40 SASTRA LISAN ERA GLOBALISASI Teknologi Informasi S eiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sastra lisan seperti dongeng, dan cara mendongeng mengalami perubahan. Salah satu perubahan itu disebabkan oleh budaya tutur tergeser oleh budaya baca. Kini ketika budaya baca itu belum mantap, telah tergantikan oleh budaya visual. Dengan demikian, keberadaan tradisi sastra lisan, seperti mendongeng yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia, sangat memprihatinkan. Pendongeng-pendongeng mahir di tanah air telah dikenal sejak lama. Di Bali misalnya, dikenal dengan istilah tukang satua (pendongeng profesional), di kalangan masyarakat Betawi tempo dulu disebut tukang cerite atau shohibul hikayat. Di Sumatera disebut tukang kaba atau penglipur lara. Pendongeng di Jawa disebut tukang kentrung, yaitu kelompok pengembara yang membawa semacam tambur untuk mengamen dari rumah ke rumah membawakan ceritacerita bernafas magis dan religius. Mendongeng yang merupakan bagian dari bentuk sastra lisan kini menghadapi tantangan baru karena pengaruh budaya audiovisual. Tradisi mendongeng, diambang kepunahan. Kondisi ini kalau tidak dicarikan solusinya, maka dipastikan tradisi lisan itu akan lenyap akibat kegagalan generasi sekarang karena kurang menghargai warisan budaya nenek moyang. Keadaan tersebut diperparah lagi karena pembicaraan tentang sastra lisan dalam buku-buku pelajaran sastra sampai tahun 1980-an kurang mendapat perhatian (Amir, 2013:1). Pendapat yang berbeda dikatakan oleh Ahmadi (2012 : ii) bahwa kajian sastra lisan saat ini mulai menggeliat seiring dengan konsep berpikir global bertindak lokal. Pengangkatan nilai-nilai lokalitas, baik pengetahuan lokal, kearifan lokal, bahasa lokal
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 41 dan sastra lokal benar-benar menarik untuk disimak, diteliti dan diperbincangkan. Tujuan masyarakat Indonesia mengangkat nilai-nilai lokalitas agar bangsa ini mencuat dan mampu berdiri sejajar dengan masyarakat global. Bagi orang Bali, sastra lisan merupakan bagian dari kehidupan sosial budayanya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan teknologi dan pariwisata di Bali, kehidupan sastra lisan termarginalkan terutama dalam kehidupan generasi muda. Kebudyaan Bali yang semula bersifat agraris sebagai tempat berkembangnya sastra lisan, telah bergeser pada budaya industri pariwisata yang mengikis tradisi lisan. Para orang tua sibuk mencari nafkah, sementara itu, anak-anak telah mendapat hiburan alternatif yang lebih menarik di media elektronik, seperti televisi, game on line, video dan sejenisnya. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan masyarakat dan pemerintah daerah Bali karena kebudayaan Bali, khususnya sastra lisan bisa hilang di tengah hiruk pikuknya kehidupan modern. Penelitian sastra lisan pernah dilakukan Ahmadi (2006) meneliti cerita rakyat di Pulau Raas Madura. Karsa (2006) meneliti sastra lisan dalam tradisi mendongeng (mesatua) di Desa Sekardadi, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Provinsi Bali. Peneliti lain Adriyetti Amir (2007) memetakan sastra Lisan Minangkabau. Dalam sejarah sastra lisan di Indonesia ditemukan peneliti-peneliti asing yang menulis tentang sastra lisan, seperti R.O Winstedt, Hooykaas, dan Liauw Yock Fang. Pengembangan Sastra Lisan Kekhawatiran akan punahnya sastra lisan amat dirasakan oleh kalangan birokrat, akademisi, praktisi pendidikan, sastrawan, dan budayawan serta masyarakat. Hal ini dipandang mendesak untuk dicarikan solusinya. Tradisi sastra lisan merupakan warisan budaya yang diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia yang bersifat nonfisik (ingatable cultural heritage). Di sisi lain, tradisi sastra lisan dalam industri budaya dengan model pelestarian dan pengembangan berbasis budaya populer akan
I Nyoman Suaka 42 sesuai dengan tuntutan zaman yang mengedepankan teknologi komunikasi. Digitalisasi sastra lisan melalui industri budaya memiliki nilai lebih karena dapat dioptimalkan dengan lembaga lain seperti media cetak elektronik (radio, televisi, internet, sosial media) dan rumah produksi (production house) Pelestarian dan pengembangan tradisi lisan sampai saat ini perlu digalakkan di lembaga pendidikan, seperti sekolahsekolah, baik tingkat dasar menengah maupun perguruan tinggi. Dalam proses belajar-mengajar tampaknya hal ini diabaikan hanya bersifat penjelasan sambil lalu dalam materi pelajaran, seperti bahasa, sastra, agama, sosiologi, dan lainnya. Tradisi lisan terutama sastra lisan selama ini menjadi materi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, namun mendapat porsi yang kecil dalam kurikulum dibandingkan materi kebahasaan (linguistik). Seiring dengan pendidikan berbasis karakter, tradisi lisan memiliki andil yang besar karena siswa diajak bermain, belajar, bernyanyi, berpikir, berdialog, dan bercerita. Pendidikan tempo dulu pernah memasukkan pelajaran sandiwara atau bermain drama sebagai wahana bermain, belajar, dan berdialog. Kini materi tersebut hampir menguap dari ruangan kelas karena dikejar untuk mendapatkan nilai kognitif agar lulus dalam ujian. Tradisi lisan yang mudah didapat di masyarakat baik berupa mitos, legenda, nyanyian rakyat, dan cerita rakyat dapat dijadikan ide dasar cerita untuk dipentaskan. Anehnya, ceritacerita rakyat tadi sudah dikemas dalam bentuk animasi yang ditayangkan di televisi. Dengan demikian, anak-anak semakin jauh dari tradisi leluhurnya karena hanya bisa menonton tanpa dialog kejiwaan. Berbeda halnya dengan bermain sandiwara. Siswa terlibat langsung, memerankan, menghayati, menjiwai, dan berpikir sesuai dengan karakter yang diperankan. Merumuskan pemberdayaan masyarakat peduli tradisi dapat dilaksanakan melalui lembaga sekolah. Bahkan lembaga ini sangat tepat karena mendidik generasi muda agar berurat akar dengan nilai-nilai tradisi yang ada di lingkungannya. Upaya menggairahkan itu dengan jalan memberikan kesempatan seluas-
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 43 luasnya untuk tampil melalui klompok sandiwara, teater sekolah atau drama remaja. Pementasan teater itu tidak sekadar tampil, tetapi dapat direkam melalui video sebagai bagian digitalisasi. Digitalisasi melalui VCD, DVD atau sejenisnya akan menambah semangat siswa karena mereka bagaikan aktor dan aktris dalam dunia sinetron dan film. Sebagai produk industri budaya, saya yakin siswa akan peduli dengan tradisi terutama sastra lisan. Digitalisasi melalui kemasan budaya pop ini sangat digandrungi oleh generasi muda karena dia dapat menyaksikan dirinya sendiri atau sahabatnya sebagai aktor dan aktris. Melalui sastra digital ini sebagai dokumen, sewaktu-waktu dapat ditayangkan kembali. Pada akhirnya sekolah-sekolah dapat menjadi rumah produksi (production house) yang dapat dijual ke stasiun televisi. Model Bermain Peran Model merupakan kerangka konseptual suatu pandangan terdiri atas komponen-komponen kritis yang merupakan variabel penting. Model juga mejelaskan hubungan antarvariabel yang memberi konsep. Di dalam model terdapat sejumlah landasan filosofis yang mendasari penafsiran dan pengorganisasian data ke dalam suatu model (Huitt dalam Subyantoro, 2013:14). Senada dengan pengertian tersebut, Anglin (dalam Subyantoro, 2013:14) mengatakan, model dianggap sebagai suatu abstraksi dan penyederhanaan pada sistem referen yang diartikan yang memiliki beberapa ketaatan pada sistem referen. Dalam Dictionary of Word Literature, Josepf T. Shipley menyebutkan istilah drama berarti segala pertunjukan yang memakai mimik (any kind of mimetic performance). Aristoteles dalam (Ibrahim, 1968:52) mengatakan bahwa drama adalah gambaran suatu tindakan atau aksi/gerak. Sedikit berbeda dengan pengertian tersebut, Sujiman (1984:20) memberi batasan drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan tikaian atau konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. Sastrawan Sarumpaet (1977:21) mengatakan drama adalah ragam sastra
I Nyoman Suaka 44 dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukan di atas pentas. Secara lebih khusus, drama menunjukkan pada lakon yang serius, dapat berakhir suka, maupun duka dengan masalah yang serius pula, sekalipun tanpa pamrih menjadikan suatu drama duka. Melihat pengertian di atas, maka dapat ditegaskan beberapa hal tentang drama. Drama adalah jenis karya sastra yang memiliki konflik atau tikaian. Drama merupakan seni pertunjukan yang didukung oleh aktor dan aktris (pemain, pelaku peran tokoh) di atas pentas. Teknik penyajiannya dapat berupa gerak atau percakapan (baik dialog maupun monolog). Hampir sama dengan drama, teater memiliki arti yang lebih luas, sekaligus menyangkut seluruh kegiatan dan proses penjadian dari proses penciptaan, penggarapan, penyajian atau pementasan dan penikmatan (Satoto, 2012:5). Menurut Satoto, membicarakan teater sebenarnya membicarakan soal proses kegiatan dari lahirnya (penciptaan ide, daam bentuk naskah lakon), penggarapan, penyajian atau pementasan, sampai dengan timbulnya tanaggapan atau reaksi penonton atau publik (2012:4). Kini istilah teater bukan saja berarti gedung tempat petunjukan, namun memiliki arti yang lebih luas lagi menyangkut seluruh kegiatan dan proses kegiatan tersebut. Mengingat antara sastra dengan drama dan dengan teater merupakan satu kesatuan, maka dalam model pelestarian dan pengembangan sastra lisan dipilih model pembelajaran bermain peran (bermain drama atau teater). Model bermain peran pada awalnya dikembangkan oleh Fannie dan Shaftel. Bermain peran sebagai model pengajaran terkait dengan dimensi personal dan sosial pendidikan. Pada tingkat yang paling sederhana bermain peran berkaitan dengan masalah tindakan, masalah digambarkan, dilakukan, dan didiskusikan. Dalam bermain peran ini, menurut Subyantoro (2013 : 22- 23), seseorang menempatkan dirinya dalam posisi orang lain dan kemudian mencoba berinteraksi dengan yang lainnya yang juga bermain peran. Empati, simpati, kemarahan, dan kasih sayang
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 45 kesemuanya menyeluruh selama berinteraksi bermain peran, jika dilakukan dengan baik maka akan menjadi bagian yang hidup. Selanjutnya dikatakan, inti dari bermain peran adalah keterlibatan partisipan dalam pengamat suatu masalah nyata dan hasrat utuk memecahkan dan memahami keterlibatan itu. Bermain peran memberikan contoh langsung perilaku manusia yang menyediakan sarana bagi siswa untuk: 1. Mengeksplorasi perasaan 2. Memperoleh wawasan bagi sikap, nilai-nilai, dan persepsi mereka 3. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan sikap mereka 4. Mengeksplorasi subjek materi dengan berbagai cara. Berdasarkan uraian tersebut, maka model bermain peran dapat diaplikasikan dalam beberapa tujuan pendidikan. Melalui bermain peran siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengenali perasaan mereka sendiri dan orang lain, mereka dapat belajar perilaku orang lain untuk mengatasi situasi sulit sebelumnya, dan mereka dapat menyelesaikan masalah mereka. Model bermain peran juga membawa kegiatan menjadi lebih menarik. Para siswa dapat menikmati emosi, aksi, dan akting ibarat sebagai aktor dan aktris. Tahapan-tahapan model tidak berakhir dengan sendirinya, tetapi mereka membantu menunjukkan nilai-nilai, perasaan, perilaku dan solusi masalah siswa yang kemudian harus digali oleh guru. Kehidupan anak-anak dewasa ini semakin mencemaskan. Mereka diperdaya oleh berbagai jenis hiburan dan informasi melalui televisi, video game, media sosial, dan handphone. Tayangan televisi misalnya, sarat dengan eksploitasi dan bertendensi kepentingan komersial. Tayangan televisi banyak memasung kreativitas dan bahkan memasung hak-hak azasi anak-anak. Mereka disuruh berdandan, berhias, bernyanyi, dan melakukan gerak-gerik seperti orang dewasa. Sementara itu, anak-anak tidak diberikan kesempatan memberikan respons.
