The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fanantya, 2022-10-10 04:34:25

CERPEN DIVERSITY JIDIL 1

Cerpen-diversity-jilid-1

SWORLD DINASTY

Indah Nabilah Asmar

Sworld Dynasty adalah negara yang memiliki 4 suku yang berbeda-
beda. Negara yang hidup rukun dan penuh kedamaian, hingga suatu
saat terjadi perang besar yang menjadikan negara bermusuhan.

Suku Momo adalah suku terbesar pertama di Negara Sworld
Dynasty, mereka sangat ditakuti karena memiliki keahlian
menggunakan panah dan menyusun strategi.

Suku Neanthal adalah suku terbesar kedua, mayoritas suku ini
berkulit putih, mereka dikenal dengan keahlian menyusun strategi,
pejuang jenius, dan kebal dengan api.

Suku Maoni adalah suku terbesar ketiga, mayoritas suku ini
berbanding terbalik dengan suku Neanthal. Berkulit hitam, dikenal
dengan pendekar pedang yang sangat efisien.

Suku Orbica, mayoritas suku ini berasal dari Gunung Putih,
memiliki darah biru yang tidak dimiliki suku lain, serta bisa
bermimpi dan pandai menggunakan panah.

Dimulai dari raja suku Momo yang mengajak suku Neanthal
kerja sama untuk membagikan lahan mereka tetapi semua berakhir
saat suku Neanthal menolak. Raja Cars dari suku Momo marah
sehingga memberitahukan pasukannya untuk menyerang suku
Neanthal. Karena Raja Maroon yang kekurangan pasukan akhirnya
menyerah terhadap suku Momo, hingga membuat dua suku lainnya
takut kepada suku Momo dan berharap semua suku dapat
berbaikan seperti dulu lagi.

124 Nyalanesia

A Few Years Later

Di pusat Kota Arvhalas, Kota Cars, ada sebuah keluarga kecil yang
memiliki dua orang anak. Ayahnya seorang pemerintah yang taat
hukum, anak laki-laki dari keluarga mereka mencintai kedamaian
dan berharap suku-suku lainnya bisa berdamai seperti dulu lagi.

“Ibu apakah mereka tidak ingin berdamai kembali?” ujar anak
laki-laki itu kepada ibunya, sambil mata berkaca-kaca karena ia
menginginkan perdamaian.

“Begitulah Eric, ini legenda suku kita, dan kami harus
mematuhinya!” jawab ibunya.

“Tapi Ibuuu,” belum sempat menuruskan kata-katanya,
ayahnya sudah memotongnya.

“Sudahlah kembali ke kamarmu dan baca bukumu!” ujar pria
yang sedari tadi mendengar. Ya, dia adalah ayah anak itu.

Eric Shon nama anak laki laki itu, sepanjang koridor dia
berbicara sendiri, ”Aku ingin mereka berdamai.” Sesampainya di
kamar ia langsung menghempaskan badannya di atas kasur,
”Sudahlah, emangnya aku pernah didengar?”

“Eric, Eric, Eric!!!” Ya Eric sedang melamun.

“Eh kak Elsa, ada apa? Silahkan masuk,” benar itu Elsa kakak
Eric.

Elsa Shon anak tertua dari suku Momo, bisa dibilang dia
penerus suku Momo karena sudah dididik dari kecil sehingga
membuatnya kehilangan masa kecil.

“Kenapa Ric, kenapa melamun?” ujar kakaknya yang tau kalau
adiknya sedang melamun.

“Kak, emangnya kamu dukung ya kalau suku kita berdamai?”
tanya adik kecilnya itu yang penasaran.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 125

“Secara pribadi sih ga, karena kita udah hidup bahagia di sini,
tapi kalau kamu mau kakak akan usahakan suatu saat ya, apa sih
yang tidak buat adik kakak?” ujar elsa lembut.

8 tahun kemudian

Waktu terasa cepat sekali, sejak saat itu Eric masih ingin
mewujudkan cita-citanya untuk berdamai. Kakak beradik itu sudah
memasuki masa remaja, di mana Eric sudah berusia 20 tahun dan
kakaknya berusia 23 tahun.

“Ayah, Ibu, aku ingin melanjutkan studiku di Unviersitas
Yonsei,” ujar Eric. Tentu saja hal itu membuat orang tuanya kaget
dan bingung.

“Emangnya kamu serius, kenapa ga di Saebom aja?”

Universitas Saebom itu tempat khusus suku Momo. “Gak ah,
aku ingin berteman dengan suku-suku lainnya. Tolong Ayah, Ibu,
aku udah besar loh, masa mau gini terus,” ujar anak laki-laki itu.

