Olivia menatap serius kea rah Alfi.
“Kok gitu sih pak. Kan Olivia gak bilang apa-apa. Iya Olivia setuju kita
menikah dan kita buat orang yang menyayangi kita sama-sama
bahagia.?”
“Kamu kenapa liv? Gak nyaman yah. Tenang, aku tidak akan banyak
menuntut kekamu. Setelah menikah kehidupan kita tetap seperti biasa.
Saya tidak akan melarang kamu dalam dunia kamu. Begitu pun
sebaliknya.”
“Ahhh serius. Bener ya janji.”
Alfi tidak menjawab hanya tersenyum tipis. “Liv, udah malem pamit
pulang yah. Atau mau ditemenin sampai jam 12 malam dan kita tiup
lilin bareng-bareng. Saya aamiin-kan make a wist-mu”
“Hmm iya, Pak Alfi pulang aja udah malem besok kerja. Gak usah gak
perlu. Yuk Olivia anter sampai depan.”
93
SURPRISE FOR OLIVIA
Setelah menyelesaikan tugasnya hari itu. Olivia segera
merapikan semua file, mengembalikan ketempat semula. Mematikan
semua layar dan pulang.
Segera berganti pakaian dan bersiap karena sebentar lagi Alfi akan
datang menjemputnya menuju rumah Arka sebagaimana yang telah
mereka rencanakan semalam.
Alfi datang dengan motor ninja berwarna merah lengkap dengan helm,
sarung tangan dan jaket warna hitam. Olivia yang sudah stand by
terdiam melihat Alfi yang tampil beda dari biasanya.
“Hai, udah siap yuk jalan?”
“Owh hai, naik motor?”
“Iyaa kenapa? Sengaja tidak bilang sebelumnya karena ingin memberi
kesan yang berbeda untuk yang sedang birthday.”
Sesampainya dirumah Arka. Dari depan terlihat hanya Arka dan Erina
yang menyambut kedatangannya. Tanpa diketahui Olivia bahwa Orang
tua Alfi sudah berada disana tepat diruang tengah.
94
“Hallo Om, antee.”
Aurora yang terlihat begitu menggemaskan membuat Olivia mencubit
pipinya dengan lembut setelah itu menggendongnya. “Haii cantik
kangen yaa sama ante”
Arka dan Erina mengajak Olivia dan Alfi masuk ke ruang tengah. And
surprise semua sudah disiapkan oleh Alfi. Kue tart and lilin angka 24
sesuai umur Olivia. Makan malam lengkap dengan banyak menu.
BBQ yang diteras samping rumah serta orang tua Alfi yang juga hadir
disitu.
Olivia spechleest dengan apa yang barusan dia lihat. Seperti memiliki
keluarga baru. Yang bukan hanya menyayangi tapi penuh perhatian
dan hangat. Olivia menatap Alfi tak percaya semua bisa dilakukan
dengan singkat tapi hasil perfect.
“Hmm Om, tante ada disini juga?”
“Haii Oliv, iya tadi pagi Alfi WA tante untuk datang kesini. Dan tante
baru tahu jika hari ini hari ulang tahun mu. Selamat ulang tahun ya
sayang, berkah umurnya, lancar rezekinya dan tante harap tahun depan
kita rayain kamu sudah resmi jadi mantu tante dan om yang artinya
sudah sah jadi istri Alfi.”
Olivia tersenyum mendengar doa dan harapan Rosa barusan. Tapi
yang lain berbarengan mengucapkan aamiin berharap semua itu akan
nyata. Tampak jelas bahagia diwajah Olivia
Karena ini kali pertama ulang tahunya yang tidak sepi. Selama
merantau bahkan dia belum pernah merayakan ulang tahunnya. Semua
dilalui begitu saja seperti hari lainya.
Musik dengan nada sedang sudah dinyalakan. Lilin sudah siap diatas
kue tart tanda sebentar lagi akan ada moment potong kue.
Potongan pertama special untuk Alfi yang telah merencanakan ini
semua. Tiba-tiba Alfi berlutut dan mengeluarkan cincin dari saku
celananya. Keadaan hening. Olivia kembali terkejut dengan surprise
yang bertubi-tubi diberikan oleh Alfi. Semua benar-benar tidak pernah
terbayangkan oleh Olivia jika dia akan dilamar tepat dihari ulang
tahunnya bahkan didepan keluarga dari pihak Alfi.
95
Perasaan bimbang kembali menyelimuti hati Olivia. Jika dia menolak
maka akan mengecewakan banyak orang khususnya orang tua Alfi yang
sudah sangat berharap hubungan mereka akan segera menuju jenjang
yang lebih serius.
Jika menerima Olivia ragu apakah hubungan ini akan terus baik-baik
saja kedepannya sedang diantara mereka sama-sama baru saling kenal.
Tidak ada yang pernah mengatakan cinta. Dan semua dimulai karena
kesalahfahaman yang tidak disengaja.
Alfi menatap Olivia dengan serius. Akhirnya Olivia menerima cincin
tersebut dan semua yang yang ada ikut bahagia. Tangan kananya tiba-
tiba merangkul pundak Olivia dan tangan kirinya mengeluarkan ponsel
lalu mereka selfi berdua.
Olivia yang menyadari apa yang baru saja dilakukan Alfi langsung
memukul sambil tersenyum. “Jangan modus yaa pak Alfi.” Setelah
dirasa cukup acara potong kue-nya. Semuanya menuju meja makan
dan duduk dikursi masing-masing. Olivia dan Alfi kembali duduk
bersebelahan.
Jalanan sepi, semilir angin terasa sejuk mengenai kulit. Olivia terlihat
begitu menikmati perjalanan malam itu hingga dia mengangkat
tangannya keatas sedikit memejamkan matanya dan berteriak. Alfi
memerhatikan melalui kaca spion. Dan sejenak menghentikan
motornya ketepian. Olivia yang tahu hal itu terdiam dan menatap Alfi
serius.
“Kenapa berhenti pak, motornya mogok ya? Atau bensinnya habis?
Yahh kita harus dorong donk masih jauh lagi? Dimana ada bengkel
deket sini?”
Alfi menatap serius Olivia yang terus bertanya. Lalu menempelkan jari
teunjuknya pada bibir Olivia sehingga Olivia berhenti berbicara.
Keduanya dalam keadaan sama-sama terdiam. Olivia mulai bingung
ingin teriak tapi bibirnya terkunci. Ternyata Alfi hanya mengisyaratkan
tangan dan menunjuk keatas. Arah bulan ynag bersinar terang dan
tidak jauh ada bintang yang juga bercahaya.
96
“Lihat bulannya bulat.”
“Wuaaa bulan.. Bagus bangettt…”
“Liv, coba sejenak pejemin matanya dan hirup udaranya perlahan.”
Olivia dan Alfi saling bertatapan tersenyum tapi tak ada kata yang
terucap dari masing-masing.
“Gimana. Apa yang kamu rasakan?”
“Tenang. Pak Alfi sering yah lihat langit malam seperti ini. Ini indah
banget.”
Alfi hanya mengangkat kedua alisnya tak mengeluarkan kata-kata dari
bibirnya. Olivia terus menatap laki-laki yang ada dihadapanya itu. Laki-
laki yang baru dia kenal. Tapi benar-benar memberi kesan berbeda
dihari special Olivia hari ini. Olivia tersenyum dan menepuk pundak
Alfi.
“Pak Alfi, thanks yaa”
“Hmm buat apa? Emang saya kasih apa?”
“Gak jadi.” Dalam hati Olivia ini laki-laki beneran kaku atau gimana
“Pulang yuk udah malam. Besok kerjakan.”
Olivia hanya mengangguk dan menaiki motor yang dikendarai Alfi.
Kembali melanjutkan perjalanan pulang dalam keheningan.
Sebenernya banyak hal yang ingin ditanyakan Oleh Olivia. Kenapa Alfi
tadi memberi cincing dan kenapa dia membuat surprise party bahkan
bersama keluarga besarnya.
Tapi malam itu terlalu indah jika hanya dilalui untuk berdebat. Dan
akhirnya Olivia menyimpan sementara semua Tanya yang ada.
97
DIA BAIK
“Makasih ya pak udah dianterin.”
“Makasihnya jangan banyak-banyak nanti saya gak bisa balikin.”
“Ih apaan sii.. Ya udah pulang sanaa udah malem.”
“Ok pamit ya pulang dulu. Bye”
***********
Dia baik, penuh kejutan tapi nyebelin juga. Suka banget bikin Olivia
jantungan dengan kejutanya. Kira-kira semalem dia kasih cincin ke
Oliv serius egak yah. Olivia memandangi jarinya yang terlihat beda
dengan cincin baru pemberian Alfi.
Hmm aneh memang dia bilang semua hanya untuk membuat ibu dan
keluarga lainya bahagia. Tapi kenapa harus sejauh ini dan se-serius ini.
Atau coba tanya langsung aja nanti. Maksud dari semua ini apa.
“Ini foto yang semalam yah, jangan lupa kirim ke nenek Widia, agar
nenek lebih bahagia melihat cucu kesayangannya bahagia. Salam juga
untuk keluarga yang lain. Weekend kita jadi kesana kan.”
98
Chat dari Alfi membuat Olivia buyar dari lamunannya. Namun
kembali sibuk bermonolog sendiri dan tersenyum melihat foto yang
baru saja dikirim Alfi.
Dia baik, tulus, Perhatian juga ternyata inget ke nenek untuk kirim
fotonya. Tapi artinya dia serius. Atau balas budi saja. Atau ada yang
direncanain lagi. Olivia menguap dan merapikan rambutnya yang
berantakan. Pagi ini dibuka dengan semua Tanya tentang Alfi.
“Haii Olivia, Happy birthday and congratulations on soon to be Mrs.
Alfi Atmajaya.”
“Hello chaterine, thank you dear. Haa, Mrs. Alfi Atmajaya? What do
you mean?”
“Yeah Alfi has sent your photo last night. And tell me if you have
received a ring from Alfi. Congratulations again. Missed the invitation.
Alfi is a good person so take good care.”
Olivia terdiam mendengar pernyataan Chaterine ditelfon barusan.
Maksudnya apa? Belum juga Olivia menjawab sambungan telfon sudah
berakhir. Dan waktu semakin siang yang artinya Olivia harus segera ke
office sejenak menghentikan semua tanya dalam hatinya.
Jam makan siang tiba. Oliv hari ini makan bareng dengan Yumna
sekretaris.
“Ehh bu Oliv, kita kapan ada meeting dengan pak Alfi lagi. Nanti
Yumna diajak lagi yaa. Biar bisa lihat pak Alfi lagi dari dekat.”
