184 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Catatan: 1. Warna kabel Netral harus biru 2. Warna kabel PE harus loreng kuning-hijau atau dibalut kuning hijau disetiap terminal atau kotak sambung 5 Penghantar Bumi 5a Penghantar bumi tidak ada 5b Penampang penghantar bumi kurang dari 4 mm2 5c Bahan pengantar bumi berbedan dengan bahan terminal PE dan elektrode bumi, tanpa kolektor bimetal 5d Penghantar bumi disatukan dengan panangkal petir, tanpa ikatan penyama potensial 5e Penghantar bumi terdiri atas beberapa penghantar yang dipararel 5f Pengantar bumi dari jenis kabel senur 5g Pengantar bumi tidak utuh (sambungan) 6 Resistansi insulasi kabel 6a Resistansi insulasi kabel tidak memenuhi syarat (kurang dari 0, 5 M-Ohm) 6b Resistansi insulasi kabel tidak dapat diperiksa/ diukur 7 Resistansi elektrode bummi lebih besar 50 Ohm dan tidak dapat membuktikan adanya elektrode bumi 8 Penghantar PE dan penghantar bumi tidak dihubungkan di PHB Utama 9 Rel/ Sisir/ sambungan di PHB Utama 9a Penampang rel/ sisir PHB Utama lebih kecil daripada penampang saluran masuk 9b Bahan rel PHB Utama bukn tembaga 9c Penampang sambungan dari MCB Utama ke MCB sirkit akhir lebih kecil daripada penampang saluran masuk
185 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 9d Terminal hubung pada sakelar/ MCB PHB Utama, digunakan untuk lebih dari satu inti Catatan: Gunakan rel/ sisir Cu dengan penampang minimal sama dengan penampang saluran masuk. Lihat PUIL ayat 7.11.1.5.1 dan 7.11.1.5.2 9e Jumper pada MCB dipelintir Catatan: Gunakan rel/ sisir Cu dengan penampang minimal sama dengan penampang saluran masuk 9f Pada terminal terdapat lebih dari satu penghantar pada satu terminasi 10 Rel/ sisir/ sambungan di PHB Cabang 10a Rel/ sisir/ sambungan di PHB Cabang tidak memenuhi syarat Catatan: Minimal harus sama dengan saluran cabang 10b Bahan rel PHB Cabang (1, 2, ..., dan seterusnya) bukan tembaga 10c Penampang sambungan dari sakelar/ MCB Cabang ke MCB sirkit akhir lebih kecpl dripada ukuran saluran cabang 10d Terminal penghubung pada sakelar/ MCB PHB Cabang digunakan untuk lebih dari satu inti (PUIL ayat 7.11.1.5.1 dan 7.11.1.5.2) Catatan: Gunakan rel/ sisir Cu dengan penampang minimal sama dengan penampang saluran cabang 11 Sakelar Utama 11a Sakelar Utama/ MCB yang berfungsi sebagai sakelar Utama tidak ada 11b Arusa pengenal Sakelar Utama/ MCB Utama lebih kecil daripada beban terpasang Catatan: Ukuran saSakelar Utama/ MCB Utama minimal 10A
186 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 11c Saluran masuk ke Sakelar Utama dicabangkan ke beberapa sirkit lain 12 MCB yng berfungsi sebagai sakelar utama kurang dari 10A 13 Saluran utama dan saluran Cabang 13a Penampang Saluran Utama kurang dari 4 mm2 13b Saluran Utama tidak utuh (sambungan) 13c Penampang Saluran cabang kurang dari 4 mm2 14 Gawai Protekso Sirkit Cabang 14a Gawai Proteksi Arus lebih sirkit cabang (1, 2, ..., dan seterusnya) tidak ada 14b Arus pengenal Gawai Proteksi arus lebih sirkit cabang (1, 2, ..., dan seterusnya) lebih besar daripada KHA pengantar 14c Arus pengenal Gawai Proteksi Arus lebih sirkit cabang lebih kecil daripada beban terpasang 14d Ada kotak kontak yang dipasang di luar tidak diproteksi GPAS = 30 mA 14e Instalasi tanpa GPAS = 50 mA (untuk proteksi kebakaran) pada gedung publik, industri, komersial dan perumahan dengan daya terpasang 3500 VA atau lebih 15 Sakelar Utama PHB Cabang 15a Sakelar Utama/ MCB Utama pada PHB Cabang (1, 2, ..., daan seterusnya) tidak ada 15b Arus pengenal sakelar utama pada PHB Cabang lebih kecil daripada beban terpasang 15c Arus pengenal Sakelar Utama dan PHB Cabang lebih kecil daripada KHA penghantar 15d Pada PHB Cabang disetiap lantai gedung bertingkat tidak dipasang sakelar masuk (PUIL ayat 9.6, hal 443) 16 Gawai proteksi sirkit akhir
187 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 16a Gawai Proteksi Arus lebih sirkit akhir pada PHB utama/ Cabang tidak ada 16b Gawai Proteksi Arus lebih sirkit akhir pada PHB utama/ Cabang lebih besar daripada KHA penghantar 16c Gawai Proteksi Arus lebih sirkit akhir pada PHB utama/ Cabang lebih besar dari sakelar utama/ cabang 17 Elektrode bumi 17a Elektrode bumi tidak ada 17b Elektrode bumi dipakai untuk beberapa instalasi 18 Polaritas 18a Polaritas fiting lampu terbalik 18b Polaritas kotak kontak terbalik 18c Polaritas sakeelar (kecuali di dalam panel) terbalik 19 Pemasangan PHB 19a Ketinggian PHB kurang dari 1.5 m ditas lantai, untuk instalasi perumahan 19b PHB untuk ruangan dengan bahaya kebakaran dan ledakan gas (blg) tidak memenuhi persyaratan PUIL (ayat 8.28) 20 Kotak kontak 20a Kotak kontak dengan ketinggian kurang dri 125 cm dari jenis terbuka Catatan: Seharusny dari jenis putar/ tutup (bukan jenis terbuka) 20b Titik lampu (instalasi magum) dihubungkan ke kotak kontak. Catatan: Kotak kontak hanya diperuntukkan untuk piranti listrik dan penyambungan yang tidak tetap (pegun/ randah) 21 Pemasangan lengkapan instalasi tidak rapi
188 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 22 Sambungan penghantar tidak dalam kotak sambung 23 Tidak ada kesinambungan sirkit (F, N, PE) 24 Lengkapan listrik (MCB, kotak kontak, Sakelar) 24a Tidak bertanda SNI 24b Pemasangannya tidak sesuai peruntukan 25 Kabel tidak bertanda SNI/ SPLN 26 Terminal Netral dan Terminal PE 26a Pada PHB tidak ada terminal N dan/ atau PE 26b Pada PHB terminal N/ PE tidak digunakan sesuai fungsi masing-masing 26c Ada penghantar PE pada sirkit cabang dan sirkit akhir tidak bermula dari terminal PE pada PHB Utama 26d Pada terminal PE ada lebih dari satu penghantar PE pada lubang terminasi 26e Pada terminal PE ada penyambungan dengan pelintiran 26f Semuan penghantar N pda sirkit cabang dan sirkit akhir tidak bermula dari terminal N pada PHB 26g Pada terminal N ada lebih dari satu penghantar N pada satu lubang terminasi 26h Pada terminal N ada penyambungan dengan pelintiran 26i Terminal N dan terminal PE pada PHB Utama tidak dihubungkan Catatan: Pada sistem TNCS, harus dihubungkan dan hanya di PHB Utama saja 26j Terminal N dan terminal PE di PHB lantai 2, 3, … dan seterusnya, dihubungkan 26k Pada sistem TT, terminal N dan terminal PE dihubungkan langsung 27 Pencabangan Saluran 27a Saluran Utama dicabangkan ke beberapa PHB
189 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 27b Saluran Cabang dicabangkan ke beberapa PHB 27c Salarun Utama dicabangkan ke sirkit lain 28 Sirkit akhir 28a Pada sirkit akhir ada MCB/ sekering untuk lebih dari satu sirkit 28b Pada sirkit akhir terdapat lebih dari satusaluran fase di dalam satu kabel 28c KHA sirkit akhir lebih kecil dari beban terpasang 29 Instalasi Kamar Mandi dan Water Heater 29a Ada kotak kontak/ sakelar di dalam kamar mandi pada Zone-1 atau Zone-2 29b Ada kotak kontak/ sakelar di dalam kamar mandi pada Zone-3 tanpa GPAS 29c Pmanas Air (Water Heater) tidak dilengkapi GPAS 30 mA 30 Unit AC tanpa kotak kontak dan tanpa GPAS 31 MCB pada penghantar Netral 31a MCB di instalasi fase tunggal dipasang pada penghantar netral. Catatan: Mestinya terpasang pada penghantar fase 31b Pada instalasi tiga fase dipasang MNB netral fase tunggal 32 instalasi yang belum terpasang/ belum selesai 32a Instalasi belum semua terpasang (belum selesai) 32b Saluran Utama belum terpasang 32c Kotak kontak/ sakelar (semua/ sebagian) belum terpasang 32d Fiting lampu (semua/ sebagian) belum terpasang 32e Gawai Proteksi Arus lebih Cabang (semua/ sebagian) belum terpasang 32f Sakelar Utama Cabang (semua/ sebagian) belum terpasang
