The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Doo Fahmie, 2022-10-12 03:57:20

SUSUNAN BUKU NISKALA_V32 reduce

SUSUNAN BUKU NISKALA_V32 reduce

“Sedikit Gema Dari Sepi
Yang Berirama”



Menunggu

Masih di luar pandang, penantian tak terlihat di mata yang dirindukan,
terkadang bingung dengan dengan kehendak yang menyinggung,
sudah jelas rembulan tak terbit di hari siang, dan langit bukan hanya punya
satu bintang, sudah jelas ia enggan menoleh ke belakang, dan bukan hanya
diri yang akan ia izinkan bertandang,
Kenapa masih menunggu dibiar tak berjurang, kenapa sedar tak dibiar
datang, kenapa masih sendu dibiar terpampang, dan kenapa masih esakan
kerinduan yang dibiar berdendang,
Tak punya jawaban, sama seperti perasaan yang hadir tanpa persoalan,
mengelilingi dengan ratapan dari kejauhan, menyelit redup dambaan pada
tandus nya kekeringan,
Dipelusuk keadaan, membina sengketa antara kebijaksanaan dan perasaan,
terus dalam perbalahan, dan sekali lagi, kedegilan mendahului ketertiban.

Suryanie Sr

105

Kaca

Kaca dihadapanku memantulkan bayanganmu, dari pandangan segan silu
hingga senyuman yang selalu kau palingkan dari tatapku,
dengarlah syair yang tak kebiruan, tapi bersifat senang bagai tarian awan,
meski sedikit dipahitkan kenyataan,
Masa dan jarak telah membawa bengkak pada temu yang mahu berarak,
bersilih ulang ingatan dan harapan memarak, candu akan kenangan yang
pernah menapak, membawa otak pada ruang berselerak,
Mahu saja disirna kekang yang menginjak, biar tak ada halang untuk jumpa
yang mahu dijadikan pihak,
Senaskah ingin sudah tergeletak, hingga tenungan tersedak, terbisa hanya
menuntun jari mengusap dahi lalu memperseimbangkan helaan nafas yang
sesak, hingga berpaling dari arah yang enggan lagi dijadikan jejak.

Suryanie Sr

106

Igauan

Dipersenda persekitaran, bahkan dedaunan ditepi jalan, dan lampu isyarat
yang berperaturan, pun turut menertawakan, dek kurangnya kewarasan,
mendamba sesuatu yang enggan dalam rangkuman, tertunduk dengan
perasaan yang dikoyakkan diam dan ketidakpedulian, meraba punca
kesalahan, terjumpa kebodohan yang melayangkan harapan, secara rombak
tanpa memandang kenyataan, tersalah erti atas sikap dan layanan, terbawa
perasaan tanpa teman, sendirian, dalam halusinasi yang dinotakan, bukan
amarah yang melonjak, ataupun kekesalan yang memuncak, hanya saja
khayalan ku terjebak, ingauan ku tersepak, bagai langit yang dipanggil
bumbung, tiba tiba bagai kayu yang rentung, kehancuran hanya mampu
ditenung, tak mampu menyalahkan karna alam yang menerbangkannya,
seperti burung yang diherdik manusia tanpa canggung,
Kini yang terangkul hanya secebis rasa segan, dan puisi yang tak berperatur-
an, serta selesa yang pura pura dibentangkan,
Perlahan, memanggil sifat acu tak acu biar lupa menyelubung sampai tak
wujud lagi, kata bersambung dihalaman hujung.
Suryanie Sr

