11.3.2 Untuk menanamkan pemahaman dan ajaran yang dianut GKPI, kepada seluruh pelayan dan warga jemaat GKPI secara kolektif diberikan pembinaan dan pembekalan, baik secara langsung (tatap muka) maupun tertulis (melalui surat penggembalaan ataupun literatur yang diterbitkan atau direkomendasi GKPI). 12. Kekudusan Nama Allah 12.1 GKPI memahami bahwa Nama Allah Yang Esa adalah Kudus adanya, dan Nama Allah Yang Kudus ini diagungkan dan dimuliakan. Nama Allah Yang Kudus adalah Nama yang berkuasa dan mempunyai otoritas tinggi. 12.2 Jenis-jenis Penghujatan terhadap Kekudusan Nama Allah 12.2.1 Mengutuk, mengumpat, berbohong, menipu. 12.2.2 Bersumpah dengan memakai nama Allah baik secara langsung maupun tidak langsung untuk suatu kejahatan. 12.2.3 Menuduh tanpa fakta dan bukti yang jelas. 12.2.4.Mempermain-mainkan Nama Allah, memperalat Nama Allah atau memakai Nama Allah untuk kepentingan dan kemuliaan diri sendiri. 12.2.5 Menyangkal Nama Allah, nama Yesus Kristus di depan umum. 12.3 Tata Cara Penggembalaan: 12.3.1 Setelah terbukti melakukan penghujatan atas Kekudusan Nama Allah, maka ybs. dikenakan Tata Penggembalaan. berbentuk bimbingan dan pengajaran tentang Kekudusan Nama Allah. Setelah menyatakan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan, maka ybs. diterima kembali menjadi anggota penuh. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
12.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan praktek tsb., atau masih melakukannya secara berulang-ulang maka keanggotaannya di GKPI dapat diakhiri. 13.Pengudusan Hari Minggu, Peribadahan/Penyembahan dan Persembahan 13.1 Pemahaman GKPI tentang Pengudusan Hari Minggu, Peribadahan/Penyembahan dan Persembahan: 13.1.1 Pengudusan Hari Minggu: Hari Minggu adalah hari perayaan kemenangan Tuhan Yesus Kristus atas kuasa Iblis, dosa dan maut. Bagi orang Kristen semua hari adalah baik, namun ada suatu hari yang dikhususkan dan dikuduskan untuk beribadah untuk memuji Tuhan, yaitu hari Minggu. 13.1.2 Ibadah pada hakikatnya adalah penyembahan, pemujaan dan pengabdian kepada Tuhan. 13.1.3.Persembahan adalah ungkapan syukur umat Tuhan terhadap perbuatan Allah, yang membebaskan, memelihara, menuntun dan memberkati umat-Nya (Kej. 4:3-4 dst.; lihat P31 GKPI, Bab X, ayat 12). 13.2 Contoh-contoh Pelanggaran atas Pengudusan Hari Minggu: 13.2.1 Malas dan menolak mengikuti kebaktian Minggu. 13.2.2 Menghasut orang lain supaya tidak beribadah pada hari Minggu. 13.2.3 Menganut ajaran yang mengatakan tidak perlu menguduskan hari Minggu. 13.2.4 Tidak membawa anaknya ke sekolah Minggu. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
13.2.5.Melaksanakan hobinya pada hari Minggu sehingga tidak ke Gereja. 13.3 Contoh-contoh Pengabaian atas Peribadahan/Penyembahan: 13.3.1 Tidak melakukan ibadah di rumah masing-masing. 13.3.2 Tidak mengikuti ibadah di sektor/lingkungan ybs. 13.3.3 Tidak mengikuti persekutuan kategorial. 13.3.4 Tindakan mengganggu Peribadahan. 13.4 Contoh-contoh Pengabaian dan Pelanggaran terhadap Persembahan: 13.4.1 Tidak setia memberikan persembahan/bakti bulanan/ tahunan. 13.4.2.Mengambil/mencuri uang persembahan. 13.4.3Menyelewengkan uang Gereja. 13.4.4. Menggunakan/membagi-bagi uang persembahan tanpa dibukukan. 13.4.5. Memamerkan dan melagakkan persembahan yang diberikan. 13.4.6. Memaksakan kehendak di gereja/jemaat dengan menyebut persembahan yang sudah diberikan. 13.5 Tata Cara Penggembalaan: 13.5.1. Setelah terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal tsb. di atas maka kepada ybs. dilakukan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang pengudusan hari Minggu, Ibadah/Penyembahan Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
dan Persembahan. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan pertobatan, maka ybs. diterima kembali sebagai anggota penuh. 13.5.2 Jika ybs. tidak mau memperbaiki dirinya atau mengikuti bimbingan, atau masih melakukan tindakan itu secara berulang-ulang maka keanggotaannya di GKPI diakhiri. 13.5.3. Khusus mengenai penyelewengan di bidang keuangan, diselesaikan secara berjenjang pada forum majelis masing-masing aras. 14. Babtisan Kudus 14.1 Pemahaman GKPI tentang Baptisan Kudus: Baptisan Kudus adalah permandian ke dalam Nama Allah Bapa, Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus, sesuai dengan amanat Tuhan Yesus (Mat. 28:19). 14.2 Tata Cara Pelaksanaan Baptisan Kudus 14.2.1 GKPI melaksanakan baptisan percikan. 14.2.2 GKPI melaksanakan baptisan anak dan baptisan dewasa. 14.2.3 Untuk baptisan anak, sebelum baptisan dilakukan, perlu diadakan bimbingan baptisan kepada orangtua yang membawa anaknya dibaptis. 14.2.4 Baptisan dewasa dilaksanakan setelah ybs. terlebih dahulu mengikuti katekisasi. Baptisan dilaksanakan bersamaan dengan Naik Sidi. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap 14.2.4.a. Baptisan dewasa dilaksanakan setelah ybs. terlebih dahulu mengikuti katekisasi. Baptisan dilaksanakan bersamaan dengan Naik Sidi. b.Baptisan dewasa dilaksanakan kepada seseorang yang berasal dari agama lain setelah terlebih dahulu
14.2.5 Baptisan Kudus dilayankan oleh Pendeta. 14.2.6 Baptisan dilayankan pada saat kebaktian Minggu atau pada kebaktian khusus. 14.2.7 Baptisan Kudus bagi anak yang sakit dilayankan oleh pendeta di rumah atau di rumah sakit maupun di tempattempat lainnya. Jika pendeta berhalangan, baptisan tersebut dapat dilayankan oleh evangelis, guru jemaat atau penatua atau warga jemaat yang sudah naik sidi (atau orangtua si anak itu sendiri), tetapi tanpa penumpangan tangan, dengan catatan: kalau si anak sehat kembali, orangtuanya harus membawa si anak ke gedung gereja waktu diadakan Baptisan Kudus untuk menerima berkat baptisan dari Pendeta. 14.2.8 Anak-anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dapat dibaptis jika ia sudah berada dalam asuhan orang lain yang membuat surat pernyataan bahwa anak itu sudah menjadi anak asuh dan tanggungannya. 14.2.9 GKPI mengakui baptisan yang dilaksanakan oleh gerejagereja lain yang memiliki formula baptisan: di dalam Nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (bnd. Pasal 10: Pemeliharaan Hubungan Oikoumenis) 14.2.10 Anak dari warga gereja lain dapat dibaptis di GKPI apabila ada surat permohonan dari keluarga. 14.2.11 Anak-anak hasil perkawinan poligami dapat dibaptiskan atas permohonan keluarga, dan anak tsb. dibawa oleh pelayan tahbisan (partohonan). 14.2.12 Jika ada salah seorang dari orangtua si anak yang akan dibaptis sedang dikenakan Tata Penggembalaan, maka ybs. tidak dizinkan mendampingi atau ikut membawa anak itu untuk dibaptiskan. mengikuti bimbingan dari Pendeta sekurangkurangnya 3 bulan. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
14.3 Pelanggaran terhadap Baptisan Kudus: 14.3.1 Pelaksanaan baptisan yang tidak memakai formula di dalam Nama Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus. 14.3.2 Menerima Baptisan Ulang, yaitu menerima kembali baptisan dengan formula yang sama ataupun berbeda. 14.3.3 Orangtua yang lalai membawa anaknya untuk dibaptis. 14.4 Tata Penggembalaan bagi Pelanggaran BaptisanKudus: 14.4.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal tsb. di atas maka kepada ybs. dilakukan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang Baptisan Kudus. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan pertobatan, maka ybs. diterima kembali sebagai anggota penuh. 14.4.2 Jika ybs. tidak mau memperbaiki dirinya atau mengikuti bimbingan, atau masih melakukan tindakan itu secara berulang-ulang, maka keanggotaannya di GKPI diakhiri. 15. Perjamuan Kudus 15.1 Pemahaman GKPI tentang Perjamuan Kudus: Perjamuan Kudus adalah tanda peringatan atas penderitaan Tuhan Yesus Kristus dan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus (1Kor. 10:16), yang diwujudkan dalam tanda roti dan anggur sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus (Mat. 26:26-28; Luk. 22:19). Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
