ARSITEK HATI
Penulis
Evi Yuliyanti
Pascal Books
2021
ARSITEK HATI
Penulis
Evi Yuliyanti
ISBN
978-623-98598-6-2
Layouter
Della
Penerbit
Pascal Books
Redaksi :
Jl Garuda B 30 Rt 1 Rw 12 Cipayung, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Tangerang Selatan
[email protected]
Cetakan Pertama, Agustus 2021
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulisan ini dalam bentuk
dan dengan cara apapun tanpa izin penerbit.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha
kuasa karena atas rida-Nya, buku novel dengan judul Arsitek Hati ini
bisa diterbitkan.
Tidak lupa, ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada keluarga,
teman maupun orang terdekat yang sudah memberikan dorongan
untuk kami agar selalu berkarya.
Beberapa kali mengikuti kelas menulis dan menyelesaikan karya buku
antologi bersama teman-teman yang lain membuat diir semakin
tertantang untuk bisa segera menyelesaikan karya buku solo untuk
pertama kalinya.
Akhir kata untuk penyempurnaan buku ini, maka kritik dan saran dari
pembaca sangatlah berguna untuk kami ke depannya.
Salam Hangat
Evi Yuliyanti
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................iii
SORRY GAK SENGAJA ..............................................................1
BERTEMU SAHABAT LAMA ........................................................5
ARSITEK ANEH...............................................................................9
TIDAK SENGAJA BERTEMU.......................................................13
OLIVIA TIDUR ..............................................................................17
DIMANA KTP OLIVIA..................................................................21
CALON MANTU IBU ....................................................................25
BUTUH ISTIRAHAT.....................................................................29
MERASA BERSALAH ....................................................................33
AJAKAN BU ROSA.........................................................................37
RENCANA BERTEMU...................................................................41
ALASAN ALFI.................................................................................45
TERPESONA ..................................................................................50
BERTEMU....................................................................................... 54
MENEPATI JANJI...........................................................................58
KTP OLIVIA KETEMU .................................................................62
GUGUP ............................................................................................ 67
MARAH ...........................................................................................71
KITA MENIKAH ............................................................................76
HEART TO HEART.......................................................................80
NEKAD ............................................................................................ 84
RENCANA SELANJUTNYA ..........................................................89
SURPRISE FOR OLIVIA................................................................94
DIA BAIK ........................................................................................98
CINCIN ............................................................................................ 98
iv
KERUMAH NENEK ..................................................................... 106
BAHAGIA DAN LEGA ................................................................ 110
IZIN DARI BU ALEENA.............................................................. 115
BUKAN SIAPA-SIAPA ................................................................. 120
MENJAGA ..................................................................................... 125
KAMU HEBAT ............................................................................. 130
TEMAN LAMA ............................................................................. 134
PANGGILAN BARU..................................................................... 139
APARTMENT ALFI...................................................................... 143
OLIVIA SAKIT ............................................................................. 148
MAKAN MALAM BERSAMA...................................................... 148
SUAMI IDAMAN.......................................................................... 157
MAAF YA ...................................................................................... 161
TIKET HONEYMOON................................................................ 165
PROFIL PENULIS ........................................................................ 169
v
SORRY GAK SENGAJA
“Sorry sorry gak sengaja” ucap Olivia pada laki-laki bertubuh
tegap, tinggi dan berkaca mata hitam yang tidak sengaja dia tabrak.
Langkahnya kembali terburu-buru menuju lift gedung untuk naik
menuju lantai 45 tempat dia meeting jam 10.00 pagi ini. Hari itu dia
tidak berangkat bareng satu mobil dengan President Direkturnya ibu
Aleena Chang. Mereka telah membuat janji untuk bertemu dilobby
gedung IFC, 30 Menit sebelum meeting dimulai. Namun karena mobil
yang dikendarai Olivia tiba-tiba mogok ditengah jalan membuat dia
terlambat dan harus terburu-buru menuju ruang meeting sebelum
terlambat dan Bu Aleena Chang akan marah kepadanya.
“Huh, untung semua file dan data keperluan meeting hari ini sudah
disiapkan tadi malam. Kalau tidak bisa mati aku dengar ceramahan
dari bu boss yang panjang seperti rel kereta.” dengan napas yang masih
belum teratur dalam hati Olivia mengucap syukur sekaligus begidik
ngeri membayangkan atasanya akan menegur keterlambatanya pagi ini.
Sampai dilantai 45 Bu Aleena dan beberapa vendor yang memang
sudah diundang untuk datang dan membawa beberapa sample barang-
barang proyek yang diperlukan sudah datang dan duduk disamping
meja receptionis bersiap menuju ruang meeting yang akan dimulai 5
1
menit lagi. “Selamat pagi bu Aleena, maaf pagi ini terlambat datang.”
sapa Olivia ramah pada bu Aleena. Sebelumnya memang sudah
konfirmasi melalui WA bahwa akan datang terlambat karena mobil
yang dikendarai tiba-tiba mogok ditengah jalan.
“Pagi Olivia, gimana mobilnya sudah telfon montir untuk perbaiki?
Lain kali kamu cek dulu sebelum berangkat. Hampir saja hari ini
kacau karena semua file dan data ada dikamu.” Ucap bu Aleena.
“Baik bu, maaf untuk sedikit kekacauan pagi ini. Semua file dan data
sudah siap serta semua vendor yang kita perlu sample-nya sudah
dihubungi.” Jawab Olivia kembali.
Olivia menuju kamar kecil untuk merapikan penampilanya yang sudah
sedikit berantakan karena terburu-buru. [Akhirnya masih bisa on time
sampai sini walau pun lumayan bikin cape pagi ini. Wah iya tadi orang
yang aku tabrak gimana yah. Hm semoga everything fine. Sayangnya
tadi dia pakai kaca mata hitam, mungkin jika tanpa kaca mata aku udah
lihat mata dia yang melotot marah ke aku. Kenapa aku jadi over
thinking gini. Please Olivia focus hari ini meeting penting.] Gerutu
Olivia dalam hati dengan sedikit rasa bersalahnya.
Olivia kembali dan menuju arah Bu Aleena. “Sudah Liv, ingat ya hari
ini arsitek yang dari Singapure datang dan semua data sudah kamu
pastikan siap dan beberapa gambar yang perlu diprint sudah kamu
print?” Bu Aleena kembali memastikan semua data yang harus di
persiapkan dengan baik.
“Baik bu, semua sudah siap disini. Tangan Oliv menunjuk kertas kerja
yang tadi dia bawa dengan beberapa sample pendukung. Apakah ibu
akan mengeceknya kembali?” Jawab Olivia pada bu Aleena.
“Tidak perlu. Sekarang sudah waktunya masuk ruang meeting.” Bu
Aleena bergegas menuju ruang meeting diikuti oleh Olivia dan yang
lain pun sama bergegas menuju ruang meeting.
Sesampainya diruang meeting semua masih berjalan normal. Duduk
dikursi masing-masing yang telah disiapkan. Ada yang sibuk dengan
laptop dan file yang akan dijadikan bahan presentasi. Ada yang sibuk
dengan barang-barang sample dari vendor untuk ditujukan pada
Arsiteknya nanti. Sementara Olivia yang juga mulai membuka layar
2
laptop dan beberapa file yang telah disiapkan. Untuk hari ini bu
Aleena yang akan mempresentasikan dan menjelaskan langsung ke
Arsiteknya dan semua yang hadir disana. Tugas Olivia hanya
menyiapkan apa yang diperlu dan mencatat point-point penting dari
pembahasan hari itu.
Meeting pun dimulai dan diawali dengan sapaan saling tanya kabar dan
basa-basi antar rekan kerja. Sembari menunggu arsitek yang baru akan
datang sekitar 10 menit lagi. Olivia masih sibuk dengan benda pipih
ditanganya. Memantau pekerjaan tukang yang dilapangan. Karena
proyek yang sedang berjalan bukan hanya satu tempat. Dan proyek
yang saat ini akan di-meeting-kan akan mulai awal bulan depan. Yaitu
sekitar 2 minggu lagi.
Tiba-tiba suara pintu diketuk terdengar dan yang ditunggu datang. Alfi
Abimanyu Atmajaya Arsitek untuk tender yang sedang digarap Estetika
Group perusahaan tempat Olivia bekerja. Olivia belum menyadari
bahwa yang dia tabrak tadi pagi adalah Alfi dari perusahaan Atmajaya
Sejahtera. Iya ini memang proyek besar jadi Alfi sang pemimpin
Atmajaya Sejahtera yang menghadiri langsung meeting pagi ini.
Olivia yang masih sibuk dengan benda pipih ditanganya seketika
memperhatikan layar proyektor yang mulai menampilkan bahan-bahan
presentasi. Setelah klien menyampaikan keinginan untuk model
bangunan serta semua yang diperlukan kini giliran ibu Aleena
menjawab dan menjelaskan cara kerja teamnya dan apa saja yang akan
kita aplikasikan pada tender ini. Setelah itu barulah penentuan warna,
bahan dan model yang akan didiskusikan langsung dengan Alfi sang
arsitek.
Saat meeting sudah berjalan Olivia baru menyadari bahwa orang yang
dia tabrak tadi pagi adalah Alfi. Saat memasuki ruang meeting Alfi
memang melepas kaca mata hitamnya dan meletakanya disaku kemeja
biru yang iya kenakan. Olivia menunduk dan bola matanya tidak lagi
berani menatap Alfi. “Hah. Kenapa dia ada diruangan ini. Kenapa
harus bekerja sama dengan dia. Mampus! bagaimana jika nanti dia
ingat aku. Alasan apa yang aku katakan. Ya Allah Olivia, kenapa dia si
yang harus kamu tabrak tadi pagi.” Olivia terus mengucapkan kosakata
3
yang membuat hatinya semakin gundah berharap Alfi tidak
mengenalinya sebagai orang yang telah menabraknya tadi pagi.
