kuanggap mereka seperti keluarga. “Bodoh sekali,” penyesalan itu
kini menghantuiku hingga dewasa ini.
Kini aku berumur 22 tahun. Pekerjaan yang bagus kuharapkan
sudah kudapatkan. Namun, sekarang aku kehilangan salah satu
yang berharga dalam hidupku. Mereka, sahabatku yang
mengajarkan arti menghargai sebuah perbedaaan. Mereka yang
mengisi taman toleransi menjadi indah dengan mekarnya di sana.
Karma, Ainun, dan Opame meninggal dunia karena kecelakaan
hebat ketika hendak pergi berkunjung ke Bali menemuiku.
Dadaku sesak seperti ada belati yang menusuk tepat di
jantungku. Tak kusangka ceritaku kini menjadi cerita kita, dan
perpisahanku kini menjadi perpisahan kita untuk selamanya. Hujan
deras yang menjadi alasanku bahagia, kini menyambut teriakanku
di bawahnya. Kubayangkan mereka memelukku sembari menangis
bersama seperti yang seharusnya. Kenangan yang mereka berikan
akan kupegang teguh menjadi pedoman. Toleransiku kini tanpa
batas. Aku tak lagi akan canggung menerima temanku karena
berbeda. Sungguh akan kuingat semua tentang kalian. Bahagia,
sedih, dan sakitnya tak akan kutolak jika perasaan ini datang.
24 Nyalanesia
INDAHNYA BERSATU DALAM
KEBERAGAMAN
Dina Puspita
Gemuruh takbir mulai terdengar, semua orang berbondong-
bondong menuju ke masjid bersama dengan sanak keluarga.
Namun, tak tercantum istilah itu dalam kamus Ayu. Ayu merupakan
seorang gadis muslimah yang berparas cantik dengan balutan
hijabnya. Ayu yang selalu merayakan Hari Raya Idul Fitri sendiri
sejak ia berusia 18 tahun merasa sedih karena harus melangkahkan
kakinya sendiri lagi menuju ke masjid yang tidak jauh dari
rumahnya. Ini merupakan tahun ke 7 ia merayakan Hari Raya Idul
Fitri sendiri.
Sambil bersholawat dengan perasaan senang bercampur sedih,
Ayu berjalan dengan melangkahkan kakinya secara perlahan-lahan
dari masjid menuju rumahnya untuk pulang. Tersusul Ayu oleh Pak
Ahmad dan istrinya yang merupakan tetangga Ayu. Pasangan suami
istri ini berjalan berduaan sambil bergurau ria di sepanjang jalan.
“Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya Ayu...
selamat Hari Raya Idul Fitri,’’ ujar istri Pak Ahmad kepada Ayu
sambil menjulurkan tangannya yang seketika membuat Ayu
menghentikan langkahnya.
“Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin Bu,’’
jawab Ayu sambil menyambut uluran tangan istri Pak Ahmad
dengan senyuman manisnya.
“Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin juga ya
Pak,’’ sambung Ayu sambil tersenyum kepada Pak Ahmad.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 25
“Minal aidzin wal faidzin, Ayu… Ayo sini singgah ke rumah
kami,” jawab pak Ahmad sambil menawarkan Ayu untuk mampir di
rumahnya yang tepat berada di sebelah rumah Ayu.
‘’Terima kasih Pak, tapi Ayu pulang dulu. Sebentar Ayu pasti
berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu,” jawab Ayu menolak dengan
halus tawaran Pak Ahmad.
“Oh iya Ayu, ajak bapak dan ibumu juga ya,” jawab Pak Ahmad
sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
‘’Iya baik, Pak,’’ jawab Ayu singkat sambil tersenyum.
Ayu yang mulai tak sabar ingin cepat sampai di rumah, lalu
melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat menuju rumahnya yang
telah nampak terlihat jelas dari jalan dengan warna cat tembok abu-
abu. Ia melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam rumah sambil
membaca doa dan langsung mencari kedua orang tuanya untuk
bersalaman memohon maaf sambil bertekuk lutut di hadapan ayah
dan ibunya.
‘’Ayu mohon maaf sedalam-dalamnya atas segala kesalahan
Ayu selama ini kepada Bapak dan Ibu, baik yang Ayu sengaja
maupun yang tidak Ayu sengaja. Mohon dimaafkan ya Pak, mohon
dimaafkan juga ya Bu,” ujar Ayu sambil menangis haru dan
mencium tangan bapak dan ibunya yang sedang duduk
berdampingan di kursi sofa.
“Iya Nak, Bapak sudah memaafkanmu,” jawab ayah Ayu.
Ibu Ayu mengusap air mata putri semata wayangnya itu sambil
mengangkat bahu Ayu untuk bangun dari tekukan lututnya dan
langsung dipeluknya dengan begitu erat dalam balutan haru dan
bahagia.
“Ibu sudah memaafkanmu, Nak. Selamat hari raya ya…” ujar
Ibu Ayu sambil melepas pelan pelukan eratnya.
Ayu hanya membalas dengan tersenyum lebar sambil
menghapus air mata haru di pipinya.
26 Nyalanesia
“Sudah nangisnya ya, ayo kita makan bersama! Ibumu sudah
terlihat sangat lapar sepertinya tuh Nak, hahaha…’’ ujar ayah
mengajak makan bersama sambil bergurau dengan tertawa jahil.
“Hahaha…’’ Ayu dan ibu pun sontak kompak ikut tertawa kecil
bersama.
Ayah, ibu, dan Ayu melangkah menghampiri hidangan yang
telah tersaji begitu banyak di meja makan yang berbentuk bundar.
Hidangan-hidangan tersebut telah dimasak oleh ibu dan Ayu sedari
pagi. Ketika ibu membuka tudung saji dari atas meja, seketika
semerbak tercium aroma sedap dari opor ayam berwarna kuning
pekat yang begitu menggoda. Mereka pun makan bersama sambil
bercerita dan bergurau ria di hari raya yang penuh bahagia.
Setelah selesai makan bersama, keluarga Ayu pergi
mengunjungi rumah Pak Ahmad yang hanya 10 langkah dari rumah
Ayu itu untuk bersilahturahmi.
“Assalamualaikum, Pak,’’ Ayu mengucapkan salam sebelum
masuk ke dalam rumah Pak Ahmad.
“Waalaikumsalam, mari masuk,’’ jawab Pak Ahmad menyambut
kedatangan keluarga Ayu dengan mempersilahkan untuk masuk.
“Selamat hari raya, Pak,’’ ujar ayah Ayu sambil bersalaman
kepada Pak Ahmad.
“Iya, terima kasih Pak,’’ jawab Pak Ahmad.
“Silahkan duduk,” timpal istri Pak Ahmad sambil beranjak dari
tempak duduknya untuk pergi menuju ke dapur.
Ayu dan keluarga disambut dengan penuh bahagia oleh
keluarga Pak Ahmad, mereka disuguhkan oleh beberapa toples kaca
bening yang menampakkan dengan jelas toples-toples tersebut
berisikan kue-kue khas lebaran yang beraneka ragam bentuknya.
“Ayo silahkan dimakan kuenya,’’ ujar Pak Ahmad sambil
membuka tutup toples-toples yang ada di meja persegi panjang
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 27
dengan taplak meja berwarna biru muda yang senada dengan
gorden di ruang tamu itu.
Dan tak lama kemudian istri Pak Ahmad membawa 3 gelas
minuman berwarna hijau jernih dalam gelas bermotif bunga mawar.
Sambil mempersilahkan untuk meminum minuman dan memakan
kue yang disuguhkan, Pak Ahmad mencoba membuka topik
pembicaraan.
“Silahkan diminum minumannya!” ujar istri Pak Ahmad
mempersilahkan untuk meminum minuman yang dibawakannya,
“Iya, terima kasih Bu,” jawab ibu Ayu sambil meraih gelas berisi
minuman.
“Kalau tidak salah, sebentar lagi juga Hari Raya Nyepi ya Pak
Wayan?’’ tanya Pak Ahmad kepada Pak Wayan.
“Iya Pak, tiga hari lagi sudah Hari Raya Nyepi,’’ jawab Pak
Wayan.
“Apakah mau melaksanakan Hari Raya Nyepi di Bali lagi seperti
tahun lalu Pak?’’ lanjut Pak Ahmad bertanya kepada Pak Wayan.
“Tidak Pak, saya dan istri melaksanakan Hari Raya Nyepi
tahun ini di sini saja dikarenakan waktunya yang berdekatan
dengan Hari Raya Idul Fitri ini. Jadi kami tidak tega apabila harus
meninggalkan Ayu sendiri di Hari Raya Idul Fitri,” jawab Pak Wayan
menjelaskan.
I Wayan Darma adalah ayah dari Puput Ayu Ganggadewi yang
lebih akrab disapa dengan nama Ayu. Ibu Ayu bernama Niluh Putu
Susanti. Ayu terlahir dari keluarga Bali yang memeluk agama Hindu.
Namun sejak berusia 18 tahun Ayu memutuskan sendiri untuk
menjadi mualaf. Ayu pindah agama dari agama Hindu dan memeluk
agama Islam. Walaupun berat bagi kedua orang tua Ayu untuk
menerima keputusan Ayu tersebut pada waktu itu, namun kedua
orang tua Ayu menghargai keputusan Ayu. Mereka memberikan
kebebasan penuh kepada Ayu untuk menentukan pilihan agama
28 Nyalanesia
yang ingin ia anut karena hal tersebut merupakan sepenuhnya hak
Ayu.
Perbedaan agama yang terdapat dalam keluarga Ayu, tidak
menjadi penghalang bagi keluarga kecil ini untuk merajut
keharmonisan dalam keluarga. Keluarga kecil Ayu ini sangatlah
rukun dan harmonis dimana kedua orang tua Ayu dan Ayu saling
menghargai dan menghormati agama satu sama lain.
Semenjak Ayu memeluk agama Islam orang tua Ayu tidak lagi
memelihara anjing di rumah karena mereka menghargai Ayu, yang
mana mereka mengetahui bahwa anjing merupakan hewan yang
haram hukumnya disentuh oleh Ayu dalam agama Islam yang
dianut oleh Ayu.
Orang tua Ayu juga tidak pernah lagi memasak makanan-
makanan yang mereka telah ketahui haram hukumnya bagi Ayu
untuk memakan makanan tersebut. Begitupun dengan Ayu meski
berbeda keyakinan dengan kedua orang tuanya, Ayu tetap
menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya dengan terus
berbakti kepada ayah dan ibunya. Ayu selalu mematuhi larangan
dan melaksanakan perintah kedua orang tuanya selama itu benar
dan tidak dilarang dalam agama Islam.
Pak Wayan, Bu Niluh, dan Ayu adalah keluarga kecil harmonis
yang menjadi salah satu bentuk nyata indahnya toleransi dengan
bersatu dalam keberagaman. Keluarga kecil ini menjadi contoh
sikap toleransi yang baik bagi orang-orang.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 29
GRACE ON DIVERSITY (GOD)
Greig Novantio Aldrefas
30 Juli 2021, jam 11.30 siang.
Diversity, satu kata yang mampu mempengaruhi dan
mengubah pemikiran serta tingkah laku manusia. Perbedaan bukan
lagi menjadi hal yang baru di kehidupan kita saat ini. Negara kita
sendiri Indonesia, merupakan contoh nyata dari perbedaan itu
sendiri. Indonesia tersusun atas banyak suku, agama, bahasa, serta
ras. Hidup dalam satu tujuan yang didasari oleh Pancasila sebagai
pedoman atau landasan utama seluruh bangsa Indonesia.