15.2 Tata Pelaksanaan Perjamuan Kudus: 15.2.1 Di setiap jemaat GKPI diadakan pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus oleh pendeta sesering mungkin, minimal dua kali dalam satu tahun. 15.2.2 Pelayanan Perjamuan Kudus dapat diberikan kepada orang sakit, di rumah maupun di rumah sakit sesuai dengan permohonannya. 15.2.3 Setiap warga jemaat dan pelayan yang sedang dikenai Tata Penggembalaan tidak diperkenankan mengikuti Perjamuan Kudus. 15.2.4 Bagi warga jemaat atau pelayan yang sedang menjalani Tata Penggembalaan, jika menurut pengamatan jemaat hendak meninggal dunia, kemudian dengan sepenuh hati ia mengakui kesalahan di depan Pendeta, dan memohon agar dia menerima Perjamuan Kudus, maka kepadanya dapat dilayankan Perjamuan Kudus tanpa terlebih dahulu dibawakan dalam rapat pelayan jemaat. Kalau ybs. meninggal dunia, jenazahnya dimakamkan dengan liturgi pemakaman. Apabila ybs. tidak jadi meninggal dunia maka ybs. harus menunjukkan tanda pertobatan dan dengan demikian keanggotaannya dipulihkan. Tetapi apabila ia tidak menunjukkan tanda pertobatan maka ybs. tetap dikenai Tata Penggembalaan. 15.3 Pelanggaran terhadap Perjamuan Kudus: Tetap Tetap
15.3.1 Warga jemaat dan pelayan yang tidak bersedia dan tidak pernah menerima Perjamuan Kudus selama 3 (tiga) tahun dikenai Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan tentang Perjamuan Kudus. 15.3.2 Orang yang menghina atau melecehkan Perjamuan Kudus, misalnya menjadikan bahan-bahan Perjamuan Kudus sebagai jimat, dikenai Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan tentang Perjamuan Kudus. 16. Katekisasi dan Sidi 16.1Katekisasi berasal dari bahasa Latin: catechesis, yang berarti: pengajaran agama (iman). Bagi gereja, termasuk GKPI, Katekisasi adalah kegiatan pendidikan dan pengajaran tentang iman Kristen yang diselenggarakan gereja bagi seluruh warganya, dari anakanak hingga dewasa, bertolak dari keyakinan bahwa pendidikan dan pengajaran Kristen berlangsung seumur hidup. Pendidikan dan pengajaran ini bersumber dari dan didasarkan pada Alkitab (bnd. 1 Tim. 4:6,11; 2Tim. 3:16). 16.2 Khusus bagi warga gereja yang sudah dibaptis pada waktu anakanak, ataupun bagi calon warga gereja yang hendak menerima baptisan pada waktu dewasa, diselenggarakan katekisasi, agar mereka memahami iman dan ajaran Kristen, termasuk baptisan yang sudah ataupun belum mereka terima, karena baptisan tidak terpisah dari iman (bnd. Mrk. 16:16). 16.3 Mereka yang telah selesai mengikuti Katekisasi, mengikrarkan pengakuan imannya sebagai tanda bahwa mereka telah memahami imannya dan telah Tetap Tetap Tetap
menjadi warga gereja yang dewasa dan penuh (bnd. Rm. 10:9-10). Perbuatan mereka mengikrarkan pengakuan iman dan pengukuhan mereka sebagai warga gereja yang dewasa dan penuh disebut naik sidi atau peneguhan sidi. 16.4 Tata Pelaksanaan Katekisasi dan Sidi: 16.4.1 Setiap jemaat wajib melaksanakan kelas katekisasi sebanyak 100 jam pelajaran, dengan materi pelajaran yang mengacu kepada Buku Katekisasi yang diterbitkan GKPI. 16.4.2 Setiap warga jemaat wajib mengikuti Katekisasi sebanyak 100 jam pelajaran. Dispensasi atas hal ini diberikan oleh Pendeta Resort ybs. 16.4.3 Kelas Katekisasi direncanakan, diawasi, dibimbing dan diarahkan oleh pendeta, tetapi dapat dibantu oleh para pelayan yang mempunyai pengetahuan Teologi/ Alkitab dan pengetahuan umum maupun dedikasi. 16.4.4 Katekisasi (krisma) dari Gereja Katolik Roma maupun bentuk lain yang sejenis dari gereja-gereja lain dapat diakui di GKPI setelah memperoleh bimbingan seperlunya dari pendeta. 16.4.5 Bagi warga jemaat yang berkebutuhan khusus (misalnya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autis, dsb.) dan kurang waras, dapat dilakukan katekisasi dan sidi karena pertimbangan moral dan anugerah Allah. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
16.5 Pelanggaran di Sekitar Katekisasi dan Sidi: 16.5.1 Orangtua yang lalai membawa dan menyuruh serta mengingatkan anaknya untuk mengikuti katekisasi. 16.5.2 Warga jemaat yang berumur 17 tahun ke atas yang tidak mau mengikuti katekisasi. 16.5.3 Warga jemaat yang menerima baptisan dewasa di gereja lain dan tidak mau mengikuti Katekisasi dan Naik Sidi. 16.6 Tata Cara Penggembalaan: 16.6.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran dan kelalaian dalam Katekisasi dan Sidi, maka ybs. dapat dikenai TPGKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang dasar serta tujuan Katekisasi dan Sidi bagi orang percaya. 16.6.2 Jika warga jemaat tsb. sudah berulang kali menerima bimbingan tentang pengertian katekisasi tetapi tidak mau untuk mengikuti Katekisasi dan Sidi, maka keanggotaannya diakhiri. 17. Penghormatan kepada Orangtua: 17.1 Penghormatan kepada orangtua adalah suatu perintah yang harus dijalankan oleh anak atau cucu yang didasarkan pada Titah Kelima: "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." (Kel. 20:12; Ul. 5:16). Dengan kata lain penghormatan kepada orangtua adalah suatu kewajiban atau sikap yang patut dilakukan seorang anak (Ef. 6:1-2); sikap yang demikian adalah sikap yang indah di dalam Tuhan (Kol. 3:20). Tetap Tetap Tetap Tetap
17.2 Jenis-jenis Pelanggaran: 17.2.1 Sikap melawan, menghina, menyangkal dan menelantarkan orangtua, terlebih yang sudah jompo. 17.2.2 Mengancam, memukul dan membahayakan nyawa dan mengusir orang tua. 17.3 Tata Cara Penggembalaan: 17.3.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran Titah Kelima, di mana seorang warga jemaat/pelayan tidak menghormati orangtua, maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang penghormatan terhadap orang tua. Setelah mengaku dan bertobat, diterima kembali warga penuh. 17.3.2 Jika warga/pelayan jemaat terbukti mengancam, memfitnah dan melakukan tindakan kekerasan terhadap orang tua sebagaimana disebut pada butir 17.2 di atas, maka kepadanya diberi bimbingan dan pengajaran tentang sikap menghormati orang tua dan orang-orang yang dituakan. Setelah mengaku dan bertobat di hadapan Majelis Jemaat, maka ybs. diterima kembali menjadi anggota penuh. 17.3.3 Jika warga jemaat/pelayan itu tidak mau meninggalkan sikap pelanggaran Titah Kelima, atau dilakukan secara berulangulang maka keanggotaannya diakhiri. Tetap Tetap Tetap Tetap
18. Pemeliharaan Kehidupan 18.1 GKPI memahami bahwa Tuhanlah yang menciptakan segala jenis kehidupan di dunia (Kej. 1:20-27), dan segala yang bernyawa bergantung kepada Sang Pencipta, Pemelihara kehidupan (Mzm. 104:29-30; Ayb. 12:10). Dialah juga yang telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26), serta mengembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej. 2:7). Sejak dalam kandungan pun, manusia telah "ditenun" oleh Penciptanya dan dilihat sebagai bakal anak (Mzm. 139:13-15). Selaras dengan itu, kehidupan sebagai anugerah Allah Yang Mahakudus pada hakikatnya kudus, harus dihormati dan dipelihara dari permulaannya. 18.2Selain kasih setia Tuhan, tidak ada yang lebih berharga daripada hidup itu sendiri (Mzm. 63:4). Karena itu, berbagai kekerasan dan tindakan sewenang-wenang yang mengancam atau menghancurkan kehidupan merupakan pelanggaran terhadap firman Tuhan yang melarang pembunuhan (Kel. 20:13; Mat. 5:2122). Hal ini berlaku tidak hanya untuk kekerasan yang dilakukan terhadap orang lain tetapi juga terhadap diri sendiri. Pengecualian terhadap ketentuan ini hanya dapat ditoleransi dalam kasus-kasus ekstrem ketika hidup itu sendiri benar-benar dipertaruhkan, khususnya apabila nyawa pelakunya terancam bahaya. 18.3 Sebaliknya, segala upaya untuk memelihara dan merawat hidup dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dibenarkan, bahkan didukung sejauh tidak melanggar hakikat dan kedudukan manusia yang bermartabat sebagai ciptaan Tuhan yang berpribadi dan unik. Tetap Tetap Tetap
