PUSAT SERTIFIKASI
275
PUSAT SERTIFIKASI
276
PUSAT SERTIFIKASI
277
PUSAT SERTIFIKASI
278
PUSAT SERTIFIKASI
279
PUSAT SERTIFIKASI
280
PUSAT SERTIFIKASI
281
PUSAT SERTIFIKASI
282
PUSAT SERTIFIKASI
283
PUSAT SERTIFIKASI
284
PUSAT SERTIFIKASI
285
PUSAT SERTIFIKASI
VI.5 Quality Control Laporan Performance Test
Setelah proses perhitungan performance test dan untuk menjaga kualitas serta
memitigasi terjadinya kesalahan dalam laporan, tim pelaksana performance test harus
terlebih dahulu mempresentasikan hasil perhitungan kepada tim engineering Bidang
Sistem Pembangkit. Proses tersebut juga bertujuan untuk memastikan dokumen laporan
hasil performance test valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sejak awal tahun 2020, forum yang digunakan untuk mempresentasikan hasil
perhitungan performance test yang merupakan proses quality qontrol difasilitasi di dalam
Quality Control Engineering Meeting (QCE-Me) yang melibatkan tim engineering dan
juga pihak manajemen sebagai penanggung jawab di Bidang Sistem Pembangkit.
286
PUSAT SERTIFIKASI
Gambar - 142 : Quality Control Engineering Meeting (QCE-ME) logo
Gambar - 143 : Forum QCE-ME
287
PUSAT SERTIFIKASI
BAB VII LESSON LEARNED
LESSON LEARNED
Dalam melaksanakan supervisi performance test, yaitu dari proses review prosedur
pengujian hingga proses pelaporannya, banyak hal yang kami catat khususnya
terkait permasalahan-permasalahan yang terjadi, baik permasalahan teknis
maupun permasalahan prosedural.
Dan seperti yang kami sampaikan di awal, bahwa buku ini tidak hanya menampilkan
bagaimana cara pelaksanaan dan perhitungannya, Di bawah ini kami sampaikan
beberapa catatan pengalaman pelaksanaan performance test proyek PLTU, dengan
harapan permasalahan tersebut dapat diantisipasi sebelum pelaksanaan performance
test.
1. Dispute HHV based vs LHV based dalam Perhitungan Net Plant Heat Rate (NPHR)
Pada saat pembahasan prosedur performance test, beberapa proyek ditemukan
mempunyai potensi masalah terkait nilai kontrak yang digaransikan, yaitu terkait
basis perhitungan yang menggunakan nilai kalor batubara berdasarkan LHV based
atau HHV based. Dan basis perhitungan tersebut merupakan perselisihan dalam
kontrak, karena perbedaan pendapat antara PLN sebagai owner dengan
Kontraktor.
Basis perhitungan disini adalah nilai dari efisiensi boiler yang selanjutnya digunakan
dalam perhitungan Gross plant heat rate (GPHR) maupun Net plant heat rate
(NPHR) sebagai nilai yang digaransikan dan memiliki nilai Liquidates damage (LD).
288
PUSAT SERTIFIKASI
formula :
( ) = ( )
= ( ) ∗
Perselisihan atau dispute basis HHV atau LHV dalam perhitungan NPHR menjadi
signifikan karena berdampak pada potensi Kontraktor dikenakan denda sebesar
nilai perbedaan NPHR garansi dan aktual. Kondisi ini mengakibatkan berlarut-
larutnya penyelesaian proyek (project closing) dan bahkan berujung pada
penyelesaian di BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia).
Lesson learned : Nilai yang tercantum dalam Buku kontrak khususnya nilai garansi
unjuk kerja (performance guarantee dalam Book II Schedule 6 Plant Performance
Guarantee) harus merupakan angka yang jelas dari hasil perhitungan enjinering
yang akurat sesuai metode yang disepakati, sehingga tidak menimbulkan
ambiguitas atau multi persepsi dan menyebabkan perbedaan pendapat di kemudian
hari.
2. Analisa batu bara, fly ash dan bottom ash
Pada sebuah proyek yang selesai awal dari program percepatan tahap 1 (FTP 1),
sesuai kontrak sampel batu bara dan ash (fly ash dan bottom ash) diambil sebanyak
4 (empat) sampel yaitu untuk PLN sebagai owner, Kontraktor, Laboratorium dan
spare. Namun timbul permasalahan dimana sampel batubara dan ash yang diuji
oleh Kontraktor hanya 1 (satu) sampel dengan hasil membutuhkan waktu +/- 4 bulan
dan hasil yang anomali dimana kandungan carbon atau C dalam ash cukup tinggi
(tidak wajar).
PLN Pusertif saat itu segera memberikan saran kepada Kontraktor untuk
menganalisa paket sampel spare untuk diuji, namun ternyata paket sampel tersebut
telah hilang, jadi nilai analisa yang dimasukkan adalah nilai pertama. Dan
mengakibatkan nilai garansi di dalam Kontrak tidak terpenuhi.
Berdasarkan Buku Kontrak II, klausul 4.3 General Technical Requirements, Penulis
meminta Kontraktor dan berkoordinasi dengan pemilik proyek untuk melaksanakan
289
PUSAT SERTIFIKASI
analisa sampel batubara dan ash dengan metode yang tercantum dalam klausul
tersebut.