Meeting berjalan lancar semua telah melaksanakan sesuai tugasnya
masing-masing. Dan sekitar 12.30 WIB satu per-satu meninggalkan
ruangan meeting tersisa Alfi, Bu Aleena, Olivia dan 2 orang lainya yang
juga bersiap meninggalkan ruang meeting untuk makan siang. Bu
Aleena kembali memulai percakapan dengan Alfi bahkan
mengenalkan Olivia sebagai Asisten Pribadinya. Olivia pura-pura sibuk
membereskan file akhirnya tidak bisa menghindar dari panggilan bu
Aleena. Olivia pun berjalan mendekati Bu Aleena dan Alfi yang sedang
ngobrol.
“Kenalin ini Olivia asisten pribadi saya, dan kamu boleh hubungi dia
untuk masalah tender ini atau sebaliknya” Ucap Bu Aleena pada Alfi
Alfi dengan wajah datar dan senyum tipis menanggapi ucapan bu
Aleena. “Diakan orang yang tadi pagi nabrak saya dan pergi begitu saja.
Hmm aku ada ide” Dalam hati Alfi sudah ada suatu niat untuk Olivia.
Tidak lama tangan mereka saling menjabat mengenalkan nama masing-
masing “Olivia” “Alfi” “Glad to meet you pak Alfi” “Glad to meet you
to Bu Olivia” dalam hati Olivia bagus deh sepertinya dia tidak ingat
kejadian tadi pagi dan tidak mengenali aku. Tanpa dia tahu apa yang
sedang direncanakan Alfi.
4
BERTEMU SAHABAT LAMA
Bu Aleena tidak lupa meminta bertukar kartu nama dengan
Alfi untuk kelancaran jalanya proyek kedepan. Karena ini pertama kali
mereka bertemu secara langsung biasanya hanya melalui e-mail dan
kedepanya kemungkinan akan ada beberapa kali pertemuan untuk
membahas tender. Kebetulan kartu nama bu Aleena tertinggal dimobil
maka yang diberikan ke Alfi adalah kartu nama Olivia.
Olivia dengan rasa ragunya memberikan kartu nama tersebut pada Alfi.
Karena takut Alfi mengingat kejadian tadi pagi. Namun tak lama
setelah Olivia memberikan kartu nama tersebut Alfi keluar ruangan
disusul bu Aleena dan Olivia menuju tempat makan siang karena
waktu sudah hampir jam 01.00 wib.
Sementara Alfi yang telah berada dalam mobil menuju cafe tempat dia
akan makan siang. Sambil tersenyum melihat kartu dengan nama
panjang yang tertulis. “Olivia Queena Wijaya” Seperti ada yang
direncanakan oleh Alfi dipertemuan yang akan datang.
*******
5
Olivia Queena Wijaya gadis 23 tahun yang bekerja sebagai asisten
pribadi dari Ibu Aleena Chang pemilik perusahaan Estetika Group
yang bergerak dalam bidang desain interior dipusat Ibukota. Selain
sebagai Asisten Pribadi Olivia juga seorang mahasiswa S2 kelas
eksklusif disalah satu Perguruan Tinggi di Jakarta. Memiliki Hobi
menulis dan traveling. Aktif sebagai penulis Antologi, novel mau pun
website disela-sela kesibukanya. Karena bagi Olivia menulis adalah
obat bagi semua luka juga lelah yang tak terlihat tapi terasa oleh hati.
Sejak pertemuanya dengan Alfi pada meeting Minggu lalu. Bu Aleena
telah meng-intruksikan untuk Olivia bertemu kembali dengan Alfi
Minggu depan membahas beberapa perubahan ukuran dalam gambar.
Olivia kembali over thingking setelah jadwal bertemu Alfi akan ada di
Minggu depan. Walau kemarin Alfi terlihat cuek tapi Olivia takut jika
sebenarnya Alfi ingat dan tahu bahwa dirinya yang nabrak Alfi pagi itu.
Alfi Abimanyu Atmajaya Arsitek lulusan salah satu Universitas terkenal
di Singapura yang baru saja mendarat di Indonesia sekitar 2 minggu
lalu. Pimpinan perusahaan keluarga Atmajaya Sejahtera. Laki-laki cool,
tinggi, tegap dan sering menggunakan kaca mata hitam. Terkenal selalu
irit bicara dan selalu serius dengan apa yang dikerjakanya.
Kesukaannya pada desain turun dari sang ayah yang juga seorang
Arsitek sekaligus bisnisman yang telah berhasil bekerjasama dengan
tender-tender besar dalam hingga luar negeri.
*********
Benda pipih yang diletakkan diatas meja nakas dekat tempat tidur
Olivia bordering. Panggilan dari Chatrine teman Olivia waktu kuliah S1
yang baru saja pulang dari London.
“Hallo Chatrine”
“Haii Olivia Queena Wijaya how are you ? Are you bussy today ?”
“I’m good, How about you ? I’m free letter after lunch ? Why ?”
“I’m good too. I will meet you after lunch at Taman Angrek Mall. I’m
really miss you and I want give you something”
“Owh, ok. At Taman Anggrek Mall after lunch. See you letter
Chatrine”
“See you Olivia. Bye Bye”
6
Hari itu weekend Olivia libur kerja tapi ada kelas pagi yang harus
diikutinya jam 09.00 sampai jam 12.00 siang nanti sehingga
mengharuskan Olivia untuk tetap bangun pagi dan bersiap untuk
materi kuliah dihari itu. Sebelum berangkat kekampus seperti hari
biasa Olivia selalu merapikan kamar tidur dan menyiapkan sarapan
seorang diri. Olivia memang terbiasa mandiri sejak SMA dia tinggal di
indekost. Hingga saat ini dia tinggal di Apartment pun jarang sekali
panggil part time cleaners untuk membersihkan Apartmentnya. Semua
selalu dilakukan sendiri kecuali untuk pasang gas dan air gallon karena
memang ada petugas khusus.
********
“Alfi sayang, kamu sudah pulang ke Indonesia sejak satu minggu lalu.
Kenapa belum pulang kerumah dan langsung stay di Apartment
pribadi-mu apakah kamu tidak rindu dengan ibu dan ayah mu disini.”
Chat dari Rossa ibu Alfi dipagi hari
“Iya bu, nanti sore Alfi pasti pulang kerumah. Alfi pasti rindu dengan
ibu dan ayah hanya saja Minggu ini jadwal Alfi memang lagi sibuk
sekali. Ibu sama ayah sehat-sehat ya dirumah. Mau dibawain apa nanti
sama Alfi.” Balas Alfi
********
Materi telah selesai disampaikan oleh dosen waktu pun telah
menunjukan jam 12.05 yang artinya sudah waktunya lunch dan kelas
berakhir. Sesuai janjinya dengan Chatrine ia bergegas menuju Mall
Taman Anggrek untuk bertemu dan penasaran juga dengan apa yang
akan diberikan Chatrine pada Olivia. Perjalanan dari kampus menuju
Mall Taman Anggrek sekitar 30 menit jika tidak macet maka masih ada
waktu beberapa menit untuk Olivia lunch sekaligus menunggu
Chatrine datang.
Waktu yang ditunggu pun tiba setelah saling melepas rindu dan
bertukar cerita akhirnya Chatrine pamit pulang. Dia pulang ke
Indonesia sekitar 2 minggu untuk mengurus pernikahanya bersama
Steven. Laki-laki yang ia temui di London yang juga asli orang
Indonesia. Chatrine datang selain untuk menemui Olivia sang sahabat
7
waktu kuliah S1 juga memberikan kartu undangan pernikahan dan
seragam sebagai bridesmaid. Aura Bahagia sangat terpancar dari wajah
Chatrine yang akan segera menikah.
Tidak lama Olivia bergegas untuk segera pulang ke Apartmentnya
karena hari sudah mulai sore. Menuju arah parkiran Olivia asik
membaca review dari cerita novel yang ditulisnya hingga tidak sengaja
menabrak Alfi yang juga sedang berjalan setelah memarkirkan
mobilnya. “Bruk, kunci mobil ditangan jatuh kelantai.” dan Olivia baru
menyadari jika ia menabrak orang karena terlalu focus membaca
review tulisanya. “Sorry So… Pak Alfi” ucap Olivia kaget. “Kamu…
Kalo jalan lihat-lihat. Hobi banget nabrak orang.” Ucap Alfi kesal.
“Maaf pak saya tidak sengaja” Jawab Olivia jantungnya mulai tidak
beraturan. “Kamu ingat Minggu lalu waktu meeting di IFC pagi-pagi
kamu nabrak saya. Sekarang kamu tabrak saya lagi” Ucap Alfi kembali
. [Mampus, mati lu Olivia Queena Wijaya ternyata pak Alfi ingat
kejadian pagi itu. Mesti jawab apa donk.]
“Kamu ikut saya atau saya lapor ke ibu Aleena jika asisten pribadinya
ini ceroboh.” Ucap Alfi sedikit mengancam Olivia “Jangan bilang bu
Aleena donk pak. Kan Olivia sudah minta maaf tidak sengaja.” Jawab
Olivia dengan muka memelas.
8
ARSITEK ANEH
“Hmmm kamu ikut saya. Masuk mobil saya itu Ranger Rover yang
warna hitam.” Ucap Alfi datar. “Tapi pak, saya juga bawa mobil dan parkir
tidak jauh dari sini”. “Tenang mobil kamu nanti biar supir saya yang urus.
Kamu titip kunci mobilnya saja disecurity dan kirim beri tahu alamatmu.”
Jawab Alfi lagi-lagi dengan muka datar “Iya oke oke.” Jawab Olivia pasrah.
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Alfi parkir disalah satu
toko kue terkenal di Jakarta. Dengan rasa bingungnya Olivia memberanikan
diri ke Alfi “Kita mau ngapain ke toko kue pak?” Tanya Olivia ragu “Ya beli
kue lah. Siapa bilang mau beli rumah disini. Kamu nanti tolong pilih beberapa
kue yang biasa disukai orang tua dan tidak terlalu manis. Jadi tetap aman
untuk kesehatan.” Jelas Alfi pada Olivia.
