100 selanjutnya dibedakan menjadi permisif- memanjakan dan gaya pengasuhan permisif-acuh tak acuh oleh Maccoby dan Martin (1983). Sementara orang tua yang permisif-memanjakan (dirujuk sebagai orang tua yang permisif) sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak dan sangat responsif, orang tua yang permisif-acuh tak acuh (disebut sebagai orang tua yang tidak terlibat atau lalai) tidak terlibat, dan menunjukkan tingkat responsif dan tuntutan yang rendah. Gaya pengasuhan orang tua pada umumnya menggunakan gaya pengasuhan Baumrind (meliputi gaya pengasuhan otoriter, otoritatif, permisif). Gaya pengasuhan orang tua pada umumnya dikelompokan ke dalam dua aliran, yaitu pengasuhan dalam masyarakat individualistik (budaya Barat) dan pengasuhan dalam masyarakat kolektivistik (budaya Timur). Menurut Wang & Leichtman dalam (Sahithya et al., 2019), perbedaan utama antara budaya barat dan timur adalah konsep kemerdekaan dan konsep ketergantungan. Gaya pengasuhan individualistic diartikan dengan segalanya adalah dirinya sendiri. Gaya pengasuhan budaya barat adalah dengan memberi anak kemampuan dan keterampilan individualistis untuk melanjutkan kehidupan masa depannya dan dilakukan oleh orang tua secara ketat, longgar, wajar, atau memanjakan (Foo, 2019). Orang tua Barat mendorong kemandirian, individualisme, ketegasan sosial, kepercayaan diri, dan kompetensi (Foo, 2019). Gaya pengasuhan timur atau bisa disebut proximal parenting ditandai dengan kedekatan tubuh dan stimulasi tubuh. Proximal parenting dominan dalam masyarakat subsisten tradisional dimana tujuan sosialisasi yang mewujudkan keterikatan, kepatuhan, dan hirerarki lebih disukai. Gaya pengasuhan ini memperkuat kedekatan dan kehangatan serta perkembangan awal kepatuhan (Keller et al., 2009). Gaya pengasuhan barat yang biasa disebut distal parenting menekankan otonomi, pesaingan, prestasi individu, peningatan diri, dan kesetaraan merupakan tujuan sosial. Pada studi mendalam disebutkan bahwa awal pengasuhan distal mengarah pada perkembangan awal pengenalan diri (Keller et al., 2009). Proximal Parenting Menurut Heidi Keller Psikolog dari Universitas Osnabruck, pola asuh di Asia dikenal dengan istilah pola asuh Proximal. Ciri dari pola asuh proximal adalah
101 kedekatan dan kontak fisik antara ibu dan anak yang dibangun dalam waktu yang cukup lama. Kalau ibu perhatikan, rata-rata orangtua di Asia, khususnya di Indonesia masih sering tidur bersama anak-anak mereka bahkan hingga usianya mencapai enam tahun. Selain itu, orangtua di Asia juga masih memandikan anak mereka dan menggendong-gendong bayinya saat bepergian atau sekedar menyuapi makanan. Namun, para orangtua di Asia cenderung lebih disiplin daripada orangtua di Eropa atau Amerika. Mereka selalu mengawasi perkembangan anak-anaknya hingga dewasa. Orangtua sering ikut andil dan memberikan arahan-arahan ketika sang anak memutuskan sesuatu. Gaya pengasuhan kolektivitas atau proximal adalah segalanya bersama-sama dan saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama. Pengasuhan ini mengajarkan anak berbakti seperti menaati pdan menghormati orang tua, mendengarkan orang dewasa, mengikuti aturan. Tanggung jawab orang tua adalah melatih dan mendisiplinkan anak (Foo, 2019). Pengasuhan orang tua timur misalnya dengan memelihara lingkungan yang aman bagi anak-anaknya, memberikan arahan pada anaknya, dan melibatkan diri dalam perkembangan anak (Huang et al., 2017). Tujuan pengasuhan budaya timur terdiri atas dua yaitu yang pertama untuk menjamin keberhasilan anak di masa depan, dan yang kedua untuk mengembangkan bakti timbal balik ketika orang tua mencapai usia tua (Foo, 2019). Dampak pengasuhan orang tua outoritatif dikaitkan dengan kesejahteraan anak (Sahithya et al., 2019); memberikan kontribusi positif terhadap kepuasan hidup siswa (Chen, 2014); pola asuh otoritatif ibu berhubungan dengan motivasi intrinsik (Tang et al., 2018); pengasuhan otoritatif orang tua memiliki dampak yang menguntungkan pada kesehatan mental anak di kemudian hari (Hegde et al., 2015). Inisiatif pertumbuhan pribadi dan harga diri seseorang dipengaruhi oleh gaya pengasuhan otoritatif (Hirata & Kamakura, 2017). Gaya pengasuhan otoritatif orang tua berhubungan positif dengan kesejahteraan psikologis siswa. Pola asuh otoritatif dikaitkan dengan tingkat kenakalan remaja yang lebih rendah (Kauser & Pinquart, 2016).
102 Dampak pengasuhan orang tua otoriter tidak terkait dengan kepuasan hidup siswa (Yeung, 2016); pola asuh yang keras meningkatkan disregulasi emosional anak (Wang, 2019); gaya asuh otoriter ibu berhubungan negatif dengan introjeksi regulasi dan regulasi eksternal (Tang et al., 2018); gaya pengasuhan otoriter orang tua dapat memperburuk kesehatan mental anak di kemudian hari, seperti gejala masalah, risiko mereka untuk diri mereka sendiri dan orang lain, fungsi hidup, dan kesejahteraan psikologis (Uji et al., 2014). Pola asuh dengan kontrol yang tinggi dikaitkan dengan agresi di kalangan anak perempuan, sementara kurangnya kontrol memprediksi agresi pada anak laki-laki (Satnam et al., 2015). Dampak pengasuhan orang tua permisif berhubungan positif dengan regulasi eksternal (Tang et al., 2018). Perlindungan orang tua yang berlebihan dikaitkan dengan masalah perilaku, ekspresi agresi tidak langsung, stres, kecemasan, harga diri rendah, dan perasaan kesepian (Jahan & Suri, 2016). Pola asuh yang mengabaikan dikaitkan dengan tingkat kenakalan yang lebih tinggi (Kauser & Pinquart, 2016). Anak-anak yang dididik dengan cara timur umumnya mampu mengontrol emosi, perilaku dan juga perhatian. Mereka juga lebih patuh dan dapat mengikuti instruksi dari orang dewasa. Anak-anak dengan pola asuh ala timur juga memiliki karakter yang cenderung tenang karena kedua orangtuanya selalu hadir di sisinya dan sangat memahami kebutuhan anak. Meski punya karakter yang lebih tenang dan patuh, anak-anak yang diasuh dengan cara timur rata-rata kurang pandai menyampaikan emosi, sehingga kerap meluapkannya dengan cara yang salah. Mereka juga cenderung kurang percaya diri, pasif, dan kurang mampu mengambil keputusan karena setiap keputusan yang diambil bergantung pada orangtuanya. Distal Parenting Pola asuh ala barat ini mengutamakan kontak mata, menggunakan kata-kata dan ekspresi wajah. Para orangtua yang menerapkan pola asuh ala barat lebih membebaskan anak-anak mereka, sehingga anak-anak barat cenderung lebih mandiri. Saat menonton cuplikan film-film barat, ibu pasti sering melihat para orangtua di Amerika atau Eropa membiarkan anak-anaknya tidur di kamarnya sendiri sejak bayi. Orang-orang barat juga sering memberikan pujian dan jarang mengkritik sang
103 anak untuk melindungi harga diri anak-anak. Intinya, para orangtua barat memperlakukan anak layaknya orang dewasa, Gaya pengasuhan budaya barat yaitu memberi anak kemampuan dan keterampilan individualistis untuk melanjutkan kehidupan masa depannya. Pengasuhan orang tua dapat dilakukan secara ketat, longgar, wajar, atau memanjakan. Pendekatanpendekatan pengasuhan orang tua barat ditinjau dari berbagai penelitian dan studi, menganut gaya pengasuhan Baumrind dan Maccoby dan Martin. Gaya pengasuhan Baumrind terdiri dari pengasuhan otoriter, otoritatif, dan permisif atau memanjakan; sedangkan gaya pengasuhan Maccoby dan Martin yaitu pengasuhan mengabaikan atau tidak terlibat. Hukuman fisik yang dilakukan oleh orang tua otoriter ditemukan secara konsisten pada anak-anak dengan perilaku negatif pada perkembangan selanjutnya. Kontrol orang tua yang tinggi dikaitkan dengan masalah perilaku internal dan eksternal (Mannarini et al., 2018); seperti kecemasan (Albinhac et al., 2018); depresi, fobia sosial yang tinggi (Mousavi, 2016), gangguan perilaku (Eun et al., 2018), agresi, intimidasi (Zurcher et al., 2018); tingkat penggunaan obat-obatan terlarang (Calafat et al., 2014); sikap maladaptive, seperti kekhawatiran tentang kesalahan, dan meragukan kemampuan seseorang (Hibbard & Walton, 2014). Kontrol orang tua yang berlebihan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak, dan mempengaruhi rasa percaya diri dan kompetensi anak, terutama dalam situasi social (Sahithya et al., 2019). Pengasuhan orang tua dengan kehangatan yang baik atau otoritatif dikaitkan dengan hasil perkembangan positif pada anak-anak. Perawatan ayah yang tinggi dikaitkan dengan fobia sosial rendah (Eun et al., 2018). Anak-anak yang orang tuanya menunjukkan perilaku yang mendukung kemandirian ditemukan memiliki orientasi motivasi yang lebih intrinsik dan menunjukkan penurunan intimidasi. Gaya pengasuhan otoritatif yang hangat dikaitkan dengan tingkat penggunaan narkoba yang lebih rendah (Calafat et al., 2014). Menurut Majumder (2016) dalam (Indrawati & Muthmainah, 2022) anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang otoritatif memiliki tahun-tahun sekolah yang bagus dan lebih banyak kesempatan untuk memperoleh kualifikasi yang lebih tinggi.
