Filsafat Islam Pendidikan Barat dan
PENERBIT KBM INDONESIA adalah penerbit dengan misi memudahkan proses penerbitan buku-buku penulis di tanah air Indonesia, serta menjadi media sharing proses penerbitan buku.
“FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN BARAT” Copyright @2023 By Sutarno, S.Pd., M.Pd, dkk All rights reserved ISBN : 978-623-499-360-8 14 x 21 cm, iv + 141 halaman Cetakan ke-1, Mei 2023 Penulis : Sutarno, S.Pd., M.Pd, Siti Fatimah, S.H,I., M.H, Siti Aminah, S.Ag., M.Pd.I, Muhammad Amal Faichan, M.Pd, dan Rifqi Sujahilman, M.Pd Desain Sampul : Aswan Kreatif. Tata Letak : Tim KBM Indonesia Group Editor Naskah : Sutarno, S.Pd., M.Pd dan M. Taufiq, M.Pd Background buku di ambil dari https://www. freepik. com/ Diterbitkan Oleh: PENERBIT KARYA BAKTI MAKMUR (KBM) INDONESIA Anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) NO. IKAPI 279/JTI/2021 Banguntapan, Bantul-Jogjakarta (Kantor I) Balen, Bojonegoro-Jawa Timur, Indonesia (Kantor II) 081357517526 (Tlpn/WA) Website : https://penerbitkbm. com www. penerbitbukumurah. com Email : naskah@penerbitkbm. com Distributor : https://penerbitkbm. com/toko-buku/ Youtube : Penerbit KBM Sastrabook Instagram : @penerbit. kbmindonesia @penerbitbukujogja Isi buku diluar tanggungjawab penerbit Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau Memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini Tanpa izin dari penerbit
i KATA PENGANTAR DOSEN FILSAFAT Bismillahirahmanirrahim Filsafat pendidikan terus berkembang seiring dengan perkembangan dunia pendidikan itu sendiri. Perbedaan keyakinan dan cara pandang serta teori yang diyakini telah membangun argumen dan memunculkan berbagai macam aliran dalam filsafat pendidikan. Menjadi menarik ketika hal itu kemudian dikorelasikan dengan pembahasan tentang Pendidikan Agama Islam Multikultural yang secara esensial mengupas tentang perbedaan sebagai salah satu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Buku yang disusun berdasarkan hasil diskusi dan pembahasan di Program Studi Doktor PAI Multikultural Pascasarjana Universitas Islam Malang mengangkat tentang
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat ii dua kelompok besar, yaitu Filsafat Pendidikan Islam dan Filsafat Pendidikan Barat. Pembahasan dengan menitikberatkan seputar Tuhan-Manusia-Alam, demokrasi pendidikan, dan isu-isu pendidikan dikemas secara sederhana agar mudah dipahami. Semoga buku ini mampu memberikan andil dalam perkembangan pendidikan, utamanya pada Pendidikan Agama Islam Multikultural dan Allah SWT senantiasa memberi kekuatan kepada kita untuk senantiasa bepegang teguh pada agama serta mampu berdakwah melalui pendidikan. Amiin. Dr. Drs. Rosichin Mansur, S.Fil., M.Pd
iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....................................................................i DAFTAR ISI............................................................................... iii BAB I TUHAN, MANUSIA, ALAM, DAN PENGETAHUAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM ............... 1 A. Latar Belakang................................................................ 1 B. Tuhan dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam...........4 C. Manusia dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam.......11 D.Alam Dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam .......... 14 E. Kesimpulan................................................................... 21 F. Daftar Pustaka ..............................................................22 BAB II ILMU PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM.................................................................25 A. Latar Belakang..............................................................25 B. Hakikat Ontologi Pendidikan .......................................28 C. Hakikat Epistemologi Pendidikan .................................33 D.Hakikat Metodologi Pendidikan...................................36 E. Hakikat Aksiologi Pendidikan.......................................39 F. Kesimpulan................................................................... 41
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat iv G. Daftar Pustaka..............................................................43 BAB III DEMOKRASI DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN PENDIDIKAN ISLAM.......................................................45 A. Pendahuluan ................................................................45 B. Hakikat Demokrasi.......................................................48 C. Persamaan dan Perbedaan Antara Filsafat Pendidikan Barat dan Islam............................................................55 D. Pengaruh Faham Demokrasi Terhadap Pendidikan.......62 E. Nilai-nilai demokrasi dalam Pendidikan........................64 F. Penguatan Demokrasi melalui jalur Pendidikan ............65 G.Kesimpulan...................................................................67 H.Daftar Pustaka ..............................................................68 BAB IV PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT...............................................73 A. Latar Belakang..............................................................73 B. Pendidikan Multikultural ..............................................75 C. Sejarah Pendidikan Multikultural..................................77 D. Pengertian Filsafat ........................................................78 E. Filsafat Pendidikan .......................................................79 F. Konsep Filsafat Pendidikan Barat..................................80 G. Filsafat Pendidikan Modern..........................................82 H.Kesimpulan...................................................................85 I. Daftar Pustaka ..............................................................86 BAB V PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM................................................89 A. Latar Belakang Masalah................................................89 B. Pendidikan Islam Multikultural.....................................90 C. Hakikat Filsafat Pendidikan Islam .................................92 D. Implikasi Tipologi Pemikiran (Filsafat) Pendidikan Islam Terhadap Pendidikan Agama Islam Multikultural ........111 E. Penutup.......................................................................114 F. Referensi .....................................................................115 BAB VI ISU-ISU FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN BARAT 117 A. Latar Belakang Masalah...............................................117 B. Pembahasan ............................................................... 120 C. Kesimpulan................................................................. 139 D. Daftar Pustaka ............................................................ 140
1 BAB 1 TUHAN, MANUSIA, ALAM, DAN PENGETAHUAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM Sutarno, S.Pd., M.Pd M. Taufiq, M.Pd Ahmad Jakfar Al Mansur, M.Pd M. Nur Afif, M.Pd Yuni Irawati, M.Pd Mahmud Fahrur Rozi, M.Pd A. Latar Belakang Persoalan eksistensi Tuhan merupakan masalah yang sangat mendasar, luas dan serius dalam kajian filsafat. Kajian-kajian mengenai eksistensi Tuhan menjadi kajian
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 2 yang tidak akan pernah selesai sampai kiamat datang. Apakah kajian itu dilihat dari aspek dogma semata, dilihat dari aspek akal semata, ataupun dilihat dari aspek dogma dan akal sekaligus. Belum lagi apabila dilihat dari aspek yang meyakini eksistensi Tuhan, dan sebaliknya dari aspek yang mengingkari eksistensi Tuhan. Berbagai argumen dan penalaran yang dikemukakan secara panjang lebar telah menjadi bagian dari kajian mengenai eksistensi Tuhan sepanjang masa. Terdapat banyak argumen yang didapatkan dari dogma agama sebagaimana yang disampaikan oleh para teolog, demikian pula banyak argumen yang dimunculkan dari teori para filosof. Kebenaran asal usul tentang manusia yang dikembangkan oleh filsafat pendidikan barat dan pendidikan Islam juga tidak kalah peliknya. Berbagai argumen yang dilandasi oleh keyakinan masing-masing diperkuat dengan penelitian membuat pembahasan tentang manusia belum menemui titik temu. Belum lagi dengan bermunculan filosof-filosof baru berbagai macam latar belakangnya semakin menambah beragam pula teori-teori tentang manusia. Sebagai ruang kehidupan dan sumber pengetahuan, Alam menjadi hal menarik untuk dibincangkan. Bagi sebagian orang yang tidak mau meributkan tentang alam cukup menikmati alam sebagai tempat hidup dan menggapai citacitanya. Namun, berbeda ketika sudah dihadapkan dengan ilmu filsafat yang mengulik tentang keberadaan alam secara utuh menggunakan teori masing-masing. Mereka akan terus melakukan kajian dan penelitian sampai mendapatkan jawaban atas apa yang mereka ingin ketahui sebagai bentuk pembenaran.