Gambar - 144 : Buku Kontrak II Klausul 4.3 General Technical Requirements
Dengan mengasumsikan bahwa massa masing-masing adalah sama (dengan
memastikan pada saat pengepakan dan preparasi sample), maka parameter-
parameter yang ada dapat dirata-rata, dan nilai rata-rata tersebut adalah yang
dimasukkan dalam perhitungan selanjutnya.
Lesson learned : Para pihak dalam proyek PLTU (PLN dan Kontraktor) harus
memastikan bahwa 3 (tiga) laboratorium yang menganalisa adalah laboratorium
penguji yang terakreditasi KAN, dengan komposisi sesuai kontrak, yaitu :
1. Laboratorium owner
2. Laboratorium yang dipilih oleh PLN
3. Laboratorium yang dipilih oleh Kontraktor
Pada kesempatan ini, kami juga menyampaikan bahwa Laboratorium Energi Primer
PLN Pusat Sertifikasi juga merupakan laboratorium yang terakreditasi KAN sesuai
ISO 17025.
Semua pihak harus memastikan bagaimana pengelolaan sampel batubara dan ash,
dan memonitor progres analisa sampel tersebut, sehingga risiko anomali yang akan
muncul dalam hasil analisa tidak akan terjadi.
3. Coal flow meter
Terkait pelaksaaan dan perhitungan performance test boiler, dimana di kontrak
terdapat klausul untuk pengukuran konsumsi batubara untuk menggunakan coal
weigher dengan akurasi 0.2%. tetapi untuk boiler tipe stoker dimana semua design
boilernya (coal feeder) tidak dilengkapi dengan coal flow meter sehingga dalam
menentukan jumlah konsumsi batubara (Wfe) tidak dapat di ukur.
290
PUSAT SERTIFIKASI
Gambar - 145 : Klausul Kontrak Terkait Kelas Akurasi Coal Feeder Measurement
Alternatif solusi :
1. Kami meminta untuk pengukuran konsumsi batubara saat performance test
dilakukan dengan metode perhitungan berdasarkan ASME PTC 4 Fired Steam
Generator yaitu metode terbalik dengan mengkombinasikan antara perhitungan
metode heat mass balance dengan input output,
o = 100 − +
o =
o = ( )−( )
∗
dengan metode di atas, maka akan didapat nilai coal flow (Wfe) yang akurat
dari hasil perhitungan.
2. Menggunakan metode pengukuran ketinggian coal bunker dari sisi atas dengan
metode sonding 6 titik, untuk mengkomodir kontur batubara yang tidak rata di
dalam coal bunker.
3. Menggunakan pengukuran dengan metode pendekatan, yaitu dengan
membuat hubungan kenaikan speed motor pada coal feeder dengan batubara
yang diperoleh, dan selanjutnya dimasukkan dalam logic di DCS. Pengukuran
berat batubara yang diperoleh dengan menimbang secara langsung sesuai
speed motor dari coal feeder.
Lesson learned : Perlu ditambahkan fasilitas coal flow meter yang valid pada
boiler tipe stoker, sehingga tidak menggunakan metode lain yang bersifat
pendekatan.
4. Beban pengujian yang fluktuatif
Khususnya pada pembangkit yang terhubung dengan jaringan 20 kV, dan
terkadang merupakan sistem yang isolated, maka fluktuasi parameter operasi
terutama beban sangat tinggi. Kondisi tersebut bertentangan dengan persyaratan
291
PUSAT SERTIFIKASI
ASME, terkait deviasi dan fluktuasi saat pengujian dimana mempersyaratkan
kestabilan data dalam pelaksanaan performance test.
Solusi yang dilakukan saat itu : PLN Pusertif meminta Kontraktor untuk
menyampaikan jadwal dan kurva beban. Selanjutnya pemilik proyek berkoordinasi
intensif dengan pengatur beban wilayah tersebut, untuk dipersiapkan
sistem/jaringan yang dapat meminimalisir terjadinya ganguan/kejadian yang
mengakibatkan fluktuasi pada data yang diperoleh.
Lesson learned : Perlunya koordinasi jadwal performance test dengan PLN unit
pengatur jaringan untuk mendapatkan jaringan yang lebih stabil, guna memenuhi
standar ASME PTC.
5. Boiler unaccounted losses
Pada beberapa buku kontrak proyek pembangkit, yaitu buku III klausul 4.8.9
Reliability Run, Performance testing, First Inspection and Addenda Thereto,
tercantum item-item losses pada boiler, dan pada item uncounted losses tercantum
nilai 1%.
Gambar - 146 : Klausul Kontrak Terkait Uncounted Losses Boiler 1%
292
PUSAT SERTIFIKASI
Gambar - 147 : Klausul Kontrak Mengenai Unaccounted Losses
Permasalahan muncul ketika di klausul lain dalam kontrak proyek yang sama,
didapatkan nilai unaccounted losses yang berbeda. Dan secara perhitungan, nilai
ini merupakan nilai yang merugikan bagi Kontraktor.
Solusi yang dilakukan saat itu adalah PLN Pusertif sebagai pelaksana supervisi
performance test, menyarankan kepada pemilik proyek meminta klarifikasi dari
pihak engineering PLN yang berkompeten dalam penyusunan kontrak, terkait nilai
mana yang akan dipakai dalam perhitungan efisiensi boiler.
