The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Jurnal Belajar dan Hasil Aktivitas Belajar Biologi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by raisyaraihan21, 2021-06-14 10:11:07

Portofolio Biologi Raisya Annisa Putri (XI IPA 4)

Jurnal Belajar dan Hasil Aktivitas Belajar Biologi

Keywords: Portofolio

BAB VIII

Sistem Ekskresi

A. Jurnal Belajar

JURNAL BELAJAR 1

Jumat, 19 Februari 2021

Hari ini adalah pertemuan pertama kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-8
mengenai sistem ekskresi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti
pembelajaran hari ini.

Seperti biasa, Bu Puspa mengecek semua kehadiran siswa-siswi. Pada hari ini, kita
sudah memasuki bab ke-3 di semester genap. Kalau ada kata eks berarti bekas. Kalau
sudah bekas sisa, itu harus dikeluarkan dalam bentuk proses ekskresi karena ada istilah
lain yang juga berarti pengeluaran tetapi bukan zat sisa. Kalau bicara tentang ekskresi
berarti semua zat yang bersifat sisa harus dibuang dari dalam tubuh manusia, karena
kalau tidak dibuang dan terakumulasi di dalam tubuh maka akan mengganggu
metabolisme tubuh dan fungsi-fungsi dari organ-organ yang ada di dalam tubuh. Ada 4
organ yang melakukan sistem ekskresi yaitu ginjal, paru-paru, hati, dan kulit. Secara
keseluruhan, 4 organ tersebut memiliki tanggung jawab untuk melakukan fungsi-fungsi
sistem ekskresi.

Setelah itu, Bu Puspa memberikan tugas untuk membuat hasil analisis sesuai dengan
judul kita. Judul yang kita dapat sesuai dengan urutan nomor absen yaitu seperti absen
pertama menjelaskan tentang ginjal, absen kedua menjelaskan tentang hati, absen ketiga
menjelaskan tentang kulit, dan seterusnya hingga absen terakhir. Tugas tersebut bisa
dikerjakan melalui tulis tangan di buku tulis atau diketik. Hasil analisis tersebut berisi

206

tentang struktur, fungsi, dan proses yang terjadi pada organ tersebut. Hasil analisis
tersebut harus singkat, jelas, padat, dan tidak kepanjangan. Setelah dijelaskan semua,
tak lama kemudian, pembelajaran pada hari ini pun berakhir.

207

JURNAL BELAJAR 2

Jumat, 26 Februari 2021

Hari ini adalah pertemuan kedua kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-8
mengenai sistem ekskresi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.

Pertama-tama, Bu Puspa memberitahu bahwa Bu Puspa sudah membagi sesuai absen
yang menjadi judul dari setiap kelompok. Setelah itu, Bu Puspa memberi kesempatan untuk
menjelaskan materinya sesuai judul yang telah diberikan, Candyle pun ingin mencobanya.
Jadi, kulit merupakan organ terbesar dari manusia. Lalu, kulit juga memiliki banyak fungsi
seperti ekskresi, perlindungan, pengaturan suhu badan, metabolisme, dan komunikasi.

Kulit terdiri atas beberapa lapisan, yaitu epidermis (lapisan paling luar), dermis, dan
hipodermis (subkutaneus). Setelah Candyle menjelaskan, Deswita ingin menjelaskan
tentang gangguan pada kulit. Gangguan pada hati, antara lain biang keringat (miliaria),
hiperhidrosis, anhidrosis, bromhidrosis, eksem (dermatitis), kadas (kurap), kudis, Atheletes
foot, vitiligo, jerawat, pruvitus kutanea, dan kalvus. Lalu, Deswita menjelaskan tentang
teknologi sistem ekskresi pada kulit, antara lain skin grafting (cangkok kulit). Setelah itu,
Engeline dan Nadia ingin menambahkan penjelasan tentang kulit. Lalu, Shofa juga
menjelaskan tentang cara untuk mencegah penyakit kulit, seperti menjaga kebersihan diri,
tidak berbagi barang pribadi dengan teman atau penderita penyakit kulit, menghindari
kebiasaan menggaruk kulit, menghindari kontak fisik dengan penderita penyakit menular.
Lalu, Afif dan Aldian juga melengkapi penjelasan tentang materi kulit. Setelah dijelaskan
semua, tak lama kemudian, pembelajaran pada hari ini pun berakhir.

208

Bukti screenshoot :

209

JURNAL BELAJAR 3

Rabu, 3 Maret 2021

Hari ini adalah pertemuan ketiga kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-8
mengenai sistem ekskresi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.

Pertama-tama, kita langsung masuk ke penjelasan tentang ginjal. Jadi, yang pertama
jelasin adalah Aaliyah. Aaliyah menjelaskan tentang definisi dan 8 fungsi pada ginjal.
Ginjal merupakan organ utama yang memproduksi urine. Ginjal berjumlah sepasang,
terletak di belakang perut, sebelah kanan dan kiri dari tulang belakang, di bawah hati dan
limpa. Setelah dijelaskan semua oleh Aaliyah, Thezar pun ingin bertanya tentang apa saja
pengeluaran zat sisa organik dan pengeluaran zat racun. Dwi pun menjawab pengeluaran
zat sisa organik bisa berupa urea, asam urat, amonia, dan lain-lainnya, sedangkan
pengeluaran zat racun biasanya seperti sisa-sia obat-obatan, zat aditif makanan, polutan,
dan lain-lain. Setelah itu, Dwi menjelaskan tentang struktur pada ginjal.

Ginjal dilindungi oleh lapisan jaringan ikat, yaitu fasia renal, lemak perirenal, lemak
pararenal, dan kapsul fibrosa. Ginjal memiliki 5 bagian yaitu, lobus ginjal, hilus (hilum),
sinus ginjal, parenkim ginjal, dan pelvis ginjal (pelvis renalis). Lalu, Albert menjelaskan
tentang gambar struktur pada ginjal. Lalu, Alya Herliani menjelaskan tentang gambar
struktur nefron. Lalu, Oasis menjelaskan tentang filtrasi glomerulus. Lalu, Alfonsus
menjelaskan tentang reabsorpsi tubulus. Lalu, Boeih dan Aurel menjelaskan tentang
augmentasi. Lalu, Dicky menjelaskan tentang yang terjadi setelah dari duktus kolektivus.

210

Setelah dijelaskan semua, tak lama kemudian, Bu Puspa pun mengakhiri pembelajaran
biologi pada hari ini.

Bukti

211

screenshoot :

212

JURNAL BELAJAR 4

Jumat, 5 Maret 2021

Hari ini adalah pertemuan keempat kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-8
mengenai sistem ekskresi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.

Pada pertemuan kali ini, kita melanjutkan pembahasan tentang ginjal. Bu Puspa
mempersilahkan siswa untuk melanjutkan materi yaitu tentang faktor-faktor yang
memengaruhi proses pembentukan urine. Jadi, pembentukan urine dapat dipengaruhi oleh
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dibagi menjadi 3 yaitu hormon ADH,
hormon insulin, dan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Fator eksternal dibagi menjadi 3
yaitu suhu lingkungan, jumlah air yang diminum, dan alkohol. Lalu, Thezar ingin
menjelaskan faktor tersebut. Jadi, pembentukan urine dapat dipengaruhi yang pertama
adalah faktor internal. Di faktor internal, yang pertama adalah hormon ADH. Hormon ADH
(antidiuretic hormone) dihasilkan oleh hipotalamus dalam otak. Yang kedua adalah hormon
insulin.

Hormon insulin dihasilkan oleh sel β pada pankreas. Insulin berfungsi untuk
menurunkan kadar glukosa darah dengan cara menginisiasi penyerapan glukosa oleh sel.
Yang ketiga adalah sistem renin-angiotensin-aldosteron yang dihasilkan oleh aparatus
juksta glomerulus untuk merespons tekanan darah yang rendah, konsentrasi natrium rendah,
dan kehilangan air. Lalu, pembentukan urine dapat dipengaruhi yang kedua adalah faktor
eksternal. Di faktor eksternal, yang pertama adalah suhu lingkungan. Jika suhu lingkungan
panas, banyak mengeluarkan keringat, maka osmolaritas darah meningkat, sekresi ADH
meningkat, reabsorpsi air banyak, dan jumlah urine sedikit. Yang kedua adalah jumlah air
yang diminum. Jika banyak minum air, maka osmolaritas darah menurun, sekresi ADH
menurun, reabsorpsi air sedikit, dan jumlah urine akan menjadi banyak. Yang ketiga adalah
alkohol. Alkohol dapat menghambat pembebasan ADH sehingga menyebabkan kandungan
air dalam urine berkurang, tubuh menjadi dehidrasi, dan rasa sakit.

Lalu, Ruth ingin membahas tentang karakteristik urine yaitu sifat fisik urine. Yang
pertama adalah volume urine dihasilkan orang dewasa yang sehat sekitar 800 2.500
mL/hari. Yang kedua adalah berwarna kuning pucat sampai dengan kuning tua. Urine yang
masih segar tampak jernih, tetapi kalau didiamkan beberapa saat pada ruangan terbuka,
maka akan berubah menjadi keruh. Hal ini terjadi karena perubahan urea menjadi amonia.
Yang ketiga adalah berat jenis urine 1,003 1,035 g/cm 3, bersifat agak asam dengan pH
rata-rata 6, atau sekitar 4,7 8. Yang keempat adalah berbau khas, cenderung berbau

213

amonia setelah didiamkan, dipengaruhi oleh jenis makanannya. Pada urine penderita
diabetes, adanya aseton menimbulkan bau manis. Setelah itu, Bu Puspa menjelaskan
tentang faktor yang memengaruhi proses pembentukan urine. Lalu, Faisal dan Gita
melengkapi penjelasan tentang hormon ADH. Lalu, Faren, Je Ivan, Marcel melengkapi
penjelasan tentang hormon insulin. Lalu, Rafli dan Nanda melengkapi penjelasan tentang
sistem renin-angiotensin-aldosteron. Lalu, Raina melengkapi penjelasan tentang faktor
eksternal. Lalu, saya melengkapi penjelasan tentang sifat fisik urine. Setelah dijelaskan
semua, tak lama kemudian, pembelajaran pada hari ini pun berakhir.