“Baiklah, tapi kamu gak boleh langar peraturan dari suku
Momo ya!” ujar pria tua itu karena kasihan kepada anaknya.

“Baiklah Ayah, Ibu, aku akan ingat!”

Sudah beberapa hari sejak kepergian Eric ke asrama Yonsei.
Asrama Yonsei berada di bagian selatan jadi butuh beberapa hari
untuk tiba di sana. Sangat sulit untuk beradaptasi dengan dunia
baru. Jadi mereka harus berkenalan terlebih dahulu.

“Hallo semuanya, perkenalkan saya Cheline, dosen kalian di
sini. Sebelum kalian masuk, ada baiknya kalau kalian berkenalan
dulu yah. Seperti yang kita ketahui, asrama ini menangani empat
suku,” ujar wanita itu yang merupakan Kepala Universitas Yonsei.

“Baik, Bu,” anak-anak sangat bersemangat Eric Shon, ya anak
itu belum mendapatkan teman. Dia sangat pemalu untuk mengajak
yang lain berteman, seperti yang kita tau keluarganya sangat ketat.

“Hai, kamu belum ada teman ya?” ujar gadis itu dengan lembut.

126 Nyalanesia

“Oh, hai iyaa belum, kamu?” jawab Eric dengan nada malu-malu

“Oh, aku Irene dari suku Neanthal, kamu?” ujar gadis itu.

“Aku Eric Shon dari suku Momo, semoga akrab ya,” jawab Eric
dengan hati-hati, karena takut ada salah kata.

“Oh iya salam kenal ya, kamu gak usah canggung karena suku
kita yang bermusuhan,” ujar gadis itu dengan lembut.

Setelah perkenalan, mereka melanjutkan aktivitas masing-
masing. Eric menatap satu per satu orang-orang dari berbagai suku.

“Mereka sangat baik dan juga ramah, tapi kenapa suku kami
bermusuhan, apa kami juga yang tidak bersalah harus
bermusuhan?” batin Eric dalam hati.

Selang beberapa lama akhirnya mereka kembali ke kamar
masing-masing.

“Kamu di kamar ini?” ujar anak laki-laki itu yang memiliki mata
coklat dan kulit hitam, ya Suku Maoni.

“Iyaa, salam kenal yaaa!” ujar Eric lembut.

“Oh iya, semoga kita akrab yaa, perkenalkan nama aku Zayn
dari Suku Maoni,” ujar anak laki-laki itu.

“Oh aku, Eric dari suku Momo.”

Sebulan telah berlalu, mereka sudah saling kenal, mengajari
keahlian masing-masing, berargumen, dan saling menghargai
pendapat, menghargai perbedaan budaya, suku, agama, dan ras.

“Eric, kau sedang apa? aku ingin bertanya kepadamu,” ujar
Irene.

“Aku sedang baca buku, mau nanya apa?”

“Oh itu, aku ingin tanya apa cita-citamu?” ujar gadis itu.

“Oh, aku ingin suku kami berdamai, seperti dulu lagi. Akankah
itu terwujud? ujar Eric dengan mata berkaca-kaca.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 127

“Ayo kita ubah dunia ini seperti dulu lagi, kamu mau?” ujar
gadis itu penuh semangat.

Dari ujung perpustakaan ada anak yang sedang ditertawakan
karena tidak bisa membaca buku tapi dia memegang buku.

“Hey mengapa kau sangat bersikeras memegang buku padahal
buta huruf?” ujar salah satu anak.

“Apa hakmu untuk berani bicara begitu, manusia adalah
manusia, ya pasti punya kekurangan. Kau tidak pantas bicara
begitu,” ujar Eric dengan nada penuh amarah.

Setelah beberapa tahun bersekolah di situ, Eric dan Irene
terlibat cinta tapi sangat sulit untuk direstui, sehingga Eric berjanji
akan mempersatukan negara ini kembali dan tidak ada lagi musuh.
Ingatlah dunia tidak akan terbentuk jika kita tidak
mengaktualisasikan Pancasila seperti nilai-nilai Pancasila.

128 Nyalanesia

KISAH BARU

Annisa Kalsum

Suara ayam jantan milik tetangga yang berkokok saling sahut-
menyahut di pagi hari telah membangunkan Nazura dari tidurnya
yang nyenyak. Dengan setengah mengantuk, Nazura bangun dari
tempat tidurnya lalu mencuci mukanya. Pagi ini adalah hari
pertamanya memasuki dunia perkuliahan. Nazura berasal dari
Jakarta dan kemarin siang ia baru saja tiba di kota Yogyakarta untuk
menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Drttt.. Drtt…

“Halo?” sapa seseorang di seberang sana.

