198 | H a l a m a n
intelektual Masyumi yang menempatkan figur-figur
NU di struktur penasehat yang tidak strategis dan
biasanya berkaitan dengan persoalan agama saja.
Ketika Soekarno dengan Demokrasi Terpimpinnya
menggabungkan kekuatan nasionalis, agama dan
komunis (nasakom), Masyumi menolaknya sementara
NU bergabung dalam Nasakom. Para ulama NU
gagah melawan kolonialisme seperti fatwa yang
dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy‟ari kewajiban
jihad melawan Belanda.
3. Al-Irsyad
Al-Irsyad Al-Islamiyah adalah organisasi keagamaan
yang didirikan oleh para keturunan Arab di
Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, orang-orang
Arab telah ada di Indonesia sejak abad ke-7 M.
Kehadiran mereka di Indonesia sangat erat kaitannya
dengan penyebaran agama Islam ke Nusantara. Teori
masuknya Islam ke Indonesia memang masih
menimbulkan perdebatan di kalangan para
sejarawan. Hamka menyebutkan bahwa Islam telah
masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dibawa
199 | H a l a m a n
oleh para pedagang dari Arab. Kegiatan perdagangan
Arab dan Nusantara saat itu telah mengalami
kemajuan karena hal ini dikaitkan oleh ekspansi dari
Khulafaur Rasyidin. Sedangkan pendapat lain, yang
dibawa oleh Snouck Hurgronje, mengatakan bahwa
Islam masuk ke Indonesia pertama kali pada abad ke-
13 yang dibawa oleh para pedagang dari Bengal.
Pendirian sekolah alternatif untuk para keturunan
Arab ini dilakukan karena pendidikan Belanda tidak
mengajarkan agama Islam sehingga diperlukan suatu
lembaga pendidikan agama Islam. Ada kebiasaan
orang-orang Arab untuk mengirim anak-anak mereka
ke Istanbul, Turki guna melanjutkan pendidikan.
Tidak ada keterangan pasti mengapa Arab ini lebih
menyukai untuk mengirim anak-anak mereka ke
Turki daripada ke negara-negara asal mereka.70
4. Mathla’ul Anwar
Pendirian Mathla‟ul Anwar diawali dengan
musyawarah antara beberapa ulama di Banten.
70 Yon Machmudi, Sejarah dan Profil Ormas-Ormas Islam di Indonesia,
(Depok: PTTI UI, 2013), h.116.
200 | H a l a m a n
Musyawarah dipimpin oleh KH. Entol Mohammad
Yasin dan KH. Tb. Mohammad Soleh dengan para
ulama yang ada di Banten. Mereka menentang politik
etis yang digagas oleh Ratu Belanda tahun 1901
karena dapat menghancurkan pesantren-pesantren
tradisional. Politik etis itu membawa sekularisasi dan
westernisasi melalui sekolah-sekolah bentukan
Belanda. Untuk itulah perlu dibentuk lembaga
pendidikan Islam yang mampu mengimbangi
lembaga pendidikan sekuler.
Sejak awal pendiriannya, Mathla‟ul Anwar selalu
berada di garda depan dalam membentengi umat dari
pengaruh westernisasi dan sekulerisme yang dibawa
oleh sekolah-sekolah bentukan Belanda. Semangat
perjuangan Mathla‟ul Anwar terwujud dalam
komitmennya untuk menyebarkan nilai-nilai Islam
melalui konsep yang mereka sebut sebagai “amar
makruf nahi munkar”. Tentu saja pemikiran
organisasi ini tidak pernah lepas dari pandangan
tokoh-tokoh yang berpengaruh di Mathla‟ul Anwar,
seperti Mas Abdurachman dan Uwes Abu Bakar.
201 | H a l a m a n
5. Sarekat Islam
Sarekat Islam adalah organisasi modern pertama yang
tumbuh pada masa kolonial. Organisasi ini lahir di
tengah pergolakan sosial politik yang hebat di Hindia
Belanda. Berdirinya Sarekat Islam (SI) merupakan
dampak tidak langsung dari politik etis di bidang
pendidikan yang dijalankan oleh Belanda. Politik etis
telah membangkitkan kesadaran nasionalisme para
pemuda dan intelektual Indonesia yang kala itu masih
sangat sedikit jumlahnya. Para pemuda yang
mendapatkan pendidikan Belanda kemudian tergerak
hatinya untuk mendirikan organisasi dengan inspirasi
Islam.