3 Filsafat ilmu adalah cabang dari filsafat yang mencari hakikat dari ilmu. Filsafat ilmu pada dasarnya sangat bergantung pada empirisme. Empirisme atau pengalaman akan menjadi sebuah pembuktian akan suatu ilmu yang kemudian dapat dicari hakikatnya. Filsafat ilmu bersumber pada beberapa hal, diantaranya yaitu 1) pengalaman, 2) nalar, 3) intuisi, 4) wahyu, 5) keyakinan. Filsafat ilmu berusaha melogika untuk menemukan kebenaran diantara berbagai ilmu dengan berbagai sumber yang berbedabeda. Beberapa tokoh filsafat atau yang lebih sering disebut sebagai filsuf memberikan beberapa definisi tentang filsafat ilmu, tokoh-tokoh tersebut diantaranya adalah Thales, Pythagoras, Xenophanes, Permenindes, Socrates, Plato, Aristoteles, dan Macus Tullius. Beberapa filsuf yang telah disebutkan masing-masing mempunyai persepsi tentang filsafat. Suriasumantri (2010:33) mendefinisikan filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Peran pendidikan dalam membangun dan menjaga eksistensi sebuah peradaban bangsa sangat penting. Hal ini disebabkan pendidikan mampu menyediakan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk itu semua, Sehingga pendidikan sering kali didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan memiliki kontinyuitas untuk membentuk manusia yang sempurna, Jasmani dan ruhani. Keberhasilan dan kegagalan upaya ini terletak kepada unsur-unsur yang memiliki kontribusi dalam proses itu sendiri, terutama faktor manusia.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 4 Pandangan berbeda antara filsafat pendidikan barat dan pendidikan Islam tetang Tuhan, manusia, dan alam selanjutnya dirumuskan dalam makalah ini dengan judul Tuhan, Manusia, Alam, dan Pengetahuan Dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam. B. Tuhan dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam 1. Tuhan dalam Filsafat Pendidikan Barat Para filosof pendidikan barat mendudukan Tuhan sebagai kekuatan ide dan gagasan dalam menjalankan sebuah proses pendidikan. Tuhan dapat diyakini adanya tetapi bukan sebuah hal yang dianggap sebagai mistis melainkan logika ilmiah maupun metafisika. Beberapa filosof barat pun mengalami perbedaan antara satu dengan lainnya yang didasari oleh hasil penelitian dan penalaran masing-masing. Bertrand Russell (dalam Louis Greenspan & Stefan Anderson, 2009:169) mengemukakan penentangannya terhadap agama dalam debat publik dengan para tokoh agama terkemuka dan merasa senang membuat sindiran-sindiran anti agama, seperti ia mengatakan bahwa jika ia dibawa ke hadapan Tahta Langit (Tuhan), ia akan menegur Penciptanya karena tidak menyediakan cukup bukti akan eksistensi-Nya. Tetapi di sisi lain, Russell juga pernah berkata bahwa ketika seseorang berpikir tentang Tuhan, maka ia tidak boleh berpikir tentang Tuhan sebagai Tuhan salah satu planet atau Tuhan salah satu agama, suku dan daerah tertentu di planet ini. Karena yang demikian itu tidak akan pernah menjelaskan tentang eksistensi Tuhan yang sesungguhnya. Tetapi seseorang harus berpikir secara utuh dan menjadi kesimpulan dari sudut pandang
5 seluruh kosmos, yakni berpikir tentang Tuhan sebagai Tuhan seluruh alam. JJ.C. Smart dan JJ. Haldane (2003:5) dengan konsep Theisme vis a vis Atheisme sebelum menulis perdebatan antara atheisme dan theisme. Diawali dengan pertanyaan filosofis (philosophical question): what are atheism and theism? Keduanya kemudian mengembangkan berbagai argumen dan pendekatan mengenai theisme dan atheisme dan argumen-argumen yang diajukan oleh kedua faham tersebut. Sebagai contoh bagaimana keduanya berkontribusi dan menjelaskan tentang realisme metafisika (metaphysical realism), tetapi kemudian membangun tesis yang berbeda. Haldane menyusun argumen-argumen yang kemudian menjadi dasar theisme, sedangkan Smart menyusun argumen-argumen yang kemudian menjadi dasar atheisme. Pertanyaan besar dalam kajian filsafat dan metafisika adalah Apakah Tuhan itu ada? dan Bagaimana Tuhan itu berada? Dua pertanyaan ini selalu mewabah dan menghinggapi asa pemikiran para filosof (dan teolog) sejak masa Yunani kuno sampai saat ini. Sebenarnya pertanyaan dan konsep-konsep utama filsafat seperti ini telah ada ribuan tahun sebelum tercatat secara historis. Sejak puluhan ribu tahun yang lalu manusia telah mengembangkan pengertian tentang Tuhan, dewadewa, tentang kehidupan sesudah mati. Semua argumen dari argumen eksistensi Tuhan yang diperkenalkan dan disampaikan oleh para filosof memang tidak dapat membuktikan adanya Tuhan secara fisik, tetapi memperlihatkan bahwa hubungan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 6 antara manusia dengan Tuhan dan pada gilirannya membuktikan bahwa Tuhan itu ada menjadi dapat diterima oleh akal. Argumen para filosof menjelaskan mungkinnya relasi manusia dengan Tuhan yang transenden dan memperlihatkan sifat rasional dan universal relasi tersebut. Ini dimungkinkan untuk menjawab serta membuka dialog dengan kelompok yang bersikap indiferen terhadap kepercayaan adanya Tuhan (kaum agnostik), atau bahkan juga dengan kelompok yang menolak Tuhan secara argumentatif (kaum atheis). Plato membagi dunia menjadi dua; (Pertama) “Dunia Menjadi” (World of Becoming), yang selalu berubah dan tidak permanen, (Kedua) “Dunia Ada” (World of Being), merupakan dunia ideal yang dihuni oleh “Bentuk-bentuk” ideal yang bersifat abadi dan tidak berubah. Plato pula yang pertama menggunakan istilah theologia, yang telah sampai ke penggunaan modern sebagai teologi. Konsep utama Plato tentang eksistensi Tuhan yaitu forma dari Yang Baik, forma tertinggi di dunia forma telah diidentikkannya dengan Tuhan (Supian, 2016:228). Aristoteles, ia memajukan konsep tentang Tuhan sebagai “Penggerak Pertama”. Tuhan adalah penggerak yang tidak bergerak, dan dengan argumen teleologis, Aristoteles menjelaskan bahwa Tuhan adalah tujuan akhir dari kosmos ini, Ia satu-satunya bentuk yang berada dalam diri-Nya sendiri dan terpisah dari bahan, Ia yang menjaga planet-planet dan bintang-bintang tetap pada jalurnya, yang mempertahankan kelangsungan hidup di alam semesta. Tuhan itu abadi dan lengkap dalam Diri-Nya sendiri. Dia seluruhnya
7 adalah aktualitas, tujuan akhir, cita-cita dan tujuan dari semua benda yang bergerak dan mencoba mewujudkan potensinya (Supian, 2016:229). Anselmus adalah pemikir yang paling berarti pada abad ke-11, berkeyakinan bahwa iman berikhtiar menemukan pemahaman atau pengertian. Memang bagi Anselmus iman selalu menjadi titik tolak pemikirannya, dan isi ajaran iman tidak bisa dibantah oleh alasan-alasan rasional. Namun, akal budi yang sejati niscaya akan dapat mencapai kebenaran-kebenaran iman, maka orang yang beriman seharusnya juga berusaha memahami imannya secara rasional (Supian, 2016:229). Thomas Aquinas dikenal dengan prinsip “Lima Jalan”. (1) Bila tangan tidak menggerakkan tongkat, tongkat tidak akan menggerakkan apapun; (2) tidak dapat percaya akan suatu rantai tanpa batas dari sebab-sebab dan akibat-akibat yang merentang kembali ke keabadian; (3) bila segala sesuatu di dunia dapat ada dan dapat tidak ada, maka harus ada suatu saat bila tidak ada sesuatupun yang ada; (4) sesuatu yang menyebabkan keberadaan, kebaikan, dan kesempurnaan apapun yang ada dalam benda-benda. Ini disebut “Tuhan”; (5) segala sesuatu di alam semesta diarahkan pada tujuannya oleh seseorang dengan pemahaman, dan ini disebut “Tuhan” (Supian, 2016:235). 2. Tuhan dalam Filsafat Pendidikan Islam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama ajaran Islam, menjelaskan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan. Kehadiran Tuhan merupakan fitrah manusia sebagai kebutuhan hidup. Menurut Yusuf Musa
