The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Sinode GKPI, 2023-10-07 04:36:23

Doc. 7 Draft Revisi TP GKPI

TATA PENGGEMBALAAN DAN PETUNJUK PELAKSANAAN PENDAHULUAN Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) adalah persekutuan gerejawi orang-orang percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, Kristus dan Juruselamat dunia (Tata Gereja GKPI: Pasal I ayat 1). GKPI adalah juga wujud dan realitas tubuh Kristus yang secara konkret bersekutu di dalam dan kepada Tuhan Yesus Kristus (1 Kor. 12:14, Rm. 12:4-5), di mana Kristus adalah kepala tubuh, dan orang-orang beriman (warga jemaat) adalah anggota tubuh (Ef. 4:15-16); semuanya bersekutu menjadi satu di dalam Kristus (Gal. 3:27) melalui baptisan (Ef. 4:3-6). GKPI adalah bagian integral dari persekutuan gereja-gereja, yang memiliki Visi dan Misi pelayanan yang sama dalam melayani di tengah-tengah dunia ini. GKPI dalam perjalanannya dan di tengah pelayanannya, mengalami pertumbuhan, perkembangan dan perubahan dalam beragam kenyataan hidup, sebagai dampak dan implikasi perkembangan zaman. Dalam menghadapi ragam realitas hidup tersebut, misalnya isu kloning, euthanasia, bayi tabung, dsb., gereja selalu berupaya memelihara warisan teologi yang benar dan selalu mengaktualisasikannya dalam kehidupannya secara kontekstual. Hal seperti inilah yang mendorong gereja untuk merumuskan Tata Penggembalaan sebagai norma kehidupan bergereja, untuk menjaga, memelihara dan menuntun umat Tuhan dalam keberadaannya selaku anggota tubuh Kristus. Tata Penggembalaan Gereja Kristen Protestan Indonesia (disingkat TP-GKPI) disusun sebagai pedoman dalam mengawasi penyimpangan dari dogma atau ajaran gereja dan mengawasi pelanggaran etis-moral, agar warga dan pelayan gereja terpelihara dalam ajaran dan moralitas (perilaku) yang sehat, terutama dalam menjawab masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian diharapkan bahwa penyelesaian masalah di semua aras GKPI (dari Jemaat hingga Sinode) diselesaikan secara internal dan tidak dibawa ke ranah hukum ataupun di luar gereja. Tata Penggembalaan ini juga dirumuskan untuk menggantikan Hukum Siasat Gereja (HSG) GKPI tahun 1982, yang dianggap perlu direvisi agar dapat memberi jawaban terhadap berbagai persoalan dan pergumulan hidup warga jemaat dewasa ini. Amanat untuk merevisi HSG itu tertuang dalam Keputusan Sinode Am Kerja GKPI ke-XV, No. 6/SAK-XV/X/2003). Dengan demikian TP-GKPI ini bukan terutama sebagai suatu kitab undang-undang atau hukum yang berorientasi pada penghakiman dengan menjatuhkan vonis hukuman kepada yang melakukan pelanggaran, melainkan untuk menggembalakan dan membangun kehidupan yang teratur; tidak sebagai hukum yang tertulis untuk semata-mata memberi ganjaran terhadap pelaku pelanggaran, melainkan suatu kabar baik yang menuntun mereka menemukan jalan pertobatan atau perubahan hidup (dalam hal pandangan hidup, sifat, sikap, karakter, dsb.) menuju keselamatan yang diberikan Tuhan Yesus Kristus. Di samping itu, kalau Hukum Siasat Gereja (HSG) 1982 lebih dititik-beratkan pada pelanggaran Hukum Ketujuh (Jangan berzinah), maka TP ini lebih komprehensif dan mencakup sebanyak mungkin aspek kehidupan warga dan pelayan GKPI. Fungsi utama Tata Penggembalaan GKPI ini adalah untuk membawa dan menuntun setiap orang kepada Tuhan Yesus Kristus di dalam iman dan moralitas yang benar. TP-GKPI dimaksudkan menggembalakan warga jemaat agar hidup dalam kekudusan, serta membimbing mereka menjaga kekudusan hidup tersebut dengan cara menghindari dan melawan dosa, untuk menuntun warga jemaat agar tidak binasa di dalam dosa, melainkan bertobat dan hidup baru di dalam kebenaran Firman Tuhan (Yeh. 33:11). Dengan


demikian TP-GKPI ini semata-mata didasarkan pada Firman Allah, ajaran Tuhan Yesus Kristus, sebagai Gembala yang baik dan Kepala Gereja. Untuk menjaga tugas dan misi GKPI sebagai terang dan garam dunia di dalam persekutuan dan kesatuan jemaat maka seluruh warga jemaat GKPI semestinyalah hidup dalam keteraturan, kesopanan, ketertiban, damai dan hidup dalam kebenaran Firman Allah. GKPI, dalam usahanya untuk membentuk dan mempersekutukan semua orang di dalam Kristus, dan untuk menjadikan orang Kristen bertumbuh dalam iman dan perilaku yang benar, supaya dapat menjadi terang dan garam dunia, memiliki tanggungjawab untuk: 1. Membimbing setiap warga jemaatnya untuk terus membina hubungan yang bersifat pribadi dengan Tuhan. 2. Menciptakan suasana yang dapat mendukung terjadinya persekutuan yang erat di dalam jemaat. 3. Membimbing jemaat agar dapat membangun hubungan dengan sesama manusia di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, dan menjawab tantangan, baik dari kehidupan sehari-hari yang dihadapi jemaat itu sendiri maupun yang berasal dari lingkungan sekitar, secara kristiani. 4. Menggali karunia jemaat, serta mendorong jemaat untuk menggunakan karunia tersebut dalam melakukan pekerjaan Tuhan (1 Kor. 12:1-12; Rm. 12:6-8). 5. Memperlengkapi jemaat dalam menjalankan tugas apostolat, pastorat, dan diakonat. TP-GKPI ini mencakup: Pengertian dan Dasar-dasar Penggembalaan, Penggembalaan Umum, Penggembalaan Pranikah, Penggembalaan Khusus dalam berbagai aspek kehidupan, dan Pelaksana Tata Penggembalaan. Di dalam perumusannya diupayakan selaras dengan isi Alkitab maupun dokumen-dokumen lain yang berlaku di GKPI, antara lain Tata Gereja, Pokokpokok Pemahaman Iman, dan Garis Kebijaksanaan Umum. Bahkan pada bagian-bagian tertentu dimuat kutipan langsung. Proses penyusunan Tata Penggembalaan ini cukup panjang. Segera setelah Sinode Am Kerja 2003, dibentuk Tim Penyusun TP-GKPI. Hasilnya baru dapat disampaikan pada Sinode Am Periode 2010. Namun demikian, Sinode Am ini memandang perlu revisi atas draft yang diajukan Tim Penyusun tersebut. Pada awal 2011 Pimpinan Pusat GKPI membentuk Tim Revisi atas draft TP-GKPI itu, terdiri dari beberapa anggota Tim Penyusun yang lama, ditambah dengan beberapa yang baru. Tim Revisi bekerja secara maraton di sepanjang tahun 2011-2012, menampung sebagian hasil kerja Tim Penyusun yang lama, serta menerima masukan dari Rapat Pendeta ke-37 tahun 2011 dan ke-38 GKPI tahun 2012, dari Sidang Majelis Pusat V akhir 2012, dan selanjutnya disampaikan ke Sinode Am Periode 2013 untuk dibahas secara final dan disahkan. Semoga dengan adanya TP-GKPI ini-yang telah memakan banyak waktu dan tenaga pelayan dan warga GKPI memperoleh tuntunan, serta menjalankan dan menerima penggembalaan, yang lebih jelas di dalam menjalani kehidupan ini. Tentu - sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan GKPI di masa mendatang - TP-GKPI ini terbuka untuk ditinjau dan disempurnakan. Semua itu kita lakukan demi ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, Gembala yang Baik, yang telah lebih dulu mengasihi kita.


BAB I : PENGERTIAN DAN DASAR-DASAR PENGGEMBALAAN REVISI ALASAN 1. Pengertian 1.1 Tata Penggembalaan GKPI adalah sarana pembinaan dan pemeliharaan kehidupan anggota jemaat maupun pelayan gereja (pejabat gerejawi) sebagai persekutuan umat percaya yang telah dikuduskan oleh darah Yesus Kristus. 1.2 Penggembalaan Umum adalah Penggembalaan kepada semua warga dan pelayan gereja yang dilakukan secara terus-menerus (berkesinambungan) melalui Kebaktian, Kunjungan (Perlawatan) Pastoral, Percakapan Pastoral, Surat Penggembalaan, dan bentukbentuk Penggembalaan Umum lainnya. 1.3 Penggembalaan Khusus adalah Penggembalaan yang dilakukan khusus kepada warga atau pelayan gereja tertentu sehubungan dengan kebutuhan ataupun masalah khusus yang dihadapi atau dialaminya. 1.4 Tata Cara Penggembalaan ialah pengaturan tentang cara pelaksanaan Tata Pengembalaan di GKPI. 1.1. Tata Penggembalaan GKPI adalah sarana pembinaan, dan pemeliharaan kehidupan anggota jemaat maupun pelayan gereja (pejabat gerejawi) termasuk di dalamnya proses peneguran sebagai persekutuan umat percaya yang telah dikuduskan oleh darah Yesus Kristus. 1.3 Penggembalaan Khusus adalah Penggembalaan yang dilakukan khusus kepada warga atau pelayan gereja tertentu sehubungan dengan kebutuhan ataupun masalah khusus yang dihadapi atau dialami. Warga atau pelayan yang menjalani Penggembalaan Khusus disebut dengan “ANGGOTA BIMBINGAN”. (Lih. PRT. Psl 1 ayat 2 butir 2.c.1.) Penambahan frasa termasuk di dalamnya proses peneguran dimaksudkan untuk memberi penegasan bahwa Tata Penggembalaan juga meliputi proses peneguran / pamissangion Penegasan penyebutan Warga atau Pelayan yang menjalani Tata Penggembalaan Khusus menjadi anggota bimbingan agar sesuai dengan PRT Bab I Pasal 1 ayat 2 butir 2.c.1 sbb: c. Anggota Bimbingan adalah: c.1. Anggota yang berada dalam bimbingan berdasarkan Tata Penggembalaan Khusus GKPI


2. Dasar TP-GKPI 2.1 Dasar TP-GKPI adalah Firman Allah dan Amanat Tuhan Yesus Kristus yang terdapat dalam Alkitab, antara lain Kel. 20:1-20; Mzm. 23; 128; Yeh. 33:11; Mat. 16:19, 18:18, 28:19-20; Yoh. 10:11; 20:24; Rm. 3:23; Kol. 3:18-24; Ef. 5:21-23; 1 Tim. 1:3- 11; 2 Tim. 3:16-17; Why.2:3. 2.2 Hakikat Tata Penggembalaan adalah cara dan alat Tuhan untuk menjaga dan memelihara domba-domba-Nya, yaitu gereja-Nya, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya: "Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan... Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya" (Yeh. 34:12, 16). 2.3 Wujud Tata Penggembalaan adalah seperangkat ketentuan yang dipedomani Gereja (d.h.i. GKPI) untuk melaksanakan tugas penggembalaan bagi warga dan pelayannya. 3. Maksud TP-GKPI 3.1 Maksud TP-GKPI adalah memelihara kesehatan gereja sebagai tubuh Kristus agar anggota gereja jangan tersesat dan tidak dibiarkan tinggal dalam kesesatan. 3.1 Maksud TP-GKPI adalah memelihara kekudusan dan kesehatan gereja sebagai tubuh Kristus agar anggota gereja tidak tersesat dan tidak dibiarkan tinggal dalam kesesatan. Penambahan kata kekudusan dalam bagian 3.1 ini bertujuan agar ada kesesuaian dengan penjelasan di bagian pendahuluan halaman 4 paragraf 2 kalimat 2 yang menjelaskan tentang tujuan TP.