214

Bukti screenshoot :

JURNAL BELAJAR 5

Rabu, 10 Maret 2021
Hari ini adalah pertemuan kelima kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-8
mengenai sistem ekskresi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.
Pertama-tama, Bu Puspa mempersilahkan siswa yang mendapat judul hati. Lalu,
Elvina ingin menjelaskan tentang definisi hati. Jadi, hati adalah sebuah kelenjar terbesar
dan kompleks dalam tubuh. Hati memiliki warna merah kecoklatan. Hati terletak di dalam
rongga perut sebelah kanan, tepatnya di atas lambung dan di bawah diafragma. Hati
manusia memiliki berat sekitar 1,5 2,0 kg dan juga hati mempunyai berbagai macam
fungsi.

215

Lalu, Elvina menjelaskan tentang fungsi hati. Jadi, sebagai kelenjar, hati berfungsi
untuk menghasilkan empedu, trombopoietin, albumin, angiotensinogen, enzim arginase,
enzim glutamat-oksaloasetat transferase, glutamat-piruvat transferase, dan laktat
dehidrogenase. Selain menghasilkan, hati juga berfungsi untuk menyimpan glikogen,
lemak, zat besi, zat tembaga, serta vitamin A, D, K, dan B12, mengaktifkan vitamin D yang
dilakukan bersama-sama dengan ginjal, fagosit bakteri yang dilakukan oleh makrofag sel
Kupffer, degradasi hormon insulin dan beberapa hormon lainnya, dan degradasi amonia
menjadi urea.

Lalu, Rania melengkapi penjelasan tentang fungsi dari hati. Sebagai kelenjar, hati
berfungsi untuk menghasilkan yang pertama adalah empedu. Empedu berupa cairan
berwarna hijau, terasa pahit, berjumlah sekitar 0,5 liter setiap hari, dan berasal dari
perombakan hemoglobin sel-sel darah merah yang sudah tua yang disimpam di dalam
kantong emepedu atau disekresikan ke duodenum (usus 12 jari). Sekresi empedu berfungsi
untuk membantu pencernaan lemak dengan cara mengemulsikan lemak, mengaktifkan
lipase, membantu absorpsi lemak di usus, dan mengubah zat yang tidak dapat larut di dalam
air menjadi larut. Yang kedua adalah trombopoietin, yaitu hormon glikoprotein yang
mengendalikan langsung produksi keping darah oleh sumsum tulang belakang. Yang ketiga
adalah albumin, merupakan komponen plasma darah. Yang keempat adalah
angiotensinogen, yaitu hormon yang akan diaktifkan oleh enzim renin ginjal dan berperan
dalam peningkatan tekanan darah. Yang kelima adalah enzim arginase yang mengubah
arginin menjadi ornitin dan urea. Yang keenam adalah enzim glutamat-oksaloasetat
transferase yang berfungsi untuk memantau atau menetapkan terapi bagi penderita hepatitis
atau kanker hati. Lalu, enzim glutamat-piruvat transferase, merupakan enzim yang utama
ditemukan di dalam sel hati yang sangat efektif digunakan untuk mendiagnosis kerusakan
sel hati. Lalu, laktat dehidrogenase yang membantu menambah energi dalam hati apabila
terjadi kerusakan sel hati. Setelah itu, Bu Puspa menjelaskan tentang hati dan
mempersilahkan siswa untuk menjelaskan tentang proses ekskresi pada hati.

Lalu, Alya Rahimah ingin mencobanya. Jadi, proses di dalam hati yang
berhubungan dengan alat eskresi ada 2, yaitu proses pemecahan eritrosit dan proses
deaminasi. Setelah itu, Oriza membahas tentang gangguan hati. Jadi, gangguan hati dapat
disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari infeksi virus hingga gaya hidup yang tidak sehat.
Gejala yang muncul akibat gangguan hati, antara lain warna kulit dan mata menjadi kuning,
kulit terasa gatal dan mudah memar, cepat lelah, urine berwarna gelap, feses berwarna
pucat, perut bengkak dan nyeri, pusing dan muntah, nafsu makan hilang, dan pergelangan
kaki bengkak. Gangguan hati dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu infeksi virus
hepatitis seperti hepatitis A, B, dan C, penularan dari ibu kepada janinnya, kelainan genetik,
kanker, penimbunan lemak, dan gangguan sistem imun. Jenis gangguan pada hati, antara
lain penyakit kuning, kolestasis, sirosis, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, perlemakan
hati, dan kanker hati. Setelah itu, Bu Puspa memberitahu bahwa minggu depan akan ada
ulangan biologi bab 8 tentang sistem ekskresi. Bu Puspa akan memberitahu jadwal ulangan
biologi di WhatsApp. Setelah dijelaskan semua, tak lama kemudian, pembelajaran pada
hari ini pun berakhir.

216

Bukti screenshoot :

217

B. Portofolio

Sistem Ekskresi Pada Ginjal

218

1. Pengertian Sistem Ekskresi
Ekskresi adalah adalah proses pembuangan zat sisa metabolisme yang bersifat racun dan
sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Seluruh sampah dalam tubuh dalam bentuk
cairan (urin dan keringat), gas (karbon dioksida), dan zat padat harus diekskresikan.
Proses ini sangat penting untuk menjaga kestabilan homeostatis dan mencegah kerusakan
tubuh.

2. Fungsi Sistem Eksresi
Organ Sistem Ekskresi pada manusia yaitu ginjal, hati, paru-paru, dan kulit.
Fungsi dari sitem ekskresi antara lain :
Menurunkan zat kadar produk metabolisme (metabolit) dalam tubuh agar tidiak
menyebabkan akumulasi.
Melindungi sel-sel tubuh dari zat-zat yang bersifat racun
Menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh (homeostasis)
Membantu mempertahankan tubuh

3. Fungsi Ginjal
Fungsi organ ginjal untuk tubuh manusia yaitu :
Mengeluarkan zat sisa organic dan racun
Mengatur keseimbangan konsentrasi ion-ion penting dalam tubuh
Mengatur keseimbangan asam-basa
Menjaga tekanan darah

219

Mengatur produksi sel-sel darah merah didalam sumsum tulang
Mengendalikan konsentrasi nutrisi darah
Mengubah vitamin D yang inaktif menjadi aktif

4. Struktur Ginjal
Struktur ginjal terbagi menjadi 3 bagian, bagiann luar disebut kulit ginjal/korteks renalis,
dibawahnya medula renalis, dan di bagian dalam terdapat rongga ginjal/pelvis renalis yang
berfungsi sebagai penampung urine sementara sebelum dikeluarkan melalui ureter.
1. Kulit Ginjal (korteks renalis)

Korteks adalah bagian

terluar dari ginjal yang

terletak antara kapsul ginjal dan medulla. Ini merupakan tempat terjadinya penyaringan

darah atau filtrasi. Disini terdapat jutaan nefron yang terdiri dari badan malphigi. Badan

malpighi pada ginjal tersusun atas glomerolus dan kapsula bowman dan tubulus (saluran),

baik tubulus kontortus proksimal maupun tubulus kontortus distal. Jumlah nerfron yang

cukup banyak pada kulit ginjal menjadikan permukaan kapiler ginjal lebih luas, sehingga

meningkatkan kemampuan dalam menyaring darah.

2. Sumsum Ginjal (medulla renalis)

220

Korteks adalah bagian terluar dari ginjal yang terletak antara kapsul ginjal dan medulla. Ini
merupakan tempat terjadinya penyaringan darah atau filtrasi. Disini terdapat jutaan nefron
yang terdiri dari badan malphigi. Badan malpighi pada ginjal tersusun atas glomerolus dan
kapsula bowman dan tubulus (saluran), baik tubulus kontortus proksimal maupun tubulus
kontortus distal.
3. Rongga Ginjal (pelvis)
Rongga ginjal atau pelvis berfungsi sebagai tempat untuk menampung sementara urine
sebelum dialirkan ke kandung kemih melalui uretra. Kandung kemih memiliki dinding
yang elastis dan mampu meregang untuk dapat menampung sekitar 0,5 L urine. Proses
pengeluaran urine dari dalam kandung kemih disebabkan oleh adanya tekanan akibat
adanya sinyal yang menunjukkan bahwa kandung kemih sudah penuh. Kontraksi otot perut
dan otot-otot kandung kemih akan terjadi saat adanya sinyal penuh dalam kandung kemih.
Akibat kontraksi ini, urine dapat keluar dari tubuh melalui uretra.

5. Proses Ginjal Melalukan Sistem Ekskresi
Selain bertugas menyaring darah dalam tubuh, mengendalikan keseimbangan cairan tubuh,
serta menjaga kadar elektrolit dalam tubuh, ginjal juga memiliki peranan penting dalam
sistem ekskresi pada manusia, yakni sebuah proses pengeluaran zat zat sisa metabolisme
yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Ginjal akan menyaring darah yang masuk ke
wilayahnya, kemudian mengalirkannya kembali melalui pembuluh darah ginjal ke organ
tubuh lainnya. Nah, zat-zat limbah yang tersaring dalam proses ini kemudian akan dibuang
melalui urine yang dikumpulkan di panggul ginjal (renal pelvis). Sebelum akhirnya ureter
akan memindahkan urine ke kandung kemih, tempat dimana urine disimpan. Dari sini, urine
berjalan dan keluar dari tubuh melalui saluran kemih.
Sebagai alat ekskresi, ginjal akan menjalankan tiga tahapan dalam proses pembuangan,
termasuk penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorbsi) dan pengumpulan
(augmentasi). Tahap-tahap berikut yaitu :
Pada tahap filtrasi, ginjal menyaring cairan dalam darah, sebelum akhirnya kembali
ke jantung dan paru paru. Cairan yang tersaring berupa urin primer yang masih
mengandung air, glukosa, dan asam amino. Namun sudah tidak mengandung protein
dan darah.
Pada tahap reabsorbsi, yang terjadi di bagian ginjal yang bernama tubulus kontortus
proksimal, tubulus kontortus proksimal menyerap kembali zat-zat yang masih
dibutuhkan oleh tubuh. Adapun hasil dari proses reabsorbsi adalah urin sekunder.
Sementara pada tahap pengumpulan atau augmentasi, terjadi pengumpulan cairan
yang telah dilakukan dalam tahapan-tahapan sebelumya. Ini merupakan tahapan yang

221

terakhir dan terjadi di bagian tubulus kontortus distal. Cairan yang dihasilkan oleh
tahapan ini sudah berbentuk urin sesungguhnya.