104 Gaya pengasuhan permisif atau memanjakan ditandai dengan lebih sedikit perasaan kritik dari orang tua (Hibbard & Walton, 2014). Gaya pengasuhan yang lalai atau mengabaikan atau tidak terlibat dikaitkan dengan penggunaan alkohol lebih tinggi pada anak (Calafat et al., 2014). Menurut Donath et al. (2014) dalam (Indrawati & Muthmainah, 2022) menerangkan bahwa gaya pengasuhan yang menolak atau mengabaikan sangat berisiko pada perkembangan anak selanjutnya, seperti bunuh diri, merokok, dan pesta minuman keras. Menurut Majumder (2016) anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak terlibat lebih cenderung putus sekolah (Indrawati & Muthmainah, 2022). Kelebihan dari pola asuh ini adalah mendorong anak untuk mengenali dirinya sendiri sejak kecil. Dengan cara ini, anak-anak sadar bahwa dirinya berpengaruh dan memiliki kontrol terhadap lingkungan di sekitarnya. Hal ini membuat anakanak yang diasuh dengan cara barat punya sifat lebih percaya diri, lebih ekspresif, mandiri, serta berani mengatur dan berargumen. Sayangnya, karena anak merasa punya kontrol, mereka bisa saja merasa seperti “penguasa” di lingkungannya. Anak-anak juga akan melakukan apa pun agar keinginannya terpenuhi, termasuk menangis atau melanggar aturan.
105 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, J. (2010). Islamic Parenting : Pendidikan Anak Metode Nabi. Solo: AQWAM : Jembatan Ilmu. Albinhac, A. M. H., Jean, F. A. M., & Bouvard, M. P. (2018). Étude du lien parental dans l’enfance chez les enfants et adolescents avec anorexie mentale. L’Encephale, 2017, 2–7. https://doi.org/10.1016/j.encep.2018.02.004 Aunola, K., Stattin, H., & Nurmi, J. E. (2000). Parenting styles and adolescents’ achievement strategies. Journal of Adolescence, 23(2), 205–222. https://doi.org/10.1006/jado.2000.0308 Ayun, Q. (2017). Pola Asuh Orang Tua dan Metode Pengasuhan dalam Membentuk Kepribadian Anak. ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 5(1), 102–122. https://doi.org/10.21043/thufula.v5i1.2421 Azhar, N., Amin, M., & Arshad, N. (2020). Islamic Parenting: A Review on Child Development and Parenting Approaches in Islamic Perspective. Journal of Islamic Thought and Civilization, 10(1), 1-14. Baumrind, D. (1991). The Infuence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use. Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95. Bornstein, M. H., Putnick, D. L., Lansford, J. E., Al-Hassan, S. M., Bacchini, D., Bombi, A. S., Chang, L., Deater-Deckard, K., Di Giunta, L., Dodge, K. A., Malone, P. S., Oburu, P., Pastorelli, C., Skinner, A. T., Sorbring, E., Steinberg, L., Tapanya, S., Tirado, L. M. U., Zelli, A., & Alampay, L. P. (2017). ‘Mixed blessings’: parental religiousness, parenting, and child adjustment in global perspective. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines, 58(8), 880–892. https://doi.org/10.1111/jcpp.12705 Calafat, A., Garcia, F., Juan, M., Becona, E., & Hermida, J. R. F. (2014). Which parenting style is more protective against adolescent substance use ? Evidence within the European context. 138, 185–192. https://doi.org/10.1016/j.drugalcdep.2014.02.705
106 Eun, J. D., Paksarian, D., He, J. P., & Merikangas, K. R. (2018). Parenting style and mental disorders in a nationally representative sample of US adolescents. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 53(1), 11–20. https://doi.org/10.1007/s00127-017-1435-4 Foo, K. H. (2019). Intercultural parenting: How eastern and western parenting styles affect child development. In Intercultural Parenting. Hegde, A., Kamath, A., & Roy, K. (2015). Is parenting a determinant of adolescent mental health ? – A population based study in South India. Journal Adolescent Mental Health. https://doi.org/10.1515/ijamh-2015-0090 Hibbard, D. R., & Walton, G. E. (2014). EXPLORING THE DEVELOPMENT OF PERFECTIONISM : Social Behavior and Personality, 42(2), 269–278. Hirata, H., & Kamakura, T. (2017). The effects of parenting styles on each personal growth initiative and self-esteem among Japanese university students. International Journal of Adolescence and Youth, 3843, 1–9. https://doi.org/10.1080/02673843.2017.1371614 Huang, C., Cheah, C. S. L., Lamb, M. E., & Zhou, N. (2017). Associations Between Parenting Styles and Perceived Child Effortful Control Within Chinese Families in the United States , the United Kingdom , and Taiwan. Journal of Cross-Cultural Psycology, 0(0), 1–18. https://doi.org/10.1177/0022022117706108 Indrawati, & Muthmainah. (2022). Dampak Gaya Pengasuhan Budaya Barat dan Timur Terhadap Perkembangan Anak. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(4), 3147–3159. https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i4.2230 Keller, H., Borke, J., Staufenbiel, T., Yovsi, R. D., Abels, M., Papaligoura, Z., Jensen, H., Lohaus, A., Chaudhary, N., Lo, W., & Su, Y. (2009). Distal and proximal parenting as alternative parenting strategies during infants’ early months of life: A cross-cultural study. International Journal of Behavioral Development, 33(5), 412–420. https://doi.org/10.1177/0165025409338441 Kendra Cherry. (2022). What Is Sociocultural Theory?. Diakses 11 Mei 2023, dari
107 https://www.verywellmind.com/what-is-sociocultural-theory-2795088 Maimun. (2017). Psikologi Pengasuhan: Mengasuh Tumbuuh Kembang Anak dengan Ilmu. Mataram: Sanabil. Makagingge, M., Karmila, M., & Chandra, A. (2019). PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK (Studi Kasus Pada Anak Usia 3-4 Tahun di KBI Al Madina Sampangan Tahun Ajaran 2017- 2018). Yaa Bunayya Jurnal Anak Pendidikan Usia Dini, 3(2), 115–122. https://doi.org/10.24853/yby.3.2.16-122 Mannarini, S., Balottin, L., Palmieri, A., & Carotenuto, F. (2018). Emotion Regulation and Parental Bonding in Families of Adolescents With Internalizing and Externalizing Symptoms. Frontiers in Psychology, 9(August), 1–9. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01493 Mousavi, S. E. (2016). Perceived Parenting Styles and Cultural Influences in Adolescent ’ s Anxiety : A Cross-Cultural Comparison. Journal of Child and Family Studies. https://doi.org/10.1007/s10826-016-0393-x Nisa, Hanifatun dkk. Perbedaan Peran Ibu dan Ayah dalam Pengasuhan Anak pada Keluarga Jawa. Jurnal Multidisiplin West Science, Vol. 01, No.02, Desember, pp. 244-255 Power, T. G. (2013). Parenting dimensions and styles: A brief history and recommendations for future research. Childhood Obesity, 9(SUPPL.1), 14–21. https://doi.org/10.1089/chi.2013.0034 Sahithya, B. R., Manohari, S. M., & Vijaya, R. (2019). Parenting styles and its impact on children–a cross cultural review with a focus on India. Mental Health, Religion and Culture, 22(4), 357–383. https://doi.org/10.1080/13674676.2019.1594178 Seurahman, Buyung. (2019). Peran Ibu Terhadap Masa Depan Anak. Jurnal Hawa Studi Pengarus Utama Gender Anak, Vol. 1, Edisi 2. Tang, J., Li, N., Robert, J., & Yangyang, S. (2018). Parenting Styles and Academic Motivation : A Sample from Chinese High Schools. Journal of Child and
108 Family Studies. https://doi.org/10.1007/s10826-018-1164-7 Zurcher, J. D., Holmgren, H. G., & Coyne, S. M. (2018). Parenting and Cyberbullying Across Adolescence 1 2 3. 21(5), 294–303. https://doi.org/10.1089/cyber.2017.0586
109 BAB 5 SEKOLAH UNTUK ORANG TUA A. SEKOLAH Sekolah secara Umum Sekolah [se.ko.lah] berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI adalah bangunan atau lembaga yang dimana dijadikan tempat untuk belajar dan mengejar serta tempat untuk menerima dan memberi pelajaran menurut tingkatanya, seperti sekolah dasar, lanjutan, tinggi dan atau menurut jurusannya. Sekolah disini dapat diartikan sebagai suatu pendidikan. Pendidikan sendiri menurut Rahman et al. (2022) adalah suatu usaha yang terencana guna mewujudkan suasana belajar serta proses belajar agar anak didik dapat mengembangkan potensi secara aktif untuk memiliki nilai spiritual yang baik, pengendalian diri, kecerdasan, kepribadian, serta akhlak yang mulia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Terdapat penjelasan dari beberapa ahli terkait pengertian pendidikan secara umum, yaitu : a. Prof. Dr. M.J Langeveld Pendidikan yaitu suatu pemberian bimbingan rohani bagi individu yang masih memerlukan. b. Ahmad D. Marimba Pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh seorang pendidik untuk membentuk kepribadian yang utama.
110 c. Prof. Zaharai Idris Pendidikan adalah upaya dalam memberikan bantuan terhadap perkembangan anak secara utuh antara orang dewasa terhadap anak didik secara langsung maupun menggunakan media. Sehingga dapat diartikan bahwa pendidikan dapatmenambahkan wawasan dalam kehidupan dan dengan pendidikan akan memperbaiki sistem kehidupan agar lebih tertata dan sesuai dengan landasan dalam hidup. Pendidikan sendiri terbagi menjadi tiga macam yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal yaitu pendidikan yang dilaksanakan secara terstruktur, dengan memiliki jenjang tingkatan dan berada diperiode tertentu dari taman kanak-kanak hingga jenjang universitas. Kemudian terdapat pendidikan non-formal, dimana pendidikan ini dilaksanakan di luar dari pendidikan sekolah seperti pada pendidikan dengan keterampilan kejuruan khusus. Biasanya pendidikan ini diperuntukan bagi seseorang yang belum sempat menyelesaikan pendidikan pada jengang tertentu pada pendidikan formal. Selanjutnya adalah pendidikan informal, pendidikan ini berasal dari lingkungan keluarga. Dimana seluruh keterampilan dan pengetahuan sehari-hari berasal dari pendidikan yang ada di keluarga. Pendidikan informal ini proses pelaksanaannya berlangsung sejak seseorang anak dilahirkan dalam sebuah keluarga, dengan memberikan nilai-nilai kehidupan serta pengarahan dalam hidup.
