The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by yusrilwahid78, 2023-12-11 21:51:44

MAKALAH KOMONIKASI BISNIS

ROMBEL A 22

MAKALAH KOMUNIKASI BISNIS MEMAHAMI KOMUNIKASI BISNIS Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunikasi Bisnis Dosen Pengampu : Disusun Oleh : 1. Dwi Indah Permata (7211421241) 2. Rizka Dewi N. I (7211422005) 3. Jihan Putri M (7211422120) 4. Listra Meriana S (7211422174) 5. Indri Setiani (7211422299) PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2023


ii KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah- Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Komunikasi Bisnis. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semuaitu, kami sepenuhnya menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Kami berharap supaya pembaca dapat memahami makalah ini dan semoga dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca. Semarang, 21 Agustus 2023 Penyusun


iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................................1 A. Latar Belakang....................................................................................................................1 B. Rumusan Masalah...............................................................................................................1 C. Tujuan ................................................................................................................................1 BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................................2 1.1 Pengertian Dan Komponen Komunikasi.............................................................................2 1.1.1 Pengertian Komunikasi ...............................................................................................2 1.1.2 Pengertian Komunikasi Bisnis.....................................................................................2 1.1.3 Komponen Komunikasi Bisnis ....................................................................................2 1.2 Bentuk Dasar Komunikasi .................................................................................................3 1.3 Proses Komunikasi ............................................................................................................4 1.4 Munculnya Kesalahpahaman Komunikasi..........................................................................5 1.5 Memperbaiki Komunikasi..................................................................................................7 BAB III PENUTUP...................................................................................................................9 A. KESIMPULAN ..................................................................................................................9 B. SARAN ..............................................................................................................................9 DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................10


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua orang atau lebih dengan harapan dapat menimbulkan dampak positif atau menimbulkan dampak yang diinginkan. Komunikasi adalah kesadaran dan penghargaan. Selain dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi juga sangat penting dalam operasional bisnis. Dengan komunikasi yang baik maka bisnis suatu perusahaan akan dapat berjalan dengan lancar. Komunikasi bisnis adalah pertukaran ide, pendapat, informasi, instruksi dengan tujuan tertentu dan disajikan secara pribadi atau obyektif melalui simbol atau sinyal. Dalam suatu organisasi suatu perusahaan, komunikasi bisnis memegang peranan penting, karena komunikasi bisnis mempunyai strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan citra perusahaan serta menghasilkan keuntungan.1 Komunikasi bisnis dapat dilakukan di luar maupun di dalam perusahaan dengan menggunakan teknik komunikasi, namun yang lebih penting adalah merencanakan strategi komunikasi secara keseluruhan dengan memperkenalkan karakter organisasi di antara lingkungan sosialnya. Mempersiapkan strategi komunikasi biasanya mencakup pendefinisian masalah organisasi, perumusan tujuan komunikasi, penetapan khalayak, pemilihan media, dan perumusan pesan. Komunikasi bisnis sangat dipengaruhi oleh lingkungan bisnis. Oleh karena itu, perusahaan perlu mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menghambat proses penyampaian pesan dalam komunikasi bisnis. Perusahaan juga harus menetapkan pedoman penyusunan pesan agar komunikasi bisnis dapat berhasil dan efektif. B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan Komunikasi Bisnis? 2. Bagaimana proses Komunikasi Bisnis? 3. Apa saja yang menyebabkan munculnya kesalahpahaman dalam komunikasi? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan Komunikasi Bisnis? 2. Untuk mengetahui bagaimana proses Komunikasi Bisnis? 3. Untuk mengetahui apa saja yang menyebabkan munculnya kesalahpahaman dalam komunikasi? 1 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


2 BAB II PEMBAHASAN 1.1 Pengertian Dan Komponen Komunikasi 1.1.1 Pengertian Komunikasi 1. Menurut Himstreet dan Baty Menurut Himstreet dan Baty, komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan. 2. Menurut Bovee Menurut Bovee, komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan. 2 1.1.2 Pengertian Komunikasi Bisnis 1. William Albig Menurut William Albig, pengertian komunikasi bisnis adalah pertukaran informasi, gagasan, pendapat, instruksi yang punya target tertentu yang dihidangkan secara personal maupun impersonal melalui lambang atau sinyal. 2. Djoko Purwanto Menurut Djoko Purwanto, pengertian komunikasi bisnis adalah komunikasi yang dipakai di dalam dunia bisnis yang termasuk berbagai macam bentuk komunikasi, baik itu verbal maupun non-verbal untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 3. Philip Kolter Menurut Philip Kolter, pengertian komunikasi bisnis adalah suatu kegiatan manusia yang ditujukan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. 4. Rosenball Menurut Rosenball, pengertian komunikasi bisnis adalah suatu tindakan pertukaran ide atau opini, intruksi, dan sebagainya yang disampaikan secara personal maupun non-personal melalui lambang dan sinyal untuk mencapai target perusahaan. 5. Katz Menurut Katz, pengertian komunikasi bisnis adalah aktivitas pertukaran ide, pesan, dan konsep yang berhubungan dengan pencapaian sejumlah target komersil. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan komunikasi bisnis. Merupakan komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup berbagai macam bentuk komunikasi, baik komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal untuk mencapai suatu tertentu. 1.1.3 Komponen Komunikasi Bisnis Terdapat komponen pokok dalam komunikasi, yaitu: 1. Mempunyai tujuan 2. Pertukaran, dalam hal ini melibatkan setidaknya 2 orang komunikator dan komunikan 3 Informasi, gagasan, opini, dan instruksi maupun isi dari pesan yang bentuknya sangat beragam, tergantung situasi, kondisi dan tujuan 4. Memakai saluran personal maupun impersonal yang mungkin bersifat tatap muka memakai media tertentu atau media yang mampu menjangkau jutaan orang secara bersamaan 2 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


3 5. Menggunakan simbol atau sinyal yang merupakan alat metode yang bisa dimengerti dan dipahami oleh penerima. 1.2 Bentuk Dasar Komunikasi Komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan dalam dunia untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak lain baik secara tertulis (written) maupun lisan (oral). Bentuk komunikasi verbal ini memiliki struktur yang teratur dan terorganisasi dengan baik, sehingga tujuan penyampaian pesan-pesan bisnis dapat tercapai dengan baik. Dalam dunia bisnis dapat dijumpai berbagai macam contoh komunikasi verbal, misalnya: Membuat dan mengirim surat pengantar barang ke suatu perusahaan Membuat dan mengirim surat teguran atau peringatan kepada nasabah yang menunggak pembayarannya Membuat dan mengirim surat penawaran barang kepada pihak lain Melakukan presentasi proposal tentang pengembangan perusahaan di hadapan tim penguji Berdiskusi dalam suatu kerja tim (teamwork) Dalam dunia bisnis, seseorang dapat saja mengekspresikan pesan-pesannya secara nonverbal (tidak secara tertulis atau lisan). Namun, ekspresi secara nonverbal memiliki suatu keterbatasan dalam mengkomunikasikan suatu pesan kepada pihak lain. Komunikasi bisnis yang efektif sangat bergantung pada keterampilan seseorang dalam mengirim maupun menerima pesan Secara umum, untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis, seseorang dapat menggunakan tulisan maupun lisan, sedangkan untuk menerima pesan-pesan bisnis, seseorang dapat menggunakan pendengaran dan bacaan.3 a. Berbicara dan Menulis Suatu pesan penting dan kompleks, akan lebih baik apabila disampaikan dengan menggunakan tulisan surat, memo, dan laporan. b. Mendengar dan Membaca Guna mendapat komunikasi yang efektif, maka diperlukan komunikasi 2 arah dimana orang-orang yang terlibat didalamnya memerlukan keterampilan mendengarkan dan membaca. 2. Komunikasi Non-Verbal Dalam komunikasi bisnis, komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi yang paling mendasar. Walaupun komunikasi nonverbal mempunyai sifat yang kurang terstruktur sehingga sulit untuk dipelajari. Seperti memahami ekspresi wajah, simbol-simbol, gerakan tubuh, sandi, warna, dan intonasi. Dalam penyampaian komunikasi ini biasanya dilakukan secara spontan tanpa ada rencana dan terkadang dalam melakukannya tidak sadar. Beberapa tujuan komunikasi nonverbal ialah: 1. Mengekspresikan emosi. 2. Mengatur alur suatu percakapan. 3. Menyediakan dan memberikan informasi. 4. Mengendalikan atau mempengaruhi orang lain. 5. Memberisifat dan melengkapi, menentang atau mengembangkan pesan-pesan verbal. 6. Mempermudah tugas-tugas khusus. 3 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


