JURNAL BELAJAR 2
Pembelajaran biologi dilakukan pada hari Jum’at, 26 Februari 2021 melalui google meet,
Bu Puspa mengansen siswa – siswi, bu Puspa mengatakan bahwa jumlah siswa-siswi yang hadir
pada pertemuan hanya 56 dari 66 siswa-siswi masing-masing dari kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5.
Ibu Puspa kemudian membahas mengenai pelaksanaan SNMPTN, di mana dari SMA Negeri 1,
hanya 40% dari jumlah siswa-siswi dalam satu angkatan yang akan diambil. Tahun depan pada
bulan Januari sekolah akan memberi tahu siapa saja siswa yang masuk ke dalam SNPMTN. Maka
dari itu, Ibu Puspa mengingatkan siswa-siswi untuk berusaha semaksimal mungkin agar
memperoleh hasil yang diinginkan, dan untuk meningkatkan nilai yang sudah diterima.
Setelah itu, Ibu Puspa membahas mengenai kegiatan yang akan dilakukan pada hari ini,
yaitu mempresentasikan tugas hasil analisis organ sistem ekskresi berdasarkan judul yang telah
ditentukan masing-masing. Ibu Puspa berharap siswa-siswi dapat menguasai materi yang mereka
tulis/ketik, dengan tidak hanya membaca hasil analisis namun juga mampu menguasai dan
mengerti materi apa yang akan disampaikan ketika presentasi berlangsung. Nilai tidak hanya
diukur berdasarkan nilai Ulangan Harian, melainkan nilai keseharian masing-masing siswa-siswi,
seperti kecakapan dalam berpresentasi, menjawab pertanyaan, keterampilan, sikap, dan lainnya.
Ibu Puspa mengatakan bahwa Ibu Puspa juga melakukan hal yang sama, Ibu Puspa selalu
mempersiapkan kegiatan atau materi yang akan Ibu Puspa jelaskan pada setiap pertemuan atau
kegiatan pembelajaran Biologi di kelas-kelas yang Ibu Puspa ajar. Ibu Puspa kemudian
menyampaikan bahwa kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 merupakan kelas-kelas yang Ibu Puspa
banggakan dan spesial, meskipun pada dasarnya semua kelas memiliki kebanggaan dan
keahliannya tertentu.
Karena hal tersebut, Ibu Puspa memutuskan untuk mempersilahkan siswa-siswi untuk
mengajukan dirinya sendiri untuk mempresentasikan tugas hasil analisis organ sistem ekskresi
berdasarkan judulnya masing-masing. Candyle mengajukan diri untuk mempresentasikan atau
menjelaskan mengenai hasil analisisnya mengenai organ sistem ekskresi yakni kulit. Candyle
menjelaskan pengertian, struktur, fungsi, dan proses yang terjadi pada kulit dengan padat, jelas
dan singkat menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
146
Setelah selesai presentasi, Ibu Puspa kemudian menambahkan bahwa seperti yang sudah
dijelaskan, kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya materi mengenai kulit sudah dijelaskan sejak
sekolah pada tingkat SMA, kulit dapat mengeluarkan zat sisa yang tidak diperlukan dalam tubuh.
Ibu Puspa lalu menanyakan kepada siswa-siswi untuk memberikan pendapat, menambahkan
penjelasan, atau bertanya mengenai presentasi Candyle tadi.
Deswita kemudian mengajukan diri untuk menambahkan penjelasan mengenai gangguan
atau kelainan pada kulit. Sesudah itu, Engeline mengajukan diri untuk menambahkan penjelasan
lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran keringat. Shofa juga
mengajukan diri untuk menambahkan penjelasan mengenai cara atau upaya apa saja yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit kulit.
Selanjutnya, Afif menambahkan penjelasan lebih lanjut mengenai faktor yang
mempengaruhi pengeluaran kulit yakni kondisi tubuh, dan Aldian menambahkan penjelasan lebih
lanjut mengenai lapisan-lapisan pada kulit.
Pada akhir pertemuan Biologi, Bu Puspa menyampaikan bahwa pada pertemuan
selanjutnya akan dilanjutkan presentasi mengenai organ sistem ekskresi berdasarkan judul masing-
masing, dan meskipun ada beberapa siswa-siswi yang mendapatkan judul Kulit yang belum
mendapat nilai, belum tentu pertemuan selanjutnya akan tetap dilanjutkan pembahasan mengenai
kulit atau judul lain (ginjal atau hati). Pembelajaran biologi pun selesai dan ditutup.
147
JURNAL BELAJAR 3
Pembelajaran biologi dilakukan pada hari Rabu, 3 Maret 2021 melalui google meet. Pada
awal pembelajaran Bu Puspa mengungkapkan bahwa pada pertemuan kali ini, Bu Puspa
mempersilahkan siswa-siswi untuk mempresentasikan hasil analisis mengenai organ sistem
ekskresi yakni ginjal. Aaliyah kemudian mengajukan diri yang pertama untuk menjelaskan
mengenai ginjal. Ketika Aaliyah ingin menjelaskan struktur ginjal Bu Puspa menyuruh Aaliyah
untuk berhenti agar yang lainnya dapat kebagian. Setelah itu, Ibu Puspa mempersilahkan yang
ingin bertanya dan Thezar pun mengajukan diri. Thezar bertanya mengenai jenis zat apa saja yang
dikeluarkan ketika pengeluaran zat sisa organik atau zat racun terjadi. Aaliyah kemudian
menjawab pertanyaan Thezar dengan memberikan contoh jenis zat-zat organik.
Selanjutnya Dwi lalu mengajukan diri untuk menjelaskan mengenai struktur dari organ
ginjal. Sesudah itu, Ibu Puspa menyuruh Ailman untuk sharescreen powerpoint mengenai sistem
ekskresi yang telah Ibu Puspa bagikan di grup kelas Biologi. Ibu Puspa lalu mempersilahkan siswa-
siswi kelas XI IPA 5 untuik menjelaskan gambar dari organ ginjal yang tersedia di powerpoint
yang ditampilkan. Karena tidak ada yang menjawab, maka Ibu Puspa memutuskan untuk
menunjuk siapa yang akan menjelaskan. Ibu Puspa lalu menyuruh Albert untuk menjelaskan
struktur organ ginjal berdasarkan gambar.
Selanjutnya, Ibu Puspa bertanya kepada siswa-siswi apakah ada yang ingin
menambahkan penjelasan Albert. Dwi pun mengajukan diri untuk menambahkan penjelasan
mengenai bagian dari ginjal yang berbentuk seperti piramida dan hubungannya dengan proses
yang terjadi pada ginjal. Dwi juga menjelaskan bahwa di dalam medula, terdapat nefron. Ibu Puspa
kemudian menjelaskan ulang penjelasan Albert dan Dwi. Ibu Puspa juga mengatakan bahwa
seperti yang dijelaskan oleh Albert dan Dwi, bagian medula dan korteks termasuk dalam jaringan
parenkim.
Ibu Puspa menjelaskan bahwa nefron mempunyai 2 komponen diantaranya komponen
vaskula (pembuluh) dan komponen kobuler (tabung), di mana masing-masingnya terdiri atas 4
bagian. Komponen vaskular atau pembuluh terdiri atas arteriola aferen, glomerulus, arteriola
eferen, dan kapiler peritubuler. Sedangkan komponen kbuler (tabung) yang terdiri atas kapsul
148
Bowman, tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle (baik yang naik maupun turun), tubulus
kontortus distal, dan duktus kolektivus.
Selanjutnya, Ibu Puspa mempersilahkan siswa-siswi yang ingin menjelaskan mengenai
mekanisme pembentukan urine. Dwi lalu mengajukan diri untuk menjelaskan bagaimana
mekanisme pembentukan urine. Setelah itu Ibu Puspa kemudian menunjuk Alya Herliani untuk
menjelaskan mengenai proses mekanisme pembentukan urine yang terjadi pada ginjal. Alya
Herliani menjawab dengan menjelaskan mengenai filtrasi glomerulus yang merupakan tahap
pertama mekanisme pembentukan urine di ginjal.
Sesudah itu, Ibu Puspa menunjuk Oasis untuk menjelaskan mengenai awal proses
terjadinya filtrasi di glomerulus. Oasis pun menjelaskannya. Ibu Puspa lalu menunjuk Alfonsus
untuk menjelaskan mengenai proses penyerapan kembali (reabsorpsi) yang merupakan tahap
kedua mekanisme pembentukan urine pada ginjal dan Alfonsus pun menjelaskannya. Tak lama
setelah penjelasan Alfonsus berakhir, Ibu Puspa menanyakan kepada Alfonsus mengapa bisa
terjadi proses reabsorpsi. Alfonsus tidak langsung menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan
menjelaskan melainkan dengan mengatakan bahwa ia masih memikirkannya.
Ibu Puspa lalu menanyakan perihal alasan terjadinya proses reabsorpsi pada ginjal
tersebut kepada siswa-siswi. Dwi kemudian mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan Ibu
Puspa dengan menjelaskan bahwa pada tubulus kontortus proksimal, masih terdapat zat-zat yang
diperlukan tubuh sehingga zat-zat penting atau baik tadi harus diserap terlebih dahulu. Ibu Puspa
lalu menjelaskan bahwa hasil dari proses reabsorpsi adalah urine sekunder. Urine sekunder
kemudian akan lanjut diproses ke tahap selanjutnya, tepatnya tahap ketiga mekanisme
pembentukan urine di ginjal yakni augmentasi.
Selanjutnya, Ibu Puspa menunjuk Boeih untuk menjelaskan mengenai proses augmentasi
pada ginjal. Boeih juga menjelaskan bahwa proses augmentasi nantinya akan menghasilkan urine
sebenarnya atau sesungguhnya dan mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh.
Setelah beberapa lama kemudian, Ibu Puspa menjelaskan kembali bahwa augmentasi
adalah proses penambahan kembali zat-zat yang diperlukan tubuh, di mana pada lengkung Henle
terjadi proses reabsorpsi air terbanyak. Aurel kemudian mengajukan diri untuk menambahkan
149
penjelasan mengenai proses augmentasi. Ibu Puspa lalu mempersilahkan siswa-siswi lain yang
ingin menambahkan penjelasan. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Ibu Puspa memutuskan
untuk menunjuk Diky untuk menjelaskan apa yang terjadi di duktus kolektivus sampai terjadi
proses pengeluaran, Diki pun menjawabnya.
Ibu Puspa lalu kembali bertanya kepada Diki di mana puncak pengumpulan urine terjadi,
Diki pun menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan mengatakan bahwa puncak pengumpulan urine
terjadi di kandung kemih. Selanjutnya, Ibu Puspa menanyakan mengenai berapa lama urine dapat
bertahan di kandung kemih, Diki lalu menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan mengatakan bahwa
waktu lamanya urine dapat bertahan di kandung kemih berdasarkan pengalamannya sendiri yaitu
tidak sampai 1 jam.
Bu Puspa pun menanyakan perihal itu kepada Dwi, kemudian Dwi memberikan
pendapatnya mengenai hal tersebut dengan mengatakan bahwa urine dapat bertahan hingga
kandung kemih benar-benar penuh, kemudian kantung kemih memberikan signal ke otak bahwa
urine siap untuk dikeluarkan setidaknya sampai sekitar 170-230 ml.
Pada akhir pertemuan Biologi secara daring, Bu Puspa memeriksa kehadiran siswa-siswi
pada kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5. Kehadiran siswa-siswi kelas XI IPA 5 lengkap sedangkan
kehadiran siswa-siswi kelas XI IPA 4 kurang lengkap, dengan 3 siswa-siswi tidak hadir karena
izin. Pembelajaran pun selesai dan ditutup.
150
JURNAL BELAJAR 4
Pada awal pertemuan Biologi secara daring di Google Meet pada hari Jum’at, 5 Maret
2021, Ibu Puspa mengatakan bahwa hari ini kita akan melanjutkan pembahasan mengenai ginjal.
Ibu Puspa menanyakan kepada siswa-siswi mengenai apa saja faktor-faktor pembentukan urine.
Thezar kemudian mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan mengatakan
bhwa faktor pembentukan urine terbagi menjadi 2 faktor, diantaranya faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal diantaranya yaitu hormon insulin,hormon ADH, dan hormon renin
angiotensin-aldosteron, sedangkan faktor eksternal antara lain alkohol, suhu lingkungan dan
jumlah air yang diminum.