111 Sekolah untuk Orang tua Sekolah untuk orang tua bukan berarti sekolah secara formal seperti yang pada umumnya. Sekolah untuk orang tua sendiri lebih mengarah pada sekolah informal namun orang tua menjadi pelaku dalam memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Sehingga sekolah untuk orang tua adalah sama dengan pendidikan bagi orang tua dalam menggali seluruh informasi terkait kegiatan pengasuhan dan pengarahan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya melalui beberapa kegiatan, media, atau program-program yang dapat memberikan manfaat. Sekolah untuk orang tua dapat berupa kegiatan seminar yang dilakukan oleh lembaga yang mengatur terkait pengasuhan, adanya kegiatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK yang dilakukan di organisasi kemasyarakatan, selanjutnya adalah kegiatan training atau kursus bagi orang tua yang baru memiliki anak, selain itu dengan membaca buku-buku yang memuat banyak informasi terkait hal apa saja yang perlu diketahui untuk menjadi orang tua yang baik dan bijak. B. BENTUK SEKOLAH UNTTUK ORANG TUA Sekolah sebagai institusi pendidikan mampu mencetak generasi penerus bangsa yang unggul. Begitu juga dengan orang tua memiliki peran strategis dalam membantu dan meningkatkan pembelajaran anaknya, sehingga sekolah dan orang tua memiliki peranan penting dalam meningkatkan keefektifan belajar. Karenanya, untuk mencapai keefektifan proses belajar mengajar pada siswa, sekolah mengajak orang tua untuk bekerja sama guna meningkatkan kualitas pembelajaran secara langsung. Namun, saat ini tidak semua sekolah bekerja sama dengan para orang tua. Hal ini sangat disayangkan, karena dengan adanya kerja sama antara sekolah dengan orang tua hasil akademik siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian sangat dianjurkan agar sekolah dapat mengajak orang tua untuk bekerja sama guna mendukung pembelajaran.
112 1. Seminar Seminar untuk orang tua merupakan cara untuk menjelaskan pada orang tua mengenai proses pendidikan anak yang baik. Banyak orang tua yang memiliki kesulitan untuk mendidik anak mereka. Seminar membantu menjelaskan bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan tersebut dan membuat orang tua lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak dan cara yang tepat untuk mendidiknya. Isi seminar tidak akan jauh dari ini. Orang tua akan diminta untuk mendengarkan sejumlah bentuk parenting yang salah dan diberikan solusi untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan tersebut. Semua penjelasan memiliki Seminar adalah pilihan yang tepat karena tujuannya meliputi: - Penjelasan mengenai parenting - Parenting yang buruk dan yang baik - Contoh parenting yang buruk - Cara untuk menghindari kesalahan mendidik anak - Memahami anak lebih baik berdasarkan usia - Menemukan permasalahan dalam proses pendidikan anak modern dan solusinya Ada banyak lagi jenis materi yang dijelaskan sebagai tujuan dari seminar. Mengetahui tujuan tidaklah sulit. Biasanya seminar akan berisi materi dengan judul yang mengangkat berbagai jenis masalah parenting yang berhubungan dengan isu terkini kemudian mengupas tuntas masalah tersebut dengan pembahasan yang meliputi penyebab, dampak, dan solusi untuk hal tersebut. Seminar juga mampu memperluas sudut pandang orang tua mengenai pendidikan anak dan memahami situasi terbaru yang mempengaruhi perkembangan anak. Memilih seminar parenting untuk menemukan solusi dalam menyelenggarakan pendidikan anak akan meliputi berbagai cara. Tujuan dari seminar dan memahami judul dari seminar merupakan hal yang sangat penting. Parenting selalu melibatkan banyak hal yang serupa dari rumah tangga satu dengan rumah tangga yang lain. Solusi atau perilaku orang tua terhadap sikap anak juga berbeda. Mendapatkan
113 pemahaman dari ahli mengenai cara terbaik untuk melakukan pendidikan anak merupakan jalan terbaik untuk meluruskan kesalahan yang sebelumnya telah dilakukan. Orang tua memiliki kewajiban untuk memastikan hal ini tidak akan terjadi dalam keluarga mereka. Kesejahteraan anak dan masa depan mereka akan menjadi taruhan dalam proses parenting. Melakukannya dengan pengetahuan yang cukup adalah langkah yang paling bijak. Mengahadiri banyak seminar parenting akan membantu orang tua untuk mengumpulkan hal yang mereka perlukan. 2. PKK Kepanjangan PKK adalah Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga. Istilah ini telah dikenal luas yang biasanya diasosiakan sebagai perkumpulan ibu-ibu yang memiliki kegiatan positif. PKK adalah organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan perempuan dann berpartisipasi dalam pembangunan kesejahteraan Indonesia. Kelompok PKK adalah kelompok-kelompok yang berada di bawah Tim Penggerak PKK desa/kelurahan yang dapat dibentuk berdasarkan kewilayahan atau kegiatan. Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) adalah mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Dimana fungsi PKK sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali, dan penggerak di masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK. PKK memiliki sejumlah tugas yaitu: - Merencanakan, melaksanakan, dan membina pelaksanaan programprogram kerja TP PKK, dimana sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat. - Menghimpun, menggerakkan, dan membina potensi masyarakat, khususnya keluarga untuk terlaksananya program-program TP PKK. - Memberikan bimbingan, motivasi, dan memfasilitasi TP PKK/ kelompok-kelompok PKK di bawahnya.
114 - Menyampaikan laporan mengenai pelaksana tugas kepada ketua Pembina TP PKK setempat dan Kepada Ketua Umum/Ketua TP PKK setingkat di atasnya. - Mengadakan supervisi, monitoring, evaluasi, dan pelaporan terhadap pelaksana program-program TP PKK. 3. Pelatihan Orang Tua Pelatihan manajemen orang tua (PMT) adalah tambahan untuk pengobatan yang melibatkan mendidik dan pembinaan orang tua untuk mengubah perilaku masalah anak mereka menggunakan prinsip-prinsip teori belajar dan modifikasi perilaku. Tujuan PMT adalah untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku anak yang mengganggu atau tidak pantas di rumah atau sekolah dan untuk menggantikan cara bertindak yang bermasalah dengan interaksi positif dengan teman sebaya, orang tua, dan figur otoritas seperti guru. Untuk mencapai tujuan ini, PMT berfokus pada peningkatan keterampilan pengasuhan. Terapis PMT melatih orang tua dalam menerapkan strategi seperti menghargai perilaku positif, dan menanggapi perilaku negatif dengan menghilangkan penghargaan atau memaksakan konsekuensi yang tidak diinginkan (hukuman). Meskipun PMT berfokus pada perilaku yang ditargetkan khusus daripada diagnosis anak seperti itu, PMT dikaitkan dengan pengobatan gangguan tertentu. PMT digunakan dalam mengobati gangguan pemberontak oposisi , gangguan perilaku ,gangguan eksplosif intermiten (tantrum yang tidak sesuai usia), dan gangguan defisit perhatian dengan hiperaktif (gangguan defisit perhatian/hiperaktivitas). Perilaku antisosial seperti firesetting dan membolos juga dapat diatasi melalui PMT. Di PMT, terapis melakukan sesi pengajaran awal dengan orang tua, memberikan ringkasan singkat tentang konsep dasar dalam modifikasi perilaku; menunjukkan intervensi untuk orang tua; dan pembinaan
115 orang tua dalam melaksanakan teknik PMT. Pertemuan awal dengan fokus terapis pada pelatihan prinsip-prinsip modifikasi perilaku, pembelajaran kontingen-respons, dan cara menerapkan teknik. Orang tua diinstruksikan untuk mendefinisikan perilaku yang akan diubah secara konkret dan spesifik. Selain itu, mereka belajar bagaimana mengamati dan mengidentifikasi perilaku yang relevan dan faktor situasional, dan bagaimana memetakan atau mencatat perilaku anak. Mendefinisikan, mengamati, dan mencatat perilaku sangat penting untuk keberhasilan metode ini, karena ketika perilaku seperti perkelahian atau amukan disorot dengan cara dan teknik yang konkret dan spesifik.penguatan dan hukuman dapat digunakan. Kemajuan atau ketiadaannya lebih mudah untuk diidentifikasi ketika deskripsi perilaku didefinisikan dengan cukup jelas untuk dapat diukur, dan ketika tanggapan terhadap intervensi PMT dilacak pada grafik. Setelah orang tua anak memahami intervensi dasar serta kapan dan bagaimana menerapkannya, teknik yang dipraktikkan orang tua bersama terapis dapat dilakukan di rumah. Teori belajar, yang merupakan landasan konseptual dari PMT, berkaitan dengan cara organisme belajar untuk menanggapi lingkungannya, dan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi perilaku tertentu. Inti dari teori belajar adalah gagasan bahwa tindakan bertambah atau berkurang frekuensinya sebagai tanggapan atas konsekuensi yang terjadi segera setelah tindakan itu. Penelitian tentang interaksi orang tua-anak dalam keluarga dengan anak-anak yang mengganggu, sulit atau menantang menunjukkan bahwa tanggapan orang tua secara tidak sengaja memperkuat perilaku yang tidak diinginkan. PMT melatih orang tua untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi perilaku anak. Orang tua belajar untuk menjadi lebih cerdas: untuk memberikan perhatian, pujian dan kasih sayang yang meningkat sebagai reaksi atas tingkah laku anak dengan cara yang diinginkan; dan untuk menarik perhatian, untuk menangguhkan tampilan kasih sayang. Melalui PMT, orang tua belajar bahwa penghargaan positif untuk
116 perilaku yang sesuai dapat ditawarkan dengan berbagai cara. Memberikan pujian, memberikan perhatian ekstra, mendapatkan poin untuk mendapatkan hadiah yang diinginkan oleh anak, mendapatkan stiker atau indikator kecil perilaku positif lainnya, mendapatkan hak istimewa tambahan, berpelukan (dan gerakan kasih sayang lainnya) adalah semua bentuk hadiah. Istilah teknis untuk menghargai perilaku yang diinginkan adalah penguatan positif. Penguatan positif mengacu pada konsekuensi yang menyebabkan perilaku target yang diinginkan meningkat. C. HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI TERKAIT PENDIDIKAN Pengertian Pendidikan Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pendidikan berasal dari kata “didik” dengan mendapatkan imbuhan “pe” dan akhiran “an” yang artinya cara, proses atau perbuatan mendidik. Pendidikan merupakan sebuah usaha untuk membina dan mengembangkan kepribadian manusia baik dibagian rohani ataupun dibagian jasmani. Menurut UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut H. Horne, pendidikan adalah sebuah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi (terwujud) dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. Setiap negara maju tidak akan pernah terlepas dengan dunia pendidikan. Semakin tinggi kualitas pendidikan suatu negara, maka semakin
117 tinggi pula kualitas sumber daya manusia yang dapat memajukan dan mengharumkan negaranya. Pendidikan merupakan faktor penting bagi masyarakat, demi meningkatkan kualitas masyarakat atau bangsa sangat bergantung pada pendidikan yang ada pada rakyat bangsa tersebut.Seperti yang dikatakan oleh harahap dan poerkatja, pendidikan adalah usaha yang secara sengaja dari orang tua yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moral dari segala perbuatannya.Yang dimaksud orang tua tersebut adalah orang tua anak itu atau orang yang mempunyai kewajiban untuk mendidik tersebut seperti guru, pendeta, dan seorang kiai. Pendidikan akan memberikan dampak positif bagi para generasi muda dan juga pendidikan akan meyiapkan generasi yang baik dan bagus bagi negaranya. Maka dari itu para pendidik harus membutuhkan keuletan dan kesabaran didalam mengajarnya. Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional Indonesia mengatakan pendidikan tersebut adalah merupakan tuntutan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksud dari pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Dari berbagai pangertian mengenai pendidikan tersebut, dapat dilihat dari sisi beberapa titik sudut pandang yang berbeda-beda antara dari titik sudut psikologis maupun titik sudut pandang sosiologis. Terdapat banyak pengertian maupun definisi yang membahas mengenai pendidikan, tergantung dalam melihat pendidikan melalui titik sudut manapun. Akan tetapi dalam inti sari mengenai pemaknaan konsep pendidikan mengarah pada satu tujuan yaitu suatu upaya yang dijadikan proses dalam membina diri seseorang maupun masyarakat secara umum supaya dapat menjembatani langkah-langkah dalam menjalani kehidupan sehingga bisa meraih hidup yang diimpikan oleh semua orang yaitu menikmati kehidupan yang serba dilandasi pegetahuan dan hidup sejahtera, semua kebutuhan terpenuhinya dengan munculnya ide kreatif dan inovatif yang hanya bisa didapat dengan proses mengenyam pendidikan.