Setelah menuliskan paragraf itu, kuletakkan bolpoinku dan
menengadahkan kepalaku ke atas, Merenung. Sebelumnya
perkenalkan namaku Sarae, seorang remaja asli dari Kendari,
Sulawesi Tenggara. Aku lahir dan dibesarkan oleh kedua orang
tuaku, bersama seorang kakak yang sebentar lagi akan
menyelesaikan masa perkuliahannya. Saat ini, aku masih duduk di
bangku sekolah menengah yang baru saja menginjak kelas sebelas
sebulan yang lalu. Masa sekolah bagiku merupakan masa yang
paling berkesan, memiliki banyak teman, belajar, dan bermain
itulah yang kulakukan. Di sekolah, aku belajar banyak hal, mulai dari
bagaimana membangun karakterku menjadi lebih baik serta
memperluas wawasan akan ilmu pengetahuan untuk
mempersiapkan diriku di masa yang akan datang.
Aku seorang Kristen. Sejak kecil, aku dibimbing dan diajar
untuk menjadi seorang yang setia, tidak melakukan hal yang salah
atau yang merugikan orang lain. Ketika kumasih duduk di Sekolah
Dasar, teman seumurku sering bertanya seperti apa agama yang
kuyakini ini. Selayaknya seorang anak kecil pada umumnya, aku
menjawab dan menjelaskan kepada mereka. Ada yang mengangguk
30 Nyalanesia
paham dengan muka polosnya, ada juga yang malah mengejek.
Mungkin iya aku sakit hati, tetapi sekarang aku sadar mereka
hanyalah anak-anak kala itu tidak perlu dipermasalahkan dan
sebaiknya dilupakan.
Saat ini aku yang sedang menulis ini tersenyum sambil
menunggu makan siang, terkejut dengan panggilan ibuku dari luar
kamar.
“Sarae kemari, sudahi bermain HPmu itu. Kau harus makan
siang,” rentetan kata terdengar di gendang telingaku nyaring.
“Iya, Ma”, balasku segera. Aku langsung meletakkan bolpoin
dan bukuku, dan segera bergegas keluar menuju ruang makan yang
di mana sudah ada ayah dan ibuku. Sedangkan kakakku, tidak
tinggal bersama kami karena ia bersekolah di luar kota.
“Oh iya, kalian makan duluan saja ibu mau Salat Dzuhur dulu,”
kata ibuku setelah melihat jam dinding yang telah menunjukkan
waktu untuk salat. Mendengar itu aku menganggukkan kepalaku
dan lanjut menikmati makan siangku.
Terdengar aneh tapi itulah kenyataannya. Keluargaku terbilang
cukup unik, jarang ditemui tapi sebenarnya cukup banyak yang
sama denganku. Ayah dan ibuku menikah dengan berbeda agama.
Iya, cukup aneh didengar saat ini tapi itulah adanya. Ayahku
seorang Kristen dan ibuku seorang Muslim. Memiliki dua anak,
dimana orang tuaku memutuskan agar kakakku mengikut ibuku
sebagai Muslim dan aku mengikut ayahku sebagai Kristen, dan itu
sudah ditentukan ketika kami baru lahir.
Menjadi anak dari kedua orang tua yang memiliki budaya dan
kebiasaan yang sebenarnya sangat berbeda, tidak terlalu sulit
bagiku. Ketika Hari Raya Idul Fitri, keluargaku akan berkunjung ke
rumah nenek dari ibuku yang dimana seluruh keluarga akan
berkumpul di sana. Di samping itu juga, ketika Hari Natal tiba, kita
akan mengunjungi rumah nenek dari ayahku dan berkumpul
bersama keluarga yang lainnya. Apakah itu sulit dan berat? Sama
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 31
sekali tidak. Aku sangat menikmati itu dan menganggap ini hal yang
biasa saja, melainkan aku merasa spesial karena tidak semua orang
dapat merasakannya.
Di tengah makan siang itu, ibuku kembali dan langsung
bergabung bersamaku dan ayah. Tidak lama ibu mulai berbicara
dan bertanya pada ayahku. “Pah, bisa tidak antar mama ke rumah
bu Purum?” tanya ibuku disela makan siang. “Memangnya kapan?”
kata ayah sesudah mengunyah makanannya. Aku hanya diam dan
duduk makan sambil mendengarkan, sesekali melihat mereka yang
sedang berbicara. “Hari Minggu pagi, bisa tidak?” tanya ibuku
kembali.
“Bisa, tapi sepulang Gereja ya. Mungkin sekitar jam 10,” jawab
ayah memberikan tawaran. Ibu pun mengiyakan perkataan ayah
dan mereka kembali melanjutkan makan siang mereka.
Sederhana bukan? Kita menganggap ini santai dan tidak perlu
dipermasalahkan. Bagi beberapa orang, hal ini masih aneh bagi
mereka. Dulu, guruku sering bertanya kepadaku ketika mereka
mengetahui keadaan keluargaku. Apakah kedua orang tuamu
tinggal seatap? Apakah kamu dengan ibumu akur? Apa pernah ada
masalah dalam keluargamu yang melibatkan agama? Semua itu
tidak sama sekali. Hal itu menurutku sungguh kekanakan. Untuk apa
dalam keluarga harus ada kecanggungan? Apalagi masalah agama,
toh kita masih menyembah Tuhan dan tidak melakukan kejahatan.
Sedari tadi aku bercerita hanya tentang ibu dan ayahku,
bagaimana dengan kakakku? Bisa dibilang kita sangat dekat. Sejak
kecil aku dan kakak selalu bermain bersama, kakakku paham dan
aku pun juga paham akan satu sama lain. Terkadang kita saling
mengingatkan untuk tidak pernah melupakan Sang Pencipta,
bagaiamana pun keadaannya baik itu senang maupun sedih jangan
pernah menjauh dari Tuhan.
Ketika aku dibesarkan di lingkungan seperti ini, kupikir aku
akan lebih mudah beradaptasi di masa depan. Aku bisa bergabung
32 Nyalanesia
bersama teman-teman muslim dan tidak kaget dengan kebiasaan
mereka. Terkadang teman gerejaku masih ragu untuk berteman dan
bergabung dengan teman-teman muslim karena takut ada salah
paham dan berakhir seperti yang tidak diinginkan.
Tetapi tidak bagiku, aku setidaknya tau apa yang harus
kulakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Karena itulah aku
bersyukur dapat dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan ini.
Setelah menyelesaikan makan siangku, aku segera berdiri dan
bergegas mencuci piring yang telah kugunakan. “Pah, Mah, aku
kembali ke kamar dulu,” pamitku pada ayah dan ibu.
“Sarae sebentar, papa hanya ingin mengingatkan. Di masa
depan temukanlah pasangan yang sesuai dengan keyakinanmu.
Cukuplah kalian yang merasakan banyak pertanyaan yang sedikit
mengganggu dalam kehidupanmu.”
Kutatap papa dengan sedikit mengernyit menandakan
kebingunganku. Tiba-tiba mama bersuara, “Benar Sarae, kita
keluarga yang penuh dengan dinamika dan perbedaan, berhasil
membangun kebersamaan. Akan tetapi Mama berdoa agar kamu
menemukan jalan terbaik dalam berkeluarga nantinya. Semoga
anak Mama menemukan pujaan hatinya yang sesuai dengan
keyakinannya.”
“Baik Mah, Pah… Pesannya akan kuingat, aku pamit ke kamar
ya,” kataku sekali lagi sebelum meninggalkan meja makan.
Kubawa kakiku melangkah dan memasuki kamar tidurku. Aku
kembali mengambil bolpoin dan kembali membuka buku diaryku
dan mulai menuliskan kata demi kata.
30 Juli 2021, jam 12.00 siang
Pesan papa dan mama sungguh membuatku terhenyak, ternyata
mereka sangat mencintaiku. Memikirkan pengorbanan kami.
Mereka menyayangi kami dengan caranya. Kami berbeda dan kami
berhasil menaklukkan perbedaan itu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 33
Perbedaan yang kutahu merupakan sebuah anugerah dari Sang
Pencipta. Tuhan menciptakan sebuah perbedaan agar kita umatnya,
dapat belajar dan memahami akan pentingnya kebersamaan di sela
perbedaan. Perbedaan bukan sebuah kutukan ataupun aib yang
harus dimusnahkan.
Tetapi perbedaan merupakan sebuah rintangan besar yang
harus kita lewati, bukan hanya orang-orang yang memiliki keluarga
unik sepertiku. Tetapi, seluruh manusia di muka bumi harus tau
akan pentingnya perbedaan itu, dengan memulai melakukan satu
langkah kecil saja, 9 huruf, 1 kata, tetapi dampaknya tak terhitung
luar biasanya, Toleransi.
34 Nyalanesia
TASAMUH SESAMA UMAT
BERAGAMA
Safarindah Nafsul Mutmainnah
*Kring…Kringg…
Bunyi alarm dari gawai milik Sasa, yang menandakan sudah
pukul 5:15 pagi, sang Surya telah mulai memunculkan wujudnya
dari sebelah timur bumi.
Sasa terbangun lalu menggosok-gosokkan mata dengan
tangannya. “Hoaammmm sudah jam 5:15 saja, aku harus segera
sholat subuh-nih,” batin Sasa lalu melangkahkan kakinya untuk
mengambil air wudhu.
15 menit kemudian…
*Tok Tok Tok
“Sasa, bangun Nak, kamu hari ini sekolah kan?” ucap ibu dari
sisi depan pintu kamar milik Sasa.
“Iya bu, ini aku baru selesai salat Subuh,” jawab Sasa sembari
membuka pintu.
“Oh baguslah kalau begitu, mandi sana udah setengah enam lho
Dek, nanti terlambat kamu,” ucap ibu kembali.
“Iyaa bu, ini Sasa juga mau langsung mandi kok, yaudah aku
tutup ya pintunya,” ucap Sasa yang hanya dibalas oleh anggukan
ibunya, kemudian pergi menghilang dari hadapan Sasa.
*15 menit kemudian
Sasa menuruni tangga, lalu berjalan ke ruang makan. “Pagi
semuanya,” ucap Sasa sembari menarik kursinya. Di ruang makan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 35
sudah ada ayah, ibu, dan kakak perempuan Sasa, Agnes namanya. Di
atas meja makan pun sudah tersajikan berbagai macam makanan
yang sangat lezat, khusunya ayam asam manis yang berada
sempurna di depan mata Sasa.
“Dek, hari ini ke sekolahnya bareng kakak atau bareng Adrian?”
ucap kak Agnes.
“Sama Adrian kak, sekalian jemput Hansen sama Claudia,”
jawab Sasa.
“Ooh gitu, kalo pulangnya gimana?” tanya kak Agnes.
“Ga tau, nanti aku chat kakak aja kalo aku gak bareng mereka,”
jawab Sasa secukupnya, kemudian mulai menyendok nasi ke
piringnnya serta ia menyendok ayam asam manis yang sudah ia
tatap sejak turun dari tangga.
*Tok-Tok-Tok
“Sasa..” ucap seseorang dari luar dengan suara yang cukup
keras. Sasa yang merasa namanya dipanggil dari luar, kemudian
berkata, “Iyaaa, tungguu!” teriaknya membalas perkataan orang itu.
“Adrian udah dateng, aku pamit yaa semuanya,” ucap Sasa
sambil menggendong tasnya, kemudian melambaikan tangan.
“Hati-hati ya, Dek,” ucap ibunya.
“Iyaa bu,” jawab Sasa singkat lalu berlari kecil agar tidak begitu
lama membuat Adrian menunggu.
“Halooo gaess,” ucap Sasa basa-basi yang hanya dibalas dengan
senyuman oleh Adrian.
“Jemput Hansen dulu atau Claudia dulu nih?” tanya Sasa.
“Claudia dulu aja, soalnya aku pengen singgah di ATK deket
situ, mau beli busur sama jangka, kemarin disuruh sama bu Dian,”
jawab Adrian.
“Oke deh kalau gitu, ayo nanti telat, udah jam setengah tujuh
nih,” ucap Sasa, kemudian mereka berjalan menuju kendaraan
36 Nyalanesia
beroda empat yang Adrian kendarai. Mereka sudah kelas XII yang
berarti mereka sudah berumur 17 tahun lebih dan sudah bisa
mendapatkan KTP dan juga SIM yang mana juga berarti mereka
sudah legal untuk membawa kendaraan baik motor atau mobil.
