50 BAB 3 KONSEP KELUARGA A. Definisi Keluarga Setiap masyarakat mempunyai sistem sosial terkecil yakni keluarga. Dalam kehidupan keluarga, ayah, ibu dan anak memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Ayah dan ibu memiliki peranan yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, baik dari aspek fisik maupun psikis sebagai keselarasan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Menurut Latipun (2005:124) keluarga adalah lingkungan sosial yang terbentuk erat karena sekelompok orang bertempat tinggal, berinteraksi dalam pembentukan pola pikir, kebudayaan, serta sebagai mediasi hubungan anak dengan lingkungan. Lebih lanjut, latipun mengatakan bahwa keluarga yang lengkap dan fungsional dapat meningkatkan kesehatan mental serta kestabilan emosional para anggota keluarganya. Menurut Lestari (2012:6) keluarga adalah rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsifungsi instrumental mendasar dan fungsi-fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan. Coleman dan Cressey (dalam Muadz dkk, 2010:205) menambahkan, keluarga adalah sekelompok orang yang dihubungkan oleh pernikahan, keturunan, atau adopsi yang hidup bersama dalam sebuah rumah tangga. Keluarga menurut para pendidik merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah kedua orang tua. Orang tua (bapak dan ibu) adalah pendidik kodrati. Mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrati ibu dan bapak diberikan anugerah oleh Tuhan berupa naluri orang tua. Dampak dari naluri ini, timbul rasa kasih sayang para orang tua kepada anak-anak mereka, hingga secara moral keduanya merasa terbebani tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi, melindungi serta membimbing keturunan mereka (Jalaludin, 2010:294).
51 Dalam suatu keluarga, ada dua tokoh yang akan mempengaruhi perkembangan anak yaitu ayah dan ibu. Menurut Freud (dalam Dagun, 2002:7), bahwa hubungan anak dengan ibunya sangat berpengaruh dalam pembentukan pribadi dan sikap-sikap sosial anak dikemudian hari, karena ibulah tokoh utama dalam proses sosialisasi anak. Sementara itu dipihak lain, berkaitan dengan peran tokoh ayah dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli psikologi. Hasil penelitian terhadap anak yang tidak mendapat asuhan dan perhatian ayah menyimpulkan, “perkembangan anak menjadi pincang, kemampuan akademisnya menurun, aktivitas sosial terhambat, dan interaksi sosial terbatas. Bahkan bagi anak lakilaki, ciri maskulin (ciri-ciri kelelakiannya) bisa menjadi kabur. Selain itu ayah juga dapat mengatur serta mengarahkan aktivitas anak, misalnya menyadarkan anak bagaimana menghadapi lingkungannya dan situasi di luar rumah, mendorong anak mengenal lebih banyak, mengajak anak berdiskusi. Semua tindakan ini adalah cara ayah (orang tua) untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan hidupnya dan dapat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan sosial serta membantu perkembangan kognitifnya dikemudian hari” (Dagun, 2002:13). Berdasarkan konsep yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah, atas dasar ikatan pernikahan yang sah dan mereka saling berhubungan serta terus berinteraksi dalam menjalin keharmonisan rumah tangga. B. Struktur Keluarga Yatmini (2011:25) mengungkapkan bahwa struktur keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang terikat tali perkawinan, karena hubungan darah atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berhubungan satu sama lainnya dalam perannya menciptakan dan mempertahankan budaya. Sementara itu menurut Lestari (2012:27), bahwa struktur keluarga adalah serangkaian tuntutan fungsional tidak terlihat, yang mengorganisasi cara-cara anggota keluarga dalam berinteraksi. Sebuah keluarga merupakan sistem yang saling berinteraksi antara satu sama lain dengan membentuk pola bagaimana,
52 kapan, dan dengan siapa berelasi. Menurut pandangannya struktur dalam keluarga ada dua, yakni: a. Keluarga inti (nuclear family), yaitu keluarga yang di dalamnya hanya terdapat tiga posisi sosial, yaitu suami-ayah, istri-ibu, anak-sibling. Struktur keluarga yang demikian menjadi keluarga sebagai orientasi bagi anak, yaitu keluarga tempat ia dilahirkan. b. Keluarga batih adalah keluarga yang di dalamnya terdapat posisi lain selain ketiga posisi di atas, yakni dalam keluarga tersebut terdapat seorang anak yang sudah menikah tapi masih tinggal di rumah orang tuanya dan terdapat generasi ketiga (cucu). Menurut Setyawan (2012:7) bahwa struktur keluarga memberikan gambaran tentang bagaimana suatu keluarga itu melaksanakan fungsinya dalam masyarakat. Lebih lanjut Setyawan mengatakan struktur keluarga itu dapat dibedakan menjadi 10, yaitu: a. Tradisional Nuclear adalah Keluarga inti (ayah, ibu, anak) yang tinggal dalam satu rumah yang ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, dimana salah satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah. b. Niddle Age/Aging Couple, yaitu suatu keluarga dimana suami sebagai pencari uang dan istri di rumah atau kedua-duanya bekerja di rumah, sedangkan anakanak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/menikah/meniti karir. c. Diadic Nuclear, yaitu suatu keluarga dimana suami-istri sudah berumur dan tidak mempunyai anak yang keduanya atau salah satunya bekerja di luar rumah. d. Single Parent, yaitu keluarga yang hanya mempunyai satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar rumah. e. Dual Carrier, yaitu keluarga dengan suami-istri yang kedua-duanya orang karier dan tanpa memiliki anak. f. Three Generation, adalah keluarga yang terdiri atas tiga generasi atau lebih yang tinggal dalam satu rumah.
53 g. Comunal adalah keluarga yang dalam satu rumah terdiri dari dua pasangan suami-istri yang monogamy berikut anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas. h. Cohibing Couple/Keluarga Kabitas adalah keluarga dengan dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan. i. Composit/Keluarga berkomposisi, adalah sebuah keluarga dengan perkawinan poligami dan hidup/tinggal secara bersama-sama dalam satu rumah. j. Gay dan Lesbian Family, adalah sebuah keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama. Menurut Lee (dalam Lestari, 2012:7) kompleksitas struktur keluarga tidak ditentukan oleh jumlah individu yang menjadi anggota keluarga, tetapi oleh banyaknya posisi sosial yang terdapat dalam keluarga. C. Ciri-Ciri Keluarga Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan/hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anakanak yang belum menikah disebut keluarga batih. Sebagai unit pergaulan terkecil yang hidup dalam masyarakat, keluarga batih mempunyai peranan-peranan tertentu, yaitu (Soerjono, 2004: 23): a) Keluarga batih berperan sebagi pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut b) Keluarga batih merupakan unit sosial-ekonomis yang secara materil memenuhi kebutuhan anggotanya. c) Keluarga batih menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.
54 d) Keluarga batih merupakan wadah dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Keluarga pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari suatu hubungan seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan dengan keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Adapun ciri-ciri umum keluarga yang dikemukakan oleh Mac Iver and Page (Khairuddin, 1985: 12), yaitu: a) Keluarga merupakan hubungan perkawinan. b) Susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara. c) Suatu sistim tata nama, termasuk perhitungan garis keturunan. d) Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggotaanggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhankebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak. D. Fungsi Keluarga Friedman (2010) menjelaskan fungsi sebagai apa yang dilakukan keluarga. Fungsi keluarga berfokus pada proses yang digunakan oleh keluarga untuk mencapai segala tujuan. Berikut adalah secara umum fungsi keluarga menurut Friedman: a) Fungsi Afektif Fungsi afektif adalah fungsi keluarga berhubungan dengan fungsifungsi internal keluarga berupa kasih sayang, perlindungan, dan dukungan psikososial bagi para anggotanya. Keberhasilan fungsi afektif dapat dilihat melalui keluarga yang gembira dan bahagia. Anggota keluarga mampu mengembangkan gambaran diri yang positif, perasaan yang dimiliki, perasaan yang berarti, dan merupakan sumber kasih sayang. Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan keluarga. Adanya masalah yang timbul dalam keluarga dikarenakan fungsi afektif yang tidak terpenuhi. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk fungsi afektif antara lain:
55 1) Memelihara saling asuh (mutual nurturance) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan saling menerima, dan saling mendukung antar anggota. Setiap anggota yang mendapat kasih sayang dan dukungan dari anggota lain, maka kemampuan untuk memberi akan meningkat, sehingga tercipta hubungan yang hangat dan mendukung. Syarat untuk mencapai keadaan saling asuh adalah komitmen dari individu masing-masing dan hubungan yang terjaga dengan baik di dalam keluarga. 2) Keseimbangan Saling Menghargai Adanya sikap saling menghargai dengan mempertahankan suasana yang positif dimana setiap anggota keluarga diakui serta dihargai keberadaan dan haknya masing-masing, sehingga fungsi afektif akan tercapai. Tujuan utama dari pendekatan ini ialah keluarga harus menjaga suasana dimana harga diri dan hak masing-masing anggota keluarga dijunjung tinggi. Keseimbangan saling menghargai dapat tercapai apabila setiap anggota keluarga menghargai hak, kebutuhan, dan tanggungjawab anggota keluarga lain. 3) Pertalian dan Identifikasi Kekuatan yang besar dibalik persepsi dan kepuasan dari kebutuhan individu dalam keluarga adalah pertalian (bonding) atau kasih sayang (attachment) yang digunakan secara bergantian. Kasih sayang antara ibu dan bayi yang baru lahir sangatlah penting karena interaksi dari keduanya akan mempengaruhi sifat dan kualitas hubungan kasih sayang selanjutnya, hubungan ini mempengaruhi perkembangan psikososial dan kognitif. Oleh karena itu, perlu diciptakan proses identifikasi yang positif dimana anak meniru perilaku orang tua melalui hubungan interaksi mereka. 4) Keterpisahan dan Kepaduan Salah satu masalah psikologis yang sangat menonjol dalam kehidupan keluarga adalah cara keluarga memenuhi kebutuhan psikologis, memengaruhi identitas diri dan harga diri individu. Selama
56 masa awal sosialisasi, keluarga membentuk tingkah laku seorang anak, sehingga hal tersebut dapat membentuk rasa memiliki identitas. Untuk merasakan memenuhi keterpaduan (connectedness) yang memuaskan. Setiap keluarga menghadapi isu-isu keterpisahan dan kebersamaan dengan cara yang unik, beberapa keluarga telah memberikan penekanan pada satu sisi dari pada sisi lain. b) Fungsi Sosialisasi Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang berperan untuk proses perkembangan individu agar menghasilkan interaksi sosial dan membantu individu melaksanakan perannya dalam lingkungan sosial. c) Fungsi Reproduksi Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menjaga kelangsungan keluarga. d) Fungsi Ekonomi Fungsi ekonomi adalah fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan. e) Fungsi Perawatan/Pemeliharaan Kesehatan Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan adalah fungsi yang berguna untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produtivitas tinggi. Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan mempengaruhi status kesehatan anggota keluarga (Harnilawati, 2013). E. Tipe Keluarga Tipe keluarga dibedakan menjadi dua jenis yaitu: a. Tipe keluarga tradisional ❖ Nuclear family atau keluarga inti merupakan keluarga yang terdiri atas suami, istri dan anak.