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 8 dalam Al-Qur’an wa al-Falsafah, keyakinan kaum Muslim kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan maha-maha lainnya merupakan akidah Islamiyah tentang ketuhanan. Akidah ini menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir. Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Alam ini adalah ciptaan-Nya, yang diciptakan dari tidak ada. Selanjutnya dijelaskan oleh Musa bahwa akidah Islamiyah ini apabila dilihat dari sudut filsafat akan menemukan adanya dua wujud, yaitu wujud abadi dan wujud zamani. Wujud abadi ialah wujud Yang Maha Sempurna secara mutlak. Sifat abadi dalam wujud ini adalah pasti menurut akal. Hanya wujud inilah yang tidak mustahil menurut akal, karena akal akan mengimajinasikan keabadian itu tanpa awal dan akhir, tanpa bagaimana (kaifa), dan bandingannya dengan sesuatu yang lain. Adapun wujud zamani adalah alam ini yang ada secara sementara. Adanya alam terikat oleh zaman. Oleh karenanya, zaman bukanlah sesuatu yang kekal. Keyakinan bahwa zaman itu abadi merupakan kekacauan berpikir. Bagi kaum muslim cukuplah mengetahui bahwa zaman itu tidak abadi, karena zaman itu diadakan oleh wujud yang abadi, artinya zaman memiliki permulaan dan pengakhiran. Syeikh Siti Jenar (dalam Kandito,2012:69-70), Tuhan merupakan Dzat yang melingkupi materi dan alam jiwa sekaligus, sehingga wujud Tuhan tidak mampu diindera oleh manusia dan makhluk lain yang diciptakan olehNya. Indera manusia hanya bisa digunakan untuk mengindera hal-hal yang berwujud materi saja, yang
9 sangat terbatas jumlahnya. Dengan demikian, Dzat Tuhan yang juga melingkupi alam jiwa dan alam esensi tak akan mampu diserep oleh indera. Pemaknaan tentang Tuhan tidak akan mampu menunjukkan kesejatian Tuhan. Berdasarkan uraian diatas mengenai konsep Tuhan menurut Syeikh Siti Jenar dapat disimpulkan bahwa Tuhan tidak dapat didefenisikan secara mendasar, sebab pemahaman maupun bahasa yang digunakan oleh manusia tidak akan pernah mampu untuk mengungkapkan esensi dan kesejatian dari Tuhan itu sendiri. Menurut Nasr (dalam Hunafa, 2006:43-64) Tuhan adalah Dzat yang Maha Suci, sehingga untuk mendekati Nya seseorang harus dalam keadaan suci. Oleh karena itu, orang-orang sufi berusaha untuk mensucikan dirinya demi perjumpaannya dengan Dzat yang Maha Suci tersebut. Sedangkan menurut Al-Suhrawadi (dalam Hunafa, 2006:4) Tuhan adalah “Nur al-Anwar” atau cahaya dari segala cahaya dan merupakan wujud realitas yang bersifat absolute dan tidak terbatas. Menurut Ibnu Thufail (dalam Hamdan, 1994:34) Tuhan adalah Dzat yang sempurna yang memberi eksistensi kepada segala sesuatu. Thufail mengatakan bahwa Tuhan merupakan Wajibul Wujud, maksudnya yang memberikan bentuk kepada segala yang ada dan Dia adalah sebab effesien yang menciptakannya. Dia mendengar sebagaimana manusia mendengar dan melihat sebagaimana manusia melihat. Dia mengetahui setiap saat partikel kecil sekalipun baik di bumi maupun di surga.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 10 Menurut al Kindi (dalam Sharifah, 1994:35) Tuhan adalah Dzat tunggal yang tak terlihat karena ia tidak tersusun dan tak ada susunan baginya, tetapi sesungguhnya Ia terpisah dari segala apa yang dilihat. Ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah dan tak berkualitas. Al-Kindi menganggap Tuhan sebagai AlWahidul haq yakni Tuhan yang satu dalam hakikatnya. Menurut al Farabi (dalam Sharifah, 1994:42) Tuhan sebagai “Al-Maujud Al- Awwal” yakni wujud yang pertama yang harus dimengerti sebagai zat yang qadim. Keqadimannya itu bukan karena sesuatu yang lain, melainkan karena dirinya sendiri. Oleh karena Dirinya merupakan Dzat yang qadim, mau tidak mau mestilah hubungannya dengan alam atau sesuatu diluar diri Nya tidak menyentuh secara langsung. Menurut Ibnu Rush (dalam Sharifah, 1994:32) Tuhan adalah pencipta sesungguhnya, artinya Ia mencipta dengan tujuan tertentu, manfaat tertentu, serta nilainilai tertentu. Berdasarkan uraian di atas mengenai konsep persepsi dan konsep Tuhan (sebagai objek yang dipersepsi dalam kajian ini), maka dapat disimpulkan bahwa persepsi tentang Tuhan merupakan suatu proses mengiterpretasikan, memahami, dan memaknai Tuhan sebagai Dzat yang Maha suci dan sempurna yang memberi eksistensi kepada segala sesuatu, yang diterima oleh alat indera.
11 C. Manusia dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam 1. Manusia dalam Filsafat Pendidikan Barat Plato (2002:7) mengatakan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Dua elemen manusia ini memiliki esensi dan karakteristik yang berbeda. Jiwa adalah zat sejati yang berasal dari dunia sejati, dunia idea. Jiwa tertanam dalam tubuh manusia. sementara tubuh manusia adalah zat semu yang akan hilang lenyap bersamaan dengan kematian manusia. sedangkan ide tetap abadi. Menurut pandangan Aristoteles (dalam Anshari, 1982:5) manusia adalah animal rationale karena menurutnya ada perkembangan yang terjadi pada manusia. Berbeda dengan Plato, ia memandang manusia sebagai satu kesatuan. Tubuh dan jiwa adalah satu substansi. Perbedaan keduanya bukan perbedaan esensial. Bagi Aristoteles jiwa manusia tidak terpenjara dalam tubuh. Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia mempunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat tuhan. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat tuhan (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna.Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Menurut Augustinus manusia perlu mengendalikan nafsu seksnya. Ia juga telah merasakan bagaimana menahan nafsunya, saat ia memutuskan untuk bertaubat.Menurutnya manusia juga mempunyai kuasa untk berkehendak seperti tuhan. Tetapi terkadang manusia menggunakan kehendak itu dengan cara yang salah, seperti mengatakan kata-kata kotor dan fitnah. Menurut Agustinus penciptaan adalah suatu creatio ex