Sistem Ekskresi Pada Hati

Hati adalah organ yang berukuran besar dengan berat sekitar 1 kilogram. Organ yang
sangat penting bagi metabolisme dan sistem kekebalan tubuh ini terletak di bagian kanan
atas dalam rongga perut, tepat di bawah diafragma.

Salah satu zat beracun yang dibuang dan diolah oleh hati adalah amonia, yaitu zat sisa dari
hasil penguraian protein. Jika dibiarkan menumpuk dalam tubuh, amonia dapat
menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan pernapasan dan masalah
pada ginjal.

Di dalam tubuh, hati berfungsi untuk mengolah amonia menjadi urea. Setelah itu, urea yang
diolah di hati akan dibuang melalui sistem ekskresi pada ginjal lewat urine. Selain amonia,
zat lain yang dibuang atau diekskresi oleh hati adalah zat beracun dalam darah, misalnya
akibat konsumsi alkohol atau obat-obatan.
Organ hati juga berfungsi untuk membuang sel darah merah yang sudah rusak dan
kelebihan bilirubin yang dapat menyebabkan sakit kuning atau jaundice

Sebagai organ yang berperan dalam sistem ekskresi, hati berfungsi untuk merombak sel-sel
darah merah yang sudah tua/rusak. Di dalam hati, hemoglobin pada sel darah merah yang
sudah rusak akan diuraikan menjadi globin, zat besi, dan senyawa hemin. Hemoglobin itu
sendiri merupakan protein yang mengandung zat besi pada sel darah merah.

Zat besi akan disimpan di dalam hati atau dialirkan menuju sumsum tulang belakang,
sedangkan globin digunakan untuk membentuk sel darah merah baru dan metabolisme
protein. Sementara itu, senyawa hemin akan diubah menjadi zat warna pada empedu, yaitu
bilirubin dan biliverdin.

Sistem Ekskresi Pada Kulit

Kulit manusia memiliki sekitar 34 juta kelenjar keringat. Kelenjar ini tersebar di seluruh
bagian tubuh, namun paling banyak terdapat di telapak tangan, kaki, wajah, dan ketiak.
Kelenjar keringat terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kelenjar ekrin dan kelenjar apokrin.
Kelenjar ekrin terhubung langsung dengan permukaan kulit dan menghasilkan keringat
yang tidak berbau dan encer. Sementara itu, kelenjar apokrin menghasilkan keringat yang
mengandung lemak dan pekat, serta terdapat di folikel rambut, seperti ketiak dan kulit
kepala.

222

Pada dasarnya, keringat yang dihasilkan kelenjar-kelenjar tersebut berfungsi untuk
mengendalikan suhu tubuh dan melumasi kulit serta rambut. Namun, sebagai bagian dari
sistem ekskresi, kelenjar keringat juga berperan membuang racun dari dalam tubuh melalui
keringat yang dihasilkannya.

Ada beberapa jenis racun yang dibuang melalui kelenjar keringat di kulit, antara lain zat
logam, bisphenol A, polychlorinated biphenyls, urea, phthalate, dan bikarbonat. Tak hanya
racun, kelenjar keringat di kulit juga berfungsi untuk membunuh dan membuang bakteri.

Fungsi kulit sebagai organ sistem ekskresi adalah untuk mengeluarkan kotoran, racun, dan
senyawa mineral berlebih melalui keringat, agar kita terhindar dari zat-zat yg dapat
meracuni tubuh. Keringat biasanya keluar ketika kita melakukan aktivitas, seperti
berolahraga atau berjemur di bawah sinar matahari.

A. Jurnal Belajar BAB IX
Sistem Koordinasi

223

JURNAL BELAJAR 1

Jumat, 26 Maret 2021
Hari ini adalah pertemuan pertama kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-9
mengenai sistem koordinasi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti
pembelajaran hari ini.
Pertama-tama, Bu Puspa membahas tentang hasil ulangan harian bab kemarin. Lalu,
Bu Puspa membahas materi pada bab ini, yaitu sistem koordinasi yang terdiri dari 3 hal,
antara lain sistem saraf, sistem hormon, dan sistemindra yang merupakan satu kesatuan.
Bu Puspa bertanya kepada Louis tentang apa itu sistem koordinasi. Louis pun
menjawab, sistem koordinasi adalah sistem yang berfungsi untuk melancarkan dan
melakukan gerakan tubuh.
Setelah itu, Bu Puspa meminta perwakilan 1 orang untuk berpendapat mengenai
jawaban Louis dan Engeline menjawab bahwa ia setuju dengan jawaban Louis. Lalu, Bu
Puspa menjelaskan bahwa fungsi sistem koordinasi yaitu mengkoordinasikan dan
mengatur dimana terjadinya gerakan yang bersumber karena adanya rangsangan.
Setelah itu, Bu Puspa membahas tentang sel saraf (neuron). Struktur terkecil dari sistem
saraf adalah sel saraf (neuron). 1 neuron yang bergabung dengan neuron lain dan
membetuk kumpulan disebut berkas, dan bergabung lagi menjadi sistem saraf. Sistem
saraf ada 2, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Neuron berdasarkan fungsinya
dibagi 3, yaitu neuron sensor, motor, dan konektor. Sedangkan, berdasarkan strukturnya
dibagi 3, yaitu neuron multipolar, bipolar, dan unipolar. Setelah dijelaskan semua, tak
lama kemudian, pembelajaran pada hari ini pun berakhir.

Bukti screenshoot :

224

JURNAL BELAJAR 2

Rabu, 31 Maret 2021

225

Hari ini adalah pertemuan kedua kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-9
mengenai sistem koordinasi. Pada pertemuan kali ini, kita tidak melakukan pertemuan
seperti biasanya. Melainkan, pembelajaran hari ini dilakukan melalui grup WhatsApp. Hari
ini tidak ada Google Meet dikarenakan Bu Puspa sedang melakukan workshop.

Jadi, pada pertemuan kali ini, Bu Puspa memberi tugas kepada siswa kelas XI IPA 4
dan XI IPA 5 untuk membuat analisis struktur, fungsi, dan pengelompokan terhadap Sel
Saraf (Neuron), Sistem Saraf Pusat (SSP), dan Sistem Saraf Tepi (SST). Jadi, Neuron
merupakan unit fungsional sistem saraf, berukuran panjang sekitar 39 inci, serta terdiri atas
bagian badan sel, dendrit, dan akson (neurit). Lalu, Sistem saraf pusat (SSP) meliputi otak
(serebral), dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Sedangkan, sistem saraf tepi
(SST) terdiri atas jaringan saraf yang berada di luar otak dan di luar medula spinalis. Sistem
ini meliputi saraf kranial yang berasal dari otak dan saraf spinal yang berasal dari medula
spinalis. Pada sistem saraf tepi terdapat ganglion (ganglia = jamak), yaitu struktur lonjong
yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang ditunjang oleh jaringan ikat. Jadi,
pada jam pelajaran biologi hari ini digunakan untuk mengerjakan tugas mandiri yang telah
diberikan.

JURNAL BELAJAR 3

Jumat, 26 Maret 2021

226

Hari ini adalah pertemuan ketiga kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-9
mengenai sistem koordinasi. Sama seperti minggu lalu, pertemuan kali ini, kita tidak
melakukan pertemuan dengan google meet. Melainkan, pembelajaran hari ini dilakukan
melalui grup WhatsApp, dikarenakan Bu Puspa sedang ada kegiatan dari Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Jadi, pada pertemuan kali ini, Bu Puspa memberi tugas mandiri di Google
Classroom untuk membuat analisis struktur dan fungsi sistem hormon. Jadi, sistem
endokrin (hormon) adalah sekumpulan kelenjar dan organ yang memproduksi hormon.
Hormon (Yunani, horman = yang menggerakkan) adalah senyawa organik pembawa pesan
kimiawi di dalam aliran darah menuju ke sel-sel atau jaringan tubuh. Hormon hanya dapat
memengaruhi sel- sel target yang memiliki reseptor khusus. Pengaruh hormon terhadap
jaringan tubuh tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat (beberapa detik) hingga beberapa
tahun. Jumlah hormon dalam aliran darah hanya sedikit jika dibandingkan dengan jumlah
glukosa atau kolesterol. Sistem endokrin berinteraksi dengan sistem saraf berfungsi
mengatur aktivitas tubuh seperti metabolisme, homeostasis (misalnya pengendalian tekanan
darah dan kadar gula darah), pertumbuhan, perkembangan seksual dan siklus reproduksi,
siklus tidur, serta siklus nutrisi. Jadi, pada jam pelajaran biologi hari ini digunakan untuk
mengerjakan tugas mandiri yang telah diberikan.

JURNAL BELAJAR 4

227

Jumat, 9 April 2021
Hari ini adalah pertemuan keempat kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-9
mengenai sistem koordinasi. Pada pertemuan kali ini, kita tidak melakukan pertemuan
seperti biasanya. Melainkan, pembelajaran hari ini dilakukan melalui grup WhatsApp,
dikarenakan guru-guru SMA Negeri 1 Balikpapan sedang melakukan kerja bakti di sekolah.
Jadi, Bu Puspa memberi tugas mandiri di Google Classroom untuk membuat analisis
struktur dan fungsi 5 indera sebagai sistem koordinasi manusia. Jadi, sistem indra ada 5,
yaitu indra penglihat (mata), indra pembau (hidung), indra pengecap (lidah), indra
pendengar (telinga), dan indra peraba (kulit). Jadi, mata adalah sistem optik yang
memfokuskan berkas cahaya pada fotoreseptor dan mengubah energi cahaya menjadi
impuls saraf. Lalu, hidung (nasal) sebagai indra pembau (penciuman) memiliki
komoreseptor olfaktori yang berfungsi menerima rangsangan berupa bau atau zat kimia
yang berbentuk gas. Setelah itu, lidah sebagai indra pengecap memiliki kemoreseptor
berupa kuncup pengecap (taste bud). Lalu, telinga berfungsi sebagai indra pendengar yang
mampu mendeteksi gelombang bunyi atau suara, serta berperan penting dalam
keseimbangan dan menentukan posisi tubuh. Setelah itu, kulit sebagai indra peraba
memiliki beberapa reseptor sensor untuk mentransduksi stimulus dari lingkungan menjadi
impuls saraf. Jadi, pada jam pelajaran biologi hari ini digunakan untuk mengerjakan tugas
mandiri yang telah diberikan.