57 ❖ Dyad family merupakan keluarga yang terdiri dari suami istri namun tidak memiliki anak. ❖ Single parent yaitu keluarga yang memiliki satu orang tua dengan anak yang terjadi akibat peceraian atau kematian. ❖ Single adult adalah kondisi dimana dalam rumah tangga hanya terdiri dari satu orang dewasa yang tidak menikah. ❖ Extended family merupakan keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah dengan anggota keluarga lainnya. ❖ Middle-aged or erdely couple dimana orang tua tinggal sendiri di rumah karena anak-anaknya telah memiliki rumah tangga sendiri. ❖ Kit-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersamaan dan menggunakan pelayanan bersama. b. Tipe keluarga non tradisional ❖ Unmaried parent and child family yaitu keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak tanpa adanya ikatan pernikahan. ❖ Cohabitating couple merupakan orang dewasa yang tinggal bersama tanpa adanya ikatan perkawinan. ❖ Gay and lesbian family merupakan seorang yang memiliki persamaan jenis kelamin tinggal satu rumah layaknya suami-istri. ❖ Nonmarital hetesexual cohabiting family, keluarga yang hidup bersama tanpa adanyanya pernikahan dan sering berganti pasangan. ❖ Faster family, keluarga menerima anak yang tidak memiliki hubungan darah dalam waktu sementara. (Widagdo, 2016). c. Single parent ❖ Definsi single parent Single parent secara umum diartikan sebagai orang tua tunggal. Single parent mengasuh dan membesarkan anak seorang diri tanpa bantuan pasangan, baik dari pihak suami ataupun istri. Single parent memiliki kewajiban yang besar dalam mengatur keberlangsungan keluarganya. (Lailiyah, 2013). Keluarga dengan
58 single parent dapat diartikan sebagai keluarga yang terdiri dari ibu atau pun ayah tunggal yang memiliki anak-anak yang bergantung pada mereka. Single parent adalah situasi dimana salah satu dari dua individu (ibu maupun ayah) yang bertanggung jawab penuh atas mendidik anak-anaknya (Pujar, 2018). ❖ Jenis single parent Single parent merupakan orang tua tunggal yang terdiri dari ayah maupun ibu saja. Single parent dapat disamakan dengan seorang ayah atau ibu yang merawat anak-anaknya tanpa bantuan orang lain di satu rumah (Ajay, 2017). Dilihat dari kondisi keluarga bisa dikatakan utuh apabila terdiri atas ayah, ibu dan anak. Namun pada kondisi suatu keluarga dikatakan tidak utuh maka akan merujuk pada single parent yang hanya terdapat seorang ayah (single father) atau hanya terdapat seorang ibu (single mother) (Suwinita, 2015). Keluarga dengan orang tua tunggal dapat dikategorikan berdasarkan jenis kelamin dan kepala keluarga. Keluarga dengan ayah sebagai orang tua tunggal dapat disebabkan oleh karena meninggalnya istri, pengabaian oleh ibu, atau penolakan hak asuh oleh istri. Sedangkan keluarga dengan ibu sebagai orang tua tunggal seringkali diakibatkan oleh adanya kematian suami, perceraian, dan ibu yang tidak menikah serta memungkinkan remaja yang hamil di luar nikah (Aprilia, 2017). ❖ Peran single parent Orang tua sebagai single parent harus menjalani peran ganda untuk melangsungkan kehidupan keluarganya. Single parent harus mampu mengkombinasikan dengan baik antara pekerjaan domestik dan publik. Dalam hal ini diperlukan adanya kematangan fisik dan psikologis untuk dapat memanjemen keluarganya. Orang tua yang berstatus sebagai single parent juga harus mencari nafkah dan
59 memenuhi kebutuhan kasih sayang untuk anggota keluarganya. Harus selalu melakukan perencanaan yang matang dalam menjalankan peran ganda. Menjalani peran sebagai orang tua tunggal berarti mengalami adanya perubahan, dimana perubahan tersebut dapat menimbulkan masalah, karena seseorang yang pada awalnya berperan sebagai ayah atau ibu saja, sekarang harus menjalankan peran ganda. Melakukan berbagai tugas yang semula dilakukan berdua akan membuat orang tua tunggal mengalami kelebihan tugas seperti mengurus rumah, mengurus anak, mencari nafkah dan bertanggung jawab dalam menjaga perilaku serta kedisplinan anak (Aprilia, 2017). ❖ Penyebab single parent Penyebab utama dari single parent meliputi adanya masalah dalam perkawinan, masalah hubungan, kematian salah satu yang dicintai, perceraian, konflik dalam keluarga, masalah terkait kesehatan, masalah finansial dan perubahan pekerjaan (Pujar, 2018). Single parent adalah keadaan dimana ketidakhadiran seorang orang tua baik ayah maupun ibu karena adanya kecelakaan, penyakit, masalah perkawinan, adanya perceraian serta kematian (Upetri, 2018). Keluarga dengan orang tua tunggal dapat dibagi menjadi orang tua tunggal yang disebabkan peceraian dan orang tua tunggal yang disebabkan oleh kematian. Orang tua tunggal yang disebabkan oleh perceraian dari kedua orang tuanya. Sedangkan yang disebabkan oleh kematian diartikan apabila salah satu dari orang tua mengalami kematian (Sahu, 2016). F. Tingkatan keperawatan Keluarga Ada 4 tingkatan keperawatan keluarga: ❖ Level 1
60 Keluarga menjadi latar belakang individu/ anggota keluarga dan fokus dan pelayanan keperawatan di tingkat ini adalah individu yang akan dikaji dan intervensi. ❖ Level 2 Keluarga merupakan penjumlahan dan anggota-anggota, masalah kesehatan/keperawatan yang sama dari masing-masing anggota akan diintervensi bersama masing-masing anggota akan diintervensi. Bersamaan masing-masing anggota dilihat sebagi unit yang terpisah. ❖ Level 3 Fokus pengkajian dan intervensi keperawatan adalah sub sistem dalam keluarga, anggota-anggota keluarga dipandang sebagai unit yang berinteraksi, fokus intervensi, hubungan ibu dengan anak ❖ Level 4 Seluruh keluarga dipandang sebagai klien dan menjadi fokus utama dalam pengkajian dan perawatan, keluarga menjadi fokus dan individu sebagai latar belakang, keluarga dipandang sebagai intraksional sistem, fokus intervensi. Struktur dan fngsi keluarga; Hubungan sub -sistem keluarga dengan lingkungan luar. G. Tahapan perkembangan keluarga Perkembangan keluarga menjelaskan bahwa keluarga berkembang melalui pengalaman dan transisi peran yang dialami selama perkembangan. Didalam perkembangan ini keluarga merupakan sistem berkembang kearah tingkatan fungsi yang lebih tinggi berdampak bagi beberapa hal (Sahar, 2019) Menurut Duvall (1977), terdapat 8 tahapan perkembangan keluarga (EightStage Family Life Cycle): 1. Keluarga baru menikah 2. Keluarga Childbearing 3. Keluarga Anak usia prasekolah 4. Keluarga anak usia sekolah 5. Keluarga anak usia remaja
61 6. Keluarga dengan anak yang telah dewasa dan telah menikah 7. Keluarga dengan orang tua yang telah pensiun. 8. Keluarga lanjut usia Duvall menekankan bahwa setiap tahapan dari siklus ini memiliki tantangan dan perubahan unik yang harus dihadapi keluarga. Oleh karena itu, memahami tahapan ini dapat membantu keluarga menghadapi tantangan dan perubahan ini dengan lebih efektif. Namun, tahapan ini dapat bervariasi sesuai dengan budaya, lingkungan, dan konteks sosial yang berbeda. H. Tugas perkembangan setiap tahapan keluarga Adapun tugas tiap perkembangan keluarga yang diadaptasi menurut Duvall: 1. Keluarga baru menikah “Married couples (without children)” a) Membina hubungan intim dan memuaskan. b) Mendiskusikan rencana memiliki anak. c) Membentuk hubungan yang kuat dan stabil antar pasangan d) Beradaptasi dengan peran dan tanggung jawab baru sebagai pasangan suami dan istri e) Membangun rumah tangga yang baik dan mengelola keuangan f) Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga masing-masing pasangan, lalu teman, dan kelompok sosial lainnya. 2. Keluarga Childbearing “Childbearing Family (oldest childbirth-30 month)” a) Menyesuaikan diri dengan Persiapan menjadi orang tua. b) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan seksual, dan kegiatan. c) Menjalin hubungan yang baik dengan anak dan memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan sosialnya d) Menjaga hubungan yang baik dan memuaskan dengan pasangan 3. Keluarga Anak usia prasekolah “Families with preschool children (oldest child 2,5- 6 years)” a) Menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai orang tua dan menjalin hubungan yang baik dengan anak.
62 b) Memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan sosial anak, serta memastikan bahwa anak mendapatkan stimulasi yang cukup untuk perkembangan intelektualnya. c) Menjaga hubungan yang baik dengan pasangan dan bekerja sama dalam mendukung perkembangan anak. Pada tahap ini, keluarga juga harus mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan anak prasekolah dan memahami cara terbaik untuk mendukung perkembangan anak dalam berbagai aspek kehidupannya, seperti bahasa, motorik, dan sosial. Selain itu, keluarga juga harus memperhatikan kebutuhan kesehatan dan nutrisi anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan perawatan kesehatan yang cukup. 4. Keluarga anak usia sekolah “Families with School Children (Oldest child 6- 13 years)” a) Mendukung anak dalam pendidikan dan kegiatan sosial b) Menjaga keintiman pasangan. c) Mengatur waktu dan kegiatan keluarga dengan baik d) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga. Pada tahap ini anak dibiasakan berpisah dengan orang tua, dengan cara memberikan kesempatan anak untuk bersosialisasi dalam kegiatan baik di dalam maupun di luar sekolah. 5. Keluarga anak usia remaja “Families with teenagers (oldest child 13- 20 years)” a) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab. b) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga. c) Menjaga dan mempertahankan komunikasi dan hubungan yang baik antar orangtua dengan anak remaja d) Membantu anak dalam mengeksplorasi identitas dirinya e) Menjaga hubungan yang baik dengan pasangan
63 6. Keluarga dengan anak yang telah dewasa dan telah menikah “Families launching young adults (first child gone to last child’s leaving home)” a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar. b) Menjaga hubungan yang baik dengan anak dewasa yang telah meninggalkan rumah c) Menjaga hubungan keintiman pasangan. d) Menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan kehidupan pribadi e) Membantu orang tua memasuki masa tua. f) Menjadikan anak mandiri di masyarakat. g) Menata kembali peran dan kegiatan rumah tangga. 7. Keluarga dengan orang tua yang telah pensiun “Middle Aged Parents (empty nest to retirement)” a) Menyesuaikan diri dengan perubahan dalam struktur keluarga, seperti anak-anak yang telah meninggalkan rumah atau dewasa yang tinggal bersama keluarga. b) Menerima peran baru sebagai kakek-nenek dan memperkuat hubungan dengan cucu-cucu. c) Mempersiapkan diri untuk pensiun dan mengembangkan kegiatan yang memenuhi kebutuhan fisik dan emosional pasangan. d) Mengatur kembali peran dan tanggung jawab dalam keluarga e) Mengembangkan hubungan yang lebih dekat dan lebih intim antara pasangan suami istri. Pada tahap ini, keluarga juga harus mengembangkan kemampuan untuk menghadapi perubahan dalam kehidupan, seperti kehilangan pekerjaan, penyakit, atau kematian anggota keluarga. Keluarga juga harus memperhatikan kesehatan fisik dan mental pasangan dan memastikan bahwa mereka mendapatkan perawatan kesehatan yang cukup. Selain itu, keluarga juga harus memperhatikan aspek keuangan dan pensiun untuk memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka setelah pensiun.
