ASYIFA, GADIS KECIL DALAM
MENAFSIR TOLERANSI
Ratih Indriyanti
“Assalamu’alaikum warahmatullah, assalamu’alaikum
warahmatullah,” seorang pemuda menutup salatnya.
Setelah bermunajat kepada Sang Pencipta, ia berniat untuk
meneruskan kembali bacaan yang belum diselesaikannya. Namun,
saat berbalik, ia terkejut mendapati sang adik yang terduduk sambil
memperhatikan beberapa lembaran di atas meja belajar.
“Loh, kamu belum tidur? Ini sudah malam, besok pagi kan kita
harus ke sekolah,” tegur sang kakak.
“Cipa belum bisa tidur Bang, kangen Abi dan Umi,” jawab si
Adik.
Kemudian, kedua insan yang masih memiliki hubungan darah
itu sama-sama terdiam. Ahmad Abidzar dan Asyifa Nuraini,
sepasang kakak beradik yang terpaut usia cukup jauh. Abidzar telah
duduk di bangku SMA kelas XI, sedangkan Asyifa baru saja
memasuki tahun ketiganya di Sekolah Dasar. Kedekatan keduanya
membuat Asyifa memiliki sikap lebih dewasa dibandingkan teman
sebayanya.
Pekerjaan orang tua yang sering bolak-balik ke luar kota
membuat mereka terbiasa tinggal di rumah hanya berdua.
Untungnya, ada Bibi Aminah yang setiap pagi hingga sore hari
berada di rumah untuk membantu menyiapkan keperluan
keduanya.
Setelah terdiam cukup lama, Abidzar mencoba memberikan
solusi untuk mengatasi kerinduan sang Adik kepada orang tuanya.
74 Nyalanesia
“Gini deh, bagaimana kalau kita telepon Abi dan Umi saja?”
tanya Abidzar.
“Tidak usah deh Bang hehe… Sekarang Cipa lebih penasaran
sama kertas-kertas kusut Abang. Itu apa ya?” tanya Asyifa.
“Hei! enak saja bilang bacaan Abang kusut. Ini tuh namanya
artikel, judulnya Tasamuh, Kunci Hidup Makmur,” ujar Abidzar
sembari mengambil lembaran-lembaran tersebut.
“Tasamuh? Kembarannya tayamum yang diajarin Abi itu ya,
Bang?” tanya Asyifa kembali, seperti tampak tertarik.
“Hahaha… Aduh gimana ya jelasinnya, tasamuh itu biasanya
disebut toleransi, sikap saling menghargai dan menghormati dalam
segala hal serta perbedaan yang ada,” terang Abidzar.
“Berarti kalau Cipa mau menerima pendapat teman itu
termasuk tasamuh, Bang? Dapat pahala gak ya?” tanya Asyifa.
“Ya termasuk bertasamuhlah. Kalau masalah pahala biar Allah
saja yang tahu, tetapi setahu Abang segala sesuatu yang
mencerminkan Akhlakul Karimah pasti selalu mendapat pahala dari
Allah SWT,” jawab Abidzar.
“Masya Allah, kalau gitu Cipa nanti mau lebih sering
menghargai pendapat teman deh supaya pahalanya banyak hehe…
Lalu, apa lagi Bang?” tanya Asyifa mulai tenggelam dalam
percakapan.
“Abang sih mau berbagi ilmu, tetapi kita lanjut nanti ya. Kamu
nggak lihat ini sudah jam sepuluh kurang?” ujar Abidzar.
“Yah Abang… Nggak seru banget. Sekarang aja!” bujuk Asyifa.
“Intinya perilaku tasamuh itu sering kita lakukan, tetapi kadang
kita tidak menyadarinya, seperti perilaku Syifa ke teman tadi, Syifa
baru sadar, kan? Sudah sana ke kamar!” ujar Abidzar.
Di pagi harinya, kedua anak manusia tersebut bersiap untuk
menuntut ilmu. Abidzar dan Asyifa selalu berangkat bersama
menggunakan sepeda motor pemberian abinya di ulang tahun
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 75
Abidzar yang ke-17. Sementara saat pulang nanti, Asyifa akan
dijemput oleh sang bibi.
“Sudah siap? HP komunikatornya dibawa kan?” tanya Abidzar.
“Iya, Abang. Semuanya sudah ada di dalam tas,” jawab Asyifa.
“Ya sudah, ayo pamitan ke bibi!” ajak Abidzar sembari
menggandeng Asyifa untuk bertemu sang bibi di depan rumah.
“Bibi kami berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum,” ujar Abidzar.
“Bibi sini biar sapunya Cipa yang taruh,” ucap Asyifa sembari
mengambil sapu dari tangan bibinya. “Asyik! banyak pahala.”
Sementara Bibi Aminah yang melihat tingkah laku Asyifa,
menatap bingung ke arah Abidzar, tetapi hanya dibalas dengan
senyuman. Setelah itu, keduanya pun bergegas pergi.
Sebelum benar-benar meninggalkan pekarangan rumah,
sekilas Asyifa melihat seorang tetangga pria tengah berbicara
sembari menangkupkan tangan kepada Bibi Aminah layaknya
memberi salam.
“Abang, tadi Asyifa lihat ada paman yang memberi salam ke
Bibi, tapi kok dia nggak mau salaman aja ya? Cuma kayak mohon-
mohon aja,” ujar Asyifa di tengah perjalanan.
“Mohon-mohon?” beo Abidzar, lalu setelahnya ia lantas
tersenyum.
“Paman tadi itu berusaha menghargai Bibi dengan tidak
menyentuhnya saat memberi salam, kan yang bukan mahram tidak
boleh bersentuhan,” sambungnya.
“Oh… begitu ya salah satu sikap bertoleransi ke lawan jenis
kita,” ucap Asyifa berusaha memahami.
“Iya, nah sekarang kita sudah sampai. Belajar yang rajin ya.”
“Tentu Abang, Cipa masuk dulu ya, assalamu’alaikum,” balas
Asyifa sambil menyalimi tangan kakaknya.
76 Nyalanesia
Abidzar pun kembali melajukan motornya menuju sekolah.
Sementara Asyifa yang telah memasuki kelas, terkejut mendengar
suara tangisan teman sekelasnya, Yesa di tengah kerumunan siswa
lain. Ia pun lantas menghampiri mereka.
“Astagfirullah … Yesa kamu kenapa? Ih kalian, sana kembali ke
tempat masing-masing!” titah Asyifa.
“Huu … dasar bule pucat! Hahaha,” ledek teman-teman lainnya
kepada Yesa.
“Kalian tidak boleh begitu tahu, kita harus menghargai Yesa!
Dia kan teman kita juga,” nasihat Asyifa.
Yesa merupakan gadis keturunan Kanada dan Buton. Pengidap
albino yang terlahir dengan kulit putih pucat, rambut putih
kekuningan, serta mata berwarna coklat. Yesa mendapatkan fisik
seperti itu karena gen dari ayahnya. Saat orang lain menganggap
Yesa aneh, Asyifa justru merasa Yesa itu istimewa.
“Te- terima kasih ya Syifa, kamu selalu saja bantuin aku.
Hatimu baik sekali,” ujar Yesa masih sedikit sesegukan.
“Kita kan teman, harus saling membantu. Aku mohon… Maafin
mereka yang nggak menghargai kamu ya,” ujar Asyifa tulus.
“Tidak apa-apa. Oh iya, sebagai ucapan terima kasih, bagaimana
kalau pulang nanti kita ke rumahku? Ada perayaan keagamaan gitu
di rumahku. Kamu mau, kan?” tawar Yesa sambil tersenyum.
“Oh ya? Mau-mau. Cipa jadi penasaran deh buat ikut perayaan
agama kamu. Cipa SMS abang dulu ya,” ujar Asyifa.
Sebelum pelajaran dimulai, Asyifa menyempatkan diri untuk
memberitahu Abidzar bahwa ia akan pergi ke rumah Yesa, tidak
lupa ia juga meminta sang Bibi untuk menjemputnya di sana.
Sementara Abidzar yang membaca pesan adiknya saat jam
istirahat terlihat cukup terkejut. Ia pun memutuskan akan
menjemput Asyifa hari ini, karena sepertinya adiknya ini sedikit
salah dalam mengartikan toleransi. Untung saja, hari ini para siswa
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 77
dipulangkan cepat karena guru-guru akan mengadakan rapat
rencana pembelajaran.
“Asyifa!” panggil Abidzar saat melihat Asyifa keluar sekolah
bersama Yesa.
“Loh Abang? Tunggu sebentar ya, Yesa,” ujar Asyifa beranjak
menemui sang Kakak.
“Abang, kenapa ke sini? Cipa kan sudah bilang mau ke rumah
Yesa,” ujar Asyifa bingung.
“Kita pulang ya, ada hal yang harus Abang jelaskan ke Syifa. Ini
penting. Nanti saja main bareng temannya,” ujar Abidzar.
“Loh kok gitu? Abang kenapa sih?” ujar Asyifa berkaca-kaca.
Terus-menerus dibujuk, membuat Asyifa akhirnya mengikuti
ajakan sang kakak dengan raut wajah tidak suka. Ia pun meminta
maaf kepada Yesa dan berjanji akan berkunjung di lain waktu.
“Sekali lagi maaf banget ya, Yesa,” ujar Asyifa tidak enak hati.
“Gak apa-apa. Lain waktu aja datangnya,” balas Yesa tulus.
Sesampainya di rumah, Asyifa lantas masuk ke kamar dan
terlihat tidak ingin keluar. Akhirnya Abidzar mencoba untuk
memberi penjelasan kepada adiknya itu.
“Abang masuk ya,” ucap Abidzar sembari membuka pintu.
“Mau apa?” tanya Asyifa ketus.
“Kamu pintar banget, masih kecil tapi toleransinya tinggi,
Abang bangga deh,” ujar Abidzar mencoba mencairkan suasana.
“Kalau gitu Abang seharusnya izinin Cipa buat ke rumah Yesa
dong! Ini kan acara keagamaan dia, jadi kita harus ikut menghargai,”
protes Asyifa.
“Nah! Itu alasannya,” ujar Abidzar yang dibalas raut wajah
bingung dari Syifa, “Kamu pasti tahu kan kita sebagai umat muslim
diharuskan untuk bertoleransi, tetapi dalam ajaran agama, ada
78 Nyalanesia
toleransi yang perlu dihindari karena dapat melemahkan aqidah
dan ibadah,” terang Abidzar.
“Tapi, ini kan hanya sebagai penghargaan aku ke teman yang
berbeda agama, Bang. Bukan mau mengikuti ajaran mereka,” balas
Asyifa.
“Masih ingat surah Al-Kafirun ayat 6?” tanya Abidzar.
“Lakum diinukum wa liya diin. Untukmu agamamu dan untukku
agamaku,” jawab Asyifa.
“Itu maksudnya. Biarlah urusan agama mereka menjadi
tanggung jawab mereka, mereka tidak boleh memaksakan ajaran
dan kepercayaan mereka, begitu pun kita sebaliknya, sebagai umat
muslim yang beriman,” ujar Abidzar.
“Ehm … gitu ya, Bang. Maafin Cipa sudah marah,” ucap Asyifa.
“Tidak apa-apa, kamu kan belum mengerti,” balas Abidzar.
