93 Dari segi praktis, filsafat merupakan aktivitas pikir-murni (reflectivethinking), atau kegiatan akal manusia untuk memahami secara mendalam terhadap segala sesuatu. Selain pemikirannya radikal, juga mesti sistematis, sebab ia menunjukkan daya atau kemampuan pikir yang tinggi dari manusia. Bahkan berfilsafat merupakan daya dan tingkat berfikir manusia yang tertinggi dalam usaha memahami kesemestaan. Sedangkan dari segi teoritis, maka filsafat merupakan produk dari kegiatan berfikir murni di atas. Jadi merupakan suatu wujud “ilmu” sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan berfilsafat itu. Dengan demikian, filsafat dalam pengertian kedua ini merupakan satu bentuk perbendaharaan yang terorganisasi, memiliki sistematika tertentu. Filsafat juga berarti satu bentuk ajaran tentang sesuatu atau tentang segala sesuatu, sebagai satu “ideologi”. 2. Pengertian Filsafat Pendidikan Islam Filsafat Pendidikan Islam berarti suatu aktivitas berpikir secara menyeluruh dan mendalam dalam rangka merumuskan konsep, menyelenggarakan atau mengatasi berbagai problem Pendidikan Islam dengan mengkaji kandungan makna dan nilai dalam Al-Quran dan AlHadis. Filsafat Pendidikan Islam dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Pemikiran-pemikiran yang dijadikan landasan atau asas pendidikan, berdasarkan norma-norma Islam menuju terbentuknya kepribadian Islami. b. Pemikiran-pemikiran yang diperlukan guna memberikan penjelasan-penjelasan untuk membantu merampungkan/ memecahkan berbagai masalah dalam pendidikan Islam.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 94 c. Perenungan-perenungan mengenai apa sesungguhnya pendidikan Islam itu, bagaimana usaha-usaha pendidikan Islam itu dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan norma-norma Islam. Filsafat Pendidikan Islam, seperti halnya Filsafat Pendidikan Umum, juga harus mampu membuat suatu pedoman kepada perancang-perancang dan orangorang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran (al-syaibany, 1973). Dalam rinciannya, Filsafat Pendidikan Islam setidaknya harus mampu memberi manfaat bagi pendidikan Islam berupa: a. Membantu para perancang dan pelaksana pendidikan dalam membentuk pemikiran yang benar terhadap proses pendidikan. b. Memberi dasar bagi pengkajian pendidikan secara umum dan khusus. c. Menjadi dasar penilaian pendidikan secara umum dan khusus. d. Memberi sandaran intelektual, bimbingan bagi pelaksana pendidikan untuk menghadapi tantangan yang muncul dalam bidang pendidikan, sebagai jawaban dari setiap permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan. e. Memberikan pendalaman pemikiran tentang pendidikan dalam hubungannya dengan faktorfaktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik, dan berbagai aspek kehidupan lainnya (alSyaibany,1973). 3. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengenai mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat
95 dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik, logis, dan menyeluruh tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan. Sementara itu Prof. DR. H. Ramayulis menjelaskan bahwa ruang lingkup filsafat pendidikan Islam itu seperti juga ruang lingkup yang terdapat pada filsafat secara umum yang meliputi kosmologi, ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Penjelasannya adalah sebagai berikut; a. Kosmologi merupakan pemikiran yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan lain-lain. b. Ontologi merupakan pemikiran tentang masalah asal kejadian alam semesta dari mana asalnya, bagaimana proses penciptaannya dan ke mana akhirnya. Pemikiran ontologi pada akhirnya akan menentukan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 96 bahwa ada sesuatu yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu bersifat kebendaan (materi) atau bersifat kerohanian (immateri), apakah ia banyak/berbilang atau tunggal/esa. c. Epistimologi merupakan pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran, apakah dari pengalaman indrawi, apakah dari perasaan/ilustrasi, apakah dari Tuhan. d. Aksiologi merupakan pemikiran tentang masalah nilai-nilai, misalnya nilai moral, etika, estetika nilai religius dan sebagainya. Ruang lingkup kajian Filsafat Pendidikan Islam, mengacu kepada aspek yang dianggap mempunyai hubungan dengan pendidikan dalam arti luas. Tidak terbatas pada lingkungan institusi pendidikan formal saja. Lapangan pendidikan di luar sekolah seperti lingkungan rumah tangga, lembaga peribadatan, masyarakat maupun tradisi sosio-kultural juga termasuk dalam kajian Filsafat Pendidikan Islam. Bahkan secara lebih rinci, pendidikan prenatal menjadi kajian khusus alam Filsafat Pendidikan Islam. Dengan demikian ruang lingkup kajian Filsafat Pendidikan Islam boleh dikatakan identik dengan kajian keislaman itu sendiri. Mencakup semua aspek kehidupan manusia secara menyeluruh yang terkait dengan masalah pendidikan. Adapun dalam pendekatan proses, ruang lingkup kajian filsafat pendidikan meliputi rentang kehidupan manusia itu sendiri, yakni dari sejak dilahirkan hingga ke akhir hayatnya. Namun yang jelas kajian ini sama sekali tidak
97 dapat dilepaskan dari status manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Pada dasarnya ruang lingkup kajian Filsafat Pendidikan Islam bertumpu pada pendidikan Islam itu sendiri, baik menyangkut rumusan atau konsep dasar pelaksanaan maupun rumusan pikiran antisipatif mengatasi problematika yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan Islam. 4. Tipologi Pemikiran (Filsafat) Pendidikan Islam Menurut Muhaimin (2012) aliran-aliran pemikiran (filsafat) pendidikan dapat dipetakan ke dalam dua kelompok, yaitu tradisional dan kontemporer. Termasuk dalam kelompok tradisional adalah Perenialism dan Essentialism. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok kontemporer adalah Progressivism, Reconstructionism, dan Existentialism. Dalam lapangan pendidikan, masing-masing aliran tersebut berwujud dalam kemumgkinan-kemungkinan sikap dan pendirian para pendidik, seperti: a. Sikap konservatif, yakni mempertahankan nilai-nilai budaya manusia, sebagai perwujudan dari Essentialism. b. Sikap regresif, yakni kembali kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan (agama), sebagai perwujudan dari Perenialism. c. Sikap bebas dan modifikatif sebagai perwujudan dari Progressivism. d. Sikap radikal rekonstruktif sebagai pewujudan dari Reconstructionism. e. Sikap yang menekankan keterlibatan peserta didik dalam kehidupan empiris untuk mencari pilihan dan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 98 menemukan jati dirinya sebagai perwujudan dari Existentialism. Penjabaran dari masing-masing sikap tersebut dalam pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut : a. Essentialism menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Nilai-nilai ini yang hendaknya sampai kepada manusia melalui sivilisasi dan yang telah teruji oleh waktu. Tugas pendidikan adalah sebagai pelantara atau pembawa nilai-nilai yang ada dalam gudang di luar ke dalam jiwa peserta didik, sehingga ia perlu dilatih agar mempunyai kemampuan absorbs (penyerapan) yang tinggi; b. Perenialism menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan, karena ia telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional; c. Progressivism menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif, tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang teru menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang intelligent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembli sesuai dengan tuntutan dari lingkungan; d. Reconstructionism menghendaki agar peserta didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan
99 teknologi, sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas: dan e. Existentialism menghendaki agar pendidikan selalu melibatkan peserta didik dalam mencari pilihanpilihan untuk memenuhi kebutuhannya masingmasing dan menemukan jati dirinya, karena masingmasing individu adalah makhluk yang unik dan bertanggung jawab atas diri dan nasibnya sendiri. Pengembangan pemikiran (filosofis) pendidikan Islam dapat dicermati dari pola pemikiran Islam yang berkembang di belahan dunia Islam pada periode modern ini, terutama dalam menjawab tantangan dan perubahan zaman serta era modernitas. Menurut Abdullah (1996) ada empat model pemikiran keislaman, yaitu: a. Model Tekstualis Salafi Model ini memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Quran dan AlHadits dengan melepaskan diri dari dan kurang mempertimbangkan situasi konkret dinamika pergumulan masyarakat muslim (era klasik maupun kontemporer) yang mengitarinya. Masyarakat ideal adalah masyarakat salaf, yakni struktur masyarakat pada era Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Rujukan utama pemikirannya adalah kitab suci Al-Quran dan kitab-kitab hadis, tanpa menggunakan pendekatan keilmuan yang lain. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa model tekstualis salafi sangat mementingkan dalil naqli (Al-Quran dan Al-Hadis). Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa model tekstualis salafi berusaha menjadikan nash (ayat-ayat Al-
