The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Rekomendasi modul sebagai acuan untuk pelaksanaan Pelatihan Kader Dasar PMII

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pmiisolo, 2022-10-12 17:36:39

Materi Pelatihan Kader Dasar

Rekomendasi modul sebagai acuan untuk pelaksanaan Pelatihan Kader Dasar PMII

Keywords: PKD,PMII,UNISRI,UNS,UMS,UNY,UNU

98 | H a l a m a n

membongkar konstruk kesadaran dan
pemberdayaan masyarakat. Freud memandang
teori kritis dengan refleksi dan analisis
psikoanalisanya. Artinya, bahwa orang bisa
melakukan sesuatu karena didorong oleh
keinginan untuk hidupnya sehingga manusia
melakukan perubahan dalam dirinya. Kritik
dalam pengertian Freudian adalah refleksi atas
konflik psikis yang menghasilkan represi dan
memanipulasi kesadaran. Adopsi Teori Kritis atas
pemikiran Freudian yang sangat psikologistik
dianggap sebagai pengkhianatan terhadap
ortodoksi marxisme klasik.
Berdasarkan empat pengertian kritis di atas, teori
kritis adalah teori yang bukan hanya sekedar
kontemplasi pasif prinsip-prinsip obyektif
realitas, melainkan bersifat emansipatoris. Sedang
teori yang emansipatoris harus memenuhi tiga
syarat : Pertama, bersifat kritis dan curiga terhadap
segala sesuatu yang terjadi pada zamannya.
Kedua, berfikir secara historis, artinya selalu

99 | H a l a m a n

melihat proses perkembanganmasyarakat. Ketiga,
tidak memisahkan teori dan praksis. Tidak
melepaskan fakta dari nilai semata-mata untuk
mendapatkan hasil yang obyektif.
e. Tiga Jenis Utama Paradigma

Paradigma Kritis; Sebuah Sintesis Perkembangan
Paradigma Sosial: William Perdue, menyatakan
dalam ilmu sosial dikenal adanya tiga jenis utama
paradigma:
 Order Paradigm (Paradigma Keteraturan).

Inti dari paradigma keteraturan adalah bahwa
masyarakat dipandang sebagai sistem sosial
yang terdiri dari bagian-bagian atau elemen-
elemen yang saling berkaitandan saling menyatu
dalam keseimbangan sistemik. Asumsi dasarnya
adalah bahwa: Setiap struktur sosial adalah
fungsional terhadap struktur lainnya.
Kemiskinan, peperangan, perbudakan misalnya,
merupakan suatu yang wajar, sebab fungsional
terhadap masyarakat. Ini yang kemudian

100 | H a l a m a n

melahirkan teori strukturalisme fungsional.
Secara eksternal paradigma ini dituduh a
historis, konservatif, pro-satus quo dan
karenanya, anti-perubahan. Paradigma ini
mengingkari hukum kekuasaan : setiap ada
kekuasaan senantiasa ada perlawanan. Untuk
memahami pola pemikiran paradigma
keteraturan dapat dilihat skema berikut:

Elemen Asumsi Type ideal
Paradigmatik dasar
Rasional, memiliki Pandangan
Imajinasi kepentingan hobes
sifat dasar pribadi, mengenai
manusia ketidakseimbanga konsep dasar
Negara
n personal dan
berpotensi
memunculkan
dis integrasi sosial

101 | H a l a m a n

Consensus,

Imajinasi kohesif/fungsiona
tentang
masyarak l struktural, Negara Republic
at
ketidakseimbanga Plato
Imajin
asi n sosial, ahistoris,
ilmu
penge konservatif, pro-
tahua
n status quo, anti

perubahan

Fungsionalisme

Sistematic, Auguste Comte,

positivistic, fungsionalisme

kuantitatif Durkheim,

dan prediktif. fungsionalisme

struktural Talcot

Parson

102 | H a l a m a n

1. Conflic Paradigm (Paradigma Konflik)

Secara konseptual paradigma Konflik menyerang
paradigma keteraturan yang mengabaikan
kenyataan bahwa: Setiap unsur-unsur sosial dalam
dirinya mengandung kontradiksi-kontradiksi
internal yang menjadi prinsip penggerak
perubahan. Perubahan tidak selalu gradual; namun
juga revolusioner. Dalam jangka panjang sistem
sosial harus mengalami konflik sosial dalam lingkar
setan (vicious circle)tak berujung pangkal Kritik
itulah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut
menjadi paradigma konflik. Konflik dipandang
sebagai inhern dalam setiap komunitas, tak
mungkin dikebiri, apalagi dihilangkan. Konflik
menjadi instrument perubahan. Untuk memahami
pola pemikiran paradigma konflik dapat dilihat
skema berikut:

Elemen Asumsi dasar Type ideal
paradigmatik

103 | H a l a m a n

Imajinasi sifatRasional,kooperatif,s Konsep homo

dasar empurna feber hegel

Manusia

Integrasi sosial Negara Republic

Imajinasi terjadi karena plato

tentang adanya dominasi,

masyarak konflik menjadi

at instrument

perubahan, utopia

Imajina Filsafat Materialisme
si ilmu materialisme historis marx
penget , histories,
ahuan holistic, dan
terapan

2. Plural Paradigm (Paradigma plural)

Dari kontras atau perbedaan antara paradigma
keteraturan dan paradigma konflik tersebut
melahirkan upaya membangun sintesis keduanya
yang melahirkan paradigma plural. Paradigma
plural memandang manusia sebagai sosok yang
independent, bebas dan memiliki otoritas serta

104 | H a l a m a n

otonomi untuk melakukan pemaknaan dan
menafsirkan realitas sosial yang ada disekitarnya.
3. Terbentuknya Paradigma Kritis

Ketiga paradigma di atas merupakan pijakan-pijakan
untuk membangun paradigma baru. Dari optic
pertumbuhan teori sosiologi telah lahir Paradigma
kritis setelah dilakukan elaborasi antara paradigma
pluralis dan paradigma konflik. Paradigma pluralis
memberikan dasar pada paradigma kritis terkait
dengan asumsinya bahwa manusia merupakan
sosok yang independent, bebas dan memiliki
otoritas untuk menafsirkan realitas. Sedangkan
paradigma konflik mempertajam paradigma kritis
dengan asumsinya tentang adanya pembongkaran
atas dominasi satu kelompok pada kelompok yang
lain.
Apabila disimpulkan apa yang disebut dengan
paradigma kritis adalah paradigma yang dalam
melakukan tafsir sosial atau pembacaan terhadap
realitasmasyarakat bertumpu pada:

a. Analisis struktural: membaca format politik,

105 | H a l a m a n

format ekonomi dan politik hukum suatu
masyarakat, untuk menelusuri nalar dan
mekanisme sosialnya untuk membongkar pola
dan relasi sosial yang hegeminik, dominatif, dan
eksploitatif.

