The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

TULISAN STAF SSP - [project]

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nuryahya6117, 2025-12-20 05:13:00

SSP - UNTOLD STORIES

TULISAN STAF SSP - [project]

30Perkenalkan nama saya Saeful Azhar seorang lulusan Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian STIPER Yogyakarta. Saya berasal dari keluarga sederhana di salah satu desa yang berada di kaki Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mayoritas pekerjaan masyarakat disana yaitu bertani dan berternak, begitupun yang bapak saya lakukan.Kesesahrian saya dari sekolah SD sampai SMP setiap sore hari saya selalu disuruh bapak saya untuk menyiram tanaman bawang merah dan cabai di kebun. Apalag hari minggu di hari libur saya selalu dipaksa (karena maunya main terus) sama bapak saya ke kebun untuk menanam sayuran, menyiram, panen maupun hanya sekedar membersihkan rumput. Selain itu pada saat masih SMP sampai SMK saya dikasih tugas oleh bapak saya untuk pelihara kambing yang waktu itu sekitar 8 ekor. Jadi hampir setiap hari harus cari rumput selesai pulang sekolah dan sorenya harus ke kebun siram tanaman. Namun setelah lulus SMK semua kambingnya di jual karena sudah tidak ada yang mengurusnya lagi. Dan saya dapat kebagian hasilnya yang mana uang itu saya gunakan untuk beli laptop kuliah nanti.Tetapi disitulah saya mulai tumbuh rasa ketertarikan dengan dunia pertanian. Sampai akhirnya setelah lulus SMP saya melanjutkan sekolah di SMKN 1 Kuningan dengan jurusan Budidaya Pertanian (Agroteknologi & Hortikultura). Di sekolah selain diberikan penjelasan secara teori kita juga melakukan Praktek Kerja Lapangan untuk belajar langsung sebagai petani atau pemilik lahan yang harus merencanakan dan mengerjakan sebuah lahan. Rasa ketertarikan terhadap dunia pertanian saya jadi semakin meningkat sampai akhirnya setelah lulus sekolah saya ingin melanjutkan kuliah dengan jurusan Pertanian. Dan saya mencoba mendaftar di kampus IPB namun belum rezekinya saya diterima di kampus tersebut. Di tengah kebingungan untuk daftar ke kampus mana lagi, tiba-tiba saya diberi tahu oleh kakak saya yang pertama, dimana saya adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara, saya di suruh untuk daftar di kampus INSTIPER. Karena disitu juga kampus pertanian ucap kakak saya. Pada awalnya saya sedikit ragu karena baru pertama kali saya mendengar nama kampus itu. Tetapi waktu pendaftaran sudah mepet akhirnya saya langsung mengikuti saran kakak saya dan melakukan pendaftaran.Di kampus itu ada jurusan budidaya pertanian dengan minat sarjana Perkebunan kelapa sawit. Saya penasaran ingin daftar namun saya belum pernah sama sekali melihat dan mendengar informasi tentang tanaman kelapa sawit. Tetapi saya sejenak berfikir kalau jurusan ini beda dari pertanian pada umumnya sehingga ketika lulus persaingan untuk mendapatkan pekerjaan lebih terbuka. Akhirnya saya daftar dengan minat tersebut, dan benar ketika semester awal dimulai saya belajar di kelas yang mayoritas mahasiswanya dari luar pulau Jawa dan sudah mengenal kelapa sawit. Mereka lebih paham daripada saya, namun saya tidak mau kalah untuk


31terus belajar sehingga di semester-semester berikutnya saya bisa bersaing dengan mahasiswa yang lain dan saya lulus dengan IPK 3,48. Kemudian pengalaman pertama saya masuk ke perkebunan kelapa sawit yaitu pada saat kegiatan PKL dan magang dari kampus yang mana saya dan 11 orang teman saya di tempatkan di kebun yang berlokasi di Kalimantan Timur. Dari pengalaman magang itu akhirnya saya punya gambaran tentang kehidupan, lingkungan dan pekerjaan di kebun kelapa sawit. Setelah lulus saya bertekad untuk segera mendapatkan pekerjaan agar saya bisa membuat orang tua saya bangga. Beberapa perusahaan saya coba tetapi masih gagal mendapatkan pekerjaan.Akhirnya sampai pada saat PT MIG mengadakan recruitment di kampus. Saya dan temanteman yang lain langsung segera daftar dan mengikuti tes yang diselenggarakan oleh Perusahaan. Beberapa hari kemudian saya ditelpon oleh Pak Alam (Manager HRD) dan langsung menawarkan kesiapan jika ingin bergabung minggu depan langsung berangkat ke Sulawesi (PT MI 2) yang pada saat itu sedang membutuhkan cepat posisi Staff Controller. Pada saat itu saya merasa senang diterima kerja di Perusahaan. Tetapi saya juga merasa sedih karena tidak bisa menghadiri acara nikahan kakak saya minggu depan yang mana memang informasi tawaran pekerjaannya secara cepat dan mendadak, Namun rasa senang dan dorongan motivasi dari keluarga membuat saya semakin yakin untuk ambil kesempatan bergabung dengan perusahaan MIG ini. Dan dalam diri saya meyakinkan saya harus memberikan yang terbaik untuk perusahaan yang sudah menerima saya. Hari pertama masuk kerja saya merasakan suasana kekeluargaan dan kekompakan yang sangat baik dari pimpinan dan rekan kerja yang mana itu sangat penting bagi saya yang baru masuk ke dunia Perkebunan. Dengan berjalannya waktu saya sudah terbiasa dengan lingkungan dan pekerjaan disana. Memang tantangan di awal yaitu saat berkomunikasi dan mengintruksikan kepada pekerja yang lebih tua dari saya. Ada rasa segan yang masih belum bisa dikelola dengan baik, namun saya juga bersyukur disana orang-orangnya masih enak diajak berkomunikasi dan mau diarahkan meski harus dengan treatment tertentu di tiap orangnya.Ada hal yang membuat saya tertarik pada saai itu yaitu pada saat pak Direktur Produksi Bapak M Riyanta mengatakan “kalian sebagai asisten harus bisa berinovasi dan harus kreatif, silahkan jadikan perusahaan ini sebagai laboraturium kalian untuk belajar dan berinovasi”. Dari kata-kata itu menjadikan saya semangat untuk belajar dan mencoba hal-hal yang baru yang lebih efektif dan efisien untuk kemajuan Perusahaan. Mungkin salah satunya yang saya lakukan dan itu dijadikan acuan pada saat itu yaitu cara pengendalian hama babi di


32tanaman TBM. Yang saya lakukan yaitu menggunakan karung eks pupuk untuk menutupi batang pokok sawit tersebut dan hasilnya sangat memuaskan tidak ada lagi serangan hama babi.Dan itu dijadikan acuan untuk setiap pokok TBM ataupun pada saat tanam baru. Selama 7 tahun saya di PT MI Sultra banyak rintangan dan cobaan yang dialami baik dari tekanan kerja maupun dari dalam diri sendiri, yang paling berat itu cobaan dari diri sendiri yang mana harus melawan rasa ketidak puasan (pendapatan) dan rasa jenuh, rasa ingin pindah itu selalu ada sampai pada tahun ke 5 saya hampir pindah ke PT lain pada saat itu saya di ajak teman saya bergabung ke tempat dia bekerja dan sudah dikenalkan ke HRD nya dengan tawaran gaji lebih tinggi, namun pada saat itu juga saya masih ragu untuk meninggalkan perusahaan ini karena lingkungan kerja dan kekeluargaannya sangat baik, oleh karena itu saya beranggapan PT MIG ini cinta pertama saya di dunia kerja dan susah untuk di tinggalkan. Tidak terasa dari momen itu sampai dengan sekarang sudah 8 tahun lebih saya bergabung dengan perusahaan ini dan merasa beruntung tidak meninggalkannya, karena karir dan kesejahteraan semakin kesini perusahan juga semakin memberikan yang terbaik untuk karyawannya Tujuan hidup kita adalah untuk bahagia. - Dalai Lama


33Sampai akhirnya saya diberi kepercayaan oleh perusahaan untuk berkarir, saya dipromosikan untuk menjadi askep di BJE PT SSP di tahun 2024 bulan Agustus (Tahun ke 7 bergabung dengan PT MIG). Saya merasa belum saatnya dan saya belum layak untuk menjadi askep. Namun dengan berjalannya waktu banyak hal yang harus disesuaikan dan dipelajari lagi. Di momen ini saya juga dapat support yang baik dari Pak Manager dan Pak GM yang selalu memberikan teguran dan arahan dalam pekerjaan untuk lebih baik lagi.Untuk harapan saya, ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di PT MIG ini bisa saya jadikan pelajaran dan acuan untuk saya di kemudian hari, terutama dalam cara pengelolaan SDM, pengelolaan biaya, managementnya maupun problem solvingnya. Karena saya mempunyai harapan untuk bisa membagikan ilmu dan pengalaman ini secara gratis untuk kampung halaman saya supaya bisa menjadikan motivasi untuk mereka yang membutuhkan.Dan saya harus bisa terjun sebagai pengusaha di bidang pertanian atau peternakan atauperikanan ataupun pejabat pemerintahan supaya bisa didengar dan dipercaya olehmasyarakat, jika hanya sebagai orang biasa sepertinya akan susah di dengar karena tidak ada bukti.Alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan memberikan yang terbaik untuk keluarga dari hasil saya bekerja di perusahan ini. Saya akan terus selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Dan saya sangat berharap PT MIG ini terus maju dan berkembang untuk kesejahteraan semuanya yang mana masih banyak orang atau karyawan yang bergantung untuk mencari nafkah di PT MIG ini. Semoga rasa kekeluargaan dan kekompakan ini makin erat bukan hanya hubungan semata tetapi untuk kelancaran dan kemajuan perusahaan. Saya berterimakasih kepada bapak/ibu pimpinan yang masih memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya untuk tetap bergabung di perusahaan ini. Semoga bapak/ibu semua selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran dalam segala urusannya aamiin. INTEGRITY TEAMWORK EXCELLENT


34


35 Mimpi tidak menjadi kenyataan melalui sihir; dibutuhkan keringat, tekad, dan kerja keras. - Colin Powell6IMAM SHOFIYULLOHASISTEN DIVISI 1 KEBUN BARUNANG MIRIKISAHKU BERSAMA PT SSP