Sekarang, sudah saatnya kita mengamalkan tasamuh yang
dibenarkan dalam ajaran agama. Hanya perlu jalankan sepenuh hati
tanpa membedakan keberagaman yang mendominasi.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 79
5 SERANGKAI
Farah Aora Anisa
[Senin, pukul 07.30]
Kringgg..
Bunyi bel terdengar di antero SMA Taruna 03 Bandung Jaya.
Hari ini adalah hari pertamaku di kelas XII. Usahaku dua tahun
kemarin membuahkan hasil, aku berhasil masuk di kelas XII IPA
Unggul. Namaku Intan Widjaya, seorang siswi berumur 16 tahun,
anak yang ceria namun tidak tahu bersosialisasi.
Jam pelajaran pertama baru saja selesai. Sekarang waktunya
jam istirahat pertama. Tapi suasana di kelas tetap sunyi. Sampai
saat ini pun aku belum juga berkenalan dengan teman yang lain, ada
sih niatan menyapa duluan tetapi saat melihat wajah mereka,
mereka seperti menunjukkan ekspresi bahwa mereka tidak ingin
diajak berbicara oleh siapapun.
Sekolah berakhir pada jam 4 sore. Jadwal piket harian juga
sudah ditentukan, kebetulan hari ini adalah hari piketku, jadi
setelah jam pelajaran selesai aku lanjut membersihkan kelas
bersama dengan 5 orang lainnya.
“Hai, nama kamu siapa?” ucap seorang dengan suara yang
lumayan keras terdengar di seluruh ruangan kelas. Saat
membalikkan badan, satu hal yang terlintas di pikiranku, dia
kelihatan berbeda dengan murid-murid lain yang berada di kelas
ini. Dengan badan yang cukup tinggi, rok yang yang pendek, dan
rambut yang diikat asal serta juga memakai sedikit pewarna bibir
yang merupakan larangan di sekolah.
“Halo, nama aku Intan salam kenal ya, kamu murid kelas ini
juga?“ ucapku.
80 Nyalanesia
“Iya dong gue murid kelas ini juga ya wajar sih kalau nggak
ngeliat gue dari tadi soalnya gue duduk paling pojok di belakang.
Salam kenal juga Intan. Gue Toura biasa dipanggil Tou,” balas Toura.
“Rumah lo dimana? Lo tinggal deket sini?” tanya Tou.
“Di perumahan BTP Blok M. Lumayan jauh sih dari sini kalau
jalan kaki tapi kalau naik bus dekat kok cuman 5 menit aja.”
“Ihh… Kita tetanggan dong. Gue di Blok N, bisa dong kita pulang
bareng!” balas Tou dengan suara keras yang mengejutkanku.
“Wahh! kebetulan banget yahh… Ayoo kita pergi ke stasiun
sudah hampir waktunya bus terakhir sore ini akan segera tiba,”
ucapku.
Di sepanjang jalan menuju stasiun Toura tidak henti-hentinya
menceritakan tentang teman-teman kelas yang menurutnya sangat
judes dan juga sesekali menceritakan tentang dirinya. Tidak
menunggu lama akhirnya bus yang kita tunggu tiba juga. Setibanya
di depan perumahan, aku dan Tou akhirnya berpisah. Saat libur
katanya, Tou akan mengunjungi rumahku agar lebih akrab lagi.
***
Sudah tiga bulan sejak aku berada di kelas XII, aku dan Tou juga
semakin dekat, kami sering mengerjakan tugas kelompok bersama
dan mengerjakannya di rumahku atau di rumah Tou.
Hari ini ada murid pindahan yang baru masuk di kelasku.
“Halo semua, perkenalkan nama sa Haru, berasal dari Flores. Sa
pindah sekolah dari sa punya sekolah lama itu karena papaku
pindah-pindah kerja. Semoga kita semua bisa berteman dengan baik
e.”
Cukup singkat perkenalan diri dari Haru. Berasal dari Flores
membuatnya sedikit kelihatan berbeda dari yang lain. Badannya
yang sangat tinggi, warna kulit yang lumayan gelap dan juga aksen
bahasa yang digunakannya, membuatnya sedikit dibedakan di kelas
ini. Setelah berkenalan dengan yang lain, Haru beranjak menuju
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 81
tempat duduk yang masih kosong. Dia duduk bersama dengan si
juara kelas, Martin namanya.
***
Sekarang waktunya jam istirahat Aku dan Tou pergi ke kantin
bersama-sama. Setibanya di sana, aku melihat tidak ada tempat
kosong yang tersedia selain tempat duduk Haru dan Martin. Tou
akhirnya menarikku ke meja mereka sebelum ada orang yang
menempatinya.
“Hai, di sini kosong kan? Bisa gak gue dan teman gue duduk di
sini udah full semua tempat yang lain tuh,” ucap Tou.
“Ah iya, bisa-bisa duduk aja,” jawab Martin ramah.
“Terima kasih,” ucapku.
“Ee.. Kalian ini satu kelas dengan kita juga kah Martin?” tanya
Haru kepada Martin.
“Iya dong, kita sekelas tau, masa sih lo gak inget,” balas Tou
tiba-tiba, padahal pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya.
“Hehehe maaf, maaf sa cuman ingat Martin saja di kelas,“ balas
Haru.
“Kok dari tadi gue rasa kek diliatin orang-orang yah, kenapa
sih,” ucap Tou.
“Anu, maaf. Mungkin karna sa. Sa sudah terbiasa dengan ini
karna pasti setiap sa pindah respon mereka sama semua ke sa,”
ucap Haru yang merasa tak enak. Suasana mendadak berubah jadi
canggung. Akupun mencoba mengalihkan topik.
“Jangan salahin diri sendiri dong. Ini mungkin karena Tou atuh.
Maneh kalau bicara jangan besar-besar atuh, ini lagi di tempat
umum,” ucapku mencoba mencairkan suasana menggunakan nama
Tou.
“Ishh, kalian ini jangan pakai bahasa daerah dong, gue kan ga
ngerti” ucap Tou kebingungan.
82 Nyalanesia
“Maneh itu dalam bahasa sunda artinya kamu. Kalau Haru
kayaknya sering pakai kata sa, artinya kayaknya saya,” ucapku.
“Iya betul, sa itu saya artinya, ko itu kau. Tapi kita kan ada di
Bandung kenapa ko pake lo-gue?” tanya Haru ke Tou.
“Gue itu juga murid pindahan, yah walaupun udah agak lama
sih, tapi gue udah bisa kok pake aku-kamu cuma ke guru tapi karena
kata Intan itu lebih sopan di sini,” jawab Tou.
“Sepertinya susah e ubah kata-kata yang sudah biasa kita pake.
Tapi sa mo coba ubah juga sapa tau sa jadi bisa dapat banyak
teman,” ucap Haru.
Usai perbincangan itu, makanan kami pun akhirnya datang.
Kami melahap makanan tanpa berbincang sedikitpun berhubung
nyanyian perut telah cukup menggelisahkan. Setelah selesai
bersantap, kami bersama-sama kembali ke kelas untuk memulai
pelajaran lagi.
***
Sekarang adalah jam pelajaran sejarah. Materi kali ini ada tugas
kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 5 orang, guru yang
mengajar membolehkan kami untuk memilih sendiri anggota
kelompoknya. Aku dan Tou sudah memutuskan untuk sekelompok
lagi, kami sisa mencari 3 orang lagi.
Di lain sisi ada Haru dan Martin yang juga membentuk
kelompok bersama. Martin sebagai juara kelas tentunya diinginkan
untuk berkelompok oleh semua murid di kelas, namun kali ini
Martin berkelompok bersama Haru. Ada beberapa orang di kelas
yang tidak mau berkelompok dengan Haru tapi mau berkelompok
dengan Martin, tentu saja Martin menolak hal itu. Sudah 15 menit
kami membentuk kelompok namun masih tersisa kelompokku dan
kelompok Martin yang belum juga memenuhi kuota untuk
berkelompok. Oleh karena itu, guru menyarankan agar kami
menggabung kelompok saja, namun di kelompok kami masih tersisa
1 orang dan ternyata hari ini ada seorang siswa yang absen karena
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 83
sakit dan agar siswa tersebut tetap mendapatkan nilai, maka guru
akhirnya memasukkannya di kelompok kami, Joe namanya.
Setelah jam sekolah selesai, kami mendiskusikan tentang
pengerjaan tugas kelompok ini, karena waktu pengerjaannya hanya
satu minggu saja.
“Kita ngerjainnya di rumah yang paling dekat sekolah aja biar
enggak susah dicari alamatnya,” ucap Martin sebagai penengah.
“Rumah gue dan Intan dekat sih dari sini kalau naik bus, tapi
nggak bisa di rumah gue. Soalnya kalau hari libur orang tua lagi ada
di rumah dua-duanya dan hari libur mereka cuma weekend doang
jadi full buat istirahat dan gak bisa diganggu, Sorry ya,” ucap Tou.
“Iya, di rumah aku aja, kalau gitu nanti aku izin dulu ke mama,”
balasku.
Haru yang dari tadi diam dan tidak seperti biasanya akhirnya
membuka suara.
“Anu, Martin maaf na karena sa ko jadi te bisa berkelompok den
teman yang lain, maunya tadi ko tinggalkan saja sa, sa nanti sa cari
kelompok sendiri,” ucap Haru yang merasa bersalah kepada Martin .
“Aduhh lo kok nyalahin diri sendiri lagi sih. ini tu salah mereka
yang terlalu sering dibiarin ngebeda-bedain orang lain. Emang kalau
si Martin pintar, mereka cuman harus ngambil Martin ke kelompok
mereka dan harus ninggalin lo gitu? Gak lah, mereka aja tuh yang
sok-sokan jadi picky,” lagi-lagi Tou menerobos perkataan yang tidak
ditujukan kepadanya dengan suara yang besar sehingga membuat
kita semua kaget dibuatnya.
“Eh.. I-iya bener banget tuh yang dibilang Tou, aku kan dari
awal memang sekelompok dengan kamu, teman sekelas kita emang
gitu orangnya judes-judes banget dan gak mikirin orang lain banget.
Kamu jangan merasa bersalah kayak gitu, dari awal aja aku gak
terlalu deket sama mereka karena sifat mereka yang kayak gitu.
84 Nyalanesia
Sorry ya baru juga masuk tapi udah lihat sisi jeleknya kelas,” ucap
Martin melanjutkan perkataan dari Tou.
“Iyaa bener banget, kalau kaya gitu kita harus bisa dapat nilai
tertinggi di tugas ini biar mereka tau rasa,” balasku.
“Makasih ya semua dan maaf juga kalau sa tiba-tiba jadi rusak
suasana. Oh iya, sa juga setuju dengan kerja kelompok di rumah la
Intan jadi nanti kirim saja alamatnya,” ucap Haru yang mulai terlihat
ceria kembali.
“Btw, kalau tentang si Joe, nanti aku yang ngabarin dia,
kebetulan aku lumayan dekat sama dia,” ucap Martin.
“Iya, tolong ya Martin,“ balasku.
Setelah membahas beberapa hal lagi mengenai tugas ini,
akhirnya kami sudah menentukan waktu yang tepat untuk
mengerjakan tugas kelompok ini, yaitu pada Hari Minggu jam 4 sore
di rumahku. Kami pun bersama-sama menunggu bus yang akan
kami naiki untuk pulang ke rumah masing-masing.
***
[Minggu, pukul 15.30]
“Assalamualaikum, permisi Intan!” suara Tou terdengar jelas.
