The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ariandiky Eko Setyawan, 2020-11-25 12:19:36

Draft buku final kecil (1)

Draft buku final kecil (1)

PUSAT SERTIFIKASI

6. Pemeriksaan Certificate of Analysis (COA) batubara yang akan digunakan dalam
performance test.
Sesuai yang tercantum pada Buku Kontrak II, terkait spesifikasi batubara yang dapat
digunakan dalam performance test, PLN Pusertif harus memastikan terlebih dahulu
kualitas batubara yang akan digunakan, melalui COA pada saat batubara tersebut
dating ke unit. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi permasalahan di kemudian hari
akibat penggunaan batubara yang tidak sesuai spesifikasi operasi boiler baik
melebihi maupun kurang dari nilai yang disebutkan dalam Buku Kontrak, khususnya
pada parameter nilai kalor batubara. Pada umumnya di Buku Kontrak II tersebut,
disebutkan nilai typical (sesuai dengan desain), minimum dan maksimum.

7. Pemeriksaan konfigurasi operasi sistem elektrik
Pemeriksaan konfigurasi operasi sistem elektrik ini biasanya digunakan untuk
mengatur bagaimana konfigurasi sistem elektrik khususnya untuk unit auxiliary power
dan common power system, agar dapat beroperasi sesuai ketentuan dalam Buku
Kontrak.

8. Penentuan lokasi atau titik pengambilan sampel atau data di lokal.
Ada beberapa parameter yang harus dilakukan pengukuran langsung di local (unit),
misalnya analisa flue gas, pengukuran kondisi ambient (pressure dan temperature),
pengambilan sampel batubara, fly ash dan bottom ash, pengukuran parameter
elektrik, dan lain lain. Sehingga perlu diketahui bersama antara PLN dan Kontraktor
terkait titik pengambilan data atau sampel, dan untuk memudahkan koordinasi pada
saat pelaksanaan performance test.

9. Pemeriksaan efektifitas perpindahan panas pada condensor dan nilai vakum nya.
Condenser merupakan salah satu peralatan unit pembangkit yang menerapkan
prinsip perpindahan panas (heat transfer), yang berfungsi sebagai pendingin dari uap
basah keluaran turbin dikondensasikan menjadi air kondensat. Terkadang ditemukan
nilai vacuum pada condenser yang tidak sesuai dengan desainnya, sehingga
diperlukan pemeriksaan mendetail bagaimana kinerja dari condenser tersebut,
karena nilai vacuum ini akan mempengaruhi terhadap nilai koreksi khususnya
terhadap nilai turbine heat rate.

175

PUSAT SERTIFIKASI

Pemeriksaan terhadap condenser ini dilaksanakan dengan cara melihat temperature
tiap titik baik input maupun output dan nilai vacuum nya, jika terjadi ketimpangan,
maka perlu dilakukan backwash terhadap condenser, karena ketimpangan tersebut
kemungkinan terjadi akibat fouling yang menempel, sehingga menghambat laju
perpindahan panas. Terkadang juga bahkan harus membersihkan condenser
dengan cara manual ke dalam, jika backwah tidak dapat mengatasi permasalahan
tersebut.
10. Pemeriksaan kebocoran sistem fluida (system leakage)
Pemeriksaan kebocoran sistem ini maksudnya adalah pengecekan unaccounted
leakage, yang sesuai ASME PTC 6 Steam turbine dipersyaratkan bahwa
performance test dapat dilaksanakan jika nilai unaccounted leakage adalah sebesar
0,1% dari nilai main steam flow. Pengecekan ini meliputi pengecekan valve
khususnya terkait valve yang termasuk dari isolation valve, sehingga kebocoran
maupun passing dapat diminimalisir.
11. Pemeriksaan kondisi unit secara umum
Sebelum dilaksanakan pengujian performance test, akan dilaksanakan inspeksi
bersama antara tim dari PLN dan Kontraktor, untuk memeriksa kondisi unit secara
keseluruhan, sehingga apabila ditemukan hal yang perlu dipersiapkan atau
diperbaiki, dapat segera ditindaklanjuti oleh Kontraktor.
12. Kick off meeting

Gambar - 112 : Kick Off Meeting Pelaksanaan Performance Test

176

PUSAT SERTIFIKASI

Setelah proses pemeriksaan baik secara dokumen maupun operasi dari unit
pembangkit, selanjutnya diadakan kick off meeting sebagai bentuk kesimpulan dari
hasil pemeriksaan-pemeriksaan dan tindaklanjutnya serta penentuan estimasi waktu
dari pelaksanaan performance test.