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 100 Quran dan Al-Hadits) dengan tanpa menggunakan pendekatan keilmuan lain, dan menjadikan masyarakat salaf sebagai parameter untuk menjawab tantangan dan perubahan zaman serta era modernitas. Hal ini menunjukkan bahwa model tekstualis salafi lebih bersikap regresif dan konservatif. Dalam konteks filsafat pendidikan, terdapat dua tipologi yang lebih dekat dengan model tekstualis salafi, yaitu perenialism dan essensialism, terutama dilihat dari wataknya yang regresif dan konservatif. Hanya saja perenialism menghendaki agar kembali kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan, sedangkan model tekstualis salafi menghendaki agar kembali ke masyarakat salaf (era Nabi dan sahabat). Namun, pada intinya keduanya lebih berwatak regresif. Adapun essensialism menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan, dan nilai-nilai ini hendaklah yang sampai kepada manusia melalui sivilisasi dan yang telah teruji oleh waktu. Model tekstualis salafi juga beranggapan bahwa nilai-nilai kehidupan pada masyarakat salaf perlu dijunjung tinggi dan dilestarikan keberadaannya hingga sekarang, baik nilai-nilai insaniyah maupun nilai-nilai Ilahiyah, karena masyarakat salaf dipandang sebagai masyarakat ideal. Karena itu, keduanya juga berwatak konsevatif, dalam arti sama-sama hendak mempertahankan nilai, kebiasaan dan tradisi masyarakat terdahulu. Dalam konteks filsafat pendidikan Islam, model tekstualis salafi tersebut selain menyajikan secara manquli, yakni memahami atau menafsirkan nash-nash tentang pendidikan dengan nash yang lain, atau dengan
101 menukil dari pendapat sahabat, juga berusaha membangun konsep pendidikan Islam melalui kajian tekstual-lughawi atau berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab dalam memahami nash Al-Quran, Al-Hadits dan perkataan sahabat, serta memperhatikan praktik pendidikan masyarakat islam sebagaimana yang terjadi pada era salaf, untuk selanjutnya berusaha mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai dan praktik pendidikan tersebut hingga sekarang. Dalam bangunan pemikiran filsafat pendidikan Islam, model ini dapat dikategorikan sebagai tipelogi perenialtekstualis salafi dan sekaligus esensial-tekstualis salafi. Parameter dari perenial-tekstualis salafi adalah watak regresifnya yang ingin kembali ke masa salaf sebagai masyarakat ideal yang dipahaminya secara tekstual. Sedangkan parameter esensial-tekstualis salafi adalah watak konservatifnya untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai Ilahiyah dan insaniyah yang di praktikan pada masa salaf, yang juga dipahami secara tekstual tanpa adanya verifikasi dan kontekstualisasi. Untuk menyerdehanakan istilah dari kedua model tersebut, dalam kajian ini digunakan istilah perenialesensialis salafi. b. Model Tradisionalis mazhabi Model ini memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan AlHadits melalui bantuan khazanah pemikiran Islam klasik, tapi sering kali kurang begitu mempertimbangkan situasi sosio-historis masyarakat setempat. Hasil pemikiran ulama terdahulu dianggap sudah pasti atau absolut tanpa mempertimbangkan dimensi historisitasnya. Masyarakat Muslim yang diidealkan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 102 adalah masyarakat Muslim era klasik, di masa semua persoalan keagamaan dianggap telah dikupas habis oleh para ulama atau cendekiawan muslim terdahulu. Pola pikirnya selalu bertumpu pada hasil ijtihad ulama terdahulu dalam menyelesaikan persoalan ketuhanan, kemanusiaan dan kemasyarakatan pada umumnya. Kitab kuning menjadi rujukan pokok, dan sulit untuk keluar dari madzhab atau pemikiran keislaman yang terbentuk beberapa abad yang lalu. Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa model tradisionalis-mazhabi lebih menonjolkan wataknya yang tradisional dan mazhabi. Watak tradisionalnya diwujudkan dalam bentuk sikap dan cara berfikir serta bertindak dan selalu berpegang teguh pada nilai, norma, dan adat kebiasaan serta pola-pola pikir yang ada secara turun temurun dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi sosio historis masyarakat yang sudah mengalami perubahan dan perkembangan sebagai akibat dari kemajauan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan watak mazhabi-nya diwujudkan dalam bentuk kecenderungannya untuk mengikuti aliran, pemahaman atau doktrin, serta pola-pola pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah relatif mapan. Karena wataknya yang tradisional dan mazhabi tersebut, maka dalam pengembangan filsafat pendidikan ia lebih menekankan pada pemberian syarh (penjelasan dari substansi materi-materi pemikiran para pendahulunya) serta hasyiyah (catatan kaki, catatan pinggir atau komentar) terhadap materi-materi pemikiran para pendahulunya yang menjadi sumber acuannya, dan kurang ada keberanian untuk mengubah substansi materi pemikiran pendahulunya. Pendidikan
103 Islam dengan demikan-lebih berfungsi sebagai upaya mempertahankan dan mewariskan nilai, tradisi dan budaya serta praktik system pendidikan islam terdahulu dari generasi kegenerasi berikutnya tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan konteks perkembangan zaman dan era kontemporer yang dihadapinya. Karena wataknya yang semacam itu sehingga ia juga lebih dekat dengan perenialism dan essensialism, terutama dilihat dari wataknya yang regresif dan konserfatif. Karena itu, dalam konteks kajian ini model ini dikategorikan ke dalam tipologi perenial-esensialis mazhabi. c. Model Modernis Model ini berupaya memahami ajaran-ajaran dan nilainilai mendasar yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadits dengan hanya semata-mata mempertimbangkan kondisi dan tantangan sosio-historis dan kultural yang dihadapi oleh masyarakat muslim kontemporer, tanpa mempertimbangkan muatanmuatan khazanah intelektual muslim era klasik yang terkait dengan persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Model ini tidak sabar dalam menekuni dan mencermati pemikiran Islam klasik, bahkan lebih bersikap potong kompas, yakni ingin langsung memasuki teknologi modern tanpa mempertimbangkan khazanah intelektual muslim dan bangunan budaya masyarakat muslim yang terbentuk berabad-abad. Obsesi pemikirannya adalah pemahaman langsung terhadap nash Al-Quran dan langsung loncat ke peradaban modern. Dalam konteks filsafat pendidikan, terdapat suatu tipologi yang lebih dekat dengan model pemikiran
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 104 modernis tersebut, yaitu progressivism terutama dalam hal wataknya yang menginginkan sikap bebas dan modifikatif. Progressivism menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif. Tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang intelligent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Karena wataknya yang semacam itu, sehingga ia tidak berkepentingan untuk merujuk pada pemikiran– pemikiran dan praktik sistem pendidikan dari para pendahulunya, sebab ia hanya dianggap relevan dalam konteks sosio-historis dan kultularnya sendiri. Justru ia dianggap sudah ketinggalan zaman dan kurang relevan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dan perubahanperubahan sosial yang terjadi pada era sekarang. Dalam konteks filsafat pendidikan islam, sikap bebas dan modikatif tersebut bukan berarti kebebasan mutlak tanpa adanya keterikatan. Menjadi modernis memang berarti progresif dan dinamis. Hanya saja kemodernan itu bersifat relatif, terikat oleh ruang dan waktu, yang modern secara mutlak hanyalah Tuhan pencipta seluruh alam. Kemodernan dengan demikian berada dalam suatu proses penemuan kebenaran-kebenaran yang relatif menuju kepada kebenaran yang mutlak, yaitu Allah. Dengan keadaan kerelatifan kemanusiaan, maka seseorang akan bersedia dengan lapang dada menerima dan mendengarkan suatu kebenaran dari orang lain, sehingga terjadi proses kemajuan yang terus menerus dari kehidapan manusia.