PLN Pusertif melaksanakan perhitungan sesuai klarifikasi oleh pihak engineering,
dan disetujui oleh pihak pemilik proyek sebagai owner terkait nilai dari unaccounted
losses tersebut.
Lesson learned : Nilai unaccounted losses (jika ada) pada Buku Kontrak harus
diperjelas dan tidak menimbulkan ambigu antara satu klausul dengan klausul yang
lain. Sebenarnya nilai unaccounted losses tidak diatur dalam ASME PTC 4 Fired
Steam Generator, namun lebih ke nilai asumsi dari jumlah losses yang tidak
diakomodir dalam perhitungan berdasarkan standar ASME tersebut.
293
PUSAT SERTIFIKASI
6. Duty factor untuk common system
Pada standar ASME PTC 46 - 1996 Overall performance test, tercantum bagaimana
metode perhitungan power untuk common system, yaitu harus memperhatikan
terkait durasi atau lama waktu yang dibutuhkan dalam 1 (satu) hari suatu peralatan
beroperasi (duty factor).
Dalam buku kontrak schedule 6 Plant performance guarantee, yang diketahui hanya
nilai total dan jika diperiksa lebih lanjut terkait desain jumlah power yang dibutuhkan
untuk common system tersebut, ternyata hasilnya melebihi dari yang tercantum di
Buku kontrak.
Gambar - 148 : Duty Factor dalam ASME PTC 46
Gambar - 149 : Common Power System di Dalam Buku Kontrak
294
PUSAT SERTIFIKASI
Karena ini merupakan permasalahan yang terkait Buku Kontrak, kami memberikan
saran kepada pemilik proyek untuk mengklarifikasi duty factor tersebut kepada
engineering PLN, dan juga ikut memberi masukan terkait metode perhitungannya.
PLN Pusertif melaksanakan perhitungan sesuai klarifikasi oleh pihak engineering,
dan disetujui oleh pihak pemilik proyek sebagai owner terkait persetujuan dan nilai
dari duty factor tersebut.
Misal :
Desain durasi operasi water treatment plant (WTP) dalam 1 hari adalah 12 jam
: 200 kW
Maka :
′ = 12 ∗ 200
24
′ =
Lesson learned : Jika duty factor diaplikasikan dalam suatu perhitungan
performance test, maka untuk meminimalisir terjadinya dispute maka perlu
disebutkan dengan jelas dalam buku Kontrak bagaimana mengaplikasikan duty
factor dalam perhitungan unit auxiliary power dan common auxiliary power.
7. Nilai garansi NPHR yang tidak wajar dapat dicapai
Pada salah satu proyek pembangkit PLTU FTP 1, terdapat nilai garansi untuk NPHR
yang tercantum dalam Buku Kontrak Schedule 6 Plant Performance Guarantee
secara perhitungan engineering tidak wajar atau tidak mungkin untuk dicapai. Hal
tersebut diketahui dari perhitungan nilai desain turbine heat rate dan daya output
(GPO dan NPO) yang dipersyaratkan dalam Kontrak. Dari nilai disain tersebut,
perhitungan efisiensi boiler akan diperoleh >100% dan tentunya ini tidak sesuai
dengan teori termodinamika.
PLN Pusertif melaksanakan pengujian performance test, setelah ada prosedur final
yang disepakati oleh pihak PLN dan Kontraktor dengan mencantumkan dokumen
legal yang menjadi acuan. PLN Pusertif melaksanakan pengujian dan menyajikan
semua hasil, baik berbasis HHV maupun LHV, dan selanjutnya laporan dan
dokumen pendukung yang ada dijadikan sebagai dasar pertimbangan PLN untuk
memutuskan tindak lanjut sesuai Kontrak.
295
PUSAT SERTIFIKASI
Lesson learned : Diperlukan evaluasi mendalam pada klausul yang tercantum
dalam Buku Kontrak, terutama terkait Plant Performance Guarantee khususnya
NPHR, karena nilai yang tercantum dalam klausul tersebut merupakan nilai yang
digaransikan dan sebagai penentu pemenang tender. Sehingga potensi
permasalahan (dispute) antara PLN dan Kontraktor yang mengakibatkan berlarut-
larutnya penyelesaian suatu proyek pembangkit dapat dihindari.
8. Penerapan kurva koreksi untuk exhaust pressure
Sesuai dengan tabel deviasi dan fluktuasi yang tercantum dalam ASME PTC 6
Steam turbine, exhaust pressure diperbolehkan deviasinya adalah hanya sebesar
0,34 kPa atau 2,5% dari absolute pressure (dipilih yang lebih besar).
Gambar - 150 : Batasan nilai exhaust pressure sesuai ASME PTC 6
Gambar - 151 : Kurva Koreksi Exhaust Pressure
296
PUSAT SERTIFIKASI
Pada saat pemeriksaan kondisi unit sebelum dilakukan pengujian, diketahui bahwa
nilai exhaust pressure melebihi batasan tersebut, setelah ditelusur penyebabnya
bersama dengan Kontraktor, diketahui bahwa penyebabnya adalah kinerja sistem
perpindahan panas (heat transfer) di dalam kondensor yang tidak baik, dan
mengakibatkan tekanan vacuum nya tidak baik. Di sisi lain, pihak Kontraktor telah
mengajukan kurva koreksi yang berpotensi menguntungkan kontraktor dengan
kondisi ini.