36 Nama saya Imam Shofiyulloh, biasa dipanggil Imam. Saya lahir di desa Lempuyang,Kabupaten Demak kota Semarang Jawa Tengah. Saya anak kedelapan dari sebelas bersaudara,kata ibuku kakakku yang pertama sampai keempat beliau meninggal pada saat masih kecil atau balita. Desaku yang asri dan indah, desa yang dikelilingi persawahan yang Pada masa kecil yang indah saya terbiasa diajak dan diajari ayah di sawah. Dididik untuk bisa bertani dengan harapan di masa yang akan datang ketika sudah dewasa kelak saya mampu dan bisa menghadapi kondisi apapun untuk bertahan dan mengatasinya dengan penuh keyakinan dan sabar.Bapak saya seorang petani juga tokoh masyarakat. Orang-orang menyebutnya kiyai.Beliau selama hidupnya mangku/ngemban dan mimpin di setiap kegiatan di musholla. Al -Hidayah nama mushollanya hingga beliau wafat pada tahun 2015Sejak kecil saya hidup di kampung halaman dari TK hingga SD dan melanjutkan sekolah MTS (Madrasah Tsanawiyah) yang beralamat di desa tetangga Karang Rowo nama desanya. Kemudian melanjutkan sekolah menengah di Jogoloyo dan berlanjut di kota Jepara. Di tempat ini sekaligus nyantri di Pesantren Athfal Islam hingga selesai pendidikan. Di tempat ini banyak kenangan indah dan pahit yang takkan pernah bisa terlupakan.Setelah selesai sekolah saya ikut menekuni program kursus komputer. Dan pada akhirnya sempat bekerja dan mengelola rental komputer punya guru saya, walaupun berlangsung tidak lama sekitar enam bulanAwal mula sebelum saya bisa sampai bekerja di PT. SSP yaitu pada saat kakak saya bermain dit empat saya bekerja dirental komputer di Jawa. Ssaya diajak ikut berangkat bareng ke Kalimantan. Merantau bersama karena pada saat itu saya masih bujang saya iyakan tawarannya setidaknya mencari pengalaman istilahnya hijrah mengadu nasib. Kemudian saya sampaikan ajakan kakak saya ke orang tua sekaligus minta ijin dan do’a restu dan alhamdullah mendapatkan ijin dan dapat restu beliau Hari Rabu bulan April 2007 berangkatlah kami ke Kalimantan dan sampai ditempat tujuan yaitu PT. SSP. Pada saat itu saya masih ikut serumah karena belum kerja jadi karyawan. Dalam proses menunggu saya ajukan lamaran dan kakak saya juga ada tawaran untuk mengajar guru TK pada saat itu. Hari berikutnya berlanjut sekitar tiga bulan saya menunggu panggilan belmm ada kunjung informasi. Dan tidak ada tanda-tanda panggilan kerja. Ada rasa niat untuk kembali ke Jawa pada saat itu. Tapi tetap saya sabar menunggu karena prinsip saya sudah niat


37nyebrang laut pantang pulang sebelum berhasil. Dan akhirnya saya dapat panggilan untuk interview Pak Teguh namanya yang interview saya pada saat itu. Dan ada tawaran lowongan admin divisi. Dan alhamdulillah saya diterima dan mulai bekerja bulan Juni 2007 sebagai admin divisi. Dan yang paling berkesan dan bangga di PT. SSP ada penilaian untuk peningkatan nilai kerja karyawan peningkatan jenjang karyawan dalam berkarir. Dan pada tahun 2010 saya dipromosikan sebagai mandor perawatan yang mencakup pemupukan,penyemprotan dan pekerjaan manual yang lain yang berhubungan dengan perawatan kelapa sawit. Singkat cerita tahun 2011 saya menikah dan sampai pada tahun 2012 saya dipromosikan untuk mandor panen. Dan akhirnya sampai pada tahun 2019 dapat tawaran promosi training staff yang sebelumnya ada program test psikotes semua mandor PT. SSP. Saya terpilih masuk dalam tujuh super start dan alhamdulillah saya terpilih tepatnya bulan Agustus 2019. Saya mulai menjalani training staff, training asisten divisi. Jika ingin cepat, pergilah sendiri. Jika ingin jauh, pergilah bersama-sama - Pepatah Afrika


38Moment yang paling mengharukan buat saya pada bulan Januari 2022. Kakakku sakit sampai akhirnya meninggal dan meninggalnya pada saat itu statusnya masih sebagai karyawan PT.SSP. Berkat jasa beliau yang membawaku ditempat dimana hidupku dimulai. Dan dikenalkan didalam dunia pekerjaan dan bisa berkontribusi dan berkarya di PT.SSP. Doaku selalu untuknya semoga semua amal kebaikannya diterima disisi Allah SWT. Amiin ya robbal alamiin Dari rentetan kisah singkat, perubahan saya dari waktu ke waktu saya jalani di PT. SSP sampai dengan saat ini dengan penuh keyakinan dibarengi dengan usaha dan do’a serta dapat restu orang tua dan rasa bersyukur pada management perusahaan yang selalu memberikan kebermanfaatan pada semua karyawan. Perubahan besar sangat saya rasakan dampak dan hikmah dalam kehidupan. Saya menjadi sejahtera dan penuh kebanggaan bisa bergabung di PT. SSP. Semoga selalu tetap jaya dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamin ya robbal alamiin


39Kesempatan terkadang terlihat seperti kesulitan, jadi banyak orang melewatkannya.– Thomas Edison7MUHAMMAD SAPRIL SITEPUASISTEN DIVISI 2 KEBUN BARUNANG MIRIBADAI PASTI BERLALU


40Sitepu adalah nama panggilan “populer” saya di PT SSP. Saat kecil saya akrab di panggil Ucok sampai saya beranjak hampir masuk sekolah dasar. Alasannya lucu, kalau kata orang tua saya, karena saya di masa kecil memiliki tubuh yang kecil dengan rambut keriting seperti anak-anak yang terlahir di timur Indonesia.Nama lengkap saya MUHAMMAD SAPRIL SITEPU, karena bulan lahir saya bulan April. Nama yang merupakan hadiah dari almarhumah kakak sepupu saya yang juga menjadi bidan saat saya lahir di Stabat, sebuah kota di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Masa kecil saya hidup di daerah desa terpencil. Banyak orang kota bilang kampung saya tempat jin buang anak hahaha. Sekilas memang sebutan yang kurang enak di dengar. Tapi dengan keadaan jalan yang hanya “Toyota Buaya” yang bisa melaluinya, sepertinya sebutan itu tidak begitu menyakitkan.Ayah saya bernama Nambak Sitepu dan ibu saya bernama Murniati Beru Tarigan. Kami tinggal di Desa Tenang Menanti, desa kecil di ujung Kabupaten Langkat perbatasan Gunung Leuser. Listrik sering padam, air bersih harus ke sungai dengan jarak tempuh jalan kaki sekitar 1 jam. Kalau orang-orang kampung saya mau berobat harus menunggu mantri yang lewat, jika tidak ingin ke puskesmas terdekat dengan jarak 12 Km ke Desa Telagah dengan berjalan kakiSaya hidup sebagai anak petani yang ketika saya lahir umur almarhum ayah saya sudah 50 tahun dan ibu sudah 39 tahun. Sebagai anak seorang petani saya sudah terbiasa dibesarkan dengan perjuangan dan jerih payah. Saya harus berbaur dengan rumput dan semak-semak saat masih balita, ketika ibu saya bekerja mengutip buah pinang dan kemiri di ladang. Kebetulan abang dan kakak saya sudah dewasa saat saya masih kecil, sehingga mereka harus kost di kecamatan saat mulai SMP yang jaraknya menempuh 1 hari jika pulang ke kampung, Singkat cerita ketika saya SD saat pulang sekolah, saya harus pergi ke ladang yang harus menyebrang sungai untuk membantu ayah mengangkat air nira untuk membuat gula merah. Walaupun saya hanya mampu membawa 5 liter tapi itu sudah sangat mengobati lelah ayah saya waktu itu, karena yang harus dilangsir bisa sampai 30 atau 50 liter pagi dan sore dengan pokok yang berjarak sangat jauh dari gubuk. Kondisi ekonomi yang amat jauh dari kata baik, ayah dan ibu harus banting tulang sampai di usia tua, Ketika masuk SMP dan SMA saya harus bekerja mencuci motor dan mobil angkot (angkutan umum) setelah pulang ke kost, karena uang jajan saya sering terlambat datang kiriman dari orang tua. Kondisi ini sudah terbiasa bagi saya karena sudah saya alami sejak


41kecil. Sedikit saya sisihkan uang hasil bekerja untuk membayar uang ujian sekolah karena terkadang tidak bisa menunggak ketika ujian sekolah sudah tiba, Saat saya melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan) di sebuah pembibitan hortikultur di Binjai tempat saya sekolah SMK Pertanian, saya diangkat menjadi anak asuh oleh seorang lakilaki orang Melayu dan istri orang Jawa, karena kata mereka saya kalau kerja sudah lebih gigih dari orang-orang yang seumuran dengan saya pada umumnya. Saya tidak bayar kost dan makan selama 3 tahun. Ini sangat berkesan di kehidupan saya dan tidak bisa saya lupa jasa mereka, Singkat cerita saya berhenti kuliah di Medan setelah menjalani 3 semester. Pada waktu itu karena saya sudah tidak mampu bayar uang kuliah dan bensin dari Binjai ke Medan setiap hari. Saya juga merasa malu karena semakin lama saya menumpang bersama Pak Iwan dan Buk Pipit, orang tua angkat saya Saat sedang di kampung mengurus ibu saya sambil menanam jahe dan cabe karena ayah saya meninggal dunia ketika saya akan menjelang ujian nasional saat SMK. Saya senang bisa mengurus ibu di kampung, tapi juga bercampur sedih karena ekonomi yang tidak menentu. Saat jahe dan cabai saya akan tiba waktu panen, tiba-tiba teman baik saya memberi kabar bahwa ada pendaftaran beasiswa full ke Jogja waktu itu. Dengan perasan campur aduk takut gagal dan ingin merubah nasib akhirnya saya putuskan untuk ikut. Alhamdulillah takdir berkata saya lulus dengan predikat 90 dari 90 orang orang yang lulus.Saya bergabung di PT MIG di tahun 2022 setelah lulus kuliah di tahun 2020. Saya sempat bekerja di sebuah perusahaan sawit juga selama 2 tahun kurang lebih. Ketika saya di tempatkan di regional MI Sultra, saya merasa kondisi perusahaan ini adalah sangat baik dan menerima dan memberi bimbingan kepada “anak baru”. Semangat saya sangat berkobar ketika saya dipercaya menjadi ketua kelas saat masa training kami di perusahaan ini. Rasa syukur saya seakan-akan terus bertambah ketika apa yang diberikan dan perlakukan perusahaan ini kepada kami saat mulai training sampai dengan saat ini.Saat interview bersama bapak almarhum Syarif Hidayat di Jogja, saya ingat betul ketika ditanya apa motivasi kamu jika kami loloskan bekerja di perusahaan ini. Dengan lantang saya menjawab, untuk memberangkatkan ibu saya umroh dan ingin menjadi estate manager dalam waktu 15 tahun bekerja dengan logat Medan saya bercampur didikan militer saya selama di kampus, karena sejak mulai kuliah saya ikut organisasi resimen mahasiswa sebuah organisasi didikan TNI yang berbasis di kampus-kampus perguruan tinggi.