Olivia hanya meng-anggukan kepala setelah mendengar apa yang diucapkan
oleh Alfi karena untuk menghindari debat lebih lanjut. Mereka pun berjalan
menuju toko kue dengan berbagai pilihan dan varian rasa. Kue sudah dibayar
dan sudah bisa dibawa pulang. Dalam perjalanan pulang Olivia
memberanikan diri untuk bertanya apakah membeli beberapa kue tadi adalah
salah satu bentuk hukuman yang pak Alfi maksud. Namun dalam hatinya
9
sedikit tertawa dengan hukuman yang diberikan Alfi. Jika malu atau bingung
pilih kue kenapa tidak pesan online saja. Haha Arsitek aneh.
*************
Back to routine. Berhadapan dengan PC bersahabat dengan dokumen dan
file. Terbiasa dengan perintah dadakan atau pun yang sudah ter-schedule dari
bu Aleena. Itulah rutinitas rutin yang biasa Olivia kerjakan selama hampir 4
tahun terakhir ini.
Harusnya minggu ini ada meeting dengan Alfi. Tapi barusaja bu Aleena info
jika meeting dibatalkan dan jadwal baru akan segera diatur. Olivia terlihat
begitu gembira setelah mendengar bahwa meeting minggu ini batal. Terlebih
yang telah dia tahu, jika meeting minggu ini hanya dihadiri 2 orang yaitu Alfi
dan Olivia tanpa hadirnya bu Aleena dan rekan kerja yang lain. [Selamat deh,
gak harus ketemu arsitek aneh dan kaku itu.]
********
“Ibu… Ayah.. Alfi berangkat kerja dulu ya ?” Ucap Alfi sembari mencium
punggung tangan kedua orang tuanya. “Loh, kamu tidak mau sarapan bareng
dulu nak, kamu semalam hanya makan sedikit. Ini ibu bikin sandwich
kesukaan kamu dengan double cheese dan ekstra saus.” Ucap Rosa sembari
memandangi putra bungsunya sudah rapi dengan pakaian formalnya serta
wangi parfum maskulin faforitnya. “Nanti saja Alfi sarapan dioffice, hari ini
ada meeting penting dan harus berangkat pagi agar tidak kena macet.” Jawab
Alfi dengan langkah menuju pintu dan perlahan meninggalkan ruang makan
serta kedua orang tuanya.
Didalam mobil Alfi kembali teringat dengan ucapan ibunya yang meminta dia
untuk segera menikah.
“Akhirnya pulang juga kamu kerumah nak. Anak mama sudah dewasa.
Sudah mencapai semua mimpinya. Selamat ya nak, atas gelar baru yang telah
kamu raih dan pekerjaan yang kamu miliki saat ini. Ibu dan Ayah bangga
dengan kamu.”
Alfi hanya tersenyum menanggapi pujian dari sang ibu dan ayah yang ada
dihadapanya. Selain disambut dengan senyuman dan pujian tidak lupa juga
10
sang ibu menyiapkan makanan kesukaan anak bungsunya itu. Seafood, udang
balado dan cumi yang dimasak asam pedas bersama potongan jagung dan
beberapa makanan pendukung lainya.
Tidak ingin mengecewakan sang ibu, Alfi pun segera menyendok nasi dalam
piring yang telah disiapkan. Dalam rumah tersebut hanya ada kedua orang tua
Alfi dan satu asisten rumah tangga bi Asih namanya. Suasana rumah memang
sepi. Disela-sela makan malam bersama keluarga Atmajaya. Ibu Alfi kembali
membuka obrolan.
“Alfi, Aurora sepupumu yang cantik itu sekarang sudah punya adik Aludra
namanya. Artinya kakakmu Arka sudah punya 2 anak perempuan sekarang.”
Ucap ibu Rosa menjelaskan
“Owh. Iya bu. Kak Arka sudah kasih kabar dan sudah kirim fotonya juga ke
Alfi. Lucu ya bu.” Jawab Alfi dengan perasaan yang mulai tidak nyaman
karena tahu pasti endingnya nanti dia akan ditanya kapan mengenalkan calon
istrinya pada orang tuanya. Sedang saat ini posisi Alfi sedang tidak dekat
dengan siapa pun.
Alfi, ibu dan ayahmu ini juga ingin punya cucu laki-laki. Dan berharap cucu
laki-laki itu dari kamu. Jadi kapan kamu akan kenalin calon kamu pada kami.
Mau nunggu apa lagi nak ? Ibu rasa kamu sudah siap dan sudah waktunya.
Sudah lulus kuliah, pekerjaan sudah ada. Usia juga sudah menuju 30 tahun.
Apa perlu ibu dan ayah mu ini bantu carikan untuk pu. Ucap rosa penuh
harap yang membuat selera makan Alfi sedikit turun.
“Alfi balas dengan senyum yang terpaksa iya lebarkan. Iya ibu, ayah sebentar
lagi pasti Alfi kenalin kok. Jadi tidak perlu repot-repot mencarikan calon. Alfi
udah selesai nih makanya. Alfi duluan ya ibu, ayah mau istirahat cape.” Jawab
Alfi tetap ramah dengan hati yang mulai gundah.
*******
Olivia menuju proyek yang ada didaerah Tangerang untuk melakukan check
list hasil yang telah dikerjakan oleh orang lapangan. Apakah semua sudah
sesuai dan tepat dengan yang ditargetkan atau ada defect dan harus melakukan
perbaikan.
11
Saat melihat gambar yang ada ditangan Olivia tidak tahu kenapa tiba-tiba
teringat oleh Alfi. Arsitek yang menurut dia aneh juga cool karena memang
sangat irit berbicara. Terbayang jika nanti proyek yang dengan Alfi mulai
berjalan maka kemungkinan besar Olivia dan Alfi sesekali akan bertemu
entah itu diruang meeting atau pun langsung diproyek seperti yang dia lakukan
hari ini. Dia berfikir hal aneh apa lagi yang nanti Alfi tugaskan untuk dia jika
ada dokumen atau file yang tidak bisa Olivia penuhi secara tepat waktu.
Membayangkan hal tersebut membuat Olivia bergidik geli.
12
TIDAK SENGAJA BERTEMU
Mendekati hari pernikahan Chatrine. Olivia mulai
menyiapkan kado yang akan dibawa dan diberikan pada sahabatnya itu.
Juga tidak lupa untuk mencoba seragam bridesmaid yang telah
diberikan dan mencocokan dengan warna tas juga sepatu yang akan
digunakan agar terlihat sepadan. Kebaya dengan warna baby blue
dengan payet yang tidak terlalu ramai dibagian depan sangat serasi
dengan kulit Olivia yang putih bersih dipadukan dengan kain batik
khas jawa benar-benar memancarkan keanggunan gadis 23 tahun
tersebut.
Setelah mencoba baju kebaya tersebut Olivia tersenyum dalam
lamunanya.
[Suatu hari dipagi yang cerah dia menggunakan kebaya warna putih
lengkap dengan mahkota dikepala dan henna putih serta kutek warna
merah dikuku. Disandingkan dengan laki-laki yang hingga kini dia
belum tahu siapa. Laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi, kulit
bersih, handsome tersenyum menggunakan jas putih yang senada
dengan kebaya yang iya kenakan dan mereka disandingkan setelah kata
“SAH” terucap dari kedua saksi. Uhh indahnya hari itu.] Tiba-tiba
13
lamunannya buyar ketika benda pipih yang ada diatas meja nakasnya
berbunyi.
Hmm siapa sih, ganggu saja tidak tau apa sedang melamun hal yang
sangat indah bersama laki-laki idaman. Olivia berjalan mendekati meja
nakas dan segera membuka chat WA yang iya terima.
Alfi : Tolong siapkan beberapa sample warna untuk ceiling yang belum
deal. Agar hari Senin besok proyek bisa langsung dikerjakan tanpa
kendala.
Olivia : Baik pak, segera disiakan dan akan dibawa ketika meeting
besok. Terima kasih.
“Hello Alfi, how are you? Today a courier will come to deliver
wedding invitations for you. I hope you can come. The event is
Saturday night at 08.00 – 22.30 at Posto Dormire Hotel Jakarta”
“I'm fine. Wow, good luck. Finally someone wants to be with you haha.
Yes, I will come to your party tomorrow. See you”
Alfi kembali focus melanjutkan pekerjaannya yang memang perlu
keseriusan. Menatap PC dan mulai mendesain 3D Modelling. Sesuai
permintaan klien. Klien kali ini adalah seorang single mam yang sangat
perfectionist dan detail terhadap hal-hal yang dia inginkan untuk
bangunannya. Karena itu Alfi juga mempersiapkan semuanya sebaik
mungkin untuk me-minimalisir complain nantinya.
30 menit sebelum jam pulang kantor sekretaris Alfi datang
mengantarkan undangan dari Steven yang diantar kurir siang tadi.
Permisi pak, ini ada undangan pernikahan dari temen bapak. Owh ok
letakan dimeja saja dan kamu boleh keluar. Baik pak.
Steven Arya Prayoga adalah teman Alfi saat dibangku SMA dan
mereka kuliah ditempat yang sama tapi jurusan yang berbeda. Steven
fokus pada Fakultas Ekonomi Prodi Managemant Bisnis sedangkan
Alfi fokus pada Fakultas Tekhnik Prodi Arsitektur. Terakhir kabar
yang Alfi dengar bahwa Steven bekerja disalah satu perusahaan start
up di London. Mereka memang sudah lama sekali tidak bertemu dan
baru akan ketemu kembali esok dihari pernikahan.
14
Malam resepsi pernikahan Steven dan Chatrine dengan tema
Internasional wedding dan dresscode yang digunakan tamu undangan
bernuansa Putih-Biru dengan dekor Bunga-bunga cantik dengan
dominan warna putih terlihat begitu elegan.
Tamu-tamu yang hadir pun tidak kalah bahagia dari pasangan
pengantin yang belum lama resmi itu. Alunan music dan berbagai
macam hidangan siap santap yang disuguhkan menambah lengkap
party malam itu.
Olivia yang menjadi brise maid bersama 4 teman lainya terlihat telah
selesai menjalankan tugasnya. Saat acara lempar bunga beberapa
teman-teman Steven juga Chatrine yang single pun ikut berdiri untuk
merebutkan satu bucket bunga keberuntungan tersebut. Karena
katanya siapa yang bisa menangkap bucket bunga dari pengantin yang
baru saja menikah maka tidak lama sipemilik bunga tersebut akan
segera bertemu jodohnya.
