The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

ARSITEK HATI - EVI YULIANTI LAYOUT B0001

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penerbitpascalbooks, 2021-12-17 21:11:25

ARSITEK HATI - EVI YULIANTI LAYOUT B0001

ARSITEK HATI - EVI YULIANTI LAYOUT B0001

[Aku kenapa yah, kok jadi nerveuos gini. Kan cuma mau ketemu Alfi
dan ini bukan jam kantor yang tidak harus formal. Jadi harusnya bebas
saja.]

Akhirnya Olivia menggunakan Blous warna pink dengan rok tutu
setengah tiang warna hitam. Dipadankan dengan Heels 7 CM dan tas
kecil dengan warna senada yang hanya berisi ponsel dan beberapa ID
card saja.

Setelah drama pilih-pilih baju tadi. Akhirnya Olivia menuju caffe 20
menit lebih awal dari yang direncanakan. Sampai di Caffe belum
terlihat Alfi duduk disana karena mereka belum ada yang pesan meja
maka Olivia yang memilih meja.

Saat akan menanyakan keberadaan Alfi dimana tapi panggilan video
datang dari Denis adik Olivia ternyata yang ada dibalik layar bukan
hanya Denis, melainkan Widia nenek Olivia. Juga keluarga yang lainya.

“Apa kabar nduk, sehat ?”
“Owh iya nek, Olivia baik sehat disini.”
“Nduk, ini kita lagi kumpul sama bude. Pakde juga om, tante dan
sepupu-sepupu kamu rame. Lah kamu kapan mau pulang nduk, bulan
depan ulang tahun mu. Jangan kerja terus udah waktunya nikah. Kapan
kamu kenalin calon suami mu kenenek. Nenek pengen cepet-cepet
lihat kamu bahagia ada menjaga. Jangan sendiri terus nenek khawatir.”

Olivia mulai tidak nyaman karena pertanyaan ini bukan yang pertama
untuknya. Seolah dia telah kehabisan alasan pada neneknya yang
mengharapkan cucu kesayangannya itu untuk segera menikah. Tanpa
disadari Olivia, Alfi telah berada disampingnya sejak awal obrolan
Olivia dan neneknya. Sehingga secara tidak sengaja Alfi mendengar
semua obrolan mereka.

Tiba-tiba Alfi mengambil ponsel yang ada ditangan Olivia.

“Assalamualaikum nek, perkenalkan saya Alfi. Nanti diusahakan bulan
depan pasti Olivia pulang kok nek. Maaf belum sempet silaturahmi
tempat nenek karena ada beberapa pekerjaan.”
“Waalaikumsalam, Owh jadi ini calon suaminya Olivia. Alhamdulillah.

43

Iya gak papa ditunggu ya main kesini. Jangan lama-lama.”
Masih dengan senyum seolah tidak bersalah Alfi kembali menjawab
nenek widia. “Iya nek, udah dulu ya nek. Besok kita ngobrol lagi.
Assalamualaikum.”
Panggilan berakhir namun masalah Alfi dan Olivia belum berakhir
bahkan perang baru saja akan dimulai. Olivia masih terdiam tanpa kata
setelah melihat obrolan nenek widia dan Alfi laki-laki yang belum lama
dia kenal. Mencoba mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya.
Akhirnya Alfi yang memulai obrolan. Dia menanyakan apakah Olivia
sudah memesan minum atau pun makanan. Tidak ada senyum lagi
diwajah Olivia dia terlihat begitu marah.
“Maaf, to the point saja pak, saya gak mau lama-lama disini.”
“Sabar dulu, jika kamu marah gini gimana saya mau jelasinya. Kita
pesen minum dulu ya. Kamu mau pesen apa?”
“Terserah.” Olivia rasanya ingin sekali pulang. Tapi dia perlu tahu
kenapa Alfi berbicara seperti itu kepada neneknya tadi.
Tidak lama waiters datang mengantar pesanan. “Silahkan kak
dinikmati coffe dan dessertnya. Mala mini sedang ada promo untuk
pasangan muda dengan S&K berlaku.” Olivia menjawab waiters
tersebut dengan sedikit kesal. “Tidak perlu mbak terima kasih kami
bukan pasangan.”

44

ALASAN ALFI

Saat Alfi akan melanjutkan penjelasannya Olivia terlebih
dahulu memulai obralannya. Terlihat emosinya sudah lebih reda
disbanding beberapa menit sebelumnya.
“Maksud pak Alfi apa coba, bilang ke nenek saya jika pak Alfi calon
suami saya. Lihatkan tadi nenek langsung percaya dan bahagia gitu.”
“Ya baguslah.”
“Ihhh nyebelin. Enak aja bilang gitu. Kalo nanti calon suami aku tahu
gimana. Sedangkan yang nenek kenal pak Alfi.”
“Calon suami mu yang mana Oliv.”
“Kok bilang gitu? Emang bapak tahu apa tentang saya. Gak semua hal
bapak tahu yah.” Dengan muka kembali memerah menahan kesal
pada Alfi
Alfi tertawa melihat Olivia yang kembali cemberut dan pipinya yang
memerah. Karena sebelum dia menemui Olivia malam ini. Alfi sudah
lebih dulu mencari tahu soal Olivia pada sahabatnya Steven dan
Chatrine alasan mengapa kemarin diacara pernikahannya Olivia diberi
bucket bunga khusus dari pengantin.

45

“Iyaa.. iyaa.. Saya emang baru mengenal kamu dan belum banyak yang
aku tahu tentang kamu. Tapi ingat tidak pernah satu malam kita
bertemu dilobby hotel yang sama.”
“Hmm maksudnya kita ada disatu acara yang sama?” Tanya Olivia
penuh selidik
“Iya, Steven itu temen SMA sekaligus S1 waktu kuliah dulu.”
“OMG lalu kenapa kemarin waktu ditanya tidak jawab dengan jujur.”
“Ya kan saya udah jawab iya baru pulang kondangan. Kamu kan gak
tanya kondangan di pernikahan siapa.”

Olivia kembali diam merasa terjebak oleh Alfi. Olivia sudah mulai gak
faham dengan pak Alfi. Kemarin bilang hanya mau menjelaskan
kesalah fahaman yang terjadi di Rumah sakit. Tapi sekarang pak Alfi
makin membuat rumit keadaan dengan pak Alfi mengaku jika pak Alfi
calon suami saya pada nenek. Dan apa juga hubungannya dengan
pernikahan Steven dan Olivia beberapa hari lalu.

“Boleh saya jelaskan dulu. Nanti terserah kamu mau percaya atau
tidak.” Ucap Alfi datar.
Olivia tidak menjawab hanya meng-anggukan kepala dengan ekspresi
kesal.

“Jadi setelah orang tua saya bertemu kamu dirumah sakit lalu. Rasanya
mereka semakin yakin jika kamu benar-benar calon isteri saya. Saya
pun tidak tahu apa yang membuat mereka seyakin itu. Bahkan ibu
meminta nomor WA kamu dan menghubungi kamu. Dan besok
berencana untuk mengundang kamu diacara wedding Anniversary
orang tua saya.”

Olivia tiba-tiba menjawab “Gak, saya gak mau datang.”

Alfi menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar jawaban
Olivia yang spontan. “Kan saya belum tanya, kamu mau datang atau
tidak?” Alfi melanjutkan alasannya mengapa dia mengaku sebagai
calon suaminya pada nenek widia.

Saya ingat saat menghadiri wedding Steven dan Chatrine beberapa hari
yang lalu. Melihat kamu menerima bucket bunga special dari pengantin
yang aku rasa semua itu pasti ada alasanya. Dari situ saya coba cari tahu

46

pada Steven lalu Steven bilang jika kamu adalah sahabat baik istrinya si
Chatrine.

“Chaterine bilang apa ke kamu.” Olivia semakin penasaran dengan
cerita Alfi

Alfi senyum tipis pada Olivia sedikit menggoda. “Baik bu Oliv, tapi
janji yah setelah ini maafin saya. Gak boleh marah lagi.” Alfi mulai
membuat Olivia serba salah
“Tergantung” jawab Olivia singkat

“Iya jadi Chaterine bilang. Jika kamu adalah sahabatnya sejak kuliah S1
dan kamu adalah cucu pertama dari nenek widia yang sangat
diharapkan untuk segera menikah agar tidak sendiri terus dirantau.
Dan… hmmm”

“Dan apa?” Olivia tidak sabar mendengar kelanjutan cerita Alfi

Alfi ketawa kecil, “penasaran Liv? Dann maaf ya, saya tahu kamu saat
ini belum ada calon suami. Jadi sebenernya saya sudah membantu
kamu dari pertanyaan nenek widia yang selalu menanyakan calon
suami kamu. Jadi kita satu sama yah. Kamu maafin saya sekarang.”

“Hah, satu sama apanya. Gak mau Olivia masih marah.” Jawab Olivia
sebenernya sedikit malu karena Alfi tahu sedikit cerita pribadinya

“Iyaa satu sama. Kemarin ibu aku anggap kamu calon mantunya
sekarang nenek kamu anggap aku calon suami dari cucu
kesayangannya yang selalu sibuk ini.” Deal yaa udah kamu maafin
sekarang

“Ya udah, kalau gitu kita gak perlu ketemu lagi kecuali urusan kerja.”
Gimana deal jawab Olivia

Alfi menarik nafasnya lebih dalam dan menyandarkan tubuhnya pada
sofa yang didudukinya. Dan kembali pada sikap tegap dan melanjutkan
obrolannya dengan Olivia yang entah sampai jam berapa akan selesai.

47

“Olivia, gimana mau kamu anggap deal dan kita tidak bertemu lagi.
Bagaimana jika nanti ibuku menanyakan kamu dan nenek kamu
menunggu kedatanganku. Please fikirkan dulu sebab akibatnya. Bisa!”

Olivia terdiam “Maksud pak Alfi saya tetap datang diacara wedding
anyversarry orang tua pak Alfi besok selanjutnya pak Alfi juga akan
datang bertemu nenek widia.”

“Yes that's the point” ujar Alfi singkat

“Kalo saya gak mau gimana.”

“Ya kamu akan tahu konsekuensinya. Kamu akan membuat banyak
orang kecewa. Khususnya orang yang kamu sayangi akan merasa
dibohongi. Nenek kamu akan kecewa begitu sebaliknya.” Jelas Alfi

“Lalu saya harus bagaimana pak Alfi. Melanjutkan semua ini. Tetap
datang pada undangan orang tua pak Alfi. Gak mau Olivia malu.”

“Kenapa liv, kan hanya datang dan bertemu ibu sama ayah gak jauh
beda seperti dirumah sakit kemarin. Tolong ya besok datang. Saya
jemput jam 07 malam. Gimana? Setelah itu nanti aku kasih kamu
sesuatu yang pasti bikin kamu happy.”

“Ihh bapak jangan mikir yang aneh-aneh ya.”