228

JURNAL BELAJAR 5

Jumat, 16 April 2021

Hari ini adalah pertemuan kelima kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-9
mengenai sistem koordinasi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.

Bu Puspa melanjutkan materi yaitu tentang sistem saraf pusat. Bu Puspa meminta
perwakilan untuk menjelaskan mengenai sistem saraf pusat dan Aaliyah menjelaskan
bahwa sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang yang keduanya
memiliki lapisan pelindung jaringan ikat yang disebut meninges. Meninges terdiri dari 3
lapisan, yaitu pia meter (terdalam), araknoid (tengah), dan dura meter (terluar). Otak dan
sumsum tulang belakang memiliki substansi abu-abu dan substansi putih.

Lalu, Bu Puspa menunjuk Ghina untuk menjelaskan tentang otak. Ghina
menjelaskan tentang bagian otak yang pertama yaitu serebrum (otak besar) dan area
fungsional korteks serebral. Setelah itu, Bu Puspa mempersilahkan kelas XI IPA 4 untuk
menambahkan penjelasan Ghina dan Rania pun melengkapinya. Bagian otak yang kedua
adalah diensefalon yang terdiri dari 3 bagian, yaitu talamus, hipotalamus, epitalamus.
Bagian otak yang ketiga adalah sistem limbik (rinensefalon) yang merupakan cincin
struktur-struktur otak depan yang mengelilingi otak dan saling berhubungan melalui jalur-
jalur neuron yang rumit. Bagian otak keempat adalah mesensefalon (otak tengah) yang
merupakan bagian otak pendek yang menghubungkan pons dan serebelum dengan
serebrum. Bagian otak kelima adalah pons varolii (jembatan varol) yang berfungsi untuk
mengatur frekuensi dan kekuatan bernapas. Bagian otak keenam adalah serebelum (otak
kecil) yang merupakan bagian otak yang sangat berlipat dan berfungsi untuk
mempertahankan keseimbangan, kontrol gerakan mata, meningkatkan tonus otot, dan
lainnya. Bagian otak ketujuh adalah medula oblongata yang berfungsi dalam pengendalian
frekuensi denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, dan lainnya. Bagian otak yang
terakhir adalah formasi retikuler yang berfungsi untuk memicu dan mempertahankan
kewaspadaan serta kesadaran.

Lalu, Bu Puspa meminta perwakilan untuk menjelaskan tentang sumsum tulang
belakang dan Engeline mengajukan diri.

229

Sumsum tulang belakang bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berwarna
abu-abu dan berbentuk seperti huruf H. Struktur bagian dalam terbagi menjadi 4 bagian,
yaitu tanduk abu- abu posterior (dorsal), tanduk abu-abu anterior (ventral), tanduk lateral
substansi abu-abu, dan komisura abu-abu. Sedangkan, struktur bagian luar terbagi menjadi
funikulus (kolumna) anterior (ventral), posterior, ventrolateral, dan lateral. Setelah itu, Bu
Puspa bertanya tentang persamaan dan perbedaan utama dari otak dan sumsum tulang
belakang dan Thezar pun menjawab persamaannya yaitu sama sama memiliki substansi
abu-abu dan substansi putih.

Lalu, Bu Puspa bertanya apakah komposisi antara sunstansi abu-abu dan putih sama
atau berbeda dan Aaliyah menjawab komposisi dari substansi abu-abu dan putih sama,
hanya letaknya yang berbeda karena otak yang mengontrol gerakan sadar dan medula
spinalis yang mengontrol gerakan refleks. Bagian yang paling banyak berperan adalah
substansi abu-abu.

Lalu, Bu Puspa bertanya bagaimana alur atau proses antara otak atau medula spinalis
yang berhubungan dengan gerak refleks dan sadar. Lalu, Candyle menjawab skema terjadi
gerak sadar, yaitu datangnya rangsangan, diterima oleh reseptor, dilanjutkan oleh sel saraf
sensorik, diteruskan ke otak, diteruskan ke saraf motorik, diteruskan ke efektor sehingga
terjadinya tanggapan atas rangsangan yang datang. Sedangkan, skema terjadinya gerak
refleks, yaitu datangnya rangsangan, diperoleh reseptor, diteruskan ke sel saraf sensorik,
diteruskan ke sel saraf perantara/konektor, diteruskan ke sel saraf motorik, diteruskan ke
efektor sehingga terjadi tanggapan. Perbedaan alurnya, yaitu gerak sadar akan dibawa ke
otak kemudian dilanjutkan ke sel saraf motorik, sedangkan gerak refleks dibawa ke
sumsum tulang belakang.

Setelah itu, Bu Puspa bertanya apakah bisa terjadi salah membawa yang harusnya ke
otak malah ke sumsum tulang belakang atau sebaliknya dan Engeline menjawab tidak bisa
salah. Misalnya, jika kita ingin melakukan gerak refleks dan impuls dikirim ke otak, otak
membutuhkan waktu lebih lama untuk menanggapinya. Sehingga, tidak akan pernah
terjadi salah pengiriman. Tetapi, yang bisa terjadi adalah terlambat atau terlalu cepat dalam
memberikan respon. Setelah dijelaskan semua, tak lama kemudian, pembelajaran pada hari
ini pun berakhir.

Note : Mohon maaf karena tidak meyertakan bukti screenshoot bu, saya lupa untuk meng ss
pertemuan pada saat itu.

230

JURNAL BELAJAR 6

Rabu, 28 April 2021

Hari ini adalah pertemuan keenam kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-9
mengenai sistem koordinasi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.

Pertama-tama, Bu Puspa melanjutkan materi yaitu tentang sistem endokrin
(hormon). Lalu, Bu Puspa menunjuk Adastra untuk menjelaskan tentang hipofisis.
Hipofisis berbentuk oval, melekat didasar hipotalamus otak, dan terbagi menjadi 3 bagian,
yaitu lobus anterior, intermedia, dan posterior. Hipofisis lobus anterior menghasilkan
hormon pertumbuhan (GH) atau hormone somatotropin (STH) yang berfungsi untuk
mengendalikan pertumbuhan dan perbanyak sel-sel tubuh, menyebabkan hati
memproduksi somatomedin, mempercepat laju sintesis protein, dan lain-lain.

Setelah itu, Bu Puspa bertanya apa hubungannya dengan sistem koordinasi dan
Aaliyah menjawab hormon dihasilkan dan bekerja atas perintah sistem saraf sesuai
keadaan dan rangsangan yang diterima otak pada bagian hipotalamus. Sistem endokrin
berinteraksi dengan sistem saraf untuk mengatur aktivitas tubuh seperti metabolisme,
pertumbuhan, siklus hidup, dan lainnya.

Lalu, Bu Puspa membahas tentang tiroid dan menunjuk Rania untuk menjelaskan.
Tiroid (kelenjar gondok) terdiri atas folikel-folikel dalam dua lobus lateral yang terletak
dibawah laring. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin (tetraiodotironin/T4)
sebanyak 90% dan triodotironin (T3) sebanyak 10% dari seluruh sekresi tiroid. Hormon
tiroksin berfungsi untuk meningkatkan laju metabolisme sel, menstimulasi konsumsi
oksigen, meningkatkan pengeluaran energi panas, dan lainnya. Abnormalitas sekresi tiroid,
yaitu hipotiroidisme (penurunan sekresi hormon) dan hipertiroidisme (sekresi hormone
berlebihan).

Setelah itu, Bu Puspa mempersilahkan yang lain untuk berbicara dan Engeline
mengajukan diri. Engeline menjelaskan tentang paratiroid (kelenjar anak gondok).
Paratiroid terdiri atas 4 organ kecil berukuran sebesar biji apel, terletak pada bagian
belakang tiroid. Paratiroid menyekresi hormone parathormon (PTH) yang berfungsi untuk
mengendalikan keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui stimulasi aktivitas
osteoklas, pengaktifan

231

vitamin D, dan stimulasi reabsorpsi kalsium dari tubulus ginjal. Abnormalitas sekresi PTH,
yaitu hiperparatiroidisme dan hipoparatiroidisme.

Lalu, Bu Puspa meminta perwakilan siswa untuk menjelaskan tentang pankreas dan
Afif mengajukan diri. Pankreas menghasilkan hormon, antara lain glukagon, insulin,
somatostatin, dan polipeptida pankreas. Glukagon dihasilkan oleh sel alfa, berfungsi untuk
meningkatkan penguraian glikogen hati menjadi glukosa dan sintesis glukosa dari sumber
nonkarbohidrat dalam hati. Insulin dihasilkan oleh sel beta, berfungsi untuk menurunkan
katabolisme lemak dan protein, menurunkan kadar gula darah, serta meningkatkan sintesis
protein dan lemak. Somatostatin dihasilkan oleh sel delta, merupakan penghalang hormon
pertumbuhan dan penghambat sekresi glukagon dan insulin. Polipeptida pankreas
merupakan hormon pencernaan yang dilepaskan setelah makan dan belum diketahui
fungsinya. Abnormalitas sekresi kelenjar pankreas, yaitu defisiensi insulin yang
menyebabkan diabetes mellitus. Diabetes mellitus disebabkan oleh faktor genetik,
obesitas, penyakit autoimun, dan lainnya. Setelah itu, Bu Puspa melengkapi penjelasan
Afif dan mempersilahkan untuk bertanya.