V.5 Pelaksanaan

V.4.1 Pra Kondisi

Tahap pra kondisi ini merupakan tahapan persiapan sebelum dilaksanakan
performance test, yang merupakan secara umum dipersiapkan dan dipastikan
sebelum pelaksanaan performance test dengan kondisi pengujian apapun.
Sebelum pengujian, semua pihak yang berpartisipasi dalam pengujian harus
melakukan penyelidikan dan studi rinci tentang status operasi unit, memeriksa
dan menganalisis parameter operasi peralatan utama dan pendukung serta
kesesuaian sistem termal dengan persyaratan pengujian, terutama terkait
dengan leakage, menyajikan temuan-temuan permasalahan pada valve,
peralatan & sistem dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi
sebelum pelaksanaan pengujian.
Pada tahap pra kondisi kami akan sampaikan beberapa lingkup pemeriksaan
kondisi, antara lain:

1. Kondisi peralatan unit dan pendukungnya
a. Turbin dan perlengkapannya beroperasi secara normal dan stabil
tanpa kebocoran yang tidak normal;
b. Sistem turbine shaft seal beroperasi dengan baik
c. Vacuum tightness test telah diuji dan sesuai dengan desainnya.
d. HP main control valve diatur dalam posisi yang sesuai dengan beban
atau kondisi pengujian. Kondisi dan indikasi posisi oil actuator control
beroperasi dengan baik sesuai dengan desain.
e. Peralatan yang digunakan dalam performance test telah dipasang
dengan baik sesuai posisinya.
f. Jika dibutuhkan sebagai akses dan lokasi pengukuran di lokal, akses
khusus (scaffolding) telah terpasang dengan baik dan aman.

177

PUSAT SERTIFIKASI

g. Batubara yang direncanakan untuk digunakan, dan sesuai dengan
persyaratan Buku Kontrak telah dimasukkan dalam coal bunker, dan
sistem coal handling beroperasi secara normal.

h. Semua mainhole boiler tertutup untuk mencegah masuknya udara luar
ke dalam boiler.

2. Kondisi sistem jaringan
a. Kondisi sistem jaringan beroperasi dengan baik, sesuai dengan
persyaratan dan mendukung kestabilan operasi unit selama durasi
pelaksanaan performance test.
b. Rencana pembebanan (load curve) telah diinformasikan ke
dispatcher.

3. Kondisi operasi
• Boiler
a. Boiler dan alat pendukungnya (auxiliaries) beroperasi normal dan
stabil sesuai dengan desain operasinya.
b. Semua proteksi dan automatic control beroperasi dengan normal.
c. Unit telah melakukan shootblowing dan blowdown sebelum
pelaksanaan performance test.
d. Sistem pulverized batubara telah diatur, sehingga didapatkan
fineness yang sesuai dengan persyaratan operasi boiler.
e. Isolation valve pada area boiler telah ditutup.
f. Steam drum level pada posisi normal dan stabil
g. Analisa kimia untuk kualitas air dan uap di sisi boiler memenuhi
syarat, dan aman jika dioperasikan tanpa injeksi kimia,
penambahan air (make up), blowdown serta venting dengan
memastikan ke laboratorium unit.
h. Parameter operasi boiler memenuhi syarat deviasi dan fluktuasi
sesuai persyaratan ASME PTC 4-2013 Fired steam generator.

178

PUSAT SERTIFIKASI

Tabel - 16 : Deviasi Parameter Operasi Boiler

(Sumber : ASME PTC 4 – 2013)

i. Diupayakan untuk beroperasi dengan menggunakan
desuperheating secara minimal dan konstan.