105 Dalam praktiknya produk pemikiran (filsafat) pendidikan Islam semacam itu kadng-kadang terjebak pada pandangan yang dikotomis, yang memilahkan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Pendidikan agama di orientasikan pada pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang bermuara pada persoalan aqidah, syariah, dan akhlak, atau iman, Islam dan ihsan, dalam rangka membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa. Sementara pendidikan umum diorientasikan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya dan seni modern, yang kadang – kadang kurang diwarnai oleh jiwa dan nilai ajaran agama yang absolute, bahkan pendidikan agama ikut terjebak pada orientasi penguasaan ilmu pengetahuan agama (aspek kognitif) semata dan kurang hirau terhadap aspek efektif dari agama, sehingga menimbulkan sikap split of personality (kepribadian yang membelah). d. Model Neo-Modernis Model Neo-Modernis berupaya memahami ajaranajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung alam Al-Quran dan Al-Hadits dengan mengikutsertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahankemudahan yang ditawarkan oleh dunia teknologi modern. Jadi, model ini selalu mempertimbangkan AlQuran dan Al-Hadits, khazanah pemikiran Islam klasik, serta pendekatan-pendekatan keilmuan yang muncul pada abad ke-19 dan 20 M. Jargon yang yang sering dikumandangkan adalah “al-muhafazah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhzu bi al-jadid al-aslah”, yakni
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 106 memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih baik. Kata al-muhafazah ‘ala al-qadim al-salih, menggaris bawahi adanya unsur perenialism dan essensialism, yakni sikap regresif dan konservatif terhadap nilai-nilai ilahi dan nilai-nilai insani (budaya manusia) yang telah ada yang telah dibangun serta dikembangkan oleh para pemikir dan masyarakat terdahulu. Namun, sikap-sikap tersebut muncul setelah dilakukan kontekstualisasi, dalam arti mendudukan khazanah intelektual muslim klasik dalam konteksnya. Pemikiran-pemikiran mereka bukan berarti terlepas dari kritik atau undebatable (tidak bisa diperdebatkan atau dikritisi) terutama dalam konteks keberlakuannya pada masa sekarang. Kata al-akhzubi al-jadid al-aslah ini menunjukan adanya sikap dinamis dan progresif serta sikap rekonstruktif walaupun tidak bersifat radikal. Karena itu dalam konteks filsafat pendidikan Islam ia dapat dikategorikan sebagai tipologi perennial-esensialis kontekstualfalsifikatif. Dengan demikian, jargon yang dikumandangkan oleh tipologi tersebut menggarisbawahi perlunya para pemikir, pemerhati, dan pengembang pendidikan Islam untuk mendudukan pemikiran dan pengembangan pendidikan yang dilakukan pada era Nabi dan para shahabat serta oleh para ulama terdahulu (pasca salafi) sebagai pengalaman mereka dan dalam konteks ruang dan zamannya. Untuk selanjutnya pengalaman tersebut perlu dilakukan uji falsifikasi, agar ditemukan relevan/ tidaknya dengan konteks sekarang dan yang akan datang.
107 Hal-hal yang dipandang relevan akan dilestarikan, sebaliknya yang kurang relevan akan dicarikan alternatif lainnya atau dilakukan rekonstruksi tertentu dalam konteks pendidikan masyarakat muslim kontemporer. e. Model Rekonstruksi Sosial Menurut Muhadjir (2000) model rekonstruksi sosial dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam lebih bersifat proaktif dan antisipatif. Dikatakan proaktif, karena ia berusaha untuk mencari jawaban dan sekaligus memperkirakan perkembangan ke depan atas situasi dan kondisi serta permasalahan yang ada. Dikatakan antisipatif, karena ia berusaha untuk mengondisikan situasi, kondisi dan faktor menjadi lebih ideal, sehingga permasalahan yang ada akan dipecahkan ke perubahan yang lebih ideal. Tugas pendidikan adalah membantu peserta didik agar menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya melalui upaya amar ma’ruf nahi munkar. Model ini dinamakan rekonstruksi sosial yang berlandaskan tauhid. Dengan berlandaskan pada QS. Ali Imran/3 : 104 dan QS Al-Hasyr/59:18. Kontruksi filosofis dari tipologi rekontruksi sosial adalah sebagai berikut: 1) Secara ontologis, realitas bangsa Indonesia adalah pluralistik, yang sangat rentan terhadap timbulnya konflik-konflik, bahkan di dalam tubuh masyarakat islam sendiri terdapat keragaman internal. Dengan bertekad untuk berbhineka tunggal ika, maka moral hidup ditampilkan dalam bentuk sikap keterbukaan, toleransi dan demokratis, mampu membuat overlapping concencus antar etnis, ras dan antar agama, serta berusaha melakukan penggalian secara
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 108 berkelanjutan terhadap nilai-nilai agama yang universal sebagai factor integrative. Di sisi lain, realitas bangsa Indonesia berhadapan dengan kemajuan iptek, era globalisasi, serta percepatan arus perubahan social. Suasana tersebut menuntut terwujudnya sumber daya manusia yang unggul, baik dalam aspek intelektual, profesionalitas, maupun moral dan spiritual. 2) Secara epistemologis, akal-budi manusia perlu ditumbuh kembangkan secara berkelanjutan dalam proses pendidikan Islam, baik melalui tarbiyah, ta’lim, irsyad, tadris, dan ta’dib maupun taqarrub, agar semakin bersikap rasional-kritis, kreatif, mandiri, bebas dan terbuka, bersikap rasional-empiris, objektif-empiris, objektif-matematis, dengan tetap memiliki komitmen terhadap nilai-nilai amanah dan tanggung jawab individu dan sosial. Sikap solidaritas terhadap sesama serta terhadap makhluk lainnya dan mampu mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya dihadapan Tuhannya. 3) Secara aksiologis, perlu diakui adanya keragaman tata nilai antar agama dan mungkin juga antar etnis. Dalam konteks kehidupan nasional dan juga global, tumpang tindihnya kesepakatan tata nilai mesti terjadi, tetapi perlu didikan untuk mengaktualisasikan hak dan kewajiban asasi manusia, dengan bertolak dari satu keyakinan universal dan adil bahwa yang baik akan memperoleh pahala dan yang jahat akan memperoleh siksa tuhan. Dari kelima tipologi tersebut di atas, dapat ditegaskan bahwa pada masing-masing tipologi terdapat titik temu dalam aspek rujukan utama mereka kepada fakta-fakta,
109 informasi, pengetahuan, serta ide-ide dan nilai-nilai esensial yang tertuang dan terkandung dalam al-Quran dan al-sunnah. Perbedaan dari masing-masing tipologi tersebut terletak pada tekanannya dalam pengembangan wawasan kependidikan Islam dari rujukan utama tersebut. Tipologi perenial-esensialis salafi lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam era salaf, sehingga pendidikan islam berfungsi sebagai upaya melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai (ilahiyah dan insaniyah), kebiasaan dan tradisi masyarakat salaf (era kenabian dan sahabat), karena mereka dipandang sebagai masyarakat yang ideal. Tipologi perenial-esensialis mazhabi lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam yang tradisional dan berkecenderungan untuk mengikuti aliran, pemahaman atau doktrin, serta pola-pola pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah relatif mapan, pendidikan Islam berfungsi untuk melestarikan dan mempertahankannya serta mengembangkannya melalui upaya-upaya pemberian syarh dan hasyiyah, serta kurang ada keberanian untuk mengubah substansi materi pemikiran pendahulunya. Dengan kata lain, pendidikan Islam lebih berfungs sebagai upaya mempertahankan dan mewariskan nilai, tradisi dan budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan konteks perkembangan zaman dan era kontemporer yang dihadapinya. Tipologi modernis lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam yang bebas modifikatif, progresif dan dinamis dalam menghadapi dan merespon tuntutan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 110 dan kebutuhan dari lingkunganya, sehingga pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar dapat berbuat sesuatu yang intelligent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tntutan dan kebutuhan dari lingkungan pada masa sekarang. Tipologi perennial-esensial kontekstual-falsifikatif mengambil jalan tengah antara kembali ke masa lalu dengan jalan melakukan kontekstualisasi serta uji falsifikasi dan mengembangkan wawasan-wawasan kependidikan Islam masa sekarang selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada. Fungsi pendidikan Islam adalah sebagai upaya mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai (Ilahiyah dan insaniyah) dan sekaligus menumbuh kembangkannya dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada. Tipologi rekonstruksi sosial lebih menonjolkan sikap proaktif dan antsipatifnya, sehingga tugas pendidikan adalah membantu agar manusia menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, maka fungsi pendidikan islam adalah sebagai upaya menumbuhkan kreativitas peserta didik, memperkaya khazanah budaya manusia, memperkaya isi nilai-nilai insani dan Ilahi, serta menyiapkan tenaga kerja produktif.