Olivia yang sedang meneguk Orenge juice-nya hanpir tersedak.
“Kenapa tiba-tiba nanyain pak Alfi sii.”
Yumna memang salah satu staff dari Estetika Group yang heboh jika
ada klien yang handsome-nya diatas rata-rata. Tapi jika dibalik layar
saja. Jika didepan orangnya tetep manis kok.
“Lahhh, bu Oliv gak asik. Pak Alfi handsome gitu dicuekin. Ehh bu
kira-kira pak Alfi masih single egak yaa.. Tapi pasti banyak cewek yang
antri deh. Atau sudah punya pacar, calon istri?”
99
Olivia melihat Yumna yang terus beropini tentang Alfi membuatnya
jantungnya semakin tidak karuan. Dan membuat Yumna diam dengan
jurus andalan.
“Yumna, mau kerja lembur atau gaji ditahan.. Telfon bu Aleena nih
sekarang.”
Yumna meringis dengan muka memelas. “Hehhe enggak bu Oliv,
ampun bu. Yumna traktir deh siang ini.”
Olivia tersenyum tipis. Fikiranya kembali dipenuhi dengan nama Alfi.
Apakah segitu mempesona-nya pak Alfi. Pagi tadi Chaterine bilang Pak
Alfi baik sekarang Yumna.
Sendok yang Olivia pegang mengenai piring hingga menimbulkan
bunyi. Yumna yang melihat itu langsung menanyakan keadaan Olivia.
“Bu Oliv kenapa? Kepedesan yaa bu?”
“Oh gak papa kok. Udah lanjut makan.”
Dalam hati Olivia gak bisa seperti ini terus. Sepertinya harus bertemu.
Tapi nanti pak Alfi GR lagi diajak ketemuan lagi. Hufl harus gimana
yah.
***********
Alfi menunggu respon dari Olivia. Dalam hati Alfi chat dibaca tapi
kenapa egak dibales. Kenapa dia. Sibuk? Atau bangun kesiangan atau
sakit ?
Alfi mulai mengetik sesuatu untuk dikirim ke Olivia. Tapi kembali
menekan tombol delete. Hmm apa Olivia marah lagi yah. Tapi karena
apa? Semua berjalan baik-baik aja semalam.
Kembali Alfi kirim chat ke Olivia. “Liv, udah pulang Office? Mampir
dulu dikaffe biasa yuk.” SEND
Alfi menuju tempat parkir dan memasuki mobil untuk pulang. Tapi
Alfi masih ragu mau langsung pulang ke apartment-nya atau ke kaffe.
Tapi jika Olivia tidak datang percuma juga. Kan niat mau ke kaffe ingin
ketemu Olivia.
100
Olivia : “Mau ngapain?. Oliv udah sampai di Apartment”
Saat mobil belum lama jalan, dan suara radio yang menemani
perjalanan sore itu.
“Oh udah di Apartment ya udah saya kesana OTW nih 10 menit lagi
sampai.Tunggu dilobby.” SEND
****************
Fokus membaca Oliv kembali buyar dan segera menuju lobby untuk
menemui Alfi.
“Pak, kesini Cuma mau makan?”
“Iya. Kenapa?”
Olivia diam. Tapi dalam hatinya penuh tanya pada Alfi. Dia duduk
dan focus pada makanan yang telah siap dimeja. “Ya enggaklah. Saya
kesini ada yang mau saya tanyakan kekamu. Tadi diajak ke kaffe tidak
mau. Makanya saya kesini. Dan tahu jika kamu pasti belum makan dari
pada nanti order sekalian tadi mampir beli makan.”
“Lalu.” Olivia merespon dengan singkat dan melanjutkan makanannya.
“Lalu, weekend jadi kita ketemu nenek Widia.?”
“Gak mau gak jadi.” Olivia berhenti mengunyah makanan dan
menatap Alfi yang juga sedang makan.
“Kenapa?”
“Kenapa pak Alfi sepertinya ingin cepat-cepat ketemu nenek yah.
Hmm saya curiga ada yang direncanakan tapi Oliv gak tahu.”
101
CINCIN
Alfi berhenti dari makannya dan memandangi Olivia
dihadapanya. “Kenapa asprinya bu Aleena ini orangnya curigaan terus.
Keseringan nonton movie yaa atau lihat berita. Saya mau cepet ketemu
nenek kamu, karena kemarin kan saya sudah janji dan kamu tahu kalo
janji itu wajib ditepati.”
“Owh. Tapi pak. Boleh Olivia tanya sesuatu. Cincin yang kemarin pak
Alfi kasih, lalu foto yang pak Alfi suruh kirim ke nenek. Jika nanti
membuat nenek semakin percaya dan nyuruh kita cepet-cepet nikah
seperti tante Rosa gimana.”
Kekaguman Alfi pada Olivia mulai tumbuh setelah beberapa kali
bertemu dan bersama Olivia. Sifat jujur juga polos yang dimiliki Olivia
memang membuat banyak orang menyukai pribadinya. Gadis yang
tidak banyak nuntut dan menjalani hidup tanpa banyak drama.
“Kalo itu terserah kamu.”
102
“Terserah Olivia? Olivia yang tanya kenapa Olivia yang jawab. Maksud
pak Alfi apa sih. Ini bukan soal matematika yaa. Buat pertanyaan
sendiri jawab sendiri.”
“Ya udah anggap aja ini soal bahasa. Bagaimana kamu mengungkapkan
apa yang ingin kamu ungkapkan.”
“Olivia gak ngerti dengan jalan fikiran bapak. Mau mengungkapkan
apa. Kan Olivia tanya.”
“Bener gak ngerti atau pura-pura gak ngerti?”
Dalam hati Olivia kenapa pak Alfi membuat aku malu dan terlihat
bodoh begini. Lalu jawab enggak ya pertanyaannya. Olivia mengubah
arah duduknya. Menggaruk-garuk keningnya padahal tidak gatel.
“Pernikahan bukan main-main ya pak.”
Alfi menatap Olivia. Menarik nafas panjang seolah ada banyak kata
yang akan dia ucapkan. Kembali pada keadaan hening. Alfi mulai
bicara dengan nada suara lembut tak ada satu nada yang terkesan
seperti membentak atau memaksa.
Olivia,dengerin yah sejak awal bertemu kamu, tidak ada niat untuk saya
mempermainkan kamu. Dihari dimana kamu mengungkapkan semua
kekesalan kamu atas semua kesalah-pahaman yang terjadi diantara kita.
Saya juga merasa bersalah karena membuat kamu menangis dan
terbebani.
Sekali lagi saya tidak memaksa. Sedikit banyaknya kamu sudah
mengenal keluarga saya. Mereka semua respect, mereka semua happy
dan berharap kamu bisa resmi jadi anggota keluarga saya. Dari situ saya
berfikir untuk tidak menyakiti siapa pun. Saya memberi ide untuk kita
menikah bukan juga mau mempermainkan pernikahan. Saya akan
belajar dan mencoba nantinya jadi suami dan imam yang baik untuk
kamu.
Dan untuk cincin yang saya berikan kemarin itu karena saya serius.
Serius ingin memulai semua ini dengan baik. Hidup mu itu milik mu
saya tidak akan memaksa apa pun. Saya tahu kamu belum yakin.
103
Masih ragu dan fikiran yang lainya. Itu semua normal. Saya akan hargai
dan terima apa pun keputusan kamu. Jika semua ini membuat kamu
tidak nyaman saya minta maaf. Saya juga manusia biasa yang tidak bisa
menebak apa yang akan terjadi kedepannya.
Olivia tidak menjawab satu kata pun ucapan Alfi barusan. Dia benar-
benar mendengarkan kata perkata yang keluar dari mulut Alfi hingga
akhirnya air mata yang mewakili untuk jawaban tersebut. Alfi semakin
serba salah melihat Olivia menangis. Alfi mendekati Olivia dan
memberikan tisu untuk mengelap air matanya yang sudah membasahi
pipi.
Pak Alfi jahat. Malam ini benar-benar membuat aku terlihat seperti
orang bodoh. Yang begitu jahat dengan semua egonya. Kenapa
mengembalikan semuanya ke Oliv. Bagaimana jika Oliv menolak dan
pak Alfi akan dimarahi keluarga pak Alfi karena telah berbohong.
Bagaimana jika nanti Oliv terima tapi pernikahan kita tidak berjalan
baik-baik saja. Oliv yang masih bersifat seperti anak-anak. Hingga
akhirnya tante Rosa tahu dan kecewa jika sebenarnya Olivia bukan
menantu idamannya.
Olivia kembali menangis tapi bukan lagi tisu yang Alfi berikan ke Alfi
tapi pundak untuk bersandar dan tangan yang coba merangkul Olivia
agar lebih tenang. Tangis Olivia akhirnya pecah dipelukan Alfi.
Alfi dapat memahami hal itu karena memang selama ini Olivia tidak
pernah dekat dengan laki-laki dan saat ini bisa saja Olivia sedikit shock
karena merasa semua terlalu cepat.
Oliv, saya juga bukan malaikat yang selalu benar. Dan saya percaya jika
kamu pasti akan melakukan yang terbaik dan tidak akan
mengecewakan siapa pun. Udah ya jangan nangis lagi. I will go back.
you feel better right now. Please don’t cry again. Bye.
***************
Alfi sudah dalam perjalanan menuju apartment Olivia. Mengunakan
pakaian casual warna putih dan celana denim warna cream serta
104
dipandankan dengan sepatu warna putih. Terlihat begitu perfect
ditambah kaca mata hitam yang sering dia pakai.
Semua masih berjalan normal sebagaimana biasa. Sampai di-apartment
Olivia sudah menunggu di lobby dan mereka siap berangkat. Olivia
melihat Alfi dengan pakaian santai merasa ada yang beda dari biasanya.
Menatap Alfi beberapa saat membuat detak jantungnya tidak
beraturan.
Dalam hati Olivia hmm beneran handsome memang pak Alfi ini.
Bener yang dibilang Yumna. Handsome diatas rata-rata. Ehh tapi tetep
aja kadang sikap dia aneh, kaku.
“Kenapa ngelihatin gitu?”
“Hmm enggak siapa yang lihat pak Alfi. Coba lihat tuh kaca mobilnya
ada noda apa sih. Jarang dicuci yah.” Olivia mencoba ngeles setelah
ketahuan.
“Apa, hanya noda debu wajarlah karena mobil selalu dibawa kerja.”