“Halo Lisa, gimana?” tanya Nazura yang sedang mengecek
ulang perlengkapan yang akan ia bawa ke kampus barunya.

“Hari ini lo masuk kampus juga kan? Gue takut banget nih, gak
ada yang kenal sama sekali, mana beda daerah lagi, di kos juga
belum kenalan sama sekali,” cerocos Lisa dari seberang sana.

“Aduh Lis, gak akan kenapa-kenapa lo di sana. Percaya sama
gue, meskipun asalnya beda-beda tapi kita tetep satu Indonesia
kan? Lagian lo juga udah milih sendiri mau kuliah di Lampung yang
jauh, ya lo harus siap.”

“Gue cuma nervous aja Zura, gimana kalo gue ga paham sama
yang mereka omongin?” jawab Lisa.

“Lisa gue kasih tahu ya, lo itu orang Indonesia dan di Lampung
juga masih termasuk Indonesia kan? Kalau lo belum ngerti bahasa
mereka ya lo pake bahasa Indonesia. Udah deh Lis, gue mau siap-
siap mandi terus berangkat, bye!” Nazura menutup telepon dari
sahabatnya itu, ia heran dengan Lisa, padahal dulu ingin sekali
kuliah di tempat yang jauh, sekarang malah takut.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 129

Suasana di Yogja pagi ini sangat sejuk, Nazura takjub
memandangi jalanan Yogja yang luas dan tidak macet sama sekali,
tidak seperti di Jakarta. Pagi hari saja sudah terasa sumpek karena
banyak polusi udara. Gedung-gedung yang tidak terlalu tinggi
namun sangat indah dan juga pohon-pohon besar membuat suasana
di Kota Yogja tampak asri dan sejuk, terlebih lagi kawasan kos dan
universitas Nazura memang sangat terkenal sebagai tempat yang
sangat sejuk, sehingga membuatnya senang saat pertama kali hadir
di Yogja.

Langkah-langkah penuh semangat terdengar bersahut-sahutan
di kampus ini, sebuah lapangan yang sudah penuh dengan properti
terpampang jelas di depan mata Nazura, segerombolan mahasiswa
baru yang baru saja berkenalan juga terlihat sedang mengobrol satu
sama lain. Nazura memperhatikan satu per satu aktivitas yang
terjadi di sana, ia terkesima dengan seseorang wanita hitam manis
dengan kepangan warna-warni kecil di rambutnya, ia menebak
dalam hati, pasti orang timur nih. Gila! manis dan keren banget
gayanya.

“Hai!” Nazura tersentak kaget, gadis yang baru saja menjadi
pusat perhatiannya melambaikan tangan dan mendekat ke arahnya.

“Hai juga, maaf aku tidak bermaksud menatapmu seintens itu,
aku tadi hanya ngeliatin karena style lo bagus!” ujar Nazura jujur.

“Wah, sa baru kali ini dengar orang puji apa sa pakai,”
jawabnya menggunakan logat khas timur.

“Hah, yang bener? Padahal lo keren banget,” ucap Nazura
dengan tersenyum.

“Ah bisa saja kau ini. Oh iya, nama sa Irena Silasani, kau bisa
panggil sa Iren, siapa nama kau?” tanya Iren, sembari menyodorkan
tangan kanannya kepada Nazura.

“Aku Ajeng Permata Nazura, panggil aja Nazura,” ucap Nazura
membalas uluran tangan Iren.

130 Nyalanesia

Nazura jadi sangat bersemangat. Hei! siapa yang tidak
bersemangat ketika kau mendapatkan teman baru di kampus.

“Iren kamu asli orang timur ya?” tanya Nazura lagi.

“Bukan, saya asli orang Maluku Utara, tapi sa sudah 5 tahun
tinggal di timur tepatnya papua sana, jadi sa terbawa logatnya
begitu,” jawab Iren.

“Oh iya? Wah keren! Btw, lo di sini masuk jurusan apa Ren?
Kalo gue Sastra Indonesia,” ucap Nazura lagi.

“Keren, sa sudah punya teman satu jurusan,” ucap Iren, Nazura
tersenyum mendengarnya, ia sangat senang akhirnya ia mempunyai
teman baru yang tidak satu daerah dengannya terlebih lagi mereka
satu jurusan di kampus.

