Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987
Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982
Perubahan atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e,
dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Pasal 114 Setiap Orang yang
mengelola tempat perdagangan dalam segala bentuknya yang dengan sengaja
dan mengetahui membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil
pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang
dikelolanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, dipidana dengan pidana
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 115 Setiap
Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya
melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman,
Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara
Komersial baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan
pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
DIVERSITY
JILID 1
Sarah Amelia, dkk.
SMA NEGERI 4 KENDARI
Penerbit CV Kekata Group, Surakarta 2021
DIVERSITY
Copyright © 2021 Sarah Amelia, dkk.
Penulis: Sarah Amelia, dkk.
Penyelia Naskah: Chairunnisa, S. Ag, M. Pd. dan Raka Pramudya H.
Penata Letak: Yoga Ade S.
Penata Sampul: Syntia
Ilustrasi Isi: Agung Muhammad
Cetakan Pertama, September 2021
xxvi + 143 hal; 14,8×21 cm
ISBN: -
Diterbitkan oleh CV Kekata Group
Jl. Kartika No. 60 Kel. Jebres, Kec. Jebres,
Surakarta – Indonesia
Kontak: (0271) 2937711
Katalog Dalam Terbitan
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Desain sampul menggunakan sumber daya dari internet/freepik
KATA PENGANTAR
Ahmad Erani Yustika - Deputi Ekonomi Sekretariat Wakil Presiden;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
TIAP anak adalah benih peradaban. Namun, masing-masing anak
juga (kelak) akan menjadi sejarah keadaban. Peradaban disusun
oleh pikiran dan tindakan. Ibarat batu bata yang disusun satu demi
satu sehingga menjadi rumah yang dihuni oleh keluarga. Rumah dan
keluarga adalah peradaban "kecil" yang tercipta karena pikiran dan
perbuatan. Jadi, bila anak-anak yang hari ini memproduksi tulisan
(buku) –seperti yang kita baca ini– sesungguhnya mereka sedang
menyusun batu bata peradaban bagi keadaban masa depan.
Demikian pula, pikiran yang terangkum dalam buku akan
menjalar menjadi pedoman hidup, sekurangnya pengetahuan bagi
para pembaca. Pikiran itu menjadi tapak sebagai simbol dari jejak
yang pernah menghuni semesta. Jejak akan terus mengular karena
hari demi hari pengetahuan menyebar, apalagi dalam era teknologi
informasi yang demikian cepat mengular. Pada saat itulah sejarah
telah dibuat secara sadar. Para siswa ini akan menjalani kehidupan
di medan yang luas sampai kontrak hayat habis menggenang. Raga
mereka kelak akan melayang, namun sejarah pikiran dan perbuatan
akan terus dikenang.
Terlepas dari soal peradaban dan sejarah, buku ini layak
dicetak dengan "tinta emas" karena lahir pada saat kita merasa
pesimis dalam urusan literasi. Daya baca dan tulis bangsa tidak
v
mengalami peningkatan yang menyenangkan, bahkan dalam
perkara tertentu justru dianggap turun mencemaskan. Akademisi
sekalipun telah kehilangan elan intelektualitas sebab tak mampu
memproduksi gagasan lewat tulisan. Mereka kian terbiasa menjadi
penyalur berita dari satu grup percakapan ke grup percakapan
(misalnya WhatsApp). Defisit literasi sedang menyergap kehidupan.
Buku ini seperti hendak berkata: masa kegelapan bisa
dihadang. Karya para siswa ini membangunkan asa bahwa anak
bangsa masih terus memancarkan cahaya. Mereka berteriak
terhadap narasi pesimisme yang berembus dengan kencang. Pada
usia yang masih muda, juga dari wilayah yang bukan pusat kota,
mereka melambungkan harapan besar bagi kemajuan bangsa.
Tulisan mereka melambangkan spirit terhadap masa depan,
sekaligus menyiratkan pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran.
Mereka memilih mencintai negara dengan jalan mengusung
gagasan, bukan mengembangkan pertikaian.
Kualitas manusia yang terpenting adalah penguatan kapasitas
berdasarkan keluasan pendidikan dan kedalaman kesehatan.
Pendidikan dan kesehatan merupakan alas paling dasar untuk
ekspansi kapabilitas warga. Guru yang mengajak dan mendorong
siswa untuk mengenalkan tradisi membaca dan menulis harus
dimuliakan sebagai pahlawan literasi. Pada proses ini akan terus
lahir batu bata peradaban yang makin maju dan tanpa putus.
Penulisan buku ini jelas menerbitkan bara yang terang bagi masa
depan Indonesia. Kita bersiul karena melihat tunas bangsa telah
lahir sehingga bangsa akan terus tegak melahirkan generasi yang
tak gagap menghadapi perubahan.
Selamat atas terbitnya buku dari siswa-siswa yang matang. Kita
layak merayakan munculnya generasi yang gemilang. Indonesia
wajib dipimpin oleh gagasan, hari ini maupun yang akan datang.
vi
MENJADI PAHLAWAN
Lenang Manggala - Founder Nyalanesia
APA yang Anda pikirkan tentang menjadi pahlawan?
Perang? Kekuatan super tak terkalahkan? Atau mungkin,
sebuah kostum yang mampu membawa kita terbang?
Mari kita berjalan ke beberapa tahun ke belakang.
Pagi itu, terasa begitu kelabu. Di tas sekolah saya, terdapat
sepucuk surat berisi peringatan dan pemanggilan orang tua. Itu
adalah surat yang ketiga selama saya kelas X dan XI di SMA. Dan
imbas kenakalan saya, yang ke entah berapa puluh atau ratus
kalinya.
Saya tak takut jika dihukum berdiri 3 jam di bawah bendera.
Tetapi melibatkan orang tua atas kesalahan-kesalahan saya, itu
sungguh meremukkan dada.
Nanti pukul 09.00, saya harus ke ruang BK. Bersama kedua
orang tua saya, untuk membahas kelanjutan sekolah saya. Tapi
tentu, saya tak mengabari Bapak-Ibu. Saya akan menghadapinya
sendiri seperti dua panggilan yang lalu-lalu. Saya harus
menyelesaikannya. Apa pun caranya.
Meski saya tahu saya tidak punya masa depan yang cerah. Tapi
saya tidak boleh dikeluarkan sekolah. Saya tidak mau orang tua saya
bersedih dan marah.
vii
Bel sekolah sebentar lagi berdentang. Sebentar lagi pukul
09.00. Tubuh saya berkeringat dingin, membayangkan segala
kemungkinan buruk yang saya tak ingin. Tiba-tiba seorang guru
dengan sepucuk surat di tangannya datang. Meminta saya keluar
kelas sebentar karena ada hal penting yang mau disampaikan. Ah,
kiamat ternyata lebih cepat datang.
Sebelum sempat saya mengucapkan kata, beliau sigap
memegang pundak saya.
“Kamu, adalah anak yang punya potensi. Ayo ikut Bapak untuk
lomba mading mewakili sekolah. Kamu bisa menulis kan? Ayo
langsung ke sanggar sekarang. Bapak udah bawa surat izin untuk
guru-gurumu.”
Maka, begitulah awal mulanya. Sekolah kami menang. Saya
terus menulis puisi dan cerita, dan Pak Abikusna terus percaya
kepada saya. Lalu, belasan lomba menulis tingkat nasional saya
menangkan. Membangun Nyalanesia, dan meraih berbagai
penghargaan berkatnya.
Saya memang nakal. Tapi saya bukan anak nakal. Saya adalah
anak yang punya potensi. Seperti kata Pak Abi. Seperti semua anak-
anak Indonesia di seluruh penjuru negeri.
Yang saya butuhkan adalah kepercayaan diri. Yang lahir karena
dipercayai dan difasilitasi. Seperti yang dilakukan oleh Pak Abi.
Seperti ribuan guru yang telah menjadi keluarga besar Nyalanesia
selama 5 tahun ini.
Kini, saya dan jutaan anak lainnya punya keyakinan pada masa
depan. Karena Pak Abi, telah percaya dan berjuang. Persis seperti,
yang Bapak/Ibu Guru lakukan. Mendorong dan memfasilitasi kami
untuk berkarya. Mendampingi kami untuk menggali jati diri kami
yang sesungguhnya. Pak Abi adalah pahlawan saya. Dan Bapak/Ibu
Guru sekalian yang telah memutuskan untuk mendorong dan
viii
memfasilitasi anak-anak untuk berkarya, adalah pahlawan bagi kita
semua.
Itulah pengalaman nyata semasa sekolah saya, dan menjadi
akar yang kuat bagi saya untuk menumbuhkan Nyalanesia.
Nyalanesia adalah sebuah platform integratif yang
memfasilitasi Pelajar, Pengajar, dan Pengkarya untuk menerbitkan
buku, meningkatkan kompetensi, prestasi, serta kesejahteraan
hidupnya, melalui program-program literasi yang dikembangkan
secara berkelanjutan.
Nyalanesia hadir dengan napas socioeduprenur yang
mendorong terciptanya ekosistem literasi dan pendidikan di
Indonesia yang lebih bermakna dan berkemerdekaan.