“Apa sih liv, emang aku bilang apa? Jadi gimana deal ya besok kita
datang bareng keacara orang tua saya? Tolong ya Liv, saya tidak ingin
membuat orang tua saya kecewa dihari bahagianya.” Tanya Alfi
meyakinkan

Olivia tidak menjawab, tapi memandangi Alfi saat sedang menjelaskan
terlihat jika Alfi anak yang memang sangat menyayangi keluarganya
bahkan tidak ingin membuat mereka kecewa. Oliva sepertinya mulai
bimbang. Ingin menolak agar tidak terus terjadi salah faham ini. Tapi
juga tidak ingin membuat banyak orang kecewa walau harus
membohongi hatinya sendiri.

Tidak lama Olivia sampai diapartment-nya dia langsung melemparkan
badannya diatas kasur empuknya. Merasa lelah dengan kegiatan hari

48

ini. Terkhusus obrolanya dengan Alfi di Caffe tadi yang sama-sekali
diluar dugaan dia.

49

TERPESONA

Alfi yang baru saja sampai rumah orang tuanya langsung
disambut dengan beberapa pertanyaan.
“Kamu dari mana nak, malam-malam begini. Inget kamu itu baru
sembuh dari sakit.” Ucap Rosa
“Ya udah biarin lo bu, anak kita ini sudah dewasa. Jangan terlalu
dikekang.” Jawab Hendra
“Ehh Ibu, Ayah.. Alfi hanya dari caffe sebentar kok ketemu temen.
Alfi istirahat dulu ya. Selamat malam.” Saat Alfi hendak menaiki tangga
menuju kamarnya yang ada dilantai 2 tiba-tiba terhenti dengan
pertanyaan ibunya yang kembali menanyakan Olivia.
“Eh bentar dulu. Jadi gimana Olivia bisa datang tidak besok diacara
wedding Anyversary ibu sama ayah. Kamu sudah coba hubungi dia
belum. Atau ibu yang akan hubungi dia kembali besok pagi.”
Dalam hati Alfi. Ini juga baru pulang bertemu Olivia bu. Andai ibu
tahu yang sebenarnya pasti akan sangat kecewa. Beruntung tadi Olivia
bisa dibujuk walau sedkit memaksa juga. Kasian dia. Alfi duduk
bersandar diujung kasur. Memandangi foto Olivia yang ada dalam

50

KTP. Lucu juga ni cewek. Gimana ekspresi dia nanti jika tahu KTP
nya berhari-hari ada didompet aku. Alfi tersenyum tipis.

Keesokan paginya seperti biasa keluarga Atmajaya sarapan bersama
dimeja makan. Alfi dengan sandwich faforitnya dan orang tuanya
dengan nasi goreng telur ceplok sederhana. Iya walau pun keluarga
Atmajaya terkenal kaya dengan asset dimana-mana namun kehidupan
asli dari mereka masih tetap sederhana. Kecuali memang acara-acara
tertentu. Terlihat bahwa keluarga ini rendah hati juga tidak mendewa-
dewakan harta.

Alfi memulai obrolan dimeja makan itu “O..iya bu, acaranya jadikan
nanti malam. Kak Arka dan mbak Erina sudah dikabari untuk datang
kesini.?”
“Kakakmu dan mbakmu udah dikabari mereka bilang akan datang
lebih awal. Mungkin sebentar lagi.” Jawab Rosa
“Owh. Hanya keluarga kita sajakan bu, tidak ada yang lain.”
“Eyangmu, paman dan tantemu yang di Bogor juga bilang akan datang
kesini. Mereka katanya penasaran pingin lihat calon istrimu si Olivia.
Ibu sudah cerita dan mereka ikut gembira dengernya. Makanya nanti
Olivia harus datang.”
“Iyaa Al, jangan sampai eyangmu dan pamanmu yang udah jauh-jauh
kesini kecewa karena tidak jadi bertemu Olivia.” Hendra
menambahkan

Alfi yang sedang menggigit sandwich ke mulutnya tiba-tiba berhenti
mengunyah mendengar penjelasan dari ibu dan ayahnya barusan. Dia
tidak tahu jika keluarganya yang dari luar kota akan datang juga.
Karena penasaran dengan Olivia. Alfi meletakkan sandwichnya dan
segera meminum air putih yang ada dihadapanya.

“Hmm jadi Eyang, paman juga tante nanti akan datang ya bu, yah.
Rame donk nanti.”
“Iyaa.. jadi gimana kamu nanti jemput Olivia jam berapa jangan sampai
telat loh ya.” Rosa memastikan kedatangan Olivia yang memang
beneran ditunggu.
“Iya.. iya nanti setelah Olivia pulang office Alfi langsung jemput bawa
sini.”

51

Alfi kembali merasa serba salah. Karena yang dia tahu dan yang dia
ucapkan ke Olivia hanya acara biasa orang tuanya dan kakaknya.
Tanpa dia tahu jika ibunya telah lebih dulu menghubungi keluarganya
yang diluar kota.

Olivia melihat ponselnya dengan beberapa chat masuk yang salah
satunya chat dari Alfi. Dalam hatinya kenapa lagi ini arsitek nyebelin.
Hm berbakti sama orang tua si bagus. Tapi kenapa harus bohong gini.
Haduh datang gak ya nanti. Harus jawab apa nanti jika ibunya tanya-
tanya yang diluar dugaan.

Iya oke, jemput lebih awal karena perlu cari kado. Dan saya gak tahu
selera orang tua pak Alfi yang gimana. Takut salah.
Oke, masalah kado kamu gak usah khawatir biar saya yang
menyiapkan. Thanks Olivia. See you.

Olivia sedang sibuk didepan lemari kamarnya. Mencoba beberapa baju
koleksinya. Namun beberapa baju yang dicobanya terasa kurang tepat.
Hingga sampai dipilihan dress warna merah hati yang sudah lama dia
beli tapi jarang dia pakai. Dipadukan dengan Heels dan tas kecil warna
cream terlihat sederhana tapi tetap anggun.

Rambut yang sedikit dicurly dan make up tipis-tipis dengan polesan
lipstick matte warna terang membuat Olivia terlihat berbeda dari
biasanya. yang selalu menggunakan baju formal, make up natural
dengan berbagai model blazer yang sering digunakan.

Tidak lama Olivia sampai dilobby tempat dimana Alfi menunggu.
Dengan tidak sengaja Alfi juga menggunakan kemeja dengan warna
senada yang digunakan Olivia. Tapi Alfi tiba-tiba diam mematung saat
melihat Olivia keluar dari lift dan menghampiri dirinya. Olivia terlihat
begitu berbeda dan membuat Alfi terpesona hingga tidak berkedip.
“Sudah lama menunggu pak? Hallo… Pak.. Pak Alfi?” Sapa Olivia
berkali-kali membuyarkan lamunan Alfi
“Owh.. Hmm.. Iya kenapa, E..egak kok belum lama. Udah siap yuk
berangkat sekarang.” Jawab Alfi sedikit kikuk melihat Olivia yang
tampil beda “Kamu tunggu disini saja saya ambil mobilnya dulu parkir
disana.” Olivia meng-angguk tanda setuju.

52

Didalam mobil seperti biasa tak ada obrolan diantara mereka. Hingga
akhirnya Olivia yang memulai obrolanya menanyakan kado apa yang
akan dia berikan pada orang tua Alfi.
“Maaf pak, untuk kadonya gimana? Soalnya saya kurang tahu kado apa
yang tepat untuk orang tua pak Alfi.”
“Tenang semua udah disiapkan. Kadonya ada dibelakang. Nih
kartunya ucapanya tinggal diisi.” Alfi menyodorkan kartu ucapan dan
pulpen pada Olivia.
“Hm Oke, Olivia tulis ya. By the way kadonya apa pak?”
Olivia tertawa mendengar jawaban Alfi. Alfi melirik Olivia merasa
gemas melihat ekspresinya.

53

BERTEMU

“Liv, sadar sesuatu enggak?”
“Apa pak. Lipstik Oliv gak rapi yah. Atau make up nya ketebalan.”
Olivia sibuk melihat wajahnya dari kaca.
“Enggak kok, warna baju kita lihat deh.” Jawab Alfi datar dalam hati
deg deg-an.
Olivia nunduk, dan melihat kearah Alfi lalu tersenyum. “Padahal kita
gak janjian.”
Jodoh ! Jawab Alfi pelan. Olivia yang dengar samar-samar kembali
menanyakan tapi Alfi tidak lagi menjawab. Tidak lama mereka sampai
rumah Alfi. Saat Alfi sudah turun dari mobil Olivia hanya diam duduk
dijok mobil bahkan hingga pintu mobil sudah dibuka oleh Alfi.
“Kenapa? Ayo turun?”
“Pak.. Olivia pulang aja ya. Malu pulang ya.” Olivia merengek pada
Alfi seperti anak kecil yang takut akan tempat baru. Dengan wajah yang
semakin menggemaskan dengan bibir sedikit digigit terlihat lebih imut
“Gak papa kok, keluarga aku egak akan gigik kamu. Yuk.” Alfi
mengulurkan tangannya untuk digenggam Oliv

54

Rosa dan Hendra melihat mobil Alfi segera bergegas keluar
menyambut kedatangan Olivia yang memang sudah ditunggu.
“Alfi – Olivia kalian sudah sampai? Ayo segera masuk udah ditunggu
loh.”
Tidak lama Alfi dan Olivia sampai ditempat acara. Olivia mencium
punggung tangan rosa juga hendra dan beberapa keluarga dekat Alfi
yang sudah datang dan kumpul meramaikan acara tersebut.

“Owh jadi ini calon istrinya Alfi. Pinter carinya cantik pasangan serasi
kalian.” Ucap tante Jenni
Juga disambut oleh eyang Alfi yang juga antusias. “Namanya siapa nak,
gak usah malu-malu nanti juga kami jadi keluarga kamu. Alfi ini anak
baik, penurut dan pendiem. Nanti bilangin eyang saja jika Alfi nakal.”
Semua tertawa

Arka dan Erina yang baru saja turun dari lantai atas langsung ikut
masuk dalam pembicaraan tersebut. Kembali menggoda adiknya yang
memang baru pertama kali membawa teman wanitanya kerumah
bertemu keluarganya.

“Wah wah wah, ternyata calon adik ipar sudah datang. kenalin ini
Erina istri tercinta.” Arka dengan ciri khasnya yang lebih rame dari
pada Alfi yang pendiem. Olivia tersenyum menyalami Arka “Hallo kak
Arka. Hallo kak Erina”

Erina tersenyum menyambut Olivia. Dan mengenalkan putri kecilnya
yang cantik dengan gaun bunga-bunganya dengan rambut ikat dua yang
menambah lucu orang yang melihatnya.

“Sayang.. Kenalan tuh sama tante, salim sama tantenya ya.”
Olivia menyambutnya dengan senyum. “Hai cantik namanya siapa?
Mau ikut tante egak.”
“Hai ante nama aku aulola (Aurora)” Sambil mencium punggung
tangan Olivia kemudian Aurora memeluknya dan meminta gendong
pada Olivia.

Rosa dan Hendra tersenyum melihat semua yang menyambut Olivia
dengan baik. Semuanya sudah datang. Bagaimana jika acaranya
langsung kita mulai saja yuk.