Lalu, Afif bertanya tentang adrenal, pineal, timus, ovarium, testis, dan plasenta yang
belum dibahas. Kemudian, Bu Puspa menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan
tambahan dan yang utama adalah keempat tadi yang sudah dijelaskan. Tetapi, untuk yang
lain bisa mengingat, Bu Puspa meminta Candyle untuk menyebutkan kata penting dari
adrenal, pineal, dan timus. Candyle menjelaskan bahwa adrenal terbagi menjadi 3 dan
setiap bagian menghasilkan hormon yang berbeda-beda. Pineal menghasilkan melatonin
yang berpengaruh dalam pelepasan gonadotropin dan menghambat produksi melanin.
Timus menghasilkan timosin yang berfungsi untuk pengendalian perkembangan sistem
imun.

Setelah itu, Bu Puspa membahas tentang indra dan meminta perwakilan 5 anak untuk
berbicara. Lalu, Candyle mengajukan diri untuk menjelaskan mengenai indra penglihat
(mata). Mata merupakan sistem optik yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoreseptor
dan mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Bagian mata, yaitu aksesori dan
struktur mata. Mekanisme mata untuk melihat, yaitu cahaya yang dipantulkan oleh benda
ditangkap oleh mata, kemudian menembus kornea dan diteruskan melalui pupil, Intensitas
cahaya yang diatur pupil akan diteruskan menembus lensa mata ke retina. Lalu, daya
akomodasi lensa mata mengatur cahaya agar jatuh tepat di bitnik kuning retina. Kemudian,
pada bitnik kuning, impuls cahaya disampaikan oleh saraf optik ke otak dan cahaya yang
disampaikan ke otak akan diinterpretasikan, sehingga kita bisa mengetahui apa yang kita
lihat. Setelah itu, Candyle membahas tentang adaptasi terhadap gelap dan terang. Setelah
itu, Bu Puspa bertanya apa saja bagian mata yang berperan dalam

232

pengantaran impuls saraf dan Candyle menjawab yang berperan adalah kornea, pupil,
lensa mata, retina, bitnik kuning, dan diteruskan saraf optik menuju otak.

Lalu, Shofa mengajukan diri untuk menjelaskan tentang indra pendengar (telinga).
Telinga berfungsi sebagai indra pendengar yang mampu mendeteksi gelombang
bunyi/suara, serta berperan penting dalam keseimbangan dan menentukan posisi tubuh.
Mekanisme mendengar manusia, yaitu gelombang bunyi (getaran) ditangkap oleh daun
kartilago telinga. Lalu, menjalar ke kanal auditori eksternal (meatus) dan membentuk
getaran pada membrane tipanum. Setelah itu, menjalar ke osikel auditori (maleus, inkus,
dan stapes) menuju fenestra vestibuli. Lalu, terbentuk gelombang tekanan pada perilimfa
skala vestibuli. Lalu, menjalar ke skala timpani dan menyebabkan getaran pada
membrane basilar. Lalu, sel-sel rambut melengkung, memicu impuls saraf, dan menjalar
ke serabut saraf vestibulokoklear. Setelah itu, menjalar ke korteks auditori di otak dan
bunyi diinterpretasikan. Shofa menjelaskan tentang peranan telinga dalam
keseimbangan.

Setelah itu, Adhel mengajukan diri untuk menjelaskan mengenai indra pembau
(hidung). Mekanisme hidung, yaitu gas masuk ke hidung, larut pada selaput mukosa, dan
merangsang silia sel reseptor. Lalu, rangsangan diteruskan ke otak untuk diolah dan jenis
bau dapat diketahui.

Setelah itu, saya menjelaskan tentang indra peraba (kulit). Kulit terbagi mejadi 3
lapisan, epidermis (terluar), dermis, dan hipodermis (terdalam). Kulit dapat menerima
banyak rangsangan dari luar. Rangsangan yang bisa diterima bisa berupa sentuhan panas,
dingin, tekanan, dan rasa nyeri/sakit. Lalu, rangsangan tersebut diterima oleh sel reseptor
dan diteruskan ke otak. Lalu, diolah diotak dan otak menyuruh kita untuk menanggapi
rangsangan.

Setelah itu, Bu Puspa kembali menambahkan tentang kulit. Rangsangan dari setiap
bagian kulit tidak sama, tergantung tempatnya. Setelah itu, Bu Puspa menjelaskan
tentang indra pengecap (lidah). Bu Puspa menggaris bawahi bahwa lidah terdapat papila,
dan bagian-bagian lain dalam rongga mulut yang berperan dalam sistem koordinasi.
Bagian lidah ada 4, yaitu yang merasakan manis, asin, pahit, dan asam. Setelah
dijelaskan semua, tak lama kemudian, pembelajaran pada hari ini pun berakhir.

233

Bukti screenshoot :

234

B. Portofolio

SISTEM KOORDINASI

A. Neuron ( Sel Saraf )
Neuron merupakan sel saraf unit fungsional sistem saraf, berukuran
panjang sekitar 39 inci, serta terdiri atas bagian badan sel, dendrit, dan
akson (neurit).
Badan sel (perikarion), berfungsi mengendalikan metabolisme
keseluruhan neuron. Badan sel memiliki nukleus (inti) di tengah dan
nukleolus yang menonjol. Nukleus tidak memiliki sentriol dan tidak
dapat bereplikasi. Sitoplasma mengandung badan Nissl, berupa
tumpukan retikulum endoplasma granuler dan ribosom yang
berfungsi untuk sintesis protein. Organel lain pada badan sel adalah
badan Golgi, mitokondria, dan neurofibril.
Dendrit merupakan juluran sitoplasma yang relative pendek,
barcabang-cabang, dan berfungsi untuk menerima impuls (sinyal) dari
sel lain untuk dikirimkan ke badan sel. Neurofibril dan badan Nissl
dari badan sel, memanjang ke dalam dendrit.
Akson merupakan juluran sitoplasma yang panjang (berkisar 1 mm - 1
m) atau cabang tunggal berbentuk silindris yang berasal dari badan
sel. Ujung akson bercabang-cabang seperti ranting, berfungsi
mengirimkan impuls ke sel neuron lainnya. Pada umumnya akson
dibungkus oleh substansi lemak berwarna putih kekuningan yang
disebut selubung mielin Pada bagian tertentu dari akson tidak
diselubungi mid disebut nodus Ranvier. Nodus Ranvier berfungsi
mempercepat jalannya impuls. Selubung mielin ditutupi oleh
rangkaian sel sel Schwann yang berinti gepeng, disebut selubung
Schwann (neurilema). Akson berasal bagian hillock akson (bukit
akson) dari badan sel, yaitu bagian yang tidak mengandung badan
Nissl.

Berdasarkan fungsinya neuron dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

235

Neuron sensor (aferen), berfungsi menghantarkan impuls dari organ
sensor ke pusat saraf (otak atau sumsum tulang belakang).
Neuron motor (eferen), berfungsi menghantarkan impuls dari pusat
saraf ke organ motor (otot) atau kelenjar.
Neuron konektor (interneuron), berfungsi menghubungkan neuron
yang satu dengan neuron lainnya.

Berdasarkan strukturnya (juluran sitoplasma), neuron dapat dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu :

Neuron multipolar, memiliki satu akson dan dua dendrit atau lebih.
Contohnya, neuron motor yang terdapat di otak dan medula spinalis
(sumsum tulang belakang).
Neuron bipolar, memiliki dua juluran berupa dendrit dan akson.
Contohnya, neuron pada organ indra seperti mata, hidung, dan
telinga.
Neuron unipolar (pseudounipolar), merupakan neuron bipolar yag
tampak hanya memiliki satu juluran dari badan sel karena akson dan
dendritnya berfusi. Contohnya, neuron pada embrio dan fotoreseptor
mata.

B. Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak (serebral) dan sumsum tulang belakang
(medula spinalis). Otak dilindungi oleh tulang tengkorak, sedangkan
medula spinalis dilindungi oleh ruas-luas tulang belakang. Pada otak
maupun medula spinalis terdapat lapisan pelindung dari jaringan ikat
yang disebut meninges. Meninges terdiri atas tiga lapisan, yaitu:
Pia mater adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, mengandung
banyak pembuluh darah, serta melekat pada otak atau medula
spinalis.
Araknoid adalah lapisan tengah, mengandung sedikit pembuluh
darah. Araknoid memiliki ruang subaraknoid yang berisi cairan
serebrospinalis, pembuluh darah, dan selaput jaringan penghubung

236

yang mempertahankan posisi araknoid terhadap pia mater di
bawahnya. Cairan serebrospinalis menyerupai plasma darah dan
cairan interstisial, tidak mengandung protein, berfungsi sebagai
bantalan, serta media pertukaran nutrien dan zat sisa antara darah
dengan otak maupun medula spinalis.
Dura mater adalah lapisan terluar, tebal dan kuat, serta terdiri atas
dua lapisan. Pada dura mater terdapat ruang subdural yang
memisahkan dura mater dari araknoid. Lapisan yang terluar melekat
pada permukaan dalam kranium.

Otak maupun medula spinalis memiliki substansi abu-abu dan substansi
putih.

Substansi abu-abu, membentuk bagian luar (korteks) otak dan
bagian dalam medula spinalis. Substansi abu-abu mengandung
badan sel neuron, serabut bermielin dan tidak bermielin, astrosit
protoplasma, oligodendrosit, dan mikroglia.
Substansi putih, membentuk bagian dalam otak dan bagian luar
medula spinalis. Substansi putih didominasi oleh serabut bermielin
maupun tidak bermielin, mengandung oligodendrosit, astrosit
fibrosa, dan mikroglia.

1. Otak
Otak manusia diperkirakan mencapai 2% dari keseluruhan berat
tubuh, mengonsumsi 25% oksigen, dan menerima 1.5% darah dari
jantung. Otak tersusun dari 100 milyar neuron yang terhubung oleh
sinapsis membentuk anyaman kompleks. Neuron di otak
berkomunikasi satu sama lainnya secara kimiawi atau berupa muatan
listrik yang memungkinkan kita dapat mengalami emosi, berpikir dan
mengingat, mengetahui dan mengatur keadaan tubuh sendiri dan
lingkungannya, serta secara sadar mengontrol gerakan tubuh.
Sistem saraf primitif mulai terbentuk sejak embrio pada minggu ke-3
masa kehamilan, selanjutnya pada minggu ke-4 akan terbentuk
cabung saraf yang akan menjadi otak dan medula spinalis. Bagian
kranial pada tabung saraf membentuk tiga bagian yang membesar

237

(vesikel) yang berdiferensiasi membentuk otak depan, otak tengah,
dan otak belakang
a. Bagian-bagian otak
1) Serebrum ( Otak Besar )

Serebrum mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak.
Bagian luarnya tersusun dari substansi abu-abu yang disebut
korteks serebral, sedangkan bagian dalamnya tersusun dari
substansi putih yang disebut nukleus basal (ganglia basal).