4 1.3 Proses Komunikasi 1. Pengirim Mempunyai Suatu Ide atau Gagasan Sebelum proses penyampaian pesan dapat dilakukan, pengirim pesan harus menyiapkan ide atau gagasan apa yang ingin disampaikan kepada pihak lain atau audiens. Ide dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terbentang luas di hadapan kita. Dunia ini penuh dengan berbagai macam informasi baik yang dapat dilihat, didengar, dibaui, dikecap maupun diraba. Ide-ide yang ada dalam benak kita disaring dan disusun ke dalam suatu memori yang ada dalam jaringan otak, yang merupakan gambaran persepsi kita terhadap kenyataan. Setiap orang akan memiliki peta mental yang berbeda karena kita memandang dunia dan menyerap berbagai penggal dengan suatu cara yang bersifat individual. Karena persepsi adalah hal yang unik, ide yang ingin disampaikan seseorang mungkin akan berbeda dengan pemikiran orang lain. Bahkan dua orang yang memiliki pengalaman yang sama terhadap sesuatu hal atau kejadian, akan memiliki kesan yang tidak serupa.4 Sebagai contoh, ada dua orang yang sama-sama mengikuti briefing d pimpinan perusahaan. Apabila mereka diminta untuk menceritakan pengalaman mereka masing-masing, tentu ada beberapa hal yang berbeda.Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena setiap orang akan menyaring informasi yang didapat, dan hanya akan memperhatikan dan mengingat hal-hal yang mereka anggap menarik atau penting Seorang komunikator yang baik, harus dapat menyaring hal-hal yang tidak penting atau tidak relevan dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang memang penting dan relevan Dalam dunia komunikasi, proses tersebut dikenal sebagai abstraksi (abstraction). 2. Pengirim Mengubah Ide Menjadi Suatu Pesan Dalam suatu proses komunikasi, tidak semua ide dapat diterima atau dimengerti dengan sempurna. Seperti yang telah diuraikan pada bagian B dari bab ini, proses komunikasi dimulai dengan adanya ide dalam pikiran, yang lalu diubah ke dalam bentuk pesan- pesan seperti bentuk kata-kata, ekspresi wajah, dan sejenisnya, untuk kemudian disampaikan kepada orang lain. Agar ide dapat diterima dan dimengerti secara sempurna, pengirim pesan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu subjek (apa yang ingin disampaikan), maksud (tujuan), audiens, gaya personal dan latar belakang budaya. Sebagai contoh sederhana pada umumnya orang Timur cenderung menyampaikan pesan dengan menggunakan bahasa tak langsung dan bahasa penghalus. Untuk menyatakan sikap menolak. seseorang terlebih dahulu harus menggunakan kalimat-kalimat pembuka yang bersifat netral, baru kemudian menyatakan sikap penolakan. 3. Pengirim Menyampaikan Pesan Setelah mengubah ide-ide ke dalam suatu pesan, tahap berikutnya adalah memindahkan atau menyampaikan pesan melalui berbagai saluran yang ada kepada si penerima pesan Saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan terkadang relative tetapi ada juga yang cukup panjang. Panjang pendeknya saluran komunikasi yang digunakan akan berpengaruh terhadap efektivitas penyampaian pesan. Bila menyampaikan pesan-pesan yang panjang dan kompleks secara lisan, pesan. 4. Penerima Menerima Pesan Komunikasi antara seseorang dengan orang lain akan terjadi, bila pengirim (Kanundater) mengirimkan suatu pesan dan penerima (komunikan) menerima pesan tersebut. Jika seseorang mengirim sepucuk surat, komunikasi baru bisa terjalin bila penerima surat telah membaca dan memahami isinya. Jika seseorang menyampaikan pidato di hadapan umum, para pendengar 4 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


5 sebagai audiens harus dapat mendengar apa yang dikatakan dan memahami pesan-pesan yang disampaikan. 5. Penerima Menafsirkan Pesan Setelah penerima menerima pesan, tahap berikutnya adalah bagaimana ia dapat menafsirkan pesan. Suatu pesan yang disampaikan pengirim harus mudah dimengerti dan tersimpan di dalam benak pikiran si penerima pesan Selanjutnya, suatu pesan bari dapat ditafsirkan secara benar bila penerima pesan telah memahami isi pesan sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim pesan. 6. Penerima Memberi Tanggapan dan Mengirim Umpan Balik Kepada Pengirim Umpan bali (feedback) adalah penghubung akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Umpan balik tersebut merupakan tanggapan penerima pesan yang memungkinkan pengirim untuk menilai efektivitas suatu pesan. Setelah menerima pesan, komunikan akan memberikan tanggapan dengan cara tertentu dan memberi sinyal terhadap pengirim pesan. Sinyal yang diberikan oleh penerima pesan beraneka macam, dapat berupa suatu senyuman, tertawa, sikap morung. cemberut memberi komentar sekilas (singkat), anggukan sebagai pembenaran, atau pesan secara tertulis. Sebagai contoh, seorang karyawan perusahaan menerima sepucuk surat dari pimpinannya, sesaat kemudian surat tersebut dibacanya, apabila ekspresi wajahnya tampak murung, dapat diduga bahwa ia menerima berita yang kurang menyenangkan bagi dirinya. Sebaliknya, jika setelah membaca surat dari pimpinannya ia tampak berseri-seri, dapat diduga bahwa ia menerima berita yang menyenangkan dari pimpinannya tersebut. Bentuk ekspresi wajah tersebut adalah contoh adanya umpan balik dalam berkomunikasi. Di samping itu, adanya umpan balik akan dapat menunjukkan adanya faktor-faktor penghambat komunikasi, misalnya perbedaan latar belakang, perbedaan penafsiran kata-kata, dan perbedaan reaksi secara emosional. 1.4 Munculnya Kesalahpahaman Komunikasi Kesalahpahaman komunikasi adalah adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak dalam mencerna proses komunikasi sehingga antara pesan yang disampaikan dan pesan yang diterima berbeda arti dan penafsirannya. Ada beberapa faktor mengenai munculnya kesalahpahaman komunikasi yaitu : A. Masalah dalam Mengembangkan Pesan Sumber masalah potensial dalam mengembangkan suatu pesan adalah dalam memformulasikan suatu pesan Masalah dalam mengembangkan suatu pesan dapat mencakup antara lain munculnya keragu-raguan tentang isi pesan, kurang terbiasa dengan situasi yang ada atau masih asing dengan audiens, adanya pertentangan emosional, atau kesulitan dalam mengekspresikan ide atau gagasan.5 Sering kali terjadi seseorang dihinggapi rasa ragu-ragu antara ya atau tidak, benar atau salah, disampaikan atau ditahan, dan sejenisnya dalam mengambil keputusan. Apabila hal ini terjadi, ada kecenderungan seseorang akan mengalami kesulitan di dalam mengembangkan pesan lebih lanjut. Jika seseorang gagal dalam mengembangkan pesan, proses komunikasi akan dimulai dengan sesuatu yang salah, yang pada akhirnya akan membawa kegagalan yang akan berkelanjutan atau terus-menerus. B. Masalah dalam Menyampaikan Pesan Komunikasi dapat juga terganggu karena munculnya masalah penyampaian pesan dari pengirim ke penerima Masalah yang paling jelas di sini adalah faktor fisik. Misalnya, terdapat 5 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


6 sambungan kabel yang kurang baik pada sound systemnya, kualitas suara sound system yang kurang baik, lampu yang tiba-tiba padam, audiens terhalang oleh pilar (tiang bangunan), salian surat yang tak terbaca, dan lain-lain. Meskipun tampaknya sepele, gangguan-gangguan tersebut dapat menghalangi atau mengganggu suatu pesan. Jika sedang menyampaikan presentasi makalah atau kertas kerja, sebaiknya Anda memilih tempat yang memungkinkan audiens dapat melihat dan mendengar dengan jelas apa yang disampaikan. Jangan sampai ada diantara mereka yang merasa terhalang oleh sesuatu, seperti terhalang oleh tubuh Anda sendiri atau terhalang oleh tiang (pilar) suatu bangunan. Di samping itu, gunakanlah sound system yang cukup baik kualitasnya. sampai terjadi pada saat diskusi sedang menghangat, perangkat tata suaranya mengalami gangguan teknis atau macet total. Masalah lain yang muncul dalam dalam penyampaian suatu pesan adalah bila dua buah pesan yang disampaikan mempunyai arti yang saling berlawanan atau bermakna ganda. Bila dua buah pesan disampaikan sekaligus, akan muncul gangguan dalam arus komunikasi. Masalah serupa juga akan muncul bila suatu pesan disampaikan melalui saluran penghubung yang cukup panjang. Orang terakhir yang menerima pesan kemungkinan hanya dapat menangkap sebagian kecil saja dari orang pertama atau bahkan pesan yang disampaikan bisa jadi bertentangan dengan pesan aslinya. C. Masalah dalam Menerima Pesan Ketika menerima suatu pesan, masih terdapat permasalahan-permasalahan dalam penerimaan pesan. Masalah atau gangguan yang muncul dalam penyampaian pesan antara lain adanya persaingan antara penglihatan dengan suara. Sebagai contoh seorang siswa sedang membaca buku di ruang kelas, tiba-tiba ada beberapa siswa lewat di depannya dengan suara gaduh dan berisik. Dalam beberapa kasus, gangguan atau masalah penerimaan pesan dapat muncul terkait dengan kesehatan si penerima pesan. Misal pendengaran yang kurang baik, penglihatan yang mulai kabur, atau bahkan sakit kepala. Meskipun tidak menghambat penyampaian komunikasi secara keseluruhan, tetapi hal-hal tersebut dapat mengurangi kesempurnaan dalam penyampaian pesan.6 D. Masalah dalam Menafsirkan Pesan Meskipun suatu pesan sering terjadi gangguan selama proses penyampaian pesan, masalah terbesar terletak pada proses terakhir dalam penyampaian pesan yaitu ketika seseorang sedang menafsirkan suatu pesan. Gangguan-gangguan yang terjadi dalam hal menafsirkan pesan yaitu: 1. Perbedaan Latar Belakang Bila pengalaman hidup penerima secara mendasar berbeda dengan pengirim pesan, komunikasi menjadi semakin sulit. Perbedaan usia, pendidikan, jenis kelamin, status sosial, kondisi ekonomi, latar belakang budaya, temperamen, atau agama dapat mempersulit atau paling mengganggu proses komunikasi. Secara umum, kemampuan untuk menyerap informasi bergantung pada pengalaman masa lalu dan biasanya berlangsung lama. Oleh karena itu, bila belajar sesuatu yang baru, seseorang cenderung untuk mencoba mencocokannya dengan pola yang telah ada. 2. Perbedaan Penafsiran Kata Masalah dalam memahami pesan sebenarnya terletak pada bahasa yang menggunakan kata-kata sebagai simbol untuk menggambarkan suatu kenyataan .Karena latar belakang yang 6 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