106 | H a l a m a n

b. Analisis ekonomi untuk menemukan
fariabel ekonomi politikbaik pada level
nasional maupun internasional.
c. Analisis kritis yang membongkar “the
dominant ideology” baik itu berakar pada
agama, nilai-nilai adat, ilmu atau filsafat.
Membongkar logika dan mekanisme formasi
suatu wacana resmi dan pola-pola eksklusi
antar wacana.
d. Psikoanalisis yang akan membongkar
kesadaran palsu di masyarakat.
e. Analisis kesejarahan yang menelusuri
dialektika antar tesis-tesis sejarah, ideologi,
filsafat, actor-aktor sejarah baik dalam level
individual maupun sosial, kemajuan dan
kemunduran suatu masyarakat.
4. Kritis dan Transformatif

Namun Paradigma kritis baru menjawab
pertanyaan: struktur formasi sosial seperti apa yang
sekarang sedang bekerja. Ini baru sampai pada
logika dan mekanisme working-sistem yang

107 | H a l a m a n

menciptakan relasi tidak adil, hegemonik, dominatif,

dan eksploitatif; namun belum mampu memberikan

prespektif tentang jawaban terhadap formasi sosial

tersebut; strategi mentransformasikannya; disinilah

“Term Transformatif” melengkapi teori kritis. Dalam

perspektif Transformatif dianut epistimologi

perubahan non-esensialis. Perubahan yang tidak

hanya menumpukan pada revolusi politik atau

perubahan yang bertumpu pada agen tunggal

sejarah; entah kaum miskin kota (KMK), buruh atau

petani, tapi perubahan yang serentak yangdilakukan

secara bersama-sama.

Disisi lain makna tranformatif harus mampu

mentranformasikan gagasan dan gerakan sampai

pada wilayah tindakan praksis ke masyarakat.

Model-model transformasi yang bisa

dimanifestasikan pada dataran praksis antara lain:

5. Transformasi dari Elitisme ke Populisme.

Dalam model tranformasi ini digunakan model

pendekatan, bahwa mahasiswa dalam melakukan

gerakan sosial harus setia dan konsisten mengangkat

108 | H a l a m a n

isu-isu kerakyatan, semisal isu advokasi buruh,
advokasi petani, pendampingan terhadap
masyarakat yang digusur akibat adanya proyek
pemerintah yang sering berselingkuh dengan
kekuatan pasar (kaum kapitalis) dengan pembuatan
mal-mal, yang kesemuanya itu menyentuh akan
kebutuhan rakyat secara riil. Fenomena yang terjadi
masih banyak mahasiswa yang lebih
memprioritaskan isu elit, melangit dan jauh dari apa
yang dikehendaki oleh rakyat, bahkan kadang
sifatnya sangat utopis. Oleh karena itu, kita sebagai
kaum intelektual terdidik, jangan sampai tercerabut
dari akar sejarah kita sendiri. Karakter gerakan
mahasiswa saat ini haruslah lebih condong pada
gerakan yang bersifat horisontal.
6. Transformasi dari Negara ke Masyarakat.

Model tranformasi kedua adalah transformasi dari
Negara ke masyarakat. Kalau kemudian kita lacak
basis teoritiknya adalah kritik yang dilakukan oleh
Karl Marx terhadap G.W.F. Hegel. Hegel memaknai
Negara sebagai penjelmaan roh absolute yang

109 | H a l a m a n

harus ditaati kebenarannya dalam memberikan
kebijakan terhadap rakyatnya. Disamping itu,
Hegel mengatakan bahwa Negara adalah satu-
satunya wadah yang paling efektif untuk meredam
terjadinya konflik internal secara nasional dalam
satu bangsa. Hal ini dibantah Marx. Marx
mengatakan bahwa justru masyarakatlah yang
mempunyai otoritas penuh dalam menentukan
kebijakan tertinggi. Makna transformasi ini akan
sesuai jika gerakan mahasiswa bersama-sama
rakyat bahu-membahu untuk terlibat secara
langsung atas perubahan yang terjadi disetiap
bangsa atau Negara.
7. Transformasi dari Struktur ke Kultur.

Bentuk transformasi ketiga adalah transformasi
dari struktur ke kultur, yang mana hal ini akan bisa
terwujud jika dalam setiap mengambil keputusan
berupa kebijakan-kebijakan ini tidak sepenuhnya
bersifat sentralistik seperti yang dilakukan pada
masa orde baru, akan tetapi seharusnya kebijakan
ini bersifat desentralistik. Jadi,aspirasi dari bawah

110 | H a l a m a n

harus dijadikan bahan pertimbangan pemerintah
dalam mengambil keputusan, hal ini karena
rakyatlah yang paling mengerti akan kebutuhan,
dan yang paling bersinggungan langsung dengan
kerasnya benturan sosial di lapangan.

111 | H a l a m a n

8. Transformasi dari Individu ke Massa.

Model transformasi selanjutnya adalah
transformasi dari individu ke massa. Dalam disiplin
ilmu sosiologi disebutkan bahwa manusia adalah
mahluk sosial, yang sangat membutukan kehadiran
mahluk yang lain. Bentuk-bentuk komunalitas ini
sebenarnya sudah dicita-citakan oleh para
foundhing fathers kita tentang adanya hidup
bergotong royong. Rasa egoisme dan
individualisme haruslah dibuang jaung-jauh dari
sifat manusia. Salah satu jargon yang pernah
dikatakan oleh Tan Malaka (Sang Nasionalis Kiri),
adalah adanya aksi massa. Hal ini tentunya setiap
perubahan meniscayakan adanya power atau
kekuatan rakyat dalam menyatukan program
perjuangan menuju perubahan sosial dalam bidang
apapun (ipoleksosbudhankam).
9. Paradigma Kritis Transformatif (PKT ) yang
diterapkan di PMII?