Saya percaya bahwa setiap anak, berhak, untuk mendapatkan
kesempatan berkarya. Ini bukan semata soal: setidaknya sekali
seumur hidup. Tetapi ini, adalah tentang sekali, untuk mengawali,
segala karya dan kontribusi yang akan mereka ciptakan seumur
hidupnya nanti. Anak-anak meski belum bekerja dan belum
memikirkan kebutuhan keluarga, bukan berarti ia tidak masuk
dalam hitungan kita. Setiap gagasan dan ceritanya, layak untuk
didengar dan diperdengarkan kepada dunia.
Progam Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional adalah
program yang mendorong, melatih, dan memfasilitasi para siswa
dan guru-guru di Indonesia, untuk berbagi cerita dalam buku
terbitan antologi bersama. Program ini tidak dirancang untuk
sekadar melahirkan para penulis dengan karya yang melegenda.
Tapi program ini, dibuat dengan sepenuh hati, sebagai serangkaian
upaya nyata: untuk menyediakan ruang berekspresi dan
menemukan jati diri bagi mereka.
Melalui program ini, seluruh sekolah yang berpartisipasi,
otomatis telah memfasilitasi anak-anak didiknya untuk berkarya
dan menerbitkan buku ber-ISBN bersama. Mulai dari karya pantun,
ix
puisi ataupun cerita. Bapak/Ibu guru juga bisa terlibat, menjadi
guru koordinator atau penulis artikel yang hebat.
Tentu, tidak hanya itu. Kami selalu berpikir bagaimana agar
bisa membantu semua siswa dan guru bergerak maju. Bagi seluruh
sekolah yang menjadi mitra, Nyalanesia juga memberikan berbagai
macam fasilitas seperti 12 kelas literasi dan peningkatan
kompetensi bersertifikasi, sertifikat dan piagam penghargaan bagi
semua yang terlibat, pengembangan website literasi sekolah dan
program Duta Literasi Sekolah, serta total hadiah ratusan juta
rupiah untuk siswa, guru, dan kepala sekolah terbaik di tingkat
nasional.
Tak hanya program GSMB Nasional yang telah diikuti dan
disukai oleh ribuan sekolah tersebut, Nyalanesia kini juga telah
berhasil mengembangkan 4 platform yang mendukung kemudahan
dan kesejahteraan para pelajar, pengajar dan pengkarya Indonesia.
Revolusi ini dimulai dari pengembangan Dipsy. Melalui
platform Dipsy, menerbitkan buku menjadi semudah menjentikkan
jari. Dipsy adalah Digital Publishing System yang dirancang
Nyalanesia, untuk membantu siswa, guru, ataupun penulis untuk
mengirim, menerbitkan, berkonsultasi, mengecek progres, hingga
memesan cetak buku dengan hanya berbekal usapan jari. Semuanya
ada dalam satu platform yang terintegrasi.
Lalu, bagaimana seorang penulis dapat memasarkan bukunya
secara nasional? Yap, itu yang juga menjadi concern kami. Oleh
karenanya, kami mengembangkan platform Nyalagaleri. Sebuah
marketplace, yang berfokus melayani kebutuhan para siswa dan
guru di sekolah. Mulai dari buku, alat tulis, seragam, hingga
berbagai macam alat peraga pendidikan dan sarpras sekolah. Di
Nyalagaleri, siapa pun bisa menemukan dan memasarkan produk-
produk yang dibutuhkan oleh sekolah.
Beralih ke dunia pelatihan. Nyalaakademi hadir sebagai
platform pelatihan bersertifikat yang dapat diakses kapan pun,
x
siapapun dan dimanapun. Nyalaakademi menyajikan kelas-kelas
literasi, peningkatan kompetensi guru, hingga kelas-kelas populer
perihal leadership, entrepreneurship, dan skill-skill yang dibutuhkan
oleh industri. Melalui platform ini, siapa pun juga dapat membuat
dan menjual kelas-kelasnya sendiri untuk diikuti ratusan ribu
komunitas kami. Karena dengan Nyalaakademi, kami memimpikan
para pendidik Indonesia dapat lebih berdaya dan sejahtera.
Namun, jika Anda memiliki keahlian khusus seperti desain
grafis, menulis, videografi, menjadi pembicara, pelatih olimpiade
ataupun juri, kami mengundang Anda untuk bergabung di
Nyalatalenta. Melalui platform ini, kami mempertemukan orang-
orang yang membutuhkan dengan orang-orang yang mempunyai
kemampuan atas berbagai macam jasa. Ini adalah ruang bagi kita
untuk menyalurkan bakat dan menjadi bermanfaat.
Nyalanesia masih memiliki berbagai macam platform dan
program-program lainnya. Seperti Sekarya, Kampus Karya, Duta
Literasi Sekolah, Penggerak Literasi Daerah, dan belasan lainnya.
Tetapi semua program-program tersebut pada akhirnya punya satu
tujuan sama: membantu para pelajar, pengajar dan pengkarya
Indonesia, untuk dapat lebih berdaya dan menjadi pahlawan dengan
masing-masing versi terbaiknya. Menjadikan siapa pun, sebagai
seorang Penyala.
Maka, apa yang Anda pikirkan tentang menjadi pahlawan?
Perang? Kekuatan super tak terkalahkan? Sebuah kostum yang
mampu membawa kita terbang? Atau mungkin, memberikan arti
dalam kehidupan seseorang?
Mari kita berjalan ke Nyala Masadepan!
xi
xii
KATA PENGANTAR SEKOLAH
Liyu, S.Pd., M.Pd. – Kepala SMA Negeri 4 Kendari
PUJI syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan
karuniaNya buku antologi cerpen dengan judul “Diversity” dapat
terselesaikan. Antologi cerpen ini adalah program Gerakan Sekolah
Menulis Buku (GSMB), dimana sekolah SMA Negeri 4 Kendari
bekerja sama dengan Nyalanesia untuk mewujudkan program
literasi sekolah.
Buku ini diharapkan dapat memberi warna bagi pembacanya
tentang makna keberagaman. Diversity, satu kata yang sarat makna.
Persatuan dan perdamaian adalah suatu hal yang perlu
dikumandangkan untuk melahirkan spirit kebhinekaan yang kokoh
bagi generasi unggul. Riak pertikaian diharapkan mampu
diminimalisir dengan membaca buku ini.
Keberagaman menunjukkan kemajemukkan bangsa Indonesia.
Perbedaan suku budaya bukanlah hambatan dalam mewujudkan
persatuan. Perbedaan merupakan potensi lahirnya suatu
keragaman budaya yang menunjukkan kemajuan suatu peradaban.
Bhineka Tunggal Ika, pesan yang sering digaungkan. Lahirnya
pertikaian bukan karena gaung kebhinekaan telah luntur, akan
tetapi kita perlu memperbarui tujuan hidup dan kerangka berpikir
kita dalam bingkai kebhinekaan. Kesenjangan dalam bermasyarakat
akan terus ada bila nilai-nilai kebhinekaan telah sirna dari bumi
pertiwi.
xiii
Sungguh suatu anugerah yang patut disyukuri tatkala siswa
mampu menerjemahkan makna diversity melalui cerpen. Ilustrasi
cerita yang disajikan mampu membuat pembaca akan terhanyut
dalam sudut pandang penulis (baca siswa). Mereka menuangkan
ide-idenya tentang kesenjangan dan perundungan yang kian marak
terjadi di tengah kehidupan.
Cerpen ini diharapkan mampu menjembatani kita untuk
memahami makna keberagaman secara hakiki. Persatuan dan
perdamaian bukanlah suatu mimpi yang hanya dimiliki oleh
segelintir manusia. Ia merupakan mimpi anak bangsa yang perlu
diperjuangkan dalam bingkai NKRI sebagai wujud cinta dan
nasionalisme.
Kendari, 17 Agustus 2021
xiv
xv
JAM KLASIK YANG RITMIS
Sapta Arif Nur Wahyudin
Penulis Nasional; Pemenang Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru 2018
Jarum panjang jam di dapur belum sampai menunjuk angka dua
belas. Sedangkan jarum pendek, rekannya, masih berjalan malas
menuju angka tujuh. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Si merah—jarum
detik—berjalan cepat berupaya membangunkan kesadaran Wage
yang masih melayang-layang. Di dapur, sambil mencuci botol bayi,
lelaki ini berusaha menahan matanya. Kemudian, ia mengambil
panci berukuran sedang dan mengisinya setengah. Wage berjalan ke
arah kompor dengan langkah berat, kemudian menyalakannya dan
meletakkan panci itu di atas kompor. Tik, tok, tik, tok, tik, tok.
“Duh, mas, anakmu..,” terdengar suara istrinya dari ruang
tengah. Wage melempar matanya ke jam dinding klasik di tembok
dapur. “Ah, sepagi ini?” gumamnya.
“Mas, aku ada kelas online!” teriaknya lagi.
“Oke baiklah!” ia berjalan dengan malas, seolah-olah ada
bandul berat ratusan kilogram di kakinya. Apalagi matanya, tak
kalah berat. Ia berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Hari ini seharusnya genap satu bulan istrinya kerja di rumah.