Upaya medis seperti kloning tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan integritas genetis manusia dan martabat manusia sebagai pribadi yang unik di hadapan Allah. 18.4Jenis-jenis Pelanggaran atas Pemeliharaan Kehidupan: 18.4.1 Melukai, membahayakan nyawa atau membunuh seseorang secara berencana ataupun tidak berencana (kecuali dalam situasi yang sangat terpaksa, demi mempertahankan nyawa atau membela bangsa dan negara); 18.4.2 Melakukan bunuh diri secara langsung ataupun melalui euthanasia (yakni, dengan sengaja memudahkan proses kematian melalui bantuan orang lain); 18.4.3 Menggugurkan kandungan (abortus provocatus) tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan (yakni, apabila nyawa ibu yang mengandung benar-benar dalam bahaya menurut pertimbangan medis yang sah); 18.4.4 Melakukan tindakan yang mempertaruhkan nyawa seseorang, antara lain menculik, menyandera atau melakukan teror dengan ancaman nyawa; 18.4.5 Memproduksi, memperdagangkan atau mengonsumsi narkotika dan sejenisnya yang mengancam kehidupan (kecuali dengan alasan medis yang sah); 18.4.6 Melakukan kekerasan dalam Rumah Tangga, antara lain: Tetap Tetap
1. Kekerasan terhadap anak, misalnya dengan memberi hukuman yang membahayakan nyawa atau perkembangan jiwa anak, menelantarkan anak, memperdagangkan anak, ataupun mencabuli anak; 2. Kekerasan terhadap pasangan hidup (suami atau istri), antara lain dengan memukuli, menelantarkan, atau bertindak sewenang-wenang tanpa menghormati hak-haknya sebagai pribadi yang bermartabat (misalnya pemaksaan terhadap pasangan hidup untuk melakukan hubungan seksual); hubungan seksual); 18.4.7 Bertindak sewenang-wenang dengan menyiksa atau membunuh makhluk hidup tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan (yakni, demi kelangsungan hidup itu sendiri). 18.5 Tata Cara Penggembalaan: 18.5.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran. Setelah ybs. mengaku dan bertobat, ia diterima kembali sebagai warga penuh di hadapan Majelis Jemaat. 18.5.2 Jika warga jemaat/pelayan itu tidak mau mengaku dan meninggalkan sikap dan tindakan yang salah itu, dan ia melakukannya secara berulang-ulang, maka keanggotaannya diakhiri. 19. Berkata dan Berbuat Benar 19.1 Pengertian dan Dasar Pemahaman: Tetap
19.1.1 Berkata dan Berbuat adalah dua sisi pemberian atau anugerah Tuhan kepada manusia. Pengertian "kata" adalah suatu kesatuan bunyi bhasa yang mengandung pengertian, yaitu apa yang dilahirkan dari ucapan, ujar, bicara. Berkata berarti berbicara, berucap untuk menyatakan atau menyampaikan sesuatu dalam hal komunikasi satu arah atau lebih. Demikian halnya dengan "buat" (berbuat), ini memiliki pengertian "menjadikan dalam arti: adanya tindakan atau aksi. Pada hakikatnya berkata dan berbuat adalah dua sisi yang berbeda namun memiliki kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. 19.1.2 Alkitab dengan jelas berbicara tentang Berkata dan Berbuat Benar: "Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya" (Mzm. 145:13b); Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu" (Zak. 8:16); "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (Kol. 3:17); "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah-lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu" (1Tim 4:12b); "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia" (Ef.
4:29); "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Mat. 5:37; bnd. Yak. 3:1-12). 19.1.3 Keseluruhan Dasa Titah dengan mutlak menuntut setiap orang percaya untuk "berkata dan berbuat benar". Apa yang disinggung dalam Dasa Titah, khususnya Titah Kesembilan, "Jangan mengucapkan saksi dusta", menunjukkan betapa pentingnya sikap dan perilaku "berkata dan berbuat benar", yang menjadi substansi kepribadian seorang percaya. 19.1.4 Pandangan dan pemahaman GKPI tentang "berkata dan berbuat benar" bertitik tolak dari P31 GKPI, khususnya mengenai Imamat Am Orang Percaya. Berkata dan berbuat benar adalah suatu kewajiban bagi warga GKPI untuk menjalankannya, yang di dalamnya nyata kebenaran firman dan anugerah Tuhan pada diri setiap orang percaya sebagai bagian dari tubuh Kristus. 19.2 Pelanggaran terhadap Berkata dan Berbuat Benar: 19.2.1 Bersaksi dusta/palsu atau berkata kotor (Im. 19:11; Rm. 9:1; Yak. 3:14; Tit. 1:2); 19.2.2 Bersumpah (Mat. 5:34-36); 19.2.3 Memfitnah dan menghina, melecehkan sesama manusia (Im. 19:16; Ef. 4:31; 1Ptr. 2:1); Tetap
19.2.4 Menyebarkan ajaran sesat (Mat. 7:15, 18:7, 24:24; Mrk. 13:5; Kis. 20:29; 2Yoh. 1:7); 19.2.5 Menyebarkan informasi yang berisi kebohongan dan fitnah melalui alat-alat komunikasi modern atau melalui surat kaleng. (Mzm. 40:5; Ams. 14:5, 19:5); 19.2.6 Memutar-balikan kata, pembicaraan dan keputusan (Kel. 23:8; Ul. 1:9; Mi. 7:3; Gal. 1:7); 19.2.7 Memalsukan data, dan menyelewengkan hukum dan kebenaran (Im. 19:13; Yeh. 22:12; Am. 3:1; Luk. 3:14). 19.3 Tata Cara Penggembalaan: 19.3.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran terhadap Berkata dan Berbuat Benar, seorang warga. jemaat/pelayan dikenakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang hidup dalam kebenaran tanpa ada dusta terhadap sesama, dan janji Allah. 19.3.2 Jika kemudian dengan warga jemaat/pelayan itu mengakui kesalahannya dan bertobat, dapat diterima kembali. 19.3.3 Jika warga jemaat/pelayan itu tidak mau meninggalkan tindakan pelanggaran atau kesalahannya setelah diingatkan secara berulang-ulang, maka keanggotaan ybs.diakhiri. Tetap Tetap
20. Memelihara dan Menjaga Harta Milik dan Hak Orang Lain 20.1 Melalui anugerah dan berkat-Nya Tuhan telah mencukupkan setiap orang dalam kebutuhannya sehari-hari (Ibr. 13:5). Dan Tuhan telah mengajarkan kepada semua orang untuk selalu bersyukur dalam segala hal (1Tes. 5:18). Orang percaya harus senantiasa hidup dalam rasa cukup dan syukur, sehingga tidak ada lagi keinginan hati untuk menguasai harta milik orang lain, baik rumah, isteri/suami, hamba laki-laki atau perempuan, lembu atau keledainya, maupun harta apapun yang dimiliki orang lain. Dan semua orang percaya, oleh karena imannya kepada Tuhan Yesus Kristus, memiliki tanggungjawab untuk memelihara dan menjaga harta milik dan hak orang lain dengan baik. Namun apabila masih ada orang yang pada diri atau hatinya mengingini harta milik dan hak orang lain, maka ia telah melanggar Firman Tuhan. 20.2 Jenis Pelanggaran terhadap Pemeliharaan dan Penjagaan Harta Milik dan Hak Orang Lain: 20.2.1 Mengingini harta orang lain; 20.2.2 Mengingini istri/suami/anak orang lain; 20.2.3 Memecah belah keluarga orang lain; 20.2.4 Mengambil dan mengubah batas-batas tanah orang lain menjadi miliknya; 20.2.5 Tidak mau membayar hutangnya sehingga merugikan orang lain; 20.2.6 Main judi, memberi modal kepada penjudi, atau menjadi bandar judi. Tetap Tetap
20.3 Tata Cara Penggembalaan: 20.3.1 Setelah melalui proses penelitian yang seksama dan terbukti bahwa ybs. melakukan pelanggaran tersebut di atas, maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang hidup bersyukur dalam segala hal dan setia berharap pada janji Allah. Bila ybs. menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 20.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. 21. Budaya dan Adat Istiadat 21.1 Pemahaman GKPI tentang Budaya, termasuk Adat-istiadat: 21.1.1 Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya dan memerintahkan kepada manusia agar menguasai, menaklukkan, mengusahakan dan memelihara seluruh alam ciptaan-Nya (Kej. 1:28, 2:15). Untuk melaksanakan tugas itu Allah mengaruniai dan memperlengkapi manusia dengan akalbudi, daya dan pengetahuan (Kej. 2:29; Mzm. 94:10, 111:10; Ams. 1:7; bnd. Dan. 1:17, 19:22). Dengan semua itu manusia Tetap Tetap Tetap