Dari paparan diatas, terlihat bahwa PKT sepenuhnya

112 | H a l a m a n

merupakan proses pemikiran manusia, dengan
demikian dia adalah sekuler. Kenyataan ini yang
membuat PMII dilematis, karena akan mendapat
tuduhan sekuler jika pola pikir tersebut
diberlakukan. Untuk menghindari dari tudingan
tersebut, maka diperlukan adanya reformulasi
penerapan PKT dalam tubuh warga pergerakan.
Dalam hal ini, paradigma kritis diberlakukan hanya
sebagai kerangka berpikir dan metode analisis dalam
memandang persoalan. Dengan sendirinya dia tidak
dilepaskan dari ketentuan ajaran agama, sebaliknya
justru ingin mengembalikan dan memfungsikan
ajaran agama sebagaimana mestinya.
PKT berupaya menegakkan harkat dan martabat
kemanusiaan dari belenggu, melawan segala bentuk
dominasi dan penindasan, membuka tabir dan
selubung pengetahuan yang munafik dan
hegemonik. Semua ini adalah pokok-pokok pikiran
yang terkandung dalam Islam. Oleh karenanya
pokok-pokok pikiran inilah yang dapat diterima
sebagai titik pijak penerapan PKT di kalangan warga

113 | H a l a m a n

PMII. Contoh yang palingkongkrit dalam hal ini bisa
ditunjuk pola pemikiran yang menggunakan
paradigma kritis dari beberapa intelektual Islam,
diantaranya Hassan Hanafi dan Arkoun.
10. Mengapa PMII memilih Paradigma Kritis
Transformatif?

“Berpikir Kritis & Bertindak Tansformatif” itulah
Jargon PMII dalam setiapmembaca tafsir sosial yang
sedang terjadi dalam konteks apapun. Dan ada
beberapa alasan yang menyebabkan PMII harus
memiliki Paradigma Kritis Transformatif sebagai
dasar untuk bertindak dan mengaplikasikan
pemikiran serta menyusun cara pandang dalam
melakukan analisa terhadap realitas sosial. Alasan-
alasan tersebut adalah:
a. Masyarakat Indonesia saat ini sedang
terbelenggu oleh nilai-nilai kapitalisme modern,
dimana kesadaran masyarakat dikekang dan
diarahkan pada satu titik yaitu budaya massa
kapitalisme dan pola berpikir positivistik
modernisme.

114 | H a l a m a n

b. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
majemuk/plural, beragam, baik secara etnis, tradisi,
kultur maupun kepercayaan (adanya pluralitas
society).
c. Pemerintahan yang menggunakan sistem
yang represif dan otoriter dengan pola yang
hegemonik (sistem pemerintahan menggunakan
paradigma keteraturan yang anti perubahan dan
pro status quo).
d. Kuatnya belenggu dogmatisme agama,
akibatnya agama menjadi kering dan beku, bahkan
tidak jarang agama justru menjadi penghalang
bagi kemajuandan upaya penegakan nilai
kemanusiaan.
Beberapa alasan mengenai mengapa PMII memilih
Paradigma Kritis Tansformatif untuk dijadikan pisau
analisis dalam menafsirkan realitas sosial. Karena
pada hakekatnya dengan analisis PKT mengidealkan
sebuah bentuk perubahan dari semua level dimensi
kehidupan masyarakat (ideologi, politik, ekonomi,
sosial, budaya dan pendidikan dll) secara bersama-

115 | H a l a m a n

sama. Hal ini juga tercermin dalam imagened
community (komunitas imajiner) PMII yang
mengidealkan orientasi out-put kader PMII yang
diantaranya adalah : Intelektual Organik, Agamawan
Kritis, Profesional Lobbiyer, Ekonom Cerdas, Budayawan
Kritis, Politisi Tangguh, dan Praktisi Pendidikan yang
Transformatif.

116 | H a l a m a n

BAB IV

Analisis Sosial II

A. Analisis Sosial dan Tanggung Jawab PMII

Analisis sosial merupakan langkah praksis yang
dilakukan oleh kader PMII untuk mengamati realitas
sosial. Realitas menghendari kader PMII untuk jeli
menanggapi setiap kondisi yang terjadi. Keberpihakan
kepada mustadafin jadi poin utama kader PMII agar
dapat menjabarkan pelbagai dinamika dalam
masyarakat.
Charles Lemert (1993), dalam tulisannya Social Theory:
The Multiculutral and Classic Readings, menyatakan bahwa
teori sosial memang merupakan basis dan pijakan teknis
untuk bisa survive. Lemert tidak sepakat bila intelektual
yang paham terhadap realitas sosial dengan kapasitas
teori dan pemahaman yang gemilang, menolak
mengklaim sebagai menara gading.29

29 Lihat Charles Lemert, Social Theory: The Multicultural and Classics
Readings (Oxford: Vestview Press, 1933)

117 | H a l a m a n

Bila kita telaah kembali ada dua entitas tradisi pemikiran
besar mewarnai perkembangan ilmu dan analisis sosial.
Adalah pertikaian antara positivisme dan idealisme
Jerman. Kekayaan atas tradisi pemikiran kedua aspek
tersebut, membawa kita betul memahami substansi atas
konstruk kajian secara matang.
Kendati demikian, baik dari Teori Kritis,
Poststrukturalisme, dan postmoedernisme saling
melengkapai sebagai kritik terhadap positivisme
sehingga membuka ruang kerja sama untuk menyetujui
secara kritis masalah-masalah ekonomi, politik, sosial
dan budaya masyarakat modern, serta dapat
dimanfaatkan untuk mencari alternatif bagi
penyelesaian masalah secara komperhensif.30
Manusia telah melalui beberapa tahapan pemikian. Mula
dari telaah ide platon hingga penawaran narasi modern
paska era pencerahan. Dunia ide terus mengalami
perkembangan. Munculnya modernitas nampaknya
membuat terusik bagi mereka yang dengan tekun
menggunakan nalar dan fikirnya.

30 Ibid

118 | H a l a m a n

Globalisasi sebagai anak tiri dari modernitas, banyak
gagal paham mengapa globalisasi tersebut dipahami
mengalir begitu saja. Bila sejarah disinggungkangkan
dengan sebuah pertarungan ide kritik dan oto kritik.
Mahasiswa hair terlena oleh hingar bingar buaian
globalisasi sebagai status tak terbantahkan sehingga
timbul matinya nalar kritis mahasiswa.
Ada kalanya kita merefleksikan narasi Fukuyama dalam
bukunya berjudul The End Of Ideology. Bagi Fukuyama,
kapitalisme itu ideologi umat manusia. Tidak dapat
manusia menentang bahkan menghacurkan dominasi
begiut kuat mengakar dari produk-produk kapitalisme.
Begitu naif kiranya, bila narasi itu hanya ditilik dari
perspektif benturan politik semata. Pasalnya, Fukuyama
menilik sebab musabab kapitalisme adalah ideologi final
umat manusia karena Michele Gorbachev yang menelan
pil regulasi kebijakan seperti yang dilakukan oleh
Amerika. Fukuyama lupa, bahwasannya manusia itu
subyek yang terus bergerak dan sewaktu-waktu akan
merkonstruksi kejumudan dari sistem yang
menyebabkan mereka terasingkan.