I Nyoman Suaka 46 Hal ini akan menghilangkan daya kreatif dan dapat menimbulkan apatisme. Anak-anak tidak dituntut berpikir dan menjawab pertanyaan secara aktif (Subyantro, 2013 : 1-2). Keadaan anak-anak seperti diuraikan di atas dipertegas oleh penelitian-penelitian yang mengungkapkan bahwa kini masyarakat berusaha keras membuat anak lebih cerdas, atau paling tidak menghasilkan nilai lebih baik dalam ujian IQ standar. Menurut R. Flyn, pakar filsafat dari Universitas of Otago, New Zealand, angka IQ telah meningkat lebih dari duapuluh poin sejak pertama kali pada awal abad ini. Namun ironisnya, sementara dari generasi ke generasi anak-anak semakin cerdas, sebaliknya keterampilan emosional dan sosialnya merosot tajam (Shapiro dalam Subyantoro, 2013) Sehubungan permasalahan tersebut, menunjukkan bahwa selain kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional juga menduduki peran yang sangat penting bagi keberhasilan anakanak di masa depan. Upaya meningkatkan kecerdasan emosional, salah satu yang dapat dilakukan dengan keterlibatan anak-anak secara emosi melalui penjelajahan karya sastra. Terkait dengan hal tersebut, Kayam (1988:124), menegaskan peran karya sastra sebagai salah satu sarana mengembangkan kecerdasan emosional dalam berapresiasi sastra anak-anak, tidak terlepas dari konsep karya sastra sebagai model kehidupan. Artinya karya sastra menggambarkan dunia imajiner yang memiliki hubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan dalam dunia nyata. Melalui karyanya, sastrawan merekam sebuah dunia kehidupan, karena ia ingin memahami kehidupan dengan membangun sebuah model dan menjelaskan berbagai kemungkinan dalm kehidupan dari model tersebut. Karya sastra dalam hal ini, sastra lisan merupakan medium yang sangat baik dalam pembentukan karakter anak. Cerita yang diceritakan (story telling) dengan baik, menurut Isbell (Subyantoro, 2003) memiliki beberapa manfaat, yakni: 1. Menginspirasi suatu tindakan 2. Membantu perkembangan apresiasi kultural
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 47 3. Meningkatkan kecerdasan emosional. 4. Memperluas pengetahuan anak-anak 5. Membantu anak-anak memahami dunia mereka, berkomunikasi dengan orang lain. Selain dampak tersebut, secara langsung ketika anak-anak mendengarkan cerita, anak-anak dapat menggunakan imajinasi. Anak-anak menggambarkan isi cerita dari deskripsi pembaca, pendongeng (story telling). Kreativitas ini bergantung pada bagaimana pedongeng dapat menghidupkan ceritanya, dan bagaimana anakanak megnterpreasikan apa yang didengarnya. Anak-anak akan mendapat kesenangan dari seluruh pengalaman tersebut. Model Story Telling dan Story Reading Model storey telling adalah serangkaian strategi yang sistematis berisi aktivitas pemindahan cerita dari pencerita kepada penyimak atau pendengar. Bercerita merupakan suatu seni yang alami sebelum menjadi keahlian. Kegiatan bercerita adalah suatu kegiatan yang disampaikan oleh pencerita (guru) kepada siswanya, ayah dan ibu kepada anak-anaknya, atau kakek dan nenek kepada cucunya, pencerita kepada pendengarnya. Bercerita juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat estetis karena terkait dengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata-kata. Kekuatan kata-kata inilah yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Lewis Carrol (dalam Sarumpaet, 2003) menyebut, cerita sebagai “hadiah cinta”, karena bercerita adalah memberi dan membagi. Ketika bercerita, pencerita menunjukkan kerelaan menjadi sangat terbuka bahkan mudah diserang atau dicela, mau menajamkan perasaan yang terdalam serta nilai-nilai yang dipercaya. Kegembiraan berbagi cerita juga sangat bermanfaat bagi perkembangan pasikologis anak-anak. Beberapa model bercerita yang dapat dipergunakan sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan sastra lisan, sebagai berikut.
I Nyoman Suaka 48 1. Model bercerita tanpa alat peraga 2. Model bercerita dengan alat peraga langsung 3. Model bercerita dengan gambar 4. Model bercerita dengan papan planel 5. Model bercerita dengan membacakan cerita (story reading) Model bercerita tanpa alat peraga, yaitu kegiatan bercerita yang biasanya dialami anak-anak ketika di rumah, dilakukan saat menjelang tidur, baik diberikan oleh ayah, ibu, kakek, atau nenek. Interaksi antaranak dalam kegatan bermain seringkali dilakukan dengan menggunakan cerita walaupun ceritanya penuh daya khayal dan fantasi. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan metode bercerita tanpa alat peraga. Dalam kegiatan bercerita yang berperan penting adalah pencerita yang menyajikan isi cerita. Menggunakan metode bercerita tanpa alat peraga ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: 1. Mimik muka, gerakan-gerakan tangan dan kaki serta suara mencerminkan penghayatan isi dan alur cerita, 2. Menggunakan bahasa yang jelas, komunikatif dan mudah dimengerti oleh anak-anak. 3. Mengatur posisi menyimak dan posisi pencerita. 4. Menghindari keributan anak-anak pada saat penceritaan 5. Mengusahakan adanya kontak mata antara pencerita dan anak-anak. Model bercerita dengan menggunakan alat peraga langsung dalam pengertian ini adalah mengunakan jenis binatang atau benda-benda yang sebenarnya bukan tiruan atau berupa gambar. Hewan yang biasanya digunakan dalam kegiatan ini adalah hewan peliharaan, seperti kucing, kelinci, burung, dan sebagainya. Model bercerita dengan gambar, yaitu memanfaatan gambar sebagai alat bantu dalam bercerita dapat menggunakan jenis gambar berseri (tanpa tulisan), buku bergambar atau
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 49 gambar yang dibuat sendiri oleh pencerita. Hal terpenting alam gambar tersebut adalah isi dan makna gambar tersebut bagi anak-anak. Gambar yang dipilih hendaknya sesuai dengan tahap perkembangan anak-anak, isinya menarik dan mudah dimengerti dan membawa pesan, baik dalam pembentukan perilaku positif maupun pengembangan kemampuan dasar. Sambil bercerita, pencerita memperlihatkan gambargambar tersebut, satu persatu, sesuai dengan bagian yang diceritakannya. Hal-hal yang perlu diperhatikn dalam bercerita dengan gambar, yaitu: 1. Kejelasan gambar dan mudah dipahami. 2. Pewarnaan yang menarik, tidak menyilaukan mata 3. Cara memperlihatkan gambar disesuaikan agar dilihat semua anak-anak. 4. Teknik memperlihatkan gambar saat penceritaan, yaitu: a. gambar ditutup setiap kali pencerita mulai bercerita kembali. b. harus dilaksanakan selancar mungkin sehingga anak tidak merasa ceritanya diputus-putus. Model bercerita denga menggunakan papan flanel ini menggunakan alat berupa papan flanel dan guntingan-guntingan gambar berwarna menarik. Gambar menunjukkan hal-hal seperti orang, binatang, benda yang akan muncul dalam cerita. Sambil bercerita, pencerita meletakkan gambar-gambar tersebut pada papan flannel dalam susunan yang mejelaskan isi cerita, membuat adegan-adegan. Gambar yang tidak perlu lagi dapat dilepas dan dapat diganti gambar lain yang sesuai dengan jalan cerita. Menggunakan bentuk cerita seperti ini pencerita hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut. 1. Pencerita harus menjaga agar jangan sampai gerakangerakannya untuk mencari, melepas atau menempel gambar menganggu kosenterasi anak-anak. 2. Pencerita perlu berlatih agar terampil mengganti adegan-
I Nyoman Suaka 50 adegan dengan tenang. 3. Pergantian adegan jangan terlalu sering dilakukan (Subyantoro, 2013). Model cerita dengan membacakan cerita (story reading) dilakukan dengan cara membacakan cerita dari sebuah bukubuku cerita bergambar. Dalam bentuk cerita bergambar, biasanya terdapat tulisan-tulisann berupa kaimat-kalimat pendek yang menceritakan secara singkat gambar tersebut. Kegiatan membacakan cerita dimaksudkan agar minat anak terhadap buku dibangkitkan, dipupuk dan dikembangkan. Model ini sangat penting dilakukan karena minat baca anakanak Indonesia menduduki peringkat terbawah di negaranegara Asean. Dalam buku-buku bacaan bergambar seringkali ada kata-kata dalam tulisan yang belum dipahami anak-anak, namun dengan nada suara pencerita dan gambar-gambar akan membantu menjelaskan isi cerita yang sedang dibacakan. Kegiatan seperti ini, menurut Subyantoro (2013), secara bertahap akan memupuk dan menumbuhkan cinta terhadap buku yang dapat berkembang cinta terhadap buku yang kemudian berkembang menjadi minat kepada tuisan serta membantu kematangan belajar membaca. Buku yang digunaka dalam storey reading harus memenuhi syarat-syarat, sebagai berikut. 1. Kertasnya cukup tebal. 2. Ukuran buku cukup besar, minimal 20 X 25 Cm 3. Gambar-gambar berwarna menarik dan cukup besar. 4. Cerita tidak panjang dengan bahasa yang sederhana. Bercerita dengan model story reading, seorang pencerita perlu memperhatikan beberapa hal: 1. Pencerita tidak bebas melakukan gerakan-gerakan karena memegang buku, seperti pada bercerita tanpa alat peraga. Suara dan mimik penceritalah yang berperan di samping gambar-gambar dan kaimat-kalimat dalam buku untuk membantu fantasi anak-anak.
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 51 2. Posisi pencerita di depan anak-anak, tidak di tengah, tetapi agak menyerong dengan jarak kurang lebih satu setengah meter dari anak-anak. 3. Buku dipegang tangan kiri dengan posisi yang dapat terlihat semua anak-anak yang duduk dalam posisi agak melingkar di tikar atau di kursi. Sehubungan dengan story reading ini Flood dan Lapp (dalam Subyantoro, 2013:41-42) menyebutkan beberapa langkah yang harus diperhatikan ketika pencerita membacakan cerita anakanak, yaitu: 1. Membacakan buku pada seorang anak-anak atau pada kelompok kecil, tidak lebih dari 5 orang sampai dengan 7 orang anak-anak. Jika anggota kelompok terlalu banyak, beberapa anak-anak tidak dapat melihat buku tersebut. 2. Melakukan persiapan sebelum membacakan cerita pada anak-anak seperti memberikan pertanyaan pembuka yang berhubungan dengan tema buku yang akan dibacakan. 3. Memperlihatkan buku tersebut pada anak-anak selama membacakannnya. Sehingga anak-anak dapat melihat gambargambar dan kata-kata yang ada pada setiap lembar buku. 4. Berhentilah beberapa saat untuk mengajukan pertanyaan guna memastikan bahwa anak-anak memahami cerita tersebut. Untuk mendukung pelaksanaan bercerita, tidak kalah pentingnya adalah penataan ide cerita yang asli. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk penataan ide cerita, yaitu: 1. Tahapan-tahan cerita (alur cerita) 2. Menjaga keutuhan cerita. 3. Tokoh-tokoh harus berkarakter sesuai dengan peran. 4. Pencerita sedapat mungkin mengajak pedengar agar berpikir dan berkhayal untuk mengetahui apa makna di balik cerita. 5. Percakapan antartokoh tidak saling berlawanan, dan masuk akal.