190 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 32g Sirkit Cabang (semua/ sebagian) belum terpasang 32h Sirkit Akhir (semua/ sebagian) belum terpasang 32i Instalasi di (LT-1, 2, …, dan sterusnya) belum terpasang/ belum selesai 32j Instalasi di (LT-1, 2, …, dan sterusnya) sudah terpasang, tetapi tidak diajukan untuk diperiksa 33 Jumlah sirkit akhir 33a Jumlah sirkit akhir pada gambar instalasi tidak sesuai terpasang 33b Jumlah sirkit akhir pada diagram garis tunggal tidak sesuai terpasang 33c Jumlah sirkit akhir pada gambar instalasi dan diagram garis tunggal tidak sama 34 jumlah titik lampu pada gambar 34a Jumlah titik lampu gambar instalasi tidak sesuai terpasang 34b Jumlah kotak kontak pada gambar instalasi tidak sesuai terpasang 34c Jumlah titik lampu dan kotak kontak pada gambar instalasi tidak sesuai terpasang 34d Umlah titik lampu dan kotak kontak pada diagram garis tunggal tidak sesuai terpasang Sumber: PT. Konsul, 2007
191 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK LEMBAR PRAKTIKUM Instalasi Rumah Dengan Saklar Tunggal A. Tujuan 1. Mampu memasang instalasi listrik dari sumber PLN hingga beban 2. Mampu melakukan komisiongng/ pemeriksaan terhadap pemasangan instalasiyang telah dikerjakan B. Alat dan Bahan Bahan: Saklar tunggal 2 buah Lampu pijar 1 buah Lampu TL 1 buah KOtak kontak 1 buah Pemutus sirkuit 1 buah kWh meter 1 buah Kabel NYA 1, 5 mm secukupnya Kabel NYM 1, 5 secukupnya Paralon Clipsal secukupnya Roset 1 buah Paralon Clipsal secukupnya Roset 1 buah Fitting duduk 1 buah Kotak cabang tiga 3 buah Embodos 3 buah Klaim paralon 3 buah Klaim kabel secukupnya Sekrup secukupnya Papan triplek tebal secukupnya Alat: Tang potong Tang kombinasi Obeng plus Obeng minus Trek bor Alat ukur: Megger Voltmeter Amperemeter C. Langkah kerja 1) Rancanglah bahan bahan percobaan sesuai dengan diagram berikut ini:
192 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK LEMBAR PRAKTIKUM 2) Ukurlah paralon sesuai kebutuhan 3) Pasang kWh meter, kotak sekering, pemutus sirkuit pada papan yang telah diberikan 4) Sambunglah kabel sesuai dengan kode warnanya masing-masing seperti pada diagram berikut ini 5) Sambungan kabel harus diisolasi dan diikat dengan tali 6) Setelah instalasi sudah jadi, selanjutnya adalah mengukur tahanan isolasi, dengan menggunakan megger. Sebelum diukur, lepas semua beban seperti lampu pijar dan lampu TL, kemudian matikan sirkuit sumber, dan lepas sekering. Ukur tahanan isolaso pada titik setelah sekering 7) Cek cara kerja rangkaian dengan memasang kembali semua beban dan sekering dan juga nyalakan sirkuit breakernya. Cek keadaan saklar dan amati perubahannya terhadap nyala lampu di tiap ruangan 8) Cek stop dengan memasang beban yaitu heater 9) Pada titik setelah sekering, ukurlah arus, tegangan, daya dan faktor daya dengan menggunakan voltmeter dan amperemeter D. Hasil Pengamatan 1) Tahanan isolasi R-f-n = ...MΩ R-F-g =... MΩ
193 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK LEMBAR PRAKTIKUM R-n-g =... MΩ 2) Pengukuran tahanan pembumian E. Kesimpulan CAKRAWALA Mengenal Megger (Mega Ohm Meter) Alat ukur Tahanan Isolasi Gambar.6.3 Megger (Sumber: https:// blogteknisi.com/ mengenal-megger-mega-ohm-meter-alat-ukur-tahanan-isolasi/ MEGGER (MEGA OHM METER). yang berkutat dalam dunia Electrical Engineering sudah sangat mengenal barang yang satu ini. Secara sederhana MEGGER (MEGA OHM METER) digunakan sebagai alat ukur tahanan isolasi. MEGA OHM METER atau yang biasa disebut MEGGER merupakan salah satu alat ukur yang berfungsi untuk mengukur tahan isolasi dari suatu instalasi atau untuk mengetahui apakah penghantar dari suatu instalasi terdapat hubung langsung antara fasa dengan fasa atau dengan nol atau dengan pembumian. Biasanya sebelum instalasi listrik dioperasikan, ada tahapan yang harus dipenuhi, yaitu pengujian isolasi. Pada pengujian isolasi inilah MEGA OHM METER atau yang biasa disebut MEGGER digunakan. Pada pengujian isolasi ini dilakukan atas: uji isolasi fasa-fasa (jika listrik 3 fasa), uji isolasi fasa-pembumian (jika penghantar netral tidak dihubungkan ke penghantar pembumian), uji isolasi fasa-netral dan uji isolasi netral-pembumian.
194 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK JELAJAH INTERNET Untuk menambah wawasan tentang instalasi pemeriksaan sistem instalasi listrik kalian dapat mempelajari secara mandiri melalui internet. Di internet kalian akan mempelajari banyak aspek Kalian dapat mengakses link https://www. academia.edu/9710109/PEMERIKSANAAN_PEMERIKSANAAN_INSTALASI_LISTRIK atau menscan QR code di bawah ini. RANGKUMAN 1. Komisioning adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik yang telah selesai dikerjakan dan hendak dioperasikan. Dengan hasil pemeriksaan dan pengujian yang baik, maka diyakini bahwa instalasi listrik aman pada saat diopeasikan, yaitu aman bagi manusia, ternak, harta benda dan aman bagi intalasi itu sendiri. 2. Pemeriksaan merupakan bagian dari testing dan komisioning, dengan cara melihat langsung terhadap material/ peralatan/ barang maupun konstruksi instalasi listrik yang telah terpasang secara kasat mata dan tanpa melalui alat/ peralatan bantu. 3. Pengujian merupakan bagian dari testing dan komisioning, dimana untuk dilihat secara kasat mata tidak bisa dilakukan, terhadap material/ barang/ alat maupun kontruksi yang telah terpasang pada instalasi listrik 4. Pengukuran tahanan isolasi kabel a. Menggunakan alat Megger/ Mega Ohm Meter/ Insulation Tester b. Nilai tahanan isolasi sebesar 1.000 ohm/ 1 volt 5. Pengukuran tahanan pembumian (grounding/ arde) a. Menggunakan alat Earth Resistance Tester b. Nilai tahanan pembumian maksimum 5 ohm 6. Cara pengujian: a. Dilakukan per sirkit, antara titik pasok (APP) ke PHB utama b. Pengujian antara PHB utama ke PHB cabang c. Pengujian antara PHB cabang berikutnya, sampai sirkit akhir
195 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK TUGAS MANDIRI Coba kalian lakukan komisioning pada instalasi penerangan yang ada disekolah kalian. Kemudian catat hasilnya dan kumpulkan hasilnya pada guru pengampu pelajaran. PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakanlah soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar ! 1. Menurut pendapat kalian, apakah pemeriksaan terhadap sistem instalasi tahalistrik penting? Berikan alasannya! 2. Kemukakan pendapat anda, Mengapa setelah melakukan pemasangan instalasi listrik, sangat dianjurkan melakukan komisioning? 3. Tuliskan kondisi yang dapat menunjang terjadinya kecelakaan/ kerusakan/ kebakaran yang diakibatkan oleh listrik! 4. Bagaimana cara kita melakukan pengukuran tahanan isolasi? 5. Tuliskan langkah-langkah pengukuran tahanan pembumian dengan menggunakan earth Tester! REFLEKSI Renungkan dan tuliskan pada selembar kertas Ungkapkan pemahaman apa yang kalian peroleh setelah mempelajari pemeriksaan sistem instalasi listrik, berdasarkan beberapa hal berikut ini. 1. Apa saja yang perlu diperhatikan ketika mempelajari materi ini? 2. Materi apa saja yang masih sulit untuk dipahami? 3. Kesulitan apa yang dihadapi ketika mempelajari materi inii?