Olivia tidak menjawab. Dia palingkan wajahnya melihat jalanan yang
masih terlihat sepi. Untuk memecah keheningan Alfi menyalakan
music tapi kali ini focus pada suara radio yang diputarnya. Dan lagu
yang sedang diputar adalah …… Take Me To Your Heart.
Lagu yang dulu sering Olivia nyanyikan bersama Chatrine. Ternyata
Alfi juga suka lagu tersebut. Akhirnya mereka kembali memulai
obrolan karena selera music yang sama.
“Pak Alfi suka juga lagu-lagu seperti ini.”
“Iyaa.”
“Selain lagu-lagu barat. Genre music apa lagi yang bapak suka?”
105
KERUMAH NENEK
Olivia kembali bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemarin bilangnya
mau belajar jadi calon suami yang baik. Hari ini udah nyebelin lagi.
Hmmm aneh memang. Apa sih maunya. Atau kemarin hanya
membujuk agar aku tidak marah. Kok ngeselin lama-lama. Kalau
bukan karena nenek mending dibatalin aja pulang hari ini.
“Liv, didepan nanti belok kanan atau kiri?”
Olivia tidak menjawab hanya menunjukan arah tangan. Alfi belum tahu
jika Olivia sedang marah. Dia kembali bertanya.
“Liv, nomor rumahnya berapa? patokanya apa? Cat rumah warna
apa?”
Olivia masih diam tetapi pandangannya focus kejalan. Sepertinya dia
takut akan terlewat rumah nenek widia.
“Liv, kok diem aja ngambek? Ngambek kenapa?” Alfi yang menyadari
Olivia marah. Berhenti mengendarai mobilnya dan menepi sebentar.
106
“Oliv, kamu kenapa si, ini maps-nya udah mau sampai. Tapi kenapa
malah marah. Bukanya happy mau ketemu nenek.”
“Tadi Oliv tanya jawabanya cuek. Sekarang Oliv diem bingung. Udah
jalan aja bentar lagi sampai diujung jalan itu rumah cat warna cream.”
*************
Sampai pada rumah cat warna cream. Nenek widia sudah berdiri
melempar senyum pada mobil hitam yang dipercaya didalamnya ada
orang yang ditunggu. Saat mesin mobil sudah dimatikan. Olivia
membuka pintu dan turun dari mobil begitu juga dengan Alfi.
Mereka tidak langsung menghampiri nenek widia. Melainkan
kebelakang membuka bagasi mobil dan menurunkan 2 kardus buah
tangan yang sudah mereka siapkan. Yang satu dari Alfi dan satu lagi
pasti milik Olivia.
Keduanya jalan menghampiri nenek widia tidak lupa mencium
punggung tangannya dan mengucapkan salam. Tapi berbeda dengan
Olivia yang emang cucu yang sangat dinantinya langsung berpelukan
mereka berdua saling melepas rindu.
Didalam rumah juga sudah ramai anggota keluarga yang lain. Yang
memang sengaja berkumpul untuk menyambut kedatangan Olivia dan
Alfi.
“Ini pasti nak Alfi, calon suaminya Olivia.”
“Owh iya nek, ini Alfi.” Tersenyum dan mencium punggung tangan
nenek widia.
“Yuk masuk, pasti cape setelah perjalanan jauh. Istirahat didalam. Itu
didalam ada paman dan bibinya Olivia juga. Itu yang kecil sepupunya.”
Olivia masih heboh melepas rindu dengan keluarganya yang lain.
Sedang Alfi hanya memasang wajah sumringan dan mencoba akrab
main dengan sepupu Olivia yang juga seusia Aurora keponakan Alfi.
Semua berkumpul, makan dan ngobrol bersama. Tidak jauh beda
dengan keluarga Alfi yang menerima Olivia begitu juga keluarga Olivia
yang menerima Alfi dan langsung akrab diantara mereka. Hanya saja
107
yang jadi pembeda Olivia bukan keturunan darah biru. Masih terlihat
dengan rumah dan semua benda yang ada dirumah nenek widia dan
barang-barang yang digunakan keluarga Olivia yang lain tidak ada yang
ber-merk.
Ada moment dimana Alfi dan nenek Widia bersama dan ngobrol
tentang Olivia.
“Jadi nak Alfi beneran serius dengan Olivia?”
“Iyaa nek, doakan saja dan mohon doanya yaa.”
Nenek Widia tersenyum pada Alfi. Lalu mengubah posisi duduknya.
Terlihat akan ada pembicaraan yang serius. “Nak Alfi, boleh nenek
bercerita sedikit tentang Olivia.?”
Jadi Olivia adalah cucu nenek yang pertama dia juga anak pertama.
Tapi takdir hidupnya yang paling berbeda diantara cucu nenek yang
lain. Sejak Oliv SMA dia hidup dirantau. Jarang sekali dia pulang
kerumah.
Sebelum dia bisa kuliah dan bekerja seperti saat ini banyak sekali
proses jatuh bangun yang dia lalui. Orang tuanya yang tidak
mendukung keputusannya untuk kuliah. Keluarganya yang
mengacuhkan dan menganggapnya sebelah mata saat Olivia baru akan
memulai langkahnya.
Sudah terlalu banyak luka yang Olivia lewati. Sebelum dia sampai titik
yang saat ini. Makanya nenek selalu meminta Oliv untuk segera
menikah agar ada yang menjaganya. Karena nenek khawatir kehidupan
luar kota nenek tahu itu keras. Sifat Olivia yang tidak pernah
menceritakan kesulitanya semakin membuat nenek khawatir. Banyak
luka lain yang mungkin Olivia sembunyikan dari nenek.
Nenek percaya nak Alfi anak baik. Dan bisa menjaga Olivia. Di
ibukota atau dimana pun berada. Olivia anak baik, gak pernah minta
aneh-aneh, selalu nurut dan tidak pernah merepotkan orang lain.
Nenek percaya jika Olivia dengan nak Alfi akan lebih bahagia. Nenek
ingin Olivia ada yang menjaga ada yang mendengar cerita dan semua
keluh kesahnya.
108
Sejak SMA Olivia tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki. Setiap
diejek disindir dengan orang lain hanya diam. Olivia selalu bilang nanti
nek, Olivia kuliah dulu kerja dulu. Olivia gak mau jadi beban keluarga.
Sekarang nenek rasa sudah waktunya. Banyak impian Olivia yang
sudah terwujud. Rumah sudah final direnovasi, biaya kuliah adiknya
dia yang bayar. Setiap tahun selalu ingat keluarganya dan memberikan
THR. Sepupunya juga selalu dibelikan mainan dan alat sekolah.
Saat nenek Widia belum selesai menceritakan pada Alfi. Olivia datang
dan ikut dalam pembicaraan. Dan disini Alfi belum sempat menjawab
cerita nenek Widia.
“Serius banget lagi ngomongin Oliv yaa? O…iyaa nek, Oliv dan Alfi
bentar lagi pulang ya, maaf Olivia pulang cuma bentar dan gak tidur
sini. Nanti kalo ada libur panjang pasti Olivia pulang dan tidur sini.”
Nenek Widia hanya tersenyum mendengar cucunya yang izin mau
kembali pulang ke-apartment dan tidak tidur dirumahnya.
“I..ya nek, maaf ya kami hanya sebentar main kesininya. Cucu nenek
ini sekarang sudah jadi orang penting yang setiap harinya selalu sibuk
gak bisa diganggu.” Ucap Alfi pada nenek Widia
“Ih egak nek. Alfi yang sibuk nek, jadi besok jadwalnya meeting dengan
klien yang dari Malaysia jadi gak bisa dibatalin. Kasian jugakan nek
kalo pulang malem sampai rumah cape.”
“Iyaa udah iyaa.. nenek tahu kalian berdua sama-sama sibuk.”
Sebenarnya rasa rindu nenek Widia belum sepenuhnya hilang. Namun
sadar jika cucunya kini bukanlah anak kecil yang dulu bisa kapan saja
dia lihat. Cucunya kini milik masa depan. Yang sibuk dengan semua
rutinitasnya dan dunianya. Setidaknya nenek Widia sudah sedikit lega.
Karena sudah bertemu dengan calon suami Olivia dan menceritakan
kehidupan Olivia dimasa lalu.
“Ya udah ya nek, kami pamit pulang dulu nanti kapan-kapan main sini
lagi.” Alfi dan Olivia pamit pada nenek Widia dan menuju mobil
hitam yang akan mengantarkan mereka kembali keibu kota.
109
BAHAGIA DAN LEGA
Kali ini nenek Widia terlihat begitu bahagia dan lega. Setelah
bertemu Alfi yang dianggap sebagai calon suami dari cucu-nya. Dan
sudah menitipkan Olivia kepada Alfi untuk dijaga.
Dalam perjalanan pulang Alfi dan Olivia tidak lagi terlihat saling diam
canggung. Mereka sepertinya sedang asik ngobrol.
“Pak Alfi, makasih ya udah mau ketemu nenek.”
“Makasih aja.”
“Emang mau apa? Ya udah cari tempat makan yuk ntar didepan sana.
Olivia yang traktir.”
“Gak laper liv.”
Olivia sudah mulai hafal dengan sikap irit bicaranya Alfi. Rasanya
pengen marah dan turun dari mobil saja menghadapi cowok jutek
seperti Alfi. Tapi karena disekitar jalanan yang dilalui tidak ada
kendaraan umum. Olivia terus berusaha menahan Marahnya.
110
“Ya udah Olivia mau tidur yaa. Nanti bangunin jika sudah sampai.
Terserah pak Alfi mau buka radio atau music biar gak sepi.”
“Liv. Saya bukan supir kamu yaa.” Dengan suara lembut Alfi
memanggil Olivia.
Olivia reflek dan tangannya mendarat dengan sempurna dipundak Alfi
yang memang pas jika dijadikan sasaran pukulan tangan Olivia yang
tidak begitu besar. Plakkkk.
“Oliv, kenapa si. Belum nikah udah KDRT kamu.”
“Sembarangan bilang KDRT. Abis pak Alfi maunya apa sih.” Mata
Olivia sedikit melotot menatap serius kearah Alfi.
Jalanan yang dilalui lumayan curam dan harus focus mengendarainya.
Karena jika lengah sebentar bisa-bisa roda mobil masuk dalam saluran
air yang digunakan untuk pengairan sawah sekitar jalan. Alfi masih
serius mengemudi dengan arah mata kedepan. Beda dengan Olivia
yang masih menatap Alfi dengan serius. Tiba-tiba Olivia ingat bahwa
tadi meninggalkan Alfi dan nenek Widia ngobrol bersama.
“Pak, tadi ngobrolin apa sama nenek.?”
“Biasa aja. Gak ada yang serius. Kenapa?”