64 8. Keluarga lanjut usia “Aging family members (retirement to death of both spouse)” a) Menjaga suasana rumah yang menyenangkan. b) Beradaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan. c) Persiapan atas perubahan dan tantang di masa yang akan datang d) Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat. e) Mempertahankan hubungan dengan anak dan juga sosial masyarakat. f) Menjaga kesehatan dan kualitas hidup yang baik I. Proses keperawatan keluarga Menurut Potter et al. (2020), keperawatan keluarga ialah pemberian layanan kesehatan dengan membantu anggota keluarga mempertahankan kesehatan yang setinggi-tingginya melewati dari pengalaman sakit yang sebelumnya. Proses keperawatan keluarga adalah suatu pendekatan yang holistik dalam memberikan perawatan kesehatan kepada keluarga sebagai kesatuan yang utuh. Proses ini melibatkan identifikasi masalah kesehatan keluarga, perencanaan dan implementasi intervensi kesehatan, serta evaluasi hasil dari intervensi yang dilakukan. Berikut ini adalah tahapan dalam proses keperawatan keluarga: a) Pengkajian Keluarga Pada tahap ini, perawat melakukan pengumpulan data mengenai keluarga yang terdiri dari sejarah keluarga, struktur keluarga, dinamika keluarga, dan lingkungan keluarga. Pengkajian ini bertujuan untuk memahami kondisi keluarga secara keseluruhan dan mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada pada keluarga. b) Diagnosa Keluarga Setelah data pengkajian keluarga terkumpul, perawat melakukan analisis dan membuat diagnosa keluarga. Diagnosa keluarga adalah suatu pernyataan tentang kondisi kesehatan keluarga yang mencerminkan masalah kesehatan keluarga yang harus ditangani oleh perawat.
65 c) Perencanaan dan Implementasi Intervensi Kesehatan Keluarga Setelah diagnosa keluarga dibuat, perawat membuat rencana intervensi kesehatan yang mencakup tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk menangani masalah kesehatan keluarga. Kemudian, perawat melakukan implementasi intervensi kesehatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. d) Evaluasi Hasil Intervensi Kesehatan Keluarga Setelah intervensi kesehatan keluarga dilakukan, perawat mengevaluasi hasilnya. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah intervensi yang dilakukan efektif dalam menangani masalah kesehatan keluarga atau tidak. Jika intervensi yang dilakukan tidak efektif, maka perawat harus mengevaluasi kembali dan melakukan intervensi yang lebih tepat. e) Pemberian Edukasi Kesehatan Keluarga Setelah evaluasi hasil intervensi dilakukan, perawat memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga mengenai cara menjaga kesehatan keluarga dan mencegah terjadinya masalah kesehatan yang sama di masa yang akan datang. J. Teori dan Model Keperawatan Berikut teori dan model keperawatan: 1. Model Betty Neuman tentang sistem kesehatan Dalam model Neuman memberikan cara pandang baru terhadap manusia sebagai makhluk yang holistik (memandang manusia secara keseluruhan seperti aspek fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual yang berhubungan secara dinamis seiring dengan adanya respons-respons sistem terhadap stressor. 2. Model Sister Calista Roy Yaitu model dalam keperawatan yang mangemukakan bagaimana seorang individu dapat meningkatkan kesehatannya dengan cara meningkatkan perilaku secara adaptif serta dapat merubah perilaku yang maladaptif. Sabagai individu dan makhluk yang holisitik memiliki system adaptif yang selalu beradaptasi secara keseluruhan.
66 Dalam memahami konsep model teori keperawatan ini Calista Roy mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan dan keyakinan serta nilai yang dimilikinya, diantaranya: a. Manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan social yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya. b. Untuk mencapai suatu homeostatis atau integrasi, seseorang harus beradaptsi sesuai dengan perubahan yang terjadi. Terdapat 3 tingkatan adaptasi yang dikemukakan oleh Roy sebagai berikut. a. Focal stimulasi b. Kontekstual stimulus c. Recidual stimulus 3. Teori Florence Nigthingale (Model Lingkungan) Pendekatan Nigthingale untuk keperawatan sebagai model lingkungan yang sesuai dengan penekanan pada pentingnya faktor lingkungan dalam kesehatan dan kesakitan. Nightingale mengatakan “bangunan rumah yang jelek dapat mempengaruhi kesehatan. Bangunan rumah sakit yang sakit dapat menimbulkan penyakit. Sirkulasi udara yang jelek anak diikuti oleh kesakitan.” Nightingale berusaha keras untuk mengajak wanita untuk memberikan perawatan yang baik di rumah dan upayanya untuk membuat program pelatihan bagi perawat profesional. Dia setuju dengan tulisan yang membedakan antara keperawatan sebagai tindakan dan keperawatan sebagai profesi dan disiplin yang benar. 4. Teori Imogene King tentang pencapaian tujuan Teori Imogene King mencoba memberikan jawaban atas peran perawat dalam pekerjaan keperawatan dan bagaimana perawat dapat mengambil keputusan dalam praktik sehari-hari. King menjelaskan bahwa praktik keperawatan yang paling penting adalah adanya interaksi
67 antara perawat dan klien dalam hubungan profesional untuk mencapai tujuan. Teori ini juga berfokus pada penyedia dan penerima layanan perawatan yang didasarkan pada pengembangan teori pencapaian tujuan berbasis interaksi antara perawat dengan klien, keduanya merupakan sistem terbuka yang selalu berinteraksi dengan lingkungan. 5. Model Dorothea E. Orem tentang Self Care Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan pada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri. Dalam Mertajaya (2019) ada tiga prinsip dalam perawatan diri sendiri atau perawatan mandiri. Pertama, perawatan mandiri yang bersifat holistic meliputi kebutuhan oksigen, air, makanan, eliminasi, aktivitas dan istirahat, mencegah trauma serta kebutuhan hidup lainnya. Kedua, perawatan mandiri yang dilakukan harus sesuai dengan tumbuh kembang manusia. Ketiga, perwatan mandiri 60 dilakukan karena adanya masalah kesehatan atau penyakit untuk pencegah dan peningkatan kesehatan.
68 DAFTAR PUSTAKA Dagun, M. S. (2002). Psikologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta. Friedman, M. 2010. Buku Ajar Keperawatan keluarga: Riset, Teori, dan Praktek. Edisi ke-5. Jakarta: EGC. Harnilawati. (2013). Konsep dan proses Keperawatann Keluarga. Sulawesi Selatan: Pustaka As Salamm. H.SS. Khairuddin. H. 1985. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty. Kholifah, Siti Nur dan Wahyu Widagdo. 2016. Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta Selatan: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Lailiyah, Zahrotul. 2013. Perjuangan Hidup Single Parent. Vol 03, No 01. 88-102 Lestari, S. (2012). Psikologi Keluarga: Penananman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media. Mertajaya, I Made., dkk. 2019. Perkuliahan Keperawatan Keluarga Konsep Keperawatan Keluarga. Jakarta. Niswa Salamung, M. R. (2021). KEPERAWATAN KELUARGA (FAMILY NURSING). Madura: Duta Media Publishing. Safitri, Angga. 2020. Studi Literatur: Asuhan Keperawatan Keluarga Penderita Skizofrenia Dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Kronis. Dikutip dari http://eprints.umpo.ac.id/6103/3/BAB%202.pdf. 8 Mei 2023 Suwinita, I., & Marheni, A. (2015). PERBEDAAN KEMANDIRIAN REMAJA SMA ANTARA YANG SINGLE FATHER DENGAN SINGLE MOTHER AKIBAT PERCERAIAN. Jurnal Psikologi Udayana, 2(1).Safitri, Angga. 2020. Studi Literatur: Asuhan Keperawatan Keluarga Penderita Skizofrenia Dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Kronis. Dikutip dari http://eprints.umpo.ac.id/6103/3/BAB%202.pdf. 8 Mei 2023 Syafitri, Elda Yanti. 2019. Tahapan Proses Keperawatan Keluarga. Dikutip dari https://osf.io/preprints/inarxiv/4bkx3/. 11 Mei 2023 Tri Wahyuni, P. D. (2021). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Sukabumi, Jawa Barat: CV Jejak.
69 Widagdo, Wahyu. 2016. Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan. Yatmini. (2011). Hubungan Antara Struktur Keluarga, Kemampuan Ekonomi, dan Tingkat Perhatian Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa SDN UjungUjung 02 Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang. Scholaria, 22- 40.