196 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK BAB VII LISTRIK TIGA FASA TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini, peserta didik mampu menerapkan instalasi listrik tiga fasa dengan penuh percaya diri dan mandiri. PETA KONSEP KATA KUNCI Listrik satu fasa–listrik tiga fasa–urutan fasa–fasa RST–sudut fasa–phase sequence tester–proteksi dasar-proteksi gangguan-panel–cubicle–Grounding Rod–clamp meter BAB VII LISTRIK TIGA FASA Sistem Satu Fasa dan Tiga Fasa Listrik Tiga Fasa Pengukuran Listrik Tiga Fasa Sistem Proteksi Listrik Tigas Fasa Sistem Pembumian Listrik Tiga Fasa Panel/PHBK Listrik Tiga Fasa
197 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK PENDAHULUAN Gambar 7.1 Kwh meter sumber listrik tiga fasa Sumber: kimmylistrik.com Kalian tentu sudah akrab dengan listrik satu fasa. Sebagaimana kita ketahui bahwa listrik satu fasa telah umum dipakai di rumah-rumah. Tegangan listrik satu fasa 220 Volt dengan frekuensi 50Hz. Ini umum berlaku di Indonesia. Nah yang jarang kalian ketahui adalah tentang listrik tiga fasa, karena jaringan listrik tiga fasa ini cenderung dipakai di dunia industri, dan pada bangunan gedung perkantoran besar. MATERI PEMBELAJARAN A. Sistem Satu Fasa Dan Sistem Tiga Fasa Apakah di rumah kalian mempunyai sumber listrik tiga fasa? Atau sumber listrik satu fasa? lalu hal apakah yang menunjukkan sumber listrik tiga fasa? mari kita pelajari selengkapnya. Beberapa tahun yang lalu, listrik satu fasa cukup untuk melayani kebutuhan listrik, baik di rumah tinggal, perkantoran, industri kecil, dan sebagainya. Namun, seiring makin berkembangnya baik industri kecil, rumah, maupun perkantoran, maka kebutuhan beban listrik juga makin meningkat, dan listrik yang pada mulanya satu fasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Disinilah listrik tiga fasa mulai dibutuhkan untuk mengatasi beban listrik yang mulai meningkat. Listrik satu fasa, maupun listrik tiga fasa berasal dari pembangkitan oleh generator listrik. Menurut hukum Faraday tentang induksi elektromagnetik, apabila sebuah sebuah lilitan rotor di putar pada medan magnetik, maka akan menghasilkan tegangan induksi berbentuk sinusoidal dalam lilitan rotor tersebut. Pada listrik satu fasa, proses menghasilkan listrik satu fasa dapat diterangkan sebagai berikut, dimisalkan tegangan yang dihasilkan dari hasil gerak rotor sebesar V:
198 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN pada gambar 7.2 gerak rotor searah dengan arah fluks sehingga tidak membentuk sudut antara arah fluks dengan gerak rotor (sudut =0O, sehingga tidak ada tegangan (V = 0 Volt). Gambar 7.3 arah gerak rotor membentuk sudut 45O terhadap fluks, akibatnya terdapat induksi akibat gerak rotor memotong fluks, sehingga membangkitkan tegagan sebesar = 0, 707 x Vmaks. (V = 0, 707 Vmaks, atau V = sin 45O x Vmaks. Gambar 7.2 arah gerak rotor searah (parallel) dengan arah fluks Gambar 7.3 arah gerak rotor membentuk sudut 45o terhadap fluks.
199 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Gambar 7.4 menunjukkan arah gerak rotor tegak lurus terhadap fluks, gerak rotor membentuk sudut 90Oterhadap fluks, maka tegangan yang dihasilkan adalah tegangan maksimum atau V = Vmaks (V = sin 90O Vmaks. arah gerak rotor memotong fluks dengan sudut 135O , maka menghasilkan tegangan V sebesar 0, 707 Vmaks. (V = 0, 707 Vmaks, atau V = sin 135O V maks). Gambar 7.4 arah gerak rotor tegak lurus terhadap fluks. Gambar 7.5 arah gerak rotor memotong fluks dengan sudut 135O
200 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Pada gambar 7.6, gerak rotor searah atau parallel dengan arah fluks sehingga tidak membentuk sudut antara arah fluks dengan gerak rotor (sudut =0O , sehingga tidak ada tegangan (V = 0 Volt). Gambar 7.6 arah rotor sejajar dengan fluks, V = 0. Gambar 7.7 arah rotor memotong fluks dengan sudut 225O, V = -0, 707 Vmaks atas V = sin 225O x Vmaks
201 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN arah rotor memotong fluks dengan sudut 225O, akibatnya terdapat induksi akibat gerak rotor memotong fluks, sehingga membangkitkan tegangan sebesar =-0, 707 x Vmaks. (V =-0, 707 Vmaks, atau V = sin 225O x Vmaks. Pada posisi ini tegangan yang dikeluarkan adalah tegangan negatif (- 0, 707 Vmaks). Gambar 7.8 menunjukkan arah gerak rotor tegak lurus terhadap fluks, gerak rotor membentuk sudut 270O terhadap fluks, maka tegangan yang dihasilkan adalah tegangan maksimum atau V = Vmaks (V = sin 270O Vmaks. Pada posisi ini tegangan yang dikeluarkan adalah tegangan negatif (- Vmaks). Pada Gambar 7.9 arah rotor memotong fluks dengan sudut 315O arah gerak rotor memotong fluks dengan sudut 315O , maka menghasilkan tegangan V sebesar-0, 707 x Vmaks. (V =-0, 707 Vmaks, atau V = sin 315O Vmaks). Gambar 7.8 arah rotor tegak lurus terhadap fluks dengan sudut 270O, maka V =-Vmaks Gambar 7.9 arah rotor memotong fluks dengan sudut 315O, maka V =-0, 707 Vmaks
202 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Pada gambar 7.10 gerak rotor searah dengan arah fluks dengan sudut 3600, sehingga tidak membentuk sudut antara arah fluks dengan gerak rotor (sudut = 3600 , sehingga tidak ada tegangan (V = 0 Volt). Dari penjelasan di atas kita dapat memahami konsep listrik satu fasa dengan jelas. Adapun listrik tiga fasa, secara sederhana konstruksinya terdiri dari tiga buah rotor yang ditempatkan sejauh 1200 satu sama lain, sehingga akan membangkitkan tiga buah tegangan akan tetapi dengan fasa yang berbeda, sehingga secara grafik akan membentuk tiga buah gelombang sinus yang berbeda fasa 1200. Gambar 7.10 arah rotor sejajar dengan fluks dengan sudut 3600, maka V = 0 Gambar 7.11 a: konstruksi 3 buah rotor pada generator tiga fasa Gambar 7.11 b: konstruksi fisik pada rotor dari generator tiga fasa
203 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Pada gambar 7.11 a memperlihatkan konstruksi stator dari generator tiga fasa terhadap fluks, sementara pada gambar 7.11 b adalah bentuk konstruksi fisik rotor dari generator listrik tiga fasa. Generator terdiri dari tiga lilitan (koil) pada stator yang diletakkan pada sudut 120º antar masing-masing koil. Masing-masing sumber AC bekerja pada frekuensi yang sama, namun fasa yang berbeda. Tegangan yang dihasilkan oleh generator besar gelombangnya sama namun besar fasanya 120º . Gambar 7.12 di bawah memperlihatkan susunan koil/ lilitan pada generator listrik tiga fasa yaitu a–a’ ; b–b’ ; dan c–c’ . Jadi pembangkitan listrik tiga fasa sebenarnya terdiri dari tiga buah pembangkitan listrik satu fasa dengan tegangan sama besar satu sama lain, akan tetapi antar fasa berbeda 120º . Gambar 7.13 memperlihatkan tiga buah sumber tegangan satu fasa dengan besar tegangan yang sama pada masing-masing tegangan, akan tetapi berbeda sudut fasa satu sama lain. Apabila sumber tegangan pada gambar 7.13 diletakkan dalam grafik, maka akan menghasilkan bentuk gelombang seperti pada gambar 7.14 Gambar 7.12 model rotor dan stator pada generator tiga fasa Gambar 7.13 tiga sumber tegangan yang sama dengan sudut fasa berbeda 120º Sumber: ee.hacettepe.edu.tr