I Nyoman Suaka 52 6. Pencerita hendaknya tidak mengulang-ulang memberi nasihat di tengah cerita karena itu akan menjadikannnya sebagai nasihat dan petuah. 7. Pencerita tidak bersifat mendikte dan menggurui 8. Penjabaran peristiwa dalam cerita hendaknya dilakukan secara bertahap sehingga perhatian penyimak tetap terjaga dan tidak merasa bosan. Berdasarkan uraian mengenai story telling dan story reading di atas, maka terdapat perbedaan prinsip antara penceritaan dengan pembacaan. Penceritaan atau bercerita yang baik akan menyebarkan ruh baru yang kuat dan menampakkan gambar yang hidup di hadapan pendengar, dengan memberikan potret yang jelas dan menarik (Subyantoro, 2013). Untuk itu diperlukan intonasi, disertai gerak-gerak, dan adanya kandungan emosi di dalamnya. Pencerita dapat menghidupkan setiap tokoh dengan karakter seperti yang dituntut dalam cerita. Sebaliknya, pembacaan cerita adalah membaca sendiri buku cerita. Peristiwa-peristiwa dalam bercerita akan berlalu dengan cepat dalam benak anak-anak. Terkadang tanpa pesan sama sekali, kecuali terbaca huruf-huruf berwarna hitam yang mewadahi ide pengarang. Tetapi, tidak setiap penceritaan lebih baik dari pembacaan. Penceritaan yang buruk dapat menghilangkan apa yang seharusnya penting dan indah dalam cerita. Sukadi (2002:38-39) berpendapat bahwa pencerita harus dapat menciptakan suasana tenang dan akrab bersama pendengarnya seolah-olah mereka itu teman. Ia memposisikan dirinya seperti tuan rumah yang menyambut ramah tamunya. Dalam penceritaan terkadang sebuah kalimat bisa menjadi dua kalimat atau lebih daripada cerita yang tertulis. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam bercerita. Pengaruh sebuah cerita bagi pendengar juga berbeda-beda, bergantung pada siapa yang menjadi penceritanya. Agar penceritaan tersebut lebih hidup, siswa atau anakanak diajak ikut serta di dalamnya sehingga mereka aktif baik
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 53 emosinya maupun perasaannnya. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk membangkitkan emosi anak-anak adalah: 1. Sekali-kali mereka diajak berdialog atau tanya jawab, tentang isi cerita. 2. Anak-anak diminta menirukan kata atau kalimat yang diucapkan dalam cerita. 3. Memperagakan tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita. 4. Mengekspresikan sesuatu dalam tingkah laku, dan sebagainya. 5. Apabila sudah selesai bercerita, pencerita memberikan pertanyaan kembali dengan bahasanya sendiri atau disuruh menyimpulkan isi cerita tersebut. Bahan-bahan cerita dapat diambilkan dari sastra lisan atau cerita-cerita daerah yang berupa dongeng, legenda, mitos, fabel, dan lain-lain. Isi cerita hendaknya mengandung pendidikan, etika, moral dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti serta membangkitkan emosi dan motivasi siswa untuk giat belajar. Kegiatan story telling dan story reading serta bentuk-bentuk bercerita lainnya merupakan media yang sangat baik bagi anak-anak. Bahan-bahan cerita yang disajikan dapat mengambil sastra lisan yang tersebar di berbagai daerah di tanah air, seperti dogeng, legenda, mitos, dan fabel. Cerita yang diceritakan dengan baik, dapat meginspirasi suatu tindakan, membantu perkembangan apresiasi kultural, kecerdasan emosional, memperluas pengetahuan anak-anak, dan menimbulkan kesenangan. Mendengarkan cerita akan membantu anak-anak memahami dunia mereka dan bagaimana mereka bergaul dengan orang lain. Melalui model storey telling dan story reading akan dapat membangkitkan tradisi sastra lisan yang sudah diambang kepunahan. Dua model ini juga mampu membangkitkan kehidupan sastra karena seorang pencerita melakukan ekspresi isi cerita, sedangkan pendengar cerita melakukan apresiasi terhadap sastra. Sastra lisan merupakan ajaran luhur nenek moyang bangsa yang diakui sebagai warisan budaya dunia
I Nyoman Suaka 54 nonfisik, karena mengandung nasihat-nasihat yang tidak bersifat menggurui atau mendikte. Dengan demikian, semua pihak agar mendukung kegiatan story telling dan story reading melalui partisipasi orang tua, guru, dan siswa serta instansi terkait. Kegiatan ini dapat juga dilakukan melalui lomba atau festival mendongeng, sehingga memberikan apressiasi positif terhadap sastra lisan. Lomba story telling cukup sering dilakukan tetapi pada konteks lomba berbahasa Inggris. Akibatnya kearifan lokal sastra lisan akan kehilangan nilai edukatif karena kurang komuniaktif.
55 BAGIAN III PELESTAIAN SASTRA LISAN
56 DEKONSTRUKSI SASTRA LISAN MELALUI MODEL PASRAMAN Sastra Tutur S astra lisan daerah dalam kesusastraan Bali Purwa diistilahkan dengan (sastra tutur). Sastra tutur ini merupakan warisan budaya masyarakat di Bali secara turun temurun. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan teknologi dan pariwisata di Bali, kehidupan sastra lisan termarginalkan terutama dalam kehidupan generasi muda. Kebudayaan Bali yang semula bersifat agraris sebagai tempat bersemainya sastra tutur, telah bergeser pada budaya industri pariwisata yang mengesampingkan tradisi sastra lisan. Para orang tua sibuk mencari nafkah, sementara itu, anak-anak telah mendapat hiburan alternatif yang lebih menarik di media elektronik, seperti televisi, game on line, video dan sejenisnya. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan masyarakat dan pemerintah daerah Bali karena kebudayaan Bali, khususnya satra lisan bisa hilang di era global oleh sistem digital Terdesaknya sastra lisan dalam kehidupan masyarakat Bali sebenarnya sudah dirasakan mulai tahun 1960-an (Sudewa, 2013: 1). Melihat keadaan seperti itu, pada tahun 1978 Gubernur Bali Prof. Dr. I.B. Mantra memiliki gagasan untuk menyelenggarakan Pesta Kesenian Bali (PKB). Tujuan PKB untuk melestarikan dan mendokumentasikan kebudayaan Bali termasuk sastra lisan. Walaupun tujuan PKB belum diarasakan secara maksimal, tetapi banyak bentuk kesenian yang telah didokumentasikan dan diselamatkan dari kepunahan, termasuk di dalamnya sastra lisan Bali. Bahkan setiap diadakan PKB selalu diadakan lomba mendongeng (mesatua) bagi generasi muda, dan mendapat respons yang positif. Lomba sejenis juga sering diselenggarakan di sekolah, kampus dan instansi terkait di Bali. Namun gema
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 57 kegiatan itu dikalahkan dengan story telling yang melombakan kemampuan bercerita dengan bahasa Inggris. Secara umum, fokus penelitian sastra lisan lebih tertarik dengan upaya inventarisasi sastra lisan, mencari bentuk, fungi dan makna sastra lisan. Padahal, kenyataan yang sangat memprihatinkan di depan mata kita adalah posisi sastra lisan termarginalisasikan, kalah dengan teknologi terutama tradisi penyampaiannya (mendongeng). Era teknologi informasi dan komunikasi melalui televisi, internet sekarang ini turut mempercepat marginalisasi tradisi tersebut. Cerita-cerita rakyat kini ditayangkan di setiap stasiun televisi berupa tayangan film kartun. Namun, cerita-cerita dalam film kartun itu merupakan cerita impor dari Inggris, Amerika, Jepang, dan Malaysia. Jarang sekali cerita rakyat asli Indonesia dikemas dalam industri budaya sehingga anak-anak semakin jauh dari lingkungan budayanya. Berdasarkan pemantauan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) terhadap 1.106 tayangan anak yang diputar di 10 stasiun televisi pada tahun 2006, hanya 27 persen yang aman dari kekerasan dan seks, sedangkan 73 persen lainnya dinilai berbahaya bagi anak. Sementara itu sumber tayangan anak yang ditampilkan di televisi juga kebanyakan produk impor sebanyak 84 persen dan sisanya 16 persen produk lokal (Triwardanai dan Wicandra, 2007). Anak-anak Indonesia kini sangat gemar menonton film kartun Upin dan Ipin serta Si Sipa. Sebelumnya sangat populer, Batman, Spiderman, Doraemon, Sailormoon, Sinchan, Tom and Jerry, Micky Mouse, dan Power Rangers. Namun, di balik tayangan tersebut, tanpa disadari oleh anak banyak mengandung unsur kekerasan, kata-kata kasar, tipuan, kelicikan yang kurang baik ditonton oleh anak. Oleh karena itu, sudah saatnya menggali sastra lisan yang tersebar di Nusantara untuk diadaptasi menjadi film kartun atau sejenisnya. Proses digitalisasi ini, tidak menggantikan sepenuhnya tradisi lisan mendongeng, tetapi memerlukan pendampingan ketika anak-anak menonton tayangan tersebut, baik dari orang tua, kakek, nenek maupun guru di sekolah.