70 BAB 4 ACUAN DASAR DALAM PENGASUHAN A. PENGERTIAN PENGASUHAN Pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua, dalam istilah sekarang ini disebut dengan parenting. Sedangkan rangkaian sikap yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak disebut sebagai pola asuh. Parenting berasal dari kata parent. Parent dalam parenting memiliki definisi ibu, ayah, seseorang yang akan membimbing dalam kehidupan baru, maupun seorang pelindung. Parent adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001). Pengasuhan adalah pengetahuan, pengalaman, keahlian dalam melakukan pemeliharaan, perlindungan, pemberian kasih sayang dan pengarahan kepada anak. (Dwi Hastuti, 2010. Pengasuhan mencakup beberapa aktivitas yaitu melindungi anak, memberikan perumahan atau tempat perlindungan, pakaian, makanan, merawat anak (termasuk memandikan, mengajarkan cara buang air, dan memelihara ketika anak sakit), memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak, berinteraksi dengan anak dan memberikan stimulasi kepadanya, serta memberikan kemampuan sosialisasi dengan budayanya. (Myre, 1992) Berns R.M dalam bukunya yang berjudul Child, Family, School, Community Social and Support dijelaskan bahwa Jerome Kagan seorang psikolog perkembangan Jerman (1975) menyebutkan bahwa pengasuhan merujuk pada serangkaian implementasi dari berbagai keputusan tentang sosialisasi
71 pada anak – apa yang harus dilakukan orang tua untuk menjadikan anak sebagai individu yang bertanggung jawab dan mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat, serta apa yang terbaik dilakukan orang tua dalam menghadapi beragam sifat anak ketika menangis, agresif, berbohong, marah, dll. Pengasuhan atau Parenting juga dapat dipahami sebagai proses tindakan dan interaksi antara orang tua dan anak, orang tua dan anak saling mempengaruhi, saling mengubah hingga anak beranjak dewasa. Menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan anak berdasarkan hubungan biologis. Kegiatan parenting biasanya dilakukan oleh orang tua kandung bagi anaknya. Dalam arti yang lebih luas, program parenting juga dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan informal yang ditujukan untuk menyeimbangkan kegiatan pengasuhan dan pendidikan anak di kelompok bermain dan di rumah. Dalam kegiatan parenting terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi yaitu anak, orang tua dan masyarakat. Sebagai seorang anak, ia dilahirkan sampai beberapa tahun berikutnya sangat membutuhkan perhatian orang tua dan masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan fisik (tempat tinggal, pangan, sandang dan kehangatan) serta kebutuhan psikis dan sosial. Orang tua bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anaknya, hal ini karena masyarakat memberikan otoritas tertinggi kepada orang tua, dengan anggapan bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Pengasuhan dalam Parenting juga terbagi tiga yaitu: (1) Pengasuhan fisik, pengasuhan fisik mencakup semua aktivitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya. (2) Pengasuhan emosi, pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadiankejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari temantemannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan emosi ini
72 mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya. (3) Pengasuhan sosial, Pengasuhan sosial ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang dibangun dalam pengasuhan akan membentuk sudut pandang terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya pengasuhan sosial yang baik berfokus pada memberikan bantuan kepada anak untuk dapat terintegrasi dengan baik di lingkungan dan membantu mengajarkan anak akan tanggung jawab sosial yang harus diembannya. Pengasuhan juga dapat dijelaskan secara ringkas dengan aktivitas asah, asih, dan asuh. Asah berarti mengasah mental dan spiritualnya. Asih berarti mengasihi hati dan emosinya. Asuh berarti mengasuh dalam pengertian sempit, yakni menyediakan kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (naungan tempat tinggal). Melaksanakan kegiatan mengasuh anak membutuhkan banyak keterampilan interpersonal dan tuntutan emosional yang besar, tetapi hanya ada sedikit pelatihan formal tentang hal itu. Dalam hal ini, kegiatan pengasuhan dilimpahkan kepada orang tua, pengasuh dan anggota keluarga lainnya yang terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang anak. Pendidikan keluarga biasanya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kelas atau status sosial, kekayaan dan pendapatan. Dalam hal ini, sumber daya orang tua memungkinkan anak untuk memiliki kehidupan yang nyaman, pendidikan yang berkualitas dan, jika perlu, buku, mainan, pelajaran, tamasya, dan promosi pendidikan. Dalam hal mengasuh anak, orang tua menginvestasikan waktu, energi, emosi, dan uang untuk membesarkan anak-anak mereka. Orang tua dalam hal ini berharap banyak dari apa yang dimilikinya dan itu bermanfaat bagi kehidupan anak, jadi pengorbanan yang dilakukan membantu anak tumbuh. Secara lebih luas, orang tua bertanggung jawab untu menyediakan lingkungan dan pengalaman yang melindungi anak-
73 anak mereka yang mengarah pada pertumbuhan dan potensi maksimal sebagai pengasuh yang harus ada dalam kehidupan seorang anak. Pengertian Pengasuhan Secara Umum Dalam kamus besar bahasa indonesia, pengasuhan berarti (cara, perbuatan, dan sebagainya) mengasuh. Dalam pengasuhan dapat diartikan sebagai menjaga, merawat, mendidik, membantu dan melatih. Pengasuhan merupakan tanggung jawab yang paling pokok terhadap orang tua. Sehingga sangat disayangkan apabila pada masa ini masih ada orang tua yang menjalani pengasuhan tanpa kesadaran pengasuhan. Secara etimologi pengasuhan berasal dari kata “asuh“ artinya memimpin, mengelola, membimbing. Pengasuh berarti orang yang melaksanakan tugas memimpin, mengelola atau membimbing. Sedangkan dalam bahasan kali ini, Pengasuhan yang dimaksud ialah mengasuh anak. Mengasuh anak maknanya ialah mendidik dan memelihara anak, mengurus sandang, papan, pangan dan keberhasilannya sejak awal dilahirkan sampai dewasa. Menurut Jerome Kagan (seorang psikolog di Harvard University, Amerika ) mendefinisikan mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak. Didalamnya terdapat , apa yang harus dilakukan oleh orang tua/ pengasuh, untuk memfasilitasi agar anak mampu bertanggung jawab dan berkontribusi sebagai bagian dari masyarakat. Jane B Brooks (penulis buku ”The Process of Parenting”) juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orang tua untuk mendukung perkembangan anak. Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak saja, namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan. Pengertian pengasuhan menurut Alvita (2009) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus
74 dilakukan oleh orang tua atau pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orang tua atau pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik. Interaksi antara keluarga atau orang tua dengan anak untuk mendidik, membimbing, dan mengajar anak dengan tujuan tertentu, disebut dengan pengasuhan. Pengasuhan merupakan cara yang khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam berinteraksi orang tua dengan anak. Sehingga dari beberapa pandangan dan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengasuhan adalah segala tindakan yang menjadi bagian dalam proses interaksi yang berlangsung secara terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak melainkan juga bagi orang tua, dan yang dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa kepada anakanak dari ia lahir hingga dewasa yaitu memenuhi atau memberi kasih sayang, kelekatan, keselamatan, rasa aman, kesejahteraan serta kepentingan terbaiklainnya bagi anak. Peran Ayah Dan Ibu Dalam Pengasuhan Keluarga menjadi wadah utama untuk menyediakan kebutuhan biologis dan kesehatan mental anak. Dalam keluarga yang harmonis, setiap anggota keluarga wajib menjalankan perannya masing-masing. Orang tua juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengasuh anak menjalankan sebuah keluarga. Seorang ibu merupakan pengasuh terbaik bagi anaknya yang dimulai dari kelahiran anaknya hingga anak beranjak remaja. Sosok ibu juga berperan dalam memenuhi kebutuhan emosi dan jasmani anak, serta pelindung bagi anaknya. Agar anak merasa aman, para ibu harus membangun kestabilan suasana dengan menciptakan atmosfer positif bagi anaknya. Ketika sang ibu mendirikan pondasi yang edukatif sejak kecil, anak belajar membangun relasi dengan anggota keluarganya di rumah.
75 Menjadi seorang ibu artinya siap memberikan anak kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri sembari mendidik anak bagaimana bersikap yang baik dan pantas di tengah masyarakat, sehingga kehadiran anak dapat diterima di masyarakat. Sebagai sosok yang dikenal dengan pribadi yang pengasih dan penyayang, seorang ibu dituntut untuk menunjukkan kasih sayangnya, serta memberi pemahaman kepada anak bahwa mereka begitu berharga dan sangat berarti agar anak mampu menjaga harga dirinya. Ada beberapa peran ibu dalam mendidik anak, dari pandangan Suhartini (1980:100) yaitu (1) Pemberi contoh. (2) Pembentukan tingkah laku dengan kebiasaan. (3) Penjaga wibawa orang tua. (4) Tidak pilih kasih. (5) Berikan anak menjadi diri sendiri. (6) Kenalkan anak pada agama dan. (7) Mengajari sopan santun. Adapun beberapa penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa pengasuhan lebih banyak dilakukan oleh ibu, sehingga berpengaruh terhadap tanggung jawab pendisiplinan anak. Pengasuhan oleh ibu juga memiliki pengaruh dalam proses regulasi emosi anak. Selain itu pengasuhan yang ibu yang kurang sensitive terhadap anak juga dapat berdampak pada kemampuan kognitif yang mengatur perilaku anak. Dan pengasuhan yang kurang sensitive dari ibu dapat menyebabkan kemampuan kognitif anak lebih rendah, khususnya dalam kemampuan emergent metacognition dan inhibition self-control. Emergent metacognition berhubungan dengan kemampuan anak untuk melakukan inisiatif, membuat perencanaan, mengatur dan mengimplementasikan suatu hal, serta menyelesaikan masalah dengan memikirkan dampak jangka panjang. Sementara itu inhibitiory self-
76 control meliputi kemampuan anak untuk mengatur tindakan, respon, emosi, dan perilaku yang sesuai dengan batasan. Bukan hanya sosok ibu, kehadiran seorang ayah dalam kehidupan setiap anak sangatlah penting. Ini karena ayah akan turut memengaruhi tumbuh kembang anak sejak ia kecil hingga dewasa. Maka dari itu, perlu diingat bahwa peran ayah bukan hanya untuk membantu ibu dalam memenuhi kebutuhan anak. Tugas ayah tidak terbatas mencari nafkah untuk keluarga, tetapi juga memiliki peran aktif dalam pengasuhan anak. Jika dibandingkan dengan ibu, cara ayah berinteraksi dengan anak cenderung melalui pertanyaan yang umumnya berdasarkan pada 5W+1H. Pola pertanyaan seperti itu dapat membuat anak memiliki cara komunikasi yang lebih bertanggung jawab saat berinteraksi dengan orang lain. Ini akan mendorong anak untuk lebih sering berbicara, menggunakan lebih banyak kosakata, dan menghasilkan kalimat yang lebih panjang. Bisa disimpulkan bahwa kemampuan anak akan lebih terasah melalui interaksi yang ia lakukan bersama sang ayah. Bahkan, diketahui bahwa anak yang sering berinteraksi dengan ayahnya bisa memperoleh manfaat seperti kemampuan kognitif anak yang lebih baik pada usia 6 bulan, kemampuan kognitif terus berkembang sehingga bisa memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik pada usia 1 tahun, nilai IQ yang lebih tinggi dari anak seusianya pada usia 3 tahun. Oleh karena itu, peran ayah dalam pengasuhan anak sangat dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak agar bisa tercapai secara maksimal. Beberapa peran penting yang dimiliki oleh ayah dalam pengasuhan setiap anak-anaknya seperti: (1) Meningkatkan kecerdasan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ayah yang berperan aktif dalam berinteraksi dengan anaknya bisa meningkatkan kecerdasan anak. Kecerdasan tersbut meliputi kecerdasan emosional dan kemampuan kognitif, sehingga mampu menyelesaikan masalah dengan lebih baik.