7 berbeda, baik itu asal-usul daerah, budaya, pendidikan asa, mapun yang lain. Dalam hal tersebut akan mempunyai pengertian atau pemahaman yang berbeda pula terhadap kata yang sama. Sebagai contohnya "apa itu roti" Namun di pikiran akan terlintas berapa mac apakah itu roti bolu, roti coklat, roti kering dan sebagainya. Kemungkinan penerima pesan yang lain juga akan memahami pengertian roti dari sisi yang lain apakah dari rasa, apakah roti manis atau tawar. 3. Perbedaan Reaksi Emosional Suatu hal yang cukup menarik bahwa seseorang mungkin bereaksi secara berbeda terhadap kata yang sama pada keadaan yang berbeda. Suatu pesan yang jelas dan dapat diterima di suatu kondisi akan dapat membingungkan dalam situasi yang berbeda. Hal itu bergantung pada hubungan emosional antara penerima dan pengirim pesan. Setiap pesan paling tidak mencakup dua hal : 1. Dalam artian “isi” yang berkaitan dengan subjek suatu pesan 2. Dalam artian “hubungan” yang memberikan sifat suatu interaksi antara penerima dan pengirim suatu pesan. Komunikasi dapat terganggu bila penerima berinteraksi negatif dalam artian “isi” maupun “hubungan”. 1.5 Memperbaiki Komunikasi Dalam komunika ada kalanya komunikasi itu tidak berjalan efektif. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan komunikasi yang efektif diperlukan beberapa persyaratan, yaitu persepsi ketepatan, kredibilitas pengendalian, dan keharmonisan.7 a) Persepsi Seorang komunikator harus dapat memperkirakan apakah pesan yang disampaikannya dapat diterima oleh komunikan, bila perkiraannya tepat,audiens akan dapat membaca dan menerima tanggapannya dengan benar. b) Ketepatan Agar komunikasi yang dilakukan mencapai sasaran seseorang perlu mengekspresikan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam kerangka berpikir mereka agar tidak terjadi kesalahan komunikasi c) Kredibilitas Dalam berkomunikasi komunikator harus mempunyai suatu keyakinan dan optimisme yang tinggi bahwa audiensinya adalah orang-orang yang dapat dipercaya, selain itu komunikator juga harus memahami dengan baik apa maksud dan tujuan penyampaian suatu pesan tersebut. d) Pengendalian Dalam berkomunikasi, audiens akan memberikan suatu reaksi atau tanggapan terhadap pesan yang disampaikan hal ini ditentukan oleh intensitas reaksi yang dilontarkan audiens terhadap apa yang disampaikan oleh komunikator sebaliknya, reaksi audiens bergantung pada berhasil atau tidaknya komunikator mengendalikan audiensnya saat melakukan komunikasi e) Keharmonisan Komunikator harus selalu menjaga hubungan persahabatan yang baik dengan audiens schingga komunikasi dapat berjalan lancar dan mencapai tujuannya seorang komunikator yang baik juga akan menghormati dan berhasil memberi kesan yang baik kepada audiensnya. Komunikasi yang efektif dapat mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi dalam berkomunikasi dengan memperhatikan 3 hal sebagai berikut : 1) Membuat Suatu Pesan secara Lebih Berhati-Hati 7 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


8 Katakan apa yang dikehendaki dengan menggunakan bahasa yang jelas, sederhana mudah dipahami dan tidak bertele-tele Jelaskan hal-hal yang penting dan jangan lupa tekankan dan telaah ulang butir-butir tersebut. 2) Meminimalkan Gangguan dalam Proses Komunikasi Pemilihan saluran komunikasi dengan lebih hati-hati,penyampaian dengan cara lisan akan efektif bila lokasi atau tempat penyampaian pesan teratur, rapi, nyaman sejuk, dan sebagainya. 3) Mempermudah Upaya Umpan Balik antara Pengirim dan Penerima Pesan Agar pemberian umpan balik tersebut memberikan suatu manfaat yang cukup beram cara dan waktu penyampaiannya harus direncanakan dengan baik. Kalau komunikator menghendaki umpan balik cepat, dapat dipilih sarana tatap muka atau telepon. Akan tetapi bila umpan balik yang cepat tidak dipentingkan, sarana tertulis (surat) dapat menjadi alternatif yang baik untuk menyampaikan pesan.8 8 Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


9 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Komunikasi bisnis adalah proses pertukaran pesan atau informasi untuk mencapai efektivitas dan efisiensi produk kerja di dalam struktur dan sistem organisasi. Dalam kegiatan komunikasi bisnis, pesan hendaknya tidak hanya sekedar informatif tetapi juga haruslah Persuasif, agar pihak lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan atau melakukan suatu perbuatan atau kegiatan. Peranan komunikasi dalam suatu organisasi sangat penting. Tidak ada seorang pun dalam keseharian tugasnya tanpa berkomunikasi. Baik itu bertema masalah pekerjaan maupun masalah di luar pekerjaan, seperti masalah keluarga, politik, sosial dan ekonomi nasional. Semua ini pasti dilakukan lewat komunikasi. Juga baik itu dilakukan melalui jalur vertikal (atasan-bawahan) maupun jalur horisontal (kolega setingkat). Seberapa jauh proses berkomunikasi itu berhasil dengan baik sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku pengirim gagasan atau pesan, penerima pesan, media yang dipakai, teknologi informasi yang ada, isi pesan dan cara pesan yang disampaikan serta suasana komunikasi itu sendiri. Keberhasilan itu akan dicerminkan oleh tidak adanya kesenjangan pemahaman antara pengirim dan penerima pesan B. SARAN Sebagai manusia biasa, penulis menyadari akan kekurangan serta kesalahan dalam penulisan makalah ini baik dari segi tata bahasa, maupun materi yang disampaikan. Dari itu penulis mohon maaf dan dengan kelapangan hati penulis mohon saran serta kritik dari para pembaca.


10 DAFTAR PUSTAKA Jayanto, Prabowo Yudho. 2021. Komunikasi Bisnis Jilid 1. Semarang: Cerdas Bersama.


MAKALAH KOMUNIKASI BISNIS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Bisnis Dosen Pengampu : Dr. Prabowo Yudo Jayanto, S.E., M.S.A Disusun Oleh : 1. Irredenta Cornelia Hartono (7211422014) 2. Raykhan Zulfar Musyafa’ (7211422125) 3. Sabila Tahta Hirani (7211422296) 4. Vela Perliyanti (7211422300) 5. Riska Wahyu Shelviani (7211422301) PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2023


Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah Komunikasi Bisnis tentang "Komunikasi Antar Pribadi". Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini. Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca. Semarang, Agustus 2023 Penyusun


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................................................................1 DAFTAR ISI...................................................................................................................2 BAB 1 PENDAHULUAN ..............................................................................................3 A. Latar Belakang ....................................................................................................3 B. Rumusan Masalah...............................................................................................3 C. Tujuan .................................................................................................................3 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................4 1.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi..................................................................4 1.2 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi ..............................................................4 1.3 Tujuan Komunikasi Antarpribadi........................................................................5 1.4 Gaya Kepemimpinan ..........................................................................................5 1.5 Kebutuhan Manusia ............................................................................................7 1.6 Mendengarkan Sebagai Keahlian Pribadi...........................................................8 PENUTUP.......................................................................................................................12 A. KESIMPULAN...................................................................................................12 B. SARAN...............................................................................................................12 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................13


A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun organisasi, dengan menggunakan media komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Di dalam suatu masyarakat, komunikasi antarpribadi merupakan bentuk komunikasi antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat pribadi. Sedangkan dalam suatu organisasi, komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang terjadi antara manajer dan karyawan atau antara karyawan satu dengan karyawan yang lain dengan menggunakan media tertentu untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat pribadi. Komunikasi antar pribadi sering disebut dengan dyadic communication maksudnya yaitu "komunikasi antara dua orang", dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan. Komunikasi jenis ini bisa berlangsung secara bertatap muka ataupun bisa juga melalui media seperti telepon. Ciri khas dari komunikasi antar pribadi adalah sifatnya yang dua arah atau timbal balik (two ways communication). Namun, komunikasi antar pribadi melalui tatap muka mempunyai satu keuntungan dimana melibatkan perilaku nonverbal, ekspresi fasial, jarak fisik, perilaku paralinguistik yang sangat menentukan jarak sosial dan keakraban. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi antarpribadi? 2. Apa saja karakteristik dan tujuan komunikasi antarpribadi? 3. Bagaimana gaya kepemimpinan yang harus dimiliki? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui apa itu komunikasi antarpribadi 2. Untuk mengetahui apa saja karakteristik dan tujuan komunikasi antarpribadi 3. Untuk mengetahui bagaimana gaya kepemimpinan yang harus dimiliku


BAB II PEMBAHASAN 1.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi Menurut Joseph Devito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book (Devito, 1989:4), komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesanpesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Komunikasi antar pribadi sering disebut dengan dyadic communication maksudnya yaitu "komunikasi antara dua orang", dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan. Komunikasi jenis ini bisa berlangsung secara berhadapan muka (face to face) ataupun bisa juga melalui media seperti telepon. Ciri khas dari komunikasi antar pribadi adalah sifatnya yang dua arah atau timbal balik (two ways communication). Namun, komunikasi antar pribadi melalui tatap muka mempunyai satu keuntungan dimana melibatkan perilaku nonverbal, ekspresi fasial, jarak fisik, perilaku paralinguistik yang sangat menentukan jarak sosial dan keakraban (Liliweri, 1991:67).1 Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun organisasi, dengan menggunakan media komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Di dalam suatu masyarakat, komunikasi antarpribadi merupakan bentuk komunikasi antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat pribadi. Sedangkan dalam suatu organisasi, komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang terjadi antara manajer dan karyawan atau antara karyawan satu dengan karyawan yang lain dengan menggunakan media tertentu untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat pribadi. 1.2 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi Ada beberapa ciri-ciri komunikasi antarpribadi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya DeVito dalam (Liliweri, 1991:13) menurutnya ada 5 ciri-ciri komunikasi antarpribadi yang umum yaitu sebagai berikut: 1. Keterbukaan Keterbukaan berarti kemauan komunikator dan komunikan menanggapi dengan senang hati informasi dalam menghadapi hubungan antarpribadi. Kualitas keterbukaan mengacu pada tiga aspek dari komunikasi antarpribadi, yaitu komunikator yang efektif harus terbuka kepada komunikannya, mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang, menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran dimana komunikator mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang diungkapkannya adalah miliknya dan ia bertanggung jawab atasnya. 2. Empati Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada saat tertentu. Empati dalam komunikasi antarpribadi berarti bahwa komunikator dan komunikan merasakan situasi dan kondisi yang dialami mereka tanpa berpura-pura dan keduanya menanggapi apa-apa saja yang di komunikasikan dengan 1 M.SA Prabowo Yudo Jayanto SE, Komunikasi Bisnis, ed. by SE M.SA Prabowo Yudo Jayanto, Jilid 1 (Semarang: Cerdas Bersama, 2019).