Namun meskipun begitu, keberadaaan istrinya justru sama sekali
tidak membantu. Mereka berdua sepakat untuk mengurus rumah
sendiri setelah Yu Nah—asisten rumah tangga—mohon izin untuk
berhenti. Ia harus mengurus keluarga di kampung, sepeninggal
suaminya. Suami Yu Nah meninggal dalam tragedi kecelakaan kerja
pembangunan bangsal rumah sakit. Mirisnya, kompensasi yang
didapat Yu Nah tidaklah seberapa, bahkan Yu Nah harus membayar
xvi
biaya pemakaman sendiri. Maka, dengan modal satu kali gaji dan
pesangon dari Astri—istri Wage, Yu Nah pulang ke kampungnya.
Astri duduk di ruang tamu menghadap laptop. Sedangkan di
kamar Rafa menangis. Tangisan bayi tujuh bulan ini sungguh
memekakkan telinga. Apalagi ia dalam keadaan buang air besar dan
belum diganti popoknya.
“Mas, kok wifi kita mati ya?” teriak Astri lagi.
Tidak ada jawabannya yang diinginkan, Astri berdiri dan
berjalan ke kamar.
“Mas!” Astri tidak menemukan suaminya di kamar. Ia baru
sadar, suara tangis anaknya telah menjauh. Kemudian ia berjalan ke
belakang rumah, melewati pintu dapur. Suaminya sedang
menggendong Rafa di kebun belakang rumah.
“Mas, wifi kita trouble lagi?” dengan suara lumayan keras Astri
berkata.
“Sssstttsss….” Wage membalas sambil menatap tajam. Ia
sedang menimang-nimang Rafa yang sebenarnya hampir tidur.
Namun tentu saja suara keras istrinya membuat bayi mungil itu
kembali bangun. Kemudian menangis lagi.
“Duh… Mas, aku harus ke kampus sekarang, kalau begini terus
aku bisa telat kelas.”
Wage hanya diam, kemudian mengempaskan napas panjang.
“Mas?” Astri kembali berkata dengan nada bertanya yang berat.
“Iya! Berangkat saja!”
Kemudian Astri berbalik dan berjalan tergesa-gesa. Belum
sampai ia di ruang tamu, perempuan ini kembali berjalan ke arah
kebun belakang. “Mas! Air panasmu!”
September ini, seharusnya usia pernikahan mereka sudah
genap tiga tahun. Usia pernikahan yang masih muda biasanya masih
xvii
memelihara kehangatan romantika. Namun tidak bagi Wage dan
Astri. Tuntutan pekerjaan membuat mereka jarang di rumah. Wage
adalah seorang editor sastra dan budaya di salah satu koran lokal di
Solo. Hempasan pandemi membuatnya harus memohon untuk kerja
di rumah. Ia hanya datang ke kantor paling banyak seminggu dua
kali, itu pun hanya untuk rapat mingguan dan evaluasi program.
Seluruh pekerjaannya bisa ia lakukan dengan online. Hal ini berbeda
dengan Astri. Meski ia sudah menjadi dosen di salah satu kampus
swasta di Solo, namun bulan-bulan ini ia harus mengejar ujian
desertasi. Dan mirisnya, meski sudah ketok palu pembelajaran
online, perempuan ini harus berkali-kali ke kampus. Selain untuk
mengurus administrasi ini itu yang tiada habisnya, promotor Astri
adalah dua professor yang dikenal ribet dan super perfeksionis.
Beberapa kali ia diminta menggantikan mengajar di kampus lain.
Katanya untuk menguji kepantasan materi disertasinya.
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah membuatkan susu Rafa,
Wage harus mengajak anaknya berjemur. Setelah itu mandi. Ia akan
beruntung jika anak pertamanya ini tidak rewel, maka ia bisa
mencuci dan menyetrika baju. Wage baru bisa membuka pekerjaan
kantor setelah selesai memasak makan siang. Namun seringkali
Rafa begitu aktif dari pagi hingga sore, maka jangan heran,
jangankan untuk memegang pekerjaan kantor, sekedar untuk
masak makan siang saja Wage akan sangat kesulitan.
Ketika Rafa rewel dan Astri mengeluhkan hal itu, Wage hanya
bisa menjawab: Rafa itu anak yang peka dan ekspresif, jadi jangan
heran kalau ia minta perhatian saban waktu. Mendengar jawaban
itu, Astri hanya bisa melengos. Sejak bulan kedua Rafa sudah tidak
mendapatkan asi eksklusif. Merawat anak di rumah, mencuci popok,
hingga memasak bagi Astri hanya bisa dilakukan secara rutin oleh
ibu rumah tangga. Ia menganggap, dirinya berbeda. Ia memiliki
karir panjang dan bisa jadi sesuatu yang cemerlang menantinya di
masa depan.
xviii
Hari ini Wage beruntung, lantaran selepas mandi dan makan
bubur bayi, Rafa tertidur pulas. Itu artinya ia bisa pergi belanja.
Tentu Rafa akan ia bawa menggunakan stoller biru kesayangannya.
Sepulang belanja, lelaki ini memasak. Dapur adalah tempat yang
menyenangkan baginya. Bukan karena ia senang memasak, baginya
dapur adalah tempat kontemplasi paling nyaman. Ditemani jam
dinding yang terbuat kayu jati berwarna cokelat tua, ia seringkali
menghabiskan waktu lama ketika di sini. Sejak bekerja di rumah,
Wage memindahkan jam klasik ini dari ruang tengah ke dapur. Ini
adalah jam favorit Wage. Meski Astri sering protes keberadaan jam
itu di dapur lantaran tidak cocok dan tidak enak dipandang,
katanya. Namun Wage tidak peduli. Bagi lelaki ini, jam klasik
kesayangannya itu memiliki suara tik-tok yang ritmis. Suara yang
membuatnya tenang dari hiruk pikuk dunia yang tak karuan.
“Mas, aku harus lembur di perpustakaan, maksimal jam tujuh
aku pasti sudah pulang.” Wage membalas pesan what’s apps dari
istrinya dengan singkat: “Oke!”
“Rafa ngga rewel kan mas?”
“Aman!”
Wage begitu mencintai Astri. Atas dasar rasa cinta itulah,
segala keinginan Astri selalu dikabulkan. Termasuk ketika pandemi
menyerang, ia rela memohon pada bosnya agar bisa kerja di rumah
dan hanya ke kantor dua kali dalam seminggu saja. Wage adalah
orang ulet dan selalu mendapat predikat A di evaluasi pegawai
dalam lima tahun terakhir. Hal ini menjadi faktor kuat
permintaannya dikabulkan. Ia paham betul, betapa repotnya
mengajar di kampus swasta berbarengan dengan mengejar ujian
disertasi.
Malam ini Astri pulang telat, itu artinya, Wage juga harus
menunda memasak. Ia berharap menu yang disajikan untuk istrinya
masih hangat. Toh memasak sawi dengan irisan daging tidak
membutuhkan waktu yang lama.
xix
Jam dinding telah menunjukkan pukul 19.35, namun belum ada
kabar dari Astri. Sementara sejak jam enam tadi, perutnya sudah
demo minta asupan. Wage memilih memanaskan air untuk
membuat kopi, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya. Tik,
tok, tik, tok, tik, tok. Ia duduk bersila bersandar tembok dapur.
Kepalanya menghadap ke atas. Pussss. Sapuan asap rokok
memenuhi dapur. Ada hal asing yang mengganjal di dadanya hari
ini. Tidak lama ia menikmati kesendirian, suara mobil Astri
terdengar masuk ke dalam rumah. Wage berdiri dan mematikan
rokoknya.
“Maaf ya! Aku telat, hari ini benar-benar deadline.” Wage
membalas dengan senyum, kemudian ia berjalan ke arah istrinya.
Lelaki ini berniat memeluk dan memberikan ciuman hangat pada
perempuan yang dicintainya ini.
“No! Aku bersih-bersih dulu!” ucap Astri singkat.
Wage pun kembali ke dapur, ia harus segera memasak. Namun
belum sampai ia meraih potongan sawi dan daging, Astri berdiri
tepat di belakangnya.
“Mas? Hari ini, kamu belanja?”
“Iya sayang. Kan sudah waktunya.” jawab Wage tanpa menoleh.
“Mas?” ucap Astri dengan nada tanya yang berat.
Wage menghentikan kegiatannya, ia berbalik menatap istrinya
yang memegang tisu toilet. Mereka diam beberapa saat. Wage
berupaya menerjemahkan wajah istrinya yang sudah tak karuan.
“Kamu beli tisu toilet?”
“Iya sayang,”
“Kan kita masih mempunyai stok di lemari. Lagi pula kenapa
beda merk-nya dengan yang biasa kubeli?”
“Aduh, sayang, cuma tisu lho.”
xx
“Bukan begitu mas, kita harus berhemat. Kita tidak akan
pernah tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Lagi pula kenapa
juga beli merk yang berbeda. Kita kan sudah cocok dengan yang itu.”