55

Setelah tiup lilin bersama dan memotong kue secara simbolis.
Semuanya focus pada makan malam bersama pada tempat yang telah
disediakan. Rosa kembali mengenalkan anggota keluarganya pada
Olivia.

“Wahh harusnya gak perlu repot-repot bawa kado Liv. Kamu datang
saja udah special.”

Arka kembali ikut dalam pembicaraan “Iya bu, Olivia hebat, malah
selain bisa naklukin anak ibu yang kaku ini. Aurora juga langsung akrab
dengan Olivia tadi.” Semua tertawa mendengar arka kecuali Alfi
“Kak Arga, emang gak pernah bisa yaa bikin adiknya happy sehari aja.”
Jawab Alfi
“Hmm kalian ya kalo udah ketemu langsung seperti tom jery. Udah
gede loh. Udah pada punya istri dan calon istri.” Ujar rosa

Setelah semua tamu dan kerabat dekat pamit pulang. Tinggal keluarga
inti. Arka dan istrinya sedang sibuk mengurus 2 balitanya. Alfi sedang
kekamar kecil. Tersisa Olivia dan kedua orang tua Alfi.

“Oliv, terima kasih loh sudah mau datang malam ini. Ibu seneng
banget.”
“Hmm iya bu, Oliv juga senang disini bener-benar disambut baik
dengan semuanya.”
“O.iya liv, jadi kapan om dan tante boleh bertemu orang tua kamu.
Jangan lama-lama ya nak.”

Olivia tersenyum mendengar pertanyaan tak terduga tersebut. Yang dia
fikir malam itu hanya akan makan malam biasanya. Kenyataannya
bertemu dengan beberapa keluarga yang lain. Alfi yang tak sengaja
mendengar pertanyaan tersebut dan tahu jika Olivia kebingungan
menjawabnya. Langsung mengalihkan pembicaraannya.

“Ibu, Ayah.. Ini udah malam. Alfi anter Olivia pulang dulu ya. Kasian
jika terlalu larut Oliv cape dan besok harus masuk kerja seperti biasa
berangkat pagi. Yuk liv.” Ucap Alfi agar pembicaraan yang tadi tidak
lagi dibahas.

56

“Owh, iya om, tante Olivia pamit pulang dulu ya. Terima kasih untuk
jamuanya malam ini. Hm kak Arka dan mbak Erina sudah tidur kah.?”
“Owh iya..iya keasikan ngobrol sampai lupa waktu jika ini sudah larut.
Sama-sama cantik. Nanti tante bilangin ke Arka dan Erina. Besok main
sini lagi yaa. Hati-hati. Alfi jagain Olivia” Jawab Rosa dan Hendra yang
tersenyum
“Oke bu, Alfi pamit dulu ya Anter Olivia. Assalamualaikum.”

Alfi dan Olivia bergandengan tangan keluar meninggalkan Rosa dan
Hendra. Saat suasana sudah sepi dirasa tidak ada orang Olivia menarik
tangannya dari genggaman Alfi.

“Lepasin ih.. Udah gak ada orang ini.”
“Kamu kenapa si liv, bukanya tadi didalem kamu yang nempel-nempel
saya terus.”
“Ihh apaan. Kan cari aman aja. Biar mereka percaya dan egak ditanya
yang aneh-aneh.”

Keduanya masuk mobil dan perdebatan kembali berlanjut. “Pak Alfi
bohong lagi ihh hobby banget bohong.” “Bohong? Bohong kenapa?”
“Iya kan bilangnya Cuma makan malam biasa kenalan dengan kak
Arka. Lalu tadi ada Eyang dan tante.”
“Oh iya yang itu saya juga gak tahu. Baru tahu tadi pagi waktu mereka
semua sudah OTW datang. Kan gak mungkin suruh cancel putar
balik.”
“Hmm” Jawab Olivia singkat.
“Hmm aja? Jadi gimana pertanyaan ibu yang tadi.”
“Ahh parah pertanyaanya selalu bikin jantung mau copot. Gak mau lagi
yaa kayak gini.”

57

MENEPATI JANJI

Dalam perjalanan suasana seperti biasa sepi tanpa suara.
Keduanya sama-sama canggung untuk saling bicara. Olivia yang fokus
melihat kesamping dengan lampu-lampu jalanan yang menyala dan Alfi
yang focus mengendarai mobilnya.
Dalam hati Alfi, mengucapkan terima kasih pada Olivia karena sudah
mau memenuhi undangan ibunya walau terpaksa. Alfi tidak pernah
berfikir awal dari pertemuan tidak sengaja di IFC waktu itu akan
berlanjut hingga saling mengenal pihak keluarga.
Dalam hati Olivia, kagum terhadap sosok Alfi yang memiliki keluarga
harmonis hangat dan menerimanya dengan ramah. Serta Alfi yang
terkenal baik, penurut juga pendiem dalam keluarganya. Karena jarang
ada laki-laki dalam keluarga yang memiliki predikat seperti yang
diucapkan oleh eyangnya Alfi tadi.
Kebanyakan laki-laki terkenal dalam keluarga adalah malas, main terus
dan bandel dan ketiga sifat itu tidak ada dalam diri Alfi. Keponakan
Alfi pun lucu, ramah dan mudah akrab. Terlihat tadi bagaimana

58

ekspresinya saat digendong Olivia. Tanpa sadar Olivia tersenyum dan
Alfi sedang melirik.

“Kenapa senyum-senyum gitu.?”
“Hm e..enggak kok gak papa. Eh tapi tadi Aurora lucu deh, gemesin
anaknya.”
“Oh Aurora. Mau main lagi besok? Kita kerumah kak Arka dan mbak
Erina?”
Olivia langsung melotot kearah Alfi. “Ih mau ngapain enggak mau
ahh.”
“Owh ya udah. Tapi jika Aurora yang minta ketemu kamu lagi gimana?
Kamu mau?”
“Lagi-lagi Olivia menatap Alfi “Kenapa nanyanya gitu?”

Tidak lama mereka saling tatap. Dan akhirnya sama-sama saling buang
muka. Alfi focus kembali mengemudi. Olivia reflek tangannya
menghidupkan tombol On yang ada dihadapanya sehingga terdengar
suara music dari dalam mobil memecah keheningan yang sebelumnya
mereka saling ngobrol. Sesampainya di Apartment Olivia langsung
bergegas turun dan mengucapkan terima kasih pada Alfi. Alfi
membalas dengan senyum dan mengucapkan Good Night and see you.

Olivia yang duduk diujung kasur dan tersenyum mengingat ucapan
eyangnya Alfi “gak usah malu-malu nanti juga kami jadi keluarga kamu.
Alfi ini anak baik, penurut dan pendiem. Nanti bilangin eyang saja jika
Alfi nakal.” Dan ucapan Arka kakaknya Alfi “Iya bu, Olivia hebat
malah, selain bisa naklukin anak ibu yang kaku ini. Aurora juga
langsung akrab dengan Olivia tadi.” Jadi belum ada wanita lain yang
pak Alfi bawa kerumah selain aku. Berarti aku special donk. Arsitek
aneh tapi lama-lama ngeselin juga. Pesan dari Alfi membuyarkan
lamunan Olivia.

“Thanks ya malam ini. Nanti jika ada waktu free kabarin. Aku mau
nepatin janjiku.”

Janji yang mana? Olivia kembali mengingat-ingat percakapanya dengan
Alfi waktu dicaffe. “Setelah itu nanti aku kasih kamu sesuatu yang pasti
bikin kamu happy” apalagi ini males ah.

59

“Gak perlu pak. Ya walau pun sedikit terpaksa kan saya egak pernah
bilang minta imbalan. Lagian jadwal saya beberapa hari kedepan full.”
SEND

********

“Ibu, Ayah, hari ini Alfi pamit yah, balik ke-apartement.”
“Yakin, kamu udah baik-baik saja. Kapan-kapan main sini ajak Olivia.”

Alfi pergi meninggalkan ruamh orang tuanya menuju Apartment-nya
setelah itu baru dia menuju officenya yang beberapa hari ini dia
tinggalkan karena sakit.

Setelah menanda tangani file dan mengecek gambar-gambarnya. Alfi
kembali focus pada PC juga laptop yang ada dihadapannya. Ya Alfi
memang terkenal focus dalam mengerjakan hal-hal penting salah
satunya pekerjaan. Jadi saat sudah menatap layar ponsel akan Alfi
abaikan terkecuali panggilan-panggilan tertentu. Kadang hingga lupa
waktu dan kelelahan seperti yang belum lama Alfi alami.

Hari itu ada seleksi asisten pribadi untuk Alfi. Setelah interview 5
kandidat hingga saat ini tersisa 2 kandidat. Dan mereka akan kembali
lagi besok untuk penentuan. Setelah sibuk seharian menghandle
beberapa pekerjaan yang pending akhirnya semua selesai walau harus
pulang telat hingga suasana Office sudah sepi karena kebanyakan
karyawan sudah pulang.

Saat akan pulang keapartmentnya. Alfi ingat kembali pada KTP Olivia
yang belum dia berikan. [Hmm gimana jiak dia pergi ketempat-tempat
yang perlu akses KTP kan kasian. Tapi dia menolak untuk diajak
bertemu. Atau besok saya suruh asisten baru saya untuk anter KTP ini
keoffice Olivia.]

*************

Olivia mondar-mandir dikamarnya dan beberapa tas yang berantakan
diatas kasur juga lantai karena mencari-cari KTP yang belum juga
ketemu. Muka memerah tanda tidak lama lagi air mata akan

60

membasahi pipi Olivia. Masih saja berfikir dan mencari dimana KTP-
nya.

[Ya Allah besok ada pertemuan penting. Jika KTP tidak bertemu
tandanya tidak bisa bertemu klien dan bu Aleena akan marah besar.
Jika harus urus surat kehilangan dan membuat KTP baru akan rumit
dan memakan waktu.]

Olivia masih dengan air matanya. Sudah pasrah jika besok akan
dimarah oleh bu Aleena. Setelah merasa puas dengan air matanya dan
mencoba membereskan semua yang sudah berantakan dilantai dan
dikasur. Ponsel berdering dan panggilan dari Alfi.

“Halo. Pak Alfi kenapa hubungi Olivia lagi. Kan udah bilang gak bisa
ketemu. Olivia sibuk.” Dengan nada yang masih menahan tangis
karena KTP yang belum juga dia temukan.
“Siapa juga yang mau ajak ketemuan. Kok GR.”
“Trus mau apa. Udah ya gak usah hubungi Olivia dulu.”
“Bentar-bentar kamu lagi nangis ya. Kenapa?”
“Kenapa emang. KTP Olivia ilang dan besok ada pertemuan digedung
yang harus akses pake KTP. Udah fahamkan – Belum selesai Olivia
bicara Alfi sudah terdengar tertawa.

Olivia semakin menangis. Karena sudah membayangkan bagaimana
nanti bu Aleena akan marah. Sementara Alfi masih tertawa karena
yang membuat Olivia menangis sebenarnya ada di Alfi.