42Enam bulan saya ditraining. Setelah ujian tahap pertama saya dan teman-teman seangkatan saya ada yang lulus dan ada juga yang tidak. Tiba-tiba saya mendapat surat bahwa saya harus berangkat ke PT SSP dengan 1 rekan saya asisten limbah Pikri Rambe. Di saat rekan seangkatan saya masih harus berdampingan dengan asisten pembimbingnya, saya sendiri sudah harus memegang 1 divisi yang pada saat itu tidak ada asistennya.Badai itu pun mulai saya rasakan ketika saya mulai mengemban tugas sebagai asisten divisi yang statusnya masih training tapi sudah harus berperan menjadi asisten sungguhan karena waktunya yang dipercepat dari waktu training yang seharusnya 1 tahun, bukan masa trainingnya yang saya keluhkan, tapi kondisi kebun yang saya tangani sudah seperti medan perang sungguhan. Bagaimana tidak? Yang saya hadapi adalah preman yang selalu membawa parang di mobilnya untuk meminta jatah buah yang pemanen keluarkan dengan jerih payah peluh keringat. Ancaman demi ancaman saya dapatkan saat saya mencoba melapor atau melarang aksi mereka, sekan-akan menambah deretan derita hidup saya saat masih kecil sampai masa menjelang dewasa. Doa orang tua selalu menguatkan saya untuk bertahan, semangat dari para pemanen yang menyokong saya karena mereka berharap saya adalah pembawa angin segar kepada mereka, membuat mata saya berkaca-kaca saat mereka memberanikan diri untuk berkeluh kesah ke rumah saya ketika malam sambil saya suguhkan kopi di rumah tempat saya tinggal di Divisi 3 waktu itu.Waktu demi waktu berlalu rasa takut dan rasa “nekat” saya sudah saling berkelahi, yang membuat saya mampu bertahan dengan kondisi tersebut, sehingga tiba saatnya pimpinan berganti di PT SSP. Pak GM Joner datang dengan nyali yang singkron dengan saya, sama-sama nekat, baru ketika itu para preman sudah mulai mundur sedikit demi sedikit, saya pun lega.Ekonomi keluarga saya jauh membaik setelah saya 1 tahun lebih bekerja di perusahaan ini. Uang bulanan ibu saya yang biasa beliau cari dengan jerih payah, kini Alhamdulillah sudah bisa saya berikan setidaknya cukup untuk kehidupan sehari-hari, pakaian, makanan, dan hadiah kecil kepada ibu dan keluarga saya sudah bisa saya berikan walaupun sederhana. Saya sangat terharu ketika 2 abang saya harus dibiayai orang tua ketika menikah, tapi ini hadiah yang sayacita-citakan kepada orang tua, menikah saya tanggung biayanya begitu terharunya ibu saya waktu itu.


43 Tidak ada rahasia untuk sukses. Itu adalah hasil dari persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan. - Colin Powell Mimpi saya menjadi estate menager di perusahaan ini saat 15 tahun saya bekerja akan tetap saya gantungkan setinggi-tingginya. Membiayai ibu saya umroh akan tetap saya tanamkan di lubuk hati saya. Sedikit ungkapan hati saya kepada jajaran pemilik dan pemilik Direktorat PT MIG ini, doa baik seluruh karyawan perusahaan ini akan menjadi penolong dan modal yang sangat mustajab terhadap keberhasilan PT ini. Terimakasih sudah memberikan kebijakan yang memberikan kesejahteraan kepada kami seluruh karyawan perusahaan ini. Salam dari kami yang menggantungkan cita-cita yang mulia di perusahaan ini


44


45 Komitmen adalah sebuah tindakan, bukan sekadar kata-kata. – Jean-Paul Sartre8LOBERTO ALDI GIORDANO TUMANGGORASISTEN DIVISI 3 KEBUN BARUNANG MIRIKOMITMEN


46Loberto Aldi Giordano Tumanggor, Aku tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan orang tua yang mengusahakan anaknya sekolah setinggi mungkin dalam keterbatasan yang ada. Aku tumbuh dengan didikan orang tua yang membatasi kami dalam kegiatan yang membuat kami tidak fokus dalam belajar. Aku baru mengukuti kegiatan organisasi ketika tamat SMA dan lanjut ke jenjang Perguruan Tinggi. Disinilah aku mengenal dunia yang begitu berbeda dari lingkungan tempat tinggalku.Universitas Sumatera merupakan tempat yang tidak akan terlupakan dalam hidupku. Aku masuk dengan beasiswa bidik misi, mendapatkan fasilitas tidak membayar UKT selama 8 semester dan mendapat uang saku setiap semesternya. Puji Tuhan banyak hal dilalui mulai keterbatasan ekonomi saat covid melanda, dimana orang tua kehilangan mata pencarian. Bapakku seorang sales buku sekolah mata pelajaran SD sampai SMA. Sudah 12 tahun lebih beliau menekuni di bidang ini tapi macet saat covid dan pergeseran budaya mengajar dari ofline ke online. Aku bersyukur di tengah masa pandemi covid aku masih mendapat uang saku yang sangat membantuku dalam memenuhi kebutuhanku dan bahkan dipakai untuk keperluan keluarga.Aku lulus dengan IPK yang memuaskan tidak 4 tapi sudah sangat baik bagiku hasilnya. Menjadi sarjana pertanian tidak pernah terpikirkan olehku karena niat awal mau masuk IT. Tapi takdir membawa hidup ke tempat yang tidak terduga dan sempai sekarang aku gak pernah menyesal menjadi mahasiswa pertanian. Aku mendapat Kawan-kawan yang luar biasa yang saling bertumbuh dalam kepribadian, pertemanan, sosial. Aku banyak belajar dari mereka. Aku banyak mengamati orang-orang di sekitarku yang dimana mereka membawa cerita masingmasing yang unik, pengalaman yang tidak pernah kucoba, pengetahuan yang aku tidak tahu. Realistis dan keinginan yang menjadi pergumulanku di saat semester akhir, “mau kemana aku ini”, “setelah lulus aku mau kerja apa?”. Hal ini terngiang di benakku sampai lulus wisuda. Aku tidak basik kebun, aku minatnya ke hortikultura, penelitianku tentang bawang merah. Aku banyak sharing dengan teman-temanku yang aku anggap sebagai sahabatku karena dengan merakalah aku bertumbuh. Pada akhirnya pilihanku masuk ke perkebunan. Hal apa aku pertimbangkan?. Yang pertama perusahaan pertanian terbesar bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit. Kedua, kehidupan terjamin karena banyaknya lapangan pekerjaan dan gaji yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan rata-rata di kota Medan. Memang kurangnya hidup di lingkungan perkebunan yang jauh dengan akses keramaian. Tapi jika dibandingkan dengan apa yang didapat nampaknya kekurangan itu bisa diminimalisir.


47Masa pencarian kerja dimulai, aku tidak langsung melamar pekerjaan karena aku tahu di akhir tahun hanya sedikit saja perusahaan yang hiring karyawan. Jadi selama 6 bulan aku menikmati masa tenangku yang tidak lagi terikat dengan rutinitas kampus dan bebas menggunakan waktuku untuk hal-hal yang menyenangkan dan mengeksplor hal-hal baru bersama teman-temanku. Awal tahun 2024 aku mulai fokus mendaftar proses rekrutmen. Banyak tahapan yang harus dikerjakan dalam proses perekrutan mulai dari test tulis, wawancara HRD, wawancara user. PT Evans Grup merupakan perusahaan pertama yang aku dipanggil untuk wawancara. Aku mempersiapkan dari rumah, aku mulai mempelajari materimateri perkuliahan, diskusi dengan kawan dan sharing pendapat, berbagi pengalaman wawancara. Dan tibalah giliranku dipanggil. Aku diwancarain dan apa yang kupelajari tidak masuk, aku blank saat itu karena gugup, sampai tangan dan suaraku gemetar dalam menjawab pertanyaan HRDnya. Pulang dengan keadaan malu tapi aku belajar ternyata aku masih kurang banyak persiapan. Dan dari situ aku mulai melatih lagi berbicara di depan orang dengan meyakinkan.Panggilan kedua wawancaraku yaitu di PT MIG. Aku banyak belajar dari pengalaman pertamaku wawancara dan ya aku cukup percaya diri akan hal itu. Aku diwawancarai oleh Pak Wayan dan Bu Rini. Aku tidak tahu siapa mereka dan apa jabatannya yang kutahu aku harus lulus supaya aku cepat cepat membatu ekonomi keluargaku. Wawancaranya cukup menarik dimana user ragu denganku apakah aku akan mampu kalau lulus ikut pelatihan di Rindam. Dan aku katakan, “selama beberapa bulan ini saya rutin olahraga mulai dari lari dan push up dan saya yakin dengan kemampuan saya”. Disaat aku sampaikan seperti itu Pak Wayan memintakanku untuk membuktikan kalau aku bisa push up. Beliau memintaku untuk push up 20 kali dan ya aku kerjakan. Dua minggu berlalu dari masa wawancara dan aku tidak mendapat kabar baik, karena user mengatakan seminggu dari wawancara paling lambat akan disampaikan hasilnya. Dan sudah jalan 2 minggu masih belum ada kabar. Aku sudah pasrah sebenarnya bahwa tidak disini rezekiku. Puji Tuhan selepas saya wawancara di PT lain lagi juga siangnya aku mendapat kabar kalau aku lulus tahap wawancara user dan lanjut ke tahap MCU. Singkat cerita tibalah di jadwal pemberangkatan dan aku mendapat email dari PT lain kalau aku lolos dari tahap user. Aku bimbang harus PT mana yang aku pilih dan bapakku menyampaikan dimana pun itu sama aja, sama sama perusahaan sawit dan sama aja kehidupannya. Dan aku memantapkan hati untuk memilih PT MIG ini. Aku tidak tahu kenapa aku memilih ini tapi yang ada di hati dan benakku aku tidak akan lari dari apa yang aku mulai. Kata ini aku dapat dari temanku Andreas namanya dan sampai sekarang aku merenungkan setiap perkataannya.