Wage mengernyitkan dahi. Sedangkan Astri berbalik badan
berjalan ke arah meja makan. Ia duduk melipat tangan di atas meja,
membiarkan tisu toilet dari kamar mandi teronggok di atas meja
pula. Kemudian dahinya ia tempelkan di atas tangan. Wajahnya
tertutup sempurna. Melihat hal itu, Wage hanya menghela napas
panjang. Lelaki ini kemudian melanjutkan memasak. Ia
memasukkan bawang merah, bawang putih, bawang bombay, dan
cabai yang sudah dipotong kecil-kecil ke minyak yang panas.
Sreeeeng! Asap mengepul.
“Mas!” Astri mengangkat kepala dan berteriak. Wage pun
menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
“Kamu mencampurkan cabai dengan bawang?”
“Iya, sayang…” Wage melanjutkan memasak, kemudian
memasukkan daging, dan menyiramnya dengan air.
“Mas!” Wage menoleh, kemudian mengempaskan napasnya.
“Ada apa sayang?”
“Kamu tahukan, aku tidak suka bau cabai digoreng. Apalagi
dipotong-potong dicampur dengan bawang! Dan sejak kapan aku
suka daging ditumis begitu?”
Wage berdiri mematung menatap istrinya. Lelaki ini diam
seketika, bibirnya melongo sambil mengernyitkan dahi.
“Ini….”
“Ini hanya daging? Ini hanya cabai? Ini hanya apa lagi?” Astri
memotong, kemudian berbicara panjang seperti kereta api.
“Sayang…” Wage memanggil halus melihat istrinya kembali
menundukkan kepalanya ke meja. Sepertinya menangis. Wage
xxi
kembali mendengus lumayan kencang. Tiba-tiba ia mendengar Rafa
terbangun menangis. Wage sejenak memandang istrinya yang masih
menunduk. Dengan perasaan gemas, Wage membuang seluruh isi
wajan ke tempat sampah.
“Kenapa dibuang mas?” tanya Astri sambil kembali
mengangkat kepalanya. Matanya terlihat sembab. Wage diam
sejenak. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Samar-samar, suara tangisan Rafa
terdengar dari ruang tengah. Ia masih menatap Astri yang kembali
menundukkan kepalanya, napasnya tersengal. Kemudian Wage
mengambil ponsel di sakunya. Membuka kalender. Setelah itu, ia
mengeluarkan rokok, menyulutnya perlahan, dan mengambil
cangkir kopi yang dibuatnya tadi. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Suara jam
klasik kesayangannya yang ritmis dan menenangkan. Ia duduk
bersila sambil menyandarkan badan ke tembok, tatapannya ke atas.
Pusss. Asap rokoknya memenuhi ruangan.
***
Ponorogo, 3 Agustus 2020
*) Cerita pendek ini pernah dimuat harian Suara Merdeka,
Edisi 30 Agustus 2020
xxii
xxiii
xxiv
DAFTAR ISI Hal
BHINNEKA HIGH SCHOOL 2
Sarah Amelia 7
13
DARIMU AKU BELAJAR SEMUANYA 19
Cressendo Reifaldi. B 25
30
PELAJAR PANCASILA 35
Andi Tenri Nur Shafaa 40
45
TOLERANSI 51
Ida Ayu Idha Paramitha 57
64
INDAHNYA BERSATU DALAM KEBERAGAMAN 69
Dina Puspita
GRACE ON DIVERSITY (GOD)
Greig Novantio Aldrefas
TASAMUH SESAMA UMAT BERAGAMA
Safarindah Nafsul Mutmainnah
ANCAMAN KEBERAGAMAN KOTA NIRHALLA
Eddi Malaidji
SEMUA DEMI UTI
Muhammad Aqsha Dewantoro
PERSAHABATAN SALSA
Wa Ode Arimbi Namira Koedoes
ARI TETANGGAKU
Chairunnisa
KEBERAGAMAN DALAM BERTEMAN
Mayang Sari
CERITA DI PERTIGAAN LAMPU MERAH
Najwa Aulia Ramadhani
xxv
ASYIFA, GADIS KECIL DALAM MENAFSIR TOLERANSI 74
Ratih Indriyanti 80
88
5 SERANGKAI 94
Farah Aora Anisa 99
103
ADA APA DENGAN RAS 108
Annisa Ayu Sarita 114
118
KETEGUHAN HATI 124
Auliyah Listianti Haryoga 129
133
TETAP SATU 137
Kirei Nova Nur Aulia 142
KITA INDONESIA
Arnita Mardiyanti
BINTANG YANG BERSINAR KEMBALI
Dani Ahmad Fauzi
MAAF DAN IKHLAS
Anisa Rindatus Sholihah
SIDDIQ SANG PENAKLUK HATI
Ld. Zulkadir
SWORLD DINASTY
Indah Nabilah Asmar
KISAH BARU
Annisa Kalsum
SEAN DAN TEMANNYA
Cahya Aurora Salsabillah
PERJALANAN MENCARI KEBENARAN
Naflah Ufairah
TENTANG PENULIS
xxvi
ANTOLOGI CERPEN
SMA NEGERI 4 KENDARI
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 1
BHINNEKA HIGH SCHOOL
Sarah Amelia
Kringgggg… Kringggg….
Suara alarm berbunyi sangat keras, membangunkan seorang
gadis cantik dari tidurnya yang nyaman
“Ukhhhh kenapa suara alarmnya ribut sekali sih,” ucap gadis
cantik ini sambil mengambil alarm hendak mematikannya
“Ternyata sudah jam 6.20 yah… Apaaa??! Sudah jam segini,
gawat aku bakal telat ke sekolah,” ujar gadis ini, lalu melompat dan
kemudian dengan sigap mengambil handuk untuk mandi dan
bersiap-siap ke sekolah.
“Arumii… turun sarapan, Nak!” teriak mama gadis itu
memanggil putrinya sarapan.
Ya, gadis cantik itu bernama Arumi tepatnya Arumi Nasha
Razeta, dia adalah salah satu siswi dari Bhinneka High School,
sekolah paling ternama yang ada di Indonesia. Seperti namanya
Bhinneka yang bisa diartikan beraneka ragam, sekolah ini
merupakan sekolah yang menampung berbagai macam siswa dari
Sabang sampai Merauke dengan latar agama, ras, dan suku yang
berbeda-beda.
“Iyaaa Ma, dikit lagi nih,” balas Arumi kepada mamanya.
Setelah memperhatikan ulang penampilannya Arumi pun langsung
bergegas ke ruang makan untuk sarapan bersama mama dan
ayahnya. Hari ini Arumi bakal diantar oleh ayahnya menggunakan
sepeda motor agar ia bisa sampai lebih cepat.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Arumi melihat dua
sahabatnya Cristy dan Risna yang setia menunggu kedatangannya
2 Nyalanesia
sejak beberapa menit yang lalu. Arumi kemudian berpamitan
dengan ayahnya, lalu bergegas menghampiri kedua sahabatnya itu.
“Selamat pagi guysss! Maaf yah agak lama soalnya tadi aku
ketiduran ehh pas bangun sudah jam 6.20,” ucap Arumi sambil
merapikan jilbabnya.
“Iyaa gak papa kok, ayo langsung aja kita masuk bel sudah
hampir bunyi nihh,” ucap Cristy sambil menggandeng lengan Arumi
dan Risna menuju ke dalam sekolah.
Ketika sedang berjalan menuju kelas, ketiganya melihat Pak
Sabda berdiri di depan ruang guru yang tak jauh dari kelas mereka.
Secara santun mereka pun memberi salam pada Pak Sabda.
“Selamat pagi, Pak,” ucap Risna dengan penuh semangat
menyapa guru favoritnya itu dengan wajah sumringah dan mata
yang berbinar, Arumi dan Cristy yang melihat tingkah laku
sahabatnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Arumi dan
Cristy pun juga ikut memberi salam kepada Pak Sabda.
“Pagi, Anak-anak,” jawab Pak Sabda dengan senyum manisnya.
Risna yang melihat hal ini pun makin bersemangat, dirinya merasa
seperti baterai yang ter-chargh full ketika melihat senyum Pak
Sabda yang menjawab salam mereka.
Setelah ketiganya menyapa, mereka pun segera bergegas untuk
memasuki kelas karena sebentar lagi pelajaran sudah akan dimulai.
Kriiingggggg
Suara bel yang ditunggu-tunggu para siswa pun berbunyi,
suara yang menandakan jam istirahat telah tiba, para siswa keluar
kelas dan mulai memadati kantin sekolah, begitu pula dengan Arumi
dan kedua sahabatnya.
Namun, ketika mereka bertiga sudah akan keluar kelas tiba-
tiba ada seorang guru yang memanggil Arumi dan mengajaknya
untuk berbicara di ruang guru, Arumi pun mengikuti guru tersebut
dan menitip makanan kepada teman-temannya karena ia harus ke
ruang guru terlebih dahulu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 3
Setelah selesai berbicara dengan guru tersebut, Arumi
langsung bergegas menyusul kedua sahabatnya yang sudah dari tadi
berada di kantin.
Risna dan Cristy yang melihat Arumi sedang celingak-celinguk
mencari-cari keberadaan temannya, mereka pun melambaikan
tangan agar dengan mudah dilihat oleh Arumi, Arumi yang melihat
lambaian tangan langsung menghampiri meja Risna dan Cristy.