107

Kenangan

Tersepak masa lalu yang terasa bukan kaki tapi hati, yang sakit bukan
kenangan tapi harapan, bukan akal sehat yang tak mahu kehadapan, tapi rasa
yang terpahat telah menyekat daripada melupakan,
serumpum waktu memakan tunggu, secebis luluh yang menepis mahu, tak
terdaya menidakkan pilihan yang diluar kendalian, terlanjur bersemadi kasih
yang terpatri, hingga tenunan ilusi bermaharaja disehari hari,
mengapa nyata dan impi tidak selari, bukan kah lebih mudah untuk
berbahagia dengan aturan sebegini, iya, diri mula mempersoal tanpa jati diri,
tanpa kedewasaan yang sudahpun diperolehi,
Semakin berantakan bukan, semakin hilang tumpuan, menjerut pernafasan
sendiri hingga sekarang sudah seakan diberhentikan,
Sudahlah, sampa bila mahu dibiar sesal berjuntai dan keinginan memanipula-
si bahagia yang masih mampu kita rangkai, selama masih punya detik untuk
menjalani kehidupan kita tidak harus rela diperbudakkan perasaan yang
hanya mengagungkan kenangan hingga menyisihkan masa hadapan,
Menjadi pencinta sejati, ataupun lebih tepat seorang yang bersungguh dalam
menyayangi, adalah kepribadian yang mengandungi keindahan sifat firdausi,
tapi bukan berarti kita harus terjebak dengan hanya satu hati, kita harus siap
dan bijak memilih untuk meletakkannya berkali jika memang belum
menemui yang sejati disisi,
Bukannya hanya termenung diracik sunyi dan murung melihat nya yang tak
kunjung kembali, jika memang bukan dia dalam rukun kehidupan tak
usahlah diperpanjang esakan tangisan juga kerinduan yang tak berbalasan.

Suryanie Sr

108

Impi

Renungan semakin tajam, bertalu gegaran membuat samar hingga perlahan
suram, entah atas izin siapa, sesuka saja berlegar dengan biadapnya, bicara
orang orang selalu tak bertatasusila pada perasaan, terlalu liar membicarakan
kenyataan hingga tertampar tegar yang disembunyikan,
Lancang berbisa dengan leka mempersoal yang tak bisa, sinis memandang
atas yang silap dan kurangnya, bahkan tentang takdir ketentuan pun masih
kurang bijak dengan menyalahkan sesama manusia,
Apa akal memang tak punya kewarasan atau hati yang tak mengenal
ketertiban, mungkin juga karna terlalu asyik dengan kelebihan hingga
mendabik dada merendahkan yang kurang berkemampuan.
Suryanie Sr

109

Puncak Perasaan

Terkadang kita menapak pada puncak perasaan dimana keyakinan bahawa
rindu takkan pernah dilabuhkan meski jelas ia pada ratapan, dan tak mungkin
ada lupa atau berbeza rasa dengan yang ditatang sebelum, sekarang atau
akan datang,
Tapi seiring berjalan waktu kata pisah atau ruang yang tak lagi sama
membuat perasaan perlahan pudar hingga terlupa, ya tidak dalam semua
perkara tapi beberapa, yang bila dikenang sedikit gelak yang diam dan tepuk
dahi juga gelengan kepala tak sedar seiringan,
Dimana kita faham bahawa yang jelas pada kewarasan mungkin dengan
mudah dapat dikelabuhi dengan hanya secebis perasaan yang mendalam,
Dan dari seni kehidupan yang banyak menerima tamu dan banyak menjelajah
ruang rasa, juga laci laci penyimpanan penyimpanan kenangan,
Ini membuktikan bahawa ruang dan waktu akan bersilih ganti, dan yang kini
pasti akan berlalu tanpa persetujuan mahupun pandangan.

Suryanie Sr

110

Bengang

Terseliput bengang pada ruang dan tinta yang mengekang, terlalu banyak
mengarah tak hirau apa suka atau rela, serabut tak lekang diminda, masih saja
bingit rungutan tak sudah, semua salah benar tak ada, silap jelas atau tidak
tetap tak disusul tanya, hanya lantang memercikkan cerca,
Faham atas yang berbeza, tapi bukan berarti tak pedas bila dilibas kata kata
berlada, memperkotak katikkan suasana yang susah payah diterima dengan
lembut nada pasrah,
jenuh memberatkan akal, lelah bertelingkah dengan yang diluar kawal,
terlanjur malas mengangkat kepala dari bantal, rasanya hanya mahu menenun
mimpi yang panjang mengikal, biar tak ramah pada nyata yang sengal.
Suryanie Sr

111

Sejenak Berteduh

Sejenak berteduh dek hujan yang memburu, merenung ke atas melihat
mentari disembunyikan awan kelam yang diiringi guruh, membuat terduduk
juga menunduk memberi laluan pada persembahan cuaca yang ingin berlalu,
perlahan menghayun kaki seiring rentak hati, leka terjatuh pada sunyi,
terasing dari bisingnya hujan hari ini, kian detik tak berhenti, menung pula
tersandung oleh usangnya memori,
memecah warasnya akal, mengadakan pesta khayal, membawa ke ruang
waktu yang dirindui tanpa sangkal, mengusik tawa pada awal, menyelerakkan
perasaan meski baru mengingat sepanjang jengkal.
Suryanie Sr