Mereka pun mengendarai mobil, lalu menjemput Claudia,
kemudian singgah sebentar ke ATK untuk membeli keperluan yang
dibutuhkan Adrian, selepas itu mereka lanjut menjemput Hansen.
Tidak ada dialog yang terjadi di antara mereka, hanya alunan
lagu Strawberries and Ciggaretes milik Troye Sivan yang meggema di
seluruh sudut mobil. Kini, tibalah mereka di lampu merah, tiba-tiba
Hansen memecahkan keheningan yang ada dengan berucap, “Eh,
kalian pada tau gak sih nenek-nenek yang itu,” ucap Hansen sambil
menunjuk nenek berambut putih yang mengenakan topi berwarna
kuning serta sembari menenteng tissu, berjalan menuju jendela ke
jendela, menawarkan tissu jualannya.
“Emang dia kenapa?” tanya Claudia.
“Aku denger kemarin dari tanteku, nenek itu tuh katanya
dulunya kaya raya, hanya kan mereka sekarang udah terlilit utang
karena dia sama suaminya suka minjem duit ke perusahaan XX,
terus rumahnya tuh gede banget, tapi sayang udah disita karena ya
gitu, mereka gak mampu bayar utang,” ucap Hansen menjawab
pertanyaan Claudia panjang lebar.
“Emang iya? Valid gak nih ceritanya? Jangan sampai cerita yang
kamu bawa ni cerita burung semata,” jawab Sasa berhati-hati.
“Ih sumpah beneran, rumahnya tuh deket TPU agama Kristen,
kerjaannya ngutang, Neraka VVIP tuh matinya,” ucap Hansen
bergidik ngeri.
“Kamu jangan ngomong asal kayak gitu Hansen, gak boleh,
toleransi dong,” ucap Claudia sedikit naik pitam karena omongan
ceplas-ceplos temannya satu ini.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 37
“Tapi emang bener kan? Dia Kristen karena tinggalnya
sekitaran sana, terus ngutang sana sini, langsung neraka masuknya
kalo mati.”
“Kamu gak boleh ngomong kayak gitu Sen, jangan bawa-bawa
agama kalo ngomong tau gak, inget surah Al-Kafirun, agamaku
untuk agamaku, agamamu untuk agamamu, nanti kalo orang lain
denger terus tersinggung gimana? Toleransinya dong Hansen!
Sadar! jangan egois!” ucap Claudia yang sekarang sudah benar
benar naik pitam.
“Ya udah sorry, yang tadi aku salah ngomong. Tapi omonganku
yang setelahnya benarkan kalo dia tukang ngutang pasti masuk
neraka, wlee,” jawab Hansen yang tidak mau disalahkan atas
ucapannya yang sangat salah tadi sambil menjulurkan lidahnya,
mengejek Claudia yang seorang mualaf, yang mana artinya sebagian
besar keluarganya adalah penganut agama Kristen.
“Mulut kamu kayak gak di sekolahin, tolol, berhenti saja
sekolah, tidak ada gunanya 12 tahun sekolah bagimu, mulutmu
sama saja seperti orang tidak disekolahkan, bahkan orang yang
tidak disekolahkan saja, tidak mempunyai mulut seperti kamu,”
ucap Claudia marah.
“Iya Sen, kamu harus pintar-pintar jaga omongan, di dunia ini
bukan hanya agama kita saja yang ada, dan juga seperti apa yang
dikatakan di Surah Al-Baqarah 2:/139, Bagi kamu balasan atas amal
perbuatanmu dan bagiku balasan atas amal perbuatanku, walaupun
dia beda agama sama kita, dan juga berbuat dosa yang besar, kita
semua sama rata, sama-sama hamba yang hina dina di hadapan
Allah SWT. Tidak ada yang lebih baik dari siapapun, kecuali Alah
SWT. Kita hanyalah seseorang yang beruntung, yang mana aibnya
ditutupi oleh Allah, maka bersyukurlah kamu, kita gak ada hak buat
menghakimi kesalahan seseorang, apa lagi sampai menyebarkan
cerita burung seperti itu, gak baik Sen,” ucap Sasa menjelaskan
kepada Hansen dengan tegas
38 Nyalanesia
“I..Iya, juga sih, bener ucapanmu…” ucap Hansen terbata-bata
setelah mendengarkan penjelasan tegas dari Sasa.
“Makanya lain kali omonganmu tuh dijaga, mikir dulu kalo mau
ngomong, sebelum ngomong tuh nimbang-nimbang, cerita ini bener
gak ya? Cerita ini berguna gak ya? Cerita ini harus gak ya diceritain
ke orang-orang? Cerita ini baik buat diberitahu ke orang-orang dan
buat si tokoh yang dibicarakan atau enggak ya? BEFORE YOU
SPEAK, THINK Sen, Think!” ucap Claudia dengan marah sambil
menunjuk kepalanya menggunakan telunjuk tangan kanannya.
“Iya, iya, maaf, gak akan aku ulangi lagi deh, suer,” ucap Hansen
yang sudah merasa bersalah sambil mengangkat dua jarinya
pertanda peace atau damai.
“Maaf ya Clau,” ucap Hansen mengulurkan tangannya untuk
berminta maaf kepada Claudia.
“Iya, masih pagi udah bikin emosi aja, jangan diulangi ya,
jangan ngomong kayak gitu, kayak gak pernah disekolahin!” jawab
Claudia tegas, sembari menerima uluran tangan Hansen yang
menandakan permintaan maafnya telah diterima.
“Nah, kalau sudah bertasamuh gini kan enak,” ucap Adrian yang
sedari tadi hanya menyimak pembicaraan Hansen, Sasa, dan
Claudia.
“Adrian! ini 7 menit lagi masuk ih, cepetan! entar kita dikunciin
pagar lagi, kayak dua minggu lalu!” ucap Sasa menyuruh Adrian
untuk mempercepat laju kendaraan beroda empatnya ini.
“Iya Sasa, santaii.. Rileks.. Hehe…” jawab Adrian terkekeh kecil.
Lima menit kemudian mereka sampai lah di Sekolah SMA
Negeri 4 Gading Serpong. Adrian, Sasa, Claudia, dan Hansen kini
berjalan berpisah menuju kelas masing-masing, Sasa dan Hansen
merupakan teman sekelas, sedangkan Claudia dan Adrian juga
sekelas. Waktu PBM pun bermula pada pukul 7.30 WIB.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 39
ANCAMAN KEBERAGAMAN
KOTA NIRHALLA
Eddi Malaidji
Pada malam yang senyap di negeri nan indah dan luas bernama
Nirhala terjadi penembakan di perkumpulan kaum minoritas.
Menewaskan delapan orang dan di antaranya terdapat pemuka
agama Katolik. Hingga membuat kaum Katolik tersebut berunding
"Kita tidak bisa membiarkan kaum mayoritas itu berbuat semena-
mena terhadap kaum kita!" jelas Langga dalam nada marah.
"Iya benar, kaum mayoritas sudah kelewatan. Jika saja mereka
tidak melakukan ini maka ayahku….." Arif tak kuasa menahan
tangisnya dan meninggalkan perundingan tersebut .
Di tengah ketegangan yang sedang terjadi Egi berusaha
menenangkan pertemuan tersebut “Kita tidak bisa sepenuhnya
menyalahkan kaum mayoritas. Apakah kamu mendengar apa yang
dikatakan polisi itu, kau dengar? Mereka berkata orang yang
melakukan ini semua bukanlah berasal dari suatu kaum. Termasuk
kaum mayoritas di luar sana. Kita seharusnya bersikap toleransi
kepada mereka dan jangan menyalahkan mereka!" kesal Egi dan
pergi ke arah Arif untuk menenangkannya dan menghiburnya
karena masih terpukul atas kematian ayahnya.
Amukan dalam pertemuan itu pun berhenti, Egi menenangkan
Arif agar dia dapat tegar menerima kepergian ayahnya.
Kondisi dari kaum Katolik semakin memanas . Kekhawatiran
ini membuat Luna seorang gadis muslim harus menelepon Edward,
sahabat Luna. Karena dia tahu Edward pasti memiliki teman dari
kaum Katolik.
40 Nyalanesia
"Selamat pagi Edward, aku khawatir tentang kondisi kaum kita
sekarang apakah kau punya nomor atau kenalan dari kaum Katolik?
Aku ingin meminta maaf secara pribadi. Meskipun bukan kami yang
melakukan itu, tetapi pasti adanya kecurigaan yang akan timbul di
benak mereka."
"Pagi juga. tepat sekali, aku juga sedang memikirkan hal yang
sama. Aku memiliki kenalan bernama Egi. Sepertinya dia sudah
berusaha untuk menenangkan kaumnya."
Luna pun mencatat nomor yang diberikan Edward dan segera
menelepon Egi, "Selamat siang, Egi."
"Selamat siang, mohon maaf Anda siapa?” sahut Egi diseberang
telpon. "Namaku Luna, jadi begini Egi kau tahu kan perselisihan di
antara kedua kaum kita aku hanya ingin meluruskan bahwa kami
tidak melakukan apa-apa, tentang apa yang terjadi sepuluh hari
yang lalu,”
“Tidak apa, aku tahu aku yakin seluruh orang di kota Nirhalla
ini menjunjung tinggi toleransi, kami tidak ingin kejadian yang sama
menimpa kalian.”
Kemudian Luna dan Egi pun berbincang terkait masalah yang
terjadi. Polisi pun menyelidiki keterkaitan kejadian yang terjadi
pada malam tersebut. Mereka takut sasaran berikutnya adalah
kaum Protestan, kaum Hindu, kaum Muslim, dan Budha yang belum
mengalami penyerangan. Mereka mengutus intel dari pihak
kepolisian yang bekerja sebagai tukang bakso untuk menyusup ke
dalam kaum tersebut.
Polisi menemukan adanya ciri-ciri dari teroris. Namun, mereka
belum bisa memastikan hal tersebut. Pihak kepolisian meminta agar
walikota menunda pidatonya pada esok hari. Namun, walikota
bersikeras untuk tetap menyampaikan pidatonya.
Keesokan hari tatkala walikota berpidato, polisi mengerahkan
semua pasukannya untuk mengamankan ruangan yang digunakan
untuk konfrensi tersebut. Pidatonya berjalan lancar namun kantor
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 41
polisi diserang oleh sekelompok teroris. Hingga dua di antaranya
tertangkap oleh polisi. Kemudian para intel dikumpulkan. Informasi
dari intel menunjukkan bahwa para teroris yang tertangkap
memiliki jaringan yang cukup sulit untuk dimasuki.
Di hari yang sama, polisi pun bergerak untuk memberitahu
pemuka agama Islam untuk menyatakan bahwa pengeboman yang
terjadi beberapa hari lalu adalah ulah dari teroris. Namun, hal yang
sama tidak dapat dilakukan untuk kaum Katolik karena pemuka
agamanya tewas pada penembakan.
Pemuka agama Islam pun memberitahu seluruh kaumnya agar
tidak mencurigai kaum yang lain dan meminta maaf kepada kaum
yang dicurigai. "Untuk kaum Muslim, kejahatan telah terungkap.
Semua adalah ulah dari teroris, kita harus memberikan permintaan
maaf kepada mereka. Berikan mereka buah-buahan dan juga
mengajak mereka berkumpul.”
Polisi bekerja sama dengan kaum Muslim untuk
memberitahukan ancaman teroris langsung kepada mereka. Mereka
tidak akan percaya jika tidak ada polisi di sana.
Sementara itu Luna dan Edward berpartisipasi langsung untuk
membantu mengumpulkan uang untuk digunakan membeli buah-
buahan, dan makanan untuk perayaan yang akan dilakukan di sana
nantinya.
"Edward, aku punya beberapa uang yang dapat kusumbangkan
pada kegiatan perdamaian semua kaum nantinya. Alhamdulillah,
kejadian ini terungkap, mereka adalah teroris. Dengan izin Allah
kita semua selamat dan tidak ada ancaman lagi di Nirhalla. Aku juga
bersyukur dan pastinya dengan tema perdamaian ini kita semua
kaum merasakan kekerabatan dalam mengatasi teroris. Hubungan
antara kaum di kota Nurhaliza ini pasti semakin erat dari
sebelumnya."