“Jadi apa yang bu guru ingin bicarakan dengan kamu?” tanya
Cristy pada Arumi yang baru menarik kursi tatkala tiba di meja
mereka.
“Bentar-bentar aku napas dulu, capek nih jalan dari ruang
guru,” balas Arumi.
“Nahh, jadi aku tuh diminta sama Bu Lily buat ikut olimpiade
matematika mewakili sekolah kita dan dua orang anak kelas
sebelah,” timpal Arumi.
“Wahhh bagus tuh, emang kapan lombanya dimulai?” ucap
Risna.
“Dua minggu dari sekarang dan aku bakal dapat pelajaran
tambahan setiap minggu pagi di sekolah.”
“Yahhh kok Hari Minggu pagi sih, aku kan harus ke gereja,
Risna juga pasti bakal ke Pura kita jadi gak bisa temenin kamu,”
ucap Cristy dengan wajah kecewa.
“Gak papa kok guys, ibadah kalian lebih penting, tapi kalian
janji yah bakal datang di lombanya,” balas Arumi.
“Iya kita janji bakal datang kok, Rumi,” kata Risna berjanji.
Karena keasyikan mengobrol tanpa sadar jam berikutnya
sudah akan berlangsung lagi. Mereka pun membayar makanannya
lalu kembali ke kelas.
Setelah kurang lebih dua minggu menjalani pelajaran
tambahan hari yang ditunggu-tunggu Arumi pun tiba. Lombanya
dilaksanakan siang hari di Kantor Kemendikbud Kota Bandung.
4 Nyalanesia
Sesuai janji Risna dan Cristy mereka datang menyaksikan lomba
Arumi, tidak lupa pula untuk menyemangati Arumi yang sedang
deg-degan.
Ketika sedang menunggu lomba dimulai, tiba-tiba alarm adzan
HP Arumi berbunyi, Arumi pun sadar kalau waktu lombanya itu
akan berlangsung hingga sore ia harus segera melaksanakan Shalat
Dhuhur tetapi tidak ada masjid di dekat tempat mereka, Arumi pun
mulai panik karena sebentar lagi lomba sudah bakal dimulai.
Cristy yang melihat Arumi panik, menawarkan diri untuk
mengantarnya ke masjid terdekat dengan menggunakan sepeda
motor yang ia bawa. Arumi pun menyetujui hal itu dan langsung
berangkat ke masjid terdekat, Risna yang menyadari bahwa Arumi
belum meminta izin dengan gesit menyampaikan ke panitia dan
guru menggantikan Arumi.
Setibanya di masjid Arumi langsung mengambil wudhu lalu
melaksanakan sholat dengan khusyu’ juga tidak lupa untuk berdoa
agar lombanya hari ini dapat berjalan dengan lancar. Setelah selesai
Arumi pun bergegas menghampiri Cristy yang menunggu di luar
selama Arumi sholat. Mereka kemudian langsung kembali ke lokasi
lomba dengan cepat karena sebentar lagi lombanya sudah akan
berlangsung.
Risna yang menunggu di sana juga ikut khawatir karena
mereka belum kembali sedangkan lombanya akan dilaksanakan 5
menit lagi, takut Arumi bakal terlambat Risna pun dengan berani
meminta kepada panitia untuk menambahkan waktu sedikit lagi
karena Arumi belum sampai juga.
Di sisi lain ada Cristy dan Arumi baru saja sampai di parkiran,
Arumi melihat jam sudah menujukkan pukul 12.25 tersisa 5 menit
lagi sebelum lombanya dimulai, Cristy pun berkata ke Arumi untuk
duluan saja ke aula lomba, Arumi pun meminta maaf dan berterima
kasih ke Cristy lalu segera berlari menuju aula, ketika sudah
memasuki aula Arumi pun langsung menghampiri Risna dan panitia
yang sedang berbicara.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 5
“Maaf aku agak terlambat,” ucap Arumi dengan napas yang
tersengal-sengal.
“Iya gak papa, yang penting kamu sudah di sini, sana cepat
kumpul bersama tim, lombanya tinggal berapa menit lagi nih,” ucap
Risna menyuruh Arumi bergegas.
Arumi pun segera menghampiri timnya dan tidak lama sehabis
itu lomba pun dimulai. Setelah melawan beberapa sekolah,
kelompok Arumi pun berhasil masuk ke babak final dengan selisih
poin yang cukup tipis dengan tim lawan.
Tersisa satu pertanyaan lagi dan ini merupakan pertanyaan
penentu kemenangan, suasana di ruangan pun ikut menegang.
Pertanyaan terakhir mulai dibacakan, kedua tim dengan gesit
langsung mencakar hasilnya dan MC kemudian mulai menghitung
mundur waktunya.
“Waktu tersisa 10 detik lagi!” ucap MC membuat semua orang
yang menyaksikan makin tegang.
“Mari kita hitung mundur sama-sama 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4-” ucapan
MC terpotong.
“12.345,” ucap Arumi memotong perkataan MC.
“Oke kelompok A menjawab 12.345 apakah jawabannya betul?”
ucap MC memberi pertanyaan ke juri.
“Jawabannya adalah 12.345 tim A betul,” jawab juri tersebut.
Seketika ruangan menjadi riuh akibat sorakan dari pendukung
Bhinneka High School, Arumi yang berhasil menjawab dengan benar
pun langsung menghampiri kedua sahabatnya dan memeluknya,
tanpa pikir panjang Arumi mengajak kedua sahabatnya untuk
berfoto bersama dan mengabadikan momen itu. Mereka tertawa
bersama mengabadikan moment indah kebersamaan.
6 Nyalanesia
DARIMU AKU BELAJAR
SEMUANYA
Cressendo Reifaldi. B
“Suster Aliza, sedang apa kau di sini?” tanya seorang anak
perempuan yang sedang berdiri entah dimana.
Di tengah keheningan gereja, aku kaget tiba-tiba mendengar
suara, sontak seluruh badanku refleks berbalik ke arah datangnya
suara itu, “Ohh hai Davina! Aku kira siapa tadi yang bertanya, sini
duduk Nak.”
Anak itu mengangguk dan duduk di sampingku, “Suster Aliza,
kau tidak pulang ke rumahmu? Kan semua biarawati cuti selama 3
hari ini?”
Ya, aku adalah seorang biarawati Katolik bernama Aliza
Padmasari dan akrab disapa suster Aliza, tahun ini aku genap berusia
50 tahun.
“Ini rumahku sekarang Nak, lagi pula kalau aku pulang ke
rumahku yang sebenarnya aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi,
kedua orang tuaku sudah meninggal sejak lama,” kataku sambil
menitikkan beberapa tetes air mata.
Davina tampaknya ikut terlarut dalam kesedihan yang aku
rasakan, “Apakah aku boleh mendengar ceritamu dulu, suster?”
“Oke, dengar yah, suster ceritakan,” kataku sambil mulai
menceritakan kisah itu padanya.
Kilas balik bertahun-tahun yang lalu
35 tahun yang lalu atau lebih tepatnya saat aku berada di
bangku kelas 1 SMA. Diriku mengalami banyak sekali peristiwa, dari
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 7
peristiwa bahagia hingga peristiwa mengenaskan dimana kedua
orang tuaku meninggal karena kecelakaan lalu dikuburkan di
pemakaman umum yang tidak jauh dari rumahku, dan dari sinilah
kisah mengenai suka dan duka hidupku berawal.
Kesendirian, itulah yang menghiasi masa mudaku, pada saat itu
aku berpikir akan lebih baik jika aku akhiri saja hidup ini, namun
ada seorang wanita yang tidak pernah aku harapkan kehadirannya
tiba-tiba saja masuk di dalam hidupku dan membuat semuanya
berubah.
***
Hari demi hari berlalu, pemakaman orang tuaku telah usai
dilakukan, kini aku tinggal sendiri di rumah yang menyimpan
berbagai kenangan indah bersama orang tuaku.
Kring.....Kring......
“Akhirnya bel istirahat bunyi juga,” kataku sambil berjalan ke
kantin.
Saat aku tengah berjalan menuju kantin, tiba-tiba ada seorang
siswi yang menyapaku, dia adalah seorang siswi yang cukup
terkenal di sekolah karena prestasinya dan juga karena dia adalah
salah satu dari sedikit siswi muslim yang bersekolah di SMA Katolik
Harapan Baru.
“Hey, Aliza kan? Yang anak kelas X IPA 2 itu?” tanya siswi itu
sambil mengulurkan tangannya tanda ingin berkenalan.
“Ya,” jawabku acuh tak acuh.
“Perkenalkan namaku Siti Adawiyatul Balqis panggil saja aku
Wiya,” sambil menarik tanganku.
“Hmmm ok,” jawabku datar.
Allahu Akbar Allahu Akbar.....
“Ohh iya sudah Adzan, aku pamit salat dulu yah nanti kita
ketemu lagi, Insya Allah,” katanya sambil tersenyum.
8 Nyalanesia
Kau bingung mengapa aku sangat dingin ke orang lain? Di saat
kepergian kedua orang tuaku, aku menjadi anak yang pendiam dan
malas bersosialisasi, aku bahkan menjadi siswi yang brutal di
sekolah, nakal, dan juga suka bolos itu adalah pekerjaan hari-hariku
kini.