48Dan jujur aku banyak banget dikritik beliau tapi yang disampaikan memang daging semua dan untuk kebaikanku dan ini menggambarkanku selama perjalanan di kampus. Masa pelatihan dimulai, selama 10 hari kami dididik di Rindam I Bukit Barisan SUMUT. Capeknya luar biasa, yang kudapat setiap waktu sangat berharga dan tidak membuang waktu untuk hal-hal kosong. Selepas dari Rindam kami In Class di PKS MI Pulo Jantan selama 3 minggu. Disini aku dapat teman dekat namanya Bang Ivan Musadi yang sekarang beliau staff keuangan di Sultra. Aku satu rumah dengannya dan satu kamar, banyak cerita pengalaman hidup sampai kisah asmaranya hehe. Beliau ini yang aku salut darinya yaitu rutin sekali menanyakan kabar sampai sekarang masih terus berhubungan dan saling menanyakan kabar dan yang seperti ini baru disini aku jumpai. Setelah masa In Class kami ketahap OJT dan mulai dibagi ke setiap kebun dan perjalanan lapangan baru mulai. Aku ditempatkan di Kebun Merbaujaya Indaraya, disana selama 6 bulan kami belajar dari para mentor yang mendidik dengan materi yang telah disusun dengan baik. Selama proses belajar banyak hal yang kualami disini kami mengenal dunia kerja sesunggunya dan gak seperti yang dibayangkan. Terkadang hal yang telah direncakan dengan baik bisa tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan. Dan disitu perlu adanya improvisasi. Dari sini aku belajar bukan teori semata tetapi ilmu di lapangan terkait memecahkan masalah. Kita dituntut menyelesaikan masalah dengan tepat dan cepat melihat inti pemasalahan. Memang gak mudah, butuh jam terbang yang panjang dan sampai sekarang aku masih terus belajar mengenai improvisasi masalah. Aku belajar akan hal ini dan yang aku dapat bahwa semua proses belajar ini akan melatih intuisi.Perubahan dasar yang terjadi pada saya yaitu lebih disiplin waktu. Bahwa waktu sangat berharga jika digunakan dengan baik. Kita bekerja bukan hanya sekedar bekerja, tetapi bermanfaat bagi orang lain. Aku sampai saat ini merasa bahwa pekerjaanku mempengaruhi orang lain entah itu atasanku ataupun karyawan yang berada didivisi. Setiap keputusan memiliki dampak sosial ke depannya. Hal yang berkesan bagiku ada banyak tetapi kalau boleh aku berbagi 1 hal yaitu mendengarkan kisah perjalan karyawan sepulang kerja. Aku ketika acting position megang aspol wilayah 2 di kebun MI. Sepulang kerja di sore hari aku sharing dengan mandor, pangawas dan terkait pekerjaan terkadang dengan pekerja mereka sering bercerita asalnya dari mana, kenapa kerja disini dan apa yang diharapkan dan intinya tentang kesejahteraan pekerja. Hal ini yang sampai sekarang digaungkan PT MIG agar pekerja itu mendapatkan hasil yang layak. Tinggal di perumahan dengan kondisi layak dan dengan tulus


49hati mengerjakan pekerjaan. Jika ini berjalan dengan baik kuyakin ke depan PT MIG menjadi tempat yang diinginkan bagi banyak orang, karena apa yang diharapkan dalam hidupnya tercapai dengan bekerja disini. Secara individu, kita adalah setetes air. Bersama, kita adalah samudra. - William ShakespeareHarapan terbesarku, untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang layak diperlukan komitmen di setiap lini pekerjaan dimana ada tanggung jawab perkerjaan dan tanggung jawab penyaluran hak bagi pekerja. Dan akhir kata, hati yang tulus, ketenangan dij iwa, sehat dibadan, tangan menggapai, kaki melangkah, impian tercapai. Aman finansial menjadi kunci kita menjadi manusia yang bermakna.


50


51 On a farm the best fertilizer is the master's eye - Pliny the Elder 9TRIO SYAHPUTRAASISTEN DIVISI 4 KEBUN BEJARAUJEJAK SEORANG PLANTER


52Assalaamu’alaikum Wr. WbPerkenalkan nama saya Trio Syahputra. Saya berasal dari Dusun Ladang Baru, Desa Perkebunan Gedung Biara, Kec. Seruway, Kab. Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Saya merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara. Saya dilahirkan dan tumbuh besar di lingkunan kelapa sawit. Orang tua saya merupakan petani kelapa sawit. Saat kecil saya sering meghabiskan waktu membantu orang tua di kebun kelapa sawit. Sehingga saya merasakan bagaimana susahnya dan tersiksanya petani kelapa sawit pada saat itu ketika harga TBS yang sangat rendah. Awalnya saya tidak mempunyai keinginan bekerja di perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2015 saya lulus dari SMA. Saya mencoba mengejar cita-cita saya menjadi seorang TNI, sampai tahun 2017 saya mencoba tidak lulus. Pada akhirnya saya mencoba untuk mendaftar kuliah, pada tahun 2018 tepatnya di bulan September saya mendapat informasi bahwasanya pemerintah membuka beasiswa sawit melalui program BPDP-KS. Saya mencoba mendaftar dan keterima sebagai penerima beasiswa BPDP-KS di kampus Politeknik LPP Yogyakarta. Di kampus Politeknik LPP Yogyakarta saya mulai mengenal lebih dalam ilmu kelapa sawit. Dan saya memiliki keingin bekerja di perkebunan kelapa sawit. Akhirnya pada tahun 2021 bulan Juni saya mendapat tawaran dari dosen untuk mencoba mendaftar Program MT di perusahan kelapa sawit di Grup Djarum yaitu HPI-Agro.Saya mengikuti tahapan-tahapan seleksi dan dinyatakan lulus, suatu kebanggaan bagi saya karna sudah keterima bekerja saat saya masih menyusun Tugas Akhir.Pada bulan Agustus 2021 akhirnya saya berangkat dari Yogyakarta menuju Kalimantan Barat. Pertama kali saya memijakkan kaki di tanah Kalimantan di Pontianak menuju ke Kab. Sanggau untuk program management traning menjadi asisten afdeling salama 6 bulan. Selama bekerja di Kalimantan Barat saya banyak mendapat ilmu tidak hanya ilmu kelapa sawit tetapi juga ilmu sosial, dimana di Kalimantan Barat yang masih sangat kental dangan adat istiadat. Singkatnya kurang lebih 2 tahun 9 bulan saya berkerja di HPI-Agro. Saya mencoba mencari suasana kerja yang baru dan mulai mengirim lamaran, dan saya keterima di Grup MIG penempatan di Region Kalteng PT. Swadaya Sapta Putra. Saya bergabung di PT. Swadaya Sapta Putra tanggal 01 Mei 2024. Pertama sekali saya bergabung dsiini saya merasa sangat senang karena dari mulai penjemputan disambut dangan baik, Saya diberikan amanah oleh pimpinan untuk menjadi Asisten Divisi IV sampai dengan sekarang. Awal mula saya bekerja disini saya merasa kaget karena budaya kerja yang berbeda dari tempat sebelumnya. Dimana suasana kerja disni lebih berkeluargaan dan lebih memanusiakan manusia, tidak ada rasa menyesal dari saya bergabung bersama di PT.SSP.


53Awal mulai bekerja disini saya mulai beradaptasi menyesuaikan budaya kerja. Saat saya pindah ke PT. SSP dimana di sini lagi kondisi banjir serta tahap perbaikan. Yang lagi diributkan pada saat itu masalah brondol hitam yang menumpuk di lapangan dan kondisi lapangan yang masih belum standar mulai dari kondisi tunasan yang gondrong, kondisi buah partino, areal semak yang belum terbuka. Betapa begitu banyak kerugian perusahaan saat itu. Mulai dari losis brondol tidak terkutib yang tidak bisa menghasilkan CPO dan kerugian untuk melakukan proses perbaikan. Secara perlahan saya bersama dengan tim divisi IV mulai melakukan perbaikan dari teknis panen dan perawatan pokok agar bisa lebih baik lagi untuk mengejar target. Dengan arahan dari Pak GM untuk melakukan perbaikan teknis panen dan perawatan pokok, sehingga Divisi IV yang pada tahun 2024 tidak dapat target produksi bisa mengejar target tahun 2025 dengan baik dan bisa mencapat target produksi di tahun ini. Saya sangat senang bekerja disini karena pimpinan memberikan kesempatan kepada saya dan tim untuk dapat berkembang melakukan perbaikan perbaikan yang berkelanjutan, serta mendapat support saat terjadi kendala di lapangan. Dengan melakukan perbaikan dengan teknis turun langsung ke lapangan memastikan semua berjalan dengan benar sehingga hasil yang didapat juga memuaskan.Satu orang bisa menjadi bagian penting dalam sebuah tim, tapi satu orang tidak bisa membangun sebuah tim.\" - Kareem Abdul-Jabbar.