42 Nyalanesia
"Kau terlalu banyak berpikir, sebaiknya kau beristirahat,
biarkan aku yang akan mengumpulkan seluruh dana yang akan kita
gunakan untuk perayaan hari damai tersebut."
Sementara Luna beristirahat, ia terpikir untuk menelpon Egi,
dan memastikan mereka baik-baik saja. Serta mengabarkan tentang
perayaan tersebut.
"Selamat siang, Egi aku Luna."
"Ya selamat siang Luna, keadaan di sini sudah membaik. ada
apa kau menelponku?”
"Jadi begini kami ingin melakukan perayaan karena sebenarnya
kejadian yang terjadi di kota Nirhalla semuanya adalah ulah dari
teroris. Polisi berpikir, jika pemuka agama kalian bisa saja memiliki
keraguan. Jadi kami akan melakukan perayaan minta maaf dengan
mengajak polisi agar tidak ada lagi kecurigaan antara kedua belah
pihak."
Percakapan tersebut berlanjut dan Egi bersiap untuk
menyiapkan tempat untuk perayaan.
Dan hari perayaan pun tiba, kedua kaum tersebut berkumpul.
Bahkan perwakilan kaum Hindu dan Budha ikut juga berkumpul.
Walikota turut hadir. Dia pun berpidato kepada orang-orang yang
hadir pada acara tersebut, "Warga Nirhalla di tempat ini, Kita
berdiri untuk merayakan sebuah perayaan perdamaian. Seluruh
kejadian yang sangat mengerikan terjadi adalah ulah dari teroris.
Namun, di sini kita berkumpul bersama dalam semua keberagaman
seperti dalam sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia. Dalam
keberagaman kita harus bertoleransi dan saling menghargai satu
sama lain. Dengan ini perayaan atas keberhasilan polisi sangat
membanggakan untuk kota tercinta ini."
Di sisi lain Dewi dan Made, sepasang suami dan istri dari kaum
Hindu ikut dalam perayaan tersebut, mereka membawa makanan
keluarga khas India mereka, seluruh keberagaman pada saat
perayaan tersebut sesuai dengan sila pertama Pancasila: Ketuhanan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 43
Yang Maha Esa di mana mereka semua bebas untuk beragama dan
melakukan ibadahnya masing-masing.
Selepas perayaan, Mereka kaum Katolik berunding untuk
menunjuk, siapakah yang akan menjadi pemuka agama selanjutnya
dari kaum Katolik. "Aku memiliki sebuah permintaan untuk kalian.
Kalian tahu Ayahku adalah pemuka agama sebelumnya namun aku
ingin memberitahukan bahwa pemuka agama yang cocok seperti
Ayahku tidak lain dan tidak bukan adalah Egi. Dia adalah orang yang
tepat untuk tugas ini. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak
langsung menyalahkan kaum mayoritas. Dan juga dia adalah murid
Ayahku."
"Aku setuju dengan pernyataan Arif, namun sebelum kita
meresmikan jabatan Egi marilah kita pergi ke makam orang-orang
yang gugur pada kejadian tersebut," timpal Langga mendukung
rencana Arif.
Kemudian kaum Katolik kembali ke perayaan tersebut,
memberitahukan tentang pelantikan Egi kepada walikota.
"Suatu kehormatan untuk menunjuk pemuka agama
selanjutnya dari kaum Katolik. Egi dengan ini aku umumkan sebagai
pemuka agama Katolik yang baru. Seluruh kaum berada pada
tanggung jawabmu."
Edward dan Luna sebagai orang yang mengenal Egi ikut senang
dan mengajak Egi untuk makan bersama mereka. Semua orang
berkumpul dan bergembira dalam perayaan tersebut. Walaupun
hubungan antara kaum-kaum di kota Nirhalla ini sempat goyah,
namun karena perayaan ini, hubungan keberagaman di Kota
Nirhalla erat kembali.
44 Nyalanesia
SEMUA DEMI UTI
Muhammad Aqsha Dewantoro
Hari itu kendari diguyur hujan lebat, matahari tak nampak sejak
pagi. Bulir air hujan bersenandung merdu di atap sengku, air di
selokan mengalir deras dan hampir menggenangi jalan, udara
dingin juga menyeruap melalui celah-celah kusen jendelaku. Dingin.
Kutarik dan kugenggam erat selimut yang sedari tadi hanya
menutupi area pinggang ke bawahku, lalu terlelap dalam
kehangatan di gelapnya malam.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Sayup-sayup, lembutnya suara adzan berbisik ke telingaku
sebagai pertanda agar kubangun. Kukucek mataku dengan tangan
kanan, sedangkan yang kiri menutup mulut yang sedari tadi
menganga karena menguap. Tak lupa, kuregangkan juga sekujur
tubuhku. Lega.
“Jar! Fajar, ayok bangun Nak, Salat Subuh!” suara wanita
berumur 53 tahun itu memanggilku.
“I-iya nek!” balasku. Bangunlah aku dari ranjang kayu. Baru
saja di depan pintu kamar mandi, tubuhku menggigil disapu oleh
udara dingin pada setiap incinya. Sudah terbayang bagiku
bagaimana airnya nanti.
Benar saja, saat kumulai basuh tanganku untuk berwudhu,
dinginnya air langsung menggerogoti kulitku, seketika mataku
melotot bahkan kupikir rambutku tiba-tiba keriting. Buru-buru
kutarik sarung berwarna ungu dengan motif kotak-kotak dari
lipatan bajuku, lalu kupakai secepatnya. Kurebahkan sajadah
merahku dengan gambar ka’bah yang berada tepat di tengahnya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 45
Sedangkan Uti, nenekku, sudah siap dengan mukena putih polos
berenda di bagian bawahnya.
“Assalamualaikum warahmatullah…”
Selepas salam terakhir, tak lupa kudoakan kedua orang tuaku
yang telah tiada sejak umurku 5 tahun. Kutarik tangan Uti dan
kucium agak lama dari pada biasanya. Uti pun mencium kening dan
kedua pipiku.
Selepas salat, kami pun beranjak ke dapur untuk sarapan. Menu
andalan Uti setiap Senin pagi adalah bubur ayam. Dalam
semangkok, aku mendapat 2 centong bubur lengkap dengan kuah
soto, daun bawang, bawang goreng, dan jangan lupa bagian
terbaiknya, setengah telur rebus. Mencium aromanya saja, perutku
semakin keroncongan rasanya.
Selepas menghabiskan semangkok bubur dan segelas teh
hangat, akupun bergegas menyiapkan buku dan mengenakan
seragamku, hari ini aku sengaja tak mandi untuk menghemat stok
air bersih dan mengurangi jumlah cucianku, lagi pula ini kan musim
hujan toh akupun masih wangi.
Berpamitan lah aku dengan Uti, sekali lagi salamanku lebih
lama dari biasanya, entah mengapa tak ingin lepas rasanya.
Cuaca hari ini cukup mendukung. Aku pun berjalan menuju
sekolahku, baru 10 langkah dari pintu aku kembali menoleh, Utiku
masih berdiri di muka pintu rumah kami bahkan melambaikan
tangan sambil tersenyum manis ke arahku. Bahagia rasanya, itu
menambah semangat belajarku.
Kini aku duduk di bangku kelas XII SMA, di salah satu sekolah
di area pinggiran Kota Kendari. Aku tidaklah pintar, tapi aku mau
belajar dan berusaha. Sebenarnya, jika bukan karena permintaan
Uti mungkin sekarang aku sudah menjadi kuli panggul di pasar. Uti
bilang aku harus berpendidikan tinggi agar bisa membahagiakan
keluargaku nanti, tidak melarat lagi seperti sekarang ini.
46 Nyalanesia
Walaupun yatim piatu, aku tidak pernah merasa kesepian
karena Uti selalu bisa menjadi sosok ibu, ayah, kakek, nenek, bahkan
sahabatku. Ia juga selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan
kami dengan kerja serabutan yang hasilnya pun hanya bisa kami
syukuri.
Caraku berterima kasih dengan Uti adalah dengan mengerjakan
semua pekerjaan rumah, memijat kaki dan tangannya, serta belajar
dengan giat. Uti adalah satu-satunya harta berharga di rumahku.
Tak terasa sudah 10 menit aku berjalan, samar-samar gerbang
sekolahku mulai terlihat. Bel sekolah yang sudah berbunyi
memacuku untuk mempercepat langkahku agar sampai ke sekolah
sebelum pagar ditutup.
Upacara hari itu tidak seperti biasanya. Matahari tampaknya
malu menunjukkan diri, bahkan arahan dari pak kepala sekolah
tidak lebih dari 10 menit. Ajaib. Kami pun masuk ke kelas dan
belajar seperti biasanya.
Kriiing!
Bel pulang disambut meriah warga sekolah, berbondong-
bondong keluar menuju pintu gerbang untuk pulang ke rumah. Bulir
air kembali berjatuhan dari langit. Awan hitam dan kilatan
terpampang nyata dari bawah sini. Membuatku berpikir dua kali
untuk pulang. Sayang rasanya, jika di pertengahan jalan aku harus
kehujanan, seragamku hanya satu dan besok masih harus kupakai
lagi.
“Jar nge-mie yok! Kutraktir…” suara itu menghamburkan
lamunanku.
“Yok Lif, lumayan angetin badan,” balasku ke Alif, sahabatku.
Hujan semakin deras, anginnya pun semakin keras. Udara
dingin menyeruap. Tetesan air dari genting yang bocor di kantin
Bude ini membasahi bahu kananku. Untung saja mie kaldu dan teh
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 47
tawar hangat yang kupesan sudah cukup untuk menghangatkan
tubuhku.
Selepas makan, Alif memintaku untuk ditemani ke gudang
sekolah. Di sana sepi, hanya ada tumpukan bangku rusak, sarang
laba-laba, dan debu yang tebal. Samar-samar kulihat tiga pemuda
lain dengan lambang kelas 3, duduk melantai beralas taplak meja
yang sobek. Tampilan mereka kurang lebih sama, rambut cepak,
lengan baju terlipat, kancing dada terbuka, lengkap dengan kalung
rantai. Kami pun diajak bergabung untuk duduk melingkar.
“Gas lif!” kata seorang dari mereka.
Perasaanku mulai tak enak. Benar saja, Alif merogoh bagian
depan tasnya dan mengeluarkan sebatang rokok. Rokok itu tampak
tak biasa, diameternya lebih kecil dan cenderung memanjang. Aneh.
Merekapun menyalakan rokok itu dan mengisapnya secara
bergantian, termasuk Alif. Asap yang dihasilkan sangat banyak,
hampir memenuhi ruangan. Alif menawarkanku untuk mencoba,
nikmat katanya. Tanpa pikir panjang kucoba sekali karena
penasaran. Aku sampai terbatuk-batuk dibuatnya.
Sembari bergantian, aku disodorkan segelas air. Tidak
berwarna, hanya saja aromanya seperti tapai. Fermentasi. Setelah
kutanya apa ini? Jawabannya hanya penghangat badan. Tegukkan
pertama, rasanya dominan pahit dan sedikit manis di akhir, kucoba
lagi untuk memastikan.
“Hebat juga kau untuk ukuran pemula!” kata mereka sambil
terkekeh.
Rokok dan air itu entah sudah berapa kali berputar
melewatiku. Memikirkannya saja membuat kepalaku semakin
pusing dan mengaburkan pandanganku. Hal terakhir yang kuingat
adalah kami tertawa dengan keras tanpa ada alasan jelas, bahkan
suara kami tak kalah dari derasnya air hujan.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
48 Nyalanesia
Suara adzan Magrib itu membangunkanku, pelan-pelan kubuka
mataku. Tinggalah aku sendiri di gudang ini. Berjalan sempoyongan
hingga ke gerbang depan dalam kegelapan. Sepi, tak ada orang sama
sekali. Sepanjang jalan hanya rintikkan hujan yang menemaniku
pulang kali ini.