3.2 Tujuan TP-GKPI adalah membimbing kehidupan anggota jemaat sebagai kawanan domba Allah yang hidup berdasarkan iman, harap dan kasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan kepada orang tersesat/bersalah diambil tindakan sesuai dengan Tata Penggembalaan ini dalam rangka membimbingnya kembali ke jalan yang benar. 4. Sikap terhadap Tata Penggembalaan dan Terhadap yang menjalaninya. 4.1 Semua warga dan pelayan gereja menerima dengan sukacita Penggembalaan Umum yang dilakukan secara terus-menerus (berkesinambungan) melalui Kebaktian, Kunjungan Pastoral, Percakapan Pastoral, Surat Penggembalaan, Perlawatan, dan bentukbentuk Penggembalaan Umum lainnya. 4.2 Mereka yang menjalani Penggembalaan Khusus bukanlah musuh atau orang yang paling hina/kotor yang harus dihindari oleh Jemaat, melainkan saudara yang harus dibimbing supaya kembali ke jalan yang benar. Dengan demikian TP-GKPI ini tidak didasarkan pada dendam ataupun kebencian. 3.2 Tujuan TP-GKPI adalah membimbing, menegur mengajar, mendidik, mendampingi, dan menjaga kehidupan anggota jemaat sebagai kawanan domba Allah yang hidup berdasarkan iman, harap dan kasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan kepada orang tersesat / bersalah diambil tindakan sesuai dengan Tata Penggembalaan ini dalam rangka membimbingnya kembali ke jalan yang benar. 4.2 Mereka yang menjalani Penggembalaan khusus (yang disebut Anggota Bimbingan) akan diumumkan dalam wartajemaat akan tetapi mereka bukanlah musuh atau orang yang paling hina / kotor yang harus dihindari oleh Jemaat, melainkan saudara yang harus dibimbing supaya kembali ke jalan yang benar. Dengan demikian TP-GKPI ini tidak didasarkan pada dendam ataupun kebencian. Penambahan kata menegur, mengajar, mendidik, mendampingi dan menjaga dalam bagian tujuan ini dimaksudkan sifat dan tujuan TP itu sendiri Setiap orang yang dikenakan TP diumumkan diwartajemaat agar seluruh warga jemaat dilibatkan dalam penggem balaan dalam arti membimbing, mendoakan, dan mengarahkan anggota bimbingan kembali ke jalan yang benar. Wartajemaat tidak dipergunakan untuk maksud mempermalukan atau mengucilkan ybs. Selain itu, wartajemaat memberi peringatan / pembelajaran bagi warga jemaat untuk tidak melakukan pelanggaran yang sama di masa yang akan datang. Perubahan bagian ini hanya penambahan kata Anggota Bimbingan


4.3 Untuk itu perlu diingat dan diperhatikan agar warga dan terutama pelayan gereja: a. Mendoakan mereka. b. Mengunjungi serta menasehati orang yang bersalah itu. c. Menasehati dan mengajak mereka untuk turut serta mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian lainnya di jemaat. 5. Pemulihan bagi mereka yg menjalani Penggembalaan Khusus. Setelah Majelis Jemaat meneliti dan mengawasi tingkah laku (kehidupan) warga jemaat dan pelayan jemaat yang menjalani Penggembalaan Khusus, dan ybs. menunjukkan pertobatan, maka ia diterima kembali sebagai anggota jemaat penuh dengan ketentuan sebagai berikut: 5.1 Setelah melalui pembimbingan/penggembalaan/pengajaran secukupnya sesuai dengan keputusan rapat pelayan tahbisan di setiap aras GKPI. 5.2 Bila orang yang diterima kembali itu berasal dari kalangan pejabat gerejawi, ia dapat diterima kembali memangku jabatannya semula menurut pertimbangan rapat yang berwenang untuk itu. Setelah Majelis Jemaat mengawasi dan meneliti tingkah laku (kehidupan) warga jemaat dan pelayan jemaat yang menjalani Penggembalaan Khusus (Anggota Bimbingan), dan ybs menunjukkan pertobatan, maka ia diterima kembali sebagai anggota jemaat penuh dengan ketentuan sebagai berikut: 5.1 Setelah melalui bimbingan / penggembalaan / pengajaran secukupnya sesuai dengan keputusan rapat pelayan tahbisan di setiap aras GKPI. 5.2 Bila orang yang diterima kembali itu berasal dari kalangan pejabat gerejawi, ia dapat diterima kembali memangku jabatannya semula menurut


5.3 Pemulihan dan penerimaan kembali. pertimbangan rapat yang berwenang untuk itu. 5.3 Pemulihan dan penerimaan kembali. BAB II : PENGGEMBALAAN UMUM REVISI ALASAN 1. Penggembalaan Umum kepada Para Pelayan 1.1 Penggembalaan Umum kepada Pendeta 1.1.1Arti dan Tujuan Penggembalaan Umum kepada Pendeta: Pendeta sebagai gembala secara umum perlu juga mendapat penggembalaan. Pendeta membutuhkan pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gerejaNya. Untuk itu setiap pendeta, selain sendiri berupaya, juga membutuhkan pendampingan dari kalangan atau wadah tertentu di luar dirinya. 1.1.2 Tata Cara Pelaksanaan: Para pendeta GKPI melalui Badan Pekerja Rapat Pendeta (BPRP) GKPI membentuk Tim atau Komisi Penggembalaan Pendeta (Pastor Pastorum). Komisi ini terdiri dari sejumlah Pendeta Senior (telah berdinas minimum 20 tahun, termasuk Pendeta yang sudah pensiun). Komisi ini menyusun Tata Kerjanya sendiri dan disahkan pada Rapat Pendeta GKPI. Setiap anggota (termasuk pengurus) Komisi ini bertugas melakukan penggembalaan umum terhadap setiap pendeta GKPI minimum sekali setahun. 1.1.1.TETAP 1.1.2 Tata Cara Pelaksanaan: a. Pimpinan Sinode melalui Kadep Pastorat (lihat Bab II, butir 1.1.2 dan PRT Pasal 89 butir 1,2,3) secara berkala melaksanakan penggembalaan kepada para Pendeta, Tata Kerjanya diatur tersendiri oleh Pimpinan Sinode. b. Pelaksanaan Penggembalaan kepada Pendeta oleh Tim Pastor Pastorum mengikuti Tata Cara Kerja yang diatur oleh Pimpinan Sinode. Penambahan frasa: Dalam Tim / Komisi Penggembalaan Resort dan Jemaat dapat juga diangkat dari Penatua yang sudah purnabhakti


1.2 Penggembalaan Umum kepada Penatua 1.2.1 Arti dan Tujuan Penggembalaan Umum kepada Penatua Para penatua (sebagai penilik dan pengawas ajaran dan perilaku di jemaat) juga perlu mendapat penggembalaan. Penatua membutuhkan pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gereja-Nya. Untuk itu setiap penatua selain sendiri berupaya juga membutuhkan pendampingan dari kalangan atau wadah tertentu di luar dirinya. 1.2.2 Tata Cara Pelaksanaan a. Di setiap jemaat atau resort dibentuk Tim atau Komisi Penggembalaan Penatua yang diketuai oleh pendeta jemaat/ resort yang bersangkutan, yang anggotanya terdiri dari sejumlah penatua senior (telah berusia Minimal 50 tahun dan telah ditahbiskan minimum 10 Tahun , termasuk Pentua yang sudah purnabakti). b. Tata Kerja Komisi Penggembalaan Penatua disusun oleh GKPI melalui Kepala Departemen Pastorat GKPI. Setiap anggota (termasuk pengurus) Komisi ini bertugas melakukan penggembalaan umum terhadap setiap penatua GKPI minimum sekali setahun. 1.2.1 TETAP 1.2.2 Tata Cara Pelaksanaan: a. Di setiap jemaat atau resort dibentuk Tim atau Komisi Penggembalaan Penatua yang diketuai oleh pendeta jemaat/ resort yang bersangkutan, yang anggotanya Batas Usia Tim / Komisi Penggembalaan Penatua: Maksimal 50 Tahun Penatua Aktif dan 5 Tahun Masa Tugas Kepenatuaan Termasuk Ketua Seksi Pembinaan Pelayanan Rohani dan Penatua Purnabkti b. Pendeta Resort bersama Ketua Seksi Pembinaan / Pelayanan Rohani dan Tim Penggembalaan Pentua secara berkala melaksanakan penggembalaan kepada para Penatua di jemaatnya. Tata kerjanya diatur tersendiri oleh Pendeta Resort bersama dengan Ketua Seksi Pembinaan Pelayanan Rohani. Penambahan Kalimat dan Substansi


1.3 Penggembalaan Umum kepada Pelayan Lainnya 1.3.1Arti dan Tujuan Penggembalaan Umum kepada Pelayan Lainnya Para pelayan lainnya (Evangelis, Bijbelvrouw, Guru Sekolah Minggu, dll.) juga memerlukan penggembalaan yang bersifat umum dalam rangka pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gereja-Nya. 1.3.2 Tata Cara Pelaksanaan Tata Cara Penggembalaan bagi para pelayan lainnya ini disusun oleh GKPI melalui Kepala Departemen Pastorat GKPI dan dapat digabungkan dengan Tata Cara Penggembalaan Umum bagi Penatua. Setiap pelayan sebolehbolehnya mendapat penggembalaan umum minimum sekali setahun. 2. Penggembalaan Umum kepada Warga Jemaat 2.1. Perkunjungan 2.1.1 Arti dan Tujuan Perkunjungan Setiap warga jemaat berhak mendapat penggembalaan umum berupa perkunjungan (perlawatan) pelayan jemaat (pendeta dan/atau penatua), ataupun komisi yang dibentuk dan ditugaskan untuk itu, ke tempat tinggalnya minimum sekali setahun. Tujuannya, selain mempererat ikatan silaturahmi dan saling kenal, adalah untuk memelihara iman dan kesetiaan warga jemaat itu kepada Tuhan serta untuk berbagi (sharing) suka-duka dan pergumulan, dengan harapan bahwa ia mendapat penguatan dan bersama para pelayan jemaat 1.3.1. a. Yang dimasud dengan Pelayan Lainnya adalah Evangelis dan Guru Sekolah Minggu Catatan : Kata “Bijbelvrouw” di drop b.Pelayan Lainnya memerlukan Penggembalaan yang bersifat umum dalam rangka Pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gereja-Nya. 2.1.1.a. Perkunjungan adalah tindakan penggembalaan yang dilaksanakan oleh Pendeta Bersama Penatua kepda warga Jemaat. b. Setiap warga jemaat berhak mendapat penggembalaan umum berupa perkunjungan (perlawatan) pelayan jemaat (pendeta dan/atau penatua), ataupun komisi yang dibentuk dan ditugaskan untuk itu, ke tempat tinggalnya minimum sekali setahun Karena jabatan Bijbelvrow yakni penginjil Perempuan sudah masuk dalam kategori Evangelis


menemukan jalan keluar bagi setiap pergumulan dan masalahnya. 2.1.2 Tata Cara Pelaksanaan Setiap jemaat membentuk Komisi Perkunjungan (Perlawatan) yang diketuai oleh seorang pelayan jemaat. Anggota Komisi Perkunjungan terdiri dari sejumlah pelayan dan warga jemaat yang memberi diri dan sudah mendapat pelatihan. Komisi bekerja dan membagi diri sesuai dengan pembagian sektor / lingkungan di jemaat itu. Perkunjungan tidak digabungkan dengan penyelenggaraan kebaktian sektor / lingkungan di rumah warga jemaat itu. Tata Cara lebih rinci diatur oleh jemaat yang bersangkutan. 2.2. Percakapan/Konseling Pastoral 2.2.1 Arti dan Tujuan Percakapan/Konseling Pastoral Percakapan/Konseling Pastoral adalah percakapan dan konseling yang diadakan oleh seorang pastor (pendeta, gembala) atau c.Tujuannya, selain mempererat ikatan silaturahmi dan saling kenal, adalah untuk memelihara iman dan kesetiaan warga jemaat itu kepada Tuhan serta untuk berbagi (sharing) suka-duka dan pergumulan, dengan harapan bahwa ia mendapat penguatan dan bersama para pelayan jemaat menemukan jalan keluar bagi setiap pergumulan dan masalahnya. .2.1.2. a. Setiap jemaat membentuk Komisi Perkunjungan(Perlawatan) yang diketuai oleh Ketua Seksi Pelayanan Rohani. b.Anggota Komisi Perkunjungan terdiri dari para Pelayan Jemaat. c.Perkunjungan tidak digabungkan dengan penyelenggaraan kebaktian sektor / lingkungan di rumah warga jemaat itu. Tata Cara lebih rinci diatur oleh jemaat yang bersangkutan.


