The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Joki Putri, 2023-05-21 20:10:07

BUKU

BUKU

1


1 KATA PENGANTAR Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami ingin mengucapkan syukur dan rasa terima kasih atas rahmat dan petunjuk-Nya yang melimpah. Melalui karunia-Nya, penulis berhasil menyelesaikan buku ini yang berjudul "Menjadi Orang Tua yang Membentuk Keluarga Bahagia dan Menginspirasi Generasi Mendatang". Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada: 1. Allah SWT, yang senantiasa memberikan rahmat dan petunjuk, sehingga penulis merasa tenang dan diberikan kekuatan untuk menyelesaikan buku ini. 2. Ibu Rina Windiarti, S.Pd, M.Ed, sebagai dosen mata kuliah Family and Community Based Early Childhood Education, yang telah membimbing kami dengan penuh kesabaran dan pengetahuan. 3. Teman-teman yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian buku ini. Penulis juga menyadari bahwa buku ini tidak sempurna dalam segi penyusunan, bahasa, dan penulisan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun, terutama dari para pembaca buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Semarang, 15 Mei 2023 Penulis


2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...........................................................................................1 BAB 1 MEMPERSIAPKAN DIRI SENDIRI .........................................................4 A. HAKIKAT PRIA..........................................................................................4 B. HAKIKAT WANITA....................................................................................5 C. KESETARAAN GENDER............................................................................6 D. PERSIAPAN MENTAL................................................................................7 E. PERSIAPAN FISIK......................................................................................9 F. PERSIAPAN FINANSIAL ..........................................................................12 G. ORIENTASI MASA DEPAN ......................................................................14 H. PERJANJIAN PRA NIKAH.......................................................................18 I. PERNIKAHAN DALAM ISLAM.................................................................21 J. AKIBAT MENIKAH TANPA PERSIAPAN.................................................25 BAB 2 MENJADI ORANG TUA.........................................................................29 A. Pengertian dan Jenis Orang Tua ..............................................................29 B. Latar Belakang Pendidikan Orang Tua ....................................................34 C. Peran Ayah dan Ibu.................................................................................36 D. Bagaimana Menjadi Orang Tua ...............................................................38 BAB 3 KONSEP KELUARGA............................................................................50 A. Definisi Keluarga .....................................................................................50 B. Struktur Keluarga ...................................................................................51 C. Ciri-Ciri Keluarga ...................................................................................53 D. Fungsi Keluarga ......................................................................................54 E. Tipe Keluarga..........................................................................................56 F. Tingkatan keperawatan Keluarga ............................................................59 G. Tahapan perkembangan keluarga.........................................................60 H. Tugas perkembangan setiap tahapan keluarga ......................................61 I. Proses keperawatan keluarga ...................................................................64 BAB 4 ACUAN DASAR DALAM PENGASUHAN..............................................70 A. PENGERTIAN PENGASUHAN...............................................................70 B. PENGASUHAN DALAM ISLAM ...............................................................78 C. PENGASUHAN SESUAI USIA DALAM ISLAM .....................................90 D. POLA ASUH TIMUR DAN BARAT ........................................................97


3 BAB 5 SEKOLAH UNTUK ORANG TUA ........................................................ 109 A. SEKOLAH ............................................................................................ 109 B. BENTUK SEKOLAH UNTTUK ORANG TUA ...................................... 111 1. Seminar ............................................................................................. 112 2. PKK .................................................................................................. 113 3. Pelatihan Orang Tua .......................................................................... 114 C. HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI TERKAIT PENDIDIKAN....... 116 D. MENDIDIK DAN MEGASUH ANAK DITINJAU DARI PERSPEKTIF AGAMA....................................................................................................... 122 E. KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN................................................. 128 BAB 6 ORANG TUA SEBAGAI ROLE MODEL .............................................. 131 A. Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua ................................................... 131 B. Perilaku Baik Orang Tua ....................................................................... 132 C. Perilaku Dan Perkataan Buruk Orang tua Yang Ditiru Anak.................. 134 D. Sikap Orang Tua ................................................................................... 140 E. Teknik Mengelola Peniruan Verbal ........................................................ 143 F. Tahap Peniruan Anak Terhadap Orang Tua .......................................... 146


4 BAB 1 MEMPERSIAPKAN DIRI SENDIRI A. HAKIKAT PRIA 1. Definisi pria Pria adalah seseorang memperlakukan perempuan dengan baik,baik ibu, isti ataupun perempuan pada umumnya. Sebelum memilih pasangan hidup, ada baiknya seorang Muslimah memahami sifat laki-laki yang baik menurut Islam,yaitu: 1. Bertanggung jawab Lelaki yang baik adalah memiliki sifat pemimpin juga bertanggung jawab. 2. Berani menegakkan kebenaran dan komitmen dengan imannya Dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan bagaimana Allah menggambarkan sifat yang sepatutnya ada dalam diri laki-laki sehingga dapat disebut sebagai lelaki berani dan berkomitmen. 3. Taat dalam urusan agama (sholeh) Sejatinya, lelaki yang patuh dan takut kepada Tuhan akan menjaga sikapnya. 4. Mengutamakan yang kufu' Kufu' yakni setara kedudukannya, terutama dalam urusan agama. Pasangan yang kufu' akan lebih mudah untuk saling beradaptasi dalam rangka menciptakan satu langkah bersama menuju keutuhan dan kemajuan rumah tangga. 5. Orang yang Mempelajari Al-Qur'an dan Mengajarkannya Laki-laki yang baik menurut Islam lainnya adalah yang mempelajari, mengajarkan, serta mengamalkan Al-Quran. Sebagai pemimpin keluarga, lelaki harus dapat membimbing istri dan anaknya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 2. Cara Meningkatkan kualitas diri sebagai pria Cara untuk meningkatkan kualitas diri pria pada usia muda yaitu; a. Fokus pada tujuan b. Kembangkan skills


5 c. Berlatih cara berkomunikasi d. Lawan rasa takut e. THINK POSITIVE & BE CONFIDENT f. Merawat diri dan kesehatan B. HAKIKAT WANITA 1. Definisi wanita Perempuan dalam Islam sama dengan laki-laki. Perempuan diciptakan sebagai pasangan buat laki-laki bukan sebagai budak atau harta yang bisa diperjualbelikan. Pandangan terkait perempuan yang baik menurut Islam, yaitu: 1. Cinta kepada Suami Seorang perempuan shalihah tentu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencurahkan cinta dan kasih sayangnya, baik dalam bentuk kalimat yang lembut atau sikap yang baik saat berinteraksi dengan suami. 2. Subur (Memiliki Banyak Anak) Ini juga salah satu karakter perempuan yang baik menurut Islam. Meski begitu, apabila perempuan memiliki suatu penyakit sehingga menyebabkan dirinya sulit atau bahkan tidak bisa memiliki anak, hal itu bukanlah kekurangan baginya. Karena itu bukanlah sesuatu yang dia inginkan atau bisa dia usahakan. Allah SWT tentu tidak akan menghukumnya, dan tidaklah mengurangi keshalihannya. 3. Tidak Kasar Perempuan identik dengan sifat yang lemah lembut, apalagi saat dihadapkan pada suami dan anak-anaknya. Jika seorang istri memiliki karakter kasar dan keras, maka rumah tangga akan terasa ‘panas’ dan tidak membuat suami nyaman. 4. Membantu Suami dalam Kebaikan Salah satu ciri perempuan yang baik menurut Islam yang harus ada dalam karakter perempuan adalah selalu memberi dukungan pada suami. Istri yang berusaha membantu dan mensupport suami dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, akan menjadi sumber kebahagiaan bagi perempuan.


6 5. Bertakwa kepada Allah Sifat-sifat mulia tersebut hanyalah akan bermanfaat untuk seorang perempuan jika bertakwa kepada Allah SWT. Seorang istri yang senantiasa mengharapkan ridha dan pahala dari Allah Ta’ala tentu akan mengerjakan amalan-amalan yang baik. 2. Cara meningkatkan kualitas diri sebagai wanita Cara untuk meningkatkan kualitas diri wanita pada usia muda yaitu; a. Selalu berusaha memperbaiki diri b. Memiliki mental yang mau diajak berjuang c. Tidak meninggalkan ibadah d. Memiliki jiwa sosial yang tinggi C. KESETARAAN GENDER Konsep gender menurut KMK 807 Tahun 2018 merupakan peran dan status yang melekat pada laki-laki atau perempuan berdasarkan konstruksi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman, bukan berdasarkan perbedaan biologis. Gender merupakan perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Istilah gender ini pertama kali dikemukakan oleh para ilmuwan sosial, mereka bermaksud untuk menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan yang mempunyai sifat bawaan (ciptaan Tuhan) dan bentukan budaya (konstruksi sosial). Banyak orang mengartikan atau mencampuri ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati (tidak berubah) dengan non-kodrati (gender) yang bisa berubah dan diubah sepanjang zaman. Perbedaan gender ini pun menjelaskan orang berpikir kembali tentang peran mereka yang sudah melekat, baik pada laki-laki maupun perempuan. Keadilan dan kesetaraan gender di Indonesia dipelopori oleh RA Kartini sejak tahun 1908. Perjuangan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan dimulai oleh RA Kartini sebagai wujud perlawanan atas ketidakadilan terhadap kaum perempuan pada masa itu. Dalam perjalanan selanjutnya, semangat perjuangan RA Kartini ditindaklanjuti pada tanggal 22


7 Desember 1928 oleh Kongres Perempuan Indonesia yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu. Jadi, bila saat ini marak isu Pengarus Utamaan Gender (PUG), nampak bahwa kesetaraan dan keadilan gender tidak muncul begitu saja, melainkan dari zaman kolonial sudah muncul, dipelopori oleh sosok perempuan (RA Kartini). Sehingga sampai sekarang antara laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, namun tidak terlepas dari konteks cara pandang harus tetap disesuaikan dengan “kodrat perempuan”. Dalam kehidupan sekarang tidak jarang kesetaraan dan keadilan gender sering menjadi masalah sosial, tidak pelak kesetaraan gender dijadikan sebagai alasan laki-laki (suami) untuk tidak memenuhi kewajibannya kepada perempuan (istri). Contohnya saja dalam mencari nafkah, tidak sedikit perempuan bekerja banting tulang layaknya laki-laki untuk mencukupi kehidupan keluarga sedangkan suami seakan-akan lepas tanggung jawab terhadap istri dan anaknya. Hal demikian sesungguhnya adalah masalah gender yang tidak wajar, karena sesungguhnya kesetaraan gender yang dimaksud adalah harus tetap memperhatikan “kodrat perempuan”. Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup. Tidak hanya diperuntukkan bagi para laki-laki, pada hakikatnya perempuan pun mempunyai hak yang sama. Kesetaraan gender tidak harus dipandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan selanjutnya. Kesetaraan gender juga tidak diartikan segala sesuatunya harus mutlak sama dengan laki-laki. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan keputusan bagi dirinya sendiri tanpa harus dibebani konsep gender. D. PERSIAPAN MENTAL 1. Persiapan mental a. Aturlah Emosi Diri Sendiri Sangatlah wajar jika calon pasangan hidup Anda memiliki kebiasaan yang mungkin bertolak belakang dengan kebiasaan Anda. Pacaran dalam jangka waktu