Setelah itu, Ibu Puspa menanyakan kepada siswa-siswi apakah ada yang ingin
memberikan pendapat dan menambahkan penjelasan tentang ginjal. Ruth kemudian mengajukan
diri untuk menambahkan penjelasan mengenai sifat fisik dari urine. Kemudian, Ibu Puspa
menjelaskan kembali mengenai faktor pembentukan urine yang telah dijelaskan oleh Thezar.
Selanjutnya, Ibu Puspa menanyakan kepada siswa-siswi apakah ada yang ingin menjelaskan secara
spesifik masing-masing faktor-faktor pembentukan urine. Karena tidak ada jawaban, Ibu Puspa
lalu menunjuk Faisal untuk menjawabnya. Ibu Puspa juga menanyakan kepada Faisal mengenai
alasan mengapa hormon ADH harus dikeluarkan atau disekresikan oleh ginjal. Faisal kemudian
menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan mengatakan bahwa alasan mengapa hormon ADH harus
dikeluarkan atau diseksresikan oleh ginjal yaitu untuk menjaga kadar air di dalam tubuh, karena
jika hormon ADH di dalam tubuh meningkat dan tidak dikeluarkan, maka akan menyebabkan
reabsorbsinya meningkat, urine yang dihasilkan lebih sedikit, yang akan memengaruhi kesehatan
tubuh.
Sesudah itu, Ibu Puspa menunjuk Gita untuk memberikan pendapat atau menambahkan
penjelasan dari Faisal. Gita pun menjelaskan bahwa ia memiliki pendapat yang sama dengan
Faisal, bahwa jika terjadi peningkatan hormon ADH dalam aliran darah dalam ginjal maka akan
menyebabkan dehidrasi karena reabsorpsi di ginjal meningkat, jumlah urine semakin rendah dan
jumlah kadar air dalam tubuh tidak seimbang. Ibu Puspa lalu menanyakan kepada Faisal dan Gita
mengenai mana kah yang lebih baik jika kita lebih banyak minum atau sedikit minum. Keduanya
151
lantas menjawab lebih baik jika kita banyak minum. Ibu Puspa lalu menanyakan kembali pada
Gita apakah ia bisa menjelaskan mengenai hormon insulin lebih lanjut, Gita pun menjelaskannya.
Ibu Puspa kemudian menanyakan kepada siswa-siswi XI IPA 5 apakah ada yang ingin
menjelaskan mengenai ginjal, Farren lalu mengajukan diri untuk menjelaskan mengenai
pengertian dan peran hormon insulin. Kemudian, Ibu Puspa menanyakan Faren mengenai
hubungan hormon insulin dengan ginjal, Faren pun menjawab pertanyaan Ibu Puspa namun Ibu
Puspa mengatakan bahwa Ibu Puspa belum mendapatkan jawaban yang meyakinkan. Setelah itu,
Ibu Puspa menunjuk Je Ivan untuk menjelaskan bagaimana hubungan hormon insulin dengan
ginjal Je Ivan pun menjawabnya dengan mengatakan bahwa hormon insulin berperan dalam
mengatur gula dalam darah, di mana jika hormon insulin kurang, akan menyebabkan penyakit
kencing manis yang artinya kadar glukosa dalam darah tinggi. Tak lama kemudian, Marcellino
mengajukan diri untuk menjelaskan bagaimana hubungan hormon insulin dengan ginjal. Ibu Puspa
lalu menambahkan bahwa kadar glukosa dalam tubuh harus normal, tidak boleh kurang maupun
lebih.
Sehabis itu, Ibu Puspa menunjuk Andri untuk menjelaskan mengenai sistem renin, Andri
pun menjelaskannya. Ibu Puspa lalu menunjuk Nanda untuk menjelaskan asal sistem renin dan
bagaimana perannya dalam pembentukan urine, Nanda pun menjelaskannya. Setelah itu, Ibu Puspa
menunjuk Raina untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai faktor eksternal yang mempengaruhi
proses pembentukan urine. Raina pun menjelaskannya dengan mengatakan bahwa faktor eksternal
diantaranya yaitu suhu lingkungan, di mana jika suhu lingkungan di sekitar panas, maka tubuh
akan mengeluarkan banyak keringat, osmolaritas darah meningkat, sekresi ADH meningkat,
reabsorpsi air banyak, dan jumlah urine semakin sedikit, begitu juga sebaliknya. Setelah selesai
mendengarkan penjelasan Raina, Ibu Puspa lalu menanyakan apa itu osmolaritas kepada Raina.
Raina kemudian menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan mengatakan bahwa berdasarkan
pencarian di internet (google.com), osmolaritas merupakan metode yang digunakan untuk
menggambarkan konsentrasi larutan osmotik. Ibu Puspa lalu mengatakan bahwa osmolaritas
adalah kepekatan darah.
Selanjutnya, Ibu Puspa menunjuk Raisya untuk menjelaskan mengenai apa saja sifat fisik
urine. Raisya menjawab pertanyaan Ibu Puspa dengan mengatakan bahwa sifat fisik urine
152
diantaranya: Urine berwarna kuning muda atau kuning tua, Memiliki pH sekitar 6-7, Memiliki
aroma ammonia, Tidak mengandung glukosa dan protein, Terdapat ion klorida Ibu Puspa
kemudian menjelaskan kembali kepada siswa-siswi mengenai sifat fisik urine dengan lebih detail.
Selanjutnya, Ibu Puspa mengingatkan sisw-siswi bahwa ketika seseorang mengalami
sakit ginjal, maka minumnya akan diatur. Karena jika pasien mengonsumsi minuman terlalu
banyak, maka air yang diminum akan sulit dikeluarkan sebab ginjalnya tidak dapat berfungsi
semestinya. Yang pada akhirnya, air tersebut berkumpul di jantung atau paruparu, karena ginjal
tidak mampu menyaring dan mengeluarkannya melalui urine. Ibu Puspa juga mengingatkan untuk
senantiasa hidup sehat, minum air putih yang cukup, jangan meminum alkohol karena alkohol
sendiri memengaruhi pembentukan urine seperti yang sudah dijelaskan. Tape merupakan salah
satu makanan yang mengandung alkohol, sehingga lebih baik untuk mengonsumsinya dengan
sedikit, tidak berlebihan. Jangan mudah terpengaruh orang lain, lebih baik untuk tetap memegang
teguh prinsip yang kita pilih, contohnya prinsip untuk tidak mengonsumsi alkohol (miras dan lain-
lain).
Ibu Puspa mengatakan bahwa perilaku yang saat ini kita lakukan akan menentukan
kondisi kesehatan kita pada usia tua, setidaknya pada usia 40 tahun ke atas. Ibu Puspa kemudian
mengajak siswa-siswi untuk memiliki pola hidup yang sehat, makan-makanan yang sehat dan
bergixi (4 sehat 5 sempurna), berolahraga, dan tidur yang cukup. Pembelajaran biologi ditutup dan
selesai.
153
JURNAL BELAJAR 5
Pada pembelajaran biologi pada tanggal 10 Maret 2021 saya tidak hadir dikarenakan
sakit. Saya menanyakan teman saya apa yang dibahas dan dipelajari. Teman saya mengatakan
bahwa pembelajaran hari itu melanjutkan materi sistem ekskresi yaitu hati. Saya pun membaca
dan memplajari mengenai hati secara mandiri dirumah untuk mengejar ketertinggalan saya di
pembelajaran hari itu.
JURNAL BELAJAR 6
Pada pembelajaran pada biologi yang dilakukan pada hari Jumat, 12 Maret 2021, Bu Puspa
memberikan kami tugas mandiri berupa analisis organ ginjal, hati, dan kulit. Bu Puspa
memberikan pengumuman kepada kami melalui grup WA kelas. Kali ini tidak ada meet karena
guru-guru melakukan rapat membahas ujian sekolah kelas XII. Bu Puspa memberikan ruang di
classroom dengan tenggat waktu jam 4 sore.
Saya memulainya dengan menuliskan secara garis besar rangkuman ginjal, hati, dan kulit
di word. Saya mendapatkan referensi dari buku paket biologi karya Irnaningtyas terbitan Erlangga
dan beberapa web lainnya. Sebelum memulai analisis saya menambahkan fungsi ekskresi terlebih
dahulu. Kemudian saya memulai analisis dari ginjal saya baca, pahami, dan rangkum mulai dari
pengertian, fungsi, struktur, proses yang terdapat di ginjal. Kemudian saya lanjutkan ke analisis
hati. Pada analisis hati, saya banyak mengambil sumber dari buku paket. Di dalam analisis hati,
saya memasukkan penjelasan singkat, fungsi, struktur, dan proses ekskresi di hati. Saya
menambahkan analisis mengenai paru paru secara garis besar saja. Kemudian saya membuat
analisis kulit. Sebelumnya saya mendapat bagian kulit sehingga saya hanya memperbaiki dan
menambahkan hal hal yang dirasa kurang. Pada analisis kulit saya menjelaskan pengertian, fungsi,
struktur, kelenjar pada kulit, proses pengeluaran panas oleh kulit, proses pengeluaran keringat, dan
tambahan proses pergantian sel pada kulit. Saya juga menjelaskan secara singkat gangguan dan
teknologi pada sistem ekskresi.
Setelah analisis saya selesai di word kemudian saya rapikan dan memberikan beberapa
warna. Kemudian saya baca lagi analisis saya ketika dirasa cukup saya mengumpulkan tugas
analisis saya di google classroom tepat waktu sebelum dealine yang diberikan.
154
JURNAL BELAJAR 7
Pembelajaran biologi dilakukan pada hari Rabu, 17 Maret 2021 melalui google meet. Pada
pembelajaran hari ini berisikan presentasi dari murid yang belum sempat presentasi. Sebelum
dimulai presentasi, Bu Puspa membahas mengenai tugas yang diberikan pada hari Jumat
mengenai analisis sistem ekskresi. Bu Puspa memberikan kami tugas tersebut dikarenakan
adanya rapat guru yang membahas mengenai ujian sekolah untuk anak kelas XII. Bu Puspa
memberi kami beberapa kritik dan saran mengenai tugas yang diberikan. Bu Puspa
memberitahukan kami dalam membuat analisis jangan asal copas dari internet atau sumber
lainnya melainkan harus kita cerna dan pahami kemudian kita olah menurut bahasa dan
pemahaman kita sendiri. Bu Puspa akan mengetahui mana yang berdasarkan pemahaman sendiri
dan asal copas saja. Bu Puspa juga membahas mengenai ulangan sistem ekskresi yang akan
dilaksanakan pada hari Senin menggunakan CBT. Bu Puspa mengingatkan kami untuk belajar
dengan baik agar siap dalam mengerjakan soal ulangan nanti.
Bu Puspa mengingatkan untuk presentasi kali ini, hanya menjelaskan yang sebelumnya belum
pernah dijelaskan oleh temannya. Selain itu juga tidak akan dibahas karena di meet sebelumnya
sudah dibahas, kecuali bila ada kesalahan informasi. Bu Puspa pun mempersilahkan salah satu
dari kami memulai presentasi. Yuniar pun mengajukan dirinya. Yuniar membahas mengenai
jenis kulit wajah yang terdiri dari kulit berminyak, kulit kering, kulit sensitif, dan kulit normal.
Bu Puspa memuji Yuniar dan memberikan kesempatan ke yang selanjutnya. Ada beberapa anak
yang mengajukan, Bu Puspa memilih Alya Shakila. Alya Shakila membahas mengenai kulit,
lebih detailnya yaitu proses keratinasi. Bu Puspa berterima kasih kepada Alya karena
penjelasannya yang baik. Setelahnya adalah Fani. Fani berasal dari kelompok hati dan ia
menjelaskan struktur hati.
Dilanjutkan lagi oleh Ashaz. Ashaz menjelaskan struktur kulit. Sama seperti Fani, sebelumnya
memang sudah pernah dibahas, tapi Ashaz menjelaskan lebih dalam. Semakin banyak yang
mengajukan diri, Bu Puspa berkata bahwa beliau hanya memilih murid yang menyebutkan
namanya, bukan yang sekedar mengajukan diri tanpa nama.
