130 Apakabar semua, saya harap kita semua baik baik saja, Saya teringat saat saya masih kanak-kanak. Lahir dari keluarga yang sangat sederhana, memiliki dua orang adik dibesarkan oleh seorang ibu yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga, Ayah kami dipanggil menghadap Sang Maha Kuasa saat masih anak-anak. Dari kecil kami sudah merasakan bagaimana nikmatnya dalam kekurangan, sehari-hari ibu harus bekerja di ladang, menanam sayur sayuran, dan kadang-kadang jadi tenaga upahan diladang orang.Boro-boro belajar di perguruan tinggi, sebagai anak tanpa ayah, kami harus berbagi pekerjaan membantu ibu di ladang. Kadang-kadang saat kerjaan cukup sibuk, kami malah harus izin tidak sekolah untuk membantu ibu. Kebiasaan di kampung saya, Orang yang tidak merantau pasti menjadi orang yang selalu dicurigai. Dijadikan bahan ejekan. Berbagai macam label disematkan padanya, mulai dari pencuri ayam dan lain-lain. Saya juga tidak mau mendapat label pencuri ayam dan lain-lain tersebut, memaksa saya harus memberanikan diri merantau dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Tidak punya izajah yang cukup, tidak punya skill, hanya modal nekat, saya mendaftar menjadi pekerja KHL di salah satu perusahaan perkebunan. Saya selalu takut kehilangan pekerjaan yang sudah saya dapatkan, selalu melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Akibat dari kesungguhan tersebut, saya masuk menjadi salah satu karyawan yang bisa diandalkan. Semakin banyak pekerjaan yang diberikan, semakin banyak pula kesempatan buat saya belajar. Sampai pada akhirnya dapat giliran dipromosikan menduduki sebuah posisi sebagai mandor lapangan. Sebagai mandor lapangan, saya lebih banyak lagi mempelajari hal hal yang baru. Meskipun banyak hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, akan tetapi dengan adanya teman teman yang sudah berpengalaman, serta bimbingan dari para pimpinan, saya bekerja sambil belajar dari para pimpinan yang menjadi mentor saya untuk memahami seluk beluk pekerjaan di perusahaan perkebunan. Sampai akhirnya mendapat kesempatan dipromosikan menjadi staf. Beberapa pekerjaan pernah dipercayakan kepada saya, mulai dari asisten divisi, ke staf agronomi, kemudian asisten umum, memperbanyak pemahaman saya tentang perusahaan perkebunan. Banyak hal yang bisa saya pelajari.
131 Setelah belajar sambil bekerja selama beberapa tahun, jaman semakin berkembang, kebutuhan hidup semakin meningkat, mulai memberanikan diri mencari pekerjaan yang lebih baik dan saya mencoba bergabung dengan PT.MIG. Walaupun sudah mempunyai sedikit pengalaman sebelumnya, saat masuk di perusahaan baru, banyak hal baru yang harus segera saya pahami. Struktur organisasi yang berbeda, sistem pengelompokan karyawan, format-format laporan, dan lain-lain. Akan tetapi dengan prinsip “Mata adalah guru, malu bertanya jalan terus”, saya bisa meyesuaikan diri dengan temanteman yang ada di Perusahaan. Sejak bergabung di PT.MIG, sering diperhadapkan dengan tugas-tugas yang cukup menantang, memberikan saya kesempatan untuk belajar dari tantangan dan masalah-masalah yang ada. Bekerja keras mengalahkan bakat ketika bakat tidak bekerja keras. - Tim Notke. Saya masih yakin bahwa pengalaman juga guru yang baik, ala bisa karena biasa, semua bisa kita pelajari jika kita mau mempelajarinya, kita hanya perlu mencari seseorang yang mampu
132dan mau memberi petunjuk, membimbing kita agar tidak tersesat. Sekarang meskipun kadang harus melawan rasa minder, selalu berusaha belajar menambah pengetahuan, belajar dari teman, belajar dari internet, dan banyak lagi yang bisa kita jadikan tempat belajar. Mungkin orang lain mampu lebih cepat, tapi kita harus selalu berupaya untuk ikut. Semoga PT.MIG selalu konsisten dengan Visi dan Nilai Utamanya, peluang dan kesempatan, pasti akan datang buat kita semua. Sekian dan Terima Kasih.
133 Apa pun yang kamu lakukan, kamu harus terus bergerak maju - Martin Luther King, Jr.24ANTONIUS THEODORUS B. RUMAJARASISTEN MANAGER EHS PT SWADAYA SAPTA PUTRAMENITI HARAPAN DI NEGERI SERIBU SUNGAI
134Perkenalkan. Saya Antonius TB Rumajar. Saya berasal dari Pulau Sumatera tepatnya di Provinsi Riau, Kota Pekanbaru. Saya tumbuh dan besar di daerah yang katanya terkenal akan minyak & gas-nya. Sampai-sampai banyak yang mengatakan plat nomor kendaraaan ditempat kami “BM” adalah singkatan dari “Banyak Minyak”. Memang benar sih beberapa perusahaan besar disana bergerak di bidang tersebut baik yang berasal dari Indonesia maupun luar negeri seperti Pertamina, Caltex, Chevron Indonesia, Schlumberger, Haliburton dan lain sebagainya.Namun banyak orang tidak mengetahui kesulitan hidup di daerah kami, dimana masyarakat yang mayoritas bekerja di perusahaan migas disana hanya di pekerjaan sebagai karyawan kontrak (PKWT). Kontrak kerja rata-rata disana hanya untuk 3 bulan, 6 bulan, paling lama 1 tahun termasuk keluarga saya salah satunya. Karyawan yang bisa menjadi karyawan tetap (PKWTT) adalah karyawan dengan jabatan diatas manager area atau yang lebih tinggi dari itu. Bila kontrak kerja habis maka akan dirumahkan. Dan belum tentu bisa segera dapat bekerja di perusahaan lain kalau tidak punya channel atau cara-cara tertentu untuk menyambung kontrak. Karena kesulitan seperti ini, orang tua selalu mengajarkan “Dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan. Jadi jangan menyerah atas kesulitan hidup.” Dengan berbekal hal tersebut dan sedikit mengenyam pendidikan sekolah, saya beranikan diri merantau ke Pulau Kalimantan. Bahkan berkeluarga di pulau dengan julukan Negeri Seribu Sungai ini. Awal berkarier di Kalimantan ini, saya memutuskan memilih perusahaan perkebunan kelapa sawit, karena melihat saudara-saudara dari keluarga yang bekerja di kebun sawit ataupun pabrik kelapa sawit bisa bekerja dengan tenang dengan status karyawan tetap, sehingga tidak dihantui dengan kekhawatiran dan pemikiran; “Waduh, kontrak kerjaku sudah mau habis, bagaimana nasib keluargaku nantinya”. Singkat cerita, setelah menjalani 4 perusahaan perkebunan kelapa sawit mulai dari Kalimantan Timur hingga Kalimantan Tengah, saya bergabung dengan perusahaan ke-5 (lima) yaitu PT. Mahitala Ingkeng Gemah yang juga bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit dengan penempatan di PT. Swadaya Sapta Putra, Regional Kalimantan Tengah. Kehidupan dunia kebun yang saya rasakan sebelum bergabung dengan PT. Swadaya Sapta Putra adalah “dunia kasta”. Dunia kasta yang dimaksud disini adalah dalam bekerja terdapat beberapa tingkatan dengan gap-gap yang jauh signifikan.Tingkatan-tingkatan disini biasanya mulai dari yang terendah dikatakan orang-orang itu KHL/borongan lalu SKU, naik ketingkat ke-2 (dua) berikutnya ada kerani dan mandor, lalu ada tingkatan asisten/staf dan askep/asmen, lalu ada manager dan GM serta tertinggi itu ada
135Region Head dan Direktur. “Gap-gap yang jauh” ini terjadi baik dalam bekerja maupun diluar pekerjaan dalam hidup sehari-hari di Site Area. Contoh sederhananya para KHL/SKU jangan berharap lebih untuk bisa duduk bareng, diskusi, sharing atau yang lainnya dengan para asisten/staf, para askep apalagi dengan tingkatan manager atau diatasnya. Yahh bisa dibilang seperti di film-film dunia kerajaan. Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk keserakahan setiap orang. - Mahatma Gandhi
136 Kehidupan dunia kebun yang saya rasakan di PT. Swadaya Sapta Putra bahkan PT. Mahitala Ingkeng Gemah ternyata berbeda jauh dengan sebelumnya, dimana jangankan mau duduk bareng, diskusi, sharing bahkan disini bisa makan bareng dengan para direktur bahkan dengan para komisari perusahaan. Dan hal ini tidak hanya dalam bekerja namun juga dalam hidup sehari-hari di site/kebun. Bahkan sampai istri saya pernah berkata “begini rasanya bisa makan bareng, cerita bareng, tertawa bareng sama Ibu Direktur yaa pii”. Hal-hal ini walaupun mungkin orang bilang hal kecil namun bisa bermakna lebih yang dapat memberikan impact motivasi baik dalam bekerja maupun hidup sehari-hari diluar pekerjaan. Kesimpulannya adalah Rasa Kekeluargaan yang dibangun dalam bekerja maupun hidup sehari-hari diluar pekerjaan di site itu memberikan dampak positif bagi karyawan dan keluarganya. Semoga dunia kebun kekeluargaan disini bisa dipertahankan, sehingga keluarga karyawan nyaman dan karyawan pun semangat dalam berkarya di perusahaan. SSP Bisa…Bisa..Bisa. --- Mahitala Jaya…Jaya..Sejahtera..Amin.
137 Alam adalah seni Tuhan yang terbaik.\" – Dante Alighieri.25IRWANSYAHSTAF EHS PT SWADAYA SAPTA PUTRAKISAHKU BERSAMA PT SSP
1381. Pembuka Nama saya Irwansyah. Saya lahir di Pematang Siantar dan besar di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Kabanjahe adalah kota pegunungan yang sejuk, di kelilingi ladang dan perkebunan masyarakat. Hidup disana membuat saya terbiasa dengan suasana sederhana dan kerja keras sejak kecil. Masa kecil saya banyak diisi dengan membantu orang tua di ladang dan bermain bersama teman-teman di lingkungan kampung. Dari pengalaman itu saya belajar untuk menghargai usaha sendiri dan tidak mudah menyerah. Nilai-nilai sederhana seperti, jujur, dan saling menghormati menjadi bekal saya hingga dewasa.2. Kondisi Kehidupan Sebelum Bekerja di PT SSP Sebelum bergabung dengan PT SSP, saya sudah pernah bekerja di perusahaan kelapa sawit lain. Namun, pengalaman di sana tidak sepenuhnya menyenangkan. Manajemen perusahaan kurang memberikan perhatian terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta pengelolaan lingkungan. Banyak prosedur yang seharusnya dijalankan dengan ketat justru diabaikan, sehingga membuat saya merasa khawatir dengan keselamatan pekerja dan keberlanjutan lingkungan sekitar. Di masa itu, harapan saya sederhana: menemukan pekerjaan yang stabil, memberi ruang untuk berkembang, dan sesuai dengan minat saya di bidang lingkungan. Tokoh yang paling mempengaruhi hidup saya adalah ayah saya. Beliau selalu menekankan pentingnya kejujuran dan kerja keras. Pesan itu menjadi pegangan saya ketika menghadapi masa sulit. Saya percaya bahwa dengan kesungguhan, jalan akan terbuka.3. Alasan dan Motivasi Bergabung dengan PT SSP Ketika mendengar ada kesempatan bergabung dengan PT Swadaya Sapta Putra, saya langsung tertarik. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu yang serius mengelola perkebunan kelapa sawit dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan karyawan. Saya melamar dengan penuh harapan, ingin menjadi bagian dari tim yang menjaga keselamatan dan keberlanjutan. Motivasi saya sederhana namun kuat: saya ingin bekerja di tempat yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga peduli pada manusia dan alam. Saat diterima sebagai staff EHS, saya merasa bangga sekaligus tertantang. Harapan saya saat itu adalah bisa belajar banyak, mengembangkan diri, dan memberi kontribusi nyata.