“Waalaikumsalam, masuk atuh Tou. Gak perlu buru-buru atuh
rumah kamu kan dekat,” balasku.
“Bosen tau di rumah terus,” ucap Tou.
“Udah sholat kan Tou, aku baru mau sholat nih baru juga
selesai wudhu,” ucapku.
“Gak ah nanti aja di rumah kalau tugasnya udah selesai,” jawab
Tou.
“Astagfirullahaladzim, kita gak boleh nunda-nunda salat atuh
Tou, kamu salat di sini aja nanti pakai mukena aku. Tugas kita
banyak loh, kita gak tau kapan selesainya nanti kamu jadi bolong
sholatnya,” ucapku.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 85
“Yauda deh. Kamu salat duluan aja, biar aku nungguin yang lain
dulu,” balas Tou.
“Nanti langsung ke dapur aja ya, kalau udah mau wudhu,”
ucapku.
“Iyaa Neng, buruan sana salatnya,” kata Tou.
[Pukul 14.10]
“Assalamualaikum, Intannnn!!” suara cowok terdengar dari luar
rumah.
“Waalaikumsalam iyaa ayo masuk, masuk,” balasku.
“Touranya belum datang yah?” tanya Martin.
“Enak aja gue udah dari tadi ya, kalian aja yang telat,” ucap Tou
tiba-tiba dari arah kamarku.
“Astagfirullahaladzim, Nyi to nak luo do bes kasar men
ngomong,” ucap Joe karena dibuat kaget oleh Tou.
“Ko ini bicara apa?” tanya Haru karena kebingungan.
“Eh sorry, karna kaget jadi refleks deh,” jawab Joe.
“Kita baru pertama bicara kan ya, walaupun sekelas sih.
Kenalin nama saya Joe, berasal dari Bali itu tadi juga refleks
ngomong bahasa Bali hehe…” lanjut Joe.
Setelah saling berkenalan dan membagi tugas-tugas yang akan
dikerjakan kami sesekali bercerita di sela-sela mengerjakannya.
“Eh, eh kalian tau gak sih, si Eita yang caper di kelas itu loh.
Katanya ya, dia tuh suka caper ke pak walkel biar nilainya
dibagusin. Dia juga katanya pacaran sama kating di ITB tau, biar
nanti dibantu katanya. Geli banget gak sih mana umurnya jauh
banget lagi,” ucap Tou memulai pergibahan.
“Eh iya iya, gue denger juga tau rumor dia pacaran itu,” balas
Joe.
86 Nyalanesia
“Astagfirullahaladzim, udah atuh ngomongin orangnya. Nanti
amalannya jadi ilang loh, kalian nanti kalau dianya dibicarain yang
enggak bener marah atuh si dia nya, kan ga bagus kalau bertengkar
dengan teman sendiri. Udah yah lanjutin aja tugasnya biar cepat
kelar,” ucapku menengahi mereka sebelum mereka membahasnya
lebih dalam.
“Iya atuh, kasian si Eitanya dingomongin yang gak bagus. Tugas
aku udah selesai nih sisa direvisi aja,” balas Martin.
Semua tugas selesai pada 17.45, sekarang kami sedang berada
di tempat makan di dekat rumahnya. Kami banyak bercerita
mengenai cita-cita dan hobi masing-masing serta tentang
universitas impian.
Nilai tugas kelompok sejarah akhirnya dibagikan. Alhamdulillah
kerja sama kami membuahkan hasil yang sempurna dengan
memperoleh nilai 100.
Sejak saat itu, kami selalu bersama-sama. Karena telah
mendekati ujian masuk perguruan negeri, kami bersama-sama
belajar serta mengikuti berbagai jenis lomba. Hingga akhir sekolah,
kami hanya mengetahui sebatas nama teman kelas saja tanpa
mengenal satu sama lain. Namun, bersama grup kecilku yang hanya
terdiri dari lima orang, cukup membuat tahun terakhirku di SMA
menjadi lebih berwarna.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 87
ADA APA DENGAN RAS
Annisa Ayu Sarita
Salah satu kelas di SMAN 4 Kendari memiliki 36 siswa dengan latar
belakang yang berbeda. Mulai dari latar belakang suku, agama, ras,
dan masih banyak lagi. Uniknya, di dalam kelas itu ada satu siswa
yang memiliki ras melanesoid, yaitu ras dengan ciri-ciri berambut
keriting dan berkulit hitam. Siswa tersebut bernama Abigail Divsha.
Dia seorang gadis yang ceria, ramah, sholehah, dan cerdas.
Dan di kelas yang sama, terdapat 1 orang siswa yang juga
pintar, namun sifatnya berbeda 180° dengan Abigail. Dia seorang
gadis yang garang, tidak ramah, dan semua orang menakutinya
karena kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menyakiti hati
orang-orang yang mendengarnya. Gadis itu bernama Anantha
Mentari Putri.
Suatu hari di sekolah, Abigail duduk di kursinya dan
mengerjakan tugas yang diberikan guru. Tiba-tiba saja, Anantha
datang dan melemparkan buku tulisnya ke meja Abigail.
“Aku mau kamu mengerjakan tugasku!” kata Nantha.
Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Tidak ada yang
bisa menghentikan Nantha mengingat seberapa garangnya dia.
“Maaf, tapi aku tidak tahu apa kesalahanku sampai-sampai aku
harus membayar kesalahan itu dengan ini,” ucap Abigail.
Mata Nantha kini memerah, terkejut sekaligus marah dengan
kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Abigail. Selama ini, jika
dia memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu, maka
orang itu akan patuh. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah hal
yang tidak pernah Nantha kira.
88 Nyalanesia
“Kamu berani sekali menolak permintaanku. Ingat ya, di kelas
ini kamu bukan siapa-siapa. Kamu sudah lebih dulu kalah!”
Abigail bingung.
“Kalah?” batin Abigail.
“Maksud kamu?”
Nantha tersenyum sinis, kemudian mendekat ke arah Abigal.
“Ingat, kamu di sini minoritas! Jika aku memerintahkan orang-
orang ini untuk menghancurkan kamu, tentu saja mereka akan
patuhi perintahku. Jadi, kamu harusnya tau siapa diri kamu dan
kedudukan kamu di kelas ini.”
Ketika Nantha hendak pergi, Abigail bangkit dari kursinya dan
memegang lengan Nantha.
“Tunggu!”
Nantha berbalik dan menatap Abigail sinis.
“Seumur hidupku, aku tidak pernah mendengar kata-kata
orang lain yang menyinggung latar belakangku. Aku tidak tahu apa
yang ada dalam pikiranmu, sampai-sampai kau tega mengucapkan
itu. Sifat seseorang tidak hanya ditentukan dari latar belakangnya.
Camkan itu!” kata Abigail.
“Waw, hebat sekali. Bahkan seseorang yang berkulit hitam ini
mulai berani berbicara seperti itu di hadapan orang sepertiku.”
“Aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan dengan fisik
seperti ini. Ini adalah ketetapan Allah,” ucap Abigail dengan mata
berkaca-kaca.
“Lalu? Sudahlah. Orang sepertimu tidak pantas mengatakan hal
seperti itu.”
Nantha pun pergi.
Di saat itu, perasaan Abigal benar-benar hancur. Seperti itukah
rasa sakit dari kata-kata yang tajam bak samurai?
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 89
“Tidak, tidak Abigail. Kau tak boleh rapuh. Itu hanya omong
kosong,” ucap Abigail dalam hati.
Sesampainya di rumah, Abigail disambut dengan ibunya. Dia
disuguhkan air putih dan hidangan makan siang sudah tersaji di
meja makan.
Ketika sedang makan, Abigail terus memikirkan perkataan
Nantha yang mengatakan bahwa dia adalah minoritas. Sehingga dia
bukan seseorang yang harus diberi perhatian.
“Bu, apa salah jika kita menjadi kaum minoritas?” tanya Abigail.
Ibu Abigail menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Abigail
dengan tatapan heran.
“Menurut kamu bagaimana, Bi?” ucap Ibu, balik bertanya.
Abigail menarik napas panjang, kemudian menatap lekat
ibunya.
“Menurut Abigail, itu bukan kesalahan. Bukannya Allah yang
menciptakan kita seperti ini? Kita tidak pernah meminta Allah
untuk menjadikan tubuh kita seperti ini, kan?”
Seketika Abigail menutup mulutnya, sadar bahwa dia telah
membocorkan permasalahannya kepada sang Ibu. Ibu Abigail lalu
mendekap anaknya.
“Abigail harus tahu, bahwa kita tidak bisa mengontrol
perkataan orang mengenai kita. Kapan pun, Abigail harus terus
kuat. Abigail tidak boleh rapuh hanya karena perkataan omong
kosong yang dilontarkan orang-orang ke Abigail. Dan ingat, Allah
bersama dengan orang-orang yang sabar.”
Keesokan harinya, di pagi yang cerah, Abigail berjalan menuju
kelas. Namun tiba-tiba saja, air berbau busuk menimpanya. Dia
begitu terkejut sekaligus khawatir akan seragam yang dipakainya.
“Ups, maaf ya, aku tidak sengaja,” kata Nantha sambil tertawa
sinis.
90 Nyalanesia
Abigail menatap Nantha dengan penuh kebencian. Nantha
mendekat kepada Abigail, sambil menutup hidungnya.
“Ew, busuk sekali kamu. Kamu pulang saja, tidak pantas
seorang siswa dengan bau menyengat sepertimu masuk sekolah.”
“Orang yang memiliki sifat sepertimu lah yang tak pantas
masuk sekolah!” jawab Abigail.
“DIAM KAU! Ingatlah, bahwa dirimu bukanlah siapa-siapa
dibanding diriku. Apa kau tidak lihat? Aku dikelilingi orang-orang
yang berkelas. Kau tahu kenapa? Karena warna kulitku putih bersih.
Dan lihatlah dirimu. Siapa yang ingin berteman dengan orang
berkulit gelap sepertimu.”
Abigail terdiam. Kata-kata itu begitu menusuk. Tanpa dia
sadari, air mata menetes membasahi pipinya.
“Ayo, kau tak perlu mendengar perkataannya,” ucap seseorang
yang bernama Alea.
Alea pun membawa Abigail pergi menghindari kerumunan.
“Sudah, sudah, kau tak perlu membasahi wajah cantikmu
dengan air mata,” kata Alea.
Abigail kemudian menatap Alea dengan bingung.
“Ada apa? Apa kau ragu dengan perkataanku? Kau benar-benar
cantik. Percayalah kepadaku,” ucap Alea sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka berbincang-bincang
mengenai hal random.
“Tunggu sebentar, bukankah kau yang sering membawakan
ceramah di hari Jum’at?” tanya Abigail terkejut.
Alea mengangguk.
“Astaga, bagaimana bisa aku tidak menyadari itu?”
“Kau tak perlu bertingkah seperti itu. Aku ini kan manusia
biasa, sama sepertimu.”
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 91
Abigail tersenyum lalu memeluk Alea.
“Aku akan sangat berterima kasih untuk pertolonganmu,” ucap
Abigail.
“Hey, kau salah. Allah menolongmu. Dia yang mengirimku. Jadi
berterima kasihlah kepada Tuhanmu.”
Mereka berdua pun kembali mengobrol santai hingga bel
pelajaran berbunyi.
“Allahuakbar, Allahuakbar!”
Adzan telah berkumandang, semua orang bergegas menuju
musala.
