APARTMENT ALFI
“Hmm ini apartment kamu mas? Bersih, rapi, mewah. Siapa yang
bersihin?”
“Ada bi parti yang biasa kesini untuk beres-beres setiap pagi datang dan
sore pulang.”
“Hmm gitu. Trus kamar aku yang mana?”
“Iya, disini ada dua kamar. Yang kanan itu kamar aku lalu kamu pakai
kamar yang sebelah kiri. Kuncinya ada dibalik pintu. Kamu disini
bebas aja, seperti apa yang kamu lakukan biasanya diapartment kamu.
Saya juga gak nuntut kamu untuk menjadi istri seperti umumnya.
Kamu gak wajib siapin sarapan atau pun makan malam. Kalo mau
makan atau apa pun dapurnya disana. Jika makanan habis ntar bilang
aja kita belanja bareng. Hmm ini card akses masuk apartment ini dan
ini credit card untuk biaya bulanan kamu.”
“Hah” Olivia bingung dengan penjelasan Alfi barusan.
“Jika butuh apa-apa ketuk aja pintunya ya. Sana istirahat.”
143
Olivia jalan menuju kamarnya dengan wajah yang masih bingung dan 2
card yang ada ditangannya. Dalam hati Olivia bahagia karena dengan
tidur yang berbeda kamar berarti dia tidak akan diminta untuk
melakukan kewajibanya sebagai seorang istri. Tapi merasa bersalah dan
berdosa juga jika hal ini berjalan lama. Akan menjadi seperti apa masa
depan pernikahan mereka. Bagaiman menjalani hari-hari kedepan
dengan Alfi. Apakah akan canggung terus atau akan menjadi seperti
musuh atau…..
Olivia menjadi overthingking dengan keadaan saat ini. Tapi untuk hal
ini dia tidak bisa lagi bercerita pada sahabatnya. Karena jika sudah
berumah tangga. Masalah appaun yang ada tidak boleh ada orang yang
tahu dan sebaiknya harus diselesaikan berdua sebelum mencari solusi
pada orang ketiga.
Olivia kembali melihat dua kartu yang barusan Alfi berikan pada
dirinya. Jika ini memang aku perlu untuk akses keluar masuk
apartment ini. Tapi jika credit card aku juga kan punya. Lagian pak Alfi
kenapa baik banget. Dia gak nuntut apapun dari aku. Tapi tetap
memberi credit card.
Malam harinya Olivia berniat keluar kamar untuk pesan makanan dan
mengajak Alfi makan. Tapi ternyata Alfi sudah duduk di ruang tengah
dengan segelas coffe hangat dihadapannya.
“Hai liv, mau coffe?”
Olivia kembali serba salah melihat sikap Alfi dengan muka datar tapi
pehatian.
“Mas udah makan? Mau masak aja atau order?”
“Belum. Hmm kamu order aja nanti kita makan bareng.”
Kado dari bu Aleena adalah paket honeymoon ke China tepat hari
valentine 3 bulan yang akan datang tepat setelah frasa satu selesai.
Mungkin nanti proyek akan diberikan pada staff yang lain untuk
handle dan Olivia coba fokus dengan pekerjaan yang lain. Yang tidak
berhubungan dengan Alfi agar tetap terlihat professional.
144
Olivia tersenyum melihat kado dari bu Aleena. Bagaimana kita bisa
honeymoon hingga saat ini saja kami tidur dikamar terpisah. Kata cinta
diantara kita belum pernah terucap. Pernikahan macam apa ini aku
pun binggung apa jadinya pernikahan ini dimasa depan.
Olivia memandangi Alfi yang duduk didepan meja makan dengan
makanan yang sudah siap dimeja.
“Banyak banget makanannya. Ini mas Alfi semua yang masak?” Tanya
Olivia heran
“Bukan, ini bi Parti yang masak. Tapi dia sudah pulang. Yuk makan
dulu pasti laper.?”
“Bi Parti hari ini datang? Lalu dia tanya-tanya egak barang-barang yang
dikamar Oliv?”
“Tenang semuanya aman. Kamar kamu sudah saya kunci sebelum bi
Parti datang. Next kalo berangkat kerja kunci aja kamarnya.”
“Owh. Tapi lama kelamaan bi Parti pasti akan curiga. Gimana jika bi
Parti bulan ini kita off saja mas.”
“Lalu jika bi Parti bulan ini off selanjutnya yang akan beres-beres siapa?
Kamukan udah cape kerja, saya juga gak terlalu faham bersih-bersih.”
Obrolan berakhir. Setelah makan malam bersama Alfi dan Olivia
kembali pada kamarnya masing-masing. Pasangan yang unik. Dengan
hubungan yang tetap baik tapi tidur dengan kamar yang terpisah.
Tanpa alasan yang jelas dan sama-sama memendam rasa yang mulai
tumbuh tanpa mereka sadari.
*******
Sudah hampir 3 bulam mereka lalui rutinitas yang sama. Tinggal satu
atap dengan kamar yang terpisah dan disibukan dengan kerjaan
masing-masing. Kerjasama dalam satu proyek antara Alfi dan Olivia
sudah berakhir. Tapi kerja sama Alfi dengan bu Aleena belum
berakhir. Bu Aleena sengaja menggantikan Olivia dengan staff yang lain
agar pernikahan Alfi dan Olivia tak lagi perlu disembunyikan dari klien
145
atau pun rekan kerja. Tapi Alfi dan Olivia sudah terlanjur nyaman
dengan keadaan.