Nazura dan Iren mengikuti kegiatan penyambutan mahasiswa
baru dari kampusnya, banyak sekali penampilan dari berbagai
mahasiswa luar daerah yang menampilkan budaya daerahnya, hal
ini membuat Nazura sadar jika bukan rahasia umum lagi bahwa
negara Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya-
budaya yang beragam.

Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau dari Sabang sampai
Merauke tentunya juga memiliki budaya maupun tradisi yang
berbeda-beda di setiap tempatnya. Namun, Nazura rasa
keberagaman dan perbedaan ini tidak seharusnya menimbulkan
permasalahan dalam negara ini. Justru sebaliknya, keberagaman
dan perbedaan yang ada di Indonesia seharusnya dapat
mempererat hubungan antarmasyarakat satu dengan yang lainnya.

Sama halnya seperti semboyan nasional kita yakni ‘Bhinneka
Tunggal Ika’ yang memiliki arti ‘Berbeda-beda tetapi tetap satu’.
Nazura rasa kita harus bisa menjaga persatuan dan kesatuan negara
meskipun kita datang dari latar belakang yang beragam juga
berbeda.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 131

Nazura tau rasanya akan lebih mudah bersatu dengan budaya
dan tradisi yang sama atau sejalan, tapi tentu saja tidak ada kata
sulit bagi kita untuk dapat tetap menjaga persatuan dengan
keberagaman ini bukan? Apabila kita mau belajar menghargai dan
menghormati sesama serta tradisi mereka masing-masing,
seharusnya tidak ada permasalahan yang akan timbul disebabkan
oleh keberagaman dan perbedaan ini.

Nazura pikir ada banyak cara agar kita dapat saling menghargai
keragaman suku bangsa dan budaya contohnya seperti dengan ikut
berpastisipasi memelihara, melestarikan, dan mengembangkan
tradisi serta budaya yang ada dalam masyarakat, tidak
merendahkan adat istiadat lain, dan menghormati segala bentuk
tradisi lain yang tidak sama dengan tradisi sendiri.

Dan juga jika kita mau belajar menghargai satu dan yang
lainnya dengan menerapkan hal-hal sederhana tersebut dalam
kehidupan sehari-hari kita, tentu keberagaman dan perbedaan yang
ada di Indonesia tidak akan menjadi masalah bukan? Ini bahkan
bisa menjadi sebuah kekayaan yang tidak bisa semua negara miliki.

“Hey Nazura, kenapa kau malah melamun!” teriak Iren.
“Nazura kau harus lihat Medley, keren sekali dia bisa
menampilkan semua tarian dari Sabang sampai Merauke!” ucap
Iren.
“Ah maaf Ren, aku barusan mikir kalau negara kita itu kaya
banget ya,” ucap Nazura.
“Iya, negara Indonesia itu memang sangat kaya akan budaya
dan kita juga harus bangga dan menghargai budaya tersebut.”
“Benar Ren, aku sangat bangga bisa menjadi salah satu anak
yang lahir di Indonesia,” jawab Nazura, setelah itu mereka
melanjutkan menonton pertunjukan tersebut dengan bangga.

132 Nyalanesia

SEAN DAN TEMANNYA

Cahya Aurora Salsabillah

Minggu pagi yang cerah, seorang anak perempuan bernama Sean
terbangun dari tidurnya. Dia terbangun karena cahaya matahari
yang masuk lewat celah-celah jendela sehingga tidurnya terganggu.
Setelah beberapa saat berdiam diri, akhirnya dia memutuskan
untuk keluar kamar dan mencari ibunya.

“Buu..“ teriak Sean.

Tidak ada jawaban dari ibunya. Dia berpikir mungkin ibunya
tidak dengar, “Buuu..“ teriak Sean lebih keras. Tetap tidak ada
jawaban. Sean pun bingung. Biasanya ibunya akan
membangunkannya dan menyuruh dia sarapan. Lantas kemana
ibunya itu pergi? Sean pun berjalan ke dapur untuk mengecek
apakah ibunya sudah masak atau belum karena perutnya sudah
mulai kelaparan.

Sesampainya di dapur Sean langsung membuka tudung saji
yang ada di atas meja makan. Sean melihat makanan kesukaannya
sudah tersaji. “Wah.. Ada ayam geprek,” ucap Sean dengan senang.

Sean pun duduk dan mulai menyiapkan piringnya. Belum
sempat memakan ayam tersebut, dia teringat kalau dia belum
mandi bahkan cuci muka setelah bangun tidur tadi. Akhirnya, dia
memutuskan untuk menutup kembali makanannya dan bergegas
untuk mandi.