111 D. Implikasi Tipologi Pemikiran (Filsafat) Pendidikan Islam Terhadap Pendidikan Agama Islam Multikultural Bertolak dari tipologi-tipologi filsafat pendidikan Islam tersebut di atas, maka implikasinya dalam Pendidikan Islam adalah dapat dilihat dalam komponen-komponen yang meliputi tujuan, isi, pola belajar mengajar atau strategi pembelajaran dan evaluasinya, dengan menggunakan sudut pandang tipologi di atas. Tipologi Perenial-Esensialis Salafi, pada tipologi ini, pengembangan kurikulum pendidikan Islam ditekankan pada doktrin-doktrin agama, kitab-kitab besar, kembali kepada hal-hal yang utama (dasar) dan esensial, serta mata pelajaran kognitif sebagaimana yang ada pada masa salaf. Tujuan utama pendidikan menurut perenialisme adalah untuk membantu siswa dalam memperoleh dan merealisasikan kebenaran abadi. Kebenaran itu bersifat universal dan konstan, maka jalan untuk mencapainya adalah melatih intelek dan disiplin mental. Tujuan pendidikan tersebut terurai dalam format kurikulum yang berpusat pada materi (content based subject-centered) dan mengutamakan disiplin ilmu sastra, matematika, bahasa, humaniora, sejarah dan lain-lain. Tipologi Perenial-Esensialis Mazhabi, pengembangan kurikulum pendidikan Islam ditekankan pada doktrin dan nilai-nilai agama sebagaimana tertuang dan terkandung dalam kitab-kitab karya ulama terdahulu yang berisi halhal yang utama (dasar) dan esensial, serta mata pelajaranmata pelajaran kognitif sebagaimana yang ada pada masa pasca salaf.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 112 Penguasaan terhadap materi kurikulum ini dianggap sebagai fondasi yang esensial bagi keutuhan pendidikan secara umum untuk memenuhi kebutuhan hidup. Asumsinya adalah bahwa dengan pendidikan yang ketat terhadap disiplin ilmu ini akan dapat membantu mengembangkan intelektualitas siswa, dan padasaat yang sama akan menjadikannya sadar terhadap lingkungan dunia fisiknya. Tipologi Modernis, pengembangan kurikulum pendidikan Islam ditekankan pada penggalian problem-problem yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya atau yang dialami oleh peserta didik, untuk selanjutnya ia dilatih atau diberi pengalaman untuk memecahkannya dalam perspektif ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar mampu mengadakan penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan pada masa sekarang. Aliran modernis menghendaki sikap terbuka dalam menerima dan mendengarkan pemikiran dan teori pendidikan orang lain, termasuk melakukan transformasi, mengakomodasi, bahkan mengadopsi pemikiran, temuan-temuan iptek, serta sistem pendidikan modern dari non Muslim Tipologi Neo-Modernis, pengembangan kurikulum pendidikan Islam disamping ditekankan pada pelestarian doktrin dan nilai-nilai agama yang dipandang mapan sebagaimana terkandung dalam kitab-kitab terdahulu yang berisi hal-hal yang utama (dasar) dan esensial, serta mata pelajaran kognitif sebagaimana yang ada pada masa salaf dan pasca salaf, juga ditekankan pada penggalian problemproblem yang tumbuh dan berkembang dilingkungannya atau yang dialami oleh peserta didik, untuk selanjutnya ia
113 dilatih atau diberi pengalaman untuk memecahkannya secara kritis dalam perspektif ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Tipologi Rekonstruksi Sosial, pengembangan kurikulum pendidikan Islam lebih menekankan pemusatan perhatian pada masalah-masalah sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat dan mengharapkan agar peserta didik dapat memecahkan masalah-masalah tersebut melalui pengetahuan dan konsep-konsep yang telah diketahui. Dengan dilandasi pandangan aliran interaksional, kurikulum rekonstruksi sosial mengharapkan peserta didik dapat berinteraksi, bekerja sama dengan peserta didik lainnya maupun sumber-sumber belajar yang tersedia untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik. Untuk itu, fungsi pendidikan Islam adalah upaya menumbuhkan kreatifitas peserta didik, memperkaya khazanah budaya manusia, memperkaya isi nilai-nilai insani dan illahi, serta menyiapkan tenaga kerja produktif. Dari uraian di atas bahwa pendidikan adalah media yang paling efektif dalam memberikan pendidikan multikultural karena dimulai sedini mungkin yakni mulai dari jenjang TK sampai perguruan tinggi. Pemikiran umat Islam secara ekslusif ketika berbicara teologi atau akidah dan ibadah sedangkan pemikiran inklusif ketika berpikir tentang pendidikan dan kenegaraan. Dengan demikian pendidikan nilai-nilai multikultural akan bisa bersanding dengan harmonis dalam konteks keagamaan dan kenegaraan. Lebih lanjut dalam perkembangannya unsur politik secara tersurat maupun tersirat akan mempengaruhi dalam kebebasan berpikir dalam Pendidikan nilai-nilai multikultural.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 114 E. PENUTUP Dari uraian di atas, kesimpulan yang dapat diambil bahwa: Tipologi pemikiran filsafat ada 2 macam yaitu tradisional dan kontemporer. Termasuk dalam kelompok tradisional adalah Perenialism dan Essentialism. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok kontemporer adalah Progressivism, Reconstructionism, dan Existentialism. Pendidikan multikultural dalam perspektif filsafat Islam adalah konsep berpikir tentang kependidikan dengan menerima kemajemukan. bersumber atau berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan, serta dibimbing menjadi manusia Muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam Implikasi tipologi-tipologi filsafat pendidikan Islam tersebut dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam di era kontemporer, setidaknya terdapat tiga hal, yaitu: pengembangan pendidikan Islam perlu ditekankan pada doktrin dan nilai-nilai agama sebagaimana terkandung di dalam al-Quran dan assunnah, dan dalam kitab-kitab karya ulama terdahulu yang berisi hal-hal yang utama (dasar) dan esensial; pendidikan Islam ditekankan pada penggalian problemproblem yang berkembang di lingkungan yang dialami oleh peserta didik, untuk selanjutnya ia dilatih atau diberi pengalaman untuk memecahkannya dalam perspektif ajaran dan nilai-nilai agama Islam; dan pendidikan Islam perlu menekankan perhatian pada masalah-masalah sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat dan melatih peserta didik dapat memecahkan
115 masalah-masalah tersebut melalui pengetahuan dan konsep-konsep yang telah diketahui. Sehingga dengan demikian, pendidikan Islam dapat berperan memperkaya isi nilai-nilai insani dan Ilahi, menumbuhkan kreatifitas peserta didik, memperkaya khazanah budaya manusia, serta menyiapkan tenaga kerja produktif. F. REFERENSI Abdullah, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1995 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007) Assegaf, Abd. Rachman, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbsis Integratif-Interkonektif (Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada, 2011). Baidhawy, Zakiyuddin, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta, Erlangga, 2005. Muhadjir, Filsafat Ilmu Pendidikan Mengembangkan Wawasan Antisipasi Masa Depan, Makalah, Disajikan Pada Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia. Jakarta: 19-22 September 2000 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta, Rajagrafindo Persada, 2012 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004).