Pada saat itu, Alea menjemput Abigail di kelasnya untuk
bersama-sama berjalan menuju musala. Melihat hal itu, Nantha
menghampiri mereka berdua.
“Hai, Alea,” sapa Nantha.
Alea pun tersenyum canggung.
“Kau tidak akan bilang bahwa kau akan jalan bersamanya, kan?
I mean, lihatlah gadis kusam ini. Percayalah kepadaku, kau akan
kehilangan kehormatanmu ketika berada di dekatnya. Jadi
menurutku, bukankah lebih baik kau tidak jalan bersamanya untuk
menghindari hal itu?” kata Nantha.
Abigail kemudian memberi isyarat kepada Alea untuk berjalan
sendiri saja. Karena Abigail takut jika apa yang dikatakan Nantha
akan terjadi. Abigail tidak ingin berterima kasih dengan cara yang
salah.
“Dengar, Nantha. Semua wanita itu cantik. Cantik kan tidak
melihat fisik. Apapun warna kulitmu kau tetap cantik selagi jiwamu
juga cantik.”
Nantha terkejut.
“Apa kau baru saja membelanya?”
92 Nyalanesia
“Mengapa? Apa itu salah? Oh ya, dan beberapa hal lagi yang
ingin kusampaikan padamu. Aku tidak akan kehilangan
kehormatanku jika aku berjalan bersamanya. Rasulullah bahkan
bersahabat dengan Bilal bin Rabah. Kulitnya sangat hitam, tapi itu
tidak menjadikannya buruk di mata Rasul. Bilal bahkan diberi
jaminan surga. Ini menjadi bukti bahwa Rasul tidak menilai
seseorang berdasarkan fisiknya, melainkan jiwanya. Dan ingatlah,
bahwa warna kulit adalah ketetapan. Allah menciptakan makhluk
berdasarkan apa yang Allah inginkan. Jika kau membenci
ciptaanNya, maka kau telah menghinaNya. Bukankah Allah telah
memerintahkan kita untuk saling berkasih sayang?”
“Ingatlah Nantha, Allah bisa saja menghukummu atas
kesombongan dan sifat angkuhmu itu! Berhati-hatilah.”
Alea menggenggam tangan Abigail lalu pergi meninggalkan
Nantha yang termenung setelah mendengar ucapan Alea. Tiba-tiba
Nantha merasa kehilangan semangat. Dia khawatir jika pernyataan
Alea akan terjadi. Tanpa terasa riak cairan bening menggenangi
kelopak matanya. Merasa takjub dengan sikap Alea dan membenci
kesombongan dirinya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 93
KETEGUHAN HATI
Auliyah Listianti Haryoga
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah seorang gadis 20 tahun bernama
Tsania. Pagi itu, Tsania sedang berjalan-jalan mengelilingi desanya
untuk mencari udara segar sekaligus berolahraga. Tsania
merupakan anak yatim piatu sejak berusia 15 tahun dan harus
tinggal seorang diri tanpa satu orang pun di sisinya. Tepat di hari
Sabtu, Tsania berencana pindah ke kota Minasa dan mencari
pekerjaan baru di sana.
Pada Hari Sabtu, di bawah teriknya matahari, Tsania sangat
lelah mencari kontrakan untuk ditinggalinya. Akhirnya saat bintang-
bintang mulai memunculkan diri, ia mendapatkan sebuah
kontrakan murah di Jalan Panjaitan.
Fajar menyingsing, Tsania bersiap mencari pekerjaan di kota
tersebut. Ia terlihat sangat lelah dan tak kunjung mendapatkan
sebuah pekerjaan. Hingga malam hari tiba, sebelum pulang ia
mampir ke sebuah minimarket untuk membeli mie instan seharga
15 ribu rupiah. Tsania pun mengeluarkan uang 20 ribu dari
sakunya. Selagi menunggu kembalian, terdengar berita bahwa telah
terjadi pengeboman oleh wanita bercadar di sebuah gereja Katolik
di Kota Minasa.
Tsania merasa sangat kasihan sekaligus geram mengapa orang-
orang itu harus menggunakan cadar untuk melakukan dosa keji
mereka, di sisi lain hal tersebut dapat menimbulkan perspektif lain
dari orang-orang terhadap Islam. Akibat pengeboman tersebut,
umat muslim semakin dimusuhi dan dideskriminasi oleh
masyarakat. Mereka yang berpenampilan gamis dengan jilbab
panjang juga dihindari.
94 Nyalanesia
Keesokan harinya, setelah seharian mengelilingi kota, ia
akhirnya bertemu warung yang sedang mencari pekerja harian
sebagai pelayan. Tsania tampak sangat bersyukur. Tsania pun
langsung melaksanakan pekerjaannya di warung tersebut.
Esoknya, ia kembali ke warung tersebut dengan berpakaian
gamis serta jilbab pasang berukuran besar. Meskipun pakaiannya
tersebut tidak menghalangi pekerjaannya sama sekali. Tapi tampak
beberapa orang yang sangat sinis terhadapnya.
“Hei gadis bergamis hitam, bisakah kamu memakai baju yang
biasa saja? Kau tampak seperti teroris pengeboman dengan pakaian
seperti itu!” ujar salah satu pelanggan di warung tersebut.
“Mohon maaf Pak, baju saya tidak ada kaitannya sama sekali
dengan teroris. Teroris di luar sana menggunakan baju syari seperti
ini untuk merusak perspektif orang-orang terhadap Islam,” ujar
Tsania.
“Hei jangan asal bicara kamu. Sudah jelas-jelas di berita
tersebut teroris itu memakai cadar, sudah pasti dia Islam. Apakah
Islam benci sekali dengan kami yang berbeda keyakinan? Apa salah
kami?” bantah seorang ibu-ibu yang juga menjadi pembeli di
warung tersebut.
“Pak, Bu, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk
berbuat seperti itu. Mereka menggunakan cadar untuk membuat
kalian berpikir kalau Islam adalah agama yang membuat mereka
melakukan hal itu. Islam itu indah. Bahkan kami diajarkan untuk
tidak memaksa orang untuk masuk ke agama kami. Kami juga tidak
pernah diajarkan intoleran apa lagi sampai mengebom. Banyak
oknum di luar sana yang berlindung dari Islam untuk melakukan
kejahatannya itu dan bahkan setelah diselidiki mereka bukanlah
orang yang beragama Islam,” ujar Tsania dengan lembut.
“Sudahlah, percuma berbicara dengan orang fanatik sepertimu.
Bu, kenapa menerima pelayan seperti ini?” ujar ibu tadi dengan
nada kesal.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 95
Tsania yang tak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya bisa
berdiam diri mendengar ocehan orang-orang yang berpikiran
sempit itu. Ia pun melanjutkan pekerjaannya. Akhirnya ibu pemilik
warung terprovokasi, hingga melarang Tsania berpakaian seperti
itu dan bahkan mengancam untuk memecatnya. Tsania pun
memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya itu karena baginya
aqidah agamanya lebih penting daripada harus mempertahankan
pekerjaan tersebut.
Tsania mulai mencari pekerjaan baru di mana ia bisa diterima
dengan penampilannya tersebut. Namun, tampaknya keinginan itu
sangat susah untuk terwujud mengingat masih maraknya
pemberitaan pengeboman di kota tersebut dan membuat warganya
waspada terhadap orang yang berpakaian seperti dirinya.
Matahari mulai meninggi, membuat Tsania merasa sangat letih.
Ia pun beristirahat sebentar. Dari kejauhan ia melihat seorang ibu
yang ingin menyeberang namun tak sengaja diserempet oleh
pengendara motor. Ibu itu pun terjatuh sementara pengendara
motor itu terus saja berjalan tanpa peduli dengan ibu tersebut.
Tsania yang melihatnya segera lari menghampiri ibu itu untuk
membantunya. Namun, ibu tersebut tampak sangat sinis terhadap
Tsania.
“Bagaimana keadaan ibu? Ada yang terluka?” tanya Tsania.
“Kamu jauh-jauh dari saya. Saya takut dengan kamu, saya tidak
butuh bantuanmu,” ujar ibu itu dengan sinis.
“Biar saya bantu, Bu. Kaki ibu berdarah, itu harus diobati,” ucap
Tsania.
“Biarkan saja, saya tidak butuh bantuan dari kamu. Biarkan
orang lain saja yang membantuku. Pergilah!” perintah ibu itu.
Dari kejauhan tampak seorang ibu yang terlihat lebih muda
dari ibu tadi, ia bernama Wanda. Ia pun menghampiri Tsania dan
ibu itu.
96 Nyalanesia
“Bu, anak ini niat baik loh bantu Ibu,” ujar Bu Wanda.
“Saya tidak membutuhkan bantuan dari orang fanatik
sepertinya. Nanti saya dibunuh lagi. Itu kan ajaran yang diajarkan
agamanya ke umatnya itu. Kasian sekali orang-orang di gereja itu
harus mati karena kekejian orang-orang sepertinya,” ucap ibu paruh
baya itu.
“Bu, Islam itu tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Oknum
yang mengebom itu hanya menggunakan nama Islam untuk
melakukan hal keji itu. Mereka itu setan, bukan umat muslim. Ibu,
anak ini niatnya baik mau bantu ibu,” ujar Bu Wanda.
“Halah, jelas-jelas dia mengebom menggunakan cadar. Orang
yang menggunakan cadar itu kan orang seperti mereka itu. Mereka
tidak punya belas kasih. Apakah mereka anggap itu hal yang baik?”
ujar ibu paruh baya itu tetap ngotot mempertahankan pendapatnya.
“Sudahlah Nak, mari kita pergi. Kenapa kamu masih saja
membantu orang berpikiran sempit seperti dia,” ucap Bu Wanda
kesal.
“Tapi Bu, dia sedang kesakitan. Islam selalu mengajarkan kita
untuk menolong orang lain tidak peduli orang tersebut telah zalim
kepada kita atau pun orang tersebut berbeda keyakinan dengan
kita. Sebagai orang yang beriman kita harus membantunya,” ucap
Tsania.
Bu Wanda tersentuh dengan ucapan Tsania. Ia pun mencoba
berbicara kepada ibu paruh baya itu agar mau dibopong ke rumah
sakit terdekat. Setelah cek-cok yang memakan waktu lumayan lama,
ibu itu menjadi semakin lemah dan akhirnya mau untuk diantar ke
rumah sakit.
Bu Wanda menemani ibu itu di ruang perawatan, Ibu Mirah
diketahui namanya setelah proses pendaftaran di ruang tunggu.
Sementara Tsania menunggu di luar. Tsania masih memikirkan
pekerjaan apa yang mungkin bisa ia dapatkan di kota ini. Setelah
menunggu lumayan lama, akhirnya Ibu Mirah selesai menjalani
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 97
perawatan dari dokter. Mereka pun bertemu di luar dan bersama-
sama menuju gerbang rumah sakit untuk pulang.
“Makasih Nak sudah membantu saya. Terima kasih Nak, sekali
lagi saya minta maaf atas ucapan saya tadi,” ujar Ibu Mirah
bersungguh-sungguh.
“Iya Bu, tidak apa-apa, saya ikhlas membantu Ibu. Itu adalah
akhlak yang diajarkan kepada saya sebagai umat muslim,” ucap
Tsania.
“Ohh iya Nak, kamu tinggal dimana?” tanya Bu Wanda.
“Di kontrakan yang berada di jalan Panjaitan, Bu,” ujar Tsania.