Sehabis mandi, Sean kembali ke dapur untuk melakukan
kegiatan yang tertunda tadi. Ternyata ibunya sudah ada di rumah
dengan membawa cemilan yang cukup banyak. Sean pun bingung,
jarang-jarang ibunya membeli cemilan sebanyak itu.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 133

“Ibu, untuk siapa cemilan sebanyak itu?“ tanya Sean kepada
ibunya.

“Ibu mau bagi ke Panti Asuhan Al-Hidayah yang depan
komplek, kamu sebentar antar ini ke sana ya. Ibu ada urusan
sebentar, jadi gak bisa ke sana,“ jawab Ibu Sean seraya tersenyum
kepada anak perempuannya. Sean pun mengangguk menuruti
perintah ibunya.

“Kamu makan dulu habis itu ke sana ya,“ ucap ibunya.

“Iya, Bu,“ balas Sean.

Sean pun melanjutkan makannya. Dia berpikir akan mengajak
teman-temannya untuk membawakan cemilan ini ke Panti Asuhan
Al-Hidayah sesuai perintah ibunya tadi.

Sehabis makan, Sean pun mengganti bajunya dan langsung
pergi keluar. Tujuan utamanya sekarang adalah ke rumah Ney,
teman sekolahnya. Rumah Ney bisa dibilang cukup dekat sehingga
tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke sana.

“Ney, maukah kamu menemaniku untuk mengantarkan cemilan
ini ke Panti Asuhan Al-Hidayah depan komplek?“ tanya Sean seraya
melirik cemilan yang dia bawa.

“Tentu saja Sean, aku akan sangat senang jika kamu
mengajakku sekalian melihat anak-anak lucu di sana,“ balas Ney
dengan tersenyum.

Ney yang tadinya akan beranjak masuk ke dalam untuk
mengganti bajunya kembali dan bertanya kepada Sean, “Sean,
apakah aku boleh ikut membawakan sesuatu untuk anak-anak di
sana?“

Sean tersenyum lalu menjawab, “Tentu saja, kenapa tidak?”

Ney pun beranjak masuk ke dalam rumahnya dengan
tersenyum senang. Dia ikut bahagia jika dia bisa membantu anak-
anak malang di sana.

134 Nyalanesia

Seraya menunggu Ney, Sean melihat ke arah jalan. Dari arah
berlawanan ada seorang anak yang sedang menaiki sepedanya
dengan kecepatan normal. Sean mengenalnya, dia Rey. Sean pun
memanggilnya.

“Rey!“ teriak Sean.

Mendengar namanya dipanggil, Rey pun melihat ke sumber
suara. Ternyata Sean. Dia pun mengayuh sepedanya ke arah
tersebut.

“Hai Sean, ada apa?“

“Hai Rey. Maukah kamu ikut denganku mengantarkan cemilan
ini ke Panti Asuhan Al-Hidayah depan komplek? Aku juga mengajak
Ney,“ jawab Sean.

Rey turun dari sepedanya lalu menjawab, “Boleh saja,
kebetulan aku ingin ke ruko samping panti asuhan itu.“

Mendengar jawaban itu, Sean pun tersenyum lalu mengangguk.
Bertepatan dengan Ney yang baru saja ganti baju dan membawa
beberapa bingkisan. Sedikit kaget melihat Rey yang berada di depan
rumahnya.

“Eh, hai Rey!“ sapa Ney dengan tersenyum.

Rey tersenyum seraya mengangguk sebagai balasannya. Lalu
meminggirkan sepedanya dekat pohon. “Aku akan menyimpan
sepedaku di sini,“ ujar Rey.

Melihat Ney dan Sean yang membawa bingkisan yang cukup
banyak membuat Rey berinisiatif untuk membantunya.

“Bagikan juga kepadaku, aku akan membantu membawanya,“
ujar Rey dengan tersenyum.

Ney dan Sean pun membagi bingkisan yang mereka pegang
agar dapat dibawa juga oleh Rey. Setelahnya mereka berjalan
bersama sama menuju panti asuhan tersebut.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 135

Keheningan pun timbul di perjalanan. Mereka pun menyadari
mimik muka Ney yang sedikit murung. “Kenapa Ney? Apakah kamu
tidak senang?“ tanya Sean.

“Tidak seperti itu, aku cuma takut bingkisannya tidak
diterima,“ jawab Ney sedih.