204 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Listrik tiga Fasa terdiri dari Fasa R, Fasa S, Dan Fasa T, adapun perbedaan sudut fasa antar fasa sebesar 120o. Dari gambar 7.15 di atas terlihat grafik tegangan (volt) terhadap waktu (t) dengan satu siklus tegangan (satu gelombang) terdiri dari 0º hingga 360º (2π radian) pada sumbu waktu (t), sehingga dari grafik tersebut kita dapat mengetahui selisih waktu antar fasa, dengan posisi gelombang fasa terhadap fasa lainnya berada di belakang atau di depan. Gambar 7.14 bentuk gelombang tegangan tiga fasa dengan sudut fasa berbeda 120º Sumber: ee.hacettepe.edu.tr Gambar 7.15 bentuk Gelombang Listrik tiga fasa Sumber: upload.wikimedia.org
205 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Gelombang fasa 2 di belakang gelombang fasa 1 sejauh 120º, sementara gelombang fasa 3 di belakang gelombang fasa 1 sejauh 240º, dan gelombang fasa 2 di depan gelombang fasa 3 sejauh 120º, gelombang fasa 1 di depan gelombang fasa 3 sejauh 240º . Jenis koneksi sumber dan beban pada listrik tiga fasa Terdapat dua jenis koneksi sumber listrik tiga fasa, baik yang berasal dari transformator maupun yang berasal dari generator: dari dua jenis sumber hubungan pada sumber listrik tiga fasa pada gambar 7.15 di atas, juga terdapat hubungan pada beban dengan jenis yang sama (gambar 7.16). Dari gambar 7.16, pada gambar (a) sebuah beban dapat di katakan seimbang apabila Z1 = Z2 = Z3 = ZY , sementara pada gambar 7.16 (b), sebuah beban di katakan seimbang apabila Za = Zb=Zc = Z∆. sehingga apabila dua koneksi beban di atas di kombinasikan, maka akan menjadi: ZY= Gambar 7.16 jenis koneksi sumber listrik tiga fasa: (a) hubungan-Y, (b) hubungan-∆ Sumber: bu.edu.eg Gambar 7.17 jenis koneksi pada beban listrik tiga fasa: (a) hubungan-Y, (b) hubungan-∆ Sumber: bu.edu.eg
206 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Urutan fasa pada listrik tiga fasa yang dimaksud urutan fasa adalah urutan waktu pada saat tegangan mencapai nilai maksimum. Terlihat pada gambar 7.18 di bawah urutan fasanya: Van–Vbn–Vcn . Gambar 7.18 di bawah menunjukkan persamaan pada masing-masing fasa pada listrik tiga fasa berdasarkan bentuk gelombang pada gambar 7.17 di atas. Maka persamaan di atas apabila diletakkan pada grafik sumbu menjadi sebagai berikut: Gambar 7.18 urutan fasa pada listrik tiga fasa (urutan abc, atau urutan positif) Sumber: bu.edu.eg Gambar 7.19 persamaan pada masing-masing fasa pada listrik tiga fasa (fasa abc) Sumber: bu.edu.eg Gambar 7.20 persamaan urutan tiga fasa (abc) pada grafik sumbu Sumber: bu.edu.eg
207 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Terlihat pada gambar di atas urutan fasa: Van mendahului Vbn sebesar 120º, sementara Vbn mendahului Vcn sebesar 120º. Urutan fasa ini disebut dengan urutan fasa abc atau urutan fasa positif. Pada pembangkit sering disebut dengan urutan fasa RST. Lalu bagaimana jika urutan fasa nya terbalik? maka bentuk grafik nya terlihat seperti gambar 7.21 di bawah ini: Seperti terlihat pada gambar 7.21 di atas grafik urutan fasa: Van–Vcn–Vbn, kalau di letakkan pada persamaan menjadi sebagai berikut: Terlihat pada gambar 7.21 dan gambar 7.22 di atas, Van mendahului Vcn sebesar 120º , sementara Vcn mendahului Vbn sebesar 120º. Penerapan urutan fasa dapat dilihat pada motor listrik tiga fasa, bila urutan fasa nya RST atau abc, maka putaran motor listrik tiga fasa searah dengan jarum jam, namun bila urutan fasa terbalik atau acb, akan menyebabkan putaran motor listrik berlawanan dengan jarum jam. Gambar 7.21 grafik urutan fasa terbalik pada listrik tiga fasa (urutan acb, atau urutan negatif) Sumber: bu.edu.eg Gambar 7.22 persamaan urutan tiga fasa (acb) pada grafik sumbu
208 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN CONTOH SOAL: Tentukan urutan fasa dari tegangan listrik tiga fasa berikut Ini: Van= 200 Cos (ωt + 10o) Vbn= 200 Cos (ωt-230o) Vcn= 200 Cos (ωt-110o) Penyelesaian: Pertama kita ubah persamaan di atas ke dalam bentuk diagram fasor menjadi persamaan seperti di bawah ini: Van= (200/ ) sudut 10o V Vbn= (200/ ) sudut -230o V Vcn= (200/ ) sudut -110o V Dari persamaan fasor di atas kita mendapatkan gambaran posisi gelombang pada masing-masing fasa, dimana Van mendahului Vbn dengan sudut fasa 120o, sedangkan Vcn mendahului Vbn dengan sudut fasa 120o. sehingga urutan tiga fasa nya berbentuk Van–Vcn-Vbn (acb). Adapun mengapa listrik tiga fasa dibutuhkan karena: 1. Sebagai sumber suplai beban tiga fasa, seperti motor listrik tiga fasa. Dengan sumber listrik tiga fasa Membantu medan berputar pada motor listrik tiga fasa sehingga motor dapat berputar (motor start) tanpa membutuhkan bantuan komponen lain. 2. Menghemat bahan. Contohnya apabila ada ada tiga buah beban yang membutuhkan suplai daya masaing masaing 100 W, maka untuk mengalirkan arus ke masing-masing beban akan membutuhkan enam buah kabel (gambar 7.23), karena ada tiga sumber tegangan yang berbeda, sementara dengan suplai listrik tiga fasa cukup membutuhkan 3 buah kabel saja (menghemat 50 % bahan konduktor). Gambar 7.23 tiga buah beban yang di suplai oleh 3 sumber tegangan dengan 6 konduktor Sumber: tektronix
209 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN B. Pengukuran listrik tiga fasa 1. Alat penguji urutan fasa (phase sequence tester) Pada umumnya di Indonesia, pada listrik tiga fasa, tegangan antar fasa sebesar kurang lebih 380 Volt, sementara tegangan antar fasa dan netral sebesar kurang lebih 220Volt. Urutan fasa ini adalah RST, apabila urutannya berubah, misalnya RTS, maka akan mempengaruhi perangkat listrik seperti motor listrik, atau Air conditioner (AC) yang tiga fasa, pada instalasi listrik industri kecil, terbaliknya urutan fasa akan menyebabkan putaran motor listrik ikut terbalik, akibatnya akan merusak komponen mesin dalam suatu industri karena motor listrik tiga fasa ini biasanya terhubung dengan komponen mesin lainnya. alat untuk mengetahui urutan fasa ini dinamakan Phase sequence. Phase sequence ini ada beberapa model. Mengingat instrumen uji urutan tiga fasa ini bekerja pada kisaran tegangan 200 Volt hingga 480 Volt ac, maka sebelum menggunakan alat instrumen penguji urutan fasa RST ini, ada beberapa prosedur keselamatan yang perlu diperhatikan, yaitu: a. Perhatikan dengan teliti petunjuk penggunaan alat; b. gunakan alat pengaman untuk menghindari bahaya tersengat listrik; c. jangan bekerja sendiri; d. sebelum menggunakan alat, periksa kabel cek RST, apakah ada bagian kabel isolator yang rusak ataukah ada bagian konduktor terbuka; e. Jangan gunakan alat bila terlihat kerusakan pada peralatan; f. Berhati-hati memegang klip RST; g. Peralatan mungkin dapat terpengaruh oleh impedansi listrik pada jalur terbuka yang terhubung secara parallel; dan h. Peralatan sebaiknya tidak digunakan pada area gas mudah terbakar, atau pada area lembab dan basah. Gambar 7.24 alat monitor urutan fasa, three phase sequence tester Sumber: res.cloudinary.com
210 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Adapun cara menggunakan phase sequence adalah sebagai berikut: a. Hubungkan masing-masing klip RST dengan masing-masing terminal RST pada sumber listrik tiga fasa; b. Apabila terdapat tegangan pada masing-masing sumber jaringan tiga fasa RST, maka lampu indikator RST akan menyala, bila tidak, maka lampu indikator masing-masing akan padam. c. Tekan tombol cek urutan fasa: bila urutan fasa benar, maka arah putaran searah jarum jam (clock wise), bila urutan fasa salah, maka arah putaran berlawanan dengan arah jarum jam (counter clock wise). Gambar 7.25 hubungan klip RST pada sumber listrik 3 fasa Sumber: bukalapak.com Gambar 7.26 mengecek urutan fasa dengan arah putaran pada indikator