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 12 nihilo, penciptaan keluar dari pada "yang tidak ada". Dasar penciptaan ini adalah akal dan hikmat Tuhan. Di dalam akal Tuhan terdapat gagasan-gagasan atau ideideNya. Dunia diciptakan sesuai dengan ide-ide tersebut dan proses penciptaan yang terjadi dilaksanakan dengan perantaraan logos (Arif, 2000:2). Marl Mark melihat manusia melalui strukturnya yang lebih kompleks yaitu masyarakat. Marx menyampaikan pendapatnya mengenai manusia melalui pandangan materialis, tepatnya pandangan materialis yang memiliki ciri dialektika. Materi ataupun gerak material dalam filasafat materialisme berbeda dengan pengertian harafiah materi yaitu benda yang bergantung pada penginderaan. Lebih lanjut, teori ini menjabarkan bahwa pergulatan utama dan pertama manusia adalah pergulatan untuk memenuhi kebutuhan materialnya. Hal ini membawa manusia pada pergulatan dengan alam sebagai bahan pemenuhan kebutuhan materialnya. 2. Manusia Dalam Filsafat Pendidikan Islam Prof. Malik B. Badri (1986:201) pernah mengatakan bahwasanya seorang ahli fisika dapat menunjukkan objektivitasnya dalam mengobservasi mesin-mesin, namun tak seorang pun dapat menerima objektivitas mutlak dalam mempelajari manusia. Manusia dalam dunia pendidikan adalah berposisi sebagai subjek dan sekaligus objek pendidikan itu sendiri, sepeti yang di ungkapkan Al-Attas (1992: 67), pendidikan dalam Islam adalah sesuatu yang khusus hanya untuk manusia. Islam melakukan legislasi atas manusia sebagai adanya dengan semua kemungkinan yang dimiliki di dalam
13 dirinya. Di dalam kondisi biasa manusia adalah makhluk lemah, bodoh dan acuh tak acuh. Ia mudah terpengaruh oleh lingkungannya dan selalu terperangkap dalam nafsu kebinatangan. Manusia tidak mengetahui apa artinya menjadi manusia, dan tidak mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Namun, Islam tidak hanya memandang manusia seperti itu, akan tetapi juga memandang manusia sebagai makhluk theomorfis, yaitu sebagai khalifah Tuhan di bumi, yang menjadi cermin dari nama dan sifat Tuhan. Nasr (2003: 336), bentuk manusia merupakan refleksi dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Refleksi sifat Tuhan dalam diri manusia ini sebagaimana cermin yang merefleksikn cahaya matahari. Nasr berpijak pada term penciptaan manusia dalam al-Qur’an, dimana dijelaskan bahwa pada mulanya manusia diciptakan dari tanah liat, dan kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalamnya sebagaimana dalam surah Al-Hijr ayat 28-29. Dari situ, tujuan kemunculan manusia di dunia adalah untuk memperoleh pengetahuan total tentang benda, untuk menjadi manusia universal (Al-Insan Al-Kamil), yaitu cermin yang memantulkan semua nama dan sifat Allah. Bagi Tuhan, maksud dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengetahui diri-Nya melalui instrument pengetahuan-Nya yang sempurna, yakni Manusia Universal (Nasr, 2003: 115-116). Manusia sebagai theomorfis mempunyai arti bahwa manusia diturunkan dari ruh yang merupakan milik Allah, dan dengan demikian terdapat dimensi ketuhanan dalam diri manusia, sebagaimana dijelaskan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 14 dalam ayat Al-Qur’an di atas. Ini menegaskan bahwa ruh manusia bukanlah ciptaan Allah, karena dalam berbagai ayat tentang kejadian manusia, selalu dijelakan bahwa Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad manusia, artinya, jasad manusia diciptakan dan kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad tersebut sebagai karunia yang menunjukkan kedudukan tertentu yang dimiliki manusia. Manusia sebagai mahkluk theomorfis mempunyai sesuatu yang agung didalam dirinya, yaitu akal, kehendak yang bebas (free will) dan kemampuan berbicara. Akal memungkinkan manusia membedakan antara baik dan buruk, antara kenyataan dan khayalan, serta dengan sendirinya membawa manusia kearah kesadaran tentang kesatuan dzat (tauhid). Kehendak membuatnya mampu memiliki pilihan antara yang benar dan yang salah. Dalam Islam manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang berkehendak serba buruk memiliki akal, melainkan sebagai makhluk berakal yang mampu mendekatkan diri kepada tuhan, yang juga memiliki kehendak dan kemapuan berbicara. D. Alam Dalam Filsafat Pendidikan Barat dan Islam 1. Alam Dalam Filsafat Pendidikan Barat Filsafat barat menyatakan bahwa alam adalah homogen. Sehingga “filsafat Barat” menghasilkan “etika” dan relasi manusia yang bertujuan untuk “menghasilkan” produksi yang homogen. Sedangkan manusia nusantara yang mempunyai ekosistem yang berbeda satu dengan lain menghasilkan peradaban yang berbeda.
15 Filusuf Plato mengatakan bahwa bumi berasal dari sebuah bentuk kubus. Kalimat tersebut tidak keluar begitu saja, sains pun mencoba membuktikannya. Dalam sebuah makalah baru, para peneliti dari AS dan Hongaria menggunakan simulasi "fragmen 3D alami" dunia. Mereka menemukan bahwa sebagian besar faktornya memang sesuai, sehingga dapat disebut sebagai bentuk kubus. Plato menghubungkan bumi dengan kubus. Melansir dari Popular Mechanics, keputusannya merujuk pada semua benda padat. Cara ini diangkat ke dalam sebuah karya oleh ahli geometri seperti Euclid. Gagasan "atom" pertama pun dalam pengertian modern berasal dari sesama filsuf Yunani bernama Democritus. Plato menyebutnya padatan Platonis. Bentuknya berupa 3D biasa dengan sisi yang semuanya persegi, misalnya, atau segitiga sama sisi. Tak satu pun dari bentuk-bentuk ini tercipta begitu saja, dan tidak ada yang menemukan airr dalam bentuk kubus. Namun, banyak mineral secara alami terbentuk dalam kristal kubik, dan banyak batu secara alami pecah menjadi bentuk kubik. Melansir dari Penn Today University of Pennsylvania, bentuk rata-rata batuan di bumi adalah sebuah kubus. Hal itu tertulis di dalam makalah baru di Prosiding National Academy of Sciences. Makalah tersebut dibuat oleh tim dari University of Pennsylvania, Budapest University of Technology and Economics, dan University of Debrecen. Mereka menggunakan pemahaman matematika, geologi, dan fisika dalam penelititan tersebut.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 16 Para filosof Ionia (Yunani Kuno) sebagaimana telah disebutkan di atas, berupaya untuk membongkar pandangan manusia tentang alam semesta yang masih diselimuti oleh mitos-mitos, dan memberikan nuansa baru dalam menjelaskan berbagai kejadian alam dunia. Perhatian yang besar tentang alam itu bersifat filsafat, dan bukan bersifat keagamaan atau perhatian biasa seperti yang tejadi sebelumnya. Dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa kajian filsafati adalah pengkajian tentang gejala-gejala alam yang semata-mata menggunakan kekuatan akal atau rasio (filsafat) dan tidak melirik sedikitpun terhadap agama, karena agama pada waktu itu dipandang sebagai yang irrasional. Menurut Paul Davies ide tentang ruang angkasa yang tercipta dari tiada adalah ide yang sangat rumit, sehingga banyak orang mendapatkan kesulitan untuk memahaminya, maka para ahli fisika memandang ruang dan waktu lebih sebagai medium elastis dan bukan sesuatu yang bermula dari kekosongan. Pandangan yang menyebutkan ruang dan waktu elastis itu, telah menimbulkan perbedaan yang mendasar dengan apa yang diyakini oleh agama-agama selama ini. Davies menambahkan sisi yang paling mengejutkan dari teori ilmiah itu adalah saran bahwa ruang angkasa itu sendiri tercipta dalam dan dari dentuman besar (the big bang), dan bukan sekedar materi. Kemudian menurut Davies keadaan awal big bang, dimana ruang angkasa menyusut secara tak terhingga, merefresentasikan tapal batas atau tepian dalam waktu dimana ruang angkasa berhenti ada, dan ahli fisika menyebut kondisi batas semacam itu singularitas.