Namun, yang menarik disini adalah saat ada satu bucket bunga special
yang pengantin berikan pada satu sahabatnya. Ketika MC bertanya
pada pasangan pengantin siapakah yang akan beruntung menerima satu
bucket special itu maka dengan kompaknya dari kedua mempelai
menyebut nama “Olivia Queena Wijaya” Bunga ini special Chatrine
berikan untuk sahabatnya semoga next segera menyusul menjadi
pengantin.
Olivia dengan langkah malu-malu berjalan menuju sepasang pengantin
yang sedang bahagia dengan senyum manis dibibirnya. Para tamu
undangan pun fokus pada Olivia salah satunya Alfi. Alfi yang sedang
asik mengobrol dengan beberapa teman SMA-nya berhenti sejenak
dari obrolanya dan fokus pada Olivia yang sedang bersama pengantin
disinggah sana.
Ternyata gadis itu ada disini juga. Hmm cantik juga dia saat
menggunakan kebaya lengkap dengan kain batik dan sedikit polesan
make up dari MUA dengan lipstick nude dibibirnya. Ya walau pun
diluar hobinya yang aneh suka nabrak orang sembarangan. Mata Alfi
tidak berkedip yang dilihat itu benar-benar Olivia yang menabraknya
15
beberapa hari yang lalu. Tanpa sadar Alfi memuji kecantikan Olivia
dari kejauhan.
Hari semakin larut tamu undangan satu per-satu pergi meninggalkan
gedung. Tak terkecuali Olivia. Dia yang datang seorang diri juga tadi
tidak membawa kendaraan terpaksa harus menunggu taxi online yang
dia pesan dan menunggunya beberapa saat didepan Lobby hotel.
Alfi yang juga akan segera pulang melihat Olivia yang sedang berdiri
sedikit gelisah karena taxi yang dipesanya tidak kunjung datang.
Membuka kaca mobilnya dan memanggilnya. Olivia sedikit terkejut
saat yang memanggil namanya itu adalah Alfi sang arsitek yang dia
anggap aneh.
“Hah pak Alfi, kenapa ada disini. Pak Alfi manggil saya barusan.”
Jawab Olivia masih dengan kebingunganya.
“Nama kamu Olivia kan? Malam-malam gini gak baik perempuan
sendirian. Nunggu siapa kamu?” Jawab Alfi tanpa basa basi
“Hmm iya pak, saya nunggu taxi online tapi sampai sekarang belum
datang-datang.”
“Ayo masuk, saya antar kamu.” Jawab Alfi singkat
“Tapi pak.” Jawab Olivia ragu-ragu
“Tenang aja saya gak akan ngapa-ngapain kamu. Cepetan masuk atau
saya tinggal nih?” Jawab Alfi sembari menutup kaca mobilnya. Olivia
pun berjalan menuju mobil yang dikendarai oleh Alfi.
16
OLIVIA TIDUR
Dalam perjalanan pulang. Olivia yang memulai obrolan
terlebih dulu. Karena sudah 5 menit mobil berjalan Alfi belum bicara
sepatah kata pun pada Olivia.
“Hmm pak Alfi pulang kondangan juga yah.” Tanya Olivia dengan
mata yang sedikit melirik kewajah Alfi dalam hatinya pun memuji
ketampanan Alfi yang naik beberapa tingkat dengan setelan jas warna
senada dengan kebaya yang digunakan Olivia. [Handsome banget ini
arsitek, sayang sifatnya kaku dan irit bicara jadi gak asik berada
disebelahnya]
“Iya” Jawab Alfi singkat
Olivia yang menyadari bahwa dresscode yang mereka gunakan dengan
warna yang sama semakin penasaran dan coba kembali bertanya.
“Acara dilantai berapa ya pak kalau boleh- belum selesai Olivia
melontarkan pertanyaan Alfi memotong pembicaraannya “Kita
mampir dulu ke Aryamart yah ada sesuatu yang perlu dibeli.” Olivia
17
dengan muka yang sedikit menahan kesal tidak menjawab hanya meng-
anggukan kepalanya tanda dia setuju. Suasana kembali hening bahkan
tidak ada suara radio atau pun music yang dinyalakan.
Kenapa sih setiap ketemu bikin kesel terus. Sekali aja bikin suasana
happy gak bisa apa yah. Lagian kenapa harus ketemu dia dan taxi pake
acara telat datang. Huh sial banget malam ini. Iya sih ganteng tapi bikin
kesel terus. Olivia kembali bermonolog sendiri.
Range Rover yang dikemudikan Alfi telah parkir didepan Aryamart
mesin mobil pun sudah dimatikan. “Yuk turun” Ucap Alfi pada Olivia
“Hah mau ngapain saya disini aja pak, tidak lamakan?” Jawab Olivia
“Kamu mau saya tinggal disini, dan mesin mobil mati jadi kamu
kepanasan berada didalam sendirian.” Dengan wajah cemberut
akhirnya Olivia ikut turun dari mobil.
Alasan mengapa Olivia tidak mau turun dari mobil adalah karena dia
yang masih menggunakan kebaya lengkap dengan kain batik yang
membuat dia tidak nyaman seperti kurang tepat jika harus masuk dan
membeli sesuatu.
Beberapa pelayan dan pengunjung ada yang fokus memperhatikan Alfi
dan Olivia karena selain mereka datang berbarengan warna baju yang
senada dimalam hari yang sudah hampir jam 12 malam itu membuat
mereka bertanya-tanya. Mereka baru pulang kondangan atau baru saja
melangsungkan acara pertunangan.
Olivia yang menyadari jika banyak mata yang berpusat pada mereka
mengajak Alfi agar segera menyelesaikan transaksi dan segera kembali
masuk kedalam mobil. “Mbak, Mas baru pulang kondangan yah atau
kabur dari acara pertunangan?” Pertanyaan dari salah satu pengunjung
yang semakin membuat Olivia tidak nyaman.
Lihatkan tadi gimana respon para pengunjung bahkan ada yang ngira
kita kabur dari acara pertunangan. Huh gila sih. Ya mana saya tahu jika
respon mereka akan begitu. Lagian kenapa tadi gak boleh nunggu
dimobil saja. Ya udah maaf, mau pulang egak. Tinggal yah.
18
Didalam mobil mereka sama-sama tidak ada yang berbicara. Olivia
menyandarkan tubuhnya dan sengaja buang muka dari Alfi. Kelopak
matanya fokus pada jalanan dan warna-warni lampu dari gedung-
gedung tinggi ibukota. Tidak lama kemudian Olivia tertidur mungkin
karena lelah setelah berjam-jam menggunakan high heels saat tadi
menjadi bridesmaid dan pagi hari dengan beberapa kegiatan yang
berbeda.
Alfi yang menyadari Olivia telah tertidur disampingnya hanya
tersenyum tipis. Manis juga saat tidur gini. Cape yaa abis ngomel-
ngomel tadi. Untung dia gak tahu jika kita baru saja menghadiri acara
yang sama. Pertemuan tidak sengaja tapi unik. Alfi mulai sibuk
bermonolog dengan dirinya sendiri.
30 Menit kemudian mereka sampai di Sahid Sudirman Center yah
apartment Olivia. Mobil Alfi sudah berhenti tepat dilobby Apartment
tapi Olivia belum juga bangun dari tidurnya.
“Oliv, Liv, Oliiiv.. Hmm nyenyak banget ya tidurnya. Olivia Queena
Wijaya”
Akhirnya Olivia terbangun dengan muka sedikit kaget. “Hah iya saya,
hm udah sampai yah. Maaf maaf ketiduran.”
Olivia pun bergegas turun dengan wajah serba salah. Antara kaget,
masih ngantuk dan menahan malu dari Alfi karena ketiduran.
[Haduhh kenapa harus ketiduran dimobil arsitek aneh ini. Kan malu
jadinya. Hm semoga tadi tidurnya baik-baik aja. Gak ngorok atau pun
ngiler. Olivia refleks mengelap bagian wajahnya khawatir ada hal yang
tidak diinginkan.
“Thanks ya pak sudah dianter. Maaf ngrepotin malam ini.” Ucap
Olivia dengan langkah terburu-buru menuju lobby Apartment dan
perlahan meninggalkan mobil Alfi
Alfi tersenyum melihat tingkah Olivia yang serba salah. Maaf ya bikin
kaget sebenernya gak tega tadi mau bangunin tapi kan gak mungkin
aku gendong kamu sampai unit. Lucu banget muka bangun tidurnya.
Tiba-tiba security Apartment mengetuk kaca mobil Alfi. “Permisi pak,
19
jika masih ada yang ditunggu silakan parkir disebelah sana. Bapak
sudah melebihi limid menunggu disini.”
“Owh baik pak, ini akan segera pulang. Terima kasih.” Dengan
senyum ramah. Alfi segera menutup kaca mobilnya dan pergi menuju
Apartment miliknya yang berjarak sekitar 20 menit. Karena malam itu
sudah mulai sepi Alfi bisa sampai apartmentnya lebih cepat dari biasa.
Saat akan turun dari mobil, tidak sengaja kunci apartment Alfi terjatuh
dan terpaksa harus membungkukkan tubuhnya untuk dapat meraih
kunci tersebut. Tiba-tiba focus bola mata Alfi berfokus pada benda
kecil segi empat yang ada foto dengan background merah.
Diraihnya benda kecil tersebut yang tidak lain adalah KTP milik
Olivia. Pasti besok dia sibuk mencari-cari KTP ini. Simpan aja dulu.
Pura-pura tidak tahu. Lihat aja besok atau lusa dia pasti akan chat
untuk menanyakan keberadaan KTP ini. Dengan tidak sengaja
semakin banyak data yang Alfi tahu tentang Olivia.
**********
Keesokan harinya Olivia bangun terlambat dari biasanya.
Beruntungnya itu hari Minggu dan tidak ada janji ketemu dengan siapa
pun. Seolah memang waktu telah terjadwal untuk Olivia istirahat dari
segala rutinitas yang benar-benar menyita waktu juga tenaganya. Tepat
jam 07:00 wib Olivia bangun dan segera bergegas kekamar mandi
untuk mencuci muka agar lebih segar dan menghilangkan sedikit rasa
kantuk yang ada.