I Nyoman Suaka 58 Film Spiderman, manusia laba-laba yang disukai anak-anak dan orang dewasa (Sumber : https://www.google.com/search?safe=strict&hl=en-ID&authuser= 0&biw=1600&bih=789&tbm=isch&sa=1&ei=Plk5XJuZHIHgrQHRgLaABg&q=s piderman&oq=spi&gs) Film anak-anak Batman, manusia kelelawar. (Sumber : https://www.google.com/search?safe=strict&hl=en-ID&authuser= 0&biw=1600&bih=789&tbm=isch&sa=1&ei=Plk5XJuZHIHgrQHRgLaABg&q=s piderman&oq=spi&gs) Dekonstruksi Dalam pendidikan formal, sastra tutur ini diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal dalam pelajaran bahasa Bali. Predikat sebagai pelajaran muatan lokal memunculkan kesan pelajaran ini kurang mendapat perhatian dan agak dipaksakan. Materi sastra tutur tergusur dengan materi lainnya
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 59 di bidang kebahasaan. Waktu tatap muka guru dengan siswa dalam pelajaran bahasa Bali juga terbatas, hanya dua jam pelajaraan dalam seminggu. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang bersifat kurikulum nasional dengan jam tatap muka antara 4 sampai 5 jam perminggu. Konstruksi pembelajaran sastra tutur dalam pelajaran bahasa Bali ini perlu di dekonstruksi. Dengan demikian, sastra tutur yang merupakan media pembentukan karakter anak perlu dicarikan solusinya agar mendapat perhatian yang layak. Dekonstruksi ini sangat penting karena sastra tutur mengandug kearifan lokal untuk mengantisipasi pengaruh negatif kebudayaan global. Dekonstruksi merupakan suatu metode yang digunakan dalam pemikiran posmodernisme. Posmodernisme adalah pemikiran yang mengkritik kontruksi modernisme. Modernisme sendiri adalah pemikiran yang berdasarkan segala sesuatu bisa dilakukan secara konkret, terukur dan menganggap segala sesuatu dilakukan secara objektif. Sifat-sifat dalam modernisme itu dimasukkan dalam paham positivisme (Rohman, 2014:4). Kata dekontruksi berasal dari susunan de+konstruksi. Kata konstruksi berarti susunan. Jadi, pengertian dekonstruksi Film anak-anak Upin dan Ipin dari Malaysia (Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Upin_%26_Ipin_(musim_kedua)
I Nyoman Suaka 60 secara umum adalah penghancuran konstruksi. Konstruksi yang dihancurkan adalah konstuksi pemikiran masa lampau. Konstruksi sendiri sebagai sebuah model karena setiap pemikiran menghubungkan satu pernyataan dengan pernyataan lain di dalam kaitan logika yang khusus. Menurut Norris (2003:12), pada awalnya dekonstruksi adalah cara membaca teks. Adapun yang khas dalam cara baca dekonstruktif, adalah unsur-unsur yang dilacaknya, untuk kemudian dibongkar, karena diliputi ketidakpastian. Tradisi tulisan, audio, dan audiovisual kini maju pesat sedangkan, anak-anak kebanyakan dalam tradisi kelisanan yang kuat. Pergeseran dari tradisi yang bersifat lisan ke arah tradisi tulisan dan ke tradisi audiovisual menimbulkan masalah dalam upaya melestarikan sastra lisan. Pergeseran ini merupakan suatu proses panjang yang berliku-liku sehingga perlu menjadi ajang diksuksi. Orang tua, misalnya, dalam tradisi lisan menempatkan diri sebagai tukang cerita amatir yang paling dekat dengan anak- anak. Para pakar tradisi lisan menilai bahwa kini tidak lagi dijumpai orang tua yang mampu berperan sebagai tukang cerita yang baik bagi anak-anaknya. Ketidakmampuan mereka ini disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor adalah hadirnya media audio dan audiovisual, radio dan televisi, di samping orang tua itu sendiri. Tradisi lisan tidak lagi hanya terdesak oleh tradisi tulisan, tetapi malahan melebihi bahwa tradisi tulisan pun terdesak oleh tradisi audio dan audiovisual karena minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Maka dari itu, topik pelestarian sastra lisan di era digital dan global ini perlu mendapat perhatian, disesuaikan dengan kondisi yang bersifat kontekstual. Pasraman Desa Pakraman Masyarakat Bali dalam tatanan kehidupan sosial budayanya memiliki ciri khas sebagai sebuah komunitas yang disebut desa pakraman (desa adat). Namun kehidupan sosial budaya masyarakat di Bali belakangan ini telah mengalami perubahan
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 61 seperti yang dikatakan Geriya (2000:43-50). Menurut Geriya, Bali pada permulaan abad ke-21, paling tidak mengalami sepuluh kecendrungan perubahan kebudayaan yakni. 1. Makin sesaknya ruang Pulau Bali yang berdampak membesarnya tekanan terhadap masyarakat dan kebudayaannya. 2. Makin padat dan heterogennya penduduk dengan beragam potensi konflik. 3. Makin berkembangnya format ekonomi industri dan jasa disertai dengan menurunnya ekonomi agraris. 4. Makin mengentalnya komitmen otonomi daerah dengan diiringi bangkitnya primordialisme. 5. Makin meluasnya dan kompleksnya jaringan relasi dengan menembus batas-batas lokal, nasional dan global. 6. Makin berkembangnya demokrasi dengan paradigma baru dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 7. Makin terakselerasinya kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai peluang dan tantangannya. 8. Makin membesarnya partisipasi dan aksi pemberdayaan perempuan. 9. Makin diversifikasinya kelembagaan sosial sebagai manifestasi demkokratisasi, lokalisasi, dan globalisasi. 10. Makin tumbuhnya kesadaran akan signifikansi dan kualitas sumber daya mansia sebagai bagian dari persoalan dasar tentang arti dan makna kehidupan sebagai manusia. Kecenderungan-kecenderungan seperti dipaparkan di atas, tampaknya akan terus berlanjut memberikan tekanantekanan bidang ekonomi, teknologi dan budaya di daerah Bali. Walaupun demikian, telah diusahakan aspek-aspek kebudayaan menjadi basis pembangunan daerah seperti pariwisata budaya, meningkatkan peran lembaga adat atau desa pakraman baik bidang ekonomi maupun bidang pendidikan. Di bidang ekonomi, desa pakraman memiliki Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dan di bidang pendidikan melalui pasraman. Pendidikan model pasraman (ashram) diperkenalkan di
I Nyoman Suaka 62 Bali sejak awal tahun 2006. Pasraman ini memang wajib di setiap desa pakraman (desa adat) di Bali dan mendapat bantuan dana dari Pemda Provinsi Bali. Bantuan untuk Desa Pakraman awalnya Rp 50 juta setiap tahun dan mengalami peningkatan. Tahun 2017 sebesar Rp 200 juta. Sebagian dari dana itu sekitar Rp. 5 juta sampai Rp. 15 juta dialokasikan untuk kegiatan pasraman. Tujuan membentuk pasraman di desa Pakraman sangat mulya terutama bagi anak-anak. Menurut Setia (2006:78), Pemda Bali terutama intstansi yang terkait dengan pembinaan desa pakraman rupayanya mulai sadar. Bantuan yang rutin diberikan setiap tahun dipergunakan untuk bangunan fisik seperti pembangunan pura, balai banjar, jalan desa bahkan untuk menopang pembiayaan ritual yang semakin mahal. Kalau begitu terus menerus, lanjut Setia (2002:78), desa pakraman bisa saja terlihat megah pada kulit luarnya, tetapi keropos isinya. Untuk apa pura yang megah kalau anak-anak mudanya tak paham ajaran agama? Untuk apa setiap tahun mecaru (pembersihan lingkungan) kalau pemuda-pemuda desa setiap malam mabukmabuk dengan minuman keras yang mudah dibeli di warungwarung? Desa Pakraman perlu dibangun dari dua sisi, yakni pembangunan fisik dan pembangunan moral atau spiritual. Menyeimbangkan pembangunn fisik dan nonfisik tersebut, salah satu solusinya setiap desa pakraman membentuk pasraman. Pasraman ini semacam sekolah yang berawal dari eksprimen yang dilakukan oleh yayasan Widya Werdhi Sabha berkerjasama dengan Yayasan Dwijendra Denpasar. Yayasan ini sangat peduli terhadap pendidikan anak-anak Sekolah Dasar yang bernuansa agama Hindu. Saat pertama kali yayasan beroperasi sudah menangani hampir dua ratus orang siswa dibina oleh beberapa guru yang berbekal idealisme semata. Di sinilah dirasakan sebagai titik baru dalam sejarah pedidikan Hindu luar sekolah khususnya di Bali (Sura,Ed. 2014:iii). Model pendidikan format baru ini, tanpa diikuti oleh kebijakan lembaga formal menghadapi banyak kendala. Menurut Sura, Ed. (2014:iii) kendala tersebut seperti, materi ajar, sumber
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 63 dana, promosi, krisis siswa dan sebagainya. Akhirnya bentuk kerja sama tersebut dikembangkan dengan lembaga Desa Pakraman, dimulai desa-desa pakraman di Denpasar. Tampaknya perluasan kerja sama ini memberikan gairah baru untuk membangkitkan model sekolah pasraman. Desa-desa Pakraman di Bali kini memiliki pasraman, sejalan dengan harapan Pemda Bali agar menyisihkan bantuan desa adat untuk pendidikan anak-anak. Sasaran sekolah pasraman ini adalah anak-anak sekolah dasar, diprioritaskan kelas IV, V, dan VI, sehingga disebut pasraman alit. Ada juga siswa dari anakanak tingkat SMP disebut pasraman remaja. Mereka diberikan pelajaran yang terkait dengan agama, adat, dan budaya agar mereka tidak tercerabut dari akar budayanya. Lebih khusus lagi, siswa diajarkan keterampilan perlengkapan upacara agama, darma gita, nyastra, yoga, dan tentang etika, susila yang terkait dengan pendidikan karakter. Kegiatan nyastra lebih difokuskan pada menulis aksara Bali. Memang, ada tentang sastra tutur (lisan), namun sifatnya hanya sebagai pengantar di awal pelajaran untuk mengantarkan materi pokok (Materi Ajar Pasraman Tingkat Dasar, 2014:iv). Di sekolah Pasraman ini diajari materi bercerita yang dapat mengambil materi sastra tutur pada awal pertemuan. Para siswa mendengar, memahami, memaknai bahkan mewacanakan kembali cerita dari gurunya. Materi ini tampaknya relevan dengan imbauan Kemendikbud yang mewajibkan guru di awal pelajaran untuk bercerita sekitar 5 menit. Berdasarkan kondisi nyata di masyarakat bahwa sastra lisan sudah terdesak, seperti pembicaraan awal buku ini, sudah seharusnya,materi sastra jangan hanya sambilan yang sifatnya tempelan dalam kurikulum. Apalagi dicantumkan hanya sebagai pengantar beberapa menit pada awal pelajaran. Hal ini belum menunjukkan perhatian yang serius terhadap sastra daerah Bali. Semestinya, materi sastra daerah ini diberikan porsi waktu yang cukup, mengingat banyak materi pendidikan karakter yang tersirat dan tersurat di dalamnya. Dana pasraman cukup
I Nyoman Suaka 64 memadai untuk operasionalnya. Tenaga pengajar diambil dari penyuluh agama di desa, guru bahasa Bali atau penyuluh bahasa Bali dan pemuka masyarakat di desa. Mereka itu cukup mampu memberikan materi sastra tutur tersebut. Anak-anak umumnya sangat tertarik dengan cerita, baik dongeng, legenda, dan mitos. Di era global dan digital, cerita-cerita tersebut dikemas melalui buku, VCD, tayangan TV. Guru Pasraman tidak saja bertutur menyampaikan cerita tersebut, tetapi dapat menayangkan melalui layar LCD atau VCD untuk ditonton bersama-sama. Namun, film tayangan anak-anak tersebut perlu diwaspadai, sebab tidak jarang ceritanya bertentngan dengan cerita yang berkembang di masyarakat. Program siaran “Little Krishna” misalnya tokoh Krishna menarik ekor kerbau dan memutar-mutar tubuh binatang tersebut sampai terpelanting ke tanah dari ketinggian. Tayangan ini dikhawatrikan akan membawa dampak buruk bagi perkembangan psikologi anak. Seharusnya sebagai program kartun dengan klasisifikasi A (Anak) kontennya sesuai dengan kejiwaaan anak. Nama Krishna juga melekat di hati masyarakat sebagai tokoh yang bijak dan panutan, tidak melakukan kekerasan. Dengan demikian, tidak salah kalau akhirnya KPI melayangkan surat teguran kepada ANTV terkait penayangan “Little Krishna”. Surat teguran bernomor 2159/K/09/14 tertanggal 18 September 2014 tersebut dinilai mengabaikan cerita sejarah bernuansa Hindu. KPI pun sempat mendapat hujatan melalui media sosial. Bukan tayangan “Little Krishna yang berbahaya, tetapi justru KPI yang berbahaya. Pada sisi lain KPI disebutkan sebagai lembaga lebay dan alay. Hanya karena sebuah surat teguran, menurut Muliarta (2016:75) lembaga KPI menjadi lembaga yang paling bersalah. Pada hal KPI hanya menjalankan fungsi dan tugas sesuai dengan Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran. KPI juga mengeluarkan surat teguran dengan berpedoman pada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS). Guru atau tutor sebagai fasilitator dalam pasraman Hindu hendaknya menciptakan suasana ke arah apresiasi sastra karena
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 65 siswa menonton tayangan tersebut dengan cerita, gambar dan latar yang menarik. Siswa pasraman bisa menonton bareng (bersama) dalam pertandingan sepak bola atau tinju di televisi. Dengan demikian tidak muncul kesan mendikte atau menggurui. Justru sebaliknya suasana kelas seperti ini akan menimbulkan kreativitas olah pikir, olah rasa, dan olah seni Pelestarian sastra lisan daerah model pasraman ini, jauh lebih efektif dibandingkan hanya sebagai pengantar di awal setiap pelajaran. Konstruksi materi ajar Pasraman Tingkat Dasar (diterbitkan Biro Kesra Pemerintah daerah Bali, 2014) menempatkan materi bercerita sebagi pengantar tampaknya perlu didekonstruksi. Sebab, kalau sang pencerita menyampaikan dengan menarik, maka siswa akan tertarik mendengar cerita dalam waktu cukup lama. Umumnya anak-anak tingkat SD sangat senang mendengarkan cerita. Saat asyiknya bercerita, tiba-tiba dipotong karena kesempatan harus dilanjutkan dengan materi lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan cerita. Siswa akan merasakan jumping karena melompat dengan materi lain. Model pasraman ini menyasar anak-anak di semua desa di Bali. Jika desa pakramannya terdiri dari banyak banjar (dusun), maka pasraman diadakan di balai banjar. Kondisi balai banjar di Bali pun kini megah-megah, berlantai dua dengan arsitektur Bali. Kalau balai banjar di lingkungan perkotaan, banyak yang dikontrakkan. Lantai 1 digunakan untuk jualan, kantor atau garase mobil, yang tak ada hubungannya dengan pembinaan spiritual. Justru sebaliknya mengarah ke sikap hidup materialistik. Gagasan cemerlang mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra bahwa balai banjar itu adalah pusat budaya, kini perlu direalisasikan sehingga pelestarian sastra lisan daerah dapat dilakukan melalui model pasraman desa pakraman dan balai banjar.