Setelah itu, dilanjutkan oleh Madinah. Madinah membahas mengenai prinsip pertolongan luka
bakar. Pada kali ini, Bu Puspa meluruskan beberapa informasi yang diberikan seperti mengaliri
luka bakar dengan air. Menurut Bu Puspa itu tidak baik, karena akan menyebabkan luka
155
menggelembung. Lebih baik bila didiamkan terlebih dahulu. Namun Bu Puspa tidak menyatakan
bahwa penjelasan Bu Puspa yang paling benar. Bu Puspa juga menambahkan mungkin maksud
madinah luka bakar tersebut dialiri dengan air mengalir langsung dan tidak direndam, hal itupun
dijawab Iya oleh Madinah.
Setelahnya, dilanjut oleh Jason. Jason berasal dari kelompok hati dan ia membahas mengenai
proses mengetahui penyakit hati. Dilanjutkan lagi oleh Gabriel dari kelompok kulit, yang
membahas penyakit kulit satu per satu dengan jelas seperti penyebab, gejala, dan cara
menyembuhkannya.
Kemudian giliran Ghina. Ghina dari kelompok hati dan ia menjelaskan penyebab faktor hati. Bu
Puspa sedikit mengomentari penjelasan Ghina dikarenakan sangat singkat. Meski Bu Puspa
sempat meminta kami untuk menjelaskan dengan singkat, padat, dan jelas, bukan artinya
sependek itu. Namun Bu Puspa tetap menghargai penjelasan Ghina dan melanjutkannya ke yang
lain.
Khansa pun menjelaskan mengenai cara menghentikan gangguan hati. Dilanjut lagi ke Zinedine
yang menjelaskan mengenai ligamen hati, lalu Ivan membahas mengenai kapalan. Setelah itu
adalah Rafi. Rafi sebelum menjelaskan sempat ditegur Bu Puspa dikarenakan kameranya tidak
menunjukkan wajahnya, Bu Puspa pun meminta Rafi untuk memposisikan diri yang baik seperti
teman – teman lainnya, setelah posisi sudah benar Bu Puspa pun mempersilahkan Rafli untuk
menjelaskan. Rafi menjelaskan mengenai pengeluaran keringat. Bu Puspa memuji penjelasannya
dan memberikan kesempatan ke yang lainnya. Di 15 menit terakhir, Adhel menjelaskan mengapa
kulit dapat berkerut. Bu Puspa sedikit menambahkan informasi yang diberikan Adhel dan juga
memujinya bahwa materi yang diberikan sangatlah menarik.
Kemudian ada Naura yang membahas mengenai Sirosis dan juga Juan yang membahas mengenai
enzim hati. Bu Puspa sempat mengomentari penjelasan Juan yang panjang dan memuji bahwa
penjelasannya sangat bagus dan lengkap. Bu Puspa ada memberikan satu kesempatan lagi. Di
kesempatan terakhir, ada Samuel dan saya yang mengajukan diri. Dikarenakan Samuel yang
lebih dulu mengajukan diri, maka ia yang menjelaskan mengenai hati . Waktu pembelajaran pun
habis, pembelajaran selesai dan ditutup.
156
8.2 Analisis Organ Ekskresi Manusia
ANALISIS MENGENAI SISTEM EKSKRESI
Proses ekskresi berfungsi untuk:
• Menurunkan kadar zat produk metabolism (metabolit) dalam tubuh agar tidak
menyebabkan akumulasi (penimbunan).
• Melindungi sel – sel tubuh dari zat – zat yang bersifat racun.
• Menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh (homeostasis).
• Membantu mempertahankan suhu tubuh.
A. GINJAL
Ginjal adalah organ utama yang memproduksi urine
1. Fungsi Ginjal:
• Pengeluaran zat sisa organik seperti urea, amonia
• Pengeluaran zat racun
• Pengaturan keseimbangan konsentrasi ion - ion penting di dalam tubuh
• Pengaturan keseimbangan asam basa di dalam tubuh
• Penjaga tekanan darah melalui pengaturan pengeluaran garam dan air
157
• Pengatur produksi sel darah merah di dalam sumsum tulang
• Pengendalian konsentrasi nutrisi darah, seperti glukosa dan asam amino
• Mengubah vitamin D inaktif menjadi vitamin D aktif
2. Struktur Ginjal:
• Lobus ginjal, bagian yang menyusun ginjal.
• Hilus/hilum, cekungan pada sisi medial yang membentuk bukaan pada ginjal sebagai
tempat keluar masuknya pembuluh darah dan keluarnya ureter .
• Sinus ginjal, rongga berisi lemak yang membuka pada hilus.
• Parenkim ginjal, jaringan yang menyelubungi sinus ginjal, terbagi menjadi dua
bagian yaitu korteks (dalam) dan medula (luar)
o Korteks tersusun atas nefron-nefron. Nefron adalah unit struktural dan
fungsional terkecil dari ginjal yang membentuk urine. Nefron tersusun dari
komponen vaskuler (pembuluh) dan tubuler (tabung).
o Medula, tersusun atas lengkung henle desenden dan asenden, duktus
kolektivus, dan duktus papilaris
• Pelvis ginjal, rongga perluasan ujung proksimal (bagian atas) ureter.
3. Proses Pembentukan Urine
Dalam proses pembentukan urine, terdapat tiga tahap yaitu filtrasi, reabsorpsi, dan
augmentasi
1. Filtrasi
Proses penyaringan plasma bebas protein melalui kapiler glomerulus ke dalam
kapsul Bowman. Volume rata-rata plasma dalam tubuh itu sebesar 2,75 liter
sedangkan tiap harinya terbentuk 180 liter filtrat glomerulus, jadi ginjal menyaring
plasma itu sampai 65 kali per harinya. Ketika darah mengalir melewati membran
glomerulus, hanya sel darah dan protein plasma yang tertahan. Sedangkan seperti
air dan zat terlarut di dalam air itu masih dapat masuk. Tubuh masih ada
membutuhkan zat-zat yang masuk tersebut seperti glukosa, klorida, natrium, dan
sebagianya. Sehingga filtrat glomerulus atau urine primer masih perlu dilanjutkan
ke proses reabsorpsi.
2. Reabsorpsi
Reabsorpsi adalah proses penyerapan kembali zat yang dibutuhkan. Terjadi di
tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal, dan tubulus
kolektivus. Pada proses reabsorpsi, zat yang diserap masuk ke kapiler peritubuler
dan dikembalikan ke sistem peredaran darah. Zat-zat tersebut adalah ion natrium,
158
ion klorin, glukosa, air, urea, dan ion anorganik. Hasil yang dihasilkan adalah urine
sekunder.
3. Augmentasi
Tahap terakhir adalah augmentasi yaitu transpor aktif yang memindahkan zat-zat
tertentu dari darah ke dalam urine. Semua zat yang masuk ke cairan tubuler dan
tidak di reabsorpsi akan dieleminasi ke dalam urine sesungguhnya. Tahap
augmentasi terjadinya di kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, dan tubulus
kolektivus. Untuk zat-zat yang dipindahkan adalah ion hidrogen, amonia, kreatinin,
asam hipurat, obat-obatan tertentu, dan zat kimia asing dan juga ion kalium.
4. Penyimpanan Sementara Urine dan Berkemih
• Urine dari duktus kolektivus ke pelvis renalis, ke ureter, kemudian ke vesika urinaria
(kandung kemih).
• Dinding kandung kemih berlipat-lipat sengan struktur otot yang dapat meregang
untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan urine.
• Keinginan buang air kecil disebabkan isi urine dalam kandung kemih sudah
mencapai 170 – 230 mL.
• Urine dari kandung kemih mengalir ke uretra kemudian melalui lubang luar dibuang
keluar tubuh.
5. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Proses Pembentukkan Urine
Faktor internal:
• Hormon ADH: mengontrol pengeluaran urine. Jika kita sedikit minum, maka
sekresi ADH akan meningkat dan urine akan menjadi lebih sedikit atau lebih
pekat. Sebaliknya, jika banyak minum, maka sekresi ADH akan berkurang
sehingga urine lebih banyak atau encer
• Hormon insulin: menurunkan kadar glukosa darah. Jika kekurangan insulin,
maka kadar glukosa dalam darah akan tinggi dan reabsropsi glukosa
terganggu sehingga urine mengandung kada glukosa yang tinggi
• Sistem renin-angiotensin-aldosteron
Faktor eksternal:
• Suhu lingkungan
• Jumlah air yang diminum
• Alkohol dapat menghambat pembebasan ADH
159
6. Karakteristik Urine
a) Sifat Fisik Urine:
Volume normal 800 – 2500 mL/hari, warna kuning pucat sampai kuning tua,
berat jenis 1,003 – 1,035 g/cm3 dengan pH rata rata sekitar 6 atau sekitar 4,7 –
8, bau khas amonia, kecuali urine pada penderita diabetes, adanya aseton yang
menimbulkan bau amis.
b) Komposisi Urine:
• Urine normal : zat buangan nitrogen (urea, asam urat, dan kreatinin), benda
keton, asam hipurat, toksin, zat kimia asing, pigmen, enzim, vitamin, hormon,
dan elektrolit.
• Urine abnormal: : albumin, glukosa, sel darah merah, zat kapur, batu ginjal,
dan badan keton dengan jumlah berlebihan.
B. HATI
• Hati merupakan Kelenjar terbesar yang terletak di dalam rongga perut sebelah
kanan, tepatnya di atas lambung dan dibawah diafragma.
• Hati manusia memiliki berat sekitar 1,5 – 2,0 kg.
• Hati berfungsi sebagai alat ekskresi karena membantu fungsi ginjal dengan cara
memecah beberapa senyawa yang bersifat racun (detoksifikasi) dan menghasilkan
ammonia, urea, serta asam urat yang akan dihasilkan diekskresikan ke dalam
urine.
• Hati berfungsi mengasilkan empedu, trombopoietin, albumin, angiotensinogen,
enzim arginase, enzim glutamate – oksaloasetat transferase, glutamate – piruvat
transferase, dan laktat dehydrogenase.
C. PARU – PARU
• Organ ekskresi yang mengeluarkan sisa metabolisme berupa CO2 dan H2O yang
berbentuk uap air.
• CO2 dan H20 dihasilkan pada proses katabolisme rsespirasi intraseluler yang
terjadi secara aerob ( memerlukan O2) didalam mitokondria, untuk menghasilkan
energy berupa ATP (adenosine trifosfat).
• Pada respirasi intraseluler digunakan senyawa kompleks berupa karbohidrat,
protein, atau lemak.
• Zat sisa CO2 dan H2O dari sel – sel jaringan diangkut oleh darah menuju jantung,
ke paru – paru, selanjutnya melalui saluran pernapasan dibuang keluar dari tubuh.
160
D. KULIT
1. Fungsi Kulit
• Ekskresi, mengeluarkan lemak dan keringat yang mengandung air, garam, urea,
serta ion – ion seperti Na+
• Perlindungan, melindungi tubuh dari mikroorganisme, radiasi sinar matahari,
iritasi kimia, dan gangguan mekanik.
• Pangaturan suhu badan, kelenjar keringat dan pembuluh darah berfungsi mengatur
dan mempertahankan suhu badan.
• Metabolisme, menyintesis vitamin D dengan bantuan sinar matahari dan
menyimpan lemak sebagai sumber energy cadangan.
• Komunikasi, stimulus lingkungan diterima oleh reseptor kulit, misalnya
perubahan suhu, sentuhan, dan tekanan. Kulit merupakan media ekspresi wajah
yang penting untuk komunikasi.
2. Struktur Kulit
Kulit terdiri atas beberapa lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan hypodermis
(subkutaneus).
a) Epidermis
Bagian terluar kulit yang tersusun dari sel – sel epitel pipih (skuamosa) berlapis
banyak dengan susunan yang sangat rapat, dan mengalami keratinasi. Jaringan ini
tidak memiliki pembuluh darah. Epidermis yang sangat tebal terletak pada telapak
kaki dan tangan. Epidermis terdiri atas 5 lapisan yaitu Stratum Korneum (lapisan
epidermis paling atas), Stratum Lusidum (lapisan jernih dan transparan), Stratum
granulosum, Stratum spinosum (lapisan sel – sel spina (tanduk) yang memiliki
tonjolan penghubung intraseluler (desmosom), dan Stratum basalis (lapisan sel –
sel yang melekat pada jaringan ikat dari lapisan kulit dibawahnya (dermis)).
b) Dermis
Dipisahkan oleh membrane dasar (lamina) yang tersusun dari dua lapisan jaringan
ikat.
• Lapisan Papilar, jaringan ikat areolar renggang dengan fibrolas, sel mast
,dan makrofag. Papilla kulit ada yang menyerupai jari menonjol ke dalam
lapisan epidermis, mengandung banyak pembuluh darah, dan reseptor
sensor taktil (sentuhan).