Kebiasaan Alfi jika ditanya Olivia selalu balik nanya lagi. Membuat
Olivia kembali terjebak dengan pertanyaan yang jawabanya ada pada
dirinya sendiri.
Keduanya sudah melangkah jauh. Keluarga sudah saling mengenal dan
setuju. Keputusan akhir semuanya ada ditangan mereka berdua. Dan
sudah seharusnya mereka saling berbicara. Mana pilihan terakhir yang
akan mereka pilih. Akan menikah dalam waktu dekat atau mengakhiri
semuanya dan jujur pada keluarga masing-masing. Kedua pilihan sama-
sama beresiko.
Alfi sebenarnya masih kefikiran dengan cerita nenek Widia tadi
tentang Olivia. Menitipkan Olivia agar selalu dijaga dan terus bahagia.
Alfi merasa belum lega karena tadi belum sempat menjawab
111
permintaan nenek tadi. Terlihat dari raut wajah nenek yang sangat
serius dengan ucapannya. Begitu berharap pada Alfi untuk menjaga
cucu kesayangannya. Cucu yang sejak dini sudah hidup mandiri.
“Liv, pekerjaan kamu dengan bu Aleena apakah ada perjanjian
dilarang menikah.?”
“Hah Pak Alfi Tanya apa barusan?”
Alfi sepertinya mencabut kembali kata-katanya. khawatir nanti Olivia
akan marah lagi. Sepertinya nanti saja mereka bahas saat sudah sampai
apartment dan cari waktu yang tepat saat keduanya sama-sama free
tidak ada kesibukan.
“Kok gak jadi.?”
Olivia mulai merasa tidak enak hati. Hari ini Alfi terlihat irit bicara.
Olivia berfikir Alfi sepertinya terpaksa mau bertemu nenek Widia
hanya untuk balas budi. Karena kemarin Olivia sudah menemaninya
diacara keluarganya. Keduanya sama-sama diam tapi sibuk bermonolog
dengan diri sendiri.
Alfi yang sibuk memikirkan permintaan nenek Widia tadi. Tapi ingin
semuanya berjalan baik-baik saja. Tidak ingin terkesan memaksa Olivia
atau pun mengekang dia. Karena sadar usia Olivia yang masih muda.
Jadi wajar jika dia terus menolak permintaan neneknya untuk segera
menikah. Dan nenek Widia juga tidak salah jika berfikir seperti itu
sebagai bentuk cintanya pada sang cucu.
Olivia terus memikirkan sikap Alfi yang membuatnya tidak nyaman.
Berfikir jika Alfi berubah gitu karena tidak nyaman dengan
keluarganya. Atau bahkan menyesal setelah ketemu keluarga Olivia.
“Pak Alfi maaf ya jika hari ini ngerepotin dan bikin pak Alfi cape
karena harus pulang-pergi Jakarta-Bogor. Maaf ya jika tadi diruamh
nenek bikin pak Alfi gak nyaman. Janji ini yang pertama dan terakhir
kok. Besok-besok sepertinya Olivia bisa kasih pengertian saja pada
nenek agar tidak terus menanyakan pak Alfi.” Ujar Olivia dengan
wajah memelas.
112
“Kamu kenapa liv kok ngomong gitu.?”
“Dari tadi pak Alfi diam saja. Ditanya juga jawabnya singkat. Pak Alfi
bilang saja jika tidak nyaman.”
“Liv, lihat saya. Emang terlihat saya gak nyaman atau nahan marah.
Enggak kan. O..iyaa ternyata cucunya nenek Widia suka bohong juga
ya. Siapa tadi yang bilang saya ada meeting dengan klien dari
Malaysia.?”
Alfi berusaha menutupi kegelisahanya. Dengan mencoba mengalihkan
pembicaraan agar Olivia tidak curiga bahwa ada ucapan nenek Widia
yang mengganggu pikiran Alfi saat ini. Tapi sama sekali hal itu tidak
mengganggu kenyamanan Alfi. Dia tetap enjoy dengan keluarga Olivia
dan semua kesederhanaan yang terlihat.
“Ya dari pak Alfi lah mau dari siapa lagi.”
“Liv, ini serius yaa. Saya sudah ketemu keluarga kamu. Semua asik,
okey dan terlihat ramah serta menerima. Lalu bagaimana kita
selanjutnya. Jangan jawab kamu mau akhiri semua ini yaaa.”
“Pak Alfi, sekarangkan sudah tahu background keluarga Olivia. Tapi
Olivia gak yakin jika nanti Tante dan Om tahu background Olivia
apakah mereka akan tetap setuju? Maaf pak, bukan maksud apa-apa.
Sometimes Olivia ngerasa gak pantas buat pak Alfi. Pak Alfi sepertinya
bisa dapat yang lebih dari Olivia yang hanya seorang aspri dan
background keluarga bisa saja.”
Alfi menatap Olivia yang tertunduk lesu. Terlihat bahwa dia sedang
menahan banyak luka yang tidak pernah diungkapkannya. Dan
mengingat kembali moment-moment pahit yang pernah dilewatinya.
Alfi mengusap rambut Olivia dengan lembut.
“Liv, tapi saya ingin melanjutkan semua ini. Nanti saya akan bilang ke
ibu dan ayah dan beri pengertian pada mereka. I think everything will
be oke.”
**********
113
Suasana sarapan pagi keluarga Atmajaya berjalan normal seperti biasa.
Alfi yang pagi itu memang satu meja dengan orang tuanya sengaja
untuk membicarakan kelanjutan hubungannya dengan Olivia pada ibu
dan Ayahnya. Semua telah Alfi ceritakan pada orang tuanya tentang
keluarga Olivia dan background masa kecilnya.
“Sejak pertemuan awal dengan Olivia ibu ngerasa cocok saja dengan
gadis itu. Cantik, sopan dan mandiri. Tapi setelah mendengar cerita
mu barusan ibu ragu. Apakah dia sudah selesai dengan luka dimasa
lalunya. Lalu jika nanti setelah menikah dia belum siap punya anak
gimana. Mau berapa lama lagi kita menunggu. Dan usiamu itu udah
waktunya langsung punya anak.?”
Hendra dan Alfi tersenyum mendengar pernyataan Rosa barusan.
Ternyata yang Alfi bayangkan tidak terjadi. Alfi berfikir ibunya ragu
dan akhirnya menyuruh Alfi meninggalkan Olivia. Ternyata tidak. Alfi
tidak menjawab pernyataan ibunya barusan. Tapi Hendra yang
menjawabnya.
“Ibu ini lucu. Sudah jelas Olivia terlihat baik, sopan. Terlihat jika
emosinya sudah stabil. Jika memang dia masih menyimpan luka masa
lalu ya wajar sajakan perpisahan orang tua itu luka yang paling dalam
apa lagi dia perempuan. Dan kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.
Ingat dulu ibu juga masih belum sepenuhnya control emosi ibu. Semua
perlu proses. Untuk masalah punya cucu kita serahkan pada yang
maha kuasa. Dan bagaimana Alfi membujuk dan meluluhkan hati
Olivia.”
Semua tertawa setelah mendengar Hendra bicara. Alfi tidak menjawab
lagi pernyataan orang tuanya. Dia hanya tertawa lalu berdiri menuju
lantai 2 kekamarnya dan bersiap menuju office.
114
IZIN DARI BU ALEENA
“Liv, gimana kabar arsitek itu.?”
Olivia yang tadi sibuk dengan ponselnya. Mengecek chat Alfi yang
sama sekali belum ada sejak pagi.
“Hah ibu nanyain Arsitek yang mana. Semua aman bu gambar-gambar
dari semua arsitek sesuai.” Olivia masih belum sadar jika yang
ditanyakan adalah arsitek yang dia tunggu chatnya.
“Bukan liv, arsitek yang mengembalikan KTP-mu. Apa kabar.
Kemarin kamu ulang tahun ngucapin enggak. Pasti dia tahu tanggal
lahir kamu.”
“Ahh ibu, apaain sii iya dia ngucapin.” Muka Olivia memerah karena
ingat ulang tahun kemarin Alfi bener-benar memberi moment yang
penuh kesan. Hanya saja bu Aleena belum tahu.
“Udah gak papa. Ibu izinin kamu punya pasangan. Tapi ingat ya harus
bisa atur waktu. Jangan sampai pekerjaan kacau.”
115
Olivia tidak menjawab hanya tersenyum. Senyum yang menyimpan
banyak makna. Akhirnya ada izin tanpa harus minta izin bayangan
dipecat pun sepertinya jauh. Tapi belum tahu juga bagaimana
selanjutnya. Olivia masih menunggu kabar dari Alfi. Nyatanya chat
yang ditunggu tak juga datang hingga hari berganti.
Alfi yang sibuk dengan proyek barunya mengharuskan dia pergi keluar
kota untuk beberapa hari didaerah yang sudah signal. Hari ini
jadwalnya kembali pulang ke Jakarta setelah 5 hari berada di
Kalimantan. Alfi pergi dengan asprinya Andra. Saat sudah berada di
Bandara dan daerah yang ada signal segera Alfi cek semua chat yang
masuk tapi tidak ada chat dari orang yang ditunggu.
Koper dan ticket Angga yang handle. Dengan setelah jas rapi, tidak
lupa dengan kaca mata hitam yang sering digunakan. Berjalan
didampingi oleh Andra. Membuat beberapa wanita yang melihatnya
dibandara terpesona. Seolah melihat bintang film yang baru saja selesai
liburan.
Alfi masih sibuk membalas beberapa chat dari rekan kerjanya. Dan
berfokus dengan laptop yang dipegangnya. Karena ini proyek besar dia
tidak mau ada miss yang nantinya merugikan dirinya atau pun pihak
klien.
Liv, ketemu dicaffe biasa ya after office saya tunggu.” SEND
Sesampainya di caffe tidak ada Olivia disana. Ditunggu hingga 30 menit
dan coffe pertama yang dipesan Alfi juga sudah habis tapi tidak ada
respon dari Olivia. Chat juga masih belum dibaca. Karena khawatir
akhirnya Alfi menghubungi Olivia melalui telfon.
Olivia yang baru saja keluar dari kamar kecil. segera meninggalkan
ruang office. menuju tempat parkir mobilnya.Dan mengangkat telfon
dari ponsel yang terus berdering dengan terburu-buru sambil jalan.
“Haloo---”
“Olivvvv, kamu dari mana saja sih. Bikin khawatir dari tadi ditunggu
dicaffe tidak datang. Ditelfon tidak diangkat.”
116
“Hah pak Alfi. Tumben telfon Olivia.” Jawab Olivia santai
“Dimana sekarang saya kesana sekarang kamu di-apartment.”