penuh perhatian. Apabila komunikator atau komuniakan mempunyai kemampuan untuk melakukan empati satu sama lain, kemungkinan besar akan terjadi komunikasi yang efektif. 3. Dukungan Setiap pendapat atau ide serta gagasan yang disampaikan akan mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Dukungan membantu seseseorang untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serta meraih tujuan yang diharapkan. 4. Rasa positif Apabila pembicaraan antara komunikator dan komunikan mendapat tanggapan positif dari kedua belah pihak, maka percakapan selanjutnya akan lebih mudah dan lancar. Rasa positif menjadikan orang-orang yang berkomunikasi tidak berprasangka atau curiga yang dapat menganggu jalinan komunikasi. 5. Kesamaan Komunikasi akan lebih akrab dan jalinan pribadi akan menjadi semakin kuat apabila memiliki kesamaan tertentu antara komunikator dan komunikan dalam hal pandangan, sikap, kesamaan ideologi dan lain sebagainya. 1.3 Tujuan Komunikasi Antarpribadi Ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai. Berikut merupakan beberapa tujuan dari komunikasi antarpribadi: 1. Menyampaikan Informasi Komunikasi antarpribadi bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain agar orang tersebut mengetahui sesuatu. Sebagai contoh, ketika seseorang menyampaikan informasi kepada teman sejawat (sekantor) tentang rencana bersepeda santai ke objek wisata sekaligus untuk menyegarkan pikiran.2 2. Berbagi Pengalaman Komunikasi antarpribadi memiliki tujuan untuk saling membagi pengalaman pribadi kepada orang lain mengenai hal-hal yang menyenangkan maupun hal-hal yang menyedihkan/menyusahkan. 3. Menumbuhkan Simpati Simpati adalah suatu sikap positif yang ditunjukkan oleh seseorang yang muncul dari lubuk hati paling dalam untuk ikut merasakan bagaimana beban, derita, kesedihan, musibah, dan kepiluan yang sedang dirasakan oleh orang lain. Komunikasi antarpribadi ini dapat digunakan untuk menumbuhkan rasa simpati tersebut. 4. Melakukan Kerja Sama Tujuan komunikasi antarpribadi lainnya adalah untuk melakukan kerja sama antara seseorang dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu atau untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. 5. Menceritakan Kekecewaan atau Kekesalan Komunikasi antarpribadi dapat digunakan seseorang untuk menceritakan kekecewaan atau kekesalan kepada orang lain. Pengungkapan segala bentuk kekecewaan atau kekesalan secara tidak langsung dapat mengurangi beban pikiran. 2 Prabowo Yudo Jayanto SE.


6. Menumbuhkan Motivasi Melalui komunikasi antarpribadi, seseorang memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu yang baik dan positif. Motivasi adalah dorongan kuat dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. 1.4 Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan suatu cara bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi, dan mengendalikan bawahannya dengan cara-cara tertentu sehingga bawahan dapat menyelesaikan tugas pekerjaannya secara efektif dan efisien. Kepemimpinan dalam suatu organisasi terjadi karena adanya. interaksi antara tiga komponen penting, yaitu manajer, karyawan, dan situasi atau kondisi lingkungan kerja tertentu. Dalam dunia bisnis, penerapan gaya kepemimpinan seseorang akan mempengaruhi sikap dan perilaku bawahannya dalam melakukan pekerjaan mereka. Beberapa teori yang mampu memberikan gambaran gaya kepemimpinan seseorang adalah Teori X dan Y, empat gaya kepemimpinan menurut Ludlow dan Panton, gaya kepemimpinan situasional, dan kepemimpinan inti yang perlu dimiliki oleh seorang manajer suatu organisasi bsnis maupun nonbisnis,3 1. Teori X dan Y Teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor yang berhubungan dengan karyawan/pegawai dan bagaimana memotivasi mereka. TEORI X TEORI Y Karyawan cenderung tidak suka (malas) bekerja, kalua mungkin menghindarinya Karyawan suka bekerja Karyawan selalu ingin diarahkan Karyawan yang memiliki komitmen pada tujuan organisasi akan dapat mengarahkan tujuan organisasi dan dapat mengarahkan dan mengendalikan dirinya sendiri Manajer harus selalu mengawasi kerja Karyawan belajar untuk menerima bahkan mencari tanggung jawab pada saat bekerja Asumsi yang dikembangkan di Teori X pada dasarnya cenderung negative dan gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan petunjuk (directive leadership style). Dalam hal ini, komunukasi yang dikembangkan senderung menjadi komunikasi satu arah yaitu komunikasi dari manajer ke bawahan (top-down communications). Sumber komunikasi lebih didominasi dari manajer, sehingga bawahan cenderung mengiyakan, tidak punya inisiatif, dan tinggal melaksanakan saja tanpa memahami maksud dan tujuan pelaksanaan tugas tersebut. Sementara itu, asumsi yang dikembangkan dalam Teori Y pada dasarnya senderung positif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership style). Dalam gaya kepemimpinan partisipatif, komunikasi yang dikembangkan adalah komunikasi dua arah. Manajer memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan ide atau gagasannya bage pengembangan suatu organisasi. 3 Prabowo Yudo Jayanto SE.


2. Empat Gaya Kepemimpinan Menurut Ludlow dan Panton, terdapat empat gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam situasi dan kondisi yang berbeda antara lain: a. Pengarahan Gaya kepemimpinan pengarahan tepat digunakan pada situasi dan kondisi dimana para karyawan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan tugas tertentu. Disamping itu, tugas pekerjaan yang harus diselesaikan cenderung komplek dan rumit. b. Pembekalan Gaya kepemimpinan pembekalan tepat digunakan pada situasi dimana para karyawan telah memiliki pengalaman yang cukup dalam menyelesaikan pekerjaan. Di samping itu, para karyawan memiliki motivasi yang cukup tinggi dalam menyelesaikan setiap pekerjaannya. c. Dukungan Gaya kepemimpinian dukungan tepat digunakan pada situasi dan kondisi dimana para karyawan telah mengenal teknik-teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubugan yang baik dengan seorang manajer. d. Pendelegasian Gaya kepemimpinan pendelegasian tepat digunakan pada situasi dan kondisi dimana para karyawan telah memahami dengan baik tugas-tugas pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga mereka layak untuk menerima pendelegasian tugas dari manajer. 3. Gaya Kepemimpinan Situasional Gaya kepemimpinan situasional adalah gaya kepemimpinan yang dapat berubah seiring dengan dinamika yang berkembang dalam diri para karyawan. Ada tiga kemampuan/ketrampilan penting yang perlu diperhatikan dalam menetapkan 4 kepemimpinan situasional: a. Keterampilan Analitis Keterampilan analitis merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer dalam melakukan evaluasi atau penilaian kerja bawahan (karyawan) dalam melaksanakan pekerjaan mereka. b. Keterampilan Fleksibilitas Penerapan gaya kepemimpinan kadang kala diterapkan secara kaku, tetapi dapat juga diterapkan secara luwes tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Keterampilan fleksibilitas merupakan keterampilan yang harus dimiliki seorang manjer dalam menerapkan gaya kepemimpinan dalam situasi dan kondisi yang tepat berdasarkan analisis yang tepat pula. c. Keterampilan Komunikasi Keterampilan komunikasi merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada bawahannya. 4 Prabowo Yudo Jayanto SE.