merupakan makhluk berbudaya dan mengembangkan kebudayaannya. 21.1.2 Kebudayaan manusia terjelma dalam berbagai jenis dan bentuk, antara lain: kesenian, adat-istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi, nilai-nilai, sikap hidup dan perilaku, baik yang tradisional maupun yang modern, sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. Semua itu pada hakikatnya merupakan hasil dari pendayagunaan kemampuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia, dan dimaksudkan untuk memuliakan Allah serta mendatangkan kesejahteraan bagi manusia (bnd. 1Ptr. 4:11). 21.1.3 Akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, gambar dan rupa (citra) Allah di dalam diri manusia menjadi rusak, sehingga segala hal yang dimiliki dan dihasilkan manusia, termasuk kebudayaannya, ikut rusak dan dicemari oleh dosa (bnd. Kej. 3:14-19; Rm. 3:10-18). Setelah kejatuhan ke dalam dosa, Tuhan masih memperkenankan manusia untuk berbudaya dan mengembangkan kebudayaannya. Namun kebudayaan itu sudah tidak lagi semata-mata ditujukan untuk memuliakan Allah dan menyejahterakan manusia (bnd. Rm. 1:21). Kebudayaan bisa menjadi sarana dan wahana bagi manusia untuk menentang kehendak Allah, dan bisa ditunggangi atau disusupi Iblis untuk membawa manusia kepada kejahatan dan kebinasaan. 21.1.4 Setelah Tuhan Yesus Kristus datang menebus manusia dari kuasa dosa, serta memulihkan harkat dan martabat manusia
sebagai citra Allah, manusia mendapat kemungkinan untuk mengembalikan kebudayaannya kepada makna dan fungsi semula. Karena itu berbagai upaya manusia untuk memanfaatkan dan mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi patut dihargai dan didukung oleh gereja. Namun demikian Iblis masih terus merusak, membahayakan dan menyesatkan manusia (1Ptr. 5:8; bnd. Ef. 6:11-12), termasuk kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, sambil tetap menghargai upaya manusia dalam menggunakan dan mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, gereja menyadari pelbagai bahaya dan kesesatan yang bisa terkandung di dalamnya. 21.2 Jenis-jenis Pelaksanaan Budaya dan AdatIstiadat yang Perlu Digembalakan: Bertolak dari pemahaman di atas, dan melihat pelbagai kegiatan budaya yang sering dijalani, diikuti atau dilakukan warga dan pelayan GKPI, ada beberapa yang secara khusus perlu mendapat perhatian dan penggembalaan, antara lain: 21.2.1 Upacara Kematian dan Pemakaman 21.2.1.1 GKPI menghargai adat-istiadat menyangkut kematian dan pemakaman sejauh tidak bertentangan ajaran/P31 GKPI sebagaimana dikemukakan di atas. Tetap Tetap
21.2.1.2 Pelayan GKPI bersama warga jemaat mendampingi dan memberi penghiburan kepada keluarga yang berduka, seraya menasehati agar mereka tidak menjalankan upacara adat-istiadat yang bertentangan dengan ajaran GKPI, misalnya: menyapa jenazah, memohon berkat dari almarhum, atau memberi sajian kepada almarhum. 21.2.1.3 Pelayan GKPI bersama warga jemaat melayankan pemakaman kepada almarhum menurut Tata Ibadah Pemakaman, seraya mengawasi agar keluarga tidak menjalankan upacara adat-istiadat yang bertentangan dengan ajaran GKPI, misalnya memasukkan benda-benda kesayangan almarhum ke dalam peti jenazahnya dan meletakkan benda-benda tertentu (termasuk makanan dan minuman) di atas makam almarhum. 21.2.2 Penggalian Tulang-belulang 21.2.2.1 Penggalian Tulang-belulang adalah kegiatan menggali tulangbelulang orangtua atau leluhur serta memindahkan dan memakamkannya kembali ke tempat lain, dengan upacara tertentu. 21.2.2.2 Penggalian Tulang-belulang diizinkan jika kuburan rusak, dibuat Tetap
menjadi jalan, industri atau untuk pembangunan (jalan, kantor, dll), serta kuburan berada di tempat yang jauh (tanah rantau). 21.2.2.3 GKPI tidak mengizinkan penggalian tulangbelulang yang disertai dengan menari-narikan dan memberi sirih kepada tulangbelulang, mempercayai "tunggal panaluan", dll. 21.2.2.4 Pelaksanaan penggalian tulang-belulang atau tengkorak: 21.2.2.4.1 Penggalian dan penguburan kembali tulangbelulang hendaknya mendapat pengawasan dari pelayan gereja. 21.2.2.4.2 Segala rupa-rupa dan bentuk serta sisasisa penyembahan berhala dan sihir dalam hubungannya dengan penggalian dan penguburan tulangbelulang harus dilarang. 21.2.2.4.3 Penguburan kembali tulang-belulang tersebut tidak lagi dilayani menurut upacara dan tata ibadah pemakaman, melainkan tata ibadah pemakaman kembali tulang belulang Tetap
atau tengkoraknya menurut tata ibadah yang berlaku di GKPI. 21.2.2.4.4 Bagi orang Kristen yang dikuburkan secara darurat (tanpa liturgi penguburan), dengan pertimbangan pendeta, pada pemakaman kembali tulangbelulangnya dapat dijalankan tata ibadah pemakaman. 21.2.2.5 Pelanggaran dalam Penggalian TulangBelulang: 21.2.2.5.1 Penggalian tulang belulang atau tengkorak dilakukan karena alasan atau desakan kesurupan/roh tertentu. 21.2.2.5.2 Penggalian dan penguburan tulangbelulang memakai gondang sabangunan. 21.2.2.5.3 Berbicara dan menangisi tulangbelulang yang diangkat. 21.2.2.5.4 Memberi makanan dan sebagainya kepada orang yang meninggal itu. Tetap
21.2.2.5.5 Memohon berkat dari tulang-belulang atau bentuk aninisme lainnya. 21.2.2.5.6 Mengambil tanah sebagai pengganti tulang belulang berdasarkan pemahaman animis. 21.2.2.5.7 Memanggil dukun untuk menentukan kebenaran dan kepastian tempat penguburan tulang-belulang nenekmoyang. 21.2.3 Pembangunan Tugu 21.2.3.1 Pada dasarnya adalah lebih baik melakukan pembangunan yang berorientasi kepada pengembangan masyarakat dan peningkatan sosial, seperti pendirian sekolah, gereja, koperasi, Credit Union, beasiswa, dan bentuk lainnya. 21.2.3.2 Jika perlu membangun suatu monumen atau tugu sebagai tanda sejarah suatu kesatuan marga atau bangsa, maka yang lebih lebih diutamakan adalah kesatuan dan persatuan di dalam Kristus. 21.2.3.3 Hendaklah di setiap pembangunan tugu atau monumen ada tanda atau simbol salib. Tetap
21.2.3.4 Pelaksanaan pembangunan tugu atau monumen harus dibuka dan diakhiri dengan doa. 21.2.3.5 Di dalam pembangunan dan peresmian tugu harus dihindarkan unsur-unsur kekafiran. 21.2.4 Seni Musik 21.2.4.1 Setiap seni-budaya yang ada beserta upacara-upacara atau ritusritusnya harus tetap mendapat penelitian dan pengawasan dari pelayan Jemaat, yang menegur serta menasehati warga jemaat agar tidak melakukan segala bentuk senibudaya yang dikaitkan dengan penyembahan berhala, sihir dan lain-lain. 21.2.4.2 GKPI berusaha untuk memelihara dan meresapkan nilainilai kristiani ke dalam rupa-rupa seni budaya tersebut, agar kiranya dapat selalu bertujuan untuk kemuliaan Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. 21.2.4.3 Setiap upacara seni-budaya yang diadakan oleh warga GKPI hendaknya mendapat persetujuan dari pelayan jemaat; dan upacara tersebut harus dimulai serta ditutup dengan upacara kebaktian khusus yang dipimpin oleh pelayan jemaat yang bersangkutan. Tetap
21.2.4.4 Lagu rakyat atau daerah yang telah digubah dan diterima secara resmi menjadi nyanyian rohani dapat dinyanyikan dalam kebaktian/ ibadah di GKPI. 21.2.4.5 Pakaian-pakaian adat (termasuk ulos) dapat dipakai dalam ibadah atau upacara tertentu, berlandaskan kasih Tuhan dan sebagai ungkapan kasih kepada sesama. 21.2.4.6 Falsafah, umpama dan peribahasa setempat dapat diterima setelah disesuaikan dengan Firman Tuhan. 21.2.4.7 Jemaat dibimbing kepada pengertian tentang kematian dan kebangkitan Kristus, sebagai tanda pengharapan, keselamatan dan kemenangan bagi orang yang percaya dibandingkan dengan penderitaan yang ada pada saat ini. Untuk itu tidak diizinkan dilaksanakan gondang untuk memohon pengampunan, pemulihan, menyembah dan memberikan persembahan kepada roh-roh (mamele sombaon). Tidak izinkan gondang siar-siaran, karena hal itu adalah ungkapan kurang percaya kepada Tuhan. Setiap gondang yang akan dilakukan hendaklah dibuka dan ditutup dalam doa. Jika pun diadakan gondang pada waktu acara kematian, maka harus dibuang bentuk kekafirannya.