“Ehhh jangan-jangan mau ngapain. Ini baru mau pulang tadi ada
kerjaan yang harus selesai karena besok ada meeting pagi.”
“Kamu baru mau pulang ini jam berapa? Pulang sama siapa dianter
sopir.?”
Olivia yang sudah sampai parkiran segera masuk dan menyalakan
mesin mobilnya. Merasa ada yang berbeda dari Alfi yang tiba-tiba
datang setelah beberapa hari menghilang dan sekarang terlihat Alfi
begitu khawatir karena Olivia pulang malam.
“Olivia pulang sendiri. Udah dulu ya. Besok lagi ngomel-ngomelnya.
Tumben banget si. Bye”
Olivia menbawa mobil dengan tenaga sisa antara lelah dan ngantuk.
Rasanya ingin sekali segera pulang kerumah, mandi langsung tidur.
Sesampainya di apartment Olivia segera menuju lift dan tidak lagi
menghiraukan kiri kanan. Belum sampai di lift tapi ada suara yang
memanggil namanya hingga dia berhenti melangkah.
“Olivia.”
“Pak Alfi, ngapain disini.?”
“Gak papa mau lihat keadaan kamu saja.”
“Besok aja ya ngobrolnya. Sekarang Oliv cape mau mandi terus tidur.”
“Hmm ok ok, silahkan istirahat nih jangan lupa makan. Pamit ya bye.”
Olivia masih keheranan melihat Alfi. Tapi karena cape focus dia
kembali untuk segera sampai unit apartment-nya. Meletakkan tas
dimeja nakas dan meletakan makanan yang diberikan Alfi diatas meja
makan.
**************
117
Alfi masih terbayang wajah Olivia yang memang terlihat lelah setelah
bekerja seharian. Hingga pulang sendiri sampai larut malam. Teringat
dengan ucapan nenek Widia jika sudah waktunya Olivia ada yang
menjaga. Olivia memang mandiri. Tapi bukan berarti dia tidak butuh
orang lain. Dan mampu melakukan semua hal sendiri.
“Maaf baru respon. Jika memang ada yang penting mungkin besok bisa
ketemu sekitar jam 9 pagi. Olivia besok masuk kerja jam 10 pagi.” Alfi
tersenyum mendapat chat dari Olivia. Tepat diwaktu dia
memikirkannya. “Ok besok jam 9 ketemu di Apartment kamu.”
***********
“Pak Alfi. Sudah menunggu lama?”
“Ya udah hampir satu jam. Kamu belum siap.”
“Hmm baru selesai mandi, kita gak mau kemana-manakan atau mau
ngobrol ke caffe.?”
“Jadi ada apa pak. Ada yang penting.?” Olivia memulai obrolan dengan
tangan yang sibuk menyiapkan minum dan memotong kue bolu untuk
diberikan pada Alfi.
“Hmm gak papa sih. Kerjaan kamu memang lagi sibuk banget yah.?”
“Egak kok. Biasalah karena banyak yang dihandle dan sudah deadline
jadi mau gak mau harus selesai. Agar meeting berjalan lancar dan tidak
kacau. Pak Alfi jam segini kesini office aman.?”
“Aman-aman kan sudah ada Andra yang bantu handle beberapa
pekerjaan saya. Hanya saja kemarin ada hal yang mengharuskan untuk
saya datang kelokasi dan didaerah yang susah signal. Makanya
beberapa hari saya tidak hubungi kamu.”
Olivia mulai faham kenapa beberapa hari Alfi tidak ada kabar. Dan
semua yang dia fikirkan tentang Alfi ternyata salah. Olivia mengusap-
usap keningnya lalu merapikan poninya kebelakang dan melanjutkan
obrolanya.
118
Suasana mulai mencair sepertinya keduanya sudah mulai terbuka dan
rasa canggung itu perlahan berkurang. Terlihat obrolan mereka yang
mulai akrab. Sama-sama saling melepas rasa khawatir. Walau pun tidak
ada yang mengungkapkan.
“O.Iyaa” Alfi dan Olivia mengucap kata yang sama dan berbarengan.
Akhirnya keduanya sama-sama diam canggung. Saling membuang
muka dan merubah posisi duduknya. Alfi yang akhirnya memulai
obrolan kembali.
“Oliv tadi mau ngomong apa duluan aja.”
“Hmm gak papa kok. Pak Alfi duluan saja.”
“No, ladies first”
119
BUKAN SIAPA-SIAPA
Saat Olivia akan menyampaikan apa yang ingin dia bicarakan
tiba-tiba ponsel bordering dan panggilan dari Yumna sekretaris.
“Hallo bu Oliv, maaf bu hari ini ada pertemuan mendadak dengan
vendor dari Goodrich jam 10. Bu Aleena sedang keluar jadi bu Oliv
yang harus mewakili.”
“Owh ok, mungkin akan terlambat beberapa menit. Tolong kamu
handle dulu jika saya belum sampai. Saya segera kesana.”
Akhirnya Oliv dan Alfi sama-sama tidak ada yang menyampaikan apa
yang mereka ingin sampaikan satu sama lain.
“Kenapa harus ke office ya. Biar saya antar.”
“Iya pak, maaf ada pertemuan mendadak. Gak usah pak Oliv bawa
mobil sendiri saja seperti biasa.”
“No, saya yang antar nanti saya yang jemput. Tidak menerima kata tapi
tidak juga menerima penolakan. Udah sama siap-siap.”
Olivia sudah tidak bisa menolak. Fikiranya hanya fokus untuk segera
sampai office. Setelah selesai ganti baju. Segera dia mengambil tas
120
kerjanya dan menemui Alfi yang menunggu diruang tengah. Karena
mereka akan berangkat bareng.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan diantara mereka. Keduanya
sibuk bermonolog dengan diri sendiri. Alfi berfikir apakah nanti
malam adalah waktu yang pas untuk membicarakan semuanya. Atau
harus ditunda lagi hingga waktu yang tepat. Tapi melihat Olivia yang
semakin sibuk. Semakin membuat Alfi tidak tega teringat dengan
cerita nenek Widia tentang Olivia.
Olivia semakin merasa aneh dengan sifat Alfi yang terlihat lebih
menjaga dan perhatian pada dirinya. Apa yang kira-kira akan dikatakan
pak Alfi yah. Atau dia memang setuju akan mengakhiri ini semua. Tapi
karena waktu yang belum tepat untuk bilang ke Olivia makanya dia
sebisa mungkin untuk menemui Olivia dan ngobrol. Kira-kira apa yang
akan pak Alfi katakan ke Olivia tadi.
*******
Olivia sudah santai membaca buku ditemani teh hangat dan suara
musik yang tidak terlalu kencang. Saat konsentrasinya dalam
menyelami lautan kata dari buku yang dipegangnya. Tiba-tiba ingatanya
kembali pada Alfi.
Kenapa harus ada pertemuan jika semua membuat hati tidak karuan.
Kadang mengharapkan tapi keadaan meminta untuk merelakan.
Kembali fokus pada buku tebal dihadapannya. Memahami setiap
susunan kata yang telah tertulis rapi. Ponsel berdering yang membuat
Olivia kembali hialng konsenterasi.
“Haii Catrine.. I miss you and I will tell something with you. Are you
free today.?”
“OMG… Calon pengantin bahagia sekaliiii,, mau cerita apa aku siap
mendengarkan.”
Olivia dan Chatrine asik dalam percakapanya. Menceritakan apa saja
yang mengganggu fikiranya saat ini. Salah satunya tentatng Alfi.
121
“Owh jadi ada yang mulai jatuh cinta nih. Khawatir yaa gak ada kabar
dari arsitek ganteng itu.”
Olivia dibalik sambungan telfon yang sedang meminum minuman
hangatnya hampir saja tersedak mendengar respon dari sahabatnya itu.
“Ya Allah. Chatrine apa siii. Kenapa jadi becanda. Siapa ih yang jatuh
cinta.”
“Oliv, kita kenal sudah lama yaa. Dan aku tahu kamu itu orangnya gak
bisa bohong. Gak perlu kamu akui langsung. Coba fahami dirimu
sendiri dan tanya pada diri kamu sendiri. Sebenarnya apa yang kamu
rasa dan kamu inginkan.”
“Ehh maksud lo apa si Chat?”
*********
Satu bulan berlalu tapi Olivia dan Alfi tidak bertemu dan tidak juga
saling chat. Weekend ini Olivia sibuk dengan persiapan final test untuk
kuliahnya menuju semester akhir. Olivia fokus dengan semua materi
yang sudah dipelajari. Karena ingin segera wisuda S2 disemester depan.
Tidak lagi sibuk menanti chat atau pun penjelasan dari Alfi. Setelah
seharian sibuk dengan final test. Malam harinya Olivia ke caffe sekedar
minum coffe dan sebagai reward pada diri sendiri yang baru saja selesai
dengan satu tugas penting.
“Oliv, are you free now? Ditunggu dicaffe biasa ya.!”
Sejenak terdiam setelah membaca isi chat dan pengirim chat tersebut.
Ingatan kembali pada Alfi. Olivia menggaruk kepala yang tidak gatal.
Berniat untuk menghindar dari Alfi dan beralasan sibuk. Tapi saat dia
balik badan akan kembali ke-parkiran mobil. Alfi berdiri
dibelakangnya dan hampir saja dia tabrak.
“Oliv, kamu disini. Saya baru saja chat kamu. Udah mesen meja.”
Olivia serba salah. Niat mau kabur malah tertangkap basah. Sekarang
sudah tidak ada alasan lagi buat dia menghindar. Dia mencoba tenang
122
walau jantung kembali berdetak lebih kencang. Saat dia alasan mau
pulang tapi tidak ada coffe ditangan. Karena memang baru sampai.
“Oh iya pak baru saja sampai. Pak Alfi disini juga?”
“Iyaa, kan saya sudah kirim chat ke kamu. Ngobrol disana yuk.”
“Enggak deh pak, kapan-kapan aja boleh. Olivia pulang duu----“
Belum selesai Olivia bicara. Tangan Alfi memegang erat tangan Olivia
yang tidak mungkin Olivia bisa menolak. Karena gak enak nanti akan
terkesan sedang berantem oleh pengunjung lain.Akhirnya mereka
duduk dan memulai obrolan dimeja yang sama seperti waktu lalu. Meja
nomor 22.
“Ada yang penting untuk kita obrolin kah pak?”
“Kenapa tanya seperti itu?”
“Ya gak papa, kalo gak ada Oliv, bisa segera pulang yah.”