4. Kepemimpinan Inti Menurut Hellriegel dan Slocum,seorang manajer yang dinamis harus memiliki lima kemampuan yang dikenal sebagai keahlian kepemimpinan inti (core leadership skills) : a. PemberdayaanPemberdayaan pada dasarnya merupakan kemampuan seorang manajer untuk berbagi pengaruh dan kendali (control) dengan para karyawannya. b. Intuisi Menurut Griffin (2002), intuisi adalah keyakinan bawaan dalam diri seeorang mengenai sesuatu tanpa pertimbangan dasar. Dalam pengambilan keputusan seorang manajer mendasarkan pada rasionalitas dan logika. c. Pemahaman Diri Pemahaman diri pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengenal diri sendiri, baik kekuatan maupun kelemahannya. Seorang manajer harus mampu menilai apa saja kekuatan yang dimilikinya dan kelemahan yang ada pada dirinnya. d. Visi Secara umum, visi merupakan kemampuan untuk berimajinasi pada situasi yang berbeda dan situasi yang lebih baik dengan cara bagaimana mencapainya. e. Kesesuaian Nilai Kesesuaian nilai merupakan kemampuan untuk memahami dan memadukan prinsip-prinsip organisasi dengan nilai-nilai karyawan. Ketidaksesuaian antar keduanya akan berdampak pada terganggunya kelancaran kegiatan operasioanal suatu organisasi perusahaan. 1.5 Kebutuhan Manusia Berbagai macam teori yang membahas tentang kebutuhan manusia antara lain: 1. Teori Hierarki Kebutuhan Teori ini dikemukakan oleh Abraham Maslow. A. Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki lima kebutuhan yang bertingkat-tingkat, mulai dari kebutuhan dasar (asasi) sampai kebutuhan aktualisasi diri.5 a. Kebutuhan Fisiologis Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, tidur, istirahat, dan udara. Tak diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Oleh karena itu, kebutuhan fisiologis harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan lainnya dapat dipenuhi. b. Kebutuhan Keamanan Setelah kebutuhan dasar manusia dipenuhi, maka manusia berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman, serta selamat dari bahaya. Kebutuhan ini sangat diperlukan karena tanpa adanya rasa aman dari berbagai gangguan yang ada, manusia akan sulit melakukan berbagai kegiatan di hidupnya. 5 Prabowo Yudo Jayanto SE.


c. Kebutuhan Sosial Kebutuhan sosial berkaitan dengan kemasyarakatan, bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain dalam suatu kehidupan bermasyarakat. d. Kebutuhan Status Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. e. Kebutuhan Aktualisasi Diri Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai. 2. Teori Dua Faktor Sementara itu, pendekatan lain yang digunakan untuk mengetahui sumber motivasi seseorang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dikemukakan oleh Frederick Herzberg dengan Teori Dua-Faktor/Motivasi Kesehatan. Teori ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari Teori Kebutuhan Berjenjang dari Abraham Maslow Dalam pekerjaannya, karyawan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor hygiene dan faktor motivator.6 Faktor Hygiene Faktor Motivator a. Kondisi kerja b. Kebijakan Perusahaan c. Supervisi d. Gaji e. Hubungan dengan rekan kerja f. Status g. Keamanan kerja h. Kehidupan pribadi a. Pekerjaan itu sendiri b. Tanggung jawab c. Pengakuan d. Prestasi e. Promosi f. Pertumbuhan g. Pengembangan 1.6 Mendengarkan Sebagai Keahlian Pribadi Setiap individu memiliki berbagai macam tujuan ketika mendengarkan sesuatu, antara lain berinteraksi dengan orang lain, menerima informasi, mengatasi masalah, dan saling berbagi perasaan dengan orang lain. Menurut Lehman, Himstreet, dan Baty, kebanyakan manajer dalam setiap berbicara dengan para supervisor, karyawan, pelanggan, dan berbagai asosiasi bisnis. Mendengarkan menjadi penting sebagaimana berbicara atau berpidato dihadapan audience. Kebiasaan sebagai pendengar yang efektif akan menghasilkan beberapa hal yang positif, antara lain: 1. Pendengar yang baik akan disukai orang lain karena mereka dapat memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk didengarkan; 6 Prabowo Yudo Jayanto SE.


2. Kinerja atau prestasi karyawan meningkat ketika pesan yang diterima tersebut dapat dimengerti dengan baik; 3. Umpan balik yang akurat dari bawahan atau karyawan akan berdampak positif pada prestasi kerjanya; 4. Manajer dan karyawan akan terhindar dari munculnya kesalahpahaman dalam penyampaian suatu pesan; 5. Pendengar yang baik akan dapat memisahkan mana faktor dan mana yang sekedar gosip.


BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun organisasi, dengan menggunakan media komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Komunikasi antarpribadi memiliki 5 karakteristik yaitu, keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesamaan. Adapun tujuan dari komunikasi antarpribadi, menyampaikan informasi kepada orang lain, berbagi pengalaman, menumbuhkan rasa simpati terhadap orang lain, melakukan kerjasama, menceritakan kekecewaan atau kesedihan, dan menumbuhkan motivasi. Di dalam dunia bisnis juga terdapat gaya kepemimpinan seorang pemimpin yaitu, dapat mengarahkan, pembekalan, dukungan, pendelegasian. B. SARAN Penulis menyadari akan kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam makalah ini dari segi tata bahasa maupun materi yang ada. Penulis mohon maaf atas kesalahannya, dan penulis mohon saran serta kritik dari para pembaca.


DAFTAR PUSTAKA Prabowo Yudo Jayanto SE, M.SA, Komunikasi Bisnis, ed. by SE M.SA Prabowo Yudo Jayanto, Jilid 1 (Semarang: Cerdas Bersama, 2019)


MAKALAH KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI Dosen Pengampu : Dr. Prabowo Yudho Jayanto, S. E., M. S.A. Disusun Oleh : Khansa Nailah Asy Syifa (7211422008) Shafa Aneira (7211422128) Yokhe Febrian Marvelino (7211422168) Noor Avita Prayogi (7211422169) Andika Mutiara Nabilla (7211422291) PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2023


DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ......................................................................................... 3 B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 3 C. Tujuan ..................................................................................................................... 3 BAB II PEMBAHASAN A. Pola Komunikasi .................................................................................................... 5 B. Cara Mengelola Komunikasi.................................................................................. 6 C. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi ............................................................. 7 D. Unsur-Unsur Komunikasi Dalam Organisasi ........................................................ 8 E. Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi Organisasi ......................................... 9 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................................ 12 B. Saran....................................................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14


2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi adalah inti dari setiap interaksi manusia, dan dalam konteks organisasi, menjadi elemen kunci yang menentukan kesuksesan atau kegagalan. Sebuah organisasi, apakah itu perusahaan, pemerintahan, atau lembaga nirlaba, adalah entitas yang terdiri dari individuindividu dengan peran dan tanggung jawab yang beragam. Organisasi yang efektif memerlukan aliran informasi yang lancar, kerjasama yang baik antara anggota tim, dan komunikasi yang efisien antara berbagai tingkat manajemen dan departemen. Komunikasi organisasi bukan sekadar pertukaran informasi. Ini adalah jaringan yang kompleks dari pesan, ide, nilai-nilai, dan budaya yang membentuk inti organisasi itu sendiri. Komunikasi yang baik adalah landasan untuk pengambilan keputusan yang cerdas, pemberian arahan yang jelas, dan pemahaman bersama tujuan dan visi organisasi. Di era globalisasi, komunikasi organisasi tidak hanya terbatas pada tatap muka langsung atau pertukaran surat. Teknologi informasi telah mengubah cara organisasi berkomunikasi, dengan email, media sosial, video konferensi, dan platform kolaborasi menjadi alat utama. Oleh karena itu, pemahaman komprehensif tentang pola komunikasi, cara mengelola komunikasi, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta mengidentifikasi unsur-unsur dan hambatan dalam komunikasi organisasi sangat penting. B. Rumusan Masalah 1. Bagaiman pola komunikasi dalam organisasi? 2. Bagaimana cara mengolah komunikasi dalam organisasi? 3. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan komunikasi dalam organisasi? 4. Apa unsur unsur komunikasi dalam oeganisasi? 5. Apa saja hambatan dalam komunikasi organisasi? C. Tujuan 1. Mengetahui pola komunikasi dalam organisasi 2. Menjelaskan tentang cara mengolah komunikasi dalam organisasi


3 3. Menjelaskan tentang cara meningkatkan kemampuan komunikasi dalam organisasi 4. Mendeskripsikan unsur-unsur komunikasi dalam organisasi 5. Menjelaskan apa saja hambatan dalam komuniasi organisasi


4 BAB II PEMBAHASAN A. Pola Komunikasi Perusahaan dalam melakukan komunikasi mempunyai pendekatan yang berbeda beda Pendekatan ini membentuk pola komunikasi yang secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu saluran komunikasi formal dan saluran komunikasi nonformal.1 1. Saluran Komunikasi Formal Dampak dari saluran komunikasi formal tidak terlalu menguntungkan karena sering membuat frustasi dan menjengkelkan bagi pihak tertentu. Penyampaian informasi dalam perusahaan terjadi antara manajer dengan karyawan Pada Saluran Komunikasi Formal, terdapat 4 pola transformasi informasi diantaranya yaitu sebagai berikut: a Komunikasi dari atas ke bawah Maksud dari komunikasi dari atas ke bawah yaitu aliran informasi dari manajer ke karyawan baik berupa perintah, instruksi, maupun prosedur untuk dijalankan oleh karyawan dengan sebaik-baiknya. Tujuan dari pola ini yaitu untuk menyampaik informasi, mengarahkan, mengoordinasikan, memotivasi, memimpin dan mengendalikan berbagai kegiatan yang ada di level bawah. Komunikasi dari atas ke bawah dapat berbentuk lisan dan tulisan. Komunikasi secara lisan dapat berupa percakapan biasa, wawancara formal, diskusi kelompok Sedangkan komunikasi tertulis dapat berupa memo, surat tugas, surat perintah dan lain-lain. Kelemahan dari pola ini yaitu pesan yang diterima bawahan bisa jadi tidak selengkap artinya. b. Komunikasi dari bawah ke atas Dalam struktur organisasi, komunikasi dari bawah ke atas berarti alur pesan yang disampaikan berasal dari bawah (karyawan) menuju ke atas (manajer). Untuk memecahkan permasalahan dalam perusahaan, manajer sudah sepatutnya mendengarkan aspirasi dari bawahan atau karyawan. Salah satu kelemahan pola komunikasi ini yaitu kemungkinan karyawan hanya menyampaikan laporan yang baikbaik saja mengenai perusahaan untuk menyenangkan hati manajer dan mengamankan 1 Prabowo Yudho Jayanto, SE., M.S.A., KOMUNIKASI BISNIS JILID 1, ed. by Eric Adie (Cerdas Bersama, 2021).