8 yang lama bukanlah jaminan untuk dapat memahami keinginan dan kebutuhan secara mendalam. Oleh karena itu, salah satu persiapan mental pernikahan yang penting adalah mengenali tingkat emosi pasangan dan tingkat emosi diri Anda sendiri. Ini akan membantu Anda agar tidak terpancing untuk saling membalas jika terjadi suatu konflik. b. Bangun Komunikasi Memiliki komunikasi yang baik dan saling terbuka merupakan persiapan mental pernikahan yang esensial. Komunikasi tidak harus dilakukan secara verbal, melainkan juga melalui sentuhan, senyuman, lelucon, komentar, atau keinginan saling mendengarkan dan mendukung satu sama lain. c. Kembangkan Kemampuan untuk Mengatasi Konflik Setiap individu yang hidup pasti memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Sering kali pasangan masih memiliki ego yang tinggi dan tidak mau mengalah karena menganggap bahwa cara dia mengatasi masalah adalah yang paling baik. d. Selalu Berorientasi untuk Belajar Terlalu banyak berpikiran negatif akan membuat Anda curiga dan tidak percaya pada pasangan. Padahal, semua kecurigaan tersebut belum tentu ada dasarnya. Rasa tak percaya ini bisa menjadi cikal-bakal kehancuran rumah tangga. Selain berpikir positif saat sudah menikah, cobalah juga untuk mengapresiasi pasangan Anda dan merespons keberhasilan ataupun kegagalan pasangan Anda dengan memandang bahwa hal tersebut adalah suatu proses pembelajaran diri. e. Membicarakan Isu Sensitif Beberapa isu sensitif sebaiknya mulai dibicarakan sejak masa pacaran. Ini dilakukan untuk mencari tahu apakah Anda dan pasangan sepaham atau tidak mengenai isu tersebut. Kalaupun berbeda pandangan, apakah dapat menemukan solusi atau tidak. Persiapan mental menjelang pernikahan ini penting, walaupun sering kali dipenuhi kecanggungan karena sering menjadi sumber konflik pasangan suami istri. f. Mengenal Bahasa Kasih Masing-Masing


9 Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa kasih sayangnya. Mereka juga umumnya merasa disayang jika diperhatikan dengan cara khusus. Hal inilah yang dikenal dengan bahasa kasih. Ada pasangan yang suka menyatakan cinta dengan kata-kata, ada yang suka dengan hubungan fisik (berpelukan, berciuman, gandengtangan), ada yang dengan pemberian hadiah, dan sebagainya. E. PERSIAPAN FISIK 1. Usia ideal Standar usia ideal menikah untuk perempuan adalah minimal di usia 21 tahun. Hal ini disesuaikan berdasarkan diri seorang wanita yang telah memiliki kesiapan fisik, mental, emosional dan persiapan berkeluarga serta menjadi orang tua. Sedangkan usia ideal menikah untuk laki-laki adalah di kisaran usia 25 tahun. Ini karena pada usia tersebut laki-laki telah memiliki pendapatan atau penghasilan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta dengan pertimbangan perannya sebagai seorang kepala keluarga. Sejalan dengan hal tersebut University of Utah mengemukakan jika orangorang yang menikah di usia 25 sampai 26 tahun umumnya telah memiliki pemikiran yang matang serta dewasa. Individu telah belajar kesetiaan dengan baik sehingga kecil kemungkinan untuk mengkhianati pasangan atau memutuskan bercerai dengan pasangannya. Usia ideal menikah di Indonesia menurut BKKBN berada pada kisaran 21 tahun hingga 26 tahun. Sehingga di rentang usia tersebut perlu untuk diperhatikan sebelum membina rumah tangga agar tiap pasangan telah siap secara fisik maupun mental nantinya. 2. Kesehatan (cek fisik sebelum menikah) Mempersiapkan diri sendiri pada bagian ini dilakukan dengan melakukan cek kesehatan sebelum menikah. Cek kesehatan hendaknya dilakukan maksimal enam bulan sebelum dilakukannya pernikahan. Hal ini sangat umum dilakukan karena sangat penting nantinya, jika ada sesuatu yang penting atau suatu penyakit maka akan dapat segera dilakukan penanganan medis. Selain itu juga dapat digunakan sebagai penentu lanjut tidaknya hubungan bagi beberapa orang, karena


10 tentunya seseorang mengharapkan pernikahan dan kehidupan keluarga yang lancar. Cek kesehatan yang biasanya dilakukan adalah: a. Golongan darah dan rhesusnya Meski terlihat sepele, Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk mengetahui kecocokan antara rhesus dengan efeknya terhadap ibu beserta sang anak. Pasangan dengan Rh-negatif pada perempuan dan Rh-positif pada pria berisiko menimbulkan ketidaksesuaian yang berakibat fatal pada anak ketika mengandung. Ibu dengan RH-negatif berpotensi lebih besar mengandung anak dengan Rh-positif di kehamilan kedua yang justru akan dianggap sebagai benda asing oleh tubuh ibu, sehingga beresiko tinggi mengalami permasalahan selama kehamilan seperti bayi dapat gagal jantung, anemia, hingga keguguran. b. Bipolar Bipolar disorder adalah gangguan jiwa yang umumnya mempengaruhi mood atau suasana hati. Penderita bipolar umumnya tidak menyadari bila emosinya yang tidak stabil dapat mengganggu kehidupan orang di sekitarnya. Jika Anda memiliki gejala dan tanda yang menunjukkan gangguan bipolar, segera temui dokter atau profesional kesehatan mental untuk menjalani perawatan, karena gangguan bipolar tidak dapat membaik dengan sendirinya. Konsultasikan segera dengan profesional kesehatan mental sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga yang tentunya menyatukan pikiran sesama pasangan. c. TORCH TORCH merupakan infeksi yang disebabkan oleh berbagai macam virus berbahaya, yaitu Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II). Jika terkena infeksi ini, maka kesuburan kamu dan pasangan dapat terganggu, sehingga menyebabkan susah hamil atau terjadinya keguguran dini. Dengan melakukan pemeriksaan, infeksi ini dapat terdeteksi lebih awal, sehingga kamu dan pasangan dapat mengobatinya dulu sebelum memulai program kehamilan. d. Penyakit menular


11 Penyakit menular salah satunya adalah Hepatitis B. Virus Hepatitis B dapat bertahan lama dalam tubuh pengidapnya dan mengganggu fungsi hati pengidap. Virus ini juga mudah menular melalui hubungan intim bahkan dapat ditularkan kepada bayi dalam kandungan yang dapat menyebabkannya lahir cacat. Karena itu, mendeteksi virus ini lebih awal dan mengobatinya dapat mencegah terjadinya dampak buruk tersebut. Selain cek kesehatan, pasangan yang akan menikah hendaknya melakukan vaksin, diantaranya sebagai berikut: 1. Vaksin HPV Vaksin human papillomavirus atau HPV merupakan salah satu vaksin yang penting didapatkan calon pengantin baik pada pihak laki-laki maupun perempuan sebelum menikah. Vaksin ini dapat mencegah timbulnya kanker serviks saat kontak fisik atau saat berhubungan seksual. 2. Vaksin cacar air Vaksin cacar air penting diberikan bagi calon pengantin yang belum pernah kena cacar air seumur hidupnya. Pasalnya, bagi perempuan, penyakit cacar air bisa meningkatkan risiko cacat janin. Vaksin ini diutamakan bagi perempuan dibawah usia 30 tahun yang belum pernah terkena cacar air.M 3. Vaksin MMR Vaksin MMR atau vaksin campak, gondongan, dan rubella berfungsi untuk mencegah tiga penyakit trsebut. Tiga penyakit tersebut akan dapat memberikan pengaruh terhadap janin yang nantinya dikandung oleh perempuan. Untuk itulah perempuan sebagai calon pasangan perlu melakukan vaksin ini agar tidak terkena penyakit tersebut di kemudian hari ketika telah menikah. 4. Vaksin Hepatitis B Vaksin Hepatitis B termasuk salah satu vaksinasi yang wajib diberikan sebelum menikah. Penyakit Hepatitis B sendiri rentan menular melalui hubungan seksual. Selain itu, penyakit tersebut berpotensi menular melalui kebiasaan memakai barang pribadi


12 secara bersamaan. Karena hal inilah calon pasangan sangat dianjurkan untuk melakukan vaksin ini F. PERSIAPAN FINANSIAL Finansial dalam konteks ini dapat berupa jumlah gaji dan sumber pendapatan lain, pembagian keuangan setelah menikah, dan bekerja setelah menikah. Finansial merupakan salah satu hal yang perlu dipersiapkan karena menjadi hal yang penting dilakukan sebelum memulai bahtera rumah tangga. Seseorang terutama laki-laki sebagai calon kepala rumah tangga tentunya harus memiliki finansial yang stabil untuk menghidupi tak hanya diri sendiri melainkan juga untuk keluarga nantinya. Ukuran keluarga bahagia dan berkualitas memang tidak terpatok pada nominal rupiah. Namun berpikir logis dalam suatu hubungan sangat diperlukan. Roda kehidupan rumah tangga akan terus berjalan, sehingga keperluan mendasar seperti sandang pangan dan papan hingga masa depan seperti biaya anak perlu dipikirkan sebelum pernikahan. 1. Persiapan biaya pernikahan Persiapan yang tekait dengan anggaran biaya sebelum menikah perlu didiskusikan dengan baik antar sesama pasangan yang tentunya hal ini tidak akan memberatkan antara pihak laki-laki maupun pihak perempuan, hal yang perlu dipersiapkan diantaranya adalah biaya mahar atau mas kawin, biaya hantaran, biaya KUA atau kantor urusan agama, biaya cincin kawin, biaya gedung atau venue pernikahan, biaya catering dan dekorasi, biaya rias dan baju pengantin, biaya undangan dan souvenir, serta biaya dokumentasi. Melihat banyaknya hal yang perlu dipersiapkan saat menikah, hal tersebut tidaklah menjadi suatu keharusan untuk dilakukan. Semua yang nantinya terdapat pada acara pernikahan merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak sehingga rincian acara dan kegiatan merupakan hasil final antara kedua belah pihak dan keluarga yang tentunya sesuai dengan kemamuan kedua belah pihak pula. 2. Persiapan biaya setelah menikah