“Kamu buat apa di sekitar sini, jarak jalan Panjaitan ke sini
sangat jauh,” ucap Bu Wanda.
“Saya sedang mencari pekerjaan, Bu.”
“Kebetulan sekali saya sedang mencari karyawati untuk toko
kue saya. Apakah kamu mau bekerja di toko kue saya?” tanya Bu
Wanda.
“Tentu saja, Bu. Terima kasih, Bu,” ucap Tsania dengan
perasaan senang.
Akhirnya Tsania mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya
dan dapat menghidupi dirinya.
Islam merupakan agama dengan ajaran penuh untuk umatnya
agar melakukan akhlak-akhlak mulia tidak hanya sesama umat
muslim saja tetapi juga kepada semua orang yang bahkan berbeda
keyakinan. Umat muslim juga diajarkan untuk selalu menjunjung
tinggi toleransi dan bahkan hal tersebut tercantum dalam ayat suci
Al-Qur'an surah Al-Kafirun.
98 Nyalanesia
TETAP SATU
Kirei Nova Nur Aulia
Suatu hari, ada seorang anak kecil yang bertanya kepada ibunya
kenapa manusia diciptakan dengan beragam bentuk dan rupa. Anak
ini duduk di hadapan ibunya sambil memegang makanan
kesukaannya.
"Jadi, mengapa kita diciptakan beragam, Bu?" tanya anak itu
sambil melahap sesendok puding coklat yang menggoda. Ia menatap
ibunya sekilas sambil tetap melahap pudingnya lalu tersenyum
manis.
"Dengar, ya. Huruf A dan B adalah dua huruf yang berbeda.
Tetapi, keduanya sama-sama sebuah huruf. Laki-laki dan
perempuan adalah gender yang berbeda, tetapi keduanya tetap saja
untuk manusia. Jadi apa salahnya kalau kita memiliki banyak
macam hal yang berbeda?" Satu tangan ibunya bergegas
menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah anaknya.
Nampak berpikir sebentar sambil memegangi keningnya, tetap
saja hasilnya adalah gelengan kepala yang mengartikan
ketidaktahuan atas pertanyaan itu.
"Baiklah, Ibu akan menceritakan kisah pendek yang
membuatmu akan mengerti betapa indahnya kebersamaan dalam
keberagaman. Sekarang, habiskan dulu makananmu, sikat gigi
dengan benar hingga bersih, lalu masuk ke kamar, ibu akan
mendongengkan untukmu."
Kedua kaki kecil itu lantas berlari kencang saat puding coklat
itu tak tersisa sedikit pun. Perintah ibunya ia lakukan dan kembali
ke kamar menunggu ibunya bercerita.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 99
"Cerita ini mengisahkan tentang 2 orang anak laki-laki
bernama Bayu dan Albert yang hidup dengan aturan dari keturunan
mereka. Aturan keras."
"Bay, ngapain kau ajak anak putih itu. Mana berani dia mandi di
sungai," ujar salah seorang anak lelaki yang tengah asyik berendam.
"Kau tuh ada-ada saja lah. Putih bersih begitu, mandi di sungai?
Kena marah ibunya dah pasti. Kau pulang sajalah. Tak pantas kau
ikut kami cari ikan, sibuk menyanyi sajalah."
"Nah, betul. Pulanglah, kasian ibu kau menunggu kepulangan
anak tersayang dia yang jago menyanyi tapi tak pandai cari makan."
Mendengar semua hinaan itu, Albert yang bukan keturunan asli
daerah sana akhirnya berpamitan dengan Bayu dan berbalik pulang.
Sementara di sungai, Bayu masih mencari ikan bersama
kawanannya. "Lain kali, jangan bicara seperti itu. Kasihan dia. Hanya
ingin berbaur dengan warga sini, tapi kalian tidak mau
mengajarinya."
Ketiga temannya lantas tertawa lepas. "Biarkan saja.
Memangnya dia bisa apa selain menyanyi, menyanyi, dan menyanyi.
Tidak berguna, Bay. Biarkan saja dia pulang dan merengek pada
ibunya," sahut salah seorang sembari memakai baju yang ia letakkan
di pinggir sungai.
"Sudah mendung, ayo balik pulang. Ikannya juga sudah banyak."
Mereka berempat akhirnya kembali ke rumah masing-masing
dan beristirahat untuk bersekolah besok. Dan benar saja, paginya
mereka sangat bersemangat masuk ke sekolah karena akan diadakan
lomba yang hadiahnya adalah sepatu baru. Tentu itu menjadi hadiah
yang sangat mereka inginkan karena terjadi krisis ekonomi di daerah
mereka yang menyebabkan peralatan dan seragam sekolah pun
menjadi barang langka karena harganya yang cukup fantastis.
"Jadi kita akan mengadakan lomba menyanyi. Lagu yang
dibawakan bisa berupa lagu daerah, lagu kebangsaan, atau mungkin
ada dari kalian yang mau menyanyikan lagu ciptaan sendiri, boleh."
100 Nyalanesia
Anak-anak lain mulai memikirkan strategi terbaik mereka.
Selama bersekolah, mereka hanya bernyanyi di Hari Senin saja. Ya,
itupun hanya saat upacara bendera.
"Bay, gimana ini? Kita kan nggak bisa nyanyi. Kalah pasti."
"Mungkin kita bisa minta bantuan Albert untuk mengajari kita
cara bernyanyi. Setuju?" Bayu berdiskusi dengan ketiga temannya
yang keras kepala dan sombong itu.
Mereka saling bertatapan dan menggelengkan kepala. "Nggak
perlu. Untuk apa minta bantuan dia? Toh dia juga suaranya jelek."
Mendengar namanya disebut-sebut, Albert mendatangi meja
mereka dengan senyum hangat. Menyapa Bayu dan berbicara
sebentar. "Jadi, kamu mau mengajari kami cara bernyanyi yang
merdu?" tanya Bayu seraya memegang salah satu pundak Albert.
Albert hanya mengangguk sebagai jawaban yang membuat Bayu
bersorak sangat kencang. Memanggil kawannya yang lain dan
mendiskusikannya bersama. "Besok saja latihannya, sore ini kami
harus menangkap ikan di sungai lagi," ucap salah satu kawan Bayu
yang diangguki ketiganya.
"Baiklah, tapi bisakah aku juga ikut menangkap ikan? Aku dan
ibuku sejak kemarin belum makan apa-apa."
Mendengar ucapan Albert barusan, keempat orang
itu terpelongo sambil menepuk jidat. "Kenapa kau tak bilang? Aku
kan sudah pernah cakap, jangan sungkan meminta bantuanku," omel
Bayu.
"Dah lah. Kau ikut saja setiap sore bersama kami menangkap
ikan, sekalian kita bernyanyi di sungai. Bagiamana?"
Albert mengangguk menyetujui. Selepas sekolah, semua
beristirahat dan tatkala matahari hampir tergelincir di ujung barat
mereka beranjak ke sungai, menangkap ikan bersama. Albert yang
memang tidak pandai menangkap ikan, kini cukup lihai berkat
bantuan Bayu dan kawannnya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 101
"Albert, kau baliklah duluan. Masak dan makan ikan itu bersama
ibumu. Jangan kau tahan lagi lapar sialan itu. Besok jumpa lagi di
sungai ini," salah seorang kawan Bayu berucap dengan senyum yang
membuat Albert tergopoh-gopoh pulang sambil menenteng ikan hasil
tangkapannya untuk dipersembahankan pada ibunya.
Keesokan harinya, mereka mulai berlatih menyanyi dibantu oleh
Albert. Hingga lomba sekolah pun tiba dan mereka semua siap sedia
untuk memenangkannya.
Bayu dan kawannnya bernyanyi bersama di atas panggung
sederhana itu dengan penuh semangat dan antusias. Mendapat
banyak tepuk tangan dari guru dan teman-teman. Sayang sekali
mereka bukan pemenang. Tetapi setelah mengikuti lomba tersebut,
Bayu dan kawannya akhirnya mengerti betapa asiknya bernyanyi
untuk menghibur diri sendiri dan orang lain.
"Tamat. Sekarang kamu paham kenapa kita diciptakan
beragam? Beragam bentuk, beragam agama, beragam keunikan,
beragam kelebihan dan yang lain," tanya ibu pada anaknya yang
setengah sadar karena mengantuk.
"Karena beragam itu unik dan bukan hal buruk. Ada yang bisa
menyanyi untuk menghibur orang lain dan ada yang bisa
menangkap ikan untuk kebutuhan hidupnya. Kalau digabungkan ...
wahh seru," kata anak itu dengan senyum lebarnya.
"Intinya adalah bahwa keberagaman atau perbedaan yang ada
dalam masyarakat itu bukan untuk dihindari. Menggabungkan
semua perbedaan justru akan menciptakan satu kekuatan. Jadi,
jangan bilang kalau ada agama, suku, pekerjaan, warna kulit, atau
bentuk muka yang berbeda itu jelek. Salah. Karena setiap perbedaan
memiliki keunikan. Kita unik karena kita beragam," tutup ibunya
sebelum beranjak keluar kamar.
"Oh jadi karena itu kita harus bersatu dalam keberagaman."
102 Nyalanesia
KITA INDONESIA
Arnita Mardiyanti
Ini adalah minggu pertamaku di sekolah baru dan kota yang baru.
Semua terasa asing, mungkin karena aku yang memang tak pernah
melihat dunia luar sejak kecil. Di tempat yang baru ini aku harus
memulai segalanya dari awal lagi, mulai mencari teman dan
kenalan.
Saat ini, seperti SMA pada umumnya kami pun menjalani MPLS.
Nampaknya orang sudah mulai saling berkenalan, mereka sudah
punya teman bicara, dan aku masih terlalu malu untuk sekadar
berkenalan.
“Hei! Kau cewek yang pake tas kuning, ada kau punya air
minum? Haus kali aku ini.”
Suaranya begitu keras dan melengking, aku cukup terkejut
mendengarnya. Setelah beberapa saat aku sadar tenyata akulah
orang yg dimaksud. Dengan takut-takut, kuhampiri gadis tinggi
pemilik suara itu, “Kamu manggil aku?” tanyaku dengan tampang
polos dan bodoh.
“Aih baru kau sadar, astaga sudah haus kali aku ini.”
“Maaf, aku kira kamu manggil orang lain”
“Alamak, kenapa pula kau minta maaf. Jadi, ada kau punya air?”
“Oh iya ini ada,” jawabku sambil menyodorkan botol air
minumku.
Diteguknya air itu hingga menyisakan setengah bagian. Terlihat
jelas bahwa ia memang begitu haus.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 103
“Makasih ya, sudah tidak haus lagi aku,” katanya sambil
mengembalikan botolku.
Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang gadis yang berlari
begitu kencang menghampiri kami. Terlihat dari raut wajahnya, ia
begitu panik.
“Kamu gak papa?” tanyanya padaku.
“Hah?” kujawab dengan penuh kebingungan.
“Kamu teh adek jadi naon? Hari pertama masuk sekolah udah
gegayaan ngebully orang,” kalimat yang ia tujukan pada gadis tinggi
bersuara keras tadi.
Aku dan gadis itu hanya bisa bertukar pandang dalam
kebingungan karena tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
Hingga akhirnya, kami berdua pun mengerti kondisi yang terjadi.
“Eh, enggak gitu, dia ini cuma minta air minum aku aja bukan
ngebully kok.”