118 Pengertian Pendidikan di Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan salah satu tri pusat pendidikan, keluarga mempunyai pengaruh penting dimana setiap orang yang berada dalam institusi ini pasti akan mengalami perubahan dan perkembangan menurut warna dan corak institusi tersebut. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, karena dalam keluarga inilah seorang anak manusia pertama sekali mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Dengan demikian di samping lembaga pendidikan lainnya, keluarga juga mempunyai tugas dan kewajiban untuk melaksanakan pendidikan bagi anggota keluarganya, terutama anak-anaknya. Menurut Ki Hadjar Dewantara, lingkungan keluarga adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan dan sosial, sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga adalah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat yang lainnya untuk melangsungkan pendidikan kearah kecerdasan budi pekerti (pembentukan watak individual) dan sebagai bekal hidup bermasyarakat. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang sempurna bagi pendidikan kecerdasan dan budi pekerti ketimbang pendidikan-pendidikan yang lain (selain keluarga). Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang sangat penting terutama pendidikan agama, yang mutlak harus dilakukan oleh kedua orang tuanya sejak dini sampai dewasa. Lebih-lebih kalau kita ingat, bahwa keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan utama, bahkan juga berfungsi sebagai peletak dasar pembentukan pribadi anak. Pendidikan dalam keluarga merupakan hal fundamental atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya. Artinya, hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya baik di sekolah maupun dalam masyarakat. Orang tua berperan sebagai pendidik dengan mengasuh, membimbing, memberi teladan, dan membelajarkan anak. Sedangkan anak sebagai peserta didik melakukan kegiatan belajar mengajar dengan cara fikir, menghayati, dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya. Antara keluarga dan pendidikan adalah dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, dimana ada keluarga di situ ada pendidikan. Ketika orang tua melaksanakan tugas dan tanggung
119 jawabnya mendidik anak, maka pada waktu yang sama anak menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dalam UU Sisdiknas disebutkan bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga, dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan ketrampilan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan keluarga adalah usaha bersama anggota keluarga terutama orang tua dalam mewujudkan keluarga yang terpenuhi kebutuhan spiritual dan materinya, melalui penanaman nilai-nilai keagamaan, sosial budaya, cukup kasih sayang, terpenuhi pendidikan,ekonomi, dan peduli terhadap lingkungan. Pendidikan Yang Perlu Dikembangkan Dalam Keluarga Secara naluriah dan instinktif pendidikan keluarga akan memberikan pelajaran tentang keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan ketrampilan. Keyakinan agama adalah pendidikan tentang internalisasi nilai-nilai agama, keyakinan agama, tata cara beribadah dan perilaku sebagai umat beragama baik secara transenden maupu secara horizontal. Setiap keluarga atau orang tua pasti menginginkan anak keturunannya memiliki keyakinan agama yang sama dengan dirinya, bahkan kalalu bisa mampu melebihi dalam hak iman dan ketaqwaaanya. Nilai budaya berkaitan dengan nilai-nilai dan perilaku berbudaya sesuai dengan konteks sosial budaya di mana yang bersangkutan hidup, disertai dengan proyeksi seperti apa situasi zaman ketika anak-anaknya dewasa kelak. Berikut hal yang perlu dikembangkan dalam pendidikan keluarga: 1. Menanamkan Pendidikan Agama Masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk meresapkan dasar - dasar hidup beragama. Bagi keluarga beragama islam, anak-anak dibiasakan ikut serta ke mesjid bersama-sama untuk menjalankan ibadah. Bagi keluarga yang beragama selain Islam pelibatan anak pada ritual keagamaan dan penghayatan hidup beragama menjadi hal perlu terdesain pula dengan baik, bukan sekedar mengikuti kelaziman. Kehidupan dalam
120 keluarga hendaknya mampu memberikan kondisi kepada anak untuk mengalami suasana hidup keagamaan. 2. Menanamkan Pendidikan Moral Kepemilikan moral yang baik dapat dilakukan melalui proses sosialisasi, yaitu proses menjadikan seseorang dalam hal ini anak, tumbuh kembang sebagai warga masyarakat yang memahami, menghayati dengan tingkah laku yang sesuai dengan kebiasaan dan adat istiadat pada masyarakat setempat, yang melipiti nilai-nilai dan norma-norma. Nilai-nilai yang diinginkan antara lain: (a) nilai tata krama, (b) nlai sopan-santun, (c) nilai kebersamaan dan gotong royong, (d) nilai teloransi, (e) nilai ketelitian, kerapian, kedisiplinan dan kesempurnaan, dan (f) nilai kesabaran dan keuletan. 3. Menanamkan Nilai-Nilai Sosial Keluarga bagi kepentingan pendidikan merupakan lembaga sosial yang minimal terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga merupakan lembaga internalisasi nilai-nilai sosial, yaitu nilai-nilai yang mewarnai harmonis tidaknya kehidupan bersama antara manusia. Dalam keluarga anak belajar berbagi peran, berbagi kepentingan, berbagi hak dan kewajiban, membentuk kesepakatan sosial, dan belajar menyusun struktur sosial sebagaimana kehidupan di masyarakat. 4. Mengembangkan Keterampilan Kerumahtanggaan Secara alamiah keterampilan kerumahtanggaan diajarkan dari generasi senior kepada generasi junior melalui kehidupan sehari-hari secara informal. Di rumah anak-anak belajar menyelesaikan sendiri kebutuhan kerumahtanggaannya seperti membersihkan kamar tidur, membersihkan lingkungan rumah, mencuci pakaian, menata dan merapikan buku-buku miliknya, dan menyiapkan makanan yang menjadi kebutuhannya. 5. Menanamkan Keterampilan Okupasional dan Vokasional Keterampilan okupasional adalah keterampilan yang terkait dengan penyelesaian urusan-urusan pribadi sampai dengan memenuhi kebutuhan ekonominya secara mandiri. Sedangkan keterampilan vokasional adalah keterampilan yang terkait dengan kemampuan mengerjakan pekerjaan-
121 pekerjaan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pribadi tingkat dasar dan yang menghasilkan nafkah. Pada hakekatnya mengembangkan kemampuan okupasional dan vokasional adalah tanggung jawab orang tua dalam keluarga. Dalam perkembangannya, pengembangan kemampuan vokasional dapat diserahkan kepada lembaga pendidikan nonformal dan pendidikan formal secara profesional. Strategi Pendidikan Keluarga Didalam konteks pendidikan dalam keluarga, orang tua adalah pendidikan utama terhadap anak-anaknya, khususnya segala pengetahuan tentang kehidupan. Pendidikan dalam keluarga merupakan segala usaha yang dilakukan oleh orang tua secara naluriah melalui proses informal yang melebur dengan kehidupan. Dalam prosesnya penuh dengan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anggota keluarga yang disebut anak. Strategi pendidikan dalam keluarga tidaklah bisa disebut secara spesifik sebagai sebuah strategi tertentu. Setiap keluarga akan memiliki ciri khas-nya masing-masing, karena input (masukan) juga berbeda-beda sehingga akan berproses secara khusus, dan akan menghasilkan output (keluaran) yang spesifik juga. Berikut prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter. 1. Berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan pendidikan keluarga merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik dalam kandungan ibunya sampai selesai suatu saat nanti meninggal dunia. 2. Melalui semua aktivitas dan interaksi dalam keluarga untuk pengembangan diri dan pengembangan budaya, mensyaratkan bahwa proses pengembangan karakter dilakukan melalui setiap aktivitas. 3. Kompetensi tidak diajarkan tapi dikembangkan melalui proses belajar berkelanjutan (competenceis is neither cought nor taught, it is learned),
122 sehingga kompetensi yang diajarkan dalam pendidikan keluarga bukanlah bahan ajar biasa. Tidak semata-mata dapat ditangkap sendiri atau diajarkan, tetapi lebih jauh diinternalisasi melalui proses belajar tematik integratif. 4. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan partisipatif. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan dalam keluarga dilakukan oleh semua anggota keluarga secara bersama dimana antara anggota keluarga bisa saling bertukar peran sebagai pendidikan dan sebagai peserta didik. 5. Keteladanan, dimana orang tua atau anggota keluarga yang lebih senior harus menunjukkan keteladanan yang mencerminkan nilai-nilai yang ingin dikembangkan. Misalnya toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, rumah selalu terlihat rapi, dan alatalat rumah tangga ditempatkan teratur. 6. Kesadaran sebagai proses pembelajaran. Pihak pendidik harus senantiasa menyadari bahwa setiap akivitas dalam keluarga dilaksanakan melalui proses belajar setiap materi pelajaran atau kegiatan yang dirancang khusus untuk pendidikan. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara terintegrasi. D. MENDIDIK DAN MEGASUH ANAK DITINJAU DARI PERSPEKTIF AGAMA Mendidik dan Mengasuh Anak menurut Agama Islam Parenting Islami dikenal dengan Tarbiyah al-Awlad dan berlandaskan atas prinsip tauhid, keimanan dan akhlak mulia. Orang tua mempunyai tugas bertanggung jawab untuk mengajarkan kepada anakanaknya tentang pendidikan akhlak, pendidikan jasmani, pendidikan nalar, dan pendidikan untuk bertanggung jawab dalam masyarakat. Metode parenting islami yang baik telah dicontohkan oleh Nabi MuhammadSAW. Menurut suwaid ada beberapa metode yang dapat kita contoh saat nabi mendidik anak-anaknya, yakni sebagai berikut: a. Menjadi suri tauladan yang baik