13 Persiapan biaya tidak hanya melulu untuk melangsungkan acar pernikahan saja, sebab kebutuhan hidup terus berjalan sehingga harus ada persiapan setelahnya. Hal yang paling penting dipersiapkan adalah uang dan tabungan. Uang dan tabungan yang dimaksud disini adalah milik kedua belah pihak. Sebelum menikah pasangan harus mendiskusikan hal ini pula, uang milik siapa yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup, untuk sumbangan, untuk tabungan, untuk tagihan dan lainnya, apakah akan menggunakan uang dari penghasilan suami saja atau dari keduanya? Hal ini perlu untuk didiskusikan jauh-jauh hari sebelum pernikahan. Pasangan terutama dari pihak laki-laki umumnya juga sangat disarankan untuk memiliki tabungan, karena tentunya mengikuti fitrahnya laki-laki sebagai pemimpin keluarga hendaknya memiliki tabungan yang dapat digunakan baik sebagai usaha memenuhi cita-cita bersama keluarga ataupun sebagai uang darurat ketika terjadi suatu hal. Misalnya setelah menikah ternyata sang istri langsung hamil, tentu diperlukan tambahan dana selama maupun sesudah kehamilan sang istri. 3. Properti (sandang, pangan, papan). Sebelum menikah tentunya pasangan sangat dianjurkan untuk membahas mengenai hal ini, terutama masalah papan. Sebelum menikah hendaknya kedua pasangan telah memikirkan dimana nantinya mereka akan tinggal, dirumah orang tua? mengontrak? atau membangun bersama terlebih dahulu? Hal ini perlu didiskusikan sebab akan mempengaruhi kenyamanan antar pasangan sesudah menikah dan berkeluarga. Selain itu pasangan tentunya dapat menyinggung hal mengenai pangan ini sebelum menikah, siapakah nanti yang akan bertanggung jawab atas permasalahan pangan, apakah hanya suami atau istri dapat membantu begitupula dalam hal sandang. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar tiap keluarga sehingga baik pria maupun wanita dapat lebih mempersiapkannya yang dapat dilakukan dengan memulai mencari pekerjaan yang baik atau stabil dengan penghasilan yang cukup dan lain sebagainya.


14 G. ORIENTASI MASA DEPAN Pengertian Keluarga Sakinah, Mawaddah dan Rahmah dalam Al-Qur'an Menurut sejumlah pakar, sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui oleh pasangan suami isteri sebelum mencapai kehidupan keluarga sakinah yang dihiasi dengan mawaddah dan rahmah antara lain : 1. Tahap Bulan Madu. Pada tahap ini kedua pasangan benar-benar menikmati manisnya sebuah perkawinan. Mereka sangat romantis, penuh cinta dan senda gurau. Pada tahap ini biasanya digambarkan bahwa masing-masing bersedia melalui kehidupan ini walaupun dalam kemisknan dan kekurangan. 2. Tahap Gejolak. Pada tahap ini mulai timbul gejolak setelah berlalu masa bulan madu. Kejengkelan sudah mulai tumbuh dihati apalagi sudah mulai terlihat sifat-sifat aslinya yang bahwa selama ini disengaja ditutup-tutupi untuk menyenangkan pasangannya. Mereka mulai menyadari bahwa perkawinan ternyata bukan sekedar romantisme, tetapi ada kenyataan- kenyataan baru yang boleh jadi tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pada tahap ini sebuah perkawinan akan terancam gagal dan masing-masing pihak biasanya merasa menyesal karena ia memilih dia sebagai pasangan hidupnya. Namun dengan kesabaran dan toleransi akan mengantarkan pada tahap ketiga. 3. Tahap Perundingan dan Negosiasi. Tahap ini lahir jika masing-masing pihak masih merasa saling membutuhkan. Pada tahap ini mereka sudah mulai mengakui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika mereka berhasil melewati tahap ini, maka akan membawa tahap berikutnya. 4. Tahap penyesuaian. Tahap ini masing-masing pasangan sudah mulai menunjukkan sifat aslinya, sekaligus kebutuhan yang disertai perhatian kepada pasangannya. Dalam tahap ini masing-masing akan saling menunjukkan sikap penghargaan. Mereka juga merasakan kembali nikmatnya menyatu bersama kekasih serta berkorban dan mengalah demi cinta.


15 5. Tahap Peningkatan Kualitas Kasih Sayang. Pada tahap ini masing-masing pasangan sudah menyadari sepenuhnya yang didasarkan pada pengalaman bukan teori bahwa hubungan suami istri memang sangat berbeda dengan segala bentuk hubungan sosial lainnya. Pada tahap ini masing-masing pihak menjadi teman terbaik dalam bercengkrama, berdiskusi serta berbagai pengalaman. Masing-masing pihak juga berusaha untuk melakukan yang terbaik demi menyenangkan pasangannya. 6. Tahap Pemantapan. Pada tahap ini masing-masing pasangan merasakan dan menghayati cinta kasih sebagai realitas yang menetap sehingga sehebat apapun guncangan yang mendera mereka tidak akan menggoyahkan rumah tangganya. Memang riak-riak kecil masih akan tetap ada namun itu akan menghanyutkan. Pada tahap ini mereka benar-benar merasakan cinta sejati. Tahap-tahapan diatas merupakan gambaran umum yang biasa dialami dalam hubungan suami isteri. Hal ini juga bersifat relatif sehingga tidak bisa dikalkulasi secara matematis, misalnya pada tahun pertama, kedua dan seterusnya. Begitu pula urutan ini tidaklah berisifat permanen, tetapi merupakan hasil sebuah penelitian atau ijtihad. Oleh karenanya tidak menutup kemungkinan adanya tahap-tahap lain selain diuraikan diatas. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. a. Pengertian Sakinah Kata Sakinah berasal dari Bahasa Arab yang berarti “Ketenangan hati”. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Sakinah berarti : “Damai, tempat yang aman dan damai”. Sedangkan Mawaddah juga berasal dari Bahasa Arab dari kata wadda- yawaddu-mawaddatan yang berarti “Kasih Sayang” dan Rahmah juga berasal dari Bahasa Arab dari kata rahima-yarhamu-rahmah yang berarti “Mengasihi atau menaruh kasihan” “Belas kasihan atau mengasihi” Keluarga sakinah adalah keluarga yang hidup dalam keadaan tenang, tentram, seia sekata, seohyun selangkah, ada sama dimakan dan kalau tidak ada sama dicari. Kata sakinah ditemukan dalam Al-Qur'an sebanyak enam kali


16 disamping bentuk lain yang seakar dengannya dan secara seluruhnya berjumlah 69. Kata sakinah yang berasal dari kata sakana-yaskunu pada mulanya berarti sesuatu yang tenang atau tetap setelah bergerak (Subutusy-Syai' ba'dat Taharruk). Kata ini merupakan antonim dari idtirab (kegoncangan) dan tidak digunakan kecuali untuk menggambarkan ketenangan dan ketentraman setelah sebelumnya terjadi gejolak apapun latar belakangnya., rumah dikatakan maskan karena ia merupakan tempat untuk istirahat setelah beraktivitas. Sebagaimana dijelaskan dalam surat saba' surat ke-34 ayat 15 dan surat at taubah surat ke-9 ayat 2. b. Pengertian Mawaddah Keluarga mawaddah itu adalah keluarga yang hidup dalam suasana kasih mengasihi, saling membutuhkan, hormat menghormati antara satu dengan yang lain. Kata mawaddah ditemukan sebanyak 8 kali dalam Al-Qur'an . secara keseluruhan dengan kata-kata yang seakar dengannya, semua berjumlah 25. Kata mawaddah berasal dari wadda-yawadda yang berarti mencintai sesuatu dan berharap untuk bisa terwujud (mahabbatusy-syai'n watamanni kaunihi). Menurut Al-Asfahani kata mawaddah bisa dipahami dalam beberapa pengertian berikut ini : 1. Berarti cinta (mawaddah) sekaligus keinginan untuk memiliki (tamanni kaunihi). Antara kedua kata ini saling berkaitan yakni disebabkan adanya keinginan yang kuat akhirnya melahirkan cinta atau karena didorong rasa cinta yang kuat akhirnya melahirkan keinginan untuk mewujudkan sesuatu yang dicintainya. Hal ini bisa dilihat pada firman Allah SWT dalam surat Ar-Rum surat ke 30 ayat 21. Mawaddah sebagai salah satu yang menghiasi perkawinan bukan sekedar cinta sebagaimana kecintaan orang tua kepada anak-anaknya. Sebab rasa cinta disini akan mendorong pemiliknya untuk mewujudkan cintanya sehingga menyatu. Inilah yang tergambar dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang terjalin dalam sebuah perkawinan. Ketika seseorang laki-laki mencintai seorang perempuan, maka ia ingin sekali untuk mewujudkan cintanya dengan memiliki atau menikahinya. Begitu pula sebaliknya ketika seorang perempuan mencintai seorang lakilaki, maka ia sangat menginginkan terwujud cintanya itu dengan menjadi


17 isterinya. Dari sinilah sementara ulama' ada yang mengartikan mawaddah dengan mujaama'ah (bersenggama). 2. Berarti kasih sayang. Hal ini bisa dipahami dari fiman Allah SWT dalam Surat Asy-Syuura Surat ke-42 ayat 23 Artinya : Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Kata mawaddah disini hanya semata-mata mencintai dan menyayangi layaknya dalam hubungan kekerabatan, berbeda dengan cintanya suami dan isteri. Dalam hal ini bentuk cinta dan kasih sayang dengan senantiasa menjaga hubungan kekerabatan agar tidak terputus. c. Pengertian Rahmah Kata rahmah baik sendiri maupun dirangkai dengan kata ganti (dhamir) seperti rahmati dan rahmatuka, ditemukan di dalam Al-Qur'an sebanyak 114 kali. Secara keseluruhan dengan kata-kata lain yang seakar dengannya semuanya 339. Kata rahmah berasal dari rahima-yarhamu yang berarti kasih sayang (riqqah) yakni sifat yang mendorong untuk berbuat kebajikan kepada siapa yang dikasihi. Menurut Al-Asfahaani, kata rahmah mengandung dua arti kasih sayang (riqqah) dan budi baik/murah hati (ihsan). Kata rahmah yang berarti kasih sayang adalah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada setiap manusia. Artinya dengan rahmat Allah tersebut manusia akan mudah tersentuh hatinya jika melihat pihak lain yang lemah atau merasa iba atas penderitaan orang lain. Bahkan sebagai wujud kasih sayangnya seseorang berani berkorban dan bersabar untuk menanggung rasa sakit. Hal ini dapat dilihat pada kasus seorang ibu yang baru saja melahirkan, dimana secara demonstratif ia akan mencium bayinya pada hal sebelumnya ia berada dalam kondisi yang penuh kepayahan dan sakit yang teramat sangat.