Mendengar itu Sean dan Rey pun bingung.
“Kenapa begitu? Aku rasa mereka akan menyukainya,” balas
Rey.
“Aku baru ingat kalau panti asuhan itu religius, sedangkan aku
nonis. Apakah mereka akan menerima bingkisan ini?“
Sean pun mendekati Ney seraya berkata “Ney, mereka akan
menerimanya bahkan akan sangat senang, pemberian kita tidak
dilihat dari agama maupun perbedaan lain. Selama kamu ikhlas
memberi tidak ada yang salah. Perbedaan yang buat kita semua
menjadi erat. Kamu inget semboyan negara kita? Bhineka Tunggal
Ika. Kita harus bersama dalam perbedaan.“
Mendengar itu Ney pun sadar. Perbedaan yang buat mereka
semakin erat. Ney tersenyum kembali lalu berkata, “Terima kasih
Sean, aku mengerti sekarang.“
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju panti
tersebut. Sampainya di sana mereka langsung memberikan
bingkisan tersebut ke anak-anak panti. Mereka sangat senang dan
kembali ke rumah masing-masing.

136 Nyalanesia

PERJALANAN MENCARI

KEBENARAN

Naflah Ufairah

Kedua kaki anak perempuan itu menapaki tiap jalan dengan
tergesa–gesa. Langkahnya terburu–buru. Napasnya tersengal–
sengal namun tidak menurunkan semangatnya pada sesuatu.
Senyuman di wajahnya selalu ceria. Wajar, anak berusia 7 tahun
sepertinya menganggap semua hal baru itu unik.

Tujuan utamanya berlari saat ini adalah rumah. Sendal yang
dipakainya dilepas secara asal. Sendal itu tidak berarti sekarang.
Berita yang dibawanya lebih berarti.

“Mama!” teriaknya semangat. Hening. Tidak ada respon.

“Mama! Mama dimana?” teriaknya lagi sambil mencari ke tiap
ruangan.

“Mama di dapur. Ke sini!” teriakan balasan itu yang ditunggu
dari tadi oleh anak ini.

Dengan semangat dia berlari ke dapur dan berseru dengan
suara lucunya, “Mama, Alum boleh ya ikut mengaji di masjid sama
teman–teman,” lantas ibunya berbalik bingung. Dia bertanya–tanya
dari mana anaknya mendapat ketertarikan pada hal seperti itu.

“Bolehkan, Mah?” Suara anaknya yang penuh harap
membuatnya mengembalikan fokus.

“Iya boleh. Kamu diajak siapa?”

“Sama Zahra, Mah. Dia bilang Pak Ustaz suka cerita dongeng.
Ada dongeng tentang nabi yang membelah lautan. Ada juga dongeng
tentang nabi yang bisa bicara dengan hewan. Terus Alum lihat Zahra
saat mengaji keren. Alum ingin jadi keren seperti Zahra,” Mama

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 137

tertawa gemas mendengar penjelasan anaknya. Alum berkata ingin
ikut mengaji, tapi alasannya adalah ingin mendengar cerita yang
dianggapnya dongeng.

”Iya mama bolehin, tapi kamu jangan nakal–nakal. Janji gak?”

“Siap, iya Mama!” lagi–lagi Alum tidak kehilangan semangat.

Kegiatan mengaji yang Alum tunggu segera terjadi esok
harinya. Dia berjalan ke masjid bersama Zahra. Entah darimana
energi positif di tubuh Alum datang. Ketika Pak Ustaz datang, Alum
menjadi pusat perhatian.

“Nak, kamu kenapa tidak datang pakai jilbab?” tanya Pak Ustaz.
Pertanyaan itu membuat mata tertuju pada Alum.

Alum yang bingung menjawab, “Kenapa harus pakai jilbab, Pak
Ustaz?” mendengar ini Pak Ustaz tersenyum tipis dan menyuruh
semua anak–anak duduk, dia akan memulai.

“Anak–anak dengarkan. Dijelaskan pada surah Al–Ahzab ayat
59 yang artinya Wahai Nabi! Katakanlah pada istri–istrimu, anak–
anak perempuanmu dan istri–istri orang mukmin, Hendaklah
mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,” Pak
Ustadz mengakhiri penjelasannya dengan senyuman karena wajah
bingung anak–anak dengan kalimat yang mereka anggap rumit.

Alum mengangkat tangan ke atas. Dia berseru, “Pak Ustadz
maksudnya apa?”