1394. Momen-Momen Paling Berkesan dan Membahagiakan Selama tiga tahun lima bulan bekerja di PT SSP, banyak momen berkesan yang saya alami. Salah satunya adalah ketika perusahaan mendukung penggunaan teknologi drone thermal untuk pemantauan kebakaran. Sebagai bagian dari tim EHS, saya merasakan langsung manfaat inovasi ini. Drone membantu kami mendeteksi potensi kebakaran lebih cepat, sehingga bisa segera diatasi sebelum menimbulkan kerugian besar. Saya bangga karena perusahaan berani berinvestasi pada teknologi demi keselamatan lingkungan dan karyawan. Momen lain yang tak terlupakan adalah pertemuan pertama saya dengan Direktur Utama, Bapak Bambang Noto. Selama bertahun-tahun saya hanya mendengar cerita tentang beliau, akhirnya saya bertemu langsung saat sholat Jumat di Masjid Ar Rahman. Beliau tampil sederhana, bersahaja, namun berwibawa. Dari situ saya semakin yakin bahwa kepemimpinan beliau benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang saya kagumi: ketegasan, kepedulian, dan semangat memberi manfaat bagi banyak orang. Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, kita meminjamnya dari anak cucu. – Pepatah Indian
1405. Perubahan Hidup Setelah Bekerja di PT SSP Setelah bergabung dengan PT SSP, hidup saya berubah signifikan. Dari sisi ekonomi, saya lebih tenang memenuhi kebutuhan keluarga. Saya bisa merencanakan masa depan dengan lebih jelas. Dari sisi pribadi, saya semakin percaya diri. Saya terbiasa berbicara diforum resmi, menyusun prosedur kerja, dan berinteraksi dengan berbagai pihak. Perbandingan dengan masa sebelum bekerja sangat jelas: dulu penuh ketidakpastian, sekarang lebih terarah. Saya merasa lebih dihargai sebagai manusia, bukan hanya sebagai tenaga kerja. Budaya kerja di PT SSP yang transparan dan memuliakan karyawan membuat saya semakin bersemangat.6. Harapan dan Mimpi ke Depan Ke depan, saya ingin terus berkembang di bidang EHS dan lingkungan. Saya bermimpi bisa menjadi bagian dari tim yang membawa PT SSP semakin maju dengan inovasi ramah lingkungan. Saya juga berharap bisa menuliskan lebih banyak kisah inspiratif, agar generasi berikutnya tahu bahwa bekerja di perkebunan bukan hanya soal produksi, tapi juga soal membangun manusia dan menjaga bumi. Saya ingin anak-anak muda di kampung halaman saya melihat bahwa bekerja di perkebunan bisa menjadi jalan hidup yang bermakna. Dengan kerja keras, kejujuran, dan semangat belajar, kita bisa mengubah nasib. Semoga saya bisa terus berkontribusi, dengan semangat optimistis dan keyakinan bahwa setiap langkah kecil memberi manfaat besar.
141Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. - Tan Malaka26FAJAR ARYA BIMASTAF HRD PT SWADAYA SAPTA PUTRAMERAWAT ASA DI SELA-SELA REDUPNYA SEBUAH KEHIDUPAN
142Tak kenal maka tak sayang–pepatah ini terdengan klise, tapi bagi saya untuk dapat memasuki sela-sela kehidupan terkecil seseorang maka bukalah relung hatinya. Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit membuka relung hati diri ini kepada para pembaca agar bisa membersamai saya dalam proses melewati sela-sela terkecil dalam kehidupan. Saya mulai perkenalkan diri saya dengan sesederhana dan sehangat mungkin layaknya doa-doa yang dipanjatkan oleh ayah dan ibu. Fajar Arya Bimantoro adalah nama yang dipanjatkan oleh ayah dan ibu saya agar anaknya bisa menyinari gelapnya jalan kehidupan serta memberikan cahaya harapan kepada orang-orang terkasih di dekatnya. Meskipun saya tidak tahu pasti arti nama saya, namun sayameyakini bahwa nama yang diberikan ayah dan ibu merupakan doa-doa yang ingin mereka ejawentahkan. Saya lahir di sebuah desa di kabupaten Cikarang, Jawa Barat. Saya tidak banyak menuai kenangan-kenangan masa kecil di kampung halaman saya, saya justru meletakkan perjalanan hidup saya pada sebuah perkampungan kecil bernama Kenari di tengah besarnya hiruk-pikuk pusat Kota Jakarta. Tak seperti yang dipikirkan banyak orang tentang kehidupan mewah di Jakarta, saya memulai revolusi kehidupan di sebuah gudang perusahaan pipa, PT. Vinilon, karena kakek bekerja sebagai penjaga pipa-pipa besar di gudang Vinilon. Kakek membuka jalan rezeki keluarga agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Nenek membuka pintu rezeki lain dengan hal magis di tangannya, ia membuka warung makan–warung makan sederhana yang selalu dihinggapi senyuman oleh orang-orang setelah makan. Dari kedua rezeki tersebut, kakek dan nenek dapat membesarkan ibu saya. Ibu juga mewarisi keahlian memasak dari nenek, sehingga ibu meneruskan warung makan di depan tempat tinggal kami. Nenek membuka warung makan yang baru di sebuah food court mall elektronik. Dari warung makan tersebut terciptalah sebuah harapan agar membuka jalan yang lebih baik untuk saya.Saya tidak banyak menuai memori masa kecil bersama ibu, terlebih ayah. Ibu dan ayah berpisah ketika saya berumur delapan tahun dan empat tahun kemudian, ibu pergi meninggalkan kami karena sakit yang dideritanya, tak mengapa Allah sayang dengan ibu. Setelah kepergian ayah dan ibu, nenek dan kakek mengasuh saya dan adik, akan tetapi satu tahun kemudian, kakek dijemput oleh ibu ke surga. Pada saat itu, umur saya masih 13 tahun, saya sangat terpukul dengan kepergian kakek dan saya tidak ingin lagi ditinggalkan oleh orangorang tercinta. Seperti orang-orang bilang “yang namanya kehidupan akan terus berjalan”, nenek tetap menghidupi kami dari warung kecilnya, mungkin pada saat itu yang dipikirkan
143oleh nenek adalah mengutip kata-kata dari Milan Kundera seorang novelis Perancis “perjuangan manusia adalah hidup yang diperjuangkan adalah kehidupan melawan lupa”. Nenek tidak akan pernah lupa bahwa hidup terus tetap berjalan dan harus diperjuangkan.Kami bangun kembali harapan-harapan yang mulai terlupakan, dimulai dari berpindah tempat tinggal. Karena sudah tidak diijinkan tinggal di gudang lagi selepas kakek pergi, kami tinggal di kontrakan yang setiap tahunnya kami harus mencari kontrakan baru. Pada saat itu, terlintas di benak pikiran saya, saya harus mengatur ulang prioritas harapan,. Maka saya putuskan prioritas tersingkat yakni membantu nenek dalam mencari rejeki. Akan tetapi, pada saat itu saya tidak bisa melepaskan mimpi-mimpi seorang remaja, saya tidak rela pengalaman remaja saya tergerus oleh harapan singkat tersebut. Saya tetap membantu nenek di warung–belanja kebutuhan warung, meyalani pelanggan, mencuci piring di sela-sela waktu kosong saat tidak bersekolah. Waktu terus berlalu hingga saya menapaki bangku kelas 3 SMA, saya merasa sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Apakah hidup tetap begini-begini saja? Saya memutuskan untuk mempertaruhkan hidup dalam pendidikan dan nenek tidak bisa meninggalkan apapun selain mementingkan pendidikan saya.Dalam proses perjalanan intelektual, saya mulai suka membaca buku ketika duduk di bangku kelas 3 SMA. Buku pertama yang saya baca adalah “Sutan Sjahrir dan Tan Malaka dalam Kemelut Sejarah”. Buku tersebut membuka cakrawala intektualitas saya. Melihat bagaimana mereka beradu gagasan tentang konseptualitas negara membentuk konstruktifitas pemikiran saya. Saya mulai melek dan mendalami kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Maka itu saya memutuskan untuk berkuliah jurusan Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Akan tetapi takdir berkata lain, dalam proses menuju bangku perkuliahan, saya gagal dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN (Selesksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya memutuskan untuk mencoba kembali tes perguruan tinggi negeri di tahun berikutnya. Saya memakai waktu tersebut secara penuh membantu warung makan nenek sembari belajar, membaca bacaan buku-buku politik, dan sedikit menghiasi kenangan masa remaja saya.Pada tahun 2019, Saya mendapatkan harapan bekuliah di perguruan tinggi negeri, bukan di Ilmu Politik Universitas Indonesia, melainkan di Filsafat Universitas Gadjah Mada. Mengapa filsafat? Apakah mencoba seperti Rocky Gerung? Tidak juga, pada saat itu, saya tidak ingin menaruh risiko besar memilih pilihan kedua di Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada. Selain itu, di filsafat UGM terdapat konsentrasi filsafat sosial dan
144politik, saya pikir mungkin tidak terlalu jauh dengan penjurusan ilmu politik. Selama berkuliah, saya rasa saya bukan tipikal mahasiswa yang ambisius, saya masih meraba-raba akan seperti apa ke depannya menjalani kehidupan menjadi mahasiswa. Bagi saya, masuk ke ruang kelas dan aktif dalam berorganisasi di kampus sudah ideal sebagai mahasiswa, akhirnya saya memutuskan jalan tersebut pada awal semester-semester awal. Saya mengisi perkuliahan dengan banyak berteman, aktif di organisasi kampus, dan aktif di pergerakan mahasiswa. Ketika memasuki semester 3-4, saya, jalanan, dan megaphone, kedua hal tersebut erat dengan saya pada saat itu. Saya mengaktualisasikan diri sebagai “aktivis”. Memasuki tahun akhir menjadi mahasiswa, saya memutuskan tidak menghabiskan waktu di tanah Yogyakarta karena nenek terkena stroke.Perasaan saya hancur, semuanya hancur, nenek hanya bisa berbaring di tempat tidur sembari menjalani masa pemulihan. Keadaan ekonomi kami pun ikut hancur, tidak ada penopang yang bisa melanjutkan warung makan nenek karena hanya nenek yang memasak. Saya sangat bingung pada saat itu, apakah saya harus melepaskan perkuliahan saya yang sudah tinggal menyelesaikan skripsi atau fokus mencari uang untuk membantu perekonomian kami, karena tidak ada yang bisa membantu saya dan adik dalam permasalahan ekonomi. Akhirnya saya menjalani keduanya, saya mengejar lulus cepat juga agar bisa fokus mencari pekerjaan dan uang. Saya membantu ekonomi kami dengan menjadi joki tugas/skripsi, menjual design, menjadi streamer, dan pekerjaan apapun yang bisa saya lakukan. Menjelang dua minggu sebelum saya seminar proposal, saya mendapatkan kabar bahwa nenek telah tiada, tidak ada lagi yang saya bisa ungkapkan selain kesedihan yang mendalam, semuanya terasa makin hancur. Tersisa saya dan adik, saya harus tetap menyelesaikan perkuliahan dan mencari uang dengan cara yang telah saya lakukan. Bagi saya kondisi pada saat itu merupakan kondisi titik paling rendah dalam hidup saya. Sama seperti sebelumnya, hidup harus tetap berjalan dan saya ingin berjuang melawan lupa.Waktu kelulusan tiba, saya mendapatkan predikat lulusan terbaik tercepat dan terbaik Fakultas Filsafat UGM. Tidak dapat dipungkiri saya merasa senang, tapi ada sebuah celah lubang yang tidak dapat saya tutupi. Bahwa saya tidak bisa membawa nenek ke acara wisuda, hanya saya, adik, dan teman-teman kuliah saya. Saya pun tidak ingin berlarut-larut dalam perasaan tersebut karena perjuangan realitas sebenarnya setelah kelulusan ini. Pikiran saya tidak meleset bahwa realitas kehidupan setelah kuliah adalah realitas pahit yang harus saya telan. Hanya bermodalkan pengalaman menjadi asisten dosen ternyata bukan modal yang pasti