Secara umum, gerakan ini berawal dari Sarekat
Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H.
Samanhoedi, seorang pengusaha batik di Kampung
Lawean Solo, pada tanggal 16 Oktober 1905 di
Surakarta. Organisasi ini dibentuk sebagai reaksi
terhadap dominasi pedagang Cina di Surakarta.
Orang Cina menempa ti urutan terbesar kedua dalam
industri batik setelah orang Jawa. Pada tahun 1909,
202 | H a l a m a n
RM. Tirtodisuryo mendirikan SDI di Batavia dan pada
tahun 1912, Haji Oemar Said Cokroaminoto juga
mendirikan SDI di Surabaya. Walaupun
perkembangan SI berawal dari masyarakat urban
tetapi tidak menghalangi organisasi ini untuk
menembus wilayah-wilayah pedesaan dan
mendapatkan banyak pengikut dari semua lapisan
baik para pedagang, buruh, ulama, serta kaum
priyayi.
Ideologi Sarekat Islam tetap bertahan hingga kini.
Menurut Muhammad Mufti, Sarekat Islam tetap
konsisten menentang praktek-praktek kapitalisme.
Oleh karena itu, SI Indonesia wajib memerangi
kapitalisme dan membangun perserikatan pekerja-
pekerja dan para pemilik modal guna
memperjuangkan nasib umat yang mayoritas berada
di bawah garis kemiskinan. Umat Islam harus mampu
mencukupi semua kebutuhannya dengan
menghidupkan perusahaan-perusahaan di kalangan
sendiri (swasembada). Dalam hal berekonomi, SI
Indonesia melarang eksloitasi orang lain dan
203 | H a l a m a n
sebaliknya mengajarkan zakat, infak dan sedekah
untuk mencegah penumpukan kekayaan dan
mengurangi kemiskinan.71
Demikian dari pelbagai eksplanasi dari beberapa contoh
lembaga nasional dan transnasional sebagai ladang
kontemplasi kader PMII membaca secara detail oraganisasi
Islam bukan ditinjau dari empirisme semata, akan tetapi
melalui penguata ide bergunak bagi kader memperteguh
gagasan dan tujuan organisasi.
Daftar Jurnal:
A., M. S. (2018). Gerakan Islam Indonesia. Islamic World
and Politic, 1(2), 35–54.
Syaoki, M. (2017). Gerakan Islam Transnasional Dan
Perubahan Peta Dakwah Di Indonesia. Komunike, 9(2),
167–182.
71 Yon Machmudi, Sejarah dan Profil Ormas-Ormas Islam di Indonesia,
(Depok: PTTI UI, 2013), h.24.
204 | H a l a m a n
BAB VIII
Analisis Wacana
Impelemntasi Keilmuan Untuk Menerjemahkan Realitas
A. Wacana
Wacana merupakan representasi dari sebuah peristiwa
melalui sebuah teks ataupun gagasan. Hal tersebut
senada dengan yang disampaikan oleh (Foucault,
1972:48-49) Wacana merupakan rangkaian ujaran yang
utuh pada suatu tindak komunikasi yang teratur dan
sistematis yang mengandung gagasan, konsep, atau efek
yang terbentuk pada konteks tertentu. Sementara
menurut (Goldstein 2005:43), wacana hanyalah sebuah
bentuk dominasi dari sistem kekuasaan.
Wacana memiliki pelbagai diskursus, sehingga
keberadaan wacana berimbas pada konstruk tertentu.
Foucault mendedah lebih dalam mengenai
wacana/diskursus. Peristiwa perang dunia pertama
sampai terjadinya perang dingin, bagi Foucault
diakbatkan oleh konsep diskursus yang melingkupinya.
205 | H a l a m a n
Bangunan sebuah diskursus/wacana bukan sekadari
mengenai pernyataan tetepi juga struktur dan tata aturan
dari wacana. Wacana membentuk seperangkat konstruk
yang dipahami sebagai realitas. Realitas itu sendiri tidak
bisa didefinisikan jika tidak mempunyai akses dengan
pembentukan struktur diskursif. 72
Kajian wacana lebih menekankan pada persoalan “Isi”,
“fungsi”, “makna sosial” dari penggunaan bahasa.