5 posisinya di perusahaan. c. Komunikasi Horizontal Komunikasi Horizontal atau Komunikasi Lateral adalah komunikasi yang terjadi antara antara bagian-bagian dalam perusahaan yang mempunyai posisi sejajar/sederajat. Tujuan dari pola ini yaitu untuk melakukan persuasi, mempengaruhi dan memberikan informasi kepada bagian atau departemen yang mempunyai posisi sejajar. Komunikasi horizontal menjadi sangat penting jika masing-masing departmen memiliki keterkaitan sam sama lain d. Komunikasi Diagonal Komunikasi diagonal melihatkan komunikasi antara dua tingkat organisasi yang berbeda. Contohnya yaitu komunikasi formal antara manajer pemasaran dengan bagian karyawan pabrik. Keuntungan dari komunikasi diagonal yaitu penyebaran informasinya lebih cepat dan memungkinkan individu dari berbagai departemen untuk membantu menyelesaikan masalah dalam organisasi. Namun disisi lain, komunikasi diagonal juga memilii kelemahan. Salah satunya adalah dapat mengganggu komunikasi yang berjalan normal dan juga sulit dikendalikan secara efektif. 2. Saluran Komunikasi Informal Pada jaringan komunikasi informal, orang-orang yang berada dalam organisasi, tanpa memedulikan jabatan, pangkat, kedudukan dapat berkomunikasi seara luas. Mereka saling berkomunikasi mengenai hal-hal umum tanpa memikirkan atasan maupun bawahan2 B. CARA MENGELOLA KOMUNIKASI Komunikasi yang efisien bukanlah suatu kebetulan; melainkan sebuah keterampilan yang dapat diperencanakan dan dioptimalkan. Dalam pengelolaan komunikasi, peran manajemen sangat krusial. Manajemen komunikasi membantu organisasi menjalankan perubahan, mengatasi hambatan, dan memastikan bahwa pesan-pesan yang disampaikan mencapai tujuan dengan jelas. Adapun cara untuk mengelola komunikasi adalah sebagai 2 Prabowo Yudho Jayanto, SE. , M.S.A., KOMUNIKASI BISNIS JILID 1, ed. by Eric Adie (Cerdas Bersama, 2021).


6 berikut : 1. Penanganan Pesan-Pesan Ratin a. Mengurangi Jumlah Pesan Arus pesan dalam suatu organisasi perlu dikelola dengan baik. Dalam suatu organisasi, seorang manajer perlu menentukan skala prioritas pesan. Dalam suatu organisasi, terdapat jumlah memo yang berlebihan dan tidak berguna, banyak rapat pertemuan yang sia-sia, tiada hasil yang berarti, membuang waktu dengan percuma sehingga jenis-jenis komunikasi tersebut perlu untuk dievaluasi dan mendapatkan perhatian yang seksama b. Instruksi yang Jelas Manajer (sekaligus sebagai komunikator) perlu untuk mencari kejelasan suatu pesan,karena kebutuhan perusahaan yang terus berkembang secara dinamis yang dapat mempengaruhi arti setiap pesan. Manajer juga seharusnya tetap berkomunikasi dengan staffnya secara keseluruhan untuk menjaga hubungan dengan anggota staf dan juga untuk memberikan umpan balik terhadap perkembangan suatu pesan c. Mendelegasikan Tanggung Jawab Dalam suatu organisasi, tujuan organisasi secara keseluruhan dapat tercapai jika manajer mempunyai kepercayaan bahwa orang lain dapat menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepada mereka. Hal ini penting karena seorang manajer harus mendelegasikan beberapa pekerjaan komunikasi kepada orang lain d. Melatih Petugas Suatu organisasi dianjurkan untuk menyelenggarakan pelatihan ketrampilan berkomunikasi bagi orang-orang yang tugasnya berhubungan dengan masalah komunikasi, sehingga komunikasi bisa menjadi lebih baik dan lancar.3 2. Penanganan Krisis Komunikasi Cara penanganan krisis di satu perusahaan dengan perusahaan lain akan berbeda. Munculnya krisis dalam suatu perusahaan dapat berpengaruh terhadap masa depan produk maupun reputasi perusahaan. Apabila suatu perusahaan gagal dalam menangan krisis yang terjadi, reputasi perusahaan akan menjadi pudar dan akan muncul kerugian 3 Prabowo Yudho Jayanto, SE. , M.S.A., KOMUNIKASI BISNIS JILID 1, ed. by Eric Adie (Cerdas Bersama, 2021).


7 C. MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI Dalam banyak pekerjaan, komunikasi adalah hal yang utama. Karir di segala bidang memerlukan kemapuan seseorang untuk menganalisis situasi berkomunikasi. Dalam pekerjaan lain, keahlian teknis dan disiplin berkaitan erat dengan pengetahuan dan kemampuan komunikasi. Meskipun banyak hasil penelitian kompetensi di tempat kerja menunjukkan perbedaan dalam hal-hal tertentu, namun terdapat kesepakatan umum bahwa kompetensi komunikasi merupakan hal yang sangat penting. Pengetahuan dan keterampilan komunikasi merupakan dasar sebagaimana kemampuan tertentu lainnya untuk kepemimpinan yang efektif.4 Sebagai kaitannya dengan organisasi bisnis, komunikasi merupakan suatu keterkaitan antara individu-indivdu dengan organisasi. Di samping itu, keterampilan komunikasi, kemampuan membaca, menulis, mendengar dan berbicara adalah sangat penting dan diutamakan oleh para manajer suatu perusahaan. Keterampilan Anda dalam berkomunikasi akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan Anda dalam dunia bisnis. Beberapa keterampilan khusus yang diperlukan dalam komunikasi bisnis adalah • Membaca • Mendengarkan • Membuat percakapannya menarik • Melakukan wawancara • Berdiskusi dengan kelompok-kelompok kecil • Berpidato dan presentasi • Menulis surat, memo dan laporan D. UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI Unsur-unsur komunikasi dalam organisasi adalah komponen-komponen dasar yang membentuk setiap proses komunikasi di dalam entitas organisasi5 . Pemahaman yang mendalam tentang unsur-unsur ini penting untuk memahami bagaimana komunikasi 4 Prabowo Yudho Jayanto, SE. , M.S.A., KOMUNIKASI BISNIS JILID 1, ed. by Eric Adie (Cerdas Bersama, 2021). 5 Anugrah Dwi, ‘Pengertian Komunikasi Dan Unsur-Unsurnya’ <https://fisip.umsu.ac.id/2023/08/16/pengertiankomunikasi-dan-unsur-unsurnya/>.


8 berfungsi dalam konteks organisasi. Berikut adalah penjelasan tentang unsur-unsur komunikasi dalam organisasi: 1. Pesan (Message) Pesan adalah inti dari setiap komunikasi. Ini adalah informasi, ide, gagasan, atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Pesan harus dirumuskan dengan jelas dan relevan agar berhasil disampaikan. 2. Pengirim (Sender) Pengirim adalah individu atau entitas yang menginisiasi komunikasi dengan menghasilkan dan menyampaikan pesan. Pengirim bertanggung jawab untuk memastikan pesan disampaikan dengan benar dan efektif. 3. Penerima (Receiver) Penerima adalah pihak yang menerima pesan yang disampaikan oleh pengirim. Penerima harus memahami pesan yang diterimanya, dan ini melibatkan pemahaman, interpretasi, dan tindakan yang sesuai berdasarkan pesan tersebut. 4. Saluran Komunikasi (Channel) Saluran komunikasi adalah media atau cara yang digunakan untuk mengirim pesan dari pengirim ke penerima. Ini bisa berupa komunikasi lisan, tulisan, elektronik, atau media lainnya. Pilihan saluran komunikasi dapat mempengaruhi cara pesan diterima dan dipahami oleh penerima. 5. Konteks (Context) Konteks adalah latar belakang atau situasi di mana komunikasi terjadi. Ini mencakup faktor-faktor seperti waktu, tempat, budaya, nilai-nilai organisasi, dan tujuan komunikasi. Konteks sangat penting karena dapat memengaruhi makna pesan. 6. Umpan Balik (Feedback) Umpan balik adalah respons atau tanggapan yang diberikan oleh penerima kepada pengirim setelah menerima pesan. Ini memungkinkan pengirim untuk memahami apakah pesan telah dipahami dengan benar dan apakah tindakan yang sesuai telah diambil. 7. Noise (Gangguan) Noise adalah segala sesuatu yang mengganggu proses komunikasi dan dapat mengaburkan pesan. Gangguan dapat berasal dari berbagai sumber, seperti gangguan


9 fisik, ketidakjelasan dalam pesan, atau bahkan perbedaan budaya antara pengirim dan penerima. 8. Tujuan Komunikasi (Communication Purpose) Setiap komunikasi dalam organisasi memiliki tujuan tertentu. Tujuan ini dapat bervariasi, seperti memberikan informasi, mempengaruhi keputusan, memotivasi, atau merencanakan tindakan tertentu. Memahami tujuan komunikasi adalah penting untuk merancang pesan yang sesuai. E. HAMBATAN-HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI ORGANISASI Hambatan dalam komunikasi organisasi adalah faktor-faktor atau kendala-kendala yang dapat mengganggu atau menghalangi aliran pesan dan pemahaman yang efektif dalam sebuah organisasi6 . Pemahaman tentang hambatan-hambatan ini penting karena mereka dapat mempengaruhi produktivitas, efisiensi, serta hubungan antar anggota organisasi. Berikut adalah beberapa hambatan umum dalam komunikasi organisasi: Adapun hambatan-hambatan komunikasi dalam organisasi antara lain: 1. Hambatan Teknis Hambatan teknis muncul akibat keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah mengurangi hambatan ini dengan ditemukannya solusi baru. Cruden dan Sherman (1976) mengidentifikasi beberapa jenis hambatan teknis, termasuk kurangnya rencana kerja yang jelas, informasi yang tidak memadai, keterampilan membaca yang kurang, dan pemilihan saluran komunikasi yang tidak tepat. 2. Hambatan Semantik Hambatan semantik terkait dengan gangguan dalam penyampaian makna secara efektif. Semantik memerinci studi ide tentang pemahaman yang diekspresikan melalui bahasa. Kata-kata membantu dalam pertukaran makna, tetapi seringkali terjadi kesalahan interpretasi. Penting bagi komunikator untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan karakteristik audiensnya dan memperhatikan kemungkinan penafsiran yang berbeda. 6 Dody Hermawan and Ujang Cepi Barlian, ‘Komunikasi Dalam Organisasi’, Jurnal Administrasi Pendidikan, 2.1 (2017) <https://doi.org/10.17509/jap.v2i2.6071>.