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 116
117 BAB VI ISU-ISU FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN BARAT Rifqi Sujahilman, M.Pd Azmi Maulidy, M.Pd Hasan Muniri, M.Pd A. Latar Belakang Masalah Mukti Ali menyebutkan ada tiga elemen yang harus diketahui dalam Islam yaitu masalah Tuhan, masalah manusia dan masalah alam. Ketiga masalah ini adalah masalah pokok yang dibahas dalam Islam dan agamaagama lain. Hubungan antara ketiga masalah ini adalah merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, hingga
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 118 sekarang ketiga persoalan besar ini senantiasa dikaji oleh pikiran-pikiran orang modern. Ada yang mencoba mengkaji ketiganya dengan perspektif saintis dan ada yang melihatnya dari kacamata filiosofis, ada pula yang meninjauanya dari perspektif agama. Dilihat dari perspektif sejarah kemanusiaan, hampir semua umat manusia memiliki kepercayaan akan adanya Tuhan yang mengatur alamini. Orang-orang Yunani Kuno dengan paham politeismenya meyakini bintang adalah Tuhan (dewa), Venus adalah tuhan (dewa) kencantikan, Mars adalah dewa peperangan, Minerva adalah adalah dewa kekayaan, sedangkan tuhan tertingginya adalah Apollo atau dewa Matahari. Orang-orang Hindu masa lampau juga mempunyai banyak dewa yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Orang-orang Mesir juga tidak terkecuali, mereka meyakini adanya Dewa Iziz, Dewa Oziris, dan yang tertinggi adalah Dewa ‘Ra’. Masyarakat Persis percaya adanya Tuhan gelap dan Tuhan Terang. Pengaruh keyakinan ini terus merambah dalam masyarakat Arab, yang walaupun ketika mereka ditanya tentang penguasa dan pencipta langit dan bumi mereka menjawab “Allah”, tetapi pada saat yang sama mereka juga menyembah berhala-berhala seperti Al-Lata, Al-„Uzza,dan Manata, tiga berhala terbesar mereka disamping ratusan berhala lainnya. Menurut Quraish Shihab, Islam datang dan lahir untuk meluruskan keyakinan- keyakinan tersebut, dengan membawa ajaran Tauhid atau dalam bahasa Ashgar Ali Engineer, kedatangan Islam merupakan sebuah revolusi sejarah kehidupan manusia. Karena ajaran tauhid yang dibawa, Islam sering disebut sebagai agama monoteisme (paham satu Tuhan). Monoteisme Islam menitik beratkan
119 pada Zat Tuhan yang murni keesaannya. Keesaan Tuhan dalam Islam tidak berarti genus, karena genus adalah kumpulan benda-benda, juga tidak berarti spesies, karena spesies adalah bagian dari benda. Keesaan Tuhan tidak tersusun dari materi dan bentuk, sebab yang tersusun dari materi dan bentuk adalah benda. Tuhan dalam Islam adalah yang benar pertama dan yang benar tunggal. Hanya Dialah yang satu, selain Dia mengandung arti banyak. Dalam pandangan filsafat pendidikan Islam, ada hakikathakitat yang menjadi esensi pemikirannya, di antaranya adalah hakikat Tuhan, hakikat pertama adalah Tuhan atau yang disebut Causa Prima, dan berakhir atau kembali kepada Tuhan pula. Kemudian manusia merupakan pengelola ciptaan Tuhan, sedangkan alam sebagai sarana manusia berbuat, ketiganya memiki peran yang berhubungan antara satu dan yang lainnya. Kemampuan manusia untuk mengelola alam dan menerjemahkan wahyu Tuhan adalah wujud dan sikap yang harmonis. Sebaliknya kemampuan manusia mengelola alam namun tidak mampu menerjemahkan wahyu Tuhan dianggap sebagai bentuk penyimpangan, karena manusia mengabaikan ciptaanNya. Di sisi lain kemampuan manusia menerjemahkan wahyu Tuhan tetapi tidak mampu menerjemahkan alam dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap fasilitas yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan. Sehingga diperlukan pemahaman komplit antara ketiganya. Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh manusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Dalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 120 antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Di mana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya. Maka dalam makalah ini akan membahas tentang isu-isu filsafat pendidikan barat dan Islam meliputi, Tuhan, Manusia dan Alam. B. Pembahasan 1. Tuhan dalam perspektif filsafat pendidikan Islam dan Barat a) Tuhan dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam Secara asasi, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk beragama untuk percaya adanya Tuhan, meskipun dengan sebutan yang berbeda. Kalangan filsuf ada yang menyebutnya Penggerak Pertama, Pencipta Alam atau Akal pertama. Agama lain ada yang menyebut Yahwe. Tuhan yang diperkenalkan Al-Qur‟an menjelaskan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan dan. Hal ini merupakan fitrah manusia sejak asal kejadiannya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Rum ayat 30 dan Al-A’raf ayat 172. Fitrah ini dimiliki setiap manusia yang dibawa olehnya sejak kelahiran. Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah. Ia disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari 2500 kali, di luar penyebutan tentang subtansi-Nya seperti alRabb atau al-Rahman. Al-Jurjani dalam kitab alTa’rifat mendefinisaikan kata “Allah” sebagai nama yang merujuk kepada Tuhan yang sebenarnya (alIlah al-haqq), yang merupakan kumpulan makna
121 bagi seluruh nama- nama-Nya yang baik (al-asma alhusna). Sementara itu, Toshihiko Izutsu secara semantik menjelaskan bahwa “Allah” merupakan kata fokus tertinggi dalam sistem Al- Qur’an. Pandangan Teosentrik Al-Qur’an ini telah membuat konsep tentang Allah menjadi mengusai keseluruhan kandungan Al-Qur’an. Hingga masa nabi Muhammad berdakwah, orang-orang Arab Pagan telah memiliki kepercayaan yang kabur terhadap Allah sebagai Tuhan tertinggi. Pada masa ini kata “Allah” merupakan makna dasar ketuhanan. Kata ini kemudian dibawa masuk oleh sistem Islam sehingga Al-Qur’an menggunakannya sebagai nama Tuhan dalam wahyu Islam. Tuhan dalam konteks ini dipahami sebagai dimensi-dimensi lain. Dia memberikan arti dalam kehidupan kepada setiap sesuatu. Dia serba meliputi. Dia adalah tak terhingga, dan hanya Dialah yang tak terhingga. Menurut Yusuf Musa dalam Al-Qur’an wa al-falsafah, keyakinan kaum muslim kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha mengetahui,Maha Bijaksana, dan Maha lainnya merupakan aqidah Islamiyah tentang ketuhanan. Aqidah ini menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir. Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Alam ini adalah ciptaan_Nya, yang diciptakan dari tidak ada. Selanjutnya dijelaskan Musa bahwa aqidah islamiyah ini apabila dilihat dari sudut filsafat akan menemukan adanya dua wujud, yaitu wujud abadi dan wujud zamani.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 122 Wujud abadi adalah wujud yang Maha Sempurna secara mutlak. Wujud ini ada berkat kekuasaan-Nya. Sifat abadi dalam wujud ini adalah pasti menurut akal. Hanya wujud inilah yang tidak mustahil menurut akal, karena akal akan mengimajinasikan keabadian itu tanpa awal dan tanpa akhir, tanpa bagaimana (kaifa) dan bandingan dengan sesuatu yang lain. Sementara wujud zamani adalah alam ini yang ada secara sementara. Adanya alam terikat oleh zaman. Oleh karenanya zaman bukanla sesuatu yang kekal. Keyakinan bahwa zaman itu abadi merupakan kekacauan berpikir. Sementara itu, Abu Al-„Ainain menambahkan bahwa keimanan kepada Allah merupakan fondasi segala sesuatu. Keimanan ini terkumpul dalam kalimah al-aqidah alIslamiyah yang sering disebut dengan kalimat tauhid, yaitu La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah. Ucapan ini secara esensi mengandung dua keyakinan, uluhiyah dan nubuwwah. Uluhiyah artinya keyakinan hanya Allah satu- satunya Tuhan yang berhak disembah, dan nubuwwah artinya meyakini kebenaran risalah Muhammad. Konsep ketuhanan ini dalam Islam merupakan dasar segala keyakinan yang dijelaskan Al-Qur’an dengan jelas, yang membuat seorang muslim tidak ada alasan untuk tidak mengetahu ini. Pembahasan tentang eksistensi Tuhan secara filosofis sebenarnya menuntut pembuktian yang berdasarkan nalar. Inilah yang menjadi perdebatan kaum filsuf, kaum teolog dan kaum sufi. Menurut Amin Abdullah, perdebatan antar ketiganya dalam tradisi keilmuan Islam begitu sengit sehingga tak jarang
123 terjadi saling mengkafirkan, memurtadkan dan mensekularkan. Perdebatan terjadi karena epistemologi yang digunakan ketiganya berbeda. Dengan mengikuti kerangka ilmu filsafat ilmu Mohammad Abid Al-Jabiri, kaum filosofis menerapkan epistemologi burhani yang bersumber dari akal, kaum ushuliyyin menggunakan epistemologi bayani yang bersumber dari teks, sementara kaum sufi menerapkan epistemologi irfani yang lebih menekankan pada intuisi. Al-Kindi seorang filsuf Arab (w.sekitar 866 M) dengan argumen kebaruan (dalil al-huduts) nya. Ia mengatakan bahwa alam semesta ini betapa pun luasnya adalah terbatas. Karena terbatas, alam tidak mmungkin memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena itu, alam yang terbatas ini tidak mungkin bersifat azali (tidak mempunya awal). Ia mesti memiliki titik awal dalam waktu dan materi yang melekat padanya juga terbatas oleh gerak dan waktu. jika materi, gerak, dan waktu dari alam ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (hudust). Segala sesuatu yang baru bagi Al-Kindi pasti dicipta (muhdats). Kalau alam dicipta maka memunculkan adaya pencipta. Itulah Tuhan sebagai sebab pertama. Dalam kajian filsafat argumen kebaruan Al-Kind disebut dengan argumen kosmologi, yang menggunakan hukum “sebab-akibat”. b) Tuhan dalam perspektif filsafat pendidikan barat Pertanyaan besar dalam kajian filsafat dan metafisika adalah “Apakah Tuhan itu ada?” dan “Bagaimana Tuhan itu berada?”. Dua pertanyaan ini selalu mewabah dan menghinggapi asa pemikiran para