119 | H a l a m a n

Mochtar Lubis dalam bukunya berjudul Manusia
Indonesia, mendedah etika masyarakat Indonesia yang
masih relevan diterapkan di zaman kiwari. Adalah
masyarakat Indonesia selalu merasa cukup dan kagetan
dengan perubahan zaman. Muncul istilah maju dan
tertinggal. Kelompok maju mampu memiliki barang-
barang impor untuk kepentingan eksistensi. Akan tetapi
ia lupa, struktur edukasi ataupun asah rasionalitas,
ditinggalkan karena ditenggelamkan oleh produk-
produk kapitalisme yang gilang gemilang. sehingga
muncul kritis dari T.W. Adorno yaitu fetisisme
komoditas31.
Tidak asing kita temui, status sosial rakyat dinilai dari
jumlah kendaraan, harga outfit pakaian, jenis produk
makanan yang mereka miliki. Lebih naifnya, itu diamini

31 Fetisisme mengondisikan terjadinya kesadaran palsu, yakni pemujaan
atas harga yang dibayarkan untuk memperoleh komoditas tertentu.
Kesadaran palsu ketika industri kebudayaan mampu mempengaruhi sub-sub
terkecil umat manusia seperti ide misalnya. Timbul konsumerisme di relung
hidup manusia untuk memuja kepada “barang.”

120 | H a l a m a n

oleh khalayak umum sebagai penilian era kiwari. Prinsip
dasar fetisisme komoditas ialah pada asas pertukaran
“harga dengan “barang”.
Kapitalisme mampu menciptakan kesadaran palsu
melalui konsumerisme dan budyaya populer. Kondisi
demikian didukung oleh sistem perekonomi yang
mengharuskan manusia untuk mengkonsumsi barang-
barang tersebut agar tak sindiri sebagai insan tertinggal.
Secara pandangan waktu, dunia mengalami perubahan
yang begitu cepat. Sontak membuat beberapa
masyarakat tertegun penasaran mencari tahu sebab
musababnya.
Mengenai waktu yang dirasa berlalu begitu cepat,
Sosiolog Jerman, Hartmut Osan membenarkan dugaan
tersebut. Sekarang waktu menjadi lebih cepat karena dua
alasan. 32Pertama, karena meningkatnya kecepatan
teknik. Mobil atau motor lebih cepat daripada
sepeda.Mengirim surat pun lebih cepat dari pada waktu

32 Sindhunata, “Berilah Kami Kepelahan-lahanan,” Majalah Basis; Penerbit
Kanisius, Yogyakarta, 2013, Hal. 15.

121 | H a l a m a n

lalu, untuk bisa mempersiapkan perlengkapan dan
pengiriman yang begitu banyak.
Kedua, kini sedang berlangsung perubahan sosial secara
fundamental. Di zaman ini orang mudah menukar
bacaanya, tempat kerjanya, kebiasaannya, bahkan
pasangannya dalam tempo lebih singkat. Kondisi
demikian mengkonstruk umat manusia agar bisa
bergerak lebih cepat menyesuaikan sistem baru hari ini
yang memaksa manusia dengan akal budinya itu untuk
bergerkan begitu cepat pula.
Kondisi demikian mencipatakan perubahan sosial
berupa problem kolektif. Sindhunata menjabarkan
kondisi tersebut dengan obyek kajian berada di
Yogyakarta. Awal mula, kota Yogyakarta gandrung
dengan ramah-tamah, gotong royon dan mafhum
dengan giat-giat kolektif. Sedangkan hari ini, sudah
begitu jarang giat-giat tersebut karena manusia sudah
berubah untuk memuaskan elan vital nya masing-
masing. 33Kondisi demikian, juga bagian dari analisis
sosial yang perlu diperthatikan secara detail.

33 Ibid

122 | H a l a m a n

Mahasiswa juga bagian dari realitas sosial. Sesekali
didengungkan mereka itu sebagai agent of change.
Apakah benar demikian? Realitas terus bergerak.
Pertarungan simbol di dalam arena, dijelaskan secara
gamblang oleh Prof. Haryatmoko berjudul, membongkar
rezim kepastian. Kepastian yang ditawarkan oleh
modernitas merupakan kepastian semu.34
Piere Bourdieu dengan kritik terhadap modernitas,
menjabarkan perihal dominasi. Dominasi ini terjadi
ketika lemahnya kelompok tertentu dalam
menyampaikan elan vitalnya sehingga mudah kelompok
lain untuk mereduksi keberadaan status quo kelompok
yang dilawan. Tesis dari Bourdieu berbeda dengan teori
Hegemoni yang digagas oleh Antonio Gramsci. Gramsci
menekankan strturalisme disini sebagai sebab musabab
terjadi dominasi, sedangkan bagi Bourdieu, mereka
(baca; para pemegang simbol), memiliki kekuatan yang
sama, tergantung intensitas pertarungan dalam arena
(baca; realitas sosial) untuk bertarung menjadi lebih baik.

34 Haryatmoko, Membongkar Rezim Kepastian, LP3ES; Cetakan Pertama, Juni
1983.

123 | H a l a m a n

Gagasan Bordieu mengingatkan kita (baca; Mahasiswa)
mengenai konsep benturan simbolis. Sejatinya
mahasiswa memiliki simbol berupa keilmuan yang telah
dimilikinya itu. Mahasiswa akan tergerus baik dari
substansi ataupun eksitensinya, dikarenakan ia sudah
terbuai oleh sistem yang dibuat simbol lain.

Tanggung Jawab PMII

Tujuan PMII sebagaiman termaktub dalam Anggaran
Dasar (AD PMII) Bab IV Pasal 4, sejatinya sudah kita
ketahui sebagai cita PMII untuk menampakan diri. Jelas
kiranya, PMII mengasah, asuh kader dan anggotanya
untuk kepentingan Bangsa Indonesia.
Menyitir gagasan Axel Honneth (1949-sekarang) sebagai
generasi ketiga Mazhab Frankfurt, berjudul Struggle for
Recognition (Perjuangan demi Pengakuan) sontak
mengingatkan kembali bagi PMII untuk betul-betul
mengetahui substansi intelektual untuk menafsirkan
realitas.
Perjuangan dan pengakuan bagi Honneth merupakan
ujung tombak kritik sosial holistic (bukan sekadar kritik