54Harapannya tetap selalu konsisten dan tidak pernah bosan melakukan perbaikan, memberikan inovasi terus menerus agar karyawan tetap semangat dalam bekerja. Pupuk terbaik ialah telapak kaki planter yang menyusurin Blok nya, semakin banyak ancak dan blok yang di masukin semakin banyak juga kita menjumpai masalah yang harus kita lakukan perbaikan.Saya sebagai penulis sekali lagi berterima kasih kepada bapak pimpinan karena diberikan kesempatan bergabung dan berkarya di PT. SSP dan saya juga berterima kasih kepada bapak Owner yang memberikan wadah untuk saya menulis sebuah perjalanan selama bergabung di PT. SSP. Demikian yang dapat saya sampaikan lebih dan kurangnya saya mohon maaf. Ada beberapa kata yang selalu saya pegang selama saya bekerja di perusahaan kelapa sawit“Hanya Orang Gila Yang Ingin Hasil Berbedah Dengan Cara Kerja Yang Sama, Berkerja Lebih Keras Lebih Semangat“Wassalamualaikum Wr. Wb


55 Kamu akan menghadapi banyak kekalahan dalam hidup, tetapi jangan biarkan dirimu dikalahkan - Maya Angelou10SLAMET MAHRIADIASISTEN DIVISI 5 KEBUN BEJARAUKALEIDOSKOP PERJALANAN HIDUPKU


56A. Pendahuluan Hallo saya Slamet Mahriadi/Riadi. Seorang induvidu yang kepribadiannya dibentuk sejak kecil hidup dalam lingkup militer (anak kolong) di sebuah kota kecil Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimatan Tengah. Terlahir sebagai suku Dayak Ngaju. Masa kecil saya terajut di perumahan barak militer. Sejak kecil diajarin dengan kehidupan disiplin ala militer. Kenangan paling membekas dan mungkin tidak pernah terlupakan dalam hidup saya adalah yang masih saya rekam sampai saat ini, ilmu itu sama sifat seperti uang, kalau kita bisa mengunakannya, tapi kalau kita tidak bisa mengunakannya, dia akan jadi musuh yang sebesarbesarnya. Kenangan itulah yang membentuk karakter saya menjadi pribadi yang menghargai asal usul. Tahun 1994 dimana momen kelulusan sekolah yang mana cita-cita dan masa depan sudah terpampang didepan. Sebenarnya tidak terlintas keinginan kerja di perkebunan dan ini hanya opsi terakhir sebagai pelarian. Sebagai anak militer tentunya keinginan melanjutkan garis keturunan militer. Tapi semua mimpi itu terkubur karena beberapa kali ikut seleksi selalu gagal diakhir. Dan mulai saat itu saya patah hati seharusnya ada dispensasi buat anak militer, ternyata hanya omong kosong semua harus melalui proses sogok menyogok dan itu nyata. Sejak saat itu saya anti pakai pakaian yang berbau militer. Tapi semua kembali pada rencana Tuhan mungkin dan saya meyakini ada misteri dibalik semua itu. Dan sejak mulai itu karakter dan sifat diri saya jadi berubah temperamen yang gampang meledak-ledak, sering tawuran dan mabuk-mabukan hampir setiap hari yang akhirnya dicap anak berandalan. Dalam ketidak-pastian masa depan saya lupa tahunnya saya pergi ke Parenggean. Niat hati menghindari pergaulan bebas di Sampit yang semakin hari sudah mengarah kriminal dan obatobatan. Dan tidak sedikit kawan merengang nyawa akibat over dosis. Dan saya sadar hidup ini pilihan, sama kasihan sama orang tua. Selama di Parenggean, saya kerja di perusahaan kayu. Kesempatan datang saat itu saya diajak teman (Timan) di perusahaan sawit, dulu namanya PT Merbau. Jadi tim rintis, dalam pikiran saya nggak tau apa itu kerjaan merintis.Singkat cerita, saya berangkat dari Parenggean lewat jalur air yang mana tidak ada akses jalan darat. Yang mana jalur air berhenti di daerah Tampudau ex pelabuhan Perusahaan. Perjalanan lumayan jauh menuju base camp, jalan berlumpur. Perasaan saya campur aduk lega mendapatkan pekerjaan, namun juga takut karena harus pindah jauh ke lokasi yang saya anggap


57terpencil di pelosok hutan Parenggean. Jauh dari hiruk pikuk keramian. Hari pertama mulai kerja baru tau kerjaan merintis itu rupanya masuk hutan keluar hutan buat bloking areal. Kerjaan diluar ekspektasi saya sebetulnya. Bulan-bulan pertama sangat menguras fisik. Saya yang belum terbiasa kerja, di bawah terik matahari atau guyuran hujan. Otot-otot saya terasa kaku, dan beberapa kali saya sempat sakit demam karena kelelahan. Lingkungan perkebunan yang baru, dengan dinamika kerja yang keras, sempat membuat saya merasa rendah diri. Singkat cerita selama saya bekerja sekian tahun, Pak Nur Yahya selaku manager estate memanggil saya. Memberikan saya kesempatan untuk berkembang mengikuti pelatihan dibidang pembibitan yang memaksa saya harus keluar kendang menuju Sumatera Utara PT Binanga Mandala yang mana bagian dari Group MIG. Seingat saya waktu dipanggil dibohongi sama Pak Nur waktu itu katanya paling 2-3 minggu disana. Makanya saya berangkat dengan bawa pakaian secukupnya. Sebagai orang pertama kali keluar pulau Kalimantan tentunya ini moment yang sangat menegangangkan. Sebelum berangkat Pak Nur memberikan tutorial naik pesawat, dari bandara Tjilik Riwut Palangka Raya menuju Bandara Sukarno Hatta Jakarta. Ada moment lucu terjadi lagi sesampai di Jakarta terlantar alias tidak dijemput. Dan ingatan saya waktu itu saya telpon Ibu Adriani terkait kedatangan saya. Jawabannya bikin saya lemes dalam rangka apa bapak ke Jakarta. Kalu ingat jawaban itu, saya penuh dengan emosi. Saya nggak bakal datang ke Jakarta kalua nggak disuruh. Dalam benak saya waktu itu tidak menyangka niatnya masuk kebun hanya pelarian semata ternyata membawa saya sampai sejauh ini. Orang udik sampai juga ke Jakarta. Singkat cerita,perjalanan lanjut ke Sumatera Utara. Pertama kali mendarat di bandara Polonia Medan. Lebih baik dari Jakarta, di bandara sudah dijemput menuju kantor Binanga Mandala. Berangkat pukul 22.00 WIB menuju Rantau Prapat mengunakan kereta api. Masih ingat pesan Pak Nur jangan keluar sampai kereta api berhenti sampai tujuan. Sampai Rantau Prapat, drama jemputan terjadi lagi, bedanya sama Jakarta tidak dijemput, kalau di Rantau Prapat mobilnya rusak. Jadilah naik becak, kalau bahasa kami merqpus belum (sialnya nasib). Cerita saya singkat, hanya moment penting dan seingatan saya menulis cerita ini. Besok harinya seperti layaknya Perkebunan, pagi saya ikut apel yang waktu itu PT Minanga Mandala dipimpin oleh Bapak Alam Kamajaya. Dan di situ baru Pak Alam menyampaikan bahwa


58belajar pembibitan butuh waktu selama 8 bulan. Dalam hati saya berkata kena lagi dibohongi, kata Pak Nur cuma 3 minggu. Sekilas itulah perjalanan saya keluar pulau Kalimantan. Saya yakin seandainya saya tidak bergabung dengan PT SSP mungkin tidak akan pernah kaki saya melangkah dan tidak akan mungkin menginjakkan kaki di ibukota Indonesia, Jakarta. Lanjut ke Medan, Surabaya, dan Sulawesi.Nilai-nilai yang Dipetik & Dampak Positif. Di PT SSP, saya belajar bahwa kerja keras saja tidak cukup, kita juga butuh integritas dan kemauan belajar. Perusahaan memberikan saya kepercayaan dan pelatihan, yang merupakan investasi besar bagi saya. Saya menyerap ilmu, disiplin waktu dan tanggung jawab. Kini menjadi prinsip kerja saya. Karier awal setelah pulang dari Sumatera dimulai dengan menjadi seorang mandor pembibitan dan sampai menjadi asisten pembibitan. Tentunya semua tidak didapat dengan mudah. Butuh perjuangan dan saya ingat pada waktu itu pernah berucap dengan Pak Nur Yahya, jangan pernah memberi saya jabatan dan posisi hanya karena saya orang lama, bagi saya suatu penghinaan. Itu prinsip saya yang saya pegang teguh sampai saat ini. Dalam perjalan hidup saya selain orang tua jadi panutan hidup saya, ada satu nama yang menjadi panutan dan motivasi saya bapak Ir. Nur Yahya, beliau yang perlahan merubah pola pikir saya yang temperamental dikit-dikit main fisik yang cenderung brutal. Bagi saya, Pak Nur Yahya bukan hanya seorang pemimpin, beliau saya anggap seperti orang tua saya yang tidak bosan-bosannya membimbing saya dari orang yang rada bodoh hanya modal nyali semata menjadi rada pintar dikit hehehe.. Sampai saat ini pesan Pak Nur masih saya ingat “Mas berubah ya, ente betul orang banyak takut samamu, tapi secara karier ini akan jadi batu sandungan, bos-bos mana suka sama orang yang modelan dikit-dikit main hantam”. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia perlahan tapi pasti hal-hal yang negatif pada diri saya perlahan bisa berubah, walaupun tidak bisa semua karena sifat bawaan. Kata bapak direktur keuangan Bapak Iwan Busono, jangan pernah merubah sifat bawaan dari lahir jatuhnya anda munafik nanti.


59 Dampaknya luar biasa, saya sudah bisa membangun rumah sederhana sendiri untuk keluarga saya. Dan memastikan anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang layak. Anak pertama saya sudah Lulus S1 Sarjana Hukum, Universitas Lambung Mangkurat. Ingatlah ini, hanya dibutuhkan sesuatu yang kecil untuk membuat kebahagiaan hidup. - Marcus Aurelius Kesimpulan refleksi di Group MIG. Perusahaan ini bukan sekadar tempat kerja, tapi tempat saya menemukan kembali harga diri dan harapan. Pesan inspiratif untuk teman-teman karyawan di seluruh kebun MIG, jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada. Tunjukkan dedikasi, ambil setiap peluang pelatihan, dan percaya pada prosesnya. Perusahaan menghargai mereka yang mau bekerja keras dan terus belajar. Harapan saya, PT SSP terus menjadi rumah bagi para pencari nafkah seperti saya, dan terus berkembang menjadi perusahaan sawit terbaik di negeri ini. Demikianlah cerita singkat perjalanan hidup saya selama ini. Mohon maaf kalau ceritanya kurang asik, maklum seumur-umur baru ini dipaksa untuk menulis hehehe. Mohon maaf bila ada kata yang mungkin kurang pantas diucapkan. Karena kita masih bernapas, semoga tidak lupa untuk bersyukur sebelum mengeluh, memberi sebelum meminta, berdoa sebelum


60berjuang, semoga Allah senantiasa melindungi kita meletakkan tangan pelindungNya untuk menjaga dari kejahatan dan kesedihan yang senantiasa menyinggahi. Pada akhirnya bukan tujuan yang paling berarti, melainkan perjalanan itu sendiri dan saya bersyukur telah menjalaninya. Aamiin


61 Jika kamu tidak bisa terbang, maka larilah... - Martin Luther King Jr.11ELPIKRI AKMALASISTEN DIVISI 6 KEBUN BEJARAUDITEMPA WAKTU DIBENTUK PENGALAMAN