123 0rang tua merupakan role model bagi anak sehingga orang tua harus mencontohkan sifat-sifat tauladan yang dapat dicontoh oleh anak sehingga dapat mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Sebagai orang tua kita dapat menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan yang nantinya akan kita ajarkan kepada anak-anak kita pula. Seperti yang ada pada Surah Al-Ahzab ayat 21 َر ّٰللاِ فِ ُس و ِل ي لَ ُك م ل َكا َن َقَد سَوة اُ َم ن َح َسنَة ِ ّٰللاَ ل َكا َن يَ ر ُجوا َ يَ وم ْٰل ِخ َو َر ال ّٰللا َو َ ذَ َكَر ا َكثِ ي ًرا Artinya: Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. b. Bersikap adil dan menyamakan terhadap anak Orang tua harus senantiasa berlaku adil terhadap semua anak mereka. Tidak diperkenankan bagi setiap orang tua untuk membedabedakan terhadap anak, baik dari segi kasih sayang, perhatian, sandang, pangan, papan, maupun Pendidikan. Semua anak berhak mendapatkan itu semua dengan adil sesuai kebutuhan dari masing-masing anak. ٍن ْي ِ ٍل ُّمب ٰ ْي َضل ِف ۗاِ َّن اَبَانَا لَ َونَ ْح ُن ُع ْصبَةٌ ْينَا ِمنَّا ِ ى اَب ٰٓ ٰ َح ُّب اِل ْوا لَيُ ْو ُس ُف َواَ ُخْوهُ اَ ُ قَال اِذْ Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. (Q.S. Yusuf: 8). c. Menunaikan hak anak Pendidikan merupakan salah satu hak yang seharusnya diterima anak dari kedua orangtuanya. “Allah menamakan mereka Abrar (orang-orang yang berbakti), karena mereka berbakti kepada orang tua dan anak-anak. Sebagaimana bapakmu memiliki hak atasmu, maka demikian juga anakmu memiliki hak atasmu”. (HR. Bukhari)
124 “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya; apakah dia menjaganya atau melalaikannya, sampai meminta pertanggungjawaban terhadap seorang atas anggota keluarganya.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban) d. Membantu anak untuk berbakti dan mengerjakan ketaatan Mempersiapkan segala macam sarana agar anak berbakti kepada kedua orang tua dan mengerjakan ketaatan serta mendorongnya untuk selalu mengikuti dan menjalankan perintah agama. Anak senantiasa dibekali ilmu agama sedari dini, hal ini supaya anak senantiasa mengingat untuk selalu berada di jalan Allah SWT. َّي اِ َّن ّّٰٰللاَ ا ْص َطفٰى لَ ُكُم الِد ْي َن فَ َل ٰيبَنِ ۗ ْو ُب َويَ ْعقُ ِ َهآٰ اِ ْب ٰر ٖه ُم بَنِ ْي ِه َوَو ّٰصى ب ْم ُّم ْسِل ُمْو َنۗ ُمْوتُ َّن اَِّال َواَْنتُ تَ Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Q.S Al-Baqarah: 132) َربُّ َك َوقَ ٰضى ْٓوا ْٓ عبُدُ َْل اََْل تَ ِن اِ اِيَاهُ َواِلدَ ي ِال َوب َما غَ َن اِ ح ٰسنًا اِ ُ ِكبَ َر يَ ِع ندَ َك بل ال َمآْ و ا َحدُهُ ُهَم اَ اَ ٰ ِكل ُهَم فَ َل تَقُ ل آْ ل ف َ َو َما ا َْل ُ تَ ن ل َه رهُ َوقُ ُهَما َ ِر قَ ي ًم وًْل ل َك ا “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali- kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan baik.”(QS.Al Isra:23) e. Larangan mendoakan keburukan untuk anak Setiap doa orang tua merupakan kelanacaran bagi anaknya daripada orang tua mendoakan hal-hal buruk untuk anak karena kekesalan sesaat alangkah baiknya orang tua selalu mendoakan hal-hal baik untuk anak. َمآْ ُك م اِنَ ُ مَوال وَْلدُ ُك م اَ َواَ َو فِت نَة ّٰللاُ ِع ج ر ندَ هْٓ م اَ َع ِظ ي
125 “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar”. (QS. At-Tagabun:15). َر ِب َر ِضيًّا هُ ْ ْو َب َوا ْجعَل ِل يَ ْعقُ ٰ ْي َويَ ِر ُث ِم ْن ا نِ ِرثُ يَّ “yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.” (Q.S. Maryam: 6) Mendidik dan Mengasuh Anak dalam ajaran Agama Kristen menurut Alkitab Secara formal, tidak ada pendidikan bagi seseorang untuk menjadi orang tua. Kendati demikian, Alkitab memberikan tuntunan bagi siapapun yang hendak menjadi orang tua. Orang tua dalam konteks ini adalah satu laki-laki untuk satu perempuan, yang berkomitmen setia masuk dalam pernikahan. 1. Syarat untuk menjadi orang tua adalah harus menikah. a. Pernikahan adalah perintah sekaligus rencana dari TUHAN Allah (Kejadian 2:18) "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."yang menyatukan laki-laki dan perempuan menjadi sepasang suami-istri (Kejadian 2:23-24) Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."Sebab itu seorang lakilaki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. dan mengesahkan pasutri untuk memiliki keturunan (Kejadian 1:27-28) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
126 b. Setelah menikah, orang tua yang baik bersedia memikul tanggung jawabnya (Kejadian 3:16-19) Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." 2. Orang tua harus bersedia untuk merawat dan mendidik anak-anaknya a. Orang tua harus mendidik iman, moral dan karakter anak-anaknya dalam ajaran TUHAN (Amsal 29:17) Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. (Efesus 6:4) Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. b. Orang tua harus siap secara mental untuk mencukupi kebutuhan berumah tangga (Lukas 11:11-13; 2) Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? c. Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? d. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya." (Korintus 12:14) Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang
127 kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya. 3. Orang tua harus saling mengasihi dan mencintai keluarganya sampai maut memisahkan (Efesus 5:22-33;) Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.Kolose 3:14,18-21) Kolose 3:14 (TB) Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kolose 3:18-21 (TB) Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
128 E. KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN Keuntungan 1. Orang tua menjadi lebih paham terkait apa saja kewajiban yang harus dilakukan oleh orang tua 2. Mempersiapkan orang tua untuk memberikan pengetahuan dan bimbingan terhadap anak, sebagaimana yang kita tahu orang tua merupakan sekolah awal untuk anak 3. Dapat memberikan tips kepada orang tua terkait implementasi nilai-nilai dan keterampilan penting di kehidupan keluarga. Kekurangan 1. Orang tua memiliki rasa khawatir karena minimnya informasi terkait bagaimana cara menjadi orang tua yang bijak. 2. Orang tua cenderung overprotektif terhadap anak, terlebih jika itu menyangkut perkembangan mereka. 3. Karena minimnya pengetahuan orang tua hanya bisa mengkritik tidak memberikan support dan solusi, sehingga membuat anak kurang percaya diri dan selalu menuntut kesempurnaan dalam segala hal.
129 DAFTAR PUSTAKA Rahman, A., Munandar, S. A., Fitriani, A., Karlina, Y., & Yumriani. (2022). Pengertian Pendidikan, Ilmu Pendidikan dan Unsur-Unsur Pendidikan. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 2(1), 1–8. Kamus Besar Bahasa Indonesia.(). Arti Kata Sekolah Menurut KBBI. Diakses pada 23 Maret 2023 dilaman web https://jagokata.com/artikata/sekolah.html#:~:text=%5Bsekolah%5D%20Arti%20sekolah%20di%20 KBBI,arti%20dan%20definisi%20di%20jagokata. (Hendren, n.d.)Poortvliet, Matthew Van, et al. 2018. Working With Parents to Support to support Children’s Learning: Guidance Report.London: Education Endowment Foundation. Utami, Larasati Dyah. 2021. “Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah, Ranking 62 dari 70 Negara.” Hendren, RL Gangguan perilaku yang mengganggu pada anak dan remaja. Tinjauan Seri Psikiatri, vol. 18, tidak. 2. Washington, DC: American Psychiatric Press, 1999. Webster-Stratton, C., dan M. Herbert. Keluarga bermasalah— anak bermasalah: Bekerja dengan orang tua, proses kolaboratif. Chichester, Inggris: Wiley, 1995. Jailani, M. (n.d.). Teori Pendidikan Keluarga Dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam pendidikan Anak Usia Dini. 90-102. Prof.Dr.Supriyono, M.Pd, Iskandar, Ph.D, I., & Drs. Sucahyono, M.Pd. (2015). Pendidikan Keluarga Dalam Perspektif Masa Kini. Indonesia. Yohana, N. (2017). Konsepsi Pendidikan Dalam Keluarga Menurut Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Dan Hasan Langgulung. OASIS (Jurnal Ilmiah Kajian Islam), 1-18. ______________, Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2017
130 Vivian A. Soesilo, Bimbingan Pranikah, Malang: Literatur SAAT, 2010 Duane & Deanna Hunt, Allah adalah Allah Keluarga, Lembaga Literatur Baptis, 2018 David Clarke, Pernikahan yang Berkenan di Hati Allah, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2001 Herman Ridderbos, Paulus: Pemikiran Utama Theologinya, Surabaya: Momentum, 2008 Larry Burkett, Wanita yang Meninggalkan Karier, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2005 Anggraini, P., Khasanah, E. R., Pratiwi, P., Zakia, A., & Putri, Y. F. (2022). Parenting Islami Dan Kedudukan Anak Dalam Islam. Jurnal Multidisipliner Kapalamada, 1(02 Juni), 175-186.