211 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN d. Bila urutan fasa masih salah (arah berlawan jarum jam/ counter-clockwise), maka ubahlah susunan terminal sumber jaringan tiga fasa kemudian lakukan prosedur pengukuran hingga arah putaran searah jarum. Pengukuran sumber tegangan dan arus listrik tiga fasa Pengukuran tegangan listrik dan arus listrik tiga fasa dilakukan untuk mengetahui besar tegangan maupun arus yang bekerja pada listrik tiga fasa, pengukuran ini juga diperlukan pada saat melakukan perawatan maupun perbaikan instalasi listrik ataupun pada panel, serta untuk mengetahui besarnya drop voltase yang terjadi. 2. Pengukuran tegangan listrik Adapun langkah-langkah pengukuran tegangan listrik tiga fasa adalah sebagai berikut: a. Putar selector pada posisi tegangan AC ( ) b. Letakkan probe warna hitam pada salah satu fasa, dan probe warna merah pada fasa lainnya, kemudian tekan tombol Hold agar angka tetap tampil setelah probe dilepaskan. Ulangi proses yang sama pada pengukuran antar fasa lainnya. Gambar 7.27 posisi selector (dilingkari) pada pengukuran tegangan tiga fasa
212 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN c. Untuk pengukuran fasa–netral, maka ulangi proses yang sama dengan gambar 7.27 dan 7.28, akan tetapi salah satu probe pada terminal netral, kemudian apabila terdapat tegangan satu fasa, maka akan muncul tampilan AVO meter kurang lebih = 220V (gambar 7.29). ulangi proses yang sama untuk pengukuran fasa lainnya. Gambar 7.28 cara pengukuran antar fasa dengan AVO meter Sumber: bukalapak.com Gambar 7.29 pengukuran fasa-netral pada jaringan tiga fasa Sumber: bukalapak.com
213 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 3. Pengukuran arus listrik Alat ukur yang digunakan adalah ampermeter, dan salah satu jenis amper meter adalah tang amper (clamp meter), adapun bagian bagian dari tang amper ditunjukkan pada gambar 7.3 berikut: Tang amper atau clamp meter adalah adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur arus listrik pada sebuah kabel konduktor yang dialiri arus listrik dengan menggunakan dua rahang penjepitnya (Clamp) tanpa harus kontak langsung dengan terminal listriknya. Dengan demikian, kita tidak perlu mengganggu rangkaian listrik yang akan diukur, cukup dengan ditempatkan pada sekeliling kabel listrik yang akan diukur. Gambar 7.30 bagian-bagian dari tang amper/ clamp meter Sumber: bukalapak.com Gambar 7.31 cara mengukur arus listrik dengan clamp meter Sumber: bukalapak.com
214 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Pada umumnya, Tang Ampere (Clamp Meter) yang terdapat di pasaran memiliki fungsi sebagai Multimeter juga. Jadi selain terdapat dua rahang penjepit, Clamp Meter juga memiliki dua probe yang dapat digunakan untuk mengukur Resistansi, Tegangan AC, Tegangan DC dan bahkan ada model tertentu yang dapat mengukur Frekuensi, Arus Listrik DC, Kapasitansi dan Suhu. Prinsip kerja tang ampere (clamp meter): Pada dasarnya, Tang Ampere (Clamp Meter) menggunakan prinsip induksi Magnetik untuk menghasilkan pengukuran non-kontak terhadap arus listrik AC. Arus Listrik yang mengalir di kabel konduktor akan menghasilkan Medan Magnet. Seperti yang diketahui bahwa, arus AC adalah arus dengan polaritas yang bolak-balik, hal ini akan menyebabkan fluktuasi dinamis dalam medan magnet yang sebanding dengan aliran arus listriknya. Sebuah Transformator yang terdapat di dalam Clamp Meter/ Tang Ampere akan merasakan fluktuasi magnet tersebut dan kemudian mengkonversikannya menjadi nilai Ampere (arus listrik) sehingga kita dapat membacanya di layar Clamp Meter. Cara Pengukuran dengan teknologi ini sangat mempermudahkan kita dalam mengukur arus listrik AC terutama pada arus listrik AC yang tinggi. Langkah penggunaan tang amper/ clamp meter pada listrik tiga fasa adalah sebagai berikut: Cara menggunakan Tang Ampere atau Clamp Meter ini sebenarnya cukup mudah (gambar 3.14), yaitu dengan menjepitkan rahang penjepitnya ke kabel listrik yang diinginkan. Berikut ini adalah langkah-langkah selengkapnya untuk Mengukur Arus Listrik AC atau Ampere AC dengan menggunakan Clamp Meter (Tang Ampere). C. Sistem proteksi pada listrik tiga fasa Diantara jenis sistem proteksi yang dipertimbangkan adalah: 1. Sistem proteksi terhadap sentuh langsung atau tidak langsung (voltase sentuh) proteksi terhadap sentuh langsung di dalam PUIL 2011 disebut proteksi dasar, proteksi dasar ini misalnya jenis bahan penghantar yang digunakan (KHA kabel), pemilihan konduit, kekuatan mekanis bahan, letak pemasangan komponen perlengkapan listrik, dan hal mendasar pada instalasi yang berhubungan dengan masalah keamanan dan keselamatan saat instalasi listrik beroperasi. Proteksi harus disediakan terhadap bahaya yang dapat timbul karena sentuh dengan bagian aktif instalasi oleh manusia atau ternak. Proteksi dapat dicapai dengan salah satu metode berikut: a. Mencegah mengalirnya arus melalui badan manusia atau ternak; dan b. Membatasi arus yang dapat mengalir melalui badan ke nilai yang tidak berbahaya. Proteksi terhadap sentuh tidak langsung di dalam PUIL 2011 disebut proteksi gangguan, yaitu proteksi terhadap kejut listrik pada kondisi gangguan tunggal. Untuk instalasi voltase rendah, sistem dan perlengkapan, proteksi gangguan umumnya berkaitan dengan proteksi terhadap sentuh tak langsung, terutama berkaitan dengan kegagalan insulasi dasar. Proteksi harus disediakan
215 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN terhadap bahaya yang dapat timbul karena sentuh dengan bagian aktif instalasi oleh manusia atau ternak. Proteksi sentuh tidak langsung dapat dicapai dengan salah satu metode berikut: a. Mencegah mengalirnya arus gangguan melalui badan manusia atau ternak; b. Membatasi besarnya arus gangguan yang dapat mengalir melalui badan ke nilai yang tidak membahayakan; dan c. Membatasi durasi arus gangguan yang dapat mengalir melalui badan hingga periode waktu yang tidak membahayakan. 1. Sistem proteksi terhadap arus lebih Menurut PUIL, Gawai proteksi khusus terhadap arus lebih harus mampu memutus setiap arus beban lebih, tetapi dapat mempunyai kemampuan memutus lebih rendah dari pada arus hubung pendek prospektif. 2. Proteksi arus hubung pendek dan terhadap beban lebih. Gawai untuk proteksi terhadap arus beban lebih dan arus hubung pendek harus sanggup memutuskan setiap arus lebih sampai dengan arus hubung pendek prospektif pada titik tempat gawai proteksi dipasang. Gawai harus dari jenis berikut: a. Sekering tertutup yang memenuhi standar; b. Pemutus sirkit mini (MCB) yang memenuhi standar; c. Pemutus sirkit dalam kotak tercetak yang memenuhi standar; d. Pemutus sirkit yang memenuhi standar; dan e. Gawai lain yang diizinkan yang mempunyai karakteristik yang sama dengan gawai di atas, asalkan tidak dari jenis yang dapat menutup kembali secara otomatis. Gawai proteksi khusus terhadap arus hubung pendek harus mampu memutus setiap arus hubung pendek sampai dengan arus hubung pendek prospektif, tetapi tidak perlu mampu memutus arus beban lebih. Gawai tersebut harus dari jenis berikut: a. Sekering hrc untuk proteksi cadangan motor; b. Pemutus sirkit yang membuka seketika; dan c. Gawai yang diizinkan lainnya, yang mempunyai karakteristik proteksi hubung pendek yang sesuai. Contoh pemakaian komponen listrik pada sistem proteksi adalah ACB, NFB, MCCB, MCB, ELCB.