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 124 filosof (dan teolog) sejak masa Yunani kuno sampai saat ini. Sebenarnya pertanyaan dan konsep-konsep utama filsafat seperti ini telah ada ribuan tahun sebelum tercatat secara historis. Sejak puluhan ribu tahun yang lalu manusia telah mengembangkan pengertian tentang Tuhan, dewa-dewa, tentang kehidupan sesudah mati. Semua argumen dari argumen eksistensi Tuhan yang diperkenalkan dan disampaikan oleh para filosof memang tidak dapat membuktikan adanya Tuhan secara fisik, tetapi memperlihatkan bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan dan pada gilirannya membuktikan bahwa Tuhan itu ada menjadi dapat diterima oleh akal. Argumen para filosof menjelaskan mungkinnya relasi manusia dengan Tuhan yang transenden dan memperlihatkan sifat rasional dan universal relasi tersebut. Ini dimungkinkan untuk menjawab serta membuka dialog dengan kelompok yang bersikap indiferen terhadap kepercayaan adanya Tuhan (kaum agnostik), atau bahkan juga dengan kelompok yang menolak Tuhan secara argumentatif (kaum atheis). Refleksi rasional para filosof mengenai eksistensi Tuhan antara lain bermaksud mempertanggungjawabkan penerimaan dan pengakuan adanya Tuhan sebagaimana terdapat dalam ajaran-ajaran agama seperti Islam dan Kristen. Sebab dasar setiap agama adalah paham atau keyakinan tentang Tuhan. Dengan pemahaman ini agama menghubungkan atau menyambungkan kembali manusia pada asal-usul keilahiannya. Dan untuk memantapkan hubungan tersebut sangat
125 penting adanya pandangan yang meyakinkan tentang eksistensi Tuhan. Maka meskipun dengan argumen-argumen pro eksistensi Tuhan, para filosof tidak pernah berusaha dan mampu secara sempurna membuktikan Tuhan seperti ada-Nya dan diimani, namun dengan refleksinya para filosof dapat membantu agama memahami dan mempertanggung jawabkan dasar iman dan kepercayaan manusia. Sejarah mencatat bahwa Plato dan Aristoteles menjadi dua filosof besar yang dianggap sebagai pendiri filsafat yang paling dikenal. Keduanya boleh jadi merupakan inspirator bagi perkembangan filsafat hingga saat ini. Meskipun masa sebelum mereka sudah terdapat banyak filosof, yang disebut dengan masa Hellenistik, sekaligus menjadi awal berkembangnya filsafat Barat, yang dimulai kira-kira pada awal abad ke VI sebelum Masehi. Namun, pemikiran filsafat Plato dan Aristoteles lebih “membumi” dibanding para filosof lain semasanya. Plato dan Aristoteles juga merupakan dua filosof yang mencari esensi benda-benda dan apa di balik benda-benda yang merupakan urusan akal. Plato membagi dunia menjadi dua; (Pertama) “Dunia Menjadi” (World of Becoming), yang selalu berubah dan tidak permanen, (Kedua) “Dunia Ada” (World of Being), merupakan dunia ideal yang dihuni oleh “Bentuk-bentuk” ideal yang bersifat abadi dan tidak berubah. Plato pula yang pertama menggunakan istilah theologia, yang telah sampai ke penggunaan modern sebagai teologi. Konsep utama Plato tentang eksistensi Tuhan yaitu forma dari Yang Baik, forma
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 126 tertinggi di dunia forma telah diidentikkannya dengan Tuhan. Demikian pula Aristoteles, ia memajukan konsep tentang Tuhan sebagai “Penggerak Pertama”. Tuhan adalah penggerak yang tidak bergerak, dan dengan argumen teleologis, Aristoteles menjelaskan bahwa Tuhan adalah tujuan akhir dari kosmos ini, Ia satusatunya bentuk yang berada dalam diri-Nya sendiri dan terpisah dari bahan, Ia yang menjaga planetplanet dan bintang-bintang tetap pada jalurnya, yang mempertahankan kelangsungan hidup di alam semesta. Tuhan itu abadi dan lengkap dalam DiriNya sendiri. Dia seluruhnya adalah aktualitas, tujuan akhir, cita-cita dan tujuan dari semua benda yang bergerak dan mencoba mewujudkan potensinya. 2. Manusia dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam dan Barat a) Manusia dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arab yaitu Nasiya yang berarti lupa. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa.] Ini menunjukan bahwa adanya keterkaitan manusia dengan kesadaran dirinya. Al-uns yang berarti jinak atau harmoni dan tampak. Jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Anasa yanusu yang artinya berguncang menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raganya. Ini menunjukkan adanya keterkaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalaran. Dengan penalaran manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya,
127 mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, dan terdorong untuk meminta izin menggunakan sesuatu yang bukan haknya. Pengertian ini menunjukkan bahwa pada manusia terdapat potensi untuk dapat dididik, sehingga ia disebut juga makhluk yang di beri pelajaran (animal educabil). Manusia dalam pengertian insan menunjukan makhluk yang berakal, yang berperan sebagai subyek kebudayaan. Dapat juga dikatakan bahwa manusia sebagai insan menunjukan manusia sebagai makhluk psikis yang mempunyai potensi rohani, seperti fitrah, kalbu, akal. Potensi inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Al-Basyar (mahluk biologis)meupakan bentuk jamak dari kata Basyarah (permukaan kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuh rambut). Manusia merupakan subjek kebudayaan dalam pengertian material sebagai yang tampak dalam aktivitas fisiknya. Penciptaan manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang jelas dan pasti. yaitu misi utama untuk beribadah (az-Zariyat:56),. ُدوِن ُ َۡعب ي ِ ۡل ل َّ ِ َس إ ن ِ ۡۡل ٱ َ ن و َّ ِج ۡ ل ۡق ُت ٱ َ َ َما َخل و Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Misi fungsional sebagai khalifah dan misi oprasional untuk memakmurkan bumi (Hud:61). Allah menyatakan akan menjadikan khalifah di muka
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 128 bumi, secara harfiah kata khalifah berarti wakil/pengganti dengan demikian misi utama manusia di muka bumi ini adalah sebagai wakil Allah. Jika Allah sang pencipta seluruh jagat raya ini maka manusia sebagai khalifah-Nya berkewajiban untuk memakmurkan jagat raya utamanya bumi dan seluruh isinya, serta menjaganya dari kerusakan َََّّلل َما ٱ ْ ُدوإ ُ ۡعب ٱ ِ ۡم قَو َٰ َ قَا َل ي ۚ ٗحا ِ ل َٰ ٱ َخا ُُهۡ َص َ ُوَد ثَم ََلٰ ِ إ َ و ۡ تَۡع س ٱ َ ِض و ۡ ر َ ۡلۡ َن ٱ مِ ُكُ َ ٱن َشأ َ َ غَۡۡيُُهۥۖ ُهو ٍ ََلَٰ ِ ۡن إ ُُك مِ َ ل َُكُۡ َر م ٞب م ِجي ُّ ٞب ِري َ ِ ّب قَ ن ر َّ ِ ۚ إ ۡهِ ي َ ل ِ إ ْ إ ٓ ُو َّ تُوب ُوُه ُثُ ۡ تَ ۡغفِر س ف ِهيَا فَأ Artinya: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). Dengan demikian, jelaslah bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Tuhan, suatu bentuk perilaku yang tulus untuk menghormati ketuhanan. Dalam memuja Tuhan manusia harus berusaha untuk hidup dalam harmoni dan keselarasan dengan semua ciptaan Tuhan, yang secara alami juga melakukan penyembahan kepadaNya.
129 b) Hakikat manusia dalam pandangan filsafat pendidikan barat Manusia adalah keyword yang harus dipahami terlebih dahulu bila kita ingin memahami pendidikan. Untuk itu perlu kiranya melihat secara lebih rinci tentang beberapa pandangan mengenai hakikat manusia: (1) Pandangan Psikoanalitik Dalam pandangan psikoanalitik diyakini bahwa pada hakikatnya manusia digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Hal ini menyebabkan tingkah laku seorang manusia diatur dan dikontrol oleh kekuatan psikologis yang memang ada dalam diri manusia. Terkait hal ini diri manusia tidak memegang kendali atau tidak menentukan atas nasibnya seseorang tapi tingkah laku seseorang itu semata-mata diarahkan untuk mememuaskan kebutuhan dan insting biologisnya. (2)Pandangan Humanistik Para humanis menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan-dorongan dari dalam dirinya untuk mengarahkan dirinya mencapai tujuan yang positif. Mereka menganggap manusia itu rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Hal ini membuat manusia itu terus berubah dan berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sempurna. Manusia dapat pula menjadi anggota kelompok masyarakat dengan tingkah laku yang baik. Mereka juga mengatakan selain adanya dorongan-dorongan tersebut, manusia dalam hidupnya juga digerakkan oleh
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 130 rasa tanggung jawab sosial dan keinginan mendapatkan sesuatu. Dalam hal ini manusia dianggap sebagai makhluk individu dan juga sebagai makhluk sosial. (3)Pandangan Martin Buber Martin Buber mengatakan bahwa pada hakikatnya manusia tidak bisa disebut 'ini' atau 'itu'. Menurutnya manusia adalah sebuah eksistensi atau keberadaan yang memiliki potensi namun dibatasi oleh kesemestaan alam. Namun keterbatasan ini hanya bersifat faktual bukan esensial sehingga apa yang akan dilakukannya tidak dapat diprediksi. Dalam pandangan ini manusia berpotensi utuk menjadi 'baik' atau 'jahat', tergantung kecenderungan mana yang lebih besar dalam diri manusia. Hal ini memungkinkan manusia yang 'baik' kadangkadang juga melakukan 'kesalahan'. (4)Pandangan Behavioristik Pada dasarnya kelompok Behavioristik menganggap manusia sebagai makhluk yang reaktif dan tingkah lakunya dikendalikan oleh faktor-faktor dari luar dirinya, yaitu lingkungannya. Lingkungan merupakan faktor dominan yang mengikat hubungan individu. Hubungan ini diatur oleh hukum-hukum belajar, seperti adanya teori conditioning atau teori pembiasaan dan keteladanan. Mereka juga meyakini bahwa baik dan buruk itu adalah karena pengaruh lingkungan.