PLN Pusertif menyatakan bahwa persyaratan ASME merupakan hal yang harus
dipenuhi, sehingga memberikan solusi :
1. Meminta kontraktor untuk memperbaiki sistem hingga mendapatkan kondisi unit
sesuai dengan persyaratan standar yang disepakati.
2. Dengan persetujuan pemilik proyek, pengujian akan tetap dilaksanakan namun
jika nilai exhaust pressure melebihi dari range yang dipersyaratkan dalam
standar, maka kurva koreksi tersebut tidak boleh diaplikasikan karena akan
berdampak langsung terhadap nilai turbine heat rate yang sangat besar sesuai
kondisi yang ada.
Lesson learned : Semua pihak harus memastikan kinerja unit dan masing-masing
peralatan pembangkit bekerja sesuai kriteria saat dilakukan performance test.
9. Kelas akurasi power meter
Sesuai persyaratan di Buku Kontrak, kelas akurasi dari power meter yang
digunakan dalam pelaksanaan performance test adalah 0,1, namun power meter
terpasang memiliki kelas akurasi 0,2 atau lebih.
Dengan persetujuan dari pemilik proyek, PLN Pusertif melaksanakan performance
test, dengan catatan kelas akurasi 0,2 disertai sertifikat kalibrasi yang valid.
Sebenarnya sesuai dengan ASME PTC 6 Steam turbine, persyaratan spesifikasi
akurasi untuk power meter adalah 0,3
Lesson learned : Kontraktor harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam
Buku Kontrak, khususnya terkait spesifikasi peralatan uji yang akan digunakan
dalam performance test. Apabila ada deviasi dengan Kontrak maka harus segera
disiapkan peralatan yang sesuai dengan persyaratan atau disepakati oleh PLN dan
297
PUSAT SERTIFIKASI
Kontraktor terkait perubahannya sehingga tidak menimbulkan permasalahan dalam
pelaksanaan performance test.
10. Equivalent flow
Sesuai persyararatan dari standar ASME PTC 6 steam turbines, bahwa saat
pelaksanaan performance test harus dalam kondisi isolated loop system dan besar
kebocoran sistem yang diizinkan hanya sebesar 0,1% dari nilai main steam flow.
Gambar - 152 : Persyaratan Leakage Sesuai ASME PTC 6
PLN Pusertif meminta untuk melaksanakan pemeriksaan terkait sistem yang ada,
untuk meminimalisir kebocoran sistem tersebut, jika tetap lebih dari 0,1% maka
pengujian akan tetap dilakukan dengan catatan nilai unaccounted leakage yang
dimasukkan ke dalam perhitungan mainsteam flow adalah 0,1% tersebut.
Equivalent flow semakin rendah, secara perhitungan akan merugikan Kontraktor,
karena nilai tersebut berpengaruh terhadap nilai mainsteam flow, dan selanjutnya
berpengaruh terhadap nilai turbine heat rate.
Lesson learned : Sebelum dilaksanakan performance test, Kontraktor harus
memastikan secara benar bagaimana operasi dari unit pembangkit tersebut,
khusunya terkait peralatan valve yang dimungkinkan terjadinya passing ataupun
kebocoran. Demikian juga memastikan nilai leakage tersebut sebelum dilaksanakan
performance test atau pada saat preliminary test.
298
PUSAT SERTIFIKASI
11. “Other” dalam auxiliary dan common power consumption
Adanya redaksional “other system” dalam tabel garansi untuk auxiliary power
consumption dan common power consumption yang menyebabkan masalah karena
merupakan hal yang ambigu dalam suatu Buku Kontrak, khususnya terkait garansi.
PLN Pusertif harus memperkirakan sistem apa saja yang masuk dalam “other”
tersebut, yang sering kali bertentangan pihak Kontraktor.
Dengan klarifikasi pihak konsultan engineering PLN dan persetujuan dari pemilik
proyek, PLN Pusertif melaksanakan performance test dan perhitungannya dimana
terkadang sistem-sistem yang dimasukkan adalah sistem yang kecil dan tidak
berdampak signifikan terhadap hasil pengujian. Sebagai contoh, sistem yang
dimasukkan antara lain : lighting system, baterai dan UPS dll.
Lesson learned : Untuk diminimalisir adanya ketidakjelasan yang berpotensi
menimbulkan dispute memahami isi Buku Kontrak, sebaiknya disebutkan sistem
mana yang termasuk dalam redaksi “other” di dalam Buku Kontrak.
12. Perubahan desain coal handling
Adanya perubahan desain coal handling pada suatu proyek, yaitu merubah posisi
ship unloader menjadi lebih jauh dari posisi semula, sehingga membutuhkan
tambahan sistem coal handling. Secara finansial, perubahan tersebut berdampak
terhadap nilai proyek, akan tetapi pada klausul plant performance guarantee tidak
berubah, dimana seharusnya nilai common power consumption akan menjadi lebih
besar dari desain awal.