Malam semakin larut Alfi terbangun dari tidurnya mendengar suara
Olivia yang sepertinya mengigil. Alfi menuju kamar Olivia dan melihat
keadaan Olivia berada dibalik selimut badanya panas tinggi dan
menggigil kedinginan.
“Liv, kamu sakit? Pasti karena barusan kehujanan.”
“Dingin.”
Alfi segera mencari kotak obat miliknya dan memberikan paracetamol
pada Olivia agar panas tingginya turun. Karena jika mau memanggil
dokter ini sudah terlalu malam. Jika kerumah sakit juga penanganan
pasti menunggu besok pagi.
Dipandanginya wajah sang istri yang sedang sakit dengan rasa khawatir
dan penuh perhatian. Sebisa mungkin dia tenangkan Olivia,
mengkompresnya dengan air hangat hingga Olivia tertidur lebih
nyenyak.
[Kenapa bisa kehujanan dan sampai rumah telat. Kenapa kamu tidak
minta jemput aku suami mu. Masih sangat sulit kah kamu tumbuhkan
rasa cinta untukku. Entah berapa lama lagi aku harus menunggu kamu
mengatakan cinta untukku. Tapi aku akan berusaha dengan caraku dan
aku percaya tidak lama lagi kamu akan menjadi istri seutuhnya
untukku. Dan kita bisa saling mencintai dengan tulus.]
Saat Alfi mulai mengantuk dan akan tidur disamping Olivia terdengar
suara mengigau yang memanggil-manggil “mamaa, nenek.”
Melihat Olivia yang mengigau Alfi tersenyum tipis. “Liv, kenapa kamu
harus mengigau dan memanggil orang yang tidak ada disini. Coba
panggil saja yang ada disini. (Mas Alfi).”
“Mas.. Alfi”
Olivia seperti mendengar suara Alfi dengan mata terpejam. Menyebut
nama Alfi seperti yang diperintahkan dengan terbata-bata. Alfi tidur
146
disamping Olivia dengan tangan yang melingkah ditubuhnya. Tidak
terdengar lagi suara mengigau. Sepertinya pasangan ini sudah sama-
sama nyaman dan tertidur nyenyak hingga pagi.
147
OLIVIA SAKIT
Pagi hari saat sinar mentari sudah mulai memasuki celah-celah
jendela apartment. Alfi terbangun lebih dulu. Tersenyum melihat
istrinya yang masih tertidur dan nyaman dalam pelukanya. Walau
semua terjadi karena Olivia sakit dan tidak sadar jika suaminya ada
disampinnya. Suhu panas dari tubuh Olivia sudah lebih rendah dari
semalam.
Perlahan Alfi membangunkan istrinya dengan suara yang lembut khas
orang bangun tidur. Olivia membuka matanya dengan pelan
mendengar ada suara yang tidak asing memanggil namanya. “Hmm
kamu kenapa dikamar Oliv mas, abis ngapain? Aw kok kepala Oliv
pusing sih”
“Jangan suuzon dulu, kamu semalem menggigil kedinginan badan
kamu panas tinggi makanya saya kesini. Mana saya tega tidur nyenyak
dikamar tapi kamu disini meriang. Kenapa semalem bisa kehujanan?”
“Iya semalem Oliv kehujanan mobilnya mogok. Nunggu taxi lama
banget gak ada yang lewat.”
148
“Mobilnya mogok dimana? Kenapa gak telfon minta jemput?”
“Ya Oliv fikir mobilnya bisa dibenerin atau cari taxi akan mudah
ternyata hujan mobilnya tetap mogok dan tidak ada taxi.”
“Liv, hidup mandiri boleh tapi bukan berarti kamu tidak butuh orang
lain. Kamu anggap saya ini apa?” Alfi turun dari ranjang tidur
meninggalkan istrinya didalam kamar. Olivia masih menunduk setelah
mendengar kata-kata terakhir Alfi. Terlihat begitu khawatir juga marah.
Setelah Alfi sampai diujung pintu kamar Olivia memanggil Alfi.
“Mas, kok pergi kamu marah?”
Alfi menjawab dengan muka datar. “Enggak. Udah sana siap-siap ganti
baju kita ke dokter.”
Olivia menyandarkan tubuhnya diujung ranjang. Kepalanya masih
sedikit pusing. Tersenyum melihat perlakuan Alfi barusan. Setelah
membersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju santai. Alfi pergi
kedapur menyiapkan sarapan roti dan susu hangat untuk Olivia.
Kebetulan hari ini bi Parti izin gak masuk kerja karena anaknya sakit.
Untuk menyiapkan roti dan susu hangat sebagai menu sarapan bukan
hal yang sulit untuk Alfi.
Sarapan sudah siap dan rapi diatas nampan. Alfi menuju kamar Olivia.
Tidak lupa dia ketuk pintu dahulu sebelum masuk walau pun didalam
adalah istri sah nya sendiri.
“Liv, saya masuk ya.”
“Iya masuk aja.”
Olivia speechless melihat suaminya yang datang membawa sarapan
untuknya dengan pakaian santai yang artinya hari ini tidak pergi ke
office. Alfi berjalan mendekati Olivia dengan muka datar mode on.
“Mas, kamu gak ke office? Trus ngapain pake buat sarapan juga untuk
Olivia.”
149
“Kamu kenapa pake baju santai. Tadi kan saya bilang buruan siap-siap
kita ke dokter.”
“Olivia gak mau kedokter. I feel better.”