• Lapisan retikuler, tersusun dari jaringan ikat ireguler yang rapat, kolagen,
dan serat elastik.
c) Hipodermis (subkutaneus)
Lapisan yang mengikat kulit secara longgar dengan organ – organ yang terdapat
di bawahnya. Lapisan ini banyak mengandung sel lemak, pembuluh darah, dan
ujung saraf.
161
3. Kelenjar pada Kulit
a) Kelenjar keringat (sudorifera) Terdapat di lapisan dermis.
Kelenjar keringat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekrin dan apokrin.
1. Ekrin, kelenjar keringat tubuler sederhana dan berpilin, tidak berhubungan dengan
folikel rambut, serta tersebar meluas ke seluruh tubuh terutama pada dahi, telapak tangan,
dan kaki. Sekresi keringat dari kelenjar ini mengandung air yang membantu pendinginan
melalui penguapan untuk mempertahankan suhu tubuh.
2. Apokrin, kelenjar keringat yang besar dan bercabang dengan penyebaran yang terbatas
pada bagian tubuh tertentu, misalnya pada aksila (ketiak), areola payudara, dan arca
genital. Sekresi dari kelenjar ini pada awalnya tidak berbau, yang kemudian akan berbau
karena bakteri.
b) Kelenjar Sebaseus, Mengeluarkan sebum yang biasanya dialirkan ke folikel rambut.
Sebum adalah campuran lemak, Kelenjar lilin, minyak, dan pecahan-pecahan sel. Sebum
berfungsi sebagai pelembut kulit, bakterisida, dan sebagai pertahanan terhadap evaporasi.
4. Proses Pengeluaran Panas oleh Kulit
Proses pengeluaran panas oleh kulit dapat melalui beberapa cara yaitu:
• Pemancaran, panas dilepas ke udara disekitarnya.
• Pengaliran (konveksi),mengalirnya udara yang telah panas karena menyentuh
permukaan tubuh, kemudian digantikan oleh udara yang lebih dingin.
• Konduksi, panas dialihkan ke benda yang disentuh kulit, misalnya pakaian.
• Penguapan (evaporasi), panas dikeluarkan bersama keringat kemudian keringat
menguap. Keringat yang dikeluarkan bisa mencapai 2000 mL per hari, bergantung
pada kebutuhan tubuh dalam pengaturan panas.
5. Proses Pengeluaran Keringat
Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus di otak. Hipotalamus
menghasilkan enzim bradikinin yang berfungsi sebagai rasodilator yang memengaruhi
pelebaran pembuluh darah dan kelenjar keringat.
Jika darah yang melalui hipotalamus melebihi batas normal (panas), rangsangan
suhu pada panas tersebut diteruskan oleh saraf simpatis ke kulit. Pembuluh darah
berdilitasi (melebar), aliran darah ke permukaan kulit meningkat, sehingga terjadi
konduksi panas di bagian permukaan dan membuang panas. Kelenjar keringat juga
menjadi aktif untuk menyerap air, garam mineral, serta sedikit urea dari kapiler darah
yang kemudian mengirimkannya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat, sehingga
evaporasi (penguapan) meningkat, dan suhu badan menurun.
Sebaliknya, jika darah yang melalui hipotalamus lebih rendah dari batas normal
(dingin), pembuluh darah berkonstriksi (menyempit) yang akan mengurangi aliran darah
ke permukaan kulit untuk mempertahankan suhu tubuh dan kelenjar keringat menjadi
tidak aktif dalam pembentukan keringat.
162
Pengeluaran keringat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu lingkungan,
aktivitas tubuh, emosi, dan kondisi psikis.
6. Proses Pergantian Sel pada Kulit
Selama pergantian kulit, keratinosit membelah dan memperbanyak diri. Jika bagian
paling luar dari epidermis (disebut stratum corneum) mati dan terkelupas, sel-sel di bagian
bawahnya perlahan bergerak ke atas dan menggantikan posisi sel yang telah mati. Pergerakan sel
ini memakan waktu kurang lebih 20 hari. rentang waktu ini bergantung pada tebal epidermis.
Tebal lapisan epidermis beraneka, bergantung pada bagian tubuhnya. Misal, di daerah telapak
tangan sel-sel ini tebalnya mencapai 1.5 mm. Adapun di kulit kelopak mata, lapisannya sangat
tipis dan hanya setebal 0.05 mm. Semakin tebal sel, waktu yang dibutuhkan untuk pergantian
semakin lama. Pergantian menyeluruh pada semua lapisan epidermis ini, kurang lebih
membutuhkan waktu 47-48 hari (sebagian ada yang mengatakan 28 hari atau 40-56 hari).
Pergantian sel bisa terjadi sendiri. Namun, kadang proses tersebut tidak maksimal, dan
meninggalkan sumbatan sel kulit mati karena tidak semua orang memiliki fungsi pergantian kulit
ini yang baik.
Ada beberapa Faktor dapat menurunkan fungsi pergantian kulit seperti genetik, umur,
gaya hidup, paparan ultraviolet.
Untuk membantu proses pergantian kulit menjadi lebih baik dan maksimal ada beberapa
hal yang bisa dilakukan Jaga kesehatan, olahraga teratur, makanan yang bergizi dan baik seperti
buah dan sayur apalagi yang banyak mengandung vitamin E karena vitamin E itu bagus untuk
kesehatan kulit dimana dapat menjaga kelembapan kulit, serta mencegah kerutan pada wajah,
bersihkan wajah dengan baik, dan gunakan tabir surya secara teratur.
GANGGUAN SISTEM EKSKRESI
• Gangguan sistem urinaria antara lain: glikosuria, albuminuria, batu ginjal,
diabetes mellitus (kencing manis), diabetes insipidus, poliuria, gagal ginjal
(anuria), uremia, dan nefritis.
• Gangguan hati antara lain: liver, sirosis, hemokromatosis,
• gangguan kulit antara lain : biang keringat (miliaria), hyperhidrosis, anhidrosis,
bromhidrosis, eksem (dermatitis), kadas / kurap, kudis, athelete’s foot, vitilago,
jerawat, pruvitus kutanea, dan kalvus.
TEKNOLOGI SISTEM EKSKRESI
• Hemodialysis (cuci darah), transplatasi ginjal, ESWL (Extracorporeal Shock
Wave Lithotripsy), dan skin grafting (cangkok kulit).
163
BAB IX
SISTEM KOORDINASI
9.1 Jurnal Belajar
JURNAL BELAJAR 1
Pembelajaran biologi dilakukan pada hari Jum’at, 26 Maret 2021 melalui meet. Bu Puspa
mengabsen kami terlebih dahulu. Bu Puspa membahas nilai ulangan kami dan Bu Puspa .
mengatakan bahwa nilai kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 selalu memuaskan. Asbensi IPA 5 selalu
bagus karena muridnya selalu hadir, tetapi sayang untuk IPA 4 absensi masih kurang.
Bu Puspa menjelaskan mengenai kaka kelas 12 yang sehabis ujian dan ada beberapa yang
diterima melalui jalur SNMPTN. Tahun depan adalah giliran kita oleh karena itu, kita harus
mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Sistem dari SNMPTN adalah nilai rapot sem 1-5
diperingkat, dan diambil hanya 40%. Bu Puspa mengingatkan kepada kami untuk
mempersiapkan SNMPTN, jangan takut untuk ikut nasional maupun yang internasional karena
itu sangat berpengaruh. Bila tidak berhasil,jangan sedih dan tetap terus berusaha.
Selanjutnya kami membahas mengenai materi bab sistem koordinasi, dimana ada tiga
sistem saraf, sistem hormone, dan sistem indera. Semuanya merupakan satu kesatuan untuk
koordinasi. Bu Puspa menjelaskan secara singkat mengenai sistem koordinasi. Pertama yaitu sel
saraf neuron. Pada sistem sel saraf atau neuron, struktur terkecilnya adalah neuron. Kumpulan
neuron disebut berkas. Kumpulannya menjadi sistem saraf dan tepi.
Kemudian, Bu Puspa menjelaskan mengenai akson yang dikelompokkan berdsarakan
fungsi ada tiga yaitu, sensor, motor, dan konektor. Sedagkan berdasarkan juluran sitoplasmanya,
ada bipolar, unipolar, dan multipolar. Istilah – istilah harus dicatat dan dirangkum. Bu Puspa
menutup meet dan pembelajaran berakhir.
164
JURNAL BELAJAR 2
Pembelajaran biologi dilakukan pada hari Jum’at 16 April 2021 melalui meet yang
membahas mengenai sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Bu Puspa memberikan apresiasi
kepada kami mengenai kerja kaeras kami dalam mengerjakan tugas yang bu puspa berikan pada
pertemuan sebelumnya.
Kemudian kami melanjutkan materi pelajaran mengenai SSP dan SST. Bu Puspa
memberikan tugas analisis yang berarti tidak hanya mengambil dari sumber namun juga
menganalisi menurut pemikiran dan pemahaman sendiri. Membaca dan menelaah dari sumber
dan diolah menjadi suatu tulisan. Proses tersebutlah yang diinginkan. Bukan hanya copy paste
apalagi sampai sama penjelasannya dengan teman yang lain, Bu Puspa mengatakan pasti antara
anak yang satu dengan yang lain memiliki suatu perbedaan.
Kami pun melanjutkan materi sampai pembelajaran biologi selesai dan berakhir.
165
JURNAL BELAJAR 3
Pada pembelajaran biologi dilakukan pada hari Rabu, 28 April 2021 melalui meet yang
membahas mengenai sistem hormon dan sistem indera. Mengenai tugas kami Bu Puspa memuji
hasil pekerjaan kami, tetapi sayang ada beberapa yang mengcopy paste dari internet dan sama
persis. Pembelajaran itu dihabiskan dengan membahas tugas yang kami kerjakan sampai waktu
biologi berakhir.
Pada pembelajaran hari ini saya mendapatkan banyak penegtahuan mengenai sistem
indera dan sistem indera. Pertanyaan dari Bu Puspa membuka penalaran saya mengenai materi
ini.
9.2 Analisis, Struktur, Fungsi, dan Pengelompokkan terhadap Neuron, SSP, dan SST
ANALISIS SISTEM KOORDINASI
1. SEL SARAF (NEURON)
➢ STRUKTUR NEURON
Bagian yang pertama disebut dengan Dendrit. Dendrit merupakan juluran sitoplasma
yang relatif pendek, bercabang-cabang dan berfungsi menerima rangsangan untuk
dikirim ke badan sel. Setelah itu, rangsangan tersebut dikirim ke badan
sel atau perikarion. Pada badan sel ini rangsangan yang sebelumnya dikirim mulai
diproses. Badan sel juga memiliki inti atau nukleus di bagian tengah.
Setelah selesai diproses, rangsangan tersebut mulai berjalan ke Akson. Akson merupakan
juluran sitoplasma yang panjang dan berfungsi menghantarkan rangsang. Panjang akson
sekitar 1mm-1m. Ujung awal akson disebut akson hillock, sedangkan Ujung akhir
akson disebut akson terminal. Selain akson, ada juga yang disebut dengan Sel
Schwann. Sel Schwann merupakan penunjang sel saraf berupa lemak yang berfungsi
166
menghasilkan selubung myelin. Selubung myelin adalah bagian saraf yang berfungsi
untuk melindungi akson dan memberi nutrisi.
Kita bisa merasakan rangsangan dengan cukup cepat dikarenakan sistem saraf kita
mempunyai Nodus Ranvier. Nodus Ranvier inilah yang berperan penting dalam
mempercepat hantaran rangsangan. Bagian terakhir dari sistem saraf adalah Sinapsis.
Sinapsis merupakan penghubung antara neuron yang satu dengan neuron yang lainnya.
Selain itu, sinapsis juga berperan sebagai titik temu antara ujung akson dari neuron yang
satu dengan dendrit dari neuron lainnya atau hubungan ke otot dan kelenjar.
➢ MACAM – MACAM NEURON
Berdasarkan fungsinya, saraf dibagi menjadi Saraf Sensorik (Aferen) dan
Interneuron. Saraf Sensorik (Aferen) adalah saraf yang mengirimkan rangsang dari
daerah reseptor atau indra menuju sistem saraf pusat (otak/sumsum tulang
belakang). Saraf Interneuron adalah saraf penghubung yang banyak terdapat di otak dan
sumsum tulang belakang. Interneuron juga berfungsi menghubungkan neuron yang satu
dengan neuron yang lainnya.