145untuk dapat diterima dalam sebuah perusahaan. Saya selalu gagal dalam proses interview, menurut saya karena memang kurangnya pengalaman kerja saya. Karena pada saat itu saya harus merawat nenek, akan tetapi saya tidak pernah menyesali keputusan tersebut. Sebagaimana menjalani kehidupan yang pahit ini, satu takdir baik pun menghampiri saya, saya ternyata diterima dalam proses Management Trainee MIG.Asa harapan untuk terus tetap hidup dapat saya genggam kembali, motivasi dan harapan saya pun muncul dan mengudara tinggi. Saya bisa menghidupi kembali diri saya dan melanjutkan tanggungjawab saya terhadap adik untuk mengantarkan ke bangku perkuliahan. Pada saat berangkat untuk acting-class di site Sumatra Utara, saya sebelumnya tidak tahu sama sekali tentang kelapa sawit, di sana lah saya menambah intelektualitas tentang kelapa sawit, saya jadi tahu bagaimana proses bisnis sebuah perusahaan kelapa sawit. Pada akhirnya saya mendapatkan penempatan definitif di Kalimantan Tengah, yakni PT. SSP (Swadaya Sapta Putra) salah satu grup MIG. Saya menjalani on-job-training saya di PT. SSP, awal tiba menjajaki kaki di pulau Kalimantan kegelisahan pun muncul, muncul sebuah pernyataan di dalam pikiran “Hal apa lagi yang akan terjadi ke depannya?” Tetapi saya rekonstruksi pemikiran dan tujuan saya di sini. Bahwa saya harus bisa bertahan dan berkarya di manapun saya berada termasuk salah satunya di PT. SSP. Hari pertama on-job-training, saya disambut dengan baik oleh teman-teman dari PT. SSP, saya merasa diberkahi oleh Allah bisa mendapatkan tempat yang diisi oleh orang-orang yang baik dan hangat. Saya dapat banyak bimbingan dan masukkan dari teman-teman di PT. SSP dan saya rasa akan cukup jarang mendapatkan hal tersebut di perusahaan lain. Saya menjalani masa on-job-training dengan lancar dan tidak berasa saya sudah resmi menjadi Staff HRD di MIG. Meskipun saya masih terhitung baru satu tahun di sini, akan tetapi kenangan paling terkesan adalah mendapatkan teman-teman kerja yang suportif. Saya akan terus tetap belajar dan berkarya, memberikan yang terbaik dengan nilai-nilai yang saya punya di PT. SSP.Setelah bekerja selama di MIG Group, khususnya PT. SSP. Banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam hidup saya. Asa-asa kehidupan yang saya inginkan satu per satu mulai terpenuhi, saya bisa menghidupi diri saya dan adik dengan baik, bisa memberikan pendidikan ke adik saya, memiliki tabungan, dan hal kecil di sela-sela kehidupan saya berubah. Saya sudah tidak berada di persimpangan jalan lagi, saya sudah melewati persimpangan pertama dalam kehidupan saya. Saya harus bersiap dengan berbagai persimpangan jalan lain yang akan muncul kembali.
146 Jangan pernah menyerah pada mimpi hanya karena waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya. Bagaimanapun waktu akan berlalu. - Earl Nightingale Walaupun asa-asa kehidupan yang saya inginkan sudah terpenuhi, saya masih memiliki asaasa kehidupan yang lain. Saya ingin terus tetap belajar dan berkembang dalam hal apapun. Saya ingin memanfaatkan bekal yang sudah saya peroleh dari PT. SSP untuk melanjutkan pendidikan S2 atau Master Degree, jika Allah menghendaki saya ingin merasakan kehidupan intelektualitas dengan hijrah ke London, yakni LSE (London School of Economics and Political Science). Saya ingin tetap menyalakan api mimpi yang sudah padam dan menghidupkan api mimpi tersebut menjadi seorang dosen atau researcher. Semoga Allah menyertai mimpi dan menghidupkan kembali api mimpi untuk jalan kehidupan saya impikan.
147 Hidup adalah mimpi bagi mereka yang bijaksana, permainan bagi mereka yang bodoh, komedi bagi mereka yang kaya, dan tragedi bagi mereka yang miskin” - Sholom Aleichem.27ALFARID WANGSA FADILLASTAF GIS PT SWADAYA SAPTA PUTRAKISAHKU BERSAMA PT SSP
148Pembuka Perkenalkan nama saya Alfarid Wangsa Fadilla. Saya anak kedua dari tiga bersaudara, orang tua saya berasal dari Kalimantan Selatan. Ayah saya dari Barabai dan ibu saya dari Banjarmasin. Saya hidup di tengah orang-orang yang memang mengedepankan pendidikan dari apapun karena ayah dan ibu saya adalah seorang sarjana itu menjadikan keluarga saya sangat mengedepankan Pendidikan. Sehingga anak-anak dari orang tua saya juga diwajibkan menjadi seorang sarjana. Bisa di bilang saya adalah anak yang biasa-biasa saja, berbeda dengan kakak kandung saya yang selalu mendapatkan nilai tinggi pada saat di bangku sekolah. Dan karena orang tua saya menganggap semua anak sama dan itu menjadi beban untuk saya karena harus sama dengan kakak saya yang jauh lebih pintar dari saya. Tetapi dengan adanya tekanan itu saya berusaha untuk meyakinkan orang tua saya, bahwa kemampuan anak itu beda-beda dan anak itu memiliki jalur rezekinya masing-masing tidak harus sama seperti apa yang sudah kaka saya dapat.Kondisi kehidupan sebelum bekerja di PT.SSP Kondisi sebelum saya bekerja di PT.SSP biasa dibilang masih tercukupi dengan baik karena ibu saya masih bekerja menjadi pegawai negeri sipil di salah satu instansi kesehatan yang ada di Sampit dan ayah saya juga adalah manager di salah satu perusahaan kayu di Pangkalanbun.Saya waktu itu alhamdulillah setelah lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu hotel yang ada di Sampit menjadi resepsionis, walaupun sebenarnya memang tidak masuk dengan jurusan kuliah saya. Tapi saya berpikir ini pekerjaan sementara untuk menambah pengalaman khusunya di dunia bekerja. Hidup keluarga yang bisa dibilang tercukupi saya merasa senang, saya bisa mendapatkan fasilitas yang mungkin orang lain tidak bisa dapatkan.Tetapi jika hanya mengandalkan orang tua, saya tidak akan bisa hidup untuk kedepannya. Singkat cerita, saya mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah saya dan mendapatkan info bahwa PT.SSP membuka lowongan pekerjan sebagai Staff GIS. Setelah mengirimkan lamaran, saya sangat berharap dapat diterima karena PT.SSP tidak jauh dari Sampit yang dimana berarti dekat dengan rumah orang tua saya, jadi sewaktu waktu jika ada kejadian atau apapun saya bisa langsung pulang ke Sampit.Alasan dan motivasi bergabung dengan PT.SSP Alasan untuk bergabung dengan PT.SSP karena di waktu itu saya mencari pekerjaan yang sama dengan jurusan saya dan mendengar PT.SSP membuka lowongan kerja sebagai Staff GIS
149yang dimana itu sangat cocok dengan jurusan kuliah saya, jadi saya mendaftarkan diri sebagai kandidat calon Staff GIS. Setelah melamar saya mengikuti semua test test yang di berikan kepada saya. Setelah saya melakukan test saya menunggu sekiar 2 minggu tetapi belum ada kabar sama sekali. Dan waktu itu juga saya ada mencoba melamar pekerjaan di salah satu bank yang ada di Sampit dan sudah mengikuti proses test dan yang lainnya juga tinggal menunggu hasilnya saja. Setelah itu tidak lama dari saya selesai melakukan test di salah satu bank tersebut,saya mendapatkan hasil dari bank tersebut dan saya berhasil diterima oleh bank tersebut. Dan yang tidak terpikirkan dari PT.SSP juga saya mendapatkan kabar saya diterima dan akan melanjutkan ke tahap untuk test kesehatan setelah itu saya masuk. Disini saya sudah pasti memilih untuk masuk PT.SSP karena sesuai dengan jurusan saya tetapi orang tua saya di waktu itu berpendapat untuk pilih di bank saja. Setelah debat sedikit saya tetap memilih di PT.SSP karena sesuai dengan jurusan saya. Dan yang menjadi motivasi saya adalah dulu ada teman saya pernah bilang kalau kuliah geografi pasti susah untuk lulus dan jika kerja pun pasti susah juga lebih enak management atau pun akuntasi. Dari situ saya termotivasi untuk lulus dan dapat pekerjaan yg sangat baik.Moment-moment paling berkesan dan membahagiaan Ada beberapa moment yang paling berkesan yang pertama ialah waktu saya baru masuk di PT.SSP. Saya mendapatkan masa percobaan selama 3 bulan. Didalam 3 bulan itu saya rasa apa yang saya kerjakan kurang maksimal karena di waktu itu masih terbatas laptop dan masih menggunakan komputer yang sangat lama sekali jika digunakan untuk proses melakukan pembuatan peta. Dan di saat itu juga ada program pelepasan lahan dari dept legal jadi saya membantu untuk proses pemasangan patok pelepasan itu yang berlangsung hampir 1 bulan. Di moment itu saya pikir sepertinya masa percobaan saya akan ditambah karena pemasangan patok itu pun masih kurang maksimal. Setelah itu singkat cerita masa percobaan saya selesai.Lalu saya di panggil oleh asmen HRD. Waktu itu lalu setelah dipanggil dijelaskan semuanya,tetapi belum memberi tahu hasil dari masa percobaan saya itu. Lalu diajak keruangan pak GM.Waktu itu setelah pak GM banyak memberi masukan saya alhamdulillah lulus masa percobaan dan menjadi karywan tetap di PT.SSP. Moment itu yang paling berkesan bagi saya karna saya baru di dunia perkebunan kelapa sawit, benar benar dari yang tidak tahu apa apa setelah 3 bulan masa percobaan itu sedikit banyaknya saya mengerti tentang perkebunan sawit dan bisa dinyatakan lulus menjadi karyawan tetap.