18 Keluarga rahmah adalah keluarga yang hubungan antar sesama anggota keluarga tersebut saling menyayangi, mencintai sehingga kehidupan keluarga tersebut diliputi oleh rasa kasih sayang. Walaupan ada 3 suku kata yang berbeda yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah, namun ketiga kata tersebut bukan berarti harus diartikan secara terpisah dan sendiri-sendiri, akan tetapi justru ketiga suku kata tersebut menjadi satu yang dihubungkan dengan kata keluarga. Oleh karena itu, tidak perlu dibedakan mana keluarga sakinah, mana keluarga yang mawaddah dan mana keluarga rahmah, tapi yang lebih tepat adalah sebuah keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Gabungan ketiga suku kata tersebut akan saling melengkapi dan memberikan kesempurnaan. Sehingga dapat diambil pemahaman bahwa yang dimaksud dengan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah adalah : “Keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya secara selaras, serasi serta mampu mengamalkan dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia”Pengertian lain tentang keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah itu adalah : “Keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan dan akhlakul karimah secara sempurna, kebutuhan sosial psikologis dan perkembangannya serta dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya” Untuk mencapai keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah ini tidaklah terbentuk dengan otomatis apabila telah menikah saja, tetapi harus ada upaya yang serius dari kedua suami isteri, terutama harus dapat menempatkan posisi di situasi keluarga dan melaksanakan tugas dan kewajiban secara berimbang pula. H. PERJANJIAN PRA NIKAH 1. Pengertian Perjanjian Pra Nikah Perjanjian pranikah adalah suatu tata aturan yang digunakan untuk mengurus dan mengendalikan harta suami dan istri secara langsung yang dilakukan oleh calon suami istri berdasarkan musyawarah mufakat yang


19 dibuat menjelang perkawinan dan disahkan oleh pihak hukum atau yang berwenang. Berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perjanjianperkawinan menurut Soetojo Prawirohamidjojo ialah perjanjian (persetujuan) yang dibuat oleh calon suami isteri sebelum atau pada saat perkawinan dilangsungkan untuk mengatur akibat-akibat perkawinan terhadap harta kekayaan mereka. 2. Waktu Diadakan Perjanjian Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan. Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak mengikat pihak ketiga. 3. Isi Perjanjian Jika diadakan perjanjian pra nikah, maka akan ada 3 jenis kekayaan, yaitu: 1. Harta persatuan 2. Harta suami pribadi 3. Harta istri pribadi (Anshary,1994:173,174) Di dalam Undang-Undang Perkawinan diatur sesuai pola yang dianut hukum adat maupun Islam yaitu harta bawaan dan harta yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan tetap dikuasai masing-masing suamiistri, sedang yang menjadi harta bersama hanyalah harta benda yang diperoleh selama perkawinan, (Pasal 35 UUP) melalui perjanjian pra nikah suami istri dapat menyimpang dari ketentuan undang-undang perkawinan


20 diatas dan bila dikehendaki dapat membuat perjanjian percampuran harta pribadi, sebagai berikut: a. Seluruh harta pribadi baik yang diperoleh sebelum perkawinan maupun selama perkawinan berlangsung. b. Hanya sebatas pada harta pribadi saat perkawinan dilangsungkan(harta pribadi yang diperoleh selama perkawinan tetap menjadi milik masingmasing pihak). Atau Sebaliknya percampuran harta benda pribadi hanya saat perkawinan berlangsung (harta bawaan /harta pribadi sebelum perkawinan dilangsungkan menjadi milik masing-masing). Isi perjanjian perkawinan itu adalah berupa tata aturan untuk mengurus pengendalian harta kekayaan suami istri secara langsung dilakukan oleh calon suami istri berdasarkan musyawarah mufakat. Sehubungan dengan itu perumusan isi perjanjian diharuskan menjiwai hak dan kewajiban suami istri yang telah diberikan oleh hukum, agama, dan adat. KUH Perdata yang telah mengatur perjanjian pra nikah secara konkrit tidak secara tegas dihapus oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, akan tetapi sebagai pedoman untuk mengadakan perjanjian perkawinan, sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Bab VII Kompilasi Hukum islam. Isi dari perjanjian yang dilarang adalah: 1. Mengurangi hak suami baik sebagai suami maupun kepala (persatuan) rumah tangga,menyimpang dari hak-hak yang timbul dari kekuasaan sebagai orang tua, mengurangi hak-hak yang diperlukan UU kepada yang hidup terlama antara suami istri (pasal 140 KUH Perdata). 2. Melepaskan haknya sebagai ahli waris menurut hukum dalam warisan anak-anaknya atau keturunannya (pasal 141 KUH Perdata). 3. Menetapkan bahwa salah satu pihak menanggung hutang lebih banyak dari pada bagiannya dalam keuntungan (pasal 142 KUH Perdata).


21 4. Konsekuensi Pelanggaran Apabila suatu perjanjian pra nikah yang telah disepakati itu dilanggar oleh salah satu pihak yang turut menyepakatinya, maka secara hukum tidak ada sanksi yang dapat diterapkan kepada pelanggar sebagai konsekuensi atas pelanggaran perjanjian yang telah dilakukan olehnya. Akan tetapi pelanggaran tersebut hanya dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama. Hal ini sebagaimana dalam KHI Pasal 51 yang menyebutkan bahwa: pelanggaran atas perjanjian perkawinan memberikan hak kepada istri untuk meminta pembatalan nikah atau mengajukan sebagai alasan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama. Namun, pasal ini berlaku hanya ketika perjanjian pra nikah yang disepakati dicatatkan oleh notaris dan disahkan secara legal oleh Pegawai Pencatat Nikah. Sehingga dapat dijadikan sebagai alasan dalam mengajukan perceraian. Atau bisa juga masuk ke dalam perkara perdata karena hal tersebut termasuk wanprestasi atau pengingkaran salah satu pihak. I. PERNIKAHAN DALAM ISLAM 1. Hukum Menikah Kendati hukum asal menikah menurut mayoritas pendapat ulama adalah sunnah atau anjuran, namun jika ditinjau berdasarkan keadaan dan niat pelaku (calon pengantin), maka hukum nikah terbagi kepada lima (5) macam, yaitu: wajib, sunah dilakukan, lebih baik ditinggalkan, makruh, dan haram (Fath al-Mu’in: 44- 46). Penjelasan masing-masing hukum dapat dilihat dalam deskripsi berikut: 1. Wajib menikah Hukum nikah yang pertama adalah wajib. Kewajiban nikah diperuntukkan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menikah dan punya keinginan kuat untuk menyalurkan gairah seksualnya (tidak bisa ditahan-tahan lagi) sehingga dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Kemampuan menikah maksudnya mampu untuk memberikan nafkah, yang terdiri dari mahar, sandang,


22 pangan dan papan. Jika seseorang berada pada posisi ini, maka ia wajib menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. ● Sunnah menikah Hukum nikah yang kedua adalah sunnah. Kesunahan nikah diperuntukkan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menikah, mau, dan punya keinginan untuk menyalurkan gairah seksualitas, namun tidak sampai pada taraf dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam kemaksiatan. Jika seseorang berada pada posisi ini, maka ia disunnahkan untuk segera menikah. ● Lebih baik ditinggalkan Hukum nikah yang ketiga adalah lebih baik ditinggalkan. Hukum ini berlaku bagi orang yang berkeinginan untuk menyalurkan gairah seksualitas namun tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi. Orang yang berada pada posisi ini sebaiknya menunda keinginan menikah hingga ia mampu. Adapun gairah seksualitasnya bisa dikurangi dengan berpuasa atau berolahraga dengan rutin. ● Makruh menikah Hukum menikah yang keempat adalah makruh. Hukum ini berlaku bagi seseorang yang memang tidak menginginkan nikah, entah karena perwatakannya demikian, ataupun karena suatu penyakit. Pada saat yang sama, ia juga tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi istri dan keluarganya. Jika dipaksakan menikah, dikhawatirkan ia tidak dapat menunaikan hak dan kewajibannya dalam pernikahan atau bahkan malah dapat merugikan pasangannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. ● Haram menikah Hukum menikah yang kelima adalah haram. Keharaman nikah berlaku bagi orang yang menikah dengan tujuan menyakiti atau tujuan-tujuan lain yang melanggar ketentuan agama. Misalnya, jika ada orang yang berkeinginan kuat


23 (berniat) untuk menyakiti dan menyiksa pasangan dalam pernikahan, maka ia diharamkan untuk menikah. Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa hukum menikah tergantung keadaan dan niat pelaku (calon pengantin). Keadaan dan niat ini dapat ditinjau dan diresapi oleh masing-masing individu. 2. Menikah itu mudah (syarat menikah menurut islam) Terdapat 5 rukun nikah yang disepakati ulama dan wajib dipenuhi agar pernikahan dinyatakan sah, yakni: ● Terdapat calon pengantin laki-laki dan perempuan yang tidak terhalang secara syar'i untuk menikah ● Ada wali dari calon pengantin perempuan ● Dihadiri dua orang saksi laki-laki yang adil untuk menyaksikan sah tidaknya pernikahan ● Diucapkannya ijab dari pihak wali pengantin perempuan atau yang mewakilinya ● Diucapkannya kabul dari pengantin laki-laki atau yang mewakilinya. Persaksian akad nikah tersebut berdasarkan dalil hadits secara marfu: "Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil." (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa`i). Syarat Nikah Pernikahan harus memenuhi unsur sebagai berikut: 1. Beragama Islam Syarat calon suami dan istri adalah beragama Islam serta jelas nama dan orangnya. Bahkan, tidak sah jika seorang muslim menikahi non muslim dengan tata cara ijab kabul Islam. 2. Bukan mahram


24 Bukan mahram menandakan bahwa tidak terdapat penghalang agar perkawinan bisa dilaksanakan. Selain itu, sebelum menikah perlu menelusuri pasangan yang akan dinikahi. Misalnya, sewaktu kecil dibesarkan dan disusui oleh siapa. Sebab, jika ketahuan masih saudara sepersusuan maka tergolong dalam jalur mahram seperti nasab yang haram untuk dinikahi. 3. Wali nikah bagi perempuan Sebuah pernikahan wajib dihadiri oleh wali nikah. Wali nikah harus laki-laki, tidak boleh perempuan merujuk hadis: "Dari Abu Hurairah ia berkata, bersabda Rasulullah SAW: 'Perempuan tidak boleh menikahkan (menjadi wali)terhadap perempuan dan tidak boleh menikahkan dirinya." (HR. ad-Daruquthni dan Ibnu Majah). Wali nikah mempelai perempuan yang utama adalah ayah kandung. Namun jika ayah dari mempelai perempuan sudah meninggal bisa diwakilkan oleh lelaki dari jalur ayah, misalnya kakek, buyut, saudara laki-laki seayah seibu, paman, dan seterusnya berdasarkan urutan nasab. Jika wali nasab dari keluarga tidak ada, alternatifnya adalah wali hakim yang syarat dan ketentuannya pun telah diatur. 4. Dihadiri saksi Syarat sah nikah selanjutnya adalah terdapat minimal dua orang saksi yang menghadiri ijab kabul, satu bisa dari pihak mempelai wanita dan satu lagi dari mempelai pria. Mengingat saksi menempati posisi penting dalam akad nikah, saksi disyaratkan beragama Islam, dewasa, dan dapat mengerti maksud akad. 5. Sedang tidak ihram atau berhaji Jumhur ulama melarang nikah saat haji atau umrah (saat ihram), merujuk Islami.