21.3 Tata Cara Penggembalaan: 21.3.1 Setelah melalui proses penelitian yang seksama dan ybs. terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka kepada ybs. dijalankan TP. GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang budaya dan adatistiadat menurut ajaran GKPI. Bila ybs. Menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 21.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. 22. Ideologi Politik Dan Negara 22.1 GKPI hidup di dalam negara Republik Indonesia yang berideologikan Pancasila. Pancasila adalah ideologi bangsa yang menekankan hidup berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keadilan, persatuan negara, sikap saling menghargai dan menghormati, tolong-menolong, dan kebersamaan yang adil. Pancasila dan UUD 1945 menjamin semua orang Indonesia beribadah dan menjalankan agama dan imannya masingmasing. Ini menjadi dasar hukum yang sangat kuat yang menjadi peluang bagi semua umat beragama termasuk bergereja. Dalam hal ini GKPI harus pandai-pandai mencari peluang untuk berperan sebaik-baiknya di masyarakat, bangsa dan negara. GKPI - dalam arti warga jemaat, wilayah dan sinode - perlu memikirkan peran Tetap Tetap Tetap
konkret bagi negara ini agar keberadaan GKPI benar-benar bermakna bagi bangsa dan negara. GKPI perlu menjalin relasi dengan berbagai golongan, untuk bersama-sama bertekad dan berjuang mempertahankan dasar negara Pancasila dan UUD 1945, agar negara kesatuan Republik Indonesia tetap terwujud. 22.2 GKPI mendorong warganya untuk aktif dalam bidang politik dalam arti yang paling mendasar dan seluas-luasnya yakni berkiprah dan berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan keadilan dan cinta kasih. Tujuan keterlibatan gereja dan warga gereja dalam politik adalah untuk tujuan pelayanan/ pembebasan (bdk. Luk. 4:18-19; Mat. 25:31-46); tujuan bermisi, yaitu memberitakan kabar baik, menegakkan kebenaran dan keadilan, mewujudkan kasih dan mengusahakan kesejahteraan kota di mana orang Kristen dihadirkan Tuhan (bdk. Yer. 29:7); tujuan korektif yaitu melakukan koreksi perbuatan yang tidak benar dan baik (bdk. 2Sam. 12). 22.3 Gereja memahami bahwa kekuasaan negara dan pemerintah berasal dari Tuhan, Sang Penguasa alam semesta dan segala isinya (Mzm. 47:9; 96:10; Yes. 11:10; Yer. 16:19; Yeh. 39:21). Negara dan pemerintah ditetapkan Tuhan untuk melayani Dia dan melaksanakan kehendakNya untuk mendatangkan keteraturan, kebaikan dan kesejahteraan bagi umat manusia, sekaligus menjalankan hukuman bagi mereka yang berbuat jahat (bdk. 1Sam. 8:1-22). Orang Kristen diajarkan untuk taat dan memenuhi kewajibannya kepada negara dan pemerintah, mendoakannya serta mendukung dan ambil bagian dalam rencananya yang baik (Rm. 13:1-7; Tit. 3:1; 1Ptr. 2:13; Mat. 22:21). Akan tetapi dalam hal Negara dan pemerintah tidak melaksanakan kehendak Tuhan, Tetap Tetap
gereja wajib bersikap seperti dikatakan Rasul Petrus: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis. 5:29). 22.3.1 GKPI bersama dengan gereja-gereja lain, sebagaimana diamanatkan dalam salah satu dokumen dalam Dokumen Keesaan Gereja yang dirumuskan oleh PGI, terus melanjutkan keterlibatan dan tanggung jawab dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat secara positif, kritis, kreatif dan realistis. Sebagaimana dirumuskan dalam P3I, GKPI mengajarkan kepada warganya agar taat kepada negara dan pemerintah serta mendoakannya, sekaligus menyampaikan suara kenabian, agar negara dan pemerintah menyelenggarakan kekuasaannya seturut dengan ketetapan dan kehendak Allah, demi kepentingan seluruh bangsa, dan bukan untuk kepentingan sendiri ataupun segolongan orang. 22.3.2 GKPI tetap menjaga, memelihara dan menjalin hubungan baik dengan negara RI, yang diwujudkan dalam ketaatannya sebagai warga negara RI. Sebagai warga negara, GKPI secara bertanggungjawab menunjukkan diri sebagai warga negara yang baik. GKPI tetap membimbing warganya menjadi warga Negara yang baik dan bertanggung jawab dengan ikut mengusahakan dan memelihara keutuhan, kesatuan dan persatuan di dalam Negara RI. Sebagai warga negara, GKPI turut ambil bagian di dalam menciptakan kesejahteraan bersama/k esejahteraan negeri (bdk. Yer. 29:7), keamanan dan ketertiban berbangsa dan bernegara. Tetap Tetap
22.3.3 Salah satu bentuk keterlibatan GKPI dalam pembaruan kehidupan nasional sebagaimana digariskan dalam GKU adalah penyelenggaraan pendidikan umum. GKPI membuka dan mengelola sekolah-sekolah, yang terbuka bagi seluruh warga masyarakat, sambil tetap menjaga dan memelihara jati diri pendidikan Kristen. 22.3.4 GKPI menjalankan dan mengakui segala peraturan dan UU Negara Republik Indonesia yang tidak bertentangan dengan Firman Allah. (Roma 13:1-7; 1 Tim. 2:2; Kis. 5:29; Why. 19:16). 22.3.5 GKPI sebagai bagian dari warga negara turut ambil bagian di dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Melalui kerukunan umat beragama, hidup bernegara dan melayani dapat aman dan damai disertai dengan adanya kebebasan umat beragama (menjalankan kesaksian) di negara ini. 22.3.6 Tetapi janganlah diartikan bahwa kerukunan umat beragama berarti semua agama adalah sama. Harus dipercayai dalam iman bahwa hanya di dalam Yesus ada keselamatan dan kebahagiaan hidup (Kis. 4:12; 1Kor.3:11; Yoh.14:6). 22.3.7 Sebagai orang Kristen, di dalam upacara dan kegiatan kenegaraan, maka kita berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. GKPI menghargai dan menghormati segala bentuk upacara kenegaraan Republik Indonesia (misalnya upacara Proklamasi Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap
Kemerdekaan, Hari Kesaktian Pancasila, Hari Sumpah Pemuda, dll.). 22.4 Pelanggaran terhadap Ideologi dan Politik dan Negara 22.4.1 Warga Jemaat yang tidak mengakui keberadaan Negara RI. 22.4.2 Warga Jemaat yang tidak mengakui UU dan peraturan dan ketentuan yang ada di Negara RI. 22.4.3 Warga Jemaat yang menganut ideologi dan paham yang bertentangan dengan iman Kristiani, seperti komunisme /ateisme, yang juga bertentangan dengan ideologi Pancasila. 22.4.4 Politik yang tidak berazaskan Firman Tuhan dan bertentangan dengan Firman Tuhan. 22.4.5 Bentuk-bentuk ideologi dan politik yang memecah-belah serta merongrong negara kesatuan Republik Indonesia. 22.5 Tata Penggembalaan menyangkut Ideologi, Politik dan Negara: 22.5.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran tentang ideologi dan politik dan negara, di mana seseorang warga jemaat/pelayan tidak mengakui Negara dan Undangundang dan ketentuan serta peraturan perundangundangan Republik Indonesia, serta membawakan ideologi dan politik yang Tetap Tetap