“Kenapa ketawa?”
“Owh, jadi KTP Olivia hilang. Hilang dimana? Jika ada yang
menemukan apakah boleh minta imbalan?”
“Iya deh, ntar Oliv kasih imbalan balikin dulu KTP Oliv sebelum jam
1 besok.” Seketika Olivia faham sesuatu. Dan berhenti menangis.

61

KTP OLIVIA KETEMU

Jangan-jangan KTP Olivia jatuh dimobil pak Alfi dan pak Alfi
yang menemukan. Tapi kok jahat banget egak cepet-cepet
dikembalikan ke Olivia.
“Pak Alfiiiiiiii” Olivia memanggil nama Alfi dengan nada tinggi
“Kenapa Liv, tadi bilangnya sibuk. Ya udah matiin saja sambungan
telfonnya. Bye.”
Dalam hati Olivia berkata jahat banget si tadi dia tertawa sekarang
dimatiin sambungan telfonya. Dasar arsitek aneh nyebelin. Awas yaa
gak mau lagi nolongin dia lagi. Huhh
*******
Sementara itu Alfi yang sedang puas membuat Olivia panik. Besok
berencana akan mengembalikan KTP Olivia dengan cara mengutus
Asisten pribadinya yang baru untuk mengantar KTP tersebut sebelum
jam 1 siang. Tadinya dia menghubungi Olivia mau konfirmasi jika
besok akan ada yang antar KTP tapi semua dibatalkan dan berubah
rencana untuk memberi kejutan besok hari.

62

Dalam hati Alfi makin hari makin lucu aja tingkah Olivia ini. Asisten
pribadi yang polos. Mungkin karena ini yaa dia bisa diterima menjadi
asisten pribadi bu Aleena sang pemilik Estetika Grup. Karena selain
Mandiri, cerdas dan bertanggung jawab Olivia juga polos dan jujur.

Alfi memerintahkan Sekertarisnya untuk me-reschedule ulang
interview pada calon asisten pribadinya itu. Karena KTP Olivia yang
harus sudah sampai sebelum jam 1 siang.

Keesokan harinya. Sesuai yang sudah diperintahkan. Jadwal interview
dimajukan jam 7.30 dan sekitar jam 8.30 Sudah ditentukan siapa yang
terpilih. Andra Prayoga yah nama itu yang terpilih sebagai asisten
pribadi Alfi dan akan menghandle semua jadwal Alfi dan
melaksanakan apa saja yang Alfi perintahkan.

Baik, Andra Prayoga selamat bergabung di perusahaan Atmajaya
Sejahtera. Tugas dan tanggung jawab kamu nanti akan dijelaskan oleh
sekretaris saya sekaligus diantar keruangan kamu. Untuk saat ini tolong
kamu antar dokumen ini.

Alfi menyerahkan KTP Olivia yang sudah dimasukan kedalam amplop
coklat. “Antar ke Estetika Group. Tertuju pada Ibu Olivia Queena
Wijaya dan bilang itu dari saya. Pastikan ibu Olivia yang menerima dan
segera kamu kabari saya.”

“Baik pak, akan segera saya laksanakan. Kalau begitu saya izin ya pak.
Permisi.” Andra meninggalkan ruangan Alfi dan melaksanakan tugas
pertamanya.

********

Olivia menuju ruangan bu Aleena dengan wajah yang masih sendu.
“Permisi bu. Hm bu Olivia mau izin jika nanti sepertinya Olivia tidak
bisa hadir dipertemuan yang terjadwal jam 1 siang”
“Kenapa liv, biasanya kamu aman-aman saja saya tugaskan kemana
pun.”
“Hmm iya bu, KTP Oliv hilang dan nanti mau izin ke kantor polisi
untuk membuat surat kehilangan dan urus yang baru.”
“Kok bisa hilang. KTP penting loh lain kali coba lebih berhati-hati. Ok

63

pertemuan hari ini saya yang handle. Untuk saya free siang nanti. Udah
itu muka jangan sedih lagi.”
“Baik Terima kasih ya bu. Permisi.”

Olivia keluar ruangan dengan perasaan yang lega. Karena bu Aleena
tidak marah seperti yang dia bayangkan. Huh aman. Tinggal urusan
dengan kepolisian setelah itu proses pembuatan KTP baru.

Tiba-tiba bagian receptionis menghubungi Olivia melalui sambungan
telfon yang tersedia. “Selamat pagi bu Olivia. Ini ada dokumen yang
tertuju pada bu Olivia. Diantar oleh pak Andra katanya asisten
pribadinya pak Alfi dari Atmajaya Sejahtera.”

Olivia mendengar nama Alfi lalu teringat yang semalam. “Ohh baik,
sebentar saya akan kedepan untuk ambil dokumen tersebut.” Dalam
hati masih bertanya apa yang sebenarnya Alfi kirim karena mereka
tidak ada perjanjiansebelumnya.

“Hallo selamat pagi. Saya Olivia dengan pak Andra.”
“Oh iya betul. Ini bu titipan dari pak Alfi. Perkenalkan saya Andra
Prayoga asisten pribadi pak Alfi yang baru.”
“Owh asprinya yang baru ya, Iya karena setahu saya kemarin pak Alfi
belum ada aspri. Ada pesan dari pak Alfi atau—“
“Owh tidak bu, hanya diperintahkan untuk mengantar dan memastiakn
bahwa ibu Olivia langsung yang menerimanya. Kalau begitu saya pamit
ya bu. Permisi.”

Dengan rasa penasaran Olivia bergegas menuju ruangannya dan segera
membuka isi dokumen tersebut. Dan setelah sampai diruangannya isi
dokumen tersebut benar-benar yang membuat Olivia menangis
semalam. Saat perasaannya tak menentu antara sedih dan senang
karena KTP-nya sudah ketemu dan tidak perlu pergi kekantor polisi
lagi untuk mengurus surat kehilangan. Ponsel berbunyi dan satu chat
baru dari Alfi masuk.

“KTP-nya sudah ketemu. Udah egak nagis lagi. Ditunggu ya
imbalanya.”

64

Olivia membaca chat tersebut dengan dua rasa yang berbeda. Pertama
bahagia karena KTP-nya ketemu kedua ingin marah pada Alfi karena
tidak jujur dari awal. Bahkan hingga dia menangis.

Olivia mencoba mengatur nafasnya dan mengontol emosinya yang
ingin sekali diungkapkan pada Alfi. Mencoba tenang untuk tetap bisa
professional terhadap pekerjaanya. Pertama Olivia harus meralate
ucapanya pada bu Aleena. Kedua membatalkan niatnya kekantor polisi
dan kembali focus pada tanggung jawab pekerjaanya.

Setelah semua selesai baru memikirkan hal apa yang tepat untuk Alfi.
Akan berterima kasih atau kembali marah.

“Olivia, are you ok”
“I feel good bu. Whats wrong.”
“Belum ada 1 jam kamu minta izin untuk urus KTP. Dan sekarang
kamu bilang KTP sudah ketemu. Kamu lagi jatuh cinta liv. Atau
kurang minum jadi gak focus gitu?” Tanya bu Aleena memang
terkadang tidak terlalu serius jika dengan Oliv.
“Hehe, enggak bu. Ternyata KTP-nya jatuh dimobil temen Oliv. Dan
barusan asprinya anter kesini”
“Temen, bener temen? Hmm ok ok jadi pertemuan siang nanti tetap
kamu yang jalan.”

Olivia mulai merasa worry. Takut jika bu Aleena tahu jika KTP-nya
jatuh dimobil Alfi dan yang anter kesini barusan asprinya. Karena bu
Aleena selalu melarang Olivia untuk tidak menjalin hubungan selain
urusan kerja dengan para kliennya. Sedangkan antara Alfi dan Olivia
masih terjalin dengan kerjasama proyek yang baru saja dimulai.

Gimana nanti jika bu Aleena tahu jika aku pernah jalan dengan pak
Alfi bahkan kenal dengan keluarganya. Apakah bu Aleena akan marah,
akan memecat aku. Enggak enggak ini gak boleh terjadi. Pasti bikin
malu banget kejadian itu.

Bu Aleena teringat dengan kata-kata Olivia “Hehe, enggak bu.
Ternyata KTP-nya jatuh dimobil temen Oliv. Dan barusan asprinya
anter kesini” Aspri yang anter, berarti temen Oliv.. hmm. Karena rasa

65

penasaran dan takut Olivia memiliki hubungan dengan teman atau
orang yang salah Bu Aleena memastikan ke receptionis.

66

GUGUP

Olivia bekerja dengan bu Aleena sudah hampir 4 tahun. Dia
yang awalnya hanya staff kemudian dipromosikan menjadi Aspri
karena bu Aleena merasa cocok dengan kinerja Olivia yang energik,
mandiri, cerdas dan bertanggung jawab. Satu hal yang selalu bikin bu
Aleena mengawasi pertemanan asprinya ini karena sifat polosnya dan
usianya juga yang masih muda. Takut ada yang memanfaatkan dan
berbuat jahat. Olivia juga di Ibukota tinggal sendiri tidak ada satu
keluarga pun yang dia punya.
Bu Aleena menghubungi bagian receptionis dan menanyakan siapa
yang baru saja mengantar dokumen untuk Olivia. “Halo Fenny, belum
lama ada yang mengantar dokumen untuk Olivia ya. Boleh tahu dari
mana?”
“Baik bu, sebentar Fenny check. Yang mengantar dokumen adalah
Bapak Andra Prayoga aspri dari Bapak Alfi dari Atmajaya Sejahtera.”
“Andra Prayoga aspri bapak Alfi dari Atmajaya Sejahtera. Oh Ok baik-
baik.”

67

Setelah nama Alfi dari Atmajaya Sejahtera disebut oleh sekretaris bu
Aleena langsung berfikir jika orang yang sama yaitu Arsitek yang belum
lama Olivia temui.

Bu Aleena tidak langsung memanggil Olivia dan menanyakan hal ini.
Dia terlebih dahulu mencari tahu profil Alfi secara lengkap. Karena
yang bu Aleena tahu hanya sebatas nama, kisaran umur background
pendidikan dan perusahaan yang sedang dijalankan.

*************

“Oliv, tolong keruangan saya sekarang.”

Gak biasanya bu Aleena menaggil tanpa ada pembahasan sebelumnya.
Biasanya ada data apa yang perlu dibawa atau sebelumnya memang ada
pembahasan yang belum selesai.

“Permisi bu.”
“Iya Oliv masuk. Gimana keadaan kamu better?”
“Ok bu better from before. Ada apa ya bu.”
“Ok Oliv, to the point saja. Beberapa hari lalu kamu bilang KTP kamu
terjatuh dimobil temen kamu. Namanya siapa Liv.?”

Olivia gugup. Tiba-tiba mulutnya terasa terkunci. Mau jawab jujur takut
dimarah. Egak jawab jujur jika ketahuan makin dimarah. Dan ibu
Aleena bukan tipe orang yang mudah dibohongi. Apalagi dia atasan
Oliv.

Dengan rasa gugup juga takut Olivia mencoba menjawab pertanyaan bu
Aleena.