17 2. Alam Dalam Filsafat Pendidikan Islam Menurut Al-Jurjani terma alam secara bahasa berarti segala hal yang menjadi tanda bagi suatu perkara sehingga dapat dikenali, sedangkan secara terminologi berarti segala sesuatu yang maujud selain Allah, yang dengan ini Allah dapat dikenali baikdari segi nama maupun sifatnya-Nya. Segala sesuatu selain Allah itulah alam secara sederhana. Pengertian ini merupakan pengertian teologis, dalam arti berdasarkan yang dikemukakan oleh para teolog Islag-Islam. Sementara secara lifofolif, “alam” adalah kumpulan jauhar (substansi) yang tersusun dari materi (maddah) dan bentuk (shurah) dilangit dan di bumi. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, itulah alam berdasarkan rumusan filsafat. Alam dalam pengertian ini merupakan alam semesta atau jagat raya. Menurut Al-Syaibani alam jagad atau natura ialah apapun selain dari Allah SWT. Demikian juga menurut Quraish Shihab semua yang maujud selain Allah SWT, baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia disebut alam. Karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputi segala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Tidak hanya itu, dalam perspektif Islam, alam semesta ini tidak hanya mencakup hal-hal yang konkrit atau dapat diamati melalui pengindraan manusia saja, tetapi mencakup juga segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh pengindraan manusia. Dalam Islam, segala sesuatu selain Allah SWT, yang dapat diamati atau didekati melalui pengindraan manusia disebut sebagai ‘alam syahadah. Ia merupakan fenomena. Sementara itu, segala sesuatu selain Allah, yang tidak dapat diamati
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 18 atau didekati melalu pengindraan manusia disebut sebagai alam ghaib. Karenanya, dia adalah noumena. Dalam Alquran, tema alam hanya ditemukan dalam bentuk plural, yaitu ‘alamin. Kata ini terulang sebanyak 73 kali dan tersebar pada 30 surah. Hemat penulis, penggunaan bentuk plural mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak atau beraneka ragam. Pemaknaan ini konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah SWT yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Disamping itu, hal ini juga merupakan penegasan terhadap konsep Islam tentang alam semesta, yaitu segala sesuatu selain Allah SWT. Dari sisi ini, penalaran kita mengharuskan eksisnya pluralitas atau kejamakan alam semesta ini. Satu sisi, alam semesta bisa didefinisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk) yang bisa diklasifikasikan kedalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa pula dibagi-bagi kedalam beberapa jenis, seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayawanat), dan manusia. Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat tertinggi martabatnya adalah filsafat pertama yang membicarakan tentang causa prima. Sehubungan dengan ini Al-Kindi berargumen bahwa alam ini adalah baru, ada permulaan dalam waktu, demikian pula alam ini ada akhirnya, oleh karena itu alam ini harus ada yang menciptakan. Sebab semua yang berubah-ubah itu adalah baru. Jadi alam adalah baru karena alam itu berubah-ubah. Al-Kindi adalah satu-satunya filosof yang menentang pendapat qadimnya alam, berdasarkan teori
19 matematik bahwa alam adalah terbatas, karena terbatas maka alam itu bukan azali. Sesuatu yang azali tidak mempunyai genus. Azali adalah bahwa sesuatu yang maujud itu tidak berawal dan sesuatu yang tidak berawal itu hanya Allah. Sedangkan alam ini tidak azali, akan tetapi kadang-kadang istilah azali ini digunakan juga untuk maujud yang tidak berawal dan tidak berakhir. Karena itu Al-Kindi mengemukakan argumentasinya bahwa segala sesuatu dalam alam ini, baik tubuh maupun ruang, waktu dan gerak, ada akhirnya, bila hal itu ada akhirnya, maka ada pula awalnya. Menurut Al-Kindi bahwa alam itu temporal dan berkomposisi yang karenanya ia membutuhkan pencipta yang menciptakannya. Yang Esa yang hak adalah yang pertama yang menahan segala yang diciptakan”, sehingga seseuatu yang tidak mendapat pertahanan dan kekuatan pasti akan hancur (Muhammad Abd. Al Hadi, 1950:162). Menurut Al-Farabi, wujud alam ini memancarkan dari yang pertama atas dasar pancaran, yang dijelaskan dengan menggunakan istilah emanasi (Al-Faidh), tetapi teori emanasi itu pasti melahirkan pantheisme, yang bertentangan dengan teori creatio ex nihilo (penciptaan dari tidak ada); Allah ditundukkan kepada hukum keharusan, sehingga penciptaan alam semesta itu bukan dari kehendak-Nya, akan tetapi karena emanasi yang terjadi menurut hukum keharusan, karena itu, teori tersebut dibantah oleh sebagian orang Islam. Alam menurut Al-Farabi terbagi dua seperti halnya menurut Aristoteles, yaitu alam langit dan alam bumi,
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 20 artinya alam semesta ini merupakan bola besar yang titik pusatnya ialah bumi serta lingkaran falak yang mengelilinginya. Sampai ke falak bulan-alam bumi berakhir sampai di sini, yang terletak di luar falak bulan itu sampai ke lingkaran langit pertama adalah alam langit. Begitulah para ilmuan klasik memahami falak. Cara pelaksanaan peciptaan alam, dari wujud pertama itu memancarkan wujud yang kedua, dari yang kedua memancarkan wujud yang ketiga dan seterusnya sampai ke akal sepuluh. Al-Farabi berkata “bahwa yang pertama adalah yang wujudnya diperoleh dari dirniya sendiri. Bila wujud yang pertama itu diperoleh dari dirinya sendiri maka sudah pasti pula segala maujud ini diperoleh dari dia, sedangkan wujud barang yang diperoleh dari yang pertama itu hanya sebagai pancaran (emanasi) dari wujud yang pertama itu bagi wujud yang lain”. (Ahmad Fuad Al Ahwani, 1983/1984:88). Dalam membahas penciptaan alam semesta, Al-Ghazali menolak konsep para filosof yang mengatakan bahwa dunia ini kekal dan diciptakan lewat proses emanasi, dengan bahan dasar yang bersifat kekal dan yang secara terus-menerus mengambil bentuknya yang berbeda. Memang Al-Ghazali mempunyai konsepsi tentang Tuhan dan alam, akan tetapi sangat berbeda dari konsepsi yang dimiliki oleh para filosof secara hati-hati dan pelan-pelan beliau mempertahankan ide-idenya sambil sedikit demi sedikit mengkritik konsep para filosof, misalnya Al-Ghazali menyerang filsafat Yunani. Dalam hal keabadian alam, ia berpendapat bahwa soal keabadian alam itu terserah kepada Tuhan sematamata. Mungkin saja alam itu terus-menerus tanpa akhir
21 andaikata Tuhan menghendakinya, akan tetapi suatu kepastian adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri di luar irodah Tuhan. Para filosof mengatakan bahwa alam ini qadim, qadimnya Tuhan atas alam sama dengan qadimnya illat atas ma’lulnya (sebab atas akibat) yaitu dari zat dan tingkatan, juga dari segi zaman, dengan alasan sebagai berikut: Bahwa Tuhan lebih dahulu daripada alam bukan dari segi zaman, melainkan dari segi pribadi (tingkatan, zat). Kalau yang dikehendaki dengan lebih dahulunya Tuhan atas alam ini ialah dari segi zaman, maka kelanjutannya ialah Tuhan dan alam keduaduanya baru atau Tuhan dan alam qadim kedua-duanya dan mustahil salah satunya qadim sedangkan yang lain baru. Alasan ini dibantah oleh Al-Ghazali, kalau Tuhan lebih dahulu adanya daripada alam dan zaman berarti Tuhan sudah ada sendirian sebelum ada alam kemudian Tuhan ada bersama-sama alam. Keadaan pertama berarti zat Tuhan dan keadaan yang kedua berarti zat Tuhan dan zat alam dan tidak perlu ada zat yang ketiga yaitu zaman. Sebagaimana arti zaman itu sendiri adalah gerakan benda (alam), yang berarti bahwa sebelum ada benda (alam) sudah barang tentu belum ada zaman. E. KESIMPULAN Filsafat pendidikan barat dan Islam memiliki perbedaan mendasar ketika memahami dan meyakini adanya Tuhan, manusia, dan alam. Para filosof barat menggunakan akal ilmiah dalam memberikan pengertian sedangkan Islam memahaminya lebih kepada sebagai sebuah dogma dan wahyu. Filosof Islam mendasarkan seluruh pemikiran dengan bersandar kepada Al Quran sebagai wahyu yang mutlak dan tidak dapat dipertentangkan.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 22 Tuhan dalam pandangan filsafat barat adalah kekuatan ide, apabila ide tersebut benar maka akan memberi kekuatan pada pemiliknya. Kebenaran itulah yang kemudian diikuti sebagai keyakinan dan pedoman hidup. Sedangkan dalam filsafat Islam diyakini bahwa Tuhan adalah sang pencipta, pengatur, penguasa, dan maha segalanya yang tidak tersentuh oleh apapun. Filosof barat memandang manusia sebagai kumpulan material dan inmaterial yang memiliki ciri dialektika. Materi ataupun gerak material dalam filasafat materialisme berbeda dengan pengertian harfiah materi yaitu benda yang bergantung pada penginderaan. Adapun filsafat Islam berpendapat bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberi tugas sebagai khalifah di dunia. Alam dimaknai sebagai ruang angkasa yang tercipta dari tiada adalah ide yang sangat rumit, sehingga banyak orang mendapatkan kesulitan untuk memahaminya, maka para ahli fisika memandang ruang dan waktu lebih sebagai medium elastis dan bukan sesuatu yang bermula dari kekosongan. Islam berpendapat bahwa alam itu temporal dan berkomposisi yang karenanya ia membutuhkan pencipta yang menciptakannya. F. DAFTAR PUSTAKA Achmadi (2005), Ideologi Pendidikan Islam Paradigma Humanismeteosentris, Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib (1992), Konsep Pendidikan Dalam Islam: Sebuah Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Haidar Bagir, Cet. IV, Bandung:Mizan