112

Genang

Genang berlarut membasah alas pembaringan,
melembab menanti waktu yang mengeringkan,
luntur dan rapuh,
malah yang didongak pun langsung tak menoleh barang sewaktu,
jemuh meratap itu sudah kukuh menetap,
kasarnya rona yang menyekat bungaku tanpa mahu menerima sekejap,
kini hadir hanya layu, segar sudah jauh dari ratap dan harap,
termampu hanya menyingkap tabir,
lalu tegak bangun dengan senyum dibibir.
Suryanie Sr

113

Ketidaktentuan

Pada ranum rangka kata,
ku selit jiwa yang dilayangkan angin utara,
terkapai tanpa mata tak melihat arah,
kosong mengisi udara,
silih ganti resah dan hampa mempelawa untuk singgah,
Menung dan bungkam menjawab dengan endah dan jelingan,
lalu merelakan ketidaktentuan menerajui perjalanan yang di luar kemahuan.
Suryanie Sr

114

Insecure

Merasa diperbudak perasaan sendiri,
dilamun entah entah yang belum terjadi,
diperparah oleh akal fikiran sendiri,
terlalu membatasi dek kerana merasa kecil untuk menjejaki hal hal besar yang
diimpi,
Hingga terbisa menyaksi angan dan dambaan melebur sebagai tangis dipipi,
lalu terpuruk memasuki rumah di dasar sepi yang beratapkan sesal diri.
Suryanie Sr

115

Ikhlas

Duri duri kian tertanam pada jemari jemari keikhlasan,
meragut dambaan,
mencelikkan mata yang dibutakan keinginan,
menyegarkan kesedaran tentang gemerlapan cahaya cahaya kecil diawan yang
tak mungkin tersentuh tangan,
kini mulai membentang alas,
mengamati tentang ikhlas yang memang tak sejatinya harus dibalas.
Suryanie Sr

116

Detak Titisan

Nyanyian hujan lebat,
menyeludup dendang kesunyian dengan cepat,
pandangan yang meluruh bebas keluar tingkap mengamati titisan yang
berdetak, merenungi yang jauh dari tapak,
mengamati jurang yang menjarak,
Ada temu yang merangkak,
juga dinding garang yang menegak.
Suryanie Sr

117

Jingga Hari Ini

Pada langit merona jingga yang sedikit memerah,
ku adu rekah yang membunga tak harum lagi tak indah,
dari pemandangan ini yang singgah di camera,
ku layang percaya langit yang mengatapi tak kekal membiru disehari
semalamnya, layaknya atur kehidupan punya cerah, suram, riang, dan
kegelapan.
Suryanie Sr

118

Keliru

Terkadang keliru ku membuku,
entah arah tuju yang ku paku,
bakal menghasil runtuh atau kukuh,
jenuh kadang lalu, pandangan ku berliku,
terasa lemah mahu memeluk jatuh,
tapi lintas diakal jika tak terus menempuh,
sampai bila pun sangkar keluh ku tak berlabuh,
Puncak seolah menetak,
gigih mula membengkak,
asa semakin terkoyak,
dimana akar terletak,
tak mahu ku lanjut mematahkan kepak.
Suryanie Sr

119

Bualan Kita

Semarak perhatian selalu melonjak,
menyapa dan menyambut syahdu dengan rancak,
tenungan yang sesekali terpacak,
dan kata kata yang selalu lunak berentak
apa itu hanya sekadar santunan budi bahasa,
atau hanya boneka mainan saja,
bualan yang mengalun lembut senyum dan tawa,
apa hanya sekadar kebiasaan mu yang tak bermakna,
redup sesekali menjengah ke atas nama kita,
Aku yang menahan rasa dari terus berlarutan,
tapi malah kau pula kerap mengiyakan angan ku dengan gurauan.
Suryanie Sr

120

Tertarik

Berarak senyum kecil merebak,
santun rasa ku melonjak,
lintasan dirinya di sebelah bergerak,
mengiyakan suka ku dengan semakin membengkak,
deru angin menyapa ku dengan gelak,
dalam pada nyalah dihatiku memarak,
dengan satu hadirnya yang lalu dimata mengindahkan hariku dengan
bermacam corak,
Banyak detik tak ditilik,
tentang renungan yang pernah melirik, biar saja bisu sembunyi rasa tertarik.
Lagi lagi terpaku,
dek sekilas ia lalu.
Suryanie Sr