62Namaku Elfikri Akmal bisa dipanggil Fikri. Lahir di Riau, namun dibesarkan di Kabupaten Bengkulu Selatan, Kecamatan Kota Manna. Sebuah kabupaten yang masih asing di telinga banyak orang. Kota Manna, nama yang unik dan sulit dilupakan bagi siapapun yang tumbuh di dalamnya. Kota kecil ini tidak seramai kota-kota besar, tetapi disitulah keistimewaaannya, Aku tinggal di sebuah rumah yang sederhana namun penuh dengan kenangan indah.Memiliki beberapa kambing dan ayam di belakang rumah, merepotkan untuk diurus semasa kecil. Namun saat ini menjadi memiliki ternak kambing dan ayam adalah salah satu impianku. Di samping rumah langsung berbatasan dengan sungai, tempat masa kecil memancing bersama kawan-kawan. Di depan rumah terdapat halaman luas untuk bermain bola setiap sore. Hidup yang sederhana, tapi penuh cerita yang menghangatkan hati.Di pagi hari, udara Kota Manna selalu membawa aroma khas dan suara ombak yang terdengar gemuruh yang tak bisa kutemukan di tempat lain. Suara ombak dari kejauhan seolah menjadi pengingat bahwa hidup selalu bergerak, seperti air yang datang dan pergi, tak pernah berhenti. Dari kota yang kecil ini, aku menyimpan mimpi besar kelak bukan hanya halaman rumah yang penuh kehidupan, tapi juga masa depan yang kubangun dengan tangan sendiri.Masa kecil hingga SMA aku habiskan di tempat ini, hingga pada saatnya aku merantau ke kota dengan sebutan kota pelajar yaitu Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah, di Institut Pertanian Yogyakarta tempat asisten-asisten kelapa sawit berkualitas ditempa.Kampus ini sangat serius dalam membentuk karakter, disiplin, dan keberanian setiap mahasiswa. Dari awal kami ditempa untuk menjadi lebih kuat, lebih tegas, dan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja di perkebunan. Ketika dijalani dengan semangat tinggi untuk cepat lulus, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari-hari berat di kampus yang dulu terasa panjang kini berubah menjadi kenangan yang justru dirindukan. Apa yang dulu tampak sebagai beban, ternyata adalah proses yang membentuk kami. Setiap disiplin yang diterapkan, setiap ajaran dari dosen, setiap tantangan yang memaksa kami keluar dari zona nyaman, adalah bagian dari perjalanan yang membuat kami siap menghadapi dunia kerja. Semua terbayar ketika setelah wisudah, kami langsung diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan yang percaya pada kualitas kampus ini.Proses rekrutmen berlangsung cepat. Sebelum toga wisudah benar-benar disimpan di lemari, aku sudah diterima kerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit. Rasanya


63seperti mimpi, bisa menyelesaikan perkuliahan dengan tepat waktu dan langsung diterima bekerja. Sekarang aku bersiap merantau lebih jauh lagi, bukan sebagai mahasiswa, tetapi sebagai seorang professional di dunia perkebunan kelapa sawit.Tiba saatnya aku terbang menuju Kalimantan Tengah. Ini adalah perjalanan yang jauh, bukan sekedar berpindah tempat, tetapi berpindah babak kehidupan. Saat di atas pesawat, aku menatap jendela pesawat dan membiarkan kenangan itu lewat seperti film yang diputar ulang di kepalaku.Aku teringat kata-kata dosen. “di dunia kerja kalian akan ditempa lagi. Jangan pernah sombong dengan apa yang kalian tahu, sebab lapangan selalu punya caranya sendiri untuk mengajari.” Kalimat ini membuatku tersenyum, aku siap menghadapi semuanya, tantangan, pembelajaran baru, bahkan kegagalan yang mungkin datang.Ketika roda pesawat menyentuh landasan Kalimantan Tengah, aku merasakan getaran di dadaku, campuran antara gugup dan semangat. Disinilah perjalanan baru dimulai. Aku tidak sendiri. Kami berjumlah 30 orang, datang dari berbagai daerah dan berbagai kampus. Meski latar belakang kami tidak sama, kami dipersatukan oleh satu tujuan yaitu menjadi asisten perkebunan kelapa sawit yang handal.Kami mengikuti pelatihan atau pembekalan sebelum kerja selama enam bulan untuk ditempa kembali. Tidak peduli sudah lulus dengan predikat apa, disini semua dimulai dari nol. Disiplin kampus menjadi dasar kami, tapi dunia kerja juga menuntut lebih tentang ketepatan keputusan, daya tahan fisik, kepemimpinan, dan kemampuan membaca memahami dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lapangan.Setelah 6 bulan dilalui, kami ditempatkan di berbagai lokasi yang disebar di seluruh wilayah operasional perusahaan. Saat namaku disebut, aku manarik napas panjang. Di titik itu, semua proses pelatihan bergerak cepat di kepalaku, instruksi tegas dari mentor, diskusi panjang dengan teman satu angkatan, hingga rasa lelah yang dilalui setiap hari. Semua ini menjadi bekal penempatan yang sesungguhnya. Tidak ada lagi status trainee. Kini kami resmi menjadi asisten lapangan, memegang tanggung jawab atas ratusan hektare lahan dan puluhan orang yang bekerja di bawah komando kami. Rasanya berat tapi juga membanggakan.


64Setelah beberapa tahun di perusahaan ini, tiba saatnya aku mencoba mencari perusahaan baru. Waktu berjalan tanpa terasa, dari hari pertama aku menghapal blok hingga menjadi asisten yang memahami setiap sudut lahan dan karakter tim di lapangan. Pengalaman demi pengalaman menempaku mulai dari memimpin mandor, pemanen, karyawan perawatan, menghadapi target produksi, kerja sama dengan department yang lain, hingga mengambil keputusan-keputusan yang cepat dan tepat.Aku mulai menyadari bahwa untuk terus berkembang, aku harus berani melangkah lebih jauh, keluar dari zona nyaman. Bukan karena tidak lagi mencintai tempat pertama bekerja, tetapi ingin melihat dunia perkebunan dari sudut yang lebih luas dan tantangan yang baru. Dengan hati yang mantap, aku melangkah ke babak berikutnya, meninggalkan tempat yang pernah menjadi sekolah nyata bagiku, menuju perusahaan baru dengan harapan mendapat tantangan yang lebih besar dan kesempatan untuk terus berkembang.Perusahaan baruku bernama PT Swadaya Sapta Putra. Di hari pertama aku masuk di perusahaan baru terasa berbeda, timnya beragam. Aku harus memperkenalkan diri kembali, membangun kepercayaan dari awal, dan menunjukkan bahwa aku tidak hanya datang membawa pengalaman, tetapi juga siap belajar lagi. Ternyata benar, pada saat masuk ke sini aku menghadapi hal yang menantang. Banyak hal yang harus diperbaiki. Pengalaman yang aku bawa dari perusahaan sebelumnya menjadi pondasi. Namun aku tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman, aku harus beradaptasi dengan cepat, belajar ulang dari nol, dan memahami budaya kerja yang baru.Di lapangan, aku menemukan fakta bahwa beberapa blok kebun belum terawat dengan baik, produksi tidak stabil, serta tim yang masih belum solid. Sistem pencatatan pun tidak serinci yang dibayangkan, membuatku harus turun langsung, mengukur setiap detail, danmencatat semua hal yang harus diperbaiki. Saat itulah aku mengingat kembali pelajaran pada saat menjadi trainee : “Jangan pernah takut menghadapi masalah, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.” Aku mulai menyusun daftar prioritas, memperkuat tim mandor, membangun disiplin kerja, menata pemeliharaan, dan memastikan setiap orang memahami target yang sama.


65Tantangan tidak hanya datang dari teknis lapangan, tetapi juga dari manusia. Setiap orang punya kebiasaan, pola pikir, dan cara kerja sendiri. Untuk mengubahnya aku tidak bisa hanya memerintah tetapi juga harus menjadi contoh. Setiap hari ke lapangan mengamati setiap detail, lalu berdiskusi dengan mereka satu per satu. Perlahan, komunikasi mulai terbangun, rasa percaya mulai tumbuh. Ada hari-hari dimana terasa begitu berat, target terasa sulit dicapai. Tapi aku tahu bahwa inilah alasanku pindah yaitu untuk menemukan tantangan baru, bukan untuk mencari kenyamanan dan aku percaya, yang membuat seseorang berhasil bukan seberapa mudah jalan yang dilalui, tetapi seberapa berani ia menghadapi jalan yang sulit.Aku banyak menemukan pengalaman baru. Disini aku belajar bahwa seorang asisten bukan hanya pemimpin di kebun, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial. Dunia perkebunan bukan hanya tentang tentang tanah, pohon, dan angka produksi, tetapi juga tentang manusia yang memanen dan merawat semua itu setiap hari. Kita harus memperhatikan hal yang dasar mulai dari lingkungan perumahan, dan yang mengejutkan adalah semua itu kembali mempengaruhi kinerja. Ketika rumah tempat mereka pulang terasa baik, mereka juga akanberangkat kerja dengan hati yang lebih ringan. Menang bukanlah segalanya, tetapi keinginan untuk menang adalah segalanya. - Vince Lombardi


66Di perusahaan ini aku belajar bahwa keberhasilan bukan hanya seberapa banyak produksi yang dihasilkan, tetapi seberapa besar dampak yang kita berikan pada kehidupan di sekitar kita. Dari Kota Manna, aku belajar tentang mimpi, dari kampus, aku belajar tentang ilmu. Dan dari tempat ini aku belajar tentang manusiaPerjalanan ini dengan segala tantangan, pelajaran, dan pengalaman telah membentukku menjadi pribadi yang lebih matang. Dari halaman rumah tempat bermain bola setiap sore, hingga bangku kuliah di Yogyakarta, lalu merantau ke Kalimantan Tengah dan menghadapidunia kerja yang keras, semuanya menjadi perjalanan panjang yang tak ternilai. Kedepan aku memiliki impian untuk terus memberikan dampak yang lebih besar di bidang yang saya tekuni. Aku ingin terus belajar, memperbaiki diri, dan membangun lingkungan kerja yang lebih baik bagi orang-orang di sekitar saya. Dengan semangat yang sama seperti saat pertama kali merantau, aku percaya masa depan selalu terbuka untuk mereka yang berani melangkah, Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak tantangan menanti, dan aku siap menghadapinya dengan keyakinan penuh bahwa setiap langkah akan membawaku semakin dekat pada impian.