konselor (yaitu seseorang yang sudah mendapat pendidikan dan pelatihan di bidang Konseling Pastoral), dengan seorang warga gereja (ataupun pelayan gereja lainnya) sebagai konseli, menyangkut permasalahan atau pergumulan hidup tertentu yang tidak dapat dipecahkan sendiri oleh si konseli. 2.2.2 Tata Cara Pelaksanaan Percakapan/konseling pastoral diadakan secara pribadi, di ruang yang cukup terbuka, dan waktunya diatur berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Konselor berfungsi sebagai pendamping dan pendengar, memberi kesempatan seluasluasnya kepada konseli untuk mengutarakan pergumulan, masalah dan isi hatinya, serta menggugah, menantang, dan memotivasi konseli untuk menghadapi dan memecahkan masalahnya, dan pada akhir percakapan ditutup dengan berdoa bersama. Penggembalaan Umum juga diberikan kepada Calon Warga Jemaat, antara lain untuk mengetahui alasan, motivasi dan tujuannya masuk ke jemaat dan menjadi warga jemaat itu, serta untuk memberitahukan kepada yang bersangkutan hal-hal mengenai gereja/ jemaat yang akan dimasukinya (ajarannya, sistem organisasi dan pelayanannya, dsb.) Serta hak maupun tugas dan tanggungjawabnya sebagai warga jemaat. Bila ybs. berasal dari gereja lain, penggembalaan ini dilakukan beberapa minggu sebelum nama ybs. diwartajemaatkan. Bila ybs. berasal dari jemaat GKPI lain, cukuplah ybs. mendaftarkan diri dengan membawa surat pindah (atestasi) dari jemaat asalnya. 2.2.2. Percakapan/konseling pastoral dilaksanakan kepada pribadi/personal maupun Pasangan Suami Istri oleh Konselor. b. Konselor berfungsi sebagai pendamping dan pendengar, memberi kesempatan seluasluasnya kepada konseli untuk mengutarakan pergumulan, masalah dan isi hatinya, serta menggugah, menantang, dan memotivasi konseli untuk menghadapi dan memecahkan masalahnya, dan pada akhir percakapan ditutup dengan berdoa bersama. c. Penggembalaan Umum juga diberikan kepada Calon Warga Jemaat, antara lain untuk mengetahui alasan, motivasi dan tujuannya masuk ke jemaat dan menjadi warga jemaat itu, serta untuk memberitahukan kepada yang bersangkutan hal-hal mengenai gereja/ jemaat yang akan dimasukinya (ajarannya, sistem organisasi dan pelayanannya, dsb.) Serta hak maupun tugas dan tanggungjawabnya sebagai warga jemaat. Bila ybs. berasal dari gereja


lain, penggembalaan ini dilakukan beberapa minggu sebelum nama ybs. diwarta-jemaatkan. Bila ybs. berasal dari jemaat GKPI lain, cukuplah ybs. mendaftarkan diri dengan membawa surat pindah (atestasi) dari jemaat asalnya. BAB III : PENGGEMBALAAN PRA-NIKAH REVISI ALASAN 1. Pengertian Dan Tujuan Penggembalaan Pranikah 1.1 Penggembalaan Pranikah (Premarital Counseling) adalah penggembalaan yang dilakukan gereja/jemaat kepada warga jemaat yang akan menikah, baik bersifat kolektif atau secara bersamasama (diberikan serempak kepada sejumlah pasangan yang akan menikah) maupun bersifat individual atau sendirisendiri (sepasang demi sepasang). 1.2 Tujuan Penggembalaan Pranikah adalah mempersiapkan dan membekali pasangan yang akan menikah dengan pemahaman dan pengetahuan yang penting dan mendasar dalam menjalani kehidupan perkawinan dan rumahtangga, dengan harapan bahwa mereka dapat mempraktikkan hal-hal itu, agar mereka tidak sampai terbentur atau gagal, melainkan menikmati kebahagiaan bersama dengan Tuhan dan sesama. 2. Pokok-pokok isi Penggembalaan Pranikah Diusulkan agar BAB III dipindah menjadi BAB IV Tetap 2. Tetap Pemindahan ini dimaksudkan supaya alur buku dapat dengan mudah dipahami. Setelah materi penggembalaan umum di Bab II, di Bab III langsung masuk materi penggembalaan khusus.


Pokok-pokok isi Penggembalaan Pranikah pada umumnya digali dari dan didasarkan pada Alkitab, serta diperkaya dengan sejumlah disiplin ilmu dan pengetahuan yang berkait dengan perkawinan, meliputi: 2.1 Prinsip-prinsip Pernikahan Kristen; mencakup antara lain: a. Arti perkawinan Kristen: persekutuan hidup dan kesatuan jasmani-rohani sepasang suami-isteri yang didasarkan pada cinta-kasih yang dari Tuhan (terutama agape); b. Tujuan perkawinan Kristen: memenuhi panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dan setia, memenuhi panggilan Tuhan untuk prokreasi (berketurunan), dan memberi wadah bagi suami-isteri untuk menikmati kemesraan dan penyegaran berkelanjutan; c.Ciri dan sifat perkawinan Kristen: mencakup seluruh aspek kehidupan, monogami dan eksklusif (satu laki-laki dan satu perempuan, tidak mengenal orang ketiga), dan langgeng (terus-menerus, tidak mengenal perceraian). Lihat perintah Allah kepada manusia tentang berkembang biak (Kej.1:28); teguran Tuhan yang keras terhadap perselingkuhan dan zinah (2 Sam. 12); pernikahan adalah lambang dari ikatan kasih antara Allah dan umat-Nya (Hos. 3), dan terutama pengajaran Yesus tentang pernikahan (suami-isteri bukan lagi dua melainkan satu, karena mereka telah dipersatukan Allah; dan Yesus sangat menentang perceraian: Markus 10: 612; bdk. 1Kor. 7). d. Perkawinan yang tidak dikaruniai keturunan juga diberkati Tuhan. "Karena keturunan Tetap Tetap Tetap c.ciri dan sifat…dst. Dan tidak boleh bercerai Tetap


hanyalah salah satu wujud karunia Allah yang ditambahkan atas perkawinan dan keluarga, maka suami-isteri yang tidak beroleh keturunan adalah juga keluarga yang lengkap. Mereka dapat menerima karunia Tuhan dalam bentuk dan wujud lain; karena itu ketiadaan keturunan tidak dapat dijadikan alasan untuk bercerai ataupun berpoligami." (P31 GKPI Bab XII ayat 5) e. Kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai yang diciptakan menurut gambar Allah; f. Panggilan untuk saling melayani, saling menolong, saling mengingatkan, saling mengisi, dan saling melengkapi; g. Kemandirian dan kedewasaan, yang digambarkan dengan ungkapan "seorang lakilaki meninggalkan ayah dan ibu dan bersatu dengan isterinya" (Kej. 2:24); h. Ibadah dan doa dalam keluarga. 2.2 Komunikasi Antar Pasangan; mencakup antara lain a. Saling mendengar, bukan hanya saling berbicara; b. Bersama-sama membahas masalah dan mengupayakan pemecahannya; c. Mengerti dan menghargai pendapat yang berbeda; d. Memperhatikan kebutuhan pasangan, bukan hanya kebutuhan diri sendiri; e. Berusaha menjadi orang yang dapat dipercaya pasangan; membuat pasangan malu/dipermalukan, takut, rendah diri, tersinggung, menutup diri, dst. e. Laki-laki dan Perempuan adalah setara sebagai ciptaan yang segambar dengan Allah Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap e.Berusaha menjadi orang yang dapat dipercaya pasangan; Tidak membuat pasangan malu/dipermalukan, Tidakmembuat pasangan takut dan rendah diri,


f. Menata waktu untuk diri sendiri maupun bersama pasangan dan anak-anak. 2.3 Persiapan Fisik dan Mental Memasuki Pernikahan; mencakup antara lain: a. Pemeriksaan kesehatan tubuh, termasuk fungsi organ-organ prokreasi (ke dokter). b. Pemeriksaan kesehatan jiwa, termasuk kedewasaan, kemandirian persekutuan hidup, stabilitas emosional, dan kemampuan menghadapi tekanan (ke psikolog); c. Pekerjaan dan penghasilan yang jelas dan memadai (dari sumber-sumber yang halal) untuk menunjang ekonomi rumah tangga; d. Kemandirian, termasuk dalam hal tempat tinggal (tidak mesti milik sendiri, tetapi sebaiknya terpisah dari orangtua; bnd. Kej. 2:24). 2.4 Etika Seksual; mencakup antara lain: a. Pemahaman tentang seks dan hubungan seksual sebagai karunia Tuhan; b. Pengenalan terhadap aspek-aspek dan fungsifungsi seksual; c.Hubungan seksual yang sehat dan penggunaan organ-organ seksual secara benar; d. Pengenalan terhadap gangguan, kelainan, dan penyakitpenyakit seksual; e. Kekerasan dan pelecehan seksual yang harus dihindarkan. Tidak membuat Pasangan tersinggung dan membuat pasangan menutup diri. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


2.5 Penataan Ekonomi Rumah Tangga; mencakup antara lain: a. Kejelasan dan kepastian sumber dana keluarga (gaji/ penghasilan, warisan, dsb.); b. Perencanaan ekonomi/keuangan/anggaran belanja keluarga; c. Pengendalian keuangan: kebutuhan versus keinginan; kendalikan kredit; d. Pembukuan dan pengelolaan keuangan keluarga; e. Kesepakatan penggunaan uang/penghasilan, termasuk untuk orangtua dan sanak saudara. 2.6 Menjadi Orangtua; mencakup antara lain: a. Persiapan (fisik dan mental) kehamilan dan kelahiran anak; b. Wujud kasih-sayang kepada anak-anak (bukan terutama kelimpahan material); c. Merawat dan menjaga kesehatan (fisik dan mental) anakanak; d. Pendidikan anak-anak (di rumah, di gereja, di sekolah, ekstra kurikuler); e. Antisipasi kesulitan dan ketidak-berhasilan memperoleh anak kandung, a.l. bayi tabung, inseminasi, dan adopsi; f. Konsekuensi wanita karier, dan suami atau isteri banyak bepergian. 2.7 Undang-undang Perkawinan; mencakup antara lain: a. Arti dan tujuan perkawinan menurut Undangundang Perkawinan; Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap a. Tetap


b. Syarat-syarat perkawinan menurut Undangundang Perkawinan; c. Pentingnya Perkawinan secara hukum (Pencatatan Sipil); d. Perbedaan UUP dengan prinsip-prinsip perkawinan Kristen, a.l. masalah perceraian (dibenarkan UUP tetapi tidak dibenarkan gereja Kristen); e. Perkawinan antar yang berbeda agama: masalah-masalah di dalamnya (a.l. apakah boleh menikah dan boleh. mempertahankan agama masing-masing?) dan konsekuensinya. 2.8 Adat-Istiadat Perkawinan/Kekeluargaan; mencakup antara lain: a. Arti dan tujuan perkawinan menurut adat (terutama adat Batak); b. Tatacara perkawinan menurut adat (terutama adat Batak): marhori-hori dinding, marhusip, marhata sinamot, marunjuk, paulak une, maningkir tangga; c. Perkawinan dan keluarga sebagai bagian dari keluarga besar/ persekutuan adat; d. Hak, kewajiban, dan tanggungjawab dalam persekutuan adat /marga; e.Sikap gereja terhadap adat perkawinan: menghormati sekaligus mengendalikan. b. Tatacara perkawinan menurut adat istiadat c d e f. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap e.Sikap gereja terhadap adat perkawinan adalah menghormati dan mengawasi tata cara pelaksanaan adat