121

Amarah

Keadaan selalu tak memihak,
rasanya mahu saja teriak,
tapi belum sempat suara ku sudah teresak esak,
mata membengkak,
waras ku terhentak,
santunnya ketahanan ku terkoyak,
membuat bising nya runsing bertambah rancak,
entah harus dihamparkan kemana retak,
biar tak terus amarah terpacak,
Dalam amarah yang memuncak,
ku sedu harap agar tak banyak rungutan yang berarak, memarak mahupun
merebak.
Suryanie Sr

122

Berpaling Teguh

Menelan keterpaksaan itu pahit,
belajar melupakan itu sulit,
seolah ada yang melilit tanpa ada tali mahupun sedikit,
diheret perasaan agar berjarak dari lintasan kenangan,
melupuskan harapan dalam tempoh yang disegerakan,
tapi kini terjerat dalam perancangan,
berkali kecundang dipermulaan,
dengan cara apa sendu disergah bila meronanya kembali hanyut dikepala,
mahu dibagaimana rungsing bernoktah tatkala renungan ku berjendela,
Jenuh jangan meluruh,
dalam bertatih ku melumpuh tentangnya yang berpaling teguh tanpa terima
tunggu.
Suryanie Sr

123

Damba

Puisi puisi tanpa nama,
tercipta tanpa cerita,
sekadar mimpi dan impi yang tak segan mengalunnya,
apa ini halusinasi yang menjemput gila,
atau harap yang mungkin akan diserap nyata,
tak ku nadikan peduli biar imaginasi menikmati tiap pelangi yang ia suap
sendiri tanpa perlu disaji,
Biar waras ku kurang tegas,
asal damba yang ku lepas tak tuntas dek nyata yang mendesak regas.
Suryanie Sr

124

Cengkaman

Menyusun dikepala celaru di adun gundah,
menyelit parah pada tuju yang dilangkah,
penawar entah kemana,
sembuh hilang dari wujudnya,
mahu ku hentak kelam biar lekas malam berganti terang,
biar melepas dari kerasnya kata larang,
agar sesekali dalam kenyataan larat diri untuk terbang,
dan tongkat siap ditebang,
Meluputlah cengkaman yang melebam,
ku perlu istirahat berhenti dari terus rasa tenggelam.
Suryanie Sr

125

Kelam Beruban

Terkadang ada perkara yang sedikit rumit dibeningkan,
dan dapat diulas hingga menyelam ke perasaan,
karna banyak telinga yang mendengar tapi kefahaman tak melebar,
sekadar angguk separa sedar,
itulah kenapa penjelasan selalu ditukar dengan kehilangan,
karna diam itu umpama malam tanpa bulan,
sepinya hingga tak sedar kelam beruban,
Lesap tanpa penerangan,
lenyap tanpa pemberitahuan,
dan gelap tanpa menghitamkan awan.
Suryanie Sr

126

Gerakan

Ku pujuk rindu biar tak terus sendu yang berdendang,
ku tunjukkan jalan pada jarak agar ia pulang dan mengizin kan temu untuk
datang,
terkadang pada sudut aku bertandang dan dinyanyikan sedikit genang dek
rindu yang panjang,
apalah kemampuan satu jumpa pun terlarang dengan garang,
Membaik lah gerakan yang menghadang,
agar dibenarkan kenangan diulang.
Suryanie Sr

127

Topeng

Di racik perasaan,
merah nya tak nampak pada penglihatan,
melainkan pada jiwa yang diselubung kesendirian,
layu mekar tak diendahkan,
senyum sabar dianggap kebiasaan,
kelam mengakar peka dimansuhkan,
ketika segala menidakkan kekangan malah di hentam dengan kata kata yang
menikam dengan tajam dan bertopengkan alasan yang menjulang kebaikan
yang ia iramakan,
Aku tersandung dek disergah tiap titik curahan yang menyangkar pinta dan
cita.
Suryanie Sr

128

Cemar

Apa lah aku ini,
hanya pintar menabur gusar pudar dan membuat para pengasih terlantar,
tak ada perihal diri yang memujuk gemar,
hanya tingkah kasar yang menampar dengan gempar,
kenapa lah gentar tak hadir sebagai sinar,
jenuh rasanya tak ada tempat sandar,
dan tak ada suara yang menyuluh sabar,
bila mahu berakhir gegar,
bila sunyi jenuh bergetar,
dan airmata berhenti berlegar,
kumahu ini kelar, agar bening ku tak terus tercemar.
Suryanie Sr