bertentangan dengan Firman Tuhan dan mengakibatkan perpecahan di jemaat maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang Ideologi dan Politik dan Negara. Bila ybs. menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 22.5.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. 23. Hubungan Dengan Penganut Agama Lain 23.1 Kita hidup dalam negara RI yang majemuk, baik secara suku, budaya, bahasa, dan juga agama. Sebagai orang Kristen tentu saja kita harus berpegang pada iman dan identitas kita sebagai orang Kristen; kita harus meyakini ajaran Gereja dan agama kita. (bdk. Yoh. 14:6). Oleh karena itu kita tidak boleh mencampur-adukkan agama yang satu dengan yang lain. Kita tidak boleh menganut pendapat bahwa semua agama itu sama saja. Itu adalah pandangan yang sinkretis (mencampuradukkan agama). 23.2 Di sisi lain kita harus menyadari bahwa kita hidup bersama dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama dengan kita. Mereka adalah juga saudara-saudara kita; mereka adalah juga manusia ciptaan Tuhan yang dikasihi oleh Tuhan. Tanpa mencampuradukkan agama, kita harus menghormati mereka dan tidak boleh menjelekTetap Tetap Tetap
jelekkan orang beragama lain dan menghina agama mereka. 23.3 Tugas bersaksi dan mengabarkan Injil Yesus Kristus adalah tugas setiap orang percaya. Kita dipanggil senantiasa untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, melalui perkataan dan perbuatan. Akan tetapi menginjili dan bersaksi tidak sama dengan mengkristenkan. Tugas kita bukan untuk mengkristenkan, melainkan menyampaikan berita gembira Yesus Kristus itu, yang di dalam Dia, Allah telah menyediakan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kita berkarya dan melakukan perbuatan-perbuatan kasih yang tulus sebagai buah dari kasih Kristus kepada kita. Roh Kudus-lah yang menggerakkan hati seseorang untuk menerima Kristus, kita tidak boleh memaksa orang untuk menjadi pengikut Kristus. 23.4 Salah satu masalah yang sangat peka dalam hubungan antar umat beragama adalah perkawinan antar penganut agama yang berbeda. Pasangan yang berbeda agama itu sesudah menikah tetap mempertahankan agama masingmasing, dan kemudian sesudah mempunyai anak, anak-anak itu setelah dapat memutuskan, diminta memilih salah satu agama orangtuanya. Kelihatannya adil, enak dan mudah. Akan tetapi kenyataannya keluarga seperti itu akan mengalami banyak kesulitan. Alkitab tidak menyetujui perkawinan yang demikian (1Kor. 7:12; 2Kor. 6:14; Yosua mengingatkan bahwa seluruh keluarga harus beribadah kepada Tuhan yang satu dan sama, Yos. 24:15). Oleh karena itu tidak boleh ada dua agama di dalam satu rumahtangga. Tetap Tetap
23.5 Orang dari agama lain yang masuk menjadi warga jemaat GKPI dapat diterima dengan syarat membuat surat pernyataan menjadi warga GKPI yang percaya pada Yesus Kristus, tanpa paksaan tetapi dari hati yang tulus. Kemudian diterima sebagai warga bimbingan. Setelah mendapat bimbingan dan pengajaran secukupnya dari pendeta atau majelis jemaat/Resort dapat ditindaklanjuti dengan baptisan. Kemudian melalui baptisan itu dapat diterima sebagai warga jemaat penuh di GKPI. 23.6 Merupakan tugas kita yang mulia juga, sebagai pengikut-pengikut Yesus Kristus yang cinta damai dan mengajarkan kasih, untuk membangun secara konsisten hubungan baik dengan umat beragama lain. Hal ini bukan hanya penting bagi kita orang Kristen, melainkan merupakan salah satu syarat terpenting agar Indonesia dapat membangun masa depan yang damai, ramah, solider, adil dan sejahtera. Pengembangan hubungan ini, betapapun sulitnya, perlu mendapat prioritas, baik di tingkat pimpinan gereja maupun di tingkat warga jemaat. 23.7 Pelanggaran terhadap Hubungan dengan penganut agama lain 23.7.1 Warga Jemaat yang tidak mengakui dan bahkan menjelekjelekkan serta menghina keberadaan agama dan penganut agama lainnya yang diakui oleh negara. 23.7.2 Warga Jemaat yang mengungkapkan dan mengajarkan bahwa semua agama sama saja. 23.7.3 Warga Jemaat yang melakukan pernikahan beda agama. Tetap Tetap Tetap
23.8 Tata Penggembalaan menyangkut Hubungan dengan penganut agama lain: 23.8.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran tentang hubungan dengan penganut agama lain maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang hubungan dengan penganut agama lain. Bila ybs. menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 23.8.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. Tetap Tetap
BAB V : PELAKSANA TATA PENGGEMBALAAN REVISI ALASAN 1. Penggembalaan kepada semua warga dan pelayan gereja dilakukan secara terus menerus (berkesinambungan) melalui kebaktian, kunjungan (perlawatan) pastoral, percakapan pastoral, surat penggembalaan, dan bentuk-bentuk penggembalaan umum lainnya. Di samping itu dilakukan penggembalaan khusus kepada warga atau pelayan
gereja tertentu sehubungan dengan kebutuhan ataupun masalah khusus yang dihadapi atau dialaminya. 2. Pelaksana TP-GKPI pada dasarnya adalah jemaat, melalui Rapat Majelis Jemaat. Majelis Jemaat mendelegasikan dan atau memberi wewenang kepada Pendeta dan Penatua untuk melaksanakan TP tsb. 3. Seluruh warga jemaat memiliki tanggung jawab untuk menuntun, memperhatikan dan mendoakan warga gereja/pelayan yang menjalani TP-GKPI. 4. Bimbingan dan pengajaran kepada warga jemaat yang bersalah harus dijalankan. Di dalam rapat perlu dihadirkan dan dipanggil warga jemaat yang bersalah ke ruang konsistori maupun langsung kunjungan ke rumah untuk memastikan kesalahan yang dilakukan. 5. Pelaksana Tata Penggembalaan bagi Pendeta adalah Komisi Penggembalaan Pendeta (Pastor Pastorum). 6. Pelaksana Tata Penggembalaan bagi Penatua adalah Tim/Komisi Penggembalaan Penatua. 7. Pelaksana Tata Penggembalaan bagi para pelayan lainnya adalah Pendeta Resort dan Penatua Jemaat. 8. Adalah wajib bagi setiap pelayan gereja GKPI untuk turut memelihara dan memberi peringatan terhadap sesama warga gereja, agar jangan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tata penggembalaan maupun yang terhadap peraturan-peraturan yang ada di GKPI ataupun tidak bertentangan dengan Firman Allah. 9. Keputusan tentang Tata Penggembalaan yang dibuat terhadap seseorang warga atau pelayan gereja berlaku di seluruh GKPI.