Alfi menghubungi Angga untuk urus mobil Olivia yang mogok sekalian
pesan go-send untuk antar kunci mobil Olivia ke Angga. Setelah kunci
mobil dari dalam tas Olivia diambil oleh Alfi kemudian Alfi pamit
kelobby bawah untuk antar kunci mobil kekurir.
Olivia keheranan melihat tingkah suaminya yang selama nikah ini
hampir tidak pernah marah. Suaminya yang tidak pernah nuntut apa
pun pada Olivia tapi tetap bersikap baik dan perhatian. Olivia yang
dibebaskan dengan dunianya tapi uang bulanan selalu ditransfer on
time. Bahkan hari ini Alfi tidak pergi kerja karena mau menemani
Olivia yang sedang sakit.
Suara handle pintu dibuka. Tandanya Alfi sudah kembali dari lobby
bawah. Olivia segera menghabiskan sarapan yang tadi dibuatkan oleh
suaminya Alfi. Dokter sudah berpamitan dan berjalan menuju pintu
keluar diantar oleh Alfi. Olivia masih duduk bersandar diatas ranjang
dan membaca resep obat yang tadi ditulis oleh dokter. Alfi kembali
kekamar Olivia dan menawarkan sesuatu.
“Liv, sepertinya kamu perlu sopir untuk antar jemput kamu kerja.”
“Hah.. Sopir gak perlu deh mas. Ehh bentar-bentar boleh Olivia
tanya?”
“Sure.”
“Kenapa mas Alfi tetep bersikap baik sama Olivia? Baik banget malah
mas Alfi kasih Oliv credit card, mas Alfi jagain Oliv waktu sakit sampai
gak masuk kerja sekarang mas Alfi tawarin supir. Dan mas Alfi gak
pernah nuntut Olivia apa-apa.”
Alfi masih dengan muka datarnya. Duduk diujung kasur yang sama
dengan isterinya. Olivia yang masih dibuat bingung dengan sikap santai
dan datar suaminya itu.
150
“Mas, Olivia tanya loh, kok diem aja sih. Olivia ngerepotin yah.”
“Liv, saya inikan suami kamu. Kita sudah resmi menikah dan kamu
istri sah saya. Jadi sudah kewajiban saya memberi rasa nyaman untuk
kamu dan menjaga kamu. Orang tua saya selalu mengajarkan pada saya
untuk berbuat baik kepada siapa pun. Apa lagi kepada perempuan.
Saya gak pernah nuntut kamu untuk melakukan kewajiban kamu.
Karena saya sendiri sadar mungkin sebagai suami saya masih banyak
kurangnya. Jadi saya tidak mau kamu melakukan semua kewajiban
kamu secara terpaksa. Pernikahan kita memang dimulai tanpa cinta
tapi saya akan terus belajar mencintai kamu dengan cara saya sendiri.
Saya harap kamu faham dan mengerti.”
Olivia mendekati suaminya dan memeluknya dari depan. Dengan mata
yang berkaca-kaca. Alfi juga tidak menolak pelukan dari Olivia.
“Makasih ya mas. Udah menjadi suami yang baik untuk istri yang
nyebelin kayak aku. Maaf ya kalo aku belum bisa jadi istri yang baik.
Maaf jika aku selalu ngerepotin kamu.”
Untuk pertama kali Olivia makan bersama keluarga Atmajaya setelah
resmi jadi istri Alfi. Rasa nervous pasti ada. Walau pun sudah biasa
makan bareng dengan Alfi pasti akan beda jika bersama orang tuanya
juga.
151
MAKAN MALAM BERSAMA
Peran baru dimulai bagaimana Alfi dan Olivia harus terlihat se-natural
mungkin sebagai suami-istri yang akur dan romantis. Yang biasanya
hanya seperti rekan kerja yang tinggal satu atap. Saling sapa hanya
sebagai basa-basi saja.
“Liv, gimana kamu betah egak tinggal disini? Alfi menjaga kamu
dengan baik tidak? Kalo Alfi nyakitin kamu bilang ibu ya nak.” Rosa
memulai obrolan dimeja makan
“Betah donk bu. Bahagia malah Olivia tinggal disini. Iya kan sayang?”
Alfi yang menjawab pertanyaan Rosa dan memberi kode ke Olivia
“Iyaa bu, Oliv betah disini. Anak ibu ini jagain Olivia dengan baik.
Bahkan sampai gak masuk kerja karena menemani Oliv yang lagi sakit.
Makasih ya sayang” Jawab Olivia
Hendra dan Rosa tersenyum melihat keharmonisan anak dan
menantunya yang belum lama menikah ini. “Gimana udah ada tanda-
tanda belum?” Tanya Rosa kembali
152
“Kapan Ayah dan Ibu ini bisa nimang cucu dari kalian. Kalau bisa
jangan nunda yaa” Jawab Hendra memperjelas
Alfi dan Olivia saling memandang dan senyum yang dilebarkan.
Bingung mau jawab apa dan lagi-lagi tidak mungkin mereka akan
menceritakan yang sebenarnya. Olivia memberi kode ke Alfi bahwa dia
tidak mau jawab pertanyaan dari Rosa.
“Hmm ibu sama ayah doakan saja semoga kita bisa segera kasih kabar
baik yang diharapkan ibu sama ayah. Nambah bu, ayah makanannya.
O..ya besok Ayah berangkat jam berapa mau Alfi antar?”