3. Tata Cara Pelaksanaan 3.1 Penggembalaan Pranikah yang bersifat kolektif diberikan sekurang-kurangnya dua bulan (delapan minggu) sebelum Ikat Janji Pranikah (Marpadan/Martumpol), setelah masing-masing pasangan mendaftar ke Majelis Jemaat. 3.2 Apabila calon mempelai berdomisili di tempat yang jauh dari jemaat tempat menerima pemberkatan nikah, Penggembalaan Pranikah (termasuk pemeriksaan kesehatan) dapat dilakukan di gereja/jemaat/tempat yang dekat dengan domisili mereka. Mereka membawa surat keterangan dari jemaat tempat menerima Penggembalaan Pranikah dan dari RS/dokter tempat memeriksa kesehatan. 3.3 Penggembalaan Pranikah yang bersifat kolektif itu diadakan selama 8 (delapan) sesi, masing-masing kurang lebih 90 menit sebagaimana disebut pada butir 3.1. Namun dalam hal situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, maka pendeta dapat memberikan dispensasi. 3.4 Penggembalaan Pranikah yang bersifat individual diadakan 2-3 kali sebelum Ikat Janji Pranikah, untuk memantapkan dan mematangkan persiapan fisikmental-spiritual-psikologis serta sosial-ekonomikultural dari pasangan yang akan menikah itu. 3.5 Penggembalaan yang bersifat kolektif diberikan oleh pendeta dan/atau narasumber yang ditugaskan jemaat dan dinilai cakap untuk tiap pokok yang akan dibekalkan. 3.6 Penggembalaan yang bersifat individual diberikan oleh Pendeta ataupun Guru Jemaat. 3.1.Penggembalaan Pranikah yang bersifat kolektif diberikan sekurangkurangnya delapan pertemuan baik secara tatap muka maupun virtual Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


3.7 Pasangan mendapat pelayanan pemberkatan nikah di GKPI setelah lebih dulu mengikuti Penggembalaan Pranikah. Tetap BAB IV : PENGGEMBALAAN KHUSUS REVISI ALASAN 1. Penggembalaan khusus kepada pelayan/pejabat gerejawi 1.1. Penggembalaan khusus kepada pelayan/Pejabat dst… 1.2 Jenis-jenis Pelanggaran Etika Jabatan Pelayanan 1.2.1 Pejabat/Pelayan gerejawi dalam waktu tertentu (maksimal satu tahun) tidak mau melaksanakan tugasnya. 1.2.2. Pejabat/Pelayan gerejawi menyalahgunakan jabatannya. 1.2.3 Pejabat/Pelayan gerejawi tidak menjaga rahasia jabatan. 1.1. Tetap 1.2 Jenis-jenis Pelanggaran Jabatan Pelayanan 1.2.1 Pelanggaran Etika 1.2.1.1. Pejabat/Pelayan gerejawi dalam waktu tertentu (maksimal 1 tahun) tidak mau melaksanakan tugasnya. 1.2.1.2 Pejabat/Pelayan gerejawi menyalahgunakan jabatannya 1.2.1.3 Pejabat/Pelayan gerejawi tidak menjaga rahasia jabatan. 1.2.2 Pelanggaran yang berhubungan dengan perkawinan, seperti perkawinan terlarang, Pembagian jenis-jenis pelanggaran Jabatan pelayan ini dilihat penting untuk memberi porsi dan penekanan pada pelanggaran yang berhubungan dengan perkawinan di kalangan pelayan/pejabat gereja mengingat ada beberapa kasus yang terjadi di GKPI berkaitan dengan isu ini. Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas penatua ybs untuk sementara ditangguhkan. …… Pertanyaan:


1.3. Penggembalaan khusus kepada pelayan/pejabat gerejawi dilaksanakan secara berjenjang dan bertahap: 1.3.1 Penggembalaan khusus kepada pendeta dilakukan Tim/Komisi Penggembalaan Pendeta (Pastor Pastorum; lihat bab II, butir 1.1.2). Penggembalaan dilakukan dalam bentuk percakapan. Bila pendeta ybs. mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ. Bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, maka masalahnya disampaikan kepada BPRP atau Pimpinan Sinode GKPI. Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas pendeta ybs. untuk sementara ditangguhkan. Hal-hal lain yang belum diatur dalam butir ini diatur dalam Disiplin Kependetaan. 1.3.2 Penggembalaan khusus kepada pelayan/pejabat gerejawi dilaksanakan bila ybs. melakukan kesalahan atau pelanggaran (yang antara lain diuraikan pada butir 3 s/d 23 di bawah ini), yaitu menganut dan mengajarkan ajaran yang perkawinan liar, mencederai perkawinan. Tetap 1.3.1 Penggembalaan khusus kepada pendeta dilakukan Tim/Komisi Penggembalaan Pendeta. (Pastor Pastorum; lihat bab II, butir 1.1.2) bila: Pendeta tsb. melakukan pelanggaran atau kesalahan dalam hal administrasi, peraturan, pengajaran, moral dan etika jabatan pendeta, melalaikan tugas kewajiban. Penggembalaan dilakukan dalam bentuk percakapan. Bila pendeta ybs. mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ. Bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, maka Pimpinan Sinode memberhentikan dengan hormat dan apabila tidak bisa diperbaiki lagi ybs diberhentikan dengan tidak hormat dan keputusan itu disampaikan kepada MAJELIS SINODE untuk DISETUJUI dan dilaporkan dalam Sinode Am terdekat. Hal-hal lain yang belum diatur dalam butir ini diatur dalam Disiplin Kependetaan. 1.3.2. Penggembalaan khusus kepada Pelayan/Pejabat Gerejawi dilakukan PENDETA RESORT (lihat bab II butir 1.3.2)Penggembalaan Berapa lama ditangguhkan? Penegasan penerimaan kembali Pendeta dengan tata ibadah penerimaan kembali dan dilaksanakan di rapat pendeta dianggap penting, karena: 1. Mengingat pendeta juga sama seperti warga jemaat memerlukan anugerah pengampunan sebagaimana terlihat dalam tata ibadah penerimaan kembali. 2. Selama ini, jika ada Pendeta yang dikenakan Tata Penggembalaan khusus dengan status diberhentikan dengan hormat, pemulihannya sangat tertutup dan tidak transparan serta tanpa diketahui tiba-tiba status kependetaannya sudah pulih kembali. Butir 1.3.1. di usulkan masuk kepada Peraturan Disiplin Kependetaan.


bertentangan dengan Firman Allah dan Pokok-pokok Pemahaman Iman (P31) GKPI, atau menyalahgunakan dan/atau mengingkari jabatannya dan menimbulkan keresahan, kekacauan atau perpecahan di dalam jemaat, atau kelakuannya bertentangan dengan Firman Allah, sehingga menjadi batu sandungan kepada masyarakat, dengan tujuan agar ia menyesal, bertobat, dan memohon pengampunan pada Allah. 1.3.3 Penggembalaan khusus kepada penatua dilakukan Tim/Komisi Penggembalaan Penatua (lihat bab II, butir 1.2.2). Penggembalaan dilakukan dalam bentuk dilakukan dalam bentuk percakapan sesuai dengan tatacara penggembalaan bagi para pelyan yang di susun oleh GKPI melalui Kepala Departemen Pastorat GKPI. Bila pejabat / Pelayan Gerejawi ybs: a.Mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ. b. Menunjukkan Pertobatan melalui kesediaan menjalani pemberhentian sementara (skorsing) selama tiga bulan dan kesediaan mengikuti bimbingan dari Pendeta Resort c. Menunjukkan Pertobatan melalui kesediaan menjalani pemberhentian sementara (skorsing) selama enam bulan dan kesediaan mengikuti bimbingan dari Pendeta Resort d. namun bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, tetapi ada bukti yang jelas, maka masalahnya disampaikan RAPAT MAJELIS (PRT Bab II Pasal 6.8) Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas Pejabat/pelayan Gerejawi ybs untuk sementara ditangguhkan selama 1 tahun dan mengikuti bimbingan dari Pendeta Resort. 1.3.3. Penggembalaan khusus kepada penatua dilakukan Tim/Komisi Penggembalaan Penatua yang di ketuai oleh Pendeta


percakapan. Bila penatua ybs. mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ, namun bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, tetapi ada bukti yang jelas, maka masalahnya disampaikan kepada Majelis atau pendeta ybs. Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas penatua ybs. untuk sementara ditangguhkan. 1.3.4 Pemulihan dan penerimaan kembali: Setelah penggembalaan khusus dijalankan dan masalah diselesaikan, dan pelayan ybs. menunjukkan pertobatan, maka statusnya dipulihkan dan ia diterima kembali sebagai pelayan GKPI. Resort/Jemaat Khusus(lihat bab II, butir 1.2.2 dan Bab V Butis 6).Penggembalaan dilakukan dalam bentuk percakapan. Bila penatua ybs : a.Mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ. b. Menunjukkan Pertobatan melalui kesediaan menjalani pemberhentian sementara (skorsing) selama tiga bulan dan kesediaan mengikuti bimbingan dari Pendeta Resort c. Menunjukkan Pertobatan melalui kesediaan menjalani pemberhentian sementara (skorsing) selama Enam bulan dan kesediaan mengikuti bimbingan dari Pendeta Resort d. Namun bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, tetapi ada bukti yang jelas, maka masalahnya disampaikan RAPAT PENATUA. Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas penatua ybs untuk sementara ditangguhkan selama 1 tahun dan mengikuti bimbingan dari Pendeta Resort. 1.3.4 Pemulihan dan penerimaan kembali: Setelah penggembalaan khusus dijalankan dan masalah diselesaikan, dan pelayan ybs. menunjukkan pertobatan, maka statusnya dipulihkan dan ia dapat diterima kembali sebagai pelayan GKPI. :


2. Penggembalaan Khusus kepada warga jemaat. 2.1 Penggembalaan khusus dilaksanakan kepada anggota jemaat yang melakukan kesalahan atau pelanggaran (yang antara lain diuraikan pada butir 3 s.d. 23 di bawah ini), yaitu menganut ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah/P31-GKPI, atau kelakukannya bertentangan dengan Firman Allah, atau menjadi batu sandungan bagi orang lain. 2.2. Langkah pertama adalah: Pada dasarnya semua anggota Jemaat terpanggil untuk memberikan teguran dan nasehat dalam kasih, agar ia menyesal dan memohon pengampunan dan bertobat (lihat Mat. 18:15-20). 2.3 Jika tegoran itu tidak membawa hasil, anggota yang menyampaikan teguran itu memberitahukan kepada Majelis Jemaat Berdasarkan laporan tersebut Majelis Jemaat, dalam hal ini Penatua bersama pendeta, menyampaikan teguran terhadap anggota jemaat tersebut dengan mengikutsertakan orang yang melaporkan. a. untuk penatua pemulihan dilaksanakan pada rapat Penatua dengan ibadah penerimaan kembali b. untuk Pelayan / Pejabat Gerejawi pemulihan dilaksanakan pada rapat Sidang Majelis.dengan ibadah penerimaan kembali 2. 1 s/d 2.5 TETAP 2.2. Kata Langkah pertama di hilangkan 2.3. Jika tegoran itu tidak membawa hasil, anggota yang menyampaikan teguran itu memberitahukan ke Majelis dalam hal ini Pendeta dan Penatua.Berdasarkan laporan tersebut Majelis Jemaat, dalam hal ini Penatua bersama pendeta,menugaskan komisi Perkunjungan (Perlawatan) merujuk kepada Bab II Pasal 2 butir 2.1.2 Tata Penggembalaan,menyampaikan teguran terhadap anggota jemaat tersebut dengan mengikutsertakan orang yang melaporkan.