Olivia menuju dapur untuk membuat teh hangat dan menyiapkan roti
untuk sarapan karena cacing dalam perut mulai bernyanyi. Setelah itu
dia bergegas kebelakang untuk mencuci baju serta membersihkan
beberapa bagian apartment yang memang rutin dia bersihkan.
20
DIMANA KTP OLIVIA
“Selamat pagi bu Aleena, berikut berkas yang harus ibu tanda
tangani sebelum saya bawa ke Bank untuk setoran dari masing-masing
vendor yang harus dibayarkan pada minggu ini.”
“Oh, oke semua sudah kamu pastikan berjalan dengan baik sesuai yang
telah dijadwalkan?”
“Iya bu, semua sudah berjalan sesuai yang dijadwalkan. Ada lagi bu
yang ingin ditanyakan.?”
“Satu lagi, Siang ini kamu ada janji bertemu dengan Alfi. Sudah atur
waktu ketemu dimana? Pastikan kamu datang on time dan setelah dari
Bank kamu boleh jalan kesana agar tidak terlambat.”
“Iya bu, rencananya nanti akan bertemu di Tantular Café. Kalau begitu
saya pamit ya bu. Permisi.”
[Hufh, kenapa harus aku yang ketemu arsitek aneh itu. Sudah bagus
minggu lalu pertemuan itu batal. Kenapa harus ada lagi hari ini. Bikin
mood turun aja. Gimana jika nanti pak Alfi bahas aku yang tidur
dimobilnya kemarin. Kan malu, gimana jika aku tidur kemarin
mengigau dan pak Alfi rekam dengan ponselnya. Oh tidakkk] Gerutu
Olivia dalam hatinya
21
Sementara itu Olivia kembali keruang kerjanya untuk bersiap menuju
Bank dan tidak lupa Olivia merapikan rambut yang baru saja iya acak-
acak saat teringat tentang Alfi dan jadwal mereka yang harus bertemu
kembali hari ini.
“Selamat pagi pak Alfi, mau make sure pertemuan di Tantular café
after lunch nanti untuk deal membahas warna ceiling yang akan segera
digarap.”
“Ok, noted.”
Ya pesan tersebut adalah dari Olivia yang dikirim melalui whats app
pada Alfi. Karena memang Alfi belum memiliki asisten pribadi yang
bisa mengatur jadwalnya. Maklum saja Alfi belum lama tinggal di
Indonesia dan juga baru menduduki posisinya saat ini. Sudah ada
beberapa kandidat yang mendaftar tapi semuanya Alfi tolak karena
menurutnya belum ada yang tepat.
Alfi kembali menatap layar laptop bersamaan dengan PC yang ada
dimeja kerjanya. Pekerjaan Arsitek memang perlu keseriusan dan
perangkat yang mendukung untuk memaksimalkan hasilnya. Namun,
hari itu Alfi merasa ada yang aneh dengan tubuhnya sepertinya Alfi
akan sakit. Beberapa pekerjaan yang sudah mendekati deadline segera
Alfi rampungkan.
Mendekati jam makan siang badan Alfi semakin panas dan tubuhnya
terasa lemas. Sekretaris Alfi yang berada dalam ruangan untuk
meminta tanda tangan pada berkas yang dibawanya. Mengurungkan
niatnya dan segera menelfon dokter untuk memeriksa keadaan
atasanya tersebut. Namun, Alfi pingsan sebelum dokter tersebut
datang.
Alfi segera diantar ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan
pertolongan intensif dari para dokter yang bertugas. Tidak lama setelah
dokter memeriksa keadaannya dan memasangkan infus ditanganya.
Alfi sadar dari pingsannya dan meminta sekretaris dan satu staff yang
mengantarnya tadi untuk kembali keoffice dan meninggalkan Alfi
sendiri dirumah sakit.
********
22
Olivia sampai di Bank dan segera menuju pintu masuk untuk ambil
nomor antrian sebelum pengunjung lebih ramai. Karena pengalaman
sebelumnya setiap hari Senin bank tersebut ramai pengunjung dan
antrian akan panjang. Satpam bank pun menyambut kedatangan Olivia
dengan ramah, membukakan pintu dan sedikit membungkukkan
badan.
“Selamat pagi bu, selamat datang di Bank and blab la bla.”
Olivia membalas senyum pada satpam bank. Dalam hati Olivia –Serasa
tuan puteri aku setiap ke Bank ini disambut ramah oleh para satpam.
Antrian nomor 17. Ya Olivia mendapat antrian nomor 17 segera dia
bergegas menuju petugas bank yang bertugas.
“Selamat pagi, selamat datang dibank. Boleh tahu transaksi apa yang
akan dilakukan bu.” Ucap petugas bank
“Oh iya pak, mau setor seperti biasa sesuai yang tertulis dari cek yang
saya bawa ini ya.”
“Baik ibu, boleh minjam KTP nya sebentar karena ini seharusnya bu
Aleena yang datang kesini.”
“Iya pak, tapi memang biasanya bu Aleena menyuruh saya yang setor,
dan ini surat kuasanya. Sebentar saya ambil dulu.”
Olivia membuka dompet merah hati ditanganya. Mencari KTP untuk
diberikan pada petugas bank. Namun sudah 5 menit dia mencari
bahkan sudah cek tas kerjanya tetap tidak ditemukan. Transaksi sudah
hampir selesai tinggal menunggu KTP Olivia saja setelah itu bukti setor
bisa segera dicetak.
Olivia memberikan bukti scan KTP yang ada dalam ponselnya pada
petugas bank agar transaksi tetap bisa dilakukan. Beruntungnya Olivia
sudah sangat sering datang ke Bank tersebut dan mereka semua kenal
dengan bu Aleena hingga mereka tetap bisa melakukan transaksi
tersebut.
Kembali menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk Bank
tersebut. Didalam mobil kembali sibuk mencari KTP-nya yang hilang.
Dan mulai berfikir kapan terakhir kali mengeluarkannya.
23
“Hmm hilang dimana ya. Apa mungkin tertinggal dirumah dalam tas
yang kemarin aku gunakan kondangan diacara wedding Steven dan
Chatrine. Oke coba nanti pulang kerja aku cek. Semoga ada. Bisa ribet
nanti urusan jika KTP aku beneran hilang.”
Setelah sibuk bermonolog sendiri Olivia segera mengemudi mobilnya
menuju Tantular café tempat dimana dia akan bertemu dengan Alfi.
Karena jalan menuju kesana lumayan ramai dan Olivia harus on time.
Hampir 20 menit duduk di café tapi Alfi belum juga terlihat datang
menemui Olivia. Coffe yang dipesan pun sedah hampir habis. [Arsitek
aneh itu kemana si kok belum datang. Kan aku udah tunggu lama.
Tahu gitu ngapain aku tadi cepat-cepat kesini huh.] Olivia mulai bosan.
************
“Permisi pak Alfi, ini makan siang sekaligus obat untuk bapak. Apakah
ada keluhan yang bapak rasakan.”
“Tidak sus, hanya sedikit pusing saja. Terima kasih.”
Setelah suster pergi meninggalkan ruangan. Alfi baru sadar jika ada
janji dengan Olivia di Tantular Café. [OMG pasti Olivia udah nunggu
dikafe dan marah-marah karena aku belum juga datang. Kasian juga dia
udah jauh-jauh datang jika harus cancel. Pasti nanti dicomplain bu
Aleena.]
“Olivia, sepertinya siang ini saya tidak bisa datang kecafe. Tolong temui
saya di RS Medika Permata Hijau kamar VIP No 3.” SEND
KRING KRING KRING
“Alfi, ibu dapat info dari sekretaris kamu jika kamu pingsan dan
dibawa ke Rumah Sakit lalu bagaimana keadaanya apakah baik-baik
saja ?” Dengan perasaan khawatir Rossa memastikan keadaan anak
bungsunya itu.
“Alfi, baik-baik saja bu, ibu sama ayah tidak usah khawatir.”
“Ibu sama ayah segera kesana, nanti kamu WA saja ruangannya nomor
berapa. Ibu mau siap-siap dulu.” Rosa memutuskan sambungan
telfonnya.
24
CALON MANTU IBU
Olivia focus dengan benda pipih yang ada ditangannya dan
sibuk mengucapkan kosakata setelah membaca isi chat dari Alfi. [Baru
kali ini ada pertemuan soal kerjaan di Rumah Sakit. Siapa yang sakit
ya. Atau dicancel saja tapi nanti jika dicancel bu Aleena bisa marah-
marah dianggap gak bisa handle kerjaan. Duhh gimana ini.] Honda jazz
yang dikendarai Olivia berhenti sebentar disalah satu toko buah, untuk
membeli parcel buah yang akan dibawa ke Rumah Sakit.
Olivia, belum tahu jika yang dirawat di Rumah Sakit adalah Alfi yang
akan dia temui. Olivia berfikir bahwa yang dirawat orang tua atau
keluarga dekat dari Alfi sehingga tidak bisa ditinggalkan. Jika tahu Alfi
yang dirawat mungkin Olivia akan membatalkan pertemuan siang itu
dan kembali keoffice. Dia berfikir jika di Rumah Sakit nanti akan ada
satu atau dua anggota keluarga Alfi sehingga kurang pas rasanya jika
tidak membawa buah tangan.
Setelah memilih buah dan membayarnya. Olivia kembali menuju
mobilnya dan berjalan menuju Rumah sakit permata hijau sesuai
alamat yang Alfi berikan. Tidak lama kemudian Olivia sampai parkiran
Rumah Sakit segera Olivia bertanya Receptionis ruang VIP nomor 3.
25
Saat receptionist bertanya nama pasien Olivia pun bingung akan
menjawab nama siapa.
“Permisi sus, ruang VIP nomor 3 sebelah mana ya.”
“Iya bu, boleh tahu atas nama pasien siapa ya, untuk kami cek
disistim.”
“Hmm.. kurang tahu pasien atas nama siapa, saya hanya diberi tahu
ruang kamarnya sus. Boleh tolong cek dari nomor ruangnya saja?”