Selesai makan malam semua menuju kamar masing-masing. Dan untuk
pertama kali Olivia masuk kekamar Alfi dengan pemandangan yang
hampir membuatnya menjerit kencang. Untungnya Alfi sigap segera
menutup dengan tangannya.
“Jangan teriak-teriak udah malem ada ibu sama ayah juga.”
“Ya lagian, kenapa kamarnya berantakan gini seperti kapal pecah?”
“Itukan berantakan karena barang-barang kamu semua. Udah sana
beresin. Tuh masukin dalam lemari sana yah. Ya baik-baiklah kamu
susunnya.”
“Mas.. Kamu gak mau bantuin. Ini kan kamu yang berantakin dan ini
kamar kamu. Ntar baju-baju kamu Oliv pindahin nih. Mas.. Mas kok
tega sih. Oliv baru sembuh dari sakit loh. Bilang ibu yaa.”
“Owh jadi sekarang mau jadi menantu tukang ngadu ya. Ya udah iya
iya mas bantuin. Yuk cepet beresin.”
Keduanya membereskan barang-barang mereka fokus dengan barang-
barangnya masing-masing. Baju-baju Alfi yang diletakkan dibagian
paling atas dan baju-baju Olivia disusun satu line dibawah baju Alfi.
Semua itu adalah pilihan yang tepat karena tinggi Alfi yang diatas Olivia
sehingga Olivia tidak kesulitan jika mengambil baju-bajunya.
Sama halnya dengan barang-barang mereka yang dikamar mandi. Milik
Alfi semuanya ada dibagian kanan dan milik Olivia semuanya ada
153
dibagian kiri. Terlihat seperti pasangan yang baru saja selesai akad dan
beradaptasi dengan ruangan barunya. Padahal mereka sudah menikah
3 bulan lebih harusnya hal seperti ini tidaklah asing dan sudah terbiasa.
“Ehh bentar-bentar Olivia tidur dimana? Kita tidur satu ranjang.”
“Iya, kenapa?”
“Ihh awas ya nanti mas khilaf dan----“
“Apaan sih Liv, nih bantal guling sebagai pembatas. Awas ya tidurnya
jangan deket-deket.”
Olivia tidak menjawab lagi pernyataan dari suaminya. Dengan muka
cemberut segera dia menempati posisi tidurnya dan menarik selimut
menutupi tubuhnya.
Alfi juga sudah diposisinya. Tapi sebelum dia menarik selimutnya
tanganya menyentuh saklar lampu dan menekan tombol off. Tiba-tiba
Olivia menjerit dan memeluk bantal guling dengan erat. Dan akhirnya
Alfi kembali tekan tombol on dari saklar lampu.
“Kamu kenapa lagi si Liv. Kok hobi teriak-teriak nanti ibu sama ayah
dengar dan mereka kesini”
“Lampunya jangan dimatiin mas. Olivia takut gelap”
“Omaigad.. Oke oke lampu gak dimatiin lagi. Lagian kamu gak
bilang.”
“Kan mas Alfi gak pernah tanya. Ya gak papa jika mau dimatiin tapi
tunggu Oliv tidur dulu ya.”
Alfi turun dari ranjangnya dan membawa bantalnya berjalan menuju
pintu sepertinya mau keluar.
“Mas.. mau kemana bawa-bawa bantal gitu?”
“Mau tidur disofa luar. Udah kamu tidur aja disini lampu juga masih
nyala.”
154
“Serius? Nanti kalo ibu tahu dan ibu curiga jawab sendiri ya. Oliv gak
mau bantuin.”
Alfi mulai mikir dengan kata-kata Olivia barusan, karena memang
benar nanti ibunya akan lebih curiga jika melihat anaknya tidur disofa
luar. Akhirnya Alfi kembali tidur disamping Olivia. Saat melihat mata
Olivia sudah terlelap.
Padahal Olivia hanya pura-pura tidur. Sebelum menekan tombol off
pada saklar lampunya Alfi sejenak memandangi istrinya yang tidur
disampingnya. Saat hatinya mulai bermonolog tiba-tiba Olivia
membuka matanya dan membuat suaminya kaget.
“Gak jadi tidur disofa depan mas? Kenapa ngelihatin Olivia gitu”
“Udah tidur sana, atau mas matiin yaa lampunya sekarang.”
Olivia yang berjalan menuju pintu tangannya ditarik oleh Alfi hingga
hampir jatuh tapi Alfi sigap menarik badan Olivia hingga erat dalam
pelukannya. Keduanya saling tatap. Olivia untuk pertama kali melihat
wajah bangun tidur Alfi dari dekat.
“Lepasin mas. Oh yaa ibu sama ayah biasanya sarapan apa?”
“Kita order saja pagi ini. Nanti siang baru kamu keluar belanja sama
ibu. Dikulkas udah gak ada apa-apakan yah. Ok nanti saya transfer
uangnya.”
Olivia menatap suaminya serius. “Transfer buat apa mas? Credit card
yang kamu kasih belum pernah Olivia pake selama ini.”
“Transfer buat belanja. Kenapa gak dipake password nya sudah saya
kirim by WA kan. Kurang yah uangnya nanti ditambahin.”
Olivia menatap serius suaminya. “Mas, baiknya jangan keterlaluan
jangan buat aku serba salah. Kamu gak pernah nuntut apa-apa. Tapi
kamu terus fasilitasin aku layaknya seorang ratu. Mungkin banyak dari
wanita diluar sana akan mudah menerima nominal uang itu. Belanja
barang branded, nongky-nongky dicafe atau mall mewah. But i'm not
one of them.”