2.4 Jika yang bersangkutan sudah ditegur beberapa kali dan tidak membawa hasil, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan menerima Perjamuan Kudus, menjadi anggota Majelis Jemaat, atau menerima pelayanan Pernikahan jika yang bersangkutan belum menikah, atau haknya sebagai anggota jemaat dibekukan 2.5 Majelis Jemaat terus melaksanakan Penggembalaan Khusus kepada yang bersangkutan agar ybs. memohon pengampunan dan bertobat. 2.6 Pemulihan dan penerimaan kembali: Setelah Majelis Jemaat meneliti dan mengawasi perilaku warga jemaat yang menjalani Penggembalaan Khusus, dan ybs. menunjukkan pertobatan, maka statusnya dipulihkan dan ia diterima kembali sebagai anggota jemaat penuh di hadapan Majelis Jemaat. 2.4. Majelis Jemaat terus melaksanakan Penggembalaan Khusus kepada yang bersangkutan agar ybs. memohon pengampunan dan bertobat. 2.5. Jika yang bersangkutan sudah ditegur beberapa kali dan tidak membawa hasil, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan menerima Perjamuan Kudus, menjadi anggota Majelis Jemaat, atau menerima pelayanan Pernikahan jika yang bersangkutan belum menikah, atau haknya sebagai anggota jemaat dibekukan(catatanButir 2.4. menjadi 2.5.dan Butir 2.5. menjadi 2.4.) 2.6 Kepada warga Jemaat yang oleh karena kesalahannya yang sudah diketahui oleh gereja dengan jelas serta telah mendapatkan putusan pengadilan bersalah (Keputusan Tetap) dikenakan tata penggembalaan khusus, statusnya menjadi anggota bimbingan, dan diberita-gerejakan. 2.6 dalam TP yang lama tetap akan tetapi posisinya (menjadi) 2.7 Opsi 1 (mempertahankan yang lama)


3. Perkawinan dan kehidupan Rumahtangga 3.1. Syarat-syarat Umum 3.1.1 Sesuai dengan Undang-undang Perkawinan, umur calon pengantin laki-laki dan perempuan tanpa di bawah perwalian minimal 21 tahun. Dispensasi mengenai umur ini hanya dapat diberikan oleh Pendeta Resort, bila ada alasan yang mendesak, sejauh tidak menyimpang dari UU Perkawinan (yaitu minimum 18 tahun dan di bawah perwalian). 3.1.2 Bila usia calon mempelai belum mencapai 21 tahun. (tetapi minimum sudah 18 tahun), mereka harus mendapat persetujuan dari orangtua/wali. 3.1.3 Sudah dibaptis dan naik sidi, dibuktikan oleh Akte Baptis dan Akte Sidi. 3.1.4 Calon mempelai (laki-laki dan perempuan) memiliki surat keterangan keanggotaan jemaat. 3.1.5 Sudah mengikuti Penggembalaan Pranikah (lihat Bab III Butir 3.3). 3.1.6. Memperhatikan syarat-syarat yang terdapat di dalam Undang-undang Perkawinan RI yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, termasuk mencatatkan perkawinan kepada negara (Catatan Sipil). 3.1.7 Jika pengantin laki-laki dari kalangan ABRI atau Kepolisian, diperlukan surat persetujuan menikah dari pimpinan kesatuannya. 3.1.8 Kebaktian Pemberkatan Nikah didahului dengan kebaktian Perjanjian Pra-Nikah (Martumpol) 3.1.9 Diumumkan melalui Warta Jemaat dua kali hari Minggu berturut-turut. Jika hanya diumumkan satu kali, Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap 3.1.7. Kata ABRI Diganti dengan TNI Tetap 3.1.9 Diumumkan melalui Warta Jemaat dua kali hari Minggu berturutturut. Jika hanya diumumkan satu


Pendeta Resortlah yang memberikan dispensasi untuk itu, setelah meneliti dengan seksama apa alasannya. 3.1.10 Perkawinan yang monogami. 3.1.11 Perkawinan yang dikukuhkan dan diberkati oleh pendeta dengan mengambil tempat di gedung gereja ataupun di rumah, setelah memenuhi syarat-syarat umum tersebut di atas. 3.2. Syarat-syarat Khusus 3.2.1 Pemberkatan nikah bagi mereka yang disebut "kawin lari" dilayani oleh Pendeta juga, dengan mengambil tempat di gedung gereja atau di rumah keluarga yang kali, maka : a. Pendeta Resort / Jemaat Khusus yang memberikan dispensasi b. Pemberkatan Pernikahan dapat di laksanakan minimal 3 hari setelah diwarta Jemaatkan Tetap Tetap 3.1.12. Kedua calon mempelai mendaftarkan rencana pernikahan mereka kepada Pendeta Resort / Jemaat Khusus dan PHJ dan didampingi Penatua Lingkungan mengusulkan tanggal ikat janji (Martumpol) dan pemberkatan nikah (Keputusan tentang tanggal di buat oleh Majelis Jemaat), sambil menyerahkan dokumen dokumen yang di peryaratkan (lihat TP. GKPI Bab IV Butir 3.1. Antara Lain : Akte Baptis dan Akte Sidi, Surat keterangan dari Gereja Asal ( Bagi mereka yang datang dari Gereja Lain), dan Surat Persetujuan dari Pimpinan Kesatuan (Bagi Calon mempelai dari TNI / Kepolisian. 3.21. ….yang disebut "kawin lari" juga dilayani oleh Pendeta


bersangkutan, setelah memenuhi syarat-syarat perkawinan pada butir 3.1 di atas. Jika surat persetujuan orangtua/wali tidak ada, mereka boleh menerima pelayanan pemberkatan nikah bila telah berusia di atas 21 tahun, dan mereka berada dalam pengawasan penatua sebelum pelayanan pemberkatan nikah. 3.2.2 Bagi seorang janda atau duda (karena kematian) yang akan menikah lagi, diberikan syarat-syarat tambahan: 3.2.2.1 Perkawinan seorang janda atau duda dapat disetujui setelah ia menjanda atau menduda sekurangkurangnya 1 tahun dan tidak bertentangan dengan adatistiadat setempat. 3.2.2.2 Dispensasi bagi peraturan pada butir 3.2.2 ini dapat diberikan oleh Pendeta Resort dan Majelis Jemaat dengan pertimbangan khusus terhadap kasus-kasus tertentu. 3.2.3 Pemberkatan perkawinan bagi orang Kristen yang berasal dari Gereja tetangga dapat dilaksanakan di GKPI berdasarkan permohonan mereka setelah memenuhi persyaratan yang berlaku di GKPI, sebagaimana diatur pada butir 3.1, dan ybs. membawa Surat Keterangan dari gerejanya. 3.2.4 Pelayanan pemberkatan nikah dapat diberikan kepada warga GKPI yang hendak kawin dengan orang yang berasal dari agama lain dengan ketentuan: orang yang berasal dari agama lain itu membuat surat pernyataan yang berisi: 3.2.4.1.Meninggalkan agama semula bukan karena paksaan tetapi dengan iman dan hati yang tulus. 3.2.4.2 Bersedia menjadi pengikut Kristus. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


3.2.4.3 Bersedia menerima bimbingan dan dibaptis sebelum pemberkatan nikah 3.3. Ketentuan Tambahan 3.3.1 Pemberkatan perkawinan di GKPI tidak terpengaruh oleh ada-tidaknya kegiatan-kegiatan secara adat setempat, uang mahar, dsb. 3.3.2 Apabila pendeta berhalangan, maka evangelis, guru jemaat ataupun penatua dapat melayani pemberkatan nikah (tanpa penumpangan-tangan), atas persetujuan pendeta tersebut. 3.3.3 Kepada setiap warga jemaat yang perkawinannya dikukuhkan dan diberkati di GKPI diberikan Akte Kawin. 3.4 Perkawinan Terlarang 3.4.1 Perkawinan yang tidak dilaksanakan dalam kebaktian pemberkatan pernikahan secara Kristiani, baik di gereja ataupun di rumah. 3.4.2 Perkawinan yang hanya dikukuhkan oleh tua-tua adat (bhs. Batak: pasu-pasu raja). 3.4.3 Perkawinan Poligami (Poligini ataupun Poliandri) 3.4.4 Kawin kontrak 3.4.5 Kumpul kebo 3.2.4.3 Bersedia menerima bimbingan dan menerima baptisan Dewasa sebelum pemberkatan nikah. Tetap Tetap 3.3.3. Kata Dikukuhkan dihapus Tetap Tetap 3.4.3. Perkawinan Beda Agama.(bnd. 2 Korintus 6: 14) 3.4.3. Pada TP yang Lama Menjadi 3.4.5. Perkawinan Poligami dan Poliandri 3.4.5. 3.4.6 3.4.7.


3.4.6 Perkawinan sejenis (homoseksual: gay, lesbian), bisek sual, ataupun transgender. 3.4.7 Perkawinan dengan ibu tiri/ayah tiri (bnd. Im. 18:8; 1 Kor 5:1-2). 3.4.8 Perkawinan dengan menantu (bnd. Im. 18:15). 3.5 Perkawinan Liar 3.5.1 Melakukan hubungan suami-istri sebelum pemberkatan atau hamil di luar nikah. 3.5.2 Melahirkan anak tanpa suami yang sah. 3.5.3 Berzinah atau melakukan pelacuran, atau menjadi germo dan Pekerja Seks Komersial (PSK). 3.5.4 Segala bentuk kecemaran dan perbuatan yang memalukan (Rm. 1:24-27). 3.6 Tindakan Mencederai Perkawinan 3.6.1 Menceraikan istri atau suami. 3.6.2 Suami mengusir atau menganiayai istri atau sebaliknya, atau pisah ranjang tanpa alasan yang jelas 3.6.3 Orangtua mengusir dan tidak mengizinkan menantunya bersama dengan putra/putrinya, atau tindakan lain yang menyebabkan terjadinya pisah ranjang/cerai. 3.4.6 (Lama) Baru 3.4.7. Perkawinan sejenis (homoseksual: gay, lesbian), biseksual, ataupun transgender, Queer, Questioning, Intersex, Allies, Asexual, Pansexual) bandingkan Roma 1 : 27 3.4.8. 3.4.9. 3.4.10. Perkawinan dengan Ayah / Ibu kandung 3.4.11. Perkawinan dengan saudara kandung ( bnd. Im. 20 : 17) Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Lesbian : seorang perempuan yang tertarik dengan perempuan lain. Gay: seorang pria yang tertarik dengan pria lain atau sering dipakai untuk menggambarkan homoseksual. Bisexual: orang tertarik baik kepada pria dan perempuan. Transgender: orang yang identitas gendernya bukan lakilaki dan perempuan atau berbeda dengan yang biasa ditulis dokter di sertifikat kelahiran. Queer: menunjukkan seseorang yang tidak mau diidentifikasi sebagai gender yang bisa dipasangkan, misalnya laki dan perempuan, homoseksual dan heteroseksual, atau mereka yang tidak mau diberi label berdasarkan orientasi seksual mereka. Questioning: seseorang yang masih mengeksplorasi identitas gender dan orientasi seksual mereka. Intersex: orang yang tubuhnya jelas bukan laki atau perempuan. Ini mungkin karena mereka memiliki kromosom yang bukan XX atau XY atau karena alat reproduksi mereka bukan dikategorikan sebagai 'standar'.