Korteks serebral, menempati 80% dari total massa otak,
memiliki ketebalan sekitar 5 mm, serta memiliki pelekukan
yang meningkatkan luas permukaannya (sekitar 0,5 m, sering
dikaitkan dengan kecerdasan). Korteks serebral terbagi
menjadi dua belahan (hemisfer serebral). yaitu sisi kanan dan
kiri yang dihubungkan oleh serat pita tebal dari bahan putih
serebrum yang disebut korpus kalosum. Setiap belahan terdiri
atas empat lobus yang terpisah. Setiap hemisfer memiliki
fisura (ceruk dalam) dan sulkus (ceruk dangkal). Permukaan
jaringan orak membentuk bagian bulat menonjol yang disebut
girus. Para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah area
fungsional pada lobus masing-masing.

Area Fungsional Kroteks Serebal

a) Area motor primer. Bagian lobus frontal (dahi) dari girus
presentral, mengendalikan kontraksi volunter (di bawah
kesadaran) otot rangka. Di sisi anterior girus presentral,
mengendalikan aktivitas motor yang terlatih dan berulang,
misalnya kemampuan mengetik. Area Broca (lobus frontal
bagian girus frontalis superior) mengendalikan kemampuan
bicara.

b) Area sensor korteks, meliputi :
Area sensor primer, terdapat pada girus postsentral,
berfungsi menerima informasi nyeri, tekanan, suhu, dan
sentuhan.

238

Area visual primer, terdapat di lobus oksipital (kepala
belakang), berfungsi menerima informasi dari retina mata.
Area auditori primer, terdapat pada tepi atas lobus temporal
(pelipis), berfungsi menerima impuls pendengaran (suara).
Area olfaktori primer, terdapat pada permukaan medial
lobus temporal, berkaitan dengan indra penciuman.
Area pengecap primer (gustatori), terdapat di lobus parietal
(ubun-ubun), di dekat bagian inferior girus postsentral. Area
ini berfungsi untuk persepsi rasa seperti manis, asin, asam

c) Area asosiasi, dipetakan menurut klasifikasi Brodmann sebagai
berikut :
Area asosiasi frontal, terdapat pada lobus frontal, berfungsi
sebagai pusat intelektual dan fisik.
Area asosiasi somatik, terdapat pada lobus parietal,
berfungsi sebagai pusat interpretasi (penafsiran) bentuk dan
tekstur suatu objek.
Area asosiasi visual (pada lobus oksipital) dan area asosiasi
auditorik (pada lobus temporal), berfungsi sebagai pusat
interpretasi visual dan auditori.
Area wicara Wernicke, terdapat pada bagian superior lobus
temporal, berfungsi sebagai pusat bahasa dan wicara.

Nukleus basal, merupakan pusat untuk koordinasi motor. Jika bagian
ini rusak, seseorang akan menjadi pasif dan tidak mampu bergerak
karena nukleus basal tidak mampu lagi mengirimkan impuls motor
ke otot, contohnya penyakit Parkinson.

2) Diensefalon
Diensefalon terletak diantara serebrum dan otak tengah.
tersembunyi di balik hemisfer serebral. Bagian-bagian diensefalon
meliputi:

239

Thalamus, berfungsi menerima dan meneruskan impuls ke
korteks otak besar, serta berperan dalam sistem kesadaran
dan kontrol motor
Hipotalamus, memiliki fungsi:
1. Mengendalikan aktivitas sistem saraf otonom atau tak
sadar, seperti pengaturan frekuensi jantung, tekanan darah,
suhu tubuh, homeostasis, dan pencernaan makanan
2. Sebagai pusat pengaturan emosi, seperti kesenangan,
kegembiraan, dan kemarahan.
3. Memengaruhi keseluruhan sistem endokrin (hormon).
Epitalamus, pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap
diensefalon dan berperan dalam dorongan emosi. Pada
epitalamus terdapat badan pineal yang berperan dalam
fungsi endokrin.
3) Sistem Limbik (rinensefalon)
Sistem limbik adalah cincin struktur-struktur otak depan yang
mengelilingi otak dan saling berhubungan melalui jalur-jalur
neuron yang rumit. Sistem limbik berfungsi dalam pengaturan
emosi (tertawa, marah, takut, menangis, dan tersipu),
mempertahankan kelangsungan hidup, pola perilaku sosioseksual,
motivasi, dan belajar.
4) Mesensefalon (otak tengah)
Otak tengah adalah bagian otak pendek yang menghubungkan
pons dan serebelum (otak kecil) dengan serebrum (otak besar).
Mesensefalon berfungsi sebagai jalur penghantar dan pusat
refleks, serta meneruskan informasi penglihatan dan
pendengaran. Otak tengah, pons, dan medula oblongata disebut
batang otak.

2. Medula Spinalis
Medula spinalis berbentuk silinder langsing yang memanjang dari

batang otak medula oblongata hingga ruas ke-2 tulang pinggang
Panjang medula spinalis sekitar 45 cm dengan diameter 2 cm.
Fungsinya mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh,

240

komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh, serta
menghantarkan rangsangan koordinasi antara otot dan sendi ke
serebelum.

Impuls sensor dari reseptor dihantarkan masuk ke sumsum tulang
belakang melalui tanduk dorsal, sedangkan impuls motor keluar dari
sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada
tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi
konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensor dan akan
menghantarkannya ke saraf motor.

Medula spinalis bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian
dalam berwarna abu-abu dan berbentuk seperti huruf H.

a. Struktur bagian dalam (substansi abu-abu)
Batang atas dan bawah dari struktur berbentuk huruf H.
disebut tanduk atau kolumna yang banyak mengandung badan
sel, dendrit asosiasi, neuron eferen, dan akson tidak bermielin
Tanduk abu-abu posterior (dorsal), batang vertikal atas,
mengandung badan sel yang menerima impuls melalui saraf
spinal dari neuron sensor.
Tanduk abu-abu anterior (ventral), batang vertikal bawah,
mengandung neuron motor yang aksonnya mengirimkan
impuls melalui saraf spinal ke otot dan kelenjar.
Tanduk lateral substansi abu-abu, bagian antara tanduk
posterior dan anterior, mengandung badan sel neuron
system saraf otonom (SSO).
Komisura abu-abu, menghubungkan substansi abu-abu sisi
kiri dan kanan medula spinalis.

b. Struktur bagian luar (substansi putih)
Substansi putih tersusun dari akson yang bermielin. Bagian ini
terbagi menjadi funikulus (kolumna) anterior (ventral),
posterior, ventrolateral, dan lateral. Dalam funikulus terdapat
traktus (fasikulus) spinal, yaitu :
Traktus sensor (asenden), berperan dalam penyampaian
informasi dari tubuh ke otak. Informasi tersebut, misalnya

241

sentuhan, suhu, nyeri, tekanan, posisi tubuh, keseimbangan,
dan arah gerakan.
Traktus motor (desenden), berperan membawa impuls motor
dari otak ke medula spinalis dan dari saraf spinal menuju ke
tubuh. Traktus motor berfungsi menghantarkan impuls untuk
koordinasi dan ketepatan gerakan volunter (sadar), serta
mempertahankan tonus (kontraksi) otot dalam aktivitas
refleks.

C. Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi (sistem saraf perifer) terdiri atas jaringan saraf yang
berada di luar otak dan di luar medula spinalis. Sistem ini meliputi saraf
kranial yang berasal dari otak dan saraf spinal yang berasal dari medula
spinalis. Pada sistem saraf tepi terdapat ganglion (ganglia = jamak), yaitu
struktur lonjong yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang
ditunjang oleh jaringan ikat.
1. Saraf Kranial
Saraf kranial (cranial nerve, CN) terdiri atas 12 pasang saraf, Sebagian
besar tersusun dari serabut sensori dan motor, tetapi beberapa saraf
hanya tersusun dari serabut sensori. Saraf-saraf tersebut diberi nama
dan disusun dengan angka romawi seperti pada tabel dibawah ini :

No Nama saraf kranial Fungsi

1 Saraf olfaktori (CN I) Indra penciuman

2 Saraf optik (CN II) Indra penglihatan

3 Saraf okulomotor (CN III) Impuls dari dan ke otot mata

4 Saraf troklear (CN IV) Impuls dari dan ke otot sadar mata

5 Saraf trigeminal (CN V) Impuls otot mastikasi, wajah, hidung, dan
mulut

6 Saraf abdusen (CN VI) Impuls dari dan ke otot rektus lateral mata

242

7 Saraf fasial (CN VII) Impuls ekspresi wajah, lidah, kelenjar air mata

dan saliva

8 Saraf vestibulokoklear (CN Impuls dari indra pendengaran
VIII)

9 Saraf glosofaring (CN IX) Impuls otot bicara, menelan, kelenjar liudah,
rasa pada lidah

10 Saraf vagus (CN X) Impuls organ pada toraks dan abdomen

11 Saraf aksesori spinal (CN XI) Impuls faring, laring, trapezius, dan
sternokleidomastoid

12 Saraf hipoglosal (CN XII) Impuls dari dan ke otot lidah

2. Saraf Spinal

Setiap saraf spinal terdiri atas satu radiks dorsal (posterior) dan
ventral (anterior). Setiap radiks yang memasuki atau meninggalkan
korda membentuk 7 - 10 cabang radiks (rootlet). Radiks dorsal terdiri
atas kelompok serabut sensori yang memasuki korda, sedangkan
radiks ventral terdiri atas kelompok serabut motor dari korda. Bagian
yang membesar pada radiks dorsal disebut ganglion radiks dorsal
yang mengandung neuron sensor.