Berdasarkan bentuknya, sel saraf terbagi menjadi Saraf Multipolar, Saraf Bipolar, dan
Saraf Unipolar. Saraf Multipolar memiliki satu akson dan dua dendrit, tetapi bisa juga
lebih. Contohnya ada di saraf motorik pada otak dan sumsum tulang belakang. Saraf
Bipolar memiliki dua juluran yang terdiri dari dendrit dan akson, misalnya reseptor
telinga, mata, dan hidung. Saraf Unipolar merupakan neuron bipolar yang hanya
memiliki satu juluran dari badan sel karena akson dan dendritnya mengalami fusi. Contoh
saraf unipolar adalah neuron pada embrio dan fotoreseptor mata.
167
➢ RANGSANGAN ATAU IMPULS
Rangsangan atau impuls adalah pesan yang diterima oleh reseptor atau tubuh
dari lingkungan luar, kemudian dibawa oleh neuron atau serangkaian pulsa elektrik yang
menjalari serabut saraf. Contoh impuls antara lain perubahan suhu, tekanan, bau, aroma,
suara, benda, dan berbagai rasa seperti asin, manis, asam, dan pahit. Impuls yang
diterima oleh reseptor dan disampaikan ke efektor kemudian dapat menyebabkan
terjadinya gerakan. Proses kita bergerak saja melibatkan sistem saraf.
Gerakan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gerak sadar dan gerak
refleks. Gerak sadar adalah gerak yang terjadi akibat disengaja atau disadari. Contohnya
gerakan memegang buku saat ingin belajar, atau ketika mengambil pensil.
Sedangkan Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari.
Penjalaran pada gerak reflek berlangsung cepat, melewati jalur pendek dan tidak
melewati otak. Tetapi gerak refleks ini melewati sumsum tulang belakang. Contohnya
antara lain terangkatnya kaki saat menginjak paku, menutupnya kelopak mata ketika
benda asing masuk ke mata dan gerakan tangan saat memegang benda panas.
168
2. SISTEM SARAF PUSAT (SSP)
Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf pusat berfungsi
sebagai pusat pengendali utama pada tubuh. Sistem saraf yang mengatur pergerakan tubuh kita,
misalnya saat tangan kita melakukan gerakan refleks ketika menyentuh mangkuk bakso yang
panas. Gerakan refleks itu, tanpa kita sadari merupakan tugas dari sistem saraf pusat.
Otak dan sumsum tulang belakang yang menjadi pengendali tubuh manusia, berada pada sistem
saraf pusat. Sistem saraf pusat bisa mengontrol gerakan tubuh dikarenakan sistem saraf pusat
mampu mengolah informasi atau rangsangan yang diperoleh dari indera-indera tubuh.
Informasi dan rangsangan tersebut disebarkan ke seluruh tubuh, sehingga tubuh kita bisa
merespon gerakan apa yang harus dilakukan ketika menerima informasi tersebut. Contohnya,
saat kita ingin menyantap semangkuk bakso, otak akan menerima informasi dalam bentuk visual
dari mata, bahwa ada semangkuk bakso di depan kita.
Bersamaan dengan itu, hidung kita akan menerima rangsangan berupa aroma dari bakso
tersebut. Kedua rangsangan itu kemudian dikirim ke otak untuk memberikan sinyal kepada
tangan kita, sehingga tangan kita bergerak mengambil sendok untuk memasukkan bakso
tersebut ke mulut kita.
Bagian – Bagian dari Sistem Saraf Pusat:
➢ Otak
Otak merupakan organ terpenting dari tubuh manusia yang tersusun oleh jutaan sel saraf.
Permukaan otak manusia yang berlipat-lipat, membuat otak manusia mampu menyimpan lebih
banyak neuron dibandingkan otak yang permukaannya mulus seperti pada sebagian besar
hewan. Berkat permukaan otak yang berlipat-lipat ini, manusia bisa memiliki kemampuan
kognitif yang lebih tinggi dibandingkan hewan. Otak manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu otak
depan, otak tengah, dan otak belakang.
169
➢ Otak Besar (Serebrum)
Serebrum atau otak besar menjadi bagian otak manusia yang menentukan dasar kecerdasan
manusia.
Serebum mampu merumuskan semua kegiatan yang kompleks, seperti saat kita sedang belajar,
bermain atau berpikir. Ketika membaca sebuah topik atau materi belajar misalnya, serebum yang
menentukan informasi apa saja yang penting dan harus diingat.
Serebrum juga yang mengatur emosi manusia. Serebrum ini terdiri dari dua belahan, yaitu
hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Kedua hemisfer ini memiliki peranan penting dalam proses
belajar kita. Hemisfer kanan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah visual,
sementara hemisfer kiri cara kerjanya lebih rasional dan analitis.
➢ Talamus dan Hipotalamus
Talamus merupakan bagian otak yang menjadi penerima informasi sensorik dari organ indra yang
diteruskan ke otak besar. Dari otak besar, informasi hasil terjemahannya akan masuk ke talamus
dulu sebelum keluar dari otak untuk disampaikan ke organ yang ditargetkan.
Sementara hipotalamus, adalah bagian otak yang menjadi pusat pengaturan lingkungan dalam
tubuh kita. Hipotalamus lah yang dapat mengatur suhu tubuh kita agar tetap stabil.
Saat kita merasa kepanasan ketika berjalan kaki di siang hari, sensor-sensor yang ada di seluruh
kulit tubuh kita akan memberi sinyal listrik yang berisi informasi kalau tubuh kita sedang
kepanasan kepada hipotalamus.
Informasi tersebut akan diterjemahkan oleh hipotalamus untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil
dengan cara melepaskan enzim bradikinin ke kulit. Dari kulit, enzim bradikinin ini akan membuat
pembuluh darah dan kelenjar keringat melebar, lalu mengeluarkan keringat dari tubuh. Saat
170
keringat ini keluar, suhu tubuh kita akan kembali turun karena panas di tubuh kita menguap oleh
keringat.
➢ Mesensefalon (Otak Bagian Tengah)
Selanjutnya yang saya bahas yaitu otak bagian tengah. Otak tengah yang biasa disebut
mesensefalon ini posisinya sejajar dan lebih dekat dengan mata dan telinga. Karena lebih dekat
kedua organ indra tersebut, tugas mesensefalon ini berkaitan dengan pendengaran dan
penglihatan kita.
Mesensefalon mampu menerjemahkan informasi suara dari kedua telinga kita. Sekalipun yang
menjadi pusat penglihatan di otak adalah bagian otak besar, tetapi mesensefalon ini juga
memiliki andil dalam gerak refleks mata. Misalnya, saat ada debu yang mengganggu atau ada
cahaya yang menyilaukan mata, maka Mesensefalon inilah yang secara tidak kita sadari bertugas
untuk menutup mata.
➢ Serebelum (Otak Kecil)
Di bagian otak belakang, ada serebelum yang disebut juga sebagai otak kecil. Serebelum
merupakan pusat keseimbangan tubuh manusia yang dapat memantau kedudukan posisi tubuh
manusia.
Serebelum membantu koordinasi, ketepatan, dan keakuratan waktu gerakan tubuh manusia.
Misalnya, saat ada bola yang melayang ke arah kita, serebelum ini akan berkoordinasi dengan
korteks motorik yang ada di otak bagian depan untuk menentukan kapan kita akan menangkap
bola tersebut agar tidak meleset.
Ternyata tugas otak manusia sangat rumit karena otak menjadi pusat kontrol di seluruh tubuh
manusia, otak membutuhkan kalori yang cukup banyak. Dengan beragam tugas yang rumit itu,
maka tidak heran jika otak menjadi organ manusia yang paling banyak membutuhkan energi.
Otak manusia menggunakan 25% kalori setiap harinya. Makanya, biar otak kita bekerja secara
maksimal, kita harus menjaga asupan kalori dan gizi dari makanan yang dikonsumsi.
➢ Sumsum Tulang Belakang
Sumsum tulang belakang terhubung dengan otak. Bagian pangkalnya disebut sumsum lanjutan
atau medula oblongata, dan bagian yang memanjang dalam rongga tulang belakang disebut
sebagai medula spinalis.
171
Sumsum tulang belakang manusia berfungsi untuk mengatur gerakan refleks alias gerakan yang
terjadi tanpa disadari. Gerakan refleks ini terjadi sebagai respon tubuh manusia terhadap adanya
ancaman atau hal yang berbahaya.
Misalnya, saat tangan kita menyentuh mangkuk bakso yang panas, tangan kita akan melakukan
gerak refleks untuk melepaskan mangkuk bakso tersebut.
Atau saat tidak sengaja menghirup bubuk merica yang kita tabur di atas kuah bakso, tanpa sadar
kita otomatis bersin, Untuk melakukan gerakan refleks tersebut, tubuh manusia membutuhkan
jalur penyampaian informasi yang lebih pendek. Nah, medula spinalis inilah bagian saraf pusat
yang bertugas dalam hal tersebut.
3. SISTEM SARAF TEPI (SST)
Sistem saraf tepi tersusun dari semua saraf yang bercabang dari otak dan sumsum tulang
belakang ke seluruh bagian tubuh manusia. Fungsi sistem saraf tepi ini memungkinkan sistem
saraf pusat untuk berkomunikasi dengan bagian-bagian tubuh kamu. Sistem saraf tepi bekerja
secara dua arah melalui saraf sensorik dan saraf motorik
➢ Sistem Saraf Sensorik
Sistem saraf atau aferen adalah saraf yang menerima rangsangan dari lingkungan
sekitar, yang bertugas untuk meneruskan informasi rangsangan yang didapatkan
kepada otak. Informasi atau rangsangan tersebut berupa visual, rasa, atau aroma.
Inilah mengapa saraf sensorik banyak ditemukan di indera penciuman dan indera
perasa, seperti hidung dan lidah.
➢ Saraf Motorik
Saraf motorik atau eferen adalah saraf yang menerima perintah dari otak dan
sumsum tulang belakang, serta mengantarkan perintah tersebut ke organ tubuh
172
manusia lainnya. Saraf motorik ini dibedakan lagi menjadi saraf somatik dan saraf
otonom.
➢ Saraf Somatik
Saraf somatik bekerja secara sadar, seperti ketika kita menggerakkan tangan
untuk menyendok makanan, atau mengambil tisu untuk mengelap keringat.
Makanya, saraf somatik ini biasanya ditemukan di otot rangka, jadi bisa
memerintah otot-otot tersebut untuk berkontraksi dan kita pun bisa bergerak
sesuai keinginan kita.
➢ Saraf Otonom
Sebaliknya, saraf otonom bekerja secara tidak sadar. Saraf inilah yang mengontrol
kontraksi paru-paru agar tetap bernapas setiap saat. Saraf otonom juga betugas
mengontrol sistem pencernaan agar dapat mengolah makanan yang masuk. Maka
dari itu, saraf otonom ini banyak ditemukan pada otot polos, seperti pada organ
pencernaan, otot jantung, dan kelenjar. Karena memiliki fungsi yang berlawanan
pada organ yang sama, saraf otonom ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
o Saraf Simpatis
Saraf simpatis adalah saraf yang mengendalikan respon tubuh kita pada saat kita
berada dalam keadaan bahaya atau yang biasa disebut keadaan “fight or flight”.
Misalnya, saat ada anjing yang mendadak muncul di dekat kamu, maka saraf
simpatis akan mendorong kamu untuk bereaksi, entah bersiaga untuk melawan
anjing tersebut (fight) atau lari menjauh dari anjing tersebut (flight).
o Saraf Parasimpatis
Sementara saraf parasimpatis adalah saraf yang berfungsi untuk mengendalikan
organ-organ tubuh manusia saat dalam fase “istirahat”.
173
9.3 Analisis Struktur dan Fungsi Sistem Hormon
SISTEM HORMON
➢ Sistem hormon adalah salah satu ➢ KELENJAR ENDOKRIN :
bagian dari sistem koordinasi yang Kelenjar endokrin pada manusia
terdiri atas:
mengatur aktivitas tubuh melalui
hormon secara lambat.
➢ Komponen sistem hormon terdiri
atas kelenjar, hormon, dan organ
target.
➢ Macam-macam kelenjar:
1) Kelenjar endokrin, adalah kelenjar
penghasil hormon yang tidak
memiliki saluran pembuangan
(buntu), tapi masuk ke peredaran
darah.