3.6.4 Berbagai tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), di antara suami-isteri maupun orangtua-anak (rinciannya lihat butir 18; bnd. Undang-undang Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga). 3.7 Tata Cara Penggembalaan 3.7.1 Bagi warga jemaat yang melakukan pelanggaran atas ketentuan di atas dikenakan Tata Penggembalaan, yaitu bimbingan dan pengajaran, sampai yang bersangkutan mengungkapkan pertobatan di hadapan Majelis Jemaat dan yang bersangkutan diterima kembali sebagai warga jemaat penuh. 3.7.2 Warga dan pelayan gereja yang melakukan pelanggaran sebagaimana disebut pada butir 3.5.1 digembalakan secara khusus dan menyampaikan pengakuan di hadapan Majelis Jemaat, lalu perkawinannya dapat diberkati, agar perkawinannya tidak menjadi liar, dan penggembalaan dapat dilanjutkan. 3.7.3 Bagi warga jemaat yang melakukan perkawinan terlarang (butir 3.4.1 dan 3.4.2), setelah dilakukan penerimaan dan dikukuhkan menjadi keluarga yang sah di GKPI maka diberikan Akte Pernikahan ataupun Surat Keterangan Menikah sesuai dengan tanggal pernikahan. Tujuannya adalah untuk merespons peraturan pemerintah tentang catatan sipil perkawinan yang membutuhkan Akte Pernikahan ataupun Surat Keterangan Menikah dari Gereja, dan agar anak-anak yang lahir dari perkawinan itu diperlakukan sebagai anak-anak yang sah. Tetap Tetap 3.7.2 Warga dan pelayan gereja yang melakukan pelanggaran sebagaimana disebut pada butir 3.5.1 digembalakan secara khusus dan menyampaikan pengakuan di hadapan Majelis Jemaat, lalu perkawinannya dapat di Teguhkan sesuai Buku Tata Ibadah GKPI, dan penggembalaan dapat dilanjutkan. 3.7.3 Bagi warga jemaat yang melakukan perkawinan terlarang (butir 3.4.1 dan 3.4.2), setelah dilakukan penerimaan dan diteguhkanumenjadi keluarga yang sah di GKPI maka diberikan Akte Peneguhan Pernikahan sesuai dengan tanggal Mereka hidup bersama sebagai suami/isteri. Tujuannya adalah untuk merespons peraturan pemerintah tentang catatan sipil perkawinan yang membutuhkan Akte Pernikahan dari Gereja, dan agar anak-anak yang Allies: orang yang mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual namun mendukung komunitas LGBTQQIAAP. Asexual:orang yang tidak tertarik secara seksual kepada gender apa pun. Pansexual: orang yang ketertarikan seksualnya bukan berdasarkan gender dan bisa mengkategorikan diri ke gender atau identitas seksual apa pun


3.7.4 Bagi suami/istri yang melakukan poligami dan poliandri dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk pengakhiran keanggotaannya. Ybs. dapat diterima kembali bila yang bersangkutan kembali menjalani perkawinan monogami. 3.7.5 Suami atau isteri yang ditinggalkan atau diceraikan oleh pasangannya dengan bukti yang sah, tidak dikenakan TP-GKPI. lahir dari perkawinan itu diperlakukan sebagai anak-anak yang sah. 3.7.4 a. Bagi suami/istri yang melakukan poligami dan poliandri dikenakan Tata Penggembalaan dan status keanggotaanjemaatnya nya di akhiri. b. Ybs. dapat diterima kembali bila yang bersangkutan kembali menjalani perkawinan monogami setelah menjalani penggembalaan selama tiga bulan dan mengakui kesalahannya di depan Majelis Jemaat. 3.7.5. Kehidupan Rumahtangga a.GKPI pada dasarnya tidak menyetujui perceraian kecuali kerena kematian (Mark 10 : 1 – 12, Mat 19 : 1 – 9, 1 Kor 7 : 1 -16). Oleh karena itu GKPI seharusnya tidak mnyetujui perceraian termasuk perceraian yang di sahkan oleh pengadilan. Penerimaan perceraian yang disahkan oleh pengadilansering dipahami bahwa GKPI mnyetujui perceraian dan cenderung dapat di salhgunakan untuk melegalkan perceraian di tengah warga dan pelayan GKPI. b. Suami atau isteri yang mengalami masalah dalam Rumah Tangga dan mau bercerai mendapat bimbingan dari Tim Komisi Tata Penggembalaan GKPI tingkat resort


atau Jemaat dan mendorong mereka agar berdamai kembali. c.Bagi Pasangan Suami/istri yang bercerai secara pengadilan Maka : c.1. Keanggotaan Jemaatnya berakhir dengan sendirinya. c.2. Jika yang diceraikan adalah korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) maka yang bersangkutan tidak di kenai Tata Penggembalaan. c.3. Bila yang menceraikan adalah Korban KDRT yang bersangkutan tidak dikenakan Tata Penggembalaan. c.4. Pasangan yang tersebut dalam C.2. Dan C.3. dapat menikah kembali dan dilayani oleh GKPI minimal 6 bulan bagi laki-laki dan 1 tahun bagi perempuan pasca perceraian c.5. Warga Jemaat yang berstatus duda atau janda dapat menikah kembali dan dilayani oleh GKPI minimal setelah menjalani masa duda 6 bulan bagi laki-laki dan janda 1 tahun bagi perempuan. d.Perceraian secara adat ataupun secara individual (dinyatakan oleh ybs. sendiri) tidak diakui GKPI dan yang melakukanya dikenai Tata Penggembalaan, dan bagi pasangan


yang bercerai secara adat / individu dibimbing supaya rujuk kembali. e. Setelah masa penggembalaan selesai, dan mereka rujuk kembali maka mereka diterima kembali menjadi anggota penuh (anggota sidi; lih. PRT GKPI Pasal 1, ay. 2.b). Penerimaan di laksanakan di rapat Majelis Jemaat f.Penerimaan dan peneguhan perkawinan warga jemaat yang sempat melakukan perkawinan terlarang (lihat TP butir 3.7.3) dilakukan dengan menggunakan Tata Ibadah Penerimaan dan Peneguhan Pernikahan dalam Buku Tata Ibadah /Agenda GKPI versi 2013). g. Suami atau isteri yang ditinggalkan atau diceraikan oleh pasangannya dengan bukti yang sah (a.l. surat keputusan perceraian dari pengadilan, atau bukti bahwa suami atau isterinya sudah kawin lagi), tidak dikenakan TP-GKPI (lihat TP butir 3.7.5). h. Suami atau isteri atau orangtua atau anak yang melakukan tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), termasuk para pelayan GKPI (pendeta, penatua, dst.) dikenakan TP. Mereka dibimbing dan dinasihati agar tidak melakukan hal itu lagi. Bila kasus itu dibawa ke ranah hukum, sesuai dengan


3.7.6 Jika pasangan yang menjalani TP-GKPI mendaftar ke jemaat GKPI lain, mereka dapat diterima tetapi status pasangan ini adalah warga yang dikenai TP-GKP 4. Kelahiran dan Perolehan Anak 4.1 Perolehan anak yang normal adalah melalui hubungan suami-istri dalam perkawinan yang sah. 4.2 Dalam banyak kasus suami-istri tidak mendapat anak melalui cara yang normal. Karena itu dimungkinkan memperoleh anak melalui metode atau jalan lain, antara lain: 4.2.1 Bayi Tabung Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan modernisasi ilmu kedokteran maka pembuahan dan kelahiran dapat diupayakan melalui bayi tabung. Tujuannya membantu pasangan keluarga yang tidak punya anak untuk mempunyai anak. Warga GKPI diizinkan mengupayakan anak melalui metode bayi tabung, dengan ketentuan bahwa benih harus dari suamiistri yang sah. 4.2.2 InseminasiInseminasi juga diizinkan ap abila benih yang disuntikkan berasal dari suami yang sah. 4.2.3 Adopsi Anak Pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak kandung diperbolehkan untuk mengangkat atau mengadopsi anak. Adopsi anak harus dilaksanakan dengan memenuhi ketentuan perundangundangan yang berlaku serta ditindak-lanjuti dengan mendidik, membesarkan dan membina si anak dalam kasih Yesus Kristus. Undang-undang Penghapusan KDRT no. 23 Tahun 2004 (yang berlaku juga bagi GKPI), maka GKPI tidak perlu mencegahnya, namun pelayannya tetap mendampingi mereka Tetap Tetap Tetap Tetap


4.3 Jenis-jenis Pelanggaran terhadap Kelahiran dan Perolehan Anak: 4.3.1 Metode bayi tabung yang bukan dari benih suami-istri yang sah. 4.3.2 Benih yang disuntikkan melalui metode inseminasi tidak berasal dari suami ybs. 4.3.3 Adopsi yang tidak memenuhi ketentuan perundangundangan atau yang hanya bertujuan untuk memancing, lalu setelah mendapat anak kandung anak yang diadopsi itu diterlantarkan. 4.3.4 Memperoleh anak dari hasil mencuri (menculik), membeli (perdagangan anak), atau menukar bayi. 4.3.5 Kloning (cloning, penggandaan manusia melalui pemecahan sel yang terpilih sebagai sel unggulan) tidak diizinkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip perkembang-biakan manusia (lihat juga Pasal 18.3). 4.4Tatacara Penggembalaan: Bagi warga jemaat yang melakukan pelanggaran atas ketentuan di atas dikenakan Tata Penggembalaan, yaitu bimbingan dan pengajaran, sampai yang bersangkutan mengungkapkan pertobatan di hadapan Majelis Jemaat dan yang bersangkutan diterima kembali sebagai warga jemaat penuh. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap 4.4. Bagi warga jemaat yang melakukan pelanggaran atas ketentuan di atas dikenakan Tata Penggembalaan Oleh Tim/Komisi Penggembalaan Resort/Jemaat, (Merujuk kepada Surat PS No.263/A.1/III/2021) yaitu bimbingan dan pengajaran, sampai yang bersangkutan mengungkapkan pertobatan di hadapan Majelis Jemaat dan yang bersangkutan diterima kembali sebagai warga jemaat penuh.


5. Pekerjaan 5.1 Bekerja adalah perintah Allah kepada manusia ketika manusia diciptakan (Kej. 1:28; 2:15). Oleh karena itu hakikat manusia sebagai yang harus bekerja telah ditetapkan sejak semula. Janganlah orang mencuri dan melakukan pekerjaan yang tidak benar dan tidak baik (Kel. 20:15; Ef. 4:28), tidak malas melainkan memiliki semangat bekerja keras (Amsal 6:6-11; 20:4, 13). Yesus sendiri bekerja, demikian juga Rasul Paulus, sekadar menyebut para panutan kita (Mrk. 6:3; Titus 3:14; 2 Tes. 3:6-12). Maka anggota jemaat harus mencermati dorongan Paulus, "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes. 3:10). Perintah agar manusia bekerja, mendorong kita untuk melaksanakan pekerjaan kita dengan penuh rasa tanggung jawab (Mat. 25: 14-30), tetapi juga panggilan untuk tidak menjalankan usaha dan pekerjaan berlandaskan rasa kuatir (Mat. 6:28-30) dan perencanaan yang tanpa menyertakan Tuhan (Yak. 4:13-17). 5.2 Pelanggaran terhadap Pekerjaan yang Benar: 5.2.1 Mencuri, menipu, korupsi, menadah hasil curian, merampok, menodong, menyandera atau menculik, berjudi dan melakukan toto gelap (togel) atau sejenisnya. 5.2.2 Menjual yang bukan hak miliknya. 5.2.3 Rentenir 5.2.4 Perdagangan Manusia dan Organ-organ tubuh manusia 5.2.5 Perdagangan Narkotika dan Zat Adiktif lainnya (Narkoba). 5.3 Tata Cara Penggembalaan Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


5.3.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran tersebut di atas, ybs. dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang pekerjaan yang benar, dan janji Allah tentang hal itu. Setelah ada pengakuan dan pertobatan di hadapan Majelis jemaat, ybs. diterima kembali sebagai anggota penuh. 5.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan pelanggarannya makasetelah dilakukan penggembalaan secara berulangulang - keanggotaan ybs. diakhiri. 6 . Penyakit dan Penyembuhan 6.1 Memiliki tubuh dan jiwa yang sehat adalah kerinduan setiap orang. Untuk itulah orang berusaha untuk tidak jatuh dalam sakit dengan mengusahakan hidup yang sehat, mengkonsumsi makanan yang sehat dan vitamin, berolahraga, bersantai dan bersikap positif serta menikmati hidup. Kita juga bersyukur bahwa sejumlah obat penting ditemukan dan berbagai penyakit mematikan sudah dapat disembuhkan. Akan tetapi ternyata penyakit dan jatuh sakit tetap dapat menimpa kita. 6.2 Tidak ada orang yang berharap untuk sakit, tetapi bila hal itu terjadi, keadaan itu harus diterima, sambil mengusahakan penyembuhan. Maka penyakit haruslah dilihat sebagai hal yang wajar muncul dalam kehidupan manusia. Yang penting adalah - di samping menerimanya melakukan sesuatu bagi penyembuhan, yaitu berobat dan berdoa memohon pertolongan dari Tuhan, agar Tuhan memberi kesembuhan dan kekuatan serta ketenangan hati Tetap 5.3.2. Jika yang bersangkutan terbukti Secara hukum melakukan pelanggaran sebagimana yang tedapat dalam butir. 5.2 dan dijatuhi hukuman penjara maka ybs akan mendapat pendampingan / peneguhan dari Pendeta setelah dinyatakan bebas. 5.3.3. Tetap Tetap


sehingga tidak bertambah susah karena kekuatirankekuatiran perasaan dan pikiran. Bersama dengan pengobatan medis, sikap percaya dan berharap kepada Tuhan adalah hal yang seharusnya dilakukan orang yang percaya kepada Tuhan; memiliki kerinduan yang tak kunjung putus untuk sembuh (2Raj. 5: 1-14; 20:1-11; Yoh. 5: 1-9; 9: 1-41; Luk. 5: 12-16; 17-26; Mat. 9: 1-8; Yak. 5:15- 20). Kiranya Tuhan memberikan kesembuhan dan orang yang sakit serta keluarganya tidak kehilangan pengharapan kepada Tuhan. 6.3 Kendati demikian perlu disadari bahwa pengobatan yang wajarlah yang seharusnya dilakukan orang pecaya. Bila penyakit tidak terobati, orang percaya kiranya dapat menerimanya dan tidak kehilangan kepercayaan kepada Tuhan, dan melihat bahwa di dalam keadaan sakit dan tidak sembuh, ia juga berada dalam penyertaan dan penguatan dari Tuhan. 6.4 Karena itu penyembuhan yang boleh diupayakan adalah penyembuhan dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen. 6.5 Beberapa jenis upayapenyembuhan yang tidak sesuai dengan iman Kristen antara lain: 6.5.1 Pengobatan/penyembuhan yang mengandalkan kuasa okultisme (lihat Pasal 8); 6.5.2 Cangkok organ-organ tubuh melalui pemaksaan ataupun pembunuhan; 6.5.3 Euthanasia yaitu melakukan tindakan bunuh diri berbantuan (maksudnya dokter membantu pasien terminal untuk membunuh dirinya untuk mengakhiri penderitaannya). 6.5.4 Penggunaan Narkoba di luar cara-cara kedokteran yang resmi. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