10 3. Hambatan Manusiawi Hambatan ini timbul karena faktor-faktor seperti emosi, prasangka pribadi, persepsi, keterampilan atau ketidakmampuan, serta kemampuan indera seseorang. Cruden dan Sherman membaginya menjadi dua kategori: perbedaan individual manusia (seperti perbedaan persepsi, usia, emosi, keterampilan mendengarkan, status, dan penyaringan informasi) dan hambatan yang timbul dari iklim psikologis di dalam organisasi yang dapat memengaruhi sikap, perilaku staf, dan efektivitas komunikasi.7 7 Rismayanti, ‘Hambatan Komunikasi Yang Sering Dihadapi Dalam Sebuah Organisasi’, Journal Al-Hadi, 6.1 (2018).


11 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pola komunikasi dalam organisasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu saluran komunikasi formal dan saluran komunikasi informal. Saluran komunikasi formal mencakup komunikasi dari atas ke bawah (dari manajer ke karyawan), komunikasi dari bawah ke atas (dari karyawan ke manajer), komunikasi horizontal (antara departemen yang sejajar), dan komunikasi diagonal (antara tingkat organisasi yang berbeda). Saluran komunikasi informal memungkinkan komunikasi yang lebih bebas antara individu-individu di organisasi tanpa memedulikan jabatan atau hierarki. 2. Pengelolaan komunikasi dalam organisasi melibatkan pengurangan jumlah pesan yang tidak perlu, penyampaian instruksi yang jelas, delegasi tanggung jawab, pelatihan karyawan dalam keterampilan komunikasi, dan penanganan krisis komunikasi dengan bijak. 3. Meningkatkan kemampuan komunikasi dalam organisasi melibatkan pengembangan keterampilan seperti membaca, mendengarkan, berbicara, menulis, dan berinteraksi dengan baik dalam berbagai situasi. Pelatihan dan pendidikan komunikasi juga dapat membantu karyawan meningkatkan kemampuan mereka. 4. Unsur-unsur komunikasi dalam organisasi meliputi pesan, pengirim, penerima, saluran komunikasi, konteks, umpan balik, noise (gangguan), dan tujuan komunikasi. Semua unsur ini saling berhubungan dan memengaruhi proses komunikasi dalam organisasi. 5. Dalam konteks hambatan komunikasi organisasi, perlu diatasi hambatan teknis seperti kurangnya rencana kerja dan pemilihan saluran komunikasi yang tidak tepat. Hambatan semantik perlu diperhatikan untuk menghindari kesalahan interpretasi makna. Sementara itu, hambatan manusiawi, baik dari perbedaan individual maupun iklim psikologis dalam organisasi, membutuhkan pemahaman dan manajemen untuk meningkatkan efektivitas komunikasi dan menciptakan lingkungan kerja yang positif. Dengan mengatasi hambatan ini, organisasi dapat mencapai komunikasi yang lebih efisien dan produktif.


12 B. Saran Demikian makalah ini kami susun, semoga dengan membaca makalah ini dapat dijadikan pedoman kita dalam mengetahui komunikasi dalam organisasi. Apabila ada kekurangan dalam penulisan makalah ini, kami mohon maaf yang setulus-tulusnya.


13 DAFTAR PUSTAKA Prabowo Yudho Jayanto, SE., M.S.A., KOMUNIKASI BISNIS JILID 1, ed. by Eric Adie (Cerdas Bersama, 2021). Anugrah Dwi, ‘Pengertian Komunikasi Dan Unsur-Unsurnya’ Diakses dari : https://fisik.imsu.ac.id/2023/08/16/pengertian-komunikasi -dan-unsu-unsurnya/ Dody Hermawan and Ujang Cepi Barlian, ‘Komunikasi Dalam Organisasi’, Jurnal administrasi Pendidikan, 2.1 (2017) https://doi.org/10.17509/jap.v2i2.6071. Rismaanti, ‘Hambatan Komunikasi Yang Sering Dihadapi Dalam Sebuah Organisasi’, Journal Al-Hadi, 6.1 (2018).


MAKALAH KOMUNIKASI BISNIS LINTAS BUDAYA Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunikasi Bisnis Dosen Pengampu: Dr. Prabowo Yudho Jayanto, S.E., M. S.A. Disusun Oleh: Eka Nia Indriyani (7211422009) Nurhafifah (7211422010) Gita Budiarti (7211422130) Reyhan Indah Ariaini (7211422166) PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2023


1 Contents BAB I................................................................................................................................... 2 PENDAHULUAN................................................................................................................ 2 1.1 Latar Belakang ......................................................................................................................... 2 1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................................... 2 1.3 Tujuan Masalah........................................................................................................................ 2 BAB II.................................................................................................................................. 3 PEMBAHASAN.................................................................................................................. 3 2.1 Pengertian Komunikasi Bisnis Lintas Budaya............................................................................. 3 2.2 Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya............................................................................. 3 2.3 Memahami Budaya dan Perbedaannya .................................................................................... 5 a. Definisi Budaya................................................................................................................... 5 b. Komponen Budaya ............................................................................................................. 6 c. Tingkatan Budaya ............................................................................................................... 6 2.4 Komunikasi dengan Orang Berbudaya Asing........................................................................... 11 BAB III.............................................................................................................................. 15 PENUTUP ......................................................................................................................... 15 3.1 Kesimpulan............................................................................................................................ 15 3.2 Saran ..................................................................................................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 17


2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengertian Komunikasi adalah suatu aktivitas penyampaian informasi, baik itu pesan, ide dan gagasan, dari satu pihak ke pihak lainnya. Biasanya aktivitas komunikasi ini dilakukan secara verbal atau lisan sehingga memudahkan kedua belah pihak untuk saling mengerti. Secara harafiah, definisi komunikasi adalah interaksi antara dua orang atau lebih untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi. Komunikasi secara umum bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada orang lain. Komunikasiyang baik adalah komunikasi yang dapat dimengerti dan diterima oleh orang lain. Selain dengan cara verbal, komunikasi juga bisa dilakukan dengan bahasa tubuh atau menggunakan gesture untuk tujuan tertentu. Dalam sebuah organisasi atau bisnis, komunikasi memiliki peranan sangat penting karena merupakan bentuk koordinasi antar anggota atau tim untuk menyampaikan ide dan gagasan. Dalam makalah ini kita akan membahas bagaimana hubungannya deangan komunikasi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa Pengertian Komunikasi Bisnis Lintas Budaya? 2. Bagaimana Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya? 3. Bagaimana Memahami Budaya dan Perbedaannya? 4. Bagaimana Komunikasi Dengan Berbudaya Asing? 1.3 Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui Pengertian Komunikasi Bisnis Lintas Budaya 2. Untuk mengetahui Bisnis Lintas Budaya 3. Untuk memahami Budaya dan Perbedaannya 4. Untuk mengetahui Komunikasi Dengan Berbudaya Asing


3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Komunikasi Bisnis Lintas Budaya Komunikasi bisnis lintas budaya merupakan komunikasi yang digunakan ddalam dunia baik komunikasi verbal maupun nonverbal dengan memperhatikan factor-faktor budaya di suatu daerah, wilayah, atau negara. Menurut Samovar dan Poter (1972) komunikasi antar budaya terjadi manakalah bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut membawa serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai. Komunikasi Bisnis lintas budaya menekankan untuk para pelakyu bisnis dapat menghargai pelaku bisnis lainnya meskipun dengan latar belakang budaya yang berbeda. Apaliagi negara kita yang menjadi salah satu negara yang sangat kaya dengan aneka macam budaya. Komunikasi bisnis lintaas budaya akan sangat diperlukan saat akan ada ekspansi bisnis atayu kunjungan bisnis ke daerah dengan kebudayaan lain, pemahaman budaya menjadi sangat penting untuk dilakukan seperti halnya memahami bagaiman amereka bekerja, bagaimana mereka mempercayai suatu yang sudah turun-temurun, bagaimana mereka berpakaian dan lainnya. 2.2 Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya Komunikasi lintas budaya menjadi salah satu hal penting dalam bisnis proses komunikasi, Keintiman dalam hubungan antar manusia bergantung pada efektivitas kegiatan komunikasi yang dilakukan. Ketika Anda ingin berkomunikasi dalam istilah multikulturalisme, seseorang harus memahami budaya lawan bicaranya. Budaya dan komunikasi saling berkaitan. Kebudayaan adalah bagian dari perilaku komunikasi, oleh karena itu komunikasi memegang peranan yang menentukan,memelihara, mengembangkan atau menyebarkan budaya ini.