25 Hal ini juga ditegaskan seorang ulama bermazhab Syafii dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib yang menyebut salah satu larangan dalam haji adalah melakukan akad nikah maupun menjadi wali dalam pernikahan: و( الثامن )عقد النكاح( فيحرم على المحرم أن يعقد النكاح لنفسه أو غيره، بوكالة أو والية ) "Kedelapan (dari sepuluh perkara yang dilarang dilakukan ketika ihram) yaitu akad nikah. Akad nikah diharamkan bagi orang yang sedang ihram, bagi dirinya maupun bagi orang lain (menjadi wali)" 6. Bukan paksaan Syarat nikah yang tak kalah penting adalah mendapat keridhoan dari masingmasing pihak, saling menerima tanpa ada paksaan. Ini sesuai dengan hadis Abu Hurairah ra: "Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah atau dimintai pendapat, dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya." (HR Al Bukhari: 5136, Muslim: 3458). J. AKIBAT MENIKAH TANPA PERSIAPAN 1. Masalah keuangan Mengharapkan cinta semata setelah pernikahan tidaklah cukup. Setiap pasangan memerlukan sumber daya keuangan untuk menjalani kehidupan bersama. Jika hal ini tidak dipersiapkan sebelumnya, maka rumah tangga dapat terjerumus ke dalam masalah. Banyak perselisihan yang terjadi karena masalah keuangan, yang seringkali disebabkan oleh kebutuhan yang tidak terpenuhi. Menurut penelitian yang dilakukan Urip Tri Wijayanti dengan judul Analisis Faktor Penyebab Perceraian Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Kabupaten Banyumas, pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sebanyak 69,7% mengungkapkan bahwa alasan utama yang melatarbelakangi terjadinya perceraian yaitu faktor ekonomi. Oleh


26 sebab itu menyiapkan dana sebelum pernikahan sangatlah penting demi mencegah hal yang tidak diinginkan. Belum lagi jika pasangan menikah namun tetap menerapkan gaya hidup konsumtif, seperti sering berbelanja dan membeli barang-barang yang tidak diperlukan. Perlu diingat bahwa dalam pernikahan, penting untuk memiliki keterampilan manajemen keuangan yang baik agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan bahagia. 2. Keegoisan Menurut (Nina Munawara, Muhammad Hasan, 2021) keegoisan menjadi salah satu faktor penyebab perceraian pada pernikahan dini di Pengadilan Agama Kelas I-B Sambas secara psikologis. Ketika pasangan belum bisa mengontrol emosi masingmasing, maka akan timbul lebih banyak pertengkaran, jika pertengkaran terjadi dan pasangan masih bersikap saling egois maka pertengkaran tidak pernah mereda. Apabila kedua belah pihak pasangan masih memiliki tingkat kedewasaan mental yang sama dan belum siap untuk menikah, maka tidak mengherankan jika persiapan mental menjadi prioritas utama dalam pernikahan. Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan kenyamanan dalam menjalani kehidupan berumah tangga. 3. Terdapat campur orang ketiga dalam urusan rumah tangga Bukan tidak mungkin jika suatu saat banyak orang terlibat dalam hubungan pernikahan. Orangtua, teman, dan kerabat juga akan terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan dan membicarakan masa depan pernikahan sebelum menikah. Jika ada masalah, sebaiknya dijaga kerahasiaannya. Kehadiran orang ketiga, baik dengan maksud membantu rumah tangga atau tidak, dapat mengganggu privasi pasangan dan akhirnya dapat membuat semuanya menjadi berantakan. 4. Rentan terjadi perceraian Kini, perceraian tidak lagi dihindari, melainkan menjadi kenyataan yang mungkin akan dihadapi. Masalah terus menghampiri rumah tangga sehingga pasangan


27 merasa tak mampu lagi menghadapinya. Memilih untuk bercerai adalah keputusan yang diyakini benar. Rumah tangga yang dibangun bersamanya akan berakhir sia-sia jika setiap pasangan tidak mempersiapkannya dengan baik sejak awal, hanya karena terpengaruh dengan teman-teman yang sudah menikah. Jika rumah tangga gagal, hanya penyesalan yang akan tersisa.


28 DAFTAR PUSTAKA https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13859/Kartini-dan-KesetaraanGender-No-One-LeftBehind.html#:~:text=Keadilan%20dan%20kesetaraan%20gender%20di,kau m%20perempuan%20pada%20masa%20itu Nina Munawara, Muhammad Hasan, A. (2021). Faktor-Faktor Penyebab Perceraian Pada Pernikahan Dini di Pengadilan Agama Kelas I-B Sambas. Al-Usroh, 1(34), 19429–19440. Putri. (2021). 5 Hal yang Akan Kamu Alami jika Menikah Tanpa Persiapan Sama Sekali. IDN Times. https://www.idntimes.com/life/relationship/putri-rahayu2/5-hal-yang-dialami-jika-menikah-tanpa-persiapan-c1c2 Restu. (2022). Pernikahan Menurut Pandangan Islam: Tujuan, Pengertian, Syarat Sah. Gramedia. https://www.gramedia.com/best-seller/pernikahan-menurutpandangan-islam/#1_Melaksanakan_Perintah_Allah Saputri, M.,N.,A. (2020). 10 Pedoman Sebelum Menikah: Persiapkan Fisik, Finansial, dan Mental. Diakses dari: tirto.id. Sinaga M.,H.,P. Buku Saku: Persiapan Pernikahan Islami. Gramedia Update, B. (2022). Makna Surat An Nur Ayat 32 dalam Kitab Suci Alquran. Kumparan. https://kumparan.com/berita-update/makna-surat-an-nur-ayat32-dalam-kitab-suci-alquran-1xnX1v8OT6w/full Wijayanti, U. T. (2021). Analisis Faktor Penyebab Perceraian pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Banyumas. Jurnal Ilmu Keluarga Dan Konsumen, 14(1), 14–26. https://doi.org/10.24156/jikk.2021.14.1.14 Wijono, S. E. (2020). Persiapan Mental yang Harus Dilakukan Jelang Pernikahan


29 BAB 2 MENJADI ORANG TUA A. Pengertian dan Jenis Orang Tua Orangtua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Orangtua adalah dua individu yang berbeda memasuki hidup bersama dengan membawa pandangan, kebiasaan sehari-hari. Orangtua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu (Sulastri & Ahmad Tarmizi, 2017). Adapun dalam Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak yang dimaksud orang tua adalah ayah dan/ atau ibu kandung, atau ayah dan/ atau ibu tiri, atau ayah dan/ atau ibu angkat. Terdapat 2 prinsip peran keluarga atau orang tua, antara lain: a. Sebagai modelling Definisi role model adalah seseorang yang memberikan teladan dan berperilaku yang bisa diikuti oleh orang lain. Role model bisa diartikan juga dengan seseorang yang terhormat, kelompok, atau membayangkan bahwa seseorang mencoba meniru dalam menghadapi kehidupan. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modeling, karena modeling bukan sekedar meniru atau mengulangi apa yang dilakukan orang model (orang lain), tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku seseorang yang telah diamati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif. Orang yang diamati disebut model, dan proses belajar observasional ini juga dikenal dengan “modelling” (pemodelan) (Pervin, dkk., 2015) b. Sebagai mentoring


30 Orang tua adalah mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan, memberikan kasih sayang secara mendalam baik secara positif maupun negatif, memberikan perlindungan sehingga mendorong anak untuk bersikap terbuka dan mau menerima pengajaran. Selain itu orang tua menjadi sumber pertama dalam perkembangan perasaan anak yaitu rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci (Jember, 2005). Orang tua adalah pendidik kodrati, pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrati ibu dan ayah diberi anugerah berupa naluri orang tua. Orang tua adalah guru yang paling utama dan yang pertama memberikan pendidikan kepada anaknya dan bertanggung jawab penuh terhadap proses pertumbuhan. Orang tua berperan sebagai pendidik sebab dalam pekerjaannya tidak hanya mengajar, tetapi juga melatih keterampilan anak, terutama sekali melatih sikap mental anak. Maka dalam hal ini, orang tua harus dan mampu bertanggung jawab untuk menemukan bakat dan minat anak, sehingga anak diasuh dan dididik, baik langsung oleh orangtua atau melalui bantuan orang lain, seperti guru, sesuai dengan bakat dan minat anak sendiri, sehingga anak dapat memperoleh prestasi belajar secara lebih optimal. Terdapat 4 jenis pola asuh orang tua yang memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Pola asuh yang diterapkan dengan cara yang tepat tentunya akan memberi dampak baik bagi kepribadian anak, pun sebaliknya. Inilah mengapa setiap orang tua ataupun pasangan yang akan menikah perlu memahami berbagai konsep parenting style dan efeknya terhadap anak. Berikut empat jenis pola asuh, yaitu otoritatif, otoriter, permisif, dan neglectful. Berikut masing-masing penjelasannya. a. Pola Asuh Otoritatif Pola asuh otoritatif dikenal juga dengan pola asuh demokratis. Jenis pengasuhan ini mengutamakan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Orang tua dengan pola asuh otoritatif selalu berusaha untuk mendukung, responsif, mendengarkan sudut pandang anak, dan menciptakan rasa kesadaran pada anak dengan menjelaskan setiap aturan secara bijak. Menerapkan pola asuh otoritatif


31 memberikan ruang bagi anak dan orang tua untuk lebih banyak berdiskusi satu sama lain. Namun, di sisi lain orang tua juga tetap memberikan batasan yang tegas terhadap anak serta mendorongnya untuk bersikap mandiri. Pengaruh pola asuh otoritatif terhadap anak di antaranya: ● Mampu berinteraksi dengan baik. ● Mudah bekerjasama dengan orang lain. ● Cenderung tidak menunjukkan kekerasan. ● Cenderung dapat mencapai keberhasilan dalam bidang akademik. ● Dapat mengendalikan diri dengan baik. ● Memiliki keterampilan sosial yang bagus. ● Memiliki kesehatan mental yang baik. b. Pola Asuh Otoriter Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter memiliki kontrol sangat tinggi terhadap anak, sedangkan tingkat responsifnya cukup rendah. Pola asuh ini hanya mengutamakan komunikasi satu arah melalui berbagai larangan dan perintah secara ketat. Tak jarang orang tua dengan pola asuh otoriter memberikan hukuman atau menerapkan disiplin keras untuk mengendalikan perilaku anak, seperti memberikan hukuman fisik. Yang mana, hal tersebut tentu berisiko mempengaruhi kesehatan mental anak. Beberapa dampak dari pola asuh orang tua yang otoriter terhadap anak adalah: ● Anak selalu takut salah. ● Sulit mengambil keputusan sendiri. ● Rentan memiliki masalah mental. ● Tidak berani mengemukakan pendapat. ● Cenderung kesulitan mencapai nilai akademik yang memuaskan. ● Merasa rendah diri dan tidak mandiri.