6.6 Tata Cara Penggembalaan 6.6.1 Warga jemaat yang sedang sakit dan mengupayakan penyembuhan memerlukan penggembalaan. Bentukbentuk penggembalaannya a.l. perkunjungan, percakapan pastoral (menjelaskan makna kesakitan/penyakit dan penyembuhan). 6.6.2 Bila warga jemaat terbukti melakukan penyembuhan dengan cara yang dilarang tersebut di atas (butir 6.5), maka ybs. dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang penyembuhan yang benar, dan janji Allah tentang hal itu. Setelah ada pengakuan dan pertobatan, kemudian ybs. diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 6.6.3 Jika ybs. tidak mau meninggalkan pelanggarannya, setelah dilakukan penggembalaan secara berulang-ulang, maka keanggotaan ybs. diakhiri. 7. Kematian Dan Pemakaman 7.1. Kematian adalah hal yang wajar terjadi atas manusia. Orang yang beriman memahami bahwa di balik kematian tersedia kehidupan yang kekal. Warga GKPI yang meninggal patut dimakamkan atau dikremasi (jasadnya diperabukan sesuai permintaan ybs.) dengan pemahaman bahwa itu adalah perhentian sementara menunggu kebangkitan d Tetap 6.6.2.Bilawarga jemaat terbukti melakukan penyembuhan dengan cara yang dilarang tersebut di atas (butir 6.5), maka ybs. dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang penyembuhan yang benar, dan janji Allah tentang hal itu, oleh Tim/Komisi Penggembalaan Resort/Jemaat. Setelah ada pengakuan dan pertobatan, kemudian ybs. diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. Tetap 7.2. Kematian yang tidak Wajar Antara Lain : Bunuh diri dan di bunuh 7.3. Jenis-jenis Pemakaman yang tidak menggunakan Agenda (Tata Ibadah) GKPI:


7.2 Tata Cara Pemakaman yang baik: 7.2.1 Setiap jenazah warga jemaat dimakamkan dengan acara kebaktian pemakaman yang ditetapkan dalam Agenda GKPI. 7.2.2 Pemakaman jenazah warga jemaat yang masih dalam status dikenai Tata Penggembalaan dengan kategori kesalahan yang berat (a.l. poligami dan bunuh diri) tidak menggunakan Agenda GKPI, namun demikian. diberangkatkan dengan nyanyian, doa dan khotbah penghiburan. 7.2.3 Jenazah pelayan dan warga gereja dapat diberangkatkan dari gedung gereja untuk seterusnya menuju pemakaman. 7.2.4. Penyemayaman sampai dengan pemakaman jenazah tetap berada di bawah pengawasan para pelayan 7.3.1 Jenazah warga jemaat yang belum dibaptis. 7.3.2 Jenazah orang yang berpoligami atau berpoliandri. 7.3.3 Jenazah orang yang mati bunuh diri. 7.3.4 Jenazah orang yang dikenai Tata Penggembalaan GKPI (bnd. butir 7.2.2) 7..2. TP Lama Menjadi 7.4. 7.4.1. Penambahan Kata Buku Tata Ibadah /Agenda 7.4.2. a.Pemakaman jenazah warga jemaat yang masih dalam status dikenai Tata Penggembalaan dan bunuh diri tidak menggunakan Agenda GKPI, namun demikian. diberangkatkan dengan nyanyian, doa dan khotbah penghiburan. b. Jika warga jemaat yang mengalami gangguan jiwa mati bunuh diri maka ybs dilayani sesuai buku Tata Ibadah /Agenda GKPI 7.4.3. 7.4.4. a. Penyemayaman sampai dengan pemakaman jenazah Maksimal selama 3 hari dan tetap


jemaat, agar jangan terjadi hal-hal yang bertentangan dengan peraturan gereja. 7.2.5 Tindakan yang dipahami sebagai bentuk penghormatan terakhir dari keluarga/ kerabat, misalnya: menjatuhkan tanah atau menaburkan bunga, hendaklah diikuti dengan pengucapan Firman Allah atau doa yang menggambarkan pengharapan Kristen akan hidup yang kekal. 7.2.6 Ibadah pemakaman jenazah yang tidak diketemukan dapat dilaksanakan di tempat kejadian dengan menggunakan Tata Ibadah GKPI yang khusus untuk itu. 7.2.7 Persemayaman jenazah sebaiknya paling lama tiga hari, dan acara pemakaman selambat-lambatnya sampai pukul 18.00 waktu setempat (tergantung situasi dan kondisi setempat). 7.2.8 Bila pemakaman dilakukan pada hari Minggu atau setelah itu maka Kebaktian Minggu diadakan di rumah duka dengan menggunakan Liturgi (Agenda) Kebaktian Minggu. 7.2.9 Kremasi Jenazah dilaksanakan dengan menggunakan Liturgi Pemakaman, dan berdasarkan I Korintus 15:35-50. 7.4 Jenis-jenis kegiatan yang tidak dibenarkan sehubungan dengan pemakaman berada di bawah pengawasan para pelayan jemaat, agar jangan terjadi hal-hal yang bertentangan dengan peraturan gereja. b. Acara Pemakaman jenazah selambatlambatnya sampai dengan pukul 18.00 waktu setempat. (Tergantung Situasi dan kondisi setempat 7.4.5. 7.4.6. 7..2.7. TP Lama Di pindahkan menjadi Butir 7.4.4. a dan b. 7.4.7. 7.4.8. 7.4. Menjadi 7.5. Tetap


7.4.1 Menabur garam dan melangkahi mayat. 7.4.2 Memasukkan barang-barang milik ybs. semasa hidup ke peti jenazah. 7.4.3 Menggunakan lambang-lambang kebudayaan yang mengandung paham animisme dalam rumah duka dan pada saat upacara pemakaman. 7.4.4 Menyapa jenazah, termasuk meminta berkat dari jenazah 8. Okultisme 8.1 Okultisme adalah kepercayaan kepada hal-hal yang tersembunyi, rahasia (misterius), gaib dan magis, serta pemujaan kepada -kekuatan yang bers adikodrati (supraalamiah) dan supra-indrawi di luar Allah, dan bersifat irasional, yang mempengaruhi kehidupan manusia. Okultisme mencakup antara lain: Guna-guna, Sihir, Takdir, Penyembahan roh nenek-moyang, Menjalin hubungan dengan orang mati, Penyembahan kepada benda-benda, Perdukunan, Ramalan (Astrologi, Peruntungan, Meniti hari, dsb.; termasuk memakai Almanak Gereja untuk menentukan hari baik atau hari buruk), Mejik, Spiritisme (pemujaan terhadap roh-roh), Begu Ganjang, dan Berhalaberhala modern (a.l. pemujaan terhadap alat-alat teknologi modern). 8.2 Tata Cara Penggembalaan 8.2.1 Warga jemaat yang masih menganut okultisme dinasehati supaya-berpedoman pada Firman Tuhan (a.l. Kej. 35:2-4; Bil. 23:23; Ul. 7:25-26, 18:9-13; 1Raj. 15:12-13; 2Raj. 21:3-6; 2Taw. 33:6,15; Kis. 19:19, 26:18; 2Kor. 11:14; Kol. 1:13; 2Tes. 2:9; 1Yoh, 4:4; dan Why. 3:20) tidak lagi menganut dan mempraktikkannya. 8.2.2 Khusus menyangkut hubungan dengan orang mati, kepada mereka a.l. dijelaskan bahwa tidak ada hubungan 7.5.1. 7.5.2. 7.5.3 7.5.4 Tetap Tetap Tetap


antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati (bnd. Pkh. 12:7). Karena itu Firman Tuhan melarang orang yang beriman kepada Kristus untuk berhubungan dengan orang mati (bnd. Yes. 8:19; Ul. 18:10-12; Im. 19:31, 20:6,27). Namun demikian orang beriman dapat mengenang orang-orang yang mati di dalam Tuhan, karena mereka itu pun adalah bagian dari keluarga Allah (Ef. 2:19) dan pengenangan itu dilakukan pada Minggu Akhir Tahun Gereja. 8.2.3 Bila warga jemaat terbukti melakukan praktik okultisme maka kepada ybs. dikenakan Tata Penggembalaan berbentuk bimbingan dan pengajaran tentang keesaan dan kemahakuasaan Allah. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan, maka ybs. diterima kembali menjadi anggota penuh. 8.2.4 Jika ybs. tidak mau meninggalkan praktik tsb., atau masih melakukannya secara berulang-ulang, maka keanggotaannya di GKPI diakhiri. 9. Uang dan Harta Benda 9.1 Sikap dan pandangan GKPI terhadap uang dan hartabenda: pada hakikatnya uang dan harta-benda berasal dari Allah, yang dititipkan kepada kita sebagai penatalayannya, untuk kita kelola demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama manusia. Namun demikian kita juga memahami bahwa Iblis dapat juga memberikannya kepada manusia. Karena itu kita harus waspada terhadap godaan Iblis maupun sikap dan tindakan yang mendewakan dan mengutamakan uang dan harta benda. 9.2 Pemahaman, sikap dan tindakan yang mendewakan dan mengutamakan uang dan harta benda antara lain adalah: 8.2.3. 8.2.3 Bila warga jemaat terbukti melakukan praktik okultisme maka kepada ybs. dikenakan Tata Penggembalaan berbentuk bimbingan dan pengajaran tentang keesaan dan kemahakuasaan Allah, oleh Tim/Komisi Penggembalaan Resort/Jemaat. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan, maka ybs. diterima kembali menjadi anggota penuh. Tetap Tetap