124 | H a l a m a n

parsial akan kebijakan tertentu) yang dilandaskan pada
data-data empiris, akan tetapi yang ditekankan olehnya
ialah bagaimana menggunakan ilmu-ilmu sosial seabgai
landasan untuk berfilasafat. Tak hanya itu, Honneth juga
tak konservatif, melainkan membuka teori-teori sosial
lain untuk terjalin sebagai basis pengetahuan kritik
sosial.35
Kendati demikian, PMII sebagai basis simbol seharusnya
mengasah rasionalitas dengan cara selalu haus terhadap
pengetahuan dan keilmuan yang dimiliki kader dan
anggota. Sebagaimana diketahui PMII melahirkan kader
dan anggota dengan rasionalitas cemerlang, perlu
dipertahankan disamping gempuran simbol-simbol lain
yang beresiko menggoyahkan ataupun melemahkan
kondisi PMII.
Analisis sosial merupakan salah satu praktik yang
dilakukan oleh PMII untuk dapat mengurai pelbagai
permasalahan yang tengah dihadapi. Belajar dari filsuf
Mazhab Frankfurt ketiga, bahwasannya PMII tidak boleh

35 Albertus Erwin Susanto, Axel Honneth: Teori Perjuangan demi Pengakuan,
Majalah Basis; Penerbit Kanius, Yoygakarta. 2020. Hal. 35.

125 | H a l a m a n

terkukung hanya kepada kajian data empiris semata.
Akan tetapi perlu juga PMII mengolah nalr kritis mereka
melalui kajian diskursus berbasis filsafat untuk mengisi
relung-relung pengetahuan mereka.

Langkah Praxis Analisis Sosial Apakah Analisa Sosial
Itu?
Suatu proses analisa sosial adalah usaha untuk
mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang
situasi sosial, hubungan-hubungan struktural, kultural
dan historis. Sehingga memungkinkan menangkap dan
memahami realitas yang sedang dihadapi. Suatu analisis
pada dasarnya "mirip" dengan sebuah "penelitian
akademis" yang berusaha menyingkap suatu hal atau
aspek tertentu. Dalam proses ini yang dilakukan bukan
sekedar mengumpulkan data, berita atau angka,
melainkan berusaha membongkar apa yang terjadi
sesungguhnya, bahkan menjawab mengapa demikian,
dan menemukan pula faktor-faktor apa yang memberikan
pengaruh kepada kejadian tersebut. Lebih dari itu, analisis
sosial, seyogyanya mampu memberikan prediksi ke
depan: kemungkinan apa yang tetjadi.

126 | H a l a m a n

Analisa sosial merupakan upaya untuk mengurai logika,
nalar, struktur, atau kepentingan dibalik sebuah
fenomena sosial. Analisa sosial bukan semata deskripsi
sosiologis dari sebuah fenomena sosial. Analisa sosial
hendak menangkap logika struktural atau nalar dibalik
sebuah gejala sosial. Analisa sosial dengan demikian
material, empiris, dan bukan sebaliknya, mistis, atau
spiritualistik. Analisa sosial menafsirkan gejala sosial
sebagai gejala material. Kekuatan dan gagasan ideologis
dibalik gejala sosial harus dianalisa.

127 | H a l a m a n

Wilayah Analisa Sosial
Sistem-sistem yang beroperasi dalam suatu masyarakat.
Dimensi-dimensi obyektif masyarakat (organisasi sosial,
lembaga-lembagasosial, pola perilaku, kekuatan-kekuatan
sosial masyarakat)
Dimensi-dimensi subyektif masyarakat (ideologi, nalar,
kesadaran, logikaberpikir, nilai, norma, yang hidup di
masyarakat).
Pendekatan Dalam Analisa Sosial
Historis: dengan mempertimbangkan konteks struktur
yang saling berlainan dari periode-periode berbeda, dan
tugas strategis yang berbeda dalam tiap periode.
Struktural: dengan menekankan pentingnya pengertian
tentang bagaimana masyarakat dihasilkan dan
dioperasikan, serta bagaimana pola lembaga- lembaga
sosial saling berkaitan dalam ruang sosial yang ada.
Bagaimana Hasil Analisa Sosial?
Apakah hasil kesimpulan dari analisa sosial bersifat final?
tentu saja tidak. Karena hasil dari analisa tersebut dapat
dikatakan hanya merupakan kebenaran tentatif, yang bisa
berubah sesuatu dengan fakta atau data dan temuan-

128 | H a l a m a n

temuan yang baru. Dengan demikian, analisa ini bersifat
dinamis, terus bergerak, memperbarui diri, dikaji ulang
dan terus harus diperkuat dengan fakta-fakta pendukung.
Hasil analisa bukan suatu dogma, atau sejenis kebenaran
tunggal.
Batas Analisa Sosial
Analisa sosial bukanlah kegiatan monopoli intelektual,
akademisi, atau peneliti. Siapapun dapat melakukan
analisa sosial.
Analisa sosial tidaklah bebas nilai.
Analisa sosial memungkinkan kita bergulat dengan
asumsi-asumsi kita, mengkritik, dan menghasilkan
pandangan-pandangan baru.
Siapa Pelaku Analisa Sosial?
Semua pihak atau pelaku sosial yang menghendaki untuk
mendekati dan terlibat langsung dengan realitas sosial.
Bicara tentang analisis sosial, pada umumnya selalu
dikaitkan dengan dunia akademik, kaum cendikiawan,
ilmuwan atau kalangan terpelajar lainnya. Ada kesan
yang sangat kuat bahwa anaIisis sosial hanya milik
"mereka". Masyarakat awam tidak punya hak untuk

129 | H a l a m a n

melakukannya. Bahkan kalau melakukan, maka
disediakan mekanisme sedemikian rupa, sehingga hasil
analisis awam itu dimentahkan.
Pemahaman yang demikian, bukan saja keliru, melainkan
mengandung maksud-maksud tertentu yang tidak sehat
dan penuh dengan kepentingan. Pengembangan analisis
sosial di sini, justru ingin membuka sekat atau dinding
pemisah itu, dan memberikatmya kesempatan kepada
siapapun untuk melakukannya. Malahan mereka yang
paling dekat dengan suatu kejadian, tentu akan
merupakan pihak yang paling kaya dengan data dan
informasi. Justru analisis yang dilakukan oleh mereka
yang dekat dan terlibat tersebut akan lebih berpeluang
mendekati kebenaran. Dengan demikian, tanpa
memberikan kemampuan yang cukup kepada
masyarakatluas untuk melakukan analisis terhadap apa
yang terjadi di lingkungan mereka, atau apa yang mereka
alami, maka mereka menjadi sangat mudah
"dimanipulasi", "dibuat bergantung" dan pada gilirannya
tidak bisa mengambil sikap yang tepat.