Waktu tak terasa kini sudah jam pulang sekolah, semua murid
dan guru bergegas meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah
masing-masing.
“Halo Alizka, kita ketemu lagi,” tegur Wiya padaku.
“Hay,” jawabku masih dengan nada yang dingin.
“Sudah makan?” tanya Wiya dengan wajah tulusnya.
“Masih kenyang.”
“Ohh ayolah kita kan sama-sama cewe.”
“Tidak.”
“Ayoooo!” ajaknya sambil menarik tanganku ke warung makan
samping sekolah.
Sampainya di warung makan....
“Maumu apa sih sebenarnya?” tanyaku dengan wajah sedikit
kesal.
“Nggak papa mau kenal aja, mungkin kita bisa jadi teman yang
baik,” jawabnya dengan senyum tulus.
“Sama aku? Aku yang nakal dan brutal ini? Diih memang ada
yang mau berteman dengan wanita sepertiku?” tanyaku terheran-
heran dan memasang wajah jutek.
“Ada, buktinya aku mau berteman denganmu,” lagi-lagi
dijawabnya dengan senyum tulus.
Entah kenapa saat aku di dekatnya aku merasa sosok ibuku
sedang berada di depanku. Tanpa pikir panjang aku menyetujui
perkataannya “Tapi kamu kan Muslim, apa boleh kamu berteman
denganku seorang Katolik?” tanyaku.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 9
“Tentu saja boleh dong, Islam tidak melarang umatnya untuk
berteman dengan nonmuslim, seperti yang tertulis dalam kitab saya
di Q.S. Al-Mumtahanah [60]:8. Jadi yah boleh-boleh saja jika aku
berteman denganmu, Islam kan agama yang damai,” terangnya
dengan wajah yang masih tersenyum.
“Ohh begitu yah, kau tau bahwa sudah lama aku tidak
mempunyai seorang teman dan pada saat kau ingin berteman
denganku, aku merasakan ada hal yang berbeda darimu,” jawabku
sambil memasang wajah tersenyum yang sudah lama tidak
kutunjukkan ke orang.
Percakapanku dan Wiya terus berlanjut sampai kemudian
terdengar kumandang adzan Maghrib, aku pulang ke rumahku dan
Wiya pergi menunaikan salatnya.
Beberapa hari berlalu, Wiya dan aku sudah semakin dekat saja,
bahkan Wiya sudah mengetahui bahwa aku adalah seorang yatim
piatu.
Kring.....Kring.....
Suara bel pulang sekolah berbunyi, bergegas aku menyimpan
buku-bukuku ke dalam tas namun, tidak lama setelah itu Wiya
datang menghampiriku.
“Kamu kenapa tadi di ruang BK?” tanya Wiya padaku.
“Aku tadi habis dihukum sama Pak Yanto karena bolos kelas
dan ketahuan ngerokok di belakang sekolah.”
“Astagfirullahaladzim Alizka, itu perbuatan yang tidak baik,
merokok bisa membuatmu terserang banyak penyakit loh,”
jawabnya kaget mendengar aku merokok.
“Iya, tadi kebablasan doang kok ngerokoknya,” kataku sambil
cengengesan.
“Alizka, aku sudah tau semua masa lalumu, aku tau kamu
sangat terpukul karena kematian orang tuamu sehingga kamu
seperti ini, dan juga aku tau bahwa kamu sebenarnya adalah anak
10 Nyalanesia
yang baik, dan pintar. Kalau boleh aku kasih saran sebaiknya kamu
berubah deh, belum terlambat untuk memulai semuanya dari awal,
kamu masih punya aku jika butuh sesuatu. Kita berdua kan orang
beragama jadi tidak ada alasan untuk putus asa, kita punya Tuhan
masing-masing untuk tempat kita berpengharapan. Aku yakin kamu
pasti bisa kok berubah,” ucapnya sambil tersenyum memberi
penguatan padaku.
Saat itu aku hanya diam terpaku mendengar kata-kata Wiya,
jujur saat itu perasaanku bercampur aduk. Refleks aku memeluk
Wiya dan menangis saat itu juga.
“Sudah-sudah, kamu belum makan kan? Ayo sini kita pergi ke
kantin,” ajaknya sambil menarik tanganku.
***
Setelah momen itu, kata-kata Wiya selalu saja berputar-putar di
kepalaku, bingung apa yang harus aku lakukan tetapi, setelah
berpikir panjang akupun memutuskan untuk memulai semuanya
dari awal lagi. Kata-kata Wiya kini sukses membuatku berubah
menjadi seorang wanita yang lebih baik, tanpa Wiya aku tidak tau
seperti apa aku ini nantinya.
Kilas balik selesai
“Nah begitulah kisahku semasa SMA bersama Wiya, seseorang
yang berhasil merubahku menjadi perempuan yang bermartabat,”
ujarku seraya menutup kisah ini.
“Lalu dimana Wiya sekarang, suster? Kenapa aku tidak pernah
melihat kau bersamanya, apakah dia sudah tidak tinggal di sini
lagi?” kata Davina bingung.
“Ya Davina, saat ini dia sudah tidak tinggal di sini lagi, dan aku
juga sudah tidak akan bisa menemuinya, karena sekarang dia sudah
mendahuluiku pergi menghadap Tuhan, dia meninggal pada saat
aku baru 2 tahun menjadi biarawati,” kataku sambil tersenyum
menahan tangis.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 11
“Suster, dari kisahmu aku belajar bahwa kita harus mencari
teman yang bisa membawa kita ke jalan yang benar, tanpa
memandang apa agamanya,” ucap Davina padaku.
“Tentu Nak, Indonesia ini adalah negara yang memiliki banyak
sekali agama, suku, ras, dan kebudayaan, maka tidak menutup
kemungkinan kita mendapat pelajaran penting dari orang yang
tidak satu kepercayaan dan satu keyakinan dengan kita. Jadi nasihat
buat kamu Davina yang masih muda, kalau mau berteman jangan
pilih-pilih berdasarkan apa agamanya, atau apa sukunya, dan apa
rasnya, tetapi pilihlah temanmu yang bisa membuatmu lebih baik
dari sekarang ini. Ingatlah Nak, bahwa kita harus bersatu dalam
keberagaman dan kemajemukan di Indonesia, jangan mau diadu
domba oleh para provokator yang ingin memecah belah Indonesia,”
tegasku sambil memberikan petuah kehidupan pada Davina.
“Baik suster, aku akan mengikuti nasihatmu,” jawab Davina
seraya memasang wajah semangat.
“Ayo Nak sudah mau malam waktunya kamu pulang dan suster
pun mau kembali ke ruangan suster,” kataku sambil berjalan
bersama Davina keluar dari gereja.
Terima kasih untuk semuanya Wiya, walaupun sekarang kamu
sudah tidak bersamaku lagi di dunia ini tetapi, semua kisah indah
yang pernah kita lalui di SMA tidak akan pernah kulupakan. Sampai
jumpa kelak Wiya.
12 Nyalanesia
PELAJAR PANCASILA
Andi Tenri Nur Shafaa
“Ibu...”
Suara teriakan tragis itu memenuhi rumah. Seorang anak
berlutut terisak tepat di depan pintu yang terkunci. Kesedihan yang
begitu mendalam seolah menembus mental pertahanan dalam
dirinya. Hingga akhirnya, tubuh itu terkulai lemas tak sadarkan diri.
***
Sang Surya tersenyum hangat memancarkan kebahagiaan untuk
para penghuni alam semesta, tetapi tidak bagi lelaki itu. Hembusan
angin yang begitu sejuk menyapu wajahnya dengan saksama
sekaligus mengusik tidur lelaki itu.
Ia pun terbangun dengan mata sendu. Mata itu melihat sekujur
tubuhnya begitu kotor. Namun, hal tersebut tidak begitu ia
hiraukan, pandangannya justru beralih pada batu nisan yang
tertuliskan nama ibunya.
“Ibuku menderita semasa hidup karena menjadi korban
diskriminatif. Sampai kapan diskriminasi terus terjadi?” batinnya.
Tidak lama kemudian, dua orang asing datang menghampiri lelaki
yang kini tengah berdiri di atas tanah makam.
Tok tok tok tok tok..
Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu yang sangat keras dari
luar kamar membuat seorang lelaki tampan tersadar dari alam
mimpinya. Lelaki itu pun segera berlari membuka pintu kamarnya.
“Arfan, udah jam berapa ini? Coba liat jam! Kenapa baru
bangun? Emangnya kamu ga pergi sekolah?” tegur ibunya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 13
Mendengar omelan ibunya, ia tersenyum kecil, kemudian memeluk
sang ibunda.
Selepas itu, ia segera bersiap agar tidak dihukum karena
terlambat. Sepersekian menit, lelaki yang bernama lengkap
Muhammad Arfan Azril itu sampai di sekolah tepat waktu. Sesekali
mengingat mimpinya itu, hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Kring.. Kring.. Kring..
Bel berbunyi nyaring. Para siswa siswi berlarian masuk ke
kelas masing-masing. Beberapa menit setelahnya, seorang guru
dengan rambut rapi masuk ke kelas Arfan diiringi dengan salam
yang tidak lupa ia tuturkan. Beberapa siswa pun menjawab salam,
sisanya hanya berdiam diri bak pajangan.