• Turbin
a. Turbin dan alat pendukungnya (auxiliaries) beroperasi normal dan
stabil sesuai dengan desain operasinya.
b. Semua proteksi dan automatic control beroperasi dengan normal.
c. Isolation valve pada area turbin telah ditutup.
d. Deaerator, hotwell dan water heater level pada posisi normal dan
stabil
e. Parameter operasi turbin memenuhi syarat deviasi dan fluktuasi
sesuai persyaratan ASME PTC 6-2004 Steam turbine

179

PUSAT SERTIFIKASI

Tabel - 17 : Deviasi Parameter Operasi Turbin

(Sumber : ASME PTC 6 – 2004)

f. Analisa kimia untuk kualitas air dan uap di sisi turbin memenuhi
syarat, dan aman jika diperasikan tanpa injeksi kimia,
penambahan air (make up) maupun venting dengan memastikan
ke laboratorium unit. Pemeriksaan ini penting, karena sesuai
standard ASME PTC 6, bahwa selama durasi proses pengujian
(pengambilan data turbin selama 2 jam), sistem yang ada harus
dalam kondisi closed loop system, sehingga tidak diperkenankan
untuk proses pengisian air (make up water), venting, blowdown
dan drain untuk pengambilan sampel air maupun injeksi kimia.

180

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 113 : Contoh Formulir Pemeriksaan Kondisi Analisa Kimia (Feed
Water)

181

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 114 : Contoh Formulir Pemeriksaan Kondisi Analisa Kimia (Boiler
Water)

• Generator dan Auxiliary
a. Generator dan alat pendukungnya (auxiliaries) beroperasi normal
dan stabil sesuai dengan desain operasinya.

182

PUSAT SERTIFIKASI
b. Sistem pendingin generator beroperasi sesuai dengan kebutuhan

operasi generator secara normal.
c. Sistem unit auxiliary power dan sistem common power telah diatur

sesuai dengan kebutuhan pengujian.
4. Kondisi peralatan performance test

a. Data acquisition system atau data logger (jika ada) beroperasi
normal dan data yang diperoleh sesuai dengan parameter yang
diukur.

b. Alat-alat pengukuran di lokal telah tersedia di posisi pengambilan
data beserta operatornya.

c. Petugas pengambil sampel batubara, fly ash dan bottom ash telah
siap pada posisinya.

d. PLN Pusertif mendapatkan akses 1 komputer DCS untuk proses
pemeriksaan dan supervisi selama pelaksanaan performance test.

Gambar - 115 : Proses Pengecekan Isolation System

183

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 116 : Drain Valve yang Telah Tertutup
Valve yang termasuk dalam isolation valve tidak semuanya termasuk dalam
motorized valve, dan dapat dioperasikan dari Central Control Room, namun
banyak juga valve yang merupakan manual valve, jadi harus dioperasikan
langsung melalui handwheel valve tersebut.
Di bawah ini merupakan salah satu contoh list yang digunakan dalam proses
isolation system, yang merupakan syarat dari standar ASME PTC dan pada
umumnya juga tertuang dalam prosedur performance test.
Setelah dipastikan semua persyaratan terpenuhi, peralatan pengujian dan
operatornya telah siap, dan kondisi yang cukup stabil maka formulir pemeriksaan
kondisi sebelum pengujian dapat diisi dan ditentukan waktu mulai proses
pengambilan data pengujian yang merupakan salah satu dari tugas koordinator
dari tim PLN Pusertif.

184

PUSAT SERTIFIKASI
185

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 117 : Contoh Pemeriksaan Isolation System Sebelum Performance Test
186

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 118 : Contoh Formulir Pemeriksaan Kondisi Sebelum Pengujian (Boiler)
187

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 119 : Contoh Formulir Pemeriksaan Kondisi Sebelum Pengujian (Turbin)

V.4.2 Pelaksananaan Performance Test

Pada pelaksanaan performance test di beberapa proyek pembangkit,
dilaksanakan pengujian permulaan sesuai ASME PTC 6 Klausul 3-4.5 yang
disebut dengan preliminary test pada beban 100% MCR. Pada dasarnya