130 | H a l a m a n

Mengapa Gerakan Sosial Membutuhkan Analisa Sosial?
Kalau kita pahami secara lebih mendalam, aktivitas sosial
adalah sebuah proses penyadaran masyarakat dari suatu
kondisi tertentu kepada kondisi yang lain yang lebih baik
(baca: kesadaran kritis) Kalau kita menggunakan isti1ah
yang lebih populer, aktivitas semacam itu bisa juga
disebut sebagai aktivitas pemberdayaan (Empowerment)
untuk suatu entitas atau komunitas masyarakat tertentu.
Dari statemen tersebut, maka akan termuat suatu makna
bahwa sebenarnya kesadaran kritis atas realitas sosial ini
pada dasarnya ada pada setiap diri manusia. Hanya saja
tingkat kesadaran kritis pada masing-masing orang itu
kadarnya berbeda-beda. Dan aktivitas sosial adalah alat
untuk menyadarkan atau memotivasi bagi munculnya

131 | H a l a m a n

kesadaran tersebut. Meskipun, sebagaimana kita ketahui,
bahwa membangunkesadaran kritis atas realitas sosial itu
tidaklah semudah membalik tangan, karena kesadaran itu
dilingkupi oleh persoalan-persoalan (sosial dan
sebagainya), yang senantiasa membelenggunya. Kalau
kita gambarkan, maka persoalan yang melingkupi
kesadaran kritis akan realitas sosial itu adalah sebagai
berikut

Diagram 3
Peta Aktivitas Analisis Sosial, H.A. Taufiqurrahman (1999)

Ekonomi

Aktivitas Sosial Politik A Sosial Aktivitas
Non-Sosial Budaya

A: Kesadaran Kritis
Out-put: Aktivis Gerakan Sosial yang Kritis akan Realitas
Sosial

132 | H a l a m a n

Oleh karena itu, untuk masuk pada titik sentral
kesadaran kritis atas realitas sosial sebagaimana
dimaksud dalam gerakan sosial di atas, maka tidak
mungkin untuk tidak membongkar, mengurai dan
menganalisa persoalan-persoalan yang ada
disekitarnya. Pada konteks inilah kompetensi analisis
sosial dalam gerakan sosial.
Signifikansi Analisa Sosial
Untuk mengidentifikasikan dan memahami persoalan-
persoalan yang berkembang (ada) secara lebih
mendalam dan seksama (teliti); berguna untuk
membedakan mana akar masalah (persoalan mendasar)
dan mana yang bukan, atau mana yang merupakan
masalah turunan. Akan dapat dipakai untuk
mengetahui potensi yang ada (kekuatan dan
kelemahan) yang hidup dalam masyarakat. Dapat
mengetahui dengan lebih baik (akurat) mana kelompok
masyarakat yang paling dirugikan (termasuk
menjawab mengapa demikian). Dari hasil analisa sosial
tersebut dapat proyeksikan apa yang mungkin akan

133 | H a l a m a n

terjadi, sehingga dengan demikian dapat pula
diperkirakan apa yang harus dilakukan.
Orientasi Analisa Sosial
Analisa sosial jelas didedikasikan dan diorientasikan
untuk keperluan perubahan. Analisa sosial adalah watak
mengubah yang dihidupkan dalam proses identifikasi.
Justru karena itu pula, maka menjadi jelas bahwa analisa
sosial merupakan salah satu titik simpul dari proses
mendorong perubahan. Analisa sosial akan menghasilkan
semacam peta yang memberikan arahan dan dasar bagi
usaha-usaha perubahan.
Prinsip-Prinsip Analisa Sosial

Analisa sosial bukan suatu bentuk pemecahan masalah,
melainkan hanya diagnosis (pencarian akar masalah),
yang sangat mungkin digunakan dalam menyelesaikan
suatu masalah, karena analisa sosial memberikan
pengetahuan yang lengkap, sehingga diharapkan
keputusan atau tindakan yang diambil dapat
merupakan pemecahan yang tepat.

134 | H a l a m a n

Analisa sosial tidak bersifat netral, selalu berasal dari
keberpihakan terhadap suatu keyakinan. Soal ini berkait
dengan perspektif, asumsi-asumsi dasar dan sikap yang
diambil dalam proses melakukan analisa. Karena
pernyataan diatas, maka analisa sosial dapat digunakan
oleh siapapun.
Analisa sosial lebih memiliki kecenderungan mengubah;
tendensi untuk menggunakan gambaran yang diperoleh
dari analisa sosial bagi keperluan tindakan-tindakan
mengubah, maka menjadi sangat jelas bahwa analisa
sosial berposisi sebagai salah satu simpul dan siklus kerja
transformasi. Analisa sosial selalu menggunakan
‘tindakan manusia’ sebagai sentral atau pusat dalam
melihat suatu fenomena nyata.
Tahap-Tahap Analisa Sosial
Tahap menetapkan posisi, orientasi: pada intinya dalam
tahap ini, pelaku analisa perIu mempertegas dan
menyingkap motif serta argumen (ideologis) dari
tindakan analisa sosial.
Tahap pengumpulan dan penyusunan data: tujuan dan
maksud dari tahap ini, agar analisa memiliki dasar

135 | H a l a m a n

rasionalitas yang dapat diterima akal sehat. Ujung dari
pengumpulan data ini adalah suatu upaya untuk
merangkai data, dan menyusunnya menjadi diskripsi
tentang suatu persoalan.
Tahap analisa: pada tahap ini, data yang telah terkumpul
diupayakan untuk dicari atau ditemukan hubungan
diantaranya.
Apa Yang Penting Ditelaah dalam Melakukan
Analisa Sosial

1. Kaitan Historitas (Sejarah Masyarakat).
2. Kaitan Struktur.
3. Nilai.Reaksi yang berkembang dan arah
masa depan.
Model Telaah dalam Analisa Sosial
Telaah Historis, dimaksudkan untuk melihat ke
belakang. Asumsi dasar dari telaah ini bahwa suatu
peristiwa tidak dengan begitu saja hadir, melainkan
melalui sebuah proses sejarah. Dengan ini, maka
kejadian, atau peristiwa dapat diletakkan dalam
kerangka masa lalu, masa kini dan masa depan. Telaah
Struktur. Biasanya orang enggan dan cemas melakukan

136 | H a l a m a n

telaah ini, terutama oleh stigmatisasi tertentu. Analisa
ini sangat tajam dalam melihat apa yang ada, dan
mempersoalkan apa yang mungkin tidak berarti
digugat. Struktur yang akan dilihat adalah: ekonomi
(distribusi sumberdaya); politik (bagaimana
kekuasaan dijalankan); sosial(bagaimana masyarakat
mengatur hubungan di luar politik dan ekonomi); dan
budaya (bagaimana masyarakat mengatur nilai).