67 Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. – Sutan Sjahrir12ABASASISTEN DIVISI 7 KEBUN BEJARAUKISAH ANAK RANTAU


68Perkenalkan saya Abbas Saya lahir dan besar di sebuah desa terpencil di Sulawesi Selatan, Kabupaten Soppeng yang biasa orang kenal Kota Kalong. Saya anak bungsu dari 4 bersaudara. Orang Tua saya seorang petani. Saya anak satu satunya yang melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi, bukan tidak mau kakak-kakak saya melanjutkan pendidikan, akan tetapi kami terbentur dengan biaya pendidikan. Maka dari itu saudara-sadara saya rela berhenti sekolah agar bisa membiayai satu orang saja yaitu saya. Akhirnya kakak-kakak saya merantau ke pulau ujung timur Papua dan satu lagi merantau ke Kalimantan Timur agar perekonomian keluarga bisa tetap stabil. Karena orang tua kami besar harapannya punya anak yang berpendidikan, jadinya saya seorang diri bersama orang tua di kampung sambil sekolah. Pagi sekolah sepulang sekolah bertani atau berkebun. Itulah rutinas saya setiap harinya. Hari demi hari, tahun demi tahun hingga saya lulus kuliah. Saat lulus kuliah saya berniat bantu orang tua di kampung, bertani dan berkebun namun kakak saya melarang saya. Katanya sayang ijasah yang saya perjuangkan bersama keluarga. Akhirnya kakak saya mengalah pulang ke kampung halaman dan tinggal membantu orang tua di kampung untuk mengurus sawah dan kebunnya. Setelah kakak saya sudah di kampung bersama orang tua saya, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencari lowongan pekerjaan. Pada tahun 2011 ada salah satu peruhaan melakukan regrutmen di kampus saya, Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Saya membernikan diri daftar. Dan setelah melalui tes, saya salah satunya dari sepuluh orang yang lulus. Dan tiga hari setelah pengumuman, saya harus berangkat ke Jakarta untuk tes lanjutan.Dan setelah itu saya kebagian di daerah Kaliamantan Tengah bersama empat teman saya dan lima teman saya bertempat Sumatara Setelah saya sampai di Kalimatan Tengah, jam delapan malam tiba di Bandara Palangka Raya. Dan kami melanjutkan naik mobil perusahaan ke Kebun Barunang Miri. Jam dua belas malam kami sampai di Kebun Barunang Miri dan tinggal di barak kayu dekat mess yang saat ini. Pagi hari kami jalan jalan subuh sambil keliling cari signal ketemu seseorang yang sudah tidak muda lagi di dekat kantor. Terbesik di mulut teman teman dan saya hebat ya tukang kebun saja subuh subuh sudah kerja. Begitu kagetnya saya, pas kami akan menerima materi training


69pengolahan lahan yang akan dibaw hkan oleh Ir.Nur Yahya. Orang kami jumpai subuh subuh di dekat kantor besar Barunang Miri ternyata seorang Manager Kebun Setalah selesai masa training tiga bulan. Saya di angkat jadi karyawan tetap di salah satu devisi di Kebun Bejarau yaitu devisi enam, yang saat ini menjadi devisi empat. Hari demi hari kami lalui hingga dua tahun berlalu masa kontrak kami sudah selesai. Beberapa teman saya mengndurkan diri karena merasa jauh dari kampung halaman hingga tersisa saya sendiri.Sampai saat itu pernah juga terbesik di benak saya untuk keluar, tapi setelah selesai masa kontrak saya dapat jodoh di SSP. Seorang perempuan yang cantik dan pekerja keras yang bernama Lastriyani, kelahiran Tasikmalaya Jawa Barat dengan penantian tujuh tahun rumah tangga kami diberikan anugrah seorang anak perempuan yang bernama Syifa Zunaira. Di situlah saya sudah tidak pernah lagi kepikiran untuk cari kerjaan lain. Dan satu tahun berikutnya kami dipercayakan lagi punya anak kedua kami yang bernama Shafana Zunaira saya merasa sangat bersyukur bekerja di PT SSP, karena PT inilah yang membuat perjalan hidup saya lebih berarti dan semakin indah. Sampai saat ini beberapa tawaran dari teman-teman untuk pindah, tapi ada satu yang saya dapatkan di PT ini belum tentu saya dapatkan di PT lain.Yaitu persaudaraan dan kekeluargaan yang kuat Setelah berjalannya waktu, hingga saat ini PT SSP membentuk yang namanya kebun hortikultura ramah lingkungan yang bebas dari herbisida. Diwajibkan setiap devisi harus punya itu beserta pelihara ternak yang terstruktur dan rapih, yang terapkan sama GM kami yang baru yaitu bapak Jonner Happi Purba. Saya semakin betah bekerja karena karyawan level pemanen juga merasa lebih betah karena setelah pulang kerja, mereka ada kegitan di dekat rumahnya dan bisa juga membantu perekonimiannya tanpa mengurangi jam kerja. Dan hasil kerjanya hampir semua tenaga kerja saat ini merasa tambah betah bekerja karena bisa juga meluangkan hobinya sebagai petani dan peternak di luar tugas tanggung jawabnya sebagai karyawan PT SSP


70 Tidak ada anggota tim yang dipuji karena individualitasnya, melainkan karena kerja samanya. - Ralph WaldoTerima kasih PT SSP yang telah membuat warna warni kehidupan saya di perantauan Terima kasih PT SSP yang telah mengingatkan saya dengan kampung halaman yang setiap harinya melihat tanaman dan hewan ternak di lingkungan kerja kamiTerima kasih Pimpinan PT SSP dan Dewan Direksi memberikan peluang kepada saya berkarya dari tahun 2011 hingga saat iniTerima Kasih TUHAN engkau lahirkan PT SSP untuk kami mencari nafkah dan berkaryaTerima kasih salam anak rantau


71 Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya. ― Pramoedya Ananta Toer,13HARYO PURNOMO SIDHIMANAGER BINA LINGKUNGAN PT. SWADAYA SAPTA PUTRACATATAN DARI PINGGIRAN TUALAN


72Assalamualaikum Wr Wb Sebelumnya perkenalkan diri saya, saya Haryo Purnomo Sidhi. Lahir di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah yang memiliki potensi produksi susu sapi segar yang sangat berkualitas dan tinggi, namun sampai saat ini tidak menjadi jaminan kesejahteraan bagi peternak sapi perah. Permasalahan tata niaga yang tidak pernah beres. Iya saya lahir di Boyolali, tepatnya pada hari Senin Legi, tanggal 30 Mei tahun 1988. Dan tepat tahun ini saya meginjak di usia 37, dimana pada usia tersebut saya setidaknya telah melewati fase quarter life crisis. Saya dibesarkan di dalam keluarga besar dengan mayoritas berprofesi sebagai pedagang, terkecuali almarhum bapak saya yang sedari remaja sudah gemar berkumpul dan berorganisasi,sehingga dalam usia matangnya tergabung dalam sebuah partai politik dan menghantarkan beliau terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Boyolali selama tiga periode berturut-turut.Meski begitu posisi “nyaman” dan mapan tersebut ternyata tidak menjadi jaminan kebahagian bagi keluarga kami, karena dari awal ibu saya tidak pernah setuju bapak saya untuk berpolitik, apalagi menduduki suatu jabatan publik. Hingga suatu momen terjadi karena ibu saya sudah lelah dan akhirnya almarhum bapak saya secara sadar untuk menjaga kebahagiaan keluarga memutuskan hiatus dari politik dan menekuni pekerjaan sebagai pedagang hingga akhir hayatnya. Menjadi anak dari orang yang menggeluti dunia politik mendatangkan keuntungan bagi saya, karena selain mendapatkan pendidikan politik dan organisasi secara gratis dan langsung, antara lain mewarisi sifat-sifat mudah bergaul, supel dan juga jejaring pertemanan yang memadai. Dan kemudian pada saat kuliah saya mengikuti organisasi yang bercorak politik, Dan pada saat disitulah karena pergaulan di organisasi saya mengenal novel/roman karya Pramoedya Ananta Toer, hampir semua karyanya sudah saya baca, Pramoedya Ananta Toer menjadi sosok inspiratif bagi saya. Melalui karya-karyanya beliau mengajarkan kepada saya untuk mendobrak kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat Jawa yang mungkin bahkan sampai sekarang ini masih ada. Sikap Pram yang mengkritisi adat budaya feodal masyarakat Jawa ini lah yang saya kagumi dan menjadi inpirasi hidup sampai sekarang. Pada awal tahun 2012 setelah saya menamatkan studi hukum di sebuah universitas di Jogja, saya mengikuti rekrutmen sebuah perusahaan perkebunan sawit melamar untuk posisi Asisten Public Affair dengan penempatan di Pulau Kalimantan. Setelah sebelumnya beberapa kali saya mencoba melamar kerja ke perusahaan pertambangan namun gagal kemudian saya mencoba


73preferensi lain yakni perkebunan kelapa sawit, dengan modal nekat dan semangat pada waktu itu saya percaya diri untuk mencoba peruntungan ke Kalimantan. Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan Alhamdulillah, ternyata memang rezeki saya di perkebunan kelapa sawit. Setelah lolos rekrutmen tersebut sekitar dua minggu kemudian saya diberangkatkan ke Kota Palangkaraya, kota dimana pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Borneo, yang kemudian perjalanan dilanjutkan menuju site perusahaan tepatnya di Desa Pundu. Di tempat itulah saya bisa secara langsung dapat berinteraksi dengan masyarakat lokal Kalimantan Tengah. Setelah 7 bulan saya ditempatkan di Pundu, saya dipindahkan ke Kalimantan Barat untuk memenuhi kebutuhan program ekspansi perusahaan tepatnya di Kabupaten Ketapang. Harapan saya pada waktu itu hanyalah saya dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan yang memadai dan tidak menjadi beban bagi orang lain, berbagai macam tantangan dan suka duka sudah saya alami ketika bekerja dan tinggal di Kalimantan Barat, yang memberikan kesan serta mendewasakan saya. Setelah sekitar 3 tahun di perusahaan tersebut, saya kemudian mengundurkan diri karena mendapatkan penawaran baru yang lebih baik serta jaminan kesejahteraan yang lebih baik, dengan penawaran penempatan di Kalimantan Selatan. Itu yang membuat saya juga makin memantapkan untuk pindah karena mendapat dukungan penuh dari keluarga istri, karena kebetulan mereka berasal dari sana.Ketika berada disana saya seperti merasa di kampung halaman sendiri. Karena dengan dukungan dan lingkungan dari keluarga besar istri saya yang ada disana, rasanya hampir tidak ada hambatan ataupun tantangan yang berarti dalam setiap melaksanakan pekerjaan dan tugastugas dari Perusahaan. Terlebih lagi dengan adanya dukungan tersebut memberikan dampak baiknya hubungan dengan komunitas lokal, yang mana sebelumnya sering terjadi konflik serius antara perusahaan dengan mereka. Setelah hampir 3 tahun menjalani kehidupan disana,perusahaan tempat saya bekerja mengalami beberapa kemunduran akibat beberapa kebijakan yang tidak tepat sehingga sangat mengganggu hak-hak dan benefit yang di dapatkan karyawan.Berawal dari permasalahan itulah yang membuat pikiran saya goyang dan gundah, yang membuat saya kemudian berpikir untuk mencapai tempat baru, karena dengan adanya seperti ini juga sangat menganggu keuangan keluarga saya. Dan pada akhirnya saya memutuskan mengundurkan diri pada Maret 2018. Awal mulanya saya tahu PT.SSP berasal dari iklan lowongan kerja yang terpampang pada situs pencari kerja Jobstreet, yang pada waktu itu ditayangkan iklan lowongan kerja untuk mengisi jabatan sebagai Asmen Bina Lingkungan, karena kriteria dan persyaratan sesuai dengan kualifikasi yang saya miliki maka saya mencoba untuk melamar posisi tersebut. Dan