32 ● Sering menunjukkan banyak masalah dalam berperilaku, contohnya berbohong. c. Pola Asuh Permisif Orang tua dengan pola asuh permisif cenderung memprioritaskan kenyamanan anak, sehingga mereka akan bersikap layaknya teman kepada anak. Anak yang menerima pola asuh ini juga jarang mendapatkan aturan yang ketat atau hukuman. Namun di sisi lain, orang tua menjadi lemah terhadap setiap keinginan anak. Sehingga mereka tidak bisa mengatakan “tidak” dan cenderung memanjakan anaknya. Akibatnya, anak tidak memahami batasan yang jelas dan cenderung menunjukkan beberapa sifat berikut ini ketika dewasa: ● Impulsif dan agresif. ● Tidak mandiri. ● Memiliki kontrol diri yang kurang baik. ● Cenderung egois dan mendominasi. ● Tidak memiliki tujuan. ● Tidak dapat mengikuti aturan. ● Berisiko lebih besar menghadapi masalah dalam hubungan dan interaksi sosial. d. Pola Asuh Neglectful Karakteristik pola asuh neglectful di antaranya, tidak memberikan batasan yang tegas terhadap anak, tidak memperhatikan kebutuhan anak, bahkan enggan terlibat dalam kehidupan anak. Singkatnya, gaya pengasuhan ini ditandai dengan orang tua yang bersikap acuh. Ada berbagai faktor yang dapat mendasari orang tua menerapkan pola asuh ini, salah satunya adalah masalah kesehatan mental, misalnya orang tua yang mengalami depresi, menjadi korban pelecehan/kekerasan, atau pernah diabaikan semasa anak-anak sehingga mereka menerapkan hal yang sama pada anaknya. Sejumlah dampak pola asuh neglectful terhadap pertumbuhan anak di antaranya: ● Kurang percaya diri.


33 ● Tidak mampu mengatur emosi sendiri. ● Memiliki risiko lebih besar terkena gangguan mental. ● Cenderung merasa rendah diri. ● Lebih impulsif. ● Terlihat tidak bahagia. Setiap jenis pola asuh orang tua menggunakan pendekatan yang berbeda dalam membesarkan anak, tentu saja masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangan. Gaya pengasuhan yang paling banyak direkomendasikan adalah jenis pola asuh otoritatif. Pasalnya, anak-anak yang memiliki orang tua berwibawa (otoritatif), kemungkinan besar bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dapat mengungkapkan pendapat serta perasaan mereka secara baik. Penerapan pola asuh orang tua terhadap anak akan berimbas pada perkembangan dan bagaimana sang anak bersikap terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, pemilihan pola asuh juga berdampak pada berbagai bidang kehidupan anak di masa sekarang ataupun masa depan, di antaranya: ● Akademik: Pola asuh orang tua dapat berdampak pada pencapaian akademik dan motivasi anak dalam belajar. ● Kesehatan mental: Pola asuh juga bisa mempengaruhi kesejahteraan mental anak, di mana anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang cenderung otoriter, permisif, dan acuh (neglectful) berisiko lebih tinggi mengalami gangguan, cemas, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya. ● Harga diri: Anak-anak yang dididik dengan pola asuh otoriter cenderung memiliki harga diri lebih kuat daripada anak yang dibesarkan dengan gaya asuh lainnya. ● Hubungan sosial: Jenis pola asuh juga dapat memengaruhi cara anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Contohnya, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif akan cenderung ditindas. Sebaliknya, anak yang mendapatkan pola asuh otoriter berpotensi menindas orang lain.


34 ● Hubungan saat dewasa: Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tegas dan otoriter lebih mungkin melakukan kekerasan emosional atau cenderung mengekang pasangan ketika menjalani hubungan romantis saat dewasa. B. Latar Belakang Pendidikan Orang Tua Pendidikan orang tua atau parenting diterjemahkan bebas sebagai membesarkan atau pengasuhan. Pengasuhan mengacu pada aspek membesarkan anak yang tidak hanya berhubungan dengan aspek biologis (Davies, 2000). Dari pengertian ini, pendidikan orang tua mempunyai makna pembelajar atau orang yang mengajar, yaitu orang tua berperan serta dalam pengajaran anaknya agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain mempunyai makna pengajaran, orang tua juga mempunyai makna sebagai pembelajar atau orang yang belajar atau diajar. Dalam hal ini orang tua diposisikan sebagai objek atau sasaran dalam program pendidikan orang tua, mereka harus belajar untuk dapat menjadi orang tua yang mampu dan terampil dalam mendampingi dan mengantarkan anaknya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik dari segi fisik, emosional, sosial, keuangan, dan intelektual di masa dewasanya. Dari penjelasan di atas yang dimaksudkan dengan pendidikan orang tua adalah program atau upaya pendidikan yang diperuntukkan bagi orang tua agar menjadi orang tua yang mampu dan terampil dalam mendidik anak-anaknya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dalam aspek fisik, emosional, sosial, keuangan, dan intelektual. Hal tersebut sesuai dengan rumusan konseptual yang dibuat Widodo dkk. (2015). Rumusan operasional tentang pendidikan orang tua juga dibuat oleh mereka yang menyatakan bahwa orang tua dikatakan mampu dan terampil dalam mendidik anaknya jika mereka melakukan pengasuhan terhadap anaknya secara baik yang meliputi: 1) pengasuhan saat kehamilan dan menjelang kelahiran; 2) pengasuhan pada masa anak baru lahir dan masa bayi; 3) pengasuhan masa Balita mencakup; 4) pengasuhan masa anak-anak; 5) pengasuhan pada masa remaja; dan 6) pengasuhan pada masa dewasa (Widodo, dkk., 2015).


35 Program pendidikan orang tua juga disebut pendidikan orang dewasa, karena itu sudah sewajarnya jika penyampaian materi pembelajarannya dilakukan selayaknya pendidikan orang dewasa. Di dalam pendidikan orang dewasa atau andragogi lebih dimaknai sebagai “the art and science of helping adult learn” (ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar). Pendidikan orang dewasa tidak lagi sekedar transformasi pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan mengembangkan keterampilan sebagai wujud proses pembelajaran sepanjang hayat (life long education). Orang dewasa adalah orang yang telah memiliki banyak pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan kemampuan mengatasi permasalahan hidup secara mandiri (Sujarwo, 2015). Oleh karena itu, Budiwan J. (2018) mengingatkan bahwa pendidikan orang dewasa tidak akan berkembang apabila meninggalkan ide dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Dia juga menyarankan untuk para pengambil kebijakan dalam pembelajaran orang dewasa agar memberikan pertimbangan holistik ke arah pengembangan keterampilan dan peningkatan sumber daya orang dewasa yang berkualitas. Orang tua di Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengasuh anak. Tuntutan untuk meningkat tersebut tidak hanya dikarenakan semakin besarnya kebutuhan anak, tetapi juga karena semakin rumitnya kehidupan anak secara fisik dan psikis seiring dengan bertambahnya usia, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus meningkat. Orang tua, yakni ayah dan ibu dituntut untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai orang tua. Jika ada keluarga yang beranggapan bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab istri, maka keluarga tersebut perlu mendapat peringatan sedini mungkin bahwa keluarganya dalam keadaan bahaya (Asy-Syantut Khalid Ahmad 2005). Jadi pendidikan orang tua dituntut untuk memenuhi atau meningkatkan kapasitas orang tua dalam pengasuhan anak yang semakin hari semakin besar dan rumit serta disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.


36 C. Peran Ayah dan Ibu Menurut John Locke, anak yang baru lahir dapat diibaratkan sebagai kertas putih yang masih kosong (Sudirjo dalam Parhan & Kurniawan (2020)). Karena hal inilah, anak dapat dibentuk sesuai dengan pola pendidikan yang diberikan orang tuanya. Dengan kata lain, peran orang tua sangat penting dalam kehidupan anak. Tidak hanya ibu saja, ayah juga harus ikut andil dalam hal ini. Di dalam Al-Quran peran seorang ayah tidak hanya mencari nafkah dan bekerja saja tetapi juga ikut memberikan pendidikan berupa nilai-nilai dan moral, sedangkan seorang ibu mengenai pengasuhan (Zarman dalam Parhan & Kurniawan (2020)). Ketidakterlibatan peran ayah akan mempengaruhi kehidupan anak. Pemahaman anak akan sosok laki-laki akan kabur. Anak laki-laki yang lebih dekat dengan sosok ibu dan renggang dengan sosok ayah, akan membuat identifikasi anak laki-laki tersebut lebih kuat kepada figur kewanitaan. Selain itu, tidak menutup kemungkinan juga anak lakilaki akan mencari laki-laki lain sebagai pasangan seksualnya. Anak perempuan yang besar tanpa sosok ayah juga akan berdampak di kehidupannya di masa depan. Mereka akan merasa kebutuhan yang luar biasa terhadap penegasan pria akan keberadaan dirinya dan cenderung melemparkan dirinya kepada laki-laki (Elia, 2000). Gary J. Oliver dalam Elia (2000) mengemukakan 7 masalah utama yang terjadi pada anak dalam kasus ini, yakni 1) identitas yang tidak lengkap; 2) ketakutan yang tidak teratasi; 3) kemarahan yang tidak terkendali, 4) depresi yang tidak terdiagnosa; 5) perjuangan melawan kesepian; 6) kesalahpahaman seksualitas; 7) kegagalan dalam pemecahan masalah. Lantas bagaimana peran ayah untuk mendidik anaknya? Richard C. Halverson dalam Hermaini, dkk (2014) berpendapat bahwa ayah bertanggung jawab atas tiga tugas utama. Pertama, ayah haruslah mengajar anaknya tentang Tuhan dan mendidik anaknya mengenai ajaran agama.