Samar-samar di depan gang rumahku terdapat benda putih
yang baru tergantung. Semakin dekat dan semakin jelas. Setelah
kuperhatikan lagi, ternyata mukena itu berenda. Jantungku seketika
bergedup kencang, kakiku mulai gemetar, dan pikiranku mulai tak
karuan. Aku berharap itu tak seperti apa yang kupikirkan. Hujan
yang kian deras membuatku semakin mantap berlari menuju
rumah, sudah banyak warga berkumpul dengan setelan khas
pengajian.
Langkahku melambat saat mendekati rumah, setiap pasang
mata tertuju kepadaku. Tubuhku lemas saat melihat wanita 53
tahun itu sudah terbujur kaku dan terbungkus kain kafan. Perlahan
kudekap tubuhnya, lalu menangis dan meraung sejadi-jadinya.
“Ya Allah mengapa kau lakukan ini kepadaku?! Aku ini miskin!
yatim piatu! Sekarang kau ambil lagi harta berhargaku! Apa lagi
yang akan kau ambil ya Allah? Ambil saja nyawaku ini, sudah tak
sanggup lagi kuhidup!” teriakku sambil menangis.
Sakit sekali hatiku, saat tahu bahwa Uti meninggal sore tadi
karena serangan jantung. Jika saja tadi aku langsung pulang tanpa
singgah di gudang sialan itu pasti Utiku masih hidup sekarang.
Bodoh.
Selepas prosesi penguburan selesai, Ustaz Syam
menghampiriku yang masih tertunduk penuh kecewa sambil
memegang erat batu nisan Utiku ini. Rasa bersalahku semakin besar
ketika mengingat kejadian kemarin. Aku terjebak di antara
seandainya, jika saja, dan seharusnya yang bisa membuat Utiku
masih hidup.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 49
“Sudahlah Fajar, bukan salahmu semua ini terjadi. Tiap-tiap
yang bernyawa pada akhirnya akan mati, itu sudah takdir dari Allah
Fajar. Utimu akan sedih bila tahu kau begini, berdoalah dan minta
ampunlah atas ucapanmu semalam, Insyaallah akan ada jalan
bagimu,” kata Ustaz Syam menguatkanku.
Air mataku mengalir kembali, membasahi nisan dan tanah
kuburan di sana. Berat hatiku menerima kenyataan ini. Terbesit di
benakku apakah Allah membenciku? Atau aku lah yang
mengecewakanNya dan Utiku? Sudah genap seminggu pertanyaan
itu melekat di otakku. Setiap salat aku memohon petunjuk untuk itu.
Hari ini sudah Senin kembali, tak ada lagi yang
membangunkanku, tak ada lagi bubur ayam seperti biasa, tak ada
lagi kecupan dan lambaian tangan dari Uti.
Ikhlas. Kutinggalkan semua cerita piluku di sini, kemiskinan,
pertemanan, dan kematian. Mungkin ini adalah jalan Allah untuk
menyadarkan anak laki-laki malang yang mulai hilang arah. Allah
melindungiku dengan cara yang tak pernah kuduga.
Kini aku dalam perjalanan menuju pesantren milik Ustaz Syam
di tanah Jawa, mencari ilmu dan pengalaman baru yang mungkin
kubutuhkan sebelum ajal menjemput dan membawaku pulang
kembali ke pangkuan.
50 Nyalanesia
PERSAHABATAN SALSA
Wa Ode Arimbi Namira Koedoes
Sikap toleransi sangatlah penting, karena dengan adanya toleransi
kita bisa saling menghargai antarsesama, baik dalam pergaulan
ataupun kegiatan bersosialisasi lainnya. Contohnya seperti
pertemanan antara Salsabila dengan tiga orang remaja perempuan
SMA yang salah satu dari mereka memiliki agama yang berbeda
yaitu Hindu.
Hari ini menjadi hari yang paling dinantikan oleh Salsa. Ia tidak
sabar untuk segera mendapatkan teman-teman baru di sekolah
barunya. Ia selalu membayangkan seperti apa indahnya kehidupan
pelajar SMA dengan jangkauan lingkungan yang lebih luas melalui
media sosial yang dimilikinya.
Pukul 07.30 pagi, Salsa telah tiba di sekolah dan bersama
dengan sejumlah murid baru yang ia yakini akan menjadi teman
seangkatannya tahun ini, diarahkan untuk berbaris dengan rapi di
lapangan dan berakhir di aula sekolah untuk mengikuti rangkaian
acara MPLS.
Dua jam kemudian, kegiatan tersebut dinyatakan telah selesai
dan akan kembali dilanjutkan di hari berikutnya. Kegiatan MPLS
yang menyita waktu cukup banyak ternyata membuat Salsa merasa
lapar. Karena itu, ia bergegas melangkahkan kakinya menuju kantin.
Salsa bersekolah di SMA favorit di kotanya, pendaftar mencapai
angka ratusan. Hal itu tergambar jelas pada keadaan kantin yang
riuh dan dipadati begitu banyak orang.
Di antara berbagai macam makanan yang tersedia, nasi goreng
menarik perhatian Salsa. Ia bergerak memesannya dan tidak perlu
menunggu lama, nasi goreng yang dipesan olehnya pun datang.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 51
Salsa pun mulai menyantap makan siangnya dengan penuh
hikmat sebelum akhirnya dua orang remaja perempuan
menghampirnya. Salsa tentu terkejut dengan kedatangan yang
terkesan tiba-tiba itu. Meski Salsa adalah seseorang yang bisa
dibilang friendly, sejak tadi ia belum menemukan teman baru untuk
diajak berkenalan. Dua orang di hadapannya itu menatap Salsa
sambil tersenyum. Keadaan menjadi sedikit canggung karena Salsa
hanya membalas tatapan mereka dengan bingung. Hingga salah satu
di antara mereka memecah keheningan.
“Hai! Kita berdua boleh gabung gak?” tanya salah satu dari dua
orang tersebut yang akhirnya memilih untuk bergabung dengan
Salsa. Karena sedari tadi mereka berdua tidak mendapatkan tempat
untuk duduk. Salsa pun mengangguk sebagai tanda bahwa kedua
orang tersebut boleh bergabung dengannya. Kedua orang itu pun
langsung duduk.
“Hai! Maaf ya tadi ganggu kamu lagi makan, hehe... Kenalin
nama aku Vira dan ini teman aku namanya Tiara,” akhirnya salah
satu dari mereka pun memperkenalkan diri sambil berjabat tangan
dengan Salsa.
“Hai juga, Salsa,” balas Salsa sambil membalas jabatan tangan
dari Vira dan juga Tiara.
Setelah berkenalan, mereka pun saling berbincang. Di tengah
asiknya perbincangan mereka, mata tiara menangkap seseorang
sedang berdiri tidak jauh dari mereka yang tampak seperti
kebingungan. Tiara pun memanggilnya dan sontak saja gadis itu
pun menoleh ke arah mereka. Mengerti sinyal yang dikirimkan, ia
berjalan menuju seseorang yang memanggilnya dengan kedua
temannya.
“Kenapa manggil dia? Temen kamu ya?” tanya Vira sambil
berbisik kepada Tiara.
“Bukan, tapi kayanya dia lagi bingung tuh cari tempat duduk.
Gapapa ya aku ajak gabung di sini? Kasian tuh,” tanya Tiara kepada
52 Nyalanesia
Vira dan Salsa. Mereka berdua pun mengangguk yang berarti
mengiyakan pertanyaan Tiara.
Ketika gadis itu telah berada tepat di hadapan mereka, Salsa
spontan berinisiatif mempersilahkannya untuk duduk di
sampingnya. “Makasih ya udah mau ajak aku gabung,” gadis itu pun
duduk dan berterima kasih kepada mereka bertiga.
“Iya sama-sama, santai aja,” jawab Salsa dengan ramah.
“Oh iya, nama kamu siapa?” tanya Salsa ke gadis itu.
“Panggil aja Stefi,” jawabnya sambil tersenyum. Mereka bertiga
pun saling memperkenalkan diri.
“Kalau boleh tau, Stef. Kamu alumni SMP apa?” tanya Vira
kepada Stefi. “Aku lulusan SMPK 5 BPK Penabur Jakarta,” jawab
Stefi.
“Oh ya? Beneran? Aku dulu punya sahabat sekolah di sana juga,
tapi sayangnya sekarang udah gak deket lagi,” sela Salsa dengan
wajah tersenyum pahit karena teringat kembali kepada teman
dekatnya yang dulu itu.
“Kok bisa gak berteman lagi?” tanya Vira dengan penasaran.
Salsa pun menjawab sambil terkekeh “Hehe, gara-gara masalah kecil
doang sih.”
Vira terdiam dan tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut
walau saat ini ada banyak pertanyaan di kepalanya. Ia berusaha
menepis rasa penasaran yang masih menyelimutinya. Tiara dan
Stefi juga ikut terdiam, seakan mengerti bahwa hal tersebut tidak
ingin dibahas lagi oleh Salsa.
Keesokan harinya, keempat gadis dengan surai rambut yang
indah sedang tertawa bersama di lapangan. Salsa, Tiara, Vira, dan
Stefi menjadi semakin dekat meskipun baru saja berkenalan
kemarin. Sayangnya, keseruan itu terhenti kala sebuah suara
menginterupsi melalui microphone.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 53
“Cek 1 2 3. Tes tes. Baik anak-anak, mohon perhatiannya ya.
Jadi hari ini adalah hari kedua sekaligus hari terakhir
diselenggarakannya MPLS untuk murid baru di SMA Bakti. Kali ini,
panitia akan melakukan pembagian kelas dengan 7 kelas IPA, 5
kelas IPS, dan 2 kelas Bahasa.”
“-Informasi terkait pembagian kelas tersebut dapat dilihat lebih
jelas di mading utama sekolah yang terletak di samping
perpustakaan. Setelah itu, anak-anak diharapkan untuk menuju
kelas masing-masing. Saya kira demikian untuk dua hari ini, terima
kasih atas antusias anak-anak sekalian yang telah menjalani MPLS
ini dengan baik. Saya harap anak-anak sekalian bisa betah
bersekolah di sini,” kepala sekolah menutupnya dengan salam dan
kemudian dilanjutkan oleh ketua panitia.
Setelah mendengarkan rangkaian kata-kata penutup dari ketua
panitia selaku penyelenggara kegiatan. Seluruh murid pun berlari
berhamburan ke arah mading tak terkecuali Salsa, Vira, Tiara, dan
Stefi. Sesampainya mereka di sana, keempatnya tidak bisa menahan
diri untuk tidak tersenyum lebar saat melihat fakta bahwa baik
Salsa, Vira, Tiara juga Stefi berada di satu kelas yang sama yaitu X
MIPA 3.
Hari ini kondisi kelas MIPA 3 mendadak menjadi riuh karena
Bu Hana, selaku guru Fisika, baru saja membuat pengumuman
bahwa besok akan diadakan ulangan Fisika di kelas mereka pada
pukul 10 pagi. Bagi sebagian besar murid, ini adalah bencana,
namun tidak bagi Stefi. Stefi dikenal unggul dalam pelajaran ini.
Oleh karena itu, Salsa, Vira, dan Tiara sepakat untuk belajar
bersama dengan Stefi di rumah Salsa sore ini.
Sesuai dengan rencana tadi siang, keempatnya pun kini sedang
asik belajar bersama dan dibarengi dengan canda tawa. Tidak
terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 18.05. Sayup-sayup adzan
yang dikumandangkan dari masjid yang berada di sudut kompleks
perumahan Salsa mulai terdengar. Sebagai orang muslim, mereka
54 Nyalanesia
pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu
terkecuali Stefi.
Ibu dari Salsa yang ketika itu sedang berhalangan untuk sholat,
melewati ruang tamu dan sedikit bingung saat melihat Stefi yang
masih duduk di sana. “Kenapa dia tidak sholat bersama teman-
temannya?” batin Tsania, ibu Salsa.