PLN Pusertif memberikan saran sebagai solusi:
1. Pengujian tetap dilaksanakan dengan sistem yang ada, dan selanjutnya
keputusan terkait nilai garansi diserahkan sepenuhnya kepada pemilik proyek.
2. Tetap dilakukan pengujian, namun angka yang dimasukkan dalam
perhitungan selanjutnya adalah nilai yang tercantum dalam Buku Kontrak
Schedule 6 Plant Performance Guarantee.
Lesson learned : Dalam melaksanakan amandemen perubahan desain,
sebaiknya perlu evaluasi terhadap semua hal yang akan terdampak, termasuk nilai
garansi dari proyek tersebut.
299
PUSAT SERTIFIKASI
13. Heat balance tidak sesuai dengan Buku Kontrak, desain dan name plate
Heat balance merupakan dokumen yang dijadikan referensi kondisi dan parameter
saat performance test. Namun akan menjadi masalah jika Heat Balance yang ada
ternyata tidak sesuai dengan kondisi real di lapangan ataupun dengan spesifikasi
dalam Buku Kontrak.
PLN Pusertif meminta Kontraktor untuk mengklarifikasi heat balance tersebut
kepada pihak manufaktur sebab apabila dilakukan performance test berdasarkan
heat balance yang disampaikan maka dapat dipastikan hasil uji tidak akan
memenuhi nilai garansi yang dipersyaratkan dalam Kontrak.
Parameter Sesuai heat balance Sesuai name plat
Beban 11,31 MW 12 MW
Main steam pressure 4,90 MPa 4,90 MPa
Main steam temperature 470 C 470 C
Exhaust pressure 0,0081 MPa 0,009 MPa
Tabel - 18 : Perbandingan Spesifikasi Heat Balance dengan Name Plate
Gambar - 153 : Spesifikasi dalam Buku Kontrak
Lesson learned : Untuk dipastikan dokumen heat balance telah sesuai dengan
desain yang dipersyaratkan dalam Kontrak.
300
PUSAT SERTIFIKASI
14. Peralatan unit yang tercantum dalam Buku kontrak tidak terpasang.
Pada saat pemeriksaan kondisi unit dan peralatan unit sebelum dilaksanakan
performance test, ditemukan ada beberapa peralatan maupun sistem yang tidak
terpasang sesuai Buku Kontrak Schedule 6 Plant performance guarantee, namun
setelah diperiksa pada dokumen maupun gambar desain, peralatan dan sistem
tersebut memang tidak ada. Hal ini menimbulkan permasalahan untuk performance
test, karena item peralatan dan sistem yang tersebut dalam Buku Kontrak tersebut
telah dihitung sebagai garansi dalam unit auxiliary power consumption dan common
power consumption, dan selanjutnya secara perhitungan akan berpengaruh
terhadap nilai garansi baik Net power output (NPO) maupun Net plant heat rate
(NPHR).
PLN Pusertif meminta klarifikasi kepada Kontraktor terkait permasalahan tersebut
dan pada saat perhitungan performance test, nilai garansi dari peralatan dan/atau
sistem yang tidak terpasang akan tetap dihitung dengan menggunakan nilai yang
tercantum dalam Buku kontrak. Namun kami memperingatkan bahwa hal ini tidak
menutup tanggung jawab Kontraktor terkait instalasi peralatan dan/atau sistem
tersebut kepada PLN.
Lesson learned : Untuk dipastikan bahwa dalam penyusunan Dokumen Desain
harus mengacu kepada Buku Kontrak, dan jika terjadi perubahan dalam desain,
agar dapat dilakukan penyesuaian dalam Dokumen Kontrak melalui Contract
Discussion Agreement ((CDA) maupun Amandemen Kontrak.
15. Permasalahan dalam kontrak Power Purchase Aggreement
Pada pengujian performance test pembangkit, Pusertif adalah representatif PLN
Pusat untuk melaksanakan inspeksi Net Dependable Capacity (NDC) dan
Performance Test sebagai syarat COD kontrak PPA. Pada suatu Independent
Power Producer (IPP) memiliki special case yaitu terdapat amandemen kontrak dari
skema lock-in (harga batubara sudah ditentukan kontrak) menjadi skema pass-
through (harga sesuai pasar) karena resiko menjadi tanggungan PLN jika tidak
diubah. Namun selama perubahan kontrak terdapat missed yakni tidak
dimasukannya nilai NPHR acuan yang normalnya sudah ditentukan pada kontrak
301
PUSAT SERTIFIKASI
pass-through. Dalam hal ini, hasil pengujian performance test yang dilakukan
Pusertif akan ditetapkan sebagai nilai NPHR pada kontrak.
Secara umum, NPHR akan digunakan sebagai perhitungan komponen C yang akan
dibayar oleh PLN. Hasil perhitungan pengujian didapatkan hasil yang
menggambarkan nilai heat rate operasi yang relatif lebih besar daripada acuan
NPHR PLTU kapasitas serupa yang pernah ditandatangani. Dengan hasil tersebut,
IPP secara operasional akan membayar lebih besar daripada kontrak lain yang
serupa sehingga dilakukan pengujian ulang dimana kondisi operasi yang berbeda.