77 Anak juga berisiko lebih rendah melakukan tindak kriminal di bawah umur. (2) Meningkatkan kepercayaan diri, dukungan emosional dari ayah kepada anak bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Anak juga akan lebih baik dalam mengatasi stres atau tekanan serta memiliki sedikit rasa takut atau ragu dalam menghadapi berbagai situasi. (3) Memberi contoh laki-laki teladan, ayah harus bisa menjadi contoh laki-laki yang baik bagi setiap anaknya. Ini akan membentuk perilaku dan kontrol diri yang baik pada anak, sehingga anak terhindar dari gangguan perilaku. Anak juga akan memiliki konsentrasi dan kemampuan bersosialisasi yang lebih baik. Selain itu, anak-anak juga diyakini bisa menjadi seseorang yang tulus dan baik hati, serta berempati dengan orang lain. (4)Memberi sudut pandang berbeda, wajar jika anak memiliki rasa penasaran yang besar. Hal ini dapat didukung oleh pendapat yang berbeda dari ibu dan ayah. Perbedaan pendapat yang mungkin terjadi antara ibu dan ayah bisa membantu anak memiliki cara berpikir yang luas. Hal ini juga bisa memberi anak pelajaran hidup yang banyak, sehingga anak bisa menyelesaikan masalah dengan lebih baik. (5) Memberi kasih sayang, mampu memberi kasih sayang merupakan hal yang wajib bagi setiap orangtua, termasuk ayah. Anak yang mendapat kasih sayang dan dukungan yang cukup bisa membuat anak tumbuh dan berkembang dengan gembira dan sehat. Gangguan tumbuh kembang pada anak juga bisa terhindarkan. Baik peran pengasuhan dari ibu ataupun ayah memiliki peran yang sangat penting di dalam pengasuhan untuk anak. Bagaimanapun menjadi orang tua adalah tugas bersama, mendidik anak juga tugas bersama bukan tugas salah satunya saja. Akan menjadi lebih baik apabila kedua peran dalam pengasuhan dapat dimaksimalkan untuk bekerjasama mengasuh anak secara seimbang. Tetap melakukan diskusi dan komunikasi dengan pasangan tentang keseimbangan peran ayah dan ibu dalam pengasuhan, karena sejatinya anak membutuhkan kehadiran keduannya dalam pengasuhan dan perkembangannya.
78 B. PENGASUHAN DALAM ISLAM 1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman dan Moral Pendidikan Iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan, rukun islam, dan dasar-dasar syariat semenjak anak sudah mengerti dan memahami. (belum diparafrase). Cara-cara yang bisa dilakukan dalam pendidikan iman yaitu : a. Membuka Kehidupan Anak dengan Kalimat Tauhid La ilaha illallah Dari hadist Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda "Bukakanlah untuk anak-anak kalian dengan kalimat la ilaha illallah (Tiada sesemahan yang hak kecuali Allah)" (H.R Al-Hakim). Hadis diatas bermaksud agar kalimat tahuid menjadi kalimat yang pertama didengar dan diingat oleh anak. b. Mengajarkannya Masalah Halal dan Haram setelah Anak Berakal Mengajarkan masalah halal dan haram bertujuan agar ketika anak tumbuh dewasa, anak mengetahui dan melaksanakan perintah-perintah Allah. Selain itu, anak juga mengenal hal-hal haram atau larangan-larangan Allah dan menjauhinya. Hal tersebut juga disebutkan dalam hadist Ibnu Abbas yang berbunyi " Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut berbuat maksiat kepada-Nya, serta serulah anak-anak kamu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi laranganlarangan. Karena hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir). c. Memerintahkan Anak Beribadah Ketika Usia Tujuh Tahun Rasulullah SAW bersabda dari hadist Ibnu Amru bin Al-Ash " Perintahkan anakanak kamu melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun, dan disaat mereka telah berusia sepuluh tahun pukullah mereka jika tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah tempat tidurnya" (HR. Al-Hakim dan Abu Dawud).
79 Memerintahkan anak shalat ketika berusia tujuh tahun berguna agar anak mempelajari ibadah sejak kecil dan nantinya ketika deasa akan mudah dan terbiasa melaksanakan shalat yang merupakan kewajibannya kepada Allah. Dengan beribadah, anak juga akan terjaga kesucian rohaninya, memiliki akhlah yang baik, terjaga kesehatan fisiknya, serta baik dalam perkataan dan perbuatannya. d. Mendidik Anak untuk Cinta kepada Nabi, Keluarganya, dan Cinta Membaca Al-Qur'an Dari Ali Bin Abi Thalib bahwa Rasulallah SAW bersabda "Didiklah anakmu kepada 3 perkara yaitu mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan (mencintai) membaca Alquran, karena sesungguhnya pelaku Alquran akan berada di bawah naungan Arsy Allah saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya." (HR. Thabrani). Seperti yang sudah dijelaskan dalam hadist di atas maka ajarkan anak untuk mencintai Nabi dengan meneladani perlajanan hidupnya dan terikat dengan sejarahnya. Selain itu didiklah anak untuk mencintai Al-Qur'an dengan mengajarkan cara membacanya, menghafal, serta memahami isi-isinya. Dengan membaca Al-Quran diharapkan anak akan memiliki lisan yang baik, hati yang khusyuk, rohani yang tinggi, tertanam keimanan dan keyakinan didalam hati anak. Kemudian untuk mendampingi pendidikan iman dibutuhkan juga pendidikan moral. Pendidikan moral adalah kumpulan dasar-dasar pendidikan moral serta keutamaan sikap dam watak yang wajib dimiliki oleh seorang anak. Hal tersebut yang nantunya akan dijadikan kebiasaannya semenjak usia dini hingga dewasa. Para pendidik terutama orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak termasuk dalam pembentukam moral sejak anak kecil. Aksi nyata dalam pembentukan moral anak yaitu dengan mengajarkan jujur, dipercaya, konsisten, menolong sesama, mendahulukan kepentingan kelompok, menghormati orang tua, dan saling kencintai terhadap sesama Tidak hanya itu, orang tua bertanggung jawab terhadap pelurusan penyimpangan anak dan memperbaiki akhlak mereka. Cara untuk mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik, terhindar dari penyimpangan, dan berkepribadian islami yaitu :
80 a. Menghindarkan Anak dari Perilaku Ikut-ikutan Di dunia yang serba modern dan canggih ini pendidik atau orang tua harus melakukan seleksi terhadap hal-hal yang boleh diambil dari bangsa luar dan mana yang harus ditinggalkan. Pertama, yang boleh diambil atau diikuti adalah ilmu yang bermanfaat. Hal tersebut dapat dilihat dari segi pengetahuan kesehatan, teknologi, dan cabang ilmu lainnya yang bermanfaat. Kedua, hal yang tidak boleh diikuti yaitu tindakan mengikuti perilaku, akhlak, meniru penampilannya, kebiasaannya yang dapat menghilangkan ciri khas umat islam. b. Mencegah Anak Agar Tidak Tenggelam dalam Kesenangan Orang tua harus mengajarkan anak tentang kesederhanaan sedari anak kecil. Hal ini bertujuan agar anak tidak mudah terlena dengan kesenangan duniawi yang bisa menyeret anak kedalam keburukan. Kesenangan duniawi yang berlebihan akan membuat anak melupakan kewajiban-kewajibannya. c. Melarang anak mendengar musik dan nyanyian porno Di era modern seperti saat ini banyak sekali media yang bisa digunakan untuk mengakses musik. Musik yang didengarkan oleh anak seharusnya disesuaikan dengan usianya dan ini menjadi tanggung jawab orang tua untuk memilah dan memilih serta mengawasi. Hal tersebut bertujuan agar anak tidak terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan maksiat yang disebabkan oleh mendengar nyanyian porno. d. Melarang anak lelaki bergaya dan berlagak seperti wanita Para pendidik atau orang tua juga bertanggung jawab untuk memberi tahu anakanak mereka agar berpenampilan dan bergaya sesuai dengan jenis kelaminnya karena sesuai takdir wanita dan lelaki berbeda. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadist berikut :
81 “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Imam Bukhori). e. Melarang anak membuka aurat, tabarruj, ikhtilah, dan melihat hal-hal yang diharamkan Sejak anak berusia kanak-kanan, orang tua harus mengajarkan bagian mana saja yang merupakan aurat dan tidak diperbolehkan untuk dilihat orang yang bukan muhrimnya. Berkaitan dengan menutup aurat, orang tua juga harus mengajarkan anak agar tidak tabarruj atau memamerkan kecantikannya atau keelokan tubuhnya sehingga menimbulkan daya tarik lawan jenis. Tidak kalah penting, anak juga harus dijauhkan dari berkumpul dengan lawan jenis (bukan mahramnua) yang nantinya akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. 2. Tanggung Jawab Pendidikan Fisik dan Seks Pendidikan fisik bertujuan untuk agar anak bisa tumbuh dan dewasa dengan memiliki fisik yang kuat, sehat, dan bersemangat. Tanggung jawab pendidikan fisik meliputi : a. Kewajiban Memberikan Nafkah Kepada Keluarga dan Anak Hal yang berupa nafkah yang wajib dipenuhi oleh seorang ayah terhadap keluarganya adalah memberikan makanan, tempat tinggal, pakaian yang baik, sehingga fisik mereka terhindar dari penyakit. b. Mengikuti Aturan-aturan Kesehatan Makan dan Minum Pendidik atau orang tua harus mengajarkan cara makan dan minum sesuai yang dianjurkam oleh Rasulullah. Dalam hal makan hindari makanan yang beracun, tidak menambah makan dan minum diluar kadar kebutuhannya. Lalu untuk hal minum ajarkan minum dengan dua atau tiga kali tegukan, dilarang bernapas dalam gelas, dan tidak minum sambil berdiri. c. Membentengi Diri dari Penyakit Menular
82 Di dalam Shahihain dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda "Janganlah sekali-kali orang yang sakit itu mendatangi orang yang sehat". Berdasarkan hadist diatas, wajib bagi seorang pendidik apalagi para ibu apabila memiliki anak yang terkna penyakit menular, hendaknya memisahkannya dengan anak lain yang sehat. Sehingga penyakit tidak menyebar dan wabah bisa tercegah. d. Mengobati Penyakit Ketika anak terkena musibah seperti terserang penyakit, hendaklah para pendidik atau orang tua melakukan pengobatan untuk anak. Berobat sendiri memiliki tujuan untuk mencegah penyakit dan memberikan kesembuhan. Hal tersebut seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan selainnya dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah SAW bersabda " Setiap penyakit itu ada obatnya. Jika obat telah mengenai penyakit maka akan sembuh dengan izin Allah 'Azza wa Jalla". e. Menerapkan Prinsip Tidak Boleh Membahayakan Diri Sendiri dan Orang Lain Para pendidik atau orang tua wajib mengarahkan anak untuk mengetahui masalah kesehatan dan sarana pencegahan dalam upaca menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh. Hal tersebut bisa dilakulan dengan memakan makanan yang matang dan mencuci bahan makanan atau buah-buahan dan sayur-sayuran sebelum dimakan. Selain itu membiasakan anak makan tepat pada waktunya, cuci tangan sebelum makan, dan tidak meniup minuman. f. Membiasakan Anak Gemar Berolahraga dan Menaiki Tunggangan Diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dengan sanad jayyid bahwa Rasulullah SAW bersabda "Segala sesuatu yang bukan termasuk dzikir kepada Allah maka itu adalah (perbuatan) sia-sia, kecuali empat hal; berjalannya seseorang di antara dua tujuan (memanah), mendidik kudanya, becanda dengan keluarganya, dan mengajarinya berenang". Sesuai hadist diatas maka islam mengajak untuk mengajarkan kepada anak tentang olahraga renang, panahan, dan berkuda.