150Perubahan hidup setelah bekerja di PT.SSP Perubahan yang terjadi dihidup saya setelah bekerja di PT.SSP ialah salah satunya dulu saya yang dipandang sebagai anak manja oleh orang tua saya, yang apa apa selalu mengandalkan orang tua saya dan sering apa apa orang tua, setelah bekerjaa di PT.SSP itu sekarang sudah berubah. Saya sekarang tidak lagi mengandalkan orang tua saya, saya sekarang sudah mendapatkan pengasilan sendiri bahkan sekarang saya bisa memberikan sejumlah uang untuk orang tua saya, walaupun memang jumlahnya tidak banyak. Dan tidak mungkin bisa sebanding dengan apa yang mereka berikan kepada saya. Tetapi disitu saya sudah sangat senang tidak bergantung kepada orang tua saya lagi dan mengurangi beban mereka yang sudah tidak muda lagi.Harapan dan mimpi ke depannya Harapan saya adalah saya berkembang di PT.SSP. Dan saya bermimpi kalau PT.SSP akan terus berkembang menjadi salah satu perusahaan terbesar dan terbaik di Indonesia dengan para management dan pimpinan yang sangat baik. Harapan saya juga bisa terus bersama orang orang yang baik dan orang orang yang bisa membantu saya berkembang dengan baik, dapat mengajari saya ilmu didalam bekerja dengan baik. Dan dapat mengajari saya hal apa yang harus diterapkan di dunia kerja agar kita bisa dinilai sudah bekerja dengan baik dan maksimal.Harapan terakhir semoga semua yang bekerja di PT.SSP mendapatkan kesehatan dan umur yang panjang biar bisa menyaksikan bagaimana PT.SSP berkembang di kemudian hari. Pilihan kitalah yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, jauh melebihi kemampuan kita - J.K. Rowling.
151 Manusia yang hebat tidak hebat sejak lahir, tapi menjadi hebat saat ia tumbuh – Mario Puzo28ASEP SAEFUDINSTAF GUDANG PT SWADAYA SAPTA PUTRAAKU HANYA ANAK STM
152 Halo teman-teman pembaca. Aku Asep Saefudin. Saat ini bekerja sebagai staf gudang di PT.Swadaya Sapta Putra. Lahir di Banyumas 28 November 1992. Dan aku anak pertama dari dua bersaudara. Asep adalah nama panggilanku. Aku hidup di keluarga yang sangat sederhana.Ayahku seorang pemanen & ibuku seorang pelaksana perawatan di perkebunan kelapa sawit.Ayahku selalu berpesan “nak gak migunani ojo ngrepoti” (kalau nggak berguna minimal nggak ngrepotin). Banyumas adalah kota kecil dengan Purwokerto sebagai ibukota kabupaten. Ya kota dengan banyak destinasi wisata di lereng Gunung Slamet. Kota yang menjadi tujuan slow living kalau kata anak jaman sekarang. Makanan jangan ditanya, ini kota Jogja versi lite dengan segala hal di dalamnya. Mungkin yang paling nggak asing; “Mendoan”, ”Getuk Goreng” . Semasa kecil hidup di kampung kecil dengan mayoritas bekerja sebagai petani cengkih & penyadap nira. Bahkan dari umur 4 tahun aku sudah terbiasa ditinggal ayah merantau berjualan jamu & hiasan dinding, entah itu masih di pulau Jawa ataupun di luar pulau Jawa. Sedangkan untuk membantu ayah, ibuku bekerja serabutan kadang buruh panen padi kadang ngumpulin daun cengkih. Aku sendiri dari TK sudah biasa ngakut air dengan dipikul, panen cengkeh & nyari kayu bakar di hutan selayaknya anak-anak di kampungku. Pada saat aku mau masuk STM tahun 2006, keluargaku masuk pada kondisi saat kekurangan, karena ayah nggak pulang selama 7 tahun dan nggak pernah ngirim uang untuk biaya hidup keluarga. Akhirnya ibuku memutuskan untuk jadi TKW ke Malaysia selama 3 tahun. Tiga tahun ini, tahun yang sangat berat buatku karena harus hidup dengan mbahku.Mbahku juga seorang petani. Untuk biaya sekolah, aku dibiayai oleh bulekku (adik ayahku).Sedangkan untuk makan sehari-hari, kami mengandalkan dari hasil sawah & ternak. Bahkan ada kenangan terkena arit (sabit) di telapak tangan kiri yang nggak hilang sampai sekarang pada saat nyari rumput untuk sapi. Bekal sekolah, jangan ditanya. Kami di tempat mbah hanya dibekali sarapan kenyang seadanya ongkos naik bus 300. Sudah. By the way tempat mbah jauh ya di Kroya, sedangkan aku sekolah di Banyumas. Ongkos naik bus 3000 pulang pergi. Setelah habis sekolah, kegiatan ke sawah nyiram tanaman kalau musim palawija, ngarit, main bola & ngaji setelah magrib. Aku dari kecil selalu ranking di sekolah. Tapi bagiku terasa kosong karena lebih banyak hidup dengan saudara dari pada dengan orang tua. Bahkan pernah merasa buat apa sekolah pinter-pinter lagian tetap juga nggak ada yang bangga. Akhirnya aku lulusan STM. Tetapi
153karena aku di STM lumayan bandel walaupun ranking, aku nggak dapet beasiswa dari universitas di sana baik dari UNSOED ataupun UNES sekalipun. Bahkan saking kecewanya waktu itu, aku sampai mecahin kaca jendela sekolah karena merasa aku yang pinter kok temenku yang rangking 2 yang dapat beasiswa dari UNES. Akhirnya ibuku pulang dari Malaysia & ayahku pulang dari Kalimantan. Kondisi ekonomi membaik dan aku lolos SPMB di UNSOED pada waktu itu. Pada saat daftar ulang diwajibkan membayar uang gedung dan lain sebagainya sebanyak 10 juta. Singkat cerita, aku dikasih uang ibuku 10 juta. Tapi karena merasa kayaknya ibu masih ada uang, uang yang harusnya buat daftar ulang aku belikan motor matic “MIO” pada waktu itu. Sampai rumah apa yang terjadi ya aku dihajar ayahku & akhirnya nggak jadi kuliah. Nyesalnya masih sampai sekarang Setelah kejadian itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah untuk mencari pekerjaan. Dan dapet donk dengan jalur koneksi. Akhirnya bisa diterima di sebuah distributor handphone PT.Trikomsel Oke sebagai pelaksana Gudang. Gaji mingguan sempat sampai 400 ribu per minggu. Dan teman pembaca tahu sebagai anak kampung yang nggak pernah pegang uang, terus tiba-tiba pegang uang sebanyak itu pada tahun 2009 ya setiap malam minggu kerjaanya ya minum, ke diskotik jaman dulu Namanya. Dan benar saja kerjaan tersebut nggak berjalan lama karena kontrak tidak diperpanjang Setelah dari sana aku memutuskan untuk merantau dengan bekal waktu itu 400 ribu dikasih ibuku. Aku pergi ke kota Purbalingga masih daerah Jawa Tengah juga. Kerja sebagai junior cook di restaurant fastfood Quick Chicken di sebuah pasar swalayan dengan gaji 300 ribu per bulan. Dan kerjaan cuci piring selama traning kurang lebih 2 minggu ya harus berhemat dari gaji berkurang sampai ¾ kerjaan sebelumnya . Akhirnya setelah 9 bulan kerja & belajar sampai bisa jadi 3rd store manager waktu itu.Karena store mulai sepi waktu itu, store kena relokasi ke kota Ciamis. Dilema lagi antara ikut kesana atau resign. Karena takut nggak dapet kerjaan, akhirnya memutuskan ikut ke Ciamis. Di kota inilah ketemu perempuan yang saat ini jadi teman hidup Singkat cerita beberapa bulan kemudian dapat tawaran di fastfood juga di Rocket Chicken,sebuah start up pada waktu itu dengan jabatan sama gaji beda 200 ribu. By the way gaji di quick last 500 ribu kemudian pindah ke rocket gaji 700 ribu. Jadi masih tergolong kecil dan dibawah UMR. Di Rocket karir sampai jadi Store manager di Semarang terakhir incharge di Store Wolter Mongisidi Pedurungan.