“Kamu teh diancam apa sama dia? Gak usah takut sini bilang ke
aku.”
“Apa pula kau ini, tak ada aku ancam dia apalgi bully itu. Aku ini
hanya minta air minum,” bela gadis dengan dialek Batak itu.
“Heh di pikir urang percaya kamu teh cuma minta air, daritadi
teh ditu ngomong ngebentak-bentak.”
“Mana ada aku ngebentak, begini memang caraku bicara,”
sanggahnya.
Aku menyadari hal ini hanya sekedar salah paham, namun jika
tidak segera diluruskan, mungkin akan sampai ke telinga guru.
Tidak ada yang mau hari pertama sekolahnya berakhir di ruang BK.
“Aku tahu maksud kamu baik, tapi emang bener aku gak di
bully. Dia beneran cuma minta air aja.”
104 Nyalanesia
“Ini teh beneran?” tanyanya dengan nada bicara yang sudah
cukup tenang.
“Iyalah, ada kau liat muka tukang bully di wajah cantikku ini?”
“Cih kepede-an.”
“Ya udah sih kalau gitu. Urang pamit pergi dulu.”
Dia pun memutuskan untuk pergi setelah masalah ini sudah
jelas.
“Maaf, bisa kenalan gak? Aku belum kenal siapapun di sini,”
kataku ragu-ragu.
“Boleh, kenalin namaku Cici Indira, dipanggil Cici,” jawabnya
tanpa ragu dengan sebuah uluran tangan kepadaku.
Kusambut uluran tangan itu dengan bahagia “Kala, Kala
Renjana”
“Ehhm.. Tak ada yang mau ajak aku kenalan kah?” Kuulurkan
tangan kepadanya, “Miselia Crishta Pandjaitan, Icel.”
“Kala, salam kenal.” Kami masih berjabat tangan hingga sebuah
suara mengiterupsi dan memecah keheningan sesaat.
“Ehhm… Maaf atuh, tadi urang teh udah nuduh sembarangan ke
kamu ya, kenalin Cici.”
“Cici, kumaafkan kau. Lain kali liat-liat dululah sebelum kau
labrak orang.”
“Heh maneh yang salah kenapa segala ngomong suaranya
keras-keras kaya ngebentak,” sanggahnya.
“Aku ini orang Batak, aku besar di Medan bicaraku memang
begini.”
“Udah-udah masa baru kenalan udah mau ribut lagi,” kataku
menengahi perdebatan itu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 105
“Kalian mau jadi teman aku gak? Aku baru pindah ke sini dan
gak punya kenalan sama sekali,” kataku jujur.
“Udah jalani aja yuk siapa tahu cocok,” ucap Cici.
Akhirnya kami bertiga pun berteman. Siapa yang menyangka
cara mendapatkan teman adalah melalui sebuah kesalahpahaman
sebuah botol air minum. Kami punya sifat berbeda dan memutuskan
untuk berteman.
Menjalani masa–masa sekolah, berteman dengan mereka yang
berbeda sifat denganku itu ternyata menyenangkan.
Suara Icel yang keras tenyata bisa begitu lembut dan merdu
ketika bernyanyi, hal ini membuatnya terpilih menjadi anggota
paduan suara sekolah. Namun, sifatnya yang mudah emosi itu tetap
ada.
Sifat Cici yang berani dan senang melindungi menjadikan
dirinya dipercaya untuk menjadi ketua kelas. Bisa dibayangkan
betapa harus bersabarnya teman kelasnya mendengarkan ocehan
Cici setiap harinya.
Dari mereka berdua aku sadar bahwa setiap manusia itu
berbeda. Tempat dan cara manusia itu tumbuh menjadikan setiap
sosok yang berbeda.
Kita hidup di Indonesia negara dengan ribuan pulau, ribuan
suku, dan beragam agama. Menjadikan negara ini begitu kaya dan
beragam.
Dari Icel aku bisa melihat gadis ini sebenarnya lembut dan
penuh kasih sayang, hanya saja dia dibesarkan di keluarga Batak,
suku yang semua orang tahu bicaranya memang keras.
Cici itu orang Sunda, mungkin sebagian orang kan berpikir
bahwa orang Sunda lemah lembut dan kalem. Cici tetap seperti itu
karena memang tidak bisa ditepis bahwa tradisi akan terus
mengalir. Tapi jangan salah artikan kata lemah lembut itu, Cici
106 Nyalanesia
menunjukkan bahwa jangan memandang lemah suatu suku, karena
cara tumbuh setiap manusia menentukan sifatnya, bukan sukunya.
Melihat lingkungan sekitar, dimana dalam lingkungan terdiri
dari orang–orang yang berbeda latar belakang, agama, dan sukunya.
Namun, mereka tetap bisa berteman dengan baik.
Jadi, tak perlu memaksakan untuk jadi sama. Justru dengan
beragam kita bisa melihat banyak hal indah yang mungkin tidak kita
temukan dalam kesamaan.
Berbeda itu unik, beragam itu kaya. Jadi, jangan menghakimi
perbedaan karena kita Indonesia.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 107
BINTANG YANG BERSINAR
KEMBALI
Dani Ahmad Fauzi
Kevin adalah sosok yang tidak pernah melihat indahnya
keberagaman, karena Kevin hidup di lingkungan yang keras, kata
kafir dan sesat adalah makanan sehari harinya, dan dia hanya
melihat orang-orang menggunakan kata agama untuk
keuntungannya sendiri, padahal tidak ada agama yang mengajarkan
kebencian dan menyuruh orang bersifat kasar.
Saat Kevin menginjak umur 16 tahun, dia dan keluarganya
pindah ke daerah Salatiga karena orang tua Kevin pindah lapangan
kerja. Di sana dia menemukan hal yang sangat berbanding terbalik
dengan daerah asalnya, di sana semua orang saling menghargai dan
saling peduli terhadap satu sama lain. Ketika dia membantu orang
tuanya menurunkan barang dari mobil pick-up tetangganya
beramai-ramai membantu keluarganya mengangkat barang ke
dalam rumah baru Kevin.
Keesokan harinya adalah hari baru bagi Kevin di sekolah
barunya. Suasana, lingkungan, dan teman-teman tergolong baru.
Kevin merasa gugup saat di depan pintu kelasnya dalam benaknya
saat di lingkungan lamanya masih terbayang dalam pikirannya.
“Gimana kalau mereka menganggap saya aneh, bagaimana
kalau mereka tidak menyukaiku atau apakah mereka akan
membullyku seperti di lingkungan lamaku?” benak Kevin dengan
gelisah.
Kevin hanya bisa terdiam kaku di depan pintu hingga ada guru
yang lewat dan menanyakan keadaannya.
108 Nyalanesia
“Kamu kenapa, Nak? Apakah kamu sedang sakit?” tanya ibu
guru dengan nada khawatir.
“Ngakpapa kok Bu, hanya sedikit gugup aja,” jawab Kevin.
Mendengar suara di depan pintu, ibu guru yang sedang
mengajar pun keluar untuk melihat situasi.
“Ada apa, Nak? Kok kamu hanya diam depan pintu? Ayo masuk
ke dalam kita belajar bersama-sama,” kata ibu guru sambil
tersenyum.
Kevin pun masuk ke dalam sambil menundukkan kepala,
teman-teman sekelasnya terheran-heran kenapa Kevin sangat
gugup hanya karena masuk ke lingkungan yang baru.
“Ayo Nak, perkenalkan dirimu lalu duduk di bangku yang
kosong.”
Setelah perkenalan diri, Kevin langsung menuju bangku yang
paling kosong, setelah dia duduk, teman sebangkunya yang
beragama muslim langsung mengulurkan tangannya untuk
berkenalan.
“Hai Kevin, perkenalkan namaku Arya.”
Bagi kebanyakan orang ini adalah hal biasa, tetapi untuk Kevin
ini adalah momen paling menyentuh dirinya, karena untuk pertama
kalinya ada seseorang seumuran dengannya mengulurkan tangan
kepada dirinya, mereka pun berbincang sampai lupa waktu.
Keesokan harinya, Arya mulai memperkenalkan Kevin kepada
teman sekelas lainnya, mengajaknya berkeliling sekolah, dan
mengajak Kevin untuk bergabung ke ordebasis yang ada di sekolah
itu. Kevin tertarik untuk bergabung ke dalam ordebasis seni karna
dia suka menggambar dan ilustrasi. Di dalam ordebasis itu dia
menemukan teman-teman baru lagi yang ramah kepadanya, Kevin
pun menghabiskan waktunya di sana.
Sayangnya, walaupun Kevin berada di lingkungan yang super
ramah tetapi tetap ada pembullyan yang terjadi saat Kevin berjalan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 109
bersama Arya. Dia melihat seorang siswa yang dikerjain habis-
habisan oleh si pembully, nama si pembully adalah Damian, setiap
hari dia membuli orang-orang.
“Kau bisa apa? Kau hanya seorang minoritas! Kau tidak
memiliki kemampuan di negara ini, hahaha...” kata Damian dengan
lantang.
Dan dia selalu memalak atau mengambil uang dari korban
bullynya secara paksa dengan bantuan teman-temannya, dia tidak
pernah ketahuan oleh guru karena orang-orang takut untuk
melaporkan dirinya. Saat melihat pembullyan itu Kevin sangat
marah dan mulai mencela pembullyan itu walaupun Arya sudah
melarangnya untuk ikut campur, tetapi Kevin tetap maju, alhasil
Kevin tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Damian dan
menjadi korban pembullyan selanjutnya.
Hari demi hari dilewati Kevin sebagai target pembullyan
sampai dia trauma untuk keluar dari kelas. Arya pun membantunya
untuk melewati masa-masa sulitnya.
“Pakai saja jaket ini dan tutupi mukamu saat kau keluar, agar
kau tidak terlihat oleh si Damian,” kata Arya untuk meyakinkan
Kevin untuk memulihkan keberaniannya seperti dulu kala.
“Apa gunanya hidup jika harus sembunyi dari orang seperti
dia? Lebih baik aku tidak keluar sama sekali,” kata Kevin sambil
membentak.
Arya pun menyerah dan meninggalkan Kevin seorang diri.
Saat akan meninggalkan kelas Arya bertemu dengan Wayan,
merasa tergerak oleh aksi Kevin saat mencela Damian tanpa takut
walaupun kalah dalam segala aspek fisik, Wayan akhirnya diantar
oleh Arya untuk menemui Kevin.
“Hai Kevin, perkenalkan namaku Wayan, aku mempunyai cara
untuk membuat Damian berhenti menganggu orang lain lagi,” kata
Wayan.
110 Nyalanesia
Kevin bergegas bangun dengan muka serius.
“Ceritakan rencanamu,” ucap Kevin dengan nada serius.
Mereka akhirnya berbincang sampai istirahat tiba, mereka
merencanakan untuk mengambil hati siswa-siswa di sekolah itu dan
meminta untuk memilih Kevin menjadi ketua OSIS agar Kevin
memiliki wewenang mengubah atau menambahkan peraturan
sekolah walaupun sedikit dan pemilihan ketua OSIS akan dilakukan
3 bulan lagi.
Keesokan harinya, Wayan mengajak Kevin dan Arya untuk
bertemu teman-teman Wayan, di antaranya adalah Yun Shu dari
agama Khonghucu, Dharma dari agama Budha, dan Felix dari agama
Katolik. Masing-masing dari mereka bertugas mengajak saudara
seagama mereka untuk mengikuti rencana yang akan dilakukan.