“Hm. Tapi kalau Oliv jujur ibu gak marah kan sama Oliv.”
“Kenapa Liv. Mobil Alfi yaa bener.”
“I..iya bu. Dimobil pak Alfi Arsitek yang belum lama kerja sama
dengan kita.”
Bu Aleena senyum melihat wajah Olivia yang memerah gugup dan
ketakutan. “Ya udah gak papa. Untungkan dibalikin kesini. Tapi kalian
bukan dari mana-manakan atau dari--.”

68

Wajah Olivia yang tadi sudah sedikit lebih tenang kembali gugup.
Kembali Overthingking dengan pertanyaan bu Aleena. “Eh begini bu.
Jadi beneran Olivia dan Pak Alfi saat itu bertemu dengan tidak sengaja
tanpa rencana. Olivia sedang nunggu taxi dan Pak Alfi lewat, dia
nawarin untuk bareng. Udah itu aja kita beneran tidak kemana-mana”

Bu Aleena tersenyum melihat wajah Olivia dia sudah tahu betul
dengan karakter asprinya ini memang tidak pernah bisa bohong. Gadis
ini masih polos seperti awal dulu. Hanya saja sekarang semakin
mandiri dan tegas dengan semua tugas-tugasnya.

Olivia dipersilahkan keluar ruangan dan kembali bekerja. Setelah
keluar dari ruangan bu Aleena isi kepala Olivia hanya dipenuhi dengan
satu nama, iya nama itu adalah “Alfi”.

Alfi Abimanyu Atmajaya, arsitek aneh nyebelin. Kenapa hidup aku
selalu kacau setelah ketemu kamu. Arhkkkkk Olivia yang menahan
emosinya dengan sedikit teriakan. Beruntung dalam ruangan tidak ada
orang kecuali dia jadi tidak ada yang melihat jika Olivia sedang kacau.

“Pak Alfi, kita perlu bicara. Ditunggu nanti malam jam 7 dicaffe biasa.”
SEND

Olivia bersiap menemui Alfi. Tapi saat dia sedang bersiap-siap. Ponsel
berdering dan ternyata nenek widia kembali video call.

“Nduk, udah rapi gitu mau kemana? Mau ketemu Alfi ya?”
Olivia hanya tersenyum mendengar pertanyaan nenek Widia karena
memang kenyataanya dia akan bertemu Alfi. Olivia mencoba
mengalihkan pembicaraan tapi belum juga Olivia bicara ---
“Nduk, 2 Minggu lagi ualng tahunmu jadi kan kamu pulang sama Alfi
sekalian. Nenek udah gak sabar lihat kamu jadi pengantin. Kelihatanya
Alfi anak yang baik, sopan, pekerja keras dan ganteng lagi. Cocok nduk
dengan kamu serasi.”
Olivia merapikan rambut poniya kebelakang. Menarik nafas lebih
dalam mencoba untuk tetap tenang. Tidak menjawab ucapan neneknya
hanya memberi senyuman yang terpaksa dia lebarkan. Tidak lama
kemudian Olivia berpamitan dengan neneknya jika sudah harus jalan.

69

Baru saja mengakhiri panggilan dari neneknya. Ponsel kembali
berdering kali ini panggilan dari rosa ibunya Alfi.

“Nak, apa kabar? Kapan main kesini lagi. Kalau weekend ajak Alfi
main kesini.”
“Iyaa tan, Alhamdulillah Olivia baik. Tante dan Om apa kabar sehat-
sehat ya. Nanti kapan-kapan Olivia main kesana lagi.”
“Udah dulu ya tan, ini mau ketemu Alfi sebentar.”
“Oh.. iya..iya have fun kalian berdua. Cepet direncanakan kapan mau
lamaran atau nikah sekalian ya nak.”

Dengan senyum bahagia Rosa akhiri panggilannya. Sementara Olivia
sedang duduk lesu dengan mata yang berkaca-kaca. Hari ini seolah
tidak ada pembahasan lain kecuali nama Alfi yang disebut.

Mulai dari bu Aleena yang menanyakan kenapa KTP Olivia bisa jatuh
dimobil Alfi. Lalu neneknya yang menanyakan kapan Olivia akan
mengenalkan Alfi secara langsung kepada keluarganya. Hingga Rosa
yang menanti rencana keseriusan mereka.

Olivia memegang kepalanya dan tangannya erat menggenggam helaian
rambut yang terurai menjadi berantakan. Seolah semakin sulit untuk
lepas dari bayang-bayang Alfi.
Laki-laki yang tadinya asing kini mengusik isi kepala hingga pusing.

Rasanya malam itu Olivia sudah malas untuk menemui Alfi dan
berniat untuk membatalkan saja pertemuan yang sudah diatur.

“Saya sudah sampai dan pesen tempat nomor 22 dekat balcon. Kamu
dimana?”

Saat ingin membatalkan ternyata Alfi sudah sampai dicaffe dan kasian
jika harus dibatalkan. “Ok wait, 10 menit lagi sampai.”

Olivia merapikan kembali rambunya yang berantakan. Touch up
sedikit make up diwajahnya dan berangkat menemui Alfi dengan laju
mobil yang lebih cepat dari biasanya.

Sesampainya dicaffe Olivia menuju meja nomor 22 dimana Alfi sudah
menunggu disana

70

MARAH

Olivia mendekati Alfi yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Terlihat gelas coffe yang dipesan Alfi sudah tinggal setengah yang
artinya Alfi memang sudah menunggu beberapa saat.
“Kamu kenapa Liv, muka kamu kusut gitu. Lagi sakit? Kenapa gak
cancel aja lain kali kita ketemu.”
“No, I’m ok.” Olivia duduk dikursi yang ada dihadapan Alfi. Dia mulai
menjelaskan mengapa mengajak Alfi bertemu malam ini. Setelah
seharian hidup Olivia penuh dengan pembahasan Alfi.
To the point aja ya pak. Pertama Olivia ucapin terima kasih karena
bapak sudah menemukan KTP Olivia yang hilang. Tapi Olivia tidak
suka dengan cara bapat yang tidak langsung mengembalikan KTP
tersebut kepada saya. Malah bapak suruh aspri bapak ke Office. Yang
akhirnya bu Aleena tahu jika saya pernah satu mobil dengan bapak.
Alfi merasa bersalah karena tidak berfikir jika akan sampai bu Aleena
tahu tentang ini. Saat Alfi akan menjawab dan meminta maaf. Olivia
kembali melanjutkan masalahnya yang masih berhubungan dengan
Alfi.

71

Kedua karena pengakuan bapak kemarin kepada nenek saya, hingga
saat ini nenek saya masih terus mengingatnya dan bertanya kapan saya
akan mengenalkan bapak pada keluarga saya.

Alfi tertunduk, mengusap mukanya kasar dengan tangannya lalu
menggaruk-garuk alis wajahnya yang tidak gatal. Mencoba menarik
nafas kasar dan membuangnya perlahan. Keadaan hening. Keduanya
sama-sama diam. Mata Olivia sedikit berkaca-kaca. Belum juga Alfi
menjawab. Kembali Olivia melanjutkan point ketiga.

And the last Tante Rosa juga tadi menghubungi meminta Olivia dan
pak Alfi main kesana weekend nanti. Karena Olivia udah beneran cape
dan tahu jika obrolan akan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang
buat Olivia susah jawab. Jadi Olivia bilang udah dulu tan, Olivia mau
ketemu Alfi sebentar lagi. Dan pak ALfi tahu apa jawaban tante Rosa.
Ohh iyaa nak sekalian cepat rencanakan kapan kalian mau lamaran
langsung nikah juga gak papa.

Alfi menatap wajah Olivia yang terlihat tertekan dengan keadaan ini
dan terlihat wajahnya seperti mencoba menahan amarah yang
sebenarnya bisa saja Olivia ungkapkan pada Alfi dengan nada tinggi
atau lebih dari itu. Tapi lagi-lagi Olivia memang benar-benar gadis yang
cerdas dan mandiri sehingga dia masih mampu mengontrol amarahnya
dan disampaikan dengan kepala dingin walau akhirnya Alfi melihat
Olivia menagis setelah menceritakan semua bebannya itu.

Pak Alfi tahu gak sih, apa yang Olivia rasain. Cape pak. Olivia seperti
terjebak dalam permainan yang tidak tahu bagaimana akan
memainkanya. Ingin sekali keluar dari semua ini tapi semua pintu
terasa tertutup. Oliv cape pak. Bagaimana nanti jika bu Aleena tahu
jika Asprinya beberapa kali jalan dengan kliennya. Bagaimana nanti
jika nenek tahu jika sebenarnya pak Alfi bukan calon suami Olivia yang
sebenarnya dan bagaimana jika tante Rosa terus-terusan bertanya kapan
Olivia jadi menantunya.

Olivia tidak lagi bisa membendung air matanya didepan Alfi. Dia
menangis setelah mengungkapkan semua bebannya tentang Alfi.

72

Alfi mendekati Olivia memberikan tisu untuk mengelap air matanya
dan memberikan pundaknya untuk Olivia agar puas mengeluarkan
semua beban yang terasa berat untuknya. Setelah semua terasa lebih
tenang Alfi mulai berbicara.

“Oke sebelumnya I’m so sorry dengan semua kejadianya yang bikin
kamu tidak nyaman bahkan membuat kamu merasa terjebak. Saya
minta maaf akan hal itu. Sekarang udah dulu ya nangisnya. Malu kan
dilihat yang lain. Nanti dikira saya apa-apain kamu. Udah ya
Nangisnya. Atau kita mau pindah tempat biar kamu puas nangisnya
bahkan bisa teriak sepuas kamu.” Tanya Alfi pada Olivia

Olivia masih mengusap airmatanya dengan tisu. Tapi dari bibirnya
sudah kembali bisa menjawab tawatan Alfi untuk pindah tempat. “Gak
mau, mau kemana lagi udah malam ya. Jangan macam-macam ya pak
Alfi.”

Alfi tersenyum melihat Olivia yang sudah kembali tersenyum. “Kamu
itu yang mikirnya macam-macam liv, kan bisa kita cari roftoop atau
taman. Hmm abis nangis juga fikiranya jauh yaa.”

Alfi mulai berfikir mencari solusi akan beberapa masalah yang dialami
Olivia yang semua itu berawal dari Alfi. Iyaa tidak sepenuhnya salah
Alfi. Hanya saja semua berawal saat Olivia bertemu Alfi dan terus
beruntun.

“Hm, untuk bu Aleena apakah saya harus menjelaskan jika memang
benar KTP kamu terjatuh secara tidak sengaja malam itu. saya hanya
mengantar kamu pulang. Saya sama sekali tidak melukai Aspri
kesayangannya ini. Iya kan.” Alfi sedikit tersenyum menatap wajah
Olivia.

Olivia yang disebut Aspri kesayangan bu Aleena oleh Alfi reflek
memukul pundak Alfi merasa tidak setuju.

“Kok bilang Aspri kesayangan bu Aleena sih.”