131 BAB 6 ORANG TUA SEBAGAI ROLE MODEL A. Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua Mungkin inti dari bab ini adalah apa sih yang bisa dilakukan orang tua selaku role model, tetapi kita perlu gali lebih jauh, bagaimana cara menjadi orang tua? apa perilaku baik yang perlu dikembangkan? apa saja perilaku buruk yang perlu dihindari? lain sebagainya dan semua itu akan dikupas pada bab Orang Tua sebagai Role Model. Anak itu cermin, mereka merefleksikan apa yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, anak berbagi kesamaan genetik dengan orang tua, mereka memiliki gestur yang sama, bahasa, dan ketertarikan. Misal, anak meniru bagaimana orang tua memegang sendok dan bereaksi terhadap beberapa jenis makanan. Kebiasaan-kebiasaan yang terjadi sejak usia anak masih sangat dini berpengaruh pada kebiasaannya ketika nanti dewasa. Anak tanpa diperintah untuk menirukan sesuatu, secara otomatis ia menirukan kebiasaan orang di sekitarnya, termasuk orang tua. Hal ini merupakan respon alamiah anak untuk belajar tentang lingkungannya. Ia belajar bereaksi dengan melihat contoh di sekitar, ia meniru sebagian besar tindakan karena anak usia dini memang belum bisa membedakan mana yang baik untuk ditiru atau mana yang buruk dan jangan ditiru. Orang tua sering menasehati anak untuk tidak melakukan ini dan itu. Menyalahkan anak atas perilaku dan kebiasaan buruk sama seperti menyalahkan cermin atas refleksi orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya berperilaku seperti yang orang tua harapkan agar anak mereka meniru. Sehingga sebelum menasehati anak, maka penting juga untuk mengubah perilaku atau mengintrospeksi diri sendiri. Cara orang tua menghadapi suatu situasi yang kurang baik juga berpengaruh terhadap respon anak terhadap hal yang sama. Jika orang tua berhasil mengatasi perasaan sulit, maka anak akan melihat orang tua dan belajar. Membantu mereka mengatur emosi yang kurang nyaman bukanlah percakapan satu kali duduk. Kemampuan ini ada karena seperangkat
132 kemampuan lain secara berulang, dalam durasi waktu lama. Mulailah dengan menerima bahwa anak memiliki perasaan dan mendorong mereka untuk membicarakannya adalah salah satu caranya. Orang tua mungkin tidak selalu sempurna ketika menghadapi suatu kondisi sulit, begitu pun anak, tetapi selalu ada cara baru yang bisa dipelajari. Satu hal yang perlu diingat bahwa pikiran dan perasaan itu terhubung satu sama lain. B. Perilaku Baik Orang Tua Di atas 7 bulan, fungsi memori anak sudah semakin baik. Ini berarti waktu yang tepat untuk semakin gencar menanamkan nilai-nilai baik kepada anak. Anak usia 2-3 tahun sering menirukan orang sekitarnya, bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Berikut beberapa pembiasaan baik yang dapat dicontohkan kepada anak, antara lain : a. Kemandirian Kemampuan anak untuk melakukan beberapa kemampuan sendiri merupakan salah satu indikator kepercayaan diri. Orang tua dapat membiarkan anak untuk mencoba dan mengawasi untuk memastikan anak tidak melakukan hal berbahaya. Walaupun terkadang orang tua tergoda untuk memberi pertolongan, membiarkan anak untuk melakukan aktivitas tertentu sendiri dapat membangun pengetahuannya. Misal, anak berusaha membawa cangkir plastiknya sendiri dan menaruhnya di meja namun masih tumpah. Melalui hal ini, orang tua dapat memberi pengertian dan pemahaman kenapa isi dari cangkir bisa tumpah ketika ditaruh dimeja, apakah karena memegangnya tidak dengan dua tangan, dan sebagainya. b. Mengekspresikan Rasa Sayang Anak meniru bagaimana orang tua mengekspresikan emosi mereka, begitu juga dengan rasa sayang. Keluarga adalah di memori pertama dan emosi terkuat dibentuk. Ketika orang tua memiliki Emotional Intelligence (EQ) yang baik, maka anak memiliki figur contoh reaksi atas suatu situasi. Mengekspresikan sayang beragam
133 bentuknya misalnya dengan memeluk, mencium, melakukan hobi bersama, mengobrol. Memori ini menjadi pengingat saat konflik, sehingga setiap anggota keluarga berkeinginan untuk berempati dan tidak mudah termanipulasi, perlakuan kecil mengekspresikan rasa sayang juga mencegah adanya penelantaran. Penelantaran adalah keadaan di mana orang tua tidak dapat membentuk kedekatan emosional dengan anak. c. Rutinitas yang teratur Setiap anggota keluarga berkesadaran untuk turut menyisihkan waktu untuk keluarga. Rutinitas menurut Jane Brooks (2011) merupakan interaksi berpola yang terjadi secara teratur dalam setiap hari, minggu, atau bulan untuk mencapai tujuan praktis seperti rutinitas saat makan, tidur,melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ingin membentuk rutinitas adalah setiap anggota sadar peran dan tanggung jawabnya masing-masing, saling menghargai usaha dan pencapaian untuk keluarga, meluangkan waktu untuk menjalankan aktivitas keseharian bersama-sama, berkomunikasi efektif dan terbuka atas kritik serta saran satu sama lain, saling mendengar dan mendukung satu sama lain. Contoh rutinitas sederhana yakni membaca dongeng sebelum tidur, piknik di taman setiap sabtu atau minggu, dsb. d. Anti-kekerasan Kekerasan merupakan reaksi trauma masa lalu. Penelitian menunjukan bahwa efek jangka panjang trauma muncul atau terlihat ketika stres, situasi baru, dan situasi yang mengingatkan pada trauma. Sayangnya, menjadi orang tua berarti menciptakan ketiga pemicu ini. Pengalaman pertama menjadi orang tua adalah penuh tekanan dan memicu memori trauma masa kecil dan pada tahap ini memperbesar peluang kekerasan pada anak. Anti-kekerasan adalah akumulasi dari kesabaran, sikap yang lebih fleksibel, lebih mentoleransi tekanan, dan menempatkan
134 kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Kesabaran penting sekali karena anak cenderung melakukan hal lebih lambat, memporak-porandakan mainan. Fleksibilitas atas waktu dan pilihan aktivitas cenderung membentuk kerja sama yang besar bersama anak. Toleransi atas gangguan atau tekanan misalnya lebih santai terhadap teriakan, mainan yang berantakan, nyanyian yang berulang, dsb. Dan yang terakhir adalah sikap merujuk pada selfless, menjadi orang tua membutuhkan pengorbanan baik kecil maupun besar. Menjadi orang tua adalah tentang persiapan dan perbaikan. Kesiapan mental akan memudahkan orang tua untuk menjalani peran yang nantinya akan dilihat oleh anak. Ketika orang tua stres, maka anak akan merasakannya dan membentuk trauma yang tidak diinginkan. C. Perilaku Dan Perkataan Buruk Orang tua Yang Ditiru Anak Menurut Ummuyusufabdurrahman terdapat sejumlah perilaku buruk orang tua yang ditiru oleh anak. Berikut ini penjelasannya: a. Tak Pernah Salah Sewaktu anak Anda masih kecil dan belajar jalan, ia mungkin sering tanpa sengaja menabrak kursi atau meja. Lalu ia pun menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja ditabrak itu, sambil berkata, "Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa pukul kursi... Diam ya, Dik." Akhirnya si anak pun terdiam. Ketika Anda memukul benda-benda itu sebenarnya Anda mengajarkan kepada anak Anda bahwa ia tidak pernah bersalah. Yang salah adalah orang atau benda lain. Pemikiran in akan terus terbawa hingga ia dewasa. Yang sebaiknya Anda lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak: sesuatu sehingga membuatnya menangis adalah ajarilah ini untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Katakanlah kepadanya (sambil mengusap bagian yang
135 menurutnya terasa sakit), “Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.” b. Orang Tua Tidak Kompak Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab para ayah atau ibu, tapi keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anaknya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misalnya, seorang ibu melarang anaknya menonton televisi dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, ayah membela si anak dengan dalih tidak mengapa menonton televisi terus agar anak tidak stres. Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan ayahnya baik. Akibatnya, setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. c. Adanya Campur Tangan Pada saat Anda sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompat dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak, tiba-tiba ada pihak ketiga yang muncul dan cenderung membela anak Anda. Mereka adalah kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti. Akibatnya, anak cenderung berlindung dibalik orang yang membelanya. la juga cenderung melawan orang tuanya. Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah Anda untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh Anda sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh mereka. d. Menakuti Anak
136 Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh orang tua ketika anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya. Anda juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, "Awas ada Pak Satpam, nggak boleh beli mainan itu!". Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar Anda telah menanamkan rasa takut dan benci pada institusi pada anak Anda. Sebaiknya Anda berkata jujur dan memberikan pengertian kepada anak seperti Anda memberikan pengertian terhadap orang dewasa karena sesungguhnya ia juga mampu berpikir dewasa, jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, "kamu boleh menangis, tapi Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan dia menangis hingga diam dengan sendirinya. e. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak Anda sering kali tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah Anda nyalaran. Bila hal ini terjadi, tanpa Anda sadari Anda telah mengajari anak untuk melawan Anda. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat Anda bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekennya menjadi teriakan serta ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginannya dikabulkan, bahkan seringkali membuat Anda sebagai orang tua merasa malu. Pada saat inilah Anda luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak Anda. Akhirnya Anda mengatakan keinginannya. Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten. Anda tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Apapun alasannya, jangan pernah memberi hadiah pada perilaku buruk anak Anda. f. Terlalu Memaklumi Bila Anda selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan oleh anak Anda, otomatis ia berpikir perilakunya sudah benar, dan akan menjadi sangat buruk kalau terbawa hingga ia dewasa. Anda tidak perlu memaklumi hal yang tidak perlu dimaklumi. Anda harus