“Baik, mohon ditunggu ya bu… Untuk ruang VIP nomor 3 pasien atas
nama Alfi Abimanyu Atmajaya. Apakah ibu anggota keluarganya?”
Tanya suster pada Olivia
“Ha, nama pasien Alfi Abimanyu Atmajaya. Hm saya temennya sus,
boleh tolong anter saya kesana sus.” Jawab Olivia sedikit bingung.
[Jadi Alfi yang sakit. Kenapa dia gak jujur saja dan cancel pertemuan
ini. Sakit apa kira-kira.]
Tidak lama Olivia sampai dimana tempat Alfi dirawat. Suster
mempersilahkan masuk setelah Alfi memberi izin. Saat masuk
kedalam Olivia tidak melihat siapa pun kecuali Alfi dengan tangan yang
tersambung dengan Infus dan suster yang mengantar Olivia.
Dengan wajah sedikit canggung Olivia menyapa Alfi dengan langkah
menuju meja kecil yang ada disamping Alfi untuk meletakan buah yang
dibawanya. “Selamat siang pak Alfi. Jadi pak Alfi yang sakit. Sakit apa
pak. Kenapa tidak cancel saja pertemuan hari ini?” Tanya Olivia
beruntun pada Alfi
Alfi dengan sedikit senyum tipis mulai menjawab satu persatu
pertanyaan Olivia. “Kamu Tanya atau investigasi Oliv. Saya gak
mungkin mau cancel pertemuan kali ini. Kamu ingat pertemuan kita
minggu lalu sudah cancel. Juga kasian kamu yang sudah jauh-jauh
datang kesini bisa dimarah oleh bu Aleena nanti.”
Olivia mulai serba salah. “Tapi pak, Keadaan bapak kan lagi sakit. Dan
sebaiknya istirahat saja dulu. Untuk bu Aleena biar nanti saya yang beri
pengertian kepadanya, Pasti akan maklum kok pak.”
26
“Kamu lihatkan saya baik-baik saja. Lagian kamu juga sudah ada disini.
Sekarang mana gambar dan sample ceiling yang harus saya cek. Sudah
kamu siapkan semuakan.” Ucap Alfi datar.
“Hm baik pak. Iya semua sudah saya siapkan. Ini pak silahkan dicek.”
Olivia memberikan gambar dan sample yang dia bawa kepada Alfi.
Sepasang bola mata Olivia mengamati sudut-sudut ruang yang memang
tidak ada orang kecuali Alfi dan Olivia dalam ruang itu.
Sementara Alfi mulai menge-cek gambar dan sample yang dibawa
Olivia. Keduanya saling focus dengan pembahasan yang memang harus
segera selesai. Beberapa hal telah ditanyakan Alfi pada Olivia dan
dijawab dengan baik oleh Olivia. Satu jam berlalu sepertinya apa yang
mereka bahas telah usai. Alfi memberikan gambar dan sample kembali
pada Olivia dengan beberapa notes yang telah ditandai.
Olivia segera merapikan gambar dan sample tersebut bergegas untuk
pulang. Terdengar handle pintu dibuka ternyata orang tua Alfi yang
datang. Laki-laki tinggi berkaca mata bersama wanita yang jalan
dibelakangnya. Menatap melemparkan senyum kearah Alfi juga Olivia
yang berdiri tidak jauh dari Alfi.
“Ibu Ayah, kok sudah sampai. Tadi bilangnya sore baru sampai sini.”
“Ibu dengan Ayahmu ini khawatir kepikiran dengan keadaan kamu
nak, kenapa kamu bisa sampai pingsan dioffice.” Jawab Rosa pada
anak bungsunya
“Alfi gak papa kok bu, ayah. Alfi baik-baik saja hanya sedikit
kecapean.”
Olivia yang ada disitu hanya berdiri tersenyum dan memantung.
Memandangi drama keluarga yang ada dihadapanya. Bagaimana
seorang Ibu dan Ayah yang begitu khawatir terhadap anaknya yang
sakit. Terlihat begitu hangat keluarga tersebut. Karena mau izin pulang
pun gak enak takut terkesan tidak sopan.
Dengan senyum yang lebar ibu Rosa pindah focus pada Olivia. “Siapa
namamu nak, jadi ini calonnya Alfi ? Ayah ini calon mantu kita.”
Hendra Ayah Alfi pun tersenyum pada Olivia tanda setuju dengan
27
ucapan Rosa. Sementara Alfi dan Olivia saling pandang bingung juga
kaget.
Olivia membalas senyum orang tua Alfi dan tidak lupa mencium
punggung tangannya. “O..olivia tante, Om.” Sambil menggaruk kepala
yang tidak gatal untuk sedikit menghilangkan rasa gugupnya.
“Terima kasih loh, sudah mau jagain Alfi waktu kami belum datang
tadi sampai harus izin dari tempat kerja. Gak salah memang pilihan
Alfi ini.” Ibu Rosa belum melepaskan tangan Olivia dia malah
memeluk Olivia dengan hangatnya.
Olivia semakin serba salah dan bingung memandangi Alfi memberi
kode dengan segala pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Namun
Olivia tidak bisa jujur tentang hubungan yang sebenarnya dan
membiarkan semua kesalah-pahaman ini terjadi.
Tidak beda dengan Olivia. Alfi pun sebenarnya bingung mengapa
ibunya bisa langsung menganggap Olivia sebagai calon mantunya.
Padahal Alfi belum pernah cerita apapun tentang Olivia kepada
ibunya. Bahkan hampir tidak pernah Alfi bercerita tentang siapa teman
wanita yang sedang dekat dengannya. Namun ia sedikit maklum karena
memang ibunya selalu menanyakan kapan dikenalkan pada calon
istrinya tapi sebenarnya wanita itu bukan Olivia.
Saat Alfi akan menjelaskan pada ibunya tentang mengapa Olivia ada
dengannya di Rumah Sakit. Tapi tiba-tiba dokter datang untuk
memeriksa kondisi Alfi dan pihak keluarga dimohon tunggu diluar.
“Udah donk bu muji Olivianya. Lihat itu muka Olivia sampai merah
dia malu. Sebenarnya –” Klek suara handle pintu dibuka dokter yang
datang bersama suster yang jalan dibelakangnya. “Permisi, Kami akan
mengecek kondisi pasien terlebih dahulu. Untuk pihak keluarga
dipersilahkan tunggu diluar ruangan.” Suster mengantar pihak keluarga
menuju pintu untuk keluar lalu segera pintu ditutup oleh suster.
28
BUTUH ISTIRAHAT
“Hallo, Olivia dimana ? Sudah selesai meeting dengan Alfi?”
Ucap suara dari ponsel Olivia yang tidak lain adalah ibu Aleena yang
sedang menunggu hasil pertemuannya dengan Alfi.
“Iya bu, sudah bu.. Segera Olivia kembali keoffice untuk ibu cek
hasilnya.” Jawab Olivia.
Lalu Olivia segera berpamitan pada orang tua Alfi untuk kembali
keoffice dan meninggalkan Rumah Sakit karena Alfi juga sudah ada
yang menjaganya. Dua orang yang begitu berharga untuk Alfi pasti akan
menjaganya dengan sangat baik.
“Om, Tante.. Olivia pamit kembali ke office yah.”
“Loh, kok buru-buru nak, kitakan baru saja bertemu, tante sama om
masih ingin ngobrol banyak dengan kamu.” Jawab rosa dengan wajah
yang sedikit mengiba karena masih ingin mengenal wanita didepannya
yang dia anggap sebagai calon mantunya.
“Owh iya maaf, om tante. Besok kita bertemu lagi. Maaf tolong bilang
ke Alfi ya tante, Olivia pulang duluan. Permisi om tante.” Olivia
mendekati orang tua Alfi dengan membungkukkan badan mencium
punggung tangan mereka bergantian, lalu pergi meninggalkan mereka.
29
Orang tua Alfi memandangi Olivia hingga tubuh Olivia tidak terlihat
lagi. Ibu Alfi terlihat cocok dengan Olivia walau pun ini pertemuan
pertama mereka bahkan secara tidak sengaja.
Sementara Arka bersama istrinya juga kedua putrinya ikut datang
menjenguk sang adik yang sedang dirawat. Alfi memang tidak memberi
tahu jika dia dirawat pada Arka. Hanya saja sang ibu yang memberi
tahu keadaan sang adik yang dirawat sehingga Arka tahu jika Alfi
sedang dirawat di Rumah sakit Medika Permata Hijau. Kebetulan tidak
jauh dari rumah Arka.
“Ma, Arka dan Erina sudah sampai ini lagi diparkiran sudah mau
masuk, ruangan Alfi nomor berapa ?”
****************
Olivia menuju office. Tapi sore itu jalanan padat sehingga tidak bisa
menghindari macet dari jalanan tersebut. [Hm, bisa-bisa aku sampai
office sudah tutup.] Dengan nafas yang berat.
“Oliv, sepertinya kamu akan sangat terlambat sampai ke Office dan
saya sudah mau pulang. Boleh kamu info kesaya besok. Dan jangan
lupa berangkat pagi untuk handle beberapa kerjaan kamu yang
pending hari ini.” Chat panjang dari bu Aleena
“Baik bu, ini jalanan macet parah. Dan untuk kerjaan yang pending
hari ini Olivia akan selesaikan besok. Terima kasih bu.” Olivia mencari
celah untuk bisa memutar arah jalan menuju Apartmentnya yang
terlihat dimaps lebih lancar dan lebih sepi pengendara.
Kembali teringat dengan kejadian di rumah sakit tadi saat ibu Alfi salah
faham menganggap Olivia sebagai calon mantunya.
[Astagfirullah, jika diingat lucu juga kejadian tadi. Baru pertama
ketemu kenapa ibunya Alfi begitu yakin jika aku calon mantu dia. Jadi
apa hidup aku jika punya suami seperti Alfi. Haha Nyebelin emang tu
Arsitek selalu aja ada kejadian-kejadian ajaib setiap ketemu dia. Gak
tahu apa jika tadi rasanya jantung mau copot menghadapi pertanyaan
ibunya.] Saat sibuk bermonolog sendiri, Olivia disadarkan oleh suara
klakson mobil dari belakang sebagai tanda lampu merah telah
berakhir.