66 SASTRA LISAN DAN MODERN DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Multikulturalisme I stilah multikulturalisme mulai mendominasi wacana publik di Indonesia awal tahun 2000-an sebagai akibat dari krisis ekonomi yang berlarut-larut, meletusnya konflik kekerasan antaretnik dan gerakan sparatisme di Indonesia. Sebelum istilah multikulturalisme populer dalam wacana publik dan akademik, istilah yang banyak dipakai adalah pluralisme (Putra, 2008:120). Dalam konteks kebudayaan, multikulturalisme bisa berarti, “berlakunya lebih dari satu identitas budaya dalam sebuah tatanan masyarakat (Hardjana, 2003:2). Bangsa Indonesia memiliki falsafah Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyannya yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu. Semboyan tersebut mengisyaratkan Indonesia terdiri atas bermacam etnik, agama, dan budaya, tetapi diikat untuk tetap bersatu dalam satu bangsa dan negara. Semboyan tersebut juga berarti berhimpunnya berbagai etnik, agama, dan budaya dalam suatu negara untuk menuju masa depan bangsa yang lebih gemilang. Keberagaman tersebut juga merupakan identitas budaya dalam kemajemukan bangsa. Kemajemukan ini telah berpatisipasi memberikan sumbangan yang besar terhadap pembentukan bangsa Indonesia. Pemberlakuan Undang-Undang no. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah telah membuka jalan bagi daerah-daerah untuk mengatur dirinya sendiri, khususnya dalam bidang sosial, poitik, ekonomi dan kebudayaan yang selama ini diatur oleh pemerintah pusat. Selain itu, semangat otonomi daerah telah memperkuat emosi kedaerahan, kesukuan, dan etnisitas. Akan tetapi, menurut Piliang (2003), otonomi daerah tidak
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 67 pernah dilihat dalam kerangka perubahan kultural yang lebih luas dan holistik, yang didalamnya berbagai keuntungan bisa diperoleh. Bila cakrawala dalam melihat otonomi itu diperluas, maka otonomi sesungguhnya dapat dipikirkan sebagai jaringan (web), yang di dalamnya dapat dibangun garis-garis hubungan antarbudaya (trans cultural) yang sangat kaya. Dalam jaringan kutural tersebut, setidak-tidaknya terdapat tiga kreasi kultural yang dapat dibangun, yakni antara daerah (lokal-lokal), antara daerah dan pusat (local-center), antara daerah dan unsur-unsur global (lokal-global). Kondisi Indonesia yang beragam atau multikultural merupakan kekayaan bangsa. Namun di sisi lain dianggap sebagai sumber konflik. Kelompok yang menganggap keanekaragaman itu sebagai kekayaan bangsa, menurut Sibarani (2003), hampir tidak pernah merumuskannnya secara terperinci dan jelas. Hal itu, mungkin dikondisikan oleh kebijakan pemerintah kita yang pada saat itu bersifat sentralistik, menganut keseragaman dan akhirnya cenderung menganggap keanekaragaman sebagai sumber konflik. Jika keanekaragaman itu tidak diterima, dihormati, diantisipasi, disikapi dan diatasi dengan sungguhsungguh, hal itu menjadi sumber konflik yang sewaktu-waktu muncul ke permukaan. Antisipasi terhadap permasalahan tersebut, kalangan birokrat memunculkan istiah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Di era Orde Baru, mendengar istilah ini cukup menakutkan karena intervensi pemerintah sangat kuat. Di era Reformasi masalah suku dan agama juga sering menjadi sumber pertikaian. Permasaahan dari masa ke masa ini memerlukan pemikiran untuk dicari alternatif pemecahannya. Masalah suku, agama dengan potensi kebudayaan daerahnya sudah saatnya dikedepankan. Puncak-puncak kebudayaan daerah yang telah diakui sebagai kebudayaan nasional perlu dihargai secara berkelanjutan. Penggalian ini dapat dilakukan melalui kesusastraan Indonesia yang sangat kaya dengan budaya etnis. Hal ini dapat memudahkan pemahaman kita karena karya sastra
I Nyoman Suaka 68 Indonesia menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia sebagai medianya. Tulisan ini berusaha menyajikan sebuah gagasan pendidikan multikulturalisme melalui apresiasi terhadap karya sastra Indonesia khususnya sastra lisan dan sastra Indonesia modern. Tradisi sastra Indonesia baik lisan maupun modern dibangun dari identitas etnis yang tersebar di Nusantara. Kesusastraan Indonesia, walaupun bermain dalam tataran imajinasi, sesungguhnya ia merefleksikan fakta kultural sebuah komunitas. Hal ini sebagai representasi atas fakta ke dalam fiksi. Karya sastra merupakan refleksi atas kehidupan yang ada di masyarakat, sehingga tak bisa dilepaskan dari konteks sosial kultural masyarakat. Konteks kultural ini, langsung atau tidak langsung menuju sebuah muara yang bernama Indonesia multikultural. Karya sastra lisan dan modern diharapkan dapat dijadikan bahan ajar menuju pemahaman masyarakat multikultural melalui pendidikan multikultural. Terkait dengan hal di atas dan dalam upaya menuju masyarakat multikutural, pemahaman dan analisis terhadap kedua jenis sastra Indonesia itu penting dilakukan. Karya sastra lisan Indonesia dalam bentuk cerita rakyat berupa mitos, legenda, fabel telah mencerminkan kondisi Indonesia yang beragam. Namun, hal ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat mengingat generasi muda kurang tertarik dengan hal-hal yang bernuansa cerita lama dan kuno. Sastra lisan ini pun mulai menghilang dari ruangan kelas karena para guru kurang memberikan perhatian terhadap warisan budaya leluhur kita. Maka dari itu, pembahasan pada makalah ini akan melihat sastra lisan sebagai bahan ajar pendidikan multikulturalisme. Dari perspekif tersebut diharapkan akan memperoleh gambaran bahwa sastra lisan merupakan khzanah budaya untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan, memiliki rasa nasionalisme dalam bingkai bangsa Indonesia yang multikutural. Studi kasus terhadap topik ini dilakukan di SMA Saraswati 1 Tabanan, Bali dengan berbagai alasan, yaitu banyak siswa
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 69 berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memiliki latar adat, agama dan budaya yang berbeda yang mencerminkan pluralisme. Data dikumpulkan melalui metode dokumen dan wawancara tatap muka. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif bersifat deduktif, yakni mendahulukan hal-hal yang bersifat umum ke khusus untuk mendapatkan simpulan. Gagasan Multikultural Gagasan multikultural ini awalnya muncul dari negaranegara yang berpenduduk majemuk dari segi etnis dan budaya, seperti di Amerika Serikat dan Eropa. Sebelum munculnya isu multikulturarisme, di Amerika Serikat, menurut Ricaldo L. Garcia (dalam Suparta, 2008:26) sudah ada tiga teori sosial yang berkembang untuk menampung keragaman budaya, yakni (1) Melting Pot I: Anglo Conformity,(2) Melting Pot II: Ethnic Synthesis, dan (3) Cultural Pluralism: Mosaic Analogy. Ketiga teori tersebut populer dengan sebutan teori masyarakat majemuk (Communal theory). Garcia secara panjang lebar menjelaskan teori pertama Melting Pot I: Anglo Comformity, berpandangan bahwa masyarakat yang ada di negara, individu yang individunya beragam latar belakang seperti agama, etnik,bahasa,dan budaya harus disatukan ke dalam satu wadah yang paling dominan. Teori ini melihat individu dalam masyarakat secara hierarkis, yaitu kelompok mayoritas dan minoritas. Apabila mayoritas individu dalam satu masyarakat adalah pemeluk agama Islam, maka individu lain yang memeluk agama di luar Islam harus melebur ke dalam Islam. Apabila yang mendominasi suatu maysarakat adalah individu yang beretnik Jawa, maka individu lain beretnik non-Jawa harus mencair ke dalam etnik Jawa, dan demikian seterusnya. Teori ini hanya memberikan peluang kepada kelompok mayoritas untuk menunjukan identitasnya. Sebaliknya, kelompok minoritas sama sekali tidak memperoleh hak untuk mengekspresikan identitasnya. Identitas di sini meliputi agama, etnik, bahasa, dan budaya.
I Nyoman Suaka 70 Mengingat teori pertama tidak demokratis dan cenderung menindas maka muncullah teori kedua, yaitu Melting Pot II: Etnik Synthesis. Teori yang dipopulerkan oleh Israel Zangwill ini memandang bahwa individu-individu dalam suatu masyarakat yang beragam latar belakangnya, disatukan ke dalam satu wadah, dan selanjutnya membentuk wadah baru, dengan memasukan sebagian unsur budaya yang dimiliki oleh individu-individu dalam masyarakat tersebut. Identitas agama, etnik, bahasa, dan budaya asli para anggotanya melebur menjadi identitas baru, sehingga identitas lamanya menjadi hilang. Apabila dalam suatu masyarakat terdapat individu-individu yang beretnik Jawa, Sunda, dan Batak, misalnya, maka identitas asli dari ketiga etnik tersebut menjadi hilang, solidnya membentuk identitas baru. Islam Jawa di keraton dan masyarakat sekitarnya merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan kejawen adalah salahsatu contohnya. Teori ini belum sepenuhnya demokratis, karena hanya mengambil sebagian unsur budaya asli individu dalam masyarakat, dan membuang sebagian unsur budaya yang lain. Mengingat teori kedua belum sepenuhnya demokratis, maka muncullah teori ketiga, yaitu Cultural Pluralism: Mosaic Analogy. Teori yang dikembangkan oleh Berkson ini berpandangan bahwa masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang beragam latar belakang agama, etnik,bahasa,dan budaya, memiliki hak untuk mengekspresikan identitas budayanya secara demokratis. Teori ini sama sekali tidak meminggirkan identitas budaya tertentu, termasuk identitas budaya kelompok minoritas sekalipun. apabila dalam suatu masyarakat terdapat individu pemeluk agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghuchu, maka semua pemeluk agama diberi peluang untuk mengekspresikan identitas keagamaannya masing-masing. Apabila individu dalam masyarakat berlatar belakang budaya Jawa, Madura, Betawi, dan Ambon, misalnya, maka masingmasing individu berhak menunjukan identitas budayanya, bahkan didorong untuk mengembangkannya. Masyarakat yang menganut teori ini, terdiri dari indvidu yang sangat pluralistik,
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 71 sehingga masing masing identitas individu dan kelompok dapat hidup dan membentuk mosaik yang indah. Sayangnya dua teori di atas, yakni Melting Pot I: Anglo Conformity dan teori Melting Pot II: Etnik Synthesis, mempunyai kelemahan dan mengalami kegagalan. Dari ketiga teori komunal diatas, lahirlah teori ketiga yang dijadikan dasar pendidikan multikultural, yaitu teori Cultural Pluralism: Mosaic Analogy. Untuk konteks Indonesia, teori ini sejalan dengan semboyan negara Indonesia, Bhineka Tunggal Ika. Secara normatif, semboyan tersebut memberi peluang kepada semua bangsa Indonesia untuk mengekspresikan identitas bahasa, etnik, budaya, dan agama masing masing, dan bahkan diizinkan untuk mengembangkannya. Pendidikan mutikultural merupakan pendidikan khas Barat. Kanada, Amerika, Jerman, dan Inggris. Negara-negara tersebut adalah beberapa contoh negara yang memperhatikan pendidikan multikultural. Ada beberapa nama dan istilah lain yang digunakan untuk menunjuk pendidikan multikultural. Beberapa istilah tersebut adalah: intercultural education, interethnic education, transcultural education, multiethnic education, dan cross-cultural education. James Bank (dalam Mahfud, 2014:177) menyebutkan, pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan dengan yang lain, yaitu: 1. Content integration yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran. 2. The knowledge construction process yaitu membawa siswa memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran. 3. An equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi budaya, ras ataupun sosial. 4. Prejudice reduction yaitu mengindentifikasi karakteristik ras siswa dan menetukan metode pengajara mereka.