131 Dari uraian di atas bisa diambil beberapa kesimpulan yaitu; − Manusia pada dasarnya memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya. − Dalam diri manusia ada fungsi yang bersifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial individu. − Manusia pada hakikatnya dalam proses 'menjadi', dan terus berkembang manusia mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengendalikan dirinya dan mampu menentukan nasibnya sendiri. − Dalam dinamika kehidupan individu selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain, dan membuat dunia menjadi lebih baik. − Manusia merupakan suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan. Namun potensi itu bersifat terbatas. − Manusia adalah makhluk Tuhan, yang yang kemungkinan menjadi 'baik' atau'buruk'. − Lingkungan adalah penentu tingkah laku manusia dan tingkah laku itu merupakan kemampuan yang dipelajari. Beberapa pendapat lain tentang hakikat manusia adalah: (1) Pandangan Mekanistik Dalam pandangan mekanistik semua benda yang ada di dunia ini termasuk makhluk hidup dipandang sebagai sebagai mesin, dan semua
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 132 proses termasuk proses psikologi pada akhirnya dapat diredusir menjadi proses fisik dan kimiawi. Lock dan Hume, berdasarkan asumsi ini memandang manusia sebagai robot yang pasif yang digerakkan oleh daya dari luar dirinya. Menurut penulis pendapat ini seperti menafikan keberadaan potensi diri manusia sehingga manusia hanya bisa diaktivasi oleh kekuatan yang ada dari luar dirinya. (2) Pandangan Organismik Pandangan organismik menganggap manusia sebagai suatu keseluruhan (gestalt), yang lebih dari pada hanya penjumlahan dari bagian-bagian. Dalam pandangan ini dunia dianggap sebagai sistem yang hidup seperti halnya tumbuhan dan binatang. Organismik menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia bersifat aktif, keutuhan yang terorganisasi dan selalu berubah. Manusia menjadi sesuatu karena hasil dari apa yang dilakukannya sendiri, karena hasil mempelajari. Menurut penulis pandangan ini mengakui adanya kemampuan aktualisasi diri manusia melalui pengembangan potensi-potensi yang telah ada pada diri manusia. (3) Pandangan Kontekstual Dalam pandangan kontekstual manusia hanya dapat dipahami dalam konteksnya. Manusia tidak independen, melainkan merupakan bagian dari lingkungannya. Manusia adalah individu yang aktif dan organisme sosial. Untuk bisa memahami manusia maka pandangan ini mengharuskan mengenal perkembangan manusia secara utuh
133 seperti memperhatikan gejala-gejala fisik, psikis, dan juga lingkungannya, serta peristiwa-peristiwa budaya dan historis. 3. Alam dalam Perspektif Filsafat pendidikan Islam dan Barat a. Alam dalam Perspektif Filsafat pendidikan Islam Islam pun mengajarkan bahwa manusia diperintahkan terlebih dahulu untuk mengetahui alam dan seisinya, sebelum mengetahui dan memikirkan penciptanya, anugerah akal bagi manusia merupakan kekuatan terbesar untuk memahami mekanisme kerja alam semesta dan kemudian dipergunakan untuk merekonstruksi asal muasal alam semesta, planet, dan sistem tata surya. Akal manusia dipergunakan untuk memahami dan menginterpretasi fakta-fakta kauniyah dan juga ayatyat Qur’aniyah. Keberadaan akal menjadi kunci untuk memahami posisi alam semesta bagi kehidupan manusia sendiri, jalan untuk mengenal Allah sebagai pencipta dirinya dan juga sebagai pencipta alam semesta. Surah alBaqarah: 164 merupakan salah satu contoh bahwa fenomena pencipta langit (samawati) dan bumi (ardi), fenomena pergantian siang dan malam, fenomena pelayaran di atas lautan, air yang diturunkan dari langit, fungsi air menghidupkan bumi, pengisaran angin dan awan, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akal.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 134 َّنَاِر لَّ ٱ َ ِل و ۡ ي َّ ل ِف ٱ َٰ َ ل ِ ۡخت ٱ َ ِض و ۡ ر َ ۡلۡ ٱ َ ِت و َٰ َ و َٰ َ َّسم ل ِق ٱ ۡ نِِف َخل َّ ِ إ ِري ِِف ِِت ََتۡ َّ ل ٱ ۡۡلِ ُف ۡ ل ٱ َزَل َ ٱن َ و َ َمآ َس و َّا لن ُع ٱ َنَف ا ي َ َ ۡحِرِبم ب ۡ ل ٱ ِِتَا ۡ َۡعَد َمو َض ب ۡ ر َ ۡلۡ ٱ ا ِبهِ َ ۡحي َ ٖء فَأ مآ َّ مِن ءِ آ َ َّسم ل َن ٱ ََُّّلل مِ ٱ َّس َحا ِب ل ٱ َ َٰ ِح و َ ِي لر ِف ٱ تَ ۡ ِۡصي َ ٖة و َّ ث فِهيَا مِن ُكِ َدإٓب َّ َ ب َ و قَ ِ ٖت ل َٰ َ ي ٓ ِض َۡلأ ۡ ر َ ۡلۡ ٱ َ ءِ و آ َ َّسم ل ۡۡيَ ٱ َ خِر ب ُ َس َّ م ۡ ل ُوَن ٱ ل َۡعقِ ي ٖ ۡم و Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Menurut Al-Jurjani terma alam secara bahasa berarti segala hal yang menjadi tanda bagi suatu perkara sehingga dapat dikenali, sedangkan secara terminologi berarti segala sesuatu yang maujud selain Allah, yang dengan ini Allah dapat dikenali baik dari segi nama maupun sifatnyaNya. Segala sesuatu selain Allah itulah alam secara sederhana. Pengertian ini merupakan pengertian teologis, dalam arti berdasarkan yang dikemukakan oleh para teolog Islag Islam. Sementara secara lifofolif, “alam” adalah kumpulan jauhar (substansi) yang tersusun dari
135 materi (maddah) dan bentuk (shurah) dilangit dan di bumi. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, itulah alam berdasarkan rumusan filsafat. Alam dalam pengertian ini merupakan alam semesta atau jagat raya. Pemahaman Astronom untuk mengungkapkan benda-benda langit, fenomena langit dan ruang yang ditempati oleh benda langit, ruang tempat hukumhukum alam yang bekerja dalam ruang dan waktu masih berlaku dinamakan alam semesta Alam semesta dalam Al-Qur’an diungkapkan dengan bahasa langit dan bumi dan semua yang ada antara keduanya. Al-ahqaf: 3 dijelaskan: َح ِق ۡ ل ۡلِبأ َّ ِ إ آ َ َيََّۡنُم َ َما ب َض و ۡ ر َ ۡلۡ ٱ َ ِت و َٰ َ و َٰ َ َّسم ل ۡقنَا ٱ َ َما َخل ُمۡعِرُضوَن ْ ِذُروإ ٱن َعآ ُ ََّ ْ ُوإ َفر َن كَ ََِّّلي ٱ َ ۚ و ٗى َسم م َج ٖل ُّ ٱ َ َ و Artinya: Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang- orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. Setelah langit dan bumi tercipta, Allah menciptakan isi jagat raya ini. Salah satu dari ciptaan Allah yang disempurnakan perwujudannya adalah bumi, yang merupakan lokasi hunian bagi makhluk hidup. Selanjutnya diciptakan pula makhluk-makhluk lain yang akan mengisi bumi dan langit atau ruang yang terdapat di atas bumi. Semua makhluk Allah ini diciptakan secara berkesinambungan tanpa henti.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 136 Maksud dari ungkapan ini adalah bahwa ketika Allah selesai dengan suatu penciptaan, maka kemudian dia melanjutkannya dengan ciptaan lain. Dari sini terdapat dua hal dari aktivitas penciptaan, yaitu keberlanjutan penciptaan dan kronologinya. Penciptaan jagat raya terus berlanjut dan tidak pernah berhenti. Allah sengaja melakukan yang demikian untuk mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan-Nya selalu berkelanjutan. Pada sisi lain, hal seperti ini memberikan informasi bahwa Allah selalu dalam keadaan aktif, dan tidak diam atau menganggur, seperti dugaan sebahagian orang. Dalam surah al-A’raf: 54 dijelaskan َض ِِف ۡ ر َ ۡلۡ ٱ َ ِت و َٰ َ و َٰ َ َّسم ل َق ٱ َ ََِّّلي َخل ََُّّلل ٱ ُ ُُك ٱ َّ ب َ ن ر َّ ِ إ َ َّنَار لَّ َل ٱ ۡ ي َّ ل ُ ۡغِِش ٱ ش ي ِۖ ۡ َعر ۡ ل ََل ٱ َ ٰى عَ ۡ تَو س َّ ٱ ُثُ ٖ ََّّيم ٱ َ َّةِ ت ِ س ِۢ ِت َٰ َ خر َس َّ ُّ ُجوَم ُم لن ٱ َ َ و َر قَم ۡ ل ٱ َ ۡ َس و شم ل َّ ٱ َ يثٗا و ِ ُهۥ َحث ُ ب ُ ۡطل َ ي َِم َۡي ل َٰ َع ۡ ل ب ٱ ُّ َ ََُّّلل ر َك ٱ َ ار َ تَب ٓۗ ُ ۡمر َ ۡلۡ ٱ َ ُق و ۡ َخل ۡ ل َۡل ََلُ ٱ ٱ َ ٓۗٓ ۦ َ ۡمِرهِ ِبأ Artinya:Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