Kondisi tersebut didasakan pada prosedur dan kondisi aktual pembebanan yang
dilakukan mendekati angka nominal turbin dimana sebelumnya hanya sebatas nilai
acuan kontrak PPA. Hal lain seperti pengoperasian common auxiliary power pada
saat pengujian juga menjadi butterfly effect sehingga terjadi perbaikan pada nilai
NPHR. Hal ini menjadi berlawanan dengan kondisi sebelumnya yaitu pengembang
IPP mengalami kerugian karena nilai yang ditetapkan terlalu kecil dibandingkan
kondisi aktual dan menjadi konflik dingin antara pengembang IPP dan PLN.
Kejadian tersebut membuktikan bahwa pengujian sulit dilakukan untuk kondisi ideal
jika tersambung pada sistem 20 kV dan titik pengukuran langsung pada sisi net.
Kondisi fisik PLTU dan operator PLTU juga sangat berpengaruh pada operasi
harian PLTU seperti titik-titik kebocoran dan setting operasi.
Lesson learned : Pada sisi pengujian, penggunaan instrument pengukuran menjadi
faktor penting dalam pengukuran parameter dimana inspektor seharusnya
mengetahui kondisi peralatan melalui pengujian pada saat fase komisioning atau
dokumen kalibrasi. Inspektor perlu mengetahui kondisi lapangan dengan baik
sebelum memeriksa atau membuat prosedur sehingga parameter yang diperlukan
tercakup dalam dokumen prosedur.
16. Plant operating availability
Dalam Buku Kontrak I Schedule 6 Plant Performance Guarantee, pada umumnya
tercantum nilai garansi tentang Plant Operating Availability, dengan nilai garansi
bermacam-macam (umumya >90%) tanpa menyebutkan durasi pengukurannya,
dan ada proyek pembangkit yang mencantumkan dalam kontrak dengan klausul :
302
PUSAT SERTIFIKASI
Plant operating availability :
- The first year : 85%
- From the second year : 92%
Plant performance guarantee merupakan klausul kontrak yang digaransikan dan
harus dibuktikan oleh Kontraktor pada unit pembangkit tersebut, dengan
tercantumnya nilai garansi plant operating availability tanpa menjelaskan durasi
pengukuran yang dijadikan acuan, merupakan suatu keambiguan dalam Buku
Kontrak, dan berpotensi menjadi permasalahan atau perdebatan. Apalagi jika
sampai mencantumkan nilai pada tahun kedua dan seterusnya, sedangkan
Kontraktor sesuai Buku Kontrak yang ada, hanya bertanggung jawab hingga First
Year Inspection (FYI). Availability Factor (AF) suatu pembangkit biasanya diukur
dalam 1 (satu) tahun,
Pada umumnya PLN Pusertif meminta klarifikasi dari pihak engineering PLN, dan
mendapatkan hasil bahwa dilaksanakan pada saat Reliability Run (RR), dan
permasalahan pun akan berkembang karena ada proyek pembangkit dengan
Contract Discussion Agreement (CDA) merubah durasi RR dari 720 jam menjadi
hanya 168 jam. Sehingga akan ada perbedaan perlakuan antar proyek.
Lesson learned : Sebaiknya hal-hal yang tercantum di dalam Buku Kontrak,
terutama Guarantee Parameter dalam Plant performance guarantee, diperjelas
secara khusus dalam suatu klausul kontrak, sehingga dapat meminimalisir dispute
di kemudian hari.
17. Penggunaan batubara pada saat performance test dengan kualitas lebih tinggi
dibandingkan spesifikasi dalam Buku Kontrak
Kualitas batubara terutama nilai kalor merupakan hal yang sangat penting dalam
pengoperasian suatu unit PLTU berbahan bakar batubara. Dan pada tiap boiler
umumnya memiliki spesifikasi konsumsi batubara yang ideal, dan disebutkan dalam
Buku Kontrak II Klausul Coal Characteristic dengan disebutkan nilai minimum,
typical dan maximum dari masing-masing parameter dalam analisa batubara.
Pada suatu performance test pembangkit PLTU yang sebenarnya memiliki range
operasi bahan bakar batubara dengan nilai kalor 4200 – 4500 kkal/kg, tetapi
batubara yang disediakan oleh pemilik proyek saat itu adalah hanya 2 tipe batubara,
303
PUSAT SERTIFIKASI
yaitu sekitar 3800 kkal/kg (LRC) dan 5100 kkal/kg (MRC). Pada saat itu PLN Pusertif
telah mengingatkan kepada pemilik proyek terkait potensi permasalahan yang akan
terjadi, yaitu jika menggunakan batubara LRC, boiler akan cenderung bekerja lebih
berat dari desain nya karena dengan batubara kalori rendah akan dibutuhkan flow
bahan bakar yang lebih tinggi untuk memenuhi beban yang diinginkan, begitu juga
sebaliknya jika memakai batubara MRC, boiler akan cenderung bekerja lebih ringan
dari desainnya dan merupakan keuntungan tersendiri bagi Kontraktor.
Lesson learned : PLN Pusertif harus segera mengingatkan secara resmi sebelum
pelaksanaan performance test, agar pemilik proyek dapat menyediakan batubara
dengan spesifikasi sesuai desain dari operasi boiler.