23 Al-Faruqi, Ismail R (1984), Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Bandung:Pustaka. Al-Qardhawi, Yusuf (1994), Karakteristik Islam Kajian Analitik, Terj. Rofi’ Munawwar, Tajuddin, Surabaya:Risalah Gusti Al-Syaibani (1979), Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta:Bulan Bintang Arif, Mahmud (2008), Pendidikan Islam Transformastif, Yogyakarta, LkiS Azra, Azyumardi (2002), Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millennium Baru, Jarakta:Logos Husaini, Adian, et. Al. (2013), Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, Jakarta:Gema Insani. Huxley, Alduos (2001), Filsafat Perennial, Terjemahan Au Noer Zaman, Judul asli “The Perennial Philosophy. Yogyakarta: Qalam Kartanegara, Mulyadi (2005), Integrasi Ilmu Sebuah Rekontruksi Holistik, Bandung:Mizan Langgulung, Hasan (1968), Manusia Dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Dan Pendidikan, Jakarta, Pustaka Al Husna Maksum. (1999), Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, Bandung:PT Logos Wacana Ilmu Mas’ud, Abdurrahman (2002), Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik; Humanisme Religious Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta:Gama Media
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 24 Muhaimin (2012), Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung:PT Remaja Rosdakarya Nasr, Seyyed Hossein (1981), Islam Dalam Cita Dan Fakta, Terj. Abdurrahman Wahid, Jakarta, LEPPENAS. 16 Volume X, No.1, 2017 _____,(2003), The Heart of Islam: Pesan-Pesan Universal Islam Untuk Kemanusiaan, Bandung, Mizan Tafsir, Ahmad (2012), Filsafat Pendidikan Islam, Cet. V., Bandung:PT Remaja Rosdakarya Yamani, Ahmad Zaki Yamani (1978), Syariat Islam yang Kekal dan Persoalan Masa Kini, Alih Bahasa KMS. Agustjik. Jakarta: Intermasa
25 BAB II ILMU PENDIDIKAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM Siti Fatimah, S.HI., M.H Isnawati Nur Afifah Latif, M.Pd Luqman Ahsanul Karom, M.Pd Hartini, S.Pd., M.Pd M. Faizin, M.Pd M. Ibnu Athoillah, M.Pd A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan lebih daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 26 segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya. Sedang dalam filsafat pendidikan Barat, ilmu tidaklah muncul dari pandangan hidup agama tertentu dan pendidikan barat diklaim sebagai sesuatu yang bebas nilai, yang dimaksud bebas nilai pada pendidikan Barat adalah bebas dari nilai, nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan. Ilmu dalam peradaban Barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama akan tetapi dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Imbas ilmu pengetahuan (serta nilai-nilai etika dan moral) yang diatur oleh rasio manusia yang secara terus menerus berubah. Setidaknya ada lima faktor yang melandasi budaya dan peradaban Barat, pertama, menggunakan akal untuk segala kehidupan manusia, kedua, sikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran, ketiga, aspek pandangan hidup secular, keempat, menggunakan doktrin humanisme; dan kelima, drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Kelima faktor tersebut amat berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan Barat sehingga membentuk pola pendidikan yang ada di Barat.
27 Sedangkan karakteristik pendidikan Islam, Menurut Azyumardi Azra, ada beberapa yang membuat perbandingan filsafat pendidikan Islam dengan Barat, yaitu: pertama, penguasaan ilmu pengetahuan, ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap orang Islam (Muslim dan muslimat). Setiap Rasul yang diutus oleh Allah mereka lebih dahulu dibekali dengan ilmu pengetahuan, dan mereka diperintahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan itu. Kedua, pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga adalah Penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan Islam sangat terikat oleh nilai-nilai akhlak islami. Keempat adalah pengembangan ilmu pengetahuan hanya untuk pengabdian kepada Allah dan untuk kemaslahatan umum. Kelima, penyesuaian pendidikan terhadap perkembangan anak. Sejak masa awal perkembangan Islam, pendidikan Islam diberikan kepada anak sesuai dengan umurnya, kemampuan, perkembangan jiwa, dan bakat anak. Keenam, pengembangan kepribadian. Maksudnya, bakat alami dan kemampuan pribadi tiap-tiap anak didik diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai bakatnya sehingga akan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Perkembangan kepribadian murid itu akan berkaitan dengan seluruh nilai sistem Islam, sehingga setiap anak dapat diarahkan untuk mencapai tujuan Islam. Ketujuh, penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Maksudnya, setiap anak didik diberi dorongan semangat untuk mengamalkan ilmu pengetahuannya. Karena adanya perbandingan filsafat pendidikan Islam dengan Barat tersebut, disini pemakalah ingin memaparkan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 28 dari segi ontology, epistemology, metodologi dan aksiologi dua filsafat Pendidikan tersebut baik dalam Pendidikan Islam maupun Pendidikan Barat. B. Hakikat Ontologi Pendidikan Istilah ontology berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti “yang berada”, dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan. Ontology sering diidentikan dengan metafisika yang juga disebut proto-filsafia atau filsafat yang pertama, atau filsafat ketuhanan yang bahasanya adalah hakikat sesuatu, keesaan, persekutuan, sebab akibat, realita, atau Tuhan dengan segala sifatnya. Term ontology pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis, Dalam perkembanganya Cristian Wolff membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontology. Nama lain untuk teori hakikat ialah teori tentang keadaan, Hakikat ialah realitas, realiltas ialah kerealan, real artinya kenyataan yang sebenarnya, jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah. Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, Di sini bermakna bahwa adanya pendidikan bermaksud untuk mencapai tujuan, maka dengan ini tujuan menjadi hal penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara
29 umum dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat membawa anak menuju kepada kedewasaan, dewasa baik dari segi jasmani maupun rohani. Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna Ontologi dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan dimana sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan, Jadi hubungan ontologi dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak undang-undang dasarnya dunia ilmu. Bahwa pendidikan ditinjau dari sisi ontologi berarti persoalan tentang hakikat keberadaan pendidikan, Fakta menunjukkan bahwa pendidikan selalu berada dalam hubungannya dengan eksistensi kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak mungkin bisa menjalankan tugas dan kewajibannya di dalam kehidupan, pendidikan secara khusus difungsikan untuk menumbuh kembangkan segala potensi kodrat (bawaan) yang ada dalam diri manusia. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa ontology pendidikan berarti pendidikan dalam hubungannya dengan asal-mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia. Tanpa manusia, pendidikan tak pernah ada. Sedang ontology pendidikan menurut beberapa aliran barat adalah sebagai berikut: 1. Progressivisme, memandang bahwa ontologi pendidikan yakni pada saat proses pembelajaran agar anak dapat memahami apa yang dipelajari, mereka
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 30 harus mengalami secara langsung. Untuk mendapatkan pengalaman secara langsung anak dapat diajak untuk melakukan berbagai kegiatan misalnya, eksperimen, pengamatan, diskusi kelompok, observasi, wawancara, bermain peran dan lain-lain. 2. Essensialisme, pendidikan yang didasarkan kepada nilainilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan. Aplikasinya dalam setiap kegiatan belajar mengajar guru diselipkan nilai-nilai keagamaan antara lain saat sebelum dan sesudah pelajaran berlangsung dilakukan berdo’a bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing, 3. Perennialisme, pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perennialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudayaan dan pendidikan jaman sekarang. Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis di berbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. 4. Rekontruksionisme, berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat
31 manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Kaitan aliran ini dengan pendidikan adalah pendidikan itu tidak diselenggarakan secara terpusat melainkan secara universal. Mengingat situasi dan kondisi disetiap tempat berbeda-beda. Di sini setiap sekolah berhak menentukan indicator sesuai dengan situasi, lingkungan, serta kebutuhan peserta didik, Kewajiban pendidik melalui latar belakang ontologis ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis Adapun ontologi filsafat pendidikan islam memiliki pengertian sebagai berikut: 1. Hakikat pendidikan Islam dan ilmu pendidikan Islam, pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah swt Kepada Muhammad SAW. Sedang Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isinya ilmu adalah teori, penjelasan dan data. 2. Hakikat tujuan pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam tiada lain adalah untuk mewujudkan insan yang berakhlakul karimah yang senantiasa mengabdikan dirinya kepada Allah SWT. 3. Hakikat manusia sebagai subjek pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 32 didik, baik afektif, kognitif dan psikomotor sedangkan anak didik (peserta didik) adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. 4. Hakikat kurikulum pendidikan Islam, kurikulum dalam pendidikan Islam, yaitu kata manhaj, yang bermakna jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya. Jadi, kurikulum yang dimaksud adalah jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru latih dengan orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap mereka. Keberadaan kurikulum dalam pendidikan Islam sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesediaankesediaan, bakat-bakat, kekuatan-kekuatan, dan ketrampilan mereka yang bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk menjalankan hak-hak dan kewajiban, memikul tanggungjawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsanya dan turut serta secara aktif untuk kemajuan masyarakat dan bangsanya. Dengan demikian, kurikulum hanya sebatas sarana untuk mendidik generasi muda dengan segala potensi yang dimilikinya sehingga mampu memikul tanggungjawab bagi dirinya, keluarga, masyarakat maupun bangsanya. Disisi lain terdapat problematika terhadap ontologi pendidikan Islam, diantaranya: 1. Masalah dasar, fondasi agama dan masalah landasan empiris yang didalamnya menyangkut dimensi-dimensi dan kajian tentang konsep pendidikan yang bersifat universal, seperti hakikat manusia, masyarakat, akhlak,
33 hidup, ilmu pengetahuan, iman, ulul albab dan lain sebagainya, yang kesemuanya bersumber dari kajian fonemena qauliyah dan fenomen kauniyah yang membutuhkan pendekatan filosofis. 2. Masalah structural, ditinjau dari struktur demografis dan geografis (dalam kota, desa dan desa terpencil), Struktur perkembangan jiwa manusia (masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan manula), Struktur ekonomi (masyarakat kaya, menengah dan miskin), Struktur rumah tangga (karier dan non karier), Stuktur jenjang Pendidikan (Pendidikan usia dini, dasar, menengah, tinggi). 3. Masalah operasional yang secara mikro berhubungan dengan komponen pendidikan Islam (tujuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan alat-alat pendidikan Islam (kurikulum, metodologi, manajemen, administrasi, sarana dan prasarana, media, sumber dan evaluasi) dan lingkungan atau konteks pendidikan dan secara makro menyangkut keterkaitan pendidikan Islam dengan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama baik yang bersifat nasional dan internasional. C. Hakikat Epistemologi Pendidikan Kata epistemologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan, dan logos yang berarti kata, pikiran, percakapan atau ilmu. Istilah epistemologi sendiri pertama kali muncul pada pertengahan abad XIX oleh J.F. Rarrier dalam bukunya “Institute of Metaphysics”. Persoalan epistemologi tersebut sebenarnya sudah di mulai dalam pertentangan antara Heraclitus (535-475 SM) melawan Parmenindes (504-475 SM) yang pada dasarnya merupakan sengketan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 34 fundamental, sebab yang mereka persoalkan sudah berupa masalah kebenaran pengetahuan. Epistemologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, epistemologi adalah cabang ilmu filsafat tentang dasardasar dan batas-batas pengetahuan. Epistemologi secara istilah, meminjam penjelasan Dagobert D. Runes dalam bukunya, Dictionary of Philoshopy adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang keaslian pengertian, struktur, mode dan validitas pengetahuan. Pendapat lain dikemukakan oleh D.W Hamlyn yang mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaiannya, serta secara umum hal itu dapat diandalkan sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Dari dua definisi epistemologi di atas, maka dapat kita pahami bahwa epistemologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersangkutan dengan pengetahuan dan dipelajari secara substantif. Oleh karena itu, epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah sebagai berikut: a. Filsafat, yaitu sebagai cabang ilmu dalam mencari hakikat dan kebenaran pengetahuan. b. Metode, memiliki tujuan untuk mengantarkan manusia mencapai pengetahuan. c. Sistem, bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan. Dalam teori epistemologi terdapat beberapa aliran-aliran barat. Aliran-aliran tersebut mencoba menjawab pertanyaan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan.
35 Pertama, golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan yaitu aliran: (1) Rasionalisme, yaitu aliran yang mengemukakan, bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa; (2) Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia berasal dari pengalaman manusia itu sendiri, melalui dunia luar yang ditangkap oleh panca inderanya; (3) Kritisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari dunia luar dan dari jiwa atau pikiran manusia sendiri. Kedua, golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia inklusif di dalamnya aliran-aliran: (1) Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia adalah gambaran yang baik dan tepat tentang kebenaran. Dalam pengetahuan yang baik tergambar kebenaran seperti sesungguhnya; (2) Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan hanyalah kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kanyataan yang diketahui manusia semuanya terletak di luar dirinya. Sedangkan dalam kaitannya dengan pendidikan Islam karena pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuranukuran Islam, maka epistemologi pendidikan Islam menekankan pada upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan Pendidikan Islam. Jelaslah bahwa aktivitas berfikir dalam epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreatifitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 36 Di sisi lain terdapat problematika terhadap epistemologi Pendidikan islam diantaranya: (1) Pendidikan Islam sering kali dikesankan sebagai pendidikan yang tradisional dan konservatif; (2) Pendidikan Islam terasa kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi suatu dan nilai yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum. D. Hakikat Metodologi Pendidikan Metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berasal dari dua kata, meta dan logos, meta berarti sesudah, sedang logos yang berarti ilmu. Sedangkan metode dalam bahasa Inggris disebut method yang berarti suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan (any prosedure employed to attain acertain end), atau suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari materi tertentu (any knowing tecniques employed in the process of any prosedure, atau juga berarti suatu ilmu yang merumuskan suatu aturan-aturan dari suatu prosedur. Jadi metode adalah suatu cara mempelajari atau memperoleh sesuatu, dalam hal ini adalah suatu cara mempelajari filsafat pendidikan islam. Sehingga mempelajari dan memahaminya dapat lebih mudah, dan sesuai dengan kenyataan atau logis, tidak asal dalam menentukan dan menerapkannya. Menurut filsafat Barat, proses belajar mengajar dalam pendidikan barat semata-mata masalah keduniaan, karena bersifat sekularistik-materialistik. Tanggung jawab belajar mengajar juga semata-mata terfokus pada urusan manusia. Kepentingan belajar mengajar juga hanya untuk memenuhi