155
Sepanjang perjalanan menuju office dia kefikiran dengan kata-kata
Olivia yang diucapkan tadi pagi. Apa maksud dari ucapan Olivia.
Apakah jika nanti aku meminta dia untuk terus tidur dalam satu kamar
yang sama dia akan menerima. Apakah dia sudah mulai nyaman dan
mau belajar mencintai aku.
156
SUAMI IDAMAN
Tidak lama kemudian Alfi sudah sampai di office-nya dan
banyak lembaran file yang harus fokus dia cek satu per satu. Bayangan
tentang Olivia seketika buyar tapi tidak juga hilang. Hingga akhirnya
jam istirahat tiba. Alfi mencoba chat Olivia alasan menanyakan kabar
ibunya padahal bayangan Olivia yang memang mengganggu fokus
kerjanya hari ini.
Hari ini Alfi pulang kerja sedikit terlambat karena lokasi meeting
dengan bu Aleena yang jauh. Alfi sampai apartment ingat jika hari ini
masih ada ibunya jadi harus bersikat se-natural mungkin pada Olivia.
Olivia dengan pakaian santai jalan mendekati suaminya yang baru saja
sampai. Tidak lupa mencium punggung tangannya dan membawakan
tas kerjanya masuk kekamar. Alfi merasakan suasana yang hangat dan
membuatnya bahagia.
Untuk pertama kalinya dia pulang kerja disambut istrinya seolah ingin
terus merasakan hal tersebut. Berharap semua yang dilakukan Olivia
bukan karena ada ibunya tapi kelak Olivia melakukan hal tersebut
tulus sebagai istri yang baik dan berbakti pada suami.
157
“Baru pulang mas, kena macet yah?”
“Iya tadi lokasi memeting dengan bu Aleena jauh dan macet juga.
O..iya Liv. I have something for you?”
“What? Loh mobilnya udah jadi kok cepet banget mas.”
Olivia girang dan memeluk suaminya. Alfi kaget dengan reaksi Olivia.
Rosa yang berdiri didepan pintu tersenyum melihat anak dan
menantunya yang terlihat adem, harmonis dan romantis.
“Al, Oliv ini jago loh masaknya. Enak lagi pasti kamu seringkan makan
masakanya Olivia ibu saja suka.” Ucap Rosa.
Padahal ini pertama kalinya Olivia masak untuk Alfi. Karena selama ini
mereka sering order makanan dan jarang masak. Jika masak pun tidak
untuk makan ber-sama seperti saat ini.
“Hmm iya bu. Olivia memang sosok isteri idaman. Selain mandiri dia
juga masakanya enak. Besok ibu harus cobain nasi goreng buatan
Olivia pasti ibu ketagihan.”
“Hmm gak salah emang ibu minta kalian untuk segera nikah.
Khususnya Alfi jadi ada yang ngurusin dan merhatiin gak makan
sembarangan lagi. Makasih ya Liv.”
Olivia tersenyum mendengar ucapan mertuanya barusan. Dan dia
memandangi suaminya yang lagi-lagi membuatnya merasa bersalah
dengan sikap dan sifat baiknya itu. Tidak lupa Alfi dan Olivia
mencium punggung tangan Rosa dan memeluknya sebelum Rosa
masuk mobil taxi yang dipesannya untuk mengantarnya kembali
kerumah dan meninggalkan apartemant Alfi.
“Mas.. Makasih yaa.”
“Makasih untuk?”
“Makasih untuk sifat dan sikap mas selama ada ibu yang selalu bilang
baik-baiknya dari Oliv. Padahal Oliv egak sebaik itu selama jadi isteri
158
mas. Bahkan egak pernah masak buat mas sarapan atau makan malam.
O.iyaa makasih juga mobil Oliv udah gak mogok lagi.”
Satu jari telunjuk Alfi menutup bibir Olivia sehingga Olivia berhenti
bicara. “Makasihnya jangan banyak-banyak nanti mas gak bisa balikin.”
“Ihhh malah becanda. Ya udah deh Oke. Sekarang Oliv balik lagi ya
kekamar tamu. Oliv mau beresin semua barang-barang Oliv.”
Alfi menggenggam tangan Olivia dengan serius mengajaknya duduk
bersebelahan diatas ranjang untuk berdiskusi serius. “Duduk dulu liv,
ada yang mas mau bicarakan dengan kamu. Ponselnya silent dulu yah.
Mas juga gak pegang ponsel nih.”
Olivia mulai bingung dengan sikap suaminya. Tidak ada sedikit pun
penolakan dari Olivia dia turuti semua yang diperintahkan Alfi untuk
duduk dan meletakkan ponselnya dimeja nakas.
“Kenapa mas? Ada yang serius yah? Atau Oliv bikin kesalahan?”
Alfi menatap serius pada Olivia. Membuat jantung Olivia berdebar
tidak teratur. Kini mereka duduk sudah tidak berjarak dan hanya ada
mereka berdua dalam ruangan tersebut.
“Liv, tentang ucapan kamu beberapa waktu lalu. Kamu bilang gak mau
pakai uang yang mas transfer karena mas juga gak pernah nuntut apa-
apa kekamu. Lalu jika mas minta sesuatu hal dari kamu apakah kamu
akan menolak atau menerima ya mas gak akan maksa kamu ya itu hak
kamu.”
“Hmm sesuatu hal itu apa ya mas?”
“Kamu… Kamu gak usah balik dikamar tamu yah.”