304
PUSAT SERTIFIKASI
305
PUSAT SERTIFIKASI
BAB VIII HASIL PERFORMANCE TEST PLTU (KOMISIONING)
HASIL PERFORMANCE TEST PLTU
(KOMISIONING)
306
PUSAT SERTIFIKASI
307
PUSAT SERTIFIKASI
308
Tabel - 19 : Hasil Performance Test (Komisioning) PLTU FTP 1
PUSAT SERTIFIKASI
309
PUSAT SERTIFIKASI
BAB VIII PENUTUP
PENUTUP
PLN Pusertif sebagai lembaga inspeksi yang terakreditasi telah menunjukkan
pengalaman yang panjang dalam melaksanakan supervisi komisioning proyek
pembangunan pembangkit PLTU mulai dari aktivitas uji individu peralatan hingga
performance test unit pembangkit dengan mengedepankan prinsip independensi,
profesionalisme dan integritas. Peran PLN Pusertif dalam proyek pembangunan
pembangkit PLTU sangat signifikan dalam memastikan pelaksanaan proyek sesuai
dengan persyaratan yang diatur dalam Kontrak. PLN Pusertif dalam melaksanakan
penugasan tetap mengacu pada prosedur mutu yang telah ditetapkan untuk menjaga
kualitas output dari setiap penugasan apakah itu SLO maupun laporan performance test.
Pengalaman pelaksanaan performance test pembangkit PLTU yang cukup panjang telah
memberikan pelajaran berharga (lesson learned) bagi internal PLN Pusertif maupun
pihak eksternal yang terkait dengan proyek pembangkit PLTU mulai dari fase engineering
hingga fase operasi. Berbagai proyek pembangkit PLTU dengan jenis boiler stoker, CFB,
dan Pulverized dan berbagai kapasitas mulai dari terkecil 3 MW hingga 1000 MW per unit
telah menjadi portofolio pengalaman PLN Pusertif. Setiap pelaksanaan performance test
proyek pembangkit PLTU tentunya memiliki catatan tersendiri untuk setiap site dimana
pihak yang terlibat dalam proyek khususnya kontraktor tidak sama antara satu site
dengan site yang lain demikian juga design engineering yang besar kemungkinan
berbeda antara satu site dengan site yang lain.
Pemahaman pelaksanaan performance test pembangkit PLTU secara komprehensif
tentunya harus didukung dengan pemahaman akan prinsip dasar sistem PLTU dalam
membangkitkan tenaga listrik. Selanjutnya adalah pemahaman prinsip perhitungan
performance test yang mengacu pada strandard yang dipakai yaitu ASME PTC 4 atau
310
PUSAT SERTIFIKASI
ASME PTC 4.1 dan ASME PTC 6. Dalam pelaksanaan performance test selalu
diupayakan meminimalisir terjadinya dispute antara pihak yang berkepentingan dalam
suatu proyek khusunya antara project owner dalam hal ini PLN dan kontraktor EPC. Hal
ini patut dipahami karena performance test bertujuan untuk membuktikan bahwa suatu
proyek pembangkit PLTU telah memenuhi nilai garansi (performance guarantee) yang
disepakati dalam kontrak. Apabila nilai garansi tidak tercapai maka pihak kontraktor EPC
harus menanggung beban untuk membayar denda atau LD (Liquidated Damage).
Dalam buku ini telah disarikan sebanyak 17 buah case pengalaman tim performance test
yang menjadi pelajaran berharga (lesson learned) untuk upaya perbaikan kedepan bukan
hanya pihak PLN Pusertif tetapi juga pihak-pihak yang terkait dengan proyek
pembangunan pembangkit PLTU. Contoh case yang ditampilkan cukup bervariasi mulai
dari permasalahan batu bara, nilai garansi dalam kontrak hingga prosedur pelaksanaan
performance test. Semua pihak yang terkait dalam suatu proyek tentu mengharapkan
suksesnya proyek yang ditunjukkan dengan ketepatan waktu penyelesaian serta kualitas
sesuai yang dipersyaratkan dalam kontrak.
311
PUSAT SERTIFIKASI
AKRONIM
A : Ampere Hz : Hertz
Adb : as dry basis
APC : Auxiliary Power Consumption HHV : Higher Heating Value
APH : Air Preheater
Ar : as received HP Heater : High Pressure Heater
BANI : Badan Arbitrasi Nasional
HP Turbine: High Pressure Turbine
BFPT Indonesia
: Boier Feed Water Pump HSD : High Speed Diesel
BMCR
Turbine Driven HV : High Voltage
CFB : Boiler Maximum Continuous
CV IDF : Induced Draft Fan
DAS Rating
DCS : Coal Fluidized Bed IP Turbine : Intermediate Turbine
EPC : Control Valve
: Data Acquisition System KAN : Komite Akreditasi Nasional
ESDM : Distributed Control System
: Engineering, procurement and kcal : kilo Calori
ESP
FDF Construction kJ : kilo Joule
FTP : Energi dan Sumber Daya
GPHR kWh : kilo Watt hour
GPO Mineral
GT : Electrostatic Precipitator LD : Liquidates Damage
GV : Forced Draft Fan
: Fast Track Program LP Heater : Low Pressure Heater
: Gross Plant Heat Rate
: Gross Power Output LP Turbine : Low Pressure Turbine
: Generator Transformer
: Governor Valve LHV : Lower Heating Value
LV : Low Voltage
MBFP : Motor Driven Boiler Feed
Water Pump
MCR : Maximum Continuous Rating
MW : Mega Watt
NPHR : Net Plant Heat Rate
NPO : Net Power Output
ONAF : Oil Natural Air Forced
ONAN : Oil Natural Air Natural
PAF : Primary Air Fan
312
PUSAT SERTIFIKASI
PLTU : Pusat Listrik Tenaga Uap t/h : Ton per hour
PLN : Perusahaan Listrik Negara THR : Turbine Heat Rate
PLN Pusertif : PLN Pusat Sertifikasi V : Volt
PTC : Performance Test Code VWO : Valve Wide Open
rpm : Rotation per minute CT : Current Transformer
SLO : Sertifikat Laik Operasi VT : Voltage Transformer
TMCR : Turbine Maximum Continuous
Rating
313
PUSAT SERTIFIKASI
DAFTAR PUSTAKA
America Standard Testing and Material (ASTM), D3176-15 Ultimate Analysis of Coal and
Coke, 2015
Black and Veatch, Powerplant Engineering, 1996, Springer, Boston
James G. Speight, Handbook of Coal Analysis, 2005, A John Wiley & SONS, INC, New
Jersey.
