 70, 73, 75, 76, 77, 82, 83, 86, 96, 137, 140, 143, 144, 146, 150 Inggris iv, 53, 56, 70, 86 Institut Teknologi Bandung 37 Isbell 46 Islam iv, 68, 69, 72, 73 J Jakarta 150 James Bank 70 Jawa vii, 9, 29, 35, 37, 40, 68, 69, 73, 74, 76, 79, 80, 87, 91, 92, 95, 97, 99, 100, 101, 105, 107 Jawa Barat 9, 35, 37 Jerman 70 Jusuf Kalla 31, 32, 107 K Kaler 93, 95, 144 Kalimantan Barat 9 Kalimantan Timur 9 Kaliurang 105 Kanada 70 Karsa 41, 144 Kasepuhan Pancer Kamung Dukuh 9 KDRT 115, 117, 118, 119, 121, 122, 124, 136, 143 kearifan lokal iii, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 40, 53, 97, 98, 103, 107 kerta masa 92, 93, 94, 95, 98 kesusastraan Indonesia v, 2, 66, 76 Ki Juru Taman 104 Kinahrejo 105 Klapper 26, 27 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) 18, 24, 25, 63 Korrie Layun Rampan 77 Kristen 72, 73 Koentjaraningrat 78 Kupang 72, 73, 74 L Laksono, A.S. 102 Lapp 50 Lembaga Perkreditan Desa 60 Levi-Straus, J.C. 89 local genius 5, 94, 103 local wisdom 6. Lihat juga Kearifan Lokal Lutung Kasarung vi, 35, 36, 37 M Madura 41, 69, 72 Mahayana, M.S. 76, 144 Malang iv, 72, 134 Manggarai 72, 73 Mantra, I.B. 55, 64 Mataram 100, 103, 104 Mbah Marijan 104, 105, 106, 107, 108, 144 McLuhan, M. 10, 11, 13 metajen 110, 118, 119, 125, 126, 130 Minangkabau 41, 76, 77 Minsarwati 86, 99, 100, 101, 144 Mukhlis Paeni 36 multikultural 38, 66, 67, 68, 70, 71, 72, 74, 75, 83, 84 N Natawijaya 28, 144 Novalina 77, 144 Nusantara 3, 9, 34, 56, 67, 72, 87, 143, 145 Nyepi vii, 86, 87, 89, 91, 92, 93, 95, 96, 97 Nyoman Tingkat 81 O Oka Rusmini 77, 81


149 Orde Baru 37, 38, 66 P Pajang 103, 104 Papua 9, 72, 73, 74, 77, 82 parahyangan 8 pawongan 8 pedoman perilaku penyiaran 16 pelemahan 8 Pendidikan model pasraman 60 Pesta Kesenian Bali 55 Pramoedya Ananta Toer 76, 79, 80 pranata mangsa 92, 95, 97, 98 production house 42, 43, 75 Putu Wijaya 77 R Ramadhan KH 76 RCTI 25, 38 reader oriented theory 27 S Sardjono 5 Sastra Feminisme 135, 146 sastra lama 2, 136, 140 sastra rakyat 2, 37 sastra tradisional 2 sastra tutur 55, 57, 58, 62, 63 sedulur papat lima pancer 100, 101 Sedyawati, E. 5 Semarang 72, 73 Sempal Sendang Makmur 102 Senopati 102, 103, 104 Serawai 9 Setia, P. 61, 145 shohibul hikayat 40 Sibarani 66 standar program siaran 16 subak 86, 87, 92, 93, 94 Subyantoro 43, 44, 46, 49, 50, 52, 145 Sudikan, S.Y. 3, 5, 8, 9, 145 Sugihastuti 20, 21, 22, 146 Sukadi 52, 146 Sumatera 29, 40, 72, 74 Sunda 35, 37, 69, 76, 78 Suny 18, 146 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 32 Sutarto, A. 2, 8, 146 Sweeny, A. 20 T Tabanan iv, v, 67, 72, 74, 87, 144, 150 Taum 2 Teeuw, A. 114, 115 Timor Leste 73 Tionghoa 38 Tri Hita Karana 8, 98 tukang cerite 40 tukang kentrung 40 tukang satua 40 TVRI 27, 37, 38 U Umar Kayam 76, 79 Undang-Undang no. 22 tahun 1999 65 Undau Mau 9 Unesco iii, 41, 87, 88 W Wibowo, F. 16, 94, 95, 97, 146 Wiranata Kusuma 36 Wonokromo 103 Y Yogyakarta iv, 36, 99, 101, 102, 105, 143, 145, 146, 150