188

PUSAT SERTIFIKASI

metode pengujian yang digunakan pada preliminary test adalah sama dengan
yang dilaksanakan pada saat pengujian sebenarnya.
Pelaksanaaan preliminary test bertujuan :
1. Memastikan bahwa unit telah siap untuk dilaksanakan performance test,

yaitu dengan memeriksa semua sistem yang berpengaruh pada
performance test, dan juga termasuk memeriksa nilai dari unaccounted
leakage. Jika nilai unaccounted leakage tersebut melebihi ketentuan yaitu
0,1% dari main steam flow, maka harus dilakukan pengecekan terhadap
sistem isolasi tersebut, dan nilai unaccounted leakage harus diturunkan
agar memenuhi ketentuan, sebelum dilaksanakan pengujian.
2. Pengecekan semua instrument dan peralatan pengukuran, agar
memastikan bahwa instrument dan peralatan pengujian dapat berfungsi
dengan baik.
3. Menunjukkan kepada semua personil pelaksana performance test,
termasuk di dalam ini adalah PLN Pusertif terkait lokasi-lokasi
pengambilan data dan parameter yang akan diambil.
Pada sub bab pelaksanaan performance test ini, Penulis akan lebih
membahas terkait pengujian pada kondisi 100% Maximum Continuous Rating
(MCR), karena kondisi ini merupakan kondisi garansi suatu proyek
pembangkit dan ruang lingkup pengujian yang dilaksanakan sangat lengkap,
jika dibandingkan dengan pengujian bonafide test (75% MCR, 50% MCR,
BMCR dll.)
Pelaksanaan performance test dilaksanakan setelah unit beroperasi sesuai
dengan heat balance yang valid dan memenuhi kriteria deviasi dari ASME,
serta unit telah beroperasi secara stabil dalam durasi yang disepakati, dan
pada umumnya semua itu dituangkan dalam prosedur performance test.
Setelah proses pemeriksaan kondisi operasi dan penentuan waktu start
pengujian, seperti yang tertuang dalam gambar contoh formular pemeriksaan
kondisi di atas, maka unit harus beroperasi secara stabil.

189

PUSAT SERTIFIKASI
Selanjutnya merupakan proses supervisi pelaksanaan performance test, yaitu
tim supervisi dari PLN Pusertif harus mengawasi kondisi operasi, proses
pencatatan data, durasi pelaksanaan, berkoordinasi dengan tim dari
Kontraktor serta menentukan keberterimaan dari suatu proses pengujian.
Tidak dipungkiri jika banyak terjadi permasalahan-permasalahan pada saat
performance test yang menuntut kita harus dapat menentukan solusi dan
keberterimaannya.
Dibawah ini merupakan proses supervisi, yang kami pisahkan sesuai dengan
ruang lingkup pengujian yang ada, yaitu boiler, turbin dan elektrikal
1. Supervisi pengujian Boiler

a) Batubara (Coal)
Pastikan setiap mengambil sample batubara pada coal feeder yang sudah
disiapkan serta pastikan setiap pengambilan sample disetiap coal feeder
sekitar kurang lebih 1-2 kg. sample batubara diambil dari mulai pengujian
hingga akhir dengan jarak 30 menit.

Gambar - 120 : Proses Pengambilan Sampel Batubara di Coal Feeder

190

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 121 : Pengambilan Data Temperature Awal Batubara di Coal Feeder
Pengambilan data temperatur batubara pada saat pengambilan sampel

batubara, digunakan sebagai data awal untuk perhitungan heat credit dari
sensible heat of fuel, sesuai yang telah kami sampaikan pada bab
sebelumnya.
b) Slag (bottom ash)

Gambar - 122 : Pengambilan Sampel Bottom Ash
191

PUSAT SERTIFIKASI
Pengambilan sampel bottom ash dilakukan per 30 menit selama pengujian
dan jumlah 1-2 kg setiap pengambilan sample. Untuk hasil analisa
unburned carbon dari slag pada kondisi dry basis.
c) Dust (fly ash)
Pengambilan sampel fly ash dilakukan per 30 menit selama pengujian dan
jumlah 1-2 kg setiap pengambilan sample. Untuk hasil analisa unburned
carbon dari dust pada kondisi dry basis.

Gambar - 123 : Pengambilan sampel fly ash

d) Ambient Condition Measuring
Pastikan dalam pengukuran kondisi ambient dengan menggunakan alat
psikrometer dan barometer yaitu pada inlet udara masuk. (PA Fan inlet).
Kemudian catat hasil pengukuran setiap 15 menit untuk parameter dry
bulb temperature, wet bulb temperature, relative humidity (RH) dan
barometric pressure.

192

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 124 : Pengambilan Data Ambient Condition
e) Pengukuran Temperatur Udara Pembakaran

Pastikan instrument yang akan digunakan tidak error serta pembacaan
sudah sesuai dengan DCS. Pastikan temperature diambil pada titik
saluran udara. Pengukuran data akan dikumpulkan oleh sistem akuisisi
data IMP secara otomatis selama uji coba setiap 60 detik.
f) Parameter Operasi.