Saraf spinal terdiri atas 31 pasang saraf yang muncul dari segmen-
segmen medula spinalis dan diberi nama sesuai nama ruas tulang
belakang, yaitu saraf serviks 8 pasang (Cl - C8), sarah toraks 12 pasang
(TI - T12), saraf lumbar 5 pasang (LI - 15 saraf sakrum 5 pasang (S1 -
S5), dan saraf koksiks 1 pasang, Saraf spinal berfungsi mempersarafi
otot leher dan bahu, kulit kepala dada, dinding abdomen (perut),
paha. genetalia luar, panggul, bokong, dan kaki.

SST (sistem saraf tepi) meliputi serat-serat saraf yang membawa
informasi antara sistem saraf pusat dan bagian tubuh lainnya
(perifer). Berdasarkan arah impuls yang dibawanya, SST dibagi
menjadi divisi aferen dan eferen. Divisi aferen (a = menuju/ke, feren =

243

membawa), membawa informasi dari reseptor yang terletak pada
bagian eksternal tubuh atau reseptor somatik (misalnya, kulit
merasakan dingin) maupun bagian internal tubuh atau viseral
(misalnya, lambung merasakan lapar) menuju ke SSP Divisi eferen (e =
dari, feren = membawa) membawa instruksi dari SSP ke organ efektor
otot atau kelenjar yang melaksanakan perintah agar dihasilkan efek
yang sesuai.

Sistem saraf eferen dibagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem
saraf otonom. Sistem saraf somatik terdiri atas serat-serat neuron
motor yang terdapat pada otot rangka. Sementara itu, sistem saraf
otonom terdiri atas serat-serat yang terdapat pada otot polos, otot
jantung, dan kelenjar. Sistem saraf otonom dibagi menjadi dua jenis
berdasarkan fungsinya, yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf
parasimpatis.
a. Sistem saraf simpatis

Serat saraf simpatis berasal dari segmen toraks dan lumbar
medula spinalis. Sebagian besar serat praganglion sangat pendek
memiliki sinapsis, dan memiliki badan sel neuron pascaganglion
yang berada di dalam ganglion pada rantai ganglion simpatis di
sepanjang kedua sisi medula spinalis. Serat pascaganglion panjang,
berasal dari rantai ganglion, dan berakhir di organ efektor. Sera
preganglion mengeluarkan neurotransmitter, asetilkolin,
sedangkan serat pascaganglion mengeluarkan noradrenalin
(norepinefrin) sehingga disebut serat adrenergik. Baik asetilkolin
maupun norepinefrin, berfungsi sebagai pembawa pesan kimiawi.

Sistem simpatis mendorong respons-respons yang
mempersiapkan tubuh untuk beraktivitas fisik berat dalam situasi
darurat atau stres, yang disebut respons lawan (respons lari). Oleh
karena itu, tubuh membutuhkan hal-hal yang mendukung siruasi
tersebut, misalnya jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, rekanan
darah meningkat, saluran napas membuka lebar, glikogen dan
simpanan lemak diuraikan untuk menghasilkan energi, dan
keringat meningkat.
b. Sistem saraf parasimpatis

244

Serat saraf parasimpatis berasal dari area kranial (otak) dan
sakrum (di bagian bawah medula spinalis). Serat praganglion serat
preganglion simpatis, parasimpatis lebih panjang daripada karena
tidak mencapai ganglion terminal di dalam atau di dekat organ
efektor. Serat pascaganglion sangat pendek dan berakhir di sel-sel
organ. Serat preganglion maupun pascaganglion pada system saraf
parasimpatis mengeluarkan neurotransmiter yang sama, yaitu
asetilkolin sehingga disebut serat kolinergik.

Sistem parasimpatis bekerja pada keadaan tenang (santai)
dan mendorong fungsi tubuh untuk istirahat dan mencerna,
sehingga akan memperlambat aktivitas yang ditingkatkan oleh
sistem saraf simpatis, misalnya denyut jantung lambat atau
normal. Jadi fungsi sehingga sistem parasimpatis berlawanan
dengan sistem simpatis.

245

SISTEM ENDOKRIN (HORMON)

A. Pengertian Sistem Endokrin
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang
menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk
mempengaruhi organ-organ lain. Sistem endokrin disusun oleh kelenjar-kelenjar
endokrin. Kelenjar endokrin mensekresikan senyawa kimia yang
disebut hormon. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa
steroid yang mengatur kerja proses fisiologis tubuh.
Kelenjar endokrin dalam tubuh terdiri dari kelenjar hipofisis, kelenjar
adrenal, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar pineal, dan pulau
langerhans pada pankreas. Kelenjar tersebut memiliki struktur yang
berbeda satu sama lain. Selain struktur, yang membedakan setiap
kelenjar adalah sekresi yang dihasilkan dan fungsinya.

B. Karakteristik Kelenjer Endokrin
Kelenjar endokrin memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut yaitu :
Merupakan kelenjer buntu, karena tidak memiliki saluran (duktus)
dan menyekresikan hormone langsung ke dalam cairan di sekitaar
sel-sel.
Pada umumnya menyekresi lebih dari satu jenis hormone, kecuali
kelenjer paratiroid yang hanya menyekresi hormone paratiroid.
Memiliki sejumlah sel sekretori yang dikelilingi banyak pembuluh
darah dan ditopang oleh jaringan ikat.
Masa aktivitas kelenjar endokrin dalam menghasilkan hormon
berbeda-beda, ada yang seumur hidup (contohnya hormon
metabolisme), dimulai pada masa tertentu (contohnya hormon

246

kelamin), atau bekerja sampai masa tertentu (contohnya hormon
pertumbuhan).
Sekresi hormon dapat distimulasi atau dihambat oleh kadar
hormon lainnya dan senyawa nonhormon (misalnya glukosa dan
kalsium) dalam darah, serta impuls saraf.

C. Kelenjer Endokrin dan Sekresi Hormon
Kelenjar endokrin pada manusia meliputi hipofisis (pituitari), tiroid,
paratiroid, adrenal, pankreas, pineal, dan timus.
1. Hipofisis (pituitari), organ berbentuk oval, melekat di bagian dasar
hipotalamus otak, sebesar kacang, dan memiliki berat 0,5 gram.
Hipofisis terbagi menjadi tiga bagian, yaitu lobus anterior, intermedia,
dan posterior.
a) Hipofisis lobus anterior, menghasilkan hormone-hormon sebagai
berikut:
1) Hormone pertumbuhan (growth hormonel GH) atau hormone
somatotropin (STH) yang berfungsi :
Mengendalikan pertumbuhan dan perbanyakan sel-sel
tubuh. Contoh pada pertumbuhan tulang dan pertambahan
massa otot rangka.
Menyebabkan hati memproduksi somatomedin yang
berperan dalam pertumbuhan tulang dan kartilago.
Mempercepat laju sintesis protein dengan cara
meningkatkan pemasukan asam amino melalui membran
sel.
Menurunkan laju penggunaan karbohidrat oleh sel-sel
tubuh, sehingga menambah kadar glukosa darah.
Meningkatkan pemakaian lemak untuk energy.

Abnormalitas sekresi growth hormone/GH :

Kerdil (dwarfism), jika kekurangan (hiposekresi) GH selama
masa anank-anak sehingga pertumbuhan terhenti.

247

Gigantisme, akibat kelebihan (hipersekresi) GH selama masa
remaja sebelum penutupan cakram epifisis yang
menyebabkan pertumbuhan tulang panjang berlebihan.
Akromegali, pembesaran tulang yang tidak proporsional
seperti penambahan ketebalan tulang pipih pada wajah,
serta pembesaran pada tangan dan kaki. Akromegali terjadi
akibat hipersekresi GH selama masa remaja setelah
penutupan cakram epifisis.
2) Hormon perangsang tiroid (tirotropin, thyroid stimulating
hormone/TSH). Hormon TSH berfungsi meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan sel-sel kelenjar tiroid
(kelenjar gondok), laju produksi hormonnya (tiroksin), dan
metabolisme sel. Pajanan udara dingin dalam waktu lama akan
merangsang produksi tiroksin sehingga mempercepat
metabolisme
3) Hormon adrenokortikotropik atau kortikotropin
(adrenocorticotropic hormonel/ACTH). Hormon ACTH berfungsi
merangsang kelenjar korteks adrenal untuk menyekresi
glukokortikoid (hormon untuk metabolisme karbohidrat).
4) Hormon gonadotropin atau gonadotropik yang mengatur fungsi
gonad. Hormon gonadotropin terdiri atas :
FSH (follicle stimulating hormone)
Pada wanita: FSH berfungsi menstimulasi pertumbuhan
folikel ovarium dan memproduksi hormon estrogen.
Pada laki-laki: FSH berfungsi menstimulasi pertumbuhan
dan perkembangan spermatozoa dalam tubulus seminiferus
testis.

LH (luteinizing hormone)

Pada wanita: LH bekerjasama dengan FSH menstimulasi
produksi estrogen. LH berperan dalam ovulasi dan sekresi
progesteron.

248

Pada laki-laki: LH menstimulasi sel-sel interstisial tubulus
seminiferus testis untuk memproduksi androgen
(testosteron).
5) Hormon prolaktin (PRL), disekresikan pada saat hamil dan
menyusui.

b) Hiposis lobus intermedia (tengah), menghasilkan endorphin dan
melanocyte stimulating hormon (MSH). Hormon ini jga diihasilkan
dilobus anterior
Endorfin, zat penghilang nyeri alamiah, merespons stres,
dan aktivitas seperti olahraga.
MSH, merangsang pembentukan pigmen dan penyebaran
sel-sel penghasil pigmen ( epidermis.
c) Hipofisis lobus posterior, menghasilkan hormon ADH
(antidiuretic hormone) dan oksitosin.
ADH, berfungsi menurunkan volume air yang hilang
dalam urine melalui peningkatan reabsorpsi air dari
tubulus kontortus distal dan duktus kolektivus di ginjal.
Hiposekresi ADH menyebabkan diabetes insipidus
(produksi urine berlebihan) disertai rasa haus yang terus
menerus. Hiposekresi ADH menyebabkan peningkatan
volume darah.
Oksitosin, berfungsi menstimulasi kontraksi otot polos
pada saat melahirkan dan pengeluaran ASI pada ibu
menyusui. Pelepasan oksitosin dan ASI dihambat oleh
stres emosional.