10. Setelah Tata Penggembalaan ini ditetapkan dan disahkan di Sinode Am Kerja GKPI 2013, dan diterbitkan oleh Kolportase GKPI, Tata Penggembalaan ini dikirimkan ke seluruh Jemaat dan Resort dan disosialisasikan kepada seluruh warga dan pelayan GKPI di semua aras. BAB VI : PENUTUP REVISI ALASAN Hal-hal yang belum diatur dalam Tata Penggembalaan GKPI ini dapat ditetapkan pengaturan aturannya oleh Pendeta Resort setempat bersama dengan Majelis Jemaat setempat setelah berkonsultasi dengan Pimpinan Pusat GKPI. Disahkan pada Sinode Am Kerja XIX GKPI Tanggal 27-31 Agustus 2013 PETUNJUK PELAKSANA TATA PENGGEMBALAAN GKPI REVISI ALASAN Pengantar Tata Penggembalaan (TP) GKPI, yang disusun melalui proses yang cukup panjang (lihat Pendahuluan TP-GKPI), sudah disahkan pada Sinode Am Kerja XIX GKPI 27-31 Agustus 2013. Ternyata TP itu masih membutuhkan Petunjuk Pelaksanaan atau pedoman teknis, berdasarkan beberapa alasan dan pertimbangan, antara lain: Syarat-syarat dan Tata Cara pelaksanaan Baptisan. Hal ini di perlukan dengan mempertimbangkan perundang-undangan yang berlaku di Negara RI, seperti: UU tentang Perlindungan Anak, UU tentang Keluarga, UU tentang Kependudukan, UU Perkawinan dan Peraturan Pemerintah tentang Pencatatan Sipil, dsb.
Syarat-syarat dan Tata Cara pelayanan Pranikah dan pemberkatan Pernikahan. Ini berkaitan dengan UU Perkawinan dan Peraturan Pemerintah tentang Pencatatan Sipil. Penggembalaan terhadap korban Narkoba. Ini berkaitan dengan UU tentang Narkoba dan Hukum Pidana; di sini perlu pemahaman terhadap mereka sebagai pelaku tindak pidana atau sebagai korban, agar para Pendeta dapat menempatkan diri dengan benar. (Demikian dikemukakan dalam Surat Penugasan Pimpinan Sinode GKPI no. 287/F.5/IV/2014 ttgl. 28 April 2014 kepada Pdt. Prof. Dr. Jan S. Aritonang, untuk menyiapkan draft Petunjuk Pelaksanaan TP-GKPI ini). Di dalam TP-GKPI sebenarnya sudah terdapat juga Tata Cara Pelaksanaan untuk bidang dan jenis khusus. Misalnya untuk Penggembalaan Pranikah (bab III), pada butir 3 telah dikemukakan Tata Cara Pelaksanaan. Buku khusus tentang Penggembalaan Pranikah juga sudah disediakan. Untuk Perkawinan dan Kehidupan Rumah Tangga (bab IV, Pasal 3), pada butir 3.7 telah dikemukakan Tata Cara Penggembalaan. Demikian seterusnya untuk tiap jenis Penggembalaan Khusus yang diatur pada Bab IV. Pada Bab V juga djelaskan siapa pelaksana Tata Penggembalaan. Diasumsikan bahwa para pelayan GKPI dapat memahami dan memberlakukannya dengan baik. Ternyata Pimpinan Sinode serta para Pendeta dan pelayan lain di Jemaat masih membutuhkan Petunjuk Pelaksanaan yang lebih rinci dan teknis. Untuk itu disusunlah Petunjuk Pelaksanaan ini untuk jenis-jenis Penggembalaan Khusus tertentu (jadi tidak semua), terutama yang berkait langsung dengan Undang-undang yang berlaku di negara kita. Setelah draft Petunjuk Pelaksanaan TP-GKPI ini dibahas dan dilengkapi pada Rapat Pendeta GKPI di Pematangsiantar 2830 Agustus 2014, lalu diperbanyak dan dilampirkan pada buku Tata Penggembalaan GKPI, maka diharapkan bahwa TPGKPI dapat dijalankan dengan baik dan lancar, kendati tetap disadari bahwa TP-GKPI ini belum sempurna, sehingga
terbuka untuk perbaikan dan penyempurnaan, dan itu dapat saja dilakukan GKPI pada Sinode-sinode Am selanjutnya. Pematangsiantar, akhir 2014 PETUNJUK PELAKSANAAN UNTUK JENIS-JENIS PENGGEMBALAAN TERTENTU REVISI ALASAN
Pasal 3 : Perkawinan dan Kehidupan Rumahtangga 3.1 Perkawinan a. Kedua calon mempelai mendaftarkan rencana pernikahan mereka ke Majelis Jemaat, mengusulkan tanggal ikat janji (martumpol) dan pemberkatan nikah (keputusan tentang tanggal dibuat oleh Majelis Jemaat), sambil menyerahkan dokumendokumen yang dipersyaratkan (lihat TP-GKPI bab IV, butir 3.1, a.l. Akte Baptis dan Akte Sidi, Surat Keterangan dari gereja asal [bagi mereka yang datang dari gereja lain], dan Surat Persetujuan dari pimpinan kesatuan [bagi calon mempelai dari ABRI atau Polisi]). b. Kedua calon mempelai mengikuti Penggembalaan Pranikah (lihat bab III dan buku Penggembalaan Pranikah di GKPI) dan mendapat keterangan (tertulis ataupun lisan) bahwa mereka sudah mengikutinya. c. Bila kedua atau salah seorang dari calon mempelai tinggal jauh dari lokasi jemaat tempat ybs. terdaftar dan/atau menerima pemberkatan nikah, maka ybs. dapat mengikuti Penggembalaan Pranikah di jemaat GKPI atau di gereja yang seas as dengan GKPI, di tempat ybs. tinggal, dan membawa surat keterangan tentang itu. d. Kedua calon mempelai mengurus Pencatatan Sipil atas Perkawinan mereka; dapat diadakan sebelum upacara Pemberkatan Nikah, di kantor Pencatatan Sipil ataupun di gedung gereja/ruang konsistori, atau segera setelah upacara Pemberkatan Nikah. e. Kedua calon mempelai bersama sanak keluarga mengikuti Kebaktian Perjanjian Pranikah (Martumpol) dua minggu sebelum Pemberkatan Nikah.
f.Majelis Jemaat mewartakan rencana Pemberkatan Nikah pada dua kali Kebaktian Minggu berturut-turut. (Catatan: Dispensasi untuk butir d dan e (menjadi satu minggu/satu kali Kebaktian Minggu) diberikan oleh Pendeta Resort). g.Kebaktian Pemberkatan Nikah diadakan di Gedung gereja sesuai pengaturan Majelis Jemaat serta kesepakatan dengan kedua mempelai dan orangtua/Wali. h. Kebaktian Pemberkatan Nikah dilayankan sesuai dengan Tata Ibadah Pemberkatan Nikah yang ditetapkan GKPI. Modifikasi ataupun penambahan dapat dilakukan bila terlebih dulu diberitahukan kepada dan disetujui oleh Majelis Jemaat dan Pendeta yang melayankan. i. Acara adat yang berlangsung sebelum dan sesudah Kebaktian Pemberkatan Nikah hendaknya tidak bertentangan dengan Ajaran/Pemahaman Iman GKPI dan tidak mengganggu tahapantahapan yang dilayankan GKPI (lihat di atas). . Pasal 4 : Kelahiran dan Perolehan Anak a. Anak lahir paling cepat sembilan bulan setelah perkawinan orangtuanya. Bila lahir prematur, dibuktikan oleh surat keterangan dokter/rumah sakit. b. Bila anak lahir kurang dari sembilan bulan, dan tidak prematur, kedua orangtuanya dihubungi Mejelis Jemaat untuk diminta penjelasan. Bila mereka melakukan apa yang disebut pada butir 3.5.1 (melakukan hubungan suami-isteri sebelum pemberkatan nikah atau hamil di luar nikah), mereka digembalakan sekitar 3-6 bulan, namun tidak perlu
diwarta-jemaatkan (bnd. butir 3.7.2), dan perkawinan mereka tidak dibatalkan. c. Perolehan anak melalui bayi tabung, inseminasi dan adopsi anak didukung oleh surat keterangan dari yang berwewenang (dari dokter/rumah sakit untuk bayi tabung dan inseminasi, dan pengadilan negeri untuk adopsi anak). Pasal 5 : Pekerjaan a. Tindakan pelanggaran terhadap Pekerjaan yang Benar (mencuri, menipu, korupsi, menadah, menyandera, menculik, berjudi, melakukan toto gelap, menjual yang bukan hak-miliknya, serta perdagangan manusia dan organ-organ tubuh manusia; lihat TP butir 5.2.1, 5.2.2 dan 5.2.4) perlu didukung oleh bukti yang sah (surat kepolisian, vonnis pengadilan, pernyataan saksi, dsb.). b. Yang dimaksud dengan rentenir (butir 5.2.3) adalah seseorang yang meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi (makan riba), jauh melampaui bunga bank yang normal (bnd. Im. 25:36; Neh. 5:7; Mzm. 15:5; Ams. 28:8; Yeh. 22:12). Perbuatan sebagai rentenir perlu pengakuan ybs. ataupun kesaksian dari orang yang menjadi nasabahnya, atau dari orang lain yang menyaksikan ybs. menjalankan praktik itu. c. Khusus menyangkut Narkoba, perlu dibedakan dua kategori: pengguna (korban) dan pengedar (pedagang). [i]Pengguna (korban) tidak perlu didukung oleh bukti-bukti formal (surat kepolisian dsb.), cukuplah pengakuan ybs. atau keterangan keluarganya. Kepadanya diberikan pendampingan dan pelayanan pelepasan dari keterikatan kepada Narkoba, bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang terkait dengan itu (Badan Nasional Narkoba/BNN atau perwakilan di daerah, rumah sakit, dsb.) sampai ybs. dinyatakan sembuh dan bebas dari pengaruh Narkoba.