Sementara itu, diskusi-diskusi dengan dasar atau tujuan
yang lebih lingual cenderung menggunakan istilah teks.
Setiap entitas, memiliki hak wewenang menggunakan
wacana. Acap kali, wacana dapat memberikan pengaruh
yang saling mempengaruhi dari beberapa kelompok
ataupun penguasa. Hal tersebut bukan tanpa alasan.
Fairclough (1995: 7) berpendapat bahwa wacana adalah
pemakaian bahasa tampak sebagai sebuah bentuk
praktik sosial, dan analisis wacana adalah analsis
bagaimana teks bekerja/berfungsi dalam praktik sosial
budaya.
72 Ketut Wiradyana, Michel Foucault; Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan
Arkeologi, (Yayasan Pustaka Obor Indonesia; Jakarta, 2018), Hlm 41.
206 | H a l a m a n
Penggunaan Wacana
Pertarungan Wacana. Diulas begitu dalam oleh Dhaniel
Dakidae dalam bukunya berjudul Cendekiawan dan
Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Dhakidae sebagai
intelektual senior LP3ES itu menguliti dinamika yang
terjadi di era Orde Baru, melalui kacamata Eufemisme
dan Disfemisme, dimana istilah itu bagian dari Wacana73.
Sering kita mendengar, orde baru identik dengan oto
kritik. Bila kita menilik laporan Tempo atas gerakan
Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) tahun 1974,
begitu detail kentara, rezim mengirim para demonstran
ke Bui74. Tak hanya itu, Ramadi yang melontarkan nama
Ali Moertopo, ketika tertangkap aparat keamanan paska
aksi, ia tewas tanpa sebab.75
Banyak membela banyak pula yang membenci. Kondisi
kritik tahun 1974, tak hanya mahasiswa yang dibredel
habis-habisan. Pers lumayan ketar-ketir bila saja mereka
(baca; pers) berani menayangkan demonstrasi di Jakarta.
73 Dhaniel Dakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru,
(Penerbit; Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003). 362-438.
74 Tempo, Dari Gang Buntu ke Nirbaya, (Penerbit; Tempo Inti Media, 2014), 98-
99
75 Ibid, 68-69
207 | H a l a m a n
Rezim menggunakan eufemisme dan disfemisme agar
rakyat tak begitu kasar dalam mengkritik.76 Bila saja,
mereka berani betul melakukan tindakan tersebut, maka
ada konsekuensi yang akan didapatkan, minimal
dipaksa berteduh di bui. Eufemisme secara bahasa bukan
perihal negatif. Dalam culture jawa, eufemisme itu
penggunaan tata bahasa agar lebih lembut. Munculnya
ngoko, kromo inggil, kromo alus, adalah contohnya
eufemisme dalam perpektif bahasa jawa.
Bila ditelaah dalam bahasa Inggris, menggunakan
kalimat “meninggal dunia” oleh sahabat sejati ataupun
orang terdekat tak mungkin menggunakan she dies, akan
tetapi menggunakan kalimat She passes away. Secara
substansi sama-sama menginformasikan “seorang
perempuan meninggal dunia,” namun konteks yang
ditujukan jelas berbeda, atas untuk siapa disampaikan
pesan tersebut.
76 Eufemisme adalah suatu gejalah bahasa yang sangat normal untuk
“mengurangi” sedikit intensitas kenyataan itu demi mengungkapkan rasa hormat;
suatu substitusi untuk mengunkapkan rasa takut terhadap tabu, atau ke-tidak-ber-
daya-an terhadap kedahsyatan alam dan lain sebagainya. Sedangkan Disfemisme
kebalikan dari eufemisme, yang lebih mengarah kepada pengkasarn penggunaan
diksi bahasa.
208 | H a l a m a n
(Goldstein 2005:43), menganggap wacana itu dipengaruh
oleh penguasa. Narasi demikian selaras dengan apa yang
disampaikan Marx. Bahasa dalam paham Marxis adalah
fungsi strukutur ekonomis dibawahnya karena bahasa
tidak lain dari suatu kebudayaan, yaitu bangunan atas,
kalau ekonomi bangunan bawah. Kendati demikian
kelas penguasa ataupun kapitalis, memiliki pengaruh
untuk memepengaruhi kelas dibawahnya agar tak
sembrono.