137 mendidik setiap anak tapa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas sejak usia dua tahun. Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak bekerja sama. Anak Anda akan mau bekerja sama selama Anda selalu mengajaknya dialog dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya. g. Mengharap Cepat Berubah Apabila Anda sering memaksakan perubahan pada anak Anda dalam waktu singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar ia sulit memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan Anda ia akan frustasi serta tidak yakin bisa melakukannya lagi. Akibatnya, ia memilih untuk melakukan perlawanan seperti banyak, bikin alasan, acuh tak acuh, atau marah kepada adiknya. Jika Anda mengharapkan perubahan kebiasaan pada anak berikanlah waktu untuk tahapan perubahan yang rasional agar bisa dicapainya. Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin, ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah. Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah. h. Selalu Menuruti Permintaan Anak Anak yang dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi. Betapa pun sayangnya Anda pada anak, janganlah pernah memberlakukan pola asuh seperti ini. Rasa sayang tidak harus ditunjukkan dengan menuruti segala kemauannya. Jika Anda sayang maka Anda harus mengajarkan tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan salah, yang boleh dan yang dilarang. Jika tidak, rasa sayang Anda akan membuat membuatnya menjadi anak yang egois dan manja. i. Terlalu Banyak Larangan
138 Ini adalah kebalikan dari kebiasaan di atas. Anda cenderung ingin menjadikan anak Anda seperti apa yang Anda inginkan secara sempurna. Anda cenderung membentuknya sesuai dengan keinginan Anda. Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara Anda. la melakukan perlawanan dengan cara menyakiti diri (jika anak Anda bertipe sensitif), perlawanan tersembunyi (jika anak Anda bertipe keras), arau perang terbuka (jika anak Anda bertipe ekspresif keras). Kurangilah sifat perfeksionis Anda. Berilah izin kepada anak untuk melakukan banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar Anda bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah situasi saling mempercayai antara anak dan Anda. Kurangilah jumlah larangan yang berlebihan. j. Paling Benar dan Paling Tahu Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. la sedang merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh orang tua. Contoh ungkapan orang tua, "Kamu tidak tahu apa-apa soal ini." Jika Anda memiliki kebiasaan semacam ini, maka Anda membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman. Jadi, janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak Anda. k. Saling Lempar Tanggung Jawab Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses pendidikan anak akan terasa
139 timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya, bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain. Sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidakmampuan salah satu dari orang tuanya. Jelas in akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk. Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab Anda selaku orang tua secara berimbang. Keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua. Pendidikan adalah kerja sama tim, dan bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari. Aturlah waktu Anda dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan Anda. l. Terpancing Emosi Jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi, anak sering kali rewel atau merengek, menangis, berguling dan lain-lain. Tujuannya memancing emosi Anda yang pada akhirnya Anda marah atau malah mengalah. Jika Anda terpancing oleh emosinya, in akan merasa menang dan merasa bisa mengendalikan orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar lagi. Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak Anda. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan Anda. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, Anda katakan saja bahwa Anda akan mempertimbangkan keputusan Anda dengan catatan si anak tidak berulah lagi. m. Mengumpan Anak yang Rewel Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu dengan memaksa, Anda biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan
140 anak semakin menjadi-jadi. Semakin Anda berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin marahlah anak Anda. Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak Anda dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat, jika Anda belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang Anda inginkan terhadap permintaan anak tersebut. Jika ia tetap merengek, jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak. n. Mengajari Anak untuk Membalas Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak Anda disakiti dan memprovokasi anak Anda untuk membalasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang Anda ajarkan saat itu akan membekas. Ajarkanlah anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti. Sampaikanlah juga kepada orang tua yang bersangkutan bahwa anak Anda sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya. D. Sikap Orang Tua Kebiasaan akan menjadi bagian dari karakter anak. Bila Anda ingin memiliki anak dengan karakter yang baik, ciptakanlah lingkungan yang tepat dan mendidik baginya. Kalau ada perilaku negatif yang muncul, seperti bicara kasar, memukul, menjambak, atau menendang, hentikanlah dengan member pemahaman dan konsekuensi yang tepat. Sangat mungkin sebelumnya anak Anda pernah melihat contoh nyata dalam lingkup keluarga atau teman sebayanya yang memukul teman lain kala berebut mainan. Anak selalu penasaran dengan apa yang dilihatnya sehingga ia cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang lain terutama orang tua yang selalu dekat dengannya.
141 Meniru adalah salah satu proses alamiah yang dialami oleh hampir setiap anak. Hal ini bisa dibilang sebagai suatu bentuk pembelajaran. la lebih banyak belajar dari apa yang dilihat di sekitarnya. Dengan demikian semua orang bisa mempengaruhi sikapnya. Apabila anak menggunakan atau meniru tingkah laku orang tuanya, berarti ada sesuatu yang menarik baginya. Timbul rasa penasaran dalam dirinya yang membuatnya berusaha untuk mencari tahu, salah satu caranya adalah mengikuti jejak orang tuanya. Sebenarnya perbuatan meniru merupakan sebuah proses alami yang terjadi pada setiap anak dan merupakan proses pembelajaran untuk mengenali lingkungannya. Anda harus memberikan dasar-dasar positif bagi anak agar dalam pergaulannya kelak tidak salah jalan. Anda perlu mengarahkannya ke jalan yang baik dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. a. Kasih Sayang Menanamkan perilaku positif juga bisa dilakukan lewat alam bawah sadar anak, yaitu pada saat anak tidur. Bisikkanlah kalimatkalimat yang sifatnya memuji dan bisikan harapan-harapan Anda kepadanya, misalnya, "Adik anak pintar, pasti bisa bicara yang baik, ya!" Jika sudah terekam dengan baik di alam bawah sadarnya, anak Anda akan mengubah perilakunya secara bertahap ke arah yang lebih baik. Alam bawah sadar lebih banyak menjadi pengontrol perilaku sehari-hari. Jika Anda memiliki anak yang suka membantah saat dinasehati, cobalah Anda berintrospeksi dan mengevaluasi pola komunikasi Anda dengannya selama ini. b. Memberi Contoh Jika Anda ingin agar anak Anda memiliki kebiasaan atau perilaku yang baik, berikanlah contoh atau teladan dari Anda dan pasangan Anda. Kalau pun ia sehari-hari terpaksa tinggal di rumah dengan pengasuh, Anda perlu memilih pengasuh yang mempunyai kebiasaan yang baik sehingga si kecil pun mendapatkan pengaruh yang positif. Timpa kata-kata atau perintah tertentu, la bisa belajar
142 meniru tingkah laku orang lain. Bukan hanya berasal dari orang sekitarnya saja melainkan dari tontonan televisi yang dilihatnya sehari-hari. c. Hati-Hati Bersikap Anda harus hati-hati dalam bersikap di depan anak. Jika Anda sering melakukan hal-hal yang kurang baik, seperti marahmarah atau berbohong, maka jangan heran jika ia melakukan hal yang sama. Ada anak yang dapat menuruti apa pun yang diajarkan oleh orang tuanya. Namun ia juga dapat lebih kritis dengan melihat apakah pelajaran yang ia dapatkan dipraktekkan juga oleh orang tuanya. d. Jangan Memarahi Anak kecil gemar sekali menggunakan barang-barang orang tuanya. Memakai dasi ayahnya, menggunakan make up ibunya, mengenakan baju atau sandal kebesaran milik ayah-ibunya, hingga meniru apa yang diucapkan oleh orang tuanya. Jika ia berperilaku seperti itu, sebaiknya Anda lebih jeli memperhatikan barang-barang yang sering Anda gunakan. Hal yang paling penting adalah jangan pernah memarahi atau membentak anak saat sedang meniru Anda. Berikanlah penjelasan bahwa belum saatnya ia menggunakan barang-barang seperti itu. e. Beri Pengertian Anak akan meniru apa yang dianggapnya paling menarik. Entah dari ayahnya atau ibunya maupun dari model lain dan tokoh di televisi. Namun, bila yang ditiru anak adalah hal yang tak baik, maka dampaknya tentu akan tak baik pula baik perkembangannya. Misalnya, ia meniru bicara kotor. Tentunya kalau anak meniru yang tak baik terus menerus, lingkungan pun akan memberi sanksi, termasuk dijauhi teman- temannya. Bila anak sudah beberapa kali ditegur namun ia masih saja meniru yang tak baik, berikanlah hukuman (punishment). Sebaliknya, bila anak mencoba meniru hal-hal positif, Anda harus
143 mendukung dan memberikan pujian. Ini akan membuatnya semakin terdorong untuk mengulanginya atau terus meniru hal tersebut. Bukan tak mungkin ia berminat pada hal tersebut. Misalnya, Anda senang membaca dan sering mengajak anak membaca, lalu memberinya pujian, maka ia berminat untuk membaca E. Teknik Mengelola Peniruan Verbal Dalam mengarahkan anak, sebagai orang tua harus menjadi teladan untuk tidak menunjukan perilaku negatif di depan anak. Memang tidak mudah menciptakan lingkungan yang steril untuk anak. Tidak banyak orang tua yang melarang anaknya untuk bersosialisasi di lingkungan sekitarnya dengan berbagai alasan, baik dari lingkungan yang kurang kondusif atau bahkan orang tua memiliki ketakutan terhadap orang asing dll. Hal tersebut mungkin bisa menjadi dampak positif bagi anak karena mengurangi sosialisasi lingkungan yang buruk bagi anak dari meniru kata-kata kasar dan mengikuti pergaulan yang lain. Sedangkan dari sisi lain, Kemampuan sosial anak menjadi kurang terasah dan akan mempengaruhi perkembangannya. Masa kanak-kanak merupakan periode anak dalam mulai meniru dan mulai tertanam norma-norma yang secara tidak langsung mulai diikuti oleh anak. anak tidak akan tau apakah yang ia tiru merupakan tindakan yang benar atau salah. Kata yang didengar anak akan diserap dan tersimpan langsung dalam otak anak. Seperti halnya jika anak diberi pemberian label, hal tersebut akan tertanam pada anak dan mempercayai bahwa apa yang dikatakan pada dirinya merupakan benar adanya. A. Pemberian Stimulus pada anak Pemberian stimulus pada anak sangat penting dalam setiap perkembangan anak. Stimulus yang diberikan kepada anak mampu merangsang kemampuan dasar anak termasuk merangsang kemampuan perkembangan tahap meniru anak. Sebagai orang tua, dapat memberikan stimulus bagi anak dimulai dari kecil sehingga tumbuh kembang anak menjadi optimal.