216 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN D. Sistem Pembumian dan Sistem Proteksi Terhadap Sambaran Petir Menurut PUIL, pembumian adalah penghubungan suatu titik rangkaian listrik atau suatu penghantar yang bukan bagian rangkaian dengan bumi menurut cara tertentu. Tabel berikut adalah data untuk Daya tahanan jenis tanah dan tahanan pembumian pada tanah liat: Tabel 7.1 daya tahanan jenis tanah Tahanan jenis tanah adalah nilai resistansi dari bumi yang menggambarkan nilai konduktifitas listrik bumi. Sistem pembumian atau grounding sistem ini berfungsi untuk melepaskan arus petir ke bumi, salah satu kegunaannya adalah melepas muatan arus petir. Di dalam situs (https:// catatan.baha.web.id/ sistem-pembumian-grounding-sistem/), Tingkat kehandalan sebuah grounding ada di nilai konduktivitas logam terhadap tanah yang di tancapinya. Semakin konduktif tanah terhaddap benda logam, maka semakin baik. Dalam PUIL, sebaran nilai tahanan tanah maksimal 5 ohm, namun untuk daerah yang resistansinya tinggi, maka total seluruh sistem boleh mencapai maksimal 10 Ohm. Alat ukur yang digunakan adalah earth ground tester. ada beberapa aspek yang mempengaruhi nilai tahanan tanah: 1. Kadar air, bila air tanah dangkal/ penghujan, maka nilai tahanan sebaran mudah di dapatkan, sebab sela-sela tanah mengandung cukup air, bahkan berlebih, sehingga konduktifitas tanah akan semakin baik; 2. Mineral/ garam. Kandungan mineral tanah sangat mempengaruhi tahanan sebaran/ resistans, karena: semakin logam dan bermineral tinggi, maka semakin mudah menghantarkan listrik. Daerah pantai secara umum memenuhi ciri khas kandungan mineral dan garam tinggi, sehingga tanah sekitar pantai akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan tahanan tanah yang rendah; 3. Derajat keasaman. Semakin asam (PH rendah atau PH < 7) tanah, arus listrik akan semakin mudah untuk dihantarkan. Demikian pula sebaliknya, semakin basa (PH tinggi atau PH > 7) tanah, maka arus listrik akan semakin sulit untuk dihantarkan. Ciri tanah PH tinggi: biasanya tanah berwarna terang, misalnya: bukit kapur; dan
217 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 4. Tekstur tanah. Untuk tanah yang bertekstur pasir atau ber pori (porous), akan sulit untuk mendapatkan tahanan sebaran yang baik, karena jenis tanah seperti ini: air dan mineral akan mudah hanyut, dan tanah mudah kering. Berbagai bentuk sistem pembumian. Sistem pembumian dapat dibuat dalam tiga bentuk, yaitu: a. Single Grounding Rod Yaitu sistem grounding yang hanya terdiri dari satu buah titik penancapan batang (Rod) pelepas arus atau Ground Rod di dalam tanah dengan kedalamana tertentu (misalnya 6 meter). Untuk daerah yang memiliki karakteristik tanah yang konduktif, biasanya mudah untuk mendapatkan sebaran tahanan tanah di bawah 5 ohm hanya dengan sebuah batang Ground Rod. Gambar 7.32 single Grounding Rod Sumber: catatan.baha.web.id
218 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN b. Paralel Grounding Rod Jika sistem single Grounding Rod masih mendapatkan hasil > 5 ohm, maka perlu ditambahkan Ground Rod di dalam tanah yang jarak antar batang minimal 2 meter dan di hubungkan dengan kabel BC/ BCC. c. Multi Grounding sistem Gambar 7.33 parallel Grounding Rod Sumber: catatan.baha.web.id Gambar 7.34 multi Grounding Rod Sumber: catatan.baha.web.id
219 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Bila di dapati kondisi tanah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Kering atau air tanah dalam; 2) Kandungan logam sedikit; 3) Basa (berkapur); dan 4) Pasir dan berpori (porous). Maka penggunaan sistem grounding single rod dan parallel rod besar kemungkinan akan gagal untuk mendapatkan nilai resistans kecil, maka solusinya adalah dilakukan pergantian tanah dengan Tanah yang mempunyai sifat menyimpan air atau tanah yang kandungan mineral garam dapat menghantar listrik dengan baik. Ground Rod ditancapkan pada daerah titik logam dan di kisaran kabel penghubung antar ground Rod–nya. Tanah humus, tanah dari kotoran ternak, dan tanah liat sawah cukup memenuhi standar hantar tanah yang baik. Adapun cara pembuatan Multi Ground Rod adalah sebagai berikut (gambar 7.36): 1) Letak titik Ground Rod di bor dengan lebar kisaran 2 inchi (~ 0, 0508 meter) atau lebih; 2) Isikan dengan tanah humus sampai penuh; 3) Isikan dengan air; 4) Ground Rod dimasukkan; dan 5) Parit penghubung antar Ground Rod yang sudah terpsang kabel penghubung (BC) ditimbun kembali dengan tanah humus. Beberapa variabel yang mempengaruhi sistem pembumian berdasarkan NEC code (1987, 250-83-3 mensyaratkan panjang elektroda grounding sistem minimum 2, 5 meter (8 kaki) dihubungkan dengan tanah, dan adapun empat variabel tersebut adalah: 1) Panjang/ kedalaman elektroda Salah satu cara untuk menurunkan tahanan tanah adalah memperdalam elektroda. Sifat tanah tidak tetap tahanannya dan tidak dapat di prediksi, oleh sebab itu, ketika memasang elektroda, elektroda berada pada garis beku (frosting line). Ini dilakukan sehingga tahanan tanah tidak akan dipengaruhi oleh pembekuan tanah di sekitarnya. Secara umum, menggandakan panjang elektroda bisa mengurangi tingkat tahanan tanah sebesar 40%. Akan tetapi, ada kejadian kejadian dimana secara fisik tidak mungkin dilakukan pendalaman batang elektroda di daerah daerah yang terdiri aas batu, granit, dan sebaginya. Dalam keadaan demikian, metode alternative yang dapat digunakan adalah Grounding Cement. 2) Diameter elektroda Menambah diameter elektroda berpengaruh sangat kecil dalam menurunkan tahanan tanah. Misalnya diameter elektroda digandakan, maka tahanan grounding sistem hanay menurun sebesar 10%.
220 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 3) Variasi bentuk dan Jumlah elektroda Cara lain menurunkan tahanan tanah adalah dengan menggunakan banyak elektroda. Dalam desain ini, lebih dari satu elektroda yang dimasukkan ke dalam tanah dan dihubungkan secara parallel untuk mendapatkan tahanan yang lebih rendah. Agar penambahan elektroda efektif, maka jarak batang tambahan setidaknya harus sama kedalamannya dengan batang yang di tanam. Tanpa pengaturan jarak elektroda yang tepat, bidang pengaruhnya akan berpotongan dan tahanan tidak akan menurun. Untuk membantu dalam memasang batang grounding sistem yang akan memenuhi kebutuhan tahanan tertentu, maka dapat menggunakan tabel tahanan grounding sistem di bawah ini: d. Proteksi terhadap voltase lebih. Adapun desain variasi pemasangan bentuk dan sistem grounding dapat dilihat pada gambar 3.19 berikut: Tabel. 7.2 tabel tahanan sistem pembumian Sumber: catatan.baha.web.id
221 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Ada pula sistem grounding yang kompleks, yang terdiri atas banyak batang pentanahan (Grounding Rod) yang saling terhubung, atau saling membuat jaringan bertautan atau kisi-kisi, plat tanah, dan loop tanah. Sistem-sistem ini dipasang secara khusus di Sub stasiun pembangkit listrik, kantor pusat, dan tempat-tempat menara seluler. Jaringan kompleks meningkatkan secara dramatis jumlah kontak dengan tanah sekitarnya sehingga menurunkan tahanan tanah secara signifikan. Adapun alat dan material bantu dalam instalasi sistem pembumian adalah sebagai berikut: 1. Alat ukur resistans (earth ground tester) Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui hasil dari resistans atau tahanan sistem grounding pada sebuah instalasi penangkal petir yang telah terpasang. Gambar 7.35 berbagai model dan bentu pemasangan sistem grounding Sumber: catatan.baha.web.id Gambar 7.36 earth ground tester