37 Kedua, seorang ayah haruslah mengambil peran sebagai pimpinan dalam keluarganya. Ketiga, ayah haruslah bertanggung jawab atas disiplin. Lamb,dkk dalam Palkovits dalam Hidayati, dkk (2012) membagi keterlibatan ayah dalam 3 komponen yaitu: 1) Paternal engagement: pengasuhan yang melibatkan interaksi langsung antara ayah dan anaknya, misalnya lewat bermain, mengajari sesuatu, atau aktivitas santai lainnya; 2) Aksesibilitas atau ketersediaan berinteraksi dengan anak pada saat dibutuhkan saja. Hal ini lebih bersifat temporal; serta 3) Tanggung jawab dan peran dalam hal menyusun rencana pengasuhan bagi anak. Tidak kalah penting, seorang ibu merupakan madrasah pertama dan utama bagi anak. Seorang ibu yang mengajarkan anaknya dari dalam kandungan, lalu dilanjut mendidik anak mengenai kebiasaan-kebiasaan seperti doa sebelum makan, mengenalkan agama jika islam mengenai iman dan penciptanya, mengajarkan ketika anak mulai haid atau mimpi basah (Parhan & Kurniawan (2020)). Ibu adalah seorang wanita yang melahirkan dan membesarkan anakanaknya. Ibu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan anakanak dan dalam menjalankan tugas-tugas sehari-hari di rumah tangga. Berikut adalah beberapa peran yang dapat dimainkan oleh seorang ibu: 1. Memberikan perawatan fisik dan emosional: Ibu adalah sumber utama perawatan fisik dan emosional bagi anak-anaknya. Ibu memberikan makanan, kebersihan, perawatan kesehatan, dan memberikan kasih sayang yang mendalam kepada anak-anaknya. 2. Pendidikan dan pengembangan anak: Ibu berperan dalam mengajarkan nilai-nilai, keterampilan, dan pengetahuan kepada anakanaknya. Ibu membantu anak-anak dalam memahami dunia, mengembangkan kreativitas, dan mencapai potensi mereka. 3. Memberikan rasa aman dan perlindungan: Ibu adalah figur yang memberikan rasa aman dan perlindungan kepada anak-anaknya. Ibu


38 melindungi anak-anak dari bahaya, mengajarkan tentang keamanan, dan membantu mereka mengatasi ketakutan dan kecemasan. 4. Pengelola rumah tangga: Ibu sering kali bertanggung jawab dalam mengelola rumah tangga, termasuk mengatur keuangan, memasak, membersihkan rumah, dan mengatur jadwal kegiatan keluarga. 5. Menjadi teladan: Ibu merupakan model peran bagi anak-anaknya. Ibu dapat mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan perilaku yang baik melalui tindakan dan sikap mereka sehari-hari. 6. Membangun hubungan yang kuat: Ibu berperan dalam membangun ikatan yang kuat dengan anak-anaknya melalui interaksi, komunikasi, dan kebersamaan. Hubungan ini memberikan dasar yang kokoh untuk perkembangan sosial dan emosional anak-anak. Penting untuk diingat bahwa peran-peran ini tidak bersifat kaku dan dapat berbeda-beda tergantung pada dinamika keluarga dan peran individu. Setiap ibu memiliki cara unik dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya, dan penting untuk menghormati perbedaan tersebut. D. Bagaimana Menjadi Orang Tua 1) Mendidik sejak dalam kandungan Menurut KBBI mendidik merupakan memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Seperti yang diketahui, masa kanak-kanak merupakan masa dimana anak dapat dengan mudah merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungannya. Akan tetapi apakah mendidik hanya bisa dilakukan sesudah anak lahir? Mungkin masih banyak para orangtua yang belum tahu bahwa anak dalam kandungan sudah dapat dididik.


39 Ya betul, mendidik anak bisa diberikan saat anak masih dalam kandungan. F. Rene van de Carr, M.D dkk dalam Kusrinah (2013) menyatakan bahwa: 1. Dimulai pada sekitar usia lima bulan sebelum dilahirkan dan berlanjut hingga dua tahun, ada suatu masa kritis dalam perkembangan bayi, dimana stimulasi otak dan latihan-latihan intelektual dapat meningkatkan kemampuan bayi. 2. Mendidik sejak dalam kandungan dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan. 3. Bayi-bayi yang mendapatkan stimulasi pralahir atau didikan sejak dalam kandungan, setelah dilahirkan mereka dapat lebih mampu mengontrol gerakan-gerakan serta lebih siap menjelajahi dan mempelajari lingkungan. 4. Para orang tua yang telah berpartisipasi dalam program pendidikan pralahir menggambarkan anak mereka lebih tenang, waspada, dan bahagia. Kusrinah (2013) menyebutkan tujuan dari mendidik anak sejak dalam kandungan ialah: 1) Dapat melatih kecenderungan anak akan nilai-nilai yang direfleksikan, mengenai ajaran agama, sosial-budaya, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tuanya; 2) Membangun prakesadaran bahasa dan komunikasi; 3) Melatih kekuatan dan potensi fisik dan psikis anak dalam kandungan; serta 4) Meningkatkan konsentrasi, kepekaan dan kecerdasan anak dalam kandungan. Mendidik anak yang sudah lahir bukanlah pekerjaan yang mudah, begitu juga mendidik anak yang belum lahir. Dengan waktu yang hanya 9 bulan, orang tua harus mengupayakan waktu tersebut dengan efektif dan efisien. Pendidikan yang dapat diberikan pada anak yang belum lahir hanyalah berupa rangsangan dan stimulus yang pedagogik (Rusdiana Hamid & M.


40 Noor Fuady, 2012). Kasih sayang, doa, serta memberi nafkah yang halal dan baik menjadi hal penting dalam mendidik anak sejak dalam kandungan. Anak merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Suatu rezeki yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Seperti yang tertuang dalam surah alKahfi ayat 46 dan surah al-Furqan ayat 74, anak merupakan perhiasan, nikmat, dan penyenang hati dalam hidup orang tuanya. Dengan demikian, sudah seharusnya para orang tua menumbuhkan rasa memelihara, mengasihi, menyayangi, dan memperhatikan anak. Kasih sayang dapat memberikan efek yang besar ke anak, baik yang sudah lahir ataupun yang masih dalam kandungan. Anak dalam kandungan akan merasa aman, tenteram, dan merasa kehadirannya diterima oleh orang tuanya. Memohon dan berserah diri kepada sang pencipta menjadi salah satu usaha agar anak dalam kandungan memiliki kepribadian yang baik. Selain itu, nafkah yang diberikan kepada anak yang diperoleh dengan cara yang baik menjadi salah satu bentuk harapan orang tua kepada anaknya, agar kelak mereka menjadi manusia yang berperilaku baik. Rene van de Carr dan Marc Lehrer dalam Chaeruddin B. (2015) mengemukakan langkah-langkah mendidik anak sejak dalam kandungan antara lain sebagai berikut: 1. Memperdengarkan kata tertentu kepada bayi dalam kandungan, seperti kata tepuk, usap, belai dan sebagainya. Contoh lainnya, seperti kata Allah, bismillah, alhamdulillah, dan masih banyak lagi, dapat ditanamkan juga kepada bayi dalam kandungan apabila beragama Islam. 2. Memperdengarkan kalimat sederhana, seperti mama usap perut, papa usap kaki, dan lain-lain. Saat mengucapkan kalimat tersebut, orang tua bisa sambil memperagakan gerakannya. Kalimat seperti alhamdu lillahi rabbil alamin, astagfirullah al adzim, syukur alhamdulillah,


41 Muhammad Rasulullah, juga bisa diperkenalkan ke bayi dalam kandungan. 3. Bercerita dan bernyanyi dengan cara sedikit membesarkan suara. Bercerita dan bernyanyi yang ditujukan kepada orang-orang yang ada di sekitar ibu, misalnya di samping suami, anak-anak, tetangga dan kerabat lain yang ada dalam rumah tangga. Ditemukan dalam beberapa penelitian bahwa bercerita dan bernyanyi sangat berpengaruh terhadap perkembangan bayi dalam kandungan. Bagi umat Islam dapat memilih cerita dan nyanyian yang bisa membentuk anak berakhlak mulia dan menanamkan/meningkatkan iman kepada Allah swt. Bahan cerita dapat diambil dari cerita nabi/rasul, sahabat nabi, cerita yang dibuat oleh ibu/ayah, dan lain-lain. 4. Memperkenalkan anak dalam kandungan pada konsep angka dan hitungan, seperti tepuk satu kaki, usap tiga kali, dan lain-lain. Cara ini juga dapat diterapkan untuk pendidikan agama Islam, seperti Allah satu, rukun Islam lima, rukun iman enam. 2) Menjaga kesehatan mental sebagai Orang Tua Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, rasa takut, cemas dan gelisah akan selalu ada dalam setiap hal yang dilakukan khususnya yang berkaitan dengan buah hatinya. Rasa takut sebagai orang tua sebenarnya tetap diperlukan untuk mengantisipasi dan mengatur strategi serta konsekuensi dalam praktik pengasuhan tetapi ketika orang tua diliputi oleh terlalu banyak rasa takut hal itu justru dapat membawa para orang tua pada pengasuhan yang didorong oleh rasa takut. Akibatnya, orang tua akan merasa lebih terdorong untuk mengontrol sang anak, menyalahkan anak ketika perilakunya tidak seperti yang diharapkan, bahkan dapat menyalahkan dirinya sendiri.


42 Kondisi yang paling umum dialami oleh orang tua ialah memberikan tuntutan yang besar kepada dirinya sendiri selama menjalankan proses pengasuhan. Saat situasi yang mereka hadapi tidak sesuai harapan atau gagal, orang tua dapat menyalahkan dan mengkritik dirinya sendiri, hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Padahal, bagi orang tua memiliki mental yang sehat adalah salah satu hal yang sangat penting dalam mendidik dan mengasuh anak agar dapat memiliki mental yang sehat juga. Sebagai seorang orang tua, menjaga kesehatan mental sangat penting untuk memastikan kesejahteraan keluarga. Cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri ialah dengan melakukan praktik welas asih pada diri sendiri yang juga dikenal sebagai self-compassion. Self-compassion ialah kemampuan diri dalam memberikan pemahan dan kebaikan kepada diri sendiri (self kindness) saat sedang dihadapkan oleh suatu tantangan, masalah atau kesulitan tanpa perlu mengkritik maupun menghakimi diri sendiri dengan berlebihan. Apabila seseorang dapat menerima dirinya dengan apa adanya dan ingin belajar untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik (self kindness) maka selfcompassion dapat meningkatkan kesejahteraan (well being) terkhusus pada dimensi pertumbuhan pribadi (personal growth) (Neff dalam Renggani dan Widiasavitri, 2020). Beberapa jurnal penelitian menyatakan bahwa melatih selfcompassion mampu membantu mengurangi tingkat kecemasan, mengurangi kebiasaan mengkritik diri sendiri, dan secara positif meningkatkan kesejahteraan orang tua. Orang tua yang mempraktekkan self-compassion bisa lebih tenang dan objektif dalam menghadapi sebuah situasi karena ia lebih mampu memperhatikan anaknya dan lebih tanggap terhadap kebutuhan anaknya. Selain itu juga terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam menjaga kesehatan mental diri sendiri, diantaranya yaitu :