144 Dalam buku “Anakku Peniru Paling Luar Biasa” Berikut merupakan cara-cara pemberian stimulus pada anak, yaitu: a. Suara dan Kosakata Saat usia dua bulan, bayi mampu meniru kata-kata walaupun hanya sekedar berujar “uuu” atau “aaa” dan kemampuan bahasa anak akan semakin bertambah saat perkembangannya. Maka dari itu penting untuk rajin mengajak anak bercakap-cakap saat melakukan apapun terhadap anak. meskipun anak belum bisa menjawab hal tersebut tetap akan tersimpan dalam memori anak. Saat bercakap-cakap anak tidak boleh menggunakan bahasa atau kata yang dicadel-cadelkan atau bahasa yang alay. Seperti “mau cucu ya adek” dan lain-lain. Bila hal tersebut terus dilakukan anak akan mulai terbiasa dan akan mengikuti kata yang ia dengarkan. b. Gerakan Motorik Saat usia delapan bulan, bayi sudah mulai mengangkatangkat tangan. Dam kemampuannya akan semakin bertambah seiring dengan perkembangannya. Seperti saat usia 10 bulan, kecakapannya bertambah dengan anak bisa bertepuk tangan. Saat anda ingin anak mengikuti suatu gerakan, sesuaikan dengan kemampuan motorik yang anak miliki dan tidak boleh memaksanya. Berikut beberapa rangsangan yang bisa diberikan anak menurut buku “Anakku Peniru Paling Luar Biasa” 1. Gerakan jari-jemari anda di udara untuk ditirunya. Stimulus ini berguna untuk merangsang keterampilan motorik halus anak agar ia kelak tampil dalam memegang benda-benda kecil disekitarnya. Seperti pensil, pena, gelas, sendok dll. 2. Kala menginjak 9-10 bulan, anak bisa diajak melakukan gerakan “mata genit” (orang tua bisa mencontohkan dengan menyipitkan atau mengedipkan mata).
145 Rangsangan seperti ini akan bermanfaat bagi anak dalam pertumbuhan saraf-saraf di bagian kelopak matanya. c. Peniruan Ekspresi Emosi Saat bayi sembilan bulan, anak sudah bisa menirukan ekspresi senang, marah, lucu dll. Ini tentunya berkaitan dengan pertumbuhan emosi si anak, yang ditiru dari lingkungan sekitarnya. Seperti orang tua, pengasuh, nenek, kakek, kakak dll. Walau anak belum memahami apa itu senang, sedih, jengkel dan sebagainya, tetapi sebagai orang tua kita tetap harus melatih ekspresinya. Dan cara yang paling mudah adalah dengan selalu menunjukan ekspresi senyum dan tawa saat berhadapan dengan anak. Jika ibu, selalu menangis di hadapannya, kemungkinan anak bisa tumbuh menjadi anak yang cengeng. Begitu pula ketika orang tua menunjukan rasa emosi terus-menerus, tak menutup kemungkinan anak tumbuh dengan karakter seperti itu. B. Lima Kalimat Sakti a. “maaf” Sebagai orang tua, jangan gengsi untuk mengatakan dan menyatakan penyesalan kepada anak saat anda melakukan kesalahan dan membuat anak sedih. Dengan meminta maaf secara tulus, anda mengatakan kepadanya kalau anda saat peduli terhadap perasaan si anak. sikap seperti ini baik untuk pertumbuhan mental anak sehingga ia akan mau dan berani meminta maaf jika melakukan kesalahan. b. “tidak” dan “Jangan” Sesekali orang tua perlu mengatakan “tidak” dan “jangan” ketika anak meminta sesuatu dan melakukan sesuatu ketika hal tersebut harus dilakukan demi kebaikan sang anak. jika orang tua sulit mengatakan “tidak” dan “jangan” kepada balitanya,
146 maka anak tidak mampu memahami Batasan-batasan yang harus ia lakukan dilakukan di sekitarnya c. “Cukup” Kata “cukup” merupakan kata yang paling ampuh untuk mengarahkan anak bagaimana seharusnya anak dapat mengontrol diri di lingkungan sosial anak saat ia dewasa nanti d. “Menurut adik, bagaimana perasaan orang itu” Saat anda melemparkan pertanyaan ini, artinya anda telah memberikan anak untuk belajar berempati, beri anak arahan bagaimana memahami perasaan orang disekitarnya dan buat anak menyadari kalau tidak semua orang bisa menganggap perilakunya menyenangkan. e. “Ini tidak cocok, bisakah kamu memikirkan cara lain” Kehidupan di masa depan akan lebih rumit dan manusia perlu memecahkan masalah-masalah sepanjang hidupnya, anda bisa mengajarkan hal itu kepada anak sejak dini. Jika ia mengalami masalah, misalnya mainannya rusak, tunjukan empati dan ajukan pertanyaan tersebut. hal ini akan membuat anak terbiasa dan kreatif untuk memikirkan penyelesaian masalahnya. F. Tahap Peniruan Anak Terhadap Orang Tua A. Teori Peniruan (Modeling Theory) Teori belajar modeling merupakan teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Teori modeling adalah proses belajar dengan mengamati tingkah laku atau perilaku dari orang lain disekitar kita. Modeling yang artinya meniru, dengan kata lain juga merupakan proses pembelajaran dengan melihat dan memperhatikan perilaku orang lain lalu mencontohnya. Hasil dari modeling atau peniruan tersebut cenderung menyerupai bahkan sama perilakunya dengan perilaku orang yang ditiru tersebut. Modeling ini dapat menjadi bagian yang sangat penting dan powerfull pada proses
147 pembelajaran. Pada teori modeling, kita tidak sepenuhnya seseorang meniru dan mencontoh perilaku orang-orang tersebut, ada beberapa yang memperhatikan hal-hal apa saja yang baik semestinya untuk ditiru atau dicontoh dengan cara melihat bagaimana reinforcement atau punishmentnya yang akan ditiru. Dengan kata lain, semua pembelajaran tidak ada yang terjadi secara tiba – tiba atau instan. Baik itu pada pendekatan belajar classical conditioning maupun pendekatan belajar operant conditioning. Namun, pembelajaran melalui modeling waktu yang digunakan cenderung lebih singkat daripada pembelajaran dengan classical dan operant conditioning. Dalam konsep belajar ini, orang tua memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak – anak untuk menirukan tingkah laku yang akan mereka pelajari. Menurut Bandura terdapat empat proses yang terlibat di dalam pembelajaran melalui pendekatan modeling, yaitu perhatian (attention), pengendapan (retention), reproduksi motorik (reproduction), dan penguatan (motivasi). a. Perhatian (attention), yang artinya kita memperhatikan seperti apa perilaku atau tindakan – tindakan yang dilakukan oleh orang yang akan ditiru. b. Pengendapan (retention), dilakukan setelah mengamati perilaku yang akan ditiru dan menyimpan setiap informasi yang didapat dalam ingatan, kemudian mengeluarkan ingatan tersebut saat diperlukan. c. Reproduksi motori (reproduction), hal ini dapat menegaskan bahwa kemampuan motorik seseorang juga mempengaruhi untuk dapat memungkinkan seseorang meniru suatu perilaku yang dilihat baik secara keseluruhan atau hanya sebagian. d. Penguatan (motivation), penguatan ini sangat penting. Karena dapat menentukan seberapa mampu kita nantinya melakukan peniruan tersebut, namun penguatannya dari segi motivasi yang
148 dapat memacu keinginan individu tersebut untuk memenuhi tahapan belajarnya. Faktor lain yang harus diperhatikan adalah faktor biologi. Faktor biologi juga sangat penting dalam penunjangan proses pembelajaran modeling secara penuh. Karena apabila faktor biologi kita tidak mendukung, maka proses pembelajaran yang akan dilakukan juga akan mengalami kendala. B. Ragam Peniruan Anak bisa digambarkan seperti kertas putih bersih dan belum ada isinya. Sebagai orang tua dapat mengisi sehingga anak akan menyerap hal-hal yang baik dan buruk dari lingkungan terdekatnya. Meskipun anak belum lihai berbicara, anak sudah dapat meniru katakata dan perilaku orang tuanya. Berikut merupakan ragam perilaku orang tua yang dapat ditiru oleh anak. 1. Berkata kasar 2. Kasih sayang 3. Perilaku 4. Berbagai 5. Makan sehat 6. Percaya diri 7. Penghargaan terhadap diri sendiri 8. Menghargai orang lain 9. Sikap toleransi 10. Peduli lingkungan 11. Membaca 12. Menghargai seni C. Anak Meniru Perilaku Orang Tua Anak senang meniru perilaku orang yang lebih dewasa seperti ayah, ibu, atau kakak. Menurut Dr. Lisa Nalven, dokter spesialis anak New Jersey, meniru adalah aktivitas penting untuk
149 mengasah berbagai kemampuan, mulai dari kemampuan berbahasa sampai bersosialisasi. Pada masa-masa emas seorang anak, mereka akan merespon dengan segera apa yang didengar dan dilihat di sekitarnya. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dengan apa yang dilihatnya sehingga mereka cenderung senang meniru apa yang dilakukan oleh orang lain, terutama orang tua yang selalu bersama dengan anak. Dengan meniru, membuat anak belajar berbagai hal tentang lingkungan, yang dampaknya memengaruhi perkembangan kecerdasannya. Perilaku yang kerap ditampilkan anak akan menjadi kebiasaan baginya. Orang tua merupakan model utama bagi anak, karena ayah dan ibu adalah orang yang berperan dalam pola asuh anak sejak dia hadir ke dunia. Jika orang tua mengajarkan perilaku yang baik seperti mengajarkan untuk saling sayang, saling menghormati, hormat kepada orang yang lebih tua, sayang kepada binatang, dan lain-lain maka anak pun akan menirunya. Sebaliknya jika orang tua terbiasa berperilaku buruk, suka mencaci maki orang lain, menggunakan kata-kata kasar, suka memukul, maka anak akan mempelajarinya dan berpikir bahwa jika marah maka ia harus mencaci orang lain. Dengan demikian, ketika anak marah kepada temannya, maka ia akan marah juga. Banyak orang tua yang berharap anaknya menjadi orang yang memiliki perilaku baik, namun perilaku orang tua justru tidak mencontohkan perilaku tersebut atau bahkan berlawanan. Contohnya berharap anaknya suka membaca, tetapi orang tua tidak mencontohkan hal tersebut atau bahkan orang tua sendiri tidak suka membaca. Orang tua tidak hanya memberikan contoh yang baik, namun juga harus diiringi dengan penjelasan, seperti apa manfaat dari membaca buku. Mulai dari situ, perlahan anak akan mengerti tentang pentingnya melakukan perilaku-perilaku baik tersebut. Nantinya ia akan melakukan perilaku tersebut secara sadar dan menyayanginya, bukan karena paksaan dari orang lain.