222 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 2. Busbar Grounding Alat ini digunakan sebagai titik temu antara kabel penyalur petir, dengan kabel Grounding. Biasanya terbuat dari plat tembaga atau logam yang berfungsi sebagai konduktor, sehingga kualitas dan fungsi instalasi penangkal petir yang terpasang dapat terjamin. 3. Copper Butter Connector Alat ini digunakan untuk menyambung kabel, dan biasanya kabel yang disambung pada instalasi penangkal petir adalah kabel sistem grounding, karena kabel penyalur pada penangkal petir tidak boleh terputus atau tidak boleh ada sambungan. Setelah kabel tersambung oleh alat ini tentunya harus diperkuat dengan isolasi sehingga daya rekat dan kualitas sambungannya dapat terjaga dengan baik. Penyambungan kabel instalasi penyalur petir kaonvensional umumnya menggunakan alat ini, karena pada penangkal petir konvensional jalur kabel terbuka hanya dilindungi oleh conduct dari PVC. 4. Drilling Head Alat ini berfungsi untuk membantu mempercepat pembuatan grounding suatu instalasi penangkal petir, yaitu dengan cara memasang di bagian bawah Gambar 7.37 busbar grounding Gambar 7.38 Copper Butter Connector
223 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN copper rod atau Ground Rod bagian ujung alat ini runcing, sehingga memudahkan menembus tanah. Selain itu, alat ini juga dapat menghindari kerusakan copper rod ketika dipukul ke dalam tanah (lihat gambar 3.23). 5. Ground Rod Drive head Alat ini dipasang di bagian atas copper rod atau Ground Rod dan berfungsi untuk menghindari kerusakan copper rod atau Ground Rod bagian atas yang akan dimasukkan ke dalam tanah. Hal tersebut karena pada saat copper rod didorong ke dalam tanah dengan cara dipukul, alat tersebut tidak mengenai copper rod, akan tetapi mengenai alat ini (lihat gambar 3.23), disamping itu juga Drive head ini merupakan tempat untuk dipukul agar Ground Rod masuk ke dalam tanah. 6. Bentonit Digunakan untuk membantu menurunkan nilai resistans atau tahanan tanah. Bentonit digunakan saat pembuatan grounding dan dilakukan jika sudah tidak ada cara lain lagi unttuk menurunkan nilai resistans atau tahanan tanah. 7. Ground Rod Coupler Alat ini digunakan ketika kita aka nmenyambung beberapa segmen copper rod atau Ground Rod yang dimasukkan ke dalam tanah, sehingga copper rod atau Ground Rod yang masuk ke dalam tanah akan lebih panjang. Misalnya, ketika kita akan membuat grounding penangkal petir sedalam 12 meter dengan menggunakan copper rod, maka alat ini sangat diperlukan karena copper rod yang umumnya ada di pasaran paling panjang hanya 4 meter (lihat gambar 3.23). Gambar 7.39 bagian bagian dari ground rod Sumber: https://www.szzzxcl.com/product/ground-rodaccessories/driving-head.html
224 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN E. PHB dan Panel Distribusi Tenaga Listrik tiga fasa Perangkat hubung bagi (PHB) menurut definisi PUIL 2011, adalah suatu perlengkapan untuk mengendalikan dan membagi tenaga listrik dan atau mengendalikan dan melindungi sirkit dan pemanfaat tenaga listrik. Adapun bentuknya dapat berupa box, panel, atau lemari. Di beberapa industri kecil, sistem distribusi tenaga listrik tiga fasa yang seimbang sangat dibutuhkan. Sistem distribusi tenaga listrik diatur dalam panel panel distribusi. Sistem Klasifikasi (pengelompokan jenis) pada panel distribusi terjadi perbedaan diantara praktisi instalasi listrik tergantung dari jenis kebutuhan dan keperluan suplai tenaga listrik. Salah satu model pembagian Panel distribusi adalah sebagai berikut: 1. Panel Tegangan Menengah Juga di kenal dengan nama cubicle, berfungsi sebagai alat penghubung antara tegangan menengah (TM) atau arus yang masuk ke trafo ke gardu yang lain. Di dalam panel ini biasanya di lengkapi dengan arrester petir atau disingkat arrester, yaitu suatu alat pelindung peralatan listrik terhadap surja petir. Alat pelindung terhadap gangguan surja petir ini berfungsi melindungi sistem tenaga listrik dengan cara membatasi surja tegangan yang lebih dan mengalirkannya ke tanah. Pada tiap cubicle biasanya dilengkapi dengan sistem yang biasa dikenal dengan protection, metering, dan monitoring, dan control unit comparising (PMCU). Komponen ini adalah instrumen transformator tegangan dan transformator arus, relai proteksi, alat ukur tegangan dan arus, relai tegangan dan lampu tanda (sign lamp). Transformator tegangan di PMCU berfungsi sebagai penurun tegangan dari tegangan menengah menjadi tegangan rendah untuk besaran ukur sesuai dengan alat alat ukur tegangan sedangkan transformator arus di dalam PMCU berfungsi untuk menurunkan arus besar pada tegangan menengah tersebut menjadi arus yang lebih kecil pada tegangan rendah untuk besaran ukur arus. Suplai energi listrik dari arah pembangkit listrik gedung (Generator set), misalnya pada gedung bertingkat, umumnya juga masuk pada sisi incoming Panel Listrik tegangan menengah dengan tegangan yang sama dengan suplai dari PLN.
225 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN Sesuai IEC 298: 1990 didespesifikasikan cubicel sebagai perlengkapan hubung bagi dan kontrol berselungkup logam rakitan pabrik untuk arus bolakbalik dengan tegangan pengenal di atas 1 kV sampai dengan dan termasuk 35 kV, untuk pasangan dalam dan pasangan luar, dan untuk frekuensi sampai 50 Hz. 2. Panel disribusi tegangan rendah Panel distribusi tegangan rendah adalah pusat pendistribusian power tenaga listrik sebelum di salurkan ke pengguna tenaga listrik, apakah itu sebuah gedung perkantoran, hotel, apartement, pabrik. Panel ini biasanya ditempatkan tepat di keluaran sumber atau power tenaga listrik, baik power listrik tersebut berasal dari Trafo PLN, Generator Set (genset). Panel distribusi Gambar 7.40 suplai genset ke panel tegangan menengah Sumber: Muh.Hasan Basri, FT UI, 2008 Gambar 7.41 panel listrik tegangan menengah (cubicel) Sumber: panellistrikkenari.com
226 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN induk tegangan rendah ini mengalirkan tegangan rendah (380V/ 220V) hasil dari keluaran (Output) transformator step down untuk segera langsung di manfaatkan ke panel panel tiap beban. Ada beberapa syarat yang sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam Pembuatan Panel distribusi tegangan rendah antara lain: Aman terhadap Manusia, bangunan dan lingkungan; a. Memenuhi fungsinya sebagai pusat distribusi power tenaga listrik sebelum disalurkan ke pengguna listrik; dan b. Terpenuhinya sistem pengaman instalasi listrik, baik sebagai pensaklaran hidup/ mati power listrik, pengaman hubung singkat, pengaman beban lebih, gangguan isolasi, pengaman kenaikan tegangan dan penurunan tegangan listrik. Factor permintaan atau Demand faktor (DF) adalah perbandingan permintaan maksimum sistem dengan beban yang tersambung pada sistem, atau bagian dari pertimbangan sistem dan nilai demand faktor umumnya selalu di bawah satu. Keanekaragaman faktor atau diversity faktor adalah perbandingan jumlah permintaan individual maksimum sub-bagian dari sistem, atau sebagian dari sistem, dengan permintaan maksimum keseluruhan sistem, atau sebagian dan sistem dengan pertimbangan dan nilai pertimbangan faktor ini besarnya biasanya lebih dari satu. 3. Panel Distribusi beban Yaitu panel yang menjadi pusat sistem kelistrikan dari keseluruhan beban di satu titik beban, menjadi pusat perawatan pada masing-masing titik beban tersebut, dan sebagai pengisolasi jika terjadi permasalahan kelistrikan pada beban. Letak panel ini pada gedung bertingkat, umumnya dekat dengan jalan Gambar 7.42 Panel distribusi tegangan rendah Sumber: tokopedia.net
227 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN keluar masuk antar lantai, seperti dekat dengan ruang lift atau tangga darurat sehingga mudah dijangkau dan mudah dalam pemeliharaannya. 4. Panel suplai darurat (emergency) Yaitu panel distribusi tegangan rendah yang mengatur agar sistem tetap memiliki aliran tenaga listrik meskipun listrik dari perusahaan penyedia energi listrik (PLN) diputus karena kondisi darurat, seperti saat terjadi kebakaran, dan sebagainya. Pada gedung bertingkat, suplai tenaga darurat biasanya dikhususkan pada tempat evakuasi seperti pada tangga kebakaran, sehingga tidak jarang panel ini disebut panel utama kebakaran. Ciri umum kabel ini adalah digunakannya kabel tahan api (fire resistance cable/ FRC), baik untuk suplainya maupun untuk distribusi ke beban emergency. Standar tahan api pada kabel FRC hingga pada suhu 600º . Gambar 7.43 Panel distribusi beban Sumber: bukalapak.com Gambar 7.44 Panel suplai darurat Sumber: energisolutionstx.com