Karena penasaran, ibu Salsa pun menghampiri Stefi. “Kok gak
salat, Nak?” tanya Tsania kepada Stefi dengan ramah.
“Saya non-Islam tante,” jawab Stefi dengan sopan sambil
tersenyum ke arah Tsania. Tsania pun terdiam sejenak.
“Oh gitu ya Nak, maafin tante ya kalau misalnya pertanyaan
tante barusan mungkin menyinggung Nak Stefi. Yaudah, kamu
tunggu aja dulu, palingan bentar lagi mereka selesai,” Tsania pun
kembali berbicara. “Hehe… Iya gapapa tante,” jawab Stefi dengan
kekehan singkatnya.
Setelah selesai salat Maghrib. Vira, Tiara, dan juga Stefi
akhirnya memutuskan untuk pulang.
Waktu makan malam pun tiba. Hening. Kini yang terdengar
hanyalah dentingan sendok yang beradu dengan piring. Hingga
salah satu dari mereka pun memecah keheningan.
“Sal, kamu masih berteman sama yang beda agama?” tanya
Tsania kepada anaknya itu. Mengingat anaknya yang pernah
berjanji bahwa tidak akan lagi mengulangi kesalahannya di masa
lalu.
Ya, alasan Salsa sudah tidak lagi berteman dekat dengan
temannya semasa SMP itu karena ibunya. Salsa pun memilih untuk
tetap diam. “Mama cuman takut kamu terpengaruh sama Stefi, Nak,”
sambung Tsania karena anaknya itu tidak menjawab
pertanyaannya.
Salsa yang mulai malas mendengarkan ocehan ibunya, ia pun
mulai berbicara dengan nada yang seakan membela. “Mah, harus
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 55
banget ya ngebeda-bedain agama? Salsa udah gede Mah, Salsa juga
udah tau mana yang benar dan salah. Gak mungkin banget cuman
karena Salsa temenan sama yang beda agama, Salsa langsung
terpengaruh begitu aja. Lagian Stefi tuh orangnya baik gak macem-
macem kok.”
“Iya Tsan, masa cuman masalah kaya gini masih aja
dipermasalahin. Biarinlah Salsa bebas milih sama siapa aja dia
berteman, selagi itu masih ga ngelewatin batas wajar,” Yudi sebagai
ayah pun juga ikut membela anaknya. Dia tahu bahwa yang
dilakukan anaknya itu sama sekali tidak salah, bahkan hal itu bisa
dibilang termasuk hal yang positif, karena menunjukkan berarti
anaknya ini sangat menghargai perbedaan.
Tsania pun terdiam dan memikirkan apa yang dia lakukan
selama ini ternyata salah, karena secara tidak langsung ia tidak
menghargai agama lain.
Pada akhirnya Salsa, Vira, Tiara, dan juga Stefi tetap berteman
dan menjadi semakin dekat. Mereka selalu bersama-sama ketika
ingin berjalan-jalan, entah itu ke mall atapun tempat wisata seperti
pantai dan semacamnya.
Tsania yang dulunya sangat membatasi Salsa dalam berteman,
kini membiarkan anaknya itu memilih untuk berteman dengan
siapa saja, selagi itu masih di jalur yang benar. Ia juga berjanji
kepada dirinya sendiri bahwa dia akan belajar bagaimana cara
menghargai perbedaan, baik itu perbedaan ras, suku, agama, dan
juga budaya.
56 Nyalanesia
ARI TETANGGAKU
Chairunnisa
Minggu yang sangat menyebalkan. Jika boleh meminta maka hari
minggu ditiadakan saja. Banyak yang menyukai Hari Minggu.
Karena merupakan kegiatan beristirahat secara berjamaah.
Dikatakan demikian karena memang semua orang berada pada
posisi mode santai di rumahnya. Kecuali aku, ya aku harus
melaksanakan tugas beratku yakni membersihkan seluruh kaca
jendela di rumah.
Rutinitas ini lah yang membuatku membenci Hari Minggu.
Kebayangkan kalo tiap minggu bersih-bersih kaca jendela. Bangun
tidur hanya melakukan aktivitas ibadah yakni salat lalu bersegera
mencari kain lap dan koran bekas untuk membersihkan kaca
jendela. Inilah aku si tukang bersih-bersih kaca.
Tatkala membersihkan kaca jendela kulihat adikku yang baru
saja keluar dari ruang tamu menuju teras rumah sambil tersenyum
manis dan bersenandung riang. Uh menjemukan. Mengapa dia tak
ketiban tugas rutin ya. Menyebalkan. Diskriminasi, sekali pun dia
terpaut 4 tahun dariku, tapi setidaknya dia kan makhluk hidup juga
yang punya kontribusi dalam mengotori kaca jendela. Dia selalu
bermain petak umpet bersama temannya tentu saja tangan atau
anggota tubuh lainnya pastilah menyentuh kaca.
Tiba-tiba dia berjalan menghampiri pagar samping yang
digunakan sebagai pembatas rumahku, aku meliriknya, dan
mengabaikannya. Pikirku dia hanya akan bersenandung, tak lama
kudengar suara asing memanggil namanya, “Suna, bikin apa Minggu
ini? Main yuuk!” Aku terhenyak, seingatku rumah samping tidak
berpenghuni. Mengapa tiba-tiba suara asing tadi berasal dari sana
ya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 57
Semburat senyum manis dari seorang anak kecil yang
kuperkirakan seumuran dengan adikku yang berusia 8 tahun
menampakkan wajah polosnya. Aku tertegun dan terdiam. Kutatap
Suna yang membalas senyumannya seraya menarik anak tersebut
untuk duduk bersama di pagar pembatas di antara rumah kami.
“Hey, Nonce. Kupikir kamu belum bangun. Kemarin saat kuajak
kamu jalan pagi sekitar rumah kamu menolaknya. Mengapa
sekarang sudah bangun?” tanya Suna yang menatap lekat wajah
temannya.
“Itu gara-gara ka Ari. Diakan selalu iseng. Kemarin Mami dan
Papi mengajak kami untuk beribadah di gereja. Kata dia, untuk anak
kecil masuknya jam 9 pagi. Tak tahunya dia sampai sekarang belum
bangun. Kecapean main game. Jadinya aku batal deh beribadah.”
Aku hanya menyimak pembicaraan mereka sambil terus asyik
membersihkan kaca. Enaknya membersihkan kaca adalah saya
hanya butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Kata ayah berhubung aku masih tahap uji coba, maka tidak boleh
lebih dari satu jam bekerja. Karena saya masih anak-anak.
Perkenalkan namaku Rina. Sekalipun tahap uji coba aku harus
menunjukkan kemampuanku pada ayah. Karena aku menyayangi
ayah. Tentu saja bunda juga ikut disayang, hanya aku lebih suka
ayah. Karena sepulang kantor, ayah selalu membawakan ice cream
setiap senin sore. Jadi bersih-bersih kaca ini tentu akan berdampak
pada bonus ice cream. Hari yang paling kusuka adalah Hari Senin.
Bagi sebagian orang, Senin adalah hari yang menyebalkan karena
berlalunya waktu rehat dengan sangat cepat. Tapi tidak berlaku
bagiku, karena Senin merupakan momen indah, bisa belajar dengan
teman dan menanti kejutan ice cream dari ayah.
Pundakku serasa ada yang menepuknya, kutolehkan wajah dan
kudapati Suna dan Nonce teman barunya tersenyum lalu berkata,
“Nonce, kenalkan ini kakakku namanya Rina. Dia sekolah berbeda
58 Nyalanesia
dengan kita. Dia sekolah dekat dengan gereja kamu. Kalau ke gereja,
kamu coba aja liat ke samping, disana lah kakakku bersekolah.”
“Hey, nama kamu Nonce? Aku baru tahu kalau ada nama yang
sangat unik. Tentu memiliki makna ya.”
“Tentu saja penuh makna, nama dia Nona, tapi kami
memanggilnya Nonce, karena dia cengeng. Itu singkatan dari Nona
cengeng. Boleh dicoba. Pasti bentar lagi dia nangis dan teriak,” suara
dari kejauhan terdengar menjawab pertanyaanku.
Kutatap pemilik suara, yang tak lain seorang anak laki-laki
seumuran denganku. Sambil mendekati kami, lalu tersenyum dan
berkata, ”Kenalkan namaku Ari. Tanpa embel-embel yang melekat
seperti dia.” Sambil menunjuk adiknya yang mulai menampakkan
linangan air di bola matanya.
Menahan amarah dan tangis, Nonce berteriak, ”Kak Ariiiii, usil
banget sih.”
Aku tersenyum dan bertanya,”Kapan kalian pindah? Seingatku
rumah itu sudah lama tak berpenghuni. Apakah aku yang
melewatkannya?”
“Kami sudah 2 hari menempati rumah itu, kita sekarang
bertetangga. Kupikir Suna hanya punya adik Seto. Kulihat kita
seumuran yaa. Aku kelas 6, kamu kelas berapa?”
“Aku kelas 6 juga, Suna. Aku kemana ya 2 hari ini, mengapa
tidak sadar kalau ada tetangga yang pindah rumah?” tanyaku pada
adik kesayanganku.
“Kakak selalu seperti itu. Tidak pernah peduli dengan orang
lain. Sibuk sama diri sendiri. Baca buku dan terlelap dengan buku
Hahaha…” canda adikku yang kurasakan bagai sindiran yang
menghujam di hati.
Ya dia memang benar, aku lebih banyak melepaskan
kejenuhanku dengan cara yang berbeda. Menyadari kekuranganku
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 59
dalam kelas. Maka selalu aku membiasakan diri membaca. Terlebih
lagi sekolahku berbeda.
Kami lima bersaudara. Empat saudaraku semuanya bersekolah
di tempat yang sama. Hanya aku sendiri yang berbeda. Rasanya
hidup ini kejam. Aku ditakdirkan berbeda. Saudaraku diberi
kebebasan untuk bermain. Aku dibatasi untuk bermain. Mungkin
karena sekolah yang berbeda maka orang tuaku memberikan
perlakuan yang berbeda padaku.
Kusunggingkan senyum seraya berkata, ”Hmm, kayanya
banyak momen indah yang akan kita lewatkan bersama ya.”
“Kamu juara berapa di kelas Rina? Kalau aku selama ini selalu
juara 1. Kami dulu sekolah di Toraja. Papi pindah tugas ke sini maka
kami pun ikut pindah sekolah,” ucap Ari ikut nimbrung percakapan
di antara kami.
“Aku tak semahir kamu, juara 1 selalu diraih teman aku yang
bernama Yuli. Dia sangat pintar. Tapi dia selalu memintaku untuk
bersahabat dengannya. Kalau aku selalu berubah-ubah. Kadang
juara 2 atau 3. Pokoknya selalu mengalah dengan Yuli,” imbuhku.
“Kamu Suna juara berapa? Kalau Nonce dia hanya mampu
masuk 10 besar,” cecar Ari balik mengintrogasi adikku yang terkejut
dengan pertanyaannya.
“Aku tidak semahir kak Rina, dia selalu juara kelas, karena rajin
belajar. Kalau aku rajin bermain. Aku selalu di bawah 10 besar.
Susah masuk 10 besar. Rasanya seperti anugerah, Hahaha…”
“Kayanya aku hanya akan bermain dengan Rina. Alasannya, dia
bisa mengimbangi diriku dalam belajar,” tutupnya sambil
melenggang pulang meninggalkan aku yang bingung dengan
uraiannya. Sebelum meninggalkan kami, sempat mengerling pada
adiknya memberi isyarat untuk mengikutinya.
Lalu Nonce mengekor pada Ari kakaknya, nampak lambaian
tangan Ari menandakan ajakan untuk pulang ke rumah.
60 Nyalanesia
Lima bulan berikutnya
Tepatnya hari Sabtu, kulihat Ari beserta pamannya sedang
menjemur daging. Biasanya disebut dendeng. Kudekati mereka dan
menyapanya sambil ikut berjongkok dekat dendeng daging yang
dijemurnya.