I Nyoman Suaka 72 Tujuan pendidikan multikultural sebagaimana sistem pendidikan pada umumnya, juga memiliki orientasi. Menurut Arif (dalam Suparta, 2008) tujuan pendidikan multikultural adalah: meciptakan kondisi yang kodusif bagi masyarakat majemuk menumbuhkan kesadaran anak atas kultur mereka sendiri dan menjelaskannya dengan kenyataan bahwa ada banyak cara hidup mereka sendiri terhadap life style selain life style mereka sendiri, sehingga anak akan saling memahami dan mengormati menemukan komitmen persmaan dan keadilan membuat pilihan-pilihan bagi anak tentang bagaimana bertindak berkaitan dengan isu-isu diskriminasi dan kecurigaan, menghargai dan menghormati kesamaan dan perbedaan, menjadikan anak dapat mengungkapkan kultur dan sejarah mereka sendiri. Sastra Lisan Daerah Seiring dengan wacana pendidikan multikultural, maka ada baiknya sastra lisan yang merupakan kekayaan budaya dari berbagai etnik dan budaya Nusantara diajarkan oleh para guru. Cerita Bawang Merah Bawang Putih di Nusantara juga dikenal di Bali dengan cerita I Bawang teken I Kesuna. Bahkan cerita ini diaudivisualisasikan kembali dan ditayangkan di Youtube. Lihat https://www.youtube.com/ watch?v=dX3fSKvi_wM
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 73 Hal ini merupakan masukan yang didapat dari sekelompok siswa SMA Saraswati 1 Tabanan, Provinsi Bali untuk menempatkan sastra lisan sebagai bahan ajar untuk mendukung pendidikan multikultural. Tabel 1. Data Siswa SMA Saraswati 1 Tabanan Tahun 2017 No Nama L/P Asal Kelas Agama Keterangn 1 S t e v i n e Tanariska P Papua XI IPA Prot - estan .. 2 Duncan Kevin Supriadi L Malang XII IPA Kristen 3 R u m e n s i u s Beron L Manggarai, NTT XII IPS Katolik Ayah Ibu (NTT) 4. R a h m a t Agung L M a l a n g , Jatim XI IPS Islam Ayah ibu (Jatim) 5 Erbi L Banyu - wangi, Jatim X IPA Islam Ayah dan ibu (Jatim) 6 Ristra Meida Rizki P Bali XII IPA Islam A y a h (Jateng), ibu (Bali) 7 Ida Bagus Wisnu Pratama L Bali XII IPS Hindu Ayah (Bali) Ibu ( NTT) 8 I Dewa Gede Chandra L Bali XII IPA Hindu Ayah dan ibu (Bali) 9. Lara Dwi Cempaka P Baturaja Sumatera XII IPA Islam Ayah (Jambi), ibu (Madura) Terbaca dalam tabel di atas bahwa siswa SMA Saraswati 1 Tabanan bersifat pluralis berasal dari berbagai daerah, seperti Papua, Baturaja, Malang, Banyuwangi, Kupang, Manggarai, Bali, dan Semarang. Mereka juga berasal dari agama yang berbeda: Katolik, Kristen Protestan, Islam, dan Hindu. Bahkan ada siswa atas nama, Ida Bagus Wisnu masa kecilnya di Timor Leste, belajar di TK dan SD di sana. Ketika SMP pindah ke Kupang mengikuti ayahnya yang pindah tugas setelah Timor Leste (dulu Timor-
I Nyoman Suaka 74 Timur), tidak lagi menjadi bagian dari Indonesia. Siswa Ida Bagus Wisnu, Stephin, Duncan, Borin, Rachmat, Erbi, Rara, Ristra, dan Chandra telah mengenal cerita-cerita rakyat sejak masa kecil. Mereka umumnya mendengar cerita dari orang tua atau neneknya pada malam hari, saat menjelang tidur. Bagi siswa di Bali, jarang mendengarkan cerita dari orang tua pada siang hari, karena terdapat mitos bahwa bercerita di siang hari dapat membuat nasi dan masakan para bidadari di sorga gosong. Mitos tersebut semacam nasihat agar orang tua tidak terganggu karena siang hari orang tua sibuk bekerja.Semua siswa yang menjadi sampel penelitian itu, mengenal cerita rakyat Malin Kundang, Timun Emas, Manusia dan Bidadari, Keong Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, Si Kancil. Secara lokalitas, Stephin yang berasal dari Papua, mengenal cerita Asalusul Danau Sentani yang kini masih menjadi mitos di tengahtengah masyarakat Papua. Di danau ini sering terjadi musibah orang meninggal karena tenggelam di danau tersebut. Penunggu danau Sentani adalah seekor buaya jelmaan dari raja yang sering muncul. Namun, menurut Stefine, ketika mulai diadakan festival Danau Sentani, buaya tersebut jarang sekali muncul. Stefin mendengar cerita itu pertama kali melalui kakeknya yang sampai sekarang masih diingatnya. Dorin, siswa asal Manggarai juga demikian sejak kecil sudah didongengi oleh orang tua. Ida Bagus Wisnu lebih banyak mengenal cerita-cerita rakyat itu dari membaca buku ketika masih SD di Timor Timur, seperti Malin Kundang dan Timun Emas. Siswa Ristra merupakan anak dari perkawinan campuran ibu (Bali) dan ayah (Semarang) melihat cerita-cerita di Bali memiliki kemiripan dengan ceritacerita di Jawa, seperti Jaka Tarub dengan Raja Pala, Bawang Merah dengan Bawang Putih dengan I Bawang teken I Kesuna, dan Timun Emas dengan Ketimun Mas. Siswa Dewa yang asli Bali dan Kevin, juga mengakui kemiripan cerita-cerita tersebut. Para siswa tidak memasalahkan perbedaan cerita-cerita tersebut, yang penting mereka sangat senang dan merasa terhibur mendengar dan membaca dongeng-dongeng tersebut.
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 75 Para siswa syang diwawancarai itu merasakan, dongeng tersebut sebagai nostalgia, kenangan masa kecil. Setelah sekolah di tingkat SMP dan SMA, ia jarang mendengarkan cerita-cerita tersebut dari guru di sekolah. Kebanyakan cerita itu diperoleh dari membaca buku dan sebagian menonton cerita di TV. Mereka menginginkan agar dongeng tersebut dijadikan bahan ajar karena mengandung nilai-nilai luhur yang bersifat mendidik dan menghibur. Materi dongeng ini dapat dijadikan sisipan materi pelajaran, sehingga, menurut para siswa itu, pembelajaran tidak akan membosankan. Pelajaran akan bisa dipahami dengan baik karena diberikan contoh-contoh yang relevan dengan isi cerita menyangkut etika, moral, dan karakter siswa. Di sisi lain, studi kasus di SMA Saraswati 1 Tabanan ini juga menemukan dongeng sebagai bahan ajar, namun belum mengarah pendidikan berbasis multikultural. Cerita-cerita rakyat yang merupakan identitas khas daerah masing-masing, ternyata bisa dipahami oleh siswa dari daerah lain. Cerita Malin Kundang yang asal Sumatera Barat dapat dipahami dengan baik oleh siswa dari Papua, Kupang, Jawa, dan Bali. Demikian juga cerita Timun Emas versi Jawa dan Bali dapat diterima dengan baik oleh siswa dari Papua dan Nusa Tenggara Timur. Dongeng Manusia degan Tujuh Bidadari, yakni Jaka Tarub dan Raja Pala, sangat diminati oleh siswa dari daerah lainnya. Mereka sangat menghargai perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, dan budaya yang tercermin dalam cerita tersebut sehingga dapat dijadikan bahan ajar untuk pendidikan multikultural. Berdasarkan pembahasan di atas, maka pembelajaran sastra lisan (dongeng, legenda, mitos) pada lembaga pendidikan merupakan peluang dan harapan yang berfungsi menuntun para siswa, dalam menghormati keanekaragaman, menghargai nilainilai karakter, budaya daerah, etnis, dan agama. Kondisi ini sangat mendukung wawasan pluralisme dalam masyarakat multikultur. Pembelajaran sastra lisan merupakan pembelajaran berbasis budaya sesuai dengan Permendiknas No. 232 tahun 2000. Pembelajaran berbasis budaya dengan masyarakat multikultur
I Nyoman Suaka 76 ini membawa budaya lokal ke dalam proses pembelajaran beragam mata pelajaran di sekolah secara terpadu. Dalam bukunya Contemporary of Sosial Science A Multicultural Approach, Bryan Fay (dalam Putra, 2008: 121- 122) menekankan tiga syarat multikulturalisme, yaitu adanya interaksi (interaction) antarkelompok, keterbukaan (openness), dan pembelajaran (learning). Dalam multikulturalisme tidak dikenal adanya perlawanan (resistance). Dalam hal ini, sastra lisan Indonesia, seperti uraian di atas merupakan produk masyarakat multikultural. Hal ini bisa dilihat dari segi asalusul, bentuk, bahasa, dan isi cerita. Dongeng-dongeng tersebut menunjukkan semangat multikultural tertanam dan tercermin dalam dunia sastra lisan. Semangat multikultural yang kental tersebut merupakan refleksi dari realitas multikultural dalam masyarakat Indonesia. Keberagaman merupakan kenyataan di Indonesia yang harus dikelola secara kreatif inovatif. Salah satu caranya, menurut Suparta (2008:154-155) menanamkan nilai-nilai positif dan mengelolanya melalui dunia pendidikan, yakni dengan membungkus pendidikan berbasis multikultural. Dengan basis multikultural, anak didik perlu diajak untuk melihat nilai budaya lain, sehingga mengerti secara mendalam, dan akhirnya dapat menghargainya. Modelnya, bukan dengan menyembunyikan budaya lain, atau menyeragamkan berbagai budaya menjadi satu, budaya nasional, sehingga budaya lokal hilang. Dalam pendidikan berbasis multikultural, tiap budaya diakui mempunyai nilai sendiri, kebenaran sendiri. Menghadirkan sastra lisan ke ruang kelas pembelajaran dapat pula dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital. Berbagai macam rekaman suara sastra lisan yang dilakukan oleh rumah produksi (production house) beredar di pasaran, diperjualbelikan untuk hiburan masyarakat, baik dalam bentuk kaset maupun CD. Kaset atau CD cerita-cerita rakyat dapat dijadikan sebagai bahan ajar dengan cara diputar atau ditayangkan. Kondisi ini sangat memudahkan peserta didik
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 77 untuk mengapresiasi sastra lisan, karena dapat disimak dengan iringan instrumen musik atau disaksikan langsung melalui gambar-gambar yang indah. Sastra Indonesia Modern Menurut Mahayana (2003), kesusastraan Indonesia modern secara kultural pada awalnya adalah kesusastraan etnik yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa nasional yang diangkat dari bahasa etnik Melayu. Sebagai sastra yang ruhnya berasal dari kultur etnik, ia tidak terlepas dari berbagai hal yang melingkarinya. Paling tidak sumbernya jatuh pada diri sastrawan yang juga tidak terlepas dari latar belakang etnik yang melahirkan dan membesarkannya. Senada dengan pernyataan tersebut, Esten (1988:12) menyebutkan, seorang sastrawan Indonesia adalah seorang seniman dari dua dunia. Dunia budaya daerah dan dunia baru Indonesia. Sistem nilai budaya daerah dari mana sastrawan berasal dengan dasar pikiran yang telah dikemukakan akan berpengaruh terhadap karya-karya yang diciptakannya. Pernyataan Mahayana dan Esten tersebut sampai sekarang tampak dengan jelas, baik pada novel-novel angkatan Balai Pustaka, maupun novel yang terbit belakangan ini. Namun perkembangan yang terjadi, karya sastra tersebut tidak saja menampilkan budaya etnis, tetapi berkolaborasi dengan budaya nasional dan global. Beberapa novel yang mewakili budaya etnis telah memperkaya keragaman Indonesia, seperti novel Warisan tentang etnis Minangkabau karya Chairul Arun, Kultur Jawa tersurat pada novel Para Priyayi (Umar Kayam), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer). Kultur Sunda pada Keluarga Permana karya Ramadhan KH, dan Perjalanan Penganten Karya Ajip Rosidi. Kultur Bali pada Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya, Tarian Bumi dan Sagra karya Oka Rusmini. Kultur Kalimantan, pada novel Upacara karya Korrie Layun Rampan, dan kultur Papua tampak pada novel Namaku Teweraut. Untuk merefleksikan budaya etnis