“Tapi mas”
“Tapi kenapa? Kamu keberatan. Liv, kita menikah sudah 3 bulan
lebih. Proyek kita juga sudah selesai. Lalu apakah kita akan terus
seperti ini. Seperti orang asing yang tinggal dalam indekos yang sama.
159
Hanya ada say hello disaat pulang atau berangkat kerja saja tanpa ada
komunikasi dan hubungan yang lain.”
Keduanya hening dalam ruang yang sepi. Olivia tidak menjawab satu
patah kata pun dari bibirnya setelah Alfi mengatakan panjang lebar
tentang apa yang dia rasa. Alfi berjalan keluar meninggalkan Olivia
sendiri dan menuju ruang tengah. Duduk disofa dan menyandarkan
tubuhnya seolah banyak beban yang dipikulnya dan membuat
tubuhnya lelah.
Mata Olivia berkaca-kaca menahan air mata yang akan tumpah
membasahi pipinya. Hatinya merasa bersalah pada suaminya seolah
menjadi istri yang telah menyia-nyiakan suami yang telah baik padanya.
Tapi sulit juga untuk mengungkapkan isi hatinya karena selama
menikah belum pernah mendengar atau pun mendapat kata cinta yang
diucapkan suaminya secara langsung.
Disisi lain. Sifat dan sikat Alfi yang selalu membebaskan Olivia dalam
banyak hal membuatnya serba salah seolah memang Alfi tidak peduli
atau memang itu cara Alfi agar tidak menyakiti wanitanya.
“Mas Alfi. maafin ya jika selama ini Oliv belum bisa jadi istri yang baik.
Olivia janji akan berlajar jadi istri yang baik. Tapi mas jangan marah
kayak gini. Dari tadi duduk disofa dan ninggalin Oliv didalam kamar.
Iya Oliv gak balik lagi kekamar tamu. Sebenarnya Oliv juga kadang
bingung dengan sifat dan sikap mas Alfi yang membebaskan banget
pilihan Olivia. Kadang Olivia fikir mas Alfi memang gak peduli tapi
terlalu sering mas Alfi bersikap baik banget dengan Oliv.”
160
MAAF YA
Alfi balik badan dan mengusap air mata istrinya dengan jari-jari
lembutnya. Berusaha menenagkan Olivia terlebih dulu sebelum
menjawab pernyataan Olivia barusan.
“Oliv, udah yaa nangisnya sini duduk dulu. Udah nikah geh masih
cengeng.”
“Apa sih. Mas Alfi kan tahu dari sebelum nikah kemarin Oliv emang
cengeng. Kenapa baru bilang gitu sekarang. Mas nyesel ya nikah sama
Oliv yang cengeng ini. Mas, jangan nyesel yaa. Oliv janji mau belajar
jadi isteri yang baik. Jadi istri yang mengurus suami sekaligus berbakti
sama suami. Mas maafin Oliv kan?”
“Mas nyesel karena berkali-kali menjadi penyebab kamu nangis. Mas
juga minta maaf ya jika belum bisa jadi suami yang baik untuk Oliv.
Oke sekarang janji yaa. Kita mulai sama-sama. Kita belajar
menumbuhkan rasa cinta diantara kita. Jadi mau balik kekamar tamu
egak? Yuk kalo mau pindah mas bantuin beresin.”
161
Pagi hari yang indah. Bangun tidur melihat istri yang masih nyenyak
dalam tidur dalam pelukanya. Alfi melangkah pelan-pelan menuju
kamar mandi agar tidak menimbulkan suara karena tidak tega
membangunkan istrinya yang masih nyenyak dalam tidurnya. Olivia
bangun saat Alfi masih didalam kamar mandi. Tidak lama kemudian
Alfi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk pendek.
“Ehh kamu udah bangun liv? Mandi dulu sana itu air hangatnya udah
mas siapin.”
“Iya mas bentar dulu. Kok mas bangun duluan tapi enggak bangunin
Oliv sih.”
“Tadi kamu tidurnya nyenyak banget gak tega mas banguninnya.”
Alfi dan Olivia sudah rapi dengan pakaian kerja masing-masing.
Menggunakan warna yang senada tapi menuju office yang berbeda.
Sarapan pagi sudah selesai. Keduanya bersiap-siap berangkat kerja.
Setelah Oliv merapikan jas yang dipakai suaminya. Setelah itu
keduanya keluar menuju mobil yang sama. Pagi yang berbeda biasanya
apa-apa sibuk sendiri sekarang berdua. Sacurity apartment pun merasa
ada yang beda dari pasangan ini. Mereka menyambut dengan senyum
saat Alfi dan Olivia lewat.
Hari ini Olivia begitu sibuk dnegan banyak file dimeja kerjanya.
Maklum saja 2 hari yang lalu Olivia izin kerja ditambah dengan posiis
Olivia yang bukan hanya handle pekerjaan proyek tapi banyak hal lain
khususnya yang berhubungan dengan bu Aleena.
“Hai Liv, are u better today?”
“Owh Hello bu, yeah better today”
“Liv, bentar lagi hari valentine dan tiket honeymoon yang saya kasih
kekamu waktu itu belum kamu pakai? Jika mau pergi kamu urus saja
cutinya jangan sibuk kerja terus.”
“ops iyaa.. Oliv hampir lupa. Nanti Oliv diskusikan dengan Alfi dulu ya
bu.”
162
“Ok hope you happy and enjoy with your husband.”