37 kepentingan dunia, sekarang dan di sini. Konsep pendidikan Barat pada umumnya bebas nilai (values free). Sedangkan metode filsafat pendidikan Islam dikutip dari buku karya Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag (Guru Besar Flsafat Penddikan Islam IAIN Sunan Ampel) dan Kivah Aha Putra, S. Pd.I (Dosen Universitas Sunan Giri) yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam, memiliki enam metode, yaitu metode spekulatif dan kontemplatif, metode normatif, metode analisis konsep, metode historis, metode deduktif dan metode terpadu. Metode Spekulatif dan Kontemplatif, memiliki arti yang bisa dikatakan sama, yaitu memikirkan dan merenungkan. Merenungkan itu berarti memikirkan sesuatu tanpa ada keharusan kontak langsung dengan objeknya. Metode ini dapat dipakai untuk memikirkan sesuatu yang abstrak, misalnya hakikat hidup untuk Islam, sifat Tuhan, takdir dan lain-lain. Metode ini sangat penting dalam filsafat pendidikan Islam sebab dalam analisisnya sering berhadapan dengan sesuatu yang abstrak dan sulit didekati, kecuali dengan merenung. Metode normatif ini dimaksudkan sebuah metode yang digunakan untuk mencari dan menetapkan nilai, aturan, atau hukum tertentu.dalam filsafat pendidikan Islam, metode ini digunakan untuk mencari nilai, aturan atau hukum yang berkaitan dengan pendidikan islam, sehingga tujuan, proses, bahan, dan semua yang terlibat dalam pendidikan Islam tersebut sesuai dengan nilai, aturan, dan hukum Islm yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam prosesnya metode ini dapat dilakukan dengan ijtihad. Ijtihad yang dimaksud adalah memahami Al-
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 38 Qur’an dan sunnah, dalam kaitannya dengan pendidikan Islam secara maksimal. Metode analisis konsep ini berarti menguraikan sesuatu pengertian yang bersifat tertentu. Dalam menganalisis suatu konsep itu, digunakan alat komunikasi yang bisa disebut dengan bahasa. Dari uraian atau analisis bahasa inilah dapat dipahami suatu konsep yang berkaitan dengan problematika pendidikan Islam. Problematika pendidikan Islam itu misalnya mengenai konsep filosofis tentang fitrah, ikhsan, taqwa, bahagia, manusia sempurna, dan lain sebagainya. Metode historis atau sejarah adalah cara mempelajari filsafat berdasarkan urutan waktu perkembangan pemikiran filsafat yang telah trjadi, setelah kelahirannya sampai sekarang.Metode histori ini berarti juga menggunakan sejarah sebagai cara untuk mengambil pelajaran peristiwa yang sudah terjadi untuk diproyeksikan ke masa depan. Metode deduktif berarti penalaran dari suatu kebenaran umum kesuatu hal yang khusus. Metode ini digunakan dalam filsafat, karena pada dasarnya filsafat itu bersifat rasional-logis dan lebih banyak berangkat dari kebenarankebenaran yang bersifat umum. Metode ini tepat dijadikan alat mencari kebenaran yang abstrak-logis sesuai dengan filsafat pendidikan Islam. Metode terpadu maksudnya memadukan unsur rasionalempiris dengan unsur intuisi. Dalam kaitan ini, ketika menyelesaikan persoalan pendidikan Islam tidak hanya mengandalkan unsur rasional-empiris, tetapi juga mengakui keberadaan intuisi dan menggunakannya sebagai metode pencarian kebenaran.
39 Di sisi lain terdapat problematika terhadap metodologi pendidikan Islam di antaranya: 1. Metodologi pengajaran agama berjalan secara konvensional tradisional yakni menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual yang lebih menekankan yang sudah ada pada kemampuan anak didik untuk menghafal teks-teks keagamaan daripada isu-isu social keagamaan yang dihadapi pada era modern seperti kriminalitas, kesenjangan dan lain-lain. 2. Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner. E. Hakikat Aksiologi Pendidikan Aksiologi berasal dari kata Yunani, axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berari ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai, Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Menurut John Sincliar, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu system seperti politik, sosial dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud. Aksiologi filsafat pendidikan menurut beberapa aliran barat sebagai berikut: 1. Kaum idealis berpendirian bahwa pendidikan dan nilai memiliki hubungan signifikan dengan hakikat dan tujuan hidup manusia yang memang merupakan ide kebaikan tertinggi manusia, sesungguhnya telah ada bersamaan dengan kemunculan dirinya di dunia. Bagi aliran ini, nilai apapun yang ada di dunia ini selalu bersifat tetap dan tidak berubah-ubah, atau absolut,
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 40 Nilai dalam hal ini bukanlah produk manusia tetapi merupakan bahagian dari alam jagad raya, yang eksitensinya mengikuti sifat dan watak natural manusia yang sejati., maka tugas utama para pendidik adalah bagaimana subjek didiknya memiliki kestabilan mental yang dapat memampukan dirinya untuk merealisasikan ide bawaan yang bercirikan moralitas ini dapat terealisasi sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi watak dan tabiatnya di dunia. Mengigat perealisasian nilai-nilai kemanusiaan itu erat kaitannya dengan keseluruhan aktifitas spritual manusia, maka dalam upaya pendidikan dan peralihan nilai, subjek didik mesti diposisikan sebagai makhluk spiritual yang sepenuhnya mesti menyadari bahwa dirinya membutuhkan pengupayaan nilai-nilai kebaikan dalam realitas, agar ia benar-benar menjadi manusia sesuai dengan kelahirannya ke dunia. 2. Kelompok Realis Kelompok realis sependapat dengan kelompok idealis bahwa nilai fundamental adalah permanen, tetapi mereka berbeda pendapat tentang alasan untuk hal seperti itu. 3. Kelompok pragmatis berpendapat nilai itu relative. Nilai bukanlah merupakan atuaran-aturan moral yang bersifat permanen, karena memang ia tampil selalu sesuai dengan perubahan budaya dan pembiasaan dalam masyarakat. Kelompok pragmatis meminta kita untk menguji ketinggian nilai-nilai moral kita seiring kita menguji kebenaran ide-ide kita sehingga kaitannya dengan aksiologi pendidikan Islam, pendidikan Islam itu sarat dengan nilai, yaitu nilai-nilai keislaman. Keislaman yang dimaksud yaitu keislaman yang sempurna, atau kaffah, menjadikan manusia sebagi Insan Kamil, sebagaimana tujuan penciptaan manusia dan dalam
41 pendidikan Islam sangat mengutamakan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman guna mencapai tujuan pendidikan tersebut. Di sisi lain terdapat problematika terhadap aksiologi Pendidikan islam diantaranya: (1) tujuan pendidikan Islam kurang berorientasi pada nilai-nilai kehidupan masa yang akan datang, belum mampu menyiapkan generasi yang sesuai dengan kemajuan zaman; (2) pendidik dan tenaga pendidikannya mulai memudar dengan doktrin awal pendidikan Islam tentang konsep nilai ibadah dan dakwah syiar Islam; dan (3) dikalangan peserta didikpun dalam menuntut ilmu cenderung mengesampingkan nilai-nilai ihsan, kerahmatan dan amanah dalam mengharap ridha allah, kebutuhan masyarakat. F. Kesimpulan Ontologi filsafat Pendidikan islam bermakna analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan islam berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. meliputi: 1. Hakikat pendidikan Islam dan ilmu pendidikan Islam, pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah swt Kepada Muhammad SAW. Sedang Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isinya ilmu adalah teori, penjelasan dan data. 2. Hakikat tujuan pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam tiada lain adalah untuk mewujudkan insan yang berakhlakul karimah yang senantiasa mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 42 3. hakikat manusia sebagai subjek Pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik afektif, kognitif dan psikomotor sedangkan anak didik (peserta didik) adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. 4. Hakikat kurikulum pendidikan Islam, kurikulum hanya sebatas sarana untuk mendidik generasi muda dengan segala potensi yang dimilikinya sehingga mampu memikul tanggungjawab bagi dirinya, keluarga, masyarakat maupun bangsanya Epistemologi pendidikan Islam bermakna upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan Islam. Metodologi Pendidikan Islam bermakna suatu cara mempelajari filsafat pendidikan islam. Sehingga mempelajari dan memahaminya dapat lebih mudah, dan sesuai dengan kenyataan atau logis, tidak asal dalam menentukan dan menerapkannya Metode filsafat pendidikan islam memiliki enam metode, yaitu metode spekulatif dan kontemplatif, metode normatif, metode analisis konsep, metode historis, metode deduktif dan metode terpadu. Aksiologi Pendidikan islam bermakna pendidikan islam itu sarat dengan nilai, yaitu nilai-nilai keislaman. Keislaman yang dimaksud yaitu keislaman yang sempurna, atau kaffah, menjadikan manusia sebagi Insan Kamil, sebagaimana tujuan penciptaan manusia. Dan dalam Pendidikan Islam sangat mengutamakan, dan menjunjung