“Dijelaskan dalam ayat tadi bahwa wanita diperintahkan oleh
Allah agar mereka menutup auratnya. Menutup aurat adalah
kewajiban bagi semua muslim. Kalian semua harus membiasakan
menutup aurat kalian sedari kecil agar saat besar kalian terbiasa,”
jelas Pak Ustaz.

Hari itu kabar yang dibawa pulang Alum adalah dia ingin
memakai jilbab. Ibunya menyetujui hal tersebut. Hanya saja kedua
orang tuanya bingung. Mereka tidak menyangka Alum akan
meminta hal itu. Itu adalah hal yang positif dan biasa tapi tidak bagi

138 Nyalanesia

kedua orang tua Alum yang tidak pernah mengajarkan agama pada
Alum.

Setelah jilbab–jilbab itu sampai pada dirinya, tiap keluar rumah
Alum selalu memakainya. Pak Ustaz selalu tersenyum senang saat
melihat Alum selalu dengan bangga memakai jilbabnya.

Perubahan juga terjadi di keluarga Alum. Kedua orang tua
Alum mulai rajin ibadah. Hal ini dipicu karena anak mereka yang
selalu bertanya mengapa mereka tidak beribadah.

Suatu hari datang ketika Alum bermain dengan Lucia yang
beragama Kristen dan Mitha yang beragama Hindu. Alum
mengajukan pertanyaan pada mereka.

“Lucia, kamu kenapa tidak pakai jilbab? Kamu juga Mitha,”
tanya Alum dengan polosnya.

“Di agama kami, kami tidak diajarkan memakai jilbab,” jelas
Lucia, agak sedikit tersinggung.

“Tapi kalau kalian gak pake nanti kalian masuk neraka.”
Mereka berdua saling bertatapan. Bingung harus menjelaskan apa
pada Alum. Selain itu, mereka agak tersinggung disebut akan masuk
ke neraka.

“Mengapa mereka terlihat kesal?” Alum bertanya pada dirinya
sendiri. “Ah tidak bisa. Aku harus tanya Pak Ustaz nanti,” lanjutnya.

Di masjid, Alum mendengarkan dengan khidmat kisah nabi,
begitu pun saat Pak Ustaz mengajarkan tentang orang–orang yang
menyembah hal lain selain Allah. Saat mengaji juga dirinya sangat
fokus. Saat semua kegiatan itu selesai, dan tersisa dirnya dengan
Pak Ustaz. Alum menanyakan mengenai hal yang terjadi siang tadi.

Pak Ustadz mendengarkan. Hal yang didengarnya membuatnya
tersenyum wajar. Baginya, anak 7 tahun di depannya ini sedang
mencari kebenaran.

“Nak, ingat bahwa di negara kita, kita memiliki banyak agama.
Dan setiap agama yang ada memiliki ajarannya masing–masing.
Begitupun dengan agama mereka, mereka memiliki aturan yang

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 139

telah ditetapkan agamanya. Sama halnya dengan Islam yang
memiliki aturan bagi yang memperlihatkan aurat akan berdosa,”
jelas Pak Ustadz panjang lebar.

Alum mengangguk. “Berarti di agama mereka, tidak memakai
jilbab itu tidak apa–apa?” tanya Alum lagi. Pak Ustadz mengiyakan
hal tersebut. Tidak lupa dia menyuruh Alum meminta maaf besok
atas perkataanya.

Besoknya, Alum melakukan hal yang dikatakan Pak Ustaz,
meminta maaf. Namun, anehnya Alum tetap tidak bermain pada
Lucia dan Mitha seperti biasanya. Dia pergi bermain ke anak–anak
kampung yang lain. Padahal kedua anak itu telah memaafkan Alum
dan tidak terlihat kesal lagi.

Lucia menghampiri Alum. Dia tidak tenang mereka tidak
bermain bersama karena selama ini mereka selalu main bersama.

“Alum! Ayo main masak–masak lagi!” panggil Lucia dari
kejauhan.

Kaki kecil Alum berlari menghampiri Lucia yang memanggil.

“Maaf Lucia, Mitha. Aku tidak bisa main sama kalian lagi,”
kalimat pertama yang mereka dengar dari Alum mendatangkan
kebingungan.

“Hah? Memang kenapa?” kali ini bertanya bingung.

“Kalian beda agama dariku. Kata Pak Ustaz kemarin, orang
yang tidak menyembah Allah adalah orang–orang yang berdosa,”
Lucia dan Mitha sangat kaget dengan kalimat Alum kali ini.

“Aku tidak mau bermain dengan orang yang berdosa karena
tidak meyembah Allah. Aku takut ikut mendapat dosa,” tambah
Alum lagi. Dia juga sedih karena masih ingin bermain dengan
mereka.