150 TENTANG PENULIS Dr. I Nyoman Suaka, M.Si., kelahiran Desa Tegal Mengkeb di wilayah Kabupaten Tabanan Bali, 31 Desember 1962. Alumnus Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Unversitas Udayana tahun 1986 ini, setelah tamat diangkat menjadi dosen Kopertis Wlayah VIII Denpasar diperkerjakan di IKIP Saraswati Tabanan. Pernah menjadi Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada tahun 2010 diangkat menjadi Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 pada Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Udayana. Selain sebagai pengajar, pernah menjadi wartawan di Denpasar. Tercatat juga sebagai guru di SMK dan SMA di lingkungan Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Tabanan dan menjadi Kepala Sekolah SMA Saraswati 1 Tabanan. Beberapa kali meraih penghargaan, sebagai Juara I Dosen Berprestasi Tingkat Kopertis VIII, Bali, NTB, NTT tahun 2014. Juara III Nasional Sayembara Penulisan Buku Bacaan dan dua kali sebagai juara I tingkat provinsi dalam lomba yang sama, Juara II lomba penulisan esai sastra Provinsi Bali, serta juara I lomba resensi buku tingkat Provinsi Bali. Beberapa kali meraih dana hibah penelitian dari Kemenristek Dikti. Beberapa buku hasil karyanya telah terbit, Menjaga Lingkungan Menuju Desa Wisata (Analisa Yogyakarta), Satu Bumi Satu Keluarga (Adinda Kinasih Yogyakarta), 25 Naskah Terbaik Mengulas Karya Sastra Depdiknas Jakarta (bersama rekan), Dinamika Kesusastraan Indonesia (Balai Bahasa Denpasar), Sastra Sinetron dalam Ideologi Budaya Populer (Udayana University Press), Analisis Sastra Teori dan Aplikasi (Ombak Yogyakarta), Kawin Campur Konflik Sastra dan Budaya (Ombak Yogyakarta), Transformasi Budaya: Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika (Pustaka Larasan, 2016).


alam konvensi Unesco, 16 Oktober 2003, Dtradisi lisan yang merupakan bagian dari Intangiable Heritage Cultural termasuk warisan budaya yang diutamakan untuk dipertahankan dan dijaga. Sastra lisan sebagai karya budaya kreatif bukan sekadar mitos, dongeng, legenda, tetapi dalam ranah ini mengandung sistem nilai, sosial, etos kerja, pengetahuan, tradisi, sejarah lokal, dan termasuk seni. Kandungan nilai-nilai budaya ini hampir tergusur di tengah-tengah masyarakat karena tradisi mendongeng diambang kepunahan. Generasi muda juga mulai kurang tertarik dengan hal-hal yang bernuansa tradisi, dikalahkan dengan teknologi komunikasi yang serba instan dan digital sebagai ciri era global. Kekhawatiran punahnya tradisi, dan rendahnya minat generasi muda terhadap sastra lisan mendorong penulis untuk menyusun buku ini. Sastra lisan yang tersebar di berbagai daerah sebagai kearifan lokal perlu digali kembali, disesuaikan dengan konteks kekinian. Maka dari itu tidak berlebihan kalau bermacam dongeng, legenda dan mitos menjadi insprirasi bagi pelaku industri kreatif untuk berinovasi dalam kemasan budaya pop. Tidak terhitung lagi jumlah karyakarya seni film, teater, kartun dan animasi yang mengangkat cerita-cerita rakyat, sebagai wahana pelestarian budaya bangsa.


Click to View FlipBook Version