“Oliv, ini weekend dan besok tanggal merah kamu gak mungkin masuk
kerja. Boleh kita bicara sebentar. Setelah itu terserah kamu mau pulang
atau kemana.”
Keduanya saling bertatapan canggung. Seperti orang asing yang baru
saja bertemu. Alfi membetulkan posisi duduknya. Mencoba memulai
obrolan dengan santai.
“Kenapa akhir-akhir ini kamu terkesan seperti menghindari saya?
Kamu marah, saya ada salah sama kamu.”
“Kok bilang gitu. Olivia akhir-akhir ini memang sedang banyak
pekerjaan dan prepare final test. Jadi udah gak sempet mikirin hal lain.
Lagian pak Alfi bukan siapa-siapa Oliv kan yang harus Oliv kabarin
setiap hari.”
“Bukan siapa-siapa?”
Olivia menatap tajam Alfi begitu pun sebaliknya. Seperti musuh yang
sedang berlawan didalam ring. Tatapan Alfi benar-benar membuat
123
jantung Olivia berdetak tidak normal. Seolah gempa besar yang dia
rasa.
124
MENJAGA
“Bukan siapa-siapa! setelah kita sama-sama kenal dengan keluarga
masing-masing? Kenapa kamu seolah membuat kita seperti orang asing
yang tidak pernah kenal. Lalu bagaimana dengan rencana yang pernah
kita buat.”
“Semua jawaban ada dipak Alfi sendiri. Udah Oliv mau pulang.”
Olivia berdiri meninggalkan caffe. Alfi yang kaget melihat Olivia pergi
segera menyusulnya dari belakan. Terburu-buru meletakan uang untuk
bayar minuman yang sudah di pesan. Dan mengejar Olivia hingga
sampai parkiran.
“Oliv, jangan pergi dulu kita perlu bicara.”
Tangan Alfi yang kembali memegang tangan Olivia dengan erat dan
nada suara Alfi yang datar dan penuh penekanan membuat Olivia tidak
berani berkutik. Alfi meminta Olivia naik kedalam mobilnya
sementara mobil Olivia nanti supir Alfi yang urus.
125
Sekitar 10 menit perjalanan keluar dari caffe. Alfi menepikan mobilnya
dan kembali mengajak Olivia bicara dibawah cahaya bulan dan bintang
yang terang.
“Kamu kenapa si liv, kalo ada masalah bilang jangan kayak gini.”
Olivia masih dengan muka datarnya. Sebenarnya dalam hati Olivia
senang bisa bertemu Alfi lagi. Tapi juga kesal karena Alfi yang kembali
menghilang tanpa penjelasan akhir-akhir ini.
“Semua berawal dari pak Alfi kan. Pak Alfi yang meminta Olivia
datang sebagai calon isteri dihadapan keluarga pak Alfi. Lalu mengaku
sebagai calon suami dihadapan keluarga Olivia. Dan setelah semua
berjalan mulus sesuai rencana. Tapi apa! Tiba-tiba pak Alfi menghilang
dan sekarang masih tanya Olivia kenapa? Jahat banget si. Emang Olivia
boneka ya. Karena Olivia polos jadi bisa se-enaknya gini. Olivia baik-
baik saja kok. Masih normal seperti biasa.”
Alfi mendekati Olivia yang menangis. Memberikan tisu untuk
mengelap wajahnya dan pundak untuk Olivia bersandar hingga hati
terasa lebih tenang. “Maaf yaa, jika saya lagi-lagi membuat kamu
menangis. Maaf yaa jika saya tanpa sadar sudah melukai hati kamu.
Setelah beberapa kali kamu terkesan menghindar untuk ditemui untuk
dijemput pulang kerja. Saya fikir kamu tidak nyaman berada disamping
saya. Dari situ saya mencoba damai dengan keadaan coba untuk
melepaskan kamu. Tapi ternyata saya tidak bisa. Saya perlu kamu dan
saya harus menjaga kamu.”
Air mata Olivia mulai reda, memperbaiki posisi duduknya dan
mengelap wajahnya dengan tisu. “Maksud pak Alfi menjaga Olivia
untuk apa?”
Alfi menatap dalam Olivia dan tersenyum dengan pertanyaannya.Tapi
tidak langsung memberi jawaban atas pertanyaan Olivia. Jari
telunjuknya menunjuk bagian atas kearah bulan dan bintang. Olivia
mengikutinya. Melihat keatas dan tersenyum melihat bulan.
“Liv, janji yaa jangan nangis lagi. Kan malu dilihatin bulan sama
bintang. Tisu saya juga abis liv gak ada lagi. Besok beli tisu dulu yaa.”
126
“Ya udah besok tisunya Olivia ganti dengan yang baru.”
Keduanya tertawa dan saling tatap. Alfi melirik pada jam yang ada
dilengan tanganya. Waktu telah menunjukan jam 10 malam dan
mengajak Olivia untuk diantar pulang. Olivia sepakat untuk segera
pulang dan masuk kemobil kembali. Didalam mobil Olivia kembali
teringat dengan ucapan Alfi yang bilang wajib menjaga Olivia.
“Pak Alfi, boleh tanya?”
“Yaa.. Kenapa liv?”
“Tadi pak Alfi bilang wajib menjaga Olivia maksudnya apa yah.?”
Alfi menjawabnya dengan kalimat bercanda karena menurutnya ini
bukan moment yang tepat.
“Menjaga kamu biar gak cengeng dan ngambek lagi. Liv, besok free
kan. Olahraga bareng yuk.”
Olivia menatap Alfi “Olahraga gak usah modus.”
“Modus? Modus apa?”
Olivia tertawa tipis mendengar pertanyaan Alfi. Dalam hati Olivia itu
laki-laki disebelahnya pura-pura atau memang benar memang tidak
tahu.
“Makanya jangan terlalu serius kerja pak.”
Mobil yang dikendarai Alfi sudah sampai tujuan. Yang artinya obrolan
mereka pun berakhir. Olivia segera turun dan menuju unit apartment-
nya dan Alfi pulang keapartment pribadinya.
Dalam perjalanan pulang Alfi penasaran dengan kata “modus” yang
diucapkan Olivia tadi. Lalu dia buka ponsel pribadinya dan buka
aplikasi google untuk cari tahu arti kara modus. Setelah dia baca dan
mengetahui artinya. Alfi tertawa sendiri. Bisa-bisanya dia mikir saya
modus. Orang laki-laki baik gini kok gak dipercaya.
127
Dibalik sifatnya yang kaku dan serius Alfi memang salah satu laki-laki
yang hobi dengan olahraga lari. Setiap weekend pagi selalu meluangkan
waktunya untuk pergi ketaman dan melakukan lari beberapa kilo
meter.
Weekend ini seperti biasa Alfi lari ketaman dekat apartment-nya. Yang
beda adalah dia mengajak Olivia hanya saja Olivia tidak meresponnya.
Berbeda dengan Alfi, Olivia memang salah satu orang yang paling tidak
suka olahraga. Untuknya dari pada lari-lari cape mending waktunya
dipakai untuk tidur dan bangun siang. Setelah malamnya begadang
dengan kegiatan atau pun sekedar melampiaskan hobinya membaca
dan menonton film korea.
“Liv, siang nanti saya main yah ke-apartment kamu. Kamu jangan
makan dulu ntar saya bawa makanan dan kita makan bareng lagi
seperti biasa.”
Olivia segera bangun dari sofa menuju kamar mandi. Menyiapkan air
hangat di bath up menyiapkan handuk tidak lupa baju ganti yang akan
dia gunakan saat menemui Alfi nanti. Tidak seperti biasanya Olivia
terlihat bahagia mendengar Alfi akan datang. Dia tersenyum melihat
dirinya didepan cermin. Mengeringkan rambutnya menggunakan hair
dryer. Sesekali mengecek ponsel yang tidak jauh darinya menunggu
chat dari Alfi.
Tidak jauh beda dengan Olivia yang terlihat bahagia. Alfi juga
menggunakan kaos polo warna abu-abu dan celana jeans warna hitam.
Rambut yang dibiarkan sedikit berantakan. Dan kacamata hitam yang
tidak ketinggalan. Again Alfi terlihat beda dari biasanya. Tingkat
ketampannanya kembali naik 80 derajat. Olivia sudah melihat Alfi dari
jarak beberapa meter. Sejenak keduanya saling tatap. Terpesona
dengan penampilan yang santai dan terkesan berbeda dari biasanya
yang formal. Tapi tak ada yang berani mengucapkan kata pujian.
Keduanya hanya sama-sama bermonolog dan sibuk menyusun
kosakata pujian yang tidak diucapkan.
Dalam hati Olivia calon suami idaman Handsome maksimal. Dengan
sedikit mengigit bibir bawah menghilangkan rasa gugupnya.
128
Dalam hati Alfi cantik banget Olivia dengan make up natural gini. Gak
salah nenek Widia begitu khawatir dengan cucu-nya ini. Hari ini harus
berani mengungkapkan dan segera mengambil keputusan. Ayo Alfi
rileks jangan sampai kamu terlihat gugup atau Olivia akan tertawa geli.
Setelah saling lempar senyum dan menghilangkan rasa gugup dari
masing-masing. Mereka jalan beriringan dan ngobrol-ngobrol ringan
hingga sampai depan pintu unit apartment-nya Olivia.
“Liv, kalo hari minggu biasanya kemana. Suka olahraga tidak.?”
“Gak kemana-mana dan gak suka olahraga. Kenapa?”
“Gak papa. Menurut Olivia dari pada waktunya dipake olahraga lari-
lari cape, mending buat tidur bangun-bangun nanti udah gak ngantuk.
Fresh.”
Alfi tersenyum tidak sebelum menanggapi Olivia. Khawatir jika akan
beda pendapat. Dan mood Olivia akan hancur sebelum Alfi
ungkapkan niat sebenarnya menemui Olivia dengan maksud tertentu.
129
KAMU HEBAT
“Coba aja dulu lari ditempat yang terbuka. Dialam bebas.
Nanti kamu akan merasakan hal yang berbeda saat angin segar
berhembus dna saat kamu lelah berhenti sejenak dan menatap langit
dnegan warna biru yang cerah dan awan yang bergerak dengan bentuk
abstrak.”
Olivia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Alfi karena dia belum
pernah merasakanya jadi belum sepenuhnya percaya. “Emang iya.
emang ada awan berjalan”
Alfi memandang serius wajah Olivia. Menggenggam tangan Olivia.
Mencoba menyakinkan dan berharap respon baik dari Olivia.
“Jadi saya sudah ceritakan ke orang tua saya tentang keraguan kamu.