129

Terdampar

Mati wujudku pada puas hati yang ia mahu,
kecelaruan terus membuku juga jenuh mengejar telunjuk yang ditumpang
teduh,
patah remuk ciptaku diendah dan tak dikisah
diremeh lagi dipersendah,
sekecil ini tenunanku tak di lihat mata disangka tak berguna dan sia sia,
Terdampar jenuh mengusap peluh,
meratap atap yang seakan jatuh.
Suryanie Sr

130

Rimas

Hilang pertimbangan berkecamuk perasaan,
keluh berselerakan bingit di fikiran menghempap kewarasan,
menyampah dengan keadaan,
di jeling berkali pun masih mahu berkedudukan di seharian,
rasanya dipersendakan oleh situasi yang merimaskan,
dan diperkecilkan oleh yang masih bernadi dihadapan,
entah dengan cara apa dijelaskan,
tahuku ini tersangat menyinggung kedamaian.
Suryanie Sr

131

Tersepak

Hari selalu dipertikaikan kenapa lekuknya membimbangkan,
kenapa teguhnya terlalu memaksakan,
di kepala banyak yang tak teradun enak,
selalu merasa tersepak,
diisi semak dalam irama yang menghentak,
sandaran bahu langsung tak nampak,
entah hilang jejak atau memang tak pernah menapak
Suryanie Sr

132

Pautan

Tentang mu yang masih menetap,
dan tentang pautan yang telah lenyap,
menuntun kenang dan sesal merayap,
bina yang kita henti siap,
juga ratap sembunyi yang terperap,
menjeda kan tawa ku dengan senyap,
seketika mengarahku menyambut yang menghempap,
tapi tak cukup cekap,
aku tetap terkoyak sayap,
tinggal sendiri meneliti ranap,
menanti satu yang tak tergenap,
hingga celaru yang hinggap
Suryanie Sr

133

Runsing

Kelabu yang menyebelahi kelam menghentak cerah ku dalam bungkam,
menghambat segar dingin malam,
entah jelita apa yang harus dihias cerita biar atur rentaknya tidak mengecewa,
berpeluh rasanya mengejar yang tak ada inti pada makna,
Dimana bahtera dan pelabuhan,
sesak rasanya dihanyutkan rungsing keadaan.
Suryanie Sr

134

Menung

Lembaran ku usang lusuh dan terlupakan,
masih menggengam sungguh melepas aku enggan,
entah kenapa masih mahu diarkib kan,
sedang kan perasaan dan pengharapan nya telah pun ia mansuhkan,
dibawah pohon rendang,
mata terpaku fikiran melayang termenung seorang,
indah dan parah silih berganti lintas dipandang,
Apa benar ini kasih yang teguh,
atau sekadar ingatan yang masih tak mampu dilumpuh.
Suryanie Sr

135

Nyata Yang Keras

Ada waktu dimana akan wujud kata kata berbatu yang terhempap tepat
kemuka,
untuk mengajar tentang tak semuanya akan halus petah bermadah,
memperkenalkan untuk kesian kalinya bahwa nyata tidak lah seindah sutera,
melaikan punya lebih banyak keras dari lembutnya,
Tetap biasakan,
karna mengherdik atau melemahkan hanya akan semakin tergigit dan
merugikan.
Suryanie Sr

136

Hilang

Kau tahu luas langit biru perlahan menghilang harus nya ia membawa
malam,
tapi kenapa pada rasaku ia membakul kan kisah semalam,
tentang kita yang pernah mula tanpa eja
yang pernah sudah tanpa noktah,
hilang tak daya halang, samar perlahan pudar, habis tanpa dikikis,
lusuh tak disuruh, mungkin karna masa dan jarak memang tak mahu
memihak.
Suryanie Sr

137

Usikan

Ketika pejam mulai mekar yang indah indah perlahan dinikmati dalam
kegelapan, menelusuri lebih dalam tersesat dalam gurauan,
berpaling enggan meluruh tak punya jalan,
Biarkan saja begini,
tak mahu celik mata dan sedar dari mimpi,
biar paksa yang membawa ke nyata,
karena kini hanya mahu terus bernyawa pada kata kata dan usikannya.
Suryanie Sr