2) Kelenjar eksokrin, adalah kelenjar
penghasil enzim yang memiliki
saluran pembuangan.
➢ Kelenjar endokrin terdiri dari tiga
persinyalan:
1) Autokrin, organ target kelenjar
adalah kelenjar itu sendiri.
Contoh: lambung.
2) Parakrin, organ target kelenjar
berada dekat kelenjar tersebut.
Contoh: kelenjar adrenal.
3) Endokrin, organ target kelenjar
jauh dari kelenjar tersebut.
Contoh: kelenjar kelamin.
➢ Hormon adalah senyawa organik
yang dihasilkan kelenjar endokrin
dan dapat mempengaruhi organ
target.
➢ Hormon dihasilkan dan bekerja atas
perintah sistem saraf
(neuroendocrine control), sesuai
keadaan dan rangsangan yang
diterima otak pada bagian
hipotalamus.
174
1. KELENJAR HIPOFISIS
➢ Kelenjar hipofisis atau pituitari adalah kelenjar yang berada di bawah hipotalamus dan
langsung berhubungan dengannya.
➢ Kelenjar hipofisis menghasilkan hormone - hormon yang mengatur kerja kelenjar dan
hormon lain (master of glands).
1. Hipofisis lobus anterior (depan)
• Lobus anterior, menghasilkan hormon:
▪ Tiroksin (TSH), merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi
tiroksin.
▪ Adenokortikotropin (ACTH), merangsang korteks adrenal untuk
memproduksi kortikosteroid.
▪ Focille Stimulating Hormone (FSH), memacu perkembangan
tubulus seminiferus dan spermatogenesis.
▪ Luteinizing Hormone (LH), menstimulasi estrogen.
▪ Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH), menstimulasi testis
dalam menghasilkan testosteron.
▪ Prolaktin (TH), menstimulasi sekresi air susu.
• Lobus intermedia, menghasilkan hormon:
▪ Somatotrof (STH), merangsang tumbuhnya tulang.
▪ Melanosit Stimulating Hormone (MSH), mengatur penyuburan
pigmen dalam perubahan warna kulit.
• Lobus posterior, menghasilkan hormon:
▪ Oksitosin, merangsang kontraksi otot di uterus.
▪ Antidiuretik Hormone (ADH), mencegah pembentukan urin dalam
jumlah banyak.
2. KELENJAR TIROID (GONDOK)
➢ Terletak di daerah leher, dekat jakun. Kelenjar ini adalah yang paling kaya pembuluh
darah.
➢ Kelenjar tiroid menghasilkan tiga hormon, yaitu:
• Tiroksin, untuk membantu dalam proses metabolisme, pertumbuhan fisik,
perkembangan mental, dan kematangan seks.
• Triidotironin, untuk mengatur distribusi air dan garam dalam tubuh.
• Kalsitonin, untuk menjaga keseimbangan kalsium dalam darah.
3. KELENJAR PARATIROID (Anak Gondok)
➢ Terletak di daerah kelenjar gondok, kelenjar ini dapat mengendalikan kadar kalsium
dalam darah.
➢ Kelenjar paratiroid menghasilkan satu hormon, yaitu:
• Parathormon, untuk mengendalikan kadar kalsium dalam darah.
175
4. KELENJAR ANDRENAL (Suprarenalis)
➢ Terletak di atas ginjal, kelenjar ini terdiri dari dua bagian, yaitu:
• Korteks, menghasilkan hormon:
o Korteks mineral, untuk menyerap natrium darah dan mengatur
reabsorpsi air di ginjal.
o Glukokortikoid, untuk mengubah protein menjadi glikogen, mengubah
glikogen menjadi glukosa, dan menaikkan kadar glukosa pada darah.
o Androgen, untuk membentuk sifat kelamin sekunder laki-laki.
• Medula, menghasilkan hormon:
o Adrenalin, untuk mengubah glikogen dalam otot menjadi glukosa dalam
darah.
5. KELENJAR PENCERNAAN dan PANKREAS (Pulau – Pulau Langerhans)
➢ Kelenjar pencernaan terdiri dari kelenjar lambung dan kelenjar usus.
➢ Kelenjar lambung terdapat pada dinding lambung. Kelenjar lambung menghasilkan
hormon gastrin yang memacu pembentukan getah lambung pada daerah fundus
lambung.
➢ Kelenjar usus terdapat pada dinding usus. Kelenjar usus menghasilkan hormon berupa
hormon kolesitokinin dan sekretin.
• Hormon kolesistokinin (CCK) berfungsi sebagai perangsang kelenjar empedu
untuk mengeluarkan cairan empedu.
• Hormon sekretin (SCT) berfungsi sebagai perangsang pankreas dalam
menghasilkan getah pankreas.
➢ Pankreas adalah kelenjar ganda yang tersusun atas kelenjar endokrin berupa pulau
Langerhans, dan kelenjar eksokrin berupa sel-sel asiner yang menghasilkan getah
pankreas.
➢ Pulau Langerhans menghasilkan hormon glukagon pada sel α, sedangkan hormon
insulin pada sel β.
➢ Hormon glukagon dan insulin adalah hormon yang bekerja secara antagonis. Keduanya
berfungsi untuk mengatur metabolisme glukosa dalam tubuh.
➢ Pengaturan glukosa oleh hormon glukagon dan insulin dilakukan dengan mekanisme
rest and digest:
1) Jika kadar gula darah rendah, maka glukagon merangsang hati untuk mengubah
glikogen menjadi glukosa ke darah.
2) Jika kadar gula darah tinggi, maka insulin:
• Merangsang sel hati dan sel lain untuk mengabsorpsi lebih banyak glukosa
• Meningkatkan laju respirasi seluler
• Merangsang sel lemak untuk mengubah glukosa menjadi lemak
176
6. KELENJAR GONAD (Kelamin)
➢ Terletak di daerah perut (wanita) atau buah zakar dalam skrotum (laki-laki), kelenjar
ini juga menghasilkan hormon berbeda bagi wanita dan laki-laki.
• Pada wanita, kelenjar gonad menghasilkan dua hormon:
o Estrogen, untuk menentukan ciri pertumbuhan kelamin sekunder.
o Progesteron, untuk menebalkan dan memperbaiki dinding uterus.
• Pada laki-laki, menghasilkan satu hormon:
o Testosteron, untuk menentukan ciri pertumbuhan kelamin sekunder.
7. KELENJAR PINEAL
➢ Kelenjar pineal adalah kelenjar yang terletak di bagian pusat otak, terselip di sebuah
lekukan dimana dua badan talamus otak bergabung, dan berukuran kecil seperti biji
pinus.
➢ Kelenjar pineal berfungsi untuk mengatur ritmis biologis manusia (biological rhythm).
➢ Hormon yang dihasilkan kelenjar pineal adalah hormon melatonin, yang dihasilkan
berdasarkan siklus terang-gelap atau panjang siang dan malam lingkungan. Hormon
melatonin mempengaruhi kinerja kelenjar hipofisis dan organ reproduksi.
8. KELENJAR TIMUS (kacangan)
➢ Terletak di daerah dada, kelenjar ini menghasilkan satu hormon:
• Thymosin, untuk membantu sistem kekebalan tubuh.
➢ Kelenjar timus bertugas sebagai kelenjar yang mengatur pertumbuhan dan sistem imun.
Kelenjar timus berukuran besar ketika anak-anak dan remaja, dan mengecil ketika
dewasa.
➢ Fungsi kelenjar timus:
1) Mengaktifkan hormon pertumbuhan (GH).
2) Mengurangi aktivitas kelenjar kelamin.
3) Membentuk sistem imun.
177
GANGGUAN PADA SISTEM HORMON
1) Dwarfisme, kekerdilan akibat kekurangan GH.
2) Gigantisme, keraksasaan akibat kelebihan GH.
3) Akromegali, pertumbuhan tidak seimbang akibat kelebihan GH saat dewasa.
4) Kretinisme, kekerdilan dan keterbelakangan mental akibat kekurangan hormon
tiroid.
5) Myxdema, rendahnya kecepatan metabolisme tubuh akibat kekurangan hormon
tiroid.
6) Gondokan, pembengkakan kelenjar tiroid akibat kelebihan hormon tiroid atau
penumpukan iodium.
9.4 Analisis Struktur dan Fungsi 5 Indera sebagai Sistem Koordinasi
SISTEM INDERA
➢ Sistem indera adalah salah satu bagian dari sistem koordinasi yang merupakan penerima
rangsang atau reseptor.
➢ Alat indera adalah reseptor yang peka terhadap rangsangan dan perubahan di sekitarnya.
1. MATA
➢ Mata berfungsi sebagai indra penglihatan (fotoreseptor).
➢ Reseptor mata adalah fovea centralis pada retina, yang merupakan lapisan mata
terdalam yang peka terhadap cahaya.
➢ Bola mata terdiri dari tiga lapisan:
1. Sklera (tunika fibrosa), lapisan terluar yang berwarna putih dan tidak bening.
2. Koroid (tunika vaskulosa), lapisan tengah yang mengandung pembuluh darah
dan pigmen. Pembuluh darah mensuplai nutrisi bagi mata dan pigmen berfungsi
menyerap refleksi cahaya pada mata.
3. Retina (tunika nervosa), lapisan terdalam mata yang banyak mengandung sel-sel
fotoreseptor, antara lain:
a. Sel kerucut (konus), peka terhadap intensitas cahaya tinggi dan warna.
Sel konus terdiri dari sel yang peka terhadap warna merah, biru dan
hijau. Sel konus menghasilkan iodopsin berupa retinin untuk melihat
saat terang.
b. Sel batang (basil), peka terhadap intensitas cahaya rendah dan tidak
peka terhadap warna. Sel basil menghasilkan rhodopsin berupa retinin
dan opsin untuk melihat saat gelap. Mata butuh adaptasi untuk
memproduksi rhodopsin saat gelap mendadak, sehingga mata
mengalami kebutaan sementara.
178
➢ Struktur bola mata:
a. Kornea Adalah bagian sklera yang bening dan dilindungi oleh lapisan konjungtiva yang
melindungi kornea dari gesekan. Fungsi kornea adalah memfokuskan bayangan yang
masuk ke mata.
b. Aqueous humor Adalah cairan yang dihasilkan badan siliaris dan mengisi bagian depan
lensa. Fungsi aqueous humor adalah memberi nutrisi bagi kornea dan lensa, dan
membiaskan cahaya yang masuk ke mata.
c. Kanal Schlemm Adalah pengatur volume aqueous humor dengan mengalirkannya ke
pembuluh darah.
d. Pupil Adalah jalan masuknya cahaya ke mata.
e. Iris (selaput pelangi) Adalah bagian koroid yang mengatur diameter pupil yang
mempengaruhi jumlah cahaya masuk. Saat terang, iris akan mempersempit pupil, dan
saat gelap, iris akan memperlebar pupil. Otot yang mengatur diameter pupil adalah otot
sfingter (sirkuler) dan dilator (radial).
Otot sfingter Otot dilator
berbentuk cincin berbentuk jari-jari
kontraksi pada tempat terang kontraksi pada tempat gelap
mempersempit pupil (relaksasi iris) memperlebar pupil (kontraksi iris)
otot mata cepat lelah otot mata tidak lelah
dipengaruhi saraf parasimpatik dipengaruhi saraf simpatik
179
f. Lensa mata Adalah lensa bikonkaf bening dari serat protein. Daya akomodasi adalah
kemampuan lensa mata untuk mengubah kecembungan sehingga bayangan jatuh tepat
pada retina.
g. Badan siliaris Adalah kumpulan ligamen suspensor yang berfungsi mengubah cembung-
cekung lensa mata dengan kontraksi-relaksasi.
h. Vitreous humor Adalah cairan yang mengisi bagian belakang lensa mata (isi bola mata).
Fungsi vitreous humor adalah menjaga bentuk dan tekanan bola mata.
i. Makula lutea (bintik kuning) Adalah bagian retina berpigmen kuning dan terdapat fovea
sentralis yang mengandung sel konus dan sangat peka dan tajam dalam menerima
rangsangan cahaya.
j. Bintik buta Adalah bagian yang tidak mengandung selsel fotoreseptor. Bintik buta
adalah daerah awal saraf optik meninggalkan bola mata.
k. Saraf optik (II) Adalah saraf yang mengatur indra penglihatan.