Saya sudah jujur setelah kemarin kerumah nenek Widia dan sedikit
banyak tahu tetang background keluarga kamu. Ayah dan ibu setuju
mereka tidak masalah. Bahkan kamu hebat bisa melewati semuanya
dan tumbuh menjadi gadis baik hingga saat ini.”
130
Olivia melepas genggaman tangannya dari Alfi berusaha menahan air
matanya yang sudah berkaca-kaca agar tidak membasahi pipinya.
Setelah mendengar apa yang Alfi sampaikan. Menarik nafas dan
mengambil tisu.
“Liv, are you ok.?”
Alfi khawatir jika ada kosakata yang kurang tepat tadi. Dan melukai
hati Olivia hingga berkaca-kaca seperti yang terlihat dihadapanya.
“Liv, maaf ya jika ada kosakata yang kurang tepat dan menyakiti hati
kamu. Kamu baik-baik saja.”
Olivia tersenyum menatap Alfi. “Yes, I’m oke. Jadi bapak sudah bicara
dengan om dan tante. Dan mereka tetap setuju dengan background
keluarga Olivia. Mengapa mereka menyambut Olivia dengan baik dan
sekarang menerima Olivia dengan sangat baik juga.?”
Olivia tidak lagi bisa menahan air mata harunya dan kembali terjatuh
dihadapan Alfi. Segera Alfi berikan tisu pada Olivia dan memeluknya
untuk menenangkan Olivia yang mungkin kembali teringat dengan
lukanya dimasa lalu.
“Liv, kamu itu gadis baik. Terlepas dari masa lalu keluargamu yang
harus berpisah itu semua bukan salah kamu. Untuk saat ini memang
kamu pantas menerima banyak kebaikan karena kamu gadis yang
hebat. Mampu melewati banyak luka yang berat dan tumbuh menjadi
gadis yang bermartabat. Udah ya gak boleh nangis lagi.”
Setelah merasa lega dalam pelukan Alfi dengan kata-kata Alfi yang juga
menenagkan Olivia masih sibuk dengan tisu ditanganya. Dan mengelap
airmatanya.
“Maaf ya Olivia tidak tegar seperti yang terlihat. Lagi-lagi pak Alfi
berhasil membuat Olivia malu dan terlihat cengeng seperti anak anak
kecil.”
Keduanya saling melempar senyum dan akhirnya tertawa kecil.
“Iya.. O.iya boleh tanya sesuatu.?”
131
Olivia menatap serius laki-laki dihadapanya. Terlihat seperti ada
harapan dimasa depan akan laki-laki yang belum lama dia kenal ini.
Tapi berkali-kali mampu menenangkan Olivia saat menangis.
“Kenapa harus izin. Emang mau tanya apa.?”
“Tentang bu Aleena. Apakah sebelum kamu kerja dengan bu Aleena
ada perjanjian untuk tidak boleh menikah. Atau bahakn tidak boleh
ada hubungan dekat dengan rekan kerja.”
Olivia tersenyum mendengar pertanyaan Alfi tapi tidak langsung
meresponnya. Tubuhnya dia sandarkan pada sofa tangannya sibuk
merapikan rambut yang terurai. Air matanya kini tidak lagi membasahi
pipi. Alfi yang melihat sikap santai Olivia semakin overthingking. Alfi
takut jika apa yang selama ini dia fikirkan adalah benar. Jika perjanjian
untuk tidak boleh menikah itu ada. Atau dilarang menikah dengan
rekan kerja.
“Liv, kok santai banget. Kamu belum jawab pertanyaan saya.”
“Mau dijawab apa? Jujur egak nih.”
“Ada niat mau berbohong? Ada ya perjanjian dilarang menikah.”
Alfi terlihat seperti kecewa mendengar jawaban Olivia barusan.
Padahal Olivia belum melanjutkan jawabanya tersebut.
“Iya, Olivia memang dilarang memiliki hubungan dekat dengan rekan
kerja yang diproyek karena semua statusnya adalah pria beristri. Untuk
perjajanjian dilarang menikah. Jika perjanjian tertulis diatas kertasnya
tidak ada. Mungkin saat itu karena usia Olivia yang masih sangat belia
makanya bu Olivia selalu bilang. Olivia jangan sembarangan
memutuskan untuk menikah. Fikir-fikir dulu. Tapi…”
“Tapi apa?”
Alfi penasaran dengan kelanjutan apa yang akan Olivia sampaikan.
Olivia sengaja membuat Alfi penasaran dengan jalan kebelakang
mengambil minuman dingin yang ada dalam lemari es dan cemilan
untuk dibawa keruang tengah.
132
“Haus pak, minum dulu nih. Tapi kemarin bu Aleena sempat
menanyakan pak Alfi ke Oliv.”
“Menanyakan tentang?”
“Tentang pak Alfi yang menemukan KTP Oliv, waktu birthday apakah
ngucapin ke Oliv.”
“Lalu kamu jawab apa?”
“Jadi kemarin Oliv jawab iya ngucapin. Gitu aja udah karena gak
mungkin jika Olivia akan jawab jujur. Lalu tahu egak apa yang
diucapkan bu Aleena tentang pak Alfi.”
“Bu Aleena untuk pertama kali memberi izin ke Olivia jika memiliki
hubungan dekat dengan laki-laki. Malah bu Aleena bilang jika pak Alfi
masih single dan baik. Gak tahu dari mana si, tapi kemugkinan saat bu
Aleena tahu KTP Oliv jatuh dimobil pak Alfi malam itu. Setelah itu Bu
Aleena mencari tahu semua data tentang pak Alfi. Sebelum memberi
izin ke Oliv.”
Alfi menarik nafas lega setelah mendengar penjelasan Olivia. Dia
menyandarkan tubuhnya disofa dan melempar senyum pada Olivia.
“Kenapa senyum-senyum gitu.”
“Gak papa berarti memang saya terbukti laki-laki baikkan. Bu Aleena
saja bilang gitu.” Dengan ekspresi wajah yang meledek ke Olivia.
Olivia menggelengkan kepala. “Nyesel saya cerita jujur.”
133
TEMAN LAMA
“Yahh emang kamu orangnya gak bisa bohong geh. Liv, walau
semua berawal dari kesalah-pahaman ibuku. Tapi setelah kita saling
mengenal keluarga masing-masing. Tidak ada alasan lagi untuk tidak
melanjutkan kesepakatan kita diawal yaitu MENIKAH. Kemarin kamu
worry jika orang tua saya tidak setuju tapi kenyataannya mereka tetap
setuju. Lalu saya worry jika kamu ada perjanjian kerja dengan bu
Aleena dengan resiko harus risign atau tunggu tender kita selesai untuk
bisa menikah. Pada kenyataannya semua yang kita takutkan tidak
terjadi. Seolah semesta mendukung untuk kita segera menikah. Aku
harap kamu fikirkan baik-baik dan tidak lagi beralasan untuk
menolak.”
Keduanya dalam tatapan serius tanpa kata. Hati Olivia benar-benar
dibuat luluh oleh Alfi dengan kata-katanya yang disampaikan dengan
lembut dan penuh makna. Dalam hati Olivia merasa Alfi dan
keluarganya begitu baik. Tidak seharusnya menolak laki-laki sebaik
Alfi walau perkenalan mereka terhitung singkat. Disisi lain Olivia
merasa belum siap karena takut akan mengecewakan Alfi dan
keluarganya.
134
“Tapi pak, Olivia belum siap!”
“Belum siap kenapa Liv, kamu sudah cukup dewasa dalam hal ini.
Bukan hanya usiamu juga pemikiranmu.”
“Jika nanti setelah nikah Olivia ngecewain pak Alfi dan keluarga
gimana? Dengan sifat dan sikap Olivia yang mungkin bapak belum
tahu. Dengan tugas-tugas rumah tangga yang Olivia belum faham.”
Alfi tersenyum mendengar pernyataan Olivia. Terlihat bahwa Olivia
memang benar-benar gadis dewasa yang bukan hanya memikirkan hal
sesaat tapi bagaimana tanggung jawab selanjutnya setelah keputusan
diambil. Alfi membelai rambut Olivia. Lalu memegang kedua
pundaknya.
“Seperti yang pernah saya katakan. Saya tidak akan menuntut banyak
hal pada kamu. Silahkan kamu dengan duniamu dan saya tetap dengan
dunia saya. Hanya saja nanti kita tinggal satu atap. Kita tinggal di
Apartment saya yah.”
Olivia menatap Alfi dengan serius, menggengggam tangan Alfi lallu
menunduk. “Udah gak ada alasan lagi untuk Olivia menolak pak Alfi.”
**********
Olivia baru saja selesai bercerita melalui sambungan telfon besama
Chatrine sahabatnya. Dan menceritakan semua yang Olivia rasakan
salah satunya hari pernikahan yang semakin dekat. Acara dilakukan
dikediaman nenek Olivia di Bogor dan tidak diada resepsi kedua di
kediaman Alfi. Pernikahan ini sementara dirahasiakan dari teman-
teman office Alfi maupun Olivia karena kerja sama mereka yang masih
berjalan. Takut memberi kesan kurang baik dimata klien dan teman
kerja yang lain. Hingga nanti waktu yang tepat baik Alfi atau pun Olivia
akan mengumumkan pernikahan mereka.
Ponsel berbunyi tanda ada chat masuk dan benar ada beberapa chat
yang sudah masuk tidak lupa nama Alfi yang terlihat langsung saja
Olivia buka dan baca. “Liv, semua persiapan sudah ada yang urus.
135
Tapi kita perlu bertemu untuk menetukan warna undangan dan warna
gaun resepsi.”
Dalam hati Olivia kembali sibuk bermonolog sendiri. Karena beberapa
hari lalu memang sudah dibahas jika tidak mengundang banyak orang
sekaligus tidak ada resepsi dikediaman Alfi. Tapi kenapa Alfi meminta
untuk menentukan warna undangan dan warna gaun resepsi?
“For What?”
***********
Setelah sampai di caffe tempat mereka janjian untuk bertemu. Olivia
belum terlihat sampai disana. Alfi segera memesan meja dan duduk
disalah satu menja kosong yang ada disana. Alfi sibuk dengan ponsel
ditangannya. Berniat akan menghubungi Olivia yang belum datang.
Ada seorang wanita yang baru saja sampai kaffe tersebut dan
memandangi Alfi dengan intens. Lalu perlahan wanita itu mendekati
Alfi dan menyapanya.
“Alfi…. You here?”
“Di..dian, owh hai. Gak nyangka yah akan ketemu disini?”