“Awas Rina, kamu jangan menyentuhnya ya. Itu tidak baik
bagimu.”
“Biasanya aku boleh meminjam dan bahkan kamu selalu
memberiku makanan yang selalu dimakan. Mengapa hari ini aku
dilarang menyentuh ini? Apakah istimewanya? Mungkinkah
harganya mahal hingga tak boleh ada yang menyentuhnya?”
cecarku penuh tanda tanya dan rasa kecewa dengan sikapnya pada
pagi hari itu.
“Bukan maksudku menyakitimu, akan tetapi kita berbeda. Ups
jangan dulu memotong pembicaraanku yaa,” tatkala melihat aku
seolah protes dengan pernyataannya.
“Ini dendeng hanya boleh dimakan oleh nonmuslim, sampai
sini kamu paham?” sambil menatapku secara intens. Berharap aku
dapat menguraikan maksudnya tanpa harus mengulang pertanyaan.
“Ini bukan yang halal dimakan oleh orang Muslim,”
menambahkan uraiannya sambil tersenyum penuh makna. Aku
terhenyak. Lalu berdiri sambil tersenyum. Sebelum beranjak Ari
mengajakku untuk bermain game di rumahnya. Kuikuti langkah
kakinya dan duduk manis di ruang santai keluarganya. Dia
menghidupkan televisi dan memulai permainan game, serta
menyerahkan padaku keyboard game untuk menjadi partner main
game. Aku melambaikan seraya berkata, “Mainlah. Aku tidak
menyukai permainan game. Aku lebih menikmati menonton film.
Cukup bagiku menonton kamu bermain game,” sambil tersenyum
melihat dia menggaruk kepala yang seolah gatal.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 61
“Ngomong-ngomong, bentar lagi bulan Ramadhan. Kamu tentu
puasa. Kata mami, kamu mau minta apa nanti untuk hadiah
lebaran?”
Aku terkejut dengan pertanyaan Ari yang menurutku agak
aneh. Mengapa harus meminta hadiah pada mereka. Sekalipun kami
akrab, tapi menurutku bukan hal yang baik meminta pada orang.
“Mengapa harus meminta hadiah pada Mami? Kalau agama Islam,
lebaran bukan berarti berbagi hadiah. Kami memaknai lebaran
bukan seperti itu Ari.”
“Aku tahu Rina,” tutup Ari berusaha menenangkan agar aku
tidak tersinggung.
“Suka tidak suka, kamu pasti akan mendapatkan kejutan
istimewa dari Mami. Percaya deh. Karena mami udah menjanjikan
akan memberimu hadiah. Nah, sekarang aku nanya, kamu mau
request hadiah tidak? Mumpung Mami belum menentukan
hadiahnya. Udah gitu aja gak usah repot.”
Aku masih bingung mau menjawab apa, tiba-tiba dari arah
ruang kamar tidur utama munculah seorang wanita cantik nan
anggun, tersenyum kepadaku lalu menyapa, ”Apa kabar Rina?
Gimana kabar Bunda? Sehat kan?” ucapnya lugas dan penuh
kesahajaan.
“Iya Mami, bunda sehat.”
Aku memanggilnya mami seperti permintaannya tatkala
pertama kali bertemu dengannya. Mami sangat sayang pada
anaknya serta teman anaknya. Sebagai teman anaknya aku
mendapatkan perlakuan istimewa. Maklum mereka orang yang
sangat sibuk. Karena Papi Ari adalah pejabat di BUMN. Ari dan
Nonce begitu kami memanggilnya, mereka hanya berteman dengan
tetangga samping rumahnya yaitu aku, adikku Suna, dan Seto.
Jadilah kami sahabat 5 sekawan.
Kemana-mana kami selalu bersama. Aku yang tadinya kurang
dekat dengan adikku, kini merasa bersyukur berkat Ari dan Nonce
62 Nyalanesia
memberikan kemudahan bagiku untuk belajar bermain bersama
saudara.
Selama ini aku lebih sering bermain sendiri. Dan memang
adikku Suna adalah anak yang sangat supel. Dialah orang yang
menjembatani kami menjadi 5 sekawan. Dia sangat mudah bergaul.
Berbeda dengan diriku yang sedikit tertutup.
Suna merupakan sosok yang menarik. Dimana pun berada
selalu ada orang yang mudah diajak berteman. Tak pernah dia
mengalami hambatan dalam bergaul. Baginya bergaul adalah suatu
kebutuhan dan kenikmatan dalam bersosial. Di setiap momen dia
selalu mendominasi. Kami 5 sekawan menjadi akrab pun karena dia.
Sekali pun terkadang aku dan Ari hanya berdua berdiskusi karena
memang kami sama-sama sedang menghadapi Ujian Nasional.
Suna dan Nonce ibarat siang dan malam, saling membutuhkan
dan saling melengkapi. Mereka berdua juga mewarnai
pertemanannya dengan selalu bercanda. Agak berbeda denganku,
yang sedikit mengalir dengan diskusi dan perdebatan dalam belajar
bersama Ari. Kami berbeda dalam memaknai pertemanan.
Itulah 5 sekawan. Seto hanyalah seorang anak kecil yang akan
menemani kami. Dia boleh memilih bergabung dengan tim bermain
masak-masak atau dengan tim yang selalu berdebat. 5 sekawan
yang terpecah menjadi dua kubu yang berbeda.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 63
KEBERAGAMAN
DALAM BERTEMAN
Mayang Sari
Pagi hari yang cerah hari pertama Mayra dan Risa masuk kuliah,
berawal dari mereka berdua tamat SMA dan ingin melanjutkan ke
perguruan tinggi di Jawa. Dan akhirnya mereka berdua diterima
salah satu Universita di Yogjakarta. Dengan penuh semangat Mayra
dan Risa bersiap untuk berangkat.
“Sa, gimana perlengkapan kamu udah siap semua belum? Kok
kamu kayak masih bingung gitu,” tanya Mayra karena Risa kelihatan
masih bingung dan memikirkan sesuatu.
“Udah siap semua sih buku-buku, alat tulis, dan lainnya tapi”
“Tapi…”
“Tapi aku bingung campur tegang aja gitu May gimana nanti
kalau kita udah nyampe di sana terus susah beradaptasinya karena
pasti kan suasananya baru, orang-orangnya juga, apalagi bahasa
atau logatnya yang bisa aja masih asing buat kita,” lanjut Risa yang
tadinya sudah siap bergegas tapi duduk kembali di kursi teras.
“Iya juga sih ya Sa, gimana nanti kalau bakal lama bisa
berbaurnya, tapi lagi nih ya cepat atau lambat kan yang dari luar
kota yang kuliahnya jauh-jauh sampe ke sini bukan cuman kita
berdua aja,” tanpa sadar Mayra ikut kembali duduk.
“Nah bener juga sih pasti banyak dari berbagai kota, eh kamu
ngapain malah ikut duduk?” Risa sambil menepuk tangan Mayra.
“Eh iya astaga, buruan malah over thingking, yang ada telat,”
lalu mereka berdua pun cepat-cepat bergegas berangkat ke kampus.
64 Nyalanesia
Sesampainya mereka di kampus berjalan menuju kelas sambil
melihat-lihat sekeliling. “Kita sekelas kan ya untungnya?” ucap Risa
sedikit membisik.
“Iya syukur banget. Btw, kayaknya kita ketemu lagi ama cewek
yang tadi kita liat nunggu sendirian depan gerbang, inget ga?” Mayra
mengingatkan tentang perempuan yang mereka lihat sebelumnya
ketemu lagi.
“Oh iya, iya inget dan kalau misal sekelas juga aku ajak kenalan
biar ga sendirian lagi,” Risa tidak lagi mempedulikan perasaan
bingung dan tegangnya tadi pagi saat waktu sebelum ke kampus.
“Jiahhh berani, mantep tuh setuju ide bagus,” Mayra ikut
tambah semangat dan antusias.
Dan ternyata benar saja Mayra dan Risa sekelas bersama Anita
perempuan yang mereka maksud, karena Mayra lebih sedikit malu
dibanding Risa, jadi dia ingin Risa yang mengajak kenalan Anita. “Sa,
kamu aja ya yang duluan buat ajak kenalan,” ucap Mayra sambil
sedikit mendorong Risa agak di depan.
“Oke siap!” lalu mereka berdua jalan ke arah Anita kemudian
Risa yang mengulurkan tangannya lebih dulu untuk berkenalan.
“Hey namanya siapa? Kenalin kalau aku Risa, dan ini teman
kontrakan aku Mayra.”
Anita menyambut uluran tangannya seraya kerkata, “Kalau aku
Anita dari Sumatera kalau kalian berdua dari mana?” tanya Anita
setelah berjabat tangan juga dengan Mayra.
Dan Mayra menjawab, “Oh kalau kita berdua dari Sulawesi.”
“Oh gitu lumayan jauh juga, ya,” ucap Anita.
“Iya bener, btw nih Ta, jadi kita tuh sebelumnya udah liat kamu
tadi waktu lagi nunggu di gerbang nah ternyata kita sekelas,” kata
Mayra tanpa rasa canggung lagi.
“Ohh iya jadi tadi tuh aku lagi nungguin temen kos-an aku yang
kesasar jadi aku bilang kalau aku nunggunya di gerbang eh sampe
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 65
sekarang belum ketemu-ketemu tuh anak, ga tau nih lagi aku chat.”
Setelah Anita selesai menceritakan tidak lama kemudian Nara
temannya Anita sampai ke kelas.
“Astaga Ta, ahirnya aku sampe juga untung ketemu sama Sina
dan Lela, kenalin,” Nara bersama dua orang teman barunya yang ia
jumpa karena sama-sama sedang mencari kelas.
“Hai temen-temen salken aku Lela dari Jakarta,” lalu Sina dan
Nara menyambung.
“Kalau aku Sina dari Maluku.”
“Eh iya kalau aku dari Kalimantan, nama aku Nara.”
Hari demi hari berlalu mereka menghabiskan waktu bersama
saat di kampus ataupun saat waktu libur. Beberapa minggu
kemudian mereka mendapat tugas kelompok. Mayra dan Risa
menyarankan untuk mengerjakannya di kontrakan mereka
“Gais, gimana kalau kita ngerjainnya di kontrakan aku sama
Risa aja,” Mayra menawarkan saran ke teman-temannya.
Risa menyambung, “Nah iya, sekalian karena besoknya Minggu
kan libur tuh bisa nginep bareng-bareng.”
“Ih iya bakal seru tuh,” jawab Anita.
“Setuju banget sih aku,” kata Nara.
“Asik, ide bagus!” ujar Sina.
“Mantep gaes, aku juga setuju,” jawab Lela.
Di tengah mereka mengerjakan tugas, Risa menanyakan hal
mengenai tentang tugas kelompok mereka, “Oh iya, jadi menurut
kalian kita mau ngambil objek potensi tentang apa yang bakal
dijadiin daya tarik wisata?”
“Pantai Natsepa, soalnya indah,” saran Sina.
“Pantai Pariaman gak kalah indah,” saran Anita.
“Pantai Toronipa juga indah,” Saran Mayra.
66 Nyalanesia
“Pantai Kemala indah banget,” saran Nara.
“Maaf sebelumnya temen-temen dari pada kita nantinya bakal
bingung atau jadi perselisihan karena mesti milih salah satu, jadi
menurut aku gimana kalau kita satuin aja beberapa potensi-potensi
yang ada di Indonesia, karena mungkin kalau membahas tentang
keindahan di Indonesia yang ada di setiap provinsi luas banget dan
pasti bakal jadi lebih indah kalau kita satuin aja.”
Dan semuanya kompak untuk sama-sama berpikiran terbuka
kemudian menyetujui apa yang baru saja disarankan Lela, “Iya juga
ya setuju tuh jadi gimana temen-temen setuju ya oke!?” tanya Risa
dengan semangat kepada teman-temannya.
“Setuju!!!” jawaban yang lainnya dengan tidak kalah semangat
Beberapa jam kemudian tugas kelompok mereka pun selesai.