137 Alam diciptakan Allah tidak secara bersamaan. Dalam penciptaan, terjadi proses yang menunjukkan bahwa ada yang lebih dahulu dicipta dan ada yang belakangan. Semua itu menunjukkan adanya kronologi dari penciptaan. Dalam surah anNaziat:27-33 menjelaskan sebagai berikut ٰهَا َنَى ب ۚ ُ ء آ َ َّسم ل ٱ ِ ٱم قًا َ ۡ د َخل ُّ ٱ َش َ ٱنُُتۡ َ َ ء ٢٧ٰٰ ىَا َّ َسو َكهَا فَ َع ََسۡ فَ َ ر َۡعَد َۡلۡرَض ب َُضٰٰىَا ٢٩ۡ ٱ ۡخَرَج ُ َ َو هَا َ يل ۡ َ ٱ ۡغَطَش ل َ ٢٨َ و ٱ َ و ٰهَآ ِ َِل َد َحى َعٰٰىَا َذ ٣٠َٰ ۡ َ َمر َها و َ ء َّۡنَا َمآ ٱ ۡخر ٣١َ َ ج مِ َ ٰٰىَا َ ۡس ٱر ا َل َ َ ِجب ۡ ل ٱ ِمُُك و ٣٢َ َٰ َع ِ َۡلنۡ َ َّ ُ ُۡك و َمتَ ٣٣ٗ َٰ عا ل Artinya: Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah Telah membinanya, ia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuhtumbuhannya.Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Kronologi penciptaan ini diawali dengan diwujudkannya langit dalam dua masa dan bumi dalam dua masa pula. Selanjutnya Allah meninggikan bangunan atau langit yang telah diciptakan dan melengkapinya dengan beragam benda-benda angkasa seperti planet-planet, bintang-bintang dan
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 138 lain-lainnya. Kemudian Allah menetapkan ketentuanketentuan yang mengatur benda-benda angkasa itu, sehingga tetap di tempatnya dan tidak berjatuhan, walau semuanya bergerak pada poros dan garis edarnya. Sesudah menciptakan benda-benda langit seperti matahari, Allah menciptakan malam yang gelap gulita, siang yang terang benderang, pergantian keduanya secara berkelanjutan, pergantian musim dan lain sebagainya akibat dari peredaran bendabenda angkasa itu. Mengatur dan memelihara peredaran planet-planet ini merupakan pekerjaan yang luar biasa. Allah yang telah menetapkan dan mengatur ini semua. Sungguh luar biasa, Maha pemelihara, Maha perkasa, Maha mengatur segala hal yang ada di alam raya. Kemudian Allah menghamparkan bumi agar terasa nyaman sebagai tempat tinggal senua makhluk yang telah diciptakan. b. Hakikat alam dalam pandangan filsafat pendidikan barat Menurut sejarah filsafat, filsafat yang mula lahir adalah filsafat tentang alam. Filsafat ini adalah filsafat Yunani yang dipelopori oleh orang-orang Yunani tapi bukan di daerah Yunani sendiri, Filsafat ini dicetuskan oleh orang-orang Yunani perantauan yang mengembara ke negeri lain, terutama Asia Kecil. Mereka terpaksa merantau dari negerinya, karena tanah Yunani tidak subur, terdiri dari tanah pegunungan. Mereka meninggalkan Yunani dan merantau ke pulau-pulau sekitar Laut Agia dan daratan Asia kecil. Dari sebuah kota bernama Miletos di Asia Kecil, lahirlah filosof alam pertama yaitu
139 Thales, yang menyatakan bahwa asal segala sesuatu adalah air, filsafat ini dilanjutkan oleh muridnya Anaximadros yang menyebutkan bahwa awal dari segala sesuatu adalah Aperion yaitu suatu zat yang tidak terbatas. Filsafat Anaximadros diteruskan oleh muridnya Anaximenes yang berpendirian bahwa asal usul alam semesta ini adalah udara. Dari kota Miletos inilah filsafat alam menyebar ke kota-kota lain seperti Ephesos dengan tokohnya Herakleitos, dan kota Elea dengan tokohnya seperti Xenophanes, Parmenides, dan Zeno. Demikianlah seterusny hingga muncul Plato dengan filsafat idealisme dan Aristoteles dengan realisme. Keduanya merupakan cikal bakal bagi berbagai aliran filsafat. Katagori pertama menekankan akal sedangkan yang kedua menekankan indra. C. Kesimpulan Demikianlah pembahasan tentang argumen isu-isu dalam filsafat pendidikan barat dan Islam mengenai Tuhan, Manusia dan Alam. Dalam sejarah filsafat, ada-tidaknya Tuhan sangat sering dipersoalkan. Sehingga Blaise Pascal (1623-1662) menyebutkan bahwa keseluruhan realitas tidak bisa dijelaskan hanya dengan rasio, karena bila itu dilakukan akan terjadi banyak hal yang bertentangan. Rasio saja tidak cukup untuk memahami segalanya. Lebih penting dari rasio adalah “hati”. Dengan rasio manusia hanya bisa memahami kebenaran matematis dan ilmu alam, tetapi dengan hati, manusia akan mampu memahami kebenaran- kebenaran yang melampaui semua kebenaran itu, terutama tentang Tuhan.
Filsafat Pendidikan Islam dan Barat 140 Proses pendidikan yang berlangsung di dalam antar aksi yang pluralistis (antara subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan cultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subyek di dalam masyarakat, bahkan di dalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi diri manusia. Manusia mengembang amanat untuk membimbing masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. bahkan manusia terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannya (human dignity). Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Di dalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Di mana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya. D. DAFTAR PUSTAKA Ali, Mukti, Metode Memahami Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991 Shihab,M. Quraish, Wawasan A-Quran:Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Bandung: Mizan, 1996 Ali Engineer,Asghar, Islam dan Teologi Pembebasan, terj. Agung Prihantoro,Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1999 Bahtiar,Amsal, Filsafat Agama, Cet.II; Jakarta: Logos,1999
141 Fazlurrahman, Tema pokok Al-Qur’an, terj.Anas Mahyuddin, Cet.II; Bandung: Pustaka, 1996 Muhammad al-Jurjani,Ali bin, Kitab al-Ta’rifat, Beirut:Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1988 Suharto,Toto, Filsafat Pendidikan Islam Menguatkan Epitemologi Islam Dalam Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014 Karman Al-Kuninganiy, Syamsudin Noor, Tafsir Tarbawiy, Ambon: P3M STAIN, 2003 Kementerian Agama RI, Penciptaan Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta;Perpustakaan Nasional RI, 2012 Solomon, Robert C. & Kathleen M. Higgins, A Short History of Philosophy. Terj. Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2002 Proyek Peningkatan Pelayanan Kehidupan Baragama Pusat Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: CV.Nalada. 2004. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press, 2007 Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: Rosda Karya, 2007 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Penciptaan Jagat Raya Dalam Perspektif Al- Quran dan Sains, Jakarta;PT.Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.