[2] Pengedar (pedagang) perlu didukung oleh bukti formal. Bila ybs. ditangkap, diadili dan dipenjarakan, Majelis Jemaat (yang dipimpin Pendeta Resort) juga perlu mendampingi, agar ybs. menunjukkan pertobatan (mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi). Pendampingan terus dilakukan, pun setelah ybs. bebas dari hukuman pidana. Pasal 6 : Penyakit dan Penyembuhan a. Penyakit atau keadaan sakit adalah kodrat atau bagian yang wajar dari kehidupan manusia (bnd. BE 291,2: ... parsahiton, halojaon, jambarmi o hajolmaon, di portibi on). Karena itu, ketika hal itu menimpa warga dan pelayan GKPI, mereka perlu dihibur, didoakan, dan dikuatkan. b. Mereka yang sakit perlu juga diingatkan bahwa tidak semua sakit penyakit sembuh. Dalam banyak kasus, Tuhan juga mengizinkan si sakit untuk tidak beroleh kesembuhan. Namun mereka yang sakit perlu diingatkan bahwa Tuhan tetap merangkul mereka dengan kasih-Nya, kendati mereka sakit dan tidak sembuh. c. Penyembuhan dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen (butir 6.4) pada dasarnya adalah yang mengandalkan kuasa dan pertolongan Tuhan, Tabib Maha Agung, entah itu melalui pengobatan secara medis modern maupun melalui pengobatan tradisional (termasuk herbal dan sinshe). Karena itu warga dan pelayan GKPI diingatkan agar tidak mengupayakan penyembuhan kepada para penyembuh yang tidak sepenuhnya mengandalkan kuasa Tuhan (lihat butir 6.5). d. GKPI terbuka pada cara Tuhan memberikan kesembuhan melalui mujizat (divine healing/penyembuhan ilahi, atau spiritual healing /penyembuhan rohani). Namun demikian GKPI percaya bahwa tidak dalam semua kasus penyakit Tuhan berkenan menyatakan kuasaNya melalui
penyembuh rohani. Karena itu GKPI menolak anggapan bahwa seseorang dapat mengklaim dirinya sebagai penyembuh rohani, karena karunia menyembuhkan seperti itu tidak bersifat permanen. Tuhan memberikan karunia itu kepada siapa saja yang la perkenan, tanpa terikat waktu. e. Warga dan pelayan GKPI yang sudah tiba pada keadaan terminal illness dan dying (keadaan sakit yang sudah mengarah pada kematian) perlu disiapkan, agar dengan hati yang teguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan menyongsong kematian dengan sukacita dan pengharapan akan hidup yang kekal. Para pelayan GKPI perlu mempelajari pelayanan pastoral kepada mereka yang telah berada pada kondisi ini. f. Perkunjungan kepada mereka yang sedang sakit, terutama yang sakit keras, hendaknya tidak dilakukan dengan beramai-ramai dan dalam waktu panjang, karena mereka yang sakit itu membutuhkan waktu untuk beristirahat. Pada waktu berkunjung kiranya pengunjung tidak banyak bertanya kepada si sakit tentang selukbeluk penyakitnya. h. Warga dan pelayan GKPI yang tidak mampu menanggung biaya pengobatan hendaknya dibantu oleh GKPI (Jemaat bahkan hingga Sinode) sesuai kemampuan. Pasal 7 : Kematian dan Pemakaman a. GKPI melayani keluarga yang berduka sejak menerima berita tentang wafatnya seorang warga (termasuk pelayan) GKPI, baik di rumah maupun di tempat lain (di rumah sakit, di tempat kejadian, dsb.). b. GKPI menolong dan mendampingi keluarga untuk mengurus berbagai hal menyangkut pemakaman seorang warga GKPI (tempat dan biaya pemakaman, surat keterangan meninggal, visum et repertum dan autopsi seandainya dibutuhkan, dsb.).
c. Ketika jenazah disemayamkan sampai bermalam, Jemaat GKPI mengadakan ibadah penghiburan pada malam harinya, tetapi tidak perlu panjang dan bertele-tele, mengingat kondisi keluarga yang sudah lelah dan banyaknya pihak yang hendak memberi kata-kata penghiburan. d. Pada waktu menyampaikan penghiburan, atau memasang papan bunga dukacita, hendaknya tidak menyampaikan janji atau ungkapan yang berlebihan, misalnya: "si Anu ini sekarang sudah berada di pangkuan Bapa di sorga"; sebab pengakuan iman Kristen menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal berhenti dari pekerjaannya dan beristirahat (bnd. Why. 14:13; Kis. 7:60) sambil menantikan kedatangan Kristus kembali untuk membangkitkan orangorang yang percaya kepada-Nya (bnd. Yoh. 6:39-40; 1Kor. 15:13-57; 1Tes. 4:1318). e. GKPI mendampingi keluarga yang hendak membawa dan memakamkan jenazah ke tempat lain (a.l. bona pasogit/kampung halaman), sambil mengingatkan bahwa semua tempat pemakaman adalah tempat peristirahatan sementara, sehingga pemakaman di kampung halaman tidak memiliki nilai-lebih secara kristiani. f. GKPI memberikan tanda duka dan empati berupa karangan bunga ataupun dana, sesuai dengan kemampuan. Tanda duka dapat diberikan pada waktu jenazah masih disemayamkan, ataupun sesudah dimakamkan di waktu penghiburan (mangapuli). g. Penggembalaan dalam upacara penggalian tulangbelulang (mangongkal holi) diatur pada Pasal 21, butir 21.2.2, sedangkan dalam upacara pembangunan tugu diatur pada Pasal 21 butir 21.2.3. Pasal 8 : Okultisme
a. Pemahaman GKPI tentang Okultisme dan cakupannya telah dikemukakan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 8, butir 8.1. Di luar yang disebut pada butir ini, masih ada lagi berbagai jenis dan bentuk lain, misalnya mardondon tua, dukun patah yang mengandalkan kuasa atau unsur magis, menyembah dan meminta berkat kepada roh-roh yang diyakini ada di tempat tertentu (di danau, gunung, dsb.). b. Kegiatan - kegiatan budaya maupun juga upaya pengobatan / penyembuhan secara tradisional (menggunakan metode dan bahan / ramuan yang digunakan leluhur atau masyarakat tempo dulu) tidak secara otomatis masuk kategori Okultisme, sebab budaya (termasuk seni musik, seni suara, seni pahat/ukir, seni tenun dsb.) dan pengobatan tradisional adalah juga karunia Tuhan. Yang terutama adalah bahwa di dalam semua kegiatan dan upaya itu Tuhan Allah Tritunggallah yang disembah. c. Sebaliknya budaya modern dan upaya pengobatan/penyembuhan modern pun dapat masuk ke dalam kategori Okultisme, bila yang diandalkan di situ bukan kuasa dan kekuatan Tuhan Tritunggal, melainkan kuasa dan kekuatan lain, termasuk diri manusia yang melakukannya. d. Karena itu, sebelum menerapkan TP kepada seorang warga atau pelayan GKPI, para pelayan di Jemaat perlu meneliti secara cermat dan mendalam, selanjutnya membahasnya di dalam rapat Majelis Jemaat, untuk memastikan apakah praktik itu masuk kategori Okultisme dan kuasa apa/siapa yang diandalkan dalam kegiatan itu. Pasal 9 : Uang dan Harta-Benda a. Sikap dan pandangan GKPI terhadap uang dan hartabenda telah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 9, butir 9.1. Contoh-contoh pemahaman, sikap dan tindakan yang bertentangan dengan pandangan itu, serta