Melalui case peristiwa Malari, kita bisa mendedah,
segerombolan mahasiswa memiliki Wacana yaitu kritik
atas Investasi masuk di Indonesia Karena masyarakat
papa masih lapar, tertindas. Sedangkan, melalui tangan
kanan presiden Soeharto, adalah Alie Moertopo,
Soemitro dkk, membalas kritik wacana mahasiswa
tentang teoritikus W.W Rostow77 pentingnya
kedatangan Tanaka ke Indonesia.
77 Walt Whitman Rostow, merupakan seorang teorikus pembangunan. Rostow
memakai pendekatan sejarah dalam menjelaskan perkembangan ekonomi. Ia
membedakan adanya lima tahap pertumbuhan atau pembangunan ekonomi,
yaitu; (1) masyarakat tradisional, (2) parasyarat untuk tinggal landas, (3) tinggal
landas, (4) dewasa (mutirity), dan (5) masa konsumsi masal.
209 | H a l a m a n
Masalah selanjutnya ialah, seberapa kuat mahasiswa
memperkuat wacana yang ia miliki itu di jalur garis
pergerakan mereka untuk mengatasi raksas di depan
mata. Menyadur buku gubahan Benedict Anderson
berjudul Language and Power. Ben, menyatakan bahwa
bahasa Indonesia mengalami pilu karena,
konseptualisasi bahasa Indonesia dipeluk erat rezim
penindas, sehingga berpeluang mengantarkan kepada
kekalahan bahasa.
Wacana Kritis
Analisis wacana kritis didefinikan sebagai upaya untuk
menjelaskan suatu teks pada fenemona sosial untuk
mengetahui kepentingan yang termuat didalamnya.
Wacana sebagai bentuk praktis sosial dapat dianalisis
dengan analisis wacana kritis untuk mengetahui
hubungan antara wacana dan perkembangan sosial
budaya dalam domain sosial yang berbeda dalam
dimensi linguistik (Eriyanto, 2006:7).
Untuk memulai praksis wacana kritis, dibutuhkan
tenaga yang tak begitu sembarang untuk mengulas
pelbagai topik melalui pelbagai referensi lengkap dari
210 | H a l a m a n
diktat yang dimiliki oleh mahasiswa. Tanpa itu semua,
lazim kiranya matinya wacana kritis mahasiswa untuk
mengurai tabir rezim disetiap kebijakan yang dibuat. Bila
itu terjadi, apakah betul kita terdiam dan meratapi
dengan putus asa?
Foucault mendefinisikan wacana sebagai praktik sosial,
berperang mengontrol, menormalkan dan
mendisiplinkan individu, sedangkan Althusser
mendefinisikan wacana berperan dalam mendefinsikan
individu dan memposisikan seoeran dalam posisi
tertentu, mengingat terdapat sejumlah subjek kecil yang
berada pada posisi subordinat terhadap subyek absolut.
Kembali pada Frankfurt. Pada periode generasi kedua
dan ketida, adalah Habermas dan Axel Honneth
menekankan elaborasi antara komunikasi sebagai
pegangan untuk berkontribusi pada realitas. Kendati
demikian, selaiknya penekanan pada wacana kritis perlu
dilakukan untuk menawarkan ide gagasan atas realitas
yang menindas.
Daftar Pustaka:
211 | H a l a m a n
Eriyanto. 2006. Analisis Wacana Pengantar Analisis
Teks Media. Yogyakarta: LkiS
Goldstein, Philip. 2005. Foucault: A Very Short
Introduction. New York: Oxford University Press
Dakidae, Daniel. 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan
dalam Negara Orde Baru. Gramedia Pustaka: Jakarta.
212 | H a l a m a n
BAB XI
Menejemen Aksi
A. Prawacana
Aksi masa sejak dari dulu dilakukan sebagai benteng
demokrasi. Melalui aksi masa, sahabat dapat
mengutarakan pelbagai kritik kepada penguasa.
Sebelum itu, juga didukung oleh pelbagai kajian kritis,
untuk meletakan keberpihakan, adapun yang perlu
diperhatikan, kita harus mempersiapkan secara teknis
agar keberjalanan dapat diperhitungkan.