➢ Jalannya rangsangan berupa cahaya ke otak:
1) Cahaya masuk ke mata melalui kornea, aqueous humor, pupil, lensa mata,
vitreous humor, lalu retina.
2) Cahaya diterima sel-sel fotoreseptor di retina.
3) Pada retina, terbentuk bayangan nyata, terbalik, dan diperkecil.
4) Reseptor mengirim impuls ke saraf optik (II), lalu ke lobus oksipetalis otak untuk
diinterpretasikan menjadi bayangan tidak terbalik.
➢ Otot-otot penggerak bola mata:
1) Otot rektus superior (ke atas)
2) Otot rektus inferior (ke bawah)
3) Otot rektus medial (ke dalam)
4) Otot rektus lateral (ke luar)
5) Otot oblikus superior (ke bawah sisi luar)
6) Otot oblikus inferior (ke bawah sisi luar)
180
➢ Struktur lain di sekitar mata:
1) Alis dan bulu mata, berfungsi menghindari mata dari air, benda asing dan
kotoran.
2) Kelopak mata, terdiri dari lapisan konjungtiva dan otot orbikularis okuli,
berfungsi untuk melindungi mata dan memejamkan mata.
3) Aparatus lakrimalis, terletak di sudut mata, terdiri dari kelenjar lakrimal (air
mata) dan saluran air mata. Kelenjar lakrimal menghasilkan air mata yang berfungsi
sebagai penjaga kelembapan mata, pembunuh benda asing (enzim lisozim), dan
membersihkan mata saat berkedip.
2. TELINGA
➢ Telinga berfungsi sebagai indra pendengaran (fonoreseptor) dan pendeteksi
keseimbangan (ekuilibrium).
➢ Reseptor telinga untuk pendengaran adalah organ korti pada koklea, dan untuk
keseimbangan adalah otolith.
➢ Struktur Telinga:
a. Daun telinga (aurikula) Berfungsi mengumpulkan suara masuk ke dalam telinga.
b. Saluran telinga Berfungsi meneruskan suara ke telinga tengah. Saluran telinga
menghasilkan serumen yang berfungsi menggumpalkan kotoran.
c. Membran timpani (gendang telinga) Berfungsi meneruskan getaran suara ke
tulang-tulang pendengaran.
d. Tulang-tulang pendengaran Secara berurutan terdiri dari tulang martil (maleus),
landasan (inkus), dan sanggurdi (stapes). Berfungsi meneruskan getaran suara
ke tingkap oval.
e. Saluran Eustachius Adalah saluran yang berhubungan dengan tenggorokan yang
berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan dalam dan luar.
181
f. Kanal semisirkuler (saluran 1 /2 lingkaran) Terdiri dari tiga saluran yang
mengandung cairan endolimfe dan sel-sel reseptor keseimbangan berupa
kupula yang dipengaruhi gerakan sel rambut.
g. Vestibula Terdiri dari sakulus dan utrikulus yang mengandung cairan endolimfe
dan sel-sel reseptor keseimbangan berupa makula yang dipengaruhi gerakan
otolith.
h. Koklea
Adalah saluran menggulung berisi cairan limfe yang terdiri dari tiga saluran:
1. Skala vestibular, berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui tingkap oval.
2. Skala koklea (media), berada di antara skala vestibular dan timpani, dibatasi
oleh membran Reissner dan membran basilar.
3. Skala timpani, berhubungan dengan rongga timpani melalui tingkap bulat.
Skala vestibular dan timpani mengandung cairan perilimfe, dan skala koklea
mengandung cairan endolimfe dan reseptor suara.
182
i. Saraf auditori (VIII) Adalah saraf yang mengatur indra pendengaran dan
keseimbangan.
➢ Struktur fonoreseptor pada telinga berupa organ korti:
➢ Jalannya rangsangan berupa suara ke otak:
1) Getaran suara dari luar masuk melalui daun telinga, saluran telinga, membran
timpani, dan tulang pendengaran (martil, landasan, sanggurdi).
2) Getaran kemudian diterima tingkap oval dan masuk ke skala vestibular dan kemudian
melingkari koklea sampai menuju skala timpani dan ke luar melalui tingkap bulat.
3) Gerakan di atas menyebabkan membran basiler bergetar dan menyebabkan sel
rambut pada organ korti bersentuhan dengan membran tektorial.
4) Sel-sel reseptor kemudian mengirim impuls ke saraf auditori (VIII), lalu ke lobus
temporalis otak untuk diinterpretasikan sebagai suara.
➢ Struktur reseptor keseimbangan pada telinga:
1) Kupula pada kanal semisirkuler , terdapat sel-sel rambut yang peka terhadap
gerakan memutar kepala. Arah gerakan kupula berlawanan dengan arah gerakan kepala.
183
2) Makula pada vestibula, terdapat batu otolith dan sel-sel rambut yang peka terhadap
gerakan vertikal kepala berdasarkan gaya gravitasi.
3. HIDUNG
➢ Hidung berfungsi sebagai indra pembau/ penghiduan (kemoreseptor gas).
➢ Reseptor hidung adalah saraf olfaktori yang terletak pada langit-langit rongga hidung
yang peka terhadap molekul bau (odoran).
➢ Struktur saraf olfaktori:
➢ Jalannya rangsangan berupa bau ke otak:
➢ 1) Bau masuk ke hidung bersama udara inspirasi.
2) Bau diterima oleh sel-sel kemoreseptor di rongga hidung.
3) Reseptor mengirim impuls ke saraf olfaktori (I) untuk diinterpretasikan menjadi bau.
Tiap sel saraf olfaktori bertanggung jawab atas molekul bau yang berbeda, sehingga
dapat mengenali beragam bau. Indra pembau bekerjasama dengan indra pengecap
sebagai kemoreseptor untuk mengenali rasa sekaligus bau.
184
4. LIDAH
➢ Lidah berfungsi sebagai indra pengecap (kemoreseptor cair).
➢ Reseptor lidah adalah papilla (tonjolan) yang terletak di permukaan lidah dan di
dalamnya terdapat tunas pengecap yang peka terhadap molekul yang dapat larut
dalam air liur.
➢ Struktur papilla dan tunas pengecap:
➢ Penyebab munculnya rasa-rasa utama di lidah:
1) Rasa manis disebabkan oleh zat kimia organik, seperti glukosa dan asam amino.
2) Rasa asin disebabkan oleh ionisasi garamgaraman, seperti natrium klorida.
3) Rasa asam disebabkan oleh ion H+ suatu zat, seperti asam sitrat (jeruk).
4) Rasa pahit disebabkan oleh perubahan struktur zat kimia organik yang memiliki rasa
manis. Rasa pahit juga disebabkan oleh suatu zat yang bersifat racun/toksik.
5) Rasa umami disebabkan oleh bumbu dan saus tertentu yang bersifat gurih.
Penyebab munculnya rasa-rasa lain tidak berhubungan dengan papilla lidah. Contoh:
Rasa pedas disebabkan oleh zat yang mengiritasi permukaan lidah dan memberi sensasi
terbakar/panas.
➢ Papilla terdiri dari empat bentuk:
1) Papilla fungiform
185
2) Papilla filliform
3) Papilla sirkumvalata
4) Papilla foliate
➢ Lidah berdasarkan kepekaan rasa dominannya terbagi menjadi:
➢ Jalannya rangsangan berupa rasa ke otak:
1) Molekul makanan dan minuman larut dalam air liur.
2) Rasa masuk ke tunas pengecap dan diterima sel-sel reseptor sesuai rasa yang
dikenalnya.
3) Reseptor mengirim impuls ke saraf fasial (V) dan/atau saraf glosofaringeal (IX) ke
lobus parietalis otak untuk diinterpretasikan menjadi rasa.
186
5. KULIT
➢ Kulit berfungsi sebagai indra peraba (mekanoreseptor/tangoreseptor).
➢ Reseptor kulit terdiri dari korpus-korpus pada lapisan epidermis dan dermis yang dapat
merasakan berbagai rangsangan.
1) Reseptor ujung bebas, terletak pada lapisan epidermis, merasakan sakit/nyeri.
2) Reseptor ujung rambut, terletak di sekitar folikel rambut, merasakan gerakan
rambut.
3) Korpus Paccini, merasakan tekanan kuat.
4) Korpus Ruffini, merasakan panas.
5) Korpus Krausse, merasakan dingin.
6) Korpus Meissner, merasakan sentuhan.
7) Diskus Merkel, terletak pada lapisan epidermis, merasakan sentuhan, tekanan
ringan, dan sakit/nyeri.
➢ Struktur lapisan kulit:
1) Epidermis (kulit ari), jaringan epitel yang tersusun atas sel kulit hidup dan mati, yang
terdiri dari empat lapisan dari atas, yaitu:
a. Stratum korneum (kulit tanduk), mengalami deskuamasi (pengelupasan) dan
keratinisasi (pembentukan zat tanduk), berfungsi melindungi kulit di bawahnya.
b. Stratum lusidum, lapisan bening dan tipis sebagai pelindung kulit dari sinar
UV.
c. Stratum granulosum, lapisan tempat terdapatnya butir-butir melanin (pigmen
kulit).
d. Stratum germinativum, lapisan tempat pembelahan (proliferasi) sel-sel kulit.
Lapisan ini dapat dibagi lagi menjadi stratum spinosum dan stratum basale.
2) Dermis/korium (kulit jangat), jaringan ikat yang di dalamnya terdapat kapiler darah,
sel reseptor kulit, kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan akar rambut.
187
3) Hipodermis (lapisan subkutan), jaringan ikat yang di dalamnya terdapat kapiler darah,
lapisan lemak, dan jaringan saraf.
6. GANGGUAN PADA SISTEM INDERA
➢ Gangguan pada indra penglihatan:
1) Miopi (rabun jauh), Tidak mampu melihat jarak jauh karena titik jauh < ∞ cm.
Miopi terjadi karena:
a. Bayangan jatuh sebelum retina,
b. Bola mata terlalu lonjong,
c. Kelengkungan lensa mata terlalu besar. Miopi dapat ditolong menggunakan
kacamata berlensa cekung/negatif.
2) Hipermetropi (rabun dekat), Tidak mampu melihat jarak dekat karena titik dekat
>25 cm.
Hipermetropi terjadi karena:
a. Bayangan jatuh setelah retina,
b. Bola mata terlalu pipih,
c. Kelengkungan lensa mata terlalu kecil. Hipermetropi dapat ditolong
menggunakan kacamata berlensa cembung/positif.
3) Presbiopi (cacat mata tua), Disebabkan faktor usia yang disebabkan karena
menurunnya daya akomodasi mata. Presbiopi dapat ditolong menggunakan kacamata
berlensa bifokal/rangkap, yaitu terdiri dari lensa cembung di bagian atas dan lensa
cekung di bagian bawah.
4) Astigmatisma (mata silindris), Disebabkan karena bentuk kornea mata yang tidak
bulat. Astigmatisma dapat ditolong menggunakan kacamata berlensa silindris.
5) Katarak, Keruhnya lensa mata karena penumpukan glukosa (diabetes mellitus), dan
lain-lain
188
6) Rabun senja, Kebutaan karena defisiensi vitamin A.
7) Buta saraf, Terjadi karena kerusakan retina, saraf optik (II), atau korteks otak yang
bertanggung jawab atas penglihatan.
8) Buta warna, Terjadi karena salah satu jenis atau lebih selsel reseptor cahaya tidak
dapat menerima atau mengenali warna tertentu.
➢ Gangguan pada indra pendengaran dan keseimbangan:
1) Tuli saraf, Terjadi karena kerusakan organ korti, saraf auditori (VIII), atau korteks
otak yang bertanggung jawab atas pendengaran.
2) Tuli konduktif, Terjadi karena gangguan penghantaran suara ke koklea, misalnya
penumpukan serumen atau kerusakan tulang pendengaran.
➢ Gangguan pada indra pembau:
1) Hiposmia, Penurunan reseptor hidung terhadap sebagian bau.
2) Parosmia, Kesalahan reseptor hidung dan otak dalam menerjemahkan bau.
3) Kakosmia, Persepsi abnormal terhadap suatu bau yang tidak enak.
4) Anosmia, Ketidakmampuan total reseptor hidung menerima bau.
5) Pilek, Penyakit yang menyebabkan hidung menghasilkan banyak lendir yang
menghalangi reseptor hidung untuk menerima bau.
➢ Gangguan pada indra pengecap:
1) Sariawan lidah, Disebabkan oleh jamur Candida albicans.