“Kenapa kamu tidak setuju? Memang seperti itu kenyataannya Oliv,
nyatanya kamu langsung ditanya setelah tahu KTP kamu jatuh dimobil

73

saya. Harusnya ya sudah cuek aja. Kan KTP-nya sudah kembali dan
tidak ada masalah lain yang serius.”

Alfi mulai memikirkan solusi apa yang tepat agar nenek Widia juga Ibu
Rosa tidak lagi menanyakan kelanjutan hubungan mereka. Seketika
Alfi berfikir untum menikah saja. Dan dia ragu jika Olivia akan setuju
dengan usulan ini.

“Oliv.. Saya punya ide bagaimana agar nenek dan ibu saya tidak lagi
menanyakan kelanjutan hubungan kita.”
“Ide apa? Jangan aneh-aneh ya pak. Saya bisa lebih marah dari
sekarang.”
“Kok kamu selalu bilang gitu sih liv, jangan aneh-aneh jangan macem-
macem. Emangnya saya kelihat laki-laki gak baik gitu.”
“Ya bukan gitu. Kan saya hanya berjaga-jaga.”

Keduanya saling diam. Alfi tidak melanjutkan obrolanya dia merasa
ragu karena tahu sepertinya Olivia akan menolak mentah-mentah
idenya itu.

“Kenapa diam? Tadi bilang ada ide. Ide apa pak. Ayolah pak cepetan.
Jangan buat saya stress gara-gara masalah ini. Bapak lihat Olivia kacau
seperti ini. Nanti tender kita tidak bisa berjalan dengan baik loh dan bu
Aleena akan tahu masalah ini. Makin hancur hidup saya nanti pak.”

Alfi menarik nafas panjang. Mengusap wajahnya dengan tangan yang
terus mengusap-usap keningnya. “Oke, tapi janji dulu sebelum saya
ucapkan ide apa nanti yang saya sampaikan. Kamu janji jangan marah.
Gimana?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Ya tergantung idenya itu merugikan saya atau tidak. Jika idenya
merugikan saya pasti saya akan marah donk pak. Bahkan saya gak mau
lagi ketemu sama bapak.”

Alfi tersenyum tipis mendengar jawaban Olivia. Dia sudah
membayangkan jika nanti dia bilang jika ide itu adalah mengajak Olivia

74

menikah pasti dia akan semakin marah. Tapi menurutnya ini adalah
satu-satunya solusi dari semua masalah yang ada.

75

KITA MENIKAH

Kecuali dengan bu Aleena. Jika Olivia memiliki perjanjian
untuk tidak boleh menikah dengan klien atau pun jangan menikah
dulu selama bekerja dengan bu Aleena maka resikonya adalah Olivia
akan risign atau menunggu kontrak selesai.
“Hm oke jadi menurut saya gimana kalau kita “MENIKAH”?”
Olivia cengo ketika mendengar ucapan Alfi barusan. “Apa pak?
MENIKAH? Ki..kita menikah?”
“Iyaa. Ya kalau kamu tidak mau tidak apa-apa. Tapi terserah ya jika
nanti nenek widia tanya kapan saya akan datang kesana. Kamu cari
alasan sendiri.”
Olivia menarik nafasnya dan berdiri dari tempat duduknya. Memegang
erat tas kecilnya menatap Alfi tajam “Ternyata saya sia-sia mengajak
bertemu pak Alfi malam ini. Saya fikir pak Alfi bisa kasih solusi.
Bukan malah semakin menjebak saya lebih dalam bahkan hingga harus
menikah. Anggap saja malam ini kita tidak pernah bertemu. Dan
jangan hubungi Olivia lagi kecuali pekerjaan dan jam kerja.”

76

Lalu pergi meninggalkan Alfi tanpa permisi. Kembali menahan air
matanya yang sudah mulai membasahi pipi. Karena merasa semakin
rumit masalahnya. Semakin hancur dengan pernyataan Alfi yang
mengajaknya menikah. Menurutnya ini bukan solusi tapi masalah baru.

Alfi pun berdiri berusaha menahan Olivia tapi dia telah berlari. “Oliv,
dengerin dulu, saya tidak ada maksud apa-apa hanya ingin—“

Huff Alfi mengacak-acak rambutnya seolah dia pun kacau dengan
keadaan yang memang terasa rumit ini. Walau semua ini bukan
rencananya. Semakin merasa bersalah karena telah membuat Olivia
menangis malam ini. Bahkan semakin marah dan tidak mau bertemu
dia lagi kecuali hubungan kerja yang terikat dengan kontrak yang tidak
bisa Olivia putuskan sepihak.

Didalam mobilnya Olivia bersandar dijok mobil bagian kemudi.
Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dan menangis
sejadi-jadinya. Pernyataan Alfi yang mengajaknya menikah benar-benar
bikin shock. Tidak pernah Olivia berfikir jika semua akan semakin
rumit seperti saat ini.

Alfi yang khawatir dengan Olivia mengikuti mobil Olivia dari jauh
memastikan Olivia sampai apartment dan tidak pergi kemana-mana
lagi. Malam itu Alfi tidak bisa tidur bayangan kemarahan Olivia
memenuhi ruang kepalanya. Hingga dia tidak tahu lagi bagaimana
caranya menjelaskan ke Olivia bahwa dia tidak ada maksud apa-apa
dibalik ide-nya.

Chatrine, Are you free? I feel so sad. I want to tell you. SEND

Ponsel Olivia bordering terlihat panggilan dari sahabatnya chatrine
yang belum lama dia kirim chat melalui WA.

“Hallo Olivia what’s wrong with you ?”

Olivia menceritakan semua masalahnya dengan Alfi pada Chatrine
karena secara tidak langsung juga ada peran Chatrine dan suaminya
disini yang menceritakan sedikit latar belakang Olivia pada Alfi
beberapa waktu lalu. Setelah Olivia menceritakan semuanya hingga

77

solusi nikah dari Alfi yang diaggap Olivia itu gila tapi ditanggapi
berbeda dengan Chaterin.

“Oke, udah lega sekarang. Boleh gue kasih pendapat ke lo.”
“Jadi ya liv, menurut gue solusi dari Alfi itu memang tidak sepenuhnya
salah yang paling tepat malah.”
“Why? Kenapa lo malah setuju dengan ide Alfi?.”

Karena menurut gue kalian memang cocok. sama-sama diharapkan
untuk segera menikah oleh keluarganya. Sama-sama belum punya
calon pendamping. Dan sama-sama belum pernah mengenalkan
pasangannya pada keluarga. Sehingga saat keluarga melihat kalian
bersama. Tidak ada alasan mereka menolak hubungan kalian. Bahkan
lebih baik untuk disegerakan.

“Tapi gue gak cinta sama Alfi.” Jawab Olivia polos.
“Masalah cinta akan menyusul liv. Yang penting lo tahu bahwa Alfi
calon suami lo anak baik-baik keluarganya menyambut lo dengan baik
dan sikap dia ke lo pun gak pernah macem-macem yang artinya baik
mampu menjaga dan menghormati perempuan. Selanjutnya rasa itu
akan tumbuh dengan sendirinya. Apa lagi nanti udah nikah tinggal satu
atap. Perlahan kalian akan saling mengenal.” Jelas Chatrine pada Olivia

“Gak.. gak.. enggak.. gak mungkin gue jatuh cinta sama arsitek kaku,
aneh ngeselin. Gak mau ihh.” Olivia masih saja menolak saran
Chaterine
“Oliv.. kalo kesel sama orang ati-ati lo nanti kemakan omongan sendiri.
Lagian apa si yang kurang dari Alfi. Lumayan kok. Ganteng, pekerja
keras… Emang mau cari suami yang gimana lagi? Udah ada calon lain
selain Alfi. Jangan sia-siakan yang baik nanti nyesel loh. Udah dulu yaa
selamat berfikir. Bye”

Bangun tidur dengan mata yang sembab setelah semalem nangis dan
marah. Saat melihat ponsel semua normal hanya ada beberapa chat
yang berurusan dengan pekerjaan. Tidak ada satu pun chat atau
panggilan dari Alfi.

*************

78

Alfi terbangun masih dengan rasa bersalah. Tapi juga bingung harus
melakukan apa. Sedang Olivia sudah tidak mengizinkan dia
menghubungi ataupun menemuinya kecuali urusan kantor. Khawatir
jika Alfi masih saja menghubungi dan memaksa untuk menemui nanti
membuat Olivia merasa semakin tidak nyaman dan merasa dipaksa.

Alfi menghubungi Steven dijam kerja. Mencoba menceritakan
masalahnya. Karena memang dari dulu Steven lebih jago dalam urusan
hati wanita.

“Hai bro tumben lo nelfon gua. Ada apa?”
“Haha ganggu gak nih, jam segini gue telfon pengantin baru.?”
“Ganggu banget sii, ya udah gue matiin ya telfonnya.” Jawab Steven
dengan nada bercanda

Alfi hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu. Karena dia
sudah faham betul jika sahabatnya ini suka bercanda tapi jika lagi serius
wuuaaa serem.

Alfi mulai menceritakan tujuannya menelfon Steven dan menceritakan
juga masalahnya dengan Olivia yang membuat tidurnya mala mini tidak
nyenyak. Setelah point-point masalah dia ceritakan pada Steven.

Steven hanya tertawa mendengarnya. Membuat Alfi semakin
serbasalah seperti menyesal telah cerita tapi terlanjur karena
omongannya tidak bisa ditarik.

“Ahh elu bro, temen lagi kebingungan gini. Malah diketawain. Jahat
emang. Puas lo nertawain gue.”
“Abis lo lucu banget si bro. Masih aja kaku urusan cewek. Gimana ada
cewek yang mau sama lo kalo gini terus. Udah-udah sekarang tenang
dulu. Biarin juga itu Olivia tenang jangan lo hubungi dulu. Ntar setelah
2-3 Hari baru deh lo hubungi dia lagi ajak ngobrol heart to heart jelasin
maksudnya gimana. Inget ya jangan kaku.”

Alfi terdiam, antara setuju dan bimbang……

79

HEART TO HEART

Alfi terdiam, antara setuju dan bimbang dengan saran yang
diberikan sahabatnya itu. Kalo emang gue gak salah kenapa Olivia
semarah itu kemarin. Trus nanti jika ada pertemuan dengan Olivia lalu
dia masih marah bagaimana ?
Tetap berusaha untuk baik-baik saja mesti hati sedang tidak baik-baik
saja. Kembali focus dengan file dan layar. Suara puntu diketuk dan
Andra masuk.
“Permisi pak, ini jadwal bapak hari ini. O.iya pak mau mengingatkan
bahwa lusa ada meeting dengan bu Olivia dari Estetika Group.”
“Lusa.. Dengan bu Olivia dimana? Jam berapa?” Alfi kaget saat
mendengar nama Olivia.
“Iya pak, untuk tempatnya bu Olivia yang akan datang kesini pak. Dan
untuk waktu aka nada konfirmasi kembali waktu tepatnya jam berapa.”
Alfi hanya meng-anggukan kepala tanda faham dengan yang Andra
bicarakan. Setelah itu Andra izin keluar dari ruangan dan
meninggalkan Alfi sendiri.