Mereka kerjakan bersama dengan semangat dan senang hati. Tak
terasa waktu pun menunjukkan sore hari dan mereka istirahat
sambil bersantai, bercerita, dan bertukar pengalaman.
“Oh iya, La karena kalau gak salah kamu orang Betawi tolong
ceritain kita tentang tradisi ondel-ondel dong,” ucap Risa.
“Oh tentang ondel-ondel? Jadi itu bentuk pertunjukkan rakyat
Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat,”
penjelasan singkat Lela ke teman-temannya.
“Oh paham menarik banget. Kalau di Kalimantan gaes ada salah
satu istiadat namanya pesta Adat Erau,” ucap Nara.
“Artinya kalau gak salah keramaian ya. Di Sulawesi Tenggara
ada salah satu tarian yang namanya Tari Lulo ditarikan beramai-
ramai,” ucap Mayra.
Anita menyambung, “Oh aku pernah nonton tarian. Nah kalau
gak salah, tarian di Sumatera namanya Tari Piring yang gerakannya
cepat teratur tanpa satu pun terlepas dari tangan.”
“Hebat keren banget. Kalau di Maluku ada salah satu tradisi
namanya Makan Patita yang bersama-sama menikmati makanan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 67
yang tersedia di atas piring atau daun pisang memanjang,” ucap Sina
ke teman-temannya.
Lalu Mayra berkata kepada teman-temannya setelah mereka
membahas tentang adat istiadat dan tradisi, “Beragam ya gais
perbedaan-perbedaan yang ada, masing-masing punya ciri khas dan
itu membuat Indonesia semakin indah. Aku seneng bisa berbagi
pengetahuan bareng kalian, kita bareng-bareng ngerjain tugas,
cerita pengalaman.”
“Iya May, aku juga ikut seneng,” sambung Sina.
“Aku jadi ikut tau banyak hal,” ucap Anita.
“Berharga banget sih pengalaman kayak gini,” kata Nara.
“Iya seru banget,” imbuh Lela.
“Asik juga gais, gimana kalau nanti Ta kamu ajarin kita Tari
Piring?” tanya Risa ke Anita.
Anita menjawab dengan senang hati, “Bisa-bisa ide bagus. Nah
May habis itu ajarin kita juga Tari Lulo ya oke?”
“Oh iya-iya sip kita atur waktu aja gaes,” ucap Mayra.
“Oke-oke gaes nanti juga kapan-kapan aku ajak kalian kita
nonton ondel-ondel bareng ya,” sambung Lela tak mau kalah.
“Pasti bakal asyik tuh. Nanti kalau kalian ke Kalimantan juga
sapa tau bisa liat langsung pesta adat Erau. Terus kalau kita ke
Maluku pengen cobain makan Patita,” ucap Nara.
“Bener setuju, nanti aku ajak,” sambung Sina.
Mereka saling berbagi pengalaman, melestarikan budaya tentu
butuh pengetahuan agar kita tidak tercerai berai. Indahnya
keberagaman di Indonesia di setiap daerahnya.
68 Nyalanesia
CERITA DI PERTIGAAN
LAMPU MERAH
Najwa Aulia Ramadhani
Pagi yang indah untuk memulai hari. Ali merenggangkan tubuhnya,
menariknya, seakan-akan lentur bagaikan karet. Bibirnya membuka
lebar untuk menguap. Sinar matahari menelusuk masuk ke dalam
celah-celah jendela kamarnya.
Seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kamar Ali beberapa
kali untuk kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya. Wanita
itu tersenyum hangat kepada Ali selayaknya berkata selamat pagi.
Kemudian, wanita itu berjalan mendekati jendela dan membuka
tirai kamar Ali satu per satu, dimulai dari sisi sebelah kanan dan
dilanjut dengan sisi sebelah kiri.
“Bangun Nak… Ayo berangkat sekolah!” ucap wanita itu.
Ali mengangguk sembari berkata “Iya, mah,” ternyata wanita
paruh baya itu, tak lain dan tak bukan adalah ibunda Ali. Ali segera
bangkit dari kasurnya. Setelah berdiri di samping kasur, ia lagi-lagi
merenggangkan tubuhnya sebelum akhirnya melangkahkan kaki
mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
***
Saat ini Ali sudah berada di dalam mobil. Ia duduk di kursi samping
tempat ayahnya menyetir. Ali mengedarkan pandangannya ke
samping, di mana jendela mobil memperlihatkan kondisi jalanan
pagi ini. Sedangkan ayah memfokuskan pandangannya untuk tetap
ke depan.
Mobil ayah berhenti di pertigaan lampu merah. Di pinggir jalan,
ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ali kebingungan, ayah yang
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 69
menyadari hal itu segera inisiatif mengajukan pertanyaan kepada
anaknya, “Ada apa Nak?” tanya ayah.
Ali mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya yang
bertanya, tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi kepada
hal yang menarik dirinya sedari tadi. “Itu apa, Yah?” tanya Ali
penasaran sambil menggunakan tangan kanannya untuk menunjuk.
Ayah mengedarkan pandangannya ke tempat dimana Ali
menunjuk. Ayah melihat banyak sekali warna, pernak-pernik, corak,
dan budaya yang berbeda-beda. Semuanya belum siap, masih hanya
persiapan tapi kesan keberagaman sudah sangat terasa. Banyak
meja-meja tersusun berdampingan dan berhadapan, di tengahnya
disisakan jalan untuk pejalan kaki. Ayah tahu apa itu.
“Itu namanya pekan budaya, Ali,” jawab ayah kepadanya. Dahi
Ali mengernyit. Ia kebingungan sendiri. “Pekan budaya siapa?”
tanya Ali lagi. Sepertinya masih ada pertanyaan lainnya di dalam
diri Ali yang akan ia lontarkan satu-per satu.
“Kita, Nak,” jawab ayah santai sambil tersenyum kepada
anaknya. Ali semakin penasaran, “Kita? kenapa banyak sekali Ayah?
Kita kan hanya berdiri di satu negara,” tanya Ali lagi kepada
ayahnya.
Ayah terus tersenyum menanggapi keingintahuan anaknya
yang meningkat, “Betul… di negara kita ini, ada banyak sekali
budaya Nak,” jawab ayah lagi.
“Guru Ali pasti sudah memberitahu Ali bahwa negara kita
adalah negara kepulauan. Iya kan?” kali ini giliran ayah yang
berganti bertanya. Ali mengangguk sebagaimana mengiyakan
dugaan ayahnya.
“Maka dari itu, negara kita memiliki banyak budaya Nak.
Budaya itu dibentuk dari berbagai pulau yang ada di negara ini. Ali
lihat kan meja-meja yang disusun itu?” tanya Ayah lagi dan dijawab
dengan anggukan dari anaknya.
70 Nyalanesia
“Meja-meja itu nantinya digunakan untuk menaruh makanan-
makanan khas Indonesia. Kemudian, lapangan luas yang berada di
ujung barisan susunan meja itu nantinya dipergunakan untuk
menonton berbagai kostum adat serta pertujunkan budaya lainnya,”
terang ayah, berusaha menjelaskan meski sebenarnya dekorasi si
pekan budaya pun belum selesai.
Ali mengangguk-anggukan kepalanya. Sekarang, Ali akan mulai
mengeluarkan pertanyaan-pertanyaannya lagi, “Ayah, lalu anak-
anak itu sedang apa? Mereka berbaris duduk dan menepuk-
nepukkan tangan mereka,” tanya Ali lagi.
Ayah tidak pernah bosan dengan pertanyaan yang diajukan Ali.
“Itu namanya Tari Saman dari Aceh,” kata ayah.
“Mereka sedang latihan sekarang, itu pasti karena mereka
akan tampil di acara pembuka, karena biasanya tari daerah ini
memang untuk pembukaan, Ali,” jelas ayahnya lagi.
“Kalau penari yang memegang sesuatu itu darimana Ayah?”
tanya Ali sambil memandang lekat apa yang dibawa oleh para
penari tersebut. Ayah memusatkan pandangannya kemana Ali
penasaran. Setelahnya, Ayah menganggukan kepalanya. “Itu
namanya Tari Pendet, Nak. Tarian itu dari Bali. Penari Pendet
memegang bokor tempat bunga yang akan ditaburkan,” jelas Ayah.
Ali mengangguk-mengangguk seakan mengerti maksud
ayahnya. “Ayah kalau makanan yang beruap itu apa?” tanya Ali lagi.
Pertanyaan ini, sedikit membingungkan Ayah. Ayah mencari-cari
dimana makanan yang Ali maksud. Ali tampaknya sadar melihat
ayahnya kebingungan, sehingga ia semakin memperjelas
pertanyaannya. Ali memang anak yang pandai. “Itu ayah, yang
sedang dikipas-kipas,” lanjut Ali.
Ayah mengernyitkan pandangannya dan melihat dari kejauhan
apa yang dimaksud Ali. “Ohh… Itu namanya kerak telor. Makanan
khas betawi, Ali” jawab ayahnya lagi. Ali mengangguk-angguk lagi.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 71
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Ali. Setiap hal
yang menarik perhatiaannya langsung cepat-cepat ia tanyakan
kepada ayah. Ali benar-benar merasa terpukau dengan
keberagaman yang ada. Ia seolah mengabsen semua yang ada di
sana untuk kemudian ia tanyakan kepada ayahnya. Rasa ingin
tahunya semakin membuncah hingga akhirnya lampu merah mulai
berganti ke lampu berwarna hijau. Ayah sudah mulai bersiap- siap
ingin memajukan kendaraannya kembali.
“Ayah, Ali masih bingung kenapa semua budaya yang beragam
itu bisa bersatu dan selalu terjaga untuk bersatu?” tanya Ali pada
ayahnya. Sebelum menjawab pertanyaan Ali, ayah lebih dulu
menjalankan mobilnya karena beberapa kendaraan sudah merebak
melaju meninggalkan kepulan asap.
“Karena kita semua berpegangan pada Pancasila, Nak. Ali pasti
sudah pernah diajarkan oleh ibu guru kan? Ayah mau tanya, ada
slogan apa di Pancasila?” tanya Ayah Ali menguji sang anak.
Ali berusaha mengingat-ingat apa yang sudah gurunya ajarkan
kepadanya. Otaknya berputar untuk berpikir keras. Ia berusaha
mengobrak-abrik ingatan yang tersimpan rapat untuk kemudian
secercah cahaya seolah muncul di pikirannya. “Ali ingat! Bhinneka
Tunggal Ika,” jawab Ali dengan sangat antusias.
Ayah Ali tersenyum mendengar jawaban anaknya. “Betul! Ali
tahu tidak artinya?” tanya Ayah lagi. Ali berusaha mengingat-
ingat lagi apa yang ia pelajari di kelasnya. Ayah yang sudah puas
dengan jawaban Ali tadi, akhirnya ia menjawab pertanyaannya
sendiri untuk membantu Ali.
“Bhinneka Tunggal Ika merupakan moto atau semboyan
bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang Negara Indonesia,
Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang
artinya adalah ‘Berbeda-beda tetapi tetap satu’. Jadi meskipun kita
beragam suku, agama atau pun ras, kita tetap akan menjadi satu
72 Nyalanesia
juga. Karena kita NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” jelas Ayah Ali.
Ali mengangguk-anggukan kepalanya. Ia paham dengan apa
yang dimaksud oleh ayah. Secercah ide muncul di kepalanya, “Baik,
Ali mengerti Ayah. Karena kita negara kesatuan maka kita harus
bersatu. Ali janji Ayah, Ali akan menjaga keberagaman ini untuk
selalu satu,” janji Ali penuh keyakinan.
Ayah tersenyum mendengar ucapan anaknya ini. Ia merasa
bangga mempunyai anak pandai seperti Ali. “Akhir pekan ini, nanti
kita ke pekan budaya tadi ya,” tawar sang ayah sebagai hadiah dari
kepandaian anaknya. Mata Ali berbinar mendengar penawaran
tersebut, dengan cepat ia mengangguk dan menjawab “IYA AYAH!
ALI SANGAT MAU!”
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 73