2) Kanker lidah, Disebabkan oleh merokok, konsumsi alkohol dan obat-obatan berlebih.
3) Fisura, lidah Retak-retak dan lekukan pada lidah yang lebih besar yang mudah
menimbulkan rasa perih dan iritasi.
4) Mikroglossi, Ukuran lidah dan papilla yang lebih kecil daripada normal.
5) Makroglossi, Ukuran lidah dan papilla yang lebih besar daripada normal.
➢ Gangguan pada indra peraba:
1)Panu, Disebabkan oleh jamur Tinea versicolor.
2) Kurap, Disebabkan oleh jamur Microsporum.
3) Jerawat, Disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes yang menyebabkan
tersumbatnya pori-pori kulit.
4) Dermatitis, Adalah peradangan kulit seperti munculnya ruam, rasa gatal dan
inflamasi, sebagai respon imun terhadap benda asing dan patogen.
189
BAB X
SISTEM REPRODUKSI
10.1 Jurnal Belajar
Pada pembelajaran biologi pada tanggal 5 Mei 2021, kami membahas mengenai sistem
reproduksi. Bu Puspa mengingatkan mengenai kalender sekolah. Dikarenakan puasa, biologi
hanya memiliki 2 hari untuk meet, sedangkan masih ada 2 bab yaitu bab imunitas dan
reproduksi. Bu Puspa pun memutuskan untuk menjadikan dua bab ini sebagai bab ulangan
semester dimana ada 25 soal, reproduksi berjumlah 13 dan sistem imun berjumlah 12 dalam
bentuk pilihan ganda. Bu Puspa juga mengingatkan mengenai tentang tugas akhir dimana semua
portofolio di print dikertas A4 dengan lengkap bersamaan dengan refleksi yaitu pendapat
mengenai biologi selama pembelajaran daring ini. Setelah di print, dijilid, dan dikumpul ke ruang
guru sambil menjalankan protocol kesehatan. Bu puspa akan memilih 6 portofolio terbaik dan
akan diberi reward . Bu Puspa meminta untuk jangan diubah – ubah, hanya menambah refleksi
dan digabungkan. Portofolio terbaik akan dimasukkin ke perpustakaan sekolah. Bu Puspa juga
meminta untuk dibuat ebook.
Kemudian kami melanjutkan ke materi reproduksi. Bu Puspa menyajikan powerpoint. Bu
Puspa membahas mulai dari alat kelamin pria dan wanita hingga proses fertilisasi yaitu
bertemunya sperma dengan ovum. Kami membahas reproduksi sampai jam biologi selesai dan
berakhir.
10.1 Jurnal Belajar
Tidak Ada Tugas di Sub BAB ini.
190
BAB XI
SISTEM PERTAHANAN TUBUH
11.1 Jurnal Belajar
Pada pembelajaran biologi dilakukan pada tanggal 7 Mei 2021 yang membahas mengenai
sistem imunitas atau sistem pertahanan tubuh. Bu Puspa mengabsen kami terlebih dahulu. Meet
kali ini merupakan meet terakhir dari pembelajaran. Bu Puspa meminta kami untuk menyalakan
kamera, apabila ada yang tidak menyalakan kamera akan dianggap tidak hadir.
Bu Puspa akan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menyampaikan satu
kalimat mengenai sistem pertahanan tubuh. Kami menyampaikan satu persatu sampai jam
biologi berakhir.
11.2 Catatan Sistem Pertahanan Tubuh
1. Aaliyah = Sistem pertahanan yang berperan dalam mengenal, menghancurkan, serta
menetralkan benda asing atau sel abnormal yang dapat merugikan tubuh
2. Albert = Fungsi sistem pertahanan meliputi mempertahankan tubuh, melindungi tubuh,
menyingkirkan, mengenali dan menghancurkan sel abnormal
3. Adastra = 0 (di akhir = alat yang menghalangi dalam imunitas bawaan seperti kulit, air
mata, mukus, dan air ludah berfungsi untuk mencegah peradangan setelah luka)
191
4. Aldinan = Mekanisme pertahanan tubuh alamiah memiliki dua pertahanan
5. Afif = Pertahanan nonspesifik terdiri dari pertahanan fisik, kimia, dan mekanis,
fagositosis, inflamasi, dan zat antimikroba nonspesifik
6. Aldian = Pertahanan fisik, kimia, dan mekanis meliputi kulit sehat dan utuh, membran
mukosa, cairan tubuh yang mengandung zat antimikroba, pembilasan oleh air mata, saliva,
dan urine
7. Alfonsus = Imunitas adalah kemampuan tubuh untuk menahan atau menghilangkan benda
asing serta sel abnormal
8. Alya = Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera akibat terbakar,
toksin, produk bakteri, dan gigitan serangga
9. Alya R = Zat antimikroba spesifik yang diproduksi tubuh terdiri dari interferon (IFN) dan
komplemen
10. Andi Ailman = Komponen respons melibatkan komponen antigen dan antibodi
11. Alya S = Interaksi antibodi dan antigen terdapat fiksasi komplemen yaitu aktivasi sistem
komplemen oleh kompleks antigen-antibodi
12. Ashaz = Hipersensitivitas adalah peningkatan sensitivitas atau reaktivitas terhadap antigen
yang pernah dikenal sebelumnya
13. Aurel = Interaksi antibodi dan antigen terdiri dari fiksasi komplemen, netralisasi,
aglutinasi, dan presipitasi
14. Boeih = Jenis imunitas dibagi menjadi dua yaitu imunitas aktif dan imunitas pasif
15. Brandon = Perantara imunitas terbagi menjadi dua yaitu imunitas yang diperantarai
antibodi dan imunitas yang diperantarai oleh sel
16. Cantika = Sel yang terlibat dalam respons imunitas adalah sel B, sel T, makrofag, dan sel
pembuluh alami
17. Candyle = Faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan yaitu genetik, fisiologis, stres,
usia, hormon, olahraga, tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya, racun tubuh, dan penggunaan
obat-obatan
18. Deswita = Mekanisme imunitas seluler terdiri dari ekstraseluler dan intraseluler
19. Dwi = Tanda-tanda inflamasi adalah kemerahan, panas, pembengkakan, nyeri, atau
kehilangan fungsi
192
20. Dicky = Ekstraseluler atau jika antigen dicerna oleh makrofag terdiri dari antigen,
makrofag, MHC kelas 2, sel T
21. Elvina = Makrofag dibagi menjadi makrofag jaringan ikat, makrofag dan prekursornya,
dan sistem fagosit mononukleus
22. Dina = Imunitas aktif dibagi menjadi imunitas aktif alami dan imunitas aktif buatan,
sedangkan imunitas pasif dibagi menjadi imunitas pasif alami dan imunitas pasif buatan
23. Engeline = Gangguan sistem imunitas meliputi hipersensitivitas (alergi), penyakit
autoimun, dan imunodefisiensi
24. Faisal = Fagositosis memliki beberapa jenis yaitu makrofag jaringan ikat, makrofag dan
prekursornya, dan sistem fagosit mononukleus
25. Fajar = Pertahanan nonspesifik memiliki dua pertahanan yaitu pertahanan pertama (kulit,
membran mukosa, rambut hifung dan silia, cairan sekresi) dan pertahanan kedua
(inflamasi, sel-sel fagosit, protein antimikroba)
26. Fani = Faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh adalah genetik, fisiologis,
stres, usia, hormon, olahraga, tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya, racun tubuh, dan
penggunaan obat-obatan
27. Ferren = Gangguan sistem imunitas
28. Gabriel = Sistem pertahanan tubuh limfosit ada dua macam yaitu limfosit B dan limfosit
T
29. Gina = Sel sitotoksik untuk mengenali dan menghancurkan sel yang memperlihatkan
antigen asing pada permukaannya
30. Gita = Mekanisme respon hormonal
31. Ivan = Sel pembunuh alami berperan dalam menghancurkan sel kanker pada lokasi primer,
virus, jamur, dan parasit lainn
32. Juan = Alergi adalah peningkatan sensitivitas atau reaktivitas terhadap antigen yang
pernah dikenal sebelumnya
33. Je Ivan = Penyakit autoimun adalah kegagalan sistem imunitas untuk membedakan sel
tubuh dengan sel asing sehingga sistem imunitas menyerang sel tubuh sendiri
34. Louis = Imunodefisiensi adalah kondisi menurunnya keefektivan sistem imunitas
35. Khansa = Sindrom sistem Johnson adalah penyakit kulit dan mukosa yang berbahaya dan
dapat mengakibatkan kematian
193
36. Marcell = Vaksin Sabin digunakan untuk menimbulkan kekebalan terhadap penyakit
poliomielitis
37. Madinah = Jenis imunisasi dan penyakit yang dicegah
38. Modestine = Tujuan akhir inflamasi adalah untuk mengisolasi, menghancurkan,
menginaktifkan agen penyerangm membersihkan sel debris, serta mempersiapkan proses
penyembuhan dan perbaikan jaringan
39. M Andri = Antibodi dibagi menjadi lima kelas yaitu IgA, IgD, IgE, IgG, dan IgM
40. Salman = Antigen adalah zat yang merangsang respon imunitas, terutama dalam
menghasilkan antibodi
41. Fawwaz = Faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh adalah tiduur dimana jika
kekurangan akan menyebabkan penurunan imunitas seluler
42. Oasis – Imunisasi DPTyaitu imunisasi untuk melawan difteri
43. Rafi = Defisiensi imun kongenital adalah keadaan tidak memiliki sel B atau sel T sejak
lahir sehingga penderita harus hidup dalam lingkungan steril
44. Oriza = Jenis kekebalan tubuh ada dua yaitu kekebalan aktif yang dapat diperoleh akibat
kontak langsung dengan patogen dan kekebalan pasif yang dapat diperoleh jika antibodi
dari satu individu dipindahkan ke individu lainnya
45. Rafli = Magnesium diketahui dapat mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat
46. Putri 0
47. Zinedine = Respon kekebalan hormonal melibatkan aktivasi sel B yang nanti akan
menghasilkan antibodi dalam plasma darah dan limfa
48. Raisya 0 (di akhir = imunodifiensi adalah kondisi menurunnya keefektivan sistem imunitas
dan terbagi menjadi dua yaitu defisiensi imun kongenital dan AIDS)
49. Nadya = Vaksin adalah patogen yang mati atau dilemahkan atau juga toksin yang telah
diubah
50. Rania = Imunisasi PCV unyuk mencegah penyakit radang selaput otak, infeksi darah, dan
radang paru-paru
51. Nanda = Salah satu faktor yang mempengaruhi imunitas adalah nutrisi seperti vitamin dan
mineral
52. Rizky Adhelia 0
194
53. Naura = Pencegahan sindrom johnson adalah tidak mengonsumsi obat-obatan
sembarangan dan memberikan notis kepada dokter jika memiliki alergi
54. Ruth = Imunisasi hepatitis A adalah salah satu program dalam mencegah penyakit hepatitis
A yang disebabkan oleh virus Hep A
55. Patricia = Program dan jenis imunisasi adalah campak (untuk mencegah campak), tifoid
(untuk mencegah tifus), dan varisela (untuk mencegah cacar)
56. Samuel = Patogen
57. Rania = Contoh alergen adalah spora kapang, serbuk sari, rambut hewan, kotoran
serangga, karet lateks, obat-obatan, dan bahan makanan
58. Shofa 0
59. Raisha Azka = Faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah pajanan zat bahaya seperti
bahan radioaktif, pestisida, rokok, alkohol, dan pembersih kimia
60. Skylenn = Pertahanan spesifik adaptif
61. Sakhi = Presipitasi adalah pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut dalam
cairan tubuh
62. Jason = Cara mengingkatkan imunitas tubuh adalah perbanyak memakan buah dan sayur,
berolahraga, istirahat yang cukup, hindari rokok dan alkohol, hindari stress
63. Thezar = Di beberapa kasus Sindrom Stevens Johnson, disebabkan oleh obat-obatan
pemicu, antara lain penisilin, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, dll
64. Wahyu = Struktur antibodi tersusun atas dua rantai polipeprida yang identik dengan dua
rantai ringan dan dua rantai berat
65. Yuniar = Pada faktor yang mempengaruhi sistem imun, hormon bergantung pada jenis
kelamin dimana wanita memproduksi hormon estrogen yang meningkatkan sintesis igG
dan iGA sehingga lebih kebal dibandingkan pria
195