137 | H a l a m a n

Telaah Nilai. Penting pula untuk diketahui tentang apa
nilai-nilai yang dominan dalam masyarakat. Mengapa
demikian. Dan siapa yang berkepetingan dengan
pengembangan nilai-nilai tersebut.
Telaah Reaksi. Melihat reaksi yang berkembang
berarti mempersoalkan mengenai siapa yang lebih
merupakan atau pihak mana yang sudah bereaksi,
mengapa reaksi muncul dan bagaimana bentuknya.
Telaah ini penting untuk menuntun kepada
pemahaman mengenai "peta" kekuatan yang bekerja.

Telaah Masa Depan. Tahap ini lebih merupakan usaha

untuk memperkirakan atau meramalkan, apa yang

terjadi selanjutnya. Kemampuan untuk memberikan

prediksi (ramalan) akan dapat menjadi indikasi

mengenai kualitas tahap-tahap sebelumnya.

Diagram 5

Peta Kerangka Pikir Analisas Sosial

Paradigma Liberal Paradigma
Konsensus Konflik

Konservati Konflik/
f Transformis

138 | H a l a m a n

Dalam masyarakat ada kelas- Ada kelas sosial,
kelas sosial, dan adakerukunan
kelas ada konlik antar-

Struktur sosial merupakan hasil kelas
konsensus antar anggota
masyarakat, struktur sosial tidak Struktur sosial
pernah dipemasalahkan, bahkan
dipertahankan adalah hasil

konstruksi kelas

sosial tertentu,

yang dipaksakan

untuk ditaati oleh

masyarakat.

Struktur sosial

selalu

dipermasalahkan

Akar Akar Akar
permasalaha
pemasalahan n terletak permasalahan
pada
terletak pada kesenjangan berakar pada
kesadaran,
manusia itu kurangnya struktur sosial
kesempatan,
sendiri, atau kurangnya yang tidak adil,
keterampilan
karena sesuatu , menindas.
kesempatan,
kekuatan dan
lainnya.
suprasejarah
Modernisasi
Meringankan sosial Mentransformasikan
bebankorban struktur yang tidak
adil ke struktur
yang adil

139 | H a l a m a n

Pembagian Pelatihan, Pengorganisiran

sembako, bakti kurus, masyarakat,

sosial, pengobatan pembangunan pendidikan politik,

gratis, khotbah, infrastruktur gerakan sosial,

bantuan untuk advokasi

kelaparan, kebijakan,gerakan

pelayanan kaum massa, pemogokan,

cacat, himbauan pemboikotan,

moral, dan gagasan-gagasan

lainnya sosial dan

struktur alternatif

Masyarakat itu Kaum elite, Masyarakat dan

sendiri pemerintah, kepemimpinan

agamawan, perubahan/gerakan

LSM, dan

lainnya

Otoritas Instruktif, Delegatif,

konsultatif kepemanduan,

trasnformatif

Kasih sayang, Persamaan Kesadaran struktural

menolong orang hak dan

miskin, kesempatan

kepedulian,

rasa kemanusiaan

Karitatif Reformatif Transformatif

140 | H a l a m a n

Dasar Penarikan Kesimpulan Analisa Sosial
Yang tidak kalah penting adalah menemukan apa yang
menjadi akar masalah. Untuk menemukan akar masalah
dapat dituntun dengan pertanyaan: mengapa? Untuk
sampai kepada akar masalah, maka penting dilakukan
kualifikasi secara ketat, guna menentukan faktor mana
yang paling penting. Kesimpulan tidak lain berbicara
mengenai faktor apa yang memberikan pengaruh paling
dominan (paling kuat) dan demi kepentingan siapa unsur
akar tersebut bekerja. Sebagaimana diungkapkan di
depan, kesimpulan tidak menjadi sesuatu yang final,
melainkan akan mungkin diperbaiki menurut temuan
baru.

141 | H a l a m a n

BAB V

Aswaja Sebagai Manhajul Fikr Wal Harokah

A. Kontroversi Aswaja
Sejak akhir dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an, wacana
Aswaja suda ramai diperbincangkan kembali.
Perbincangan ini mula-mula ada dikalangan komunitas
muda NU, terutama yang tergabung di PMII. Pada
mulanya perbincangan aswaja baru seputar pertanyaan
mengapa Aswaja menghambat perkembangan intelektual
mereka. Diskusi terhadap doktrin ini lalu sampai pada
kesimpulan, bahwa kemandekan berfikir ini karena kita
mengadopsi mentah-mentah paham Aswaja secaraqaulun
(kemasan praktis pemikiran Aswaja). Lalu dicoba
membongkar sisi metodologi berfikirnya (manhaj al-fikr),
seberapa jauh hal ini akan membuka kran wacana
intelektual ditubuh NU? Yakni cara berfikir yang
memegang prinsip tawassuth (moderat), tawazun
(keseimbangan) dan ta' addul (keadilan). Setidaknya
prinsip ini dapat mengantarkan pada sikap keberagamaan
yang non-ekstrimitas (tatharruf) Kiri ataupun Kanan.

142 | H a l a m a n

Gugatan ini sebenarnya belum keluar dari frame Aswaja.
Artinya, belum ada keberanian untuk mempertanyakan
lebih jauh mengapa Aswaja yang taqlid kepada Imam Abu
Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi secara
teologis,mengikuti madzhab empat secara fiqhiyyah, dan
bertasawwuf dalam madzhab Imam Ghozali & Baihaqi,
sebagai kebenaran yang masuk surga. Pergulatan
intelektual muda NU tidak berhenti sampai disini,
kemudian mereka berkenalan dengan pemikiran-
pemikirn muslim progressif dan radikal seperti; Ali
Syariati, Asghar Ali Engineer (Aliran Syiah), sampai pada
tokoh "Kiri Islam" dasa warsa 1990-an yaitu Hassan
Hanafi, teolog modem asal Mesir dari aliran Sunni. Kajian
histories Said Aqiel Sirajd, dalam disertasi doktoralnya,
mendapat reaksi keras dan dianggap sebagai syiah dan
bahkan murtad. Karena kajian historis maka watak
kajiannya profane, realis, objektif dan apa adanya. Objek
kajiannya adalah sejarah pada sahabat Khulafaur
Rasyidin sampai munculnya sektesekte madzhab
pemikiran, termasuk aliran Asy' ariyah dan Maturidiah.
Maka tidak heran para kiai yang kurang mengenal