Gambar - 125 : Monitoring Parameter Operasi Boiler
Pastikan parameter operasi sistem boiler terhubung dengan sistem DAS.
Cek setiap saat parameter DCS atau data logger apakah ada parameter

yang berubah secara signifikan. Screenshot DCS sistem boiler setiap 30

193

PUSAT SERTIFIKASI
menit. Setelah pengujian selesai download dalam bentuk excel dan print
parameter operasi. Pengambilan data untuk parameter operasi dari DCS
maupun data logger adalah tiap 1 menit.
g) Pengukuran Flue Gas Temperature
Titik pengukuran diatur dengan metode grid pada penampang saluran gas
buang di hulu dan hilir preheater udara. Titik pengukuran suhu gas buang
akan berada di lokasi yang sama dengan titik pengukuran analisis gas
buang. Termokopel tipe E akan digunakan untuk mengukur suhu gas
buang. Mengukur data akan dikumpulkan oleh 35954A IMP / sistem
akuisisi data PC secara otomatis selama uji coba setiap 60 detik.

Gambar - 126 : Proses Pengambilan Data Flue Gas Temperature

Gambar - 127 : Titik Pengambilan Data Flue Gas Temperature
194

PUSAT SERTIFIKASI
h) Flue Gas Sampling and Analisis
Titik sampel individu akan digabungkan untuk membentuk sampel komposit
untuk setiap penampang, di mana probe pengambilan sampel akan
diposisikan berdasarkan titik grid. Sampel komposit akan terus dianalisis
selama uji coba, dua set instrumen analisis yang terpisah akan digunakan
untuk menganalisis O2, NO, CO dan CO2 pada hulu dan hilir air preheater
secara bersamaan.

Gambar - 128 : Pengambilan Data Flue Gas Parameter
Durasi analisis gas untuk saluran gas buang tunggal tergantung pada
fluktuasi oksigen pada saat itu. Untuk setiap saluran gas buang, waktu
analisis yang cukup harus digunakan untuk mendapatkan nilai rata-rata
yang bebas dari fluktuasi. Secara umum durasi pengambilan sampel untuk
satu saluran gas buang adalah 5 hingga 10 menit.

195

PUSAT SERTIFIKASI
2. Supervisi pengujian Turbin

a) Parameter Operasi.
Pastikan parameter operasi sistem turbin terhubung dengan sistem DAS.
Cek setiap saat parameter DCS atau data logger apakah ada parameter
yang berubah secara signifikan. Screenshot DCS sistem turbin setiap 30
menit. Setelah pengujian selesai download dalam bentuk excel dan print
parameter operasi. Pengambilan data untuk parameter operasi dari DCS
maupun data logger adalah tiap 1 menit.

Gambar - 129 : Monitoring Parameter Operasi Sistem Turbin
b) Monitoring parameter level dari masing-masing tank.
Memonitor perubahan level dari masing-masing water tank, terutama steam
drum, deaerator, dan hotwell. Hal ini dimaksudkan agar dapat terpantau
bagaimana kebocoran dari sistem, sehingga dapat diketahui secara cepat.

c) Ambient Condition Measuring
Pastikan dalam pengukuran kondisi ambient dengan menggunakan alat
psikrometer dan barometer yaitu pada inlet udara masuk. (PA Fan inlet).
Kemudian catat hasil pengukuran setiap 15 menit untuk parameter dry bulb
temperature, wet bulb temperature, relative humidity (RH) dan barometric
pressure. Pada pengukuran parameter ini umumnya digabungkan dengan

196

PUSAT SERTIFIKASI

atau menggunakan data yang sama dengan pengukuran ambient condition
pada sisi boiler.
d) Berkoordinasi dengan data boiler dan elektrikal
Maksud dari berkoordinasi disini adalah untuk menghitung data sementara
tiap pengambilan data dan selanjutnya untuk disimulasikan hingga
mendapatkan nilai heat rate asumsi dengan metode input-output.
3. Supervisi pengujian elektrikal
a) Parameter Operasi.