154 Pada April 2011 karena hampir nggak pernah pulang disusulinlah sama ibuku ke kos-kosan. Dan karena merasa bersalah akhirnya dengan berat hati memutuskan ikut ke Kalimantan dengan orang tua dengan iming-iming kerja di kantoran. Singkat cerita akhirnya, sampailah di Kalimatan betapa terkejutnya aku. Ketika sampai ternyata jalan masih tanah, kemana-mana susah, tempat hiburan tidak ada dan ternyata sama susahnya seperti ngelamar kerja di Jawa.Sudah masukan lamaran ke Makin, Uni Primacom, PT.SSP & TASK 1, belum juga ada panggilan. Hari ganti minggu, minggu ganti bulan belum ada panggilan. Sampai uang tabungan habis buat beli rokok karena malu kalau harus minta ke orang tua. Sehari-hari diisi dengan bantu ayah ngeluarkan hasil panen pakai angkong, yang ternyata susahnya luar biasa. Akhirnya atas saran ayah aku masukin lamaran ke dua kalinya ke PT.SSP yang dititipkan lewat security teman ayah. Singkat cerita, akhirnya dapat panggilan di bulan Juli dapat panggilan dari PT.SSP. Karena waktu itu itu yang dilamar security di tes lah fisik, dan alhamdulillah karena masih rajin olahraga test fisik bisa dilalui dengan lancar . Lanjutlah ke interview dengan pak askep waktu itu, Pak Yudha namanya askep di Kebun Bejarau. Ditanyalah sama beliau “bisa computer mas?”. Saya jawab “Bisa Pak”. Kemudian di tes browsing excel dasar. Untungnya waktu itu sempat belajar dengan temen kos-an yang kuliah di Semarang. Terakhir ditanya “kamu pilih yang mana Kerani HRD, Kerani Gudang Atau Kerani Produksi”? Aku kan bingung lamaran sebagai security kok ditanya gitu. Memberanikan diri lah nanya “Pak maaf tapi saya ngelamar sebagai security”. Dan dijawab “kamu tadi teriak aja nggak kenceng“.Makin bingung kan? Akhirnya aku jawab “Kerani Gudang Pak”. Beliau bertanya lagi “Apa alasanya “?. Saya pernah kerja di gudang pak walaupun cuma 6 bulan setidaknya saya ada pengalaman kerja. Setelah ditungu-tunggu, akhirnya dapat sms waktu itu kalau aku diterima sebagai kerani Gudang di PT.SSP. Nah disinilah di mulai kisah yang belum berakhir selama hampir mau 15 tahun ini. Aku sebagai orang yang pernah kerja di gudang kan optimis ya teman pembaca. Ternyata hari pertama masuk diajak kelilinglah sama senior, namanya mas Depi Pandani. Buset belum ada barcode masih manual pakai kertas. Barang sparepart yang aku sendiri nggak tahu itu apa karena aku kan STM elektro. Dalam hati “ ini betah nggak ya ”. Dua minggu dilalui dengan hanya melayani orang ngisi solar & misahin kertas permintaan pengeluaran barang,“kerja apa ini ya ALLAH” .
155 Berlalulah 18 hari kerja di PT.SSP tiba waktunya gajian ,kaget bukan main gaji ternyata cuma dikasih 825.000. Inikan Kalimantan masa cuma dapat segini ,sama ayahku yang kerja panen aja nggak ada separuhnya. Nanya lah aku Mas Depi, “Mas ini memang cuma segini ya gaji kita disini “. Dia jelasin kalau kita disini gaji 39.000 per hari & lembur mati sesuai kebijakan atasan. Pas aku cek slip ternyata cuma dapat 50.000 lemburnya. Masuk jam 6 pulang jam 4. Dilema lagi antara tetap bertahan atau resign Bulan pertama berlalu dilalui dengan agak sedikit dongkol, karena waktu di Semarang aja gaji sudah 1,4 Juta – 1,7 juta belum insentif. Mulailah nanya kawan yang masih pada kerja di resto. Nah ada tawaran masuk tuh dari kawanku di Banyuwangi Resto baru buka. Tambah bimbang donk makin gampang marah sama ayahku, karena kecewa bayanganya kan kalaukerja di kantor bersih kaya di Jakarta lah ini bau solar, bau oli, baju kotor mulu setiap hari. Belum cukup sampai disitu masalah datang lagi, pujaan hati ini yang sekarang jadi teman hidup jalan sama cowo lain di Batang, Pekalongan. Aku dikirimi info sama kawanku yang masih di resto. Marah donk telponlah aku, minta putus biar fokus masing-masing. Yang tadinya sudah 3 bulan lebih nggak nyentuh alkohol mulailah minum lagi karena merasa down kerjaan dan percintaan. Pada Agustus 2011, pujaan hati ini sms “pokoknya aku nggak mau putus, aku mau nyusulaja kesitu “. Aku cuekin donk hape matiin ganti nomor. Nah ternyata tanpa sepengetahuankudia minta alamat ke ibuku dan beneran nyusul. Tteman pembaca, cewe naik kapal nyusul keKalimantan sendiri kalian banyain ajalah ya. Aku dikasih tahu begitu ibuku bilang “Mas, dede nyusul ke sini besok jemput ya”. Lah kaget donk aku. Akhirnya dengan berat hatikarena waktu itu musim hujan nyarilah mobil rental untuk jemput pujaan hati ini. Singkat cerita karena sudah nyusul ke sini, ayahku nelpon abah (ayah istriku) agar dinikahkan saja kami berdua, dan Agustus jugalah kami menikah tepatnya 14 Agustus 2011, dari situlah mulai bertahan di PT.SSP. Pindah rumah modal alat masak bekas, belum ada TV, belum ada alat elektronik. Pokoknya ya cuma kasur, kompor magic com sama beberapa alat masak lain, kami pindah ke mess yang PT SSP punya. Kami tinggal di perumahan E24 No 2A messpertama kami Bulan berganti tahun kami pulang ke Jawa kemudian balik lagi ke Kalimantan. Akhirnya kerasan & betah di PT.SSP karena istri, Kawan & hobi main bola yang waktu itu masih bisa
156tersalurkan. Pada tahun 2012 akhirnya istri mengandung setelah menunggu hampir 1 tahun, dan memutuskan untuk pulang ke Jawa dan melakukan persalinan bersama emak (ibu istriku) di Jawa Barat. Akhirnya kami dikarunai anak laki-laki pertama saat bekerja di PT.SSP pada 12 Juli 2013. Nggak bisa dijelaskan lagi betapa bahagianya aku waktu itu. Akhirnya setiap tahun kami lewati bekerja di PT.SPP dengan semangat membuat perubahan hidup yang lebih baik. Akhirnya di tahun 2014 kami berhasil renovasi rumah walaupun baru cuma atap nya saja, karena waktu itu rumah yang dikasih orang tua sudah lama tidak ditempati (disewakan) jadi nggak terawatt. Begitulah setiap tahun kami lewati dua tahun di Kalimantan 18 hari pulang ke Jawa. Selalu seperti itu. Pada tahun 2018. Masalah baru datang “Anak Sekolah”. Yes mungkin buat sebagian orang biasa aja tapi bagi aku & istriku ini isu yang luar biasa. Temen pembaca banyangin sekolah waktu itu di Kalimantan ya kalau hujan libur. Mau jadi apa anak kita disini. Nah mulailah ngelamar-lamar lagi entah itu di perusahaan sawit ataupun bukan. Nah ada nih sempet 2 lamaran yang tembus sampai offering di Unitama Sari Mas Pluit sama MSAL Katingan. Ternyata belum jodoh karena banyak pertimbangan akhirnya aku memutuskan nggak ambil.Bahkan sempet dapat panggilan dari shopee yang natabenenya lamar pakai Bahasa Inggris,nggak expect bakal dapat panggilan. Tapi karena waktu itu tabungan sudah menipis karena sering bolak-balik Jakarta, akhirnya shopee pun nggak aku ambil. Dari situ sadar ternyata bisa kok kita bersaing sama yang di kota walaupun kita di kebun. Mulai dari situ sering sharing sama Mas Depi, Pak Gilang (KTU SSP). Bahkan tidak jarang dikasih kerjaan tambahan dan seneng donk dipercaya sudah sampai pada titik terserah mau dibayar berapa yang penting dapat ilmunya. Pada tahun 2020 dapat tawaran pindah jadi ke kantor jadi admin keuangan estate, tanpa pikir panjang langsung kuambil walaupun waktu itu masih 50 persen ngerti adminstrasi estate (kebun). Jalan dua tahun berjalan tepatnya di 2022 akhirnya hal yang ditunggu datang .”Karir” yes peluang akhirnya datang ada program management traine (MT) di tahun itu. Dan aku diajukan untuk ikut, wah sudah sampai dipanggil Pak GM senangnya bukan main. Segala macam buku dipinjam dibaca, dan akhirnya lolos psikotes. Cuma karena waktu itu hanya tersedia untuk di lapangan dari informasi Pak Gilang, aku nggak bisa lanjut ke proses selanjutnya karena basikku administrasi. Kecewa donk karena nggak lolos, down lagi. Disitu yang tadi semangat banget akhirnya jadi kaya menuhi kewajiban aja. Berangkat jam 7 pulang jam 4 kalau disuruh yang lembur nggak ya di rumah.