Kali ini, Lucia dan Mitha benar–benar marah. Mereka pergi
dengan meninggalkan perasaan tidak enak pada Alum. Alum
menangis. Dia segera berlari ke rumah Pak Ustaz. Hari itu bukanlah
jadwal mengaji, jadi dia tidak bisa bertanya di masjid.

140 Nyalanesia

“Pak Ustaz jadi Alum harus bagaimana?” tanya Alum setelah
menyelesaikan ceritanya.

Pak Ustadz sedikit sedih melihat Alum yang menangis. Dia
mulai berbicara, “Alum ingatlah yang Pak Ustaz katakan kemarin.
Negara kita memiliki banyak agama. Dan untuk hidup damai dengan
agama lain, kita harus saling memahami. Kita tidak boleh saling
menghina. Telah dijelaskan juga dalam Al–Qur’an tidak ada paksaan
dalam memeluk agama Islam.”

Alum masih sesunggukan, “Jadi harusnya Alum tidak boleh
berkata seperti tadi dan boleh berteman dengan mereka?”

“Iya Nak, betul sekali. Ingat ayat Al–Kafirun ‘untukmu agamamu
dan untukku agamaku’” jelas akhir Pak Ustaz.

Setelah dari rumah Pak Ustaz, Alum tidak menunda lagi, dia
langsung mencari Lucia dan Mitha. Untung mereka berdua masih
ada di lapangan. Dia memanggil nama mereka dan segera berlari
menghampiri. Mereka melihatnya dengan muka yang masih marah.

“Lucia, Mitha, aku sangat minta maaf karena telah menghina
agama kalian. Aku telah mencari kebenarannya dan ternyata aku
sangat salah. Maafkan aku,” ucap Alum dengan kepala tertunduk.

Lucia dan Mitha tidak bisa marah kepada sahabat mereka.
Mereka langsung memaafkan Alum.

“Iya Alum, tidak apa–apa. Sebelumnya kamu tidak tahu,” balas
Mitha yang diberikan anggukan kepala oleh Lucia.

Alum tersenyum lebar, “Kalau begitu kita bisa bermain
bersama lagi bukan?”

“Yah maaf, tapi aku ada ibadah di gereja. Aku harus pulang
siap–siap sekarang,” jawab Lucia.

“Kalau begitu aku akan main dengan Mitha. Selamat beribadah
Lucia. Dadah!”

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 141

TENTANG PENULIS

BHINNEKA HIGH SCHOOL PERSAHABATAN SALSA
Sarah Amelia Wa Ode Arimbi
DARIMU AKU BELAJAR Namira Koedoes
SEMUANYA ARI TETANGGAKU
Cressendo Reifaldi. B Chairunnisa
PELAJAR PANCASILA KEBERAGAMAN DALAM
Andi Tenri Nur Shafaa BERTEMAN
TOLERANSI Mayang Sari
Ida Ayu Idha Paramitha CERITA DI PERTIGAAN
INDAHNYA BERSATU LAMPU MERAH
DALAM KEBERAGAMAN Najwa Aulia Ramadhani
Dina Puspita ASYIFA, GADIS KECIL
GRACE ON DIVERSITY DALAM MENAFSIR
(GOD) TOLERANSI
Greig Novantio Aldrefas Ratih Indriyanti
TASAMUH SESAMA UMAT 5 SERANGKAI
BERAGAMA Farah Aora Anisa
Safarindah Nafsul ADA APA DENGAN RAS
Mutmainnah Annisa Ayu Sarita
ANCAMAN KEBERAGAMAN KETEGUHAN HATI
KOTA NIRHALLA Auliyah Listianti Haryoga
Eddi Malaidji TETAP SATU
SEMUA DEMI UTI Kirei Nova Nur Aulia
Muhammad Aqsha KITA INDONESIA
Dewantoro Arnita Mardiyanti

142 Nyalanesia

BINTANG YANG BERSINAR KISAH BARU
KEMBALI Annisa Kalsum
Dani Ahmad Fauzi
MAAF DAN IKHLAS SEAN DAN TEMANNYA
Anisa Rindatus Sholihah Cahya Aurora Salsabillah
SIDDIQ
SANG PENAKLUK HATI PERJALANAN MENCARI
Ld. Zulkadir KEBENARAN
SWORLD DINASTY Naflah Ufairah
Indah Nabilah Asmar

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 143

144 Nyalanesia

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 145


Click to View FlipBook Version