Hufl lelah sekali hari ini. Selain kena macet beberapa pekerjaan harus
30
pending karena Olivia seharian meninggalkan office. Tidak lama Olivia
masuk dalam angannya. “Jika ada pangeran dalam hidupku mungkin
aku tidak selelah ini dan aku tidak perlu bekerja hingga lelah seperti
hari ini. Bertemu banyak orang, dengan beberapa deadline belum juga
kuliah dihari weekend. Ohh pangeran kapan kamu datang. Ehh Ya
Allah kenapa aku jadi menghalu.” Olivia bangun dari sofa dan bergegas
untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah mandi Olivia merasa cacing-cacing diperutnya mulai bernyanyi
sehingga segera dia pesan makanan cepat saji dari ponselnya. Tidak
lama makanan datang setelai selesai makan Olivia kembali teringat
bahwa KTP miliknya belum ketemu. Perlahan Olivia jalan menuju
lemari dimana dia simpan beberapa koleksi tas dan aksesoris lainya.
Dicek beberapa tas khususnya tas kecil warna biru yang digunakan saat
menghadiri pernikahan Chaterine tapi dalam tas itu tidak ada.
*********
Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Alfi dan menyarankan
untuk istirahat serta minum obat teratur. “Baik kalau begitu saya tinggal
dulu ya pak Alfi, semoga segera pulih.” “Baik dok, terima kasih
banyak.” Tidak lama dokter keluar.
Arka yang sudah ada disana langsung mendekati dokter. “Bagaimana
keadaan adik saya dok.” Lalu Rosa pun mendekati dokter dengan
pertanyaan yang sama. Dokter tersenyum dan menjawab pertanyaan
dari keluarga Alfi. “Pak Alfi baik-baik saja hanya perlu istirahat Bapak
dan Ibu jangan khawatir. kemungkinan besok sudah boleh pulang
kerumah.”
Handle pintu dibuka. Alfi sedikit kaget melihat 4 orang yang masuk
dalam kamarnya tapi tidak ada Olivia disana. “Kak Arka, Mbak Erina
kok ada disini?” “Hallo bro, bisa sakit juga lo?” dengan nada candaan
khas dua kakak adik ini. Tapi dengan lembut Erina tersenyum juga
menjawab pertanyaan Alfi. “Iya tadi ibu yang kasih kabar kamu sakit.
Gimana keadaan kamu Al.” “Owh, baik mbak hanya kecapean saja.
Ah parah kak Arka, bikin aku makin sakit udah ahh pulang sama
31
males aku.” Dengan wajah yang berbeda Arka menjawab pertanyaan
dari kakaknya juga iparnya.
“Haha jangan baper gitu donk. Makanya nikah biar ada yang urusin.
Atau mau dibantu cariin calonnya” dengan nada bercanda Arka
kembali membuat sang adik tidak nyaman. Tapi ibu rosa langsung
masuk dalam obrolan kedua anak laki-lakinya tersebut. “Ohh ya Al,
Olivia tadi pamit pulang duluan Karena harus kembali keoffice.” “Owh
iya jadi Olivia sudah pulang bu?”
Arka yang mendengar nama Olivia disebut semakin penasaran karena
untuk dia nama itu asing. “Olivia siapa bu? siapa Al?” “Itu calon adik
iparmu. Cantik anaknya sopan lagi. Tadi sebelum kamu datang dia
pamit pulang duluan.” Rosa menjelaskan pada Arka. Percakapan
semakin ramai karena Erina juga penasaran. Arka kembali menggoda
adiknya. “Owh jadi udah ada calon. Jadi adik gue ini normal. Terima
kasih ya Allah.” Dengan nada becandanya.
32
MERASA BERSALAH
Sekarang bukan hanya orang tua Alfi yang salah faham tapi
juga Arka kakaknya dan Erina iparnya. Rasa bersalah Alfi pada Olivia
semakin besar. Rasanya saat itu ingin segera menelfon dan menemui
Olivia untuk menjelaskan. Namun keadaan Alfi yang masih sakit
membuat Alfi tidak bisa melakukan apa-apa.
“Sudah ah, kak Arka pulang saja sana, berisik disini Alfi perlu
istirahat.” Usir Alfi pada kakaknya. Arka semakin semangat menggoda
Alfi “Ciee malu-malu. Ya Udah istirahat sana, besok kenalin ya Olivia
suruh dia datang kerumah. Aurora mau kenalan sama calon tantenya.”
Seisi ruangan pun tertawa. Kecuali Alfi yang semakin kesal dan
melempar bantal pasien pada sang kakak yang tak henti menggodanya.
“Sudah-sudah Arka lihat wajah adikmu semakin pucat. Biarkan dia
istirahat dulu.” Ucap rosa melerai kedua anaknya yang memang sejak
kecil bertingkah seperti tom and jerry. “Lagian ibu, ngapain si
ngundang kak Arka kesini bikin Alfi tambah sakit.” Jawab Alfi
menutupi rasa bersalahnya pada Olivia yang memenuhi ruang hatinya.
[Apa yang harus aku katakana pada Olivia besok? Pasti dia akan marah
dengan kejadian ini. Tapi jika difikir-fikir dia unik juga. Cantik,
33
mandiri, bertanggung-jawab tapi sepertinya ambisius. Ehh kenapa jadi
muji-muji Olivia sih.] Tak lama pun Alfi tertidur dari angan-angannya.
Orang tua Alfi pun beristirahat ditempat tidak jauh dari Alfi.
*************
Olivia sejenak terdiam untuk mengingat-ingat dimana terakhir dia
pegang KTP. Berfikir untuk menelfon Chatrine menanyakan apakah
tim panitia WO ada yang menemukan KTP Olivia atau tidak. Saat
akan akan menekan tombol hijau diponselnya Olivia mengurungkan
niatnya.
“Hi Chatrine, once again happy wedding for you and steven. I hope
always happy ever after. Cat, I lost my KTP, did the WO team in
charge of your wedding find it?”
“Hello Oliv, Thank you for the prayers, gifts and attendance at my last
wedding. Hope to follow soon. Hm, I don't know about ID cards
because there's no info either, I'll try to ask later and let you know
again."
"Ok thanks Catherine."
Tiba-tiba dia teringat bahwa pernah tertidur dimobil Alfi setelah pulang
dari pernikahan Chatrine. Tiba-tiba Olivia terbangun dari duduknya
“Hah apa mungkin KTP aku jatuh dimobil pak Alfi.” Saat akan
menghubungi Alfi tapi kembali teringat dengan kejadian dirumah sakit
tadi dan mengurungkan niat. Meletakan kembali ponselnya diatas sofa.
*********
Alfi terbangun dari tidurnya. Saat suster akan mengganti selang infus
ditangannya dengan yang baru. Setelah suster selesai mengganti infus
Alfi tidak bisa tidur kembali. Dia kembali teringat akan rasa
bersalahnya pada Olivia.
“Olivia, maaf untuk kejadian tadi siang. Next kita harus ketemu. Dan
saya jelasin semuanya.” SEND
34
Kembali Alfi sibuk dengan ponselnya mencoba mencari info tentang
Olivia. Tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Orang tua Alfi yang
telah tertidur membuat Alfi sedikit lebih bebas dalam memainkan
ponsel pribadinya. Tiba-tiba Rosa terbangun melihat anaknya yang
sedang sibuk dengan ponsel ditangannya dia berjalan mendekatinya.
“Kamu baik-baik saja nak ? Terlihat sedikit gelisah begitu.?” Ucap rosa
pada anaknya
“Oh ibu, baik-baik saja kok bu, Kok ibu bangun.” Jawab Alfi
“Ibu gak sengaja terbangun. Syukur jika kamu baik-baik saja. Kata
dokter kamu besok sudah boleh pulang. Boleh tidak kamu undang
Olivia untuk datang kerumah. Sekalian besok dikenalin ke Arka dan
Erina kakak kamu.” Ucapan Rosa kembali membuat Alfi terdiam
berfikir apa alasan apa yang harus diucapkan karena memang tidak
mungkin.
Alfi ragu-ragu menjawab pertanyaan Ibunya. “Hmm undang Olivia ya
bu. Coba lihat besok ya bu. Karena biasanya Olivia sibuk dengan
pekerjaannya. Tadi aja dia dicari atasanya kan. Jadi kasian jika nanti
Olivia izin kerja dan dimarah atasannya.” Sebisa mungkin Alfi
memberi alasan yang tepat agar ibunya percaya.
“Oh gitu. Jadi gak bisa ya besok kamu undang Olivia. Gimana jika
weekend besok Al. Boleh ibu minta nomor WA Olivia. Coba ibu saja
yang mengundang untuk datang kerumah.” Terlihat begitu antusias Ibu
Rosa saat membahas Olivia
“Hah, nomor WA ya bu. Em iya besok ya bu, Alfi kirim kebetulan
ponsel Alfi lowbet. Ini juga sudah malam bu Olivia pasti sudah tidur.”
Alfi kembali beralasan agar ibunya tidak curiga.
*********
Terlihat dari layar ponsel nama Alfi yang tertulis. Tapi Olivia tidak
langsung membuka chat tersebut. Dia kembali focus dengan tulisan
yang akan dikirim pada editornya sebelum update diaplikasi. Setelah
dirasa oke maka tombol send segera diklik oleh Olivia.
Tiba-tiba Olivia merasa lapar lalu dia berjalan menuju dapur untuk
ambil beberapa cemilan dan minuman dingin yang ada dikulkas.
35
Setelah meneguk minuman dinginnya Olivia mengecek ponselnya dan
dia buka salah chat yang datang dari Alfi.
“Olivia, maaf untuk kejadian tadi siang. Next kita harus ketemu. Dan
saya jelasin semuanya.”
Olivia tertawa membaca chat tersebut. Hahaha ternyata dia masih
punya hati. Meminta maaf dan mencoba untuk menjelaskan. Tapi
males banget mau ketemu dia lagi. Hal aneh apalagi nanti yang akan
terjadi. Eh tapi gimana keadaan pak Alfi sekarang yah. Antara kesal
dan khawatir perasaan Olivia saat itu.