*******
“Liv, mas pergi Olahraga ketaman sebentar, pulangnya mau nitip beli
sarapan apa?”
Olivia tersenyum membaca chat dari suaminya. Alfi memang tetap
baik dari awal pernikahan tapi Alfi yang sekarang lebih perhatian
dengan hal-hal kecil menyiapkan air hangat untuk isterinya mandi atau
pun bertanay mau dibelikan sarapan apa. Hal yang membuat Olivia
makin hari makin luluh dan rasa cinta itu mulai tumbuh.
“Gak perlu mas. Oliv udah bangun biar Oliv saja yang bikin sarapan.
Mas pulang jam berapa?”
Ponsel segera Olivia letakkan kembali diatas meja nakas dan bergegas
menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Berganti pakaian
dengan baju santai. Menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum
Alfi pulang.
“Olivia punya sesuatu yang mas Alfi belum tau.”
“Apa?”
Olivia melepaskan pelukan suaminya dan berjalan menuju kamar.
mengambil tiket honeymoon ke China kado dari bu Aleena yang Alfi
juga belum tahu. Sebenarnya dalam hati Olivia masih ragu-ragu karena
jika Alfi tahu tiket tersebut artinya Olivia harus siap melakukan
tugasnya untuk melayani Alfi sebagai istinya dan menjadi suami isteri
yang seutuhnya. Yang selama menikah Alfi belum pernah meminta
melakukan hal tersebut.
Namun sudah tidak ada alasan lagi untuk Olivia terus menyimpan tiket
honeymoon tersebut. Semakin mendekati batas akhir tanggal berlaku.
Ibu Aleena juga sudah memberikan untuk ambil cuti karena proyek
kerjasama dengan Alfi sudah selesai. Alfi yang masih duduk santai sofa
ruang depan heran karena isterinya tidak kunjung keluar dari dalam
kamar. Karena penasaran akhirnya Alfi segera menyusul Olivia
163
didalam kamar. Dilihatnya Olivia sedang duduk melamun diujung
tempat tidur mereka.
“Liv, kamu kenapa kok lama banget tadi bilangnya mau ambil sesuatu.”
Oliv kaget dengan kedatangan Alfi yang tiba-tiba dan membuyarkan
lamunannya. Akhirnya tiket honeymoon yang ada ditangan Olivia
terlempar kelantai dan segera diambil Alfi. Olivia gugup karena melihat
Alfi membaca tiket tersebut.
“Ini apa liv. Hmm tiket honeymoon ke China.”
Alfi tersenyum lebar memandangi istrinya yang masih gugup. Olivia
kembali mengambil tiket tersebut dari tangan Alfi tapi percuma saja
karena Alfi sudah baca. Alfi segera memeluk erat isterinya dengan
wajah yang begitu bahagia dan tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-
kata. Sebenernya Alfi sedang berusaha untuk membicarakan hal
tersebut dengan Olivia tapi menunggu waktu yang tepat. Dengan
melihat tiket yang ada ditangan Olivia kini Alfi tidak perlu lagi
menunggu waktu yang tepat rasanya semua itu sudah menjawab.
“Hmm jadi kamu udah siap untuk jadi isteri seutuhnya. Kenapa gak
bilang langsung saja. Pake kode-kodean seperti ini. Jadi kapan kita
berangkat?”
“Ihhh apaan sih mas. Lepasin ahh engap nih Olivia gak bisa napas.”
“Kok mukanya tiba-tiba cemberut gitu sih kamu kenapa liv.”
Olivia turun dari kasur menuju ruang tengah dan menyandarkan
tubuhnya disofa yang sebelumya memeang dia duduk disana dengan
Alfi. Diikuti Alfi dari belakang dengan rasa bingung karena perubahan
mood Olivia yang tiba-tiba bad mood.
164
TIKET HONEYMOON
“Liv, hei kamu kenapa sih? Ada yang salah ya dari ucapan mas
barusan?”
“Lagian kenapa mas mikirnya kejauhan gitu. Kan OLiv jadi malu.
Olivia kan belum bilang apa-apa. Mas udah menyimpulkan banyak hal
sendiri. Jadi tiket honeymoon ke China ini adalah kado dari bu Aleena
waktu kita nikah kemarin. Karena bu Aleena tahu jika kita
merahasiakan pernikahan ini sementara sampai kerjasama kita selesai.
Makanya untuk tenggang waktunya bu Aleena ambil yang bulan
Februari.”
“Terus.”
“Ihh kok nyebelin sih. Ya tadinya Oliv gak mau kasih tau mas tentang
ini tapi kemarin bu Aleena sudah menanyakan kapan Oliv berangkat
karena sayang jika sampai tiket ini hangus sekaligus bu Aleena udah
kasih izin Olivia jika mau cuti dalam waktu dekat ini.”
“Ya baguslah.”
165
Olivia masih dengan wajah kesalnya dan bersandar disofa. Alfi sudah
tahu arah pembicaraan akan kemana. Untuk menghindari salah faham
diantara mereka Alfi memilih diam dan merencanakan sesuatu. Alfi
dekati Olivia dan merangkulnya hingga nyaman dipelukannya. Setelah
beberapa saat kembali Alfi mulai obrolan kembali.
“Halo Andra, maaf ganggu kamu dihari libur. Tolong besok urus
keberangkatan saya dan Olivia ke china untuk satu minggu. Ok
makasih yaa Ndra.”
“Mas, kenapa urus pemberangkatan gak didiskusikan dulu dengan
isteri?”