83 g. Membiasakan Anak untuk Zuhud dan Tidak Larut dalam Kenikmatan Ajarkan anak untuk meneladani Rasulullah dalam berperilaku hidup sederhana yaitu dalam hal tempat tinggal, makan, dan pakaian. Semua ini dilakulan agar anak serta umat islam selalu sigap menghadapi semua kemungkinam yang akan menghadang. Terlalu lama larut dalam kenikmatan juga akan membuat jiwa kesabaran dan ketegaran dalam berjihad di jalan Allah menjadi pudar. h. Menanamkan Karakter Bersungguh-sungguh dan Perwira Kepada Anak Para pendidik terlebih para ibu wajib untuk memelihara anak mereka sejak kecil dan menanamkan jiwa keperwiraan, kesederhanaan, karakter yang bersungguhsungguh, dan akhlah yang baik. Karena jika seorang anak tumbuh dalam kesesatan, penyimpangan, dan tidak memiliki kesungguhan, maka kepribadian dan jiwanya akan hancur. Hal tersebut juga menyebabkan fisiknya rentan terserang penyakit. Selanjutnya, pendidikan seks juga tidak kalah pening karena memberikan pemahaman kepada anak mulai dari ia mengenali hasrat seks dan perkawinan. Pendidikan seks sangat penting diberikan kepada anak sedini mungkin walaupun anak itu tidak menanyakan soal seks. Perkembangan zaman yang begitu cepat menjadikan anak akan lebih mudah mendapatkan informasi diantaranya tentang seks. Sebelum anak mendapatkan informasi seks yang menyimpang, maka orangtua atau guru harus lebih dahulu mengajarkannya. Hal ini agar anak tidak salah dalam menerima informasi terkait seks. Kesalahan awal terhadap pemahaman seks akan berdampak ketika ia sudah dewasa yang mempengaruhi pola pikirnya yang serba kotor. Pendidikan seks untuk anak memiliki beberapa fase sebagai berikut : • Fase usia antara 7-10 tahun, yang disebut masa tamyiz (mampu membedakan). Dalam fase ini anak diajarkan tentang adab meminta izin (masuk kamar orang tua dan orang lain) dan melihat sesuatu (lawan jenis). • Fase usia antara 10-14 tahun, yang disebut masa murahaqah (peralihan). Dalam fase ini, anak dihindarkan dari hal-hal yang merangsang hasrat seksual.
84 • Fase usia antara 14-16 tahun, yang disebut masa balig (mendapat dosa ketika berbuat maksiat), dalam fase ini anak diberi materi tentang adab berhubungan seksual ketika akan menikah. • Fase setelah balig, yang disebut sebagai masa pemuda, dalam fase ini anak diberi materi tentang adab melakukan isti’faf (menjaga diri dari dosa) ketika belum mampu menikah. Dalam fase-fase yang disebutkan diatas untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut : a. Etika Meminta Izin Orang tua harus mengajarkan anaknya untuk meminta izin ketika akan memasuki kamar orang lain di rumah. Keharusan meminta izin kepada orang tua ada pada tiga waktu yaitu : Pertama, sebelum shalat fahar karena pada waktu tersebut suami istri masih berada ditempar tidur. Kedua, tengah hari karena pada waktu itu suami/istri menanggalkan pakaiannya bersama pasangannya. Ketiga, setelah isya karena merupakan waktu tidur dan beristirahat. b. Etika Melihat Seorang pendidik harus mengajarkan etika melihat lawan jenis kepada anak ketika masih usia kanak-kanak. Hal ini bertujuan agar anak mengetahui mana yang halal dan mana yang haram dilihat. Etika melihat yang diajarkan pada masa kanakkanak dapat memberikan kebahagiaan hidup pada anak. Sebab anak telah di beri bekal akhlak yang lurus dan mantap. Dengan adanya pondasi yang kuat inilah ketika sudah dewasa, mereka bisa mengetahui dalam menjalin interaksi sosial antara yang baik dan buruk. c. Menjauhkan anak dari Hal-hal yang Merangsang Hasrat Seksual
85 Pendidik atau orang tua memiliki tanggung jawab menjauhkan anak dari semua hal yang dapat merangsang hasrat seksualnya dan merusak akhlaknya. Hal ini mulai dilakukan terutama ketika anak telah memasuki usia remaja, yaitu antara sepuluh tahun hingga baligh. Terdapat dua aspek dalam rangka menjauhkan anak dari berbagai rangsangan seksual baik secara internal yakni pengawasan keluarga atau secara eksternal yakni pengawasan lingkungan. Secara internal misalnya mengawasi anaknya yang memasuki kamar orangtuanya pada waktu istirahat, mengawasi anaknya yang tidur secara bersama-sama dengan saudara-saudaranya, mengawasi anaknya dalam menonton televisi. Secara eksternal sebagai pendidik orangtua harus mengawasi anaknya dalam bergaul dengan teman-temannya, mengawasi anaknya ketika berjalan bersama orangtuanya ada sesuatu gambar yang tidak sopan, mengawasi anaknya yang melihat wanita lain memakai perhiasan indah dan mencolok. d. Mengajarkan Anak Hukum-hukum Syar’i yang berhubungan dengan Usia Remaja dan Dewasa Orang tua harus dengan jelas memberikan penjelasan pada anak, ketika sudah memasuki usia remaja jika keluar air mani maka anak telah mencapai usia baligh. Maka anak telah dikenakan kewajiban-kewajiban kepada pria dan dewasa pada umumnya. Pada masa ini orang tua harus mengajarkan tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan anak yang sudah balig. Hukum-hukum tersebut yaitu : • Apabila anak baik lelaki maupun perempuan bermimpi senggama dan ketika bangun pakaiannya tidak basah, maka anak tidak wajib mandi besar. • Anak laki-laki dan perempuan wajib mandi besar apabila melihat ada basah pada pakaiannya ketika bangun tidur walaupun tidak bermimpi senggama.
86 • Keluarnya mani dari laki-laki dan perempuan dengan cara menyembur dan dibareni syahwat karena melakukan masturbasi atau lainnya, maka wajib mandi. • Selesai masa haid dan nifas mengharuskan perempuan untuk mandi wajib. • Mengajarkan apa saja yang wajib dalam mandi, sunnahnya, dan cara melakukan mandi wajib. e. Melakukan Isti’faf (Menjaga Kehormatan Diri) Bagi Orang yang Belum Mampu Menikah Isti’faf adalah menjaga diri agar terhindar dari dosa bagi orang yang belum memiliki kemampuan untuk menikah. Menikah merupakan satu-satunya sarana untuk membina keluarga dan melahirkan anak secara sah. Namun, jika tidak mampu menikah tidak ada jalan lain kecuali menahan diri dan meningkatkan keimanan. Orang tua harus mengajarkan anak untuk meningkatkan pengendalian diri dengan berlindung kepada Allah, tenggelam dalam ibadah, dan menghabiskan waktu dengan kesibukan yang bermanfaat seperti bekerja, melakukan hobi,ataupun menyalurkan kekuatan yang tersimpan dengan berolahraga. 3. Tanggung Jawa Pendidikan Kejiwaan Pendidikan kejiwaan adalah proses mendidik anak sejak usia dini agar berani dan terus terang, tidak takut, mandiri, suka menolong orang lain, mengendalikan emosi, dan menghiasi diri dengan segala bentuk kemuliaan diri baik secara kejiwaan dan akhlak secara mutlak. Pendidik hendaklah membebaskan anak-anak dari segala faktor yang membutakan kemuliaannya, menghancurkan eksistensi kepribadiannya, dan yang menjadikannya memandang dunia dengan pandangan sinis, penuh kebencian dan pesimis.