2. Tiroid (kelenjar gondok), terdiri atas folikel-folikel dalam dua lobus
lateral yang terletak di bawah laring. Kelenjar tiroid menghasilkan
hormon tiroksin (tetraiodotironin/T) sebanyak 90% dan triiodotironin
(T) sebanyak 10% dari seluruh sekresi tiroid. Hormon tersebut terbuat
dari asam amino tirosin yang mengandung iodin. Jika kekurangan
iodin dalam waktu yang lama, tiroid akan membengkak (penyakit

249

gondok/goiter). Hormon tiroksin berfungsi meningkatkan laju
metabolisme sel. menstimulasi konsumsi oksigen, meningkatkan
pengeluaran energi panas, serta mengatur pertumbuhan dan
perkembangan normal tulang, gigi, jaringan ikat, dan saraf.
Abnormalitas sekresi tiroid :

Hipotiroidisme (penurunan sekresi hormon), menyebabkan
penurunan metabolisme, konstipasi, reaksi mental lambat, dan
peningkatan simpanan lemak. Pada anak-anak menyebabkan
kretinisme ditandai dengan keterlambatan mental dan fisik. Pada
orang dewasa menyebabkan miksedema yang ditandai dengan
terjadinya edema (akumulasi air dan musin di bawah kulit).
Hipertiroidisme (sekresi hormon berlebihan), menyebabkan
peningkatan metabolisme, berat badan menurun, gelisah, diare,
frekuensi denyut jantung meningkat, toksisitas hormon, dan
penyakit Grave (pembengkakan jaringan di bawah kantong mata
sehingga bola mata menonjol).

3. Paratiroid (kelenjar anak gondok), terdiri atas empat organ kecil
berukuran sebesar biji apel, terletak pada permukaan belakang tiroid.
Paratiroid menyekresi hormon parathormon (Parathyroid
hormone/PTH). PTH berfungsi mengendalikan keseimbangan kalsium
dan fosfat dalam tubuh melalui:
stimulasi aktivitas osteoklas (sel penghancur tulang) yang
menyebabkan pengeluaran kalsium,
pengakifan vitamin D yang diperlukan untuk mengabsorpsi
kalsium dalam makanan, dan stimulasi reabsorpsi kalsium dari
tubulus ginjal sehingga
menurunkan kehilangan ion kalsium dalam urine dan
meningkatkan kadar kalsium dalam darah.
Abnormalitas sekresi PTH :
Hiperparatiroidisme, menyebabkan peningkatan aktivitas satu
atau lebih dari empat kelenjar paratiroid yang terdapat pada
tubuh

250

Hipoparatiroidisme, menyebabkan penurunan kadar kalsium
dalam darah, peningkatan iritabilitas sistem neuromuskular, dan
tetanus (kejang otot rangka).

4. Adrenal (suprarenalis/kelenjar anak ginjal), terletak di kutub atas
ginjal, berwarna kuning, dan tertanam pada jaringan adiposa. Kelenjar
adrenal terdiri atas korteks di bagian luar dan medula di bagian
dalam. Kelenjar adrenal bagian medulla menghasilkan hormone :
Adrenalin (Epinefrin), meningkatkan frekuensi jantung.
metabolisme, dan konsumsi oksigen.
Noradrenalin (Norepinefrin), meningkatkan tekanan darah dan
menstimulasi otot jantung.
Kelenjer adernal bagian korteks menghasilkan hormone :
Aldosteron, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui
pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah.
Glukokortikoid (kortisol, kortison, dan kortikosteron),
memengaruhi metabolisme glukosa, protein, lemak, serta
menjaga membran lisosom sehingga mencegah kerusakan
jaringan.
Gonadokortikoid (steroid kelamin), sebagai prekursor
pengubahan testosteron dan estrogen oleh jaringan lain.
Abnormalitas sekresi kelenjar adrenalin :
Hiposekresi menyebabkan penyakit Addison, dengan gejala
ketidakseimbangan natrium dan kalium dalam darah sehingga
kulit menghitam.
Hipersekresi menyebabkan peningkatan tekanan darah,
cushings disease (kelemahan otot serta penumpukan lemak di
leher dan wajah), sindrom adrenogenital (terjadi pubertas dini),
serta perempuan dewasa yang memiliki karakteristik pria
(tumbuh rambut di wajah, suara menjadi berat, dan
perkembangan otot).

251

5. Pankreas, organ berbentuk pipih, terletak di bagian belakang bawah
lambung. Pankreas sebagai endokrin menghasilkan hormon:
Glukagon, dihasilkan oleh sel alfa, berfungsi meningkatkan
penguraian glikogen hati menjadi glukosa sehingga kadar gula
darah meningkat, dan sintesis glukosa dari sumber
nonkarbohidrat dalam hati.
Insulin, dihasilkan oleh sel beta, berfungsi menurunkan
katabolisme lemak dan protein, menurunkan kadar gula darah,
serta meningkatkan sintesis protein dan lemak.
Somatostatin, dihasilkan oleh sel delta, merupakan penghalang
hormon pertumbuhan dan penghambat sekresi glukagon dan
insulin.
Polipeptida pankreas, hormon pencernaan yang dilepaskan
setelah makan, fungsi belum diketahui
Abnormalitas sekresi kelenjer pancreas :
Defisiensi insulin menyebabkan diabetes mellitus. Diabetes mellitus
dapat disebabkan oleh faktor genetik, obesitas, penyakit autoimun,
virus, lingkungan, ekonomi, dan budaya.

6. Pineal (epifisis serebri), terletak di langit-langit otak, menghasilkan
melatonin yang berpengaruh pada pelepasan gonadotropin dan
menghambat produksi melanin. Produksi melatonin terendah terjadi
pada siang hari dan terbesar pada malam hari.

7. Timus, terdiri atas dua lobus berwarna kemerah-merahan, terletak di
bagian posterior toraks di atas jantung. Pada bayi yang baru lahir,
bentuknya sangat kecil, hanya sekitar 10 gram. Ukurannya bertambah
pada masa remaja/pubertas, menjadi sekitar 30-40 gram. Namun,
setelah dewasa berangsur-angsur menyusut. Timus menghasilkan
timosin untuk pengendalian perkembangan sistem imun.

8. Ovarium, testis, dan plasenta. Ovarium menghasilkan hormon
estrogen dan progesteron. Testis menghasilkan hormon testosteron.

252

Plasenta menghasilkan gonadotropin korion, estrogen, progesteron,
dan somatotropin.

Hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjer endokrin

Kelenjer Hormon yang dihasilkan

Hipofisis GH/STH, TSH, ACTH, FSH, LH, endorfin, MSH, ADH, dan
oksitosin

Tiroid Tiroksin

Paratiroid parathormon (PTH)

Adrenal adrenalin (epinefrin), noradrenalin (norepinefrin),
aldosteron, glukokortikoid (kortisol, kortison,
kortikosteron), gonadokortikoid

Pankreas glukagon, insulin, somatostatin, polipeptida pankreas

Pineal melatonin

Timus timosin

Ovarium Estrogen, progesterone

Plasenta gonadotropin korion, estrogen, progesteron, somatotropin

Testis testosteron

253

BAB X
Sistem Reproduksi

A. Jurnal Belajar

JURNAL BELAJAR 1

Rabu, 5 Mei 2021

Hari ini adalah pertemuan pertama kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-10
mengenai sistem reproduksi. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas XI IPA 5.
Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya langsung memasuki
room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap mengikuti pembelajaran
hari ini.

Sebelumnya kami telah melaksanakan ulangan bab sebelumnya yaitu bab sistem

254

koordinasi pada Senin (3/5/2021) lalu dan sekarang kami akan melanjutkan untuk
mempelajari bab baru yaitu bab 10 mengenai sistem reproduksi. Setelah Ibu Puspa
membagikan link pertemuan, kami pun bergabung.

Setelah bergabung, Ibu Puspa mengawali pembicaraan dengan pembukaan lalu
dilanjut dengan membahas mengenai libur hari raya dan juga ulangan akhir semester
yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Ibu Puspa menginfokan kami bahwa
untuk soal pelajaran Biologi pada saat UAS nanti yaitu akan diambil dari 2 bab terakhir,
yaitu bab 10 dan 11 mengenai sistem reproduksi dan sistem pertahanan tubuh. Ibu Puspa
lanjut dengan membicarakan bahwa nilai kami lebih ditonjolkan dari kehadiran,
keaktifan pertemuan, dan tugas tugas di Google Classroom, lalu ulangan. Selanjutnya,
Ibu Puspa memberitahu kami untuk tugas akhir kami yaitu semua tugas tugas
portofolio kami akan diprint dan diberi kata pengantar, daftar isi, dan lembar terakhir
diberi refleksi, lalu setelah semuanya selesai dijilid. Ibu Puspa juga membahas mengenai
kegiatan Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB).

Kami pun masuk ke pembahasan mengenai sistem reproduksi. Dengan sistem
reproduksi meneruskan regenerasi kehidupan. Lalu materi sistem reproduksi ini
dijelaskan oleh Ibu Puspa hingga pertemuan berakhir. Pertemuan hari ini saya
memperoleh ilmu dengan sangat baik dan juga sangat menyenangkan. Saya harap untuk
kami semua dapat selalu diberi kesehatan agar dapat belajar dan melaksanakan ulangan
akhir semester dengan baik.

BAB XI

Sistem Pertahanan Tubuh

A. Jurnal Belajar

JURNAL BELAJAR 1

Jumat, 7 Mei 2021

Hari ini adalah pertemuan pertama kami dengan pelajaran biologi dalam bab ke-11
mengenai sistem pertahanan tubuh. Seperti biasa kelas kami digabung dengan kelas
XI IPA 5. Setelah mendapatkan link google meet melalu grup kelas bio, saya
langsung memasuki room tersebut. Setelah yang lain sudah masuk, kami semua siap
mengikuti pembelajaran hari ini.

255


Click to View FlipBook Version