43 1. Berbicara dengan orang lain Jangan merasa malu atau takut untuk berbicara dengan orang lain tentang perasaan diri sendiri. Bicaralah dengan pasangan, teman, atau keluarga tentang apa yang sedang dirasakan. Orang tua juga dapat mencari dukungan dari terapis atau konselor jika dirasa sudah memerlukan bantuannya. 2. Merawat diri sendiri Luangkan sedikit waktu untuk melakukan kegiatan yang disenangi, seperti berolahraga, membaca buku, mendengarkan music atau sekedar berjalan-jalan keluar rumah. Selain itu merawat diri sendiri juga dapat dilakukan melalui pengaturan pola hidup dan pola makan yang baik. 3. Membuat jadwal yang teratur Membuat jadwal yang teratur dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Pembuatan jadwal dapat dilakukan dengan mengatur waktu bagi diri sendiri, pekerjaan, pasangan dan keluarga. 4. Menghindari isolasi sosial Jangan mengisolasi diri dari dunia luar, misalnya dapat dilakukan dengan berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti pertemuan keluarga atau acara masyarakat, bergabung dengan kelompok atau komunitas yang dapat membantu diri untuk merasa lebih terhubung dengan orang lain dan mengurangi perasaan kesepian. 5. Berbicara dengan anak Jika orang tua sedang merasakan perasaan apapun, pastikan untuk membicarakan hal tersebut kepada anak. Berbicara tentang perasaan dan emosi dapat membantu anak memahami tentang


44 bagaimana mengelola perasaan mereka dengan lebih baik dan juga membantu orang tua merasa lebih terhubung dengan mereka. Menjaga kesehatan mental merupakan hal yang penting dan tidak boleh diabaikan. Apabila orang tua sudah merasa tidak mampu untuk menghandle permasalahan mentalnya maka jangan ragu untuk segera meminta bantuan dari professional kesehatan mental untuk mendapatkan dukungan dan perawatan yang dibutuhkan. 3) Polemik menjadi Orang Tua Menjadi orang tua bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Menjadi orang tua merupakan tanggung jawab besar dalam kesejateraan buah hatinya. Saat menjadi orang tua, mereka tidak lagi merasa bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Sebagai orang tua, mereka memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi lebih baik dibandingkan dengan manusia lainnya untuk dapat dijadikan panutan oleh sang anak. Segala beban tanggung jawab tersebut merupakan tantangan yang perlu dihadapi oleh orang tua. Dalam hal ini orang tua merasa bahwa mereka perlu selalu menunjukkan sifat konsistennya didepan anak-anak mereka, harus selalu menyayangi anaknya, harus menerima dan bersikap toleran, harus mengesampingkan kebutuhan diri sendiri, harus berkorban untuk anak, harus senantiasa bersikap adil serta tidak boleh membuat kesalahankesalahan yang dilakukan oleh orang tua terhadap mereka. Disamping itu, orang tua merupakan dua orang yang saling berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak. Dalam menyatukan dua pemikiran yang berbeda tentunya tidak mudah dan terdapat berbagai tantangan yang perlu dihadapi dalam setiap prosesnya. Dari hal inilah yang kemudian dapat menimbulkan sebuah polemik atau perdebatan mengenai berbagai hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak. Beberapa contoh polemik yang sering terjadi antara orang tua adalah :


45 1. Metode pendidikan Setiap orang tua memiliki pendekatan yang berbeda dalam mendidik anak-anak mereka. Beberapa orang tua menerapkan pendekatan otoriter atau disiplin ketat, sedangkan yang lain lebih mengedepankan kebebasan dan memberikan anak-anak mereka keputusan yang lebih banyak. Polemik dapat timbul ketika orang tua tidak sepakat tentang metode yang harus diterapkan dalam mendidik anak-anak mereka. 2. Penggunaan teknologi Penggunaan teknologi seperti ponsel dan tablet oleh anakanak menjadi masalah bagi beberapa orang tua. Beberapa orang tua mengizinkan anak-anak mereka menggunakan teknologi dengan batasan tertentu, sedangkan yang lain memilih untuk tidak memberikan anak-anak mereka akses ke teknologi. Polemik dapat timbul ketika orang tua tidak sepakat tentang seberapa banyak anakanak mereka harus terlibat dengan teknologi. 3. Kegiatan ekstrakurikuler Beberapa orang tua mengharapkan anak-anak mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga atau seni, sedangkan yang lain memilih untuk membiarkan anakanak mereka menentukan sendiri kegiatan yang mereka inginkan. Polemik dapat timbul ketika orang tua tidak sepakat tentang pentingnya kegiatan ekstrakurikuler dan bagaimana memilih kegiatan yang tepat untuk anak-anak mereka. 4. Pengambilan keputusan Orang tua seringkali memiliki perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan anak-anak mereka, seperti keputusan tentang pendidikan, kesehatan, atau keuangan.


46 Polemik dapat timbul ketika orang tua tidak sepakat tentang keputusan apa yang harus diambil. Polemik menjadi orang tua adalah hal yang wajar karena setiap orang tua memiliki pendekatan yang berbeda dalam membesarkan anakanak mereka yang terpenting dalam menghadapi polemik-polemik tersebut yaitu dengan selalu menjalin komunikasi bersama keluarga secara terbuka dan saling menghargai pandangan satu sama lain untuk menghindari konflik yang tidak perlu. 4) Membangun komunikasi dengan anak Komunikasi orang tua dengan anak adalah kegiatan berbicara pada anak maupun sebaliknya, sehingga orang tua dan anak sama-sama memahami maksud pesan yang disampaikan. Komunikasi akan dikatakan berjalan dengan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Komunikasi yang efektif tentunya menumbuhkan kepercayaan dan perasaan saling memahami antar anak dan orang tua, sehingga orang tua juga akan mampu membantu anak untuk mengembangkan potensi terbaik anaknya. Komunikasi dalam hubungan orang tua dan anak sangat berpengaruh besar pada perkembangan anak di berbagai aspek. Komunikasi merupakan jembatan emosional bagi orang tua dan anak untuk mempererat hubungan sehingga orang tua mampu menyampaikan pesan dengan tepat. Penyampaian pesan yang tepat memiliki banyak manfaat bagi anak diantaranya adalah mengembangkan daya berpikir anak, mampu mengubah perilaku anak, menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, dan hal-hal tersebut nantinya dapat membuat emosi orang tua dapat lebih terkendali. Komunikasi yang tidak efektif tentunya juga akan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan perkembangan anak. Komunikasi yang kurang efektif membuat pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan orang tua ke anak menjadi tertunda atau bahkan tidak tersampaikan sehingga berpotensi terjadinya salah paham. Kesalahpahaman tersebut mampu


47 menimbulkan berbagai perselisihan dan luapan emosi yang kurang baik hingga akhirnya menimbulkan ketidakharmonisan pada keluarga. Kedekatan orang tua dan anak tidak akan terjalin, mengingat komunikasi merupakan jembatan emosional antara orang tua dan anak. Hal-hal tersebut mampu menciptakan pengalaman yang buruk bagi anak. Membangun komunikasi yang efektif bagi anak perlu memperhatikan dan menyesuaikan beberapa hal, diantaranya: 1. Menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Komunikasi akan efektif apabila orang tua mampu menyesuaikan gaya berkomunikasi dengan anak sesuai tahap perkembangan. Hal ini masih menjadi permasalahan yang timbul di masyarakat dikarenakan orang tua tidak mampu menyesuaikan gaya komunikasi mereka dengan perkembangan anak, sehingga banyak kasus anak menjadi salah paham dan tidak nyaman untuk berkomunikasi dengan orang tuanya sendiri. 2. Senantiasa memunculkan rasa empati untuk anak. Rasa empati perlu dimunculkan ketika berkomunikasi dengan anak, sehingga selain orang tua dapat mengerti anak, anak pun dapat mengerti orang tua. Hal ini perlu dimunculkan agar timbul ikatan emosional yang hangat antara orang tua dan anak. 3. Orang tua memiliki peran sebagai pendengar pula, tidak hanya sebagai penyampai pesan. Perlu dipahami, bahwa tidak hanya anak saja yang harus mendengarkan orang tua. Namun, orang tua pun semestinya mampu menjadi pendengar yang baik untuk anaknya. Orang tua harus mau menjadi pendengar bagi anaknya apabila orang tua ingin memberi yang terbaik bagi anaknya. 4. Hormati anak. Tidak hanya anak yang harus menghormati orang tua, orang tua juga perlu menghormati anak. Dalam komunikasi, sikap hormat kepada satu sama lain mampu membentuk sebuah ikatan emosional


48 yang ideal. Orang tua perlu menghormati keputusan, privasi, keinginan, dan kemampuan anak. Orang tua tidak sepenuhnya berhak mengatur hidup anaknya, karena suatu saat anak akan memiliki dan menjalani kehidupannya sendiri. Tugas orang tua adalah mengawal pertumbuhan anak, memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak, menjadi pembimbing bukan pengatur bagi anak, serta memberikan tempat yang nyaman secara jasmani dan rohani bagi anak.


49 DAFTAR PUSTAKA Chaeruddin B, C. B. (2015). PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KANDUNGAN: Tinjauan dari Aspek Metodologi. Lentera Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 18(2), 141-151. https://doi.org/10.24252/lp.2015v18n2a1 Elia, Heman. (2000). Peran Ayah Dalam Mendidik Anak. Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 1(1), hal. 105-113. Hamid, R., & Fuady, M. N. (2012). Model Pendidikan Anak Dalam Kandungan. Banjarmasin: Antasari Press. Hidayati, F., Kaloeti, D. V. S., & Karyono, K. (2012). Peran Ayah Dalam Pengasuhan Anak. Jurnal Psikologi, 9(1). Kusrinah. (2013). Pendidikan Pralahir: Meningkatkan Kecerdasan Anak Dengan Bacaan Al-Qur’an. SAWWA Vol 8, No 2. Parhan, M., & Kurniawan, D. P. D. (2020). Aktualisasi peran ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak di era 4.0. JMIE (Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education), 4(2), 157. Widodo. (2020). Penyelenggaraan Pendidikan Orang Tua: Pasca Pemberlakuan PERMENDIKBUD Nomor 9 Tahun 2020. Renggani, A. F., & Widiasavitri, P. N. (2018). PERAN SELF COMPASSION TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PENGAJAR MUDA DI INDONESIA MENGAJAR Atikah Fairuz Renggani dan Putu Nugrahaeni Widiasavitri. Jurnal Psikologi Udayana, 5(2), 177–186. Gordon, T. (2020). Menjadi orangtua efektif. Gramedia Pustaka Utama. Hasbi, M dkk (2020). Membangun Komunikasi Efektif dengan Anak Usia Dini. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.


Click to View FlipBook Version