87 Ada beberapa faktor yang wajib diketahui oleh para orang tua dan pendidik untuk membebaskan anak dari hal-hal yang membutakan kemuliaannya. Faktor-faktor tersebut yaitu : a. Rasa Takut Fenomena rasa takut merupakan gangguan psikologis yang menghinggapi anak kecil dan dewasa. Terkadang fenomena ini dianjurkan manakala sesuai dengan batasan-batasan tabiatnya selaku anak kecil, karena rasa takut adalah sarana yang bisa menjaga anak dari berbagai macam peristiwa dan menghindarkan dari berbagai macam bahaya. Namun, jika rasa takut itu berlebihan dan melampaui batas kewajaran, maka akan menyebabkan gangguan psikologis pada anak. Hal ini merupakan masalah kejiwaan yang harus dicari pemecahannya. Solusi dari permasalahan ini yaitu orang tua harus menerapkan hal-hal berikut kepada anak : Pertama, menumbuhkan keimanan kepada Allah dalam diri anak semenjak awal perkembangannya, beribadah dan berserah diri kepada-Nya di setiap keadaan dan waktu. Kedua, memberikan kebebasan bertindak kepada anak, membiasakannya memikul tanggung jawab dan membiasakannya melakukan beberapa perkara sesuai dengan usia pertumbuhan dan perkembangannya. Ketiga, tidak menakut-nakuti anak, termasuk di dalamnya, seperti apa yang sering terjadi dalam keseharian kita, menakut-nakuti anak dengan sesuatu apapun saat anak menginginkan sesuatu. Keempat, memberikan kesempatan kepada anak untuk bergaul bersama orang lain, bertemu dan berkenalan dengan mereka, agar ia merasakan bahwa ia menjadi pusat kasih sayang, kecintaan, dan penghormatan bersama orang lain. Kelima, mengajarkan kepada anak seni berperang Rasulullah SAW, sikap kepahlawanan para salaf, pengajaran mereka untuk berhias dengan akhlak terpuji tokoh-tokoh besar, para panglima, dan para penakluk, mengikuti jejak sahabat dan
88 tabiin agar mereka tercetak memiliki keberanian yang tinggi, kepahlawanan, cinta kepada jihad dan meninggikan kalimat Allah. b. Perasaan Memiliki Kekurangan Perasaan memiliki kekurangan adalah suatu kondisi kejiwaan yang menghinggapi anak-anak karena beberapa faktor, baik pembawaan, tekanan mental, pendidikan, maupun faktor ekonomi. Kondisi ini termasuk ke dalam keadaan yang paling mengkhawatirkan kejiwaan karena bisa mengantarkan kepada penyimpangan dan perubahan pola hidup menuju kehinaan, kecelakaan, dan berlumuran dosa. Solusi dari perasaan memiliki kekurangan tersebut sebagai berikut : Pertama, mengokohkan keyakinan orang tua terhadap takdir Allah. Dengan demikian, orang tua meyakini bahwa segala yang dialami oleh anak, baik itu sehat maupun sakit, mendapatkan kenikmatan maupun kesengsaraan, semua itu merupakan takdir dari Allah. Kedua, bertahap dalam mendidik anak. Seandainya dengan cara memebri nasihat dan peringatan sudah bermanfaat bagi anak, pendidik tidak perlu menggunakan cara isolasi. Ketiga, mendidik anak sejak kecil agar hidup sederhana, percaya diri, menanggung beban, dan berani. Hal tersebut berguna agar anak akan merasakan keberadaannya dan supaya bisa melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannya dengan baik. Keempat, meneladani Rasulullah SAW pada masa kecil hingga menjadi pemuda sampai Allah mengutus beliau menjai Nabi. c. Sifat Hasad Hasad adalah keinginan agar nikmat hilang dari orang lain. Sifat ini akan berbahaya apabila tidak ditangani sejak usia dini karena akan membawa hal yang lebih buruk di saat dewasa. Cara untuk menangani sifat hasad pada anak yaitu dengan mencurahkan cinta kasih kepada semua anak, mewujudkan keadilan di antara sesama anak, menghilangkan
89 faktor-faktor yang menyebabkan hasad, menaruh perhatian dan mencarikan solusi untuk peserta didik yang marah. 4. Tanggung Jawab Pendidikan Sosial Pendidikan sosial adalah mendidik anak dari sejak masih kecil supaya terbiasa dengan perilaku sosial yang utama dan memiliki dasar-dasar kejiwaan yang mulia yang bersumber pada akidah Islam yang abadi, kesadaran iman yang mendalam agar anak tersebut dapat tampil di kehidupan masyarakat dengan sebaik-baiknya dan kemampuan bergaul dengan akhlak yang baik, keseimbangan, akal yang matang dan perilaku yang bijak. Empat perkara yang harus diperhatikan oleh para pendidik dalam pendidikan sosial anak : a) Menanamkan Dasar-dasar Kejiwaan yang Mulia Islam telah menegakkan kaedah-kaedah pendidikan yang utama di dalam jiwa manusia baik anak-anak maupun dewasa, laki-laki ataupun perempuan, tua ataupun muda atas dasar-dasar kejiwaan yang mulia dan mapan serta prinsipprinsip pendidikan yang abadi b) Menjaga Hak-hak Orang Lain Pendidik harus mengajarkan kepada anak landasan kebersamaan yang produktif, satuan yang kokoh, perilaku yang luhur, saling mencintai dan saling menyampaikan kritik yang dapat membangun. c) Menjaga Etika Sosial Secara Umum Orang tua atau pendidik harus menerapkan pendidikan anak di masyarakat dengan membiasakan mereka untuk berkomitmen sejak dini pada adab masyarakat umum dan membentuk akhlaknya dengan dasar-dasar pendidikan yang penting. d) Pengawasan dan Kritik Sosial Di antara dasar sosial yang penting di dalam membentuk perangai anak dan mendidik kehidupan sosialnya adalah dengan membiasakan anak sejak usia dini
90 melakukan pengawasan masyarakat dan kritik sosial yang membangun, untuk setiap individu yang dipergaulinya, yang mengikutinya, yang bertemu dengannya dan memberikan nasehat kepada setiap individu yang terlihat menyimpang dan menyeleweng. C. PENGASUHAN SESUAI USIA DALAM ISLAM Pada saat anak lahir, anak perlu di adzani di telinga sebelah kanan. Abu Rafi’ pernah berkata “Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan bin Ali saat baru dilahirkan oleh Fatimah”. Adzan bagi anak baru lahir mengandung makna agar anak mendengarkan suara untuk pertama kalinya, yaitu seruan adzan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah. Selain itu, bayi ketika baru lahir dia akan diganggu oleh setan. Ibnu Abas berkata “Setiap bayi yang baru dilahirkan pasti menangis, kecuali Isa putra Maryam. Bayi itu menangis karena perutnya diperas oleh setan sehingga si bayi menjerit” Dengan ini seruan adzan diperdengarkan pada bayi maka akan menjadi sebuah penyerangan kepada setan yang selalu berusaha untuk merusak keturunan Nabi Adam serta generasigenerasinya (Abdurrahman, 2010). Apabila bayi dilahirkan dari hasil perzinaan, maka bayi tersebut harus tetap mendapatkan kasih sayang. Nabi Muhammad SAW pernah didatangi oleh wanita yang mengaku bahwa dirinya mengandung dari hasil perzinaan, kemudian Rasulullah memerintahnya untuk melahirkannya, setelah wanita itu melahirkan bayi didalam kandungannya tersebut, kemudian wanita itu datang lagi menghadap Rasulullah, lalu beliau memerintahkan kembali untuk menyusui anak itu sampai ia cukup ASI. Setelah itu wanita tersebut datang kembali kepada Rasulullah dengan membawa anaknya yang sudah disapih dan bisa makan sendiri. Lalu Rasulullah memerintahkan kepada wanita itu untuk menyerahkan bayi tersebut kepada seorang lelaki muslimin, dan memerintahkan agar dibuatkan galian sebatas dada guna menanam tubuh wanita itu. Kemudian beliau menyuruh orang-orang untuk merajam wanita itu. Dari kisah ini dapat dilihat bahwa Nabi Muhammad SAW sangat sayang kepada bayi meskipun dari hasil zina.
91 Menurut Islam, pengasuhan anak sangat penting dan ditekankan untuk memperoleh generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, serta bertanggung jawab dalam kehidupan sosial dan agama. Berikut adalah gambaran umum tentang pengasuhan anak menurut usia berdasarkan agama Islam (Azhar dkk, 2020): 1. Usia 0-3 tahun: Pada usia ini, pengasuhan anak sangat tergantung pada perawatan fisik dan kenyamanan bayi, termasuk kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tidur, dan perawatan kesehatan. Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya memberikan kasih sayang, cinta, dan perhatian yang cukup untuk membantu bayi merasa aman dan terlindungi. Dalam Islam, pemberian ASI (air susu ibu) sangat dianjurkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi, dan setelah itu makanan pendamping dapat diberikan secara bertahap. Selain itu, menjaga kebersihan dan higienis lingkungan bayi juga sangat penting untuk mencegah penyakit dan infeksi. 2. Usia 3-4 tahun: Pada usia ini, pengasuhan anak mencakup peningkatan perhatian pada perkembangan sosial dan emosional anak, serta perkembangan motorik dan kognitif. Islam menekankan pentingnya memberikan pengajaran agama dan nilainilai moral yang baik, seperti mengajarkan anak untuk berbicara dengan sopan, berbagi, menghormati orang tua dan orang lain, serta menghargai lingkungan. Pada usia ini, orang tua juga harus mengenalkan konsep dasar agama Islam, seperti shalat, puasa, dan zakat. Dalam hal shalat ada salah satu kisah Rasulullah, Abdullah bin Syaddad pernah berkata “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat magrib atau shalat isya, sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalam salah satu sujud dari shalatnya itu, beliau lama sekali melakukannya” lalu Ayah perawi mencoba mengangkat kepalanya, dan ia melihat bahwa cucu Rasulullah sedang berada diatas punggung Rasulullah yang sedang bersuud. Setelah selesai shalat para jamaah bertanya
92 kepada Rasul, mereka berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu” kemudian Rasulullah menjawab “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku” Selain itu, memberikan pendidikan yang memadai tentang kebersihan dan kesehatan juga sangat penting untuk membantu anak terhindar dari penyakit dan infeksi. 3. Usia 4-5 tahun: Pada usia ini, anak sudah mulai mandiri dan dapat melakukan kegiatan sendiri. Orangtua sebaiknya tetap memberikan perhatian pada anak, namun juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar mandiri. Orangtua dapat mengajarkan anak untuk membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, serta memperdalam pengajaran tentang nilai-nilai Islam, seperti mengenal Allah, berdoa, dan berpuasa. 4. Usia 5-6 tahun Pada usia ini, anak sudah mulai memahami nilai-nilai Islam dengan lebih baik dan dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua dapat membimbing anak dalam membaca Al-Quran, serta mengajarkan anak untuk mengenal hadist dan sejarah Islam. Selain itu, orangtua juga dapat membiasakan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional anak. Macam-macam pola asuh anak usia dini Menurut Baumrind (1991), Terdapat beberapa macam pola asuh anak usia dini yang umum diterapkan oleh orang tua atau pengasuh, di antaranya:
93 1. Pola asuh otoriter: Pola asuh ini ditandai dengan adanya kontrol yang sangat kuat dari orang tua terhadap anak, tanpa memberikan kesempatan bagi anak untuk mengemukakan pendapat atau mengambil keputusan. Orang tua cenderung memberikan hukuman atau sanksi yang keras jika anak tidak mengikuti perintahnya. Pola asuh ini dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional anak. 2. Pola asuh permisif: Pola asuh ini ditandai dengan kurangnya kontrol dari orang tua terhadap anak. Orang tua tidak memberikan batasan yang jelas bagi anak dan cenderung membiarkan anak melakukan apa yang mereka inginkan tanpa memberikan arahan atau pengarahan yang cukup. Pola asuh ini dapat menyebabkan anak menjadi kurang disiplin dan sulit untuk mengendalikan perilaku negatif. 3. Pola asuh otoritatif: Pola asuh ini merupakan kombinasi antara kontrol yang cukup kuat dan pemberian kebebasan bagi anak untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan. Orang tua memberikan arahan dan pengarahan yang jelas namun tetap memberikan ruang bagi anak untuk berkreasi dan belajar secara mandiri. Pola asuh ini dianggap sebagai pola asuh yang paling efektif dalam mendukung perkembangan anak secara holistik. Ciri-ciri pola asuh Ciri-ciri pola asuh authoritarian (otoriter), menurut Hurlock yaitu orang tua memaksakan kehendak pada anak, mengontrol tingkah laku anak secara ketat, memberi hukuman fisik jika anak bertindak tidak sesuai dengan keinginan orang tua, kehendak anak banyak diatur orang tua. Menurut Diana Baumride ciri-ciri pola asuh otoriter adalah 1. Kepatuhan secara mutlak tanpa musyawarah 2. Anak harus menjalankan