228 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK MATERI PEMBELAJARAN 5. Panel elektronik Panel elektronik mengatur suplai daya pada beban elektronik seperti: fire alarm, atau sistem suara (sound sistem), sistem telepon, sistem CCTV, master antenna TV, maupun building automatic sistem (BAS). Gambar 7.45 jenis panel elektronik Sumber: shopee.co.id
229 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK LEMBAR PRAKTIKUM MENGUKUR ARUS LISTRIK TIGA FASA A. Tujuan Mengukur arus listrik tiap fasa R, S, T. B. Alat dan Bahan 1. Clamp meter/ tang amper (satu buah) 2. Sumber listrik tiga fasa (fasa R, S, T) 3. Sarung tangan safety C. Petunjuk praktikum 1. Lakukan praktikum dengan hati-hati dan memperhatikan K3 2. Gunakan sarung tangan safety saat melakukan pengukuran 3. Jaga kebersihan lingkungan praktik, terutama dari bahan bahan konduktor 4. Setelah selesai melakukan praktik, kembalikan peralatan pada tempat semula, tutup panel listrik tiga fasa. D. Langkah praktikum 1. Putar atau setting tombol selektor Clamp Meter ke posisi Ampere Meter (biasanya tertulis huruf A dengan gelombang sinus di atasnya). 2. Tekan Tombol pembuka penjepit untuk membuka rahang Penjepit Clamp Meter atau Tang Ampere, biasanya terdapat di sebelah kiri. (lihat gambar 3.15). 3. Jepitkan Rahang penjepit ke Fasa R dari kabel Konduktor yang dialiri arus listrik AC (Kabel Listrik berada di tengah-tengah rahang penjepit) kemudian lepaskan Tombol pembuka penjepit Clamp Meter. 4. Catatan: Jika kabel listrik tersebut belum dialiri listrik, hubungkan kabel tersebut atau ON-kan perangkat yang ingin diukur arus listriknya. 5. Baca nilai Ampere yang tertera di layar Clamp Meter (Tang Ampere). 6. Lakukan pengukuran sebanyak 3 (tiga) kali, dan Ulangi proses yang sama pada fasa yang lain. Catatan: mengukur arus listrik dengan clamp meter hanya pada salah satu fasa saja, dan konduktor netral tidak diukur. Isikan hasil pengukuran pada tabel seperti di bawah ini! Tabel 7.3 pengukuran arus listrik tiap fasa R, S, T 7. Setelah tabel diisi, kemudian diskusikan hasil pengukuranmu bersama kelompokmu. 8. Buatlah laporan dan kesimpulan berdasarkan hasil pengukuran yang telah kamu lakukan. Pengukuran keBesar arus di Fasa R (A) Besar arus di Fasa S (A) Besar arus di Fasa T (A) 1 2 3
230 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK CONTOH SOAL Penemu Listrik Tiga Fasa Listrik tiga fasa dirintis pertama kali oleh John Hopkinson dan di teruskan oleh keturunannya. Pada tahun 1878 dia bertempat tinggal di London, kemudian bekerja sebagai konsultan insinyur listrik disana. Pada bulan april 1879 dia menulis sebuah buku tentang sistem penerangan listrik dan untuk pertama kalinya diperkenalkan tentang analisa sifat dynamo generator dan karakteristik kurva (gelombang) yang dihasilkan oleh dynamo generator. Saat pembentukan perusahaan Edison (penemu listrik DC) di London, dia menjabat sebagai penasehat kelistrikannya, pada saat itulah dia melakukan banyak eksperimen atas dynamo generator temuan Edison. Hasilnya adalah perbaikan performa dynamo generator yaitu pada efisiensi, dan memperbesar Outputnya sehingga alat yang diciptakan dikenal sebagai dynamo generator Edison-hopkinson. Gambar 7.46 john Hopkinson–penemu listrik tiga fasa Sumber: cherrymortgages.com Gambar 7.47 dynamo generator listrik tiga fasa yang di kembangkan dari konsep John hopkinson Sumber: cherrymortgages.com
231 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK JELAJAH INTERNET Untuk memperdalam wawasan kalian tentang alat tester urutan fasa, kalian dapat melihat tayangan video di youtube di link: https://www.youtube.com/watch?v=Iq0btD8noLM, atau dapat mengakses melalui QR code di bawah ini: RANGKUMAN 1. Listrik tiga fasa di gunakan untuk suplai tenaga listrik yang lebih besar dan sistem distribusi tenaga listrik yang lebih kompleks, seperti pada industri, gedung perkantoran, rumah sakit. 2. Listrik tiga fasa terdiri dari fasa R, S, T yang di bangkitkan dari generator listrik tiga fasa, dan masing-masing fasa dengan sudut fasa 120o. 3. Pengujian dan pengukuran pada listrik tiga fasa umumnya meliputi: pengujian urutan fasa dengan menggunakan alat sequence phase tester, pengukuran arus listrik dengan menggunakan clamp meter atau tang amper, pengukuran tegangan listrik dengan menggunakan voltmeter. 4. Sistem proteksi pada listrik tiga fasa adalah: sistem proteksi terhadap sentuh langsung (atau proteksi dasar), sistem proteksi terhadap sentuh tidak langsung, sistem proteksi terhadap arus lebih, sistem proteksi terhadap arus hubung pendek dan beban lebih. 5. Sistem pembumian adalah penghubungan suatu titik rangkaian listrik atau suatu penghantar yang bukan bagian rangkaian dengan bumi menurut cara tertentu, berfungsi untuk melepaskan arus petir ke bumi. 6. Perangkat hubung bagi (PHB) adalah suatu perlengkapan untuk mengendalikan dan membagi tenaga listrik dan atau mengendalikan dan melindungi sirkit dan pemanfaat tenaga listrik, bentuknya dapat berupa: box, panel, atau lemari. CAKRAWALA Kerja keras dan ketekunannya dalam eksperimen listrik akhirnya membuahkan hasil berupa listrik tiga fasa yang menobatkan dia sebagai tokoh ilmuwan dan anggota-The Royal Society–sebuah lembaga IPTEK bergengsi inggeris pada saat itu. Pada tahun 1890 dia dinobatkan sebagai ketua lembaga insinyur listrik inggeris. Dia meninggal tragis akibat kecelakaan di pegunungan alpen pada 27 Agustus 1898 di usia 49 tahun.
232 TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK Coba kalian temukan sumber listrik tiga fasa di sekitar kalian, sebagai contoh: sumber listrik tiga fasa ini dapat kalian temukan di pabrik pengolahan gabah menjadi beras yang memakai penggerak mesin dari motor listrik tiga fasa, tambak, industri kecil, dan perkantoran. Setelah itu, kalian temukan panel distribusi listrik pada tempat tersebut, kemudian amati dan diskusikan bersama kelompok kalian, apa sajakah isi dari panel listrik tiga fasa tersebut, dan apa fungsinya masing-masing, serta bagaimana cara kerjanya. Dapatkan surat izin dari sekolah untuk kunjungan industri ke tempat tempat tersebut. Tentu sebelum kalian membuka panel terlebih dahulu kalian harus meminta izin untuk memasuki area panel tersebut dan harus di dampingi oleh petugas panel kelistrikan dalam rangka mematuhi prinsip K3. TUGAS MANDIRI PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Gambarkan bentuk gelombang dari listrik tiga fasa dan berikan penjelasannya! 2. Tentukan urutan fasa dari tegangan listrik tiga fasa berikut Ini: Van= 200 Cos (ωt + 20o) Vbn= 200 Cos (ωt-100o) Vcn= 200 Cos (ωt-220o) 3. Jelaskan pengaruh pada pemakaian tenaga listrik bila urutan fasa tidak sesuai dan peralatan apakah yang digunakan untuk mengetahui urutan fasa! 4. Uraikan cara mengukur arus listrik dengan menggunakan clamp meter pada listrik tiga fasa! 5. Uraikan secara singkat apa yang kamu ketahui tentang macam-macam sistem proteksi pada listrik tiga fasa dan berikan tiga contoh komponen listrik untuk proteksi listrik tiga fasa! 6. Sebutkan bagian bagian dari batang grounding (ground rod) dari sistem pembumian seperti terlihat pada gambar di bawah ini, dan jelaskan fungsinya masing-masing! Gambar 7.48 bagian bagian Grounding Rod
233 INSTALASI PENERANGAN LISTRIK TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK REFLEKSI Dengan uraian di atas tentang listrik tiga fasa, semoga kalian dapat memahami prinsip prinsipnya, karena penerapan listrik tiga fasa sering dipakai di sekitar kita. Dari pemaparan di atas barangkali ada yang sulit kalian fahami? kirakira di bagian mana yang kurang difahami? untuk itu kalian dapat mendiskusikan point point mana yang masih belum difahami. Diskusikan terlebih dahulu dengan teman kelompok kalian. Setelah itu dapat kalian sampaikan kepada guru pembimbing, mengingat materi ini akan menjadi dasar bagi materi di bab berikutnya.