“Ya tadi mas udah tanya tapi kamu diam gak jawab. Ya udah
kesimpulanya wanita jika diam itu setuju.”
Semua dokumen keperluan untuk bulan madu ke China sudah siap
dan lengkap. Alfi dan Olivia sudah menetapkan tanggal cuti mereka
dan memberikan beberapa pekerjaan untuk dihandle pada masing-
masing yang bisa dipercaya.
Andra memegang kendali dari apa-apa yang biasa dikerjakan oleh Alfi,
meeting, bertemu klien dan lain-lain kecuali untuk dokumen penting
yang harus Alfi tanda tangan atau pun keputusan besar yang akan
berpengaruh dengan perusahaan maka semuanya akan di pending
menunggu hingga Alfi kembali ke Indonesia.
Yumna sebagai sekretaris di Estetika group beberapa pekerjaan Olivia
dilimpahkan kepadanya. Dan untuk sesuatu yang urgent serta
important bu Aleena yang akan handle. Rekan kerja Olivia masih
belum tahu jika Olivia cuti untuk honeymoon ke China bersama
suaminya yang sudah tiga bulan lebih menikahinya.
Di antara semua hotel bintang 5 di China. Hotel Mandarin Oriental
adalah tempat paling romantis untuk tinggal dengan lokasinya yang
indah. Terletak ditepi sungai Huangpu dan menawarkan perpaduan
sempurna antara kemewahan, kenyamanan dan keramahan kelas
dunia.
166
Olivia dibuat takjub dengan semua kemewahan dan fasilitas bintang 5
hotel tersebut. Karena mereka sampai sudah sore mereka memilih
untuk memulai perjalanan wisatanya keesokan harinya saja dan malam
ini mereka pilih untuk istirahat setelah perjalanan jauh yang
melelahkan.
“Liv, kita kesini bukan untuk ributkan. Mas harap kamu akan faham.
Kita menikah sudah tiga bulan lebih. Diantara kita juga sudah sama-
sama janji untuk mulai belajar menumbuhkan rasa cinta pada
pasangannya. Sebisa mungkin mas berusaha jadi suami yang baik untuk
Oliv. Malam ini mas boleh egak meminta apa yang seharusnya. I want
you.”
Olivia berjalan menuju kamar mandi untuk ganti baju dengan detak
jantung yang tidak beraturan dan serba-salah. Dia berdiri didepan
cermin besar yang ada dikamar mandi dan meletakkan tangannya
diwajahnya. Kembali merapikan rambutnya yang terurai.
Tidak beda dengan Oliv sebenarnya Alfi juga gugup. Setelah beberapa
saat berdiri didepan kaca dan menyemprotkan parfum dibeberapa
bagian tubuhnya. Alfi menyalakan lilin aroma terapi yang sudah
disediakan oleh pihak hotel khusus untuk mereka yang akan
honeymoon.
Pandangan Alfi masih fokus pada isterinya yang tertunduk malu.
Segera Alfi berdiri menuju isterinya dan menggenggam kedua
tangannya dengan senyum yang berbeda begitu special terlihatnya.
“Mas… Gimana bajunya gak cocok ya Olivia pake ini. Kelihat aneh.”
“You are very beautiful and you look perfect tonight. I love you Olivia
Queena Wijaya”
“I love you too mas Alfi Abimanyu Atmajaya”
Liv, Mas janji untuk terus menjaga, melindungi dan membimbing Oliv.
Mas kan udah pernah bilang jika mas akan terus belajar untuk menjadi
suami yang baik untuk kamu. Oliv kan pernah tanya kenapa mas gak
pernah nuntut apa-apa pada Oliv mas gak pernah maksa Oliv. Karena
mas mau semua mengalir dan tumbuh dengan sendirinya dan
167
semestinya. Mas ingin kamu nyaman menjalani hari-hari bersama mas.
Kamu juga janji yaa akan terus berada dan mendampingi mas dalam
keadaan apapun. Karena menurut mas semenjak kenal kamu, mas
merasakan hidup kembali hidup yang penuh arti tidak seperti hidup
tapi mati.
“Maksudnya mas? kembali hidup yang penuh arti tidak seperti hidup
tapi mati?”
Iyaaa. Jadi sebelum mas ketemu kamu mas rasa semua berjalan
normal. Kerja , pulang, tidur gitu aja terus. Setelah mas bertemu kamu.
Mas seperti merasa menemukan tujuan hidup yang selama ini mas fikir
ya sudah hidup seperti ini saja. Dari dulu mas selalu menerima dan
mendapat fasilitas yang cukup. Apa pun keperluan mas orang tua
sudah menyediakan. Sekarang mas mengenal kamu dan mendengar
cerita kamu bagaimana kamu bisa sampai di posisi saat ini membuat
mas merasa seperti mendapatkan berlian dalam tempat yang kelam.
Dan kamu adalah alasan mas untuk terus hidup bahagia dan
membahagiakan.
168
PROFIL PENULIS
Evi Yuliyanti, Gadis desa dengan sejuta mimpi. Menjadi anak rantau
sejak usia remaja hingga kini. Dan bisa disebut bahwa dunia rantaulah
tempatnya bermetamorfosis. Menyelesaikan SD hingga SMK dikota
Lampung tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Mahasiswa Universitas Pamulang yang memiliki cita-cita sebagai
Womenpreneur dan author yang idealis. Berminat berkenalan lebih
lanjut dan sharing bisa hubungi IG : eviestetika
169
170