94 3. aturan secara mutlak tanpa alternatif lain 4. Bila anak berbuat salah, orangtua tidak segan menghukum 5. Hubungan anak dan orang tua sangat jauh 6. Lebih memenangkan orangtua bahwa orangtua paling benar 7. Lebih mengendalikan kekuatan orangtua, dengan memberi hadiah, ancaman dan saksi 8. Kurang memperhatikan perasaan anak, yang penting prilaku anak berubah. Dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri ola asuh otoriter yaitu orang tua memaksakan kehendak pada anak, membatasi keinginan anak, mengontrol tingkah laku anak secara ketat, memberi hukuman fisik, dan kehendak anak banyak diatur orang tua. Ciri-ciri pola asuh Authoritative (Demokratis), Hurlock berpendapat bahwa pola asuhan outhoritatif/Democratie dengan ciri-ciri adanya pengakuan kemampuan anak oleh orang tuanya. Anak diberi kesempatan untuk tergantung dan mengembangkan kontrol internalnya. Orang tua melibatkan partisipasi anak dalam mengatur kehidupan anak, menetapkan peraturan-peraturan, dan dalam mengambil keputusan. Ciri-ciri pola asuh authoritatif: a. Menghargai pada minat dan keputusan anak b. Mencurahkan cinta dan kasih sayang setulusnya; c. Tegas dalam menerapkan aturan dan menghargai prilaku baik; dan d. Melibatkan anak dalam hal-hal tertentu. e. Menurut pendapat Desmita bahwa gaya pengasuhan authoritatif memiliki ciri-ciri dengan: 1) Memperlihatkan pengawasan ekstra ketat. terhadap tingkah laku anak 2) Tetapi mereka juga bersikap responsif,
95 3) Menghargai, dan menghormati pemikiran, perasaan serta mengikut sertakan anak dalam pengambilan keputisan. Dari pendapat para pakar di atas maka penulis simpulkan bahwa ciri-ciri pola asuh outhoritatif (demokratis) yaitu mendorong anak untuk mandiri tetapi tetap dalam batasan dan kontrol. Biyasanya bersikap hangat, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, Orang tua melibatkan partisipasi anak dalam mengatur kehidupan anak, menetapkan peraturanperaturan, dan dalam mengambil keputusan. Ciri-ciri pola asuh permissif, Menurut Santrock ciri-ciri pola asuh permisif yaitu: a. Orang tua membolehkan atau mengijinkan anaknya untuk mengatur tingkah laku yang mereka kehendaki dan membuat keputusan sendiri kapan saja b. Orang tua memiliki sedikit peraturan di rumah c. pembatasan kapan saja dan sedikit menerapkan hukuman d. Orang Orang tua sedikit menuntut kematangan tingkah laku, seperti menunjukan tatakrama yang baik atau untuk menyelesaikan tugas-tugas e. Orang tua menghindari dari suatu control atau tua toleran, sikapnya menerima terhadap keinginan dan dorongan yang dikehendaki anak. Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahawa ciri-ciri pola asuh permisif yaitu: Orang tua tidak banyak mengatur, tidak banyak mengontrol dan juga tidak banyak membimbing, cenderung serba membolehkan, mengiyakan,selalu menyediakan dan melayani kebutuhan anak, terlalu peduli dan mudah menyediakan fasilitas kepada anak walaupun tidak sesuai kebutuhan, nyaris tak pernah ada hukuman. Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Ketika seseorang menjadi orang tua maka mereka akan menentukan dan melakukan pola asuh terhadap anak mereka. Pola asuh yang dilakukan oleh setiap orang tua mempunyai perbedan dan pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan
96 perkembangan anak. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh yang dilakukan dalam setiap keluarga. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua menurut Hurlock: Pendidikan orang tua, pendidikan dan pengalaman orang tua dalam perawatan anak akan akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan. Dalam mengasuh anaknya, mereka menjadi lebih siap karena memiliki pemahaman yang luas, sedangkan orangtua yang memiliki latar belakang pendidikan terbatas memiliki pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai kebutuhan dan perkembangan anak sehingga kurang menunjukkan pengertian dan cenderung akan memperlakukan anaknya sengan ketat dan otoriter. Ada beberapa cara ang dapat dilakukan menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan antara lain: 1. Terlibat aktif dalam setiap pendidikan anak, menggamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak. 2. Tingkat sosial ekonomi. Orang tua yang berasal dari tingkat sosial ekonomi menengah lebih bersikap hangat dibandingkan orangtua yang berasal dari sosil ekonomi yang rendah. 3. Kepribadian Kepribadian orang tua dapat mempengaruhi, pola asuh yang konservasif cenderung akan memperlakukan anaknya dengan otoriter 4. Lingkungan Lingkungan banyak mempengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut serta mewarnai pola-pola pengasuhan yang diberikan orang tua terhadap anaknya. Orang lahir tidak dengan pengalaman mendidik anak, maka cara termudah adalah meniru dari lingkungan. 5. Budaya
97 Sering kali orang tua mengikuti cara-cara dilakukan oleh masyarakat dalam mengasuh anak, kebiasaan-kebiasaan masyarakat disekitarnya dalam mengasuh anak. Karena pola-pola tersebut dianggap berhsil dalam mendidik anak kearah kematangan. Orang tua mengharapkan kelak anaknya dapat diterima di masyarakat dengan baik, oleh karena itu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam mengasuh anak juga mempengaruhi setiap orang tua dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya. D. POLA ASUH TIMUR DAN BARAT Setiap orang tua mengasuh anak-anak mereka dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kultur budaya dan adat istiadat mereka. Budaya adalah kepercayaan, kebiasaan, cara hidup, dan seni yang dianut dan diterima oleh orang-orang dalam masyarakat tertentu. Budaya mempengaruhi praktik dalam membesarkan anak karena pola asuh yang digunakan oleh orang tua adalah sering ditentukan oleh latar belakang budaya dan pendidikan mereka sendiri (Sahithya et al., 2019). Budaya membantu membangun pola asuh dan dipertahankan serta ditransmisikan dengan memengaruhi kognisi orang tua dan membentuk praktik pengasuhan (Bornstein et al., 2017). Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda dan biasanya diturunkan oleh pola asuh yang diterima dari orang tua sebelumnya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain -lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya (Ayun, 2017). Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak melalui gaya pengasuhan yang diterapkan. Gaya pengasuhan merupakan seperangkat sikap dan perilaku orang tua dalam mengelola perilaku anak-anak mereka, dan ditentukan oleh pola kontrol, daya tanggap, kehangatan, dan hukuman dalam mengasuh anak. Gaya pengasuhan berfokus pada kuantitas dan kualitas respons/kehangatan orang tua, kontrol/penuntutan, dan disiplin dalam pengasuhan (Power, 2013). Gaya
98 pengasuhan mencakup keyakinan, gaya, dan praktik. Keyakinan adalah keyakinan internal tentang apa arti sesuatu. Gaya adalah tata krama yang khas di mana hal yang dilakukan. Sedangkan praktik adalah tindakan tepat yang terlibat dalam melakukan hal-hal tersebut (Foo, 2019). Gaya pengasuhan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak terutama pada usia dini. Gaya pengasuhan yang baik adalah pengasuhan yang memberikan kehangatan pada anak (Bornstein et al., 2017). Berdasarkan Baumrind (1971, 1989), dan Maccoby dan Martin (1983) dalam (Aunola et al., 2000), gaya pengasuhan terdiri dari dua dimensi, Demandingness mengacu pada sejauh mana orang tua menunjukkan kontrol, tuntutan kedewasaan dan pengawasan dalam pengasuhan mereka; Responsiveness mengacu pada sejauh mana orang tua menunjukkan kehangatan afektif, penerimaan dan keterlibatan. Berdasarkan dua dimensi ini, telah ditentukan empat klasifikasi gaya pengasuhan yang dijelaskan oleh Diana Baumrind (Baumrind, 1991), yaitu: 1. Pola Asuh Otoritatif Orang tua menuntut dan juga responsive, mereka mengendalikan tapi tidak membatasi. Ciri khas dari pola asuh ini adalah keterlibatan orang tua yang tinggi seperti pada minat dan berpartisipasi aktif dalam hidup anak, tingkat komunikasi terbuka yang tinggi, kepercayaankepada anak, penerimaan orang tua, dorongan otonomi psikologis, dan kontrol perilaku dan pemantauan yang tinggi termasuk keadaran dimana, dengan siapa, dan apa yang anak-anak mereka lakukan. 2. Pola Asuh Otoriter Orang tua otoriter menuntut tetapi tidak responsive, mereka menunjukan lebih sedikit hubungan afiliasi dengan anak-anak mereka, orang tua memiliki tingkat kepercayaan dan keterlibatan yang rendah terhadap anak, komunikasi yang terbuka yang mengucilkan hati, dan kontrol ketat yang lebih terpusat pada orang dewasa daripada anak. Selain itu, keluarga otoriter dicirikan oleh kontrol psikologis tingkat tinggi, yang dapat digambarkan dari sudut pandang remaja sebagai perasaan dikendalikan, diremehkan dan dikritik (Aunola et al., 2000). 3. Pola Asuh Permisif
99 Pola asuh orang tua umumnya memiliki sikap menerima dan berpusat kepada anak dan hangat kepada anak. Nemun tidak seperti pola asuh otoritatif, pola asuh ini ditandai dengan perilaku orang tua yang tidak menuntut dan kurangnya kontrol orang tua kepada anak. Orang tua tidak menuntut perilaku yang matang dari anaknya dan membiarkan mereka berperilaku secara otonom dan mandiri (Baumrind, 1991). 4. Pola Asuh Neglectful/Abai Terkadang orang tua yang lalai tidak responsive atau menuntut, mereka tidak mendukung atau mendorong pengaturan diri anak dan juga sering gagal memantau serta mengawasi perilaku anak. Ciri khas pola asuh ini adalah selain tidak mengontrol adalah ketidakerlibatan secara keseluruhan. Ciri dari pola asuh ini adalah orang tua tidak mengontrol dan tidak terlibat secara keseluruhan (Baumrind, 1991). Menurut Hurlock (1999) dalam (Makagingge et al., 2019), pola asuh orang tua dibedakan atas: 1. Pola Asuh Otoriter Yaitu pola asuh yang mendasarkan pada aturan yang berlaku dan memaksa anak untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan keinginan orang tua. 2. Pola Asuh Demokratis Pola asuh yang ditandai sikap orang tua yang mau menerima, responsive dan semangat memperhatikan kebutuhan anak dengan disertai pembatasan yang terkontrol. 3. Pola Asuh Permisif Pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan penuh kepada anaknya untuk membuat keputusan sendiri sesuai dengan keinginan dan kemauannya, ini mengarah pada sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anak. Menurut Sahithya et al., (2019), dijelaskan juga bahwa gaya pengasuhan yang otoriter kurang tanggap terhadap anak, sangat menuntut, dan mengalah tingkat otonomi yang rendah.; Orang tua yang berwibawa responsif terhadap anaknya, sangat menuntut, dan mengabulkan otonomi; Orang tua yang permisif tidak banyak menuntut dan memberikan tingkat otonomi yang tinggi; Gaya pengasuhan permisif