“Baik anak-anak, berhubung ini udah akhir semester Bapak
minta agar kalian segera mengumpulkan catatan dari awal
semester,” tegas Sang Guru.
Setelah mendengar respon positif dari siswanya, guru yang
kerap dipanggil Pak Denis itu tersenyum simpul. Tidak lama
kemudian, guru tersebut pamit keluar kelas karena rapat guru akan
segera dimulai.
Mengetahui hal itu, tidak sedikit siswa yang berlalu lalang
masuk dan keluar kelas, salah satunya Zaviora. Ia datang memasuki
kelas Arfan membuat pandangan para cowok di kelas itu teralihkan
padanya.
“Arfan ke kantin bareng yuk!” ucap Zaviora sembari
menghampiri Arfan yang sedang membaca buku.
“Arfan!” panggilnya lagi. Zaviora berulang kali memanggil
Arfan, tetapi tidak direspon sedikit pun oleh Arfan. Ia pun merasa
kesal dan akhirnya pergi karena tidak mendapat respon dari Arfan.
Kring.. Kring.. Kring..
14 Nyalanesia
Jam Istirahat berbunyi. Selepas kepergian Zaviora, sejumlah
siswi langsung berkumpul. “Eh dengar-dengar, Vio masukin murid
baru yang pinter banget itu di PMR.”
“Oh. Cewek yang namanya Aqila itu ya? Rumornya sih dia
masuk sekolah ini pakai beasiswa,” merasa tertarik, spontan
perhatian Arfan langsung tertuju kepada para siswi yang sedang
menggosip itu.
“Cantik gak sih?” tanya salah satu siswi yang ikut menggosip.
“Ups!” sahut siswi lain.
Kringg.. Kring.. Kring..
“Hey hey kalian! Ini sudah waktunya kembali belajar, kenapa
belum duduk di kursinya masing-masing? Cepat kembali ke tempat
kalian, pelajaran akan dimulai!”
Saat ini, seharusnya mentari bersinar terik menghangatkan
para penantinya. Namun, cuaca tampak mendung karena sang
raja siang enggan menampakkan diri. Dia turun deras seperti hasrat
yang lama tak tertuang untuk membasahi Bumi Pertiwi membuat
Arfan memutuskan singgah ke ruang PMR, tempatnya biasa
nongkrong.
Sesampainya di ruangan PMR, tampak seorang gadis yang
terasa asing di matanya. Gadis itu bernama Aqila, ia salah satu
penerima beasiswa di SMA Lima Sila.
Setelah lama berbincang, “Ya udah gua pulang duluan ya!
Kasian Arfan udah nunggu tuh dari tadi.” Aqila berbalik gugup ke
arah Arfan yang sedari tadi mengamatinya.
“Eh lo kok liat Arfan gitu banget? Lo suka sama dia?” tanya
Zaviora yang merasa kesal. “Eh gua jujur ya, Qil. Mending lo rawat
diri lo deh biar gak dekil kayak gini. Bukannya suka sama lo,
malahan cowok-cowok bakal jijik tau gak kalau liat lo gelap banget
kayak gini,” lanjutnya. “Ini sih emang kenyataan ya,” lanjut Zaviora
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 15
sedikit sinis sebelum pergi bersama Arfan meninggalkan Aqila di
ruangan PMR itu.
Matahari telah mulai tertidur dan segera digantikan rembulan.
Dingin malam berhujan ini terasa begitu menusuk-nusuk sampai ke
tulang. Tirai menari-nari tertiup angin.
Saat ini, Arfan sedang berbaring di balik selimut tebal.
Perlakuan Zaviora terhadap Aqila membuatnya terngiang-ngiang, ia
merasa bersalah akan kebisuannya.
“Aku tidak akan membiarkan apa yang terjadi pada ibuku
terjadi pada orang lain lagi. Aku akan memperjuangkan keadilan
bagi mereka,” batin Arfan bersungguh-sungguh.
***
Keesokan harinya, siswa-siswi SMA Lima Sila berkumpul di podium
sekolah. Di sana terdapat seorang siswi yang sedang menyampaikan
orasinya guna memperjuangkan haknya.
“Kata-kata itu seolah-olah sebuah penghinaan untuk saya. Saya
merasa direndahkan dan disudutkan. Kulit saya gelap seperti ini,
karena saya berasal dari tanah kelahiran yang saya cintai. Tanah
tempat saya dibesarkan dengan terik matahari yang luar biasa.”
“Saya punya hati dan harga diri, jadi berdirinya saya di sini
saya hanya meminta teman-teman yang saya hargai untuk saling
menghargai sesama. Hargailah kami yang berkulit hitam karena
kami juga punya hati dan hak seperti manusia lainnya. Terima
kasih!” lanjut Aqila sedikit terisak.
Semua siswa yang mendengar itu hanya memandang remeh.
Zaviora ialah anak dari salah satu donatur terbesar di sekolah ini.
Setelah mendengar orasi dari Aqila, guru di sekolah itu hanya
menegur Zaviora halus dan menasehati Aqila. Di sisi lain, Arfan
yang tidak terima melihat suasana ini berlangsung, ia segera menuju
sumber suara di podium.
16 Nyalanesia
“Assalamu’alaikum Wr.Wb. Perkenalkan nama saya Muhammad
Arfan Azril, izinkan saya berdiri disini untuk menyampaikan
aspirasi saya sebagai generasi Pancasila. Baik, pihak sekolah yang
saya hormati dan teman-teman yang saya hargai, baru saja telah
terjadi rasisme di SMA Lima Sila, tetapi saya tidak melihat adanya
keadilan.”
“Lima Sila adalah nama sekolah kita tercinta, lantas mengapa
rasisme masih terjadi? Kasus rasisme adalah suatu hal yang tercela.
Bagaimanapun itu kita harus menghindari rasisme sebagaimana
kawan kita yang berbeda suku juga memiliki perasaan dan harga
diri serta berhak diperlakukan sama dengan yang lain. Mari
menghentikan rasisme dimulai dari kita generasi bijak penerus
bangsa, sang pejuang pancasila!” sambungnya.
“Ayo teman-teman jangan hanya sekedar nama! Sebagai
generasi terpelajar, mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila itu
sangat perlu adanya! Mari memperjuangkan ideologi kita dari diri
kita sendiri, karena kalau bukan kita siapa lagi? Mari toleransi
terhadap sesama!” seru Arfan.
“Saya memang tidak mengalami tindak rasisme, tetapi saya
tahu bagaimana rasanya saat kita diperlakukan berbeda dan
dipandang rendah. Tiga tahun lalu, saya kehilangan keluarga saya
satu-satunya, karena masih adanya diskriminatif terhadap rakyat
miskin dan disabilitas,” Arfan berhenti sejenak mengambil napas.
“Saya belajar banyak dari orang tua angkat saya. Keduanya
mengajarkan saya bahwa kami semua diciptakan oleh Tuhan
dengan jalan hidup masing-masing. Bayangkanlah betapa indahnya
dunia ini jika kita tidak membeda-bedakan satu sama lain! Jika
semua korban melakukan hal yang sama dengan ibu saya yaitu
bunuh diri karena putus asa, tidakkah kalian merasa bersalah dan
berdosa? Dengan demikian, marilah kita menjaga keragaman dalam
mengaktualisasikan pancasila! Mari bersatu dalam perbedaan,
karena keberagaman itu indah,” lanjutnya lagi.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 17
Seketika sejumlah guru bertepuk tangan, sementara semua
siswa terdiam dengan penuh penyesalan setelah mendengar orasi
dari seorang Arfan. Apa yang Arfan katakan adalah suatu
kebenaran. Dengan inisiatifnya sendiri, Zaviora pun meminta maaf
atas perbuatannya kepada Aqila. Arfan menatap Aqila dengan
penuh keyakinan sambil tersenyum.
18 Nyalanesia
TOLERANSI
Ida Ayu Idha Paramitha
Kakiku berjalan lemah lambat sembari menginjak daun yang
berguguran ketika langit perlahan mulai malam. Bunyi adzan
Maghrib mulai terdengar dari masjid yang tak jauh dari tempatku
berada. Perasaan tak asing ini kembali namun kini terasa amat
sesak seakan mengikat ragaku di dalam.
Jalan sepi yang kudatangi dulu terasa sangat ramai kini terasa
sangat nyata begitu hampa. Kupandang semua yang ada di sana.
Kerikil, pepohonan, ayunan kecil, sampah kaleng bekas, dan papan
kayu itu masih berada di tempatnya walau kini tampak kusam.
Cerita ini dimulai saat aku berumur 16 tahun.
I Gusti Rosamita adalah namaku. Semua orang yang
mengenalku memanggilku Rosa. Aku adalah gadis semata wayang.
Rambutku panjang menjuntai hingga tak jarang orang gemas
menyuruhku untuk memotongnya. Aku dari Bali, namun karena
pekerjaan orang tuaku, aku menetap dari kota lain ke kota lainnya,
dan dipaksa untuk terus bergaul dengan banyak macam jenis orang
berbeda dari beberapa sekolah.