157 Pada tahun 2023, ternyata ada lagi program MT dan dikutkan lagi. Cuma untuk yang ini sudah tidak ada target lulus ya syukur nggak ya bukan rejeki. Waktu itu recruitment ikut yang QC lapangan, dan alhamdulillah lolos sampai ikut program MT selama 1 tahun. Mungkin iki jadi pengalaman paling berkesan bekerja di PT.SSP. Bayangin teman pembaca, aku yang cuma lulusan STM bisa bersaing sama mereka dari luar yang sudah sarjana dan merasa diakui. Aku ikutilah program MT ini dari mulai di RINDAM dibentak-bentak sama pelatih, disuruh bangun pagi, fisik makan diatur. Di usia yang sudah masuk ke 31 tahun kan rasanya fisik luar biasa,bahkan kawan satu Aagkatan banyak yang sakit. By the way angkatan aku , Angkatan MT 2023 mungkin yang paling sedikit cuma 11 orang. Dan yang ikut RINDAM cuma 9 orang.Setelah rindam, kami semua ikut in class materi. Nah karena waktu di rindam sudah lumayan ke kuras, pas akhir in class aku jatuh sakit. Typus kumat sampai dibawa ke rumah sakit, dan maksa ikut sampai akhir. Ahamdulillah di in clas dapat juara 1 dan waktu itu dikasih smart band dari perusahaan. Setelah in class kami dikirim OJT ,ke semua regional MIG Group dan aku dapat kesempatan belajar di regional SULTRA selama 9 bulan. Belajar dari mulai pembibitan sampai dengan diolah menjadi CPO & fokus ke operasional di kebun. Singkat cerita ternyata yang tadinya aku kira bakal di tempatkan di divisi karena 2 bulan sudah in charge di divisi 6 waktu itu. Aku dikembalikan ke Kalteng menggantikan Pak Satori (Staf Gudang ) yang pensiun. Apapun hasilnya selama satu tahun suka-duka selama ikut program MT selalu aku syukuri. Sekarang setelah jadi staff banyak yang respect. Banyak yang nanya gimana caranya dikasih motor, mess yang lebih besar & juga isinya disediakan. Bahkan ibuku disanjung tetangga kawan kerjanya. Dan sekarang kalau ditanya masih pengin pindah kerja Jawa jelas tidak. Tapi kalau mutasi atau karir jawabannya selalu sama ,”YESS. Dan ya sampai sekarang di akhir 2025 aku masih disini mengabdi di tempat yang yang mau menerima aku yang cuma “ANAK STM “ya di P.SWADAYA SAPTA PUTA. Terakhir teman pembaca sebagai orang yang yang makan dari priuk PT.SSP mungkin kalau ditanya “Asep Whats Next ”. dari dulu aku selalu jawab “Aku pengen lihat PT.SSP/MIG GROUP punya refinery atau pabrik minyak goreng sendiri” Terimakasih & mudah-mudahan tulisan jelek ini bisa menambah semangat Pak Bambang & Management PT.SSP (MIG GROUP) dalam mencapai Visi & Misi Perusahaan.Asep Saefudin
158 Hal-hal lain dapat mengubah kita, tetapi kita mulai dan berakhir bersama keluarga - Anthony Brandt
159 Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit. - Confucius29SURIADISTAF BINA LINGKUNGAN PT SWADAYA SAPTA PUTRAKAMI PERINTIS BUKAN PEWARIS
160Nama : Suriadi alias AndesPendidikan terakhir : SMA N 1 ParenggeanPada tahun 1997. Parenggean waktu itu terkenal dengan ilegal Logging...Masa kecil saya, pada jaman itu lumayan Bandel lah kira - kira begitu Sebelum kerja di SSP, saya pernah kerja jadi buruh ilegallLogging, karena pekerjaan ilegal logging pada waktu itu resikonya sangat besar sehingga memutus untuk berhenti kerja buruh ilegal logging. Kemudian pada tahun 1999, saya diajak teman namanya Wahid asal Parenggean juga kerja di proyek PT. Merbau ( PT. SSP ). Waktu itu saya diajak kerja tanpa pakai surat lamaran, yang penting bawa parang pakaian ganti,, hehehe Setelah masuk ke PT. Merbau waktu itu PT.SSP masih terkenal dgn nama PT. Merbau, saya ketipu dengan penampilan seorang Pimpinan PT. Merbau namanya Pak Nur Yahya, yang mana pagi-pagi beliau pada waktu itu pakaiannya pakai baju khas Jawa dan bawa cangkul uutuk menanam berbagai jenis buah-buahan saya bergumam siapa ya pimpinan PT. ini.....Waktu itu saya kira Pak Koerniawan Pimpinannya.....eehhhh rupanyaPpak Nur Yahya.. Pada masa itu PT. Merbau hanya ada beberapa Bos..1. Pak Nur Yahya2. Pak Koerniawan3. Pak Hasan Basri4. Pak Saut sitomrang5. Pak Ramlan Handoko6. Pak Welly Simanjuntak 7. Pak Rahman juru ukur dari PT. UPC
161Sementara utk Buruhnya..1. Batuan Wasington Hutagalung2. Wahid3. Sukran4. Timansyah5. Slamet Mahriaddi6. Rohani7. Elto8. Suriadi alias AndesNama - nama di atas adalah para perintis PT. Merbau Seiring berjalannya waktu pada waktu itu itu apa namanya untuk biaya upah atau UMR waktu itu hanya 180.000 per bulannya. Saat awal bekerja di PT. SSP saya terus berjuang dengan penuh semangat, meski penghasilan awalnya terbatas. Dan pada tahun 2001 terjadilah yang namanya perang etnis yaitu antara suku Dayak dan suku Madura. Singkat cerita, karena pada waktu kejadian ini untuk wilayah Parenggean dan sekitarnya, terjadi pembantaian kalau menurut saya sih termasuk brutal. Akhirnya karena Pak Doni, Pak Saipul dan Pak fajar adalah keturunan suku Madura maka dari itu akhirnya saya mengungsikan mereka ke Polsek Parenggean. Alhamdulillah mereka dapat diselamatkan. Dan pada tahun 2002 PT Merbau mengalami gejolak atau efisiensi anggaran maupun biaya sehingga efisiensi pada masa itu luar biasa, contoh untuk pengetikan buat laporan aja harus pakai kertas bekas atau penulisan harus memakai kertas yang sudah digunakan alias di baliknya... Seiring waktu...Ketahun akhirnya panenlah yang namanya buah sawit PT. SSP ... Penjualannya pun kocar kacir hehehe. Ada yang ke PT. Uni Primacom, ke PT. Makin Group, ke PT. Musirawa , ke PT. Windu ( BGA Group ) ke PT. Task... Yang parahnya lagi pernah jual ke pengepul atau tengkulak, karena waktu itu Indonesia mengalami krisis ekonomi, yaitu ke H. Heri, H .Subagio, H. Sugianto, Pak Surnata serta Hendra Sia
162 Keuletan bekerja setelah bekerja di PT. SSP adalah tidak hanya bisa membiayai anak-anak sekolah, melainkan juga membawa kemakmuran bagi diri saya sendiri. Saya percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk kesuksesan dan membuka peluang yang lebih luas.Dengan penuh semangat saya menyekolahkan anak-anak saya hingga ke perguruan tinggi.Bahkan di antara anak saya ada yang sedang menempuh pendidikan strata 1 (S1). Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena saya sendiri hanya memiliki pendidikan menengah atasImpian saya gak muluk-muluk, memberikan manfaat bagi Keluarga serta orang lain...Semangat saya adalah terus belajar dan berkembang untuk menginspirasi orang lain Saya berharap kita dapat terus berkolaborasi dan mencapai tujuan bersama, ayo terus kita berjuang mencapai tujuan yang lebih baik lagi.Mohon maaf jika dalam penulisan ini banyak kekeliruan maupun kekuranganya Semua keluarga bahagia itu sama; setiap keluarga yang tidak bahagia tidak bahagia dengan caranya masing-masing.\" – Leo Tolstoy
163 Teknologi adalah pelayan yang berguna tetapi tuan yang berbahaya. - Christian Lous Lange30ARGO WRAHATNOLOSTAF IT PT SWADAYA SAPTA PUTRATERDAMPAR DI KEBUN SAWIT
164 Saya Argo Wrahatnolo. Biasa dipanggil Argo. Saya lahir dan besar di Kota Atlas, Semarang. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir pada 25 Mei 1989. Selama masa sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), saya aktif dalam kegiatan pecinta alam karena hobi mendaki gunung,lLintas alam dan panjat tebing. Ikut dalam organisai pecinta alam membuat saya senang berada di hutan. Dan banyak belajar tentang navigasi dan mendapat kesempatan berlatih Search and Rescue dengan SAKA WANA BAKTI bentukkan Dinas Kehutanan Semarang 2005, karena saat itu Indonesia sedang darurat bencana alam. Bergabung dengan Ubaloka sebuah unit kegiatan khusus dalam Gerakan Pramuka di Jawa Tengah untuk Pramuka Penegak dan Pandega yang berfokus pada kegiatan pertolongan dan kemanusiaan. Pernah bertugas di Merapi saat erupsi dan gempa Yogyakarta tahun 2006 sebagai relawan dan unit bantuan Basarnas Setelah Lulus SMK, keadaan ekonomi saat itu tidak memungkinkan untuk menempuh ke jenjang lebih lanjut, sehingga langsung bekerja ke beberapa perusahaan di sekitar Kota Semarang sebagai tenaga kerja kontrak. Hinga suatu hari diajak paman yang bekerja diperusahaan yang bergerak pada pengecekan dan pengangkutan cehmical dan minyak bumi yang baru buka cabang di Cilacap. Setelah menempuh Pendidikan AK5 Dasar Kapal Tanker, saya ditempatkan untuk sebagai Kelasi Kapal KM Soechi XXI (5.000 MT) berbendera Indonesia dibawah pimpinan Kapal Capt. Agus Mulyono selama kurang lebih 8 bulan. Dan dipindah tugaskan ke KM Soechi XIX(20.000 MT) berbendera Singapura dibawah pimpinan Capt. Zein Lee ( Warga Negara Australia ) yang sangat terbatas dalam berbahasa. Untungnya di kapal tersebut Mualim 1 dan Mualim 3 adalah orang Indonesia, 70% ABK juga orang indonesia sisanya warga negara China. Masih sama dengan kapal sebelumnya, route berlayar kami masih dalam negeri. Mengankut produk olahan minyak bumi dari PT Pertamina RU IV Cilacap distribusikan ke pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Tugas kelasi kapal mencakup perawatan peralatan keselamatan, dan membantu operasi bongkar muat. Tanggung jawab juga meliputi menjaga kebersihan dek dan area kerja, mengganti juru mudi, serta memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan lingkungan. Setelah berlayar kurang lebih 1,5 tahun, kapal kami mengalami kerusakan pada sisi kiri (Port Side) karena kecelakaan saat sandar di Pelabuhan Kumai. Hasil pemeriksaan menyatakan lambung kapal mengalami deformasi sihingga akan berbahaya jika harus dipaksa
165mengangkut muatan. Kapal harus docking di Singapura sehingga sebagian besar kru turun dan tinggal di Indonesia. Kebetulan kontrak kerja juga sudah mau habis jadi saya termasuk kru yang diturunkan. Saat pulang ke kampung halaman dan menunggu panggilan perusahaan, kakak yang sudah terlebih dahulu bekerja di PT. SSP meminta untuk datang ke Kalimantan mengantar kakak ipar menyusul ke Kalimantan. Saat itu posisi belum ada kejelasan juga tentang kontrak kerja. Setelah di Kalimantan saya mencoba mendaftar bekerja di PT. SSP pada tahun 2010. Awalnya tidak menyangka akan bekerja di Perkebunan. Akhirnya saya tinggalkan buku pelaut saya pada perusahaan sebelumnya. Ya memang hasil di sektor perkebunan tidak sebesar dipelayaran, namun ada kelebihan tersendiri. Masih sempat berkomunisasi dengan kru waktu itu sampai HP saya hilang pada tahun 2011. Awal mula saya bekerja sebagai Karyawan Harian Lepas (KHL) di PT. Swadaya Sapta Putra.Benar-benar belajar sesuatu yang baru. Seperti kebanyakan orang Jawa baru lihat kebun sawit ya di Kalimantan, belum lagi bekerja dengan orang dari berbagai suku dan latar belakang pendidikan dan budayanya yang berbeda. Namun ternyata rasa kekeluargaan di perkebunan cukup tinggi. Hinga saya belajar satu hal “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. PT SWADAYA SAPTA PUTRA pada saat itu masih baru memiliki Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Karyawannya terdiri dari penduduk sekitar dan pendatang, yang tinggal di perumahan juga masih banyak yang bujang. Selama bekerja saya sempat ke beberapa bagian Pelaksana Infras, Pelakasna Harnik, Personalia dan Pelaksana IT. Banyak pelatihan yang diberikan kepada saya selama saya bekerja, baik dari sertifikasi dan dari pengarahan pimpanan PT. Swadaya Sapta Putra. Saya sangat bersukur bisa mengenal dengan pimpinan di PT. SSP walaupun silih berganti namun semua ada ilmu yang berharga. Saya melihat banyak pengaruh positif dari kelapa sawit, namun sayangnya hal baik tersebut tetap tidak disadari karena kontroversi yang terus menyelimuti industri ini. Kebijakan pemerintah untuk memastikan usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia layak secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta untuk meningkatkan daya saing produk sawit di pasar internasional (ISPO), menjadi landasan PT.SSP untuk mencapai kata bekelanjutan. Dari tahun ketahun terasa perkembangan kesejahteraan di PT. SSP semakin meningkat.Teman-teman yang dulu bujang sudah mulai berkeluarga. Saya pun bertemu jodoh juga di PT.SSP. Istri orang Jawa yang keluarganya menetap di SP1 (Sarana Pemukiman Trasnmigrasi).