Kakac, Sadic dan Hongtan Liu, Heat exchangers, Selection, Rating and Thermal Design,
2002, CRC Press, Washington D.C.
Raja A.K., Amit Prakash Srivastava dan Manish Dwivedi, Powerplant Engineering, 2006,
New Age International (P) Ltd., Publishers, New Delhi
Sontag, Richard E. & Claus Borgnakke, Fundamental of Thermodynamics 6th edition,
2003, Jhon Wiley & Son, Danvers
Standard PT. PLN (Persero) (SPLN) – T3.007-2:2016 Spesifikasi Transformator Tenaga
Bagian 2: Transformator 150/22/10kV, 2016
The American Society of Mechanical Engineers (ASME), ASME PTC – 4 Fired Steam
Generator Performance Test Code, 2013, New York
The American Society of Mechanical Engineers (ASME), ASME PTC – 4.1 Steam
Generating Unit Performance Test Code, 1991, New York
The American Society of Mechanical Engineers (ASME), ASME PTC – 6 Steam Turbine
Performance Test Code, 2004, New York
314
PUSAT SERTIFIKASI
The American Society of Mechanical Engineers (ASME), ASME PTC – 3.2 Coal and
Coke, 1990, New York
Thermal power plant Efficiency & Performance Monitoring, National Power Training
Institute, 2000. India.
The Babcock & Wilcox Company. Steam its generation and use, edition 41. 2005. United
States of America.
The Institute of Electrical and Electronics Engineers Standard, IEEE Standards
C57.123TM Guide for Transformer Loss Measurement, 2002, New York.
Tsou J., Heat Rate Improvement Reference Manual, 1998, EPRI, Pleasant Hill
Wai-Kai Chen, The Electrical Engineering Handbook, Elsevier Academic Press. 2004,
United States of America.
315
PUSAT SERTIFIKASI
BIOGRAFI PENULIS
Ariandiky Eko Setyawan lahir di Purwokerto pada tanggal 12 Mei 1987.
Hobinya adalah mencari hobi. Lulus kuliah S1 Teknik Mesin Universitas
Diponegoro pada tahun 2009. Bekerja di PLN Pusertif selama 11 tahun,
pernah menjadi ketua tim komisioning di PLTU Lontar 3x315 MW dan PLTU
Tanjung Awar-awar 2x350 MW. Pengalaman dibidang performance test
yaitu sebagai ketua Tim Performance Test PLTU pada tahun 2012 – 2019.
Bagus Adi Saputra lahir di Batang pada tanggal 11 November 1988.
Hobinya adalah membaca buku sains dan sastra. Lulus kuliah di D3
Teknik mesin Politeknik negeri semarang (Polines) pada tahun 2010.
Bekerja di PLN Pusertif sebagai inspektor pada bidang inspeksi
komisioning PLTU selama 9 tahun, pernah menjadi Ketua tim
Komisioning PLTU Sintang 3x7 MW dan Ketua Pegawas PPA di PLTU
Batang 2x1000 MW. Pengalaman dibidang performance test PLTU
sejak tahun 2012 hingga saat ini.
Rizal Nurjaman lahir di Bandung pada tanggal 17 Maret 1986. Lulus
Program Beasiswa D1 PLN Teknik Elektro di STT – PLN pada tahun 2009.
Kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Achmad Yani yang sampai
sekarang belum lulus . Mempunyai hoby yang tidak bisa disebutkan
satupersatu karena terlalu banyak. Bekerja di PLN Pusertif selama 11
tahun sebagai inspektor pada bidang inspeksi komisioning pembangkit.
Pengalaman dibidang performance test dari tahun 2015-sekarang.
316
PUSAT SERTIFIKASI
317
PUSAT SERTIFIKASI
LAMPIRAN
318
PUSAT SERTIFIKASI
Contoh Laporan Performance Test PLN Pusat Sertifikasi
319
PUSAT SERTIFIKASI
320
PUSAT SERTIFIKASI
321
PUSAT SERTIFIKASI
322
PUSAT SERTIFIKASI
323
PUSAT SERTIFIKASI
324