Sebulan pun berlalu, Kevin dan teman-temannya telah
mengumpulkan sekitar 50% siswa yang menyetujui untuk
mengikuti rencana itu, karena informasi yang tersebar dengan
cepat, informasi itu akhirnya sampai ke telinga Damian. Damian
ingin mengikuti rencana Kevin dan teman-temannya tetapi Damian
menggunakan kekuatannya untuk memaksa orang memilihnya
sebagai ketua OSIS.
Sebulan berikutnya Kevin sudah mendapatkan 60%
pendukung yang ingin memilihnya, itu sudah lebih dari cukup untuk
memenangkan pemilihan itu dan Damian hanya mendapatkan 20%
orang yang ingin mengikutinya. Damian tau dia akan kalah jadi dia
memutuskan untuk menunggu Kevin sepulang sekolah.
Sepulang sekolah Kevin bertemu dengan Damian secara tidak
sengaja. Kevin langsung ditarik ke dalam lorong kecil dan dipukuli.
Akibat pemukulan itu, tangan Kevin patah dan semangatnya jatuh,
Kevin merasa sangat putus asa. Mendengar kabar Kevin, Arya
langsung bergegas menemui Kevin di rumahnya. Sesampainya di
sana, Arya melihat suasana yang sangat suram.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 111
“Kamu kenapa bisa kayak gini Vin? Siapa yang ngelakuin ini ke
kamu?” tanya Arya dengan rasa sanga cemas.
“Tanganku patah, aku bahkan gak bisa menggambar lagi. Arya,
kayaknya lebih baik kalau kita berhentiin rencana ini,” kata Kevin
dengan tersedu-sedu.
“Kita sudah sejauh ini Vin, gak bisa mundur lagi!” balas Arya
untuk meyakinkan Kevin.
Arya lalu pulang dan memberikan Kevin waktu untuk sendiri.
Keesokkan harinya Kevin tidak masuk sekolah, Arya pun
memberitahukan kepada teman-teman yang lainnya bagaimana
kondisi Kevin saat ini, tetapi mereka tetap setuju untuk
menjalankan rencana ini. Ada atau tidak adanya Kevin untuk
menjadi ketua OSIS.
Tiga minggu telah berlalu sejak penganiayaan Kevin, seminggu
lagi sebelum pemilihan OSIS, dan sejak kejadian itu Kevin tidak
pernah masuk sekolah dan pendukung Damian bertambah menjadi
70% siswa di sekolah.
“Arya kita harus bagaimana nih? Kevin gak ada kabar,” kata
Wayan dengan cemas.
“Tunggu aja dulu, pasti Kevin bakalan kembali,” kata Arya
meyakinkan Wayan.
Tidak lama kemudian, Arya mendapat telpon dari Kevin, dia
mendapat kabar kalau Kevin akan tetap ikut pemilihan ketua OSIS
tersebut.
Keesokkan harinya Kevin datang ke sekolah, dia menjadi orang
yang sangat berbeda setelah dia melewati masa-masa kelamnya.
“Let’s start the party,” kata Kevin sambil nyengir.
Dengan adanya Kevin, kepercayaan orang mulai kembali untuk
mengalahkan Damian, orang-orang akhirnya berpindah dukungan
kepada Kevin kembali. Pendukung Damian yang awalnya sebanyak
70% berkurang drastis menjadi 10% siswa, dan pendukung Kevin
112 Nyalanesia
menjadi sebanyak 85%. Untuk mencegah kejadian yang sama
terulang kembali, teman-teman Kevin mulai menemani Kevin
kemana pun dia pergi dan Damian akhirnya tidak memiliki
kesempatan untuk menghalangi Kevin lagi.
Hari pemilihan pun tiba, hasil dari pemilihan itu terlihat jelas,
Kevin akhirnya menjadi ketua OSIS, dia membuat beberapa
peraturan baru yang langsung disetujui oleh kepala sekolah.
1. Tidak ada tindakan SARA yang dilakukan di sekolah.
2. Tidak ada tindakan rasisme di sekolah.
3. Tidak ada pembullyan yang boleh terjadi di sekolah.
Peraturan ini membuat Damian tidak bisa bergerak, ditambah
dengan pengawasan langsung dari ketua OSIS membuat Damian
semakin frustasi.
Beberapa hari kemudian, karena tidak tahan Damian
melakukan pembullyan sekali lagi dan itu direkam oleh Kevin.
Damian langsung dilaporkan kepada kepala sekolah dan membuat
Damian dikeluarkan dari sekolah dan teman-teman Damian bahkan
tidak terlihat lagi di sekolah. Kevin dan teman-teman tidak pernah
tertindas lagi, mereka menjalani sisa masa sekolah mereka dengan
damai dan tanpa adanya rasa kekhawatiran.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 113
MAAF DAN IKHLAS
Anisa Rindatus Sholihah
Pada suatu hari, ada seorang anak bernama Bima yang sangat ingin
masuk Pesantren Al-Ishlah yang berada di Jawa Timur, tepatnya di
Sendangagung, Kec. Paciran, Kab. Lamongan. Ia ingin masuk
pesantren tersebut atas kemauannya sendiri, tanpa ada unsur
paksaaan dari orang tuanya atau ajakan dari temannya.
Nah, setelah Bima lulus SD, ia pun langsung meminta kepada
orang tuanya untuk segera mendaftarkannya di pesantren tersebut.
Namun, ibunya kurang setuju karna ia tidak mau jauh dari anaknya.
Di sisi lain, ayahnya setuju karna ia percaya bahwa anaknya itu
mengambil keputusan yang tepat. Beberapa jam berlalu, akhirnya
ayahnya dapat meyakinkan istrinya dan mereka berdua pun sepakat
untuk mendaftarkan Bima ke pesantren tersebut.
Setelah selesai mengurus pendaftaran tersebut dengan
mengikuti beberapa syarat dan ketentuan masuk pesantren. Bima
dan orang tuanya pun menunggu pengumuman hasil tes uji masuk
pesantren. Mereka menanti pengumuman sambil terus
memanjatkan doa agar Bima lolos dan dapat belajar di pesantren
tersebut.
Seminggu telah berlalu, pengumuman kelolosan siswa baru
pun sudah ada dan Bima segera mencari namanya. Tidak lama
kemudian ia melihat namanya yang tercantum di sana. Betapa
bahagianya Bima, akhirnya ia bisa masuk ke pesantren impiannya.
Beberapa hari kemudian, Dinda dan Deny (orang tua Bima)
mengantarkan anaknya ke pesantren tersebut untuk mengurus
kamar dan kebutuhan Bima yang lainnya. Kemudian mereka
114 Nyalanesia
menghadap ke Kyai Wahab untuk menjawab sebagian pertanyaan
beliau yang akan diajukan kepada Bima.
Setelah duduk berhadapan kyai dan Bima pun saling
berkomunikasi. “Apa alasan Bima mau masuk di pesantren ini?”
tanya Kyai Wahab.
Dengan tenang dan bersungguh-sungguh, Bima menjawab,
“Alasan saya masuk di pesantren ini karena saya mendengar bahwa
pelajaran yang ia ajarkan sangat bagus. Saya juga berkeinginan
untuk memperdalam ilmu agama saya yang cuma sekedar
pengetahuan umum, tanpa penjelasan lebih dalam. Bukan hanya itu,
saya juga ingin menaikkan derajat orang tua yang sangat saya
sayangi dan juga cintai, serta ingin berubah menjadi pribadi yang
lebih baik.”
Setelah semua pertanyaan selesai dijawab oleh Bima, ia pun
bisa keluar dari ruangan tersebut.
“Terima kasih atas kesempatannya, Pak Kyai. Kalau begitu saya
permisi dulu, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,”
pamit Bima kemudian menyalami Kyai Wahab.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Kyai
Wahab. Tak lama kemudian, Bima dan orang tuanya sampai ke
kamar yang akan ia tempati selama menuntut ilmu di pesantren ini.
Bima yang akan segera berpisah dengan orang tuanya pun merasa
sedih dan menangis sambil memeluk mereka secara bergantian.
Orang tua Bima tersenyum sambil melambaikan tangan kepada
putra mereka.
Keesokkan harinya, akan diadakan MPLS (Masa Pengenalan
Lingkungan Sekolah) selama 3 hari berturut-turut. Dan Bima mulai
bersosialisasi dengan teman-teman barunya.
“Hai! Assalamu’alaikum teman-teman. Perkenalkan nama aku
Bima, alumni dari SDN Babat I,” ucap Bima di depan kelas.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 115
Mereka dengan serentak menjawab, “Waalaikumsalam, Bima.
Salam kenal juga,” setelah Bima kembali ke tempat duduk, majulah
seorang anak laki-laki lain di depan kelas.
“Assalamu’alaikum, semua. Perkenalkan nama aku Tino, alumni
dari SDN Babat I juga. Semoga kita bisa menjadi teman baik, yah,”
ucapnya yang dibalas aamiin oleh semuanya. Setelah sesi
perkenalan selesai, mereka pun mengganti topik pembicaraan
dengan menceritakan berbagai pengalaman yang terjadi di sekolah
mereka masing-masing.
Berbeda dengan suasana hari MPLS pertama, di hari kedua
keadaan yang tenang berubah menjadi gaduh karena seorang kakak
kelas yang mengganggu mereka, Angga namanya. Dia meminta uang
mereka secara kasar atau sebut saja memalak. “Hey! Berikan uang
kalian kalau tidak akan kupukul!”
Tentunya Bima dan teman-temannya tidak mau
memberikannya. Bima pun membuka suara, “Maaf kak sebelumnya.
Kakak meminta uang kami dengan cara paksa dan kasar. Hal ini
bukan merupakan tindakan terpuji, saya bisa laporkan ke Kyai
juga,” ujar Bima dengan sedikit mengancam kakak kelasnya.
Namun bukannya sadar, Angga malah dengan keras memukul
meja. “Aku tidak takut. Cepat berikan atau...,” dia menggantung
ucapannya dengan tangan yang mengepal erat dan muka memerah
menahan emosi.
Bima dan teman-temannya pun merasa takut dengan ancaman
Angga itu. Mereka dengan sedikit terpaksa memberikan uangnya
kepada sang Kakak kelas daripada menjadi korban bogeman
mentah.
Setelah itu, teman-teman Bima mulai akan melaporkan ke Kyai
Wahab atas insiden tersebut. Namun, Bima sebisa mungkin
berusaha menenangkan mereka dan menjelaskan mungkin saja
kakak kelas itu memang sedang membutuhkan uang dan
mencarinya walau dengan cara yang salah. Walaupun tidak mudah,
116 Nyalanesia
tetapi pada akhirnya mereka pun mendengar perkataan Bima dan
mulai mengikhlaskan uang tadi dan menganggap ini sebuah ujian
untuk mereka agar lebih bersabar. Keadaan pun mulai menjadi
tenang.
Tiga hari kemudian, si Angga itu kembali datang dan meminta
uang Bima dan teman-temannya. Hal ini pun sudah tidak bisa
ditoleransi lagi. Lalu mereka pun pergi ke ruang Kyai Wahab untuk
melaporkan Angga yang sudah mengambil uang mereka secara
paksa dan bahkan melakukan penekanan dan ancaman pada
mereka.