166 Setelah kurang lebih 7 tahun bekerja. Saya juga diberi kesempatan untuk asesmen menjadi staff pada tahun 2017. PT SSP memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk mendapatkan promosi, mengambil tanggung jawab yang lebih besar, atau maju dalam hierarki perusahaan. Keluarga bukanlah hal yang penting, namun keluarga adalah segalanya. - Michael J. Fox Bersama istri yang juga bekerja di PT. SSP hasil jerih payah, kami akhirnya bisa membeli sebidang tanah di SP 1 untuk membangun keluarga kecil kami. Setelah 10 tahun tinggal diperumahan PT. SSP akhirnya kami pindah ke rumah kecil kami yang sampai sekarang belum sepenuhnya jadi . Saat ini istri sudah berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Temanteman seperjuangan juga sudah banyak yang pindah dari perumahan dan tinggal bersama keluarganya di desa sekitar perusahaan. Harapan saya, ke depannya perusahaan dapat terus menjalankan visi dan misi yang dimiliki, sehingga tidak hanya karyawan namun juga pada lingkungan dan masyarakat sekitar berdampak positif. Dan tentunya semoga PT. SSP bisa terus berkembang lebih besar.
167Tidak ada keajaiban untuk pencapaian. Ini benar-benar tentang kerja keras, pilihan, dan ketekunan. - Michelle Obama 31DWI SETIAWANSTAF KTU PT SWADAYA SAPTA PUTRAPENGABDIAN, KETEKUNAN DAN PERAN AKTIF
168 Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Dwi Setiawan. Lahir di Jakarta pada tanggal 26 November 1982. Status kawin istri bernama Wulandari dan memiliki empat buah hati 3 putra, 1pPutri. Saat ini, saya bertugas di Regional Kalimantan Tengah sebagai Kepala Tata Usaha (KTU). Saya adalah putra dari almarhum Bapak Agus Sukarto dan ibunda tercinta, Ibu Mustini. Saat ini, kami sekeluarga masih dalam suasana duka karena ayahanda kami berpulang pada tanggal 29 Mei 2025 lalu. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, saya telah terbiasa menghadapi tantangan, termasuk saat harus menghadapi perpisahan sementara dengan orang tua pada usia lima tahun. Dikarenakan usia sudah memasuki jenjang pendidikan usia dini, orang tua memulangkan kami ke kampung halaman untuk memulai pendidikan Taman Kanak-kanak (TK). Kami tinggal bersama nenek, Mbah Samijah (orang tua dari ibu), di Desa Ngadirejo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sementara itu, kedua orang tua saya berjuang merantau di Jakarta. Ngadirejo adalah desa kecil yang mayoritas penduduknya adalah petani yang mengandalkan musim penghujan. Saat musim kemarau atau paceklik, sebagian lainnya merantau ke kota, seperti Jakarta, bekerja sebagai buruh harian dan sebagainya. Sejarah desa kami juga terkait erat dengan Proyek Pembangunan Bendungan Waduk Gajah Mungkur. Sebagian warga yang wilayahnya terdampak diharuskan relokasi mengikuti program transmigrasi pemerintah. Waduk Gajah Mungkur sendiri dibangun untuk mengatasi banjir di hilir Sungai Bengawan Solo, sekaligus menyediakan sumber irigasi, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan menjadi objek wisata serta potensi perikanan darat. Sejak kecil hingga dewasa, saya diasuh oleh nenek yang kami panggil Mbah Putri, almarhumah Mbah Samijah, beliau berpulang tahun 2010 silam. Beliaulah yang memberikan perlindungan, kasih sayang, dan wejangan dengan prinsip hidup: tekun, jujur, prihatin, danmandiri. Sebagai anak kampung suatu keharusan saya menuntut ilmu di SDN I Ngadirejo, SMPN 1 Eromoko, dan SMAN I Wuryantoro, tamat tahun 2001.
169 Sejak masuk bangku SMP, kondisi ekonomi keluarga tidak menentu, sering kali kami menunggu kiriman wesel terlambat dari orang tua di perantauan. Dalam keseharian, saya harus berusaha mencukupi kebutuhan sekolah dengan mencari uang tambahan. Saya ikut Paklektetangga depan rumah membantu berjualan kaki lima, mendorong gerobak menjajakan bakso dan mie ayam berkeliling dari desa ke desa sepulang sekolah. Sebagai anak dari orang tua perantau, kehadiran mereka adalah idaman kami. Momen Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) adalah satu-satunya waktu kami dapat berkumpul untuk melepas rindu. Hari raya adalah hari istimewa, khususnya bagi warga perantau. Mudik Lebaran adalah tradisi yang menggambarkan perjuangan mencari hasil dari jerih payah di kota, baik berupa rezeki maupun pengalaman. Ini adalah waktu untuk bertemu sanak saudara, bersilaturahmi, saling berbagi rezeki, dan membagikan kisah sukses di perantauan. Saat itu, hunian kami di desa masih semi permanen, berbahan kayu, papan, dan berlantai tanah. Harapan untuk membangun rumah permanen menjadi impian besar kala itu. Tokoh panutan saya adalah Jenderal Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama. Saya meneladani banyak hal dari beliau: terlahir dari \"wong cilik,\" tumbuh menjadi siswa rajin, aktif dalam kepanduan Muhammadiyah, serta menunjukkan kemampuanmemimpin dan berorganisasi. Jenderal Soedirman sangat dihormati karena ketaatannya pada Islam. Berbekal ijazah SMA jurusan IPS, pertengahan tahun 2001 saya bertekad menyusul orang tua merantau ke Jakarta. Saya memulai kerja sebagai buruh bangunan, lalu menjual pakaian di pekan pasar malam keliling dari Ciracas, Jakarta Timur, hingga Plumpang Semper, Jakarta Utara, sampai akhir tahun 2002. Awal tahun 2003, saya mendapat pekerjaan sebagai karyawan kontraktor pengadaan barang untuk kebutuhan Pertamina di Balongan, Indramayu, namun hanya bertahan sampai akhir tahun. Masih lekat ingatan akan kekaguman pada Jenderal Besar Soedirman dan sosok paman (kakak dari ibu) yang merupakan Purnawirawan Bintara TNI AD (Kostrad). Informasi
170pembukaan pendaftaran Bintara Prajurit Karier TNI AL untuk pertama kalinya menjadi target saya. Lokasi seleksi penerimaan berada di Markas Komando Armada RI Wilayah Barat (KOARMABAR)—yang sekarang berganti nama menjadi Koarmada I—di Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Tahapan seleksi dimulai. Di hari pertama, saya lolos tes kesehatan. Namun, di hari kedua, saya gugur. Hal ini membuat saya frustrasi: saya telat datang untuk tes psikotes. Transportasi saat itu sangat terbatas. Berangkat dari rumah kontrakan di Ciledug, Tangerang, hanya ada dua armada Bus PO (Mayasari Bakti dan Biang Lala) rute Ciledug–Pasar Senin. Setibanya di terminal Pasar Senin, saya harus menyambung angkutan kota ke Gunung Sahari. Saya tiba, namun pintu gerbang sudah tutup. Penyesalan datang karena keterbatasan sarana transportasi membuat saya harus gugur di tengah jalan. Tidak ingin ketinggalan informasi pendaftaran Prajurit Karier tahun berikutnya, saya melamar pekerjaan sebagai batu loncatan. Saya diterima bekerja menjadi tenaga honorer clean service mess bintara yang dikelola di bawah Detasemen Markas SESKOAL (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut) di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kabar baik pun tiba: pembukaan seleksi Bintara Prajurit Karier TNI AL tahun 2004! Suatu hari, salah satu bapak Personal TNI AL—Sersan Kepala (Laut) Yuda, memberi perhatian kepada saya dan menawarkan dan memberikan infomasi lowongan pekerjaan di suatu perusahaan swasta, sebagai jaga-jaga seandainya penerimaan calon prajurit tidak berhasil.Beliau menawarkan ke saya untuk mencoba melamar di perusahaan itu bulan Maret 2004, lamaran saya tujukan ke PT. Swadaya Sapta Putra Komplek Perkantoran Grand Wijaya Center (GWC) Blok D no 12 Jl Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berkat koneksi Serka Yuda melalui istrinya, Ibu Andriani Sudrajat—yang kala itu menjabat sebagai sekretaris Bapak Direktur Utama—saya memperoleh kesempatan istimewa. Saya dijadwalkan untuk diwawancarai langsung oleh pimpinan perusahaan, Bapak Ir. Bambang Noto Bandriyanto, selaku Direktur Utama PT Swadaya Sapta Putra.