B. Menejemen Aksi
Manajemen aksi adalah sebuah sistem pengaturan
demonstrasi (aksi massa) yang dilakukan oleh beberapa
orang untuk menggalang opini publik terhadap suatu
masalah yang muncul dan berkembang sehingga
diharapkan lahir sebuah perubahan sosial.
C. Dasar Hukum Menyampaikan Pendapat
Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
213 | H a l a m a n
sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang". Pasal
19 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia yang
berbunyi: "Setiap orang berhak atas kebebasan
mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hak ini
termasuk kebebasan mempunyai pendapat dengan tidak
mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima, dan
menyampaikan keterangan dan pendapat dengan cara
apa pun juga dan dengan tidak memandang batas-batas".
D. Pembagian Tugas
Penyampaian pendapat di muka umum dapat
dilaksanakan ditempat-tempat terbuka untuk umum,
kecuali:
1. di lingkungan istana kepresidenan, tempat ibadah,
instalasi militer, rumah sakit, pelabuhan udara atau laut,
stasiun kereta api,terminal angkutan darat, dan 2. objek-
objek vital nasional;
3. pada hari besar nasional.
E. Pra Aksi
214 | H a l a m a n
Konsolidasi Dalam konsolidasi ada dua hal yang harus
diperhatikan, ada yang bersifat Subtansi dan bersifat
Teknis :
1. Subtansi : a. Target Aksi , b. Isu Yang Diangkat Contoh
: Target Aksi : Dekanat, Isu yang Diangkat “Peningkatan
Fasilitas kampus” Dalam tahapan konsolidasi, isu yang
akan diangkat harus diketahui dan dikaji bersama-sama
oleh peserta Aksi. Disamping itu peserta aksi harus
memiliki data-data tentang isu yang akan diangkat guna
tercapainya target aksi.
E. Teknis
a. Titik kumpul peserta aksi
b. Rute Aksi (Apabila aksi dilakukan berkeliling)
c. Alat-alat : Spanduk, Toa, Bendera, Press Realease,
Pamplet, Alat Treatrikal (apabila ada), dll
d. Susunan dan Tugas Perangkat Aksi :
• Korlap (Koordinator Lapangan) adalah pemimpin
keseluruhan teknis aksi yang menjalankan rumusan aksi.
215 | H a l a m a n
• Danlap adalah pemegang komando tertinggi dalam
aksi yang bertugas menyampaikan instruksi, memantau
dan mengatur jalannya aksi.
• Tim negoisator adalah orang yang bertugas
mengkomunikasikan aksi dengan stakeholder terkait
seperti polisi, wartawan dan pihak lain di lapangan.
Usahakan memilih orang yang memiliki kemampuan
melobi baik ketika memutuskan memilih tim negoisator.
F. Tim Media
Tim Media, tuganya adalah membuat, memperbanyak
dan menyebarkan pernyataan sikap (Press Realease),
menghubungi media massa, mengordinasikan
wawancara wartawan dengan pimpinan aksi. • Tim
logistik, Tugas tim logistik adalah : menyiapkan Pengeras
suara / mobil sound, / sound system dan kebutuhan aksi
(bendera, air minum dan baliho/pamflet) • Tim
Kesehatan, Aksi massa membutuhkan kekuatan fisik dan
seringkali mendapat banyak potensi ancaman. Untuk itu
diperlukan tim kesehatan untuk mengantisipasi segala
kemungkinan yangakan terjadi.
216 | H a l a m a n
G. Surat Pemberitahuan
kepada kepolisian minimal 3 hari sebelum aksi
dilaksanakan, dengan minimal memuat:
1.maksud dan tujuan;
2.tempat,lokasi dan rute;
3.waktu dan lama;
4.Bentuk;
5.penanggung jawab;
6.nama dan alamat organisasi, kelompokatau
perseorangan;
7.alat peraga yang digunakan; dan atau
8.jumlah peserta.
Absensi Peserta Aksi Selama-Aksi
1. Briefing
2. Orasi-orasi pembukaan: Menyosialisasikan persoalan
kepada publik dan diakhiri dengan tuntutan-tuntutan
3. Lagu-lagu perjuangan
1. Menjaga semangat peserta aksi Pasca-Aksi
2. Absensi
3. Evaluasi
4. Rekomendasi
217 | H a l a m a n