Sesampainya di sana, mereka pun mulai menjelaskan kejadian
yang terjadi yang bermula di hari kedua MPLS. Setelah mendengar
cerita mereka, Kyai pun memanggil Angga dan mulai meminta
penjelasannya. Tak ada bantahan darinya, Kyai pun memberi
peringatan kepada Angga. Kali ini mungkin cuma hukuman ringan,
yaitu membersihkan lingkungan pesantren. Namun jika terjadi lagi,
sang Kyai tidak akan segan-segan mengskors bahkan mengeluarkan
Angga dari pesantren. Dengan rasa takut dan bersalah, Angga pun
meminta maaf kepada Kyai, Bima, dan juga teman-teman Bima atas
perbuatan tidak baik yang sudah ia lakukan berulang kali. Ia berjanji
tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Dan pada akhirnya,
mereka pun mulai memaafkan Angga kembali dan berharap ucapan
yang ia katakan itu benar-benar bisa dipegang untuk dipercayai.
Setelah permasalahan selesai, mereka pun pamit dan keluar dari
ruangan Kyai Wahab dengan jalan yang berbeda. Bima dan teman-
temannya kembali ke kelas untuk melaksanakan pembelajaran,
sedangkan Angga melaksanakan hukuman yang diberikan oleh Sang
Kyai.
“Memaafkan dan mengikhlaskan memang dua hal yang sulit. Tapi
dengan terwujudnya keduanya, betapa indahnya dunia yang damai
dan tentram penuh kebaikan.”
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 117
SIDDIQ
SANG PENAKLUK HATI
Ld. Zulkadir
Umar Sekolah di MI 1 Banjarmasin. Nakal, bandel itulah dia.
Sombong, usil, suka menghina, dan mengganggu teman menjadi
kebiasaan buruknya. Pintar lah kelebihannya.
Ali dan Usman adalah sahabatnya sejak awal sekolah, watak
mereka tak jauh berbeda dengan Umar. Hari ini adalah hari pertama
sekolah sejak libur semester.
“Akhirnya kembali lagi ke sekolah,” ucap Umar dengan hati
gembira.
“Betul kawanku,” serentak Ali dan Usman menjawab.
“Ayo teman-teman kita berkeliling di sekolah yang indah ini,”
tutur Umar dengan hati mengebu-gebu.
“Ayoo!” semangat Ali dan Usman.
Berkeliling lah mereka di sekitar sekolah, kegembiraan
menyelimuti hati mereka. “Asri bunga dan pohon seakan ikut
bernyanyi menyambut kedatangan kita,” ucapnya dalam hati Umar
dengan tampang gagah.
Orang sekeliling melihat mereka khususnya Umar dengan
tatapan sinis yang tajam. “Semoga Umar dan kedua temannya
segera mendapat hidayah,” ucap penuh harap beberapa teman kelas
Umar. Bagaimana tidak, ucapan itu sudah menjadi ucapan yang
pantas dituturkan untuk mereka khususnya Umar dengan akhlak
yang sangat kurang baik, bahkan hampir menghampiri setan, vonis
teman-teman mereka. Kesombongan, suka menghina menjadi latar
belakang predikat tersebut.
118 Nyalanesia
“Halo teman-teman fakir dan miskin!” tutur Umar menyapa
teman-temannya.
“Hahahahaahaha… kasian sekali ya,” ucap Ali tanpa basa basi.
“Betul sekali kawanku, malang sekali nasib mereka,” keluar
dari lisan Usman.
“Sudah-sudah kita harus menjauh dari mereka,” terus
meremehkan temannya yang tetap terucap dari lisan Umar.
Berjalan lah mereka ke kelasnya, dengan dada membusung
penuh sombong, mereka bergegas ke kelas. Mereka duduk dengan
mengangkat kaki di atas meja, seolah hiasan meja akan nampak
bagus dipandang dengan keberadaan kakinya.
“Kita adalah penguasa di sekolah ini,” dengan sombong keluar
dari lisan Ali.
“Betul sekali kawan-kawan,” sambung Usman.
“Tak ada seorang pun yang bisa mempermalukan kita,” tutur
Umar dengan sombong.
“Sangat betul kawan-kawanku,” tertawa lah Ali.
Datanglah guru di kelas mereka. Ali dan Usman segera duduk
teratur. Lain halnya dengan Umar yang masih duduk dengan
kesombongannya. Bu Aisyah adalah nama guru mereka.
“Hai muridku Umar duduklah dengan baik seperti teman-
temanmu yang lain,” tegur bu Aisyah dengan penuh kelembutan.
“Baik, Bu”, nada tinggi Umar.
Bu Aisyah kemudian mengajar seperti biasanya, selama
mengajar muncullah pertanyaan yang dilontarkan Bu Aisyah. “Siapa
yang bisa menjawab pertanyaan ini unjuk jari,” tanya Bu Aisyah
kepada seluruh murid.
Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, dengan
sombong Umar unjuk jari. “Saya Bu, pertanyaan ini begitu mudah
bagiku,” ucap Umar.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 119
Dijawab lah Umar dengan lantang dan keras tanpa kesalahan.
Itu lah kelebihan Umar yang tidak dimiliki murid lain di kelasnya.
Bel pulang pun berbunyi, seluruh warga sekolah bergegas untuk
kembali ke rumah masing-masing. Umar dan kedua kawannya pun
bergegas pulang.
“Sampai jumpa besok, kawan,” ucap Umar kepada kedua
kawannya.
“Jumpa besok kawan,” serentak Ali dan Usman menjawan
Umar.
Keesokan harinya, Umar kembali ke sekolah sebagaimana
seperti biasa, didampingi kedua teman sejatinya tak lain Ali dan
Usman, tiba lah mereka di kelas bersiap untuk belajar seperti biasa.
Bu Aisyah pun datang memberikan bekal ilmu kepada anak-anak
muridnya, namun ada hal berbeda hari ini. Kehadiran murid baru
mengubah suasana kelas.
“Assalamualaikum, anak-anak kali ini kita kedatangan murid
baru,” ucap Bu Aisyah sambil tersenyum.
“Waalaikumussalam, Bu” kompak murid menjawab guru
dengan senang.
Berbeda dengan Umar, muncul niat jahat di hatinya. Umar
merasa ada saingan baru di kelasnya. Dari kejauhan langkah indah
terdengar begitu merdu, munculah anak baru tersebut.
“Perkenalkan namamu Nak, kepada teman-temanmu,” sapa Bu
Aisyah kepada murid baru tersebut.
“Perkenalkan, nama saya Siddiq, salam kenal kawan-kawan,”
tuturnya dengan lembut.
Baik, rendah hati, dermawan, akhlak yang mulia menghiasi diri
Siddiq, namun dibalik keceriaannya, tumor otak menjadi penyakit
ujian dari Allah SWT, tak seorang dari teman kelas termasuk guru
yang mengetahui hal itu.
120 Nyalanesia
Belajar lah mereka seperti biasanya. Bel istirahat pun berbunyi,
segeralah Umar, Ali, dan Usman keluar kelas. Begitu pun Siddiq,
berjalan lah mereka ke kantin untuk mengisi kekosongan perut
mereka. Setelah mereka kembali bergegas dari kantin, tak sengaja
Siddiq menumpahkan air pada pakaian Umar.
“Maaf, maaf aku tak sengaja wahai Umar,” ucap Siddiq dengan
penuh rasa bersalah.
Ali dan Usman malah menjadi provokator dan mempengaruhi
pikiran Umar. “Hai, Umar orang ini telah merendahkanmu,” ucap Ali.
“Betul kawanku, apa kau tidak liat dia sengaja mengotori
pakaianmu,” kata Usman berulah.
Tanpa basa basi Umar mendorong Siddiq dengan penuh
kemarahan, dirinya telah dirasuki setan. Terjatuhlah Siddiq di lantai
yang dingin dengan kepala menjadi sandaran jatuhnya Siddiq,
seketika mata Siddiq tertutup dengan sendirinya. Tertawa lah Umar
dan teman-temannya melihat hal itu.
“Hahahahaha, rasakan itu, hal itu pantas untuk tikus kotor
sepertimu,” tutur Umar yang senang dengan kesombongan dirinya.
Ditinggalkan lah Siddiq dalam keadaan tak sadarkan diri,
dengan tubuh tergelatak di lantai yang dingin. Bel masuk berbunyi,
belajar lah mereka seperti biasa. Namun Bu Aisyah tidak melihat
Siddiq.
“Hai, murid-muridku apakah kalian melihat Siddiq?” ucap bu
Aisyah.
Tak satu pun murid yang menjawab, mulailah Bu Aisyah
mengajar, materi yang disampaikan kali ini sangat berbeda yaitu
tentang tasamuh atau berakhlak mulia. Dijelaskan lah materi
tersebut sampai terakhir. Lalu apa yang terjadi, Umar tertegun,
Umar tersetuh, hidayah pun turun kepadanya. Ia merasa selama ini
ia telah menjadi seseorang yang buruk akhlaknya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 121
“Ya Allah, ampunilah hambamu ini, hamba sudah banyak
berdosa kepadamu,” ucap dalam lubuk hati Umar.
Lalu Umar teringat akan kejadiannya yang menimpahnya
bersama Siddiq tadi, dia menyesal atas apa yang dilakukannya.
Umar pun berniat melihat apa yang terjadi dan ingin meminta maaf
kepada Siddiq. Setelah pulang sekolah dia mengajak kedua
temannya. “Ali, Usman, apa yang telah kita lakukan kepada Siddiq
tadi sangatlah buruk wahai kawanku,” ucap Umar dengan penuh
penyesalan. Ali dan Usman terheran-heran, setelah Umar menyadari
kesalahannya, dengan rasa sesal dan menangis Umar menjelaskan
tentang apa yang telah mereka lakukan kepada Siddiq.
Sore hari sejak ditemukannya Siddiq oleh guru BK, tersiar lah
informasi tentang kondisinya yang memprihatinkan. Umar
menyesal lalu mengajak kedua temannya untuk menjenguknya.
Berangkat lah mereka ke rumah Siddiq, setibanya di sana
mereka kaget melihat kondisi Siddiq. Dalam kondisi lemah, lesu, dan
tak berdaya.
“Wahai Siddiq, aku ingin meminta maaf kepadamu atas apa
yang telah kulakukan tadi,” tuturnya dengan penuh penyesalan.
“Iya, kami juga minta maaf Siddiq,” Ali dan Usman bertutur
serentak dengan penuh penyesalan.
Siddiq tersenyum, akhlak yang luar biasa baik ditunjukannya.
“Sebelum kalian meminta maaf, aku sudah memaafkan kalian,”
dengan lembut Siddiq bertutur dan memaafkan mereka.
Mendengar hal itu, menangislah Umar sejadi-jadinya. Ia
terheran-heran terbuat dari apakah hati Siddiq yang begitu lembut
ini.
“Hai Siddiq sungguh baik dirimu, kau dengan penuh
kelembutan memaafkanku yang telah hampir membunuhmu,”
sambil terseduh-seduh Umar bertutur.
122 Nyalanesia
Siddiq tersenyum melihat Umar yang penuh kesombongan
menangis. “Baru aku melihat orang sepertimu menangis seperti
bayi,” melucu Siddiq dengan keadaan sangat lemah.
Sejak saat itu, Umar dan kedua temannya Ali dan Usman
menjadi pribadi yang memegang teguh prinsip tasamuh.
Menjadikan mereka orang yang berakhlak mulia kepada sesama dan
berguna bagi orang banyak.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 123