Pastikan parameter operasi sistem elektrikal terhubung dengan sistem
DAS. Cek setiap saat parameter DCS atau data logger apakah ada
parameter yang berubah secara signifikan. Screenshot DCS sistem
elektrikal setiap 30 menit. Setelah pengujian selesai download dalam
bentuk excel dan print parameter operasi. Pengambilan data untuk
parameter operasi dari DCS maupun data logger adalah tiap 1 menit.
b) Gross Power Output
Mengukur data power output dari generator yang dilakukan tiap 1 menit
(pada umumnya menggunakan data logger) yang selanjutnya dirata-
rata, atau mengukur tiap 15 menit jika perhitungan dilakukan dengan
metode pengurangan nilai energi pada saat selesi pengujian dengan
pada saat start, dibagi dengan periode pengujian.
c) Excitation Power
Mengukur nilai tegangan, arus dan power factor dari titik pengukuran
power eksitasi generator tiap 15 menit, selama durasi pengujian
d) Transformer Auxiliary Power Losses
Mengukur nilai tegangan, arus dan power factor dari titik pengukuran
auxiliary power untuk main transformer dan unit auxiliary transfor (jika
ada) tiap 15 menit, selama durasi pengujian.

197

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 130 : Pengukuran Auxiliary power pada transformer

e) Unit Auxiliary Power
Mengukur nilai tegangan, arus dan power factor dari titik pengukuran
masing-masing feeder pada auxiliary power system (Pemakaian
Sendiri) sesuai Buku Kontrak Schedule 6 Plant Performance Guarantee
tiap 15 menit, selama durasi pengujian. Atau dengan metode lain yaitu
pengukuran pada output Unit Auxiliary Transformer tiap 15 menit
selama durasi pengujian. Perbedaan metode ini telah kami jelaskan
pada bab sebelumnya.

Gambar - 131 : Pengukuran Unit Auxiliary Power
198

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 132 : Pencatatan Data Unit Auxiliary Power

f) Common System Power
Mengukur nilai tegangan, arus dan power factor dari titik pengukuran
masing-masing feeder atau sistem pada common power system (BOP)
sesuai Buku Kontrak Schedule 6 Plant Performance Guarantee tiap 15
menit, selama durasi pengujian.

199

PUSAT SERTIFIKASI
V.4.3 Pemeriksaan Data dan Sampel
Setelah pelaksanaan pengujian selesai, maka semua parameter data yang di
catat dan dikumpulkan. Untuk data pengukuran ada yang langsung
menggunakan data logger di DCS dan pencatatan langsung di lapangan.

Gambar - 133 : Data Logger DCS
Untuk pemerisaan data logger DCS dilakukan dengan mengecek Kembali
melalui tren di DCS. Kemudian kalau sudah dapat dipastikan semua
parameter lengkap dan benar maka kita cetak untuk dapat ditandatangin.
Adapun untuk softcopy file data logger DCS harus dapat di download dan
diserahkan kepada kita.
Sedangkan untuk pemeriksaan data pengukuran dengan mencatat manual di
lapangan maka kita periksa apakah semua data parameter sudah di catat
dengan benar dan lengkap, selanjutnya jika sudah sesuai kita dapat
menandatangin dokumen tersebut.

200

PUSAT SERTIFIKASI

Gambar - 134 : Pencatatan Manual
Sampe Batubara dan Ash
Akurasi dari heat loss metode tergantung dari akurasi sample dan analisa
ultimate dari bahan bakar yang terbakar. Adapun untuk pengambilan sample

dan analisa batubara dan ash harus berdasarkan ASME PTC 3.2 Coal and
Coke.

Gambar - 135 : Metode Preparasi Sampel Batubara Berdasarkan ASME PTC 3.2

(Sumber : ASME PTC 3.2)

201

PUSAT SERTIFIKASI

Ketika pengujian selesai, campurkan semua batubara pengambilan sampel
dan hancurkan secara manual, lalu adopsi metode quartering untuk membagi
batubara menjadi empat bagian, masing-masing pihak menyimpan satu
bagian dan yang terakhir akan dikirim ke laboratorium lokal yang memenuhi
syarat untuk analisis industri, elemen dan kalor

Total moisture dari batubara direkomendasikan untuk di analisa di
laboratorium di pembangkit listrik pada setiap pengujian, hal ini untuk
meminimalisir adanya potensi moisture yang hilang atau menguap jika
dilaksanakan cukup lama setelah pengambilan sampel. Sedangkan nilai kalor
dari batubara harus di analisa di laboratorium yang terakreditasi.