80

Kembali overthingking saat mendengar Olivia akan datang
menemuinya untuk meeting lusa. Dalam hati Alfi sedikit lega. Karena
akan bertemu Olivia dan melihat keadaannya. Setelah pertemuannya
yang terakhir dicaffe malam itu.

*********

Olivia seolah ingin menjerit tapi masih berusaha untuk dia tahan saat
dia tahu jadwal baru dia akan meeting bersama Alfi lusa. Kenapa harus
bertemu dia lagi. Kenapa harus datang keoffice pak Alfi. Terlihat
seperti belum siap untuk bertemu Alfi kembali setelah pertemuannya
malam itu.

KRING KRING KRING

“Oliv, untuk jadwal saya hari ini semua sudah aman? Yang untuk jam 1
siang tolong dicancel yah saya ada urusan. Urgent”
“Owh baik bu, nanti saya akan atur kembali. Hmm bu untuk meeting
saya lusa dengan pak Alfi boleh saya datang dengan Yumna sekertaris.”
“Hm kenapa biasanya kamu oke datang sendiri.” Tanya bu Aleena.
Tiba-tiba bu Aleena ingat jika KTP Olivia pernah jatuh dimobil “Oh
Ok Liv, benar-benar besok kamu datang saja dengan Yumna.”

Huh yess… Olivia bisa sedikit lega tandanya lusa dia keoffice Alfi tidak
sendiri. Tinggal menyiapkan semua file dari tema pembahasan besok.
Jangan sampai data yang dibawa tidak lengkap atau tidak valid. Agar
semua berjalan lancar dan baik.

Olivia menggenggam tanganya meletakan dibelakang kepalanya dan
menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Jika diingat-ingat
beberapa kali pertemuan dengan pak Alfi. Tidak pernah pak Alfi
berbuat yang aneh-aneh malah memang terkesan dia melindungiku.
Pak Alfi juga terlihat anak yang penurut. Apalagi penjelasan eyangnya
waktu itu. Semua kejadian ini juga sebenernya buka salah pak Alfi.

Lalu saran Chatrine harus aku ikuti gitu. Nikah dengan pak Alfi, Ya
Allah gak ngebayangin bagaimana sepinya hidup aku nanti setelah
menikah. Tapi nyatanya pak Alfi akhir-akhir ini gak menghubungi
berarti dia memang gak serius dengan ucapanya.

81

***********

Hari yang dijadwalkan untuk Alfi dan Olivia bertemu dalam satu ruang
meeting yang sama telah tiba. Andra datang menginformasikan bahwa
klien dari Estetika Group telah datang dan meeting siap dimulai. Alfi
menuju ruang meeting dengann wajah datar seperti biasanya.

Sesampainya diruang meeting Olivia memang sudah sampai dan
terlihat sudah siap dengan laptop dan beberapa file yang ada dimejanya
ditemani seorang sekretarisnya.

Keduanya mencoba sama-sama professional dihadapan yang lain.
Seolah hubungan mereka memang sebatas rekan kerja dan baik-baik
saja.

“Selamat siang semua. Maaf menunggu silahkan duduk dan meeting
bisa segera kita mulai.” Alfi menyalami Olivia dan sekretarisnya. Tidak
lupa dia memperkenalkan Andra sebagai aspri barunya. “Oh ya
perkenalkan ini Andra asisten pribadi saya. Mungkin nanti ada yang
ingin ditanyakan atau keperluan lain boleh juga menghubungi Andra.”

Meeting dimulai, semua menjalankan perannya masing-masing
terkhusus Olivia yang focus dengan layar file dan data. Tanpa menatap
wajah Alfi yang ada didekatnya. Berbeda dengan Olivia, Alfi terlihat
beberapa kali menatap wajah Olivia yang terlihat masih marah
dengannya.

Tidak melalui perdebatan yang alot semua berjalan dengan baik dan
sesuai jadwal. Setelah semua selesai Olivia terlihat membereskan
laptopnya dan akan bergegas pulang. Afi memanggil namanya “Bu
Olivia boleh kita bicara sebentar?” Andra dan Yumna berjalan
meninggalkan ruang meeting hanya tinggal Olivia dan Alfi dalam
ruangan meeting tersebut.

“Ada apa pak Alfi saya tidak ada banyak waktu 5 menit cukup.” Olivia
masih dengan wajah cueknya.
“Liv, kita perlu bicara saya gak bisa begini terus dalam rasa bersalah.
Tanpa penyelesaian. Kita rekan kerja tapi terlihat seperti musuh.”
“Mohon untuk tidak menggabungkan hal pribadi dengan pekerjaan. Ini

82

jam kerja dan saya tidak ingin banyak orang yang curiga dan berfikir
lain. Kita bisa bicarakan hal ini nanti after office.” Olivia berdiri
meninggalkan Alfi sendiri dalam ruangan
“Olivia please” Alfi berdiri dan menggenggam erat tangan Oliv,
sehingga langkahnya terhenti
Olivia kaget dan menatap wajah Alfi dengan jarak yang dekat.
“Lepasin, mau apa lagi si pak?”
“Kemarin kamu bilang saya jangan hubungi kamu selain jam kerja.
Sekarang kamu larang saya membicarakan hal ini karena masih jam
kerja. Kita perlu bicara liv.”
Jantung Olivia seolah berhenti berdetak melihat Alfi dengan wajah
serius sekaligus tepat didepan mata. “After office saya hubungi bapak
kembali bisa. Nomor WA masih yang samakan.Sekarang tolong
lepasin. Atau saya akan teriak.?”
Keduanya berpisah tanpa kata. Sama-sama diam dan meredam emosi
yang memenuhi ruang hati. Alfi yang melampiaskannya dengan
memukul meja meeting. Olivia berusaha tetap tenang karena dia sadar
hanya tamu dan tidak ingin meninggalkan kesan buruk.
“Sudah bu bicara dengan Pak Alfi-nya.” Olivia sedikit sibuk
meletakkan tas dan mengatur posisi duduknya “Oh sudah-sudah yuk
kita kembali keoffice sebelum jalanan macet.” “Baik bu” Jawab sopir
yang ada dikursi pengemudi.

83

NEKAD

Bu Oliv, kayaknya pak Alfi ada rasa deh dengan ibu.
Merhatiin egak tadi pak Alfi beberapa kali mandangin ibu.”
“heh emang iya, perasaan biasa aja. Gak usah ngadi-ngadi kamu”
“Bu Oliv gak percaya. Tapi ya bu kalo dilihat-lihat pak Alfi ganteng
juga loh ganteng banget malah. Beruntung tuh ntar yang bisa jadi
istrinya.”
Olivia diam dalam lamunan. Mengingat ucapan Alfi tadi yang begitu
serius. “Kemarin kamu bilang saya jangan hubungi kamu selain jam
kerja. Sekarang kamu larang saya membicarakan hal ini karena masih
jam kerja. Kita perlu bicara liv.” Dalam hati bertanya bertanya-tanya
“Emang sikap saya ke pak Alfi salah ya?”
Semua urusan office sudah selesai saatnya pulang dan ada yang beda
pemandangan sore ini. Dimana Alfi yang sudah stand by diruang
tunggu lobby hanya ingin menemui Olivia.
“Oliv.” Panggil Alfi
Dengan muka kaget terdiam sepersekian detik, detak jantung pun tiba-
tiba berdetak lebih kencang. Oliv terkejut dengan apa yang dilihatnya.

84

“Pak Alfi ngapain ada disini?”
“Menurut kamu. Ya nungguin kamu lah. After office kan sekarang
sudah bisa bicara.” Jawab Alfi datar

Tidak pernah terfikir oleh Olivia jika Alfi akan nekad seperti saat ini
hingga rela datang ke-apartment dan menunggu Olivia pulang office.
Tidak ada alasan lagi untuk menolak. Olivia memang sudah
seharusnya bicara dengan Alfi. Karena hari ulang tahun Olivia tinggal
satu hari lagi. Nenek widia pun sudah sangan menanti kedatangan
Olivia dan Alfi untuk pulang dan bertemu.

“Oh ok. Hm Olivia ganti baju dulu yah sebentar. Setelah itu baru kita
pergi.”
“Tidak perlu, kamu mau buat saya nunggu berapa lama lagi. Siapa juga
yang mau ajak kamu pergi.” Alfi masih dengan muka datar mode on.

Olivia akhirnya mengalah. Mengikuti kemauan Alfi untuk segera
bicara. Melihat wajah Alfi yang begitu serius. Khawatir jika Olivia
menolak akan ada hal yang lebih nekad yang dilakukan Alfi.

Kembali teringat dengan pesan Chaterine untuk menerima ide Alfi
yaitu menikah. Tapi Olivia kembali membayangkan jika Alfi nanti
marah mungkin akan lebih seram dari yang dia lihat hari ini. Tidak
semuanya buruk. Alfi terlihat begitu dewasa masih mampu
mengendalikan amarahnya dengan baik. Hanya saja nada bicaranya
yang serius dan to the point.

Olivia menggaruk kepalanya dan sedikit mengigit bibir bawahnya
menghilangkan rasa gugup. “Ya udah kita mau bicara dimana? Di unit
apartment Oliv tapi --?”
“Tapi jangan coba aneh-aneh—Itukan yang mau kamu ucapkan ke saya.
Udah berapa kali kamu bilang itu kesaya? Emang ada ya tampang
kurang ajar dari muka saya.?”
“I..ya maaf. Ya udah yuk”

Keduanya berjalan masuk lift yang sama menuju unit apartment Olivia.
Masih sama-sama diam dan tidak ada yang bicara. Olivia yang selalu
merapikan apartment-nya sebelum berangkat kerja merasa aman jika

85

tiba-tiba ada tamu yang datang seperti ini. Tidak perlu worry dengan
apartment yang berantakan yang membuat tamu tidak nyaman.

“Silahkan masuk pak.” Keduanya berjalan menuju ruang tengah dan
duduk disofa depan televisi dekat meja yang ada beberapa buku
koleksi Olivia.
Olivia segera merapikan buku yang ada dimeja dan membawanya
kedalam kamar.

“Jadi apa yang ingin bapak bicarakan? Owh iya maaf-maaf, mau
minum apa sebelumnya?”
“Terserah. Lagian kenapa baru nawarin minum tenggorokan udah
kering dari tadi.”
Olivia tersenyum, menahan malu dan rasa bersalahnya.

Alfi memulai obrolan dan keadaan mulai serius.
“Liv, soal obrolan kita dicaffe beberapa waktu lalu. Kamu masih
marah. Saya minta maaf?”
“Menurut pak Alfi?”
“Serius liv, saya tidak ada maksud menjebak kamu lebih dalam atau
memanfaatkan keadaan. Hanya saja memang menurut saya itu solusi
yang terbaik. Ibu saya yang sudah cocok dengan kamu. Kamu wanita
pertama yang pernah saya bawa kerumah dan kenal dengan keluarga
saya.”

Olivia masih terdiam serius mendengar Alfi berbicara.