I Nyoman Suaka 78 dalam karya-karya tersebut, perlu disinggung beberapa novel dalam uraian ini untuk membuktikan Indonesia sebagai negara multikultur. Novel Warisan yang berlatar Minangkabau tidak lagi berkutat pada permasalahan adat dan tradisi seperti yang terungkap dalam novel-novel angkatan Balai Pustaka. Karya Chairul Arun, membahas tentang harto pusako yang amat pelik. Menurut adat, masalah harto pusako ini menjadi urusan seorang “mamak” dengan kemenakannya. Akhirnya masalah ini dapat diselesaikan oleh tokoh muda Rafilus dengan bercermin pada unsur-unsur budaya global. Masyarakat Minang dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kultur unik karena menganut sistem kekerabatan matrilineal. Pribadi masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat leluhurnya. Pengarang bercerita tentang konflik pembagian harta warisan. Kedudukan seorang perempuan dalam kultur Minang sangat menentukan untuk mewarisi harta pusaka baik harta pusaka tinggi maupun pusaka rendah. Seiring dengan evolusi kebudayaan, norma-norma dan nilai-nilai agama mulai bergeser. Beberapa hal yang tidak berubah dalam novel ini adalah sistem sosial yang mengatur pembagian warisan, meminang laki-laki dan kebiasaan laki-laki beristri banyak. Wasiat yang diberikan Bagindo Tahar dalam novel Warisan sebagai kubu tradisi kepada Rafilus (kubu modernisasi) dapat diartikan sebagai rekomendasi bahwa persoalan pengaturan harta warisan dapat dilakukan oleh keluarga lain selain “mamak”. Menurut Novalina (2004:27) merupakan suatu tindakan di luar tradisi masyarakat Kuraitaji. Sebuah pemikiran baru dari pengarang untuk mendobrak dan keluar dari tradisi yang selama ini berlaku di masyarakat. Evolusi kebudayaan juga ditemui pada novel Perjalanan Penganten karya Ajip Rosidi yang berlatar etnis Sunda. Di dalam novel ini tersirat perubahan budaya yang dijalani beberapa orang mulai bergeser dari tradisi yang dianut oleh leluhurnya. Koen-
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 79 tjaraningrat (1980:101) menyebutkan evolusi kebudayaan adalah suatu perkembangan kebudayaan dari bentuk-bentuk yang sangat sederhana ke arah bentuk-bentuk yang sangat kompleks. Terkait dengan novel ini, pengarang berhasil memotret sikap, pandangan hidup dan perilaku budaya masyarakat Sunda. Gambaran yang jelas tentang etnis Sunda terdapat pada bagian perjalanan tokoh Aku pulang ke kampung halamannya di Jatiwangi. Perjalanan tokoh Aku yang memperoleh pendidikan di kota, berkerja di kota, bergaul dengan kehidupan kota metropolitan Jakarta, sangat memungkinkan evolusi kebudayaan itu terjadi. Tokoh ini mulai melupakan beberapa nilai adat dan tradisi bila tidak diingatkan oleh sanak keluarga yang ada di desa. Sikap tokoh Aku dalam menghadapi semua ritual, adat dan tradisi menunjukkan bahwa ia hanya sekadar menjalani saja, dan hanya karena pernah dijalani oleh orang tuanya. Ia tidak menghayati dan memahami makna ritual tradisi tersbut. Justru, ia berusaha melepaskan diri dari tradisi tersebut. Ia melangsungkan pernikahan dengan keterpaksaan. Ia merasa asing dengan tradisi yang dijalaninya. Akan tetapi, bersamaan dengan peristiwa itu pula, ia menyadari bahwa semua itu merupakan ritual yang harus dijalaninya dengan kepatuhan. Sikap masa bodoh itu, dipengaruhi oleh situasi dan tempat ia berada dan bergaul di lingkungan ibu kota Jakarta. Hal yang senada juga tersirat dalam novel Upacara karya Korri Layun Rampan mengambil latar masyarakat Dayak di Kalimantan. Kita dituntut ekstra hati-hati membaca novel ini, apalagi memiliki latar budaya yang berbeda. Novel ini mencoba menceritakan tentang dinamika masyarakat Dayak terikat dengan upacara. Kehidupan diumpamakan sebagai panggung yang penuh dengan sajian upacara demi upacara. Kondisi ini, bagi generasi sekarang, merupakan fenomena yang rumit dan melelahkan. Kesetiaan pada adat-istiadat dianggap sebagai keyakinan itu sendiri. Bilamana masyarakat tidak melakukan upacara tersebut akan berakibat musibah (tulah). Novel ini menghantarkan kita pada kebudayaan yang multiragam.
I Nyoman Suaka 80 Berbagai upacara digambarkan dalam novel ini, diawali dari pengembaraan roh tokoh “aku” dalam menuju sorga (lumut). Pengembaraan ini merupakan upacara penyembuhan bagi tokoh Aku. Pembaca juga diajak mengetahui upacara balian (perdukunan) dalam upaya mencari jiwa yang hilang dari sosok Aku. Selain itu juga disajikan upacara Kewangkey merupakan ritual yang disajikan dalam deskripsi yang begitu hidup. Upacara penguburan tulang manusia ini menjadi bagian dari ritus mereka, karena mereka merasa berhutang besar bila sanak keluarganya yang meninggal belum di-Kewangkey-kan. Disajikan juga pesta nalin taun, yang merupakan pesta tahunan sebagai persembahan kepada dewa-dewa untuk menghindarkan kampung dari segala malapetaka. Novel ini juga melukiskan upacara pelulung (upacara perkawinan) tokoh aku dalam mengakhiri masa lajangnya. Begitu banyak ritual yang digambarkan oleh pengarang, maka layak, novel ini berjudul Upacara. Kultur Jawa banyak terungkap dalam novel-novel karya Ahmad Tohari, Umar Kayam, Kuntowijoyo dan Pramoedya Ananta Toer. Mengingat terbatasnya kesempatan ini, maka pembahasannya akan memakai sampel novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Menurut Pramudya, novel gadis Pantai ini diangkat dari kisah nyata yang dialami neneknya. Jadi meski bersifat imajinatif, novel yang di tulis tahun 1960-an ini berangkat dari kenyataan (Haryoto, 2007:214). Membaca novel Gadis Pantai, akan dijumpai konfliks antarkelas di masyarakat yakni rakyat miskin melawan kaum bangsawan (bendoro). Konflik itu dipicu oleh penindasan kaum bendoro terhadap raklyat miskin. Konflik yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer lebih banyak mempertanyakan keberpihakan peran agama. Pramoedya melihat bahwa agama lebih berpihak pada penguasa dan tidak mampu melindungi rakyat jelata. Rakyat jelata yang abangan berhadapan dengan kaum bendoro yang taat menjalankan ritual agama. Berpijak pada budaya Jawa (keraton), novel ini mengisahkan perjalanan seorang gadis pantai yang disunting seorang bendoro
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 81 untuk menjadi selir (istri sampingan). Sekitar tiga tahun lamanya, Gadis Pantai (tanpa disebutkan namanya), melayani segala keinginan bendoro dari menemani makan sampai urusan ranjang. Setelah melahirkan anak perempuan, gadis pantai dicerai oleh suaminya (bendoro) dan dikembalikan kepada orang tuanya. Sebagai imbalan gadis pantai diberi uang dan harta yang cukup banyak. Tentang anak yang dilahirkannya itu, menjadi hak penuh keluarga Bendoro. Ibu jabang bayi (gadis pantai) tak berhak sedikitpun mengakui anaknya. Dalam menyajikan kisah ini, Pramoedya memposisikan gadis pantai sebagai tokoh protagonis yang tertindas, sedangkan bendoro diposisisikan senagai tokoh antagonis yang kejam dan menindas. Bendoro yang soleh menindas gadis pantai yang abangan mencerminkan sesuatu yang bersifat paradoksal. Paradoksal itu berupa penindasan yang dilakukan orang beragama terhadap gadis pantai, baik saat menjadi istrinya, maupun saat dicerai. Menurut analisis Haryoto (2007) terdapat empat jenis penindasan dalam novel Gadis Pantai yakni: (1) pengambilan paksa gadis pantai untuk dijadikan selir, (2) menjadikan gadis pantai sebagai objek pemuas seks semata, (3) bendoro tidak mengakui gadis pantai sebagai istrinya dihadapan wartawan, dan (4) bendoro tanpa merasa berdosa menceraikan gadis pantai dengan memberikan uang pesangon. Berdasarkan dosa-dosa tersebut, Haryoto dalam artikelnya berjudul, “Potret Impotensi Agama dalam novel Gadis Pantai,” menyimpulkan bahwa novel Gadis Pantai menunjukkan pesan bahwa agama tak berdaya memberantas penindasan yang dilakukan para bangsawan. Lewat novel ini, Pramudya, menegaskan pandangannya bahwa dalam sistem feodal, agama tidak berpihak pada rakyat jelata. Dalam kasus ini, agama tidak mampu mengangkat harkat wanita. Bahkan agama dijadikan alat legitimasi bendoro untuk menindas kaum hawa. (Depdiknas, 2007. Dua Puluh Enam Naskah Terbaik). Walaupun demikian, sebagai sebuah karya sastra, novel ini tetap memberikan sumbangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
I Nyoman Suaka 82 Sindiran yang dilakukan pengarang dapat dijadikan bahan renungan bagi pembaca, mengingat realitas itu masih relevan untuk era sekarang maupun nanti. Kesolehan pada ajaran agama dan Tuhan hendaknya diikuti dengan mempraktekkan nilai-nilai agama untuk kesejahteraan umat manusia. Di akhir cerita Gadis Pantai menolak pulang ke kampungnnya. Ia pergi ke Blora dan selalu mengunjungi pekarangan Bendoro. Hal ini merupakan bentuk perlawanan, mengingat pada masa itu, umumnya wanita tidak melakukan hal yang seberani gadis pantai. Kultur Bali belakangan ini dihahas oleh pengarang wanita, Oka Rusmini seperti dalam novel Tarian Bumi, dan Sagra, (kumpulan cerpen). Karya-karyanya tersebut melancarkan gerakan feminisme. Pengarang muda ini membakar semangat perjuangan kaum perempuan yang menyiratkan dua hal. Pertama, perlawanan yang dilakukan tokoh Sagra terhadap ibunya merupakan bentuk representasi dari perlawanan kaum muda dengan kaum tua. Kaum perempuan muda dengan kemajuan zaman dan pendidikan berupaya menyadarkan kaum tua untuk menyejajarkan diri, tanpa banyak terikat dengan tradisi yang kolot dan kuno. Kedua, dibalik gugatan itu tersirat pula proses berkembangnnya demokratisasi perempuan. Oka Rusmini berupaya menyuarakan hak-hak perempuan Bali yang selama ini tertindas di bawah kuasa laki-laki. Menurut analisis Nyoman Tingkat (2007:66) tentang Sagra, perempuan jaba (sudra) diposisikan terhegemoni oleh kekuasaan lakilaki griya (bangsawan). Simbol-simbol kebangsawanan yang dibongkar oleh Oka Rusmini adalah perjuangan mendekonstruksi kasta dalam masyarakat Bali yang kini bergerak ke arah multikultur. Dekonstruksi itu pun terasa amat melelahkan yang dilakukan pengarang dengan teknik berkisah, yaitu melemahkan griya, menjunjung pinggiran (sudra). Tokoh perempuan dari kalangan sudra menjadi penentu dalam cerita. Kisah mengangkat citra wanita juga dijumpai pada novel Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih. Novel Namaku Teweraut ini berlatar etnis Asmat, sehingga termasuk karya
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 83 langka dalam jajaran sastra Indonesia yang mengambil setting tanah Papua. Kisah dalam novel ini tentang wanita Asmat yang bernama Tewer. Sebagai wanita pedalaman, hidupnya jauh dari peradaban kemajuan modern. Ia mengalami konflik-konflik sosial ketika bersentuhan dengan kemajuan teknologi. Hal ini semakin dirasakan, ketika Tewer berkesempatan ke luar negeri sebagai duta seni daerahnya. Dari pengalaman itu, banyak hal yang harus dikritisi Tewer dalam menghadapi perjuangan hidup di kampungnya. Suku Asmat merupakan salah satu suku yang mendiami pesisir pantai barat daya Provinsi Papua. Suku ini berdiam di daerah-daerah yang sangat terpencil dan masih diselimuti oleh alam yang ganas, karena berawa-rawa, berlumpur serta ditutupi hutan tropis. Mereka mempunyai kepercayaan bahwa alam ini didiami oleh roh-roh dan jin, serta makhluk halus, yang disebutnya dengan setan. Mereka juga percaya akan adanya kekuatan magis yang kebanyakan dalam bentuk tabu atau pantangan. Tewer lahir dari keluarga terhormat suku Asmat. Sebagai perempuan, ia besar dalam lingkungan tradisi yang mengagung-agungkan kelaki-lakian sebagai simbol peperangan, kejantanan, dan penaklukan. Tokoh Tewer dalam novel tersebut sangat merindukan agar daerahnya bisa seperti daerah di Amerika. Daerahnya yang kaya sumber alam dapat dibangun menyerupai daerah di Amerika. Namun, muncul keraguan dalam hati wanita ini, ketika memandang masyarakatnya yang selalu terikat dengan tradisi adat istiadat. Aturan-atuiran adat yang mengikat itu dirasakannya tidak mendukung pembangunan. Novel ini mengungkapkan kearifan-kearifan tradisional, budaya-budaya daerah yang masih dijunjung oleh masyarakat Suku Asmat. Identitas suku Asmat ditengah kemajuan zaman dipertahankan dalam novel ini. Sebagai seorang wanita, tokoh Tewer ini tak ubahnya, seperti Raden Ajeng Kartini yang berjuang demi emansipasi wanita di daerahnya. Ia ingin wanita di kampungnya berpikiran maju sejajar dengan wanita di daerah lain.