Sample dari batubara, slag dan ash yang telah dikumpulkan selama pengujian
dan dianalisa sebagai berikut:

• Batubara
Proximate Analysis dari sample batubara harus menentukan kandungan
(kondisi as fired/ as received (ar)) sebagai berikut:
• Total Moisture
• Ash
• Volatile matter
• Fixed Carbon
Ultimate Analysis dari sample batubara harus menentukan kandungan
(kondisi as fired / as received (ar)) sebagai berikut:
• Carbon
• Hydrogen
• Nitrogen
• Oxygen
• Sulphur
• Moisture
• Ash
Nilai Kalor dari sample batubara harus menentukan nilai kandungan HHV
atau LHV dengan as fired atau as received (ar).

• Fly ash dan bottom ash
Sedangkan untuk fly ash dan bottom ash, parameter yang dianalisa
adalah nilai carbon (C).

Proses pengajuan dan analisa sampel batubara, fly ash dan bottom ash di
laboratorim terakreditasi, masih dalam proses supervise dari PLN Pusertif, jadi

202

PUSAT SERTIFIKASI
inspektor dari PLN Pusertif harus mensupervisi dan memantau proses analisa
hingga hasil analisa sampel terbit.

Gambar - 136 : Proses Pendataan Sampel Sebelum Diajukan ke Laboratorium
Terakreditasi di Indonesia

203

PUSAT SERTIFIKASI

BAB VI PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PERFORMANCE TEST

PERHITUNGAN DAN PELAPORAN
PERFORMANCE TEST

Suatu pembangkit listrik diukur performanya berdasarkan suatu nilai yang disebut
dengan Heat rate dengan satuan yang biasa digunakan adalah kKal/kWh.
Parameter tersebut merepresentasikan nilai energi input dibandingkan dengan
energi yang dihasilkan dalam kilo watt hour (kWh). Misalkan suatu PLTU memiliki
heatrate 3000 kkal/ kWh artinya PLTU tersebut membutuhkan bahan bakar dengan
energi sebesar 3000 kkal untuk menghasilkan 1 kWh.
Pada bab ini, Penulis mencoba mempresentasikan bagaimana perhitungan performance
test PLTU dari berbagai jenis atau tipe PLTU berdasarkan jenis tipe boilernya dan juga
dengan penerapan standar ASME mengenai perhitungan efisiensi boiler yang berbeda.

VI.1 PLTU dengan Boiler Tipe Stoker

Untuk PLTU dengan boiler tipe stoker ini, Penulis mengambil contoh untuk perhitungan
performance test PLTU Tembilahan (2 x 7 MW).

Gambar - 137 : PLTU Tembilahan (2 x 7 MW)

204

PUSAT SERTIFIKASI

Data Teknik

Nama Pembangkit : PLTU Tembilahan 2 x 7 MW

Unit Pembangkit : Unit 1

Bahan bakar : Batubara
Koordinat : S: -0.295456”, E: 103.204313”

1. Boiler

- Pabrik : Dinamika Energi Nusantara

- Jenis : Stoker

- Nomor seri : DEN/BS/008

- Kapasitas : - t/h

- Tekanan uap utama : 6.4 MPa

2. Turbin : Huangzhou Qiantang River Electric Group
- Pabrik Co.ltd

- Tipe :
- Tahun pembuatan : 2013
- Daya nominal : 9 MW
- Nomor seri : 201302
- Putaran : 3000 rpm
- Tekanan uap utama : 4.9 MPa
- Temperatur uap utama : 475 ˚C
- Tekanan exhaust : 8.51kPa

3. Generator : Huangzhou Qiantang River Electric Group Co.
- Pabrik Ltd

- Tipe : QFW2-10-2A
- Tahun pembuatan : 2013
- Nomor seri : 201301002
- Daya nominal : 10 MW
- Tegangan : 20000 V/6300 V
- Arus : 1146 A
- Putaran : 3000 rpm

205

PUSAT SERTIFIKASI

- Frekuensi : 50 Hz
- Tegangan Eksitasi : 220 V
- Arus Eksitasi : 221 A
- Jumlah fasa :3
- Faktor daya : 0.8