138

Rasa Yang Mendatang

Pada rasa yang mendatang membawa gundah yang ku mahu layangkan,
selembar keyakinan, sebuku keraguaan,
berkali hindar,
semakin mengejar,
ingin ku akhir,
tapi rasa yang sama menghampir,
jalani segala, meski suka dan berasa entah.
Suryanie Sr

139

Sejarah

Gemerlapan sudah tak berkilauan,
kini hilang dek leraian ikatan,
lambaian ku atas kan,
sejambak kasih ku sajikan,
karna pernah sudi menerima kekurangan,
dan mendampingi harian,
Kini luka dan tawa mula menaip bersama masa,
yang kelak kan membuku sejarah,
dan nanti pasti lupa bertajuk utama,
tentang harap dan impi pernah kita lakar antara sesama.
Suryanie Sr

140

Lambaian

Waktu itu tak sesaat ku rangka kata,
segalanya jelas bernada dari rasa sebak di dada,
sayu kaki menapak di hadapan mengataskan lambai dengan ucapan,
gema rindu bakal berkumandang pada mulai sesaat aku meninggalkan,
kini ucapan pandangan cerita dan kenangan ku simpul erat dalam ingatan tak
terlupakan sebagai yang terindah hingga ke akhir pernafasan.
Suryanie Sr

141

Aku Dan Petang

Rimbunan kenang menyinggah duduk bersama mengamati petang, menyak-
sikan rindu berterbangan yang masih mencari tuan,
selok belok bumi dipelupuk mata meninjau tingkah dan kata mereka,
pada dasar pandang dari kejauhan tanpa ada penilaian,
melaikan sungguh diri hanya menikmati dan memerhati keadaan yang sedang
berdendang.
Suryanie Sr

142

Lelah

Lelah menetap jelas mendakap,
tidak sekadar samar tapi meski sesaat tak terlihat bagi penilai buta yang hanya
tahu berucap,
kaku tersungkur dihentam seolah menyiapkan kubur,
aku masih bernyawa masih ada nadi yang bernada,
dek karna setitik hitam, seutuh putih ditatap kelam.
Suryanie Sr

143

Lilangan

Yang membasah pipi itu linangan,
tentang yang telah melambai dan takkan pulang,
merindukan kehadiran, yang menghangat segala cerita kehidupan,
sepi apa yang membuku hingga dikeramaian pun masih ada pilu dibalik tawa
ku, lantaran teguh seolah tak ada lumpuh dibalik layar yang kuperkukuh,
runtuh dek tak berpaku,
sudah pasti berpenghasil luluh,
lalu terus mengepak layaknya merpati bebas yang tak berhala tuju.
Suryanie Sr

144

Penantian

Jarak dan waktu menjadi jurang untuk pertemuan,
rasa dan rindu tak berubah mahupun sirna,
tetap utuh sama seperti awal mula kau hilang dari mata,
hingga kini khabar perihalmu, masih ku nanti meski tak kunjung pasti,
dek berpautkan kisah dan rasa yang lalu ku biar waktu melayang tanpa ada
sesaat pun kau kulupakan dari pengharapan.
Suryanie Sr

145

Gusar

Jarak yang mengekang rindu berlabuh pada pengisi tawa diseharian,
berlarutan mata ku buka pejam, menanti jarak ternoktahkan,
jemari menari ingin menggapai,
ditepis pula oleh badai,
sudah banyak rancang yang dirangkai,
gusar mengharap hempasan ombak mulai usai,
tadahan tangan dan gema nada pinta kian tersemai,
biar arus cerita dunia henti lalai,
dan kembali berpaut pada damai
Suryanie Sr

146

Susunan Aksara

Susunan aksara yang tiada ertinya,
Tujuan langkah yang tiada arahnya,
Ikatan yang terlerai dalam eratnya,
Seutuh hati yang hampir hilang rasanya,
Apa perlu mula menyapa agar yang lalu akan seperti semula.
Suryanie Sr

147

Kelam

Dalam kelam pada luasnya ruang,
tak menikmati terang dalam riang,
terdampar seorang,
melayang dalam bimbang,
atas haluan yang menyeramkan,
tanpa suara bertahan meski tak berpegang,
ingin jauh dari sikap yang membunuh,
tak ingin patah semudah dahan rapuh,
sekalipun kaki kaku,
dan keyakinan sudah berpenghujung buntu.
Suryanie Sr

148


Click to View FlipBook Version