Jantung Alfi mulai berdetak tak beraturan. Selain terkejut dengan Dian
yang tiba-tiba ada dihadapannya juga khawatir jika nanti Olivia akan
salah faham. Tetap berusaha tenang dan tersenyum serta bola matanya
yang melihat sekeliling kaffe memastikan Olivia belum sampai kaffe
dan berusaha segera mengusir Dian dari kaffe.
Tidak lama Olivia datang melihat Alfi dan Dian sedang ngobrol
bareng. Olivia sejenak diam dan mengamati wanita yang sedang
bersama Alfi namun tetap Olivia tidak mengenal wanita tersebut. Lalu
memutuskan pergi meninggalkan kaffe.
Alfi yang sekilas tahu kedatangan Olivia langsung berlari menuju arah
Olivia pergi. Beberapa kali memanggil nama Olivia tapi tidak
dihiraukan oleh Olivia dan ditinggal pergi dengan kecepatan mobil
yang lebih kencang dari biasanya.
136
Fikiran Olivia tidak karuan. Meski Alfi belum pernah mengatakan
cinta padanya hanya saja. Melihat Alfi akrab dengan wanita lain
membuat hati Olivia kecewa. Terlebih hari H pernikahan mereka
tinggal hitungan jari.
Olivia yang menangis didalam mobil, dan Alfi yang berusaha mengikuti
Olivia dari belakang dengan perasaan khawatir. Merasa bersalah, kesal
tapi tidak bisa menjelaskan. Karena ini semua diluar rencananya. Dian
yang tiba-tiba kembali muncul dalam kehidupan Alfi bahkan baru saja
mereka bertemu. Semua terjadi diluar dugaan.
“Liv, tolong keluar dulu. Jangan marah dan emosi seperti saat ini. Saya
jelasin semuanya.”
Keadaan tidak bisa mmebuat Olivia menghindari Alfi lagi. Dengan
wajah yang memerah dan mata berkaca-kaca Olivia membuka pintu
mobilnya dan mendengarkan Alfi menjelaskan.
“Langsung aja, Olivia kasih waktu 5 menit.”
Alfi terdiam, memandangi wanita dihadapannya yang sebentar lagi
menjadi istrinya itu dengan wajah sedih karena melihatnya dengan
teman lamanya Dian.
“Kamu nagis? Kamu cemburu?”
“Enak aja siapa yang cemburu? Kalo Cuma mau ngajak debat besok
aja, Olivia hari ini gak ada tenaga. Pinggirin mobilnya. Olivia mau
pulang cape.”
Olivia membuka pintu mobilnya dan masuk. Alfi masih berdiri tidak
jauh dari Olivia. Langsung menahan pintu mobil Olivia sehingga Olivia
tidak bisa menjalankan kembali mobilnya.
“Maunya apa sih. Olivia mau pulang. Lepasin”
“Wait. Dengerin dulu. Wanita yang kamu lihat dikaffe tadi namanya
Dian temen lama aku dulu waktu kuliah di Singapure tapi kita udah
lama lost contak dna tadi beneran pertemuan yang tidak disengaja atau
pun direncana. Tolong kamu percaya dan jangan marah lagi.”
137
Setelah Alfi selesai menjelaskan Olivia langsung menutup pintu
mobilnya dan memutar balik kearah belakang meninggalkan Alfi yang
masih berdiri disana.
*********
138
PANGGILAN BARU
Hari pernikahan semakin dekat pertemuan mereka semakin
sering. Dalam salah satu pertemuan sebelum akad nikah terucap. Alfi
memandang serius Olivia. “Liv, saya ini siapa kamu? Kita memang
kenal belum lama, tapi keluarga kita sudah saling kenal dan beberapa
hari kedepan kita akan segera menikah. Yang artinya saya ini calon
suami kamu.”
Lalu?
“Lalu mau sampai kapan kamu panggil saya dengan sebutan pak Alfi.
I’m not your father but I’m to be your husband?”
Olivia tertawa puas hingga bebebrapa pengunjung kaffe melirik
kearahnya. “Lucu. Emang mau dipanggil apa pak Alfi Abimanyu
Atmajaya? Kan dari awal kita bertemu saya udah panggil pak Alfi
bapak. Nanti gak sopan kesannya jika saya hanya panggil nama dan
temen-temen yang lain juga akan curiga.”
“Ya cari panggilan yang lain lah, yang enak didengar dan tepat.”
139
“Terus Oliv harus panggil pak Alfi apa? Hmm bentar-bentar Oliv
mikir dulu Kak Alfi, Mas Alfi atauuu…”
“Yes, setuju pilihan kedua mas Alfi. Oke sekarang panggilnya jangan
pak lagi.”
“Baik pak, ehh maaf mas maksudnya.”
Setelah selesai berdiskusi panggilan yang tepat untuk Alfi. Makan juga
sudah selesai. Mereka memutuskan untuk segera pulang. Keduanya
jalan beriringan menuju parkiran. Untuk pertama kalinya Alfi
membukakan pintu mobil untuk Olivia.
“Makasih pak, tumben loh ini.”
“Pak lagi.”
“Ehh iya maaf, makasih mas sering-sering loh.”
**************
Akad nikah berjalan lancar dan haru. Dennis sebagai wali untuk
kakaknya Olivia tidak sanggup menahan haru setelah tangannya dijabat
oleh Alfi yang kini sudah resmi jadi kakak iparnya dan lafat akad
berjalan sesuai yang diharapkan satu kali ucap dalam satu nafas.
Semua yang hadir adalah pihak keluarga baik dari pihak Olivia mau
pun Alfi. Walau acara digelar secara sederhana tapi tidak mengurangi
khidmat dari acara tersebut. Semua terlihat ikut bahagia atas
terselenggaranya pernikahan ini. Terkhusus nenek Widia, apa yang
telah lama diharapkan hari ini terwujud melihat cucu kesayangannya
menikah dengan laki-laki baik, sopan dan nenek percaya Olivia akan
bahagia bersamanya dalam penjagaannya.
Setelah acara akad nikah dan foto bareng keluarga selesai. Olivia
berganti pakaian untuk acara resepsi yang akan dilaksanakan beberapa
jam kedepan. Menggunakan prosesi ada jawa dimana ada acara temu
manten dan sungkeman kepada orang tua dari kedua pengantin.
140
Disitu tangis Olivia pecah dimana ingat akan banyak hal yang telah
dilalui. Juga sang ayah yang tidak ada dihari pernikahan Olivia dengan
alasan yang tidak bisa dijelaskan. Beberapa anggota keluarga yang lain
pun terbawa suasana dan ikut sedih melihat Olivia tapi bahagia karena
mulai hari ini akan ada satu laki-laki yang akan menjaga Olivia dan
menemani Olivia dimana pun berada.
“Bahagia selalu ya kak.” Ucapnya dengan lembut sembari mencium
tangan kakaknya lalu memeluknya
Olivia tidak menjawab hanya tersenyum dan meneteskan air mata
melihat adiknya. Adik yang tidak pernah dia temani dalam masa
pertumbuhanya hanya mampu Olivia lihat beberapa kali saja setiap
tahunnya.
Denis juga menyalami Alfi kakak iparnya. “Titip kak Oliv ya ka Alfi,
jangan bikin kak Oliv nangis. Cukup Ayah saja laki-laki yang buat kak
Oliv nangis kak Alfi jangan. Jaga kakakku yaa. Dia baik dia penyayang
dia malaikat untuk keluarga kami.”
Alfi memeluk Denis dengan erat. Merasakan betul bahwa laki-laki
muda itu benar-benar menyayangi kakak perempuannya. “Iyaa.. pasti
kakak jaga. Kamu baik-baik ya disini. Jika ada perlu apa-apa jangan
sungkan hubungi kak Alfi.”
Sesampainya diapartment Olivia, Alfi segera membersihkan diri dan
tidur dikamar Olivia istri sahnya. Berbeda dengan Olivia yang masih
sibuk menata baju-bajunya kedalam koper untuk besok dibawa
keapartment Alfi.
Tidur diranjang berarti tidur disamping Alfi atau tidur disofa depan
tapi pasti besok bangun tidur badan akan terasa pegal-pegal. Setelah
berfikir beberapa menit akhirnya Olivia punya ide untuk memberi
pembatas diantara mereka yaitu bantal guling. Berharap esok saat
bangun pagi bantal guling tidak pindah tempat.
Keesokan harinya Alfi yang bangun lebih awal daripada Olivia. Dia
sadar jika tidur di-apartment Olivia jadi wajar saja jika disampingnya
ada Olivia yang masih tertidur. Untuk pertama kalinya Alfi bisa
141
memandang wanita yang kini resmi jadi istrinya dari dekat. Tersenyum
tipis saat melihat istrinya tanpa make up dihadapannya. Tidak lupa
morning kiss mendarat dengan tepat dipipi merah Olivia.
Terlihat tanda-tanda Olivia akan terbangun. Alfi pura-pura tidur lagi.
Olivia bangun tapi matanya belum menyadari bahwa guling
disampingnya telah berpindah posisi dan saat ini tidak ada jarak antara
tubuh Olivia dan suaminya.
Olivia berteriak. Tapi kemudian sadar jika Alfi yang kini disampingnya
memang sudah sah menjadi suaminya jadi wajar saja jika mereka tidur
dalam ruang yang sama.
“Kenapa sih Liv, masih pagi udah teriak-teriak?”
“Hmmm gak papa maaf. Pak Alfi kenapa tidurnya deket-deket Olivia.
Gulingnya mana?”
“Ya mana saya tahu, orang tidurkan merem gak sadar apa-apa?”
Olivia turun dari ranjang menuju kamar kecil cuci muka dan wudhu
untuk menunaikan kewajibanya. Alfi masih diam memperhatikan
istrinya dari atas ranjang. Saat melihat istrinya sudah siap dan
mengambil mukena Alfi segera menuju kamar mandi wudhu dan siap
menjadi imam sholat untuk Olivia.
“Liv, bentar tunggu. Kita sholat bareng.”
Untuk pertama kalinya Olivia sholat di imami oleh suaminya Alfi.
Selesai sholat Olivia mencium punggung tangan Alfi terasa begitu
nyaman dengan yang baru saja dia rasakan. Hal yang belum pernah
dia rasakan sebelumnya.
Selesai sholat Alfi dan Olivia sama-sama diam canggung apa yang akan
dikatakan dan apa yang akan dilakukan. Mereka berdua kembali
merasa asing seperti baru kenal dan terjebak dalam ruang yang kosong
dan tidak bisa keluar. Tidak lama semuanya segera berkemas untuk
meninggalkan apartment Olivia karena sesuai persetujuan awal bahwa
mereka akan tinggal bersama di apartment Alfi.
142