171 Momen itu sungguh menjadi kenangan tak terlupakan. Saya diantar oleh Ibu Andriani yang saat itu sedang mengandung anak kedua, berboncengan sepeda motor, menuju ruang Bapak Dirut untuk proses wawancara. Di akhir sesi, saya memberanikan diri memohon izin untuk mengikuti proses seleksi penerimaan prajurit yang waktunya bertepatan. Bapak Dirut menyetujui, dan beliau pun berpesan: \"Bila nanti tidak berjodoh di Angkatan Laut, Bapak akan menerima kamu dan kamu bisa bekerja di sini.\" Pada akhirnya, jodoh saya memang harus bekerja di swasta. Pesan dan perhatian besar dari beliau tersebut menjadi motivasi utama saya untuk yakin dan mantap bekerja di PT. SSP. Kantor kami saat itu berada di Blok D Nomor 12. Ini adalah ruang sewa sementara di lantai satu, terbagi menjadi dua petak bagian, dan bersisian dengan kantor kolega Bapak Direktur Utama almarhum bapak Hany Hollah. Pemindahan ini dilakukan karena Kantor di Blok D Nomor 2 sedang menjalani renovasi total, baik eksterior maupun interior. Di sanalah saya mulai bekerja. Selama periode awal, saya belajar banyak hal dan harus multifungsi. Saat itu, kantor Jakarta beroperasi sebagai service office untuk Direksi. Tugas saya meliputi segala hal, mulai dari office boy, administrasi berkas-berkas, kurir, dan sebagainya. Saya bekerja di kantor Jakarta dari nol bersama rekan seangkatan, Mas M. Mahfudh namanya (yang kini menjabat sebagai KTU di Konawe Selatan Regional Sultra). Kami diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk bekerja dan mengembangkan diri. Ternyata, Bapak Dirut memiliki banyak perusahaan yang tersebar di luar Jawa. Di antaranya adalah: PT. Merbaujaya Indahraya, PT. Binanga Mandala, dan PT. Hexasetia Sawita di Sumatera Utara, serta PT. Swadaya Sapta Putra di Kalimantan Tengah. Tiba pada pertengahan tahun 2005, bertepatan dengan Bulan Ramadhan, renovasi Kantor Blok D Nomor 2 akhirnya selesai. Gedung kantor itu kini berdiri megah empat lantai dengan tambahan rooftop yang dilengkapi dua kamar tidur dan kamar mandi. Kami pun segera memproses kepindahan dari kantor sewa sementara. Kantor Blok D Nomor 2 ini tampil dengan perubahan total dari konstruksi aslinya. Desainnya sangat modern, didominasi material kaca di setiap lantai, dan lapisan dinding luarnya menggunakan
172Alucobond—merek terkenal untuk Aluminium Composite Panel (ACP), yaitu material bangunan komposit ringan, bersih, indah dan terang. Atasan kami saat itu adalah Bapak Cahyo Nugroho, yang menjabat sebagai Kepala Kantor Jakarta. Sebelumnya, beliau pernah menjabat sebagai General Manager PT SSP, dan kini kembali ke Jakarta sebagai Manajer Komersial. Dari Bapak Cahyo-lah kami mulai diperkenalkan dengan pekerjaan di bidang keuangan. Berbekal ilmu akuntansi dan keterampilan mengoperasikan komputer, saya dan Mas Mahfudh mendapat pembagian tugas untuk menangani administrasi keuangan dan kasir kantor Jakarta. Pembagian tugasnya adalah sebagai berikut: Mas Mahfudh mengurus administrasi keuangan sekaigus kasir untuk PT. MI dan PT. BM, sementara saya ditugasi untuk mengurus PT. HS dan PT. SSP. Kami diberi kesempatan besar oleh Pak Cahyo untuk berkembang, khususnya dalam mempelajari dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan keuangan dan pajak. Salah satu tanggung jawab baru kami adalah menarik dan mengambil alih transaksi jual beli Tandan Buah Segar (TBS) regional Kalimantan Tengah. Saya secara spesifik ditugaskan untuk mengurus seluruh transaksi penjualan TBS ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit) di sekitaran kebun PT. SSP salah satu diantaranya adalah PT Uni Primacom. Mengingat keterbatasan sumber daya komunikasi kala itu, proses distribusi laporan mengandalkan mesin faks. Kami berkoordinasi dengan Pak Suriadi (biasa dipanggil Pak Andes), janji temu di udara saya di Jakarta dan beliau di wartel Parenggean. Beliau mengirimkan rekapitulasi hasil timbangan TBS melalui faks ke kantor Jakarta. Jika koneksi bagus, hasil cetakan akan tampak presisi seperti kertas A4. Namun, jika jaringan buruk, baris satu rit dump truck (DT) dengan nomor polisi KH bisa terpotong dan memenuhi seluruh lembar A4. Setelah laporan faks masuk, saya menyalinnya kembali ke komputer untuk direkap, menghitung ulang tonase, dan mengalikannya dengan harga per kilogram. Barulah saya membuat dokumen tagihan yang lengkap, meliputi: Kwitansi Bermaterai, Faktur Penjualan, Rekapitulasi Pengiriman TBS dan Faktur Pajak (Kebijakan pajak saat itu membebaskan TBS dari Pemungutan PPN 10% Pajak Keluaran menjadi nihil, dan ini dapat dilaga dengan Pajak
173Masukan dari pembelian seperti pupuk dan lain lain. Hal inilah yang kemudian kami mohonkan restitusi kepada Negara melalui KPP Pratama Pasar Minggu milyaran rupiah pada tahun 2009). Setelah berkas tagihan terbit, tugas saya berlanjut menjadi kurir untuk mengirimkannya ke kantor PT Uni Primacom di Komplek Siaga Pejaten, Jakarta Selatan. Dalam sebulan, penagihan bisa mencapai dua kali. Namun, tanggung jawab saya tidak berhenti pada pengiriman. Saya juga harus memastikan uang dari pembeli diterima. Terkadang, rasa jengkel muncul karena sudah berulang kali menelepon, tetapi jawaban dari pembeli seperti PT. Uni Primacom selalu \"nanti-nanti pembayaran.\" Sementara itu, di sisi lain, tagihan pembelian pupuk, kontraktor sudah jatuh tempo. Upaya lain untuk memastikan apakah tagihan penjualan TBS kebun sudah dibayar oleh pembeli TBS adalah dengan menelepon 14000 (Call Mandiri). Cara satu-satunya cara saat ini dilakukan di belakang meja untuk memastikan dana telah efektif masuk ke rekening PT SSP. Saat itu, semuanya masih serba manual memang. Karena belum ada jaringan dan/atau koneksi internet untuk aplikasi internet banking seperti saat ini, kami datang langsung ke Bank Mandiri Pembuka. Semua pembayaran—baik dalam jumlah besar maupun kecil—kami lakukan menggunakan kertas berharga seperti Bilyet Giro atau secara tunai menggunakan Cek,tentunya tahapan sebelumnya mengajukan tanda tangan atau specimen bapak dirut dan bapak Kepala Kantor. Berjibaku dengan padatnya pekerjaan. Saya jarang pulang, bahkan hari-hari saya habiskan dengan bekerja, tidur dan tinggal di kantor. Namun, di tengah kesibukan itu, saya mendapatkan anugerah. Pada tanggal 19 November 2006, saya melepas masa lajang dan menikah, jodoh datang dengan sendirinya. Setelah menikah, saya dan istri tinggal ikut mertua. Selang beberapa bulan kemudian, pada Februari 2007, rumah mertua diterpa musibah banjir besar. Bencana tersebut menyebabkan rumah hancur rata dengan tanah. Saat itu, istri saya sedang mengandung anak pertama kami, dan kami terpaksa harus mengungsi ke rumah saudara. Kabar mengenai musibah ini akhirnya sampai ke Bapak Bambang Noto Bandriyanto. Atas perhatian beliau, kami mendapatkan dukungan besar dan bantuan untuk mengatasi bencana yang menimpa keluarga kami.
174 Pada saat Family Gathering, Bapak Bambang Noto Bandriyanto memberi sambutan kepada seluruh Peserta Family Gathering Merbaujaya Indahraya Group Kantor Jakarta di Novus Resort & Spa tanggal 9 – 10 Juni 2007. Pesan beliau saat itu ditujukan kepada pasangan (istri atau suami) dari seluruh karyawan kantor Jakarta. Beliau menyampaikan bahwa perusahaan akan melakukan ekspansi ke timur Indonesia. Oleh karena itu, beliau secara khusus memohon kerelaan dan dukungan dari para pasangan untuk memaklumi bahwa karyawan kantor Jakarta akan dituntut untuk bekerja ekstra, bahkan hingga harus sering lembur.1. Wilayah Kalimantan Tengah (PT. Swadaya Sapta Putra)• Proyek Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS).• Proyek Pembangunan Kebun Bejarau.• Proyek Pembangunan Perumahan PKS - Regional2. Wilayah Sulawesi Tenggara (PT. Merbaujaya Indahraya 2)• Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Selatan (Laeya) Kecamatan Palangga, Laeya, Lainea – Utara (Mowila) Kecamatan Ranomeeto Barat, Landono, Mowila, Tetesingi Kab. Konawe Selatan dan sempat mendapat tugas khusus tahun 2011 untuk pembebasan lahan disana. Dalam pembagian tugas ekspansi, Mas Mahfudh mendapat bagian untuk mengelola wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra), sementara saya kebagian wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Meskipun demikian, porsi wilayah Sumatera Utara masih kami kelola bersama. Proyek besar di Kalteng melibatkan proses pengajuan pembiayaan perbankan. Proses pengajuan pembiayaan disempatan pertama dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tidak dapat dilanjutkan karena suatu hal, PT. SSP bekerja sama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Saya terlibat langsung dalam mengelola transaksi - transaksi Bank Mandiri pembukaan Rekening Giro USD dan EURO untuk Proyek Pembangunan PKS dengan perserta Lelang
175tender kontraktor pengadaan lokal maupun impor (Mekanikal, Sipil - SGP, Elektrikal - Metsa, Rangka Atap Baja - SRM, Boiler - Atmindo, Turbine - Ometraco). mengelola Cashflow fasilitas Kredit Investasi (KI) Bank Mandiri:• SPPK KI Kebun Barunang Miri tanggal 26 September 2008, tenor hingga 2014, SPPK KI PKS; KI Efektif ditambah KI IDC tenor hingga 2015.• SPPK Tanggal 07 Desember 2009, KI Tranche A untuk kebun 2.715 Ha dan Tranche B untuk kebun 1.500 Ha tenor sampai dengan 2018• SPPK Refinancing tanggal 04 Juni 2018, Fasilitas KI Refinancing (Clean Up). Setelah Commissioning Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT SSP pada 9 Oktober 2009, peran saya segera menyesuaikan. Yang semula mengelola penjualan TBS (Tandan Buah Segar), kini saya upgrade mengelola penjualan CPO (Minyak Sawit Mentah), Kernel, dan Cangkang. Penjualan perdana dengan storage tank full dilakukan transaksi kepada pembeli CV Bangun Jaya Lampung. Tugas saya meliputi penerbitan dokumen tagihan, pengantaran tagihan, penagihan, dan mengelola Finance di bawah komando Pak Cahyo. Sampai 2017 saya masih mengelola gaji staf Regional (Payroll BRI) hingga akhirnya diserah terimakan ke HRD yang baru saja terbentuk. Pada tahun 2016, sebenarnya saya mengalami pasang surut. Dengan beban pekerjaan sedemikian rupa, Akhirnya, saya memutuskan untuk pindah ke departemen yang baru dibentuk yakni Departemen Accounting & Tax. Di Departemen Accounting & Tax, saya ditugasi mengelola empat badan usaha sekaligus: PT. Mahitala Ingkeng Gemah, Koperasi Serba Usaha Mandiri (Laeya), Koperasi SMB Mowila, dan CV Bumi Kita Subur. Mutasi antar perusahaan menjadi hal biasa bagi saya. Sejak PT. Mahitala Ingkeng Gemah berdiri, HRD mulai melakukan program pemutihan. Status kepegawaian saya secara resmi dinyatakan bergabung tahun 2009, setelah dihitung bekerja sejak tahun 2004 (setelah 5 tahun bekerja).
176 Perjalanan karir saya berlanjut seiring perpindahan kantor, mulai dari Grand Wijaya Center (GWC) hingga ke Gedung Arsip Gaharu. Masa kerja di Jakarta ini berlangsung, yaitu dari tahun 2004 hingga tahun 2020 (wabah COVID-19). Syukur alhamdulillah, pada tahun 2020, saya mendapatkan promosi sebagai StafAccounting Tax, akhir 2023 sampai dengan September 2024 mendapat tugas khusus Proyek PT. Krida Agri Sawita di Pulau Muna, Kemudian September 2024 hingga sekarang tugas di PT. SSP Regional Kalteng. Bukan hanya semata-mata takdir Tuhan yang mengharuskan kita bahagia, tapi kitalah yang harus membuat diri kita berbahagia. - Immanuel Kant
177 Selalu berkomitmen untuk berperan aktif, Semoga PT. SSP senantiasa menjadi sumber kesejahteraan dan kebahagian bagi seluruh karyawannya. Kami mendoakan agar semua pimpinan selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan kebijaksanaan dalam memimpin serta membimbing langkah PT. SSP menuju masa depan yang Cemerlang.
178
179 Kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis. – Jean-Jacques Rousseau32H. ALIANSYAHSTAF PROCUREMENT PT SWADAYA SAPTA PUTRAPERJUANGAN BELUM USAI