74kurang lebih 3 hari setelah saya apply pada posisi itu, saya dihubungi oleh Staf HRD via telpon dan mengajak ngobrol sharing terkait dengan pekerjaan. Dan setelah itu saya di undangan untuk interview lanjutan ke Kantor Jakarta dengan seluruh pembiayaan perjalanan saya dariKalsel ke jakarta ditanggung penuh oleh pihak PT.SSP. Interview di Jakarta menjadi bagian penting sebelum saya bergabung dengan dengan PT SSP. Pada saat tersebut saya cukup terkejut karena ini ternyata perusahaan sawit tapi dengan pemilik perusahaan orang lokal asli bukan keturunan, karena seperti kita ketahui mayoritas pemilik perkebunan kelapa sawit yakni WNI keturunan. Dan pada saat interview tersebut dapat langsung bertemu dengan jajaran direksi dan suasana guyub terasa, dengan adanya suasana tersebut itu yang membuat saya yakin untuk bergabung dengan PT.SSP. Dan dengan lokasi di Kalteng membuat saya juga mendapat dukungan dari keluarga karena masih dekat dengan Kalsel dan bisa lebih sering untuk mengunjungi orangtua di Kalsel. Harapan saya waktu itu, saya hanya ingin memperoleh kesejahteraan yang lebih baik. Saya dapat memiliki rumah dan menambah aset untuk menambah penghasilan keluarga. Dan saat ini saya dan keluarga memutuskan untuk menetap di Kota Sampit. Dan menurut kami layak kami jadikan Kota Sampit sebagai “kampung halaman” bagi anak-anak kami apabila mereka nantinya pergi merantau. Selama bekerja di PT.SSP mulai dari tahun 2018 sampai saat ini banyak sekali momenmomen dan pengalaman hidup yang saya lalui. Dan sangat berharga untuk kehidupan saya, mulai dari hubungan dengan rekan kerja, tetangga perumahan, relasi dengan masyarakat lokal sekitar perusahaan dan hiruk pikuknya manajemen organisasi Perusahaan. Salah satu yang berkesan adalah ketika pergantian pimpinan yang sampai saat ini saya telah mengalami tiga kali pergantian pimpinan an dapat mengenal serta menyesuaikan dengan karakter masingmasing pimpinan. Fase pergantian inilah yang menjadi berkesan karena setiap pimpinan memiliki kebajikan yang berbeda dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Apabila dibandingkan dengan sebelum bekerja di PT.SSP secara jelas kehidupan saya belum sebaik sekarang. Dengan bergabungnya dengan PT.SSP juga sangat mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga saya dan mencukupi kebutuhan keluarga, setelah saya bergabung dengan PT.SSP bisa mencicil rumah pribadi, dapat menambah aset untuk meningkatkan penghasilan keluarga, serta bisa menyediakan pendidikan yang baik untuk anak-anak saya. Harapan saya kedepan untuk PT.SSP supaya perusahaan menjadi perusahaan dengan valuasi ekonomi terbaik yang memberikan manfaat bagi karyawan yang bekerja di dalamnya serta memberikan dampak yang positif untuk masyarakat yang ada di sekitar wilayah


75operasional perusahaan. Saya optimis dengan manajeman yang ada sekarang hubungan dengan masyarakat sekitar lebih harmonis dengan program-program bersama bermanfaat secara garis besar visi, misi, dan tujuan perusahaan juga tercapai. Untuk saya pribadi saya berharap untuk menjadi pibadi lebih mandiri secara ekonomi, dimana ada masanya suatu saat nanti tidak bergantung lagi kepada orang. Setiap orang ada masanya. Demikian cerita dari pinggiran Sungai Tualan saya yang dapat saya ungkapkan kurang lebihnya. Sebenarnya banyak sudah pengalaman baik suka maupun duka selama disini yang akan menjadi sangat berharga untuk kehidupan kelak selanjutnya. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian – Chairil Anwar


76


77 Setiap hal akan selalu terlihat mustahil sampai hal itu berhasil dilakukan - Nelson Mandela14ABDUL ASISASISTEN CONTROLLER ESTATE PT SWADAYA SAPTA PUTRADARI NOL MENJADI INDAH


78Saya adalah anak ke tiga dari lima bersaudara yang lahir di salah satu kampung di wilayah Sulawesi Selatan yakni Kalosi Kel. Kalosi, Kec. Alla, Kab. Enrekang pada tanggal 08 Maret 1992. Masyarakat di daerah kami mayoritas adalah petani termasuk kedua orang tua saya. Kampung kami berada di daerah pegunungan, dimana ada banyak gunung yang mengelilingi kampung kami termasuk gunung tertinggi yang ada di pulau Sulawesi, yaitu gunung Latimojong yang sering juga disebut gunung Rante Mario dengan puncak ketinggian 3.478 MDPL. Saya memulai pendidikan pada salah satu sekolah dasar di daerah kami yakni SD 18 Kalosi. Saya jalani selama 6 tahun dengan jarak rumah kami ke sekolah kurang lebih 1 kilo meter yang saya tempuh setiap harinya dengan berjalan kaki. Setelah pulang sekolah saya saudara-saudara saya harus ke kebun untuk membantu orang tua kami bekerja di kebun. Setelah lulus SD saya lanjut pada salah satu Sekolah Menengah Pertama yaitu SMP 3 Alla yang lokasinya tidak jauh dari SD saya sebelumnya. Hari-hari pergi dan pulang ke sekolah saya tempuh tidak berbeda saat SD yakni dengan berjalan kaki. Hal ini berlanjut sampai saya melanjutkan pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan yang lokasinya lebih jauh. Setiap hari saya harus bangun cepat untuk mempersiapkan diri agar tidak terlambat ke sekolah. Dan saat pulang sekolah saya harus ke kebun untuk membantu orang tua yang secara tidak langsung membentuk saya dan saudara menjadi anak yang rajin, disiplin dan pekerja keras seperti kedua orang tau saya.Karena keterbatasan biaya, setelah lulus sekolah menengah kejuruan saya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Saya bekerja serabutan untuk membantu ekonomi keluarga karena saat itu kakak saya sedang kuliah dan memerlukan biaya yang lebih. Saya bekerja serabutan seperti pengumpul batu gunung, buruh tani, kuli bangunan dan lain sebagainya sama dengan pekerjaan yang sebelumnya biasa saya lakukan ketika masih sekolah di saat hari minggu ataupun hari libur.Pada awalnya orang tua saya memiliki beberapa lahan yang digunakan untuk bertani ulat sutra dan menanam sayur. Seiring berjalannya waktu bidang pertanian yang memakai banyak pestisida semakin meningkat yang berakibat bidang ulat sutra menjadi menurun dan terhenti karena ulat sutra sangat sensitif dengan aroma racun yang terbawa angin sehingga sering gagal panen dan merugi. Hingga pada akhirnya orang tua harus merelakan sebagian lahannya dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami dan juga membayar biaya kuliah


79kakak saya, hingga sampai kakak saya selesai kuliah. Dan Alhamdulillah setelah lulus kakak saya langsung mendapatkan pekerjaan.Setelah kakak saya mulai bekerja, ekonomi keluarga kami mulai membaik. Pada saat itu saya disarankan untuk lanjut kuliah di salah satu kampus fakultas pertanian yakni Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Setelah menempuh pendidikan di bangku kuliah selama empat tahun saya akhirnya lulus pada tahun 2016 dangan gelar Diploma IV program studi Agroindustri. Selang beberapa minggu setelah lulus saya dan teman kuliah mendapat tawaran pekerjaan dibidang pengolahan hasil perikanan di salah satu wilayah pulau Kalimantan tepatnya di daerah Juata laut Kalimantan Utara. Dengan dukungan kedua orangtua, yang menjadi tokoh inspirasi dalam hidup saya yang tak kenal lelah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, saya memutuskan untuk merantau menyeberang pulau bersama teman saya. Sebulan lebih bekerja di Kalimantan Utara, saya dan teman saya memutuskan untuk berhenti dan kembali pulang ke Sulawesi Selatan, karena kondisi pekerjaan yang tidak sesuai dengan perjanjian. Selama di kampung saya kembali bekerja serabutan untuk membantu kedua orang tua saya serta selalu mencoba mencari peluang untuk mendapatkan pekerjaan. Beberapa kali saya mendapatkan panggilan untuk tes dan interview dari beberapa perusahaan, namun belum diterima. Satu tahun lebih menganggur di kampung saya mendapat ajakan dari kerabat yang ada di Sulawesi Tenggara untuk ikut merantau kesana mencari pekerjaan. Dengan dukungan dan doa dari orang tua pada Januari 2018 saya memutuskan untuk berangkat. Tiga bulan menunggu di Sulawesi Tenggara saya akhirnya mendapatkan panggilan untuk tes di salah satu perkebunan kelapa sawit yakni PT. MERBAUJAYA INDAHRAYA di daerah kabupaten Konawe Selatan yang merupakan salah satu dari group PT. MIG atau Mahitala Ingkeng Gemah yang bergerak di bidang perkebunan dan pengelolahan kelapa sawit. Setelah mengikuti tes, beberapa hari setelahnya saya mendapat informasi bahwa saya dinyatakan lulus. Pada tanggal 02 April 2018 saya mulai bekarja sebagai admin divisi atau sering disebut kerani pada divisi pembibitan dengan status BHL atau buruh harian lepas, hingga pada tanggal 01 Oktober 2018 saya menandatangani kontrak PKWT atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.


Click to View FlipBook Version