Sekolah terakhir yang kutempati berada di Kota Palembang.
Dan kini aku duduk di bangku kelas XI SMA. Materi yang diajarkan
dari sekolah sudah lebih dahulu kupahami agar tidak mengalami
kesulitan. Bukan sombong, tapi aku memang gadis yang cerdas dan
rajin sembahyang.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baru, Kota
Kendari. Udara yang dingin dan langit yang nampak mendung
mungkin terlihat sebagai pertanda buruk bagi sebagian orang. Tapi
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 19
bagiku, ini adalah hari keberuntunganku. Aku suka hujan dan aku
yakin hujan juga menyukaiku.
Rutinitasku sebelum sekolah selalu sama, memakai baju
sekolah yang rapi, sarapan, dan yang paling penting adalah
sembahyang. Kusisipkan selembar bunga kamboja di daun telingaku
setelahnya. Sebelum berangkat bekerja, ayah mengantarku ke
depan pintu gerbang sekolah dan pergi ke kantornya. Di Bali aku
adalah anak yang periang, aku punya banyak teman dan kenalan.
Pergi berkunjung ke kota orang membuatku sedikit bingung dan
kesepian.
Begitu banyak perbedaan yang tak bisa kuatasi di sini. Di Bali
semua teman sekelasku beragama Hindu dan asli suku Bali. Namun,
sampai di sini nyaliku ciut bahkan hanya untuk bertegur sapa. Logat
bicara dan bahasa mereka kadang membuatku berpikir lama untuk
memahami apa yang sedang mereka bicarakan. “Bising sekali,”
benakku gelisah.
Seperti halnya sekolah lain, aku mulai memperkenalkan diriku
di depan teman sekelasku “Halo teman teman, Perkenalkan namaku
I Gusti Rosamita, kalian bisa memanggilku Rosa. Aku anak pindahan
dari Kota Palembang, salam kenal,” ucapku dengan lantang sembari
tersenyum. Beberapa orang menyapa balik, ada yang hanya
tersenyum atau bahkan menatap seolah tak peduli.
Aku berjalan duduk di deretan tengah bagian belakang. Baru
saja duduk, ada seseorang memakai jilbab rapi dengan mata lembut
dan senyum tulus dari bibirnya mengajakku berbicara “Hai Rosa,
namaku Ainun, ko mau sebentar jam istirahat main sama saya?”
logat Kendarinya yang kental tak membuatku bingung karena dia
berbicara dengan lembut. “Oh halo Ainun, iya aku mau,” jawabku
dengan senang diiringi senyum lebar yang terukir di bibirku.
Bel sekolah berbunyi, semua siswa keluar berbondong-
bondong dari kelasnya. Ada yang sekedar berjalan-jalan, makan di
kantin, bermain sepak bola di lapangan dan berbagai macam
20 Nyalanesia
kegiatan lainnya. Sedangkan aku? Ya awalnya kukira kita akan pergi
ke kantin membeli sesuatu yang bisa dimakam atau sejenisnya. Tapi
kini, Ainun teman duduk di sebelahku mengajakku menunggu
seseorang dari kelas lain yang kini sedang fokus dengan tugas yang
katanya sedikit lagi akan selesai.
“Rosa, tunggu sebentar ya, da nda lama kok itu,” ujar Ainun.
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum membalas
perkataannya. Tak lama setelahnya, bocah lelaki itu keluar sambil
tersenyum menghadap Ainun. “Ai, maaf yo, tadi sa telat masuk, jadi
kerja tugas agak lama,” ucapnya cengengesan.
“Ih kau juga terlambat terus, padahal ada sa bawa teman baru,
tapi kau malah buat kesan yang nda bagus.” Aku yang sadar sedang
dibahas langsung menjawab “Eh tidak papa kok, bukan masalah
besar,” balasku dengan senyuman.
Laki-laki tersebut kemudian menatapku seolah menungguku
memperkenalkan diri di hadapannya. “Um, hai. Namaku Rosamita,
kamu bisa panggil Rosa hehe,” ucapku. “Wah cara bicaramu lucu
sekali, Jadi punya ciri khas. Panggil saya Karma ya!” balasnya
bersemangat.
Kami tak banyak bicara. Ainun dan Karma mengajakku pergi ke
belakang sekolah yang sedikit jauh dari kelas kami berada. Tiba di
sana nampak pohon tinggi dengan daunnya yang lebat menjuntai
dan kayu agak besar di bawahnya. Kami bertiga segera duduk di
sana. Aku yang nampak bingung membuat Ainun memecah
kesunyian “Rosa, saya setiap hari pasti bawa banyak makanan. Jadi
kita makan sama-sama saja di bawah pohon sambil cerita. Itung
itung hemat uang jajan to,” ucapnya.
“Tapi kenapa aku?” balasku spontan.
“Karna kau beda,” ujar Karma yang kini ikut angkat suara.
“Maaf sebelumnya, padahal kita baru kenal, tapi sa harus bilang.
Kita ajak ko ke sini itu karna ko punya agama, suku, dan logat
bahasa yang beda dari kita. Secara kau kan asli Bali,” sambungnya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 21
Alisku yang mengernyit sudah jelas terlihat bahwa aku sangat
bingung dan mungkin sedikit tersinggung dengan kata-katanya yang
amat blak-blakan.
“Maaf nah, bukan bermaksud apa apa, tapi kita mau minta
tolong ko gabung dengan kita. Di sekolah ini agak jarang kalo mo
ketemu minor, padahal kita penasaran sekali sama budayanya
kalian. Pas tadi sa dengar ko bicara sa sudah tau ko bukan asli sini.
Jadi sa agak semangat. Bukan berarti sa nda mau berteman sama
temanku yang agamanya sama, karna saya punya banyak teman,
saya juga mau memperluas pertemanan,” ujar Ainun panjang lebar
sembari memelas.
“Eh gabung apa?” tanyaku.
“Gabung cerita-cerita!!” ucap Ainun dan Karma serentak.
Mendengarnya aku sedikit tersenyum dengan tingkah mereka
yang lucu.
“Nah jadi mungkin ini perkenalan yang sensitif bagi beberapa
orang, tapi sa nda masalah dengan ini. Saya Karma, asli orang Toraja
dan agamaku Kristen. Sa punya teman lagi satu, namanya Opame,
agamanya Budha. Nanti istirahat kedua mungkin da bakal datang,”
ucap Karma memperkenalkan dirinya.
“Kalo saya Ainun, pasti dari liat saya ko taumi sa agama apa
hehe. Dan saya suku bugis. Nah te-“
Belum selesai Ainun berbicara, ada seorang gadis datang
menghampiri kami. Rambut sebahu dan memakai kacamata bundar
sedang melambaikan tangannya.
“Nah itu Opame!” ujar Ainun yang bangkit dari duduknya dan
menghampiri gadis tersebut.
Gadis ini nampak sopan dan tak banyak bicara. Senyum di
bibirnya tak pernah pudar, sungguh ia adalah pendengar yang baik
di antara kita.
22 Nyalanesia
Begitulah pertemuan kami. Seperti taman yang ditumbuhi
berbagai macam jenis bunga yang nampak sungguh indah
dipandang. Pertemuan ini mungkin tak menghilangkan
kebingunganku dengan sikap mereka yang begitu tiba-tiba, tapi saat
itu satu yang bisa kupastikan. Bhinneka Tunggal Ika, semboyan yang
banyak dijumpai dibuku PPKn tentu bukan sekedar jargon ataupun
simbol semata.
Setahun telah kami habiskan bersama. Mulai dari makan di
piring yang sama, satu sama lain mengingatkan beribadah di waktu
yang tepat, belajar bersama, bermain bersama, pergi berkunjung
saat salah satu dari kita mengadakan perayaan kebahagiaan, bahkan
sempat berkunjung atau lebih tepatnya mengantar teman beribadah
ke tempat ibadahnya.
Tak kusangka akan sejauh ini. Sama sekali tak terbayang di
benakku bahwa perbedaan adalah tali yang erat. Bersyukur sekali
kudapatkan teman-teman seperti mereka. Media sosial yang
terkadang menjadi provokator sebuah perbedaan ini jelas tak
sepenuhnya benar. Sebab mereka belum bertemu orang yang
kutemui di sini. Benar, tak semua orang baik. Namun bukan berarti
semua orang jahat.
Di bawah pohon besar ini kami menghabiskan banyak waktu
bersama. Jam kedua istirahat Ainun akan shalat di mushola seperti
biasa, sedangkan kami juga tentu beribadah sesuai waktu ibadah
kami.
Sampai suatu hari, dengan berat hati aku harus menyampaikan
pada mereka bahwa kini aku harus kembali pindah ke kota Bali
karena pekerjaan orang tuaku. Jelas nampak wajah kaget dan sedih
mereka perlihatkan di hadapanku. Tak sanggup menahan sedih,
kami menangis bersama dalam pelukan hangat.
Dan begitulah perpisahanku. Ada yang kusesali hingga kini.
Aku tak pernah mengakui dan mengatakan bahwa mereka berharga.
Tak pernah kuungkapkan kasih sayangku dengan kata-kata walau
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 23