143 | H a l a m a n

metode ilmiah menuduh Said sebagai tindakan yang
melecehkan para sahabat. Keyakinan para kiai tersebut
pada akhimya bahwa sahabat dan para ularna "tidak
boleh salah", dan kalau salah maka ambruklah seluruh
bangunan pemikiran Islam yang selarna ini diajarkan
kepada para santrisantri di pondok pesantren. Namun
radikalitas permikiran Said ini hanya berhenti pada
reinterpretasi.
B. Ahlussunah Wal Jama’ah
Menurut Said Agiel Siradj, selama ini aswaja sering
dipahami sebagai suatu mazhab. Jika dipahami sebagai
madzhab maka aswaja akan mengkristal menjadi institusi.
Jelas pandangan ini paradoks dengan fakta sejrah
kelahiran aswaja. Aswaja itu sebenamya bukanlah
madzhab melainkan hanyalah manhaj al-fikr atau paham
yang didalamnya memuat banyak aliran dan mazhab. Ciri
khas Aswaja yang paling menonjol adalah menempuh
jalan tengah (tawassuth). Jalan tengah atau moderatisme
Aswaja bukanlah harga mati, tetapi harus aspiratif
terhadap perkembangan zaman. Sebagai metode berfikir,
pemahaman Aswaja harus menjadi titik awal kerangka

144 | H a l a m a n

berfikir menggali hukum (syariat). Ini adalah
pembaharuan pemikiran kritis dan progressif serta
menjadi karakter NU. Pemikiran Tholchah Hasan
memberikan penegasan pemikiran bahwa Aswaja tidak
bisa semata-mata dipahami secara doktrinal, tetapi juga
historis dan kultural. Aswaja juga mengandung "aqwal"
(pemikiranpemikiran yang mapan) sebagai hasil
pemikiran dengan menggunakan mahaj al-fikr. Upaya
pengembangan Aswaja perlu pengkajian dati berbagai
sudut pandang iImu terutama iImu sosiaI, sehingga
Aswaja bisa diinterodusikan secara rasionaI, sistematis,
dan kontekstual sesuai dengan transformasi cultural yang
sedng berjalan. Aswaja tidak hanya dipahami sebagai
pemikiran yang berkaitan dengan akidah, fiqih, tasawuf,
tetapiperlu dikembangkan secara universal dalam bidang
politik, sosial, budaya, ekonomi, dsb. Aswaja pada
muaranya memberikan titik tekan pada pola pikir yang
digunakan untuk menelaah realitas sosial. Manhaj al-Fikr
yang dipakai oleh kaum nahdIiyyin hams kontekstual
sesuai dengan perkembangan khasanah pemikiran Islam
dan perkembangan zaman.

145 | H a l a m a n

C. Perebutan Atas Bendera Aswaja
Islam sebagai agama yang diyakini akan mampu
menolong dan menyelamatkan umat-nya selalu tidak
lepas dari semacam klaim untuk saling membenarkan.
Dipandang dari paradigma tertentu saling
mempertahankan atas eksistensi baik golongan, individu
sampai pertentangan antar iman. Adanya bermacamaliran
ini memang telah telah disenyalir oleh Rosululloh sendiri
dengan statement beliau dalam hadist yang telah
kontemporer dalam beberapa riwayat, diantaranya adalah
hadist riwayat Abu Tirmidzi. Dalam hadist yang
kontemporer tersebut telah jelasbahwa yang akan diakui
oleh nabi sebagai satu golongan yang akan terselamatkan,
yakni golongan Aswaja. Dalam prespektif pemikiran yang
seperti ini, maka untuk menjawab setidaknya ada kajian
dalam 4 dimensi: 1) Kajian secara Historis/ akar sejarah-
nya, 2) Kajian atas Nubuwah/ Statemen-sinyalemen, 3)
Kajian atas Fakta dan logika obyektif, 4) Kajian prespektif
transformatif. Dalam kesempatan ini, sengaja kita tidak
akan memperdebatkan lebih sampai perdebatan atas
klaim ASWAJA, namun lebih pada pembacaan secara

146 | H a l a m a n

singkat atas beberapa perspektif, yakni: 1) Aspek
Historisitas Aswaja, 2) Aspek Aswaja sebagai Manhaj aI-
fikr.

D. Aspek Historisitas
Pendapat bahwa Aswaja bukan sebagai doktrin
merupakan pengingkaran terhadap kenyataan, karena
pemahaman yang tersebar dalam berbagai bidang ilmu-
ilmu ke-Islam-an, seperti Fiqih, Theologi dan Sufisme yang
sekarang dianut olehkebanyakan umat Islam merupakan
doktrin atas Aswaja itu sendiri, kajian atas tradisi
pemikiran Islam yang ada sekarang (Fiqih, Theologi,
Sufisme dan yang lainnya) tidak lahir dari ruang yang
hampa. Ia lahir dari suatu proses pergumulan yang
panjang, dengan aspek-aspek sosio-kultural serta sosio-
politik yang melingkupinya. Ada beberapa alasan yang
menganggap kajian kesejarahan ini sangat penting yakni;
Pertama; banyak umat Islam yang mempersepsikan aswaja
dangan berbagai variannya hanya sebagai ideologi yang
baku, seolah infallibe dan immune terhadap perubahan
zaman. Dalanm konteks ini Aswaja sering dipahami secara
sederhana hanya sebatas antitesis dari faham Syi'ah,

147 | H a l a m a n

Ortodoksi dari heterodoksi atau sunnahdari bid'ah. Kedua;
aswaja seharusnya tidak hanya dipahami dari sisi
doktrinal, tetapi lebih didasarkan atas suatu kenyataan
bahwa banyak pendapat para imam yang kita anggap
sebagai rujukan namun diantara mereka saling berbeda
tajam antara satu dengan yang lainnya. Seperti misalnya
Imam AI-Junaidi yang meniadakan sifat-sifat Allah SWT
dan ditentang oleh faham Imam al-Asy'ari yang
menyatakan bahwa Allah SWT tetap memiliki sifat, dan
lain sebagainya. Ketiga; Pemahaman Aswajaseharusnya
juga tidak dipahami dalam satu perspektif teologis
normatif saja, namun juga harus dipahami dalam sekian
kacamata baik Historis, Normatif, maupun kajian secara
transformatif.

E. Aspek Aswaja sebagai Manhaj al-Fikr wal Harakah .
Dalam tradisi yang dikembangkan NU, penganut Aswaja
didefinisikan sebagai orang yang mengikuti salah satu
madzab empat (Hanafi, maliki, Syafi'i dan Hambali)
dalam bidang Fiqih, mengikuti Imam al-Asy’ari dan
Maturidi dalam bidang Aqidah dan mengikuti al-Junaidi
dan al-Ghozali dalam bidang tasawuf, dalam sejarahnya


Click to View FlipBook Version