“Lalu bagaimana dengan kabar nenek widia. Apakah dia masih sering
menelfon.? Liv, dari tadi saya bicara panjang lebar tapi kamu cuma
diem? Hmm ya saya tidak memaksa kamu saya akan terima jika kamu
menolaknya. Wajar kok jika kamu ragu kita juga baru kenalkan. It’s
okey” Alfi menyandarkan tubuhnya disofa dan menunggu respon dari
Olivia.

Olivia tersenyum melihat Alfi yang bicara panjang lebar menucapkan
maaf, menjelaskan alasanya dan membebaskan keputusan akhir tanpa
ada paksaan. Terlihat jika Alfi memang laki-laki baik, bertanggung
jawab dan bukan tipe laki-laki yang suka memaksa.

86

Masih dengan ekspresi datar terlihat senyum tipis dibibir Olivia.
Dengan tangan yang berusaha merapikan poninya kebelakang. Lalu
tersenyum menatap Alfi.

“Ya udah terserah.” Jawab Olivia singkat

“Terserah. Maksudnya?” Respon Alfi setelah mendengar jawaban
Olivia yang dianggap ambigu

“Ya udah terserah keputusan pak Alfi saja saya ikut.”

“Bentar liv, saya masih belum faham maksud kamu.”

Ditengah obrolan yang serius ponsel Olivia berdering. Alfi
mempersilahkan Olivia menjawab panggilan tersebut sebelum
melanjutkan obrolan mereka. Terlihat nomor Dennis dalam layar
tersebut saat panggilan sudah diangkat ternyata nenek widia yang ada
dibalik layar.

“Hallo Oliv sayang, kamu udah pulang kerja?”
“Hallo nek, iya nek Oliv sudah pulang kerja ini sudah sampai
Apartment.”
“Besok hari ulang tahun kamu liv, kamu kapan mau pulang sekalian
kenalin Alfi kesini”
“Owh iya nek, besok ya ulang tahun Olivia lupa. Iya nanti dikabarin ya
nek soalnya Alfinya masih sibuk. Nanti kalo Alfi sudah tidak sibuk
pasti Oliv pulang dan kenalin Alfi kenenek. Sudah dulu ya nek. Nanti
Oliv hubungi lagi. Dadahhh”

Alfi menatap Olivia yang baru saja mengakhiri panggilannya. “Nenek
Widia?”
Olivia menatap Alfi yang masih terdiam dalam duduknya. “Kenapa
pak.”
“Gak papa. Boleh lanjutin obrolan yang tadi.?”
“Iyaa.. jadi terserah bapak saja selanjutnya kita mau gimana.”

Alfi tidak percaya dengan jawaban Olivia “Maksud kamu, setuju
dengan ide saya kita menikah? Wait kamu bukan mau mengusir saya

87

secara halus dengan memberi jawaban setuju agar saya segera pulang
dan esok akan kamu ralate lagi ucapan saat ini.”
“Mau bapak apa sih. Saya marah salah. Sekarang saya setuju bapak
curiga.” Olivia menyandarkan tubuhnya disofa.
“Ya maksudnya terserah gimana boleh tolong jelaskan?”
“Iyaa.. Olivia ikut aja keputusan bapak selanjutnya gimana. Nenek
widia juga sudah menanyakan pak Alfi terus. Nenek terlihat setuju dan
cocok dengan pak Alfi. Saya gak mau bikin nenek kecewa jika nanti
pulang mengatakan yang sebenarnya. Dan membawa Alfi yang berbeda
dari yang nenek lihat waktu video call. Barusan juga nenek kembali
menanyakan pak Alfi.”

88

RENCANA SELANJUTNYA

“Are you sure liv?” Alfi masih tidak percaya dengan respon
Olivia barusan. Dia menatap Olivia lebih dekat dan berusaha
meyakinkan ucapan yang barusan dia dengar adalah valid.
“Yess, I’m sure bapak Alfi Abimanyu Atmajaya.” Jawab Olivia datar
Alfi tersenyum seolah kehabisan kata dengan jawaban Olivia terasa
begiru surprise untuknya. Yang Alfi fikir akan melihat Olivia marah
lagi bahkan akan lebih marah seperti dicaffe malam itu tapi ini
sebaliknya. Alfi mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan
seolah lega dengan beban yang beberapa hari ini mengganggu tidurnya.
“Ok jadi udah gak marah lagi yah. Kalo gitu aku pamit pulang. Bye.”
Sekarang giliran Olivia yang kaget karena Alfi yang langsung pamit
pulang. “Hah mau kemana?”
“Pulanglah, udah selesaikan semua. Tadi kamu bilang kan jangan aneh-
aneh dan saya beneran gak ngapa-ngapain kamu kan. Saya pamit.”
“Ntar dulu siapa yang nyuruh pak Alfi pulang. Makan dulu yuk, udah
malam lapar. Pesen Gofood nih atau keresto sebelah?”

89

Keduanya kembali dalam keadaan hening. Tidak lama Gofood yang
dipesan datang dan Olivia menyiapkan makanan sebelum mereka
makan. Terlihat romantis diaparment berdua layaknya pasangan muda
yang baru saja menikah.

“Pak Alfi makanan udah siap makan yuk.”

Alfi tersenyum melihat Olivia yang sedang sibuk menata piring dimeja
makan. Alfi berjalan menghampiri Olivia. Mereka duduk berhadapan.
Tepat seperti pengantin baru hanya saja tidak ada moment saling suap
makanan. Hehe

“Liv, besok ulang tahun ya?”
Olivia menjawab dengan santai “Iya”
“Kamu mau apa?”
“Mau apa? Maksudnya?”
“Iyaa kan biasanya orang-orang kalo birthday bikin party, potong kue
atau yaa selayaknya anak muda.”
“Oh”

Respon Olivia yang biasa aja membuat Alfi penasaran dengan Olivia
karena memang dia terlihat berbeda dari gadis-gadis seusianya. Selain
mandiri dia juga terlihat lebih dewasa dalam pemikiran atau pun
bertindak sesuatu.

“Oliv gak terbiasa seperti itu. Hari ulang tahun menurut Oliv sama aja
seperti hari-hari biasanya. Hari dimana jatah waktu didunia semakin
berkurang dan reminder bahwa semakin dekat dengan kematian maka
harus terus meng-upgrate diri untuk lebih baik lagi. Ibadah lebih rajin
lagi.”

Alfi semakin kagum mendengar apa yang dikatakan Olivia barusan.

“Lalu selama ini jika malam birthday kamu lalui seperti hari biasa?”
“Ya..iyalah pak. Bapak kan tahu saya disini sendiri. Mau dirayain sama
siapa? Temen! Temen juga pasti sibuk dengan urusan masing-masing
dari pada ngerayain nge-mall atau keclub hura-hura mending uangnya
buat sedekah. Biar umur makin berkah.”

90

“BTW, weekend sibuk egak pak?”
“Enggak kenapa?”
“Boleh egak temenin pulang ke Bogor, sebentar kok. Mau ketemu
nenek saja. Udah lama Oliv gak ketemu nenek dan udah ditelfon
teruskan suruh pulang.”
“Hmm Ok bisa.”
“Beneran bisa atau maksain. Kalo sibuk gak papa kita atur waktu lain
kali aja.”

Ini kali pertama mereka ngobrol santai tapi Olivia yang masih saja
manggil Alfi dengan sebutan bapak sebenarnya membuatnya sedikit
kurang nyaman. Tapi berusaha Alfi tahan hingga nanti waktu yang
tepat. Ketika Olivia sudah jadi isterinya. Mungkin untuk panggilan bisa
mereka bicarakan lagi.

“Liv, weekend besok mau ketemu nenek kamu saja atau ada acara
lain?”
“Acara lain gimana maksud bapak?”
“Hmm saya ajak orang tua sekalian ketemu nenek dan keluarga kamu
boleh?”
“Mau ngapain pak? Gak usah bikin jantungan yah. Emang udah siap?”
“Loh kan Tanya liv, udah siap ngapain liv? Udah siap kok jadi suami
kamu.”

Makan malam mereka sudah selesai. Olivia yang sedang memegang
tisu reflek melemparnya ke Alfi setelah mendengar pernyataan Alfi.

KRING KRING KRING

Seperti semesta sedang mendukung kebersamaan mereka. Arka yang
jarang sekali menelfon Alfi malam ini video call dan ternyata Aurora
keponankan Alfi yang ada dibalik layar.

“Hallo, om Alpi lagi dimana Alola ngangen.”
“Haii Cantik, Om lagi sama tante cantik nih, kangen ya, besok ketemu
ya sama tante juga.”
“Haiii Antee. Esok aen sini yaa. Alola ngangen mau digendong ante”
“Iyaa sayang besok ketemu yaa. Nanti tante gendong Arora. Sama beli
ice cream juga yaa.”

91

Alfi dan Olivia saling menatap dan senyum mendengar kepolosan
Aurora. Yang meminta untuk kembali digendong Olivia. Mereka
duduk dengan jarak yang begitu dekat dan untuk pertama kalinya
mereka sama-sama merasakan detak jantung yang tidak beraturan.

“Besok pulang jam berapa? Jangan sore-sore ya kita main kerumah kak
Arka ketemu Aurora. Bolehkan izin pulang lebih awal? Pasti boleh lah.
Aspri kesayangannya bu Aleena kan lagi birthday masa gak dikasih
free.”
“Apaan si gak jelas. Ehh pak rencana kita selanjutnya apa?”

Alfi sengaja tidak merespon pertanyaan pura-pura tidak dengar.

“kenapa liv? Bilang apa tadi?”
“Rencana selanjutnya apa?”
“Rencana apa? Kamu udah gak sabar ya pengen cepet-cepet nikah.”
Alfi tertawa menggoda Olivia. Tangan Olivia reflek menepuk pundak
Alfi hingga terdengar suara tangan.

“Ihh sembarangan. Maksud Oliv, weekend kan kita ketemu nenek
setelah itu nenek kan pasti udah percaya dan gak mungkin nanya-nanya
lagi. Berarti udah yaa. Kita deal.”
“Hmm itu. Tergantung yah. Tapi nanti jika nenek kamu minta kita
cepet-cepet nikah gimana?”

Olivia diam. Karena kata-kata yang barusan Alfi ucapkan kemungkinan
akan terjadi. Dia tidak pernah membayangkan jika akan menikah
dengan Alfi dalam waktu dekat. Menyandarkan tubuh disofa dan
tangan dikepala seperti menanggung beban yang begiru berat.

“Liv, kamu kenapa?”
“Hah gak papa sih. Tapi kefikiran juga dengan apa yang bapak
ucapkan barusan. Kalo nenek minta kita nikah. Trus kita akan nikah
beneran gitu pak.?”
“Hmmm. Emang ada yaa nikah bohongan. Saya juga gak mungkin
mau mengelak terus dari pertanyaan ibu tentang kamu. Kita dalam
posisi yang samakan. Dan memang solusinya cuma satu. Tadi kamu
setuju kok sekarang. Atau mau jujur aja yang sebenarnya?”

92


Click to View FlipBook Version