9.2.1 Korupsi, yaitu menyelewengkan, menyalahgunakan wewenang dan jabatan, atau mengambil yang bukan haknya (terutama berupa uang dan harta-benda) (bnd. Ul. 5:21; 2Raj. 5:19-27; Pkh. 5:9; Am. 2:6; Luk. 3:12-14; Kis. 5:1-12,8:18-24; 1Tim. 6:10; 2Tim. 3:2; Ibr. 13:5); 9.2.2 Suap, yaitu memberikan atau menerima sejumlah uang atau benda tertentu dalam rangka memperoleh atau memberikan hal tertentu (penerimaan siswa/mahasiswa baru, penerimaan pegawai, pengurusan izin, penetapan pemenang tender, dsb.) (bnd. Kel. 18:21, 23:8; Ul. 10:17, 16:19; 1Sam 8:3; Ayb. 15:34; Mzm. 15:5; Ams. 15:27; Yes. 1:23; Am. 5:12; Mi. 7:3); 9.2.3 Rentenir, yaitu menjalankan/meminjamkan uang dengan bunga tinggi (riba) dengan tujuan memperoleh keuntungan besar sambil memerasatau merugikan orang lain (bnd. Im. 25:36; Neh. 5:7; Mzm. 15:5; Ams. 28:8; dan Yeh. 22:12). 9.2.4 Materialisme, yaitu pemahaman bahwa materi (hartabenda, termasuk uang) dapat memberi kepuasan, kebahagiaan dan kepenuhan hidup; sehingga materi ditimbun dan dipuja, dan hidup diarahkan untuk memperoleh materi sebanyak-banyaknya (bnd. Mzm. 49:7; Ams. 23:4; Luk. 6:24, 12:13-21; 1Tim. 6:9-10; 2Tim. 3:2; Ibr. 13:5).9.2.5 Konsumtivisme, yaitu pemahaman dan sikap yang mengejar, memuaskan dan memuja perolehan dan penggunaan harta-benda sebanyak-banyaknya (antara lain makanan-minuman, pakaian, perhiasan, alat-alat komunikasi, kendaraan, rumah dan perlengkapannya) (bnd. Ul. 21:18-20; Ams. 23:21; Tit. 1;12). 9.2.6 Hedonisme: pemahaman dan sikap yang berorientasi pada pemuasan hasrat dan hawa nafsu, serta perolehan kenikmatan (a.l. berpesta-pora, mengkonsumsi narkoba, dan mengumbar nafsu seksual) (bnd. Ams. 6:30, 11:6, 21:26; Mrk. 7:22; Rm. 13:13; Gal. 5:19; Ef. 4:19-22; Kol. 3:5; Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


1Tes. 4:5; 1Tim. 6:19; 2Tim. 2:22, 3:4-6; Yak. 3:15, 4:1-3; 1Ptr. 1:14, 4:3; 2Ptr. 1:4; 2Ptr. 2:2-22) 9.3 Tata Cara Penggembalaan: 9.3.1 Pelayan atau warga jemaat yang terbukti memperlihatkan pemahaman, sikap dan tindakan yang mendewakan atau memuja uang dan hartabenda sebagaimana dikemukakan di atas diajak bercakap-cakap serta disadarkan bahwa pemahaman, sikap dan tindakan itu bertentangan dengan firman dan kehendak Tuhan. 9.3.2 Bila ybs. mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya, masalahnya sampai di situ. Bila tidak, maka langkah-langkah yang dikemukakan pada Pasal 2 di atas dijalankan terhadapnya. 10. Pemeliharaan dan Hubungan Okemenis 10.1 Sebagai pendukung dan bagian dari gerakan oikoumenis, serta menjadi anggota dari berbagai organisasi dan persekutuan oikoumenis (a.l. PGI/PGIW, WCC, CCA, UEM, dan LWF) GKPI pada semua aras memelihara hubungan yang sehat dan saling menghormati dengan gereja-gereja pada umumnya dan gereja-gereja anggota persekutuan oikoumenis tersebut pada khususnya, termasuk mengikuti secara aktif berbagai kegiatan oikoumenis. 10.2 Khusus dengan gereja-gereja anggota PGI, GKPI berpegang pada salah satu Dokumen Keesaan Gereja, yaitu Piagam Saling Menerima dan Saling Mengakui, terutama dalam hal Baptisan dan Perkawinan. Dengan demikian bila ada warga dari gereja-gereja itu diterima menjadi anggota GKPI, mereka cukup membawa surat pindah (atestasi) dan tidak perlu berlama-lama menempuh Penggembalaan Umum kepada Calon Warga Jemaat (lihat Bab II.3). 9.3.1. Kata bercakap-cakap di ganti dengan kata di nasehati dan di bimbing, oleh Tim/Komisi Penggembalaan Resort/Jemaat. Tetap Tetap Tetap


10.3 Warga dari gereja-gereja yang bukan anggota PGI (termasuk yang dari Gereja Katolik Roma), bila hendak menjadi warga GKPI, diwajibkan mengikuti Penggembalaan Umum kepada Calon Warga Jemaat sebagai-mana diatur dalam Bab II.3. 10.4 Warga dan pelayan GKPI perlu waspada dan hati-hati terhadap berbagai persekutuan dan kegiatan gerejawi lainnya yang memakai label 'oikoumene' tetapi menyampaikan ajaran dan menjalankan praktik yang tidak sesuai dengan yang di GKPI (bnd. Pasal 11). 10.5 Kepada warga dan pelayan GKPI yang mengikuti kegiatankegiatan yang disebut pada butir 10.4 di atas dijalankan Penggembalaan Umum kepada Pelayan dan Warga Jemaat sebagaimana diatur pada Bab II. 11. Paham/Ajaran Lain yang berbeda dengan Ajaran / P3I GKPI 11.1 Selain pemahaman yang disebut pada Pasal 8-9, masih banyak paham/ajaran/aliran lain yang ada di sekitar GKPI. Sikap dan pandangan GKPI terhadap berbagai paham/ajaran/aliran lain itu adalah: Bertolak dari Alkitab dan Pokok-pokok Pemahaman Iman (P31) GKPI, ada berbagai paham/ajaran/aliran lain yang dapat diterima, namun ada juga yang tidak dapat diterima oleh GKPI, dan oleh karena itu warga dan pelayan GKPI hendaknya tidak menganutnya. 11.2 Contoh-contoh paham/ajaran/aliran lain berbeda dan tidak dapat diterima GKPI: 11.2.1 Teologi Sukses (Teologi Kemakmuran): Paham ini mengajarkan bahwa orang Kristen sebagai anak-anak Tuhan pasti selalu sukses dan makmur (kaya-raya) secara material, tidak pernah sakit atau gagal, karena anak-anak Tuhan pasti diberkati Tuhan secara berkelimpahan. Dalam kenyataannya, bahkan Alkitab juga menyaksikan, orangorang yang beriman kepada Tuhan banyak yang sakit, Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap


susah, miskin, dan menderita, namun tetap disertai dan diberkati Tuhan. 11.2.2 Saksi-saksi Yehuwa/Persekutuan Menara Pengawal/ Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab: Aliran ini menolak doktrin Trinitas (ketritunggalan Allah). Bagi mereka Yehuwa-lah satu-satunya Allah; Yesus Kristus adalah ciptaan Allah Yehuwa yang pertama, Saksi yang Setia, dan tokoh terbesar sepanjang masa, tetapi bukan Tuhan. Menurut mereka, di dunia ini ada dua organisasi dan kekuasaan: Organisasi Iblis (di dalamnya terdapat a.l. pemimpin agama dan politik) dan Organisasi Allah (mencakup Yesus Kristus yang akan memimpin Kerajaan Seribu Tahun di bumi, 144.000 orang yang terpilih, diurapi dan masuk surga, serta para pemimpin dan anggota Saksisaksi Yehuwa di luar 144.000 orang itu (yang disebut Kaum Yonadab). Mereka juga menolak transfusi darah (baik sebagai donor maupun resipien), karena menurut mereka jiwa manusia terdapat di dalam darahnya. 11.2.3 Komunisme: Paham ini terutama dicanangkan Karl Marx pada abad ke-19, lalu menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Paham ini menentang kapitalisme dan menekankan pertentangan antar kelas (buruh dan kapitalis). Harta-milik pribadi harus ditiadakan, sehingga semua orang menikmati harta dan kehidupan yang sama rasa sama rata. Pertentangan antar kelas harus diselesaikan dengan melakukan revolusi. Agama dianggap sebagai candu dan Tuhan dianggap sebagai hasil anganangan manusia yang pada dasarnya tidak ada. Walaupun sebagian besar negara berideologi Komunis sudah runtuh atau mengubah ideologinya, namun paham ini masih dianut banyak orang. 11.2.4 Ateisme: Paham ini menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, manusialah penguasa alam semesta dan dapat mencapai puncak perkembangannya menjadi manusia sempurna. Ateisme dekat dengan Komunisme, tetapi tidak Tetap Tetap Tetap


identik. Banyak orang di dunia Barat maupun Timur pada masa kini yang menjadi ateis tanpa menjadi komunis. 11.2.5 Kapitalisme: Paham ini menyatakan bahwa manusia yang berkuasa di muka bumi ini adalah pemilik modal (kapital). Karena itu paham ini mendorong orang untuk memupuk, menumpuk dan mengembangkan modal sebesar-besarnya, tanpa harus memperhatikan kesejahteraan bersama umat manusia maupun kelestarian alam atau lingkungan hidup. 11.2.6 Sekularisme: Paham ini menyatakan bahwa saeculum (dunia) ini mempunyai hukum dan kedaulatannya sendiri, dengan manusia sebagai pusatnya. Karena itu dunia dan manusia tidak perlu tunduk kepada Tuhan - seandainya pun Dia ada ataupun kekuatan-kekuatan lainnya yang ada di luar dunia. Orang atau negara yang menganut paham ini (lazim disebut negara sekuler) tidak merasa perlu mengindahkan agama (yang berdasar dan berpusat pada keyakinan pada Tuhan), dan karena itu nilainilai dan ketentuan agama tidak perlu dimasukkan dalam hukum, peraturan atau ketentuan yang mengatur kehidupan manusia. 11.2.7 Anti Adat: Sikap ini bertolak dari pemahaman bahwa adat-istiadat (dan kebudayaan pada umumnya) adalah hasil karya Iblis, karena itu harus ditolak dan ditinggalkan oleh orang yang beriman kepada Kristus. Orang-orang atau gereja tertentu yang menganut sikap dan pemahaman seperti ini antara lain memusnahkan (membakar dsb.) benda-benda budaya, seperti ulos, tongkat pusaka, dll. Sebagaimana dikemukakan pada butir 21, GKPI menghargai dan menghormati kebudayaan/adat-istiadat kendati juga tetap kritis terhadapnya. 11.2.8 Agama Parmalim (Pemuja Si Raja Batak): Agama ini memuja Debata Mulajadi na Bolon sebagai Tuhan dan Pencipta alam semesta, serta meyakini bahwa Si Raja Batak adalah keturunan Debata Mulajadi na Bolon dan Tetap Tetap Tetap Tetap


leluhur tertinggi orang Batak. Agama ini dipimpin oleh par malim (imam, orang suci) dan memiliki serangkaian peraturan menyangkut moral maupun ritual dan wadah/ organisasi keagamaan. Walaupun agama ini mengandung dan menyampaikan banyak nilai dan pengajaran yang baik, terutama dalam hal moral, tetapi berbeda dari keyakinan kristiani, terutama mengenai siapa Tuhan. Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat dunia dan umat manusia. 11.2.9 Pemahaman tentang Akhir Zaman (Kiamat) yang Bertentangan dengan Alkitab: Pemahaman ini antara lain menyatakan bahwa manusia dapat menghitung waktu terjadinya akhir zaman dan kedatangan kembali Tuhan Yesus, menentukan tempat terjadinya, menetapkan syaratsyarat agar diangkat Tuhan, serta mengatur cara-cara menyambut kedatangan akhir zaman itu (misalnya menggunakan pakaian khusus, melakukan upacara tertentu, dsb.). 11.2.10Pemahaman yang Sempit tentang Penggunaan Nama Allah: Pemahaman ini menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menggunakan nama Allah, melainkan nama Yehuwa (Yahweh), dan juga menggunakan nama lain untuk Tuhan Yesus (misalnya Yesua Hamasiah). GKPI menggunakan Alkitab yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang menggunakan nama Allah dan menerima penjelasan LAI, kenapa orang Kristen Indonesia (dan Kitab Sucinya) boleh menggunakan nama Allah. 11.3 Tata Cara Penggembalaan: 11.3.1 Pelayan atau warga jemaat GKPI yang terbukti menganut atau menjadi pengikut paham/ajaran/aliran tersebut di atas diberi penggembalaan khusus, dengan tahapantahapan yang diatur pada butir sub-pasal 9.3 butir 1 dan 2. Kepada mereka disampaikan isi Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI maupun pengajaran yang berlaku di GKPI, dan dijelaskan bahwa paham/ajaran/aliran tersebut di atas tidak sesuai dengan yang dianut GKPI. Tetap Tetap Tetap


Click to View FlipBook Version