4. Transformator Utama : Huangzhou Qiantang River Electric Group Co.
- Pabrik Ltd

- Tipe : SZ-11000/20
- Tahun pembuatan : 2013
- Nomor seri : 21323385002
- Sistem pendinginan : ONAN
- Jumlah fasa :3
- Kapasitas terpasang : 11000 kVA
- Tegangan sisi HV : 125/60 kV
- Tegangan sisi LV : 60/25 kV
- Jumlah Tap :9
- Frekuensi : 50 Hz
- Kelompok vektor : Ynd1
- Impedansi : 9.98 %

206

PUSAT SERTIFIKASI

1. Perhitungan efisiensi boiler

207

PUSAT SERTIFIKASI
208

PUSAT SERTIFIKASI
2. Perhitungan elektrik

Contoh perhitungan auxiliary power pada peralatan cooling tower A
Contoh perhitungan Gross power output

209

PUSAT SERTIFIKASI
3. Perhitungan Transformer Losses

4. Perhitungan turbine heat rate
210

PUSAT SERTIFIKASI
211

PUSAT SERTIFIKASI
212

PUSAT SERTIFIKASI

5. Resume

213

PUSAT SERTIFIKASI
214

PUSAT SERTIFIKASI
215

PUSAT SERTIFIKASI

VI.2 PLTU dengan Boiler Tipe CFB
VI.2.1 Dengan Standar ASME PTC 4

Untuk PLTU dengan boiler tipe CFB ini dan perhitungan boiler efisiensi
menggunakan ASME PTC 4, Penulis mengambil contoh untuk perhitungan
performance test PLTU Parit Baru Site Bengkayang (2 x 50 MW).

Gambar - 138 : PLTU Parit Baru Site Bengkayang (2 X 50 MW)

Data Teknik

Nama Pembangkit : PLTU Parit Baru Site Bengkayang

Unit Pembangkit : Unit 2

Bahan bakar : Batubara
Koordinat : 0050’12.50” LU 108052’24.26” BT

1. Boiler

- Pabrik : Wuxi Huanguang Boiler Co.Ltd

- Jenis : CFB

- Tipe :-

- Tahun pembuatan :-

- Nomor seri : 14040

- Kapasitas : 240 t/h

- Tekanan uap utama : 9.8 MPa

- Temperatur uap utama : 5400

- Tekanan uap reheat :-

216

PUSAT SERTIFIKASI

- Temperatur uap reheat :-

2. Turbin : Qingdao Jieneng
- Pabrik : N55-8.83
- Tipe : 2015
- Tahun pembuatan : 55 MW
- Daya nominal : K1990-16#
- Nomor seri : 3000
- Putaran : 8.83 Mpa
- Tekanan uap utama : 535 0C
- Temperatur uap utama :-
- Tekanan uap reheat :-
- Temperatur uap reheat
: Shanghai Electric
3. Generator : QFS-55-2
- Pabrik : 2015
- Tipe : Q55002
- Tahun pembuatan : 55000 kW
- Nomor seri : 10500 V
- Daya nominal : 3780 A
- Tegangan : 3000 RPM
- Arus : 50 Hz
- Putaran : 215 V
- Frekuensi : 1248 A
- Tegangan Eksitasi :3
- Arus Eksitasi : 0.8
- Jumlah fasa
- Faktor daya : Shandong Luneng Mount Tai Electric
Equipment Co.,Ltd
4. Transformator Utama
- Pabrik : SF-16000/10TH
: 2015
- Tipe
- Tahun pembuatan

217

PUSAT SERTIFIKASI

- Nomor seri : 140-0166
- Sistem pendinginan : ONAN ONAF
- Jumlah fasa :3
- Kapasitas terpasang : 70000kVA
- Tegangan sisi HV : 150±8x1.25%
- Tegangan sisi LV : 10.5 kVA
- Arus sisi HV : 269,4 A
- Arus sisi LV : 3849 A
- Jumlah Tap : 17
- Frekuensi : 50 hz
- Kelompok vektor : YNd1
- Impedansi : 12.03

1. Perhitungan efisiensi boiler
218

PUSAT SERTIFIKASI
219

PUSAT SERTIFIKASI
220

PUSAT SERTIFIKASI
221

PUSAT SERTIFIKASI
222

PUSAT SERTIFIKASI
223

PUSAT SERTIFIKASI
224


Click to View FlipBook Version