Setelah sibuk bermonolog sendiri. Bimbang harus dibales atau tidak.
Akhirnya Olivia balas chat Alfi dengan singkat.
36
AJAKAN BU ROSA
Keesokan harinya semua berjalan normal seperti biasanya.
Suara ponsel bordering meng-alihkan focus Olivia yang sedang
membaca beberapa file. Dilihat layar ponselnya terlihat panggilan dari
nomor tidak dikenal. Hm siapa. Mungkin orang asuransi. Hm tapi jika
bukan dan ternyata penting gimana. Akhirnya Olivia mengangkat
panggilan tersebut.
“Halo.. Dengan siapa ini?”
“Halo, nak ini tante Rosa ibunya Alfi. Apakah kamu ingat.?” Jawab
Rosa memperkenalkan diri.
Deg jantung Olivia tiba-tiba berhenti sepersekian detik. Meletakkan file
keatas meja dan berfokus dengan panggilan tersebut. “Oh i..iya tan,
ingat Olivia ingat. Hmm Ada apa ya tan." Olivia sedikit canggung
setelah mengetahui bahwa Rosa yang menghubunginya.
“Gak papa, ini tante tadi minta nomor kamu ke Alfi. Tante tidak
ganggu kamu kan?” Rosa kembali menjelaskan
Olivia menggaruk kepala yang tidak gatal. “Hm iya tan, egak kok,
Olivia egak sibuk.” Padahal Olivia memang lagi sibuk mengerjakan
pekerjaan kemarin yang sempat pending karena menemui Alfi.
“Nak, hari ini Alfi sudah boleh pulang dari rumah sakit. Sementara dia
37
tinggal dulu dirumah tante. Nanti jika sudah pulih betul baru dia
kembali ke-apartment pribadinya. Kamu kira-kira kapan bisa kumpul
main kerumah sekalian kenalan dengan Arka kakaknya Alfi.” Rosa
mengungkapkan maksud dia menghubungi.
Dibalik sana kembali Olivia yang semakin serba salah. “Owh Alfi udah
boleh pulang ya tan. Iya Alhamdulillah. Hm iya nanti kapan-kapan
Olivia pasti main kerumah tante sama om. Untuk saat ini belum bisa.
Udah dulu ya tan.” Olivia memutuskan sambungan panggilanya.
Baru juga semalam dia bilang maaf dan mau menjelaskan. Tapi ini
drama apa lagi yang pak Alfi buat. Argkkkk!!!! Olivia mencoret-coret
kertas kosong dimeja dengan pen yang dipegangnya. Rasanya ingin
sekali memarahi Alfi saat itu juga. Tapi kondisi Alfi yang masih
bersama orang tuanya mengurungkan niat Olivia untuk menelfonnya.
Pak Alfi ada masalah apa sih. Kenapa harus melibatkan aku kedalam
keluarganya. Bikin nambah rumit aja. Apakah benar seorang Arsitek
kaku benar-benar masih single, belum punya pasangan atau huh apa
sih jadi hilang focus gini.
Olivia pergi sejenak mencari udara diluar ruangan seolah
menenangkan fikirannya yang seketika kacau setelah Rosa menelfon
dan ingatan tentang Alfi tiba-tiba memenuhi isi kepala.
***********
Chat dari Olivia dengan nada kesal dan penasaran. Alfi menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Serba salah harus jawab chat Olivia apa. Dia
takut semakin membuat Olivia marah. Sedang mereka juga ada proyek
yang harus di handle dan baru saja mulai.
“Bu, tadi menghubungi Olivia buat apa?” Alfi mulai bertanya dengan
ibunya dengan nada lembut ingin mengetahui apa yang ibunya dan
Olivia bicarakan. Karena memang waktu mereka mengobrol Alfi tidak
tahu.
“Owh.. iya tadi ibu menghubungi Olivia, seperti yang sudah ibu
katakan semalem, ibu ingin mengundang dia datang kerumah dan
38
memperkenalkan pada kakak mu Arka dan iparmu Erina.” Jawab rosa
menjelaskan
“Lalu Olivia jawab apa ke ibu.” Alfi semakin penasaran
“Olivia hanya bilang iya nanti kapan-kapan dikabarin.” Dengan muka
sedikit kecewa rosa mengungkapkan jawaban Olivia
Alfi tersenyum melihat sang ibu yang sudah sangat berharap pada
Olivia. Sekaligus bingung bagaimana harus menjelaskan pada ibunya
hubungan yang sebenarnya antara dia dan Olivia.
Dalam perjalanan pulang fikiran Alfi dipenuhi dengan bayangan Olivia.
Bagaimana nanti dia menjelaskan. Bagaimana jika nanti Olivia marah
dan pertanyaan lainnya. Salah satunya pertanyaan pada ibunya yang
begitu yakin pada Olivia.
“Bu, kenapa ibu begitu yakin dengan Olivia bahkan mengajaknya
datang kerumah. Kan Alfi belum pernah cerita apa-apa ke ibu.” Tanya
Alfi penasaran
“Nak, ibu itu tahu karakter kamu selalu serius dalam hal-hal penting.
Kamu yang tidak pernah ibu lihat dekat dengan wanita. Dan saat ini ibu
lihat Olivia ibu percaya jika kamu tidak sembarangan memutuskan
untuk dekat dengan dia. Lagi pula Olivia cantik, mandiri sopan lagi. Iya
gak yah.” Jelas rosa
“Iyaa” jawab Hendra
Alfi hanya senyum mendengar pernyataan sang ibu. Dan berpura-pura
sibuk dengan ponselnya agar pembahasan tentang Olivia tidak lagi
berlanjut. Tidak lama mereka sampai dirumah orang tua Alfi.
Sesampai dikamar Alfi tidak langsung beristirahat melainkan membalas
chat Olivia.
************
Yeay, akhirnya sampai rumah juga. Olivia merebahkan tubuhnya pada
sofa panjang didepan ruang TV. Huh cape banget hari ini. Berendam
air hangat sepertinya bikin rilex. Olivia menuju kamar mandi untuk
mencuci muka dan menyalakan air hangat di bath up bersiap untuk
berendam melegakan otot-otot yang seolah kaku.
39
Olivia tidak lupa menyiapkan semua peralatan yang dia butuhkan salah
satunya handuk putih. Setelah semuanya siap Olivia pun berendam
didalam bath up dan sejenak memejamkan matanya. Menikmati air
hangat yang telah merendam badannya dengan aroma mawar
kesukaannya.
Setelah merasa puas berendam Olivia segera berganti baju santai.
Menggunakan kaos dengan over size dan celana pendek itulah baju
santai faforitnya. Seperti biasa Olivia kebelakang menuju ruang dapur
untuk membuat minuman hangat yang akan menemaninya membaca
buku dibalkon kamarnya.
40
RENCANA BERTEMU
Semilir angin yang berhembus membuat Olivia sejenak
berhenti menyelami kata-kata dalam buku yang dipegangnya. Hingga
dia sadar bahwa hari sudah larut dan sudah waktunya dia untuk segera
tidur. Sebelum tidur Olivia membuka ponselnya yang sudah dia
tinggalkan sejak pulang kerja tadi. Banyak chat yang masuk salah
satunya chat dari Alfi.
“Sorry, saya tidak tahu jika ibu akan menghubungimu secepat itu. Lusa
saya jemput kamu kita ketemu dan saya akan jelasin semuanya.”
Kembali teringat dengan sosok Alfi yang menghilangkan rasa ngantuk
Olivia. Dia benar-benar merasa bersalah. Kira-kira apa yang nanti akan
dia jelaskan. Lalu aku harus bersikap seperti apa. Haha aku harus
berpura-pura marah, cuek atau –“ Ya Allah kenapa jadi overthingking
gini.
********
Setelah selesai makan malam Alfi dan kedua orang tuanya duduk
besama diruang tengah. Selayaknya orang tua dan anak saling
berbincang dengan obrolan yang ringan. Ditengah-tengah obrolan Rosa
41
mengingatkan bahwa 2 hari lagi adalah hari ulangtahun pernikahanya
yang ke-35 tahun.
“Gimana jika kita rayakan kecil-kecilan sekalian ya nak. Sekalian kamu
undang Olivia datang kesini. Pasti dia mau jika kamu yang
mengundang.”
Alfi yang sedang memakan buah Anggur tiba-tiba tersedak. “Hm,
undang Olivia iya coba besok Alfi tanya dia sibuk tidak.”
“Kamu kenapa nak, ibu minta kamu undang Olivia kamu langsung
tersedak gitu. Gak usah malu-malu. Atau sekalian besok kita tanya ke
Olivia kapan kita boleh bertemu orang tuanya.” Tegas Rosa.
Rasanya Alfi mulai kesulitan untuk mencari alasan apa yang tepat.
Kemudian dia bergegas menuju kamarnya dilantai 2 dan beralasan
ingin istirahat pada kedua orang tuanya.
“Baik pak, ditunggu penjelasannya. Tapi tidak perlu repot-repot
jemput saya. Kita bertemu ditempat. Kirim saja alamatnya dimana.”
Harus jelasin dari mana. Bagaimana buat dia agar tidak marah dan
tetap mau datang diacara ulang tahun pernikahan ibu dan ayah besok.
Jika aku jelasin yang sebenarnya pasti dia akan ketawa mengejek. Tapi
jika besok dia tidak datang pasti ibu dan ayah akan kecewa. Dan kak
Arga akan puas membuli aku didepan keluarga.
“Ok lusa di Djurnal Coffe jam 07:00 malam tidak jauh dari Apartment
kamu.”
**************
Olivia duduk disofa depan ruang televisi dengan tangan yang sibuk
dengan ponselnya. Terlihat sedikit bimbang antara akan menemui Alfi
sesuai yang telah mereka rencanakan atau dibatalkan. Dia berjalan
menuju lemari dan memilih-milih baju yang akan digunakan menemui
Alfi di Djurnal Coffe malam nanti. Setelah mencoba beberapa baju
Olivia duduk diatas kasur dan tertawa.
42