4 Setiap budaya yang berbeda mempunyai sistem nilai yang berbeda pula. Selain itu, sangat penting untuk memahami cara berkomunikasi yang baik, Tentu saja hal tersebut tidak terlepas dari bahasa, aturan, dan norma budaya masing-masing. Dengan memahami komunikasi antar budaya, dalam hal ini lawan bicaranya, kita dapat memahami bahwa lawan bicaranya mempunyai kebudayaan. Beberapa hal tentu saja akan sedikit banyak berbeda dengan budaya kita, sehingga kita dapat terlibat dengan orang-orang yang akan membuahkan hasil keselarasan dalam komunikasi. Sudah saatnya para pengambil keputusan, khususnya manajemen puncak, mengantisipasi era perdagangan bebas dan globalisasi sejak dini. Meskipun era globalisasi juga memberi manfaat yang banyak, namun pada era ini tidak adanya keterbatasan dalam memperoleh datau menyampaikan informasi. Antara komunikasi dan kebudayaan terjadi hubungan yang sangat erat. Disatu pihak, jika bukan karena kemampuan manusia untuk menciptakan bahasa simbolik, tidak dapat dikembangkan pengetahuan, makna, simbol-simbol, nilai-nilai, aturan-aturan dan tata, yang memberi batasan dan bentuk pada hubungan-hubungan, organisasi-organisasi dan masyarakat yang terus berlangsung. Demikian pula, tanpa komunikasi tidak mungkin untuk mewariskan unsur-unsur kebudayaan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, serta dari satu tempat ke tempat lainnya. Komunikasi juga merupakan sarana yang dapat menjadikan individu sadar dan menyesuaikan diri dengan subbudaya-subbudaya dan kebudayaan-kebudayaan asing yang dihadapinya. Tepat kiranya jika dikatakan bahwa kebudayaan dirumuskan, dibentuk, ditransmisikan daan dipelajari melalui komunikasi. Sebaliknya, pola-pola berpikir, berprilaku, kerangka acuan dari individuindividu sebahagian terbesar merupakan hasil penyesuaina diri dengan cara- cara 11 khusus yang diatur dan dituntut oleh sistem sosial dimana mereka berada. Kebudayaan tidak saja menentukan


5 siapa dapat berbicara dengan siapa, mengenai apa dan bagaimana komunikasi sebagainya berlangsung, tetapi juga menentukan cara mengkode atau menyandi pesan atau makna yang dilekatkan pada pesan dan dalam kondisi bagaimana macam-macam pesan dapat dikirimkan dan ditafsirkan. Singkatnya, keseluruhan prilaku komunikasi individu terutama tergantung pada kebudayaanya. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan pondasi atau landasan bagi komunikasi. Kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan praktek-praktek komunikasi yang berbeda pula. 2.3 Memahami Budaya dan Perbedaannya Setiap Negara memiliki budaya sendiri yang berbeda dengan negara lain. Pemahaman terhadap budaya dan perbedaannya menjadikan bahan yang sangat berharga ketika menjalin suatu kerja sama. Setiap orang hidup, tumbuh, dan berkembang dalam suatu kelompokkelompok tertentu yang masing-masing menerapkan suatu aturan maupun perilaku yang sesuai dengan budayanya. a. Definisi Budaya Budaya menurut Bovee dan Thill adalah system sharing atas symbolsimbol, kepercayaan, sikap, nilai-nilai, harapan, dan norma-norma untuk berperilaku. Dalam hal ini, semua anggota dalam budaya memiliki asumsiasumsi serupa tentang bagaimana seseorang berpikir, berperilaku, berkomunikasi serta cenderung untuk melakukan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut. Beberpaa budaya ada yang dibentuk dari berbagai kelompok yang berbeda-beda dan terpisah, tetapi juga ada yang memiliki kecenderungan homogen. Kelompok berbeda yang ada dalam wilayah budaya mayoritas lebih tepat dikatakan sebagai subbudaya. Indonesia adalah contoh negara yang memiliki subbudaya yang sangat beragam etnis maupun agama. Hal ini berbeda


6 dengan Jepang yang hanya memiliki beberapa subbudaya dengan cenderung bersifat homogen. b. Komponen Budaya Menurut Cateora, budaya memiliki beberapa elemen, yaitu budaya material, Lembaga sosial, system kepercayaan, estetika, dan bahasa. Budaya Material (material culture) dibedakan ke dalam 2 bagian, yaitu teknologi dna ekonomi. Teknologi mencakup Teknik atau cara digunakan untuk mengubah atau membentuk material menjadi suatu produk yang dapat berguna bagi Masyarakat pada umumnya. Sedangkan Ekonomi dalam hal ini mencakup suatu cara orang menggunakan segala kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Termasuk didalamnya adalah segala bentuk kegiatan ynag menghasilkan barang dan jasa, distribusi, konsumsi, cara pertukaran, dan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan kreasi. c. Tingkatan Budaya Menurut Murphy dan Hildebrandt, dalam dunia praktis terdapat tiga tingkatan budaya yaitu: 1. Formal Budaya pada tingkatan formal merupakan sebuah tradisi satu kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyaralat yang turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal itu bersifat formal/resmi. Dalam dunia pendidikan, tata bahasa Indonesia adalah termasuk salah satu budaya tingkat formal uang mempunyai suatu aturan yang bersifat formal dan terstruktur dari dulu hingga sekarang. 2. Informal


7 Budaya lebih banyak diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya melalui apa yang didengar, dilihat, digunakan dan dilakukan tanpa diketahui alasannya mengapa hal itu dilakukan. 3. Teknis Pada tingkatan ini, bukti-bukti dan aturan-aturan merupakan hal yang terpenting. Terdapat suatu penjelasan yang logis mengapa sesuatu harus dilakukan dan yang lain tidak boleh dilakukan. Pada tingkatan formal, pembelajaran dalam budaya mencakup pembelajaran pola perilakunya, sedangkan pola tingkatan teknis, aturan-aturan disampaikan secara logis dan tepat. Perbedaan budaya dapat dilihat dari: Nilai-Nilai Sosial Nilai sosial yang tumbuh dan berkembang di suatu negara bisa jadi berbeda dengan negara lain. Secara umum orang-orang Amerika berpandang bahwa uang akan dapat mengatasi berbagai masalah, kekayaan yang diperoleh dari usahanya sendiri merupakan sinyal superioritas, dan orang yang bekerja keras lebih baik daripada yang tidak bekerja keras. Mereka juga benci terhadap kemiskinan dan menghargai kerja keras. Di Indonesia, khususnya orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan masih memiliki nilai-nilai kebersamaan yang tinggi, sementara ada kecendrungan bahwa nilai gotong royong mulai memudar di daerah perkotaan, seiring dengan semakin tingginya sikap individualistis. Peran dan Status Budaya menuntun peran yang akan dimainkan seseorang, termasuk siapa berkomunikasi dengan siapa, apa yang mereka komunikasikan, dan dengan cara


8 bagaimanamereka berkomunikasi. Sebagai contoh, di negara-negara yang sedang berkembang peran wanita dalam dunia bisnis masih relatif rendah. Sementara, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, peran wanita di dunia bisnis sudah cukup kuat. Peran wanita dalam dunia bisnis di negara maju cukup dominan dibanding negara berkembang. Contoh lainnya seperti dalam hal konsep status, yang cara pandangnya berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lain. Kebanyakan status para eksekutif di Amerika Serikat dilihat dari symbol-simbol yang bernuansa materialistik. Status sebagai seorang eksekutif ditandai dengan ruang sudut kantor yang luas, karpet mahal, meja kerja eksekutif, dan sejumlah aksesoris yang menarik. Di Indonesia, status seorang eksekutif dapat dilihat dari penataan ruang kerja yang terkesan luks dan seberapa mewah jenis kendaraan yang digunakan. Pengambilan Keputusan Proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para manajemen puncak antara negara yang satu dengan yang lain berbeda, ada yang cepat tetapi ada juga yang lambat. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, para eksekutif selalu berupaya secepat dan seefisien mungkin dalam mengambil suatu keputusan penting. Umumnya, para manajer puncak berkaitan dengan suatu keputusan pokok atau utama, sedangkan hal-hal yang lebih rinci diserahkan kepada manajer yang lebh bawa. Lain halnya di Amerika Latin dan Jepang, proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer puncak umumnya berjalan lambat dan bertele-tele. Konsep Waktu Penilaian terhadap waktu antara negara lain juga berbeda , ada yang ketat tetapi ada juga yang longgar/luwes. Sebagian besar penduduk negara maju sudah


9 menyadari bahwa waktu sangatlah berharga. Untuk menghemat waktu, para eksekutif Amerika Serikat dan Jerman membuat rencana bisnis secara efisien dengan memusatkan perhatian pada tugas tertentu pada periode tertentu. Oleh karena waktu sangatlah terbatas, dalam berkomunikasi mereka cenderung langsung menuju pada pokok persoalan (to the point) dan cepat. Hal ini berbeda dengan para eksekutif dari Amerika Latin dan Asia, yang umumnya memandang waktu relatif luwes/fleksibel. Menurut mereka, menciptakan dasar-dasar hubungan bisnis lebih penting dari pada sekedar dapat menyelesaikan suatu pekerjaan. Konsep Jarak Komunikasi Sebagaimana masalah waktu, menjaga jarak komunikasi juga berbeda untuk budaya yang berbeda. Ketika melakukan pembicaraan bisnis, para eksekutif Amerika Serikat dan Kanada menjaga jarak sekitar 5 feet dari lawan bicara. Namun, bagi para eksekutif Jerman atau Jepang jarak komunikasi tersebut dirasakan kurang dekat. Sementara itu, para eksekutif dari negara Timur Tengah mempunyai kecendrungan untuk melakukan pembicaraan bisnis dengan jarak komunikasi yang relatif dekat. Konteks Budaya Salah satu dari berbagai macam cara orang menyampaikan pesannya kepada orang lain sangat ditentukan konteks budaya. Di dalam konteks budaya tinggi seperti Korea Utara atau Taiwan, orang kurang tergantung pada komunikasi verbal, tetapi lebih banyak tergantung padakomunikasi nonverbal. Dalam melakukan percakapan mereka cenderung menyampaikan pesan-pesan secara tidak langsung(indirect) yang disertai dengan ekspresi ataupun gerakan-gerakan tubuh dalam konteks budaya rendah, seperti Amerika Serikat dan Jerman, orang sangat tergantung pada komunikasi verbal dan bukan komunikasi nonverbal. Jadi, dalam


Click to View FlipBook Version