I Nyoman Suaka 84 Dalam hal ini, karya sastra Indonesia seperti uraian di atas merupakan produk masyarakat multikultural. Hal ini bisa dilihat dari segi asal-usul, bentuk, bahasa, dan isi cerita. Novelnovel tersebut menunjukkan semangat multikultural tertanam dan tercermin dalam dunia sastra. Semangat multikultural yang kental tersebut merupakan refleksi dari realitas multikultural dalam masyarakat Indonesia. Novel-novel yang telah diuraikan di atas, paling tidak telah mengantarkan pemahaman Indonesia yang multikultur. Tentu saja masih banyak pengarang dan karya lain yang belum disebutkan, juga menunjukkan keberagaman Indonesia. Karya sastra Indonesia sangat relevan dikaji untuk mengurai kondisi bangsa Indonesia yang majemuk. Kemajemukan etnik, budaya, dan agama yang tercermin dalam novel Warisan, Perjalanan Penganten, Gadis Pantai, Upacara, Sagra, Namaku Teweraut, merupakan potret etnisitas di tanah air. Melalui pembacaan novel-novel tersebut akan dapat menumbuhkan sikap keindonesiaan sebagai wilayah yang multikultur. Hal ini mengandung maksud bahwa sastra Indonesia modern merupakan keseragaman dalam keberagaman. Keseragaman, tiada lain karena menggunakan bahasa Indonesia sebagai media ekspresi pengarangnya, sedangkan keberagaman karena sastra Indonesia modern mengangkat tema dan permasalahan-permasalahan etnis di tanah air. Keberagaman merupakan kenyataan di Indonesia yang harus dikelola secara kreatif inovatif. Salah satu caranya, menurut Suparta (2008:154-155) menanamkan nilai-nilai positif dan mengelolanya melalui dunia pendidikan, yakni dengan membungkus pendidikan berbasis multikultural. Dengan basis multikultural, anak didik perlu diajak untuk melihat nilai budaya lain, sehingga mengerti secara mendalam, dan akhirnya dapat menghargainya. Modelnya, bukan dengan menyembunyikan budaya lain, atau menyeragamkan berbagai budaya menjadi satu, budaya nasional, sehingga budaya lokal hilang. Dalam pendidikan berbasis multikultural, tiap budaya diakui mempunyai nilai sendiri, kebenaran sendiri.
85 BAGIAN IV SASTRA LISAN DAN RITUAL
86 TRADISI RITUAL NYEPI DI SAWAH Hari Raya Nyepi Hari raya Nyepi bagi umat Hindu adalah hari suci keagamaan yang datangnya setiap tahun sebagai pergantian Tahun Caka menurut kalender Hindu. Hari Nyepi ini sudah diakui secara nasional, namun yang luar biasa dan unik adalah Nyepi di sawah, yakni kegiatan ritual yang dilakukan para petani. Nyepi di sawah adalah suatu aturan yang dibuat oleh para petani dalam suatu wilayah subak menyangkut perilaku, pantangan atau larangan-larangan tertentu yang diistilahkan dengan brata. Aturan tersebut ditetapkan oleh subak yang dilaksanakan dalam wilayah subak bersangkutan untuk batas waktu tertentu. Ritual Nyepi di sawah itu biasanya berlangsung satu sampai tiga hari. Tradisi Nyepi di sawah ini merupakan tradisi lisan yang lengkap karena mengandung cerita rakyat (mitos), nyanyian rakyat, dan ritual/upacara yang perlu dilestarikan. Pelestarian ini sangat penting karena tradisi lisan tersebut mampu menjaga keharmonisan lingkungan. Hampir di seluruh daerah di Indonesia memiliki keyakinan yang disebut dengan mitos. Keyakinan dalam wujud mitos tersebut, antara satu daerah dengan daerah lain memiliki kemiripan. Umumnya mitos dikaitkan dengan lingkungan alam sekitar penduduk setempat, sehingga dijumpai mitos tentang dewa-dewi, manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Bahkan masyarakat di negara-negara maju pun, sampai sekarang masih meyakini adanya mitos. Pada dasarnya, mitos mengatur hubungan keselarasan antara manusia dengan lingkungan. Kata mitos berasal dari bahasa Inggris myth yang berarti dongeng atau cerita yang dibuat-buat. Dalam bahasa Yunani disebut muthos yang berarti cerita mengenai Tuhan dan dewadewi (Eliade dalam Minsarwati, 2002 : 22). Pengertian secara
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 87 umum diberikan oleh sarjana Barat, Barthes (1981 : 193) menyebutkan, mitos adalah sistem komunikasi yang memberikan kesan berhubungan dengan masa lalu, ide, ingatan dan keputusan yang diyakini. Mitos sebagai bagian dari tradisi lisan, mengandung nilainilai yang menyangkut tata kehidupan komunitas tertentu. Nilainilai tersebut mulai ditinggalkan seiring dengan kemajunan teknologi informasi dan komunikasi. Pada hal lembaga internasional Unesco dalam konferensinya di Paris (2009), telah mengakui tradisi lisan tersebut sebagai warisan budaya dunia yang mesti harus dilindungi. Di antara sekian banyak tradisi lisan berupa mitos yang tersebar di Nusantara, yakni mitos Dewi Seri, sampai saat sekarang masih diyakini sebagai asal mula tanaman padi. Mitos ini berkembang di komunitas petani di daerah Jawa, Bali, dan Lombok. Bahkan di Bali, mitos Dewi Seri dikaitkan dengan tradisi Nyepi di sawah. Tradisi ini merupakan sebuah ritual yang dilakukan petani agar panen berhasil dengan baik. Petani di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali yang tergabung dalam organisasi subak kini memasuki era baru teknologi pertanian, mulai dari pembenihan, pengolahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen. Walaupun demikian, unsur tradisi seperti menghaturkan sesajen, dan ritual tidak pernah ditinggalkan. Ritual Nyepi di sawah tergolong unik karena belum banyak diketahui masyarakat khususnya generasi muda. Mereka umumnya mengenal Hari Raya Nyepi sebagai peringatan pergantian Tahun Caka bagi umat Hindu. Bagaimana mitos Dewi Seri, ritual, realitas, dan keunikan tradisi Nyepi di sawah menarik perhatian penulis untuk mengkajinya. Dengan demikian, diharapkan nilai-nilai tradisi unik komunitas petani ini terungkap untuk pembelajaran generasi muda. Sebab, generasi sekarang umumnya alergi dengan hal-hal yang berbau tradisi. Mereka memuja muji teknologi sehingga lupa dengan warisan budaya leluhur mereka. Nilai-nilai kearifan petani subak ini sangat penting untuk dibahas terlebih lagi subak di Tabanan khususnya subak Jatiuwih, dan sekitarnya di Kecamatan Penebel sejak tahun
I Nyoman Suaka 88 2012 diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Tinjauan Pustaka Menurut Peursen (1997 : 37-38) mitos memberikan arah kepada kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Dilihat dari fungsinya, mitos adalah, menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan gaib, memberi jaminan bagi masyarakat kini dan memberi pengetahuan tentang dunia. Barbour (dalam Esten, 1990:7) mengatakan bahwa mitos juga berupa cerita yang diambil untuk menyatakan sejumlah aspek aturan kosmos. Mitos bukanlah perkara betul atau salah, melainkan sesuatu yang berguna untuk memenuhi fungsi-fungsi sosial yang penting, seperti mengambarkan integritas masyarakat, alat kontrol sosial, identitas kelompok, dan harmonisasi komunal. Dalam kondisi demikian, menurut Fry (dalam Esten, 1990:7) mitos membantu untuk menerangkan dan mengarahkan gambaran yang jelas dalam hal kepercayaan masyarakat, tatanan hukum dan keadilan, sejarah dan struktur sistem sosial, lingkungan serta kenyataan dunia kosmos. Dari beberapa pernyataan para ahli di atas, maka dapat ditegaskan bahwa mitos merupakan sesuatu yang diyakini oleh kelompok masyarakat tertentu yang kemudian memberi pengaruh terhadap tingkah laku dan pandangan hidup mereka. Mitos yang hidup dan berkembang di dalam satu masyaraat belum tentu berterima di masyarakat lain. Namun, sebagai sesuatu yang universal tidak tertutup kemungkinan bahwa suatu mitos dapat diterma oleh masyarakat yang lebih luas. Mitos itu akan semakin kukuh apabila semakin banyak kenyataan yang mendukungnya, termasuk kisah-kisah yag dibantu oleh karya sastra. Mitos seperti itu diwariskan secra lisan dan berkelanjutan, tetapi juga mungkin melalui saluran media massa, seperti televisi, surat kabar, dan majalah. Hasannudin dan kawan-kawan (1999:6) menyebutkan, karya sastra merupakan salah satu sarana yang dapat mengukuhkan
Sastra Lisan: Kearifan Lokal di Era Global dan Digital 89 mitos yang ada dalam masyarakat. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa karya sastra itu sendiri justru menciptakan mitos baru dalam masyarakat. Di dalam masyarakat yang lebih modern, anggota masyarakat sering tidak menyadari telah berhadapan dengan mitos. Padahal mitos tersebut berpengaruh terhadap perilaku hidupnya. Teori yang digunakan untuk mengkaji mitos Dewi Seri dalan Tradisi Nyepi di Sawah adalah teori strukturalisme oleh Claude Levi-Straus dan teori semiotika oleh Rolland Bartes. Strukturalisme Levi-Straus beranggapan bahwa berbagai aktivitas sosial termasuk juga hasilnya, seperti dongeng, upacaraupacara, sistem kekerabatan, dan perkawinan merupakan sistem tanda dan simbol untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu (Soecbahman dan Syuropati, 2012:60). Dalam kajiannnya tentang mitos, Levis-Straus mencoba mempertemukan hubungan antara mitos dengan nalar manusia, mitos dengan bahasa, serta mitos dan musik. Dalam hal ini, dia mengungkapkan bahwa jika kita ingin mengetahui logika primitif, logika dasar, dalam bentuknya yang masih terkontaminasi oleh lingkungan yang artifisial dalam kehidupan manusia modern, maka kita perlu mempelajari proses-proses pemikiran dari masyarakat primitif, masyarakat yang masih sederhana. Hal ini, menurut Levi-Straus (dalam Soechbahman dan Suryopati, 2012 : 65) dirasa penting karena kerja nalar mereka masih mengikuti struktur tertentu, berbagai ragam fenomena budaya pada dasarnya merupakan perwujudan dari nalar. Adapun persamaan antara mitos bahasa yang diangkat LeviStraus adalah karena bahasa itu merupakan sebuah media, alat atau sarana berkomunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan dari satu individu ke individu yang lain. Demikian pula halnya dengan mitos yang disampaikan lewat bahasa mengandung pesan-pesan tertentu. Pesan-pesan dalam mitos diketaui lewat proses penceritaannya, seperti halnya pesan-pesan dalam bahasa dapat diketahui lewat pengucapannya. Ahli semiotika, Roland Barthes mengamati sejarah tu-